Archive for 12/20/13
--------------------------------------- 1
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry Potter And The Chamber
Of Screts
J.K. Rowling
Harry Potter Dan Kamar Rahasia
1. Ulang Tahun Paling Buruk
BUKAN untuk pertama kalinya pertengkaran meledak di meja makan rumah
Privet Drive nomor empat. Sebelumnya Mr Vernon Dursley telah terbangun
pagi-pagi buta oleh bunyi uhu-uhu keras dari kamar ke-ponakannya, Harry.
"Untuk ketiga kalinya minggu ini!" raungnya. "Kalau kau tidak bisa
mengontrol burung hantu itu, dia harus pergi!"
Harry mencoba, sekali lagi, untuk menjelaskan. "Dia bosan," katanya. "Dia
biasa beterbangan di luar. Kalau aku boleh melepasnya di malam hari..."
"Apa aku kelihatan bbdoh?" kata Paman Vernon geram, seserpih telur goreng
bergantung pada kumis-nya yang lebat.
"Aku tahu apa yang akan terjadi kalau burung hantu itu dibiarkan lepas."
Dia bertukar pandang geram dengan istrinya, Petunia.
Harry mencoba berargumentasi, tetapi kata-katanya tenggelam oleh
sendawa Dudley yang keras dan pan-jang. Dudley adalah anak Mr dan Mrs
Dursley.
"Aku mau tambah daging asap."
"Masih banyak di wajan, Manis," jawab Bibi Petunia, matanya terharu
menatap anak laki-lakinya yang supergemuk.
"Kami harus memberimu makan banyak-banyak selagi ada kesempatan... aku
tak senang men-dengar tentang makanan di sekolahmu..."
"Omong kosong, Petunia, aku tak pernah kelaparan waktu aku di Smeltings,"
kata Paman Vernon mem-protes. "Dudley mendapat cukup makanan. Ya kan,
Nak?"
Dudley, yang luar biasa gemuknya sampai pantatnya melimpah di kiri-kanan
kursi dapur, menyeringai dan menoleh kepada Harry.
"Ambilkan wajannya."
"Kau lupa kata sihirnya," kata Harry jengkel.
--------------------------------------- 2
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dampak kalimat sederhana pada keluarga itu sung-guh luar biasa. Dudley
tersedak dan terjatuh dari kursinya keras sekali sampai menggetarkan seluruh
dapur. Mrs Dursley menjerit dan menutup mulutnya. Mr Dursley melompat
bangun, urat- urat berdenyutan di pelipisnya.
"Maksudku kata 'tolong'!" kata Harry cepat-cepat. "Aku tidak bermaksud..."
"BUKANKAH SUDAH KULARANG," gelegar pamannya dari seberang meja,
"MENGUCAPKAN KATA 'S' ITU DI DALAM RUMAH KITA?"
"Tapi aku..."
"BERANI-BERANINYA KAU MENGANCAM DUDLEY!" raung Paman Vernon,
menggebrak meja dengan tinjunya.
"Aku cuma..."
"KUPERINGATKAN KAU! AKU TAK MENGIZINKAN KEABNORMALANMU DISEBUT-
SEBUT DI BAWAH ATAP RUMAH INI!"
Harry bergantian memandang wajah keunguan pamannya dan wajah pucat
bibinya, yang sedang berusaha membantu Dudley bangun.
"Baiklah," kata Harry, "baiklah..."
Paman Vernon duduk kembali, tersengal seperti ba-dak bercula satu yang
kehabisan napas. Dia memandang Harry lewat sudut matanya yang kecil tajam.
Sejak Harry pulang untuk liburan musim panas, Paman Vernon
memperlakukannya seperti bom yang bisa meledak setiap waktu, karena Harry
bukan anak biasa. Sebetulnya, dia memang sama sekali bukan anak biasa.
Harry Potter adalah penyihirpenyihir yang baru melewatkan tahun
pertamanya di Sekolah Sihir Hogwarts. Dan jika keluarga Dursley tidak senang
menerimanya selama liburan, itu bukan apa-apa di-banding perasaan Harry.
Harry merasa sangat rindu pada Hogwarts sehingga rasanya dia sakit perut
terus-menerus. Dia merindukan kastilnya, dengan lorong-lorong rahasia dan
hantu-hantunya, pelajaran-pelajarannya (walaupun mungkin tidak merindukan
Snape, guru pelajaran Ramuan-nya), surat-surat yang dibawa oleh burung-
burung hantu, makan bersama di Aula Besar, tidur di tempat tidurnya di
menara asrama, mengunjungi si pengawas binatang liar, Hagrid, di pondoknya
di dekat Hutan Terlarang, dan terutama Quidditch, olahraga paling populer di
dunia sihir (enam tiang gawang tinggi, empat bola terbang, dan empat belas
pemain di atas sapu terbang).
Semua buku pelajaran Harry tongkat, jubah, kuali, dan sapu top Nimbus Dua
Ribu-nya dikunci di dalam lemari di bawah tangga oleh Paman Vernon begitu
Harry tiba di rumah. Apa pedulinya keluarga Dursley kalau Harry kehilangan
tempat di tim Quidditch asramanya karena dia tidak berlatih selama musim
panas? Apa urusannya bagi keluarga Dursley jika Harry kembali ke sekolah
tanpa mengerjakan PR-PR-nya? Keluarga Dursley termasuk yang oleh para
penyihir disebut Muggle (tak memiliki setetes pun darah penyihir di nadi
mereka) dan bagi mereka memiliki penyihir dalam keluarga adalah aib yang
sangat memalukan. Paman Vernon bahkan telah meng-gembok burung hantu
Harry, Hedwig, di dalam sangkarnya, untuk mencegahnya membawa surat-surat
kepada siapa pun di dunia sihir.
Tampilan Harry sama sekali lain dari keluarganya. Paman Vernon gemuk dan
tanpa leher, dengan kumis hitam besar. Bibi Petunia kurus berwajah kuda.
--------------------------------------- 3
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dudley berambut pirang, kulitnya agak merah jambu, jadi kesannya seperti
babi. Harry, sebaliknya, kecil dan kurus, dengan mata hijau cemerlang dan
rambut hitam pekat yang selalu berantakan. Dia memakai kacamata bundar,
dan di dahinya ada bekas luka berbentuk sambaran kilat.
Bekas luka inilah yang membuat Harry istimewa, bahkan sebagai penyihir.
Bekas luka ini satu-satunya petunjuk akan masa lalu Harry yang misterius,
alasan kenapa dia ditinggalkan di depart pintu rumah keluarga Dursley sebelas
tahun yang lalu.
Pada usia satu tahun, Harry, entah bagaimana ber-hasil selamat dari
serangan penyihir hitam jahat ter-hebat sepanjang zaman, Lord Voldemort,
yang nama-nya pun tak berani disebutkan oleh banyak penyihir. Orangtua Harry
tewas dalam serangan Voldemort, tetapi Harry selamat dengan bekas luka
sambaran kilatnya, dantak seorang pun tahu kenapakekuatan Voldemort
punah pada saat dia gagal mem-bunuh Harry.
Maka Harry dibesarkan oleh kakak almarhum ibu-nya dan suaminya. Dia
melewatkan sepuluh tahun bersama keluarga Dursley, tak pernah memahami
kenapa dia tak putus-putus membuat hal-hal aneh terjadi walaupun dia tak
bermaksud melakukannya. Dia mempercayai cerita keluarga Dursley bahwa
bekas lukanya didapatnya dalam kecelakaan lalu lintas yang menewaskan
orangtuanya.
Dan kemudian," tepatnya setahun yang lalu, Hogwarts menulis surat kepada
Harry, dan kisah yang sebenarnya pun terungkap. Harry bersekolah di sekolah
sihir. Di situ dia dan bekas lukanya terkenal... tetapi sekarang tahun ajaran
telah usai, dan dia kem-bali bersama keluarga Dursley selama musim panas,
kembali diperlakukan seperti anjing yang habis ber-guling-guling di sampah
bau.
Keluarga Dursley bahkan tidak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun
Harry yang kedua belas. Tentu saja, harapannya tidak rnuluk-muluk, mereka
belum pernah memberinya hadiah yang layak, apalagi kue ulang tahuntapi
kalau sama sekali melupakannya...
Saat itu Paman Vernon berdeham dengan lagak sok penting dan berkata,
"Nah, seperti kita semua tahu, hari ihi hari yang sangat penting."
Harry mendongak, nyaris tak berani mempercayai-nya.
"Hari ini aku mungkin akan membuat transaksi terbesar dalam karierku," kata
Paman Vernon.
Harry kembali memakan roti panggangnya. Tentu saja, pikirnya getir, yang
sedang dibicarakan Paman Vernon adalah acara makan malam konyol itu. Sudah
dua minggu ini tak ada hal lain yang dibicarakannya. Ada pemborong kaya dan
istrinya yang akan datang untuk makan malam dan Paman Vernon berharap
mendapat pesanan besar darinya (perusahaan Paman Vernon memproduksi
bor).
"Kurasa kita harus mengulang susunan acara kita sekali lagi," kata Paman
Vernon. "Kita semua harus siap di posisi masing-masing pukul delapan nanti.
Petunia, kau di...?"
"Di kamar tamu," kata Bibi Petunia segera, "siap menyambut kedatangan
mereka di rumah kita dengan anggun."
--------------------------------------- 4
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Bagus, bagus. Dan Dudley?"
"Aku siap membuka pintu." Dudley memasang se-nyum tolol. "Boleh kusimpan
mantel Anda, Mr dan Mrs Mason?"
"Mereka akan menyukai Dudley!" seru Bibi Petunia terpesona. "Hebat,
Dudley," kata Paman Vernon. Kemudian dia berpaling kepada Harry. "Dan kau?"
"Aku akan berada di kamarku, tidak membuat suara, dan pura-pura tidak ada di
sana," kata Harry datar.
"Tepat," kata Paman Vernon menyebalkan. "Aku akan membawa mereka
masuk, memperkenalkan kau, Petunia, dan menuang minuman untuk mereka.
Pukul delapan seperempat..."
"Akan kuumumkan makan malam telah siap," kata Bibi Petunia.
"Dan Dudley, kau akan bilang..."
"Boleh kuantar Anda ke ruang makan, Mrs Mason?" kata Dudley, menawarkan
lengannya yang gemuk pada wanita yang tak kelihatan. "Gentleman kecilku
yang sempurna," kata Bibi Petunia terharu.
"Dan kau?" kata Paman Vernon kejam kepada Harry.
"Aku akan berada di kamarku, tidak membuat suara, dan pura-pura tidak ada
di sana," kata Harry bosan.
"Persis. Sekarang, kita harus berusaha memberikan beberapa pujian selama
makan malam. Petunia, ada ide?"
"Vernon bercerita Anda pemain golf yang hebat, Mr Mason... Gaun Anda
indah sekali, di mana Anda membelinya, Mrs Mason...?"
"Sempurna... Dudley?"
"Bagaimana kalau: 'Kami harus menulis karangan tentang pahlawan yang
kami kagumi di sekolah, Mr Mason, dan saya menulis tentang Anda.'"
Ini sudah kelewatan, baik bagi Bibi Petunia maupun Harry, walaupun dengan
alasan berbeda. Bibi Petunia menangis saking terharunya dan memeluk
anaknya, sedangkan Harry membungkuk ke bawah meja, supaya mereka tidak
melihatnya tertawa.
"Dan kau?" Harry berusaha membuat wajahnya serius ketika muncul dari
bawah meja. "Aku akan berada di kamarku, tidak membuat suara, dan pura-
pura tidak ada di sana," katanya.
"Betul sekali, kau harus begitu," kata Paman Vernon keras.
"Suami-istri Mason sama sekali tak tahu-menahu tentang kau dan harus tetap
begitu. Setelah makan malam selesai, kaubawa Mrs Mason kembali ke ruang
tamu untuk minum kopi, Petunia, dan aku akan meng-arahkan pembicaraan ke
bor. Kalau beruntung, transaksi bisa kuselesaikan dan kontrak sudah ditanda-
tangani sebelum Berita Pukul Sepuluh Malam. Kita akan membeli rumah
berlibur di Majorca pada jam sekian besok malam."
Harry tidak bisa ikut senang mendengar kabar ini. Menurut perasaannya, di
Majorca pun keluarga Dursley tidak akan lebih menyukainya daripada di rumah
ini.
"Baikaku berangkat ke kota untuk mengambil jas malam untukku dan
Dudley. Dan kau," gertaknya pada Harry, "jangan mengganggu bibimu
sementara dia membersihkan rumah."
--------------------------------------- 5
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry keluar lewat pintu belakang. Cuaca amat cerah. Dia menyeberangi
halaman, mengenyakkan diri di bangku kebun dan bernyanyi pelan, "Happy
birthday to me... happy birthday to me..."
Tak ada kartu, tak ada hadiah, dan dia akan me-lewatkan malam ini dengan
berpura-pura bahwa dia tak ada. Dia memandang sedih ke pagar tanaman.
Belum pernah dia merasa kesepian seperti itu. Lebih dari segalanya di
Hogwarts, bahkan lebih daripada bermain Quidditch, dia merindukan sahabat-
sahabat-nya. Ron Weasley dan Hermione Granger. Meskipun demikian, mereka
rupanya sama sekali tidak merindu-kannya. Tak seorang pun dari mereka
berdua menulis surat kepadanya musim panas ini, meskipun Ron sudah
mengatakan akan meminta Harry datang menginap di rumahnya.
Sudah puluhan kali, Harry hampir membuka kan-dang Hedwig dengan sihir
dan mengirimnya kepada Ron dan Hermione dengan membawa surat, tetapi
terlalu besar risikonya. Penyihir yang masih di bawah umur tidak diperkenankan
menggunakan sihir di luar sekolah. Harry tidak memberitahukan aturan ini
kepada keluarga Dursley. Mereka takut Harry akan mengubah mereka menjadi
kumbang pupuk. Dan Harry tahu, rasa takut itulah yang mencegah mereka
mengunci dirinya di dalam lemari di bawah tangga, bersama tongkat dan
sapunya.
Selama dua minggu pertama, Harry menikmati menggumamkan kata-kata
omong kosong dan melihat Dudley kabur dari ruangan secepat kaki gemuknya
bisa membawanya. Tetapi lama tak ada kabar dari Ron dan Hermione membuat
Harry merasa terkucil dari dunia sihir, sehingga bahkan mempermainkan Dudley
pun sudah tak menarik lagidan sekarang Ron dan Hermione telah melupakan
hari ulang tahunnya.
Dia rela memberikan apa pun untuk mendapatkan kabar dari Hogwarts.
Bahkan kabar dari penyihir mana pun? Dia bahkan akan senang kalau bisa
melihat musuh besarnya, Draco Malfoy, sekadar meyakinkan bahwa segalanya
bukan hanya mimpi....
Bukan berarti dia senang terus sepanjang waktu di Hogwarts. Di pengujung
semester terakhir mereka, Harry telah berhadapan dengan, tak lain dan tak
bukan, Lord Voldemort sendiri. Voldemort mungkin sudah bukan apa-apa
dibanding ketika berkuasa dulu, tetapi dia masih tetap mengerikan dan licik,
masih bertekad ingin berkuasa kembali. Harry berhasil lolos dari cengkeraman
Voldemort untuk kedua kalinya, tetapi nyaris saja. Bahkan sekarang, setelah
lewat be-berapa minggu, Harry masih terbangun di malam hari, mandi keringat
dingin, bertanya-tanya dalam hati di mana Voldemort sekarang, teringat
wajahnya yang pucat kelabu, matanya yang liar....
Harry mendadak duduk tegak di bangku kebun. Sejak tadi, sambil melamun,
dia memandang pagar tanamandan pagar itu balas memandangnya. Dua mata
hijau besar muncul di antara dedaunan.
Harry melompat bangun tepat ketika terdengar suara ejekan dari seberang
kebun. "Aku tahu hari apa hari ini," Dudley menyanyi, berjalan berat ke
arahnya.
Mata besar itu berkedip lalu lenyap.
--------------------------------------- 6
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apa?" tanya Harry, tanpa melepas pandangan dari tempat mata itu tadi
berada. "Aku tahu hari apa hari ini," ulang Dudley, tiba di belakang Harry.
"Bagus sekali," kata Harry. "Jadi akhirnya kauhafal nama- nama hari."
"Hari ini hari ulang tahunmu," cemooh Dudley. "Kenapa kau tidak menerima
satu kartu pun? Apa kau tidak punya teman di tempat sinting itu?"
"Jangan sampai ibumu dengar kau menyebut-nyebut sekolahku," kata Harry
dingin. Dudley menarik celananya yang melorot ke pantat-nya yang gemuk.
"Kenapa kau terus memandang pagar?" tanyanya curiga. "Aku sedang mencoba
memutuskan mantra apa yang paling baik untuk membakarnya," kata Harry.
Dudley langsung terhuyung mundur, wajahnya yang gemuk kelihatan panik.
"Tidak b-bolehDad bilang kau tidak boleh me-menyihir dia bilang dia akan
mengusirmudan kau tak punya tempat lainkau tak punya teman yang bisa
menerimamu..."
"Jiggery pokery!" kata Harry tegas. "Hocus pocus... squiggly wiggly..."
"MUUUUUUM!" raung Dudley, yang tersandung kakinya"
sendiri dalam ketergesaannya berlari kembali ke rumah.
"MUUUUM! Dia melakukan yang tak boleh itu!"
Harry harus membayar mahal untuk kesenangan sesaat itu. Karena baik
Dudley maupun pagarnya sama sekali tak bercacat, Bibi Petunia tahu dia tidak
betul-betul menyihir. Tetapi Harry tetap harus me-nunduk menghindar ketika
Bibi Petunia mengayunkan wajan bersabun ke kepalanya. Kemudian Bibi
Petunia menyuruhnya bekerja, dengan ancaman dia tidak akan diberi makan
sampai pekerjaannya selesai.
Sementara Dudley bermalas-malasan menontonnya sambil makan es krim,
Harry membersihkan jendela, mencuci mobil, memotong rumput, merapikan
petak-petak bunga, menggunting dan menyirami mawar, dan mengecat ulang
bangku kebun. Matahari bersinar terik sekali, membakar tengkuknya. Harry
tahu dia seharusnya tidak terpancing ledekan Dudley, tetapi Dudley
mengatakan hal yang persis sedang Harry pikirkan... mungkin dia tak punya
teman di Hogwarts....
Sayang sekali mereka tak bisa melihat Harry Potter sekarang, pikirnya
jengkel, sementara dia menebarkan pupuk kandang di kebun bunga.
Punggungnya sakit, keringat bercucuran di wajahnya.
Sudah pukul setengah delapan malam ketika akhir-nya, kelelahan, dia
mendengar Bibi Petunia me-manggilnya.
"Masuk! Dan berjalan di atas koran!"
Harry masuk dengan senang ke dapur yang mengilap. Di atas lemari es sudah
siap puding untuk malam ini, dihiasi seonggok krim dan violet berlapis gula.
Daging panggang sedang berdesis di dalam oven.
"Makan cepat! Mr dan Mrs Mason sebentar lagi datang!" kata Bibi Petunia
galak, seraya menunjuk dua iris roti dan segumpal kecil keju di atas meja
dapur. Bibi Petunia sudah memakai gaun malam ber-warna merah jambu
salem.
Harry mencuci tangan dan segera menghabiskan makan malamnya yang
rrtengenaskan. Begitu dia se-lesai, Bibi Petunia langsung menyingkirkan
piringnya. "Naik! Cepat!"
--------------------------------------- 7
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ketika melewati pintu ruang duduk, sekilas Harry melihat Paman Vernon dan
Dudley memakai jas dan dasi kupu-kupu. Baru saja dia tiba di atas tangga, bel
pintu berdering dan wajah marah Paman Vernon muncul di kaki tangga.
"Ingatsuara sekecil apa pun...."
Harry berjingkat menuju kamarnya, menyelinap ma-suk, menutup pintu, dan
berbalik untuk mengempas-kan diri ke atas tempat tidurnya.
Celakanya, sudah ada yang duduk di atas tempat tidurnya.
2. Peringatan Dobby
HARRY berhasil tidak menjerit, tetapi nyaris saja. Makhluk kecil di tempat
tidur itu bertelinga lebar seperti kelelawar dan bermata hijau menonjol
sebesar bola tenis. Harry langsung tahu bahwa dialah yang pagi tadi
mengawasinya dari pagar tanaman.
Ketika mereka saling pandang, Harry mendengar suara Dudley dari ruang
depan. "Boleh kusimpan mantel Anda, Mr dan Mrs Mason?"
Makhluk itu meluncur turun dari tempat tidur dan membungkuk rendah
sekali sehingga ujung hidungnya yang panjang dan kurus menyentuh karpet.
Harry memperhatikan makhluk itu memakai sesuatu yang kelihatannya seperti
sarung bantal usang, dengan robekan untuk lubang lengan dan kaki.
"Ehhalo," kata Harry gugup.
"Harry Potter!" kata makhluk itu, dengan suara melengking yang Harry yakin
pasti terdengar sampai ke bawah tangga.
"Sudah lama Dobby ingin bertemu Anda, Sir... Sungguh kehormatan besar..."
"Te-terima kasih," kata Harry merayap sepanjang dinding dan terenyak di
kursinya, di sebelah Hedwig, yang sedang tidur di dalam sangkarnya yang
besar. Dia ingin bertanya,
"Kau ini apa?" tetapi rasanya tidak sopan, maka sebagai gantinya dia
bertanya, "Kau siapa?"
"Dobby, Sir. Cukup Dobby saja. Dobby si peri-rumah,"
jawab makhluk itu.
"Ohbegitu?" kata Harry. "Ehbukannya aku mengusir atau apa, tapiini
bukan saat yang baik bagiku untuk menerima peri-rumah di kamarku."
Tawa Bibi Petunia yang melengking dibuat-buat ter-dengar dari ruang tamu.
Peri itu menunduk lesu.
"Bukannya aku tidak senang bertemu kau," kata Harry cepat-cepat, "tetapi,
eh, apakah ada alasan khu-sus kenapa kau di sini?"
"Oh ya, Sir," kata Dobby bersemangat. "Dobby da-tang untuk memberitahu
Anda, Sir... susah, Sir... enaknya Dobby mulai dari mana, ya..."
"Silakan duduk," kata Harry sopan, menunjuk tem-pat tidurnya.
Betapa kagetnya dia, air mata si peri langsung bercucurandia tersedu-sedu.
--------------------------------------- 8
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"S-silakan duduk!" dia meraung. "Belum pernah... sekali pun belum
pernah..."
Harry mendengar suara-suara di bawah terhenti.
"Maaf," dia berbisik. "Aku tak bermaksud menghina-mu."
"Menghina Dobby!" si peri tersedak. "Belum pernah Dobby dipersilakan duduk
oleh seorang penyihir seakan kita sederajat..."
Harry, berusaha berkata "Shh!" dan sekaligus kelihatan lega, mengantar
Dobby kembali ke tempat tidurnya. Dobby duduk di situ, cegukan, tampak
seperti boneka besar yang jelek sekali. Akhirnya dia berhasil menguasai diri.
Mata besarnya yang masih berair menatap Harry penuh pemujaan.
"Pasti kau belum banyak bertemu penyihir yang sopan,"
kata Harry, berusaha menghiburnya.
Dobby menggeleng. Kemudian, mendadak saja, dia melompat dan mulai
membentur-benturkan kepalanya keras- keras ke jendela, seraya berteriak-
teriak, "Dobby jelek! Dobby jelek!"
"Jangankau kenapa?" desis Harry, melompat bangun dan menarik Dobby
kembali ke tempat tidur.
Hedwig terbangun sambil memekik luar biasa keras dan mengepak-
ngepakkan sayapnya dengan liar ke jeruji sangkarnya.
"Dobby harus menghukum diri sendiri, Sir," kata si -peri yang matanya jadi
agak juling. "Dobby hampir saja menjelek- jelekkan keluarga Dobby, Sir...."
"Keluargamu?"
"Keluarga penyihir tempat Dobby mengabdi, Sir... Dobby kan peri-rumah
terikat untuk mengabdi dan melayani satu rumah dan satu keluarga
selamanya...."
"Apa mereka tahu kau di sini?" tanya Harry ingin tahu. Dobby bergidik.
"Oh, tidak, Sir, tidak... Dobby nantinya harus meng-hukum diri dengan
sangat menyedihkan karena da-tang menemui Anda, Sir. Dobby harus menjepit
telinganya di pintu oven. Kalau sampai mereka tahu, Sir..."
"Tapi apa mereka tidak akan melihat kalau kau menjepit telingamu di pintu
oven?"
"Dobby meragukannya, Sir. Dobby selalu harus menghukum diri karena
sesuatu, Sir. Mereka membiar-kan saja Dobby begitu, Sir. Kadang-kadang
mereka malah mengingatkan Dobby untuk melakukan hu-kuman tambahan..."
"Tetapi kenapa kau tidak pergi saja? Maksudku, kabur?"
"Peri-rumah harus dibebaskan, Sir. Dan keluarga itu tidak akan pernah
membebaskan Dobby... Dobby akan melayani keluarga itu sampai mati, Sir..."
Harry terbelalak.
"Dan kukira keadaanku sudah parah sekali karena harus tinggal di sini
sebulan lagi," katanya. "Ceritamu membuat keluarga Dursley nyaris manusiawi.
Apakah ada yang bisa membantumu? Bisakah aku membantu-mu?"
Langsung saja Harry menyesal bicara begitu. Dobby tersedu-sedu lagi saking
berterima kasihnya.
"Diamlah," bisik Harry panik, "diamlah. Kalau ke-luarga Dursley sampai
dengar, kalau mereka tahu kau di sini..."
--------------------------------------- 9
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Harry Potter bertanya apakah dia bisa membantu Dobby... Dobby sudah
mendengar kehebatan Anda, Sir, tapi tentang kebaikan Anda, Dobby tak pernah
tahu..."
Harry, yang wajahnya terasa panas, berkata, "Apa pun yang kaudengar
tentang kehebatanku adalah omong kosong besar. Aku bahkan bukan juara di
antara teman-teman seangkatanku. Juaranya Hermione, dia..."
Tetapi Harry mendadak berhenti, karena memikirkan Hermione terasa
menyakitkan.
"Harry Potter rendah hati dan sederhana," kata Dobby penuh kekaguman,
matanya yang seperti bola berbinar-binar.
"Harry Potter tidak menyebut-nyebut kemenangannya atas Dia yang Namanya
Tak Boleh Disebut."
"Voldemort?" kata Harry.
Dobby menutup telinga kelelawarnya dan menge-rang. "Ah, jangan sebut
namanya, Sir! Jangan sebut namanya!"
"Sori," kata Harry cepat-cepat. "Aku tahu banyak orang tidak menyukainya.
Temanku Ron..." Dia berhenti lagi. Memikirkan Ron juga menyakit-kan. Dobby
membungkuk ke arah Harry, matanya se-besar lampu sorot.
"Dobby mendengar cerita," katanya serak, "bahwa Harry Potter bertemu si
Pangeran Kegelapan itu untuk kedua kalinya, baru beberapa minggu lalu...
bahwa Harry Potter sekali lagi berhasil lolos."
Harry mengangguk dan mata Dobby mendadak berkilau oleh air mata.
"Ah, Sir," isaknya, mengusap wajahnya dengan salah satu ujung sarung bantal
butut yang dipakainya. "Harry Potter sungguh gagah berani! Dia sudah meng-
hadapi banyak bahaya! Tetapi Dobby datang untuk melindungi Harry Potter,
untuk memperingatkannya, meskipun karena itu Dobby harus menjepit
telinganya di pintu oven nanti... Harry Potter tidak boleh kembali ke
Hogwarts."
Kesunyian yang menyusul hanya dipecahkan oleh dentang- denting garpu dan
pisau dari bawah dan sayup-sayUp suara Paman Vernon di keja'uhan.
"A-apa?" Harry tergagap. "Tapi aku harus kembali sekolah mulai tanggal
satu September. Itu saja yang membuatku masih di sini. Kau tak tahu
bagaimana rasanya di sini. Aku tidak, termasuk salah satu dari mereka. Aku
lebih cocok di duniamudi Hogwarts."
"Tidak, tidak, tidak," lengking Dobby, menggeleng-gelengkan kepalanya
keras-keras sampai telinganya menampar-nampar. "Harry Potter harus tinggal
di tem-pat di mana dia aman. Dia terlalu hebat, terlalu baik, sayang kalau kami
sampai kehilangan dia. Kalau Harry Potter kembali ke Hogwarts, nyawanya
dalam bahaya."
"Kenapa?" tanya Harry kaget.
"Ada rencana rahasia, Harry Potter. Rencana untuk membuat hal-hal yang
paling mengerikan terjadi di Sekolah Sihir Hogwarts tahun ini," bisik Dobby,
menda-dak seluruh tubuhnya gemetaran. "Dobby sudah tahu selama berbulan-
bulan, Sir. Harry Potter tidak boleh membahayakan dirinya. Dia terlalu penting,
Sir!"
"Hal mengerikan apa?" tanya Harry segera. "Siapa yang merencanakannya?"
--------------------------------------- 10
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dobby membuat suara tersedak aneh dan kemudian membentur-benturkan
kepalanya dengan liar ke din-ding.
"Baiklah!" seru Harry, menyambar lengan si peri untuk menghentikan
perbuatannya. "Kau tak bisa me-ngatakannya, aku mengerti. Tetapi kenapa kau
mem-peringatkan aku?" Pikiran tak enak mendadak melintas di benaknya.
"Tunggu ini tidak ada hubungannya dengan Volsoridengan Kau- Tahu-Siapa,
kan? Kau tinggal menggeleng atau mengangguk," cepat-cepat Harry
menambahkan ketika, dengan mengkha-watirkan, kepala Dobby sudah
mengarah lagi ke dinding.
Perlahan-lahan, Dobby menggelengkan kepala. "Bukan
bukan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut, Sir."
Tetapi mata Dobby melebar dan dia kelihatannya mencoba memberi Harry
petunjuk. Meskipun demi-kian, Harry sama sekali tidak paham.
"Dia tidak punya adik laki-laki, kan?" Dobby menggeleng, matanya menjadi
lebih lebar dari sebelumnya.
"Yah, kalau begitu, aku tak bisa memikirkan siapa lagi yang punya
kesempatan untuk melakukan hal-hal mengerikan di Hogwarts," kata Harry.
"Maksudku, paling tidak di sana ada Dumbledorekau tahu siapa Dumbledore,
kan?"
Dobby menundukkan kepala.
"Albus Dumbledore adalah kepala sekolah terhebat yang pernah dimiliki
Hogwarts. Dobby tahu itu, Sir. Dobby sudah mendengar kehebatan Dumbledore
me-nyaingi kehebatan Dia yang Namanya Tak Boleh Di-sebut pada puncak
kekuasaannya. Tetapi, Sir," suara Dobby merendah menjadi bisikan mendesak,
"ada kekuasaan-kekuasaan yang Dumbledore tidak... ke-kuasaan yang penyihir
baik tidak..."
Dan sebelum Harry bisa mencegahnya, Dobby me-lompat turun dari tempat
tidur, menyambar lampu meja Harry dan mulai memukuli kepalanya dengan
jeritan-jeritan memekakkan telinga.
Di bawah mendadak sunyi. Dua menit kemudian, dengan jantung berdegup
liar, Harry mendengar Paman Vernon masuk, seraya berkata, "Dudley pasti lupa
mematikan televisinya. Dasar ceroboh anak itu!"
"Cepat! Masuk lemari pakaian!" desis Harry, men-dorong Dobby masuk,
menutup pintu lemari, dan melempar dirinya ke atas tempat tidur tepat ketika
pegangan pintu bergerak.
"Setan! Kau-ini-ngapain-sih?" kata Paman Vernon dengan gigi mengertak,
wajahnya sangat dekat ke wajah Harry. "Kau baru saja membuat berantakan
leluconku tentang pemain golf Jepang... kalau bikin suara sekali lagi, kau akan
menyesal telah dilahir-kan!"
Paman Vernon meninggalkan kamar dengan mengentakkan kakinya.
Gemetaran, Harry mengeluarkan Dobby dari lemari pakaian.
"Tahu, kan, bagaimana di sini?" katanya. "Paham, kan, kenapa aku harus
kembali ke Hogwarts? Hogwarts satu- satunya tempat di mana aku punya yah,
kupikir aku punya teman."
"Teman yang bahkan menulis surat pun tidak kepada Harry Potter?" kata
Dobby licik.
--------------------------------------- 11
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kurasa merekatunggu," kata Harry, keningnya berkerut.
"Bagaimana kau tahu teman-temanku tidak menulis kepadaku?"
Dobby menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah.
"Harry Potter tidak boleh marah kepada Dobby Dobby melakukannya demi
kebaikan..."
"Apakah kau yang mengambil surat-suratku?"
"Dobby membawanya, Sir," kata si peri. Dengan gesit ia menjauh dari
jangkauan Harry, lalu menarik keluar setumpuk tebal amplop dari dalam sarung
bantal yang dipakainya. Harry bisa mengenali tulisan Hermione yang rapi,
tulisan cakar ayam Ron yang berantakan, dan bahkan coretan yang
kelihatannya dikirim oleh si pengawas binatang liar Hogwarts, Hagrid.
Dobby menatap Harry dengan cemas.
"Harry Potter tidak boleh marah... Dobby ber-harap... kalau Harry Potter
mengira teman-temannya melupakannya... Harry Potter mungkin tidak ingin
kembali ke sekolah, Sir..."
Harry tidak mendengarkan. Dia berusaha merebut surat- surat itu, tetapi
Dobby melompat menjauh.
"Ini akan diberikan kepada Harry Potter, Sir, kalau dia berjanji kepada Dobby
bahwa dia tidak akan kembali ke Hogwarts. Ah, Sir, ini bahaya yang tak boleh
Anda hadapi! Katakan Anda tidak akan kembali, Sir!"
"Tidak," kata Harry marah. "Kembalikan surat teman- temanku!"
"Kalau begitu Harry Potter tidak memberikan pilihan lain kepada Dobby,"
kata si peri sedih.
Sebelum Harry bisa bergerak, Dobby sudah melesat ke pintu kamar,
membukanyadan melompat turun.
Dengan mulut kering, jantung berdegup kencang, Harry melompat
mengejarnya, berusaha tidak mem-buat suara. Dia melompati enam anak
tangga terakhir, mendarat seperti kucing di atas karpet, celinguk.in mencari
Dobby. Dari ruang makan didengarnya Paman Vernon berkata, "...ceritakan
kepada Petunia cerita lucu tentang tukang ledeng Amerika itu, Mr Mason, dia
sudah ingin sekali dengar..."
Harry berlari ke dapur dan hatinya mencelos.
Puding mahakarya Bibi Petunia, gundukan krim dan gula itu, sekarang
melayang dekat langit-langit. Di atas lemari di sudut, Dobby meringkuk.
"Jangan," kata Harry serak. "Tolong, jangan... me-reka akan membunuhku..."
"Harry Potter harus bilang dia tidak akan kembali ke sekolah..."
"Dobby... tolong..."
"Katakan, Sir..."
"Tidak bisa!"
Dobby memandangnya sedih.
"Kalau begitu Dobby terpaksa melakukannya, Sir, untuk kebaikan Harry
Potter sendiri."
Puding itu terjatuh ke lantai dengan bunyi me-mekakkan. Krim memercik ke
jendela dan dinding, sementara piringnya pecah. Diiringi bunyi seperti lecutan
cemeti, Dobby menghilang.
--------------------------------------- 12
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Terdengar jeritan dari ruang makan dan Paman Vernon berlari ke dapur,
menemukan Harry, berdiri kaku saking kagetnyadari kepala sampai kaki
belumur puding Bibi Petunia.
Awalnya, kelihatannya Paman Vernon akan bisa me-nutupi kejadian itn
("cuma keponakan kamisangat bingung bertemu orang asing membuatnya
cemas, maka kami minta dia tinggal saja di atas..."). Paman Vernon meminta
suami-istri Mason yang shock kembali ke ruang makan. Lalu ia mengancam akan
menghajar Harry sampai nyawanya tinggal seujung rambut se-telah tamunya
pulang nanti. Diberinya Harry alat pel. Bibi Petunia mengambil es krim dari
lemari es dan Harry, masih gemetaran, mulai membersihkan dapur.
Paman Vernon mungkin masih akan bisa me-nyelesaikan transaksinyakalau
bukan gara-gara si burung hantu.
Bibi Petunia sedang mengedarkan kotak permen pedas untuk sehabis
makan .ketika seekor burung hantu serak melesat masuk lewat jendela ruang
ma-kan, menjatuhkan sepucuk surat ke atas kepala Mrs Mason, dan melesat
keluar lagi. Mrs Mason menjerit seakan melihat hantu dan berlari keluar rumah,
ber-teriak-teriak menuduh mereka gila. Sebelum bergegas menyusul istrinya,
Mr Mason masih sempat memberi-tahu keluarga Dursley bahwa istrinya takut
setengah mati pada segala macam burung dan bertanya apakah begini cara
mereka bergurau.
Harry berdiri di dapur, mencengkeram gagang pel untuk menopangnya ketika
Paman Vernon men-dekatinya, matanya yang kecil berkilat licik.
"Baca ini!" desisnya galak, seraya mengacung-acung-kan surat yang dibawa
burung hantu tadi. "Ayo baca!"
Harry mengambilnya. Surat itu tidak berisi ucapan selamat ulang tahun.
Mr Potter yang terhormat,
Kami baru saja menerima laporan mata-mata bahwa Mantra Melayang baru
saja digunakan di tempat tinggal Anda malam ini pada pukul sembilan lewat
dua belas menit.
Seperti Anda ketahui, penyihir di bawah-umur tidak diperkenankan
menggunakan sihir di luar sekolah, dan jika Anda menggunakan sihir lagi, Anda
bisa dikeluar-kan dari sekolah (Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penyihir di
Bawah-Umur, 1875, Paragraf C).
Kami juga meminta Anda mengingat bahwa kegiatan sihir apa pun yang
berisiko menarik perhatian anggota komunitas non-sihir (Muggle) adalah
pelanggaran serius, sesuai peraturan ke-13 Konfederasi Internasional Undang-
undang Kerahasiaan Sihir.
Selamat menikmati liburan!
Hormat kami, Mafalda Hopkirk Departemen Penggunaan Sihir yang Tidak
Pada Tempatnya
Kementerian Sihir
--------------------------------------- 13
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry mendongak dari suratnya dan menelan ludah.
"Kau tidak memberitahu kami kau tidak diizinkan menggunakan sihir di luar
sekolah," kata Paman Vernon, kilatan liar menari-nari di matanya. "Lupa...
tidak ingat sama sekali, pasti begitu alasanmu..."
Dia menghadapi Harry seperti anjing buldog besar, dengan mulut
menyeringai. "Yah, aku punya kabar untukmu... aku akan mengurungmu... kau
tak akan pernah kembali ke sekolah itu... tak pernah... dan kalau kau mencoba
menyihir dirimu lepas dari ku-runganmereka akan mengeluarkanmu!"
Dan sambil tertawa seperti orang gila, dia menyeret Harry kembali ke atas.
Paman Vernon membuktikan kekejaman icata-kata-nya. Esok paginya, dia
membayar orang untuk me-masang jeruji pada jendela Harry. Dia sendiri me-
masang pintu-kucing di pintu kamar, supaya sedikit makanan bisa didorong
masuk tiga kali sehari. Mereka mengeluarkan Harry untuk ke kamar mandi
sehari dua kali, pagi dan sore. Selain waktu itu, dia dikurung di kamarnya
sepanjang waktu.
Tiga hari kemudian, keluarga Dursley belum me-nampakkan tanda-tanda
berbelas kasihan dan Harry tidak melihat jalan keluar dari keadaannya itu. Dia
berbaring di tempat tidurnya, memandang matahari terbenam di balik jeruji
jendelanya, dan sedih sekali memikirkan apa yang akan terjadi padanya.
Apa gunanya menyihir dirinya keluar dari kamarnya kalau, gara-gara itu,
Hogwarts akan mengeluarkannya? Tapi hidup di Privet Drive tak tertahankan
lagi. Seka-rang setelah keluarga Dursley tahu mereka tidak akan terbangun
sebagai kelelawar pemakan buah, dia telah kehilangan satu-satunya senjata.
Dobby mungkin telah menyelamatkan Harry dari bencana mengerikan di
Hogwarts, tetapi melihat keadaannya ini, dia toh mungkin akan mati kelaparan
juga.
Pintu-kucing berderik dan tangan Bibi Petunia mun-cul, mendorong
semangkuk sup kaleng ke dalam ka-mar. Harry, yang perutnya melilit
kelaparan, melompat dari tempat tidurnya dan menyambarnya. Sup itu dingin,
tetapi dia meminum separonya sekali teguk. Kemudian dia menyeberang kamar
menuju sangkar Hedwig, dan menuang sayur yang sudah lembek di dasar
mangkuk itu ke piring kosong Hedwig.
Hedwig menyisiri bulunya dan melempar pandangan jijik ke arah Harry "Tak
ada gunanya menolak makan, cuma ini yang kita punya," kata Harry muram.
Ditaruhnya mangkuk kosong itu di lantai di sebelah pintu- kucing, lalu dia
kembali berbaring di tempat tidurnya, malah merasa lebih lapar daripada
sebelum makan sup tadi.
Seandainya dia masih hidup sebulan lagi, apa yang akan terjadi jika dia tidak
muncul di Hogwarts? Akan-kah seseorang dikirim untuk mencari tahu kenapa
dia tidak kembali? Apakah mereka akan berhasil mem-buat keluarga Dursley
mengizinkannya pergi?
Ruangan mulai gelap. Kelelahan, perutnya keron-congan, otaknya dipenuhi
pertanyaan-pertanyaan sama yang tak bisa dijawab, Harry tertidur. Tidurnya
gelisah.
--------------------------------------- 14
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dia bermimpi dijadikan tontonan di kebun binatang, dengan kartu bertulisan
"Penyihir di Bawah Umur" menempel di kandangnya. Orang-orang memandang
ingin tahu kepadanya lewat jeruji, sementara dia ter-baring, kelaparan dan
lemah, di atas tempal tidur jerami. Dilihatnya wajah Dobby di tengah
kerumunan dan dia berteriak, minta bantuan, tetapi Dobby ber-seru, "Harry
Potter aman di situ, Sir!" lalu lenyap. Kemudian keluarga Dursley muncul dan
Dudley men-derak- derakkan jeruji kandang, menertawakannya.
"Hentikan!" gumam Harry, ketika derak jeruji itu membuat kepalanya
berdenyut sakit. "Jangan gauggu aku... hentikan... aku sedang mencoba
tidur...."
Harry membuka matanya. Cahaya bulan menerobos masuk lewat jeruji
jendela. Dan memang ada orang yang memandang ingin tahu lewat jeruji
jendela: anak yang wajahnya berbintik-bintik, berambut merah, dan berhidung
panjang. Ron Weasley ada di luar jendela Harry.
3. The Burrow
"RON!" desah Harry, merayap ke jendela dan men-dorongnya ke atas, agar
mereka bisa bicara lewat jeruji.
"Ron, bagaimana kauapa i...?"
Harry ternganga ketika sadar sepenuhnya apa yang dilihatnya. Ron
menjulurkan tubuhnya dari jendela belakang mobil tua berwarna hijau toska,
yang di-parkir di tengah udara. Fred dan George, kakak kembar-nya, nyengir
kepada Harry dari tempat duduk depan.
"Baik-baik saja, Harry?"
"Apa yang terjadi?" tanya Ron. "Kenapa kau tidak membalas surat-suratku?
Sudah dua belas kali kuminta kau datang, kemudian Dad pulang dan bilang kau
mendapat peringatan resmi gara-gara menggunakan sihir di depan Muggle..."
"Bukan akudan bagaimana dia tahu?"
"Dia kerja di Kementerian Sihir," kata Ron. "Kau kan tahu kita dilarang
menggunakan sihir di luar sekolah..."
"Aneh juga kau ngomong begitu,". kata Harry, me-mandang mobil yang
melayang itu.
"Oh, ini tidak masuk hitungan," kata Ron. "Kami cuma pinjam. Ini punya Dad,
bukan kami yang me-nyihirnya. Tetapi menyihir di depan Muggle, di tempat kau
tinggal..."
"Sudah kubilang itu bukan akutapi perlu waktu lama untuk menjelaskannya
sekarang. Bisakah kau-katakan kepada mereka di Hogwarts bahwa keluarga
Dursley mengurungku dan tidak mengizinkanku kem-bali, dan jelas aku tidak
bisa menyihir diriku keluar kamar, karena Kementerian Sihir nanti mengira itu
kedua kalinya aku menyihir dalam waktu tiga hari, jadi..."
--------------------------------------- 15
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Berhenti ngoceh," kata Ron. "Kami datang untuk membawamu pulang
bersama kami."
"Tapi kalian juga tidak bisa menyihirku bebas..."
"Tidak perlu," kata Ron, mengedikkan kepalanya ke arah tempat duduk
depan sambil menyeringai. "Kau lupa siapa yang bersamaku." "Ikat ini di
sekeliling jeruji-jeruji itu," kata Fred, melempar ujung seuntai tambang kepada
Harry.
"Kalau keluarga Dursley bangun, mati aku," kata Harry, ketika dia
mengikatkan tambang erat-erat ke satu jeruji sementara Fred menekan pedal
gas kuat-kuat.
"Jangan khawatir," kata Fred. "Sekarang kau mundur." Harry mundur ke
tempat remang-remang di sebelah Hedwig. Hedwig rupanya menyadari betapa
penting-nya kejadian ini sehingga dia diam tak bersuara. Derum mobil semakin
keras, dan mendadak, dengan bunyi berkelontangan, jeruji-jeruji itu berhasil
dicabut dari jendela sewaktu Fred meluncurkan mobil ke atasHarry berlari
kembali ke jendela dan melihat jeruji itu bergelantungan kira-kira semeter dari
tanah. Terengah-engah, Ron menariknya ke dalam mobil.
Harry mendengarkan dengan cemas, tetapi tak ter-dengar suara dari kamar
tidur keluarga Dursley.
Ketika jeruji sudah aman di tempat duduk belakang bersama Ron, Fred
memundurkan mobil sedekat mungkin ke jendela Harry.
"Masuk," kata Ron.
"Tetapi semua keperluan Hogwarts-ku... tongkat-ku... sapuku..." "Di mana?"
"Dikunci di lemari di bawah tangga, dan aku tidak bisa keluar dari kamar ini..."
"Tak jadi soal," kata George dari tempat duduk depan. "Minggir, Harry."
Fred dan George memanjat hati-hati lewat jendela, masuk ke kamar Harry.
Harry kagum sekali melihat George mengeluarkan jepit rambut biasa dari
sakunya dan mulai mengotak-atik kunci pintu.
"Banyak penyihir menganggap mempelajari trik Muggle semacam ini buang-
buang waktu," kata Fred, "tapi menurut kami ini kecakapan yang layak di-
pelajari, walaupun agak lambat."
Terdengar bunyi klik pelan dan pintu terbuka.
"Nahkami akan mengambil kopermu. Ambil apa saja yang kauperlukan dari
kamarmu dan ulurkan pada Ron," bisik George.
"Awas, anak tangga yang paling bawah berderit,"
Harry balik berbisik, ketika si kembar menghilang di puncak tangga yang
gelap.
Harry bergerak gesit di kamarnya, mengumpulkan barang- barangnya dan
menyerahkannya kepada Ron.
Kemudian dia membantu Fred dan George meng-gotong kopernya ke atas.
Harry mendengar Paman Vernon terbatuk.
Akhirnya, terengah-engah, mereka tiba di puncak tangga, lalu membawa
koper itu ke jendela kamar. Fred memanjat kembali ke dalam mobil untuk
menarik koper bersama Ron, sementara Harry dan George mendorong dari
kamar. Senti demi senti koper itu bergerak melewati jendela.
--------------------------------------- 16
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Paman Vernon terbatuk lagi. "Sedikit lagi," sengal Fred, yang menarik dari
dalam mobil. "Dorong keras-keras...."
Harry dan George mendorong koper itu dengan bahu dan koper itu pun
meluncur dari jendela ke .tempat duduk belakang mobil.
"Oke, kita berangkat," bisik George.
Tetapi ketika Harry memanjat ambang jendela, ter-dengar jerit nyaring di
belakangnya, diikuti gelegar suara Paman Vernon.
"BURUNG HANTU SIALAN!"
"Aku lupa Hedwig!"
Harry berlari kembali ke seberang kamar ketika lampu di atas tangga loteng
menyala. Dia menyambar sangkar Hedwig, berlari ke jendela, dan
menyerahkan-nya kepada Ron. Dia sedang memanjat lemari lacinya ketika
Paman Vernon menggedor pintu yang sudah tak terkuncidan pintu berdebam
terbuka.
Sedetik Paman Vernon berdiri terpaku di depan pintu, kemudian dia
melenguh seperti banteng terluka dan melesat mengejar Harry, menyambar
pergelangan kakinya.
Ron, Fred, dan George meraih lengan Harry dan menarik sekuat tenaga.
"Petunia!" raung Paman Vernon. "Dia kabur! DIA KABUR!"
Weasley bersaudara menyentak keras sekali dan kaki Harry terlepas dari
cengkeraman Paman Vernon. Begitu Harry sudah di dalam mobil dan
membanting pintunya menutup, Ron berteriak, "Tancap, Fred!" dan mobil itu
tiba-tiba saja meluncur menuju bulan.
Harry tak bisa mempercayainyadia bebas. Dia menurunkan kaca jendela
mobil, angin malam me-ngibarkan rambutnya. Dia memandang atap rumah-
rumah di Privet Drive yang semakin menjauh. Paman Vernon, Bibi Petunia, dan
Dudley, ketiganya menatap terpana dari jendela kamar Harry.
"Sampai musim panas tahun depan!" seru Harry. Weasley bersaudara
terbahak dan Harry bersandar kembali ke tempat duduknya, nyengir lebar
sekali.
"Keluarkan Hedwig," katanya kepada Ron. "Dia bisa terbang mengikuti kita.
Sudah lama sekali dia tak punya kesempatan merentangkan sayapnya."
George menyerahkan jepit rambut kepada Ron dan sesaat kemudian Hedwig
sudah meluncur riang gem-bira dari jendela mobil, lalu melayang-layang meng-
ikuti mereka seperti hantu.
"Jadibagaimana ceritanya, Harry?" kata Ron tak sabar.
"Apa yang terjadi?"
Harry menceritakan kepada mereka semua tentang Dobby, peringatan yang
diberikannya kepada Harry, dan musibah puding violet. Terjadi kesunyian yang
panjang setelah Harry mengakhiri ceritanya. Mereka kaget.
"Sangat mencurigakan," kata Fred akhirnya.
"Jelas mengada-ada," George menyetujui. "Jadi dia bahkan tidak mau
memberitahu siapa yang me-rencanakan semua ini?"
"Kurasa dia tak bisa," kata Harry. "Sudah kukatakan, setiap kali nyaris buka
rahasia, dia langsung mem-bentur-benturkan kepalanya ke dinding."
Harry melihat Fred dan George berpandangan.
--------------------------------------- 17
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kalian mengira dia bohong kepadaku?" kata Harry.
"Yah," kata Fred, "coba pikirkanperi-rumah punya kekuatan gaib sendiri,
tetapi mereka biasanya tidak bisa menggunakannya tanpa izin tuan mereka.
Kurasa si Dobby itu sengaja dikirim untuk mencegahmu kem-bali ke Hogwarts.
Ada yang mau mempermainkanmu. Apa di sekolah ada yang dendam padamu?"
"Ada," Harry dan Ron langsung menjawab ber-samaan.
"Draco Malfoy," Harry menjelaskan.
"Dia membenci-ku."
"Draco Malfoy?" kata George, menoleh.
"Bukan anak Lucius Malfoy, kan?"
"Mestinya. Itu bukan nama yang sangat umum, kan?" kata Harry.
"Kenapa?"
"Aku dengar Dad bicara tentang dia," kata George. "Dia pendukung besar
Kau-Tahu-Siapa."
"Dan waktu Kau-Tahu-Siapa menghilang," kata Fred, menoleh memandang
Harry, "Lucius Malfoy kembali, katanya dia tidak bermaksud melakukan semua
itu. Omong kosong Dad berpendapat dia orang dekat Kau-Tahu-Siapa."
Harry tak pernah mendengar desas-desus tentang keluarga Malfoy
sebelumnya, dan ini sama sekali tidak mengejutkannya. Kalau dibandingkan
dengan Malfoy, Dudley Dursley tampak seperti anak yang baik, bijak-sana, dan
penuh perasaan.
"Aku tak tahu apakah keluarga Malfoy punya peri-rumah...," kata Harry.
"Siapa pun pemiliknya, tentulah keluarga penyihir yang sudah turun-temurun
dan kaya raya," kata Fred.
"Yeah, Mum ingin sekali kami punya peri-rumah untuk menyetrika," kata
George. "Tapi yang kami punya hanyalah hantu konyol di loteng dan jembalang
yang berkeliaran di kebun. Peri-rumah adanya di rumah-rumah besar, kastil,
dan tempat-tempat seperti itu. Kau tak akan menemukannya di rumah
kami...."
Harry diam. Melihat fakta bahwa Draco Malfoy biasanya memiliki segala
sesuatu yang paling baik, keluarganya pastilah bergelimang uang sihir. Dia bisa
membayangkan Malfoy berkeliaran di rumah besar. Mengirim pelayan rumah
untuk mencegah Harry kem-bali ke Hogwarts kelihatannya juga jenis hal yang
akan dilakukan Malfoy. Bodohkah Harry menanggapi Dobby secara serius?
"Tapi aku senang kami datang mengambilmu," kata Ron.
"Aku cemas sekali ketika kau tidak membalas satu pun suratku. Mulanya
kukira Errol yang salah..."
"Siapa Errol?"
"Burung hantu kami. Dia sudah tua sekali. Bukan untuk pertama kalinya dia
pingsan waktu mengantar surat. Jadi kemudian kucoba meminjam Hermes..."
"Siapa?"
"Burung hantu yang Mum dan Dad belikan untuk Percy ketika dia diangkat
jadi Prefek," kata Fred dari tempat duduk depan.
"Tapi Percy tak mau meminjamkannya padaku," kata Ron.
"Katanya dia sendiri memerlukannya."
--------------------------------------- 18
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tingkah Percy aneh sekali sepanjang musim panas ini," kata George, dahinya
berkerut. "Dia mengirim banyak surat dan melewatkan banyak waktu mengu-
rung diri dalam kamarnya... Maksudku, berapa kali sih kita perlu menggosok
lencana Prefek? Kau menyetir terlalu ke barat, Fred," katanya menambahkan,
me-nunjuk kompas di dasbor. Fred memutar roda kemudi.
"Apakah ayah kalian tahu kalian membawa mobil ini?"
tanya Harry, sudah menduga jawabannya.
"Eh, tidak," kata Ron, "dia harus bekerja malam ini. Mudah- mudahan kita
bisa mengembalikannya ke garasi sebelum Mum menyadari kita menerbang-
kannya."
"Apa sih pekerjaan ayah kalian di Kementerian Sihir?"
"Dia bekerja di departemen paling membosankan," kata Ron. "Kantor
Penyalahgunaan Barang-barang Muggle."
"Apa?"
