Recent Blog Post

Archive for 04/03/16


  • Pengertian dan Teori PSIKOLOGI KLINIS Menurut Para Ahli_
    image source: psychology.about.com


    Definisi Psikologi Klinis
    • Merupakan sub-area dari ilmu psikologi yang mempelajari proses perilaku & mental, meliputi penelitian tentang proses mental & perilaku, asesmen atau pengukuran terhadap kemampuan/potensi & karakteristik individu, & usaha untuk menolong orang yang mengalami gangguan psikologis
    • Memiliki sikap klinis ataupun pendekatan klinis: mengkombinasikan antara hasil riset tentang proses mental & perilaku dengan asesmen individu untuk memahami & menolong seseorang.
    • Psikologi klinis telah mengutamakan penerapan hasil penelitian sesuai perbedaan masing2 individu (idiographic level) tidak untuk orang secara umum (nomothetic level)

    Lingkup Kerja Psikologi Klinis

    • Sebagai peneliti & praktisi yang meliputi kegiatan asesmen, treatment, riset, teaching, konsultasi & administrasi

    Akar Psikologi Klinis 

    Kemunculan Psikologi Klinis dipengaruhi oleh faktor :
    • Penggunaan metode penelitian didalam psikologi, studi tentang perbedaan individual & perubahan dalam pandangan gangguan psikologis serta intervensinya.

    Berkembangnya metode penelitian dalam ilmu psikologi: 

    • Diawali dengan penelitian dalam laboratorium yang dilakukan oleh Wundt di Leipzig, Wina (1879), psikologi diakui sebagai sebuah ilmu & diikuti dengan penelitian2 lainnya.
    Research tradition on Psychology Wilhelm Wundt (1879) experimental psychology (empiris) 

    Individual Differences 

    • Masa astronomi, phrenology, physiognamy, psychology, measuring (mental test)
      Changing Conception of Behavior Disorder 
    • Kekuatan magis, filosofu & religion, biologis, pendekatan personal (Pinel,dll), psikologis (hypnotis).

    Studi Perbedaan Individual:

    • Pandangan Astronomis
    • Pandangan Anatomis: fisik terhadap perilaku
    • Galton: Mental Testing Center
    • Cattel: Mental Test
    • Binnet: Fungsi mental

    Gangguan Psikologis & Intervensi

    • Gangguan psikologis tidak lagi dipandang sebagai kekuatan supranatural; adanya gangguan mental: Pnel, Dorothe Dix, Charrot, Freud (Study in hysteris) à memperlakukan penderita gangguan mental secara lebih manusiawi.

    Kelahiran Psikologi Klinis

    • Pertama kalinya muncul Psychological Clinic untuk Lightner Witmer (1896) à kasus Charles Gilman (problem sekolah) à asesmen & treatmen
    • Jurnal The Psychological Clinic (1907)
    • American Association of Clinical Psychologist (AACP) 1917
    • Pada masa perang 1918-1941 : berkembangnya asesmen (tes psikologi)
    • Pada masa sesudah perang: pendidikan psikologi klinis Abad 20-21: spesialisasi psikologi klinis, aktivitas & isu-isu lain (organisasi)

    Sejarah Psikologi Klinis

    Meskipun psikologi klinis sebagai bidang keahlian khusus profeswional baru berumur 100 tahun lebih sedikit, akarnya dapat ditarik ke belakang, sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Orang-orang di jaman Yunani dan India kuno, di Abad Pertengahan London, dan di jaman Amerika-kolonial menghadapi banyak masalah yang sama dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial dan berbagai kesulitan yang sama dengan yang dihadapi saat ini. Sumbangan genetic dan pengalaman awal pasti telah mempredisposisikan orang-orang primitive untuk mengalami berbagai gangguan dan stress. 

    Cara-cara yang dapat diterima untuk menangani berbagai masalah psikologi di tiap budaya melibatkan individu-individu yang memainkan peran-peran serupa dengan yang dimainkan oleh para psikolog dan pekerja kesehatan mental dewasa ini. Orang bijak di Delphi, dokter dukun di Afrika Tengah, tetua di suku-suku Indian, dan pendeta serta pastur selama berabad-abad telah membantu para laki-laki dan perempuan dalam memutuskan tentang segala sesuatu yang dilakukan, bagaimana menerima kenyataan yang tak mungkin ditawar dalam kehidupan, dan bagaimana cara mengubah sikap dan perilaku yang tidak memuaskan. Bahkan sampai hari ini pun sebagian orang lebih suka berkonsultasi dengan astrolog daripada membawa masalahnya ke klinik psikologi atau pelayanan professional lainnya. Setiap orang tumbuh bersama keyakinan dan kebiasaan berbasis budaya, dan ketika klinisi bertemu dengan orang-orang, semua itu menjadi bagian pertemuannya.

    Ide-ide yang terjalin menjadi bahan baku psikologi klinis juga dapat ditarik mundur sampai ke awal sejarah yang tercatat. Para filsuf Yunani mengembangkan cara-cara ilmiah untuk melihat alam, termasuk manusia. Aristoteles (lahir 384 SM) kadang-kadang dianggap sebagai psikolog yang pertama. Kata psychology diambil dari kata Yunani psyche (yang berarti nafas, jiwa atau prinsip hidup) dan logos (pembicaraan, kata atau alasan), tetapi nama psychology untuk ilmu belum digunakan sehingga berabad-abad kemudian. Hipokrates (lahir 460 SM) memprakarsai pendekatan medis pada fenomena psikologis abnormal yang sedikit demi sedikit menggantikan konsepsi-konsepsi supranatural dan demonologis. Konsepsi-konsepsi ilmiah tentang sifat manusia mengalami pasang surut dari abad kea bad , tetapi tidak pernah sama sekali menghilang. Bahkan selama abad 15 dan 16, masa kejayaan ilmu guna-guna, sebagian orang berani berbicara lantang menentang pandangan dan praktik yang berlaku pada waktu itu.

