Archive for 04/03/16
![]() |
| image source: psychology.about.com |
Definisi Psikologi Klinis
- Merupakan sub-area dari ilmu psikologi yang mempelajari proses perilaku & mental, meliputi penelitian tentang proses mental & perilaku, asesmen atau pengukuran terhadap kemampuan/potensi & karakteristik individu, & usaha untuk menolong orang yang mengalami gangguan psikologis
- Memiliki sikap klinis ataupun pendekatan klinis: mengkombinasikan antara hasil riset tentang proses mental & perilaku dengan asesmen individu untuk memahami & menolong seseorang.
- Psikologi klinis telah mengutamakan penerapan hasil penelitian sesuai perbedaan masing2 individu (idiographic level) tidak untuk orang secara umum (nomothetic level)
Lingkup Kerja Psikologi Klinis
- Sebagai peneliti & praktisi yang meliputi kegiatan asesmen, treatment, riset, teaching, konsultasi & administrasi
Akar Psikologi Klinis
Kemunculan Psikologi Klinis dipengaruhi oleh faktor :
- Penggunaan metode penelitian didalam psikologi, studi tentang perbedaan individual & perubahan dalam pandangan gangguan psikologis serta intervensinya.
Berkembangnya metode penelitian dalam ilmu psikologi:
- Diawali dengan penelitian dalam laboratorium yang dilakukan oleh Wundt di Leipzig, Wina (1879), psikologi diakui sebagai sebuah ilmu & diikuti dengan penelitian2 lainnya.
Individual Differences
- Masa astronomi, phrenology, physiognamy, psychology, measuring (mental test)
Changing Conception of Behavior Disorder - Kekuatan magis, filosofu & religion, biologis, pendekatan personal (Pinel,dll), psikologis (hypnotis).
Studi Perbedaan Individual:
- Pandangan Astronomis
- Pandangan Anatomis: fisik terhadap perilaku
- Galton: Mental Testing Center
- Cattel: Mental Test
- Binnet: Fungsi mental
Gangguan Psikologis & Intervensi
- Gangguan psikologis tidak lagi dipandang sebagai kekuatan supranatural; adanya gangguan mental: Pnel, Dorothe Dix, Charrot, Freud (Study in hysteris) à memperlakukan penderita gangguan mental secara lebih manusiawi.
Kelahiran Psikologi Klinis
- Pertama kalinya muncul Psychological Clinic untuk Lightner Witmer (1896) à kasus Charles Gilman (problem sekolah) à asesmen & treatmen
- Jurnal The Psychological Clinic (1907)
- American Association of Clinical Psychologist (AACP) 1917
- Pada masa perang 1918-1941 : berkembangnya asesmen (tes psikologi)
- Pada masa sesudah perang: pendidikan psikologi klinis Abad 20-21: spesialisasi psikologi klinis, aktivitas & isu-isu lain (organisasi)
Sejarah Psikologi Klinis
Meskipun psikologi klinis sebagai bidang keahlian khusus profeswional baru berumur 100 tahun lebih sedikit, akarnya dapat ditarik ke belakang, sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Orang-orang di jaman Yunani dan India kuno, di Abad Pertengahan London, dan di jaman Amerika-kolonial menghadapi banyak masalah yang sama dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial dan berbagai kesulitan yang sama dengan yang dihadapi saat ini. Sumbangan genetic dan pengalaman awal pasti telah mempredisposisikan orang-orang primitive untuk mengalami berbagai gangguan dan stress.
Cara-cara yang dapat diterima untuk menangani berbagai masalah psikologi di tiap budaya melibatkan individu-individu yang memainkan peran-peran serupa dengan yang dimainkan oleh para psikolog dan pekerja kesehatan mental dewasa ini. Orang bijak di Delphi, dokter dukun di Afrika Tengah, tetua di suku-suku Indian, dan pendeta serta pastur selama berabad-abad telah membantu para laki-laki dan perempuan dalam memutuskan tentang segala sesuatu yang dilakukan, bagaimana menerima kenyataan yang tak mungkin ditawar dalam kehidupan, dan bagaimana cara mengubah sikap dan perilaku yang tidak memuaskan. Bahkan sampai hari ini pun sebagian orang lebih suka berkonsultasi dengan astrolog daripada membawa masalahnya ke klinik psikologi atau pelayanan professional lainnya. Setiap orang tumbuh bersama keyakinan dan kebiasaan berbasis budaya, dan ketika klinisi bertemu dengan orang-orang, semua itu menjadi bagian pertemuannya.
Ide-ide yang terjalin menjadi bahan baku psikologi klinis juga dapat ditarik mundur sampai ke awal sejarah yang tercatat. Para filsuf Yunani mengembangkan cara-cara ilmiah untuk melihat alam, termasuk manusia. Aristoteles (lahir 384 SM) kadang-kadang dianggap sebagai psikolog yang pertama. Kata psychology diambil dari kata Yunani psyche (yang berarti nafas, jiwa atau prinsip hidup) dan logos (pembicaraan, kata atau alasan), tetapi nama psychology untuk ilmu belum digunakan sehingga berabad-abad kemudian. Hipokrates (lahir 460 SM) memprakarsai pendekatan medis pada fenomena psikologis abnormal yang sedikit demi sedikit menggantikan konsepsi-konsepsi supranatural dan demonologis. Konsepsi-konsepsi ilmiah tentang sifat manusia mengalami pasang surut dari abad kea bad , tetapi tidak pernah sama sekali menghilang. Bahkan selama abad 15 dan 16, masa kejayaan ilmu guna-guna, sebagian orang berani berbicara lantang menentang pandangan dan praktik yang berlaku pada waktu itu.
Periode I: Kelahiran, 1896-1917
Psikologi sebagai ilmu: akhir abad ke 19 di Eropa dan Amerika
Digerakkan oleh 3 perkembangan sosial:
Pada tahun 1896, Leightner Witmer (murid Wilhelm Wundt), menggunakan istilah clinical psychology serta membuka klinik psikologi pertama di University of Pennsylvania. Witmer menekankan pada pentingnya assessment sebelum melakukan penanganan.