"Segala sesuatu yang ada hubungannya dengan menyihir barang-barang
buatan Muggle. Soalnya siapa tahu barang itu nantinya kembali ke toko atau
rumah Muggle. Seperti tahun lalu, ada penyihir tua wanita meninggal dan
peralatan minum tehnya dijual ke toko barang antik. Ada Muggle perempuan
yang mem-belinya, membawanya pulang, dan menjamu teman-nya dengan
peralatan ini. Benar-benar kacau-balau selama berminggu-minggu Dad harus
kerja lembur."
"Apa yang terjadi?"
"Teko tehnya ngamuk dan menyemburkan teh men-didih ke seluruh ruangan,
dan seorang laki-laki harus dibawa ke rumah sakit dengan penjepit gula
menjepit hidungnya. Dad panik. Cuma ada dia dan satu pe-nyihir tua bernama
Perkins di kantor. Mereka harus menggunakan Jimat Memori dan segala macam
man-tra lainnya untuk menutupi peristiwa ini..."
"Tetapi ayahmu... mobil ini..."
Fred tertawa. "Yeah, Dad tergila-gila pada segala sesuatu yang ada
hubungannya dengan Muggle. Gu-dang kami penuh dengan barang-barang
Muggle. Dia membongkarnya, memantrainya, dan merakitnya kem-bali. Kalau
dia merazia rumah kami sendiri, dia pasti harus langsung menangkap dirinya
sendiri. Mum sam-pai kesal."
"Itu jalan utamanya," kata George menyipitkan mata, memandang ke bawah
melalui kaca depan. "Sepuluh menit lagi kita sampai... untunglah, sudah mulai
terang...."
Semburat pucat kemerahan sudah mulai tampak di ufuk timur.
Fred menurunkan mobilnya dan Harry melihat petak-petak ladang dan
gerumbul-gerumbul pohon yang gelap.
"Kita sudah hampir sampai di tepi desa," kata George.
"Ottery St Catchpole..."
Mobil terbang itu semakin lama semakin rendah. Tepi lingkaran matahari
yang merah jingga sekarang berkilau di antara pepohonan.
"Pendaratan!" kata Fred, ketika dengan entakan kecil mereka menyentuh
tanah. Mereka mendarat di sebelah garasi yang hampir roboh di halaman kecil
itu, dan Harry untuk pertama kalinya melihat rumah Ron.
--------------------------------------- 19
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tampaknya dulunya rumah ini kandang babi besar, tetapi kamar-kamar
ekstra sudah ditambahkan di sana-sini sampai rumah ini menjadi beberapa
tingkat dan miring sekali, sehingga seolah rumah ini masih ber-tahan berdiri
karena disihir (yang, Harry mengingat-kan dirinya, mungkin memang benar).
Empat atau lima cerobong asap bertengger di atas atap merahnya. Papan
miring yang ditancapkan di tanah dekat pintu masuk bertulisan "The Burrow"
Liang. Di sekeliling pintu depan bertebaran sepatu bot dan kuali yang sudah
sangat berkarat. Beberapa ayam cokelat gemuk sedang mematuk-matuk di
halaman.
"Tidak seberapa," kata Ron.
"Ini hebat," kata Harry riang, teringat Privet Drive.
Mereka turun dari mobil.
"Nah, kita ke atas diam-diam," kata Fred, "dan tunggu sampai Mum
memanggil kita untuk sarapan. Kemudian, Ron, kau turun sambil bilang, 'Mum,
coba lihat siapa yang muncul semalam!' Mum akan senang sekali melihat Harry,
dan tak seorang pun perlu tahu kita menerbangkan mobil."
"Betul," kata Ron. "Ayo, Harry, aku tidur di..."
Wajah Ron berubah pucat, matanya terpaku ke rumah. Yang lain segera
berbalik.
Mrs Weasley berjalan tegap menyeberangi halaman, membuat ayam-ayam
menyebar. Untuk wanita pen-dek, gemuk, berwajah ramah, mengherankan
sekali betapa miripnya dia dengan harimau bergigi pedang sekarang.
"Ah," kata Fred.
"Oh," kata George.
Mrs Weasley berhenti di depan mereka, tangannya di pinggul, memandang
bergantian wajah-wajah ber-salah itu. Dia memakai celemek berbunga-bunga
de-ngan tongkat mencuat keluar dari sakunya.
"Jadi," katanya. "Pagi, Mum," kata George, dengan suara yang di-anggapnya
riang membujuk. "Tahukah kalian betapa cemasnya aku?" kata Mrs Weasley
dalam bisikan maut.
"Maaf, Mum, tapi soalnya, kami harus..."
Ketiga anak Mrs Weasley lebih tinggi daripadanya, tetapi mereka mengerut
ketika kemarahannya meledak.
"Tempat tidur kosong! Tak ada pesan! Mobil lenyap... bisa tabrakan... gila
rasanya aku saking cemasnya... apa kalian pedulil... belum pernah, seumur
hidupku... tunggu sampai ayah kalian pulang, kami tak pernah dapat kesulitan
begini dari Bill atau Charlie atau Percy..."
"Prefek Percy yang sempurna," gumam Fred.
"KAU SEHARUSNYA MENCONTOH PERCY!" teriak Mrs Weasley, menusukkan jari
ke dada Fred. "Kau bisa mati, kau bisa kelihatan, kau bisa membuat ayahmu
kehilangan pekerjaannya..."
Kemarahan Mrs Weasley rasanya berlangsung ber-jam-jam. Dia berteriak-
teriak sampai serak, sebelum menoleh pada Harry, yang mundur menjauh.
"Aku senang sekali bertemu kau, Nak," katanya.
"Mari masuk dan sarapan."
--------------------------------------- 20
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mrs Weasley berbalik dan berjalan kembali ke dalam rumah, sedangkan
Harrysetelah dengan gugup me-lirik Ron, yang mengangguk membesarkan
hatinya mengikutinya.
Dapurnya kecil dan agak penuh sesak. Ada meja kayu dan kursi-kursi di
tengahnya dan Harry duduk di tepi tempat duduknya, memandang berkeliling.
Dia belum pernah berada dalam rumah penyihir.
Jam di dinding di depannya cuma punya satu jarum dan sama sekali tak ada
angkanya. Mengitari tepinya ada tulisan- tulisan seperti "Waktu membuat teh",
"Waktu memberi makan ayam-ayam", dan "Kau terlambat". Buku-buku ditumpuk
tiga- tiga di atas rak perapian, buku-buku dengan judul seperti Sihir Sendiri
Kejumu, Jampi-jampi dalam Memanggang, dan Sajian dalam SemenitSungguh
Ajaib! Dan kecuali telinga Harry mengelabuinya, radio tua di sebelah tempat
cuci piring baru saja mengumumkan bahwa acara berikutnya adalah "Jam Sihir,
dengan penyanyi pe-nyihir wanita terkenal, Celestina Warbeck."
Mrs Weasley mondar-mandir dengan berisik, me-nyiapkan sarapan dengan
agak serampangan, meman-dang sebal anak- anaknya sementara dia
melemparkan sosis ke dalam wajan. Sekali-sekali dia menggumam-kan kalimat
seperti, "Tak tahu apa yang ada di pikiran kalian," dan "Tak akan pernah
mempercayainya."
"Aku tidak menyalahkanmu, Nak," katanya meyakin-kan Harry, menuang
delapan atau sembilan sosis ke dalam piringnya. "Arthur dan aku
mencemaskanmu juga. Baru semalam kami katakan kami sendiri akan da tang
menjemputmu kalau sampai hari Jumat kau tidak membalas surat Ron. Tapi
sungguh kelewatan," (sekarang dia menambahkan tiga telur goreng ke piling
Harry),
"menerbangkan mobil ilegal, menye-berang separo negeri
bisa kelihatan siapa saja...."
Dia menjentikkan tongkatnya sambil lalu ke perabot di tempat cuci piring
yang langsung mulai mencuci sendiri, berdentang-denting lembut di latar
belakang.
"Langit mendung, Mum!" kata Fred.
"Jangan bicara waktu makan!" bentak Mrs Weasley.
"Mereka membuatnya kelaparan, Mum!" kata George.
"Dan kau juga!" kata Mrs Weasley, tetapi ekspresi wajahnya lebih lembut
ketika dia mulai mengiris roti untuk Harry dan mengolesinya dengan mentega.
Pada saat itu sesosok tubuh kecil berambut merah memakai gaun tidur
panjangmuncul di pintu, meng-alihkan perhatian semua orang. Sosok itu
menjerit kecil, dan berlari keluar lagi.
"Ginny," kata Ron pelan kepada Harry. "Adikku. Dia ngomong tentang kau
terus sepanjang musim panas."
"Yeah, dia mau minta tanda tanganmu, Harry," Fred nyengir, tetapi dia
menangkap pandangan ibunya dan segera menundukkan wajah di atas
piringnya, tanpa berkata apa-apa lagi. Tak ada lagi yang di-bicarakan sampai
keempat piring bersih, dalam waktu yang singkat sekali.
"Ya ampun, aku capek," Fred menguap, akhirnya meletakkan pisau dan
garpunya. "Aku mau tidur dan..."
--------------------------------------- 21
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tidak boleh," potong Mrs Weasley. "Salahmu sendiri kau tidak tidur
semalaman. Kau akan membersihkan jembalang di kebun untukku, mereka
sudah tak ter-kontrol lagi."
"Oh, Mum..."
"Dan kalian berdua juga," katanya mendelik pada Ron dan Fred. "Kau boleh
tidur, Nak," katanya me-nambahkan kepada Harry. "Kau tidak meminta meteka
menerbangkan mobil brengsek itu."
Tetapi Harry yang sama sekali tidak mengantuk, buru-buru berkata, "Saya
akan membantu Ron. Saya belum pernah melihat pembersihan jembalang..."
"Kau baik sekali, Nak, tapi itu pekerjaan mem-bosankan," kata Mrs Weasley.
"Coba kita lihat dulu apa kata Lockhart tentang masalah ini."
Dan dia menarik sebuah buku berat dari tumpukan di atas rak perapian.
George mengerang. "Mum, kami sudah tahu bagaimana membersihkan kebun
dari jembalang." Harry memandang sampul buku Mrs Weasley. Judulnya ditulis
dengan huruf-huruf emas indah:
Penuntun Penanganan Hama Rumah Gilderoy Lockhart.
Di sampul itu terpampang foto besar penyihir yang amat tampan, dengan
rambut pirang berombak dan mata biru cerah. Seperti biasanya di dunia sihir,
foto itu bergerak-gerak. Si penyihir, yang Harry duga ada-lah Gilderoy
Lockhart, tak henti-hentinya mengedip nakal kepada mereka semua. Mrs
Weasley menunduk tersenyum kepadanya.
"Oh, dia hebat sekali," katanya, "dia tahu betul ten-tang hama-hama rumah.
Ini buku yang bagus sekali...." "Mum naksir dia," kata Fred dalam bisikan yang
sangat jelas.
"Jangan ngaco, Fred," kata Mrs Weasley, pipinya merona merah jambu.
"Baiklah, kalau kalian merasa lebih tahu dari Lockhart, kalian boleh keluar dan
langsung mulai. Awas, kalau sampai masih ada satu saja jembalang di kebun
waktu aku memeriksanya nanti."
Menguap dan menggerutu, Ron dan kedua kakak-nya berjalan ogah-ogahan
keluar, diikuti Harry. Kebun mereka luas, dan dalam pandangan Harry,
begitulah seharusnya kebun. Keluarga Dursley tidak akan me-nyukainyaada
banyak ilalang, rumputnya perlu di-potongtetapi ada pohon- pohon yang
batangnya ber-bonggol-bonggol di sekeliling tembok, tanaman-tanaman yang
belum pernah dilihat Harry melimpah dengan lebatnya dari setiap petak bunga,
dan ada kolam besar penuh kodok.
"Muggle juga punya jembalang kebun lho," Harry memberitahu Ron ketika
mereka menyeberang ke kebun.
"Yeah, aku sudah melihat apa yang mereka sebut jembalang," kata Ron,
membungkuk dengan kepala tenggelam di semak bunga peoni. "Seperti Santa
Claus gemuk membawa tangkai pancing...."
Terdengar bunyi baku hantam seru, semak peoni bergetar, dan Ron
menegakkan diri. "Ini jembalang," katanya suram.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" jerit si jembalang.
Makhluk itu sama sekali tidak seperti Santa Claus, melainkan bertubuh kecil,
kulitnya kasar, dengan kepala besar botak menonjol persis kentang. Ron me-
megangnya agak jauh, sementara si jembalang me-nendang-nendangnya
--------------------------------------- 22
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
dengan kakinya yang kecil ber-tanduk. Ron mencengkeram pergelangan kakinya
dan menjungkirkannya.
"Ini yang harus kaulakukan," katanya. Ron mengangkat si jembalang ke atas
kepalanya ("Lepas-kan aku!") lalu mulai memutar-mutarnya dalam ling-karan
besar seperti laso. Melihat kekagetan di wajah Harry, Ron menambahkan, "Ini
tidak melukai mereka kau cuma harus membuatnya benar- benar pusing,
supaya mereka tidak bisa menemukan jalan pulang ke lubang jembalangnya."
Dilepasnya kaki si jembalang dan jembalang itu melayang enam meter ke
atas dan jatuh di padang di seberang pagar.
"Payah," kata Fred. "Aku pasti bisa melempar jem-balangku sampai melewati
tunggul itu."
Harry belajar dengan cepat untuk tidak merasa terlalu kasihan kepada si
jembalang. Dia memutuskan untuk menjatuhkan saja jembalang pertama yang
di-tangkapnya ke balik pagar. Tetapi si jembalang, yang bisa merasakan
kelemahan, menancapkan gigi-giginya yang setajam silet ke jari Harry dan
Harry dengan susah payah mengibaskannya sampai...
"Wow, Harrypasti ada lima belas meter tuh..."
Segera saja udara dipenuhi jembalang yang beterbangan.
"Lihat, kan, mereka tidak terlalu pintar," kata George, menyambar lima atau
enam jembalang se-kaligus. "Begitu mereka tahu pembersihan jembalang
dimulai, mereka malah keluar untuk melihat. Mestinya kan malah ngumpet."
Tak lama kemudian gerombolan jembalang di pa-dang mulai melangkah lesu,
menjauh.
"Mereka akan kemibali," kata Ron, ketika mereka mengawasi para jembalang
menghilang ke balik pagar di sisi lain padang. "Mereka senang di sini... Dad
terlalu lunak terhadap mereka, dia menganggap me-reka lucu..."
Saat itu terdengar pintu depan terbanting.
"Dia pulang!" kata George. "Dad pulang!"
Mereka bergegas menyeberangi kebun, kembali ke rumah.
Mr Weasley duduk lesu di kursi dapur dengan kacamata dilepas. Dia kurus,
hampir botak, tetapi sisa rambut yang masih ada sama merahnya dengan ram-
but anak-anaknya. Dia memakai jubah hijau panjang yang berdebu dan
kelihatan habis dipakai bepergian.
"Bukan main semalam," gumamnya, meraih teko teh sementara mereka
duduk mengelilinginya. "Sem-bilan penyerbuan. Sembilan! Dan si Mundungus
Fletcher mencoba menyihirku ketika aku berbalik..."
Mr Weasley meneguk tehnya dan menghela napas. "Ada yang ditemukan,
Dad?" tanya Fred ber-semangat.
"Yang kudapat hanyalah beberapa kunci pintu yang mengerut dan ceret yang
menggigit," kata Mr Weasley menguap. "Tapi ada barang-barang kotor yang
bukan bagian departemenku. Mortlake dibawa pergi gara-gara mempertanyakan
beberapa binatang sejenis mu-sang yang sudah tua sekali, tapi itu tugas Komite
Jimat Eksperimental, untungnya..."
"Untuk apa orang membuat kunci mengerut?" tanya George.
"Cuma untuk memancing Muggle," keluh Mr Weasley. "Jual kepada mereka
kunci yang terus menge-rut sampai akhirnya menghilang, sehingga mereka
--------------------------------------- 23
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
tidak bisa menemukannya sewaktu memerlukannya... Tentu saja, susah sekali
meyakinkan orang, karena tak ada Muggle yang mau mengakui kunci mereka
mengerut makin lama makin kecil mereka akan ngo-tot mengatakan mereka
lagi-lagi kehilangan kunci. Untung saja, para Muggle ini akan berusaha dengan
segala macam cara untuk mengabaikan kejadian gaib, bahkan kalau itu terjadi
di depari mereka... tapi barang-barang yang telah diambil bangsa kita untuk
disihir, kalian tidak akan percaya..."
"SEPERTI MOBIL, MISALNYA?"
Mrs Weasley telah muncul, membawa penyodok panjang seperti memegang
pedang. Mata Mr Weasley langsung terbuka lebar. Dia memandang istrinya de-
ngan perasaan bersalah.
"Mo-mobil, Molly sayang?"
"Ya, Arthur, mobil," kata Mrs Weasley, matanya berkilat.
"Bayangkan, penyihir yang membeli mobil tua karatan dan memberitahu
istrinya yang ingin dilakukannya dengan mobil itu hanyalah mem-bongkarnya
untuk mengetahui bagaimana cara kerja-nya, padahal ternyata dia menyihir
mobil itu agar bisa terbang."
Mr Weasley mengejapkan mata.
"Yah, Sayang, kurasa dia tidak melanggar hukum karena melakukan itu,
bahkan jika, eh, dia mungkin seharusnya, lebih baik, uhm, memberitahu
istrinyn yang sebenarnya... Selalu ada peluang untuk lolos dalam peraturan,
kau akan tahu... sejauh dia tidak bermaksud menerbangkan mobil itu. Fakta
bahwa mobil itu bisa terbang tidak akan..."
"Arthur Weasley, kau mengatur agar ada peluang lolos ketika kau menulis
peraturan itu!" teriak Mrs Weasley. "Hanya supaya kau bisa terus bermain-main
dengan semua rongsokan Muggle di garasimu itu! Dan supaya kau tahu, Harry
tiba pagi ini dengan mobil yang tidak akan kauterbangkan itu!"
"Harry?" ujar Mr Weasley bingung. "Harry siapa?" Dia memandang berkeliling,
melihat Harry, dan ter-lonjak.
"Astaga, Harry Pptter-kah? Senang sekali bertemu kau, Ron sudah cerita
banyak tentang..."
"Anak-anakmu menerbangkan mobil itu ke rumah Harry dan kembali lagi ke
sini tadi pagi!" teriak Mrs Weasley. "Apa komentarmu tentang itu, eh?"
"Betulkah kalian menerbangkannya?" tanya Mr Weasley bersemangat.
"Apakah bisa terbang lancar? Mak-maksudku,"
dia terbata-bata, ketika kilat ke-marahan terpancar dari mata Mrs Weasley,
"kalian lancang, anak-anaklancang sekali..."
"Kita tinggalkan mereka," gumam Ron kepada Harry, ketika Mrs Weasley siap
meledak. "Ayo, ku-tunjukkan kamarku." Mereka menyelinap keluar dari dapur
dan menuruni lorong sempit sampai ke tangga yang tidak rata, yang berzig-zag
sampai ke atas. Pada bordes ketiga, ada pintu yang sedikit terbuka. Harry
sempat melihat sepasang mata cokelat cemerlang sebelum pintu itu menutup
dengan keras.
"Itu Ginny," kata Ron. "Kau tak tahu, betapa aneh-nya bagi dia menjadi
pemalu begini. Biasanya mulut-nya tak pernah berhenti mengoceh..."
--------------------------------------- 24
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mereka menaiki dua tangga lagi sampai tiba di pintu yang catnya mengelupas
dan ada papan kecil bertulisan "Kamar Ronald".
Harry masuk, kepalanya nyaris menyentuh atap yang miring. Dia mengejap.
Rasanya seperti masuk perapian: segala sesuatu dalam kamar Ron bernuafisa
jingga terang: seprai, dinding, bahkan langit-langitnya. Kemudian Harry
menyadari bahwa Ron telah me-nutup hampir setiap senti dinding kamarnya
yang kusam dengan poster tujuh penyihir pria dan wanita yang sama, semuanya
memakai jubah jingga cemer-lang, membawa sapu, dan melambai-lambai
dengan bersemangat.
"Tim Quidditch-mu?" tanya Harry.
"Chudley Cannons," kata Ron, menunjuk seprai jingganya, yang dihiasi dua
huruf C raksasa berwarna hitam dan peluru meriam yang sedang meluncur.
"Peringkat kesembilan-di liga." Buku-buku sihir Ron ditumpuk sembarangan di
satu sudut, di sebelah setumpuk komik yang semua-nya tampaknya
mengisahkan Petualangan Martin Miggs, si Muggle Gila. Tongkat sihir Ron
tergeletak di atas tangki ikan penuh telur kodok di ambang jendela, di sebelah
tikus gemuknya, Scabbers, yang sedang tiduran di sepetak sinar matahari.
Harry melangkahi satu pak kartu Mengocok-Sendiri di lantai dan melongok ke
luar dari jendela yang kecil mungil. Di padang jauh di bawah, dia bisa melihat
serombongan jembalang menyelinap lewat pagar tanaman, satu demi satu
kembali ke kebun keluarga Weasley. Kemudian dia menoleh memandang Ron,
yang menatapnya dengan gelisah, seakan me-nunggu komentarnya.
"Kamarnya agak kecil," kata Ron cepat-cepat. "Tidak seperti kamarmu di
rumah Muggle. Dan persis di bawah tempat si hantu loteng. Dia selalu
memukul-mukul pipa dan mengerang-erang..."
Tetapi Harry nyengir lebar sambil berkata, "Ini ru-mah paling hebat yang
pernah kudatangi." Telinga Ron langsung merah.
4. Di Flourish And Blotts
HIDUP di The Burrow sama sekali berbeda dengan hidup di Privet Drive.
Keluarga Dursley menghendaki segalanya rapi dan teratur; rumah keluarga
Weasley penuh dengan hal-hal aneh dan tak terduga. Harry kaget sekali ketika
pertama kali dia melihat ke dalam cermin di atas tungku di dapur dan cermin
itu ber-teriak, "Masukkan kemejamu, yang rapi!" Hantu di loteng melolong dan
menjatuhkan pipa setiap kali dia merasa suasana terlalu sepi, dan ledakan-
ledakan kecil dari kamar Fred dan George dianggap normal. Meskipun
demikian, yang bagi Harry luar biasa tentang hidup di rumah keluarga Ron
--------------------------------------- 25
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
bukanlah cermin yang bisa bicara ataupun si hantu bising, melainkan kenyataan
bahwa semua orang di rumah itu tampaknya me-nyukainya.
Mrs Weasley meributkan kaus kaki Harry dan ber-usaha memaksanya tambah
tiga kali setiap makan.
Mr Weasley ingin Harry duduk di sebelahnya di meja makan, supaya dia bisa
membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup bersama
Muggle,
memintanya menjelaskan bagaimana bekerjanya hal-hal seperti steker listrik
atau sistem pos.
"Mengagumkan!" katanya setelah Harry menjelaskan bagaimana
menggunakan telepon. "Cerdik betul, berapa banyak cara yang telah ditemukan
Muggle untuk bisa hidup tanpa sihir."
Harry mendapat berita dari Hogwarts pada suatu pagi yang cerah kira-kira
seminggu setelah dia tiba di The Burrow. Ketika dia dan Ron turun untuk
sarapan, Mr dan Mrs Weasley serta Ginny sudah duduk di meja dapur. Begitu
melihat Harry, Ginny tak sengaja menjatuhkan mangkuk buburnya ke lantai,
menimbul-kan bunyi berkelontang yang keras. Ginny kelihatan-nya jadi sangat
mudah menjatuhkan barang-barang setiap kali Harry memasuki ruangan. Dia
menyusup ke bawah meja untuk mengambil mangkuknya dan muncul lagi
dengan wajah berpendar merah seperti matahari yang sedang terbenam.
Berpura-pura tidak melihat semua ini, Harry duduk dan mengambil roti
panggang yang ditawarkan Mrs Weasley.
"Surat dari sekolah," kata Mr Weasley, menyerahkan amplop perkamen
kekuningan yang sama kepada Harry dan Ron, yang alamatnya ditulis dengan
tinta hijau. "Dumbledore sudah tahu kau di sini, Harry orang itu tahu
segalanya. Kalian berdua dapat surat juga," katanya menambahkan, ketika Fred
dan George muncul, masih memakai piama.
Selama beberapa menit suasana sunyi ketika mereka semua membaca surat
mereka. Surat Harry memberi-tahunya agar naik Hogwarts Express seperti
biasanya dari Stasiun King's Cross pada tanggal 1 September. Juga ada daftar
buku- buku baru yang diperlukannya untuk tahun ajaran berikutnya.
Murid kelas dua membutuhkan:
Kitab Mantra Standar, Tingkat 2 oleh Miranda Goshawk
Duel dengan Dracula oleh Gilderoy Lockhart Gaul dengan Goblin oleh Gilderoy
Lockhart
Heboh dengan Hantu oleh Gilderoy Lockhart
Tamasya dengan Troll oleh Gilderoy Lockhart
Vakansi dengan Vampir oleh Gilderoy Lockhart
Mengembara dengan Manusia Serigala oleh Gilderoy Lockhart
Yakin dengan Yeti oleh Gilderoy Lockhart Fred,
yang sudah selesai membaca daftarnya sendiri, melongok daftar Harry.
--------------------------------------- 26
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kau disuruh beli semua buku Lockhart juga!" kata-nya.
"Guru baru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam pastilah fansnyataruhan, pasti
penyihir wanita."
Setelah berkata begitu, tertatap olehnya mata ibunya dan Fred cepat-cepat
menyibukkan diri dengan selai.
"Buku-buku itu tidak murah," kata George, sekilas memandang orangtuanya.
"Buku-buku Lockhart benar-benar mahal...."
"Bisa kita beli," kata Mrs Weasley, tetapi dia kelihatan cemas, "Kurasa kita
bisa membeli banyak keperluan Ginny dari yang bekas-pakai."
"Oh, kau sudah masuk Hogwarts tahun ini?" Harry bertanya kepada Ginny.
Ginny mengangguk, rona merah menjalar sampai ke akar rambutnya yang
merah manyala, dan sikunya masuk ke mangkuk mentega. Untunglah tak
seorang pun melihat kecuali Harry, karena tepat saat itu, kakak Ron yang
nomor tiga, Percy, masuk. Dia sudah berpakaian, lencana Prefek Hogwarts-nya
disematkan ke baju rajutannya.
"Selamat pagi, semua!" kata Percy cepat. "Hari yang indah."
Dia duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, tetapi langsung melompat
berdiri lagi, menarik dari bawah-nya kemoceng yang bulu abu-abunya sudah
lusuh paling tidak semula Harry menyangka itu kemoceng, sampai dilihatnya
kemoceng itu bernapas.
"Errol!" kata Ron, mengambil burung hantu yang lemas itu dari tangan Percy
dan menarik keluar se-pucuk surat dari balik sayapnya. "Akhirnyadia mem-
bawa balasan Hermione. Aku menulis padanya, mem-beritahu kami akan
mencoba membebaskanmu dari keluarga Dursley."
Ron membawa Errol ke tempat hinggap di dekat pintu belakang dan
mencoba menenggerkannya di situ, tetapi Errol langsung terpuruk lagi.
Akhirnya Ron membaringkannya di atas papan pengering, se-raya bergumam,
"Kasihan." Kemudian dirobeknya sampul surat Hermione dan dibacanya suratnya
keras-keras:
Halo Ron, dan Harry kalau kau ada,
Kuharap segalanya berjalan lancar dan Harry baik-baik saja dan kau tidak
melakukan sesuatu yang me-langgar hukum untuk membebaskannya, Ron,
karena itu akan menyulitkan Harry juga. Aku cemas 'sekali dan kalau Harry tak
apa-apa, tolong segera beritahu aku, tapi mungkin lebih baik kaugunakan
burung hantu yang lain, karena kalau sekali lagi disuruh mengirim surat, kurasa
burung hantu yang ini lewat deh.
Aku sibuk sekali belajar, tentu saja"Bagaimana mungkin?" kata Ron ngeri.
"Kita kan sedang libur!"dan kami akan ke London Rabu depan untuk membeli
buku-buku baruku. Bagaimana kalau kita ber-temu di Diagon Alley?
Beritahu aku apa yang terjadi begitu kau sempat.
Salam hangat dari Hermione.
"Wah, kita bisa sekalian pergi dan membeli semua kebutuhan kalian kalau
begitu," kata Mrs Weasley, mulai membereskan meja. "Apa yang akan kalian
lakukan hari ini?" Harry, Ron, Fred, dan George sudah merencanakan akan ke
lapangan terbuka kecil milik keluarga Weasley. Tempat itu dikelilingi
pepohonan sehingga tidak ke-lihatan dari desa di bawah. Itu berarti mereka
--------------------------------------- 27
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
bisa berlatih Quidditch di sana, asal mereka tidak terbang terlalu tinggi.
Mereka tidak bisa memakai bola Quidditch yang sesungguhnya, karena akan
sulit men-jelaskannya kalau bola itu lolos dan terbang di atas desa. Sebagai
gantinya mereka saling melempar apel untuk ditangkap. Mereka bergiliran
menaiki Nimbus Dua Ribu Harry, sapu yang sangat hebat. Sapu tua Ron, Bintang
Jatuh, sering sekali didului kupu-kupu yang lewat.
Lima menit kemudian mereka mendaki bukit, de-ngan sapu di atas bahu.
Mereka sudah menanyai Percy kalau-kalau dia mau ikut, tetapi Percy mengata-
kan dia sibuk. Sejauh ini Harry cuma bertemu Percy pada waktu makan. Dia
berkurung terus di kamar-nya.
"Pingin tahu deh dia sebetulnya ngapain," kata Fred sambil mengerutkan
kening. "Tidak biasanya dia begitu. Hasil ujiannya keluar sehari sebelum hasil
kalian diumumkan. Dua belas OWL dan dia nyaris tidak kelihatan senang."
"Ordinary Wizarding LevelsLevel Sihir Umum," George menjelaskan, melihat
wajah kebingungan Harry. "Bill dapat dua belas juga. Kalau tidak hati-hati, kita
akan punya Ketua Murid satu lagi dalam keluarga. Malu betul kita."
Bill adalah putra sulung keluarga Weasley. Dia dan adiknya, Charlie, sudah
lulus dari Hogwarts. Harry belum pernah bertemu mereka berdua, tetapi dia
tahu Charlie ada di Rumania, mempelajari naga, dan Bill di Mesir bekerja untuk
bank penyihir, Gringotts.
"Entah bagaimana Mum dan Dad akan bisa mem-belikan semua keperluan
sekolah kita tahun ini," kata George setelah diam sesaat. "Lima set buku-buku
Lockhart! Dan Ginny perlu jubah dan tongkat dan macam-macam lagi...."
Harry diam saja Dia merasa agak tidak enak. Ter-simpan di dalam ruangan
besi bawah tanah di Gringotts di London, ada sejumlah harta peninggalan
orangtuanya. Tentu saja, hanya di dunia sihir dia punya uang. Kau tidak bisa
menggunakan Galleon, Sickle, dan Knut di toko Muggle. Dia tak pernah
menyebut-nyebut simpanannya di Gringotts kepada keluarga Dursley. Dia
memperkirakan penolakan mereka terhadap segala sesuatu yang ada hubungan-
nya dengan sihir tidak mencakup setumpuk besar emas.
Mrs Weasley membangunkan mereka semua pagi-pagi Rabu berikutnya.
Setelah dengan cepat melahap sarapan berupa enam sandwich daging asap
untuk masing-masing, mereka memakai mantel dan Mrs Weasley mengambil vas
bunga dari rak di atas tungku dapur, lalu mengintip ke dalamnya.
"Sudah hampir habis, Arthur," katanya menghela napas.
"Kita harus beli lagi hari ini... ah, tamu lebih dulu! Kau duluan, Harry!"
Dan dia menyodorkan vas itu kepada Harry.
Harry bingung memandang mereka semua meng-awasinya.
"A-apa yang harus kulakukan?" katanya tergagap.
"Dia belum pernah bepergian dengan bubuk Floo," kata Ron tiba-tiba. "Sori,
Harry, aku lupa."
"Belum pernah?" kata Mr Weasley. "Jadi bagaimana kau sampai di Diagon
Alley untuk membeli keperluan sekolahmu tahun lalu?"
"Aku naik kereta bawah tanah..."
"Oh ya?" kata Mr Weasley ingin tahu. "Apa ada eskapator? Bagaimana
caranya..."
--------------------------------------- 28
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tidak sekarang, Arthur," kata Mrs Weasley. "Bubuk Floo jauh lebih cepat,
Nak, tapi entahlah, kalau kau belum pernah..."
"Tidak apa-apa, Mum," kata Fred. "Harry, lihat kami dulu." Fred mengambil
sejumput bubuk berkilau dari vas bunga, melangkah ke perapian dan
menaburkan bu-buk itu ke nyala api.
Dengan deru keras api berubah menjadi hijau zamrud dan menjulang lebih
tinggi dari Fred, yang melangkah ke dalamnya sambil berteriak, "Diagon Alley!"
dan langsung menghilang.
"Ngomongnya harus jelas, Nak," Mrs Weasley mem-beritahu Harry, ketika
George memasukkan tangan ke dalam vas. "Dan keluarnya harus di perapian
yang benar..."
"Di mana?" tanya Harry gugup, ketika api menderu dan melenyapkan George
dari pandangan juga. "Yah, ada banyak perapian penyihir yang bisa di-pilih,
kan, tapi asal kau ngomongnya jelas..."
"Dia akan baik-baik saja Molly, jangan terlalu cemas," kata Mr Weasley,
sambil menjumput bubuk Floo juga.
"Tapi, kalau dia tersesat, bagaimana kita harus men-jelaskan kepada bibi
dan pamannya?"
"Mereka tidak akan keberatan," Harry menenang-kannya.
"Dudley akan menganggapnya lucu sekali kalau aku tersesat di cerobong
asap. Jangan khawatir."
"Baiklah... kalau begitu... kau berangkat sesudah Arthur," kata Mrs Weasley
"Setelah masuk perapian, katakan ke mana tujuanmu..."
"Dan rapatkan sikumu," Ron menasihati. "Dan pejamkan matamu," kata Mrs
Weasley. "Angus-nya..." "Jangan gelisah dan bergerak-gerak," kata Ron. "Nanti
kau bisa jatuh ke perapian yang salah..." "Tapi jangan panik dan buru-buru
keluar juga. Tung-gu sampai kau melihat Fred dan George." Sambil berusaha
keras mengingat semua ini, Harry mengambil sejumput bubuk Floo dan berjalan
ke per-apian. Dia menarik napas dalam-dalam, menaburkan bubuk ke nyala api
dan melangkah masuk. Apinya terasa bagai angin hangat. Harry membuka
mulut dan langsung tertelan olehnya banyak abu panas.
"D-dia-gon Alley," katanya terbatuk.
Rasanya seakan Harry tersedot lubang yang besar sekali. Dia seperti berpusar
sangat cepat... deru keras memekakkan telinganya... dia berusaha agar
matanya tetap terbuka, tetapi pusaran api hijau membuatnya pusing... sesuatu
yang keras menyodok sikunya dan Harry segera merapatkannya ke tubuhnva,
masih terus berpusar, terus... sekarang rasanya ada tangan-tangan dingin
menampar mukanya... mengintip lewat kaca-matanya, dilihatnya samar-samar
serangkaian perapian dan sekilas-sekilas tampak ruangan di baliknya...
sandwich daging asapnya bergolak di dalam perutnya... Dia memejamkan lagi
matanya, berharap pusaran ini segera berhenti, dan kemudianHarry jatuh ter-
jerembap di lantai batu yang dingin dan kacamatanya pecah.
Pusing dan memar, berlumur angus, Harry dengan amat hati-hati bangun,
memegangi kacamata ke depan matanya. Dia sendirian, tetapi di mana dia, dia
sama sekali tak tahu. Yang dia tahu hanyalah dia berdiri di perapian baru, di
tempat yang kelihatannya toko sihir besar dengan penerangan remang-remang
--------------------------------------- 29
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
tetapi tak satu pun barang-barang yang dijual di sini akan masuk dalam daftar
sekolah Hogwarts.
Sebuah kotak kaca di dekat Harry berisi tangan keriput di atas bantal, satu
pak kartu bernoda darah, dan sebuah mata kaca mendelik. Topeng-topeng me-
nyeramkan menyeringai dari dinding, tulang-tulang manusia berbagai bentuk
dan ukuran bertebaran di meja pajang, dan peralatan berpaku tajam berkarat
bergantungan dari langit-langit. Yang lebih parah lagi, jalan sempit yang bisa
dilihat Harry lewat kaca toko yang berdebu jelas bukan Diagon Alley.
Lebih cepat dia meninggalkan tempat ini lebih baik. Dengan hidung masih
perih gara-gara jatuh meng-hantam lantai perapian tadi, Harry berjalan cepat
tanpa suara menuju pintu. Tetapi belum lagi separo jalan, dua orang muncul di
balik kacadan salah satunya orang terakhir yang ingin ditemui Harry saat dia
sedang tersesat, berlumur angus, dan kacamatanya pecah: Draco Malfoy.
Harry cepat-cepat memandang berkeliling dan me-lihat lemari besar hitam
di sebelah kirinya. Dia melesat masuk dan menarik pintunya, sampai tinggal
celah sedikit untuk mengintip. Beberapa detik kemudian bel berdentang dan
Malfoy masuk ke dalam toko.
Laki-laki yang masuk di belakangnya pastilah ayah-nya. Wajahnya sama,
pucat dan runcing, dan matanya pun sama, abu-abu dingin. Mr Malfoy
menyeberangi ruangan, melihat barang-barang yang dipamerkan, dan
membunyikan bel di meja pajangan, sebelum menoleh kepada anaknya dan
berkata, "Jangan sentuh apa-apa, Draco."
Malfoy, yang sudah tiba di mata kaca, berkata, "Katanya aku akan dibelikan
hadiah."
"Aku bilang aku akan membelikanmu sapu balap," kata ayahnya, mengetuk-
ngetukkan jari di atas meja pajangan.
"Apa gunanya sapu kalau aku tidak masuk tim asrama?" kata Malfoy,
tampangnya cemberut dan marah. "Harry Potter dapat Nimbus Dua Ribu tahun
lalu. Izin khusus dari Dumbledore supaya dia bisa main untuk Gryffindor.
Padahal sih dia tidak hebat-hebat amat, cuma karena dia terkenal saja...
terkenal gara-gara punya bekas luka konyol di dahinya..."
Malfoy membungkuk, mengamati rak penuh teng-korak.
"...semua menganggapnya pintar, Potter yang hebat, dengan bekas luka dan
sapunya..."
"Kau sudah menceritakannya padaku paling tidak dua belas kali," kata Mr
Malfoy, dengan pandangan yang menyuruhnya diam. "Dan kuingatkan kau
bahwa tidaklahbijaksana memperlihatkan bahwa kau ku-rang menyukai
Harry Potter, mengingat sebagian besar bangsa kita menganggapnya sebagai
pahlawan yang membuat Pangeran Kegelapan menghilang... ah, Mr Borgin."
Seorang laki-laki tua bungkuk muncul di belakang meja, menyeka rambutnya
yang berminyak dari wajahnya.
"Mr Malfoy, senang sekali bertemu Anda lagi," kata Mr Borgin dengan suara
selicin rambutnya. "Gem-biradan Tuan Muda Malfoy, jugasungguh me-
nyenangkan. Apa yang bisa saya bantu? Harus saya tunjukkan kepada Anda,
baru datang hari ini, dan harganya pun sangat bersaing..."
--------------------------------------- 30
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Aku tidak mau beli hari ini, Mr Borgin, tapi jual," kata Mr Malfoy. "Jual?"
Senyum agak memudar dari wajah Mr Borgin.
"Kau sudah dengar, tentunya, bahwa Kementerian melakukan razia lagi,"
kata Mr Malfoy, mengeluarkan gulungan perkamen dari saku dalamnya dan
mem-bukanya untuk dibaca Mr Borgin. "Aku punya be-berapaahbarang di
rumah yang bisa bikin aku malu, kalau Kementerian datang..."
Mr Borgin menjepitkan kacamata tanpa gagang ke hidungnya dan
membacanya. "Kementerian tidak akan menyusahkan Anda, Sir, tentunya?"
Mr Malfoy mencibir.
"Aku belum didatangi. Nama Malfoy masih di-hormati, tapi Kementerian
semakin suka mencampuri urusan orang lain. Ada desas-desus tentang adanya
Undang-undang Perlindungan Muggle barutak di-ragukan lagi si kutu busuk
goblok pecinta Muggle Arthur Weasley berada di belakang semua itu..."
Harry berang sekali. "...dan seperti yang kaulihat, beberapa racun ini bisa
kelihatan..." "Saya mengerti, Sir, tentu saja," kata Mr Borgin. "Coba saya
lihat..." "Boleh aku beli itu?" sela Draco, menunjuk tangan keriput di bantal.
"Ah, Tangan Kemuliaan!" kata Mr Borgin, meninggal-kan daftar Mr Malfoy dan
bergegas mendatangi Draco. "Taruh lilin, dan lilin ini hanya akan memberikan
cahaya kepada pemegangnya! Sahabat terbaik para pencuri dan penjarah!
Selera anak Anda hebat, Sir."
"Kuharap anakku akan jadi lebih dari sekadar pen-curi atau penjarah,
Borgin," kata Mr Malfoy dingin dan Mr Borgin buru- buru berkata, "Tidak
menyindir, Sir, tidak bermaksud menyindir..."
"Meskipun kalau angka-angkanya tidak bertambah baik," kata Mr Malfoy lebih
dingin lagi, "mungkin dia hanya pantas jadi pencuri dan penjarah."
"Bukan salahku," bantah Draco. "Semua guru punya anak emas, si Hermione
Granger..."
"Kukira kau akan malu bahwa anak perempuan yang bukan berasal dari
keluarga sihir mengalah-kanmu dalam semua ujian," tukas Mr Malfoy.
"Ha!" kata Harry dalam hati, senang melihat Draco kelihatan malu dan
marah.
"Di semua tempat sama," kata Mr Borgin dengan suaranya yang licin. "Darah
penyihir nilainya sudah berkurang di mana- mana..."
"Bagiku tidak," kata Mr Malfoy, cuping hidung panjangnya mekar.
"Tidak, Sir, bagi saya juga tidak, Sir," kata Mr Borgin, membungkuk rendah.
"Kalau begitu, mungkin kita bisa kembali ke daftar-ku," kata Mr Malfoy
pendek. "Aku agak terburu-buru, Borgin, aku ada urusan penting di tempat lain
hari ini."
Mereka mulai tawar-menawar. Harry mengawasi de-ngan cemas ketika Draco
semakin lama semakin dekat ke tempat persembunyiannya, melihat-lihat
barang-barang yang dijual. Dia berhenti untuk mengamati gulungan tali
panjang untuk menggantung orang dan membaca sambil menyeringai kartu
yang disandarkan pada kalung opal yang bagus sekali; Hati- hati: Jangan
Sentuh. DikutukSampai Hari Ini Sudah Minta Korban Sembilan Belas Muggle
Pemiliknya.
--------------------------------------- 31
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Draco berbalik dan melihat lemari persis di depan-nya. Dia mendekat...
mengulurkan tangannya ke pegangan pintu...
"Baik," kata Mr Malfoy di meja pajangan.
"Ayo, Draco!" Harry menyeka dahinya ke lengan bajunya ketika Draco
berbalik.
"Selamat siang, Mr Borgin, kutunggu kau di rumah besok untuk mengambil
barang-barang itu." Begitu pintu tertutup, Mr Borgin menanggalkan sopan
santunnya. "Selamat siang sendiri saja, Mister Malfoy, dan jika cerita yang
beredar benar, kau belum menjual setengah dari yang kausembunyikan di
istanamu..."
Sambil menggerutu sebal Mr Borgin menghilang ke ruang belakang. Harry
menunggu selama semenit, siapa tahu dia muncul lagi. Kemudian, sepelan
mung-kin, dia menyelinap keluar dari lemari, melewati kotak-kotak kaca, dan
keluar lewat pintu toko.
Sambil menempelkan kacamatanya yang pecah ke wajahnya, Harry
memandang berkeliling. Dia berada di jalan kecil kumuh berisi toko-toko yang
semuanya menjual barang- barang untuk ilmu hitam. Toko yang baru saja
ditinggalkannya, Borgin and Burkes, kelihatan-nya yang paling besar, tetapi di
seberangnya ada etalase yang memajang kepala-kepala yang sudah me-ngerut
mengerikan, dan di dua toko sesudahnya ada-kandang besar berisi banyak
labah-labah raksasa yang berjalan ke sana kemari. Dua penyihir laki-laki kumal
mengawasinya dari bayang-bayang pintu, seraya saling bergumam. Dengan
gelisah Harry berjalan, memegangi kacamatanya selurus mungkin dan berharap
bisa me-nemukan jalan keluar dari tempat ini.
Papan nama kusam yang tergantung di atas toko yang menjual lilin beracun
memberitahunya bahwa dia berada di Knockturn Alley. Ini tidak membantu,
karena Harry belum pernah mendengar nama tempat ini. Rupanya dia tidak
bicara cukup jelas gara-gara mulutnya penuh abu sewaktu berada di perapian
keluarga Weasley. Harry berusaha tetap tenang dan memikirkan apa yang akan
dilakukannya.
"Tidak tersesat, kan, Nak?" kata suara di telinganya, membuatnya terlonjak.
Seorang nenek sihir berdiri di depannya, membawa nampan yang
kelihatannya berisi kuku-kuku utuh manusia. Dia menyeringai kepada Harry,
memamerkan gigi-giginya yang berlumut. Harry mundur.
"Aku tak apa-apa, terima kasih," katanya, "aku cuma..."
"HARRY! Sedang apa kau di sini?"
Jantung Harry melompat. Si nenek sihir juga me-lompat. Kuku-kuku dari
nampannya berjatuhan ke atas kakinya, dan dia mengutuk ketika sosok tinggi
besar Hagrid, pengawas binatang liar di Hogwarts, berjalan mendekati mereka,
mata- kumbangnya yang hitam berkilat-kilat di atas jenggot dan berewoknya
yang lebat.
"Hagrid!" Harry berseru parau dengan lega. "Aku tersesat... bubuk Floo..."
Hagrid menyambar kerah baju Harry dan menarik-nya jauh- jauh dari si
nenek sihir, menyenggol nampan-nya sampai jatuh. Teriakan si nenek
mengikuti mereka sepanjang jalan kecil yang berkelok-kelok sampai mereka
--------------------------------------- 32
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
tiba di tempat terang. Harry melihat gedung pualam seputih salju yang
dikenalnya di kejauhan: Bank Gringotts. Hagrid telah membawanya ke Diagon
Alley.
"Kau berantakan!" kata Hagrid pedas, mengibas abu dari tubuh Harry begitu
kerasnya sampai Harry nyaris tercebur ke dalam tong berisi kotoran naga di
luar toko obat. "Berkeliaran di Knockturn Alley, ke-lewatantempat yang harus
dihindari, Harryjangan sampai ada yang lihat kau di sana..."
"Aku sadar itu," kata Harry, menunduk ketika Hagrid mau mengibasnya lagi.
"Sudah kubilang, aku tersesatkau sendiri ngapain di sana?"
"Aku sedang cari Pembasmi Siput Pemakan-Daging," kata Hagrid geram.
"Mereka hancurkan kol sekolah. Kau tidak sendirian?"
"Aku menginap di rumah keluarga Weasley, tapi kami terpisah," Harry
menjelaskan. "Aku harus men-can mereka..."
Mereka berjalan berdua.
"Kenapa kau tidak pernah balas suratku?" tanya Hagrid, sementara Harry
berlari-lari kecil di sebelahnya (dia harus melangkah tiga kali untuk
mengimbangi setiap langkah bot besar Hagrid). Harry menjelaskan tentang
Dobby dan keluarga Dursley.
"Muggle brengsek," gerutu Hagrid. "Kalau aku tahu..."
"Harry! Harry! Di sini!"
Harry mendongak dan melihat Hermione Granger berdiri di undakan putih
paling atas Gringotts. Dia berlari turun menyongsong mereka, rambutnya yang
lebat berkibar di belakangnya.
"Kenapa kacamatamu? Halo, Hagrid... Oh, senang sekali bertemu kalian
berdua lagi... Kau mau ke Gringotts, Harry?"
"Kalau keluarga Weasley sudah kutemukan," kata Harry.
"Kau tak perlu tunggu lama," Hagrid nyengir.
Harry dan Hermione memandang berkeliling. Tam-pak Ron, Fred, George,
Percy, dan Mr Weasley berlari-lari ke arah mereka di jalan yang padat itu.
"Harry," Mr Weasley tersengal. "Kami berharap kau cuma kejauhan satu
perapian..." Dia menyeka kepala botaknya yang berkilauan. "Molly sudah panik
itu dia datang."
"Kau keluar di mana?" tanya Ron.
"Knockturn Alley," jawab Harry muram.
"Luar biasa!" komentar Fred dan George bersamaan.
"Kami belum pernah diizinkan ke sana," kata Ron iri.
"Mestinya memang tidak," gerutu Hagrid. Mrs Weasley kini sudah kelihatan,
berlari dengan tas tangannya berayun liar di satu tangan, sementara Ginny
bergantung di tangan lainnya.
"Oh, Harryoh, Nakkau bisa tersesat entah di mana..." Terengah kehabisan
napas, dia menarik keluar sikat pakaian dari dalam tasnya dan mulai menyikat
abu yang tidak berhasil dibersihkan Hagrid. Mr Weasley mengambil kacamata
Harry, mengetuknya dengan tongkatnya, dan mengembalikannya pada Harry,
sudah baru lagi.
"Aku harus pergi," kata Hagrid, yang tangannya dijabat erat-erat oleh Mrs
Weasley ("Knockturn Alley! Coba kalau kau tidak menemukannya, Hagrid!").
--------------------------------------- 33
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Sampai ketemu di Hogwarts!" Dan dia pergi, lebih tinggi sebahu daripada siapa
pun juga di jalan yang padat itu.
"Coba tebak siapa yang kulihat di Borgin and Burkes?" kata Harry kepada Ron
dan Hermione ketika mereka menaiki undakan Gringotts. "Malfoy dan ayahnya."
"Apa Lucius Malfoy membeli sesuatu?" tanya Mr Weasley tajam di belakang
mereka.
"Tidak, dia jual."
"Ah, jadi dia cemas," kata Mr Weasley puas. "Oh, ingin rasanya menangkap
Lucius Malfoy karena se-suatu...."
"Hati-hati, Arthur," kata Mrs Weasley tajam, semen-tara mereka dipersilakan
masuk ke bank oleh goblin yang membungkuk di pintu. "Keluarga itu bikin ma-
salah, jangan menyuap lebih daripada yang bisa kau-kunyah."
"Jadi menurutmu aku bukan tandingan Lucius Malfoy?" kata Mr Weasley
jengkel, tetapi perhatiannya langsung beralih ke orangtua Hermione, yang
sedang berdiri gelisah di depan meja panjang di dalam aula pualam besar itu,
menunggu Hermione memperkenal-kan mereka.
"Wah, kalian Muggle!" kata Mr Weasley senang. "Kita harus minum! Apa yang
kalian pegang itu? Oh, kalian menukar uang Muggle. Molly, lihat!" Dengan
bersemangat ditunjuknya selembar uang sepuluh pound di tangan Mr Granger.
"Sampai ketemu di dalam," kata Ron kepada Hermione, ketika keluarga
Weasley dan Harry diantar ke ruangan besi bawah tanah mereka oleh goblin
Gringotts yang lain.
Ruangan besi itu dicapai dengan kereta kecil, di-kendarai goblin, yang
meluncur kencang di atas rel kereta kecil melewati lorong-lorong bawah tanah
bank. Harry menikmati perjalanannya yang berkecepatan supertinggi menuju
ke ruangan besi keluarga Weasley. Ketika ruangan itu dibuka, dia merasa
sangat tidak enak, jauh lebih tidak enak daripada sewaktu dia berada di
Knockturn Alley. Hanya ada seonggok kecil Sickle perak di dalamnya, dan hanya
ada sekeping Galleon emas. Mrs Weasley meraba-raba sudut-sudutnya sebelum
meraup semuanya ke dalam tasnya. Harry merasa lebih tidak enak lagi ketika
mereka tiba di ruangan besinya. Dia berusaha menutupi isinya dari pandangan
selagi dia buru- buru memasukkan bergenggam-genggam koin ke dalam tas
kulit.
Kembali di undakan pualam di luar, mereka ber-pisah. Percy bergumam tak
jelas bahwa dia perlu pena baru. Fred dan George sudah melihat teman mereka
dari Hogwarts, Lee Jordan. Mrs Weasley dan Ginny akan ke toko jubah bekas.
Mr Weasley men-desak suami-istri Granger ke Leaky Cauldron untuk minum.
"Kita semua bertemu di Flourish and Blotts sejam lagi untuk membeli buku-
buku sekolahmu," kata Mrs Weasley, mengajak Ginny pergi. "Dan jangan berani-
berani ke Knockturn Alley selangkah pun jangan!" dia berteriak kepada
punggung si kembar yang men-jauh.
Harry, Ron, dan Hermione berjalan menyusuri jalan batu berkelok. Uang
emas, perak, dan perunggu yang bergemerincing di saku Harry menuntut
dibelanjakan, maka dia membeli tiga es krim stroberi-kacang besar yang
mereka nikmati dengan gembira sambil berjalan, melihat-lihat isi etalase yang
menarik. Ron memandang penuh ingin satu set lengkap jubah Chudley Cannons
--------------------------------------- 34
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
di etalase Peralatan Quidditch Berkualitas sampai Hermione menariknya untuk
membeli tinta dan per-kamen di toko sebelahnya. Di toko Lelucon Sihir Gambol
and Japes, mereka bertemu Fred, George, dan Lee Jordan, yang sedang
membeli "Kembang Api Awal-Basah, Tanpa-Panas Dr Filibuster", dan di toko
kecil barang-barang rongsokan yang penuh tongkat patah, timbangan kuningan
yang sudah butut, dan jubah-jubah tua bernoda bercak-bercak ramuan, mereka
me-nemukan Percy, sedang asyik membaca buku kecil sangat membosankan
berjudul Prefek yang Meraih Ke-kuasaan.
"Telaah tentang para Prefek Hogwarts dan karier yang mereka rintis," Ron
membaca keras-keras dari sampul belakangnya. "Kedengarannya menarik
sekali...."
"Pergi," Percy membentak.
"Tentu saja, si Percy itu sangat ambisius, dia sudah merencanakan
segalanya... cita-citanya menjadi Men-teri Sihir...," Ron memberitahu Harry
dan Hermione pelan, ketika mereka meninggalkan Percy bersama bukunya.
Satu jam kemudian, mereka menuju Flourish and Blotts. Bukan hanya
mereka yang menuju toko buku itu. Ketika sudah dekat, mereka heran sekali
melihat gerombolan orang yang berdesakan di depan pintu, mau masuk. Alasan
untuk ini dinyatakan oleh spanduk besar yang digelar di antara dua jendela
atas:
GILDEROY LOCKHART akan menandatangani autobiografinya AKU YANG AJAIB
hari ini pukul 12.30 - 16.30
"Kita bisa bertemu dia!" pekik Hermione. "Maksudku, hampir seluruh buku
yang ada di daftar kita karangannya!"
