Recent Blog Post

Archive for 2013



  • --------------------------------------- 1

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry Potter And The Chamber
    Of Screts
    J.K. Rowling
    Harry Potter Dan Kamar Rahasia
    1. Ulang Tahun Paling Buruk
    BUKAN untuk pertama kalinya pertengkaran meledak di meja makan rumah
    Privet Drive nomor empat. Sebelumnya Mr Vernon Dursley telah terbangun
    pagi-pagi buta oleh bunyi uhu-uhu keras dari kamar ke-ponakannya, Harry.
    "Untuk ketiga kalinya minggu ini!" raungnya. "Kalau kau tidak bisa
    mengontrol burung hantu itu, dia harus pergi!"
    Harry mencoba, sekali lagi, untuk menjelaskan. "Dia bosan," katanya. "Dia
    biasa beterbangan di luar. Kalau aku boleh melepasnya di malam hari..."
    "Apa aku kelihatan bbdoh?" kata Paman Vernon geram, seserpih telur goreng
    bergantung pada kumis-nya yang lebat.
    "Aku tahu apa yang akan terjadi kalau burung hantu itu dibiarkan lepas."
    Dia bertukar pandang geram dengan istrinya, Petunia.
    Harry mencoba berargumentasi, tetapi kata-katanya tenggelam oleh
    sendawa Dudley yang keras dan pan-jang. Dudley adalah anak Mr dan Mrs
    Dursley.
    "Aku mau tambah daging asap."
    "Masih banyak di wajan, Manis," jawab Bibi Petunia, matanya terharu
    menatap anak laki-lakinya yang supergemuk.
    "Kami harus memberimu makan banyak-banyak selagi ada kesempatan... aku
    tak senang men-dengar tentang makanan di sekolahmu..."
    "Omong kosong, Petunia, aku tak pernah kelaparan waktu aku di Smeltings,"
    kata Paman Vernon mem-protes. "Dudley mendapat cukup makanan. Ya kan,
    Nak?"
    Dudley, yang luar biasa gemuknya sampai pantatnya melimpah di kiri-kanan
    kursi dapur, menyeringai dan menoleh kepada Harry.
    "Ambilkan wajannya."
    "Kau lupa kata sihirnya," kata Harry jengkel.



    --------------------------------------- 2

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dampak kalimat sederhana pada keluarga itu sung-guh luar biasa. Dudley
    tersedak dan terjatuh dari kursinya keras sekali sampai menggetarkan seluruh
    dapur. Mrs Dursley menjerit dan menutup mulutnya. Mr Dursley melompat
    bangun, urat- urat berdenyutan di pelipisnya.
    "Maksudku kata 'tolong'!" kata Harry cepat-cepat. "Aku tidak bermaksud..."
    "BUKANKAH SUDAH KULARANG," gelegar pamannya dari seberang meja,
    "MENGUCAPKAN KATA 'S' ITU DI DALAM RUMAH KITA?"
    "Tapi aku..."
    "BERANI-BERANINYA KAU MENGANCAM DUDLEY!" raung Paman Vernon,
    menggebrak meja dengan tinjunya.
    "Aku cuma..."
    "KUPERINGATKAN KAU! AKU TAK MENGIZINKAN KEABNORMALANMU DISEBUT-
    SEBUT DI BAWAH ATAP RUMAH INI!"
    Harry bergantian memandang wajah keunguan pamannya dan wajah pucat
    bibinya, yang sedang berusaha membantu Dudley bangun.
    "Baiklah," kata Harry, "baiklah..."
    Paman Vernon duduk kembali, tersengal seperti ba-dak bercula satu yang
    kehabisan napas. Dia memandang Harry lewat sudut matanya yang kecil tajam.
    Sejak Harry pulang untuk liburan musim panas, Paman Vernon
    memperlakukannya seperti bom yang bisa meledak setiap waktu, karena Harry
    bukan anak biasa. Sebetulnya, dia memang sama sekali bukan anak biasa.
    Harry Potter adalah penyihirpenyihir yang baru melewatkan tahun
    pertamanya di Sekolah Sihir Hogwarts. Dan jika keluarga Dursley tidak senang
    menerimanya selama liburan, itu bukan apa-apa di-banding perasaan Harry.
    Harry merasa sangat rindu pada Hogwarts sehingga rasanya dia sakit perut
    terus-menerus. Dia merindukan kastilnya, dengan lorong-lorong rahasia dan
    hantu-hantunya, pelajaran-pelajarannya (walaupun mungkin tidak merindukan
    Snape, guru pelajaran Ramuan-nya), surat-surat yang dibawa oleh burung-
    burung hantu, makan bersama di Aula Besar, tidur di tempat tidurnya di
    menara asrama, mengunjungi si pengawas binatang liar, Hagrid, di pondoknya
    di dekat Hutan Terlarang, dan terutama Quidditch, olahraga paling populer di
    dunia sihir (enam tiang gawang tinggi, empat bola terbang, dan empat belas
    pemain di atas sapu terbang).
    Semua buku pelajaran Harry tongkat, jubah, kuali, dan sapu top Nimbus Dua
    Ribu-nya dikunci di dalam lemari di bawah tangga oleh Paman Vernon begitu
    Harry tiba di rumah. Apa pedulinya keluarga Dursley kalau Harry kehilangan
    tempat di tim Quidditch asramanya karena dia tidak berlatih selama musim
    panas? Apa urusannya bagi keluarga Dursley jika Harry kembali ke sekolah
    tanpa mengerjakan PR-PR-nya? Keluarga Dursley termasuk yang oleh para
    penyihir disebut Muggle (tak memiliki setetes pun darah penyihir di nadi
    mereka) dan bagi mereka memiliki penyihir dalam keluarga adalah aib yang
    sangat memalukan. Paman Vernon bahkan telah meng-gembok burung hantu
    Harry, Hedwig, di dalam sangkarnya, untuk mencegahnya membawa surat-surat
    kepada siapa pun di dunia sihir.
    Tampilan Harry sama sekali lain dari keluarganya. Paman Vernon gemuk dan
    tanpa leher, dengan kumis hitam besar. Bibi Petunia kurus berwajah kuda.



    --------------------------------------- 3

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dudley berambut pirang, kulitnya agak merah jambu, jadi kesannya seperti
    babi. Harry, sebaliknya, kecil dan kurus, dengan mata hijau cemerlang dan
    rambut hitam pekat yang selalu berantakan. Dia memakai kacamata bundar,
    dan di dahinya ada bekas luka berbentuk sambaran kilat.
    Bekas luka inilah yang membuat Harry istimewa, bahkan sebagai penyihir.
    Bekas luka ini satu-satunya petunjuk akan masa lalu Harry yang misterius,
    alasan kenapa dia ditinggalkan di depart pintu rumah keluarga Dursley sebelas
    tahun yang lalu.
    Pada usia satu tahun, Harry, entah bagaimana ber-hasil selamat dari
    serangan penyihir hitam jahat ter-hebat sepanjang zaman, Lord Voldemort,
    yang nama-nya pun tak berani disebutkan oleh banyak penyihir. Orangtua Harry
    tewas dalam serangan Voldemort, tetapi Harry selamat dengan bekas luka
    sambaran kilatnya, dantak seorang pun tahu kenapakekuatan Voldemort
    punah pada saat dia gagal mem-bunuh Harry.
    Maka Harry dibesarkan oleh kakak almarhum ibu-nya dan suaminya. Dia
    melewatkan sepuluh tahun bersama keluarga Dursley, tak pernah memahami
    kenapa dia tak putus-putus membuat hal-hal aneh terjadi walaupun dia tak
    bermaksud melakukannya. Dia mempercayai cerita keluarga Dursley bahwa
    bekas lukanya didapatnya dalam kecelakaan lalu lintas yang menewaskan
    orangtuanya.
    Dan kemudian," tepatnya setahun yang lalu, Hogwarts menulis surat kepada
    Harry, dan kisah yang sebenarnya pun terungkap. Harry bersekolah di sekolah
    sihir. Di situ dia dan bekas lukanya terkenal... tetapi sekarang tahun ajaran
    telah usai, dan dia kem-bali bersama keluarga Dursley selama musim panas,
    kembali diperlakukan seperti anjing yang habis ber-guling-guling di sampah
    bau.
    Keluarga Dursley bahkan tidak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun
    Harry yang kedua belas. Tentu saja, harapannya tidak rnuluk-muluk, mereka
    belum pernah memberinya hadiah yang layak, apalagi kue ulang tahuntapi
    kalau sama sekali melupakannya...
    Saat itu Paman Vernon berdeham dengan lagak sok penting dan berkata,
    "Nah, seperti kita semua tahu, hari ihi hari yang sangat penting."
    Harry mendongak, nyaris tak berani mempercayai-nya.
    "Hari ini aku mungkin akan membuat transaksi terbesar dalam karierku," kata
    Paman Vernon.
    Harry kembali memakan roti panggangnya. Tentu saja, pikirnya getir, yang
    sedang dibicarakan Paman Vernon adalah acara makan malam konyol itu. Sudah
    dua minggu ini tak ada hal lain yang dibicarakannya. Ada pemborong kaya dan
    istrinya yang akan datang untuk makan malam dan Paman Vernon berharap
    mendapat pesanan besar darinya (perusahaan Paman Vernon memproduksi
    bor).
    "Kurasa kita harus mengulang susunan acara kita sekali lagi," kata Paman
    Vernon. "Kita semua harus siap di posisi masing-masing pukul delapan nanti.
    Petunia, kau di...?"
    "Di kamar tamu," kata Bibi Petunia segera, "siap menyambut kedatangan
    mereka di rumah kita dengan anggun."



    --------------------------------------- 4

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Bagus, bagus. Dan Dudley?"
    "Aku siap membuka pintu." Dudley memasang se-nyum tolol. "Boleh kusimpan
    mantel Anda, Mr dan Mrs Mason?"
    "Mereka akan menyukai Dudley!" seru Bibi Petunia terpesona. "Hebat,
    Dudley," kata Paman Vernon. Kemudian dia berpaling kepada Harry. "Dan kau?"
    "Aku akan berada di kamarku, tidak membuat suara, dan pura-pura tidak ada di
    sana," kata Harry datar.
    "Tepat," kata Paman Vernon menyebalkan. "Aku akan membawa mereka
    masuk, memperkenalkan kau, Petunia, dan menuang minuman untuk mereka.
    Pukul delapan seperempat..."
    "Akan kuumumkan makan malam telah siap," kata Bibi Petunia.
    "Dan Dudley, kau akan bilang..."
    "Boleh kuantar Anda ke ruang makan, Mrs Mason?" kata Dudley, menawarkan
    lengannya yang gemuk pada wanita yang tak kelihatan. "Gentleman kecilku
    yang sempurna," kata Bibi Petunia terharu.
    "Dan kau?" kata Paman Vernon kejam kepada Harry.
    "Aku akan berada di kamarku, tidak membuat suara, dan pura-pura tidak ada
    di sana," kata Harry bosan.
    "Persis. Sekarang, kita harus berusaha memberikan beberapa pujian selama
    makan malam. Petunia, ada ide?"
    "Vernon bercerita Anda pemain golf yang hebat, Mr Mason... Gaun Anda
    indah sekali, di mana Anda membelinya, Mrs Mason...?"
    "Sempurna... Dudley?"
    "Bagaimana kalau: 'Kami harus menulis karangan tentang pahlawan yang
    kami kagumi di sekolah, Mr Mason, dan saya menulis tentang Anda.'"
    Ini sudah kelewatan, baik bagi Bibi Petunia maupun Harry, walaupun dengan
    alasan berbeda. Bibi Petunia menangis saking terharunya dan memeluk
    anaknya, sedangkan Harry membungkuk ke bawah meja, supaya mereka tidak
    melihatnya tertawa.
    "Dan kau?" Harry berusaha membuat wajahnya serius ketika muncul dari
    bawah meja. "Aku akan berada di kamarku, tidak membuat suara, dan pura-
    pura tidak ada di sana," katanya.
    "Betul sekali, kau harus begitu," kata Paman Vernon keras.
    "Suami-istri Mason sama sekali tak tahu-menahu tentang kau dan harus tetap
    begitu. Setelah makan malam selesai, kaubawa Mrs Mason kembali ke ruang
    tamu untuk minum kopi, Petunia, dan aku akan meng-arahkan pembicaraan ke
    bor. Kalau beruntung, transaksi bisa kuselesaikan dan kontrak sudah ditanda-
    tangani sebelum Berita Pukul Sepuluh Malam. Kita akan membeli rumah
    berlibur di Majorca pada jam sekian besok malam."
    Harry tidak bisa ikut senang mendengar kabar ini. Menurut perasaannya, di
    Majorca pun keluarga Dursley tidak akan lebih menyukainya daripada di rumah
    ini.
    "Baikaku berangkat ke kota untuk mengambil jas malam untukku dan
    Dudley. Dan kau," gertaknya pada Harry, "jangan mengganggu bibimu
    sementara dia membersihkan rumah."



    --------------------------------------- 5

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry keluar lewat pintu belakang. Cuaca amat cerah. Dia menyeberangi
    halaman, mengenyakkan diri di bangku kebun dan bernyanyi pelan, "Happy
    birthday to me... happy birthday to me..."
    Tak ada kartu, tak ada hadiah, dan dia akan me-lewatkan malam ini dengan
    berpura-pura bahwa dia tak ada. Dia memandang sedih ke pagar tanaman.
    Belum pernah dia merasa kesepian seperti itu. Lebih dari segalanya di
    Hogwarts, bahkan lebih daripada bermain Quidditch, dia merindukan sahabat-
    sahabat-nya. Ron Weasley dan Hermione Granger. Meskipun demikian, mereka
    rupanya sama sekali tidak merindu-kannya. Tak seorang pun dari mereka
    berdua menulis surat kepadanya musim panas ini, meskipun Ron sudah
    mengatakan akan meminta Harry datang menginap di rumahnya.
    Sudah puluhan kali, Harry hampir membuka kan-dang Hedwig dengan sihir
    dan mengirimnya kepada Ron dan Hermione dengan membawa surat, tetapi
    terlalu besar risikonya. Penyihir yang masih di bawah umur tidak diperkenankan
    menggunakan sihir di luar sekolah. Harry tidak memberitahukan aturan ini
    kepada keluarga Dursley. Mereka takut Harry akan mengubah mereka menjadi
    kumbang pupuk. Dan Harry tahu, rasa takut itulah yang mencegah mereka
    mengunci dirinya di dalam lemari di bawah tangga, bersama tongkat dan
    sapunya.
    Selama dua minggu pertama, Harry menikmati menggumamkan kata-kata
    omong kosong dan melihat Dudley kabur dari ruangan secepat kaki gemuknya
    bisa membawanya. Tetapi lama tak ada kabar dari Ron dan Hermione membuat
    Harry merasa terkucil dari dunia sihir, sehingga bahkan mempermainkan Dudley
    pun sudah tak menarik lagidan sekarang Ron dan Hermione telah melupakan
    hari ulang tahunnya.
    Dia rela memberikan apa pun untuk mendapatkan kabar dari Hogwarts.
    Bahkan kabar dari penyihir mana pun? Dia bahkan akan senang kalau bisa
    melihat musuh besarnya, Draco Malfoy, sekadar meyakinkan bahwa segalanya
    bukan hanya mimpi....
    Bukan berarti dia senang terus sepanjang waktu di Hogwarts. Di pengujung
    semester terakhir mereka, Harry telah berhadapan dengan, tak lain dan tak
    bukan, Lord Voldemort sendiri. Voldemort mungkin sudah bukan apa-apa
    dibanding ketika berkuasa dulu, tetapi dia masih tetap mengerikan dan licik,
    masih bertekad ingin berkuasa kembali. Harry berhasil lolos dari cengkeraman
    Voldemort untuk kedua kalinya, tetapi nyaris saja. Bahkan sekarang, setelah
    lewat be-berapa minggu, Harry masih terbangun di malam hari, mandi keringat
    dingin, bertanya-tanya dalam hati di mana Voldemort sekarang, teringat
    wajahnya yang pucat kelabu, matanya yang liar....
    Harry mendadak duduk tegak di bangku kebun. Sejak tadi, sambil melamun,
    dia memandang pagar tanamandan pagar itu balas memandangnya. Dua mata
    hijau besar muncul di antara dedaunan.
    Harry melompat bangun tepat ketika terdengar suara ejekan dari seberang
    kebun. "Aku tahu hari apa hari ini," Dudley menyanyi, berjalan berat ke
    arahnya.
    Mata besar itu berkedip lalu lenyap.



    --------------------------------------- 6

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apa?" tanya Harry, tanpa melepas pandangan dari tempat mata itu tadi
    berada. "Aku tahu hari apa hari ini," ulang Dudley, tiba di belakang Harry.
    "Bagus sekali," kata Harry. "Jadi akhirnya kauhafal nama- nama hari."
    "Hari ini hari ulang tahunmu," cemooh Dudley. "Kenapa kau tidak menerima
    satu kartu pun? Apa kau tidak punya teman di tempat sinting itu?"
    "Jangan sampai ibumu dengar kau menyebut-nyebut sekolahku," kata Harry
    dingin. Dudley menarik celananya yang melorot ke pantat-nya yang gemuk.
    "Kenapa kau terus memandang pagar?" tanyanya curiga. "Aku sedang mencoba
    memutuskan mantra apa yang paling baik untuk membakarnya," kata Harry.
    Dudley langsung terhuyung mundur, wajahnya yang gemuk kelihatan panik.
    "Tidak b-bolehDad bilang kau tidak boleh me-menyihir dia bilang dia akan
    mengusirmudan kau tak punya tempat lainkau tak punya teman yang bisa
    menerimamu..."
    "Jiggery pokery!" kata Harry tegas. "Hocus pocus... squiggly wiggly..."
    "MUUUUUUM!" raung Dudley, yang tersandung kakinya"
    sendiri dalam ketergesaannya berlari kembali ke rumah.
    "MUUUUM! Dia melakukan yang tak boleh itu!"
    Harry harus membayar mahal untuk kesenangan sesaat itu. Karena baik
    Dudley maupun pagarnya sama sekali tak bercacat, Bibi Petunia tahu dia tidak
    betul-betul menyihir. Tetapi Harry tetap harus me-nunduk menghindar ketika
    Bibi Petunia mengayunkan wajan bersabun ke kepalanya. Kemudian Bibi
    Petunia menyuruhnya bekerja, dengan ancaman dia tidak akan diberi makan
    sampai pekerjaannya selesai.
    Sementara Dudley bermalas-malasan menontonnya sambil makan es krim,
    Harry membersihkan jendela, mencuci mobil, memotong rumput, merapikan
    petak-petak bunga, menggunting dan menyirami mawar, dan mengecat ulang
    bangku kebun. Matahari bersinar terik sekali, membakar tengkuknya. Harry
    tahu dia seharusnya tidak terpancing ledekan Dudley, tetapi Dudley
    mengatakan hal yang persis sedang Harry pikirkan... mungkin dia tak punya
    teman di Hogwarts....
    Sayang sekali mereka tak bisa melihat Harry Potter sekarang, pikirnya
    jengkel, sementara dia menebarkan pupuk kandang di kebun bunga.
    Punggungnya sakit, keringat bercucuran di wajahnya.
    Sudah pukul setengah delapan malam ketika akhir-nya, kelelahan, dia
    mendengar Bibi Petunia me-manggilnya.
    "Masuk! Dan berjalan di atas koran!"
    Harry masuk dengan senang ke dapur yang mengilap. Di atas lemari es sudah
    siap puding untuk malam ini, dihiasi seonggok krim dan violet berlapis gula.
    Daging panggang sedang berdesis di dalam oven.
    "Makan cepat! Mr dan Mrs Mason sebentar lagi datang!" kata Bibi Petunia
    galak, seraya menunjuk dua iris roti dan segumpal kecil keju di atas meja
    dapur. Bibi Petunia sudah memakai gaun malam ber-warna merah jambu
    salem.
    Harry mencuci tangan dan segera menghabiskan makan malamnya yang
    rrtengenaskan. Begitu dia se-lesai, Bibi Petunia langsung menyingkirkan
    piringnya. "Naik! Cepat!"



    --------------------------------------- 7

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ketika melewati pintu ruang duduk, sekilas Harry melihat Paman Vernon dan
    Dudley memakai jas dan dasi kupu-kupu. Baru saja dia tiba di atas tangga, bel
    pintu berdering dan wajah marah Paman Vernon muncul di kaki tangga.
    "Ingatsuara sekecil apa pun...."
    Harry berjingkat menuju kamarnya, menyelinap ma-suk, menutup pintu, dan
    berbalik untuk mengempas-kan diri ke atas tempat tidurnya.
    Celakanya, sudah ada yang duduk di atas tempat tidurnya.
    2. Peringatan Dobby
    HARRY berhasil tidak menjerit, tetapi nyaris saja. Makhluk kecil di tempat
    tidur itu bertelinga lebar seperti kelelawar dan bermata hijau menonjol
    sebesar bola tenis. Harry langsung tahu bahwa dialah yang pagi tadi
    mengawasinya dari pagar tanaman.
    Ketika mereka saling pandang, Harry mendengar suara Dudley dari ruang
    depan. "Boleh kusimpan mantel Anda, Mr dan Mrs Mason?"
    Makhluk itu meluncur turun dari tempat tidur dan membungkuk rendah
    sekali sehingga ujung hidungnya yang panjang dan kurus menyentuh karpet.
    Harry memperhatikan makhluk itu memakai sesuatu yang kelihatannya seperti
    sarung bantal usang, dengan robekan untuk lubang lengan dan kaki.
    "Ehhalo," kata Harry gugup.
    "Harry Potter!" kata makhluk itu, dengan suara melengking yang Harry yakin
    pasti terdengar sampai ke bawah tangga.
    "Sudah lama Dobby ingin bertemu Anda, Sir... Sungguh kehormatan besar..."
    "Te-terima kasih," kata Harry merayap sepanjang dinding dan terenyak di
    kursinya, di sebelah Hedwig, yang sedang tidur di dalam sangkarnya yang
    besar. Dia ingin bertanya,
    "Kau ini apa?" tetapi rasanya tidak sopan, maka sebagai gantinya dia
    bertanya, "Kau siapa?"
    "Dobby, Sir. Cukup Dobby saja. Dobby si peri-rumah,"
    jawab makhluk itu.
    "Ohbegitu?" kata Harry. "Ehbukannya aku mengusir atau apa, tapiini
    bukan saat yang baik bagiku untuk menerima peri-rumah di kamarku."
    Tawa Bibi Petunia yang melengking dibuat-buat ter-dengar dari ruang tamu.
    Peri itu menunduk lesu.
    "Bukannya aku tidak senang bertemu kau," kata Harry cepat-cepat, "tetapi,
    eh, apakah ada alasan khu-sus kenapa kau di sini?"
    "Oh ya, Sir," kata Dobby bersemangat. "Dobby da-tang untuk memberitahu
    Anda, Sir... susah, Sir... enaknya Dobby mulai dari mana, ya..."
    "Silakan duduk," kata Harry sopan, menunjuk tem-pat tidurnya.
    Betapa kagetnya dia, air mata si peri langsung bercucurandia tersedu-sedu.



    --------------------------------------- 8

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "S-silakan duduk!" dia meraung. "Belum pernah... sekali pun belum
    pernah..."
    Harry mendengar suara-suara di bawah terhenti.
    "Maaf," dia berbisik. "Aku tak bermaksud menghina-mu."
    "Menghina Dobby!" si peri tersedak. "Belum pernah Dobby dipersilakan duduk
    oleh seorang penyihir seakan kita sederajat..."
    Harry, berusaha berkata "Shh!" dan sekaligus kelihatan lega, mengantar
    Dobby kembali ke tempat tidurnya. Dobby duduk di situ, cegukan, tampak
    seperti boneka besar yang jelek sekali. Akhirnya dia berhasil menguasai diri.
    Mata besarnya yang masih berair menatap Harry penuh pemujaan.
    "Pasti kau belum banyak bertemu penyihir yang sopan,"
    kata Harry, berusaha menghiburnya.
    Dobby menggeleng. Kemudian, mendadak saja, dia melompat dan mulai
    membentur-benturkan kepalanya keras- keras ke jendela, seraya berteriak-
    teriak, "Dobby jelek! Dobby jelek!"
    "Jangankau kenapa?" desis Harry, melompat bangun dan menarik Dobby
    kembali ke tempat tidur.
    Hedwig terbangun sambil memekik luar biasa keras dan mengepak-
    ngepakkan sayapnya dengan liar ke jeruji sangkarnya.
    "Dobby harus menghukum diri sendiri, Sir," kata si -peri yang matanya jadi
    agak juling. "Dobby hampir saja menjelek- jelekkan keluarga Dobby, Sir...."
    "Keluargamu?"
    "Keluarga penyihir tempat Dobby mengabdi, Sir... Dobby kan peri-rumah
    terikat untuk mengabdi dan melayani satu rumah dan satu keluarga
    selamanya...."
    "Apa mereka tahu kau di sini?" tanya Harry ingin tahu. Dobby bergidik.
    "Oh, tidak, Sir, tidak... Dobby nantinya harus meng-hukum diri dengan
    sangat menyedihkan karena da-tang menemui Anda, Sir. Dobby harus menjepit
    telinganya di pintu oven. Kalau sampai mereka tahu, Sir..."
    "Tapi apa mereka tidak akan melihat kalau kau menjepit telingamu di pintu
    oven?"
    "Dobby meragukannya, Sir. Dobby selalu harus menghukum diri karena
    sesuatu, Sir. Mereka membiar-kan saja Dobby begitu, Sir. Kadang-kadang
    mereka malah mengingatkan Dobby untuk melakukan hu-kuman tambahan..."
    "Tetapi kenapa kau tidak pergi saja? Maksudku, kabur?"
    "Peri-rumah harus dibebaskan, Sir. Dan keluarga itu tidak akan pernah
    membebaskan Dobby... Dobby akan melayani keluarga itu sampai mati, Sir..."
    Harry terbelalak.
    "Dan kukira keadaanku sudah parah sekali karena harus tinggal di sini
    sebulan lagi," katanya. "Ceritamu membuat keluarga Dursley nyaris manusiawi.
    Apakah ada yang bisa membantumu? Bisakah aku membantu-mu?"
    Langsung saja Harry menyesal bicara begitu. Dobby tersedu-sedu lagi saking
    berterima kasihnya.
    "Diamlah," bisik Harry panik, "diamlah. Kalau ke-luarga Dursley sampai
    dengar, kalau mereka tahu kau di sini..."



    --------------------------------------- 9

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Harry Potter bertanya apakah dia bisa membantu Dobby... Dobby sudah
    mendengar kehebatan Anda, Sir, tapi tentang kebaikan Anda, Dobby tak pernah
    tahu..."
    Harry, yang wajahnya terasa panas, berkata, "Apa pun yang kaudengar
    tentang kehebatanku adalah omong kosong besar. Aku bahkan bukan juara di
    antara teman-teman seangkatanku. Juaranya Hermione, dia..."
    Tetapi Harry mendadak berhenti, karena memikirkan Hermione terasa
    menyakitkan.
    "Harry Potter rendah hati dan sederhana," kata Dobby penuh kekaguman,
    matanya yang seperti bola berbinar-binar.
    "Harry Potter tidak menyebut-nyebut kemenangannya atas Dia yang Namanya
    Tak Boleh Disebut."
    "Voldemort?" kata Harry.
    Dobby menutup telinga kelelawarnya dan menge-rang. "Ah, jangan sebut
    namanya, Sir! Jangan sebut namanya!"
    "Sori," kata Harry cepat-cepat. "Aku tahu banyak orang tidak menyukainya.
    Temanku Ron..." Dia berhenti lagi. Memikirkan Ron juga menyakit-kan. Dobby
    membungkuk ke arah Harry, matanya se-besar lampu sorot.
    "Dobby mendengar cerita," katanya serak, "bahwa Harry Potter bertemu si
    Pangeran Kegelapan itu untuk kedua kalinya, baru beberapa minggu lalu...
    bahwa Harry Potter sekali lagi berhasil lolos."
    Harry mengangguk dan mata Dobby mendadak berkilau oleh air mata.
    "Ah, Sir," isaknya, mengusap wajahnya dengan salah satu ujung sarung bantal
    butut yang dipakainya. "Harry Potter sungguh gagah berani! Dia sudah meng-
    hadapi banyak bahaya! Tetapi Dobby datang untuk melindungi Harry Potter,
    untuk memperingatkannya, meskipun karena itu Dobby harus menjepit
    telinganya di pintu oven nanti... Harry Potter tidak boleh kembali ke
    Hogwarts."
    Kesunyian yang menyusul hanya dipecahkan oleh dentang- denting garpu dan
    pisau dari bawah dan sayup-sayUp suara Paman Vernon di keja'uhan.
    "A-apa?" Harry tergagap. "Tapi aku harus kembali sekolah mulai tanggal
    satu September. Itu saja yang membuatku masih di sini. Kau tak tahu
    bagaimana rasanya di sini. Aku tidak, termasuk salah satu dari mereka. Aku
    lebih cocok di duniamudi Hogwarts."
    "Tidak, tidak, tidak," lengking Dobby, menggeleng-gelengkan kepalanya
    keras-keras sampai telinganya menampar-nampar. "Harry Potter harus tinggal
    di tem-pat di mana dia aman. Dia terlalu hebat, terlalu baik, sayang kalau kami
    sampai kehilangan dia. Kalau Harry Potter kembali ke Hogwarts, nyawanya
    dalam bahaya."
    "Kenapa?" tanya Harry kaget.
    "Ada rencana rahasia, Harry Potter. Rencana untuk membuat hal-hal yang
    paling mengerikan terjadi di Sekolah Sihir Hogwarts tahun ini," bisik Dobby,
    menda-dak seluruh tubuhnya gemetaran. "Dobby sudah tahu selama berbulan-
    bulan, Sir. Harry Potter tidak boleh membahayakan dirinya. Dia terlalu penting,
    Sir!"
    "Hal mengerikan apa?" tanya Harry segera. "Siapa yang merencanakannya?"



    --------------------------------------- 10

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dobby membuat suara tersedak aneh dan kemudian membentur-benturkan
    kepalanya dengan liar ke din-ding.
    "Baiklah!" seru Harry, menyambar lengan si peri untuk menghentikan
    perbuatannya. "Kau tak bisa me-ngatakannya, aku mengerti. Tetapi kenapa kau
    mem-peringatkan aku?" Pikiran tak enak mendadak melintas di benaknya.
    "Tunggu ini tidak ada hubungannya dengan Volsoridengan Kau- Tahu-Siapa,
    kan? Kau tinggal menggeleng atau mengangguk," cepat-cepat Harry
    menambahkan ketika, dengan mengkha-watirkan, kepala Dobby sudah
    mengarah lagi ke dinding.
    Perlahan-lahan, Dobby menggelengkan kepala. "Bukan
    bukan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut, Sir."
    Tetapi mata Dobby melebar dan dia kelihatannya mencoba memberi Harry
    petunjuk. Meskipun demi-kian, Harry sama sekali tidak paham.
    "Dia tidak punya adik laki-laki, kan?" Dobby menggeleng, matanya menjadi
    lebih lebar dari sebelumnya.
    "Yah, kalau begitu, aku tak bisa memikirkan siapa lagi yang punya
    kesempatan untuk melakukan hal-hal mengerikan di Hogwarts," kata Harry.
    "Maksudku, paling tidak di sana ada Dumbledorekau tahu siapa Dumbledore,
    kan?"
    Dobby menundukkan kepala.
    "Albus Dumbledore adalah kepala sekolah terhebat yang pernah dimiliki
    Hogwarts. Dobby tahu itu, Sir. Dobby sudah mendengar kehebatan Dumbledore
    me-nyaingi kehebatan Dia yang Namanya Tak Boleh Di-sebut pada puncak
    kekuasaannya. Tetapi, Sir," suara Dobby merendah menjadi bisikan mendesak,
    "ada kekuasaan-kekuasaan yang Dumbledore tidak... ke-kuasaan yang penyihir
    baik tidak..."
    Dan sebelum Harry bisa mencegahnya, Dobby me-lompat turun dari tempat
    tidur, menyambar lampu meja Harry dan mulai memukuli kepalanya dengan
    jeritan-jeritan memekakkan telinga.
    Di bawah mendadak sunyi. Dua menit kemudian, dengan jantung berdegup
    liar, Harry mendengar Paman Vernon masuk, seraya berkata, "Dudley pasti lupa
    mematikan televisinya. Dasar ceroboh anak itu!"
    "Cepat! Masuk lemari pakaian!" desis Harry, men-dorong Dobby masuk,
    menutup pintu lemari, dan melempar dirinya ke atas tempat tidur tepat ketika
    pegangan pintu bergerak.
    "Setan! Kau-ini-ngapain-sih?" kata Paman Vernon dengan gigi mengertak,
    wajahnya sangat dekat ke wajah Harry. "Kau baru saja membuat berantakan
    leluconku tentang pemain golf Jepang... kalau bikin suara sekali lagi, kau akan
    menyesal telah dilahir-kan!"
    Paman Vernon meninggalkan kamar dengan mengentakkan kakinya.
    Gemetaran, Harry mengeluarkan Dobby dari lemari pakaian.
    "Tahu, kan, bagaimana di sini?" katanya. "Paham, kan, kenapa aku harus
    kembali ke Hogwarts? Hogwarts satu- satunya tempat di mana aku punya yah,
    kupikir aku punya teman."
    "Teman yang bahkan menulis surat pun tidak kepada Harry Potter?" kata
    Dobby licik.



    --------------------------------------- 11

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kurasa merekatunggu," kata Harry, keningnya berkerut.
    "Bagaimana kau tahu teman-temanku tidak menulis kepadaku?"
    Dobby menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah.
    "Harry Potter tidak boleh marah kepada Dobby Dobby melakukannya demi
    kebaikan..."
    "Apakah kau yang mengambil surat-suratku?"
    "Dobby membawanya, Sir," kata si peri. Dengan gesit ia menjauh dari
    jangkauan Harry, lalu menarik keluar setumpuk tebal amplop dari dalam sarung
    bantal yang dipakainya. Harry bisa mengenali tulisan Hermione yang rapi,
    tulisan cakar ayam Ron yang berantakan, dan bahkan coretan yang
    kelihatannya dikirim oleh si pengawas binatang liar Hogwarts, Hagrid.
    Dobby menatap Harry dengan cemas.
    "Harry Potter tidak boleh marah... Dobby ber-harap... kalau Harry Potter
    mengira teman-temannya melupakannya... Harry Potter mungkin tidak ingin
    kembali ke sekolah, Sir..."
    Harry tidak mendengarkan. Dia berusaha merebut surat- surat itu, tetapi
    Dobby melompat menjauh.
    "Ini akan diberikan kepada Harry Potter, Sir, kalau dia berjanji kepada Dobby
    bahwa dia tidak akan kembali ke Hogwarts. Ah, Sir, ini bahaya yang tak boleh
    Anda hadapi! Katakan Anda tidak akan kembali, Sir!"
    "Tidak," kata Harry marah. "Kembalikan surat teman- temanku!"
    "Kalau begitu Harry Potter tidak memberikan pilihan lain kepada Dobby,"
    kata si peri sedih.
    Sebelum Harry bisa bergerak, Dobby sudah melesat ke pintu kamar,
    membukanyadan melompat turun.
    Dengan mulut kering, jantung berdegup kencang, Harry melompat
    mengejarnya, berusaha tidak mem-buat suara. Dia melompati enam anak
    tangga terakhir, mendarat seperti kucing di atas karpet, celinguk.in mencari
    Dobby. Dari ruang makan didengarnya Paman Vernon berkata, "...ceritakan
    kepada Petunia cerita lucu tentang tukang ledeng Amerika itu, Mr Mason, dia
    sudah ingin sekali dengar..."
    Harry berlari ke dapur dan hatinya mencelos.
    Puding mahakarya Bibi Petunia, gundukan krim dan gula itu, sekarang
    melayang dekat langit-langit. Di atas lemari di sudut, Dobby meringkuk.
    "Jangan," kata Harry serak. "Tolong, jangan... me-reka akan membunuhku..."
    "Harry Potter harus bilang dia tidak akan kembali ke sekolah..."
    "Dobby... tolong..."
    "Katakan, Sir..."
    "Tidak bisa!"
    Dobby memandangnya sedih.
    "Kalau begitu Dobby terpaksa melakukannya, Sir, untuk kebaikan Harry
    Potter sendiri."
    Puding itu terjatuh ke lantai dengan bunyi me-mekakkan. Krim memercik ke
    jendela dan dinding, sementara piringnya pecah. Diiringi bunyi seperti lecutan
    cemeti, Dobby menghilang.



    --------------------------------------- 12

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Terdengar jeritan dari ruang makan dan Paman Vernon berlari ke dapur,
    menemukan Harry, berdiri kaku saking kagetnyadari kepala sampai kaki
    belumur puding Bibi Petunia.
    Awalnya, kelihatannya Paman Vernon akan bisa me-nutupi kejadian itn
    ("cuma keponakan kamisangat bingung bertemu orang asing membuatnya
    cemas, maka kami minta dia tinggal saja di atas..."). Paman Vernon meminta
    suami-istri Mason yang shock kembali ke ruang makan. Lalu ia mengancam akan
    menghajar Harry sampai nyawanya tinggal seujung rambut se-telah tamunya
    pulang nanti. Diberinya Harry alat pel. Bibi Petunia mengambil es krim dari
    lemari es dan Harry, masih gemetaran, mulai membersihkan dapur.
    Paman Vernon mungkin masih akan bisa me-nyelesaikan transaksinyakalau
    bukan gara-gara si burung hantu.
    Bibi Petunia sedang mengedarkan kotak permen pedas untuk sehabis
    makan .ketika seekor burung hantu serak melesat masuk lewat jendela ruang
    ma-kan, menjatuhkan sepucuk surat ke atas kepala Mrs Mason, dan melesat
    keluar lagi. Mrs Mason menjerit seakan melihat hantu dan berlari keluar rumah,
    ber-teriak-teriak menuduh mereka gila. Sebelum bergegas menyusul istrinya,
    Mr Mason masih sempat memberi-tahu keluarga Dursley bahwa istrinya takut
    setengah mati pada segala macam burung dan bertanya apakah begini cara
    mereka bergurau.
    Harry berdiri di dapur, mencengkeram gagang pel untuk menopangnya ketika
    Paman Vernon men-dekatinya, matanya yang kecil berkilat licik.
    "Baca ini!" desisnya galak, seraya mengacung-acung-kan surat yang dibawa
    burung hantu tadi. "Ayo baca!"
    Harry mengambilnya. Surat itu tidak berisi ucapan selamat ulang tahun.

    Mr Potter yang terhormat,
    Kami baru saja menerima laporan mata-mata bahwa Mantra Melayang baru
    saja digunakan di tempat tinggal Anda malam ini pada pukul sembilan lewat
    dua belas menit.
    Seperti Anda ketahui, penyihir di bawah-umur tidak diperkenankan
    menggunakan sihir di luar sekolah, dan jika Anda menggunakan sihir lagi, Anda
    bisa dikeluar-kan dari sekolah (Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penyihir di
    Bawah-Umur, 1875, Paragraf C).
    Kami juga meminta Anda mengingat bahwa kegiatan sihir apa pun yang
    berisiko menarik perhatian anggota komunitas non-sihir (Muggle) adalah
    pelanggaran serius, sesuai peraturan ke-13 Konfederasi Internasional Undang-
    undang Kerahasiaan Sihir.
    Selamat menikmati liburan!
    Hormat kami, Mafalda Hopkirk Departemen Penggunaan Sihir yang Tidak
    Pada Tempatnya

    Kementerian Sihir



    --------------------------------------- 13

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/

    Harry mendongak dari suratnya dan menelan ludah.
    "Kau tidak memberitahu kami kau tidak diizinkan menggunakan sihir di luar
    sekolah," kata Paman Vernon, kilatan liar menari-nari di matanya. "Lupa...
    tidak ingat sama sekali, pasti begitu alasanmu..."
    Dia menghadapi Harry seperti anjing buldog besar, dengan mulut
    menyeringai. "Yah, aku punya kabar untukmu... aku akan mengurungmu... kau
    tak akan pernah kembali ke sekolah itu... tak pernah... dan kalau kau mencoba
    menyihir dirimu lepas dari ku-runganmereka akan mengeluarkanmu!"
    Dan sambil tertawa seperti orang gila, dia menyeret Harry kembali ke atas.
    Paman Vernon membuktikan kekejaman icata-kata-nya. Esok paginya, dia
    membayar orang untuk me-masang jeruji pada jendela Harry. Dia sendiri me-
    masang pintu-kucing di pintu kamar, supaya sedikit makanan bisa didorong
    masuk tiga kali sehari. Mereka mengeluarkan Harry untuk ke kamar mandi
    sehari dua kali, pagi dan sore. Selain waktu itu, dia dikurung di kamarnya
    sepanjang waktu.
    Tiga hari kemudian, keluarga Dursley belum me-nampakkan tanda-tanda
    berbelas kasihan dan Harry tidak melihat jalan keluar dari keadaannya itu. Dia
    berbaring di tempat tidurnya, memandang matahari terbenam di balik jeruji
    jendelanya, dan sedih sekali memikirkan apa yang akan terjadi padanya.
    Apa gunanya menyihir dirinya keluar dari kamarnya kalau, gara-gara itu,
    Hogwarts akan mengeluarkannya? Tapi hidup di Privet Drive tak tertahankan
    lagi. Seka-rang setelah keluarga Dursley tahu mereka tidak akan terbangun
    sebagai kelelawar pemakan buah, dia telah kehilangan satu-satunya senjata.
    Dobby mungkin telah menyelamatkan Harry dari bencana mengerikan di
    Hogwarts, tetapi melihat keadaannya ini, dia toh mungkin akan mati kelaparan
    juga.
    Pintu-kucing berderik dan tangan Bibi Petunia mun-cul, mendorong
    semangkuk sup kaleng ke dalam ka-mar. Harry, yang perutnya melilit
    kelaparan, melompat dari tempat tidurnya dan menyambarnya. Sup itu dingin,
    tetapi dia meminum separonya sekali teguk. Kemudian dia menyeberang kamar
    menuju sangkar Hedwig, dan menuang sayur yang sudah lembek di dasar
    mangkuk itu ke piring kosong Hedwig.
    Hedwig menyisiri bulunya dan melempar pandangan jijik ke arah Harry "Tak
    ada gunanya menolak makan, cuma ini yang kita punya," kata Harry muram.
    Ditaruhnya mangkuk kosong itu di lantai di sebelah pintu- kucing, lalu dia
    kembali berbaring di tempat tidurnya, malah merasa lebih lapar daripada
    sebelum makan sup tadi.
    Seandainya dia masih hidup sebulan lagi, apa yang akan terjadi jika dia tidak
    muncul di Hogwarts? Akan-kah seseorang dikirim untuk mencari tahu kenapa
    dia tidak kembali? Apakah mereka akan berhasil mem-buat keluarga Dursley
    mengizinkannya pergi?
    Ruangan mulai gelap. Kelelahan, perutnya keron-congan, otaknya dipenuhi
    pertanyaan-pertanyaan sama yang tak bisa dijawab, Harry tertidur. Tidurnya
    gelisah.



    --------------------------------------- 14

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dia bermimpi dijadikan tontonan di kebun binatang, dengan kartu bertulisan
    "Penyihir di Bawah Umur" menempel di kandangnya. Orang-orang memandang
    ingin tahu kepadanya lewat jeruji, sementara dia ter-baring, kelaparan dan
    lemah, di atas tempal tidur jerami. Dilihatnya wajah Dobby di tengah
    kerumunan dan dia berteriak, minta bantuan, tetapi Dobby ber-seru, "Harry
    Potter aman di situ, Sir!" lalu lenyap. Kemudian keluarga Dursley muncul dan
    Dudley men-derak- derakkan jeruji kandang, menertawakannya.
    "Hentikan!" gumam Harry, ketika derak jeruji itu membuat kepalanya
    berdenyut sakit. "Jangan gauggu aku... hentikan... aku sedang mencoba
    tidur...."
    Harry membuka matanya. Cahaya bulan menerobos masuk lewat jeruji
    jendela. Dan memang ada orang yang memandang ingin tahu lewat jeruji
    jendela: anak yang wajahnya berbintik-bintik, berambut merah, dan berhidung
    panjang. Ron Weasley ada di luar jendela Harry.
    3. The Burrow
    "RON!" desah Harry, merayap ke jendela dan men-dorongnya ke atas, agar
    mereka bisa bicara lewat jeruji.
    "Ron, bagaimana kauapa i...?"
    Harry ternganga ketika sadar sepenuhnya apa yang dilihatnya. Ron
    menjulurkan tubuhnya dari jendela belakang mobil tua berwarna hijau toska,
    yang di-parkir di tengah udara. Fred dan George, kakak kembar-nya, nyengir
    kepada Harry dari tempat duduk depan.
    "Baik-baik saja, Harry?"
    "Apa yang terjadi?" tanya Ron. "Kenapa kau tidak membalas surat-suratku?
    Sudah dua belas kali kuminta kau datang, kemudian Dad pulang dan bilang kau
    mendapat peringatan resmi gara-gara menggunakan sihir di depan Muggle..."
    "Bukan akudan bagaimana dia tahu?"
    "Dia kerja di Kementerian Sihir," kata Ron. "Kau kan tahu kita dilarang
    menggunakan sihir di luar sekolah..."
    "Aneh juga kau ngomong begitu,". kata Harry, me-mandang mobil yang
    melayang itu.
    "Oh, ini tidak masuk hitungan," kata Ron. "Kami cuma pinjam. Ini punya Dad,
    bukan kami yang me-nyihirnya. Tetapi menyihir di depan Muggle, di tempat kau
    tinggal..."
    "Sudah kubilang itu bukan akutapi perlu waktu lama untuk menjelaskannya
    sekarang. Bisakah kau-katakan kepada mereka di Hogwarts bahwa keluarga
    Dursley mengurungku dan tidak mengizinkanku kem-bali, dan jelas aku tidak
    bisa menyihir diriku keluar kamar, karena Kementerian Sihir nanti mengira itu
    kedua kalinya aku menyihir dalam waktu tiga hari, jadi..."



    --------------------------------------- 15

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Berhenti ngoceh," kata Ron. "Kami datang untuk membawamu pulang
    bersama kami."
    "Tapi kalian juga tidak bisa menyihirku bebas..."
    "Tidak perlu," kata Ron, mengedikkan kepalanya ke arah tempat duduk
    depan sambil menyeringai. "Kau lupa siapa yang bersamaku." "Ikat ini di
    sekeliling jeruji-jeruji itu," kata Fred, melempar ujung seuntai tambang kepada
    Harry.
    "Kalau keluarga Dursley bangun, mati aku," kata Harry, ketika dia
    mengikatkan tambang erat-erat ke satu jeruji sementara Fred menekan pedal
    gas kuat-kuat.
    "Jangan khawatir," kata Fred. "Sekarang kau mundur." Harry mundur ke
    tempat remang-remang di sebelah Hedwig. Hedwig rupanya menyadari betapa
    penting-nya kejadian ini sehingga dia diam tak bersuara. Derum mobil semakin
    keras, dan mendadak, dengan bunyi berkelontangan, jeruji-jeruji itu berhasil
    dicabut dari jendela sewaktu Fred meluncurkan mobil ke atasHarry berlari
    kembali ke jendela dan melihat jeruji itu bergelantungan kira-kira semeter dari
    tanah. Terengah-engah, Ron menariknya ke dalam mobil.
    Harry mendengarkan dengan cemas, tetapi tak ter-dengar suara dari kamar
    tidur keluarga Dursley.
    Ketika jeruji sudah aman di tempat duduk belakang bersama Ron, Fred
    memundurkan mobil sedekat mungkin ke jendela Harry.
    "Masuk," kata Ron.
    "Tetapi semua keperluan Hogwarts-ku... tongkat-ku... sapuku..." "Di mana?"
    "Dikunci di lemari di bawah tangga, dan aku tidak bisa keluar dari kamar ini..."
    "Tak jadi soal," kata George dari tempat duduk depan. "Minggir, Harry."
    Fred dan George memanjat hati-hati lewat jendela, masuk ke kamar Harry.
    Harry kagum sekali melihat George mengeluarkan jepit rambut biasa dari
    sakunya dan mulai mengotak-atik kunci pintu.
    "Banyak penyihir menganggap mempelajari trik Muggle semacam ini buang-
    buang waktu," kata Fred, "tapi menurut kami ini kecakapan yang layak di-
    pelajari, walaupun agak lambat."
    Terdengar bunyi klik pelan dan pintu terbuka.
    "Nahkami akan mengambil kopermu. Ambil apa saja yang kauperlukan dari
    kamarmu dan ulurkan pada Ron," bisik George.
    "Awas, anak tangga yang paling bawah berderit,"
    Harry balik berbisik, ketika si kembar menghilang di puncak tangga yang
    gelap.
    Harry bergerak gesit di kamarnya, mengumpulkan barang- barangnya dan
    menyerahkannya kepada Ron.
    Kemudian dia membantu Fred dan George meng-gotong kopernya ke atas.
    Harry mendengar Paman Vernon terbatuk.
    Akhirnya, terengah-engah, mereka tiba di puncak tangga, lalu membawa
    koper itu ke jendela kamar. Fred memanjat kembali ke dalam mobil untuk
    menarik koper bersama Ron, sementara Harry dan George mendorong dari
    kamar. Senti demi senti koper itu bergerak melewati jendela.



    --------------------------------------- 16

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Paman Vernon terbatuk lagi. "Sedikit lagi," sengal Fred, yang menarik dari
    dalam mobil. "Dorong keras-keras...."
    Harry dan George mendorong koper itu dengan bahu dan koper itu pun
    meluncur dari jendela ke .tempat duduk belakang mobil.
    "Oke, kita berangkat," bisik George.
    Tetapi ketika Harry memanjat ambang jendela, ter-dengar jerit nyaring di
    belakangnya, diikuti gelegar suara Paman Vernon.
    "BURUNG HANTU SIALAN!"
    "Aku lupa Hedwig!"
    Harry berlari kembali ke seberang kamar ketika lampu di atas tangga loteng
    menyala. Dia menyambar sangkar Hedwig, berlari ke jendela, dan
    menyerahkan-nya kepada Ron. Dia sedang memanjat lemari lacinya ketika
    Paman Vernon menggedor pintu yang sudah tak terkuncidan pintu berdebam
    terbuka.
    Sedetik Paman Vernon berdiri terpaku di depan pintu, kemudian dia
    melenguh seperti banteng terluka dan melesat mengejar Harry, menyambar
    pergelangan kakinya.
    Ron, Fred, dan George meraih lengan Harry dan menarik sekuat tenaga.
    "Petunia!" raung Paman Vernon. "Dia kabur! DIA KABUR!"
    Weasley bersaudara menyentak keras sekali dan kaki Harry terlepas dari
    cengkeraman Paman Vernon. Begitu Harry sudah di dalam mobil dan
    membanting pintunya menutup, Ron berteriak, "Tancap, Fred!" dan mobil itu
    tiba-tiba saja meluncur menuju bulan.
    Harry tak bisa mempercayainyadia bebas. Dia menurunkan kaca jendela
    mobil, angin malam me-ngibarkan rambutnya. Dia memandang atap rumah-
    rumah di Privet Drive yang semakin menjauh. Paman Vernon, Bibi Petunia, dan
    Dudley, ketiganya menatap terpana dari jendela kamar Harry.
    "Sampai musim panas tahun depan!" seru Harry. Weasley bersaudara
    terbahak dan Harry bersandar kembali ke tempat duduknya, nyengir lebar
    sekali.
    "Keluarkan Hedwig," katanya kepada Ron. "Dia bisa terbang mengikuti kita.
    Sudah lama sekali dia tak punya kesempatan merentangkan sayapnya."
    George menyerahkan jepit rambut kepada Ron dan sesaat kemudian Hedwig
    sudah meluncur riang gem-bira dari jendela mobil, lalu melayang-layang meng-
    ikuti mereka seperti hantu.
    "Jadibagaimana ceritanya, Harry?" kata Ron tak sabar.
    "Apa yang terjadi?"
    Harry menceritakan kepada mereka semua tentang Dobby, peringatan yang
    diberikannya kepada Harry, dan musibah puding violet. Terjadi kesunyian yang
    panjang setelah Harry mengakhiri ceritanya. Mereka kaget.
    "Sangat mencurigakan," kata Fred akhirnya.
    "Jelas mengada-ada," George menyetujui. "Jadi dia bahkan tidak mau
    memberitahu siapa yang me-rencanakan semua ini?"
    "Kurasa dia tak bisa," kata Harry. "Sudah kukatakan, setiap kali nyaris buka
    rahasia, dia langsung mem-bentur-benturkan kepalanya ke dinding."
    Harry melihat Fred dan George berpandangan.



    --------------------------------------- 17

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kalian mengira dia bohong kepadaku?" kata Harry.
    "Yah," kata Fred, "coba pikirkanperi-rumah punya kekuatan gaib sendiri,
    tetapi mereka biasanya tidak bisa menggunakannya tanpa izin tuan mereka.
    Kurasa si Dobby itu sengaja dikirim untuk mencegahmu kem-bali ke Hogwarts.
    Ada yang mau mempermainkanmu. Apa di sekolah ada yang dendam padamu?"
    "Ada," Harry dan Ron langsung menjawab ber-samaan.
    "Draco Malfoy," Harry menjelaskan.
    "Dia membenci-ku."
    "Draco Malfoy?" kata George, menoleh.
    "Bukan anak Lucius Malfoy, kan?"
    "Mestinya. Itu bukan nama yang sangat umum, kan?" kata Harry.
    "Kenapa?"
    "Aku dengar Dad bicara tentang dia," kata George. "Dia pendukung besar
    Kau-Tahu-Siapa."
    "Dan waktu Kau-Tahu-Siapa menghilang," kata Fred, menoleh memandang
    Harry, "Lucius Malfoy kembali, katanya dia tidak bermaksud melakukan semua
    itu. Omong kosong Dad berpendapat dia orang dekat Kau-Tahu-Siapa."
    Harry tak pernah mendengar desas-desus tentang keluarga Malfoy
    sebelumnya, dan ini sama sekali tidak mengejutkannya. Kalau dibandingkan
    dengan Malfoy, Dudley Dursley tampak seperti anak yang baik, bijak-sana, dan
    penuh perasaan.
    "Aku tak tahu apakah keluarga Malfoy punya peri-rumah...," kata Harry.
    "Siapa pun pemiliknya, tentulah keluarga penyihir yang sudah turun-temurun
    dan kaya raya," kata Fred.
    "Yeah, Mum ingin sekali kami punya peri-rumah untuk menyetrika," kata
    George. "Tapi yang kami punya hanyalah hantu konyol di loteng dan jembalang
    yang berkeliaran di kebun. Peri-rumah adanya di rumah-rumah besar, kastil,
    dan tempat-tempat seperti itu. Kau tak akan menemukannya di rumah
    kami...."
    Harry diam. Melihat fakta bahwa Draco Malfoy biasanya memiliki segala
    sesuatu yang paling baik, keluarganya pastilah bergelimang uang sihir. Dia bisa
    membayangkan Malfoy berkeliaran di rumah besar. Mengirim pelayan rumah
    untuk mencegah Harry kem-bali ke Hogwarts kelihatannya juga jenis hal yang
    akan dilakukan Malfoy. Bodohkah Harry menanggapi Dobby secara serius?
    "Tapi aku senang kami datang mengambilmu," kata Ron.
    "Aku cemas sekali ketika kau tidak membalas satu pun suratku. Mulanya
    kukira Errol yang salah..."
    "Siapa Errol?"
    "Burung hantu kami. Dia sudah tua sekali. Bukan untuk pertama kalinya dia
    pingsan waktu mengantar surat. Jadi kemudian kucoba meminjam Hermes..."
    "Siapa?"
    "Burung hantu yang Mum dan Dad belikan untuk Percy ketika dia diangkat
    jadi Prefek," kata Fred dari tempat duduk depan.
    "Tapi Percy tak mau meminjamkannya padaku," kata Ron.
    "Katanya dia sendiri memerlukannya."



    --------------------------------------- 18

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tingkah Percy aneh sekali sepanjang musim panas ini," kata George, dahinya
    berkerut. "Dia mengirim banyak surat dan melewatkan banyak waktu mengu-
    rung diri dalam kamarnya... Maksudku, berapa kali sih kita perlu menggosok
    lencana Prefek? Kau menyetir terlalu ke barat, Fred," katanya menambahkan,
    me-nunjuk kompas di dasbor. Fred memutar roda kemudi.
    "Apakah ayah kalian tahu kalian membawa mobil ini?"
    tanya Harry, sudah menduga jawabannya.
    "Eh, tidak," kata Ron, "dia harus bekerja malam ini. Mudah- mudahan kita
    bisa mengembalikannya ke garasi sebelum Mum menyadari kita menerbang-
    kannya."
    "Apa sih pekerjaan ayah kalian di Kementerian Sihir?"
    "Dia bekerja di departemen paling membosankan," kata Ron. "Kantor
    Penyalahgunaan Barang-barang Muggle."
    "Apa?"
    "Segala sesuatu yang ada hubungannya dengan menyihir barang-barang
    buatan Muggle. Soalnya siapa tahu barang itu nantinya kembali ke toko atau
    rumah Muggle. Seperti tahun lalu, ada penyihir tua wanita meninggal dan
    peralatan minum tehnya dijual ke toko barang antik. Ada Muggle perempuan
    yang mem-belinya, membawanya pulang, dan menjamu teman-nya dengan
    peralatan ini. Benar-benar kacau-balau selama berminggu-minggu Dad harus
    kerja lembur."
    "Apa yang terjadi?"
    "Teko tehnya ngamuk dan menyemburkan teh men-didih ke seluruh ruangan,
    dan seorang laki-laki harus dibawa ke rumah sakit dengan penjepit gula
    menjepit hidungnya. Dad panik. Cuma ada dia dan satu pe-nyihir tua bernama
    Perkins di kantor. Mereka harus menggunakan Jimat Memori dan segala macam
    man-tra lainnya untuk menutupi peristiwa ini..."
    "Tetapi ayahmu... mobil ini..."
    Fred tertawa. "Yeah, Dad tergila-gila pada segala sesuatu yang ada
    hubungannya dengan Muggle. Gu-dang kami penuh dengan barang-barang
    Muggle. Dia membongkarnya, memantrainya, dan merakitnya kem-bali. Kalau
    dia merazia rumah kami sendiri, dia pasti harus langsung menangkap dirinya
    sendiri. Mum sam-pai kesal."
    "Itu jalan utamanya," kata George menyipitkan mata, memandang ke bawah
    melalui kaca depan. "Sepuluh menit lagi kita sampai... untunglah, sudah mulai
    terang...."
    Semburat pucat kemerahan sudah mulai tampak di ufuk timur.
    Fred menurunkan mobilnya dan Harry melihat petak-petak ladang dan
    gerumbul-gerumbul pohon yang gelap.
    "Kita sudah hampir sampai di tepi desa," kata George.
    "Ottery St Catchpole..."
    Mobil terbang itu semakin lama semakin rendah. Tepi lingkaran matahari
    yang merah jingga sekarang berkilau di antara pepohonan.
    "Pendaratan!" kata Fred, ketika dengan entakan kecil mereka menyentuh
    tanah. Mereka mendarat di sebelah garasi yang hampir roboh di halaman kecil
    itu, dan Harry untuk pertama kalinya melihat rumah Ron.



    --------------------------------------- 19

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tampaknya dulunya rumah ini kandang babi besar, tetapi kamar-kamar
    ekstra sudah ditambahkan di sana-sini sampai rumah ini menjadi beberapa
    tingkat dan miring sekali, sehingga seolah rumah ini masih ber-tahan berdiri
    karena disihir (yang, Harry mengingat-kan dirinya, mungkin memang benar).
    Empat atau lima cerobong asap bertengger di atas atap merahnya. Papan
    miring yang ditancapkan di tanah dekat pintu masuk bertulisan "The Burrow"
    Liang. Di sekeliling pintu depan bertebaran sepatu bot dan kuali yang sudah
    sangat berkarat. Beberapa ayam cokelat gemuk sedang mematuk-matuk di
    halaman.
    "Tidak seberapa," kata Ron.
    "Ini hebat," kata Harry riang, teringat Privet Drive.
    Mereka turun dari mobil.
    "Nah, kita ke atas diam-diam," kata Fred, "dan tunggu sampai Mum
    memanggil kita untuk sarapan. Kemudian, Ron, kau turun sambil bilang, 'Mum,
    coba lihat siapa yang muncul semalam!' Mum akan senang sekali melihat Harry,
    dan tak seorang pun perlu tahu kita menerbangkan mobil."
    "Betul," kata Ron. "Ayo, Harry, aku tidur di..."
    Wajah Ron berubah pucat, matanya terpaku ke rumah. Yang lain segera
    berbalik.
    Mrs Weasley berjalan tegap menyeberangi halaman, membuat ayam-ayam
    menyebar. Untuk wanita pen-dek, gemuk, berwajah ramah, mengherankan
    sekali betapa miripnya dia dengan harimau bergigi pedang sekarang.
    "Ah," kata Fred.
    "Oh," kata George.
    Mrs Weasley berhenti di depan mereka, tangannya di pinggul, memandang
    bergantian wajah-wajah ber-salah itu. Dia memakai celemek berbunga-bunga
    de-ngan tongkat mencuat keluar dari sakunya.
    "Jadi," katanya. "Pagi, Mum," kata George, dengan suara yang di-anggapnya
    riang membujuk. "Tahukah kalian betapa cemasnya aku?" kata Mrs Weasley
    dalam bisikan maut.
    "Maaf, Mum, tapi soalnya, kami harus..."
    Ketiga anak Mrs Weasley lebih tinggi daripadanya, tetapi mereka mengerut
    ketika kemarahannya meledak.
    "Tempat tidur kosong! Tak ada pesan! Mobil lenyap... bisa tabrakan... gila
    rasanya aku saking cemasnya... apa kalian pedulil... belum pernah, seumur
    hidupku... tunggu sampai ayah kalian pulang, kami tak pernah dapat kesulitan
    begini dari Bill atau Charlie atau Percy..."
    "Prefek Percy yang sempurna," gumam Fred.
    "KAU SEHARUSNYA MENCONTOH PERCY!" teriak Mrs Weasley, menusukkan jari
    ke dada Fred. "Kau bisa mati, kau bisa kelihatan, kau bisa membuat ayahmu
    kehilangan pekerjaannya..."
    Kemarahan Mrs Weasley rasanya berlangsung ber-jam-jam. Dia berteriak-
    teriak sampai serak, sebelum menoleh pada Harry, yang mundur menjauh.
    "Aku senang sekali bertemu kau, Nak," katanya.
    "Mari masuk dan sarapan."



    --------------------------------------- 20

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mrs Weasley berbalik dan berjalan kembali ke dalam rumah, sedangkan
    Harrysetelah dengan gugup me-lirik Ron, yang mengangguk membesarkan
    hatinya mengikutinya.
    Dapurnya kecil dan agak penuh sesak. Ada meja kayu dan kursi-kursi di
    tengahnya dan Harry duduk di tepi tempat duduknya, memandang berkeliling.
    Dia belum pernah berada dalam rumah penyihir.
    Jam di dinding di depannya cuma punya satu jarum dan sama sekali tak ada
    angkanya. Mengitari tepinya ada tulisan- tulisan seperti "Waktu membuat teh",
    "Waktu memberi makan ayam-ayam", dan "Kau terlambat". Buku-buku ditumpuk
    tiga- tiga di atas rak perapian, buku-buku dengan judul seperti Sihir Sendiri
    Kejumu, Jampi-jampi dalam Memanggang, dan Sajian dalam SemenitSungguh
    Ajaib! Dan kecuali telinga Harry mengelabuinya, radio tua di sebelah tempat
    cuci piring baru saja mengumumkan bahwa acara berikutnya adalah "Jam Sihir,
    dengan penyanyi pe-nyihir wanita terkenal, Celestina Warbeck."
    Mrs Weasley mondar-mandir dengan berisik, me-nyiapkan sarapan dengan
    agak serampangan, meman-dang sebal anak- anaknya sementara dia
    melemparkan sosis ke dalam wajan. Sekali-sekali dia menggumam-kan kalimat
    seperti, "Tak tahu apa yang ada di pikiran kalian," dan "Tak akan pernah
    mempercayainya."
    "Aku tidak menyalahkanmu, Nak," katanya meyakin-kan Harry, menuang
    delapan atau sembilan sosis ke dalam piringnya. "Arthur dan aku
    mencemaskanmu juga. Baru semalam kami katakan kami sendiri akan da tang
    menjemputmu kalau sampai hari Jumat kau tidak membalas surat Ron. Tapi
    sungguh kelewatan," (sekarang dia menambahkan tiga telur goreng ke piling
    Harry),
    "menerbangkan mobil ilegal, menye-berang separo negeri
    bisa kelihatan siapa saja...."
    Dia menjentikkan tongkatnya sambil lalu ke perabot di tempat cuci piring
    yang langsung mulai mencuci sendiri, berdentang-denting lembut di latar
    belakang.
    "Langit mendung, Mum!" kata Fred.
    "Jangan bicara waktu makan!" bentak Mrs Weasley.
    "Mereka membuatnya kelaparan, Mum!" kata George.
    "Dan kau juga!" kata Mrs Weasley, tetapi ekspresi wajahnya lebih lembut
    ketika dia mulai mengiris roti untuk Harry dan mengolesinya dengan mentega.
    Pada saat itu sesosok tubuh kecil berambut merah memakai gaun tidur
    panjangmuncul di pintu, meng-alihkan perhatian semua orang. Sosok itu
    menjerit kecil, dan berlari keluar lagi.
    "Ginny," kata Ron pelan kepada Harry. "Adikku. Dia ngomong tentang kau
    terus sepanjang musim panas."
    "Yeah, dia mau minta tanda tanganmu, Harry," Fred nyengir, tetapi dia
    menangkap pandangan ibunya dan segera menundukkan wajah di atas
    piringnya, tanpa berkata apa-apa lagi. Tak ada lagi yang di-bicarakan sampai
    keempat piring bersih, dalam waktu yang singkat sekali.
    "Ya ampun, aku capek," Fred menguap, akhirnya meletakkan pisau dan
    garpunya. "Aku mau tidur dan..."



    --------------------------------------- 21

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tidak boleh," potong Mrs Weasley. "Salahmu sendiri kau tidak tidur
    semalaman. Kau akan membersihkan jembalang di kebun untukku, mereka
    sudah tak ter-kontrol lagi."
    "Oh, Mum..."
    "Dan kalian berdua juga," katanya mendelik pada Ron dan Fred. "Kau boleh
    tidur, Nak," katanya me-nambahkan kepada Harry. "Kau tidak meminta meteka
    menerbangkan mobil brengsek itu."
    Tetapi Harry yang sama sekali tidak mengantuk, buru-buru berkata, "Saya
    akan membantu Ron. Saya belum pernah melihat pembersihan jembalang..."
    "Kau baik sekali, Nak, tapi itu pekerjaan mem-bosankan," kata Mrs Weasley.
    "Coba kita lihat dulu apa kata Lockhart tentang masalah ini."
    Dan dia menarik sebuah buku berat dari tumpukan di atas rak perapian.
    George mengerang. "Mum, kami sudah tahu bagaimana membersihkan kebun
    dari jembalang." Harry memandang sampul buku Mrs Weasley. Judulnya ditulis
    dengan huruf-huruf emas indah:
    Penuntun Penanganan Hama Rumah Gilderoy Lockhart.
    Di sampul itu terpampang foto besar penyihir yang amat tampan, dengan
    rambut pirang berombak dan mata biru cerah. Seperti biasanya di dunia sihir,
    foto itu bergerak-gerak. Si penyihir, yang Harry duga ada-lah Gilderoy
    Lockhart, tak henti-hentinya mengedip nakal kepada mereka semua. Mrs
    Weasley menunduk tersenyum kepadanya.
    "Oh, dia hebat sekali," katanya, "dia tahu betul ten-tang hama-hama rumah.
    Ini buku yang bagus sekali...." "Mum naksir dia," kata Fred dalam bisikan yang
    sangat jelas.
    "Jangan ngaco, Fred," kata Mrs Weasley, pipinya merona merah jambu.
    "Baiklah, kalau kalian merasa lebih tahu dari Lockhart, kalian boleh keluar dan
    langsung mulai. Awas, kalau sampai masih ada satu saja jembalang di kebun
    waktu aku memeriksanya nanti."
    Menguap dan menggerutu, Ron dan kedua kakak-nya berjalan ogah-ogahan
    keluar, diikuti Harry. Kebun mereka luas, dan dalam pandangan Harry,
    begitulah seharusnya kebun. Keluarga Dursley tidak akan me-nyukainyaada
    banyak ilalang, rumputnya perlu di-potongtetapi ada pohon- pohon yang
    batangnya ber-bonggol-bonggol di sekeliling tembok, tanaman-tanaman yang
    belum pernah dilihat Harry melimpah dengan lebatnya dari setiap petak bunga,
    dan ada kolam besar penuh kodok.
    "Muggle juga punya jembalang kebun lho," Harry memberitahu Ron ketika
    mereka menyeberang ke kebun.
    "Yeah, aku sudah melihat apa yang mereka sebut jembalang," kata Ron,
    membungkuk dengan kepala tenggelam di semak bunga peoni. "Seperti Santa
    Claus gemuk membawa tangkai pancing...."
    Terdengar bunyi baku hantam seru, semak peoni bergetar, dan Ron
    menegakkan diri. "Ini jembalang," katanya suram.
    "Lepaskan aku! Lepaskan aku!" jerit si jembalang.
    Makhluk itu sama sekali tidak seperti Santa Claus, melainkan bertubuh kecil,
    kulitnya kasar, dengan kepala besar botak menonjol persis kentang. Ron me-
    megangnya agak jauh, sementara si jembalang me-nendang-nendangnya



    --------------------------------------- 22

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    dengan kakinya yang kecil ber-tanduk. Ron mencengkeram pergelangan kakinya
    dan menjungkirkannya.
    "Ini yang harus kaulakukan," katanya. Ron mengangkat si jembalang ke atas
    kepalanya ("Lepas-kan aku!") lalu mulai memutar-mutarnya dalam ling-karan
    besar seperti laso. Melihat kekagetan di wajah Harry, Ron menambahkan, "Ini
    tidak melukai mereka kau cuma harus membuatnya benar- benar pusing,
    supaya mereka tidak bisa menemukan jalan pulang ke lubang jembalangnya."
    Dilepasnya kaki si jembalang dan jembalang itu melayang enam meter ke
    atas dan jatuh di padang di seberang pagar.
    "Payah," kata Fred. "Aku pasti bisa melempar jem-balangku sampai melewati
    tunggul itu."
    Harry belajar dengan cepat untuk tidak merasa terlalu kasihan kepada si
    jembalang. Dia memutuskan untuk menjatuhkan saja jembalang pertama yang
    di-tangkapnya ke balik pagar. Tetapi si jembalang, yang bisa merasakan
    kelemahan, menancapkan gigi-giginya yang setajam silet ke jari Harry dan
    Harry dengan susah payah mengibaskannya sampai...
    "Wow, Harrypasti ada lima belas meter tuh..."
    Segera saja udara dipenuhi jembalang yang beterbangan.
    "Lihat, kan, mereka tidak terlalu pintar," kata George, menyambar lima atau
    enam jembalang se-kaligus. "Begitu mereka tahu pembersihan jembalang
    dimulai, mereka malah keluar untuk melihat. Mestinya kan malah ngumpet."
    Tak lama kemudian gerombolan jembalang di pa-dang mulai melangkah lesu,
    menjauh.
    "Mereka akan kemibali," kata Ron, ketika mereka mengawasi para jembalang
    menghilang ke balik pagar di sisi lain padang. "Mereka senang di sini... Dad
    terlalu lunak terhadap mereka, dia menganggap me-reka lucu..."
    Saat itu terdengar pintu depan terbanting.
    "Dia pulang!" kata George. "Dad pulang!"
    Mereka bergegas menyeberangi kebun, kembali ke rumah.
    Mr Weasley duduk lesu di kursi dapur dengan kacamata dilepas. Dia kurus,
    hampir botak, tetapi sisa rambut yang masih ada sama merahnya dengan ram-
    but anak-anaknya. Dia memakai jubah hijau panjang yang berdebu dan
    kelihatan habis dipakai bepergian.
    "Bukan main semalam," gumamnya, meraih teko teh sementara mereka
    duduk mengelilinginya. "Sem-bilan penyerbuan. Sembilan! Dan si Mundungus
    Fletcher mencoba menyihirku ketika aku berbalik..."
    Mr Weasley meneguk tehnya dan menghela napas. "Ada yang ditemukan,
    Dad?" tanya Fred ber-semangat.
    "Yang kudapat hanyalah beberapa kunci pintu yang mengerut dan ceret yang
    menggigit," kata Mr Weasley menguap. "Tapi ada barang-barang kotor yang
    bukan bagian departemenku. Mortlake dibawa pergi gara-gara mempertanyakan
    beberapa binatang sejenis mu-sang yang sudah tua sekali, tapi itu tugas Komite
    Jimat Eksperimental, untungnya..."
    "Untuk apa orang membuat kunci mengerut?" tanya George.
    "Cuma untuk memancing Muggle," keluh Mr Weasley. "Jual kepada mereka
    kunci yang terus menge-rut sampai akhirnya menghilang, sehingga mereka



    --------------------------------------- 23

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    tidak bisa menemukannya sewaktu memerlukannya... Tentu saja, susah sekali
    meyakinkan orang, karena tak ada Muggle yang mau mengakui kunci mereka
    mengerut makin lama makin kecil mereka akan ngo-tot mengatakan mereka
    lagi-lagi kehilangan kunci. Untung saja, para Muggle ini akan berusaha dengan
    segala macam cara untuk mengabaikan kejadian gaib, bahkan kalau itu terjadi
    di depari mereka... tapi barang-barang yang telah diambil bangsa kita untuk
    disihir, kalian tidak akan percaya..."
    "SEPERTI MOBIL, MISALNYA?"
    Mrs Weasley telah muncul, membawa penyodok panjang seperti memegang
    pedang. Mata Mr Weasley langsung terbuka lebar. Dia memandang istrinya de-
    ngan perasaan bersalah.
    "Mo-mobil, Molly sayang?"
    "Ya, Arthur, mobil," kata Mrs Weasley, matanya berkilat.
    "Bayangkan, penyihir yang membeli mobil tua karatan dan memberitahu
    istrinya yang ingin dilakukannya dengan mobil itu hanyalah mem-bongkarnya
    untuk mengetahui bagaimana cara kerja-nya, padahal ternyata dia menyihir
    mobil itu agar bisa terbang."
    Mr Weasley mengejapkan mata.
    "Yah, Sayang, kurasa dia tidak melanggar hukum karena melakukan itu,
    bahkan jika, eh, dia mungkin seharusnya, lebih baik, uhm, memberitahu
    istrinyn yang sebenarnya... Selalu ada peluang untuk lolos dalam peraturan,
    kau akan tahu... sejauh dia tidak bermaksud menerbangkan mobil itu. Fakta
    bahwa mobil itu bisa terbang tidak akan..."
    "Arthur Weasley, kau mengatur agar ada peluang lolos ketika kau menulis
    peraturan itu!" teriak Mrs Weasley. "Hanya supaya kau bisa terus bermain-main
    dengan semua rongsokan Muggle di garasimu itu! Dan supaya kau tahu, Harry
    tiba pagi ini dengan mobil yang tidak akan kauterbangkan itu!"
    "Harry?" ujar Mr Weasley bingung. "Harry siapa?" Dia memandang berkeliling,
    melihat Harry, dan ter-lonjak.
    "Astaga, Harry Pptter-kah? Senang sekali bertemu kau, Ron sudah cerita
    banyak tentang..."
    "Anak-anakmu menerbangkan mobil itu ke rumah Harry dan kembali lagi ke
    sini tadi pagi!" teriak Mrs Weasley. "Apa komentarmu tentang itu, eh?"
    "Betulkah kalian menerbangkannya?" tanya Mr Weasley bersemangat.
    "Apakah bisa terbang lancar? Mak-maksudku,"
    dia terbata-bata, ketika kilat ke-marahan terpancar dari mata Mrs Weasley,
    "kalian lancang, anak-anaklancang sekali..."
    "Kita tinggalkan mereka," gumam Ron kepada Harry, ketika Mrs Weasley siap
    meledak. "Ayo, ku-tunjukkan kamarku." Mereka menyelinap keluar dari dapur
    dan menuruni lorong sempit sampai ke tangga yang tidak rata, yang berzig-zag
    sampai ke atas. Pada bordes ketiga, ada pintu yang sedikit terbuka. Harry
    sempat melihat sepasang mata cokelat cemerlang sebelum pintu itu menutup
    dengan keras.
    "Itu Ginny," kata Ron. "Kau tak tahu, betapa aneh-nya bagi dia menjadi
    pemalu begini. Biasanya mulut-nya tak pernah berhenti mengoceh..."



    --------------------------------------- 24

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mereka menaiki dua tangga lagi sampai tiba di pintu yang catnya mengelupas
    dan ada papan kecil bertulisan "Kamar Ronald".
    Harry masuk, kepalanya nyaris menyentuh atap yang miring. Dia mengejap.
    Rasanya seperti masuk perapian: segala sesuatu dalam kamar Ron bernuafisa
    jingga terang: seprai, dinding, bahkan langit-langitnya. Kemudian Harry
    menyadari bahwa Ron telah me-nutup hampir setiap senti dinding kamarnya
    yang kusam dengan poster tujuh penyihir pria dan wanita yang sama, semuanya
    memakai jubah jingga cemer-lang, membawa sapu, dan melambai-lambai
    dengan bersemangat.
    "Tim Quidditch-mu?" tanya Harry.
    "Chudley Cannons," kata Ron, menunjuk seprai jingganya, yang dihiasi dua
    huruf C raksasa berwarna hitam dan peluru meriam yang sedang meluncur.
    "Peringkat kesembilan-di liga." Buku-buku sihir Ron ditumpuk sembarangan di
    satu sudut, di sebelah setumpuk komik yang semua-nya tampaknya
    mengisahkan Petualangan Martin Miggs, si Muggle Gila. Tongkat sihir Ron
    tergeletak di atas tangki ikan penuh telur kodok di ambang jendela, di sebelah
    tikus gemuknya, Scabbers, yang sedang tiduran di sepetak sinar matahari.
    Harry melangkahi satu pak kartu Mengocok-Sendiri di lantai dan melongok ke
    luar dari jendela yang kecil mungil. Di padang jauh di bawah, dia bisa melihat
    serombongan jembalang menyelinap lewat pagar tanaman, satu demi satu
    kembali ke kebun keluarga Weasley. Kemudian dia menoleh memandang Ron,
    yang menatapnya dengan gelisah, seakan me-nunggu komentarnya.
    "Kamarnya agak kecil," kata Ron cepat-cepat. "Tidak seperti kamarmu di
    rumah Muggle. Dan persis di bawah tempat si hantu loteng. Dia selalu
    memukul-mukul pipa dan mengerang-erang..."
    Tetapi Harry nyengir lebar sambil berkata, "Ini ru-mah paling hebat yang
    pernah kudatangi." Telinga Ron langsung merah.
    4. Di Flourish And Blotts
    HIDUP di The Burrow sama sekali berbeda dengan hidup di Privet Drive.
    Keluarga Dursley menghendaki segalanya rapi dan teratur; rumah keluarga
    Weasley penuh dengan hal-hal aneh dan tak terduga. Harry kaget sekali ketika
    pertama kali dia melihat ke dalam cermin di atas tungku di dapur dan cermin
    itu ber-teriak, "Masukkan kemejamu, yang rapi!" Hantu di loteng melolong dan
    menjatuhkan pipa setiap kali dia merasa suasana terlalu sepi, dan ledakan-
    ledakan kecil dari kamar Fred dan George dianggap normal. Meskipun
    demikian, yang bagi Harry luar biasa tentang hidup di rumah keluarga Ron



    --------------------------------------- 25

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    bukanlah cermin yang bisa bicara ataupun si hantu bising, melainkan kenyataan
    bahwa semua orang di rumah itu tampaknya me-nyukainya.
    Mrs Weasley meributkan kaus kaki Harry dan ber-usaha memaksanya tambah
    tiga kali setiap makan.
    Mr Weasley ingin Harry duduk di sebelahnya di meja makan, supaya dia bisa
    membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup bersama
    Muggle,
    memintanya menjelaskan bagaimana bekerjanya hal-hal seperti steker listrik
    atau sistem pos.
    "Mengagumkan!" katanya setelah Harry menjelaskan bagaimana
    menggunakan telepon. "Cerdik betul, berapa banyak cara yang telah ditemukan
    Muggle untuk bisa hidup tanpa sihir."
    Harry mendapat berita dari Hogwarts pada suatu pagi yang cerah kira-kira
    seminggu setelah dia tiba di The Burrow. Ketika dia dan Ron turun untuk
    sarapan, Mr dan Mrs Weasley serta Ginny sudah duduk di meja dapur. Begitu
    melihat Harry, Ginny tak sengaja menjatuhkan mangkuk buburnya ke lantai,
    menimbul-kan bunyi berkelontang yang keras. Ginny kelihatan-nya jadi sangat
    mudah menjatuhkan barang-barang setiap kali Harry memasuki ruangan. Dia
    menyusup ke bawah meja untuk mengambil mangkuknya dan muncul lagi
    dengan wajah berpendar merah seperti matahari yang sedang terbenam.
    Berpura-pura tidak melihat semua ini, Harry duduk dan mengambil roti
    panggang yang ditawarkan Mrs Weasley.
    "Surat dari sekolah," kata Mr Weasley, menyerahkan amplop perkamen
    kekuningan yang sama kepada Harry dan Ron, yang alamatnya ditulis dengan
    tinta hijau. "Dumbledore sudah tahu kau di sini, Harry orang itu tahu
    segalanya. Kalian berdua dapat surat juga," katanya menambahkan, ketika Fred
    dan George muncul, masih memakai piama.
    Selama beberapa menit suasana sunyi ketika mereka semua membaca surat
    mereka. Surat Harry memberi-tahunya agar naik Hogwarts Express seperti
    biasanya dari Stasiun King's Cross pada tanggal 1 September. Juga ada daftar
    buku- buku baru yang diperlukannya untuk tahun ajaran berikutnya.
    Murid kelas dua membutuhkan:

    Kitab Mantra Standar, Tingkat 2 oleh Miranda Goshawk
    Duel dengan Dracula oleh Gilderoy Lockhart Gaul dengan Goblin oleh Gilderoy
    Lockhart
    Heboh dengan Hantu oleh Gilderoy Lockhart
    Tamasya dengan Troll oleh Gilderoy Lockhart
    Vakansi dengan Vampir oleh Gilderoy Lockhart
    Mengembara dengan Manusia Serigala oleh Gilderoy Lockhart
    Yakin dengan Yeti oleh Gilderoy Lockhart Fred,

    yang sudah selesai membaca daftarnya sendiri, melongok daftar Harry.



