• Posted by : damar 17 Jan 2014

    Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta

    1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling
    lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

    2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana
    dimaksud dalam ayat (I), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

    Sir Arthur ConatfDoyle

    SALAM TERAKHIR



    Scanned book (sbook) ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSELKAN atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan

    BBSC



    Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2001

    HIS LAST BOW by Sir Arthur Conan Doyle Diterbitkan dengan izin khusus Lady Conan Doyle

    SA1 AM TERAKillRSHERLOCKHOLMES

    Alih bahasa: Dra. Daisy Dianasari

    GM40294.107 Hak cipta terjemahan Indonesia: Penerbit PT Gramcdia Pustaka Utama, Jl. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270 Sampul dikerjakan oleh David
    Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Desember 1994

    Cetakan kedua: April 1995 Cetakan ketiga: Mei 2001

    Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

    DOYLE, Sir Arthur Conan

    Salam Terakhir Sherlock Holmes/ Sir Arthur Conan Doyle alih bahasa, Daisy Dianasari —Jakarta: Gramedia Pustaka

    Utama, 1994

    320 him; 18 cm

    Judul asli- His l-ast Bow ISBN 979-605- 107-9

    I. Judul II. Dianasari, Daisy

    823

    Dicetak oleh Percetakan Ikrar Mandiri, Jakarta

    Isi di luar tanggung jawab Percetakan

    Daftar Isi

    Petualangan di Wisteria Lodge

    Misteri Kotak Kardus 61

    Petualangan Lingkaran Merah 98 Kasus Pencurian Rancangan Kapal Selam

    Bruce-Partington 132

    Petualangan Detektif yang Sekarat 184

    Misteri Hilangnya Lady Frances Carfax 211

    Petualangan Kaki Setan 246

    Salam Terakhir 291

    Scanned book (sbook) ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSJLKAN atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan

    BBSC





    Petualangan di Wisteria Lodge

    I, Pengalaman unik Mr. John Scott Eccles

    Berikut ini adalah sebuah kisah sebagaimana tertulis dalam buku catatanku. Pada suatu hari di akhir bulan Maret tahun 1892, cuaca di luar sangat murarq
    dan angin bertiup dengan kencangnya. Holmes menerima sebuah telegram, dan langsung membalasnya. Namun, ketika kami berdua duduk bersama untuk makan siang,
    dia tak menyinggung-nyinggung telegram itu, meski jelas terlihat bahwa pikirannya dipenuhi isi telegram tadi. Setelah makan siang, dia berdiri di depan
    perapian dengan ekpresi wajah berpikir keras, sambil mengisap pipa rokoknya dan sebentar-sebentar menatap telegram yang dipegangnya. Tiba-tiba, dia menoleh
    ke arahku sambil mengedipkan kedua matanya yang penuh tipu muslihat.

    "Kau ini, Watson, ahli dalam bahasa surat-me-nyurat," katanya. "Coba jelaskan apa arti kata 'fantastis'."

    "Aneh—luar biasa," jawabku.

    Dia menggeleng setelah mendengar jawabanku.

    "Pasti lebih seru dari itu," katanya, "karena dihubungkan dengan suatu peristiwa yang tragis dan mengerikan. Coba kauingat-ingat kisah-kisah kita yang
    telah mengguncangkan hati banyak orang, maka kau akan menemukan banyak tindak kriminal yang fantastis. Ingat kasus orang-orang berambut merah? Fantastis,
    bukan? Buntutnya ternyata usaha perampokan habis-habisan. Atau, yang ini! Kasus lima butir biji jeruk, yang ternyata merupakan rentetan pembunuhan yang
    amat keji. Kata 'fantastis' benar-benar membuatku harus waspada penuh."

    "Memangnya kata itu tertera di telegram yang kaupegang?" tanyaku.

    Dia membaca isi telegram itu dengan keras.

    '"Baru tertimpa peristiwa yang luar biasa dan fantastis. Bisa konsultasi dengan Anda?—Scott Eccles, Kantor Pos, Charing Cross.*"

    "Pengirimnya wanita atau pria?" tanyaku.

    "Oh, tentu saja pria! Mana ada wanita mengirim telegram sambil menyertakan lembar balasan yang sudah dibayar penuh? Wanita lebih suka langsung datang kemari
    kalau membutuhkan konsultasi."

    "Kau bersedia menemui pengirim telegram itu?"

    "Sobatku Watson, kau tahu betapa bosannya aku tinggal di rumah melulu setelah menyelesaikan kasus Kolonel Carruthers. Pikiranku terus berpacu bagaikan
    mesin yang sedang ikut perlombaan, lalu pecah berkeping-keping karena tak dimanfaatkan

    8

    untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya mampu dilakukannya. Kehidupan kita cuma begini saja? Kertas-kertas catatan menumpuk, bersih, tak ada tulisan
    apa-apa masalah-masalah yang berani dan seru telah lewat dari sejarah tindak kriminal. Dan kau masih bertanya kepadaku, apakah aku bersedia menangani kasus
    baru? Kasus yang sepele pun akan kutangani saat ini. Nah, kalau tak salah, klien kita sudah tiba."

    Langkah yang sangat berhati-hati terdengar di tangga, dan sejenak kemudian seorang lelaki tinggi besar berjanggut putih diantar masuk ke ruangan kami.
    Latar belakang hidupnya terpancar melalui raut wajahnya yang kokoh dan sikapnya yang angkuh. Kalau melihat gaya pakaiannya sampai kacamatanya yang berlapis
    emas, dia pastilah pengikut Partai Konservatif, anggota gereja, warga negara yang baik... pokoknya sangat ortodoks dan konvensional. Tetapi ada sesuatu
    yang telah mengganggu ketenangannya, dan itu terlihat dari rambutnya yang awut-awutan, pipinya yang memerah karena menahan amarah, dan sikapnya yang bingung
    dan penasaran. Dia langsung menyatakan maksud kedatangannya.

    "Saya telah mengalami suatu peristiwa yang sangat aneh dan tak menyenangkan," katanya. "Tak pernah sebelumnya saya berada dalam situasi seperti ini. Benar-benar
    tak senonoh... memalukan. Saya minta dengan sangat agar ada penjelasan

    9

    tentang hal itu." Dia berteriak dengan terengah-engah dan dengan amarah yang meledak.

    "Silakan duduk, Mr. Scott Eccles," kata Holmes sambil berusaha menenangkan orang itu. "Bolehkah saya tahu terlebih dahulu, untuk apa Anda sebenarnya menemui
    saya?"

    "Well, Sir, saya punya kasus yang tampaknya tak bisa diurus polisi, namun kalau nanti Anda sudah mendengar fakta-faktanya, Anda pasti akan menyatakan saya
    tak bisa mendiamkan kasus ini begitu saja. Saya sebetulnya tak begitu bersimpati terhadap detektif-detektif swasta, tapi begitu mendengar nama Anda..."

    "Oh, begitu, ya? Lalu pertanyaan selanjutnya, mengapa Anda tidak langsung datang?"

    "Apa maksud Anda?"

    Holmes menengok ke jam tangannya.

    "Sekarang jam dua lewat seperempat," katanya. "Telegram Anda dikirim sekitar jam satu. Tapi, dari penampilan dan pakaian Anda, setiap orang pasti akan
    tahu betapa Anda telah mengalami kesulitan sejak Anda bangun tidur tadi pagi."

    Klien kami menyisir rambutnya yang awut-awutan dengan tangannya dan .mengusap dagunya yang belum dicukur.

    "Anda benar, Mr. Holmes. Saya sampai tak sempat merapikan diri. Saya ingin segera keluar dari rumah itu. Sebelum datang kemari saya sibuk mengadakan penyelidikan.
    Tahukah Anda, saya tadi pergi ke agen penyewaan rumah dan mereka

    10

    mengatakan uang sewa rumah Mr. Garcia telah dibayar lunas dan semuanya beres di Wisteria Lodge."

    "Ayo, ayolah, Sir," kata Holmes sambil tertawa. "Anda ini tak ubahnya rekan saya Dr. Watson, yang punya kebiasaan menceritakan sesuatu dari arah yang sama
    sekali keliru. Silakan mengatur pikiran Anda dulu, barulah nanti bercerita kepada saya, dengan urutan yang baik, peristiwa apa yang telah menyebabkan Anda
    berkunjung kemari untuk berkonsultasi tanpa sempat menyisir rambut dan merapikan pakaian."

    Klien kami menundukkan wajahnya dengan malu karena menyadari penampilannya yang "baru".

    "Maafkan penampilan saya yang acak-acakan, Mr. Holmes. Saya sendiri tak bisa percaya telah mengalami hal seperti itu. Baiklah akan saya ceritakan semuanya;
    saya yakin Anda akan mengerti, mengapa saya sampai jadi begini."

    Tetapi kisah tamu kami yang baru saja dimulai itu terpaksa terputus oleh suara gaduh di luar. Mrs. Hudson membuka pintu ruangan kami dan mempersilakan
    masuk dua pria tegap yang penampilannya sangat resmi. Salah satunya kami kenal, Inspektur Gregson dari Kepolisian Pusat Scotland Yard. Dia polisi yang
    penuh semangat, sopan, dan cukup cakap. Dia menjabat tangan Holmes, lalu memperkenalkan temannya yang bernama Inspektur Baynes dari Kepolisian Wilayah
    Surrey.

    11

    "Kami berdua sedang melakukan pelacakan bersama, Mr. Holmes, dan jejak kami mengarah kepadanya." Dia memalingkan pandangannya yang tajam ke arah tamu kami.
    "Anda Mr. John Scott Eccles, penghuni Popham House, di daerah Lee, kan?"

    "Ya."

    "Kami telah mengikuti jejak Anda sepanjang pagi ini."

    "Tentunya kalian melacaknya dari telegram yang dikirimkannya?" tanya Holmes.

    "Tepat, Mr. Holmes. Kami berhasil mengetahui dia tadi pergi ke kantor pos Charing Cross, lalu kemari."

    "Tapi, untuk apa Anda mengikuti saya? Apa yang Anda inginkan dari saya?"

    "Kami menginginkan pernyataan, Mr. Scott Eccles, sehubungan dengan hal-hal yang mengakibatkan tewasnya Mr. Aloysius Garcia, penghuni Wisteria Lodge, dekat
    daerah Esher, semalam."

    Klien kami bangkit dari duduknya dengan mata nyalang, wajahnya yang memancarkan rasa terkejut menjadi sangat pucat.

    "Tewas? Anda mengatakan dia tewas?"

    "Ya, Sir, dia tewas."

    "Tapi, secara bagaimana? Kecelakaan?"

    "Pembunuhan, itulah satu-satunya kemungkinan."

    "Ya Tuhan! Mengerikan! Anda tentunya... tentunya tak mencurigai saya, kan?"

    12

    "Kami menemukan surat Anda di saku celana korban. Dari situ kami tahu Anda merencanakan untuk mampir ke rumahnya tadi malam."

    "Memang demikianlah adanya."

    "Jadi Anda betul-betul mampir?"

    Inspektur polisi itu mengeluarkan buku catatannya.

    "Tunggu sebentar, Gregson," kata Sherlock Holmes. "Anda cuma mau mendapatkan pernyataan, kan?"

    "Dan saya wajib memperingatkan Mr. Scott Eccles bahwa pernyataan itu kelak dapat digunakan untuk menuntutnya."

    "Mr. Eccles baru saja mau mengisahkan sesuatu kepada kami ketika Anda tadi memasuki ruangan inL Kurasa, Watson, dia memerlukan segelas brendi campur soda.
    Sekarang, Sir, semoga Anda tak keberatan dengan bertambahnya jumlah pendengar Anda, silakan menceritakan kisah Anda. Tak usah terpengaruh oleh adanya interupsi
    ini."

    Tamu kami telah menenggak brendi, dan wajahnya sudah tak begitu pucat lagi. Sambil sekilas melirik dengan ragu-ragu ke buku catatan Inspektur Gregson,
    dia mulai menuturkan kisahnya.

    "Saya masih bujangan," katanya, "dan karena banyak bergaul, saya punya banyak teman, di antaranya keluarga Melville, pembuat bir yang sudah pensiun. Mereka
    tinggal di Albemarle Mansion, Kensington. Di rumah mereka itulah, beberapa min gu yang lalu, saya bertemu dengan pemuda

    13

    bernama Garcia. Setahu saya, pemuda ini keturunan Spanyol dan ada hubungannya dengan kedutaan negara asalnya itu. Bahasa Inggrisnya bagus sekali, sikapnya
    menyenangkan, dan orangnya sangat tampan.

    "Kami, saya dan pemuda itu, lalu berteman. Sejak awal dia memang sudah mendekati saya, dan dua hari setelah pertemuan kami yang pertama, dia mampir ke
    tempat saya di Lee. Kunjungan ini diikuti dengan kunjungan-kunjungan berikutnya, dan akhirnya dia pun mengundang saya untuk menginap selama beberapa hari
    di rumahnya, Wisteria Lodge, yang terletak di antara Esher dan Oxshott. Kemarin malam, saya pergi ke Esher untuk memenuhi undangannya.

    "Sebelum saya berangkat, dia telah menjelaskan keadaan di rumahnya kepada saya. Dia tinggal bersama seorang pelayan yang setia—orang Spanyol juga—yang
    menyediakan semua kebutuhannya dan merawat rumahnya. Pelayannya itu bisa berbahasa Inggris. Lalu dia juga mempunyai seorang tukang masak yang hebat, begitu
    katanya, yang berdarah campuran dan dijumpainya ketika dia sedang melakukan perjalanan ke luar, negeri. Rumah tangga seperti ini memang agak jarang dijumpai
    di jantung daerah Surrey, dia berkomentar, dan saya pun sependapat. Tapi ternyata keadaannya jauh lebih aneh daripada yang saya duga.

    "Saya naik kereta ke rumah itu—letaknya se

    14

    kitar dua mil di sebelah selatan Esher. Rumahnya berukuran sedang, dengan jalanan membelok di hajamannya yang dipenuhi semak belukar pada kedua sisinya.
    Bangunannya sudah tua, reyot, dan sangat tak terawat. Ketika kereta yang saya tumpangi sudah berhenti di depan pintu rumah yang kusam dan coreng-moreng
    itu, saya mulai ragu-ragu, untuk apa gerangan saya mengunjungi seseorang yang belum lama saya kenal. Tapi, dia sendirilah yang membukakan pintu dan menyambut
    saya dengan sangat hangat. Seorang pelayan pria berkulit gelap dimintanya untuk melayani saya. Pelayan itu mempersilakan saya menuju ke kamar tidur yang
    telah disediakan sambil menenteng koper saya. Tempat itu benar-benar memuakkan. Tak lama kemudian kami duduk bersama untuk makan malam, dan walaupun teman
    saya berupaya keras untuk menyenangkan hati saya, saya tahu pikirannya sedang berkelana ke tempat lain. Bicaranya juga tak menentu, sehingga saya jadi
    bingung. Dia terus-menerus memukul-mukul meja, lalu menggigiti kukunya, dan melakukan gerakan-gerakan yang menunjukkan dia sedang kalut dan cemas. Menunya
    sendiri tak istimewa, dan kehadiran pelayannya yang bermuka masam itu memperburuk suasana. Percayalah, sepanjang malam itu saya berharap menemukan alasan
    supaya bisa kembali ke Lee.

    "Ada satu hal lain yang saya ingat yang mungkin ada sangkut pautnya dengan apa yang sedang

    15

    Anda lacak. Waktu itu saya tak mengindahkannya. Ketika kami hampir selesai makan malam, pelayannya menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Saya perhatikan,
    setelah membaca surat itu, tuan rumah jadi semakin aneh. Dia tak bisa berpura-pura hangat lagi kepada saya, lalu dia duduk termenung sambil terus-menerus
    mengisap rokoknya, tapi dia tak mengatakan apa-apa kepada saya. Kira-kira jam sebelas malam, dengan lega saya berpamitan tidur. Beberapa waktu kemudian
    Garcia menengok dari pintu kamar—lampu • sudah saya matikan—dan bertanya apakah saya membunyikan bel. Saya menjawab, bukan saya yang melakukannya.
    Dia minta maaf karena telah mengganggu malam-malam begitu, sambil mengatakan saat itu hampir jam satu malam. Saya langsung kembali merebahkan diri di tempat
    tidur, dan saya tertidur dengan sangat pulas sepanjang malam.

    "Sekarang saya sampai ke. bagian kisah saya yang paling mengherankan. Ketika saya terbangun, hari sudah agak siang. Saya melihat jam, ternyata sudah hampir
    jam sembilan. Semalam saya berpesan agar dibangunkan pada jam delapan, jadi saya heran kenapa tak dibangunkan. Saya segera melompat dari tempat tidur dan
    membunyikan bel untuk memanggil pelayan. Tak ada jawaban. Bel saya bunyikan lagi, dan lagi, hasilnya sama saja. Maka saya lalu berpikir mungkin belnya
    rusak. Saya cepat-cepat berpakaian dan bergegas turun ke lantai bawah, dan bayangkan betapa terkejutnya

    16

    saya karena tak ada seorang pun di sana. Saya berteriak-teriak di ruang depan, lalu melongok ke kamar demi kamar. Kosong semua. Tadi malam tuan rumah sempat
    menunjukkan letak kamarnya, maka saya lalu mengetuk pintunya. Tak ada jawaban. Saya membuka pintunya dan masuk. Kamarnya kosong, dan tempat tidurnya rapi
    sekali. Dia telah pergi bersama yang lainnya. Tuan rumah yang tak begitu saya kenal, pelayannya, tukang masaknya, semua telah menghilang! Saya pun segera
    angkat kaki dari Wisteria Lodge."

    Sherlock Holmes tak bisa menahan gelaknya. Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan riang, karena koleksi kasus uniknya bertambah satu.

    "Sejauh yang saya ketahui, pengalaman Anda ini benar-benar unik," katanya. "Boleh saya tanya, Sir, sesudah itu apa yang Anda lakukan?"

    "Saya sangat marah; saya langsung merasa telah dipermainkan. Saya membereskan barang-barang saya, membanting pintu depan rumah itu, lalu menuju ke Esher
    sambil menenteng koper. Saya pergi ke kantor Allan Brothers, agen rumah terbesar di kota kecil itu, dan diberitahu bahwa vila Wisteria Lodge memang disewa
    dari mereka. Setelah menimbang-nimbang, saya menyimpulkan tak mungkin rumah itu disewa hanya untuk mempermainkan saya. Kemungkinan besar Garcia justru
    memanfaatkan saya untuk mengelak dari tagihan. Sekarang akhir bulan Maret, waktu membayar

    17

    sewa. Namun pemikiran saya ini ternyata keliru. Pihak agen perumahan berterima kasih atas peringatan saya, tapi uang sewa rumah itu telah dilunasi. Saya
    lalu menuju ke kota dan mampir ke Kedutaan Spanyol. Ternyata tak ada yang kenal dengan Garcia. Saya pergi ke rumah Melville, tempat saya bertemu Garcia
    untuk pertama kali, tapi dia pun belum mengenal pemuda itu dengan baik. Akhirnya, ketika saya menerima balasan telegram dari Anda, saya menuju kemari,
    karena saya tahu Anda biasanya menangani kasus yang sulit-sulit. Nah, sekarang, inspektur, dari apa yang Anda katakan ketika masuk tadi, saya yakin Anda
    bisa melanjutkan kisah ini dengan terjadinya musibah itu. Percayalah, semua yang saya katakan benar adanya, dan saya tak tahu apa-apa lagi mengenai nasib
    korban. Saya hanya ingin menolong menegakkan hukum semampu saya."

    "Saya yakin akan hal itu, Mr. Scott Eccles— saya yakin akan hal itu," kata Inspektur Gregson dengan nada ramah. "Perlu saya katakan bahwa semua yang
    Anda katakan cocok dengan fakta-fakta yang kami dapatkan. Misalnya, tentang datangnya surat ketika Anda berdua sedang makan malam. Apakah Anda sempat memperhatikan,
    di-apakan surat itu oleh tuan rumah Anda?"

    "Ya. Garcia meremas-remas surat itu, lalu melemparkannya ke perapian."

    "Bagaimana menurut Anda, Mr. Baynes?"

    Detektif desa itu gemuk sekali, wajahnya ke

    18 -

    merahan dan menggelembung oleh timbunan lemak, namun matanya yang hampir tersembunyi oleh dahi dan pipinya sangat cemerlang. Sambil tersenyum ringan dia
    mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dan lusuh dari saku celananya.

    "Ada pemanggang di perapian itu, Mr. Holmes, dan Garcia melemparkan surat itu terlalu jauh. Saya mengambilnya dari bagian belakang, dan ternyata surat
    ini tidak terbakar."

    Holmes tersenyum untuk menunjukkan penghargaannya.

    "Anda pasti telah memeriksa rumah itu dengan sangat saksama, sampai berhasil menemukan gulungan kertas ini."

    "Benar, Mr. Holmes. Begitulah cara kerja saya. Saya bacakan surat ini, Mr. Gregson?"

    Detektif London itu mengangguk.

    "Surat ini ditulis di kertas biasa berwarna dasar krem tanpa stempel. Kertasnya dipotong menjadi dua dengan memakai gunting tajam. Sudah dilipat-lipat
    sebanyak tiga kali, dilem dengan semacam lilin ungu, lalu dipres dengan tergesa-gesa menggunakan benda datar yang bentuknya oval. Dialamatkan kepada Mr.
    Garcia, Wisteria Lodge. Bunyinya, 'Warna-warna kita sendiri, hijau dan putih. Hijau artinya buka, putih artinya tutup. Tangga utama, koridor pertama, ketujuh
    sebelah kanan, kain hijau. Demi Tuhan, cepat. D.' Penulisnya seorang wanita, ujung pulpennya tajam sekali, tapi

    19

    alamatnya ditulis dengan pulpen lain atau oleh orang lain. Lihatlah, lebih tebal."

    "Wah, surat yang luar biasa," kata Holmes sambil melirik kertas. "Selamat untuk Anda, Mr. Baynes, karena hasil pemeriksaan Anda yang begitu terperinci.
    Mungkin ada beberapa hal sepele yang perlu ditambahkan. Bentuk alat pres yang oval itu jelas kancing baju—jelas dari bentuknya, kan? Gunting yang dipakai
    adalah gunting bengkok yang biasa dipakai untuk menggunting kuku. Anda bisa melihat dengan jelas adanya sedikit lekukan pada bekas guntingannya."

    Detektif desa itu tergelak.

    "Saya pikir sudah saya tuangkan keluar semuanya. Ternyata masih ada yang ketinggalan," katanya. "Harus saya akui saya tak mendapatkan petunjuk apa-apa
    dari surat itu kecuali bahwa ada sesuatu yang—sebagaimana biasanya—didalangi seorang wanita."

    Mr. Scott Eccles duduk dengan gelisah selama pembicaraan ini.

    "Bagus sekali Anda menemukan surat itu, karena ternyata cocok dengan kisah saya," katanya. "Tetapi, bolehkah saya tahu apa gerangan yang telah terjadi
    pada Mr. Garcia dan penghuni rumahnya yang lain?"

    "Tentang nasib Garcia," kata Gregson, "bisa dijawab dengan mudah. Dia ditemukan tewas pagi tadi di Oxshott Common, sekitar satu mil dari rumahnya. Kepalanya
    hancur karena pukulan ben

    20

    da keras semacam sarung tinju, sehingga lebih tepat dikatakan kalau kepalanya langsung hancur, bukannya cuma terluka. Tempat di sudut itu memang sepi,
    dan rumah yang terdekat jaraknya sekitar seperempat mil dari situ. Jelas dia telah dihantam dari belakang, tapi orang yang menyerangnya tetap memukulinya
    walaupun dia sudah mati. Benar-benar serangan yang dansyat dan dilakukan dengan amarah yang membara. Tak ditemukan jejak kaki atau petunjuk lain untuk
    melacak pelaku kejahatan itu." "Perampokan?"

    "Tidak, tak ada upaya perampokan."

    "Wah, rumit, ya? Sangat rumit dan mengerikan," kata Mr. Scott Eccles bersungut-sungut, "khususnya bagi saya. Saya tak tahu-menahu tentang kepergian tuan
    rumah saya pada malam buta begitu sehingga menemui ajalnya. Bagaimana saya bisa dikaitkan dengan kasus ini?"

    "Sederhana sekali, Sir," jawab Inspektur Baynes. "Satu-satunya dokumen yang ditemukan di saku celana korban adalah surat Anda yang mengabarkan Anda akan
    mengunjunginya pada malam kematiannya. Amplop surat inilah yang membuat kami mengetahui nama dan alamatnya Kami pergi ke rumahnya pada jam sembilan lewat
    pagi tadi, dan kami tak menemukan siapa-siapa di rumah itu, termasuk Anda. Saya menelepon Mr. Gregson untuk melacak Anda di London sementara saya memeriksa
    Wisteria Lodge. Lalu saya ke London

    21

    menemui Mr. Gregson, dan di sinilah kami sekarang."

    "Saya rasa," kata Gregson sambil bangkit berdiri, "sebaiknya kita tuntaskan masalah ini. Mari, Mr. Scott Eccles, Anda ikut kami ke kantor polisi agar pernyataan
    Anda bisa dibuat secara tertulis."

    "Baiklah, mari berangkat sekarang juga. Tapi saya tetap meminta jasa Anda, Mr. Holmes. Saya ingin Anda sungguh-sungguh berupaya keras mengungkapkan kasus
    ini."

    Sahabatku menoleh ke arah sang inspektur desa.

    "Tentunya Anda tak keberatan bekerja sama dengan saya, Mr. Baynes?"

    "Saya malah merasa mendapat kehormatan, Sir, pasti itu."

    "Anda tampaknya sangat cekatan dan praktis dalam bertindak. Boleh saya tanya, apakah Anda sudah mendapatkan petunjuk sehubungan dengan jam berapa tepatnya
    korban menemui ajalnya?"

    "Dia berada di tempat itu sejak jam satu malam. Pada jam itu hujan turun, dan jelas dia tewas sebelum hujan turun."

    "Tapi itu benar-benar tak mungkin, Mr. Baynes," teriak klien kami. "Saya tak mungkin salah dengar. Saya berani bersumpah dialah yang menyapa saya di kamar
    tidur saya pada jam yang Anda sebutkan."

    "Luar biasa, namun bukannya tak mungkin," kata Holmes sambil tersenyum.

    "Anda punya petunjuk?" tanya Gregson

    22

    "Dilihat dari luar, kasus ini tidak terlalu rumit, walaupun mengandung hal-hal yang menarik dan unik. Dibutuhkan informasi dan fakta lebih banyak lagi
    sebelum saya memberikan kesimpulan yang pasti. Omong-omong, Mr. Baynes, apakah Anda menemukan hal lain yang luar biasa di samping surat ini ketika memeriksa
    rumah itu?"

    Detektif itu menatap sahabatku derij^n pandangan yang aneh sekali.

    "Memang ada," katanya, "satu atau dua hal yang sangat luar biasa. Mungkin setelah selesai urusan di kantor polisi, Anda bersedia melihatnya dan memberikan
    pendapat Anda."

    "Dengan senang hati," kata Sherlock Holmes sambil membunyikan bel. "Tolong antar tuan-tuan ini, Mrs. Hudson, dan minta pesuruh Anda mengirimkan telegram
    ini. Tolong minta dia sekalian membayarkan balasannya seharga lima shilling."

    Kami duduk diam selama beberapa saat setelah para tamu pergi. Holmes merokok terus, alisnya turun sampai ke matanya yang penasaran, dan kepalanya tertekuk
    ke depan sebagaimana biasanya.

    "Well, Watson," tanyanya tiba-tiba sambil menoleh ke arahku, "bagaimana pendapatmu?"

    "Aku tak punya pendapat apa-apa tentang pengalaman Mr. Scott Eccles yang aneh itu."

    "Tapi tentang pembunuhannya?"

    "Well, berhubung yang menghilang termasuk orang-orang korban, menurutku mereka ada sang

    23

    kut pautnya dengan pembunuhan itu lalu m larikan diri."

    "Bisa saja begitu. Namun, dilihat dari permukaannya, kau pasti setuju bahwa aneh sekali kalau kedua pelayan itu berkomplot untuk melawan korban, apalagi
    saat mereka sedang kedatangan tamu. Kalau memang mereka berencana begitu, bukankah lebih bSk pada saat-saat lain ketika tuannya sendirian di rumah?"

    "Lalu, mengapa mereka melarikan diri?"

    "Itulah! Mengapa mereka melarikan diri? Di sini terletak fakta yang sangat penting. Fakta lainnya yang tak kalah penting ialah apa yang dialami klien kita,
    Scott Eccles. Nah, sobatku Watson, apakah akal manusia tak mampu menjelaskan kedua fakta penting itu? Seandainya salah satu dari kedua fakta itu ada hubungannya
    dengan surat misterius yang menerbitkan rasa penasaran itu, wah, itu sudah akan menghasilkan perkiraan sementara. Kalau nanti ada tambahan fakta lagi yang
    cocok dengan apa yang sudah kita punyai, perkiraan kita itu bisa berubah menjadi kesimpulan."

    "Tapi, perkiraan apa yang kita miliki?"

    Holmes menjatuhkan punggungnya ke tempat duduknya dengan mata separo terkatup.

    "Harus kauakui, sobatku Watson, kasus ini tak mungkin sekadar gurauan. Ada peristiwa mengerikan yang telah terjadi, sebagaimana telah kita dengar, dan
    diundangnya Scott Eccles ke Wisteria Lodge ada hubungannya dengan kejadian itu."

    24

    "Hubungan yang bagaimana?"

    "Mari kita melacaknya setapak demi setapak. §epintas, ada yang tak beres sehubungan dengan persahabatan antara Scott Eccles dan pemuda Spanyol itu, yang
    begitu unik dan tiba-tiba. Pemuda Spanyol itulah yang jelas berinisiatif sehingga persahabatan mereka berkembang pesat. Dia langsung berkunjung ke rumah
    Eccles yang%etaknya di ujung'kota London dua hari setelah mereka berkenalan, dan dia terus mengunjunginya sampai akhirnya dia berhasil membujuknya untuk
    berkunjung ke rumahnya di Esher. Nah, apa yang diinginkannya dari Eccles? Apa yang bisa didapatnya dari Eccles? Menurutku, Eccles bukan tipe orang yang
    menyenangkan. Dia bukan orang yang sangat cerdas—dan tak mirip orang Latin yang gampang bergaul. Jadi mengapa justru dia yang dipilih Garcia dan dianggap
    cocok untuk sesuatu yang direncanakannya? Apakah dia orang terpandang? Memang. Tipe konvensional seperti itu dapat menjadi saksi yang meyakinkan. Kaulihat
    sendiri bagaimana kedua inspektur polisi tadi sama sekali tak mempermasalahkan pernyataannya, padahal apa yang dikisahkannya begitu luar biasa."

    "Tapi, dia mau diminta bersaksi tentang apa?"

    "Tentang sesuatu yang ternyata tak terjadi. Begitulah penilaianku."

    "Aku tahu sekarang, dia mau dijadikan alibi."

    Tepat sekali, sobatku Watson. Kita misalkan saja semua penghuni Wisteria Lodge adalah kom

    25

    plotan dengan suatu tujuan tertentu. Niat mereka, apa pun itu, misalnya akan dilaksanakan sebelum jam satu malam. Dengan mengacaukan jam-jam yang ada di
    rumah itu, bisa saja terjadi Scott Eccles masuk tidur pada saat yang jauh lebih awal dari perkiraannya. Dart ketika Garcia menengok ke kamarnya dan mengatakan
    saat itu jam satu, pastilah sebenarnya baru tak lebih dari jam dua belas. Kalau Garcia pergi melaksanakan apa yang ditugaskan kepadanya, lalu kembali lagi
    pada jam yang disebutkan tadi, dia sudah punya alibi. Orang Inggris yang tak berdosa itu akan siap bersaksi di depan pengadilan bahwa Garcia memang berada
    di rumahnya sepanjang malam. Bukankah itu akan menjadi jaminan sehingga dia tak mungkin dituduh macam-macam?"

    "Ya, ya, aku tahu. Tapi bagaimana dengan menghilangnya penghuni yang lain?"

    "Fakta-fakta yang kumiliki belum lengkap, tapi untuk mendapatkannya tak akan terlalu sulit. Hanya, salah besar kalau kita bersitegang berdasarkan data-data
    yang kita miliki. Kita akan berputar- â–  putar agar data-data itu cocok dengan pemikiran kita."

    "Bagaimana dengan isi surat itu?"

    "Bagaimana tadi bunyinya? 'Warna-warna kita sendiri, hijau dan putih.' Seperti pacuan, ya? 'Hijau artinya buka, putih artinya tutup.' Ini jelas suatu tanda
    'Tangga utama, koridor pertama, ketujuh sebelah kanan, kain hijau.' Ini tempat per

    26

    temuan. Kita mungkin akan berurusan dengan seorang suami yang dibakar cemburu nantinya Jelas sesuatu yang berbahaya, karena si pengirim mengatakan, 'Demi
    Tuhan, cepatlah.' 'D' ini pasti ada artinya."

    "Pemuda itu orang Spanyol. Kukira 'D' singkatan dari Dolores, nama wanita yang sangat populer di Spanyol." ^

    "Bagus, Watson, bagus sekali... tapi ada yang kurang bisa diterima. Orang Spanyol akan berbahasa Spanyol dengan orang sebangsanya. Penulis surat ini jelas
    orang Inggris. Well, kita hanya perlu bersabar sampai inspektur polisi tadi kembali kemari. Sementara itu, kita patut mensyukuri keberuntungan kita karena
    ada sesuatu yang mengurangi masa menganggur kita yang amat membosankan."

    Holmes menerima balasan atas telegram yang dikirimnya sebelum inspektur polisi dari Surrey kembali ke tempat kami. Holmes membacanya, dan baru saja mau
    menyelipkannya ke buku catatannya ketika dia melihat wajahku yang sangat ingin tahu. Dia memberikan telegram itu kepadaku sambil tertawa.

    "Kita bergerak di lingkungan terhormat," katanya.

    Telegram itu berisi daftar nama dan alamat: "Lord Harringby, The Dingle; Sir George Ffolliott, Oxshott Towers; Mr. Hynes Hynes, J.P., Purdey

    27

    Place; Mr. James Baker Williams, Forton Old Hall; Mr. Henderson, High Gable; Rev. Joshua Stone, Nether Walsling."

    "Inilah cara yang jelas untuk membatasi wilayah operasi kita," kata Holmes. "Jelas Baynes, dengan otaknya yang metodis, sudah mengambil langkah serupa."
    ^\

    "Aku tak^fcngerti."

    "Well, sobatku, kita bisa menyimpulkan surat yang diterima Garcia pada saat makan malam merupakan janji untuk suatu pertemuan. Nah, kalau benar demikian,
    untuk mencapai tempat pertemuan itu, dia harus naik tangga utama dan menemukan pintu ketujuh pada suatu koridor, jadi rumah itu pastilah besar sekali.
    Juga jelas rumah itu letaknya hanya satu-dua mil dari Oxshott, karena Garcia menuju ke tempat itu dengan berjalan kaki, dengan harapan akan tiba kembali
    di Wisteria Lodge pada waktu yang telah diaturnya untuk mendapatkan alibi, yaitu tak lebih dari jam satu malam. Tak banyak terdapat rumah besar di dekat
    Oxshott, maka aku meminta daftar nama dari agen rumah yang tadi disebutkan Scott Eccles. Nih, tertera di telegram ini. Maka, penyelesaian kasus kita yang
    ruwet ini pastilah ada di dalam daftar ini."

    Waktu menunjukkan hampir pukul enam ketika kami, ditemani Inspektur Baynes, sampai di desa Surrey yang indah pemandangannya.

    Aku dan Holmes membawa barang-barang ke

    28

    perluan untuk bermalam, dan kami menyewa tempat yang nyaman di daerah Bull. Kemudian kami berangkat ke Wisteria Lodge bersama Inspektur. Malam di bulan
    Maret itu dingin dan gelap. Angin bertiup dengan kencangnya, dan hujan turun rintik-rintik memukul-mukul wajah kami. Cuacanya cocok sekali dengan jalanan
    J^pfc yang sedang kami lewati dan dengan maksud kami untlfe menguakkan tragedi ini.

    2. Harimau San Pedro

    Setelah berjalan dalam diam dan cuaca dingin sejauh beberapa mil, kami tiba di jembatan kayu tinggi, yang membawa kami ke jalanan yang sepi, sekelilingnya
    dipenuhi tumbuhan kastanye. Lalu kami melewati jalanan berkelok di halaman, dan sampailah kami ke sebuah rumah yang pendek, gelap, hitam pekat dengan latar
    belakang langit yang juga sudah gelap. Di sebelah kiri pintu ada jendela. Dari arah jendela itu terbersit sinar samar-samar.

    "Ada polisi yang jaga," kata Baynes. "Biar saya ketuk jendela itu." Dia melompati rerumputan lalu mengetuk kaca jendela. Melalui kaca yang tertutup kabut
    itu aku samar-samar melihat seorang pria terbangun dari duduknya di kursi di samping perapian; diikuti jeritan melengking dari dalam ruangan. Sejenak kemudian,
    seorang polisi yang pucat pasi dengan napas tersengal-sengal membukakan

    29

    pintu. Lilin yang dibawanya bergoyang-goyang karena tangannya gemetaran.

    "Ada apa, Walters?" tanya Baynes dengan tajam.

    Polisi itu mengusap dahinya dengan saputangan, dan mengembuskan napas lega.

    "Betapa senang rjati saya karena kedatangan Anda, Si ^ftalam ini waktu merayap dengan perlahan sekali, dan rasanya saraf saya tak tahan lagi . menanggung
    siksaan ketegangan seperti ini."

    "Sarafmu tegang, Walters? Rasanya sarafmu tak pernah terganggu selama ini."

    "Well, Sir. Di sini sunyi senyap, lalu ada sesuatu yang aneh di dapur. Maka ketika Anda tadi mengetuk jendela, saya pikir suara aneh itu datang lagi."

    "Suara aneh apa?"

    "Setan, Sir, begitulah menurut saya. Suara itu memang asalnya dari jendela."

    "Apa yang kaulihat di jendela? Dan kapan itu terjadi?"

    "Kira-kira dua jam yang lalu, ketika cuaca mulai gelap. Saya sedang duduk membaca di kursi ini. Secara tak sengaja saya menengok, lalu melihat seseorang
    melongok ke arah saya melalui kaca jendela bagian bawah. Demi Tuhan, Sir, betapa mengerikan wajahnya! Pasti akan terus terbawa-bawa dalam mimpi."

    "Wah, wah, Walters! Polisi kok bicara macam begitu!"

    30

    "Saya tahu, Sir, saya tahu; tapi saya sangat terguncang, Sir, dan saya yakin akan apa yang saya lihat tadi. Wajahnya tidak hitam, Sir, tidak juga putih,
    pokoknya warnanya aneh sekali, seperti tanah liat yang kecipratan susu. Lalu besarnya wajah itu—dua kali ukuran wajah Anda, Sir. Dan ekspresinya—mala
    monster itu menghunjam ke arah saya, dan barisan giginya yan^putih menyeringai bagaikan binatang buas yang sedang lapar. Percayalah, Sir, saya terdiam
    kaku, napas saya terhenti, sampai wajah itu menghilang. Saya langsung berlari ke luar dan memperhatikan semak belukar di halaman, tapi syukurlah, tak ada
    apa-apa di sana."

    "Seandainya aku tak mengenalmu dengan baik, Walters, pasti aku akan menandai namamu dengan tinta hitam. Kalau memang yang kaulihat itu setan, seorang polisi
    tak boleh bersyukur karena tak berhasil menangkapnya. Kurasa, semua ini bukan cuma penglihatan jadi-jadian dan saraf yang tegang, begitukah, Mr. Holmes?"

    "Paling tidak, hal itu bisa dijelaskan dengan mudah," kata Holmes sambil menyalakan senter saku mungilnya. "Ya," lanjutnya setelah mengawasi rerumputan
    sejenak, "menurut saya, ukuran sepatunya nomor dua belas. Kalau badannya sesuai dengan ukuran kakinya, dia memang raksasa."

    "Lalu apa yang terjadi dengannya?"

    "Dia menyeberangi semak belukar, menuju ke jalan raya."

    31

    "Well," kata Inspektur dengan wajah serius, "siapa pun makhluk itu, dan apa pun yang diinginkannya, dia sudah tak ada lagi di sini, sedangkan kita punya
    urusan yang perlu dibereskan. Nah, Mr. Holmes, kalau Anda tak keberatan, saya akan mengantar Anda menjelajahi rumah ini."

    Kamar-kamar tidur dan ruang-ruang duduk tak menghasiMA apa-apa dalam peninjauan itu. Jelas ketika melarikan diri, para penghuni rumah itu tak membawa apa-apa.
    Tak banyak perabotan dalam rumah itu. Penghuni sebelumnya pasti membawa semuanya ketika mereka pindah. Ada pakaian dengan merek Marx & Co., High Holborn,
    yang tertinggal. Setelah dilacak ke produsen itu ternyata dia tak tahu-menahu tentang pembeli produknya, kecuali bahwa orang itu tak pernah menunggak.
    Terdapat pula macam-macam barang kecil, beberapa pipa rokok, buku-buku novel—dua di antaranya dalam bahasa Spanyol—pistol mini kuno, dan gitar.

    "Tak ada apa-apa di sini," kata Baynes sambil mengikuti kami memasuki ruangan demi ruangan, dengan membawa lilin. "Mari, Mr. Holmes, kita perhatikan dapurnya."

    Dapur yang terletak di bagian belakang rumah itu lengang, atapnya tinggi, ada seonggok jerami di salah satu ujungnya, yang ternyata berfungsi sebagai alas
    tempat tidur tukang masak. Meja di dapur itu penuh tumpukan piring dan mangkuk

    32

    yang belum dicuci, pastilah bekas makan malam semalam.

    "Coba lihat ini," kata Baynes. "Apa pendapat Anda tentang ini?"

    Dia mengangkat lilinnya di depan sesuatu yang terletak di belakang lemari dapur. Benda itu bentuknya semrawut dan lecek sehingga sulit mengatakan apa itu
    sebenarnya. Hitam %an terbuat dari kulit, bentuknya mirip manusia cebol dalam kisah dongeng. Setelah mengamatinya sejenak, aku * mengira itu mayat bayi
    negro yang diawetkan, lalu perkiraanku berubah menjadi mayat monyet kuno yang sudah rusak. Akhirnya, aku tak bisa memutuskan apakah benda itu binatang
    atau manusia. Ada dua baris plester putih yang mengikat bagian tengahnya.

    "Sangat menarik... sungguh sangat menarik!" kata Holmes sambil menatap benda aneh itu. "Ada yang lain lagi?"

    Tanpa berkata sepatah pun, Baynes mengajak kami ke bak cuci tangan, lalu diangkatnya lilin yang dipegangnya. Terlihat bangkai burung putih besar yang terkoyak-koyak.
    Bulu burung itu masih melekat di badannya. Holmes menunjuk ke leher binatang malang itu.

    "Ayam jago putih," katanya, "menarik sekali! Kasus ini benar-benar membuat "saya penasaran."

    Tapi, ternyata masih ada sesuatu yang lebih menjijikkan yang ingin diperlihatkan Mr. Baynes kepada kami. Dari bawah bak cuci tangan, dia

    33

    menarik ember seng yang berlumuran darah. Lalu diambilnya sebuah mangkuk besar berisi tulang yang terpotong-potong. ^

    "Ada yang dibunuh dan ada yang dibakar. Kami mendapatkan ini semua dari perapian. Kami mengundang seorang dokter tadi pagi. Dia mengatakan yang dibunuh
    dan dibakar ini bukan manusia."

    Holmes bersenyum dan menggosok-gosokkan kedua tangannya.

    "Saya perlu mengucapkan selamat kepada Anda, Inspektur, atas cara Anda menangani kasus yang luar biasa dan mengerikan ini. Kemampuan Anda —maaf, saya
    tak bermaksud negatif—sebenarnya melebihi kesempatan-kesempatan yang diberikan kepada Anda."

    Mata Inspektur Baynes yang sipit berbinar-binar karena pujian itu.

    "Anda benar, Mr. Holmes. Kami tersudut sampai ke batas provinsi saja. Kasus seperti ini sebenarnya membuka peluang bagi pengembangan karier seseorang.
    Saya sungguh berharap akan bisa menangani kasus ini. Apa pendapat Anda tentang tulang-tulang ini?"

    "Tulang kambing, menurut saya, atau anak kambing."

    "Lalu tentang ayam jago putih tadi?"

    "Penasaran, Mr. Baynes, saya sungguh penasaran. Unik sekali."

    "Ya, Sir, penghuni rumah ini pastilah orang-orang yang aneh dengan gaya hidup yang aneh

    34

    pula. Salah satu dari mereka ditemukan tewas. Apakah penghuni lain yang membunuhnya? Kalau benar demikian, kita hams menangkapnya. Semua pelabuhan sudah
    diawasi. Tapi, saya sendiri mempunyai pandangan yang lain. Ya, Sir, saya mempunyai pandangan yang sangat berbeda."

    "Maksudnya, Anda punya teori?"

    "Ya, dan saya berniat menjalankan teori saya sendiri, Mr. Holmes. Ini sangat berkaitan dengan prestasi saya. Nama Anda sudah dikenal orang, tapi nama saya
    masih hams diorbitkan. Nanti kalau saya sudah berhasil menangani kasus ini tanpa pertolongan Anda, saya akan melapor kepada Anda."

    Holmes tertawa lucu.

    "Well, well, Inspektur," katanya. "Silakan mengikuti jalan Anda, dan saya akan mengikuti jalan saya. Dengan senang hati saya selalu terbuka untuk menceritakan
    hasil-hasil penyelidikan saya. Saya rasa sudah cukup banyak saya melihat-lihat di rumah ini. Sampai jumpa lagi dan semoga sukses!"

    Dari gerakan-gerakan yang dilakukan Holmes secara sangat tak kentara, aku yakin dia sedang mengendus sesuatu. Walaupun dia tampaknya tenang-tenang saja,
    aku tahu dia menyembunyikan antusiasme dan ketegangannya. Itu terlihat di matanya yang menjadi semakin cerah dan gayanya yang lebih cekatan. Sebagaimana
    biasanya, dia tak mengatakan apa-apa. Dan sebagaimana biasanya

    35

    pula, aku tak bertanya apa-apa. Cukuplah bila aku bisa ikut dalam perjalanannya, sambil sesekali melaksanakan pertolongan medis sewaktu diperlukan. Tak
    perlu aku memotong otaknya yang sedang bekerja keras. Kalau sudah saatnya, toh dia akan mengisahkan semuanya kepadaku.

    Maka aku pun menunggu—tapi aku kecewa juga karena penantianku ternyata sia-sia. Hari berganti hari, dan sahabatku tak menunjukkan kemajuan apa-apa. Suatu
    pagi, dia pergi ke kota, dan aku sempat mendapatkan informasi bahwa dia pergi ke British Museum. Cuma sekali ini saja dia melakukan perjalanan. Selebihnya,
    dia hanya jalan-jalan sendirian, ngobrol sana-sini dengan orang-orang desa yang sudah menjalin hubungan akrab dengannya.

    "Aku yakin, Watson, libur seminggu di pedesaan baik untuk kita," komentarnya. "Menyenangkan sekali menikmati kembali pagar-pagar rumah yang menghijau dan
    rangkaian bunga liar di pepohonan hazel yang tinggi. Kita bawa alat dongkel tanaman, kotak timah, dan buku tentang botani, maka hari-hari kita betul-betul
    bermanfaat." Dia sibuk menyiapkan peralatannya dan berkelana sebagai "ahli botani", tapi hasilnya hanyalah tanaman-tanaman jelek yang dibawanya pulang.

    Selama berpetualang di Esher, kadang-kadang kami bertemu dengan Inspektur Baynes. Wajah gemuknya yang kemerahan tersenyum dan matanya bersinar-sinar ketika
    dia menyapa sahabatku.

    36

    Dia tak banyak menyinggung soal kasus yang sedang ditanganinya, tapi kami tahu dia cukup puas dengan kemajuan yang didapatkannya. Namun kuakui, aku agak
    terkejut ketika membaca berita yang dicetak dengan huruf-huruf besar di koran pagi, lima hari setelah pembunuhan itu:

    MISTERI OXSHOTT BERHASIL TERUNGKAP TERSANGKA PEMBUNUH SUDAH DITANGKAP

    Holmes terlonjak dari duduknya bagaikan disengat lebah ketika aku membacakan judul berita itu.

    "Ya Tuhan!" teriaknya. "Tentunya bukan Baynes yang telah berhasil menangkapnya, kan?"

    "Begitulah tampaknya," kataku? lalu aku membaca laporan berikut:

    Penduduk Esher dan sekitarnya merasa gembira setelah semalam dilakukan penangkapan sehubungan dengan pembunuhan yang terjadi di Oxshott. Kita ingat bahwa
    Mr. Garcia, penghuni Wisteria Lodge, ditemukan dalam keadaan tewas di daerah Oxshott Common, dengan tubuh hancur akibat tindak kekerasan, dan pada malam
    itu juga, pelayan dan tukang masaknya melarikan diri, yang justru menunjukkan bahwa mereka mempunyai hubungan dengan pembunuhan ini. Diperkirakan, tapi
    belum terbukti, bahwa korban mung

    37

    kin menyimpan barang-barang berharga di rumahnya, dan upaya perampokan terhadap barang-barang itulah yang menjadi motif pembunuhan itu. Inspektur Baynes
    yang menangani kasus ini telah bekerja sekuat tenaga dalam upaya melacak tempat persembunyian para pelarian itu, dan dia punya alasan kuat untuk mengatakan
    bahwa mereka masih berada dekat-dekat situ. Mereka bersembunyi di suatu tempat yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sejak awal sudah jelas bahwa mereka
    akan terlacak, karena tukang masak itu, menurut beberapa pedagang yang sempat mengintipnya dari jendela, adalah seseorang yang berpenampilan luar biasa—badannya
    besar sekali dan keturunan negro berkulit putih. Ada orang yang sudah melihatnya sejak pembunuhan itu terjadi, karena Opsir Polisi Walters sempat melihat
    dan mengejarnya pada malam itu juga, ketika dia nekat mengunjungi Wisteria Lodge kembali. Inspektur Baynes menganggap kunjungannya itu ada maksudnya, dan
    pasti akan diulanginya lagi. Maka rumah itu sengaja dikosongkan, sementara para petugas mengintai dari semak belukar di halaman. Dan benarlah, orang itu
    masuk perangkap, dan berhasil ditangkap tadi malam melalui perlawanan sengit yang mengakibatkan polisi Downing terluka parah. Kami tahu, kalau tawanan
    itu dihadapkan ke pengadilan lokal, pihak kepolisian akan mengambil alih masalah itu, dan diharapkan perkem

    38

    bangan-perkembangan baru akan segera didapatkan setelah penangkapan ini.

    "Kita harus menemui Baynes saat ini juga," teriak Holmes sambil menyambar topinya. "Kita akan menciduknya sebelum dia bertindak macam-macam." Kami bergegas
    menyusuri jalanan pedesaan, dan sebagaimana yang kami harapkan, kami menjumpai inspektur itu tepat pada saat dia akan meninggalkan penginapannya.

    "Anda sudah membaca koran, Mr. Holmes?" tanyanya sambil mengacungkan koran kepada kami.

    "Sudah, Baynes, saya sudah membacanya. Harap jangan berpikir saya lancang kalau memperingatkan Anda."

    "Memperingatkan, Mr. Holmes?"

    "Saya telah memikirkan kasus ini dengan sangat saksama, dan saya yakin Anda berada di jalur yang salah. Saya tak ingin Anda semakin hanyut dalam jalur
    yang salah ini, kecuali jika Anda yakin benar akan apa yang sedang Anda lakukan."

    "Anda sangat baik hati, Mr. Holmes."

    "Yakinlah, saya mengatakan ini demi kebaikan Anda."

    Tampak olehku salah satu mata Mr. Baynes yang sipit mengejap sepintas.

    "Kita sudah setuju bahwa kita akan bekerja menurut jalan masing-masing, Mr. Holmes. Itulah yang sekarang saya lakukan."

    39

    "Oh, baiklah," kata Holmes. "Jangan salahkan saya."

    "Tidak, Sir; saya yakin maksud Anda baik. Tapi masing-masing orang kan punya cara sendiri-sendiri. Anda punya cara sendiri, dan saya pun mungkin punya
    cara sendiri."

    "Sebaiknya tak usah menyinggung-nyinggung soal itu lebih lanjut"

    "Silakan dengarkan tambahan informasi dari saya. Orang ini benar-benar buas, sekuat kuda penarik kereta, dan sejahat setan. Dia menggigit ibu jari Downing
    sampai hampir putus. Untung mereka berhasil menjinakkannya. Dia nyaris tak bisa berbahasa Inggris sepatah kata pun, dan kami tak mendapatkan informasi
    apa-apa darinya kecuali suara dengkurannya."

    "Dan menurut Anda, ada bukti yang menyatakan dialah yang membunuh mantan tuannya?"

    "Saya tak mengatakan demikian, Mr. Holmes; saya tak mengatakan demikian. Kita masing-masing punya cara kerja sendiri. Silakan Anda mengupayakan cara Anda,
    dan saya dengan cara saya. Begitu, kan, perjanjiannya?"

    Holmes mengangkat bahu sambil berjalan meninggalkan inspektur itu. Aku mengikutinya.

    "Aku tak berhasil menyadarkan orang itu. Dia tampaknya sedang menuju kejatuhannya. Well, sebagaimana yang dikatakannya, kita masing-masing hams mengupayakan
    cara kita sendiri dan nanti

    40

    kita lihat bagaimana hasilnya. Tapi ada sesuatu dalam diri Inspektur Baynes yang tak kumengerti."

    "Duduklah, Watson," katanya ketika kami sudah tiba di penginapan kami di Bull. "Aku ingin kau tahu situasi kasus ini, karena aku mungkin membutuhkan bantuanmu
    nanti malam. Mari kujelaskan perkembangannya, sebatas yang aku mampu mengikutinya. Walaupun fakta-fakta utamanya tampaknya sederhana, kasus ini mengandung
    hal-hal rumit yang tak terduga semula sehubungan dengan ditangkapnya seseorang. Ada beberapa bagian yang belum kita ketahui yang perlu segera kita tangani.

    *r!ka kembali ke surat yang diterima Garcia pada malam naasnya. Kita kesampingkan teori Baynes bahwa pelayan-pelayan Garcia-lah yang terlibat dalam pembunuhan
    ini. Ingat, korban sendirilah yang telah mengatur supaya Scott Eccles berada di rumah itu, dan ini dilakukannya untuk mendapatkan alibi. Garcia-lah yang
    malam itu punya tugas, tugas yang berbau kriminal, dan dalam rangka menjalankan tugasnya itulah dia menemui ajalnya. Kukatakan berbau kriminal karena hanya
    perbuatan kriminal yang memerlukan alibi. Lalu, siapa kira-kira yang membunuhnya? Pasti orang yang menjadi objek rencana jahatnya. Sampai sejauh ini, kurasa
    penjelasan kita masuk akal, ya.

    "Sekarang kita bisa mengerti mengapa kedua pelayannya menghilang. Mereka kaki tangan Garcia dalam melaksanakan rencana jahatnya. Me

    41

    nyadari tugas itu berbahaya, mereka telah membuat kesepakatan. Jika Garcia ternyata belum pulang pada jam tertentu, itu mungkin berarti dia sendirilah
    yang telah terbunuh. Maka, kedua kaki tangannya hams bersembunyi untuk menghindari pelacakan dan beberapa waktu kemudian, merekalah yang akan melanjutkan
    tugas kriminal itu. Dengan demikian semua fakta yang kita ketahui bisa dijelaskan, betul tidak?"

    Keruwetan yang membingungkan diriku mulai tampak lurus di hadapanku. Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, sebagaimana biasanya, bagaimana mungkin
    aku tak tahu akan semua ini sebelumnya.

    "Tapi, mengapa salah satu kaki tangan itu kembali ke rumah itu?"

    "Bisa kita bayangkan ketika mereka terburu-buru melarikan diri, ada sesuatu yang sangat berharga—sesuatu yang hams dimilikinya—yang ternyata ketinggalan.
    Masuk akal, kan, kalau dia nekat berupaya mengambilnya."

    "Well, apa langkah berikutnya?"

    "Langkah berikutnya masih ada sangkut pautnya dengan surat yang diterima Garcia. Sang pengirim pastilah komplotannya di tempat lain. Nah, di mana gerangan
    tempat itu? Aku sudah menunjukkan kepadamu tempatnya adalah rumah besar, dan hanya ada sedikit rumah besar di sekitar sini. Sejak berada di desa ini, aku
    sering jalan-jalan. Di samping menjalankan riset botaniku, aku meng

    42

    amati semua rumah besar yang ada, serta mencari informasi tentang penghuni-penghuninya. Ada satu yang menarik perhatianku, yaitu gedung kuno High Gable.
    Letaknya sekitar satu mil dari Oxshott, dan tak ada satu mil dari lokasi pembunuhan. Pemilik gedung-gedung besar lainnya semuanya orang baik-baik dan terhormat
    yang tak tertembus petualangan asmara. Tapi Mr. Henderson yang tinggal di High Gable orang yang meragukan, sehingga mungkin saja dia melakukan hal-hal
    yang meragukan. Maka aku pun memusatkan perhatianku kepadanya dan penghuni lain rumahnya.

    "Penghuninya aneh-aneh, Watson—dan pria itu sendiri malah yang paling aneh. Aku berhasil menemuinya dengan berpura-pura sebagaimana biasa kulakukan,
    tapi matanya yang gelap, cekung, dan galak tampaknya mengendus maksudku yang sebenarnya. Dia berumur kira-kira lima puluh tahun, kekar, aktif, rambutnya
    berwarna abu-abu pekat, alisnya hitam tebal, langkahnya cekatan, dan penampilannya bak seorang kaisar. Dia pastilah orang asing atau pernah tinggal lama
    di negara tropis, karena kulitnya kekuningan dan kering, liat seperti tali cemeti. Kolega sekaligus sekretarisnya, Mr. Lucas, jelas-jelas orang asing.
    Dia cerdik, sopan, dan selalu waspada; kata-katanya yang lembut sangat menghunjam perasaan. Kaulihat, Watson, kita sudah mendapatkan dua kelompok orang
    asing—satu kelompok yang tinggal di Wisteria

    43

    Lodge dan satu lagi yang di High Gable—jadi bagian yang kita cari akan segera kita temukan.

    "Kedua pria yang bersahabat erat ini penghuni inti rumah itu, tapi ada seorang lagi yang lebih penting artinya bagi kita. Henderson punya dua anak gadis—masing-masing
    berusia sebelas dan tiga belas tahun. Pengasuh mereka Miss Bumet, wanita Inggris berusia empat puluhan. Lalu ada lagi seorang pelayan pria kepercayaan
    Henderson. Demikianlah penghuni lengkap rumah itu. Mereka selalu bepergian bersama-sama, dan Henderson sering sekali bepergian. Baru beberapa minggu yang
    lalu Henderson kembali ke High Gable setelah bepergian selama setahun. Perlu kutambahkan bahwa dia itu kaya sekali, dan apa pun yang ingin dia lakukan,
    dengan gampang akan dilaksanakannya. Pelayan-pelayannya yang lain hanyalah embel-embel, yang kerjanya lebih banyak makan dan tidur saja.

    "Begitulah yang kuketahui dari omongan orang-orang di sekitar sini, juga dari pengamatanku sendiri. Kalau butuh informasi tentang keluarga, kita akan banyak
    mendapatkannya dari bekas pelayan yang terpukul karena telah dikeluarkan dari rumah itu. Dan aku. beruntung telah bertemu dengan orang seperti itu. Kukatakan
    beruntung karena waktu itu kebetulan aku memang ingin mencari tahu tentang keluarga itu. Sebagaimana dikatakan Baynes, kita masing-masing mempunyai cara
    kerja yang berbeda. Dan melalui cara kerjaku ini, aku

    44

    berhasil bertemu dengan John Warner, mantan tukang kebun High Gable. Dia punya hubungan dekat dengan pelayan-pelayan lain yang sama-sama takut dan tak
    menyukai man mereka. Begitulah akhirnya aku berhasil mendapatkan rahasia-rahasia rumah tangga itu.