Gerombolan orang itu kelihatannya sebagian besar terdiri atas para penyihir
wanita seusia Mrs Weasley. Seorang penyihir pria bertampang bingung berdiri di
depan pintu,
berkata, "Tenang, Ibu-ibu... jangan dorong-dorongan... awas bukunya
ketabrak..."
Harry Ron, dan Hermione ikut berdesakan masuk. Antrean panjang
memanjang sampai ke bagian bela-kang toko, tempat Gilderoy Lockhart
menandatangani bukunya. Mereka masing- masing menyambar buku Heboh
dengan Hantu, dan menyelinap di antara orang-orang yang antre sampai tiba di
tempat keluarga Weasley berdiri bersama Mr dan Mrs Granger.
"Oh, kalian sudah datang, bagus," kata Mrs Weasley Dia bicara seakan
kehabisan napas dan tak henti-hentinya merapikan rambutnya. "Sebentar lagi
kita bisa bertemu dia...." Gilderoy Lockhart akhirnya tampak, duduk di bela-
kang meja dikelilingi foto-foto besar wajahnya sendiri, semua mengedipkan
mata dan memamerkan gigi yang putih berkilau kepada para pengunjung.
Lockhart yang sesungguhnya memakai jubah biru bunga for-get-me-not yang
persis warna matanya, topi sihirnya yang berbentuk kerucut terpasang gaya di
atas ram-butnya yang berombak.
Seorang laki-laki pendek bertampang menyebalkan melesat ke sana kemari,
memotret dengan kamera besar hitam yang setiap kali mengeluarkan asap ungu
bersamaan dengan menyalanya lampu blitz yang me-nyilaukan.
--------------------------------------- 35
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Minggir kau," dia menggertak Ron, sambil mundur agar bisa mengambil
gambar dengan lebih baik. "Ini untuk Daily Prophet."
"Uh, dasar sok," gerutu Ron, menggosok kakinya yang tadi diinjak si
fotografer.
Gilderoy Lockhart mendengarnya. Dia mendongak. Dia melihat Rondan
kemudian dia melihat Harry. Dia terbelalak. Kemudian dia melompat bangun
dan berteriak keras, "Tak mungkin itu Harry Potter?"
Kerumunan orang menyibak, berbisik-bisik seru. Lockhart bergegas maju,
meraih lengan Harry dan menariknya ke depan. Orang-orang bertepuk tangan.
Wajah Harry serasa terbakar ketika Lockhart menjabat tangannya, berpose
untuk si fotografer, yang memotret gila-gilaan, menyebar asap tebal di atas
keluarga Weasley.
"Senyum yang lebar, Harry," kata Lockhart sambil memamerkan giginya yang
berkilau. "Berdua, kau dan aku layak menghiasi halaman depan."
Ketika dia akhirnya melepas tangan Harry, jari-jari Harry nyaris kebas. Dia
mencoba menyelinap kembali kepada keluarga Weasley, tetapi Lockhart
melingkarkan lengannya ke bahu Harry dan menariknya rapat-rapat ke sisinya.
"Ibu-ibu dan Bapak-bapak," katanya keras, me-lambaikan tangan agar
pengunjung diam. "Sungguh saat yang luar biasa. Saat yang paling tepat bagiku
untuk mengumumkan sesuatu yang sudah kusimpan selama beberapa waktu ini!
"Ketika Harry masuk ke Flourish and Blotts hari ini, dia hanya ingin membeli
autobiografi saya, yang de-ngan senang hati akan saya hadiahkan kepadanya
sekarang, gratis..." orang-orang bertepuk tangan lagi, "...dia sama sekali tak
tahu," Lockhart melanjutkan, mengguncang tubuh Harry, membuat
kacamatanya melorot ke ujung hidungnya, "bahwa dalam waktu dekat dia
sendiri akan mendapatkan jauh lebih banyak daripada buku saya, Aku yang
Ajaib. Dia dan teman-teman sekolahnya, sebenarnya, akan mendapat aku yang
ajaib yang sesungguhnya. Ya, Ibu-ibu dan Bapak-bapak, dengan senang dan
bangga saya umumkan bahwa bulan September ini saya akan mengisi jabatan
guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam di Sekolah Sihir Hogwarts!"
Orang-orang bersorak dan bertepuk tangan dan Harry tahu-tahu dihadiahi
seluruh karya Gilderoy Lockhart. Sedikit terhuyung karena keberatan, dia ber-
hasil menyingkir dari pusat perhatian ke tepi ruangan, tempat Ginny berdiri di
sebelah kuali barunya.
"Ini untukmu," Harry bergumam kepadanya, me-nuang buku-bukunya ke
dalam kuali Ginny. "Aku akan beli sendiri..."
"Taruhan kau pasti senang, ya, Potter?" kata suara yang langsung dikenali
Harry. Dia menegakkan tubuh-nya dan berhadapan dengan Draco Malfoy, yang
se-perti biasa mencibir.
"Harry Potter yang terkenal," kata Malfoy. "Bahkan. tak bisa masuk toko buku
tanpa muncul di halaman pertama koran."
"Jangan ganggu dia, dia tidak menginginkan semua itu!" kata Ginny. Ini
pertama kalinya dia bicara di depan Harry. Dia membelalak kepada Malfoy.
"Potter, kau punya pacar nih," ejek Malfoy. Wajah Ginny jadi merah padam.
Sementara itu Ron dan Hermione bersusah payah berusaha mendekati me-reka,
keduanya memeluk setumpuk buku Lockhart.
--------------------------------------- 36
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Oh, kau," kata Ron, memandang Malfoy seakan dia sesuatu yang tidak
menyenangkan di sol sepatu-nya. "Pasti kau kaget ketemu Harry di sini, eh?"
"Tidak sekaget melihatmu di toko, Weasley," balas Malfoy.
"Kurasa orangtuamu akan kelaparan sebulan demi membayar buku-buku itu."
Wajah Ron jadi semerah Ginny. Dia menjatuhkan buku- bukunya ke dalam
kuali juga dan maju men-dekati Malfoy, tetapi Harry dan Hermione menyambar
bagian belakang jaketnya.
"Ron!" kata Mr Weasley, berdesakan mendekat ber-sama Fred dan George.
"Sedang apa kau? Gila sekali di sini, ayo kita keluar."
"Wah, wah, wahArthur Weasley."
Ternyata Mr Malfoy. Dia berdiri dengan tangan di bahu Draco, mencibir
dengan cara yang sama.
"Lucius," kata Mr Weasley, mengangguk dingin.
"Sibuk di Kementerian, kudengar," kata Mr Malfoy. "Razia terus-terusan...
kuharap mereka membayar uang lembur?"
Dia meraih ke dalam kuali Ginny dan mengeluar-kan, dari antara buku-buku
Lockhart yang licin ber-kilat, buku Pengantar Transfigurasi bagi Pemula yang
sudah sangat usang dan kumal.
"Jelas tidak," katanya. "Astaga, buat apa mendapat nama buruk di kalangan
para penyihir kalau mereka bahkan tidak membayarmu dengan baik?"
Mr Weasley lebih merah padam daripada Ron dan Ginny.
"Kami punya penilaian yang sangat berbeda tentang apa yang mendatangkan
nama buruk bagi penyihir, Malfoy," katanya.
"Itu jelas," kata Mr Malfoy, matanya yang pucat ganti menatap Mr dan Mrs
Granger, yang mengawasi dengan khawatir. "Melihat teman-teman yang
kaupilih, Weasley... kupikir keluargamu sudah tidak bisa ter-puruk lebih dalam
lagi..."
Terdengar dentang logam ketika kuali Ginny ter-bang. Mr Weasley telah
menerjang Mr Malfoy, mem-buatnya jatuh ke belakang menabrak rak buku.
Ber-puluh-puluh buku mantra berat berjatuhan mengenai kepala mereka
semua. Terdengar teriakan, "Hajar dia, Dad!" dari Fred dan George. Mrs
Weasley berteriak-teriak, "Jangan, Arthur, jangan!" Orang banyak ber-gerak
mundur, menabrak lebih banyak rak buku. "Bapak- bapak, jangan berkelahi
tolong jangan ber-kelahi!" seru pegawai toko. Dan kemudian, lebih keras dari
semuanya,
"Berhenti, hei, berhenti..."
Hagrid berjalan ke arah mereka di tengah lautan buku. Sekejap saja dia
sudah memisahkan Mr Weasley dan Mr Malfoy. Bibir Mr Weasley robek dan mata
Mr Malfoy bengkak tertimpa Ensiklopedi Jamur Payung. Dia masih memegangi
buku transfigurasi usang Ginny. Diulurkannya buku itu kepada Ginny, matanya
ber-kilau jahat.
"Nih, ambil bukumuini yang paling baik yang bisa dibelikan ayahmu..."
Melepaskan diri dari pegangan Hagrid, dia memberi isyarat kepada Draco dan
meninggalkan toko.
"Kau seharusnya jangan acuhkan dia, Arthur," kata Hagrid, nyaris
mengangkat" Mr Weasley yang sedang merapikan jubahnya. "Jahat sekali,
--------------------------------------- 37
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
seluruh keluarga, semua orang tahu. Malfoy tak layak didengarkan. Darah jelek,
itu penyebabnya. Ayokita keluar dari sini."
Si pegawai toko kelihatannya ingin mencegah mereka pergi, tetapi tingginya
tak sampai seping-gang Hagrid. Jadi, dia memutuskan lebih baik diam saja.
Mereka bergegas ke jalan, suami-istri Granger gemetar ketakutan dan Mrs
Weasley bukan main marahnya.
"Contoh bagus untuk anak-anakmu... berkelahi di depan umum... entah apa
pendapat Gilderoy Lockhart...."
"Dia senang," kata Fred. "Apa Mum tidak men-dengarnya ketika kita keluar?
Dia bertanya kepada wartawan Daily Prophet, apakah bisa memasukkan
perkelahian itu dalam tulisannyakatanya untuk publisitas."
Tetapi rombongan yang kembali ke perapian di Leaky Cauldron adalah
rombongan yang lesu. Dari tempat itu Harry, keluarga Weasley, dan semua
belanjaan mereka akan pulang ke The Burrow meng-gunakan bubuk Floo.
Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga Granger, yang akan me-
ninggalkan rumah minum itu untuk menuju ke jalan Muggle di sisi lain. Mr
Weasley sudah mulai bertanya kepada mereka bagaimana cara halte bus
beroperasi, tetapi cepat- cepat berhenti ketika melihat tampang Mrs Weasley.
Harry membuka kacamatanya dan menyimpannya dengan aman di dalam
sakunya sebelum menjumput bubuk Floo. Ini jelas bukan cara bepergian
favoritnya.
5. Dedalu Perkasa
AKHIR liburan musim panas datang terlalu cepat bagi Harry. Dia memang
senang kembali ke Hogwarts, tetapi sebulan bersama keluarga Weasley
merupakan saat paling menyenangkan dalam hidupnya. Susah untuk tidak iri
kepada Ron kalau dia teringat keluarga Dursley dan macam sambutan yang bisa
diharapkannya kalau dia muncul kembali di Privet Drive kali berikutnya.
Pada malam terakhir mereka, Mrs Weasley menyihir makan malam mewah
yang mencakup semua ma-kanan favorit Harry ditutup dengan puding karamel
yang menimbulkan air liur. Fred dan George meng-akhiri malam itu dengan
memasang kembang api Filibuster. Kembang api itu memenuhi dapur dengan
bintang-bintang merah dan biru yang memantul dari langit-langit ke dinding
selama sedikitnya setengah jam. Kemudian tiba saatnya untuk minum secangkir
cokelat panas sebelum tidur.
Perlu waktu lama untuk siap berangkat keesokan harinya. Mereka sudah
bangun bersamaan dengan kokok ayam pagi-
pagi sekali, tetapi rasanya banyak sekali yang harus dilakukan. Mrs Weasley
berkelebat ke sana kemari sambil ngomel, mencari kaus kaki dan pena
cadangan. Orang-orang tak hentinya bertabrakan di tangga, berpakaian
setengah-lengkap, dengan se-potong roti di tangan, dan Mr Weasley nyaris
--------------------------------------- 38
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
patah leher karena terantuk ayam tersesat ketika dia me-nyeberangi halaman
dengan membawa koper Ginny ke mobil.
Harry tidak mengerti bagaimana nanti delapan orang, enam koper besar, dua
burung hantu, dan seekor tikus bisa muat dalam Ford Anglia kecil. Dia tidak
memperhitungkan, tentu saja, keistimewaan khu-sus yang telah ditambahkan
Mr Weasley.
"Jangan bilang apa-apa kepada Molly," bisiknya ke-pada Harry ketika dia
membuka -bagasi dan me-nunjukkan bagaimana bagasi itu sudah dibesarkan
dengan sihir sehingga bisa memuat koper-koper.
Ketika akhirnya mereka semua sudah masuk mobil, Mrs Weasley melirik ke
tempat duduk belakang, di mana Harry, Ron, Fred, George, dan Percy duduk
nyaman bersebelahan, dan berkata, "Muggle benar-benar mampu melakukan
lebih banyak daripada yang kita kira. Kita suka meremehkan mereka." Dia dan
Ginny masuk dan duduk di tempat duduk depan, yang sudah dipanjangkan
sehingga mirip bangku taman. "Maksudku, dari luar kita tidak menyangka selega
ini, kan?"
Mr Weasley menyalakan mesin dan mobil meluncur meninggalkan halaman.
Harry menoleh untuk meman-dang rumah terakhir kali. Belum sempat dia
bertanya kapan dia akan bisa melihatnya kembali, mereka sudah berputar
balik. Kembang api Filibuster George ke-tinggalan. Lima menit sesudah itu,
mereka menyentak berhenti di halaman supaya Fred bisa berlari mengam-bil
sapunya. Mereka sudah hampir tiba di jalan tol ketika Ginny memekik buku
hariannya ketinggalan. Saat dia naik kembali ke mobil, mereka sudah sangat
terlambat, dan semua orang sudah jengkel dan mau-nya marah.
Mr Weasley melirik arlojinya dan kemudian istrinya.
"Molly sayang..."
"Tidak, Arthur."
"Tak akan ada yang lihat. Tombol kecil iniBuster Tidak Tampakpendorong
yang akan membuat mobil tidak kelihatanyang sekaligus akan membuatnya
ter-angkat ke atas. Kemudian kita akan terbang di atas awan. Kita akan tiba di
sana dalam waktu sepuluh menit dan tak akan ada orang yang tahu..."
"Kubilang tidak, Arthur, tidak di siang bolong."
Mereka tiba di King's Cross pukul sebelas kurang seperempat. Mr Weasley
melesat menyeberang jalan, mengambil troli untuk koper-koper mereka, dan
me-reka semua bergegas masuk stasiun.
Harry sudah pernah naik Hogwarts Express tahun sebelumnya. Bagian yang
sulit adalah menuju ke peron sembilan tiga perempat, yang tidak tampak bagi
mata Muggle. Yang harus kaulakukan hanyalah berjalan menembus palang
rintangan yang memisah-kan peron sembilan dan sepuluh. Tidak sakit, tetapi
harus dilakukan hati-hati supaya tak ada Muggle yang melihat kau tiba-tiba
menghilang.
"Percy duluan," kata Mrs Weasley, gugup me-mandang jam di atas yang
menunjukkan mereka ting-gal punya waktu lima menit untuk menghilang de-
ngan santai melewati palang rintangan.
Percy melangkah cepat dan menghilang. Mr Weasley berikutnya, disusul Fred
dan George.
--------------------------------------- 39
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Aku akan membawa Ginny dan kalian berdua langsung menyusul," Mrs
Weasley berkata kepada Harry dan Ron,
menggandeng tangan Ginny dan berangkat. Dalam sekejap mereka sudah
menghilang.
"Ayo masuk bareng, kita cuma punya waktu se-menit," kata Ron kepada
Harry.
Setelah memastikan sangkar Hedwig sudah ter-pasang aman di atas
kopernya, Harrry mendorong trolinya untuk menembus palang. Dia merasa
sangat percaya diri. Ini lebih nyaman dibanding meng-gunakan bubuk Floo.
Mereka berdua membungkuk rendah di atas pegangan troli dan berjalan man
tap ke arah palang rintangan, makin lama makin cepat. Kira-kira semeter dari
palang mereka berlari dan...
GUBRAK.
Kedua troli menabrak palang rintangan dan me-mantul balik. Koper Ron
jatuh dengan suara keras. Harry terjatuh dan sangkar Hedwig terguling ke
lantai yang licin lalu menggelinding. Hedwig menjerit-jerit marah. Orang-orang
menonton dan seorang penjaga di dekat palang berteriak marah, "Kalian ini
ngapain?"
"Kehilangan kendali troli," kata Harry tersengal, memegangi tulang rusuknya
sambil berdiri. Ron berlari untuk mengambil Hedwig, yang ribut sekali,
membuat banyak orang dalam kerumunan bergumam tentang kekejaman
terhadap binatang.
"Kenapa kita tidak bisa tembus?" desis Harry kepada Ron.
"Entahlah..."
Ron memandang berkeliling dengan cemas. Kira-kira selusin orang masih
memandang mereka dengan ingin tahu.
"Kita akan ketinggalan kereta," bisik Ron. "Aku tak mengerti kenapa gerbang
masuk ini terkunci..." Harry memandang jam raksasa dengan hati men-celos.
Sepuluh detik... sembilan detik...
Dia mendorong trolinya ke depan dengan hati-hati sampai menempel ke
palang dan mendorong sekuat tenaga. Logam palang tetap kokoh.
Tiga detik... dua detik... satu detik...
"Keretanya berangkat," kata Ron panik. "Keretanya sudah berangkat.
Bagaimana kalau Mum dan Dad tidak bisa menembus gerbang kembali ke kita?
Kau punya uang Muggle?"
Harry tertawa hambar. "Sudah kira-kira enam tahun ini keluarga Dursley
tidak memberiku uang saku." Ron menempelkan telinganya ke palang yang
dingin.
"Tidak kedengaran apa-apa," ka.tanya tegang. "Apa yang akan kita lakukan?
Aku tak tahu berapa lama lagi Mum dan Dad bisa kembali ke kita."
Mereka memandang berkeliling. Orang-orang masih mengawasi mereka,
terutama gara-gara teriakan-teriakan Hedwig yang tak kunjung berhenti.
"Kurasa lebih baik kita menunggu di mobil," kata Harry.
"Kita menarik terlalu banyak perhat..."
"Harry!" seru Ron, matanya berbinar. "Mobil."
"Kenapa mobilnya?"
--------------------------------------- 40
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kita bisa menerbangkannya ke Hogwarts!"
"Tapi bukankah..."
"Kita ketinggalan kereta, betul? Dan kita harus ke sekolah, kan? Dan bahkan
penyihir di bawah umur diizinkan menggunakan sihir, kalau keadaan benar-
benar darurat, pasal sembilan belas atau entah berapa dalam Pembatasan Hal-
hal..."
Kepanikan Harry mendadak berubah menjadi ke-gairahan.
"Kau bisa menerbangkannya?"
"Tidak masalah," kata Ron, memutar trolinya meng-hadap pintu keluar. "Ayo,
cepat, kalau bergegas kita masih akan bisa mengikuti Hogwarts Express."
Mereka melewati kerumunan Muggle-muggle yang ingin tahu, keluar dari
stasiun dan kembali ke tepi jalan tempat Ford Anglia tua diparkir.
Ron membuka bagasinya yang luas dengan sederet ketukan tongkatnya.
Dengan susah payah mereka me-masukkan kembali koper-koper mereka,
meletakkan Hedwig di tempat duduk belakang, dan duduk di tempat duduk
depan.
"Periksa apa ada yang melihat," kata Ron, meng-hidupkan mesin dengan
ketukan tongkatnya juga. Harry menjulurkan kepala ke luar jendela. Jalan raya
di depan cukup ramai, tetapi jalan tempat mereka berada kosong.
"Oke," katanya.
Ron menekan tombol perak kecil di dasbor. Mobil-mobil di sekitar mereka
lenyapbegitu juga mereka. Harry bisa merasakan tempat duduknya bergetar,
men-dengar derum mesinnya, merasakan tangannya di lututnya dan kacamata
yang bertengger di hidungnya, tetapi rasanya dia sudah berubah menjadi
sepasang bola mata saja, melayang kira-kira semeter di atas tanah di jalan
kumuh yang dipenuhi mobil- mobil yang parkir.
"Kita berangkat," terdengar suara Ron dari sebelah kanannya.
Tanah dan bangunan-bangunan kotor di kanan-kiri mereka terjatuh dan
menghilang dari pandangan ketika mobil mengangkasa. Dalam beberapa detik
saja seluruh London terhampar berkabut dan berkilau di bawah mereka.
Kemudian terdengar bunyi pop dan mobil, Harry, serta Ron kelihatan lagi.
"Uh, oh," kata Ron, menekan-nekan Buster Tidak Tampak. "Rusak rupanya..."
Keduanya memukul-mukul tombol itu. Mobil kem-bali menghilang. Kemudian
muncul lagi.
"Pegangan!" teriak Ron, dan dia menekankan kaki-nya ke pijakan gas. Mereka
langsung melesat ke dalam awan-awan rendah seperti wol dan segalanya
berubah menjadi suram dan berkabut.
"Sekarang bagaimana?" tanya Harry, menatap dinding awan tebal yang
menekan mereka dari segala penjuru.
"Kita perlu melihat kereta apinya agar bisa melihat ke arah mana kita harus
pergi," kata Ron.
"Turun lagicepat..."
Mereka turun lagi ke bawah awan-awan dan me-nyipitkan mata memandang
ke bawah... "Aku bisa melihatnya!" Harry berteriak. "Itu dia itu, di sana!"
Hogwarts Express meluncur di bawah mereka se-perti ular merah.
--------------------------------------- 41
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Ke utara," kata Ron, mengecek kompas di dasbor. "Oke, kita tinggal
mengeceknya setengah jam sekali. Pegangan..." Dan mereka melesat
menembus awan. Semenit kemudian, mereka muncul dalam cahaya te-rang
matahari.
Sungguh dunia yang berbeda. Roda-roda mobil me-luncur di atas lautan
awan-awan putih lembut. Langit terhampar biru di bawah sinar matahari yang
me-nyilaukan.
"Yang tinggal kita cemaskan hanyalah pesawat," kata Ron. Mereka saling
pandang dan mulai tertawa, lama sekali tak bisa berhenti.
Rasanya mereka dijatuhkan ke dalam mimpi yang luar biasa indah. Ini, pikir
Harry, jelas satu-satunya cara bepergian; melewati pusaran dan gundukan
awan-awan seputih salju, di dalam mobil yang disiram cahaya matahari,
dengan bungkusan besar permen di dalam kompartemen, dan harapan melihat
wajah iri Fred dan George ketika mereka mendarat dengan mulus dan
spektakuler di lapangan rumput di depan kastil Hogwarts.
Secara teratur mereka mengecek kereta api semen-tara mereka terbang
makin lama makin jauh ke utara. Setiap kali menukik ke bawah awan,
pemandangan yang mereka lihat berbeda. London segera saja sudah jauh
tertinggal di belakang, digantikan ladang-ladang hijau yang kemudian disusul
tanah-tanah luas ke-unguan, desa-desa dengan rumah dan gereja yang tampak
kecil-kecil seperti mainan, dan sebuah kota besar yang hidup dengan mobil-
mobil berseliweran seperti semut-semut multi-warna.
Meskipun demikian, setelah beberapa jam tanpa kejadian apa-apa, Harry
harus mengakui bahwa se-bagian keasyikannya sudah pudar. Permennya telah
membuat mereka haus sekali dan mereka tak punya apa-apa untuk diminum.
Dia dan Ron sudah melepas rompi mereka, tetapi T-shirt Harry sudah
menempel ke tempat duduknya dan kacamatanya bolak-balik merosot dari
hidungnya yang berkeringat. Dia sudah berhenti mengamati bentuk-bentuk
awan yang fan-tastis sekarang, dan memikirkan kereta api yang ber-kilo- kilo
meter di bawah mereka. Di dalam kereta mereka bisa membeli jus labu kuning
dingin dari troli yang didorong penyihir wanita gemuk. Kenapa mereka tidak
bisa menembus palang menuju peron sembilan tiga perempat?
"Pasti tidak jauh lagi, kan?" kata Ron serak, berjam-jam kemudian, ketika
matahari sudah mulai terbenam dalam landasan awannya, membuatnya
berwarna merah jingga.
"Siap mengecek kereta api lagi?"
Kereta apinya masih di bawah mereka, berkelok mengitari gunung yang
puncaknya berselimut salju. Di bawah kanopi awan keadaan jauh lebih gelap.
Ron menginjak gas dan membawa mobil naik lagi, tetapi mendadak mesinnya
mulai menderu aneh.
Harry dan Ron bertukar pandang gugup. "Mungkin cuma lelah," kata Ron.
"Soalnya belum pernah pergi sejauh ini..."
Dan mereka berdua berpura-pura tidak memper-hatikan deru aneh yang
semakin lama semakin keras, sementara langit secara pasti semakin gelap.
Bintang-bintang bermunculan dalam kegelapan. Harry kembali memakai
--------------------------------------- 42
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
rompinya, berusaha mengabaikan kipas kaca mobil yang sekarang bergerak-
gerak lemah, seakan memprotes.
"Tidak jauh lagi," kata Ron, lebih kepada mobilnya daripada kepada Harry.
"Tidak jauh lagi sekarang," dan dia membelai dasbor dengan gugup.
Ketika mereka terbang kembali di bawah awan-awan tak lama kemudian,
mereka harus menyipitkan mata menembus kegelapan untuk mencari tanda-
tanda yang mereka kenal.
"Itu dia!" teriak Harry, membuat Ron dan Hedwig terlonjak kaget. "Di depan!"
Seperti siluet di kaki langit yang gelap, tinggi di atas karang di seberang
danau, tampaklah menara-menara kastil Hogwarts.
Tetapi mobil sudah mulai bergetar dan kecepatannya sudah berkurang.
"Ayolah," kata Ron membujuk, menggoyang sedikit roda kemudi, "sudah
hampir sampai, ayolah..."
Mesin mengeluh. Semburan-semburan asap ber-munculan dari bawah kap
mobil. Harry memegangi tepi tempat duduknya erat-erat ketika mereka
terbang menuju danau.
Mobil berguncang keras. Mengerling ke luar lewat jendela, Harry melihat
permukaan air yang licin gelap berkilauan, satu setengah kilo di bawah mereka.
Buku-buku jari Ron memutih di atas roda kemudi. Mobil berguncang lagi.
"Ayolah," Ron bergumam. Mereka berada di atas danau... kastil persis di
depan mereka... Ron menginjak pedal gas. Terdengar bunyi debam keras, bunyi
merepet, kemu-dian mesin mati total.
"Uh, oh," kata Ron dalam kesunyian.
Hidung mobil merendah. Mereka terjatuh, makin lama makin cepat, menuju
tembok kastil yang kokoh.
"Tidaaaaaaaaak!" jerit Ron, membanting setir seratus delapan puluh derajat
Mereka lolos dari tembok hanya beberapa senti saja ketika mobil berbelok
dalam lengkungan besar, melesat di atas rumah-rumah kaca yang gelap,
melewati kebun sayur, dan keluar ke halaman yang gelap, semakin lama
semakin rendah.
Ron melepas roda kemudi sepenuhnya dan menarik tongkatnya dari saku
belakang.
"STOP! STOP!" dia memekik, memukul-mukul dasbor dan kaca depan, tetapi
mereka terus meniikik, daratan serasa terbang ke atas menyongsong mereka....
"AWAS POHON ITU!" Harry berteriak, menyambar roda kemudi, tetapi
terlambat...
GUBRAK!
Bunyi logam menabrak kayu memekakkan telinga ketika mobil menghantam
batang pohon yang besar. Mobil terbanting ke tanah dengan empasan keras.
Asap mengepul dari atapnya yang penyok. Hedwig menjerit-jerit ketakutan,
benjolan sebesar bola golf berdenyut-denyut di kepala Harry yang tadi mem-
bentur kaca depan, dan di sebelah kanannya Ron mengerang putus asa.
"Kau tak apa-apa?" tanya Harry cemas. "Tongkatku," kata Ron dengan suara
gemetar. "Lihat tongkatku."
Tongkat itu patah, nyaris menjadi dua. Ujungnya tergantung lunglai, hanya
menempel pada seserpih kayu.
--------------------------------------- 43
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry membuka mulut untuk mengatakan dia yakin mereka akan bisa
membetulkannya di sekolah, tetapi dia tak sempat bicara apa-apa. Tepat pada
saat itu sesuatu menghantam mobil di sisi tern pat Harry duduk, dengan
kekuatan banteng gila. Harry terlempar ke arah Ron. Pada saat bersamaan,
pukulan yang sama besarnya menghantam atap mobil.
"Apa yang terja...?"
Ron ternganga kaget, terbelalak memandang lewat kaca depan, dan Harry
berbalik tepat ketika dahan sebesar ular piton menghantam kaca itu. Pohon
yang mereka tabrak menyerang mereka. Batangnya ter-bungkuk nyaris terlipat
dua, dan dahan-dahannya yang berbonggol-bonggol memukul-mukul segala
bagian mobil yang bisa dicapainya.
"Aaaargh!" jerit Ron ketika dahan bengkok lain menghantam pintu mobilnya
sampai melesak. Kaca depan sekarang bergetar di bawah hujan pukulan
ranting-ranting yang bentuknya seperti buku-buku jari. Dan dahan setebal alu
memukul-mukul atap mobil, yang kelihatannya sudah siap ambruk....
"Lari!" Ron berteriak, melempar tubuhnya ke pintu, tetapi detik berikutnya
dia sudah dihantam mundur ke pangkuan Harry oleh dahan yang lain lagi.
"Habis deh kita!" erangnya, ketika atap mobil me-lesak, tetapi mendadak
lantai mobil bergetarmesin-nya hidup lagi.
"Mundur!" teriak Harry dan mobil meluncur ke belakang. Pohon itu masih
mencoba memukuli mereka. Mereka bisa mendengar akar.-akarnya berkeriut
ketika si pohon nyaris mencabut dirinya sendiri dalam usaha-nya memukul
mereka yang meluncur menjauh dari jangkauan.
"Nyaris...," sengal Ron, "...saja. Bagus sekali, Bil."
Tetapi si mobil telah kehabisan kesabaran. Dengan dua bunyi berkelontang,
pintu-pintu terbuka dan Harry merasa tempat duduknya terangkat miring, lalu
tahu-tahu dia sudah telentang di tanah basah. Bunyi "bag... bug..." keras
memberitahunya bahwa mobil sedang mengeluarkan koper- koper mereka dari
bagasi. Sangkar Hedwig melayang di udara dan jatuh terbuka. Burung hantu
betina itu terbang keluar de-ngan jeritan marah dan terbang menuju kastil
tanpa menoleh ke belakang. Kemudian, mobil yang sudah melesak, penyok,
tergores-gores, dan berasap ini me-luncur ke dalam kegelapan. Lampu
belakangnya me-nyorot penuh kemarahan.
"Kembali!" Ron meneriakinya, sambil mengacung-acungkan tongkatnya. "Dad
akan membunuhku!" Tetapi mobil itu menghilang dari pandangan seiring
dengusan terakhir knalpotnya. "Bisakah kaupercayai nasib kita?" ratap Ron
merana, membungkuk untuk memungut Scabbers si tikus.
"Dari begitu banyak pohon yang bisa kita tabrak, kita ternyata menabrak
yang itu."
Dia mengerling lewat bahunya ke pohon tua itu, yang masih melambai-
lambaikan dahan-dahannya de-ngan penuh ancaman.
"Ayo," kata Harry letih, "lebih baik kita ke sekolah...." Kedatangan mereka
bukanlah kedatangan penuh kejayaan yang mereka bayangkan. Dengan badan
kaku, memar, dan kedinginan, mereka meraih ujung koper mereka dan mulai
menyeretnya terseok-seok mendaki bukit berumput, menuju pintu besar dari
kayu ek.
--------------------------------------- 44
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kurasa pestanya sudah mulai," kata Ron, menjatuh-kan kopernya di kaki
undakan dan diam-diam me-nyeberang untuk mengintip dari jendela yang
terang benderang. "Hei, Harry, lihatsedang acara seleksi!"
Harry bergegas mendekat dan berdua mereka mengintip ke dalam Aula
Besar.
Lilin-lilin tak terhitung banyaknya beterbangan di atas empat meja panjang,
membuat piring-piring dan piala emas di atasnya berkilauan. Di atasnya, langit-
langit sihiran tampak persis dengan langit di luar, dengan taburan bintang
berkelap- kelip.
Menembus hutan topi kerucut hitam Hogwarts, Harry melihat deretan
panjang anak-anak kelas satu yang ketakutan memasuki Aula. Ginny berada di
antara mereka, mudah ditemukan karena rambut Weasley-nya yang merah
mencolok. Sementara itu, Profesor McGonagall, penyihir wanita berkacamata
de-ngan rambut digelung ketat, meletakkan Topi Seleksi Hogwarts yang
terkenal di atas bangku di depan para murid baru.
Setiap tahun, topi tua ini, yang sudah bertambal, berjumbai, dan kotor,
menyeleksi murid-murid baru ke dalam empat asrama Hogwarts (Gryffindor,
Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin). Harry ingat betul bagaimana
perasaannya ketika dia memakai topi itu, tepat setahun yang lalu, dan dengan
ketakutan menunggu keputusan si topi, sementara topi itu ber-gumam keras ke
dalam telinganya. Selama beberapa detik mengerikan dia takut topi itu akan
memasuk-kannya ke Slytherin, asrama yang telah menghasilkan lebih banyak
penyihir hitam dibanding ketiga asrama lainnyatetapi ternyata dia terpilih
masuk Gryffindor, bersama Ron,. Hermione, dan anak-anak keluarga Weasley
yang lain. Semester yang lalu, Harry dan Ron telah membantu Gryffindor
memenangkan Piala Asrama, mengalahkan Slytherin untuk pertama kalinya
dalam tujuh tahun tefakhir. Seorang anak laki-laki kecil berambut kelabu
seperti tikus dipanggil ke depan untuk meletakkan topi itu di kepalanya. Mata
Harry memandang melewati anak ini ke tempat Profesor Dumbledore, kepala
sekolah, yang duduk menonton seleksi ini dari meja guru, jenggot panjangnya
yang keperakan dan kacamata bulan-separonya berkilauan tertimpa cahaya
lilin.
Be-berapa kursi dari Dumbledore, Harry melihat Gilderoy Lockhart, memakai
jubah berwarna hijau toska. Dan di ujung meja duduk Hagrid, besar dan
berbulu, asyik minum dari pialanya.
"Eh...," Harry bergumam kepada Ron. "Ada kursi kosong di meja guru... Di
mana Snape?"
Profesor Snape adalah guru yang paling tidak di-sukai Harry. Harry kebetulan
juga murid yang paling tidak disukai Snape.' Snape yang kejam, sinis, dan tidak
disukai oleh semua anak, kecuali anak-anak dari asramanya sendiri (Slytherin),
mengajar Ramuan.
"Mungkin dia sakit!" kata Ron penuh harap. ''Mungkin dia keluar," kata Harry,
"karena tidak terpilih mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam lagil" "Atau
siapa tahu dia dikeluarkan!" kata Ron penuh semangat. "Maksudku, semua anak
benci padanya..."
--------------------------------------- 45
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Atau mungkin," kata suara sangat dingin tepat di belakang mereka, "dia
sedang menunggu alasan kenapa kalian berdua tidak datang naik kereta api
sekolah."
Harry berputar. Di depannya, dengan jubah hitam beriak ditiup angin sepoi,
berdiri Severus Snape. Snape bertubuh kurus, dengan kulit pucat, hidung
bengkok, dan rambut berminyak sebahu, dan pada saat ini dia sedang
tersenyum sedemikian rupa sehingga Harry tahu dia dan Ron dalam kesulitan
besar.
"Ikut aku," kata Snape.
Bahkan saling pandang pun mereka tak berani. Harry dan Ron mengikuti
Snape menaiki undakan memasuki Aula Depan yang bergema, yang dikelilingi
obor. Aroma lezat masakan menguar dari Aula Besar, tetapi Snape membawa
mereka menjauh dari ke-hangatan dan cahaya, menuruni tangga batu sempit
yang menuju ke ruang bawah tanah.
Mereka melewati lorong yang gelap dan dingin.
Setelah setengah jalan menyusurinya, terdapat sebuah pintu. "Masuk!"
perintah Snape, seraya menunjuk.
Mereka masuk ke kantor Snape, gemetar. Dinding-nya yang remang-remang
dikelilingi rak penuh staples kaca besar. Di dalam staples-staples itu
mengapung berjenis-jenis benda menjijikkan yang namanya tak ingin diketahui
Harry saat ini. Perapiannya gelap dan kosong. Snape menutup pintu dan
berbalik meman-dang mereka.
"Jadi," katanya pelan, "kereta api tidak cukup baik untuk Harry Potter yang
terkenal dan sahabat setia-nya, Weasley. Ingin datang dengan sambutan
meriah, begitu, ya?"
"Tidak, Sir, penyebabnya palang rintangan di King's Cross. Palang itu..."
"Diam!" bentak Snape dingin. "Kauapakan mobilnya?"
Ron menelan ludah. Ini bukan pertama kalinya Snape memberi kesan bahwa
dia bisa membaca pi-kiran. Tetapi sesaat kemudian, ketika Snape membuka
Evening Prophet koran sihir sore terbitan hari itu, dia pun mengerti.
"Ada yang melihat kalian," dia mendesis, menunjuk-kan kepala beritanya:
FORD ANGLIA TERBANG MEMBUAT TAKJUB MUGGLE. Dia mulai membacanya
keras-keras. "Dua Muggle di London yakin mereka melihat sebuah mobil tua
terbang di atas menara Kantor Pos... pada siang hari di Norfolk, Mrs Hetty
Bayliss, ketika sedang menjemur cucian... Mr Angus Fleet di Peebles melapor
kepada polisi... enam atau tujuh Muggle totalnya. Bukankah ayahmu bekerja di
Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle?" kata-nya, menatap Ron dan
tersenyum semakin menyebal-kan. "Astaga, astaga... anaknya sendiri..."
Harry merasa seakan perutnya baru saja dihantam salah satu dahan besar
pohon gila itu. Jika sampai ketahuan Mr Weasley telah menyihir mobil itu... dia
tidak memikirkan ini sebelumnya....
"Kuperhatikan, sewaktu aku mencari di halaman, bahwa kerusakan cukup
besar telah menimpa pohon Dedalu Perkasa yang sangat berharga," Snape me-
neruskan.
"Pohon itu merusak kami lebih banyak daripada kami...," Ron menyela.
--------------------------------------- 46
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Diam!" bentak Snape lagi. "Sayang sekali kalian tidak di asramaku dan
keputusan untuk mengeluarkan kalian tidak ada padaku. Aku akan memanggil
orang-orang yang punya kekuasaan menyenangkan itu. Kalian tunggu di sini."
Harry dan Ron saling pandang, wajah mereka pucat. Harry tidak merasa
lapar lagi. Dia malah merasa sangat mual. Dia berusaha tidak melihat sesuatu
yang besar berlendir dalam cairan hijau di rak di belakang meja Snape. Kalau
Snape memanggil Profesor McGonagall, kepala asrama Gryffindor, nasib mereka
tak akan lebih baik. Dia mungkin lebih adil daripada Snape, tetapi disiplinnya
ketat sekali.
Sepuluh menit kemudian, Snape muncul kembali, dan benar saja, Profesor
McGonagall-lah yang me-nemaninya. Harry sudah pernah melihat Profesor
McGonagall marah dalam beberapa kesempatan, tetapi entah apakah dia sudah
lupa betapa tipisnya bibir Profesor McGonagall kalau sedang marah, atau Harry
belum pernah melihatnya semarah ini. Profesor McGonagall mengangkat
tongkatnya begitu dia me-masuki ruangan. Harry dan Ron berjengit, tetapi dia
cuma menunjuk ke perapian kosong, yang apinya langsung berkobar menyala.
"Duduk," katanya, dan mereka berdua mundur untuk duduk di kursi di dekat
perapian. "Jelaskan," katanya, kacamatanya berkilat-kilat me-nyeramkan. Ron
langsung bercerita, mulai dengan palang rin-tangan di stasiun yang menolak
mereka lewati. "...jadi kami tak punya pilihan, Profesor, kami tidak bisa naik
kereta api."
"Kenapa kalian tidak mengirim surat lewat burung hantu? Bukankah kau
punya burung hantu?" Profesor McGonagall berkata dingin kepada Harry.
Harry ternganga. Setelah Profesor McGonagall me-ngatakannya, baru terpikir
itulah yang seharusnya mereka lakukan.
"Sayasaya tidak berpikir..."
"Jelas sekali kau memang tidak berpikir," kata Profesor McGonagall.
Terdengar ketukan di pintu kantor dan Snape, yang sekarang kelihatan lebih
senang dari sebelumnya, membukanya. Di depan pintu berdiri kepala sekolah,
Profesor Dumbledore.
Seluruh tubuh Harry langsung kaku. Dumbledore kelihatan muram, tidak
seperti biasanya. Dia me-nunduk memandang mereka lewat hidung bengkok-
nya dan Harry mendadak ingin sekali dirinya dan Ron masih dipukuli oleh si
Dedalu Perkasa. Sunyi lama sekali. Kemudian Dumbledore "berkata, "Tolong
jelaskan kenapa kalian melakukan ini."
Akan lebih baik jika dia berteriak. Harry membenci kekecewaan dalam
suaranya. Entah karena apa, dia tidak sanggup menatap mata Dumbledore,
maka dia bicara kepada lututnya. Dia menceritakan segalanya kepada
Dumbledore, kecuali bahwa Mr Weasley-lah pemilik mobil tersihir itu. Dia
menceritakannya se-demikian rupa, sehingga seakan-akan dia dan Ron
kebetulan menemukan mobil terbang diparkir di luar stasiun. Dia tahu
Dumbledore akan segera tahu hal yang sebenarnya, tetapi Dumbledore tidak
bertanya apa-apa soal mobil ini. Ketika Harry sudah selesai bercerita,
Dumbledore hanya terus memandang me-reka lewat kacamatanya.
"Kami akan mengambil barang-barang kami," kata Ron dengan suara putus
asa. "Kau bicara apa, Weasley?" bentak Profesor McGonagall.
--------------------------------------- 47
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Bukankah kami dikeluarkan?" kata Ron. Harry cepat-cepat memandang
Dumbledore.
"Tidak hari ini, Mr Weasley," kata Dumbledore. "Tetapi aku harus
menekankan kepada kalian berdua betapa seriusnya tindakan kalian. Aku akan
menulis kepada keluarga kalian berdua malam ini. Aku juga harus
memperingatkan kalian bahwa jika kalian me-lakukan hal seperti ini lagi, aku
tak akan punya pilihan selain mengeluarkan kalian."
Snape tampak kecewa sekali. Dia berdeham dan berkata,
"Profesor Dumbledore, kedua anak ini telah melanggar Dekrit Pembatasan
Masuk Akal bagi Penyihir di Bawah Umur, menyebabkan kerusakan serius pada
pohon tua yang sangat berharga... tentu-nya kesalahan seperti ini..."
"Profesor McGonagall-lah yang berhak memutuskan hukuman untuk anak-
anak ini, Severus," kata Dumbledore tenang. "Mereka anak asramanya dan
karena itu menjadi tanggung jawabnya." Dia berpaling kepada Profesor
McGonagall. "Aku harus kembali ke pesta, Minerva, aku harus menyampaikan
beberapa pengumuman. Ayo, Severus, ada puding lezat yang ingin kucicipi."
Snape melempar pandang sengit kepada Harry dan Ron sebelum dia keluar
dari kantornya, me-ninggalkan mereka sendirian dengan Profesor McGonagall,
yang masih mengawasi mereka seperti elang murka.
"Kau sebaiknya segera ke rumah sakit, Weasley, kau berdarah."
"Tidak banyak," kata Ron, buru-buru menyeka luka di atas matanya dengan
lengannya. "Profesor, saya ingin melihat adik saya diseleksi..."
"Upacara seleksi sudah selesai," kata Profesor McGonagall.
"Adikmu masuk Gryffindor juga."
"Oh, bagus," kata Ron.
"Dan ngomong-ngomong soal Gryffindor..." Pro-fesor McGonagall berkata
tajam. Tetapi Harry menyela, "Profesor, sewaktu kami naik mobil itu, sekolah
belum dimulai, jadijadi Gryffindor belum punya angka yang bisa dikurangi,
kan?" katanya seraya memandang Profesor McGonagall dengan cemas.
Profesor McGonagall memandangnya tajam, tetapi Harry yakin dia nyaris
tersenyum. Paling tidak bibir-nya kelihatan tidak setipis tadi.
"Aku tidak akan mengurangi angka Gryffindor," katanya, dan hati Harry
langsung jauh lebih ringan. "Tetapi kalian berdua akan mendapat detensi."
Itu lebih baik daripada yang diduga Harry. Sedang-kan soal Dumbledore yang
akan menulis kepada ke-luarga Dursley, itu bukan apa-apa. Harry tahu betul
mereka malah akan kecewa Dedalu Perkasa tidak menghajarnya sampai mati.
Profesor McGonagall mengangkat tongkatnya lagi dan mengarahkannya ke
meja Snape. Sepiring besar sandwich, dua piala perak, dan seteko jus labu
kuning dingin muncul seiring bunyi "plop".
"Kalian makan di sini dan kemudian langsung ke kamar," katanya. "Aku juga
harus kembali ke pesta." Setelah pintu tertutup di belakangnya, Ron menge-
luarkan suitan panjang namun pelan. "Kukira tadi tamatlah riwayat kita,"
katanya seraya meraih sandwich. "Kukira juga begitu," kata Harry, juga
mengambil sandwich.
"Nasib kita sungguh sulit dipercaya, ya?" kata Ron dengan mulut penuh roti
dan daging. "Fred dan George sudah menerbangkan mobil itu paling tidak lima
--------------------------------------- 48
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
atau enam kali, dan tak ada Muggle yang pernah melihat mereka." Dia menelan
dan menggigit sepotong besar sandwich lagi. "Kenapa kita tidak bisa melewati
palang rintangan?
Harry mengangkat bahu. "Yang jelas mulai sekarang kita harus hati-hati,"
katanya, meneguk jus labunya dengan rasa syukur. "Sayang sekali kita tidak
bisa ikut pesta..."
"Profesor McGonagall tak ingin kita pamer," kata Ron bijaksana. "Tak mau
orang-orang berpikir ini ide bagus, datang dengan mobil terbang."
Setelah makan sandwich sebanyak mereka sanggup (piringnya terus-menerus
terisi kembali), mereka bang-kit dan meninggalkan kantor itu, berjalan
melewati lorong yang sudah mereka kenal menuju ke Menara Gryffindor. Kastil
sudah sepi, rupanya pesta sudah usai. Mereka melewati lukisan-lukisan yang
berbisik-bisik dan baju-baju zirah yang berkelontangan. Mereka menaiki
beberapa tangga sempit, sampai akhirnya mereka tiba di lorong tempat pintu
rahasia untuk masuk ke Menara Gryffindor tersembunyi, di belakang lukisan cat
minyak seorang nyonya amat gemuk yang memakai gaun sutra merah jambu.
"Kata kunci?" kata si Nyonya Gemuk ketika mereka mendekat.
"Eh...," kata Harry.
Mereka tidak tahu kata kunci di awal tahun ajaran baru ini, karena belum
bertemu Prefek Gryffindor, tetapi bantuan muncul tak terduga. Mereka men-
dengar langkah-langkah bergegas mendekat di bela-kang mereka dan ketika
menoleh, mereka melihat Hermione berlari mendatangi.
"Di sini rupanya! Di mana kalian tadi? Ada desas-desus sangat tidak masuk
akalada yang bilang kalian berdua dikeluarkan karena menabrakkan mobil ter-
bang."
"Kami tidak dikeluarkan," Harry meyakinkannya.
"Kau tidak bermaksud bilang kau benar-benar ter-bang ke sini?" kata
Hermione, kedengarannya segalak Profesor McGonagall.
"Tidak perlu ceramah," kata Ron tak sabar, "dan beritahu kami kata kunci
barunya." '"Gelambir kalkun'," kata Hermione tak sabar, "tapi bukan itu pokok
masalahnya..."
Kata-katanya terputus, karena lukisan si Nyonya Gemuk mengayun terbuka
dan mendadak terdengar gemuruh tepukan. Rupanya seluruh penghuni asrama
Gryffindor belum tidur. Mereka berdesakan di ruang bundar rekreasi, berdiri di
atas meja miring dan kursi-kursi tangan empuk, menunggu kedatangan Harry
dan Ron. Lengan-lengan terjulur melalui lubang lukisan, menarik Harry dan Ron
masuk, membiarkan Hermione memanjat sendiri sesudah mereka.
"Brilian!" seru Lee Jordan. "Ide gemilang! Ke-datangan yang luar biasa! Naik
mobil terbang me-nabrak Dedalu Perkasa, orang-orang akan terus mem-
bicarakannya selama bertahun-tahun!"
"Hebat," kata seorang anak kelas lima yang belum pernah bicara dengan
Harry. Ada yang menepuk-nepuk punggungnya seakan dia baru saja memenang-
kan maraton. Fred dan George berdesakan sampai ke depan kerumunan dan
berkata bersamaan, "Kenapa kalian tidak . memanggil kami kembali, eh?"
Wajah Ron merah padam, dia nyengir malu-malu, tapi Harry bisa melihat satu
orang yang sama sekali. tidak ke-lihatan senang. Percy tampak di atas kepala
--------------------------------------- 49
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
anak-anak kelas satu yang bergairah, dan dia kelihatannya mencoba maju
cukup dekat untuk menyuruh mereka menyingkir. Harry menyikut rusuk Ron
dan mengangguk ke arah Percy. Ron langsung paham.
"Harus naiksudah lelah," katanya, dan keduanya menyelip-nyelip ke arah
pintu di seberang ruangan, yang menuju ke tangga spiral dan kamar-kamar
tidur.
"Malam," Harry berseru kepada Hermione, yang wajahnya sama cemberutnya
seperti Percy.
Mereka berhasil sampai di seberang ruangan, pung-gung mereka masih
ditepuk-tepuk, dan baru aman setelah tiba di tangga yang sepi. Mereka
bergegas naik dan akhirnya tiba di pintu kamar mereka yang lama, yang
sekarang dipasangi tulisan berbunyi "kelas dua". Mereka memasuki ruangan
bundar yang sudah mereka kenal, dengan lima tempat tidur besar ber-kelambu
beludru merah dan jendela-jendela yang tinggi dan sempit. Koper-koper
mereka sudah dibawa naik dan diletakkan di kaki tempat tidur masing-masing.
Ron tersenyum pada Harry dengan perasaan ber-salah.
"Aku tahu seharusnya tidak boleh menikmati sam-butan atau apa pun
namanya itu, tapi..."
Pintu kamar mendadak terbuka dan masuklah ketiga anak laki-laki kelas dua
Gryffindor lainnya, Seamus Finnigan, Dean Thomas, dan Neville Longbottom.
"Tak bisa dipercaya!" Seamus nyengir.
"Cool," kata Dean.
"Menakjubkan," kata Neville, terpesona. Harry tak tahan. Dia ikut nyengir.
6. Gilderoy Lockhart
ESOKNYA Harry nyaris tak bisa tersenyum lagi. Ke-adaan sudah mulai
memburuk sejak saat sarapan di Aula Besar. Empat meja besar asrama dipenuhi
berpanci-panci bubur, berpiring-piring ikan haring asap, ber-gunung-gunung roti
panggang, telur, dan daging asap, di bawah langit-langit sihiran (hari ini abu-
abu suram berawan). Harry dan Ron duduk di meja Gryffindor bersama
Hermione, yang menyandarkan buku Vakansi dengan Vampir-nya yang terbuka
pada seteko susu. Hermione mengucapkan sapaan "Pagi"-nya dengan sedikit
kaku, sehingga Harry tahu dia masih mencela cara kedatangan mereka. Neville
Longbottom, sebalik-nya, menyambut mereka dengan ceria. Neville adalah
anak berwajah bundar dan cenderung mengalami ber-bagai kecelakaan.
Ingatannya juga parah sekali.
"Sudah waktunya pos datang... kurasa Nenek akan mengirim beberapa
barang yang kulupakan."
Harry baru menyendok buburnya ketika, benar saja, terdengar deru keras
dan kira-kira seratus burung hantu terbang masuk, beputar-putar di aula dan
--------------------------------------- 50
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
men-jatuhkan surat dan paket kepada anak-anak yang asyik berceloteh. Sebuah
bungkusan be,sar tak ber-aturan terguling dari kepala Neville dan sedetik
kemu-dian sesuatu yang besar dan berwarna abu- abu jatuh ke dalam teko susu
Hermione, menciprati mereka semua dengan susu dan bulu.
"Errol!" seru Ron, menarik keluar burung hantu basah kuyup itu pada
kakinya. Errol terpuruk, ping-san, di atas meja, kakinya mencuat ke atas dan
sebuah amplop merah tergigit di paruhnya.
"Oh, tidak...," Ron memekik panik.
"Tidak apa-apa, dia masih hidup," kata Hermione, menekan-nekan Errol
lembut dengan ujung jari-nya.
"Bukan itutapi itu."
Ron menunjuk amplop merah di paruh Errol. Amplop itu kelihatan biasa saja
bagi Harry, tetapi Ron dan Neville memandangnya ketakutan seakan amplop itu
bisa meledak setiap saat.
"Ada apa?" tanya Harry.
"Mumdia mengirimiku Howler," kata Ron lesu.
"Lebih baik kaubuka, Ron," bisik Neville cemas. "Gawat kalau tidak. Nenek
pernah mengirimiku Howler dan kuabaikan, dan...," dia menelan ludah,
"mengerikan sekali."
Harry mengalihkan pandang dari wajah ketakutan mereka ke amplop merah.
"Apa sih Howler itu?" tanyanya.
Tetapi seluruh perhatian Ron tercurah pada surat itu, yang sudah mulai
berasap ujung-ujungnya. "Bukalah," desak Neville. "Paling beberapa menit lalu
selesai..."
Ron mengulurkan tangan yang gemetar, menarik amplop itu dari paruh Errol
dan membukanya. Neville menjejalkan jari ke lubang telinganya. Sedetik
kemu-dian, Harry tahu kenapa.
Sekejap dikiranya amplop itu meledak; teriakan keras sekali membahana
me-menuhi aula besar itu, merontokkan debu dari langit-langitnya.
"...MENCURI MOBIL, AKU TIDAK AKAN KAGET KALAU MEREKA
MENGELUARKANMU, TUNGGU SAMPAI AKU KETEMU KAU, PASTI KAU TIDAK
BERPIKIR BAGAIMANA KAGET DAN CEMASNYA AYAHMU DAN AKU KETIKA MELIHAT
MOBIL SUDAH TAK ADA...."
Teriakan Mrs Weasley, seratus kali lebih keras dari-pada biasanya, membuat
piring-piring dan sendok-sendok berkeretak di atas meja. Suaranya bergaung
memekakkan di dinding-dinding batu. Anak-anak di aula berputar di tempat
duduk mereka untuk melihat siapa yang menerima Howler. Ron merosot rendah
sekali di kursinya, sampai hanya kepalanya yang me-rah yang kelihatan.
"...SURAT DARI DUMBLEDORE SEMALAM, AYAHMU NYARIS MATI SAKING
MALUNYA, KAMI TIDAK MEMBESARKANMU UNTUK BERSIKAP SEPERTI INI, KAU
DAN HARRY BISA MATI...."