Jurnal The Psychological Clinic (1907)
Dari tahun 1900-1920: banyak alat-alat bantu psikologi: tes inteligensi, tes kepribadian
Periode II: Masa Perang, 1918-1941
Periode III: Postwar
Ide-ide yang terjalin menjadi bahan baku psikologi klinis juga dapat ditarik mundur sampai ke awal sejarah yang tercatat. Para filsuf Yunani mengembangkan cara-cara ilmiah untuk melihat alam, termasuk manusia. Aristoteles (lahir 384 SM) kadang-kadang dianggap sebagai psikolog yang pertama. Kata psychology diambil dari kata Yunani psyche (yang berarti nafas, jiwa atau prinsip hidup) dan logos (pembicaraan, kata atau alasan), tetapi nama psychology untuk ilmu belum digunakan sehingga berabad-abad kemudian. Hipokrates (lahir 460 SM) memprakarsai pendekatan medis pada fenomena psikologis abnormal yang sedikit demi sedikit menggantikan konsepsi-konsepsi supranatural dan demonologis. Konsepsi-konsepsi ilmiah tentang sifat manusia mengalami pasang surut dari abad kea bad , tetapi tidak pernah sama sekali menghilang. Bahkan selama abad 15 dan 16, masa kejayaan ilmu guna-guna, sebagian orang berani berbicara lantang menentang pandangan dan praktik yang berlaku pada waktu itu.
Periode I: Kelahiran, 1896-1917
Psikologi sebagai ilmu: akhir abad ke 19 di Eropa dan Amerika
Digerakkan oleh 3 perkembangan sosial:
- Revolusi Industri: ikatan yang bersifat kekeluargaan dan kemasyarakatan digantikan oleh hubungan yang bersifat birokratis dan impersonal
- Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan semakin tingginya kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan sebagai fondasi kemajuan manusia
- Pandangan baru mengenai sifat manusia, lebih pada asumsi rasional dan hedonistis.
Pada tahun 1896, Leightner Witmer (murid Wilhelm Wundt), menggunakan istilah clinical psychology serta membuka klinik psikologi pertama di University of Pennsylvania. Witmer menekankan pada pentingnya assessment sebelum melakukan penanganan.
Jurnal The Psychological Clinic (1907)
Dari tahun 1900-1920: banyak alat-alat bantu psikologi: tes inteligensi, tes kepribadian
Periode II: Masa Perang, 1918-1941
- Masa pertumbuhan dan kemajuan di bidang ilmu psikologi dan perkembangan pola standar bagi organisasi pelayanan psikologi
- Bidang ide dan konsep: Freudian menjadi orientasi dominan
- John Watson: gerakan behavioral mempengaruhi kegiatan riset
- Banyak berdiri klinik psikologi anak
- 1945: setelah PD II berakhir, psikolog Amerika byk terlibat dlm pekerjaan RS --> dari bidang pendidikan menjadi keahlian khusus medis
- 1930-an: berdiri layanan konseling di kampus, University of Minnesota
- Perkembangan alat-alat tes: MMPI, Rorschach, Binet, TAT
Periode III: Postwar
- Selama 2-3 dekade setelah PD II, psikolog klinis tlh menjadi profesi mandiri: banyak terlibat dalam perang, banyak ide baru, standar baru
- 1944: Psikologi klinis menjadi divisi dalam APA
- 1952: APA menerbitkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) I
- Sertifikasi dan lisensi legal untuk psikolog klinis di Amerika
Banyak pengertian
mengenai psikologi klinis , di bawa ini merupakan penjelasan mengenai
pengertian dari psikologi klinis menurut para pakar
Pengertian
Psikologi Klinis
Menurut J.H.Resinck adalah bidang dalam psikologi yang meliputi riset,
pelayanan dan pengajaran yang relevan dengan prinsip-prinsip, metode-metode dan
prosedur aplikasi untuk memahami, meduga dan mengurangi maladjustmen,
ketidaknyamanan dan ketidakmampuan, diterapkan pada populasi klien untuk
rentang yang luas
Menurut
Witmer, Pengertian Psikologi Klinis ialah metode yang
digunakan untuk mengubah atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil
observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik penanganan pedagosis.
Corsini
mengatakan
bahwa Pengertian Psikologi Klinis merupakan cabang psikologi yang
bersifat spesialis dalam studi, prevensi, diagnosis dan penanganan
gangguan-gangguan perilaku dan gangguan mental dan tekanan-tekanan mental yang
negative
Pengertian
Psikologi Klinis
Menurut American Psychological Association Clinical Section adalah
suatu wujud psikologi terapan yang bermaksud memahami kapasitas perilaku dan
karakteristik individu yang dilaksanakan melalui metode pengukuran, analisis
dan pemberian saran serta rekomendasi agar individu mampu melakukan penyesuaian
diri secara patut.
Ada
beberapa ciri atau sifat yang terdapat pada Psikologi Klinis,
yaitu :
- Memiliki
orientasi ilmiah-profesional. Yang dimaksudkan dalam hal ini ialah adanya
ciri berupa penggunaan kaidah psikologi dan metode ilmu, dalam pemberian
bantuan terhadap individu yang menderita masalah-masalah psikologis
melalui intervensi dan evaluasi psikologis.
- Menampilkan
kompetensi psikolog, sebab psikolog klinis terlatih di dalam menggunakan
petunjuk dan pengetahuan psikologi dalam kerja profesionalnya.
- Menampilkan
kompetensi klinikus, karena berusaha mengerti orang lain dalam
kompleksitas alamiah dan transformasi adaptif secara berkelanjutan.
- Ilmiah,
karena penggunaan metode ilmiah untuk mencapai presisi dan objektivitas
untuk setiap individu yang ditanganinya.