    --------------------------------------- 26

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kau disuruh beli semua buku Lockhart juga!" kata-nya.
    "Guru baru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam pastilah fansnyataruhan, pasti
    penyihir wanita."
    Setelah berkata begitu, tertatap olehnya mata ibunya dan Fred cepat-cepat
    menyibukkan diri dengan selai.
    "Buku-buku itu tidak murah," kata George, sekilas memandang orangtuanya.
    "Buku-buku Lockhart benar-benar mahal...."
    "Bisa kita beli," kata Mrs Weasley, tetapi dia kelihatan cemas, "Kurasa kita
    bisa membeli banyak keperluan Ginny dari yang bekas-pakai."
    "Oh, kau sudah masuk Hogwarts tahun ini?" Harry bertanya kepada Ginny.
    Ginny mengangguk, rona merah menjalar sampai ke akar rambutnya yang
    merah manyala, dan sikunya masuk ke mangkuk mentega. Untunglah tak
    seorang pun melihat kecuali Harry, karena tepat saat itu, kakak Ron yang
    nomor tiga, Percy, masuk. Dia sudah berpakaian, lencana Prefek Hogwarts-nya
    disematkan ke baju rajutannya.
    "Selamat pagi, semua!" kata Percy cepat. "Hari yang indah."
    Dia duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, tetapi langsung melompat
    berdiri lagi, menarik dari bawah-nya kemoceng yang bulu abu-abunya sudah
    lusuh paling tidak semula Harry menyangka itu kemoceng, sampai dilihatnya
    kemoceng itu bernapas.
    "Errol!" kata Ron, mengambil burung hantu yang lemas itu dari tangan Percy
    dan menarik keluar se-pucuk surat dari balik sayapnya. "Akhirnyadia mem-
    bawa balasan Hermione. Aku menulis padanya, mem-beritahu kami akan
    mencoba membebaskanmu dari keluarga Dursley."
    Ron membawa Errol ke tempat hinggap di dekat pintu belakang dan
    mencoba menenggerkannya di situ, tetapi Errol langsung terpuruk lagi.
    Akhirnya Ron membaringkannya di atas papan pengering, se-raya bergumam,
    "Kasihan." Kemudian dirobeknya sampul surat Hermione dan dibacanya suratnya
    keras-keras:
    Halo Ron, dan Harry kalau kau ada,
    Kuharap segalanya berjalan lancar dan Harry baik-baik saja dan kau tidak
    melakukan sesuatu yang me-langgar hukum untuk membebaskannya, Ron,
    karena itu akan menyulitkan Harry juga. Aku cemas 'sekali dan kalau Harry tak
    apa-apa, tolong segera beritahu aku, tapi mungkin lebih baik kaugunakan
    burung hantu yang lain, karena kalau sekali lagi disuruh mengirim surat, kurasa
    burung hantu yang ini lewat deh.
    Aku sibuk sekali belajar, tentu saja"Bagaimana mungkin?" kata Ron ngeri.
    "Kita kan sedang libur!"dan kami akan ke London Rabu depan untuk membeli
    buku-buku baruku. Bagaimana kalau kita ber-temu di Diagon Alley?
    Beritahu aku apa yang terjadi begitu kau sempat.
    Salam hangat dari Hermione.
    "Wah, kita bisa sekalian pergi dan membeli semua kebutuhan kalian kalau
    begitu," kata Mrs Weasley, mulai membereskan meja. "Apa yang akan kalian
    lakukan hari ini?" Harry, Ron, Fred, dan George sudah merencanakan akan ke
    lapangan terbuka kecil milik keluarga Weasley. Tempat itu dikelilingi
    pepohonan sehingga tidak ke-lihatan dari desa di bawah. Itu berarti mereka



    --------------------------------------- 27

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    bisa berlatih Quidditch di sana, asal mereka tidak terbang terlalu tinggi.
    Mereka tidak bisa memakai bola Quidditch yang sesungguhnya, karena akan
    sulit men-jelaskannya kalau bola itu lolos dan terbang di atas desa. Sebagai
    gantinya mereka saling melempar apel untuk ditangkap. Mereka bergiliran
    menaiki Nimbus Dua Ribu Harry, sapu yang sangat hebat. Sapu tua Ron, Bintang
    Jatuh, sering sekali didului kupu-kupu yang lewat.
    Lima menit kemudian mereka mendaki bukit, de-ngan sapu di atas bahu.
    Mereka sudah menanyai Percy kalau-kalau dia mau ikut, tetapi Percy mengata-
    kan dia sibuk. Sejauh ini Harry cuma bertemu Percy pada waktu makan. Dia
    berkurung terus di kamar-nya.
    "Pingin tahu deh dia sebetulnya ngapain," kata Fred sambil mengerutkan
    kening. "Tidak biasanya dia begitu. Hasil ujiannya keluar sehari sebelum hasil
    kalian diumumkan. Dua belas OWL dan dia nyaris tidak kelihatan senang."
    "Ordinary Wizarding LevelsLevel Sihir Umum," George menjelaskan, melihat
    wajah kebingungan Harry. "Bill dapat dua belas juga. Kalau tidak hati-hati, kita
    akan punya Ketua Murid satu lagi dalam keluarga. Malu betul kita."
    Bill adalah putra sulung keluarga Weasley. Dia dan adiknya, Charlie, sudah
    lulus dari Hogwarts. Harry belum pernah bertemu mereka berdua, tetapi dia
    tahu Charlie ada di Rumania, mempelajari naga, dan Bill di Mesir bekerja untuk
    bank penyihir, Gringotts.
    "Entah bagaimana Mum dan Dad akan bisa mem-belikan semua keperluan
    sekolah kita tahun ini," kata George setelah diam sesaat. "Lima set buku-buku
    Lockhart! Dan Ginny perlu jubah dan tongkat dan macam-macam lagi...."
    Harry diam saja Dia merasa agak tidak enak. Ter-simpan di dalam ruangan
    besi bawah tanah di Gringotts di London, ada sejumlah harta peninggalan
    orangtuanya. Tentu saja, hanya di dunia sihir dia punya uang. Kau tidak bisa
    menggunakan Galleon, Sickle, dan Knut di toko Muggle. Dia tak pernah
    menyebut-nyebut simpanannya di Gringotts kepada keluarga Dursley. Dia
    memperkirakan penolakan mereka terhadap segala sesuatu yang ada hubungan-
    nya dengan sihir tidak mencakup setumpuk besar emas.
    Mrs Weasley membangunkan mereka semua pagi-pagi Rabu berikutnya.
    Setelah dengan cepat melahap sarapan berupa enam sandwich daging asap
    untuk masing-masing, mereka memakai mantel dan Mrs Weasley mengambil vas
    bunga dari rak di atas tungku dapur, lalu mengintip ke dalamnya.
    "Sudah hampir habis, Arthur," katanya menghela napas.
    "Kita harus beli lagi hari ini... ah, tamu lebih dulu! Kau duluan, Harry!"
    Dan dia menyodorkan vas itu kepada Harry.
    Harry bingung memandang mereka semua meng-awasinya.
    "A-apa yang harus kulakukan?" katanya tergagap.
    "Dia belum pernah bepergian dengan bubuk Floo," kata Ron tiba-tiba. "Sori,
    Harry, aku lupa."
    "Belum pernah?" kata Mr Weasley. "Jadi bagaimana kau sampai di Diagon
    Alley untuk membeli keperluan sekolahmu tahun lalu?"
    "Aku naik kereta bawah tanah..."
    "Oh ya?" kata Mr Weasley ingin tahu. "Apa ada eskapator? Bagaimana
    caranya..."



    --------------------------------------- 28

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tidak sekarang, Arthur," kata Mrs Weasley. "Bubuk Floo jauh lebih cepat,
    Nak, tapi entahlah, kalau kau belum pernah..."
    "Tidak apa-apa, Mum," kata Fred. "Harry, lihat kami dulu." Fred mengambil
    sejumput bubuk berkilau dari vas bunga, melangkah ke perapian dan
    menaburkan bu-buk itu ke nyala api.
    Dengan deru keras api berubah menjadi hijau zamrud dan menjulang lebih
    tinggi dari Fred, yang melangkah ke dalamnya sambil berteriak, "Diagon Alley!"
    dan langsung menghilang.
    "Ngomongnya harus jelas, Nak," Mrs Weasley mem-beritahu Harry, ketika
    George memasukkan tangan ke dalam vas. "Dan keluarnya harus di perapian
    yang benar..."
    "Di mana?" tanya Harry gugup, ketika api menderu dan melenyapkan George
    dari pandangan juga. "Yah, ada banyak perapian penyihir yang bisa di-pilih,
    kan, tapi asal kau ngomongnya jelas..."
    "Dia akan baik-baik saja Molly, jangan terlalu cemas," kata Mr Weasley,
    sambil menjumput bubuk Floo juga.
    "Tapi, kalau dia tersesat, bagaimana kita harus men-jelaskan kepada bibi
    dan pamannya?"
    "Mereka tidak akan keberatan," Harry menenang-kannya.
    "Dudley akan menganggapnya lucu sekali kalau aku tersesat di cerobong
    asap. Jangan khawatir."
    "Baiklah... kalau begitu... kau berangkat sesudah Arthur," kata Mrs Weasley
    "Setelah masuk perapian, katakan ke mana tujuanmu..."
    "Dan rapatkan sikumu," Ron menasihati. "Dan pejamkan matamu," kata Mrs
    Weasley. "Angus-nya..." "Jangan gelisah dan bergerak-gerak," kata Ron. "Nanti
    kau bisa jatuh ke perapian yang salah..." "Tapi jangan panik dan buru-buru
    keluar juga. Tung-gu sampai kau melihat Fred dan George." Sambil berusaha
    keras mengingat semua ini, Harry mengambil sejumput bubuk Floo dan berjalan
    ke per-apian. Dia menarik napas dalam-dalam, menaburkan bubuk ke nyala api
    dan melangkah masuk. Apinya terasa bagai angin hangat. Harry membuka
    mulut dan langsung tertelan olehnya banyak abu panas.
    "D-dia-gon Alley," katanya terbatuk.
    Rasanya seakan Harry tersedot lubang yang besar sekali. Dia seperti berpusar
    sangat cepat... deru keras memekakkan telinganya... dia berusaha agar
    matanya tetap terbuka, tetapi pusaran api hijau membuatnya pusing... sesuatu
    yang keras menyodok sikunya dan Harry segera merapatkannya ke tubuhnva,
    masih terus berpusar, terus... sekarang rasanya ada tangan-tangan dingin
    menampar mukanya... mengintip lewat kaca-matanya, dilihatnya samar-samar
    serangkaian perapian dan sekilas-sekilas tampak ruangan di baliknya...
    sandwich daging asapnya bergolak di dalam perutnya... Dia memejamkan lagi
    matanya, berharap pusaran ini segera berhenti, dan kemudianHarry jatuh ter-
    jerembap di lantai batu yang dingin dan kacamatanya pecah.
    Pusing dan memar, berlumur angus, Harry dengan amat hati-hati bangun,
    memegangi kacamata ke depan matanya. Dia sendirian, tetapi di mana dia, dia
    sama sekali tak tahu. Yang dia tahu hanyalah dia berdiri di perapian baru, di
    tempat yang kelihatannya toko sihir besar dengan penerangan remang-remang



    --------------------------------------- 29

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    tetapi tak satu pun barang-barang yang dijual di sini akan masuk dalam daftar
    sekolah Hogwarts.
    Sebuah kotak kaca di dekat Harry berisi tangan keriput di atas bantal, satu
    pak kartu bernoda darah, dan sebuah mata kaca mendelik. Topeng-topeng me-
    nyeramkan menyeringai dari dinding, tulang-tulang manusia berbagai bentuk
    dan ukuran bertebaran di meja pajang, dan peralatan berpaku tajam berkarat
    bergantungan dari langit-langit. Yang lebih parah lagi, jalan sempit yang bisa
    dilihat Harry lewat kaca toko yang berdebu jelas bukan Diagon Alley.
    Lebih cepat dia meninggalkan tempat ini lebih baik. Dengan hidung masih
    perih gara-gara jatuh meng-hantam lantai perapian tadi, Harry berjalan cepat
    tanpa suara menuju pintu. Tetapi belum lagi separo jalan, dua orang muncul di
    balik kacadan salah satunya orang terakhir yang ingin ditemui Harry saat dia
    sedang tersesat, berlumur angus, dan kacamatanya pecah: Draco Malfoy.
    Harry cepat-cepat memandang berkeliling dan me-lihat lemari besar hitam
    di sebelah kirinya. Dia melesat masuk dan menarik pintunya, sampai tinggal
    celah sedikit untuk mengintip. Beberapa detik kemudian bel berdentang dan
    Malfoy masuk ke dalam toko.
    Laki-laki yang masuk di belakangnya pastilah ayah-nya. Wajahnya sama,
    pucat dan runcing, dan matanya pun sama, abu-abu dingin. Mr Malfoy
    menyeberangi ruangan, melihat barang-barang yang dipamerkan, dan
    membunyikan bel di meja pajangan, sebelum menoleh kepada anaknya dan
    berkata, "Jangan sentuh apa-apa, Draco."
    Malfoy, yang sudah tiba di mata kaca, berkata, "Katanya aku akan dibelikan
    hadiah."
    "Aku bilang aku akan membelikanmu sapu balap," kata ayahnya, mengetuk-
    ngetukkan jari di atas meja pajangan.
    "Apa gunanya sapu kalau aku tidak masuk tim asrama?" kata Malfoy,
    tampangnya cemberut dan marah. "Harry Potter dapat Nimbus Dua Ribu tahun
    lalu. Izin khusus dari Dumbledore supaya dia bisa main untuk Gryffindor.
    Padahal sih dia tidak hebat-hebat amat, cuma karena dia terkenal saja...
    terkenal gara-gara punya bekas luka konyol di dahinya..."
    Malfoy membungkuk, mengamati rak penuh teng-korak.
    "...semua menganggapnya pintar, Potter yang hebat, dengan bekas luka dan
    sapunya..."
    "Kau sudah menceritakannya padaku paling tidak dua belas kali," kata Mr
    Malfoy, dengan pandangan yang menyuruhnya diam. "Dan kuingatkan kau
    bahwa tidaklahbijaksana memperlihatkan bahwa kau ku-rang menyukai
    Harry Potter, mengingat sebagian besar bangsa kita menganggapnya sebagai
    pahlawan yang membuat Pangeran Kegelapan menghilang... ah, Mr Borgin."
    Seorang laki-laki tua bungkuk muncul di belakang meja, menyeka rambutnya
    yang berminyak dari wajahnya.
    "Mr Malfoy, senang sekali bertemu Anda lagi," kata Mr Borgin dengan suara
    selicin rambutnya. "Gem-biradan Tuan Muda Malfoy, jugasungguh me-
    nyenangkan. Apa yang bisa saya bantu? Harus saya tunjukkan kepada Anda,
    baru datang hari ini, dan harganya pun sangat bersaing..."



    --------------------------------------- 30

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Aku tidak mau beli hari ini, Mr Borgin, tapi jual," kata Mr Malfoy. "Jual?"
    Senyum agak memudar dari wajah Mr Borgin.
    "Kau sudah dengar, tentunya, bahwa Kementerian melakukan razia lagi,"
    kata Mr Malfoy, mengeluarkan gulungan perkamen dari saku dalamnya dan
    mem-bukanya untuk dibaca Mr Borgin. "Aku punya be-berapaahbarang di
    rumah yang bisa bikin aku malu, kalau Kementerian datang..."
    Mr Borgin menjepitkan kacamata tanpa gagang ke hidungnya dan
    membacanya. "Kementerian tidak akan menyusahkan Anda, Sir, tentunya?"
    Mr Malfoy mencibir.
    "Aku belum didatangi. Nama Malfoy masih di-hormati, tapi Kementerian
    semakin suka mencampuri urusan orang lain. Ada desas-desus tentang adanya
    Undang-undang Perlindungan Muggle barutak di-ragukan lagi si kutu busuk
    goblok pecinta Muggle Arthur Weasley berada di belakang semua itu..."
    Harry berang sekali. "...dan seperti yang kaulihat, beberapa racun ini bisa
    kelihatan..." "Saya mengerti, Sir, tentu saja," kata Mr Borgin. "Coba saya
    lihat..." "Boleh aku beli itu?" sela Draco, menunjuk tangan keriput di bantal.
    "Ah, Tangan Kemuliaan!" kata Mr Borgin, meninggal-kan daftar Mr Malfoy dan
    bergegas mendatangi Draco. "Taruh lilin, dan lilin ini hanya akan memberikan
    cahaya kepada pemegangnya! Sahabat terbaik para pencuri dan penjarah!
    Selera anak Anda hebat, Sir."
    "Kuharap anakku akan jadi lebih dari sekadar pen-curi atau penjarah,
    Borgin," kata Mr Malfoy dingin dan Mr Borgin buru- buru berkata, "Tidak
    menyindir, Sir, tidak bermaksud menyindir..."
    "Meskipun kalau angka-angkanya tidak bertambah baik," kata Mr Malfoy lebih
    dingin lagi, "mungkin dia hanya pantas jadi pencuri dan penjarah."
    "Bukan salahku," bantah Draco. "Semua guru punya anak emas, si Hermione
    Granger..."
    "Kukira kau akan malu bahwa anak perempuan yang bukan berasal dari
    keluarga sihir mengalah-kanmu dalam semua ujian," tukas Mr Malfoy.
    "Ha!" kata Harry dalam hati, senang melihat Draco kelihatan malu dan
    marah.
    "Di semua tempat sama," kata Mr Borgin dengan suaranya yang licin. "Darah
    penyihir nilainya sudah berkurang di mana- mana..."
    "Bagiku tidak," kata Mr Malfoy, cuping hidung panjangnya mekar.
    "Tidak, Sir, bagi saya juga tidak, Sir," kata Mr Borgin, membungkuk rendah.
    "Kalau begitu, mungkin kita bisa kembali ke daftar-ku," kata Mr Malfoy
    pendek. "Aku agak terburu-buru, Borgin, aku ada urusan penting di tempat lain
    hari ini."
    Mereka mulai tawar-menawar. Harry mengawasi de-ngan cemas ketika Draco
    semakin lama semakin dekat ke tempat persembunyiannya, melihat-lihat
    barang-barang yang dijual. Dia berhenti untuk mengamati gulungan tali
    panjang untuk menggantung orang dan membaca sambil menyeringai kartu
    yang disandarkan pada kalung opal yang bagus sekali; Hati- hati: Jangan
    Sentuh. DikutukSampai Hari Ini Sudah Minta Korban Sembilan Belas Muggle
    Pemiliknya.



    --------------------------------------- 31

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Draco berbalik dan melihat lemari persis di depan-nya. Dia mendekat...
    mengulurkan tangannya ke pegangan pintu...
    "Baik," kata Mr Malfoy di meja pajangan.
    "Ayo, Draco!" Harry menyeka dahinya ke lengan bajunya ketika Draco
    berbalik.
    "Selamat siang, Mr Borgin, kutunggu kau di rumah besok untuk mengambil
    barang-barang itu." Begitu pintu tertutup, Mr Borgin menanggalkan sopan
    santunnya. "Selamat siang sendiri saja, Mister Malfoy, dan jika cerita yang
    beredar benar, kau belum menjual setengah dari yang kausembunyikan di
    istanamu..."
    Sambil menggerutu sebal Mr Borgin menghilang ke ruang belakang. Harry
    menunggu selama semenit, siapa tahu dia muncul lagi. Kemudian, sepelan
    mung-kin, dia menyelinap keluar dari lemari, melewati kotak-kotak kaca, dan
    keluar lewat pintu toko.
    Sambil menempelkan kacamatanya yang pecah ke wajahnya, Harry
    memandang berkeliling. Dia berada di jalan kecil kumuh berisi toko-toko yang
    semuanya menjual barang- barang untuk ilmu hitam. Toko yang baru saja
    ditinggalkannya, Borgin and Burkes, kelihatan-nya yang paling besar, tetapi di
    seberangnya ada etalase yang memajang kepala-kepala yang sudah me-ngerut
    mengerikan, dan di dua toko sesudahnya ada-kandang besar berisi banyak
    labah-labah raksasa yang berjalan ke sana kemari. Dua penyihir laki-laki kumal
    mengawasinya dari bayang-bayang pintu, seraya saling bergumam. Dengan
    gelisah Harry berjalan, memegangi kacamatanya selurus mungkin dan berharap
    bisa me-nemukan jalan keluar dari tempat ini.
    Papan nama kusam yang tergantung di atas toko yang menjual lilin beracun
    memberitahunya bahwa dia berada di Knockturn Alley. Ini tidak membantu,
    karena Harry belum pernah mendengar nama tempat ini. Rupanya dia tidak
    bicara cukup jelas gara-gara mulutnya penuh abu sewaktu berada di perapian
    keluarga Weasley. Harry berusaha tetap tenang dan memikirkan apa yang akan
    dilakukannya.
    "Tidak tersesat, kan, Nak?" kata suara di telinganya, membuatnya terlonjak.
    Seorang nenek sihir berdiri di depannya, membawa nampan yang
    kelihatannya berisi kuku-kuku utuh manusia. Dia menyeringai kepada Harry,
    memamerkan gigi-giginya yang berlumut. Harry mundur.
    "Aku tak apa-apa, terima kasih," katanya, "aku cuma..."
    "HARRY! Sedang apa kau di sini?"
    Jantung Harry melompat. Si nenek sihir juga me-lompat. Kuku-kuku dari
    nampannya berjatuhan ke atas kakinya, dan dia mengutuk ketika sosok tinggi
    besar Hagrid, pengawas binatang liar di Hogwarts, berjalan mendekati mereka,
    mata- kumbangnya yang hitam berkilat-kilat di atas jenggot dan berewoknya
    yang lebat.
    "Hagrid!" Harry berseru parau dengan lega. "Aku tersesat... bubuk Floo..."
    Hagrid menyambar kerah baju Harry dan menarik-nya jauh- jauh dari si
    nenek sihir, menyenggol nampan-nya sampai jatuh. Teriakan si nenek
    mengikuti mereka sepanjang jalan kecil yang berkelok-kelok sampai mereka



    --------------------------------------- 32

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    tiba di tempat terang. Harry melihat gedung pualam seputih salju yang
    dikenalnya di kejauhan: Bank Gringotts. Hagrid telah membawanya ke Diagon
    Alley.
    "Kau berantakan!" kata Hagrid pedas, mengibas abu dari tubuh Harry begitu
    kerasnya sampai Harry nyaris tercebur ke dalam tong berisi kotoran naga di
    luar toko obat. "Berkeliaran di Knockturn Alley, ke-lewatantempat yang harus
    dihindari, Harryjangan sampai ada yang lihat kau di sana..."
    "Aku sadar itu," kata Harry, menunduk ketika Hagrid mau mengibasnya lagi.
    "Sudah kubilang, aku tersesatkau sendiri ngapain di sana?"
    "Aku sedang cari Pembasmi Siput Pemakan-Daging," kata Hagrid geram.
    "Mereka hancurkan kol sekolah. Kau tidak sendirian?"
    "Aku menginap di rumah keluarga Weasley, tapi kami terpisah," Harry
    menjelaskan. "Aku harus men-can mereka..."
    Mereka berjalan berdua.
    "Kenapa kau tidak pernah balas suratku?" tanya Hagrid, sementara Harry
    berlari-lari kecil di sebelahnya (dia harus melangkah tiga kali untuk
    mengimbangi setiap langkah bot besar Hagrid). Harry menjelaskan tentang
    Dobby dan keluarga Dursley.
    "Muggle brengsek," gerutu Hagrid. "Kalau aku tahu..."
    "Harry! Harry! Di sini!"
    Harry mendongak dan melihat Hermione Granger berdiri di undakan putih
    paling atas Gringotts. Dia berlari turun menyongsong mereka, rambutnya yang
    lebat berkibar di belakangnya.
    "Kenapa kacamatamu? Halo, Hagrid... Oh, senang sekali bertemu kalian
    berdua lagi... Kau mau ke Gringotts, Harry?"
    "Kalau keluarga Weasley sudah kutemukan," kata Harry.
    "Kau tak perlu tunggu lama," Hagrid nyengir.
    Harry dan Hermione memandang berkeliling. Tam-pak Ron, Fred, George,
    Percy, dan Mr Weasley berlari-lari ke arah mereka di jalan yang padat itu.
    "Harry," Mr Weasley tersengal. "Kami berharap kau cuma kejauhan satu
    perapian..." Dia menyeka kepala botaknya yang berkilauan. "Molly sudah panik
    itu dia datang."
    "Kau keluar di mana?" tanya Ron.
    "Knockturn Alley," jawab Harry muram.
    "Luar biasa!" komentar Fred dan George bersamaan.
    "Kami belum pernah diizinkan ke sana," kata Ron iri.
    "Mestinya memang tidak," gerutu Hagrid. Mrs Weasley kini sudah kelihatan,
    berlari dengan tas tangannya berayun liar di satu tangan, sementara Ginny
    bergantung di tangan lainnya.
    "Oh, Harryoh, Nakkau bisa tersesat entah di mana..." Terengah kehabisan
    napas, dia menarik keluar sikat pakaian dari dalam tasnya dan mulai menyikat
    abu yang tidak berhasil dibersihkan Hagrid. Mr Weasley mengambil kacamata
    Harry, mengetuknya dengan tongkatnya, dan mengembalikannya pada Harry,
    sudah baru lagi.
    "Aku harus pergi," kata Hagrid, yang tangannya dijabat erat-erat oleh Mrs
    Weasley ("Knockturn Alley! Coba kalau kau tidak menemukannya, Hagrid!").



    --------------------------------------- 33

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Sampai ketemu di Hogwarts!" Dan dia pergi, lebih tinggi sebahu daripada siapa
    pun juga di jalan yang padat itu.
    "Coba tebak siapa yang kulihat di Borgin and Burkes?" kata Harry kepada Ron
    dan Hermione ketika mereka menaiki undakan Gringotts. "Malfoy dan ayahnya."
    "Apa Lucius Malfoy membeli sesuatu?" tanya Mr Weasley tajam di belakang
    mereka.
    "Tidak, dia jual."
    "Ah, jadi dia cemas," kata Mr Weasley puas. "Oh, ingin rasanya menangkap
    Lucius Malfoy karena se-suatu...."
    "Hati-hati, Arthur," kata Mrs Weasley tajam, semen-tara mereka dipersilakan
    masuk ke bank oleh goblin yang membungkuk di pintu. "Keluarga itu bikin ma-
    salah, jangan menyuap lebih daripada yang bisa kau-kunyah."
    "Jadi menurutmu aku bukan tandingan Lucius Malfoy?" kata Mr Weasley
    jengkel, tetapi perhatiannya langsung beralih ke orangtua Hermione, yang
    sedang berdiri gelisah di depan meja panjang di dalam aula pualam besar itu,
    menunggu Hermione memperkenal-kan mereka.
    "Wah, kalian Muggle!" kata Mr Weasley senang. "Kita harus minum! Apa yang
    kalian pegang itu? Oh, kalian menukar uang Muggle. Molly, lihat!" Dengan
    bersemangat ditunjuknya selembar uang sepuluh pound di tangan Mr Granger.
    "Sampai ketemu di dalam," kata Ron kepada Hermione, ketika keluarga
    Weasley dan Harry diantar ke ruangan besi bawah tanah mereka oleh goblin
    Gringotts yang lain.
    Ruangan besi itu dicapai dengan kereta kecil, di-kendarai goblin, yang
    meluncur kencang di atas rel kereta kecil melewati lorong-lorong bawah tanah
    bank. Harry menikmati perjalanannya yang berkecepatan supertinggi menuju
    ke ruangan besi keluarga Weasley. Ketika ruangan itu dibuka, dia merasa
    sangat tidak enak, jauh lebih tidak enak daripada sewaktu dia berada di
    Knockturn Alley. Hanya ada seonggok kecil Sickle perak di dalamnya, dan hanya
    ada sekeping Galleon emas. Mrs Weasley meraba-raba sudut-sudutnya sebelum
    meraup semuanya ke dalam tasnya. Harry merasa lebih tidak enak lagi ketika
    mereka tiba di ruangan besinya. Dia berusaha menutupi isinya dari pandangan
    selagi dia buru- buru memasukkan bergenggam-genggam koin ke dalam tas
    kulit.
    Kembali di undakan pualam di luar, mereka ber-pisah. Percy bergumam tak
    jelas bahwa dia perlu pena baru. Fred dan George sudah melihat teman mereka
    dari Hogwarts, Lee Jordan. Mrs Weasley dan Ginny akan ke toko jubah bekas.
    Mr Weasley men-desak suami-istri Granger ke Leaky Cauldron untuk minum.
    "Kita semua bertemu di Flourish and Blotts sejam lagi untuk membeli buku-
    buku sekolahmu," kata Mrs Weasley, mengajak Ginny pergi. "Dan jangan berani-
    berani ke Knockturn Alley selangkah pun jangan!" dia berteriak kepada
    punggung si kembar yang men-jauh.
    Harry, Ron, dan Hermione berjalan menyusuri jalan batu berkelok. Uang
    emas, perak, dan perunggu yang bergemerincing di saku Harry menuntut
    dibelanjakan, maka dia membeli tiga es krim stroberi-kacang besar yang
    mereka nikmati dengan gembira sambil berjalan, melihat-lihat isi etalase yang
    menarik. Ron memandang penuh ingin satu set lengkap jubah Chudley Cannons



    --------------------------------------- 34

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    di etalase Peralatan Quidditch Berkualitas sampai Hermione menariknya untuk
    membeli tinta dan per-kamen di toko sebelahnya. Di toko Lelucon Sihir Gambol
    and Japes, mereka bertemu Fred, George, dan Lee Jordan, yang sedang
    membeli "Kembang Api Awal-Basah, Tanpa-Panas Dr Filibuster", dan di toko
    kecil barang-barang rongsokan yang penuh tongkat patah, timbangan kuningan
    yang sudah butut, dan jubah-jubah tua bernoda bercak-bercak ramuan, mereka
    me-nemukan Percy, sedang asyik membaca buku kecil sangat membosankan
    berjudul Prefek yang Meraih Ke-kuasaan.
    "Telaah tentang para Prefek Hogwarts dan karier yang mereka rintis," Ron
    membaca keras-keras dari sampul belakangnya. "Kedengarannya menarik
    sekali...."
    "Pergi," Percy membentak.
    "Tentu saja, si Percy itu sangat ambisius, dia sudah merencanakan
    segalanya... cita-citanya menjadi Men-teri Sihir...," Ron memberitahu Harry
    dan Hermione pelan, ketika mereka meninggalkan Percy bersama bukunya.
    Satu jam kemudian, mereka menuju Flourish and Blotts. Bukan hanya
    mereka yang menuju toko buku itu. Ketika sudah dekat, mereka heran sekali
    melihat gerombolan orang yang berdesakan di depan pintu, mau masuk. Alasan
    untuk ini dinyatakan oleh spanduk besar yang digelar di antara dua jendela
    atas:
    GILDEROY LOCKHART akan menandatangani autobiografinya AKU YANG AJAIB
    hari ini pukul 12.30 - 16.30
    "Kita bisa bertemu dia!" pekik Hermione. "Maksudku, hampir seluruh buku
    yang ada di daftar kita karangannya!"
    Gerombolan orang itu kelihatannya sebagian besar terdiri atas para penyihir
    wanita seusia Mrs Weasley. Seorang penyihir pria bertampang bingung berdiri di
    depan pintu,
    berkata, "Tenang, Ibu-ibu... jangan dorong-dorongan... awas bukunya
    ketabrak..."
    Harry Ron, dan Hermione ikut berdesakan masuk. Antrean panjang
    memanjang sampai ke bagian bela-kang toko, tempat Gilderoy Lockhart
    menandatangani bukunya. Mereka masing- masing menyambar buku Heboh
    dengan Hantu, dan menyelinap di antara orang-orang yang antre sampai tiba di
    tempat keluarga Weasley berdiri bersama Mr dan Mrs Granger.
    "Oh, kalian sudah datang, bagus," kata Mrs Weasley Dia bicara seakan
    kehabisan napas dan tak henti-hentinya merapikan rambutnya. "Sebentar lagi
    kita bisa bertemu dia...." Gilderoy Lockhart akhirnya tampak, duduk di bela-
    kang meja dikelilingi foto-foto besar wajahnya sendiri, semua mengedipkan
    mata dan memamerkan gigi yang putih berkilau kepada para pengunjung.
    Lockhart yang sesungguhnya memakai jubah biru bunga for-get-me-not yang
    persis warna matanya, topi sihirnya yang berbentuk kerucut terpasang gaya di
    atas ram-butnya yang berombak.
    Seorang laki-laki pendek bertampang menyebalkan melesat ke sana kemari,
    memotret dengan kamera besar hitam yang setiap kali mengeluarkan asap ungu
    bersamaan dengan menyalanya lampu blitz yang me-nyilaukan.



    --------------------------------------- 35

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Minggir kau," dia menggertak Ron, sambil mundur agar bisa mengambil
    gambar dengan lebih baik. "Ini untuk Daily Prophet."
    "Uh, dasar sok," gerutu Ron, menggosok kakinya yang tadi diinjak si
    fotografer.
    Gilderoy Lockhart mendengarnya. Dia mendongak. Dia melihat Rondan
    kemudian dia melihat Harry. Dia terbelalak. Kemudian dia melompat bangun
    dan berteriak keras, "Tak mungkin itu Harry Potter?"
    Kerumunan orang menyibak, berbisik-bisik seru. Lockhart bergegas maju,
    meraih lengan Harry dan menariknya ke depan. Orang-orang bertepuk tangan.
    Wajah Harry serasa terbakar ketika Lockhart menjabat tangannya, berpose
    untuk si fotografer, yang memotret gila-gilaan, menyebar asap tebal di atas
    keluarga Weasley.
    "Senyum yang lebar, Harry," kata Lockhart sambil memamerkan giginya yang
    berkilau. "Berdua, kau dan aku layak menghiasi halaman depan."
    Ketika dia akhirnya melepas tangan Harry, jari-jari Harry nyaris kebas. Dia
    mencoba menyelinap kembali kepada keluarga Weasley, tetapi Lockhart
    melingkarkan lengannya ke bahu Harry dan menariknya rapat-rapat ke sisinya.
    "Ibu-ibu dan Bapak-bapak," katanya keras, me-lambaikan tangan agar
    pengunjung diam. "Sungguh saat yang luar biasa. Saat yang paling tepat bagiku
    untuk mengumumkan sesuatu yang sudah kusimpan selama beberapa waktu ini!
    "Ketika Harry masuk ke Flourish and Blotts hari ini, dia hanya ingin membeli
    autobiografi saya, yang de-ngan senang hati akan saya hadiahkan kepadanya
    sekarang, gratis..." orang-orang bertepuk tangan lagi, "...dia sama sekali tak
    tahu," Lockhart melanjutkan, mengguncang tubuh Harry, membuat
    kacamatanya melorot ke ujung hidungnya, "bahwa dalam waktu dekat dia
    sendiri akan mendapatkan jauh lebih banyak daripada buku saya, Aku yang
    Ajaib. Dia dan teman-teman sekolahnya, sebenarnya, akan mendapat aku yang
    ajaib yang sesungguhnya. Ya, Ibu-ibu dan Bapak-bapak, dengan senang dan
    bangga saya umumkan bahwa bulan September ini saya akan mengisi jabatan
    guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam di Sekolah Sihir Hogwarts!"
    Orang-orang bersorak dan bertepuk tangan dan Harry tahu-tahu dihadiahi
    seluruh karya Gilderoy Lockhart. Sedikit terhuyung karena keberatan, dia ber-
    hasil menyingkir dari pusat perhatian ke tepi ruangan, tempat Ginny berdiri di
    sebelah kuali barunya.
    "Ini untukmu," Harry bergumam kepadanya, me-nuang buku-bukunya ke
    dalam kuali Ginny. "Aku akan beli sendiri..."
    "Taruhan kau pasti senang, ya, Potter?" kata suara yang langsung dikenali
    Harry. Dia menegakkan tubuh-nya dan berhadapan dengan Draco Malfoy, yang
    se-perti biasa mencibir.
    "Harry Potter yang terkenal," kata Malfoy. "Bahkan. tak bisa masuk toko buku
    tanpa muncul di halaman pertama koran."
    "Jangan ganggu dia, dia tidak menginginkan semua itu!" kata Ginny. Ini
    pertama kalinya dia bicara di depan Harry. Dia membelalak kepada Malfoy.
    "Potter, kau punya pacar nih," ejek Malfoy. Wajah Ginny jadi merah padam.
    Sementara itu Ron dan Hermione bersusah payah berusaha mendekati me-reka,
    keduanya memeluk setumpuk buku Lockhart.



    --------------------------------------- 36

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Oh, kau," kata Ron, memandang Malfoy seakan dia sesuatu yang tidak
    menyenangkan di sol sepatu-nya. "Pasti kau kaget ketemu Harry di sini, eh?"
    "Tidak sekaget melihatmu di toko, Weasley," balas Malfoy.
    "Kurasa orangtuamu akan kelaparan sebulan demi membayar buku-buku itu."
    Wajah Ron jadi semerah Ginny. Dia menjatuhkan buku- bukunya ke dalam
    kuali juga dan maju men-dekati Malfoy, tetapi Harry dan Hermione menyambar
    bagian belakang jaketnya.
    "Ron!" kata Mr Weasley, berdesakan mendekat ber-sama Fred dan George.
    "Sedang apa kau? Gila sekali di sini, ayo kita keluar."
    "Wah, wah, wahArthur Weasley."
    Ternyata Mr Malfoy. Dia berdiri dengan tangan di bahu Draco, mencibir
    dengan cara yang sama.
    "Lucius," kata Mr Weasley, mengangguk dingin.
    "Sibuk di Kementerian, kudengar," kata Mr Malfoy. "Razia terus-terusan...
    kuharap mereka membayar uang lembur?"
    Dia meraih ke dalam kuali Ginny dan mengeluar-kan, dari antara buku-buku
    Lockhart yang licin ber-kilat, buku Pengantar Transfigurasi bagi Pemula yang
    sudah sangat usang dan kumal.
    "Jelas tidak," katanya. "Astaga, buat apa mendapat nama buruk di kalangan
    para penyihir kalau mereka bahkan tidak membayarmu dengan baik?"
    Mr Weasley lebih merah padam daripada Ron dan Ginny.
    "Kami punya penilaian yang sangat berbeda tentang apa yang mendatangkan
    nama buruk bagi penyihir, Malfoy," katanya.
    "Itu jelas," kata Mr Malfoy, matanya yang pucat ganti menatap Mr dan Mrs
    Granger, yang mengawasi dengan khawatir. "Melihat teman-teman yang
    kaupilih, Weasley... kupikir keluargamu sudah tidak bisa ter-puruk lebih dalam
    lagi..."
    Terdengar dentang logam ketika kuali Ginny ter-bang. Mr Weasley telah
    menerjang Mr Malfoy, mem-buatnya jatuh ke belakang menabrak rak buku.
    Ber-puluh-puluh buku mantra berat berjatuhan mengenai kepala mereka
    semua. Terdengar teriakan, "Hajar dia, Dad!" dari Fred dan George. Mrs
    Weasley berteriak-teriak, "Jangan, Arthur, jangan!" Orang banyak ber-gerak
    mundur, menabrak lebih banyak rak buku. "Bapak- bapak, jangan berkelahi
    tolong jangan ber-kelahi!" seru pegawai toko. Dan kemudian, lebih keras dari
    semuanya,
    "Berhenti, hei, berhenti..."
    Hagrid berjalan ke arah mereka di tengah lautan buku. Sekejap saja dia
    sudah memisahkan Mr Weasley dan Mr Malfoy. Bibir Mr Weasley robek dan mata
    Mr Malfoy bengkak tertimpa Ensiklopedi Jamur Payung. Dia masih memegangi
    buku transfigurasi usang Ginny. Diulurkannya buku itu kepada Ginny, matanya
    ber-kilau jahat.
    "Nih, ambil bukumuini yang paling baik yang bisa dibelikan ayahmu..."
    Melepaskan diri dari pegangan Hagrid, dia memberi isyarat kepada Draco dan
    meninggalkan toko.
    "Kau seharusnya jangan acuhkan dia, Arthur," kata Hagrid, nyaris
    mengangkat" Mr Weasley yang sedang merapikan jubahnya. "Jahat sekali,



    --------------------------------------- 37

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    seluruh keluarga, semua orang tahu. Malfoy tak layak didengarkan. Darah jelek,
    itu penyebabnya. Ayokita keluar dari sini."
    Si pegawai toko kelihatannya ingin mencegah mereka pergi, tetapi tingginya
    tak sampai seping-gang Hagrid. Jadi, dia memutuskan lebih baik diam saja.
    Mereka bergegas ke jalan, suami-istri Granger gemetar ketakutan dan Mrs
    Weasley bukan main marahnya.
    "Contoh bagus untuk anak-anakmu... berkelahi di depan umum... entah apa
    pendapat Gilderoy Lockhart...."
    "Dia senang," kata Fred. "Apa Mum tidak men-dengarnya ketika kita keluar?
    Dia bertanya kepada wartawan Daily Prophet, apakah bisa memasukkan
    perkelahian itu dalam tulisannyakatanya untuk publisitas."
    Tetapi rombongan yang kembali ke perapian di Leaky Cauldron adalah
    rombongan yang lesu. Dari tempat itu Harry, keluarga Weasley, dan semua
    belanjaan mereka akan pulang ke The Burrow meng-gunakan bubuk Floo.
    Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga Granger, yang akan me-
    ninggalkan rumah minum itu untuk menuju ke jalan Muggle di sisi lain. Mr
    Weasley sudah mulai bertanya kepada mereka bagaimana cara halte bus
    beroperasi, tetapi cepat- cepat berhenti ketika melihat tampang Mrs Weasley.
    Harry membuka kacamatanya dan menyimpannya dengan aman di dalam
    sakunya sebelum menjumput bubuk Floo. Ini jelas bukan cara bepergian
    favoritnya.
    5. Dedalu Perkasa
    AKHIR liburan musim panas datang terlalu cepat bagi Harry. Dia memang
    senang kembali ke Hogwarts, tetapi sebulan bersama keluarga Weasley
    merupakan saat paling menyenangkan dalam hidupnya. Susah untuk tidak iri
    kepada Ron kalau dia teringat keluarga Dursley dan macam sambutan yang bisa
    diharapkannya kalau dia muncul kembali di Privet Drive kali berikutnya.
    Pada malam terakhir mereka, Mrs Weasley menyihir makan malam mewah
    yang mencakup semua ma-kanan favorit Harry ditutup dengan puding karamel
    yang menimbulkan air liur. Fred dan George meng-akhiri malam itu dengan
    memasang kembang api Filibuster. Kembang api itu memenuhi dapur dengan
    bintang-bintang merah dan biru yang memantul dari langit-langit ke dinding
    selama sedikitnya setengah jam. Kemudian tiba saatnya untuk minum secangkir
    cokelat panas sebelum tidur.
    Perlu waktu lama untuk siap berangkat keesokan harinya. Mereka sudah
    bangun bersamaan dengan kokok ayam pagi-
    pagi sekali, tetapi rasanya banyak sekali yang harus dilakukan. Mrs Weasley
    berkelebat ke sana kemari sambil ngomel, mencari kaus kaki dan pena
    cadangan. Orang-orang tak hentinya bertabrakan di tangga, berpakaian
    setengah-lengkap, dengan se-potong roti di tangan, dan Mr Weasley nyaris



    --------------------------------------- 38

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    patah leher karena terantuk ayam tersesat ketika dia me-nyeberangi halaman
    dengan membawa koper Ginny ke mobil.
    Harry tidak mengerti bagaimana nanti delapan orang, enam koper besar, dua
    burung hantu, dan seekor tikus bisa muat dalam Ford Anglia kecil. Dia tidak
    memperhitungkan, tentu saja, keistimewaan khu-sus yang telah ditambahkan
    Mr Weasley.
    "Jangan bilang apa-apa kepada Molly," bisiknya ke-pada Harry ketika dia
    membuka -bagasi dan me-nunjukkan bagaimana bagasi itu sudah dibesarkan
    dengan sihir sehingga bisa memuat koper-koper.
    Ketika akhirnya mereka semua sudah masuk mobil, Mrs Weasley melirik ke
    tempat duduk belakang, di mana Harry, Ron, Fred, George, dan Percy duduk
    nyaman bersebelahan, dan berkata, "Muggle benar-benar mampu melakukan
    lebih banyak daripada yang kita kira. Kita suka meremehkan mereka." Dia dan
    Ginny masuk dan duduk di tempat duduk depan, yang sudah dipanjangkan
    sehingga mirip bangku taman. "Maksudku, dari luar kita tidak menyangka selega
    ini, kan?"
    Mr Weasley menyalakan mesin dan mobil meluncur meninggalkan halaman.
    Harry menoleh untuk meman-dang rumah terakhir kali. Belum sempat dia
    bertanya kapan dia akan bisa melihatnya kembali, mereka sudah berputar
    balik. Kembang api Filibuster George ke-tinggalan. Lima menit sesudah itu,
    mereka menyentak berhenti di halaman supaya Fred bisa berlari mengam-bil
    sapunya. Mereka sudah hampir tiba di jalan tol ketika Ginny memekik buku
    hariannya ketinggalan. Saat dia naik kembali ke mobil, mereka sudah sangat
    terlambat, dan semua orang sudah jengkel dan mau-nya marah.
    Mr Weasley melirik arlojinya dan kemudian istrinya.
    "Molly sayang..."
    "Tidak, Arthur."
    "Tak akan ada yang lihat. Tombol kecil iniBuster Tidak Tampakpendorong
    yang akan membuat mobil tidak kelihatanyang sekaligus akan membuatnya
    ter-angkat ke atas. Kemudian kita akan terbang di atas awan. Kita akan tiba di
    sana dalam waktu sepuluh menit dan tak akan ada orang yang tahu..."
    "Kubilang tidak, Arthur, tidak di siang bolong."
    Mereka tiba di King's Cross pukul sebelas kurang seperempat. Mr Weasley
    melesat menyeberang jalan, mengambil troli untuk koper-koper mereka, dan
    me-reka semua bergegas masuk stasiun.
    Harry sudah pernah naik Hogwarts Express tahun sebelumnya. Bagian yang
    sulit adalah menuju ke peron sembilan tiga perempat, yang tidak tampak bagi
    mata Muggle. Yang harus kaulakukan hanyalah berjalan menembus palang
    rintangan yang memisah-kan peron sembilan dan sepuluh. Tidak sakit, tetapi
    harus dilakukan hati-hati supaya tak ada Muggle yang melihat kau tiba-tiba
    menghilang.
    "Percy duluan," kata Mrs Weasley, gugup me-mandang jam di atas yang
    menunjukkan mereka ting-gal punya waktu lima menit untuk menghilang de-
    ngan santai melewati palang rintangan.
    Percy melangkah cepat dan menghilang. Mr Weasley berikutnya, disusul Fred
    dan George.



    --------------------------------------- 39

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Aku akan membawa Ginny dan kalian berdua langsung menyusul," Mrs
    Weasley berkata kepada Harry dan Ron,
    menggandeng tangan Ginny dan berangkat. Dalam sekejap mereka sudah
    menghilang.
    "Ayo masuk bareng, kita cuma punya waktu se-menit," kata Ron kepada
    Harry.
    Setelah memastikan sangkar Hedwig sudah ter-pasang aman di atas
    kopernya, Harrry mendorong trolinya untuk menembus palang. Dia merasa
    sangat percaya diri. Ini lebih nyaman dibanding meng-gunakan bubuk Floo.
    Mereka berdua membungkuk rendah di atas pegangan troli dan berjalan man
    tap ke arah palang rintangan, makin lama makin cepat. Kira-kira semeter dari
    palang mereka berlari dan...
    GUBRAK.
    Kedua troli menabrak palang rintangan dan me-mantul balik. Koper Ron
    jatuh dengan suara keras. Harry terjatuh dan sangkar Hedwig terguling ke
    lantai yang licin lalu menggelinding. Hedwig menjerit-jerit marah. Orang-orang
    menonton dan seorang penjaga di dekat palang berteriak marah, "Kalian ini
    ngapain?"
    "Kehilangan kendali troli," kata Harry tersengal, memegangi tulang rusuknya
    sambil berdiri. Ron berlari untuk mengambil Hedwig, yang ribut sekali,
    membuat banyak orang dalam kerumunan bergumam tentang kekejaman
    terhadap binatang.
    "Kenapa kita tidak bisa tembus?" desis Harry kepada Ron.
    "Entahlah..."
    Ron memandang berkeliling dengan cemas. Kira-kira selusin orang masih
    memandang mereka dengan ingin tahu.
    "Kita akan ketinggalan kereta," bisik Ron. "Aku tak mengerti kenapa gerbang
    masuk ini terkunci..." Harry memandang jam raksasa dengan hati men-celos.
    Sepuluh detik... sembilan detik...
    Dia mendorong trolinya ke depan dengan hati-hati sampai menempel ke
    palang dan mendorong sekuat tenaga. Logam palang tetap kokoh.
    Tiga detik... dua detik... satu detik...
    "Keretanya berangkat," kata Ron panik. "Keretanya sudah berangkat.
    Bagaimana kalau Mum dan Dad tidak bisa menembus gerbang kembali ke kita?
    Kau punya uang Muggle?"
    Harry tertawa hambar. "Sudah kira-kira enam tahun ini keluarga Dursley
    tidak memberiku uang saku." Ron menempelkan telinganya ke palang yang
    dingin.
    "Tidak kedengaran apa-apa," ka.tanya tegang. "Apa yang akan kita lakukan?
    Aku tak tahu berapa lama lagi Mum dan Dad bisa kembali ke kita."
    Mereka memandang berkeliling. Orang-orang masih mengawasi mereka,
    terutama gara-gara teriakan-teriakan Hedwig yang tak kunjung berhenti.
    "Kurasa lebih baik kita menunggu di mobil," kata Harry.
    "Kita menarik terlalu banyak perhat..."
    "Harry!" seru Ron, matanya berbinar. "Mobil."
    "Kenapa mobilnya?"



    --------------------------------------- 40

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kita bisa menerbangkannya ke Hogwarts!"
    "Tapi bukankah..."
    "Kita ketinggalan kereta, betul? Dan kita harus ke sekolah, kan? Dan bahkan
    penyihir di bawah umur diizinkan menggunakan sihir, kalau keadaan benar-
    benar darurat, pasal sembilan belas atau entah berapa dalam Pembatasan Hal-
    hal..."
    Kepanikan Harry mendadak berubah menjadi ke-gairahan.
    "Kau bisa menerbangkannya?"
    "Tidak masalah," kata Ron, memutar trolinya meng-hadap pintu keluar. "Ayo,
    cepat, kalau bergegas kita masih akan bisa mengikuti Hogwarts Express."
    Mereka melewati kerumunan Muggle-muggle yang ingin tahu, keluar dari
    stasiun dan kembali ke tepi jalan tempat Ford Anglia tua diparkir.
    Ron membuka bagasinya yang luas dengan sederet ketukan tongkatnya.
    Dengan susah payah mereka me-masukkan kembali koper-koper mereka,
    meletakkan Hedwig di tempat duduk belakang, dan duduk di tempat duduk
    depan.
    "Periksa apa ada yang melihat," kata Ron, meng-hidupkan mesin dengan
    ketukan tongkatnya juga. Harry menjulurkan kepala ke luar jendela. Jalan raya
    di depan cukup ramai, tetapi jalan tempat mereka berada kosong.
    "Oke," katanya.
    Ron menekan tombol perak kecil di dasbor. Mobil-mobil di sekitar mereka
    lenyapbegitu juga mereka. Harry bisa merasakan tempat duduknya bergetar,
    men-dengar derum mesinnya, merasakan tangannya di lututnya dan kacamata
    yang bertengger di hidungnya, tetapi rasanya dia sudah berubah menjadi
    sepasang bola mata saja, melayang kira-kira semeter di atas tanah di jalan
    kumuh yang dipenuhi mobil- mobil yang parkir.
    "Kita berangkat," terdengar suara Ron dari sebelah kanannya.
    Tanah dan bangunan-bangunan kotor di kanan-kiri mereka terjatuh dan
    menghilang dari pandangan ketika mobil mengangkasa. Dalam beberapa detik
    saja seluruh London terhampar berkabut dan berkilau di bawah mereka.
    Kemudian terdengar bunyi pop dan mobil, Harry, serta Ron kelihatan lagi.
    "Uh, oh," kata Ron, menekan-nekan Buster Tidak Tampak. "Rusak rupanya..."
    Keduanya memukul-mukul tombol itu. Mobil kem-bali menghilang. Kemudian
    muncul lagi.
    "Pegangan!" teriak Ron, dan dia menekankan kaki-nya ke pijakan gas. Mereka
    langsung melesat ke dalam awan-awan rendah seperti wol dan segalanya
    berubah menjadi suram dan berkabut.
    "Sekarang bagaimana?" tanya Harry, menatap dinding awan tebal yang
    menekan mereka dari segala penjuru.
    "Kita perlu melihat kereta apinya agar bisa melihat ke arah mana kita harus
    pergi," kata Ron.
    "Turun lagicepat..."
    Mereka turun lagi ke bawah awan-awan dan me-nyipitkan mata memandang
    ke bawah... "Aku bisa melihatnya!" Harry berteriak. "Itu dia itu, di sana!"
    Hogwarts Express meluncur di bawah mereka se-perti ular merah.



    --------------------------------------- 41

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Ke utara," kata Ron, mengecek kompas di dasbor. "Oke, kita tinggal
    mengeceknya setengah jam sekali. Pegangan..." Dan mereka melesat
    menembus awan. Semenit kemudian, mereka muncul dalam cahaya te-rang
    matahari.
    Sungguh dunia yang berbeda. Roda-roda mobil me-luncur di atas lautan
    awan-awan putih lembut. Langit terhampar biru di bawah sinar matahari yang
    me-nyilaukan.
    "Yang tinggal kita cemaskan hanyalah pesawat," kata Ron. Mereka saling
    pandang dan mulai tertawa, lama sekali tak bisa berhenti.
    Rasanya mereka dijatuhkan ke dalam mimpi yang luar biasa indah. Ini, pikir
    Harry, jelas satu-satunya cara bepergian; melewati pusaran dan gundukan
    awan-awan seputih salju, di dalam mobil yang disiram cahaya matahari,
    dengan bungkusan besar permen di dalam kompartemen, dan harapan melihat
    wajah iri Fred dan George ketika mereka mendarat dengan mulus dan
    spektakuler di lapangan rumput di depan kastil Hogwarts.
    Secara teratur mereka mengecek kereta api semen-tara mereka terbang
    makin lama makin jauh ke utara. Setiap kali menukik ke bawah awan,
    pemandangan yang mereka lihat berbeda. London segera saja sudah jauh
    tertinggal di belakang, digantikan ladang-ladang hijau yang kemudian disusul
    tanah-tanah luas ke-unguan, desa-desa dengan rumah dan gereja yang tampak
    kecil-kecil seperti mainan, dan sebuah kota besar yang hidup dengan mobil-
    mobil berseliweran seperti semut-semut multi-warna.
    Meskipun demikian, setelah beberapa jam tanpa kejadian apa-apa, Harry
    harus mengakui bahwa se-bagian keasyikannya sudah pudar. Permennya telah
    membuat mereka haus sekali dan mereka tak punya apa-apa untuk diminum.
    Dia dan Ron sudah melepas rompi mereka, tetapi T-shirt Harry sudah
    menempel ke tempat duduknya dan kacamatanya bolak-balik merosot dari
    hidungnya yang berkeringat. Dia sudah berhenti mengamati bentuk-bentuk
    awan yang fan-tastis sekarang, dan memikirkan kereta api yang ber-kilo- kilo
    meter di bawah mereka. Di dalam kereta mereka bisa membeli jus labu kuning
    dingin dari troli yang didorong penyihir wanita gemuk. Kenapa mereka tidak
    bisa menembus palang menuju peron sembilan tiga perempat?
    "Pasti tidak jauh lagi, kan?" kata Ron serak, berjam-jam kemudian, ketika
    matahari sudah mulai terbenam dalam landasan awannya, membuatnya
    berwarna merah jingga.
    "Siap mengecek kereta api lagi?"
    Kereta apinya masih di bawah mereka, berkelok mengitari gunung yang
    puncaknya berselimut salju. Di bawah kanopi awan keadaan jauh lebih gelap.
    Ron menginjak gas dan membawa mobil naik lagi, tetapi mendadak mesinnya
    mulai menderu aneh.
    Harry dan Ron bertukar pandang gugup. "Mungkin cuma lelah," kata Ron.
    "Soalnya belum pernah pergi sejauh ini..."
    Dan mereka berdua berpura-pura tidak memper-hatikan deru aneh yang
    semakin lama semakin keras, sementara langit secara pasti semakin gelap.
    Bintang-bintang bermunculan dalam kegelapan. Harry kembali memakai



    --------------------------------------- 42

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    rompinya, berusaha mengabaikan kipas kaca mobil yang sekarang bergerak-
    gerak lemah, seakan memprotes.
    "Tidak jauh lagi," kata Ron, lebih kepada mobilnya daripada kepada Harry.
    "Tidak jauh lagi sekarang," dan dia membelai dasbor dengan gugup.
    Ketika mereka terbang kembali di bawah awan-awan tak lama kemudian,
    mereka harus menyipitkan mata menembus kegelapan untuk mencari tanda-
    tanda yang mereka kenal.
    "Itu dia!" teriak Harry, membuat Ron dan Hedwig terlonjak kaget. "Di depan!"
    Seperti siluet di kaki langit yang gelap, tinggi di atas karang di seberang
    danau, tampaklah menara-menara kastil Hogwarts.
    Tetapi mobil sudah mulai bergetar dan kecepatannya sudah berkurang.
    "Ayolah," kata Ron membujuk, menggoyang sedikit roda kemudi, "sudah
    hampir sampai, ayolah..."
    Mesin mengeluh. Semburan-semburan asap ber-munculan dari bawah kap
    mobil. Harry memegangi tepi tempat duduknya erat-erat ketika mereka
    terbang menuju danau.
    Mobil berguncang keras. Mengerling ke luar lewat jendela, Harry melihat
    permukaan air yang licin gelap berkilauan, satu setengah kilo di bawah mereka.
    Buku-buku jari Ron memutih di atas roda kemudi. Mobil berguncang lagi.
    "Ayolah," Ron bergumam. Mereka berada di atas danau... kastil persis di
    depan mereka... Ron menginjak pedal gas. Terdengar bunyi debam keras, bunyi
    merepet, kemu-dian mesin mati total.
    "Uh, oh," kata Ron dalam kesunyian.
    Hidung mobil merendah. Mereka terjatuh, makin lama makin cepat, menuju
    tembok kastil yang kokoh.
    "Tidaaaaaaaaak!" jerit Ron, membanting setir seratus delapan puluh derajat
    Mereka lolos dari tembok hanya beberapa senti saja ketika mobil berbelok
    dalam lengkungan besar, melesat di atas rumah-rumah kaca yang gelap,
    melewati kebun sayur, dan keluar ke halaman yang gelap, semakin lama
    semakin rendah.
    Ron melepas roda kemudi sepenuhnya dan menarik tongkatnya dari saku
    belakang.
    "STOP! STOP!" dia memekik, memukul-mukul dasbor dan kaca depan, tetapi
    mereka terus meniikik, daratan serasa terbang ke atas menyongsong mereka....
    "AWAS POHON ITU!" Harry berteriak, menyambar roda kemudi, tetapi
    terlambat...
    GUBRAK!
    Bunyi logam menabrak kayu memekakkan telinga ketika mobil menghantam
    batang pohon yang besar. Mobil terbanting ke tanah dengan empasan keras.
    Asap mengepul dari atapnya yang penyok. Hedwig menjerit-jerit ketakutan,
    benjolan sebesar bola golf berdenyut-denyut di kepala Harry yang tadi mem-
    bentur kaca depan, dan di sebelah kanannya Ron mengerang putus asa.
    "Kau tak apa-apa?" tanya Harry cemas. "Tongkatku," kata Ron dengan suara
    gemetar. "Lihat tongkatku."
    Tongkat itu patah, nyaris menjadi dua. Ujungnya tergantung lunglai, hanya
    menempel pada seserpih kayu.



    --------------------------------------- 43

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry membuka mulut untuk mengatakan dia yakin mereka akan bisa
    membetulkannya di sekolah, tetapi dia tak sempat bicara apa-apa. Tepat pada
    saat itu sesuatu menghantam mobil di sisi tern pat Harry duduk, dengan
    kekuatan banteng gila. Harry terlempar ke arah Ron. Pada saat bersamaan,
    pukulan yang sama besarnya menghantam atap mobil.
    "Apa yang terja...?"
    Ron ternganga kaget, terbelalak memandang lewat kaca depan, dan Harry
    berbalik tepat ketika dahan sebesar ular piton menghantam kaca itu. Pohon
    yang mereka tabrak menyerang mereka. Batangnya ter-bungkuk nyaris terlipat
    dua, dan dahan-dahannya yang berbonggol-bonggol memukul-mukul segala
    bagian mobil yang bisa dicapainya.
    "Aaaargh!" jerit Ron ketika dahan bengkok lain menghantam pintu mobilnya
    sampai melesak. Kaca depan sekarang bergetar di bawah hujan pukulan
    ranting-ranting yang bentuknya seperti buku-buku jari. Dan dahan setebal alu
    memukul-mukul atap mobil, yang kelihatannya sudah siap ambruk....
    "Lari!" Ron berteriak, melempar tubuhnya ke pintu, tetapi detik berikutnya
    dia sudah dihantam mundur ke pangkuan Harry oleh dahan yang lain lagi.
    "Habis deh kita!" erangnya, ketika atap mobil me-lesak, tetapi mendadak
    lantai mobil bergetarmesin-nya hidup lagi.
    "Mundur!" teriak Harry dan mobil meluncur ke belakang. Pohon itu masih
    mencoba memukuli mereka. Mereka bisa mendengar akar.-akarnya berkeriut
    ketika si pohon nyaris mencabut dirinya sendiri dalam usaha-nya memukul
    mereka yang meluncur menjauh dari jangkauan.
    "Nyaris...," sengal Ron, "...saja. Bagus sekali, Bil."
    Tetapi si mobil telah kehabisan kesabaran. Dengan dua bunyi berkelontang,
    pintu-pintu terbuka dan Harry merasa tempat duduknya terangkat miring, lalu
    tahu-tahu dia sudah telentang di tanah basah. Bunyi "bag... bug..." keras
    memberitahunya bahwa mobil sedang mengeluarkan koper- koper mereka dari
    bagasi. Sangkar Hedwig melayang di udara dan jatuh terbuka. Burung hantu
    betina itu terbang keluar de-ngan jeritan marah dan terbang menuju kastil
    tanpa menoleh ke belakang. Kemudian, mobil yang sudah melesak, penyok,
    tergores-gores, dan berasap ini me-luncur ke dalam kegelapan. Lampu
    belakangnya me-nyorot penuh kemarahan.
    "Kembali!" Ron meneriakinya, sambil mengacung-acungkan tongkatnya. "Dad
    akan membunuhku!" Tetapi mobil itu menghilang dari pandangan seiring
    dengusan terakhir knalpotnya. "Bisakah kaupercayai nasib kita?" ratap Ron
    merana, membungkuk untuk memungut Scabbers si tikus.
    "Dari begitu banyak pohon yang bisa kita tabrak, kita ternyata menabrak
    yang itu."
    Dia mengerling lewat bahunya ke pohon tua itu, yang masih melambai-
    lambaikan dahan-dahannya de-ngan penuh ancaman.
    "Ayo," kata Harry letih, "lebih baik kita ke sekolah...." Kedatangan mereka
    bukanlah kedatangan penuh kejayaan yang mereka bayangkan. Dengan badan
    kaku, memar, dan kedinginan, mereka meraih ujung koper mereka dan mulai
    menyeretnya terseok-seok mendaki bukit berumput, menuju pintu besar dari
    kayu ek.



    --------------------------------------- 44

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kurasa pestanya sudah mulai," kata Ron, menjatuh-kan kopernya di kaki
    undakan dan diam-diam me-nyeberang untuk mengintip dari jendela yang
    terang benderang. "Hei, Harry, lihatsedang acara seleksi!"
    Harry bergegas mendekat dan berdua mereka mengintip ke dalam Aula
    Besar.
    Lilin-lilin tak terhitung banyaknya beterbangan di atas empat meja panjang,
    membuat piring-piring dan piala emas di atasnya berkilauan. Di atasnya, langit-
    langit sihiran tampak persis dengan langit di luar, dengan taburan bintang
    berkelap- kelip.
    Menembus hutan topi kerucut hitam Hogwarts, Harry melihat deretan
    panjang anak-anak kelas satu yang ketakutan memasuki Aula. Ginny berada di
    antara mereka, mudah ditemukan karena rambut Weasley-nya yang merah
    mencolok. Sementara itu, Profesor McGonagall, penyihir wanita berkacamata
    de-ngan rambut digelung ketat, meletakkan Topi Seleksi Hogwarts yang
    terkenal di atas bangku di depan para murid baru.
    Setiap tahun, topi tua ini, yang sudah bertambal, berjumbai, dan kotor,
    menyeleksi murid-murid baru ke dalam empat asrama Hogwarts (Gryffindor,
    Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin). Harry ingat betul bagaimana
    perasaannya ketika dia memakai topi itu, tepat setahun yang lalu, dan dengan
    ketakutan menunggu keputusan si topi, sementara topi itu ber-gumam keras ke
    dalam telinganya. Selama beberapa detik mengerikan dia takut topi itu akan
    memasuk-kannya ke Slytherin, asrama yang telah menghasilkan lebih banyak
    penyihir hitam dibanding ketiga asrama lainnyatetapi ternyata dia terpilih
    masuk Gryffindor, bersama Ron,. Hermione, dan anak-anak keluarga Weasley
    yang lain. Semester yang lalu, Harry dan Ron telah membantu Gryffindor
    memenangkan Piala Asrama, mengalahkan Slytherin untuk pertama kalinya
    dalam tujuh tahun tefakhir. Seorang anak laki-laki kecil berambut kelabu
    seperti tikus dipanggil ke depan untuk meletakkan topi itu di kepalanya. Mata
    Harry memandang melewati anak ini ke tempat Profesor Dumbledore, kepala
    sekolah, yang duduk menonton seleksi ini dari meja guru, jenggot panjangnya
    yang keperakan dan kacamata bulan-separonya berkilauan tertimpa cahaya
    lilin.
    Be-berapa kursi dari Dumbledore, Harry melihat Gilderoy Lockhart, memakai
    jubah berwarna hijau toska. Dan di ujung meja duduk Hagrid, besar dan
    berbulu, asyik minum dari pialanya.
    "Eh...," Harry bergumam kepada Ron. "Ada kursi kosong di meja guru... Di
    mana Snape?"
    Profesor Snape adalah guru yang paling tidak di-sukai Harry. Harry kebetulan
    juga murid yang paling tidak disukai Snape.' Snape yang kejam, sinis, dan tidak
    disukai oleh semua anak, kecuali anak-anak dari asramanya sendiri (Slytherin),
    mengajar Ramuan.
    "Mungkin dia sakit!" kata Ron penuh harap. ''Mungkin dia keluar," kata Harry,
    "karena tidak terpilih mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam lagil" "Atau
    siapa tahu dia dikeluarkan!" kata Ron penuh semangat. "Maksudku, semua anak
    benci padanya..."



    --------------------------------------- 45

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Atau mungkin," kata suara sangat dingin tepat di belakang mereka, "dia
    sedang menunggu alasan kenapa kalian berdua tidak datang naik kereta api
    sekolah."
    Harry berputar. Di depannya, dengan jubah hitam beriak ditiup angin sepoi,
    berdiri Severus Snape. Snape bertubuh kurus, dengan kulit pucat, hidung
    bengkok, dan rambut berminyak sebahu, dan pada saat ini dia sedang
    tersenyum sedemikian rupa sehingga Harry tahu dia dan Ron dalam kesulitan
    besar.
    "Ikut aku," kata Snape.
    Bahkan saling pandang pun mereka tak berani. Harry dan Ron mengikuti
    Snape menaiki undakan memasuki Aula Depan yang bergema, yang dikelilingi
    obor. Aroma lezat masakan menguar dari Aula Besar, tetapi Snape membawa
    mereka menjauh dari ke-hangatan dan cahaya, menuruni tangga batu sempit
    yang menuju ke ruang bawah tanah.
    Mereka melewati lorong yang gelap dan dingin.
    Setelah setengah jalan menyusurinya, terdapat sebuah pintu. "Masuk!"
    perintah Snape, seraya menunjuk.
    Mereka masuk ke kantor Snape, gemetar. Dinding-nya yang remang-remang
    dikelilingi rak penuh staples kaca besar. Di dalam staples-staples itu
    mengapung berjenis-jenis benda menjijikkan yang namanya tak ingin diketahui
    Harry saat ini. Perapiannya gelap dan kosong. Snape menutup pintu dan
    berbalik meman-dang mereka.
    "Jadi," katanya pelan, "kereta api tidak cukup baik untuk Harry Potter yang
    terkenal dan sahabat setia-nya, Weasley. Ingin datang dengan sambutan
    meriah, begitu, ya?"
    "Tidak, Sir, penyebabnya palang rintangan di King's Cross. Palang itu..."
    "Diam!" bentak Snape dingin. "Kauapakan mobilnya?"
    Ron menelan ludah. Ini bukan pertama kalinya Snape memberi kesan bahwa
    dia bisa membaca pi-kiran. Tetapi sesaat kemudian, ketika Snape membuka
    Evening Prophet koran sihir sore terbitan hari itu, dia pun mengerti.
    "Ada yang melihat kalian," dia mendesis, menunjuk-kan kepala beritanya:
    FORD ANGLIA TERBANG MEMBUAT TAKJUB MUGGLE. Dia mulai membacanya
    keras-keras. "Dua Muggle di London yakin mereka melihat sebuah mobil tua
    terbang di atas menara Kantor Pos... pada siang hari di Norfolk, Mrs Hetty
    Bayliss, ketika sedang menjemur cucian... Mr Angus Fleet di Peebles melapor
    kepada polisi... enam atau tujuh Muggle totalnya. Bukankah ayahmu bekerja di
    Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle?" kata-nya, menatap Ron dan
    tersenyum semakin menyebal-kan. "Astaga, astaga... anaknya sendiri..."
    Harry merasa seakan perutnya baru saja dihantam salah satu dahan besar
    pohon gila itu. Jika sampai ketahuan Mr Weasley telah menyihir mobil itu... dia
    tidak memikirkan ini sebelumnya....
    "Kuperhatikan, sewaktu aku mencari di halaman, bahwa kerusakan cukup
    besar telah menimpa pohon Dedalu Perkasa yang sangat berharga," Snape me-
    neruskan.
    "Pohon itu merusak kami lebih banyak daripada kami...," Ron menyela.



    --------------------------------------- 46

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Diam!" bentak Snape lagi. "Sayang sekali kalian tidak di asramaku dan
    keputusan untuk mengeluarkan kalian tidak ada padaku. Aku akan memanggil
    orang-orang yang punya kekuasaan menyenangkan itu. Kalian tunggu di sini."
    Harry dan Ron saling pandang, wajah mereka pucat. Harry tidak merasa
    lapar lagi. Dia malah merasa sangat mual. Dia berusaha tidak melihat sesuatu
    yang besar berlendir dalam cairan hijau di rak di belakang meja Snape. Kalau
    Snape memanggil Profesor McGonagall, kepala asrama Gryffindor, nasib mereka
    tak akan lebih baik. Dia mungkin lebih adil daripada Snape, tetapi disiplinnya
    ketat sekali.
    Sepuluh menit kemudian, Snape muncul kembali, dan benar saja, Profesor
    McGonagall-lah yang me-nemaninya. Harry sudah pernah melihat Profesor
    McGonagall marah dalam beberapa kesempatan, tetapi entah apakah dia sudah
    lupa betapa tipisnya bibir Profesor McGonagall kalau sedang marah, atau Harry
    belum pernah melihatnya semarah ini. Profesor McGonagall mengangkat
    tongkatnya begitu dia me-masuki ruangan. Harry dan Ron berjengit, tetapi dia
    cuma menunjuk ke perapian kosong, yang apinya langsung berkobar menyala.
    "Duduk," katanya, dan mereka berdua mundur untuk duduk di kursi di dekat
    perapian. "Jelaskan," katanya, kacamatanya berkilat-kilat me-nyeramkan. Ron
    langsung bercerita, mulai dengan palang rin-tangan di stasiun yang menolak
    mereka lewati. "...jadi kami tak punya pilihan, Profesor, kami tidak bisa naik
    kereta api."
    "Kenapa kalian tidak mengirim surat lewat burung hantu? Bukankah kau
    punya burung hantu?" Profesor McGonagall berkata dingin kepada Harry.
    Harry ternganga. Setelah Profesor McGonagall me-ngatakannya, baru terpikir
    itulah yang seharusnya mereka lakukan.
    "Sayasaya tidak berpikir..."
    "Jelas sekali kau memang tidak berpikir," kata Profesor McGonagall.
    Terdengar ketukan di pintu kantor dan Snape, yang sekarang kelihatan lebih
    senang dari sebelumnya, membukanya. Di depan pintu berdiri kepala sekolah,
    Profesor Dumbledore.
    Seluruh tubuh Harry langsung kaku. Dumbledore kelihatan muram, tidak
    seperti biasanya. Dia me-nunduk memandang mereka lewat hidung bengkok-
    nya dan Harry mendadak ingin sekali dirinya dan Ron masih dipukuli oleh si
    Dedalu Perkasa. Sunyi lama sekali. Kemudian Dumbledore "berkata, "Tolong
    jelaskan kenapa kalian melakukan ini."
    Akan lebih baik jika dia berteriak. Harry membenci kekecewaan dalam
    suaranya. Entah karena apa, dia tidak sanggup menatap mata Dumbledore,
    maka dia bicara kepada lututnya. Dia menceritakan segalanya kepada
    Dumbledore, kecuali bahwa Mr Weasley-lah pemilik mobil tersihir itu. Dia
    menceritakannya se-demikian rupa, sehingga seakan-akan dia dan Ron
    kebetulan menemukan mobil terbang diparkir di luar stasiun. Dia tahu
    Dumbledore akan segera tahu hal yang sebenarnya, tetapi Dumbledore tidak
    bertanya apa-apa soal mobil ini. Ketika Harry sudah selesai bercerita,
    Dumbledore hanya terus memandang me-reka lewat kacamatanya.
    "Kami akan mengambil barang-barang kami," kata Ron dengan suara putus
    asa. "Kau bicara apa, Weasley?" bentak Profesor McGonagall.



    --------------------------------------- 47

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Bukankah kami dikeluarkan?" kata Ron. Harry cepat-cepat memandang
    Dumbledore.
    "Tidak hari ini, Mr Weasley," kata Dumbledore. "Tetapi aku harus
    menekankan kepada kalian berdua betapa seriusnya tindakan kalian. Aku akan
    menulis kepada keluarga kalian berdua malam ini. Aku juga harus
    memperingatkan kalian bahwa jika kalian me-lakukan hal seperti ini lagi, aku
    tak akan punya pilihan selain mengeluarkan kalian."
    Snape tampak kecewa sekali. Dia berdeham dan berkata,
    "Profesor Dumbledore, kedua anak ini telah melanggar Dekrit Pembatasan
    Masuk Akal bagi Penyihir di Bawah Umur, menyebabkan kerusakan serius pada
    pohon tua yang sangat berharga... tentu-nya kesalahan seperti ini..."
    "Profesor McGonagall-lah yang berhak memutuskan hukuman untuk anak-
    anak ini, Severus," kata Dumbledore tenang. "Mereka anak asramanya dan
    karena itu menjadi tanggung jawabnya." Dia berpaling kepada Profesor
    McGonagall. "Aku harus kembali ke pesta, Minerva, aku harus menyampaikan
    beberapa pengumuman. Ayo, Severus, ada puding lezat yang ingin kucicipi."
    Snape melempar pandang sengit kepada Harry dan Ron sebelum dia keluar
    dari kantornya, me-ninggalkan mereka sendirian dengan Profesor McGonagall,
    yang masih mengawasi mereka seperti elang murka.
    "Kau sebaiknya segera ke rumah sakit, Weasley, kau berdarah."
    "Tidak banyak," kata Ron, buru-buru menyeka luka di atas matanya dengan
    lengannya. "Profesor, saya ingin melihat adik saya diseleksi..."
    "Upacara seleksi sudah selesai," kata Profesor McGonagall.
    "Adikmu masuk Gryffindor juga."
    "Oh, bagus," kata Ron.
    "Dan ngomong-ngomong soal Gryffindor..." Pro-fesor McGonagall berkata
    tajam. Tetapi Harry menyela, "Profesor, sewaktu kami naik mobil itu, sekolah
    belum dimulai, jadijadi Gryffindor belum punya angka yang bisa dikurangi,
    kan?" katanya seraya memandang Profesor McGonagall dengan cemas.
    Profesor McGonagall memandangnya tajam, tetapi Harry yakin dia nyaris
    tersenyum. Paling tidak bibir-nya kelihatan tidak setipis tadi.
    "Aku tidak akan mengurangi angka Gryffindor," katanya, dan hati Harry
    langsung jauh lebih ringan. "Tetapi kalian berdua akan mendapat detensi."
    Itu lebih baik daripada yang diduga Harry. Sedang-kan soal Dumbledore yang
    akan menulis kepada ke-luarga Dursley, itu bukan apa-apa. Harry tahu betul
    mereka malah akan kecewa Dedalu Perkasa tidak menghajarnya sampai mati.
    Profesor McGonagall mengangkat tongkatnya lagi dan mengarahkannya ke
    meja Snape. Sepiring besar sandwich, dua piala perak, dan seteko jus labu
    kuning dingin muncul seiring bunyi "plop".
    "Kalian makan di sini dan kemudian langsung ke kamar," katanya. "Aku juga
    harus kembali ke pesta." Setelah pintu tertutup di belakangnya, Ron menge-
    luarkan suitan panjang namun pelan. "Kukira tadi tamatlah riwayat kita,"
    katanya seraya meraih sandwich. "Kukira juga begitu," kata Harry, juga
    mengambil sandwich.
    "Nasib kita sungguh sulit dipercaya, ya?" kata Ron dengan mulut penuh roti
    dan daging. "Fred dan George sudah menerbangkan mobil itu paling tidak lima



    --------------------------------------- 48

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    atau enam kali, dan tak ada Muggle yang pernah melihat mereka." Dia menelan
    dan menggigit sepotong besar sandwich lagi. "Kenapa kita tidak bisa melewati
    palang rintangan?
    Harry mengangkat bahu. "Yang jelas mulai sekarang kita harus hati-hati,"
    katanya, meneguk jus labunya dengan rasa syukur. "Sayang sekali kita tidak
    bisa ikut pesta..."
    "Profesor McGonagall tak ingin kita pamer," kata Ron bijaksana. "Tak mau
    orang-orang berpikir ini ide bagus, datang dengan mobil terbang."
    Setelah makan sandwich sebanyak mereka sanggup (piringnya terus-menerus
    terisi kembali), mereka bang-kit dan meninggalkan kantor itu, berjalan
    melewati lorong yang sudah mereka kenal menuju ke Menara Gryffindor. Kastil
    sudah sepi, rupanya pesta sudah usai. Mereka melewati lukisan-lukisan yang
    berbisik-bisik dan baju-baju zirah yang berkelontangan. Mereka menaiki
    beberapa tangga sempit, sampai akhirnya mereka tiba di lorong tempat pintu
    rahasia untuk masuk ke Menara Gryffindor tersembunyi, di belakang lukisan cat
    minyak seorang nyonya amat gemuk yang memakai gaun sutra merah jambu.
    "Kata kunci?" kata si Nyonya Gemuk ketika mereka mendekat.
    "Eh...," kata Harry.
    Mereka tidak tahu kata kunci di awal tahun ajaran baru ini, karena belum
    bertemu Prefek Gryffindor, tetapi bantuan muncul tak terduga. Mereka men-
    dengar langkah-langkah bergegas mendekat di bela-kang mereka dan ketika
    menoleh, mereka melihat Hermione berlari mendatangi.
    "Di sini rupanya! Di mana kalian tadi? Ada desas-desus sangat tidak masuk
    akalada yang bilang kalian berdua dikeluarkan karena menabrakkan mobil ter-
    bang."
    "Kami tidak dikeluarkan," Harry meyakinkannya.
    "Kau tidak bermaksud bilang kau benar-benar ter-bang ke sini?" kata
    Hermione, kedengarannya segalak Profesor McGonagall.
    "Tidak perlu ceramah," kata Ron tak sabar, "dan beritahu kami kata kunci
    barunya." '"Gelambir kalkun'," kata Hermione tak sabar, "tapi bukan itu pokok
    masalahnya..."
    Kata-katanya terputus, karena lukisan si Nyonya Gemuk mengayun terbuka
    dan mendadak terdengar gemuruh tepukan. Rupanya seluruh penghuni asrama
    Gryffindor belum tidur. Mereka berdesakan di ruang bundar rekreasi, berdiri di
    atas meja miring dan kursi-kursi tangan empuk, menunggu kedatangan Harry
    dan Ron. Lengan-lengan terjulur melalui lubang lukisan, menarik Harry dan Ron
    masuk, membiarkan Hermione memanjat sendiri sesudah mereka.
    "Brilian!" seru Lee Jordan. "Ide gemilang! Ke-datangan yang luar biasa! Naik
    mobil terbang me-nabrak Dedalu Perkasa, orang-orang akan terus mem-
    bicarakannya selama bertahun-tahun!"
    "Hebat," kata seorang anak kelas lima yang belum pernah bicara dengan
    Harry. Ada yang menepuk-nepuk punggungnya seakan dia baru saja memenang-
    kan maraton. Fred dan George berdesakan sampai ke depan kerumunan dan
    berkata bersamaan, "Kenapa kalian tidak . memanggil kami kembali, eh?"
    Wajah Ron merah padam, dia nyengir malu-malu, tapi Harry bisa melihat satu
    orang yang sama sekali. tidak ke-lihatan senang. Percy tampak di atas kepala



    --------------------------------------- 49

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    anak-anak kelas satu yang bergairah, dan dia kelihatannya mencoba maju
    cukup dekat untuk menyuruh mereka menyingkir. Harry menyikut rusuk Ron
    dan mengangguk ke arah Percy. Ron langsung paham.
    "Harus naiksudah lelah," katanya, dan keduanya menyelip-nyelip ke arah
    pintu di seberang ruangan, yang menuju ke tangga spiral dan kamar-kamar
    tidur.
    "Malam," Harry berseru kepada Hermione, yang wajahnya sama cemberutnya
    seperti Percy.
    Mereka berhasil sampai di seberang ruangan, pung-gung mereka masih
    ditepuk-tepuk, dan baru aman setelah tiba di tangga yang sepi. Mereka
    bergegas naik dan akhirnya tiba di pintu kamar mereka yang lama, yang
    sekarang dipasangi tulisan berbunyi "kelas dua". Mereka memasuki ruangan
    bundar yang sudah mereka kenal, dengan lima tempat tidur besar ber-kelambu
    beludru merah dan jendela-jendela yang tinggi dan sempit. Koper-koper
    mereka sudah dibawa naik dan diletakkan di kaki tempat tidur masing-masing.
    Ron tersenyum pada Harry dengan perasaan ber-salah.
    "Aku tahu seharusnya tidak boleh menikmati sam-butan atau apa pun
    namanya itu, tapi..."
    Pintu kamar mendadak terbuka dan masuklah ketiga anak laki-laki kelas dua
    Gryffindor lainnya, Seamus Finnigan, Dean Thomas, dan Neville Longbottom.
    "Tak bisa dipercaya!" Seamus nyengir.
    "Cool," kata Dean.
    "Menakjubkan," kata Neville, terpesona. Harry tak tahan. Dia ikut nyengir.
    6. Gilderoy Lockhart
    ESOKNYA Harry nyaris tak bisa tersenyum lagi. Ke-adaan sudah mulai
    memburuk sejak saat sarapan di Aula Besar. Empat meja besar asrama dipenuhi
    berpanci-panci bubur, berpiring-piring ikan haring asap, ber-gunung-gunung roti
    panggang, telur, dan daging asap, di bawah langit-langit sihiran (hari ini abu-
    abu suram berawan). Harry dan Ron duduk di meja Gryffindor bersama
    Hermione, yang menyandarkan buku Vakansi dengan Vampir-nya yang terbuka
    pada seteko susu. Hermione mengucapkan sapaan "Pagi"-nya dengan sedikit
    kaku, sehingga Harry tahu dia masih mencela cara kedatangan mereka. Neville
    Longbottom, sebalik-nya, menyambut mereka dengan ceria. Neville adalah
    anak berwajah bundar dan cenderung mengalami ber-bagai kecelakaan.
    Ingatannya juga parah sekali.
    "Sudah waktunya pos datang... kurasa Nenek akan mengirim beberapa
    barang yang kulupakan."
    Harry baru menyendok buburnya ketika, benar saja, terdengar deru keras
    dan kira-kira seratus burung hantu terbang masuk, beputar-putar di aula dan



    --------------------------------------- 50

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    men-jatuhkan surat dan paket kepada anak-anak yang asyik berceloteh. Sebuah
    bungkusan be,sar tak ber-aturan terguling dari kepala Neville dan sedetik
    kemu-dian sesuatu yang besar dan berwarna abu- abu jatuh ke dalam teko susu
    Hermione, menciprati mereka semua dengan susu dan bulu.
    "Errol!" seru Ron, menarik keluar burung hantu basah kuyup itu pada
    kakinya. Errol terpuruk, ping-san, di atas meja, kakinya mencuat ke atas dan
    sebuah amplop merah tergigit di paruhnya.
    "Oh, tidak...," Ron memekik panik.
    "Tidak apa-apa, dia masih hidup," kata Hermione, menekan-nekan Errol
    lembut dengan ujung jari-nya.
    "Bukan itutapi itu."
    Ron menunjuk amplop merah di paruh Errol. Amplop itu kelihatan biasa saja
    bagi Harry, tetapi Ron dan Neville memandangnya ketakutan seakan amplop itu
    bisa meledak setiap saat.
    "Ada apa?" tanya Harry.
    "Mumdia mengirimiku Howler," kata Ron lesu.
    "Lebih baik kaubuka, Ron," bisik Neville cemas. "Gawat kalau tidak. Nenek
    pernah mengirimiku Howler dan kuabaikan, dan...," dia menelan ludah,
    "mengerikan sekali."
    Harry mengalihkan pandang dari wajah ketakutan mereka ke amplop merah.
    "Apa sih Howler itu?" tanyanya.
    Tetapi seluruh perhatian Ron tercurah pada surat itu, yang sudah mulai
    berasap ujung-ujungnya. "Bukalah," desak Neville. "Paling beberapa menit lalu
    selesai..."
    Ron mengulurkan tangan yang gemetar, menarik amplop itu dari paruh Errol
    dan membukanya. Neville menjejalkan jari ke lubang telinganya. Sedetik
    kemu-dian, Harry tahu kenapa.
    Sekejap dikiranya amplop itu meledak; teriakan keras sekali membahana
    me-menuhi aula besar itu, merontokkan debu dari langit-langitnya.
    "...MENCURI MOBIL, AKU TIDAK AKAN KAGET KALAU MEREKA
    MENGELUARKANMU, TUNGGU SAMPAI AKU KETEMU KAU, PASTI KAU TIDAK
    BERPIKIR BAGAIMANA KAGET DAN CEMASNYA AYAHMU DAN AKU KETIKA MELIHAT
    MOBIL SUDAH TAK ADA...."
    Teriakan Mrs Weasley, seratus kali lebih keras dari-pada biasanya, membuat
    piring-piring dan sendok-sendok berkeretak di atas meja. Suaranya bergaung
    memekakkan di dinding-dinding batu. Anak-anak di aula berputar di tempat
    duduk mereka untuk melihat siapa yang menerima Howler. Ron merosot rendah
    sekali di kursinya, sampai hanya kepalanya yang me-rah yang kelihatan.
    "...SURAT DARI DUMBLEDORE SEMALAM, AYAHMU NYARIS MATI SAKING
    MALUNYA, KAMI TIDAK MEMBESARKANMU UNTUK BERSIKAP SEPERTI INI, KAU
    DAN HARRY BISA MATI...."
    Harry sudah bertanya-tanya dalam hati kapan namanya akan muncul. Dia
    berusaha keras bersikap seakan tidak mendengar suara yang membuat gendang
    telinganya berdenyut-denyut.



