Recent Blog Post

Archive for January 2014

  • Petualangan Sherlock Holmes

    MISTERI DI





    BOSCOMBE VALLEY


    http://www.mastereon.com

    http://sherlockholmesindonesia.blogspot.com

    http://www.facebook.com/sherlock.holmes.indonesia

    - 2010 -



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley





    Misteri Di Boscombe Valley


    Pada suatu pagi, aku dan istriku sedang menikmati makan pagi bersama. Lalu pelayan kami

    masuk dan menyerahkan sebuah telegram yang ternyata dikirim oleh Sherlock Holmes. Bunyinya demikian:

    Bisakah kau menemaniku selama beberapa hari? Baru terima telegram dari Inggris Barat

    sehubungan dengan tragedi Boscombe Valley. Senang sekali kalau kau bersedia. Udara dan

    pemandangan di sana indah sekali. Berangkat dari Paddington dengan kereta api jam 11.15.

    "Bagaimana menurutmu, Sayang?" kata istriku sambil menatapku. "Kau mau pergi?"

    "Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Jadwalku sedang penuh sekali."

    "Oh, Anstruther bisa menggantikanmu. Akhir-akhir ini kau nampak agak pucat. Kurasa kau

    perlu sedikit perubahan suasana. dan bukankah kau selalu tertarik pada kasus kasus yang ditangani

    Sherlock Holmes?"

    "Aku bersyukur atas ketertarikanku itu. Lihatlah imbalan yang kudapatkan dari salah satu kasus itu," jawabku. "Hidupku bisa jadi begini adalah karena itu. Tapi kalau aku mau menemaninya, aku harus berkemas secepatnya, karena aku hanya punya waktu setengah jam."

    Aku pernah bertugas di penampungan di Afganistan, dan pengalamanku ini memudahkanku

    kalau sewaktu-waktu harus segera bepergian. Barang-barang keperluanku sederhana dan tak banyak

    jumlahnya, sehingga tak sampai setengah jam kemudian aku sudah berada dalam sebuah kereta dengan

    koper kecilku, menuju ke Stasiun Paddington. Kutemukan Sherlock Holmes sedang mondar-mandir di

    peron. Tubuhnya yang tinggi dan ceking nampak semakin tinggi dan semakin ceking dalam jas panjang

    berwarna abu-abu dan topi kain yang dikenakannya.

    "Kau baik sekali mau menemaniku, Watson," katanya. "Sungguh lain rasanya kalau didampingi oleh seorang yang bisa kupercaya. Tenaga bantuan setempat biasanya tak bisa berbuat apa-apa, atau

    kalaupun bisa, biasanya tindakannya tidak objektif. Tolong tempati dua kursi di sudut itu, sementara aku membeli karcis."

    Hanya kami berdua yang mengisi gerbong itu, ditambah dengan setumpuk koran yang dibawa

    http://www.mastereon.com

    2





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    oleh Holmes. Semua koran itu dibolak-balik dan dibacanya, sambil sesekali dia mencatat atau melamun, sampai kami melewati Reading. Lalu tiba-tiba dia meremas-remas semua koran itu sehingga

    bentuknya menjadi seperti bola besar, dan melemparkannya ke sebuah rak.

    "Sudah mendengar tentang kasus itu?"

    tanyanya.

    "Belum sama sekali. Aku tak sempat membaca

    koran beberapa hari terakhir ini."

    "Koran-koran di London tak ada yang memuat

    beritanya secara lengkap. Tadi itu, aku mencoba

    mencari cari rincian kejadiannya dari koran-koran

    terbitan baru. Dari apa yang kubaca, kelihatannya

    kasus ini sepele, tapi sangat rumit."

    "Kenapa bertentangan begitu?"

    "Memang demikianlah adanya. Keunikan

    biasanya mengandung petunjuk yang gampang

    diamati. Tapi kejahatan yang biasa dan sepele lebih

    susah diatasi. Namun dalam kasus ini, mereka telah menuduh anak laki-laki orang yang terbunuh itu

    sebagai pelakunya."

    "Oh, jadi tentang pembunuhan, ya?"

    "Yah, diduga begitu. Aku tak akan mempercayai apa pun juga sampai aku selesai menyelidikinya secara langsung. Biarlah kuceritakan kejadiannya secara singkat kepadamu, sejauh yang kuketahui.

    "Boscombe Valley adalah daerah pedesaan yang tak begitu jauh dari Ross, di negara bagian

    Herefordshire. Pemilik tanah terbesar di situ ia lah seorang bernama Mr. John Turner yang dulu pernah tinggal di Australia. Sesudah menjadi kaya di sana, dia kembali ke negerinya yang kuno ini beberapa tahun yang lalu. Salah satu perkebunannya di Hatherley disewakannya kepada Mr. Charles McCarthy,

    yang dulu juga pernah tinggal di Australia. Keduanya berkenalan sejak mereka tinggal di negara koloni Inggris itu, jadi wajarlah kalau setelah kembali ke Inggris mereka lalu ingin tinggal berdekatan. Turner

    http://www.mastereon.com

    3



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    jauh lebih kaya, dan McCarthy menjadi petani penyewa tanahnya. Tapi mereka tetap bagaikan teman,

    dan sering terlihat bersama-sama. McCarthy mempunyai seorang putra berusia delapan belas tahun,

    dan Turner mempunyai seorang putri yang sebaya usianya. Tapi, baik McCarthy maupun Turner sudah

    tak beristri lagi. Mereka hidup menyendiri, menghindar dari pergaulan dengan masyarakat Inggris di

    sekelilingnya. Tapi McCarthy dan putranya penggemar olahraga, dan sering terlihat menonton pacuan

    kuda di dekat situ. McCarthy mempunyai dua pelayan—pria dan wanita. Pelayan Turner banyak sekali,

    paling sedikit enam orang. Hanya itulah yang kutahu tentang kedua keluarga itu. Sekarang rangkaian

    peristiwa naas itu.

    "Pada tanggal 3 Juni—yaitu hari Senin yang lalu—McCarthy meninggalkan rumahnya di Hatherley kira-kira jam tiga siang, dan berjalan menuju Boscombe Pool—danau kecil yang airnya

    berasal dari sungai yang mengaliri Boscombe Valley. Paginya, dia pergi ke Ross bersama seorang

    pelayannya, dan dia sempat mengatakan kepada pelayannya bahwa dia harus bergegas, karena dia ada

    janji untuk bertemu dengan seseorang pada jam tiga siang. Sejak pertemuan itu, dia tak pernah pulang ke rumahnya.

    "Jarak dari rumah pertanian Hatherley ke Boscombe Pool adalah setengah kilometer, dan ada

    dua orang yang melihatnya ketika dia berjalan menuju ke sana. Salah satunya adalah seorang wanita

    tua, yang namanya tak dicantumkan, dan yang satunya lagi William Crowder, penjaga hutan yang

    digaji oleh Mr. Turner. Kedua saksi ini menyatakan bahwa Mr. McCarthy berjalan sendirian waktu itu.

    Penjaga hutan menambahkan bahwa beberapa menit kemudian dia melihat Mr. James McCarthy menyusul melewati jalan itu juga, dengan membawa pistol di tangannya. Dia yakin bahwa sang anak

    pasti melihat ayahnya di depan sana waktu itu, dan sang anak sengaja menyusulnya. Dia tak memikirkan hal itu lagi sampai dia mendengar tentang musibah itu pada malam harinya.

    "Ayah dan anak itu terlihat lagi oleh orang lain beberapa saat kemudian. Boscombe Pool dikelilingi hutan lebat, hanya sekeliling tepiannya saja yang ditumbuhi rumput dan alang-alang.

    Seorang gadis berusia empat belas tahun bernama Patience Moran, putri pengelola penginapan Boscombe Valley Estate, saat itu sedang bermain-main di hutan sambil memetik bunga

    http://www.mastereon.com

    4





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    Dia mengatakan bahwa ketika dia sedang berada di situ, dia melihat Mr. McCarthy dan anaknya

    sedang bertengkar hebat di dekat danau. Dia mendengar Mr. McCarthy tua mengumpat-umpat anaknya,

    sehingga pemuda itu mengangkat tangannya seolah-olah hendak memukul ayahnya. Gadis itu begitu

    ketakutan melihat pertengkaran mereka, sehingga dia lalu berlari pulang dan menceritakan hal itu

    kepada ibunya. la juga menyatakan kecemasannya jangan-jangan pertengkaran ayah dan anak itu malah

    menjurus ke perkelahian. Belum selesai si gadis bercerita, tiba tiba pemuda McCarthy muncul di penginapan itu. Dia berlari kencang sambil berteriak minta pertolongan kepada pengelola penginapan

    karena ayahnya ditemukannya mati di di hutan. Dia begitu terburu-buru, sehingga pistol dan topinya

    ketinggalan, lengan kemeja dan tangan kanannya berlumuran darah segar. Pengelola penginapan lalu

    berlari keluar bersama pemuda itu, dan mereka menemukan ayah sang pemuda sudah jadi mayat,

    tergeletak di rerumputan di samping danau.

    Kepalanya bekas dipukul berkali-kali oleh alat

    pemukul yang berat dan tumpul. Luka-lukanya

    memang nampaknya seperti bekas hantaman popor

    senapan anaknya, yang tergeletak tak jauh dari mayat

    itu. Karena itulah, pemuda itu segera ditangkap dan

    setelah menjalani pemeriksaan esok harinya, dia

    dikenakan tuduhan pembunuhan yang telah

    direncanakan. Pada hari Rabu dia diadili di Ross, dan

    kasusnya kini diajukan ke Pengadilan Assizes1.

    Begitulah rangkaian peristiwa dari kasus itu

    sebagaimana yang aku dapatkan dari petugas

    penyidik dan juga dari kepolisian."

    "Wah, celaka benar pemuda itu," komentarku.

    "Bukti-bukti itu secara tak langsung telah

    menunjukkan pelaku pembunuhan kali ini."

    "Bukti yang didapat secara tak langsung bisa saja

    keliru," jawab Holmes dengan serius. "Nampaknya

    1 Pengadilan keliling dari pusat.

    http://www.mastereon.com

    5



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    memang langsung menunjuk ke satu arah, tapi kalau kau amati dari sudut pandang yang berbeda, bukti

    itu bisa menunjuk ke arah yang berlawanan. Tapi, memang kuakui bahwa kasus ini sangat memberatkan pemuda itu, dan mungkin saja memang dialah pelakunya. Namun, ada beberapa orang,

    salah satunya putri pemilik tanah yang bertetangga dengannya, yaitu Miss Turner, yang merasa yakin

    bahwa bukan pemuda itu yang telah membunuh ayahnya. Mereka ini lalu meminta jasa Lestrade, yang

    dulu pernah kuperkenalkan kepadamu ketika kita menangani kasus Study in Scarlet, untuk mengurus kasus ini. Lestrade yang merasa agak bingung, lalu melimpahkan kasus ini padaku. Itulah sebabnya

    mengapa ada dua orang pria separo baya yang bepergian dari London menuju ke barat, naik kereta api

    yang berkecepatan delapan puluh kilometer per jam, padahal mereka sebenarnya bisa enak-enak tinggal di rumah sambil menikmati makan pagi dengan santai."

    "Jangan-jangan," kataku, "fakta-faktanya ternyata memang sedemikian jelasnya sehingga hanya sedikit reputasi yang akan kaudapatkan dari kasus ini."

    "Justru fakta yang nampaknya sangat jelas itu, biasanya keliru," jawabnya sambil tertawa. "Lagi pula, kita mungkin berkesempatan menemukan fakta-fakta lainnya yang sama sekali tak kelihatan oleh

    Lestrade. Kau kan tahu ke kemampuanku. Jadi, bukannya menyombongkan diri kalau kukatakan bahwa aku akan bekerja dengan caraku sendiri yang tak mungkin dimengerti dan dilakukan oleh Lestrade. Ini bisa menguatkan teorinya, tapi bisa juga sebaliknya yaitu menghancurkannya. Sebagai

    contoh awal kemampuanku, aku bisa tahu bahwa jendela kamar tidurmu pasti terletak di sebelah kanan.

    Coba bayangkan, bisakah Mr. Lestrade tahu hal seperti itu?'

    "Bagaimana mungkin...!"

    "Sobatku, aku mengenalmu dengan baik, Aku tahu kerapian militer masih melekat pada dirimu

    Tiap pagi kau bercukur, dan pada musim panas begini, sinar matahari menerpa sebagian wajahmu pada

    waktu kau bercukur. Ternyata cukuranmu di sebelah kiri agak ke belakang kurang bersih, malah bagian ujung rahangnya terlewatkan sama sekali. Maka jelaslah bahwa bagian kiri wajahmu ini tak mendapat

    sinar sebanyak bagian wajah sebelah kanan. Kalau penerangannya cukup untuk semua bagian, aku

    yakin kau takkan membiarkan ada sebagian wajahmu yang sampai terlewatkan dicukur begitu. Nah, ini

    hanya contoh pengamatan dan kesimpulan yang sepele. Begitulah caraku bekerja, dan siapa tahu ada

    manfaatnya untuk penyelidikan yang akan kita tangani ini. Ada satu atau dua hal kecil dari hasil

    pemeriksaan yang perlu kita pertimbangkan."

    http://www.mastereon.com

    6



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    "Apakah itu?"

    "Nampaknya, pemuda itu tidak langsung ditangkap sesudah perishwa itu terjadi, tapi dia ditangkap setelah berada kembali di rumahnya di Hatherley Farm. Waktu inspektur porisi mengatakan

    bahwa dia akan ditahan, pemuda itu memberi komentar bahwa dia tidak terkejut mendengarnya karena

    hal itu memang merupakan ganjaran baginya. Komentar tersebut tentu saja makin menguatkan kecurigaan hakim penyidik."

    "Itu merupakan pengakuan, kan?"

    "Tidak, karena setelah itu dia langsung menyatakan bahwa dirinya tak bersalah."

    "Yah, setidaknya komentar tersebut mencurigakan, mengingat bukti-bukti yang begitu memberatkannya."

    "Sebaliknya," kata Holmes, "itu merupakan satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Sebodoh-bodohnya dia, dia pasti menyadari bahwa semua bukti menunjuk kepadanya. Kalau saja dia nampak

    terkejut waktu mau ditangkap, atau pura-pura marah, bagiku itu malah mencurigakan, karena reaksinya itu tak wajar dalam keadaan begini. Tapi bagi seorang penjahat kawakan reaksi itulah strategi terbaiknya. Ketenangannya menghadapi kasus ini menunjukkan bahwa dia memang tak bersalah, atau

    bahwa dia orang yang pandai menguasai diri dan tegar. Komentarnya tentang ganjaran bagi dirinya

    cukup wajar saja sebagai ungkapan kepedihan seorang anak terhadap nasib malang yang menimpa

    ayahnya. Bukankah dia baru saja bertengkar hebat dengan ayahnya, bahkan menurut gadis kecil itu dia telah mengangkat tangannya seolah-olah mau memukul ayahnya? Pernyataan rasa bersalah dan kesedihan hati seperti itu sehat-sehat saja, dan tidak berarti dialah yang bersalah."

    Aku menggeleng. "Banyak orang yang telah dihukum gantung, bahkan atas dasar bukti yang tak

    sekuat itu."

    "Memang. Dan jangan lupa, banyak orang yang mati digantung itu ternyata tak bersalah."

    "Kalau menurut pemuda itu, bagaimana kejadiannya?"

    "Sayangnya, tak terlalu menggembirakan orang-orang yang mendukungnya, walaupun ada satu

    atau dua hal yang bisa diselidiki. Silakan baca sendiri saja!"