- Profesional,
karena dalam hal ini lebih menyumbangkan pelayanan kemanusiaan yang
penting bagi individual, komunitas dan kelompok sosial untuk
memecahkan masalah psikososial dan meningkatkan kualitas hidup.
Sumber : Buku
dalam Penulisan Pengertian Psikologi Klinis Menurut Para Pakar :
-
Sutardjo A. Wiramihardja, 2007. Pengantar Psikologi Klinis. Yang
menerbitkan PT Refika Aditama : Bandung.
Daftar Pustaka: http://www.ilmupsikologi.com/2015/10/pengertian-dan-teori-psikologi-klinis-menurut-para-ahli.html#ixzz44vrK6wPk
psikologi klinis part 1 pengertian ,definisi, dan sejarahnya
TEORI
TEORI PSIKOLOGI SOSIAL
Banyak teori teori psikologi
social yang bersliweran di blog blog, dan kali ini saya akan
merangkumnya agar mudah untuk di pelajarai, teori teori ini di antaranya, teori
genetic,teori stimulus,teori kognitif, teori belajar sosial,teori
psikonalisa,teori peran ,
1. Teori genetic
Teori
ini menekankan kualitas pembawaan sejak lahir atas tingkah laku sosial. Bahwa
"manusia adalah binatang sosial" menjadi inti dan teori genetik dan
sekaligus menjadi dasar asumsinya, bahwa komponen-komponen dari tingkah laku
sosial dihubungkan dengan atau mempunyai akar pada penyebab genetik yang tidak
dipelajari.
Misalnya menurut Konrad
Lorenz (dalam Dayakisni, 2006:14), seorang ahli etiologi, yang mempelajari
gejala sosial pada binatang. Lorenz berpendapat bahwa tingkah laku agresi
adalah perwujudan dan insting agresi yang dibawa sejak lahir dan berasal dan
kebutuhan untuk melindungi diri.
Menurut William Mc Douglas (dalam Dayakisni, 2006:14) juga
mendasarkan pada konsep-konsep genetik pada tingkah laku sosial. Douglas
berpendapat bahwa banyak sifat dan tingkah laku spesifik dapat dijelaskan dalam
istilah insting, tingkah laku yang memiliki tujuan langsung yang tidak dipelajari.
Douglas menuliskan seperangkat insting yang diperkirakan medasari sejumlah
tingkah laku. Misalnya apabila seorang ibu melindungi anaknya maka hal tersebut
dinamakan tingkah laku "parental insting" (insting orang tua)
sedangkan jika dikenakan kepada orang yang berhungan dengan orang-orang lainnya
maka hal tersebut dianggap karena adanya "insting untuk berkumpul".
Namun sebagian ahli psikologi sosial menolak pendapat bahwa resting merupakan
mekanisme penjelasan tingkah laku manusia karena tasting diangap tidak dapat
menjelaskan alasan dibalik tingkah laku dan tidak dapat memberikan prediksi
yang akurat atas tingkah laku individu di masa yang akan datang. Jadi dapat
disimpulkan bahwa dalam teori genetik mengabaikan peranan faktor situasional
dan lingkungan dalam menelaah tingkah laku sosial. Oleh karenanya teori ini
kurang populer untuk dipakai dalam mengkaji fenomena-fenomena psikologi sosial.
2. Teori stimulus
Prinsip
teori ini menyatakan bahwa: "Kalau stimulus memberikan akibat yang positif
atau memberi reward maka respons terhadap stimulus tersebut akan diulangi pada
kesempatan lain dimana stimulus yang sama timbul. Sebaliknya apabila respons
memberikan akibat yang negatif (hukuman dan sebagainya) hubungan antara
stimulus dan respons tersebut akan dihindari pada kesempatan lain".
Stimulus adalah peristiwa yang terjadi baik di luar maupun di dalam
tubuh manusia
yang menyebabkan timbulnya suatu perubahan tingkah laku.
Respons adalah perubahan yang disebabkan oleh adanya
Gambaran mengenai stimulus J
Para tokoh juga mengemukakan
mengenai stimulus itu sendiri di antaranya :
Menurut Keller & Schoenfeld (Wibowo,1988:127) stimulus mempunyai 3
(tiga) fungsi yaitu:
1. Pembangkitan:
stimulus yang membangkitkan, adalah stimulus yang langsung
memberikan suatu
respons. Misalnya makanan langsung menimbulkan air liur orang
yang melihatnya
pada saat lapar terutama.
2.
Diskriminasi: stimulus yang diskriminatif,
adalah stimulus yang tidak langsung
menimbulkan
respons tetapi hanya merupakan pertanda adanya stimulus pembangkit. Misalnya
mendengar ada tukang siomay lewat. Saat barn mendengar belum ada reaksi apapun
dan diri orang tersebut, barulah setelah melihat sang penjual menyajikan
sepiring di depannya keluarlah air liurnya.
3.
Reinforcement: adalah stimulus yang menimbulkan
konsekuensi yang positif atau
negatif
pada terbentuknya respons. Reinforcement
positif adalah stimulus yang jika diberikan akan memperkuat tingkah laku
respons. Misalnya seorang anak yang menolong orang lain kemudian mendapat
pujian dan hadiah, maka ia akan cenderung mengulangi tingkah laku menolongnya
di kemudian hari. Reinforcement negatif
adalah stimulus yang jika tidak diberikan atau dihentikan pem-beriannya, akan
memperkuat terjadinya respons. Misalnya seorang anak yang kegemukan dan gelalu
diejek oleh temannya, tidak lagi diejek oleh temannya manakala dia berprestasi
di kelas/menjadi juara kelas. Maka ia akan mengulangi dan meningkatkan prestasi
akademiknya tersebut.