    --------------------------------------- 51

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "...BENAR-BENAR MENJIJIKKAN, AYAHMU AKAN DIINTEROGASI DI KANTORNYA,
    SALAHMU SE-PENUHNYA DAN KALAU MELANGGAR PER-ATURAN LAIN SEDIKIT
    SAJA, KAMI AKAN LANG-SUNG MEMBAWAMU PULANG."
    Aula sunyi senyap. Amplop merah, yang terjatuh dari tangan Ron, menyala,
    lalu tergulung menjadi abu. Harry dan Ron duduk terpaku, seakan baru disapu
    gelombang besar. Beberapa anak tertawa dan sedikit demi sedikit celoteh
    ramai mulai terdengar lagi.
    Hermione menutup buku Vakansi dengan Vampir dan menunduk memandang
    puncak kepala Ron. "Aku tak tahu apa yang kauharapkan, Ron, tapi kau..."
    "Jangan bilang aku layak menerimanya," gertak Ron.
    Harry mendorong buburnya menjauh. Dia merasa sangat bersalah. Mr
    Weasley akan diinterogasi di kantornya. Setelah kebaikan Mr dan Mrs Weasley
    terhadapnya selama musim panas....
    Tetapi dia tak punya banyak waktu untuk berlama-lama mencemaskan hal
    ini. Profesor McGonagall ber-jalan mengelilingi meja Gryffindor, membagikan
    jadwal. Harry mengambil jadwalnya dan melihat dua jam pertama mereka
    adalah Herbologi, bareng dengan Hufflepuff.
    Harry, Ron, dan Hermione meninggalkan kastil ber-sama- sama,
    menyeberangi kebun sayur, dan menuju ke rumah- rumah kaca, tempat
    tanaman-tanaman gaib dipelihara. Paling tidak Howler sudah menghasilkan satu
    hal baik, Hermione kelihatannya berpendapat mereka sudah cukup mendapat
    hukuman dan sudah ramah seperti biasa lagi.
    Mendekati rumah-rumah kaca, mereka melihat anak-anak lain sudah berdiri
    di depannya, menunggu Profesor Sprout. Harry, Ron, dan Hermione, baru saja
    bergabung dengan mereka ketika Profesor Sprout muncul di seberang halaman
    berumput, ditemani Gilderoy Lockhart. Lengan Profesor Sprout diperban di
    sana-sini, dan dengan entakan rasa bersalah lagi, Harry melihat Dedalu Perkasa
    di kejauhan, beberapa dahannya sekarang memakai kain gendongan.
    Profesor Sprout adalah penyihir wanita pendek-gemuk yang memakai topi
    bertambal di atas rambut-nya yang beterbangan. Biasanya wajah dan pakaian-
    nya berlumuran tanah, dan kukunya akan membuat Bibi Petunia pingsan.
    Gilderoy Lockhart, sebaliknya, sangat rapi dan bersih. Jubahnya yang berwarna
    hijau toska melambai, rambutnya yang keemasan berkilau di bawah topi hijau
    toska berpelipit emas yang ber-tengger sempurna di atas kepalanya.
    "Oh, halo, anak-anak!" sapa Lockhart, tersenyum kepada kerumunan anak-
    anak. "Baru saja menunjuk-kan kepada Profesor Sprout bagaimana mengobati
    Dedalu Perkasa! Tapi aku tak mau kalian mengira aku lebih pintar dari dia
    dalam Herbologi! Kebetulan saja aku pernah bertemu beberapa tanaman
    eksotis dalam perjalananku..."
    "Rumah Kaca nomor tiga hari ini, anak-anak!" kata Profesor Sprout, yang
    kelihatan jelas jengkel, tidak ceria seperti biasanya.
    Terdengar gumam tertarik. Selama ini mereka cuma belajar di Rumah Kaca
    nomor satuRumah Kaca nomor tiga berisi tanaman yang jauh lebih menarik
    dan berbahaya. Profesor Sprout menarik kunci besar dari ikat pinggangnya dan
    membuka pintu. Terendus oleh Harry bau tanah lembap dan pupuk, bercampur
    dengan wangi tajam bunga-bunga sebesar payung yang bergantungan dari



    --------------------------------------- 52

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    langit-langit. Harry baru mau mengikuti Ron dan Hermione masuk ketika tangan
    Lockhart terjulur.
    "Harry! Aku ingin bicarakau tidak keberatan kalau dia terlambat beberapa
    menit, kan, Profesor Sprout?"
    Dinilai dari cibiran Profesor Sprout, dia sebetulnya keberatan, tetapi
    Lockhart berkata, "Terima kasih," dan menutup pintu Rumah Kaca di depan
    wajah Profesor Sprout.
    "Harry," kata Lockhart, giginya yang putih besar-besar berkilauan tertimpa
    cahaya matahari ketika dia menggelengkan kepala. "Harry, Harry, Harry."
    Saking kagetnya Harry tidak bicara apa-apa. "Waktu aku dengaryah, tentu
    saja, semua itu salahku. Rasanya ingin kutendang diriku sendiri."
    Harry sama sekali tak mengerti apa yang dibicara-kannya. Dia baru akan
    berkata begitu, ketika Lockhart meneruskan,
    "Belum pernah aku seterkejut itu. Me-nerbangkan mobil ke Hogwarts! Yah,
    tentu saja, aku langsung tahu kenapa kaulakukan itu. Jelas sekali. Harry,
    Harry, Harry."
    Hebat sekali bagaimana dia bisa menunjukkan masing- masing giginya yang
    berkilauan bahkan pada saat dia tidak bicara.
    "Kuberi kau sekecap kepopuleran, kan?" kata Lockhart.
    "Kau langsung ketularan. Kau tampil di ha-laman depan surat kabar
    bersamaku dan kau tak bisa menunggu lebih lama untuk tampil lagi."
    "Ohtidak, Profesor, begini..."
    "Harry, Harry, Harry," kata Lockhart, mengulurkan tangan mencengkeram
    bahu Harry. "Aku mengerti. Wajar menginginkan lebih kalau kau sudah pernah
    mencicipinya dan aku menyalahkan diriku sendiri karena memberimu itu,
    karena pasti akan mem-pengaruhi pikiranmu. Tapi, Nak, kau tak bisa mener-
    bangkan mobil untuk mencoba membuat dirimu di-perhatikan. Jangan buru-
    buru, oke? Masih banyak waktu untuk semua itu kalau kau sudah lebih besar.
    Ya, ya, aku tahu apa yang kaupikirkan! 'Gampang dia ngomong begitu, dia kan
    sudah jadi penyihir inter-nasional yang terkenal!' Tetapi waktu aku masih dua
    belas tahun, aku bukan siapa-siapa seperti kau seka-rang. Malah, lebih bukan
    siapa- siapa lagi! Maksudku, beberapa orang sudah dengar tentang kau, kan?
    Segala kejadian dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Di-sebut!" Dia mengerling
    ke bekas luka sambaran kilat di dahi Harry "Aku tahu, aku tahu, itu tidak
    sehebat memenangkan kontes Senyum-Paling-Menawan Witch Weekly
    Mingguan Penyihir Wanita selama lima kali berturut- turut, seperti yang
    kualamitapi itu sudah permulaan, Harry, itu sudah permulaan."
    Dia mengedip bersemangat kepada Harry dan pergi. Harry berdiri terpaku
    selama beberapa detik, kemu-dian, ingat bahwa dia seharusnya ada dalam
    rumah kaca, membuka pintunya dan menyelinap ke dalam.
    Profesor Sprout sedang berdiri di belakang bangku di tengah rumah kaca.
    Kira-kira dua puluh pasang penutup telinga tergeletak di bangku itu. Ketika
    Harry sudah mengambil tempat di antara Ron dan Hermione, Profesor Sprout
    berkata, "Kita akan meng-ganti pot Mandrake hari ini. Nah, adakah yang bisa
    menjelaskan kegunaan Mandrake?"
    Tak ada yang heran ketika tangan Hermione paling dulu terangkat.



    --------------------------------------- 53

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Mandrake, atau Mandragora, adalah restoratif atau obat penyembuh yang
    sangat manjur," kata Hermione, terdengar seperti biasanyaseakan dia sudah
    menelan seluruh buku pelajarannya. "Mandrake digunakan untuk
    mengembalikan orang yang sudah di-transfigurasi atau dikutuk ke wujudnya
    semula."
    "Bagus sekali. Sepuluh angka untuk Gryffindor," kata Profesor Sprout.
    "Mandrake merupakan bahan paling penting bagi banyak obat penangkal racun.
    Meskipun demikian, Mandrake juga berbahaya. Siapa yang tahu kenapa?"
    Tangan Hermione nyaris menyenggol kacamata Harry ketika mengacung ke
    atas lagi. "Jeritan Mandrake bisa berakibat fatal bagi siapa saja yang
    mendengarnya," katanya segera.
    "Persis. Dapat sepuluh angka lagi," kata Profesor Sprout.
    "Nah, Mandrake yang kita punya di sini masih muda sekali." Dia menunjuk
    sederet nampan tinggi sambil bicara dan semua anak bergerak maju agar bisa
    melihat lebih jelas. Kira- kira seratus tanaman kecil yang meng-gerumbul
    seperti jambul berwarna hijau keunguan, tumbuh berderet-deret dalam
    nampan itu. Kelihatannya biasa saja bagi Harry, yang sama sekali tak paham
    apa yang dimaksud Hermione dengan "jeritan" Mandrake.
    "Masing-masing ambil sepasang tutup telinga," kata Profesor Sprout.
    Terjadi kehebohan ketika masing-masing berebut mengambil tutup telinga
    yang bukan merah jambu dan berbulu.
    "Kalau kuminta dipakai, pastikan telinga kalian ter-tutup sepenuhnya," kata
    Profesor Sprout. "Kalau sudah aman untuk membuka tutup telinga, kuberi tanda
    dengan mengangkat ibu jari. Siappasang tutup telinga.."
    Harry memasang tutup telinganya. Langsung tak terdengar bunyi apa pun.
    Profesor Sprout memasang tutup telinga merah jambu berbulu ke telinganya,
    menggulung lengan jubahnya, memegang erat salah satu tanaman dan
    menariknya kuat-kuat.
    Harry terpekik kaget, tapi tak ada yang mendengar-nya.
    Alih-alih akar, seorang bayi kecil, berlumpur, dan sangat jelek tercabut dari
    tanah. Daun-daun tumbuh di kepalanya. Kulitnya pucat kehijauan, bebercak-
    bercak, dan dia menangis menjerit-jerit keras sekali.
    Profesor Sprout mengambil pot besar dari bawah meja dan mencemplungkan
    si Mandrake ke dalamnya, menimbuninya dengan kompos hitam lembap, sampai
    tinggal gerumbul daunnya yang kelihatan. Profesor Sprout menyeka tangannya,
    memberi kode dengan mengangkat kedua ibu jarinya, lalu membuka tutup
    telinganya sendiri.
    "Mengingat Mandrake kita masih semaian, jeritan mereka belum akan
    membunuh," katanya kalem, se-akan dia baru melakukan hal yang tidak lebih
    seru dari menyirami begonia.
    "Meskipun demikian, mereka akan membuat kalian pingsan selama beberapa
    jam, dan karena aku yakin tak seorang pun dari kalian mau ketinggalan hari
    pertama sekolah, pastikan tutup telinga kalian terpasang dengan benar
    sementara kalian bekerja. Aku akan menarik perhatian kalian kalau sudah tiba
    waktunya berkemas."



    --------------------------------------- 54

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Empat anak satu nampanada banyak persediaan pot di sinikomposnya
    dalam karung di sana itu dan hati-hati terhadap Tentakula Berbisa, dia sedang
    tumbuh gigi."
    Profesor Sprout memukul keras tanaman merah tua berduri sambil
    berbicara, membuat tanaman itu me-narik kembali sulur panjangnya yang
    diam-diam sudah merayap ke bahunya. Seorang anak laki-laki Hufflepuff
    berambut keriting bergabung dengan Harry, Ron, dan Hermione. Harry tahu
    anak itu, tapi belum pernah bicara dengannya.
    "Justin Finch-Fletchley," katanya ramah, menjabat tangan Harry. "Aku tahu
    siapa kau, tentu saja. Harry Potter yang terkenal... dan kau Hermione Granger
     selalu nomor satu dalam segala hal...," (Hermione berseri-seri sementara
    tangannya juga dijabat), "dan Ron Weasley Bukankah mobil terbang itu
    milikmu?"
    Ron tidak tersenyum. Pikirannya masih dipenuhi Howler. "Si Lockhart itu
    hebat, ya?" kata Justin riang, saat mereka mulai mengisi pot mereka dengan
    kompos kotoran naga. "Bukan main pemberaninya. Kalian sudah baca buku-
    bukunya? Aku pasti mati ketakutan kalau disudutkan di boks telepon oleh
    manusia serigala, tapi dia tetap tenang danzapsungguh luar biasa.
    "Namaku sudah terdaftar di Eton sebetulnya. Tak bisa kuceritakan betapa
    senangnya aku bisa masuk ke sini. Tentu saja ibuku agak kecewa, tetapi setelah
    aku menyuruhnya membaca buku-buku Lockhart, kurasa dia mulai bisa melihat
    betapa bergunanya punya pe-nyihir terlatih dalam keluarga..."
    Sesudah itu mereka tak punya banyak kesempatan untuk bicara. Tutup
    telinga sudah dipakai lagi dan mereka perlu berkonsentrasi pada Mandrake.
    Waktu Profesor Sprout yang melakukannya, kelihatannya gampang sekali,
    tetapi kenyataannya tidak. Mandrake-mandrake itu tidak suka dikeluarkan dari
    tanah, tetapi rupanya dikembalikan juga tidak suka. Mereka meng-geliat,
    menendang, memukul-mukul dengan tinju me-reka yang tajam dan mengertak-
    ngertakkan gigi. Harry menghabiskan sepuluh menit sendiri untuk memasuk-kan
    kembali satu Mandrake gemuk ke dalam pot.
    Pada akhir pelajaran, Harry, seperti juga yang lain, berkeringat, badannya
    sakit semua, dan berlumur tanah. Mereka berjalan lesu kembali ke kastil untuk
    mandi. Setelah itu anak-anak Gryffindor bergegas untuk pelajaran
    Transfigurasi.
    Pelajaran Profesor McGonagall selalu susah, tetapi hari ini istimewa
    susahnya. Segala sesuatu yang telah dipelajari Harry selama satu tahun
    kelihatannya sudah merembes keluar dari kepalanya selama musim panas.
    Dia disuruh mengubah kumbang menjadi kancing, tapi yang berhasil
    dilakukannya hanyalah membuat si kumbang banyak berolahraga, karena si
    kumbang ber-larian di atas meja menghindari tongkatnya.
    Ron menghadapi masalah yang lebih parah. Dia sudah menambal tongkatnya
    dengan Spellotapeselotip sihir, tapi rupanya tongkatnya sudah kelewat rusak
    dan tak bisa diperbaiki. Tongkat itu berkali-kali ber-derik dan mengeluarkan
    bunga api pada saat-saat yang tak terduga, dan setiap kali Ron mencoba men-
    transfigurasi kumbangnya, tongkat itu menyelubungi-nya dengan asap tebal
    abu-abu yang baunya seperti telur busuk. Karena tak bisa melihat apa yang



    --------------------------------------- 55

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    dilaku-kannya, tanpa disengaja kumbangnya terpencet siku-nya sampai mati
    dan dia terpaksa minta kumbang baru. Profesor McGonagall tidak senang
    melihatnya.
    Harry lega mendengar bunyi bel makan siang. Otak-nya terasa bagai spons
    yang diperas. Semua orang meninggalkan ruang kelas, kecuali dia dan Ron,
    yang menyabet-nyabetkan tongkatnya dengan sebal ke meja.
    "Tolol... tak berguna..."
    "Tulis surat ke rumah minta ganti," Harry me-nyarankan ketika tongkat itu
    mengeluarkan sederet letusan keras seperti petasan.
    "Oh, yeah, biar dapat Howler lagi," kata Ron, men-jejalkan tongkatnya yang
    sekarang berdesis ke dalam tasnya.
    "Salahmu sendiri tongkatmu patah..."
    Mereka turun untuk makan siang. Suasana hati Ron tidak menjadi lebih baik
    melihat Hermione memamer-kan kepada mereka segenggam kancing jaket
    sempurna yang dihasilkannya dalam pelajaran Transfigurasi.
    "Sore ini pelajaran apa?" tanya Harry, buru-buru mengubah topik
    pembicaraan. "Pertahanan terhadap Ilmu Hitam," jawab Hermione segera.
    "Kenapa," tuntut Ron, menyambar daftar pelajaran Hermione, "kau
    menggarisbawahi semua pelajaran Lockhart dengan hati kecil-kecil?"
    Dengan marah Hermione merebut kembali daftar pelajarannya, wajahnya
    merah.
    Mereka menyelesaikan makan siang lalu ke halaman. Udara mendung.
    Hermione duduk di undakan dan membenamkan hidungnya ke buku Vakansi
    dengan Vampir lagi. Harry dan Ron berdiri mengobrol tentang Quidditch selama
    beberapa menit sebelum Harry sadar bahwa ada yang mengawasinya.
    Mendongak, dia melihat anak laki-laki sangat kecil berambut seperti tikus yang
    semalam dilihatnya sedang memakai Topi Seleksi. Anak itu terpesona menatap
    Harry Dia me-megangi sesuatu yang kelihatannya seperti kamera biasa Muggle.
    Begitu Harry memandangnya, wajah anak itu langsung merah padam.
    "Baik-baik saja, Harry? Akuaku Colin Creevey," katanya terengah, ragu-ragu
    maju selangkah. "Aku juga di Gryffindor. Apakah menurutmutidak apa-apakah
    kalau-bolehkah aku mengambil fotomu?" katanya, mengangkat kameranya
    penuh harap.
    "Foto?" Harry mengulang dengan pandangan kosong.
    "Supaya aku bisa membuktikan aku sudah ber-temu kau," kata Colin Creevey
    bersemangat, maju lebih dekat lagi. "Aku tahu segalanya tentang kau.
    Semua orang sudah cerita padaku. Tentang bagai-mana kau selamat ketika
    Kau-Tahu-Siapa mencoba membunuhmu dan bagaimana dia menghilang dan
    segalanya dan bahwa kau punya bekas luka sambaran Mat di dahimu," (matanya
    menyusuri batas rambut Harry), "dan anak laki-laki yang sekamar denganku
    bilang kalau aku mencetak filmnya dengan ramuan yang benar, gambarnya
    akan bergerak-gerak." Colin menghela napas panjang, bergairah sekali, dan
    ber-kata,
    "Luar biasa sekali di sini, ya? Aku tak pernah tahu segala hal aneh-aneh yang
    kulakukan itu sihir, sampai aku. menerima surat dari Hogwarts. Ayahku
    pengantar susu, dia juga tidak percaya. Jadi aku memotret banyak-banyak



    --------------------------------------- 56

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    untuk dikirim kepada ayahku di rumah. Dan akan bagus sekali kalau aku punya
    satu fotomu...," dia menatap Harry dengan pandangan memohon, "...mungkin
    temanmu bisa memotretkannya dan aku boleh berdiri di sebelah-mu? Dan
    kemudian, maukah kau menandatangani-nya?"
    "Foto bertanda tangan? Kau membagikan foto bertanda tangan, Potter?"
    Keras dan pedas, suara Draco Malfoy bergaung di seluruh halaman. Dia
    berhenti tepat di belakang Colin, diapit, seperli biasanya di Hogwarts, oleh dua
    kroni-nya yang besar dan kejam, Crabbe dan Goyle.
    "Ayo, semua antre!" Malfoy berteriak kepada ke-rumunan anak-anak. "Harry
    Potter membagikan foto bertanda tangan!"
    "Tidak! Bohong!" kata Harry berang, tinjunya ter-kepal.
    "Tutup mulut, Malfoy."
    "Kau iri," seru Colin, yang keseluruhan tubuhnya hanya sebesar leher Crabbe.
    "Iri?" kata Malfoy, yang tak perlu lagi berteriak, karena separo halaman
    sudah mendengarkan mereka. "Kenapa aku mesti iri? Aku tak mau punya bekas
    luka konyol di keningku, terima kasih deh. Menurut-ku kepala yang terbelah
    tidak membuat kita isti-mewa."
    Crabbe dan Goyle terkikik-kikik konyol.
    "Menyebalkan kau, Malfoy," kata Ron, jengkel. Crabbe berhenti tertawa dan
    mulai menggosok buku jarinya yang besar-besar dengan lagak mengancam.
    "Hati-hati, Weasley," ejek Malfoy. "Jangan sampai bikin kesulitan lagi, nanti
    terpaksa ibumu datang untuk menjemputmu dari sekolah." Dia mengubah
    suaranya menjadi tinggi melengking, "Kalau sekali lagi kau melanggar..."
    Segerombolan anak kelas lima Slytherin tertawa ter-bahak.
    "Weasley akan senang mendapat foto bertanda tangan, Potter," Malfoy
    menyeringai menjengkelkan. "Nilainya lebih tinggi daripada seluruh rumahnya."
    Ron mencabut keluar tongkatnya yang sudah ber- Spellotape, tetapi
    Hermione menutup buku Vakansi dengan Vampir-nya dengan keras dan berbisik,
    "Awas!"
    "Ada apa ini, ada apa ini?" Gilderoy Lockhart ber-jalan mendekati mereka,
    jubah hijau toskanya berkibar di belakangnya. "Siapa yang membagikan foto
    ber-tanda tangan?"
    Harry baru mau menjawab, tapi disela oleh Lockhart yang merangkul
    bahunya dan berkata menggelegar gembira,
    "Mestinya lak perlu tanya. Kita bertemu lagi, Harry!"
    Harry yang terpaksa menempel ke sisi tubuh Lockhart dengan wajah serasa
    terbakar saking malu-nya, melihat Malfoy menyeringai dan menyelinap ke
    dalam kerumunan.
    "Ayo, Mr Creevey," kata Lockhart, tersenyum kepada Colin.
    "Foto kami berdua, biar adil, dan kami berdua akan menandatanganinya
    untukmu."
    Colin geragapan mengangkat kameranya dan me-motret mereka berdua
    tepat ketika bel berbunyi di belakang mereka, menandakan mulainya waktu
    belajar sore hari.



    --------------------------------------- 57

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Ayo, kalian berangkat," seru Lockhart kepada anak-anak yang berkerumun.
    Dia berjalan kembali ke kastil dengan Harryyang ingin sekali menguasai
    mantra melenyapkan dirimasih menempel di sisinya.
    "Dengar nasihatku, Harry," kata Lockhart kebapakan ketika mereka
    memasuki kastil lewat pintu samping. "Aku baru saja melindungimukalau
    Creevey me-motret aku juga, teman- temanmu tidak akan berpikir kau terlalu
    menonjolkan dirimu..."
    Tuli terhadap protes gagap Harry, Lockhart mem-bawanya menyusuri koridor
    yang kanan-kirinya di-penuhi deretan murid, dan menaiki tangga.
    "Kuberitahu kau, membagikan foto bertanda tangan pada tahap kariermu ini
    tidaklah bijaksanakelihatan-nya sok, Harry, terus terang saja. Akan tiba
    waktunya ketika, seperti aku, kau perlu membawa setumpuk foto ke mana pun
    kau pergi, tetapi...," dia terkekeh kecil, "kurasa kau belum sampai ke tahap
    itu."
    Mereka sudah tiba di ruang kelas Lockhart dan akhirnya dia melepaskan
    Harry. Harry menyentakkan dan meluruskan jubahnya dan menuju tempat
    duduk paling belakang di kelas. Dia lalu menyibukkan diri dengan menumpuk
    semua buku Lockhart di depan-nya, supaya ia tak perlu memandang Lockhart
    yang sesungguhnya.
    Anak-anak lain masuk. Ron dan Hermione duduk di kiri- kanan Harry.
    "Kau bisa menggoreng telur di mukamu," kata Ron. "Lebih baik kau berharap
    Creevey tidak bertemu Ginny. Bisa-bisa mereka langsung mendirikan Klub
    Pecinta Harry Potter."
    "Diam," bentak Harry. Hal terakhir yang diingin-kannya adalah Lockhart
    mendengar ungkapan "Klub Pecinta Harry Potter".
    Ketika semua murid sudah duduk, Lockhart ber-deham keras-keras dan
    seluruh kelas diam. Dia men-jangkau ke depan, mengambil buku Tamasya
    dengan Troll milik Neville dan mengangkatnya untuk me-nunjukkan fotonya
    sendiri yang mengedip-ngedip di sampul buku.
    "Aku," katanya seraya menunjuk fotonya dan ikut mengedip juga, "Gilderoy
    Lockhart, Order of Merlin* ) Kelas Ketiga, Anggota Kehormatan Liga Pertahanan
    terhadap Ilmu Hitam, dan lima kali memenangkan kontes Senyum-Paling-
    Menawan Witch Weeklytapi aku * ) Merlin adalah penyihir hebat dan bijaksana
    dalam legenda Raja Arthur. Gelar kehormatan Order of Merlin dianugerahkan
    kepada para penyihir yang berjasa di dunia sihir.
    tidak bicara tentang itu. Aku tidak mengusir Banshee si hantu perempuan
    dengan tersenyum kepadanya!" Dia menunggu anak-anak tertawa. Beberapa
    ter-senyum lemah.
    "Kulihat kalian sudah membeli satu set lengkap bukuku bagus. Kupikir hari
    ini kita akan mulai de-ngan kuis kecil. Tak perlu khawatircuma mengecek
    sejauh mana kalian sudah membacanya, berapa ba-nyak yang sudah kalian
    serap..."
    Sesudah membagikan kertas ulangan, Lockhart kembali ke depan kelas dan
    berkata, "Kalian punya waktu tiga puluh menit. Mulaisekarang!"
    Harry menunduk memandang kertasnya dan mem-baca:
    1. Apa warna favorit Gilderoy Lockhart?



    --------------------------------------- 58

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    2. Apa ambisi rahasia Gilderoy Lockhart?
    3. Apa, menurut pendapatmu, prestasi terbesar Gilderoy Lockhart?
    Semua pertanyaannya semacam itu, tiga halaman penuh, sampai:
    54. Kapankah hari ulang tahun Gilderoy Lockhart, dan hadiah apakah yang
    ideal untuknya?
    Setengah jam kemudian, Lockhart mengumpulkan kertas- kerlas dan
    membuka-bukanya di depan kelas.
    "Ck, ck, ckhampir tak ada yang ingat bahwa warna favoritku ungu,
    Kusebutkan dalam Yakin dengan Yeti. Beberapa dari kalian perlu membaca
    Mengembara dengan Manusia Serigala lebih telitijelas-jelas kusebut-kan di
    bab dua belas bahwa hadiah ulang tahun yang ideal bagiku adalah harmoni di
    antara penyihir dan orang-orang non-penyihir meskipun aku tak akan menolak
    sebotol besar Wiski-Api Tua Ogden!"
    Sekali lagi dia mengedip nakal. Ron sekarang me-natap Lockhart dengan
    ekspresi tak percaya. Seamus Finnigan dan Dean Thomas, yang duduk di depan,
    sampai terguncang berusaha menahan tawa. Hermione, sebaliknya,
    mendengarkan Lockhart dengan penuh perhatian, dan tersentak kaget ketika
    Lockhart menyebut namanya.
    "...tetapi Miss Hermione Granger tahu bahwa ambisi rahasiaku adalah
    membersihkan dunia dari kejahatan dan memasarkan rangkaian produk
    perawatan rambut-ku sendiri anak pintar! Bahkan..." dia membalik ker-tas
    Hermione, "betul semua! Yang mana Miss,. Hermione Granger?"
    Hermione mengangkat tangannya yang gemetar.
    "Luar biasa!" Lockhart tersenyum, "Sungguh luar biasa! Sepuluh angka untuk
    Gryffindor! Nah, kembali ke pelajaran..." Dia menunduk ke belakang mejanya
    dan mengang-kat sangkar besar berselubung ke atasnya.
    "Sekarangawas! Tugaskulah mempersenjatai kalian untuk menghadapi
    makhluk-makhluk paling mengeri-kan yang dikenal di dunia sihir! Kalian
    mungkin akan menghadapi ketakutan terbesar kalian di ruangan ini. Asal tahu
    saja, malapetaka tak akan menimpa kalian selama aku di sini. Yang kuminta
    hanyalah kalian tetap tenang."
    Di luar kemauannya, Harry melongok dari balik buku untuk bisa melihat
    sangkar lebih jelas. Lockhart meletakkan tangannya di atas selubung. Dean dan
    Seamus sudah berhenti tertawa sekarang. Neville gemetar ketakutan di tempat
    duduknya di deretan paling depan.
    "Kuminta kalian jangan menjerit," kata Lockhart dengan suara rendah.
    "Jeritan kalian bisa mem-provokasi mereka."
    Sementara seluruh kelas menahan napas, Lockhart menyentakkan
    selubungnya. "Ya," katanya dramatis. "Pixie Cornwall yang baru ditangkap."
    Seamus Finnigan tak bisa lagi menahan diri. Dia mengeluarkan dengus tawa
    yang bahkan oleh Lockhart sekalipun tak bisa ditafsirkan sebagai jerit
    ketakutan.
    "Ya?" dia tersenyum kepada Seamus. "Eh, mereka tidak
    mereka tidak begituberbahaya, kan?" Seamus tersedak.



    --------------------------------------- 59

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Jangan begitu yakin!" kata Lockhart, menggoyang-goyangkan jari dengan
    menjengkelkan kepada Seamus. "Mereka bisa jadi makhluk pembinasa yang
    sangat licik!"
    Pixie-pixie itu berwarna biru elektrik, tingginya kira-kira dua puluh senti,
    dengan wajah runcing dan suara melengking tinggi, sehingga rasanya seperti
    mendengar serombongan burung parkit yang sedang bertengkar. Begitu
    selubungnya dibuka, mereka mu-lai mengoceh dan meluncur ke sana kemari,
    meng-goyang-goyang jeruji sangkar dan mengernyit- ngernyitkan muka ke anak-
    anak yang ada di dekat mereka.
    "Baiklah," kata Lockhart. "Kita lihat bisa kalian apa-kan mereka!" Dan
    dibukanya sangkar itu.
    Keadaan jadi amat kacau-balau. Pixie-pixie itu me-luncur ke segala jurusan
    seperti roket. Dua di antara-nya memegang telinga Neville dan mengangkatnya
    ke atas. Beberapa di antaranya melesat menerobos jendela, menghujani
    deretan belakang dengah pecahan kaca. Sisanya menghancurkan kelas lebih
    efektif dari-pada serangan badak bercula satu. Mereka menyambar botol-botol
    tinta dan menyemprot kelas dengan tinta-nya, merobek-robek buku-buku dan
    kertas, menarik lepas gambar-gambar dari dinding, membalikkan keranjang-
    keranjang sampah, menyambar tas dan buku-buku dan melemparkannya keluar
    dari jendela yang kacanya pecah. Dalam beberapa menit saja se-paro kelas
    sudah berlindung di bawah meja dan Neville berayun dari kandil di langit-
    langit.
    "Ayo, tangkap mereka, kumpulkan, kumpulkan, me-reka cuma pixie...,"
    Lockhart berteriak-teriak. Dia menggulung lengan jubahnya, melambaikan
    tongkatnya dan berseru,
    "Peskipiksi Pesternomi!"
    Sama sekali tak ada pengaruhnya. Salah satu pixie itu merebut tongkat
    Lockhart dan melemparkannya keluar jendela juga. Lockhart menelan ludah
    dan bersembunyi di bawah mejanya sendiri, nyaris saja gepeng kejatuhan
    Neville, yang terjatuh sedetik kemu-dian karena kandilnya terlepas.
    Bel berbunyi dan semua berebut berlari ke pintu. Dalam ketenangan yang
    menyusul, Lockhart berdiri, melihat Harry, Ron, dun Hermione yang hampir
    sampai di pintu, dan berkata,
    "Nah, kuminta kalian bertiga menangkap sisanya dan memasukkannya kem-
    bali ke dalam sangkar." Dia melewati mereka dan cepat-cepat menutup pintu di
    belakangnya.
    "Kalian percaya dia?" raung Ron kesakitan, ketika salah satu pixie yang
    tersisa menggigit telinganya.
    "Dia cuma ingin memberi kita pengalaman lang-sung," kata Hermione,
    membuat dua pixie tak bisa bergerak dengan Mantra Pembeku dan menjejalkan
    mereka kembali ke dalam sangkar.
    "Pengalaman langsung?" kata Harry, yang berusaha menangkap pixie yang
    menari-nari menjauh dengan lidah terjulur. "Hermione, dia sama sekali tidak
    tahu apa yang dilakukannya."
    "Omong kosong," kata Hermione. "Kau sudah mem-baca buku-bukunyalihat
    saja hal-hal luar biasa yang sudah dilakukannya..."



    --------------------------------------- 60

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Yang katanya sudah dilakukannya," gumam Ron.
    7. Darah-Lumpur Dan Bisikan-Bisikan
    SELAMA beberapa hari sesudahnya, Harry melewat-kan banyak waktu untuk
    menghindar setiap kali me-lihat Gilderoy Lockhart muncul di ujung koridor.
    Yang lebih sulit dihindari adalah Colin Creevey, yang ke-lihatannya telah
    menghafal jadwal Harry. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Colin
    daripada ber-kata, "Baik-baik saja, Harry?" enam atau tujuh kali sehari dan
    mendengar, "Halo, Colin," sebagai balasan-nya, betapa pun jengkelnya Harry
    ketika mengucap-kannya.
    Hedwig masih marah kepada Harry soal perjalanan dengan mobil yang
    mendatangkan malapetaka itu, dan tongkat Ron masih tak bisa digunakan
    dengan benar, bahkan melampaui batas kemampuannya de-ngan meluncur
    lepas dari tangan Ron dalam pelajaran Jimat dan Guna-guna dan memukul
    Profesor Flitwick yang mungil tepat di antara kedua matanya, men-ciptakan
    bisul hijau besar yang berdenyut-denyut. Maka, dengan begitu banyak
    kejadian, Harry cukup senang ketika akhir pekan tiba. Dia, Ron, dan Hermione
    merencanakan akan mengunjungi Hagrid pada hari Sabtu pagi. Meskipun
    demikian, Oliver Wood, kapten tim Quidditch Gryffindor, membangun-kan
    Harry dengan mengguncang-guncang tubuhnya beberapa jam lebih awal dari
    yang dikehendakinya.
    "Adapa?" tanya Harry agak pusing.
    "Latihan Quidditch!" kata Wood, "Ayo!"
    Masih mengantuk Harry memandang lewat jendela. Kabut tipis menggantung
    di langit merah jingga. Se-karang setelah bangun, Harry heran bagaimana dia
    bisa tidur terus padahal burung-burung berkicau begitu ramai.
    "Oliver," kata Harry serak, "masih subuh."
    "Persis," kata Wood. Oliver Wood anak kelas enam yang tinggi besar dan pada
    saat ini, matanya berkilat dengan antusiasme gila-gilaan. "Ini bagian dari pro-
    gram latihan baru kita. Ayo, ambil sapumu dan kita berangkat," kata Wood
    penuh semangat. "Tim yang lain belum ada yang mulai latihan. Kita yang akan
    mulai nomor satu tahun ini...."
    Menguap dan sedikit bergidik kedinginan, Harry turun dari tempat tidurnya
    dan berusaha mencari jubah Quidditch-nya.
    "Bagus," kata Wood. "Kita ketemu di lapangan lima belas menit lagi."
    Setelah menemukan jubah merah tua seragam tim-nya dan memakainya di
    atas jubah biasanya supaya hangat, Harry menulis pesan untuk Ron,
    menjelaskan ke mana dia pergi. la menuruni tangga spiral ke ruang rekreasi
    dengan Nimbus Dua Ribu bertengger di bahunya. Dia baru tiba di lubang lukisan



    --------------------------------------- 61

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    ketika terdengar bunyi berkelontang di belakangnya dan Colin Creevey muncul
    berlarian menuruni tangga spi-ral, kameranya berayun liar di lehernya dan
    tangannya menggenggam sesuatu.
    "Aku dengar ada yang menyebut namamu di tangga, Harry! Lihat nih apa
    yang kubawa! Sudah kucetak, aku ingin menunjukkannya padamu..."
    Harry melongo melihat foto yang dikibar-kibarkan Colin di depan hidungnya.
    Foto hitam-putih Lockhart yang bergerak, sedang menarik kuat-kuat lengan
    yang dikenali Harry sebagai lengannya sendiri. Harry senang melihat fotonya
    me-lawan sekuat tenaga dan menolak ditarik supaya ke-lihatan dalam foto.
    Sementara Harry mengawasi, Lockhart menyerah dan merosot terengah- engah
    pada pinggiran putih foto.
    "Maukah kau menandatanganinya?" tanya Colin pe-nuh semangat.
    "Tidak," kata Harry tegas, melihat berkeliling untuk memastikan ruangan itu
    benar-benar kosong. "Sori, Colin, aku sedang buru-burulatihan Quidditch."
    Harry memanjat keluar lewat lubang lukisan.
    "Oh, wow! Tunggu aku! Aku belum pernah me-nonton Quidditch!" Colin
    merayap keluar lubang mengikutinya. "Kau akan bosan," kata Harry cepat-
    cepat, tetapi Colin mengabaikannya, wajahnya bercahaya saking
    bersemangatnya.
    "Kau pemain termuda selama seratus tahun ini, iya, kan, Harry? Iya, kan?"
    kata Colin, melangkah menjajarinya. "Kau pasti hebat. Aku belum pernah
    terbang. Gampang tidak? Apa itu sapumu sendiri? Apa itu sapu terhebat yang
    pernah ada?" Harry tak tahu bagaimana caranya menyingkirkan Colin.
    Rasanya seperti punya bayangan yang sangat cerewet.
    "Aku sebetulnya tak paham Quidditch," kata Colin tersengal. "Betulkah ada
    empat bola? Dan dua di antaranya terbang berputar-putar berusaha memukul
    jatuh pemain dari sapunya?"
    "Ya," kata Harry enggan, akhirnya menyerah dan menjelaskan peraturan
    Quidditch yang rumit. "Dua bola itu namanya Bludger. Masing-masing tim punya
    dua Beater yang membawa pemukul untuk memukul Bludger jauh-jauh dari tim
    mereka. Fred dan George Weasley adalah Beater Gryffindor."
    "Dan untuk apa bola-bola yang lain?" tanya Colin, hampir jatuh melompati
    dua anak tangga sekaligus karena terpesona memandang Harry.
    "Quafflebola besar yang merahadalah bola yang mencetak gol. Tiga
    Chaser dari masing-masing tim saling lempar Quaffle dan berusaha
    memasukkannya ke tiang gol di ujung lapanganada tiga tiang tinggi dengan
    lingkaran di puncaknya."
    "Dan bola keempat..."
    "...itu yang namanya Golden Snitch," kata Harry. "Bola ini sangat kecil,
    sangat cepat, dan sulit di-tangkap. Tapi itulah tugas Seeker, karena
    pertandingan Quidditch tidak berakhir sampai Snitch-nya berhasil ditangkap.
    Dan tim yang Seeker- nya berhasil me-nangkap Snitch mendapat tambahan
    angka seratus lima puluh."
    "Dan kau Seeker Gryffindor, kan?" kata Colin ter-pesona.
    "Ya," kata Harry, ketika mereka meninggalkan kastil dan berjalan di atas
    rumput berembun. "Dan masih ada Keeper. Dia menjaga gawang. Hanya itu."



    --------------------------------------- 62

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tetapi Colin tidak berhenti menanyai Harry se-panjang jalan dari padang
    rumput yang melandai sampai ke lapangan Quidditch, dan Harry baru ber-hasil
    lepas darinya ketika tiba di kamar ganti. Colin berteriak dengan suara
    melengking, "Aku akan cari tempat duduk yang enak, Harry!" dan bergegas ke
    tribune.
    Anggota tim Gryffindor lainnya sudah ada di dalam kamar ganti. Wood satu-
    satunya yang betul-betul ter-jaga. Fred dan George Wesley duduk dengan mata
    sembap dan rambut awut- awutan di sebelah anak kelas empat, Alicia Spinnet,
    yang terkantuk-kantuk bersandar ke dinding di belakangnya. Teman sesama
    Chaser-nya, Katie Bell dan Angelina Johnson, duduk bersebelahan di hadapan
    mereka. Keduanya menguap.
    "Akhirnya muncul juga kau, Harry, kenapa sih lama benar?" tanya Wood
    tajam. "Nah, aku ingin bicara sebentar dengan kalian semua sebelum kita ke la-
    pangan, karena aku melewatkan musim panas dengan menciptakan program
    latihan baru, yang kurasa akan membuat perbedaan besar..." Wood memegang
    diagram besar lapangan Quidditch. Pada diagram itu tergambar banyak garis,
    panah, dan tanda silang dengan tinta berbeda warna. Dia mengambil
    tongkatnya, mengetuk papan, dan panah-panah itu mulai bergerak meliuk di
    atas papan seperti ulat. Sementara Wood berpidato tentang taktik barunya,
    kepala Fred Weasley terkulai ke bahu Alicia Spinnet dan dia mulai mendengkur.
    Perlu hampir dua puluh menit untuk menjelaskan papan pertama, tetapi ada
    papan lain di bawahnya, dan papan ketiga di bawah yang kedua itu. Harry
    serasa melayang sementara Wood terus mengoceh membosankan.
    "Nah," kata Wood akhirnya, mengagetkan Harry yang sedang berkhayal apa
    yang bisa dimakannya untuk sarapan di kastil saat ini. "Sudah jelas? Ada
    pertanyaan?"
    "Aku mau tanya, Oliver," kata George, yang terba-ngun kaget. "Kenapa sih
    kau tidak menjelaskan semua ini kepada kami kemarin sewaktu kami masih
    segar?"
    Wood tidak senang.
    "Dengar, kalian semua," katanya, mendelik galak kepada mereka, "kita
    seharusnya memenangkan Piala Quidditch tahun lalu. Kita kan tim yang paling
    kuat. Tetapi sayangnya, karena situasi di luar kontrol..."
    Harry merasa bersalah. Dia terbaring pingsan di rumah sakit selama
    pertandingan final tahun ajaran lalu, yang berarti Gryffindor kekurangan satu
    pemain dan menderita kekalahan paling parah dalam tiga ratus tahun terakhir.
    Wood berusaha menguasai diri. Kekalahan terakhir mereka jelas masih
    membuatnya tersiksa.
    "Maka tahun ini, kita berlatih lebih keras dari se-belumnya... Oke, ayo
    berangkat dan mempraktekkan teori baru tadi!" Wood berteriak, menyambar
    sapunya dan mendahului keluar dari kamar ganti. Dengan kaki kaku dan masih
    menguap, anggota timnya mengikuti.
    Agaknya mereka berada di dalam kamar ganti lama sekali, sehingga matahari
    sudah benar-benar terbit sekarang, meskipun sisa-sisa kabut masih melayang di
    atas rumput stadion. Ketika Harry berjalan ke lapangan, dia melihat Ron dan
    Hermione duduk di tribune.



    --------------------------------------- 63

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kalian belum selesai?" tanya Ron heran.
    "Mulai saja belum," kata Harry, memandang iri pada roti panggang berselai
    yang dibawa Ron dan Hermione dari Aula Besar. "Wood tadi mengajari kami
    taktik baru."
    Harry naik ke sapunya dan menjejak tanah, me-lesat ke udara. Udara pagi
    yang sejuk menerpa wajah-nya, membangunkannya jauh lebih efektif daripada
    pidato panjang Wood. Asyik rasanya kembali ke la-pangan Quidditch. Dia
    terbang mengelilingi stadion dengan kecepatan penuh, berlomba dengan Fred
    dan George.
    "Bunyi ceklak-ceklik aneh apa itu?" seru Fred ketika mereka meluncur dengan
    cepat di sudut stadion.
    Harry memandang ke tribune. Colin duduk di salah satu tempat duduk yang
    paling tinggi, kameranya terangkat, tak putus-putusnya memotret, bunyinya di-
    perbesar secara aneh di stadion kosong itu.
    "Lihat sini, Harry! Ke arah sini!" teriaknya nyaring.
    "Siapa itu?" tanya Fred.
    "Entahlah," Harry berbohong, menambah kecepatan yang membawanya
    sejauh mungkin dari Colin.
    "Ada apa sih?" tanya Wood, mengerutkan kening, seraya meluncur di udara
    menuju mereka. "Kenapa anak kelas satu itu memotret? Aku tidak suka. Siapa
    tahu dia mata-mata Slytherin, mencoba mencari tahu tentang program latihan
    baru kita."
    "Dia anak Gryffindor," kata Harry cepat-cepat.
    "Dan tim Slytherin tidak perlu mata-mata, Oliver," kata George.
    "Kenapa kau bilang begitu?" kata Wood curiga.
    "Karena mereka sendiri ada di sini," kata George,-menunjuk. Beberapa anak
    berjubah hijau berjalan memasuki lapangan, dengan sapu di tangan. "Aku tidak
    percaya!" Wood mendesis berang. "Aku sudah pesan lapangan untuk hari ini!
    Coba kita lihat!"
    Wood menukik ke tanah, mendarat lebih keras dari-pada yang diinginkan
    dalam kemarahannya. Dia ter-huyung sedikit ketika turun dari sapunya. Harry,
    Fred, dan George mengikuti.
    "Flint!" Wood berteriak kepada kapten Slytherin. "Ini waktu latihan kami!
    Kami khusus bangun pagi! Kalian menyingkir dulu!"
    Marcus Flint bahkan lebih besar daripada Wood. Wajahnya licik seperti troll
    ketika dia menjawab, "Ada banyak tempat untuk kita semua, Wood."
    Angelina, Alicia, dan Katie juga sudah mendekat. Tak ada anak perempuan
    di tim Slytherinyang ber-diri berdempetan bahu, menghadapi tim Gryffindor.
    Mereka saling lirik.
    "Tapi aku sudah memesan lapartgan!" kata Wood, marah sekali. "Sudah
    kupesan!" "Ah," kata Flint, "tapi aku bawa surat izin khusus dengan tanda
    tangan dari Profesor Snape. Aku, Profesor S. Snape, memberi izin tim Slytherin
    untuk berlatih hari ini di lapangan Quidditch, mengingat perlunya melatih
    Seeker baru mereka."
    "Kalian punya Seeker baru?" kata Wood, perhatian-nya teralih. "Mana?"



    --------------------------------------- 64

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dan dari belakang enam anak bertubuh besar itu muncul anak ketujuh yang
    lebih kecil, wajahnya yang pucat dan runcing dihiasi seringai lebar. Draco
    Malfoy.
    "Bukankah kau anak Lucius Malfoy?" tanya Fred, memandang Malfoy dengan
    benci.
    "Lucu juga kau menyebut-nyebut ayah Draco," kata Flint, ketika seluruh tim
    Slytherin menyeringai semakin lebar. "Biar kutunjukkan kepada kalian hadiah
    yang dengan murah hati diberikannya kepada tim Slytherin."
    Ketujuh anak itu mengacungkan sapu mereka. Tujuh gagang baru dengan
    polesan berkilat dan tujuh tulisan emas berbunyi "Nimbus Dua Ribu Satu"
    berkilau cemerlang tertimpa cahaya matahari pagi di depan hidung tim
    Gryffindor.
    "Model paling akhir. Baru keluar tahun lalu," kata Flint sambil lalu,
    menjentik setitik debu dari ujung sapunya. "Jauh lebih unggul dari seri Nimbus
    Dua Ribu. Sedangkan Sapu- bersih yang tua," dia tersenyum menyebalkan pada
    Fred dan George, yang dua-duanya memegang Sapu-bersih Lima,
    "paling cocok untuk menyapu lantai."
    Tak seorang pun dari tim Gryffindor bisa bicara selama beberapa saat.
    Malfoy menyeringai lebar sekali, sampai matanya tinggal segaris.
    "Oh, lihat," kata Flint. "Penyerbuan lapangan." Ron dan Hermione
    menyeberangi lapangan rumput, ingin tahu apa yang terjadi. "Ada apa?" Ron
    menanyai Harry. "Kenapa kau tidak main? Dan apa yang dia lakukan di sini?" Ron
    memandang Malfoy, melihat jubah seragam Quidditch Slytherin-nya.
    "Aku Seeker baru Slytherin, Weasley," kata Malfoy sombong. "Semua sedang
    mengagumi sapu baru tim kami yang dibelikan ayahku."
    Ron ternganga memandang tujuh sapu super di depannya.
    "Bagus, kan?" kata Malfoy lancar. "Tapi mungkin tim Gryffindor bisa
    mengumpulkan emas dan membeli sapu baru juga. Kau bisa melelang Sapu-
    bersih Lima. Kurasa ada museum yang mau menawarnya."
    Tim Slytherin tertawa terbahak-bahak.
    "Paling tidak, tak seorang pun anggota tim Gryffindor yang harus menyuap
    untuk bisa masuk," celetuk Hermione tajam.
    "Mereka dipilih karena me-mang mampu."
    Kepuasan di wajah Malfoy lenyap. "Tak ada yang minta pendapatmu, Darah-
    lumpur kotor," umpatnya.
    Harry langsung tahu Malfoy telah mengatakan se-suatu yang benar-benar
    kelewatan karena tiba-tiba saja terjadi kelibutan. Flint harus menukik ke
    depan Malfoy untuk mencegah Fred dan George melompat menyerangnya.
    Alicia berteriak, "Berani-beraninya kau!" Dan Ron memasukkan tangannya ke
    dalam jubah, menarik keluar tongkatnya, sambil berteriak, "Kau harus
    membayarnya, Malfoy!" Dia mengacung-kan tongkatnya dengan murka,
    melewati lengan Flint, ke wajah Malfoy.
    Terdengar ledakan keras yang bergema di stadion dan seberkas sinar hijau
    meluncur dari ujung tongkat-nya yang salah, menyambar perut Ron sendiri dan
    membuatnya jatuh terjengkang di rerumputan.
    "Ron! Ron! Kau tak apa-apa?" jerit Hermione.



    --------------------------------------- 65

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ron membuka mulut untuk bicara, tetapi tak ada suara yang keluar. Dia
    malah bersendawa keras dan beberapa siput berjatuhan dari mulutnya ke
    pangkuan-nya.
    Tim Slytherin tertawa terbahak-bahak. Flint sampai terbungkuk-bungkuk,
    bertumpu pada sapu barunya. Malfoy merangkak, memukul-mukul tanah
    dengan tinjunya. Anak- anak Gryffindor berkerumun menge-lilingi Ron, yang
    tak henti- hentinya bersendawa siput-siput besar berkilat. Tak seorang pun
    tampaknya mau menyentuh Ron.
    "Lebih baik kita membawanya ke pondok Hagrid, yang paling dekat," kata
    Harry kepada Hermione, yang mengangguk dengan berani. Berdua mereka me-
    mapah Ron.
    "Ada apa, Harry? Ada apa? Apa dia sakit? Tapi kau bisa menyembuhkannya,
    kan?" Colin sudah berlari turun dari tempat duduknya dan sekarang berjalan
    mengiringi mereka meninggalkan lapangan. Ron bersendawa keras dan
    beberapa siput berjatuhan lagi dari mulutnya. "Oooh," kata Colin terpesona dan
    mengangkat kameranya. "Bisakah kaupegangi dia, Harry?"
    "Minggir, Colin!" kata Harry marah. Dia dan Hermione membantu Ron
    meninggalkan stadion dan menyeberang halaman menuju ke tepi hutan.
    "Hampir sampai, Ron," kata Hermione, ketika pon-dok si pengawas binatang
    liar tampak. "Kau akan baik sebentar lagi... hampir sampai..."
    Mereka sudah tinggal kita-kira enam meter dari pondok Hagrid ketika
    pintunya terbuka, tetapi bukan Hagrid yang muncul. Gilderoy Lockhart,
    memakai jubah lembayung muda hari ini, keluar.
    "Cepat, ke belakang sini," desis Harry, menarik Ron ke belakang semak di
    dekat situ. Hermione mengikuti, dengan agak enggan.
    "Gampang kalau kau tahu caranya!" Lockhart ber-kata keras-keras kepada
    Hagrid. "Kalau perlu ban-tuan, kau tahu di mana aku! Kuberi kau nanti satu
    bukukuaku heran kau sama sekali belum punya. Akan kutandatangani satu
    malam ini dan kukirim ke sini. Nah, selamat tinggal!" Dan dia berjalan menuju
    kastil.
    Harry menunggu sampai Lockhart tak kelihatan lagi. Kemudian ditariknya
    Ron dari balik semak dan dibawanya ke pintu depan pondok Hagrid. Mereka
    mengetuk dengan tegang. Hagrid segera muncul, kelihatan jengkel sekali, te-
    tapi wajahnya berubah cerah setelah tahu siapa yang datang.
    "Sudah tanya-tanya kapan kalian datang tengok aku
    masuk, masukkukira Profesor Lockhart balik lagi."
    Harry dan Hermione memapah Ron masuk ke pon-dok satu-ruangan itu. Di
    satu sudutnya ada tempat tidur besar sekali, dan di sudut lainnya perapian
    yang menyala-nyala cerah. Hagrid tidak bingung men-dengar masalah Ron, yang
    cepat-cepat dijelaskan Harry sambil mendudukkan Ron di kursi.
    "Lebih baik keluar daripada masuk," kata Hagrid riang sambil menaruh
    baskom tembaga besar di depan Ron.
    "Keluarkan semua, Ron."
    "Kurasa tak ada yang bisa kita lakukan selain me-nunggu sampai berhenti
    sendiri," kata Hermione ce-mas, mengawasi Ron yang membungkuk di atas bas-



    --------------------------------------- 66

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    kom. "Itu kutukan yang sulit dilakukan bahkan pada saat kondisi kita sedang
    sangat baik, tapi dengan tongkat yang patah..."
    Hagrid sibuk membuatkan teh untuk mereka. Anjing besarnya, Fang,
    menjilat-jilat Harry.
    "Apa yang diinginkan Lockhart darimu, Hagrid?" tanya Harry sambil
    menggaruk-garuk belakang telinga Fang.
    "Beri aku nasihat keluarkan kelpie dari sumur," geram Hagrid. Dia
    menyingkirkan ayam jantan yang se-tengah dicabuti bulunya dari atas mejanya
    yang bersih berkilat dan meletakkan teko teh. Kelpie adalah hantu air,
    biasanya berwujud kuda, dalam cerita-cerita rakyat Skotlandia. "Dikira aku tak
    tahu. Dan dia sombongkan bisa usir Banshee. Kalau omongannya satu kata saja
    benar, kumakan ceretku."
    Tidak biasanya Hagrid mengkritik guru Hogwarts dan Harry memandangnya
    keheranan. Hermione, se-baliknya, berkata dengan suara yang lebih tinggi dari
    biasanya, "Kurasa kau agak tidak adil. Profesor Dumbledore jelas
    menganggapnya orang terbaik untuk pekerjaannya..."
    "Dia satu-satunya orang untuk pekerjaan itu," kata Hagrid, menawari mereka
    sepiring gulali, sementara Ron terbatuk- batuk ke dalam baskomnya. "Dan
    maksudku betul-betul satu- satunya. Susah cari orang untuk ngajar Pertahanan
    terhadap Ilmu Hitam. Orang tak suka pelajari itu, soalnya. Mereka mulai pikir
    itu bawa sial. Tak ada yang tahan lama. Coba cerita," kata Hagrid,
    mengedikkan kepala ke arah Ron, "siapa yang dia mau kutuk?"
    "Malfoy mengatai Hermione sesuatu. Pastilah se-suatu yang buruk, karena
    semua jadi marah."
    "Memang buruk," kata Ron serak, muncul ke atas meja, pucat dan
    berkeringat. "Malfoy mengatai dia 'darah-lumpur', Hagrid..."
    Ron menukik menghilang dari pandangan lagi ke-tika segerombolan siput
    muncul. Hagrid kelihatan murka.
    "Dia bilang begitu?" geramnya kepada Hermione. "Ya," kata Hermione.
    "Tetapi aku tak tahu apa maksudnya. Hanya bisa kutebak itu umpatan kasar..."
    "Itu penghinaan paling besar yang bisa dipikirkan-nya," sengal Ron, muncul
    lagi. "Darah-lumpur adalah umpatan kasar untuk orang yang kelahiran-Muggle
    kau tahu, kan, yang orangtuanya bukan penyihir. Ada penyihirseperti keluarga
    Malfoyyang menganggap mereka lebih baik dari yang lain karena mereka
    termasuk golongan yang disebut darah-murni." Ron bersendawa kecil, dan satu
    siput jatuh ke tangan-nya yang terulur. Dilemparkannya siput itu ke dalam
    baskom dan dia melanjutkan, "Maksudku, kita, pe-nyihir yang lain, tahu itu
    tidak ada pengaruhnya sama sekali. Lihat saja Neville Longbottomdia darah-
    murni, tapi menaruh kuali dengan benar saja dia nyaris tak bisa."
    "Dan mereka belum temukan mantra yang tak bisa dilakukan Hermione kita
    ini," kata Hagrid bangga, membuat wajah Hermione langsung semburat merah.
    "Darah-lumpur sungguh umpatan yang tak pantas diucapkan," kata Ron,
    menyeka dahinya yang ber-keringat dengan tangan gemetar. "Darah kotor,
    artinya. Darah biasa. Gila. Sebagian besar penyihir sekarang ini toh berdarah-
    campuran. Kalau kita tidak menikah dengan Muggle, kita pasti sudah punah."
    Ron membungkuk dan muntah lagi.



    --------------------------------------- 67

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Yah, aku tidak salahkan kau, kaucoba kutuk dia, Ron," kata Hagrid keras,
    mengatasi bunyi siput yang berjatuhan ke baskom. "Tapi mungkin ada baiknya
    tongkatmu serang balik kau sendiri. Pasti Lucius Malfoy akan datang ke sekolah
    kalau kau berhasil kutuk anaknya. Dengan begini paling tidak kau tidak
    dihukum."
    Harry sebetulnya ingin mengatakan bahwa hu-kuman tidak lebih buruk
    daripada hujan siput dari mulut, tapi dia tak bisa bicara. Gulali Hagrid telah
    menyemen rapat rahangnya.
    "Harry," kata Hagrid tiba-tiba, seakan mendadak teringat sesuatu. "Aku
    protes. Kudengar kau bagi-bagikan foto bertanda langan. Kenapa aku tidak di-
    kasih?"
    Dengan berang, Harry melepas gigi-giginya yang menempel. "Aku tidak
    membagikan foto bertanda tangan," kata-nya marah. "Kalau Lockhart masih
    ngomong soal..."
    Tetapi kemudian dilihatnya Hagrid tertawa.
    "Aku cuma bergurau," katanya, menepuk-nepuk punggung Harry dengan
    riang, membuat wajah Harry terantuk meja.
    "Aku tahu kau tidak bagikan foto. Aku bilang Lockhart kau tak perlu begitu.
    Kau sudah lebih terkenal dari dia tanpa berusaha."
    "Pasti dia tidak suka mendengarnya," kata Harry duduk tegak lagi dan
    menggosok-gosok dagunya.
    "Memang tidak," kata Hagrid, matanya bercahaya. "Lalu aku bilang aku
    belum pernah baca bukunya dan dia putuskan pergi saja. Gulali, Ron?" dia me-
    nambahkan ketika Ron muncul lagi.
    "Tidak, terima kasih," kata Ron lemah. "Lebih baik tidak ambil risiko."
    "Ayo, kita lihat apa yang kutanam," ajak Hagrid ketika Harry dan Hermione
    sudah menghabiskan teh mereka.
    Di kebun sayur kecil di belakang pondok Hagrid ada selusin labu kuning
    paling besar yang pernah dilihat Harry. Masing- masing sebesar gundukan batu
    besar.
    "Tumbuh bagus, ya," kata Hagrid gembira. "Buat pesta Hallowe'en... sudah
    cukup besar nanti." "Kauberi makan apa mereka?" tanya Harry.
    Hagrid menoleh untuk memastikan mereka sen-dirian.
    "Yah, aku memberi merekakau tahusedikit ban-tuan." Harry melihat
    payung merah jambu kembang-kembang Hagrid bersandar di dinding belakang
    pon-dok. Harry punya alasan untuk menduga bahwa pa-yung ini bukan payung
    biasa. Malah dia punya dugaan kuat tongkat tua Hagrid dari zaman sekolah
    disembunyikan di dalamnya. Hagrid sebetulnya tidak boleh menggunakan sihir.
    Dia dikeluarkan dari Hogwarts dalam tahun ketiganya, tetapi Harry belum
    berhasil tahu kenapa. Setiap kali menyebut soal itu, Hagrid akan berdeham
    keras-keras dan jadi tuli secara misterius sampai topik pembicaraan diubah.
    "Jampi-jampi Pembengkakan, kan?" kata Hermione, setengah mencela,
    setengah geli. "Wah, kau berhasil sekali."
    "Itu yang dikatakan adikmu," kata Hagrid, mengangguk kepada Ron. "Baru
    ketemu dia kemarin." Hagrid melirik Harry, jenggotnya bergerak-gerak.
    "Katanya dia cuma mau lihat-lihat, tapi kukira dia harap ketemu seseorang di



    --------------------------------------- 68

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    rumahku." Dia mengedip kepada Harry. "Kalau kau tanya aku, dia tidak akan
    tolak foto bertanda tangan..."
    "Oh, tutup mulut," kata Harry. Ron terbahak dan siput berhamburan ke
    tanah. "Awas!" teriak Hagrid, menarik Ron menjauh dari labu kuningnya yang
    sangat berharga. Saat itu sudah hampir makan siang dan karena Harry baru
    makan sepotong kecil gulali, dia sudah ingin kembali ke sekalah untuk makan.
    Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Hagrid dan ber-jalan kembali ke
    kastil. Ron cegukan dari waktu ke waktu, tetapi hanya mengeluarkan dua siput
    yang sangat kecil.
    Baru saja mereka melangkah memasuki Aula Depan yang sejuk, terdengar
    suara keras. "Di sini rupanya kalian, Potter, Weasley." Profesor McGonagall
    berjalan mendekati mereka, tampangnya galak. "Kalian berdua akan menjalani
    detensi malam ini."
    "Apa yang harus kami lakukan, Profesor?" kata Ron, dengan gugup menahan
    agar tidak bersendawa.
    "Kau akan menggosok perak di ruang piala dengan Mr Filch," kata Profesor
    McGonagall. "Dan dilarang pakai sihir, Weasleypakai pelumas biasa."
    Ron menelan ludah. Argus Filch, si penjaga sekolah, dibenci semua murid.
    "Dan kau, Potter, akan membantu Profesor Lockhart menjawab surat-surat
    penggemarnya," kata Profesor McGonagall.
    "Oh, tidakbolehkah saya ke ruang piala saja?" tanya Harry putus asa.
    "Jelas tidak," kata Profesor McGonagall, alisnya ter-angkat.
    "Profesor Lockhart khusus memintamu. Pukul delapan tepat, jangan
    terlambat."
    Harry dan Ron berjalan gontai dan murung ke Aula Besar. Hermione di
    belakang mereka, ekspresi wajahnya seakan mengatakan kalian-memang-
    melanggar-peraturan-sekolah. Harry kehilangan nafsu makannya saat dia
    menghadapi pai dagingnya. Dia dan Ron beranggapan detensi masing-masing
    lebih berat dari yang lain.
    "Filch akan mengawasiku sepanjang malam," keluh Ron.
    "Tak boleh pakai sihir! Paling sedikit ada seratus piala dalam ruangan itu.
    Aku parah kalau mem-bersihkan memakai cara Muggle."
    "Aku mau tukar kapan saja," kata Harry hampa. "Aku sudah terlatih dengan
    keluarga Dursley. Men-jawab surat-surat penggemar Lockhart... mengerikan
    sekali...."
    Sabtu sore berlalu dengan cepat, dan tiba-tiba saja sudah pukul delapan
    kurang lima menit. Harry me-nyeret kakinya sepanjang koridor lantai dua
    menuju kantor Lockhart. Dia mengertakkan gigi dan mengetuk.
    Pintu langsung terbuka. Lockhart tersenyum kepada-nya.
    "Ah, ini dia...!" katanya. "Masuk, Harry masuk."
    Berkilauan di dinding disinari cahaya banyak lilin, berderet tak terhitung
    foto Lockhart. Beberapa di antaranya bahkan ditandatanganinya. Setumpuk
    tinggi lainnya ada di mejanya.
    "Kau boleh menulis alamat di amplopnya!" kata Lockhart kepada Harry,
    seakan ini sesuatu yang sangat menyenangkan.
    "Yang pertama ini untuk Gladys Gudgeonpenggemar beratku."



    --------------------------------------- 69

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Waktu berlalu amat lambat. Harry membiarkan saja Lockhart ngoceh sendiri,
    kadang-kadang saja dia me-nimpali dengan, "Mmm," dan "Baik," dan "Yeah."
    Sekali-sekali dia mendengar ungkapan seperti, "Ke-tenaran itu seperti teman
    yang berubah-ubah, Harry," atau "Selebriti jadi selebriti kalau bersikap seperti
    se-lebriti, ingat itu."
    Lilin-lilin terbakar makin lama makin pendek, mem-buat cahayanya menari-
    nari di atas banyak wajah Lockhart yang memandangnya. Harry menggerakkan
    tangannya yang pegal di atas amplop yang rasanya sudah keseribu, menulis
    alamat Veronica Smethley. Pasti sudah hampir tiba waktunya pulang, pikir
    Harry merana, mudah-mudahan segera tiba waktu pulang....
    Dan kemudian dia mendengar sesuatusesuatu yang lain daripada desis lilin-
    lilin yang hampir padam dan ocehan Lockhart tentang penggemarnya.
    Ada suara, suara yang bisa membekukan tulang sumsum, suara penuh
    kebencian, sedingin es.
    "Sini... datanglah padaku... biar kurobek kau... biar kubunuh kau..."
    Harry tersentak kaget dan setetes besar tinta ungu muncul di alamat
    Veronica Smethley.
    "Apa?" katanya keras-keras.
    "Aku tahu!" kata Lockhart. "Enam bulan penuh di puncak tangga bestseller!
    Memecahkan semua rekor!" "Bukan," kata Harry kalut. "Suara tadi!" "Maaf?" kata
    Lockhart, kelihatan bingung. "Suara apa?
    "Susuara yang mengatakanapakah Anda tidak mendengarnya?" Lockhart
    memandang Harry dengan amat heran. "Apa yang kaubicarakan, Harry? Mungkin
    kau sudah mengantuk? Astaganyaris tengah malam! "Kita sudah di sini hampir
    empat jam! Aku tak percaya waktu berlalu bagai terbang, ya?"
    Harry tidak menjawab. Dia menajamkan telinga untuk mendengar suara itu
    lagi, tapi sekarang yang terdengar hanyalah suara Lockhart memberitahunya
    bahwa dia tak boleh mengharapkan hadiah me-nyenangkan seperti ini setiap
    kali dia mendapat detensi. Harry pulang dengan linglung.
    Sudah larut sekali sehingga ruang rekreasi Gryffindor sudah hampir kosong.
    Harry langsung ke kamarnya. Ron belum kembali. Harry memakai piama-nya
    naik ke atas tempat tidur, dan menanti. Setengah jam kemudian Ron pulang,
    memijat- mijat lengan kanannya dan membawa bau pelitur ke dalam kamar
    yang gelap.
    "Ototku sakit semua," keluh Ron, menjatuhkan diri ke tempat tidurnya.
    "Empat belas kali aku harus menggosok Piala Quidditch itu sebelum dia puas.
    Dan kemudian aku dapat serangan siput lagi, me-muntahi Penghargaan
    Istimewa untuk Pengabdian ke-pada Sekolah. Lama sekali lendirnya baru bisa
    bersih. Bagaimana dengan Lockhart?"
    Dengan suara rendah agar tidak membangunkan Neville, Dean, dan Seamus,
    Harry menceritakan ke-pada Ron apa yang didengarnya.
    "Dan Lockhart bilang dia tidak bisa mendengarnya?" kata Ron. Dalam cahaya
    bulan Harry bisa melihat kening Ron berkerut. "Apakah menurutmu dia bo-
    hong? Tapi aku tidak mengertibahkan orang yang tidak kelihatan pirn harus
    membuka pintu."



    --------------------------------------- 70

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Aku tahu," kata Harry, kembali berbaring di tempat tidur besarnya dan
    memandang langit-langit kelambu. "Aku juga tidak mengerti."
    8. Hari Ulang Tahun Kematian
    OKTOBER tiba, menyebar hawa dingin dan lembap di halaman dan ke dalam
    kastil. Madam Pomfrey, matron rumah sakit, disibukkan oleh wabah flu yang
    mendadak berjangkit di antara para staf dan murid-murid. Ramuan
    Mericamujarab-nya manjur sekali, meskipun yang meminumnya jadi
    mengeluarkan asap dari telinga selama beberapa jam sesudahnya. Ginny
    Weasley, yang sudah kelihatan pucat dan lesu, dipaksa minum oleh Percy. Asap
    yang bergulung dari bawah rambutnya memberi kesan bahwa seluruh kepalanya
    sedang terbakar.
    Tetes-tetes air sebesar peluru memberondong jendela- jendela kastil selama
    berhari-hari, air danau naik, petak-petak bunga berubah menjadi kolam lum-
    pur dan labu-labu kuning Hagrid membengkak men-jadi sebesar gudang alat-
    alat berkebun. Meskipun demikian, semangat Oliver Wood untuk tetap berlatih
    secara teratur tidaklah menyusut. Itulah sebabnya Harry, pada suatu Sabtu
    berbadai beberapa hari se-belum Hallowe'en, kembali ke Gryffindor dalam ke-
    adaan basah kuyup dan berlumur lumpur.
    Bahkan tanpa hujan dan angin, latihan mereka tadi bukan sesi yang
    menyenangkan. Fred dan George, yang sudah memata-matai tim Slytherin,
    telah melihat sendiri kecepatan Nimbus Dua Ribu Satu. Mereka melaporkan
    bahwa tim Slytherin menjadi tak lebih dari tujuh bayangan kehijauan,
    meluncur membelah udara secepat jet.
    Ketika Harry melangkah hati-hati sepanjang koridor kosong, dilihatnya ada
    yang tampaknya sedang ba-nyak pikiran seperti dirinya. Nick si Kepala-Nyaris-
    Putus, hantu Menara Gryffindor, sedang menatap mu-rung ke luar jendela,
    bergumam lirih,
    "...tidak me-menuhi persyaratan... satu senti, seandainya itu..."
    "Halo, Nick," sapa Harry.
    "Halo, halo," kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus, ter-kejut dan menoleh. Dia
    memakai topi bulu indah di atas rambutnya yang ikal panjang, dan tunik
    dengan kerah rimpel, yang menyembunyikan fakta bahwa lehernya nyaris
    terpotong total. Dia sepucat asap, dan Harry bisa melihat menembusnya ke
    langit yang gelap dan hujan lebat di luar.
    "Kelihatannya kau sedang punya masalah, Potter," kata Nick, seraya melipat
    sehelai surat transparan dan menyelipkannya ke dalam saku baju ketatnya.
    "Kau juga," kata Harry.
    "Ah," Nick si Kepala-Nyaris-Putus melambaikan ta-ngannya yang indah.
    "Masalah kecil... bukannya aku ingin sekali ikut... kupikir aku mengajukan



    --------------------------------------- 71

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    permohonan, tetapi rupanya aku 'tidak memenuhi persyaratan'." Walaupun
    nada bicaranya ringan, wajahnya me-nyiratkan kekecewaan besar.
    "Tapi kau akan berpendapat," katanya mendadak, menarik keluar lagi
    suratnya dari dalam sakunya, "bahwa dihantam empat puluh lima kali di leher
    dengan kapak tumpul akan membuatmu memenuhi syarat untuk ikut Perburuan
    Tanpa- Kepala, kan?"
    "Ohya," kata Harry, yang tahu ia diharapkan berkata ya.
    "Maksudku, tak ada yang lebih berharap dari aku sendiri bahwa pemenggalan
    itu berlangsung cepat dan mulus, dan kepalaku putus total. Maksudku, aku jadi
    tak perlu lama menderita sakit dan diolok-olok terus. Meskipun demikian..."
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus mengibaskan suratnya hingga terbuka dan mem-
    bacanya dengan berang,
    "Kami hanya dapat menerima pemburu yang kepala-nya sudah terpisah dari
    tubuhnya. Anda tentu me-mahami bahwa kalau keadaannya tidak begitu, para
    anggota tidak akan bisa berpartisipasi dalam kegiatan perburuan seperti
    Lempar- Kepala dari Punggung Kuda dan Polo Kepala. Karena itu dengan amat
    menyesal, saya harus menginformasikan kepada Anda bahwa Anda tidak
    memenuhi persyaratan kami. Dengan segala hor-mat, Sir Patrick Delaney-
    Podmore."
    Marah-marah, Nick si Kepala-Nyaris-Putus menying-kirkan suratnya.
    "Satu senti kulit dan otot menahan kepalaku, Harry! Kebanyakan orang akan
    berpendapat itu sudah sama dengan terpenggal, tetapi oh tidak, itu belum
    cukup bagi Sir 'Pala Putus-Podmore."
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan
    kemudian berkata, dengan suara yang jauh lebih tenang, "Jadiapa yang me-
    nyusahkanmu? Ada yang bisa kubantu?"
    "Tidak," kata Harry. "Tidak, kecuali kau tahu di mana kami bisa mendapatkan
    tujuh Nimbus Dua Ribu Satu gratis untuk pertandingan kami menghadapi Sly..."
    Sisa kalimat Harry tertelan oleh meongan yang melengking nyaring di dekat
    mata kakinya. Dia me-nunduk dan berpandangan dengan sepasang mata kuning
    yang menyorot bagai senter. Mrs Norris, kucing kurus abu-abu yang digunakan
    oleh si penjaga sekolah, Argus Filch, sebagai semacam wakilnya, dalam
    pertarungan tanpa henti melawan murid-murid.
    "Lebih baik kau cepat pergi dari sini, Harry," kata Nick buru-buru. "Filch
    sedang marah-marah terus. Dia kena flu dan beberapa anak kelas tiga tanpa
    sengaja mengotori seluruh langit-langit ruang bawah tanah nomor lima dengan
    otak kodok. Dia mem-bersihkannya dari pagi dan kalau dia melihatmu menetes-
    neteskan lumpur di mana-mana..."
    "Betul," kata Harry, mundur menghindar dari pan-dangan menuduh Mrs
    Norris, tetapi tak cukup cepat. Tertarik ke tempat itu oleh kekuatan misterius
    yang kelihatannya menghubungkannya dengan kucingnya yang menyebalkan,
    Argus Filch mendadak muncul dari permadani gantung di sebelah kanan Harry,
    men-desah-desah dan memandang liar berkeliling mencari si pelanggar aturan.
    Syal kotak-kotak tebal diikatkan ke kepalanya, dan hidungnya luar biasa ungu.



    --------------------------------------- 72

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kotoran!" dia berteriak, rahangnya bergetar, mata-nya mendelik
    mengerikan ketika dia menunjuk ge-nangan air berlumpur yang menetes-netes
    dari jubah Quidditch Harry.
    "Berantakan dan kotoran di mana-mana! Aku sudah muak! Ikut aku, Potter!"
    Maka Harry melambai lesu mengucapkan selamat tinggal kepada Nick si
    Kepala-Nyaris-Putus dan turun kembali mengikuti Filch, membuat tapak
    berlumpur di lantai jadi dobel. Harry belum pernah berada dalam kantor Filch.
    Tempat itu dihindari sebagian besar anak-anak. Ruangan itu suram dan tak
    berjendela, disinari hanya oleh satu lampu minyak yang tergantung dari langit-
    langit yang rendah. Samar-samar bau ikan goreng memenuhi ruangan. Lemari
    arsip dari kayu berderet di sekeliling ruangan. Dari label-labelnya Harry tahu
    bahwa lemari itu berisi data rinci semua murid yang pernah dihukum Filch.
    Fred dan George Weasley pu-nya satu laci tersendiri. Koleksi rantai dan
    belenggu yang tergosok mengilap tergantung pada dinding di belakang meja
    Filch. Sudah rahasia umum bahwa Filch selalu meminta-minta kepada
    Dumbledore untuk mengizinkannya menghukum anak- anak dengan
    menggantungnya dari langit-langit pada mata kakinya.
    Filch meraih pena bulu dari pot di atas mejanya dan mulai mencari-cari
    perkamen. "Tinja binatang," gumamnya berang,
    "upil naga pa-
    nas besar-besar... otak kodok... usus tikus... sungguh kelewatan... mana
    formulirnya... ya..."
    Dia menarik keluar gulungan besar perkamen dari laci mejanya dan
    membentangkannya di depannya, mencelupkan pena bulu hitamnya yang
    panjang ke dalam botol tinta.
    "Nama... Harry Potter. Kesalahan..."
    "Cuma sedikit lumpur!" kata Harry.
    "Cuma sedikit lumpur bagimu, Nak, tapi bagiku itu berarti kerja tambahan
    satu jam menggosok lantai!" teriak Filch, ada ingus yang sudah bergetar mau
    jatuh di ujung hidung bawangnya, menjijikkan sekali. "Ke-salahan... membuat
    kotor kastil... hukuman yang disaran-kan..."
    Sambil mengelap hidungnya yang beringus, Filch memandang galak Harry
    dengan mata menyipit. Harry menunggu jatuhnya vonis hukumannya dengan
    napas tertahan.
    Tetapi ketika Filch merendahkan penanya, terdengar GUBRAK! keras di
    langit-langit kantornya, hingga membuat lampu minyaknya bergoyang.
    "PEEVES!" gerung Filch, membanting penanya de-ngan murka. "Kutangkap
    kau kali ini, kutangkap kau!"
    Dan tanpa menoleh kepada Harry, Filch berlari meninggalkan kantornya, Mrs
    Norris melesat mengiringinya.
    Peeves adalah hantu jail sekolah, makhluk melayang-layang menyeringai
    yang selalu menyebabkan mala-petaka dan kesulitan. Harry tidak begitu
    menyukai Peeves, tapi mau tak mau berterima kasih untuk gangguannya yang
    tepat waktu. Mudah-mudahan, apa pun yang dilakukan Peeves (dan
    kedengarannya dia telah merusakkan sesuatu yang besar kali ini) akan
    mengalihkan perhatian Filch dari Harry.



    --------------------------------------- 73

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Berpendapat bahwa dia mungkin harus menunggu kembalinya Filch, Harry
    duduk di kursi yang sudah dimakan ngengat di sebelah meja. Ada satu benda
    lain di atas meja selain formulirnya yang baru se-tengah terisi: amplop ungu
    besar berkilat dengan tulisan huruf-huruf perak di bagian depannya. Setelah
    melirik sekilas ke pintu untuk memastikan Filch tidak sedang berjalan kembali
    ke kantor, Harry mengambil amplop itu dan membacanya:
    MANTRAKILAT Kursus Sihir Tertulis untuk Pemula Tergugah rasa ingin
    tahunya, Harry membuka amplop itu dan menarik keluar setumpuk perkamen
    dari dalamnya. Tulisan meliuk-liuk warna perak di halaman depan berbunyi:
    Merasa terkucil dari dunia sihir modern? Sulit cari alasan untuk tidak melakukan
    mantra sederhana? Pernah diledek karena hasil sihiran tongkatmu yang
    menyedihkan? Ada solusinya!
    Mantrakilat adalah kursus baru yang pantang-gagal, cepat-berhasil, mudah-
    dipelajari. Beratus-ratus penyihir telah mendapatkan manfaat metode
    Mantrakilat!
    Madam Z. Nettles dari Topsham menulis: "Aku tak pernah bisa menghafal
    mantra, dan ramuan buatanku selalu jadi bahan ejekan keluarga! Sekarang,
    setelah ikut kursus Mantrakilat, aku jadi pusat perhatian di pesta-pesta dan
    teman-temanku meminta resep Cairan Cemerlang-ku!"
    Penyihir D.J. Trod dari Didsbury berkata: "Istriku selalu mencibir melihat
    hasil sihiranku, tetapi sebulan setelah ikut kursus Mantrakilat yang hebat, aku
    berhasil mengubahnya menjadi yak! Terima kasih, Mantrakilat!"
    Yak adalah sejenis lembu berbulu panjang yang berasal dari Asia Tengah.
    Terpesona, Harry melanjut-kan membaca isi amplop itu. Kenapa Filch ingin ikut
    kursus Mantrakilat? Apakah itu berarti dia bukan penyihir tulen? Harry sedang
    membaca "Pelajaran Pertama: Cara Memegang Tongkatmu (Beberapa Tip yang
    Berguna)" ketika langkah-langkah yang men-dekat memberitahunya Filch
    datang. Buru-buru di-jejalkannya perkamen itu ke dalam amplop, yang
    kemudian dilemparkannya ke atas meja, persis ketika pintu terbuka.
    Filch tampak penuh kemenangan.
    "Lemari yang bisa menghilang itu sangat berharga!" katanya riang kepada Mrs
    Norris. "Kita akan bisa mengusir Peeves kali ini, manisku."
    Pandangannya jatuh pada Harry dan kemudian ber-pindah ke amplop
    Mantrakilat, yang terlambat disadari Harry, tergeletak setengah meter dari
    tempatnya semula.
    Wajah pucat Filch menjadi merah padam. Harry bersiap- siap menerima
    luapan kemarahan. Filch ter-pincang-pincang meiuiju mejanya, menyambar
    amplop itu dan melemparkannya ke dalam laci.
    "Sudahkahapakah kau membaca...?" dia bertanya gugup.
    "Tidak," Harry buru-buru berbohong.
    Filch meremas-remas tangannya yang berbonggol-bonggol.
    "Kalau aku tahu kau akan membaca surat pribadi... bukannya itu milikku...
    untuk teman... meskipun demikian..."
    Harry menatapnya ketakutan. Belum pernah Filch tampak semarah ini.
    Matanya mendelik, salah satu pipinya yang menggelayut berkedut-kedut dan
    syal kotak-kotak itu tidak membantu.



    --------------------------------------- 74

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Baiklah... pergilah... dan jangan bilang siapa-siapa... bukannya...
    bagaimanapun, kalau kau tidak membaca... pergilah sekarang, aku harus
    menulis la-poran tentang Peeves... pergi..."
    Heran sendiri akan keberuntungannya, Harry cepat-cepat meninggalkan
    kantor Filch, ke koridor dan kem-bali ke atas. Berhasil lolos dari kantor Filch
    tanpa dihukum barangkali merupakan rekor tersendiri.
    "Harry! Harry! Apakah berhasil?"
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus datang melayang dari salah satu kelas. Di
    belakangnya Harry bisa melihat rongsokan lemari besar hitam-emas yang
    kelihatannya dijatuhkan dari tempat yang tinggi.
    "Kubujuk Peeves untuk menjatuhkannya tepat di atas kantor Filch," kata Nick
    bersemangat. "Kupikir itu bisa mengalihkan perhatiannya..."
    "Kau yang suruh?" kata Harry pertuh terirna kasih. "Yeah, berhasil, aku
    bahkan tidak mendapat detensi. Trims, Nick!"
    Mereka berjalan menyusuri koridor bersama-sama. Harry memperhatikan
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus ma-sih memegangi surat penolakan Sir Patrick.
    "Sayang sekali tak ada yang bisa kulakukan untuk membantumu dalam
    Perburuan Tanpa-Kepala itu," kata Harry.
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus mendadak berhenti dan Harry berjalan
    menembusnya. Harry menyesal. Rasanya seperti melangkah di bawah pancaran
    air sedingin es.
    "Tapi ada yang bisa kaulakukan untukku," kata Nick bergairah. "Harry
    apakah aku minta terlalu ba-nyaktapi, tidak, kau tak akan mau..."
    "Mau apa?" tanya Harry.
    "Yah, Hallowe'en ini ulang tahun kematianku yang kelima ratus," kata Nick,
    menegapkan diri sehingga kelihatan lebih berwibawa.
    "Oh," kata Harry, tak yakin apakah dia harus ke-lihatan sedih atau senang
    mendengarnya. "Lalu?"
    "Aku akan mengadakan pesta di salah satu ruang besar bawah tanah. Teman-
    teman akan datang dari seluruh negeri. Akan merupakan kehormatan besar
    bagiku kalau kau bersedia hadir. Aku juga meng-harapkan kedatangan Mr
    Weasley dan Miss Granger, tentu sajatetapi kalian pasti lebih suka datang ke
    pesta sekolah, kan?" Dipandangnya Harry dengan tegang dan gelisah.
    "Tidak," kata Harry buru-buru. "Aku akan datang..."
    "Anak baik! Harry Potter, di Pesta Ulang Tahun Kematianku! Dan," dia ragu-
    ragu, kelihatan ber-semangat,
    "bisakah kau mengatakan kepada Sir Patrick bahwa kau menganggapku
    sangat mengesankan dan mengerikan?"
    "Tententu saja," kata Harry.
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus langsung berseri-seri.
    "Pesta Ulang Tahun Kematian?" kata Hermione tajam, ketika Harry akhirnya
    sudah berganti pakaian dan bergabung bersamanya dan Ron di ruang rekreasi.
    "Berani taruhan tak banyak orang hidup yang bisa bilang mereka pernah
    menghadiri pesta semacam itu pasti menarik sekali!"