    "Mereka semua betul-betul aneh, Watson! Aku belum berhasil mengerti mereka, pokoknya mereka sangat aneh. Rumah itu bersayap dua, dan para pelayan tinggal
    di salah satu sayap, sementara keluarga tuan rumah tinggal di sayap satunya Keluarga tuan rumah tak pernah berhubungan dengan para pelayan, kecuali dengan
    pelayan khusus yang melayani kebutuhan makan keluarga itu. Semua keperluan diantarkan sampai ke pintu tertentu yang merupakan satu-satunya penghubung.
    Pengasuh anak dan anak-anak yang diasuhnya hampir tak pernah keluar rumah sama sekali, kecuali ke taman. Henderson tak pernah terlihat sendirian. Sekretarisnya
    yang berkulit hitam itu selalu berada di dekatnya, bagaikan bayangan yang mengikutinya ke mana saja dia pergi. Menurut omongan para pelayan, tuannya itu
    ketakutan. 'Dia telah menjual jiwanya kepada iblis sebagai ganti kekayaan,* kata Warner, 'dan dia selalu berjaga-jaga kalau kalau pemberi kekayaannya itu
    mendatanginya untuk mengambil nyawanya.' Tak ada yang tahu dari mana asalnya keluarga ini, dan siapa sebenarnya mereka itu Mereka sangat kejam. Dua kali
    Henderson pernah mencambuk orang dengan

    45

    cambuk anjingnya, dan berhubung mampu membayar uang kompensasi bebaslah dia dari hukuman.

    "Sekarang, Watson, mari kita pelajari situasi yang kita dapatkan dari informasi baru ini. Kita anggap saja surat itu berasal dari salah satu penghuni yang
    aneh-aneh itu, dan isinya pesan agar Garcia segera datang untuk menjalankan misi yang telah direncanakan. Siapa yang menulis surat itu? Siapa lagi kalau
    bukan Miss Bumet, sang pengasuh anak. Seluruh pertimbangan kita tampaknya mengarah ke sana. Bagaimanapun nantinya, kita bisa menjadikan pertimbangan itu
    sebuah hipotesis, dan coba kita lihat apa yang terjadi. Perlu kutambahkan, melihat figur dan usia Miss Bumet, aku jadi yakin ide pertamaku tentang kemungkinan
    pemalangan cinta dalam kasus kita ini tampaknya salah sama sekali.

    "Seandainya benar dialah penulis surat itu, dia mungkin teman atau kaki tangan Garcia. Lalu, apa yang dia lakukan kalau mendengar tentang tewasnya Garcia?
    Kalau benar tewasnya Garcia secara keji itu dalam rangka menjalankan perintahnya, Miss Bumet pasti akan tutup mulut. Namun, dalam hatinya pasti ada rasa
    terpukul dan benci terhadap orang-orang yang telah membunuh Henderson, dan dia akan berupaya semampunya untuk membalas dendam. Bisakah kita menemukannya
    dan mencoba memanfaatkannya? Begitulah pikiranku yang pertama. Tapi sekarang kita mendapat

    46

    kan kenyataan pahit bahwa Miss Bumet telah lenyap sejak malam terjadinya pembunuhan. Ya, dia telah lenyap begitu saja sejak malam itu. Masih hidupkah dia?
    Apakah mungkin dia juga telah tewas pada malam yang sama? Atau dia diculik? Itulah yang perlu kita ketahui sekarang.

    "Kau perlu menyadari sulitnya situasi ini, Watson. Kita tak punya alasan untuk meminta surat penggeledahan. Rencana kita mungkin akan dianggap tak masuk
    akal kalau digelar di muka hakim. Lenyapnya wanita itu tak punya arti apa-apa, karena siapa pun di rumah itu bisa saja secara tiba-tiba menghilang selama
    seminggu. Namun aku yakin wanita itu kini dalam bahaya. Yang dapat kulakukan hanyalah mengamati rumah itu dan meminta agenku, Warner, untuk berja a di
    pintu gerbang. Tapi kita tak bisa membiarkan situasi ini. Kalau hukum tak mampu berbuat^ajJarapa, kita hams berani mengambil risiko."

    "Apa rencanamu?" fy/j/UlAs

    "Aku tahu kamar wanita itu. Kita bisa masuk dari atap rumah tetan ga*-R ncanaku kau dan aku masuk ke sana mafanf{jrff dengan harapan akan mendapatkan jawaban
    bagi misteri ini."

    Kuakui aku tak begitu senang dengan idenya. Rumah kuno yang berbau pembunuhan, dengan penghuninya yang aneh, lalu kemungkinan-kemungkinan bahaya yang bisa
    saja menghadang kami, dan rencana kami yang jelas melanggar hukum—semua ini benar-benar membuat hatiku ciut.

    47

    Tapi ada sesuatu pada pertimbangan Holmes yang nekat ini yang membuatku tak mungkin undur dari petualangan yang direncanakannya. Setiap orang tahu, hanya
    dengan cara seperti inilah, ya, hanya dengan cara seperti inilah, biasanya didapatkan jawaban atas uatu kasus. Tanpa berkata sepatah pun, kujabat tangannya,
    dan keputusan kami tak dapat ditarik kembali.

    Namun ternyata penyelidikan kami itu tidak berakhir sebagai pemalangan besar. Sekitar pukul lima sore, seorang lelaki desa berlari dengan tergesa-gesa
    menuju ke kamar kami.

    "Mereka semua telah pergi, Mr. Holmes. Mereka berangkat dengan kereta api terakhir. Wanita itu memisahkan diri dari rombongan, dan saya berhasil menangkapnya.
    Kini dia ada di kereta di bawah sana."

    "Bagus sekali, Warner!" teriak Holmes sambil berdiri. "Watson,-celahnya hampir tertutup dengan sangat cepat."

    Kami menemukan seorang wanita di dalam kereta. Dia hampir pingsan karena kecapekan. Wajahnya yang cekung dan tirus memancarkan bekas-bekas peristiwa mengerikan
    yang baru saja dialaminya. Kepalanya terkulai ke depan, tapi ketika kepala itu terangkat dan matanya yang suram menatap ke arah kami, aku melihat bintik-bintik
    hitam di tengah bola matanya yang berwarna abu-abu. Dia terbius opium.

    "Saya berjaga di pintu gerbang ramah itu se

    48

    bagaimana Anda perintahkan, Mr. Holmes," kata mantan tukang kebun itu. "Ketika ada kereta berpacu ke luar, saya mengikutinya sampai ke stasiun. Wanita
    ini bagaikan berjalan dalam tidur, namun ketika mereka mencoba menaikkannya ke kereta api, dia meronta-ronta. Mereka lalu mendorongnya agar masuk ke kereta
    lagi. Tapi dia kabur. Saya ganti mengejarnya, membimbingnya naik ke kereta sewaan, dan membawanya kemari. Saya tak akan melupakan wajah yang saya lihat
    di jendela kereta ketika saya menarik wanita ini. Mungkin saya sudah mati, seandainya saja dia bisa menangkap saya—si iblis kuning bermata gelap yang
    menyeringai itu."

    Kami membawa wanita itu ke lantai atas dan membaringkannya di sofa. Setelah meminum beberapa cangkir kopi kental, dia mulai tersadar dari pengaruh obat
    bius. Holmes telah memanggil Baynes dan menjelaskan apa yang terjadi.

    "Wah, Sir, Anda telah mendapatkan saksi yang sangat saya inginkan," kata inspektur itu dengan hangat sambil menjabat tangan sahabatku. "Saya memang berada
    pada jalur yang sama dengan Anda sejak awal."

    "Apa? Anda juga mengejar Henderson?"

    "Lho! Mr. Holmes, ketika Anda merangkak di semak-semak High Gable, waktu itu saya ada di atas pohon dan saya dapat melihat Anda. Masalahnya hanyalah siapa
    di antara kita yang lebih dulu berhasil menangkap saksi itu."

    49

    "Lalu untuk apa Anda menangkap si blasteran negro?" Baynes tergelak.

    "Saya yakin si Henderson'merasa dicurigai, dan dia akan tinggal diam selama merasa dalam bahaya. Saya menangkap orang lain agar dia yakin kita tak lagi
    mengawasinya. Saya tahu dia akan keluar dari persembunyiannya tak lama kemudian, dan dengan demikian kita bisa menemukan Miss Bumet."

    Holmes merangkulkan lengannya ke pundak inspektur itu

    "Karier Anda akan melonjak tinggi. Insting dan intuisi Anda bagus sekali," pujinya.

    Wajah Baynes memerah.

    "Saya menempatkan seorang polisi berpakaian preman di stasiun sepanjang minggu ini. Kalau ada penghuni High Gable yang bepergian, dia akan mengikutinya.
    Tapi dia pasti mengalami kesulitan ketika Miss Burnet memisahkan diri dari rombongan. Untunglah orang Anda berhasil mengamankan wanita ini dan semuanya
    berakhir dengan baik. Kita tak bisa melakukan penangkapan tanpa saksi mata, itu jelas, jadi mari kita secepatnya mendengarkan pengakuannya."

    "Secepatnya setelah dia mampu berbicara," kata Holmes sambil menoleh ke arah wanita pengasuh itu. "Tapi, coba jelaskan, Baynes, siapa sebenarnya Henderson?"

    "Henderson," jawab Inspektur, "sebenarnya ber

    50

    nama Don Murillo, yang dulu pernah dijuluki Harimau San Pedro."

    Harimau San Pedro! Aku berusaha mengingat-ingat kisah orang itu. Dia terkenal sebagai penguasa yang paling keji dan haus darah yang pernah memerintah suatu
    negara di bumi ini. Dia melakukan semua kekejiannya itu dengan kedok memajukan peradaban bangsanya. Sang pemimpin ini kuat sekali kedudukannya, tak kenal
    rasa takut, dan sangat bersemangat. Dengan gampang dia menjebloskan orang-orang yang memusuhinya ke dalam penjara selama sepuluh atau dua belas tahun.
    Namanya ditakuti semua orang di Amerika Tengah. Akhirnya, ada kelompok-kelompok yang bergabung untuk menyerangnya. Tapi, di samping keji, dia sangat licik.
    Dia berhasil mendapatkan informasi mengenai rencana penyerangan terhadap dirinya dan langsung mengangkut harta bendanya dengan kapal dikawal orang-orang
    yang setia kepadanya. Keesokan harinya, ketika penyerangan dilakukan, mereka menemukan istananya dalam keadaan kosong. Sang diktator bersama kedua anaknya,
    sekretarisnya, dan kekayaannya telah melarikan diri. Sejak saat itu, dia menghilang bagaikan ditelan bumi, dan namanya menjadi bahan pergunjingan di surat-surat
    kabar di seluruh Eropa.

    "Ya, Sir; dialah si Don Murillo, Harimau San Pedro," kata Baynes. "Kalau Anda mempelajari kisahnya, akan Anda temukan warna identitas San Pedro adalah
    hijau dan putih, sama seperti yang

    51

    disebutkan di surat itu, Mr. Holmes. Dia mengganti namanya menjadi Henderson, tapi saya berhasil mencium jejaknya, yaitu antara Paris, Roma, Madrid, dan
    Barcelona. Di tempat-tempat itulah kapalnya singgah pada tahun 1886. Orang-orang yang menyerbu ke istananya terus berusaha mencarinya untuk membalas dendam,
    tapi baru sekarang mereka berhasil mencium jejaknya."

    "Mereka telah mencium jejaknya setahun yang lalu," kata Miss Bumet yang kini telah duduk dan mengikuti pembicaraan kami. "Sebelum ini, nyawanya sudah pernah
    terancam, tapi kuasa setan masih melindunginya. Sekarang, justru Garcia bangsawan yang gagah berani menjadi korban, sedangkan sang monster selamat. Tapi
    lain kali, atau lain kali lagi, keadilan pasti akan terwujud." Tangannya yang kurus dikepalkannya, dan wajahnya yang keriput dipenuhi dendam membara.

    "Tapi, bagaimana gerangan Anda terlibat dalam kasus ini, Miss Bumet?" tanya Holmes. "Bagaimana gerangan seorang wanita Inggris bisa terlibat dalam kasus
    pembunuhan seperti ini?"

    "Saya terlibat karena inilah satu-satunya cara bagi saya untuk mendapatkan keadilan. Peduli apa hukum Inggris terhadap darah yang dicurahkan beberapa tahun
    yang lalu di San Pedro? Atau harta benda sekapal penuh yang dirampok diktator itu dari rakyat San Pedro? Bukankah bagi kalian, masalah itu bagaikan kejahatan
    yang telah dilakukan di suatu planet asing di luar angkasa? Tapi kami

    52

    lain, karena kami merasakan dan melihat dengan mata kepala kami sendiri. Kami telah mengalami banyak kepedihan dan penderitaan. Bagi kami, bahkan isi neraka
    lebih baik dibandingkan dengan Juan Murillo, dan kami tak akan tenang sepanjang hidup kami karena korban-korban kekejiannya tak henti-hentinya meneriakkan
    jeritan pembalasan terhadap dirinya."

    "Jelas sekali," kata Holmes, "berdasarkan apa yang Anda katakan, dia pantas menerima ganjaran. Saya juga mendengar bahwa dia kurang ajar sekali. Tapi,
    bagaimana sampai Anda terlibat?"

    "Saya akan mengisahkan semuanya. Bajingan ini dengan begitu mudahnya membunuh seseorang hanya karena alasan yang dicari-cari, khususnya orang yang menurutnya
    akan bisa menyaingi kekuasaannya. Suami saya—nama saya sebenarnya Signora Victor Durando—dulunya duta besar San Pedro yang ditugaskan di London. Kami
    bertemu, lalu menikah. Suami saya orang yang berhati mulia dan sungguh luar biasa. Celakanya, Murillo mendengar tentang kehebatan karier suami saya. Victor
    dipanggil lalu ditembak mati. Tampaknya dia sudah punya firasat jelek sebelum berangkat menemui Murillo, sehingga dia tak mengizinkan saya ikut. Tempat
    tinggal kami tentu saja disita diktator itu, dan tinggallah saya seorang diri tanpa harta secuil pun dan dengan hati yang sangat hancur.

    "Lalu diktator itu tumbang. Dia melarikan diri

    53

    sebagaimana Anda kisahkan tadi. Tapi banyak orang yang telah hancur hidupnya atau yang anggota keluarganya telah mengalami penderitaan dan penganiayaan—bahkan
    tak terhitung yang mati— akibat ulah sang diktator ini, tak bisa tinggal diam. Mereka bergabung dalam perkumpulan yang bertujuan melaksanakan suatu misi
    sampai benar-benar berhasil. Saya mendapat giliran berperan dengan menyusup ke tempat tinggal Henderson yang sangat rahasia itu, pura-pura mencari pekerjaan,
    sambil terus memberikan informasi tentang tindak-tanduknya kepada teman-teman saya. Ini bisa saya jalankan karena saya diterima bekerja sebagai pengasuh
    anaknya. Dia tak sadar bahwa wanita yang melayani makannya adalah istri pria yang telah dengan begitu cepat diantarnya ke alam baka. Saya memasang muka
    ramah terhadapnya, melakukan tugas saya dengan baik, sambil menunggu saat yang tepat untuk bertindak. Suatu upaya pembunuhan terhadapnya pernah dilakukan
    di Paris, tapi gagal. Agar pemburunya kehilangan jejak, Murillo bersama rombongannya, termasuk saya, kabur kian-kemari di seantero Eropa. Akhirnya, kami
    kembali ke High Gable. Rumah itu disewanya ketika dia pertama kali tiba di Inggris.

    "Tapi di sini pun utusan-utusan keadilan tetap mengintai. Ketika tahu Murillo akan kembali ke sini, Garcia—putra mantan pejabat tinggi di San Pedro—sudah
    menunggu bersama dua orang kepercayaannya. Ketiganya mempunyai niat yang

    54

    sama—menuntut balas. Garcia tak dapat berbuat apa-apa pada siang hari, karena Murillo sangat berhati-hati dan tak pernah keluar rumah kecuali bersama
    Lucas atau Lopez, orang-orang kepercayaannya. Tapi kalau malam, dia tidur sendirian, dan ini bisa menjadi peluang bagi Garcia. Itulah sebabnya pada suatu
    malam yang telah saya atur, saya mengirim petunjuk terakhir kepada teman saya, berhubung sang diktator senantiasa waspada dan tidurnya pun selalu berpindah
    kamar. Saya bertugas membuka kunci pintu dan memberikan sinyal dari jendela melalui lampu hijau yartg berarti semuanya beres, atau lampu putih jika rencana
    sebaiknya ditunda dulu.

    "Tapi rencana itu jadi kacau-balau. Mungkin saja perilaku saya telah menimbulkan kecurigaan si Lopez, sekretarisnya. Tanpa sepengetahuan saya, dia membuntuti
    saya ketika saya menyelinap ke lantai atas. Dia menyergap saya ketika saya baru saja selesai menulis surat itu. Bersama tuannya, mereka menarik saya masuk
    ke kamar tidur saya, lalu menghakimi saya sebagaimana layaknya pengkhianat yang tertangkap basah. Saat di dalam kamar saya itulah mereka sebenarnya berniat
    menusuk saya dengan pisau, tapi lalu terbersit pikiran akan konsekuensi tindakan mereka. Akhirnya, setelah berdebat lama, mereka sepakat bahwa terlalu
    bahaya membunuh saya. Tapi mereka ingin menyingkirkan Garcia. Mereka menyumbat mulut saya, dan Murillo memelintir kedua tangan saya

    55

    dalam upayanya memaksa saya menunjukkan alamat Garcia. Kalau saja waktu itu saya tahu mereka bermaksud menghabisi Garcia, biarpun tangan saya dipelintir
    sampai putus, takkan saya berikan alamatnya. Lopez lalu menuliskan alamat itu pada surat yang telah saya tulis, merekatnya, dan menyuruh pelayan bernama
    Jose mengantarkannya. Saya tak tahu bagaimana Garcia terbunuh, yang jelas Murillo pelakunya, karena Lopez ditugaskan menjaga saya. Menurut saya, Murillo
    bersembunyi di semak-semak di pinggir belokan jalan yang akan dilalui Garcia, lalu ketika Garcia lewat, dia menghantamnya sampai mati. Mulanya mereka berniat
    membiarkan Garcia masuk ke rumah dulu, lalu membunuhnya dengan alasan telah tertangkap basah merampok rumah. Tapi bila demikian halnya, rumah mereka nanti
    akan diselidiki, dan identitas mereka akan terbuka, lalu penyelidikan lebih lanjut pasti dilakukan. Dengan kematian Garcia, para pemburu Murillo akan menghilang,
    karena mereka pasti ketakutan.

    "Harusnya saya yang menjadi ganjalan bagi mereka, sebab saya mengetahui semua itu. Karena itulah hidup saya berada di ujung tanduk. Saya disandera di dalam
    kamar saya, ditakut-takuti dengan berbagai ancaman mengerikan yang sengaja dimaksudkan untuk mematahkan mental saya. Saya juga disiksa secara fisik—coba
    lihat memar di punggung saya dan parut-parut di sekujur lengan saya. Mulut saya disumbat ketika saya berusaha

    56

    menjerit dari jendela. Saya dipenjara selama lima hari dan hanya diberi sedikit makanan. Tadi siang, saya dikirimi makan siang yang lumayan, namun begitu
    selesai menyantapnya, saya langsung menyadari makanan itu mengandung obat bius. Dalam keadaan setengah sadar, saya masih ingat ada yang membimbing dan
    menopang tubuh saya untuk masuk ke kereta; dan masih dalam keadaan seperti itulah, saya naik ke kereta api. Tapi, ketika roda kereta mulai bergerak, saya
    tiba-tiba sadar hams membebaskan diri. Saya melompat, dan mereka sempat menghalang-halangi saya. Entah bagaimana nasib saya seandainya tak ditolong pria
    yang haik hati ini. Saya sungguh bersyukur telah terlepas dari cengkeraman mereka."

    Kami semua terpaku mendengar kisahnya yang luar biasa. Holmes lalu memecah kesunyian.

    "Masalah kita belum selesai," komentarnya sambil menggeleng. "Tugas kepolisian sudah selesai, tapi m as hukum justru bam saja mulai."

    "Tepat sekali," kataku. "Seorang pengacara yang andal bisa saja berargumentasi bahwa Murillo melakukan pembunuhan itu sebagai upaya mempertahankan diri.
    Murillo mungkin melakukan ratusan tindak kriminal, tapi hanya kasus ini yang dapat diadili."

    "Ayolah, ayolah," ka'ta Baynes dengan gembira, "saya yakin hukum lebih bijaksana dari itu. Mempertahankan diri bisa saja dipakai sebagai alasan, tapi memancing
    orang dengan niat membunuhnya

    57

    kan soal lain. Tak perlu khawatir. Kita akan melihat keadilan ditegakkan pada waktu para penghuni High Gable dihadapkan ke pengadilan."

    3

    Namun sejarah ternyata berbicara lain. Harimau San Pedro tak langsung menerima ganjaran. Karena kelihaian dan kenekatannya, dia dan rekannya berhasil menghilangkan
    jejak dengan menyelinap ke sebuah rumah penginapan di Edmonton Street, lalu melarikan diri lewat jalan belakang menuju Curzon Square. Sejak itu, mereka
    tak pernah terlihat lagi di Inggris. Kira-kira enam bulan kemudian, Marquess Montalva dan Signor Rulli, sekretarisnya, terbunuh di kamar mereka di Hotel
    Escurial, Madrid. Kasus pembunuhan mereka dinyatakan tak pernah ada, dan para pembunuhnya tak pernah tertangkap. Inspektur Baynes mengunjungi kami di Baker
    Street dengan membawa salinan gambar si sekretaris yang berwajah gelap, dan wajah tuannya yang kokoh, bermata hitam magnetis, dan beralis lebat. Walaupun
    tertunda, kami yakin keadilan akhirnya ditegakkan.

    "Kasus yang kacau-balau, sobatku Watson," kata Holmes sambil mengisap pipanya pada suatu malam. "Kau tak akan bisa menceritakannya secara utuh sebagaimana
    biasa kaulakukan. Kejadiannya melibatkan dua benua, dua kelompok manusia yang misterius, dan tambah runyam dengan adanya teman kita Scott Eccles yang sangat
    terhormat itu, yang keterlibatannya menunjukkan bahwa almar

    58

    hum Garcia waktu itu punya niat tertentu dan insting penyelamatan diri yang amat baik. Hebatnya, di tengah banyaknya kemungkinan yang ada, kita dan Inspektur
    Baynes telah melacak hal-hal penting, yang membawa kita ke arah yang berkelok-kelok. Apakah masih ada hal yang belum jelas bagimu?"

    "Untuk apa tukang masak blasteran negro itu kembali ke ramah?"

    "Menurutku, karena mahkluk aneh di dapur itu. Orang itu berasal dari suku primitif di pedalaman San Pedro, dan mahkluk itu jimatnya. Ketika dia melarikan
    diri bersama rekannya ke tempat persembunyian yang telah dipersiapkan, rekannya membujuknya agar meninggalkan saja barang itu. Tapi si tukang masak tak
    dapat berpisah dengan jimatnya, maka kembalilah ia keesokan harinya. Ketika mengintip lewat jendela, dia melihat Walters yang berjaga di dalam. Dia "menunggu
    sampai tiga hari kemudian, lalu mencoba kembali lagi. Inspektur Baynes yang memang cerdik," sengaja menganggap remeh kejadian ini di hadapanku, padahal
    dia tahu benar betapa pentingnya itu. Dia lalu memasang jerat untuk menangkap orang itu. Masih ada hal lain, Watson?"

    "Ayam yang tercabik-cabik, darah di ember, tulang-tulang yang hancur, pokoknya semua hal aneh yang ditemui di dapur?"

    Holmes tersenyum sambil membuka buku catatannya.

    59

    "Aku sempat menghabiskan sepagian waktuku di British Museum untuk membaca keterangan tentang hal itu. Ini, kutipan dari buku Voodooism and the Negrois
    Religions karangan Eckermann:

    Pengikut Voodoo yang sungguh-sungguh tak berani melakukan apa pun, bahkan hal-hal sepele, tanpa mempersembahkan kurban untuk menyukakan hati dewa-dewa
    yang disembahnya. Pada kasus-kasus yang ekstrem, ritual mereka malah sampai mengurbankan manusia, yang lalu ramai-ramai mereka santap—benar-benar kanibal.
    Biasanya mereka mengurbankan ayam putih, yang dibantai hidup-hidup, atau bisa juga kambing hitam yang ditusuk-tusuk lehernya lalu badannya dibakar.

    "Jadi, teman kita yang buas itu ternyata pengikut Voodoo yang fanatik. Fantastis, ya, Watson?" Holmes menambahkan sambil menutup buku catatannya dengan
    perlahan. "Tapi kalau aku boleh berkomentar, apa yang fantastis itu kok gampang sekali jadi mengerikan."

    Scanned book (sbook) ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSILKAN atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan

    BBSC

    60

    Misteri Kotak Kardus

    Kalau aku sedang memilah-milah kasus ya>ng bisa menunjukkan kehebatan daya pikir sahabtatui, Sherlock Holmes, aku selalu berusaha memilih— semaksimal
    mungkin—kisah-kisah yang tak menimbulkan sensasi namun menonjolkan kemahiran sahabatku. Sayangnya, perkara kriminal tak selalu bisa terlepas dari sensasi.
    Dan wartawan yang melaporkan berita semacam aku ini lalu menghadapi dilema: apakah aku sebaiknya menghilangkan beberapa perincian penting dari kisah yang
    akan kulaporkan dengan kemungkinan memberikan gambaran yang salah tentang kasus itu, ataukah aku hams mengambil kesempatan—tanpa perlu memikir-mikir—melaporkan
    semuanya apa adanya. Setelah kata pembukaan yang singkat ini, aku ingin mengisahkan suatu rangkaian peristiwa yang unik dan mengerikan.

    Pada suatu siang di bulan Agustus, cuaca panas sekali. Baker Street bagaikan oven, dan pantulan sinar matahari pada dinding gedung di seberang

    61

    sangat menyilaukan mata. Hampir tak bisa dipercaya bahwa dinding yang sama itulah yang berwarna abu-abu kusam kalau tersapu kabut di musim dingin. Kerai
    jendela mangan kami tertutup setengahnya, dan Holmes meringkuk di sofa sambil belulang kali membaca sepucuk surat yang diteriakinya tadi pagi. Aku sendiri
    tak begitu ter-ganggujcuaca panas itu, karena tugasku di India dulu tel?<*h membuatku lebih tahan panas daripada dingin. Namun koran pagi yang kubaca tak
    menarik . perhatianku. Parlemen bergolak. Orang-orang banyak bepergian ke luar kota, dan ingin sekali rasanya aku berada di daerah New Forrest atau Southsea.
    Karena simpanan bankku menipis, aku hams menunda liburanku, sedangkan sahabatku ini tak pernah tertarik berlibur ke pedesaan maupun ke pantai. Dia lebih
    suka berada di jantung kota yang berpenduduk lima juta ini, mengendus-endus misteri yang belum terpecahkan. Baginya keindahan alam tak ada artinya, dan
    kalau sekali-sekali dia mau turun ke desa, itu hanya untuk memburu pelaku tindak kriminal.

    Karena Holmes sedang tak ingin ngobrol denganku, aku menaruh koran yang menjemukan itu, lalu duduk menjulurkan kaki sambil membiarkan pikiranku melayang-layang
    tak tentu tujuan. Tiba-tiba suara sahabatku memotong lamunanku.

    "Kau benar, Watson," katanya, "memang sangat tak masuk akal cara melerai pertikaian itu."

    "Sangat tak masuk akal!" teriakku, dan dalam

    62

    sekejap aku menyadari bahwa dia telah mengutarakan apa yang ada dalam benakku. Aku tersentak dan menatapnya dengan terheran-heran.

    "Apa-apaan ini, Holmes?" teriakku. "Sungguh tak terbayangkan olehku."

    Dia tertawa melihat keherananku

    "Kau ingat, kan," katanya, "beberapa saat yang lalu ketika kubacakan artikel karangan Poe yang menyatakan bahwa seorang pemikir ulung bisa mengikuti pemikiran
    temannya walaupun tak diucapkan? Bagimu itu cuma bualan penulis, padahal aku sudah sering membuktikannya, dan selalu saja kau terheran-heran."

    "Oh, tidak!"

    "Kau mengatakan tidak, sobatku Watson, tapi alismu mengatakan itu benar. Maka, ketika tadi aku melihatmu menaruh koran dan melamun, aku senang karena mendapat
    kesempatan membaca isi pikiranmu, dan akhirnya memotong lamunanmu, untuk membuktikan aku sedang mengadakan kontak dengan pikiranmu."

    Aku belum puas. "Pada contoh yang ditulis di buku itu," kataku, "sang pemikir menarik kesim-Pjdjn-jce^hr^ujan berdasarkan tingkah laku orang yang_^iarnatirrya.
    Kalau aku tak salah ingat, orang itu menabrak setumpuk batu, menatap bintang-bintang di langit, dan lain-lain. Aku cuma duduk termenung; petunjuk apa yang
    telah kaudapatkan dariku?"

    "Kau berlaku tak adil kepada dirimu sendiri

    63

    Mimik wajah seseorang adalah gambaran nyata dari keadaan perasaannya, dan mimik wajahmu itu sungguh luar biasa."

    "Maksudmu, kau bisa membaca isi pikiranku berdasarkan mimik wajahku?"

    "Mimik wajahmu, terutama matamu. Mungkin kau sendiri tak ingat dari mana lamunanmu berawal?"

    "Tidak."

    "Nah, aku akan mengingatkanmu. Setelah menaruh koran, kau duduk terdiam selama setengah menit dengan ekspresi wajah hampa. Lalu, matamu tertuju ke foto
    Jenderal Gordon yang bingkainya baru itu, dan aku melihat pembahan di wajahmu. Itu tandanya kau mulai melamun. Tapi itu tak berlangsung lama. Matamu ganti
    menatap foto Henry Ward Beecher yang belum sempat diberi bingkai, yang kautaruh di atas tumpukan bukumu. Kemudian kau menatap dinding, dan tentu saja tindakanmu
    ini jelas sekali maksudnya. Kau sedang membayangkan betapa bagusnya kalau foto itu segera diberi bingkai, sehingga bisa dipasang di dinding yang masih
    kosong sejajar dengan foto Gordon di sebelah sana."

    "Kau bisa mengikuti pikiranku dengan sangat mengagumkan!" teriakku.

    "Sejauh ini memang semuanya sesuai. Tapi pikiranmu lalu kembali ke Beecher, dan kau menatapnya begitu rupa bagaikan sedang mempelajari karakternya melalui
    mimik wajah dalam foto itu.

    64

    Lalu tatapanmu menjadi tak begitu tajam lagi, walau kau tetap menatap foto itu. Wajahmu serius. Kau pasti sedang mengingat kembali peristiwa-peristiwa
    yang terjadi sepanjang karier Beecher. Aku tahu kau pasti membayangkan misi yang diembannya demi rakyat Utara selama Perang Saudara. Aku ingat kau pernah
    menyatakan kejeng-kelanmu karena rakyat kita yang sedang bergolak tak begitu menghargainya ketika dia berkunjung ke sini. Kau begitu marahnya tentang hal
    itu, sehingga aku tahu kalau kau menatap foto Beecher, kau pasti akan mengingat insiden itu. Sejenak kemudian kulihat matamu berpaling dari foto itu. Aku
    menduga, pikiranmu beralih ke Perang Saudara. Kau mengatupkan bibirmu rapat-rapat, matamu berbinar, dan kedua tanganmu terkepal. Aku yakin kau sedang membayangkan
    keberanian yang ditunjukkan kedua belah pihak yang sedang bertikai. Lalu, wajahmu menjadi sedih kembali; kau menggeleng-gelengkan kepalamu. Kau sedang
    memikirkan kepedihan dan kengerian karena banyaknya korban jiwa dalam peperangan itu. Tanganmu menyentuh luka di tubuhmu, lalu kau tersenyum. Ini menunjukkan
    betapa menggehkannya cara yang telah dipakai untuk memecahkan masalah internasional itu, menurut anggapanmu tentunya Pada saat itulah kukatakan aku setuju
    cara itu tak masuk akal, dan aku senang karena ternyata kesimpulanku benar."

    65

    "Tepat sekali," kataku, "meski aku masih tak habis pikir setelah kaujelaskan."

    "Ah, bukan sesuatu yang luar biasa, sobatku Watson, betul. Sebenarnya aku tak berniat menarik perhatianmu lagi tentang hal ini, kalau saja waktu itu kau
    percaya. Tapi ini, surat yang mengabarkan adanya masalah kecil yang penanganannya bisa jadi lebih rumit daripada sekadar membaca pikiran orang. Apakah
    kau sudah membaca berita singkat tentang paket pos aneh yang dialamatkan kepada Miss Cushing di Cross Street, Croydon?"

    "Tidak, aku tak melihat berita itu."

    "Ah! Berita itu pasti terlewat olehmu. Coba, bawa kemari surat kabar itu. Nih, di sini, di bawah kolom keuangan. Mungkin ada baiknya kalau kaubacakan keras-keras."

    Aku menerima surat kabar itu dari Holmes, lalu membaca berita yang dimaksudkannya. Judulnya, "Paket Mengerikan".

    Miss Susan Cushing yang tinggal di Cross Street, Croydon, telah menjadi korban lelucon yang keterlaluan atau niat jahat terselubung. Pada pukul- dua kemarin
    siang, tukang pos menyerahkan paket kecil yang terbungkus kertas cokelat. Di dalamnya terdapat kotak karton berisi garam yang masih kasar. Ketika menuangkan
    garam itu keluar dari kotaknya, Miss Cushing terperanjat karena menemukan dua telinga manusia yang jelas baru dipotong dari tempatnya. Paket itu dikirim
    dari

    66

    Belfast pagi hari sebelumnya. Tak ada nama pengirim, dan yang lebih aneh lagi adalah kenyataan bahwa Miss Cushing itu wanita lajang berusia lima puluh
    tahun, dan praktis sudah pensiun. Dia tak punya banyak kenalan atau sahabat pena, jadi dia tak sering menerima surat—apalagi paket—via pos. Tapi beberapa
    tahun yang lalu, ketika tinggal di Penge, dia menyewakan kamar-kamar di bagian paviliun kepada tiga mahasiswa kedokteran. Dia terpaksa mengusir mereka
    karena mereka suka gaduh dan melakukan hal yang aneh-aneh. Polisi berpendapat pengirim paket ini mungkin saja para pemuda itu. Karena marah telah diusir
    wanita itu, mereka ingin menakut-nakutinya dengan mengirimkan benda mengerikan yang mereka dapat dari kamar bedah. Teori itu didasarkan pada kenyataan
    bahwa salah satu dari ketiga mahasiswa itu memang berasal dari Irlandia Utara, tepatnya Belfast—begitu menurut Miss Cushing. Sementara itu, penyelidikan
    kasus ini dipercayakan kepada Mr. Lestrade, salah satu detektif terbaik yang dimiliki kepolisian kita.

    "Itu yang dilaporkan Daily Chronicle," kata Holmes ketika aku selesai membaca berita itu. "Sekarang mengenai teman kita Lestrade. Tadi pagi aku menerima
    surat darinya yang isinya: 'Saya kira kasus ini sangat cocok untuk Anda. Kami punya harapan untuk menyelesaikan kasus ini, tapi kami menemui sedikit kesulitan
    untuk

    67

    melakukan pelacakan. Tentu saja kami sudah menelepon ke kantor pos Belfast, tapi hari itu ada banyak sekali paket yang dikirim dan mereka tak bisa mengidentifikasi
    paket yang satu itu. Mereka juga tak ingat siapa yang telah mengirimkannya. Kotak informasi itu bekas kotak tembakau ukuran seperempat kilogram—hanya
    itulah yang bisa kami dapatkan. Teori yang mengarah kepada mahasiswa kedokteran itu tetap saya perhatikan, tapi kalau Anda ada waktu, saya akan sangat
    senang kalau kita bisa bertemu. Sepanjang hari ini, kalau tidak di rumah berarti saya di kantor polisi.' Bagaimana, Watson? Tahankah kau menghadapi cuaca
    yang panas membara seperti ini, karena kita akan segera berangkat ke Croydon untuk menangani kasus langka itu?"

    "Aku memang ingin sekali melakukan sesuatu."

    "Kalau begitu, baiklah. Tolong tekan bel dan minta pelayan memesan kereta. Aku akan segera siap setelah ganti pakaian dan mengisi kotak rokok."

    Hujan turun ketika kami sudah berada di kereta api, dan hawa tak begitu panas di Croydon dibandingkan dengan di pusat kota. Holmes telah mengirim telegram
    sebelum berangkat, sehingga Lestrade yang kurus tubuhnya, necis pakaiannya, dan waspada gerak-geriknya menjemput kami di stasiun. Kami berjalan kaki selama
    lima menit, menuju tempat tinggal Miss Cushing di Cross Street.

    Jalan itu panjang sekali. Pada kedua berjajar rapi rumah-rumah bata berlantai dua yang berdekatan. Tangga rumah-rumah itu terbuat dari batu yang telah
    memutih, dan ada beberapa wanita mengenakan celemek sedang bergosip di depan pintu rumah Setelah melewati jalan itu kira-kira separonya, Lestrade berhenti
    dan mengetuk pintu sebuah rumah. Seorang gadis kecil pelayan membukakan pintu. Miss Cushing sedang duduk di mang depan, dan ke situlah kami diantar masuk.
    Wanita itu berwajah tenang, matanya besar dan lembut, dan rambut ikalnya yang sudah memutih memenuhi kedua pelipisnya. Sebuah bantalan kursi yang sudah
    selesai dikerjakan tergeletak di pangkuannya, dan sekeranjang sutra warna-warni berada di kursi pendek di sampingnya.

    "Isi paket yang mengerikan itu ada di paviliun," kata wanita itu ketika Lestrade memasuki mangan. "Saya harap Anda segera membawanya pergi."

    "Memang, Miss Cushing. Saya meninggalkannya di sini hanya sampai teman saya, Mr. Holmes, melihatnya di hadapan Anda."

    "Mengapa hams di hadapan saya, Sir?"

    "Kalau-kalau dia ingin menanyakan sesuatu."

    "Untuk apa bertanya-tanya kepada saya? Bukankah telah saya katakan saya tak tahu apa-apa tentang paket itu?"

    "Saya mengerti, Madam," kata Holmes dengan lembut, "tentunya Anda telah sangat terganggu dengan peristiwa ini?"

    69

    68

    "Itu jelas, Sir. Saya suka ketenangan dan sudah pensiun. Saya benar-benar merasa aneh melihat nama saya masuk surat kabar dan polisi lalu lalang di rumah
    saya,- Saya tak mau menyimpan benda itu di sini, Mr. Lestrade. Kalau kalian mau melihatnya, silakan menuju ke paviliun."

    Paviliun kecil itu terletak di taman sempit di belakang rumah. Lestrade masuk, lalu keluar lagi membawa kotak karton kuning, secarik kertas cokelat, dan
    seutas tali. Ada bangku di ujung jalanan taman, dan kami semua duduk di situ sementara Holmes mengamati benda-benda itu satu per satu.

    "Tali ini amat menarik," komentarnya sambil mengangkat tali itu ke arah lampu dan menatapnya dengan saksama. "Apa komentarmu, Lestrade?"

    "Tali itu dilumuri ter."

    "Tepat sekali. Anda juga sudah menyatakan Miss Cushing telah memotong tali ini dengan gunting, sebagaimana terlihat pada bekas di kedua ujungnya. Ini penting
    sekali."

    "Penting bagaimana?" tanya Lestrade.

    "Kenyataan simpulnya ternyata masih utuh, dan bentuk simpul ini unik sekali."

    "Ikatannya memang rapi, sebagaimana saya laporkan," kata Lestrade puas.

    "Kalau begitu, cukuplah sudah dengan talinya," kata Holmes sambil tersenyum. "Sekarang kertas pembungkus kotak kardus itu. Warnanya cokelat dan agak bau
    kopi. Apa Anda tak memperhatikannya? Saya yakin akan hal itu. Penulisan alamatnya

    70

    agak semrawut: 'Miss S. Cushing, Cross Street, Croydon.' Penulis memakai pena yang ujungnya lebar, mungkin jenis J, dan tintanya murahan. Kata Croydon
    sebelumnya ditulis Croidon, lalu i nya diganti dengan y. Paket ini pasti dikirim seorang pria—bentuk tulisannya jenis tulisan pria—yang tak berpendidikan,
    dan tak tahu-menahu tentang Croydon. Sampai di sini, bagus sekali! Kotaknya kuning, bekas kotak tembakau ukuran seperempat kilo, tanpa tanda apa-apa kecuali
    bekas dua jempol tangan di sudut kiri bawah. Isinya garam kasar yang biasa dipakai untuk mengawetkan kulit binatang atau semacam itu. Dan di antara garam
    itu terdapat benda unik ini."

    Sambil mengatakan itu, Holmes mengeluarkan kedua potongan telinga itu, dan menarahnya di depan lututnya. Dia mengamatinya dengan saksama, sementara aku
    dan Lestrade membungkuk di samping kiri dan kanannya. Kami tak henti-hentinya berpaling dari benda yang mengerikan itu ke wajah sahabatku yang serius dan
    penasaran, dan sebaliknya. Akhirnya dia mengembalikan benda itu ke dalam kotak kardus, lalu terduduk diam sambil berpikir keras.

    "Tentunya kalian memperhatikan," katanya pada akhirnya, "kedua telinga itu tidak berpasangan "

    "Ya, saya lihat itu. Tapi, kalau ini memang lelucon gila para mahasiswa kedokteran, bukankah tak sulit bagi mereka mencuri dua telinga yang tak berpasangan?"

    71

    "Tepat sekali. Namun ini bukan lelucon gila." "Anda yakin?"

    "Dugaan saya demikian. Mayat-mayat di kamar bedah biasanya diberi suntikan cairan pengawet. Telinga-telinga ini tidak, bahkan masih baru. Dipotong dengan
    alat tumpul, dan ini tak mungkin dilakukan mahasiswa kedokteran. Lagi pula, mereka pasti akan memakai cairan pengawet yang mengandung karbol atau alkohol,
    bukannya garam kasar. Saya ulangi, ini bukan sekadar lelucon gila, tapi tindak kejahatan yang serius."

    Tubuhku agak bergetar ketika aku mendengar ucapan sahabatku, karena aku melihat wajahnya yang mengeras dan memancarkan kecemasan. Penjelasan awal yang
    tajam ini tampaknya dilatarbelakangi sesuatu yang menakutkan, aneh, dan tak mudah dipahami. Namun Lestrade hanya menggeleng lemah sebagai ungkapan keraguannya.

    "Tak diragukan lagi, ini memang bukan sekadar lelucon gila," katanya, "tapi yang diutarakan Mr. Holmes pun tak beralasan. Kita tahu hidup wanita yang cukup
    terhormat ini tenang-tenang saja di Penge, dan dia sudah menetap di sini selama dua puluh tahun. Jadi, untuk apa gerangan seorang penjahat mengirim sesuatu
    yang bisa menjadi bukti kejahatannya kepada wanita ini? Sama seperti kita, saya rasa Miss Cushing memang tak tahu-menahu tentang kasus ini, kecuali kalau
    dengan lihainya dia bersandiwara kepada kita."

    "Masalah itulah yang hams kita pecahkan," ja

    72

    wab Holmes, "dan bagi saya pribadi, saya akan memulainya dengan menganggap dugaan saya benar, dan telah terjadi pembunuhan terhadap dua orang. Salah satu
    telinga ini milik seorang wanita, bentuknya bagus, dan ada bekas lubang untuk memakai giwang. Yang satunya lagi milik seorang pria, sering berjemur di
    panas matahari, warnanya agak pudar, tapi juga berlubang bekas giwang. Kedua orang ini tentunya sudah mati, karena jika tidak, berita tentang hilangnya
    telinga mereka pasti sudah dimuat di surat kabar. Sekarang hari Jumat; paket ini dikirim pada Kamis pagi. Jadi, pembunuhan terjadi pada hari Rabu, Selasa,
    atau bahkan sebelumnya. Seandainya kedua orang itu dibunuh, pasti sang pembunuh itu yang telah mengirimkan hasil pembunuhannya ini ke Miss Cushing. Kita
    bisa menduga pengirim paket ini memang pembunuh yang kita cari. Tapi kita hams mendapatkan alasan yang kuat mengapa paket ini dikirimkan ke Miss Cushing.
    Apa, ya, alasan yang masuk akal? Dengan mengirimkan barang ini, tentunya sang pengirim ingin memberitahukan dia benar-benar telah melakukan pembunuhan;
    atau mungkin untuk mengganggu ketenteraman wanita itu. Kalau dugaan ini benar, berarti Miss Cushing tahu-menahu soal ini. Apakah dia tahu? Saya meragukan
    hal itu. Seandainya memang tahu, mengapa dia melaporkan hal itu kepada polisi? Dia kan bisa saja langsung mengubur kedua telinga itu Itulah yang seharusnya
    dilakukannya kalau dia

    73

    ingin melindungi si pelaku. Tapi seandainya dia tak bermaksud merahasiakan pelaku tindak kejahatan ini, dia tentunya akan mengatakan siapa orangnya. Ada
    sedikit keruwetan di sini yang perlu segera diluruskan'

    Holmes mengutarakan semua ini dengan cepat dan volume suara meninggi sambil menatap kosong ke arah pagar halaman. Namun, tiba-tiba dia berdiri dengan sigap
    dan berjalan menuju ke rumah.

    "Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Miss Cushing," katanya.

    "Kalau begitu, saya pamit dulu," kata Lestrade, "karena ada urusan lain yang hams saya kerjakan. Saya rasa saya sudah cukup mendapatkan informasi dari
    Miss Cushing. Sampai jumpa di kantor polisi."

    "Kami akan mampir ke sana sebelum pulang naik kereta api," jawab Holmes.

    Sejenak kemudian kami berdua telah berada di mang depan Miss Cushing, tempat wanita yang tenang itu masih juga mengerjakan bantalan kursinya. Ketika melihat
    kami masuk, dia meletakkan pekerjaannya di pangkuannya, dan matanya yang biru menatap kami dengan pandangan polos namun penuh tanda tanya.

    "Saya yakin, Sir," katanya, "semua ini hanya masalah salah kirim, dan paket itu sebenarnya bukan untuk saya. Saya sudah mengatakan ini berkali-kali kepada
    polisi dari Scotland Yard itu,

    74

    tapi dia cuma tertawa. Sejauh pengetahuan saya, saya tak punya seorang musuh pun di dunia. Jadi, untuk apa sang pengirim mempermainkan saya?"

    "Saya juga hampir berpendapat demikian, Miss Cushing," kata Holmes sambil mengambil tempat duduk di samping wanita itu. "Saya rasa, apakah mungkin..."
    Dia tak melanjutkan kata-katanya. Aku terkejut ketika menoleh ke arah sahabatku, karena dia sedang menatap wanita itu dengan sangat tajam. Tak biasanya
    dia menatap seseorang demikian rupa Lalu wajahnya yang penasaran sekejap memancarkan rasa terkejut dan rasa puas secara bergantian. Ketika wanita itu menoleh
    ke arah Holmes karena dia tiba-tiba berhenti berbicara, wajah Holmes telah kembali tenang. Aku mencoba mengamati rambut putih Miss Cushing, topi tipis
    yang dikenakannya, giwang mungilnya yang agak miring, profilnya yang tenang, tapi aku tak berhasil menemukan sesuatu yang aneh.

    "Saya ingin mengajukan satu-dua pertanyaan...." "Oh, saya sudah muak dengan pertanyaan!" teriak Miss Cushing kesal.

    "Saya rasa Anda punya dua saudara wanita." "Bagaimana Anda tahu ku?" "Begitu masuk ke sini, saya langsung melihat foto kalian bertiga di atas perapian.
    Salah satu wanita di foto itu jelas Anda sendiri, sedangkan dua lainnya sangat mirip dengan Anda. Jadi mereka pasti saudara kandung Anda."

    75

    "Ya, Anda benar. Mereka adik-adik saya, Sarah dan Mary."

    "Dan di dekat saya ada foto lain yang diambil di Liverpool. Itu foto adik Anda bersama seorang pria berseragam kelasi. Menumt pengamatan saya, adik Anda
    belum menikah waktu foto itu diambil."

    "Anda ahli sekali dalam mengamati sesuatu."

    "Memang demikianlah pekerjaan saya."

    "Pengamatan Anda benar, tapi adik saya menikah dengan Mr. Browner tak lama setelah itu Mula-mula dia bekerja di kapal yang berlayar ke Amerika Selatan,
    tapi karena cintanya kepada adik saya, dia lalu pindah kerja ke kapal-kapal di Liverpool dan London."

    "Ah, maksud Anda ConquerorV

    "Bukan, May Day, begitulah kabar terakhir yang saya dapatkan. Jim pernah mampir kemari sekali, tapi itu sebelum dia melanggar janjinya untuk tidak menyentuh
    minuman keras lagi. Sesudahnya dia tems minum-minum bila tidak berlayar, padahal kalau minum sedikit saja dia jadi seperti orang gila. Ah, sayang sekali
    dia kembali pada kebiasaan lamanya itu! Dia tak lagi mengacuhkan saya, kemudian bertengkar dengan Sarah. Kini Mary pun tak pernah menulis surat kepada
    saya, sehingga saya tak tahu bagaimana keadaan mereka berdua."

    Jelas sekali Miss Cushing telah mengutarakan sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. Sebagaimana orang-orang yang kesepian pada umumnya, pada awalnya
    dia enggan berbicara, na

    76

    mun lama-kelamaan dia menjadi sangat bersemangat. Dia banyak bercerita tentang adik iparnya, lalu tiba-tiba ceritanya melantur sampai ke mahasiswa-mahasiswa
    kedokteran yang menyewa paviliunnya. Dia menyebutkan nama-nama mereka, juga rumah-rumah sakit tempat mereka melakukan kuliah praktek. Holmes mendengarkan
    semuanya dengan saksama, sambil sekali-sekali mengajukan pertanyaan.

    "Tentang adik Anda, Sarah," katanya "Saya hanya ingin tahu, berhubung Anda berdua sama-sama tidak menikah, mengapa Anda tidak tinggal bersama saja?"

    "Ah! Anda tak tahu watak Sarah! Kalau tahu, Anda tak akan menanyakan hal itu lagi. Saya pernah mencoba tinggal bersamanya ketika saya baru tiba di Croydon,
    dan bertahan sampai kira-kira dua bulan yang lalu. Saya tak ingin menjelek-jelekkan adik sendiri, tapi Sarah senantiasa ingin mencampuri urusan orang lain
    dan sangat menjengkelkan."

    "Menumt Anda, dia pernah bertengkar dengan keluarga adik Anda yang di Liverpool."

    "Ya, padahal mereka dulunya bersahabat dekat. Entahlah, dia malah pindah ke kota itu agar bisa dekat dengan mereka. Kini dia selalu mengomel tentang Jim
    Browner. Selama enam bulan terakhir inij dia teras mengoceh tentang kebiasaan Jim bermabuk-mabukan dan cara hidupnya yang kurang beres. Menurut saya, Jim
    sempat mendengar omel

    77

    annya, menegurnya, lalu sejak itulah mereka jadi bermusuhan."

    "Terima kasih, Miss Cushing," kata Holmes sambil bangkit dan membungkukkan badan. "Kalau tak salah, Anda tadi mengatakan adik Anda Sarah tinggal di New
    Street, Wallington? Sampai jumpa lagi, dan saya minta maaf telah mengganggu Anda dengan kasus yang, seperti Anda katakan, tak ada hubungannya dengan Anda."

    Ketika kami keluar dari rumah wanita itu, sebuah kereta sewaan melintas di jalan raya. Holmes memanggil kereta itu.

    "Berapa jauhnya Wallington dari sini?" tanyanya.

    "Kira-kira satu mil, Sir."

    "Bagus sekali. Ayo naik, Watson. Kita hams bertindak sementara hangat-hangatnya. Kasus ini tampaknya sederhana, namun mengandung pelajaran-pelajaran penting.
    Tolong mampir sebentar ke kantor telegram dalam perjalanan kita, Pak Kusir!"

    Holmes mengirim telegram singkat, lalu duduk tepekur selama perjalanan selanjurnya. Kereta berhenti di depan sebuah rumah yang sangat berbeda dengan rumah
    yang baru saja kami tinggalkan. Sahabatku meminta si kusir menunggu. Ketika dia baru saja hendak mengetuk, pintu rumah itu telah dibukakan oleh pria muda
    berpakaian hitam yang wajahnya murung. Topinya sangat mengilat.

    "Miss Cushing ada?" tanya Holmes.

    "Miss Sarah Cushing sakit parah," jawabnya.

    78

    "Sejak kemarin dia menderita radang otak. Sebagai dokternya, saya tak berani mengizinkan seorang pun menemuinya. Saya anjurkan Anda kembali kemari sepuluh
    hari lagi." Pria itu mengenakan sarung tangannya, menutup pintu, lalu meninggalkan rumah itu

    "Well, kalau kita tak bisa menemui wanita itu, ya sudahlah," kata Holmes dengan gembira.

    "Kalaupun kita berhasil menemuinya, belum tentu dia bisa atau mau bercerita banyak."

    "Aku memang tak bermaksud menanyainya. Aku hanya ingin melihat keadaannya. Tapi kurasa aku sudah mendapatkan semua yang kuinginkan. Tolong antar kami ke
    hotel yang bagus, Pak Kusir. Kita makan siang, lalu menemui teman kita, Lestrade, di kantor polisi."

    Kami makan siang dengan nikmat. Holmes dengan menggebu-gebu mengoceh tentang biola merek Stradivarius, yang harga aslinya pasti mahal sekali, namun dibelinya
    dengan harga hanya 55 shilling di toko loak di Tottenham Court Road. Lalu dia bercerita tentang Paganini. Kami duduk selama satu jam sambil menikmati sebotol
    anggur merah Prancis. Hari sudah hampir sore, dan sinar matahari tak begitu menyengat lagi ketika kami sampai di kantor polisi. Lestrade menunggu kami
    di pintu masuk

    "Ada telegram untuk Anda, Mr. Holmes," katanya.

    "Ha! Sudah ada jawabannya!" Dia merobek te

    79

    legram itu, membacanya sekilas, lalu memasukkannya ke saku celananya. "Baik," katanya.

    "Anda sudah menemukan sesuatu?"

    "Saya sudah menemukan semuanya!"

    "Apa?" Lestrade menatapnya dengan amat heran. "Anda pasti bergurau."

    "Saya serius. Telah terjadi pembunuhan yang mengerikan, dan saya hanya membutuhkan beberapa perinciannya."

    "Dan pembunuhnya?"

    Holmes menuliskan sesuatu di balik kartu namanya, dan melemparkannya ke Lestrade.

    "Itulah orangnya," katanya. "Anda baru bisa menangkapnya paling cepat be9ok malam. Saya lebih suka kalau nama saya sama sekali tak disebut-sebut dalam
    kaitannya dengan kasus ini. Saya lebih suka nama saya dikaitkan dengan kasus-kasus kejahatan yang lebih rumit penanganannya. Yuk, Watson."

    Kami berdua menuju stasiun, meninggalkan Lestrade yang masih dengan gembira menatap kartu nama yang dilemparkan Holmes kepadanya.

    "Kasus ini," kata Sherlock Holmes ketika malamnya kami ngobrol berdua sambil mengisap rokok di kamar kami di Baker Street, "merupakan kasus yang mengharuskan
    kita melangkah mundur, menelusuri mulai dari akibatnya sampai ke penyebabnya. Sudah kuminta Lestrade menyiapkan beberapa perincian yang kita butuhkan,
    yang akan

    80

    didapatkannya setelah dia menangkap si pembunuh. Aku percaya Lestrade mampu melakukannya, karena walaupun kadang-kadang akalnya tidak jalan, dia gigih
    dalam menjalankan tugas. Kupikir kegigihannyalah yang mengantar Lestrade ke posisi puncak di Scotland Yard."

    "Kalau begitu kasusnya belum tuntas?" tanyaku.

    "Secara garis besar, sudah. Kita sudah tahu siapa di balik semua urusan yang menjijikkan ini, walaupun salah satu korbannya belum kita ketahui. Tentunya
    kau sendiri bisa menyimpulkan sesuatu?"

    "Kurasa, orang yang kaucurigai Jim Browner, kelasi kapal Liverpool?"

    "Oh! Bukan cuma kecurigaan."

    "Semuanya masih kabur bagiku."

    "Sebaliknya, bagiku semuanya begitu jelas. Mari kujelaskan tahap-tahapnya yang penting. Kau masih ingat, kan, kita memulai kasus ini dari nol. Yang begini
    malah menguntungkan; kita tak cenderung membuat teori-teori terlebih dahulu. Kita lalu melakukan pengamatan dan menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan
    kita. Apa yang kita lihat untuk pertama kali? Seorang wanita terhormat yang tenang, yang tampaknya tak tahu apa-apa, dan foto yang menunjukkan dia punya
    dua adik perempuan. Langsung terbersit dalam pikiranku, jangan-jangan paket itu dimaksudkan untuk salah satu adiknya. Kusisihkan pikiran itu untuk dipertimbangkan
    kemudian. Kita menuju ke taman, melihat isi paket kuning yang aneh itu.

    81

    "Kualitas talinya seperti yang biasa dipakai pembuat layar di kapal-kapal, dan mengandung bau lautan yang khas. Ketika kulihat simpulnya pun model pelaut,
    dan paket itu dikirim dari kota pelabuhan, aku merasa cukup yakin pelaku kejahatan ini dari golongan pelaut. Lebih-lebih pada potongan telinga si pria
    ada lubang bekas anting-anting—mode para pelaut.

    "Melihat alamatnya, paket itu ditujukan kepada Miss S. Cushing. Yang tertua dari ketiga bersaudara itu tentunya dapat disebut Miss Cushing, dan singkatan
    nama depannya memang 'S'. Tapi nama Miss S. Cushing bisa saja menunjuk ke adiknya. Bila benar demikian, kita hams memulai penyelidikan dari nol lagi. Aku
    kembali ke rumah induk dengan maksud menjelaskan hal itu. Baru saja aku hendak mengatakan kepada Miss Cushing bahwa aku pun yakin telah terjadi kekeliruan
    dalam pengiriman paket itu, ketika aku tiba-tiba dikejutkan sesuatu. Aku melihat sesuatu yang langsung menyempitkan lingkup penelitian kita.

    "Sebagai dokter kau pasti menyadari, Watson, telinga manusia berbeda-beda. Dalam Anthropological Journal edisi tahun lalu, kau bisa menemukan dua artikel
    singkat yang kutulis tentang hal ini. Dengan saksama aku memeriksa kedua telinga yang ada di kotak itu, dan kuteliti ciri-cirinya. Bisa kaubayangkan betapa
    terkejutnya aku ketika bertemu lagi dengan Miss Cushing, dan melihat bentuk telinganya persis dengan telinga

    82

    wanita yang baru saja kuteliti. Itu tak mungkin kebetulan saja. Daun telinganya agak kusut, lubang bagian luarnya berlekuk lebar, dan tulang rawannya agak
    bengkok. Persis semua, pokoknya.

    "Pengamatanku itu sangat besar artinya. Jelas korban wanitanya ada hubungan darah dengan Miss Cushing, bahkan sangat dekat. Kami lalu berbincang-bincang
    mengenai keluarganya, dan dia langsung ngomong dengan gencarnya, sehingga kita mendapatkan perincian-perincian yang sangat berharga.