Dorongan
adalah suatu kekuatan dalam diri seseorang yang jika telah mencapai kekuatan
yang maksimum akan menyebabkan orang tersebut melakukan sesuatu. Menurut Dollard & Miller (dalam Wibowo,
1988:1.27) terdapat 2 (dua) macam dorongan pada manusia yaitu dorongan primer dan dorongan sekunder. Dorongan primer adalah dorongan bawaan seperti lapar, haus, sakit
dan seks. Dorongan sekunder adalah
dorongan yang bersifat sosial dan dipelajari misalnya dorongan untuk mendapat
upah, pujian, perhatian dan sebagainya.
3.
Teori kognitif
Pokok pikiran dalam pendekatan kognitif adalah bahwa
perilaku individu tergantung pada
caranya mengamati
situasi sosial. Secara spontan dan otomatis orang akan
mengorganisasikan
persepsi, pikiran dan keyakinannya tentang situasi sosial ke dalam
bentuk yang sederhana dan bermakna., seperti yang mereka
lakukan terhadap objek.
Bagaimanapun rancunya situasi orang akan mengadakan
pengaturan dan pengorganisasian
ini (persepsi dan pengartian lingkungan) akan mempengaruhi
perilaku individu dalam
situasi sosial.
Terdapat
beberapa prinsip dasar dalam teori ini yaitu (Sears., 1985:17-18):
a. Individu cenderung mengelompokkan dan mengkategorikan
objek secara spontan. Individu tidak melihat objek secara tersendiri melainkan
sebagai bagian dari sekelompok benda atau hal-hal lain di sekitarnya. Oleh
karenanya individu cenderung mengelompokkan objek ini dengan beberapa prinsip
sederhana misalnya karena kesamaan, kedekatan atau pengalaman masa lalu.
b. Individu dapat memperhatikan objek dengan mengamati sesuatu
sesuatu sebagai hal yang menyolok (figure) dan yang lain sebagai latar belakang
(ground). Biasanya rangsangan yang bergerak, berwama, bersuara, unik, dekat,
merupakan figure. Sedangkan rangsangan yang lembut, tidak menarik, tidak
bergerak, tidak bersuara, umum, jauh, merupakan ground
Teori
kognitif mempunyai tekanan yang berbeda dengan teori belajar yaitu:
a. Teori kognitif memusatkan diri pada interpretasi dan
organisasi perseptual mengenai keadaan seseorang, bukan keadaan masa
lalu.
b. Teori kognitif mencari sebab-sebab perilaku pada persepsi
atau interpretasi individu terhadap situasi dan tidak pada realita situasinya.
Interpretasi individu terhadap situasi merupakan hal yang lebih penting
daripada bagaimana sebenarnya situasi itu.
4.TEORI BELAJAR SOSIAL (SOCIAL LEARNING THEORY)
Pokok pemikiran dalam pendekatan belajar adalah bahwa
perilaku individu ditentukan oleh apa yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam
situasi tertentu seseorang mempelajari perilaku tertentu sebagai kebiasaan dan
bila menghadapi situasi itu kembali oarang tersebut akan cenderung untuk
berperilaku sesuai dengan kebiasaannya itu. Pendekatan dengan belajar populer
di tahun 1920-an dan merupakan dasar Behaviorisme.
Dalam
kehidupan manusia ada 2 (dua) pengertian belajar yaitu belajar secara fisik
misalnya belajar menari, naik sepeda dan lain-lain, dan belajar psikis yaitu
mempelajari perannya dan peran orang lain dalam konteks sosial. Menurut Dollard & Miller ada 4 (empat)
prinsip dalam belajar yaitu dorongan, isyarat, respons dan reward. Pengertian
dorongan dan respons sudah dijelaskan sebelumnya. Reward sebenarnya sama dengan
reinforcement yaitu stimulus yang menetapkan perlu diulangi atau tidak suatu
respons pada kesempatan lain. Isyarat adalah stimulus yang menentukan kapan dan
dimana suatu respons akan timbul dan respons apa yang akan timbul. syarat bisa
disamakan dengan stimulus diskriminatif. Mekanisme belajar dapat dibagi dalam
tiga mekanisme umum (Sears, dkk., 1985:13-14) yaitu:
a.
Asosiasi (Classical Conditioning) yaitu kita belajar berperilaku dengan
mengasosiasikan kata-kata, suara-suara, warna-warna dan sebagainya atau
fenomena yang terjadi disekitar kita. Misalnya mengasosiasikan kata
"Tsunami" dengan hal-hal atau bencana yang mengerikan.
b.
Reinforcement, yaitu orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena
perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan
kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat
yang tidak menyenangkan). Misalnya seorang mahasiswa yang belajar untuk tidak
menentang profesor pengajarnya di kelas karena ketika hal tersebut dilakukan
sang profesor selalu mengerutkan dahi, marah dan membentaknya kembali.
c.
Imitasi adalah proses dimana orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan
meniru sikap dan perilaku yang menjadi model.
Misalnya
anak-anak yang menirukan hal-hal yang dilakukan oleh orang tuanya atau orang
dewasa di sekitarnya. Cara yang penting dalam belajar sosial adalah tingkah
laku imitasi. Dollard & Miller
(dalam Wibowo,1988:I.28-I.29) menyatakan terdapat 3 (tiga) mekanisme imitasi:
a. Tingkah Laku Sama
Terjadi
bila 2 (dua) atau lebih orang memberikan respon karena terstimulus oleh isyarat
yang sama. Misalnya sesama penumpang angkutan umum dengan jurusan yang sama, tidak
lantas perbuatan ini dianggap sebagai tiruan.
b. Tingkah Laku Tergantung
Timbul
dalam hubungan antara dua pihak dengan keadaan pihak yang satu adalah lebih
pandai, lebih tua atau lebih mampu dari pihak lain. Maka pihak lain akan
menyesuaikan tingkah lakunya dan akan tergantung pada pihak pertama. Misalnya
seorang kakak yang menjemput dan membawakan tas ayahnya pada saat sang ayah
pulang kerja maka ia akan diberikan sebatang coklat. Dia menganggap deru mobil
sang ayah di halaman pada sore hari adalah isyarat sang ayah datang dan
biasanya akan memberinya coldat, maka ia berlari menghamhirinya. Bagi adiknya
yang pada saat itu barn melihat kejadian tersebut, gerak lari kakaknyalah yang
merupakan isyarat baginya sehingga ia meniru (imitasi) tingkah laku kakaknya di
lain kesempatan karena dengan begitu ia akan mendapat reward sebatang coklat
dan ayahnya.
c. Tingkah Laku Salinan (Copying)
Persamaan
antara tingkah laku tergantung dengan tingkah laku salinan adalah keduanya
sama-sama menggunakan isyarat dan tingkah laku model (orang yang ditiru).