    --------------------------------------- 75

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kenapa ada orang ingin merayakan hari kematian mereka?" tanya Ron, yang
    sudah mengerjakan PR Ramuan- nya separo dan merasa sebal. "Kedengarannya
    suram bagiku...."
    Hujan masih mengguyur jendela, yang sekarang gelap pekat, tetapi di dalam
    segalanya kelihatan terang dan cerah. Perapian menerangi kursi-kursi
    berlengan yang empuk, tempat anak-anak duduk membaca, mengobrol,
    mengerjakan PR, atau dalam kasus Fred dan George, berusaha mencari tahu
    apa yang terjadi jika kau memberi makan salamander kembang api Filibuster.
    Fred telah "menyelamatkan" kadal berwarna jingga cerah yang tinggal di api itu
    dari kelas Pe-meliharaan Binatang-binatang Gaib, dan salamander itu sekarang
    tergeletak mengepul di atas meja, di-kelilingi anak- anak yang ingin tahu.
    Harry baru saja akan memberitahu Ron dan Hermione tentang Filch dan
    kursus Mantrakilat, ketika salamander itu mendadak terbang mendesis ke atas,
    mengeluarkan bunga api dan meledak-ledak sambil berputar-putar liar di
    ruangan. Melihat Percy yang berteriak-teriak memarahi Fred dan George
    sampai serak, pertunjukan spektakuler bintang-bintang jingga keemasan yang
    tercurah dari mulut si salamander, dan si salamander sendiri yang
    menyelamatkan diri ke dalam api, diiringi ledakan-ledakan, membuat Filch dan
    Mantrakilat terlupakan dari pikiran Harry.
    Saat Hallowe'en tiba, Harry menyesali janji untuk datang ke Pesta Ulang
    Tahun Kematian yang diucap-kannya tanpa pikir panjang. Teman-temannya
    gembira menyambut datangnya pesta Hallowe'en. Aula Besar sudah didekorasi
    dengan kelelelawar-kelelawar hidup seperti biasanya, labu-labu kuning raksasa
    Hagrid sudah diukir menjadi lentera yang cukup besar untuk diduduki tiga
    orang dan ada gosip bahwa Dumbledore telah memesan rombongan penari
    tengkorak untuk hiburannya.
    "Janji harus ditepati," Hermione mengingatkan Harry dengan gaya ngebos.
    "Kau sudah berkata akan datang ke Pesta Ulang Tahun Kematian."
    Maka pukul tujuh malam itu Harry, Ron, dan Hermione berjalan melewati
    pintu Aula Besar yang sudah penuh anak, lilin-lilinnya yang berkelap-kelip dan
    piring-piring emasnya berkilat-kilat mengundang. Mereka mengarahkan langkah
    menuju ruang bawah tanah.
    Lorong menuju ke tempat pesta Nick si Kepala-Nyaris-Putus juga sudah
    diterangi dengan deretan lilin, meskipun efeknya jauh dari cerah, karena
    lilinnya adalah lilin-lilin runcing hitam pekat, dengan nyala biru, menyiramkan
    cahaya suram kematian bahkan ke wajah-wajah mereka yang masih hidup.
    Semakin jauh mereka memasuki lorong, hawa semakin dingin. Ketika Harry
    bergidik dan merapatkan jubahnya, di-dengarnya bunyi seperti seribu kuku
    menggaruk pa-pan tulis besar.
    "Apa itu maksudnya musik?" bisik Ron. Mereka membelok di sudut dan
    melihat Nick si Kepala-Nyaris-Putus berdiri di depan pintu bertirai beludru
    hitam.
    "Teman-temanku yang baik," katanya pilu, "selamat datang, selamat
    datang... senang sekali kalian bisa datang..." Dengan gerakan gesit dibukanya
    topinya yang ber-bulu,



    --------------------------------------- 76

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    lalu dia membungkuk mempersilakan mereka masuk. Pemandangan yang
    menyambut mereka sungguh luar biasa. Ruang bawah tanah itu penuh beratus-
    ratus orang seputih-mutiara transparan, sebagian besar melayang-layang di
    atas lantai dansa yang penuh, berdansa waltz mengikuti irama tiga puluh
    gergaji musik yang berbunyi gemetar mengerikan, dimainkan oleh rombongan
    orkes di panggung yang lantainya bertutup kaih hitam. Kandil di atas
    menyinarkan cahaya biru tua dengan seribu lilin hitam. Napas mereka berubah
    menjadi kabut di depan mereka; rasanya seperti melangkah masuk ke dalam
    lemari es.
    "Bagaimana kalau kita melihat-lihat?" Harry meng-usulkan, ingin
    menghangatkan kakinya.
    "Hati-hati, jangan sampai melangkah menembus orang," kata Ron gugup, dan
    mereka berjalan di tepi lantai dansa. Mereka melewati serombongan biarawati
    muram, seorang laki-laki berpakaian compang-camping yang memakai rantai,
    dan si Rahib Gemukhantu Hufflepuff yang ceria, yang sedang mengobrol
    dengan hantu ksatria yang dahinya tertancap panah. Harry tidak heran melihat
    Baron Berdarah, hantu Slytherin yang pucat dan galak, serta bebercak-bercak
    darah keperakan, dihindari oleh hantu-hantu lain.
    "Oh, tidak," kata Hermione, berhenti mendadak. "Balik, balik, aku tak mau
    bicara dengan Myrtle Me-rana..."
    "Siapa?" tanya Harry, ketika mereka buru-buru ber-balik.
    "Dia menghantui toilet anak perempuan di lantai dua," kata Hermione.
    "Dia menghantui toilet?"
    "Ya, toilet itu sudah rusak selama setahun ini karena dia marah-marah terus
    dan membuat toilet itu ke-banjiran. Sebisa mungkin aku tidak masuk ke toilet
    itu. Mana enak kalau kita ke belakang digerecoki dia yang meratap-ratap...."
    "Lihat, makanan!" kata Ron.
    Di salah satu sisi ruangan ada meja panjang, ber-taplak beludru hitam juga.
    Mereka mendekati meja itu dengan bersemangat, tetapi detik berikutnya lang-
    sung berhenti, ngeri. Baunya sangat menjijikkan. Ikan-ikan besar busuk
    disajikan di atas nampan perak indah, kue bolu yang hangus jadi arang
    bertumpuk di atas piring, ada daging kambing besar yang sudah dikerumuni
    belatung, keju yang berselimut jamur hijau, dan di tempat kehormatan, kue
    ulang tahun abu-abu besar berbentuk pusara, dengan hiasan se-hitam ter,
    membentuk tulisan:
    Sir Nicholas de Mimsy-Porpington meninggal 31 Oktober 1492
    Harry memandang keheranan ketika ada hantu gemuk mendekati meja,
    membungkuk rendah dan lewat menerobos meja begitu saja. Mulut terbuka
    lebar melewati salah satu ikan salem bau.
    "Bisakah kau merasakan ikan itu waktu melewati-nya?" Harry menanyainya.
    "Nyaris," jawab si hantu sedih, lalu dia melayang pergi.
    "Kurasa mereka sengaja membiarkannya membusuk agar baunya lebih keras,"
    kata Hermione sok tahu. Dia memencet hidungnya dan membungkuk men-dekat
    untuk memeriksa daging kambing busuk.
    "Kita pergi, yuk, aku mau muntah," kata Ron.



    --------------------------------------- 77

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Baru saja mereka berbalik, seorang laki-laki kecil mendadak menyambar dari
    bawah meja dan melayang-layang di depan mereka.
    "Halo, Peeves," sapa Harry hati-hati.
    Tidak seperti hantu-hantu di sekeliling mereka, Peeves si hantu jail tidak
    pucat ataupun transparan. Dia memakai topi pesta jingga cerah dan dasi kupu-
    kupu yang bisa berputar. Wajahnya yang jail dihiasi cengiran lebar.
    "Camilan?" dia berkata manis, menawarkan se-mangkuk kacang bulukan.
    "Tidak, terima kasih," kata Hermione.
    "Kudengar kalian ngomongin si Myrtle yang ma-lang," kata Peeves, matanya
    menari-nari. "Kalian tidak sopan ngomongin Myrtle." Dia menarik napas dalam-
    dalam dan berteriak, "HOI! MYRTLE!"
    "Oh, jangan Peeves, jangan bilang apa yang ku-katakan, nanti dia sedih,"
    bisik Hermione panik. "Aku tidak bermaksud menjelekkannya, aku tidak
    keberatan diaeh, halo, Myrtle." Hantu anak perempuan gemuk-pendek
    melayang mendekat. Wajahnya, merupakan wajah paling murung yang pernah
    dilihat Harry, separo ter-sembunyi di balik rambut panjangnya dan kacamata
    tebal berkilau bagai mutiara.
    "Apa?" tanyanya cemberut.
    "Apa kabar, Myrtle?" kata Hermione dengan suara diriang- riangkan. "Senang
    bertemu kau di luar toilet." Myrtle mendengus. "Miss Granger tadi ngomongin
    kau...," kata Peeves licik di telinga Myrtle.
    "Cuma bilangbilangkau cantik sekali malam ini," kata Hermione, melirik
    Peeves.
    Myrtle menatap Hermione dengan curiga.
    "Kalian meledekku," katanya, air mata perak ber-cucuran dari matanya yang
    tembus pandang.
    "Tidaksungguhbukankah aku tadi bilang Myrtle cantik sekali malam ini?"
    kata Hermione, menyikut rusuk Harry dan Ron sampai sakit.
    "Oh, yeah..."
    "Betul..."
    "Jangan bohong kepadaku," isak Myrtle, air matanya kini sudah membanjir
    membasahi mukanya, sementara Peeves tertawa-tawa senang di belakang
    bahunya. "Apa kaupikir aku tidak tahu ejekan apa saja yang mereka lontarkan
    di belakang punggungku? Myrtle gendut! Myrtle jelek! Myrtle cengeng,
    pemurung, tu-kang ngeluh!"
    "Kau belum sebut 'jerawatan'," Peeves mendesis di telinganya.
    Myrtle Merana terisak-isak nelangsa dan kabur dari ruangan. Peeves melesat
    mengejarnya, menghujaninya dengan kacang bulukan, sambil berteriak-teriak,
    "Jerawatan! Jerawatan!"
    "Ya, ampun," kata Hermione sedih.
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus sekarang melayang mendekati mereka,
    menerobos kerumunan. "Kalian senang?" "Oh, ya," mereka berbohong. "Lumayan
    juga sih yang hadir," kata Nick si Kepala-
    Nyaris-Putus bangga. "Si Janda Meratap datang jauh-jauh dari Kent... Sudah
    hampir waktunya aku mem-beri sambutan, lebih baik aku beritahu orkesnya..."



    --------------------------------------- 78

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tapi orkes berhenti bermain saat itu juga. Para pemainnya, dan semua yang
    ada di ruang bawah tanah itu terdiam, melihat berkeliling dengan penuh harap
    ketika terdengar bunyi terompet berburu. "Oh, ini dia," kata Nick si Kepala-
    Nyaris-Putus getir.
    Dari tembok ruangan bermunculan selusin kuda hantu, masing-masing
    ditunggangi penunggang kuda tanpa-kepala. Para hadirin bertepuk tangan
    gegap gempita. Harry sudah akan bertepuk juga, tetapi tak jadi begitu melihat
    wajah Nick. Kuda-kuda itu berderap ke tengah lantai dansa dan berhenti,
    meringkik dan mendompak. Hantu besar yang berada paling depan, kepalanya
    yang berjenggot dijepit di ketiaknya, meniup terompet, melompat turun,
    mengangkat tinggi-tinggi kepalanya ke atas supaya dia bisa melihat kerumunan
    hantu yang hadir (semua tertawa), dan berjalan mendekati Nick si Kepala-
    Nyaris-Putus, kepalanya dilontarkan kembali ke lehernya.
    "Nick!" raungnya. "Apa kabar? Kepala masih ter-gantung?" Dia terbahak dan
    menepuk bahu Nick si Kepala-Nyaris-Putus.
    "Selamat datang, Patrick," kata Nick kaku.
    "Orang hidup!" celetuk Sir Patrick ketika melihat Harry, Ron, dan Hermione
    dan berpura-pura terlonjak tinggi saking kagetnya, sehingga kepalanya terjatuh
    lagi (hantu-hantu yang hadir tertawa gelak-gelak).
    "Lucu sekali," kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus be-rang.
    "Jangan pedulikan Nick!" teriak kepala Sir Patrick dari lantai. "Dia masih
    marah kami tidak meng-izinkannya ikut Perburuan! Tapi maksudku... lihat
    dia..."
    "Kurasa," kata Harry buru-buru, setelah Nick me-mandangnya penuh arti.
    "Nick sangatmengerikan dan eh..."
    "Ha!" teriak kepala Sir Patrick. "Pasti dia memintamu bilang begitu!"
    "Perhatian, semuanya, sudah waktunya aku memberi sambutan!" kata Nick
    keras-keras, berjalan ke podium dan naik diterangi lampu sorot warna biru
    muda dingin.
    "Almarhum para bangsawan, Ibu-ibu, dan Bapak-bapak, sungguh kesedihan
    besar bagiku..."
    Tapi tak ada lagi yang mendengarkannya. Sir Patrick dan anggota Perburuan
    Tanpa-Kepala baru saja me-mulai permainan Hoki Kepala dan para hadirin ber-
    balik untuk menonton. Sia-sia Nick berusaha keras menarik perhatian mereka,
    dan akhirnya menyerah ketika kepala Sir Patrick melayang melewatinya diiringi
    tepukan riuh.
    Harry sudah sangat kedinginan sekarang, ditambah lagi lapar.
    "Aku sudah tak tahan lagi," gumam Ron, giginya gemeretuk, sementara orkes
    kembali beraksi dan para hantu berayun lagi di lantai dansa.
    "Ayo, kita pergi," Harry sepakat.
    Mereka mundur ke arah pintu, mengangguk dan tersenyum pada siapa saja
    yang memandang mereka, dan semenit kemudian sudah bergegas menyusuri
    lorong dengan deretan lilin hitam.
    "Siapa tahu pudingnya masih ada," kata Ron penuh harap, berjalan di depan
    menuju tangga ke Aula Depan.
    Dan kemudian Harry mendengarnya.



    --------------------------------------- 79

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "... robek... cabik-cabik... bunuh..."
    Suara yang sama, suara dingin dan sadis yang didengarnya di kantor
    Lockhart.
    Harry terhuyung dan berhenti, mencengkeram din-ding batu, mendengarkan
    setajam mungkin, me-mandang berkeliling, menyipitkan mata, mengawasi
    kanan-kiri lorong yang suram.
    "Harry, lagi ngapain ka...?"
    "Suara itu lagidiam dulu..."
    "...lapaaar sekali... sudah begitu lama..."
    "Dengar!" kata Harry tegang. Ron dan Hermione terpaku memandangnya.
    "...bunuh... waktunya membunuh..."
    Suara itu semakin samar-samar. Harry yakin siapa pun yang bicara itu
    semakin menjauhbergerak ke atas. Ketakutan bercampur kegairahan
    mencekamnya ketika dia menatap langit-langit yang gelap. Bagaimana mungkin
    suara itu bisa bergerak ke atas? Apakah itu hantu, sehingga langit- langit batu
    bukan hambatan baginya?
    "Ke sini," dia berteriak, lalu berlari menaiki tangga, memasuki Aula Depan.
    Tak ada gunanya berharap mendengar sesuatu di sini. Celoteh anak-anak yang
    sedang pesta Hallowe'en terdengar dari Aula Besar. Harry berlari menaiki
    tangga pualam menuju ke lantai satu, Ron dan Hermione ikut naik di
    belakangnya.
    "Harry, apa yang ki..."
    "SHHH!"
    Harry menajamkan telinganya. Dari kejauhan, dari lantai di atas mereka,
    dan suaranya semakin samar, dia masih mendengar, "...bau darah... BAU
    DARAH!"
    Harry tegang. "Dia mau membunuh orang!" teriak-nya. Mengabaikan wajah
    Ron dan Hermione yang kebingungan, dia menaiki tangga berikutnya, tiga anak
    tangga sekali langkah, berusaha mendengarkan di antara entakan langkah
    kakinya sendiri.
    Harry berlari mengelilingi seluruh lantai dua, Ron dan Hermione tersengal-
    sengal di belakangnya, tidak berhenti sampai mereka membelok di sudut yang
    menuju koridor terakhir yang kosong.
    "Harry, ada apa sebetulnya?" tanya Ron, menyeka keringat dari wajahnya.
    "Aku tidak mendengar apa-apa..."
    Tetapi Hermione mendadak terpekik kaget, me-nunjuk ke ujung koridor.
    "Lihat!"
    Ada yang berkilau di dinding di depan. Mereka mendekat, perlahan,
    menyipitkan mata menembus ke-gelapan. Huruf- huruf setinggi tiga puluh senti
    dipulas-kan di dinding di antara dua jendela, berkilau ditimpa cahaya obor-obor
    yang menyala.
    KAMAR RAHASIA TELAH DIBUKA. MUSUH SANG PEWARIS, WASPADALAH.
    "Apa ituyang tergantung di bawahnya?" kata Ron, suaranya agak bergetar.
    Ketika mereka semakin dekat, Harry nyaris jatuh terpeleset. Ada genangan
    besar air di lantai. Ron dan Hermione menyambarnya dan mereka melangkah
    hati-hati mendekati tulisan, mata mereka terpaku pada bayangan gelap di



    --------------------------------------- 80

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    bawahnya. Ketiganya langsung menyadari apa itu, dan melompat ke belakang,
    mem-buat air menciprat.
    Mrs Norris, kucing si penjaga sekolah, digantung pada ekornya dari siku-siku
    tancapan obor. Tubuhnya kaku seperti papan, matanya terbeliak.
    Selama beberapa detik, mereka tidak bergerak. Kemudian Ron berkata,
    "Ayo, kita pergi dari sini." "Tidakkah sebaiknya kita mencoba menolong...," kata
    Harry canggung. "Percayalah padaku," kata Ron. "Kita tak ingin di-temukan di
    sini."
    Tetapi sudah terlambat. Bunyi gemuruh seakan ada guruh di kejauhan,
    memberitahu mereka bahwa pesta sudah usai. Dari kedua ujung koridor
    terdengar bunyi ratusan kaki yang menaiki tangga, juga celoteh riang dan keras
    anak-anak yang perutnya kenyang. Saat berikutnya, anak-anak bermunculan
    dari kedua ujung koridor.
    Celoteh, obrolan, gurauan mendadak berhenti ketika anak- anak yang di
    depan melihat kucing yang ter-gantung itu. Harry Ron, dan Hermione berdiri
    bertiga, di tengah koridor, sementara kesunyian menyelubungi anak-anak yang
    maju berdesakan, ingin melihat pe-mandangan mengerikan itu.
    Kemudian ada yang berteriak memecah keheningan.
    "Musuh Sang Pewaris, Waspadalah! Giliranmu berikutnya, Darah-lumpur!"
    Draco Malfoy-lah yang berteriak. Dia telah mendesak sampai di bagian
    depan, mata dinginnya menyala, wajahnya yang biasanya tak berdarah kini
    memerah, ketika dia menyeringai melihat kucing yang tergantung tak bergerak
    itu.
    9. Tulisan Di Dinding
    "ADA apa di sini? Ada apa?"
    Tertarik oleh, tak diragukan lagi, teriakan-teriakan Malfoy, Argus Filch
    datang menerobos kerumunan anak-anak. Kemudian dia melihat Mrs Norris dan
    jatuh terjengkang, mencengkeram wajahnya dengan ngeri.
    "Kucingku! Kucingku! Apa yang terjadi pada Mrs Norris?"
    jeritnya.
    Dan matanya yang menonjol memandang Harry.
    "Kau!" jeritnya. "Kau! Kau membunuh kucingku! Kau membunuhnya! Kubunuh
    kau! Kub..."
    "Argus!"
    Dumbledore telah tiba di tempat kejadian, diikuti oleh beberapa guru
    lainnya. Dalam sekejap dia telah melewati Harry Ron, dan Hermione, dan
    melepaskan Mrs Norris dari siku-siku tancapan obor.
    "Ikut aku, Argus," katanya kepada Filch. "Kalian juga, Mr Potter, Mr Weasley,
    Miss Granger." Lockhart maju dengan tak sabar.



    --------------------------------------- 81

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kantorku yang paling dekat, Sirpersis di atas sini silakan saja..." "Terima
    kasih, Gilderoy," kata Dumbledore. Kerumunan yang diam menyisih memberi
    jalan pada mereka. Lockhart, tampak bersemangat dan pen-ting, bergegas
    mengikuti Dumbledore, begitu juga Profesor McGonagall dan Snape.
    Ketika mereka memasuki kantor Lockhart yang gelap, ada gerakan-gerakan
    sibuk di sepanjang din-ding. Harry melihat beberapa Lockhart dalam foto
    menyingkir dari pandangan, masih memakai gulungan rambut. Lockhart yang
    asli menyalakan lilin-lilin di atas mejanya lalu mundur. Dumbledore meletakkan
    Mrs Norris di atas permukaan meja yang berkilat dan mulai memeriksanya.
    Harry, Ron, dan Hermione ber-tukar pandang tegang lalu duduk di kursi-kursi di
    luar lingkaran cahaya lilin, mengawasi.
    Ujung hidung Dumbledore yang panjang dan beng-kok cuma sesenti dari bulu
    Mrs Norris. Dia memeriksa-nya dengan teliti lewat kacamata bulan-separonya.
    Jari-jarinya yang panjang dengan lembut menyentuh dan menekan. Profesor
    McGonagall membungkuk sama dekatnya, matanya menyipit. Snape di belakang
    mereka, separo tubuhnya dalam bayang- bayang. Ekspresi wajahnya aneh
    sekali: seakan dia berusaha keras untuk tidak tersenyum. Dan Lockhart
    berkeliaran di sekeliling mereka, memberi saran-saran.
    "Jelas kutukan yang membunuhnyamungkin Siksaan Transmogrifian. Aku
    sudah berkali-kali melihat kutukan ini digunakan, sayang sekali tadi aku tidak
    di sana, aku tahu kontra-kutukan paling tepat yang pasti bisa
    menyelamatkannya..."
    Komentar Lockhart disela oleh isakan kering merana Filch. Dia terenyak di
    kursi di sebelah meja, tak sanggup memandang Mrs Norris, wajahnya ditutupi
    tangannya. Kendati sangat tidak suka pada Filch, Harry mau tak mau agak
    kasihan juga kepadanya, walaupun tidak sebesar rasa kasihannya kepada diri
    sendiri. Kalau Dumbledore mempercayai Filch, dia jelas akan dikeluarkan.
    Dumbledore sekarang berbisik menggumamkan kata-kata asing dan
    mengetuk-ngetuk Mrs Norris' de-ngan tongkatnya, tetapi tak ada yang terjadi:
    kucing itu tetap tampak seperti kucing mainan yang baru dijejali kapuk.
    "...aku ingat peristiwa yang sangat mirip terjadi di Ouagadogou," kata
    Lockhart. "Serangkaian serangan, kisah selengkapnya ada dalam autobiografiku.
    Aku bisa memberi penduduk kota itu berbagai jimat yang langsung
    menyelesaikan masalah..."
    Foto-foto Lockhart di dinding semua mengangguk-angguk menyetujui
    perkataannya. Salah satu dari foto itu lupa melepas harnetnya.
    Akhirnya Dumbledore menegakkan diri.
    "Dia tidak mati, Argus," katanya pelan.
    Lockhart yang sedang menghitung jumlah pem-bunuhan yang berhasil
    dicegahnya mendadak ber-henti.
    "Tidak mati?" kata Filch dengan suara tercekik, mengintip Mrs Norris melalui
    sela-sela jarinya. "Tetapi kenapa diadia kaku dan dingin?"
    "Dia dibuat Membatu," kata Dumbledore ("Ah! Ku-pikir juga begitu!" kata
    Lockhart). "Tetapi bagaimana, aku tak bisa bilang..."
    "Tanya dia!" jerit Filch, memalingkan wajahnya yang berjerawat dan basah
    kena air mata kepada Harry.



    --------------------------------------- 82

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tak ada anak kelas dua yang bisa melakukan ini," kata Dumbledore tegas.
    "Perlu Sihir Hitam tingkat paling tinggi..."
    "Dia yang melakukannya, dia yang melakukannya!" kata Filch marah,
    wajahnya yang bergelambir berubah ungu.
    "Kalian melihat apa yang ditulisnya di dinding! Dia menemukandi kantorku
    dia tahu akuaku..." wajah Filch berkeriut mengerikan. "Dia tahu aku Squib!"
    dia mengakhiri kata-katanya.
    "Saya tak pernah menyentuh Mrs Norris!" kata Harry keras, merasa tidak enak
    karena sadar betul semua orang mengawasinya, termasuk semua Lockhart di
    dinding. "Dan saya bahkan tidak tahu Squib itu apa."
    "Omong kosong!" gertak Filch. "Dia melihat surat Mantrakilatku!"
    "Kalau aku boleh bicara, Kepala Sekolah," kata Snape dari naungan bayang-
    bayang. Perasaan Harry semakin tak enak. Dia yakin apa pun yang dikatakan
    Snape tak akan membantunya.
    "Potter dan teman-temannya mungkin hanya berada di tempat yang salah
    pada waktu yang salah," kata-nya, seringai kecil menghiasi wajahnya, seakan
    dia meragukan ucapannya sendiri. "Tapi memang situasi-nya mencurigakan.
    Kenapa mereka tidak ikut pesta Hallowe'en?"
    Harry, Ron, dan Hermione bersamaan menjelaskan tentang Pesta Ulang
    Tahun Kematian. "...ada ratusan hantu, mereka akan memberi kesaksian bahwa
    kami di sana..."
    "Tapi kenapa sesudahnya tidak ikut pesta?" kata Snape, matanya yang hitam
    berkilauan dalam cahaya lilin. "Kenapa naik ke lorong itu?"
    Ron dan Hermione memandang Harry.
    "Karenakarena...," kata Harry, jantungnya ber-degup kencang sekali; dia
    sadar kedengarannya aneh sekali kalau dia memberitahu mereka dia dibawa ke
    sana oleh suara tanpa- tubuh yang tak bisa didengar orang lain kecuali dia
    sendiri.
    "Karena kami lelah dan ingin tidur," katanya.
    "Tanpa makan malam?" kata Snape, senyum ke-menangan menghiasi
    wajahnya yang pucat. "Kurasa hantu tidak menyediakan makanan yang layak
    untuk orang hidup di pesta mereka."
    "Kami tidak lapar," kata Ron lantang, tepat ketika perutnya berkeriuk keras.
    Senyum menyebalkan Snape makin lebar.
    "Kurasa, Kepala Sekolah, Potter tidak sepenuhnya jujur," katanya. "Mungkin
    ada baiknya dia mendapat larangan- larangan tertentu sampai dia bersedia
    men-ceritakan seluruhnya kepada kita. Aku pribadi ber-pendapat dia harus
    dicopot dari tim Quidditch Gryffindor sampai dia mau berkata jujur."
    "Astaga, Severus," kata Profesor McGonagall tajam. "Aku tidak melihat alasan
    untuk melarang anak ini main Quidditch. Kucing itu tidak dipukul kepalanya
    dengan sapu. Sama sekali tak ada bukti bahwa Potter telah melakukan sesuatu
    yang salah."
    Dumbledore memandang Harry dengan tajam. Mata biru pucatnya yang
    bercahaya membuat Harry merasa seakan dia dirontgen.
    "Tak bersalah sampai terbukti bersalah, Severus," katanya tegas.
    Snape kelihatan berang. Begitu juga Filch.



    --------------------------------------- 83

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kucingku dibuat Membatu!" jeritnya, matanya men-delik.
    "Aku ingin ada yang dihukum!"
    "Kami bisa menyembuhkannya, Argus," kata Dumbledore sabar. "Baru-baru ini
    Madam Sprout ber-hasil mendapatkan Mandrake. Begitu Mandrake-man-drake
    itu tumbuh sepenuhnya, aku akan menyuruh buat ramuan yang bisa
    menghidupkan Mrs Norris."
    "Biar aku yang buat," Lockhart menyela. "Aku sudah membuatnya seratus
    kali. Aku bisa mengocok Cairan Restoratif Mandrake dalam tidur..."
    "Maaf," kata Snape dingin, "tapi kurasa akulah ahli Ramuan di sekolah ini."
    Suasana menjadi canggung.
    "Kalian boleh pergi," Dumbledore berkata kepada Harry, Ron, dan Hermione.
    Mereka pergi, secepat mungkin, nyaris lari. Ketika tiba di lantai di atas
    kantor Lockhart, mereka masuk ke dalam kelas kosong dan menutup pintunya.
    Harry menyipitkan mata, memandang wajah gelap kedua temannya.
    "Apakah menurut kalian aku seharusnya mem-beritahu mereka tentang suara
    yang kudengar?"
    "Tidak," jawab Ron tanpa keraguan. "Mendengar suara- suara yang tak bisa
    didengar orang lain bukan pertanda baik, bahkan di dunia sihir sekalipun."
    Sesuatu dalam suara Ron membuat Harry bertanya, "Kau percaya padaku,
    kan?" "Tentu," kata Ron cepat. "Tetapikau harus mengakui bahwa itu aneh..."
    "Aku tahu itu aneh," kata Harry. "Seluruh kejadian ini aneh. Apa maksud
    tulisan di dinding itu? Kamar Rahasia Telah Dibuka... apa maksudnya itu?"
    "Rasanya aku pernah dengar," kata Ron lambat-lambat.
    "Kurasa ada yang pernah cerita padaku ten-tang kamar rahasia di
    Hogwarts... mungkin Bill..."
    "Dan apa sih Squib itu?" tanya Harry.
    Dia heran sekali ketika Ron terkikik tertahan.
    "Yahsebetulnya sih tidak lucutapi karena itu Filch...," katanya. "Squib itu
    orang yang lahir dari keluarga penyihir tapi tidak punya kekuatan sihir sama
    sekali. Kebalikan dari penyihir yang lahir dari keluarga Muggle, tapi Squib ini
    tidak biasa. Kalau Filch berusaha mempelajari sihir lewat kursus Mantrakilat,
    kurasa dia pasti Squib. Ini menjelaskan banyak hal. Seperti kenapa dia sangat
    membenci murid-murid." Ron tersenyum puas. "Dia merasa getir."
    Jam berdentang di suatu tempat.
    "Tengah malam," kata Harry. "Lebih baik kita tidur sebelum Snape datang
    dan berusaha menjebak kita untuk sesuatu yang lain."
    Selama beberapa hari yang dibicarakan di seluruh sekolah hanyalah
    prnyerangan terhadap Mrs Norris. Filch membuat kejadian itu tetap segar di
    ingatan anak-anak dengan mondar-mandir di tempat Mrs Norris diserang,
    seakan dia mengira siapa tahu si penyerang akan kembali. Harry sudah melihat
    dia menggosok tulisan di dinding dengan "Penghilang Segala-macam Kotoran
    Sihir buatan Mrs Skower", tetapi percuma saja, tulisan itu tetap berkilau terang
    seperti semula di atas dinding batu. Kalau tidak ber-jaga di koridor, Filch akan
    mengendap-endap di koridor dengan mata merah, menangkap anak-anak yang
    tidak curiga dan berusaha memberi mereka detensi untuk hal-hal seperti
    "bernapas terlalu keras" dan "kelihatan senang".



    --------------------------------------- 84

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ginny Weasley kelihatan terganggu sekali dengan nasib Mrs Norris. Menurut
    Ron, dia pecinta berat kucing.
    "Tapi kau kan belum kenal benar Mrs Norris," kata Ron menghiburnya.
    "Percaya deh, kita jauh lebih se-nang tanpa dia." Bibir Ginny bergetar. "Hal
    seperti ini tidak sering terjadi di Hogwarts," Ron meyakinkannya. "Mereka akan
    menangkap orang sinting yang melaku-kannya dan segera mengeluarkannya dari
    sini. Aku cuma berharap dia masih sempat membuat Filch Mem-batu sebelum
    dikeluarkan. Aku cuma bergurau...," Ron buru-buru menambahkan, ketika
    Ginny jadi pucat.
    Serangan itu juga berpengaruh pada Hermione. Sudah biasa bagi Hermione
    untuk melewatkan banyak waktu dengan membaca, tetapi sekarang dia nyaris
    tidak melakukan hal lain. Harry dan Ron pun tidak mendapat banyak jawaban
    ketika mereka bertanya apa maunya membaca terus begitu, dan baru Rabu
    berikutnya mereka tahu.
    Harry tertahan dalam pelajaran Ramuan, karena Snape menyuruhnya tinggal
    untuk membersihkan sisa-sisa cacing dari atas meja. Setelah makan siang yang
    terburu-buru, dia naik untuk menemui Ron di per-pustakaan, dan melihat
    Justin Finch-Fletchley, anak Hufflepuff yang sama-sama ikut kelas Herbologi,
    ber-jalan ke arahnya. Harry baru membuka mulut untuk menyapa, tetapi begitu
    melihatnya, Justin mendadak berbalik dan bergegas ke arah yang berlawanan.
    Harry menemukan Ron di bagian belakang per-pustakaan, sedang mengukur
    PR Sejarah Sihir-nya. Profesor Binns menugaskan menulis karangan se-panjang
    satu meter tentang "Pertemuan Penyihir Eropa Abad Pertengahan".
    "Ya ampun, masih kurang dua puluh senti...," kata Ron sebal, melepas
    perkamennya, yang langsung ber-gulung kembali. "Sementara karangan
    Hermione pan-jangnya seratus tiga puluh tujuh setengah senti, pada-hal
    tulisannya kecil- kecil."
    "Di mana dia?" tanya Harry, menyambar meteran dan membuka gulungan PR-
    nya sendiri.
    "Di sana," kata Ron, menunjuk rak-rak buku, "men-cari buku lain lagi. Kurasa
    dia mencoba menyelesaikan membaca seluruh buku di perpustakaan ini
    sebelum Natal."
    Harry bercerita kepada Ron tentang Justin Finch-Fletchley yang melarikan
    diri darinya.
    "Buat apa kaupikirkan. Menurutku dia agak idiot," kata Ron sambil menulis,
    huruf-hurufnya dibuat se-besar mungkin.
    "Segala omong kosong tentang Lockhart yang begitu hebat..." Hermione
    muncul dari antara rak-rak buku. Dia kelihatan jengkel dan akhirnya siap untuk
    berbicara kepada mereka.
    . "Semua buku Sejarah Hogwarts dipinjam," katanya sambil duduk di sebelah
    Harry dan Ron. "Dan daftar tunggunya sampai dua minggu. Aku menyesal sekali
    bukuku kutinggal di rumah, tapi koperku sudah pe-nuh sekali dengan semua
    buku Lockhart."
    "Kenapa kau mau baca buku itu?" tanya Harry.
    "Sama seperti semua orang lain," kata Hermione, "untuk membaca legenda
    Kamar Rahasia." "Apa itu?" tanya Harry cepat-cepat. "Itulah. Aku tak ingat,"



    --------------------------------------- 85

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    kata Hermione, menggigit bibir. "Dan legenda itu tak bisa kutemukan di tempat
    lain..."
    "Hermione, coba aku baca karanganmu," kata Ron putus asa, mengecek
    arlojinya.
    "Tidak boleh," kata Hermione, mendadak galak. "Kau punya waktu sepuluh
    hari untuk menyelesaikan-nya."
    "Aku cuma perlu lima senti lagi, ayo dong..."
    Bel berdering. Ron dan Hermione berjalan di depan, menuju kelas Sejarah
    Sihir, bertengkar.
    Sejarah Sihir adalah pelajaran paling membosankan di daftar pelajaran
    mereka. Profesor Binns, gurunya, adalah satu-satunya guru yang hantu, dan hal
    paling seru yang pernah terjadi di kelasnya adalah saat dia memasuki kelas
    menembus papan tulis. Profesor Binns sudah tua sekali dan berkeriput. Banyak
    orang bilang dia tidak sadar dia sudah meninggal. Dia bangun begitu saja untuk
    mengajar pada suatu hari dan me-ninggalkan tubuhnya di kursi berlengan di
    depan perapian di ruang guru. Rutinitasnya tidak berubah sedikit pun sejak saat
    itu.
    Hari ini sama membosankannya seperti biasa. Profesor Binns membuka
    catatannya dan mulai mem-baca dengan nada datar membosankan seperti de-
    ngung penyedot debu tua. Nyaris semua anak di kelas tertidur nyenyak,
    kadang-kadang terbangun cukup lama untuk menulis nama atau tanggal, kemu-
    dian tidur lagi. Profesor Binns sudah bicara selama setengah jam ketika terjadi
    sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya. Hermione mengacungkan tangan.
    Profesor Binns, mendongak di tengah bacaan super membosankan tentang
    Konvensi Sihir Internasional tahun 1289, kelihatan kaget.
    "Miss-eh...?"
    "Granger, Profesor, saya ingin tahu apakah Anda bisa menceritakan kepada
    kami sesuatu tentang Kamar Rahasia," kata Hermione dengan suara nyaring.
    Dean Thomas, yang duduk dengan mulut melongo sambil memandang kosong
    ke luar jendela, tersentak dari transnya. Kepala Lavender Brown terangkat dari
    lengannya dan siku Neville tergelincir dari tepi meja-nya.
    Profesor Binns mengejap.
    "Pelajaranku adalah Sejarah Sihir," katanya dengan suara kering mendesah.
    "Aku mengajarkan fakta, Miss Granger, bukan dongeng dan legenda." Dia
    berdeham pelan kecil, seperti bunyi kapur patah, dan melanjut-kan, "Dalam
    bulan September tahun itu, sub-panitia para penyihir Sardinia..."
    Dia terpaksa berhenti. Tangan Hermione melambai di udara lagi.
    "Miss Grant?"
    "Maaf, Sir, bukankah legenda selalu punya dasar fakta?" Profesor Binns
    memandang Hermione dengan sa-ngat tercengang. Harry yakin tak ada murid
    yang pernah menyelanya, hidup atau mati.
    "Yah," kata Profesor Binns lambat-lambat. "Ya, orang bisa memperdebatkan
    soal itu, kurasa." Dia me-nyipitkan mata, memandang Hermione seakan tak
    pernah memandang muridnya dengan jelas sebelum-nya. "Meskipun demikian,
    legenda yang kautanyakan itu dongeng yang sangat sensasional, bahkan meng-
    gelikan..."



    --------------------------------------- 86

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tetapi seluruh kelas sekarang memusatkan perhatian pada kata-kata
    Profesor Binns. Dia memandang me-reka, semua wajah menghadap dirinya,
    memandang-nya. Harry bisa melihat sang profesor benar-benar tercengang
    melihat ketertarikan yang luar biasa itu.
    "Oh, baiklah," katanya lambat-lambat. "Kamar Rahasia...
    "Kalian semua tahu, tentunya, bahwa Hogwarts didirikan lebih dari seribu
    tahun yang lalutanggal persisnya tidak jelasoleh empat penyihir besar pada
    zamannya. Keempat asrama sekolah ini dinamakan sesuai nama mereka: Godric
    Gryffindor, Helga Hufflepuff, Rowena Ravenclaw, dan Salazar Slytherin.
    Mereka bersama-sama mendirikan kastil ini, jauh dari mata Muggle yang
    ingin tahu, karena zaman itu sihir ditakuti orang- orang biasa dan para penyihir
    men-derita karena disiksa."
    Dia berhenti sejenak, memandang muram ke se-luruh kelas, lalu
    melanjutkan, "Selama beberapa tahun, para pendiri bekerja bersama-sama
    dengan harmonis, mencari anak-anak yang menunjukkan bakat sihir dan
    membawa mereka ke kastil untuk dididik. Tetapi kemudian timbul
    pertentangan di antara mereka. Keretakan tumbuh di antara Slytherin dan yang
    lain, Slytherin menginginkan mereka lebih selektif. dalam memilih murid-murid
    yang masuk Hogwarts. Menurut pendapatnya pelajaran sihir seharusnya
    hanyalah di-berikan kepada keluarga-keluarga penyihir. Dia tak suka mengambil
    murid yang dilahirkan oleh orangtua Muggle. Menurut anggapannya mereka tak
    bisa di-percaya. Selang beberapa waktu, terjadi perdebatan seru mengenai hal
    ini antara Slytherin dan Gryffindor, dan Slytherin meninggalkan sekolah."
    Profesor Binns berhenti lagi, mengerucutkan bibir-nya, kelihatan seperti
    kura-kura tua berkeriput.
    "Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang bisa di-percaya, cuma itulah yang
    kita tahu," katanya, "tetapi fakta yang benar ini dikaburkan oleh legenda Kamar
    Rahasia yang seru. Menurut ceritanya, Slytherin sudah membuat kamar
    tersembunyi di dalam kastil, yang sama sekali tidak diketahui para pendiri
    lainnya.
    "Slytherin, menurut legenda, menyegel Kamar Rahasia, sehingga tak ada
    yang bisa membukanya sampai pewarisnya yang sejati tiba di sekolah ini.
    Hanya si pewaris itulah yang bisa membuka segel Kamar Rahasia, melepas
    horor di dalamnya, dan menggunakannya untuk memurnikan sekolah dari
    mereka yang tak layak mempelajari ilmu sihir."
    Kelas sunyi senyap ketika Profesor Binns mengakhiri ceritanya, tetapi bukan
    kesunyian mengantuk yang biasa memenuhi kelas ini. Ada kegelisahan di dalam-
    nya selagi semua anak masih memandangnya, meng-harap lebih banyak cerita
    lagi. Profesor Binns kelihatan agak jengkel.
    "Semua itu omong kosong, tentu saja," katanya. "Dengan sendirinya sekolah
    diselidiki untuk mencari bukti-bukti adanya kamar itu. Sudah banyak kali para
    penyihir yang terpelajar menyelidikinya, tapi kamar itu tidak ada. Itu cuma
    cerita bohong yang disebar-kan untuk menakut-nakuti mereka yang mudah di-
    tipu."
    Tangan Hermione kembali terangkat. "Sirapa tepatnya yang Anda maksud
    dengan 'horor di dalam' kamar?"



    --------------------------------------- 87

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Menurut cerita itu semacam monster yang hanya bisa dikontrol oleh pewaris
    Slytherin," kata Profesor Binns dengan suaranya yang kering mendesah.
    Anak-anak bertukar pandang cemas.
    "Sudah kubilang, semua itu tidak ada," kata Profesor Binns, membalik-balik
    catatannya. "Tidak ada Kamar Rahasia dan monster."
    "Tapi, Sir," kata Seamus Finnigan, "kalau kamar itu hanya bisa dibuka oleh
    pewaris sejati Slytherin, orang lain tak akan ada yang bisa menemukannya,
    kan?"
    "Omong kosong, O'Flaherty," kata Profesor Binns jengkel.
    "Kalau sederet kepala sekolah Hogwarts tidak menemukannya..."
    "Tapi, Profesor," celetuk Parvati Patil dengan suara kecil,
    "Anda mungkin harus menggunakan Ilmu Hitam untuk membukanya..."
    "Kalau penyihir terhormat tidak menggunakan Ilmu Hitam, bukan berarti dia
    tidak bisa, Miss Pennyfeather," sela Profesor Binns tajam. "Kuulangi, kalau
    orang seperti Dumbledore..."
    "Tapi mungkin orang itu harus keluarga Slytherin, makanya Dumbledore tidak
    bisa...," Dean Thomas hendak menjelaskan, tetapi Profesor Binns sudah tidak
    mau melanjutkan.
    "Cukup," katanya tajam. "Itu cuma dongeng! Kamar itu tidak ada! Tak ada
    setitik pun bukti bahwa Slytherin pernah membuat bahkan cuma lemari sapu
    rahasia! Aku menyesal sudah menceritakan kepada kalian cerita tak masuk akal
    begitu! Kita kembali ke sejarah, ke fakta-fakta yang solid, bisa dipercaya, dan
    bisa dibuktikan."
    Dan dalam waktu lima menit seluruh kelas sudah kembali tertidur nyenyak
    seperti biasa.
    "Dari dulu aku sudah tahu Salazar Slytherin itu sin-ting," Ron berkata kepada
    Harry dan Hermione. Saat itu mereka sedang berdesakan di koridor yang penuh
    sesak pada akhir pelajaran untuk menaruh tas mereka, sebelum makan malam.
    "Tetapi aku tak pernah tahu dialah yang punya ide soal darah- murni ini.
    Dibayar pun aku tak mau tinggal di asramanya. Benar, kalau Topi Seleksi dulu
    mencoba menempatkanku di Slytherin, aku akan langsung pulang naik kereta
    api...."
    Hermione mengangguk bersemangat, tetapi Harry tidak berkata apa-apa.
    Perutnya rasanya tidak enak.
    Harry tidak pernah menceritakan kepada Ron dan Hermione bahwa Topi
    Seleksi dengan serius telah mempertimbangkan akan menempatkannya di
    Slytherin. Dia masih ingat, seakan kejadiannya baru kemarin, suara kecil yang
    berkata ke dalam telinganya ketika dia menaruh topi itu di atas kepalanya
    setahun yang lalu.
    "Kau bisa jadi penyihir hebat Iho. Semuanya ada di kepalamu, dan Slytherin
    bisa membantumu mencapai ke-masyhuran, tak diragukan lagi..."
    Tetapi Harry, yang sudah mendengar reputasi asrama Slytherin yang
    menghasilkan penyihir-penyihir hitam, telah membatin putus asa, Jangan
    Slytherin! dan topi itu berkata,
    "Oh, yah, kalau kau yakin... lebih baik Gryffindor..."



    --------------------------------------- 88

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ketika mereka tengah terdorong-dorong di tengah anak- anak yang
    berbondong-bondong, Colin Creevey melewati mereka.
    "Hai, Harry!"
    "Halo, Colin," kata Harry otomatis.
    "HarryHarryada anak di kelasku yang bilang kau..." Tetapi Colin kecil
    sekali, dia tak bisa menahan dorongan anak-anak yang mendesaknya ke Aula
    Besar. Mereka mendengarnya mencicit, "Sampai nanti, Harry!" dan dia pun
    lenyap.
    "Apa kata anak di kelasnya tentang kau?" Hermione ingin tahu.
    "Bahwa aku pewaris Slytherin, kukira," kata Harry, perutnya semakin tidak
    enak ketika dia teringat Jus-tin Finch-Fletchley yang kabur darinya sebelum
    makan siang tadi.
    "Orang-orang di sini mempercayai apa saja," kata Ron jijik. Kerumunan anak-
    anak menipis dan mereka bisa menaiki tangga berikutnya tanpa kesulitan.
    "Apakah menurutmu Kamar Rahasia itu benar-bmar ada?" Ron bertanya kepada
    Hermione.
    "Entahlah," katanya, mengernyit. "Dumbledore tidak bisa menyembuhkan Mrs
    Norris, dan itu membuatku berpikir bahwa apa pun yang menyerangnya
    mungkin bukanyah- manusia."
    Sementara Hermione bicara, mereka membelok di sudut dan tiba-tiba saja
    sudah berada di koridor tem-pat terjadinya penyerangan. Mereka berhenti dan
    me-mandang berkeliling. Keadaannya masih persis seperti malam itu, kecuali
    tak ada lagi kucing kaku tergantung dari tancapan obor, dan ada kursi kosong di
    depan dinding bertulisan "Kamar Rahasia Telah Dibuka."
    "Di situlah Filch berjaga," gumam Ron. Mereka saling pandang. Koridor itu
    kosong.
    "Tak ada salahnya melihat-lihat," kata Harry, men-jatuhkan tasnya,
    berjongkok, lalu merangkak untuk mencari petunjuk.
    "Bekas terbakar!" katanya. "Di sinidan di sini..."
    "Lihat ini!" kata Hermione. "Ini aneh..."
    Harry bangun dan menyeberang ke jendela di se-belah tulisan di dinding.
    Hermione menunjuk ke ambang paling atas. Tampak kira-kira dua puluh labah-
    labah berjalan tergesa-gesa, rupanya mereka berebut mau keluar lewat celah
    sempit di kaca. Benang pan-jang keperakan menggantung seperti tali, seakan
    me-reka semua naik melewati tali itu dalam ketergesaan mau keluar.
    "Pernahkah kau melihat labah-labah bersikap seperti itu?"
    tanya Hermione penasaran.
    "Tidak," kata Harry. "Pernahkah kau, Ron? Ron?"
    Harry berpaling. Ron berdiri jauh-jauh, dan ke-lihatannya berusaha untuk
    tidak lari. "Kenapa?" tanya Harry. "Aku tidaksukalabah-labah," kata Ron
    tegang. "Aku tak pernah tahu," kata Hermione, menatap Ron keheranan. "Kau
    kan sudah sering menggunakan labah-labah dalam ramuan..."
    "Aku tidak keberatan kalau mereka mati," kata Ron, yang dengan hati-hati
    memandang berkeliling, kecuali jendela. "Aku tak suka melihat cara mereka
    bergerak."
    Hermione terkikik geli.



    --------------------------------------- 89

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tidak lucu," kata Ron galak. "Kalau kau mau tahu, waktu aku berumur tiga
    tahun, Fred mengubah... mengubah boneka beruangku menjadi labah-labah
    besar mengerikan karena aku mematahkan tongkat sihir mainannya. Kau pasti
    tak akan suka juga kalau kau sedang memeluk beruangmu dan mendadak saja
    dia punya begitu banyak kaki dan..."
    Kata-katanya terputus, dia bergidik. Hermione tam-pak jelas masih berusaha
    tidak tertawa. Merasa mereka lebih baik berganti topik, Harry berkata, "Ingat
    air yang di lantai? Dari mana air itu? Ada yang sudah mengepelnya."
    "Kira-kira di sini," kata Ron, yang sudah cukup menguasai diri untuk berjalan
    beberapa langkah me-lewati kursi Filch dan menunjuk, "Sejajar dengan pintu
    ini."
    Tangannya menjangkau pegangan pintu, tetapi men-dadak ditariknya
    kembali, seakan terbakar.
    "Kenapa?" tanya Harry.
    "Tidak bisa masuk," kata Ron parau, "ini toilet anak perempuan."
    "Oh, Ron, tak akan ada orang di dalam," kata Hermione, berdiri dan
    mendekat. "Itu tempat si Myrtle Merana. Ayo, kita lihat."
    Tanpa mengacuhkan tulisan besar "RUSAK", Hermione membuka pintu.
    Itu toilet paling suram dan paling menyedihkan yang pernah dimasuki Harry.
    Di bawah cermin besar yang sudah retak dan bebercak-bercak, ada sederet
    tempat cuci tangan dari batu yang sudah pecah-pecah. Lantainya lembap dan
    memantulkan cahaya suram dari beberapa lilin yang sudah pendek dan menyala
    kecil dalam tancapannya. Pintu-pintu kayu bilik-biliknya mengelupas,
    berjamur, dan salah satu malah mau lepas, tergantung-gantung pada
    engselnya.
    Hermione meletakkan jari di bibirnya dan berjalan menuju bilik paling
    ujung. Setiba di sana dia berkata, "Halo, Myrtle, bagaimana kabarmu?"
    Harry dan Ron melongok. Myrtle Merana sedang melayang- layang di atas
    tangki air, memencet-mencet jerawat di dagunya.
    "Ini toilet perempuan," katanya, mengawasi Ron dan Harry dengan curiga.
    "Mereka bukan perempuan."
    "Bukan," Hermione setuju. "Aku cuma mau me-nunjukkan kepada mereka
    bagaimanaehbetapa menyenangkannya di sini."
    Hermione melambai asal-asalan ke arah cermin dan lantai yang lembap.
    "Tanya kalau-kalau dia lihat sesuatu," Harry mengucapkan tanpa suara kepada
    Hermione. "Kau bisik-bisik apa?" kata Myrtle, membelalak me-natap Harry.
    "Tidak apa- apa," kata Harry cepat-cepat. "Kami ingin tanya..."
    "Aku benci kalau orang-orang ngomong di belakang punggungku!" kata Myrtle
    menahan tangis. "Aku punya perasaan, kau tahu, walaupun aku sudah mati."
    "Myrtle, tak ada yang ingin membuatmu sedih," kata Hermione. "Harry
    cuma..."
    "Tak ada yang ingin membuatku sedih! Bagus amat!" lolong Myrtle. "Hidupku
    penuh penderitaan di tempat ini, dan sekarang orang-orang datang untuk
    meng-hancurkan kematianku!"



    --------------------------------------- 90

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kami ingin bertanya padamu kalau-kalau kau me-lihat sesuatu yang aneh
    belakangan ini," kata Hermione cepat- cepat, "karena ada kucing diserang tepat
    di depan pintumu pada malam Hallowe'en."
    "Apa kau melihat ada orang di dekat sini malam itu?" tanya Harry.
    "Aku tidak memperhatikan," kata Myrtle dramatis. "Peeves membuatku
    sangat menderita, sehingga aku masuk ke sini dan mencoba bunuh diri.
    Kemudian, tentu saja, aku ingat bahwa akubahwa aku..."
    "Sudah mati," kata Ron membantu.
    Myrtle tersedu memilukan, melayang ke atas, ber-balik dan menukik dengan
    kepala duluan ke dalam kloset, menciprati mereka semua dengan air, dan
    menghilang dari pandangan. Dari isakannya yang ber-deguk, dia tentunya
    bersembunyi di leher angsa.
    Harry dan Ron ternganga, tetapi Hermione mengangkat bahu dan berkata,
    "Percaya deh, yang begini ini sudah bisa dibilang riang bagi Myrtle... ayo, kita
    pergi."
    Harry baru saja menutup pintu ketika terdengar suara keras yang membuat
    mereka bertiga terlonjak.
    "RON!"
    Percy Weasley berdiri terpaku di puncak tangga, lencana prefeknya
    berkilauan, ekspresi wajahnya shock berat. "Itu toilet perempuan!" katanya
    kaget. "Ngapain kau...?" "Cuma lihat-lihat," Ron mengangkat bahu. "Cari
    petunjuk..." Percy menggelembung marah sedemikian rupa se-hingga
    mengingatkan Harry pada Mrs Weasley.
    "Pergidarisitu...," katanya, melangkah mendekat dan mengusir mereka
    dengan mengibas-ngibaskan lengan. "Apa kalian tidak peduli apa pendapat
    orang? Kembali ke sini sementara anak-anak lain sedang makan malam..."
    "Kenapa kami tidak boleh ke sini?" tanya Ron panas, membelalak pada Percy.
    "Dengar, kami tak pernah menyentuh kucing itu!"
    "Itu yang kukatakan kepada Ginny," kata Percy garang,
    "tapi dia kelihatannya masih mengira kau akan dikeluarkan. Belum pernah
    kulihat dia secemas itu, menangis terus- menerus. Paling tidak, pikirkanlah
    adikmu. Semua anak kelas satu ketakutan dengan adanya kejadian ini..."
    "Kau tak peduli pada Ginny," kata Ron, yang telinganya sudah mulai merah.
    "Kau cuma cemas aku akan menghilangkan kesempatanmu menjadi Ketua
    Murid!"
    "Potong lima angka dari Gryffindor!" kata Percy tegang, jarinya mengelus
    lencana prefeknya. "Dan kuharap ini jadi pelajaran bagimu! Tak boleh lagi main
    detektif-detektifan, kalau tidak, aku akan menulis pada Mum!"
    Ketika Percy pergi, tengkuknya sama merahnya de-ngan telinga Ron.
    Harry, Ron, dan Hermione memilih tempat duduk sejauh mungkin dari Percy
    di ruang rekreasi malam itu. Ron masih marah sekali dan berkali-kali PR Jimat
    dan Guna-guna-nya ketetesan tinta. Ketika dengan asal-asalan dia mengambil
    tongkatnya untuk meng-hilangkan noda-noda itu, tongkatnya malah membakar
    perkamennya. Marah-marah, sampai seakan berasap seperti perkamennya, Ron
    menutup Kitab Mantra Standar, Tingkat 2-nya keras-keras. Betapa herannya
    Harry, karena Hermione mengikuti jejaknya.



    --------------------------------------- 91

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tapi, siapa dia?" tanya Hermione serius, seakan melanjutkan percakapan
    yang sedang mereka laku-kan. "Siapa yang menginginkan semua Squib dan
    penyihir kelahiran- Muggle dikeluarkan dari Hogwarts?"
    "Mari kita berpikir," kata Ron pura-pura bingung. "Siapa orang yang kita tahu,
    yang berpendapat bahwa penyihir kelahiran-Muggle itu sampah?"
    Dia memandang Hermione. Hermione balik me-mandangnya, tidak yakin.
    "Kalau yang kaubicarakan Malfoy..."
    "Tentu saja!" kata Ron. "Kau mendengar ucapannya:
    'Giliranmu berikutnya, Darah-lumpur!' Coba saja, kau tinggal melihat
    wajahnya yang seperti tikus untuk tahu bahwa dialah orangnya..."
    "Malfoy, Pewaris Slytherin!" kata Hermione ragu-ragu.
    "Lihat saja keluarganya," kata Harry, ikut-ikutan menutup bukunya.
    "Semuanya penghuni Slytherin, dia selalu menyombongkan hal itu. Dengan
    mudah dia bisa saja turunan Slytherin. Ayahnya jelas jahat sekali."
    "Mereka mungkin saja memegang kunci Kamar Rahasia selama berabad-
    abad," kata Ron. "Diserahkan turun-temurun dari ayah ke anak..."
    "Yah," kata Hermione hati-hati, "kurasa itu mungkin juga."
    "Tapi bagaimana kita membuktikannya?" kata Harry muram.
    "Mungkin ada jalan," kata Hermione lambat-lambat, makin merendahkan
    suaranya seraya sekilas melirik Percy di seberang ruangan. "Tentu saja akan
    sulit. Dan berbahaya, sangat berbahaya. Kita akan melanggar kira-kira lima
    puluh peraturan sekolah, kurasa."
    "Kalau, kira-kira sebulan lagi, kau bersedia menjelas-kannya, kau akan
    memberitahu kami, kan?" kata Ron jengkel.
    "Baiklah," tanggap Hermione dingin. "Yang perlu kita lakukan adalah masuk
    ke ruang rekreasi Slytherin dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada
    Malfoy tanpa dia menyadari kitalah yang bertanya."
    "Tapi itu mana mungkin," kata Harry, sementara Ron tertawa. "Tidak, itu
    bukan tidak mungkin," kata Hermione.
    "Yang kita perlukan hanyalah Ramuan Polijus."
    "Apa itu?" tanya Ron dan Harry bersamaan.
    "Snape menyebutkannya di kelas beberapa minggu yang lalu..."
    "Memangnya kami tak punya kerjaan lain yang lebih menarik di pelajaran
    Ramuan selain mendengar-kan Snape?" gumam Ron.
    "Ramuan ini mentransformasimu menjadi orang lain. Pikirkanlah! Kita bisa
    berubah menjadi tiga anak Slytherin. Tak ada yang tahu itu kita. Malfoy
    mungkin akan memberitahu kita segalanya. Dia mungkin se-dang
    mrnyombongkan hal itu di ruang rekreasi Slytherin sekarang ini, kalau saja kita
    bisa mendengar-nya."
    "Ramuan Polijus ini kedengarannya agak meragukan bagiku," kata Ron,
    keningnya berkerut. "Bagaimana kalau kita terperangkap bertampang seperti
    tiga anak Slytherin selamanya?"
    "Efeknya akan menghilang sendiri setelah beberapa waktu," kata Hermione,
    melambaikan tangannya tak sabar. "Tetapi mendapatkan resepnya akan sulit
    sekali. Kata Snape adanya di buku berjudul Ramuan-ramuan Paling Mujarab
    dan, di perpustakaan, buku ini pasti disimpan di Seksi Terlarang."



    --------------------------------------- 92

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Hanya ada satu cara untuk meminjam buku dari Seksi Terlarang: kau perlu
    izin tertulis dengan tanda tangan guru.
    "Susah cari alasan kenapa kita memerlukan buku itu," kata Ron, "kalau bukan
    karena kita ingin men-coba membuat salah satu resep ramuannya."
    "Kurasa," kata Hermione, "kalau kita pura-pura cuma tertarik pada teorinya,
    kita mungkin masih punya kesempatan..."
    "Oh, mana mungkin! Tak ada guru yang bisa tertipu dengan alasan begitu,"
    kata Ron. "Mereka bodoh benar kalau sampai tertipu...."
    10. Bludger Gila
    SEJAK kejadian yang membawa malapetaka dengan pixie, Profesor Lockhart
    tak pernah lagi membawa makhluk hidup ke dalam kelas. Sebagai gantinya dia
    membacakan paragraf- paragraf dari buku-bukunya, dan kadang-kadang
    memperagakan kembali bagian-bagian yang paling dramatis. Biasanya dia
    memilih Harry untuk membantunya melakukan rekonstruksi. Sejauh ini Harry
    sudah dipaksa berperan sebagai pen-duduk desa Transylvania sederhana yang
    disembuhkan Lockhart dari Kutukan Gagap, yeti yang pilek berat, dan vampir
    yang setelah ditangani Lockhart tak bisa makan apa- apa selain daun selada.
    Harry ditarik ke depan kelas dalam pelajaran Per-tahanan terhadap Ilmu
    Hitam berikutnya. Kali ini dia berperan sebagai manusia serigala. Harry pasti
    sudah menolak kalau dia tidak ingat pada rencana Hermione. Untuk itu dia
    harus membuat Lockhart senang.
    "Lolongan keras yang bagus, Harrypersisdan kemudian, kalau kalian
    percaya, aku menyerang seperti ini membantingnya ke lantaibegini
    dengan satu tangan. Aku berhasil memitingnyadengan ta-ngan yang lain.
    Kutekankan tongkatku ke lehernya kukumpulkan sisa tenagaku dan
    kulancarkan Mantra Homorphus yang sangat rumitdia mengeluarkan erangan
    memelasayo, Harrylebih melengking lagibagusbulunya lenyaptaringnya
    menyusut dan dia kembali menjadi manusia. Sederhana, tapi efektifdan
    satu desa lagi akan mengenangku selama-nya sebagai pahlawan yang
    membebaskan mereka dari teror bulanan serangan manusia serigala."
    Bel berdering dan Lockhart bangkit.
    "PR: buat puisi tentang kejadian aku mengalahkan manusia serigala Wagga
    Wagga! Hadiah buku Aku yang Ajaib dengan tanda tanganku untuk penulis puisi
    yang paling baik!"
    Anak-anak mulai meninggalkan kelas. Harry kembali ke belakang, ke tempat
    Ron dan Hermione menunggu.
    "Siap?" gumam Harry.
    "Tunggu sampai semua sudah pergi," kata Hermione gugup. "Baiklah..."



    --------------------------------------- 93

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dia mendekati meja Lockhart, secarik kertas ter-genggam erat di tangannya.
    Harry dan Ron mem-buntuti di belakangnya.
    "EhProfesor Lockhart?" Hermione tergagap. "Saya ingin mememinjam buku
    ini dari perpustakaan. Ha-nya untuk bacaan tambahan." Dia mengulurkan kertas
    itu, tangannya agak gemetar. "Masalahnya, bukunya ada di Seksi Terlarang
    perpustakaan, jadi saya perlu tanda tangan guru untuk meminjamnyasaya
    yakin buku ini bisa membantu saya memahami apa yang Anda ceritakan di
    Heboh dengan Hantu, itu lho tentang bisa reptil yang dampaknya baru
    kelihatan setelah beberapa lama."
    "Ah, Heboh dengan Hantu!" kata Lockhart, mengambil kertas dari tangan
    Hermione dan tersenyum lebar kepadanya.
    "Mungkin buku favoritku. Kau suka buku itu?"
    "Oh, ya," kata Hermione bersemangat. "Cerdik se-kali, cara Anda
    memerangkap hantu yang terakhir dengan saringan teh..."
    "Yah, kurasa tak akan ada yang keberatan jika aku memberi sedikit bantuan
    pada murid terbaik tahun ini," kata Lockhart hangat, dan dia mengeluarkan
    pena bulu merak yang besar sekali. "Ya, bagus, kan?" katanya, salah
    menafsirkan ekspresi jijik di wajah Ron. "Aku biasanya menggunakannya untuk
    me-nandatangani buku-bukuku."
    Dia mencoretkan tanda tangan besar melingkar di kertas itu, di bawah judul
    buku, dan mengembali-kannya kepada Hermione.
    "Nah, Harry," kata Lockhart, sementara Hermione melipat kertas itu dengan
    jari-jari gemetar dan me-nyelipkannya ke dalam tasnya. "Besok pertandingan
    pertama Quidditch musim ini, kan? Gryffindor lawan Slytherin, ya? Kudengar
    kau pemain yang berguna. Aku dulu Seeker juga. Aku diminta mencoba main
    untuk tim nasional, tetapi aku memilih mendedikasi-kan hidupku untuk
    pemberantasan Ilmu Hitam. Tapi, kalau kau merasa memerlukan latihan privat,
    jangan ragu-ragu menghubungiku. Aku selalu senang mem-bagikan keahlianku
    pada pemain yang kurang terampil dibanding aku..." Harry mengeluarkan bunyi
    tak jelas di kerongkongannya, lalu bergegas menyusul Ron dan Hermione.
    "Sungguh tak bisa dipercaya," kata Harry, ketika mereka bertiga mengamati
    tanda tangan di kertas. "Dia bahkan tidak membaca judul buku yang kita
    inginkan."
    "Itu karena dia tak punya otak," kata Ron. "Tapi peduli amat, kita sudah
    mendapatkan yang kita ingin-kan."
    "Dia punya otak," bantah Hermione nyaring, ketika mereka setengah berlari
    ke perpustakaan. "Hanya karena dia bilang kau murid terbaik tahun ini..."
    Mereka merendahkan suara ketika memasuki ke-heningan perpustakaan.
    Madam Pince, petugas perpustakaan, adalah perem-puan kurus pemarah
    yang tampangnya seperti burung hering kurang makan.
    "Ramuan-ramuan Paling Mujarab?" dia mengulang curiga, berusaha
    mengambil catatan itu dari tangan Hermione, tetapi Hermione tak mau
    melepasnya.
    "Saya ingin menyimpannya," desahnya.



    --------------------------------------- 94

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Ya ampun," kata Ron, merebut kertas itu dan me-nyerahkannya kepada
    Madam Pince. "Kita akan minta tanda tangan lain untukmu. Lockhart akan
    menanda-tangani apa saja kalau benda itu diam cukup lama."
    Madam Pince menerawang kertas itu ke lampu, seakan bertekad menemukan
    pemalsuan, tetapi kertas nya lulus tes. Dia berjalan di antara rak-rak tinggi dan
    kembali beberapa menit kemudian, membawa buku besar yang tampak
    berjamur. Hermione me-masukkannya hati-hati ke dalam tasnya dan mereka
    meninggalkan perpustakaan, berusaha tidak berjalan terlalu cepat atau
    kelihatan terlalu bersalah.
    Lima menit kemudian, mereka sudah mengurung diri dalam toilet rusak
    Myrtle Merana lagi. Hermione menolak keberatan Ron dengan dalih toilet itu
    tempat terakhir yang akan didatangi siapa saja yang pikiran-nya lurus. Jadi di
    situ dijamin mereka aman. Myrtle Merana tersedu-sedu berisik di dalam
    biliknya, tetapi mereka tidak memedulikannya dan Myrtle juga tidak
    memedulikan mereka.
    Hermione hati-hati membuka Ramuan-ramuan Paling Mujarab, dan ketiganya
    membungkuk di atas halaman-halaman yang bebercak-bercak lembap. Sekilas
    saja sudah jelas kenapa buku itu ditaruh di Seksi Terlarang. Beberapa efek
    ramuannya terlalu mengerikan untuk dipikirkan, dan ada beberapa ilustrasi
    yang menyeram-kan, termasuk gambar seorang laki-laki yang kelihatan-nya
    bagian dalam tubuhnya dibalik jadi di luar, dan penyihir wanita yang dari
    kepalanya tumbuh beberapa pasang tangan tambahan.
    "Ini dia," kata Hermione bersemangat, ketika dia me-nemukan halaman yang
    berjudul Ramuan Polijus. Ha-laman itu dihiasi gambar-gambar orang yang
    setengah bertransformasi menjadi orang lain. Harry betul-betul berharap
    ilustratornya hanya membayangkan ekspresi kesakitan luar biasa pada wajah
    orang-orang itu.
    "Ini ramuan paling rumit yang pernah kubaca," kata Hermione, ketika mereka
    membaca resepnya.
    "Serangga sayap-renda, lintah, mostar, dan knotgrass tanaman rendah
    berbunga dadu dan berdaun biru keabu- abuan," dia bergumam, jarinya
    menyusuri daftar bahan yang diperlukan. "Yah, ini cukup gampang, semua ada
    di lemari bahan siswa, kita bisa ambil sendiri. Oooh, lihat, bubuk tanduk Bicorn
    entah dari mana bisa kita dapatkan... selongsong kulit ular pohon saat dia
    ganti kulitini susah jugadan tentu saja sedikit bagian dari orang yang
    menjadi sasaran kita."
    "Maaf?" kata Ron tajam. "Apa maksudmu, sedikit bagian dari orang yang
    menjadi sasaran kita? Aku tak mau minum apa pun yang mengandung kuku kaki
    Crabbe..."
    Hermione melanjutkan seakan dia tidak mendengar-nya.
    "Kita belum perlu mencemaskan itu, karena bagian itu kita tambahkan paling
    belakang..." Tak bisa bicara, Ron menoleh kepada Harry, yang punya
    kekhawatiran lain.
    "Apakah kau sadar berapa banyak yang harus kita curi, Hermione? Kulit ular
    pohon, jelas ini tak ada dalam lemari siswa. Apa yang akan kita lakukan?
    Membongkar lemari pribadi Snape? Aku tak tahu apakah itu ide bagus..."



    --------------------------------------- 95

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Hermione menutup bukunya dengan suara keras.
    "Kalau kalian berdua mau mundur, silakan," kata-nya. Ada rona merah di
    pipinya dan matanya lebih cemerlang daripada biasanya. "Aku tak ingin me-
    langgar peraturan, kalian tahu. Kurasa mengancam penyihir kelahiran-Muggle
    lebih parah daripada me-rebus ramuan yang sulit. Tetapi kalau kalian tidak
    ingin mencari tahu apakah Malfoy adalah pewaris Slytherin, aku akan kembali
    ke Madam Pince sekarang juga dan mengembalikan bukunya di..."
    "Tak pernah kusangka akan tiba harinya kau mem-bujuk kami untuk
    melanggar peraturan," kata Ron. "Baiklah, akan kita lakukan. Tapi tidak pakai
    kuku kaki, oke?"
    "Berapa lama sih buatnya?" tanya Harry, ketika Hermione, yang tampak lebih
    gembira, membuka buku itu lagi.
    "Yah, karena mostarnya harus dicabut pada malam purnama, dan serangga
    sayap-rendanya harus direbus selama dua puluh satu hari... kubilang ramuan
    itu akan siap dalam waktu kira-kira sebulan, kalau kita berhasil mendapatkan
    semua bahannya."
    "Sebulan?" kata Ron. "Malfoy bisa-bisa sudah me-nyerang separo anak yang
    kelahiran-Muggle!" Tetapi mata Hermione menyipit berbahaya lagi, jadi Ron
    buru-buru menambahkan,
    "Tapi ini rencana paling baik yang kita punya, jadi jalan terus." Meskipun
    demikian, sementara Hermione me-meriksa apakah keadaan aman bagi mereka
    untuk meninggalkan toilet, Ron bergumam kepada Harry, "Akan jauh lebih
    mudah kalau kau bisa menjatuhkan Malfoy dari sapunya besok."
    Hari Sabtu, Harry terbangun pagi-pagi dan berbaring-baring dulu memikirkan
    pertandingan Quidditch yang akan berlangsung. Dia cemas, terutama
    memikirkan apa yang akan dikatakan Wood kalau Gryffindor kalah, tetapi juga
    memikirkan mereka harus meng-hadapi tim yang menaiki sapu balap paling
    cepat yang bisa dibeli dengan emas. Belum pernah dia begitu ingin
    mengalahkan Slytherin sampai seperti itu. Setelah setengah jam berbaring
    dengan perasaan tak keruan, dia bangkit, berganti pakaian, dan turun untuk
    sarapan lebih awal dari biasanya. Ternyata ang-gota tim Gryffindor lainnya
    sudah berkumpul di meja panjang yang kosong, semua kelihatan tegang dan
    tidak banyak bicara.
    Mendekati pukul sebelas, seluruh sekolah mulai menuju ke stadion
    Quidditch. Cuaca mendung, guruh siap menggelegar. Ron dan Hermione
    bergegas datang untuk mengucapkan selamat bertanding dan semoga sukses
    ketika Harry memasuki kamar ganti. Para ang-gota tim memakai jubah merah
    tua Gryffindor mereka, kemudian duduk untuk mendengarkan pidato sebelum-
    pertandingan Wood seperti biasanya.
    "Slytherin punya sapu yang lebih bagus dari kita," dia mulai, "tak ada
    gunanya menyangkalnya. Tetapi kita punya pemain yang lebih baik di atas sapu
    kita. Kita sudah berlatih lebih keras daripada mereka, kita sudah terbang
    dalam segala cuaca..." ("Betul sekali," gumam George Weasley. "Aku tidak
    pernah betul-betul kering sejak Agustus.") "...dan kita akan mem-buat mereka
    menyesali hari ketika mereka mengizin-kan si licik Malfoy itu menyuap untuk
    bisa masuk tim mereka."



    --------------------------------------- 96

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dengan dada naik-turun saking emosinya, Wood menoleh kepada Harry.
    "Terserah padamu, Harry, untuk menunjukkan bahwa Seeker perlu punya
    lebih dari sekadar ayah yang kaya. Tangkap Snitch-nya sebelum keduluan
    Malfoy. Kalau tidak, lebih baik mati, Harry, karena kita harus menang hari ini,
    kita harus menang."
    "Jadi, tak ada tekanan, Harry," kata Fred, mengedip kepadanya.
    Ketika mereka keluar menuju ke stadion, terdengar sambutan meriah,
    sorakan dan teriakan untuk menyemangati mereka, karena Ravenclaw dan
    Hufflepuff ingin melihat Slytherin kalah, tetapi anak-anak Slytherin juga
    ber-"buu-buu" dan mendesis-desis keras. Madam Hooch, guru Quidditch mereka,
    me-minta Flint dan Wood berjabat tangan. Keduanya berjabat tangan dengan
    saling melempar pandangan mengancam, dan meremas lebih keras daripada
    yang diperlukan.
    "Mulai pada tiupan peluitku," kata Madam Hooch, "tiga... dua... satu..."
    Dengan teriakan dari penonton untuk menye-mangati mereka terbang,
    keempat belas pemain me-luncur naik ke langit yang mendung. Harry terbang
    lebih tinggi daripada yang lain, menyipitkan mata, mencari-cari Snitch.
    "Baik-baik di sana, Dahi Pitak?" teriak Malfoy, me-luncur di bawah Harry
    seakan mau memamerkan kecepatan sapunya.
    Harry tak punya kesempatan menjawab. Pada saat itu Bludger hitam berat
    meluncur ke arahnya. Dia menghindar, tetapi hampir saja kena. Dia masih me-
    rasakan Bludger itu menyapu rambutnya.
    "Nyaris saja, Harry!" kata George, melesat me-lewatinya dengan pemukul di
    tangan, siap memukul balik Bludger ke arah Slytherin. Harry melihat George
    memukul Bludger itu sekuat tenaga ke arah Adrian Pucey, tetapi Bludger itu
    berubah arah di tengah udara dan kembali mengincar Harry. Harry cepat-cepat
    menukik turun menghindarinya, dan George berhasil memukulnya keras-keras
    ke arah Malfoy. Sekali lagi Bludger itu berbalik seperti bumerang dan meluncur
    ke kepala Harry.
    Harry mempercepat laju sapunya dan melesat ke ujung lain lapangan. Dia
    bisa mendengar Bludger itu menderu di belakangnya. Apa yang terjadi? Bludger
    tidak pernah berkonsentrasi pada satu pemain seperti ini. Tugas Bludger- lah
    untuk mencoba menjatuhkan sebanyak mungkin pemain...
    Fred Weasley menunggu Bludger di ujung lain la-pangan. Harry menunduk
    ketika Fred memukul Bludger sekuat tenaga. Bludger itu terbang ke luar
    lapangan.
    "Beres!" teriak Fred senang, tetapi dia keliru. Bagai tertarik magnet, Bludger
    itu kembali meluncur ke arah Harry, dan Harry terpaksa terbang dengan ke-
    cepatan penuh.
    Hujan sudah mulai turun. Tetes-tetes besar air jatuh ke wajah Harry,
    mengaburkan kacamatanya. Dia tak bisa melihat apa yang sedang berlangsung
    sampai dia mendengar Lee Jordan, yang menjadi komentator, berkata,
    "Slytherin memimpin, enam puluh lawan nol."
    Sapu superior Slytherin jelas menunjukkan ke-piawaiannya, dan sementara
    itu si Bludger gila terus berusaha menjatuhkan Harry dari sapunya. Fred dan
    George sekarang terbang begitu rapat di kanan-kirinya, sehingga Harry tak bisa



    --------------------------------------- 97

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    melihat apa- apa selain tangan mereka yang berseliweran dan ia tak punya ke-
    sempatan mencari Snitch, apalagi menangkapnya.
    "Ada... yang... mengerjai... Bludger... ini...," gerutu Fred, mengayunkan
    pemukulnya sekuat tenaga ketika si Bludger kembali menyerang Harry.
    "Kita perlu time out," kata George, berusaha memberi isyarat kepada Wood
    dan mencegah si Bludger me-matahkan hidung Harry pada saat bersamaan.
    Wood jelas sudah menangkap pesannya. Peluit Madam Hooch berbunyi
    nyaring dan Harry, Fred, dan George menukik turun, masih berusaha meng-
    hindari si Bludger gila.
    "Apa yang terjadi?" tanya Wood, ketika tim Gryffindor sudah berkumpul,
    sementara para pe-nonton Slytherin berteriak mengejek. "Kita digilas. Fred,
    George, di mana kalian waktu Bludger itu men-cegah Angelina mencetak gol?"
    "Kami enam meter di atasnya, mencegah Bludger satunya membunuh Harry,
    Oliver," kata George ma-rah. "Ada yang menyihirnyaBludger itu menyerang
    Harry terus, tidak pernah mendekati pemain lain sepanjang pertandingan.
    Anak-anak Slytherin pasti sudah melakukan sesuatu pada Bludger itu."
    "Tetapi Bludger-nya dikunci dalam kantor Madam Hooch sejak latihan
    terakhir kita, dan waktu itu dua-duanya tidak apa-apa...," kata Wood cemas.
    Madam Hooch berjalan ke arah mereka. Lewat atas bahu Madam Hooch,
    Harry bisa melihat tim Slytherin mengejek dan menunjuk-nunjuk ke arah-nya.
    "Dengar," kata Harry, ketika Madam Hooch sudah semakin dekat, "dengan
    kalian berdua terbang di sekitarku sepanjang waktu, satu-satunya kemungkinan
    aku menangkap Snitch adalah kalau Snitch-nya terbang masuk ke lengan
    jubahku," kata Harry. "Kem-balilah ke yang lain dan biar kutangani sendiri
    Bludger gila itu."
    "Jangan bodoh," kata Fred. "Bludger itu bisa me-nebas kepalamu." Wood
    bergantian memandang Harry dan si kembar Weasley.
    "Oliver, ini gila," kata Alicia Spinnet berang. "Kau tak bisa mengizinkan Harry
    menangani Bludger itu sendirian. Ayo, kita minta penyelidikan..."
    "Kalau kita berhenti sekarang, kita akan dinyatakan kalah!" kata Harry. "Dan
    kita tidak akan kalah dari Slytherin hanya karena satu Bludger gila! Ayo, Oliver,
    suruh mereka meninggalkanku sendiri!"
    "Ini semua salahmu," kata George marah kepada Wood.
    "'Tangkap Snitch-nya, kalau tidak lebih baik mati.' Bodoh benar bilang begitu
    padanya."
    Madam Hooch sudah bergabung dengan mereka.
    "Siap melanjutkan pertandingan?" dia bertanya kepada Wood.
    Wood memandang wajah Harry yang memancarkan tekad kuat.
    "Baiklah," katanya. "Fred, George, kalian mendengar Harry... tinggalkan dia
    dan biarkan dia menangani sendiri Bludger itu."
    Hujan sudah semakin deras sekarang. Begitu peluit Madam Hooch ditiup,
    Harry menjejak keras ke udara dan mendengar desing Bludger yang sudah
    dikenal-nya di belakangnya. Harry terbang makin lama makin tinggi. Dia
    terbang melingkar, meluncur, spiral, zig-zag, dan berguling. Meskipun agak
    pusing, dia mem-buka mata lebar-lebar. Hujan mengaburkan kacamata-nya dan
    mengalir masuk ke lubang hidungnya ketika dia bergantung membalik,



    --------------------------------------- 98

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    menghindari serangan keras si Bludger. Dia bisa mendengar gelak tawa
    penonton, dia tahu pasti dia tampak tolol sekali, tetapi si Bludger gila itu berat
    dan tak dapat berubah arah secepat dia. Dia mulai terbang model roller-
    coaster mengelilingi stadion, matanya menyipit menembus tirai perak air
    hujan, memandang tiang gol Gryffindor, di mana Adrian Pucey sedang berusaha
    melewati Wood....
    Desing di telinganya membuat Harry tahu si Bludger baru saja gagal
    menyerangnya lagi. Dia lang-sung memutar dan meluncur ke arah berlawanan.
    "Lagi latihan balet nih, Potter?" teriak Malfoy, ketika Harry terpaksa
    berputar-putar dengan konyol di te-ngah udara untuk menghindari si Bludger.
    Harry terbang menjauh, si Bludger membuntuti satu meter di belakangnya. Dan
    kemudian, ketika membalas me-mandang Malfoy penuh kebencian, Harry
    melihatnya, Golden Snitch, melayang hanya beberapa senti di atas telinga kiri
    Malfoydan Malfoy, yang sibuk me-nertawakan Harry, tidak melihatnya.
    Selama beberapa saat yang menyiksa, Harry meng-gantung di udara, tak
    berani meluncur ke arah Malfoy, takut kalau- kalau Malfoy mendongak dan
    melihat Snitch itu.
    DUGGG!
    Dia berdiam diri terlalu lama sedetik. Si Bludger berhasil mengenainya
    akhirnya, menghantam sikunya, dan Harry merasa lengannya patah. Samar-
    samar, pusing karena kesakitan luar biasa pada lengannya, dia tergelincir
    miring pada sapunya yang basah kuyup, satu lututnya masih mengait pada sapu
    itu, lengan kanannya tergantung lunglai tak berguna. Si Bludger kembali
    meluncur ke arahnya untuk serangan kedua, kali ini mengarah ke wajahnya.
    Harry menghindar, dengan satu ide tertanam di otaknya yang membeku:
    dekati Malfoy.
    Dengan pandangan kabur karena hujan dan rasa sakitnya, Harry menukik ke
    arah wajah yang menye-ringai mengejek di bawahnya dan melihat mata di
    wajah itu membelalak ketakutan: Malfoy mengira Harry menyerangnya.
    "Apa yang...," pekiknya kaget, menyingkir meng-hindari Harry.
    Dengan tangan kanannya lunglai tak berdaya, Harry melepas satu-satunya
    pegangannya pada sapu dan menyambar liar. Dia merasa jari-jarinya
    menggenggam Snitch yang dingin, tetapi sekarang dia hanya menjepit sapu
    dengan kakinya dan terdengar jeritan dari pe-nonton di bawah ketika dia
    meluncur ke bawah, berusaha keras agar tidak pingsan. Dengan bunyi
    berdebam keras dan cipratan lumpur, dia mendarat dan berguling dari sapunya.
    Lengannya menggantung terpuntir dalam posisi sangat janggal. Dalam
    kesakitannya, dia mendengar seakan dari ke-jauhan, suitan dan teriakan-
    teriakan. Dia ber-konsentrasi pada Snitch yang tergenggam di tangan-nya yang
    sehat.
    "Aha," katanya tak jelas. "Kita menang." Lalu dia pingsan.
    Saat sadar kembali, hujan membasahi wajahnya. Dia masih terbaring di
    lapangan dan ada orang yang membungkuk di atasnya. Harry melihat kilauan
    gigi.
    "Oh tidak, jangan Anda," rintihnya.