    "Pertama-tama, adik wanitanya bernama Sarah, dan mereka pernah tinggal serumah Bara dua bulan yang lalu Sarah keluar dari rumah kakaknya. Lalu kita mendengar
    tentang kelasi itu, yang menikah dengan si bungsu dari ketiga bersaudara. Pria itu pernah berhubungan akrab dengan Miss Sarah, sampai wanita itu pindah
    ke Liverpool agar bisa berdekatan dengannya. Tapi mereka lalu bertengkar dan berpisah. Pertengkaran ini menyebabkan hubungan terputus sama sekali selama
    beberapa bulan, sehingga kalau Browner kebetulan ingin mengirim paket ke Miss Sarah, dia pasti akan mengalamatkannya ke tempat tinggalnya terdahulu. .

    "Dan sekarang kasus ini dengan sendirinya mulai temrai secara menakjubkan. Kita tahu sang kelasi orangnya meledak-ledak, gampang dikuasai nafsu—kau ingat
    bagaimana dia meninggalkan pekerjaannya yang baik supaya bisa berdekatan de

    83

    ngan istrinya—juga kecenderungannya untuk mabuk-mabukan. Kita punya alasan untuk mengatakan telah terjadi pembunuhan terhadap istrinya dan pria lain
    yang kemungkinan besar pelaut juga, pada saat yang bersamaan. Jelas kecembu-ruanlah yang menjadi motif pembunuhan ganda itu. Dan mengapa bukti pembunuhan
    ini perlu dikirimkan ke Miss Sarah Cushing? Mungkin karena selama tinggal di Liverpool, dia punya andil atas terjadinya hal-hal yang membawa tragedi ini.
    Kapal-kapal biasanya berhenti di Belfast, Dublin, dan Waterford; maka, dengan asumsi Browner-lah yang melakukan pembunuhan, dan dia langsung berangkat
    dengan May Day, Belfast merupakan tempat pertama yang disinggahinya, tempat dia mengirimkan paket mengerikan itu.

    "Sampai di sini memang ada satu kemungkinan lain, dan walaupun menurutku kemungkinan ini sangat tak masuk akal, aku hams mendapatkan penjelasannya sebelum
    melangkah lebih jauh. Seorang pria yang ditolak cintanya mungkin saja telah membunuh Browner dan istrinya, jadi telinga yang satunya milik sang suami.
    Itulah sebabnya aku lalu mengirim telegram ke temanku Algar, yang bekerja di Angkatan Laut Liverpool. Aku memintanya mengecek apakah Mrs. Browner ada di
    rumah, dan apakah Browner telah berangkat bersama May Day. Lalu kita melanjutkan perjalanan ke Wallington mengunjungi Miss Sarah.

    "Pertama-tama, aku benar-benar ingin melihat

    84

    telinga Miss Sarah, apakah dia mewarisi bentuk telinga saudaranya. Dia mungkin saja memberikan informasi penting kepada kita, tapi aku tak terlalu optimis
    dia bersedia melakukannya. Dia pasti sudah mendengar tentang kasus itu sehari sebelumnya, karena seluruh daerah Croydon membicarakannya. Dia pastilah menyadari
    kepada siapa sebenarnya paket itu ditujukan. Kalau dia memang mau membantu menegakkan hukum, dia harusnya sudah menghubungi polisi. Pokoknya aku merasa
    wajib menemuinya, maka kita berangkat ke sana. Kita temukan berita tentang datangnya paket itu telah sangat memukulnya sehingga sejak itulah dia jatuh
    sakit—peradangan otak. Semakin jelaslah bagi kita dia pasti tahu tentang maksud pengiriman paket itu. Jelas juga kita hams menunggu cukup lama untuk
    mendapatkan bantuan darinya.

    "Ternyata kita sama sekali tak membutuhkan bantuannya Jawaban atas kasus ini telah menunggu kita di kantor polisi, yaitu telegram balasan dari Algar yang
    memang kuminta dialamatkan ke sana. Sudah lebih dari tiga hari rumah Mrs. Browner tertutup, dan para tetangganya menyangka wanita itu pergi mengunjungi
    keluarganya di daerah selatan. Dikonfirmasikan juga dari kantor perkapalan, bahwa Browner memang telah berangkat bersama May Day, yang menumt perhitunganku
    akan mendarat di Sungai Thames besok malam. Kalau dia tiba besok malam, dia akan disambut Lestrade yang tolol tapi galak itu Aku yakin,

    85

    dengan tertangkapnya dia, kita akan mendapatkan perincian-perincian yang masih kita perlukan."

    Apa yang diduga Sherlock Holmes ternyata benar. Dua hari kemudian, dia menerima amplop tebal dengan tulisan' tangan singkat Lestrade dilampiri ketikan
    beberapa halaman folio.

    "Lestrade telah menangkapnya," kata Holmes sambil menoleh ke arahku. "Mungkin kau berminat mendengar apa yang dikatakannya."

    MR. HOLMES YANG TERHORMAT,

    Sesuai dengan rencana kita mengecek kebenaran teori-teori kita, (tulisan "kita"-nya jelas sekali, ya, Watson?) kemarin pukul enam sore saya pergi ke Albert
    Dock, lalu naik ke kapal May Day, milik Perusahaan Pengiriman Paket Laut jalur Liverpool, Dublin, dan London. Ternyata di kapal itu memang ada pekerja
    bernama James Browner, yang selama pelayaran tingkahnya sangat aneh, sehingga kapten kapal membebaskannya dari segala tugasnya. Ketika masuk ke kamarnya,
    saya temukan dia sedang duduk di atas peti dengan kepala tertelungkup pada kedua tangannya, sementara tubuhnya digoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang.
    Pria itu berbadan besar dan perkasa. Wajahnya tercukur bersih dan sangat gelap—mirip si Aldridge, yang pernah membantu kita dalam kasus binatu gadungan.
    Dia terlompat ketika tahu untuk apa saya menemuinya, dan saya

    86

    pun telah bersiap-siap dengan peluit di mulut untuk sewaktu-waktu memanggil dua polisi angkatan laut yang menunggu di dekat situ. Tapi dia tampaknya tak
    punya nyali sama sekali, dan dia langsung menyerahkan kedua tangannya untuk dibor-gol. Kami membawanya ke sel tahanan bersama petinya, berharap akan menemukan
    sesuatu yang berhubungan dengan kejahatannya di dalamnya. Tapi kecuali sebilah pisau besar yang biasa dimiliki pelaut, tak ada barang lain yang kami dapatkan.
    Syukurlah bukti lebih lanjut ternyata tak diperlukan, karena ketika dibawa menghadap Inspektur di kantor polisi, dia malah mengatakan ingin membuat pengakuan
    tertulis, yang tentu saja langsung disetujui dan penulisannya dilaksanakan penulis steno kami. Tiga lembar kopinya terlampir dalam surat ini. Sebagaimana
    saya duga sebelumnya, kasus ini ternyata sederhana saja, meski saya tetap berterima kasih karena Anda telah membantu saya dalam penyelidikannya.

    £tt«^<?u Hormat sayaj

    "Hra! Penyelidikan kasus ini memang sepele," komentar Holmes, "tapi kurasa dia tak beranggapan demikian ketika mula-mula menghubungi kita. Nah, mari kita
    lihat bagaimana kejadiannya menumt Jim Browner sendiri. Inilah pengakuan

    87

    tertulisnya yang dibuat di hadapan Inspektur Montgomery di Kantor Polisi Shadwell."

    Ada yang ingin kukatakan? Ya, banyak sekali. Aku hams menjernihkan semuanya. Kau boleh menghukum gantung aku, atau tak percaya padaku. Aku tak peduli apa
    pun akan kaulakukan. Dengar, aku tak bisa tidur barang sekejap pun setelah aku melakukan itu, dan aku yakin tak akan bisa tidur sampai kapan pun, sampai
    bayang-bayang itu menghilang. Kadang-kadang yang datang bayangan wajah si pria, tapi lebih sering bayangan yang wanita. Salah satu dari kedua bayangan
    itu selalu menghantuiku Wajah pria itu memberengut dan kehitam-hitaman, sedang wajah wanita itu seperti sangat terkejut. Ya, dia pasti terkejut melihat
    pancaran kematian di wajah yang biasanya penuh pancaran cinta.

    Tapi semua ini gara-gara Sarah, dan semoga kutukan yang berasal dari seorang pria yang hancur hatinya menimpa dirinya. Terkutuklah dia, dan semoga aliran
    darahnya membusuk! Bukannya aku mau membela diri, aku memang kembali mabuk-mabukan. Tapi istriku pasti bisa memaafkan, dia akan tetap di sampingku, kalau
    saja wanita sialan itu tidak ikut campur. Sarah Cushing mencintaiku—itulah penyebab utamanya. Dia mencintaiku, dan cintanya berubah menjadi kebencian
    yang menggelegak ketika dia tahu jejak istriku di lum

    88

    pur masih lebih berharga daripada seluruh jiwa raganya

    Mereka bertiga bersaudara. Yang pertama orang baik, yang kedua jahatnya luar biasa dan yang ketiga bagaikan malaikat. Sarah berusia 33, sedangkan Mary*
    29 ketika kami menikah. Kami membangun rumah tangga yang bahagia. Tak ada wanita sebaik Mary di seluruh Liverpool. Lalu kami mengundang Sarah tinggal bersama
    kami selama seminggu Berikutnya lagi, dia tinggal bersama kami sebulan penuh, dan begitulah akhirnya dia seterusnya tinggal bersama kami.

    Saat itu aku sedang mujur, dan kami bisa menabung sedikit-sedikit. Pokoknya semuanya baik-baik saja. Ya Tuhan! Siapa mengira akan jadi begini? Siapa pernah
    memimpikan hal seperti ini?

    Biasanya aku berada di rumah pada akhir ming-gu, tapi kadang-kadang kalau kapal tertunda berangkatnya karena menunggu muatan, aku tinggal di rumah sepanjang
    minggu. Pada saat-saat seperti itulah aku banyak bertemu dengan kakak iparku Sarah. Dia wanita yang jangkung dan cukup menarik, sigap dan galak, kulitnya
    agak gelap, gaya kepalanya angkuh, dan matanya bagaikan perak yang berkilauan. Tapi, dibandingkan dengan si mungil Mary, dia sama sekali tak ada artinya.
    Aku berani bersumpah, sedikit pun aku tak pernah memikirkan dirinya.

    Kadang-kadang aku merasa dia sengaja mengambil kesempatan untuk berduaan saja denganku,

    89

    atau memintaku berjalan-jalan bersamanya, namun sejauh itu tak pernah kutanggapi. Pada suatu malam, barulah mataku benar-benar terbuka. Aku pulang dari
    kapal, dan istriku sedang pergi. Tapi Sarah ada di rumah. "Ke mana Mary?" tanyaku. "Oh, dia pergi membaiyar beberapa rekening." Aku jadi gelisah, berjalan
    mondar-mandir di mangan itu. "Tak bisakah kau tenang sejenak tanpa Mary, Jim?" katanya. "Aku tersinggung, lho, kalau kau tak senang bersamaku." "Bukan
    begitu maksudku," kataku sambil menepuk tangannya untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja terhadapnya. Dia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya
    yang hangat. Benar, tangannya terasa hangat sekali. Aku memandang matanya—yang memancarkan gairah yang menggelegak. Dia tak perlu mengutarakannya dalam
    bentuk kata-kata, aku pun demikian. Aku langsung menghindar dari tatapannya dan melepaskan tanganku dari genggamannya. Dia terpaku di sampingku selama
    beberapa saat, lalu mengangkat tangannya dan menepuk pundakku. "Tenang saja, Jim tua!" katanya sambil tertawa mengejek. Dia keluar dari mangan itu.

    Sejak itu Sarah membenciku. Dia melampiaskan kebenciannya dengan sangat lihai. Bodoh sekali aku telah mengizinkannya tinggal bersama kami— benar-benar
    bodoh—tapi aku tak pernah mengatakan apa-apa kepada Mary, karena aku tahu dia akan sedih mendengarnya. Kehidupan kami terus berjalan sebagaimana biasanya,
    namun setelah b

    90

    berapa saat aku menyadari sikap Mary agak berubah. Dia jadi aneh dan gampang curiga, selalu bertanya dari mana saja aku sebelum pulang ke rumah dan apa
    saja yang telah kulakukan, siapa-siapa yang menulis surat padaku dan ada apa di dalam sakuku. Semakin lama, dia semakin rewel dan senewen, dan kami sering
    bertengkar karena hal-hal sepele. Aku sangat bingung. Sarah selalu menghindari pertemuan denganku, tapi dia sangat dekat dengan Mary. Rupanya dia meracuni
    pikiran istriku agar membenci diriku. Waktu itu aku tak menyadarinya, aku malah mulai mabuk-mabukan lagi. Mary menghindar dariku, dan semakin hari hubungan
    kami semakin renggang. Lalu muncul pria bernama Alec Fairbairn, dan semuanya jadi serba semrawut.

    Ketika pertama kali berkunjung ke rumahku dia sebenarnya mau menemui Sarah, tapi lalu bersahabat dengan kami semua karena dia pandai sekali bergaul. Pria
    ini benar-benar menawan, tampan, dan berambut ikal, pernah mengelilingi hampir separo dunia, dan pandai bercerita tentang apa-apa yang telah dilihatnya.
    Dia kawan bicara yang mengasyikkan, dan sopan santunnya sungguh tak biasa bagi seorang pelaut. Selama sebulan dia sering datang ke rumah, dan aku tak curiga
    apa-apa. Lalu terjadi sesuatu yang membuatku mencurigainya, dan sejak itu aku tak pernah merasa damai sedetik pun.

    Sebenarnya cuma haj sepele. Aku masuk ke

    91

    ruang tamu rumahku secara tak disangka-sangka, dan ketika aku masuk, istriku menyambut dengan wajah yang sangat manis. Tapi ketika dia menyadari siapa
    yang masuk, dia memalingkan wajahnya dengan kecewa. Cukuplah bagiku! Pastilah dia menyangka Alec Fairbairn yang masuk. Kalau saja pria itu ada di situ
    waktu itu, aku pasti langsung membunuhnya, karena aku bagaikan orang gila kalau sedang marah. Mary melihat mataku yang penuh kemarahan, lalu cfifi berlari
    maju sambil mencengkeram lengan bajuku. "Jangan, Jim, jangan!" katanya. "Di mana Sarah?" tanyaku. "Di dapur," jawab istriku. "Sarah!" teriakku sambil masuk
    ke dapur. "Si Fairbairn tak boleh kemari lagi!" "Kenapa?" tanyanya. "Karena begitulah perintahku!" "Oh!" katanya. "Kalau teman-temanku tak boleh berkunjung
    kemari, sebaiknya aku pun tak tinggal di sini." "Silakan lakukan apa yang kauinginkan," kataku, "tapi kalau si Fairbairn berani muncul lagi, akan kukirim
    sebelah telinganya untuk kausimpan sebagai kenang-kenangan." Kurasa dia ketakutan melihat ekspresi wajahku, karena dia lalu membisu, dan malam itu juga
    dia meninggalkan rumah kami.

    Aku tak tahu apakah kedengkian semata yang membuatnya melakukan itu, ataukah dia mengira dapat membuatku membenci istriku dengan mendorongnya berhubungan
    dengan pria lain. Pokoknya, dia pindah ke rumah yang jaraknya hanya dua blok dari rumah kami, dan dia menyewakan

    92

    kamar-kamar kepada para pelaut. Faimbairn termasuk salah satu yang menyewa kamar di situ, dan Mary jadi sering berkunjung ke sana untuk minum teh bersama
    kakaknya dan pria itu. Aku tidak tahu berapa sering istriku pergi ke sana, tapi suatu hari aku menguntitnya, dan ketika aku menampakkan diriku di pintu
    rumah itu, Fairbairn langsung kabur dengan melompati tembok taman belakang. Benar-benar pengecut dia. Aku mengancam istriku bahwa aku akan membunuhnya
    kalau kutemukan dia bersama pria itu lagi. Kutarik dia pulang bersamaku. Dia menangis, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetaran. Sudah tak ada cinta
    lagi di antara kami. Kusadari dia membenci sekaligus takut sekali padaku. Kalau kemelut ini memenuhi pikiranku, aku lari ke minuman keras. Lalu giliran
    istriku yang mengumpatku.

    Sarah tak kerasan lagi di Liverpool, dia kembali ke Croydon dan tinggal bersama kakaknya. Rumah tangga kami berangsur-angsur tenang. Namun minggu lalu,
    terjadilah bencana yang menghancurkan hidupku.

    Begini kejadiannya. Kami berlayar dengan kapal May Day selama seminggu, tapi lalu ada dmm minyak yang tumpah sehingga membakar salah satu anjungan. Kami
    harus mendarat selama dua belas jam. Aku meninggalkan kapal dan pulang ke rumah membayangkan istriku pastilah terkejut dan gembira menyambut kedatanganku
    yang lebih awal. %lah yang memenuhi pikiranku ketika aku

    93

    membelok ke jalan tempat rumahku berada. Tepat pada saat itu lewat sebuah kereta, dan di dalamnya ada istriku, duduk di samping Fairbairn. Keduanya sedang
    bersenda gurau dengan asyiknya sehingga tak melihatku yang berdiri memperhatikan mereka dari pinggir jalan.

    Sejak itu aku kehilangan kontrol atas diriku, dan kalau aku mengingatnya kejadian itu bagaikan mimpi saja. Sampai sekarang kepalaku masih sakit, bagaikan
    dipalu-palu, dan waktu itu sepertinya Air Terjun Niagara menderu-deru di telingaku.

    Aku berlari menguntit kereta itu. Aku mengambil tongkat kayu yang berat. Semua di hadapanku tampak serba merah. Sambil berlari aku sempat berpikir, betapa
    konyolnya aku berlari macam begitu, padahal mereka Jak tahu aku sedang mem bum mereka. Jadi aku pun santai saja. Mereka berhenti di stasiun kereta api.
    Banyak orang antre membeli karcis, jadi aku menguntit tak jauh dari mereka. Mereka membeli tiket ke New Brighton. Aku pun melakukan hal yang sama, tapi
    aku memilih tempat duduk pada gerbong ketiga di belakang mereka. Ketika kami sampai di tempat tujuan, mereka berjalan melewati daerah Parade, dan aku terus
    menguntit mereka dalam jarak tak lebih dari seratus meter. Akhirnya aku melihat mereka menyewa perahu dan mulai mendayung. Saat itu udara memang panas
    sekali, tak heran kalau mereka berperahu di sungai.

    Sepertinya mereka telah diserahkan ke geng

    94

    gaman tanganku. Cuaca sedikit berkabut, sehingga orang tak dapat melihat jauh. Aku menyewa perahu dan mengejar mereka. Samar-samar aku bisa melihat mereka,
    namun perahu mereka ternyata melaju dengan cepat. Setelah jauh ke tengah sungai baru ah aku bisa mengejar mereka. Kabut memenuhi sekeliling kami bertiga
    bagaikan selimut. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat siapa yang berada di perahu yang sedang mendekati mereka. Istriku berteriak nyaring; teman kencannya
    mulai menyerangku dengan dayung. Aku berkelit dari pukulannya, dan berhasil menghantam kepalanya dengan tongkat yang kubawa. Segila apa pun keadaanku waktu
    itu sebenarnya aku tak bermaksud membunuh istriku. Tapi dia lalu memeluk pria yang tergeletak itu, meraung-raung sambil menyebut-nyebut, "Alec!" Habislah
    sudah akal sehatku. Kuhantam dia, sehingga dia pun terkapar di samping pria itu Aku seperti binatang buas yang baru saja mendapatkan kesempatan mencicipi
    darah segar. Seandainya Sarah ada di situ, dia pun akan jadi mangsa keberingasanku. Aku mengeluarkan pisau belati, dan... yah, begitulah! Kurasa cukup
    sudah penuturanku Aku sempat merasa senang ketika membayangkan bagaimana perasaan Sarah ketika menerima kirim-anku, akibat campur tangannya dalam keluarga
    kami. Aku mengikat kedua mayat itu ke perahu mereka, menyalakan sebatang kayu untuk membakar perahu itu, dan berdiri di pinggir laut sam

    95

    pai perahu yang terbakar itu tenggelam. Aku yakin pemilik perahu akan menyangka perahunya hilang karena kabut tebal dan telah hanyut ke lautan luas. Aku
    lalu membersihkan diri, kembali ke daerahku, dan ikut berlayar tanpa menimbulkan kecurigaan seorang pun. Malamnya aku mengepak paket yang kualamatkan ke
    Sarah Cushing itu, dan keesokan harinya kukirimkan dari Belfast.

    Nah, kau sudah mendengar semuanya. Silakan kalau mau menggantungku atau apa. Semua hukuman itu tak seberapa dibandingkan dengan hukuman yang telah kuterima.
    Aku tak bisa memicingkan kedua mataku tanpa melihat kedua wajah mereka yang menatap tajam ke arahku—seperti ketika perahuku mendekati mereka setelah
    menguak kabut tebal itu. Aku membunuh mereka dengan begitu cepatnya, tapi mereka membunuhku perlahan-lahan. Aku tak mampu melanjutkan hidupku barang semalam
    pun. Aku pasti akan menjadi gila atau mati kaku sebelum fajar tiba. Tolong jangan tempatkan aku di penjara seorang diri, ya? Kasihanilah aku, jangan sampai
    aku ditempatkan di kamar tahanan sendirian. Semoga ada orang yang akan menolongmu kalau kau mengalami kepahitan hidup, sebagaimana kau kini menolongku.

    "Untuk apa semua ini, Watson?" kata Holmes dengan serius sambil menaruh lembar ketikan itu di meja. "Mengapa sampai timbul lingkaran kepahitan hati, kekejaman,
    dan ketakutan yang de

    96

    mikian? Pasti ada tujuannya, karena kalau tidak masa dunia kita dikuasai kebetulan-kebetulan yang sama sekali tak terjangkau pikiran kita? Tapi untuk apa
    semua ini? Ternyata tetap saja ada misteri besar dalam hidup ini yang tak bisa dijelaskan nalar manusia."

    Scanned book (sbook) ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSDLKAN atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan

    BBSC

    97

    Petualangan Lingkaran Merah

    7

    "Nah, Mrs. Warren, menurut saya tak ada alasan bagi Anda untuk gelisah, dan juga tak ada alasan bagi saya—soalnya waktu saya sangat berharga— untuk
    ikut campur dalam urusan ini. Saya benar-benar sedang banyak urusan lain," kata Sherlock Holmes sambil kembali memperhatikan buku catatannya. Dia sedang
    mengatur dan memberi indeks beberapa bahan kisah pemalangannya akhir-akhir ini.

    Tapi sang pemilik pondokan tetap berkeras hati —sebagaimana wanita pada umumnya. Dia tak beranjak dari tempatnya berdiri.

    "Anda menangani kasus seorang penyewa kami tahun lalu, kan?" katanya. "Namanya Mr. Fairdale Hobbs."

    "Ah, ya—kasus sepele."

    "Tapi dia tems bercerita tentang kasus itu— bagaimana baik hatinya Anda, dan cara Anda yang hebat dalam menguak misteri itu Selalu terngiang

    98

    kata-katanya pada saat saya ragu-ragu dan bingung. Saya tahu Anda pasti bisa kalau Anda mau."

    Holmes memang tak tahan kalau disanjung-sanjung. Apalagi kalau kebaikan hatinya disebut-sebut. Kedua hal itu membuatnya menyerah. Dia menarik kursinya.

    "Baiklah, baiklah, Mrs. Warren, mari kita dengarkan kisah Anda. Anda tak keberatan kalau saya merokok, kan? Terima kasih, Watson—tolong korek apinya
    juga! Jadi, Anda gelisah karena penyewa kamar Anda yang bam senangnya mengunci diri di kamarnya, dan Anda tak pernah melihat batang hidungnya. Memangnya
    kenapa, Mrs. Warren? Seandainya saya jadi penyewa kamar Anda, saya pun akan sering tak kelihatan selama ber-minggu-minggu."

    "Benar, Sir, tapi yang ini lain. Saya ketakutan dibuatnya, Mr. Holmes, sampai tak bisa tidur. Soalnya saya cuma mendengar langkah-langkah kakinya mondar-mandir
    di dalam kamar sejak pagi sampai larut malam, tapi tak sedetik pun saya pernah melihat sosoknya. Saya tak tahan lagi. Bahkan suami saya menjadi gelisah,
    tapi dia kan pergi bekerja sepanjang hari, sedangkan saya tinggal di rumah seharian. Jadi sayalah yang harus menghadapinya. Untuk apa dia bersembunyi seperti
    itu? Apa yang telah dilakukannya? Saya di rumah sepanjang hari hanya ditemani anak gadis saya, dan saya benar-benar sudah tak tahan lagi."

    99

    Holmes menggerakkan tubuhnya ke depan, dan menepuk pundak wanita itu. Dia sepertinya mempunyai kemampuan hipnotis dalam menenangkan orang yang sedang galau.
    Pandangan ketakutan yang terpancar dari wajah wanita itu langsung memudar, dan sikapnya yang gelisah berangsur-angsur mereda. Dia duduk di kursi yang ditunjukkan
    Holmes.

    "Untuk menangani kasus ini, saya hams tahu setiap perinciannya," kata Holmes. "Silakan dipikirkan sejenak. Hal sepele sekalipun bisa menjadi sesuatu yang
    sangat penting. Anda mengatakan pria itu mulai menyewa kamar di rumah Anda sepuluh hari yang lalu, dan membayar lunas untuk dua minggu, begitukah?"

    "Dia menanyakan tarif sewanya, Sir, dan saya katakan tarifnya lima puluh shilling seminggu untuk kamar tidur berikut kamar tamu di lantai atas, termasuk
    makan."

    "Lalu?"

    "Dia mengatakan, 'Saya bersedia membayar lima pound seminggu kalau syarat-syarat saya bisa disetujui.' Saya orang miskin, Sir, dan gaji suami saya tak
    begitu tinggi, jadi uang sewa yang ditawarkannya sangat berarti bagi kami. Pria itu mengeluarkan uang kertas sepuluh pound dan me ngibar-ngibarkannya di
    hadapan saya. 'Anda akan menerima sejumlah ini dua minggu Sekali untuk jangka waktu lama kalau Anda setuju dengan sya

    100

    rat-syarat yang saya inginkan,' katanya. 'Kalau tidak, saya akan segera pamit.'"

    "Apa syarat-syarat yang diajukannya?"

    "Pertama: dia hams punya kuncijrumah sendiri. Itu bukan masalah; memang begitulah biasanya. Kedua: dia sama sekali tak mau diganggu, apa pun alasannya."

    "Itu pun tak aneh, kan?"

    "Biasanya tidak, Sir, tapi kali ini lain. Dia sudah tinggal di lantai atas ramah kami selama sepuluh hari, tapi baik saya, suami saya, maupun anak kami
    tak pernah melihatnya Kami hanya mendengarnya mondar-mandir dari pagi hingga malam. Dia hanya pernah keluar rumah sekali, yaitu pada malam pertama dia
    tinggal bersama kami."

    "Oh, jadi pada malam pertama dia keluar ramah?"

    "Ya, Sir, dan dia kembali larut sekali—kami semua sudah tidur. Sebelumnya dia memang sudah berpesan agar saya jangan memasang palang pintu depan. Saya
    mendengar ketika dia pulang dan naik ke lantai atas—waktu itu sudah lewat tengah malam."

    "Bagaimana dengan makanannya?"

    "Setiap kali ingin makan, dia akan membunyikan bel, lalu kami membawa makanannya ke lantai atas dan menarahnya di kursi di luar kamar tidurnya. Kalau sudah
    selesai makan, dia akan membunyikan bel lagi, lalu kami mengambil per

    101

    alatan makan yang ditaruhnya di kursi yang sama. Kalau membutuhkan apa-apa, dia akan menuliskannya dengan humf cetak di secarik kertas yang ditaruhnya
    pada peralatan makannya."

    "Ditulis dengan humf cetak?"

    "Ya, Sir, dengan humf cetak dan menggunakan pensil. Singkat saja. Ini, saya bawa contohnya— SABUN. Lalu berikutnya— GERETAN. Pada hari pertama dia
    minta ini—DAILY GAZETTE. Jadi tiap hari saya mengantarkan koran itu bersama makan paginya."

    "Wah, Watson," kata Holmes sambil dengan penasaran menatap potongan-potongan kertas yang diserahkan wanita itu, "ada yang aneh. Mau menyendiri bisa dimengerti,
    tapi menulis dengan humf cetak? Orang biasanya segan. Kenapa tidak ditulis biasa saja? Bagaimana menurutmu, Watson?"

    "Dia ingin menyembunyikan tulisan tangannya."

    "Tapi, kenapa? Apa mginya kalau induk semangnya mengetahui tulisan tangannya? Namun, pendapatmu mungkin ada benarnya. Satu pertanyaan lagi, mengapa pesan-pesannya
    begitu singkat?"

    "Entahlah."

    "Ini memberi kita peluang untuk berspekulasi secara cerdik. Humfnya lebar-lebar, pensilnya agak keunguan—ini tak biasa. Lihat, kertasnya disobek persis
    di samping humf terakhir, sehingga humf S dari kata SABUN hilang sedikit. Ini tentu ada maksudnya, bukan begitu, Watson?"

    102

    "Dia mau berhati-hati?"

    "Tepat sekali. Jelas ada bercak ibu jari, mungkin bisa memberikan petunjuk tentang identitas pria itu. Nah, Mrs. Warren, Anda katakan pria itu bertubuh
    sedang, kulitnya gelap, dan berjanggut. Berapa kira-kira umurnya?"

    "Masih muda, Sir—belum tiga puluh."

    "Baiklah, masih ada hal lain yang ingin Anda sampaikan?"

    "Bahasa Inggrisnya bagus, Sir, padahal kalau diperhatikan aksennya, dia pastilah orang asing."

    "Pakaiannya bagus-bagus?"

    "Sangat bagus, Sir—mirip orang terhormat. Selalu pakai hitam—sepanjang pengetahuan kami— tak pernah warna lain."

    "Dia tak pernah menyebutkan namanya?"

    "Tidak, Sir."

    "Dan tak pernah menerima surat atau tamu?" "Tidak sama sekali."

    "Tapi Anda atau putri Anda tepatnya pernah masuk ke kamarnya?"

    "Tidak, Sir, semuanya dia tangani sendiri."

    "Wah! benar-benar luar biasa. Bagaimana dengan koper-kopernya?"

    "Dia membawa satu tas cokelat besar—itu saja."

    "Baiklah, tampaknya tak banyak bahan yang bisa membantu kita. Benarkah Anda mengatakan, tak ada apa-apa yang telah Anda dapatkan dari kamar itu—apa pun?"

    Pemilik pondokan itu mengeluarkan sebuah am

    103

    plop dari tasnya, lalu menuangkan isinya ke atas meja—dua batang korek api bekas dan sebuah puntung rokok.

    "Barang-barang ini saya dapatkan dari baki tempat makannya tadi pagi. Saya membawanya karena saya mendengar Anda bisa mendapatkan informasi-informasi yang
    luar biasa dari barang-barang sepele."

    Holmes mengangkat bahunya.

    "Tapi barang-barang ini tak memberikan informasi apa-apa," katanya. "Dua korek api itu tentu saja bekas dipakai menyulut rokok. Itu jelas terlihat dari
    bentuknya. Separo batang korek dipakai untuk menyalakan pipa atau rokok. Tapi, he! Puntung rokok ini aneh sekali. Bukankah Anda mengatakan pria itu berkumis
    dan berjenggot?"

    "Ya, Sir."

    "Saya jadi heran. Menumt saya hanya orang yang tak berjenggot yang bisa merokok seperti ini. Coba, Watson, jenggotmu yang tipis saja pasti akan terbakar."

    "Pakai pipa, mungkin?" komentarku.

    "Tidak, tidak; puntung rokoknya kusut. Jangan-jangan ada dua orang yang menghuni kamar sewaan Anda, Mrs. Warren?"

    "Tidak, Sir. Makannya hanya sedikit sampai saya sering berpikir itu bahkan tak cukup untuk konsumsi satu orang."

    "Baiklah, saya rasa kita perlu menunggu sampai mendapatkan beberapa bahan lain. Toh Anda tak

    104

    dirugikan, kan? Anda telah menerima pembayaran sewa kamar, dan sang penyewa tak menimbulkan masalah bagi Anda, walaupun orangnya jelas nyentrik. Dia telah
    membayar cukup mahal untuk kamar itu, jadi kalau dia mau bersembunyi, lebih baik Anda diamkan saja. Kita tak bisa mengganggunya sampai kita menemukan alasan
    yang bisa menyatakan tindakannya itu salah. Saya mau menangani kasus ini, dan saya tak akan menye-pelekannya. Silakan melapor kepada saya jika ada informasi
    baru dan kalau diperlukan, saya akan langsung bertindak.

    "Ada beberapa hal yang menarik dari kasus ini, Watson," komentarnya ketika wanita itu sudah pergi. "Memang, bisa saja cuma sepele—seorang eksentrik saja.
    Tapi bisa juga jauh lebih dalam dari apa yang kelihatan. Hal pertama yang menarik ialah kemungkinan besar saat ini yang tinggal di kamar sewaan itu bukanlah
    si pria yang telah menemui wanita itu dan membayar biaya sewa."

    "Mengapa kau berpikir demikian?"

    "Dilihat dari bentuk puntung rokok itu, juga dari fakta pria itu hanya pernah keluar mmah sekali, tak lama setelah dia masuk ke kamar sewanya. Dia kembali—atau
    bisa saja orang lain yang kembali—waktu semua saksi sudah tidur. Kita tak punya bukti apakah orang yang kembali ke situ sama dengan orang yang keluar
    dari situ. Bahasa Inggris pria yang menyewa kamar itu bagus, sedang si penghuni kamar menulis "geretan", bukan

    105

    nya "korek api" yang lebih umum dipakai. Jadi, kuduga dia mendapatkan kata itu dari kamus yang memang memberikan beberapa alternatif terjemahan dan arti
    suatu kata, lalu dia comot salah satu di antaranya. Gaya pesannya yang singkat-singkat itu mungkin dimaksudkan untuk menyembunyikan kemampuan bahasa Inggrisnya
    yang terbatas. Ya, Watson, ada alasan-alasan kuat untuk mencurigai terjadinya pertukaran penghuni."

    "Tapi untuk apa mereka berbuat begitu?"

    "Ah! Di situlah letak masalah kita. Pokoknya aku telah mendapatkan jalur penyelidikan yang cukup jelas."

    Dia mengambil buku besar berisi potongan-potongan berita keluarga dari semua koran di London, lalu meletakkannya di meja.

    "Wah!" katanya sambil membalik-balik halaman buku itu. "Isinya rintihan, tangisan, dan teriakan melulu! Bingung aku jadinya, banyak benar kejadian unik
    di London! Namun sangat menarik untuk dipelajari! Penghuni kamar itu sendirian, dan tak bisa dikirimi surat karena dia ingin merahasiakan keberadaannya.
    Jadi, bagaimana kalau ada orang yang ingin mengirimkan pesan kepadanya tanpa mengusik rahasianya? Jelas melalui iklan di surat kabar. Rasanya tak ada jalan
    lain, dan untungnya kita hanya perlu memperhatikan iklan-iklan dari satu koran. Ini, potongan-potongan iklan Daily Gazette selama dua minggu terakhir.
    'Wanita dengan mantel bulu hitam di Klub Ski Prince'

    106

    —itu kita lewatkan saja. 'Jimmy jelas tak akan menyakiti hati ibunya'—yang ini tak ada hubungannya sama sekali. 'Wanita yang pingsan di bus yang menuju
    ke Brixton*—aku tak tertarik. 'Setiap hari hatiku merindukan..,' Bohong, Watson—bohong besar! Ah! Yang ini agak lebih mungkin. Coba dengarkan, 'Bersabarlah.
    Akan dicari cara berkomunikasi yang lebih baik. Sementara ini, lewat kolom ini. —G' Ini dipasang dua hari setelah sang penyewa masuk ke rumah wanita
    itu. Kedengarannya masuk akal, kan? Orang lain yang masih menjadi misteri itu pasti mengerti bahasa Inggris, walaupun mungkin dia tak bisa menulis dalam
    bahasa Inggris. Coba kita lihat apakah kita bisa melacak jejak selanjutnya. Ya, ada lagi—tiga hari kemudian. 'Sedang mengatur segalanya. Bersabarlah
    dan bertindaklah bijaksana. Mendung akan segera berlalu. —G.' Sesudah itu tak ada kabar apa-apa selama seminggu. Lalu muncul berita yang penuh kepastian,
    'Jalan mulai mulus. Kalau aku punya kesempatan, kirim berita via kode yang telah disepakati—satu: A, dua: B, dan setemsnya. Jawaban takkan lama. —G."
    Iklan ini dimuat di koran kemarin, dan hari ini tak ada berita apa-apa. Benar-benar cocok dengan keadaan penyewa kamar Mrs. Warren. Kalau kita bersedia
    menunggu sejenak, Watson, kasus ini pasti akan menjadi lebih jelas."

    Apa yang dikatakan Holmes memang terbukti, karena keesokan harinya kudapati sahabatku ber

    107

    diri membelakangi perapian sambil tersenyum penuh kemenangan.

    "Bagaimana dengan ini, Watson?" teriaknya sambil mengambil koran dari meja. "'Gedung tinggi merah dengan tembok batu putih. Lantai tiga. Jendela kedua
    sebelah kiri. Selewat petang. —G.' Cukup jelas, bukan? Kurasa kita perlu mengamati rumah Mrs. Warren dan sekitarnya setelah makan siang. Ah, Mrs. Warren
    datang, ada berita apa pagi-pagi begini?"

    Klien kami memasuki mangan dengan tergopoh-gopoh, menandakan telah terjadi perkembangan baru yang sangat penting.

    "Kita hams lapor polisi, Mr. Holmes!" teriaknya. "Saya tak tahan lagi! Dia harys segera enyah dari mmah saya berikut semua barangnya. Saya tadi berniat
    lari ke atas untuk mengatakan hal itu, lalu terpikir untuk minta pendapat Anda terlebih dahulu. Habis sudah kesabaran saya, apalagi kalau sampai memukul
    suami saya...."

    "Memukul Mr. Warren?"

    "Pokoknya bertindak kasar terhadapnya."

    "Tapi siapa yang bertindak kasar terhadap suami Anda?"

    "Ah! Justru itu yang ingin kami ketahui! Kejadiannya tadi pagi, Sir. Suami saya bekerja sebagai pengawas di perusahaan Morton & Way-light, di Tottenham
    Court Road. Dia hams berangkat kerja sebelum jam tujuh. Pagi tadi ketika dia bam berjalan beberapa langkah, dua orang

    108

    mengikutinya. Mereka menyekap muka suami saya dengan jas, lalu mendorongnya masuk ke kereta yang sudah menunggu di ujung jalan. Mereka membawanya berkeliling
    selama satu jam, lalu membuka pintu kereta dan mendorongnya keluar. Suami saya tergeletak di jalanan dalam keadaan sangat ketakutan, sehingga tak sempat
    memperhatikan ke mana larinya kereta itu. Ketika sadar, dia segera berdiri dan ternyata berada di Hamp-stead Heath. Dia pulang naik bus, dan sampai sekarang
    masih berbaring di sofa di mmah kami sementara saya menuju kemari untuk mengabarkan . kejadian ini kepada Anda."

    "Menarik sekali," kata Holmes. "Apakah suami Anda mengenali kedua orang yang membekuknya—atau apakah dia mendengar mereka mengatakan sesuatu?"

    "Tidak, dia betul-betul kaget. Yang dia tahu hanyalah dia telah diculik lalu dilepaskan lagi seolah-olah oleh kekuatan gaib. Paling sedikit ada dua orang
    atau mungkin tiga di dalam kereta itu selain dirinya."

    "Dan Anda menghubungkan penculikan ini dengan penyewa kamar Anda?"

    "Yah, kami sudah tinggal di mmah itu selama lima belas tahun dan tak pernah mengalami hal seperti ini. Saya sudah tak tahan lagi menghadapi si penyewa.
    Uang- bukanlah segala-galanya. Saya akan memintanya keluar dari mmah saya hari ini juga."

    109

    "Tunggu sebentar, Mrs. Warren. Jangan terburu-buru. Saya mulai berpikir kasus ini mungkin jauh lebih serius dari apa yang kelihatan pada awalnya. Kini
    jelas ada bahaya yang sedang mengancam penyewa kamar di mmah Anda. Juga jelas musuh-musuhnya, yang menantikannya di dekat mmah Anda, telah salah menangkap
    orang, yaitu suami Anda, dalam keremangan pagi yang berkabut. Ketika menyadari mereka telah kelim, mereka membebaskan suami Anda. Apa yang akan mereka
    lakukan seandainya mereka tidak salah menangkap orang, kita hanya bisa menduga-duga."

    "Apa yang hams saya lakukan, Mr. Holmes?"

    "Saya sangat ingin melihat penyewa kamar di mmah Anda ini, Mrs. Warren."

    "Saya tak tahu bagaimana itu bisa dilakukan kecuali dengan mendobrak pintu kamarnya. Begitu saya menuruni tangga setelah menaruh nampan makannya, saya
    selalu mendengarnya membuka kunci pintu."

    "Dia hams keluar untuk mengambil nampan itu, kan? Nah, kita akan bersembunyi dan mengintipnya ketika dia keluar kamar."

    Wanita itu berpikir sejenak.

    "Baiklah, Sir. Di seberang kamarnya ada kamar lain. Saya bisa menyediakan kaca, dan kalau Anda bersembunyi di belakang pintu..."

    "Bagus sekali!" kata Holmes. "Jam berapa makan siangnya?"

    "Sekitar jam satu, Sir."

    110

    "Saya dan Dr. Watson akan datang sebelumnya. Nah, Mrs. Warren, sampai nanti."

    Pada pukul setengah satu siang, kami sudah menaiki tangga mmah Mrs. Warren—rumah bata tinggi dan sempit di Great Orme Street, gang kecil di timur laut
    British Museum. Letak rumah itu sendiri hampir di sudut gang, sehingga dari situ bisa terlihat Howe Street yang penuh dengan rumah mewah. Sambil tergelak
    Holmes menunjuk ke salah satu flat mewah yang menjulang tinggi sehingga sangat mencolok mata.

    "Kaulihat, Watson!" katanya. "Gedung tinggi merah dengan tembok batu putih. Kita tahu tempatnya, kita tahu kodenya; jadi tugas kita pastilah sepele saja.
    Ada tanda 'Disewakan' di jendelanya. Flat itu pastilah tak berpenghuni dan di situlah rekan si penyewa menunggu. Well, Mrs. Warren, bagaimana sekarang?"

    "Saya sudah siapkan mangannya untuk Anda. Tolong tanggalkan sepatu Anda sebelum naik. Mari."

    Kamar yang sudah disiapkan wanita itu bagus sekali untuk tempat persembunyian. Kacanya diletakkan sedemikian rupa sehingga kami yang duduk di dekatnya
    dalam gelap dapat melihat pintu kamar seberang dengan jelas. Mrs. Warren langsung meninggalkan-kami karena samar-samar terdengar suara bel yang dibunyikan
    penghuni kamar seberang yang misterius itu. Tak lama kemudian

    111

    Mrs. Warren muncul membawa baki, menaruhnya di kursi dekat pintu yang tems tertutup itu, lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah-langkah yang sangat
    keras terdengar. Sambil merunduk-runduk di sudut pintu, kami tems memandang ke arah kaca. Tiba-tiba, ketika langkah-langkah Mrs. Warren sudah tak terdengar
    lagi, terdengar suara kunci dibuka, lalu pegangan pintu diputar, dan tampaklah dua tangan kums terjulur untuk mengangkat baki berisi makanan itu. Sejenak
    kemudian, baki itu sudah dikembalikan, dan sekilas aku melihat bayangan sesosok wajah cantik dan ketakutan menatap mangan tempat kami bersembunyi yang
    sedikit terbuka pintunya. Pintu seberang ditutup lagi, dikunci, dan keadaan sunyi kembali. Holmes menggapai lengan bajuku, dan kami berdua menyelinap menuruni
    tangga.

    "Saya akan kemari lagi nanti malam," katanya kepada pemilik mmah yang telah menunggu kami dengan penuh rasa ingin tahu. "Kurasa, Watson, lebih baik kita
    membicarakan kasus ini di mmah."

    "Dugaanku benar," katanya sambil membenamkan diri di kursi gOyang. "Yang tinggal di kamar itu ternyata orang lain. Yang tak kusangka adalah dia wanita—istimewa
    lagi, Watson."

    "Dia sempat melihat kita."

    "Well, dia melihat sesuatu yang mengganggunya. Itu pasti. Rangkaian kejadiannya jelas, bukan? Sepasang suami-istri melarikan diri ke London. Mereka melarikan
    diri dari bahaya yang mengeri

    112

    kan; ini terlihat dari sikap mereka yang sangat hati-hati. Ada urusan yang hams diselesaikan sang suami, sementara dia ingin meninggalkan istrinya di tempat
    yang aman. Itu jadi masalah mmit baginya, tapi dia bisa mengatasinya dengan caranya yang unik, dan begitu lihainya dia sampai kehadiran istrinya bahkan
    tak diketahui pemilik rumah. Jelaslah kini pesan-pesan yang ditulis dengan humf cetak itu dimaksudkan agar rahasia sang istri tak terbongkar melalui tulisan
    tangannya yang biasa. Sang suami tak bisa dekat-dekat dengan istrinya, karena musuh-musuhnya akan mencium tempat persembunyian itu. Karena tak bisa berhubungan
    dengan istrinya secara langsung, dia memanfaatkan kolom keluarga di surat kabar. Sejauh ini semuanya jelas."

    "Tapi apa yang menyebabkan semua ini?"

    "Ah, ya, Watson—kau sangat praktis, sebagaimana biasanya! Apa penyebab semua ini? Kasus Mrs. Warren yang sepele makin berkembang menjadi sesuatu yang
    mmit. Hanya sejauh inilah bisa kita katakan: jelas ini bukan kasus kawin lari biasa. Kau sendiri melihat reaksi di wajah wanita itu ketika dia mencurigai
    adanya bahaya. Dan kita sudah mendapatkan berita tentang penyerangan yang dilakukan terhadap suami Mrs. Warner, yang dikira penyewa kamar itu. Kedua hal
    ini, ditambah dengan keberadaan mereka yang sangat dirahasiakan, menunjukkan bahwa mereka sedang dihadang masalah yang menyangkut hidup-mati me

    113

    reka. Penyerangan terhadap Mr. Warren lebih jauh menunjukkan bahwa pihak musuh, siapa pun mereka, tidak tahu penghuni kamar sewa m sudah berganti. Kasus
    ini sangat unik dan mmit, Watson."

    "Untuk apa kau menangani kasus ini? Imbalan apa yang akan kaudapatkan?"

    "Imbalan apa? Semata-mata demi seni yang ku-kuasai, Watson. Kurasa, ketika kau memutuskan untuk menjadi dokter pun, kau pernah mempelajari kasus-kasus
    penyakit tertentu tanpa memikirkan apakah itu akan menghasilkan uang atau tidak, ya, kan?"

    "Itu kan demi pendidikanku, Holmes."

    "Pendidikan tak pernah berhenti, Watson. Pendidikan adalah rangkaian pelajaran yang semakin lama malah semakin tinggi nilainya. Kasus ini juga menjadi
    pelajaran bagiku. Memang tak menghasilkan uang atau penghargaan, tapi aku toh ingin menyelesaikannya. Menjelang senja nanti, kita akan mendapatkan perkembangan
    dalam penyelidikan kita."

    Ketika kami kembali ke mmah Mrs. Warren, nuansa kelabu menyelimuti kota London. Maklumlah, malam itu musim dingin. Selumh kota berwarna kelabu, hanya diseling
    sinar lampu kuning dari jendela-jendela mmah dan cahaya remang-remang lampu gas. Ketika kami mengintip dari mang tamu mmah sewa itu, tampak sinar lampu
    kecil samar-samar di gedung seberang jalan.

    114

    "Ada orang yang sedang mondar-mandir di sana," bisik Holmes sambil mencondongkan wajahnya ke pinggir jendela. "Ya, aku bisa melihat bayangannya. Nah, kelihatan
    lagi! Pria itu membawa lilin. Sekarang dia menatap ke mmah ini. Dia ingin meyakinkan dirinya bahwa istrinya ada di sini. Sekarang dia mulai menyorotkan
    lilinnya. Tolong kau juga berusaha menangkap pesannya, Watson, nanti kita bandingkan hasil kita berdua. Sam kali—pasti maksudnya A. Berikutnya, berapa
    yang bisa kautangkap? Dua puluh. Aku juga. Berarti T. AT—cukup jelas? Lalu T lagi. Yang ini pasti awal kata kedua. Lalu—TENTA. Berhenti. Pasti masih
    ada lagi, Watson! ATTENTA tak ada maksudnya. Dipecah jadi tiga kala pun—AT. TEN. TA tak berarti apa-apa, kecuali kalau T.A. merupakan singkatan nama
    orang. Nah, mulai lagi! Bagaimana bunyinya? ATTE—lho, pesannya sama dengan yang tadi. Aneh, Watson, sangat aneh! Sekarang berhenti lagi! AT—malah diulangi
    untuk ketiga kalinya. ATTENTA—tiga kali berturut-turut! Berapa kali lagi dia akan mengulangi pesannya? Tidak, tampaknya dia sudah selesai. Dia sudah
    pergi dari jendela. Bagaimana menumtmu, Watson?"

    "Pesan sandi rahasia, Holmes."

    Sahabatku tiba-tiba tergelak karena berhasil mengartikan pesan itu. "Sandinya tak begitu sulit, Watson," katanya. "Bahasa Italia! A berarti pesan

    115

    itu ditujukan kepada seorang wanita. 'Waspada! Waspada! Waspada!' Bagaimana, Watson?" "Aku yakin kau benar."

    "Pasti! Pesan yang sangat mendesak karena diulang sampai tiga kali. Waspada terhadap apa? Tunggu sebentar; pria itu menuju jendela lagi."

    Sekilas kami melihat bayangan seorang pria yang merunduk-runduk dan sorot lilin di jendela seberang, lalu pesannya diperbarui lebih cepat dari sebelumnya—begitu
    cepatnya sampai kami kewalahan mengikutinya.

    "PERICOLO—Pericolo—Eh, apa maksudnya, Watson? Bahaya, kan? Aduh, dia mengirimkan tanda bahaya! Lihat, dia mengulanginya lagi! PERI. Wah, apa..."

    Sorot lilin itu tiba-tiba menghilang, sehingga jendela di lantai tiga itu gelap kembali. Tanda bahaya yang terakhir tiba-tiba terhenti. Kenapa, dan siapa
    yang menghentikan? Kami berdua berpikiran sama. Holmes langsung berlari dari lemparnya mengintip di jendela.

    "Ini serius, Watson," teriaknya. "Sedang terjadi tindak kriminal di sana! Mengapa pengiriman pesan itu bisa berhenti mendadak? Mestinya aku menghubungi
    Scotland Yard, tapi waktunya sudah terlalu mendesak."

    "Bagaimana kalau aku saja yang memanggil polisi?"

    "Kita perlu memperjelas situasi dulu. Bisa jadi kenyataannya tak seburuk yang kita duga. Yuk,

    116

    Watson, kita pergi ke seberang untuk melihat apa yang terjadi.

    2

    Ketika kami berjalan dengan tergesa-gesa melintasi Howe Street, aku menengok ke gedung yang baru saja kami tinggalkan. Di jendela lantai atas, sekilas
    aku melihat bayangan kepala—-kepala seorang wanita yang sedang menatap ke luar dengan tegang, menunggu kiriman pesan yang tiba-tiba terpotong itu. Di
    ujung Howe Street, kami bertemu dengan seseorang yang mengenakan jas panjang dan syal, bersandar ke pagar. Dia menatap kami ketika kami sudah berada di
    dekatnya. "Holmes!" teriaknya.

    "Lho, Gregson!" balas temanku sambil menyalami detektif Scotland Yard itu. "Kisah berakhir dengan bertemunya dua sejoli. Mengapa Anda ada di sini?"

    "Saya kira alasannya sama dengan Anda," kata Gregson. "Sedangkan bagaimana sampai Anda terkait dengan kasus ini, itu saya tak mengerti."

    "Alur kita' tak sama, tapi masalahnya sama. Saya telah mendapatkan pesan-pesan yang dikirimkan tadi."

    "Pesan?"

    "Ya, asalnya dari jendela itu, tapi tiba-tiba terhenti. Kami kemari untuk mencari tahu apa sebab

    117

    nya. Tapi karena sudah Anda tangani, sebaiknya saya tak melanjutkannya."

    "Tunggu sebentar!" teriak Gregson dengan penasaran. "Tems terang, Mr. Holmes, saya lebih mantap menangani suatu kasus kalau bersama Anda. Hanya ada satu
    jalan keluar dari flat ini, jadi kita pasti bisa mengamankan orang itu."

    "Siapa dia?"

    "Well, well, kali ini kami lebih unggul dari Anda, Mr. Holmes. Anda hams memberi selamat kepada kami." Dia memukulkan tongkatnya dengan keras ke tanah,
    dan muncullah seorang kusir dari kereta yang diparkir agak jauh dari tempat kami berdiri. "Boleh saya perkenalkan Anda kepada Mr. Sherlock Holmes?" katanya
    kepada kusir itu. "Ini Mr. Leverton, dari Agen Amerika Pinkerton."

    "Pahlawan dalam kasus Misteri Gua di Long Island?" kata Holmes. "Sir, senang sekali berkenalan dengan Anda."

    Pria Amerika yang pendiam dan formal itu dagunya mulus tercukur, wajahnya tenang. Dia berkata dengan penuh rasa hormat, "Saya dalam kesulitan, Mr. Holmes,"
    katanya. "Kalau saya bisa menangkap Gorgiano..."

    "Apa? Gorgiano tokoh Geng Lingkaran Merah?"

    "Oh, dia terkenal di Eropa rupanya, ya? Well, kami sudah mempelajari latar belakangnya di Amerika. Kami tahu dia terlibat dalam lima puluh kasus pembunuhan,
    namun kami tak punya bukti positif untuk menangkapnya. Saya sudah menge

    118

    jarnya sejak di New York, dan selama seminggu ini saya sudah amat dekat dengannya, sambil menunggu kesempatan untuk menangkapnya. Saya dan Mr. Gregson
    mengejarnya ketika dia masuk ke gedung tinggi ini, dan berhubung hanya ada satu pintu untuk keluar ma uk dia tak mungkin lolos kali ini. Sudah ada tiga
    orang yang keluar dari gedung ini sejak dia masuk, tapi jelas bukan dia."

    "Mr. Holmes tadi mengatakan tentang pesan," kata Gregson, "saya rasa, sebagaimana biasanya, dia tahu banyak hal yang tak kita ketahui."

    Dengan singkat dan jelas Holmes menceritakan situasinya menumt pengamatan kami. Orang Amerika itu memukulkan kedua tangannya dengan terkejut.

    "Dia berhasil mengelabui kita!" teriaknya.

    "Mengapa Anda berpikir demikian?"

    "Well, kenyataannya begitu, kan? Dia ada di sini, mengirimkan pesan kepada komplotannya— memang ada beberapa anggota gengnya di London. Lalu tiba-tiba,
    sebagaimana penuturan Anda, dia memberi tanda bahwa ada bahaya mendekat, sehingga dia langsung berhenti. Tentunya, dari jendela dia melihat kami di jalanan,
    atau pokoknya dia mencurigai adanya bahaya yang mendekat, dan dia hams segera bertindak kalau ingin menghindar dari kami. Bagaimana menurut Anda, Mr. Holmes?"

    119

    "Sebaiknya kita secepatnya naik dan melihat apa yang terjadi."

    "Tapi kita tidak mempunyai surat perintah untuk menangkapnya."

    "Dia berkeliaran di mmah kosong dan tingkah lakunya mencurigakan," kata Gregson. "Itu sudah cukup untuk sementara Kalau dia tertangkap, akan kita lihat
    apakah New York mampu membantu. Sayalah yang saat ini memegang tanggung jawab untuk menangkapnya."

    Detektif Scotland Yard ini mungkin agak kurang inteligensinya, tapi dia tak pernah kurang dalam keberanian. Gregson naik untuk menangkap pembunuh yang
    sudah terperangkap itu, dengan sikap tenang dan formal seolah-olah dia sedang menaiki tangga di kantornya di Scotland Yard. Agen Amerika itu mencoba mendahuluinya,
    tapi Gregson menahannya di belakang. Bahaya yang mengancam London merupakan tanggung jawab kepolisian London.

    Pintu flat lantai ketiga dalam keadaan terbuka. Gregson- mendorong pintu itu lebih lebar lagi. Di dalamnya gelap dan sunyi senyap. Aku menyalakan korek
    api, dan menyalakan lampu yang dibawa Gregson. Begitu lampu menerangi mangan itu, kami semua berteriak tertahan:- Pada lantai kayu terdapat ceceran darah
    yang masih segar, membelok ke mangan di bagian dalam yang pintunya tertutup. Gregson membuka pintu mangan itu dan menerawangkan lampunya ke depan, se

    120

    mentara kami semua melongok dengan penasaran lewat bahunya.

    Di tengah mangan kosong itu, tergeletak sesosok tubuh. Dagunya tercukur rapi, wajahnya yang gemuk menyeringai mengerikan, dan kepalanya berlumuran darah.
    Lututnya terangkat, kedua tangannya terkapar ke samping, dan sebilah pisau menancap di tenggorokannya. Walaupun tubuhnya -besar, dia ambruk juga oleh tusukan
    yang begitu telak. Di samping tangan kanannya terdapat pisau bermata dua yang sangat besar dan tangkainya terbuat dari tanduk, serta samng tangan hitam.

    "Ya Tuhan! Dia kan Gorgiano sendiri!" teriak si detektif Amerika. "Seseorang telah mendahului kita."

    "Dan ini ada lilin di jendela, Mr. Holmes," kata Gregson. "Lho, Anda sedang apa?"

    Holmes telah melangkah menyeberangi mangan, menyalakan lilin, lalu mengayun-ayunkannya di dekat daun jendela. Dia mengintip ke seberang, mematikan lilin
    itu, dan melemparkannya ke lantai.

    "Menumt saya, apa yang saya lakukan akan menolong kita," katanya. Dia bergabung dengan yang lain, dan* berdiri sambil berpikir keras, sementara kedua detektif
    lainnya mengamati mayat itu "Anda mengatakan ada tiga orang yang keluar dari flat ini ketika Anda menunggu di bawah," katanya pada akhirnya. "Apakah Anda
    mengamati mereka dengan saksama?"

    121

    "Ya."

    "Apakah di antara ketiga orang itu ada seorang pria berusia sekitar tiga puluh, berjenggot hitam; kulitnya kehitaman, dan tubuhnya berukuran sedang?"

    "Ya, dialah yang terakhir lewat."

    "Menumt saya, dialah pembunuhnya. Saya bisa memberikan ciri-cirinya, dan kita memiliki jejak kakinya. Cukup bagi Anda, kan?"

    "Tidak, Mr. Holmes, di antara jutaan penduduk London."

    "Mungkin memang tidak mudah. Itulah sebabnya saya memanggil wanita ini."

    Kami semua berpaling ke pintu mendengar kata-katanya. Di pintu masuk berdiri seorang wanita cantik dan semampai—penghuni kamar sewaan di Bloomsbury.
    Perlahan-lahan dia melangkah maju, wajahnya pucat dan ketakutan, matanya menatap tajam mayat yang tergeletak di lantai.