Perbedaannya terletak pada jika dalam tingkah laku tergantung seseorang
merespons hanya terhadap isyarat dari model, sedangkan dalam copying orang yang
bersangkutan akan merespons tingkah laku yang menunjukkan kesamaan dan
perbedaan antara responnya dengan respons si model (orang yang ditiru).
Misalnya A biasanya akan memperlambat laju mobilnya jika lampu kuning menyala.
Suatu hari pada saat lampu kuning menyala ia melihat B pengendara mobil lainnya
yang justru mempercepat laju kendaraannya dan ia terhindar dari lampu merah.
Maka pada kesempatan lain, jika ada lampu kuning menyala A akan mempercepat
laju kendaraannya.
Terdapat
beberapa ciri khusus dalam pendekatan belajar yaitu (Sears., 1985:14):
a. Sebab-sebab perilaku diduga terletak terutama pada
pengalaman belajar individu di masa lampau. Para ahli teori belajar mengaitkan
diri pada pengalaman masa lalu dan kurang memperdulikan seluk beluk situasi
yang sedang terjadi.
b. Pendekatan belajar cenderung menempatkan penyebab
perilaku terutama pada lingkungan eksternal dan tidak pada pengartian subjektif
individu terhadap apa yang terjadi. Pendekatan ini menekankan kejadian
eksternal yang telah diasosiasikan dengan stimulus atau reinforcement yang
telah dikaitkan dengan timbulnya tanggapan atau model peran yang pernah
diternui. Semua ini bersifat eksternal bagi individu. Sebagai sebab-sebab
terjadinya perilaku pendekatan belajar tidak menekankan keadaan subjektif
misalnya persepsi terhadap situasi dan emosi.
c. Biasanya diarahkan untuk menjelaskan perilaku yang nyata
dan bukan pada keadaan subjektif atau psikologis.
5. TEORI PSIKOANALISA
Tokoh dan teori ini adalah Freud. Alasan teori ini dipakai untuk menelaah tingkah laku sosial
adalah adanya pendapat dan Freud
bahwa terdapat pertentangan yang mendasar antara pemuasan keinginan-keinginan
dan kebutuhan-kebutuhan individual dengan kesiapan masyarakat dalam memenuhi
semua kebutuhan tersebut. Menurut teori ini pula perkembangan individu menuju
kedewasaan adalah melalui serangkaian tahapan yaitu tahap oral, anal, phallic
dan genital. (dalam Wibowo, 1.14-1.15) Secara singkat dapat diuraikan sebagai
berikut:
a. Tahap Oral: Bayi barn lahir s/d 1 atau 1,5 tahun.
Pengalamannya hanya kenikmatan, kesakitan dan perubahan-perubahan ketegangan.
b. Tahap Anal: Berlangsung dari usia 1 atau 1,5 tahun — 4
tahun. Perkembangan ego ditandai dengan kemampuan untuk menguasai obyek,
mengantisipasi hal-hal yang terjadi dengan imaginasi; sadar dan
toleransi
terhadap kecemasan; perkembangan kemampuan berbicara dan berpikir; tumbuhnya
kemampuan untuk menunda respons.
c. Tahap Phallic: Mulai terjadi setelah usia 3 — 4 tahun.
Perkembangan yang penting adalah meningkatnya minat pada seks (dalam keluarga
berupa kompleks oedipus, jika anak laki-laki dengan ayahnya dan anak perempuan
dengan ibunya; serta dalam dirinya berupa fantasi-fantasi tertentu), proses
pertunibuhan super ego, serta makin banyak menggunakan mekanisme pertahanan
diri. Ditandai dengan meningkatnya keinginan untuk bermasturbasi; meningkatnya
keinginan untuk bersentuhan tubuh dengan anggota keluarga yang berlawanan
jenis; meningkatnya kecenderungan ekshibisionis (menunjukkan alat kelamin
kepada orang lain).
d. Tahap Laten: Merupakan masa konsolidasi dalam
perkembangan, menyesuaikan did dengan lingkungan di luar keluarga. Hasrat
seksual kepada orang tua disublimasikan menjadi rasa menghormati dan
menghargai. Merupakan masa persiapan untuk remaja (pubertas).
e. Tahap Genital: Secara psikologis ditandai dengan
ciri-ciri antara lain hasrat untuk mandiri, lebih menghargai aturan-aturan dari
teman sebaya, pemberontakan melawan orang tua, pikiran-pikiran bingung dan
lain-lain.
Menurut
konsep Freud ada 3 (tiga) sistem yang membentuk struktur kepribadian:

a. Id adalah cumber energi psikis, merupakan sub sistem dan
kepribadian. Id seringkali dilukiskan sebagai pengharapan-pengharapan yang
berasal dari insting-insting psikologi yang dipunyai setiap orang sejak lahir.