    Periode I: Kelahiran, 1896-1917

    Psikologi sebagai ilmu: akhir abad ke 19 di Eropa dan Amerika

    Digerakkan oleh 3 perkembangan sosial:

    1. Revolusi Industri: ikatan yang bersifat kekeluargaan dan kemasyarakatan digantikan oleh hubungan yang bersifat birokratis dan impersonal
    2. Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan semakin tingginya kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan sebagai fondasi kemajuan manusia
    3. Pandangan baru mengenai sifat manusia, lebih pada asumsi rasional dan hedonistis.

    Pada tahun 1896, Leightner Witmer (murid Wilhelm Wundt), menggunakan istilah clinical psychology serta membuka klinik psikologi pertama di University of Pennsylvania. Witmer menekankan pada pentingnya assessment sebelum melakukan penanganan.

    Jurnal The Psychological Clinic (1907)

    Dari tahun 1900-1920: banyak alat-alat bantu psikologi: tes inteligensi, tes kepribadian

    Periode II: Masa Perang, 1918-1941

    • Masa pertumbuhan dan kemajuan di bidang ilmu psikologi dan perkembangan pola standar bagi organisasi pelayanan psikologi
    • Bidang ide dan konsep: Freudian menjadi orientasi dominan
    • John Watson: gerakan behavioral mempengaruhi kegiatan riset
    • Banyak berdiri klinik psikologi anak
    • 1945: setelah PD II berakhir, psikolog Amerika byk terlibat dlm pekerjaan RS --> dari bidang pendidikan menjadi keahlian khusus medis
    • 1930-an: berdiri layanan konseling di kampus, University of Minnesota
    • Perkembangan alat-alat tes: MMPI, Rorschach, Binet, TAT

    Periode III: Postwar

    • Selama 2-3 dekade setelah PD II, psikolog klinis tlh menjadi profesi mandiri: banyak terlibat dalam perang, banyak ide baru, standar baru
    • 1944: Psikologi klinis menjadi divisi dalam APA
    • 1952: APA menerbitkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) I
    • Sertifikasi dan lisensi legal untuk psikolog klinis di Amerika


    Banyak pengertian  mengenai psikologi klinis , di bawa ini merupakan penjelasan mengenai pengertian dari psikologi klinis menurut para pakar
    Pengertian Psikologi Klinis Menurut J.H.Resinck adalah bidang dalam psikologi yang meliputi riset, pelayanan dan pengajaran yang relevan dengan prinsip-prinsip, metode-metode dan prosedur aplikasi untuk memahami, meduga dan mengurangi maladjustmen, ketidaknyamanan dan ketidakmampuan, diterapkan pada populasi klien untuk rentang yang luas
    Menurut Witmer, Pengertian Psikologi Klinis ialah metode yang digunakan untuk mengubah atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik penanganan pedagosis.
    Corsini mengatakan bahwa Pengertian Psikologi Klinis merupakan cabang psikologi yang bersifat spesialis dalam studi, prevensi, diagnosis dan penanganan gangguan-gangguan perilaku dan gangguan mental dan tekanan-tekanan mental yang negative
    Pengertian Psikologi Klinis Menurut American Psychological Association Clinical Section adalah suatu wujud psikologi terapan yang bermaksud memahami kapasitas perilaku dan karakteristik individu yang dilaksanakan melalui metode pengukuran, analisis dan pemberian saran serta rekomendasi agar individu mampu melakukan penyesuaian diri secara patut.
    Ada beberapa ciri atau sifat yang terdapat pada Psikologi Klinis, yaitu :
    1. Memiliki orientasi ilmiah-profesional. Yang dimaksudkan dalam hal ini ialah adanya ciri berupa penggunaan kaidah psikologi dan metode ilmu, dalam pemberian bantuan terhadap individu yang menderita masalah-masalah psikologis melalui intervensi dan evaluasi psikologis.
    2. Menampilkan kompetensi psikolog, sebab psikolog klinis terlatih di dalam menggunakan petunjuk dan pengetahuan psikologi dalam kerja profesionalnya.
    3. Menampilkan kompetensi klinikus, karena berusaha mengerti orang lain dalam kompleksitas alamiah dan transformasi adaptif secara berkelanjutan.
    4. Ilmiah, karena penggunaan metode ilmiah untuk mencapai presisi dan objektivitas untuk setiap individu yang ditanganinya.
    5. Profesional, karena dalam hal ini lebih menyumbangkan pelayanan kemanusiaan yang penting bagi individual, komunitas dan kelompok sosial untuk memecahkan masalah psikososial dan meningkatkan kualitas hidup.



    Sumber :  Buku dalam Penulisan Pengertian Psikologi Klinis Menurut Para Pakar :
    - Sutardjo A. Wiramihardja, 2007. Pengantar Psikologi Klinis. Yang menerbitkan PT Refika Aditama : Bandung.