    "Kalian telah membunuhnya!" dia berkomat-kamit. "Oh, Tuhan, kalian telah membunuhnya!" Dia menarik napas panjang, melompat sambil berteriak kegirangan.
    Dia berputar-putar di mangan itu sambil menari-nari, bertepuk tangan, matanya yang gelap bersinar kegirangan, dan rentetan kata dalam bahasa Italia meluncur
    deras dari mulutnya. Mengerikan dan mengagetkan sekali melihat seorang wanita begitu gembiranya atas apa yang dijumpainya di kamar ini. Tiba-tiba dia berhenti

    122

    dan menatap kami semua dengan pandangan penuh tanda tanya.

    "Tapi... kalian polisi, kan? Kalian yang membunuh Giuseppe Gorgiano, kan?"

    "Kami memang polisi. Madam."

    Wanita itu melihat sekeliling mangan.

    "Kalau begitu, di mana Gennaro?" tanyanya. "Suami saya, Gennaro Lucca. Nama saya Emilia Lucca, dan kami berdua dari New York. Di mana Gennaro? Bam saja
    dia memanggil saya lewat jendela, sehingga saya langsung lari kemari."

    "Sayalah yang memanggil Anda," kata Holmes.

    "Anda? Bagaimana mungkin Anda yang memanggil saya?"

    "Kode sandi Anda tak sulit dipahami, Madam. Kehadiran Anda di sini sangat diperlukan. Saya tahu hanya perlu mengirim kode 'Vieni dan Anda pasti datang."

    Wanita Italia yang cantik itu menatap sahabatku dengan kagum.

    "Saya heran bagaimana Anda bisa tahu hal-hal seperti itu," katanya. "Giuseppe Gorgiano... bagaimana sampai dia..." Wanita itu tak melanjutkan kata-katanya;
    wajahnya tiba-tiba bersinar bangga dan gembira. "Sekarang saya mengerti. Gennaro-ku tersayang! Gennaro-ku yang tampan dan hebat, yang senantiasa mehndun
    iku dari segala kejahatan, dialah yang melakukannya, dia sendirilah yang telah membunuh monster ini dengan tangannya

    123

    yang kuat! Oh, Gennaro, betapa hebatnya engkau! Betapa bangganya wanita yang menjadi milikmu!" . "Well, Mrs. Lucca," kata Gregson dengan caranya yang menyebalkan,
    sambil mencengkeram leT ngan wanita itu seolah-olah dia pembuat kerusuhan di Stadion Notting Hill "Belum begitu jelas bagi saya siapa dan apa kedudukan
    Anda sebenarnya, tapi dari ucapan-ucapan Anda jelaslah Anda perlu kami bawa ke Scotland Yard."

    "Sebentar, Gregson," kata Holmes. "Saya rasa wanita ini ingin memberikan informasi yang kita butuhkan. Tahukah Anda, Madam, suami Anda akan ditangkap dan
    diadili atas tuduhan pembunuhan terhadap orang yang terkapar di hadapan kita ini? Apa yang Anda katakan bisa dijadikan bukti. Tapi jika Anda merasa suami
    Anda melakukannya karena motif-motif yang baik, Anda mungkin dapat menolongnya dengan mengisahkan semuanya kepada kami."

    "Berhubung Gorgiano sudah mati, tak ada lagi yang kami takutkan," kata wanita itu. "Dia itu iblis sekaligus monster, dan takkan ada hakim di bumi ini yang
    akan menghukum suami saya karena telah membunuhnya."

    "Kalau begitu," kata Holmes, "saya sarankan kita tinggalkan saja kamar ini sebagaimana adanya, lalu kita kunci. Kita pergi ke pondokan wanita ini untuk
    mendengarkan penuturannya supaya kita bisa memberikan pendapat kita untuk tindakan selanjurnya."

    124

    Setengah jam kemudian kami berempat duduk di mang tamu Signora Lucca yang sempit. Kami mendengarkan kisahnya yang luar biasa, yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa
    mengerikan yang akhirnya malah sempat kami saksikan. Dia berkisah dengan lancar, walaupun bahasa Inggrisnya agak kacau.

    "Saya dilahirkan di Posilippo, dekat Naples," katanya, "dan ayah saya bernama Augusto Barelli, pernah menjabat sebagai kepala jaksa. Gennaro bekerja pada
    ayah saya, lalu saya jatuh cinta kepadanya. Dia tak punya banyak uang, juga tak' punya posisi—dia tak punya apa-apa kecuali wajah tampan, tubuh kuat,
    dan semangat tinggi. Ayah saya tak menyetujui percintaan kami, maka kami melarikan diri dan menikah di Bari. Saya menjual semua perhiasan saya untuk mengongkosi
    perjalanan kami ke Amerika. Ini terjadi empat tahun yang lalu, dan setelah itu kami menetap di New York.

    "Pada awalnya kami cukup beruntung. Gennaro bekerja pada seorang Italia yang pernah diselamatkannya dari para penjahat di daerah Bowery. Nama pria Italia
    itu Tito Castalotte dan dia pemilik perusahaan patungan besar bernama Castalotte & Zamba, pengimpor buah-buahan terbesar di New York. Signor Zamba penyandang
    cacat, dan teman baru kami Castalotte-lah yang memegang kekuasaan penuh di perusahaan yang jumlah pegawainya lebih dari tiga rams itu Dia meminta suami
    saya bekerja di perusahaannya sebagai ke

    125

    pala bagian, dan senantiasa bersikap baik kepadanya. Signor Castalotte masih bujangan, dan dia telah menganggap Gennaro seperti anaknya sendiri. Kami berdua
    pun mengasihinya. Kami berhasil membeli mmah kecil di Brooklyn, dan masa depan kami tampaknya terjamin, ketika tiba-tiba awan hitam muncul dan langsung
    mengacaukan hidup kami.

    "Pada suatu malam sepulang kerja- Gennaro membawa serta seorang teman. Namanya Gorgiano, juga berasal dari Posilippo. Sebagaimana kalian lihat sendiri,
    dia itu tinggi besar. Bukan hanya tubuhnya yang raksasa, tingkah polahnya pun persis raksasa dan sangat menakutkan. S aranya bagaikan geledek di mmah kami
    yang kecil. Kalau dia bicara, gerakan tangannya saja hampir merobohkan mmah kami. Pikirannya, perasaannya, ke ukaan ke ukaannya semuanya serba "wah" dan
    aneh-aneh. Matanya menghunjam ke arah pendengarnya dan Anda hanya bisa berdoa semoga dia tak melukai Anda. Dia sungguh mengerikan. Syukurlah dia sudah
    mati!

    "Dia sering datang ke mmah kami, tapi saya menyadari lama-kelamaan Gennaro, sebagaimana saya juga, tak suka akan kehadirannya. Suami saya hanya bisa terduduk
    lesu, dengan wajah pucat, mendengarkan ceracau kisah kisah politik dan sosial yang disampaikan tamu kami. Gennaro tak berkata separah pun, tapi saya yang
    tahu benar tentang dirinya, bisa membaca ekspresi wajahnya.

    126

    Pada awalnya, saya mengira itu rasa tidak suka. Tapi lama-kelamaan, saya sadar itu lebih dari sekadar rasa tak suka. Itu ekspresi rasa takut— ketakutan
    terpendam yang menggerogoti hidupnya. Malam itu saya memeluknya, dan meminta dia menjelaskan mengapa sampai pria raksasa itu menghantuinya demikian rupa

    "Dia menceritakan apa adanya, dan jantung saya menjadi sedingin es ketika saya mendengarkan penuturannya. Gennaro ternyata memiliki masa lalu yang pahit.
    Ketika seluruh dunia sepertinya memusuhinya dan pikirannya menjadi setengah gila karena mengalami perlakuan tidak adil dalam hidupnya, dia ikut dalam perkumpulan
    Neapolitan, Geng Lingkaran Merah, yang bersekutu dengan Geng Carbonari yang terkenal. Sumpah dan rahasia bagi anggota-anggota geng ini sangat menakutkan,
    dan kalau seseorang masuk menjadi anggota, dia tak mungkin meloloskan diri. Ketika kami melarikan diri ke Amerika, Gennaro mengira sudah terlepas dari
    gengnya untuk selamanya. Itulah sebabnya dia begitu ketakutan ketika bertemu dengan orang yang membawanya masuk ke geng itu di Naples, sang raksasa Gorgiano,
    orang yang terkenal sebagai 'Pembawa Kematian' di Italia Selatan. Dia berada di New York karena sedang dikejar polisi Italia, dan dia telah membangun jaringan
    Geng Lingkaran Merah di tempat tinggalnya yang baru di New York. Begitulah yang dikisahkan Gennaro kepada saya. Dia lalu menun

    127

    jukkan kepada saya surat panggilan yang diterimanya hari itu juga, bercapkan Lingkaran Merah di bagian atas kertas suratnya. Akan diadakan pertemuan pada
    waktu yang telah ditetapkan, dan mereka memintanya, lebih tepatnya menyuruhnya, hadir.

    "Sungguh pertanda buruk, tapi yang lebih bumk pun tengah mengintai. Saya perhatikan ketika Gorgiano berkunjung ke mmah kami sebagaimana biasa dilakukannya
    pada malam hari, kalau sedang berbicara matanya lebih banyak terarah kepada saya. Bahkan kalau kata-katanya ditujukan kepada suami saya, matanya yang buas
    dan mengerikan selalu berpaling ke arah saya. Suatu malam, rahasianya terbongkar. Rupanya saya telah membangkitkan rasa 'cinta' dalam dirinya—cinta yang
    brutal dan bernafsu binatang. Gennaro belum pulang kerja ketika sang raksasa datang berkunjung. Dia memaksa masuk, memeluk saya dengan kasar, <Ian membujuk
    saya untuk melarikan diri bersama-' nya. Saya berontak sambil berteriak-teriak, dan pada saat itulah Gennaro masuk dan langsung memukulnya. Tapi dia balas
    menghantam Gennaro -hingga tak berdaya, lalu meninggalkan rumah kami. Sejak itu dia tak pernah muncul lagi, tapi kami telah membuka permusuhan yang mematikan
    dengannya.

    "Beberapa hari kemudian, berlangsung pertemuan geng. Dari ekpresi wajah Gennaro sepulang dari pertemuan itu, saya langsung bisa menebak

    128

    telah terjadi sesuatu yang gawat. Keuangan perkumpulan itu berasal dari pemerasan terhadap orang-orang Italia kaya. Sahabat baik dan penolong kami Castalotte
    pun sudah didekati. Dia menolak permintaan mereka dan telah melaporkan pemerasan itu kepada polisi. Lalu diputuskan untuk memberi pelajaran kepada Castalotte,
    supaya korban-korban pemerasan lain tak akan berani menolak permintaan mereka. Pada pertemuan itu dir putuskan untuk meledakkan mmah beserta penghuninya.
    Pembagian tugas pun sudah dibuat. Gennaro melihat wajah musuhnya yang kejam tersenyum licik ketika dia memasukkan tangannya ke dalam kantong undian. Jelas
    sudah diatur sedemikian rupa sehingga dialah yang mendapatkan tugas itu. Dia ditugaskan membunuh teman baiknya, atau dia dan saya akan dibasmi anggota-anggota
    lain geng itu. Begitulah salah satu cara mereka yang kejam itu, yaitu menghukum anggota yang mereka takuti atau yang mereka benci dengan cara menyakiti
    bukan saja orang yang bersangkutan, tapi juga orang-orang yang sangat dikasihi dan dicintainya. Kesadaran akan kekejaman mereka inilah yang memenuhi pikiran
    Gennaro, keprihatinan dan ketakutannya hampir-hampir tak tertahankan lagi.

    "Sepanjang malam itu kami duduk bersama, berpelukan, berusaha saling menguatkan hati masing-masing terhadap kesulitan yang menghadang di depan kami. Rencana
    peledakan itu

    129

    ditetapkan esok malamnya. Siangnya, saya dan suami melarikan diri ke London setelah memberitahukan rencana peledakan itu kepada Castalotte, bahkan juga
    melaporkannya kepada polisi agar penolong kami itu mendapatkan perlindungan penuh.

    "Selanjutnya, Tuan-tuan, kalian sudah tahu semua. Kami yakin orang-orang yang memusuhi kami akan mengejar ke mana pun kami pergi. Gorgiano punya alasan
    pribadi untuk membalas dendam, dan kami menyadari betapa kejam dan tak kenal ampunnya dia. Kejahatannya telah tersebar di seluruh Italia dan Amerika. Dan
    saat ini kejahatannya mencapai puncaknya. Suami saya telah mencarikan tempat perlindungan yang aman untuk saya selama beberapa hari. Tak ada bahaya apa
    pun yang mengancam saya selama saya berlindung. Sedangkan dia sendiri, dia ingin bebas di luar untuk mencari hubungan dengan kepolisian Amerika dan Italia.
    Saya sendiri tak tahu di mana dia tinggal dan bagaimana keadaannya. Saya hanya menunggu berita yang dipasangnya di-kolom surat kabar. Tapi suatu saat,
    ketika saya menengok dari jendela kamar sewa saya, saya melihat dua orang Italia sedang mengamati mmah ini, dan saya langsung menyadari Gorgiano telah
    menemukan tempat perlindungan saya. Akhirnya Gennaro memberitahu saya, melalui surat kabar juga, bahwa dia akan mengirim pesan lewat sebuah jendela. Dan
    ketika pesan itu disampaikannya, semua be

    130

    ritanya adalah peringatan akan adanya bahaya, yang lalu terpotong secara tiba-tiba. Jelas dia tahu Gorgiano berada tak jauh darinya. Syukurlah dia sudah
    siap menghadapinya. Nah, Tuan-tuan, saya ingin bertanya kepada Anda semua, apakah ada yang patut kami takuti kalaupun kami harus berhadapan dengan hukum,
    atau apakah ada hakim di bumi ini yang akan menghukum Gennaro untuk apa yang telah dilakukannya?"

    "Well, Mr. Gregson," kata detektif Amerika sambil menatap detektif Scotland Yard di depannya, "saya tak tahu bagaimana hukum di Inggris, tapi saya rasa
    kalau di New York, apa yang dilakukan suami wanita ini justm akan mendapat ucapan terima kasih."

    "Dia tetap hams ikut saya untuk menghadap Kepala Polisi," jawab Gregson. "Jika apa yang diucapkannya ternyata benar, saya rasa dia ataupun suaminya tak
    perlu cemas. Tapi yang tetap tak saya mengerti adalah bagaimana gerangan Anda bisa terlibat dalam kasus ini, Mr. Holmes?"

    "Pendidikan, Gregson, pendidikan. Soalnya saya masih mau belajar dan menimba ilmu. Well, Watson, kau mendapat satu bahan lagi untuk koleksimu. Omong-omong,
    belum jam delapan, yuk nonton drama di Covent Garden! Kalau bergegas, kita akan kebagian babak keduanya."

    131

    Kasus Pencurian Rancangan Kapal Selam Bruce-Partington

    Pada minggu ketiga November 1895, kabut kuning yang tebal menyelimuti London. Sejak Senin sampai Kamis, aku bahkan tak bisa melihat atap rumah-rumah seberang
    dari jendela kamarku di Baker Street. Pada hari Senin, Holmes seharian membolak-balik indeks buku referensinya yang besar. Dua hari berikutnya, dia tenggelam
    dalam hobi barunya—tentang musik zaman Abad Pertengahan. Tapi ketika hari berikutnya, setelah makan pagi, kabut tebal kecokelatan masih berseliweran
    dan membasahi kaca jendela, sahabatku yang memang aktif ini jadi tak tahan lagi. Dia mondar-mandir dengan gelisah di mang tamu sam-' bil menggigiti kuku
    jari tangannya, mengetuk-ngetuk perabotan, serta menggeram tak tentu arah.

    "Tak ada yang menarik di surat kabar, Watson?" tanyanya kepadaku.

    Aku tahu yang dimaksudkannya adalah tindak kriminal yang menarik. Ada berita tentang revolusi, kemungkinan terjadinya peperangan, dan

    132

    pembahan drastis di pemerintahan, tapi berita-berita ini tak ada sangkut pautnya dengan bidang sahabatku. Aku tak melihat berita kriminal yang aneh; semuanya
    biasa-biasa saja. Holmes mendengus, dan mulai lagi bergerak-gerak dengan gelisah.

    "Pelaku kriminal di London benar-benar menjemukan," katanya, suaranya lemas bagaikan atlet yang kalah bertanding. "Coba lihat ke luar jendela, Watson.
    Lihadah bagaimana sosok-sosok itu kelihatan bagaikan bayangan samar-samar, lalu menjadi satu di bun kahan dalam kabut. Maling atau pembunuh bisa dengan
    enaknya menjelajahi London pada hari-hari seperti ini, bagaikan harimau yang menjelajahi hutan. Bara ketahuan setelah dia menerkam, dan hanya nyata terhadap
    yang jadi korban."

    "Cuma ada berita pencurian kecil-kecilan," kataku.

    Holmes mendengus kesal.

    "Untuk ukuran kota sebesar ini, kejahatan-kejahatan yang terjadi sehamsnya lebih dari sekadar yang kaubaca," katanya. "Untunglah, aku tak jadi penjahat."

    "Memang!" jawabku sungguh-sungguh.

    "Misalkan saja aku ini penjahat bernama Brooks atau Woodhouse, atau salah sam dari lima puluh penjahat yang pantas dihukum mati, berapa lamakah aku bisa
    bertahan kalau aku mengejar diriku sendiri? Perlu pura-pura ada pertemuan, perjanjian,

    133

    lalu semua berlalu begitu saja. Betapa asyiknya tinggal di negara-negara Latin yang tak pernah dilanda kabut—padahal di sana banyak sekali pembunuhan
    terjadi. Nah, akhirnya ada yang memecah kesunyian hari-hari kita!"

    Pembantu wanita masuk ke mangan kami membawa telegram. Holmes menyobeknya, lalu tertawa terbahak-bahak.

    "Well, well! Ada urusan apa nih?" katanya. "Kakakku Mycroft akan datang." •

    "Apa anehnya kalau dia ke sini?"

    "Anehnya? Itu seperti kereta api listrik yang berhenti di stasiun desa. Mycroft sangat sibuk dan selalu terburu-buru. Sekejap di tempat tinggalnya di Pall
    Mali, lalu Klub Diogenes, lalu Whitehall— begitulah alur hidupnya. Suatu kali, ya, cuma sekali itu saja, dia pernah mampir kemari. Apa gerangan yang
    telah terjadi sampai dia menyempatkan datang?"

    "Dia tak menjelaskan dalam telegram itu?"

    Holmes menyerahkan telegram kakaknya kepadaku.

    "Perlu bertemu dengan kau tentang Cadogan West. Aku segera berangkat. MYCROFT."

    "Cadogan West? Rasanya aku pernah dengar nama itu."

    "Aku tak ingat apa-apa tapi pasti soal penting, mengingat Mycroft sampai melanggar kebiasaannya. Omong-omong, kau tahu apa profesi Mycroft, kan?"

    *

    Samar-samar aku ingat pernah mendapat penjelasan tntang itu ketika kami menangani kasus penerjemah bahasa Yunani.

    "Kau pernah bilang kakakmu itu punya kantor kecil di bawah Pemerintah Inggris."

    Holmes tergelak.

    "Waktu itu aku. belum begitu mengenalmu. 'Orang kan hams hati-hati kalau berbicara tentang hal-hal pemerintahan. Kau benar kalau menyangka dia bekerja
    di bawah Pemerintah Inggris. Kau juga benar kalau mengatakan kadang-kadang dia sendirilah yang memerintah Inggris."

    "Jangan main-main, sobatku Holmes!"

    "Aku mengejutkanmu ya? Mycroft gajinya 450 pound setahun, tetap sederhana hidupnya, tak punya ambisi apa-apa, tak akan menerima penghargaan atau gelar
    apa pun, tapi dialah orang yang paling diperlukan di negeri ini."

    "Bagaimana mungkin?"

    "Well, posisinya unik. Itu k mauannya sendiri. Tak pernah ada posisi seperti itu sebelumnya dan tak akan pernah ada lagi. Dia memiliki otak yang sangat
    teratur dan rapi, dengan kemampuan menyimpan fakta yang luar biasa. Tak ada orang lain yang bisa menandinginya di bumi ini. Aku memang memiliki kemampuan
    serupa, tapi kuper-gunakan untuk menyelidiki perkara-perkara kriminal: Semua kesimpulan dari setiap departemen pemerintahan dilaporkan kepadanya, dan dia
    merupakan pusat pengendali, tempat mematangkan se

    135

    134

    suatu, yang akan menghasilkan pertimbangan-pertimbangan. Pejabat-pejabat lain memang ahli, tapi hanya dia yang tahu segala hal. Misalnya saja, ada menteri
    yang butuh informasi menyangkut Angkatan Laut, India, Kanada, dan sistem keuangan negara. Dia bisa saja mendapatkan informasi-informasi ini dari departemen
    yang bersangkutan dengan masing-masing topik, tapi hanya Mycroft yang bisa memfokuskan semuanya, dan langsung menjelaskan bagaimana masing-masing topik
    itu berpengaruh terhadap yang lainnya. Pada awalnya mereka hanya memanfaatkannya sebagai tempat mencari informasi secara cepat dan efisien, tapi sekarang
    dia telah menjadi bagian vital dari pemerintahan. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak kali dia memutuskan kebijaksanaan kebijaksanaan Pemerintah. Dia
    hidup dalam lingkup seperti itu Dia tak memikirkan hal-hal lain kecuali, sebagai latihan bagi ketajaman otaknya, dia beristirahat sejenak kalau aku datang
    mengunjunginya dan meminta pendapatnya tentang masalah kriminal. Tapi Tuan Jupiter tunai takhta hari ini. Untuk apa? Siapa gerangan Cadogan West, dan apa
    hubungannya dengan Mycroft?"

    "Aku menemukannya," teriakku sambil mengaduk-aduk tumpukan koran di sofa. "Ya, ya. Ini dia! Cadogan West adalah pemuda yang ditemukan tewas di jalur kereta
    api Underground pada Selasa pagi."

    136

    Holmes menegakkan duduknya untuk memperhatikan, pipa rokoknya terhenti di udara.

    "Pasti sesuatu yang serius, Watson. Kematian yang sampai menyebabkan kakakku meninggalkan aktivitasnya sehari-hari, pasti sesuatu yang luar biasa. Apa
    gerangan, ya, hubungannya dengan ke-matian pemuda itu? Seingatku, kasus itu sendiri biasa-biasa saja. Dikatakan pemuda itu jelas-jelas melompat dari kereta
    api, lalu tewas. Tak ada tanda-tanda dia telah dirampok. Juga tak ada kecurigaan ada orang yang telah mendorongnya dengan kekerasan. Begitu, kan?"

    "Telah dilakukan penyidikan terhadap mayatnya," kataku, "dan ada banyak fakta baru yang terungkap. Setelah diperiksa dengan lebih teliti, aku berani mengatakan
    bahwa kasus ini ternyata unik."

    "Melihat reaksi kakakku, aku malah merasa kasus ini bukan sekadar unik, tapi sangat luar biasa." Dia kembali membenamkan diri di kursi malasnya. "Sekarang,
    Watson, mari kita pelajari fakta-faktanya."

    "Nama lengkap pemuda itu Arthur Cadogan West. Umurnya 27, belum menikah, dan bekerja di Woolwich Arsenal."

    "Pegawai Pemerintah. Ketemu sudah hubungannya dengan kakakku Mycroft!"

    "Pada Senin malam, secara tiba-tiba dia meninggalkan Woolwich. Orang terakhir yang melihatnya adalah tunangannya, Miss Violet

    137

    Westbury, yang ditinggalkannya secara terburu-buru pada jam setengah delapan di malam yang berkabut tebal itu. Tak terjadi pertengkaran di antara mereka,
    dan gadis itu sama sekali tak bisa menduga apa yang telah menjadi pemicu tindakannya. Pokoknya gadis itu tahu-tahu mendengar mayatnya ditemukan seorang
    tukang bernama Mason, tak jauh dari Stasiun Aldgate, London." "Kapan tepatnya?"

    "Selasa jam enam pagi. Terkapar di rel kereta sebelah kiri kalau dari arah timur, dekat stasiun, tempat kereta itu berangkat setelah melewati terowongan.
    Kepalanya terbentur dengan sangat keras—mungkin disebabkan jatuhnya dari kereta api yang sedang berjalan. Dia pasti terjatuh dari kereta. Seandainya
    mayatnya diangkat orang dari jalanan, kan hams melewati pagar stasiun yang selalu dijaga Soal ini tampaknya tak bisa diungkiti."

    "Bagus sekali. Kasusnya cukup jelas. Pemuda itu, dalam keadaan hidup atau mati, telah terjatuh atau didorong dari kereta api yang sedang berjalan. Sejauh
    ini jelas sekali bagiku. Lanjutkan."

    "Kereta yang melintasi jalur tempat mayat itu ditemukan adalah kereta yang berasal dari barat menuju ke timur, beberapa di antaranya mte dalam kota dan
    beberapa lagi berasal dari Willesden dan daerah-daerah pinggiran lainnya. Bisa dikatakan dengan jelas pemuda ini, ketika menemui ajalnya, sedang menuju
    ke arah ini lamt malam itu, tapi tak diketahui jam berapa dia naik."

    138

    "Karcisnya, tentu saja akan menunjukkan hal itu."

    "Tak diketemukan karcis di kantong pakaiannya."

    "Tanpa karcis! Wah, Watson, ini benar-benar aneh. Menumt pengalamanku, tak mungkin naik kereta api Metropolitan tanpa menyerahkan karcis. Jadi kemungkinannya
    pemuda itu sebenarnya punya karcis. Apakah lalu diambil seseorang agar tak bisa diketahui dari stasiun mana dia berangkat? Mungkin saja, kan? Atau karcisnya
    terjatuh ketika dia berada di dalam kereta? Itu juga mungkin. Tapi hal ini benar-benar menarik perhatian. Setahuku tak ada tanda-tanda perampokan?"

    "Tampaknya tidak. Di sini disebutkan daftar barang kepunyaannya. Dompetnya berisi uang dua pound dan lima belas shilling. Ada juga buku cek Bank Capital
    & Counties cabang Woolwich. Identitasnya didapatkan dari buku cek ini. Ada dua tiket teater Woolwich, tanggalnya malam itu juga. Juga beberapa kertas penting
    yang menyangkut pekerjaannya."

    Holmes berteriak puas.

    "Nah, ketemu juga akhirnya, Watson! Pemerintah Inggris—Woolwich Arsenal—kertas-kertas penting—kakakku Mycroft, hubungannya jelas sekarang. Tapi,
    kalau tak salah, kakakku sudah datang, biar dia sendiri yang menjelaskannya."

    Sejenak kemudian Mycroft Holmes yang tinggi besar diantarkan masuk ke kamar kami. Begitu

    139

    besar dan tingginya badannya, sampai terkesan kaku gerak-geriknya. Alisnya amat tebal, matanya yang dalam dan berwarna abu-abu legam selalu waspada, mulutnya
    terkatup erat, namun ekspresinya begitu lembut, sehingga dalam sekejap orang akan melupakan sosoknya yang besar, dan langsung mengingat otaknya yang brilian.

    Di belakangnya menyusul teman lama kami Lestrade dari Kepolisian Pusat Scotland Yard— sosoknya kurus dan formal. Wajah keduanya yang amat serius menunjukkan
    adanya masalah yang berat. Detektif itu menyalami kami tanpa berkata sepatah pun. Mycroft Holmes melepaskan' mantel panjangnya, lalu menjatuhkan diri ke
    kursi malas.

    "Masalah yang sangat mengganggu, Sherlock," katanya. "Aku sangat tak suka mengganggu kegiatan-kegiatanku, tapi desakan pihak Pemerintah tak bisa kuabaikan.
    Dalam kondisi Negeri Siam seperti sekarang ini, seharusnya aku tak boleh keluar kantor. Tapi ada krisis besar. Tak pernah sebelumnya kulihat Perdana Menteri
    sedemikian marahnya. Sedangkan pihak Markas Besar Angkatan Laut cuma bisa teriak-teriak nyaring seperti sarang tawon. Kau sudah baca kasusnya?"

    "Kami baru saja membacanya. Kertas-kertas penting apa itu?"

    "Ah, di situlah masalahnya! Untunglah belum tersebar luas. Pihak pers bisa ngamuk dibuatnya. Kertas-kertas yang dibawa pemuda itu berisi rancangan kapal
    selam Bruce-Partington."

    140

    Mycroft Holmes berbicara dengan sangat hati-hati, menunjukkan betapa pentingnya masalah itu. Aku dan adiknya duduk mendengarkan dengan penuh perhatian.

    "Kau pasti sudah mendengar tentang itu, kan? Kurasa semua orang sudah mendengarnya."

    "Hanya namanya."

    "Pentingnya proyek itu tak perlu dibesar-besarkan, karena hal itu telah menjadi rahasia negara yang sangat dipegang erat. Percaya sajalah kalau kukatakan
    perang laut tak mungkin terjadi dalam radius operasi Bmce-Partington. Dua tahun yang lalu dana yang sangat besar sudah disiapkan, dan dipakai untuk mendapatkan
    monopoli atas penemuan ini. Pemerintah berusaha keras agar hal itu dirahasiakan. Berkas rancangan itu sangat mmit karena terdiri atas tiga puluh hak paten
    yang berbeda-beda, masing-masing merupakan bagian terpadu dari pelaksanaan secara keseluruhan. Berkas itu disimpan di lemari besi di kantor yang dk, rahasiakan
    yang letaknya bersebelahan dengan gedung Arsenal. Pintu dan jendelanya tak mungkin dibobol pencuri. Hanya kalau sangat diperlukan, berkas itu dikeluarkan
    dari tempat penyimpanannya. Kalau pimpinan pihak kontraktor utama ingin melihat berkas itu, dialah yang hams pergi ke kantor Woolwich. Tapi nyatanya berkas
    itu bisa berada di saku seorang pegawai junior, di jantung kota Lpndon. Dari sudut pandang Pemerintah, ini benar-benar memalukan."

    141

    "Tapi berkas itu sudah didapatkan kembali, kan?"

    "Belum, Sherlock, belum! Betapa menyakitkan. Berkas itu belum kembali. Ada sepuluh halaman yang diambil. Tujuh di antaranya ditemukan di saku Cadogan West.
    Tiga yang paling penting hilang—dicuri, lenyap tak berbekas. Kau harus mengesampingkan kasus-kasusmu yang lain, Sherlock. Tak usah peduli dengan pengadilan-pengadilan
    yang berlangsung. Kau sekarang hanya menangani masalah internasional yang teramat penting ini. Mengapa Cadogan West mengambil berkas itu, ada di mana berkas
    yang hilang itu, bagaimana Cadogan menemui ajalnya, bagaimana sampai mayatnya ditemukan di tempat itu, dan bagaimana agar kejahatan bisa dibasmi? Temukanlah
    jawaban atas semua pertanyaan ini, kau akan sangat berjasa bagi negaramu."

    "Kenapa tak kautangani sendiri, Mycroft? Kau bisa menyelidiki sesuatu seandal diriku."

    "Mungkin, Sherlock. Tapi masalahnya menyangkut perincian-perincian. Beri aku perincian-perin-cianmu, dan sambil duduk di kursi malas, akan kuberikan saran-saran
    yang jitu. Tapi tems terang bukan bidangku untuk lari kian-kemari, menanyai penjaga-penjaga stasiun kereta api, dan mengamati dengan kaca pembesar. Tidak,
    kaulah orangnya yang mampu mengungkap masalah ini. Kalau kau punya angan-angan untuk melihat namamu tercantum pada daftar penghargaan-berikutnya..."

    142

    Sahabatku tersenyum dan menggeleng.

    "Kalau aku melakukan penyelidikan, itu demi penyelidikan itu sendiri," katanya. "Ada hal-hal yang menarik dari masalah ini, dan dengan senang hati aku
    akan menanganinya. Adakah fakta-fakta lain?"

    "Yang penting-penting sudah kutuliskan di kertas ini, juga beberapa alamat yang akan kauper-lukan. Pejabat yang dipercayai menjaga berkas itu orang yang
    sudah sangat berpengalaman, Sir James Walter, yang gelar dan daftar penghargaannya panjang sekali. Dia orang baik, sangat â– dihormati di pesta-pesta penting,
    dan terlebih lagi, dia patriot bangsa yang kesetiaannya pada negara tak perlu diragukan lagi. Dia salah sam dari dua orang yang memegang kunci lemari besi
    itu. Perlu kutambahkan berkas itu masih ada di lemari besi selama jam kerja pada hari Senin, dan Sir James meninggalkan tempat tugasnya menuju London sekitar
    jam tiga sambil membawa kunci lemari besi itu. Dia sedang bertamu di mmah Admiral Sinclair di Barclay Square ketika insiden itu terjadi."

    "Apakah fakta ini sudah dicek kebenarannya?"

    "Sudah, adiknya, Kolonel Valentine Walter, telah menyatakan melihat Sir James meninggalkan Woolwich, dan Admiral Sinclair membenarkan kedatangannya di
    London. Jadi dia tidak lagi menjadi tertuduh langsung dalam masalah ini."

    "Siapa orang lain yang membawa kunci itu?"

    "Pegawai senior sekaligus jum gambar, Mr. Sid

    143

    ney Johnson. Dia berusia empat puluh tahun, sudah berkeluarga, dan mempunyai lima anak. Orangnya pendiam, pemurung, tapi konduitenya bagus. Dia tak begitu
    populer di antara teman-teman sekerjanya, tapi dia bekerja keras. Menumt penuturannya, yang dibenarkan istrinya, dia berada di mmah sepanjang Senin malam
    setelah pulang kerja, dan kunci yang dipegangnya, yang digantungkannya pada rantai jamnya, tak pernah lepas dari tempatnya."

    "Ceritakan tentang Cadogan West."

    "Pemuda itu sudah bekerja di situ selama sepuluh tahun, dan kerjanya bagus. Dia terkenal gampang marah dan meledak-ledak, tapi orangnya jujur dan suka
    berterus terang. Tak ada hal yang mejemahkan posisinya. Meja kerjanya bersebelahan dengan Sidney Johnson di kantor. Tugasnya menyebabkan dia sering berurusan
    dengan berkas rancangan itu. Tak ada orang lain yang menangani berkas itu."

    "Siapa yang mengembalikan dan mengunci berkas itu pada malam itu?"

    "Mr. Sidney Johnson, si pegawai senior."

    "Well, bukankah jelas sekali siapa pencurinya? Bukankah berkas itu ditemukan pada saku pegawai junior bernama Cadogan West itu? Tampaknya sudah selesai,
    kan?"

    "Memang, Sherlock, namun ada banyak hal yang tak bisa dijelaskan. Pertama, untuk apa dia mengambil berkas itu7"

    144

    "Tentunya berkas itu nilainya tinggi sekali, kan?"

    "Dengan mudah ia bisa menerima beberapa ribu pound dengan menjual berkas itu."

    "Apakah kau melihat kemungkinan motif lain di samping menjual berkas itu?"

    "Tidak."

    "Maka kita hams memakai itu sebagai hipotesis untuk mengawali penyelidikan. Pemuda West-lah yang mengambil berkas itu. Nah, ini hanya bisa dilakukan dengan
    kunci palsu...."

    "Beberapa kunci palsu. Dia hams membuka pintu depan gedung dan pintu masuk ke mangan itu."

    "Oke, jadi dia memiliki beberapa kunci palsu. Dia membawa berkas itu ke London untuk menjual informasinya. Dia pasti merencanakan untuk mengembalikan berkas
    itu ke tempat penyimpanannya semula keesokan paginya. Ketika dia berada di London untuk melaksanakan misi pengkhianatannya, dia menemui ajalnya."

    "Secara bagaimana?"

    "Kita memperkirakan dia dalam perjalanan kembali ke Woolwich ketika dia tewas, dan terlempar keluar dari kompartemennya di kereta api."

    "Aldgate, tempat mayatnya ditemukan, sudah jauh melewati London Bridge, yang mestinya merupakan rate perjalanannya ke Woolwich."

    "Banyak dugaan bisa dimunculkan sehubungan dengan hal ini. Ada orang lain di kompartemennya misalnya, yang mengajaknya berdiskusi serius.

    145

    Diskusi ini berakhir dengan kekerasan. Dia mungkin berusaha melompat dari kereta api, tapi terjatuh di rel, dan tewas. Orang lain itu lalu menutup pintu.
    Malam itu kabut tebal sekali, sehingga orang tak bisa melihat apa-apa."

    "Tak ada penjelasan yang lebih baik yang bisa kita berikan berdasarkan apa yang sekarang kita ketahui. Namun ingat, Sherlock, masih banyak yang harus kauselidiki.
    Kita anggap saja pemuda Cadogan West ini benar-benar mau membawa berkas ini ke London. Tentunya dia ada janji dengan seseorang dan tak akan membuat rencana
    lain. Ternyata dia punya dua karcis untuk nonton teater, dan sedang dalam perjalanan ke sana bersama tunangannya, ketika tiba-tiba dia menghilang."

    "Barangkali itu cuma kedok?" kata Lestrade yang sejak tadi duduk mendengarkan dengan sikap tak sabar.

    "Pokoknya aneh sekali. Ini keberatan Nomor 1. Keberatan Nomor 2 adalah kalau kita memperkirakan dia sampai di London dan berhasil menemui seseorang. Dia
    hams mengembalikan berkas itu sebelum keesokan harinya atau kehilangan itu akan diketahui. Dia mengambil sepuluh halaman; hanya ada tujuh di sakunya. Ke
    mana yang tiga halaman lagi? Dia pasti tak akan meninggalkannya atas kemauannya sendiri. Dan lagi, mana uang hasil pengkhianatannya? Mestinya dia mengantongi
    banyak uang."

    "Menumt saya, semuanya sangat jelas," kata

    146

    Lestrade. "Saya tak ragu-ragu sedikit pun tentang apa yang telah terjadi. Dia mengambil berkas itu untuk menjual informasinya. Dia menemui seseorang. Mereka
    bertengkar soal harga. Dia lalu pulang, tapi ada yang membuntutinya. Di kereta api, orang yang membuntutinya membunuhnya, lalu mengambil bagian-bagian
    penting dari berkas itu, dan melemparkan tubuh pemuda itu ke luar. Semuanya jelas, kan?"

    "Mengapa dia tak punya karcis?"

    "Karcis itu akan menunjukkan stasiun mana yang terdekat dengan mmah si pembunuh. Maka dia mengambil karcis itu dari saku korban."

    "Bagus, Lestrade, bagus sekali," kata Holmes. "Teori Anda sesuai dengan apa yang kita ketahui. Tapi kalau benar demikian, kasusnya sudah selesai. Sang
    pengkhianat sudah mati, sedangkan berkas kapal selam Bmce-Partington itu mungkin sudah dibawa ke luar negeri. Apa yang hams kita lakukan sekarang?"

    "Bertindak, Sherlock... bertindaklah!" teriak Mycroft sambil melompat berdiri. "Hati nuraniku tak setuju dengan penjelasan ini. Pakailah kemampuanmu! Pergi
    dan lihat sendiri tempat peristiwa ini terjadi! Temuilah orang-orang yang ada hubungannya dengan kasus ini! Jangan sampai ada yang ketinggalan! Sepanjang
    kariermu belum pernah kau mendapat kesempatan besar seperti ini untuk berbakti kepada negaramu."

    "Well, well!" kata Holmes sambil mengangkat

    147

    bahu. "Ayo, Watson! Dan Anda juga, Lestrade, bersediakah Anda menemani kami selama satu-dua jam? Kita akan mulai penyelidikan ini dengan mengunjungi Stasiun
    Aldgate. Sampai jumpa lagi, JVIycroft. Aku akan mengirim laporan sebelum malam, tapi kuperingatkan sebelumnya agar kau jangan mengharapkan terlalu banyak."

    Sam jam kemudian, aku, Holmes, dan Lestrade sudah berada di jalur kereta api Underground di bagian setelah melewati terowongan, tak jauh dari Stasiun Aldgate.
    Seorang petugas yang sudah tua dan sangat sopan mewakili perusahaan kereta api.

    "Di sinilah tubuh pemuda itu terkapar," katanya sambil menunjuk ke suatu tempat kira-kira satu meter jaraknya dari rel. "Tak mungkin melompat dari atas
    terowongan, karena ada pagar tembok berkeliling. Kemungkinannya hanyalah terlempar dari kereta api, dan keretanya, setelah kami telusuri, pastilah yang
    sudah lewat tengah malam pada hari Senin lalu."

    "Apakah semua gerbong sudah diperiksa kalau-kalau ada tanda-tanda telah terjadi kekerasan?"

    "Tak ada tanda-tanda ke arah itu, dan karcisnya pun tak ditemukan."

    "Tak ditemukan pintu gerbong yang terbuka?"

    "Tidak."

    "Ada tambahan bukti bam tadi pagi," kata Lestrade. "Seorang penumpang yang melewati Aldgate dengan kereta api dalam kota pada kira-kira-jam

    148

    23.40 Senin lalu, menyatakan mendengar suara gedebuk keras, sepertinya seseorang telah menghantam badan kereta, tak lama sebelum kereta api tiba di stasiun.
    Tapi karena saat itu kabut turun dengan tebalnya, dia tak melihat apa-apa. Dia tidak segera melaporkan hal itu. Eh, ada apa gerangan dengan Mr. Holmes?"

    Sahabatku sedang berdiri dengan ekspresi wajah kaku, sambil menatap rel kereta api di bagian yang membelok keluar dari terowongan. Aldgate merupakan stasiun
    persimpangan, dan terlihat angka-angka yang tertera pada dinding. Matanya yang penuh tanda tanya nyalang menatap ke angka-angka itu dan wajahnya menjadi
    tegang, bibirnya terkatup rapat, lubang hidungnya bergetar, dan kedua alisnya mengerut

    "Angka-angka," gumamnya, "angka-angka."

    "Memangnya kenapa? Apa maksud Anda?"

    "Saya rasa tak ada banyak angka di stasiun sini?"

    "Tidak, hanya beberapa."

    "Dan juga belokan. Angka-angka dan belokan. Wah! Kalau saja begitu halnya."

    "Ada apa, Mr. Holmes? Anda menemukan petunjuk?"

    "Ide... cuma ide. Tapi kasus ini makin lama makin menarik. Unik, benar-benar unik, dan kenapa tidak? Saya tak melihat tanda-tanda darah di rel."

    "Memang hampir tak ada."

    149

    "Padahal luka korban cukup parah." "Ada tulang yang patah, tapi luka luarnya tak seberapa."

    "Mestinya tetap ada darah, walaupun tak banyak. Bisakah saya memeriksa kereta yang ditumpangi orang yang mendengar suara gedebuk itu?"

    "Tampaknya tak bisa, Mr. Holmes. Kereta api itu telah dibongkar dan gerbong-gerbongnya telah dipasang-pasangkan ke kereta api lain."

    "Saya berani menjamin, Mr. Holmes," kata Lestrade, "setiap gerbong telah diperiksa dengan saksama. Saya sendiri menyaksikannya"

    Salah sam kelemahan sahabatku adalah ketidaksabarannya menghadapi orang-orang yang daya pikirnya tak begitu tajam.

    "Mungkin saja demikian," katanya sambil membalikkan badan. "Tapi' tems terang, bukan gerbong-gerbongnya yang mau saya periksa. Watson, urusan kita di sini
    sudah selesai. Kami tak ingin merepotkan Anda lagi, Mr. Lestrade. Sekarang, saya rasa sebaiknya kami melanjutkan penyelidikan ke Woolwich."

    Di daerah London Bridge, Holmes mengirim telegram ke kakaknya, yang sempat ditunjukkannya kepadaku sebelum dikirimkannya. Bunyinya demikian:

    Terlihat setitik terang dalam kegelapan, tapi bisa juga padam lagi. Sementara itu, lewat kurir, harap kirim ke Baker Street daftar lengkap semua

    150

    mata-mata asing atau agen internasional yang diketahui berada di Inggris, dengan alamat lengkap. Sherlock.

    "Daftar itu akan sangat menolong, Watson," komentarnya ketika kami sudah duduk di dalam kereta api yang menuju Woolwich. "Kita berutang budi pada kakakku
    Mycroft, karena dia telah memperkenalkan kita kepada kasus yang sungguh-sungguh luar biasa."

    Wajahnya yang penasaran masih memancarkan ketegangan dan semangat. Ini menunjukkan ada ide bam yang sedang berkecamuk di benaknya. Bandingkan saja anjing
    pembum yang telinga dan ekornya menggantung ke bawah saat sedang berjalan-jalan santai di kandangnya dengan saat matanya menyala-nyala, ototnya menegang,
    dan berlari karena telah mencium sesuatu—pembahan semacam itulah yang telah terjadi pada Holmes sejak pagi tadi. Dia bukan lagi sosok berpiama gelap
    kusam yang mondar-mandir dengan gontai dan gelisah beberapa jam yang lalu di dalam kamarnya yang diselimuti kabut.

    "Ada kasus untuk diselidiki. Ada pula kesempatan untuk melakukan penyelidikan," katanya. "Betapa bodohnya aku, tak melihat kemungkinan itu sebelum ini."

    "Sampai sekarang pun semuanya masih gelap bagiku."

    "Bagian akhirnya memang masih gelap bagiku,

    151

    tapi aku sudah mendapatkan ide yang mungkin bisa mengarahkan kita. Korban menemui ajalnya di tempat lain, dan mayatnya ditamh di atap gerbong kereta api."
    "Di atap gerbong?"

    "Luar biasa, kan? Tapi, coba pertimbangkan beberapa fakta ini. Apakah kebetulan mayatnya ditemukan di tempat kereta api terguncang-guncang karena membelok?
    Bukankah bisa direncanakan itu akan menjatuhkan apa pun yang ditamh di atap gerbong? Belokan itu tak begitu mempengaruhi penumpang di dalam gerbong. Hanya
    ada dua kemungkinan: tubuh itu terjatuh dari atap gerbong, atau telah terjadi kebetulan yang sangat langka. Nah, sekarang pertimbangkan pertanyaanku tentang
    tak ditemukannya bercak darah. Tentu saja tak ditemukan darah di rel kereta api karena darah korban telah tercecer di tempat lain. Tiap fakta bisa mengarah
    kepada kesimpulan. Kalau semua fakta itu digabungkan, ternyata kesimpulan yang didapatkan cukup kuat."

    "Dan tentang karcisnya juga!" teriakku.

    "Tepat. Sebelum ini, kita tak bisa menjelaskan mengapa dia tak punya karcis, tapi sekarang bisa. Semua tampaknya cocok."

    "Meskipun demikian, misteri kematiannya masih jauh dari jangkauan kita. Bukannya jadi semakin sepele, tapi malahan semakin memusingkan."

    "Mungkin saja," kata Holmes dengan serius, "mungkin saja."

    152

    Dia tenggelam dalam lamunannya, sementara kereta api yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Woolwich. Dia memanggil kereta sewaan, lalu mengeluarkan kertas
    yang diterimanya dari Mycroft.

    "Kita mau keliling-keliling sebentar siang ini," katanya. "Kurasa Sir James Walter-lah yang akan kita kunjungi pertama kali."

    Rumah pejabat terkenal itu berbentuk vila yang indah, dengan padang rumput yang menghampar ke arah Sungai Thames. Ketika kami sampai di sana, kabut sudah
    terangkat, dan seberkas cahaya matahari menyinari sekeliling tempat itu. Kepala pelayan membukakan pintu.

    "Sir James, Sir!" katanya dengan wajah mumng. "Sir James meninggal dunia pagi tadi."

    "Ya Tuhan!" teriak Holmes. "Kenapa dia meninggal?"

    "Mungkin Anda sebaiknya masuk, Sir, untuk menemui adiknya, Kolonel Valentine." "Ya, sebaiknya begitu."

    Kami diantar masuk ke sebuah mangan yang penerangannya remang-remang. Sejenak kemudian seorang pria menemui kami. Wajahnya berjenggot tipis, tubuhnya amat
    jangkung, tampan, dan usianya sekitar lima puluh. Dialah adik almarhum Sir James Walter. Matanya yang nyalang, pipinya yang pucat, dan rambutnya yang awut-awutan
    menunjukkan keguncangan yang tiba-tiba melanda

    153

    penhuni rumah itu. Dengan terbata-bata, dia berkisah,

    "Semuanya berawal dari skandal yang mengerikan itu," katanya. "Kakak saya, Sir James, pria yang sangat terhormat, dan tak bisa menerima kejadian itu. Hatinya
    sangat hancur. Dia selalu membanggakan betapa efisiennya departemen yang dipimpinnya, dan kejadian itu benar-benar memukulnya."

    "Kami sebenarnya berharap dia bisa memberikan beberapa pengarahan yang akan membantu kami membereskan masalah itu."

    "Saya berani menjamin dia sendiri tak tahu-menahu mengenai hal itu. Dia sudah melaporkan semua yang diketahuinya kepada polisi. Tentu saja, dia tak ragu
    Cadogan West-Iah yang bersalah. Tapi selebihnya, dia tak tahu apa-apa."

    "Anda sendiri, tak dapatkah memberikan sedikit petunjuk tentang kasus ini?"

    "Saya sendiri tak tahu banyak kecuali dari apa yang pernah saya baca atau dengar. Saya sebenarnya tak bermaksud tak sopan, Mr. Holmes, tapi kami sedang
    berkabung, jadi mohon agar wawancara ini disudahi sampai di sini saja."

    "Kita benar-benar tak menyangka akan terjadi perkembangan seperti ini," kata sahabatku ketika kami sudah berada kembali di kereta. "Aku meragukan apakah
    kematiannya normal saja, atau dia bunuh diri! Kalau dia bunuh diri, bukankah itu bisa berarti wujud penyesalan dirinya karena me

    154

    rasa gagal melaksanakan tugas dengan baik? Kita kesampingkan dulu jawaban atas pertanyaan itu Sekarang, kita menuju mmah Cadogan West."

    Rumahnya kecil tapi dirawat dengan baik, letaknya di pinggir kota, dan ibunya tinggal di situ. Wanita tua itu masih sangat berduka, sehingga tak dapat
    membantu kami sama sekali. Tapi di sampingnya ada seorang wanita muda berwajah pucat. Dia memperkenalkan diri sebagai Miss Violet Westbury, tunangan almarhum
    Cadogan West, dan dialah yang terakhir melihat pemuda itu di malam yang tragis itu.

    "Saya tak bisa menjelaskan hal itu, Mr. Holmes," katanya. "Saya tak bisa memejamkan mata sejak tragedi itu Saya tak habis-habisnya berpikir, berpikir,
    dan berpikir, apa maksud sebenarnya dari kejadian itu. Arthur tak pernah berpikir macam-macam. Dia gagah berani dan sangat patriotik. Dia lebih suka memotong
    tangannya daripada menjual rahasia negara yang dipercayakan kepadanya Benar-benar tak masuk akal, bagi orang yang mengenalnya dengan baik."

    "Tapi fakta-faktanya. Miss Westbury?"

    "Ya, ya; saya akui saya pun tak bisa menjelaskan hal itu."

    "Apakah dia kekurangan uang?"

    "Tidak, kebutuhannya tak begitu banyak dan gajinya tinggi. Dia bahkan mempunyai tabungan sejumlah beberapa ratus pound, dan kami merencanakan menikah tepat
    di Tahun Bara."

    155

    "Tak ada tanda-tanda kegelisahan? Ayolah, Miss Westbury, terus teranglah kepada kami."

    Mata sahabatku yang sigap telah menangkap pembahan sikap wanita itu. Wajahnya .memerah dan ragu-ragu.

    "Ya," katanya pada- akhirnya. "Saya merasakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."

    "Sudah sejak lama?"

    "Kira-kira bam seminggu yang lalu. Dia sering merenung dan cemas. Saya pernah menanyakan hal itu kepadanya. Dia mengakui memang ada sesuatu yang berhubungan
    dengan pekerjaan di kantornya. Dia tak dapat membicarakan hal itu, kepada saya sekalipun, begitu katanya. Saya tak bisa memaksanya, bukan?"

    Holmes kelihatan murung.

    "Teruskan, Miss Westbury. Bahkan jika Anda hams mengatakan sesuatu yang negatif tentang dia, teruskan saja. Kami belum bisa mengatakan mengapa dia bersikap
    begitu."

    "Tems terang, tak ada yang bisa saya katakan lagi. Sekali-dua kali saya merasa dia ingin sekali menceritakan sesuatu kepada saya. Suatu malam dia mengatakan
    tentang betapa pentingnya sesuatu yang dirahasiakannya itu, dan saya ingat dia juga pernah mengatakan tak heran jika mata-mata luar negeri mau membayar
    mahal untuk mendapatkan rahasia itu."

    Wajah sahabatku menjadi semakin murung.

    "Ada yang lain lagi?"

    156

    "Dia bilang pengawasan pemerintah kita kurang ketat... seorang pengkhianat akan dengan mudahnya mengambil rahasia itu."

    "Apakah komentar itu dikatakannya belum lama ini?"

    "Ya, belum terlalu lama." "Sekarang, ceritakan tentang malam terakhirnya."

    "Sebetulnya kami mau nonton. Kabut begitu tebal sehingga percuma saja kalau kami naik kereta. Maka kami berjalan kaki, dan kami melewati jalanan dekat
    kantor tempatnya bekerja. Tiba-tiba, dia menghilang begitu saja di balik kabut."

    "Tanpa mengatakan apa-apa?"

    "Dia meneriakkan sesuatu; itu saja. Saya menunggu beberapa saat, tapi dia tak kunjung muncul. Saya lalu berjalan pulang. Keesokan harinya, beberapa saat
    setelah jam kantor, beberapa orang datang ke mmah untuk menanyai saya. Kira-kira jam dua belas, kami mendapat kabar yang mengerikan itu. Oh, Mr. Holmes,
    kalau saja Anda bisa memulihkan nama baiknya! Dia begitu menjunjung tinggi kehormatannya."

    Holmes menggeleng dengan sedih.

    "Ayo, Watson," katanya,- "kita hams pergi ke tempat lain. Tujuan kita selanjurnya kantor tempat dokumen itu dicuri.

    "Sebelum ini, tuduhan terhadap pemuda itu sudah cukup berat, tapi apa yang kita dapatkan malah menambah berat tuduhan itu," komentarnya

    157

    ketika kereta yang membawa kami melaju. "Rencana pernikahannya bisa menjadi motif kejahatannya. Dia pasti telah merencanakan pencurian itu, karena dia
    sempat menyinggungnya di depan tunangannya. Dia bahkan nyaris melibatkan gadis itu dengan membeberkan rencana-rencananya."

    "Tapi bukankah kepribadian seseorang hams dipertimbangkan juga, Holmes! Lagi pula, mengapa dia meninggalkan tunangannya di jalanan lalu dia sendiri menghilang
    untuk melakukan pencurian?"

    "Tepat! Ada beberapa hal yang aneh, tapi kasusnya memang memberatkan pemuda ini."

    Mr. Sidney Johnson, pegawai senior di kantor itu, menerima kami dengan penuh hormat setelah membaca kartu nama sahabatku. Mr. Sidney Johnson bertubuh kurus
    berkacamata, pipinya cekung, dan tangannya gemetaran karena ketakutan yang menimpa dirinya. â– ;â–

    "Payah, Mr. Holmes, payah sekali! Apakah Anda sudah mendengar tentang meninggalnya pimpinan kami?"

    "Kami bam saja berkunjung ke ramahnya."

    "Tempat ini jadi kacau-balau. Pimpinan mati, Cadogan West mati, dokumen kami dicuri. Padahal, Senin malam yang lalu, kantor ini masih baik-baik saja. Ya
    Tuhan, betapa teganya manusia bernama West itu melakukan hal tercela seperti itu!"

    "Anda yakin dia yang bersalah?"

    158

    "Saya tak melihat kemungkinan lain. Padahal saya mempercayainya seperti mempercayai diri sendiri."

    "Jam berapa kantor ini tutup Senin yang lalu?" "Jam lima."

    "Andakah yang menutup kantor ini?"

    "Memang sayalah yang selalu meninggalkan kantor paling akhir."

    "Di mana berkas rancangan itu disimpan?"

    "Di lemari besi itu. Saya sendirilah yang menarahnya di situ."

    "Apakah tak ada satpam yang menjaga kantor ini?"

    "Ada, tapi pada saat yang bersamaan dia juga bertugas di beberapa kantor departemen lain. Satpam itu pensiunan tentara, dan sangat dipercaya. Dia tak melihat
    apa-apa malam itu, karena kabut memang sangat tebal."

    "Seandainya Cadogan West mau masuk ke gedung ini setelah jam kantor, bukankah dia memerlukan tiga kunci untuk sampai ke tempat dokumen itu disimpan?"

    "Ya. Kunci pintu depan gedung, kunci pintu kantor ini, dan kunci lemari besi."

    "Dan hanya Sir James Walter dan Anda yang memiliki kunci-kunci itu, kan?"

    "Tidak semuanya, saya hanya memegang kunci lemari besi."

    "Apakah kegiatan-kegiatan Sir James sangat teratur waktunya?"

    159

    "Ya, saya rasa begitu. Sepengetahuan saya, ketiga kunci itu diikatnya menjadi satu. Saya sering melihatnya."

    "Dan kunci-kunci itu dibawanya ke London?"

    "Begitulah pengakuan beliau."

    "Dan kunci yang ada pada Anda tak pernah lepas dari genggaman Anda?"

    "Tak pernah."

    "Berarti West, kalau memang dia pelakunya, punya kunci duplikat. Tapi tak ditemukan di tubuhnya. Satu hal lagi: kalau ada pegawai di kantor ini yang ingin
    menjual rancangan itu, bukankah lebih gampang menyalin saja daripada mengambil aslinya sebagaimana yang terjadi?"

    "Dibutuhkan keterampilan teknis khusus untuk bisa menyalin rancangan itu dengan baik."

    "Tapi saya rasa, baik Sir James, Anda sendiri, maupun West, memiliki keterampilan khusus itu?"

    "Jelas. Tapi saya mohon Anda tidak melibatkan saya dalam kasus ini, Mr. Holmes. Apa gunanya berspekulasi kalau rancangan yang asli terbukti dibawa West?"

    "Well, aneh sekali kenapa dia hams mengambil risiko besar dengan mengambil yang asli, sedangkan dia bisa menyalinnya."

    "Memang aneh—tapi nyatanya toh demikian."

    "Semua penyelidikan kasus ini menunjukkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Saat ini, ada tiga lembar rancangan yang belum ditemukan. Sepe

    160

    ngetahuan saya, ketiga lembar itu justru yang paling penting." "Begitulah."

    "Maksud Anda, siapa pun yang memiliki ketiga lembar rancangan itu, meskipun tak memiliki tujuh lembar lainnya, bisa membuat kapal selam model Bruce-Partington?"

    "Saya melapor begitu ke Angkatan Laut. Tapi ketika tadi saya meneliti rancangannya kembali, saya jadi tak begitu yakin. Rancangan kamp ganda yang dilengkapi
    dengan celah otomatis terdapat pada salah sam lembar yang kembali. Jika elemen ini tak ditemukan, kapal itu tak mungkin dibuat. Tentu saja, tak dibutuhkan
    waktu lama untuk menangani masalah itu."

    "Namun ketiga lembar rancangan yang belum kembali itu tetap yang paling penting?"

    "Jelas sekali."

    "Saya rasa, atas izin Anda, saya mau jalan-jalan mengelilingi gedung ini. Cukup sekian dulu pertanyaan-pertanyaan kami."

    Sahabatku memeriksa kunci lemari besi, kunci pintu mangan, dan daun jendela mangan itu. Ketika kami berada di halaman, barulah sikapnya menjadi sangat
    bersemangat. Di luar jendela terdapat semak-semak, dan beberapa carangnya menunjukkan tanda-tanda telah terputus atau terinjak. Holmes memeriksa semak-semak
    itu dengan kaca pembesarnya, lalu diperiksanya juga beberapa jejak samar-samar di tanah di bawah semak-semak. Lalu

    161

    dia meminta Mr. Johnson menutup daun jendela, dan dia menunjukkan kepadaku bahwa ternyata daun jendela itu tak menutup secara sempurna, sehingga dari luar
    orang bisa saja mengintip.