    Diambilnya koran lokal Herefordshire dari bundel yang dibawanya, dan setelah diserahkannya

    http://www.mastereon.com

    7



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    kepadaku, dia menunjukkan laporan sang pemuda sebagaimana dikutip di koran itu. Aku duduk di

    sudut kereta dan mulai membacanya dengan teliti. Artikel itu berbunyi demikian:

    Mr. James McCarthy, putra tunggal korban, diperiksa dan memberikan

    penjelasannya demikian: "Saya pergi ke Bristol selama tiga hari, dan saya

    pulang pada hari Senin pagi yang lalu, yaitu tanggal 3. Waktu sampai di

    rumah, tak saya jumpai Ayah. Saya diberitahu oleh pelayan wanita bahwa Ayah

    pergi ke Ross bersama John Cobb, tukang kuda. Tak lama kemudian, saya

    mendengar bunyi keretanya di halaman dan dari jendela saya melihathya turun

    dari kereta, lalu berjalan dengan cepat ke luar halaman, tapi saya tak tahu

    mau ke mana dia. Saya lalu mengambil pistol, dan berjalan menuju Boscombe

    Pool untuk menengok kandang kelinci di seberang danau. Dalam perjalanan saya

    berjumpa dengan William Crowder, si penjaga hutan, sebagaimana diutarakan

    dalam kesaksian yang bersangkutan, tapi pernyataannya bahwa menurutnya saya

    sedang menyusul Ayah itu tak benar. Saya tak tahu bahwa dia berjalan di depan

    saya. Ketika kira-kira seratus meter dari danau, saya mendengar teriakan

    'Cooee!' yang biasanya merupakan kode panggilan antara saya dan Ayah. Maka

    saya lalu mempercepat langkah, dan saya temukan dia sedang berdiri di dekat

    danau. Dia malah terkejut ketika melihat kehadiran saya, dan dengan agak

    kasar dia bertanya sedang apa saya di situ. Kami lalu terlibat dalam

    pembicaraan yang menjurus ke pertengkaran mulut, bahkan hampir saja kami

    berkelahi karena Ayah sangat pemberang. Ketika saya menyadari bahwa emosinya

    sudah menjadi tak terkendali, saya pun meninggalkannya, dan berjalan pulang

    ke Hatherley Farm. Belum seratus lima puluh meter saya melangkah, terdengar

    teriakan yang mengerikan dari arah belakang saya. Saya pun langsung berlari

    menghampiri arah suara itu. Saya menemukan Ayah sedang sekarat di tanah,

    kepalanya terluka parah. Saya menjatuhkan pistol saya, memeluknya, tapi dia

    benar-benar sudah tak tertolong lagi. Saya berlutut di sampingnya seperti itu

    selama beberapa menit, lalu saya berlari mencari pertolongan ke pengelola

    penginapan milik Mr. Turner, karena tempat itulah yang terdekat. Saat

    menemukan Ayah yang terluka parah itu, tak terlihat ada orang lain di situ,

    jadi saya pun heran siapa yang telah memukulnya. Ayah saya memang tak punya

    banyak teman karena sikapnya yang d ingin dan tak bersahabat, tapi setahu

    saya, dia juga tak punya musuh. Hanya itulah yang saya ketahui."

    Penyidik : Apakah ayah Anda sempat mengatakan sesuatu kepada Anda sebelum dia

    mati?

    http://www.mastereon.com

    8





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    Saksi: Dia membisikkan beberapa kata,

    tapi yang saya bisa dengar hanyalah

    semacam a rat.

    Penyidik: Menurut Anda, apa yang

    dimaksudkannya?

    Saksi: Saya tak tahu. Menurut saya,

    dia sedang mengigau karena luka-

    lukanya itu.

    Penyidik: Tentang apakah Anda dan

    ayah Anda bertengkar waktu itu?

    Saksi:



    Saya



    tak



    bersedia

    mengatakannya.

    Penyidik: Saya rasa saya harus

    memaksa Anda untuk mengatakannya.

    Saksi: Saya tak bisa. Yang pasti,

    pertengkaran itu tak ada hubungannya dengan musibah yang terjadi sesudah itu.

    Penyidik: Biarlah pengadilan yang akan memutuskan. Saya tak perlu

    mengingatkan Anda bahwa penolakan Anda untuk menceritakan tentang

    pertengkaran itu bisa memojokkan Anda pada proses pengadilan nanti.

    Saksi: Saya tetap menolak mengutarakan hal itu.

    Penyidik: Teriakan "Cooee" itu biasanya dipakai di antara Anda dan ayah Anda?

    Saksi: Ya.

    Penyidik: Jadi untuk apa dia meneriakkan itu kalau dia tak melihat Anda, dan

    bahkan dia belum tahu kalau Anda sudah kembali dari Bristol?

    Saksi (kebingungan): Saya tidak tahu.

    Anggota Juri: Tidakkah Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan ketika Anda

    berlari ke arah ayah Anda yang terluka parah itu?

    Saksi: Secara pasti, tidak ada.

    Penyidik: Apa maksud Anda?

    Saksi: Saya sangat bingung dan ketakutan waktu saya berlari mendekati suara

    jeritan itu, sehingga pikiran saya hanya tertuju pada keselamatan ayah saya.

    http://www.mastereon.com

    9



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    Tapi, rasanya saya melihat sesuatu tergeletak di tanah di sebelah kiri saya.

    Nampaknya semacam jaket atau kain wol berwarna abu-abu, begitulah. Ketika

    kemudian saya berdiri, saya mencoba mencari benda itu, tapi sudah tidak ada

    lagi.

    Maksud Anda, benda itu sudah tak ada di tempatnya sebelum Anda pergi mencari

    pertolongan?

    Ya, sudah tak ada lagi di situ.

    Apakah Anda tak bisa mengatakan dengan pasti benda apakah itu?

    Tidak saya hanya merasa bahwa ada sesuatu di situ.

    Seberapa jauhkah jarak benda itu dari tempat ayah Anda tergeletak?

    Sekitar dua belas meter.

    Dan dari arah hutan?

    Kira-kira sejauh itu juga.

    Jadi, seandainya ada orang yang, mengambil benda itu, berarti pada saat itu

    Anda masih ada di situ, hanya dengan jarak dua belas meter dari benda itu?

    Ya, tapi saya membelakanginya.

    Berakhirlah pemeriksaan itu sampai di sini.

    "Memang komentar petugas penyidik di akhir pemeriksaan agak menyudutkan pemuda McCarthy," kataku "Ditekankannya ketidakcocokan kode 'Cooee' tersebut dengan pengakuan sang pemuda bahwa ayahnya belum melihat dia. Lalu penolakannya untuk menceritakan isi pertengkarannya

    dengan ayahnya, dan kisahnya yang aneh mengenai kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya sebelum

    meninggal. Semua ini, sebagaimana dikatakan oleh petugas penyidik, sangat memberatkan si anak."

    Holmes tertawa perlahan kepada dirinya sendiri dan membaringkan tubuhnya di tempat duduk

    yang ada bantalnya. "Baik kau maupun petugas penyidik itu sama payahnya," katanya. "Menurutku, kedua hal tadi malah meringankan sang pemuda. Apa kaukira dia begitu tololnya hingga tak mampu

    mengarang cerita pertengkaran yang akan menarik simpati para juri? Atau begitu cerdiknya hingga

    dapat mengada-ada soal kain wol yang tiba-tiba menghilang atau tentang ucapan terakhir ayahnya yang ada hubungannya dengan a rat—tikus—itu? Ternyata tidak, kok. Aku akan menyelidiki kasus ini dari sudut pandang bahwa apa yang dikatakan pemuda itu benar adanya, dan kita akan lihat apa yang kita

    http://www.mastereon.com

    10



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    dapatkan nanti. Sekarang, bacalah buku karangan Petrarch ini, dan jangan menyebut-nyebut tentang

    kasus ini lagi sampai kita tiba di tempat kejadian. Kita akan berhenti untuk makan siang di Swindon, dan nampaknya kita akan sampai di sana dua puluh menit lagi."

    Setelah melewati daerah Stroud Valley dan Severn yang indah, kami akhirnya tiba di kota kecil

    bernama Ross pada hampir jam empat sore. Seorang pria kurus yang mukanya licik seperti musang

    telah menunggu kami di peron. Walaupun dia mengenakan jaket luar coklat muda dan sepatu kulit yang

    sesuai dengan suasana pedesaan, aku langsung mengenalinya. Dialah Lestrade dari Scotland Yard.

    Kami diantarnya ke Penginapan Hereford Arms. Kami telah dipesankan kamar di situ.

    "Saya sudah minta agar disiapkan kereta untuk kalian," kata Lestrade begitu kami duduk untuk minum teh. "Saya tahu Anda sigap sekali, dan Anda pasti tak sabar lagi untuk segera pergi ke tempat kejadian."

    "Anda baik sekali" kata Holmes. "Tapi itu tergantung cuaca."

    Lestrade nampak heran. "Saya tak mengerti maksud Anda," katanya.

    "Berapakah suhu udara saat ini? Dua puluh sembilan derajat, ya. Tidak ada angin bertiup, dan

    tidak mendung. Saya bawa satu pak rokok, masih utuh. Malam ini kami sebaiknya santai dulu saja di

    sofa empuk itu sambil merokok. Tak biasanya penginapan di desa memasang sofa seempuk ini. Saya

    rasa, saya tak memerlukan kereta malam ini."

    Lestrade tertawa seakan-akan maklum, "Anda pasti telah berhasil menarik kesimpulan dari berita-berita di koran," katanya. "Kasus ini memang jelas sekali. Penyelidikan lebih lanjut justru hanya akan memperkuat kesimpulan yang sudah ada. Tapi, bagaimanapun, kita tak bisa menolak permintaan

    seorang gadis yang menawan hati, bukan? Dia telah mendengar tentang Anda, dan ingin minta pendapat Anda, walaupun saya sudah berulang kali mengatakan kepadanya bahwa Anda pun takkan

    bisa berbuat lebih banyak dari yang sudah saya lakukan. Nah, itu dia!"

    Belum selesai Lestrade berkata-kata, seorang gadis berlari memasuki ruangan di mana kami

    berada. Dibanding dengan gadis-gadis cantik yang pernah kutemui, gadis ini lebih cantik lagi. Matanya yang biru legam bersinar-sinar, bibirnya terbuka, pipinya agak memerah. Sikapnya menggebu-gebu dan

    dia kelihatan amat cernas.

    "Oh, Mr. Sherlock Holmes!" serunya sambil memandang kami secara bergantian, dan akhirnya,

    http://www.mastereon.com

    11





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    dengan naluri kewanitaannya, dia mendekat ke arah temanku. "Saya senang sekali Anda telah datang.

    Saya sengaja datang kemari untuk menemui Anda. Saya tahu James tidak melakukan pembunuhan itu.

    Saya tahu itu dan saya harap Anda bisa segera bertindak untuk membuktikannya. Anda tak perlu sangsi sedikit pun tentang hal ini. Kami sudah saling mengenal sejak kecil, dan saya tahu persis kekurangan-kekurangannya. Tapi dia itu sangat lembut hatinya, bahkan melukai lalat saja dia tak tega. Tuduhan

    yang dibebankan kepadanya sangat tak masuk akal bagi orang yang benar-benar mengenalnya."

    "Semoga kami bisa menolongnya, Miss Turner,"

    kata Sherlock Holmes. "Percayakan semuanya pada

    saya, dan saya akan bertindak semampu saya."

    "Tapi, Anda tentunya sudah membaca tentang

    bukti-bukti yang didapatkan, bukan? Sudahkah Anda

    menarik suatu kesimpulan? Adakah Anda menemukan

    lubang atau cacat pada bukti-bukti itu7 Tidakkah Anda

    sendiri merasa bahwa dia tidak bersalah?1'

    "Saya rasa, bisa saja begitu."

    "Nah, kan!" teriaknya sambil menoleh dan menatap

    ke arah Lestrade dengan sengit. "Anda dengar? Dia

    memberi harapan pada saya."

    Lestrade mengangkat kedua bahunya. "Saya rasa, teman saya ini telah bertindak amat gegabah

    dengan kesimpulannya itu," katanya.

    "Tapi dia benar. Oh! Saya tahu dialah yang benar. James tak pernah melakukan hal seperti itu.

    Dan tentang pertengkarannya dengan ayahnya, saya yakin alasan penolakannya untuk menceritakan

    kepada petugas penyidik itu ialah karena ada sangkut pautnya dengan diri saya."

    "Sangkut paut bagaimana?" tanya Holmes.

    "Saya tak ingin merahasiakan hal ini lagi. James dan ayahnya berbeda pendapat soal diri saya.

    Mr. McCarthy sangat mengharapkan agar kami berdua bisa menikah. James dan saya selama ini memang saling mencintai, tapi hanya seperti kakak dan adik. Tentu saja, karena James masih amat

    muda dan belum tahu banyak tentang kehidupan ini, dan... dan... yah, dia belum berniat untuk menikah.

    http://www.mastereon.com

    12





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    Lalu mereka bertengkar, berkali-kali, dan saya yakin, pertengkaran terakhir juga gara-gara soal ini."

    "Dan ayah Anda?" tanya Holmes.

    "Apakah dia setuju dengan hubungan kalian

    berdua?"

    "Tidak, dia juga menentang. Hanya Mr.

    McCarthy yang setuju!" Pipinya langsung

    memerah ketika Sherlock Holmes menatapnya

    dengan penuh rasa ingin tahu setelah dia

    mengucapkan

    hal ini.

    "Terima kasih untuk informasi ini,"

    katanya. "Apakah saya bisa menemui ayah Anda kalau saya ke rumah Anda besok pagi?"

    "Nampaknya, dokter tak akan mengizinkan Anda."

    "Dokter?"

    "Ya, apakah Anda belum dengar? Kesehatan ayah saya yang malang sudah memburuk sejak

    beberapa tahun terakhir ini, dan musibah ini semakin membuatnya sedih. Dia hanya terbaring di tempat tidur saja, dan Dr. Willows mengatakan bahwa keadaannya sangat memprihatinkan, karena sistem

    sarafnya telah terganggu. Mr. McCarthy adalah satu-satunya teman yang telah dikenalnya sejak mereka tinggal di Victoria."

    "Ha! Victoria! Itu penting."

    "Ya, waktu itu mereka tinggal di daerah pertambangan."

    "Oh, begitu, daerah pertambangan emas yang lalu menjadikan Mr. Turner kaya raya."

    "Benar."

    "Terima kasih, Miss Turner. Anda sangat banyak membantu saya."

    "Kabari saya kalau ada perkembangan baru besok pagi. Anda pasti akan menemui James di

    tempat tahanannya, kan? Oh, kalau ya, Mr. Holmes, tolong katakan padanya bahwa menurut saya dia

    http://www.mastereon.com

    13





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    tidak bersalah."

    "Akan saya sampaikan. Miss Turner."

    "Saya harus segera pulang, karena Ayah sedang sakit, dan dia selalu ingin saya temani. Sampai

    jumpa lagi, dan Tuhan kiranya menolong upaya Anda." Dia meninggalkan ruangan dengan bergegas,

    persis seperti waktu masuknya tadi, dan kami lalu mendengar gemeretak keretanya menjauh di jalanan.

    "Anda keterlaluan, Holmes," kata Lestrade dengan ketus setelah kami terdiam selama beberapa menit. "Untuk apa Anda menjanjikannya harapan kosong seperti itu? Hati saya memang tak terlalu lembut, tapi apa yang Anda lakukan itu kejam sekali, menurut saya."

    "Saya rasa, saya sudah mendapatkan peluang untuk membela James McCarthy," kata Holmes.

    "Apakah Anda punya izin untuk menengoknya di tahanan?"

    "Ya, tapi hanya untuk kita berdua."

    "Kalau begitu, setelah saya mempertimbangkan lebih lanjut, sebaiknya saya pergi menjenguknya sekarang saja. Masih ada waktu untuk naik kereta api malam ke Hereford, kan?"

    "Cukup banyak."

    "Kalau begitu, mari kita berangkat. Watson, maaf, kau menunggu di sini, ya? Aku cuma akan

    pergi selama beberapa jam, kok."

    Kuantar mereka sampai di stasiun, lalu aku berjalan-jalan mengelilingi kota kecil itu sebelum

    kembali ke penginapan. Di kamar penginapan itu, aku berbaring di sofa dan mencoba membaca sebuah

    novel. Tapi ceritanya tak begitu menarik

    dibandingkan dengan misteri yang sedang

    kami selidiki. Perhatianku jadi terpecah-

    pecah antara cerita novel itu dan kasus

    yang sedang kuhadapi. Akhirnya novel itu

    kulempar ke samping dan mulailah

    pikiranku melayang-layang, dipenuhi oleh

    peristiwa-peristiwa sepanjang hari tadi.

    Misalkan saja kisah pemuda yang malang

    http://www.mastereon.com

    14



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    itu benar, lalu apa yang sebenarnya terjadi setelah dia meninggalkan ayahnya karena pertengkaran itu?