    Daftar Pustaka: http://www.ilmupsikologi.com/2015/10/pengertian-dan-teori-psikologi-klinis-menurut-para-ahli.html#ixzz44vrK6wPk

    psikologi klinis part 1 pengertian ,definisi, dan sejarahnya

  • TEORI TEORI PSIKOLOGI SOSIAL
    Banyak teori teori psikologi social yang bersliweran  di blog blog, dan kali ini saya akan merangkumnya agar mudah untuk di pelajarai, teori teori ini di antaranya, teori genetic,teori stimulus,teori kognitif, teori belajar sosial,teori psikonalisa,teori peran ,

    1.      Teori genetic
    Teori ini menekankan kualitas pembawaan sejak lahir atas tingkah laku sosial. Bahwa "manusia adalah binatang sosial" menjadi inti dan teori genetik dan sekaligus menjadi dasar asumsinya, bahwa komponen-komponen dari tingkah laku sosial dihubungkan dengan atau mempunyai akar pada penyebab genetik yang tidak dipelajari.

    Misalnya menurut Konrad Lorenz (dalam Dayakisni, 2006:14), seorang ahli etiologi, yang mempelajari gejala sosial pada binatang. Lorenz berpendapat bahwa tingkah laku agresi adalah perwujudan dan insting agresi yang dibawa sejak lahir dan berasal dan kebutuhan untuk melindungi diri.
    Menurut William Mc Douglas (dalam Dayakisni, 2006:14) juga mendasarkan pada konsep-konsep genetik pada tingkah laku sosial. Douglas berpendapat bahwa banyak sifat dan tingkah laku spesifik dapat dijelaskan dalam istilah insting, tingkah laku yang memiliki tujuan langsung yang tidak dipelajari. Douglas menuliskan seperangkat insting yang diperkirakan medasari sejumlah tingkah laku. Misalnya apabila seorang ibu melindungi anaknya maka hal tersebut dinamakan tingkah laku "parental insting" (insting orang tua) sedangkan jika dikenakan kepada orang yang berhungan dengan orang-orang lainnya maka hal tersebut dianggap karena adanya "insting untuk berkumpul". Namun sebagian ahli psikologi sosial menolak pendapat bahwa resting merupakan mekanisme penjelasan tingkah laku manusia karena tasting diangap tidak dapat menjelaskan alasan dibalik tingkah laku dan tidak dapat memberikan prediksi yang akurat atas tingkah laku individu di masa yang akan datang. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam teori genetik mengabaikan peranan faktor situasional dan lingkungan dalam menelaah tingkah laku sosial. Oleh karenanya teori ini kurang populer untuk dipakai dalam mengkaji fenomena-fenomena psikologi sosial.

    2.      Teori stimulus
    Prinsip teori ini menyatakan bahwa: "Kalau stimulus memberikan akibat yang positif atau memberi reward maka respons terhadap stimulus tersebut akan diulangi pada kesempatan lain dimana stimulus yang sama timbul. Sebaliknya apabila respons memberikan akibat yang negatif (hukuman dan sebagainya) hubungan antara stimulus dan respons tersebut akan dihindari pada kesempatan lain". 
         Stimulus adalah peristiwa yang terjadi baik di luar maupun di dalam tubuh manusia      
         yang menyebabkan timbulnya suatu perubahan tingkah laku.
         Respons adalah perubahan yang disebabkan oleh adanya



    Gambaran mengenai stimulus J

    Para tokoh juga mengemukakan mengenai stimulus itu sendiri di antaranya :
          Menurut Keller & Schoenfeld (Wibowo,1988:127) stimulus mempunyai 3 (tiga) fungsi yaitu: 
          1. Pembangkitan: stimulus yang membangkitkan, adalah stimulus yang langsung  
       memberikan suatu respons. Misalnya makanan langsung menimbulkan air liur orang
        yang melihatnya pada saat lapar terutama. 
    2.       Diskriminasi: stimulus yang diskriminatif, adalah stimulus yang tidak langsung
     menimbulkan respons tetapi hanya merupakan pertanda adanya stimulus pembangkit. Misalnya mendengar ada tukang siomay lewat. Saat barn mendengar belum ada reaksi apapun dan diri orang tersebut, barulah setelah melihat sang penjual menyajikan sepiring di depannya keluarlah air liurnya. 
    3.       Reinforcement: adalah stimulus yang menimbulkan konsekuensi yang positif atau     
    negatif pada terbentuknya respons. Reinforcement positif adalah stimulus yang jika diberikan akan memperkuat tingkah laku respons. Misalnya seorang anak yang menolong orang lain kemudian mendapat pujian dan hadiah, maka ia akan cenderung mengulangi tingkah laku menolongnya di kemudian hari. Reinforcement negatif adalah stimulus yang jika tidak diberikan atau dihentikan pem-beriannya, akan memperkuat terjadinya respons. Misalnya seorang anak yang kegemukan dan gelalu diejek oleh temannya, tidak lagi diejek oleh temannya manakala dia berprestasi di kelas/menjadi juara kelas. Maka ia akan mengulangi dan meningkatkan prestasi akademiknya tersebut. 

    Dorongan adalah suatu kekuatan dalam diri seseorang yang jika telah mencapai kekuatan yang maksimum akan menyebabkan orang tersebut melakukan sesuatu. Menurut Dollard & Miller (dalam Wibowo, 1988:1.27) terdapat 2 (dua) macam dorongan pada manusia yaitu dorongan primer dan dorongan sekunder. Dorongan primer adalah dorongan bawaan seperti lapar, haus, sakit dan seks. Dorongan sekunder adalah dorongan yang bersifat sosial dan dipelajari misalnya dorongan untuk mendapat upah, pujian, perhatian dan sebagainya.

    3. Teori kognitif
    Pokok pikiran dalam pendekatan kognitif adalah bahwa perilaku individu tergantung pada 
     caranya mengamati situasi sosial. Secara spontan dan otomatis orang akan
     mengorganisasikan persepsi, pikiran dan keyakinannya tentang situasi sosial ke dalam
    bentuk yang sederhana dan bermakna., seperti yang mereka lakukan terhadap objek.
    Bagaimanapun rancunya situasi orang akan mengadakan pengaturan dan pengorganisasian 
    ini (persepsi dan pengartian lingkungan) akan mempengaruhi perilaku individu dalam
    situasi sosial.