Harry sudah bertanya-tanya dalam hati kapan namanya akan muncul. Dia
berusaha keras bersikap seakan tidak mendengar suara yang membuat gendang
telinganya berdenyut-denyut.
--------------------------------------- 51
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"...BENAR-BENAR MENJIJIKKAN, AYAHMU AKAN DIINTEROGASI DI KANTORNYA,
SALAHMU SE-PENUHNYA DAN KALAU MELANGGAR PER-ATURAN LAIN SEDIKIT
SAJA, KAMI AKAN LANG-SUNG MEMBAWAMU PULANG."
Aula sunyi senyap. Amplop merah, yang terjatuh dari tangan Ron, menyala,
lalu tergulung menjadi abu. Harry dan Ron duduk terpaku, seakan baru disapu
gelombang besar. Beberapa anak tertawa dan sedikit demi sedikit celoteh
ramai mulai terdengar lagi.
Hermione menutup buku Vakansi dengan Vampir dan menunduk memandang
puncak kepala Ron. "Aku tak tahu apa yang kauharapkan, Ron, tapi kau..."
"Jangan bilang aku layak menerimanya," gertak Ron.
Harry mendorong buburnya menjauh. Dia merasa sangat bersalah. Mr
Weasley akan diinterogasi di kantornya. Setelah kebaikan Mr dan Mrs Weasley
terhadapnya selama musim panas....
Tetapi dia tak punya banyak waktu untuk berlama-lama mencemaskan hal
ini. Profesor McGonagall ber-jalan mengelilingi meja Gryffindor, membagikan
jadwal. Harry mengambil jadwalnya dan melihat dua jam pertama mereka
adalah Herbologi, bareng dengan Hufflepuff.
Harry, Ron, dan Hermione meninggalkan kastil ber-sama- sama,
menyeberangi kebun sayur, dan menuju ke rumah- rumah kaca, tempat
tanaman-tanaman gaib dipelihara. Paling tidak Howler sudah menghasilkan satu
hal baik, Hermione kelihatannya berpendapat mereka sudah cukup mendapat
hukuman dan sudah ramah seperti biasa lagi.
Mendekati rumah-rumah kaca, mereka melihat anak-anak lain sudah berdiri
di depannya, menunggu Profesor Sprout. Harry, Ron, dan Hermione, baru saja
bergabung dengan mereka ketika Profesor Sprout muncul di seberang halaman
berumput, ditemani Gilderoy Lockhart. Lengan Profesor Sprout diperban di
sana-sini, dan dengan entakan rasa bersalah lagi, Harry melihat Dedalu Perkasa
di kejauhan, beberapa dahannya sekarang memakai kain gendongan.
Profesor Sprout adalah penyihir wanita pendek-gemuk yang memakai topi
bertambal di atas rambut-nya yang beterbangan. Biasanya wajah dan pakaian-
nya berlumuran tanah, dan kukunya akan membuat Bibi Petunia pingsan.
Gilderoy Lockhart, sebaliknya, sangat rapi dan bersih. Jubahnya yang berwarna
hijau toska melambai, rambutnya yang keemasan berkilau di bawah topi hijau
toska berpelipit emas yang ber-tengger sempurna di atas kepalanya.
"Oh, halo, anak-anak!" sapa Lockhart, tersenyum kepada kerumunan anak-
anak. "Baru saja menunjuk-kan kepada Profesor Sprout bagaimana mengobati
Dedalu Perkasa! Tapi aku tak mau kalian mengira aku lebih pintar dari dia
dalam Herbologi! Kebetulan saja aku pernah bertemu beberapa tanaman
eksotis dalam perjalananku..."
"Rumah Kaca nomor tiga hari ini, anak-anak!" kata Profesor Sprout, yang
kelihatan jelas jengkel, tidak ceria seperti biasanya.
Terdengar gumam tertarik. Selama ini mereka cuma belajar di Rumah Kaca
nomor satuRumah Kaca nomor tiga berisi tanaman yang jauh lebih menarik
dan berbahaya. Profesor Sprout menarik kunci besar dari ikat pinggangnya dan
membuka pintu. Terendus oleh Harry bau tanah lembap dan pupuk, bercampur
dengan wangi tajam bunga-bunga sebesar payung yang bergantungan dari
--------------------------------------- 52
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
langit-langit. Harry baru mau mengikuti Ron dan Hermione masuk ketika tangan
Lockhart terjulur.
"Harry! Aku ingin bicarakau tidak keberatan kalau dia terlambat beberapa
menit, kan, Profesor Sprout?"
Dinilai dari cibiran Profesor Sprout, dia sebetulnya keberatan, tetapi
Lockhart berkata, "Terima kasih," dan menutup pintu Rumah Kaca di depan
wajah Profesor Sprout.
"Harry," kata Lockhart, giginya yang putih besar-besar berkilauan tertimpa
cahaya matahari ketika dia menggelengkan kepala. "Harry, Harry, Harry."
Saking kagetnya Harry tidak bicara apa-apa. "Waktu aku dengaryah, tentu
saja, semua itu salahku. Rasanya ingin kutendang diriku sendiri."
Harry sama sekali tak mengerti apa yang dibicara-kannya. Dia baru akan
berkata begitu, ketika Lockhart meneruskan,
"Belum pernah aku seterkejut itu. Me-nerbangkan mobil ke Hogwarts! Yah,
tentu saja, aku langsung tahu kenapa kaulakukan itu. Jelas sekali. Harry,
Harry, Harry."
Hebat sekali bagaimana dia bisa menunjukkan masing- masing giginya yang
berkilauan bahkan pada saat dia tidak bicara.
"Kuberi kau sekecap kepopuleran, kan?" kata Lockhart.
"Kau langsung ketularan. Kau tampil di ha-laman depan surat kabar
bersamaku dan kau tak bisa menunggu lebih lama untuk tampil lagi."
"Ohtidak, Profesor, begini..."
"Harry, Harry, Harry," kata Lockhart, mengulurkan tangan mencengkeram
bahu Harry. "Aku mengerti. Wajar menginginkan lebih kalau kau sudah pernah
mencicipinya dan aku menyalahkan diriku sendiri karena memberimu itu,
karena pasti akan mem-pengaruhi pikiranmu. Tapi, Nak, kau tak bisa mener-
bangkan mobil untuk mencoba membuat dirimu di-perhatikan. Jangan buru-
buru, oke? Masih banyak waktu untuk semua itu kalau kau sudah lebih besar.
Ya, ya, aku tahu apa yang kaupikirkan! 'Gampang dia ngomong begitu, dia kan
sudah jadi penyihir inter-nasional yang terkenal!' Tetapi waktu aku masih dua
belas tahun, aku bukan siapa-siapa seperti kau seka-rang. Malah, lebih bukan
siapa- siapa lagi! Maksudku, beberapa orang sudah dengar tentang kau, kan?
Segala kejadian dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Di-sebut!" Dia mengerling
ke bekas luka sambaran kilat di dahi Harry "Aku tahu, aku tahu, itu tidak
sehebat memenangkan kontes Senyum-Paling-Menawan Witch Weekly
Mingguan Penyihir Wanita selama lima kali berturut- turut, seperti yang
kualamitapi itu sudah permulaan, Harry, itu sudah permulaan."
Dia mengedip bersemangat kepada Harry dan pergi. Harry berdiri terpaku
selama beberapa detik, kemu-dian, ingat bahwa dia seharusnya ada dalam
rumah kaca, membuka pintunya dan menyelinap ke dalam.
Profesor Sprout sedang berdiri di belakang bangku di tengah rumah kaca.
Kira-kira dua puluh pasang penutup telinga tergeletak di bangku itu. Ketika
Harry sudah mengambil tempat di antara Ron dan Hermione, Profesor Sprout
berkata, "Kita akan meng-ganti pot Mandrake hari ini. Nah, adakah yang bisa
menjelaskan kegunaan Mandrake?"
Tak ada yang heran ketika tangan Hermione paling dulu terangkat.
--------------------------------------- 53
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Mandrake, atau Mandragora, adalah restoratif atau obat penyembuh yang
sangat manjur," kata Hermione, terdengar seperti biasanyaseakan dia sudah
menelan seluruh buku pelajarannya. "Mandrake digunakan untuk
mengembalikan orang yang sudah di-transfigurasi atau dikutuk ke wujudnya
semula."
"Bagus sekali. Sepuluh angka untuk Gryffindor," kata Profesor Sprout.
"Mandrake merupakan bahan paling penting bagi banyak obat penangkal racun.
Meskipun demikian, Mandrake juga berbahaya. Siapa yang tahu kenapa?"
Tangan Hermione nyaris menyenggol kacamata Harry ketika mengacung ke
atas lagi. "Jeritan Mandrake bisa berakibat fatal bagi siapa saja yang
mendengarnya," katanya segera.
"Persis. Dapat sepuluh angka lagi," kata Profesor Sprout.
"Nah, Mandrake yang kita punya di sini masih muda sekali." Dia menunjuk
sederet nampan tinggi sambil bicara dan semua anak bergerak maju agar bisa
melihat lebih jelas. Kira- kira seratus tanaman kecil yang meng-gerumbul
seperti jambul berwarna hijau keunguan, tumbuh berderet-deret dalam
nampan itu. Kelihatannya biasa saja bagi Harry, yang sama sekali tak paham
apa yang dimaksud Hermione dengan "jeritan" Mandrake.
"Masing-masing ambil sepasang tutup telinga," kata Profesor Sprout.
Terjadi kehebohan ketika masing-masing berebut mengambil tutup telinga
yang bukan merah jambu dan berbulu.
"Kalau kuminta dipakai, pastikan telinga kalian ter-tutup sepenuhnya," kata
Profesor Sprout. "Kalau sudah aman untuk membuka tutup telinga, kuberi tanda
dengan mengangkat ibu jari. Siappasang tutup telinga.."
Harry memasang tutup telinganya. Langsung tak terdengar bunyi apa pun.
Profesor Sprout memasang tutup telinga merah jambu berbulu ke telinganya,
menggulung lengan jubahnya, memegang erat salah satu tanaman dan
menariknya kuat-kuat.
Harry terpekik kaget, tapi tak ada yang mendengar-nya.
Alih-alih akar, seorang bayi kecil, berlumpur, dan sangat jelek tercabut dari
tanah. Daun-daun tumbuh di kepalanya. Kulitnya pucat kehijauan, bebercak-
bercak, dan dia menangis menjerit-jerit keras sekali.
Profesor Sprout mengambil pot besar dari bawah meja dan mencemplungkan
si Mandrake ke dalamnya, menimbuninya dengan kompos hitam lembap, sampai
tinggal gerumbul daunnya yang kelihatan. Profesor Sprout menyeka tangannya,
memberi kode dengan mengangkat kedua ibu jarinya, lalu membuka tutup
telinganya sendiri.
"Mengingat Mandrake kita masih semaian, jeritan mereka belum akan
membunuh," katanya kalem, se-akan dia baru melakukan hal yang tidak lebih
seru dari menyirami begonia.
"Meskipun demikian, mereka akan membuat kalian pingsan selama beberapa
jam, dan karena aku yakin tak seorang pun dari kalian mau ketinggalan hari
pertama sekolah, pastikan tutup telinga kalian terpasang dengan benar
sementara kalian bekerja. Aku akan menarik perhatian kalian kalau sudah tiba
waktunya berkemas."
--------------------------------------- 54
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Empat anak satu nampanada banyak persediaan pot di sinikomposnya
dalam karung di sana itu dan hati-hati terhadap Tentakula Berbisa, dia sedang
tumbuh gigi."
Profesor Sprout memukul keras tanaman merah tua berduri sambil
berbicara, membuat tanaman itu me-narik kembali sulur panjangnya yang
diam-diam sudah merayap ke bahunya. Seorang anak laki-laki Hufflepuff
berambut keriting bergabung dengan Harry, Ron, dan Hermione. Harry tahu
anak itu, tapi belum pernah bicara dengannya.
"Justin Finch-Fletchley," katanya ramah, menjabat tangan Harry. "Aku tahu
siapa kau, tentu saja. Harry Potter yang terkenal... dan kau Hermione Granger
selalu nomor satu dalam segala hal...," (Hermione berseri-seri sementara
tangannya juga dijabat), "dan Ron Weasley Bukankah mobil terbang itu
milikmu?"
Ron tidak tersenyum. Pikirannya masih dipenuhi Howler. "Si Lockhart itu
hebat, ya?" kata Justin riang, saat mereka mulai mengisi pot mereka dengan
kompos kotoran naga. "Bukan main pemberaninya. Kalian sudah baca buku-
bukunya? Aku pasti mati ketakutan kalau disudutkan di boks telepon oleh
manusia serigala, tapi dia tetap tenang danzapsungguh luar biasa.
"Namaku sudah terdaftar di Eton sebetulnya. Tak bisa kuceritakan betapa
senangnya aku bisa masuk ke sini. Tentu saja ibuku agak kecewa, tetapi setelah
aku menyuruhnya membaca buku-buku Lockhart, kurasa dia mulai bisa melihat
betapa bergunanya punya pe-nyihir terlatih dalam keluarga..."
Sesudah itu mereka tak punya banyak kesempatan untuk bicara. Tutup
telinga sudah dipakai lagi dan mereka perlu berkonsentrasi pada Mandrake.
Waktu Profesor Sprout yang melakukannya, kelihatannya gampang sekali,
tetapi kenyataannya tidak. Mandrake-mandrake itu tidak suka dikeluarkan dari
tanah, tetapi rupanya dikembalikan juga tidak suka. Mereka meng-geliat,
menendang, memukul-mukul dengan tinju me-reka yang tajam dan mengertak-
ngertakkan gigi. Harry menghabiskan sepuluh menit sendiri untuk memasuk-kan
kembali satu Mandrake gemuk ke dalam pot.
Pada akhir pelajaran, Harry, seperti juga yang lain, berkeringat, badannya
sakit semua, dan berlumur tanah. Mereka berjalan lesu kembali ke kastil untuk
mandi. Setelah itu anak-anak Gryffindor bergegas untuk pelajaran
Transfigurasi.
Pelajaran Profesor McGonagall selalu susah, tetapi hari ini istimewa
susahnya. Segala sesuatu yang telah dipelajari Harry selama satu tahun
kelihatannya sudah merembes keluar dari kepalanya selama musim panas.
Dia disuruh mengubah kumbang menjadi kancing, tapi yang berhasil
dilakukannya hanyalah membuat si kumbang banyak berolahraga, karena si
kumbang ber-larian di atas meja menghindari tongkatnya.
Ron menghadapi masalah yang lebih parah. Dia sudah menambal tongkatnya
dengan Spellotapeselotip sihir, tapi rupanya tongkatnya sudah kelewat rusak
dan tak bisa diperbaiki. Tongkat itu berkali-kali ber-derik dan mengeluarkan
bunga api pada saat-saat yang tak terduga, dan setiap kali Ron mencoba men-
transfigurasi kumbangnya, tongkat itu menyelubungi-nya dengan asap tebal
abu-abu yang baunya seperti telur busuk. Karena tak bisa melihat apa yang
--------------------------------------- 55
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
dilaku-kannya, tanpa disengaja kumbangnya terpencet siku-nya sampai mati
dan dia terpaksa minta kumbang baru. Profesor McGonagall tidak senang
melihatnya.
Harry lega mendengar bunyi bel makan siang. Otak-nya terasa bagai spons
yang diperas. Semua orang meninggalkan ruang kelas, kecuali dia dan Ron,
yang menyabet-nyabetkan tongkatnya dengan sebal ke meja.
"Tolol... tak berguna..."
"Tulis surat ke rumah minta ganti," Harry me-nyarankan ketika tongkat itu
mengeluarkan sederet letusan keras seperti petasan.
"Oh, yeah, biar dapat Howler lagi," kata Ron, men-jejalkan tongkatnya yang
sekarang berdesis ke dalam tasnya.
"Salahmu sendiri tongkatmu patah..."
Mereka turun untuk makan siang. Suasana hati Ron tidak menjadi lebih baik
melihat Hermione memamer-kan kepada mereka segenggam kancing jaket
sempurna yang dihasilkannya dalam pelajaran Transfigurasi.
"Sore ini pelajaran apa?" tanya Harry, buru-buru mengubah topik
pembicaraan. "Pertahanan terhadap Ilmu Hitam," jawab Hermione segera.
"Kenapa," tuntut Ron, menyambar daftar pelajaran Hermione, "kau
menggarisbawahi semua pelajaran Lockhart dengan hati kecil-kecil?"
Dengan marah Hermione merebut kembali daftar pelajarannya, wajahnya
merah.
Mereka menyelesaikan makan siang lalu ke halaman. Udara mendung.
Hermione duduk di undakan dan membenamkan hidungnya ke buku Vakansi
dengan Vampir lagi. Harry dan Ron berdiri mengobrol tentang Quidditch selama
beberapa menit sebelum Harry sadar bahwa ada yang mengawasinya.
Mendongak, dia melihat anak laki-laki sangat kecil berambut seperti tikus yang
semalam dilihatnya sedang memakai Topi Seleksi. Anak itu terpesona menatap
Harry Dia me-megangi sesuatu yang kelihatannya seperti kamera biasa Muggle.
Begitu Harry memandangnya, wajah anak itu langsung merah padam.
"Baik-baik saja, Harry? Akuaku Colin Creevey," katanya terengah, ragu-ragu
maju selangkah. "Aku juga di Gryffindor. Apakah menurutmutidak apa-apakah
kalau-bolehkah aku mengambil fotomu?" katanya, mengangkat kameranya
penuh harap.
"Foto?" Harry mengulang dengan pandangan kosong.
"Supaya aku bisa membuktikan aku sudah ber-temu kau," kata Colin Creevey
bersemangat, maju lebih dekat lagi. "Aku tahu segalanya tentang kau.
Semua orang sudah cerita padaku. Tentang bagai-mana kau selamat ketika
Kau-Tahu-Siapa mencoba membunuhmu dan bagaimana dia menghilang dan
segalanya dan bahwa kau punya bekas luka sambaran Mat di dahimu," (matanya
menyusuri batas rambut Harry), "dan anak laki-laki yang sekamar denganku
bilang kalau aku mencetak filmnya dengan ramuan yang benar, gambarnya
akan bergerak-gerak." Colin menghela napas panjang, bergairah sekali, dan
ber-kata,
"Luar biasa sekali di sini, ya? Aku tak pernah tahu segala hal aneh-aneh yang
kulakukan itu sihir, sampai aku. menerima surat dari Hogwarts. Ayahku
pengantar susu, dia juga tidak percaya. Jadi aku memotret banyak-banyak
--------------------------------------- 56
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
untuk dikirim kepada ayahku di rumah. Dan akan bagus sekali kalau aku punya
satu fotomu...," dia menatap Harry dengan pandangan memohon, "...mungkin
temanmu bisa memotretkannya dan aku boleh berdiri di sebelah-mu? Dan
kemudian, maukah kau menandatangani-nya?"
"Foto bertanda tangan? Kau membagikan foto bertanda tangan, Potter?"
Keras dan pedas, suara Draco Malfoy bergaung di seluruh halaman. Dia
berhenti tepat di belakang Colin, diapit, seperli biasanya di Hogwarts, oleh dua
kroni-nya yang besar dan kejam, Crabbe dan Goyle.
"Ayo, semua antre!" Malfoy berteriak kepada ke-rumunan anak-anak. "Harry
Potter membagikan foto bertanda tangan!"
"Tidak! Bohong!" kata Harry berang, tinjunya ter-kepal.
"Tutup mulut, Malfoy."
"Kau iri," seru Colin, yang keseluruhan tubuhnya hanya sebesar leher Crabbe.
"Iri?" kata Malfoy, yang tak perlu lagi berteriak, karena separo halaman
sudah mendengarkan mereka. "Kenapa aku mesti iri? Aku tak mau punya bekas
luka konyol di keningku, terima kasih deh. Menurut-ku kepala yang terbelah
tidak membuat kita isti-mewa."
Crabbe dan Goyle terkikik-kikik konyol.
"Menyebalkan kau, Malfoy," kata Ron, jengkel. Crabbe berhenti tertawa dan
mulai menggosok buku jarinya yang besar-besar dengan lagak mengancam.
"Hati-hati, Weasley," ejek Malfoy. "Jangan sampai bikin kesulitan lagi, nanti
terpaksa ibumu datang untuk menjemputmu dari sekolah." Dia mengubah
suaranya menjadi tinggi melengking, "Kalau sekali lagi kau melanggar..."
Segerombolan anak kelas lima Slytherin tertawa ter-bahak.
"Weasley akan senang mendapat foto bertanda tangan, Potter," Malfoy
menyeringai menjengkelkan. "Nilainya lebih tinggi daripada seluruh rumahnya."
Ron mencabut keluar tongkatnya yang sudah ber- Spellotape, tetapi
Hermione menutup buku Vakansi dengan Vampir-nya dengan keras dan berbisik,
"Awas!"
"Ada apa ini, ada apa ini?" Gilderoy Lockhart ber-jalan mendekati mereka,
jubah hijau toskanya berkibar di belakangnya. "Siapa yang membagikan foto
ber-tanda tangan?"
Harry baru mau menjawab, tapi disela oleh Lockhart yang merangkul
bahunya dan berkata menggelegar gembira,
"Mestinya lak perlu tanya. Kita bertemu lagi, Harry!"
Harry yang terpaksa menempel ke sisi tubuh Lockhart dengan wajah serasa
terbakar saking malu-nya, melihat Malfoy menyeringai dan menyelinap ke
dalam kerumunan.
"Ayo, Mr Creevey," kata Lockhart, tersenyum kepada Colin.
"Foto kami berdua, biar adil, dan kami berdua akan menandatanganinya
untukmu."
Colin geragapan mengangkat kameranya dan me-motret mereka berdua
tepat ketika bel berbunyi di belakang mereka, menandakan mulainya waktu
belajar sore hari.
--------------------------------------- 57
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Ayo, kalian berangkat," seru Lockhart kepada anak-anak yang berkerumun.
Dia berjalan kembali ke kastil dengan Harryyang ingin sekali menguasai
mantra melenyapkan dirimasih menempel di sisinya.
"Dengar nasihatku, Harry," kata Lockhart kebapakan ketika mereka
memasuki kastil lewat pintu samping. "Aku baru saja melindungimukalau
Creevey me-motret aku juga, teman- temanmu tidak akan berpikir kau terlalu
menonjolkan dirimu..."
Tuli terhadap protes gagap Harry, Lockhart mem-bawanya menyusuri koridor
yang kanan-kirinya di-penuhi deretan murid, dan menaiki tangga.
"Kuberitahu kau, membagikan foto bertanda tangan pada tahap kariermu ini
tidaklah bijaksanakelihatan-nya sok, Harry, terus terang saja. Akan tiba
waktunya ketika, seperti aku, kau perlu membawa setumpuk foto ke mana pun
kau pergi, tetapi...," dia terkekeh kecil, "kurasa kau belum sampai ke tahap
itu."
Mereka sudah tiba di ruang kelas Lockhart dan akhirnya dia melepaskan
Harry. Harry menyentakkan dan meluruskan jubahnya dan menuju tempat
duduk paling belakang di kelas. Dia lalu menyibukkan diri dengan menumpuk
semua buku Lockhart di depan-nya, supaya ia tak perlu memandang Lockhart
yang sesungguhnya.
Anak-anak lain masuk. Ron dan Hermione duduk di kiri- kanan Harry.
"Kau bisa menggoreng telur di mukamu," kata Ron. "Lebih baik kau berharap
Creevey tidak bertemu Ginny. Bisa-bisa mereka langsung mendirikan Klub
Pecinta Harry Potter."
"Diam," bentak Harry. Hal terakhir yang diingin-kannya adalah Lockhart
mendengar ungkapan "Klub Pecinta Harry Potter".
Ketika semua murid sudah duduk, Lockhart ber-deham keras-keras dan
seluruh kelas diam. Dia men-jangkau ke depan, mengambil buku Tamasya
dengan Troll milik Neville dan mengangkatnya untuk me-nunjukkan fotonya
sendiri yang mengedip-ngedip di sampul buku.
"Aku," katanya seraya menunjuk fotonya dan ikut mengedip juga, "Gilderoy
Lockhart, Order of Merlin* ) Kelas Ketiga, Anggota Kehormatan Liga Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam, dan lima kali memenangkan kontes Senyum-Paling-
Menawan Witch Weeklytapi aku * ) Merlin adalah penyihir hebat dan bijaksana
dalam legenda Raja Arthur. Gelar kehormatan Order of Merlin dianugerahkan
kepada para penyihir yang berjasa di dunia sihir.
tidak bicara tentang itu. Aku tidak mengusir Banshee si hantu perempuan
dengan tersenyum kepadanya!" Dia menunggu anak-anak tertawa. Beberapa
ter-senyum lemah.
"Kulihat kalian sudah membeli satu set lengkap bukuku bagus. Kupikir hari
ini kita akan mulai de-ngan kuis kecil. Tak perlu khawatircuma mengecek
sejauh mana kalian sudah membacanya, berapa ba-nyak yang sudah kalian
serap..."
Sesudah membagikan kertas ulangan, Lockhart kembali ke depan kelas dan
berkata, "Kalian punya waktu tiga puluh menit. Mulaisekarang!"
Harry menunduk memandang kertasnya dan mem-baca:
1. Apa warna favorit Gilderoy Lockhart?
--------------------------------------- 58
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
2. Apa ambisi rahasia Gilderoy Lockhart?
3. Apa, menurut pendapatmu, prestasi terbesar Gilderoy Lockhart?
Semua pertanyaannya semacam itu, tiga halaman penuh, sampai:
54. Kapankah hari ulang tahun Gilderoy Lockhart, dan hadiah apakah yang
ideal untuknya?
Setengah jam kemudian, Lockhart mengumpulkan kertas- kerlas dan
membuka-bukanya di depan kelas.
"Ck, ck, ckhampir tak ada yang ingat bahwa warna favoritku ungu,
Kusebutkan dalam Yakin dengan Yeti. Beberapa dari kalian perlu membaca
Mengembara dengan Manusia Serigala lebih telitijelas-jelas kusebut-kan di
bab dua belas bahwa hadiah ulang tahun yang ideal bagiku adalah harmoni di
antara penyihir dan orang-orang non-penyihir meskipun aku tak akan menolak
sebotol besar Wiski-Api Tua Ogden!"
Sekali lagi dia mengedip nakal. Ron sekarang me-natap Lockhart dengan
ekspresi tak percaya. Seamus Finnigan dan Dean Thomas, yang duduk di depan,
sampai terguncang berusaha menahan tawa. Hermione, sebaliknya,
mendengarkan Lockhart dengan penuh perhatian, dan tersentak kaget ketika
Lockhart menyebut namanya.
"...tetapi Miss Hermione Granger tahu bahwa ambisi rahasiaku adalah
membersihkan dunia dari kejahatan dan memasarkan rangkaian produk
perawatan rambut-ku sendiri anak pintar! Bahkan..." dia membalik ker-tas
Hermione, "betul semua! Yang mana Miss,. Hermione Granger?"
Hermione mengangkat tangannya yang gemetar.
"Luar biasa!" Lockhart tersenyum, "Sungguh luar biasa! Sepuluh angka untuk
Gryffindor! Nah, kembali ke pelajaran..." Dia menunduk ke belakang mejanya
dan mengang-kat sangkar besar berselubung ke atasnya.
"Sekarangawas! Tugaskulah mempersenjatai kalian untuk menghadapi
makhluk-makhluk paling mengeri-kan yang dikenal di dunia sihir! Kalian
mungkin akan menghadapi ketakutan terbesar kalian di ruangan ini. Asal tahu
saja, malapetaka tak akan menimpa kalian selama aku di sini. Yang kuminta
hanyalah kalian tetap tenang."
Di luar kemauannya, Harry melongok dari balik buku untuk bisa melihat
sangkar lebih jelas. Lockhart meletakkan tangannya di atas selubung. Dean dan
Seamus sudah berhenti tertawa sekarang. Neville gemetar ketakutan di tempat
duduknya di deretan paling depan.
"Kuminta kalian jangan menjerit," kata Lockhart dengan suara rendah.
"Jeritan kalian bisa mem-provokasi mereka."
Sementara seluruh kelas menahan napas, Lockhart menyentakkan
selubungnya. "Ya," katanya dramatis. "Pixie Cornwall yang baru ditangkap."
Seamus Finnigan tak bisa lagi menahan diri. Dia mengeluarkan dengus tawa
yang bahkan oleh Lockhart sekalipun tak bisa ditafsirkan sebagai jerit
ketakutan.
"Ya?" dia tersenyum kepada Seamus. "Eh, mereka tidak
mereka tidak begituberbahaya, kan?" Seamus tersedak.
--------------------------------------- 59
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Jangan begitu yakin!" kata Lockhart, menggoyang-goyangkan jari dengan
menjengkelkan kepada Seamus. "Mereka bisa jadi makhluk pembinasa yang
sangat licik!"
Pixie-pixie itu berwarna biru elektrik, tingginya kira-kira dua puluh senti,
dengan wajah runcing dan suara melengking tinggi, sehingga rasanya seperti
mendengar serombongan burung parkit yang sedang bertengkar. Begitu
selubungnya dibuka, mereka mu-lai mengoceh dan meluncur ke sana kemari,
meng-goyang-goyang jeruji sangkar dan mengernyit- ngernyitkan muka ke anak-
anak yang ada di dekat mereka.
"Baiklah," kata Lockhart. "Kita lihat bisa kalian apa-kan mereka!" Dan
dibukanya sangkar itu.
Keadaan jadi amat kacau-balau. Pixie-pixie itu me-luncur ke segala jurusan
seperti roket. Dua di antara-nya memegang telinga Neville dan mengangkatnya
ke atas. Beberapa di antaranya melesat menerobos jendela, menghujani
deretan belakang dengah pecahan kaca. Sisanya menghancurkan kelas lebih
efektif dari-pada serangan badak bercula satu. Mereka menyambar botol-botol
tinta dan menyemprot kelas dengan tinta-nya, merobek-robek buku-buku dan
kertas, menarik lepas gambar-gambar dari dinding, membalikkan keranjang-
keranjang sampah, menyambar tas dan buku-buku dan melemparkannya keluar
dari jendela yang kacanya pecah. Dalam beberapa menit saja se-paro kelas
sudah berlindung di bawah meja dan Neville berayun dari kandil di langit-
langit.
"Ayo, tangkap mereka, kumpulkan, kumpulkan, me-reka cuma pixie...,"
Lockhart berteriak-teriak. Dia menggulung lengan jubahnya, melambaikan
tongkatnya dan berseru,
"Peskipiksi Pesternomi!"
Sama sekali tak ada pengaruhnya. Salah satu pixie itu merebut tongkat
Lockhart dan melemparkannya keluar jendela juga. Lockhart menelan ludah
dan bersembunyi di bawah mejanya sendiri, nyaris saja gepeng kejatuhan
Neville, yang terjatuh sedetik kemu-dian karena kandilnya terlepas.
Bel berbunyi dan semua berebut berlari ke pintu. Dalam ketenangan yang
menyusul, Lockhart berdiri, melihat Harry, Ron, dun Hermione yang hampir
sampai di pintu, dan berkata,
"Nah, kuminta kalian bertiga menangkap sisanya dan memasukkannya kem-
bali ke dalam sangkar." Dia melewati mereka dan cepat-cepat menutup pintu di
belakangnya.
"Kalian percaya dia?" raung Ron kesakitan, ketika salah satu pixie yang
tersisa menggigit telinganya.
"Dia cuma ingin memberi kita pengalaman lang-sung," kata Hermione,
membuat dua pixie tak bisa bergerak dengan Mantra Pembeku dan menjejalkan
mereka kembali ke dalam sangkar.
"Pengalaman langsung?" kata Harry, yang berusaha menangkap pixie yang
menari-nari menjauh dengan lidah terjulur. "Hermione, dia sama sekali tidak
tahu apa yang dilakukannya."
"Omong kosong," kata Hermione. "Kau sudah mem-baca buku-bukunyalihat
saja hal-hal luar biasa yang sudah dilakukannya..."
--------------------------------------- 60
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Yang katanya sudah dilakukannya," gumam Ron.
7. Darah-Lumpur Dan Bisikan-Bisikan
SELAMA beberapa hari sesudahnya, Harry melewat-kan banyak waktu untuk
menghindar setiap kali me-lihat Gilderoy Lockhart muncul di ujung koridor.
Yang lebih sulit dihindari adalah Colin Creevey, yang ke-lihatannya telah
menghafal jadwal Harry. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Colin
daripada ber-kata, "Baik-baik saja, Harry?" enam atau tujuh kali sehari dan
mendengar, "Halo, Colin," sebagai balasan-nya, betapa pun jengkelnya Harry
ketika mengucap-kannya.
Hedwig masih marah kepada Harry soal perjalanan dengan mobil yang
mendatangkan malapetaka itu, dan tongkat Ron masih tak bisa digunakan
dengan benar, bahkan melampaui batas kemampuannya de-ngan meluncur
lepas dari tangan Ron dalam pelajaran Jimat dan Guna-guna dan memukul
Profesor Flitwick yang mungil tepat di antara kedua matanya, men-ciptakan
bisul hijau besar yang berdenyut-denyut. Maka, dengan begitu banyak
kejadian, Harry cukup senang ketika akhir pekan tiba. Dia, Ron, dan Hermione
merencanakan akan mengunjungi Hagrid pada hari Sabtu pagi. Meskipun
demikian, Oliver Wood, kapten tim Quidditch Gryffindor, membangun-kan
Harry dengan mengguncang-guncang tubuhnya beberapa jam lebih awal dari
yang dikehendakinya.
"Adapa?" tanya Harry agak pusing.
"Latihan Quidditch!" kata Wood, "Ayo!"
Masih mengantuk Harry memandang lewat jendela. Kabut tipis menggantung
di langit merah jingga. Se-karang setelah bangun, Harry heran bagaimana dia
bisa tidur terus padahal burung-burung berkicau begitu ramai.
"Oliver," kata Harry serak, "masih subuh."
"Persis," kata Wood. Oliver Wood anak kelas enam yang tinggi besar dan pada
saat ini, matanya berkilat dengan antusiasme gila-gilaan. "Ini bagian dari pro-
gram latihan baru kita. Ayo, ambil sapumu dan kita berangkat," kata Wood
penuh semangat. "Tim yang lain belum ada yang mulai latihan. Kita yang akan
mulai nomor satu tahun ini...."
Menguap dan sedikit bergidik kedinginan, Harry turun dari tempat tidurnya
dan berusaha mencari jubah Quidditch-nya.
"Bagus," kata Wood. "Kita ketemu di lapangan lima belas menit lagi."
Setelah menemukan jubah merah tua seragam tim-nya dan memakainya di
atas jubah biasanya supaya hangat, Harry menulis pesan untuk Ron,
menjelaskan ke mana dia pergi. la menuruni tangga spiral ke ruang rekreasi
dengan Nimbus Dua Ribu bertengger di bahunya. Dia baru tiba di lubang lukisan
--------------------------------------- 61
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
ketika terdengar bunyi berkelontang di belakangnya dan Colin Creevey muncul
berlarian menuruni tangga spi-ral, kameranya berayun liar di lehernya dan
tangannya menggenggam sesuatu.
"Aku dengar ada yang menyebut namamu di tangga, Harry! Lihat nih apa
yang kubawa! Sudah kucetak, aku ingin menunjukkannya padamu..."
Harry melongo melihat foto yang dikibar-kibarkan Colin di depan hidungnya.
Foto hitam-putih Lockhart yang bergerak, sedang menarik kuat-kuat lengan
yang dikenali Harry sebagai lengannya sendiri. Harry senang melihat fotonya
me-lawan sekuat tenaga dan menolak ditarik supaya ke-lihatan dalam foto.
Sementara Harry mengawasi, Lockhart menyerah dan merosot terengah- engah
pada pinggiran putih foto.
"Maukah kau menandatanganinya?" tanya Colin pe-nuh semangat.
"Tidak," kata Harry tegas, melihat berkeliling untuk memastikan ruangan itu
benar-benar kosong. "Sori, Colin, aku sedang buru-burulatihan Quidditch."
Harry memanjat keluar lewat lubang lukisan.
"Oh, wow! Tunggu aku! Aku belum pernah me-nonton Quidditch!" Colin
merayap keluar lubang mengikutinya. "Kau akan bosan," kata Harry cepat-
cepat, tetapi Colin mengabaikannya, wajahnya bercahaya saking
bersemangatnya.
"Kau pemain termuda selama seratus tahun ini, iya, kan, Harry? Iya, kan?"
kata Colin, melangkah menjajarinya. "Kau pasti hebat. Aku belum pernah
terbang. Gampang tidak? Apa itu sapumu sendiri? Apa itu sapu terhebat yang
pernah ada?" Harry tak tahu bagaimana caranya menyingkirkan Colin.
Rasanya seperti punya bayangan yang sangat cerewet.
"Aku sebetulnya tak paham Quidditch," kata Colin tersengal. "Betulkah ada
empat bola? Dan dua di antaranya terbang berputar-putar berusaha memukul
jatuh pemain dari sapunya?"
"Ya," kata Harry enggan, akhirnya menyerah dan menjelaskan peraturan
Quidditch yang rumit. "Dua bola itu namanya Bludger. Masing-masing tim punya
dua Beater yang membawa pemukul untuk memukul Bludger jauh-jauh dari tim
mereka. Fred dan George Weasley adalah Beater Gryffindor."
"Dan untuk apa bola-bola yang lain?" tanya Colin, hampir jatuh melompati
dua anak tangga sekaligus karena terpesona memandang Harry.
"Quafflebola besar yang merahadalah bola yang mencetak gol. Tiga
Chaser dari masing-masing tim saling lempar Quaffle dan berusaha
memasukkannya ke tiang gol di ujung lapanganada tiga tiang tinggi dengan
lingkaran di puncaknya."
"Dan bola keempat..."
"...itu yang namanya Golden Snitch," kata Harry. "Bola ini sangat kecil,
sangat cepat, dan sulit di-tangkap. Tapi itulah tugas Seeker, karena
pertandingan Quidditch tidak berakhir sampai Snitch-nya berhasil ditangkap.
Dan tim yang Seeker- nya berhasil me-nangkap Snitch mendapat tambahan
angka seratus lima puluh."
"Dan kau Seeker Gryffindor, kan?" kata Colin ter-pesona.
"Ya," kata Harry, ketika mereka meninggalkan kastil dan berjalan di atas
rumput berembun. "Dan masih ada Keeper. Dia menjaga gawang. Hanya itu."
--------------------------------------- 62
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tetapi Colin tidak berhenti menanyai Harry se-panjang jalan dari padang
rumput yang melandai sampai ke lapangan Quidditch, dan Harry baru ber-hasil
lepas darinya ketika tiba di kamar ganti. Colin berteriak dengan suara
melengking, "Aku akan cari tempat duduk yang enak, Harry!" dan bergegas ke
tribune.
Anggota tim Gryffindor lainnya sudah ada di dalam kamar ganti. Wood satu-
satunya yang betul-betul ter-jaga. Fred dan George Wesley duduk dengan mata
sembap dan rambut awut- awutan di sebelah anak kelas empat, Alicia Spinnet,
yang terkantuk-kantuk bersandar ke dinding di belakangnya. Teman sesama
Chaser-nya, Katie Bell dan Angelina Johnson, duduk bersebelahan di hadapan
mereka. Keduanya menguap.
"Akhirnya muncul juga kau, Harry, kenapa sih lama benar?" tanya Wood
tajam. "Nah, aku ingin bicara sebentar dengan kalian semua sebelum kita ke la-
pangan, karena aku melewatkan musim panas dengan menciptakan program
latihan baru, yang kurasa akan membuat perbedaan besar..." Wood memegang
diagram besar lapangan Quidditch. Pada diagram itu tergambar banyak garis,
panah, dan tanda silang dengan tinta berbeda warna. Dia mengambil
tongkatnya, mengetuk papan, dan panah-panah itu mulai bergerak meliuk di
atas papan seperti ulat. Sementara Wood berpidato tentang taktik barunya,
kepala Fred Weasley terkulai ke bahu Alicia Spinnet dan dia mulai mendengkur.
Perlu hampir dua puluh menit untuk menjelaskan papan pertama, tetapi ada
papan lain di bawahnya, dan papan ketiga di bawah yang kedua itu. Harry
serasa melayang sementara Wood terus mengoceh membosankan.
"Nah," kata Wood akhirnya, mengagetkan Harry yang sedang berkhayal apa
yang bisa dimakannya untuk sarapan di kastil saat ini. "Sudah jelas? Ada
pertanyaan?"
"Aku mau tanya, Oliver," kata George, yang terba-ngun kaget. "Kenapa sih
kau tidak menjelaskan semua ini kepada kami kemarin sewaktu kami masih
segar?"
Wood tidak senang.
"Dengar, kalian semua," katanya, mendelik galak kepada mereka, "kita
seharusnya memenangkan Piala Quidditch tahun lalu. Kita kan tim yang paling
kuat. Tetapi sayangnya, karena situasi di luar kontrol..."
Harry merasa bersalah. Dia terbaring pingsan di rumah sakit selama
pertandingan final tahun ajaran lalu, yang berarti Gryffindor kekurangan satu
pemain dan menderita kekalahan paling parah dalam tiga ratus tahun terakhir.
Wood berusaha menguasai diri. Kekalahan terakhir mereka jelas masih
membuatnya tersiksa.
"Maka tahun ini, kita berlatih lebih keras dari se-belumnya... Oke, ayo
berangkat dan mempraktekkan teori baru tadi!" Wood berteriak, menyambar
sapunya dan mendahului keluar dari kamar ganti. Dengan kaki kaku dan masih
menguap, anggota timnya mengikuti.
Agaknya mereka berada di dalam kamar ganti lama sekali, sehingga matahari
sudah benar-benar terbit sekarang, meskipun sisa-sisa kabut masih melayang di
atas rumput stadion. Ketika Harry berjalan ke lapangan, dia melihat Ron dan
Hermione duduk di tribune.
--------------------------------------- 63
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kalian belum selesai?" tanya Ron heran.
"Mulai saja belum," kata Harry, memandang iri pada roti panggang berselai
yang dibawa Ron dan Hermione dari Aula Besar. "Wood tadi mengajari kami
taktik baru."
Harry naik ke sapunya dan menjejak tanah, me-lesat ke udara. Udara pagi
yang sejuk menerpa wajah-nya, membangunkannya jauh lebih efektif daripada
pidato panjang Wood. Asyik rasanya kembali ke la-pangan Quidditch. Dia
terbang mengelilingi stadion dengan kecepatan penuh, berlomba dengan Fred
dan George.
"Bunyi ceklak-ceklik aneh apa itu?" seru Fred ketika mereka meluncur dengan
cepat di sudut stadion.
Harry memandang ke tribune. Colin duduk di salah satu tempat duduk yang
paling tinggi, kameranya terangkat, tak putus-putusnya memotret, bunyinya di-
perbesar secara aneh di stadion kosong itu.
"Lihat sini, Harry! Ke arah sini!" teriaknya nyaring.
"Siapa itu?" tanya Fred.
"Entahlah," Harry berbohong, menambah kecepatan yang membawanya
sejauh mungkin dari Colin.
"Ada apa sih?" tanya Wood, mengerutkan kening, seraya meluncur di udara
menuju mereka. "Kenapa anak kelas satu itu memotret? Aku tidak suka. Siapa
tahu dia mata-mata Slytherin, mencoba mencari tahu tentang program latihan
baru kita."
"Dia anak Gryffindor," kata Harry cepat-cepat.
"Dan tim Slytherin tidak perlu mata-mata, Oliver," kata George.
"Kenapa kau bilang begitu?" kata Wood curiga.
"Karena mereka sendiri ada di sini," kata George,-menunjuk. Beberapa anak
berjubah hijau berjalan memasuki lapangan, dengan sapu di tangan. "Aku tidak
percaya!" Wood mendesis berang. "Aku sudah pesan lapangan untuk hari ini!
Coba kita lihat!"
Wood menukik ke tanah, mendarat lebih keras dari-pada yang diinginkan
dalam kemarahannya. Dia ter-huyung sedikit ketika turun dari sapunya. Harry,
Fred, dan George mengikuti.
"Flint!" Wood berteriak kepada kapten Slytherin. "Ini waktu latihan kami!
Kami khusus bangun pagi! Kalian menyingkir dulu!"
Marcus Flint bahkan lebih besar daripada Wood. Wajahnya licik seperti troll
ketika dia menjawab, "Ada banyak tempat untuk kita semua, Wood."
Angelina, Alicia, dan Katie juga sudah mendekat. Tak ada anak perempuan
di tim Slytherinyang ber-diri berdempetan bahu, menghadapi tim Gryffindor.
Mereka saling lirik.
"Tapi aku sudah memesan lapartgan!" kata Wood, marah sekali. "Sudah
kupesan!" "Ah," kata Flint, "tapi aku bawa surat izin khusus dengan tanda
tangan dari Profesor Snape. Aku, Profesor S. Snape, memberi izin tim Slytherin
untuk berlatih hari ini di lapangan Quidditch, mengingat perlunya melatih
Seeker baru mereka."
"Kalian punya Seeker baru?" kata Wood, perhatian-nya teralih. "Mana?"
--------------------------------------- 64
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dan dari belakang enam anak bertubuh besar itu muncul anak ketujuh yang
lebih kecil, wajahnya yang pucat dan runcing dihiasi seringai lebar. Draco
Malfoy.
"Bukankah kau anak Lucius Malfoy?" tanya Fred, memandang Malfoy dengan
benci.
"Lucu juga kau menyebut-nyebut ayah Draco," kata Flint, ketika seluruh tim
Slytherin menyeringai semakin lebar. "Biar kutunjukkan kepada kalian hadiah
yang dengan murah hati diberikannya kepada tim Slytherin."
Ketujuh anak itu mengacungkan sapu mereka. Tujuh gagang baru dengan
polesan berkilat dan tujuh tulisan emas berbunyi "Nimbus Dua Ribu Satu"
berkilau cemerlang tertimpa cahaya matahari pagi di depan hidung tim
Gryffindor.
"Model paling akhir. Baru keluar tahun lalu," kata Flint sambil lalu,
menjentik setitik debu dari ujung sapunya. "Jauh lebih unggul dari seri Nimbus
Dua Ribu. Sedangkan Sapu- bersih yang tua," dia tersenyum menyebalkan pada
Fred dan George, yang dua-duanya memegang Sapu-bersih Lima,
"paling cocok untuk menyapu lantai."
Tak seorang pun dari tim Gryffindor bisa bicara selama beberapa saat.
Malfoy menyeringai lebar sekali, sampai matanya tinggal segaris.
"Oh, lihat," kata Flint. "Penyerbuan lapangan." Ron dan Hermione
menyeberangi lapangan rumput, ingin tahu apa yang terjadi. "Ada apa?" Ron
menanyai Harry. "Kenapa kau tidak main? Dan apa yang dia lakukan di sini?" Ron
memandang Malfoy, melihat jubah seragam Quidditch Slytherin-nya.
"Aku Seeker baru Slytherin, Weasley," kata Malfoy sombong. "Semua sedang
mengagumi sapu baru tim kami yang dibelikan ayahku."
Ron ternganga memandang tujuh sapu super di depannya.
"Bagus, kan?" kata Malfoy lancar. "Tapi mungkin tim Gryffindor bisa
mengumpulkan emas dan membeli sapu baru juga. Kau bisa melelang Sapu-
bersih Lima. Kurasa ada museum yang mau menawarnya."
Tim Slytherin tertawa terbahak-bahak.
"Paling tidak, tak seorang pun anggota tim Gryffindor yang harus menyuap
untuk bisa masuk," celetuk Hermione tajam.
"Mereka dipilih karena me-mang mampu."
Kepuasan di wajah Malfoy lenyap. "Tak ada yang minta pendapatmu, Darah-
lumpur kotor," umpatnya.
Harry langsung tahu Malfoy telah mengatakan se-suatu yang benar-benar
kelewatan karena tiba-tiba saja terjadi kelibutan. Flint harus menukik ke
depan Malfoy untuk mencegah Fred dan George melompat menyerangnya.
Alicia berteriak, "Berani-beraninya kau!" Dan Ron memasukkan tangannya ke
dalam jubah, menarik keluar tongkatnya, sambil berteriak, "Kau harus
membayarnya, Malfoy!" Dia mengacung-kan tongkatnya dengan murka,
melewati lengan Flint, ke wajah Malfoy.
Terdengar ledakan keras yang bergema di stadion dan seberkas sinar hijau
meluncur dari ujung tongkat-nya yang salah, menyambar perut Ron sendiri dan
membuatnya jatuh terjengkang di rerumputan.
"Ron! Ron! Kau tak apa-apa?" jerit Hermione.
--------------------------------------- 65
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ron membuka mulut untuk bicara, tetapi tak ada suara yang keluar. Dia
malah bersendawa keras dan beberapa siput berjatuhan dari mulutnya ke
pangkuan-nya.
Tim Slytherin tertawa terbahak-bahak. Flint sampai terbungkuk-bungkuk,
bertumpu pada sapu barunya. Malfoy merangkak, memukul-mukul tanah
dengan tinjunya. Anak- anak Gryffindor berkerumun menge-lilingi Ron, yang
tak henti- hentinya bersendawa siput-siput besar berkilat. Tak seorang pun
tampaknya mau menyentuh Ron.
"Lebih baik kita membawanya ke pondok Hagrid, yang paling dekat," kata
Harry kepada Hermione, yang mengangguk dengan berani. Berdua mereka me-
mapah Ron.
"Ada apa, Harry? Ada apa? Apa dia sakit? Tapi kau bisa menyembuhkannya,
kan?" Colin sudah berlari turun dari tempat duduknya dan sekarang berjalan
mengiringi mereka meninggalkan lapangan. Ron bersendawa keras dan
beberapa siput berjatuhan lagi dari mulutnya. "Oooh," kata Colin terpesona dan
mengangkat kameranya. "Bisakah kaupegangi dia, Harry?"
"Minggir, Colin!" kata Harry marah. Dia dan Hermione membantu Ron
meninggalkan stadion dan menyeberang halaman menuju ke tepi hutan.
"Hampir sampai, Ron," kata Hermione, ketika pon-dok si pengawas binatang
liar tampak. "Kau akan baik sebentar lagi... hampir sampai..."
Mereka sudah tinggal kita-kira enam meter dari pondok Hagrid ketika
pintunya terbuka, tetapi bukan Hagrid yang muncul. Gilderoy Lockhart,
memakai jubah lembayung muda hari ini, keluar.
"Cepat, ke belakang sini," desis Harry, menarik Ron ke belakang semak di
dekat situ. Hermione mengikuti, dengan agak enggan.
"Gampang kalau kau tahu caranya!" Lockhart ber-kata keras-keras kepada
Hagrid. "Kalau perlu ban-tuan, kau tahu di mana aku! Kuberi kau nanti satu
bukukuaku heran kau sama sekali belum punya. Akan kutandatangani satu
malam ini dan kukirim ke sini. Nah, selamat tinggal!" Dan dia berjalan menuju
kastil.
Harry menunggu sampai Lockhart tak kelihatan lagi. Kemudian ditariknya
Ron dari balik semak dan dibawanya ke pintu depan pondok Hagrid. Mereka
mengetuk dengan tegang. Hagrid segera muncul, kelihatan jengkel sekali, te-
tapi wajahnya berubah cerah setelah tahu siapa yang datang.
"Sudah tanya-tanya kapan kalian datang tengok aku
masuk, masukkukira Profesor Lockhart balik lagi."
Harry dan Hermione memapah Ron masuk ke pon-dok satu-ruangan itu. Di
satu sudutnya ada tempat tidur besar sekali, dan di sudut lainnya perapian
yang menyala-nyala cerah. Hagrid tidak bingung men-dengar masalah Ron, yang
cepat-cepat dijelaskan Harry sambil mendudukkan Ron di kursi.
"Lebih baik keluar daripada masuk," kata Hagrid riang sambil menaruh
baskom tembaga besar di depan Ron.
"Keluarkan semua, Ron."
"Kurasa tak ada yang bisa kita lakukan selain me-nunggu sampai berhenti
sendiri," kata Hermione ce-mas, mengawasi Ron yang membungkuk di atas bas-
--------------------------------------- 66
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
kom. "Itu kutukan yang sulit dilakukan bahkan pada saat kondisi kita sedang
sangat baik, tapi dengan tongkat yang patah..."
Hagrid sibuk membuatkan teh untuk mereka. Anjing besarnya, Fang,
menjilat-jilat Harry.
"Apa yang diinginkan Lockhart darimu, Hagrid?" tanya Harry sambil
menggaruk-garuk belakang telinga Fang.
"Beri aku nasihat keluarkan kelpie dari sumur," geram Hagrid. Dia
menyingkirkan ayam jantan yang se-tengah dicabuti bulunya dari atas mejanya
yang bersih berkilat dan meletakkan teko teh. Kelpie adalah hantu air,
biasanya berwujud kuda, dalam cerita-cerita rakyat Skotlandia. "Dikira aku tak
tahu. Dan dia sombongkan bisa usir Banshee. Kalau omongannya satu kata saja
benar, kumakan ceretku."
Tidak biasanya Hagrid mengkritik guru Hogwarts dan Harry memandangnya
keheranan. Hermione, se-baliknya, berkata dengan suara yang lebih tinggi dari
biasanya, "Kurasa kau agak tidak adil. Profesor Dumbledore jelas
menganggapnya orang terbaik untuk pekerjaannya..."
"Dia satu-satunya orang untuk pekerjaan itu," kata Hagrid, menawari mereka
sepiring gulali, sementara Ron terbatuk- batuk ke dalam baskomnya. "Dan
maksudku betul-betul satu- satunya. Susah cari orang untuk ngajar Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam. Orang tak suka pelajari itu, soalnya. Mereka mulai pikir
itu bawa sial. Tak ada yang tahan lama. Coba cerita," kata Hagrid,
mengedikkan kepala ke arah Ron, "siapa yang dia mau kutuk?"
"Malfoy mengatai Hermione sesuatu. Pastilah se-suatu yang buruk, karena
semua jadi marah."
"Memang buruk," kata Ron serak, muncul ke atas meja, pucat dan
berkeringat. "Malfoy mengatai dia 'darah-lumpur', Hagrid..."
Ron menukik menghilang dari pandangan lagi ke-tika segerombolan siput
muncul. Hagrid kelihatan murka.
"Dia bilang begitu?" geramnya kepada Hermione. "Ya," kata Hermione.
"Tetapi aku tak tahu apa maksudnya. Hanya bisa kutebak itu umpatan kasar..."
"Itu penghinaan paling besar yang bisa dipikirkan-nya," sengal Ron, muncul
lagi. "Darah-lumpur adalah umpatan kasar untuk orang yang kelahiran-Muggle
kau tahu, kan, yang orangtuanya bukan penyihir. Ada penyihirseperti keluarga
Malfoyyang menganggap mereka lebih baik dari yang lain karena mereka
termasuk golongan yang disebut darah-murni." Ron bersendawa kecil, dan satu
siput jatuh ke tangan-nya yang terulur. Dilemparkannya siput itu ke dalam
baskom dan dia melanjutkan, "Maksudku, kita, pe-nyihir yang lain, tahu itu
tidak ada pengaruhnya sama sekali. Lihat saja Neville Longbottomdia darah-
murni, tapi menaruh kuali dengan benar saja dia nyaris tak bisa."