    Bukankah sesaat kemudian dia berbalik mendengar jeritan ayahnya? Pasti sesuatu yang sangat mengerikan dan menakutkan. Kira-kira, apa ya? Tidakkah bekas lukanya akan menunjukkan sesuatu,

    kalau kuperiksa? Aku membunyikan bel dan minta koran mingguan lokal yang memuat hasil pemeriksaan mayat secara rinci. Menurut ahli bedah, nampaknya bagian belakang tulang ubun-ubun

    sebelah kirinya dan separo tulang belakang kepalanya telah hancur karena pukulan yang keras dari

    semacam benda tumpul. Kuraba kepalaku di bagian-bagian yang disebut itu. Jelas, bahwa pukulan

    semacam itu datangnya dari arah belakang. Kenyataan ini agak meringankan terdakwa, karena ketika

    pemuda itu bertengkar dengan ayahnya, mereka tentulah saling berhadapan. Tapi tak banyak menolong

    juga, karena bisa saja terjadi bahwa ayahnya telah membalikkan badannya sebelum pemuda itu memukulnya. Namun ini toh perlu dilaporkan pada Holmes. Lalu tentang ucapannya yang aneh menjelang ajalnya yang menyebut-nyebut a rat itu. Apa maksudnya? Pasti bukan karena mengigau.

    Seseorang yang sekarat karena pukulan tiba-tiba, biasanya tidak dalam keadaan mengigau. Tidak!

    Lebih tepat kalau dikatakan bahwa dia sedang berupaya untuk menjelaskan apa yang telah menimpanya. Tapi, apa maksudnya? Kuperas otakku untuk mencari kemungkinan jawabannya. Lalu,

    kain berwarna abu-abu yang dilihat oleh pemuda McCarthy. Kalau itu benar, sesuatu milik sang pembunuh pastilah telah terjatuh pada waktu dia melarikan diri, mungkin jaketnya. Dan dia pasti telah memaksakan diri untuk memungutnya kembali pada saat pemuda itu berjongkok membelakanginya di

    depart ayahnya tak jauh dari situ. Wah, kok serba misterius dan tak masuk akal! Aku bukannya mengesampingkan pendapat Lestrade sama sekali, tapi aku lebih percaya pada naluri Sherlock Holmes.

    Maka aku pun berharap semoga ada fakta baru yang akan membuktikan bahwa pemuda McCarthy

    memang tak bersalah.

    Malam telah sangat larut ketika Sherlock Holmes kembali. Dia pulang sendirian karena Lestrade menginap di kota.

    "Hawanya masih panas sekali," komentarnya sambil mengambil tempat duduk. "Semoga hujan tak akan turun sebelum kita mengamati tempat kejadian itu. Tapi aku tadi memang tak mau pergi,

    karena badanku letih sekali setelah perjalanan yang panjang. Orang harus berada dalam kondisi prima kalau mau melakukan penyelidikan. Oh ya, aku sudah menemui pemuda McCarthy."

    "Apa yang kaudapatkan darinya?"

    http://www.mastereon.com

    15



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    "Nihil."

    "Tak ada petunjuk sedikit pun?"

    "Sama sekali tidak. Aku sempat berpikir bahwa dia sebenarnya tahu siapa pelakunya, dan dia

    mencoba melindunginya. Tapi kini aku yakin bahwa dia memang tak tahu apa-apa, dia sama bingungnya dengan orang-orang lain. Dia bukan pemuda yang amat cerdas, tapi wajahnya tampan, dan

    kurasa juga baik hat."

    "Bodoh sekali dia," komentarku, "kalau dia benar-benar menolak untuk menikah dengan gadis secantik Miss Turner."

    "Ah, soal itu ternyata ada latar belakangnya yang agak menyedihkan. Pemuda ini sebenarnya

    amat mencintai gadis itu. Tapi, kira-kira dua tahun yang lalu, ketika dia masih ingusan, dan ketika dia belum mengenal gadis itu secara mendalam karena sang gadis bersekolah jauh darinya selama lima

    tahun, si ingusan yang tolol ini jatuh ke pelukan seorang pelayan bar di Bristol, dan menikahinya di kantor catatan sipil! Tak ada seorang pun yang tahu tentang hal ini, jadi bayangkan betapa jengkelnya dia ketika ayahnya marah kepadanya karena dia tidak mau menikahi Miss Turner—sesuatu yang sebenarnya sangat didambakannya tapi yang dia tahu persis tak mungkin dilakukannya. Kejengkelan

    yang memuncak inilah yang membuatnya hampir memukul ayahnya pada percakapan mereka yang

    terakhir, karena orang tua itu memaksanya untuk melamar Miss Turner. Sebaliknya, karena dia belum

    mampu membiayai hidupnya sendiri, dia tak berani berterus terang soal pernikahannya kepada ayahnya, karena dia pasti akan diusir dari rumah. Kepergiannya ke Bristol selama tiga hari itu adalah untuk menemui istrinya, dan ayahnya tak tahu ke mana dia pergi. Ingat itu. Ini penting. Tapi musibah ini ada sisi baiknya juga. Ketika istrinya membaca tentang musibah yang melibatkan suaminya, bahkan dengan kemungkinan hukuman gantung dia lalu memutuskan hubungan dengan suaminya. Wanita itu

    menulis surat kepadanya dan mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah mempunyai suami di Bermuda

    Dockyard, sehingga dengan demikian tak ada hubungan lagi dengannya. Kurasa berita itu sangat melegakan pemuda McCarthy dari beban yang selama ini dipikulnya."

    "Kalau bukan dia pelakunya, lalu siapa?"

    "Ah! Siapa? Coba perhatikan dua hal ini. Pertama, korban waktu itu ada janji bertemu dengan

    seseorang di dekat danau, dan orang itu pastilah bukan anaknya, karena dia sedang tak berada di

    http://www.mastereon.com

    16



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    rumah, dan sang ayah tak tahu kapan dia akan kembali. Kedua, korban meneriakkan 'Cooee!' sebelum

    dia tahu bahwa anaknya telah kembali. Hal-hal itu sangat penting dan sangat mempengaruhi kasus ini.

    Sebaiknya kita sekarang membicarakan tentang George Meredith saja, dan kita tinggalkan urusan kecil itu sampai besok pagi."

    Hujan memang tidak turun semalaman sebagaimana diramalkan oleh Holmes. Keesokan

    harinya, cuaca sangat cerah dan tak ada awan menggantung di langit. Pada jam sembilan Lestrade

    menjemput kami dengan sebuali kereta, dan kami lalu berangkat ke Hatherley Farm dan Boscombe

    Pool.

    "Ada berita penting pagi tadi," kata Lestrade. "Dikatakan bahwa keadaan Mr. Turner sangat parah, dan dia mungkin takkan bertahan lama,''

    "Sudah tuakah dia?" tanya Holmes.

    "Sekitar enam puluhan. Tapi waktu hidup di luar negeri dia telah memeras tenaganya sedemikian rupa, sehingga kini kesehatannya terus momburuk. Musibah ini telah sangat memukulnya.

    Dia berteman akrab dengan McCarthy, dan sangat dermawan kepada temannya itu. Dia menyewakan

    Hatherley Farm kepadanya dengan gratis."

    "Begitukah?! Menarik sekali," kata Holmes.

    "Oh, ya! Dia telah banyak menolongnya. Setiap orang tahu betapa baiknya dia kepada orang

    yang malang itu."

    "Sungguhkah? Tidakkah Anda merasa aneh bahwa McCarthy yang tak begitu mampu itu, dan

    sudah banyak dibantu oleh Turner, masih tetap memaksa agar anaknya menikah dengan putri Turner

    yang pasti akan mewarisi semua kekayaan ayahnya? Bagaimana mungkin dia seolah-olah yakin bahwa kalau anaknya melamar, pasti tak akan ditolak? Yang lebih aneh lagi kita tahu bahwa Turner

    sendiri menentang hal itu. Putrinya sendiri yang mengatakannya pada kami. Tidakkah Anda bisa menarik kesimpulan dari fakta ini?"

    "Kami sudah menarik kesimpulan," kata Lestrade sambil mengedipkan mata kepadaku.

    "Menangani fakta saja sudah cukup sulit, Holmes, apalagi kalau ditambah dengan segala macam teori dan angan-angan."

    http://www.mastereon.com

    17





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    "Anda benar," kata Holmes pura-pura sopan. "Anda memang susah melihat fakta."

    "Bagaimanapun juga, saya telah mendapatkan fakta yang nampaknya terlewatkan oleh Anda,"

    jawab Lestrade dengan sengit.

    "Fakta apakah itu?"

    "Bahwa McCarthy tua dibunuh oleh McCarthy muda dan kalau ada teori yang menentang fakta

    ini, pastilah hanya bagaikan menggapai sinar rembulan saja."

    "Yah, sinar rembulan kan lebih terang dibandingkan kabut," kata Holmes sambil tertawa. "Tapi kalau tak salah, yang di sebelah kiri itu Hatherley Farm, kan?"

    "Benar."

    Bangunan itu cukup luas dan menarik,

    berlantai dua, beratap bata, dan lumut kuning

    menempel pada beberapa bagian dindingnya yang

    berwarna abu-abu. Kerai jendelanya tertutup

    sebagian cerobong asapnya tak dinyalakan,

    sehingga rumah itu berkesan menyeramkan

    seolah-olah musibah yang mengerikan itu masih

    menggantung di situ. Kami mengetuk pintu, lalu

    atas permintaan Holmes, seorang pelayan wanita

    menunjukkan sepatu tuannya yang dipakai pada

    waktu ajalnya, dan juga sepatu anaknya,

    walaupun yang ada bukanlah yang dipakai waktu itu. Setelah mengukur kedua sepatu itu dengan teliti

    dan mengamatinya dari tujuh atau delapan sudut pandang Holmes ingin segera menuju ke halaman.

    Dari situ, kami lalu berjalan melewati jalan yang berkelok-kelok menuju Boscombe Pool.

    Holmes menjadi pribadi yang lain kalau sedang melacak kejahatan seperti ini. Benar-benar tak

    mirip dengan sosok Holmes sang pemikir yang tenang dari Baker Street. Saat ini, wajahnya menjadi

    merah padam. Alisnya mengerut, dan matanya menjadi keras dan nyalang. Wajahnya menunduk, bahunya ditekuk, bibirnya terkatup rapat, dan urat-urat di lehernya yang panjang dan menonjol ototnya terlihat bagaikan tali cemeti. Dengusan napasnya terdengar memburu dengan keras seperti binatang

    http://www.mastereon.com

    18





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    buas yang sedang memburu mangsanya, dan pikirannya benar-benar terpusat pada masalah yang sedang ditanganinya. Dia tak mengacuhkan apa pun yang kami katakan, paling-paling hanya menjawab

    dengan bentakan pendek yang menunjukkan kejengkelannya.

    Dengan sigap dan tanpa berkata sepatah pun dia berjalan melewati jalanan yang membelah

    padang rumput itu, lalu akhirnya sampai ke hutan dekat Boscombe Pool. Tanahnya lembap dan berawa,

    sebagaimana tanah pada umumnya di daerah semacam itu, dan ada banyak sekali bekas kaki, baik di

    jalanan itu maupun di kedua sisi rerumputan. Kadang-kadang Holmes mempercepat langkahnya, kadang-kadang mendadak berhenti, dan sekali waktu dia berbalik dan mengitari tempat itu. Aku dan

    Lestrade berjalan di belakangnya. Sikap Lestrade acuh tak acuh dan agak meremehkan temanku, sedangkan aku memperhatikan temanku dengan penuh minat karena aku yakin bahwa setiap tindakannya itu mengandung maksud tertentu.

    Boscombe Pool, yang merupakan danau kecil yang

    pinggirannya dipenuhi alang-alang terlihat kira-kira lima

    puluh meter di depan sana. Danau itu terletak tepat di

    perbatasan Hatherley Farm dan halaman rumah Mr. Turner

    yang kaya raya. Di ujung yang lain hutan itu, terlihat puncak

    rumah sang pemilik tanah yang berwarna merah. Hutan yang

    terletak dekat Hatherley Farm lebat sekali, dan ada rumput

    basah memanjang sejauh dua puluh langkah membatasi hutan

    dan alang-alang di pinggir danau itu. Lestrade menunjukkan

    tempat ditemukannya mayat. Tanah di situ benar-benar

    lembap sehingga bekasnya masih jelas terlihat. Wajah Holmes

    yang penasaran dan matanya yang menyipit, menunjukkan

    bahwa dia mendapat banyak masukan dari keadaan rumput

    yang terinjak-injak di sekitar tempat itu. Dia lari berkeliling,

    bagaikan anjing yang mencium sesuatu, lalu kembali lagi

    menghampiri Lestrade.

    "Untuk apa Anda nyebur ke danau?" tanyanya.

    "Mengorek-ngorek dengan garu. Saya kira saya bisa menemukan senjata atau apa. Tapi,

    http://www.mastereon.com

    19





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    bagaimana mungkin...?"

    "Sudah, sudah! Saya tak punya waktu lagi. Jejak kaki kiri Anda yang melengkung ke dalam itu

    memenuhi tempat ini. Tikus pun akan bisa melihatnya. Jejak itu menghilang di antara alang-alang. Oh, aku seharusnya kemari sebelum tempat ini diinjak injak banyak orang. Mereka itu bagaikan kerbau

    yang berguling-guling di kubangan. Ini bekas rombongan pengelola penginapan, dan ada sekitar enam

    atau delapan jejak kaki mereka di sekitar sini. Tapi ada jejak sepasang kaki yang terpisah."

    Dia mengeluarkan kaca pembesarnya dan duduk di tanah untuk mengamati dengan lebih teliti,

    sambil terus menggumam pada dirinya sendiri.

    "Yang ini bekas kaki McCarthy muda. Dua kali dia lewat sini, dan sekali sambil berlari cepat,

    sehingga alas sepatunya menghunjam lebih dalam ke tanah dan bekas, hak sepatunya hampir tak terlihat. Jejak itu cocok dengan penuturannya. Dia berlari ketika melihat ayahnya terkapar di tanah.

    Dan yang ini jejak kaki ayahnya ketika mondar-mandir di sini. Lalu, he, apa ini? Bekas gagang senapan pemuda itu ketika sedang mendengarkan omelan ayahnya. Dan yang ini? Ha, ha! Apa ini? Jejak kaki

    yang berjingkat, kaki yang berjingkat! Persegi lagi, berarti sepatunya agak khas! Jejak yang ini datang, lalu pergi, kemudian datang lagi—tentu saja untuk mengambil jaket yang ketinggalan! Nah, dari mana

    asal jejak ini?"

    Dia berlari naik-turun, kadang-kadang kecewa, kadang-kadang menemukan arah jejak itu, sampai akhirnya kami mendekati hutan. Kami berlindung di bawah bayangan sebuah pohon yang amat

    besar. Holmes masih melanjutkan pelacakannya dan akhirnya sekali lagi membungkukkan badan hingga wajahnya hampir menempel di tanah sambil berteriak kegirangan. Dia berada di situ selama

    beberapa saat, sambil menyibakkan daun-daun dan ranting-ranting, lalu mengambil semacam debu

    segenggam dan memasukkannya ke sebuah

    amplop. Dengan kaca pembesarnya dia

    mengamati bukan saja tanah, tapi juga

    batang pohon sampai setinggi yang bisa

    dijangkaunya. Sebuah batu yang bergerigi

    pinggirannya tergeletak di tengah lumut;

    ini pun diamatinya dengan teliti, lalu

    disimpannya. Kemudian, dia terus berjalan

    http://www.mastereon.com

    20



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    menerobos hutan itu sampai tiba di jalan besar di ujung sana. Sampai di sini berakhirlah semua jejak yang ada.

    "Kasus ini menarik sekali," komentarnya. Dia sudah kembali ke sikapnya semula. "Saya rasa rumah abu-abu di sebelah kanan itu adalah penginapan yang dimaksud oleh pemuda McCarthy. Saya

    mau ke sana dan berbicara dengan Moran. Mungkin ada yang perlu saya catat. Sesudah itu, kita akan

    pulang untuk makan siang. Silakan menuju ke kereta duluan, saya akan menyusul tak lama lagi."

    Sepuluh menit kemudian kami bertiga sudah berkumpul di kereta lagi. Kami lalu berangkat

    menuju Ross. Holmes masih menyimpan batu yang diambilnya dari hutan tadi.

    "Ini mungkin akan menarik perhaban Anda, Lestrade," katanya sambil menunjukkan batu itu.

    "Inilah yang dipakai untuk membunuh McCarthy."

    "Tak ada tanda-tandanya."

    "Memang."

    "Lalu, bagaimana Anda bisa tahu?"