    "Jejak-jejak yang ada sudah rusak karena terlewatkan tiga hari. Jejak-jejak itu bisa mempunyai makna, bisa juga tidak. Well, Watson, kurasa Woolwich tak
    bisa membantu kita lebih lanjut. Hanya sedikit sekali hasil yang kita dapatkan. Coba kita bum informasi di London."

    Ternyata kami mendapatkan tambahan informasi sebelum meninggalkan Stasiun Woolwich. Penjual karcis mengatakan dengan yakin melihat Cadogan West—yang
    sosoknya sangat dikenal—pada Senin malam yang lalu. Dia sendirian, dan membeli sam karcis kelas tiga. Waktu itu dia terkejut melihat sikap West yang
    cemas. West begitu gemetaran, sampai-sampai mengalami kesulitan ketika mengambil uang kembali, lalu dia menolongnya. Berdasarkan jadwal keberangkatan kereta
    api, kemungkinan besar West naik kereta pukul 20.15 setelah meninggalkan tunangannya pada pukul 19.30.

    "Mari kita mereka-reka, Watson," kata Holmes setelah berdiam diri selama setengah jam. "Aku tak menyadari kalau penyelidikan ini akan menjadi lebih mmit
    dari penyelidikan-penyelidikan lain yang pernah kita lakukan bersama. Setiap perkembangan bam yang kita dapatkan tak banyak menguakkan dasar misteri ini,
    Walaupun demikian,

    162

    kita sudah mendapatkan perkembangan yang memadai.

    "Penyelidikan kita di Woolwich pada intinya mengarah ke pemuda Cadogan West, dialah pelaku tindak kriminal itu tapi indikasi yang kita peroleh dari jendela
    bisa mengarah kepada kemungkinan yang berbeda. Kita anggap saja West memang didekati seorang agen asing. Dia menolak, namun jadi khawatir soal keselamatan
    berkas rancangan itu. Dia tak berani mengatakan apa-apa kepada orang lain, tapi karena masalah itu tems memenuhi pikirannya, akhirnya dia menyinggungnya
    kepada tunangannya. Sekarang kita memperkirakan ketika dalam perjalanan ke teater bersama tunangannya dalam cuaca yang berkabut, dia tiba-tiba melihat
    agen asing itu berjalan menuju kantornya. Dia orang yang tidak sabaran dan cepat bereaksi. Dia langsung merasa bertanggung jawab. Dia mengikuti orang itu
    sampai ke jendela, dan menyaksikan si pencuri beraksi. Teori ini membuat kita bisa memahami mengapa yang diambil rancangan yang asli. Kalau pencurinya
    orang asing, dia tentu tak dapat menyalinnya. Sejauh ini semuanya cocok."

    "Apa langkah berikutnya?"

    "Di sini kita mengalami kesulitan. Tindakan logis yang mestinya diambil West dalam keadaan seperti itu adalah menangkap si pencuri dan membunyikan tanda
    bahaya. Mengapa dia tidak melakukan itu? Mungkinkah yang mencuri rancangan

    163

    itu atasannya sendiri? Bila ya, tindakan West bisa dimengerti. Ataukah West kehilangan jejak pencuri itu di jalanan yang berkabut dan langsung berangkat
    ke London untuk mendahuluinya? Kita anggap saja West tahu di mana pencuri itu tinggal. Panggilan tugas itu bagi West pastilah sangat mendesak, sampai dia
    tega meninggalkan tunangannya dalam cuaca yang berkabut tanpa mengatakan sesuatu. Langkah kita terhenti di sini, dan bagaimana sampai mayat West bersama
    tujuh halaman rancangan yang hilang itu bisa berada di atap gerbong kereta api Metropolitan, masih hams dicari mata rantainya. Sekarang aku akan melacak
    kasus ini dari sudut yang berlawanan. Aku akan memeriksa daftar nama yang diberikan Mycroft dan memutuskan siapa kira-kira agen yang sedang kita cari itu."

    Ketika kami pulang ke Baker Street, daftar itu telah menunggu kami. Holmes memperhatikannya sebentar, lalu melemparkannya kepadaku.

    Ada banyak nama yang tak begitu penting, namun hanya sedikit yang mampu menangani kasus sebesar ini. Mereka yang patut dipertimbangkan adalah Adolph Meyer—alamat
    di Great George Street 13, Westminster; Louis La Rothiere—alamat di Campden Mansions, Notting Hill; dan Hugo Oberstein—alamat di Caulfield Gardens
    13, Kensington. Yang disebut paling akhir ini berada di

    164

    London pada hari Senin yang lalu, dan berdasarkan laporan yang masuk, kini dia sudah meninggalkan London. Senang mendengar kau telah menemukan beberapa
    titik terang Kabinet dengan sangat cemas menunggu laporan terakhirmu. Dukungan yang sifatnya mendesak telah tiba dari satuan keamanan yang paling tinggi.
    Seluruh angkatan bersenjata negeri ini siap membantumu kapan saja kau memerlukannya.

    Mycroft

    "Wah," kata Holmes sambil tersenyum, "seluruh angkatan berkuda sang Ratu beserta prajuritnya pun tak ada gunanya dalam kasus ini."

    Dia membuka peta kota London yang. besar, dan membungkukkan badannya untuk mengamati, dengan teliti.

    "Well, well," katanya kemudian dengan penuh kepuasan, "banyak hal akhirnya mendukung langkah kita. Watson, aku benar-benar yakin kita akan berhasil." Dia
    menepuk pundakku dengan luapan kegembiraan yang tiba-tiba. "Aku mau pergi sebentar. Cuma mau mengadakan sedikit pengintaian kok. Aku tak akan melakukan
    sesuatu yang serius tanpa didampingi rekan kepercayaan sekaligus sekretarisku. Tolong kau tinggal di mmah saja, dan aku akan kembali dalam waktu sam atau
    dua jam. Kalau kau merasa nganggur, silakan ambil kertas dan pena, dan kau bisa mulai menulis tentang bagaimana kita menyelamatkan negeri ini."

    165

    Aku ikut merasakan kegembiraannya, karena tahu dia tidak akan segembira itu tanpa alasan yang jelas. Sepanjang malam di bulan November itu, aku menunggu.
    Waktu terasa berjalan dengan sangat lambat. Akhirnya, kira-kira pukul sembilan, datang seseorang mengantarkan pesan,

    Sedang makan malam di Restoran Goldini, Gloucester Road Kensington. Harap segera menemuiku di sini. Bawa dongkrak pintu, lampu senter, obeng, dan pistol.
    SH.

    Betul-betul perlengkapan luar biasa untuk dibawa warga negara terhormat, apalagi pada malam berkabut begini. Aku menyisipkan semua barang yang diminta
    Holmes ke balik mantel, lalu segera berangkat ke alamat yang ditunjuknya. Kutemui sahabatku sedang duduk di sebuah meja bundar kecil di dekat pintu masuk
    restoran Italia yang berkilauan itu

    "Kau sudah makan? ...Kalau begitu, mari minum kopi. Boleh juga kaucicipi cerutu khas restoran ini; tak seberat kelihatannya kok. Kaubawa alat-alat itu?"

    "Ada di balik mantelku."

    "Bagus. Mari kujelaskan sejenak tentang apa yang telah kulakukan, dan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Tentunya kau menyadari, Watson, mayat pemuda
    itu ditaruh di atap gerbong kereta api. Itu sudah jelas sejak aku menyatakan

    166

    mayat itu terjatuh dari atap dan bukannya dari dalam gerbong."

    "Apakah tak ada kemungkinan mayat itu dilemparkan dari jembatan?"

    "Menurutku tak mungkin. Kalau kauperhatikan atap gerbong kereta api, bentuknya kan agak melengkung tanpa sekat apa pun. Jadi kita bisa yakin mayat Cadogan
    West memang sengaja telah ditamh di situ."

    "Bagaimana cara menaruhnya?"

    "Itulah yang hams kita temukan jawabannya. Hanya ada sam cara yang mungkin. Kau tentu tahu kereta api Underground melewati beberapa terowongan di daerah
    West End. Aku masih ingat ketika aku naik kereta api itu. Aku kadang-kadang melihat jendela-jendela mmah persis di atas kepalaku. Nah, seandainya kereta
    berhenti di bawah salah satu jendela itu tentunya tak akan sulit menaruh mayat di atap gerbongnya, kan?"

    "Ah, rasanya kok mustahil."

    "Kita hams ingat peribahasa kuno yang mengatakan kalau semua upaya kita gagal, kemungkinan sekecil apa pun yang masih ada, itu pasti benar. Dalam kasus
    kita ini, semua kemungkinan lain sudah gagal. Ketika kudapatkan informasi bahwa agen internasional terkenal, yang bam saja meninggalkan London, tinggal
    di salah satu mmah yang dilewati kereta api Underground itu, aku begitu gembira, sehingga kau pun pasti merasakan

    167

    lonjakan kegembiraanku yang muncul secara tiba-tiba itu!",

    "Oh, jadi itulah penyebabnya!"

    "Ya, begitulah. Mr. Hugo Oberstein, alamat di Caulfield Gardens 13, kini menjadi objek penyelidikanku. Aku mulai melacak dari Stasiun Gloucester Road.
    Di situ, seorang pegawai stasiun yang sangat ramah bersedia menemaniku melacak sepanjang rel kereta api, dan aku menemukan sesuatu yang sangat memuaskan.
    Bukan hanya jendela belakang Caulfied Gardens 13 memang tepat berada di atas jalur kereta api, tetapi juga faktor lain yang sangat penting, karena mmah
    itu berdekatan dengan persimpangan jalur kereta, kereta Underground itu sering hams berhenti selama beberapa saat di tempat itu."

    "Hebat, Holmes! Kau telah menemukan jawabannya!"

    "Begitulah. Sejauh ini, kita memang mendapatkan kemajuan, tapf tujuan akhirnya masih jauh. Nah, setelah menyelidiki bagian belakang Caulfield Gardens,
    aku lalu mengawasi bagian depannya. Aku puas dugaanku ternyata benar. Rumah itu cukup besar, dan sepengetahuanku tak ada perabotan di kamar lantai atasnya.
    Oberstein tinggal di situ bersama pelayan pria yang mungkin sekaligus merupakan kaki tangannya. Kita hams tahu Oberstein telah berangkat ke Eropa untuk
    menjual hasil curiannya, tapi tak berniat melarikan diri karena memang tak ada alasan baginya untuk me

    168

    rasa takut. Aku yakin dia tak pernah menduga akan ada penggeledahan tak resmi di tempatnya, dan itulah yang akan kita lakukan."

    "Tak bisakah kita mengupayakan surat penggeledahan, supaya kita bisa berkunjung secara resmi?"

    "Kita tak punya cukup bukti untuk itu."

    "Apa sebenarnya yang kita cari?"

    "Surat-surat yang dapat membuktikan keterlibatannya."

    "Aku agak keberatan, Holmes."

    "Sobatku, kalau kau mau, kau boleh mengawasi dari jalan saja. Biarlah aku yang menerobos masuk. Sekarang bukan saatnya mengkhawatirkan hal-hal kecil. Pertimbangkan
    pesan Mycroft, Markas Besar Angkatan Laut, Kabinet, dan banyak lagi orang penting yang sedang menunggu berita dari kita. Kita hams melakukannya."

    Sebagai tanda persetujuanku, aku langsung berdiri.

    "Kau benar, Holmes. Kita hams melakukannya."

    Dia pun beranjak dari tempat duduknya, lalu menjabat tanganku.

    "Aku tahu kau tak akan mundur pada saat terakhir," katanya, dan sekejap aku melihat kelembutan pada pancaran matanya. Namun sesaat kemudian sikapnya kembali
    tegas dan praktis.

    "Tempat itu jaraknya hampir setengah mil dari sini, tapi kita tak perlu terburu-buru Kita jalan saja, yuk," katanya. "Tolong agar peralatan-peralat

    169

    an yang kaubawa jangan sampai tertinggal. Kalau kau dipergoki orang dengan barang-barang yang mencurigakan itu, bisa runyam, kan?"

    Caulfield Gardens 13 mempakan salah satu dari sekian banyak mmah yang berjajar di kawasan itu. Bagian depannya dihiasi serambi-serambi berpilar yang menonjolkan
    arsitektur gaya Victoria seperti banyak terlihat di daerah West End. Di mmah sebelah tampaknya sedang ada pesta anak-anak, karena terdengar kicau riang
    anak-anak berbaur dengan denting piano yang memecah kesunyian malam. Kabut masih menyelimuti sekeliling, sehingga kehadiran kami tak begitu mencolok. Holmes
    menyorotkan lampu senternya ke arah pintu depan Caulfield Gardens yang besar itu.

    "Wah, repot," katanya. "Pintunya dipalang dan dikunci. Lebih baik lewat samping, ada lorong kecil yang akan melindungi kita dari polisi yang patroli. Tolong
    aku, Watson, nanti ganti aku yang menolongmu."

    Semenit kemudian kami berdua sudah berada di halaman. Kami nyaris tak sempat berlindung ketika mendengar langkah-langkah polisi patroli. Ketika bunyi langkah
    itu sudah menghilang, Holmes mulai beroperasi di sebuah pintu yang agak rendah. Kulihat dia mencongkel-congkel, sampai akhirnya pintu itu terbuka dengan
    paksa. Setelah menutup pintu kembali, kami berlari masuk ke lorong yang gelap. Holmes melangkah lebih dulu menaiki tangga yang berkelok-kelok dan tak di

    170

    lapisi karpet. Lampu senternya disorotkannya k^ sebuah jendela rendah.

    "Sudah sampai, Watson—pasti inilah tempat yang kita cari."

    Dia membuka jendela itu, dan terdengarlah deru kereta api yang makin lama makin keras ketika kereta itu lewat di bawah kami, lalu ^penghilang dalam kegelapan.
    Holmes menyorotkan senternya ke bingkai jendela yang dipenuhi debu hitam akibat uap mesin kereta api. Ternyata ada beberapa bagian yang terhapus.

    "Kau bisa lihat tempat mereka meletakkan mayat itu. Halloa, Watson! Apa ini? Tak ragu lagi, ini kan bercak darah."

    Ia menunjuk bingkai jendela yang terbuat dari kayu itu.

    "Bercak seperti itu terdapat pula di bebatuan tangga. Demonstrasi kita sudah lengkap. Mari kita tinggal di sini sampai ada kereta api yang lewat lagi."

    Kami tak perlu menunggu lama. Kereta api berikutnya melaju melewati terowongan sebagaimana kereta sebelumnya, tapi larinya menjadi lebih lambat sesudah
    melewati terowongan, kemudian terdengar derak remnya, lalu kereta itu berhenti tepat di bawah tempat kami berada. Jarak dari daun jendela ke atap gerbong
    hanya kira-kira semeter Dengan tenang Holmes menutup jendela-itu.

    171

    "Sejauh ini dugaan kita terbukti," katanya. "Bagaimana menumtmu, Watson?"

    "Mahakarya yang hebat. Ini hasil kerja otakmu yang paling hebat dibandingkan dengan yang sudah-sudah!"

    "Aku tak setuju dengan komentarmu. Sejak aku mulai menduga mayat pemuda itu sengaja ditamh di atap gerbong, selanjutnya jelas bisa ditebak. Kalau bukan
    karena urusan yang mahap nting kasus ini sampai tahap ini biasa-biasa saja. Masih banyak kesulitan yang menghadang di depan. Tapi mungkin kita bisa menemukan
    sesuatu di sini yang berguna bagi kita."

    Kami menaiki tangga dapur menuju lantai sam. Ada beberapa mangan di sana. Salah satunya kamar makan, perabotannya seadanya dan tak ada yang menarik perhatian
    kami di situ. Kemudian kamar tidur yang juga tak menghasilkan apa-apa. Sahabatku langsung melakukan pengamatannya ketika memasuki kamar terakhir. Banyak
    buku dan kertas berserakan, jadi jelas mangan ini dipakai sebagai kamar baca. Dengan sigap dan cekatan Holmes membolak-balik isi semua laci dan lemari
    yang ada, tapi tak ada tanda-tanda keberhasilan pada wajahnya yang tegang. Setelah kira-kira satu jam, dia tetap tak mendapatkan tambahan informasi apa
    pun.

    "Anjing licik ini telah menutupi semua jejaknya," katanya. "Tak ada sesuatu pun yang dapat dipakai untuk membuktikan keterlibatannya. Surat

    172

    menyurat yang dilakukannya secara rahasia telah dimusnahkan atau disimpannya rapat-rapat. Nih, ada kesempatan terakhir untuk kita."

    Yang dimaksudkannya ialah sebuah kotak kecil tempat menyimpan uang yang terbuat dari tembaga. Holmes mencongkelnya dengan obeng. Di dalamnya terdapat beberapa
    gulungan kertas yang penuh dengan angka dan hitungan. Tak ada catatan apa-apa di situ. Hanya ada kata-kata "Tekanan Air" dan "Tekanan dalam Inci Persegi"
    yang mungkin ada hubungannya dengan kapal selam. Holmes mengembalikan semua itu ke tempatnya dengan jengkel. Kini tinggal sebuah amplop berisi guntingan-guntingan
    kecil dari surat kabar. Dituangkannya semua itu ke meja, dan dalam sekejap aku melihat wajahnya yang penasaran memancarkan harapan.

    "Apa ini, Watson? Eh, apa ini? Pesan-pesan yang dipotong dari iklan di surat kabar. Dilihat dari jenis cetakan dan kertasnya, ini biasanya kolom berita
    keluarga di Daily Telegraph. Letaknya di ujung kanan sebelah atas halaman. Tak ada tanggalnya, tapi pesan-pesannya bisa kita urutkan Ini pastilah yang
    pertama.

    "Mohon kabar lebih cepat. Syarat-syarat disetujui. Tulis dengan lengkap ke alamat yang ada di kartu nama. Pierrot.

    "Berikutnya, Penjelasannya terlalu mmit. Laporan hams lengkap. Imbalannya siap begitu barang dikirim. Pierrot.

    173

    "Lalu, Waktu mendesak. Penawaran batal, kecuali kontrak dilaksanakan. Buat janji pertemuan lewat surat. Akan dikonfirmasi melalui iklan. Pierrot.

    "Dan yang terakhir, Senm malam setelah pukul sembilan. Dua kali ketukan. Hanya kita berdua. Jangan curiga. Pembayaran tunai begitu barang diterima. Pierrot.

    "Catatan yang sangat lengkap, Watson! Kalau saja kita bisa menangkap orang yang menerima pesan-pesan ini."

    Sahabatku duduk termenung sambil memukul-mukulkan jarinya ke meja. Akhirnya dia berdiri.

    "Well, mungkin tak begitu sulit. Tak ada yang bisa dikerjakan lagi di sini, Watson. Kurasa sebaiknya kita pergi ke kantor Daily Telegraph dan menuntaskan
    kerja kita hari ini.

    Sesuai perjanjian, Mycroft Holmes dan Lestrade datang ke tempat kami setelah jam makan pagi keesokan harinya. Sherlock Holmes lalu menceritakan kepada
    mereka apa yang kami lakukan hari sebelumnya. Lestrade menggeleng-gelengkan kepala mendengar kami telah membobol mmah orang.

    ' "Sebagai polisi, kami tak bisa melakukan hal-hal seperti yang Anda lakukan, Mr. Holmes," katanya. "Tak heran jika Anda selalu mendapatkan hasil yang
    melampaui kemampuan kami. Tapi

    174

    hati-hati, kalau terlalu jauh melangkah, kalian bisa-bisa mengalami kesulitan,"

    "Demi Inggris, tanah air kita nan rupawan—eh, Watson? Berani mati sebagai martir demi negara. Tapi bagaimana menumtmu, Mycroft?"

    "Hebat, Sherlock! Patut dipuji! Tapi untuk apa kaulakukan semua itu?"

    Holmes mengambil koran Daily Telegraph yang tergeletak di meja.

    "Apakah kau sudah melihat iklan Pierrot hari ini?"

    "Apa? Ada lagi?"

    "Ya, nih: 'Malam ini. Jam yang sama. Tempat yang sama. Dua kali ketukan. Sangat penting. Keselamatanmu sendiri terancam. Pierrot."

    "Wah!" teriak Lestrade. "Kalau dia menjawab iklan itu, kita bisa menangkapnya!" -

    "Begitulah pikiranku ketika aku memasang iklan itu. Kurasa, jika kalian bisa ikut kami ke Caulfield Gardens nanti malam kira-kira jam delapan, kita mungkin
    akan mendekati kesimpulan kasus ini."

    ' Salah sam ciri Sherlock Holmes yang khas ialah kemampuannya untuk menghentikan kerja otaknya dan mengalihkan pikirannya ke hal-hal yang lebih ringan
    kalau dia yakin telah mengusahakan semuanya semaksimal mungkin. Aku ingat sepanjang hari yang mengesankan itu dia malah asyik menulis artikel tentang musik,
    sementara aku sendiri menunggu dengan gelisah Kasus nasional yang

    175

    sangat penting itu, ketegangan di kalangan pejabat tinggi, eksperimen langsung yang akan kami upayakan, semuanya membuat pikiranku tegang. Itulah sebabnya
    aku lega ketika pada akhirnya kami berangkat untuk memulai pemalangan kami setelah makan malam sedikit. Sesuai perjanjian, Lestrade dan Mycroft menemui
    kami di luar Stasiun Gloucester Road. Pintu samping mmah Oberstein memang kami tinggalkan dalam keadaan terbuka semalam, dan aku melompat masuk untuk membuka
    pintu depan, berhubung Mycroft Holmes tak mau memanjat pagar. Pada pukul sembilan, kami berempat sudah duduk di kamar baca sambil menunggu orang yang kami
    incar.

    Sam jam berlalu. Satu jam lagi berlalu. Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, dentang jam gereja di dekat situ seolah menyuarakan keputus-asaan kami. Lestrade
    dan Mycroft duduk dengan gelisah, dan tiap setengah menit menengok ke jam tangan mereka. Holmes duduk tenang, matanya setengah tertutup, tapi dalam sikap
    waspada penuh. Tiba-tiba dia mendongak.

    "Orangnya datang," katanya.

    Terdengar langkah yang sangat berhati-hati melewati pintu. Lalu kembali lagi. Lalu terdengar bunyi langkah-langkah yang diseret di luar, diikuti dua kali
    ketukan nyaring di pintu. Holmes bangkit, memberi isyarat kepada kami untuk tetap duduk. Lampu gas di gang hanya remang-remang sinarnya. Holmes membuka
    pintu, dan ketika sesosok

    176

    tubuh menyelinap masuk melewatinya, dia lalu menutup dan mengunci pintu itu.

    "Ke sini!" kami mendengar dia berkata, dan sekejap kemudian orang itu berdiri di hadapan kami. Holmes sejak tadi menguntit persis di belakangnya, dan ketika
    orang itu berbalik sambil berteriak karena terkejut dan ketakutan, Holmes langsung mencekal kerah bajunya dan mendorongnya kembali ke tengah mangan. Sebelum
    tawanan kami sempat bertindak, Holmes sudah berdiri membelakangi pintu. Pria itu menatap ke sekelilingnya sambil berdiri sempoyongan, lalu terjatuh pingsan
    di lantai. Topinya yang lebar terlepas, kain penutup wajahnya tersingkap ke bawah bibirnya, dan tampaklah oleh kami wajah Kolonel Valentine Walter yang
    lembut, tampan, dan berjanggut tipis panjang.

    Holmes bersiul karena kagetnya.

    "Tolong catat betapa bodohnya aku kali ini, Watson," katanya. "Sungguh tak kuduga dialah orangnya."

    "Siapa dia?" tanya Mycroft penasaran.

    "Adik almarhum Sir James Walter, mantan kepala Departemen Kapal Selam. Nah, dia mulai sadar. Biar aku saja yang menginterogasinya."

    Kami telah mengangkat tubuh yang tak berdaya itu ke sofa. Kini dia duduk, menatap ke sekelilingnya dengan ketakutan, sambil memegangi dahinya seakan tak
    percaya pada apa yang sedang dihadapinya, ft

    177

    "Ada apa ini?" tanyanya. "Saya datang ke sini untuk menemui Mr. Oberstein."

    "Kami sudah tahu semuanya, Kolonel Walter," kata Holmes. "Bagaimana seorang warga negara Inggris terhormat bisa berbuat itu, sungguh tak bisa saya mengerti.
    Semua hubungan Anda dengan Oberstein sudah kami ketahui. Demikian juga segalanya yang menyangkut kematian Cadogan West. Saya sarankan Anda paling tidak
    menyatakan penyesalan Anda, lalu mengakui saja semua yang Anda lakukan. Kami hanya butuh sedikit perincian dari mulut Anda." • Pria itu menggeram, lalu
    menutupi mukanya dengan tangan. Kami menunggu, tapi dia tak mengatakan apa-apa.

    "Percayalah," kata Holmes, "semua hal penting sudah kami ketahui. Kami tahu Anda mengalami kesulitan keuangan; Anda membuat duplikat kunci yang disimpan
    kakak Anda; dan Anda berhubungan dengan Oberstein yang menjawab surat-surat Anda melalui kolom iklan di koran Daily Telegraph. Kami tahu Anda pergi ke
    kantor itu pada hari Senin malam,, tapi Cadogan West melihat Anda, dan dia mengikuti Anda karena dia punya alasan untuk mencurigai Anda. Dia melihat ketika
    Anda melakukan pencurian, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena mungkin saja Anda akan membawa berkas rancangan itu ke kakak Anda di London. Tanpa menghiraukan
    kepentingan pribadinya, sebagai warga negara yang baik dia lalu

    178

    mengikuti Anda dalam jarak dekat di tengah cuaca yang berkabut. Anda pergi ke mmah ini. Di sinilah pemuda itu lalu berusaha menghalangi Anda, dan Anda
    Kolonel Walter, bukan hanya berkhianat kepada negara, tapi juga melakukan tindak kriminal yang mengerikan, yaitu pembunuhan."

    "Tidak! Saya tidak melakukannya! Demi Tuhan, saya tidak melakukannya!" teriak tawanan kami dengan putus asa.

    "Kalau begitu, katakanlah bagaimana Cadogan' West menemui ajalnya, sebelum Anda menamh mayatnya di atap gerbong kereta api."

    "Saya akan menceritakan semuanya. Saya berjanji akan menceritakan semuanya. Yang lain-lain memang saya lakukan, saya akui itu. Persis seperti yang Anda
    katakan. Saya punya utang yang cukup banyak di bursa saham, dan saya harus segera melunasinya. Saya sangat membutuhkan uang. Lalu Oberstein menawarkan
    lima ribu pound kepada saya. Saya lakukan itu agar hidup saya tidak hancur. Tapi soal pembunuhan itu, saya benar-benar tak bersalah."

    "Kalau begitu apa yang terjadi?"

    "West sudah lama mencurigai saya, dan dia tems membuntuti saya sebagaimana tadi Anda jelaskan. Saya tak menyadari hal itu, sampai saya tiba di mmah ini.
    Malam itu kabut tebal sekali, dan saya tak bisa melihat apa-apa dalam jarak tiga meter. Saya mengetuk pintu dua kali, dan Oberstein membukakan pintu. Pemuda
    itu tiba-tiba ber

    179

    lari menyerbu kami, dan minta penjelasan tentang apa yang hendak kami lakukan dengan rancangan itu. Oberstein memukul kepalanya dengan gada kecil yang
    selalu dibawanya. Ternyata pukulan itu fatal sekali. Beberapa menit kemudian, pemuda tu menemui ajalnya. Dia tergeletak di mang .depan, dan kami kebingungan
    tak tahu apa yang hams kami lakukan. Lalu Oberstein punya ide untuk memanfaatkan kereta api yang selalu berhenti di bawah jendela belakang mmah ini. Tapi
    sebelumnya, dia memeriksa berkas-berkas yang saya bawa. Dia berkata bahwa tiga di antaranya yang paling penting, dan dia hams mengambilnya. 'Kau tak boleh
    mengambilnya,' kata saya. 'Akan timbul kegemparan di Woolwich kalau berkas-berkas tak segera dikembalikan.' 'Aku hams mengambilnya,' katanya, 'karena perinciannya
    amat teknis, sehingga tak mungkin disalin begitu saja.' 'Pokoknya, semuanya hams sudah kembali ke tempatnya malam ini,' kata saya. Dia berpikir sejenak,
    lalu berteriak kegirangan karena dia menemukan ide bagus. 'Aku akan bawa ketiga lembar ini,' katanya. 'Yang lainnya akan kita masukkan ke saku jas pemuda
    ini. Kalau mayatnya ditemukan, dialah yang akan dituduh.' Saya tak melihat jalan keluar lain yang masuk akal, jadi kami lalu melakukan rencananya. Kami
    menunggu selama setengah jam di dekat jendela belakang, sebelum ada kereta api yang berhenti di bawahnya. Cuaca malam itu begitu gelapnya, sehingga kami
    tak mengalami ke

    180

    sulitan ketika menurunkan mayat West ke atap gerbong kereta api. Begitulah semuanya sejauh menyangkut keterlibatan saya." "Dan kakak Anda?"

    "Dia diam saja, tapi dia pernah memergoki saya memegang-megang kunci yang disimpannya. Dari pandangan matanya saya merasa dia mencurigai saya. Sebagaimana
    Anda tahu, sejak itu dia lalu jatuh sakit, dan tak lama kemudian meninggal dunia."

    Sunyi senyap di mangan itu. Mycroft Holmes lalu memecah keheningan.

    "Tak bisakah Anda memperbaiki keadaan? Anda akan merasa agak ringan, dan kemungkinan Anda pun akan mendapatkan keringanan hukuman."

    "Perbaikan apa yang bisa saya lakukan?"

    "Katakan kepada kami di mana Oberstein dan berkas rancangan itu berada."

    "Saya tidak tahu."

    "Tidakkah dia memberikan alamatnya?"

    "Dia hanya mengatakan agar saya mengalamatkan surat-surat saya ke Hotel du Louvre, Paris. Nanti surat itu akan disampaikan kepadanya."

    ' "Kalau begitu, Anda masih punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan," kata Sherlock Holmes.

    "Saya akan lakukan apa pun yang saya bisa. Saya tak utang apa-apa pada orang itu Malahan, dialah yang telah menghancurkan hidup saya."

    "Ini, kertas dan pen. Duduklah di kursi itu dan

    181

    tuliskan apa yang saya katakan. Pertama, tulis alamat yang diberikannya di amplop. Ya, begitu. Sekarang isi suratnya.

    Dengan hormat,

    Sehubungan dengan transaksi kita, Anda pasti menyadari adanya perincian yang kurang. Saya telah mendapatkan bagian yang kurang itu, tapi untuk itu saya
    mengalami banyak kesulitan, jadi saya ingin minta tambahan biaya lima rams pound. Saya tidak mau uang itu dikirim via pos; saya hanya mau dibayar tunai
    atau dengan emas. Saya ingin menemui Anda di luar negeri, tapi hal itu akan sangat mencurigakan. Oleh sebab itu, saya ingin bertemu dengan Anda di mang
    merokok Hotel Charing Cross, pada hari Sabtu tengah hari. Ingat, saya hanya mau terima uang tunai atau emas.

    "Yah, begitu cukup. Orang itu pasti akan datang."

    Dan benar! Beginilah tercatat dalam sejarah negeri ini yang sangat dirahasiakan karena mengandung masalah nasional yang sangat peka, dan tentu saja sangat
    berlainan dengan apa yang tertulis di koran-koran, yaitu bahwa Oberstein yang begitu antusiasnya melengkapi dagangannya, datang atas permintaan Kolonel
    Valentine Walter. Akhirnya,

    182

    dia berhasil ditangkap, dan dipenjarakan selama lima belas tahun di Inggris. Di dalam kopernya ditemukan rancangan Bruce-Partington yang tak ternilai harganya
    itu, yang telah ditawarkannya untuk dilelang di antara semua angkatan laut negara-negara Eropa.

    Kolonel Valentine Walter meninggal di penjara sewaktu menjalani tahun kedua masa hukumannya, sedangkan Holmes kembali menekuni artikel musiknya. Beberapa
    minggu kemudian, secara tak sengaja aku mendengar sahabatku diundang ke Puri Windsor, dan pulangnya dia mengenakan jepit dasi terbuat dari batu zamrud
    yang sangat indah. Ketika kutanya apakah dia membelinya, dia menjawab bahwa barang itu merupakan pemberian seorang wanita terhormat sebagai ucapan terima
    kasih karena dia telah melakukan sesuatu baginya. Cuma begitu komentarnya, tapi aku bisa menduga siapa sebenarnya wanita yang dimaksudkannya. Aku yakin
    jepit dasi zamrud itu selamanya akan mengingatkannya pada kasus pencurian rancangan Bruce-Partington.

    Scanned book (sbook) ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSLLKAN atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan

    yj BBSC

    183

    Petualangan Detektif yang Sekarat

    Mrs. hudson, pemilik mmah yang disewa Sherlock Holmes, adalah wanita yang luar biasa sabar. Bayangkan, bukan hanya lantai atas mmahnya sering dikunjungi
    orang-orang aneh, tapi sang penyewa pun orang eksentrik yang pasti sering membuatnya jengkel. Gaya hidupnya yang tak teratur kesukaannya menyetel musik
    pada jam-jam istirahat, kebiasaannya latihan menembak dengan menjadikan pintu sebagai objek bidikan, eksperimen ilmiahnya yang aneh-aneh dan kadang-kadang
    menimbulkan bau yang tak enak, jelas tak menjadikan Holmes penyewa teladan. Lebih-lebih hidupnya selalu dikelilingi kejahatan dan mara bahaya yang sedikit
    banyak mempengaruhi induk semangnya. Tapi di lain pihak, Holmes mengompensasi semua itu dengan uang sewa yang mahal. Aku yakin uang sewanya selama bertahun-tahun
    dia tinggal di situ bersamaku sebenarnya sudah cukup untuk membeli mmah itu.

    Nyonya mmah sangat menghormati dia, dan tak

    184

    pernah berani mencampuri urusannya, walaupun tingkah lakunya sering mengganggu orang lain. Lagi pula, wanita itu menyukai Holmes karena sikapnya sangat
    lemah lembut dan sopan terhadap wanita. Dia tidak suka dan tidak percaya pada wanita, tapi sikapnya terhadap mereka tetap saja sopan. Menyadari betapa
    baiknya wanita itu terhadap Holmes, aku pun mendengarkan kisahnya dengan saksama ketika dia menemuiku di kamar praktekku. Saat itu tahun kedua setelah
    aku menikah. Wanita itu melaporkan keadaan kesehatan Holmes yang tems memburuk.

    "Dia sekarat, Dr. Watson!" katanya. "Selama tiga hari dia tak turun dari tempat tidurnya, dan saya bahkan merasa jangan-jangan dia tak akan tahan hidup
    hari ini. Dia melarang saya memanggil dokter. Pagi tadi ketika saya lihat wajahnya yang tinggal tulang dan matanya yang besar menatap saya, saya tak tahan
    lagi. 'Dengan atau tanpa persetujuan Anda, Mr. Holmes, saya akan pergi memanggil dokter saat ini jtiga," kata saya 'Kalau begitu, tolong panggil Watson
    saja,' jawabnya. Saya mohon Anda mau menengoknya sekarang juga, Sir, atau Anda tak akan sempat melihatnya dalam keadaan hidup lagi."

    Aku menjadi panik, karena aku tak mendengar kabar sedikit pun bahwa dia sedang sakit. Aku langsung menyambar mantelku^JDalam perjjjJgjjaR. ke tempat Holmes,
    aku menanyakan beberaj^^& kepada Mrs. Hudson. jf&f

    185

    "Tak banyak yang bisa saya katakan, Sir. Setahu saya, dia sedang menangani kasus di Rother-hithe, gang kecil dekat Sungai Thames, dan tahu-tahu dia jatuh
    sakit. Dia tak bangun dari tempat tidur sejak Rabu siang, bahkan selama tiga hari ini dia sama sekali tak makan dan minum."

    "Ya Tuhan! Mengapa Anda tak memanggil dokter?"

    "Dia tak mau, Sir. Anda tahu betapa keras kepalanya dia. Saya tak berani menentang kehendaknya. Tapi, dia tak akan bertahan lama. Nanti Anda akan lihat
    sendiri."

    Keadaan sahabatku memang menyedihkan. Dalam keremangan cuaca di bulan November yang berkabut itu, kamarnya tampak sangat kelabu, namun wajahnya yang cekung
    dan pucat pasilah yang membuat jantungku seolah membeku. Matanya memerah karena demam tinggi, pipinya gemetaran, bibirnya mengeras dan kehitaman, tangannya
    yang kums kering bergerak-gerak tems, tarikan napasnya serak dan sesak. Dia terbaring tak bergerak ketika aku memasuki kamarnya, tapi begitu melihatku,
    matanya mengenali diriku.

    "Well, Watson, kita tampaknya hams menghadapi hari-hari yang buruk," katanya dengan suara yang sangat lemah, tapi tetap dengan sikapnya yang acuh tak acuh.

    "Sobatku," teriakku sambil melangkah mendekatinya.

    "Jangan mendekat! Jangan mendekat!" katanya

    186

    dengan begitu tajamnya seperti sedang menghadapi krisis berat. "Kalau kau mendekat, Watson, aku akan menyumhmu keluar dari mmah ini." "Tapi kenapa?" -

    "Karena begitulah mauku. Apakah kurang jelas?"

    Ya, apa yang dikatakan Mrs. Hudson benar adanya. Dia jadi semakin suka memerintah. Namun aku benar-benar merasa kasihan melihat ke* lemahan tubuhnya.

    "Aku cuma. mau menolongmu," aku menjelaskan.

    "Tepat sekali! Kau akan sangat menolongku kalau kau melakukan apa yang kuminta."

    "Baiklah, Holmes."

    Sikapnya menjadi agak rileks.

    "Kau tak marah padaku?" tanyanya sambil menarik napas dengan susah payah.

    Kasihan benar dia! Bagaimana mungkin aku marah padanya saat melihatnya terbaring tak berdaya di hadapanku seperti ini?

    "Semua ini demi kebaikanmu, Watson," katanya dengan suara parau.

    "Demi kebaikanku?"

    "Aku tahu penyakit apa yang sedang kuderita, yaitu penyakit bumh Sumatra—yang lebih banyak diketahui orang Belanda daripada kita, walaupun mereka belum
    berhasil menanggulanginya. Sam hal yang pasti, penyakit ini sangat mematikan dan sangat menular."

    187

    Kini dia berbicara dengan lebih bersemangat, tangannya yang panjang melambai-lambai ke arahku, sebagai tanda agar aku tak mendekatinya.

    "Kalau kausentuh aku, Watson, kau akan ketularan—ya, penyakit ini menular melalui sentuhan. Jadi harap menjaga jarak denganku."

    "Ya Tuhan, Holmes! Kaukira aku mempersoalkan itu Kalau yang sakit orang yang tak kukenal pun, aku akan tetap melakukan tugasku sebagai dokter, apalagi
    terhadap sobat baikku sendiri."

    Aku kembali melangkah mendekatinya, tapi dia menentang sikapku ini melalui pandangannya yang penuh amarah.

    "Kalau kau bersedia berdiri di situ aku mau bicara denganmu. Kalau tidak, kau hams segera keluar dari kamar ini."

    Selama ini, aku selalu menghormati sikap Holmes dan selalu menuruti kemauannya sekalipun aku tak mengerti maksudnya. Tapi sekarang, naluri kedokteranku
    begitu tergelitik. Biarlah dia memerintah dalam hal-hal lain, tapi saat ini akulah dokter di kamar ini.

    "Holmes," kataku, "kau bukan seperti Holmes yang kukenal. Memang, orang yang sedang sakit itu sikapnya seperti anak kecil, jadi izinkan aku mengobatimu.
    Apakah kau suka atau tidak, aku ingin memeriksa penyakitmu, lalu mengupayakan pengobatan untukmu."

    Dia menatapku dengan pandangan sengit.

    "Kalau aku memang memerlukan dokter, kau

    188

    suka atau tidak, biarlah aku paling tidak memilih dokter yang kupercayai," katanya.

    "Kalau begitu, kau tak percaya padaku?"

    "Sebagai sahabat, jelas. Tapi kita hams menerima kenyataan, Watson, kau kan hanya dokter umum dengan pengalaman terbatas dan kualifikasi tak begitu tinggi.
    Aku sebenarnya tak suka mengatakan ini, tapi kau memaksaku melakukannya."

    Aku sangat tersinggung.

    "Kau tak berhak berkomentar seperti itu, Holmes. Itu malah menunjukkan kondisi pikiranmu yang sedang kacau. Tapi kalau memang kau tak percaya pada kemampuanku,
    aku pun tak memaksa. Biarlah kupanggilkan Sir Jasper Meek atau Penrose Fisher, atau siapa pun dokter terbaik di London. Pokoknya hams ada dokter yang memeriksamu,
    dan itu tak boleh dibantah lagi. Jangan kira aku akan berdiri saja di sini menyaksikanmu sekarat tanpa menolongmu atau memanggil orang lain untuk menolongmu—aku
    bukan orang macam begitu."

    "Maksudmu baik sekali, Watson," kata Holmes, suaranya antara isakan dan rintihan. "Perlukah ku tunjukkan kau tak tahu apa-apa tentang penyakitku ini? Apa
    yang kau tahu, coba, tentang demam Tapanuli? Apa yang kau tahu tentang penyakit hitam Formosa?"

    "Aku belum pernah mendengar tentang semua itu."

    "Di belahan bumi Timur, ada banyak jenis pe

    189

    nyakit yang aneh-aneh, Watson." Dia berhenti setiap habis mengucapkan sam kalimat sambil mengerahkan kekuatan untuk melanjutkan kalimat berikutnya. "Aku
    belajar banyak dalam beberapa riset akhir-akhir ini yang menyangkut aspek medis di samping aspek kriminal. Sehubungan dengan tulah aku lalu ketularan penyakit
    ini. Kau tak bisa berbuat apa-apa."

    "Mungkin tidak. Tapi aku kebetulan kenal dengan Dr. Ainstree, dokter terbaik untuk penyakit-penyakit tropis, dan sekarang dia berada di London. Tak ada
    gunanya membantah, Holmes. Aku mau memanggilnya sekarang juga."

    Dengan sigap aku melangkah ke pintu, namun betapa kagetnya aku. Dalam sekejap, bagaikan harimau yang menerkam mangsanya, orang yang terbaring sekarat itu
    melompat melewatiku. Lalu kudengar kunci pintu kamar diputar. Sesaat kemudian, dia terhuyung-huyung kembali ke tempat tidurnya, kelelahan, dan terengah-engah.

    "Kau tak akan bisa mengambil kunci yang kubawa ini, Watson. Kau terkumng di sini, sobatku. Nah, kau akan tetap di sini sampai aku men izinkanmu keluar.
    Tapi aku ingin menyenangkan hatimu." Semua ini dikatakannya dengan terpatah-patah, sambil menarik napas berat setiap kali selesai mengucapkan satu kalimat.
    "Kau hanya memikirkan kepentinganku itu kusadari. Aku akan menuruti nasihatmu, tapi biarlah kekuatanku pulih

    190

    dulu. Tidak sekarang, Watson. Ini bam jam empat. Kau boleh pergi jam enam nanti." "Kau gila, Holmes."

    "Cuma dua jam, Watson. Aku berjanji akan men izinkanmu keluar pada jam enam. Kau keberatan?"

    "Rasanya aku tak punya pilihan lain."

    "Benar, Watson. Terima kasih. Aku tak perlu bantuan untuk mengatur pakaianku. Tolong, jangan dekat-dekat. Nah, Watson, ada sam syarat lagi yang hams kaupenuhi.
    Kau boleh cari bantuan dokter, tapi bukan yang namanya kausebut tadi. Aku mau pilih sendiri."

    "Oh, silakan."

    "Kalimat pertama yang sangat masuk akal yang kauucapkan sejak kau masuk ke kamar ini, Watson. Tuh, ada buku-buku di sana. Aku capek sekali, aku sedang
    bertanya-tanya pada diriku sendiri bagaimana rasanya bila baterai mengalirkan listrik ke bahan nonkonduktor. Jam enam nanti, Watson, bam kita omong-omong
    lagi."

    Ternyata kesunyian di kamar ini tak berlangsung sampai pukul enam. Terjadi sesuatu yang sangat mengagetkanku. Aku sedang berdiri menatap tubuhnya yang
    terbaring diam di tempat tidur. Wajahnya hampir tertutup pakaiannya yang kedodoran, dan tampaknya dia tertidur. Karena aku tak berminat membaca buku-buku
    yang ditawarkannya, aku lalu berjalan pelan-pelan mengelilingi kamar itu sambil memperhatikan foto-foto penjahat

    191

    terkenal yang memenuhi dinding. Akhirnya, karena bosan dan gelisah, aku menuju perapian. Pipa rokok, kotak tembakau, alat suntik, pisau kecil, peluru,
    dan macam-macam barang lain berserakan di rak. Di antara barang-barang itu, ada kotak gading kecil berwarna hitam-putih dengan tutup yang bisa diputar.
    Kotak kecil itu bagus sekali, dan aku mengulurkan tangan untuk melihatnya dengan lebih saksama, ketika...

    Teriakannya sangat mengagetkanku—teriakan yang bagaikan berasal dari jalanan di bawah sana. Kulitku mengerut dan bulu kudukku berdiri. Ketika aku menoleh,
    kulihat wajahnya yang garang dan pandangan matanya yang liar. Aku berdiri terpaku; kotak kecil itu dalam genggamanku.

    "Kembalikan kotak itu! Kembalikan sekarang juga, Watson... kukatakan, sekarang juga!" Kepalanya kembali terjatuh ke bantal dan dia mengeluh lega ketika
    aku mengembalikan kotak itu ke atas rak perapian.

    "Aku tak suka orang lain menyentuh barang-barangku, Watson. Kau tahu itu, kan? Kau membuatku jengkel sekali. Kau, katanya dokter—tapi tindakanmu malah
    membuat orang sakit jadi gila. Duduk sajalah, ayo, dan biarkan aku istirahat sejenak."

    Insiden itu membuatku sangat terpukul. Reak' sinya yang kasar dan tak masuk akal, lalu kata-katanya yang menyakitkan hati, sungguh jauh berbeda dari biasanya.
    Semua ini justru menunjukkan

    192

    betapa pikirannya sudah jadi kacau. Memang banyak orang bisa mengalami gangguan pikiran, tapi alangkah sayangnya kalau yang mengalaminya justru orang yang
    otaknya sangat cemerlang. Aku duduk diam dengan sangat tersiksa, sampai waktu menunjukkan pukul enam. Dia pun ternyata memperhatikan jam, karena beberapa
    saat sebelum pukul enam dia mulai mengatakan esuatu masih dengan sikap kasar seperti sebelumnya.

    "Nah, Watson," katanya, "punya uang kecil?"

    "Punya."

    "Punya koin perak?". "Banyak."

    "Ada berapa yang nilainya setengah crownl" "Lima."

    "Ah, tak cukup! Tak cukup! Payah sekali kau ini, Watson! Tapi biarlah, coba kautamh lima koin itu di kantong bajumu. Lalu taruh uangmu yang lain di kantong
    celanamu sebelah kiri. Terima kasih. Dengan begitu kau jadi seimbang, kan?"

    Ini semua benar-benar ocehan gila. Dia menggigil, lalu bersuara lagi mirip isakan atau rintihan.

    "Sekarang nyalakan lampu gas, Watson. Tapi hati-hati, aku mau kaunyalakan separonya saja. Dengar kataku, Watson, hati-hati! Terima kasih, Watson. Ya, begitu!
    Jangan, jangan kaututup kerat jendelanya. Sekarang, tolong kautamh surat-surat dan kertas-kertas itu di meja dekat sini supaya aku bisa menjangkaunya.
    Terima kasih. Ambilkan beberapa barang dari rak perapian. Bagus, Watson!.

    193

    Ada jepitan gula di sana. Tolong angkat kotak gading kecil itu dengan jepitan itu. Taruh sini, dekat kertas-kertas ini. Bagus! Sekarang, kau pergi menjemput
    Mr. Culverton Smith di Lower Burke Street 13." U

    Sebenarnya saat itu aku tak ingin pergi menjemput siapa pun, karena Holmes jelas sedang menderita demam tinggi. Aku takut terjadi sesuatu yang membahayakannya
    kalau dia kutinggalkan. Tapi, justm kini dia ngotot untuk diperiksa orang yang namanya disebutkannya, sama ngototnya dengan ketika tadi dia menolak diperiksa
    siapa pun.

    "Aku belum pernah mendengar nama dokter itu," kataku.

    "Mungkin belum, Watson. Kau mungkin heran kalau tahu orang terbaik untuk mengobati penya-kitku ini bukanlah dokter, tapi pemilik perkebunan. Mr. Culverton
    Smith penduduk Sumatra yang sangat terhormat, yang sedang berkunjung ke London. Berhubung pernah terjadi penyebaran penyakit ini di perkebunannya, dan
    tak ada dokter yang mampu mengobati, dia lalu tumn tangan sendiri mempelajari penyakit ini, padahal konsekuensinya sangat berat. Orangnya sangat pintar,
    dan aku tak mau kau ke sana sebelum jam enam karena aku tahu dia tak ada di tempat. Kalau kau bisa membujuknya untuk datang kemari dan mengobatiku berdasarkan
    eksperimen yang sangat digemarinya, dia pasti bisa menolongku."

    Di sini aku menuliskan kata-kata Holmes dalam

    194

    satu rangkaian yang tak terputus. Sebenarnya, kata-kata itu diucapkannya dengan susah payah, terputus-putus, dan dengan penuh penderitaan. Selama aku menemaninya,
    keadaannya jadi semakin bumk. Bintik-bintik di wajahnya semakin nyata, matanya semakin merah, dan keringat dingin membasahi alisnya. Namun sikapnya tetap
    saja galak. Rasanya, sekalipun sudah menjelang ajal, dia akan tetap saja suka memerintah.

    "Katakan dengan tems terang kepadanya bagaimana keadaanku," dia berpesan. "Katakan padanya apa yang ada-di benakmu—bahwa aku sekarat. Sekarat dan demam
    tinggi. Benar, aku jadi tak mengerti kenapa seluruh lautan tak hanya berisi tiram, bukankah binatang itu begitu cepatnya berkembang biak? Ah, bicaraku
    kacau lagi! Aneh bagaimana otak mengontrol pikiran kita! Aku tadi lagi ngomong apa, Watson?"

    "Petunjuk untuk menghadapi Mr. Culverton Smith."

    "Ah, ya. Aku ingat sekarang. Hidupku tergantung padanya. Jadi mohonlah kepadanya, Watson. Kami memang bukan teman baik. Keponakan lelakinya, Watson...
    mati secara mengerikan, dan aku mencurigainya. Dia dendam padaku. Tolong, lembutkan hatinya, Watson. Mohonlah dengan sangat agar dia bersedia datang, apa
    pun caranya. Dia akan menyelamatkan nyawaku—hanya dia!"

    "Aku akan membawanya kemari, kalau perlu dengan paksa."

    195

    "Jangan begitu, bujuklah dia. Lalu kau pulang saja duluan. Pokoknya cari alasan agar kau tak kemari bersamanya. Jangan lupa, Watson, kau pasti tak akan
    mengecewakanku. Selama ini. kau tak pernah mengecewakanku. Tak heran ada musuh-musuh alamiah yang membatasi berkembang biaknya binatang-binatang di bumi
    ini. Aku dan kau, Watson, sudah melaksanakan tugas kita. Berikutnya biarlah dunia diterjang tiram-tiram, ya? Tidak, tidak, mengerikan sekali! Pokoknya
    katakan saja apa yang kauketahui."

    Kutinggalkan dia sementara dia tems mence-racau. Kunci kamarnya telah diserahkannya kepadaku, dan ini membuatku lega, karena paling tidak dia tak akan
    bisa mengunci dirinya dari dalam. Mrs. Hudson sedang menunggu sambil menangis gemetaran di gang. Ketika aku melangkah meninggalkan kamarnya, masih kudengar
    suara Holmes yang melengking tinggi sedang mengoceh tak menentu. Ketika aku sudah sampai di bawah dan sedang memanggil kereta, seseorang mendatangiku dalam
    kabut yang pekat.

    "Bagaimana keadaan Mr. Holmes, Sir?" tanyanya.

    Dia teman lama Holmes, Inspektur Polisi Morton dari Scotland^ Yard. Dia sedang tak bertugas dan mengenakan pakaian yang sangat santai.

    "Sakit parah," jawabku.

    Dia menatapku dengan sikap yang sangat aneh. Menumtku, dia malah tampak sangat gembira.

    196

    "Saya memang mendengar dia sedang sakit." Ada kereta datang, jadi aku pun meninggalkan orang itu.

    Lower Burke Street ternyata terletak di antara Notting Hill dan Kensington. Rumah-rumah di jalan itu bagus-bagus. Rumah yang kudatangi berkesan kuno dan
    anggun. Teralisnya dari besi, pintunya besar sekali, dan kuningannya berkilauan. Pintu dibuka seorang pelayan pria berwajah serius, yang kelihatan cocok
    sekali dengan penampilan keseluruhan mmah itu.

    "Ya, Mr. Culverton ada. Anda Dr. Watson. Baik, Sir, saya akan sampaikan kartu nama Anda kepadanya." .

    Nama dan gelarku ternyata tak menimbulkan kesan bagi Mr. Culverton Smith. Melalui pintu yang setengah terbuka, aku mendengar suara bernada marah dan tajam.

    "Siapa orang ini? Mau apa dia? Aduh, Staples, berapa kali sudah kukatakan agar aku jangan diganggu kalau sedang melakukan penelitian?"

    Dengan sabar pelayan itu beru aha menjelaskan.

    "Pokoknya, aku tak bisa menemuinya, Staples. Pekerjaanku tak bisa disela begitu saja. Aku tak ada di mmah, katakan saja begitu. Katakan padanya agar kembali
    ke sini besok pagi kalau dia memang perlu bertemu denganku."

    Lalu terdengar suara pelayan itu menggumamkan sesuatu.

    "Well, well, sampaikan sajalah pesanku. Dia bo-

    197

    Ieh kemari besok pagi, atau tidak usah sama sekali. Pekerjaanku tak bisa diganggu."

    Aku teringat pada sahabatku Holmes yang sedang sekarat, sambil menghitung menit-menit yang berlalu yang seharusnya bisa digunakan untuk menolongnya. Sekarang
    bukan waktunya untuk bersikap formal. Nyawanya tergantung pada kesigap-anku. Sebelum pelayan itu sempat minta maaf karena tuannya tak bisa menemuiku, aku
    berlari melewatinya dan masuk ke kamar tuannya.

    Sambil berteriak marah, seorang pria bangkit dari kursinya di samping perapian. Tampak olehku seraut wajah besar berwarna kekuningan, kasar, dan berminyak.
    Dagunya berlipat dan lebar. Matanya yang abu-abu menatapku dengan pandangan marah dan mengancam di balik bulu matanya yang terjuntai dan berwarna pirang.
    Kepalanya botak dan besar sekali, namun ketika kulihat bagian tubuhnya yang lain, aku terheran-heran karena ternyata dia berperawakan kecil kums. Bahu
    dan punggungnya melengkung seperti orang yang pernah mengidap sakit rakhitis pada masa kecilnya.

    "Ada apa ini?" teriaknya lantang. "Mau apa Anda nyelonong masuk begini? Kan saya sudah menyuruh pelayan saya mengatakan saya bersedia menemui Anda besok
    pagi!"

    "Maafkan saya," kataku, "tapi masalahnya tak bisa ditangguhkan lagi. Mr. Sherlock Holmes..."

    Mendengar aku menyebutkan nama sahabatku, pria kerempeng itu terperanjat. Kemarahan lang

    198

    sung menyusut dari wajahnya. Sikapnya menjadi serius dan waspada.

    "Anda disuruh kemari oleh Holmes?" tanyanya.

    "Ya, saya bam saja dari tempatnya."

    "Kenapa dia? Bagaimana keadaannya?"

    "Dia sakit parah. Itulah sebabnya saya datang kemari."

    Pria itu memp rsilakanku duduk, lalu dia sendiri duduk di kursinya. Saat itulah aku melihat wajahnya di kaca yang tergantung di atas rak perapian. Berani
    sumpah! Dia sedang tersenyum dengan sinis dan licik. Kutenangkan diriku, anggap saja itu disebabkan oleh kekagetannya atas berita yang kusampaikan. Sekejap
    kemudian dia kembali menghadap ke arahku dengan sikap serius.

    "Saya ikut prihatin mendengarnya," katanya. "Saya pernah berurusan dengan Mr. Holmes, dan saya sangat menghargai kemampuan dan sikapnya. Dia itu ahli kriminal
    amatir, sedangkan saya ahli penyakit amatir. Penjahat adalah objeknya, sementara bagi saya kuman-kuman. Di sanalah penjara saya," lanjutnya sambil menunjuk
    deretan botol dan stoples yang berjejer di sebuah meja di ujung mangan. "Di antara jeli-jeli yang sedang saya biakkan itu, terdapat bakteri-bakteri yang
    sangat mematikan."

    "Justru karena pengetahuan Anda yang luar biasa inilah Mr. Holmes ingin menemui Anda. Dia sangat memuji kehebatan Anda. Dan menurutnya, hanya Anda yang
    bisa menolongnya."

    199

    Pria itu terkejut, sehingga topinya terjatuh ke lantai.

    "Kenapa?" tanyanya. "Kenapa Mr. Holmes mengira hanya saya yang bisa menolongnya?"

    "Karena hanya Anda yang banyak tahu soal penyakit-penyakit dari Timur."

    "Tapi bagaimana dia bisa menduga kalau penyakitnya itu berasal dari Timur?"

    "Karena dalam menjalankan salah satu penyelidikannya, dia hams bergaul dengan pelaut-pelaut Cina di pelabuhan."

    Mr. Culverton Smith tersenyum ramah dan memungut topinya.

    "Oh, begitu?" katanya. "Saya yakin masalahnya tak terlalu serius sebagaimana yang Anda takutkan. Sudah berapa lama dia sakit?"

    "Kira-kira tiga hari."

    "Apakah* demamnya tinggi sampai dia mengigau?"

    "Kadang-kadang."

    "Tut, tut! Kalau begitu cukup serius. Sungguh tak berperikemanusiaan kalau saya tak menangkapnya. Saya sebetulnya tak suka kalau pekerjaan saya terganggu,
    Dr. Watson, tapi kali ini jelas kekecualian. Saya akan datang ke sana sekarang juga bersama Anda."

    Aku teringat pesan Holmes.

    "Saya masih ada urusan lain," kataku.

    "Baiklah. Kalau begitu biar saya ke sana sendiri. Saya punya alamatnya kok. Percayalah, saya

    200

    akan sampai di sana paling lambat setengah jam lagi."

    Hatiku pedih ketika aku memasuki kamar Holmes kembali. Aku khawatir jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang tak kuharapkan sementara aku pergi meninggalkannya.
    Betapa leganya aku karena ternyata keadaannya malah membaik. Penampilannya segar sebagaimana biasanya, tak tampak tanda-tanda bahwa beberapa saat yang
    lalu dia sampai mengigau macam-macam. Suaranya memang masih lemah, tapi malah lebih galak dan tajam dari biasanya.

    "Well, kau bertemu dengannya, Watson?"

    "Ya, dia akan segera kemari."

    "Hebat, Watson! Hebat! Kau ini utusan paling hebat di selumh dunia."

    "Dia tadinya mau kemari bersamaku."

    "Tak bisa begitu, Watson. Jelas tak mungkin. Apakah dia tanya keadaanku?"

    "Aku bilang kau ketularan penyakit dari orang-orang Cina di daerah West End."

    "Tepat sekali! Well, Watson, sebagai sahabat kau telah banyak membantuku. Sekarang kau boleh mengundurkan diri."

    "Aku mau menunggu supaya bisa mendengarkan pendapatnya, Holmes."

    "Tentu saja. Tapi menurutku pendapatnya akan lebih mudah diutarakannya kalau kami berdua

    201

    saja. Di belakang ranjangku masih ada tempat, Watson." "Astaga, Holmes!"