"Dan mereka belum temukan mantra yang tak bisa dilakukan Hermione kita
ini," kata Hagrid bangga, membuat wajah Hermione langsung semburat merah.
"Darah-lumpur sungguh umpatan yang tak pantas diucapkan," kata Ron,
menyeka dahinya yang ber-keringat dengan tangan gemetar. "Darah kotor,
artinya. Darah biasa. Gila. Sebagian besar penyihir sekarang ini toh berdarah-
campuran. Kalau kita tidak menikah dengan Muggle, kita pasti sudah punah."
Ron membungkuk dan muntah lagi.
--------------------------------------- 67
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Yah, aku tidak salahkan kau, kaucoba kutuk dia, Ron," kata Hagrid keras,
mengatasi bunyi siput yang berjatuhan ke baskom. "Tapi mungkin ada baiknya
tongkatmu serang balik kau sendiri. Pasti Lucius Malfoy akan datang ke sekolah
kalau kau berhasil kutuk anaknya. Dengan begini paling tidak kau tidak
dihukum."
Harry sebetulnya ingin mengatakan bahwa hu-kuman tidak lebih buruk
daripada hujan siput dari mulut, tapi dia tak bisa bicara. Gulali Hagrid telah
menyemen rapat rahangnya.
"Harry," kata Hagrid tiba-tiba, seakan mendadak teringat sesuatu. "Aku
protes. Kudengar kau bagi-bagikan foto bertanda langan. Kenapa aku tidak di-
kasih?"
Dengan berang, Harry melepas gigi-giginya yang menempel. "Aku tidak
membagikan foto bertanda tangan," kata-nya marah. "Kalau Lockhart masih
ngomong soal..."
Tetapi kemudian dilihatnya Hagrid tertawa.
"Aku cuma bergurau," katanya, menepuk-nepuk punggung Harry dengan
riang, membuat wajah Harry terantuk meja.
"Aku tahu kau tidak bagikan foto. Aku bilang Lockhart kau tak perlu begitu.
Kau sudah lebih terkenal dari dia tanpa berusaha."
"Pasti dia tidak suka mendengarnya," kata Harry duduk tegak lagi dan
menggosok-gosok dagunya.
"Memang tidak," kata Hagrid, matanya bercahaya. "Lalu aku bilang aku
belum pernah baca bukunya dan dia putuskan pergi saja. Gulali, Ron?" dia me-
nambahkan ketika Ron muncul lagi.
"Tidak, terima kasih," kata Ron lemah. "Lebih baik tidak ambil risiko."
"Ayo, kita lihat apa yang kutanam," ajak Hagrid ketika Harry dan Hermione
sudah menghabiskan teh mereka.
Di kebun sayur kecil di belakang pondok Hagrid ada selusin labu kuning
paling besar yang pernah dilihat Harry. Masing- masing sebesar gundukan batu
besar.
"Tumbuh bagus, ya," kata Hagrid gembira. "Buat pesta Hallowe'en... sudah
cukup besar nanti." "Kauberi makan apa mereka?" tanya Harry.
Hagrid menoleh untuk memastikan mereka sen-dirian.
"Yah, aku memberi merekakau tahusedikit ban-tuan." Harry melihat
payung merah jambu kembang-kembang Hagrid bersandar di dinding belakang
pon-dok. Harry punya alasan untuk menduga bahwa pa-yung ini bukan payung
biasa. Malah dia punya dugaan kuat tongkat tua Hagrid dari zaman sekolah
disembunyikan di dalamnya. Hagrid sebetulnya tidak boleh menggunakan sihir.
Dia dikeluarkan dari Hogwarts dalam tahun ketiganya, tetapi Harry belum
berhasil tahu kenapa. Setiap kali menyebut soal itu, Hagrid akan berdeham
keras-keras dan jadi tuli secara misterius sampai topik pembicaraan diubah.
"Jampi-jampi Pembengkakan, kan?" kata Hermione, setengah mencela,
setengah geli. "Wah, kau berhasil sekali."
"Itu yang dikatakan adikmu," kata Hagrid, mengangguk kepada Ron. "Baru
ketemu dia kemarin." Hagrid melirik Harry, jenggotnya bergerak-gerak.
"Katanya dia cuma mau lihat-lihat, tapi kukira dia harap ketemu seseorang di
--------------------------------------- 68
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
rumahku." Dia mengedip kepada Harry. "Kalau kau tanya aku, dia tidak akan
tolak foto bertanda tangan..."
"Oh, tutup mulut," kata Harry. Ron terbahak dan siput berhamburan ke
tanah. "Awas!" teriak Hagrid, menarik Ron menjauh dari labu kuningnya yang
sangat berharga. Saat itu sudah hampir makan siang dan karena Harry baru
makan sepotong kecil gulali, dia sudah ingin kembali ke sekalah untuk makan.
Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Hagrid dan ber-jalan kembali ke
kastil. Ron cegukan dari waktu ke waktu, tetapi hanya mengeluarkan dua siput
yang sangat kecil.
Baru saja mereka melangkah memasuki Aula Depan yang sejuk, terdengar
suara keras. "Di sini rupanya kalian, Potter, Weasley." Profesor McGonagall
berjalan mendekati mereka, tampangnya galak. "Kalian berdua akan menjalani
detensi malam ini."
"Apa yang harus kami lakukan, Profesor?" kata Ron, dengan gugup menahan
agar tidak bersendawa.
"Kau akan menggosok perak di ruang piala dengan Mr Filch," kata Profesor
McGonagall. "Dan dilarang pakai sihir, Weasleypakai pelumas biasa."
Ron menelan ludah. Argus Filch, si penjaga sekolah, dibenci semua murid.
"Dan kau, Potter, akan membantu Profesor Lockhart menjawab surat-surat
penggemarnya," kata Profesor McGonagall.
"Oh, tidakbolehkah saya ke ruang piala saja?" tanya Harry putus asa.
"Jelas tidak," kata Profesor McGonagall, alisnya ter-angkat.
"Profesor Lockhart khusus memintamu. Pukul delapan tepat, jangan
terlambat."
Harry dan Ron berjalan gontai dan murung ke Aula Besar. Hermione di
belakang mereka, ekspresi wajahnya seakan mengatakan kalian-memang-
melanggar-peraturan-sekolah. Harry kehilangan nafsu makannya saat dia
menghadapi pai dagingnya. Dia dan Ron beranggapan detensi masing-masing
lebih berat dari yang lain.
"Filch akan mengawasiku sepanjang malam," keluh Ron.
"Tak boleh pakai sihir! Paling sedikit ada seratus piala dalam ruangan itu.
Aku parah kalau mem-bersihkan memakai cara Muggle."
"Aku mau tukar kapan saja," kata Harry hampa. "Aku sudah terlatih dengan
keluarga Dursley. Men-jawab surat-surat penggemar Lockhart... mengerikan
sekali...."
Sabtu sore berlalu dengan cepat, dan tiba-tiba saja sudah pukul delapan
kurang lima menit. Harry me-nyeret kakinya sepanjang koridor lantai dua
menuju kantor Lockhart. Dia mengertakkan gigi dan mengetuk.
Pintu langsung terbuka. Lockhart tersenyum kepada-nya.
"Ah, ini dia...!" katanya. "Masuk, Harry masuk."
Berkilauan di dinding disinari cahaya banyak lilin, berderet tak terhitung
foto Lockhart. Beberapa di antaranya bahkan ditandatanganinya. Setumpuk
tinggi lainnya ada di mejanya.
"Kau boleh menulis alamat di amplopnya!" kata Lockhart kepada Harry,
seakan ini sesuatu yang sangat menyenangkan.
"Yang pertama ini untuk Gladys Gudgeonpenggemar beratku."
--------------------------------------- 69
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Waktu berlalu amat lambat. Harry membiarkan saja Lockhart ngoceh sendiri,
kadang-kadang saja dia me-nimpali dengan, "Mmm," dan "Baik," dan "Yeah."
Sekali-sekali dia mendengar ungkapan seperti, "Ke-tenaran itu seperti teman
yang berubah-ubah, Harry," atau "Selebriti jadi selebriti kalau bersikap seperti
se-lebriti, ingat itu."
Lilin-lilin terbakar makin lama makin pendek, mem-buat cahayanya menari-
nari di atas banyak wajah Lockhart yang memandangnya. Harry menggerakkan
tangannya yang pegal di atas amplop yang rasanya sudah keseribu, menulis
alamat Veronica Smethley. Pasti sudah hampir tiba waktunya pulang, pikir
Harry merana, mudah-mudahan segera tiba waktu pulang....
Dan kemudian dia mendengar sesuatusesuatu yang lain daripada desis lilin-
lilin yang hampir padam dan ocehan Lockhart tentang penggemarnya.
Ada suara, suara yang bisa membekukan tulang sumsum, suara penuh
kebencian, sedingin es.
"Sini... datanglah padaku... biar kurobek kau... biar kubunuh kau..."
Harry tersentak kaget dan setetes besar tinta ungu muncul di alamat
Veronica Smethley.
"Apa?" katanya keras-keras.
"Aku tahu!" kata Lockhart. "Enam bulan penuh di puncak tangga bestseller!
Memecahkan semua rekor!" "Bukan," kata Harry kalut. "Suara tadi!" "Maaf?" kata
Lockhart, kelihatan bingung. "Suara apa?
"Susuara yang mengatakanapakah Anda tidak mendengarnya?" Lockhart
memandang Harry dengan amat heran. "Apa yang kaubicarakan, Harry? Mungkin
kau sudah mengantuk? Astaganyaris tengah malam! "Kita sudah di sini hampir
empat jam! Aku tak percaya waktu berlalu bagai terbang, ya?"
Harry tidak menjawab. Dia menajamkan telinga untuk mendengar suara itu
lagi, tapi sekarang yang terdengar hanyalah suara Lockhart memberitahunya
bahwa dia tak boleh mengharapkan hadiah me-nyenangkan seperti ini setiap
kali dia mendapat detensi. Harry pulang dengan linglung.
Sudah larut sekali sehingga ruang rekreasi Gryffindor sudah hampir kosong.
Harry langsung ke kamarnya. Ron belum kembali. Harry memakai piama-nya
naik ke atas tempat tidur, dan menanti. Setengah jam kemudian Ron pulang,
memijat- mijat lengan kanannya dan membawa bau pelitur ke dalam kamar
yang gelap.
"Ototku sakit semua," keluh Ron, menjatuhkan diri ke tempat tidurnya.
"Empat belas kali aku harus menggosok Piala Quidditch itu sebelum dia puas.
Dan kemudian aku dapat serangan siput lagi, me-muntahi Penghargaan
Istimewa untuk Pengabdian ke-pada Sekolah. Lama sekali lendirnya baru bisa
bersih. Bagaimana dengan Lockhart?"
Dengan suara rendah agar tidak membangunkan Neville, Dean, dan Seamus,
Harry menceritakan ke-pada Ron apa yang didengarnya.
"Dan Lockhart bilang dia tidak bisa mendengarnya?" kata Ron. Dalam cahaya
bulan Harry bisa melihat kening Ron berkerut. "Apakah menurutmu dia bo-
hong? Tapi aku tidak mengertibahkan orang yang tidak kelihatan pirn harus
membuka pintu."
--------------------------------------- 70
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Aku tahu," kata Harry, kembali berbaring di tempat tidur besarnya dan
memandang langit-langit kelambu. "Aku juga tidak mengerti."
8. Hari Ulang Tahun Kematian
OKTOBER tiba, menyebar hawa dingin dan lembap di halaman dan ke dalam
kastil. Madam Pomfrey, matron rumah sakit, disibukkan oleh wabah flu yang
mendadak berjangkit di antara para staf dan murid-murid. Ramuan
Mericamujarab-nya manjur sekali, meskipun yang meminumnya jadi
mengeluarkan asap dari telinga selama beberapa jam sesudahnya. Ginny
Weasley, yang sudah kelihatan pucat dan lesu, dipaksa minum oleh Percy. Asap
yang bergulung dari bawah rambutnya memberi kesan bahwa seluruh kepalanya
sedang terbakar.
Tetes-tetes air sebesar peluru memberondong jendela- jendela kastil selama
berhari-hari, air danau naik, petak-petak bunga berubah menjadi kolam lum-
pur dan labu-labu kuning Hagrid membengkak men-jadi sebesar gudang alat-
alat berkebun. Meskipun demikian, semangat Oliver Wood untuk tetap berlatih
secara teratur tidaklah menyusut. Itulah sebabnya Harry, pada suatu Sabtu
berbadai beberapa hari se-belum Hallowe'en, kembali ke Gryffindor dalam ke-
adaan basah kuyup dan berlumur lumpur.
Bahkan tanpa hujan dan angin, latihan mereka tadi bukan sesi yang
menyenangkan. Fred dan George, yang sudah memata-matai tim Slytherin,
telah melihat sendiri kecepatan Nimbus Dua Ribu Satu. Mereka melaporkan
bahwa tim Slytherin menjadi tak lebih dari tujuh bayangan kehijauan,
meluncur membelah udara secepat jet.
Ketika Harry melangkah hati-hati sepanjang koridor kosong, dilihatnya ada
yang tampaknya sedang ba-nyak pikiran seperti dirinya. Nick si Kepala-Nyaris-
Putus, hantu Menara Gryffindor, sedang menatap mu-rung ke luar jendela,
bergumam lirih,
"...tidak me-menuhi persyaratan... satu senti, seandainya itu..."
"Halo, Nick," sapa Harry.
"Halo, halo," kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus, ter-kejut dan menoleh. Dia
memakai topi bulu indah di atas rambutnya yang ikal panjang, dan tunik
dengan kerah rimpel, yang menyembunyikan fakta bahwa lehernya nyaris
terpotong total. Dia sepucat asap, dan Harry bisa melihat menembusnya ke
langit yang gelap dan hujan lebat di luar.
"Kelihatannya kau sedang punya masalah, Potter," kata Nick, seraya melipat
sehelai surat transparan dan menyelipkannya ke dalam saku baju ketatnya.
"Kau juga," kata Harry.
"Ah," Nick si Kepala-Nyaris-Putus melambaikan ta-ngannya yang indah.
"Masalah kecil... bukannya aku ingin sekali ikut... kupikir aku mengajukan
--------------------------------------- 71
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
permohonan, tetapi rupanya aku 'tidak memenuhi persyaratan'." Walaupun
nada bicaranya ringan, wajahnya me-nyiratkan kekecewaan besar.
"Tapi kau akan berpendapat," katanya mendadak, menarik keluar lagi
suratnya dari dalam sakunya, "bahwa dihantam empat puluh lima kali di leher
dengan kapak tumpul akan membuatmu memenuhi syarat untuk ikut Perburuan
Tanpa- Kepala, kan?"
"Ohya," kata Harry, yang tahu ia diharapkan berkata ya.
"Maksudku, tak ada yang lebih berharap dari aku sendiri bahwa pemenggalan
itu berlangsung cepat dan mulus, dan kepalaku putus total. Maksudku, aku jadi
tak perlu lama menderita sakit dan diolok-olok terus. Meskipun demikian..."
Nick si Kepala-Nyaris-Putus mengibaskan suratnya hingga terbuka dan mem-
bacanya dengan berang,
"Kami hanya dapat menerima pemburu yang kepala-nya sudah terpisah dari
tubuhnya. Anda tentu me-mahami bahwa kalau keadaannya tidak begitu, para
anggota tidak akan bisa berpartisipasi dalam kegiatan perburuan seperti
Lempar- Kepala dari Punggung Kuda dan Polo Kepala. Karena itu dengan amat
menyesal, saya harus menginformasikan kepada Anda bahwa Anda tidak
memenuhi persyaratan kami. Dengan segala hor-mat, Sir Patrick Delaney-
Podmore."
Marah-marah, Nick si Kepala-Nyaris-Putus menying-kirkan suratnya.
"Satu senti kulit dan otot menahan kepalaku, Harry! Kebanyakan orang akan
berpendapat itu sudah sama dengan terpenggal, tetapi oh tidak, itu belum
cukup bagi Sir 'Pala Putus-Podmore."
Nick si Kepala-Nyaris-Putus menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan
kemudian berkata, dengan suara yang jauh lebih tenang, "Jadiapa yang me-
nyusahkanmu? Ada yang bisa kubantu?"
"Tidak," kata Harry. "Tidak, kecuali kau tahu di mana kami bisa mendapatkan
tujuh Nimbus Dua Ribu Satu gratis untuk pertandingan kami menghadapi Sly..."
Sisa kalimat Harry tertelan oleh meongan yang melengking nyaring di dekat
mata kakinya. Dia me-nunduk dan berpandangan dengan sepasang mata kuning
yang menyorot bagai senter. Mrs Norris, kucing kurus abu-abu yang digunakan
oleh si penjaga sekolah, Argus Filch, sebagai semacam wakilnya, dalam
pertarungan tanpa henti melawan murid-murid.
"Lebih baik kau cepat pergi dari sini, Harry," kata Nick buru-buru. "Filch
sedang marah-marah terus. Dia kena flu dan beberapa anak kelas tiga tanpa
sengaja mengotori seluruh langit-langit ruang bawah tanah nomor lima dengan
otak kodok. Dia mem-bersihkannya dari pagi dan kalau dia melihatmu menetes-
neteskan lumpur di mana-mana..."
"Betul," kata Harry, mundur menghindar dari pan-dangan menuduh Mrs
Norris, tetapi tak cukup cepat. Tertarik ke tempat itu oleh kekuatan misterius
yang kelihatannya menghubungkannya dengan kucingnya yang menyebalkan,
Argus Filch mendadak muncul dari permadani gantung di sebelah kanan Harry,
men-desah-desah dan memandang liar berkeliling mencari si pelanggar aturan.
Syal kotak-kotak tebal diikatkan ke kepalanya, dan hidungnya luar biasa ungu.
--------------------------------------- 72
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kotoran!" dia berteriak, rahangnya bergetar, mata-nya mendelik
mengerikan ketika dia menunjuk ge-nangan air berlumpur yang menetes-netes
dari jubah Quidditch Harry.
"Berantakan dan kotoran di mana-mana! Aku sudah muak! Ikut aku, Potter!"
Maka Harry melambai lesu mengucapkan selamat tinggal kepada Nick si
Kepala-Nyaris-Putus dan turun kembali mengikuti Filch, membuat tapak
berlumpur di lantai jadi dobel. Harry belum pernah berada dalam kantor Filch.
Tempat itu dihindari sebagian besar anak-anak. Ruangan itu suram dan tak
berjendela, disinari hanya oleh satu lampu minyak yang tergantung dari langit-
langit yang rendah. Samar-samar bau ikan goreng memenuhi ruangan. Lemari
arsip dari kayu berderet di sekeliling ruangan. Dari label-labelnya Harry tahu
bahwa lemari itu berisi data rinci semua murid yang pernah dihukum Filch.
Fred dan George Weasley pu-nya satu laci tersendiri. Koleksi rantai dan
belenggu yang tergosok mengilap tergantung pada dinding di belakang meja
Filch. Sudah rahasia umum bahwa Filch selalu meminta-minta kepada
Dumbledore untuk mengizinkannya menghukum anak- anak dengan
menggantungnya dari langit-langit pada mata kakinya.
Filch meraih pena bulu dari pot di atas mejanya dan mulai mencari-cari
perkamen. "Tinja binatang," gumamnya berang,
"upil naga pa-
nas besar-besar... otak kodok... usus tikus... sungguh kelewatan... mana
formulirnya... ya..."
Dia menarik keluar gulungan besar perkamen dari laci mejanya dan
membentangkannya di depannya, mencelupkan pena bulu hitamnya yang
panjang ke dalam botol tinta.
"Nama... Harry Potter. Kesalahan..."
"Cuma sedikit lumpur!" kata Harry.
"Cuma sedikit lumpur bagimu, Nak, tapi bagiku itu berarti kerja tambahan
satu jam menggosok lantai!" teriak Filch, ada ingus yang sudah bergetar mau
jatuh di ujung hidung bawangnya, menjijikkan sekali. "Ke-salahan... membuat
kotor kastil... hukuman yang disaran-kan..."
Sambil mengelap hidungnya yang beringus, Filch memandang galak Harry
dengan mata menyipit. Harry menunggu jatuhnya vonis hukumannya dengan
napas tertahan.
Tetapi ketika Filch merendahkan penanya, terdengar GUBRAK! keras di
langit-langit kantornya, hingga membuat lampu minyaknya bergoyang.
"PEEVES!" gerung Filch, membanting penanya de-ngan murka. "Kutangkap
kau kali ini, kutangkap kau!"
Dan tanpa menoleh kepada Harry, Filch berlari meninggalkan kantornya, Mrs
Norris melesat mengiringinya.
Peeves adalah hantu jail sekolah, makhluk melayang-layang menyeringai
yang selalu menyebabkan mala-petaka dan kesulitan. Harry tidak begitu
menyukai Peeves, tapi mau tak mau berterima kasih untuk gangguannya yang
tepat waktu. Mudah-mudahan, apa pun yang dilakukan Peeves (dan
kedengarannya dia telah merusakkan sesuatu yang besar kali ini) akan
mengalihkan perhatian Filch dari Harry.
--------------------------------------- 73
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Berpendapat bahwa dia mungkin harus menunggu kembalinya Filch, Harry
duduk di kursi yang sudah dimakan ngengat di sebelah meja. Ada satu benda
lain di atas meja selain formulirnya yang baru se-tengah terisi: amplop ungu
besar berkilat dengan tulisan huruf-huruf perak di bagian depannya. Setelah
melirik sekilas ke pintu untuk memastikan Filch tidak sedang berjalan kembali
ke kantor, Harry mengambil amplop itu dan membacanya:
MANTRAKILAT Kursus Sihir Tertulis untuk Pemula Tergugah rasa ingin
tahunya, Harry membuka amplop itu dan menarik keluar setumpuk perkamen
dari dalamnya. Tulisan meliuk-liuk warna perak di halaman depan berbunyi:
Merasa terkucil dari dunia sihir modern? Sulit cari alasan untuk tidak melakukan
mantra sederhana? Pernah diledek karena hasil sihiran tongkatmu yang
menyedihkan? Ada solusinya!
Mantrakilat adalah kursus baru yang pantang-gagal, cepat-berhasil, mudah-
dipelajari. Beratus-ratus penyihir telah mendapatkan manfaat metode
Mantrakilat!
Madam Z. Nettles dari Topsham menulis: "Aku tak pernah bisa menghafal
mantra, dan ramuan buatanku selalu jadi bahan ejekan keluarga! Sekarang,
setelah ikut kursus Mantrakilat, aku jadi pusat perhatian di pesta-pesta dan
teman-temanku meminta resep Cairan Cemerlang-ku!"
Penyihir D.J. Trod dari Didsbury berkata: "Istriku selalu mencibir melihat
hasil sihiranku, tetapi sebulan setelah ikut kursus Mantrakilat yang hebat, aku
berhasil mengubahnya menjadi yak! Terima kasih, Mantrakilat!"
Yak adalah sejenis lembu berbulu panjang yang berasal dari Asia Tengah.
Terpesona, Harry melanjut-kan membaca isi amplop itu. Kenapa Filch ingin ikut
kursus Mantrakilat? Apakah itu berarti dia bukan penyihir tulen? Harry sedang
membaca "Pelajaran Pertama: Cara Memegang Tongkatmu (Beberapa Tip yang
Berguna)" ketika langkah-langkah yang men-dekat memberitahunya Filch
datang. Buru-buru di-jejalkannya perkamen itu ke dalam amplop, yang
kemudian dilemparkannya ke atas meja, persis ketika pintu terbuka.
Filch tampak penuh kemenangan.
"Lemari yang bisa menghilang itu sangat berharga!" katanya riang kepada Mrs
Norris. "Kita akan bisa mengusir Peeves kali ini, manisku."
Pandangannya jatuh pada Harry dan kemudian ber-pindah ke amplop
Mantrakilat, yang terlambat disadari Harry, tergeletak setengah meter dari
tempatnya semula.
Wajah pucat Filch menjadi merah padam. Harry bersiap- siap menerima
luapan kemarahan. Filch ter-pincang-pincang meiuiju mejanya, menyambar
amplop itu dan melemparkannya ke dalam laci.
"Sudahkahapakah kau membaca...?" dia bertanya gugup.
"Tidak," Harry buru-buru berbohong.
Filch meremas-remas tangannya yang berbonggol-bonggol.
"Kalau aku tahu kau akan membaca surat pribadi... bukannya itu milikku...
untuk teman... meskipun demikian..."
Harry menatapnya ketakutan. Belum pernah Filch tampak semarah ini.
Matanya mendelik, salah satu pipinya yang menggelayut berkedut-kedut dan
syal kotak-kotak itu tidak membantu.
--------------------------------------- 74
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Baiklah... pergilah... dan jangan bilang siapa-siapa... bukannya...
bagaimanapun, kalau kau tidak membaca... pergilah sekarang, aku harus
menulis la-poran tentang Peeves... pergi..."
Heran sendiri akan keberuntungannya, Harry cepat-cepat meninggalkan
kantor Filch, ke koridor dan kem-bali ke atas. Berhasil lolos dari kantor Filch
tanpa dihukum barangkali merupakan rekor tersendiri.
"Harry! Harry! Apakah berhasil?"
Nick si Kepala-Nyaris-Putus datang melayang dari salah satu kelas. Di
belakangnya Harry bisa melihat rongsokan lemari besar hitam-emas yang
kelihatannya dijatuhkan dari tempat yang tinggi.
"Kubujuk Peeves untuk menjatuhkannya tepat di atas kantor Filch," kata Nick
bersemangat. "Kupikir itu bisa mengalihkan perhatiannya..."
"Kau yang suruh?" kata Harry pertuh terirna kasih. "Yeah, berhasil, aku
bahkan tidak mendapat detensi. Trims, Nick!"
Mereka berjalan menyusuri koridor bersama-sama. Harry memperhatikan
Nick si Kepala-Nyaris-Putus ma-sih memegangi surat penolakan Sir Patrick.
"Sayang sekali tak ada yang bisa kulakukan untuk membantumu dalam
Perburuan Tanpa-Kepala itu," kata Harry.
Nick si Kepala-Nyaris-Putus mendadak berhenti dan Harry berjalan
menembusnya. Harry menyesal. Rasanya seperti melangkah di bawah pancaran
air sedingin es.
"Tapi ada yang bisa kaulakukan untukku," kata Nick bergairah. "Harry
apakah aku minta terlalu ba-nyaktapi, tidak, kau tak akan mau..."
"Mau apa?" tanya Harry.
"Yah, Hallowe'en ini ulang tahun kematianku yang kelima ratus," kata Nick,
menegapkan diri sehingga kelihatan lebih berwibawa.
"Oh," kata Harry, tak yakin apakah dia harus ke-lihatan sedih atau senang
mendengarnya. "Lalu?"
"Aku akan mengadakan pesta di salah satu ruang besar bawah tanah. Teman-
teman akan datang dari seluruh negeri. Akan merupakan kehormatan besar
bagiku kalau kau bersedia hadir. Aku juga meng-harapkan kedatangan Mr
Weasley dan Miss Granger, tentu sajatetapi kalian pasti lebih suka datang ke
pesta sekolah, kan?" Dipandangnya Harry dengan tegang dan gelisah.
"Tidak," kata Harry buru-buru. "Aku akan datang..."
"Anak baik! Harry Potter, di Pesta Ulang Tahun Kematianku! Dan," dia ragu-
ragu, kelihatan ber-semangat,
"bisakah kau mengatakan kepada Sir Patrick bahwa kau menganggapku
sangat mengesankan dan mengerikan?"
"Tententu saja," kata Harry.
Nick si Kepala-Nyaris-Putus langsung berseri-seri.
"Pesta Ulang Tahun Kematian?" kata Hermione tajam, ketika Harry akhirnya
sudah berganti pakaian dan bergabung bersamanya dan Ron di ruang rekreasi.
"Berani taruhan tak banyak orang hidup yang bisa bilang mereka pernah
menghadiri pesta semacam itu pasti menarik sekali!"
--------------------------------------- 75
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kenapa ada orang ingin merayakan hari kematian mereka?" tanya Ron, yang
sudah mengerjakan PR Ramuan- nya separo dan merasa sebal. "Kedengarannya
suram bagiku...."
Hujan masih mengguyur jendela, yang sekarang gelap pekat, tetapi di dalam
segalanya kelihatan terang dan cerah. Perapian menerangi kursi-kursi
berlengan yang empuk, tempat anak-anak duduk membaca, mengobrol,
mengerjakan PR, atau dalam kasus Fred dan George, berusaha mencari tahu
apa yang terjadi jika kau memberi makan salamander kembang api Filibuster.
Fred telah "menyelamatkan" kadal berwarna jingga cerah yang tinggal di api itu
dari kelas Pe-meliharaan Binatang-binatang Gaib, dan salamander itu sekarang
tergeletak mengepul di atas meja, di-kelilingi anak- anak yang ingin tahu.
Harry baru saja akan memberitahu Ron dan Hermione tentang Filch dan
kursus Mantrakilat, ketika salamander itu mendadak terbang mendesis ke atas,
mengeluarkan bunga api dan meledak-ledak sambil berputar-putar liar di
ruangan. Melihat Percy yang berteriak-teriak memarahi Fred dan George
sampai serak, pertunjukan spektakuler bintang-bintang jingga keemasan yang
tercurah dari mulut si salamander, dan si salamander sendiri yang
menyelamatkan diri ke dalam api, diiringi ledakan-ledakan, membuat Filch dan
Mantrakilat terlupakan dari pikiran Harry.
Saat Hallowe'en tiba, Harry menyesali janji untuk datang ke Pesta Ulang
Tahun Kematian yang diucap-kannya tanpa pikir panjang. Teman-temannya
gembira menyambut datangnya pesta Hallowe'en. Aula Besar sudah didekorasi
dengan kelelelawar-kelelawar hidup seperti biasanya, labu-labu kuning raksasa
Hagrid sudah diukir menjadi lentera yang cukup besar untuk diduduki tiga
orang dan ada gosip bahwa Dumbledore telah memesan rombongan penari
tengkorak untuk hiburannya.
"Janji harus ditepati," Hermione mengingatkan Harry dengan gaya ngebos.
"Kau sudah berkata akan datang ke Pesta Ulang Tahun Kematian."
Maka pukul tujuh malam itu Harry, Ron, dan Hermione berjalan melewati
pintu Aula Besar yang sudah penuh anak, lilin-lilinnya yang berkelap-kelip dan
piring-piring emasnya berkilat-kilat mengundang. Mereka mengarahkan langkah
menuju ruang bawah tanah.
Lorong menuju ke tempat pesta Nick si Kepala-Nyaris-Putus juga sudah
diterangi dengan deretan lilin, meskipun efeknya jauh dari cerah, karena
lilinnya adalah lilin-lilin runcing hitam pekat, dengan nyala biru, menyiramkan
cahaya suram kematian bahkan ke wajah-wajah mereka yang masih hidup.
Semakin jauh mereka memasuki lorong, hawa semakin dingin. Ketika Harry
bergidik dan merapatkan jubahnya, di-dengarnya bunyi seperti seribu kuku
menggaruk pa-pan tulis besar.
"Apa itu maksudnya musik?" bisik Ron. Mereka membelok di sudut dan
melihat Nick si Kepala-Nyaris-Putus berdiri di depan pintu bertirai beludru
hitam.
"Teman-temanku yang baik," katanya pilu, "selamat datang, selamat
datang... senang sekali kalian bisa datang..." Dengan gerakan gesit dibukanya
topinya yang ber-bulu,
--------------------------------------- 76
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
lalu dia membungkuk mempersilakan mereka masuk. Pemandangan yang
menyambut mereka sungguh luar biasa. Ruang bawah tanah itu penuh beratus-
ratus orang seputih-mutiara transparan, sebagian besar melayang-layang di
atas lantai dansa yang penuh, berdansa waltz mengikuti irama tiga puluh
gergaji musik yang berbunyi gemetar mengerikan, dimainkan oleh rombongan
orkes di panggung yang lantainya bertutup kaih hitam. Kandil di atas
menyinarkan cahaya biru tua dengan seribu lilin hitam. Napas mereka berubah
menjadi kabut di depan mereka; rasanya seperti melangkah masuk ke dalam
lemari es.
"Bagaimana kalau kita melihat-lihat?" Harry meng-usulkan, ingin
menghangatkan kakinya.
"Hati-hati, jangan sampai melangkah menembus orang," kata Ron gugup, dan
mereka berjalan di tepi lantai dansa. Mereka melewati serombongan biarawati
muram, seorang laki-laki berpakaian compang-camping yang memakai rantai,
dan si Rahib Gemukhantu Hufflepuff yang ceria, yang sedang mengobrol
dengan hantu ksatria yang dahinya tertancap panah. Harry tidak heran melihat
Baron Berdarah, hantu Slytherin yang pucat dan galak, serta bebercak-bercak
darah keperakan, dihindari oleh hantu-hantu lain.
"Oh, tidak," kata Hermione, berhenti mendadak. "Balik, balik, aku tak mau
bicara dengan Myrtle Me-rana..."
"Siapa?" tanya Harry, ketika mereka buru-buru ber-balik.
"Dia menghantui toilet anak perempuan di lantai dua," kata Hermione.
"Dia menghantui toilet?"
"Ya, toilet itu sudah rusak selama setahun ini karena dia marah-marah terus
dan membuat toilet itu ke-banjiran. Sebisa mungkin aku tidak masuk ke toilet
itu. Mana enak kalau kita ke belakang digerecoki dia yang meratap-ratap...."
"Lihat, makanan!" kata Ron.
Di salah satu sisi ruangan ada meja panjang, ber-taplak beludru hitam juga.
Mereka mendekati meja itu dengan bersemangat, tetapi detik berikutnya lang-
sung berhenti, ngeri. Baunya sangat menjijikkan. Ikan-ikan besar busuk
disajikan di atas nampan perak indah, kue bolu yang hangus jadi arang
bertumpuk di atas piring, ada daging kambing besar yang sudah dikerumuni
belatung, keju yang berselimut jamur hijau, dan di tempat kehormatan, kue
ulang tahun abu-abu besar berbentuk pusara, dengan hiasan se-hitam ter,
membentuk tulisan:
Sir Nicholas de Mimsy-Porpington meninggal 31 Oktober 1492
Harry memandang keheranan ketika ada hantu gemuk mendekati meja,
membungkuk rendah dan lewat menerobos meja begitu saja. Mulut terbuka
lebar melewati salah satu ikan salem bau.
"Bisakah kau merasakan ikan itu waktu melewati-nya?" Harry menanyainya.
"Nyaris," jawab si hantu sedih, lalu dia melayang pergi.
"Kurasa mereka sengaja membiarkannya membusuk agar baunya lebih keras,"
kata Hermione sok tahu. Dia memencet hidungnya dan membungkuk men-dekat
untuk memeriksa daging kambing busuk.
"Kita pergi, yuk, aku mau muntah," kata Ron.
--------------------------------------- 77
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Baru saja mereka berbalik, seorang laki-laki kecil mendadak menyambar dari
bawah meja dan melayang-layang di depan mereka.
"Halo, Peeves," sapa Harry hati-hati.
Tidak seperti hantu-hantu di sekeliling mereka, Peeves si hantu jail tidak
pucat ataupun transparan. Dia memakai topi pesta jingga cerah dan dasi kupu-
kupu yang bisa berputar. Wajahnya yang jail dihiasi cengiran lebar.
"Camilan?" dia berkata manis, menawarkan se-mangkuk kacang bulukan.
"Tidak, terima kasih," kata Hermione.
"Kudengar kalian ngomongin si Myrtle yang ma-lang," kata Peeves, matanya
menari-nari. "Kalian tidak sopan ngomongin Myrtle." Dia menarik napas dalam-
dalam dan berteriak, "HOI! MYRTLE!"
"Oh, jangan Peeves, jangan bilang apa yang ku-katakan, nanti dia sedih,"
bisik Hermione panik. "Aku tidak bermaksud menjelekkannya, aku tidak
keberatan diaeh, halo, Myrtle." Hantu anak perempuan gemuk-pendek
melayang mendekat. Wajahnya, merupakan wajah paling murung yang pernah
dilihat Harry, separo ter-sembunyi di balik rambut panjangnya dan kacamata
tebal berkilau bagai mutiara.
"Apa?" tanyanya cemberut.
"Apa kabar, Myrtle?" kata Hermione dengan suara diriang- riangkan. "Senang
bertemu kau di luar toilet." Myrtle mendengus. "Miss Granger tadi ngomongin
kau...," kata Peeves licik di telinga Myrtle.
"Cuma bilangbilangkau cantik sekali malam ini," kata Hermione, melirik
Peeves.
Myrtle menatap Hermione dengan curiga.
"Kalian meledekku," katanya, air mata perak ber-cucuran dari matanya yang
tembus pandang.
"Tidaksungguhbukankah aku tadi bilang Myrtle cantik sekali malam ini?"
kata Hermione, menyikut rusuk Harry dan Ron sampai sakit.
"Oh, yeah..."
"Betul..."
"Jangan bohong kepadaku," isak Myrtle, air matanya kini sudah membanjir
membasahi mukanya, sementara Peeves tertawa-tawa senang di belakang
bahunya. "Apa kaupikir aku tidak tahu ejekan apa saja yang mereka lontarkan
di belakang punggungku? Myrtle gendut! Myrtle jelek! Myrtle cengeng,
pemurung, tu-kang ngeluh!"
"Kau belum sebut 'jerawatan'," Peeves mendesis di telinganya.
Myrtle Merana terisak-isak nelangsa dan kabur dari ruangan. Peeves melesat
mengejarnya, menghujaninya dengan kacang bulukan, sambil berteriak-teriak,
"Jerawatan! Jerawatan!"
"Ya, ampun," kata Hermione sedih.
Nick si Kepala-Nyaris-Putus sekarang melayang mendekati mereka,
menerobos kerumunan. "Kalian senang?" "Oh, ya," mereka berbohong. "Lumayan
juga sih yang hadir," kata Nick si Kepala-
Nyaris-Putus bangga. "Si Janda Meratap datang jauh-jauh dari Kent... Sudah
hampir waktunya aku mem-beri sambutan, lebih baik aku beritahu orkesnya..."
--------------------------------------- 78
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tapi orkes berhenti bermain saat itu juga. Para pemainnya, dan semua yang
ada di ruang bawah tanah itu terdiam, melihat berkeliling dengan penuh harap
ketika terdengar bunyi terompet berburu. "Oh, ini dia," kata Nick si Kepala-
Nyaris-Putus getir.
Dari tembok ruangan bermunculan selusin kuda hantu, masing-masing
ditunggangi penunggang kuda tanpa-kepala. Para hadirin bertepuk tangan
gegap gempita. Harry sudah akan bertepuk juga, tetapi tak jadi begitu melihat
wajah Nick. Kuda-kuda itu berderap ke tengah lantai dansa dan berhenti,
meringkik dan mendompak. Hantu besar yang berada paling depan, kepalanya
yang berjenggot dijepit di ketiaknya, meniup terompet, melompat turun,
mengangkat tinggi-tinggi kepalanya ke atas supaya dia bisa melihat kerumunan
hantu yang hadir (semua tertawa), dan berjalan mendekati Nick si Kepala-
Nyaris-Putus, kepalanya dilontarkan kembali ke lehernya.
"Nick!" raungnya. "Apa kabar? Kepala masih ter-gantung?" Dia terbahak dan
menepuk bahu Nick si Kepala-Nyaris-Putus.
"Selamat datang, Patrick," kata Nick kaku.
"Orang hidup!" celetuk Sir Patrick ketika melihat Harry, Ron, dan Hermione
dan berpura-pura terlonjak tinggi saking kagetnya, sehingga kepalanya terjatuh
lagi (hantu-hantu yang hadir tertawa gelak-gelak).
"Lucu sekali," kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus be-rang.
"Jangan pedulikan Nick!" teriak kepala Sir Patrick dari lantai. "Dia masih
marah kami tidak meng-izinkannya ikut Perburuan! Tapi maksudku... lihat
dia..."
"Kurasa," kata Harry buru-buru, setelah Nick me-mandangnya penuh arti.
"Nick sangatmengerikan dan eh..."
"Ha!" teriak kepala Sir Patrick. "Pasti dia memintamu bilang begitu!"
"Perhatian, semuanya, sudah waktunya aku memberi sambutan!" kata Nick
keras-keras, berjalan ke podium dan naik diterangi lampu sorot warna biru
muda dingin.
"Almarhum para bangsawan, Ibu-ibu, dan Bapak-bapak, sungguh kesedihan
besar bagiku..."
Tapi tak ada lagi yang mendengarkannya. Sir Patrick dan anggota Perburuan
Tanpa-Kepala baru saja me-mulai permainan Hoki Kepala dan para hadirin ber-
balik untuk menonton. Sia-sia Nick berusaha keras menarik perhatian mereka,
dan akhirnya menyerah ketika kepala Sir Patrick melayang melewatinya diiringi
tepukan riuh.
Harry sudah sangat kedinginan sekarang, ditambah lagi lapar.
"Aku sudah tak tahan lagi," gumam Ron, giginya gemeretuk, sementara orkes
kembali beraksi dan para hantu berayun lagi di lantai dansa.
"Ayo, kita pergi," Harry sepakat.
Mereka mundur ke arah pintu, mengangguk dan tersenyum pada siapa saja
yang memandang mereka, dan semenit kemudian sudah bergegas menyusuri
lorong dengan deretan lilin hitam.
"Siapa tahu pudingnya masih ada," kata Ron penuh harap, berjalan di depan
menuju tangga ke Aula Depan.
Dan kemudian Harry mendengarnya.
--------------------------------------- 79
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"... robek... cabik-cabik... bunuh..."
Suara yang sama, suara dingin dan sadis yang didengarnya di kantor
Lockhart.
Harry terhuyung dan berhenti, mencengkeram din-ding batu, mendengarkan
setajam mungkin, me-mandang berkeliling, menyipitkan mata, mengawasi
kanan-kiri lorong yang suram.
"Harry, lagi ngapain ka...?"
"Suara itu lagidiam dulu..."
"...lapaaar sekali... sudah begitu lama..."
"Dengar!" kata Harry tegang. Ron dan Hermione terpaku memandangnya.
"...bunuh... waktunya membunuh..."
Suara itu semakin samar-samar. Harry yakin siapa pun yang bicara itu
semakin menjauhbergerak ke atas. Ketakutan bercampur kegairahan
mencekamnya ketika dia menatap langit-langit yang gelap. Bagaimana mungkin
suara itu bisa bergerak ke atas? Apakah itu hantu, sehingga langit- langit batu
bukan hambatan baginya?
"Ke sini," dia berteriak, lalu berlari menaiki tangga, memasuki Aula Depan.
Tak ada gunanya berharap mendengar sesuatu di sini. Celoteh anak-anak yang
sedang pesta Hallowe'en terdengar dari Aula Besar. Harry berlari menaiki
tangga pualam menuju ke lantai satu, Ron dan Hermione ikut naik di
belakangnya.
"Harry, apa yang ki..."
"SHHH!"
Harry menajamkan telinganya. Dari kejauhan, dari lantai di atas mereka,
dan suaranya semakin samar, dia masih mendengar, "...bau darah... BAU
DARAH!"
Harry tegang. "Dia mau membunuh orang!" teriak-nya. Mengabaikan wajah
Ron dan Hermione yang kebingungan, dia menaiki tangga berikutnya, tiga anak
tangga sekali langkah, berusaha mendengarkan di antara entakan langkah
kakinya sendiri.
Harry berlari mengelilingi seluruh lantai dua, Ron dan Hermione tersengal-
sengal di belakangnya, tidak berhenti sampai mereka membelok di sudut yang
menuju koridor terakhir yang kosong.
"Harry, ada apa sebetulnya?" tanya Ron, menyeka keringat dari wajahnya.
"Aku tidak mendengar apa-apa..."
Tetapi Hermione mendadak terpekik kaget, me-nunjuk ke ujung koridor.
"Lihat!"
Ada yang berkilau di dinding di depan. Mereka mendekat, perlahan,
menyipitkan mata menembus ke-gelapan. Huruf- huruf setinggi tiga puluh senti
dipulas-kan di dinding di antara dua jendela, berkilau ditimpa cahaya obor-obor
yang menyala.
KAMAR RAHASIA TELAH DIBUKA. MUSUH SANG PEWARIS, WASPADALAH.
"Apa ituyang tergantung di bawahnya?" kata Ron, suaranya agak bergetar.
Ketika mereka semakin dekat, Harry nyaris jatuh terpeleset. Ada genangan
besar air di lantai. Ron dan Hermione menyambarnya dan mereka melangkah
hati-hati mendekati tulisan, mata mereka terpaku pada bayangan gelap di
--------------------------------------- 80
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
bawahnya. Ketiganya langsung menyadari apa itu, dan melompat ke belakang,
mem-buat air menciprat.
Mrs Norris, kucing si penjaga sekolah, digantung pada ekornya dari siku-siku
tancapan obor. Tubuhnya kaku seperti papan, matanya terbeliak.
Selama beberapa detik, mereka tidak bergerak. Kemudian Ron berkata,
"Ayo, kita pergi dari sini." "Tidakkah sebaiknya kita mencoba menolong...," kata
Harry canggung. "Percayalah padaku," kata Ron. "Kita tak ingin di-temukan di
sini."
Tetapi sudah terlambat. Bunyi gemuruh seakan ada guruh di kejauhan,
memberitahu mereka bahwa pesta sudah usai. Dari kedua ujung koridor
terdengar bunyi ratusan kaki yang menaiki tangga, juga celoteh riang dan keras
anak-anak yang perutnya kenyang. Saat berikutnya, anak-anak bermunculan
dari kedua ujung koridor.
Celoteh, obrolan, gurauan mendadak berhenti ketika anak- anak yang di
depan melihat kucing yang ter-gantung itu. Harry Ron, dan Hermione berdiri
bertiga, di tengah koridor, sementara kesunyian menyelubungi anak-anak yang
maju berdesakan, ingin melihat pe-mandangan mengerikan itu.
Kemudian ada yang berteriak memecah keheningan.
"Musuh Sang Pewaris, Waspadalah! Giliranmu berikutnya, Darah-lumpur!"
Draco Malfoy-lah yang berteriak. Dia telah mendesak sampai di bagian
depan, mata dinginnya menyala, wajahnya yang biasanya tak berdarah kini
memerah, ketika dia menyeringai melihat kucing yang tergantung tak bergerak
itu.
9. Tulisan Di Dinding
"ADA apa di sini? Ada apa?"
Tertarik oleh, tak diragukan lagi, teriakan-teriakan Malfoy, Argus Filch
datang menerobos kerumunan anak-anak. Kemudian dia melihat Mrs Norris dan
jatuh terjengkang, mencengkeram wajahnya dengan ngeri.
"Kucingku! Kucingku! Apa yang terjadi pada Mrs Norris?"
jeritnya.
Dan matanya yang menonjol memandang Harry.
"Kau!" jeritnya. "Kau! Kau membunuh kucingku! Kau membunuhnya! Kubunuh
kau! Kub..."
"Argus!"
Dumbledore telah tiba di tempat kejadian, diikuti oleh beberapa guru
lainnya. Dalam sekejap dia telah melewati Harry Ron, dan Hermione, dan
melepaskan Mrs Norris dari siku-siku tancapan obor.
"Ikut aku, Argus," katanya kepada Filch. "Kalian juga, Mr Potter, Mr Weasley,
Miss Granger." Lockhart maju dengan tak sabar.
--------------------------------------- 81
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kantorku yang paling dekat, Sirpersis di atas sini silakan saja..." "Terima
kasih, Gilderoy," kata Dumbledore. Kerumunan yang diam menyisih memberi
jalan pada mereka. Lockhart, tampak bersemangat dan pen-ting, bergegas
mengikuti Dumbledore, begitu juga Profesor McGonagall dan Snape.
Ketika mereka memasuki kantor Lockhart yang gelap, ada gerakan-gerakan
sibuk di sepanjang din-ding. Harry melihat beberapa Lockhart dalam foto
menyingkir dari pandangan, masih memakai gulungan rambut. Lockhart yang
asli menyalakan lilin-lilin di atas mejanya lalu mundur. Dumbledore meletakkan
Mrs Norris di atas permukaan meja yang berkilat dan mulai memeriksanya.
Harry, Ron, dan Hermione ber-tukar pandang tegang lalu duduk di kursi-kursi di
luar lingkaran cahaya lilin, mengawasi.
Ujung hidung Dumbledore yang panjang dan beng-kok cuma sesenti dari bulu
Mrs Norris. Dia memeriksa-nya dengan teliti lewat kacamata bulan-separonya.
Jari-jarinya yang panjang dengan lembut menyentuh dan menekan. Profesor
McGonagall membungkuk sama dekatnya, matanya menyipit. Snape di belakang
mereka, separo tubuhnya dalam bayang- bayang. Ekspresi wajahnya aneh
sekali: seakan dia berusaha keras untuk tidak tersenyum. Dan Lockhart
berkeliaran di sekeliling mereka, memberi saran-saran.
"Jelas kutukan yang membunuhnyamungkin Siksaan Transmogrifian. Aku
sudah berkali-kali melihat kutukan ini digunakan, sayang sekali tadi aku tidak
di sana, aku tahu kontra-kutukan paling tepat yang pasti bisa
menyelamatkannya..."
Komentar Lockhart disela oleh isakan kering merana Filch. Dia terenyak di
kursi di sebelah meja, tak sanggup memandang Mrs Norris, wajahnya ditutupi
tangannya. Kendati sangat tidak suka pada Filch, Harry mau tak mau agak
kasihan juga kepadanya, walaupun tidak sebesar rasa kasihannya kepada diri
sendiri. Kalau Dumbledore mempercayai Filch, dia jelas akan dikeluarkan.
Dumbledore sekarang berbisik menggumamkan kata-kata asing dan
mengetuk-ngetuk Mrs Norris' de-ngan tongkatnya, tetapi tak ada yang terjadi:
kucing itu tetap tampak seperti kucing mainan yang baru dijejali kapuk.
"...aku ingat peristiwa yang sangat mirip terjadi di Ouagadogou," kata
Lockhart. "Serangkaian serangan, kisah selengkapnya ada dalam autobiografiku.
Aku bisa memberi penduduk kota itu berbagai jimat yang langsung
menyelesaikan masalah..."
Foto-foto Lockhart di dinding semua mengangguk-angguk menyetujui
perkataannya. Salah satu dari foto itu lupa melepas harnetnya.
Akhirnya Dumbledore menegakkan diri.
"Dia tidak mati, Argus," katanya pelan.
Lockhart yang sedang menghitung jumlah pem-bunuhan yang berhasil
dicegahnya mendadak ber-henti.
"Tidak mati?" kata Filch dengan suara tercekik, mengintip Mrs Norris melalui
sela-sela jarinya. "Tetapi kenapa diadia kaku dan dingin?"
"Dia dibuat Membatu," kata Dumbledore ("Ah! Ku-pikir juga begitu!" kata
Lockhart). "Tetapi bagaimana, aku tak bisa bilang..."
"Tanya dia!" jerit Filch, memalingkan wajahnya yang berjerawat dan basah
kena air mata kepada Harry.
--------------------------------------- 82
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tak ada anak kelas dua yang bisa melakukan ini," kata Dumbledore tegas.
"Perlu Sihir Hitam tingkat paling tinggi..."
"Dia yang melakukannya, dia yang melakukannya!" kata Filch marah,
wajahnya yang bergelambir berubah ungu.
"Kalian melihat apa yang ditulisnya di dinding! Dia menemukandi kantorku
dia tahu akuaku..." wajah Filch berkeriut mengerikan. "Dia tahu aku Squib!"
dia mengakhiri kata-katanya.
"Saya tak pernah menyentuh Mrs Norris!" kata Harry keras, merasa tidak enak
karena sadar betul semua orang mengawasinya, termasuk semua Lockhart di
dinding. "Dan saya bahkan tidak tahu Squib itu apa."
"Omong kosong!" gertak Filch. "Dia melihat surat Mantrakilatku!"
"Kalau aku boleh bicara, Kepala Sekolah," kata Snape dari naungan bayang-
bayang. Perasaan Harry semakin tak enak. Dia yakin apa pun yang dikatakan
Snape tak akan membantunya.
"Potter dan teman-temannya mungkin hanya berada di tempat yang salah
pada waktu yang salah," kata-nya, seringai kecil menghiasi wajahnya, seakan
dia meragukan ucapannya sendiri. "Tapi memang situasi-nya mencurigakan.
Kenapa mereka tidak ikut pesta Hallowe'en?"
Harry, Ron, dan Hermione bersamaan menjelaskan tentang Pesta Ulang
Tahun Kematian. "...ada ratusan hantu, mereka akan memberi kesaksian bahwa
kami di sana..."
"Tapi kenapa sesudahnya tidak ikut pesta?" kata Snape, matanya yang hitam
berkilauan dalam cahaya lilin. "Kenapa naik ke lorong itu?"
Ron dan Hermione memandang Harry.
"Karenakarena...," kata Harry, jantungnya ber-degup kencang sekali; dia
sadar kedengarannya aneh sekali kalau dia memberitahu mereka dia dibawa ke
sana oleh suara tanpa- tubuh yang tak bisa didengar orang lain kecuali dia
sendiri.
"Karena kami lelah dan ingin tidur," katanya.
"Tanpa makan malam?" kata Snape, senyum ke-menangan menghiasi
wajahnya yang pucat. "Kurasa hantu tidak menyediakan makanan yang layak
untuk orang hidup di pesta mereka."
"Kami tidak lapar," kata Ron lantang, tepat ketika perutnya berkeriuk keras.
Senyum menyebalkan Snape makin lebar.
"Kurasa, Kepala Sekolah, Potter tidak sepenuhnya jujur," katanya. "Mungkin
ada baiknya dia mendapat larangan- larangan tertentu sampai dia bersedia
men-ceritakan seluruhnya kepada kita. Aku pribadi ber-pendapat dia harus
dicopot dari tim Quidditch Gryffindor sampai dia mau berkata jujur."
"Astaga, Severus," kata Profesor McGonagall tajam. "Aku tidak melihat alasan
untuk melarang anak ini main Quidditch. Kucing itu tidak dipukul kepalanya
dengan sapu. Sama sekali tak ada bukti bahwa Potter telah melakukan sesuatu
yang salah."
Dumbledore memandang Harry dengan tajam. Mata biru pucatnya yang
bercahaya membuat Harry merasa seakan dia dirontgen.
"Tak bersalah sampai terbukti bersalah, Severus," katanya tegas.
Snape kelihatan berang. Begitu juga Filch.
--------------------------------------- 83
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kucingku dibuat Membatu!" jeritnya, matanya men-delik.
"Aku ingin ada yang dihukum!"
"Kami bisa menyembuhkannya, Argus," kata Dumbledore sabar. "Baru-baru ini
Madam Sprout ber-hasil mendapatkan Mandrake. Begitu Mandrake-man-drake
itu tumbuh sepenuhnya, aku akan menyuruh buat ramuan yang bisa
menghidupkan Mrs Norris."
"Biar aku yang buat," Lockhart menyela. "Aku sudah membuatnya seratus
kali. Aku bisa mengocok Cairan Restoratif Mandrake dalam tidur..."
"Maaf," kata Snape dingin, "tapi kurasa akulah ahli Ramuan di sekolah ini."
Suasana menjadi canggung.
"Kalian boleh pergi," Dumbledore berkata kepada Harry, Ron, dan Hermione.