    --------------------------------------- 99

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Dia tak sadar apa yang dikatakannya," kata Lockhart keras-keras kepada
    anak-anak Gryffindor yang cemas berdesakan mengerumuninya. "Jangan
    khawatir, Harry, akan kusembuhkan lenganmu."
    "Jangan!" tolak Harry. "Biar begini saja, terima kasih..."
    Dia berusaha duduk, tetapi sakitnya bukan main. Didengarnya bunyi klak-klik
    yang sudah sangat dikenalnya di dekatnya.
    "Aku tak mau difoto begini, Colin," katanya keras.
    "Berbaring lagi, Harry," bujuk Lockhart. "Ini mantra sederhana yang sudah
    kugunakan ratusan kali." "Kenapa saya tak boleh ke rumah sakit saja?" kata
    Harry dengan gigi mengertak.
    "Dia seharusnya ke rumah sakit saja, Profesor," kata Wood yang penuh
    lumpur. Dia tak tahan tidak nyengir walaupun Seeker-nya terluka. "Tangkapan
    luar biasa, Harry, benar-benar spektakuler, tangkapanmu yang paling hebat,
    menurutku."
    Melalui pagar kaki yang mengelilinginya, Harry melihat Fred dan George
    Weasley, berkutat memasuk-kan si Bludger gila ke dalam kotak. Bludger itu
    masih melawan gila-gilaan.
    "Mundur," kata Lockhart, yang menggulung lengan jubah hijau-kumalanya.
    "Tidakjangan...," kata Harry lemah, tetapi Lockhart sudah memelintir
    tongkatnya dan sedetik kemudian mengacungkannya ke lengan Harry.
    Perasaan aneh dan tidak menyenangkan menjalar dari bahu Harry terus ke
    ujung jari-jarinya. Rasanya seakan lengannya sedang dikempiskan. Dia tidak be-
    rani melihat apa yang sedang terjadi. Dipejamkannya matanya, dipalingkannya
    wajahnya dari lengannya, tetapi ketakutannya yang terbesar menjadi
    kenyataan ketika orang-orang di atasnya memekik tertahan dan Colin
    menjepret gila-gilaan. Lengannya sudah tidak sakit lagitetapi juga tidak
    terasa seperti lengan.
    "Ah," kata Lockhart. "Ya. Yang seperti itu kadang-kadang terjadi. Tetapi yang
    penting, tulangnya tidak lagi patah. Itu yang harus diingat. Jadi, Harry,
    pergilah saja ke rumah sakit... ah, Mr Weasley, Miss Granger, tolong kalian
    antar, ya?... dan Madam Pomfrey akan bisa me... eh... merapikanmu sedikit."
    Ketika Harry bangkit, dia merasa aneh, seakan berat sebelah. Dengan menarik
    napas dalam-dalam dia me-nunduk memandang ke sebelah kanannya. Yang di-
    lihatnya nyaris membuatnya pingsan lagi.
    Menjulur dari ujung jubahnya ada sesuatu yang tampak seperti sarung tangan
    karet tebal warna kulit. Harry mencoba menggerakkan jari-jarinya. Tak ada
    yang terjadi.
    Lockhart tidak monyembuhkan tulang Harry. Dia melenyapkannya.
    Madam Pomfrey sama sekali tidak senang.
    "Seharusnya kau langsung datang padaku!" katanya berang, mengangkat
    bekas lengan yang tampak lemas menyedihkan, yang setengah jam sebelumnya
    masih berupa tangan yang sehat. "Aku bisa menyembuhkan tulang patah dalam
    waktu sedetiktapi menumbuh-kan kembali tulang- tulang..."
    "Tapi Anda bisa, kan?" tanya Harry putus asa.
    "Aku bisa, tentu saja, tapi akan sakit sekali," kata Madam Pomfrey muram,
    seraya melempar piama ke-pada Harry. "Kau harus menginap..."



    --------------------------------------- 100

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Hermione menunggu di balik tirai yang dipasang di sekeliling tempat tidur
    Harry, sementara Ron mem-bantunya memakai piama. Perlu cukup lama untuk
    memasukkan lengan tanpa tulang yang bagai karet itu ke dalam lengan piama.
    "Bagaimana kau bisa membela Lockhart sekarang, Hermione, eh?" seru Ron
    dari balik tirai sembari menarik jari- jari lemas Harry dari lubang lengan. "Kalau
    Harry mau tulangnya dihilangkan, dia akan minta."
    "Siapa saja bisa membuat kesalahan," kata Hermione. "Lagi pula tidak sakit
    lagi, kan, Harry?" "Tidak," jawab Harry, "tapi tidak bisa ngapa-ngapain juga."
    Saat melempar dirinya ke atas tempat tidur, lengan-nya mengelepak lunglai.
    Hermione dan Madam Pomfrey datang ke balik tirai. Madam Pomfrey mem-
    bawa botol besar berlabel "Skele-Gro"Penumbuh Tulang.
    "Kau akan kesakitan semalaman," katanya seraya menuang semangkuk penuh
    cairan berasap dan meng-ulurkannya kepada Harry. "Menumbuhkan tulang sa-
    ngat tidak menyenangkan."
    Begitu juga meminum Skele-Gro. Cairan itu mem-bakar mulut dan
    tenggorokan Harry, membuatnya terbatuk-batuk dan tergagap-gagap. Dengan
    masih mengomel tentang permainan yang berbahaya dan guru yang tidak layak,
    Madam Pomfrey pergi, me-ninggalkan Ron dan Hermione membantu Harry me-
    minum beberapa teguk air.
    "Tapi kita menang," kata Ron, nyengir lebar.
    "Tang-kapanmu luar biasa. Wajah Malfoy... kelihatannya dia siap
    membunuh!"
    "Aku ingin tahu Bludger itu dia apakan," kata Hermione jengkel.
    "Kita bisa menambahkan itu ke daftar pertanyaan yang akan kita ajukan
    kepadanya setelah kita minum Ramuan Polijus," kata Harry, merebahkan diri
    kembali ke bantalnya.
    "Mudah-mudahan rasanya lebih enak daripada obat ini..."
    "Dengan cuilan anak Slytherin di dalamnya? Kau bergurau,"
    kata Ron.
    Pintu kamar rumah sakit terbuka keras pada saat itu. Kotor dan basah kuyup,
    seluruh anggota tim Gryffindor datang untuk menengok Harry.
    "Terbangmu bukan main, Harry," kata George. "Aku baru saja melihat Marcus
    Flint berteriak-teriak me-marahi Malfoy. Ngomel tentang Snitch yang berada di
    atas kepalanya dan dia tidak melihatnya. Malfoy kelihatannya tidak senang."
    Mereka membawa kue, permen, dan berbotol-botol jus labu kuning. Mereka
    berkerumun di sekeliling tempat tidur Harry dan baru akan mulai berpesta
    ketika Madam Pomfrey buru- buru mendatangi, sambil berteriak, "Anak ini
    perlu istirahat, dia harus me-numbuhkan tiga puluh tiga tulang! Keluar!
    KELUAR!"
    Dan Harry ditinggalkan sendirian, tanpa ada yang bisa mengalihkan
    perhatiannya dari kesakitan yang menusuk-nusuk lengannya yang lemas.
    Berjam-jam kemudian, Harry mendadak terbangun dalam gelap gulita dan
    memekik kesakitan. Lengannya serasa dipenuhi serpihan-serpihan tulang besar.
    Sesaat dia mengira itulah yang membuatnya terbangun. Kemudian, dengan
    ngeri dia menyadari ada yang menyeka dahinya dengan spons dalam gelap.
    "Pergi!" katanya keras. Dan kemudian, "Dobby!"



    --------------------------------------- 101

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mata si peri-rumah yang menonjol sebesar bola tenis memandang Harry
    dalam kegelapan. Sebutir air mata bergulir di hidungnya yang panjang dan
    runcing.
    "Harry Potter kembali ke sekolah," dia berbisik me-rana.
    "Dobby sudah bolak-balik memperingatkan Harry Potter. Ah, Sir, kenapa
    Anda tidak mendengar-kan Dobby? Kenapa Harry Potter tidak pulang saja waktu
    ketinggalan kereta api?"
    Harry duduk bersandar di bantalnya dan me-nyingkirkan spons Dobby.
    "Ngapain kau di sini?" tanyanya. "Dan bagaimana kau tahu aku ketinggalan
    kereta?"
    Bibir Dobby bergetar dan Harry mendadak curiga.
    "Kau!" katanya lambat-lambat. "Kau yang membuat palang rintangan
    menolak mengizinkan kami masuk!"
    "Memang betul, Sir," kata Dobby, mengangguk kuat-kuat, telinganya
    mengelepak. "Dobby bersembunyi me-nunggu Harry Potter dan menyegel
    palang rintangan dan Dobby harus menyeterika tangannya sesudah-nya..."
    ditunjukkannya kepada Harry sepuluh jari panjang yang diperban, "...tetapi
    Dobby tidak peduli, Sir, karena dia mengira Harry Potter aman, dan Dobby tak
    pernah mimpi bahwa Harry Potter akan ke sekolah dengan cara lain!"
    Dia mengayun tubuhnya ke depan dan ke belakang, menggeleng-gelengkan
    kepalanya yang jelek.
    "Dobby kaget sekali ketika mendengar Harry Potter sudah kembali ke
    Hogwarts, sampai membuat makan malam tuannya hangus! Belum pernah
    Dobby di-cambuki sehebat itu, Sir..."
    Harry terenyak kembali ke bantalnya.
    "Kau hampir saja membuat aku dan Ron dikeluar-kan," katanya galak. "Lebih
    baik kau pergi sebelum tulang-tulangku tumbuh, Dobby, kalau tidak mungkin
    kau akan kucekik."
    Dobby tersenyum lemah.
    "Dobby sudah terbiasa dengan ancaman maut, Sir. Dobby menerimanya lima
    kali sehari di rumah."
    Dobby membuang ingus di salah satu sudut sarung bantal kumal dan kotor
    yang dipakainya, kelihatan memelas sekali sehingga Harry merasa
    kemarahannya mereda dengan sendirinya.
    "Kenapa kau memakai itu, Dobby?" tanyanya ingin tahu.
    "Ini, Sir?" kata Dobby, menarik-narik sarung bantal-nya.
    "Ini tanda perbudakan peri-rumah, Sir. Dobby hanya bisa dibebaskan kalau
    tuan Dobby meng-hadiahinya pakaian, Sir. Keluarga majikan Dobby sa-ngat
    berhati-hati, jangan sampai menyerahkan kepada Dobby bahkan kaus kaki
    bekas, Sir, karena kalau begitu Dobby akan bebas meninggalkan rumah mereka
    selamanya."
    Dobby menyeka matanya yang menonjol dan men-dadak berkata, "Harry
    Potter harus pulang! Dobby mengira Bludger- nya akan cukup membuat..."
    "Bludger-mu?" kata Harry, kemarahannya timbul lagi. "Apa maksudmu,
    Bludger-mu? Kau membuat Bludger itu mencoba membunuhku?"



    --------------------------------------- 102

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tidak membunuh, Sir, tak akan pernah membunuh Anda!" kata Dobby
    terperanjat. "Dobby ingin menye-lamatkan hidup Harry Potter! Lebih baik
    dipulangkan, dengan luka parah, daripada tinggal di sini, Sir! Dobby cuma ingin
    Harry Potter luka cukup parah supaya dikirim pulang!"
    "Oh, cuma itu?" kata Harry berang. "Kurasa kau tidak akan bilang padaku
    kenapa kau menginginkan aku dikirim pulang dalam keadaan tidak utuh?"
    "Ah, kalau saja Harry Potter tahu!" Dobby meratap, lebih banyak lagi air
    mata bercucuran ke sarung bantal rombengnya. "Kalau saja dia tahu betapa
    berartinya dia untuk kami, kaum rendahan, para budak, kami sampah
    masyarakat sihir! Dobby ingat bagaimana ke-adaannya ketika Dia yang Namanya
    Tak Boleh Disebut berada di puncak kekuasaannya, Sir! Kami peri-peri-rumah
    diperlakukan seperti kutu busuk! Tentu saja Dobby masih diperlakukan seperti
    itu, Sir," dia mengakui, menyeka wajahnya dengan sarung bantal-nya.
    "Tetapi, Sir, kehidupan telah menjadi jauh lebih baik bagi kaum kami sejak
    Anda menang melawan Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut. Harry Potter
    selamat, dan kekuatan si Pangeran Kegelapan dipatah-kan, dan saat itu seperti
    hari baru, Sir. Harry Potter bersinar seperti cahaya mercusuar harapan bagi
    kami, yang mengira hari-hari gelap tak akan pernah berakhir, Sir... Dan
    sekarang, di Hogwarts, peristiwa- peristiwa mengerikan akan terjadi, bahkan
    mungkin sedang terjadi, dan Dobby tak bisa membiarkan Harry Potter tinggal di
    sini sekarang ketika sejarah akan berulang, sekarang ketika Kamar Rahasia
    sekali lagi akan di-buka..."
    Dobby terperangah, kaget dan ngeri. Dia me-nyambar teko air Harry dari
    meja di sebelah tempat tidurnya, lalu memukulkannya ke kepalanya sendiri,
    terguling lenyap dari pandangan. Sesaat kemudian dia merayap naik ke tempat
    tidur lagi, dengan mata juling, mengomel, "Dobby nakal, Dobby nakal sekali...."
    "Jadi Kamar Rahasia itu memang ada!" bisik Harry.
    "Dankau bilang kamar itu sudah pernah dibuka sebelumnya? Ceritakan
    padaku, Dobby!"
    Harry menyambar pergelangan tangan kurus si peri ketika hendak meraih
    kembali teko air. "Tetapi aku bukan kelahiran- Mugglebagaimana mungkin
    kamar itu berbahaya bagiku?"
    "Ah, Sir, jangan tanya-tanya lagi, jangan tanya-tanya Dobby lagi," kata si
    peri tergagap, matanya besar sekali dalam gelap. "Perbuatan-perbuatan jahat
    sudah direncanakan di tempat ini, tetapi Harry Potter tidak boleh berada di sini
    kalau itu terjadi. Pulanglah, Harry Potter. Pulanglah. Harry Potter tak boleh
    ikut campur dalam hal ini, Sir. Terlalu berbahaya..."
    "Siapa, Dobby?" Harry bertanya, seraya memegang pergelangan tangan Dobby
    erat-erat untuk men-cegahnya memukul diri sendiri dengan teko air lagi. "Siapa
    yang membukanya? Siapa yang dulu membuka-nya?"
    "Dobby tak bisa, Sir, Dobby tak bisa, Dobby tak boleh bilang!" seru si peri.
    "Pulanglah, Harry Potter, pulanglah!"
    "Aku tidak akan ke mana-mana!" kata Harry tegas. "Salah satu sahabatku
    kelahiran-Muggle, dia akan menjadi salah satu korban pertama kalau Kamar
    Rahasia benar-benar dibuka..."



    --------------------------------------- 103

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Harry Potter mempertaruhkan hidupnya untuk teman- temannya!" kata
    Dobby sedih bercampur ba-hagia. "Sungguh mulia! Sungguh gagah berani!
    Tetapi dia harus menyelamatkan dirinya sendiri, harus, Harry Potter tidak
    boleh..."
    Dobby mendadak diam terpaku, telinganya bergetar.
    Harry mendengarnya juga. Ada langkah-langkah kaki mendekat di lorong di
    depan kamar."
    "Dobby harus pergi!" bisik si peri, ketakutan. Ter-dengar derak keras, dan
    jari-jari Harry mendadak menggenggam udara kosong. Dia terenyak kembali ke
    tempat tidurnya, matanya tertuju ke pintu yang gelap, sementara bunyi
    langkah-langkah kaki semakin mendekat.
    Saat berikutnya Dumbledore berjalan mundur masuk ke kamar, memakai jas
    kamar wol panjang dan topi tidur. Dia menggotong ujung sesuatu yang tampak
    seperti patung. Profesor McGonagall muncul sedetik kemudian, menggotong
    kakinya. Bersama-sama mereka mengangkat patung itu ke atas tempat tidur.
    "Panggil Madam Pomfrey," bisik Dumbledore, dan Profesor McGonagall
    bergegas melewati kaki tempat tidur Harry, menghilang dari pandangan. Harry
    ber-baring tak bergerak, pura-pura tidur. Dia mendengar suara-suara tegang,
    dan kemudian Profesor McGonagall muncul lagi, diikuti Madam Pomfrey, yang
    datang sambil memakai kardigan di atas gaun tidur-nya. Harry mendengar
    tarikan napas tajam.
    "Apa yang terjadi?" Madam Pomfrey berbisik kepada Dumbledore,
    membungkuk di atas patung di tempat tidur.
    "Serangan lagi," kata Dumbledore. "Minerva me-nemukannya di tangga."
    "Ada setangkai buah anggur di sebelahnya," kata Profesor McGonagall. "Kami
    menduga dia sedang ber-usaha menyelinap ke sini untuk menengok Potter."
    Hati Harry mencelos. Pelan-pelan dan hati-hati, di-angkatnya kepalanya
    beberapa senti supaya dia bisa melihat patung di tempat tidur itu. Seberkas
    cahaya bulan menyinari seraut wajah yang pandangannya kosong.
    Colin Creevey Matanya terbelalak lebar dan tangan-nya terjulur kaku ke
    depan, memegangi kameranya. "Membatu?" bisik Madam Pomfrey. "Ya," kata
    Profesor McGonagall. "Aku bergidik memikirkan... Kalau Albus tidak sedang
    turun untuk minum cokelat panas, entah apa yang akan terjadi..."
    Ketiganya menunduk menatap Colin. Kemudian Dumbledore membungkuk
    untuk melepas kamera dari pegangan erat Colin.
    "Menurutmu dia berhasil memotret penyerangnya?" kata Profesor McGonagall
    bersemangat. Dumbledore tidak menjawab. Dia membuka bagian belakang
    kamera. "Astaga!" celetuk Madam Pomfrey. Semburan asap mendesis dari
    kamera. Harry, tiga tempat tidur dari Colin, mencium bau tajam plastik
    terbakar. "Meleleh," kata Madam Pomfrey bingung, "semua meleleh..." "Apa
    artinya ini, Albus?" Profesor McGonagall ber-tanya mendesak. "Artinya," kata
    Dumbledore,
    "Kamar Rahasia benar-benar telah dibuka lagi."
    Madam Pomfrey menekap mulutnya. Profesor McGonagall terbelalak
    menatap Dumbledore. . "Tetapi, Albus... siapa?"



    --------------------------------------- 104

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Pertanyaannya bukan siapa," kata Dumbledore, matanya menatap Colin.
    "Pertanyaannya adalah bagai-mana..."
    Dan melihat wajah Profesor McGonagall yang samar-samar, Harry tahu dia
    sama tidak mengertinya seperti Harry sendiri.
    11. Klub Duel
    KETIKA Harry terbangun pada hari Minggu pagi, kamarnya dipenuhi sinar
    matahari musim dingin dan lengannya sudah bertulang lagi, tetapi sangat kaku.
    Dia segera duduk dan menoleh ke tempat tidur Colin, tetapi ternyata di antara
    tempat tidurnya dan tempat tidur Colin telah dipasangi tirai tinggi, yang
    kemarin dipasang untuk melindunginya berganti pakaian. Me-lihat Harry sudah
    bangun, Madam Pomfrey datang membawa nampan sarapan dan mulai menekuk
    dan menarik lengan, tangan, dan jari-jarinya.
    "Semua bagus," katanya, ketika Harry dengan cang-gung menyuapkan bubur
    dengan tangan kirinya. "Se-sudah makan, kau boleh pulang."
    Harry berpakaian secepat dia bisa dan bergegas ke Menara Gryffindor. Dia
    sudah ingin sekali bercerita kepada Ron dan Hermione soal Colin dan Dobby,
    tetapi ternyata mereka tak ada di sana. Harry pergi lagi untuk mencari mereka,
    dalam hati bertanya-tanya ke mana kiranya mereka dan merasa agak sakit hati
    karena mereka tidak ingin tahu apakah tulangnya bisa tumbuh lagi atau tidak.
    Saat Harry melewati perpustakaan, Percy Weasley keluar dari situ. Dia
    kelihatan jauh lebih riang dari-pada ketika terakhir kali mereka bertemu.
    "Oh, halo, Harry," sapanya. "Terbangmu hebat sekali kemarin, benar-benar
    luar biasa. Gryffindor memimpin dalam perolehan angka untuk Piala Asrama
    kau men-dapat lima puluh angka!"
    "Kau tidak melihat Ron atau Hermione?" tanya Harry.
    "Tidak," kata Percy, senyumnya memudar.
    "Mudah-mudahan Ron tidak berada di toilet anak perempuan yang lain..."
    Harry memaksakan tawa, mengawasi Percy meng-hilang, dan kemudian
    langsung menuju toilet Myrtle Merana. Dia tak melihat alasan kenapa Ron dan
    Hermione akan berada di sana lagi, tetapi setelah memastikan bahwa tak ada
    Filch maupun Prefek, dia membuka pintunya dan mendengar suara mereka dari
    dalam bilik terkunci.
    "Ini aku," katanya seraya menutup pintu di bela-kangnya. Terdengar bunyi
    debam, cebur, dan pekik kaget tertahan dari dalam bilik, dan dilihatnya mata
    Hermione mengintip dari lubang kunci.
    "Harry!" serunya. "Kau membuat kami kaget sekali. Masuklahbagaimana
    lenganmu?"



    --------------------------------------- 105

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Baik," kata Harry, menyelinap masuk ke dalam bilik. Sebuah kuali tua
    bertengger di atas kloset, dan bunyi berderak di bawah tepi kuali membuat
    Harry tahu mereka telah menyalakan api di bawahnya. Me-nyihir api yang bisa
    dibawa- bawa dan tahan air adalah keahlian Hermione.
    "Kami tadinya mau menengokmu, tapi kemudian memutuskan untuk langsung
    mulai merebus Ramuan Polijus," Ron menjelaskan, ketika Harry dengan susah
    payah mengunci pintu bilik lagi. "Kami memutuskan ini tempat paling aman
    untuk menyembunyikannya."
    Harry baru mulai bercerita tentang Colin, tetapi Hermione menyelanya.
    "Kami sudah tahu, kami men-dengar Profesor McGonagall memberitahu Profesor
    Flitwick tadi pagi. Itulah sebabnya kami memutuskan lebih baik kita segera
    mulai saja..."
    "Lebih cepat kita mendengar pengakuan Malfoy, lebih baik," kata Ron geram.
    "Tahukah kalian apa pendapatku? Dia marah sekali setelah pertandingan
    Quidditch itu, lalu membalasnya pada Colin."
    "Ada lagi yang lain," kata Harry, mengawasi Hermione membuka ikatan
    knotgrass dan melempar-kannya ke dalam kuali. "Dobby datang mengunjungi-ku
    tengah malam."
    Ron dan Hermione menengadah keheranan. Harry menceritakan kepada
    mereka semua yang diceritakan Dobby atau yang tidak diceritakannya. Ron
    dan Hermione mendengarkan dengan mulut ternganga.
    "Kamar Rahasia sudah pernah dibuka sebelumnya?" kata Hermione.
    "Jelas kalau begitu," kata Ron dengan nada penuh kemenangan. "Lucius
    Malfoy pastilah telah membuka Kamar Rahasia waktu dia bersekolah di sini dan
    seka-rang dia memberitahu anak kesayangannya, si Draco, bagaimana caranya.
    Jelas sekali. Sayang sekali Dobby tidak memberitahumu monster seperti apa
    yang ada di dalamnya. Aku penasaran, bagaimana mungkin tak ada orang yang
    melihatnya berkeliaran di sekolah."
    "Mungkin dia bisa membuat dirinya tidak kelihatan," kata Hermione,
    menekan lintah-lintah ke dasar kuali. "Atau mungkin dia menyamarpura-pura
    jadi baju zirah atau entah apa. Aku sudah baca tentang Hantu Bunglon..."
    "Kau terlalu banyak membaca, Hermione," kata Ron sambil menuangkan
    serangga sayap-renda mati di atas lintah-lintah. Dia meremas kantong serangga
    yang sudah kosong dan berpaling menatap Harry.
    "Jadi, Dobby menghalangi kita naik kereta api dan mematahkan lenganmu..."
    Ron geleng-geleng. "Tahu tidak, Harry? Kalau dia tidak berhenti berusaha me-
    nyelamatkan hidupmu, dia akan membunuhmu."
    Berita bahwa Colin Creevey diserang dan sekarang terbaring bagai mayat di
    rumah sakit sudah menyebar ke seluruh sekolah pada hari Senin pagi. Suasana
    mendadak penuh desas-desus dan kecurigaan. Murid-murid kelas satu sekarang
    ke mana-mana be-rombongan, seakan mereka takut akan diserang kalau berani
    berjalan sendirian.
    Ginny Weasley, yang duduk di sebelah Colin Creevey dalam pelajaran Jimat
    dan Guna-guna, bi-ngung dan ketakutan. Tetapi Harry merasa cara Fred dan
    George menghiburnya malah membawa hasil yang sebaliknya. Fred dan George
    bergiliran menyihir diri mereka menjadi berbulu atau dipenuhi bisul dan



    --------------------------------------- 106

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    melompat mengagetkan Ginny dari balik patung-patung. Mereka baru berhenti
    ketika Percy, yang sa-ngat marah, berkata bahwa dia akan menulis kepada Mrs
    Weasley dan memberitahunya bahwa Ginny di-hantui mimpi buruk.
    Sementara itu, tanpa sepengetahuan para guru, per-dagangan jimat, amulet,
    dan berbagai sarana per-lindungan, melanda sekolah dengan amat seru. Neville
    Longbottom membeli bawang hijau besar berbau bacin, kristal runcing ungu,
    dan ekor-kadal busuk sebelum anak-anak Gryffindor lainnya mengingatkan
    bahwa dia tidak dalam bahaya: dia berdarah-murni, karena itu tak mungkin
    diserang.
    "Filch adalah yang pertama mereka serang," katanya, wajahnya yang bundar
    ketakutan, "dan semua tahu aku bisa dibilang nyaris Squib."
    Dalam minggu kedua Desember Profesor McGonagall berkeliling seperti
    biasanya, mendaftar nama-nama mereka yang akan tinggal di sekolah selama
    liburan Natal. Harry, Ron, dan Hermione mendaftar. Mereka sudah mendengar
    bahwa Malfoy juga akan tinggal.
    Bagi mereka ini sangat mencurigakan. Liburan me-rupakan saat yang paling
    tepat untuk menggunakan Ramuan Polijus dan mencoba mengorek pengakuan
    darinya.
    Sayangnya, ramuan itu baru separo selesai. Mereka masih membutuhkan
    tanduk Bicorn dan kulit ular pohon, dan satu- satunya tempat mereka bisa men-
    dapatkan keduanya adalah lemari pribadi Snape. Harry sendiri merasa dia lebih
    suka menghadapi monster legendaris Slytherin daripada tertangkap Snape
    sedang merampok kantornya.
    "Yang kita perlukan," kata Hermione tegas, ketika sudah hampir tiba saatnya
    mereka mengikuti dua jam pelajaran Ramuan, "adalah pengalihan perhatian.
    Kemudian salah satu dari kita menyelinap ke dalam kantor Snape dan
    mengambil yang kita perlukan."
    Harry dan Ron memandang Hermione dengan cemas.
    "Kurasa lebih baik aku yang melakukan pencurian," Hermione melanjutkan
    dengan tegas. "Kalian berdua akan dikeluarkan jika membuat kesalahan lain,
    sedang-kan reputasiku masih bersih. Jadi yang perlu kalian lakukan hanyalah
    menimbulkan cukup kegaduhan untuk membuat Snape sibuk selama kira-kira
    lima menit."
    Harry tersenyum lemah. Sengaja membuat ke-gaduhan di kelas Ramuan
    Snape sama amannya de-ngan menusuk mata naga tidur.
    Pelajaran Ramuan bertempat di salah satu ruang bawah tanah yang luas.
    Pelajaran sore itu berlangsung seperti biasa.
    Dua puluh kuali berdiri menggelegak di antara meja-meja, yang di atasnya
    ada timbangan kuningan serta stoples-stoples bahan. Snape hilir-mudik
    menembus asap, melontarkan komentar-komentar menyengat tentang hasil
    anak-anak Gryffindor, sementara anak-anak Slytherin terkikik-kikik senang.
    Draco Malfoy, murid favorit Snape, ber-kali-kali mengarahkan matanya yang
    menonjol seperti mata ikan kepada Ron dan Harry, yang tahu betul kalau
    mereka membalas, mereka akan langsung men-dapat detensi sebelum mereka
    sempat berkata "tidak adil".



    --------------------------------------- 107

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ramuan Pembengkak Harry terlalu cair, tetapi pikirannya dipenuhi hal-hal
    lain yang jauh lebih pen-ting. Dia sedang menunggu kode dari Hermione, dan
    nyaris tidak mendengarkan ketika Snape berhenti di kualinya, mencemooh
    ramuannya yang encer. Ketika Snape sudah berbalik dan pergi untuk mengomeli
    Neville, Hermione memandang Harry dan mengang-guk.
    Harry dengan gesit membungkuk di balik kualinya, menarik keluar sebuah
    kembang api Filibuster milik Fred dari kantongnya dan mengetuknya sekali dan
    cepat dengan tongkatnya. Kembang api itu mulai mendesis. Tahu dia hanya
    punya waktu beberapa detik, Harry menegakkan diri, membidik, dan me-
    lemparkannya ke udara. Kembang api itu mendarat tepat di dalam kuali Goyle.
    Ramuan Goyle meledak, mengguyur seluruh kelas. Anak- anak menjerit
    ketika percikan Ramuan Pem-bengkak menciprati mereka. Malfoy bahkan
    tersiram wajahnya dan hidungnya langsung membengkak se-besar balon. Goyle
    terhuyung-huyung, tangannya me-nutupi matanya, yang sudah membesar
    seukuran piring, sementara Snape berusaha menenangkan me-reka dan mencari
    tahu apa yang terjadi. Di tengah kegemparan itu Harry melihat Hermione diam-
    diam menyelinap keluar dari pintu.
    "Diam! DIAM!" raung Snape. "Siapa saja yang ke-cipratan, ke sini untuk
    mendapatkan Ramuan Pengempis. Kalau aku tahu siapa yang melakukan ini..."
    Harry berusaha tidak tertawa ketika dilihatnya Malfoy bergegas maju,
    kepalanya tergantung rendah keberatan hidungnya yang menjadi sebesar
    melon. Selagi separo kelas berjalan dengan susah payah ke meja Snape,
    beberapa keberatan lengan yang sebesar pentungan dan yang lain tak bisa
    bicara karena bibir-nya membengkak superbesar, Harry melihat Hermione
    menyelinap balik ke dalam kelas, bagian depan jubahnya menggembung.
    Setelah semua minum seteguk penangkal dan ber-bagai bengkak sudah
    mengempis, Snape melesat ke kuali Goyle dan menyendok sisa kembang api
    yang terpilin hitam. Kelas menjadi hening.
    "Kalau sampai kutemukan siapa yang melempar ini," bisik Snape, "akan
    kupastikan anak itu dikeluar-kan."
    Harry mengatur wajahnya dengan harapan semoga tampak seperti ekspresi
    kebingungan. Snape me-mandangnya lurus- lurus, dan bel yang berdering se-
    puluh menit kemudian betul- betul membuatnya lega.
    "Dia tahu aku pelakunya," Harry memberitahu Ron dan Hermione, sementara
    mereka bergegas kembali ke toilet Myrtle Merana. "Ya, dia tahu." Hermione
    memasukkan bahan- bahan baru ke dalam kuali dan mulai mengaduk dengan
    bersemangat.
    "Dua minggu lagi jadi," katanya riang.
    "Snape tak akan bisa membuktikan itu kau," kata Ron meyakinkan Harry.
    "Apa yang bisa dia lakukan?"
    "Kalau bicara tentang Snape, pasti itu adalah sesuatu yang jahat," kata Harry
    sementara ramuan itu berbuih menggelegak.
    Seminggu kemudian, Harry, Ron, dan Hermione se-dang berjalan
    menyeberangi Aula Depan ketika me-reka melihat beberapa anak berkerumun
    di depan papan pengumuman, membaca secarik perkamen yang baru saja



    --------------------------------------- 108

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    dipasang. Seamus Finnigan dan Dean Tho-mas memberi isyarat agar mereka
    mendekat. Mereka kelihatan bersemangat sekali.
    "Mereka mengadakan Klub Duel!" kata Seamus.
    "Pertemuan pertama malam ini! Aku tak keberatan ikut pelajaran duel, pasti
    akan bermanfaat hari-hari ini."
    "Apa? Kaupikir si monster Slytherin bisa berduel?" Ron menanggapi, tetapi dia
    juga membaca peng-umuman itu dengan penuh minat.
    "Bisa berguna," katanya kepada Harry dan Hermione waktu mereka berangkat
    makan malam. "Kita ikut?"
    Harry dan Hermione sepakat, maka pukul delapan malam itu mereka
    bergegas kembali ke Aula Besar. Meja-meja makan panjang sudah lenyap dan
    pang-gung keemasan telah muncul di depan salah satu dinding, diterangi seribu
    lilin yang melayang-layang di atasnya. Langit-langit sekali lagi gelap pekat dan
    sebagian besar murid-murid tampaknya berkumpul di situ, semua membawa
    tongkat dan kelihatan bergairah.
    "Siapa ya yang akan mengajar kita?" kata Hermione, ketika mereka mendekat
    ke kerumunan anak-anak yang ramai berceloteh. "Ada yang bilang padaku
    Flitwick juara duel waktu masih muda, mungkin dia yang akan mengajar."
    "Asal saja bukan...," Harry memulai, tapi mengakhiri dengan keluhan.
    Gilderoy Lockhart berjalan ke pang-gung, tampak gemilang dalam jubah
    berwarna merah tua keunguan, dan ditemani oleh, tak lain tak bukan, Snape,
    yang seperti biasa berjubah hitam.
    Lockhart melambaikan tangannya menyuruh anak-anak diam, dan berseru,
    "Mendekat, mendekat! Apa semua bisa melihatku? Semua bisa mendengarku?
    Bagus sekali!
    "Nah, Profesor Dumbledore telah memberiku izin untuk membentuk klub
    duel kecil ini, untuk melatih kalian semua, siapa tahu kalian perlu
    mempertahankan diri seperti yang kualami dalam banyak kesempatan untuk
    detail yang lebih lengkap, baca saja buku-bukuku.
    "Izinkan aku memperkenalkan asistenku, Profesor Snape," kata Lockhart,
    tersenyum lebar. "Dia mem-beritahu aku dia tahu juga sedikit-sedikit tentang
    duel dan bersedia membantuku melakukan peragaan singkat sebelum kita
    mulai. Nah, aku tak ingin kalian cemaskalian masih akan memiliki ahli
    Ramuan kalau aku sudah selesai menanganinya, tak usah takut!"
    "Bukankah bagus kalau mereka saling bunuh?" gu-mam Ron di telinga Harry.
    Bibir atas Snape mencibir. Harry heran kenapa Lockhart masih tersenyum.
    Kalau Snape memandang-nya seperti itu, Harry pastilah sudah kabur secepat
    mungkin.
    Lockhart dan Snape berbalik untuk saling ber-hadapan dan membungkuk;
    paling tidak Lockhart membungkuk, dengan tangan berputar-putar, semen-tara
    Snape cuma mengedikkan kepala dengan jengkel. Kemudian mereka
    mengangkat tongkat seperti pedang di depan mereka.
    "Seperti kalian lihat, kami memegang tongkat dalam posisi tempur yang
    diterima," Lockhart memberitahu penonton yang diam. "Pada hitungan ketiga,
    kami akan melontarkan mantra pertama kami. Tak satu pun dari kami berdua
    bermaksud membunuh, tentu."



    --------------------------------------- 109

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Aku tak yakin," gumam Harry, mengawasi Snape yang menyeringai
    memamerkan giginya.
    "Satuduatiga..."
    Keduanya mengayunkan tongkat tinggi-tinggi ke atas bahu. Snape berseru,
    "Expelliarmus!" Cahaya me-rah menyilaukan berkilat menyambar dan Lockhart
    terangkat. Dia terbang mundur keluar panggung, me-nabrak dinding, merosot,
    dan akhirnya telentang di lantai.
    Malfoy dan beberapa anak Slytherin lain bersorak.
    Hermione berjingkat-jingkat panik. "Apakah dia tidak apa- apa?" pekiknya
    dari antara jari-jarinya.
    "Siapa peduli?" kata Ron dan Harry bersamaan.
    Lockhart bangun terhuyung-huyung. Topinya jatuh dan rambutnya yang ikal
    kini mencuat berdiri.
    "Wah, Anda berhasil!" katanya, tertatih-tatih kembali ke panggung. "Itu tadi
    Mantra Pelepas Senjataseperti yang kalian lihat, tongkatku hilangah, terima
    kasih, Miss Brown. Ya, ide bagus sekali untuk menunjuk-kannya kepada mereka,
    Profesor Snape, tapi kalau Anda tidak keberatan, bisa kubilang jelas sekali apa
    yang akan Anda lakukan tadi. Kalau aku mau meng-hentikan Anda, gampang
    sekali. Tapi, aku merasa ada baiknya membiarkan anak-anak melihatnya..."
    Snape kelihatan siap membunuh. Profesor Lockhart akhirnya sadar juga,
    karena dia berkata, "Cukup peragaannya! Aku akan turun ke antara kalian dan
    memasang-masangkan kalian. Profesor Snape, kalau Anda bersedia
    membantuku...." Mereka bergerak di antara anak-anak, memasang-masangkan
    partner. Lockhart memasangkan Neville dengan Justin Finch-Fletchley, tetapi
    Snape mencapai Harry dan Ron lebih dulu.
    "Sudah waktunya memecah tim impian, kurasa," ejeknya.
    "Weasley, kau bisa berpartner dengan Finnigan. Potter..." Harry otomatis
    bergerak mendekati Hermione.
    "Kurasa tidak," kata Snape, tersenyum dingin. "Mr Malfoy, kemari. Coba lihat
    apa yang bisa kaulakukan terhadap si Potter yang terkenal ini. Dan kau, Miss
    Granger, kau bisa berpartner dengan Miss Bulstrode."
    Malfoy mendatangi sok gagah, menyeringai som-bong. Di belakangnya
    berjalan seorang anak perem-puan Slytherin yang mengingatkan Harry pada
    foto hantu perempuan tua jelek sekali yang dilihatnya dalam buku Heboh
    dengan Hantu. Tubuhnya besar dan kekar, dan rahangnya yang berat mencuat
    ke depan dengan menantang. Hermione tersenyum lemah kepadanya, yang
    tidak dibalasnya.
    "Hadapi partnermu!" seru Lockhart, yang sudah kembali berada di panggung.
    "Dan membungkuk!" Harry dan Malfoy nyaris tidak menggerakkan kepala, saling
    tidak melepas pandang.
    "Tongkat siap!" teriak Lockhart. "Pada hitunganku yang ketiga, ucapkan
    mantra untuk melucuti lawanmuhanya untuk melucuti merekakita tidak
    menginginkan terjadinya malapetaka. Satu... dua... tiga..."
    Harry mengangkat tongkatnya ke atas bahu, tetapi Malfoy sudah bertindak
    pada hitungan kedua, mantra-nya menghantam Harry begitu keras sampai Harry
    merasa seakan kepalanya dipukul wajan. Dia ter-huyung, tetapi kelihatannya



    --------------------------------------- 110

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    dia tidak apa-apa, dan tanpa membuang waktu lagi, Harry mengayunkan
    tongkatnya lurus-lurus ke arah Malfoy dan berteriak,
    "Rictusempra!"
    Cahaya keperakan meluncur menghantam perut Malfoy dan dia
    membungkuk, menciut-ciut.
    "Kubilang lucuti senjatanya saja!" teriak Lockhart kaget di atas kepala anak-
    anak yang sedang bertanding, ketika Malfoy jatuh berlutut. Harry
    menyerangnya dengan Mantra Gelitik, dan Malfoy nyaris tak bisa bergerak
    saking sibuknya tertawa.
    Harry mundur, merasa tidak adil menyihir Malfoy yang masih di lantai, tetapi
    dia keliru. Terengah kehabisan napas, Malfoy mengarahkan tongkatnya kepada
    Harry, ber-kata tersedak,
    "Tarantallegra!" dan detik berikutnya kaki Harry sudah bergerak menyentak-
    nyentak dengan cepat di luar kendalinya.
    "Stop! Stop!" Lockhart berteriak-teriak, tetapi Snape segera mengambil
    tindakan.
    "Finite Incantatem!" teriaknya. Kaki Harry berhenti menari. Malfoy berhenti
    tertawa, dan mereka bisa mendongak lagi.
    Asap kehijauan memenuhi panggung. Neville dan Justin terbaring di lantai,
    terengah-engah. Ron me-megangi Seamus yang wajahnya sepucat tembok, me-
    minta maaf untuk entah apa yang telah dilakukan tongkat patahnya. Tetapi
    Hermione dan Millicent Bulstrode masih bergerak. Millicent memiting Hermione
    dan Hermione mengerang kesakitan. Tong-kat keduanya tergeletak terlupakan
    di atas panggung. Harry melompat menarik Millicent. Susah sekali, ka-rena dia
    jauh lebih besar daripada Harry.
    "Ya ampun, ya ampun," kata Lockhart gugup dari antara kepala anak-anak,
    memandang hasil duel. "Bangun, Macmillan... hati-hati, Miss Fawcett... cubit
    keras-keras, darahnya akan langsung berhenti, Boot...
    "Kurasa ada baiknya kuajari kalian cara menangkal mantra tak bersahabat,"
    kata Lockhart, berdiri ke-bingungan di tengah aula. Dia melirik Snape, yang
    mata hitamnya berkilat-kilat, dan segera membuang pandang. "Ayo, siapa yang
    mau jadi pasangan sukarelaLongbottom dan Finch-Fletchley, bagaimana kalau
    kalian berdua?"
    "Ide buruk, Profesor Lockhart," kata Snape, ber-kelebat mendekat bagai
    kelelawar besar yang jahat. "Longbottom membuat malapetaka dengan mantra
    yang paling sederhana. Kita akan mengirim entah apa yang tersisa dari Finch-
    Fletchley ke rumah sakit dalam kotak korek api." Wajah Neville yang bundar
    dan merah jambu semakin merah. "Bagaimana kalau Malfoy dan Potter saja?"
    kata Snape dengan senyum licik.
    "Ide bagus!" kata Lockhart, memberi isyarat kepada Harry dan Malfoy agar
    maju ke tengah aula, sementara anak-anak mundur untuk memberi mereka
    tempat.
    "Nah, Harry," kata Lockhart, "kalau Draco meng-acungkan tongkatnya ke
    arahmu, kautangkal begini."
    Dia mengangkat tongkatnya sendiri, berusaha me-lakukan gerakan
    mengentak yang rumit dan tongkat-nya jatuh. Snape mencibir ketika Lockhart



    --------------------------------------- 111

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    buru-buru memungutnya, sambil berkata, "Whoopstongkatku terlalu
    bersemangat."
    Snape mendekati Malfoy, membungkuk dan berbisik di telinganya. Malfoy
    ikut mencibir. Harry mendongak memandang Lockhart dengan gugup dan
    berkata, "Profesor, bisakah Anda menunjukkan cara menangkal tadi sekali lagi?"
    "Takut nih?" gumam Malfoy, sehingga Lockhart tidak bisa mendengarnya.
    "Maumu," balas Harry dari sudut mulutnya.
    Lockhart memegang bahu Harry dengan riang. "Lakukan saja apa yang
    kulakukan tadi, Harry!"
    "Apa? Menjatuhkan tongkat saya?" Tetapi Lockhart tidak mendengarkannya.
    "Tigaduasatumulai!" teriaknya.
    Malfoy cepat-cepat mengangkat tongkatnya dan ber- teriak, "Serpensortia!"
    Ujung tongkatnya meledak. Harry mengawasi, ter-peranjat, ketika seekor
    ular panjang hitam melesat dari ujung tongkat itu, terjatuh di lantai di antara
    mereka berdua dan mengangkat kepalanya, siap me-nyerang. Anak-anak
    menjerit- jerit, mundur ketakutan.
    "Jangan bergerak, Potter," kata Snape santai, jelas senang melihat Harry
    berdiri bergeming, berhadapan dengan ular yang marah. "Akan kulenyapkan..."
    "Biar aku saja!" teriak Lockhart. Diacungkannya tongkatnya ke arah si ular
    dan terdengar letusan keras. Si ular, alih-alih lenyap, terbang setinggi tiga
    meter dan terjatuh kembali di lantai dengan bunyi berdebam keras.
    Marah sekali, mendesis-desis berang, ular itu me-lata menuju Justin Finch-
    Fletchley dan mengangkat kepalanya lagi, memamerkan taringnya, siap menye-
    rang.
    Harry tidak tahu apa yang membuatnya berbuat begitu. Dia bahkan tidak
    sadar telah memutuskan untuk melakukannya. Yang diketahuinya hanyalah
    kakinya membawanya maju, seakan ada rodanya, dan bahwa dia berteriak
    bodoh kepada si ular, "Jangan ganggu dia!" Dan ajaib sekalitak bisa dijelaskan
    si ular terpuruk di lantai, jinak seperti slang air besar hitam, matanya
    sekarang memandang Harry. Harry merasa ketakutannya memudar. Dia tahu
    ular itu tidak akan menyerang siapa-siapa sekarang, meskipun bagai-mana dia
    tahu, dia tidak bisa menjelaskannya.
    Dia menengadah menatap Justin, tersenyum, ber-harap Justin kelihatan
    lega, atau bingung, atau bahkan berterima kasih. Tetapi Justin justru tampak
    marah dan ketakutan.
    "Kaupikir apa yang kaulakukan?" teriaknya, dan sebelum Harry sempat
    berkata apa-apa, Justin telah berbalik dan bergegas meninggalkan aula.
    Snape maju, melambaikan tongkatnya, dan si ular lenyap dalam kepulan
    asap hitam. Snape juga me-natap Harry dengan cara yang tak terduga: tajam,
    licik, dan penuh perhitungan, dan Harry tidak me-nyukainya. Dia juga samar-
    samar menyadari bisik-bisik tak senang di seluruh ruangan. Kemudian dia
    merasa ada yang menarik bagian belakang jubahnya.
    "Ayo," kata Ron di telinganya. "Kita pergiayo..."
    Ron memimpinnya meninggalkan aula. Hermione bergegas mengiringi. Ketika
    mereka akan melewati pintu, anak-anak di kanan-kiri mereka minggir men-
    jauh, seakan takut akan kejangkitan sesuatu. Harry sama sekali tidak tahu apa



    --------------------------------------- 112

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    yang sedang terjadi, dan baik Ron maupun Hermione tidak menjelaskan apa
    pun sampai mereka telah membawanya ke ruang rekreasi Gryffindor yang
    kosong. Kemudian Ron men-dorong Harry ke kursi berlengan dan berkata, "Kau
    Parselmouth. Kenapa kau tidak bilang pada kami?"
    "Aku apa?"
    "Parselmouth!" kata Ron. "Kau bisa bicara dengan ular!"
    "Aku tahu," kata Harry. "Maksudku, tadi itu baru kedua kalinya aku bicara
    dengan ular. Aku pernah tak sengaja melepaskan boa pembelit dan membuat
    sepupuku Dudley ketakutan di kebun binatang ceritanya panjangtapi ular itu
    memberitahuku bahwa dia belum pernah melihat Brasil, dan tanpa sengaja aku
    seolah telah membebaskannya. Itu sebelum aku tahu aku penyihir..."
    "Ular boa pembelit memberitahumu dia belum pernah melihat Brasil?" Ron
    mengulang lemas. "Jadi?" kata Harry.
    "Pasti banyak orang di sini bisa melakukannya."
    "Oh, tidak, mereka tak bisa," kata Ron. "Itu ke-mampuan yang sangat tidak
    umum. Harry, ini buruk sekali."
    "Apa yang buruk?" kata Harry, mulai jengkel. "Kenapa sih dengan kalian
    semua? Dengar, kalau aku tidak melarang ular itu menyerang Justin..."
    "Oh, itu yang kaukatakan padanya?" "Apa maksudmu? Kau ada di sana... kau
    men-dengarku."
    "Aku mendengarmu bicara Parseltongue," kata Ron,
    "bahasa ular. Kau bisa saja ngomong entah apa. Tak heran Justin panik,
    kedengarannya kau menyemangati si ular untuk melakukan sesuatu.
    Mengerikan, tahu."
    Harry melongo.
    "Aku bicara bahasa lain? Tapiaku tidak me-nyadarinya bagaimana mungkin
    aku bisa bicara bahasa lain tanpa diriku sendiri tahu?"
    Ron menggeleng. Baik dia maupun Hermione ke-lihatan seolah baru saja
    kematian teman. Harry tak mengerti apa yang begitu menyedihkan mereka.
    "Kalian mau memberitahuku apa salahnya meng-hentikan ular besar
    mencaplok kepala Justin?" katanya. "Apakah penting bagaimana aku
    melakukannya, asal hasilnya Justin tidak usah bergabung dengan Per-buruan
    Tanpa-Kepala?"
    "Itu penting," kata Hermione, akhirnya bicara de-ngan suara tertekan,
    "karena Salazar Slytherin ter-kenal justru karena kemampuannya bicara dengan
    ular. Itulah sebabnya simbol asrama Slytherin adalah ular."
    Harry ternganga.
    "Persis," kata Ron. "Dan sekarang seluruh sekolah akan mengira kau cucu-
    cucu-cucu-cucu-cucunya atau entah keturunan keberapa..."
    "Tapi aku bukan keturunannya," kata Harry dengan kepanikan yang tak dapat
    dijelaskannya.
    "Susah dibuktikan," kata Hermione. "Dia hidup kira-kira seribu tahun yang
    lalu; bisa saja kau memang keturunannya."
    Harry terbaring tak bisa tidur selama berjam-jam ma-lam itu. Lewat celah
    kelambu yang mengelilingi tem-pat tidur besarnya, dia memandang salju yang



    --------------------------------------- 113

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    mulai melayang turun melewati jendela menara, dan ber-tanya-tanya dalam
    hati.
    Mungkinkah dia keturunan Salazar Slytherin? Dia toh tak tahu-menahu
    tentang keluarga ayahnya.
    Keluarga Dursley selalu melarangnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan
    tentang keluarga penyihirnya.
    Diam-diam, Harry mencoba mengatakan sesuatu dalam Parseltongue. Kata-
    katanya tak mau keluar. Rupanya dia harus berhadapan langsung dengan ular
    untuk bisa melakukannya.
    Tetapi aku di Gryffindor, pikir Harry. Topi Seleksi tidak akan
    menempatkanku di sana kalau aku punya darah Slytherin....
    Ah, kata suara kecil tidak menyenangkan di dalam otaknya. Tetapi Topi
    Seleksi kan sebetulnya ingin menempatkanmu di Slytherin, apa kau tidak ingat?
    Harry berbalik. Dia akan bertemu Justin besok di kelas Herbologi dan dia
    akan menjelaskan bahwa dia justru menyuruh ular itu pergi, bukan mendekat,
    dan (dia berpikir dengan marah sambil menggembungkan bantalnya) semua
    orang bodoh seharusnya juga tahu.
    Tetapi paginya, salju yang mulai turun di malam hari telah berubah menjadi
    badai salju, begitu hebatnya sehingga pelajaran Herbologi terakhir tahun
    ajaran itu dibatalkan. Profesor Sprout ingin memakaikan kaus kaki dan syal ke
    Mandrake-mandrake, tugas rumit yang tak bisa dipercayakannya kepada orang
    lain. Apalagi sekarang, ketika penting sekali bagi Man-drake-mandrake itu
    untuk segera tumbuh dan meng-hidupkan kembali Mrs Norris dan Colin Creevey
    Harry resah, ia berceloteh terus tentang Justin di sebelah perapian di ruang
    rekreasi Gryffindor, semen-tara Ron dan Hermione menggunakan jam kosong
    mereka untuk main catur sihir.
    "Astaga, Harry" kata Hermione, putus asa, ketika salah satu menteri Ron
    bergulat menjatuhkan perwira-nya dari kudanya dan menyeretnya keluar
    papan. "Pergilah, cari Justin kalau itu begitu penting bagimu."
    Maka Harry bangkit dan keluar lewat lubang lukisan, bertanya-tanya dalam
    hati di mana kiranya Justin.
    Kastil lebih gelap daripada biasanya di siang hari, karena salju tebal abu-abu
    yang berpusar di semua jendela. Bergidik, Harry berjalan melewati ruang-ruang
    kelas tempat pelajaran sedang berlangsung, menangkap sedikit-sedikit apa
    yang sedang terjadi di dalam. Profesor McGonagall sedang berteriak kepada
    seseorang yang, kedengarannya, telah mengubah temannya menjadi luak.
    Melawan keinginan untuk melongok, Harry terus berjalan, berpikir bahwa
    Justin mungkin menggunakan jam kosong ini untuk me-ngerjakan PR, dan
    memutuskan untuk mengecek per-pustakaan lebih dulu.
    Serombongan anak-anak Hufflepuff yang seharusnya ikut pelajaran Herbologi
    ternyata memang duduk di bagian belakang perpustakaan, tetapi kelihatannya
    mereka tidak sedang bekerja. Di antara deretan rak buku yang tinggi, Harry
    bisa melihat bahwa kepala mereka berdekatan dan mereka kelihatannya sedang
    terlibat obrolan mengasyikkan. Dia tidak bisa melihat apakah Justin berada di
    antara mereka. Dia sedang berjalan ke arah mereka ketika sesuatu yang
    mereka katakan tertangkap telinganya, dan dia berhenti untuk mendengarkan,



    --------------------------------------- 114

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    tersembunyi di Seksi Gaibbuku-buku yang membahas tentang segala sesuatu
    yang tak ke-lihatan.
    "Jadi," kata seorang anak laki-laki gemuk, "kusuruh Justin sembunyi di
    asrama kita. Maksudku, kalau Potter sudah mengincarnya sebagai korban
    berikutnya, lebih baik dia tidak menonjolkan diri dulu. Tentu saja, Justin sudah
    menduga hal semacam ini akan terjadi sejak dia kelepasan omong pada si
    Potter bahwa dia kelahiran-Muggle. Justin bilang padanya dia sudah
    didaftarkan ke Eton. Itu bukan hal yang kaugembar- gemborkan dengan adanya
    pewaris Slytherin yang berkeliaran, kan?"
    "Kalau begitu kau yakin betul Potter-lah pelakunya, Ernie?" kata seorang
    anak perempuan berkepang pirang dengan cemas.
    "Hannah," kata si gemuk sungguh-sungguh, "dia Parselmouth. Semua tahu itu
    tanda penyihir hitam. Pernahkah kaudengar ada penyihir terhormat yang bisa
    bicara dengan ular? Slytherin sendiri dijuluki si Lidah-ular."
    Terdengar gumam-gumam seru, dan Ernie menerus-kan,
    "Ingat apa yang tertulis di dinding? Musuh sang Pewaris, Waspadalah. Potter
    kan boleh dibilang bentrok dengan Filch. Yang berikutnya kita tahu, kucing si
    Filch diserang. Anak kelas satu itu, si Creevey, mem-buat Potter jengkel waktu
    pertandingan Quidditch, memotretnya ketika dia tergeletak di lumpur. Yang
    kemudian kita tahu, Creevey diserang."
    "Tapi dia selalu kelihatan menyenangkan," kata Hannah tak yakin, "dan, yah,
    dialah yang membuat Kau-Tahu-Siapa menghilang. Masa sih dia jahat?"
    Ernie merendahkan suaranya dengan penuh rahasia. Anak- anak Hufflepuff
    membungkuk semakin dekat supaya bisa menangkap kata-kata Ernie.
    "Tak seorang pun tahu bagaimana dia bisa selamat dari serangan Kau-Tahu-
    Siapa. Maksudku, dia masih bayi waktu itu terjadi. Mestinya kan dia sudah
    hancur berkeping-keping. Hanya penyihir hitam berkekuatan luar biasa yang
    bisa bertahan dari serangan semacam itu." Dia semakin merendahkan suaranya,
    sehingga tinggal tak lebih dari bisikan, "Mungkin itulah sebab-nya Kau-Tahu-
    Siapa ingin membunuhnya. Tak ingin ada Pangeran Kegelapan lain menjadi
    saingannya. Aku ingin tahu, kira-kira kekuatan apa lagi yang di-sembunyikan
    Potter?"
    Harry tak tahan lagi. Sambil berdeham keras, dia melangkah dari balik rak-
    rak buku. Jika tidak semarah itu, dia akan melihat pemandangan yang
    menyambut-nya tampak lucu. Semua anak Hufflepuff itu seolah dibuat
    Membatu hanya karena melihat dirinya, dan wajah Ernie langsung pucat pasi.
    "Halo," kata Harry. "Aku mencari Justin Finch-Fletchley." Ketakutan terbesar
    anak-anak Hufflepuff telah ter-bukti. Mereka semua ketakutan memandang
    Ernie. "Mau apa kau mencari dia?" tanya Ernie dengan suara bergetar. "Aku
    ingin memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi dengan ular itu di Klub
    Duel," kata Harry.
    Ernie menggigit bibirnya yang pucat dan kemudian, setelah menghela napas
    panjang, berkata, "Kami semua ada di sana. Kami melihat apa yang terjadi."
    "Kalau begitu kau melihat bahwa setelah aku bicara dengannya, ular itu
    mundur?" kata Harry.



    --------------------------------------- 115

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Yang kulihat hanyalah," kata Ernie bandel, meski-pun dia bicara sambil
    gemetaran, "kau bicara Parseltongue dan menggebah si ular ke arah Justin."
    "Aku tidak menggebah ular itu ke arahnya!" kata Harry suaranya gemetar
    saking marahnya. "Ular itu bahkan tidak menyentuhnya!"
    "Tapi nyaris saja," kata Ernie. "Dan siapa tahu kau merencanakan sesuatu,"
    dia menambahkan buru-buru,
    "kuberitahukan padamu bahwa kau bisa menelusuri keluargaku sampai
    sembilan generasi penyihir ke belakang dan darahku sama murninya dengan
    siapa pun, jadi..."
    "Aku tak peduli darahmu darah macam apa!" kata Harry sengit. "Kenapa aku
    mau menyerang anak-anak kelahiran- Muggle?"
    "Aku sudah dengar kau membenci Muggle yang tinggal bersamamu," kata
    Ernie tangkas.
    "Tak mungkin tinggal bersama keluarga Dursley dan tidak membenci
    mereka," kata Harry. "Coba saja sendiri, aku ingin lihat."
    Harry berbalik dan menerobos keluar dari per-pustakaan, membuat Madam
    Pince, yang sedang menggosok sampul keemasan buku mantra besar, me-
    liriknya mencela.
    Harry berjalan asal saja di koridor, seperti orang buta, nyaris tidak
    memperhatikan ke mana dia pergi, saking marahnya. Akibatnya dia menabrak
    sesuatu yang sangat besar dan kokoh, yang membuatnya ter-pental jatuh ke
    lantai.
    "Oh, halo, Hagrid," kata Harry, memandang ke atas.
    Wajah Hagrid tersembunyi sepenuhnya oleh topi balaclava wol bersalju,
    tetapi tak mungkin itu orang lain. Tubuhnya yang terbungkus dalam jubah tikus
    mondoknya memenuhi hampir seluruh koridor. Tangannya yang besar bersarung
    tangan menenteng bangkai seekor ayam jantan.
    "Kau tak apa-apa, Harry?" katanya, menarik ke atas balaclava-nya supaya dia
    bisa bicara. "Kenapa kau tidak di kelas?"
    "Dibatalkan," kata Harry seraya bangkit. "Ngapain kau di sini?" Hagrid
    mengangkat ayam jantan yang sudah lemas itu.
    "Ayam kedua yang dibunuh semester ini," dia men-jelaskan. "Kalau bukan
    rubah, tentu momok pengisap darah, dan aku perlu izin Kepala Sekolah untuk
    bikin pagar sihir sekeliling kandang ayam."
    Dia memandang Harry lebih teliti dari bawah alis tebalnya yang bertabur
    salju. "Kau yakin kau tak apa-apa? Kau kelihatan panas dan banyak pikiran."
    Harry tak bisa mengulangi apa yang dikatakan Ernie dan anak-anak Hufflepuff
    lainnya tentang dia.
    "Tidak apa-apa," katanya. "Lebih baik aku pergi, Hagrid. Berikutnya
    Transfigurasi, dan aku harus mengambil buku- bukuku."
    Harry pergi, pikirannya masih dipenuhi ucapan-ucapan Ernie tentang dirinya.
    "Justin sudah menduga hal semacam ini akan terjadi sejak dia kelepasan
    omong pada si Potter bahwa dia kelahiran- Muggle..."
    Harry menaiki tangga dan membelok ke koridor lain, yang gelap sekali. Obor-
    obornya padam kena tiupan angin keras bersalju yang masuk lewat ambang



    --------------------------------------- 116

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    jendela yang lepas. Dia sudah sampai di tengah kori-dor ketika terantuk
    sesuatu yang tergeletak di lantai. Ia langsung jatuh.
    Harry menoleh untuk melihat apa yang membuat-nya jatuh, dan hatinya
    mencelos.
    Justin Finch-Fletchley terbaring di lantai, kaku dan dingin, ekspresi kaget
    terpampang di wajahnya. Mata-nya menatap kosong ke langit-langit. Di
    sebelahnya ada sosok lain, pemandangan paling ganjil yang per-nah dilihat
    Harry.
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus, tak lagi seputih mutiara dan transparan,
    melainkan hitam berasap, melayang tak bergerak dalam posisi horizontal, lima
    belas senti dari lantai. Kepalanya setengah putus dan ekspresi wajahnya kaget,
    identik dengan ekspresi Justin.
    Harry bangun, napasnya terengah, putus-putus, jantungnya serasa
    menggedor-gedor rusuknya. Dia memandang liar ke sepanjang koridor dan
    melihat deretan labah-labah berlari secepat mungkin menjauhi kedua sosok itu.
    Suara yang terdengar hanyalah suara teredam guru-guru dari kelas-kelas di
    kanan-kirinya.
    Dia bisa lari dan tak seorang pun akan tahu dia pernah di situ. Tetapi dia tak
    dapat begitu saja me-ninggalkan mereka lergeletak di situ... dia harus men-cari
    bantuan. Akankah ada yang percaya dia sama sekali tidak ada hubungannya
    dengan kejadian ini?
    Sementara dia berdiri di situ, panik, pintu di sebelah kanannya mendadak
    terbuka. Peeves, si hantu jail, melesat keluar.
    "Wah si potty wee Potter!" Peeves terkekeh, me-nyenggol kacamata Harry
    sampai miring ketika me-lewatinya. "Sedang ngapain si Potter? Kenapa dia
    sembunyi..."
    Peeves mendadak berhenti. Dia baru setengah jalan berjungkir-balik di
    udara. Dengan kepala di bawah, dia melihat Justin dan Nick si Kepala-Nyaris-
    Putus. Dia langsung berputar tegak lagi, mengisi paru-parunya, dan sebelum
    Harry sempat mencegahnya, menjerit keras-keras, "SERANGAN! SERANGAN!
    SERANGAN LAGI! ORANG MAUPUN HANTU TAK ADA YANG SELAMAT! LARI! LARI!
    SELAMATKAN DIRI! SERANGAAAAN!"
    Blak-blak-blak: pintu demi pintu membuka di se-panjang koridor dan orang
    membanjir keluar. Selama beberapa menit, keadaan sangat gempar dan kacau-
    balau, sehingga ada kemungkinan Justin terinjak-injak dan anak-anak berdiri di
    dalam tubuh Nick si Kepala-Nyaris-Putus. Harry tergencet ke dinding ketika
    guru-guru berteriak menyuruh diam. Profesor McGonagall datang berlari-lari,
    diikuti murid-murid yang sedang mengikuti pelajarannya, salah satunya masih
    berambut garis-garis hitam dan putih. Profesor McGonagall menggunakan
    tongkatnya untuk membuat ledakan keras, yang membuat anak-anak langsung
    diam, dan menyuruh semua kembali ke kelas masing-masing. Begitu koridor
    kosong lagi, Ernie si Hufflepuff tiba, tersengal-sengal, di tempat kejadian.
    "Tertangkap basah!" Ernie menjerit, mukanya seputih tembok,
    mengacungkan telunjuknya secara dramatis kepada Harry.
    "Cukup, Macmillan!" kata Profesor McGonagall tajam. Peeves melambung-
    lambung di atas, sekarang me-nyeringai jail, mengawasi pemandangan di



    --------------------------------------- 117

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    bawah. Peeves menyukai kekacauan. Ketika para guru mem-bungkuk
    memeriksa Justin dan Nick si Kepala-Nyaris-Putus, Peeves mendadak bernyanyi:
    "Oh, Harry, kau keji, oh apa maumu. Kau bunuh murid- murid, kaupikir itu
    lucu..."
    "Cukup, Peeves!" bentak Profesor McGonagall, dan Peeves meluncur mundur,
    seraya menjulurkan lidah kepada Harry Justin digotong ke rumah sakit oleh
    Profesor Flitwick dan Profesor Sinistra dari jurusan Astronomi, tetapi
    kelihatannya tak ada yang tahu apa yang harus dilaku-kan terhadap Nick si
    Kepala-Nyaris-Putus. Akhirnya, Profesor McGonagall menyihir kipas besar, yang
    diberi-kannya kepada Ernie dengan instruksi supaya mengi-pasi Nick si Kepala-
    Nyaris-Putus sampai terangkat ke atas tangga. Ernie pun mengipasi Nick, yang
    melayang seperti helikopter hitam. Tinggal Harry dan Profesor McGonagall
    sendirian.
    "Ikut aku, Potter," katanya. "Profesor," kata Harry segera,
    "saya bersumpah saya tidak..."
    "Ini di luar kemampuanku, Potter," kata Profesor McGonagall kaku.
    Mereka berjalan dalam diam, membelok di sudut dan Profesor McGonagall
    berhenti di depan gargoyle patung batu besar yang jelek sekali.
    "Permen jeruk!" katanya. Jelas ini kata sandinya, karena patung makhluk
    jelek itu mendadak hidup, melompat minggir, dan dinding di belakangnya ter-
    belah. Bahkan dalam keadaan ketakutan pada apa yang akan terjadi, Harry
    masih tetap bisa kagum sekali. Di belakang dinding itu ada tangga spiral, yang
    bergerak pelan ke atas, seperti eskalator. Saat dia dan Profesor McGonagall
    melangkah menaiki anak tangganya, Harry mendengar benturan dinding yang
    menutup di belakang mereka. Mereka meluncur ke atas melingkar-lingkar,
    makin lama makin tinggi, sampai akhirnya, agak pusing, Harry bisa melihat
    pintu kayu ek berkilat di depan, dengan pengetuk pintu berbentuk griffon,
    makhluk menakjubkan ber-kepala dan bersayap elang, tapi bertubuh singa.
    Harry tahu ke mana dia dibawa. Ini pastilah kantor sekaligus tempat tinggal
    Dumbledore.
    12. Ramuan Polijus
    MEREKA tiba di puncak tangga batu dan Profesor McGonagall mengetuk
    pintunya. Pintu itu terbuka tanpa suara dan mereka masuk. Profesor
    McGonagall menyuruh Harry menunggu dan meninggalkannya sendirian.
    Harry memandang berkeliling. Satu hal sudah jelas: dari semua kantor guru
    yang pernah didatanginya, kantor Dumbledore-lah yang paling menarik. Kalau
    tidak ketakutan setengah mati membayangkan dirinya akan dikeluarkan dari
    sekolah, Harry akan senang sekali punya kesempatan melihat- lihat.



    --------------------------------------- 118

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ruangan itu besar dan bundar, penuh bunyi-bunyi kecil ganjil. Sejumlah
    peralatan perak yang aneh ter-geletak di atas meja-meja berkaki panjang-
    kurus, men-desing dan mengeluarkan gumpalan-gumpalan kecil asap.
    Dindingnya dipenuhi lukisan para mantan ke-pala sekolah, pria dan wanita,
    semuanya tertidur da-lam pigura masing masing. Ada juga meja besar sekali
    berkaki seperti cakar, dan di atas rak di belakang meja tergeletak sebuah topi
    sihir kumal bertambal
    Topi Seleksi.
    Harry ragu-ragu. Dengan hati-hati dipandangnya para penyihir yang tertidur
    di dinding. Tentunya tidak apa-apa kalau dia menurunkan topi itu dan
    memakai-nya sekali lagi? Hanya untuk melihat... untuk me-mastikan topi itu
    memasukkannya ke asrama yang benar.
    Hati-hati dia berjalan ke balik meja, mengangkat topi itu dari raknya dan
    menurunkannya pelan-pelan ke atas kepalanya. Topi itu terlalu besar dan
    merosot menutupi matanya, persis seperti ketika dia memakai-nya dulu. Harry
    menatap bagian dalam topi yang hitam, menunggu. Kemudian terdengar suara
    kecil di telinganya, "Tergoda mau coba lagi ya, Harry Potter?"
    "Eh, ya," gumam Harry "Ehmaaf mengganggu-muaku ingin tanya..."
    "Kau bertanya-tanya dalam hati apakah aku me-masukkanmu ke asrama yang
    benar," kata si topi cerdik.
    "Ya... kau sangat sulit ditempatkan. Tetapi pendapatku masih sama dengan
    yang kukatakan se-belumnya..." Jantung Harry melonjak gembira "...kau bisa
    jadi penyihir hebat di Slytherin." Harry lemas. Dicengkeramnya ujung topi dan
    di-tariknya. Topi itu menggantung lunglai di tangannya, kotor dan kumal. Harry
    mengembalikannya ke rak, perasaannya terpukul sekali.
    "Kau keliru," katanya keras-keras kepada topi yang diam tak bersuara. Topi
    itu tidak bergerak. Harry mundur, masih mengawasinya. Kemudian bunyi ganjil
    seperti orang tercekik di belakangnya membuatnya berputar.
    Ternyata dia tidak sendirian. Pada tenggeran emas di belakang pintu berdiri
    seekor burung yang ke-lihatannya sudah tua sekali, mirip kalkun yang sudah
    dicabuti bulunya separo. Harry memandangnya dan si burung balas
    memandangnya dengan galak, menge-luarkan bunyi tercekik lagi. Burung itu
    kelihatannya sakit parah. Matanya sangat redup, dan bahkan sementara Harry
    memandangnya, dua bulu rontok dari ekornya.
    Harry baru saja berkata dalam hati, Wah, gawat kalau burung piaraan
    Dumbledore ini mati saat aku sedang sendirian bersamanya, ketika si burung
    men-dadak menyala terbakar.
    Harry memekik kaget dan mundur sampai me-nabrak meja. Dengan panik dia
    memandang ber-keliling kalau-kalau ada segelas air, tapi dilihatnya tak ada
    segelas pun. Si burung, sementara itu, sudah menjadi bola api. Dia memekik
    keras dan detik berikutnya, yang tinggal hanyalah seonggok abu ber-asap di
    lantai.
    Pintu ruangan terbuka. Dumbledore masuk, ke-lihatan sangat muram.
    "Profesor," Harry tergagap, "burung Anda saya tak bisa berbuat apa-apadia
    baru saja terbakar..."
    Betapa herannya Harry, Dumbledore tersenyum.



    --------------------------------------- 119

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Sudah waktunya," katanya. "Sudah berhari-hari dia kelihatan parah sekali.
    Aku sudah bilang padanya untuk jalan terus."
    Dumbledore terkekeh melihat kekagetan di wajah Harry.
    "Fawkes itu phoenix, Harry. Burung phoenix terbakar kalau sudah waktunya
    mati dan dilahirkan kembali dari abunya. Lihat dia..."
    Harry menunduk dan melihat burung kecil, keriput seperti baru menetas,
    menjulurkan kepalanya dari dalam abu. Sama jeleknya dengan burung tua tadi.
    "Sayang kau melihatnya pada Hari Terbakar," kata Dumbledore sambil duduk
    di belakang mejanya. "Dia tampan sekali sebetulnya, bulunya merah dan ke-
    emasan, bukan main indahnya. Makhluk luar biasa, phoenix itu. Mereka bisa
    membawa beban yang berat sekali, air mata mereka berkhasiat
    menyembuhkan, dan mereka hewan peliharaan yang sangat setia."
    Dalam kekagetannya melihat Fawkes terbakar, Harry sudah lupa untuk apa
    dia berada di sini. Tetapi semua-nya langsung diingatnya kembali begitu
    Dumbledore duduk di kursi berpunggung tinggi dan matanya yang biru pucat
    memandangnya tajam.
    Tetapi sebelum Dumbledore bisa berkata apa-apa lagi, pintu kantornya
    berdebam terbuka dan Hagrid menerobos masuk, matanya liar, topi balaclava-
    nya ber-tengger di atas kepalanya yang berambut hitam awut-awutan dan
    bangkai ayam jantannya masih berayun di tangannya.
    "Bukan, Harry, Profesor Dumbledore!" kata Hagrid tegang.
    "Aku bicara dengannya hanya beberapa detik sebelum anak itu ditemukan.
    Dia tak akan punya cukup waktu, Sir..."
    Dumbledore berusaha mengatakan sesuatu, tetapi Hagrid terus merepet,
    melambai-lambaikan bangkai ayamnya dalam kebingungannya, membuat bulu-
    bulu ayam itu beterbangan ke mana-mana.
    "...Tak mungkin dia, aku mau sumpah di depan Kementerian Sihir kalau
    perlu..."
    "Hagrid, aku..."
    "...Anda tangkap anak yang salah, Sir, aku tahu Harry tak pernah..." "Hagrid!"
    kata Dumbledore keras. "Aku tidak ber-pendapat Harry-lah yang menyerang
    anak-anak itu."
    "Oh," kata Hagrid, ayam jantannya terkulai lemas di sisinya.
    "Baiklah. Aku akan tunggu di luar kalau begitu, Kepala Sekolah."
    Dan dia melangkah keluar, kelihatan malu.
    "Anda tidak berpendapat saya yang menyerang, Profesor?" Harry mengulang
    penuh harap, sementara Dumbledore menyapu bulu-bulu ayam dari atas meja-
    nya.
    "Tidak, Harry," kata Dumbledore, meskipun wajah-nya muram lagi. "Tapi aku
    tetap ingin bicara dengan-mu."
    Harry menunggu dengan gugup sementara Dumbledore mengawasinya,
    ujung-ujung jarinya yang panjang-panjang mengatup.
    "Aku harus bertanya padamu, Harry, apakah ada yang ingin kausampaikan
    kepadaku," katanya lembut. "Apa saja."
    Harry tak tahu harus bilang apa. Dia teringat te-riakan Malfoy, "Giliranmu
    berikutnya, Darah-lumpur!" dan Ramuan Polijus, menggelegak tersembunyi di



    --------------------------------------- 120

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    da-lam toilet Myrtle Merana. Kemudian dia teringat suara tanpa tubuh yang
    sudah didengarnya dua kali dan ucapan Ron, "Mendengar suara- suara yang tak
    bisa di-dengar orang lain, bukan pertanda baik, bahkan di dunia sihir
    sekalipun." Dia juga teringat apa yang dikatakan semua orang tentang dia, dan
    ketakutannya yang semakin besar bahwa dia ada hubungannya dengan Salazar
    Slytherin....
    "Tidak,"kata Harry, "tidak ada, Profesor."
    Serangan ganda kepada Justin dan Nick si Kepala-Nyaris- Putus mengubah
    yang sebelumnya kegugupan menjadi kepanikan besar. Anehnya, nasib Nick si
    Kepala-Nyaris-Putus- lah yang paling membuat kha-watir orang-orang. Apa yang
    mungkin berbuat begitu kepada hantu, orang-orang saling bertanya, kekuatan
    mengerikan apa yang bisa merusak orang yang sudah mati? Orang-orang
    berebut memesan tempat duduk di Hogwarts Express agar anak-anak bisa
    pulang Na-tal nanti.
    "Kalau begini caranya, tinggal kita yang ada di sini," Ron berkata kepada
    Harry dan Hermione. "Kita, Malfoy, Crabbe, dan Goyle. Wah, bukan main
    asyiknya liburan Natal nanti."
    Crabbe dan Goyle, yang selalu melakukan apa yang dilakukan Malfoy, telah
    mendaftar untuk tinggal selama liburan juga. Tetapi Harry senang sebagian
    besar anak pulang. Dia sudah bosan menghadapi anak-anak yang
    menghindarinya di koridor, seakan taringnya akan tumbuh mendadak atau dia
    akan me-nyemburkan bisa; bosan pada bisik-bisik, tudingan-tudingan, dan
    desisan setiap kali dia lewat.
    Fred dan George, meskipun demikian, menganggap semua ini sangat lucu.
    Mereka sengaja berjalan di depan Harry di koridor-koridor, berteriak-teriak,
    "Minggir! Beri jalan pada Slytherin, sihir jahat akan lewat..."
    Percy sangat tidak menyetujui sikap mereka.
    "Ini tidak lucu," katanya dingin.
    "Oh, minggir, Percy," kata Fred. "Harry sedang buru-buru."
    "Yeah, dia sedang menuju Kamar Rahasia untuk minum teh dengan
    pelayannya yang bertaring," kata George terkekeh.
    Ginny juga tidak menganggap itu lucu.
    "Aduh, jangan dong," jerit Ginny setiap kali Fred menanyai Harry siapa yang
    akan dia serang berikut-nya, atau George berpura-pura mengusir Harry de-ngan
    untaian besar bawang putih setiap kali mereka bertemu.
    Harry tidak keberatan. Dia malah lega Fred dan George menganggap lucu
    pendapat orang bahwa dia pewaris Slytherin. Tetapi sikap antik Fred dan
    George rupanya menjengkelkan Draco Malfoy, yang tampak semakin masam
    setiap kali dia melihat mereka mem-buat lelucon begitu.
    "Itu karena dia sebetulnya ingin sekali menyombong bahwa dialah pewaris
    sebenarnya," kata Ron sok tahu. "Kau tahu, kan, dia paling benci kalau ada
    yang mengalahkannya dalam hal apa pun, dan kau yang mendapat pujian untuk
    segala pekerjaan kotornya."
    "Tidak lama lagi," kata Hermione dengan nada puas.
    "Ramuan Polijus sudah hampir siap. Kita akan segera mendengar
    pengakuannya."



    --------------------------------------- 121

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Akhirnya semester berakhir dan kesunyian setebal tumpukan salju di
    halaman menyelimuti kastil. Alih-alih suram, Harry menganggapnya damai, dan
    dia senang sekali hanya dia, Ron, dan Hermione yang tinggal di Menara
    Gryffindor. Itu berarti mereka bisa bermain Jentikan Meletup. sekeras mungkin
    tanpa mengganggu siapa pun, dan berlatih duel tanpa ada yang melihat. Fred,
    George, dan Ginny memilih tinggal di sekolah daripada mengunjungi Bill di
    Mesir bersama Mr dan Mrs Weasley. Percy, yang mencela sikap me-reka yang
    dinilainya kekanak-kanakan, tidak melewat-kan banyak waktu di ruang rekreasi
    Gryffindor. Dia sudah memberitahu mereka dengan angkuh bahwa dia tinggal
    selama Natal karena tugasnyalah sebagai Prefek untuk memberi dukungan
    kepada para guru dalam masa-masa sulit ini.
    Pagi Hari Natal tiba, dingin dan putih bersalju. Harry dan Ron, yang hanya
    tinggal berdua di kamar mereka, dibiingunkan pagi-pagi sekali oleh Hermione,
    yang menerobos masuk. la sudah berpakaian lengkap dan membawa hadiah
    untuk mereka berdua.
    "Bangun," serunya keras-keras, seraya menarik gor-den jendela. "Hermione
    kau tidak boleh masuk ke sini," kata Ron, menaungi matanya yang silau.
    "Selamat Natal untuk kalian juga," kata Hermione, seraya melemparkan
    hadiah untuk Ron. "Aku sudah bangun hampir sejam yang lalu, menambahkan
    se-rangga sayap-renda ke ramuan. Sudah jadi sekarang."
    Harry duduk, mendadak kantuknya hilang.
    "Kau yakin?"
    "Positif," kata Hermione, menggeser Scabbers si tikus supaya dia bisa duduk
    di kaki tempat tidur besar Harry. "Kalau kita akan melakukannya, menurutku
    sebaiknya malam ini."
    Saat itu Hedwig meluncur masuk ke dalam kamar, membawa bungkusan
    amat kecil di paruhnya.
    "Halo," kata Harry gembira, ketika Hedwig men-darat di tempat tidurnya,
    "kau sudah mau bicara padaku lagi?"
    Hedwig menggigit-gigit telinga Harry dengan sayang, yang bagi Harry
    merupakan hadiah yang jauh lebih menyenangkan daripada hadiah yang di-
    bawanya, yang ternyata dari keluarga Dursley. Mereka mengiriminya sebatang
    tusuk gigi dan surat pendek yang isinya menyuruh Harry mencari tahu kalau-
    kalau dia bisa tinggal di Hogwarts untuk liburan musim panas juga. Hadiah-
    hadiah Natal Harry lainnya jauh lebih me-muaskan. Hagrid mengiriminya
    sekaleng besar gulali, yang Harry putuskan akan dipanaskan dulu sebelum
    dimakan; Ron menghadiahinya buku berjudul Terbang bersama Cannons, buku
    yang memuat fakta-fakta me-narik tentang tim Quidditch favoritnya; dan
    Hermione telah membelikannya pena mewah bulu elang. Harry membuka
    hadiah terakhir dan menemukan jumper rompi rajutan tanpa kancingbaru
    dan kue plum besar dari Mrs Weasley. Harry menaruh kembali kartu-nya.
    Perasaan bersalah kembali melandanya, ketika dia teringat mobil Mr Weasley,
    yang tak pernah ke-lihatan lagi sehabis menabrak pohon Dedalu Perkasa, dan
    rencana pelanggaran peraturan yang akan dilaku-kannya bersama Ron
    berikutnya.



    --------------------------------------- 122

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tak seorang pun, bahkan orang yang sedang ketakutan akan minum Ramuan
    Polijus nanti, tidak bisa me-nikmati makan malam Natal di Hogwarts.
    Aula Besar kelihatan megah sekali. Di situ tak hanya ada selusin pohon Natal
    berselimut salju dan untaian tebal holly dan mistletoe yang dipasang bersilang-
    silang di langit-langit, tetapi salju sihiran berjatuhan, hangat dan kering, dari
    langit- langit. Dumbledore memimpin mereka menyanyikan beberapa lagu
    Natal favoritnya. Semakin banyak minuman keras yang diteguk Hagrid dari
    pialanya, semakin menggelegar pula suaranya. Percy, yang tidak menyadari
    Fred telah menyihir len-cana Prefek-nya sehingga tulisannya sekarang menjadi
    "Pitak", berkali-kali bertanya kepada mereka kenapa mereka cengar-cengir
    terus. Harry bahkan tidak peduli pada Draco Malfoy yangdari meja Slytherin
    me-lontarkan ejekan-ejekan keras tentang jumper barunya. Kalau mereka
    sedikit beruntung, Malfoy akan me-nerima balasannya beberapa jam lagi.
    Harry dan Ron baru saja menghabiskan porsi ketiga puding Natal mereka,
    ketika Hermione mengajak mereka meninggalkan aula untuk melaksanakan ren-
    cana mereka malam itu.
    "Kita masih memerlukan sedikit bagian tubuh orang-orang yang menjadi
    sasaran kita," kata Hermione tegas, seakan dia menyuruh mereka ke
    supermarket untuk membeli bubuk pencuci. "Dan jelas, paling baik kalau kalian
    bisa mendapatkan sesuatu dari Crabbe dan Goyle. Mereka kan sahabat Malfoy,
    dia akan menceritakan segalanya kepada mereka. Dan kita juga perlu
    memastikan Crabbe dan Goyle yang asli tidak muncul selagi kita menginterogasi
    Malfoy.
    "Aku sudah memikirkan segalanya," Hermione me-neruskan dengan lancar,
    mengabaikan wajah ke-heranan Harry dan Ron. Dia menunjukkan dua po-tong
    kue cokelat besar. "Ini sudah kuberi Ramuan Tidur sederhana. Yang harus kalian
    lakukan tinggal memastikan Crabbe dan Goyle menemukan kue-kue ini. Kalian
    tahu betapa rakusnya mereka, mereka pasti akan memakannya. Begitu mereka
    tertidur, cabut be-berapa helai rambut mereka dan sembunyikan mereka dalam
    lemari sapu."
    Harry dan Ron saling pandang dengan ragu-ragu.
    "Hermione, kurasa tidak..."
    "Hal itu bisa saja tidak berjalan sesuai rencana..."
    Tetapi mata Hermione berkilau tajam, tak berbeda dengan kilau yang
    kadang-kadang tampak di mata Profesor McGonagall.
    "Ramuan itu tak ada gunanya tanpa rambut Crabbe dan Goyle," katanya
    tegas. "Kalian ingin menyelidiki Malfoy, kan?"
    "Oh, oke, oke," kata Harry. "Tetapi bagaimana denganmu? Rambut siapa yang
    akan kaucabut?"
    "Aku sudah punya rambut yang kuperlukan!" kata Hermione cerah, menarik
    keluar sebuah botol kecil mungil dari dalam sakunya dan menunjukkan kepada
    mereka sehelai rambut di dalamnya. "Ingat Millicent Bulstrode yang bergulat
    denganku di Klub Duel? Rambutnya tertinggal di jubahku ketika dia mencoba
    mencekikku! Dan dia pulang liburan Natal inijadi, aku tinggal bilang pada
    anak-anak Slytherin bahwa aku batal pulang ke rumah."



    --------------------------------------- 123

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ketika Hermione sudah pergi untuk mengecek Ramuan Polijus lagi, Ron
    menoleh kepada Harry de-ngan ekspresi seolah akan tertimpa malapetaka.
    "Pernahkah kau mendengar rencana dengan begitu banyak hal yang bisa
    gagal?"
    Betapa herannya Harry dan Ron ketika tahap pertama rencana mereka
    berjalan mulus seperti yang telah dikatakan Hermione. Mereka bersembunyi di
    Aula Besar yang sudah kosong setelah acara minum teh Natal, menunggu
    Crabbe dan Goyle yang tinggal berdua di meja Slytherin melahap porsi keempat
    kue mereka. Harry sudah meletakkan kue cokelat di ujung pegangan tangga.
    Ketika melihat Crabbe dan Goyle meninggalkan Aula Besar, Harry dan Ron
    cepat-cepat bersembunyi di balik baju zirah di dekat pintu.
    "Tolol banget," bisik Ron, gembira luar biasa ketika Crabbe menyenggol
    Goyle dan menunjuk kue itu dengan senang, lalu menyambarnya. Sambil
    nyengir konyol, mereka langsung menjejalkan kue itu ke dalam mulut besar
    mereka. Sesaat mereka berdua me-ngunyah dengan rakus, wajah mereka penuh
    ke-menangan. Kemudian, tanpa perubahan ekspresi se-dikit pun, keduanya
    roboh ke lantai.
    Kesulitan yang paling besar adalah menyembunyi-kan mereka di dalam
    lemari di seberang ruangan. Begitu mereka sudah aman dijejalkan di antara
    ember-ember dan kain pel, Harry mencabut dua rambut pendek kaku yang
    tumbuh di dahi Goyle dan Ron mencabut beberapa helai rambut Crabbe.
    Mereka juga mencuri sepatu Crabbe dan Goyle, karena sepatu mereka kelewat
    kecil untuk ukuran kaki kedua anak Slytherin itu. Kemudian, masih keheranan
    akan apa yang baru saja mereka lakukan, mereka berlari ke toilet Myrtle
    Merana.
    Mereka nyaris tak bisa melihat gara-gara asap tebal hitam yang keluar dari
    bilik tempat Hermione mengaduk isi kualinya. Dengan menarik jubah untuk
    menutupi muka mereka, Harry dan Ron mengetuk pintu pelan.
    "Hermione?"
    Mereka mendengar kunci diputar, dan kemudian Hermione muncul,
    wajahnya berkilau dan kelihatan cemas. Di belakangnya mereka mendengar
    bunyi blup-blup ramuan kental yang menggelegak. Tiga gelas besar sudah siap
    di atas tempat duduk kloset.
    "Berhasil?" tanya Hermione menahan napas.
    Harry menunjukkan rambut Goyle.
    "Bagus. Dan aku sudah mengambil jubah mereka dari tempat cucian," kata
    Hermione, mengangkat kan-tong kecil.
    "Kalian perlu jubah lebih besar kalau sudah jadi Crabbe dan Goyle."
    Ketiganya memandang kuali. Dari dekat, ramuan itu tampak seperti lumpur
    kental hitam yang menggelegak.
    "Aku yakin sudah melakukan segalanya dengan benar," kata Hermione,
    dengan gugup membaca ulang halaman Ramuan-ramuan Paling Mujarab yang
    sudah bebercak-bercak.
    "Tampilannya sudah seperti yang di-katakan buku... Begitu kita
    meminumnya, kita cuma punya waktu tepat satu jam sebelum berubah menjadi
    diri kita lagi."