    Terdapat beberapa prinsip dasar dalam teori ini yaitu (Sears., 1985:17-18): 
    a. Individu cenderung mengelompokkan dan mengkategorikan objek secara spontan. Individu tidak melihat objek secara tersendiri melainkan sebagai bagian dari sekelompok benda atau hal-hal lain di sekitarnya. Oleh karenanya individu cenderung mengelompokkan objek ini dengan beberapa prinsip sederhana misalnya karena kesamaan, kedekatan atau pengalaman masa lalu. 
    b. Individu dapat memperhatikan objek dengan mengamati sesuatu sesuatu sebagai hal yang menyolok (figure) dan yang lain sebagai latar belakang (ground). Biasanya rangsangan yang bergerak, berwama, bersuara, unik, dekat, merupakan figure. Sedangkan rangsangan yang lembut, tidak menarik, tidak bergerak, tidak bersuara, umum, jauh, merupakan ground

    Teori kognitif mempunyai tekanan yang berbeda dengan teori belajar yaitu: 
    a. Teori kognitif memusatkan diri pada interpretasi dan organisasi perseptual mengenai keadaan seseorang, bukan keadaan masa lalu. 
    b. Teori kognitif mencari sebab-sebab perilaku pada persepsi atau interpretasi individu terhadap situasi dan tidak pada realita situasinya. Interpretasi individu terhadap situasi merupakan hal yang lebih penting daripada bagaimana sebenarnya situasi itu.

    4.TEORI BELAJAR SOSIAL (SOCIAL LEARNING THEORY)
     Pokok pemikiran dalam pendekatan belajar adalah bahwa perilaku individu ditentukan oleh apa yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam situasi tertentu seseorang mempelajari perilaku tertentu sebagai kebiasaan dan bila menghadapi situasi itu kembali oarang tersebut akan cenderung untuk berperilaku sesuai dengan kebiasaannya itu. Pendekatan dengan belajar populer di tahun 1920-an dan merupakan dasar Behaviorisme.
    Dalam kehidupan manusia ada 2 (dua) pengertian belajar yaitu belajar secara fisik misalnya belajar menari, naik sepeda dan lain-lain, dan belajar psikis yaitu mempelajari perannya dan peran orang lain dalam konteks sosial. Menurut Dollard & Miller ada 4 (empat) prinsip dalam belajar yaitu dorongan, isyarat, respons dan reward. Pengertian dorongan dan respons sudah dijelaskan sebelumnya. Reward sebenarnya sama dengan reinforcement yaitu stimulus yang menetapkan perlu diulangi atau tidak suatu respons pada kesempatan lain. Isyarat adalah stimulus yang menentukan kapan dan dimana suatu respons akan timbul dan respons apa yang akan timbul. syarat bisa disamakan dengan stimulus diskriminatif. Mekanisme belajar dapat dibagi dalam tiga mekanisme umum (Sears, dkk., 1985:13-14) yaitu:
    a. Asosiasi (Classical Conditioning) yaitu kita belajar berperilaku dengan mengasosiasikan kata-kata, suara-suara, warna-warna dan sebagainya atau fenomena yang terjadi disekitar kita. Misalnya mengasosiasikan kata "Tsunami" dengan hal-hal atau bencana yang mengerikan.
    b. Reinforcement, yaitu orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Misalnya seorang mahasiswa yang belajar untuk tidak menentang profesor pengajarnya di kelas karena ketika hal tersebut dilakukan sang profesor selalu mengerutkan dahi, marah dan membentaknya kembali.

    c. Imitasi adalah proses dimana orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model.
    Misalnya anak-anak yang menirukan hal-hal yang dilakukan oleh orang tuanya atau orang dewasa di sekitarnya. Cara yang penting dalam belajar sosial adalah tingkah laku imitasi. Dollard & Miller (dalam Wibowo,1988:I.28-I.29) menyatakan terdapat 3 (tiga) mekanisme imitasi:
    a. Tingkah Laku Sama 
    Terjadi bila 2 (dua) atau lebih orang memberikan respon karena terstimulus oleh isyarat yang sama. Misalnya sesama penumpang angkutan umum dengan jurusan yang sama, tidak lantas perbuatan ini dianggap sebagai tiruan.
    b. Tingkah Laku Tergantung 
    Timbul dalam hubungan antara dua pihak dengan keadaan pihak yang satu adalah lebih pandai, lebih tua atau lebih mampu dari pihak lain. Maka pihak lain akan menyesuaikan tingkah lakunya dan akan tergantung pada pihak pertama. Misalnya seorang kakak yang menjemput dan membawakan tas ayahnya pada saat sang ayah pulang kerja maka ia akan diberikan sebatang coklat. Dia menganggap deru mobil sang ayah di halaman pada sore hari adalah isyarat sang ayah datang dan biasanya akan memberinya coldat, maka ia berlari menghamhirinya. Bagi adiknya yang pada saat itu barn melihat kejadian tersebut, gerak lari kakaknyalah yang merupakan isyarat baginya sehingga ia meniru (imitasi) tingkah laku kakaknya di lain kesempatan karena dengan begitu ia akan mendapat reward sebatang coklat dan ayahnya.
    c. Tingkah Laku Salinan (Copying) 
    Persamaan antara tingkah laku tergantung dengan tingkah laku salinan adalah keduanya sama-sama menggunakan isyarat dan tingkah laku model (orang yang ditiru). Perbedaannya terletak pada jika dalam tingkah laku tergantung seseorang merespons hanya terhadap isyarat dari model, sedangkan dalam copying orang yang bersangkutan akan merespons tingkah laku yang menunjukkan kesamaan dan perbedaan antara responnya dengan respons si model (orang yang ditiru). Misalnya A biasanya akan memperlambat laju mobilnya jika lampu kuning menyala. Suatu hari pada saat lampu kuning menyala ia melihat B pengendara mobil lainnya yang justru mempercepat laju kendaraannya dan ia terhindar dari lampu merah. Maka pada kesempatan lain, jika ada lampu kuning menyala A akan mempercepat laju kendaraannya.
    Terdapat beberapa ciri khusus dalam pendekatan belajar yaitu (Sears., 1985:14):
    a. Sebab-sebab perilaku diduga terletak terutama pada pengalaman belajar individu di masa lampau. Para ahli teori belajar mengaitkan diri pada pengalaman masa lalu dan kurang memperdulikan seluk beluk situasi yang sedang terjadi.
    b. Pendekatan belajar cenderung menempatkan penyebab perilaku terutama pada lingkungan eksternal dan tidak pada pengartian subjektif individu terhadap apa yang terjadi. Pendekatan ini menekankan kejadian eksternal yang telah diasosiasikan dengan stimulus atau reinforcement yang telah dikaitkan dengan timbulnya tanggapan atau model peran yang pernah diternui. Semua ini bersifat eksternal bagi individu. Sebagai sebab-sebab terjadinya perilaku pendekatan belajar tidak menekankan keadaan subjektif misalnya persepsi terhadap situasi dan emosi.
    c. Biasanya diarahkan untuk menjelaskan perilaku yang nyata dan bukan pada keadaan subjektif atau psikologis.