Mereka pergi, secepat mungkin, nyaris lari. Ketika tiba di lantai di atas
kantor Lockhart, mereka masuk ke dalam kelas kosong dan menutup pintunya.
Harry menyipitkan mata, memandang wajah gelap kedua temannya.
"Apakah menurut kalian aku seharusnya mem-beritahu mereka tentang suara
yang kudengar?"
"Tidak," jawab Ron tanpa keraguan. "Mendengar suara- suara yang tak bisa
didengar orang lain bukan pertanda baik, bahkan di dunia sihir sekalipun."
Sesuatu dalam suara Ron membuat Harry bertanya, "Kau percaya padaku,
kan?" "Tentu," kata Ron cepat. "Tetapikau harus mengakui bahwa itu aneh..."
"Aku tahu itu aneh," kata Harry. "Seluruh kejadian ini aneh. Apa maksud
tulisan di dinding itu? Kamar Rahasia Telah Dibuka... apa maksudnya itu?"
"Rasanya aku pernah dengar," kata Ron lambat-lambat.
"Kurasa ada yang pernah cerita padaku ten-tang kamar rahasia di
Hogwarts... mungkin Bill..."
"Dan apa sih Squib itu?" tanya Harry.
Dia heran sekali ketika Ron terkikik tertahan.
"Yahsebetulnya sih tidak lucutapi karena itu Filch...," katanya. "Squib itu
orang yang lahir dari keluarga penyihir tapi tidak punya kekuatan sihir sama
sekali. Kebalikan dari penyihir yang lahir dari keluarga Muggle, tapi Squib ini
tidak biasa. Kalau Filch berusaha mempelajari sihir lewat kursus Mantrakilat,
kurasa dia pasti Squib. Ini menjelaskan banyak hal. Seperti kenapa dia sangat
membenci murid-murid." Ron tersenyum puas. "Dia merasa getir."
Jam berdentang di suatu tempat.
"Tengah malam," kata Harry. "Lebih baik kita tidur sebelum Snape datang
dan berusaha menjebak kita untuk sesuatu yang lain."
Selama beberapa hari yang dibicarakan di seluruh sekolah hanyalah
prnyerangan terhadap Mrs Norris. Filch membuat kejadian itu tetap segar di
ingatan anak-anak dengan mondar-mandir di tempat Mrs Norris diserang,
seakan dia mengira siapa tahu si penyerang akan kembali. Harry sudah melihat
dia menggosok tulisan di dinding dengan "Penghilang Segala-macam Kotoran
Sihir buatan Mrs Skower", tetapi percuma saja, tulisan itu tetap berkilau terang
seperti semula di atas dinding batu. Kalau tidak ber-jaga di koridor, Filch akan
mengendap-endap di koridor dengan mata merah, menangkap anak-anak yang
tidak curiga dan berusaha memberi mereka detensi untuk hal-hal seperti
"bernapas terlalu keras" dan "kelihatan senang".
--------------------------------------- 84
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ginny Weasley kelihatan terganggu sekali dengan nasib Mrs Norris. Menurut
Ron, dia pecinta berat kucing.
"Tapi kau kan belum kenal benar Mrs Norris," kata Ron menghiburnya.
"Percaya deh, kita jauh lebih se-nang tanpa dia." Bibir Ginny bergetar. "Hal
seperti ini tidak sering terjadi di Hogwarts," Ron meyakinkannya. "Mereka akan
menangkap orang sinting yang melaku-kannya dan segera mengeluarkannya dari
sini. Aku cuma berharap dia masih sempat membuat Filch Mem-batu sebelum
dikeluarkan. Aku cuma bergurau...," Ron buru-buru menambahkan, ketika
Ginny jadi pucat.
Serangan itu juga berpengaruh pada Hermione. Sudah biasa bagi Hermione
untuk melewatkan banyak waktu dengan membaca, tetapi sekarang dia nyaris
tidak melakukan hal lain. Harry dan Ron pun tidak mendapat banyak jawaban
ketika mereka bertanya apa maunya membaca terus begitu, dan baru Rabu
berikutnya mereka tahu.
Harry tertahan dalam pelajaran Ramuan, karena Snape menyuruhnya tinggal
untuk membersihkan sisa-sisa cacing dari atas meja. Setelah makan siang yang
terburu-buru, dia naik untuk menemui Ron di per-pustakaan, dan melihat
Justin Finch-Fletchley, anak Hufflepuff yang sama-sama ikut kelas Herbologi,
ber-jalan ke arahnya. Harry baru membuka mulut untuk menyapa, tetapi begitu
melihatnya, Justin mendadak berbalik dan bergegas ke arah yang berlawanan.
Harry menemukan Ron di bagian belakang per-pustakaan, sedang mengukur
PR Sejarah Sihir-nya. Profesor Binns menugaskan menulis karangan se-panjang
satu meter tentang "Pertemuan Penyihir Eropa Abad Pertengahan".
"Ya ampun, masih kurang dua puluh senti...," kata Ron sebal, melepas
perkamennya, yang langsung ber-gulung kembali. "Sementara karangan
Hermione pan-jangnya seratus tiga puluh tujuh setengah senti, pada-hal
tulisannya kecil- kecil."
"Di mana dia?" tanya Harry, menyambar meteran dan membuka gulungan PR-
nya sendiri.
"Di sana," kata Ron, menunjuk rak-rak buku, "men-cari buku lain lagi. Kurasa
dia mencoba menyelesaikan membaca seluruh buku di perpustakaan ini
sebelum Natal."
Harry bercerita kepada Ron tentang Justin Finch-Fletchley yang melarikan
diri darinya.
"Buat apa kaupikirkan. Menurutku dia agak idiot," kata Ron sambil menulis,
huruf-hurufnya dibuat se-besar mungkin.
"Segala omong kosong tentang Lockhart yang begitu hebat..." Hermione
muncul dari antara rak-rak buku. Dia kelihatan jengkel dan akhirnya siap untuk
berbicara kepada mereka.
. "Semua buku Sejarah Hogwarts dipinjam," katanya sambil duduk di sebelah
Harry dan Ron. "Dan daftar tunggunya sampai dua minggu. Aku menyesal sekali
bukuku kutinggal di rumah, tapi koperku sudah pe-nuh sekali dengan semua
buku Lockhart."
"Kenapa kau mau baca buku itu?" tanya Harry.
"Sama seperti semua orang lain," kata Hermione, "untuk membaca legenda
Kamar Rahasia." "Apa itu?" tanya Harry cepat-cepat. "Itulah. Aku tak ingat,"
--------------------------------------- 85
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
kata Hermione, menggigit bibir. "Dan legenda itu tak bisa kutemukan di tempat
lain..."
"Hermione, coba aku baca karanganmu," kata Ron putus asa, mengecek
arlojinya.
"Tidak boleh," kata Hermione, mendadak galak. "Kau punya waktu sepuluh
hari untuk menyelesaikan-nya."
"Aku cuma perlu lima senti lagi, ayo dong..."
Bel berdering. Ron dan Hermione berjalan di depan, menuju kelas Sejarah
Sihir, bertengkar.
Sejarah Sihir adalah pelajaran paling membosankan di daftar pelajaran
mereka. Profesor Binns, gurunya, adalah satu-satunya guru yang hantu, dan hal
paling seru yang pernah terjadi di kelasnya adalah saat dia memasuki kelas
menembus papan tulis. Profesor Binns sudah tua sekali dan berkeriput. Banyak
orang bilang dia tidak sadar dia sudah meninggal. Dia bangun begitu saja untuk
mengajar pada suatu hari dan me-ninggalkan tubuhnya di kursi berlengan di
depan perapian di ruang guru. Rutinitasnya tidak berubah sedikit pun sejak saat
itu.
Hari ini sama membosankannya seperti biasa. Profesor Binns membuka
catatannya dan mulai mem-baca dengan nada datar membosankan seperti de-
ngung penyedot debu tua. Nyaris semua anak di kelas tertidur nyenyak,
kadang-kadang terbangun cukup lama untuk menulis nama atau tanggal, kemu-
dian tidur lagi. Profesor Binns sudah bicara selama setengah jam ketika terjadi
sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya. Hermione mengacungkan tangan.
Profesor Binns, mendongak di tengah bacaan super membosankan tentang
Konvensi Sihir Internasional tahun 1289, kelihatan kaget.
"Miss-eh...?"
"Granger, Profesor, saya ingin tahu apakah Anda bisa menceritakan kepada
kami sesuatu tentang Kamar Rahasia," kata Hermione dengan suara nyaring.
Dean Thomas, yang duduk dengan mulut melongo sambil memandang kosong
ke luar jendela, tersentak dari transnya. Kepala Lavender Brown terangkat dari
lengannya dan siku Neville tergelincir dari tepi meja-nya.
Profesor Binns mengejap.
"Pelajaranku adalah Sejarah Sihir," katanya dengan suara kering mendesah.
"Aku mengajarkan fakta, Miss Granger, bukan dongeng dan legenda." Dia
berdeham pelan kecil, seperti bunyi kapur patah, dan melanjut-kan, "Dalam
bulan September tahun itu, sub-panitia para penyihir Sardinia..."
Dia terpaksa berhenti. Tangan Hermione melambai di udara lagi.
"Miss Grant?"
"Maaf, Sir, bukankah legenda selalu punya dasar fakta?" Profesor Binns
memandang Hermione dengan sa-ngat tercengang. Harry yakin tak ada murid
yang pernah menyelanya, hidup atau mati.
"Yah," kata Profesor Binns lambat-lambat. "Ya, orang bisa memperdebatkan
soal itu, kurasa." Dia me-nyipitkan mata, memandang Hermione seakan tak
pernah memandang muridnya dengan jelas sebelum-nya. "Meskipun demikian,
legenda yang kautanyakan itu dongeng yang sangat sensasional, bahkan meng-
gelikan..."
--------------------------------------- 86
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tetapi seluruh kelas sekarang memusatkan perhatian pada kata-kata
Profesor Binns. Dia memandang me-reka, semua wajah menghadap dirinya,
memandang-nya. Harry bisa melihat sang profesor benar-benar tercengang
melihat ketertarikan yang luar biasa itu.
"Oh, baiklah," katanya lambat-lambat. "Kamar Rahasia...
"Kalian semua tahu, tentunya, bahwa Hogwarts didirikan lebih dari seribu
tahun yang lalutanggal persisnya tidak jelasoleh empat penyihir besar pada
zamannya. Keempat asrama sekolah ini dinamakan sesuai nama mereka: Godric
Gryffindor, Helga Hufflepuff, Rowena Ravenclaw, dan Salazar Slytherin.
Mereka bersama-sama mendirikan kastil ini, jauh dari mata Muggle yang
ingin tahu, karena zaman itu sihir ditakuti orang- orang biasa dan para penyihir
men-derita karena disiksa."
Dia berhenti sejenak, memandang muram ke se-luruh kelas, lalu
melanjutkan, "Selama beberapa tahun, para pendiri bekerja bersama-sama
dengan harmonis, mencari anak-anak yang menunjukkan bakat sihir dan
membawa mereka ke kastil untuk dididik. Tetapi kemudian timbul
pertentangan di antara mereka. Keretakan tumbuh di antara Slytherin dan yang
lain, Slytherin menginginkan mereka lebih selektif. dalam memilih murid-murid
yang masuk Hogwarts. Menurut pendapatnya pelajaran sihir seharusnya
hanyalah di-berikan kepada keluarga-keluarga penyihir. Dia tak suka mengambil
murid yang dilahirkan oleh orangtua Muggle. Menurut anggapannya mereka tak
bisa di-percaya. Selang beberapa waktu, terjadi perdebatan seru mengenai hal
ini antara Slytherin dan Gryffindor, dan Slytherin meninggalkan sekolah."
Profesor Binns berhenti lagi, mengerucutkan bibir-nya, kelihatan seperti
kura-kura tua berkeriput.
"Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang bisa di-percaya, cuma itulah yang
kita tahu," katanya, "tetapi fakta yang benar ini dikaburkan oleh legenda Kamar
Rahasia yang seru. Menurut ceritanya, Slytherin sudah membuat kamar
tersembunyi di dalam kastil, yang sama sekali tidak diketahui para pendiri
lainnya.
"Slytherin, menurut legenda, menyegel Kamar Rahasia, sehingga tak ada
yang bisa membukanya sampai pewarisnya yang sejati tiba di sekolah ini.
Hanya si pewaris itulah yang bisa membuka segel Kamar Rahasia, melepas
horor di dalamnya, dan menggunakannya untuk memurnikan sekolah dari
mereka yang tak layak mempelajari ilmu sihir."
Kelas sunyi senyap ketika Profesor Binns mengakhiri ceritanya, tetapi bukan
kesunyian mengantuk yang biasa memenuhi kelas ini. Ada kegelisahan di dalam-
nya selagi semua anak masih memandangnya, meng-harap lebih banyak cerita
lagi. Profesor Binns kelihatan agak jengkel.
"Semua itu omong kosong, tentu saja," katanya. "Dengan sendirinya sekolah
diselidiki untuk mencari bukti-bukti adanya kamar itu. Sudah banyak kali para
penyihir yang terpelajar menyelidikinya, tapi kamar itu tidak ada. Itu cuma
cerita bohong yang disebar-kan untuk menakut-nakuti mereka yang mudah di-
tipu."
Tangan Hermione kembali terangkat. "Sirapa tepatnya yang Anda maksud
dengan 'horor di dalam' kamar?"
--------------------------------------- 87
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Menurut cerita itu semacam monster yang hanya bisa dikontrol oleh pewaris
Slytherin," kata Profesor Binns dengan suaranya yang kering mendesah.
Anak-anak bertukar pandang cemas.
"Sudah kubilang, semua itu tidak ada," kata Profesor Binns, membalik-balik
catatannya. "Tidak ada Kamar Rahasia dan monster."
"Tapi, Sir," kata Seamus Finnigan, "kalau kamar itu hanya bisa dibuka oleh
pewaris sejati Slytherin, orang lain tak akan ada yang bisa menemukannya,
kan?"
"Omong kosong, O'Flaherty," kata Profesor Binns jengkel.
"Kalau sederet kepala sekolah Hogwarts tidak menemukannya..."
"Tapi, Profesor," celetuk Parvati Patil dengan suara kecil,
"Anda mungkin harus menggunakan Ilmu Hitam untuk membukanya..."
"Kalau penyihir terhormat tidak menggunakan Ilmu Hitam, bukan berarti dia
tidak bisa, Miss Pennyfeather," sela Profesor Binns tajam. "Kuulangi, kalau
orang seperti Dumbledore..."
"Tapi mungkin orang itu harus keluarga Slytherin, makanya Dumbledore tidak
bisa...," Dean Thomas hendak menjelaskan, tetapi Profesor Binns sudah tidak
mau melanjutkan.
"Cukup," katanya tajam. "Itu cuma dongeng! Kamar itu tidak ada! Tak ada
setitik pun bukti bahwa Slytherin pernah membuat bahkan cuma lemari sapu
rahasia! Aku menyesal sudah menceritakan kepada kalian cerita tak masuk akal
begitu! Kita kembali ke sejarah, ke fakta-fakta yang solid, bisa dipercaya, dan
bisa dibuktikan."
Dan dalam waktu lima menit seluruh kelas sudah kembali tertidur nyenyak
seperti biasa.
"Dari dulu aku sudah tahu Salazar Slytherin itu sin-ting," Ron berkata kepada
Harry dan Hermione. Saat itu mereka sedang berdesakan di koridor yang penuh
sesak pada akhir pelajaran untuk menaruh tas mereka, sebelum makan malam.
"Tetapi aku tak pernah tahu dialah yang punya ide soal darah- murni ini.
Dibayar pun aku tak mau tinggal di asramanya. Benar, kalau Topi Seleksi dulu
mencoba menempatkanku di Slytherin, aku akan langsung pulang naik kereta
api...."
Hermione mengangguk bersemangat, tetapi Harry tidak berkata apa-apa.
Perutnya rasanya tidak enak.
Harry tidak pernah menceritakan kepada Ron dan Hermione bahwa Topi
Seleksi dengan serius telah mempertimbangkan akan menempatkannya di
Slytherin. Dia masih ingat, seakan kejadiannya baru kemarin, suara kecil yang
berkata ke dalam telinganya ketika dia menaruh topi itu di atas kepalanya
setahun yang lalu.
"Kau bisa jadi penyihir hebat Iho. Semuanya ada di kepalamu, dan Slytherin
bisa membantumu mencapai ke-masyhuran, tak diragukan lagi..."
Tetapi Harry, yang sudah mendengar reputasi asrama Slytherin yang
menghasilkan penyihir-penyihir hitam, telah membatin putus asa, Jangan
Slytherin! dan topi itu berkata,
"Oh, yah, kalau kau yakin... lebih baik Gryffindor..."
--------------------------------------- 88
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ketika mereka tengah terdorong-dorong di tengah anak- anak yang
berbondong-bondong, Colin Creevey melewati mereka.
"Hai, Harry!"
"Halo, Colin," kata Harry otomatis.
"HarryHarryada anak di kelasku yang bilang kau..." Tetapi Colin kecil
sekali, dia tak bisa menahan dorongan anak-anak yang mendesaknya ke Aula
Besar. Mereka mendengarnya mencicit, "Sampai nanti, Harry!" dan dia pun
lenyap.
"Apa kata anak di kelasnya tentang kau?" Hermione ingin tahu.
"Bahwa aku pewaris Slytherin, kukira," kata Harry, perutnya semakin tidak
enak ketika dia teringat Jus-tin Finch-Fletchley yang kabur darinya sebelum
makan siang tadi.
"Orang-orang di sini mempercayai apa saja," kata Ron jijik. Kerumunan anak-
anak menipis dan mereka bisa menaiki tangga berikutnya tanpa kesulitan.
"Apakah menurutmu Kamar Rahasia itu benar-bmar ada?" Ron bertanya kepada
Hermione.
"Entahlah," katanya, mengernyit. "Dumbledore tidak bisa menyembuhkan Mrs
Norris, dan itu membuatku berpikir bahwa apa pun yang menyerangnya
mungkin bukanyah- manusia."
Sementara Hermione bicara, mereka membelok di sudut dan tiba-tiba saja
sudah berada di koridor tem-pat terjadinya penyerangan. Mereka berhenti dan
me-mandang berkeliling. Keadaannya masih persis seperti malam itu, kecuali
tak ada lagi kucing kaku tergantung dari tancapan obor, dan ada kursi kosong di
depan dinding bertulisan "Kamar Rahasia Telah Dibuka."
"Di situlah Filch berjaga," gumam Ron. Mereka saling pandang. Koridor itu
kosong.
"Tak ada salahnya melihat-lihat," kata Harry, men-jatuhkan tasnya,
berjongkok, lalu merangkak untuk mencari petunjuk.
"Bekas terbakar!" katanya. "Di sinidan di sini..."
"Lihat ini!" kata Hermione. "Ini aneh..."
Harry bangun dan menyeberang ke jendela di se-belah tulisan di dinding.
Hermione menunjuk ke ambang paling atas. Tampak kira-kira dua puluh labah-
labah berjalan tergesa-gesa, rupanya mereka berebut mau keluar lewat celah
sempit di kaca. Benang pan-jang keperakan menggantung seperti tali, seakan
me-reka semua naik melewati tali itu dalam ketergesaan mau keluar.
"Pernahkah kau melihat labah-labah bersikap seperti itu?"
tanya Hermione penasaran.
"Tidak," kata Harry. "Pernahkah kau, Ron? Ron?"
Harry berpaling. Ron berdiri jauh-jauh, dan ke-lihatannya berusaha untuk
tidak lari. "Kenapa?" tanya Harry. "Aku tidaksukalabah-labah," kata Ron
tegang. "Aku tak pernah tahu," kata Hermione, menatap Ron keheranan. "Kau
kan sudah sering menggunakan labah-labah dalam ramuan..."
"Aku tidak keberatan kalau mereka mati," kata Ron, yang dengan hati-hati
memandang berkeliling, kecuali jendela. "Aku tak suka melihat cara mereka
bergerak."
Hermione terkikik geli.
--------------------------------------- 89
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tidak lucu," kata Ron galak. "Kalau kau mau tahu, waktu aku berumur tiga
tahun, Fred mengubah... mengubah boneka beruangku menjadi labah-labah
besar mengerikan karena aku mematahkan tongkat sihir mainannya. Kau pasti
tak akan suka juga kalau kau sedang memeluk beruangmu dan mendadak saja
dia punya begitu banyak kaki dan..."
Kata-katanya terputus, dia bergidik. Hermione tam-pak jelas masih berusaha
tidak tertawa. Merasa mereka lebih baik berganti topik, Harry berkata, "Ingat
air yang di lantai? Dari mana air itu? Ada yang sudah mengepelnya."
"Kira-kira di sini," kata Ron, yang sudah cukup menguasai diri untuk berjalan
beberapa langkah me-lewati kursi Filch dan menunjuk, "Sejajar dengan pintu
ini."
Tangannya menjangkau pegangan pintu, tetapi men-dadak ditariknya
kembali, seakan terbakar.
"Kenapa?" tanya Harry.
"Tidak bisa masuk," kata Ron parau, "ini toilet anak perempuan."
"Oh, Ron, tak akan ada orang di dalam," kata Hermione, berdiri dan
mendekat. "Itu tempat si Myrtle Merana. Ayo, kita lihat."
Tanpa mengacuhkan tulisan besar "RUSAK", Hermione membuka pintu.
Itu toilet paling suram dan paling menyedihkan yang pernah dimasuki Harry.
Di bawah cermin besar yang sudah retak dan bebercak-bercak, ada sederet
tempat cuci tangan dari batu yang sudah pecah-pecah. Lantainya lembap dan
memantulkan cahaya suram dari beberapa lilin yang sudah pendek dan menyala
kecil dalam tancapannya. Pintu-pintu kayu bilik-biliknya mengelupas,
berjamur, dan salah satu malah mau lepas, tergantung-gantung pada
engselnya.
Hermione meletakkan jari di bibirnya dan berjalan menuju bilik paling
ujung. Setiba di sana dia berkata, "Halo, Myrtle, bagaimana kabarmu?"
Harry dan Ron melongok. Myrtle Merana sedang melayang- layang di atas
tangki air, memencet-mencet jerawat di dagunya.
"Ini toilet perempuan," katanya, mengawasi Ron dan Harry dengan curiga.
"Mereka bukan perempuan."
"Bukan," Hermione setuju. "Aku cuma mau me-nunjukkan kepada mereka
bagaimanaehbetapa menyenangkannya di sini."
Hermione melambai asal-asalan ke arah cermin dan lantai yang lembap.
"Tanya kalau-kalau dia lihat sesuatu," Harry mengucapkan tanpa suara kepada
Hermione. "Kau bisik-bisik apa?" kata Myrtle, membelalak me-natap Harry.
"Tidak apa- apa," kata Harry cepat-cepat. "Kami ingin tanya..."
"Aku benci kalau orang-orang ngomong di belakang punggungku!" kata Myrtle
menahan tangis. "Aku punya perasaan, kau tahu, walaupun aku sudah mati."
"Myrtle, tak ada yang ingin membuatmu sedih," kata Hermione. "Harry
cuma..."
"Tak ada yang ingin membuatku sedih! Bagus amat!" lolong Myrtle. "Hidupku
penuh penderitaan di tempat ini, dan sekarang orang-orang datang untuk
meng-hancurkan kematianku!"
--------------------------------------- 90
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kami ingin bertanya padamu kalau-kalau kau me-lihat sesuatu yang aneh
belakangan ini," kata Hermione cepat- cepat, "karena ada kucing diserang tepat
di depan pintumu pada malam Hallowe'en."
"Apa kau melihat ada orang di dekat sini malam itu?" tanya Harry.
"Aku tidak memperhatikan," kata Myrtle dramatis. "Peeves membuatku
sangat menderita, sehingga aku masuk ke sini dan mencoba bunuh diri.
Kemudian, tentu saja, aku ingat bahwa akubahwa aku..."
"Sudah mati," kata Ron membantu.
Myrtle tersedu memilukan, melayang ke atas, ber-balik dan menukik dengan
kepala duluan ke dalam kloset, menciprati mereka semua dengan air, dan
menghilang dari pandangan. Dari isakannya yang ber-deguk, dia tentunya
bersembunyi di leher angsa.
Harry dan Ron ternganga, tetapi Hermione mengangkat bahu dan berkata,
"Percaya deh, yang begini ini sudah bisa dibilang riang bagi Myrtle... ayo, kita
pergi."
Harry baru saja menutup pintu ketika terdengar suara keras yang membuat
mereka bertiga terlonjak.
"RON!"
Percy Weasley berdiri terpaku di puncak tangga, lencana prefeknya
berkilauan, ekspresi wajahnya shock berat. "Itu toilet perempuan!" katanya
kaget. "Ngapain kau...?" "Cuma lihat-lihat," Ron mengangkat bahu. "Cari
petunjuk..." Percy menggelembung marah sedemikian rupa se-hingga
mengingatkan Harry pada Mrs Weasley.
"Pergidarisitu...," katanya, melangkah mendekat dan mengusir mereka
dengan mengibas-ngibaskan lengan. "Apa kalian tidak peduli apa pendapat
orang? Kembali ke sini sementara anak-anak lain sedang makan malam..."
"Kenapa kami tidak boleh ke sini?" tanya Ron panas, membelalak pada Percy.
"Dengar, kami tak pernah menyentuh kucing itu!"
"Itu yang kukatakan kepada Ginny," kata Percy garang,
"tapi dia kelihatannya masih mengira kau akan dikeluarkan. Belum pernah
kulihat dia secemas itu, menangis terus- menerus. Paling tidak, pikirkanlah
adikmu. Semua anak kelas satu ketakutan dengan adanya kejadian ini..."
"Kau tak peduli pada Ginny," kata Ron, yang telinganya sudah mulai merah.
"Kau cuma cemas aku akan menghilangkan kesempatanmu menjadi Ketua
Murid!"
"Potong lima angka dari Gryffindor!" kata Percy tegang, jarinya mengelus
lencana prefeknya. "Dan kuharap ini jadi pelajaran bagimu! Tak boleh lagi main
detektif-detektifan, kalau tidak, aku akan menulis pada Mum!"
Ketika Percy pergi, tengkuknya sama merahnya de-ngan telinga Ron.
Harry, Ron, dan Hermione memilih tempat duduk sejauh mungkin dari Percy
di ruang rekreasi malam itu. Ron masih marah sekali dan berkali-kali PR Jimat
dan Guna-guna-nya ketetesan tinta. Ketika dengan asal-asalan dia mengambil
tongkatnya untuk meng-hilangkan noda-noda itu, tongkatnya malah membakar
perkamennya. Marah-marah, sampai seakan berasap seperti perkamennya, Ron
menutup Kitab Mantra Standar, Tingkat 2-nya keras-keras. Betapa herannya
Harry, karena Hermione mengikuti jejaknya.
--------------------------------------- 91
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tapi, siapa dia?" tanya Hermione serius, seakan melanjutkan percakapan
yang sedang mereka laku-kan. "Siapa yang menginginkan semua Squib dan
penyihir kelahiran- Muggle dikeluarkan dari Hogwarts?"
"Mari kita berpikir," kata Ron pura-pura bingung. "Siapa orang yang kita tahu,
yang berpendapat bahwa penyihir kelahiran-Muggle itu sampah?"
Dia memandang Hermione. Hermione balik me-mandangnya, tidak yakin.
"Kalau yang kaubicarakan Malfoy..."
"Tentu saja!" kata Ron. "Kau mendengar ucapannya:
'Giliranmu berikutnya, Darah-lumpur!' Coba saja, kau tinggal melihat
wajahnya yang seperti tikus untuk tahu bahwa dialah orangnya..."
"Malfoy, Pewaris Slytherin!" kata Hermione ragu-ragu.
"Lihat saja keluarganya," kata Harry, ikut-ikutan menutup bukunya.
"Semuanya penghuni Slytherin, dia selalu menyombongkan hal itu. Dengan
mudah dia bisa saja turunan Slytherin. Ayahnya jelas jahat sekali."
"Mereka mungkin saja memegang kunci Kamar Rahasia selama berabad-
abad," kata Ron. "Diserahkan turun-temurun dari ayah ke anak..."
"Yah," kata Hermione hati-hati, "kurasa itu mungkin juga."
"Tapi bagaimana kita membuktikannya?" kata Harry muram.
"Mungkin ada jalan," kata Hermione lambat-lambat, makin merendahkan
suaranya seraya sekilas melirik Percy di seberang ruangan. "Tentu saja akan
sulit. Dan berbahaya, sangat berbahaya. Kita akan melanggar kira-kira lima
puluh peraturan sekolah, kurasa."
"Kalau, kira-kira sebulan lagi, kau bersedia menjelas-kannya, kau akan
memberitahu kami, kan?" kata Ron jengkel.
"Baiklah," tanggap Hermione dingin. "Yang perlu kita lakukan adalah masuk
ke ruang rekreasi Slytherin dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada
Malfoy tanpa dia menyadari kitalah yang bertanya."
"Tapi itu mana mungkin," kata Harry, sementara Ron tertawa. "Tidak, itu
bukan tidak mungkin," kata Hermione.
"Yang kita perlukan hanyalah Ramuan Polijus."
"Apa itu?" tanya Ron dan Harry bersamaan.
"Snape menyebutkannya di kelas beberapa minggu yang lalu..."
"Memangnya kami tak punya kerjaan lain yang lebih menarik di pelajaran
Ramuan selain mendengar-kan Snape?" gumam Ron.
"Ramuan ini mentransformasimu menjadi orang lain. Pikirkanlah! Kita bisa
berubah menjadi tiga anak Slytherin. Tak ada yang tahu itu kita. Malfoy
mungkin akan memberitahu kita segalanya. Dia mungkin se-dang
mrnyombongkan hal itu di ruang rekreasi Slytherin sekarang ini, kalau saja kita
bisa mendengar-nya."
"Ramuan Polijus ini kedengarannya agak meragukan bagiku," kata Ron,
keningnya berkerut. "Bagaimana kalau kita terperangkap bertampang seperti
tiga anak Slytherin selamanya?"
"Efeknya akan menghilang sendiri setelah beberapa waktu," kata Hermione,
melambaikan tangannya tak sabar. "Tetapi mendapatkan resepnya akan sulit
sekali. Kata Snape adanya di buku berjudul Ramuan-ramuan Paling Mujarab
dan, di perpustakaan, buku ini pasti disimpan di Seksi Terlarang."
--------------------------------------- 92
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Hanya ada satu cara untuk meminjam buku dari Seksi Terlarang: kau perlu
izin tertulis dengan tanda tangan guru.
"Susah cari alasan kenapa kita memerlukan buku itu," kata Ron, "kalau bukan
karena kita ingin men-coba membuat salah satu resep ramuannya."
"Kurasa," kata Hermione, "kalau kita pura-pura cuma tertarik pada teorinya,
kita mungkin masih punya kesempatan..."
"Oh, mana mungkin! Tak ada guru yang bisa tertipu dengan alasan begitu,"
kata Ron. "Mereka bodoh benar kalau sampai tertipu...."
10. Bludger Gila
SEJAK kejadian yang membawa malapetaka dengan pixie, Profesor Lockhart
tak pernah lagi membawa makhluk hidup ke dalam kelas. Sebagai gantinya dia
membacakan paragraf- paragraf dari buku-bukunya, dan kadang-kadang
memperagakan kembali bagian-bagian yang paling dramatis. Biasanya dia
memilih Harry untuk membantunya melakukan rekonstruksi. Sejauh ini Harry
sudah dipaksa berperan sebagai pen-duduk desa Transylvania sederhana yang
disembuhkan Lockhart dari Kutukan Gagap, yeti yang pilek berat, dan vampir
yang setelah ditangani Lockhart tak bisa makan apa- apa selain daun selada.
Harry ditarik ke depan kelas dalam pelajaran Per-tahanan terhadap Ilmu
Hitam berikutnya. Kali ini dia berperan sebagai manusia serigala. Harry pasti
sudah menolak kalau dia tidak ingat pada rencana Hermione. Untuk itu dia
harus membuat Lockhart senang.
"Lolongan keras yang bagus, Harrypersisdan kemudian, kalau kalian
percaya, aku menyerang seperti ini membantingnya ke lantaibegini
dengan satu tangan. Aku berhasil memitingnyadengan ta-ngan yang lain.
Kutekankan tongkatku ke lehernya kukumpulkan sisa tenagaku dan
kulancarkan Mantra Homorphus yang sangat rumitdia mengeluarkan erangan
memelasayo, Harrylebih melengking lagibagusbulunya lenyaptaringnya
menyusut dan dia kembali menjadi manusia. Sederhana, tapi efektifdan
satu desa lagi akan mengenangku selama-nya sebagai pahlawan yang
membebaskan mereka dari teror bulanan serangan manusia serigala."
Bel berdering dan Lockhart bangkit.
"PR: buat puisi tentang kejadian aku mengalahkan manusia serigala Wagga
Wagga! Hadiah buku Aku yang Ajaib dengan tanda tanganku untuk penulis puisi
yang paling baik!"
Anak-anak mulai meninggalkan kelas. Harry kembali ke belakang, ke tempat
Ron dan Hermione menunggu.
"Siap?" gumam Harry.
"Tunggu sampai semua sudah pergi," kata Hermione gugup. "Baiklah..."
--------------------------------------- 93
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dia mendekati meja Lockhart, secarik kertas ter-genggam erat di tangannya.
Harry dan Ron mem-buntuti di belakangnya.
"EhProfesor Lockhart?" Hermione tergagap. "Saya ingin mememinjam buku
ini dari perpustakaan. Ha-nya untuk bacaan tambahan." Dia mengulurkan kertas
itu, tangannya agak gemetar. "Masalahnya, bukunya ada di Seksi Terlarang
perpustakaan, jadi saya perlu tanda tangan guru untuk meminjamnyasaya
yakin buku ini bisa membantu saya memahami apa yang Anda ceritakan di
Heboh dengan Hantu, itu lho tentang bisa reptil yang dampaknya baru
kelihatan setelah beberapa lama."
"Ah, Heboh dengan Hantu!" kata Lockhart, mengambil kertas dari tangan
Hermione dan tersenyum lebar kepadanya.
"Mungkin buku favoritku. Kau suka buku itu?"
"Oh, ya," kata Hermione bersemangat. "Cerdik se-kali, cara Anda
memerangkap hantu yang terakhir dengan saringan teh..."
"Yah, kurasa tak akan ada yang keberatan jika aku memberi sedikit bantuan
pada murid terbaik tahun ini," kata Lockhart hangat, dan dia mengeluarkan
pena bulu merak yang besar sekali. "Ya, bagus, kan?" katanya, salah
menafsirkan ekspresi jijik di wajah Ron. "Aku biasanya menggunakannya untuk
me-nandatangani buku-bukuku."
Dia mencoretkan tanda tangan besar melingkar di kertas itu, di bawah judul
buku, dan mengembali-kannya kepada Hermione.
"Nah, Harry," kata Lockhart, sementara Hermione melipat kertas itu dengan
jari-jari gemetar dan me-nyelipkannya ke dalam tasnya. "Besok pertandingan
pertama Quidditch musim ini, kan? Gryffindor lawan Slytherin, ya? Kudengar
kau pemain yang berguna. Aku dulu Seeker juga. Aku diminta mencoba main
untuk tim nasional, tetapi aku memilih mendedikasi-kan hidupku untuk
pemberantasan Ilmu Hitam. Tapi, kalau kau merasa memerlukan latihan privat,
jangan ragu-ragu menghubungiku. Aku selalu senang mem-bagikan keahlianku
pada pemain yang kurang terampil dibanding aku..." Harry mengeluarkan bunyi
tak jelas di kerongkongannya, lalu bergegas menyusul Ron dan Hermione.
"Sungguh tak bisa dipercaya," kata Harry, ketika mereka bertiga mengamati
tanda tangan di kertas. "Dia bahkan tidak membaca judul buku yang kita
inginkan."
"Itu karena dia tak punya otak," kata Ron. "Tapi peduli amat, kita sudah
mendapatkan yang kita ingin-kan."
"Dia punya otak," bantah Hermione nyaring, ketika mereka setengah berlari
ke perpustakaan. "Hanya karena dia bilang kau murid terbaik tahun ini..."
Mereka merendahkan suara ketika memasuki ke-heningan perpustakaan.
Madam Pince, petugas perpustakaan, adalah perem-puan kurus pemarah
yang tampangnya seperti burung hering kurang makan.
"Ramuan-ramuan Paling Mujarab?" dia mengulang curiga, berusaha
mengambil catatan itu dari tangan Hermione, tetapi Hermione tak mau
melepasnya.
"Saya ingin menyimpannya," desahnya.
--------------------------------------- 94
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Ya ampun," kata Ron, merebut kertas itu dan me-nyerahkannya kepada
Madam Pince. "Kita akan minta tanda tangan lain untukmu. Lockhart akan
menanda-tangani apa saja kalau benda itu diam cukup lama."
Madam Pince menerawang kertas itu ke lampu, seakan bertekad menemukan
pemalsuan, tetapi kertas nya lulus tes. Dia berjalan di antara rak-rak tinggi dan
kembali beberapa menit kemudian, membawa buku besar yang tampak
berjamur. Hermione me-masukkannya hati-hati ke dalam tasnya dan mereka
meninggalkan perpustakaan, berusaha tidak berjalan terlalu cepat atau
kelihatan terlalu bersalah.
Lima menit kemudian, mereka sudah mengurung diri dalam toilet rusak
Myrtle Merana lagi. Hermione menolak keberatan Ron dengan dalih toilet itu
tempat terakhir yang akan didatangi siapa saja yang pikiran-nya lurus. Jadi di
situ dijamin mereka aman. Myrtle Merana tersedu-sedu berisik di dalam
biliknya, tetapi mereka tidak memedulikannya dan Myrtle juga tidak
memedulikan mereka.
Hermione hati-hati membuka Ramuan-ramuan Paling Mujarab, dan ketiganya
membungkuk di atas halaman-halaman yang bebercak-bercak lembap. Sekilas
saja sudah jelas kenapa buku itu ditaruh di Seksi Terlarang. Beberapa efek
ramuannya terlalu mengerikan untuk dipikirkan, dan ada beberapa ilustrasi
yang menyeram-kan, termasuk gambar seorang laki-laki yang kelihatan-nya
bagian dalam tubuhnya dibalik jadi di luar, dan penyihir wanita yang dari
kepalanya tumbuh beberapa pasang tangan tambahan.
"Ini dia," kata Hermione bersemangat, ketika dia me-nemukan halaman yang
berjudul Ramuan Polijus. Ha-laman itu dihiasi gambar-gambar orang yang
setengah bertransformasi menjadi orang lain. Harry betul-betul berharap
ilustratornya hanya membayangkan ekspresi kesakitan luar biasa pada wajah
orang-orang itu.
"Ini ramuan paling rumit yang pernah kubaca," kata Hermione, ketika mereka
membaca resepnya.
"Serangga sayap-renda, lintah, mostar, dan knotgrass tanaman rendah
berbunga dadu dan berdaun biru keabu- abuan," dia bergumam, jarinya
menyusuri daftar bahan yang diperlukan. "Yah, ini cukup gampang, semua ada
di lemari bahan siswa, kita bisa ambil sendiri. Oooh, lihat, bubuk tanduk Bicorn
entah dari mana bisa kita dapatkan... selongsong kulit ular pohon saat dia
ganti kulitini susah jugadan tentu saja sedikit bagian dari orang yang
menjadi sasaran kita."
"Maaf?" kata Ron tajam. "Apa maksudmu, sedikit bagian dari orang yang
menjadi sasaran kita? Aku tak mau minum apa pun yang mengandung kuku kaki
Crabbe..."
Hermione melanjutkan seakan dia tidak mendengar-nya.
"Kita belum perlu mencemaskan itu, karena bagian itu kita tambahkan paling
belakang..." Tak bisa bicara, Ron menoleh kepada Harry, yang punya
kekhawatiran lain.
"Apakah kau sadar berapa banyak yang harus kita curi, Hermione? Kulit ular
pohon, jelas ini tak ada dalam lemari siswa. Apa yang akan kita lakukan?
Membongkar lemari pribadi Snape? Aku tak tahu apakah itu ide bagus..."
--------------------------------------- 95
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Hermione menutup bukunya dengan suara keras.
"Kalau kalian berdua mau mundur, silakan," kata-nya. Ada rona merah di
pipinya dan matanya lebih cemerlang daripada biasanya. "Aku tak ingin me-
langgar peraturan, kalian tahu. Kurasa mengancam penyihir kelahiran-Muggle
lebih parah daripada me-rebus ramuan yang sulit. Tetapi kalau kalian tidak
ingin mencari tahu apakah Malfoy adalah pewaris Slytherin, aku akan kembali
ke Madam Pince sekarang juga dan mengembalikan bukunya di..."
"Tak pernah kusangka akan tiba harinya kau mem-bujuk kami untuk
melanggar peraturan," kata Ron. "Baiklah, akan kita lakukan. Tapi tidak pakai
kuku kaki, oke?"
"Berapa lama sih buatnya?" tanya Harry, ketika Hermione, yang tampak lebih
gembira, membuka buku itu lagi.
"Yah, karena mostarnya harus dicabut pada malam purnama, dan serangga
sayap-rendanya harus direbus selama dua puluh satu hari... kubilang ramuan
itu akan siap dalam waktu kira-kira sebulan, kalau kita berhasil mendapatkan
semua bahannya."
"Sebulan?" kata Ron. "Malfoy bisa-bisa sudah me-nyerang separo anak yang
kelahiran-Muggle!" Tetapi mata Hermione menyipit berbahaya lagi, jadi Ron
buru-buru menambahkan,
"Tapi ini rencana paling baik yang kita punya, jadi jalan terus." Meskipun
demikian, sementara Hermione me-meriksa apakah keadaan aman bagi mereka
untuk meninggalkan toilet, Ron bergumam kepada Harry, "Akan jauh lebih
mudah kalau kau bisa menjatuhkan Malfoy dari sapunya besok."
Hari Sabtu, Harry terbangun pagi-pagi dan berbaring-baring dulu memikirkan
pertandingan Quidditch yang akan berlangsung. Dia cemas, terutama
memikirkan apa yang akan dikatakan Wood kalau Gryffindor kalah, tetapi juga
memikirkan mereka harus meng-hadapi tim yang menaiki sapu balap paling
cepat yang bisa dibeli dengan emas. Belum pernah dia begitu ingin
mengalahkan Slytherin sampai seperti itu. Setelah setengah jam berbaring
dengan perasaan tak keruan, dia bangkit, berganti pakaian, dan turun untuk
sarapan lebih awal dari biasanya. Ternyata ang-gota tim Gryffindor lainnya
sudah berkumpul di meja panjang yang kosong, semua kelihatan tegang dan
tidak banyak bicara.
Mendekati pukul sebelas, seluruh sekolah mulai menuju ke stadion
Quidditch. Cuaca mendung, guruh siap menggelegar. Ron dan Hermione
bergegas datang untuk mengucapkan selamat bertanding dan semoga sukses
ketika Harry memasuki kamar ganti. Para ang-gota tim memakai jubah merah
tua Gryffindor mereka, kemudian duduk untuk mendengarkan pidato sebelum-
pertandingan Wood seperti biasanya.
"Slytherin punya sapu yang lebih bagus dari kita," dia mulai, "tak ada
gunanya menyangkalnya. Tetapi kita punya pemain yang lebih baik di atas sapu
kita. Kita sudah berlatih lebih keras daripada mereka, kita sudah terbang
dalam segala cuaca..." ("Betul sekali," gumam George Weasley. "Aku tidak
pernah betul-betul kering sejak Agustus.") "...dan kita akan mem-buat mereka
menyesali hari ketika mereka mengizin-kan si licik Malfoy itu menyuap untuk
bisa masuk tim mereka."
--------------------------------------- 96
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dengan dada naik-turun saking emosinya, Wood menoleh kepada Harry.
"Terserah padamu, Harry, untuk menunjukkan bahwa Seeker perlu punya
lebih dari sekadar ayah yang kaya. Tangkap Snitch-nya sebelum keduluan
Malfoy. Kalau tidak, lebih baik mati, Harry, karena kita harus menang hari ini,
kita harus menang."
"Jadi, tak ada tekanan, Harry," kata Fred, mengedip kepadanya.
Ketika mereka keluar menuju ke stadion, terdengar sambutan meriah,
sorakan dan teriakan untuk menyemangati mereka, karena Ravenclaw dan
Hufflepuff ingin melihat Slytherin kalah, tetapi anak-anak Slytherin juga
ber-"buu-buu" dan mendesis-desis keras. Madam Hooch, guru Quidditch mereka,
me-minta Flint dan Wood berjabat tangan. Keduanya berjabat tangan dengan
saling melempar pandangan mengancam, dan meremas lebih keras daripada
yang diperlukan.
"Mulai pada tiupan peluitku," kata Madam Hooch, "tiga... dua... satu..."
Dengan teriakan dari penonton untuk menye-mangati mereka terbang,
keempat belas pemain me-luncur naik ke langit yang mendung. Harry terbang
lebih tinggi daripada yang lain, menyipitkan mata, mencari-cari Snitch.
"Baik-baik di sana, Dahi Pitak?" teriak Malfoy, me-luncur di bawah Harry
seakan mau memamerkan kecepatan sapunya.
Harry tak punya kesempatan menjawab. Pada saat itu Bludger hitam berat
meluncur ke arahnya. Dia menghindar, tetapi hampir saja kena. Dia masih me-
rasakan Bludger itu menyapu rambutnya.
"Nyaris saja, Harry!" kata George, melesat me-lewatinya dengan pemukul di
tangan, siap memukul balik Bludger ke arah Slytherin. Harry melihat George
memukul Bludger itu sekuat tenaga ke arah Adrian Pucey, tetapi Bludger itu
berubah arah di tengah udara dan kembali mengincar Harry. Harry cepat-cepat
menukik turun menghindarinya, dan George berhasil memukulnya keras-keras
ke arah Malfoy. Sekali lagi Bludger itu berbalik seperti bumerang dan meluncur
ke kepala Harry.
Harry mempercepat laju sapunya dan melesat ke ujung lain lapangan. Dia
bisa mendengar Bludger itu menderu di belakangnya. Apa yang terjadi? Bludger
tidak pernah berkonsentrasi pada satu pemain seperti ini. Tugas Bludger- lah
untuk mencoba menjatuhkan sebanyak mungkin pemain...
Fred Weasley menunggu Bludger di ujung lain la-pangan. Harry menunduk
ketika Fred memukul Bludger sekuat tenaga. Bludger itu terbang ke luar
lapangan.
"Beres!" teriak Fred senang, tetapi dia keliru. Bagai tertarik magnet, Bludger
itu kembali meluncur ke arah Harry, dan Harry terpaksa terbang dengan ke-
cepatan penuh.
Hujan sudah mulai turun. Tetes-tetes besar air jatuh ke wajah Harry,
mengaburkan kacamatanya. Dia tak bisa melihat apa yang sedang berlangsung
sampai dia mendengar Lee Jordan, yang menjadi komentator, berkata,
"Slytherin memimpin, enam puluh lawan nol."
Sapu superior Slytherin jelas menunjukkan ke-piawaiannya, dan sementara
itu si Bludger gila terus berusaha menjatuhkan Harry dari sapunya. Fred dan
George sekarang terbang begitu rapat di kanan-kirinya, sehingga Harry tak bisa
--------------------------------------- 97
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
melihat apa- apa selain tangan mereka yang berseliweran dan ia tak punya ke-
sempatan mencari Snitch, apalagi menangkapnya.
"Ada... yang... mengerjai... Bludger... ini...," gerutu Fred, mengayunkan
pemukulnya sekuat tenaga ketika si Bludger kembali menyerang Harry.
"Kita perlu time out," kata George, berusaha memberi isyarat kepada Wood
dan mencegah si Bludger me-matahkan hidung Harry pada saat bersamaan.
Wood jelas sudah menangkap pesannya. Peluit Madam Hooch berbunyi
nyaring dan Harry, Fred, dan George menukik turun, masih berusaha meng-
hindari si Bludger gila.
"Apa yang terjadi?" tanya Wood, ketika tim Gryffindor sudah berkumpul,
sementara para pe-nonton Slytherin berteriak mengejek. "Kita digilas. Fred,
George, di mana kalian waktu Bludger itu men-cegah Angelina mencetak gol?"
"Kami enam meter di atasnya, mencegah Bludger satunya membunuh Harry,
Oliver," kata George ma-rah. "Ada yang menyihirnyaBludger itu menyerang
Harry terus, tidak pernah mendekati pemain lain sepanjang pertandingan.
Anak-anak Slytherin pasti sudah melakukan sesuatu pada Bludger itu."
"Tetapi Bludger-nya dikunci dalam kantor Madam Hooch sejak latihan
terakhir kita, dan waktu itu dua-duanya tidak apa-apa...," kata Wood cemas.
Madam Hooch berjalan ke arah mereka. Lewat atas bahu Madam Hooch,
Harry bisa melihat tim Slytherin mengejek dan menunjuk-nunjuk ke arah-nya.
"Dengar," kata Harry, ketika Madam Hooch sudah semakin dekat, "dengan
kalian berdua terbang di sekitarku sepanjang waktu, satu-satunya kemungkinan
aku menangkap Snitch adalah kalau Snitch-nya terbang masuk ke lengan
jubahku," kata Harry. "Kem-balilah ke yang lain dan biar kutangani sendiri
Bludger gila itu."
"Jangan bodoh," kata Fred. "Bludger itu bisa me-nebas kepalamu." Wood
bergantian memandang Harry dan si kembar Weasley.
"Oliver, ini gila," kata Alicia Spinnet berang. "Kau tak bisa mengizinkan Harry
menangani Bludger itu sendirian. Ayo, kita minta penyelidikan..."
"Kalau kita berhenti sekarang, kita akan dinyatakan kalah!" kata Harry. "Dan
kita tidak akan kalah dari Slytherin hanya karena satu Bludger gila! Ayo, Oliver,
suruh mereka meninggalkanku sendiri!"
"Ini semua salahmu," kata George marah kepada Wood.
"'Tangkap Snitch-nya, kalau tidak lebih baik mati.' Bodoh benar bilang begitu
padanya."
Madam Hooch sudah bergabung dengan mereka.
"Siap melanjutkan pertandingan?" dia bertanya kepada Wood.
Wood memandang wajah Harry yang memancarkan tekad kuat.
"Baiklah," katanya. "Fred, George, kalian mendengar Harry... tinggalkan dia
dan biarkan dia menangani sendiri Bludger itu."
Hujan sudah semakin deras sekarang. Begitu peluit Madam Hooch ditiup,
Harry menjejak keras ke udara dan mendengar desing Bludger yang sudah
dikenal-nya di belakangnya. Harry terbang makin lama makin tinggi. Dia
terbang melingkar, meluncur, spiral, zig-zag, dan berguling. Meskipun agak
pusing, dia mem-buka mata lebar-lebar. Hujan mengaburkan kacamata-nya dan
mengalir masuk ke lubang hidungnya ketika dia bergantung membalik,
--------------------------------------- 98
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
menghindari serangan keras si Bludger. Dia bisa mendengar gelak tawa
penonton, dia tahu pasti dia tampak tolol sekali, tetapi si Bludger gila itu berat
dan tak dapat berubah arah secepat dia. Dia mulai terbang model roller-
coaster mengelilingi stadion, matanya menyipit menembus tirai perak air
hujan, memandang tiang gol Gryffindor, di mana Adrian Pucey sedang berusaha
melewati Wood....
Desing di telinganya membuat Harry tahu si Bludger baru saja gagal
menyerangnya lagi. Dia lang-sung memutar dan meluncur ke arah berlawanan.
"Lagi latihan balet nih, Potter?" teriak Malfoy, ketika Harry terpaksa
berputar-putar dengan konyol di te-ngah udara untuk menghindari si Bludger.
Harry terbang menjauh, si Bludger membuntuti satu meter di belakangnya. Dan
kemudian, ketika membalas me-mandang Malfoy penuh kebencian, Harry
melihatnya, Golden Snitch, melayang hanya beberapa senti di atas telinga kiri
Malfoydan Malfoy, yang sibuk me-nertawakan Harry, tidak melihatnya.
Selama beberapa saat yang menyiksa, Harry meng-gantung di udara, tak
berani meluncur ke arah Malfoy, takut kalau- kalau Malfoy mendongak dan
melihat Snitch itu.
DUGGG!
Dia berdiam diri terlalu lama sedetik. Si Bludger berhasil mengenainya
akhirnya, menghantam sikunya, dan Harry merasa lengannya patah. Samar-
samar, pusing karena kesakitan luar biasa pada lengannya, dia tergelincir
miring pada sapunya yang basah kuyup, satu lututnya masih mengait pada sapu
itu, lengan kanannya tergantung lunglai tak berguna. Si Bludger kembali
meluncur ke arahnya untuk serangan kedua, kali ini mengarah ke wajahnya.
Harry menghindar, dengan satu ide tertanam di otaknya yang membeku:
dekati Malfoy.
Dengan pandangan kabur karena hujan dan rasa sakitnya, Harry menukik ke
arah wajah yang menye-ringai mengejek di bawahnya dan melihat mata di
wajah itu membelalak ketakutan: Malfoy mengira Harry menyerangnya.
"Apa yang...," pekiknya kaget, menyingkir meng-hindari Harry.
Dengan tangan kanannya lunglai tak berdaya, Harry melepas satu-satunya
pegangannya pada sapu dan menyambar liar. Dia merasa jari-jarinya
menggenggam Snitch yang dingin, tetapi sekarang dia hanya menjepit sapu
dengan kakinya dan terdengar jeritan dari pe-nonton di bawah ketika dia
meluncur ke bawah, berusaha keras agar tidak pingsan. Dengan bunyi
berdebam keras dan cipratan lumpur, dia mendarat dan berguling dari sapunya.
Lengannya menggantung terpuntir dalam posisi sangat janggal. Dalam
kesakitannya, dia mendengar seakan dari ke-jauhan, suitan dan teriakan-
teriakan. Dia ber-konsentrasi pada Snitch yang tergenggam di tangan-nya yang
sehat.
"Aha," katanya tak jelas. "Kita menang." Lalu dia pingsan.
Saat sadar kembali, hujan membasahi wajahnya. Dia masih terbaring di
lapangan dan ada orang yang membungkuk di atasnya. Harry melihat kilauan
gigi.
"Oh tidak, jangan Anda," rintihnya.
--------------------------------------- 99
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Dia tak sadar apa yang dikatakannya," kata Lockhart keras-keras kepada
anak-anak Gryffindor yang cemas berdesakan mengerumuninya. "Jangan
khawatir, Harry, akan kusembuhkan lenganmu."
"Jangan!" tolak Harry. "Biar begini saja, terima kasih..."
Dia berusaha duduk, tetapi sakitnya bukan main. Didengarnya bunyi klak-klik
yang sudah sangat dikenalnya di dekatnya.
"Aku tak mau difoto begini, Colin," katanya keras.
"Berbaring lagi, Harry," bujuk Lockhart. "Ini mantra sederhana yang sudah
kugunakan ratusan kali." "Kenapa saya tak boleh ke rumah sakit saja?" kata
Harry dengan gigi mengertak.
"Dia seharusnya ke rumah sakit saja, Profesor," kata Wood yang penuh
lumpur. Dia tak tahan tidak nyengir walaupun Seeker-nya terluka. "Tangkapan
luar biasa, Harry, benar-benar spektakuler, tangkapanmu yang paling hebat,
menurutku."