    --------------------------------------- 124

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Sekarang bagaimana?" bisik Ron. "Kita bagi menjadi tiga gelas, dan kita
    tambahkan rambutnya."
    Hermione memasukkan sendokan-sendokan besar cairan kental itu ke dalam
    masing-masing gelas. Kemu-dian, dengan tangan gemetar dia menggoyang
    botol-nya sampai rambut Millicent jatuh dari botol itu, ke dalam gelas
    pertama.
    Ramuan itu mendesis keras seperti ceret yang airnya mendidih dan berbuih
    banyak. Sedetik kemudian ramuan itu sudah berubah warna menjadi kuning
    menjijikkan.
    "Yaikkksari pati Millicent Bulstrode," kata Ron, me-mandangnya dengan
    jijik. "Pasti rasanya memuakkan."
    "Masukkan rambutmu sekarang," kata Hermione.
    Harry menjatuhkan rambut Goyle ke dalam gelas yang di tengah dan Ron
    memasukkan rambut Crabbe ke gelas terakhir. Kedua gelas itu mendesis dan
    ber-buih: yang berisi rambut Goyle berubah warna men-jadi cokelat muda,
    yang berisi rambut Crabbe menjadi cokelat tua kelam.
    "Tunggu," kata Harry ketika Ron dan Hermione mau mengambil gelas
    mereka. "Kita sebaiknya tidak meminumnya sama-sama di sini. Begitu kita
    berubah menjadi Crabbe dan Goyle, tempat ini tak akan cukup. Dan Millicent
    Bulstrode juga tidak kecil."
    "Pemikiran bagus," kata Ron, membuka kunci pintu. "Kita minum dalam bilik
    yang berlainan."
    Berhati-hati agar ramuan Polijus-nya tidak ada yang tercecer, Harry
    menyelinap ke dalam bilik yang di tengah.
    "Siap?" dia berseru.
    "Siap," terdengar jawaban Ron dan Hermione.
    "Satu... dua... tiga..."
    Seraya memencet hidungnya, Harry meminum ramuannya dalam dua
    tegukan. Rasanya seperti kol yang dimasak kelamaan.
    Segera saja bagian dalam tubuhnya mulai bergerak-gerak, seakan dia baru
    saja menelan ular-ular hidup Harry terbungkuk, bertanya-tanya dalam hati
    apakah dia akan muntahkemudian perutnya serasa terbakar, dan rasa panas
    ini menjalar cepat dari perut ke ujung-ujung jari tangan dan kakinya. Reaksi
    berikutnya begitu hebat, membuat Harry terpekik kaget dan jatuh merangkak.
    Dia merasa seperti meleleh ketika kulit di seluruh tubuhnya ditumbuhi
    gelembung-gelembung seperti lilin panas, dan di depan matanya sendiri,
    tangannya mulai tumbuh, jari-jarinya menggemuk, kukunya melebar, dan buku-
    buku jarinya bertonjolan besar-besar. Bahunya melebar, rasanya sakit, dan
    denyut-denyut di dahinya memberitahunya rambutnya sedang tumbuh
    merambat ke alisnya. Jubahnya sobek ketika dadanya mengembang seperti
    tong pecah sampai lingkaran pengikatnya terlepas. Kakinya sakit sekali terjepit
    sepatu yang ukurannya, terlalu kecil empat nomor...
    Dan mendadak saja, seperti mulainya tadi, segalanya berhenti. Harry
    berbaring menelungkup di lantai batu bilik yang dingin, mendengarkan Myrtle
    yang ber-deguk merana di bilik paling ujung. Dengan susah payah dia
    mengentakkan sepatunya sampai lepas dan berdiri. Beginilah rasanya menjadi



    --------------------------------------- 125

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Goyle. Tangannya yang besar gemetar, dia melepas jubahnya, yang
    menggantung kira-kira tiga puluh senti di atas mata kakinya, memakai jubah
    yang disediakan Hermione, dan mengikat tali sepatu Goyle yang seperti-
    perahu. Tangannya mau menyibakkan rambut dari matanya, tapi yang
    terpegang olehnya hanya rambut pendek kaku bagai kawat, yang tumbuh
    memenuhi dahinya. Kemudian dia menyadari bahwa kacamatanya mem-buat
    pandangannya kabur, karena Goyle jelas tidak memerlukannya. Dilepasnya
    kacamatanya, lalu dia ber-teriak, "Kalian berdua oke?" Suara serak Goyle ter-
    dengar dari mulutnya.
    "Yeah," terdengar dengkur berat Crabbe dari sebelah kirinya.
    Harry membuka pintu biliknya dan melangkah di depan cermin yang retak.
    Goyle balik memandangnya dengan mata dalam yang suram. Harry menggaruk
    telinganya. Begitu juga, Goyle.
    Pintu Ron terbuka. Mereka berpandangan. Dari po-tongan rambutnya yang
    seperti batok kelapa sampai ke lengan gorilanya yang panjang, Ron tak bisa di-
    bedakan dari Crabbe, hanya saja dia kelihatan pucat dan shock.
    "Tak bisa dipercaya," kata Ron, mendekati cermin dan menekan-nekan
    hidung pesek Crabbe. "Tak bisa dipercaya."
    "Lebih baik kita segera berangkat," kata Harry, me-ngendurkan arloji yang
    menjepit pergelangan tangan Goyle yang tebal. "Kita masih harus menemukan
    ruang rekreasi Slytherin. Mudah-mudahan kita ketemu orang yang bisa kita
    buntuti..."
    Ron, yang sejak tadi memandang Harry, berkata, "Kau tak tahu betapa
    anehnya melihat Goyle berpikir." Dia menggedor pintu Hermione. "Ayo, kita
    harus pergi..."
    Suara tinggi melengking menjawabnya, "Akuku-rasa aku tidak akan keluar.
    Kalian jalan saja tanpa aku."
    "Hermione, kami tahu Millicent Bulstrode jelek, tak akan ada yang tahu itu
    kau."
    "Tidakbetulaku tidak akan ikut. Kalian berdua bergegaslah, kalian
    membuang-buang waktu.".
    Harry memandang Ron, kebingungan.
    "Nah, kalau begitu, kau lebih mirip Goyle," kata Ron.
    "Begitulah tampangnya setiap kali ditanya guru." "Hermione, apakah kau
    tidak apa-apa?" tanya Harry dari balik pintu.
    "Baikaku baik... Kalian pergilah...."
    Harry memandang arlojinya. Lima dari enam puluh menit mereka yang
    sangat berharga telah lewat. "Kami akan menemuimu di sini nanti, oke?" kata-
    nya. Harry dan Ron membuka pintu toilet hati-hati, memastikan keadaan aman,
    lalu keluar. "Jangan mengayunkan tanganmu seperti itu," Harry bergumam
    kepada Ron.
    "Eh?"
    "Crabbe biasanya tangannya kaku..."
    "Bagaimana kalau begini?"
    "Yeah, itu lebih baik."



    --------------------------------------- 126

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mereka menuruni tangga pualam. Yang mereka perlukan sekarang tinggal
    anak Slytherin yang bisa mereka ikuti ke ruang rekreasi Slytherin, tapi tak ada
    seorang pun.
    "Ada ide?" gumam Harry.
    "Anak-anak Slytherin selalu datang untuk sarapan dari arah sana," kata Ron,
    mengangguk ke pintu ruang bawah tanah. Baru saja dia selesai bicara, se-orang
    gadis berambut panjang ikal muncul dari pintu.
    "Maaf," kata Ron, bergegas mendekatinya, "kami lupa jalan ke ruang rekreasi
    kita."
    "Apa?" kata gadis itu kaku. "Ruang rekreasi kita? Aku anak Ravenclaw."
    Gadis itu pergi, menoleh curiga kepada mereka.
    Harry dan Ron bergegas menuruni tangga batu menuju kegelapan, langkah-
    langkah mereka bergema keras ketika kaki raksasa Crabbe dan Goyle
    mengentak lantai. Mereka merasa ini tidak akan semudah yang mereka
    harapkan.
    Lorong-lorong yang berputar-putar seperti labirin itu kosong. Mereka turun
    semakin dalam di bawah sekolah, berkali-kali mengecek arloji untuk melihat
    berapa lama lagi waktu yang masih tersisa. Setelah seperempat jam, tepat
    ketika mereka mulai putus asa, mereka mendengar bunyi gerakan di depan.
    "Ha!" kata Ron. "Itu salah satu dari mereka!"
    Sosok itu muncul dari ruang sebelah. Ketika mereka bergegas mendekat,
    mereka kecewa. Ternyata bukan anak Slytherin, melainkan Percy.
    "Apa yang kaulakukan di bawah sini?" tanya Ron heran. Percy tampak
    terhina.
    "Itu," katanya kaku, "bukan urusanmu. Kau Crabbe, kan?"
    "Apoh, yeah," kata Ron. "Kembalilah ke kamar kalian," kata Percy galak.
    "Tidak aman berkeliaran di koridor gelap sekarang ini."
    "Kau sendiri berkeliaran," tuduh Ron.
    "Aku," kata Percy membusungkan dada, "Prefek. Tak ada yang akan
    menyerangku."
    Tiba-tiba terdengar suara di belakang Harry dan Ron. Draco Malfoy berjalan
    ke arah mereka, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Harry senang
    melihatnya.
    "Di sini rupanya kalian," katanya, memandang me-reka.
    "Apa dari tadi kalian makan terus seperti babi di Aula Besar? Aku mencari-
    cari kalian, aku ingin menunjukkan sesuatu yang benar-benar lucu pada kalian."
    Malfoy mengerling Percy dengan menghina.
    "Dan apa yang kaulakukan di sini, Weasley?" cibir-nya. Percy kelihatan
    marah. "Kau harus menunjukkan sedikit rasa hormat kepada Prefek sekolah!"
    katanya. "Aku tak suka sikap-mu!"
    Malfoy mencibir dan memberi isyarat pada Harry dan Ron untuk
    mengikutinya. Harry nyaris minta maaf pada Percy, tapi untung langsung ingat
    dan menahan diri. Dia dan Ron bergegas mengikuti Malfoy, yang berkata ketika.
    mereka membelok ke lorong berikutnya, "Si Peter Weasley itu..."
    "Percy," Ron otomatis membetulkannya.



    --------------------------------------- 127

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apalah," kata Malfoy. "Kuperhatikan belakangan ini dia menyelinap ke
    mana-mana. Dan aku tahu apa maunya. Dia pikir dia bisa menangkap pewaris
    Slytherin sendirian."
    Malfoy tertawa mengejek. Harry dan Ron bertukar pandang bergairah.
    Malfoy berhenti di depan tembok batu kosong dan lembap.
    "Apa kata kuncinya?" tanyanya kepada Harry.
    "Eh...," kata Harry.
    "Oh yeahdarah-murni!" kata Malfoy, tidak men-dengarkan ucapan Harry,
    dan pintu batu yang ter-sembunyi di tembok itu menggeser terbuka Malfoy
    masuk, diikuti Harry dan Ron.
    Ruang rekreasi Slytherin adalah ruang bawah tanah yang panjang dan
    rendah, dengan tembok dan langit-langit batu kasar. Dari langit-langit itu
    lampu-lampu kehijauan bergantung pada rantai. Api berderak dalam perapian
    yang berukir rumit di depan mereka, dan beberapa anak Slytherin
    mengelilinginya di kursi-kursi berukir.
    "Tunggu di sini," kata Malfoy kepada Harry dan Ron, memberi isyarat agar
    mereka duduk di sepasang kursi kosong agak jauh dari perapian. "Akan ku-ambil
    ayahku baru saja mengirimnya..."
    Bertanya-tanya dalam hati apa yang akan ditunjuk-kan Malfoy kepada
    mereka, Harry dan Ron duduk, berusaha kelihatan tidak canggung.
    Malfoy muncul lagi beberapa saat kemudian, mem-bawa guntingan koran.
    Disodorkannya guntingan ko-ran itu ke bawah radung Ron.
    "Ini akan membuatmu tertawa," katanya.
    Harry melihat mata Ron membelalak kaget. Ron membaca guntingan koran
    itu cepat-cepat, dengan tawa yang dipaksakan, lalu diberikannya kepada Harry.
    Ternyata itu berita yang digunting dari Daily Prophet, bunyinya:
    PENYELIDIKAN DI KEMENTERIAN SIHIR
    Arthur Weasley, Kepala Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle, hari
    ini didenda lima puluh Galleon karena menyihir mobil Muggle.
    Mr Lucius Malfoy, anggota Dewan Sekolah Sihir Hogwarts, tempat mobil
    tersihir itu mendarat beberapa waktu yang lalu, menelepon hari ini,
    mengusulkan pemecatan Mr Weasley.
    "Weasley telah merusak reputasi Kementerian," Mr Malfoy berkata kepada
    reporter kami. "Dia jelas tidak layak membuat peraturan untuk kita dan
    Undang-undang Perlindungan Muggle-nya harus segera di-hapuskan."
    Mr Weasley tidak bisa dimintai komentar, meskipun istrinya menyuruh para
    reporter untuk menyingkir, kalau tidak mereka akan melepas hantu keluarga
    untuk menyerang para reporter.
    "Nah?" kata Malfoy tak sabar, ketika Marry mengem-balikan guntingan koran
    itu kepadanya. "Apa me-nurutmu tidak lucu?"
    "Ha, ha," kata Harry suram.
    "Arthur Weasley suka sekali pada Muggle, mestinya dia patahkan saja
    tongkatnya jadi dua dan bergabung dengan mereka," kata Malfoy menghina.
    "Kau tak akan tahu keluarga Weasley berdarah-murni, kalau melihat tingkah
    mereka."



    --------------------------------------- 128

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Wajah Ronatau lebih tepatnya, Crabbe, berkeriut saking marahnya.
    "Kenapa sih kau?" bentak Malfoy.
    "Sakit perut," keluh Ron.
    "Pergi ke rumah sakit dong, dan tendang semua Darah- lumpur itu untukku,"
    kata Malfoy terkekeh.
    "Tahu tidak, aku heran. Daily Prophet belum juga mem-beritakan tentang
    serangan-serangan ini," katanya me-neruskan, berpikir-pikir. "Kurasa
    Dumbledore berusaha menutupinya. Dia akan dipecat kalau kejadian ini tidak
    segera dihentikan. Ayah selalu bilang Dumbledore hal terburuk yang terjadi di
    sekolah ini. Dia suka anak-anak kelahiran-Muggle. Kepala sekolah yang layak
    tidak akan menerima anak tolol seperti Creevey."
    Malfoy berpura-pura memotret, menjepret-jepret de-ngan kamera khayalan,
    menirukan gaya Colin. "Potter, boleh aku memotretmu, Potter? Boleh aku
    minta tanda tanganmu? Boleh dong aku menjilat sepatumu, Potter?"
    Dia menurunkan tangannya dan memandang Harry dan Ron.
    "Kenapa sih kalian berdua?"
    Walaupun terlambat, Harry dan Ron memaksa diri tertawa, tetapi Malfoy
    tampaknya puas. Mungkin Crabbe dan Goyle memang selalu "telmi".
    "Santo Potter, sahabat para Darah-lumpur," kata Malfoy lambat-lambat. "Dia
    satu lagi yang tak punya rasa sihir yang pantas. Kalau tidak, dia tak akan
    bergaul dengan Granger si Darah-lumpur itu. Dan orang-orang mengira dia-lah.
    pewaris Slytherin!"
    Harry dan Ron menunggu dengan napas tertahan. Malfoy jelas sebentar lagi
    akan memberitahu mereka bahwa dialah pewarisnya. Tetapi...
    "Kalau saja aku tahu siapa dia," kata Malfoy jengkel. "Aku bisa membantu
    mereka."
    Rahang Ron membuka lebar sehingga wajah Crabbe kelihatan lebih tolol dari
    biasanya. Untungnya Malfoy tidak memperhatikan, dan Harry berpikir cepat,
    berkata, "Kau pasti punya dugaan siapa yang ada di belakang semua ini..."
    "Kau tahu aku tak tahu apa-apa, Goyle, berapa kali harus kukatakan
    kepadamu?" bentak Malfoy. "Dan Ayah juga sama sekali tak mau bercerita
    tentang ter-akhir kalinya Kamar Rahasia dibuka. Tentu saja, ke-jadiannya lima
    puluh tahun yang lalu, jadi sebelum dia di sini, tapi dia tahu tentang semua itu,
    dan dia bilang kejadian itu ditutup-tutupi dan akan men-curigakan kalau aku
    tahu terlalu banyak tentangnya. Tetapi aku tahu satu hal: terakhir kali Kamar
    Rahasia dibuka,
    satu Darah-lumpur meninggal. Jadi, pasti ting-gal tunggu waktu sebelum
    salah satu dari mereka dibunuh kali ini... Mudah-mudahan saja si Granger,"
    katanya girang.
    Ron mengepalkan tinju raksasa Crabbe. Merasa bahwa rahasia mereka bisa
    terbongkar jika Ron me-ninju Malfoy, Harry melempar pandang memperingat-
    kan dan berkata,
    "Tahukah kau, apakah orang yang membuka Kamar Rahasia dulu itu berhasil
    ditangkap?"
    "Oh, yeah... siapa pun orangnya, dia dikeluarkan," kata Malfoy. "Mungkin
    mereka masih di Azkaban."



    --------------------------------------- 129

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Az-kaban?" tanya Harry, bingung.
    "Azkabanpenjara penyihir, Goyle," kata Malfoy, me-mandangnya tak
    percaya. "Astaga, kalau lebih telmi dari ini, kau akan jadi terbelakang."
    Malfoy duduk gelisah di kursinya dan berkata, "Ayah berpesan agar aku tidak
    menonjolkan diri dan membiarkan pewaris Slytherin bertindak. Dia bilang
    sekolah perlu dibersihkan dari semua sampah Darah-lumpur, tapi aku tak boleh
    ikut campur. Tentu saja dia sendiri sedang banyak disorot sekarang ini. Kalian
    tahu Kementerian Sihir merazia rumah kami minggu lalu?"
    Harry berusaha memaksa wajah bodoh Goyle ikut prihatin.
    "Yeah...," kata Malfoy. "Untunglah tidak banyak yang mereka temukan. Ayah
    punya beberapa benda Ilmu Hitam yang sangat berharga. Tetapi untungnya
    kami punya kamar rahasia di bawah lantai ruang tamu..."
    "Ho!" kata Ron.
    Malfoy memandangnya. Begitu juga Harry. Wajah Ron memerah, bahkan
    rambutnya pun memerah. Hidungnya juga pelan-pelan memanjangwaktu
    mereka telah habis. Ron sedang kembali menjadi diri-nya, dan dari kengerian
    yang terpancar di wajahnya, mestinya Harry juga.
    Mereka berdua rnelompat bangun.
    "Harus minum obat untuk sakit perutku," gerutu Ron, dan tanpa berlama-
    lama lagi mereka berlari me-nyeberangi ruang rekreasi Slytherin, menerobos
    tem-bok batu dan bergegas menaiki tangga, berharap Malfoy tidak melihat
    sesuatu yang aneh. Harry bisa merasakan sepatu besar Goyle kelonggaran untuk
    kaki-nya dan dia harus mengangkat jubahnya saat tubuh-nya mengecil. Mereka
    berlari menaiki tangga menuju Aula Depan, yang bising dengan gedoran dari
    lemari tempat mereka mengurung Crabbe dan Goyle. Setelah meninggalkan
    sepatu mereka di depan lemari, mereka berlari menaiki tangga pualam dengan
    hanya berkaus kaki, menuju toilet Myrtle Merana.
    "Yah, tidak sepenuhnya sia-sia," kata Ron tersengal, menutup pintu toilet dj
    belakang mereka. "Kita me-mang belum tahu siapa yang melakukan
    penyerangan ini, tapi aku akan menulis kepada Dad dan meminta-nya
    memeriksa di bawah ruang tamu Malfoy."
    Harry memeriksa wajahnya di cermin retak. Dia sudah kembali normal. Dia
    memakai kacamatanya sementara Ron menggedor pintu bilik Hermione.
    "Hermione, keluar, banyak yang akan kami ceritakan..."
    "Pergi!" lengking Hermione. Harry dan Ron berpandangan.
    "Ada apa?" tanya Ron. "Kau pasti sudah balik jadi dirimu lagi sekarang, kami
    sudah..."
    Tetapi Myrtle Merana tiba-tiba melayang menembus pintu bilik. Harry belum
    pernah melihatnya seriang itu.
    "Ooooooh! Tunggu sampai kalian lihat sendiri," kata-nya.
    "Mengerikan sekali!"
    Mereka mendengar kunci diputar dan Hermione muncul, terisak-isak,
    jubahnya ditarik menutupi kepalanya.
    "Ada apa?" tanya Ron bingung. "Apa hidungmu masih hidung Millicent atau
    apa?" Hermione menjatuhkan jubahnya dan Ron mundur sampai ke wastafel.



    --------------------------------------- 130

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Wajah Hermione ditumbuhi bulu hitam. Matanya jadi kuning dan ada telinga
    runcing mencuat dari rambutnya.
    "Itu rambut ku-kucing!" lolongnya. "M-Millicent Bulstrode pastilah punya
    kucing! Dan r-ramuan itu tidak boleh digunakan untuk berubah menjadi
    binatang!"
    "Uh, oh," kata Ron.
    "Kau akan diledek habis-habisan," kata Myrtle senang.
    "Tidak apa-apa, Hermione," kata Harry buru-buru. "Kami akan membawamu
    ke rumah sakit. Madam Pomfrey tak pernah mengajukan banyak per-tanyaan..."
    Butuh waktu lama membujuk Hermione untuk me-ninggalkan toilet. Myrtle
    Merana melepas kepergian mereka dengan terbahak-bahak.
    "Tunggu sampai ketahuan kau punya ekor!"
    13. Buku Harian Yang Sangat Rahasia
    HERMIONE tinggal di rumah sakit selama beberapa minggu. Ketika anak-anak
    kembali dari liburan Natal, desas- desus tentang ketidakmunculannya seru
    sekali, karena tentu saja semua mengira dia telah diserang. Begitu banyak anak
    yang datang ke rumah sakit, berusaha mengintipnya, sehingga Madam Pomfrey
    me-ngeluarkan tirainya lagi dan memasangnya di se-keliling tempat tidur
    Hermione, agar dia tidak malu sebab dilihat anak-anak dengan wajah berbulu.
    Harry dan Ron datang menengoknya setiap malam. Ketika semester baru
    dimulai, mereka membawakan-nya PR setiap hari.
    "Kalau aku yang ditumbuhi kumis kucing, aku sih libur dulu belajarnya," kata
    Ron sambil meletakkan setumpuk buku di meja di sebelah tempat tidur
    Hermione pada suatu malam.
    "Jangan bodoh, Ron, aku kan harus belajar supaya tidak ketinggalan," kata
    Hermione tegas. Semangatnya sudah jauh lebih baik karena semua bulu sudah
    meng-hilang dari wajahnya, dan matanya pelan-pelan sudah mulai kembali
    berwarna cokelat. "Kurasa kalian belum dapat petunjuk baru?" dia
    menambahkan dengan berbisik, supaya Madam Pomfrey tidak mendengarnya.
    "Belum," kata Harry muram. "Aku begitu yakin Malfoy-lah orangnya," kata
    Ron, untuk kira-kira keseratus kalinya. "Apa itu?" tanya Harry, menunjuk benda
    keemasan yang mencuat dari bawah bantal Hermione.
    "Cuma kartu ucapan semoga cepat sembuh," kata Hermione buru-buru,
    berusaha menjejalkannya supaya tidak kelihatan. Tetapi Ron lebih cepat
    darinya. Ron menariknya, membuka dan membacanya keras-keras:
    "Untuk Miss Granger, semoga lekas sembuh, dari gurumu yang cemas,
    Profesor Gilderoy Lockhart, Order of Merlin Kelas Ketiga, Anggota Kehormatan
    Liga Pertahanan terhadap llmu Hitam, dan lima kali memenangkan kontes
    Senyum-Paling- Menawan Witch Weekly."
    Ron mendongak, menatap Hermione jijik.
    "Kau tidur dengan kartu ini di bawah bantalmu?"



    --------------------------------------- 131

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tetapi Hermione tak perlu menjawab, diselamatkan oleh kedatangan Madam
    Pomfrey yang membawakan obatnya untuk malam itu.
    "Si Lockhart ini cowok penjilat yang paling memuja diri sendiri atau
    bagaimana sih?" kata Ron kepada Harry ketika mereka meninggalkan kamar
    Hermione dan menaiki tangga menuju Menara Gryffindor. Saking banyaknya PR
    yang diberikan oleh Snape, sampai-sampai Harry berpikir baru akan bisa
    menyelesaikannya kalau dia sudah kelas enam. Ron baru saja berkata dia
    menyesal tidak bertanya kepada Hermione berapa buntut tikus yang harus
    ditambahkan ke dalam ramuan Pendiri Bulu Kuduk, ketika terdengar teriakan
    marah dari lantai di atas mereka.
    "Si Filch," gumam Harry, ketika mereka bergegas menaiki tangga dan
    berhenti, menyembunyikan diri, memasang telinga tajam-tajam.
    "Apakah ada anak lain yang baru diserang?" kata Ron tegang. Mereka berdiri
    diam, kepala mereka condong ke arah suara Filch, yang kedengarannya histeris.
    "...lebih banyak lagi pekerjaan untukku! Mengepel se-panjang malum,
    seperti aku tak punya cukup pekerjaan saja! Tidak, ini sudah kelewatan, aku
    akan ke Dumbledore..." Langkah-langkah Filch menjauh dan mereka men-
    dengar pintu ditutup keras-keras di kejauhan.
    Mereka menjulurkan kepala. Filch jelas baru saja berpatroli di tempat ia
    biasa berjaga. Mereka sekali lagi berada di tempat Mrs Norris diserang. Dengan
    tatapan sekilas mereka sudah melihat apa yang mem-buat Filch berteriak-
    teriak. Genangan air membasahi sampai setengah koridor, dan kelihatannya air
    masih merembes dari bawah pintu toilet Myrtle Merana. Sekarang setelah Filch
    berhenti berteriak-teriak, mereka bisa mendengar tangisan Myrtle bergaung
    dari dinding-dinding toilet.
    "Kenapa lagi tuh dia?" tanya Ron.
    "Ayo, kita lihat," kata Harry, dan seraya mengangkat jubah sampai ke atas
    mata kaki, mereka menginjak genangan air menuju pintu yang bertulisan
    Rusak, mengabaikannya seperti biasa, dan masuk.
    Myrtle Merana sedang menangis, kalau ini mungkin, lebih keras dan lebih
    seru daripada biasanya. Ke-lihatannya dia bersembunyi di dalam klosetnya yang
    biasa. Toilet itu gelap, karena lilin-lilinnya padam ter-kena siraman air yang
    telah membuat dinding dan lantai basah kuyup.
    "Ada apa, Myrtle?" tanya Harry. "Siapa itu?" deguk Myrtle sedih. "Mau
    melempar benda lain lagi padaku?" Harry berjalan melintasi air ke biliknya dan
    berkata, "Kenapa aku mau melempar sesuatu padamu?"
    "Jangan tanya aku," teriak Myrtle, muncul dengan luapan air yang tercurah
    ke lantai yang sudah kuyup. "Aku di sini terus, tak pernah mengganggu orang
    lain, dan ada orang yang menganggap lucu melempar-ku dengan buku..."
    "Tapi kau kan tidak sakit kalau ada yang me-lemparmu dengan sesuatu," kata
    Harry tenang. "Maksudku, benda itu akan langsung menembusmu, kan?"
    Dia telah mengucapkan hal yang salah. Myrtle me-layang dan menjerit, "Biar
    saja semua melempar buku kepada Myrtle, karena dia tidak bisa merasa!
    Sepuluh angka kalau kau bisa melemparnya menembus perut-nya! Lima puluh
    kalau bisa menembus kepalanya! Nah, ha ha ha! Permainan yang bagus sekali,
    menurut-ku tidak!"



    --------------------------------------- 132

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Siapa sih yang melemparnya kepadamu?" tanya Harry.
    "Aku tak tahu... aku sedang duduk-duduk di leher angsa, memikirkan
    kematian, dan buku itu jatuh begitu saja di atas kepalaku," kata Myrtle,
    menatap mereka dengan marah. "Itu tuh bukunya, di sana, hanyut."
    Harry dan Ron mencari di bawah wastafel, ke arah yang ditunjuk Myrtle.
    Sebuah buku kecil dan tipis tergeletak. Sampulnya hitam kumal dan basah
    kuyup seperti halnya segala sesuatu di dalam toilet itu. Harry maju untuk
    memungutnya, tetapi Ron mendadak menjulurkan tangan mencegahnya.
    "Apa?" kata Harry.
    "Kau gila?" kata Ron. "Bisa berbahaya."
    "Berbahaya?" kata Harry, tertawa. "Mana mungkin sih?".
    "Kau akan heran," kata Ron, yang memandang buku itu dengan takut-takut.
    "Beberapa buku yang disita KementerianDad cerita padakuada yang bisa
    membuat matamu terbakar. Dan siapa saja yang mem-baca Soneta Penyihir,
    seumur hidup akan bicara dengan gaya pantun jenaka. Dan ada penyihir tua
    wanita di Bath yang punya buku yang tak bisa berhenti dibaca! Terpaksa kau
    akan ke mana- mana dengan buku itu di bawah hidungmu, mencoba melakukan
    segala hal dengan satu tangan. Dan..."
    "Baiklah, aku paham," kata Harry. Buku kecil itu tergeletak di lantai, tak
    jelas buku apa, dan basah kuyup.
    "Yah, kita tidak akan tahu kalau kita tidak me-meriksanya," kata Harry,
    sambil berlari mengitari Ron dan memungut buku itu.
    Harry langsung melihat bahwa itu buku harian, dan tahun yang sudah
    memudar di sampulnya mem-beritahunya bahwa usianya sudah lima puluh
    tahun. Harry membukanya dengan bergairah. Di halaman pertama dia cuma
    bisa membaca nama "T. M. Riddle" yang tintanya sudah luntur.
    "Tunggu," kata Ron, yang sudah mendekat dengan hati- hati dan melihat
    melewati bahu Harry "Aku tahu nama itu... T.M. Riddle mendapat penghargaan
    untuk pengabdian istimewa kepada sekolah lima puluh tahun yang lalu."
    "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Harry keheranan.
    "Karena Filch menyuruhku menggosok trofinya kira-kira lima puluh kali waktu
    detensi itu," kata Ron sebal. "Trofi itu yang kena muntahan siputku. Kalau kau
    menggosok lendir dari nama tertentu selama satu jam, kau akan mengingat
    nama itu juga."
    Harry hati-hati membuka halaman-halamannya yang basah. Semuanya
    kosong. Tak ada bekas tulisan se-samar apa pun di halaman mana pun, bahkan
    "ulang tahun Bibi Mabel" atau "dokter gigi, setengah empat", misalnya, juga
    tidak.
    "Dia tidak pernah menulis di sini," kata Harry kecewa.
    "Kenapa ya ada orang yang ingin melenyapkannya dengan membuangnya ke
    dalam toilet?" tanya Ron ingin tahu.
    Harry membalik buku itu untuk memeriksa sampul belakangnya dan melihat
    nama sebuah agen surat kabar di Vauxhall Road, London, tercetak di situ.
    "Pastilah dia kelahiran-Muggle," kata Harry, berpikir-pikir,
    "karena dia membeli buku harian di Vauxhall Road..."



    --------------------------------------- 133

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Yah, tak banyak gunanya untukmu," kata Ron. Dia merendahkan suaranya,
    "Lima puluh angka kalau kau bisa melemparkannya menembus hidung Myrtle."
    Tetapi Harry mengantongi buku harian itu.
    Hermione meninggalkan rumah sakit tanpa kumis, tanpa ekor, dan tanpa
    bulu, pada awal bulan Februari. Pada malam pertamanya berada kembali di
    Menara Gryffindor, Harry menunjukkan buku harian T.M. Riddle dan
    menceritakan kepadanya bagaimana me-reka mendapatkannya.
    "Oooh, siapa tahu buku ini punya kekuatan ter-sembunyi," kata Hermione
    antusias, mengambil buku harian itu dan memeriksanya dengan teliti.
    "Kalau memang punya, buku itu menyembunyi-kannya dengan sangat baik,"
    kata Ron. "Mungkin bukunya malu. Aku tak tahu kenapa kau tidak mem-
    buangnya saja, Harry."
    "Aku ingin sekali tahu kenapa ada orang yang mau melenyapkannya," kata
    Harry. "Aku juga tak keberatan mengetahui bagaimana Riddle mendapatkan
    peng-hargaan untuk pengabdian istimewa kepada Hogwarts."
    "Bisa karena apa saja," kata Ron. "Mungkin dia dapat tiga puluh OWL atau
    menyelamatkan seorang guru dari cumi-cumi raksasa. Mungkin dia membunuh
    Myrtle, itu akan menguntungkan banyak orang..."
    Tetapi Harry bisa melihat dari ketertarikan di wajah Hermione, bahwa
    Hermione memikirkan apa yang dia sendiri pikirkan.
    "Apa?" tanya Ron, memandang mereka bergantian.
    "Yah, Kamar Rahasia dibuka lima puluh tahun yang lalu, kan?" kata Harry.
    "Begitu kata Malfoy." "Yeah...," kata Ron lambat-lambat. "Dan buku harian ini
    usianya lima puluh tahun," kata Hermione, mengetuk-ngetuk buku itu dengan
    bergairah.
    "Jadi?"
    "Oh, Ron, bangun dong," gertak Hermione. "Kita tahu orang yang membuka
    Kamar Rahasia sebelum ini dikeluarkan lima puluh tahun lalu. Kita tahu T.M.
    Riddle mendapatkan penghargaan untuk pengabdian istimewa kepada sekolah
    lima puluh tahun lalu. Nah, bagaimana kalau Riddle mendapatkan penghargaan
    istimewanya karena dia menangkap pewaris Slytherin? Buku hariannya mungkin
    akan memberitahu kita segalanya: di mana Kamar Rahasia itu, dan bagaimana
    membukanya dan makhluk macam apa yang tinggal di dalamnya. Orang yang
    berada di belakang penyerangan- penyerangan kali ini tidak ingin bukunya
    tergeletak di sembarang tempat, kan?"
    "Teori yang hebat sekali, Hermione," kata Ron, "ha-nya saja ada satu kendala
    kecil. Tidak ada tulisan apa pun di dalam buku harian itu."
    Tetapi Hermione mengeluarkan tongkatnya dari da-lam tas.
    "Mungkin tintanya tinta yang tidak kelihatan!" dia berbisik. Diketuknya buku
    harian itu tiga kali, dan dia ber-kata,
    "Aparecium!"
    Tak ada yang terjadi. Tidak putus asa, Hermione menjejalkan kembali
    tongkatnya ke dalam tasnya dan mengeluarkan sesuatu yang kelihatannya
    seperti setip merah cerah.
    "Ini Penampak, aku beli di Diagon Alley," katanya. Hermione menggosok
    keras-keras pada halaman "satu Januari". Tak ada yang terjadi.



    --------------------------------------- 134

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Sudah kubilang, tak ada yang bisa ditemukan di situ," kata Ron. "Riddle
    mendapatkan buku harian itu sebagai hadiah Natal dan tak mau repot-repot
    mengisi-nya."
    Harry tak bisa menjelaskan, bahkan kepada dirinya sendiri, kenapa dia tidak
    membuang saja buku harian Riddle. Nyatanya, meskipun dia tahu buku harian
    itu kosong, berulang-ulang tanpa sadar dia mengambil dan membuka- bukanya,
    seakan itu buku cerita yang ingin diselesaikannya. Dan meskipun Harry yakin
    tidak pernah mendengar nama T.M. Riddle se-belumnya, nama itu rasanya
    berarti sesuatu baginya, rasanya seakan Riddle adalah temannya waktu dia
    masih kecil sekali, dan sudah setengah terlupakan. Tetapi ini aneh. Harry tak
    pernah punya teman sebelum masuk Hogwarts. Dudley membuatnya tak punya
    teman.
    Meskipun demikian Harry bertekad untuk menge-tahui lebih banyak tentang
    Riddle. Maka hari berikut-nya, pada jam istirahat, dia menuju ke ruang piala,
    ditemani Hermione yang tertarik, dan Ron yang sama sekali tak yakin, yang
    mengatakan kepada mereka dia sudah muak dengan ruang piala sehingga
    seumur hidup tidak ke situ lagi pun tak apa- apa.
    Trofi emas Riddle yang berkilat ada dalam lemari di sudut. Tidak ada data
    rinci tentang kenapa trofi itu dihadiahkan kepadanya ("Bagus, kalau ada
    datanya, trofinya pasti lebih besar dan aku masih menggosok-nya," kata Ron).
    Meskipun demikian, mereka menemu-kan nama Riddle di Medali tua untuk
    Penyihir Berjasa, dan di daftar Ketua Murid lama.
    "Kedengarannya seperti Percy," kata Ron, me-ngernyitkan hidung dengan
    jijik. "Prefek, Ketua Muridmungkin juara kelas setiap tahun."
    "Kau mengatakannya seakan itu hal buruk," kata Hermione agak sakit hati.
    Matahari sekarang mulai bersinar lemah menyinari Hogwarts lagi. Di dalam
    kastil, suasana sudah lebih ceria. Tak ada lagi serangan sejak serangan terakhir
    terhadap Justin dan Nick si Kepala-Nyaris-Putus. Madam Pomfrey dengan
    gembira melaporkan bahwa Mandrake-mandrake sudah mulai murung dan serba
    berahasia, yang berarti mereka sudah meninggalkan masa kanak-kanak.
    "Begitu jerawat mereka menghilang, mereka akan siap untuk ganti pot lagi,"
    Harry mendengarnya mem-beritahu Filch dengan lembut suatu sore. "Dan se-
    sudah itu, tak lama lagi kita bisa memotong dan merebusnya. Kau akan segera
    mendapatkan kembali Mrs Norris-mu.".
    Mungkin si pewaris Slytherin sudah kehilangan nyali, pikir Harry. Pastilah
    risiko membuka Kamar Rahasia semakin lama semakin besar, dengan seluruh
    sekolah waspada dan curiga. Mungkin monsternya, entah apa bentuknya,
    sekarang bahkan sudah siap-siap tidur lagi untuk lima puluh tahun
    mendatang....
    Ernie Macmillan dari Hufflepuff tidak berpandangan seceria itu. Dia masih
    yakin bahwa Harry-lah yang bersalah, bahwa Harry telah "membocorkan rahasia
    dirinya" di Klub Duel. Peeves tidak membantu: dia bolak-balik muncul di
    koridor-
    koridor sambil ber-nyanyi-nyanyi, "Oh, Harry, kau keji...,"
    sekarang ma-lah sambil menari-nari.



    --------------------------------------- 135

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Gilderoy Lockhart tampaknya berpikir dia seorang dirilah yang membuat
    serangan-serangan itu berhenti. Harry mendengarnya memberitahu Profesor
    McGonagall ketika anak- anak Gryffindor sedang ber-baris untuk mengikuti
    pelajaran Transfigurasi.
    "Kurasa tak akan ada kesulitan lagi, Minerva," kata-nya, mengetuk-ngetuk
    hidungnya sok tahu dan mengedip. "Kurasa Kamar Rahasia sudah dikunci untuk
    selamanya kali ini. Pelakunya pastilah tahu, tinggal soal waktu saja sebelum
    aku menangkap mereka. Agak pintar juga berhenti sekarang, sebelum aku
    menghajar mereka.
    "Kau tahu, yang diperlukan sekolah sekarang adalah pengobar semangat.
    Mengguyur kenangan buruk se-mester lalu! Aku tak akan ngomong banyak soal
    itu sekarang, tapi kurasa aku tahu apa yang bisa membuat anak-anak lebih
    bergairah...."
    Dia mengetuk hidungnya lagi dan pergi.
    Ide Lockhart tentang pengobar semangat menjadi jelas pada waktu sarapan
    tanggal empat belas Februari. Harry hanya sempat tidur sebentar karena
    malamnya dia latihan Quidditch sampai larut, dan dia bergegas turun ke Aula
    Besar. la sudah agak terlambat. Sesaat dia mengira dirinya salah masuk.
    Dinding-dinding dipenuhi bunga-bunga merah jambu besar norak. Yang lebih
    parah lagi, konfeti berbentuk hati berjatuhan dari langit-langit biru pucat.
    Harry berjalan ke meja Gryffindor. Ron tampak sebal, dan Hermione
    kelihatannya agak geli.
    "Ada apa ini?" Harry menanyai mereka, duduk, dan menyapu konfeti dari
    daging asapnya.
    Ron menunjuk ke meja guru, rupanya terlalu sebal untuk bicara. Lockhart
    memakai jubah merah jambu norak sesuai warna dekorasi, melambaikan
    tangan agar anak-anak diam. Wajah guru-guru di kiri-kanan-nya bagai dipahat
    dari batu. Dari tempat duduknya Harry bisa melihat ada otot yang berkedut di
    pipi Profesor McGonagall. Snape kelihatan seakan baru saja dipaksa meminum
    semangkuk besar Skele-Gro.
    "Selamat Hari Valentine!" Lockhart berteriak. "Dan izinkan aku mengucapkan
    terima kasih pada empat puluh enam orang yang sejauh ini sudah mengirimiku
    kartu! Ya, aku berinisiatif mengatur kejutan kecil ini untuk kalian semuadan
    kejutan ini belum berakhir di sini!"
    Lockhart menepukkan tangan dan dari pintu-pintu yang menghadap ke Aula
    Depan masuklah selusin kurcaci bertampang masam. Bukan sembarang kurcaci,
    tapi. Lockhart membuat mereka semua memakai sayap keemasan dan
    membawa harpa.
    "Cupid-cupid pengantar-kartuku yang ramah!" kata Lockhart berseri-seri.
    "Mereka akan berkeliling sekolah hari ini, mengantar kartu Valentine kalian!
    Dan ke-gembiraan tidak berakhir di sini! Aku yakin kolega-kolegaku juga ingin
    bergabung dalam suasana penuh cinta ini! Kenapa tidak meminta Profesor
    Snape untuk mengajar kalian membuat Ramuan Cinta! Dan, ngomong-ngomong
    soal cinta, Profesor Flitwick tahu lebih banyak tentang Jimat Pemikat dari
    penyihir mana pun yang pernah kutemui, si licik ini!"



    --------------------------------------- 136

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Profesor Flitwick membenamkan wajah di dalam tangannya. Tampang Snape
    seperti mau mengatakan orang pertama yang memintanya membuat Ramuan
    Cinta akan dicekoki racun.
    "Hermione, mudah-mudahan kau bukan salah satu dari yang empat puluh
    enam itu," kata Ron, sementara mereka meninggalkan Aula Besar untuk
    pelajaran pertama mereka.
    Hermione mendadak menjadi sangat sibuk mencari-cari daftar pelajaran di
    dalam tasnya dan tidak menjawab.
    Sepanjang hari itu para kurcaci tak henti-hentinya bermunculan di kelas
    untuk mengantar kartu Valentine, sampai guru-guru menjadi jengkel sekali,
    dan sorenya, ketika anak-anak Gryffindor sedang naik untuk pelajaran Jimat
    dan Guna-guna, salah satu kurcaci mengejar Harry.
    "Oi, kau! 'Arry Potter!" seru kurcaci berwajah sangat murung, menyodok-
    nyodok anak-anak untuk bisa mendekati Harry.
    Dengan wajah terasa amat panas memikirkan dia akan diberi kartu Valentine
    di depan serombongan anak kelas satu, termasuk Ginny Weasley, Harry ber-
    usaha menghindar. Si kurcaci memotong jalannya, dengan cara menabrak-
    nabrak tulang kering anak-anak, dan berhasil menghadangnya sebelum Harry
    bisa maju dua langkah.
    "Ada pesan musikal yang harus kusampaikan sendiri kepada 'Arry Potter,"
    katanya, seraya memetik harpa-nya dengan gaya mengancam.
    "Tidak di sini," desis Harry, berusaha kabur.
    "Diam dulu!" gerutu si kurcaci, menyambar tas Harry dan menariknya.
    "Lepaskan aku!" bentak Harry, balas menarik. Dengan bunyi cabikan keras,
    tasnya robek jadi dua.
    Buku-bukunya, tongkat, perkamen, dan pena bulu bertebaran di lantai dan
    botol tintanya jatuh di atas-nya, tintanya muncrat ke mana-mana.
    Harry berjongkok gelagapan, berusaha mengumpul-kan semuanya sebelum si
    kurcaci mulai menyanyi, menyebabkan kemacetan di koridor.
    "Ada apa di sini?" terdengar suara dingin Draco Malfoy. Harry cepat-cepat
    menjejalkan semuanya ke dalam tasnya yang robek, ingin sekali menjauh se-
    belum Malfoy bisa mendengar lagu Valentine-nya. "Ribut-ribut apa ini?" kata
    suara lain yang tak asing, ketika Percy Weasley tiba.
    Panik, Harry berusaha lari, tetapi si kurcaci menyam-bar lututnya,
    membuatnya jatuh terjerembap ke lantai. "Baiklah," katanya sambil duduk di
    atas pergelangan kaki Harry, "ini lagu Valentine-mu:
    "Matanya sehijau acar kodok segar, Rambutnya sehitam papan tulis. Ingin
    sekali aku memilikinya,
    Dia sungguh luar biasa, Pahlawan yang mengalahkan Pangeran Kegelapan."
    Harry bersedia memberikan seluruh emas di Gringotts jika dia bisa
    menghilang di tempat saat itu juga. Memaksa diri ikut tertawa bersama yang
    lain, Harry bangkit. Kakinya kebas sehabis diduduki kurcaci yang berat itu.
    Sementara itu Percy berusaha sebisa mungkin membubarkan kerumunan anak-
    anak, yang beberapa di antaranya tertawa sampai keluar air mata.
    "Bubar, bubar, bel sudah bunyi lima menit yang lalu, ke kelas sekarang,"
    katanya, menyuruh pergi anak-anak kelas satu. "Dan kau, Malfoy."



    --------------------------------------- 137

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry, mengerling, melihat Malfoy membungkuk dan menyambar sesuatu.
    Sambil menyeringai dia me-nunjukkannya kepada Crabbe dan Goyle, dan Harry
    sadar dia mengambil buku harian Riddle.
    "Kembalikan," kata Harry geram.
    "Apa nih yang ditulis Potter di sini?" kata Malfoy, yang jelas tidak
    memperhatikan tahun yang tertera pada sampulnya, dan mengira dia
    mendapatkan buku harian Harry sendiri. Suasana menjadi hening, karena anak-
    anak langsung diam. Ginny memandang Harry dan buku harian itu bergantian,
    tampak ketakutan sekali.
    "Kembalikan, Malfoy," kata Percy tegas.
    "Kalau sudah kubaca," kata Malfoy, melambai-lambaikan buku harian itu di
    depan Harry dengan mengejek.
    Percy berkata, "Sebagai Prefek sekolah...," tetapi Harry sudah kehabisan
    kesabaran. Dia menarik tongkatnya dan berteriak, "Expelliarmus!" dan sama
    seperti Snape yang melucuti Lockhart, buku harian itu melesat dari tangan
    Malfoy, terbang ke udara. Ron, nyengir lebar, menangkapnya.
    "Harry!" seru Percy keras. "Dilarang menggunakan sihir di koridor! Aku harus
    melaporkan ini, tahu!"
    Tetapi Harry tidak peduli. Dia berhasil mengalahkan Malfoy, dan itu layak
    dibayar dengan lima angka dari Gryffindor kapan saja. Malfoy marah sekali, dan
    ketika Ginny melewatinya untuk masuk ke kelasnya, dia berteriak menghina
    kepadanya,
    "Menurutku Potter sama sekali tidak menyukai Valentine-mu!" Ginny
    menutupi wajahnya dengan tangannya dan berlari ke kelas. Geram, Ron
    mencabut tongkatnya juga, tetapi Harry menariknya menjauh. Ron tak perlu
    menghabiskan jam pelajaran Jimat dan Guna-guna dengan bersendawa
    memuntahkan siput.
    Baru setelah mereka tiba di kelas Profesor Flitwick, Harry menyadari ada
    yang aneh dengan buku harian Riddle. Semua bukunya yang lain basah
    kecipratan tinta merah. Tetapi buku harian itu sama bersihnya seperti sebelum
    botol tinta menjatuhinya. Dia mencoba memberitahukan ini kepada Ron, tetapi
    Ron mendapat kesulitan lagi dengan tongkatnya. Gelembung-gelem-bung besar
    ungu bermunculan dari ujungnya dan Ron tidak begitu tertarik pada hal lain.
    Harry masuk kamar sebelum anak-anak lain malam ini. Sebagian karena dia
    tak tahan mendengar Fred dan George sekali lagi menyanyikan, "Matanya
    sehijau acar kodok segar," dan sebagian lagi karena dia ingin memeriksa buku
    harian Riddle lagi, dan dia tahu menurut Ron dia cuma membuang- buang
    waktu saja.
    Harry duduk di tempat tidurnya dan membuka-buka halaman buku harian
    yang kosong. Tak satu pun yang ada noda tintanya. Kemudian dia mengeluarkan
    botol tinta baru dari lemari di sebelah tempat tidurnya, mencelupkan pena
    bulunya ke dalamnya, dan menjatuhkan satu tetes ke halaman pertama buku
    itu.
    Tintanya berkilau terang di atas kertas selama sedetik dan kemudian, seakan
    diisap ke dalam halaman itu, menghilang. Tegang, Harry mencelupkan pena
    bulunya untuk kedua kalinya dan menulis, "Namaku Harry Potter."



    --------------------------------------- 138

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Kata-kata itu berkilau sejenak di halaman itu, lalu menghilang tanpa bekas
    juga. Kemudian, akhirnya, ada yang terjadi.
    Muncul di halaman itu, dalam tintanya sendiri, rangkaian kata yang tak
    pernah ditulis Harry.
    "Halo, Harry Potter. Namaku Tom Riddle. Bagaimana kau bisa mendapatkan
    buku harianku?"
    Kata-kata itu juga mengabur dan hilang, tetapi Harry sudah sempat menulis
    balik.
    "Ada yang membuangnya di toilet."
    Dia menunggu tanggapan Riddle dengan bergairah.
    "Untung saja aku mencatat kenanganku dengan cara yang lebih bertahan
    daripada tinta. Tapi dari dulu aku tahu, akan ada orang-orang yang tidak
    menginginkan buku harian ini dibaca."
    "Apa maksudmu?" Harry menulis, tintanya sampai menetes saking tegangnya
    dia.
    "Maksudku buku harian ini menyimpan kenangan akan peristiwa-peristiwa
    mengerikan. Peristiwa-peristiwa yang di-sembunyikan. Peristiwa-peristiwa yang
    terjadi di Sekolah Sihir Hogwarts ini."
    "Di situlah aku sekarang," Harry cepat-cepat me-nulis. "Aku di Hogwarts, dan
    akhir-akhir ini terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan. Apakah kau tahu se-
    suatu tentang Kamar Rahasia?"
    Jantung Harry berdegup kencang. Jawaban Riddle muncul, tulisannya makin
    tidak rapi, seakan dia ter-buru-buru ingin menceritakan segala hal yang di-
    ketahuinya.
    "Tentu saja aku tahu tentang Kamar Rahasia. Pada zamanku bersekolah,
    mereka mengatakan itu cuma legenda, bahwa kamar itu tidak ada, Tetapi itu
    bohong. Dalam tahun kelimaku, kamar itu dibuka dan monsternya me-nyerang
    beberapa murid, akhirnya malah membunuh satu di antaranya. Aku menangkap
    orang yang membuka Kamar Rahasia itu dan dia dikeluarkan. Tetapi Kepala
    Sekolah, Profesor Dippet, yang malu karena hal seperti itu terjadi di Hogwarts,
    melarangku menceritakan yang sebenarnya. Cerita yang dikeluarkan adalah
    anak perempuan itu meninggal dalam kecelakaan yang aneh. Mereka
    memberiku trofi bagus, berkilau dan berukir, dan memperingatkan aku untuk
    tutup mulut. Tetapi aku tahu peristiwa semacam itu bisa terjadi lagi. Monster
    itu masih hidup dan orang yang punya kekuasaan untuk melepaskannya tidak
    dipenjarakan.
    Harry nyaris saja menyenggol botol tintanya dalam ketergesaannya untuk
    menulis balik.
    "Sekarang sedang terjadi lagi. Sudah tiga kali ada serangan dan tampaknya
    tak seorang pun tahu siapa yang ada di belakangnya. Siapa dalang serangan-
    serangan yang dulu?"
    "Aku bisa menunjukkannya kepadamu," muncul ja-waban Riddle. "Kau tak
    perlu sekadar mempercayai kata-kataku. Aku bisa membawamu ke dalam
    kenanganku pada malam aku menangkapnya."
    Harry ragu-ragu, pena bulunya terangkat di atas buku harian itu. Apa maksud
    Riddle? Bagaimana dia bisa dibawa masuk ke dalam kenangan orang lain? Cemas



    --------------------------------------- 139

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    dia mengerling ke pintu kamar, ke asrama yang sekarang sudah gelap. Ketika
    dia kembali me-mandang buku harian, dilihatnya kata-kata baru se-dang
    terbentuk.
    "Ayo, kutunjukkan padamu."
    Harry berpikir sebentar dan kemudian menulis tiga huruf.
    "Oke."
    Halaman-halaman buku harian itu mulai membuka cepat seakan tertiup
    angin kencang, berhenti di tengah-tengah pada bulan Juni. Dengan mulut ter-
    nganga Harry melihat kotak kecil untuk tanggal tiga belas Juni berubah menjadi
    layar televisi mini. Dengan tangan sedikit gemetar, diangkatnya buku itu untuk
    mendekatkan matanya ke layar kecil itu dan sebelum sadar apa yang terjadi,
    dia terhuyung ke depan, layar itu membesar, dia merasakan tubuhnya
    meninggalkan tempat tidur dan terperosok, kepala lebih dulu, lewat lubang di
    halaman itu, ke dalam pusaran warna dan bayang-bayang.
    Harry merasa kakinya menginjak lantai keras, dan dia berdiri, gemetar,
    ketika sosok-sosok yang bagai bayang- bayang kabur di sekitarnya mendadak
    menjadi jelas.
    Dia langsung tahu berada di mana. Ruang bundar dengan lukisan-lukisan yang
    sedang tidur ini adalah kantor Dumbledoretetapi bukan Dumbledore yang
    duduk di belakang meja. Seorang penyihir tua yang tampak ringkih, berkepala
    botak dengan hanya be-berapa helai rambut putih, sedang membaca surat
    diterangi cahaya lilin. Harry belum pernah melihat pria ini.
    "Maaf," katanya gemetar. "Saya tidak bermaksud mengganggu..." Tetapi si
    penyihir tidak mendongak. Dia terus saja membaca, mengernyit sedikit. Harry
    mendekat ke mejanya dan berkata gugup, "E. saya pergi saja, ya?"
    Masih saja si penyihir tidak mengacuhkannya. Ke-lihatannya malah dia tidak
    mendengarnya. Mengira mungkin si penyihir tuli, Harry mengeraskan suaranya.
    "Maaf mengganggu Anda, saya akan pergi seka-rang,"
    katanya, setengah berteriak.
    Si penyihir melipat surat itu seraya menghela napas, bangkit, berjalan
    melewati Harry tanpa meliriknya, dan menarik terbuka gorden jendelanya.
    Langit di luar merah-jingga. Rupanya matahari sedang terbenam. Si penyihir
    berjalan kembali ke mejanya, duduk, dan memutar-mutar ibu jarinya, me-
    mandang pintu.
    Harry memandang berkeliling ruangan itu. Tak ada Fawkes si burung
    phoenix, tak ada peralatan perak yang berputar. Ini Hogwarts pada zaman
    Riddle, ber-arti penyihir tak dikenal itu adalah kepala sekolahnya, bukan
    Dumbledore, dan dia, Harry, tak lebih dari bayangan, sama sekali tak kelihatan
    bagi orang- orang dari lima puluh tahun lalu.
    Terdengar ketukan di pintu kantor.
    "Masuk," kata si penyihir tua dengan suara lemah.
    Seorang anak laki-laki kira-kira berusia enam belas tahun masuk, mencopot
    topi kerucutnya. Lencana Prefek perak berkilauan di dadanya. Dia jauh lebih
    jangkung daripada Harry, tetapi dia juga berambut hitam legam.
    "Ah, Riddle," kata si kepala sekolah. "Anda ingin menemui saya, Profesor
    Dippet?" kata Riddle, kelihatan gugup.



    --------------------------------------- 140

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Duduklah," kata Dippet. "Aku baru saja membaca surat yang kaukirim
    kepadaku." "Oh," kata Riddle. Dia duduk, kedua tangannya saling
    mencengkeram erat-erat.
    "Nak," kata Dippet lembut, "aku tak mungkin meng-izinkanmu tinggal di
    sekolah selama musim panas. Tentunya kau ingin pulang berlibur?"
    "Tidak," kata Riddle segera. "Saya lebih suka tinggal di Hogwarts daripada
    pulang keke..." "Kau tinggal di panti asuhan Muggle selama liburan, kan?" kata
    Dippet ingin tahu.
    "Ya, Sir," kata Riddle, wajahnya agak memerah.
    "Kau kelahiran-Muggle?"
    "Setengah-setengah, Sir," kata Riddle. "Ayah Muggle, ibu penyihir." "Dan
    kedua orangtuamu...?" "Ibu saya meninggal setelah melahirkan saya, Sir.
    Orang-orang di panti asuhan memberitahu saya, dia cuma hidup cukup lama
    untuk memberi nama saya: Tom sesuai nama ayah saya, Marvolo sesuai nama
    kakek saya."
    Dippet mendecakkan lidah bersimpati.
    "Masalahnya, Tom," dia menghela napas, "sebetulnya kami bisa mengatur
    secara khusus untukmu, tetapi dalam situasi seperti sekarang ini..."
    "Maksud Anda semua serangan itu, Sir?" kata Riddle, dan hati Harry
    mencelos. Dia mendekat, takut ada yang ketinggalan tidak didengarnya.
    "Persis," kata si kepala sekolah. "Nak, kau pasti sadar, betapa bodohnya aku
    kalau mengizinkanmu tinggal di kastil setelah tahun ajaran berakhir. Terutama
    kalau mengingat tragedi yang baru saja terjadi... ke-matian anak perempuan
    yang malang itu... Kau akan jauh lebih aman di panti asuhanmu. Terus terang
    saja, Kementerian Sihir sekarang bahkan sedang mem-bicarakan kemungkinan
    menutup sekolah ini. Kita tak mendapat kemajuan menemukaneh sumber
    se-mua ketidaknyamanan ini..."
    Mata Riddle membesar.
    "Sirkalau orang itu tertangkap... Kalau semua ini dihentikan..."
    "Apa rnaksudmu?" kata Dippet, suaranya sedikit melengking. Dia duduk tegak
    di kursinya. "Riddle, apakah rnaksudmu kau tahu sesuatu tentang serangan-
    serangan ini?"
    "Tidak, Sir," kata Riddle buru-buru. Tetapi Harry yakin itu model "tidak" yang
    sama seperti yang dia sendiri katakan kepada Dumbledore. Dippet terenyak
    kembali di kursinya, kelihatan agak kecewa.
    "Kau boleh pergi, Tom..."
    Riddle bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan. Harry mengikutinya.
    Mereka menuruni tangga spiral, muncul di sebelah gargoyle di koridor gelap.
    Riddle berhenti, begitu juga Harry, yang mengawasinya. Harry melihat bahwa
    Riddle sedang berpikir serius. Dia menggigit-gigit bibir-nya, dahinya berkerut.
    Kemudian, seakan mendadak telah mengambil ke-putusan, Riddle bergegas
    pergi. Harry membuntuti-nya tanpa suara. Mereka tidak bertemu orang lain
    sampai tiba di Aula Depan, ketika seorang penyihir pria jangkung berambut
    pirang panjang dan ber-jenggot juga pirang panjang, memanggil Riddle dari
    tangga pualam.
    "Mau apa kau berkeliaran selarut ini, Tom?"



    --------------------------------------- 141

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry ternganga memandang penyihir itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah
    Dumbledore yang lima puluh tahun lebih muda.
    "Saya baru dipanggil Kepala Sekolah, Sir," kata Riddle.
    "Nah, segeralah kembali ke kamarmu," kata, Dumbledore, memandang
    Riddle dengan tatapan tajam yang sangat dikenal Harry. "Sebaiknya jangan
    berkeliaran di koridor hari-hari ini. Apalagi sejak..."
    Dumbledore menarik napas berat, mengucapkan se-lamat tidur kepada
    Riddle dan pergi. Riddle me-nunggunya lenyap dari pandangan, dan kemudian,
    bergerak cepat, menuruni tangga batu menuju ke ruang bawah tanah. Harry
    mengejarnya.
    Tetapi betapa kecewanya Harry Riddle tidak mem-bawanya ke lorong
    tersembunyi atau terowongan rahasia, melainkan ke ruang bawah tanah yang
    di-gunakan Harry untuk pelajaran Ramuan dengan Snape. Obor-obor belum
    dinyalakan, dan ketika Riddle menutup pintunya sampai hampir rapat, Harry
    hanya bisa melihat Riddle, berdiri tegak di sisi pintu, me-mandang lorong di
    luar.
    Bagi Harry rasanya mereka berada di situ paling sedikit satu jam. Yang bisa
    dilihatnya hanyalah sosok Riddle di pintu, memandang keluar lewat celah, me-
    nunggu seperti patung. Dan ketika Harry sudah ber-henti berharap dan tegang,
    dan mulai ingin kembali ke masa kini, dia mendengar sesuatu bergerak di luar.
    Ada yang merayap sepanjang lorong. Dia men-dengar entah siapa orangnya
    melewati ruang bawah tanah tempat dia dan Riddle bersembunyi. Riddle, diam
    bagai bayangan, menyelinap keluar dari pintu dan membuntutinya. Harry
    berjingkat di belakangnya, lupa bahwa dia tak bisa didengar. Selama kira-kira
    lima menit mereka mengikuti lang-kah kaki itu, sampai Riddle mendadak
    berhenti, kepalanya condong ke arah suara-suara baru. Harry mendengar bunyi
    pintu berderit terbuka, dan kemu-dian ada yang berbisik serak.
    "Ayo... harus bawa kau keluar dari sini... ayolah... masuk kotak ini..."
    Harry rasanya kenal suara itu.
    Riddle tiba-tiba melompat dari sudut tempatnya mengintai. Harry melangkah
    di belakangnya. Dia bisa melihat siluet seorang anak laki-laki tinggi besar se-
    dang berjongkok di depan pintu terbuka, sebuah kotak yang sangat besar di
    sebelahnya.
    "Malam, Rubeus," kata Riddle tajam.
    Anak itu membanting pintu sampai tertutup dan bangkit.
    "Ngapain kau di bawah sini, Tom?" Riddle mendekat. "Sudah selesai,"
    katanya. "Aku akan melaporkanmu,
    Rubeus. Mereka sudah membicarakan kemungkinan menutup Hogwarts jika
    serangan-serangan tidak ber-henti."
    "Apa maksud..."
    "Kurasa kau tidak bermaksud membunuh siapa-siapa. Tapi monster bukanlah
    binatang piaraan yang baik. Kurasa kau cuma mengeluarkannya supaya dia bisa
    berjalan-jalan dan..."
    "Dia tak pernah bunuh siapa-siapa!" kata anak ringgi besar itu, mundur
    sampai ke pintu yang tertutup. Dari belakangnya, Harry bisa mendengar bunyi
    ber-keresek dan klak-klik yang aneh.



    --------------------------------------- 142

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Ayolah, Rubeus," kata Riddle, semakin mendekat.
    "Orangtua anak perempuan yang meninggal itu akan ke sini besok. Paling
    sedikit yang bisa dilakukan Hogwarts adalah memastikan monster yang mem-
    bunuh anak mereka dibantai..."
    "Bukan dia!" raung si anak, suaranya bergema di lorong yang gelap. "Dia tak
    akan membunuh! Tak akan pernah!"
    "Minggir," kata Riddle, seraya menarik keluar tongkatnya.
    Mantranya menerangi lorong dengan sinar terang yang menyala. Pintu di
    belakang anak tinggi besar itu berdebam terbuka, begitu kuat sampai si anak
    terbang menabrak dinding di seberangnya. Dan dari dalamnya muncul sesuatu
    yang membuat Harry me-ngeluarkan jeritan panjang yang kelihatannya tak ada
    yang mendengarnya kecuali dia sendiri. Tampak sesosok besar, pendek, berbulu
    dan kaki-kaki hitam yang ruwet, kilatan banyak mata dan sepasang capit
    setajam silet. Riddle mengangkat tongkatnya lagi, tetapi terlambat. Makhluk
    itu me-nabraknya sampai terjengkang ketika dia lari, menyu-suri lorong dan
    menghilang dari pandangan. Riddle terhuyung bangun, mengejarnya. Dia
    mengangkat tongkatnya, tetapi anak tinggi besar itu melompat menerjangnya,
    merebut tongkatnya dan membanting-nya ke lantai, sambil berteriak,
    "JANGAAAAAAAN!"
    Pemandangan ini berputar, segalanya menjadi gelap pekat, Harry merasa
    dirinya terjatuh dan dengan bunyi berdebum mendarat telentang di atas
    tempat tidurnya di kamar asrama Gryffindor, buku harian Riddle tergeletak
    terbuka di atas perutnya.
    Sebelum dia sempat mengatur napasnya, pintu ka-mar terbuka dan Ron
    masuk.
    "Kau di sini rupanya," katanya.
    Harry duduk. Dia berkeringat dan gemetar.
    "Ada apa?" tanya Ron, memandangnya dengan cemas.
    "Hagrid, Ron. Hagrid-lah yang membuka Kamar Rahasia lima puluh tahun
    yang lalu."
    14. Cornelius Fudge
    Harry, Ron, dan Hermione sudah lama tahu bahwa Hagrid punya kegemaran
    khusus akan makhluk-makhluk besar mengerikan. Pada tahun pertama mereka
    di Hogwarts, Hagrid mencoba membesarkan naga di dalam pondok papannya
    yang kecil, dan masih perlu waktu lama sebelum mereka bisa melupakan anjing
    raksasa berkepala tiga yang dinamakannya "Fluffy"si bulu lembut. Dan kalau,
    sebagai anak-anak, Hagrid mendengar ada monster disembunyikan di suatu
    tempat di kastil, Harry yakin dia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa
    melihat monster itu. Mungkin sekali dia bahkan kasihan pada si monster yang



    --------------------------------------- 143

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    telah dikurung begitu lama, dan berpendapat si monster pantas mendapat
    kesempatan untuk melemaskan kakinya yang banyak. Harry bisa
    membayangkan Hagrid yang berusia tiga belas tahun mencoba memakaikan
    kalung leher pada si monster.
    Tetapi Harry sama yakinnya bahwa Hagrid tidak akan pernah berniat
    membunuh siapa pun.
    Harry setengah menyesal dia berhasil mengetahui bagaimana menggunakan
    buku harian Riddle. Berulang-ulang Ron dan Hermione memintanya
    menceritakan apa yang telah dilihatnya, sampai dia muak sekali bercerita
    kepada mereka dan muak akan pembicaraan berputar-putar setelahnya.
    "Riddle mungkin menangkap orang yang salah/' kata Hermione. "Mungkin
    monster lain yang menyerang orang- orang..."
    "Berapa monster sih yang bisa disembunyikan di tempat ini?" tanya Ron jemu.
    "Kita sudah tahu bahwa Hagrid dikeluarkan," kata Harry sedih. "Dan
    serangan-serangan itu pastilah berhenti setelah Hagrid dikeluarkan. Kalau
    tidak, Riddle tak akan menerima penghargaannya."
    Ron mencoba meninjaunya dari sudut lain.
    "Riddle kedengarannya benar-benar mirip Percy siapa suruh dia menangkap
    Hagrid?"
    "Tapi monsternya sudah membunuh orang, Ron," kata Hermione.
    "Dan Riddle terpaksa harus kembali ke panti asuhan Muggle kalau Hogwarts
    ditutup," kata Harry. "Aku tidak menyalahkannya kalau dia ingin tinggal di
    sini..."
    Ron menggigit bibir, kemudian berkata hati-hati, "Kau bertemu Hagrid di
    Knockturn Alley, kan, Harry?"
    "Dia sedang membeli Pembasmi Siput Pemakan-Daging,"
    kata Harry cepat-cepat.
    Ketiganya diam. Setelah lama hening, Hermione mengutarakan pertanyaan
    yang paling sulit dengan ragu-ragu,
    "Apakah menurut kalian sebaiknya kita pergi menanyai Hagrid tentang semua
    ini?"
    "Akan jadi kunjungan yang menyenangkan," kata Ron.
    "Halo, Hagrid, ceritakan kepada kami, apakah belakangan ini kau
    melepaskan sesuatu yang gila dan berbulu di kastil?"
    Pada akhirnya, mereka memutuskan tidak akan mengatakan apa-apa kepada
    Hagrid, kecuali kalau ada serangan lain, dan sementara hari demi hari berlalu
    tanpa bisikan dari suara tanpa tubuh, mereka punya harapan tak perlu bicara
    dengan Hagrid tentang kenapa dia dikeluarkan. Sudah hampir empat bulan
    sejak Justin dan Nick si Kepala- Nyaris-Putus dibuat Membatu, dan hampir
    semua orang berpendapat bahwa si penyerang, siapa pun dia, telah menyingkir
    untuk selamanya. Peeves akhirnya sudah bosan dengan lagu "Oh, Harry, kau
    keji"-nya. Ernie Macmillan meminta Harry dengan cukup sopan untuk
    mengulurkan seember jamur berlompatan dalam pelajaran Herbologi pada
    suatu hari, dan pada bulan Maret beberapa Mandrake mengadakan pesta yang
    keras dan bising di Rumah Kaca nomor tiga. Ini membuat Profesor Sprout sangat
    gembira.



    --------------------------------------- 144

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Begitu mereka mulai mencoba saling pindah ke dalam pot temannya, kita
    tahu mereka sudah dewasa sepenuhnya," katanya kepada Harry. "Maka kita
    akan bisa menyembuhkan anak-anak malang di rumah sakit itu."
    Anak-anak kelas dua diberi sesuatu yang baru untuk dipikirkan selama
    liburan Paskah mereka. Sudah tiba waktunya memilih mata pelajaran mereka
    untuk kelas tiga. Persoalan yangsetidaknya bagi Hermione sangat serius.
    "Bisa mempengaruhi seluruh masa depan kita/' katanya kepada Harry dan
    Ron, sementara mereka mempelajari daftar mata pelajaran baru, menandainya
    dengan tanda centang.
    "Aku cuma ingin tak ikut lagi pelajaran Ramuan," kata Harry.
    "Tidak bisa," kata Ron muram. "Semua mata pelajaran lama masih harus
    diikuti, kalau tidak aku pasti sudah meninggalkan Pertahanan terhadap Ilmu
    Hitam."
    "Tapi itu kan penting sekali!" kata Hermione, kaget.
    "Tidak, kalau Lockhart yang mengajar," kata Ron. "Aku tidak belajar apa-apa
    dari dia kecuali jangan melepas pixie."
    Neville Longbottom dikirimi surat oleh semua penyihir dalam keluarganya,
    semua memberinya nasihat yang berbeda- beda tentang apa yang harus dipilih.
    Cemas dan bingung, dia duduk membaca daftar mata pelajaran dengan lidah
    terjulur, menanyai anak-anak apakah menurut mereka Arithmancy
    kedengarannya lebih sulit daripada Rune Kuno. Rune adalah huruf-huruf alfabet
    kuno yang digunakan di Eropa Utara sekitar abad ketiga sampai ketiga belas.
    Selain alfabet, pelajaran Rune Kuno mencakup mantra-mantra kuno, juga puisi,
    sajak, ataupun lagu-lagu kuno yang mistis dan sulit dipahami. Dean Thomas,
    yang seperti Harry dibesarkan dalam keluarga Muggle, akhirnya memejamkan
    mata dan menotol- notolkan tongkatnya pada daftar, kemudian memilih mata
    pelajaran yang ditunjuk si tongkat. Hermione tidak mendengarkan nasihat siapa
    pun, tetapi memilih semua mata pelajaran.
    Harry tersenyum muram pada diri sendiri ketika memikirkan apa yang akan
    dikatakan Paman Vernon dan Bibi Petunia jika dia mencoba mendiskusikan
    kariernya di dunia sihir dengan mereka. Bukannya tak ada yang
    membimbingnya. Percy Weasley dengan senang hati bersedia berbagi
    pengalaman.
    "Tergantung maumu ke mana, Harry," katanya. "Tak pernah terlalu awal
    untuk memikirkan masa depan, jadi kusarankan Ramalan. Orang menganggap
    Telaah tentang Muggle pilihan yang enteng, tapi aku pribadi berpendapat
    penyihir harus punya pemahaman menyeluruh tentang komunitas non-sihir,
    terutama jika merencanakan untuk bekerja bersama merekalihat saja ayahku,
    sepanjang waktu dia harus menangani urusan Muggle. Abangku, Charlie, dari
    dulu suka bekerja di luar ruangan, jadi dia memilih Pemeliharaan Satwa Gaib.
    Pilih sesuai kekuatanmu, Harry"
    Tapi satu-satunya yang menurut Harry benar-benar dilakukannya dengan baik
    hanyalah Quidditch. Pada akhirnya, dia memilih pelajaran-pelajaran baru yang
    sama dengan Ron, dengan perhitungan kalau dia tidak bisa mengikutinya, dia
    punya teman yang baik untuk membantunya.



    --------------------------------------- 145

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Pertandingan Quidditch berikutnya bagi Gryffindor adalah melawan
    Hufflepuff. Wood memaksa timnya latihan setiap malam sehabis makan,
    sehingga Harry nyaris tak punya waktu kecuali untuk Quidditch dan
    mengerjakan PR. Meskipun demikian sesi latihan mulai membaik, atau paling
    tidak bertambah kering, dan pada malam sebelum pertandingan hari Sabtu,
    Harry naik ke kamarnya untuk mengembalikan sapunya, merasa kesempatan
    Gryffindor untuk memenangkan Piala Quidditch tidak pernah sebaik ini.
    Tetapi suasana hatinya yang gembira tidak berlangsung lama. Di puncak
    tangga yang menuju ke kamar, dia bertemu Neville Longbottom, yang kelihatan
    kalut.
    "Harryaku tidak tahu siapa yang melakukannya. Aku baru saja
    menemukan..."
    Memandang Harry ketakutan, Neville mendorong pintu kamar sampai
    terbuka.
    Isi koper Harry dilemparkan ke mana-mana. Jubahnya tergeletak robek di
    lantai. Seprai dan selimut dicopot dari tempat tidurnya dan laci lemari di
    sebelah tempat tidurnya ditarik terbuka, isinya bertebaran di atas kasur.
    Harry berjalan ke tempat tidurnya, melongo, menginjak beberapa halaman
    Tamasya dengan Troll yang lepas.
    Ketika dia dan Neville sedang menarik selimut kembali ke atas tempat
    tidurnya, Ron, Dean, dan Seamus masuk. Dean mengumpat keras.
    "Apa yang terjadi, Harry?"
    "Entahlah," kata Harry. Tetapi Ron memeriksa jubah-jubah Harry. Semua
    kantongnya menggantung keluar.
    "Ada orang yang mencari-cari sesuatu," kata Ron. "Ada yang hilang?"
    Harry mulai memunguti semua barangnya dan melemparkannya ke dalam
    kopernya. Setelah melemparkan buku Lockhart yang terakhir, barulah dia sadar
    apa yang tidak ada.
    "Buku harian Riddle hilang," katanya pelan kepada Ron.
    "Apa?"
    Harry mengedikkan kepala ke arah pintu kamar dan Ron mengikutinya
    keluar. Mereka bergegas kembali ke ruang rekreasi Gryffindor, yang sudah
    setengah kosong, dan bergabung dengan Hermione, yang duduk sendirian,
    membaca buku berjudul Mempelajari Rune Kuno dengan Mudah.
    Hermione kaget sekali mendengar berita itu.
    "Tapihanya anak Gryffindor yang bisa mencurinyatak ada anak lain yang
    tahu kata kunci kita..."
    "Justru itu," kata Harry.
    Mereka terbangun keesokan harinya disambut sinar matahari yang cerah dan
    angin sepoi menyegarkan.
    "Kondisi sempurna untuk Quidditch!" kata Wood antusias di meja Gryffindor,
    sambil mengisi piringpiring anggota timnya dengan telur aduk. "Harry, ayo, kau
    perlu sarapan yang cukup."
    Harry sejak tadi cuma memandang meja Gryffindor yang penuh, bertanya-
    tanya dalam hati kalau-kalau pemilik baru buku harian Riddle ada di depan
    matanya. Hermione sudah mendesaknya untuk melaporkan pencurian ini, tetapi



    --------------------------------------- 146

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry tidak mau. Nanti dia terpaksa harus menceritakan kepada seorang guru
    tentang buku harian ini, dan berapa orang yang tahu kenapa Hagrid dikeluarkan
    lima puluh tahun lalu? Dia tak ingin menjadi orang yang mengungkit-ungkitnya.
    Selagi dia meninggalkan Aula Besar bersama Ron dan Hermione untuk
    mengambil peralatan Quidditch-nya, daftar kesulitan Harry yang sudah banyak
    bertambah dengan kesulitan baru yang sangat serius. Harry baru saja
    menginjakkan kaki di tangga pualam, ketika dia mendengar suara itu lagi,
    "Bunuh kali ini... biar kurobek... kucabik..."
    Harry berteriak keras, Ron dan Hermione sampai melompat kaget.
    "Suara itu!" kata Harry, menoleh melewati bahunya. "Aku baru saja
    mendengarnya lagikarian dengar?"
    Ron menggeleng, terbelalak. Tetapi Hermione menempelkan tangan ke
    dahinya.
    "Harrykupikir aku baru saja mengerti! Aku harus ke perpustakaan!"
    Dan dia berlari menaiki tangga.
    "Apa yang dia mengerti?" tanya Harry bingung, masih memandang berkeliling,
    mencoba menebak dari mana datangnya suara itu.
    "Jauh lebih banyak daripada yang kupahami," kata Ron geleng-geleng kepala.
    "Tetapi kenapa dia harus ke perpustakaan?"
    "Karena itulah yang dilakukan Hermione," kata Ron, mengangkat bahu.
    "Kalau ragu-ragu, pergi ke perpustakaan." Harry berdiri ragu-ragu, mencoba
    mendengarkan suara itu lagi, tetapi anak-anak sekarang berduyun-duyun keluar
    dari Aula Besar di belakangnya, bicara keras-keras, keluar lewat pintu depan
    menuju ke lapangan Quidditch.
    "Lebih baik kau cepat naik," kata Ron. "Sudah hampir pukul sebelas
    pertandingan akan dimulai'
    Harry berlari ke Menara Gryffindor, mengambil Nimbus Dua Ribu-nya dan
    bergabung dengan kerumunan yang berduyun- duyun menyeberangi halaman,
    tetapi pikirannya masih di kastil, bersama suara tanpa tubuh. Ketika dia
    memakai jubah merahnya di dalam kamar ganti, satu-satunya yang
    membuatnya terhibur hanyalah semua orang sekarang ada di luar untuk
    menonton pertandingan.
    Kedua tim berjalan memasuki lapangan di bawah tepukan riuh-rendah.
    Oliver Wood melakukan pemanasan dengan terbang mengelilingi tiang-tiang
    gol. Madam Hooch melepas bola-bolanya. Anak-anak Hufflepuff, yang bermain
    dengan seragam kuning kenari, berdiri bergerombol, mengadakan diskusi
    terakhir soal taktik.
    Harry sedang menaiki sapunya ketika Profesor McGonagall setengah berlari
    datang memasuki lapangan, membawa megafon ungu besar.
    Hati Harry terasa seberat batu.
    "Pertandingan hari ini dibatalkan," seru Profesor McGonagall lewat megafon,
    berbicara kepada stadion yang penuh sesak. Terdengar gemuruh "buu-buu"
    kecewa dan teriakan-teriakan. Oliver Wood, tampak terpukul, mendarat dan
    berlari mendekati Profesor McGonagall tanpa turun dari sapunya.
    "Tapi, Profesor!" teriaknya. "Kami harus main... piala... Gryffindor..."



    --------------------------------------- 147

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Profesor McGonagall tidak mengacuhkannya dan melanjutkan berteriak lewat
    megafonnya, "Semua anak diminta kembali ke ruang rekreasi asrama masing-
    masing. Di sana Kepala Asrama akan memberi keterangan yang lebih jelas.
    Secepat mungkin, ayo, ayo!"
    Kemudian dia menurunkan megafon dan memberi isyarat kepada Harry agar
    mendekat.
    "Potter, kurasa lebih baik kau ikut aku...."
    Harry yang bertanya-tanya dalam hati bagaimana Profesor McGonagall bisa
    mencurigainya kali ini, melihat Ron meninggalkan rombongan anak-anak yang
    mengeluh. Ron berlari mengejar mereka menuju kastil. Betapa herannya Harry,
    Profesor McGonagall tidak keberatan.
    "Ya, mungkin lebih baik kau juga ikut, Weasley."
    Beberapa anak yang berjalan di sekitar mereka menggerutu karena
    pertandingannya dibatalkan, yang lain kelihatan cemas. Harry dan Ron
    mengikuti Profesor McGonagall kembali ke sekolah dan menaiki tangga pualam.
    Tetapi mereka tidak dibawa ke kantor siapa-siapa kali ini.
    "Ini akan sedikit mengagetkan," kata Profesor McGonagall dengan suara
    lembut yang mengejutkan ketika mereka mendekati rumah sakit. "Baru saja
    ada serangan lain... serangan ganda lain."
    Organ-organ dalam tubuh Harry serasa berjumpalitan. Profesor McGonagall
    membuka pintu, dan Harry dan Ron masuk.
    Madam Pomfrey sedang membungkuk di atas anak kelas lima berambut ikal.
    Harry mengenalinya sebagai anak Ravenclaw yang pernah mereka tanyai jalan
    menuju ruang rekreasi Slytherin. Dan di tempat tidur di sebelahnya adalah...
    "Hermione!" Ron mengerang.
    Hermione terbaring diam, matanya terbuka, pandangannya kosong.
    "Mereka ditemukan dekat perpustakaan," kata Profesor McGonagall. "Kurasa
    kalian berdua tidak bisa menjelaskan ini? Ini ditemukan di lantai di sebelah
    mereka..."
    Profesor McGonagall memegang cermin bundar kecil.
    Harry dan Ron menggelengkan kepala, keduanya menatap Hermione.
    "Aku akan menemani kalian kembali ke Menara Gryffindor," kata Profesor
    McGonagall berat. "Aku toh harus memberi penjelasan kepada anak-anak."
    "Semua murid sudah harus kembali ke ruang rekreasi asrama mereka paling
    lambat pukul enam sore. Tak seorang murid pun diizinkan meninggalkan asrama
    setelah waktu itu. Kalian akan ditemani seorang guru ke semua kelas setiap
    ganti pelajaran. Murid-murid dilarang ke kamar kecil tanpa ditemani guru.
    Semua latihan Quidditch dan pertandingan ditunda. Tak akan ada lagi kegiatan
    di malam hari/'
    Anak-anak Gryffindor yang memenuhi ruang rekreasi mendengarkan Profesor
    McGonagall dalam diam. Dia menggulung perkamen yang tadi dibacanya dan
    berkata dengan suara agak tercekat, "Tak perlu kutambahkan bahwa belum
    pernah aku sesedih ini. Mungkin sekolah akan ditutup jika pelaku di balik
    serangan-serangan ini tidak berhasil ditangkap. Aku mengimbau siapa saja yang
    merasa tahu sesuatu tentang serangan-serangan ini untuk melapor."