    5. TEORI PSIKOANALISA
    Tokoh dan teori ini adalah Freud. Alasan teori ini dipakai untuk menelaah tingkah laku sosial adalah adanya pendapat dan Freud bahwa terdapat pertentangan yang mendasar antara pemuasan keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan individual dengan kesiapan masyarakat dalam memenuhi semua kebutuhan tersebut. Menurut teori ini pula perkembangan individu menuju kedewasaan adalah melalui serangkaian tahapan yaitu tahap oral, anal, phallic dan genital. (dalam Wibowo, 1.14-1.15) Secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut:
    a. Tahap Oral: Bayi barn lahir s/d 1 atau 1,5 tahun. Pengalamannya hanya kenikmatan, kesakitan dan perubahan-perubahan ketegangan.
    b. Tahap Anal: Berlangsung dari usia 1 atau 1,5 tahun — 4 tahun. Perkembangan ego ditandai dengan kemampuan untuk menguasai obyek, mengantisipasi hal-hal yang terjadi dengan imaginasi; sadar dan
    toleransi terhadap kecemasan; perkembangan kemampuan berbicara dan berpikir; tumbuhnya kemampuan untuk menunda respons.
    c. Tahap Phallic: Mulai terjadi setelah usia 3 — 4 tahun. Perkembangan yang penting adalah meningkatnya minat pada seks (dalam keluarga berupa kompleks oedipus, jika anak laki-laki dengan ayahnya dan anak perempuan dengan ibunya; serta dalam dirinya berupa fantasi-fantasi tertentu), proses pertunibuhan super ego, serta makin banyak menggunakan mekanisme pertahanan diri. Ditandai dengan meningkatnya keinginan untuk bermasturbasi; meningkatnya keinginan untuk bersentuhan tubuh dengan anggota keluarga yang berlawanan jenis; meningkatnya kecenderungan ekshibisionis (menunjukkan alat kelamin kepada orang lain).
    d. Tahap Laten: Merupakan masa konsolidasi dalam perkembangan, menyesuaikan did dengan lingkungan di luar keluarga. Hasrat seksual kepada orang tua disublimasikan menjadi rasa menghormati dan menghargai. Merupakan masa persiapan untuk remaja (pubertas).
    e. Tahap Genital: Secara psikologis ditandai dengan ciri-ciri antara lain hasrat untuk mandiri, lebih menghargai aturan-aturan dari teman sebaya, pemberontakan melawan orang tua, pikiran-pikiran bingung dan lain-lain.

    Menurut konsep Freud ada 3 (tiga) sistem yang membentuk struktur kepribadian:

    Description: http://www.world-of-lucid-dreaming.com/image-files/iceberg.JPG

    a. Id adalah cumber energi psikis, merupakan sub sistem dan kepribadian. Id seringkali dilukiskan sebagai pengharapan-pengharapan yang berasal dari insting-insting psikologi yang dipunyai setiap orang sejak lahir. Id adalah sesuatu yang tidak disadari maka semua ketidaksadaran berlaku bagi id misalnya amoral, tidak terpengaruh oleh waktu, tidak mempedulikan realitas, bekerja atas dasar kesenangan, tidak terbelenggu moral, etik, alasan dan logika. Id secara tetap merupakan upaya untuk mendapatkan kesenangan, penghargaan dan pemuasan. Upaya ini secara pokok diwujudkan lewat libido dan agresi (dalam Gerungan, 2004). Libido mengarah pada hubungannya dengan keinginan seksual, kesenangan-kesenangan termasuk di dalamnya kehangatan, makanan dan kenyamanan (comfortable). Agresi mendorong Id ke arah kerusakan termasuk diantaranya keinginan perang, berkelahi, berkuasa dan semua tindakan-tindakan yang bersifat merusak. Walaupun demikian Id tetap diakui sebagai kekuatan yang mendorong sepanjang kehidupan ini dan merupakan sumber yang amat penting dari daya berpikir dan upaya bertindak. Id pada akhirnya hams dihubungkan dengan realitas yang tidak bisa diabaikan begitu saja, oleh karena itu sebagai penghubung timbul sistem "ego".