    "Maaf, tak ada pilihan lain, Watson. Dalam kamar ini tak ada tempat persembunyian, dan memang sebaiknya begitu supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi
    di belakang ranjang masih bisa, Watson."

    Tiba-tiba dia terduduk kembali di tempat tidurnya dengan ekspresi kaku. "Kudengar suara kereta, Watson. Cepatlah, sobat, kalau kau sungguh-sungguh mengasihiku!
    Dan jangan ribut, apa pun yang terjadi—apa pun yang terjadi, kaudengar? Jangan bicara apa-apa! Jangan bergerak! Cuma boleh ngu-ping."

    Dalam sekejap kekuatannya hilang, gaya bicaranya yang suka memerintah dan memaksa berubah menjadi rintihan pelan orang yang sedang demam tinggi.

    Dari tempat persembunyian yang terpaksa ku-tempati, aku mendengar langkah-langkah kaki di tangga, lalu pintu kamar Holmes dibuka dan ditutup kembali. Aku
    heran karena tak mendengar apa-apa selama beberapa saat, kecuali tarikan napas Holmes yang berat. Tentunya sang tamu sedang berdiri di dekat tempat tidur
    Holmes sambil menatapnya. Akhirnya kesunyian yang aneh itu terkuak.

    "Holmes!" teriaknya. "Holmes!" Suaranya keras seperti sedang membangunkan orang tidur. "Kau

    202

    tak mendengarku, Holmes?" Lalu terdengar dia menggoyang-goyang bahu si sakit dengan keras.

    "Andakah itu, Mr. Smith?" bisik Holmes. "Saya tak berani berharap Anda mau datang kemari."

    Tamu itu tertawa.

    "Tentu saja, Holmes." katanya, "tapi kaulihat sendiri, aku di sini. Air tuba dibalas dengan air susu, Holmes. Air tuba dibalas dengan air susu!"

    "Anda baik sekali—baik hati sekali. Saya sangat memerlukan pengetahuan khusus Anda."

    Tamu kami tertawa sinis.

    "Memang. Untungnya kaulah satu-satunya orang di London yang memerlukan pengetahuanku. Kau tahu penyakit apa yang kauderita, Holmes?"

    "Penyakit yang sama," kata Holmes.

    "Ah! Kau tahu gejalanya, ya?"

    "Tahu benar."

    "Well, aku tak terkejut melihat keadaanmu, Holmes. Aku tak terkejut kalau memang itu yang kauderita. Kabar buruk bagimu, kalau begitu. Victor meninggal
    pada hari keempat, padahal dia lebih muda dan kuat dibandingkan dirimu. Seperti kaukatakan, aneh sekali dia bisa tertular penyakit Asia itu di jantung
    kota London—penyakit yang justru sedang kupelajari. Kebetulan yang benar-benar aneh, memang cerdik sekali kau dapat melihat hal itu, Holmes. Tapi salah
    besar kalau kau menimpakan kecurigaan padaku."

    "Saya tahu Andalah yang membunuh pemuda itu!"

    203

    "Oh, ya? Well, kau toh tak bisa membuktikannya. Tapi apa maumu sebenarnya—menyebarkan berita-berita tentang aku, lalu merangkak minta bantuanku waktu
    kau dalam kesulitan. Permainan macam apa ini, heh?"

    Aku mendengar napas sahabatku yang memburu. "Air! Saya minta air!" pintanya tersendat.

    "Tak lama lagi ajalmu akan tiba, teman, tapi sebelumnya aku perlu bicara padamu. Itulah sebabnya kuambilkan air minum ini. Nih, jangan sampai tumpah! Nah,
    begitu. Apakah kau bisa mengerti apa yang kukatakan?"

    Holmes mengerang kesakitan.

    "Tolonglah saya. Yang sudah, biarlah berlalu," rintih Holmes. "Saya akan melupakan semuanya— saya janji. Tolong obati saya, dan saya akan melupakan semuanya."

    "Melupakan apa?"

    "Kematian Victor Savage. Secara tak langsung telah Anda akui Andalah pembunuhnya. Saya akan melupakan itu

    "Terserah kau mau melupakan atau mengingatnya. Kau toh tak mampu bersaksi lagi. Kau akan segera menghadap pengadilan yang lain, Holmes yang budiman, aku
    yakin akan hal itu Tak jadi soal bagiku kau tahu bagaimana keponakanku menemui ajalnya. Kita tidak membicarakan dia, tapi dirimu."

    "Ya, ya."

    "Orang yang datang ke tempatku—aku lupa 204

    namanya—mengatakan kau ketularan penyakit ini di East End di antara para pelaut."

    "Hanya itu penyebab yang masuk akal."

    "Kau bangga akan kecerdasanmu, Holmes, ya, kan? Kaupikir kau cerdik? Tapi kali ini kau berhadapan dengan orang yang lebih cerdik darimu. Sekarang, coba
    kauingat-ingat lagi, Holmes. Tidak mungkinkah ada cara penularan lain?"

    "Tidak. Saya tak bisa berpikir lagi. Demi Tuhan, tolonglah saya!"

    "Ya, aku akan menolongmu. Aku akan menolongmu agar kau mengerti bagaimana keadaanmu saat ini dan bagaimana kau bisa jadi begini. Kau perlu tahu ini sebelum
    ajalmu tiba."

    "Tolong beri obat untuk meringankan rasa sakit saya."

    "Sakit, ya? Ya, para buruh itu biasa menjerit-jerit menjelang ajal mereka. Rasanya seperti kejang-kejang, kan?"

    "Ya, ya, kejang-kejang."

    "Pokoknya kau masih bisa mendengar kata-kataku. Sekarang dengarkan baik-baik! Coba kauingat-ingat peristiwa yang terjadi sebelum kau merasakan gejala-gejala
    penyakit ini?"

    "Tidak, tidak, tak ada apa-apa."

    "Coba pikir lagi."

    "Saya terlalu sakit... tak mampu berpikir." "Kalau begitu aku akan menolongmu. Apakah ada kiriman via pos untukmu?" "Lewat pos?"

    205

    "Paket, mungkin."

    "Saya mau pingsan—Saya mau berangkat...!"-» "Dengar, Holmes!"

    Kudengar dia mengguncang-guncang temanku yang sedang sekarat, dan rasanya aku sudah tak tahan lagi untuk tetap bersembunyi.

    "Kau hams mendengarkan aku. Kau ingat sebuah kotak—terbuat dari gading? Datangnya hari Rabu yang lalu. Kaubuka kotak itu, kan? Ingat?"

    "Ya, ya. Saya buka kotak itu. Di dalamnya ada semacam pegas yang tajam! Lelucon apa itu...?"

    "Itu bukan lelucon. Nyawamulah bayarannya. Kau bodoh, kau mau tahu saja umsan orang, dan sekarang kena batunya kau! Kalau saja kau tak usil menggangguku,
    aku tak akan menyakitimu."

    "Saya ingat," Holmes tersengal. "Pegas itu! Berdarah. Kotaknya... ada di meja."

    "Ya, betul, ini dia! Aku akan membawanya pulang dan lenyaplah sudah bukti terakhir yang kau an-cari Sekarang kau tahu yang sebenarnya, Holmes, akulah yang
    membunuhmu, dan kau boleh membawa rahasia itu ke liang kubur. Kau terlalu banyak tahu tentang kematian Victor Savage, jadi sebaiknya kau menyusul dia.
    Aku akan duduk di sini dan melihatmu menyongsong ajal."

    Holmes membisikkan sesuatu. Suaranya sudah sangat lemah.

    "Apa?" kata Smith. "Nyalakan lampu gas? Ah, sudah mulai malam rupanya. Ya, akan kunyalakan, supaya aku bisa melihatmu dengan lebih jelas."

    206

    Dia menyeberangi kamar itu dan menyalakan lampu.

    "Ada permintaan lain lagi, sobat?" "Korek api dan rokok!"

    Aku hampir saja terlonjak. Suara Holmes normal kembali! Masih agak lemah, mungkin, tapi aku kenal betul suara itu. Sunyi beberapa saat, kuperkirakan Culverton
    Smith sedang berdiri kaku saking terkejutnya, sambil menatap si sakit.

    "Apa-apaan ini?" akhirnya kudengar dia berkata, dengan suara kering dan serak.

    "Kalau mau berhasil memainkan suatu peran, kita hams sungguh-sungguh menjalaninya," kata Holmes. "Percayalah, selama tiga hari aku tak makan dan minum,
    sampai kau berbaik hati meng-ambilkanku air. Tapi yang paling menggangguku ialah puasa rokok itu. Ah, ini ada rokok."

    Kudengar suara orang memantik korek api. "Ah, aku merasa jauh lebih baik. Halloa! Halloa! Ada langkah kaki seorang teman rupanya!"

    Memang, terdengar langkah-langkah kaki di luar kamar. Lalu pintu kamar Holmes dibuka, dan masuklah Inspektur Morton.

    "Semuanya berlangsung sesuai rencana. Inilah orang yang Anda cari-cari," kata Holmes.

    Inspektur polisi itu, sebagaimana biasa, membacakan hak-hak tertuduh.

    "Saya menangkap Anda dengan tuduhan pembunuhan atas seseorang bernama Victor Savage," katanya kemudian.

    207

    "Dan Anda bisa menambahkan dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap seseorang bernama Sherlock Holmes," komentar temanku sambil tergelak. "Saya yang
    tadi terbaring sakit, Inspektur, malah tak usah susah-susah mengirimkan sinyal kepada Anda. Mr. Culverton-lah yang menyalakan lampu gas itu. Ngomong-ngomong,
    tawanan Anda itu memiliki kotak kecil di kantong kanan jasnya. Sebaiknya diamankan saja. Terima kasih. Anda perlu menyimpan benda itu baik-baik, atau titipkan
    saja di sini. Nanti boleh diambil kalau diperlukan di pengadilan."

    Tiba-tiba terdengar suara borgol dibuka, diikuti suara besi membentur sesuatu lalu teriakan kesakitan.

    "Anda hanya menyakiti diri sendiri," kata sang inspektur. "Berdiri saja dengan tenang, bisa tidak?" Lalu terdengar suara borgol dikunci.

    "Jebakan yang jitu!" bentak si tawanan dengan nyaring. "Kaulah yang akan dipenjarakan, Holmes, bukan aku. Dia yang memintaku datang kemari untuk mengobatinya.
    Aku kasihan padanya, maka aku datang. Sekarang dia pasti akan berpura-pura aku telah mengatakan sesuatu yang dikarang karangnya sendiri untuk membenarkan
    kecurigaannya yang gila. Kau boleh berbohong semaumu, Holmes. Kita lihat saja kata-kata siapa yang dapat dipercaya."

    "Astaga!" teriak Holmes. "Aku betul-betul lupa. Sobatku Watson, aku mohon beribu-ribu maaf.

    208

    Aku sampai lupa akan kehadiranmu! Kau tak perlu kuperkenalkan kepada Mr. Culverton, kan? Soalnya kau pernah bertemu dengannya. Apakah ada kereta di bawah?
    Aku nanti menyusul setelah ganti pakaian. Kehadiranku mungkin dibutuhkan di kantor polisi."

    "Aku sangat membutuhkan ini," kata Holmes sambil menenggak segelas anggur merah Prancis dan mengunyah beberapa potong biskuit. Semua itu dilakukannya sambil
    berganti pakaian. "Tapi, kebiasaan makanku memang tak teratur, sehingga berpuasa seperti itu tak terlalu berat bagiku. Yang paling penting, aku hams memberi
    kesan kepada Mrs. Hudson bahwa aku benar-benar sakit payah, karena dia akan melaporkannya padamu, dan kau pada gilirannya akan lapor pada pria itu. Kau
    tak marah, kan, Watson? Aku tahu kau tak punya bakat akting, dan seandainya kau tahu rahasiaku sebelumnya, kau tak akan berhasil. Semua ini kan kulakukan
    untuk memancing kedatangannya. Menyadari sifatnya yang pendendam, aku yakin dia akan datang, agar dapat berbangga atas hasil karyanya."

    "Tapi penampilanmu, Holmes—wajahmu benar-benar mengerikan!"

    "Puasa total selama tiga hari penuh jelas tak membuat mpaku jadi tampan, Watson. Tambahan pula, rias wajah dapat membantu. Dengan mengoleskan vaselin di
    dahi, belladonna di mata, pemerah di tulang pipi, dan lilin di bibir, aku men

    209

    dapatkan efek yang kukehendaki. Ngoceh sedikit tentang koin, tiram, atau hal lain yang aneh-aneh akan membuat orang mengira aku mengigau karena demam tinggi."

    "Tapi kenapa kau tak mengizinkanku mendekatimu? Kau toh tak akan menularkan apa-apa?"

    "Alasannya jelas, kan, sobatku Watson? Kaukira aku tak menghargai kemampuanmu? Sebagai dokter yang andal, apakah kau akan percaya aku sekarat kalau ternyata
    denyut jantung dan suhu badanku normal? Dalam jarak tiga setengah meter, aku bisa mengelabuimu. Kalau tidak, siapa yang akan membawa Smith ke dalam jangkauan
    tanganku?

    "Tidak, Watson, akn tak menyentuh kotak itu. Dari samping saja sudah kelihatan pegas yang tajam bagaikan gigi ular berbisa, yang akan langsung menyengatmu
    begitu kaubuka kotak itu. Aku berani mengatakan, melalui alat semacam itulah pemuda Savage yang malang menemui ajalnya. Kau tentu tahu aku selalu waspada
    kalau menerima kiriman, apalagi paket. Tapi aku sengaja berpura-pura» supaya dalam kegembiraannya karena rencananya berhasil, Smith membuka rahasia. Ternyata
    aku memang berhasil mendapatkan pengakuannya. Terima kasih, Watson, atas bantuanmu.

    "Kini tolong aku mengenakan mantel. Begitu urusan di kantor polisi selesai, rasanya kita perlu makan besar di Restoran Simpson's."

    210

    Misteri Hilangnya Lady Frances Carfax

    "Kenapa hams model Turki?" tanya Sherlock Holmes sambil menatap sepatu botku. Aku sedang duduk santai di kursi malas, sehingga kakiku yang terjulur menarik
    perhatiannya yang selalu usil. t "Model Inggris kok," jawabku heran. "Kubeli di Toko Sepatu Latimer's di Oxford Street."

    Holmes tersenyum sabar, dengan ekspresi seolah dia sudah capek menghadapiku.

    "Maksudku mandi!" katanya. "Mandi! Buat apa mahal-mahal mandi ala Turki, sedangkan dengan cara biasa juga tubuh sudah segar?"

    Beberapa hari terakhir ini aku terserang rematik, dan aku merasa tua Mandi ala Turki bisa menjadi obat yang menyegarkan dan membersihkan peredaran darah.

    "Omong-omong, Holmes," tambahku, "aku yakin ada hubungan antara sepatu botku dan mandi ala Turki, dan aku akan sangat berterima kasih kalau kau bersedia
    menjelaskannya."

    "Penjelasannya sederhana sekali, Watson," kata

    211

    Holmes sambil mengejapkan matanya. "Kesimpulan yang kudapat masih tergolong tingkat yang paling mudah seperti kalau aku menanyakan dengan siapa kau naik
    kereta tadi pagi."

    "Pengandaian kan bukan penjelasan," kataku dengan agak mendongkol.

    "Hidup Watson! Protes yang sangat meyakinkan dan logis. Coba kulihat, hal-hal apa yang kudapatkan? Yang paling akhir dulu—soal kereta. Perhatikan bercak
    cipratan air di lengan kiri dan bahu jasmu. Kalau kau tadi duduk di tengah, kau tak akan kecipratan. Kalaupun kecipratan, pasti bekasnya akan berpola simetris.
    Jadi, jelas kau duduk di salah satu sisi. Karenanya, pasti ada orang lain yang sekereta denganmu."

    "Penjelasannya ternyata sederhana, ya."

    "Memang."

    "Tapi mengenai sepatu bot dan mandi ala Turki."

    "Itu juga mudah. Kau punya gaya khas kalau mengikat tali sepatu. Kulihat kali ini gayanya lain, karena ada dua lipatan simpul. Jadi pasti orang lainlah
    yang telah melepaskan dan mengencangkan ikatan itu kembali. Bisa saja tukang reparasi sepatu, tapi rasanya tak mungkin karena sepatumu masih bam. Jadi
    kemungkinannya tinggal bujang di tempat mandi ala Turki. Tak masuk akal, ya? Tapi, lepas dari semua itu, aku punya suatu maksud yang berhubungan dengan
    mandi ala Turki."

    "Apa gerangan?"

    212

    "Kau bilang, kau perlu mandi ala Turki untuk pembahan suasana. Bagaimana kalau aku mengusulkan pembahan suasana yang betul-betul asyik? Apakah kau berminat
    pergi ke Lausanne, sobatku Watson, naik pesawat terbang kelas sam dan semua pengeluaran ditanggung?"

    "Hebat! Tapi ada urusan apa?"

    Holmes menyandarkan punggungnya di kursi malas, dan mengambil buku catatan dari kantong bajunya.

    "Salah sam jenis manusia yang paling berbahaya di dunia ini," katanya, "adalah wanita yang menganggur dan tak punya teman. Dia bisa jadi makhluk yang sangat
    berguna di sam pihak, tapi, di pihak lain, dia sering menjadi pemicu terjadinya tindak kriminal. Dia tak berdaya. Dia suka berpindah-pindah. Dia punya
    sarana bepergian dari sam negara ke negara lain, dan dari sam hotel ke hotel lain. Dia bisa lenyap begitu saja di sekian banyak losmen dan pondokan. Dia
    bagaikan ayam yang kebingungan di dunia yang penuh serigala. Kalau diterkam, dia tak akan mampu mengelak. Aku khawatir telah terjadi sesuatu yang mengerikan
    terhadap Lady Frances Carfax."

    Aku lega ketika pembicaraannya tiba-tiba beralih dari sesuatu yang sangat umum ke sesuatu yang khusus. Holmes meneliti catatannya.

    "Lady Frances," lanjutnya, "adalah satu-satunya keturunan langsung almarhum Earl of Rufton. Tanah dan gedung milik bangsawan itu, kalau kau

    213

    masih ingat, semuanya jatuh ke ahli waris pria. Dia kebagian koleksi perhiasan perak buatan Spanyol, dan berlian yang sangat disukainya, sehingga dia tak
    mau menyimpan benda itu di bank. Dia membawa perhiasannya ke mana pun dia pergi. Lady Frances agak pemurung namun cantik; usianya menjelang setengah baya.
    Hidupnya sekarang agak telantar, padahal dua puluh tahun yang lalu dia masih menjadi anggota keluarga besar bangsawan."

    "Apa yang terjadi padanya?"

    "Ah, apa yang terjadi pada Lady Frances? Dia masih hidup atau sudah mati? Itulah masalah kita. Dia memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, dan selama empat
    tahun, salah satu kebiasaannya ialah setiap dua minggu sekali menulis surat kepada Miss Dobney, bekas gum lesnya yang sudah pensiun dan kini tinggal di
    Camberwell. Miss Dobney inilah yang datang menemuiku. Sudah hampir lima minggu dia tak menerima kabar dari Lady Frances. Surat terakhirnya dikirim dari
    Hotel National di Lausanne. Lady Frances tampaknya sudah meninggalkan hotel itu, tapi dia tak memberitahukan ke mana dia pergi. Sanak familinya mencemaskannya,
    dan karena mereka sangat kaya, biaya tak jadi masalah bagi mereka asalkan kita bisa menjernihkan masalah ini."

    "Apakah Miss Dobney merupakan satu-satunya sumber informasi? Tentunya Lady Frances tak hanya menulis surat kepadanya, kan?"

    214

    "Ada sam pihak lain yang pasti sering dikirimi surat oleh Lady Frances, Watson, yaitu bank tempatnya membuka rekening. Wanita-wanita yang hidup sendirian
    kan perlu menghidupi dirinya, dan buku rekening banknya bisa menjadi buku harian yang padat informasi. Dia punya rekening di Bank Silvester's. Aku sudah
    memeriksa rekeningnya. Cek kedua terakhir menunjukkan pembayaran di Lausanne. Jumlahnya sangat besar, sehingga mungkin saat ini dia membawa uang tunai
    dalam jumlah yang lumayan. Sesudah itu hanya ada satu cek yang dikeluarkannya."

    "Untuk siapa, dan di mana?"

    "Untuk Miss Marie Devine. Tak ketahuan di mana cek itu dikeluarkan. Cek itu diuangkan di Credit Lyonnais di Montpelier kira-kira tiga minggu yang lalu.
    Jumlahnya lima puluh pound."

    "Dan siapakah Miss Marie Devine itu?"

    "Itu pun sudah kuselidiki. Miss Marie Devine mantan pelayan Lady Frances Carfax. Belum jelas kenapa dia memberinya cek ini. Tapi aku yakin penyelidikan-penyelidikan
    yang kaulakukan akan menjernihkan hal itu."

    "Penyelidikan-penyelidikan yang fcwlakukan?"

    "Maksudku kaulah yang akan pergi ke Lausanne untuk melakukan penyelidikan—sekaligus memulihkan kesehatanmu. Kau tahu aku tak mungkin meninggalkan London,
    sementara Tuan dan Nyonya Abraham yang sudah tua menghadapi teror yang mengancam jiwa mereka. Tambahan pula,

    215

    sebaiknya aku memang tidak ke luar negeri. Scotland Yard akan sunyi tanpa kehadiranku, dan para penjahat akan bersorak kegirangan kalau aku pergi. Jadi
    kau pergilah, sobatku Watson, dan kalau kau butuh berkonsultasi denganku, silakan kirim telegram. Akan kunantikan telegrammu siang dan malam."

    Dua hari kemudian, aku sudah berada di Hotel National di Lausanne. Aku diterima dengan sangat ramah oleh manajernya yang sangat terkenal, M. Moser. Dia
    memberitahuku bahwa Lady Frances pernah tinggal di situ selama beberapa minggu-Wanita itu sangat disukai orang-orang yang ditemuinya. Usianya sekitar empat
    puluh. Dia masih cantik, dan melihat penampilannya, dia pastilah sangat cantik pada masa mudanya. M. Moser tak tahu-menahu tentang perhiasan berharga yang
    dimiliki wanita itu, tapi menumt para pelayan hotel, dia membawa koper yang sangat berat yang selalu dikuncinya dengan saksama. Marie Devine, pelayan wanitanya,
    juga populer. Dia bertunangan dengan kepala pelayan di hotel itu sehingga tak susah mendapatkan alamatnya. Dia tinggal di Rue de Trajan Nomor 11, Montpelier.
    Aku mencatat semua ini, dan merasa Holmes pun tak lebih cekatan dalam mengumpulkan informasi dibandingkan dengan apa yang kini kudapatkan.

    Ada satu celah yang masih gelap. Aku tak mendapatkan gambaran mengapa wanita itu tiba

    216

    tiba meninggalkan hotel. Dia senang tinggal di Lausanne, dan tampaknya dia sebenarnya bermaksud tinggal di kamar hotelnya yang mewah dan menghadap ke danau
    sepanjang musim itu. Kenyataannya, dia tiba-tiba pergi, dan memberitahukan rencananya kepada pihak hotel hanya sehari sebelumnya, padahal dia sudah membayar
    penuh sewa kamar untuk minggu itu. Hanya Jules Vibart, tunangan pelayan wanita itu yang punya dugaan. Dia menghubungkan kepergian Lady Frances dengan kehadiran
    seorang pria jangkung berkulit gelap dan berjanggut di hotel itu sehari atau dua hari

    sebelumnya. ljKm£W^ £0v^^uM^

    "Menakutkan... sangat menakutkan!" teriak Jules Vibart. Pria itu menyewa kamar di kota ini. Dia terlihat pernah berbincang-bincang serius dengan Lady Frances
    di jalanan di samping danau. Lalu dia menelepon Lady Frances, tapi wanita itu tak mau menemuinya. Pria itu orang Inggris, tapi tak ada yang tahu namanya.
    Sesudah itu Lady Frances langsung meninggalkan hotel. Jules Vibart, dan yang lebih penting—tunangannya, mengira kepergian Lady Frances disebabkan telepon
    itu. Hanya Jules tak mengungkapkan sam hal, yaitu mengapa Marie berhenti bekerja. Dia tak mau atau tak bisa menjelaskan. Kalau mau tahu, aku hams menemui
    Marie di Montpelier.

    Begitulah akhir bagian pertama penyelidikanku. Bagian kedua adalah mencari tahu ke mana perginya Lady Frances setelah meninggalkan Lau

    217

    sanne. Tampaknya tempat tujuan Lady Frances sengaja dirahasiakan, sehingga aku jadi lebih yakin dia berniat menghilangkan jejaknya dari incaran seseorang.
    Kupikir.itu pulalah sebabnya kopernya tak diberi label. Wanita itu bersama kopernya tiba di Baden dengan mengambil jalan memutar—informasi ini kudapatkan
    dari manajer kantor Cook's setempat. Aku pun berangkat ke Baden setelah mengirim kabar tentang perkembangan penyelidikanku kepada Holmes, dan menerima
    jawaban darinya dalam bentuk pujian yang bernada humor.

    Di Baden, aku tak mengalami kesulitan mencari jejak Lady Frances. Dia sempat menginap di Eng-lischer Hof selama dua minggu. Ketika itulah dia berkenalan
    dengan seorang misionaris Amerika Selatan, Dr. Shlessinger, dan istrinya. Sebagaimana umumnya wanita-wanita yang kesepian, Lady Frances menemukan penghiburan
    dan kesibukan dalam kegiatan agama. Dr. Shlessinger sangat simpatik, pengabdiannya sepenuh hati, dan dia bam saja sembuh dari sakit parah yang dideritanya
    sementara menjalankan pelayanannya. Semuanya ini sangat menggugah hati Lady Frances. Dia menolong Mrs. Shlessinger merawat misionaris yang dalam proses
    penyembuhan itu. Dr. Shlessinger sedang membuat peta Tanah Suci, dengan referensi khusus tentang Kerajaan Midian yang ditulisnya dalam bentuk monografi.
    Akhirnya, ketika kesehatannya sudah pulih, dia dan istrinya kembali ke London, dan Lady Frances pun ikut. Ini terjadi

    218

    tiga minggu yang lalu, dan sejak itu manajer hotel tak mendengar berita apa-apa lagi tentang dia. Pelayan wanita Lady Frances, Marie, telah meninggalkan
    hotel itu beberapa hari sebelumnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia mengatakan kepada pelayan-pelayan yang lain bahwa dia telah berhenti bekerja. Dr. Shlessinger
    melunasi biaya rombongan itu sebelum dia berangkat.

    "Omong-omong," kata manajer itu sebagai penutup, "Anda bukan satu-satunya teman Lady Frances Carfax yang bertanya. Kira-kira seminggu yang lalu, ada seorang
    pria yang kemari."

    "Anda tahu siapa namanya?"

    "Tidak, tapi dia orang Inggris, walaupun sosoknya agak tak biasa."

    "Menakutkan?" tanyaku,* teringat pada penuturan kepala pelayan di Lausanne.

    "Tepat sekali. Pria itu tinggi besar, berjanggut, dan berkulit gelap. Kelihatannya dia lebih cocok berada di peternakan daripada di hotel bagus. Menumt
    saya, orangnya kasar dan kejam."

    Misteri yang kutangani mulai terkuak dengan sendirinya. Lady Frances, wanita yang baik dan saleh, ternyata dikejar-kejar seorang lelaki jahat yang tak
    kenal menyerah. Jelas wanita itu sangat ketakutan; kalau tidak, dia tak akan melarikan diri dari Lausanne. Tapi orang yang mengejarnya tetap membuntutinya.
    Cepat atau lambat, orang itu akan berhasil menemukannya. Apakah dia sudah menemukannya? Itukah sebabnya tak ada kabar berita

    219

    lagi tentang Lady Frances? Dapatkah kawan-kawannya—suami-istri misionaris itu—melindunginya dari ancaman pria bertampang kejam itu? Maksud dan rencana
    apa yang terselubung di balik pengejaran yang tak henti-hentinya ini? Inilah masalah yang hams kupecahkan.

    Aku mengirim telegram kepada Holmes mengabarkan bahwa aku telah menemukan akar permasalahannya. Holmes membalas telegramku, memintaku memberikan penjelasan
    tentang telinga kiri Dr. Shlessinger. Guyonan Holmes memang kadang-kadang aneh, jadi aku tak mengacuhkan permintaannya. Lagi pula telegramnya bam kuterima
    di Montpelier, ketika aku sibuk melacak mantan pelayan Lady Frances.

    Aku tak mengalami kesulitan menemukan gadis itu dan dia pun langsung menceritakan semua yang ingimkuketahui. Gadis itu jelas pelayan yang setia. Dia berhenti
    bekerja karena yakin nyonyanya telah mendapatkan teman seperjalanan yang baik, dan karena dia sendiri akan segera menikah. Dia mengakui sang nyonya memang
    agak jengkel kepadanya ketika mereka berada di Baden, dan pernah sekali Lady Frances menanyainya macam-macam seolah-olah curiga atas kejujurannya. Hal
    ini malah membuatnya merasa lebih ringan ketika hams meninggalkan sang nyonya. Lady Frances memberinya lima puluh pound sebagai hadiah pernikahan. Seperti
    aku, Marie juga sangat curiga kepada orang asing yang membuat nyonyanya per

    220

    gi dari Lausanne. Dia melihat sendiri ketika pria itu mencengkeram pergelangan tangan Lady Frances di pinggir danau. Pria itu bertampang kejam dan mengerikan.
    Dia yakin ketakutanlah yang mendorong Lady Frances menerima tawaran suami-istri Shlessinger untuk bersama-sama berangkat ke London. Nyonyanya tak pernah
    membicarakan hal itu, tapi dari gerak-geriknya jelas terlihat dia gelisah. Kisah gadis itu sampai di sini, ketika tiba-tiba dia berdiri dari kursinya.
    Ekspresinya kaget dan takut.

    "Lihat!" teriaknya. "Bajingan itu ada di sini!"

    Lewat jendela mang tamu, aku melihat seorang pria berkulit gelap yang tinggi besar, dengan janggut hitam yang kasar. Dia berjalan pelan-pelan sambil melongok
    ke nomor-nomor mmah di sekitarnya. Rupanya dia juga sedang melacak mantan pelayan Lady Frances. Dengan spontan aku berlari ke luar.

    "Anda orang Inggris, kan?" tanyaku.

    "Kalau ya, memangnya kenapa?" tanyanya dengan pandangan marah yang memancarkan kekejaman. *

    "Boleh tahu nama Anda?"

    "Tidak! Tidak boleh," jawabnya ketus.

    Situasinya tak menguntungkan, tapi jalan pintas kadang-kadang besar manfaatnya.

    "Di mana Lady Frances Carfax?" tanyaku.

    Dia menatapku dengan kaget.

    221

    â–

    "Kauapakan dia? Mengapa kau mengejarnya? Aku minta jawaban sekarang juga," perintahku.

    Pria itu menggeram dan menerkamku bagaikan singa. Aku sudah sering berkelahi, tapi cengkeraman pria itu sekuat besi dan kemarahannya benar-benar memuncak.
    Tangannya mencekik leherku dan aku hampir pingsan dibuatnya. Tiba-tiba seorang buruh Prancis berkemeja bim berlari terbirit-birit ke arahku dari restoran
    di seberang jalan. Ia memukulkan tangkarnya ke lengan pria yang menyerangku, sehingga aku terbebas dari cekikannya. Dia terperangah dan ragu-ragu sejenak,
    lalu dengan penuh kemarahan meninggalkanku, masuk ke mmah yang bam saja kukunjungi. Aku menoleh untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah
    menolongku, yang berdiri tak jauh dari-ku.

    "Well, Watson," katanya, "tindakanmu ceroboh sekali. Sebaiknya kau kembali ke London bersamaku malam ini juga."

    Satu jam kemudian, setelah berpakaian dan bersikap sebagaimana biasanya, Sherlock Holmes duduk di hadapanku di kamar hotel. Dia menjelaskan mengapa tiba-tiba
    muncul dan bahkan sempat menyelamatkan jiwaku. Urusannya di London sudah beres, maka dia menyusulku sambil menyamar sebagai bumh.

    "Penyelidikanmu betul-betul konsisten kaulak-sanakan, sobatku Watson," katanya. "Tak ada satu langkah pun yang keliru. Tujuannya memang untuk menimbulkan
    kesiagaan di mana-mana, tapi, tak menghasilkan apa-apa."

    "Seandainya kau yang melakukan penyelidikan ini, hasilnya pun belum tentu lebih baik," jawabku dengan mendongkol.

    "Itu tak perlu dipertanyakan lagi. Hasil penyelidikanku memang lebih baik. Ini dia, the Hon. Philip Green, yang barangkali bisa menjadi langkah awal penyelidikan
    yang lebih berhasil."

    Sebuah kartu nama diantarkan kepada kami, diikuti bajingan berjanggut yang tadi menerkamku di jalanan. Dia terkejut ketika melihatku.

    "Apa-apaan ini, Mr. Holmes?" tanyanya. "Saya menerima surat Anda, lalu saya datang kemari. Tapi apa hubungan orang ini dengan kasus kita?"

    "Perkenalkan rekan kerja dan sahabat saya, Dr. Watson, yang membantu kita dalam masalah ini."

    Pria itu mengulurkan tangannya yang besar dan berwarna gelap karena terbakar sinar matahari, sambil menggumamkan beberapa kata permintaan maaf.

    "Saya harap Anda tak terluka. Anda tadi menuduh saya telah melukai Lady Frances sehingga saya naik pitam. Sungguh, tingkah laku saya sangat menakutkan
    akhir-akhir ini. Saraf saya tegang; saya tak mampu lagi menanggung semua ini. Tapi saya benar-benar penasaran, Mr. Holmes, bagaimana Anda tahu tentang
    diri saya?"

    "Saya menghubungi Miss Dobney, mantan gum Lady Frances."

    222

    223

    "Susan Dobney tua yang selalu memakai topi kuno! Saya masih ingat dia."

    "Dia pun masih ingat Anda. Waktu itu Anda belum berangkat ke Afrika Selatan."

    "Ah, kalau begitu Anda tahu semuanya tentang saya. Saya tak perlu menyembunyikan apa pun. Saya bersumpah, Mr. Holmes, saya mencintai Lady Frances dengan
    segenap hati saya. Dulu saya memang pemuda yang urakan, sedangkan pikiran Frances masih sangat mumi. Dia tidak bisa menerima tindakan apa pun di luar norma-norma
    yang berlaku. Jadi, ketika mendengar tingkah polah saya di luaran, dia memutuskan hubungan dengan saya. Tapi dia tetap mencintai saya—itulah anehnya!
    Begitu besar cintanya kepada saya sehingga dia tak mau menikah dengan pria lain. Kini belasan tahun telah berlalu, saya berhasil mengumpulkan uang selama
    bekerja di Barberton. Saya berniat mencarinya dan melunakkan hatinya. Saya mendengar dia masih belum menikah. Akhirnya saya temukan dia di Lausanne, dan
    saya berusaha melunakkan hatinya dengan segala cara. Rasanya, hatinya menjadi agak lunak, tapi kemauannya tetap keras. Ketika saya meneleponnya lagi, dia
    telah meninggalkan kota itu. Saya mengejarnya ke Baden, lalu saya mendengar pelayan wanitanya tinggal di sini. Saya memang pria yang kasar, karena bam
    saja kembali dari kehidupan yang keras, dan ketika Dr. Watson berbicara kepada saya seperti itu, saya jadi mata gelap. Tapi, demi Tuhan, to

    224

    long katakan kepada saya apa yang telah terjadi terhadap Lady Frances."

    "Itulah yang hendak kami cari jawabnya," kata Sherlock Holmes dengan serius. "Di mana alamat Anda di London, Mr. Green?"

    "Hotel Langham."

    "Kalau begitu, saya sarankan Anda kembali saja ke sana dan bersiagalah kalau kalau kami memerlukan Anda. Saya tak ingin memberikan harapan-harapan yang
    belum jelas, tapi Anda boleh yakin kami akan bempaya semaksimal mungkin demi keselamatan Lady Frances. Ini kartu nama kami kalau kalau Anda perlu menghubungi
    kami. Nah, Watson, kemasilah barang-barangmu sementara aku mengirim telegram kepada Mrs. Hudson, agar dia menyiapkan makan malam istimewa bagi dua pengembara
    kelaparan pada jam setengah delapan besok malam."

    Sebuah telegram telah menanti ketika kami tiba di kamar kami di Baker Street. Holmes membacanya dengan penuh semangat, lalu melemparkannya kepadaku. Bergerigi
    atau terbdah-belah, begitu bunyi telegram yang dikirim dari Baden.

    "Apa artinya?" tanyaku.

    "Segalanya-galanya," jawab Holmes. "Kau pasti ingat ketika aku bertanya tentang bentuk telinga kiri Dr. Shlessinger. Pertanyaan yang aneh, ya? Kau tak
    membalas telegramku."

    225

    "Waktu itu aku sudah meninggalkan Baden, jadi tak sempat cari tahu tentang hal itu."

    "Tepat. Itulah sebabnya aku lalu mengirim salinan telegram itu ke Manajer Englischer Hof, dan beginilah jawabannya."

    "Apa maksudnya?"

    "Maksudnya, sobatku Watson, kita berurusan dengan seseorang yang sangat lihai dan berbahaya. Pendeta Dr. Shlessinger, misionaris dari Amerika Selatan itu,
    ternyata Holy Peters, salah sam bandit yang sangat tersohor di Australia. Keahlian khususnya ialah memperdaya wanita-wanita yang kesepian dengan menggugah
    perasaan keagamaan mereka. Dan yang mengaku sebagai istrinya, wanita Inggris bernama Fraser, adalah komplotannya. Ciri khas taktiknya membuatku mengenalinya,
    dan ciri fisiknya ini—dia pernah berkelahi di sebuah bar di Adelaide pada tahun 1889 dan telinganya digigit lawannya—menguatkan kecurigaanku. Wanita
    malang ini berada di tangan pasangan yang berbahaya, yang tega melukai orang tanpa alasan apa pun, Watson. Ada kemungkinan Lady Frances sudah mati. Kalau
    tidak, dia pasti dikurung, sehingga tak bisa menulis surat kepada Miss Dobney atau teman-temannya yang lain. Ada dua kemungkinan, dia dibawa ke London
    atau ke tempat lain. Rasanya alternatif kedua kecil sekali kemungkinannya karena tak mudah bagi orang asing berkeliaran di negeri ini tanpa sepengetahuan
    polisi Inggris yang ketat itu. Jadi menurutku, dia masih

    226

    berada di London, tapi karena saat ini kita tak tahu tepatnya di mana, kita hanya bisa mengambil langkah-langkah yang jelas, makan malam dulu, dan berpikir
    dengan tenang sesudahnya. Nanti malam, aku mau jalan-jalan dan menemui Lestrade di Scotland Yard."

    Ternyata baik Holmes maupun Lestrade tak punya informasi yang bisa menjernihkan misteri ini. Ketiga orang yang kami cari itu bagaikan raib begitu saja
    di antara berjuta-juta penduduk London. Kami memasang iklan. Tak ada hasil. Kami melacak petunjuk-petunjuk yang kami terima. Tak ada hasil. Semua sarang
    penjahat yang mungkin disinggahi Shlessinger kami selidiki. Tak ada hasil. Kami mengawasi semua teman lama Shlessinger. Tak ada yang berhubungan dengannya.
    Tiba-tiba, setelah seminggu penuh tegang karena tak menghasilkan apa-apa kami menemukan secercah cahaya. Sebuah hontin perak yang sangat indah dengan desain
    Spanyol kuno telah digadaikan di mmah gadai Bevington di Westminster Road. Penggadainya seorang pria tinggi besar yang berpenampilan rapi. Nama dan alamatnya
    jelas palsu. Pemilik mmah gadai tak memperhatikan bentuk telinga pria itu, tapi dari penuturannya jelaslah si pegawai adalah Shlessinger.

    Teman bam kami yang tinggal di Hotel Lang-ham telah tiga kali mengunjungi kami untuk menanyakan perkembangan kasus ini. Kunjungan ketiga dilakukannya sejam
    setelah perkembangan

    227

    baru yang kami temukan. Philip Green tampak jauh lebih kurus; pakaiannya kedodoran. Kecemasan benar-benar telah menggerogotinya. "Kalau saja Anda memberi
    suatu tugas yang bisa saya lakukan!" begitu teras teriaknya. Akhirnya Holmes mengabulkan permintaannya.

    "Shlessinger mulai menggadaikan perhiasan. Kita akan menangkapnya sekarang."

    "Apakah ini berarti telah terjadi sesuatu terhadap Lady Frances?"

    Holmes menggeleng dengan sangat lemah.

    "Seandainya mereka menawannya sampai kini, jelas mereka tak akan sedetik pun melepaskannya, karena itu berarti kehancuran mereka. Kita harus bersiap menghadapi
    hal yang paling burak."

    "Apa yang bisa saya lakukan?"

    "Pasangan ini tak pernah melihat Anda, kan?"

    "Tidak."

    "Dia mungkin akan pergi ke mmah gadai lain. Bila demikian, kita hams mulai melakukan pelacakan. Di samping itu, dia telah mendapatkan harga yang bagus
    tanpa ditanyai macam-macam di rumah gadai Bevington, jadi dia mungkin akan kembali ke sana. Saya akan menulis surat kepada pemilik ramah gadai itu, supaya
    Anda diizinkan menunggu di situ. Kalau pria itu datang, buntuti dia. Tapi jangan bertindak sembrono, dan yang paling penting tak boleh terjadi kekerasan.
    Saya percaya Anda tak akan mengambil langkah apa pun tanpa sepengetahuan dan seizin saya."

    228

    Selama dua hari- tak ada berita dari the Hon. Philip Green. (Aku lupa menyebutkan bahwa dia putra laksamana terkenal bernama serupa yang memimpin Armada
    Laut Azof pada waktu Perang Krim.) Pada malam ketiga dia berlari ke tempat kami, mukanya pucat, badannya gemetaran, seluruh ototnya bergetar karena menahan
    emosi.

    "Kita bisa menangkap dia! Kita bisa menangkap dia!" teriaknya.

    Begitu bersemangatnya dia sehingga kata-katanya tak terdengar dengan jelas. Holmes menenangkannya, dan mendudukkannya di kursi malas.

    "Ayo, langsung saja, berikan perintah untuk segera bertindak," katanya.

    "Kali ini yang datang sang istri. Bam sejam yang lalu. Dia membawa pasangan liontin yang sebelumnya. Wanita itu jangkung, pucat, dan matanya seperti mata
    musang."

    "Benar," kata Holmes.

    "Ketika dia meninggalkan mmah gadai, saya mengikutinya. Dia menelusuri Kennington Road, dan saya teras menguntit di belakangnya. Lalu dia pergi ke yayasan
    pemakaman, Mr. Holmes."

    Sobatku terlonjak. "Lalu?" tanyanya dengan suara lantang yang menunjukkan gejolak jiwa di balik -wajahnya yang dingin dan tenang.

    "Dia berbicara dengan penguras yayasan. 'Terlambat,' saya dengar dia berkata. Si penguras lalu meminta maaf, 'Seharusnya sudah tiba sebelum ini. Memakan
    waktu lebih lama karena tak seperti

    229

    biasanya.' Kedua wanita itu berhenti berbicara lalu melihat ke arah saya, sehingga saya pura-pura tanya ini-itu sebelum meninggalkan tempat itu."

    "Anda telah melaksanakan tugas dengan baik. Apa yang terjadi kemudian?"

    "Wanita itu keluar, sementara saya bersembunyi di balik pintu. Saya rasa dia curiga, karena dia menoleh-noleh ke sekeliling. Dia lalu memanggil kereta.
    Saya beruntung langsung mendapatkan kereta juga sehingga bisa membuntutinya. Akhirnya dia turun di Poultney Square Nomor 36, Brixton. Saya menyuruh kusir
    melaju tems, dan bam turun dari kereta setelah membelok di ujung jalan. Saya lalu mengamati mmah itu."

    "Anda melihat seseorang di mmah itu?"

    "Semua jendelanya gelap, kecuali satu yang terletak di lantai bawah. Kerai jendelanya tertutup, dan saya tak bisa melihat ke dalam. Jadi, saya berdiri
    saja sambil bertanya-tanya apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Pada saat itulah ada mobil van yang tertutup berhenti di depan ramah itu. Dua pria turun
    dari van itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari mobil mereka. Mereka menggotong barang itu memasuki ramah, dan ternyata yang mereka bawa peti mati." *

    "Ah!"

    "Hampir saja saya menerobos masuk. Pintu ramah itu dibuka untuk memberi jalan bagi kedua orang itu. Ketika itulah wanita tadi melihat saya, dan saya rasa
    dia mengenali saya. Dia tampak

    230

    terkejut, dan dengan cepat menutup pintu. Saya ingat janji saya kepada Anda, jadi saya langsung kemari."

    "Anda telah melakukan tugas Anda dengan baik sekali," kata Holmes sambil menuliskan beberapa kata di secarik kertas. "Kita tak bisa berbuat apa-apa tanpa
    surat geledah, dan Andalah yang paling pantas menyerahkan catatan ini ke pihak yang berwajib untuk mendapatkan surat geledah yang kita butuhkan. Anda mungkin
    akan mengalami kesulitan, tapi menumt saya kesaksian Anda tentang penggadaian perhiasan itu cukup kuat. Lestrade akan menguras semua detailnya."

    "Tapi mereka mungkin akan membunuhnya sementara ini. Apa maksud peti mati itu kalau bukan untuk Lady Frances?"

    "Kami akan berusaha sebaik mungkin, Mr. Green. Jangan buang-buang waktu. Percayakan yang lainnya kepada kami. Sekarang, Watson," tambahnya begitu klien
    kami sudah pergi, "dia akan bertindak bersama yang berwajib, sedangkan kita, sebagaimana biasa, akan bertindak dengan cara kita sendiri. Situasinya begitu
    genting sehingga kita hams yakin akan langkah-langkah kita. Tak boleh buang-buang waktu sedetik pun, ayo segera berangkat ke Poultney Square."

    "Mari kita menyusun kembali situasinya," katanya dalam perjalanan kami melewati Gedung Parlemen dan Jembatan Westminster. "Pasangan penjahat ini membawa
    Lady Frances ke London, se

    231

    telah memisahkan dia dari pelayannya yang setia. Kalaupun wanita itu sempat menulis surat, surat-nya tak pernah mereka kirim. Melalui komplotannya yang
    lain, mereka berhasil menyewa mmah. Begitu masuk ke mmah itu, mereka menyekapnya, dan merampas perhiasan yang sejak dulu mereka incar. Mereka sudah berhasil
    menjual sebagian dari perhiasan itu dengan aman, karena mereka pikir tak ada orang yang memedulikan nasib wanita itu. Kalau dibebaskan, wanita itu akan
    menjadi saksi mata kejahatan mereka. Tapi mereka pun tak mungkin menyekapnya selamanya. Jadi, mereka merencanakan membunuhnya." "Jelas sekali."

    "Sekarang kita akan memperhatikan pertimbangan lain. Kalau kau punya dua pemikiran secara bersamaan, Watson, kau akan memperoleh titik temu mendekati kebenaran.
    Sekarang kita akan memulai penyelidikan bukan dari Lady Frances, tapi dari peti mati itu, lalu menarik kesimpulan secara mundur. Kurasa, peti mati itu
    jelas menunjukkan Lady Frances telah mati. Maka tentunya diperlukan surat keterangan kematian dari dokter dan upacara penguburan. Kalau wanita itu jelas-jelas
    dibunuh, mereka pasti akan menguburnya begitu saja di taman belakang mmah itu. Tapi mereka ternyata membeli peti mati dan menguras segalanya secara terbuka.
    Apa artinya itu? Barangkali mereka telah membunuhnya sedemikian rupa sehingga dokter yang memeriksa tertipu, ke

    232

    mudian menyimpulkan kematian wanita itu disebabkan hal-hal yang alamiah—keracunan, misalnya. Tapi rasanya tak mungkin mereka mengizinkan dokter mendekati
    Lady Frances, kecuali kalau dokter itu komplotannya—ini pun kemungkinannya kecil sekali."

    "Mungkinkah mereka memalsukan surat keterangan dokter itu?"

    "Berbahaya, Watson, sangat berbahaya. Tidak, sangat kecil kemungkinannya mereka berani bertindak demikian. Berhenti sebentar, Pak Kusir! Di sinilah tempat
    yayasan pemakaman itu, setelah lewat mmah gadai. Kau saja yang masuk, Watson. Penampilanmu lebih meyakinkan. Tanyakan jam berapa akan dilaksanakan pemakaman
    di Poultney Square besok pagi."

    Pengurus yayasan memberikan informasi tanpa ragu-ragu. Pemakaman akan dilaksanakan pukul delapan pagi besok.

    "Nah, kan, Watson, tak ada yang disembunyikan; semuanya biasa-biasa saja! Begitu juga surat-surat kematian yang diperlukan, pasti sudah beres semua, sehingga
    tak ada yang perlu mereka takutkan. Well, yang bisa kita lakukan hanyalah penyerangan secara langsung. Kau bawa senjata?"

    "Cuma tongkat!"

    "Well, well, itu pun sudah cukup kuat. 'Orang yang berkelahi demi kebenaran akan mendapat kekuatan tiga kali lipat dari senjata yang dimilikinya.' Kita
    tak bisa menunggu polisi, atau me

    233

    nunggu hukum menuntaskan masalah ini. Tolong lebih cepat, Pak Kusir. Sekarang, Watson, kita berdua akan mengadu untung seperti biasanya."

    Dengan keras ditekannya bel sebuah rumah besar yang gelap di tengah Poultney Square. Pintu langsung terbuka, dan di hadapan kami berdiri seorang wanita
    jangkung.

    "Mau apa kalian?" tanyanya ketus sambil menatap kami dalam kegelapan.

    "Saya ingin ketemu dengan Dr. Shlessinger," kata Holmes.

    "Tak ada yang bernama Dr. Shlessinger di sini," jawabnya sambil berusaha menutup pintu, tapi Holmes menghalanginya dengan kakinya.

    "Pokoknya saya mau ketemu dengan orang yang tinggal di sini, siapa pun namanya," kata Holmes dengan teguh.

    Wanita itu ragu-ragu, lalu membuka pintu lebar-lebar. "Kalau begitu, masuklah!" katanya. "Tak ada yang ditakuti suami saya." Dia menutup pintu depan itu,
    dan membawa kami ke mang tamu. Dia menghidupkan lampu gas sebelum meninggalkan kami. "Mr. Peters akan segera menemui Anda," katanya.

    Kami belum sempat melongok-longok ke sekeliling mangan yang penuh debu dan ngengat ini ketika pintu terbuka, dan seorang pria tinggi besar berjalan memasuki
    mangan dengan langkah-langkah ringan. Pria itu berkepala botak dan berjanggut rapi. Wajahnya lebar kemerahan, pipinya

    234

    menggantung, dan penampilannya tampak ramah walaupun mulutnya memancarkan kekejaman dan kelicikan.

    "Pasti telah terjadi kekeliruan, Tuan-tuan," katanya dengan tenang. "Saya yakin Anda salah alamat. Jika Anda tems ke sebelah sana, Anda mungkin..."

    "Sudahlah, kami tak punya banyak waktu," kata sahabatku dengan tegas. "Nama Anda Henry Peters, asal dari Adelaide, mantan Pendeta Dr. Shlessinger, dari
    Baden dan Amerika Selatan. Saya yakin akan hal ini sebagaimana saya yakin nama saya sendiri Sherlock Holmes."

    Peters, begitulah sebaiknya kupanggil dia, tampak agak terkejut. Dia menatap orang yang memburunya dengan tajam. "Saya kira nama Anda tak membuat saya
    takut, Mr. Holmes," katanya dengan dingin. "Kalau hati nurani seseorang begitu entengnya. Anda tak bisa menggertaknya. Ada urusan apa sampai Anda datang
    ke tempat saya?"

    "Saya ingin tahu apa yang telah Anda lakukan terhadap Lady Frances Carfax yang telah Anda ajak bergabung sejak dari Baden."

    "Saya justm yang akan senang kalau Anda bisa mengatakan kepada saya di mana wanita itu berada," Peters menjawab. "Ada tagihan sejumlah hampir seratus pound
    yang harus dibayarnya, sedang dia hanya meninggalkan sepasang liontin yang tak seberapa harganya. Dia sendiri yang ingin bergabung dengan Mrs. Peters dan
    saya di

    235

    Baden—memang saya pakai nama lain waktu itu —dan dia tems bersama kami sampai di London. Saya yang menanggung semua biaya perjalanannya. Begitu sampai
    di London, dia menghilang, dan sebagaimana saya katakan, dia hanya meninggalkan perhiasan kunonya sebagai pembayar utangnya. Kalau Anda bisa menemukan
    wanita itu, Mr. Holmes, saya akan sangat berutang budi."

    "Saya memang bermaksud menemukannya," kata Sherlock Holmes. "Saya akan geledah mmah ini sampai saya menemukannya."

    "Mana surat izin geledah Anda?"

    Holmes mengeluarkan pistol dari sakunya. "Untuk sementara inilah izin geledah yang saya miliki, yang lebih sah akan segera menyusul."

    "Anda perampok kalau begitu."

    "Terserah apa penilaian Anda," kata Holmes dengan gembira. "Rekan saya ini juga penjahat yang berbahaya, dan kami berdua akan menjarah mmah ini."

    Lawan kami membuka pintu

    "Panggil polisi, Annie!" katanya. Terdengar ge-meresik gaun wanita di gang, dan pintu depan dibuka lalu ditutup lagi.

    "Waktu kita amat sempit, Watson," kata Holmes. "Jangan coba-coba menghalangi kami, Peters, atau Anda akan terluka. Di mana peti mati yang kemarin dikirim
    kemari?"

    "Memangnya Anda mau apa? Peti itu ada isinya."

    236

    "Saya mau lihat mayat itu."

    "Tak bisa, tanpa izin saya."

    "Kalau begitu, tak perlu izin." Dengan cepat Holmes mendorong pria itu ke samping lalu berjalan ke mang muka. Di hadapan kami ada sebuah pintu yang setengah
    terbuka. Kami masuk ke mangan itu. Ternyata mang makan. Peti mati itu terletak di atas meja makan diterangi lilin yang temaram. Holmes menyalakan lampu
    gas dan membuka tutup peti mati itu. Di dalamnya tergeletak sosok yang kerempeng. Sinar lampu menerangi wajah yang sudah tua dan keriput. Sekalipun telah
    mengalami kekejaman, kelaparan, atau penyakit, tak mungkin mayat ini mayat Lady Frances yang masih cantik. Wajah Holmes memancarkan keheranan yang berbaur
    dengan kelegaan.

    "Syukurlah!" gumamnya. "Mayat orang lain." "Anda salah tebak kali ini, Mr. Sherlock Holmes," kata Peters yang mengikuti kami. "Mayat siapa itu?"

    "Kalau Anda mau tahu, dia pengasuh istri saya, namanya Rose Spender, yang kami temukan di Rumah Sakit Jompo Brixton. Kami membawanya kemari, memeriksakannya
    ke Dr. Horsom yang tinggal di Firbank Villas Nomor 13—boleh Anda catat alamatnya, Mr. Holmes—dan merawatnya dengan penuh kasih, sebagaimana layaknya
    orang Kristen yang baik. Pada hari ketiga setelah tinggal di sini, dia mati—surat keterangan dokter me

    237

    nyebutkan karena sakit tua, tapi Anda mungkin punya pendapat lain? Kami mengatur agar pemakamannya diums Toko Stimson & Co., yang di Kennington Road, dan
    rencananya pemakaman akan dilaksanakan jam delapan pagi besok. Adakah sesuatu yang salah, Mr. Holmes? Anda telah membuat kesalahan konyol, dan Anda akan
    tanggung risikonya. Saya rela membayar berapa pun untuk memiliki foto Anda sewaktu mengangkat tutup peti, lalu dengan sangat terkejut Anda melihat wajah
    wanita tua berumur sembilan puluh tahun, dan bukannya Lady Frances Carfax."

    Ekspresi wajah Holmes tenang-tenang saja walaupun dia diledek lawannya, tapi tangannya yang terkepal menunjukkan betapa jengkelnya dia saat itu.

    "Saya akan menggeledah mmah Anda," katanya.

    "Anda nekat, ya!" teriak Peters ketika terdengar suara wanita dan langkah-langkah di gang. "Coba saja kita lihat. Kemari, Pak Polisi. Kedua orang ini masuk
    ke mmah kami secara paksa, dan saya tak bisa mengusir mereka. Tolong saya agar mereka segera pergi dari mmah ini."

    Dua polisi berdiri di pintu. Holmes menunjukkan kartu namanya.

    "Ini nama dan alamat saya. Dan ini rekan saya, Dr. Watson."

    "Syukurlah, Sir, kami kenal Anda dengan baik," kata si sersan, "tapi memang Anda tak bisa melan

    238

    jutkan operasi Anda tanpa membawa surat geledah."

    "Tentu saja. Saya tahu itu."

    "Tangkap dia," teriak Peters.

    "Kami tahu ke mana hams mencari beliau, kalau beliau memang d butuhkan, kata si sersan dengan anggun, "tapi Anda sebaiknya meninggalkan mmah ini, Mr. Holmes."

    "Ya, Watson, kita hams pergi."

    Semenit kemudian kami sudah berada di jalanan. Sikap Holmes sangat dingin, tapi aku merasa sangat marah dan terhina. Si sersan mengikuti kami.

    "Maaf, Mr. Holmes, tapi begitulah hukumnya."

    "Tepat, Sersan; saya tak menyalahkan Anda."

    "Tentunya ada alasan yang kuat mengapa Anda masuk ke mmah itu. Kalau ada yang bisa saya bantu..."

    "Kasus wanita yang hilang, Sersan, dan menumt kami, dia ada di mmah itu. Saya mau minta surat geledah sekarang juga."

    "Kalau begitu, saya akan mengawasi penghuni rumah itu, Mr. Holmes. Kalau ada sesuatu, saya pasti akan mengabari Anda."

    Waktu itu bam pukul sembilan, dan kami sangat bersemangat untuk langsung melakukan pelacakan Pertama-tama, kami pergi ke Rumah Sakit Jompo Brixton, pihak
    mmah sakit membenarkan pengakuan Peters. Sepasang suami-istri yang sangat baik hati telah datang ke situ beberapa hari sebelumnya

    239

    dan membawa pulang wanita ma pikun yang mereka akui sebagai mantan pembantu mereka. Tak ada yang kaget ketika kami memberitahukan bahwa wanita tua itu
    telah meninggal.

    Berikut kami mengunjungi dokter yang disebut oleh Peters. Memang dia telah dipanggil dan memang benar wanita tua itu meninggal karena sakit tua, bahkan
    dia menyaksikan ketika wanita itu mengembuskan napasnya yang terakhir. Dia yang menandatangani surat keterangan kematian. "Saya jamin semuanya normal dan
    tak ada permainan apa pun dalam hal itu katanya. Tak ada yang mencurigakan dokter itu di mmah Peters, kecuali bahwa biasanya orang sekelas mereka punya
    pembantu mmah tangga, sedangkan mereka tidak.

    Akhirnya, kami menuju Scotland Yard. Kami menemui kesulitan dalam prosedur mendapatkan surat izin geledah yang kami inginkan, sehingga kami tak bisa mendapatkannya
    dengan cepat. Tanda tangan hakim bam bisa kami dapatkan keesokan harinya. Holmes diharapkan datang sekitar pukul sembilan dan mengurasnya bersama Lestrade.
    Begitulah hari itu berakhir.

    Tetapi menjelang tengah malam sersan sahabat bam kami datang. Dia melihat lampu berkedip-kedip di beberapa jendela mmah besar yang gelap gulita itu, tapi
    tak ada seorang pun yang masuk atau keluar dari mmah itu. Dengan kesabaran yang dipaksakan kami menunggu datangnya esok hari.