Id adalah sesuatu yang tidak disadari maka semua ketidaksadaran berlaku bagi id
misalnya amoral, tidak terpengaruh oleh waktu, tidak mempedulikan realitas,
bekerja atas dasar kesenangan, tidak terbelenggu moral, etik, alasan dan
logika. Id secara tetap merupakan upaya untuk mendapatkan kesenangan,
penghargaan dan pemuasan. Upaya ini secara pokok diwujudkan lewat libido dan
agresi (dalam Gerungan, 2004). Libido mengarah pada hubungannya dengan
keinginan seksual, kesenangan-kesenangan termasuk di dalamnya kehangatan,
makanan dan kenyamanan (comfortable). Agresi mendorong Id ke arah kerusakan
termasuk diantaranya keinginan perang, berkelahi, berkuasa dan semua
tindakan-tindakan yang bersifat merusak. Walaupun demikian Id tetap diakui
sebagai kekuatan yang mendorong sepanjang kehidupan ini dan merupakan sumber
yang amat penting dari daya berpikir dan upaya bertindak. Id pada akhirnya hams
dihubungkan dengan realitas yang tidak bisa diabaikan begitu saja, oleh karena
itu sebagai penghubung timbul sistem "ego".
b. Ego berfungsi untuk menghadapi realitas dan menerjemahkan
untuk id. Ego beroperasi berdasarkan proses berpikir. Ego merupakan sumber rasa
sadar. Ia mewakili loglka dan yang dihubungkan dengan prinsip-prinsip realitas.
Ego merupakan sub sistem yang berfungsi ganda yaitu melayani dan sekaligus
mengendalikan dua sistem lainnya (Id dan Super-Ego) dengan cara berinteraksi
dengan dunia luar atau lingkungan luar (external environment). Ego dapat
mengembangkan suatu fasilitas penalaran untuk menimbang dan belajar guna
menyesuaikan dan bertindak sesuai dengan lingkungannya. Namun pada gilirannya
situasi konflik antara Id dan Ego tidak dapat dihindarkan, dimana di satu pihak
Id menuntut dipenuhinya kesenangan dengan cepat dan di pihak lain Ego berusaha
menekan, menolak atau menundanya untuk mencarikan waktu dan tempat yang lebih
sesuai untuk memenuhi kesenangan tersebut. Agar Ego dapat mengatasi konflik
dengan Id maka is banyak mendapat bantuan dari Super-Ego.
c. Super-Ego: adalah sistem moral dan kepribadian atau
kekuatan moral dari personalitas. Sistem ini berisi norma-norma budaya, nilai-nilai
sosial dan tata cara yang sudah diserap ke dalam jiwa. Super ego berprinsip
mencari kesempurnaan. Ia adalah sumber norma yang memungkinkan Ego memutuskan
apakah sesuatu benar atau salah. Teori psikoanalisa juga memperkenalkan konsep
ketidaksadaran sebagai bagian kepribadian, dimana terletak keinginan-keinginan,
impuls-impuls dan konflik-konflik yang dapat mempunyai pengaruh langsung
terhadap tingkah laku. Pada dasarnya tingkah laku individu dipengaruhi atau
dimotivasi oleh determinan kesadaran maupun ketidaksadaran (Dayakisni,
2006:19). Contoh dalam proses-proses ketidaksadaran misal-nya tingkah laku
agresi dipandang sebagai suatu manifestasi pembawa-an sejak lahir, yaitu yang
disebut sebagai insting mati dalam ketidak-sadaran.
6. TEORI PERAN
Pengertian
Peran (Role) biasanya didefinisikan sebagai serangkaian tingkah laku atau
fungsi-fungsi yang dikaitkan dengan posisi khusus dalam hubungan tertentu.
Menurut Bidle & Thomas (Wibowo, 1988:1.21) ada 4 (empat) istilah tentang
perilaku dalam kaitannya dengan peran:
a.
Harapan (expectation).
b.
Norma (norm).
c.
Wujud Perilaku (performance).
d.
Penilaian (evaluation) dan Sanksi (sanction).
Dapat
dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
a.
Harapan tentang Peran, adalah harapan-harapan orang lain pada umumnya tentang
perilaku-perilaku yang pantas yang seyogyanya ditunjukkan oleh seseorang yang
mempunyai peran tertentu.
Contoh
harapan dari masyarakat umum terhadap public servant yang bersih dan bebas KKN.
b.
Norma, merupakan salah satu bentuk harapan. Menurut Secord & Backman
(Wibowo, 1988:L21-L22) jenis jenisharapan adalah:
•
Harapan yang bersifat meramalkan (predicted role expectation) yaitu harapan
tentang suatu perilaku yang akan terjadi.
• Harapan
Normatif (prescribed role expectation) adalah keharusan-keharusan yang
menyertai suatu peran. Ada 2 jenis yaitu pertama harapan yang terselubung
(covert) adalah harapan-harapan yang ada tanpa harus diucapkan misalnya dokter
hams menyembuhkan pasiennya. Kedua yaitu harapan terbuka (overt) adalah harapan-
harapan yang diucapkan (role demand). Misalnya orang tua yang meminta agar
anaknya rajin belajar dan bertanggung jawab atas tugas-tugasnya.
c.
Wujud Perilaku dalam Peran Peran diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan sekedar
harapan. Misalnya peran ayah adalah mendisiplinkan anaknya, maka ada ayah yang
menggunakan hukuman-hukuman fisik sedangkan ayah lainnya hanya memberi nasehat
raja. Kapan peran perlu ditunjukkan/ menjadi penting? Perwujudan peran bisa
bermacam-macam. Misalnya pendapat Sarbin (dalam Wibowo, 1988:1.23) dimana
perwujudan peran terdiri dan tingkatan intensitas dan yang terendah sampai yang
tertinggi. Contoh seorang pemain musik di kafe yang menjadi tugasnya setiap
malam maka karena terlalu biasa ia bisa bermusik sambil mengobrol dengan temannya.