    b. Ego berfungsi untuk menghadapi realitas dan menerjemahkan untuk id. Ego beroperasi berdasarkan proses berpikir. Ego merupakan sumber rasa sadar. Ia mewakili loglka dan yang dihubungkan dengan prinsip-prinsip realitas. Ego merupakan sub sistem yang berfungsi ganda yaitu melayani dan sekaligus mengendalikan dua sistem lainnya (Id dan Super-Ego) dengan cara berinteraksi dengan dunia luar atau lingkungan luar (external environment). Ego dapat mengembangkan suatu fasilitas penalaran untuk menimbang dan belajar guna menyesuaikan dan bertindak sesuai dengan lingkungannya. Namun pada gilirannya situasi konflik antara Id dan Ego tidak dapat dihindarkan, dimana di satu pihak Id menuntut dipenuhinya kesenangan dengan cepat dan di pihak lain Ego berusaha menekan, menolak atau menundanya untuk mencarikan waktu dan tempat yang lebih sesuai untuk memenuhi kesenangan tersebut. Agar Ego dapat mengatasi konflik dengan Id maka is banyak mendapat bantuan dari Super-Ego.

    c. Super-Ego: adalah sistem moral dan kepribadian atau kekuatan moral dari personalitas. Sistem ini berisi norma-norma budaya, nilai-nilai sosial dan tata cara yang sudah diserap ke dalam jiwa. Super ego berprinsip mencari kesempurnaan. Ia adalah sumber norma yang memungkinkan Ego memutuskan apakah sesuatu benar atau salah. Teori psikoanalisa juga memperkenalkan konsep ketidaksadaran sebagai bagian kepribadian, dimana terletak keinginan-keinginan, impuls-impuls dan konflik-konflik yang dapat mempunyai pengaruh langsung terhadap tingkah laku. Pada dasarnya tingkah laku individu dipengaruhi atau dimotivasi oleh determinan kesadaran maupun ketidaksadaran (Dayakisni, 2006:19). Contoh dalam proses-proses ketidaksadaran misal-nya tingkah laku agresi dipandang sebagai suatu manifestasi pembawa-an sejak lahir, yaitu yang disebut sebagai insting mati dalam ketidak-sadaran.

    6. TEORI PERAN
     Pengertian Peran (Role) biasanya didefinisikan sebagai serangkaian tingkah laku atau fungsi-fungsi yang dikaitkan dengan posisi khusus dalam hubungan tertentu. Menurut Bidle & Thomas (Wibowo, 1988:1.21) ada 4 (empat) istilah tentang perilaku dalam kaitannya dengan peran:
    a. Harapan (expectation).
    b. Norma (norm).
    c. Wujud Perilaku (performance).
    d. Penilaian (evaluation) dan Sanksi (sanction).
    Dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
    a. Harapan tentang Peran, adalah harapan-harapan orang lain pada umumnya tentang perilaku-perilaku yang pantas yang seyogyanya ditunjukkan oleh seseorang yang mempunyai peran tertentu.

    Contoh harapan dari masyarakat umum terhadap public servant yang bersih dan bebas KKN.

    b. Norma, merupakan salah satu bentuk harapan. Menurut Secord & Backman (Wibowo, 1988:L21-L22) jenis jenisharapan adalah:
    • Harapan yang bersifat meramalkan (predicted role expectation) yaitu harapan tentang suatu perilaku yang akan terjadi. 
    • Harapan Normatif (prescribed role expectation) adalah keharusan-keharusan yang menyertai suatu peran. Ada 2 jenis yaitu pertama harapan yang terselubung (covert) adalah harapan-harapan yang ada tanpa harus diucapkan misalnya dokter hams menyembuhkan pasiennya. Kedua yaitu harapan terbuka (overt) adalah harapan- harapan yang diucapkan (role demand). Misalnya orang tua yang meminta agar anaknya rajin belajar dan bertanggung jawab atas tugas-tugasnya.

    c. Wujud Perilaku dalam Peran Peran diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan sekedar harapan. Misalnya peran ayah adalah mendisiplinkan anaknya, maka ada ayah yang menggunakan hukuman-hukuman fisik sedangkan ayah lainnya hanya memberi nasehat raja. Kapan peran perlu ditunjukkan/ menjadi penting? Perwujudan peran bisa bermacam-macam. Misalnya pendapat Sarbin (dalam Wibowo, 1988:1.23) dimana perwujudan peran terdiri dan tingkatan intensitas dan yang terendah sampai yang tertinggi. Contoh seorang pemain musik di kafe yang menjadi tugasnya setiap malam maka karena terlalu biasa ia bisa bermusik sambil mengobrol dengan temannya. Sementara ada seorang pianis yang hams menggelar konser tunggalnya maka ia akan mempersiapkan din dan performanya dengan penuh konsentrasi. Goffman (dalam Wibowo, 1988:1.23) meninjau dan sudut lain yaitu dari permukaan (front), yaitu untuk menunjukkan perilaku-perilaku tertentu yang diekspresikan secara khusus agar orang mengetahui secara jelas peran si pelaku. Contoh seorang profesor akan memajang rak penuh buku-buku ilmiah di ruang tamu, sehingga tamunya akan mendapat kesan tentang apa dan bagaimana peran profesor tersebut. Inilah yang dimaksud dengan "front". Namun ada juga hal yang disukai profesor misalnya tetapi tidak ditunjukkan yaitu kegemarannya membaca komik dimana komik-komik tersebut disimpannya dengan rapi di kamar pribadinya.