    240

    Sherlock Holmes sangat uring-uringan, sehingga tak mungkin diajak bicara. Dia juga sangat gelisah, sehingga sulit tidur. Ketika aku meninggalkannya, dia
    sedang tak henti-hentinya merokok, sementara kedua alisnya mengerut menjadi sam garis dan jari-jarinya yang panjang dan gelisah mengetuk-ngetuk pinggiran
    kursi malas. Dia sedang berpikir keras untuk menyelesaikan misteri ini. Beberapa kali semalaman itu aku mendengar langkahnya mondar-mandir di sekeliling
    mmah.

    Aku bara saja terbangun keesokan paginya, ketika dia bergegas memasuki kamarku. Dia mengenakan baju tidur, tapi wajahnya yang kuyu dan matanya yang menatap
    kosong menunjukkan dia tak tidur semalaman.

    "Jam berapa upacara pemakamannya? Jam delapan, ya?" tanyanya dengan penuh semangat. "Sekarang sudah jam 07.20. Ya Tuhan, Watson, betapa bodohnya aku! Cepat,
    sobat, cepat! Ini masalah hidup atau mati—kesempatan hidupnya satu dibanding seratus Aku tak akan memaafkan diriku, tak akan, kalau kita sampai terlambat!"

    Tak sampai lima menit kemudian kami sudah melaju melintasi Baker Street. Walau kereta dipacu secepat-cepatnya, sudah pukul 07.35 ketika kami melewati Big
    Ben, dan tepat pukul delapan ketika kami memasuki Brixton Road. Syukurlah, ternyata rombongan pemakaman pun terlambat. Pukul 08.10, kereta jenazah masih
    berada di depan ramah, dan tepat ketika kereta kami berhenti di situ, peti mati yang diusung tiga orang muncul di ambang pintu. Holmes melompat ke depan
    dan menghalangi langkah mereka.

    "Kembalikan!" teriaknya sambil mendorong pengusung yang terdepan. "Kembalikan peti mati ini sekarang juga!"

    "Apa-apaan kau ini? Sekali lagi aku mau tanya, mana surat izin geledahmu?" teriak Peters dengan marah, wajah merahnya yang lebar menatap dari belakang
    peti mati.

    "Suratnya dalam perjalanan kemari. Peti mati ini akan tetap tinggal di dalam mmah sampai surat itu tiba."

    Ketegasan suara Holmes mempengaruhi ketiga orang yang mengusung peti mati itu. Secara tiba-tiba Peters menghilang ke dalam mmah, sehingga mereka menuruti
    perintah Holmes. "Cepat, Watson/ cepat! Nih obengnya!" teriaknya ketika peti mati itu sudah diletakkan di atas meja. "Nih, ada satu lagi untukmu, teman!
    Satu koin emas kalau bisa membuka tutup peti ini dalam sam menit! Jangan tanya macam-macam—cepat lakukan! Ya, begitu, bagus! Satu lagi! Dan sam lagi!
    Nah, sekarang angkat bersama-sama! Ya, begitu! Ya, begitu! Ah, berhasil akhirnya!"

    Bersama-sama kami membongkar tutup peti mati itu. Ketika itulah bau kloroform yang kuat dan memabukkan merebak dari dalam peti. Sesosok tubuh tergolek
    di dalamnya, kepalanya tertutup kain wol katun yang telah dicelup ke obat

    242

    keras itu. Holmes menyibakkan kain penutup itu dan tampaklah wajah kaku seorang wanita cantik berusia setengah baya. Dalam sekejap dirangkulnya tubuh itu
    dan diangkatnya sampai ke posisi duduk.

    "Apakah dia sudah meninggal, Watson? Masih adakah harapan? Pastilah kita tak terlambat!"

    Selama setengah jam kami berupaya, tampaknya kami sudah terlambat. Napasnya yang tersumbat ditambah dengan uap kloroform beracun yang mengelilinginya,
    membuat Lady Frances tampaknya tak bernyawa lagi. Tapi akhirnya, setelah ditolong dengan pemapasan buatan, dengan injeksi eter, dan dengan daya upaya sebisanya,
    mulai ada tanda kehidupan. Kelopak matanya mulai bergerak, wajahnya yang kaku mulai melemas... Terdengar derak kereta di luar. Holmes menyibakkan kerai
    jendela. "Lestrade datang membawa surat izin geledah," katanya. "Buruannya ternyata sudah melarikan diri. Dan berikutnya," tambahnya ketika mendengar langkah-langkah
    berat berlari di gang, "adalah orang yang lebih berhak merawat Lady Frances dibandingkan dengan kita. Selamat pagi, Mr. Green; sebaiknya kita secepatnya
    memindahkan Lady Frances dari peti mati ini. Sementara itu, silakan melanjutkan upacara pemakaman untuk wanita tua yang masih ada di bagian bawah peti.
    Semoga dia beristirahat dengan damai."

    "Kalau kau merasa perlu menuliskan kasus ini.

    sobatku Watson," kata Holmes malam itu, "itu akan menjadi contoh yang baik untuk menunjukkan keterbatasan otak manusia. Sehebat apa pun otak kita, sekali
    waktu bisa saja memudar. Kita hams menyadari hal ini dan berusaha memperbaikinya. Sehubungan dengan proses perbaikan yang kumaksud, aku mungkin bisa memberikan
    sedikit penjelasan. Semalam aku dihantui keyakinan bahwa pasti telah ada petunjuk, baik dalam bentuk kalimat ataupun kejanggalan yang sempat kulihat, tapi
    yang lalu tak kuperhatikan sehingga kulupakan begitu saja. Lalu, secara tiba-tiba, menjelang fajar, aku mengingat kata-kata yang diucapkan pengurus yayasan
    pemakaman sebagaimana dilaporkan kepadaku oleh Philip Green. Si pengurus mengatakan, 'Seharusnya sudah tiba sebelum ini. Memakan waktu lebih lama karena
    tak seperti biasanya.' Dia membicarakan peti mati yang dipesan. Peti itu tidak seperti biasanya. Artinya, peti itu dibuat menumt ukuran yang khusus. Kenapa
    demikian? Kenapa? Dalam sekejap, aku ingat akan kedalaman peti itu dan mayat kums di dalamnya. Untuk apa peti mati itu dibuat begitu dalam padahal mayatnya
    begitu kecil? Jawabannya hanyalah, supaya ada tempat untuk mayat lain. Keduanya akan dimakamkan dengan sam surat keterangan kematian. Begitu jelasnya,
    kalau saja ketajaman otakku tak memudar. Lady Frances akan dimakamkan jam delapan pagi. Kita hams mencegah peti itu dibawa keluar mmah.

    244

    "Sungguh kesempatannya kecil sekali untuk menemukan Lady Frances dalam keadaan hidup, tapi toh tetap ada, sebagaimana terbukti kemudian. Sejauh ini, pasangan
    itu memang tak pernah melakukan pembunuhan. Bisa saja mereka enggan mengakhiri hidup Lady Frances secara langsung. Mereka bisa menguburnya tanpa perlu
    menyaksikan bagaimana korbannya menemui ajalnya. Bahkan bila kubur itu nantinya dibongkar, mereka masih punya kesempatan mengelak dari tuduhan. Kuharap
    begitulah pertimbangan mereka. Kita bisa mereka-reka kejadiannya. Kau sudah melihat mangan di lantai atas tempat Lady Frances disekap. Pasangan itu masuk
    ke sana, membiusnya dengan kloroform, memboyongnya ke bawah, menuangkan kloroform lagi ke peti mati untuk meyakinkan jangan sampai Lady Frances terbangun,
    lalu menyekrup tutup peti itu. Cara yang sangat pintar, Watson. Sesuatu yang bam bagiku dalam dunia kriminal. Kalau mantan misionaris dan pasangannya ini
    tak tertangkap oleh Lestrade, aku bisa mengharap akan mendengar kejahatan yang hebat-hebat di masa yang akan datang."

    245

    Petualangan Kaki Setan

    Dari waktu ke waktu, ketika aku menuliskan eksperimen-eksperimen dan kenangan-kenangan selama bertahun-tahun aku bersahabat erat dengan Sherlock Holmes,
    aku sering mengalami kesulitan yang disebabkan oleh keengganannya akanpu-blisitas. Bagi Holmes yang pemuram dan sinis, sambutan publik sangat menjijikkan.
    Yang disukainya setiap kali berhasil menangani sebuah kasus ialah mengalihkan perhatian publik ke pihak berwajib, sehingga dia bisa tersenyum penuh canda
    ketika publik ribut memberikan ugaganj;elamat kejjadjijahjikyang tak seharusnya menerima ucapan itu. Karena sikap sahabatku yang unik inilah, akhir-akhir
    ini aku tak banyak menuliskan kisah-kisah petualangannya. Jadi sama sekali bukan karena aku kehabisan bahan cerita. Partisipasiku dalam beberapa pemalangannya
    selalu merupakan kehormatan bagiku dan membuatku lebih bijaksana, waspada, serta tak banyak bicara bila tak diperlukan.

    246

    Itulah sebabnya aku terkejut ketika menerima telegram Holmes hari Selasa yang lalu.

    Mengapa tak kautuh kan kisah horor yang terjadi di Cornwall—kasus paling aneh yang pernah kutangani?

    Aku tak tahu latar belakang apa yang menyebabkannya mengingat kasus ini, atau keajaiban apa yang telah membuatnya berminat mempublikasi-kannya, tapi karena
    khawatir dia berubah pikiran, aku bergegas mencari catatan-catatanku dan langsung menuliskannya.

    Pada musim semi tahun 1897, kesehatan Holmes agak terganggu. Dia jetih dan tegang karena terlalu banyak menangani kasus yang berat-berat, lebih-lebih gay^Judjipnya
    kurang_tgratur. Pada bulan Maret tahun itu juga, Dr. Moore Agar yang tinggal di Harley Street, yang perkenalannya dengan Holmes terjadi secara amat dramatis
    (hal ini mungkin akan kuceritakan pada kesempatan lain) memerintahkan agar Holmes menolak menangani kasus-kasus dan beristirahat total kalau tak ingin
    ambruk. Holmes memang tak sedikit pun memedulikan kesehatannya, karena begitu besarnya komitmennya kepada pekerjaannya. Tapi karena itulah am satunya jalan
    supaya dia jangan sampai ambruk dan tak mampu bekerja lagi, akhirnya dia mau beristirahat. Maka musim semi tahun itu kami habiskan berdua di pondok kecil
    dekat

    247

    Poldhu Bay, yang terletak di salah satu ujung Semenanjung Cornwall.

    Tempat itu agak aneh dan menyeramkan, cocok dengan suasana hati sahabatku. Dari jendela-jendela pondok kami yang serba putih, yang terletak di puncak bukit
    yang dipenuhi rumput, tampak Mounts Bay yang membentang membentuk setengah lingkaran. Gunung-gunung kecil ini bisa menjadi perangkap yang mematikan bagi
    kapal-kapal yang lewat karena pinggirannya diliputi karang-karang hitam terjal yang sering tertutup ombak. Sudah banyak pelaut yang tewas di situ. Kalau
    angin bertiup lemah dari utara, tempat itu kelihatan tenang dan mengundang. Lalu terjadilah gemumh angin yang tiba-tiba dari arah barat daya sehingga jangkar
    kapal terlepas, dan para pelaut berjuang menyelamatkan nyawa mereka. Pelaut yang bijaksana tak akan berani dekat-dekat ke tempat neraka itu.

    Bagian daratnya juga tak kalah suramnya— padang-padang tandus yang sepi diselingi menara gereja di desa-desa kuno. Kalau kami mengarahkan pandangan ke
    padang-padang tandus itu, terlihat bekas-bekas kehidupan manusia berupa gundukan-gundukan tanah kuburan dan barang-barang pecah belah. Suasana misterius
    tempat itu, yang menandakan adanya kehidupan yang terlupakan dunia luar, merangsang imajinasi sahabatku. Dia banyak menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan
    dan bermeditasi di luar. Bahasa Cornwall

    248

    kuno juga menarik perhatiannya, dan seingatku, dia mengemukakan pendapatnya bahwa bahasa itu bersaudara dengan bahasa Chaldea, dan sebagian besar bahasa
    itu berasal dari para pedagang Fu-nisia. Dia telah mendapat kiriman buku-buku tentang filologi dan hendak mulai mengerjakan tesisnya, ketika tiba-tiba
    kami terperangkap dalam sebuah masalah. Masalah ini lebih serius, mengasyikkan, dan misterius dibandingkan dengan kasus-kasus kami di London. Kehidupan
    kami yang sederhana, tenteram, dan sehat langsung terganggu dan kami menghadapi serangkaian peristiwa yang sempat menggemparkan bukan saja di Cornwall,
    tapi di seluruh Inggris Barat. Banyak di antara pembaca yang mungkin masih ingat tentang apa yang waktu itu disebut "Cerita Horor dari Cornwall", walaupun
    yang ditulis pers London sangat tak sempurna. Sekarang, setelah lewat tiga belas tahun, aku akan menyuguhkan kepada publik perincian yang sebenarnya dari
    masalah itu.

    Tadi sudah kukatakan ada beberapa menara gereja di sekitar daerah Cornwall. Yang paling dekat dengan tempat kami adalah desa Tredannick Wol-las^ yang*
    berpenduduk sekitar dua ratus orang. Mereka tinggal di rumah-rumah kecil mengelilingi sebuah gereja tua yang sudah dipenuhi ngengat. Pendetanya, Mr. Roundhay,
    juga arkeolog, sehingga Holmes berkenalan dengannya. Pendeta itu berusia setengah baya, gemuk dan ramah, serta tahu banyak tentang riwayat desa itu. Kami
    diundang

    249

    minum teh di rumahnya, dan kami jadi punya kenalan bam, seorang pria bernama Mortimer Tregennis, wiraswasta, yang menambah penghasilan si pendeta dengan
    menyewa beberapa kamar di rumahnya. Pendeta yang masih bujangan itu sangat senang dengan hadirnya sang penyewa, walaupun kepribadian mereka agak berbeda.
    Mr. Tregennis bertubuh kurus, berkulit gelap, berkacamata, agak bungkuk sehingga mengesankan tubuhnya agak cacat. Aku masih ingat, sepanjang kunjungan
    kami yang singkat itu, si pendeta banyak ngomong ini-itu, sedangkan Mr. Tregennis nyaris tak berkata sepatah pun. Ia kelihatan murung dan sangat berhati-hati,
    sering menghindar dari pandangan kami, jelas dia sedang memikirkan masalahnya sendiri.

    Kedua pria inilah yang secara tiba-tiba muncul di mang tamu kami yang kecil pada hari Selasa, 16 Maret, tak lama setelah kami selesai sarapan. Waktu itu
    kami sedang merokok sebelum berjalan-jalan ke padang sebagaimana kami lakukan setiap hari.

    "Mr. Holmes," kata si pendeta dengan terbata-bata, "semalam telah terjadi sesuatu yang sangat aneh dan tragis. Masalah ini tak boleh tersiar ke mana-mana.
    Kami menganggap atas karunia Tuhan sajalah Anda kebetulan berada di sini saat ini, karena Andalah satu-satunya orang yang bisa menolong kami di seluruh
    negeri ini."

    Aku menatap si pendeta dengan pandangan tak senang, tapi Holmes menyingkirkan pipa rokok

    250

    dari bibirnya dan duduk di kursi bagaikan anjing pelacak tua yang mencium mangsa. Dia melambaikan tangannya ke arah sofa, dan tamu kami yang gemetaran
    serta temannya yang gelisah duduk bersebelahan di sofa itu. Mr. Mortimer Tregennis lebih dapat menahan diri daripada si pendeta, tapi tangannya yang senantiasa
    bergerak-gerak dan matanya yang berkilauan menunjukkan dia pun sama resahnya.

    "Saya atau Anda yang mau bicara?" tanyanya kepada si pendeta.

    "Well, karena Andalah yang pertama menemukan sesuatu, sebaiknya Andalah yang berbicara," kata Holmes.

    Aku menoleh ke arah si pendeta yang berpakaian seadanya dan pria yang berpakaian formal di sampingnya. Aku senang melihat wajah mereka yang terkejut mendengar
    kesimpulan yang dibuat Holmes.

    "Mungkin saya perlu menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu," kata si pendeta, "setelah itu silakan, apakah Anda mau mendengar perinciannya dari Mr.
    Tregennis, ataukah kita langsung saja menuju tempat kejadian. Saya mulai saja dengan menceritakan bahwa Mr. Tregennis ini tadi malam mengunjungi kedua
    kakak laki-lakinya, Owen dan George, serta kakak perempuannya, Brenda, yang tinggal serumah di Tredannick Wartha, dekat persimpangan jalan. Dia meninggalkan
    mmah mereka pada jam sepuluh lewat sedikit, sedangkan mereka

    251

    masih melanjutkan bermain kartu di mang duduk dalam keadaan sehat dan gembira. Pagi tadi, sebagaimana biasanya Mr. Tregennis bangun pagi-pagi. Dia berjalan
    ke arah mmah mereka sebelum sarapan, dan berpapasan dengan kereta Dr. Richards. Dokter itu menjelaskan bahwa dia bam saja diminta datang ke Tredannick
    Wartha. Mr. Mortimer Tregennis tentu saja langsung ikut ke sana. Ternyata, kedua kakak laki-laki dan. kakak perempuannya masih duduk mengelilingi meja
    makan tepat seperti ketika dia meninggalkan mereka semalam, kartu masih bertebaran di hadapan mereka, sedangkan lilin sudah habis terbakar. Kakak perempuannya
    tergeletak ke belakang kursinya; dia sudah mati kaku. Kedua kakak laki-lakinya yang duduk masing-masing di samping wanita itu sedang tertawa terbahak-bahak,
    berteriak-teriak, menyanyi. Pada wajah ketiganya—wanita yang mati dan kedua pria gila itu—masih terpancar ekspresi ketakutan yang amat sangat. Tak
    ada tanda-tanda kehadiran orang lain di mmah itu, kecuali Mrs,^ Porter, tukang masak merangkap pengurus mmah tangga, yang menyatakan tertidur pulas semalaman
    dan sama sekali tak mendengar suara yang mencurigakan. Tak ada barang yang dicuri ataupun diobrak-abrik, dan tak ada apa pun yang bisa menjelaskan horor
    apa yang telah begitu, rupa mengagetkan seorang wanita sampai dia mati, dan membuat gila dua pria yang masih kuat. Begitulah keadaannya secara singkat,
    Mr. Holmes, dan bila

    252

    Anda bisa menolong menjernihkan masalah ini, kami akan sangat berterima kasih."

    Betapa inginnya aku mencegah sahabatku menangani kasus ini, karena maksud kepergian kami ke sini memang untuk beristirahat. Tapi ketika kulihat wajahnya
    yang penuh perhatian dan alisnya yang mengemt, tahulah aku bahwa usahaku akan sia-sia belaka. Dia duduk selama beberapa saat dalam kebisuan, tenggelam
    dalam kisah aneh yang telah mengoyak-ngoyak kedamaian kami.

    "Saya akan menangani kasus ini," katanya pada akhirnya. "Pada permukaannya, kasus ini tampak sangat aneh. Apakah Anda sudah pergi ke tempat itu, Mr. Roundhay?"

    "Belum, Mr. Holmes. Mr. Tregennis mengabarkan musibah ini kepada saya, dan saya langsung kemari bersamanya."

    "Seberapa jauhkah mmah itu dari sini?"

    "Kira-kira satu mil perjalanan darat."

    "Kalau begitu, kita akan berjalan kaki bersama. Tapi sebelumnya, saya perlu menanyakan beberapa hal kepada Anda, Mr. Mortimer Tregennis."

    Pria itu diam saja selama ini, dia duduk dengan wajah pucat dan sedih, tatapannya tertuju kepada Holmes dan tangarmya yang kums diremas-remas-nya. Bibirnya
    yang pucat gemetaran sementara dia mMYdengaikan si pendeta mcmerrtakan vmraibah yang telah menimpa keluarganya, dan matanya yang gelap memancarkan kengerian
    yang terjadi di tempat kejadian.

    253

    "Silakan tanya apa saja, Mr. Holmes," katanya dengan segera. "Memang ini bukan topik pembicaraan yang menyenangkan, tapi saya akan menjawab dengan sebenar-benarnya."

    "Ceritakan apa yang Anda ketahui tentang tadi malam."

    "Well, Mr. Holmes, saya makan malam di sana, lalu kakak saya George mengusulkan bermain kartu. Kami pun duduk bersama pada kira-kira jam sembilan. J^m
    sepuluh seperempat, saya berpamitan. Saya tinggalkan mereka di meja itu, dalam keadaan gembira."

    "Siapa yang membukakan pintu waktu Anda mau pulang?"

    "Mrs. Porter sudah tidur, jadi saya sendirilah yang membuka pintu. Saya tak lupa menutup pintu itu kembali. Jendela ruangan tempat mereka berada tertutup,
    tapi kerainya masih terbuka. Tadi pagi, keadaan pintu dan jendela tak berubah, serta tak ada alasan menyimpulkan seseorang telah masuk ke rumah itu. Tapi
    begitulah keadaan mereka, masih duduk di situ, menjadi gila karena telah tertimpa teror yang dahsyat, dan Brenda bahkan tergeletak mati, dengan kepala
    menggelantung di lengan kursi. Saya tak akan pernah melupakan pemandangan itu seumur hidup saya."

    "Semua fakta yang Anda beberkan benar-benar luar biasa," kata Holmes. "Jadi, sampai sekarang Anda belum punya pandangan tentang apa yang mungkin telah
    terjadi pada mereka?"

    254

    "Pasti setan, Mr. Holmes, setan!" teriak Mortimer Tregennis. "Pasti bukan berasal dari dunia ini. Pikiran mereka sampai tak waras. Kalau perbuatan manusia
    masa bisa sampai begitu akibatnya!"

    "Wah," kata Holmes, "kalau memang masalah ini di luar kemampuan manusia, saya pun tak akan mampu menanganinya. Tapi kita hams tetap berusaha semampu kita
    untuk mencari penjelasan masalah ini sebelum kita menerima pandangan seperti itu. Dan Anda sendiri, Mr. Tregennis, mengapa Anda tidak tinggal bersama mereka?"

    "Begini, Mr. Holmes, pernah ada masalah di antara kami di masa yang lalu, tapi sudah beres. Keluarga kami memiliki tambang timah di Redruth, lalu orangtua
    kami menjual usaha itu dan memperoleh uang yang cukup banyak. Saya tak menyangkal telah terjadi perselisihan ketika kami membagi-bagi uang itu, dan ini
    berlangsung beberapa waktu. Tapi semuanya lalu saling memaafkan dan tak pernah mengungkit-ungkit soal itu lagi."

    "Kembali pada kejadian semalam, ketika Anda bersama mereka, adakah sesuatu yang Anda ingat yang mungkin dapat menjelaskan tragedi ini? Pikirkanlah' dengan
    saksama, Mr. Tregennis, kalau-kalau ada petunjuk yang bisa menolong saya."

    "Tidak ada sama sekali, Sir."

    "Saudara-saudara Anda waktu itu sedang bergembira?"

    255

    "Ya."

    "Apakah mereka gampang gugup? Apakah mereka menunjukkan tanda-tanda akan datangnya bahaya?"

    "Tidak sama sekali."

    "Jadi tak ada yang bisa Anda tambahkan, yang bisa menolong saya?"

    Mortimer Tregennis berpikir dengan sungguh-sungguh selama beberapa saat.

    "Ada sam hal yang tiba-tiba saya ingat," katanya pada akhirnya. "Ketika kami duduk mengelilingi meja di mang duduk keluarga, saya membelakangi jendela,
    dan kakak saya George, yang menjadi partner main kartu saya, menghadap ke jendela. Suatu saat, saya melihatnya sedang menatap ke belakang saya, sehingga
    saya pun ber-balik dan ikut melihat ke belakang. Jendelanya tertutup, tapi karena kerainya terbuka, saya masih bisa melihat semak-semak di halaman luar,
    dan sesaat tampaknya ada sesuatu yang bergerak di situ. Saya tak tahu apakah itu manusia atau binatang, pokoknya rasanya ada sesuatu. Ketika saya mengemukakan
    hal ini kepada kakak saya, dia pun mengatakan merasakan apa yang saya rasakan. Hanya begitulah yang bisa saya jelaskan." "Apakah Anda tidak mengecek ke
    luar?" "Tidak, kami tak memedulikan hal itu lagi." "Jadi, ketika Anda meninggalkan ketiga saudara Anda, tak terbersit sedikit pikiran pun tentang setan?"

    256

    "Tidak sama sekali."

    "Saya belum jelas tentang bagaimana Anda bisa menerima berita itu pagi-pagi sekali tadi."

    "Saya memang biasa bangun pagi, lalu berjalan-jalan sebentar sebelum sarapan. Pagi tadi, saya bam saja keluar mmah ketika berpapasan dengan dokter itu.
    Dia mengatakan Mrs. Porter telah menyuruh seseorang menyampaikan pesan penting itu kepadanya. Saya langsung melompat ke keretanya dan kami berdua lalu
    berangkat ke mmah saudara saya. Ketika sampai di sana, pemandangan yang mengerikan itu kami saksikan di mang duduk. Lilin dan perapian pasti telah padam
    berjam-jam sebelumnya, dan itu berarti kedua kakak laki-laki saya berada di mangan itu dalam kegelapan hingga pagi tiba. Dokter mengatakan Brenda telah
    meninggal paling tidak enam jam yang lalu. Tak ada tanda-tanda kekerasan. Dia cuma tergeletak ke lengan kursi dengan ekspresi wajah yang begitu mengenaskan.
    George dan Owen sedang bernyanyi-nyanyi dan menceracau tak keruan seperti dua gorila. Oh, alangkah ngerinya apa yang kami lihat itu! Saya tak tahan lagi,
    bahkan wajah dokter pun menjadi pucat pasi, dan dia nyaris pingsan."

    "Luar biasa—sangat luar biasa!" kata Holmes sambil berdiri dan mengambil topinya. "Saya rasa, sebaiknya kita pergi ke Tredannick Wartha sekarang juga.
    Hams saya akui saya jarang sekali menemui kasus yang sejak dari awalnya sudah menyajikan masalah yang begitu unik."

    257

    Apa yang kami lakukan pada pagi itu tak banyak membawa kemajuan bagi penyelidikan kami. Tapi aku sangat dikejutkan dengan suatu peristiwa yang terjadi
    dalam perjalanan ke tempat kejadian itu. Kami hams melewati jalan pedesaan yang sempit dan berbelok-belok. Ketika itulah kami mendengar dencing kereta
    yang datang dari arah berlawanan. Kami menepi untuk memberi jalan pada kereta itu. Ketika kendaraan itu melintas, aku sempat melihat seraut wajah mengerikan
    yang membelalak ke arah kami dari jendela kereta yang tertutup. Wajah dengan mata melotot dan gigi menyeringai yang melaju menjauhi kami itu meninggalkan
    kesan yang sangat menakutkan.

    "Kedua kakak saya!" teriak Mortimer Tregennis dengan bibir memucat. "Mereka dibawa ke Helston."

    Dengan ngeri kami mengawasi kereta hitam itu melaju meninggalkan kami. Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju mmah yang tertimpa malapetaka itu.

    Rumah itu besar dan terang, lebih mirip vila daripada mmah pedesaan. Ada taman luas yang dipenuhi bunga-bunga musim semi. Jendela mang duduk tempat mereka
    berada semalam menghadap ke taman ini. Dan dari taman inilah, menumt Mortimer Tregennis, telah muncul setan yang begitu mengejutkan mereka, sehingga mereka
    jadi gila. Holmes berjalan perlahan-lahan di antara pot-pot bunga dan sepanjang jalanan di taman itu.

    258

    Lalu kami masuk ke beranda. Seingatku, begitu seriusnya dia berpikir, sampai dia menabrak ember penyiram tanaman sehingga isinya tumpah dan membasahi kaki
    kami dan jalanan di taman. Ketika sampai di dalam mmah, kami ditemui pelayan tua mmah itu, Mrs. Porter, yang asli Cornwall. Dia melayani kebutuhan keluarga
    ini dibantu seorang pelayan wanita yang masih muda. Dengan sigap dia menjawab semua pertanyaan Holmes. Dia tak mendengar apa-apa malam itu. Ketiga majikannya
    sangat gembira dan berkecukupan akhir-akhir ini. Dia jatuh pingsan begitu masuk ke mang duduk pagi tadi, karena melihat ketiga orang itu di sekeliling
    meja. Ketika sudah siuman, dia membuka jendela agar udara segar masuk ke mangan itu Dia lalu berlari ke halaman, dan menyuruh seorang buruh tani memanggil
    dokter. Nyonyanya sekarang sudah dipindahkan ke kamar tidurnya di lantai atas, dan dia mempersilakan kami melihatnya. Dibutuhkan empat pria yang kuat untuk
    membawa kedua tuannya masuk ke kereta milik mmah sakit jiwa itu. Dia sendiri tak mau tinggal di mmah itu lebih lama lagi, dan siang itu juga dia mau pulang
    ke mmah keluarganya di St. Ives.

    Kami menaiki tangga dan melihat tubuh yang sudah jadi mayat itu. Miss Brenda Tregennis dulunya pastilah gadis yang sangat cantik. Walaupun usianya sudah
    mendekati setengah baya, raut wajahnya yang gelap masih memancarkan kecantikan

    259

    masa mudanya. Sayangnya wajah itu dinodai ekspresi ketakutan yang luar biasa. Dari kamar itu, kami turun ke mang duduk tempat terjadinya tragedi yang aneh
    itu. Abu perapian yang hangus belum dibersihkan. Ada empat lilin yang sudah terbakar habis dan kartu-kartu yang berserakan di meja. Kursi-kursinya telah
    didorong ke belakang, tapi yang lain-lainnya tak ada yang berubah dalam mangan itu. Holmes menduduki kursi-kursi itu satu per satu, lalu digambarnya posisi-posisinya.
    Dia mengukur berapa jauh jarak pandang dari situ ke taman; dia memeriksa lantai, atap, dan perapian; tapi aku tak melihat matanya bersinar-sinar dafi bibirnya
    terkatup rapat yang biasanya menunjukkan adanya suatu petunjuk

    "Kenapa mereka menyalakan perapian?" tanyanya suatu saat. "Apakah mereka memang biasa menyalakan perapian di mang duduk yang kecil ini pada musim semi?"

    Mortimer Tregennis menjelaskan bahwa semalam udara cukup dingin dan lembap. Itulah sebabnya tak lama setelah kedatangannya, perapian dinyalakan. "Apa yang
    hendak Anda lakukan sekarang, Mr. Holmes?" tanyanya.

    Sahabatku tersenyum dan menyentuh lenganku. "Kurasa, Watson, aku mau merokok lagi, meneruskan yang tadi pagi," katanya. "Jika Anda sekalian tak keberatan,
    kami permisi dulu sekarang, karena menumt saya tak akan ada hal bam yang akan saya temukan di sini. Saya akan memikirkan se

    260

    mua fakta yang ada, Mr. Tregennis, dan kalau ada hasilnya, saya pasti akan mengabarkannya kepada Anda dan Pendeta. Selamat pagi."

    Holmes tems membisu setelah itu. Beberapa saat setelah kami kembali ke Poldhu Cottage, barulah dia mulai berbicara. Dia duduk meringkuk di kursi malasnya,
    wajahnya yang cekung dan serius hampir-hampir tak kelihatan karena tertutup asap biru rokok yang diisapnya. Alisnya yang berwarna hitam tertarik ke bawah,
    dahinya tegang, tatapan matanya kosong dan jauh. Akhirnya, dia meletakkan pipanya dan berdiri.

    "Tak bisa, Watson!" katanya sambil tertawa. "Mari kita jalan-jalan sepanjang tebing untuk mencari anak panah yang ujungnya mengandung bam api. Itu lebih
    mudah ditemukan daripada petunjuk bagi masalah ini. Menyuruh otak bekerja tanpa bahan yang memadai bagaikan berlomba dengan mesin. Otakku bisa hancur berkeping-keping.
    Sebaiknya kita bersabar saja, Watson, sambil menikmati udara laut dan sinar matahari—semuanya nanti akan datang dengan sendirinya.

    "Nah, mari dengan tenang kita memahami posisi kita, Watson," lanjutnya ketika kami menyusuri tebing. "Kita hams benar-benar memanfaatkan secuil fakta yang
    kita ketahui, sehingga kalau nanti ada fakta-fakta bam kita akan siap menempatkannya pada posisi yang seharusnya. Pertama-tama, menurutku kita berdua setuju
    tak mungkin gangguan-gangguan setan bisa ikut campur dalam ka

    261

    sus manusia. Mari kita mulai dengan meyakini hal im di benak kita. Bagus sekali. Jadi ada tiga orang yang telah dikejutkan secara amat luar biasa oleh
    seseorang, baik secara sengaja maupun tak sengaja. Itu harus dipegang teguh. Sekarang, kapan itu terjadi? Jelas, kalau penuturannya benar, langsung setelah
    Mr. Mortimer Tregennis pulang. Hal ini sangat penting. Kita bayangkan setelah beberapa menit, karena kartu-kartu yang dipakai bermain masih ada di meja.
    Saat itu biasanya mereka sudah tidur. Dan mereka tidak sempat mengubah posisi, atau bahkan menarik kursi ke belakang. Jadi, kuulangi lagi, kejadiannya
    pastilah langsung setelah dia meninggalkan tempat itu, dan tak lewat dari jam sebelas.

    "Langkah kita selanjutnya ialah mencari tahu, semampu kita, apa yang dilakukan Mortimer Tregennis setelah dia meninggalkan tempat itu. Ini tak sulit, dan
    rasanya tak ada tindakannya yang pantas dicurigai. Kau tahu cara kerjaku, dan kau tentunya sadar untuk apa aku sengaja menumpahkan ember berisi air itu.
    Aku ingin mendapatkan jejak kakinya. Jalanan berpasir yang basah im benar-benar menghasilkan jejak kaki yang bagus. Tentunya kau masih ingat bahwa tadi
    malam tanah di situ juga basah. Setelah punya contoh jejak kakinya, tak susah melacak jejaknya di antara jejak-jejak lainnya. Dia ternyata langsung menuju
    mmah pendeta.

    "Kalau Mortimer Tregennis memang meninggalkan tempat im, dan ada orang lain yang telah

    262

    menakut-nakuti ketiga pemilik mmah, bagaimana caranya kita mengira-ngira orangnya, dan mengapa dia sampai menimbulkan kesan yang begitu menakutkan? Mrs.
    Porter tak perlu kita curigai. Dia jelas tak bersalah. Bisakah dibuktikan seseorang telah memanjat pagar depan untuk masuk ke taman di bawah jendela itu
    lalu begitu mengejutkan orang-orang yang melihatnya sampai mereka menjadi gila? Yang bisa mengarah ke situ adalah penjelasan Mortimer Tregennis sendiri,
    yang tadi mengatakan kakaknya juga tahu tentang adanya sesuatu yang bergerak di taman. Hal ini jelas aneh karena hujan turun malam itu, cuaca mendung dan
    gelap. Kalau ada orang yang memang merencanakan mengagetkan mereka, dia hams menempelkan wajahnya sedemikian mpa ke kaca agar dapat terlihat mereka. Ada
    pembatas berbentuk pohon-pohon bunga setinggi semeter di luar jendela itu, tapi tak ada jejak kaki. Jadi, susah membayangkan bagaimana seseorang dari luar
    bisa mengagetkan mereka sedemikian mpa. Juga, tak ada motif yang jelas untuk tindakan yang aneh dan macam-macam begitu. Kau mengerti kesulitan kita, Watson?"

    "Sangat jelas," kataku dengan yakin.

    "Kalau kita bisa mendapatkan tambahan bahan sedikit lagi saja, kita akan bisa membuktikan kasus ini tidaklah di luar jangkauan kita," kata Holmes. "Kurasa
    di antara arsip-arsipmu yang banyak itu, Watson, pasti ada beberapa yang misterius seperti kasus yang sedang kita tangani. Sementara ini, kita

    263

    akan mengesampingkan kasus ini sampai ada informasi yang lebih akurat, dan mari kita nikmati sisa pagi ini dengan menyusuri jejak orang zaman neolitis."

    Aku mungkin pernah menyebutkan tentang kemampuan mental sahabatku, tentang kemampuannya menyingkirkan masalah-masalah yang tak dapat langsung ditanganinya
    dari benaknya. Tapi pada pagi musim semi di Cornwall ini, aku benar-benar heran melihat apa yang dilakukannya. Selama dua jam berkeliling, dia berpidato
    tentang bangsa-Celt, makna ujung-ujung panah, serta ser-pihan-serpihan k ramik dengan begitu ringannya, sama sekali tak terbersit ada misteri aneh yang
    sedang menunggu dipecahkannya.

    Siang ketika kami kembali ke pondok, ada seseorang yang telah menunggu. Karena dialah pikiran kami langsung dibawa kembali kepada kasus yang sempat kami
    lupakan sejenak: Kami tak perlu di beritahu siapa dia. Perawakannya tinggi besar, wajahnya kasar dan banyak bekas jahitan, matanya nyalang, hidungnya seperti
    hidung elang, rambutnya beruban dan hampir menyentuh langit-langit mangan, janggutnya berwarna keemasan di pinggirnya dan putih dengan bercak-bercak nikotin
    di dekat bibirnya. Semua ciri penampilannya ini sangat terkenal baik di London maupun di Afrika, dan dia tak lain dari Dr. Leon Sterndale, penjelajah dan
    pemburu singa yang termasyhur.

    Kami memang telah mendengar dia berada di

    264

    daerah sini, dan pernah beberapa kali melihat sosoknya yang tinggi besar di padang. Tapi dia tak pernah mendekati kami dan kami pun enggan menemuinya.
    Sudah tersiar kabar dia suka menyendiri, dan kalau tidak sedang berburu atau menjelajah, dia mengunci diri saja di vilanya yang kecil yang terletak di
    tengah-tengah hutan Beauchamp Arriance yang sunyi senyap. Di situ, dikerumuni buku-buku dan peta-peta, dia hidup sendirian, dan nyaris tak pernah peduli
    pada urusan sekelilingnya. Itulah sebabnya aku terkejut ketika mendengarnya melemparkan pertanyaan-pertanyaan dengan gencar kepada Holmes—yaitu apakah
    Holmes telah mendapatkan kemajuan dalam menangani peristiwa yang misterius itu.

    "Polisi desa ini jelas salah duga," kata Dr. Sterndale, "namun pengalaman Anda yang luas mungkin telah menghasilkan penjelasan yang lebih masuk akal. Satu-satunya
    alasan saya yang cukup kuat untuk menanyakan hal ini ialah karena selama tinggal di sini, saya berhubungan baik dengan keluarga Tregennis—sebenarnya
    mereka masih sepupu saya dari garis ibu saya yang asli Cornwall—dan nasib malang yang menimpa mereka sangat mengejutkan saya. Saya sudah sampai di Plymouth
    dalam perjalanan ke Afrika, ketika saya mendapat kabar tentang hal itu pagi tadi, dan saya langsung kembali kemari, kalau kalau ada yang bisa saya bantu
    dalam penyelidikannya." Holmes mengangkat alisnya.

    265

    "Jadi Anda ketinggalan kapal?"

    "Saya akan berangkat, dengan kapal berikutnya."

    "Wah, wah! Kesetiakawanan yang luar biasa."

    "Sudah saya katakan mereka masih berhubungan keluarga dengan saya."

    "Oh, begitu—sepupu dari pihak ibu Anda. Apakah bagasi Anda sudah di kapal?"

    "Sebagian, tapi yang penting-penting saya bawa ke hotel."

    "Begitu, ya. Tapi rasanya mustahil berita tentang peristiwa itu sudah masuk koran pagi di Plymouth.". -

    Tidak, Sir, saya menerima telegram."

    "Boleh tanya siapa yang mengirimnya?"

    Wajah penjelajah itu menjadi agak jengkel.

    "Anda terlalu ingin tahu, Mr. Holmes."

    "Begitulah pekerjaan saya."

    Dr. Sterndale memaksa dirinya tetap tenang.

    "Saya tak keberatan mengatakannya," katanya. "Pengirimnya Pendeta Roundhay."

    "Terima kasih," kata Holmes. "Saya ingin menjawab pertanyaan Anda yang pertama. Saya belum menangani kasus ini secara tuntas, tapi saya optimis akan mencapai
    kesimpulan tak lama lagi. Hanya itu yang bisa saya katakan saat ini."

    "Mungkin Anda tak keberatan mengatakan kepada saya siapa yang Anda curigai?"

    "Tidak, saya tak bisa menjawab pertanyaan itu."

    "Kalau begitu, saya telah membuang-buang waktu, dan tak perlu tinggal lebih lama di sini."

    266

    Penjelajah kenamaan itu langsung meninggalkan tempat kami dengan sikap jengkel, dan lima menit kemudian Holmes menyusulnya. Sahabatku menghilang sampai
    malam hari, dan ketika dia kembali, langkahnya,gontai dan wajahnya kaku, menunjukkan bahwa dia tak mengalami kemajuan dalam penyelidikannya. Dia membaca
    telegram yang telah menantinya, lalu membuangnya ke. perapian.

    "Dari Hotel Plymouth, Watson," katanya. "Aku tahu nama itu dari Pendeta, dan aku mengirim telegram untuk mengecek apa yang dikatakan Dr. Leon Sterndale.
    Ternyata dia memang menginap di sana semalam, dan sebagian bagasinya telah terangkut kapal yang menuju Afrika sementara dia kembali untuk mengikuti perkembangan
    penyelidikan kasus ini. Bagaimana menumtmu, Watson?"

    "Dia sangat tertarik pada musibah ini."

    "Sangat tertarik—ya. Ada benang merah yang belum kita temukan, dan mungkin di sinilah letak jawaban bagi masalah kita. Jangan sedih, Watson, karena bahan
    yang kita butuhkan memang belum semuanya terkumpul. Begitu terkumpul semuanya, masalah kita akan segera teratasi."

    Aku sama sekali tak menduga betapa cepat kata-kata Holmes ini akan menjadi kenyataan, atau betapa aneh dan tragis perkembangan bam yang mengubah total
    arah penyelidikan kami. Keesokan paginya, aku sedang bercukur di jendela, ketika aku mendengar dencing kereta. Ketika kutengok,

    267

    kulihat sebuah kereta melaju ke arah pondok kami, lalu berhenti di depan pondok. Penumpangnya ternyata Pendeta Roundhay, yang lalu berlari-lari menyusuri
    jalan setapak di halaman pondok. Holmes sudah berpakaian, dan kami pun bergegas menemuinya. Tamu kami begitu gugupnya sehingga tak mampu mengatakan apa-apa.
    Tapi akhirnya, dengan terengah-engah dan terbata-bata dia bercerita kepada kami.

    "Setan merajalela, Mr. Holmes! Dia berkeliaran di antara anggota jemaat kami! Tuhan tak lagi melindungi kami!" Dia menari-nari saking gelisahnya—pemandangan
    yang benar-benar menggelikan kalau saja kami tak menatap wajahnya yang pucat pasi dan matanya yang terbelalak. Lalu dia menyampaikan berita yang sangat
    mengejutkan.

    "Mr. Mortimer Tregennis menemui ajalnya semalam. Gejalanya persis sepertj, yang dialami keluarganya."

    Holmes langsung berdiri dengan semangat membara.

    "Apakah kereta Anda bisa menampung kami berdua?" "Bisa."

    "Mari, Watson, kita tak perlu makan pagi. Mr. Roundhay, kami siap berangkat sekarang juga. Cepat, cepat, sebelum semuanya menjadi berantakan."

    Mr. Mortimer Tregennis menyewa dua kamar di kompleks pastori gereja. Letaknya di sudut dan

    268

    bersusun. Kamar bawah merupakan ruang duduk besar, sedangkan kamar di atasnya adalah kamar tidur. Kedua kamar im menghadap ke halaman yang membentang sampai
    ke dekat jendela-jendelanya. Kami sampai di sana lebih awal dari dokter dan polisi, jadi keadaan di lokasi masih seperti semula. Aku ingin menjelaskan
    dengan tepat pemandangan yang kami temui pada pagi hari berkabut di bulan Maret im. Apa yang kulihat di situ begitu membekas dalam ingatanku, tak mungkin
    kulupakan.

    Udara di kamar duduk itu amat sangat pengap. Jendelanya sudah terbuka; pelayan yang pertama kali masuk ke situ yang telah membukanya. Seandainya tidak,
    pastilah udara di situ semakin tak tertahankan. Salah satu penyebabnya ialah lampu minyak yang masih menyala dan mengepulkan asap yang berada di meja di
    tengah mangan. Dan di samping meja tulah kami melihat mayat Mr. Tregennis, dalam keadaan duduk di salah satu kursi dan badannya terjatuh ke belakang. Janggutnya
    yang tipis tergerai ke atas, kacamatanya terangkat ke dahinya, wajahnya yang gelap menoleh ke arah jendela dengan ekspresi ketakutan yang amat sangat,
    persis almarhum kakak perempuannya ketika ditemukan. Tungkai dan lengannya menegang, jari-jari tangan dan kakinya kaku, tanda dia telah menemui ajalnya
    karena ketakutan yang luar biasa. Dia masih berpakaian lengkap, walaupun ada kesan dia mengenakannya dengan tergesa

    269

    gesa. Kami telah diberitahu tempat tidurnya di lantai atas bekas ditiduri dan diperkirakan dia tewas menjelang fajar.

    Siapa pun pasti bisa merasakan semangat Holmes yang menyala-nyala sejak dia memasuki mang duduk itu. Sesaat dia bersikap tegang dan waspada, matanya bersinar-sinar,
    wajahnya kaku, lengannya gemetaran. Dia lalu keluar ke halaman, masuk melewati jendela, berkeliling di dalam mangan, lalu pergi ke kamar tidur, dengan
    begitu gesit bagaikan seekor mbah yang berlari-lari. Di kamar tidur, dia menatap sekelilingnya selama beberapa saat, lalu membuka jendela. Tindakan ini
    tampaknya memberinya semangat bam, karena dia lalu menjulurkan badannya ke depan sambil berteriak kegirangan. Dia berlari menuruni tangga, melompat ke
    luar lewat jendela yang terbuka, lalu tiarap di halaman. Akhirnya dia berlari masuk ke kamar duduk lagi. Lampu di tengah kamar yang bagiku tak ada istimewanya,
    diamatinya dengan saksama, dan diukurnya tempat minyaknya dengan cermat. Dengan hati-hati dia memeriksa lapisan penyaring yang menutupi bagian atas cerobong
    asap lampu im dengan kaca pembesamya, lalu mengambil sebagian abunya. Dimasukkannya abu im ke dalam amplop yang kemudian diselipkannya ke dalam buku catatannya.
    Akhirnya, tepat ketika dokter dan polisi tiba, dia pergi ke mmah si pendeta dan kami bertiga lalu keluar ke halaman. "Saya senang karena penyelidikan saya
    meng

    270

    hasilkan sesuatu," komentarnya. "Saya tak bisa membicarakan masalah ini dengan polisi, tapi saya perlu minta tolong Anda, Mr. Roundhay, untuk menyampaikan
    salam saya kepada Inspektur dan mengarahkan perhatiannya ke jendela kamar tidur dan lampu di mang duduk. Keduanya mempunyai arti yang sangat penting, bahkan
    kesimpulannya ada di situ. Kalau dia ingin informasi lebih lanjut, persilakan datang ke tempat saya. Dan sekarang, Watson, kurasa sebaiknya kita pergi
    ke tempat lain."

    Mungkin polisi tak senang ada pihak amatir yang ikut campur tangan, atau mereka merasa mempunyai harapan besar untuk berhasil dalam penyelidikan mereka
    sendiri. Pokoknya, tak ada kabar dari mereka selama dua hari setelah itu. Sementara itu, Holmes menghabiskan waktunya dengan merokok dan melamun di dalam
    pondok dan berjalan-jalan sendirian di sekitar pedesaan. Setelah berjam-jam berkeliling, dia kembali tanpa melaporkan ke mana perginya. Tapi ada percobaan
    yang menunjukkan arah penyelidikannya. Dia membeli lampu yang sama dengan yang kami lihat di kamar Mortimer Tregennis. Diisinya lampu im dengan minyak
    yang dipakai di mmah si pendeta, dan dengan saksama dia menghitung berapa lama yang diperlukan sampai minyak itu habis terbakar. Percobaan lain yang dilakukannya
    lebih tak menyenangkan, dan tak mungkin kulupakan.

    "Ingatlah baik-baik, Watson," komentarnya pada

    271

    suatu siang, "ada satu hal yang mirip dalam berbagai laporan yang kita terima tentang kasus ini. Yaitu tentang keadaan udara kamar tempat terjadinya musibah,
    baik yang di Tredannick Wartha maupun yang di mmah Pendeta. Kau pasti masih ingat ketika Mortimer Tregennis menjelaskan kunjungan terakhirnya ke mmah keluarganya,
    dia mengatakan ketika masuk ke mangan tempat kejadian im, dokter sampai terjatuh ke kursi. Kau tak ingat? Well, percaya sajalah padaku. Nah, Mrs. Porter,
    si pelayan tua, juga mengatakan dia pingsan ketika masuk ke mangan im, sebelum dia membuka jendela. Pada kasus kedua—yang merenggut nyawa Mortimer Tregennis—kau
    pasti belum lupa bagaimana pengapnya udara di kamar im ketika kita tiba, walaupun jendelanya sudah dibuka pelayan. Pelayan im, setelah kutanyai, menyatakan
    sesak napas sehingga hams berbaring di kamarnya. Jadi, Watson, kita bisa mengambil kesimpulan dari fakta-fakta ini. Pada masing-masing kasus, terbukti
    adanya udara yang mengandung racun. Pad# keduanya, juga ada sesuatu yang sedang dibakar— pada kasus pertama perapian, pada kasus kedua lampu minyak.
    Perapian memang waktu im dibutuhkan, tapi lampu minyak sengaja dinyalakan— terlihat dari banyaknya minyak yang dipakai— setelah hari terang. Mengapa?
    Pasti ada hubungan antara tiga hal berikut ini—nyala api, udara yang pengap, dan akhirnya, orang-orang malang yang

    272

    menjadi gila atau bahkan menemui ajal mereka. Jelas sekali, kan?"

    "Kelihatannya demikian."

    "Paling tidak kita bisa menerima hal im sebagai dugaan sementara. Maka, kita akan mengandaikan ada sesuatu yang dibakar pada masing-masing kasus yang menghasilkan
    udara yang sangat beracun. Bagus sekali. Pada contoh pertama—keluarga Tregennis itu—sesuatu ini dibakar di perapian. Waktu itu jendelanya tertutup,
    tapi perapian im pasti menghasilkan asap yang naik ke cerobong. Itulah sebabnya efek racunnya tak begitu keras dibandingkan dengan kasus kedua, yang asapnya
    langsung terhirup korban. Hasilnya pun menunjukkan demikian. Pada kasus pertama hanya yang wanita yang terbunuh, mungkin karena daya tahan tubuhnya lebih
    lemah, sedangkan kedua saudara laki-lakinya hanya terkena efek awal yaitu menjadi gila, entah untuk sementara atau selamanya. Pada kasus kedua, hasilnya
    sempurna. Fakta-fakta inilah yang menguatkan teori adanya racun yang bekerja melalui pembakaran.

    "Dengan pertimbangan seperti im, tentu saja aku lalu mencari-cari sisa sesuatu im di kamar Mortimer Tregennis. Tempat yang paling mungkin adalah lapisan
    penyaring lampu itu. Dan memang benar, aku mendapatkan abu berlapis-lapis yang di pinggirannya ada bubuk cokelat, yang belum sempat terbakar. Separonya
    kuambil dan kumasukkan ke dalam amplop."

    273

    "Kenapa cuma separonya. Holmes?"

    "Aku tak ingin, sobatku Watson, menghalangi-halangi upaya pihak kepolisian. Semua bukti yang kudapatkan kutinggalkan untuk mereka. Racunnya masih ada di
    abu im, .kalau mereka cukup cerdik, pasti akan menemukannya. Sekarang, Watson, mari kita memasang lampu; namun kita hams mengambil tindakan pencegahan
    terlebih dahulu dengan membuka jendela agar jangan sampai dua anggota masyarakat yang berguna ini mati konyol. Silakan duduk di kursi dekat jendela yang
    terbuka itu, kecuali kalau akal sehatmu melarangmu ikut campur dalam penanganan kasus ini. Oh, kau pasti mau melihat bagaimana racun im bekerja, kan? Kurasa
    aku tahu benar bagaimana Watson sobatku ini. Aku akan menaruh kursi ini berseberangan dengan kursimu, sehingga jarak kita masing-masing ke racun im sama
    jauhnya, dan kita bisa berhadapan. Pintunya biar terbuka. Sekarang, masing-masing mengawasi temannya dan akan mengakhiri percobaan ini kalau melihat temannya
    tak tahan lagi. Jelas? Nah, akan kuambil bubuknya—atau lebih tepatnya sisa bubuknya—dari amplop, dan kutaruh di atas lampu yang menyala im. Sekarang,
    Watson, mari kita duduk sambil menunggu perkembangan yang terjadi."

    Kami tak perlu menunggu lama. Tak lama setelah aku duduk, aku langsung mencium bau yang pekat dan menyengat, tajam dan memuakkan. Bam pada hirupan pertama
    saja, pikiran dan khayalanku

    274

    sudah tak terkontrol. Terlihat awan tebal berwarna hitam yang bergulung-gulung di depan mataku, dan pikiranku mengatakan bahwa dalam awan inilah—walaupun
    belum kelihatan nyata—terdapat semua penglihatan menakutkan dan mengerikan yang pernah ada di dunia. Mulai terlihat bentuk-bentuk bayangan yang berputar-putar
    dan berenang-renang di tengah awan hitam itu, masing-masing penuh peringatan akan datangnya sesuatu yang akan mencabut nyawaku. Keringat dingin membasahi
    sekujur tubuhku. Kurasakan bulu kudukku berdiri, mataku melotot seolah hendak terloncat ke luar, mulutku ternganga, dan lidahku kelu bagaikan terbuat dari
    kulit. Kekacauan di benakku sudah memuncak sedemikian mpa sampai terdengar suara yang memekakkan telinga. Aku berusaha menjerit, tapi lalu menyadari hanya
    rintihan paraulah yang berhasil keluar dari mulutku. Pada saat yang sama, dalam upayaku untuk melepaskan diri, aku berusaha menembus awan hitam itu. Dan
    sekilas tampak olehku wajah Holmes yang pucat, kaku, dan ketakutan—persis seperti ekspresi mayat yang kami temukan di kamar duduk. Ketika itulah tiba-tiba
    kesadaran dan kekuatanku terbit kembali. Aku berlari mendekap Holmes, lalu bersama-sama kami berjalan sempoyongan keluar kamar. Kami menjatuhkan diri ke
    rerumputan dan berbaring berdampingan. Yang masih kami sadari ialah sinar matahari yang cerah, yang perlahan-lahan menembus awan teror yang

    275

    sempat menjerat kami. Awan hitam im terangkat dari jiwa kami, bagaikan kabut yang menghilang sedikit demi sedikit dari permukaan bumi sampai akhirnya kami
    tenang dan kesadaran kami pulih kembali. Kami lalu .bangun dan duduk di rerumputan sambil menyeka dahi kami yang basah kuyup. Kami berpandangan dengan
    penuh keprihatinan sambil meyakinkan diri bahwa kami benar-benar selamat.

    "Demi Tuhan, Watson!" kata Holmes pada akhirnya dengan suara gemetaran. "Aku hams berterima kasih sekaligus mohon maaf kepadamu. Percobaan tadi sangat
    membahayakan, tak seharusnya aku meminta sahabatku ikut serta. Sekali lagi aku mohon maaf sebesar-besarnya."

    "Tahukah kau," jawabku dengan penuh perasaan, karena tak pernah sebelumnya Holmes berbicara dengan begitu lembutnya, "aku malah gembira dan merasa mendapat
    kehormatan karena dapat membantumu."

    Sahabatku segera kembali ke sikapnya yang semula—penuh humor, sekaligus sinis.

    "Wah, pasti gempar kalau kita sampai jadi gila, sobatku Watson," katanya. "Orang yang tak memahami kita pasti akan mengatakan kita tentunya memang sudah
    gila bahkan sebelum melakukan percobaan yang gila-gilaan itu. Kuakui, aku tak menyangka efeknya akan secepat dan sehebat itu." Dia berlari ke dalam mmah,
    dan keluar lagi sam

    276

    bil membawa lampu minyak yang masih menyala, lalu dilemparkannya lampu itu ke semak-semak.

    "Perlu beberapa saat sebelum ruangan itu terbebas dari efek racun. Aku yakin, Watson, kau sekarang tak lagi ragu tentang bagaimana kedua tragedi itu terjadi."

    "Jelas tidak."

    "Tapi kasusnya masih kabur. Mari duduk di kursi taman ini, dan kita bicarakan hal ini bersama-sama. Zat yang sangat beracun itu rasanya masih menempel
    di tenggorokanku. Kurasa kita hams mengambil kesimpulan bahwa semua bukti yang ada mengarah kepada orang bernama Mortimer Tregennis im. Dialah pelaku pada
    musibah pertama, lalu dia sendiri menjadi korban pada musibah kedua. Pertama-tama kita hams ingat pernah terjadi perselisihan di keluarga itu, lalu mereka
    berbaikan. Kita tak pernah tahu seberapa parahnya perselisihan itu, ataupun seberapa jauhnya perdamaian- yang terjadi. Kalau aku merenungkan pribadi Mortimer
    Tregennis ini—wajahnya yang licik, dan mata sipirnya yang cerdik yang tersembunyi di balik kacamatanya—dia bukanlah tipe pemaaf.

    "Berikutnya, kau pasti masih ingat penuturannya tentang orang yang bergerak di taman, sehingga sesaat perhatian kita terbawa ke sana dan mengabaikan sumber
    utama penyebab tragedi im. Dia memang merencanakan mengelabui kita. Dan akhirnya, kalau bukan dia yang melemparkan zat itu ke perapian ketika dia hendak
    meninggalkan

    277

    rumah saudara-saudaranya im, siapa lagi? Tragedi pertama itu terjadi tak lama setelah kepergiannya. Seandainya ada orang lain yang masuk ke situ, saudara-saudaranya
    pasti sudah beringsut dari tempat duduknya. Di samping itu, di desa Cornwall yang sepi ini, tak biasanya orang berkunjung setelah jam sepuluh malam. Jadi,
    kita bisa menarik kesimpulan bahwa semua bukti sangat mengarah kepada Mortimer Tregennis sebagai pelakunya."

    "Kalau begitu kematiannya karena dia bunuh diri?"

    "Well, Watson. Dilihat sepintas tampaknya bisa saja demikian. Seseorang bisa menjadi sangat menyesal karena telah mendatangkan kemalangan yang begitu mengerikan
    kepada keluarganya sendiri, lalu nekat bunuh diri. Tapi, bisa jadi ada sebab lain. Dan kita beruntung karena ada seseorang di negeri ini yang tahu tentang
    hal im, dan aku sudah mengatur agar kita bisa mendengar fakta-faktanya siang ini juga secara langsung darinya. Ah! Dia datang lebih dini dari perjanjian.
    Mari, di sini saja, Dr. Leon Sterndale. Kami tadi melakukan percobaan kimia di dalam sana, sehingga maaf kalau masih berantakan dan kurang layak untuk
    menerima tamu sepenting Anda."

    Aku memang mendengar suara pintu gerbang taman dibuka, dan sekarang sosok penjelajah Afrika yang tinggi besar itu muncul di jalan setapak. Dia menoleh
    dengan terkejut ke arah kursi taman tempat kami duduk.

    278

    "Anda mengundang saya, Mr. Holmes. Saya menerima surat Anda kira-kira sejam yang lalu, dan sekarang saya datang, walaupun sebenarnya saya tidak tahu untuk
    apa saya memenuhi undangan Anda."