    --------------------------------------- 148

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Profesor McGonagall memanjat keluar lubang lukisan dengan agak canggung,
    dan anak-anak Gryffindor langsung ramai.
    "Itu berarti dua anak Gryffindor jatuh, belum lagi satu hantu Gryffindor, satu
    Ravenclaw, dan satu Hufflepuff," kata sahabat si kembar Weasley, Lee Jor-dan,
    sambil menghitung dengan jari-jarinya. "Apakah tidak ada guru yang sadar
    bahwa anak-anak Slytherin semua selamat? Bukankah sudah jelas sekali semua
    malapetaka ini datangnya dari Slytherin? Pewaris Slytherin, monster Slytherin
    kenapa mereka tidak mengeluarkan saja semua anak Slytherin?" teriaknya,
    disambut anggukan dan tepukan di sana-sini.
    Percy Weasley duduk di kursi di belakang Lee, tetapi sekali ini dia
    tampaknya tak ingin mengemukakan pendapatnya. Dia tampak pucat dan
    terpukul.
    "Percy shock," George memberitahu Harry perlahan. "Anak Ravenclaw itu
    Penelope Clearwaterdia Prefek. Kurasa Percy tidak menyangka si monster
    akan berani menyerang Prefek/' Tetapi Harry hanya setengah mendengarkan.
    Dia tak bisa melenyapkan bayangan Hermione yang terbaring di tempat tidur
    rumah sakit, seakan terpahat dari batu. Dan jika pelakunya tidak segera
    ditangkap, berarti seumur hidup dia akan tinggal lagi bersama keluarga
    Dursley. Tom Riddle menyerahkan Hagrid, karena bila tidak dia harus tinggal di
    panti asuhan Muggle kalau sekolah ditutup. Harry sekarang paham betul
    bagaimana perasaan Riddle.
    "Apa yang akan kita lakukan?" kata Ron pelan di telinga Harry. "Apakah
    menurutmu mereka mencurigai Hagrid?"
    "Kita harus bicara dengannya," kata Harry, mengambil keputusan. "Aku tak
    percaya dia pelakunya kali ini, tetapi kalau dulu dia melepas monsternya, dia
    akan tahu bagaimana caranya masuk ke Kamar Rahasia, dan itu sudah awal
    yang bagus."
    "Tetapi McGonagall bilang kita harus tinggal di menara kita kecuali untuk
    mengikuti pelajaran..."
    "Kurasa," kata Harry lebih pelan, "sudah waktunya mengeluarkan jubah tua
    ayahku lagi."
    Harry hanya mewarisi satu benda dari ayahnya: Jubah Gaib panjang
    keperakan, yang bisa membuat pemakainya tidak kelihatan. Jubah itu satu-
    satunya kesempatan bagi mereka agar bisa menyelinap keluar dari sekolah,
    untuk mengunjungi Hagrid tanpa diketahui siapa pun. Mereka pergi tidur pada
    jam yang biasa, menunggu sampai Neville, Dean, dan Seamus berhenti
    mendiskusikan Kamar Rahasia dan akhirnya tertidur, kemudian mereka bangun,
    berpakaian lagi, dan me-nyelubungkan jubah itu ke tubuh mereka.
    Perjalanan melewati koridor-koridor kastil yang kosong sungguh tidak
    nyaman. Harry, yang sudah beberapa kali berjalan-jalan di kastil pada malam
    hari, belum pernah melihatnya begitu ramai setelah matahari terbenam. Para
    guru, Prefek, dan hantu berpatroli di koridor berpasangan, memeriksa kalau-
    kalau ada kegiatan yang tidak biasa. Jubah Gaib tidak membuat suara mereka
    tak bisa didengar, dan mereka tegang sekali ketika ibu jari kaki Ron terantuk
    sesuatu hanya beberapa meter dari tempat Snape berjaga. Untunglah Snape
    bersin hampir pada saat bersamaan dengan Ron mengumpat. Maka betapa



    --------------------------------------- 149

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    leganya mereka ketika tiba di pintu depan yang terbuat dari kayu ek dan
    membukanya.
    Malam itu cerah dan berbintang. Mereka bergegas menuju jendela-jendela
    pondok Hagrid yang terang, dan baru melepas Jubah Gaib ketika sudah tiba di
    depan pintu.
    Beberapa saat setelah mereka mengetuk, Hagrid membuka pintunya. Mereka
    ternyata berhadapan dengan Hagrid yang membidikkan panah ke arah mereka.
    Fang, si anjing besar, menyalak keras di belakangnya.
    "Oh," kata Hagrid, menurunkan senjatanya dan menatap mereka. "Ngapain
    kalian berdua di sini?"
    "Untuk apa itu?" tanya Harry, menunjuk busur sambil melangkah masuk.
    "Tidak... tidak apa-apa," gumam Hagrid. "Aku kira... tidak penting...
    Duduklah... aku buat teh..."
    Kelihatannya Hagrid tak sadar apa yang dilakukannya. Dia nyaris membuat
    apinya padam, menuangkan air dari ceret ke api, dan kemudian memukul jatuh
    teko teh dengan gerakan gugup tangannya yang besar.
    "Kau tidak apa-apa, Hagrid?" tanya Harry. "Apakah kau sudah dengar tentang
    Hermione?"
    "Oh, aku dengar," kata Hagrid, suaranya agak tercekat.
    Dia berulang-ulang mengerling gugup ke jendela. Dia menuang air mendidih
    ke dalam dua cangkir besar untuk mereka berdua (lupa mencelupkan kantong
    tehnya) dan sedang menaruh sepotong kue buah di atas piring ketika terdengar
    ketukan keras di pintu.
    Hagrid menjatuhkan kue buahnya. Harry dan Ron bertukar pandang panik,
    kemudian kembali menye-lubungkan Jubah Gaib ke tubuh mereka dan mundur
    ke sudut. Hagrid memastikan mereka sudah tersembunyi, menyambar
    busurnya, dan membuka pintu sekali lagi.
    "Selamat malam, Hagrid."
    Ternyata yang datang Dumbledore. Dia masuk, kelihatan serius sekali, diikuti
    orang kedua yang bertampang sangat aneh.
    Pria asing ini bertubuh pendek bulat dengan rambut abu- abu kusut dan
    wajah cemas. Dia memakai pakaian campur aduk aneh: setelan bergaris-garis,
    dasi merah tua, jubah hitam panjang, dan sepatu bot ungu berujung runcing.
    Lengannya mengepit topi hijau-jeruk-limau.
    "Itu bos Dad!" bisik Ron kaget. "Cornelius Fudge, Menteri Sihir!"
    Harry menyikut keras Ron, menyuruhnya diam.
    Hagrid sudah pucat dan berkeringat. Dia menge-nyakkan diri di salah satu
    kursinya dan memandang Dumbledore dan Cornelius Fudge berganti-ganti.
    "Kabar buruk, Hagrid," kata Fudge lugas. "Sangat buruk. Harus datang. Empat
    serangan pada anak-anak kelahiran- Muggle. Sudah terlalu jauh. Ke-menterian
    harus bertindak."
    "Bukan saya," kata Hagrid dengan pandangan memohon kepada Dumbledore,
    "Anda tahu saya tak pernah lakukan itu, Profesor Dumbledore, Sir..."
    "Aku ingin mencamkan ini, Cornelius, bahwa Hagrid mendapatkan
    kepercayaanku sepenuhnya," kata Dumbledore, mengernyit kepada Fudge.



    --------------------------------------- 150

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Begini, Albus," kata Fudge, salah tingkah. "Riwayat masa lalu Hagrid
    merugikannya. Kementerian harus melakukan sesuatudewan sekolah sudah
    menghubungi kami."
    ^ Meskipun demikian, sekali lagi kukatakan, Cornelius, bahwa menyingkirkan
    Hagrid tidak akan membantu sedikit pun," kata Dumbledore. Mata birunya
    dipenuhi api yang belum pernah dilihat Harry.
    "Cobalah melihatnya dari sudut pandangku," kata Fudge, meremas-remas
    topinya. "Aku di bawah banyak tekanan. Harus dilihat melakukan sesuatu. Kalau
    nanti ternyata bukan Hagrid, dia akan dikembalikan il»in tak akan disebut-
    sebut lagi. Tapi aku harus membawanya sekarang. Harus. Tidak menjalankan
    kewajibanku kalau..."
    "Bawa saya?" kata Hagrid, gemetar. "Bawa saya ke mana?"
    "Cuma untuk sementara waktu," kata Fudge, tanpa berani menatap Hagrid.
    "Bukan hukuman, Hagrid, lebih untuk berjaga-jaga. Kalau nanti ada orang lain
    yang ditangkap, kau akan dikeluarkan dengan permohonan maaf penuh..."
    "Tidak ke Azkaban, kan?" seru Hagrid parau.
    Sebelum Fudge bisa menjawab, terdengar ketukan keras lagi di pintu.
    Dumbledore membukanya. Kali ini giliran Harry disikut rusuknya: dia
    terpekik kaget.
    Mr Lucius Malfoy melangkah masuk ke pondok Hagrid, berselubung jubah
    perjalanan hitam panjang, senyumnya dingin dan puas. Fang mulai menggeram.
    "Sudah di sini, Fudge," katanya senang. "Bagus, bagus..."
    "Mau apa kau ke sini?" kata Hagrid berang. "Keluar dari rumahku!"
    "Hagrid, percayalah, aku sama sekali tak senang berada dieh... kausebut
    ini rumah?" kata Lucius Malfoy mencemooh sambil memandang berkeliling
    pondok kecil itu. "Aku tadi mampir di sekolah dan diberitahu Kepala Sekolah
    ada di sini."
    "Dan apa persisnya yang kauinginkan dariku, Lucius?" kata Dumbledore. Dia
    bicara dengan sopan, tetapi api masih menyala-nyala di mata birunya.
    "Hal yang sangat tidak enak, Dumbledore," kata Mr Malfoy santai,
    mengeluarkan gulungan panjang per-kamen, "tetapi dewan sekolah merasa
    sudah waktunya kau menyingkir. Ini Perintah Penskorsankau akan menemukan
    keseluruhan dua belas tanda tangan di sini. Kami merasa kau sudah kehilangan
    sentuhanmu. Berapa serangan yang sudah terjadi? Dua lagi sore ini, kan?
    Dengan kecepatan begini, tak akan ada anak kelahiran-Muggle yang tersisa di
    Hogwarts, dan kita semua tahu itu akan jadi kehilangan besar bagi sekolah."
    "Oh, Lucius," kata Fudge, kelihatan kaget. "Dumbledore diskors... jangan,
    jangan... itu hal terakhir yang kita inginkan sekarang ini..."
    "Pengangkatanatau penskorsankepala sekolah adalah urusan dewan
    sekolah, Fudge," kata Mr Malfoy lancar. "Dan karena Dumbledore sudah gagal
    menghentikan serangan- serangan ini..."
    "Tapi, Lucius, kalau Dumbledore tidak bisa menghentikannya...," kata Fudge,
    yang bagian atas bibirnya berbintik-bintik keringat sekarang, "aku mau
    mengatakan, siapa yang bisa?"
    "Kita lihat saja nanti," kata Mr Malfoy dengan senyum menyebalkan. "Tetapi
    karena kami berdua belas sudah memutuskan..."



    --------------------------------------- 151

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Hagrid melompat bangun, kepalanya yang berambut lebat awut-awutan
    menyentuh langit-langit.
    "Dan berapa yang sudah kauancam dan kauperas sebelum mereka setuju,
    Malfoy, eh?" raung Hagrid.
    "Wah, wah, kau tahu, sifatmu yang berangasan begitu akan menyulitkanrnu
    hari-hari ini, Hagrid," kata Mr Malfoy.
    "Kusarankan kau jangan berteriak begitu pada penjaga Azkaban. Mereka
    sama sekali tak akan senang."
    "Kau tak boleh ambil Dumbledore!" teriak Hagrid, membuat Fang meringkuk
    dan merintih di keranjangnya. "Bawa dia pergi, dan anak-anak kelahiran-Muggle
    tak punya harapan sama sekali! Berikutnya akan terjadi pembunuhan!"
    "Tenangkan dirimu, Hagrid!" kata Dumbledore tajam. Dia menatap Lucius
    Malfoy.
    "Kalau dewan menginginkan aku diganti, Lucius, aku tentu saja akan
    mundur."
    "T-tapi...," gagap Fudge.
    "Tidak!" geram Hagrid.
    Dumbledore tidak mengalihkan matanya yang biru cemerlang dari mata
    Lucius yang dingin abu-abu.
    "Meskipun demikian," kata Dumbledore, berbicara sangat lambat dan jelas,
    sehingga tak seorang pun dari mereka tidak menangkap semua ucapannya, "kau
    akan tahu bahwa aku hanya akan benar-benar meninggalkan sekolah ini kalau
    sudah tak ada lagi yang setia kepadaku di sini. Kau juga akan tahu bahwa
    bantuan akan selalu diberikan di Hogwarts kepada siapa pun yang
    memintanya."
    Sejenak, Harry nyaris yakin mata Dumbledore terarah ke sudut tempat dia
    dan Ron bersembunyi.
    "Sikap sentimental yang layak dikagumi," kata Malfoy, membungkuk. "Kami
    semua akan kehilanganehcaramu yang sangat individual dalam mengatur
    segalanya, Albus, dan hanya berharap peng-gantimu akan bisa mencegahah
    'pembunuhan'"
    Malfoy melangkah ke pintu pondok, membukanya, dan membungkuk
    mempersilakan Dumbledore keluar. Fudge, gelisah meremas-remas topinya,
    menunggu Hagrid berjalan mendahuluinya. Tetapi Hagrid tetap di tempatnya,
    menarik napas dalam-dalam, dan berkata hati-hati, "Kalau ada yang mau tahu
    sesuatu, yang harus mereka lakukan hanya ikuti labah-labah. Labah-labah akan
    bawa mereka ke yang benar! Cuma itu yang mau kukatakan/'
    Fudge memandangnya keheranan.
    "Baiklah, aku ikut," kata Hagrid, memakai mantel kulit tikus mondoknya.
    Tetapi ketika dia sudah akan keluar dari pintu mengikuti Fudge, dia berhenti
    lagi dan berkata keras-keras,
    "Dan harus ada yang kasih makan Fang selama aku tak ada." Pintu berdebam
    tertutup dan Ron menarik lepas Jubah Gaib.
    "Kita dalam kesulitan sekarang," katanya serak. "Tak ada lagi Dumbledore.
    Sama saja dengan mereka menutup sekolah malam ini. Akan terjadi serangan
    tiap hari kalau Dumbledore tak ada."



    --------------------------------------- 152

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Fang mulai melolong, menggaruk-garuk pintu yang tertutup.
    15. Aragog
    Musim panas merayapi halaman sekeliling kastil. Langit dan danau sama-
    sama berubah biru cerah, dan bunga-bunga sebesar kol bermekaran di dalam
    rumah-rumah kaca. Tetapi tanpa Hagrid yang bisa dilihat dari jendela kastil,
    berjalan kian kemari di halaman diiringi Fang, Harry merasa ada yang tidak
    benar dengan pemandangan di luar itu. Sama seperti di dalam kastil, suram
    karena terjadinya peristiwa-peristiwa mengerikan.
    Harry dan Ron sudah berusaha mengunjungi Hermione, tetapi sekarang
    rumah sakit tidak menerima pengunjung.
    "Kami tidak mau ambil risiko/' Madam Pomfrey memberitahu mereka lewat
    celah di pintu. "Tidak, maaf, ada kemungkinan si penyerang muncul lagi untuk
    menghabisi anak-anak yang malang ini...."
    Dengan kepergian Dumbledore, ketakutan menyebar hal yang tak pernah
    terjadi sebelumnya sehingga matahari yang menghangatkan tembok kastil - di
    luar kelihatannya berhenti di jendela-jendela bersekat. Nyaris tak ada wajah di
    sekolah yang tidak tampak cemas dan tegang, dan kalau ada tawa yang
    terdengar di koridor, tawa itu terdengar nyaring dan tidak wajar, dan segera
    dihentikan.
    Harry tak henti-hentinya mengulangi kata-kata terakhir Dumbledore untuk
    dirinya sendiri. "Aku hanya akan benar- benar meninggalkan sekolah ini kalau
    sudah tak ada lagi yang setia kepadaku di sini... Bantuan akan selalu diberikan
    di Hogwarts kepada siapa pun yang memintanya." Tetapi apa gunanya kata-kata
    itu? Siapa persisnya yang harus mereka mintai bantuan, kalau semua orang
    sama bingung dan takutnya seperti mereka?
    Petunjuk Hagrid tentang labah-labah lebih mudah dimengertikesulitannya
    adalah, kelihatannya di kastil tak tersisa lagi seekor labah-labah pun yang bisa
    mereka ikuti. Harry mencari-cari ke mana pun dia pergi, dibantu (dengan agak
    enggan) oleh Ron. Mereka dihambat, tentu saja, oleh kenyataan bahwa mereka
    tidak diizinkan berjalan ke mana- mana sendiri, melainkan harus berombongan
    dengan anak- anak Gryffindor lain. Sebagian besar teman mereka tampaknya
    senang ditemani oleh para guru dari kelas ke kelas, tetapi bagi Harry ini sangat
    menjengkelkan.
    Meskipun demikian, ada satu anak yang kelihatannya sangat menikmati
    suasana penuh teror dan kecurigaan. Draco Malfoy berjalan sok gagah
    berkeliling sekolah seakan dia baru ditunjuk jadi Ketua Murid. Harry tidak
    menyadari apa yang membuat Malfoy begitu senang, sampai pelajaran Ramuan,
    kira-kira dua minggu sesudah Dumbledore dan Hagrid pergi. Waktu itu Harry,



    --------------------------------------- 153

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    yang kebetulan duduk tepat di belakang Malfoy, mendengarnya
    menyombongkan diri kepada Crabbe dan Goyle.
    "Dari dulu aku sudah menduga, Ayah-lah yang akan berhasil menyingkirkan
    Dumbledore," katanya, tanpa berusaha memelankan suaranya. "Aku kan sudah
    bilang, Ayah menganggap Dumbledore kepala sekolah paling buruk yang pernah
    dipunyai sekolah ini. Mungkin sekarang kita akan dapat kepala sekolah yang
    layak. Orang yang tidak menginginkan Kamar Rahasia dikunci. McGonagall tidak
    akan bertahan lama, dia cuma mengisi kekosongan..."
    Snape melewati Harry, tidak berkomentar tentang tempat duduk dan kuali
    Hermione yang kosong.
    "Sir," kata Malfoy keras-keras. "Sir, kenapa Anda tidak melamar untuk
    jabatan kepala sekolah?"
    "Wah, wah, Malfoy," kata Snape, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan
    senyum bibir-tipisnya. "Profesor Dumbledore hanya diskors oleh dewan sekolah.
    Dia akan segera kembali bersama kita."
    "Yeah, betul," kata Malfoy, mencibir. "Saya yakin Anda akan mendapat
    dukungan Ayah, Sir, kalau Anda ingin mengisi jabatan ini. Saya akan bilang
    pada Ayah, Anda guru paling hebat di sini, Sir..."
    Snape menyeringai ketika dia berkeliling ruang bawah tanah. Untunglah dia
    tidak melihat Seamus Finnigan, yang berpura-pura muntah ke dalam kualinya. !
    "Aku heran para Darah-lumpur belum juga mengepak tas mereka/' Malfoy
    meneruskan. "Berani taruhan lima Galleon, yang berikutnya pasti mati. Sayang
    bukan si Granger..."
    Untunglah saat itu bel berdering. Mendengar kata-kata terakhir Malfoy tadi,
    Ron sudah melompat bangun dari tempat duduknya, dan dalam kesibukan anak-
    anak membereskan tas dan buku-buku, tak ada yang memperhatikan dia
    mencoba menyerang Malfoy.
    "Biar kuberi pelajaran dia," geram Ron ketika Harry dan Dean memegangi
    lengannya. "Aku tak peduli, aku tidak perlu tongkatku, akan kubunuh dia
    dengan tangan kosong..."
    "Ayo cepat, aku harus mengantar kalian semua ke Herbologi," bentak Snape
    kepada anak-anak, dan mereka pun berangkatlah, beriringan, dengan Harry,
    Ron, dan Dean paling belakang. Ron masih berusaha melepaskan diri. Baru
    aman melepasnya ketika Snape sudah mengantar mereka sampai ke luar kastil,
    dan mereka melewati petak-petak kebun sayur menuju ke rumah-rumah kaca.
    Kelas Herbologi sangat muram. Kini sudah dua orang dari mereka tak ada,
    Justin dan Hermione.
    Profesor Sprout menyuruh mereka memangkasi dahan dan ranting-ranting
    kering pohon ara Abyssinia. Harry sedang akan melempar sepelukan dahan
    kering ke tumpukan kompos ketika ternyata dia berhadapan dengan Ernie
    Macmillan. Ernie menarik napas dalam-dalam dan berkata, sangat resmi, "Aku
    cuma ingin mengatakan, Harry, bahwa aku menyesal telah men-curigaimu. Aku
    tahu kau tak akan pernah menyerang Hermione Granger, dan aku minta maaf
    untuk semua yang pernah kukatakan. Kita berada di perahu yang sama
    sekarang, dan, yah..."
    Dia mengulurkan tangannya yang gemuk dan Harry menjabatnya.



    --------------------------------------- 154

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ernie- dan temannya Hannah bergabung dengan Harry dan Ron,-memangkas
    pohon ara yang sama.
    "Si Draco Malfoy itu," kata Ernie, mematahkan ranting- ranting kering, "dia
    kelihatannya senang sekali dengan semua kejadian ini, ya? Tahu tidak, kupikir
    mungkin dialah si pewaris Slytherin."
    "Pintar sekali kau," komentar Ron, yang kelihatannya tidak semudah Harry
    memaafkan Ernie.
    "Menurutmu Malfoy-kah orangnya, Harry?" tanya Ernie.
    "Bukan," kata Harry tegas sekali sehingga Ernie dan Hannah keheranan
    menatapnya.
    Sesaat kemudian, Harry melihat sesuatu yang membuatnya memukul tangan
    Ron dengan gunting tanamannya.
    "Ouchl Apa sih mak..."
    Harry menunjuk ke tanah kira-kira satu meter dari mereka. Beberapa labah-
    labah besar bergegas di atas tanah.
    "Oh, yeah," kata Ron, mencoba, dan gagal, untuk tampak senang. "Tapi kita
    tidak bisa mengikuti mereka sekarang..."
    Ernie dan Hannah mendengarkan dengan ingin tahu. Harry melihat para
    labah-labah itu berlari menjauh.
    "Kelihatannya mereka menuju Hutan Terlarang..."
    Dan Ron kelihatan makin tidak senang mendengar ini.
    Pada akhir pelajaran, Profesor Snape mengantar mereka ke kelas Pertahanan
    terhadap Ilmu Hitam. Harry dan Ron sengaja berjalan berlama-lama di
    belakang yang lain agar bisa bicara tanpa didengar siapa pun.
    "Kita harus memakai Jubah Gaib lagi," kata Harry kepada Ron. "Kita bisa
    membawa Fang. Dia sudah terbiasa masuk ke hutan bersama Hagrid, mungkin
    dia bisa membantu."
    "Betul," kata Ron, yang gugup memelintir tongkatnya dengan jari-jarinya. "Eh
    bukankahbukankah katanya ada manusia serigala di dalam Hutan Terlarang?"
    dia menambahkan, ketika mereka duduk di tempat biasa, di tempat duduk
    paling belakang di kelas Lockhart.
    Harry yang lebih suka tidak menjawab pertanyaan itu, berkata, "Ada hal-hal
    baik juga di sana. Centaurus-nya baik- baik. Juga unicorn-nya."
    Ron belum pernah masuk Hutan Terlarang. Harry pernah ke sana sekali, dan
    berharap tidak perlu masuk hutan itu lagi. Lockhart melompat masuk ke dalam
    kelas dan anak-anak memandangnya keheranan. Semua guru yang lain lebih
    muram dari biasanya, tetapi Lockhart kelihatan penuh semangat.
    "Ayolah," serunya, tersenyum ke seluruh kelas, "kenapa semua murung
    begini?"
    Anak-anak bertukar pandang putus asa, tetapi tak seorang pun menjawab.
    "Apakah kalian tidak menyadari/' kata Lockhart, bicara lambat-lambat,
    seakan mereka semua agak bodoh, "bahaya telah lewat! Pelakunya sudah
    dibawa pergi?"
    "Siapa bilang?" kata Dean Thomas keras.



    --------------------------------------- 155

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Anak muda, Menteri Sihir tidak akan menangkap Hagrid kalau dia tidak yakin
    seratus persen bahwa Hagrid bersalah," kata Lockhart dengan nada seperti
    menjelaskan bahwa satu ditambah satu sama dengan dua.
    "Oh, bisa saja dia menangkap Hagrid, walaupun tidak yakin," kata Ron, lebih
    keras daripada Dean.
    "Aku bangga pada diriku sendiri karena aku tahu sedikit lebih banyak tentang
    penangkapan Hagrid daripada kau, Mr Weasley," kata Lockhart dengan nada
    puas diri.
    Ron sudah akan membantah, tetapi kalimatnya berhenti di tengah ketika
    Harry menendangnya keras-keras di bawah meja.
    "Kita tidak berada di sana, ingat?" gumam Harry.
    Tetapi keriangan Lockhart yang menjijikkan, komentar- komentarnya yang
    menunjukkan bahwa dari dulu dia berpendapat Hagrid tak ada gunanya,
    keyakinannya bahwa urusan penyerangan ini sekarang sudah beres,
    menjengkelkan Harry begitu rupa sehingga ingin sekali rasanya dia
    melemparkan buku Heboh dengan Hantu ke muka tolol Lockhart. Tetapi alih-
    alih begitu, dia berusaha puas dengan menulis pesan kepada Ron: "Yuk kita
    lakukan malam ini."
    Ron membaca pesan itu, menelan ludah dengan susah, dan menoleh ke
    sebelahnya, ke tempat kosong yang biasanya diduduki Hermione. Pemandangan
    ini kelihatannya menguatkan tekadnya, dan dia mengangguk.
    Ruang rekreasi Gryffindor selalu ramai hari-hari ini, karena setelah pukul
    enam sore, anak-anak Gryffindor tak bisa pergi ke tempat lain. Mereka juga
    punya banyak hal untuk dibicarakan, sehingga akibatnya ruang rekreasi sering
    belum kosong sampai lewat tengah malam.
    Harry mengambil Jubah Gaib dari dalam kopernya sehabis makan malam,
    dan melewatkan malam itu duduk di atasnya, menunggu ruangan kosong. Fred
    dan George menantang Harry dan Ron untuk bermain Jentikan Meletup dan
    Ginny menonton mereka, sangat lesu, di kursi yang biasa diduduki Hermione.
    Harry dan Ron berkali-kali kalah dengan sengaja, agar permainan cepat selesai.
    Meskipun demikian, sudah lewat tengah malam ketika Fred, George, dan Ginny
    akhirnya pergi tidur.
    Harry dan Ron menunggu bunyi dua pintu kamar yang tertutup di kejauhan,
    sebelum menyambar Jubah Gaib, menyelubungkannya ke tubuh mereka dan
    melompati lubang lukisan.
    Perjalanan di dalam kastil tak.kalah sulitnya, mereka harus menghindari
    para guru. Akhirnya mereka tiba di Aula Depan, menggeser selot gerendel di
    pintu depan, menyelinap keluar, berusaha tidak membual suara, dan
    melangkah ke lapangan rumput yang ditimpa cahaya bulan.
    "Tentu saja," kata Ron tiba-tiba, selagi mereka berjalan di atas rumput yang
    gelap, "bisa saja kita sampai di hutan dan ternyata tidak ada yang bisa diikuti.
    Para labah-labah itu siapa tahu tidak ke sana. Aku tahu kelihatannya mereka
    bergerak ke arah sana, tapi..."
    Suaranya mengabur penuh harap.
    Mereka tiba di pondok Hagrid, tampak suram dan menyedihkan dengan
    jendela-jendelanya yang gelap. Ketika Harry mendorong pintunya, Fang seperti



    --------------------------------------- 156

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    gila saking girangnya melihat mereka. Cemas Fang bisa membangunkan semua
    orang di kastil dengan gong-gongannya yang keras, mereka buru-buru
    memberinya gulali dari dalam kaleng di atas perapian, yang membuat gigi-gigi
    Fang saling menempel.
    Harry meninggalkan Jubah Gaib di atas meja Hagrid. Mereka tidak
    memerlukannya di dalam hutan yang gelap gulita.
    "Ayo, Fang, kita jalan-jalan," kata Harry, membelai kakinya, dan Fang
    melompat dengan riang gembira keluar rumah mengikuti mereka, berlari ke
    tepi hutan dan mengangkat satu kakinya di pohon sycamore besar.
    Harry mengeluarkan tongkatnya, menggumamkan,
    "humosl" dan cahaya kecil muncul di ujung tongkatnya, sekadar cukup bagi
    mereka untuk melihat jalan setapak mencari labah-labah.
    "Ide bagus," kata Ron. "Aku mau juga menyalakan tongkatku, tapi kau tahu,
    kanmalah akan meledak atau entah apa..."
    Harry mengetuk bahu Ron, menunjuk ke rerumputan. Dua ekor labah-labah
    berlari menjauh dari cahaya tongkat ke dalam kegelapan bayang-bayang
    pepohonan.
    "Oke/' Ron menghela napas, seakan menyerah pada nasib untuk menerima
    yang paling buruk. "Aku siap. Ayo, kita berangkat."
    Maka, dengan Fang berlarian di sekitar mereka, mengendus-endus akar
    pohon dan dedaunan, mereka memasuki hutan. Diterangi cahaya dari tongkat
    Harry, mereka mengikuti rombongan kecil labah-labah yang semakin
    bertambah, bergerak sepanjang jalan setapak. Mereka berjalan selama kira-
    kira dua puluh menit, tanpa bicara, memasang telinga tajam-tajam untuk
    mendengar bunyi lain selain dahan patah atau gemeresik dedaunan. Kemudian,
    ketika pepohonan sudah semakin rapat, sehingga bintang- bintang di langit tak
    lagi kelihatan, dan tongkat Harry bersinar sendiri dalam lautan kegelapan,
    mereka melihat labah-labah pemandu mereka meninggalkan jalan setapak.
    Harry berhenti, mencoba melihat ke mana labah-labah itu pergi, tetapi
    segala sesuatu di luar lingkaran cahaya kecilnya gelap gulita. Belum pernah dia
    masuk ke hutan sampai sejauh ini. Dia masih ingat jelas, Hagrid melarangnya
    meninggalkan jalan setapak ketika dia di sini beberapa waktu lalu. Tetapi
    Hagrid entah berapa kilometer jauhnya dari sini sekarang, mungkin duduk
    dalam sel di Azkaban, dan dia juga sudah berpesan untuk mengikuti labah-
    labah.
    Sesuatu yang basah menyentuh tangan Harry, dan dia melompat ke
    belakang, menginjak kaki Ron, tapi ternyata cuma hidung Fang.
    "Bagaimana menurutmu?" tanya Harry kepada Ron, yang cuma kelihatan
    matanya, yang memantulkan cahaya tongkatnya.
    "Kita sudah sampai sejauh ini," kata Ron.
    Maka mereka mengikuti kelebat bayang-bayang labah- labah menembus
    pepohonan. Mereka tak bisa bergerak cepat sekarang, ada akar-akar pohon dan
    tunggul menghalangi mereka, yang nyaris tak tampak dalam kegelapan. Harry
    bisa merasakan napas panas Fang di tangannya. Lebih dari sekali, mereka harus
    berhenti, supaya Harry bisa berjongkok dan menemukan labah-labah itu dengan
    cahaya tongkatnya.



    --------------------------------------- 157

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mereka berjalan selama paling tidak setengah jam, jubah mereka
    tersangkut-sangkut pada dahan-dahan yang rendah dan semak berduri. Setelah
    beberapa saat, mereka memperhatikan bahwa tanah kelihatannya melandai,
    meskipun pepohonan masih serapat sebelumnya.
    Kemudian mendadak Fang menggonggong keras, bergema, membuat Harry
    dan Ron melompat kaget sekali.
    "Apa?" kata Ron keras, memandang berkeliling dalam kegelapan yang pekat,
    memegangi siku Harry kuat-kuat.
    "Ada yang bergerak di sana," kata Harry tertahan.
    "Dengar... Kedengarannya sesuatu yang besar."
    Mereka mendengarkan. Agak jauh di sebelah kanan mereka, sesuatu yang
    besar itu mematahkan dahan-dahan ketika dia mencari jalan menerobos
    pepohonan.
    "Oh tidak," kata Ron. "Oh tidak, oh tidak, oh..." "Diam,"
    kata Harry cemas. "Dia akan mendengarmu."
    "Mendengari?" kata Ron dengan suara tinggi melengking yang tidak wajar.
    "Dia sudah dengar. Fang!"
    Kegelapan serasa menekan bola mata mereka ketika mereka berdiri
    ketakutan, menunggu. Terdengar gemuruh aneh, kemudian sunyi.
    "Sedang apa dia?" tanya Harry.
    "Mungkin bersiap-siap menyerang," kata Ron.
    Mereka menunggu, gemetar, nyaris tak berani bergerak.
    "Apa menurutmu dia sudah pergi?" bisik Harry "Entahlah..." Kemudian, di
    sebelah kanan mereka, mendadak muncul sinar terang benderang, begitu
    menyilaukan dalam gelap, sehingga mereka berdua mengangkat tangan untuk
    menutupi mata. Fang mendengking dan berusaha lari, tetapi tersangkut belukar
    berduri dan mendengking lebih keras lagi.
    "Harry!" Ron berteriak, suaranya lega sekali. "Harry, mobil kita!"
    "Apa?"
    "Ayo!"
    Harry gelagapan mengikuti Ron mendekati cahaya itu, terhuyung dan
    terantuk, dan sebentar kemudian mereka telah tiba di lapangan terbuka.
    Mobil Mr Weasley berdiri, kosong, di tengah lingkaran pepohonan yang rapat,
    di bawah atap dahan-dahan yang lebat, lampu depannya menyala terang.
    Ketika Ron dengan ternganga berjalan mendekatinya, mobil itu bergerak
    perlahan menyongsongnya, persis seperti anjing besar hijau toska yang
    menyambut tuannya.
    "Rupanya selama ini ada di sini!" kata Ron senang, berjalan mengelilingi
    mobil itu. "Lihat. Hutan telah membuatnya liar..." Kanan-kiri mobil itu tergores
    dan berlumur lumpur. Rupanya dia berkeliling hutan sendiri. Fang sama sekali
    tidak tertarik pada mobil itu. Dia berada dekat-dekat Harry, yang bisa
    merasakan anjing itu gemetar. Setelah napasnya mulai teratur, Harry
    memasukkan tongkatnya ke dalam jubahnya lagi.
    "Dan kita mengira dia akan menyerang kita!" kata Ron, bersandar pada mobil
    itu dan membelainya. "Selama ini aku bertanya-tanya sendiri ke mana perginya
    dia!"



    --------------------------------------- 158

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry menyipitkan mata, memandang berkeliling tanah yang terang untuk
    mencari-cari labah-labah, tetapi mereka semua sudah menyingkir dari silaunya
    cahaya lampu mobil.
    "Kita kehilangan jejak," katanya. "Ayo, kita cari mereka." Ron tidak
    menanggapi. Dia tidak bergerak. Matanya terpaku ke satu titik kira-kira tiga
    meter dari tanah, tepat di belakang Harry. Wajahnya pucat pasi, ngeri.
    Harry bahkan tak sempat menoleh. Terdengar bunyi klak- klik keras, dan
    mendadak dia merasa sesuatu yang panjang dan berbulu mencengkeram
    pinggangnya dan mengangkatnya dari tanah, terbalik, sehingga dia
    menggantung dengan kepala di bawah. Memberontak, ketakutan, dia
    mendengar bunyi klak-klik lagi dan melihat kaki Ron meninggalkan tanah juga,
    mendengar Fang merintih dan melolongsaat berikutnya Harry sudah diayun ke
    dalam pepohonan yang gelap.
    Dengan kepala di bawah, Harry melihat bahwa makhluk yang memeganginya
    berjalan dengan enam kaki yang sangat panjang dan berbulu. Dua kakinya yang
    paling depan, yang letaknya di bawah sepasang penjepit hitam berkilat,
    mencengkeramnya erat-erat. Di belakangnya, dia bisa mendengar satu lagi
    makhluk yang sama, tak diragukan lagi membawa Ron. Mereka bergerak ke
    jantung hutan. Harry bisa mendengar Fang berkutat melepaskan diri dari
    monster ketiga, mendengking keras, tetapi Harry tak bisa menjerit, kalaupun
    dia ingin. Rasanya dia sudah meninggalkan suaranya di mobil di lapangan
    terbuka tadi.
    Harry tak pernah tahu berapa lama dia berada dalam cengkeraman makhluk
    itu. Dia cuma tahu kegelapan mendadak cukup pudar sehingga dia bisa melihat
    tanah yang berselimut dedaunan sekarang dipenuhi labah-labah. Menoleh ke
    samping, dia menyadari bahwa mereka telah tiba di tepi tanah kosong yang
    membentuk semacam lubang besar. Tak ada pohon di situ, sehingga bintang-
    bintang bersinar menerangi pemandangan paling mengerikan yang pernah
    dilihatnya.
    Labah-labah. Bukan labah-labah kecil-kecil seperti yang muncul ke atas daun
    di tanah. Labah-labah sebesar kereta kuda, bermata delapan, berkaki delapan,
    hitam, berbulu, bertubuh raksasa. Labah-labah besar yang membawa Harry
    menuruni tanah yang melandai, menuju ke jaring berkabut berbentuk kubah
    yang berada persis di tengah lubang, sementara kawan-kawannya berkerumun
    mengelilinginya,
    mengatup-ngatupkan capit mereka dengan bergairah melihat tangkapannya.
    Harry jatuh ke tanah dalam posisi merangkak ketika si labah-labah
    melepaskannya. Ron dan Fang jatuh berdebam di sebelahnya. Fang tak lagi
    melolong, melainkan meringkuk diam di tempat. Ron kelihatan persis seperti
    yang dirasakan Harry. Mulutnya terpentang lebar dalam jeritan tanpa suara dan
    matanya terbeliak.
    Harry tiba-tiba sadar bahwa labah-labah yang menjatuhkannya mengatakan
    sesuatu. Susah ditangkap, karena dia mengatupkan capitnya bersamaan dengan
    setiap kata yang diucapkannya.
    "Aragog!" dia memanggil. "Aragog!"



    --------------------------------------- 159

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dan dari tengah jaring kubah berkabut, seekor labah-labah seukuran gajah
    kecil muncul, sangat perlahan. Ada warna biru di tengah hitamnya tubuh dan
    kakinya, dan pada kepalanya yang jelek bercapit, semua matanya putih seperti
    susu. Dia buta.
    "Ada apa?" dia berkata, mengatup-ngatupkan capitnya dengan cepat.
    "Manusia," jawab si labah-labah yang menangkap Harry.
    "Hagrid-kah?" tanya Aragog, bergerak mendekat, kedelapan matanya yang
    seputih susu bergerak-gerak ke segala arah,
    "Orang asing," kata labah-labah yang membawa Ron.
    "Bunuh mereka," perintah Aragog mengatupkan capit dengan jengkel. "Aku
    sedang tidur..."
    "Kami teman Hagrid," Harry berteriak. Jantungnya serasa meninggalkan
    dadanya dan berdenyut di tenggorokannya.
    Klik, klik, klik, bunyi capit para labah-labah di sekeliling lubang besar.
    "Hagrid belum pernah mengirim orang ke lubang kami,"
    katanya lambat-lambat.
    "Hagrid dalam kesulitan," kata Harry, bernapas cepat sekali. "Itulah sebabnya
    kami datang."
    "Kesulitan?" tanya si labah-labah tua, dan Harry merasa mendengar nada
    cemas dalam suaranya. "Tetapi kenapa dia mengirimmu?"
    Harry berpikir akan berdiri, tetapi membatalkannya. Dia menduga kakinya
    tak akan sanggup menopangnya. Jadi dia bicara dari tanah, setenang mungkin.
    "Mereka mengira, di sekolah, bahwa Hagrid telah melepasse-sesuatuuntuk
    menyerang anak-anak. Mereka membawanya ke Azkaban."
    Aragog mengatup-ngatupkan capitnya dengan murka dan di sekeliling lubang,
    bunyi itu dipantulkan oleh rombongan labah-labah yang ikut mengatupkan capit
    mereka. Semacam tepuk tangan, hanya saja tepuk tangan biasanya tidak
    membuat Harry ketakutan.
    "Tetapi itu sudah lama sekali," kata Aragog marah.
    "Bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat betul. Itulah sebabnya mereka
    menyuruhnya meninggalkan sekolah. Mereka yakin akulah monster yang tinggal
    di dalam apa yang mereka sebut Kamar Rahasia. Mereka mengira Hagrid telah
    membuka kamar itu dan me lepasku."
    "Dan kau... kau tidak berasal dari Kamar Rahasia?" tanya Harry, yang bisa
    merasakan dahinya bersimbah keringat dingin.
    "Aku!" kata Aragog, mengatupkan capitnya dengan gusar.
    "Aku tidak dilahirkan di kastil. Aku berasal dari negeri yang jauh. Seorang
    pengelana memberikan aku kepada Hagrid waktu aku masih berupa telur.
    Hagrid masih anak-anak, tetapi dia merawatku, menyembunyikan aku dalam
    lemari di kastil,
    memberi makan aku sisa-sisa makanan dari meja. Hagrid teman baikku, dan
    dia orang baik. Ketika aku ditemukan dan dituduh telah menyebabkan kematian
    seorang anak perempuan, dia melindungiku. Aku hidup di hutan ini sejak saat
    itu. Hagrid masih mengunjungiku. Dia bahkan mencarikan istri untukku, Mosag,
    dan kalian lihat bagaimana keluarga kami telah berkembang, semua berkat
    kebaikan Hagrid."



    --------------------------------------- 160

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry mengeluarkan sisa keberaniannya.
    "Jadi, kau tak pernahtak pernah menyerang siapa ...
    "Tak pernah," kata si labah-labah tua serak. "Sebetulnya itu naluriku, tetapi
    karena menghormati Hagrid, aku tak pernah melukai orang. Mayat anak
    perempuan yang dibunuh itu ditemukan di dalam toilet. Aku tak pernah melihat
    bagian lain kastil kecuali lemari tempat aku tumbuh. Bangsa kami menyukai
    kegelapan dan keheningan..."
    "Tetapi kalau begitu... Tahukah kau apa yang membunuh anak perempuan
    itu?" tanya Harry. "Karena entah apa pun dia, dia sudah muncul kembali dan
    menyerang orang-orang lagi..."
    Kata-katanya ditenggelamkan oleh suara klak-klik yang keras sekali dan
    keresekan banyak kaki panjang yang bergerak dengan marah. Sosok-sosok besar
    hitam bergerak- gerak di sekelilingnya.
    "Makhluk yang tinggal di kastil itu," kata Aragog, "adalah makhluk kuno yang
    sangat ditakuti oleh kami, labah-labah, lebih daripada makhluk-makhluk lain.
    Aku masih ingat betul, bagaimana aku memohon-mohon pada Hagrid untuk
    melepaskan aku, ketika aku merasa binatang itu berkeliaran di sekolah."
    "Binatang apa?" desak Harry.
    Lebih banyak klak-klik keras, lebih banyak keresekan, para labah-labah
    kelihatannya semakin mendekat, mengepung mereka.
    "Kami tidak bicara tentang itu!" kata Aragog galak. "Kami tidak menyebut
    namanya. Aku bahkan tidak memberitahu Hagrid nama makhluk mengerikan
    itu, meskipun dia menanyakannya padaku, berulang kali."
    Harry tidak ingin memaksakan soal itu, apalagi semua labah-labah menddkat
    dari segala jurusan. Aragog kelihatannya sudah lelah bicara. Dia perlahan
    berjalan mundur ke jaring kubahnya, tetapi teman-teman labah-labahnya terus
    merayap mendekati Harry dan Ron.
    "Kalau begitu kami pergi dulu," teriak Harry putus asa kepada Aragog,
    mendengar daun-daun ber-gemeresik di belakangnya.
    "Pergi?" kata Aragog lambat-lambat. "Kurasa tidak..."
    "Tapitapi..."
    "Anak-anakku tidak mencelakai Hagrid karena kularang. Tetapi aku tak bisa
    menghilangkan kesempatan mereka untuk mendapatkan daging segar, ketika
    daging itu datang sendiri dengan sukarela ke tengah-tengah kami. Selamat
    tinggal, teman Hagrid."
    Harry berbalik. Hanya satu meter lebih dari mereka, menjulang tinggi
    dinding kokoh labah-labah. Mereka mengatup-ngatupkan capit, mata mereka
    yang banyak berkilat-kilat di kepala hitam jelek mereka.
    Bahkan saat mencabut tongkatnya, Harry sadar tongkat itu tak ada gunanya.
    Ada terlalu banyak labah-labah. Tetapi ketika dia berusaha berdiri, siap mati
    dalam pertempuran, terdengar bunyi keras. Kilatan cahaya terang benderang
    menyinari lubang.
    Mobil Mr Weasley menerjang turun, lampu depannya menyala terang,
    klaksonnya menjerit-jerit, menabrak para labah-labah hingga menepi.
    Beberapa labah-labah terlempar dan mendarat terbalik, kaki mereka yang



    --------------------------------------- 161

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    banyak menendang- nendang ke udara. Mobil berdecit berhenti di depan Harry
    dan Ron, dan pintu-pintunya berdebam terbuka.
    "Ambil Fang!" jerit Harry, meluncur ke tempat duduk depan. Ron menyambar
    pinggang Fang, dan melemparnya. Fang mendengking, terlempar ke tempat
    duduk belakang. Pintu-pintu menutup keras. Ron tidak menyentuh gas, tetapi
    mobil itu tidak memerlukannya. Mesinnya menderu dan mereka melesat,
    menabrak lebih banyak lagi labah-labah. Mereka meluncur mendaki lereng,
    keluar dari lubang, dan segera saja menerobos hutan, dahan-dahan pepohonan
    melecut jendela-jendelanya ketika mobil itu dengan cerdik berzig-zag
    melewati celah-celah yang cukup lebar, mengikuti jalan setapak yang rupanya
    sudah dikenalnya.
    Harry mengerling Ron. Mulutnya masih terbuka dalam jerit tanpa suara,
    tetapi matanya tak lagi terbeliak. ,
    "Kau tak apa-apa?"
    Ron memandang lurus ke depan, tak bisa bicara.
    Mereka menerobos belukar, Fang melolong keras di tempat duduk belakang,
    dan Harry melihat kaca spion melipat menutup ketika mereka melewati pohon
    ek besar. Setelah sepuluh menit perjalanan yang bising dan penuh guncangan,
    pohon-pohon mulai jarang, dan Harry bisa melihat petak-petak langit lagi.
    Mobil berhenti begitu mendadak, sehingga mereka nyaris terlempar ke kaca
    depan. Mereka sudah tiba di tepi hutan. Fang melemparkan diri ke jendela
    saking cemasnya ingin segera keluar, dan ketika Harry membuka pintu dia
    melesat melewati pepohonan, kembali ke pondok Hagrid, ekornya di antara
    dua kaki belakangnya. Harry juga keluar dan setelah kira-kira satu menit, Ron
    kelihatannya sudah bisa merasakan kaki-_ nya, dan dia ikut keluar. Leher Ron
    masih kaku, dan dia masih terus memandang ke depan. Harry mengelus mobil
    dengan penuh terima kasih ketika mobil itu berbalik ke dalam hutan dan
    menghilang dari pandangan.
    Harry kembali ke pondok Hagrid untuk mengambil Jubah Gaib-nya. Fang
    gemetar di bawah selimut di dalam keranjangnya. Ketika Harry keluar lagi, Ron
    sedang muntah- muntah di kebun labu.
    "Ikuti labah-labah/' kata Ron lemas, menyeka mulutnya dengan lengan
    jubahnya. "Aku tak akan pernah memaafkan Hagrid. Kita beruntung masih
    hidup."
    "Pasti dia mengira Aragog tidak akan melukai teman- temannya," kata Harry.
    "Itulah masalah Hagrid!" kata Ron, memukul-mukul dinding pondok. "Dia
    selalu beranggapan monster tidak seburuk penampilannya, dan lihat saja
    akibatnya, sekarang dia di mana! Di sel di Azkaban!" Ron gemetar tak
    terkendali sekarang. "Apa gunanya mengirim kita ke hutan? Apa yang kita
    temukan, aku mau tahu?" *
    "Bahwa Hagrid tidak pernah membuka Kamar Rahasia," kata Harry,
    menyelubungkan Jubah Gaib ke tubuh Ron dan memapahnya agar dia bisa
    jalan. "Dia tak bersalah."
    Ron mendengus keras. Jelas, menurut pendapatnya, menetaskan Aragog di
    dalam lemari tidak termasuk kategori tak bersalah.



    --------------------------------------- 162

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ketika kastil sudah semakin dekat, Harry menarik jubahnya untuk
    memastikan kaki mereka tersembunyi, kemudian mendorong pintu depan yang
    berderit. Hati-hati mereka menyeberangi Aula Depan, menaiki tangga pualam,
    menahan napas ketika melewati koridor-koridor yang dipatroli penjaga-
    penjaga yang waspada. Akhirnya mereka tiba di ruang rekreasi Gryffindor yang
    aman. Api di perapian telah berubah menjadi abu berpendar. Mereka melepas
    jubah dan menaiki tangga melingkar menuju ke kamar.
    Ron menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa bersusah- susah berganti
    pakaian. Tetapi Harry tidak begitu mengantuk. Dia duduk di pinggir tempat
    tidurnya, berpikir keras tentang semua yang dikatakan Aragog.
    Makhluk yang bersembunyi di suatu tempat di kastil, pikirnya,
    kedengarannya sejenis monster Voldemortbahkan monster-monster lain tidak
    mau menyebut namanya. Tetapi dia dan Ron tidak lebih tahu makhluk apa itu,
    atau bagaimana dia membuat korban-korbannya Membatu. Bahkan Hagrid pun
    tidak tahu apa yang ada di dalam Kamar Rahasia.
    Harry melempar kakinya ke atas tempat tidur dan bersandar ke bantalnya,
    menatap bulan yang mengintipnya lewat jendela menara.
    Dia tak tahu apa lagi yang bisa mereka lakukan. Mereka telah terbentur jalan
    buntu di mana-mana. Riddle telah menangkap orang yang salah, pewaris
    Slytherin berhasil lolos, dan tak seorang pun tahu apakah orang yang sama,
    atau orang lain, yang telah membuka Kamar Rahasia kali ini. Tak ada lagi orang
    lain yang bisa ditanyai. Harry berbaring, masih memikirkan apa yang dikatakan
    Aragog.
    Dia sudah mulai mengantuk, ketika apa yang tampaknya merupakan harapan
    terakhir mereka terlintas di benaknya dan dia mendadak duduk tegak.
    "Ron," desisnya dalam gelap. "Ron!"
    Ron terbangun sambil mendengking seperti Fang, memandang liar ke
    sekelilingnya, dan menatap Harry.
    "Ronanak perempuan yang mati itu. Aragog bilang dia ditemukan di toilet,"
    kata Harry, mengabaikan dengkur Neville dari sudut. "Bagaimana kalau dia
    tidak pernah meninggalkan toilet? Bagaimana kalau dia masih di sana?"
    Ron menggosok matanya, mengernyit dalam cahaya bulan. Dan kemudian dia
    paham.
    "Maksudmu kan bukanoh, Myrtle Merana?"
    16. Kamar Rahasia
    SUDAH puluhan kali kita berada di dalam toilet itu, dan jaraknya cuma tiga
    bilik dari kita," kata Ron getir waktu sarapan keesokan harinya, "dan kita
    mestinya bisa menanyainya, dan sekarang..."



    --------------------------------------- 163

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mencari labah-labah sudah susah. Menghilang cukup lama dari pengawasan
    guru supaya bisa masuk ke toilet anak perempuan, toilet anak perempuan yang
    letaknya persis di sebelah tempat serangan pertama terjadi, akan nyaris tak
    mungkin.
    Tetapi sesuatu terjadi dalam jam pelajaran pertama mereka, Transfigurasi,
    yang membuat Kamar Rahasia terlupakan untuk pertama kalinya dalam
    beberapa minggu terakhir ini. Sepuluh menit setelah pelajaran dimulai,
    Profesor McGonagall memberitahu mereka ujian akan dimulai pada tanggal satu
    Juni, seminggu lagi.
    "Ujian?" lolong Seamus Finnigan. "Kami masih akan ujian?" Terdengar ledakan
    keras di belakang Harry ketika tongkat Neville Longbottom tergelincir,
    melenyapkan salah satu kaki mejanya. Profesor McGonagall mengembalikan
    keadaan meja itu dengan lambaian tongkatnya sendiri, lalu berpaling,
    mengernyit, kepada Seamus.
    "Tujuan utama sekolah ini tetap dibuka pada saat seperti ini adalah agar
    kalian bisa menerima pendidikan," katanya tegas. "Ujian, karena itu, akan
    berlangsung seperti biasa, dan aku percaya kalian semua sudah belajar dengan
    tekun."
    Belajar dengan tekun! Tak pernah terpikir oleh Harry akan ada ujian pada
    saat suasana kastil seperti ini. Terdengar banyak gumam memberontak di
    seluruh ruangan, yang membuat Profesor McGonagall mengernyit semakin
    galak.
    "Instruksi Profesor Dumbledore adalah menjaga agar sekolah berlangsung
    senormal mungkin," katanya. "Dan itu, tak perlu kutunjukkan, berarti mencari
    tahu berapa banyak yang sudah kalian pelajari tahun ini."
    Harry menunduk memandang sepasang kelinci putih yang seharusnya diubah
    menjadi sandal. Apa yang sudah dipelajarinya tahun ini? Rasanya dia tak bisa
    memikirkan sesuatu yang bisa berguna dalam ujian.
    Tampang Ron seolah dia baru saja diberitahu dirinya harus tinggal seumur
    hidup di Hutan Terlarang. "Bisakah kaubayangkan aku ujian dengan ini?" dia
    bertanya kepada Harry, mengangkat tongkatnya, yang baru saja mulai bersuit
    keras.
    Tiga hari sebelum ujian hari pertama, Profesor McGonagall menyampaikan
    pengumuman lain sewaktu sarapan.
    "Ada berita baik," katanya, dan Aula Besar, alih-alih menjadi sunyi, malah
    meledak ribut sekali.
    "Dumbledore akan kembali!" beberapa anak berteriak senang.
    "Pewaris Slytherin sudah berhasil ditangkap!" pekik seorang anak perempuan
    di meja Ravenclaw.
    "Pertandingan Quidditch akan diadakan lagi!" teriak Wood penuh semangat.
    Ketika hiruk-pikuk sudah reda, Profesor McGonagall berkata, "Profesor
    Sprout telah memberitahuku bahwa Mandrake-mandrake sudah siap dipotong,
    akhirnya. Malam ini, kita akan bisa menghidupkan kembali anak-anak yang
    sudah dibuat Membatu. Tak perlu kuingatkan kepada kalian bahwa salah satu
    dari mereka mungkin bisa memberitahu kita siapa, atau apa, yang menyerang



    --------------------------------------- 164

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    mereka. Aku berharap tahun mengerikan ini akan berakhir dengan kita
    menangkap si pelaku."
    Anak-anak bersorak riuh-rendah. Harry memandang ke meja Slytherin dan
    sama sekali tidak heran melihat Draco Malfoy tidak ikut bersorak. Tetapi Ron
    kelihatan lebih riang daripada beberapa hari belakangan ini.
    "Kalau begitu, kita tak perlu lagi meria nyai MyrlM" katanya kepada Harry.
    "Hermione mungkin punya semua jawabannya kalau mereka
    membangunkannya! Hati-hati saja, dia akan sewot sekali kalau tahu tiga hari
    lagi kita ujian. Dia belum belajar. Mungkin baginya lebih baik jika dia dibiarkan
    Membatu sampai ujian selesai."
    Saat itu Ginny Weasley datang dan duduk di sebelah Ron. Dia kelihatan
    tegang dan gugup, dan Harry memperhatikan tangannya saling remas di atas
    pangkuannya.
    "Ada apa?" tanya Ron, mengambil bubur lagi.
    Ginny tidak mengatakan apa-apa, tetapi memandang ke sekeliling meja
    Gryffindor. Wajahnya menampakkan ketakutan yang mengingatkan Harry akan
    seseorang, meskipun dia tak bisa ingat siapa.
    "Bilang saja," kata Ron, memandang adiknya.
    Harry mendadak sadar Ginny seperti siapa. Dia mengayun- ayun ke depan
    dan ke belakang sedikit di kursinya, persis seperti Dobby ketika akan
    menyampaikan informasi terlarang.
    "Aku harus memberitahu kalian sesuatu," Ginny komat- kamit, berhati-hati
    agar tidak memandang Harry.
    "Apa itu?" tanya Harry.
    Ginny kelihatan seakan tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. "Apa?"-
    tanya Ron.
    Ginny membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar. Harry
    mencondongkan tubuh ke depan dan berkata pelan, sehingga hanya Ginny dan
    Ron yang bisa mendengarnya.
    "Apakah sesuatu tentang Kamar Rahasia? Apakah kau melihat sesuatu? Orang
    yang bersikap aneh?"
    Ginny menarik napas dalam-dalam dan tepat saat itu, Percy Weasley
    muncul, kelihatan lelah dan pucat.
    "Kalau kau sudah selesai sarapan, aku akan duduk di situ, Ginny. Aku lapar
    sekali. Aku baru saja bebas tugas patroli."
    Ginny melompat seakan kursinya disetrum listrik, sekilas melempar pandang
    ketakutan kepada Percy, lalu lari pergi. Percy duduk dan menyambar cangkir
    dari tengah meja.
    "Percy!" tegur Ron marah. "Dia baru saja mau memberitahu kami sesuatu
    yang penting!"
    Baru setengah jalan meneguk tehnya, Percy tersedak.
    "Soal apa?" tanyanya, batuk-batuk.
    "Aku bertanya kalau-kalau dia melihat sesuatu yang aneh, dan dia baru akan
    berkata..."
    "Ohituitu tak ada hubungannya dengan Kamar Rahasia," kata Percy
    segera.



    --------------------------------------- 165

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Bagaimana kau tahu?" tanya Ron, alisnya terangkat.
    "Yah, eh, kalau kau mau tahu, Ginny, eh, berpapasan denganku kemarin dulu
    waktu akuyah, tak usah kukatakan deh. Yang jelas, dia melihatku melakukan
    sesuatu dan aku, um, aku memintanya agar tidak menceritakannya kepada
    orang lain. Kukira dia akan menepati janjinya. Bukan apa-apa sebetulnya,
    hanya saja aku lebih suka..."
    Belum pernah Harry melihat Percy salah tingkah seperti itu.
    "Apa yang kaulakukan, Percy?" tanya Ron, nyengir. "Ayo, beritahu kami, kami
    tidak akan tertawa."
    Percy tidak ikut tersenyum.
    "Tolong ambilkan roti kadet, Harry. Aku lapar sekali."
    Harry tahu seluruh misteri mungkin bisa dipecahkan besok tanpa bantuan
    mereka, tetapi dia tak akan melewatkan kesempatan berbicara dengan Myrtle
    dan betapa senangnya dia ketika ternyata kesempatan itu datang, menjelang
    tengah hari, ketika mereka sedang diantar ke kelas Sejarah Sihir oleh Gilderoy
    Lockhart.
    Lockhart yang sudah sering meyakinkan mereka bahwa semua bahaya telah
    lewat, tapi ternyata dia keliru, sekarang yakin sepenuhnya bahwa tak ada
    gunanya mengantar mereka melewati koridor-koridor. Rambutnya tidak selicin
    biasanya. Rupanya dia berjaga hampir semalaman, berpatroli di lantai empat.
    "Catat kata-kataku," katanya, mengantar mereka membelok di sudut, "kata-
    kata pertama yang akan keluar dari mulut anak-anak yang Membatu itu
    pastilah, 'Hagrid-lah pelakunya.' Terus terang saja, aku heran Profesor
    McGonagall menganggap semua tindakan pengamanan ini perlu."
    "Saya setuju, Sir," kata Harry, membuat Ron menjatuhkan buku-bukunya
    saking kagetnya.
    "Terima kasih, Harry," kata Lockhart anggun, sementara mereka menunggu
    deretan panjang anak-anak Hufflepuff lewat. "Maksudku, kami para guru sudah
    punya cukup banyak tugas. Dan sekarang kami masih harus mengantar murid-
    murid dari kelas ke kelas, dan berjaga sepanjang malam..."
    "Betul," kata Ron, yang sudah paham. "Kenapa Anda tidak meninggalkan kami
    di sini saja, Sir, kan cuma tinggal lewat satu koridor lagi."
    "Kau tahu, Weasley, kurasa sebaiknya begitu," kata Lockhart. "Aku benar-
    benar harus pergi dan menyiapkan pelajaran untuk kelasku yang berikut."
    Dan Lockhart bergegas pergi.
    "Menyiapkan pelajaran," Ron mencemooh di belakangnya.
    "Paling-paling pergi untuk menggulung rambutnya."
    Mereka membiarkan anak-anak Gryffindor lain ber-jalan mendahului mereka,
    lalu menyelinap ke lorong samping dan bergegas ke toilet Myrtle Merana.
    Tetapi ketika mereka sedang saling memberi selamat untuk rencana brilian
    mereka...
    "Potter! Weasley! Sedang apa kalian?"
    Profesor McGonagall-lah yang menegur mereka, dan bibirnya membentuk
    garis yang supertipis.
    "Kami maukami mau...," Ron tergagap, "kami mau pergi melihat..."



    --------------------------------------- 166

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Hermione," sambung Harry. Baik Ron maupun Profesor McGonagall
    menatapnya.
    "Kami sudah lama tidak melihatnya, Profesor," Harry melanjutkan buru-buru,
    menginjak kaki Ron, "dan kami pikir kami akan menyelinap ke rumah sakit, dan
    memberitahu dia Mandrake-nya sudah hampir siap dan, eh, supaya dia tak usah
    cemas."
    Profesor McGonagall masih menatapnya, dan sejenak Harry mengira dia akan
    meledak marah, tetapi ketika dia berbicara, suaranya parau aneh.
    "Tentu saja," katanya, dan Harry, terheran-heran, melihat air mata
    berkilauan menggenangi matanya yang menyerupai manik-manik. "Tentu saja,
    aku sadar semua ini paling berat untuk teman-teman mereka yang sudah... aku
    mengerti. Ya, Potter, tentu saja kalian boleh menengok Miss Granger. Aku akan
    memberi tahu Profesor Binns ke mana kalian pergi. Katakan kepada Madam
    Pomfrey aku sudah memberikan izinku."
    Harry dan Ron pergi, nyaris tak mempercayai bahwa mereka lolos dari
    detensi. Ketika berbelok di sudut, sayup- sayup mereka mendengar Profesor
    McGonagall membuang ingus.
    "Itu," kata Ron sungguh-sungguh, "adalah cerita paling bagus yang pernah
    kaubuat."
    Mereka tak punya pilihan sekarang selain pergi ke rumah sakit, dan
    memberitahu Madam Pomfrey bahwa mereka sudah mendapat izin Profesor
    McGonagall untuk menengok Hermione.
    Madam Pomfrey mengizinkan mereka masuk, tetapi dengan enggan.
    "Tak ada gunanya bicara dengan orang yang Membatu," katanya, dan mereka
    harus mengakui dia benar, ketika mereka sudah duduk di sebelah tempat tidur
    Hermione. Jelas Hermione sama sekali tidak sadar dia kedatangan tamu, dan
    memberitahunya agar jangan cemas sama saja dengan bicara pada lemari di
    sebelah tempat tidurnya.
    "Kira-kira dia melihat penyerangnya tidak, ya?" kata Ron, memandang sedih
    wajah Hermione yang kaku. "Karena kalau dia mengendap-endap dari belakang
    mereka, tak seorang pun akan tahu..."
    Tetapi Harry tidak memandang wajah Hermione. Dia lebih tertarik pada
    tangannya. Tangan itu terkepal, tergeletak di atas selimutnya, dan ketika
    membungkuk mendekat, Harry melihat secarik kertas teremas dalam
    genggamannya.
    Setelah yakin Madam Pomfrey tak ada di dekat-dekat situ, dia menunjukkan
    kertas itu kepada Ron.
    "Coba keluarkan," bisik Ron, menggeser kursinya supaya Harry terhalang dari
    pandangan Madam Pomfrey.
    Bukan pekerjaan gampang. Tangan Hermione mencengkeram kertas itu erat
    sekali, sehingga Harry yakin kertas itu akan robek. Sementara Ron berjaga, dia
    menarik dan memilin, dan akhirnya, setelah sepuluh menit yang tegang,
    kertasnya lepas.
    Ternyata itu halaman yang dirobek dari buku perpustakaan yang sudah
    sangat tua. Harry meratakannya dengan bergairah dan Ron membungkuk lebih
    dekat untuk ikut membacanya.



    --------------------------------------- 167

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dari banyak binatang dan monster menyeramkan yang menjelajahi negeri
    kita, tak ada yang lebih menakjubkan ataupun lebih mematikan daripada
    Basilisk, yang juga dikenal sebagai Raja Ular. Ular ini, yang bisa mencapai
    ukuran raksasa, dan hidup sampai ratusan tahun, ditetaskan dari telur ayam,
    yang dierami oleh katak. Cara Basilisk membunuh sangat luar biasa, karena
    selam taringnya yang mematikan dan berbisa, Basilisk mempunyai pandangan
    maut, dan semua yang terkena sorot matanya akan langsung mati. Labah-labah
    melarikan diri dari Basilisk, karena Basilisk adalah musuhnya yang paling ganas,
    dan Basilisk sendiri hanya menghindari kokok ayam jantan, yang bisa berakibat
    fatal untuknya.
    Dan di bawahnya tertulis satu kata, dalam tulisan tangan yang dikenali Harry
    sebagai tulisan Hermione. Pipa.
    Harry merasa seakan ada orang yang menyalakan lampu dalam otaknya.
    "Ron," katanya menahan napas, "ini dia. Ini jawabannya. Monster di dalam
    Kamar Rahasia itu Basiliskular raksasa! Itulah sebabnya aku selama ini
    mendengar suara itu di mana- mana sementara tak ada satu orang lain pun
    yang mendengarnya. Itu karena aku mengerti Parseltongue..."
    Harry memandang tempat-tempat tidur di sekitarnya.
    "Basilisk membunuh orang dengan cara memandangnya. Tetapi tak seorang
    pun meninggalkarena tak seorang pun langsung menatap matanya. Colin
    melihatnya lewat kameranya. Si Basilisk membakar seluruh filmnya, tetapi
    Colin hanya Membatu. Justin... Justin pastilah melihat Basilisk itu menembus
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus! Nick yang menerima sorot matanya sepenuhnya,
    tetapi dia tidak bisa mati lagi... dan Hermione dan Prefek Ravenclaw itu
    ditemukan dengan sebuah cermin di sebelah mereka. Hermione baru saja
    menyadari monsternya adalah Basilisk. Aku berani taruhan apa saja, dia
    memperingatkan orang pertama yang dijumpainya agar melihat-lihat semua
    sudut dengan cermin dulu! Dan gadis itu mengeluarkan cerminnyadan..."
    Mulut Ron ternganga.
    "Dan Mrs Norris?" tanyanya tak sabar.
    Harry berpikir keras, membayangkan pemandangan pada malam Hallowe'en.
    "Air...," katanya lambat-lambat, "air yang meluap dari toilet Myrtle Merana.
    Mrs Norris pastilah cuma melihat - bayangannya..."
    Harry membaca lagi kertas di tangannya dengan bersemangat. Semakin
    dibaca, tulisan itu semakin masuk akal.
    "Kokok ayam jantan bisa berakibat fatal untuknya!" dia membaca keras-
    keras. "Ayam-ayam jantan Hagrid dibunuhi! Si pewaris Slytherin tidak
    menginginkan ada ayam jantan di sekitar kastil begitu Kamar Rahasia sudah
    dibuka! Labah-labah melarikan diri darinya! Semuanya cocok!"
    "Tetapi bagaimana caranya si Basilisk berkeliaran di kastil?" tanya Ron. "Ular
    besar menakutkan... Pasti ada yang melihat..."
    Harry menunjuk kata yang telah ditulis Hermione di bagian bawah halaman
    itu.
    "Pipa," katanya. "Pipa... Ron, ular itu menggunakan pipa air. Aku selama ini
    mendengar suara-suara itu di dalam dinding..."
    Ron mendadak mencengkeram lengan Harry.



    --------------------------------------- 168

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Jalan masuk ke Kamar Rahasia!" katanya serak.
    "Bagaimana kalau jalan masuknya toilet? Bagaimana kalau jalan masuknya
    dalam..."
    "...toilet Myrtle Merana," kata Harry.
    Mereka dipenuhi ketegangan, nyaris tak percaya.
    "Ini berarti," kata Harry, "aku bukan satu-satunya Parselmouth di sekolah.
    Pewaris Slytherin juga. Begitulah cara mereka mengontrol si Basilisk."
    "Apa yang akan kita lakukan?" kata Ron, yang matanya berkilat-kilat. "Kita
    langsung ke McGonagall?"
    "Kita ke ruang guru saja," kata Harry, melompat bangun.
    "Dia akan ke sana sepuluh menit lagi, sudah hampir istirahat." Mereka berlari
    turun. Tak ingin ditemukan berlama-lama di koridor yang lain, mereka langsung
    ke ruang guru yang kosong. Ruang itu besar, berdinding papan, penuh dengan
    kursi-kursi kayu gelap. Harry dan Ron berjalan mondar- mandir, terlalu tegang
    untuk duduk.
    Tetapi bel istirahat tak pernah berdering.
    Sebagai gantinya, menggema di seluruh koridor, terdengar suara McGonagall,
    dikeraskan secara sihir.
    "Semua murid diminta kembali ke asrama masing-masing. Semua guru
    diminta kembali ke ruang guru. Segera."
    Harry berpaling, memandang Ron. "Bukan karena ada serangan lagi, kan?
    Tidak seka-rang?
    "Apa yang akan kita lakukan?" kata Ron, ketakutan. Kembali ke asrama?"
    "Tidak," kata Harry, memandang berkeliling. Ada lemari pakaian jelek di
    sebelah kirinya, penuh berisi mantel-mantel para guru. "Di dalam sini. Kita
    dengar ada apa. Kemudian kita bisa memberitahu mereka apa yang telah kita
    ketahui."
    Mereka bersembunyi di dalam lemari, mendengar gemuruh ratusan orang
    bergerak di lantai atas, dan pintu ruang guru berdebam terbuka. Dari antara
    lipatan-lipatan mantel yang berbau lembap, mereka melihat guru-guru
    memasuki ruangan. Beberapa di antara mereka tampak bingung, yang lain
    sangat ketakutan. Kemudian Profesor McGonagall tiba.
    "Sudah terjadi," katanya kepada ruang guru yang sunyi.
    "Ada anak yang dibawa oleh si monster. Ke dalam Kamar Rahasia."
    Profesor Flitwick memekik. Profesor Sprout menekap mulutnya. Snape
    mencengkeram punggung kursi erat-erat, dan bertanya, "Bagaimana kau bisa
    yakin?"
    "Pewaris Slytherin," kata Profesor McGonagall, yang pucat pasi,
    "meninggalkan pesan lain. Tepat di bawah pesan pertama. Kerangkanya akan
    tergeletak di Kamar Rahasia selamanya."
    Air mata Profesor Flitwick bercucuran.
    "Siapa?" tanya Madam Hooch, yang karena lututnya lemas, sudah terenyak ke
    kursi. "Murid yang mana?"
    "Ginny Weasley," kata Profesor McGonagall.
    Harry merasakan Ron merosot tanpa suara ke dasar lemari.



    --------------------------------------- 169

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kita terpaksa harus memulangkan semua murid besok pagi," kata Profesor
    McGonagall.. "Habislah riwayat Hogwarts. Dumbledore selalu berkata..."
    Pintu ruang guru terbuka lagi. Sesaat, Harry yakin Dumbledore yang datang.
    Tetapi ternyata Lockhart, dan wajahnya berseri-seri.
    "Maaf, maafketiduranaku sudah ketinggalan apa nih?" Tampaknya dia
    tidak menyadari bahwa guru-guru yang lain memandangnya dengan tatapan
    yang mirip sekali kebencian.
    Snape melangkah maju.
    "Orang yang tepat," katanya. "Orang yang sangat tepat. Ada anak perempuan
    yang baru saja ditangkap monster, Lockhart. Dibawa ke Kamar Rahasia, lagi.
    Saatmu telah tiba akhirnya."
    Lockhart memucat.
    "Betul, Gilderoy," Profesor Sprout ikut bicara. "Bukankah kau baru bilang
    semalam bahwa kau sudah lama tahu di mana jalan masuk ke Kamar Rahasia?"
    "Akuyah, aku..., " ujar Lockhart gelagapan.
    "Ya, bukankah kau bilang padaku kau yakin kau tahu apa yang ada dalam
    kamar itu?" ujar Profesor Flitwick.
    "M-masa? Aku tidak ingat..."
    "Aku jelas ingat betul kau bilang kau menyesal tidak menangani si monster
    sebelum Hagrid ditangkap," kata Snape. "Bukankah kau bilang semua kejadian
    ini ditangani dengan ceroboh dan bahwa kau seharusnya diberi kebebasan
    penuh dari awal?"
    Lockhart memandang bergantian kolega-koleganya yang berwajah membatu.
    "Aku... aku benar-benar belum pernah... Kalian mungkin salah paham..."
    "Kami menyerahkannya kepadamu, kalau begitu, Gilderoy," kata Profesor
    McGonagall. "Malam ini waktu yang ideal sekali untuk bertindak. Kami akan
    memastikan semua orang tidak mengganggumu. Kau akan bisa menangani si
    monster sendirian. Kebebasan penuh akhirnya kaudapatkan."
    Lockhart memandang putus asa ke sekeliling ruangan, tetapi tak seorang pun
    menolongnya. Dia sama sekali tak kelihatan tampan lagi. Bibirnya gemetar, dan
    dengan absennya senyum pamer-giginya yang biasa, dagunya kelihatan lemah
    dan ditumbuhi jenggot serabutan.
    "B-baiklah," katanya. "A-akuaku akan ke kantorku, b- bersiap-siap."
    Dan dia meninggalkan ruangan.
    "Baik," kata Profesor McGonagall, yang lubang hidungnya mekar, "kita bebas
    dari gangguannya. Kepala-kepala asrama harus memberitahu murid-murid
    mereka apa yang telah terjadi. Sampaikan kepada mereka Hogwarts Express
    akan membawa mereka pulang besok pagi-pagi. Guru-guru yang lain, tolong cek
    dan pastikan tak ada anak yang masih tertinggal di luar asrama mereka."
    Para guru bangkit, dan keluar satu demi satu.
    Hari itu mungkin hari terburuk dalam kehidupan Harry. Dia, Ron, Fred, dan
    George duduk bersama di sudut di ruang rekreasi Gryffindor, tak sanggup
    berkata apa-apa. Percy tidak ada di sana. Dia pergi mengirim burung hantu
    kepada Mr dan Mrs Weasley, kemudian mengurung diri di kamarnya.



    --------------------------------------- 170

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Belum pernah sore hari berjalan selambat itu, juga belum pernah Menara
    Gryffindor sepenuh itu, tetapi begitu sunyi. Menjelang terbenamnya matahari,
    Fred dan George pergi tidur, tak sanggup lagi terus duduk di sana.
    "Ginny tahu sesuatu, Harry," kata Ron, bicara untuk pertama kalinya sejak
    mereka memasuki lemari pakaian di ruang guru. "Itulah sebabnya dia
    ditangkap. Sama sekali bukan soal sepele tentang Percy. Dia tahu sesuatu
    tentang Kamar Rahasia. Itulah sebabnya dia di...," Ron mengusap matanya
    dengan kalut. "Maksudku, dia berdarah-murni. Tak mungkin ada alasan lain." ,
    Harry bisa melihat matahari yang sedang terbenam, merah darah, di bawah
    batas cakrawala. Belum pernah dia merasa sesedih dan seputus asa ini. Kalau
    saja ada sesuatu* yang bisa dilakukannya. Apa saja.
    "Harry," kata Ron, "menurutmu apakah ada sedikit saja kemungkinan dia
    belumkau tahu..."
    Harry tak tahu harus mengatakan apa. Dia tak bisa membayangkan
    kemungkinan Ginny masih hidup.
    "Tahu tidak?" kata Ron. "Kurasa kita harus menemui Lockhart. Beritahu dia
    apa yang kita ketahui. Dia akan mencoba memasuki Kamar Rahasia. Kita bisa
    memberitahu dia di mana kamar itu menurut dugaan kita, dan memberitahu
    dia Basilisk-lah yang ada di dalamnya."
    Karena Harry tak bisa memikirkan hal lain yang bisa dilakukan, dan karena
    dia ingin melakukan sesuatu, dia setuju.
    Anak-anak Gryffindor di sekeliling mereka begitu sedih dan kasihan kepada
    Weasley bersaudara, sehingga tak seorang pun dari mereka berusaha mencegah
    ketika mereka bangkit, menyeberangi ruangan, dan keluar lewat lubang
    lukisan.
    Kegelapan sedang turun ketika mereka berjalan menuju kantor Lockhart.
    Kedengarannya sedang banyak kesibukan berlangsung di dalam. Mereka bisa
    mendengar bunyi bergeser, gedebak-gedebuk, dan langkah-langkah kaki
    bergegas.
    Harry mengetuk pintu dan mendadak di dalam sunyi. Kemudian pintu terkuak
    sedikit sekali dan mereka melihat sebelah mata Lockhart mengintip.
    "Oh... Mr Potter... Mr Weasley... katanya, menguak pintu sedikit lebih
    lebar. "Aku sedang agak sibuk, kalau kalian bisa cepat..."
    "Profesor, kami punya informasi untuk Anda," kata Harry.
    "Kami rasa ini akan membantu Anda."
    "Ehyahini tidak terlalu...," Sisi wajah Lockhart yang tampak oleh mereka
    kelihatan sangat salah tingkah.
    "Maksudkuyahbaiklah."
    Dia membuka pintu dan mereka masuk.
    Kantornya sudah hampir kosong. Dua koper besar terbuka di lantai. Jubah-
    jubahhijau-kumala, ungu, biru tuadilipat buru-buru dan ditumpuk dalam
    salah satu koper. Buku-buku campur aduk berantakan di koper satunya. Foto-
    foto yang sebelumnya memenuhi dinding kini dijejalkan dalam kardus di atas
    meja. "Anda mau pergi?" tanya Harry.



    --------------------------------------- 171

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Eh, yah, ya," kata Lockhart sambil menarik lepas poster dirinya yang sebesar
    badannya dari balik pintu, dan mulai menggulungnya. "Panggilan penting... tak
    bisa dihindari... harus pergi..."
    "Bagaimana dengan adik saya?" tanya Ron tegun.
    "Yah, soal itusayang sekali," kata Lockhart, menghindari tatapan mereka
    ketika dia menarik laci dan mulai memindahkan isinya ke dalam tas. "Tak ada
    yang lebih menyesal dariku..."
    "Anda guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam!" kata Harry.
    "Anda tak bisa pergi sekarang! Tidak sementara Ilmu Hitam sedang
    berlangsung seru di sini!"
    "Yah, aku harus bilang... waktu aku menerima pekerjaan ini...," Lockhart
    bergumam, sekarang menumpuk kaus kaki di atas jubah-jubahnya, "tak disebut-
    sebut di rincian tugasku... tak kukira..."
    "Maksud Anda, Anda melarikan diril" tanya Harry tak percaya. "Setelah semua
    yang Anda tulis dalam buku Anda?"
    "Buku bisa menyesatkan!" kata Lockhart mengelak.
    "Anda yang menulis semua buku itu!" teriak Harry.
    "Nak," kata Lockhart, menegakkan diri dan mengernyit kepada Harry.
    "Gunakan akal sehatmu. Buku-bukuku tidak akan selaris itu kalau orang tidak
    beranggapan aku telah mengalami peristiwa-peristiwa itu. Tak ada yang mau
    membaca tentang penyihir pria buruk dan tua dari Armenia, meskipun dia
    memang menyelamatkan sebuah desa dari ancaman manusia serigala. Tampang
    jeleknya tidak akan menarik dipajang di sampul depan. Cara berpakaiannya
    sama sekali tak berselera. Dan penyihir wanita yang mengusir Banshee Bandon
    berbibir sumbing. Maksudku, mana menarik sih..."
    "Jadi Anda yang menerima pujian untuk begitu banyak hal yang dilakukan
    orang-orang lain?" kata Harry tak percaya.
    "Harry, Harry," kata Lockhart, menggelengkan kepala tak sabar, "tidak
    sesederhana itu. Perlu kerja keras. Aku harus melacak orang-orang ini.
    Menanyai mereka, bagaimana tepatnya mereka berhasil melakukan apa yang
    mereka lakukan. Kemudian aku harus memantrai mereka dengan Jampi
    Memori, supaya mereka tak ingat lagi pernah melakukan itu. Kalau ada satu hal
    yang kubanggakan, Jampi Memori-ku itulah. Tidak gampang, Harry, perlu
    banyak kerja keras. Tidak sekadar menandatangani buku dan ber-foto untuk
    publisitas, tahu. Kalau ingin terkenal, kau harus siap kerja keras lama."
    Dia menutup keras kedua kopernya dan menguncinya.
    "Coba kulihat," katanya. "Kurasa sudah semuanya. Ya. Hanya tinggal satu
    hal."
    Dia menarik keluar tongkatnya dan berbalik menghadapi mereka.
    "Maaf sekali, anak-anak, tetapi aku harus memantrai kalian dengan Jampi
    Memori sekarang. Tak bisa kubiarkan kalian menyebarkan rahasiaku ke mana-
    mana. Nanti aku tak bisa jual buku lagi..."
    Harry mencabut tongkatnya tepat waktu. Lockhart baru mengangkat
    tongkatnya, ketika Harry berseru, "Expelliarmusl" Lockhart terpental ke
    belakang, jatuh di atas kopernya. Tongkatnya terbang tinggi ke udara. Ron
    menangkapnya dan melemparnya ke luar jendela.



    --------------------------------------- 172

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Mestinya Profesor Snape jangan diizinkan mengajari kami mantra itu/7 kata
    Harry berang, menendang koper Lockhart ke pinggir. Lockhart memandangnya,
    sekali lagi lemas. Harry masih mengacungkan tongkatnya kepadanya.
    "Apa yang kalian inginkan?" tanya Lockhart lemah. "Aku tak tahu di mana
    Kamar Rahasia itu. Tak ada yang bisa kulakukan."
    "Anda beruntung," kata Harry, memaksa Lockhart berdiri dengan todongan
    tongkat. "Kami rasa kami tahu di mana kamar itu. Dan apa yang ada di
    dalamnya. Ayo berangkat."
    Mereka menggiring Lockhart keluar dari kantornya dan turun melewati
    tangga terdekat, menyusuri koridor gelap yang di dindingnya terpampang
    pesan-pesan berkilat, menuju pintu toilet Myrtle Merana.
    Mereka menyuruh Lockhart masuk lebih dulu. Harry senang melihatnya
    gemetar.
    Myrtle Merana sedang duduk di tangki air di bilik paling ujung.
    "Oh, kau," katanya ketika melihat Harry. "Kau mau apa kali ini?"
    "Mau tanya padamu bagaimana kau meninggal," kata Harry.
    Seluruh penampilan Myrtle langsung berubah. Seakan dia amat tersanjung
    ditanyai seperti itu.
    "Ooooh> sungguh mengerikan," katanya senang.
    "Terjadinya di sini ini. Aku meninggal dalam bilik ini. Aku masih ingat benar.
    Aku sedang bersembunyi karena Olive Hornby mengolok-olok kacamataku.
    Pintunya terkunci dan aku sedang menangis. Dan kemudian kudengar ada yang
    masuk. Dia mengatakan sesuatu yang aneh. Bahasa lain, kupikir begitu. Tetapi
    yang membuatku kaget, yang bicara anak laki- laki. Jadi kubuka pintu, untuk
    menyuruhnya pergi dan menggunakan toiletnya sendiri, dan kemudian...'7
    Myrtle seakan menggelembung penting, wajahnya bercahaya, "aku mati."
    "Bagaimana?" tanya Harry.
    "Entahlah," kata Myrtle dengan suara rendah. "Aku cuma ingat melihat
    sepasang mata kuning besar. Seluruh tubuhku mendadak macet dan tiba-tiba
    saja aku sudah melayang- layang..." Dia memandang Harry dengan pandangan
    menerawang. "Dan kemudian aku kembali ke sini. Soalnya aku bertekad akan
    menghantui Olive Hornby. Oh, dia menyesal sekali menertawakan kacamataku."
    "Di mana tepatnya kau melihat mata itu?" tanya Harry.
    "Di sekitar situ," kata Myrtle, menunjuk ke arah wastafel di depan biliknya.
    Harry dan Ron bergegas ke wastafel itu. Lockhart berdiri jauh-jauh dari
    mereka, wajahnya diliputi kengerian.
    Kelihatannya seperti wastafel biasa. Mereka memeriksanya senti demi senti,
    luar-dalam, termasuk pipa di bawahnya. Dan kemudian Harry melihatnya: ada
    gambar ular kecil mungil digoreskan pada sisi salah satu keran tembaga.
    "Keran itu tak pernah bisa dipakai," kata Myrtle ceria/
    ketika Harry berusaha memutarnya.
    "Harry," kata Ron, "katakan sesuatu. Dalam Parseltongue."
    "Tapi...' Harry berpikir keras. Dia baru dua kali bicara Parseltongue, dan saat
    itu dia berhadapan dengan ular yang sebenarnya. Dia berkonsentrasi menatap
    ukiran kecil mungil itu, berusaha membayangkan itu ular yang sebenarnya.
    "Buka," katanya.