    d. Penilaian dan Sanksi.
     Menurut Biddle & Thomas (dalam Wibowo, 1988:1.24) penilaian peran adalah pemberian kesan positif atau negatif yang didasarkan pada harapan masyarakat terhadap peran dimaksud. Sanksi adalah usaha orang untuk mempertahankan suatu nilai positif atau agar perwujudan peran diubah sedemikian rupa sehingga yang tadinya dinilai negatif menjadi positif. Menurut Merton & Kitt (dalam Wibowo, 1988:1.25) setiap orang memerlukan kelompok rujukan (reference group) tertentu yang mempunyai fungsi, pertama fungsi normatif, dimana kelompok mendesakkan suatu standar tertentu bagi perilaku dan keyakinan atau kepercayaan anggotanya. Terlepas benar atau salahnya standar itu, kelompok mempunyai cukup kekuatan atas individu sehingga individu mau tidak mau mengikuti standar tersebut. Misalnya aturan-aturan yang dibuat orang tua hams diikuti anaknya karena anak adalah anggota keluarga. Jika norma ini diserap (diinternalisasikan) maka terbentuklah nilai dalam diri individu itu yang selanjutnya menjadi pedoman bagi tingkah laku dan kepercayaannya. Kedua adalah fungsi komparatif /perbandingan dimana kelompok hanya dijadikan alat pembanding bagi individu untuk mengetahui apakah perilaku atau kepercayaannya sudah benar atau masih salah. Perbandingan ini bisa dilakukan dengan melibatkan diri atu tidak terhadap kelompok tersebut. Kelompok hanya dijadikan alat untuk tujuan informatif saja.









    psikologi sosial part 2 teori teori psikologi sosial



  • PSIKOLOGI SOSIAL
    PENGERTIAN
    Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya bahwa psikologi social merupakan percabangan dari ilmu psikologi,psikologi social ini memfokuskan dalam meneliti dampak ataupun pengaruh terhadap perilaku manusia
    Dalam beberapa sumber yang sudah saya rangkum menjadi satu  tatanan, ilmu psikologi social juga di jelaskan oleh beberapa pakar di antaranya :
    1.       Menurut Hubert Bonner dalam bukunya “Social Psychology” menyatakan “Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.“ Definisi ini menunjukkan bahwa Bonner lebih menitik beratkan pada tingkah laku individu, bukan tingkah laku sosial. Tingkah laku inilah yang menjadi pokok atau sasaran utama dalam mempelajari psikologi sosial.
    2.       Menurut Sherif dalam bukunya “An Outline of Social Psychology” memberikan definisi sebagai berikut : “ psokologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam kaitannya dengan situasi-situasi perangsang sosial.” Dalam defi\nisi ini, tingkah laku telah dihubungkan dengan situasi-situasi perangsang sosial.
    3.       Manurut Boring, Langveld, and Weld dalam bukunya “ Foundations of Psychology” berpendapat bahwa: “Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari individu manusia dalam kelompokknya dan hubungan antara manusia dengan manusia.
    4.       Menurut Roueck and Warren dalam bukunya “Sociology” memberikan batasan bahwa :”Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segi-segi psycholois daripada tinghkah laku manusia, yang dipengaruhi oleh interaksi sosial.” Dalalm sefinsi ini telah dinyatakan bahwa interaksi amnusia telah nyata pengaruhnya pada tinghkah laku manusia.
    5.       Menurut A.M. Chorus dalam bukunya “Gronslagen der sociale Psycologie” merumuskan bahwa : “Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat.” Chorus memberikan definisi tersebut dengan kesadaran bahwa setiap manusia yang normal akan hidup dan berhubungan bersama dengan masyarakat.
    6.       Sedangkan di dalam kamus Paedagogik menyatakan bahwa : “Psikologi Sosial ialah ilmu jiwa yang mempelajari gejala-gejala psikis pada massa, bangsa, golongan, masyarakat dan sebagainya. Lawannya : Psikologi individu (orang-orang).”


    TUJUAN
    Sama halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan pembelajaran Psikologi Sosial bertumpu pada tujuan yang lebih tinggi. Secara hirarki, tujuan Pendidikan Nasional pada tataran operasional dijbarkan dalam tujuan institusioanl tiap jenis dan jenjeang pendidikan . selanjutnay pencapaian tujuan institusional ini, secara praktis dijabarkan dalam tujuan kurikuler atau tujuan mata pelajaran. Akhirnay tujuan kurikuler ini, secara praktis operasional dijabarkan dalam tuuan instruksional atau tujuan pembelajaran.dalam sub bahasan ini, dibatasi p[ada uraian tuuan kurikuler bidang studi Psikologi Sosial. Tujuan kurikuler Psikologi Sosial yang harus dicapai sekurang-kurangnay meliputi lima tujuan berikut.
    1.      Membekali peserta didik dengan pengetahuan Psikologi Sosial sehinggat tidak       terpenagruh, tersugesti, atau terpengaruh oleh situasi sosial yang selamanya tidak bernilai baik
    2.      Membekali peserta didik dengan kemampuan memngiudentifikasi, mengnalisa dan menyusun alternatif pemecahan masalah-masalah sosial secara teap dan sisitematis mengenai proses kejiwaan yang berhubuunagn dengan kehidupn bersama
    3.      Membekali peserta didik dengan kemampuan berkomunikasi denagn sesama warga masyarakat sehingga memudahkan dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan dan pengrahan kepada tujuan denagn sebaik-baiknya
    4.      Membekali peserta didik denagn kesadaran terhadap lingkungan sosial sehingga mampu merubah sifat dan sikap sosialnya.
    5.      Membekali peserta didik denagn kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keimuan psikologi sosial sesuai dengan perkembangan kehidupan, perkembanagn masyarakat \, perkembanagn ilmu, dan perkembangan teknologi.