    "Dari rumput yang tumbuh di bawahnya. Benda itu baru ada di situ selama beberapa hari. Sejak

    ada di situ, tak ada orang yang mengambilnya. Benda ini cocok dengan luka-luka korban. Tak ada

    petunjuk yang mengarah digunakannya senjata lain."

    "Dan pembunuhnya?"

    "Seorang pria jangkung, kidal, kaki kanannya pincang, memakai sepatu berburu yang solnya

    amat tebal serta jaket abu-abu, mengisap cerutu India, pakai pipa, dan membawa pisau lipat yang

    tumpul di sakunya. Ada beberapa indikasi lainnya lagi, tapi sementara ini yang sudah saya sebut tadi cukuplah bagi kita untuk melakukan pelacakan."

    Lestrade tertawa "Wah, saya masih ragu," katanya. "Boleh saja Anda berteori, tapi biarlah hakim yang menentukan."

    "Terserahlah," jawab Holmes dengan kalem. "Anda bekerja dengan cara Anda sendiri, dan saya bekerja dengan cara saya. Saya akan sibuk siang ini, dan mungkin akan kembali ke London nanti

    malam."

    http://www.mastereon.com

    21



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    "Dan meninggalkan kasus ini begitu saja, tanpa penyelesaian?"

    "Tentu tidak. Akan terselesaikan!"

    "Tapi, misteri ini kan masih...?"

    "Sudah terselesaikan."

    "Siapa penjahatnya, kalau begitu?"

    "Orang yang saya gambarkan tadi."

    "Siapa?"

    "Pasti tak susah untuk menebaknya. Ini kan cuma desa kecil."

    Lestrade mengangkat kedua bahunya. "Saya orangnya praktis," katanya. "Untuk apa saya susah-susah mengelilingi desa ini untuk mencari seseorang yang kidal tangannya dan pincang kakinya? Saya

    akan ditertawakan oleh Scotland Yard."

    "Baiklah," kata Holmes dengan tenang. "Pokoknya saya sudah memberi kesempatan pada Anda.

    Kita sudah sampai di penginapan Anda. Selama tinggal. Saya akan mengirim kabar sebelum saya

    pulang."

    Sesudah Lestrade turun, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju hotel kami. Makan

    siang sudah terhidang di meja. Holmes terdiam dan sedang berpikir dengan serius. Wajahnya nampak

    sedih sepertinya sedang menghadapi sesuatu yang mengejutkan dan membingungkannya.

    "Sini, Watson," katanya ketika meja makan sudah dibersihkan, "duduklah di kursi ini dan dengarkan aku berkhotbah sebentar. Aku bingung apa yang harus kulakukan, dan aku butuh nasihatmu.

    Nyalakan cerutumu dan izinkan aku bercerita."

    "Silakan."

    '

    "Yah, sehubungan dengan kasus ini, ada dua hal yang langsung menarik perhatian kita. Aku

    merasa kedua hal itu akan meringankan terdakwa, sedangkan kau merasa sebaliknya. Yang pertama

    ialah fakta bahwa menurutnya ayahnya berteriak 'Cooee!' sebelum melihatnya. Yang kedua ialah kata a rat yang keluar dari bibir korban sebelum ia meninggal. Sebetulnya korban menggumamkan beberapa kata lain, tapi hanya itu yang didengar oleh sang anak. Kita harus memulai pengamatan kita dari kedua

    http://www.mastereon.com

    22



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    hal ini, dan kita mulai dengan menganggap bahwa apa yang dikatakan pemuda itu benar adanya."

    "Kalau begitu, bagaimana dengan teriakan 'Cooee!' itu?"

    "Jelas teriakan itu tidak ditujukan kepada sang anak, karena setahu ayahnya, dia masih berada di Bristol. Kebetulan saja dia mendengarnya. Teriakan itu sebenarnya dimaksudkan untuk memberi kode

    kepada orang yang akan ditemuinya di tempat itu. Tapi 'Cooee!' itu adalah teriakan khas orang Australia atau orang-orang yang pernah bergaul dengan orang-orang Australia. Jadi aku menduga.

    bahwa pertemuan di dekat Boscombe Poof itu adalah antara McCarthy dengan seseorang yang pernah

    tinggal di Australia."

    "Lalu, bagaimana dengan ucapan a rat itu?"

    Sherlock Holmes mengeluarkan kertas yang terlipat dari sakunya dan membentangkannya di

    meja. "Ini peta Koloni Victoria," katanya. "Aku menelegram ke Bristol untuk minta agar aku dikirimi peta ini tadi malam." Dia menunjuk salah satu bagian dari peta itu, dan menutupi sebagian tulisannya.

    "Coba baca!" pintanya.

    "ARAT," begitu bunyinya ketika kubaca.

    "Dan sekarang?" Dia mengangkat tangannya dari peta itu.

    "BALLARAT."

    "Begitulah. Itulah kata yang diucapkan oleh korban, yang oleh anaknya hanya terdengar dua

    suku kata terakhirnya. Dia ingin menyebutkan nama pembunuhnya, yaitu titik-titik-titik dari Ballarat."

    "Luar biasa!" seruku.

    "Ah, tidak. Nah, dengan demikian masalahnya telah kupersempit. Kita anggap saja si pemuda

    tak salah lihat soal jaket abu-abu itu, jadi kita memiliki gambaran yang lebih jelas sekarang.

    Pembunuhnya berasal dari Australia, tepatnya dari Ballarat, dan mempunyai jaket abu-abu."

    "Tentu saja."

    "Dan orang itu pastilah dikenal di daerah ini, karena Boscombe Pool hanya bisa dicapai lewat

    pertanian McCarthy atau Mr. Turner. Orang asing tentunya tak dapat seenaknya mondar-mandir di

    situ."

    http://www.mastereon.com

    23





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    "Begitulah kelihatannya."

    "Lalu hasil penyelidikan kita pagi tadi. Setelah mengamati tanah di situ, aku mendapatkan

    rincian-rincian yang sepele tentang pembunuh itu seperti tadi sudah kusampaikan pada Lestrade yang

    tolol itu."

    "Tapi bagaimana kau bisa mendapatkan rincian-rincian itu?"

    "Kau kan tahu caraku bekerja. Tentu saja didasarkan pada pengamatan terhadap hal-hal yang

    sepele."

    "Aku tahu tinggi badan pembunuh itu bisa dikira-kira dari panjang langkahnya. Jenis sepatunya

    pun bisa diperoleh dari jejaknya."

    "Ya, sepatunya agak aneh."

    "Tapi bagaimana kau tahu bahwa dia pincang?"

    "Jejak sepatunya yang sebelah kanan tak terlalu

    dalam dibandingkan dengan yang kiri. Jadi tekanan

    kaki kanannya tak terlalu kuat. Mengapa? Karena dia

    pincang."

    "Kalau tentang tangannya yang kidal?"

    "Kau sendiri kan terkejut ketika membaca hasil

    pemeriksaan ahli bedah mayat tentang luka-luka

    korban yang mematikan itu. Pukulan itu berasal dari

    belakang, mengenai bagian kiri ke palanya. Nah,

    bagaimana itu mungkin terjadi kalau pelakunya

    bukan orang kidal? Dia bersembunyi di belakang

    pohon selama ayah dan anak itu bertengkar. Dia

    bahkan sempat merokok. Aku menemukan abu

    cerutunya, yang setahuku adalah cerutu India. Kau

    kan tahu, masalah abu sangat menarik perhatianku.

    bahkan aku pernah menulis makalah mengenai 140

    http://www.mastereon.com

    24





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    jenis abu cerutu, rokok, dan tembakau. Setelah menemukan abunya, aku juga menemukan puntung

    cerutu yang dibuangnya di tengah-tengah lumut. Ternyata memang cerutu India yang diproduksi di

    Rotterdam."

    "Lalu soal pipa itu?"

    "Aku tahu bahwa bagian ujung cerutunya bukanlah bekas diisap di mulut. Jadi, tentunya dia

    mengisapnya dengan pipa. Ujung cerutu itu dipotong, tak ada bekas gigitan, tapi potongannya tidak

    rapi. Jadi kesimpulanku, pisau lipat tumpullah yang telah digunakannya untuk memotong ujung cerutu

    itu."

    "Holmes," kataku, "jaring yang kaupasang sekeliling sang pembunuh benar-benar tak dapat ditembus. Kau juga telah menyelamatkan nyawa pemuda yang tak bersalah. Kini, aku tahu siapa pembunuhnya. Tentunya dia adalah..."

    "Mr. John Turner," teriak petugas hotel sambil membuka pintu kamar kami dan mengantar

    masuk seorang tamu.

    Tamu itu aneh bentuk badannya dan menarik

    perhatian. Langkahnya pelan-pelan dan pincang. Dengan

    pundaknya yang bungkuk, dia benar-benar menampilkan

    sosok seorang tua yang sudah renta, tapi wajahnya yang

    keras, kasar, dan jelas lekuk-lekuknya, serta tangannya

    yang kekar menunjukkan bahwa tubuhnya dulu amat

    kuat. Jenggotnya kusut masai, rambutnya beruban, kedua

    alisnya tebal dan hampir menyatu, membuat

    penampilannya nampak seperti orang yang berj-angkat

    tinggi dan berkuasa. Tapi kulit wajahnya amat pucat, bibir

    dan ujung hidungnya kebiru-biruan. Jelas, bahwa dia

    sedang menderita sakit yang payah, dan sudah menahun.

    "Silakan duduk di sofa," kata Holmes dengan

    ramah. "Anda terima surat saya?"

    "Ya,



    pengurus



    penginapan



    yang

    http://www.mastereon.com

    25



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    menyampaikannya pada saya. Anda mengatakan bahwa Anda ingin bertemu dengan saya di sini untuk

    menghindari skandal."

    "Saya rasa, orang-orang akan bertanya-tanya kalau saya berkunjung ke rumah Anda."

    "Dan untuk apa Anda ingin bertemu dengan saya?" Dia menatap temanku dengan pandangan

    putus asa, seolah-olah dia sudah menduga jawaban atas pertanyaan yang baru saja diucapkannya sendiri.

    "Ya," kata Holmes sambil membalas tatapan mata tamunya. "Begitulah. Saya tahu semuanya tentang McCarthy."

    Orang tua itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ampun, ya Tuhan!" teriaknya.

    "Tapi saya benar-benar tak berniat mencelakakan pemuda itu. Percayalah saya akan membelanya di pengadilan kelak."

    "Saya senang sekali mendengar hal itu" kata Holmes dengan serius.

    "Sebetulnya sekarang pun saya bersedia buka mulut, kalau saja saya tak mengingat kepentingan

    putri saya tersayang. Kalau dia sampai mendengar hal ini, hatinya pasti akan hancur.. hatinya akan

    hancur, kalau dia mendengar saya ditangkap."

    "Mungkin hal itu tak perlu terjadi," kata Holmes.

    "Apa!"

    "Saya bukan petugas pemerintah. Putri Andalah yang meminta saya datang kemari, dan saya

    bertindak untuk kepentingannya. Tapi, bagaimanapun, McCarthy muda harus dibebaskan."

    "Saya takkan hidup lama lagi," kata si tua Turner. "Saya telah lama menderita diabetes. Dokter mengatakan saya mungkin hanya akan bertahan sebulan lagi. Tapi saya mohon, biarkan saya mati di

    rumah sendiri dan bukan di penjara."

    Holmes bangkit dan duduk di belakang mejanya. Ada setumpuk kertas di hadapannya dan

    pulpen di tangannya.

    "Tolong ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi," katanya. "Saya akan mencatatnya. Nanti Anda tinggal membubuhkan tanda tangan, dan Watson akan menjadi saksi. Kalau keadaan amat

    http://www.mastereon.com

    26



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    mendesak kelak, barulah pengakuan Anda ini akan saya gunakan untuk menyelamatkan jiwa pemuda

    McCarthy. Saya berjanji tak akan menggunakannya kecuali kalau benar-benar sangat diperlukan."

    "Baik," kata orang tua itu. "Bagi saya sebenarnya tak jadi masalah, karena saya toh mungkin sudah tiada waktu kasusnya ditangani Pengadilan Assizes. Saya hanya menjaga bagaimana supaya

    Alice tak terguncang hatinya oleh hal ini. Sekarang, saya akan jelaskan semuanya kepada Anda. Latar belakangnya sudah lama sekali, tetapi saya hanya akan menceritakannya secara singkat.

    "Anda pasti tak kenal siapa McCarthy yang sudah mati itu. Dia itu jelmaan iblis. Sungguh!

    Semoga Anda tak ketemu dengan orang macam dia seumur hidup Anda. Dia telah mencengkeram saya

    selama dua puluh tahun terakhir ini, sekaligus menghancurkan hidup saya. Baiklah, saya mulai dari

    awal perkenalan kami.

    "Kami berkenalan sekitar awal tahun 1860, di daerah pertambangan. Waktu itu saya masih

    muda, berdarah panas, ugal ugalan, dan tak takut melakukan apa saja. Saya bergaul dengan teman

    teman yang nakal, peminum, gagal dalam usaha, masuk komplotan anak-anak yang jahat, dan dengan

    kata lain, ikut-ikutan menjadi perampok jalanan. Kami berenam dalam satu grup, dan hidup secara liar seperti itu. Kami sering merampok di stasiun, atau mencegat kereta-kereta yang menuju ke pertambangan. Jack Hitam dari Ballarat, begitulah julukan saya waktu itu, dan sampai sekarang orang-orang di koloni itu pasti masih belum lupa akan kebrutalan gang kami yang terkenal dengan sebutan

    Komplotan Ballarat.

    "Suatu hari sebuah rombongan yang mengangkut emas turun dari Ballarat meriuju Melbourne,

    dan kami pun siap mengintai untuk menyerangnya. Rombongan itu dikawal enam tentara, dan kami

    pun berenam, jadi pasti seru kejadiannya. Kami berhasil merampok empat muatan dalam serangan itu.

    Tapi tiga di antara komplotan kami terbunuh sebelum kami berhasil membawa lari hasil rampokan

    kami. Saya menodongkan pistol tepat ke arah pengemudi kereta, yaitu si McCarthy itu. Kalau tahu

    akan jadi runyam begini, alangkah baiknya seandainya waktu itu saya langsung menembaknya saja.

    Saya mengasihani dia, walau matanya yang bengis mengamati wajah saya dengan tajam seolah-olah

    ingin mengingat-ingat. Akhirnya, kami berhasil melarikan diri dengan membawa hasil rampokan kami.

    Kami jadi kaya raya, lalu pulang ke Inggris tanpa ada orang yang mencurigai kami. Kami berpencar,

    dan selanjutnya saya memutuskan untuk hidup dengan tenang dan terhormat. Saya membeli tanah

    pertanian yang kini saya miliki, yang saat itu kebetulan ditawarkan oleh seseorang. Saya ingin berbuat

    http://www.mastereon.com

    27



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    baik dengan uang saya, untuk menutupi rasa bersalah saya atas cara saya mendapatkan kekayaan.

    "Saya lalu menikah, tapi istri saya meninggal ketika masih muda. Untunglah, kami sudah dikaruniai seorang putri, Alice tersayang. Sejak kelahirannya saya mulai berbalik kejalan yang benar.

    Dengan kata lain, saya benar-benar telah memulai hidup baru, dan banyak berbuat kebaikan untuk

    menebus dosa saya di masa lalu. Semuanya berjalan dengan baik, sampai akhirnya McCarthy mulai

    mencengkeram hidup saya.

    "Suatu hari, saya pergi ke kota untuk mengurus sesuatu, dan saya berjumpa dengannya di

    Regent Street. Dia dalam keadaan sangat mengenaskan, tanpa jaket dan tanpa sepatu.

    "'Kita bertemu lagi, Jack,' katanya sambil menggamit tangan saya. 'Sekarang kita jadi keluarga, ya. Aku dan putraku ingin menumpang di rumahmu. Kalau kau keberatan... bukankah kita kini tinggal

    di Inggris yang sadar hukum? Polisinya juga banyak berkeliaran.'

    "Yah, apa boleh buat? Mereka lalu saya ajak ke rumah. Tak mungkin saya menolak mereka.

    Sejak itu, mereka saya izinkan untuk mendiami sebagian tanah saya tanpa membayar sepeser pun. Tapi

    sesudah itu, saya terus-menerus merasa gelisah dan terganggu, ke mana pun saya pergi, saya selalu

    melihat wajahnya yang memuakkan. Keadaan bertambah runyam ketika Alice meningkat remaja karena McCarthy tahu bahwa saya sangat takut masa lalu saya di ketahui Alice. Ditangkap polisi saya tidak takut tapi kalau rahasia saya sampai diketahui oleh putri tersayang saya... Yah, apa pun yang diminta McCarthy harus saya penuhi, dan semuanya memang saya penuhi tanpa banyak bertanya.