Melalui pagar kaki yang mengelilinginya, Harry melihat Fred dan George
Weasley, berkutat memasuk-kan si Bludger gila ke dalam kotak. Bludger itu
masih melawan gila-gilaan.
"Mundur," kata Lockhart, yang menggulung lengan jubah hijau-kumalanya.
"Tidakjangan...," kata Harry lemah, tetapi Lockhart sudah memelintir
tongkatnya dan sedetik kemudian mengacungkannya ke lengan Harry.
Perasaan aneh dan tidak menyenangkan menjalar dari bahu Harry terus ke
ujung jari-jarinya. Rasanya seakan lengannya sedang dikempiskan. Dia tidak be-
rani melihat apa yang sedang terjadi. Dipejamkannya matanya, dipalingkannya
wajahnya dari lengannya, tetapi ketakutannya yang terbesar menjadi
kenyataan ketika orang-orang di atasnya memekik tertahan dan Colin
menjepret gila-gilaan. Lengannya sudah tidak sakit lagitetapi juga tidak
terasa seperti lengan.
"Ah," kata Lockhart. "Ya. Yang seperti itu kadang-kadang terjadi. Tetapi yang
penting, tulangnya tidak lagi patah. Itu yang harus diingat. Jadi, Harry,
pergilah saja ke rumah sakit... ah, Mr Weasley, Miss Granger, tolong kalian
antar, ya?... dan Madam Pomfrey akan bisa me... eh... merapikanmu sedikit."
Ketika Harry bangkit, dia merasa aneh, seakan berat sebelah. Dengan menarik
napas dalam-dalam dia me-nunduk memandang ke sebelah kanannya. Yang di-
lihatnya nyaris membuatnya pingsan lagi.
Menjulur dari ujung jubahnya ada sesuatu yang tampak seperti sarung tangan
karet tebal warna kulit. Harry mencoba menggerakkan jari-jarinya. Tak ada
yang terjadi.
Lockhart tidak monyembuhkan tulang Harry. Dia melenyapkannya.
Madam Pomfrey sama sekali tidak senang.
"Seharusnya kau langsung datang padaku!" katanya berang, mengangkat
bekas lengan yang tampak lemas menyedihkan, yang setengah jam sebelumnya
masih berupa tangan yang sehat. "Aku bisa menyembuhkan tulang patah dalam
waktu sedetiktapi menumbuh-kan kembali tulang- tulang..."
"Tapi Anda bisa, kan?" tanya Harry putus asa.
"Aku bisa, tentu saja, tapi akan sakit sekali," kata Madam Pomfrey muram,
seraya melempar piama ke-pada Harry. "Kau harus menginap..."
--------------------------------------- 100
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Hermione menunggu di balik tirai yang dipasang di sekeliling tempat tidur
Harry, sementara Ron mem-bantunya memakai piama. Perlu cukup lama untuk
memasukkan lengan tanpa tulang yang bagai karet itu ke dalam lengan piama.
"Bagaimana kau bisa membela Lockhart sekarang, Hermione, eh?" seru Ron
dari balik tirai sembari menarik jari- jari lemas Harry dari lubang lengan. "Kalau
Harry mau tulangnya dihilangkan, dia akan minta."
"Siapa saja bisa membuat kesalahan," kata Hermione. "Lagi pula tidak sakit
lagi, kan, Harry?" "Tidak," jawab Harry, "tapi tidak bisa ngapa-ngapain juga."
Saat melempar dirinya ke atas tempat tidur, lengan-nya mengelepak lunglai.
Hermione dan Madam Pomfrey datang ke balik tirai. Madam Pomfrey mem-
bawa botol besar berlabel "Skele-Gro"Penumbuh Tulang.
"Kau akan kesakitan semalaman," katanya seraya menuang semangkuk penuh
cairan berasap dan meng-ulurkannya kepada Harry. "Menumbuhkan tulang sa-
ngat tidak menyenangkan."
Begitu juga meminum Skele-Gro. Cairan itu mem-bakar mulut dan
tenggorokan Harry, membuatnya terbatuk-batuk dan tergagap-gagap. Dengan
masih mengomel tentang permainan yang berbahaya dan guru yang tidak layak,
Madam Pomfrey pergi, me-ninggalkan Ron dan Hermione membantu Harry me-
minum beberapa teguk air.
"Tapi kita menang," kata Ron, nyengir lebar.
"Tang-kapanmu luar biasa. Wajah Malfoy... kelihatannya dia siap
membunuh!"
"Aku ingin tahu Bludger itu dia apakan," kata Hermione jengkel.
"Kita bisa menambahkan itu ke daftar pertanyaan yang akan kita ajukan
kepadanya setelah kita minum Ramuan Polijus," kata Harry, merebahkan diri
kembali ke bantalnya.
"Mudah-mudahan rasanya lebih enak daripada obat ini..."
"Dengan cuilan anak Slytherin di dalamnya? Kau bergurau,"
kata Ron.
Pintu kamar rumah sakit terbuka keras pada saat itu. Kotor dan basah kuyup,
seluruh anggota tim Gryffindor datang untuk menengok Harry.
"Terbangmu bukan main, Harry," kata George. "Aku baru saja melihat Marcus
Flint berteriak-teriak me-marahi Malfoy. Ngomel tentang Snitch yang berada di
atas kepalanya dan dia tidak melihatnya. Malfoy kelihatannya tidak senang."
Mereka membawa kue, permen, dan berbotol-botol jus labu kuning. Mereka
berkerumun di sekeliling tempat tidur Harry dan baru akan mulai berpesta
ketika Madam Pomfrey buru- buru mendatangi, sambil berteriak, "Anak ini
perlu istirahat, dia harus me-numbuhkan tiga puluh tiga tulang! Keluar!
KELUAR!"
Dan Harry ditinggalkan sendirian, tanpa ada yang bisa mengalihkan
perhatiannya dari kesakitan yang menusuk-nusuk lengannya yang lemas.
Berjam-jam kemudian, Harry mendadak terbangun dalam gelap gulita dan
memekik kesakitan. Lengannya serasa dipenuhi serpihan-serpihan tulang besar.
Sesaat dia mengira itulah yang membuatnya terbangun. Kemudian, dengan
ngeri dia menyadari ada yang menyeka dahinya dengan spons dalam gelap.
"Pergi!" katanya keras. Dan kemudian, "Dobby!"
--------------------------------------- 101
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mata si peri-rumah yang menonjol sebesar bola tenis memandang Harry
dalam kegelapan. Sebutir air mata bergulir di hidungnya yang panjang dan
runcing.
"Harry Potter kembali ke sekolah," dia berbisik me-rana.
"Dobby sudah bolak-balik memperingatkan Harry Potter. Ah, Sir, kenapa
Anda tidak mendengar-kan Dobby? Kenapa Harry Potter tidak pulang saja waktu
ketinggalan kereta api?"
Harry duduk bersandar di bantalnya dan me-nyingkirkan spons Dobby.
"Ngapain kau di sini?" tanyanya. "Dan bagaimana kau tahu aku ketinggalan
kereta?"
Bibir Dobby bergetar dan Harry mendadak curiga.
"Kau!" katanya lambat-lambat. "Kau yang membuat palang rintangan
menolak mengizinkan kami masuk!"
"Memang betul, Sir," kata Dobby, mengangguk kuat-kuat, telinganya
mengelepak. "Dobby bersembunyi me-nunggu Harry Potter dan menyegel
palang rintangan dan Dobby harus menyeterika tangannya sesudah-nya..."
ditunjukkannya kepada Harry sepuluh jari panjang yang diperban, "...tetapi
Dobby tidak peduli, Sir, karena dia mengira Harry Potter aman, dan Dobby tak
pernah mimpi bahwa Harry Potter akan ke sekolah dengan cara lain!"
Dia mengayun tubuhnya ke depan dan ke belakang, menggeleng-gelengkan
kepalanya yang jelek.
"Dobby kaget sekali ketika mendengar Harry Potter sudah kembali ke
Hogwarts, sampai membuat makan malam tuannya hangus! Belum pernah
Dobby di-cambuki sehebat itu, Sir..."
Harry terenyak kembali ke bantalnya.
"Kau hampir saja membuat aku dan Ron dikeluar-kan," katanya galak. "Lebih
baik kau pergi sebelum tulang-tulangku tumbuh, Dobby, kalau tidak mungkin
kau akan kucekik."
Dobby tersenyum lemah.
"Dobby sudah terbiasa dengan ancaman maut, Sir. Dobby menerimanya lima
kali sehari di rumah."
Dobby membuang ingus di salah satu sudut sarung bantal kumal dan kotor
yang dipakainya, kelihatan memelas sekali sehingga Harry merasa
kemarahannya mereda dengan sendirinya.
"Kenapa kau memakai itu, Dobby?" tanyanya ingin tahu.
"Ini, Sir?" kata Dobby, menarik-narik sarung bantal-nya.
"Ini tanda perbudakan peri-rumah, Sir. Dobby hanya bisa dibebaskan kalau
tuan Dobby meng-hadiahinya pakaian, Sir. Keluarga majikan Dobby sa-ngat
berhati-hati, jangan sampai menyerahkan kepada Dobby bahkan kaus kaki
bekas, Sir, karena kalau begitu Dobby akan bebas meninggalkan rumah mereka
selamanya."
Dobby menyeka matanya yang menonjol dan men-dadak berkata, "Harry
Potter harus pulang! Dobby mengira Bludger- nya akan cukup membuat..."
"Bludger-mu?" kata Harry, kemarahannya timbul lagi. "Apa maksudmu,
Bludger-mu? Kau membuat Bludger itu mencoba membunuhku?"
--------------------------------------- 102
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tidak membunuh, Sir, tak akan pernah membunuh Anda!" kata Dobby
terperanjat. "Dobby ingin menye-lamatkan hidup Harry Potter! Lebih baik
dipulangkan, dengan luka parah, daripada tinggal di sini, Sir! Dobby cuma ingin
Harry Potter luka cukup parah supaya dikirim pulang!"
"Oh, cuma itu?" kata Harry berang. "Kurasa kau tidak akan bilang padaku
kenapa kau menginginkan aku dikirim pulang dalam keadaan tidak utuh?"
"Ah, kalau saja Harry Potter tahu!" Dobby meratap, lebih banyak lagi air
mata bercucuran ke sarung bantal rombengnya. "Kalau saja dia tahu betapa
berartinya dia untuk kami, kaum rendahan, para budak, kami sampah
masyarakat sihir! Dobby ingat bagaimana ke-adaannya ketika Dia yang Namanya
Tak Boleh Disebut berada di puncak kekuasaannya, Sir! Kami peri-peri-rumah
diperlakukan seperti kutu busuk! Tentu saja Dobby masih diperlakukan seperti
itu, Sir," dia mengakui, menyeka wajahnya dengan sarung bantal-nya.
"Tetapi, Sir, kehidupan telah menjadi jauh lebih baik bagi kaum kami sejak
Anda menang melawan Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut. Harry Potter
selamat, dan kekuatan si Pangeran Kegelapan dipatah-kan, dan saat itu seperti
hari baru, Sir. Harry Potter bersinar seperti cahaya mercusuar harapan bagi
kami, yang mengira hari-hari gelap tak akan pernah berakhir, Sir... Dan
sekarang, di Hogwarts, peristiwa- peristiwa mengerikan akan terjadi, bahkan
mungkin sedang terjadi, dan Dobby tak bisa membiarkan Harry Potter tinggal di
sini sekarang ketika sejarah akan berulang, sekarang ketika Kamar Rahasia
sekali lagi akan di-buka..."
Dobby terperangah, kaget dan ngeri. Dia me-nyambar teko air Harry dari
meja di sebelah tempat tidurnya, lalu memukulkannya ke kepalanya sendiri,
terguling lenyap dari pandangan. Sesaat kemudian dia merayap naik ke tempat
tidur lagi, dengan mata juling, mengomel, "Dobby nakal, Dobby nakal sekali...."
"Jadi Kamar Rahasia itu memang ada!" bisik Harry.
"Dankau bilang kamar itu sudah pernah dibuka sebelumnya? Ceritakan
padaku, Dobby!"
Harry menyambar pergelangan tangan kurus si peri ketika hendak meraih
kembali teko air. "Tetapi aku bukan kelahiran- Mugglebagaimana mungkin
kamar itu berbahaya bagiku?"
"Ah, Sir, jangan tanya-tanya lagi, jangan tanya-tanya Dobby lagi," kata si
peri tergagap, matanya besar sekali dalam gelap. "Perbuatan-perbuatan jahat
sudah direncanakan di tempat ini, tetapi Harry Potter tidak boleh berada di sini
kalau itu terjadi. Pulanglah, Harry Potter. Pulanglah. Harry Potter tak boleh
ikut campur dalam hal ini, Sir. Terlalu berbahaya..."
"Siapa, Dobby?" Harry bertanya, seraya memegang pergelangan tangan Dobby
erat-erat untuk men-cegahnya memukul diri sendiri dengan teko air lagi. "Siapa
yang membukanya? Siapa yang dulu membuka-nya?"
"Dobby tak bisa, Sir, Dobby tak bisa, Dobby tak boleh bilang!" seru si peri.
"Pulanglah, Harry Potter, pulanglah!"
"Aku tidak akan ke mana-mana!" kata Harry tegas. "Salah satu sahabatku
kelahiran-Muggle, dia akan menjadi salah satu korban pertama kalau Kamar
Rahasia benar-benar dibuka..."
--------------------------------------- 103
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Harry Potter mempertaruhkan hidupnya untuk teman- temannya!" kata
Dobby sedih bercampur ba-hagia. "Sungguh mulia! Sungguh gagah berani!
Tetapi dia harus menyelamatkan dirinya sendiri, harus, Harry Potter tidak
boleh..."
Dobby mendadak diam terpaku, telinganya bergetar.
Harry mendengarnya juga. Ada langkah-langkah kaki mendekat di lorong di
depan kamar."
"Dobby harus pergi!" bisik si peri, ketakutan. Ter-dengar derak keras, dan
jari-jari Harry mendadak menggenggam udara kosong. Dia terenyak kembali ke
tempat tidurnya, matanya tertuju ke pintu yang gelap, sementara bunyi
langkah-langkah kaki semakin mendekat.
Saat berikutnya Dumbledore berjalan mundur masuk ke kamar, memakai jas
kamar wol panjang dan topi tidur. Dia menggotong ujung sesuatu yang tampak
seperti patung. Profesor McGonagall muncul sedetik kemudian, menggotong
kakinya. Bersama-sama mereka mengangkat patung itu ke atas tempat tidur.
"Panggil Madam Pomfrey," bisik Dumbledore, dan Profesor McGonagall
bergegas melewati kaki tempat tidur Harry, menghilang dari pandangan. Harry
ber-baring tak bergerak, pura-pura tidur. Dia mendengar suara-suara tegang,
dan kemudian Profesor McGonagall muncul lagi, diikuti Madam Pomfrey, yang
datang sambil memakai kardigan di atas gaun tidur-nya. Harry mendengar
tarikan napas tajam.
"Apa yang terjadi?" Madam Pomfrey berbisik kepada Dumbledore,
membungkuk di atas patung di tempat tidur.
"Serangan lagi," kata Dumbledore. "Minerva me-nemukannya di tangga."
"Ada setangkai buah anggur di sebelahnya," kata Profesor McGonagall. "Kami
menduga dia sedang ber-usaha menyelinap ke sini untuk menengok Potter."
Hati Harry mencelos. Pelan-pelan dan hati-hati, di-angkatnya kepalanya
beberapa senti supaya dia bisa melihat patung di tempat tidur itu. Seberkas
cahaya bulan menyinari seraut wajah yang pandangannya kosong.
Colin Creevey Matanya terbelalak lebar dan tangan-nya terjulur kaku ke
depan, memegangi kameranya. "Membatu?" bisik Madam Pomfrey. "Ya," kata
Profesor McGonagall. "Aku bergidik memikirkan... Kalau Albus tidak sedang
turun untuk minum cokelat panas, entah apa yang akan terjadi..."
Ketiganya menunduk menatap Colin. Kemudian Dumbledore membungkuk
untuk melepas kamera dari pegangan erat Colin.
"Menurutmu dia berhasil memotret penyerangnya?" kata Profesor McGonagall
bersemangat. Dumbledore tidak menjawab. Dia membuka bagian belakang
kamera. "Astaga!" celetuk Madam Pomfrey. Semburan asap mendesis dari
kamera. Harry, tiga tempat tidur dari Colin, mencium bau tajam plastik
terbakar. "Meleleh," kata Madam Pomfrey bingung, "semua meleleh..." "Apa
artinya ini, Albus?" Profesor McGonagall ber-tanya mendesak. "Artinya," kata
Dumbledore,
"Kamar Rahasia benar-benar telah dibuka lagi."
Madam Pomfrey menekap mulutnya. Profesor McGonagall terbelalak
menatap Dumbledore. . "Tetapi, Albus... siapa?"
--------------------------------------- 104
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Pertanyaannya bukan siapa," kata Dumbledore, matanya menatap Colin.
"Pertanyaannya adalah bagai-mana..."
Dan melihat wajah Profesor McGonagall yang samar-samar, Harry tahu dia
sama tidak mengertinya seperti Harry sendiri.
11. Klub Duel
KETIKA Harry terbangun pada hari Minggu pagi, kamarnya dipenuhi sinar
matahari musim dingin dan lengannya sudah bertulang lagi, tetapi sangat kaku.
Dia segera duduk dan menoleh ke tempat tidur Colin, tetapi ternyata di antara
tempat tidurnya dan tempat tidur Colin telah dipasangi tirai tinggi, yang
kemarin dipasang untuk melindunginya berganti pakaian. Me-lihat Harry sudah
bangun, Madam Pomfrey datang membawa nampan sarapan dan mulai menekuk
dan menarik lengan, tangan, dan jari-jarinya.
"Semua bagus," katanya, ketika Harry dengan cang-gung menyuapkan bubur
dengan tangan kirinya. "Se-sudah makan, kau boleh pulang."
Harry berpakaian secepat dia bisa dan bergegas ke Menara Gryffindor. Dia
sudah ingin sekali bercerita kepada Ron dan Hermione soal Colin dan Dobby,
tetapi ternyata mereka tak ada di sana. Harry pergi lagi untuk mencari mereka,
dalam hati bertanya-tanya ke mana kiranya mereka dan merasa agak sakit hati
karena mereka tidak ingin tahu apakah tulangnya bisa tumbuh lagi atau tidak.
Saat Harry melewati perpustakaan, Percy Weasley keluar dari situ. Dia
kelihatan jauh lebih riang dari-pada ketika terakhir kali mereka bertemu.
"Oh, halo, Harry," sapanya. "Terbangmu hebat sekali kemarin, benar-benar
luar biasa. Gryffindor memimpin dalam perolehan angka untuk Piala Asrama
kau men-dapat lima puluh angka!"
"Kau tidak melihat Ron atau Hermione?" tanya Harry.
"Tidak," kata Percy, senyumnya memudar.
"Mudah-mudahan Ron tidak berada di toilet anak perempuan yang lain..."
Harry memaksakan tawa, mengawasi Percy meng-hilang, dan kemudian
langsung menuju toilet Myrtle Merana. Dia tak melihat alasan kenapa Ron dan
Hermione akan berada di sana lagi, tetapi setelah memastikan bahwa tak ada
Filch maupun Prefek, dia membuka pintunya dan mendengar suara mereka dari
dalam bilik terkunci.
"Ini aku," katanya seraya menutup pintu di bela-kangnya. Terdengar bunyi
debam, cebur, dan pekik kaget tertahan dari dalam bilik, dan dilihatnya mata
Hermione mengintip dari lubang kunci.
"Harry!" serunya. "Kau membuat kami kaget sekali. Masuklahbagaimana
lenganmu?"
--------------------------------------- 105
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Baik," kata Harry, menyelinap masuk ke dalam bilik. Sebuah kuali tua
bertengger di atas kloset, dan bunyi berderak di bawah tepi kuali membuat
Harry tahu mereka telah menyalakan api di bawahnya. Me-nyihir api yang bisa
dibawa- bawa dan tahan air adalah keahlian Hermione.
"Kami tadinya mau menengokmu, tapi kemudian memutuskan untuk langsung
mulai merebus Ramuan Polijus," Ron menjelaskan, ketika Harry dengan susah
payah mengunci pintu bilik lagi. "Kami memutuskan ini tempat paling aman
untuk menyembunyikannya."
Harry baru mulai bercerita tentang Colin, tetapi Hermione menyelanya.
"Kami sudah tahu, kami men-dengar Profesor McGonagall memberitahu Profesor
Flitwick tadi pagi. Itulah sebabnya kami memutuskan lebih baik kita segera
mulai saja..."
"Lebih cepat kita mendengar pengakuan Malfoy, lebih baik," kata Ron geram.
"Tahukah kalian apa pendapatku? Dia marah sekali setelah pertandingan
Quidditch itu, lalu membalasnya pada Colin."
"Ada lagi yang lain," kata Harry, mengawasi Hermione membuka ikatan
knotgrass dan melempar-kannya ke dalam kuali. "Dobby datang mengunjungi-ku
tengah malam."
Ron dan Hermione menengadah keheranan. Harry menceritakan kepada
mereka semua yang diceritakan Dobby atau yang tidak diceritakannya. Ron
dan Hermione mendengarkan dengan mulut ternganga.
"Kamar Rahasia sudah pernah dibuka sebelumnya?" kata Hermione.
"Jelas kalau begitu," kata Ron dengan nada penuh kemenangan. "Lucius
Malfoy pastilah telah membuka Kamar Rahasia waktu dia bersekolah di sini dan
seka-rang dia memberitahu anak kesayangannya, si Draco, bagaimana caranya.
Jelas sekali. Sayang sekali Dobby tidak memberitahumu monster seperti apa
yang ada di dalamnya. Aku penasaran, bagaimana mungkin tak ada orang yang
melihatnya berkeliaran di sekolah."
"Mungkin dia bisa membuat dirinya tidak kelihatan," kata Hermione,
menekan lintah-lintah ke dasar kuali. "Atau mungkin dia menyamarpura-pura
jadi baju zirah atau entah apa. Aku sudah baca tentang Hantu Bunglon..."
"Kau terlalu banyak membaca, Hermione," kata Ron sambil menuangkan
serangga sayap-renda mati di atas lintah-lintah. Dia meremas kantong serangga
yang sudah kosong dan berpaling menatap Harry.
"Jadi, Dobby menghalangi kita naik kereta api dan mematahkan lenganmu..."
Ron geleng-geleng. "Tahu tidak, Harry? Kalau dia tidak berhenti berusaha me-
nyelamatkan hidupmu, dia akan membunuhmu."
Berita bahwa Colin Creevey diserang dan sekarang terbaring bagai mayat di
rumah sakit sudah menyebar ke seluruh sekolah pada hari Senin pagi. Suasana
mendadak penuh desas-desus dan kecurigaan. Murid-murid kelas satu sekarang
ke mana-mana be-rombongan, seakan mereka takut akan diserang kalau berani
berjalan sendirian.
Ginny Weasley, yang duduk di sebelah Colin Creevey dalam pelajaran Jimat
dan Guna-guna, bi-ngung dan ketakutan. Tetapi Harry merasa cara Fred dan
George menghiburnya malah membawa hasil yang sebaliknya. Fred dan George
bergiliran menyihir diri mereka menjadi berbulu atau dipenuhi bisul dan
--------------------------------------- 106
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
melompat mengagetkan Ginny dari balik patung-patung. Mereka baru berhenti
ketika Percy, yang sa-ngat marah, berkata bahwa dia akan menulis kepada Mrs
Weasley dan memberitahunya bahwa Ginny di-hantui mimpi buruk.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan para guru, per-dagangan jimat, amulet,
dan berbagai sarana per-lindungan, melanda sekolah dengan amat seru. Neville
Longbottom membeli bawang hijau besar berbau bacin, kristal runcing ungu,
dan ekor-kadal busuk sebelum anak-anak Gryffindor lainnya mengingatkan
bahwa dia tidak dalam bahaya: dia berdarah-murni, karena itu tak mungkin
diserang.
"Filch adalah yang pertama mereka serang," katanya, wajahnya yang bundar
ketakutan, "dan semua tahu aku bisa dibilang nyaris Squib."
Dalam minggu kedua Desember Profesor McGonagall berkeliling seperti
biasanya, mendaftar nama-nama mereka yang akan tinggal di sekolah selama
liburan Natal. Harry, Ron, dan Hermione mendaftar. Mereka sudah mendengar
bahwa Malfoy juga akan tinggal.
Bagi mereka ini sangat mencurigakan. Liburan me-rupakan saat yang paling
tepat untuk menggunakan Ramuan Polijus dan mencoba mengorek pengakuan
darinya.
Sayangnya, ramuan itu baru separo selesai. Mereka masih membutuhkan
tanduk Bicorn dan kulit ular pohon, dan satu- satunya tempat mereka bisa men-
dapatkan keduanya adalah lemari pribadi Snape. Harry sendiri merasa dia lebih
suka menghadapi monster legendaris Slytherin daripada tertangkap Snape
sedang merampok kantornya.
"Yang kita perlukan," kata Hermione tegas, ketika sudah hampir tiba saatnya
mereka mengikuti dua jam pelajaran Ramuan, "adalah pengalihan perhatian.
Kemudian salah satu dari kita menyelinap ke dalam kantor Snape dan
mengambil yang kita perlukan."
Harry dan Ron memandang Hermione dengan cemas.
"Kurasa lebih baik aku yang melakukan pencurian," Hermione melanjutkan
dengan tegas. "Kalian berdua akan dikeluarkan jika membuat kesalahan lain,
sedang-kan reputasiku masih bersih. Jadi yang perlu kalian lakukan hanyalah
menimbulkan cukup kegaduhan untuk membuat Snape sibuk selama kira-kira
lima menit."
Harry tersenyum lemah. Sengaja membuat ke-gaduhan di kelas Ramuan
Snape sama amannya de-ngan menusuk mata naga tidur.
Pelajaran Ramuan bertempat di salah satu ruang bawah tanah yang luas.
Pelajaran sore itu berlangsung seperti biasa.
Dua puluh kuali berdiri menggelegak di antara meja-meja, yang di atasnya
ada timbangan kuningan serta stoples-stoples bahan. Snape hilir-mudik
menembus asap, melontarkan komentar-komentar menyengat tentang hasil
anak-anak Gryffindor, sementara anak-anak Slytherin terkikik-kikik senang.
Draco Malfoy, murid favorit Snape, ber-kali-kali mengarahkan matanya yang
menonjol seperti mata ikan kepada Ron dan Harry, yang tahu betul kalau
mereka membalas, mereka akan langsung men-dapat detensi sebelum mereka
sempat berkata "tidak adil".
--------------------------------------- 107
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ramuan Pembengkak Harry terlalu cair, tetapi pikirannya dipenuhi hal-hal
lain yang jauh lebih pen-ting. Dia sedang menunggu kode dari Hermione, dan
nyaris tidak mendengarkan ketika Snape berhenti di kualinya, mencemooh
ramuannya yang encer. Ketika Snape sudah berbalik dan pergi untuk mengomeli
Neville, Hermione memandang Harry dan mengang-guk.
Harry dengan gesit membungkuk di balik kualinya, menarik keluar sebuah
kembang api Filibuster milik Fred dari kantongnya dan mengetuknya sekali dan
cepat dengan tongkatnya. Kembang api itu mulai mendesis. Tahu dia hanya
punya waktu beberapa detik, Harry menegakkan diri, membidik, dan me-
lemparkannya ke udara. Kembang api itu mendarat tepat di dalam kuali Goyle.
Ramuan Goyle meledak, mengguyur seluruh kelas. Anak- anak menjerit
ketika percikan Ramuan Pem-bengkak menciprati mereka. Malfoy bahkan
tersiram wajahnya dan hidungnya langsung membengkak se-besar balon. Goyle
terhuyung-huyung, tangannya me-nutupi matanya, yang sudah membesar
seukuran piring, sementara Snape berusaha menenangkan me-reka dan mencari
tahu apa yang terjadi. Di tengah kegemparan itu Harry melihat Hermione diam-
diam menyelinap keluar dari pintu.
"Diam! DIAM!" raung Snape. "Siapa saja yang ke-cipratan, ke sini untuk
mendapatkan Ramuan Pengempis. Kalau aku tahu siapa yang melakukan ini..."
Harry berusaha tidak tertawa ketika dilihatnya Malfoy bergegas maju,
kepalanya tergantung rendah keberatan hidungnya yang menjadi sebesar
melon. Selagi separo kelas berjalan dengan susah payah ke meja Snape,
beberapa keberatan lengan yang sebesar pentungan dan yang lain tak bisa
bicara karena bibir-nya membengkak superbesar, Harry melihat Hermione
menyelinap balik ke dalam kelas, bagian depan jubahnya menggembung.
Setelah semua minum seteguk penangkal dan ber-bagai bengkak sudah
mengempis, Snape melesat ke kuali Goyle dan menyendok sisa kembang api
yang terpilin hitam. Kelas menjadi hening.
"Kalau sampai kutemukan siapa yang melempar ini," bisik Snape, "akan
kupastikan anak itu dikeluar-kan."
Harry mengatur wajahnya dengan harapan semoga tampak seperti ekspresi
kebingungan. Snape me-mandangnya lurus- lurus, dan bel yang berdering se-
puluh menit kemudian betul- betul membuatnya lega.
"Dia tahu aku pelakunya," Harry memberitahu Ron dan Hermione, sementara
mereka bergegas kembali ke toilet Myrtle Merana. "Ya, dia tahu." Hermione
memasukkan bahan- bahan baru ke dalam kuali dan mulai mengaduk dengan
bersemangat.
"Dua minggu lagi jadi," katanya riang.
"Snape tak akan bisa membuktikan itu kau," kata Ron meyakinkan Harry.
"Apa yang bisa dia lakukan?"
"Kalau bicara tentang Snape, pasti itu adalah sesuatu yang jahat," kata Harry
sementara ramuan itu berbuih menggelegak.
Seminggu kemudian, Harry, Ron, dan Hermione se-dang berjalan
menyeberangi Aula Depan ketika me-reka melihat beberapa anak berkerumun
di depan papan pengumuman, membaca secarik perkamen yang baru saja
--------------------------------------- 108
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
dipasang. Seamus Finnigan dan Dean Tho-mas memberi isyarat agar mereka
mendekat. Mereka kelihatan bersemangat sekali.
"Mereka mengadakan Klub Duel!" kata Seamus.
"Pertemuan pertama malam ini! Aku tak keberatan ikut pelajaran duel, pasti
akan bermanfaat hari-hari ini."
"Apa? Kaupikir si monster Slytherin bisa berduel?" Ron menanggapi, tetapi dia
juga membaca peng-umuman itu dengan penuh minat.
"Bisa berguna," katanya kepada Harry dan Hermione waktu mereka berangkat
makan malam. "Kita ikut?"
Harry dan Hermione sepakat, maka pukul delapan malam itu mereka
bergegas kembali ke Aula Besar. Meja-meja makan panjang sudah lenyap dan
pang-gung keemasan telah muncul di depan salah satu dinding, diterangi seribu
lilin yang melayang-layang di atasnya. Langit-langit sekali lagi gelap pekat dan
sebagian besar murid-murid tampaknya berkumpul di situ, semua membawa
tongkat dan kelihatan bergairah.
"Siapa ya yang akan mengajar kita?" kata Hermione, ketika mereka mendekat
ke kerumunan anak-anak yang ramai berceloteh. "Ada yang bilang padaku
Flitwick juara duel waktu masih muda, mungkin dia yang akan mengajar."
"Asal saja bukan...," Harry memulai, tapi mengakhiri dengan keluhan.
Gilderoy Lockhart berjalan ke pang-gung, tampak gemilang dalam jubah
berwarna merah tua keunguan, dan ditemani oleh, tak lain tak bukan, Snape,
yang seperti biasa berjubah hitam.
Lockhart melambaikan tangannya menyuruh anak-anak diam, dan berseru,
"Mendekat, mendekat! Apa semua bisa melihatku? Semua bisa mendengarku?
Bagus sekali!
"Nah, Profesor Dumbledore telah memberiku izin untuk membentuk klub
duel kecil ini, untuk melatih kalian semua, siapa tahu kalian perlu
mempertahankan diri seperti yang kualami dalam banyak kesempatan untuk
detail yang lebih lengkap, baca saja buku-bukuku.
"Izinkan aku memperkenalkan asistenku, Profesor Snape," kata Lockhart,
tersenyum lebar. "Dia mem-beritahu aku dia tahu juga sedikit-sedikit tentang
duel dan bersedia membantuku melakukan peragaan singkat sebelum kita
mulai. Nah, aku tak ingin kalian cemaskalian masih akan memiliki ahli
Ramuan kalau aku sudah selesai menanganinya, tak usah takut!"
"Bukankah bagus kalau mereka saling bunuh?" gu-mam Ron di telinga Harry.
Bibir atas Snape mencibir. Harry heran kenapa Lockhart masih tersenyum.
Kalau Snape memandang-nya seperti itu, Harry pastilah sudah kabur secepat
mungkin.
Lockhart dan Snape berbalik untuk saling ber-hadapan dan membungkuk;
paling tidak Lockhart membungkuk, dengan tangan berputar-putar, semen-tara
Snape cuma mengedikkan kepala dengan jengkel. Kemudian mereka
mengangkat tongkat seperti pedang di depan mereka.
"Seperti kalian lihat, kami memegang tongkat dalam posisi tempur yang
diterima," Lockhart memberitahu penonton yang diam. "Pada hitungan ketiga,
kami akan melontarkan mantra pertama kami. Tak satu pun dari kami berdua
bermaksud membunuh, tentu."
--------------------------------------- 109
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Aku tak yakin," gumam Harry, mengawasi Snape yang menyeringai
memamerkan giginya.
"Satuduatiga..."
Keduanya mengayunkan tongkat tinggi-tinggi ke atas bahu. Snape berseru,
"Expelliarmus!" Cahaya me-rah menyilaukan berkilat menyambar dan Lockhart
terangkat. Dia terbang mundur keluar panggung, me-nabrak dinding, merosot,
dan akhirnya telentang di lantai.
Malfoy dan beberapa anak Slytherin lain bersorak.
Hermione berjingkat-jingkat panik. "Apakah dia tidak apa- apa?" pekiknya
dari antara jari-jarinya.
"Siapa peduli?" kata Ron dan Harry bersamaan.
Lockhart bangun terhuyung-huyung. Topinya jatuh dan rambutnya yang ikal
kini mencuat berdiri.
"Wah, Anda berhasil!" katanya, tertatih-tatih kembali ke panggung. "Itu tadi
Mantra Pelepas Senjataseperti yang kalian lihat, tongkatku hilangah, terima
kasih, Miss Brown. Ya, ide bagus sekali untuk menunjuk-kannya kepada mereka,
Profesor Snape, tapi kalau Anda tidak keberatan, bisa kubilang jelas sekali apa
yang akan Anda lakukan tadi. Kalau aku mau meng-hentikan Anda, gampang
sekali. Tapi, aku merasa ada baiknya membiarkan anak-anak melihatnya..."
Snape kelihatan siap membunuh. Profesor Lockhart akhirnya sadar juga,
karena dia berkata, "Cukup peragaannya! Aku akan turun ke antara kalian dan
memasang-masangkan kalian. Profesor Snape, kalau Anda bersedia
membantuku...." Mereka bergerak di antara anak-anak, memasang-masangkan
partner. Lockhart memasangkan Neville dengan Justin Finch-Fletchley, tetapi
Snape mencapai Harry dan Ron lebih dulu.
"Sudah waktunya memecah tim impian, kurasa," ejeknya.
"Weasley, kau bisa berpartner dengan Finnigan. Potter..." Harry otomatis
bergerak mendekati Hermione.
"Kurasa tidak," kata Snape, tersenyum dingin. "Mr Malfoy, kemari. Coba lihat
apa yang bisa kaulakukan terhadap si Potter yang terkenal ini. Dan kau, Miss
Granger, kau bisa berpartner dengan Miss Bulstrode."
Malfoy mendatangi sok gagah, menyeringai som-bong. Di belakangnya
berjalan seorang anak perem-puan Slytherin yang mengingatkan Harry pada
foto hantu perempuan tua jelek sekali yang dilihatnya dalam buku Heboh
dengan Hantu. Tubuhnya besar dan kekar, dan rahangnya yang berat mencuat
ke depan dengan menantang. Hermione tersenyum lemah kepadanya, yang
tidak dibalasnya.
"Hadapi partnermu!" seru Lockhart, yang sudah kembali berada di panggung.
"Dan membungkuk!" Harry dan Malfoy nyaris tidak menggerakkan kepala, saling
tidak melepas pandang.
"Tongkat siap!" teriak Lockhart. "Pada hitunganku yang ketiga, ucapkan
mantra untuk melucuti lawanmuhanya untuk melucuti merekakita tidak
menginginkan terjadinya malapetaka. Satu... dua... tiga..."
Harry mengangkat tongkatnya ke atas bahu, tetapi Malfoy sudah bertindak
pada hitungan kedua, mantra-nya menghantam Harry begitu keras sampai Harry
merasa seakan kepalanya dipukul wajan. Dia ter-huyung, tetapi kelihatannya
--------------------------------------- 110
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
dia tidak apa-apa, dan tanpa membuang waktu lagi, Harry mengayunkan
tongkatnya lurus-lurus ke arah Malfoy dan berteriak,
"Rictusempra!"
Cahaya keperakan meluncur menghantam perut Malfoy dan dia
membungkuk, menciut-ciut.
"Kubilang lucuti senjatanya saja!" teriak Lockhart kaget di atas kepala anak-
anak yang sedang bertanding, ketika Malfoy jatuh berlutut. Harry
menyerangnya dengan Mantra Gelitik, dan Malfoy nyaris tak bisa bergerak
saking sibuknya tertawa.
Harry mundur, merasa tidak adil menyihir Malfoy yang masih di lantai, tetapi
dia keliru. Terengah kehabisan napas, Malfoy mengarahkan tongkatnya kepada
Harry, ber-kata tersedak,
"Tarantallegra!" dan detik berikutnya kaki Harry sudah bergerak menyentak-
nyentak dengan cepat di luar kendalinya.
"Stop! Stop!" Lockhart berteriak-teriak, tetapi Snape segera mengambil
tindakan.
"Finite Incantatem!" teriaknya. Kaki Harry berhenti menari. Malfoy berhenti
tertawa, dan mereka bisa mendongak lagi.
Asap kehijauan memenuhi panggung. Neville dan Justin terbaring di lantai,
terengah-engah. Ron me-megangi Seamus yang wajahnya sepucat tembok, me-
minta maaf untuk entah apa yang telah dilakukan tongkat patahnya. Tetapi
Hermione dan Millicent Bulstrode masih bergerak. Millicent memiting Hermione
dan Hermione mengerang kesakitan. Tong-kat keduanya tergeletak terlupakan
di atas panggung. Harry melompat menarik Millicent. Susah sekali, ka-rena dia
jauh lebih besar daripada Harry.
"Ya ampun, ya ampun," kata Lockhart gugup dari antara kepala anak-anak,
memandang hasil duel. "Bangun, Macmillan... hati-hati, Miss Fawcett... cubit
keras-keras, darahnya akan langsung berhenti, Boot...
"Kurasa ada baiknya kuajari kalian cara menangkal mantra tak bersahabat,"
kata Lockhart, berdiri ke-bingungan di tengah aula. Dia melirik Snape, yang
mata hitamnya berkilat-kilat, dan segera membuang pandang. "Ayo, siapa yang
mau jadi pasangan sukarelaLongbottom dan Finch-Fletchley, bagaimana kalau
kalian berdua?"
"Ide buruk, Profesor Lockhart," kata Snape, ber-kelebat mendekat bagai
kelelawar besar yang jahat. "Longbottom membuat malapetaka dengan mantra
yang paling sederhana. Kita akan mengirim entah apa yang tersisa dari Finch-
Fletchley ke rumah sakit dalam kotak korek api." Wajah Neville yang bundar
dan merah jambu semakin merah. "Bagaimana kalau Malfoy dan Potter saja?"
kata Snape dengan senyum licik.
"Ide bagus!" kata Lockhart, memberi isyarat kepada Harry dan Malfoy agar
maju ke tengah aula, sementara anak-anak mundur untuk memberi mereka
tempat.
"Nah, Harry," kata Lockhart, "kalau Draco meng-acungkan tongkatnya ke
arahmu, kautangkal begini."
Dia mengangkat tongkatnya sendiri, berusaha me-lakukan gerakan
mengentak yang rumit dan tongkat-nya jatuh. Snape mencibir ketika Lockhart
--------------------------------------- 111
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
buru-buru memungutnya, sambil berkata, "Whoopstongkatku terlalu
bersemangat."
Snape mendekati Malfoy, membungkuk dan berbisik di telinganya. Malfoy
ikut mencibir. Harry mendongak memandang Lockhart dengan gugup dan
berkata, "Profesor, bisakah Anda menunjukkan cara menangkal tadi sekali lagi?"
"Takut nih?" gumam Malfoy, sehingga Lockhart tidak bisa mendengarnya.
"Maumu," balas Harry dari sudut mulutnya.
Lockhart memegang bahu Harry dengan riang. "Lakukan saja apa yang
kulakukan tadi, Harry!"
"Apa? Menjatuhkan tongkat saya?" Tetapi Lockhart tidak mendengarkannya.
"Tigaduasatumulai!" teriaknya.
Malfoy cepat-cepat mengangkat tongkatnya dan ber- teriak, "Serpensortia!"
Ujung tongkatnya meledak. Harry mengawasi, ter-peranjat, ketika seekor
ular panjang hitam melesat dari ujung tongkat itu, terjatuh di lantai di antara
mereka berdua dan mengangkat kepalanya, siap me-nyerang. Anak-anak
menjerit- jerit, mundur ketakutan.
"Jangan bergerak, Potter," kata Snape santai, jelas senang melihat Harry
berdiri bergeming, berhadapan dengan ular yang marah. "Akan kulenyapkan..."
"Biar aku saja!" teriak Lockhart. Diacungkannya tongkatnya ke arah si ular
dan terdengar letusan keras. Si ular, alih-alih lenyap, terbang setinggi tiga
meter dan terjatuh kembali di lantai dengan bunyi berdebam keras.
Marah sekali, mendesis-desis berang, ular itu me-lata menuju Justin Finch-
Fletchley dan mengangkat kepalanya lagi, memamerkan taringnya, siap menye-
rang.
Harry tidak tahu apa yang membuatnya berbuat begitu. Dia bahkan tidak
sadar telah memutuskan untuk melakukannya. Yang diketahuinya hanyalah
kakinya membawanya maju, seakan ada rodanya, dan bahwa dia berteriak
bodoh kepada si ular, "Jangan ganggu dia!" Dan ajaib sekalitak bisa dijelaskan
si ular terpuruk di lantai, jinak seperti slang air besar hitam, matanya
sekarang memandang Harry. Harry merasa ketakutannya memudar. Dia tahu
ular itu tidak akan menyerang siapa-siapa sekarang, meskipun bagai-mana dia
tahu, dia tidak bisa menjelaskannya.
Dia menengadah menatap Justin, tersenyum, ber-harap Justin kelihatan
lega, atau bingung, atau bahkan berterima kasih. Tetapi Justin justru tampak
marah dan ketakutan.
"Kaupikir apa yang kaulakukan?" teriaknya, dan sebelum Harry sempat
berkata apa-apa, Justin telah berbalik dan bergegas meninggalkan aula.
Snape maju, melambaikan tongkatnya, dan si ular lenyap dalam kepulan
asap hitam. Snape juga me-natap Harry dengan cara yang tak terduga: tajam,
licik, dan penuh perhitungan, dan Harry tidak me-nyukainya. Dia juga samar-
samar menyadari bisik-bisik tak senang di seluruh ruangan. Kemudian dia
merasa ada yang menarik bagian belakang jubahnya.
"Ayo," kata Ron di telinganya. "Kita pergiayo..."
Ron memimpinnya meninggalkan aula. Hermione bergegas mengiringi. Ketika
mereka akan melewati pintu, anak-anak di kanan-kiri mereka minggir men-
jauh, seakan takut akan kejangkitan sesuatu. Harry sama sekali tidak tahu apa
--------------------------------------- 112
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
yang sedang terjadi, dan baik Ron maupun Hermione tidak menjelaskan apa
pun sampai mereka telah membawanya ke ruang rekreasi Gryffindor yang
kosong. Kemudian Ron men-dorong Harry ke kursi berlengan dan berkata, "Kau
Parselmouth. Kenapa kau tidak bilang pada kami?"
"Aku apa?"
"Parselmouth!" kata Ron. "Kau bisa bicara dengan ular!"
"Aku tahu," kata Harry. "Maksudku, tadi itu baru kedua kalinya aku bicara
dengan ular. Aku pernah tak sengaja melepaskan boa pembelit dan membuat
sepupuku Dudley ketakutan di kebun binatang ceritanya panjangtapi ular itu
memberitahuku bahwa dia belum pernah melihat Brasil, dan tanpa sengaja aku
seolah telah membebaskannya. Itu sebelum aku tahu aku penyihir..."
"Ular boa pembelit memberitahumu dia belum pernah melihat Brasil?" Ron
mengulang lemas. "Jadi?" kata Harry.
"Pasti banyak orang di sini bisa melakukannya."
"Oh, tidak, mereka tak bisa," kata Ron. "Itu ke-mampuan yang sangat tidak
umum. Harry, ini buruk sekali."
"Apa yang buruk?" kata Harry, mulai jengkel. "Kenapa sih dengan kalian
semua? Dengar, kalau aku tidak melarang ular itu menyerang Justin..."
"Oh, itu yang kaukatakan padanya?" "Apa maksudmu? Kau ada di sana... kau
men-dengarku."
"Aku mendengarmu bicara Parseltongue," kata Ron,
"bahasa ular. Kau bisa saja ngomong entah apa. Tak heran Justin panik,
kedengarannya kau menyemangati si ular untuk melakukan sesuatu.
Mengerikan, tahu."
Harry melongo.
"Aku bicara bahasa lain? Tapiaku tidak me-nyadarinya bagaimana mungkin
aku bisa bicara bahasa lain tanpa diriku sendiri tahu?"
Ron menggeleng. Baik dia maupun Hermione ke-lihatan seolah baru saja
kematian teman. Harry tak mengerti apa yang begitu menyedihkan mereka.
"Kalian mau memberitahuku apa salahnya meng-hentikan ular besar
mencaplok kepala Justin?" katanya. "Apakah penting bagaimana aku
melakukannya, asal hasilnya Justin tidak usah bergabung dengan Per-buruan
Tanpa-Kepala?"
"Itu penting," kata Hermione, akhirnya bicara de-ngan suara tertekan,
"karena Salazar Slytherin ter-kenal justru karena kemampuannya bicara dengan
ular. Itulah sebabnya simbol asrama Slytherin adalah ular."
Harry ternganga.
"Persis," kata Ron. "Dan sekarang seluruh sekolah akan mengira kau cucu-
cucu-cucu-cucu-cucunya atau entah keturunan keberapa..."
"Tapi aku bukan keturunannya," kata Harry dengan kepanikan yang tak dapat
dijelaskannya.
"Susah dibuktikan," kata Hermione. "Dia hidup kira-kira seribu tahun yang
lalu; bisa saja kau memang keturunannya."
Harry terbaring tak bisa tidur selama berjam-jam ma-lam itu. Lewat celah
kelambu yang mengelilingi tem-pat tidur besarnya, dia memandang salju yang
--------------------------------------- 113
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
mulai melayang turun melewati jendela menara, dan ber-tanya-tanya dalam
hati.
Mungkinkah dia keturunan Salazar Slytherin? Dia toh tak tahu-menahu
tentang keluarga ayahnya.
Keluarga Dursley selalu melarangnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan
tentang keluarga penyihirnya.
Diam-diam, Harry mencoba mengatakan sesuatu dalam Parseltongue. Kata-
katanya tak mau keluar. Rupanya dia harus berhadapan langsung dengan ular
untuk bisa melakukannya.
Tetapi aku di Gryffindor, pikir Harry. Topi Seleksi tidak akan
menempatkanku di sana kalau aku punya darah Slytherin....
Ah, kata suara kecil tidak menyenangkan di dalam otaknya. Tetapi Topi
Seleksi kan sebetulnya ingin menempatkanmu di Slytherin, apa kau tidak ingat?
Harry berbalik. Dia akan bertemu Justin besok di kelas Herbologi dan dia
akan menjelaskan bahwa dia justru menyuruh ular itu pergi, bukan mendekat,
dan (dia berpikir dengan marah sambil menggembungkan bantalnya) semua
orang bodoh seharusnya juga tahu.
Tetapi paginya, salju yang mulai turun di malam hari telah berubah menjadi
badai salju, begitu hebatnya sehingga pelajaran Herbologi terakhir tahun
ajaran itu dibatalkan. Profesor Sprout ingin memakaikan kaus kaki dan syal ke
Mandrake-mandrake, tugas rumit yang tak bisa dipercayakannya kepada orang
lain. Apalagi sekarang, ketika penting sekali bagi Man-drake-mandrake itu
untuk segera tumbuh dan meng-hidupkan kembali Mrs Norris dan Colin Creevey
Harry resah, ia berceloteh terus tentang Justin di sebelah perapian di ruang
rekreasi Gryffindor, semen-tara Ron dan Hermione menggunakan jam kosong
mereka untuk main catur sihir.
"Astaga, Harry" kata Hermione, putus asa, ketika salah satu menteri Ron
bergulat menjatuhkan perwira-nya dari kudanya dan menyeretnya keluar
papan. "Pergilah, cari Justin kalau itu begitu penting bagimu."
Maka Harry bangkit dan keluar lewat lubang lukisan, bertanya-tanya dalam
hati di mana kiranya Justin.
Kastil lebih gelap daripada biasanya di siang hari, karena salju tebal abu-abu
yang berpusar di semua jendela. Bergidik, Harry berjalan melewati ruang-ruang
kelas tempat pelajaran sedang berlangsung, menangkap sedikit-sedikit apa
yang sedang terjadi di dalam. Profesor McGonagall sedang berteriak kepada
seseorang yang, kedengarannya, telah mengubah temannya menjadi luak.
Melawan keinginan untuk melongok, Harry terus berjalan, berpikir bahwa
Justin mungkin menggunakan jam kosong ini untuk me-ngerjakan PR, dan
memutuskan untuk mengecek per-pustakaan lebih dulu.
Serombongan anak-anak Hufflepuff yang seharusnya ikut pelajaran Herbologi
ternyata memang duduk di bagian belakang perpustakaan, tetapi kelihatannya
mereka tidak sedang bekerja. Di antara deretan rak buku yang tinggi, Harry
bisa melihat bahwa kepala mereka berdekatan dan mereka kelihatannya sedang
terlibat obrolan mengasyikkan. Dia tidak bisa melihat apakah Justin berada di
antara mereka. Dia sedang berjalan ke arah mereka ketika sesuatu yang
mereka katakan tertangkap telinganya, dan dia berhenti untuk mendengarkan,
--------------------------------------- 114
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
tersembunyi di Seksi Gaibbuku-buku yang membahas tentang segala sesuatu
yang tak ke-lihatan.
"Jadi," kata seorang anak laki-laki gemuk, "kusuruh Justin sembunyi di
asrama kita. Maksudku, kalau Potter sudah mengincarnya sebagai korban
berikutnya, lebih baik dia tidak menonjolkan diri dulu. Tentu saja, Justin sudah
menduga hal semacam ini akan terjadi sejak dia kelepasan omong pada si
Potter bahwa dia kelahiran-Muggle. Justin bilang padanya dia sudah
didaftarkan ke Eton. Itu bukan hal yang kaugembar- gemborkan dengan adanya
pewaris Slytherin yang berkeliaran, kan?"
"Kalau begitu kau yakin betul Potter-lah pelakunya, Ernie?" kata seorang
anak perempuan berkepang pirang dengan cemas.
"Hannah," kata si gemuk sungguh-sungguh, "dia Parselmouth. Semua tahu itu
tanda penyihir hitam. Pernahkah kaudengar ada penyihir terhormat yang bisa
bicara dengan ular? Slytherin sendiri dijuluki si Lidah-ular."
Terdengar gumam-gumam seru, dan Ernie menerus-kan,
"Ingat apa yang tertulis di dinding? Musuh sang Pewaris, Waspadalah. Potter
kan boleh dibilang bentrok dengan Filch. Yang berikutnya kita tahu, kucing si
Filch diserang. Anak kelas satu itu, si Creevey, mem-buat Potter jengkel waktu
pertandingan Quidditch, memotretnya ketika dia tergeletak di lumpur. Yang
kemudian kita tahu, Creevey diserang."
"Tapi dia selalu kelihatan menyenangkan," kata Hannah tak yakin, "dan, yah,
dialah yang membuat Kau-Tahu-Siapa menghilang. Masa sih dia jahat?"
Ernie merendahkan suaranya dengan penuh rahasia. Anak- anak Hufflepuff
membungkuk semakin dekat supaya bisa menangkap kata-kata Ernie.
"Tak seorang pun tahu bagaimana dia bisa selamat dari serangan Kau-Tahu-
Siapa. Maksudku, dia masih bayi waktu itu terjadi. Mestinya kan dia sudah
hancur berkeping-keping. Hanya penyihir hitam berkekuatan luar biasa yang
bisa bertahan dari serangan semacam itu." Dia semakin merendahkan suaranya,
sehingga tinggal tak lebih dari bisikan, "Mungkin itulah sebab-nya Kau-Tahu-
Siapa ingin membunuhnya. Tak ingin ada Pangeran Kegelapan lain menjadi
saingannya. Aku ingin tahu, kira-kira kekuatan apa lagi yang di-sembunyikan
Potter?"
Harry tak tahan lagi. Sambil berdeham keras, dia melangkah dari balik rak-
rak buku. Jika tidak semarah itu, dia akan melihat pemandangan yang
menyambut-nya tampak lucu. Semua anak Hufflepuff itu seolah dibuat
Membatu hanya karena melihat dirinya, dan wajah Ernie langsung pucat pasi.
"Halo," kata Harry. "Aku mencari Justin Finch-Fletchley." Ketakutan terbesar
anak-anak Hufflepuff telah ter-bukti. Mereka semua ketakutan memandang
Ernie. "Mau apa kau mencari dia?" tanya Ernie dengan suara bergetar. "Aku
ingin memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi dengan ular itu di Klub
Duel," kata Harry.
Ernie menggigit bibirnya yang pucat dan kemudian, setelah menghela napas
panjang, berkata, "Kami semua ada di sana. Kami melihat apa yang terjadi."
"Kalau begitu kau melihat bahwa setelah aku bicara dengannya, ular itu
mundur?" kata Harry.
--------------------------------------- 115
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Yang kulihat hanyalah," kata Ernie bandel, meski-pun dia bicara sambil
gemetaran, "kau bicara Parseltongue dan menggebah si ular ke arah Justin."
"Aku tidak menggebah ular itu ke arahnya!" kata Harry suaranya gemetar
saking marahnya. "Ular itu bahkan tidak menyentuhnya!"
"Tapi nyaris saja," kata Ernie. "Dan siapa tahu kau merencanakan sesuatu,"
dia menambahkan buru-buru,
"kuberitahukan padamu bahwa kau bisa menelusuri keluargaku sampai
sembilan generasi penyihir ke belakang dan darahku sama murninya dengan
siapa pun, jadi..."