    Konsep dasar Psikologi Sosial dan implementasinya dalam kehidupan msyarakat
    objek pembahasan psikologi sosial adalah terpusta kepada kehidupan manusia,seperti yang kita ketahui , manusia adalah ciptaan tuhan yang bisa di katakana hampir mendekati sempurna, kenapa saya katakana ‘hampir’ ? ,karna yang kita lihat tidak ada manusia yang sempurna, pasti semua manusia mempunyai sisih buruk yang tak tampak secara langsung,manusia memiliki kecerdasan ,akal serta nafsu yang lebih daripada makluk ciptaan tuhan yang lainnya. Kelebihan inilah yang mendorong manusia mampu menguaai alam, menakklukkan makhluk yang lebih kuat, dan menciptakn segala sesuatu yang dapat menyempurnakan dirinya. Hal ini dapat mereka capai karena di setiap diri manusia terdapat suatu potensi yang dapat mendorong manusia agar terus maju dan menciptakan apa yang mereka butuhkan



          berikut ini merupakan contoh bahwa manusia lebih tinggi dari pada makluk yang lainnya:
    1.    Kemampuan untuk berbahasa dan menciptakan Bahasa serta mengembangkannya,dalam kenyataannya memang tak hanya manusia yang memiliki kemampuan berbahsa hewanpun mempunyai bahasanya sendiri, namun apakah mereka bisa menambah Bahasa mereka serta mengembangkannya ??
    2.       .      Hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia memiliki kemampuan untuk hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia mampu m,endasarkan tingkah lakunya pada pengalaman masa lalunya, kebutuhan-kebutuhan sekarang, dan tujuan yang akan dicapai pada amsa yang akan datang. Pengalaman-pena\galaman masa lalu merupakan peganagn bagi perbuatan-perbuatannya masa sekarang, sehingga kesalahan yang sama tidak akan selalu terulang-ulang. Pengalaman-penaglaman yang tidak baik diingat untuk yidak berbuat lagio sedangkan pengalaaman-pengalaman yang baik dipegang untuk pedoman dalam kegiatan-kegiatannya masa kini yang kemudian kegiatan tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan yang akan datang dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain bahwa amnusia dapat merencanakan paa yang akan diperbuat dan apa yang akan dicapai.
    3.       Adanay sikap etik. Di dalam  setiap masyarakat pasti terdapat peraturan atau norma-norma yang mengatur tingkah laku anggota anggotanya baik itu masyarakat modern  maupun masyarakat yang masih terbelakang sekalipun norma tersebut  merupakan ketentuan apakah sesuatu perbuatan itu dipandang baik atau buruk. Norma tersebut tidak selalu sama antara masyarkat  satu dengan yang lainnya sesuai dengan adat kebiasaan, agama, dan perkembanagn kebudayaan umumnya dimana dia hidup. Individu sebagai anggota masyarakat berusaha untuk berbuat sesuai dengan norma yang berlaku dala masyarakat karena adanya sikap etik yang dimilikinya. Namun demikian sesuai dengan tuntutan kebudayaan manusia berusaha unr\tuk menyempurnakan noram yang telah ada

    Ketiga potensi di atas oleh para ahli dijadikan sebagai syarat “human minimum”. Oleh karenanya jika tidak terdapat ketiga potensi tersebut maka akan sukar untuk dikelompokkan sebagai masyarakat manusia. Pemahamanini selanjutnya akan mendorong untuk meningkatkan kecakapan dan potensi diri pribadinya
    manusia juga disebut sebagai makhluk monopluralis. Disebut demikian karena manusia dapat dipandang sebagai makhluk individu, sosial, dan ber-Tuhan.
    1.      Makhluk individu. Manusia sebagai makhluk  individual berarti manusia itu menerapkan  suatu totaliat individu berasal dari kata in-dividere yang berarti tidak dapat dipecah-pecah. Dalam aliran modern, ditegaskan bahwa jiwa manusia itu merupakan satu kesatuan jiwaraga yang berkegiatan secara keseluruhan.
    2.      Makhluk sosial. Manusia tidaklah mungkin hidup sendiri tanpa danya komunikasi dengan manusia yang lainnya. Sejak dilahirkan manusia membutuhkan bantuan orang lain.
    3.      Makhluk ber-Tuhan. Sebagai manusia yang beragama, dalam kehidupannya tidak bisa lepas dari pengakuan terhadap Tuhan. Hanya mereka yang tergolong atheis saja yang tidak mengakuai adanya Tuhan. Sebenarnya mereka yang atheis pun tanpa disadari telah menyatakan kebutuhannya kepada Tuhan  meskipun tidak sempurna. Hali ini terbukti denagn aktivitasnya yang menyembah kepada dewa-dewa dan benda-benda lainnya.aneh bukan -_-?


    Ok mungkin sampai sini dulu pembahasan mengenai psokologi sosialnya, mungkin pembahasan tentang psikologi social akan di lanjut di post selanjutnya , semoga apa yang saya tulis tadi dapat bermanfaat J, jika ada yang ingin di tanyakan bisa melalui komantar di bawah ya J



    psikologi sosial part 1 pengertian

  • - Copyright © 2013 RETNO_WIBOWO - To Aru Kagaku no Railgun - Powered by Blogger - Designed by retno wibowo -