    "Barangkah kita dapat memperoleh penjelasan tentang hal itu sebelum kita berpisah," kata Holmes. "Terima kasih atas kesediaan Anda datang kemari. Maaf,
    kami menerima Anda di tempat terbuka. Saya dan teman saya Watson hampir menyelesaikan laporan tambahan tentang kasus yang oleh surat-surat kabar disebut
    'Cerita Horor dari Cornwall'; dan sementara ini kami lebih menyukai udara yang bersih. Karena pembicaraan kita ini mungkin menyangkut hal-hal yang sangat
    pribadi bagi Anda, kita perlu bicara di tempat yang aman."

    Penjelajah Afrika im mencabut rokok dari bibirnya dan menatap sahabatku dengan tajam.

    "Saya sungguh tak mengerti, Sir," katanya, "apa yang ingin Anda bicarakan yang ada hubungannya dengan diri saya."

    "Tentang terbunuhnya Mortimer Tregennis," kata Holmes.

    Sekejap aku berharap membawa senjata. Wajah Sterndale yang buas menjadi merah padam, matanya menyala-nyala, dan urat-urat darah di dahinya menonjol. Dia
    lalu melompat ke arah sahabatku dengan tangan terkepal. Tapi serangannya tiba-tiba terhenti, dan dengan sekuat tenaga dia berusaha

    279

    mengendalikan amarahnya. Dia kembali bersikap tenang, dingin, dan tak bersahabat, yang tampaknya lebih mengerikan daripada luapan kemarahannya.

    "Sudah lama saya hidup dalam dunia yang keras tanpa mengenal hukum," katanya, "sehingga saya terbiasa bertindak menumt hukum saya sendiri. Ingatlah itu,
    Mr. Holmes, sebab saya tak berniat melukai Anda."

    "Saya pun tak berniat melukai Anda, Dr. Sterndale. Buktinya saya memilih mengundang Anda kemari dan bukannya melapor ke polisi meskipun fakta-fakta sudah
    di tangan saya."

    Sterndale duduk dengan mulut ternganga—terpana mungkin, untuk pertama kali dalam hidupnya yang penuh pemalangan. Ada ketenangan aneh yang penuh wibawa
    dalam sikap Holmes. Tamu kami tergagap selama beberapa saat, tangannya yang besar dibuka -dan dikepalkannya berkali-kali karena gugupnya.

    "Apa maksud Anda?" tanyanya pada akhirnya. "Kalau ini sekadar gertak sambal, Mr. Holmes, Anda salah memilih orang. Mari tak usah berputar-putar lagi. Apa
    sebenarnya yang Anda maksudkan?"

    "Saya akan segera mengatakannya," kata Holmes, "dan saya harap keterbukaan saya akan Anda balas dengan keterbukaan juga. Apa langkah saya selanjutnya seluruhnya
    tergantung pada bagaimana Anda membela diri."

    280

    "Membela diri?" "Ya, Sir."

    "Kenapa saya hams membela diri?"

    "Karena saya menuduh Anda membunuh Mortimer Tregennis."

    Sterndale mengusap dahinya dengan saputangan. "Dengarlah, Anda sudah keterlaluan," katanya. "Apakah semua keberhasilan penyelidikan Anda disebabkan kelihaian
    Anda yang luar biasa dalam menggertak orang?"

    "Andalah yang menggertak, Dr. Leon Sterndale, Nbukan saya," kata Holmes ketus. "Sebagai buktinya, akan saya utarakan beberapa fakta yang mendasari kesimpulan
    saya. Ketika Anda kembali kemari dari Plymouth, Anda meninggalkan banyak barang Anda di kapal yang menuju ke Afrika. Itulah faktor pertama yang menunjukkan
    keterlibatan Anda dalam tragedi ini."

    "Saya kembali karena..."

    "Saya sudah tahu alasan Anda, tapi alasan im tak begitu meyakinkan dan tak cukup kuat. Kita lewati saja hal im. Anda datang ke tempat saya untuk menanyakan
    siapa yang saya curigai. Saya tak mengatakannya kepada Anda. Anda lalu pergi ke mmah pendeta, menunggu di depan rumah itu selama beberapa saat, bamlah
    kembali ke tempat Anda."

    "Bagaimana Anda bisa tahu hal im?" "Saya mengikuti Anda."

    281

    "Saya tak melihat ada orang yang mengikuti saya."

    "Begitulah kalau saya sedang mengikuti orang. Anda gelisah semalaman lalu Anda menyusun rencana, yang Anda laksanakan keesokan harinya. Anda meninggalkan
    mmah pagi-pagi sekali, sambil mengantongi beberapa kerikil kemerahan yang menumpuk di samping pintu gerbang mmah Anda."

    Sterndale terperanjat dan menatap Holmes dengan terheran-heran.

    "Anda berjalan dengan cepat ke mmah si pendeta yang berjarak sekitar satu mil dari mmah Anda. Kalau boleh saya sebutkan, Anda waktu itu mengenakan sepatu
    tenis yang sekarang Anda kenakan. Sesampai di dekat rumah pendeta, Anda menyeberangi jalan raya dan melompati pagar samping, sehingga Anda pun sampai di
    bawah jendela kamar yang disewa Tregennis. Waktu itu hari sudah terang, tapi mmah itu masih sepi. Anda mengeluarkan beberapa kerikil dari kantong Anda,
    lalu melemparkannya ke jendela di atas Anda."

    Sterndale terlompat berdiri.

    "Saya yakin Anda sendirilah si setan im!" teriaknya.

    Holmes tersenyum mendengar pujian im. "Anda melempari jendela im dua atau mungkin tiga kali sebelum penghuni kamar itu mendekat ke jendela. Anda lalu memintanya
    turun. Dia berpakaian dengan tergesa-gesa, kemudian turun ke kamar duduknya. Anda melompati jendela dan masuk ke

    282

    situ. Lalu terjadilah pembicaraan—cuma sekejap— sementara Anda mondar-mandir di mangan itu. Kemudian Anda keluar dari sana setelah menutup jendelanya.
    Anda berdiri di halaman sambil merokok, menunggu perkembangannya. Akhirnya, setelah Tregennis menemui ajalnya, Anda meninggalkan tempat itu. Sekarang,
    Dr. Sterndale, bagaimana Anda menjelaskan tindakan seperti im, dan apa sebenarnya motif perbuatan Anda? Kalau sampai Anda berbohong atau mempermainkan
    saya, percayalah, semua fakta ini akan saya sebar luaskan."

    Wajah tamu kami menjadi pucat pasi sementara dia mendengarkan tuduhan im. Kini, dia duduk selama beberapa saat sambil tepekur dengan wajah ditelungkupkan
    pada kedua tangannya. Kemudian, dengan gerakan refleks yang sangat tiba-tiba, dia mencabut sebuah foto dari saku bajunya dan melemparkannya ke meja kayu
    di depan kami.

    "Inilah yang menyebabkan saya melakukan itu," katanya.

    Foto itu adalah foto setengah badan dari seorang wanita yang sangat cantik. Holmes membungkuk untuk melihatnya.

    "Brenda Tregennis," katanya.

    "Ya, Brenda Tregennis," ulang tamu kami. "Selama bertahun-tahun saya mencintainya. Dia juga demikian. Desa Cornwall yang terpencil ini menyimpan misteri
    yang banyak dikagumi orang. Bagi saya pribadi, tempat ini telah memperkenal

    283

    kan saya kepada satu-satunya wanita yang sangat saya cintai. Sayangnya, saya tak bisa menikahinya, karena saya masih terikat pernikahan dengan istri yang
    telah lama meninggalkan saya. Peraturan hukum Inggris yang ketat tak memungkinkan saya menceraikannya.' Bertahun-tahun Brenda menunggu. Bertahun-tahun
    saya menunggu. Dan penantian kami berakhir seperti ini."

    Tamu kami yang berbadan besar im menangis tersedu-sedu, dan memegangi tenggorokannya yang tertutup janggut berwarna cokelat kemerahan. Beberapa saat kemudian
    dia berupaya menguasai dirinya, lalu melanjutkan kisahnya.

    "Pendeta Roundhay tahu tentang hubungan kami. Dia menjadi orang kepercayaan kami. Dia pun akan mengatakan kepada Anda betapa baiknya Brenda, seperti malaikat
    yang hidup di bumi. Itulah sebabnya dia mengirim telegram kepada saya mengabarkan tentang musibah im, dan saya langsung kembali kemari. Saya tinggalkan
    begitu saja barang-barang bawaan saya ataupun rencana ke-pergian saya ke Afrika begitu mendengar nasib yang menimpa kekasih saya. Inilah mata rantai yang
    belum Anda ketahui, Mr. Holmes."

    "Teruskan," kata sahabatku.

    Dr. Sterndale mengambil bungkusan kecil dari sakunya dan menaruhnya di meja. Pada kertas pembungkusnya tertulis Radix pedis diaboli dan di bawah tulisan
    itu ada label racun. Disodorkannya

    284

    bungkusan itu kepadaku. "Sir, Anda dokter. Pernah mendengar tentang ramuan ini?"

    "Akar kaki setan! Tidak, saya belum pernah mendengarnya."

    "Memang tak dikenal di dunia kedokteran," katanya. "Sepengetahuan saya, ramuan ini hanya ada satu sampelnya di laboratorium di kota Buda, dan sama sekali
    tak bisa ditemukan di seantero Eropa. Juga belum masuk dalam daftar resmi obat-obatan ataupun di buku-buku yang membahas tentang racun. Akarnya berbentuk
    seperti kaki, setengahnya mirip orang, setengahnya lagi mirip kambing. Seorang misionaris yang juga ahli botani memberinya nama yang unik itu. Ramuan ini
    dipakai sebagai racun pembunuh oleh dukun-dukun di beberapa wilayah di Afrika Barat, dan sangat mereka rahasiakan. Saya mendapatkannya secara kebetulan
    di Negara Ubanghi."

    Dia membuka bungkusan im dan memperlihatkan sejumput bubuk berwarna cokelat kemerahan yang mirip tembakau.

    "Selanjutnya, Sir?" tanya Holmes dengan tegas.

    "Saya akan berterus terang kepada Anda, Mr. Holmes, toh Anda sudah mengetahui sebagian besar kisahnya. Tadi sudah saya jelaskan hubungan saya dengan Brenda.
    Demi Brenda, saya bersahabat dengan saudara-saudara lelakinya. Dalam keluarga itu pernah terjadi perselisihan menyangkut pembagian uang yang mengakibatkan
    putusnya hubungan Mortimer dengan, kakak-kakaknya. Tapi,

    285

    akhirnya mereka berbaikan lagi dan saya pun berkenalan dengan Mortimer. Orang ini licik dan penuh akal, dan saya melihat beberapa hal yang mencurigakan
    dalam dirinya, tapi saya tak bermusuhan dengannya.

    "Suatu hari, bam beberapa minggu yang lalu, dia datang ke mmah saya dan saya pun menunjukkan beberapa benda aneh dari Afrika. Saya juga menunjukkan bubuk
    ini, dan menceritakan tentang daya kerjanya yang aneh, bagaimana bubuk ini bisa mempengamhi pusat pikiran manusia sehingga mempengaruhi saraf emosi yang
    menyebabkan rasa takut yang luar biasa, sampai-sampai mengakibatkan kegilaan atau bahkan kematian. Saya katakan kepadanya bahwa ilmu pengetahuan Eropa
    tak mampu mendeteksi bubuk itu. Bagaimana Mortimer lalu mengambilnya, saya tak tahu, karena saya tak pernah meninggalkan kamar saya. Tapi kemungkinan besar
    dia melakukannya ketika saya sedang membuka-buka lemari untuk memasukkan isinya ke dalam peti-peti kemas. Saya ingat benar bagaimana gencarnya dia bertanya
    tentang dosis dan waktu kerja bubuk im, tapi saya tak pernah membayangkan dia punya niat tertentu.

    "Saya tak memikirkan hal im lagi sampai telegram Pendeta tiba di Plymouth. Penjahat ini mengira berita musibah itu takkan sampai ke telinga saya, karena
    mestinya saya sudah berlayar, lalu menghilang bertahun-tahun di Afrika. Tapi nyatanya saya langsung kembali kemari. Mendengar

    286

    perincian peristiwanya, tentu saja saya langsung menyimpulkan racun sayalah yang telah dipakai. Saya menghubungi Anda untuk mengecek kalau kalau Anda punya
    pertimbangan lain. Ternyata tidak ada. Saya pun yakin Mortimer Tregennis-lah pembunuhnya; demi uang, dengan pemikiran, mungkin, jika semua anggota keluarganya
    menjadi gila, dia dapat menguasai harta mereka. Dia telah menyebabkan kedua kakak laki-lakinya menjadi gila, dan membunuh kakak perempuannya Brenda, satu-satunya
    orang yang saya cintai dan yang men-/ cintai saya di bumi ini. Itulah kejahatan yang telah dilakukannya, lalu hukuman apa yang pantas baginya?

    "Apakah sebaiknya saya lapor polisi? Bukti-bukti apa yang saya miliki? Saya tak meragukan kebenaran fakta itu, tapi bisakah saya mengharap hakim desa yang
    terpencil ini percaya akan cerita saya yang fantastis? Kecil sekali kemungkinannya. Saya tak mau gagal; jiwa saya berontak agar saya melakukan pembalasan.
    Tadi sudah saya katakan kepada Anda, Mr. Holmes, sebagian besar hidup saya dihabiskan di tempat yang tak mengenal hukum, dan saya terbiasa menuruti hukum
    yang saya ciptakan sendiri. Begitu pula waktu itu Saya memutuskan dia layak menerima nasib seperti ketiga saudaranya. Begitu, atau tangan saya sendirilah
    yang akan menegakkan keadilan. Bagi saya nyawa saya sendiri tak ada artinya.

    "Nah, saya sudah menceritakan semuanya. Anda

    287

    tahu sisanya. Sebagaimana Anda katakan, memang saya gelisah sekali malam itu. Saya berangkat pagi-pagi. Saya sudah tahu saya akan mengalami kesulitan membangunkan
    Mortimer, jadi saya membawa beberapa kerikil untuk saya pakai melempari jendelanya. Dia lalu turun dan*meminta saya masuk lewat jendela mang duduknya.
    Saya langsung membeberkan kejahatan yang telah dilakukannya. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya datang untuk menghakimi dan menghukumnya. Dia duduk tanpa
    daya karena melihat pistol yang saya bawa. Saya lalu menyalakan lampu minyak, menaruh bubuk di atasnya, dan berdiri di luar jendela, bersiap menembaknya
    kalau-kalau dia mencoba meninggalkan mangan. Dalam lima menit dia sudah mati. Ya Tuhan! Betapa mengerikan cara dia menemui ajalnya! Tapi hati saya tak
    melemah sedikit pun karena begitulah dia telah memperlakukan kekasih saya yang tak berdosa. Begitulah kisah saya, Mr. Holmes. Mungkin, jika Anda mencintai
    kekasih Anda, Anda pun akan berbuat serupa. Pokoknya, saya menyerahkan diri kepada Anda. Silakan Anda berbuat semau Anda. Sebagaimana telah saya katakan,
    nyawa saya tak ada artinya lagi. Saya tak takut mati."

    Holmes duduk diam selama beberapa saat.

    "Apa rencana Anda selanjurnya?" tanyanya pada akhirnya.

    "Tadinya saya berniat mengubur diri di Afrika tengah. Pekerjaan saya di sana belum selesai."

    288

    "Pergilah, dan selesaikan pekerjaan Anda," kata Holmes. "Saya tak berniat menghalangi Anda."

    Dr. Sterndale berdiri, membungkuk memberi hormat, dan berjalan meninggalkan kami. Holmes menyulut pipanya dan menyerahkan kotak tembakaunya kepadaku.

    "Asap yang tak beracun ini akan memberikan variasi yang menyenangkan," katanya. "Kurasa kau sependapat, Watson, bukan hak kita untuk mencampuri urusan
    pengadilan. Penyelidikan kita independen, jadi kita tak bertanggung jawab pada yang t berwajib. Kau tak akan melaporkan orang itu, kan?"

    "Jelas tidak," jawabku.

    "Aku belum pernah mencintai seorang wanita, Watson, tapi kalau itu terjadi, dan kekasihku tertimpa nasib seperti itu, aku pun mungkin akan bertindak seperti
    si pemburu singa dengan hukum rimbanya sendiri Siapa tahu? Nah, Watson, aku tak ingin menyinggung perasaanmu dengan menjelaskan apa yang sudah jelas. Yang
    menjadi awal penyelidikanku, tentu saja, adalah kerikil yang kutemukan di bingkai jendela. Kerikil im lain dengan yang ada di mmah pendeta. Sejak itulah
    perhatianku beralih ke Dr. Sterndale, karena aku menemukan kerikil seperti itu di halaman mmahnya. Lampu yang menyala ketika hari sudah terang dan sisa-sisa
    bubuk di penyaring abu adalah petunjuk-petunjuk yang kudapatkan setelah im. Dan sekarang, sobatku Watson, kurasa kita akan me

    289

    nyingkirkan kasus ini dari pikiran kita, dan dengan pikiran yang jernih, mari kita mempelajari bahasa Cornwall yang masih bersaudara dengan bahasa Chaldea."

    290

    Salam Terakhir

    Penutup Semua Kisah Sherlock Holmes

    Ketika im pukul sembilan malam, tanggal 2 Agustus—Agustus paling menyedihkan dalam sejarah umat manusia. Orang mungkin akan langsung berpikir bahwa kutukan
    Allah sedang melanda dunia yang makin rusak ini, karena walaupun suasananya tenang-tenang saja, ketakutan dan ketidakpastian melayang-layang di udara yang
    panas tak bergerak. Matahari sudah tenggelam sejak tadi, tapi sederet awan Jingga bak luka yang menganga masih tergantung rendah di langit sebelah barat
    di kejauhan. Di atas, bintang-bintang bersinar dengan cerahnya, dan di bawah lampu-lampu kapal terlihat gemerlapan dari pantai. Dua pria penting berke
    bangsaan Jerman berdiri di samping tembok bam pendek di sebuah jalanan taman. Di belakang mereka berdiri dengan kokoh mmah tembok yang memanjang tapi tak
    seberapa tinggi. Mereka sedang memandang ke bawah—ke pantai yang luas yang terletak di kaki jurang berkapur tempat Von

    291

    Bork membangun ramahnya empat tahun yang lalu.

    Mereka berdua berdiri berdekatan sambil berbincang-bincang pelan dan penuh rahasia. Dari bawah, kedua api rokok mereka bagaikan sepasang mata musuh yang
    sedang mengintai di kegelapan.

    Von Bork orang yang luar biasa—tak ada tandingannya di antara agen-agen Kaisar Jerman yang terkenal sangat setia. Berkat keahliannya inilah dia dikirim
    untuk melakukan tugas pengintaian di Inggris—negara sasaran mereka yang paling utama. Sejak dia mengemban tugas itu, keahliannya menjadi semakin terbukti
    bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu dari mereka adalah orang yang sekarang menemaninya, Baron Von Herling, sekretaris kedutaan yang memiliki
    mobil Mercedes Benz berkekuatan 100 tenaga kuda.

    "Sejauh yang bisa kumengerti dari rangkaian peristiwanya, kau mungkin akan kembali ke Berlin dalam seminggu ini," kata si sekretaris. "Kalau sudah sampai
    di sana, sobatku Von Bork, kurasa kau akan terkejut atas sambutan meriah yang akan kauterima. Aku kebetulan tahu bagaimana pendapat pimpinan-pimpinan di
    pusat atas prestasimu di negeri ini." Baron Von Herling berperawakan besar; gaya bicaranya tak terburu-buru tapi mantap, aset utamanya dalam karier politiknya.

    Von Bork tertawa.

    "Tak terlalu susah mengelabui orang-orang Ing

    292

    gris ini," komentarnya. "Mereka begitu penumt dan lugu."

    "Aku tak begitu yakin akan hal itu," kata temannya sambil berpikir. "Mereka punya 'batas-batas' tertentu, dan kita harus tahu hal im. Penampilan mereka
    yang tampaknya lugu itulah yang menjadi jerat bagi orang yang tak begitu memahami mereka. Mula-mula kita mendapat kesan mereka betul-betul lunak. Tapi
    mereka bisa tiba-tiba bersikap sangat keras dan kita sadar telah melampaui 'batas' mereka. Kita tak dapat berbuat apa-apa kecuali menerima saja kenyataan
    im. Mereka, misalnya, memiliki konvensi-konvensi yang harus dipatuhi."

    "Maksudmu sopan santun dan semacamnya?" Von Bork mengeluh seperti orang yang telah banyak menanggung penderitaan.

    "Maksudku prasangka orang Inggris dalam pq-k wujudannya yang aneh-aneh. Sebagai contoh, aku bisa mengemukakan salah sam kesalahanku yang sangat fatal.
    Aku berani membicarakan ini karena kau tahu benar tentang pekerjaan dan prestasiku. Dan im terjadi ketika aku bam tiba di sini untuk pertama kalinya. Aku
    diundang ke pertemuan akhir pekan di rumah peristirahatan seorang menteri kabinet. Percakapan mereka sangat bebas, tidak hati-hati."

    Von Bork mengangguk. "Aku pernah diundang ke pertemuan seperti im," katanya dengan nada kering.

    293

    "Well, aku tentu saja mengirim laporan ke Berlin tentang informasi yang kudapatkan di situ Ternyata apa yang mereka katakan bukan rahasia. Atasanku langsung
    mengirim balasan, mengatakan dia sudah tahu tentang semua im. Akibatnya sangat fatal bagi karierku; dua tahun aku hams menebus kesalahan im. Ingatlah baik-baik,
    keramahan man mmah kita pada acara-acara seperti im bukannya tak ada maksudnya. Cara yang kautem-puh memang lebih efektif, pura-pura jadi pencinta olahraga."

    "Tidak, tidak, jangan bilang aku berpura-pura. Aku memang gemar berolahraga; aku sangat menikmatinya."

    "Im malah lebih baik lagi. Kau berlomba perahu dengan mereka, berburu, main polo. Kau bahkan mau bertinju dengan petugas-petugas Inggris yang masih ingusan.
    Apa hasilnya? Kau dianggap tak berbahaya, teman mereka, orang Jerman yang cukup baik, yang suka minum-minum dan berhura-hura. Di rumahku mereka berbicara
    dengan bebas,, mengumbar rahasia, sama sekali tak menyadari man rumahnya agen rahasia paling andal di seluruh Eropa. Jenius, sobatku Von Bork—jenius!"

    "Pujianmu terlalu berlebihan, Baron, tapi memang kuakui selama empat tahun bertugas di negeri ini, aku bukannya tak menghasilkan apa-apa. Kau belum pernah
    melihat koleksiku yang tak seberapa besar, kan? Mau mampir untuk melihat sebentar?"

    294

    Ruang baca dapat dicapai langsung dari teras. Von Bork mendorong pintunya sambil menunjukkan jalan dan menghidupkan lampu. Ditutupnya pintu dan diaturnya
    gorden berat yang menutupi jendela yang berkisi-kisi. Setelah melakukan semua tindakan pengamanan ini, barulah dia memalingkan wajahnya yang terbakar matahari
    ke tamunya.

    "Beberapa berkas yang tak begitu penting telah dibawa," katanya, "oleh istriku dan rombongannya. Mereka berangkat ke Flushing kemarin. Tentu saja, aku
    hams minta perlindungan dari kedutaan untuk barang-barang lainnya."

    "Namamu tercatat sebagai salah satu orang yang mahapenting Baik dirimu maupun bagasimu tak akan mengalami kesulitan. Tentu masih ada kemungkinan kita tak
    perlu meninggalkan negeri ini. Inggris mungkin tak akan membantu Prancis. Kami yakin di antara mereka tak ada perjanjian apa-apa."

    "Bagaimana dengan Belgia?"

    "Inggris juga tak akan membantu Belgia."

    Von Bork menggeleng. "Aku tak mengerti kenapa bisa begitu Aku tahu betul ada perjanjian di antara mereka. Tak mungkin Inggris melanggar janji."

    "Paling tidak im membuat negeri ini aman selama beberapa waktu." "Tapi kehormatannya?"

    "Tut, sobatku, kita hidup di zaman yang serba

    295

    praktis. Kehormatan adalah konsep yang sudah kuno. Di samping itu, Inggris memang tidak siap. Bahkan pajak perang khusus bernilai 50 juta— yang mengungkapkan
    maksud kita dengan begitu jelasnya seakan kita memasang iklan di halaman depan Times—tak membuat orang-orang itu bergeming dari tidurnya yang lelap.
    Di sana-sini orang bertanya-tanya. Dan m asku ialah mencari jawabannya. Di sana-sini juga ada gangguan-gangguan. Tugaskulah untuk meredamnya. Tapi aku
    berani memastikan, sejauh ini, kalau dilihat dari hal-hal yang penting—penyimpanan amunisi, per/ siapan penyerangan kapal selam, pengaturan pembuatan
    bom—mereka sama sekali belum siap. Bagaimana Inggris mau ikut perang, kalau kita telah menggelitik mereka melalui perang saudara di Irlandia, k rusuhan
    di mana-mana, dan masih banyak lagi urusan dalam negeri yang hams diselesaikan?"

    "Negara ini hams memikirkan masa depannya juga?"

    "Ah, im soal lain. Aku bisa membayangkan, di masa depan, kita punya rencana khusus bagi Inggris, dan informasi yang kaudapatkan akan sangat berguna bagi
    kita. Cepat atau lambat Inggris hams terjun juga ke dalam kancah peperangan. Kalau mereka mau, sekarang kita sudah siap. Nanti, lebih baik lagi. Kupikir
    lebih bijaksana bila mereka berperang bersama negara-negara sekutu daripada sendirian, tapi im pun terserah mereka. Minggu ini

    296

    minggu penentuan bagi mereka. Tapi kau tadi menyebut-nyebut tentang berkas-berkasmu." Dia duduk di kursi berlengan, sehingga lampu menyinari botak lebar
    di kepalanya. Dia mengisap cerutunya dengan asyik.

    Ruangan besar berlapis kayu ek dan penuh buku itu dilengkapi dengan gorden di salah satu sudutnya. Ketika gorden itu disingkapkan, tampak lemari besi besar
    yang terbuat dari kuningan. Von Bork mengambil kunci kecil yang tergantung pada rantai arlojinya, lalu membuka lemari besi im.

    "Lihat!" katanya. Dia berdiri dengan bangga sambil melambaikan tangan.

    Lampu menerangi lemari besi yang terbuka itu dengan sangat jelas, dan dengan penuh minat sekretaris kedutaan im menatap ke deretan kotak arsip yang memenuhi
    lemari besi im. Matanya menelusuri label-label yang tertera pada tiap kotak. "Ford", "Pertahanan Pantai", "Kapal Terbang", "Irlandia", "Mesir", "Benteng
    Portsmouth", "Selat Inggris", "Rosyth", dan masih banyak lagi. Tiap kotak penuh dengan berkas-berkas dan perencanaan-perencanaan.

    "Hebat sekali!" kata si sekretaris. Dia meletakkan cerutunya, lalu bertepuk tangan.

    "Inilah hasil kerjaku selama empat tahun, Baron. Tak bisa dikatakan jelek, untuk pencinta olahraga yang suka minum dan berhura-hura. Tapi yang paling menarik
    dari seluruh koleksiku adalah apa

    297

    yang akan segera kudapatkan, dan aku menyediakan tempatnya." ,u~

    Dia menunjuk sebuah kotak "berlabel "Sinyal-sinyal Angkatan Laut".

    "Tapi bukankah kau sudah punya dokumen tentang itu?"

    "Sudah kedaluwarsa. Departemen Angkatan Laut Inggris sempat diperingatkan tentang bocornya dokumen im, sehingga semua kodenya lalu diubah. Pukulan berat,
    Baron—benar-benar kemunduran terburuk yang pernah terjadi sepanjang karierku. Tapi syukurlah, berkat kekuatan cekku dan orang bernama Altamont ini, semuanya
    akan beres malam ini."

    Baron melirik jam tangannya, lalu menggerutu dengan penuh kecewa.

    "Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Keadaan di Carlton Terrace sibuk sekali, dan kami semua harus bersiaga di pos masing-masing. Tadinya aku berharap
    bisa membawa berita tentang langkahmu yang hebat ini. Apakah Altamont tak menyebutkan jam berapa dia akan datang?"

    Von Bork menunjukkan sebuah telegram.

    Akan datang malam ini membawa steker kelap-kelip. Altamont.

    "Steker kelap-kelip, eh?" "Dia pura-pura menjadi montir, dan komunikasi kami memakai kode suku cadang mobil. Radiator

    298

    maksudnya kapal perang, pompa minyak maksudnya kapal patroli, dan lain-lain. Steker kelap-kelip maksudnya sinyal-sinyal Angkatan Laut."

    "Dari Portsmouth siang ini," kata si sekretaris sambil mengamati, telegram itu. "Omong-omong, imbalan apa yang kauberikan kepadanya?"

    "Lima rams pound untuk tugas khusus seperti ini. Di samping im dia masih menerima gaji bulanan."

    "Bajingan serakah. Mereka—para pengkhianat ini—memang besar jasanya bagi kita, tapi biayanya juga tak kepalang tanggung."

    "Untuk Altamont, aku tak keberatan walau hams membayar mahal. Dia pekerja yang hebat. Kalau imbalannya cukup banyak, paling tidak dia pasti akan mengirim
    barang yang dipesan—begitu dia mengistilahkannya. Lagi pula, dia bukan pengkhianat. Dia keturunan Amerika-Irlandia yang benci sekali pada Inggris."

    "Oh, keturunan Amerika-Irlandia?"

    "Kalau kau mendengarnya berbicara, kau pasti tak akan meragukannya. Kadang-kadang, aku sendiri tak mengerti maksudnya. Apakah kau benar-benar hams pergi
    sekarang? Dia mungkin akan tiba tak lama lagi."

    "Ya. Maaf, tapi aku sudah terlalu lama di sini. Kami ingin bertemu denganmu besok pagi-pagi, dan kalau berhasil mendapatkan sinyal itu, kau benar-benar
    akan mengakhiri tugasmu di Inggris

    299

    dengan suatu prestasi yang luar biasa. Apa ini? Tokay!"

    Dia menunjuk sebuah botol berdebu yang belum dibuka, yang terletak di nampan bersama dua gelas tinggi.

    "Bagaimana kalau kita minum sebelum kau per-gi?"

    "Tidak, terima kasih. Sepertinya mau ada perayaan?"

    "Altamont punya selera yang hebat dalam hal anggur, dan sangat menyukai Tokay. Dia sangat sensitif dan aku hams sedikit memanjakannya. Aku belajar banyak
    untuk mengerti dirinya."

    Mereka berdua berjalan ke luar. Sopir Baron menghidupkan mesin mobil.

    "Im lampu-lampu Pelabuhan Harwich, bukan?" tanya si sekretaris sambil mengenakan mantelnya. "Tampak tenang dan damai. Dalam minggu ini akan muncul lampu-lampu
    lain, dan koyaklah ketenangan di pantai Inggris. Langitnya pun tak akan tenang lagi kalau pimpinan angkatan udara kita memenuhi janjinya. Eh, siapa itu?"

    Terlihat cahaya yang berasal dari sebuah jendela tepat di belakang mereka. Di balik jendela itu duduk seorang wanita tua berwajah kemerahan, mengenakan
    topi khas pedesaan. Dia sedang asyik merenda sambil sesekali berhenti untuk membelai kucing hitam besar yang duduk di bangku di sampingnya.

    300

    "Im Martha, satu-satunya pembantuku yang masih tinggal." Si sekretaris tergelak.

    "Dia bisa menggambarkan Inggris Raya," katanya, "begitu asyiknya, dan terkantuk-kantuk. Nah, sampai ketemu lagi, Von Bork!" Sambil melambai dia masuk ke
    mobilnya, dan sekejap kemudian kedua sinar lampu depan mobilnya yang keemasan menjauh menembus kegelapan malam. Dia duduk bersandar di bantalan kursi limusinnya
    yang mewah. Pikirannya begitu dipenuhi dengan tragedi yang akan melanda Eropa, sehingga dia nyaris tak memperhatikan ketika mobilnya membelok keluar dari
    jalan pedesaan itu, dan hampir saja menabrak mobil Ford kecil yang datang dari arah berlawanan.

    Dengan perlahan Von Bork berjalan kembali ke mang bacanya ketika sinar lampu mobil tamunya telah menghilang di kejauhan. Dilihatnya pembantu tuanya telah
    memadamkan lampu dan pergi tidur. Rumah yang serba sepi dan gelap begini merupakan pengalaman bam baginya, karena biasanya tempat itu selalu ramai oleh
    celoteh dan staf mmah tangganya yang lumayan besar. Tapi dia lega karena mereka semua dalam keadaan aman dan di situ tak ada orang lain—kecuali wanita
    tukang masak tua yang bersikeras tetap tinggal melayaninya. Ada banyak dokumen yang perlu dimusnahkannya, dan dia mulai melakukannya, saat itu juga, sampai
    wajahnya yang tampan dan

    301

    selalu waspada memerah akibatnya panasnya api yang membakar kertas-kertas. Dia memasukkan isi lemari besi ke sebuah koper kulit kecil dengan sangat rapi
    dan sistematis. Namun belum lama dia bekerja, telinganya yang tajam menangkap suara mobil di kejauhan. Dengan segera dia berteriak gembira, menutup kopernya,
    mengunci lemari besinya, dan bergegas ke luar. Tepat pada waktu itulah dia melihat sebuah mobil kecil berhenti di pintu gerbang rumahnya. Penumpangnya
    melompat ke luar dan bergegas menghampirinya, sementara sopirnya—pria tua bertubuh agak gemuk dan berjenggot abu-abu—duduk bersandar seakan siap menunggu
    lama.

    "Bagaimana?" tanya Von Bork dengan penasaran sambil berlari mendekati tamunya.

    Sebagai jawaban, tamu itu melambaikan sebuah bungkusan kecil terbungkus kertas cokelat ke atas kepalanya.

    "Anda bisa menyerahkan imbalannya kepada saya malam ini juga, Mister," teriaknya. "Akhirnya saya berhasil membawa hadiah ini untuk Anda."

    "Sinyal-sinyal itu?"

    "Seperti yang tertulis di telegram saya. Lengkap* dan aktual, sinyal bendera, kode lampu, Marconi— tapi cuma salinannya, bukan aslinya. Terlalu berbahaya
    kalau harus mendapatkan yang asli. Tapi ini persis aslinya, dan Anda tak perlu ragu." Dia menepuk pundak orang Jerman im dengan akrab sampai Von Bork mengernyit.

    302

    "Silakan masuk," katanya. "Saya sendirian di mmah. Saya tinggal menunggu ini. Tentu saja, salinan justru lebih baik daripada aslinya. Kalau mereka tahu
    dokumen aslinya telah hilang, mereka akan mengubah semua kodenya. Menumt Anda salinan ini cukup aman?" *

    Pria berdarah campuran Amerika-Irlandia im telah masuk ke mang baca dan mengembangkan kedua lengannya pada lengan kursi. Tubuhnya kurus tinggi, usianya
    enam puluhan, wajahnya kejam, dan jenggotnya tipis seperti kambing sehingga dia benar-benar mirip karikatur Paman Sam. Sebatang rokok yang bam diisap separo
    bertengger di salah sam sudut bibirnya, dan ketika sudah duduk, dia lalu menyalakan korek untuk menyulut rokoknya lagi.

    "Siap berangkat?" tanyanya sambil menengok ke sekeliling. "Katakan, Mister," tambahnya ketika matanya menatap lemari besi yang gordennya tersingkap. "Anda
    tak menyimpan berkas-berkas di lemari besi im, kan?"

    "Memangnya kenapa?"

    "Wah, dengan pintu yang gampang dibuka seperti im! Padahal Anda termasyhur sebagai mata-mata andal. Orang Amerika dengan mudah bisa mencongkelnya dengan
    pembuka botol. Kalau saja saya tahu surat saya akan disimpan di tempat seperti im, saya tak akan berani tulis surat kepada Anda."

    "Siapa pun yang ingin membuka lemari itu se

    303

    cara paksa akan terbengong-bengong," jawab Von Bork. "Tak ada alat yang mampu membuka kotak baja itu."

    "Tapi kuncinya im?"

    "Kuncinya memiliki kombinasi ganda. Anda tahu apa artinya?"

    Orang Amerika itu menggeleng.

    "Well, Anda perlu kata dan sederet angka sebelum kunci itu bisa dibuka." Dia bangkit dan menunjukkan rangkaian humf dan angka yang bersinar-sinar di sekeliling
    lubang kunci. "Yang sebelah luar ini untuk huruf-huruf, sedangkan sebelah dalamnya untuk angka-angka."

    "Well, well, bagus sekali."

    "Jadi tidak semudah yang Anda kira. Saya menyuruh orang membuat ini empat tahun yang lalu, dan coba pikir kata apa dan angka-angka berapa yang saya pilih
    untuk membuka lemari besi ini."

    "Saya tak mungkin menebaknya."

    "Well, saya memilih kata Agustus, sedangkan angka-angkanya adalah 1914—bulan dan tahun yang sedang kita jalani sekarang."

    Wajah pria Amerika im menunjukkan rasa kaget dan kagum.

    "Wah, Anda memiliki pandangan ke depan yang luar biasa!"

    "Ya, saya telah memperkirakan situasinya sejak empat tahun yang lalu. Besok lemari besi ini tak akan berfungsi lagi dan saya akan berangkat."

    "Saya kira Anda hams mengatur agar saya juga

    304

    bisa berangkat. Saya tak ingin tinggal di negeri ini lebih lama lagi. Paling lambat seminggu lagi Inggris akan terjun ke dalam kancah peperangan, dan saya
    tak mau terlibat."

    "Tapi Anda kan warga negara Amerika?"

    "Well, begitu juga Jack James, tapi dia sekarang dipenjara di Portland. Kewarganegaraan saya tak ada pengaruhnya bagi polisi Inggris. 'Yang berlaku di
    sini hukum dan peraturan Inggris', begitu kata mereka. Omong-omong tentang Jack James, Mister, rasanya Anda kurang serius melindungi informan-informan
    Anda."

    "Apa maksud Anda?" tanya Von Bork dengan tajam.

    "Anda kan bos mereka, jadi tanggung jawab Andalah untuk menjaga agar mereka tidak jatuh. Tapi ternyata mereka jatuh, dan kapan Anda pernah mengangkat mereka?
    James, misalnya..."

    "Im salah James sendiri. Anda sendiri tahu. Dia terlalu ngotot melakukan pekerjaan im."

    "James memang bodoh—itu hams saya akui. Lalu Hollis."

    "Orang itu gila."

    "Well, akhirnya dia menjadi bingung, tapi itu wajar. Siapa pun bisa jadi gila kalau hams berkecimpung di tengah-tengah seratus orang yang semuanya siap
    melaporkannya ke polisi. Tapi Steiner..."

    Von Bork sangat kaget, dan wajahnya yang merah menjadi agak pucat.

    305

    "Kenapa dia?"

    "Mereka menangkapnya, cuma begitu. Mereka menggeledah tokonya tadi malam, dia dan berkas-berkasnya kini mendekam di penjara Portsmouth. Anda akan pergi,
    sementara dia menanggung semua akibatnya, dan masih mujur kalau tak dihukum mati. Itulah sebabnya saya ingin segera meninggalkan negeri ini."

    Von Bork berkepribadian kuat dan penuh percaya diri, tapi jelas sekali berita itu telah sangat mengguncangnya.

    "Bagaimana mereka bisa menangkap -Steiner?" gumamnya. "Ini benar-benar pukulan yang mengejutkan."

    "Well, ada pukulan lain yang tak. kalah mengejutkannya, karena mereka juga sebetulnya sudah mencium jejak saya."

    "Anda tak serius, kan?"

    "Saya serius. Induk semang saya di Fratton ditanyai macam-macam, dan ketika saya mendengar tentang hal itu, saya pikir sebaiknya saya secepatnya melarikan
    diri. Tapi apa yang saya ingin ketahui, Mister, adalah bagaimana polisi-polisi im bisa tahu. Steiner orang kelima yang tertangkap sejak saya mulai bekerja
    sama dengan Anda, dan saya tahu siapa yang akan menjadi korban keenam kalau saya tak segera angkat kaki. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini, dan tidakkah
    Anda malu melihat kaki tangan Anda tertangkap seperti im?"

    306

    Wajah Von Bork merah padam.

    "Berani-beraninya Anda berbicara seperti itu!"

    "Kalau saya bukan pemberani, Mister, saya tak akan bekerja sama dengan Anda. Tapi saya ingin mengatakan secara langsung apa yang ada di benak saya. Saya
    mendengar bahwa bagi Anda— politikus-politikus Jerman—tak jadi soal kalau agen Anda tertangkap, asal tugasnya telah dilaksanakan."

    Von Bork terlonjak.

    "Maksud Anda saya sengaja menyerahkan agen-agen saya sendiri?"

    "Saya tak mengatakan demikian, Mister, tapi ada kebocoran dalam jaringan mata-mata Anda dan tugas Andalah untuk mengatasinya. Yang jelas, saya tak ingin
    mengambil risiko lebih jauh. Saya mau berangkat ke Belanda, dan semakin cepat saya sampai di sana semakin baik bagi saya."

    Von Bork telah berhasil mengatasi kemarahannya.

    "Sudah lama kita bekerja sama. Tak perlu bertengkar sekarang ketika kita justm sedang merayakan keberhasilan kita," katanya. "Anda telah melakukan pekerjaan
    yang hebat, juga menanggung risiko yang besar. Saya tak akan melupakan jasa Anda. Segeralah berangkat ke Belanda, lalu dari Rotterdam Anda bisa menuju
    New York. Hanya jalur itu yang aman selama seminggu men

    307

    datang. Saya akan terima buku itu dan membawanya bersama berkas-berkas lain."

    Orang Amerika itu tetap saja memegangi bungkusan kecil di tangannya. Dia tak melakukan gerakan apa pun untuk menyerahkannya.

    "Bagaimana dengan uangnya?" tanyanya.

    "Apanya?"

    "Uangnya. Imbalannya. Lima rams pound. Tukang tembaknya bikin masalah, dan saya hams mengeluarkan seratus dolar ekstra. Kalau tidak, saya dan Anda tak
    dapat apa-apa. 'Tak bisa!' katanya, dan dia tak main-main. Tapi akhirnya dia menyerah setelah saya beri tambahan seratus dolar lagi. Jadi saya sudah menghabiskan
    dua ratus dolar untuk buku ini, dan tak mungkin saya menyerahkan tanpa imbalan."

    Von Bork tersenyum pahit. "Anda tampaknya tak terlalu mempercayai saya," katanya. "Anda mau meminta uangnya sebelum buku im Anda serahkan."

    "Yah, Mister, ini kan bisnis."

    "Baiklah. Keinginan Anda akan saya turuti." Dia duduk di meja dan menulis cek, tapi tak langsung menyerahkannya kepada rekan bisnisnya. "Oke, karena Anda
    mensyaratkan demikian, Mr. Altamont," katanya, "saya pun berhak tak mempercayai Anda. Anda mengerti?" tambahnya sambil menoleh ke orang Amerika itu. "Ceknya
    sudah ada di meja. Saya minta agar diperkenankan memerik

    308

    sa bungkusan im sebelum Anda mengambil ceknya."

    Orang Amerika itu menyerahkan bungkusan itu tanpa berkata separah pun. Von Bork membuka tali pengikat dan dua lapis kertas pembungkusnya. Lalu dia terduduk
    sambil menatap dengan sangat terkejut buku kecil biru yang ada di depannya. Judul yang tertera dengan huruf-huruf berwarna emas adalah Practical Handbook
    of Bee Culture. Cuma sesaat mata-mata termasyhur itu sanggup menatap judul aneh yang tak ada hubungannya dengan misi yang diembannya. Selanjutnya, dia
    sudah dicekik dari belakang oleh sepasang tangan kekar, lalu spons berkloroform ditempelkan pada wajahnya yang berkerut-kerut kesakitan.

    "Tambah segelas lagi, Watson!" kata Mr. Sherlock Holmes sambil mengacungkan botol anggur Imperial Tokay.

    Sopir yang diam-diam sudah menyelinap ke dalam mangan dan kini duduk di meja itu mengulurkan gelasnya dengan penuh semangat.

    "Anggurnya enak sekali, Holmes."

    "Memang luar biasa, Watson. Teman kita yang menggeletak di sofa itu telah menjamin anggur ini didapatnya dari toko anggur Franz Joseph yang eksklusif,
    yang terletak di Schoenbrunn Palace. Tolong buka jendela itu. Bau kloroform merusak cita rasa anggur ini."

    Lemari besi di mangan itu terbuka, dan Holmes

    309

    berdiri di depannya sambil mengambil berkas demi berkas. Dengan cepat diamatinya tiap berkas, lalu dikemasnya dengan rapi di koper milik Von Bork. Orang
    Jerman itu menggeletak di sofa, tertidur pulas, tangan dan kakinya terikat. «

    "Kita tak perlu bum-bum, Watson. Kita aman di sini. Tolong bunyikarr bel. Tak ada orang di sini kecuali si tua Martha, yang telah memainkan perannya dengan
    sangat mengagumkan. Aku yang menyuruhnya bekerja di sini ketika aku mulai menangani masalah ini. Ah, Martha, kau pasti gembira mendengar semuanya berjalan
    dengan lancar."

    Wanita tua yang ramah im muncul di pintu. Dia memberi hormat sambil tersenyum ke arah Holmes, tapi begitu menatap tubuh yang tergeletak di sofa, dia tampak
    agak cemas.

    "Tak apa-apa, Martha. Dia tak terluka sama Ifekali."

    "Saya senang mendengarnya, Mr. Holmes, dia majikan yang baik. Dia meminta saya berangkat bersama istrinya ke Jerman kemarin, tapi saya tolak. Kalau saya
    berangkat, rencana Anda bisa kacau, ya, kan, Sir?"

    "Tepat sekali, Martha. Selama Anda ada di sini, saya jadi tenang. Cukup lama kami menunggu sinyal Anda tadi."

    "Anda tahu, Sir, sekretaris kedutaan itu."

    "Saya tahu. Mobilnya berpapasan dengan mobil kami."

    310

    "Saya sudah khawatir jangan-jangan dia tak akan meninggalkan tempat ini. Saya tahu Anda tak dapat beraksi selama dia masih di sini."

    "Benar. Well, kami cuma terhambat selama kira-kira setengah jam. Setelah itu kami lihat lampu Anda dimatikan yang artinya semuanya beres: Silakan besok
    melapor kepada saya di Hotel Cla-ridge, London, Martha."

    "Baik, Sir."

    "Saya rasa, Anda sudah siap meninggalkan tempat ini?"

    "Ya, Sir. Dia mengeposkan tujuh surat hari ini. Saya sudah catat semua alamatnya sebagaimana biasanya."

    "Bagus sekali, Martha. Saya akan memeriksa alamat-alamat im besok. Selamat malam. Berkas-berkas ini," lanjutnya begitu wanita itu menghilang, "tentu saja
    tak begitu penting, karena informasinya telah dikirimkan ke Pemerintah Jerman beberapa waktu yang lalu. Ini aslinya yang tak bisa dibawa ke luar negeri."

    "Kalau begitu berkas-berkas ini tak ada gunanya?"

    "Bukan begitu, Watson. Dengan berkas-berkas ini pemerintah kita dapat menyimpulkan, apa-apa saja yang telah mereka ketahui dan apa-apa yang belum mereka
    dapatkan. Boleh dibilang sebagian besar berkas ini berasal dariku, dan tentu saja isinya tak bisa dipercaya. Biarlah masa-masa akhir hidupku ini menjadi
    sedikit ramai dengan muncul-'

    311

    nya kapal perang Jerman yang berlayar sepanjang Selat Solent hanya karena menuruti petunjuk palsu yang sengaja kubuat-buat. Tapi kau sendiri, Watson,"
    dia berhenti sejenak, lalu merangkul sahabatnya, "aku belum sempat memperhatikanmu. Bagaimana rupamu setelah sekian tahun berlalu? Wah, kau masih gagah
    dan bersemangat!"

    "Aku merasa lebih muda dua puluh tahun, Holmes. Tak pernah aku sebahagia ketika aku menerima telegrammu, yang memintaku menemui-mu di Pelabuhan Harwich.
    Kau pun tak banyak berubah, Holmes—kecuali tambahan janggut kambingmu yang jelek sekali im."

    "Inilah pengorbanan yang hams kita lakukan demi negara kita, Watson," kata Holmes sambil mencopot janggutnya. "Besok pagi, semua ini tinggal kenangan.
    Aku akan potong rambut dan mengakhiri penyamaranku sebagai orang Amerika, dan aku akan muncul di Hotel Claridge sebagai Holmes yang dulu. Maaf, Watson,
    bahasa Inggrisku rasanya menjadi rusak—bahkan sebelum terlintas padaku untuk menyamar sebagai orang Amerika."

    "Tapi bukankah kau sudah pensiun, Holmes? Kudengar kau sekarang hidup seperti pertapa di antara tawon-tawon dan tumpukan bukumu di peternakan kecil di
    daerah South Downs."

    "Benar, Watson. Dan inilah hasilnya—mahakarya di usia senjaku!" Dia mengambil buku yang tergeletak di meja dan membacakan judul lengkapnya,

    312

    Practical Handbook of Bee Culture, with some Observations upon the Segregation of the Queen.

    "Aku mengerjakan buku ini sendirian. Dan lihatlah hasil jerih payahku bermalam-malam merenungkan dan berhari-hari mengamati gerombolan binatang kecil im
    seperti dulu ketika aku mengamati dunia kriminal London."

    "Tapi bagaimana sampai kau kembali terjun ke dunia kriminal ini?"

    "Ah, aku sendiri masih sering heran. Menteri Luar Negeri masih bisa kutolak, tapi ketika Perdana Menteri berkenan mengunjungi gubuk reyotku, aku tak dapat
    mengelak lagi. Tems terang, Watson, pria di sofa ini terlalu lihai untuk bangsa kita. Dia punya kelas tersendiri. Banyak rahasia kita yang bocor dan tak
    ada yang tahu bagaimana itu bisa terjadi. Agen-agen dicurigai atau bahkan ditangkap, tapi ada bukti-bukti yang mengarah pada suatu kekuatan pusat yang
    kuat dan penuh rahasia di balik semua ini. Jaringan itu hams dibongkar; aku didesak menyelidikinya. Aku melakukannya selama dua tahun, Watson, dan cukup
    menegangkan. Kalau kukatakan aku memulai petualanganku dari Chicago, lalu lulus dari perkumpulan rahasia Irlandia di Buffalo, membuat masalah dengan kepolisian
    di Skibbereen, dan akhirnya mendapat kesempatan menjadi agen rahasia Von Bork, kau pasti menyadari betapa rumitnya masalah yang kutangani. Aku menjadi
    agen kepercayaannya, tapi aku malah mengobrak-abrik ren

    313

    cananya dan menyebabkan lima agennya yang terbaik masuk penjara. Aku mengamati mereka, Watson, dan aku menangkap mereka begitu saatnya tepat. Well, Sir,
    saya harap Anda tak apa-apa!"

    Kalimat terakhir im ditujukannya kepada Von Bork, yang setelah megap-megap dan mengejap-ngejap, tergeletak diam sambil mendengarkan kata-kata Holmes. Kini
    dia meronta-ronta lalu memaki-maki dalam bahasa Jerman, wajahnya merah padam. Holmes melanjutkan memeriksa berkas-berkas dengan cekatan sementara tawanannya
    tems saja memaki dan mengutuki dirinya. €

    "Walaupun nadanya tak enak didengar, bahasa Jerman adalah bahasa yang dapat mengungkapkan sesuatu dengan sangat jelas," katanya setelah Von Bork berhenti
    karena lelah. "Wah! Wah!" tambahnya ketika dia menatap tajam pada ujung sebuah peta sebelum mengembalikannya ke kotaknya. "Ini akan mengakibatkan seorang
    pengkhianat lain dipenjarakan. Aku tak menyangka si kasir ternyata bajingan tengik, walaupun aku sudah lama mengamatinya. Mister Von Bork, banyak hal yang
    hams Anda pertanggungjawabkan."

    Dengan susah payah tawanan kami berusaha duduk, dan dia menatap orang yang menangkapnya dengan pandangan heran sekaligus benci.

    "Aku akan membuat perhitungan denganmu, Altamont," katanya dengan nada mengancam, "walaupun untuk im aku hams mempertaruhkan nyawaku. Aku akan membuat
    perhitungan denganmu!"

    314

    "Lagu kuno yang indah," kata Holmes. "Aku sudah terlalu sering mendengarnya Lagu kesukaan Profesor Moriarty yang malang. Kolonel Sebastian Moran juga pernah
    mendendangkannya Dan nyatanya aku tetap hidup sampai saat ini dan menjadi peternak tawon di South Downs."

    "Terkutuk kau, pengkhianat ganda!" teriak orang Jerman itu sambil menggeliat-geliat, berusaha melepaskan diri dari ikatan yang melilitnya. Pandangannya
    penuh amarah seolah ingin membunuh musuhnya.

    "Tidak, tidak, tak akan seburuk itu," kata Holmes sambil tersenyum. "Sebagaimana Anda dengar tadi, sesungguhnya tak ada orang bernama Mr. Altamont dari
    Chicago. Saya hanya memanfaatkannya, dan kini dia telah tiada."

    "Kalau begitu, siapa kau?"

    "Sesungguhnya tak begitu penting mengetahui siapa sebenarnya saya. Tapi karena tampaknya Anda begitu penasaran, Mr. Von Bork, baiklah saya katakan ini
    bukan pertama kalinya saya berkenalan dengan anggota keluarga Anda Pada masa yang lalu, saya sudah berkali-kali bertugas di Jerman, dan Anda mungkin pernah
    mendengar nama saya."

    "Langsung saja sebutkan!" kata orang berdarah Prusia itu dengan ketus.

    "Sayalah yang memisahkan Irene Adler dari almarhum Raja Bohemia ketika sepupu Anda Hein-rich menjabat sebagai Imperial Envoy. Sayalah

    315

    yang menyelamatkan Count Von Zu Grafenstein dari ancaman pembunuhan kaum Nihilis Klopman. Dia kakak ibu Anda, kan? Sayalah..."

    Von Bork terpana di tempat duduknya.

    "Hanya ada satu orang'" teriaknya.

    "Tepat," kata Holmes.

    Von Bork menggeram dan menjatuhkan dirinya kembali ke sofa. "Padahal sebagian besar informasi itu kudapatkan darimu!" teriaknya. "Apa yang telah kulakukan?
    Pasti semua itu bohong! Tamatlah riwayatku!"

    "Memang informasi-informasi im kurajig dapat diandalkan," kata Holmes. "Hams dicek ulang dan Anda tak punya banyak waktu untuk itu. Laksamana Anda mungkin
    akan mengatakan bedil-bedil yang bam itu ternyata sedikit lebih besar dari yang diharapkannya, dan kapal-kapal itu mungkin sedikit terlalu cepat jalannya."

    Von Bork meringkuk dalam keputusasaan.

    "Ada banyak perincian lain yang akan terungkap tak lama lagi. Tapi Anda memiliki satu sifat yang biasanya tak dimiliki orang Jerman, Mr. Von Bork, suka
    berolahraga, sportif. Jadi Anda pasti tak akan sakit hati pada saya kalau berhasil saya kalahkan. Anda telah memperdaya begitu banyak orang dan kini tiba
    giliran Anda diperdaya. Bagaimanapun, Anda sudah menjalankan tugas bagi negara Anda dengan sangat baik, dan saya pun telah menjalankan tugas bagi negara
    saya dengan sangat baik, dan hal itu wajar sekali, bukan? Lagi

    316

    pula," tambahnya dengan ramah sambil menyentuh pundak orang yang tak berdaya itu, "lebih baik begini daripada dikalahkan musuh yang kurang berkualitas.
    Berkas-berkas ini sudah siap, Watson, Tolong urus tawanan kita, dan sebaiknya kita segera menuju London."

    Ternyata tak mudah menggiring Von Bork, karena dia kuat sekali dan meronta-ronta. Akhirnya, berdua dengan Holmes, masing-masing menarik satu lengannya,
    bamlah mereka bisa menyeretnya dengan susah payah melewati jalanan taman yang beberapa jam sebelum ini dilalui orang Jerman itu dengan sangat gagah dan
    bangga, ketika menerima ucapan selamat dari si sekretaris kedutaan. Dia berhasil dimasukkan ke mobil kecil itu, masih dalam keadaan terikat tangan dan
    kakinya. Koper kecilnya yang sangat berharga kami letakkan di sampingnya.

    "Buatlah diri Anda senyaman mungkin," kata Holmes, setelah membereskan macam-macam. "Bolehkah saya menyalakan rokok dan menyisipkannya ke bibir Anda?"

    Orang Jerman yang sedang marah itu menolak semua kebaikan Holmes.

    "Kurasa kau menyadari, Mr. Sherlock Holmes," katanya, "kalau tindakanmu ini didukung Pemerintah Inggris, berarti perang akan meletus."

    "Bagaimana dengan pemerintah Anda dan semua tindakan Anda?" kata Holmes sambil mengetuk koper kecil itu.

    317

    "Kau bukan petugas hukum. Kau tak punya surat izin menangkapku. Semuanya melanggar hukum dan kurang ajar." "Memang," kata Holmes. "Menculik pejabat Jerman."
    "Dan mencuri berkas-berkas pribadinya." "Bagus, kau menyadari posisimu, kau dan temanmu ini. Lihat saja kalau aku nanti berteriak minta tolong ketika kita
    lewat desa..."

    "Sir, jika Anda melakukan tindakan bodoh seperti im, nasib Anda akan semakin buruk Orang Inggris im penyabar, tapi pada saat seperti ini, emosinya gampang
    terbakar dan jangan coba-coba mengusiknya. Begini, Mr. Von Bork, Anda akan diantarkan ke Scotland Yard secara diam-diam, tanpa memalukan Anda. Dari sana
    Anda bisa menghubungi teman Anda Baron Von Herling dan menanyakan padanya apakah Anda masih boleh menempati tempat yang sudah disediakannya di kamar utama
    kedutaan. Sedangkan kau, Watson, setahuku kau masih praktek, ya? Tentunya kau juga ingin kembali ke London melanjutkan pekerjaanmu. Mari kita ke teras
    dan berbincang-bincang sejenak, karena ini mungkin kesempatan terakhir kita."

    Kedua sahabat itu mengobrol dengan asyik selama beberapa menit, mengenang hari-hari yang mereka lalui bersama di masa lalu, sementara tawanan mereka masih
    tems berusaha membebaskan diri dari ikatan yang melilitnya. Ketika mereka berjalan ke mobil, Holmes menunjuk ke belakang, ke lautan yang disinari rembulan,
    dan menggeleng dengan serius.

    "Angin timur akan tiba, Watson." "Kurasa bukan angin timur, Holmes. Semilirnya terasa hangat."

    "Sobatku, Watson! Kau masih seperti dulu walaupun zaman sudah berubah. Jelas akan tiba angin timur, angin yang belum pernah melanda Inggris. Angin itu
    dingin dan menyakitkan, Watson, dan banyak di antara kita yang akan jatuh sebelum dilanda tiupannya. Semoga angin dari Tuhan sendiri membuat negara ini
    menjadi lebih bersih, lebih baik, dan lebih kuat kalau angin topan itu telah berlalu. Hidupkan mobilnya, Watson, sudah waktunya kita berangkat. Aku punya
    cek bernilai lima rams pound yang akan secepatnya kuuangkan, karena yang mengeluarkan cek ini pasti ingin memblokirnya kalau dia bisa."



    Scanned book (sbook) ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSELKAN atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan


    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © 2013 RETNO_WIBOWO - To Aru Kagaku no Railgun - Powered by Blogger - Designed by retno wibowo -