    Tanah, uang, rumah. Tapi, akhirnya dia minta sesuatu yang tak mungkin saya penuhi. Dia menginginkan Alice.

    "Sebagaimana putri saya, putranya pun telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Dan karena

    kesehatan saya yang buruk, maka dia merasa sebaiknya putranyalah yang nanti mewarisi semua kekayaan saya. Tapi saya tetap menolak permintaannya ini. Saya tak rela keturunan saya berasal dari orang semacam dia. Saya tak membenci putranya, tapi bagaimanapun juga pemuda itu kan darah

    dagingnya, dan bagi saya itu menjadi alasan yang kuat untuk menolaknya. Karena saya tetap menolak,

    McCarthy mulai mengancam saya. Saya menerima tantangannya. Kami bersepakat untuk bertemu di

    danau itu guna membicarakan hal ini.

    "Ketika saya tiba di sana, saya melihatnya sedang berbicara dengan putranya. Jadi sambil

    http://www.mastereon.com

    28





    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    menunggu, saya bersembunyi di balik pohon sambil mengisap cerutu. Saya mendengar percakapan

    mereka, dan saya jadi marah sekali. Dia memaksa putranya agar mau menikahi putri saya. Dianggap

    apa putri saya ini? Seperti pelacur jalanan yang menyodor-nyodorkan diri? Saya benar-benar naik

    pitam ketika menyadari betapa diri saya dan semua yang saya miliki dan sayangi berada dalam kekuasaan orang semacam dia. Tidak bisakah saya melepaskan diri dari cengkeramannya? Saya toh

    sudah tak ada harapan untuk hidup lebih lama lagi. Walaupun pikiran dan tangan saya masih kuat, saya tahu nasib saya sudah ditentukan demikian. Tapi, bagaimana dengan nama baik saya dan nasib putri

    saya? Kedua hal itu bisa diselamatkan kalau saya bisa menutup mulut bajingan itu selamanya. Itulah

    yang saya lakukan, Mr. Holmes. Kalau saya harus mengulang melakukan hal itu lagi pun, akan saya

    lakukan. Saya mungkin telah berbuat dosa besar, tapi bukankah selama belasan tahun saya sudah

    sangat menderita karena dia? Tapi saya tak sanggup menghadapi kenyataan, kalau sampai hidup putri

    saya pun akan dibuat menderita seperti hidup saya. Maka saya memukulnya dengan seluruh kekuatan

    saya, keras sekali, bagaikan menghantam seorang penjahat kelas berat atau ular berbisa yang menjijikkan. Dia berteriak kesakitan, sehingga putranya berlari kembali mendekatinya, namun saat itu saya sudah menghilang sampai di hutan. Tapi saya harus kembali lagi untuk mengambil jaket saya yang terjatuh ketika saya melarikan diri. Begitulah kejadiannya, Tuan-tuan"

    "Yah, saya tak punya hak untuk menghakimi

    Anda," kata Holmes ketika orang tua itu

    membubuhkan tanda tangan kesaksiannya

    "Semoga kita tak akan pernah mengalami

    pencobaan seperti itu lagi."

    "Semoga tidak, sir. Dan apa yang akan Anda

    lakukan selanjutnya?"

    "Setelah mempertimbangkan kesehatan

    Anda, saya memutuskan untuk tidak melakukan

    apa-apa. Anda pun menyadari bahwa tak lama

    lagi Anda akan mempertanggungjawabkan

    perbuatan Anda di hadapan pengadilan yang

    lebih tinggi dari pengadilan mana pun di dunia

    http://www.mastereon.com

    29



    Sir Arthur Conan Doyle - Misteri di Boscombe Valley

    ini. Pengakuan Anda akan saya simpan, dan kalau McCarthy terancam jiwanya, barulah pengakuan

    Anda saya pergunakan sebagai senjata terakhir. Kalau tidak, biarlah tak ada seorang lain pun yang akan tahu. Rahasia Anda, baik Anda masih hidup atau setelah Anda meninggal, akan kami jaga baik-baik."

    "Kalau begitu saya permisi pulang," kata orang tua itu dengan penuh hormat. "Semoga kelak kalau hidup Anda di dunia ini berakhir, Anda akan berangkat dalam damai karena Anda telah mengasihani saya." Dengan tertatih-tatih, tubuh yang kekar itu meninggalkan kamar kami.

    "Kiranya Tuhan melindungi kita!" kata Holmes setelah terdiam selama beberapa saat.

    "Mengapa nasib mempermainkan orang-orang yang tak berdaya seperti dia, ya? Bila menangani kasus semacam ini, aku selalu teringat ucapan Baxter2, dan ingin rasanya aku mengatakan, 'Lihatlah, hanya atas anugerah Tuhan, Sherlock Holmes bisa melakukan semua ini.'"

    James McCarthy akhirnya dibebaskan oleh Pengadilan Assizes atas keberatan-keberatan yang

    diajukan oleh Holmes melalui tim pembela. Si tua Turner bertahan hidup sampai tujuh bulan sejak

    percakapannya dengan kami. Kini dia sudah meninggal, dan nampaknya kedua sejoli itu, yaitu putra

    McCarthy dan putri Turner, akan membangun rumah tangga yang bahagia tanpa dibayangi oleh awan

    gelap yang menggayuti masa lalu kedua orangtua mereka.

    Download ebook Sherlock Holmes selengkapnya gratis di:

    http://www.mastereon.com

    http://sherlockholmesindonesia.blogspot.com

    http://www.facebook.com/sherlock.holmes.indonesia

    2 Rohaniwan Inggris yang terkenal, hidup tahun 1615-1691

    http://www.mastereon.com

    30






    SHERLOCK HOLMES - MISTERY DI BASCOMBE VALLEY

  • Petualangan Sherlock Holmes





    IBU JARI SANG INSINYUR


    http://www.mastereon.com

    http://sherlockholmesindonesia.blogspot.com

    http://www.facebook.com/sherlock.holmes.indonesia

    - 2011 -



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur





    Ibu Jari Sang Insinyur


    Dari semua kasus yang dipercayakan penyelesaiannya kepada temanku Sherlock Holmes

    selama kami berteman akrab, hanya dua di antaranya yang didapatnya melalui perantaraan diriku, yaitu kasus ibu jari Mr. Hatherley dan kasus Kolonel Warburton yang gila. Kasus yang disebut terakhir

    mungkin lebih menarik bagi seorang pengamat yang teliti dan sungguh-sungguh, tapi kasus ibu jari

    sang insinyur ini sangat unik kejadiannya dan dramatis rincian-rinciannya. Jadi menurutku kasus inilah yang lebih pantas kutuangkan dalam bentuk tulisan, walaupun tak begitu menonjolkan kemampuan

    metode deduktif temanku yang telah begitu tersohor keampuhannya. Kasus ini telah beberapa kali

    dimuat di surat kabar, tapi tentu saja pemuatan seperti itu tak terlalu membawa efek yang berarti. Lain halnya kalau fakta-faktanya kita lihat sendiri, sementara misterinya lambat laun terkuak bersamaan

    dengan ditemukannya suatu perkembangan baru yang menuntun kita untuk menemukan kebenaran

    yang sesungguhnya. Kasus yang satu ini memang sangat mengesankan bagiku, setelah lewat dua tahun

    pun aku belum bisa melupakannya.

    Peristiwa yang akan kuceritakan secara singkat ini terjadi pada musim panas 1889, tak lama

    setelah pernikahanku. Saat itu aku kembali praktek umum, dan harus berpisah dari Holmes yang masih

    tinggal di Baker Street. Aku tetap sering mengunjunginya, dan kadang-kadang memintanya untuk berkunjung ke rumah kami, walaupun aku tahu bahwa kebiasaan Bohemia-nya menyebabkannya tak

    suka akan hal seperti itu. Praktekku makin lama makin laris, dan karena kami tinggal tak jauh dari

    Stasiun Paddington, petugas-petugas stasiun itu kadang-kadang berobat ke tempat praktekku. Salah

    satu petugas stasiun yang berhasil kusembuhkan dari penyakitnya yang sangat parah dan sudah menahun, tak henti-hentinya mempromosikan kehebatanku, dan selalu merekomendasikan diriku kepada siapa saja yang bisa dipengaruhinya.

    Suatu pagi, saat itu hampir jam tujuh, pelayanku mengetuk pintu kamarku. Aku terbangun dan

    menerima berita bahwa ada dua pria dari Stasiun Paddington yang sedang menungguku di ruang praktek. Aku bergegas berpakaian, karena pengalamanku selama ini membuktikan bahwa pasien-pasien

    dari stasiun kereta biasanya cukup berat penyakit atau lukanya. Aku segera menuju ke ruang praktekku di lantai bawah. Ketika sampai di bawah, petugas stasiun bekas pasienku itu berlari keluar dari kamar

    http://www.mastereon.com

    2



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    praktekku untuk menyongsong kehadiranku, lalu menutup pintu di belakangnya dengan rapat.

    "Saya bawa dia kemari," bisiknya sambil menunjuk ke dalam ruangan dengan ibu jarinya. "Dia baik-baik saja, kok."

    "Lalu untuk apa dia kaubawa kemari?" tanyaku ketika melihat sikapnya yang menunjukkan

    seolah-olah orang yang dikurungnya di dalam kamar praktekku itu adalah makhluk aneh.

    "Pasien baru," bisiknya. "Saya rasa saya harus membawanya sendiri ke sini, supaya dia tak lari lagi. Nah, sekarang dia aman di sini. Saya harus pergi, Dokter, seperti Anda, saya juga punya tugas."

    Pengagum setiaku ini langsung menghilang, bahkan sebelum aku sempat berterima kasih padanya.

    Aku memasuki ruang praktekku. Di dalam kudapati seorang pria sedang duduk di depan mejaku. Dia mengenakan jas wol, dan topi kainnya yang lembut ditaruhnya di atas tumpukan bukuku

    di meja. Salah satu tangannya terbalut saputangan yang berlumuran darah. Pria itu masih muda, menurutku usianya tak lebih dari dua puluh lima tahun. Wajahnya amat tampan, tapi pucat sekali.

    Nampaknya seperti seorang yang sedang dilanda ketakutan yang amat sangat dan tak tertahankan lagi

    "Maaf, mengganggu Anda pagi-pagi begini, Dokter," katanya, "tapi tadi malam saya mengalami kecelakaan yang amat serius. Saya naik kereta api, dan tiba di kota tadi pagi. Ketika saya menanyakan alamat dokter yang tinggal dekat stasiun, petugas stasiun yang baik hati tadi mengantar saya kemari.

    Saya sudah menyerahkan kartu nama saya kepada pelayan Anda, tapi dia rupanya menaruhnya di meja

    samping itu."

    Kuambil dan kuperhatikan kartu nama itu. "Mr. Victor Hatherley, insinyur hidrolika, Victoria

    Street 16A (lantai 3)." Demikianlah nama, pekerjaan, dan alamat pasien yang datang pagi hari ini.

    "Maaf, Anda harus menunggu dulu," kataku sambil duduk di kursi. "Jadi Anda baru tiba dari perjalanan kereta api sepanjang malam yang menjemukan."

    "Oh, semalam tak terlalu menjemukan," katanya sambil tertawa. Tawanya sangat keras dan

    nyaring sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Sebagai dokter dapat kutangkap ketidakberesan dalam

    dirinya.

    "Hentikan!" teriakku. "Coba, tenanglah!" Lalu kutuang sedikit air dari sebuah botol.

    http://www.mastereon.com

    3





    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    Tapi itu tak berhasil menenangkannya. Dia sedang dalam keadaan histeris karena baru saja

    terhindar dari krisis yang hebat. Lambat laun dia kembali tenang, kelelahan, dan pipinya langsung

    memerah.

    "Saya telah bertindak tolol," katanya terengah-engah.

    "Tak apa-apa. Minumlah ini!" Kutambahkan sedikit brendi ke air yang kutuang tadi, dan setelah dia meminumnya, wajahnya mulai segar kembali.

    "Saya merasa baikan," katanya. "Nah, Dokter, mungkin Anda tak keberatan untuk mengobati jempol tangan saya, atau lebih tepatnya bekas jempol tangan saya."

    Dibukanya balutan saputangannya dan

    ditunjukkannya kepadaku. Begitu nampak isi

    balutan itu, aku sangat terguncang. Terlihat

    olehku empat jarinya dan bekas jempol yang

    menganga berwarna merah darah. Mengerikan

    sekali. Pasti jempolnya telah terpotong atau

    tergilas sesuatu sampai putus.

    "Ya, Tuhan!" seruku. "Lukanya parah sekali.

    Pasti perdarahannya hebat semalam."

    "Ya. Saya langsung pingsan cukup lama

    setelah peristiwa itu terjadi. Ketika saya

    siuman, luka itu masih saja mengeluarkan

    darah, maka saya lalu mengikatnya erat-erat dengan sapu-tangan dan saya jepit dengan ranting pohon."

    "Bagus sekali! Anda pantas jadi ahli bedah"

    "Ah, itu kan masalah hidrolika, masih termasuk bidang pekerjaan saya."

    "Tangan Anda ini," kataku sambil memeriksa lukanya, "pasti tergilas alat yang amat tajam dan berat."

    "Alatnya seperti golok," katanya.

    "Kecelakaan, ya?"

    http://www.mastereon.com

    4



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    "Sama sekali tidak."

    "Apa! Usaha pembunuhankah?"

    "Tepat sekali."

    "Anda membuat saya ngeri."

    Aku membersihkan lukanya, mengobatinya, menutupnya dengan kapas, dan terakhir

    membalutnya. Dia berbaring tenang tanpa menggeliat kesakitan sedikit pun. Hanya kadang-kadang dia

    menahan rasa sakit dengan menggigit bibirnya.

    "Bagaimana sekarang?" tanyaku setelah selesai mengobatinya.

    "Hebat! Setelah minum brendi tadi, dan setelah tangan saya Anda balut, saya kini benar-benar

    merasa lain. Tadinya, saya lemas sekali karena harus mengalami banyak hal yang sangat menakutkan."

    "Mungkin Anda sebaiknya tak usah membicarakan hal itu dulu, karena mungkin masih sangat

    mcngguncangkan diri Anda."

    "Tidak, sekarang tidak lagi. Lagi pula saya toh harus menceritakan peristiwa ini pada polisi.

    Tapi terus terang saja, Dokter, seandainya tidak melihat luka ini, saya yakin polisi takkan mempercayai laporan saya. Peristiwa yang saya alami ini sangat unik, dan tak ada bukti sedikit pun yang bisa

    mendukungnya. Bahkan kalau mereka percaya pada omongan saya, saya hanya bisa menyajikan petunjuk-petunjuk yang samar-samar. Saya jadi ragu-ragu apakah keadilan akan bisa ditegakkan dalam

    kasus saya ini."

    "Ha!" teriakku. "Kalau kasus Anda ini merupakan masalah yang perlu diselesaikan, bagaimana kalau saya menganjurkan agar Anda berkonsultasi dengan teman saya, Sherlock Holmes, sebelum Anda

    melapor ke polisi secara resmi?"

    "Oh, saya pernah mendengar tentang teman Anda itu," jawab sang tamu, "dan saya senang sekali kalau dia bersedia menangani kasus saya ini, walaupun tentu saja saya juga akan memakai jasa

    polisi resmi. Bersediakah Anda memperkenalkan saya kepadanya?"

    "Tentu saja. Bahkan saya akan mengantarkan Anda ke tempat tinggalnya."

    "Terima kasih banyak."

    http://www.mastereon.com

    5





    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    "Mari kita panggil kereta sekarang. Kita makan pagi di sana saja bersamanya, setuju?"

    "Baik. Saya baru akan merasa lega kalau saya sudah membeberkan kisah saya."

    "Saya akan suruh pelayan saya memanggil kereta. Silakan tunggu sebentar."

    Aku berlari ke atas, pamit kepada istriku, dan lima menit kemudian sudah berada dalam kereta

    bersama kenalan baruku menuju ke Baker Street.