    --------------------------------------- 173

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dia memandang Ron, yang menggeleng.
    "Bukan Parseltongue," katanya.
    Dia kembali menatap ular itu, memaksa dirinya mempercayai ular itu hidup.
    Jika Harry menggerakkan kepalanya, cahaya lilin membuat ular itu seakan
    bergerak.
    "Buka," katanya.
    Hanya saja bukan kata itu yang didengarnya. Desis aneh meluncur dari
    mulutnya dan segera saja keran itu berkilau- kilau mengeluarkan cahaya putih
    menyilaukan dan mulai berputar. Detik berikutnya, wastafelnya mulai
    bergerak. Malah wastafel itu menghilang, meninggalkan pipa besar yang
    menganga terbuka, cukup besar bagi orang dewasa untuk meluncur ke
    dalamnya.
    Harry mendengar Ron terpekik tertahan dan dia mendongak lagi. Harry sudah
    membulatkan tekad.
    "Aku akan turun ke sana," katanya.
    Dia tak bisa tidak pergi, tidak sekarang setelah mereka menemukan jalan
    masuk ke Kamar Rahasia. Tidak ketika ada kemungkinan, bahkan yang paling
    kecil, paling samar, paling liar sekalipun, bahwa Ginny masih hidup.
    "Aku juga," kata Ron. Hening sejenak.
    "Yah, kelihatannya kalian tidak memerlukan aku' kata Lockhart, senyumnya
    yang biasa membayang. "Aku akan..." Tangannya menjangkau pegangan pintu,
    tetapi baik Ron maupun Harry mengacungkan tongkat mereka ke arahnya.
    "Anda boleh masuk duluan," gertak Ron.
    Dengan wajah pucat dan tanpa tongkat, Lockhart mendekati lubang.
    "Anak-anak," katanya, suaranya lemah, "anak-anak, apa gunanya?"
    Harry menyodok punggung Lockhart dengan tongkatnya. Lockhart
    memasukkan kaki ke dalam lubang.
    "Kurasa tidak...," dia baru mau berkata, tetapi Ron mendorongnya, dan dia
    meluncur lenyap dari pandangan. Harry segera mengikuti. Dia turun ke dalam
    pipa, kemudian melepas pegangannya.
    Rasanya seperti meluncur di luncuran gelap, licin, tak berujung. Dia bisa
    melihat pipa-pipa yang bercabang ke segala arah, tetapi tak satu pun yang
    sebesar pipa yang diluncurinya. Pipa itu berbelit dan berbelok, melandai curam
    ke bawah, dan Harry tahu dia sedang terjatuh ke bawah sekolah jauh lebih
    dalam dari ruang bawah tanah. Di belakangnya, dia bisa mendengar Ron,
    berdebum pelan di belokan-belokan.
    Dan kemudian, tepat ketika Harry mulai mencemaskan apa yang akan terjadi
    kalau dia menghantam tanah, pipanya menjadi datar dan dia meluncur dari
    ujungnya. Dengan bunyi gedebuk basah ia mendarat di lantai lembap
    terowongan batu gelap. Terowongan itu cukup besar untuk berdiri di dalamnya.
    Lockhart berdiri agak jauh di depannya, berlumur lendir dan sepucat hantu.
    Harry minggir ketika Ron berdesing turun dari dalam pipa itu.
    "Pasti kita berkilo-kilo meter di bawah sekolah," kata Harry, suaranya
    bergaung di terowongan gelap itu.
    "Di bawah danau, mungkin," kata Ron, menyipitkan mata, memandang ke
    dinding gelap berlendir.



    --------------------------------------- 174

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ketiganya berbalik untuk memandang kegelapan di depan mereka.
    "Lumos!" gumam Harry kepada tongkatnya, dan tongkat itu menyala lagi.
    "Ayo," dia mengajak Ron dan Lockhart, dan mereka pun berangkat, langkah-
    langkah mereka berkecipak keras di lantai yang basah.
    Terowongan itu amat gelap, sehingga mereka hanya bisa melihat jarak
    sangat pendek di depan mereka. Bayang-bayang mereka di tembok yang basah
    tampak mengerikan dalam cahaya tongkat.
    "Ingat," Harry berkata pelan, ketika mereka berjalan maju hati-hati, "begitu
    ada gerakan, langsung tutup mata rapat- rapat...."
    Tetapi lorong itu sesunyi kuburan, dan bunyi mengejutkan yang pertama kali
    mereka dengar adalah derak keras ketika Ron menginjak sesuatu yang ternyata
    tengkorak tikus. Harry merendahkan tongkatnya untuk memeriksa lantai dan
    melihat lantai itu dipenuhi tulang binatang-binatang kecil. Berusaha keras tidak
    membayangkan bagaimana keadaan Ginny jika mereka menemukannya, Harry
    memimpin, menikung di belokan gelap di terowongan itu.
    "Harry, ada sesuatu di depan sana... kata Ron serak, mencengkeram bahu
    Harry.
    Mereka terpaku, memandang. Harry cuma bisa melihat garis sesuatu yang
    sangat besar dan melengkung, tergeletak tepat di depan terowongan. Benda itu
    tidak bergerak.
    "Mungkin dia tidur," Harry mendesah, menoleh kepada dua rekannya. Tangan
    Lockhart menutupi matanya rapat-rapat. Harry berpaling kembali untuk
    memandang benda itu, jantungnya berdegup begitu kencang sampai sakit
    rasanya.
    Sangat perlahan, matanya menyipit serapat mungkin asal masih bisa melihat,
    Harry mengendap-endap maju, tongkatnya terangkat tinggi.
    Cahaya tongkat menimpa kulit ular raksasa, hijau terang, beracun,
    tergeletak melingkar dalam keadaan kosong di lantai di depan terowongan.
    Makhluk yang melepas kulit itu paling sedikit panjangnya enam meter.
    "Astaga!" kata Ron lemas.
    Mendadak ada gerakan di belakang mereka. Lutut Gilderoy Lockhart tak kuat
    lagi menyangganya.
    "Bangun," kata Ron tajam, mengacungkan tongkatnya ke arah Lockhart.
    Lockhart bangkitkemudian dia menerjang Ron, membuatnya jatuh
    terjengkang.
    Harry melompat maju, tetapi terlambat. Lockhart sudah menegakkan diri,
    tongkat Ron di tangannya dan senyum gigi- berkilau kembali terpampang di
    wajahnya.
    "Petualangan berakhir di sini, anak-anak!" katanya.
    "Aku akan membawa sepotong kulit ini ke sekolah, memberitahu mereka aku
    sudah tertambal menye tamatkan anak perempuan itu, dan kalian berdua
    secara tragis menjadi gila melihat tubuh anak perempuan yang tercabik-cabik
    itu. Ucapkan selamat tinggal pada ingatan kalian."
    Dia mengangkat tongkat Ron yang ber-Spellotape tinggi di atas kepalanya
    dan berteriak, "Obliviatel"



    --------------------------------------- 175

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tongkat meledak dengan kekuatan bom kecil. Harry melindungi kepala
    dengan kedua lengannya dan berlari, tergelincir gulungan kulit ular,
    menghindar dari potongan- potongan besar langit-langit terowongan yang
    bergemuruh runtuh. Saat berikutnya, dia berdiri sendirian, menatap dinding
    kokoh karang yang rusak.
    "Ron!" dia berteriak. "Kau tak apa-apa? Ron!"
    "Aku di sini!" terdengar suara samar Ron dari balik dinding runtuhan karang.
    "Aku baik-baik saja. Tapi si sinting ini tidak dia kena ledakan tongkat."
    Terdengar bunyi "duk" dan jeritan keras "ow!" Kedengarannya Ron baru saja
    menendang tulang kering Lockhart.
    "Bagaimana sekarang?" suara Ron terdengar putus asa.
    "Kita tidak bisa menembusnya. Perlu waktu lama sekali..." Harry mendongak
    memandang langit-langit terowongan.
    Retakan-retakan besar telah bermunculan. Dia belum pernah mencoba
    memecahkan sesuatu sebesar karang-karang ini dengan sihir, dan sekarang
    tampaknya bukan saat yang baik untuk mencobanya bagaimana kalau seluruh
    terowongan malah runtuh?
    Terdengar lagi bunyi "duk" dan "ow!" dari balik dinding karang. Mereka
    membuang-buang waktu. Ginny sudah berjam-jam berada di Kamar Rahasia.
    Harry tahu hanya ada satu hal yang bisa dilakukan.
    "Tunggu di situ' teriaknya kepada Ron. "Jaga Lockhart. Aku akan jalan terus.
    Kalau aku tidak kembali dalam waktu satu jam..."
    Kesunyian yang menyusul begitu sarat arti.
    "Akan kucoba menggeser beberapa karang ini/' kata Ron, yang
    kedengarannya berusaha memantapkan suaranya.
    "Supaya kau bisabisa lewat nanti. Dan, Harry..."
    "Sampai nanti," kata Harry, berusaha menyuntikkan rasa percaya diri ke
    dalam suaranya yang bergetar.
    Dan dia berjalan maju sendirian, melewati kulit ular raksasa.
    Segera saja bunyi samar-samar Ron yang berusaha keras menggeser karang
    tak kedengaran lagi. Terowongan itu berbelok dan menikung berkali-kali.
    Seluruh saraf di tubuh Harry menggelenyar tak nyaman. Dia ingin terowongan
    berakhir, tetapi takut apa yang akan ditemukannya. Dan kemudian, akhirnya,
    ketika dia merayap membelok di tikungan berikutnya, dia melihat dinding
    kokoh di depannya. Di dinding itu terpahat dua ekor ular yang saling berbelit,
    mata mereka dari zamrud besar berkilau.
    Harry mendekat, kerongkongannya terasa sangat kering. Tak perlu
    membayangkan ular batu ini hidup, karena mata mereka, aneh sekali, sudah
    tampak hidup.
    Harry bisa menebak apa yang harus dilakukannya. Dia berdeham, dan mata
    zamrud itu kelihatannya berkedip.
    "Buka," kata Harry, dalam desisan rendah.
    Kedua ular itu memisahkan diri. Ketika dinding membelah terbuka, masing-
    masing bagian menggeser licin lalu lenyap, dan Harry, gemetar dari kepala
    sampai ke kaki, berjalan masuk.



    --------------------------------------- 176

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    17. Pewaris Slytherin
    HARRY berdiri di ujung kamar sangat panjang berpenerangan remang-
    remang. Pilar-pilar batu berbelit dengan lebih banyak ular pahatan menjulang
    tinggi, menyangga langit-langit yang lenyap dalam kegelapan, memantulkan
    bayang-bayang gelap panjang menembus cahaya suram kehijauan yang
    memenuhi tempat itu.
    Dengan jantung berdegup sangat keras, Harry berdiri mendengarkan
    keheningan yang menusuk. Mungkinkah si Basilisk bersembunyi di sudut
    remang-remang, di balik pilar? Dan di manakah Ginny?
    Dia mengeluarkan tongkatnya dan bergerak maju di antara pilar-pilar ular.
    Setiap langkah hati-hatinya dipantulkan menjadi gema keras oleh dinding-
    dinding yang suram. Matanya dijaganya agar tetap menyipit, siap dipejamkan
    kalau ada gerakan sekecil apa pun. Lubang-lubang mata ular batu yang kosong
    rasanya mengikutinya. Lebih dari sekali, dengan hati mencelos, Harry mengira
    salah satu di antaranya bergerak.
    Kemudian, ketika dia berhadapan dengan pasangan pilar terakhir, tampak
    patung setinggi kamar itu menjulang, tegak berlatarkan dinding belakang.
    Harry harus menjulurkan leher untuk mendongak ke wajah raksasa di atas.
    Kesannya antik dan seperti monyet, dengan jenggot panjang tipis yang terjulur
    hampir sampai ke ujung jubah batunya. Di bawah jubah itu dua kaki abu-abu
    yang luar biasa besar berdiri kokoh di lantai kamar yang licin. Dan di antara dua
    kaki itu, terbaring menelungkup sosok kecil berjubah hitam dengan rambut
    merah manyala.
    "Ginny!" Harry bergumam, melompat mendekatinya dan berlutut. "Ginny!
    Jangan mati! Jangan mati dong!" Dilemparnya tongkatnya ke pinggir, diraihnya
    bahu Ginny dan dibaliknya tubuhnya. Wajahnya seputih pualam, dan sama
    dinginnya. Tetapi matanya terpejam, jadi dia tidak Membatu. Tetapi, kalau
    begitu, tentunya dia...
    "Ginny, bangunlah," Harry bergumam putus asa, mengguncang-guncangnya.
    Kepala Ginny terkulai lunglai dari kanan ke kiri.
    "Dia tak akan bangun," terdengar suara pelan. Harry terlonjak kaget dan
    berputar pada lututnya.
    Seorang anak laki-laki jangkung berambut hitam sedang bersandar ke pilar
    yang paling dekat, mengawasi. Tepi-tepi tubuhnya mengabur aneh, seakan
    Harry memandangnya lewat jendela berkabut. Namun jelas sekali siapa dia.
    "TomTom Riddle?"
    Riddle mengangguk, tanpa melepas pandangannya dari wajah Harry.
    "Apa maksudmu, dia tak akan bangun?" kata Harry putus asa. "Dia tidakdia
    tidak.,.?"



    --------------------------------------- 177

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Dia masih hidup," kata Riddle. "Tapi hanya sekadarnya."
    Harry terpaku memandang anak laki-laki itu. Tom Riddle bersekolah di
    Hogwarts lima puluh tahun lalu, tetapi sekarang dia berdiri di situ, cahaya
    berkabut bersinar di sekelilingnya, tak sehari pun lebih tua dari usianya waktu
    itu, yakni enam belas tahun.
    "Apakah kau hantu?" tanya Harry ragu-ragu.
    "Memori," kata Riddle pelan. "Diawetkan dalam buku harian selama lima
    puluh tahun."
    Riddle menunjuk ke lantai dekat jari-jari kaki raksasa si patung. Di situ
    menggeletak terbuka buku harian kecil hitam yang ditemukan Harry di toilet
    Myrtle Merana. Sejenak dia heran, bagaimana buku itu bisa sampai di situ
    tetapi ada hal- hal lebih mendesak yang harus ditangani.
    "Kau harus membantuku, Tom," kata Harry, mengangkat kepala Ginny lagi.
    "Kita harus keluar dari sini. Ada Basilisk... aku tak tahu dia ada di mana, tetapi
    dia bisa datang setiap saat. Tolonglah aku..."
    Riddle tidak bergerak. Harry, bersimbah keringat, berhasil setengah
    mengangkat Ginny dari lantai, dan membungkuk untuk memungut tongkatnya
    lagi.
    Tetapi tongkatnya sudah tak ada.
    "Apakah kau melihat...?"
    Dia menengadah. Riddle masih mengawasinya memilin tongkat Harry
    dengan jari-jarinya.
    "Terima kasih/7 kata Harry, mengulurkan tangan meminta tongkatnya.
    Senyum merekah di sudut-sudut bibir Riddle. Dia terus menatap Harry
    dengan santai memilin-milin tongkatnya.
    ''Dengar/' kata Harry mendesak, lututnya merosot terbebani berat Ginny,
    "kita harus pergi! Kalau Basilisk datang..."
    "Dia tidak akan datang kalau tidak dipanggil," kata Riddle tenang.
    Harry menurunkan kembali Ginny ke lantai, tak kuat lagi menggendongnya.
    "Apa maksudmu?" katanya. "Sini, kembalikan tongkatku, siapa tahu aku nanti
    memerlukannya."
    Senyum Riddle melebar.
    "Kau tidak akan memerlukannya," katanya. Harry memandangnya heran.
    "Apa maksudmu, aku tidak akan...?"
    "Aku sudah lama sekali menunggu kesempatan ini, Harry Potter," kata
    Riddle. "Menunggu kesempatan melihatmu. Bicara denganmu."
    "Dengar," kata Harry, kehabisan kesabaran, "kurasa kau tidak paham. Kita
    berada di Kamar Rahasia. Kita bisa bicara nanti."
    "Kita akan bicara sekarang," kata Riddle, masih tersenyum lebar, dan
    mengantongi tongkat Harry.
    Harry terbelalak menatapnya. Ada hal sangat ganjil terjadi di sini.
    "Bagaimana Ginny bisa jadi seperti ini?" tanyanya lambat- lambat.
    "Nah, itu baru pertanyaan menarik," kata Riddle ramah.
    "Dan ceritanya panjang. Kurasa alasan sebenarnya Ginny Weasley seperti ini
    adalah karena dia membuka hatinya dan menumpahkan semua rahasianya
    kepada orang asing yang tidak kelihatan."



    --------------------------------------- 178

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apa yang kaubicarakan?" tanya Harry.
    "Buku harian," kata Riddle. "Buku harian/cw. Si kecil Ginny sudah berbulan-
    bulan menulis dalam buku itu, mencurahkan kepadaku segala kecemasan dan
    ketakutannya: bagaimana kakak-kakaknya menggodanya, bagaimana dia masuk
    ke sekolah ini dengan jubah dan buku bekas. Dan betapa...," mata Riddle
    berkilat-kilat, "...menurut perasaannya si Harry Potter yang terkenal, hebat,
    dan baik hati itu tidak akan pernah menyukainya..."
    Selama berbicara, mata Riddle tidak pernah meninggalkan wajah Harry. Di
    dalam matanya tampak rasa lapar.
    '"Membosankan sekali harus mendengarkan masalah- masalah konyol anak
    perempuan sebelas tahun," dia meneruskan. "Tetapi aku sabar. Aku membalas
    tulisannya. Aku penuh simpati, aku baik hati. Ginny jadi sangat menyayangiku.
    Tak seorang pun pernah mengerti aku seperti kau, Tom... Aku senang sekali
    mendapat buku harian ini untuk curhat... Rasanya seperti punya teman yang
    bisa kubawa- bawa di sakuku..."
    Riddle tertawa, melengking, dingin, tawa yang tidak cocok untuknya.
    Tawanya membuat bulu kuduk Harry berdiri.
    "Walaupun aku sendiri yang bilang, Harry, aku selalu bisa memikat orang-
    orang yang kuperlukan.
    Jadi Ginny mencurahkan jiwanya kepadaku, dan kebetulan memang
    jiwanyalah yang kuinginkan. Aku semakin lama menjadi semakin kuat dengan
    melahap ketakutannya yang paling dalam, rahasianya yang paling gelap. Aku
    menjadi berkuasa, jauh lebih berkuasa daripada Miss Weasley kecil. Cukup
    berkuasa untuk mulai «memberi makan Miss Weasley dengan beberapa rahasiai,
    mulai menuangkan sedikit jiwaku ke dalam dirinya..."
    "Apa maksudmu?" kata Harry, yang mulutnya sudah menjadi amat kering.
    "Apakah kau belum menebaknya, Harry Potter?" kata Riddle pelan. "Ginny
    Weasley membuka Kamar Rahasia. Dia mencekik ayam-ayam jantan sekolah
    dan menulis pesan- pesan ancaman di dinding. Dia melepas Ular Slytherin
    kepada empat anak Darah-lumpur, dan kucing si Squib."
    "Tidak," bisik Harry.
    "Ya," kata Riddle kalem. "Tentu saja, awalnya dia tidak tahu apa yang
    dilakukannya. Menggelikan sekali. Sayang kau tidak bisa melihat tulisan-tulisan
    baru di buku hariannya... Jauh lebih menarik daripada sebelumnya... Dear
    Tom" dia menirukan, mengawasi wajah Harry yang ngeri, "kurasa aku
    kehilangan ingatanku. Ada bulu-bulu ayam jantan menempel di jubah-jubahku
    dan aku tak tahu bagaimana bulu-bulu itu bisa ada di situ. Dear Tom, aku tak
    bisa ingat apa yang kulakukan pada malam Hallowe'en, tetapi ada kucing yang
    diserang, dan bagian depan jubahku kena cipratan cat. Dear Tom, Percy
    berkali-kali berkata aku pucat dan tidak seperti biasanya. Kurasa dia
    mencurigaiku... Hari ini ada serangan lagi dan aku tidak tahu di mana aku saat
    itu. Tom, apa yang harus kulakukan? Kurasa aku akan jadi gila... Kurasa akulah
    yang menyerang orang-orang itu, Tom!"
    Tangan Harry mengepal, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak
    tangannya. -



    --------------------------------------- 179

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Butuh waktu lama sekali bagi si kecil Ginny yang bodoh untuk berhenti
    mempercayai buku hariannya/' kata Riddle.
    "Tetapi akhirnya dia menjadi curiga dan mencoba membuangnya. Dan saat
    itulah kau masuk, Harry. Kau menemukan buku harian itu, dan aku tak bisa
    lebih senang lagi. Dari begitu banyak orang yang bisa memungut buku harian
    itu, kaulah orangnya, orang yang paling ingin kutemui..."
    "Dan kenapa kau ingin menemuiku?" kata Harry. Kemarahan menjalari
    seluruh tubuhnya dan perlu usaha keras untuk membuat suaranya mantap.
    "Yah, begini, Ginny menceritakan padaku segalanya tentangmu, Harry," kata
    Riddle. "Seluruh sejarahmu yang menakjubkan." Matanya menatap bekas luka di
    dahi Harry, dan ekspresinya menjadi semakin lapar. "Aku sadar aku harus tahu
    lebih banyak tentangmu, bertemu kau kalau bisa. Maka aku memutuskan untuk
    menunjukkan padamu prestasiku yang terkenal, penangkapan Hagrid si tolol
    berbadan besar, untuk mendapatkan kepercayaanmu."
    "Hagrid temanku," kata Harry, suaranya sekarang bergetar.
    "Dan kau menjebaknya, kan? Kukira kau membuat kekeliruan, tetapi..."
    Riddle memperdengarkan lagi tawanya yang melengking.
    "Persoalannya adalah memilih mempercayai katakataku atau kata-kata
    Hagrid, Harry. Nah, bisa kaubayangkan, bagaimana tampaknya kejadian itu
    bagi si tua Armando Dippet. Di satu pihak, Tom Riddle, anak miskin tetapi
    cemerlang, yatim-piatu tetapi begitu pemberani, Prefek sekolah, pelajar
    teladan; di pihak lain Hagrid yang canggung bertubuh besar, setiap dua minggu
    sekali bikin onar, mencoba membesarkan anak serigala di bawah tempat
    tidurnya, menyelinap ke dalam Hutan Terlarang untuk bergulat dengan troll.
    Tetapi kuakui, bahkan aku sendiri heran betapa mulusnya rencanaku berjalan.
    Kukira pasti ada orang yang menyadari bahwa Hagrid tak mungkin pewaris
    Slytherin. Aku perlu waktu lima tahun penuh untuk mengetahui segala sesuatu
    tentang Kamar Rahasia dan menemukan jalan masuknya... mana mungkin
    Hagrid punya otak untuk itu, atau untuk kekuasaan!
    "Hanya guru Transfigurasi, Dumbledore", yang tampaknya beranggapan
    Hagrid tidak bersalah. Dia membujuk Dippet untuk mempertahankan Hagrid
    dan melatihnya menjadi pengawas binatang liar. Ya, kurasa Dumbledore
    mungkin sudah menebak. Dumbledore tak pernah menyukaiku, tidak seperti
    guru-guru lainnya..."
    "Pasti Dumbledore tahu betul orang seperti apa kau," kata Harry, giginya
    mengertak.
    "Yah, dia memang mengawasiku dengan ketat sekali setelah Hagrid
    dikeluarkan, sungguh menjengkelkan," kata Riddle seenaknya. "Aku tahu tak
    akan aman membuka Kamar Rahasia lagi selama aku masih di sekolah. Tetapi
    aku tak mau menyia-nyiakan tahuntahun panjang yang telah kuhabiskan untuk
    mencari keterangan tentangnya. Kuputuskan untuk meninggalkan buku harian,
    mengawetkan diriku yang berusia enam belas tahun di dalam halaman-
    halamannya, sehingga pada suatu hari nanti, kalau mujur, aku akan bisa
    membimbing orang lain mengikuti langkahku dan menyelesaikan pekerjaan
    mulia Slytherin."



    --------------------------------------- 180

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kau belum menyelesaikannya," kata Harry penuh kemenangan. "Tak ada
    yang meninggal kali ini, bahkan si kucing pun tidak. Beberapa jam lagi Cairan
    Mandrake akan siap dan semua yang Membatu akan sembuh lagi."
    "Bukankah sudah kukatakan kepadamu," kata Riddle tenang, "bahwa
    membunuh Darah-lumpur tak berarti lagi bagiku? Sudah beberapa bulan ini,
    target baruku adalah kau."
    Harry terbeliak menatapnya.
    "Bayangkan betapa jengkelnya aku ketika kali berikutnya buku harianku
    dibuka, Ginny-lah yang menulis kepadaku, bukan kau. Rupanya dia melihatmu
    membawa buku harian itu, dan dia panik. Bagaimana kalau kau sampai tahu
    cara kerjanya, dan aku membocorkan semua rahasianya kepadamu? Bagaimana
    kalau, lebih buruk lagi, kuberitahu kau siapa yang mencekiki ayam-ayam jantan
    itu? Jadi, anak bodoh itu menunggu sampai kamarmu kosong dan mencurinya.
    Tetapi aku tahu apa yang harus kulakukan. Jelas bagiku kau sedang mengikuti
    jejak pewaris Slytherin. Dari semua yang telah diceritakan Ginny kepadaku, aku
    tahu kau bersedia melakukan apa saja untuk memecahkan misteri iniapalagi
    kalau salah sal u korbannya adalah sahabatmu. Dan Ginny memberitahuku
    bahwa seluruh sekolah geger karena kau bisa bicara Parseltongue...
    "Jadi kusuruh Ginny menulis pesan terakhirnya di dinding dan kubawa ke
    bawah sini untuk menunggu. Dia memberontak dan menangis dan menjadi
    sangat membosankan. Tetapi tak banyak lagi kehidupan di dalam dirinya. Dia
    sudah menuangkan terlalu banyak ke dalam buku harian, ke dalam diriku.
    Cukup untuk membuatku meninggalkan halaman-halaman buku harian itu
    akhirnya. Aku sudah menunggu kemunculanmu sejak kami tiba di sini. Aku tahu
    kau akan datang. Aku punya banyak pertanyaan untukmu, Harry Potter."
    "Apa misalnya?" sembur Harry, tangannya tetap terkepal.
    "Yah," kata Riddle, tersenyum menyenangkan, "bagaimana bayi tanpa bakat
    sihir istimewa bisa berhasil mengalahkan penyihir terhebat sepanjang zaman?
    Bagaimana kau bisa selamat hanya dengan bekas luka, sementara kekuatan
    Lord Voldemort hancur?"
    Ada kilat merah aneh di mata Riddle yang kelaparan.
    "Apa pedulimu bagaimana aku bisa selamat?" kata Harry lambat-lambat.
    "Voldemort muncul sesudah zamanmu."
    "Voldemort," kata Riddle pelan, "adalah masa lalu, masa kini, dan masa
    depanku, Harry Potter..."
    Dia menarik keluar tongkat Harry dari dalam sakunya dan mulai
    mencoretkannya di udara, menulis tiga kata yang berpendar-pendar:
    TOM MARVOLLO RIDDLE Kemudian dilambaikannya tongkat itu sekali, dan
    huruf- huruf namanya berubah susunan:
    I AM LORD VOLDEMORT Aku Lord Voldemort "Kaulihat?" bisik Riddle. "Itu
    nama yang sudah kupakai waktu aku di Hogwarts, yang hanya kuberitahukan
    kepada teman-temanku yang paling akrab, tentu. Kaupikir aku akan
    menggunakan nama Muggle ayahku yang kotor selamanya? Di dalam tubuhku
    mengalir darah Salazar Slytherin sendiri, dari pihak ibuku. Kaupikir aku mau
    mempertahankan nama Muggle biasa yang jahat, yang meninggalkanku bahkan
    sebelum aku lahir hanya karena dia tahu istrinya penyihir? Tidak, Harry,



    --------------------------------------- 181

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    kuciptakan nama baru untukku, nama yang aku tahu semua penyihir di mana
    pun suatu hari nanti tak akan berani menyebutnya, kalau aku sudah menjadi
    penyihir paling hebat di dunia!"
    Otak Harry kelihatannya macet. Dia menatap tercengang pada Riddle, si
    anak yatim-piatu yang setelah dewasa membunuh orangtua Harry, dan begitu
    banyak orang lain... Akhirnya dia memaksa diri bicara.
    "Kau bukan," katanya, suaranya yang tenang penuh kebencian.
    "Bukan apa?" bentak Riddle.
    "Bukan penyihir paling hebat di dunia," kata Harry, bernapas cepat. "Maaf
    mengecewakanmu, tetapi penyihir paling hebat di dunia adalah Albus
    Dumbledore. Semua bilang begitu. Bahkan ketika kau masih kuat, kau tidak
    berani mencoba mengambil alih Hogwarts. Dumbledore tahu betul orang
    seperti apa kau sewaktu kau masih di sekolah, dan dia masih membuatmu takut
    sekarang, di mana pun kau bersembunyi hari-hari ini."
    Senyum telah lenyap dari wajah Riddle, digantikan oleh tampang yang
    sangat jelek.
    "Dumbledore telah terusir dari kastil ini hanya karena kenangan akan diriku!"
    dia mendesis.
    "Dia tidak sepenuhnya pergi seperti yang kaukira!" balas Harry. Dia ngomong
    asal saja, ingin menakut-nakuti Riddle.
    Dia sendiri berharap apa yang dikatakannya benar-benar terjadi.
    Riddle membuka mulut, tetapi lalu terpaku.
    Terdengar suara musik entah dari mana. Riddle berpaling untuk memandang
    kamar yang kosong. Musik terdengar semakin keras, menimbulkan perasaan
    ngeri, seram, tak wajar. Musik itu membuat rambut di kepala Harry berdiri dan
    menyebabkan hatinya membengkak dua kali lipat besarnya. Kemudian, ketika
    musik itu mencapai ketinggian tertentu sehingga Harry bisa merasakannya
    bergetar di dalam tulang- tulang rusuknya, tiba-tiba berkobar nyala api di
    puncak salah satu pilar.
    Seekor burung merah sebesar angsa muncul, menyerukan musiknya yang
    aneh ke langit-langit yang berbentuk kubah. Burung itu memiliki ekor keemasan
    bercahaya di ekornya yang sepanjang ekor burung merak. Dan cakarnya yang
    keemasan berkilat-kilat, mencengkeram gumpalan kain kumal.
    Sedetik kemudian, burung itu terbang lurus ke arah Harry. Dia menjatuhkan
    kain kumal dalam cengkeramannya ke kaki Harry, kemudian mendarat di
    bahunya. Ketika dia melipat sayapnya yang besar, Harry mendongak dan
    melihat paruhnya yang panjang, tajam keemasan, dan matanya yang seperti
    manik-manik.
    Burung itu berhenti bernyanyi. Dia berdiri diam dan hangat di sisi pipi Harry,
    menatap tajam Riddle.
    "Itu phoenix..." kata Riddle, balas memandangnya dengan galak.
    "Fawkes?" desah Harry, dan dia merasa cakar keemasan si burung meremas
    bahunya dengan lembut.
    "Dan itu...," kata Riddle, sekarang mengawasi kain kumal yang dijatuhkan
    Fawkes, "itu Topi Seleksi tua milik sekolah."



    --------------------------------------- 182

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Memang betul. Bertambal, berjumbai, dan kotor, topi itu tergeletak tak
    bergerak di kaki Harry.
    Riddle mulai tertawa lagi. Dia terbahak-bahak begitu keras sehingga seluruh
    kamar dipenuhi suara tawanya, seakan sepuluh Riddle terbahak bersamaan.
    "Inilah yang dikirimkan Dumbledore kepada pembelanya! Burung penyanyi
    dan topi tua! Kau merasa berani, Harry Potter? Kau merasa aman sekarang?"
    Harry tidak menjawab. Dia mungkin tidak tahu apa gunanya Fawkes ataupun
    si Topi Seleksi, tetapi dia tak lagi sendirian, dan dia menunggu Riddle berhenti
    tertawa dengan keberanian yang semakin meningkat.
    "Kembali ke persoalan kita, Harry," kata Riddle, masih tersenyum lebar. "Dua
    kalidi masa lalumu, di masa depankukita sudah bertemu. Dan dua kali aku
    gagal membunuhmu. Bagaimana kau bisa selamat? Ceritakan padaku semuanya.
    Makin lama kau bicara," dia menambahkan pelan, "makin lama kau hidup."
    Harry berpikir cepat, menimbang-nimbang kemungkinannya. Riddle memiliki
    tongkatnya. Dia, Harry, memiliki Fawkes dan si Topi Seleksi. Tak satu pun dari
    keduanya bisa banyak membantu dalam duel. Kelihatannya memang buruk.
    Tetapi semakin lama Riddle berdiri di sana, semakin berkurang kehidupan di
    dalam tubuh Ginny... dan sementara itu, Harry tiba-tiba menyadari, garis
    bentuk Riddle menjadi semakin nyata, semakin tegas. Kalau memang dia dan
    Riddle harus berduel, lebih cepat lebih baik.
    "Tak ada yang tahu kenapa kau kehilangan kekuatanmu ketika kau
    menyerangku," Harry berkata mendadak. "Aku sendiri juga tak tahu. Tetapi aku
    tahu kenapa kau tak bisa membunuhku. Karena ibuku meninggal demi
    menyelamatkanku. Ibuku yang kelahiran-Muggle biasa," dia menambahkan,
    gemetar menahan marah. "Dia mencegahmu membunuhku. Dan aku sudah
    melihat dirimu yang sebenarnya. Aku melihatmu tahun lalu. Kau hancur-
    hancuran. Kau nyaris tidak hidup. Itulah hasilnya semua kekuasaanmu. Kau
    menyembunyikan diri. Kau jelek, kau busuk!"
    Wajah Riddle berkeriut. Kemudian dia memaksakan senyum mengerikan.
    "Jadi, ibumu meninggal karena menyelamatkanmu. Ya, itu mantra-penangkal
    yang manjur. Aku bisa melihatnya sekarangtak ada yang istimewa pada
    dirimu, ternyata. Selama ini aku bertanya-tanya sendiri. Karena ada kemiripan-
    kemiripan aneh di antara kita berdua, Harry Potter. Bahkan kau sendiri pun
    tentunya telah menyadarinya. Kita berdua berdarah-campuran, yatim-piatu,
    dibesarkan oleh Muggle. Mungkin hanya kita berdualah Parselmouth yang
    pernah bersekolah di Hogwarts sejak Slytherin yang Agung sendiri. Bahkan
    tampang kita berdua pun mirip... Tetapi, ternyata, cuma keberuntungan
    sajalah yang menyelamatkanmu dariku. Cuma itu saja yang ingin kuketahui."
    Harry berdiri tegang, menunggu Riddle mengangkat tongkatnya. Tetapi
    senyum seram Riddle mengembang lagi.
    "Nah, Harry, aku akan memberi sedikit pelajaran bagimu. Ayo, kita adu
    kekuatan. Lord Voldemort, pewaris Salazar Slytherin, dengan Harry Potter yang
    terkenal ditambah senjata-senjata terbaik yang diberikan Dumbledore
    kepadanya."
    Riddle melempar pandang geli ke arah Fawkes dan Topi Seleksi, kemudian
    berjalan menjauh. Harry, ketakutan merayapi kakinya yang kebas, melihat



    --------------------------------------- 183

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Riddle berhenti di antara pilar-pilar tinggi dan mendongak menatap wajah batu
    Slytherin, jauh tinggi di atasnya dalam keremangan. Riddle membuka mulutnya
    lebar-lebar dan mendesistetapi Harry mengerti apa yang dikatakannya.m
    "Bicaralah padaku, Slytherin, yang terhebat dari Empat Sekawan Hogwarts."
    Harry berpaling^ untuk memandang patung itu. Fawkes berayun di bahunya.
    Wajah batu raksasa Slytherin bergerak. Lumpuh ketakutan, Harry melihat
    mulutnya membuka, makin lama makin lebar, membentuk lubang hitam yang
    besar sekali.
    Dan ada sesuatu yang bergerak di dalam mulut patung itu. Sesuatu sedang
    merayap naik dari dalam tubuhnya.
    Harry mundur sampai membentur dinding kamar yang dingin, dan ketika
    memejamkan mata rapat-rapat, dia merasakan sayap Fawkes menyapu pipinya
    waktu burung itu melesat kabur. Harry ingin berteriak, "Jangan tinggalkan aku!"
    Tapi kesempatan apa yang dimiliki phoenix jika berhadapan dengan raja ular?
    Sesuatu yang luar biasa besar jatuh menimpa lantai batu kamar. Harry
    merasakan lantai bergetar. Dia tahu apa yang sedang terjadi, dia bisa
    merasakannya, nyaris bisa melihat si ular raksasa melepas gulungannya dari
    mulut Slytherin. Kemudian dia mendengar suara desis Riddle, "Bunuh dia."
    Si Basilisk bergerak ke arah Harry, dia bisa mendengar tubuhnya yang berat
    menggeleser berat dan lambat di lantai berdebu. Dengan mata masih terpejam
    rapat-rapat, Harry mulai berlari menyamping, tangannya terulur, mencari
    jalan. Riddle tertawa....
    Harry terantuk sesuatu. Dia jatuh keras menimpa lantai batu dan mulutnya
    berdarah. Si ular paling-paling tinggal satu meter darinya, dia bisa
    mendengarnya datang.
    Terdengar bunyi ledakan keras^ persis di atasnya dan kemudian sesuatu yang
    berat menghantam Harry keras sekali sampai dia terempas menabrak dinding.
    Menunggu taring-
    taring menghunjam tubuhnya, dia mendengar desisan menggila, dan ada
    yang membabi-buta memukul-mukul pilar. Harry tak tahan lagi. Dia membuka
    matanya sedikit,
    sekadar cukup untuk mengintip apa yang sedang terjadi.
    Si ular raksasa, berwarna hijau terang, berbisa, sebesar batang pohon ek,
    telah mengangkat tubuhnya tinggi ke atas dan kepalanya yang tumpul meliak-
    liuk bagai orang mabuk di antara pilar-pilar. Ketika Harry gemetar, siap
    memejamkan mata kalau kepala itu menoleh, dia melihat apa yang telah
    mengalihkan perhatian si ular.
    Fawkes beterbangan mengelilingi kepala si ular, dan si Basilisk mengatup-
    ngatupkan moncongnya yang bertaring panjang dan pipih seperti pedang, mau
    melahapnya.
    Fawkes menukik. Paruhnya yang panjang keemasan tenggelam menghilang
    dari pandangan dan mendadak semburan darah hitam mengguyur lantai. Ekor si
    ular membanting-banting, nyaris mengenai Harry, dan sebelum Harry sempat
    memejamkan mata, dia menoleh. Harry memandang tepat ke wajahnya dan
    melihat bahwa matanya, kedua matanya yang besar, kuning, bulat menonjol,



    --------------------------------------- 184

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    telah dilubangi si phoenix. Darah membanjir ke lantai, dan si ular menyembur-
    nyembur kesakitan.
    "Jangan!" Harry mendengar Riddle menjerit. "Tinggalkan burung itu!
    Tinggalkan burung itu! Anak itu di belakangmu! Kau masih bisa membaurnya!
    Bunuh dia!"
    Si ular yang sudah buta berayun, bingung, tapi masih membawa maut.
    Fawkes mengitari kepalanya, menyerukan lagunya yang menyeramkan,
    mematuk-matuk hidung si Basilisk yang bersisik, sementara darah mengucur
    terus dari matanya yang hancur.
    "Tolong aku, tolong aku," Harry bergumam panik, "siapa saja, entah siapa!"
    Ekor si ular melecut lantai lagi. Harry menghindar. Sesuatu yang lunak
    mengenai wajahnya.
    Si Basilisk telah menyapu Topi Seleksi ke tangan Harry. Harry
    menyambarnya. Tinggal itu yang dia punya, satu- satunya kesempatannya.
    Dipakainya topi itu di kepalanya dan dilemparnya tubuhnya tiarap ke lantai
    ketika ekor si Basilisk mengayun di atasnya lagi.
    Tolong aku... tolong aku... Harry membatin, matanya terpejam rapat di
    bawah topinya. Tolonglah aku!
    Tak ada suara yang menjawab. Alih-alih menjawab si topi mengerut, seakan
    ada tangan tak kelihatan yang meremasnya kuat-kuat.
    Sesuatu yang sangat keras dan berat jatuh berdebum di atas kepala Harry,
    nyaris membuatnya pingsan. Bintang- bintang berkelap-kelip di depan matanya.
    Harry mencengkeram ujung topi untuk menariknya lepas dan merasa ada
    sesuatu yang panjang dan keras di bawahnya. Sebatang pedang perak berkilat
    telah muncul di dalam topi, pegangannya bertabur batu-batu mirah berkilauan
    sebesar telur.
    "Bunuh anak itu. Jangan pedulikan burung itu! Anak itu di belakangmu! Kau
    bisa membaui dia!"
    Harry sudah berdiri, siap. Kepala si Basilisk mulai merendah, tubuhnya
    bergulung, menghantam pilar-pilar ketika dia berputar untuk menghadapinya.
    Harry bisa melihat rongga matanya yang besar berdarah, melihat mulutnya
    yang menganga lebar, cukup lebar untuk menelannya sekali lahap, dikitari
    taring sepanjang pedangnya, pipih, berkilat-kilat, beracun....
    Si ular menerjang membabi-buta. Harry menghindar dan menabrak dinding
    kamar. Ular itu menerjang lagi, dan lidahnya yang bercabang mengibas
    mengenai sisi tubuh Harry. Harry mengangkat pedang dengan kedua tangannya.
    Si Basilisk menerjang lagi, dan kali ini sasarannya tepat. Harry melempar
    seluruh berat tubuhnya ke pedangnya dan menghunjamkannya ke langit-langit
    mulut si ular sampai ke pangkalnya.
    Tetapi ketika darah mengguyur lengan Harry, dia merasakan kesakitan luar
    biasa di atas sikunya. Sebuah taring panjang beracun terbenam makin lama
    makin dalam di lengannya dan patah ketika si Basilisk terjungkal menyamping,
    lalu jatuh menggeliat-geliat ke lantai.
    Harry menggelosor jatuh dari dinding. Dia mencengkeram taring yang
    menyebarkan racun ke seluruh tubuhnya dan merenggutnya lepas dari
    lengannya. Tetapi dia tahu sudah terlambat. Rasa sakit yang luar biasa



    --------------------------------------- 185

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    menyebar luas, pelan dan pasti, dari lukanya. Bahkan ketika dia menjatuhkan
    taring itu dan menatap darahnya sendiri yang membasahi jubahnya,
    pandangannya menjadi berkabut. Kamar itu mengabur dalam pusaran warna
    samar.
    Sekelebat warna merah melayang melewatinya dan Harry mendengar bunyi
    cakar yang mendarat pelan di sebelahnya.
    "Fawkes kata Harry susah payah. "Kau luar biasa, Fawkes..." Dia merasa si
    burung meletakkan kepalanya yang indah tepat di tempat taring si ular
    menusuknya.
    Dia bisa mendengar langkah-langkah kaki yang bergaung mendekat, dan
    kemudian bayang-bayang gelap bergerak di depannya.
    "Mati kau, Harry Potter," terdengar suara Riddle di atasnya.
    "Mati. Bahkan burung Dumbledore pun tahu. Kaulihat apa yang dilakukannya,
    Potter? Dia menangis."
    Harry mengejapkan mata. Kepala Fawkes hilang-timbul. Air mata besar-
    besar bagai mutiara bergulir di bulunya yang berkilauan.
    "Aku akan duduk di sini dan menontonmu mati, Harry Potter. Tenang-tenang
    saja, aku tidak buru-buru kok."
    Harry merasa mengantuk. Segala sesuatu di sekitarnya rasanya berpusing.
    "Jadi beginilah akhir si Harry Potter yang terkenal," terdengar suara Riddle
    yang rasanya dari kejauhan. "Sendirian di dalam Kamar Rahasia, ditinggalkan
    oleh teman-temannya, dikalahkan akhirnya oleh Pangeran Kegelapan yang
    dengan bodoh ditantangnya. Kau akan segera berkumpul dengan ibu Darah-
    lumpurmu tersayang, Harry... Dia memberimu dua belas tahun pinjaman...
    tetapi Lord Voldemort berhasil mengalah-kanmu akhirnya, seperti yang
    kauketahui pasti akan terjadi'
    Kalau ini kematian, pikir Harry, tidak terlalu buruk. Bahkan rasa sakitnya
    pun meninggalkannya....
    Tetapi apakah ini kematian? Alih-alih semuanya menjadi gelap, Kamar
    Rahasia rasanya kembali jelas. Harry menggeleng pelan dan dilihatnya Fawkes,
    masih membaringkan kepalanya di lengan Harry. Genangan air mata berkilau
    bagai mutiara mengelilingi lukanya hanya saja tak ada luka.
    "Pergi, burung," kata Riddle tiba-tiba. "Jauh-jauh dari anak itu. Pergi,
    kataku!"
    Harry mengangkat kepalanya. Riddle mengacungkan tongkat Harry kepada
    Fawkes. Terdengar letusan seperti senapan dan Fawkes melesat terbang lagi
    dalam pusaran emas dan merah tua.
    "Air mata phoenix..." kata Riddle perlahan, memandang lengan Harry. "Tentu
    saja... berkhasiat menyembuhkan... aku lupa...."
    Dia memandang wajah Harry. "Tetapi tak ada bedanya. Malah, aku lebih suka
    begini. Hanya kau dan aku, Harry Potter... kau dan aku...."
    Dia mengangkat tongkatnya.
    Kemudian, dengan kepak keras sayapnya, Fawkes kembali melayang di atas
    dan ada yang terjatuh ke pangkuan Harry buku harian.
    Sesaat, baik Harry maupun Riddle, dengan tongkat masih terangkat,
    memandang buku harian itu. Kemudian, tanpa berpikir, tanpa pertimbangan,



    --------------------------------------- 186

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    seakan sudah sejak semula dia berniat melakukannya, Harry menyambar taring
    Basilisk dari lantai di sebelahnya dan menghunjamkannya tepat ke jantung
    buku.
    Terdengar jeritan panjang, mengerikan, tajam menusuk. Tinta menyembur
    dari buku harian itu, deras sekali, mengguyur tangan Harry, membanjiri lantai.
    Riddle menggeliat dan meliuk, menjerit dan menggapai-gapai, dan kemudian...
    Dia telah pergi. Tongkat Harry terjatuh berdentang ke lantai dan kemudian
    sunyi. Sunyi kecuali bunyi tes, tes, tes tinta yang masih terus mengalir dari
    buku harian. Racun si Basilisk telah membakar dan meninggalkan lubang
    berdesis di tengahnya.
    Gemetar sekujur tubuhnya, Harry bangkit dengan limbung. Kepalanya serasa
    berputar, seakan dia baru saja bepergian berkilo-kilometer dengan bubuk Floo.
    Perlahan, dipungutnya tongkat dan Topi Seleksi dan, dengan sentakan keras,
    dicabutnya pedang yang berkilat-kilat dari langit-langit mulut si Basilisk.
    Kemudian terdengar rintihan pelan dari ujung kamar. Ginny bergerak.
    Sementara Harry bergegas mendekatinya, Ginny duduk. Matanya yang
    tercengang bergerak dari sosok raksasa Basilisk yang telah mati, ke arah Harry
    dengan jubahnya yang basah kuyup oleh darah, dan kemudian ke buku harian di
    tangannya. Ginny bergidik, menghela napas dalam-dalam, dan air mata mulai
    membanjiri wajahnya.
    "Harryoh, Harryaku berusaha memberitahumu waktu s- sarapan, tapi aku
    t-tak bisa mengatakannya di depan Percy. Akulah pelakunya, Harrytetapi aku
     aku b-bersumpah itu b- bukan maukuR-Riddle memaksaku, dia m-
    membawaku ke sinidanbagaimana kau membunuh makhluk i-itu? D-di mana
    Riddle? Yang terakhir kuingat adalah dia keluar dari dalam buku hariannya..."
    "Tak apa-apa," kata Harry, mengangkat buku harian itu, dan menunjukkan
    lubang taring kepada Ginny. "Riddle sudah tamat riwayatnya. Lihat! Dia dan si
    Basilisk. Ayo, Ginny, kita keluar dari sini..."
    "Aku akan dikeluarkan!" Ginny tersedu, ketika Harry membantunya berdiri
    dengan kikuk. "Aku sudah menunggu- nunggu kesempatan masuk Hogwarts
    sejak B-Bill datang dan s-sekarang aku harus pergi dana-apa yang akan
    dikatakan Mum dan Dad?"
    Fawkes menunggu mereka, melayang-layang di pintu masuk kamar. Harry
    mendorong Ginny maju, mereka melangkahi gulungan bangkai Basilisk yang tak
    bergerak, menembus keremangan, dan kembali ke terowongan. Harry
    mendengar pintu-pintu batu menutup di belakang mereka dengan bunyi desis
    pelan.
    Setelah beberapa menit menelusuri terowongan gelap, telinga Harry
    menangkap bunyi karang digeser pelan di kejauhan.
    "Ron!" teriak Harry, mempercepat langkahnya. "Ginny selamat! Dia
    bersamaku!"
    Didengarnya Ron bersorak tersekat. Mereka menikung di belokan berikutnya
    dan melihat wajah Ron yang bersemangat melongok dari lubang cukup besar
    yang telah berhasil dibuatnya di reruntuhan karang.
    "Ginny!" Ron menjulurkan tangan ke dalam lubang untuk menarik Ginny lebih
    dulu. "Kau masih hidup! Aku tak percaya! Apa yang terjadi?"



    --------------------------------------- 187

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dia berusaha memeluk Ginny, tetapi Ginny mendorongnya, terisak-isak.
    'Tetapi kau tak apa-apa, Ginny," kata Ron, tersenyum kepadanya. "Semuanya
    sudah berakhir, sudahdari mana datangnya burung itu?"
    Fawkes sudah menukik turun dan melewati lubang.
    "Dia milik Dumbledore," kata Harry, menjejalkan diri untuk melewati lubang
    sempit itu.
    "Dan bagaimana kau bisa punya pedang?" tanya Ron, tercengang melihat
    senjata berkilat-kilat di tangan Harry.
    "Akan kujelaskan kalau kita sudah keluar dari sini," kata Harry, mengerling
    pada Ginny. "Tapi..."
    "Nanti saja," Harry berkata buru-buru. Menurutnya bukan ide bagus
    memberitahu Ron sekarang siapa yang membuka Kamar Rahasia. Tidak di depan
    Ginny, paling tidak. "Di mana Lockhart?"
    "Di belakang situ," kata Ron, nyengir dan mengedik-kan kepala ke ujung
    lorong, ke arah pipa air. "Dia parah banget. Ayo, kita lihat."
    Dipimpin Fawkes, yang sayap merah lebarnya mengeluarkan cahaya lembut
    keemasan di dalam kegelapan,
    mereka berjalan kembali ke mulut pipa. Gilderoy Lockhart sedang duduk di
    sana, bersenandung tenang sendiri.
    "Ingatannya hilang," kata Ron. "Jampi Memori-nya berbalik menyerangnya
    sendiri, dan bukan menyerang kita. Sama sekali tak ingat siapa dirinya, atau di
    mana dia, atau siapa kita. Kusuruh dia ke sini dan menunggu di sini. Dia
    berbahaya bagi dirinya sendiri."
    Lockhart menatap mereka semua dengan ramah.
    "Halo' katanya. "Tempat yang aneh, ya? Kalian tinggal di sini?"
    "Tidak," kata Ron, mengangkat alis ke arah Harry.
    Harry membungkuk lalu menengadah, memandang pipa panjang gelap itu.
    "Sudahkah kaupikirkan bagaimana kita bisa kembali ke atas lewat pipa ini?"
    tanyanya kepada Ron.
    Ron menggelengkan kepala, tetapi Fawkes si phoenix telah menukik turun
    dan sekarang melayang-layang di depan Harry, mata manik-maniknya
    cemerlang di dalam kegelapan. Dia menggoyang-goyangkan bulu-bulu ekornya
    yang panjang keemasan. Harry menatapnya ragu-ragu.
    "Kelihatannya dia ingin kau memegang...," kata Ron, kelihatan bingung.
    "Tetapi kau terlalu berat bagi seekor burung untuk ditarik ke atas."
    "Fawkes," ujar Harry, "bukan burung biasa." Dia cepat- cepat berbalik,
    menghadapi teman-temannya. "Kita harus saling berpegangan. Ginny, pegang
    tangan Ron. Profesor Lockhart..."
    "Maksudnya Anda," kata Ron tajam kepada Lockhart.
    "Anda memegang tangan Ginny yang satunya."
    Harry menyelipkan pedang dan Topi Seleksi ke ikat pinggangnya, Ron
    memegang bagian belakang jubahnya, dan Harry mengulurkan tangan
    memegang bulu ekor Fawkes yang anehnya terasa panas.
    Rasa ringan luar biasa terasa mengaliri sekujur tubuhnya dan saat
    berikutnya, dengan bunyi berdesing, mereka terbang ke atas menembus pipa.
    Harry bisa mendengar Lockhart yang bergantung di bawahnya berkata, "Luar



    --------------------------------------- 188

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    biasa! Luar biasa! Ini seperti sihir!" Udara dingin menerpa wajah dan rambut
    Harry, dan belum puas dia menikmatinya, perjalanan itu sudah berakhir
    mereka berempat mendarat di lantai basah toilet Myrtle Merana. Dan saat
    Lockhart meluruskan topinya, wastafel yang menyembunyikan pipa air itu
    terpasang kembali ke tempatnya semula.
    Myrtle terbelalak menatap mereka.
    "Kau masih hidup," katanya bingung kepada Harry.
    "Janganlah sebegitu kecewa," kata Harry suram sambil melap bercak darah
    dan lendir dari kacamatanya.
    "Oh, bukan begitu... aku sudah berpikir, kalau kau mati, dengan senang hati
    kupersilakan kalau mau berbagi toilet denganku," kata Myrtle, wajahnya
    merona perak.
    "Urgh!" kata Ron, ketika mereka meninggalkan toilet menuju koridor gelap
    dan kosong di depannya. "Harry! Kurasa Myrtle naksir kau! Kau punya saingan,
    Ginny!"
    Tetapi air mata tetap bercucuran tanpa suara membanjiri wajah Ginny.
    "Ke mana sekarang?" tanya Ron, cemas memandang Ginny. Harry menunjuk.
    Fawkes memimpin di depan, menebarkan cahaya keemasan di sepanjang
    koridor. Mereka berjalan mengikutinya, dan beberapa saat kemudian, ternyata
    mereka tiba di depan kantor Profesor McGonagall.
    Harry mengetuk dan mendorong pintunya terbuka.
    18. Pahala Untuk Dobby
    SEJENAK hening ketika Harry, Ron, Ginny, dan Lockhart berdiri di depan
    pintu, berlumur kotoran dan lendir, dan (khusus Harry) darah. Kemudian
    terdengar jeritan.
    "Ginny!"
    Jeritan Mrs Weasley, yang semula duduk menangis di depan perapian. Dia
    melompat bangun, diikuti oleh Mr Weasley, dan keduanya berlari memeluk
    anak perempuan mereka.
    Tetapi Harry memandang melampaui mereka. Profesor Dumbledore berdiri di
    sebelah perapian, wajahnya berseri-seri. Di sebelahnya, Profesor McGonagall
    menghela napas dalam- dalam untuk menenangkan diri, tangannya
    mencengkeram dadanya. Fawkes menderu melewati telinga Harry dan
    mendarat di bahu Dumbledore, tepat ketika Harry dan Ron ditarik ke dalam
    pelukan erat Mrs Weasley.
    "Kau menyelamatkannya! Kau menyelamatkannya! Bagaimana caranya?"
    "Kurasa kita semua ingin tahu," kata Profesor McGonagall lemas.



    --------------------------------------- 189

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mrs Weasley melepaskan Harry. Harry ragu-ragu sejenak, kemudian dia
    berjalan ke meja dan meletakkan Topi Seleksi, pedang bertatahkan batu mirah,
    dan apa yang tersisa dari buku harian Riddle di atasnya.
    Kemudian dia mulai menceritakan segalanya kepada mereka. Selama hampir
    seperempat jam dia bicara kepada pendengar yang hening, asyik menyimak.
    Harry bercerita bahwa dia mendengar suara tanpa tubuh; bagaimana Hermione
    akhirnya menyadari bahwa suara Basilisk di dalam pipalah yang didengar Harry;
    bagaimana dia dan Ron mengikuti labah-labah ke dalam hutan, bahwa Aragog
    memberitahu mereka di mana korban terakhir Basilisk meninggal; bagaimana
    dia menerka bahwa Myrtle Merana-lah korbannya, dan bahwa jalan masuk ke
    Kamar Rahasia mungkin berada di toiletnya....
    "Bagus sekali," Profesor McGonagall mendorongnya untuk melanjutkan,
    ketika Harry berhenti, "jadi, kau menemukan di mana jalan masuknya
    melanggar seratus peraturan sekolah untuk sampai ke situ, kalau boleh
    kutambahkantetapi bagaimana caranya kau bisa keluar dari sana hidup-hidup,
    Potter?"
    Maka Harry, suaranya sekarang sudah serak karena kebanyakan bicara,
    menceritakan tentang kedatangan Fawkes yang tepat waktu dan tentang Topi
    Seleksi yang memberinya pedang. Tetapi kemudian dia bimbang dan berhenti.
    Sejauh ini dia berhasil menghindar menyebutkan buku harian Riddle ataupun
    Ginny. Ginny berdiri dengan kepala tersandar di bahu Mrs Weasley, dan air
    mata masih terus bergulir tanpa suara di pipinya. Bagaimana kalau dia
    dikeluarkan? pikir Harry panik. Buku harian Riddle sudah tidak berfungsi...
    Bagaimana mereka bisa membuktikan Riddle-lah yang memaksa Ginny
    melakukan semua itu?
    Mengikuti nalurinya, Harry memandang Dumbledore, yang tersenyum samar,
    nyala api memantul dari kacamata bulan- separonya.
    "Yang paling menarik bagiku' kata Dumbledore lembut,
    "adalah bagaimana Lord Voldemort berhasil memikat Ginny, sementara
    sumber-sumberku mengatakan dia sedang bersembunyi di hutan-hutan
    Albania."
    Legakelegaan yang hangat, menyenangkanmenjalari sekujur tubuh Harry.
    "A-apa tadi?" kata Mr Weasley kaget. "Kau-Tahu-Siapa? Me-memikat Ginny?
    Tapi Ginny tidak... Ginny belum... kan?"
    "Gara-gara buku harian ini," kata Harry buru-buru, mengangkatnya dan
    menunjukkannya kepada Dumbledore.
    "Riddle menulis di dalamnya waktu berusia enam belas tahun."
    Dumbledore mengambil buku harian dari tangan Harry dan memandang ingin
    tahu melewati hidungnya yang panjang bengkok ke halaman-halamannya yang
    terbakar dan basah.
    "Brilian," katanya lirih. "Tentu saja, dia mungkin murid paling brilian yang
    pernah dipunyai Hogwarts."
    Dia berpaling, menghadapi suami-istri Weasley, yang tampak amat bingung.
    "Cuma sedikit sekali yang tahu bahwa Lord Voldemort dulu bernama Tom
    Riddle. Aku sendiri mengajarnya, lima puluh tahun yang lalu, di Hogwarts. Dia
    menghilang setelah meninggalkan sekolah... berkelana ke tempat-tempat



    --------------------------------------- 190

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    jauh... terbenam begitu dalam di dunia Sihir Hitam, bergaul dengan yang
    terburuk dari bangsa kita, .menjalani berbagai transformasi sihir yang
    membahayakan, sehingga ketika dia muncul kembali sebagai Lord Voldemort,
    dia nyaris tak dikenali lagi. Hampir tak ada yang menghubungkan Lord
    Voldemort dengan anak pandai dan tampan yang dulu pernah menjadi Ketua
    Murid di sini."
    "Tetapi Ginny," kata Mrs Weasley, "apa hubungan Ginny kami dengandengan
    dia?"
    "B-buku hariannya!" Ginny tersedu. "A-aku menulis di dalamnya dan dia
    membalas sepanjang tahun..."
    "Ginny!" kata Mr Weasley kaget. "Apa tak ada yang kaupelajari dariku? Apa
    yang selalu kukatakan kepadamu? Jangan pernah mempercayai apa saja yang
    bisa berpikir sendiri kalau kau tidak bisa melihat di mana otaknya disimpan.
    Kenapa buku harian itu tidak kautunjukkan kepadaku atau ibumu? Barang
    mencurigakan seperti itu, kan sudah jelas penuh sihir hitam!"
    "A-aku tidak tahu," isak Ginny. "Aku menemukannya di dalam salah satu buku
    yang dibelikan Mum. K-kupikir ada orang yang meninggalkannya di situ dan
    kemudian lupa..."
    "Miss Weasley harus segera dibawa ke rumah sakit," Dumbledore menyela
    dengan tegas. "Peristiwa ini merupakan cobaan berat baginya. Tak akan ada
    hukuman. Penyihir-penyihir yang lebih tua dan bijaksana darinya telah
    diperdayakan oleh Lord Voldemort." Dia melangkah ke pintu dan membukanya.
    "Istirahat di tempat tidur dan mungkin minum secangkir besar cokelat panas
    mengepul. Cokelat selalu membuatku gembira," dia menambahkan, mengedip
    ramah kepada Ginny. "Temui Madam Pomfrey. Dia belum tidur. Dia baru saja
    membagikan jus Mandrakekukira korban-korban Basilisk bisa segera bangun
    kapan saja."
    "Jadi Hermione sembuh!" kata Ron senang.
    "Tak ada kerusakan yang permanen," kata Dumbledore.
    Mrs Weasley membawa Ginny keluar, dan Mr Weasley mengikuti, masih
    tampak sangat terguncang.
    "Kau tahu, Minerva," kata Profesor Dumbledore sambil berpikir-pikir kepada
    Profesor McGonagall, "kurasa semua ini layak dirayakan dengan pesta meriah.
    Boleh aku minta tolong kau untuk memberitahu dapur?"
    "Baiklah," kata Profesor McGonagall singkat, ikut bergerak ke pintu.
    "Kupasrahkan penanganan Potter dan Weasley kepadamu, ya?"
    "Tentu," kata Dumbledore.
    Profesor McGonagall pergi, dan Harry dan Ron menatap Dumbledore dengan
    bimbang. Apa persisnya maksud Profesor McGonagall, penanganan mereka?
    Tentunyatentunya mereka tidak akan dihukum, kan?
    "Aku masih ingat telah memberitahu kalian berdua bahwa aku terpaksa akan
    mengeluarkan kalian kalau kalian melanggar peraturan sekolah lagi," kata
    Dumbledore.
    Ron membuka mulut, ngeri.
    "Itu menunjukkan bahwa yang terbaik dari kita pun kadang-kadang harus
    menarik kembali kata-katanya," Dumbledore meneruskan, tersenyum. "Kalian



    --------------------------------------- 191

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    berdua akan menerima Penghargaan Istimewa untuk Pengabdian kepada
    Sekolah dancoba kupikirya, kurasa masing-masing dua ratus angka untuk
    Gryffindor."
    Ron menjadi merah jambu secemerlang bunga-bunga Valentine Lockhart dan
    menutup mulutnya lagi.
    "Tetapi salah satu dari kita rupanya menyembunyikan perannya dalam
    petualangan berbahaya ini," Dumbledore menambahkan. "Kenapa begitu rendah
    hati, Gilderoy?"
    Harry tersentak kaget. Dia sama sekali lupa tentang Lockhart. Dia menoleh
    dan melihat Lockhart berdiri di sudut ruangan, masih tersenyum tak jelas
    Ketika Dumbledore menyapanya, Lockhart menoleh ke belakang untuk melihat
    siapa yang diajak bicara Dumbledore.
    "Profesor Dumbledore," kata Ron buru-buru, "terjadi kecelakaan di Kamar
    Rahasia. Profesor Lockhart "Aku profesor?" tanya Lockhart tercengang Ya
    ampun, aku pelupa benar, ya?"
    "Dia mau menyihir kami dengan Jampi Memori, tetapi tongkatnya malah
    berbalik menyerang dia sendiri," Ron menjelaskan kepada Dumbledore,
    "Astaga," kata Dumbledore, geleng-geleng, jenggot peraknya yang panjang
    bergetar. "Tertebas pedang sendiri, Gilderoy!"
    "Pedang?" kata Lockhart tolol.
    "Tak punya pedang. Anak itu yang punya." Dia menunjuk Harry. "Kau bisa
    pinjam dia."
    "Maukah kau membawa Profesor Lockhart ke rumah sakit juga?" Dumbledore
    berkata kepada Ron. "Aku masih akan bicara beberapa patah kata dengan
    Harry...."
    Lockhart berjalan santai keluar. Ron melempar pandang ingin tahu ke arah
    Dumbledore dan Harry sebelum dia menutup pintu.
    Dumbledore menuju salah satu kursi di dekat perapian.
    "Duduklah, Harry," katanya, dan Harry duduk, merasa gugup sekali.
    "Pertama-tama, Harry, aku ingin berterima kasih kepadamu," kata
    Dumbledore, matanya berbinar-binar lagi.
    "Kau pastilah menunjukkan kesetiaan yang sungguh-sungguh kepadaku di
    dalam Kamar Rahasia. Tak ada hal lain kecuali itu yang bisa memanggil Fawkes
    kepadamu."
    Dia membelai si phoenix, yang sudah terbang turun dan hinggap di lututnya.
    Harry nyengir salah tingkah ketika Dumbledore menatapnya.
    "Jadi, kau bertemu Tom Riddle," kata Dumbledore merenung. "Kubayangkan
    dia pasti sangat tertarik padamu..." Mendadak sesuatu yang selama ini
    mengganggu pikiran Harry tercetus dari mulutnya.
    "Profesor Dumbledore... Riddle mengatakan saya mirip dia. Kemiripan yang
    aneh, katanya..."
    "Ah, begitu, ya?" kata Dumbledore, memandang tajam Harry dari bawah
    alisnya yang tebal. "Don bagaimana menurutmu, Harry?"
    "Saya rasa saya tidak mirip dia!" kata Harry, lebih keras daripada yang
    dimaksudkannya. "Maksud saya, sayasaya di Gryffindor, saya..."



    --------------------------------------- 192

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tetapi dia terdiam, keraguan yang selama ini menghantuinya, kini muncul
    kembali di benaknya.
    "Profesor," katanya lagi setelah diam beberapa saat, "Topi Seleksi
    memberitahu saya bahwabahwa saya akan berhasil dengan gemilang di
    Slytherin. Selama beberapa waktu semua orang mengira saya pewaris
    Slytherin... karena saya bisa bicara Parseltongue..."
    "Kau bisa bicara Parseltongue, Harry," kata Dumbledore tenang, "karena Lord
    Voldemortyang adalah keturunan terakhir Salazar Slytherin yang tersisabisa
    bicara Parseltongue. Kecuali aku keliru, dia mentransfer sebagian
    kekuasaannya kepadamu pada malam dia memberimu bekas luka itu. Bukan
    sesuatu yang sebetulnya ingin dilakukannya, aku yakin..."
    "Voldemort memasukkan sedikit dirinya ke dalam diri saya?" tanya Harry,
    tercengang. "Kelihatannya begitu."
    "Jadi, saya seharusnya di Slytherin," kata Harry, memandang Dumbledore
    dengan tatapan putus asa. "Topi Seleksi bisa melihat kekuatan Slytherin di
    dalam diri saya, dan dia..."
    "Memasukkanmu ke Gryffindor' kata Mimbledore tenang.
    "Dengarkan aku, Harry. Kau kebetulan punya banyak kemampuan yang
    sang.il dihargai Slytherin dalam murid-murid yang dipilihnya sendiri.
    Kemampuannya sendiri yang sangat langka, Parseltongue... panjang akal...
    ketetapan hati... kecenderungan mengabaikan peraturan," dia menambahkan,
    kumisnya bergetar lagi. "Tetapi Topi Seleksi toh menempatkanmu di Gryffindor.
    Kau tahu kenapa. Coba pikir."
    "Topi itu menempatkan saya di Gryffindor," kata Harry pasrah, "hanya karena
    saya tak mau ditempatkan di Slytherin...."
    "Tepat," kata Dumbledore, wajahnya berseri-seri lagi. "Itu yang membuatmu
    sangat berbeda dengan Tom Riddle. Pilihan kitalah, Harry, yang menunjukkan
    orang seperti apa sebenarnya kita, lebih dari kemampuan kita." Harry duduk
    terpaku di kursinya, terpesona. "Kalau kau ingin bukti, Harry, bahwa kau cocok
    untuk Gryffindor, kusarankan kau memeriksa ini dengan teliti."
    Dumbledore menjangkau pedang perak berlumur darah di atas meja Profesor
    McGonagall dan menyerahkannya kepada Harry. Dengan bingung Harry
    membaliknya, batu-batu mirahnya menyala tertimpa cahaya api. Dan kemudian
    dia melihat nama yang terukir tepat di bawah pangkalnya.
    Godric Gryffindor.
    "Hanya Gryffindor sejati yang bisa menarik keluar pedang itu dari dalam
    topi, Harry," kata Dumbledore sungguh- sungguh.
    Selama beberapa saat tak ada yang bicara. Kemudian Dumbledore menarik
    salah satu laci meja Profesor McGonagall, dan mengeluarkan pena bulu dan
    sebotol tinta.
    "Yang kauperlukan, Harry, adalah makanan dan tidur. Kusarankan kau turun
    dan ikut pesta, sementara aku menulis ke Azkabankita memerlukan pengawas
    binatang liar kita kembali ke sini. Dan aku harus menulis iklan untuk Daily
    Prophet juga," dia menambahkan seraya berpikir-pikir. "Kita memerlukan guru
    baru untuk Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, Astaga, kelihatannya kita
    menghabiskan para guru itu, ya?"



    --------------------------------------- 193

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry bangkit dan menyeberangi ruangan menuju pintu. Baru saja dia mau
    meraih pegangannya, pintu terbuka keras sekali, sehingga memantul balik dari
    dinding.
    Lucius Malfoy berdiri di depan pintu, wajahnya murka. Gemetar ketakutan di
    bawah lengannya, tampak Dobby yang terbungkus perban tebal.
    "Selamat malam, Lucius," kata Dumbledore ramah.
    Mr Malfoy nyaris menabrak jatuh Harry ketika dia menerobos masuk. Dobby
    bergegas menyusulnya. Dia mendekam di tepi jubah Mr Malfoy wajahnya
    ketakutan dan terhina.
    "Jadi!" kata Lucius Malfoy, mata dinginnya terpancang pada Dumbledore "Kau
    kembali Dewan sekolah menskorsmu, tetapi kau masih merasa pantas kembali
    ke Hogwarts."
    "Ah, begini, Lucius," kala Durnbledore tersenyum tulus,
    "kesebelas anggota dewan yang lain mengontak ku hari ini. Rasanya seperti
    terperangkap dalam hujan salju burung hantu, jujur saja mereka mendengar
    bahwa putri Arthur Weasley telah terbunuh dan menginginkan aku segera
    kembali kesini mereka kelihatannya berpendapat aku orang yang paling baik
    untuk posisi ini, ternyata. Mereka juga menyampaikan cerita-cerita aneh
    kepadaku. Beberapa di antara mereka kelihatannya mengira kau telah
    mengancam akan mengutuk keluarga mereka jika mereka tidak setuju
    menskorsku."
    Mr Malfoy menjadi lebih pucat dari biasanya, tetapi matanya masih tetap
    berupa goresan kemarahan.
    "Jadiapakah kau sudah berhasil menghentikan serangan- serangan itu?"
    cemoohnya. "Sudahkah kau tangkap pelakunya?"
    "Sudah," kata Dumbledore, tersenyum.
    "Nah?" kata Mr Malfoy tajam. "Siapa?"
    "Orang yang sama seperti sebelumnya, Lucius," kata Dumbledore. "Tetapi
    kali ini Lord Voldemort bertindak lewat orang lain. Dengan perantaraan buku
    harian ini."
    Dumbledore mengangkat buku hitam kecil dengan lubang besar di
    tengahnya, mengawasi Mr Malfoy dengan tajam. Tetapi Harry mengawasi
    Dobby.
    Peri-rumah itu bersikap sangat aneh. Matanya yang besar menatap Harry
    penuh arti, tak henti-hentinya dia menunjuk- nunjuk buku harian, kemudian Mr
    Malfoy, dan kemudian memukul kepalanya keras-keras dengan tinjunya sendiri.
    "Begitu...," kata Mr Malfoy lambat-lambat kepada Dumbledore.
    "Rencana yang hebat," kata Dumbledore dengan suara datar, masih menatap
    lurus-lurus mata Mr Malfoy. "Karena jika Harry ini...," Mr Malfoy sekilas
    melempar pandang tajam ke arah Harry, "dan temannya, Ron, tidak
    menemukan buku ini, wah... Ginny Weasley mungkin saja yang harus
    menanggung semua kesalahannya. Tak seorang pun akan bisa membuktikan dia
    tidak bertindak atas kemauannya sendiri..."
    Mr Malfoy tidak berkata apa-apa. Wajahnya mendadak kaku seperti topeng.
    "Dan bayangkan," Dumbledore melanjutkan, "apa yang akan terjadi
    kemudian... Keluarga Weasley adalah salah satu dari keluarga berdarah-murni



    --------------------------------------- 194

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    yang paling terkemuka. Bayangkan dampaknya pada Arthur Weasley dan
    Undang- Undang Perlindungan Muggle-nya, jika anak perempuannya sendiri
    ditemukan menyerang dan membunuhi anak-anak kelahiran-Muggle. Untung
    sekali buku harian ini ditemukan, dan kenangan Riddle dihapus darinya. Siapa
    yang tahu apa konsekuensinya kalau tidak..." Mr Malfoy memaksa diri bicara.
    "Untung sekali," katanya kaku Dan masih saja, di belakang punggung Mr
    Malfoy, Dobby menunjuk-nunjuk, mula-mula ke buku Harian kemudian ke
    Lucius Malfoy, dan setelah itu meninju kepalanya sendiri.
    Dan Harry mendadak paham. Dia mengangguk kepada Dobby, dan Dobby
    mundur ke sudut, sekarang memelintir telinganya sebagai hukuman.
    "Tidakkah Anda ingin tahu bagaimana Ginny memperoleh buku harian itu, Mr
    Malfoy?" kata Harry.
    Lucius Malfoy berpaling menghadapinya.
    "Bagaimana aku bisa tahu bagaimana anak bodoh itu memperolehnya?"
    timpalnya.
    "Karena Anda yang memberikannya kepadanya," kata Harry. "Di Flourish and
    Blotts. Anda mengambil buku Transfigurasi-nya yang sudah bekas-pakai, dan
    menyelipkan buku harian itu ke dalamnya, kan?"
    Harry melihat tangan putih Mr Malfoy mengepal dan membuka.
    "Buktikan," dia mendesis.
    "Oh, tak ada yang bisa membuktikannya," kata Dumbledore, tersenyum
    kepada Harry. "Tidak sekarang, setelah Riddle lenyap dari buku itu. Sebaliknya,
    kusarankan kepadamu, Lucius, jangan lagi membagi-bagikan barang- barang
    sekolah tua milik Voldemort. Kalau ada lagi barangnya yang jatuh ke tangan tak
    bersalah, kurasa Arthur Weasley, salah satunya, akan memastikan barang-
    barang itu dilacak sampai kepadamu...."
    Sesaat Lucius Malfoy berdiri diam, dan Harry dengan jelas melihat tangan
    kanannya berkedut, seakan dia ingin sekali meraih tongkatnya. Tetapi akhirnya
    dia menoleh kepada peri- rumahnya.
    "Kita pulang, Dobby!"
    Dia membuka pintu dengan kasar dan si peri bergegas mendekatinya. Mr
    Malfoy menendangnya keluar pintu. Mereka bisa mendengar Dobby menjerit-
    jerit kesakitan sepanjang koridor. Sejenak Harry berdiri, berpikir keras.
    Kemudian dia mendapat ide.
    "Profesor Dumbledore," katanya buru-buru, "bolehkah saya mengembalikan
    buku harian itu kepada Mr Malfoy?"
    "Tentu, Harry," kata Dumbledore tenang. "Tetapi bergegaslah. Pesta, ingat."
    Harry menyambar buku harian itu dan berlari meninggalkan kantor. Dia bisa
    mendengar jerit kesakitan Dobby yang samar- samar ketika berbelok di sudut
    Cepat-cepat, seraya dalam hati bertanya-tanya apakah rencananya bisa
    berhasil, Harry melepas salah satu sepatunya, menarik kaus kakinya yang kotor,
    berlendir, dan menjejalkan buku harian itu ke dalamnya. Kemudian dia berlari
    sepanjang koridor yang gelap.
    Dia berhasil mengejar mereka di puncak tangga.
    "Mr Malfoy," katanya terengah, mengerem larinya dan berhenti di depan
    mereka, "saya membawa sesuatu untuk Anda."



    --------------------------------------- 195

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dan dijejalkannya kaus kaki bau itu ke tangan Lucius Malfoy.
    "Apa ...?"
    Mr Malfoy menarik lepas kaus kaki itu dari buku hariannya, melemparnya,
    memandang marah buku rusak itu sebelum menatap Harry.
    "Kau akan berakhir tragis seperti orangtuamu suatu hari nanti, Harry Potter,"
    katanya pelan Mereka juga orang yang suka ikut campur'
    Dia berbalik mau pergi.
    "Ayo, Dobby. Ayo!"
    Tetapi Dobby tak bergerak dia memegangi kaus kaki Harry yang berlendir
    menjijikkan dan memandangnya seakan kaus kaki harta tak ternilai.
    "Tuan telah memberi Dobby kaus kaki  kata si peri takjub.
    "Tuan memberikannya kepada Dobby?
    "Apa?" gertak Mr Malfoy Apa katamu?
    "Dobby mendapat kaus kaki," kata Dobby tak percaya.
    "Tuan melemparnya dan Dobby menangkapnya, dan Dobby Dobby bebas."
    Lucius Malfoy berdiri terpaku, terbelalak menatap si peri. Kemudian dia
    menerjang Harry.
    "Kau membuatku kehilangan pelayan, Nak!"
    Tetapi Dobby berteriak, "Kau tak boleh melukai Harry Potter!"
    Terdengar letusan keras, dan Mr Malfoy terlempar ke belakang. Dia
    berguling-guling, dan jatuh terpuruk di dasar tangga. Dia bangkit, wajahnya
    penuh kemurkaan. Dia menarik keluar tongkatnya, tetapi Dobby mengangkat
    jari panjangnya, mengancam.
    "Kau harus pergi sekarang," katanya galak, menunjuk ke bawah ke arah Mr
    Malfoy. "Kau tak boleh menyentuh Harry Potter. Kau harus pergi sekarang."
    Lucius Malfoy tak punya pilihan lain. Dengan pandangan membara ke arah
    mereka berdua, dia menyampirkan mantelnya ke tubuhnya dan bergegas lenyap
    dari pandangan.
    "Harry Potter membebaskan Dobby!" kata si peri nyaring, menatap Harry.
    Bulan yang bersinar dan tampak dari jendela terdekat, terpantul dari matanya
    yang menonjol. "Harry Potter membebaskan Dobby!"
    "Cuma itulah yang bisa kulakukan, Dobby," kata Harry, nyengir. "Berjanjilah,
    jangan mencoba menyelamatkan hidupku lagi."
    Wajah buruk si peri mendadak dihiasi senyum lebar yang memamerkan gigi-
    giginya.
    "Aku cuma mau tanya satu hal, Dobby," kata Harry, ketika Dobby memakai
    kaus kaki Harry dengan tangan gemetar.
    "Kau memberitahuku bahwa semua ini tak ada hubungannya dengan Dia yang
    Namanya Tak Boleh Disebut, ingat? Nah..."
    "Itu petunjuk, Sir," kata Dobby, matanya melebar seakan ini sudah jelas.
    "Dobby memberi Harry Potter petunjuk. Pangeran Kegelapan, sebelum dia
    mengubah namanya, namanya boleh disebut dengan bebas, kan?"
    "Betul," kata Harry lemas. "Yah, aku lebih baik pergi sekarang. Ada pesta,
    dan sahabatku, Hermione, mestinya sudah bangun sekarang..."



    --------------------------------------- 196

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dobby melingkarkan lengannya ke sekeliling pinggang Harry dan
    memeluknya.
    "Harry Potter jauh lebih hebat daripada yang Dobby tahu!"
    dia terisak. "Selamat tinggal, Harry Potter!"
    Dan dengan bunyi lecutan keras, Dobby menghilang.
    Harry sudah beberapa kali ikut pesta di Hogwarts, tetapi belum pernah ada
    yang seperti ini. Semua orang memakai piama dan perayaan berlangsung
    semalam suntuk. Harry tak tahu apakah bagian paling menyenangkan adalah
    ketika Hermione berlari ke arahnya, berteriak-teriak, "Kau memecahkannya!
    Kau memecahkannya!" atau Justin bergegas datang dari meja Hufflepuff untuk
    menjabat tangannya dan tak henti-hentinya meminta maaf karena telah
    mencurigainya. Atau ketika Hagrid muncul pada pukul setengah empat pagi,
    meremas bahu Harry dan Ron begitu keras sehingga mereka terjungkal ke piring
    kue mereka, atau empat ratus angka yang diperolehnya bersama Ron untuk
    Gryffindor yang menjamin Piala Asrama tetap menjadi milik mereka selama dua
    tahun berturut-turut. Atau saat Profesor McGonagall berdiri untuk
    menyampaikan kepada mereka bahwa semua ujian dibatalkan sebagai hadiah
    dari sekolah ("Oh, tidak!" jerit Hermione), atau Dumbledore yang
    mengumumkan bahwa, sayang sekali, Profesor Lockhart tak akan bisa kembali
    pada tahun ajaran berikutnya, karena dia perlu pergi untuk memperoleh
    kembali ingatannya. Cukup banyak guru yang ikut bersorak bersama anak-anak
    menyambut pengumuman ini.
    "Sayang," kata Ron sambil mengambil donat selai. "Aku mulai suka padanya."
    Sisa semester musim panas itu berlalu dalam kekaburan teriknya cahaya
    matahari. Hogwarts sudah kembali normal, dengan hanya sedikit perbedaan.
    Semua pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam dibatalkan ("tapi kita kan
    sudah banyak latihan," kata Ron kepada Hermione yang menggerutu) dan Lucius
    Malfoy dipecat dari dewan sekolah. Draco tak lagi gagah-gagahan berkeliaran
    ke sana kemari di sekolah seakan dia pemilik tempat itu. Dia sekarang malah
    kelihatan marah dan mendongkol. Sebaliknya, Ginny Weasley sudah gembira
    lagi.
    Terlalu cepat, tiba saatnya untuk pulang naik Hogwarts Express. Harry, Ron,
    Hermione, Fred, George, dan Ginny mendapat satu kompartemen untuk
    mereka. Mereka memanfaatkan betul jam-jam terakhir ketika mereka masih
    diizinkan melakukan sihir sebelum liburan. Mereka bermain Jentikan Meletup,
    menghabiskan sisa kembang api Filibuster milik Fred dan George, dan berlatih
    melucuti senjata masing- masing dengan sihir. Harry sudah mahir sekali
    melakukan trik ini.
    Mereka sudah hampir tiba di King7s Cross ketika Harry ingat sesuatu.
    "Ginnyapa yang kaulihat dilakukan Percy, dan Percy melarangmu bilang
    pada siapa-siapa?"
    "Oh, itu," kata Ginny terkikik geli. "Percy punya pacar."
    Fred menjatuhkan setumpuk buku ke kepala George.
    "Apa?"
    "Anak Ravenclaw yang Prefek itu, Penelope Clearwater," kata Ginny. "Kepada
    dialah Percy menulis sepanjang musim panas yang lalu. Dia kencan dengan anak



    --------------------------------------- 197

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    itu sembunyi- sembunyi di berbagai tempat di sekolah. Aku tak sengaja masuk
    ke kelas tempat mereka sedang berciuman suatu hari. Percy cemas sekali
    waktu Penelopekalian tahudiserang. Kalian tidak akan meledeknya, kan?"
    Ginny menambahkan dengan cemas.
    "Mimpi pun tidak," kata Fred, yang tampak gembira sekali, seakan ulang
    tahunnya dimajukan.
    "Jelas tidak," kata George, terkekeh-kekeh.
    Hogwarts Express memperlambat kecepatan dan. akhirnya berhenti.
    Harry mengeluarkan pena bulu dan secarik per-kamen dan menoleh kepada
    Ron dan Hermione.
    "Ini namanya nomor telepon," dia memberitahu Ron, menuliskan nomor dua
    kali, merobek perkamen-nya menjadi dua, dan memberikannya kepada mereka.
    "Aku memberitahu ayahmu bagaimana caranya menggunakan telepon musim
    panas yang lalu, dia akan tahu. Teleponlah aku di rumah keluarga Dursley, oke?
    Aku tak akan tahan melewatkan dua bulan hanya bicara dengan Dudley..."
    "Tapi bibi dan pamanmu akan bangga, kan?" kata Hermione, sementara
    mereka turun dari kereta api dan bergabung dengan kerumunan yang
    berdesakan menuju palang rintangan yang tersihir. "Kalau mereka mendengar
    apa yang kaulakukan tahun ini?"
    "Bangga?" kata Harry. "Kau gila? Dalam semua petualangan itu aku bisa mati,
    tapi aku tidak mati juga? Mereka akan marah besar...."
    Dan bersama-sama mereka melewati gerbang menuju ke dunia Muggle.
    Tamat

    HARRY POTTER 2

  • - Copyright © 2013 RETNO_WIBOWO - To Aru Kagaku no Railgun - Powered by Blogger - Designed by retno wibowo -