Sementara ada seorang pianis yang hams menggelar konser tunggalnya maka ia akan
mempersiapkan din dan performanya dengan penuh konsentrasi. Goffman (dalam
Wibowo, 1988:1.23) meninjau dan sudut lain yaitu dari permukaan (front), yaitu
untuk menunjukkan perilaku-perilaku tertentu yang diekspresikan secara khusus
agar orang mengetahui secara jelas peran si pelaku. Contoh seorang profesor
akan memajang rak penuh buku-buku ilmiah di ruang tamu, sehingga tamunya akan
mendapat kesan tentang apa dan bagaimana peran profesor tersebut. Inilah yang
dimaksud dengan "front". Namun ada juga hal yang disukai profesor
misalnya tetapi tidak ditunjukkan yaitu kegemarannya membaca komik dimana
komik-komik tersebut disimpannya dengan rapi di kamar pribadinya.
d.
Penilaian dan Sanksi.
Menurut
Biddle & Thomas (dalam Wibowo, 1988:1.24) penilaian peran adalah pemberian
kesan positif atau negatif yang didasarkan pada harapan masyarakat terhadap
peran dimaksud. Sanksi adalah usaha orang untuk mempertahankan suatu nilai positif
atau agar perwujudan peran diubah sedemikian rupa sehingga yang tadinya dinilai
negatif menjadi positif. Menurut Merton & Kitt (dalam Wibowo, 1988:1.25)
setiap orang memerlukan kelompok rujukan (reference group) tertentu yang
mempunyai fungsi, pertama fungsi normatif, dimana kelompok mendesakkan suatu
standar tertentu bagi perilaku dan keyakinan atau kepercayaan anggotanya.
Terlepas benar atau salahnya standar itu, kelompok mempunyai cukup kekuatan
atas individu sehingga individu mau tidak mau mengikuti standar tersebut.
Misalnya aturan-aturan yang dibuat orang tua hams diikuti anaknya karena anak
adalah anggota keluarga. Jika norma ini diserap (diinternalisasikan) maka
terbentuklah nilai dalam diri individu itu yang selanjutnya menjadi pedoman
bagi tingkah laku dan kepercayaannya. Kedua adalah fungsi komparatif
/perbandingan dimana kelompok hanya dijadikan alat pembanding bagi individu
untuk mengetahui apakah perilaku atau kepercayaannya sudah benar atau masih
salah. Perbandingan ini bisa dilakukan dengan melibatkan diri atu tidak
terhadap kelompok tersebut. Kelompok hanya dijadikan alat untuk tujuan
informatif saja.
psikologi sosial part 2 teori teori psikologi sosial
PSIKOLOGI
SOSIAL
PENGERTIAN
Seperti yang sudah di jelaskan
sebelumnya bahwa psikologi social merupakan percabangan dari ilmu
psikologi,psikologi social ini memfokuskan dalam meneliti dampak ataupun
pengaruh terhadap perilaku manusia
Dalam beberapa sumber yang sudah saya
rangkum menjadi satu tatanan, ilmu
psikologi social juga di jelaskan oleh beberapa pakar di antaranya :
1. Menurut Hubert Bonner dalam bukunya “Social Psychology” menyatakan “Psikologi
sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.“
Definisi ini menunjukkan bahwa Bonner lebih menitik beratkan pada tingkah laku
individu, bukan tingkah laku sosial. Tingkah laku inilah yang menjadi pokok
atau sasaran utama dalam mempelajari psikologi sosial.
2. Menurut Sherif
dalam bukunya “An Outline of Social Psychology” memberikan definisi sebagai
berikut : “ psokologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam kaitannya dengan
situasi-situasi perangsang sosial.” Dalam defi\nisi ini, tingkah laku telah
dihubungkan dengan situasi-situasi perangsang sosial.
3. Manurut Boring,
Langveld, and Weld dalam bukunya “ Foundations of Psychology” berpendapat
bahwa: “Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari individu
manusia dalam kelompokknya dan hubungan antara manusia dengan manusia.
4. Menurut Roueck and
Warren dalam bukunya “Sociology” memberikan batasan bahwa :”Psikologi
sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segi-segi psycholois daripada
tinghkah laku manusia, yang dipengaruhi oleh interaksi sosial.” Dalalm sefinsi
ini telah dinyatakan bahwa interaksi amnusia telah nyata pengaruhnya pada
tinghkah laku manusia.
5. Menurut A.M. Chorus
dalam bukunya “Gronslagen der sociale Psycologie” merumuskan bahwa : “Psikologi
sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu manusia
sebagai anggota suatu masyarakat.” Chorus memberikan definisi tersebut dengan
kesadaran bahwa setiap manusia yang normal akan hidup dan berhubungan bersama
dengan masyarakat.
6. Sedangkan di dalam kamus Paedagogik menyatakan bahwa : “Psikologi Sosial ialah ilmu jiwa
yang mempelajari gejala-gejala psikis pada massa, bangsa, golongan, masyarakat
dan sebagainya. Lawannya : Psikologi individu (orang-orang).”
TUJUAN
Sama halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan
pembelajaran Psikologi Sosial bertumpu pada tujuan yang lebih tinggi. Secara
hirarki, tujuan Pendidikan Nasional pada tataran operasional dijbarkan dalam tujuan
institusioanl tiap jenis dan jenjeang pendidikan . selanjutnay pencapaian
tujuan institusional ini, secara praktis dijabarkan dalam tujuan kurikuler atau
tujuan mata pelajaran. Akhirnay tujuan kurikuler ini, secara praktis
operasional dijabarkan dalam tuuan instruksional atau tujuan pembelajaran.dalam
sub bahasan ini, dibatasi p[ada uraian tuuan kurikuler bidang studi Psikologi
Sosial. Tujuan kurikuler Psikologi Sosial yang harus dicapai sekurang-kurangnay
meliputi lima tujuan berikut.