    Sebagaimana dugaanku, Sherlock Holmes sedang duduk santai di ruang tamunya, masih mengenakan pakaian tidur. Dia sedang membaca kolom kriminalitas koran The Times sambil menyulut pipa sebagaimana selalu dilakukannya menjelang makan pagi. Pipa yang diisapnya itu berisi potongan-potongan sisa tembakau hari sebelumnya yang telah dikeringkan dan dikumpulkannya dengan hati-hati,

    dan ditaruhnya di sudut rak perapian.

    Dia menyambut kami dengan ramah,

    memesan ham dan telur, lalu kami bertiga

    bersama-sama menyantap makan pagi yang

    masih hangat Setelah itu, dia mempersilakan

    tamu kami berbaring di sofa. Ditaruhnya

    bantal di bawah kepalanya, dan disediakannya

    segelas brendi dan air di dekatnya agar tamu

    kami itu bisa menjangkaunya.

    "Agaknya Anda telah mengalami

    sesuatu yang luar biasa, Mr. Hatherley,"

    katanya. "Silakan berbaring di situ sambil

    menceritakan pengalaman Anda dengan santai. Berhentilah berbicara jika Anda merasa capek. Silakan

    minum agar badan Anda kuat."

    "Terima kasih," kata pasienku, "saya sudah merasa jauh lebih baik setelah Dokter Watson membalut luka saya, dan setelah makan pagi tadi. Saya kini benar-benar merasa sehat. Saya tak ingin

    membuang waktu Anda yang sangat berharga. Jadi, sebaiknya saya langsung mengisahkan pengalaman

    saya yang unik ini."

    Holmes duduk di kursi besarnya yang berlengan. Wajahnya lesu dan matanya terkatup

    http://www.mastereon.com

    6



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    sebagaimana biasanya kalau dia sedang penasaran dan ingin segera tahu. Aku duduk di hadapannya,

    dan kami berdua tepekur diam ketika tamu kami mengisahkan pengalamannya.

    "Anda perlu tahu," katanya, "bahwa saya ini yatim-piatu dan belum menikah. Saya tinggal seorang diri di sebuah kamar sewaan di London. Saya bekerja sebagai insinyur hidrolika. Saya pernah

    magang selama tujuh tahun di Venner & Matheson—perusahaan bergengsi di kota Greenwich. Dua

    tahun yang lalu, masa magang saya di perusahaan itu berakhir. Dengan bekal uang yang cukup banyak

    dari warisan almarhum ayah saya, saya memutuskan untuk berwiraswasta. Saya lalu menyewa sebuah

    kantor di Victoria Street.

    "Saya kira siapa pun yang baru untuk pertama kali berwiraswasta pasti mengalami banyak

    hambatan, tapi hambatan yang saya alami benar-benar luar biasa. Selama dua tahun, saya hanya mendapat tiga pekerjaan konsultasi dan satu proyek kecil. Cuma itu! Padahal pengeluaran saya sebulan kira-kira 27 pound sepuluh penny. Tiap hari kerja saya cuma menunggu di kantor saya yang kecil, dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore. Akhirnya saya menjadi putus asa, dan merasa bahwa sampai

    kapan pun saya takkan berhasil.

    "Tapi kemarin, ketika saya hendak meninggalkan kantor saya, pegawai saya menemui saya dan

    mengatakan bahwa ada seorang pria yang sedang menunggu untuk membicarakan pekerjaan dengan

    saya. Pria itu telah menyerahkan kartu nama dan pada kartu itu tertera nama 'Kolonel Lysander Stark'.

    Sang kolonel langsung muncul di belakang pegawai saya. Dia seorang pria dengan tinggi tubuh sedang-sedang saja, tapi kurus sekali. Belum pernah sebelumnya saya melihat orang sekurus itu.

    Hidung dan dagunya runcing. Kulit pipinya tertarik oleh tulang-tulang wajahnya yang menonjol.

    Tubuhnya yang kurus kering itu nampaknya memang sudah pembawaannya, dan bukan karena penyakit, karena matanya bersinar, langkahnya sigap, dan sikapnya meyakinkan. Pakaiannya sederhana

    tapi rapi, dan menurut saya usianya sudah hampir empat puluh tahun.

    "'Mr. Hatherley?' katanya dengan sedikit aksen Jerman. 'Seseorang menyarankan agar saya menghubungi Anda, Mr. Hatherley. Bukan saja karena Anda berpengalaman dalam profesi Anda, tapi

    juga karena Anda prang yang ber-hati-hati dan bisa menyimpan rahasia.'

    "Saya membungkukkan badan dengan bangga atas pujiannya. 'Bolehkah saya tahu siapa yang

    merekomendasikan saya kepada Anda?' tanya saya.

    http://www.mastereon.com

    7





    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    " Well, mungkin lebih baik tak usah saya katakan sekarang. Saya

    juga tahu dari sumber ini bahwa Anda yatim-piatu, belum menikah,

    dan tinggal sendirian di London.'

    "'Benar,' jawab saya, 'tapi maaf, apa hubungannya semua ini

    dengan kualifikasi profesi saya? Bukankah Anda kemari untuk

    membicarakan bisnis dengan saya?'

    "'Memang, dan apa yang saya katakan ini berhubungan erat

    dengan bisnis yang akan kita bicarakan. Saya ada proyek untuk

    Anda, tapi proyek ini harus benar-benar dirahasiakan—amat

    rahasia. Anda pasti mengerti sekarang mengapa kami lebih

    mempercayai seseorang yang tinggal sendirian daripada yang sudah

    berkeluarga.'

    "'Saya bersedia berjanji merahasiakan hal ini,' kata saya, 'dan saya

    tak akan ingkar janji.'

    "Dia menatap saya dengan tajam ketika saya berbicara, dan saya

    menangkap pandangan matanya yang penuh kecurigaan dan penuh tanda tanya.

    "'Kalau begitu, maukah Anda berjanji sekarang?' katanya pada akhirnya.

    "'Ya, saya berjanji.'

    "'Untuk benar-benar merahasiakan hal ini sebelum, selama, dan sesudah proyek berlangsung?

    Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Anda tentang proyek ini, baik secara lisan maupun secara

    tertulis?'

    "'Saya sudah berjanji.'

    "'Bagus sekali.' Tiba-tiba dia meloncat dan berlari secepat kilat menyeberangi ruangan kantor

    saya, lalu didorongnya pintu hingga terbuka. Tak ada siapa-siapa di balik pintu itu.

    "'Baiklah,' katanya ketika kembali lagi ke dalam. 'Saya tahu bahwa pegawai kadang-kadang

    ingin menguping urusan tuannya. Nah, sekarang mari kita berbicara dengan tenang.' Ditariknya kursinya hingga dekat sekali dengan saya, dan dia mulai menatap saya lagi dengan pandangan yang

    http://www.mastereon.com

    8



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    penuh tanda tanya dan penuh pertimbangan.

    "Saya mulai merasa muak, bahkan ketakutan, atas sikap aneh pria kurus kering ini. Saya jadi tak sabar lagi, walaupun dengan risiko kehilangan seorang klien.

    "'Mohon Anda segera menjelaskan urusan Anda, sir,' kata saya, 'waktu saya sangat berharga.'

    Semoga Tuhan mengampuni ucapan saya yang terakhir itu! Tapi kata-kata itu dengan begitu saja telah

    meluncur dari mulut saya.

    "'Bagaimana kalau saya bayar Anda lima puluh guinea untuk kerja semalaman?' tanyanya.

    "'Jumlah yang banyak.'

    "'Saya katakan kerja semalaman, padahal sebenarnya cuma sekitar satu jam. Saya hanya ingin

    mendapatkan saran Anda tentang kempa hidrolik saya yang lepas roda giginya. Setelah Anda beritahu

    kerusakannya pada kami, kami sendirilah yang akan memperbaikinya. Bagaimana pendapat Anda tentang proyek yang saya tawarkan?'

    "'Nampaknya pekerjaannya ringan saja, namun imbalannya besar sekali.'

    "'Memang. Datanglah nanti malam dengan kereta api terakhir.'

    "'Ke mana?'

    "'Ke Eyfbrd, Berkshire. Kota kecil dekat perbatasan Oxfordshire, dan sekitar sebelas kilometer

    dari Reading. Kalau Anda berangkat dari Paddington, Anda akan dba sekitar jam 23.15.'

    "'Baiklah.'

    "'Saya akan menjemput Anda dengan kereta.'

    "'Masih ada perjalanan lagi?'

    "'Ya, tempat kami agak di luar kota, kira-kira sebelas kilometer dari Stasiun Eyford.'

    "'Kalau begitu tengah malam kita baru akan tiba. Saya rasa sudah takkan ada kereta api lagi

    untuk membawa saya pulang. Jadi saya harus menginap?'

    "'Ya, kami akan sediakan tempat menginap.'

    "'Wah, kok merepotkan begitu, ya? Bagaimana kalau saya datang lebih sore?'

    http://www.mastereon.com

    9



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    "'Kami memutuskan agar Anda datang tengah malam. Itulah sebabnya kami bersedia membayar

    mahal kepada Anda, padahal Anda masih muda dan belum terkenal. Imbalan itu seharusnya bisa untuk

    membayar ahli-ahli yang sudah terkenal. Tapi kalau Anda keberatan, masih ada waktu untuk menolak.'

    "Pikiran saya dipenuhi oleh lima puluh guinea yang sangat saya butuhkan itu. 'Sama sekali tidak,' kata saya. 'Saya akan turuti keinginan Anda. Tapi saya ingin tahu lebih jelas tentang apa yang harus saya kerjakan.'

    "'Baiklah. Saya mengerti mengapa Anda penasaran tentang kerahasiaan yang saya tekankan.

    Saya tak ingin Anda membuat perjanjian tentang sesuatu tanpa penjelasan apa-apa. Apakah benar-benar

    tidak ada orang yang menguping?'

    "'Saya jamin.'

    "'Begini masalahnya. Anda tahu, kan, betapa berharganya tanah liat, dan bahwa tak banyak

    tempat di Inggris ini yang mengandung tanah itu?'

    "'Begitulah kata orang.'

    "'Beberapa waktu yang lalu saya membeli sebidang tanah yang tak seberapa luas—terletak kira-

    kira enam belas kilometer dari Reading. Saya beruntung karena salah satu bagian tanah itu mengandung tanah liat. Setelah saya periksa, ternyata kandungan tanah liatnya hanya sedikit. Yang

    lebih banyak mengandung tanah liat justru tanah di sebelah kiri dan kanannya, yaitu di halaman tetangga saya. Kedua tetangga saya itu benar-benar tak tahu bahwa halamannya mengandung sesuatu

    yang senilai tambang emas. Tentu saja saya lalu berminat membeli kedua tanah itu sebelum para

    pemiliknya mengetahui tentang kandungan alam yang berharga itu, tapi sialnya saya tak punya cukup

    uang untuk itu. Saya membicarakan rahasia ini dengan beberapa teman, yang lalu menyarankan agar

    saya menambang dulu dari tanah saya dengan diam-diam, lalu dijual. Hasilnya dikumpulkan untuk

    membeli tanah tetangga saya. Kami sudah melakukan ini selama beberapa saat, dan untuk memudahkan pekerjaan itu kami memasang kempa hidrolik. Seperti sudah saya katakan sebelumnya,

    mesin ini kini sedang rusak, dan kami mengharapkan saran Anda untuk perbaikannya. Tapi kami tetap

    harus merahasiakan semuanya, karena kalau sampai ketahuan orang luar bahwa ada insinyur hidrolika

    datang ke tempat kami, mereka pasti akan bertanya-tanya. Dan, kalau rahasia kami terbongkar, hilanglah kesempatan kami untuk membeli tanah-tanah di sekitar itu seperti yang sedang kami rencana-

    http://www.mastereon.com

    10





    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    kan. Itulah sebabnya saya minta kesediaan Anda untuk berjanji tak akan mengatakan kepada siapa pun

    kalau Anda hendak pergi ke Eyford malam nanti. Saya harap semuanya sudah jelas bagi Anda?' .

    "'Ya,' kata saya, 'hanya ada satu hal yang tak dapat saya mengerti. Untuk apa Anda memasang

    kempa hidrolik untuk mengeruk tanah liat? Bukankah cuma perlu digali dari lubangnya saja?'

    "'Ah!' katanya sembarangan. 'Kami memprosesnya dengan cara kami sendiri. Kami membentuknya seperti batu bata, sehingga bisa merahasiakan kandungan aslinya ketika diangkut. Tapi

    itu cuma rincian kecil saja. Saya sekarang benar-benar mantap mempekerjakan Anda, Mr. Hatherley,

    dan semoga Anda pun tahu betapa saya mempercayai Anda.' Sambil berkata demikian, dia bangkit.

    'Saya tunggu Anda di Eyford jam 23.15.'

    "'Saya akan ke sana nanti.'

    "'Jangan katakan kepergian Anda pada siapa pun.'

    Ditatapnya saya dengan pandangannya yang tajam dan

    penuh tanda tanya itu untuk terakhir kali sebelum dia

    pergi, lalu dijabatnya tangan saya secara sepintas.

    Kemudian dia berlalu dengan tergesa-gesa.

    "Yah, Anda bisa bayangkan betapa terpananya diri

    saya ketika mempertimbangkan tawaran kerja dengan

    imbalan yang tinggi ini. Di satu segi, tentu saja saya

    gembira, karena imbalannya sepuluh kali lipat dari yang

    seharusnya, dan mungkin saja tawaran ini akan membuka

    peluang bagi pekerjaan-pekerjaan selanjutnya. Di segi

    Iain, wajah dan sikap klien saya itu sangat mengganggu

    saya. Saya merasa penjelasannya tentang tanah liat tadi

    bukanlah alasan yang cukup kuat untuk mendesak saya datang malam-malam. Saya juga terganggu

    akan kekuatirannya kalau sampai saya mengatakan rencana kepergian ini kepada orang lain. Tapi, saya

    buang jauh-jauh ketakutan saya, lalu saya makan malam sampai kenyang, pergi ke Stasiun Paddington,

    dan berangkat dengan kereta api. Saya menuruti pesannya agar tak buka mulut pada siapa pun.

    "Sesampainya di Reading, saya tak hanya harus berganti kereta api, tapi juga stasiunnya. Tapi

    http://www.mastereon.com

    11



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    saya masih sempat memburu kereta api terakhir yang menuju Eyford, dan sampai di sana jam sebelas

    lewat. Saya satu-satunya penumpang yang turun di sana, dan sudah tak ada seorang pun kecuali porter

    yang terkantuk-kantuk membawa lentera di peron yang remang-remang itu.

    "Ketika saya berjalan keluar dari gerbang samping stasiun tersebut, klien saya sudah menunggu

    di seberang jalan yang gelap. Tanpa berkata sepatah pun, dicengkeramnya lengan saya dan kami berdua

    bergegas menuju kereta yang pintunya sudah terbuka. Ditutupnya jendela-jendela di kedua sisi, diketuknya bingkai kayu kereta itu, dan meluncurlah kami dengan kecepatan tinggi."

    "Keretanya dihela oleh seekor kuda?" potong Holmes.

    "Ya, kudanya hanya seekor."

    "Apakah Anda memperhatikan warna kuda itu?"

    "Ya, saya lihat warnanya di bawah sinar lampu jalanan, ketika saya memasuki kereta itu. Coklat

    kemerahan."

    "Kuda itu nampaknya lelah atau segar bugar?"

    "Oh, segar dan mengkilat."

    "Terima kasih. Maaf, telah memotong Anda. Silakan dilanjutkan."

    "Begitulah, kami menempuh perjalanan selama paling tidak satu jam. Kolonel Lysander Stark

    mengatakan bahwa kami akan menempuh jarak sejauh sebelas kilometer dari stasiun, tapi menurut saya

    jaraknya sekitar sembilan belas kilometer. Sepanjang perjalanan, dia duduk terdiam di samping saya,

    dan ketika saya menoleh ke arahnya beberapa kali, saya tahu bahwa dia terus-menerus menatap ke arah

    saya dengan pandangan yang tajam.

    "Jalanan yang kami lewati tak begitu mulus, karena kereta terguncang-guncang dengan dahsyat.

    Saya mencoba melihat ke luar jendela untuk mengetahui di mana kami berada, tapi jendelanya terbuat

    dari kaca buram sehingga saya tak bisa melihat apa-apa kecuali kadang-kadang cahaya lampu yang

    kami lewati. Beberapa kali saya mencoba membuka pembicaraan dengan teman seperjalanan saya ini

    untuk memecah kesunyian, tapi dia hanya menjawab singkat-singkat saja, sehingga pembicaraan tak

    berlanjut. Akhirnya, jalanan yang rusak berganti dengan jalanan berkerikil yang mulus dan kereta pun berhenti.

    http://www.mastereon.com

    12



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    "Kolonel Lysander Stark segera melompat turun, dan ketika saya mengikutinya, dia segera

    mendorong saya masuk ke sebuah ruangan yang sudah dibuka pintunya di depan kami. Begitulah, kami

    melangkah langsung dari kereta masuk ke ruang tamu, sehingga tak nampak oleh saya bagian depan

    rumah itu sedikit pun. Begitu saya melewati ambang pintu, pintu itu langsung dibanting hingga tertutup dengan keras, dan samar-samar saya mendengar bunyi derak roda kereta yang menjauh.

    "Gelap gulita dalam rumah itu. dan Kolonel Stark meraba-raba mencari korek api sambil mengomel. Tiba-tiba pintu di ujung yang lain terbuka, dan sorotan lampu keemasan menyorot ke arah

    kami. Sinar itu makin lama makin mendekat, dan seorang wanita muncul membawa lampu di tangannya yang diangkatnya di atas kepalanya. Wajahnya disorongkannya ke depan sambil mengamati

    kami. Wanita itu cantik, dan dari pantulan cahaya lampu yang dibawanya, saya lihat gaunnya berwarna

    hitam terbuat dari bahan yang mahal. Dia mengucapkan beberapa kata dalam bahasa asing, sepertinya

    menanyakan sesuatu, dan ketika teman seperjalanan saya hanya menjawab singkat-singkat saja dengan

    kasar, wanita itu terkejut sekali sehingga lampu yang dibawanya hampir terjatuh dari tangannya.

    Kolonel Stark menghampirinya, membisikkan sesuatu di telinganya, lalu didorongnya wanita itu ke

    ruangan dari mana dia keluar tadi. Kolonel lalu kembali dengan lampu di tangannya.

    "'Semoga Anda tidak keberatan untuk menunggu sebentar di ruangan ini,' katanya sambil membuka sebuah pintu lain. Ruangan di mana saya berada tak seberapa besar dan perabotnya sederhana. Ada meja bundar di tengah ruangan; beberapa buku berbahasa Jerman tergeletak di situ.

    Kolonel Stark menaruh lampu di atas harmonium di samping pintu. 'Anda takkan lama menunggu,'

    katanya, lalu menghilang dalam kegelapan.

    "Saya menengok ke buku-buku di atas meja, dan walaupun saya tak begitu paham bahasa

    Jerman, saya bisa menyimpulkan bahwa dua di antaranya adalah buku Iaporan ilmiah, sedang lainnya

    adalah buku-buku puisi. Lalu saya berjalan ke arah jendela dengan harapan akan bisa melihat sedikit

    pemandangan di luar. Tapi ternyata jendela itu dipalang dengan ketat. Rumah itu sunyi sekali. Dari

    salah satu ruangan, entah di mana tepatnya, terdengar detak jam dinding kuno. Hanya itu. Selebihnya

    sunyi senyap. Saya mulai merasa gelisah. Siapa orang-orang Jerman ini? Apa yang mereka lakukan di

    tempat terisolir yang aneh begini? Dan di mana letaknya tempat ini? Kira-kira enam belas kilometer

    dari Eyford. Hanya itu yang saya tahu. Tapi saya tak tahu apakah ke arah utara, selatan timur, atau

    barat. Reading atau kota-kota lainnya termasuk dalam radius itu, jadi mungkin, tempat ini tak begitu

    http://www.mastereon.com

    13





    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    terpencil. Namun suasananya yang amat sunyi menunjukkan bahwa rumah ini terletak di luar kota.

    Saya mondar-mandir di ruangan itu sambil mendendangkan sebuah lagu agar saya tak terlalu gelisah,

    sambil membayangkan imbalan lima puluh guinea yang akan saya terima.

    "Tiba-tiba, tanpa bersuara sedikit pun, pintu ruangan

    terbuka dengan perlahan. Wanita yang tadi menemui kami

    berdiri di celah pintu, membelakangi ruang tamu yang

    gelap gulita. Lampu di ruangan saya menerangi wajahnya

    yang cantik, yang penuh rasa ingin tahu. Sekilas saya

    melihat bahwa dia sedang dalam ketakutan yang amat

    sangat, dan hati saya pun mengerut karenanya. Digerak-

    gerakkannya sebuah jari dengan gemetar sebagai isyarat

    agar saya tetap diam, lalu dia membisikkan beberapa kata

    kepada saya dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah.

    Sebelumnya, dia sempat menoleh ke belakang dulu,

    bagaikan kuda yang ketakutan.

    "'Pergi,' katanya dengan susah payah sambil berusaha tetap

    tenang, 'pergi. Jangan tinggal di sini. Tak ada gunanya.'

    "'Tapi, madam,' kata saya, 'saya belum melaksanakan tugas saya. Tak mungkin saya pergi sebelum saya melihat keadaan kempa itu.'

    "'Sia-sia Anda menunggu,' lanjutnya. 'Anda bisa lewat pintu ini, tak ada yang bisa menghalangi.'

    Lalu, ketika dia melihat saya tersenyum dan menggeleng, tiba-tiba dia maju ke depan sambil meremas

    kedua tangannya. 'Demi Tuhan!' bisiknya. 'Kaburlah sebelum terlambat!'

    "Tapi saya ini keras kepala, dan semakin bersemangat melakukan sesuatu bila ternyata banyak

    rintangannya. Saya teringat akan imbalan lima puluh guinea yang akan saya terima, perjalanan melelahkan yang sudah saya lalui, dan malam tak menyenangkan yang telah saya lewati. Apakah

    semuanya ini harus saya sia-sia-kan begitu saja? Mengapa saya harus kabur tanpa menjalankan tugas

    saya, dan tanpa membawa pulang uang imbalan yang dijanjikan? Menurut saya, mungkin saja wanita

    ini menderita gangguan jiwa. Maka, walaupun saya terguncang juga oleh sikapnya, saya tetap

    http://www.mastereon.com

    14



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    menggeleng dan menyatakan kepadanya bahwa saya tetap akan tinggal. Wanita itu baru saja ingin

    mengulangi desakannya, ketika terdengar suara bantingan pintu dan langkah-langkah kaki di tangga.

    Dia mendengarkan sekejap, mengangkat tangannya dengan putus asa, dan menghilang begitu saja seperti waktu datangnya.

    "Yang datang adalah Kolonel Lysander Stark, dan seorang pria gemuk pendek yang berjenggot.

    Jenggotnya seperti bulu binatang yang tumbuh dari lipatan-lipatan dagunya. Orang ini diperkenalkan

    kepada saya sebagai Mr. Ferguson.

    "'Ini sekretaris dan manajer saya,' kata Kolonel Stark. 'Omong-omong, rasanya pintu itu tadi

    saya tutup. Jangan-jangan Anda masuk angin.'

    "'Sebaliknya,' kata saya, 'sayalah yang membuka pintu itu, karena ruangan ini agak pengap.'

    "Dia menatap saya dengan penuh curiga. 'Kalau begitu, mungkin sebaiknya kita langsung bereskan saja urusan kita,' katanya. 'Kami akan mengantar Anda ke atas untuk memeriksa kempa itu.'

    "'Sebaiknya saya mengenakan topi, kan?'

    "'Oh, tak perlu. Kempa itu ada di dalam rumah.'

    "'Apa? Anda menggali tanah liat dari dalam rumah?'

    "'Tidak, tidak. Kami hanya mencetaknya di sini. Tapi sudahlah, tak usah ribut soal itu! Kami

    hanya ingin Anda memeriksa kempa itu, lalu menjelaskan kepada kami apanya yang rusak.'

    "Kami pergi ke atas. Kolonel Stark berjalan di depan membawa lampu, diikuti manajer gemuk

    itu, dan saya paling belakang. Lantai atas rumah tua itu terdiri dari banyak koridor, gang, tangga

    melingkar, dan pintu yang rendah. Ambang-ambang pintu itu berlubang-lubang karena terlalu sering

    dilangkahi selama turun-temurun. Tak ada karpet dan perabotan di situ, dan plesteran dindingnya banyak yang sudah copot dan lembap. Saya berusaha keras untuk santai, tapi saya tak dapat melupakan

    peringatan wanita tadi, dan saya terus memandangi kedua teman saya. Nampaknya Ferguson itu pendiam dan pemurung, tapi dari cara bicaranya dapat saya simpulkan bahwa dia orang Inggris.

    "Kolonel Lysander Stark akhirnya berhenti di depan sebuah pintu yang rendah. Dibukanya

    kunci pintu itu. Di dalamnya terdapat ruangan persegi kecil yang bahkan tak muat untuk kami bertiga.

    Ferguson tinggal di luar, sementara atasannya mengantarkan saya masuk.

    http://www.mastereon.com

    15



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    "'Sekarang,' katanya, 'kita sudah berada di kempa hidrolik yang saya maksud, dan kalau mesinnya dijalankan suasana di dalam sini sangat tak menyenangkan. Atap ruangan ini sebenarnya

    bagian dasar sebuah piston, dan kalau piston itu sedang turun, kekuatannya mencapai beberapa ton, dan akan menekan lantai logam ini. Ada beberapa kolom air di samping luar yang akan menahan kekuatan

    piston itu untuk diteruskan dan dilipatgandakan. Anda sudah biasa, kan, dengan proses semacam itu?

    Kempa ini sebetulnya masih bisa jalan, tapi ada sesuatu yang menghalangi gerakannya sehingga kekuatannya berkurang. Tolong diperiksa dan jelaskan kepada kami bagaimana cara memperbaikinya.'

    "Saya mengambil lampu darinya dan memeriksa kempa itu dengan saksama. Kempa itu besar

    sekali, dan daya tekannya sangat kuat. Ketika saya melangkah ke luar dan menekan tuas yang menjalankan kempa itu, dari bunyi desir yang terdengar saya langsung tahu bahwa kempa itu mengalami kebocoran yang mengakibatkan merembesnya air melalui salah satu pinggiran silindernya.

    Saya juga menemukan bahwa salah satu gelang karet di sekeliling ujung kemudinya telah aus, sehingga

    tak lagi memenuhi tempat semestinya. Jelas inilah yang menyebabkan kekuatan mesin itu berkurang.

    Saya lalu menjelaskan hal itu kepada kedua orang yang menemani saya. Mereka mendengarkan penjelasan saya dengan saksama, dan menanyakan beberapa pertanyaan praktis bagaimana cara memperbaikinya.

    "Ketika saya selesai menjawab pertanyaan mereka, saya kembali ke ruang utama kempa itu, dan

    memeriksa sekali lagi untuk memuaskan rasa ingin tahu saya. Jelas sekali bahwa cerita tentang tanah

    liat tadi sore hanyalah dibuat-buat saja, karena kempa sekuat ini tak mungkin hanya dipergunakan

    untuk hal sepele begitu. Tembok kamar mesin utama itu terbuat dari kayu, tapi lantainya terbuat dari lempengan besi. Ketika saya memeriksa lantai itu, terlihat goresan-goresan logam di sekeliling lantai itu. Saya membungkuk dan menggoreskan tangan saya ke lantai untuk mencari tahu bekas goresan

    apakah itu sebenarnya, tapi tiba-tiba terdengar teriakan dalam bahasa Jerman, dan nampak wajah Kolonel Stark yang pucat pasi sedang melongok kepada saya.

    "'Apa yang kau kerjakan di situ?' tanyanya.

    "Saat saya itu sedang merasa jengkel karena dia telah menipu saya mentah-mentah dengan

    cerita buatannya, sehingga saya menjawab dengan ketus, 'Saya sedang mengagumi tanah liat Anda.

    Sebenarnya saya bisa memberi saran yang lebih baik kepada Anda mengenai kempa Anda ini, kalau

    saja saya diberitahu dipakai untuk apa sebenarnya mesin ini.'

    http://www.mastereon.com

    16





    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    "Begitu kalimat saya selesai, saya langsung menyesali keketusan saya. Wajahnya jadi kaku dan

    matanya yang kelabu bersinar dengan sangat mengerikan.

    "'Baiklah,' katanya, 'kau akan segera tahu untuk apa sebenarnya mesin ini.' Dia melangkah

    mundur, membanting pintu sempit itu dan menguncinya. Saya berlari ke arah pintu itu dan menarik

    pegangannya, tapi pintu itu kuat sekali, dan tak bergeming sedikit pun walaupun sudah saya tendang

    dan dorong sekuat tenaga.

    "'Halo!' teriak saya. 'Halo! Kolonel! Keluarkan

    saya dari sini.'

    "Lalu tiba-tiba saya mendengar suatu bunyi

    yang membuat saya terperangah. Dentang tuas dan

    desir silinder yang bocor. Dia telah menjalankan mesin

    itu! Dari sinar lampu yang tadi saya taruh di lantai,

    saya melihat atap hitam di atas saya sedang bergerak

    turun dengan perlahan dan tersentak-sentak, tapi saya

    tahu benar berapa besar kekuatannya, yang akan

    mampu menggilas tubuh saya sampai hancur lebur

    dalam sekejap. Saya meronta-ronta, berteriak,

    memukul-mukul pintu, dan berusaha membuka kunci

    dengan kuku jari saya. Saya memohon dengan sangat

    agar Kolonel Stark mengeluarkan saya, tapi dentang

    tuas yang mengerikan itu meredam teriakan saya. Atap

    itu tinggal sekitar setengah meter di atas kepala saya,

    dan ketika saya mengangkat tangan, saya bisa merasakan permukaannya yang kasar dan kuat.

    "Dalam situasi meregang nyawa seperti itu, tiba-tiba saya lalu berpikir: Dengan posisi bagaimana sebaiknya saya menjemput kematian saya? Kalau saya tengkurap, maka punggung saya

    yang akan tergilas dulu. Tubuh saya bergetar membayangkan alternatif ini. Mungkin lebih enak sebaliknya. Tapi, apakah saya punya nyali untuk berbaring sambil menatap bayangan hitam itu berderak turun untuk menggilas diri saya? Saya sudah tak bisa berdiri tegak lagi, ketika tiba-tiba mata saya menangkap sesuatu yang memancarkan harapan bagi hidup saya.

    http://www.mastereon.com

    17



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    "Tadi saya katakan bahwa walaupun lantai dan atapnya terbuat dari besi, dindingnya terbuat

    dari kayu. Waktu saya mengawasi sekeli-ling dalam kepanikan, saya melihat ada celah di antara dua

    belahan kayu di dinding yang makin lama makin membesar karena ada sepotong kayu kecil yang

    terdorong ke belakang. Untuk sekejap saya ragu-ragu apakah celah itu akan mampu menyelamatkan

    nyawa saya. Secepat kilat saya melompat melalui celah itu, dan terjatuh dalam keadaan setengah pingsan di luar. Lalu, celah itu langsung menutup kembali! Saya masih bisa mendengar suara lampu

    yang tergilas dari dalam kamar mesin itu, lalu bunyi baja yang saling beradu. Betapa saya nyaris mati di dalam situ!

    "Saya tersadar karena ada sentuhan di pergelangan tangan saya. Saya mendapatkan diri saya

    terbaring di lantai sebuah koridor yang sempit, sementara seorang wanita membungkuk di samping

    saya, lalu menarik tubuh saya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya memegang lilin. Dialah wanita

    baik hati yang telah memperingatkan saya sebelumnya. Betapa bodohnya saya, karena telah mengabaikan peringatannya.

    "'Ayo! Ayo!' serunya dengan tersengal-sengal. 'Mereka akan kemari sebentar lagi. Mereka akan

    tahu kalau Anda tak ditemukan di dalam ruangan itu. Oh, jangan membuang waktu Anda yang sangat

    berharga ini, ayolah!'

    "Tentu saja kali ini saya tak mengabaikan sarannya. Saya bangkit dengan tertatih-tatih, dan

    berlari mengikutinya di sepanjang koridor itu. Kami lalu menuruni tangga putar dan kami sampai di

    sebuah lorong yang lebar. Begitu kami sampai di situ, kami mendengar suara kaki berlarian dan teriakan dua orang yang saling bersahut-sahutan—satu suara dari lantai atas yang baru saja kami lewati, dan suara lainnya dari arah bawah. Pengantar saya berhenti, lalu memandang sekelilingnya

    bagaikan orang yang kehilangan akal. Lalu dibukanya sebuah pintu yang ternyata menuju ke kamar

    tidur. Ada jendela di kamar itu sehingga sinar bulan bisa masuk ke situ.