1. Membekali peserta didik dengan
pengetahuan Psikologi Sosial sehinggat tidak terpenagruh, tersugesti, atau
terpengaruh oleh situasi sosial yang selamanya tidak bernilai baik
2. Membekali peserta didik dengan
kemampuan memngiudentifikasi, mengnalisa dan menyusun alternatif pemecahan
masalah-masalah sosial secara teap dan sisitematis mengenai proses kejiwaan
yang berhubuunagn dengan kehidupn bersama
3. Membekali peserta didik dengan
kemampuan berkomunikasi denagn sesama warga masyarakat sehingga memudahkan
dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan dan pengrahan kepada
tujuan denagn sebaik-baiknya
4. Membekali peserta didik denagn
kesadaran terhadap lingkungan sosial sehingga mampu merubah sifat dan sikap
sosialnya.
5. Membekali peserta didik denagn
kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keimuan psikologi sosial sesuai dengan
perkembangan kehidupan, perkembanagn masyarakat \, perkembanagn ilmu, dan
perkembangan teknologi.
Konsep dasar Psikologi Sosial dan
implementasinya dalam kehidupan msyarakat
objek pembahasan psikologi sosial
adalah terpusta kepada kehidupan manusia,seperti yang kita ketahui , manusia
adalah ciptaan tuhan yang bisa di katakana hampir mendekati sempurna, kenapa
saya katakana ‘hampir’ ? ,karna yang kita lihat tidak ada manusia yang
sempurna, pasti semua manusia mempunyai sisih buruk yang tak tampak secara
langsung,manusia memiliki kecerdasan ,akal serta nafsu yang lebih daripada
makluk ciptaan tuhan yang lainnya. Kelebihan inilah yang mendorong manusia
mampu menguaai alam, menakklukkan makhluk yang lebih kuat, dan menciptakn
segala sesuatu yang dapat menyempurnakan dirinya. Hal ini dapat mereka capai
karena di setiap diri manusia terdapat suatu potensi yang dapat mendorong
manusia agar terus maju dan menciptakan apa yang mereka butuhkan
berikut ini merupakan contoh bahwa manusia lebih tinggi dari pada makluk yang
lainnya:
1.
Kemampuan untuk berbahasa dan
menciptakan Bahasa serta mengembangkannya,dalam kenyataannya memang tak hanya
manusia yang memiliki kemampuan berbahsa hewanpun mempunyai bahasanya sendiri,
namun apakah mereka bisa menambah Bahasa mereka serta mengembangkannya ??
2. . Hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia
memiliki kemampuan untuk hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia mampu
m,endasarkan tingkah lakunya pada pengalaman masa lalunya, kebutuhan-kebutuhan
sekarang, dan tujuan yang akan dicapai pada amsa yang akan datang.
Pengalaman-pena\galaman masa lalu merupakan peganagn bagi
perbuatan-perbuatannya masa sekarang, sehingga kesalahan yang sama tidak akan
selalu terulang-ulang. Pengalaman-penaglaman yang tidak baik diingat untuk
yidak berbuat lagio sedangkan pengalaaman-pengalaman yang baik dipegang untuk
pedoman dalam kegiatan-kegiatannya masa kini yang kemudian kegiatan tersebut
diarahkan untuk mencapai tujuan yang akan datang dengan sebaik-baiknya. Dengan
perkataan lain bahwa amnusia dapat merencanakan paa yang akan diperbuat dan apa
yang akan dicapai.
3. Adanay sikap etik. Di dalam setiap masyarakat pasti terdapat peraturan
atau norma-norma yang mengatur tingkah laku anggota anggotanya baik itu
masyarakat modern maupun masyarakat yang
masih terbelakang sekalipun norma tersebut
merupakan ketentuan apakah sesuatu perbuatan itu dipandang baik atau
buruk. Norma tersebut tidak selalu sama antara masyarkat satu dengan yang lainnya sesuai dengan adat
kebiasaan, agama, dan perkembanagn kebudayaan umumnya dimana dia hidup.
Individu sebagai anggota masyarakat berusaha untuk berbuat sesuai dengan norma
yang berlaku dala masyarakat karena adanya sikap etik yang dimilikinya. Namun
demikian sesuai dengan tuntutan kebudayaan manusia berusaha unr\tuk
menyempurnakan noram yang telah ada
Ketiga
potensi di atas oleh para ahli dijadikan sebagai syarat “human minimum”. Oleh
karenanya jika tidak terdapat ketiga potensi tersebut maka akan sukar untuk
dikelompokkan sebagai masyarakat manusia. Pemahamanini selanjutnya akan
mendorong untuk meningkatkan kecakapan dan potensi diri pribadinya
manusia juga disebut sebagai makhluk
monopluralis. Disebut demikian karena manusia dapat dipandang sebagai makhluk individu,
sosial, dan ber-Tuhan.
1. Makhluk individu. Manusia sebagai
makhluk individual berarti manusia itu menerapkan suatu totaliat individu berasal dari kata
in-dividere yang berarti tidak dapat dipecah-pecah. Dalam aliran modern,
ditegaskan bahwa jiwa manusia itu merupakan satu kesatuan jiwaraga yang
berkegiatan secara keseluruhan.
2. Makhluk sosial. Manusia tidaklah
mungkin hidup sendiri tanpa danya komunikasi dengan manusia yang lainnya. Sejak
dilahirkan manusia membutuhkan bantuan orang lain.
3. Makhluk ber-Tuhan. Sebagai manusia
yang beragama, dalam kehidupannya tidak bisa lepas dari pengakuan terhadap
Tuhan. Hanya mereka yang tergolong atheis saja yang tidak mengakuai adanya
Tuhan. Sebenarnya mereka yang atheis pun tanpa disadari telah menyatakan
kebutuhannya kepada Tuhan meskipun tidak
sempurna. Hali ini terbukti denagn aktivitasnya yang menyembah kepada dewa-dewa
dan benda-benda lainnya.aneh bukan
-_-?
Ok mungkin sampai sini dulu
pembahasan mengenai psokologi sosialnya, mungkin pembahasan tentang psikologi
social akan di lanjut di post selanjutnya , semoga apa yang saya tulis tadi
dapat bermanfaat J,
jika ada yang ingin di tanyakan bisa melalui komantar di bawah ya J