    "Inilah satu-satunya kesempatan Anda.' katanya. 'Jendela itu tinggi, tapi cobalah melompatinya.'

    "Begitu selesai kata katanya, seberkas sinar mendekat ke arah kami dan di ujung lorong itu saya melihat si kurus Kolonel Lysander Stark sedang berlari ke arah kami. Satu tangannya memegang

    lentera, dan tangan lainnya menggenggam senjata seperti golok tukang daging.

    "Saya berlari menuju jendela itu, membukanya, dan melongok ke luar. Tampak oleh saya taman

    http://www.mastereon.com

    18





    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    yang tenang dan indah, yang bertaburan sinar bulan. Tinggi jendela itu tak lebih dari sembilan meter di atas taman di luar itu. Saya lalu merangkak naik ke daun jendela, tapi ketika saya hendak melompat,

    saya merasa ragu-ragu. Saya harus tahu dulu bagaimana nasib penyelamat saya. Kalau dia sampai

    diperlakukan buruk oleh bajingan yang sedang mengejar saya, saya bertekad akan kembali ke tempat

    itu untuk menolongnya, apa pun risikonya. Ketika saya sedang berpikir demikian, pengejar saya sudah

    sampai di pintu kamar, menyerobot masuk melewati wanita itu yang berusaha menghalanginya. Wanita

    itu langsung memeluk pria itu dan berusaha mendorongnya ke luar kamar.

    "'Fritz! Fritz!' teriaknya dalam bahasa Inggris. Ingatlah pada janjimu waktu itu. Kaubilang kau takkan melakukannya lagi. Dia pasti akan tutup mulut! Oh, dia akan tutup mulut!'

    "'Kau gila, Elise!' balas pria kurus itu sambil berontak dan

    melepaskan diri dari pelukan wanita itu. 'Kau menghancurkan

    kami. Sudah terlalu banyak yang dilihatnya. Minggir, cepat!'

    Dia mendorong wanita itu ke samping dan berlari ke jendela,

    lalu mengayunkan senjatanya yang berat ke arah saya. Saya

    sedang hendak meloncat dan jari tangan saya masih bergayut

    di ambang jendela ketika ayunannya mengenai saya. Rasa sakit

    yang amat sangat menyentak tubuh saya, pegangan saya lepas,

    dan saya terjatuh ke taman.

    "Saya jatuh berdebum dengan keras sekali, tapi saya tak

    terluka. Maka saya segera bangun dan berlari bagai dikejar

    setan untuk bersembunyi di semak-semak, karena bahaya

    masih mengancam saya. Tapi ketika saya berlari, kepala saya

    rasanya pusing sekali dan sekujur tubuh saya terasa sakit. Saya

    menengok ke tangan saya yang kesakitan, dan barulah saya

    sadar bahwa ibu jari saya telah terpotong, dan darah mengalir dengan deras dari luka itu. Saya berusaha mengikatkan saputangan saya untuk menutupi luka itu, tapi telinga saya berdengung, dan saya jatuh

    pingsan di tengah-tengah gerumbulan pohon mawar.

    "Saya tak tahu berapa lama saya pingsan. Tentunya lama sekali sebab ketika saya tersadar, bulan telah hampir hilang, dan sinar pagi mulai menyembul. Pakaian saya basah kuyup oleh embun, dan

    http://www.mastereon.com

    19



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    lengan jas saya berlumuran darah dari jempol yang terluka itu. Rasa sakit yang amat sangat membuat

    saya teringat akan apa yang telah saya alami semalam. Saya segera bangkit karena ketakutan jangan-

    jangan saya masih dikejar-kejar orang. Tapi betapa terkejutnya saya, karena tak ada rumah ataupun

    taman terlihat di sekeliling saya. Saya malah berada di pinggir jalan besar. Ketika saya menyusuri

    jalanan yang menurun, saya menemukan gedung panjang yang ternyata adalah stasiun kereta api yang

    tadi malam saya singgahi. Kalau tak ada bukti tangan saya yang terluka, pengalaman saya semalam

    mungkin hanyalah mimpi buruk saja.

    "Masih kebingungan, saya masuk ke stasiun dan menanyakan tentang jadwal pemberangkatan

    kereta. Ada satu yang menuju ke Reading tak sampai sejam kemudian. Porter yang bertugas saat itu

    sama dengan yang bertugas malam sebelumnya. Saya bertanya padanya apakah dia pernah mendengar

    tentang orang bernama Kolonel Lysander Stark. Dia menggeleng. Apakah dia melihat kereta di dekat

    stasiun tadi malam? Dia menggeleng. Apakah ada kantor polisi di dekat stasiun? Ada, tapi jaraknya

    kira-kira lima kilometer dari stasiun.

    "Terlalu jauh bagi saya yang lemas dan kesakitan. Saya memutuskan untuk kembali ke London

    dulu, barulah saya akan melapor. Saya sampai di London jam enam lewat sedikit, dan saya lalu diantar ke seorang dokter untuk mengobati luka saya. Dokter Watson berbaik hati mengantarkan saya kemari.

    Saya menyerahkan kasus ini ke tangan Anda, dan saya akan turuti apa pun saran Anda."

    Kami berdua duduk terdiam selama beberapa saat setelah mendengarkan kisah yang luar biasa

    ini. Lalu Sherlock Holmes mengambil sebuah buku tebal dari rak. Buku itu berisikan potongan-potongan berita.

    "Ada iklan yang akan menarik perhatian Anda," katanya. "Dimuat di semua koran sekitar setahun yang lalu. Coba dengarkan... 'Telah hilang pada tanggal 9, Mr. Jeremiah Hayling, usia 26,

    seorang insinyur hidrolika. Meninggalkan tempat tinggalnya jam sepuluh malam, dan tak ada kabar

    beritanya sejak itu. Berpakaian lengkap,' dst, dst. Ha! Saya kira dia juga jadi korban kempa hidrolik tersebut."

    "Ya, Tuhan!" teriak pasien saya. "Kalau begitu, itulah yang dimaksud wanita tadi."

    "Benar. Jelas bahwa kolonel itu seorang yang kejam dan berdarah dingin. Permainannya tak

    boleh dihalangi oleh apa pun juga, bagaikan bajak laut yang tak akan memberi ampun kepada seorang

    http://www.mastereon.com

    20



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    pun dari kapal yang berhasil ditawannya. Nah, waktu kita sangat berharga, maka kalau Anda tak

    keberatan, mari kita berangkat ke Scotland Yard sekarang sebelum pergi ke Eyford."

    Kira-kira dga jam kemudian, kami berlima—Sherlock Holmes, si insinyur hidrolika, Inspektur

    Bradstreet dari Scotland Yard, seorang polisi berpakaian preman, dan saya sendiri—sudah berada di

    dalam kereta api dari Reading menuju sebuah desa kecil di Berkshire. Bradstreet membuka sebuah peta

    militer dan menaruhnya di kursi. Dia sibuk dengan kompasnya dan menggambarkan bulatan dengan

    Eyford sebagai titik tengahnya.

    "Nah," katanya, "lingkaran itu menunjukkan radius enam belas kilometer dari Eyford. Tempat yang ingin kita kunjungi pasti terletak di dekat garis lingkaran itu. Saya rasa Anda tadi mengatakan enam belas kilometer, sir?"

    "Pokoknya perjalanan kereta selama satu jam."

    "Dan menurut Anda, merekalah yang mengangkat Anda ketika Anda masih dalam keadaan

    pingsan?"

    "Mestinya demikian. Samar-samar teringat oleh saya saat saya diangkat dan dipindahkan."

    "Yang tak saya mengerti," kataku, "mengapa mereka tak membunuh Anda ketika menemukan

    Anda terbaring pingsan di taman. Atau mungkin bajingan itu menjadi agak lunak hatinya karena permohonan wanita itu."

    "Menurut saya, tak mungkin begitu. Wajah pria itu sangat keras sekali waktu itu."

    "Oh, kita akan segera tahu semuanya," kata Inspektur Bradstreet. "Nah, lingkarannya sudah saya gambar. Sayang kita belum tahu ke arah mana kita harus mencari."

    "Saya rasa saya bisa menunjukkan," kata Holmes dengan tenang.

    "Sungguhkah?" teriak Inspektur Bradstreet. "Jadi Anda sudah berhasil menarik kesimpulan!

    Coba lihat, siapa di antara kami yang bisa menebak dengan tepat. Menurut saya arahnya ke selatan,

    karena daerahnya lebih terisolir."

    "Kalau menurut saya, arahnya ke timur," kata pasien saya.

    "Saya pilih barat," kata polisi yang berpakaian preman. "Ada beberapa desa kecil yang sepi di

    http://www.mastereon.com

    21



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    sana."

    "Saya pilih utara," kataku, "karena tak ada bukit-bukit di sana, dan teman kita menyatakan bahwa perjalanannya waktu itu tak pernah menanjak."

    "Wah," kata Inspektur Bradstreet sambil tertawa, "kok, lain-lain begitu pendapatnya. Nah, semua arah telah kami pilih, yang mana yang benar, Mr. Holmes?"

    "Kalian semua salah."

    "Tak mungkin. Salah satu pasti benar."

    "Betul, semuanya salah. Menurut saya, begini." Holmes menunjuk ke titik tengah lingkaran itu.

    "Di sinilah tempat yang kita cari itu."

    "Bagaimana dengan perjalanan sejauh sembilan belas kilometer itu?" tanya Hatherley dengan

    tercekat.

    "Anda sengaja disesatkan. Anda dibawa ke luar kota sejauh sembilan setengah kilometer, lalu

    kembali lagi. Sederhana, kan? Anda sendiri mengatakan bahwa kuda itu dalam keadaan segar dan

    mengkilat ketika Anda menaiki kereta itu tadi malam. Apakah akan demikian kalau telah menempuh

    perjalanan sejauh sembilan belas kilometer melewati jalanan yang rusak?"

    "Wah, licik benar," komentar Inspektur Bradstreet dengan serius. 'Tentu saja komplotan ini tak bisa dianggap enteng."

    "Tepat sekali," kata Holmes. "Mereka ini pembuat uang koin palsu dalam jumlah besar-besaran, dan mesin itu dipakai untuk membuat campuran bahannya sebagai ganti perak."

    "Kami memang sudah' mendeteksi beroperasinya komplotan lihai semacam itu selama beberapa

    lama," kata Inspektur Bradstreet. "Mereka telah mencetak koin setengah crown ribuan banyaknya.

    Kami sudah mencium jejaknya sampai ke Reading, tapi hanya sampai di situ. Mereka sangat rapi

    dalam menutupi jejak mereka, sehingga mereka pastilah orang-orang yang sudah berpengalaman dalam

    bidangnya. Tapi kini, syukurlah ada kesempatan baru. Saya rasa kita pasti akan berhasil menggulung

    mereka."

    http://www.mastereon.com

    22





    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    Tapi Inspektur Bradstreet ternyata keliru. Rupanya belum saatnya kriminal-kriminal itu jatuh ke

    tangan yang berwajib. Ketika kami tiba di Stasiun Eyford, kami melihat asap tebal yang berasal dari

    sebuah tempat di balik pepohonan tak jauh dari stasiun. Asap itu menggantung di langit bagaikan sayap burung unta raksasa yang melingkupi tanah di bawahnya.

    "Ada rumah terbakar?" tanya Inspektur

    Bradstreet ketika kereta api yang tadi kami tumpangi

    sudah melanjutkan perjalanannya.

    "Ya, sir," jawab kepala stasiun.

    "Kapan terjadinya?"

    "Kata orang, tadi malam, sir, tapi api terus

    membesar, dan tempat itu terkurung nyala api."

    "Rumah siapa itu?"

    "Dr. Becher."

    "Apakah," potong si insinyur, "Dr. Becher itu

    orang Jerman, kurus, dan hidungnya panjang

    sekali?"

    Kepala stasiun itu tertawa terbahak-bahak.

    "Tidak, sir. Dr. Becher itu orang Inggris, dan di

    sekitar sini dialah orang yang paling rapi setelan jasnya. Tapi ada seorang pria lain yang tinggal bersamanya, kalau tak salah pasiennya, dan dia itu memang kerempeng sekali."

    Belum selesai kata-kata kepala stasiun itu, kami sudah bergegas menuju lokasi kebakaran itu.

    Jalanannya menanjak ke sebuah bukit yang tak begitu tinggi, dan di depannya berdiri sebuah gedung

    besar berwarna putih yang sedang di-landa api yang menyala-nyala. Apinya mencuat dari seluruh celah

    dan jendela rumah itu. Tiga mobil pemadam kebakaran yang diparkir di halaman sedang berupaya

    keras untuk memadamkan api.

    "Itu dia!" teriak Hatherley dengan penuh semangat. "Itu jalanan kerikilnya, dan itu gerumbulan tanaman mawar di mana saya terbaring pingsan semalam. Saya melompat dari jendela kedua dari

    http://www.mastereon.com

    23



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    depan."

    "Yah, paling tidak, tindakan jahat mereka terhadap Anda telah terbalaskan," komentar Holmes.

    "Penyebab kebakaran ini tentulah lampu minyak yang Anda tinggal kan di ruang mesin. Ketika tergilas, api menyambar ke dinding kayu. Mungkin mereka terlalu sibuk mengejar Anda sehingga tak memperhatikan hal lampu itu. Coba cari orang-orang yang Anda temui di rumah itu semalam di antara

    kerumunan ini, walaupun saya hampir pasti mereka telah kabur."

    Holmes ternyata benar. Sejak saat itu hingga kisah ini ditulis, tak ada kabar benta tentang wanita

    cantik, orang Jerman mengerikan, atau orang Inggris yang bermuka murung itu. Pagi-pagi buta sebelumnya, seorang petani dilaporkan telah melihat kereta bermuatan beberapa orang dan kotak-kotak

    besar. Kereta itu melaju dengan kencang ke arah Reading. Tapi jejak para pelarian itu hilang sampai di situ. Bahkan Holmes sendiri tak mampu mendapatkan petunjuk di mana kira-kira mereka berada.

    Para petugas pemadam kebakaran sangat heran melihat isi rumah itu. Apalagi mereka juga

    menemukan potongan ibu jari di ambang salah satu jendela di lantai dua. Api baru bisa dipadamkan

    pada sore harinya, setelah atapnya roboh dan tempat itu benar-benar sudah menjadi puing-puing. Yang

    tersisa hanyalah silinder-silinder yang telah bengkok dan pipa-pipa besi. Mesin pembawa petaka itu

    habis terbakar. Tumpukan tumpukan besar berisi nikel dan timah ditemukan di gudang di samping

    rumah. Tapi tak ditemukan sebuah koin pun. Tentunya sudah dibawa lari dalam kotak-kotak besar

    sebagaimana dilaporkan oleh petani tadi.

    Bagaimana si insinyur hidrolika, teman kami itu, bisa berpindah dari taman ke pinggir jalan,

    mungkin akan tetap tinggal sebagai misteri, kalau saja tak ditemukan jejak kaki di halaman. Ternyata dia telah diangkat oleh dua orang, satu di antaranya berkaki kecil, dan yang satunya berkaki besar

    sekali. Kemungkinan besar, orang Inggris yang pendiam dan tak seberapa kejam dibanding pria satunya

    itulah yang menolong wanita itu menyelamatkan sang insinyur.

    " Well," kata insinyur teman kami dengan sangat menyesal ketika kami sudah duduk lagi dalam kereta yang akan mengantar kami puiang ke London, "bisnis macam apa ini? Saya kehilangan satu jari jempol, saya tak jadi mendapatkan imbalan lima puluh guinea, lalu apa yang saya dapatkan?"

    "Pengalaman," kata Holmes sambil tertawa. "Tahukah Anda, bahwa secara tak langsung pengalaman ini cukup besar nilainya bagi Anda? Coba karanglah promosi dengan memanfaatkan

    http://www.mastereon.com

    24



    Sir Arthur Conan Doyle – Ibu Jari Sang Insinyur

    kejadian ini untuk meningkatkan reputasi perusahaan Anda selanjutnya."

    Download ebook Sherlock Holmes selengkapnya gratis di:

    http://www.mastereon.com

    http://sherlockholmesindonesia.blogspot.com

    http://www.facebook.com/sherlock.holmes.indonesia

    http://www.mastereon.com

    25





    SHERLOCK HOLMES - IBU JARI SANG INSINYUR

  • - Copyright © 2013 RETNO_WIBOWO - To Aru Kagaku no Railgun - Powered by Blogger - Designed by retno wibowo -