"Aku tak peduli darahmu darah macam apa!" kata Harry sengit. "Kenapa aku
mau menyerang anak-anak kelahiran- Muggle?"
"Aku sudah dengar kau membenci Muggle yang tinggal bersamamu," kata
Ernie tangkas.
"Tak mungkin tinggal bersama keluarga Dursley dan tidak membenci
mereka," kata Harry. "Coba saja sendiri, aku ingin lihat."
Harry berbalik dan menerobos keluar dari per-pustakaan, membuat Madam
Pince, yang sedang menggosok sampul keemasan buku mantra besar, me-
liriknya mencela.
Harry berjalan asal saja di koridor, seperti orang buta, nyaris tidak
memperhatikan ke mana dia pergi, saking marahnya. Akibatnya dia menabrak
sesuatu yang sangat besar dan kokoh, yang membuatnya ter-pental jatuh ke
lantai.
"Oh, halo, Hagrid," kata Harry, memandang ke atas.
Wajah Hagrid tersembunyi sepenuhnya oleh topi balaclava wol bersalju,
tetapi tak mungkin itu orang lain. Tubuhnya yang terbungkus dalam jubah tikus
mondoknya memenuhi hampir seluruh koridor. Tangannya yang besar bersarung
tangan menenteng bangkai seekor ayam jantan.
"Kau tak apa-apa, Harry?" katanya, menarik ke atas balaclava-nya supaya dia
bisa bicara. "Kenapa kau tidak di kelas?"
"Dibatalkan," kata Harry seraya bangkit. "Ngapain kau di sini?" Hagrid
mengangkat ayam jantan yang sudah lemas itu.
"Ayam kedua yang dibunuh semester ini," dia men-jelaskan. "Kalau bukan
rubah, tentu momok pengisap darah, dan aku perlu izin Kepala Sekolah untuk
bikin pagar sihir sekeliling kandang ayam."
Dia memandang Harry lebih teliti dari bawah alis tebalnya yang bertabur
salju. "Kau yakin kau tak apa-apa? Kau kelihatan panas dan banyak pikiran."
Harry tak bisa mengulangi apa yang dikatakan Ernie dan anak-anak Hufflepuff
lainnya tentang dia.
"Tidak apa-apa," katanya. "Lebih baik aku pergi, Hagrid. Berikutnya
Transfigurasi, dan aku harus mengambil buku- bukuku."
Harry pergi, pikirannya masih dipenuhi ucapan-ucapan Ernie tentang dirinya.
"Justin sudah menduga hal semacam ini akan terjadi sejak dia kelepasan
omong pada si Potter bahwa dia kelahiran- Muggle..."
Harry menaiki tangga dan membelok ke koridor lain, yang gelap sekali. Obor-
obornya padam kena tiupan angin keras bersalju yang masuk lewat ambang
--------------------------------------- 116
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
jendela yang lepas. Dia sudah sampai di tengah kori-dor ketika terantuk
sesuatu yang tergeletak di lantai. Ia langsung jatuh.
Harry menoleh untuk melihat apa yang membuat-nya jatuh, dan hatinya
mencelos.
Justin Finch-Fletchley terbaring di lantai, kaku dan dingin, ekspresi kaget
terpampang di wajahnya. Mata-nya menatap kosong ke langit-langit. Di
sebelahnya ada sosok lain, pemandangan paling ganjil yang per-nah dilihat
Harry.
Nick si Kepala-Nyaris-Putus, tak lagi seputih mutiara dan transparan,
melainkan hitam berasap, melayang tak bergerak dalam posisi horizontal, lima
belas senti dari lantai. Kepalanya setengah putus dan ekspresi wajahnya kaget,
identik dengan ekspresi Justin.
Harry bangun, napasnya terengah, putus-putus, jantungnya serasa
menggedor-gedor rusuknya. Dia memandang liar ke sepanjang koridor dan
melihat deretan labah-labah berlari secepat mungkin menjauhi kedua sosok itu.
Suara yang terdengar hanyalah suara teredam guru-guru dari kelas-kelas di
kanan-kirinya.
Dia bisa lari dan tak seorang pun akan tahu dia pernah di situ. Tetapi dia tak
dapat begitu saja me-ninggalkan mereka lergeletak di situ... dia harus men-cari
bantuan. Akankah ada yang percaya dia sama sekali tidak ada hubungannya
dengan kejadian ini?
Sementara dia berdiri di situ, panik, pintu di sebelah kanannya mendadak
terbuka. Peeves, si hantu jail, melesat keluar.
"Wah si potty wee Potter!" Peeves terkekeh, me-nyenggol kacamata Harry
sampai miring ketika me-lewatinya. "Sedang ngapain si Potter? Kenapa dia
sembunyi..."
Peeves mendadak berhenti. Dia baru setengah jalan berjungkir-balik di
udara. Dengan kepala di bawah, dia melihat Justin dan Nick si Kepala-Nyaris-
Putus. Dia langsung berputar tegak lagi, mengisi paru-parunya, dan sebelum
Harry sempat mencegahnya, menjerit keras-keras, "SERANGAN! SERANGAN!
SERANGAN LAGI! ORANG MAUPUN HANTU TAK ADA YANG SELAMAT! LARI! LARI!
SELAMATKAN DIRI! SERANGAAAAN!"
Blak-blak-blak: pintu demi pintu membuka di se-panjang koridor dan orang
membanjir keluar. Selama beberapa menit, keadaan sangat gempar dan kacau-
balau, sehingga ada kemungkinan Justin terinjak-injak dan anak-anak berdiri di
dalam tubuh Nick si Kepala-Nyaris-Putus. Harry tergencet ke dinding ketika
guru-guru berteriak menyuruh diam. Profesor McGonagall datang berlari-lari,
diikuti murid-murid yang sedang mengikuti pelajarannya, salah satunya masih
berambut garis-garis hitam dan putih. Profesor McGonagall menggunakan
tongkatnya untuk membuat ledakan keras, yang membuat anak-anak langsung
diam, dan menyuruh semua kembali ke kelas masing-masing. Begitu koridor
kosong lagi, Ernie si Hufflepuff tiba, tersengal-sengal, di tempat kejadian.
"Tertangkap basah!" Ernie menjerit, mukanya seputih tembok,
mengacungkan telunjuknya secara dramatis kepada Harry.
"Cukup, Macmillan!" kata Profesor McGonagall tajam. Peeves melambung-
lambung di atas, sekarang me-nyeringai jail, mengawasi pemandangan di
--------------------------------------- 117
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
bawah. Peeves menyukai kekacauan. Ketika para guru mem-bungkuk
memeriksa Justin dan Nick si Kepala-Nyaris-Putus, Peeves mendadak bernyanyi:
"Oh, Harry, kau keji, oh apa maumu. Kau bunuh murid- murid, kaupikir itu
lucu..."
"Cukup, Peeves!" bentak Profesor McGonagall, dan Peeves meluncur mundur,
seraya menjulurkan lidah kepada Harry Justin digotong ke rumah sakit oleh
Profesor Flitwick dan Profesor Sinistra dari jurusan Astronomi, tetapi
kelihatannya tak ada yang tahu apa yang harus dilaku-kan terhadap Nick si
Kepala-Nyaris-Putus. Akhirnya, Profesor McGonagall menyihir kipas besar, yang
diberi-kannya kepada Ernie dengan instruksi supaya mengi-pasi Nick si Kepala-
Nyaris-Putus sampai terangkat ke atas tangga. Ernie pun mengipasi Nick, yang
melayang seperti helikopter hitam. Tinggal Harry dan Profesor McGonagall
sendirian.
"Ikut aku, Potter," katanya. "Profesor," kata Harry segera,
"saya bersumpah saya tidak..."
"Ini di luar kemampuanku, Potter," kata Profesor McGonagall kaku.
Mereka berjalan dalam diam, membelok di sudut dan Profesor McGonagall
berhenti di depan gargoyle patung batu besar yang jelek sekali.
"Permen jeruk!" katanya. Jelas ini kata sandinya, karena patung makhluk
jelek itu mendadak hidup, melompat minggir, dan dinding di belakangnya ter-
belah. Bahkan dalam keadaan ketakutan pada apa yang akan terjadi, Harry
masih tetap bisa kagum sekali. Di belakang dinding itu ada tangga spiral, yang
bergerak pelan ke atas, seperti eskalator. Saat dia dan Profesor McGonagall
melangkah menaiki anak tangganya, Harry mendengar benturan dinding yang
menutup di belakang mereka. Mereka meluncur ke atas melingkar-lingkar,
makin lama makin tinggi, sampai akhirnya, agak pusing, Harry bisa melihat
pintu kayu ek berkilat di depan, dengan pengetuk pintu berbentuk griffon,
makhluk menakjubkan ber-kepala dan bersayap elang, tapi bertubuh singa.
Harry tahu ke mana dia dibawa. Ini pastilah kantor sekaligus tempat tinggal
Dumbledore.
12. Ramuan Polijus
MEREKA tiba di puncak tangga batu dan Profesor McGonagall mengetuk
pintunya. Pintu itu terbuka tanpa suara dan mereka masuk. Profesor
McGonagall menyuruh Harry menunggu dan meninggalkannya sendirian.
Harry memandang berkeliling. Satu hal sudah jelas: dari semua kantor guru
yang pernah didatanginya, kantor Dumbledore-lah yang paling menarik. Kalau
tidak ketakutan setengah mati membayangkan dirinya akan dikeluarkan dari
sekolah, Harry akan senang sekali punya kesempatan melihat- lihat.
--------------------------------------- 118
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ruangan itu besar dan bundar, penuh bunyi-bunyi kecil ganjil. Sejumlah
peralatan perak yang aneh ter-geletak di atas meja-meja berkaki panjang-
kurus, men-desing dan mengeluarkan gumpalan-gumpalan kecil asap.
Dindingnya dipenuhi lukisan para mantan ke-pala sekolah, pria dan wanita,
semuanya tertidur da-lam pigura masing masing. Ada juga meja besar sekali
berkaki seperti cakar, dan di atas rak di belakang meja tergeletak sebuah topi
sihir kumal bertambal
Topi Seleksi.
Harry ragu-ragu. Dengan hati-hati dipandangnya para penyihir yang tertidur
di dinding. Tentunya tidak apa-apa kalau dia menurunkan topi itu dan
memakai-nya sekali lagi? Hanya untuk melihat... untuk me-mastikan topi itu
memasukkannya ke asrama yang benar.
Hati-hati dia berjalan ke balik meja, mengangkat topi itu dari raknya dan
menurunkannya pelan-pelan ke atas kepalanya. Topi itu terlalu besar dan
merosot menutupi matanya, persis seperti ketika dia memakai-nya dulu. Harry
menatap bagian dalam topi yang hitam, menunggu. Kemudian terdengar suara
kecil di telinganya, "Tergoda mau coba lagi ya, Harry Potter?"
"Eh, ya," gumam Harry "Ehmaaf mengganggu-muaku ingin tanya..."
"Kau bertanya-tanya dalam hati apakah aku me-masukkanmu ke asrama yang
benar," kata si topi cerdik.
"Ya... kau sangat sulit ditempatkan. Tetapi pendapatku masih sama dengan
yang kukatakan se-belumnya..." Jantung Harry melonjak gembira "...kau bisa
jadi penyihir hebat di Slytherin." Harry lemas. Dicengkeramnya ujung topi dan
di-tariknya. Topi itu menggantung lunglai di tangannya, kotor dan kumal. Harry
mengembalikannya ke rak, perasaannya terpukul sekali.
"Kau keliru," katanya keras-keras kepada topi yang diam tak bersuara. Topi
itu tidak bergerak. Harry mundur, masih mengawasinya. Kemudian bunyi ganjil
seperti orang tercekik di belakangnya membuatnya berputar.
Ternyata dia tidak sendirian. Pada tenggeran emas di belakang pintu berdiri
seekor burung yang ke-lihatannya sudah tua sekali, mirip kalkun yang sudah
dicabuti bulunya separo. Harry memandangnya dan si burung balas
memandangnya dengan galak, menge-luarkan bunyi tercekik lagi. Burung itu
kelihatannya sakit parah. Matanya sangat redup, dan bahkan sementara Harry
memandangnya, dua bulu rontok dari ekornya.
Harry baru saja berkata dalam hati, Wah, gawat kalau burung piaraan
Dumbledore ini mati saat aku sedang sendirian bersamanya, ketika si burung
men-dadak menyala terbakar.
Harry memekik kaget dan mundur sampai me-nabrak meja. Dengan panik dia
memandang ber-keliling kalau-kalau ada segelas air, tapi dilihatnya tak ada
segelas pun. Si burung, sementara itu, sudah menjadi bola api. Dia memekik
keras dan detik berikutnya, yang tinggal hanyalah seonggok abu ber-asap di
lantai.
Pintu ruangan terbuka. Dumbledore masuk, ke-lihatan sangat muram.
"Profesor," Harry tergagap, "burung Anda saya tak bisa berbuat apa-apadia
baru saja terbakar..."
Betapa herannya Harry, Dumbledore tersenyum.
--------------------------------------- 119
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Sudah waktunya," katanya. "Sudah berhari-hari dia kelihatan parah sekali.
Aku sudah bilang padanya untuk jalan terus."
Dumbledore terkekeh melihat kekagetan di wajah Harry.
"Fawkes itu phoenix, Harry. Burung phoenix terbakar kalau sudah waktunya
mati dan dilahirkan kembali dari abunya. Lihat dia..."
Harry menunduk dan melihat burung kecil, keriput seperti baru menetas,
menjulurkan kepalanya dari dalam abu. Sama jeleknya dengan burung tua tadi.
"Sayang kau melihatnya pada Hari Terbakar," kata Dumbledore sambil duduk
di belakang mejanya. "Dia tampan sekali sebetulnya, bulunya merah dan ke-
emasan, bukan main indahnya. Makhluk luar biasa, phoenix itu. Mereka bisa
membawa beban yang berat sekali, air mata mereka berkhasiat
menyembuhkan, dan mereka hewan peliharaan yang sangat setia."
Dalam kekagetannya melihat Fawkes terbakar, Harry sudah lupa untuk apa
dia berada di sini. Tetapi semua-nya langsung diingatnya kembali begitu
Dumbledore duduk di kursi berpunggung tinggi dan matanya yang biru pucat
memandangnya tajam.
Tetapi sebelum Dumbledore bisa berkata apa-apa lagi, pintu kantornya
berdebam terbuka dan Hagrid menerobos masuk, matanya liar, topi balaclava-
nya ber-tengger di atas kepalanya yang berambut hitam awut-awutan dan
bangkai ayam jantannya masih berayun di tangannya.
"Bukan, Harry, Profesor Dumbledore!" kata Hagrid tegang.
"Aku bicara dengannya hanya beberapa detik sebelum anak itu ditemukan.
Dia tak akan punya cukup waktu, Sir..."
Dumbledore berusaha mengatakan sesuatu, tetapi Hagrid terus merepet,
melambai-lambaikan bangkai ayamnya dalam kebingungannya, membuat bulu-
bulu ayam itu beterbangan ke mana-mana.
"...Tak mungkin dia, aku mau sumpah di depan Kementerian Sihir kalau
perlu..."
"Hagrid, aku..."
"...Anda tangkap anak yang salah, Sir, aku tahu Harry tak pernah..." "Hagrid!"
kata Dumbledore keras. "Aku tidak ber-pendapat Harry-lah yang menyerang
anak-anak itu."
"Oh," kata Hagrid, ayam jantannya terkulai lemas di sisinya.
"Baiklah. Aku akan tunggu di luar kalau begitu, Kepala Sekolah."
Dan dia melangkah keluar, kelihatan malu.
"Anda tidak berpendapat saya yang menyerang, Profesor?" Harry mengulang
penuh harap, sementara Dumbledore menyapu bulu-bulu ayam dari atas meja-
nya.
"Tidak, Harry," kata Dumbledore, meskipun wajah-nya muram lagi. "Tapi aku
tetap ingin bicara dengan-mu."
Harry menunggu dengan gugup sementara Dumbledore mengawasinya,
ujung-ujung jarinya yang panjang-panjang mengatup.
"Aku harus bertanya padamu, Harry, apakah ada yang ingin kausampaikan
kepadaku," katanya lembut. "Apa saja."
Harry tak tahu harus bilang apa. Dia teringat te-riakan Malfoy, "Giliranmu
berikutnya, Darah-lumpur!" dan Ramuan Polijus, menggelegak tersembunyi di
--------------------------------------- 120
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
da-lam toilet Myrtle Merana. Kemudian dia teringat suara tanpa tubuh yang
sudah didengarnya dua kali dan ucapan Ron, "Mendengar suara- suara yang tak
bisa di-dengar orang lain, bukan pertanda baik, bahkan di dunia sihir
sekalipun." Dia juga teringat apa yang dikatakan semua orang tentang dia, dan
ketakutannya yang semakin besar bahwa dia ada hubungannya dengan Salazar
Slytherin....
"Tidak,"kata Harry, "tidak ada, Profesor."
Serangan ganda kepada Justin dan Nick si Kepala-Nyaris- Putus mengubah
yang sebelumnya kegugupan menjadi kepanikan besar. Anehnya, nasib Nick si
Kepala-Nyaris-Putus- lah yang paling membuat kha-watir orang-orang. Apa yang
mungkin berbuat begitu kepada hantu, orang-orang saling bertanya, kekuatan
mengerikan apa yang bisa merusak orang yang sudah mati? Orang-orang
berebut memesan tempat duduk di Hogwarts Express agar anak-anak bisa
pulang Na-tal nanti.
"Kalau begini caranya, tinggal kita yang ada di sini," Ron berkata kepada
Harry dan Hermione. "Kita, Malfoy, Crabbe, dan Goyle. Wah, bukan main
asyiknya liburan Natal nanti."
Crabbe dan Goyle, yang selalu melakukan apa yang dilakukan Malfoy, telah
mendaftar untuk tinggal selama liburan juga. Tetapi Harry senang sebagian
besar anak pulang. Dia sudah bosan menghadapi anak-anak yang
menghindarinya di koridor, seakan taringnya akan tumbuh mendadak atau dia
akan me-nyemburkan bisa; bosan pada bisik-bisik, tudingan-tudingan, dan
desisan setiap kali dia lewat.
Fred dan George, meskipun demikian, menganggap semua ini sangat lucu.
Mereka sengaja berjalan di depan Harry di koridor-koridor, berteriak-teriak,
"Minggir! Beri jalan pada Slytherin, sihir jahat akan lewat..."
Percy sangat tidak menyetujui sikap mereka.
"Ini tidak lucu," katanya dingin.
"Oh, minggir, Percy," kata Fred. "Harry sedang buru-buru."
"Yeah, dia sedang menuju Kamar Rahasia untuk minum teh dengan
pelayannya yang bertaring," kata George terkekeh.
Ginny juga tidak menganggap itu lucu.
"Aduh, jangan dong," jerit Ginny setiap kali Fred menanyai Harry siapa yang
akan dia serang berikut-nya, atau George berpura-pura mengusir Harry de-ngan
untaian besar bawang putih setiap kali mereka bertemu.
Harry tidak keberatan. Dia malah lega Fred dan George menganggap lucu
pendapat orang bahwa dia pewaris Slytherin. Tetapi sikap antik Fred dan
George rupanya menjengkelkan Draco Malfoy, yang tampak semakin masam
setiap kali dia melihat mereka mem-buat lelucon begitu.
"Itu karena dia sebetulnya ingin sekali menyombong bahwa dialah pewaris
sebenarnya," kata Ron sok tahu. "Kau tahu, kan, dia paling benci kalau ada
yang mengalahkannya dalam hal apa pun, dan kau yang mendapat pujian untuk
segala pekerjaan kotornya."
"Tidak lama lagi," kata Hermione dengan nada puas.
"Ramuan Polijus sudah hampir siap. Kita akan segera mendengar
pengakuannya."
--------------------------------------- 121
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Akhirnya semester berakhir dan kesunyian setebal tumpukan salju di
halaman menyelimuti kastil. Alih-alih suram, Harry menganggapnya damai, dan
dia senang sekali hanya dia, Ron, dan Hermione yang tinggal di Menara
Gryffindor. Itu berarti mereka bisa bermain Jentikan Meletup. sekeras mungkin
tanpa mengganggu siapa pun, dan berlatih duel tanpa ada yang melihat. Fred,
George, dan Ginny memilih tinggal di sekolah daripada mengunjungi Bill di
Mesir bersama Mr dan Mrs Weasley. Percy, yang mencela sikap me-reka yang
dinilainya kekanak-kanakan, tidak melewat-kan banyak waktu di ruang rekreasi
Gryffindor. Dia sudah memberitahu mereka dengan angkuh bahwa dia tinggal
selama Natal karena tugasnyalah sebagai Prefek untuk memberi dukungan
kepada para guru dalam masa-masa sulit ini.
Pagi Hari Natal tiba, dingin dan putih bersalju. Harry dan Ron, yang hanya
tinggal berdua di kamar mereka, dibiingunkan pagi-pagi sekali oleh Hermione,
yang menerobos masuk. la sudah berpakaian lengkap dan membawa hadiah
untuk mereka berdua.
"Bangun," serunya keras-keras, seraya menarik gor-den jendela. "Hermione
kau tidak boleh masuk ke sini," kata Ron, menaungi matanya yang silau.
"Selamat Natal untuk kalian juga," kata Hermione, seraya melemparkan
hadiah untuk Ron. "Aku sudah bangun hampir sejam yang lalu, menambahkan
se-rangga sayap-renda ke ramuan. Sudah jadi sekarang."
Harry duduk, mendadak kantuknya hilang.
"Kau yakin?"
"Positif," kata Hermione, menggeser Scabbers si tikus supaya dia bisa duduk
di kaki tempat tidur besar Harry. "Kalau kita akan melakukannya, menurutku
sebaiknya malam ini."
Saat itu Hedwig meluncur masuk ke dalam kamar, membawa bungkusan
amat kecil di paruhnya.
"Halo," kata Harry gembira, ketika Hedwig men-darat di tempat tidurnya,
"kau sudah mau bicara padaku lagi?"
Hedwig menggigit-gigit telinga Harry dengan sayang, yang bagi Harry
merupakan hadiah yang jauh lebih menyenangkan daripada hadiah yang di-
bawanya, yang ternyata dari keluarga Dursley. Mereka mengiriminya sebatang
tusuk gigi dan surat pendek yang isinya menyuruh Harry mencari tahu kalau-
kalau dia bisa tinggal di Hogwarts untuk liburan musim panas juga. Hadiah-
hadiah Natal Harry lainnya jauh lebih me-muaskan. Hagrid mengiriminya
sekaleng besar gulali, yang Harry putuskan akan dipanaskan dulu sebelum
dimakan; Ron menghadiahinya buku berjudul Terbang bersama Cannons, buku
yang memuat fakta-fakta me-narik tentang tim Quidditch favoritnya; dan
Hermione telah membelikannya pena mewah bulu elang. Harry membuka
hadiah terakhir dan menemukan jumper rompi rajutan tanpa kancingbaru
dan kue plum besar dari Mrs Weasley. Harry menaruh kembali kartu-nya.
Perasaan bersalah kembali melandanya, ketika dia teringat mobil Mr Weasley,
yang tak pernah ke-lihatan lagi sehabis menabrak pohon Dedalu Perkasa, dan
rencana pelanggaran peraturan yang akan dilaku-kannya bersama Ron
berikutnya.
--------------------------------------- 122
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tak seorang pun, bahkan orang yang sedang ketakutan akan minum Ramuan
Polijus nanti, tidak bisa me-nikmati makan malam Natal di Hogwarts.
Aula Besar kelihatan megah sekali. Di situ tak hanya ada selusin pohon Natal
berselimut salju dan untaian tebal holly dan mistletoe yang dipasang bersilang-
silang di langit-langit, tetapi salju sihiran berjatuhan, hangat dan kering, dari
langit- langit. Dumbledore memimpin mereka menyanyikan beberapa lagu
Natal favoritnya. Semakin banyak minuman keras yang diteguk Hagrid dari
pialanya, semakin menggelegar pula suaranya. Percy, yang tidak menyadari
Fred telah menyihir len-cana Prefek-nya sehingga tulisannya sekarang menjadi
"Pitak", berkali-kali bertanya kepada mereka kenapa mereka cengar-cengir
terus. Harry bahkan tidak peduli pada Draco Malfoy yangdari meja Slytherin
me-lontarkan ejekan-ejekan keras tentang jumper barunya. Kalau mereka
sedikit beruntung, Malfoy akan me-nerima balasannya beberapa jam lagi.
Harry dan Ron baru saja menghabiskan porsi ketiga puding Natal mereka,
ketika Hermione mengajak mereka meninggalkan aula untuk melaksanakan ren-
cana mereka malam itu.
"Kita masih memerlukan sedikit bagian tubuh orang-orang yang menjadi
sasaran kita," kata Hermione tegas, seakan dia menyuruh mereka ke
supermarket untuk membeli bubuk pencuci. "Dan jelas, paling baik kalau kalian
bisa mendapatkan sesuatu dari Crabbe dan Goyle. Mereka kan sahabat Malfoy,
dia akan menceritakan segalanya kepada mereka. Dan kita juga perlu
memastikan Crabbe dan Goyle yang asli tidak muncul selagi kita menginterogasi
Malfoy.
"Aku sudah memikirkan segalanya," Hermione me-neruskan dengan lancar,
mengabaikan wajah ke-heranan Harry dan Ron. Dia menunjukkan dua po-tong
kue cokelat besar. "Ini sudah kuberi Ramuan Tidur sederhana. Yang harus kalian
lakukan tinggal memastikan Crabbe dan Goyle menemukan kue-kue ini. Kalian
tahu betapa rakusnya mereka, mereka pasti akan memakannya. Begitu mereka
tertidur, cabut be-berapa helai rambut mereka dan sembunyikan mereka dalam
lemari sapu."
Harry dan Ron saling pandang dengan ragu-ragu.
"Hermione, kurasa tidak..."
"Hal itu bisa saja tidak berjalan sesuai rencana..."
Tetapi mata Hermione berkilau tajam, tak berbeda dengan kilau yang
kadang-kadang tampak di mata Profesor McGonagall.
"Ramuan itu tak ada gunanya tanpa rambut Crabbe dan Goyle," katanya
tegas. "Kalian ingin menyelidiki Malfoy, kan?"
"Oh, oke, oke," kata Harry. "Tetapi bagaimana denganmu? Rambut siapa yang
akan kaucabut?"
"Aku sudah punya rambut yang kuperlukan!" kata Hermione cerah, menarik
keluar sebuah botol kecil mungil dari dalam sakunya dan menunjukkan kepada
mereka sehelai rambut di dalamnya. "Ingat Millicent Bulstrode yang bergulat
denganku di Klub Duel? Rambutnya tertinggal di jubahku ketika dia mencoba
mencekikku! Dan dia pulang liburan Natal inijadi, aku tinggal bilang pada
anak-anak Slytherin bahwa aku batal pulang ke rumah."
--------------------------------------- 123
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ketika Hermione sudah pergi untuk mengecek Ramuan Polijus lagi, Ron
menoleh kepada Harry de-ngan ekspresi seolah akan tertimpa malapetaka.
"Pernahkah kau mendengar rencana dengan begitu banyak hal yang bisa
gagal?"
Betapa herannya Harry dan Ron ketika tahap pertama rencana mereka
berjalan mulus seperti yang telah dikatakan Hermione. Mereka bersembunyi di
Aula Besar yang sudah kosong setelah acara minum teh Natal, menunggu
Crabbe dan Goyle yang tinggal berdua di meja Slytherin melahap porsi keempat
kue mereka. Harry sudah meletakkan kue cokelat di ujung pegangan tangga.
Ketika melihat Crabbe dan Goyle meninggalkan Aula Besar, Harry dan Ron
cepat-cepat bersembunyi di balik baju zirah di dekat pintu.
"Tolol banget," bisik Ron, gembira luar biasa ketika Crabbe menyenggol
Goyle dan menunjuk kue itu dengan senang, lalu menyambarnya. Sambil
nyengir konyol, mereka langsung menjejalkan kue itu ke dalam mulut besar
mereka. Sesaat mereka berdua me-ngunyah dengan rakus, wajah mereka penuh
ke-menangan. Kemudian, tanpa perubahan ekspresi se-dikit pun, keduanya
roboh ke lantai.
Kesulitan yang paling besar adalah menyembunyi-kan mereka di dalam
lemari di seberang ruangan. Begitu mereka sudah aman dijejalkan di antara
ember-ember dan kain pel, Harry mencabut dua rambut pendek kaku yang
tumbuh di dahi Goyle dan Ron mencabut beberapa helai rambut Crabbe.
Mereka juga mencuri sepatu Crabbe dan Goyle, karena sepatu mereka kelewat
kecil untuk ukuran kaki kedua anak Slytherin itu. Kemudian, masih keheranan
akan apa yang baru saja mereka lakukan, mereka berlari ke toilet Myrtle
Merana.
Mereka nyaris tak bisa melihat gara-gara asap tebal hitam yang keluar dari
bilik tempat Hermione mengaduk isi kualinya. Dengan menarik jubah untuk
menutupi muka mereka, Harry dan Ron mengetuk pintu pelan.
"Hermione?"
Mereka mendengar kunci diputar, dan kemudian Hermione muncul,
wajahnya berkilau dan kelihatan cemas. Di belakangnya mereka mendengar
bunyi blup-blup ramuan kental yang menggelegak. Tiga gelas besar sudah siap
di atas tempat duduk kloset.
"Berhasil?" tanya Hermione menahan napas.
Harry menunjukkan rambut Goyle.
"Bagus. Dan aku sudah mengambil jubah mereka dari tempat cucian," kata
Hermione, mengangkat kan-tong kecil.
"Kalian perlu jubah lebih besar kalau sudah jadi Crabbe dan Goyle."
Ketiganya memandang kuali. Dari dekat, ramuan itu tampak seperti lumpur
kental hitam yang menggelegak.
"Aku yakin sudah melakukan segalanya dengan benar," kata Hermione,
dengan gugup membaca ulang halaman Ramuan-ramuan Paling Mujarab yang
sudah bebercak-bercak.
"Tampilannya sudah seperti yang di-katakan buku... Begitu kita
meminumnya, kita cuma punya waktu tepat satu jam sebelum berubah menjadi
diri kita lagi."
--------------------------------------- 124
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Sekarang bagaimana?" bisik Ron. "Kita bagi menjadi tiga gelas, dan kita
tambahkan rambutnya."
Hermione memasukkan sendokan-sendokan besar cairan kental itu ke dalam
masing-masing gelas. Kemu-dian, dengan tangan gemetar dia menggoyang
botol-nya sampai rambut Millicent jatuh dari botol itu, ke dalam gelas
pertama.
Ramuan itu mendesis keras seperti ceret yang airnya mendidih dan berbuih
banyak. Sedetik kemudian ramuan itu sudah berubah warna menjadi kuning
menjijikkan.
"Yaikkksari pati Millicent Bulstrode," kata Ron, me-mandangnya dengan
jijik. "Pasti rasanya memuakkan."
"Masukkan rambutmu sekarang," kata Hermione.
Harry menjatuhkan rambut Goyle ke dalam gelas yang di tengah dan Ron
memasukkan rambut Crabbe ke gelas terakhir. Kedua gelas itu mendesis dan
ber-buih: yang berisi rambut Goyle berubah warna men-jadi cokelat muda,
yang berisi rambut Crabbe menjadi cokelat tua kelam.
"Tunggu," kata Harry ketika Ron dan Hermione mau mengambil gelas
mereka. "Kita sebaiknya tidak meminumnya sama-sama di sini. Begitu kita
berubah menjadi Crabbe dan Goyle, tempat ini tak akan cukup. Dan Millicent
Bulstrode juga tidak kecil."
"Pemikiran bagus," kata Ron, membuka kunci pintu. "Kita minum dalam bilik
yang berlainan."
Berhati-hati agar ramuan Polijus-nya tidak ada yang tercecer, Harry
menyelinap ke dalam bilik yang di tengah.
"Siap?" dia berseru.
"Siap," terdengar jawaban Ron dan Hermione.
"Satu... dua... tiga..."
Seraya memencet hidungnya, Harry meminum ramuannya dalam dua
tegukan. Rasanya seperti kol yang dimasak kelamaan.
Segera saja bagian dalam tubuhnya mulai bergerak-gerak, seakan dia baru
saja menelan ular-ular hidup Harry terbungkuk, bertanya-tanya dalam hati
apakah dia akan muntahkemudian perutnya serasa terbakar, dan rasa panas
ini menjalar cepat dari perut ke ujung-ujung jari tangan dan kakinya. Reaksi
berikutnya begitu hebat, membuat Harry terpekik kaget dan jatuh merangkak.
Dia merasa seperti meleleh ketika kulit di seluruh tubuhnya ditumbuhi
gelembung-gelembung seperti lilin panas, dan di depan matanya sendiri,
tangannya mulai tumbuh, jari-jarinya menggemuk, kukunya melebar, dan buku-
buku jarinya bertonjolan besar-besar. Bahunya melebar, rasanya sakit, dan
denyut-denyut di dahinya memberitahunya rambutnya sedang tumbuh
merambat ke alisnya. Jubahnya sobek ketika dadanya mengembang seperti
tong pecah sampai lingkaran pengikatnya terlepas. Kakinya sakit sekali terjepit
sepatu yang ukurannya, terlalu kecil empat nomor...
Dan mendadak saja, seperti mulainya tadi, segalanya berhenti. Harry
berbaring menelungkup di lantai batu bilik yang dingin, mendengarkan Myrtle
yang ber-deguk merana di bilik paling ujung. Dengan susah payah dia
mengentakkan sepatunya sampai lepas dan berdiri. Beginilah rasanya menjadi
--------------------------------------- 125
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Goyle. Tangannya yang besar gemetar, dia melepas jubahnya, yang
menggantung kira-kira tiga puluh senti di atas mata kakinya, memakai jubah
yang disediakan Hermione, dan mengikat tali sepatu Goyle yang seperti-
perahu. Tangannya mau menyibakkan rambut dari matanya, tapi yang
terpegang olehnya hanya rambut pendek kaku bagai kawat, yang tumbuh
memenuhi dahinya. Kemudian dia menyadari bahwa kacamatanya mem-buat
pandangannya kabur, karena Goyle jelas tidak memerlukannya. Dilepasnya
kacamatanya, lalu dia ber-teriak, "Kalian berdua oke?" Suara serak Goyle ter-
dengar dari mulutnya.
"Yeah," terdengar dengkur berat Crabbe dari sebelah kirinya.
Harry membuka pintu biliknya dan melangkah di depan cermin yang retak.
Goyle balik memandangnya dengan mata dalam yang suram. Harry menggaruk
telinganya. Begitu juga, Goyle.
Pintu Ron terbuka. Mereka berpandangan. Dari po-tongan rambutnya yang
seperti batok kelapa sampai ke lengan gorilanya yang panjang, Ron tak bisa di-
bedakan dari Crabbe, hanya saja dia kelihatan pucat dan shock.
"Tak bisa dipercaya," kata Ron, mendekati cermin dan menekan-nekan
hidung pesek Crabbe. "Tak bisa dipercaya."
"Lebih baik kita segera berangkat," kata Harry, me-ngendurkan arloji yang
menjepit pergelangan tangan Goyle yang tebal. "Kita masih harus menemukan
ruang rekreasi Slytherin. Mudah-mudahan kita ketemu orang yang bisa kita
buntuti..."
Ron, yang sejak tadi memandang Harry, berkata, "Kau tak tahu betapa
anehnya melihat Goyle berpikir." Dia menggedor pintu Hermione. "Ayo, kita
harus pergi..."
Suara tinggi melengking menjawabnya, "Akuku-rasa aku tidak akan keluar.
Kalian jalan saja tanpa aku."
"Hermione, kami tahu Millicent Bulstrode jelek, tak akan ada yang tahu itu
kau."
"Tidakbetulaku tidak akan ikut. Kalian berdua bergegaslah, kalian
membuang-buang waktu.".
Harry memandang Ron, kebingungan.
"Nah, kalau begitu, kau lebih mirip Goyle," kata Ron.
"Begitulah tampangnya setiap kali ditanya guru." "Hermione, apakah kau
tidak apa-apa?" tanya Harry dari balik pintu.
"Baikaku baik... Kalian pergilah...."
Harry memandang arlojinya. Lima dari enam puluh menit mereka yang
sangat berharga telah lewat. "Kami akan menemuimu di sini nanti, oke?" kata-
nya. Harry dan Ron membuka pintu toilet hati-hati, memastikan keadaan aman,
lalu keluar. "Jangan mengayunkan tanganmu seperti itu," Harry bergumam
kepada Ron.
"Eh?"
"Crabbe biasanya tangannya kaku..."
"Bagaimana kalau begini?"
"Yeah, itu lebih baik."
--------------------------------------- 126
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mereka menuruni tangga pualam. Yang mereka perlukan sekarang tinggal
anak Slytherin yang bisa mereka ikuti ke ruang rekreasi Slytherin, tapi tak ada
seorang pun.
"Ada ide?" gumam Harry.
"Anak-anak Slytherin selalu datang untuk sarapan dari arah sana," kata Ron,
mengangguk ke pintu ruang bawah tanah. Baru saja dia selesai bicara, se-orang
gadis berambut panjang ikal muncul dari pintu.
"Maaf," kata Ron, bergegas mendekatinya, "kami lupa jalan ke ruang rekreasi
kita."
"Apa?" kata gadis itu kaku. "Ruang rekreasi kita? Aku anak Ravenclaw."
Gadis itu pergi, menoleh curiga kepada mereka.
Harry dan Ron bergegas menuruni tangga batu menuju kegelapan, langkah-
langkah mereka bergema keras ketika kaki raksasa Crabbe dan Goyle
mengentak lantai. Mereka merasa ini tidak akan semudah yang mereka
harapkan.
Lorong-lorong yang berputar-putar seperti labirin itu kosong. Mereka turun
semakin dalam di bawah sekolah, berkali-kali mengecek arloji untuk melihat
berapa lama lagi waktu yang masih tersisa. Setelah seperempat jam, tepat
ketika mereka mulai putus asa, mereka mendengar bunyi gerakan di depan.
"Ha!" kata Ron. "Itu salah satu dari mereka!"
Sosok itu muncul dari ruang sebelah. Ketika mereka bergegas mendekat,
mereka kecewa. Ternyata bukan anak Slytherin, melainkan Percy.
"Apa yang kaulakukan di bawah sini?" tanya Ron heran. Percy tampak
terhina.
"Itu," katanya kaku, "bukan urusanmu. Kau Crabbe, kan?"
"Apoh, yeah," kata Ron. "Kembalilah ke kamar kalian," kata Percy galak.
"Tidak aman berkeliaran di koridor gelap sekarang ini."
"Kau sendiri berkeliaran," tuduh Ron.
"Aku," kata Percy membusungkan dada, "Prefek. Tak ada yang akan
menyerangku."
Tiba-tiba terdengar suara di belakang Harry dan Ron. Draco Malfoy berjalan
ke arah mereka, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Harry senang
melihatnya.
"Di sini rupanya kalian," katanya, memandang me-reka.
"Apa dari tadi kalian makan terus seperti babi di Aula Besar? Aku mencari-
cari kalian, aku ingin menunjukkan sesuatu yang benar-benar lucu pada kalian."
Malfoy mengerling Percy dengan menghina.
"Dan apa yang kaulakukan di sini, Weasley?" cibir-nya. Percy kelihatan
marah. "Kau harus menunjukkan sedikit rasa hormat kepada Prefek sekolah!"
katanya. "Aku tak suka sikap-mu!"
Malfoy mencibir dan memberi isyarat pada Harry dan Ron untuk
mengikutinya. Harry nyaris minta maaf pada Percy, tapi untung langsung ingat
dan menahan diri. Dia dan Ron bergegas mengikuti Malfoy, yang berkata ketika.
mereka membelok ke lorong berikutnya, "Si Peter Weasley itu..."
"Percy," Ron otomatis membetulkannya.
--------------------------------------- 127
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apalah," kata Malfoy. "Kuperhatikan belakangan ini dia menyelinap ke
mana-mana. Dan aku tahu apa maunya. Dia pikir dia bisa menangkap pewaris
Slytherin sendirian."
Malfoy tertawa mengejek. Harry dan Ron bertukar pandang bergairah.
Malfoy berhenti di depan tembok batu kosong dan lembap.
"Apa kata kuncinya?" tanyanya kepada Harry.
"Eh...," kata Harry.
"Oh yeahdarah-murni!" kata Malfoy, tidak men-dengarkan ucapan Harry,
dan pintu batu yang ter-sembunyi di tembok itu menggeser terbuka Malfoy
masuk, diikuti Harry dan Ron.
Ruang rekreasi Slytherin adalah ruang bawah tanah yang panjang dan
rendah, dengan tembok dan langit-langit batu kasar. Dari langit-langit itu
lampu-lampu kehijauan bergantung pada rantai. Api berderak dalam perapian
yang berukir rumit di depan mereka, dan beberapa anak Slytherin
mengelilinginya di kursi-kursi berukir.
"Tunggu di sini," kata Malfoy kepada Harry dan Ron, memberi isyarat agar
mereka duduk di sepasang kursi kosong agak jauh dari perapian. "Akan ku-ambil
ayahku baru saja mengirimnya..."
Bertanya-tanya dalam hati apa yang akan ditunjuk-kan Malfoy kepada
mereka, Harry dan Ron duduk, berusaha kelihatan tidak canggung.
Malfoy muncul lagi beberapa saat kemudian, mem-bawa guntingan koran.
Disodorkannya guntingan ko-ran itu ke bawah radung Ron.
"Ini akan membuatmu tertawa," katanya.
Harry melihat mata Ron membelalak kaget. Ron membaca guntingan koran
itu cepat-cepat, dengan tawa yang dipaksakan, lalu diberikannya kepada Harry.
Ternyata itu berita yang digunting dari Daily Prophet, bunyinya:
PENYELIDIKAN DI KEMENTERIAN SIHIR
Arthur Weasley, Kepala Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle, hari
ini didenda lima puluh Galleon karena menyihir mobil Muggle.
Mr Lucius Malfoy, anggota Dewan Sekolah Sihir Hogwarts, tempat mobil
tersihir itu mendarat beberapa waktu yang lalu, menelepon hari ini,
mengusulkan pemecatan Mr Weasley.
"Weasley telah merusak reputasi Kementerian," Mr Malfoy berkata kepada
reporter kami. "Dia jelas tidak layak membuat peraturan untuk kita dan
Undang-undang Perlindungan Muggle-nya harus segera di-hapuskan."
Mr Weasley tidak bisa dimintai komentar, meskipun istrinya menyuruh para
reporter untuk menyingkir, kalau tidak mereka akan melepas hantu keluarga
untuk menyerang para reporter.
"Nah?" kata Malfoy tak sabar, ketika Marry mengem-balikan guntingan koran
itu kepadanya. "Apa me-nurutmu tidak lucu?"
"Ha, ha," kata Harry suram.
"Arthur Weasley suka sekali pada Muggle, mestinya dia patahkan saja
tongkatnya jadi dua dan bergabung dengan mereka," kata Malfoy menghina.
"Kau tak akan tahu keluarga Weasley berdarah-murni, kalau melihat tingkah
mereka."
--------------------------------------- 128
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Wajah Ronatau lebih tepatnya, Crabbe, berkeriut saking marahnya.
"Kenapa sih kau?" bentak Malfoy.
"Sakit perut," keluh Ron.
"Pergi ke rumah sakit dong, dan tendang semua Darah- lumpur itu untukku,"
kata Malfoy terkekeh.
"Tahu tidak, aku heran. Daily Prophet belum juga mem-beritakan tentang
serangan-serangan ini," katanya me-neruskan, berpikir-pikir. "Kurasa
Dumbledore berusaha menutupinya. Dia akan dipecat kalau kejadian ini tidak
segera dihentikan. Ayah selalu bilang Dumbledore hal terburuk yang terjadi di
sekolah ini. Dia suka anak-anak kelahiran-Muggle. Kepala sekolah yang layak
tidak akan menerima anak tolol seperti Creevey."
Malfoy berpura-pura memotret, menjepret-jepret de-ngan kamera khayalan,
menirukan gaya Colin. "Potter, boleh aku memotretmu, Potter? Boleh aku
minta tanda tanganmu? Boleh dong aku menjilat sepatumu, Potter?"
Dia menurunkan tangannya dan memandang Harry dan Ron.
"Kenapa sih kalian berdua?"
Walaupun terlambat, Harry dan Ron memaksa diri tertawa, tetapi Malfoy
tampaknya puas. Mungkin Crabbe dan Goyle memang selalu "telmi".
"Santo Potter, sahabat para Darah-lumpur," kata Malfoy lambat-lambat. "Dia
satu lagi yang tak punya rasa sihir yang pantas. Kalau tidak, dia tak akan
bergaul dengan Granger si Darah-lumpur itu. Dan orang-orang mengira dia-lah.
pewaris Slytherin!"
Harry dan Ron menunggu dengan napas tertahan. Malfoy jelas sebentar lagi
akan memberitahu mereka bahwa dialah pewarisnya. Tetapi...
"Kalau saja aku tahu siapa dia," kata Malfoy jengkel. "Aku bisa membantu
mereka."
Rahang Ron membuka lebar sehingga wajah Crabbe kelihatan lebih tolol dari
biasanya. Untungnya Malfoy tidak memperhatikan, dan Harry berpikir cepat,
berkata, "Kau pasti punya dugaan siapa yang ada di belakang semua ini..."
"Kau tahu aku tak tahu apa-apa, Goyle, berapa kali harus kukatakan
kepadamu?" bentak Malfoy. "Dan Ayah juga sama sekali tak mau bercerita
tentang ter-akhir kalinya Kamar Rahasia dibuka. Tentu saja, ke-jadiannya lima
puluh tahun yang lalu, jadi sebelum dia di sini, tapi dia tahu tentang semua itu,
dan dia bilang kejadian itu ditutup-tutupi dan akan men-curigakan kalau aku
tahu terlalu banyak tentangnya. Tetapi aku tahu satu hal: terakhir kali Kamar
Rahasia dibuka,
satu Darah-lumpur meninggal. Jadi, pasti ting-gal tunggu waktu sebelum
salah satu dari mereka dibunuh kali ini... Mudah-mudahan saja si Granger,"
katanya girang.
Ron mengepalkan tinju raksasa Crabbe. Merasa bahwa rahasia mereka bisa
terbongkar jika Ron me-ninju Malfoy, Harry melempar pandang memperingat-
kan dan berkata,
"Tahukah kau, apakah orang yang membuka Kamar Rahasia dulu itu berhasil
ditangkap?"
"Oh, yeah... siapa pun orangnya, dia dikeluarkan," kata Malfoy. "Mungkin
mereka masih di Azkaban."
--------------------------------------- 129
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Az-kaban?" tanya Harry, bingung.
"Azkabanpenjara penyihir, Goyle," kata Malfoy, me-mandangnya tak
percaya. "Astaga, kalau lebih telmi dari ini, kau akan jadi terbelakang."
Malfoy duduk gelisah di kursinya dan berkata, "Ayah berpesan agar aku tidak
menonjolkan diri dan membiarkan pewaris Slytherin bertindak. Dia bilang
sekolah perlu dibersihkan dari semua sampah Darah-lumpur, tapi aku tak boleh
ikut campur. Tentu saja dia sendiri sedang banyak disorot sekarang ini. Kalian
tahu Kementerian Sihir merazia rumah kami minggu lalu?"
Harry berusaha memaksa wajah bodoh Goyle ikut prihatin.
"Yeah...," kata Malfoy. "Untunglah tidak banyak yang mereka temukan. Ayah
punya beberapa benda Ilmu Hitam yang sangat berharga. Tetapi untungnya
kami punya kamar rahasia di bawah lantai ruang tamu..."
"Ho!" kata Ron.
Malfoy memandangnya. Begitu juga Harry. Wajah Ron memerah, bahkan
rambutnya pun memerah. Hidungnya juga pelan-pelan memanjangwaktu
mereka telah habis. Ron sedang kembali menjadi diri-nya, dan dari kengerian
yang terpancar di wajahnya, mestinya Harry juga.
Mereka berdua rnelompat bangun.
"Harus minum obat untuk sakit perutku," gerutu Ron, dan tanpa berlama-
lama lagi mereka berlari me-nyeberangi ruang rekreasi Slytherin, menerobos
tem-bok batu dan bergegas menaiki tangga, berharap Malfoy tidak melihat
sesuatu yang aneh. Harry bisa merasakan sepatu besar Goyle kelonggaran untuk
kaki-nya dan dia harus mengangkat jubahnya saat tubuh-nya mengecil. Mereka
berlari menaiki tangga menuju Aula Depan, yang bising dengan gedoran dari
lemari tempat mereka mengurung Crabbe dan Goyle. Setelah meninggalkan
sepatu mereka di depan lemari, mereka berlari menaiki tangga pualam dengan
hanya berkaus kaki, menuju toilet Myrtle Merana.
"Yah, tidak sepenuhnya sia-sia," kata Ron tersengal, menutup pintu toilet dj
belakang mereka. "Kita me-mang belum tahu siapa yang melakukan
penyerangan ini, tapi aku akan menulis kepada Dad dan meminta-nya
memeriksa di bawah ruang tamu Malfoy."
Harry memeriksa wajahnya di cermin retak. Dia sudah kembali normal. Dia
memakai kacamatanya sementara Ron menggedor pintu bilik Hermione.
"Hermione, keluar, banyak yang akan kami ceritakan..."
"Pergi!" lengking Hermione. Harry dan Ron berpandangan.
"Ada apa?" tanya Ron. "Kau pasti sudah balik jadi dirimu lagi sekarang, kami
sudah..."
Tetapi Myrtle Merana tiba-tiba melayang menembus pintu bilik. Harry belum
pernah melihatnya seriang itu.
"Ooooooh! Tunggu sampai kalian lihat sendiri," kata-nya.
"Mengerikan sekali!"
Mereka mendengar kunci diputar dan Hermione muncul, terisak-isak,
jubahnya ditarik menutupi kepalanya.
"Ada apa?" tanya Ron bingung. "Apa hidungmu masih hidung Millicent atau
apa?" Hermione menjatuhkan jubahnya dan Ron mundur sampai ke wastafel.
--------------------------------------- 130
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Wajah Hermione ditumbuhi bulu hitam. Matanya jadi kuning dan ada telinga
runcing mencuat dari rambutnya.
"Itu rambut ku-kucing!" lolongnya. "M-Millicent Bulstrode pastilah punya
kucing! Dan r-ramuan itu tidak boleh digunakan untuk berubah menjadi
binatang!"
"Uh, oh," kata Ron.
"Kau akan diledek habis-habisan," kata Myrtle senang.
"Tidak apa-apa, Hermione," kata Harry buru-buru. "Kami akan membawamu
ke rumah sakit. Madam Pomfrey tak pernah mengajukan banyak per-tanyaan..."
Butuh waktu lama membujuk Hermione untuk me-ninggalkan toilet. Myrtle
Merana melepas kepergian mereka dengan terbahak-bahak.
"Tunggu sampai ketahuan kau punya ekor!"
13. Buku Harian Yang Sangat Rahasia
HERMIONE tinggal di rumah sakit selama beberapa minggu. Ketika anak-anak
kembali dari liburan Natal, desas- desus tentang ketidakmunculannya seru
sekali, karena tentu saja semua mengira dia telah diserang. Begitu banyak anak
yang datang ke rumah sakit, berusaha mengintipnya, sehingga Madam Pomfrey
me-ngeluarkan tirainya lagi dan memasangnya di se-keliling tempat tidur
Hermione, agar dia tidak malu sebab dilihat anak-anak dengan wajah berbulu.
Harry dan Ron datang menengoknya setiap malam. Ketika semester baru
dimulai, mereka membawakan-nya PR setiap hari.
"Kalau aku yang ditumbuhi kumis kucing, aku sih libur dulu belajarnya," kata
Ron sambil meletakkan setumpuk buku di meja di sebelah tempat tidur
Hermione pada suatu malam.
"Jangan bodoh, Ron, aku kan harus belajar supaya tidak ketinggalan," kata
Hermione tegas. Semangatnya sudah jauh lebih baik karena semua bulu sudah
meng-hilang dari wajahnya, dan matanya pelan-pelan sudah mulai kembali
berwarna cokelat. "Kurasa kalian belum dapat petunjuk baru?" dia
menambahkan dengan berbisik, supaya Madam Pomfrey tidak mendengarnya.
"Belum," kata Harry muram. "Aku begitu yakin Malfoy-lah orangnya," kata
Ron, untuk kira-kira keseratus kalinya. "Apa itu?" tanya Harry, menunjuk benda
keemasan yang mencuat dari bawah bantal Hermione.
"Cuma kartu ucapan semoga cepat sembuh," kata Hermione buru-buru,
berusaha menjejalkannya supaya tidak kelihatan. Tetapi Ron lebih cepat
darinya. Ron menariknya, membuka dan membacanya keras-keras:
"Untuk Miss Granger, semoga lekas sembuh, dari gurumu yang cemas,
Profesor Gilderoy Lockhart, Order of Merlin Kelas Ketiga, Anggota Kehormatan
Liga Pertahanan terhadap llmu Hitam, dan lima kali memenangkan kontes
Senyum-Paling- Menawan Witch Weekly."
Ron mendongak, menatap Hermione jijik.
"Kau tidur dengan kartu ini di bawah bantalmu?"
--------------------------------------- 131
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tetapi Hermione tak perlu menjawab, diselamatkan oleh kedatangan Madam
Pomfrey yang membawakan obatnya untuk malam itu.
"Si Lockhart ini cowok penjilat yang paling memuja diri sendiri atau
bagaimana sih?" kata Ron kepada Harry ketika mereka meninggalkan kamar
Hermione dan menaiki tangga menuju Menara Gryffindor. Saking banyaknya PR
yang diberikan oleh Snape, sampai-sampai Harry berpikir baru akan bisa
menyelesaikannya kalau dia sudah kelas enam. Ron baru saja berkata dia
menyesal tidak bertanya kepada Hermione berapa buntut tikus yang harus
ditambahkan ke dalam ramuan Pendiri Bulu Kuduk, ketika terdengar teriakan
marah dari lantai di atas mereka.
"Si Filch," gumam Harry, ketika mereka bergegas menaiki tangga dan
berhenti, menyembunyikan diri, memasang telinga tajam-tajam.
"Apakah ada anak lain yang baru diserang?" kata Ron tegang. Mereka berdiri
diam, kepala mereka condong ke arah suara Filch, yang kedengarannya histeris.
"...lebih banyak lagi pekerjaan untukku! Mengepel se-panjang malum,
seperti aku tak punya cukup pekerjaan saja! Tidak, ini sudah kelewatan, aku
akan ke Dumbledore..." Langkah-langkah Filch menjauh dan mereka men-
dengar pintu ditutup keras-keras di kejauhan.
Mereka menjulurkan kepala. Filch jelas baru saja berpatroli di tempat ia
biasa berjaga. Mereka sekali lagi berada di tempat Mrs Norris diserang. Dengan
tatapan sekilas mereka sudah melihat apa yang mem-buat Filch berteriak-
teriak. Genangan air membasahi sampai setengah koridor, dan kelihatannya air
masih merembes dari bawah pintu toilet Myrtle Merana. Sekarang setelah Filch
berhenti berteriak-teriak, mereka bisa mendengar tangisan Myrtle bergaung
dari dinding-dinding toilet.
"Kenapa lagi tuh dia?" tanya Ron.
"Ayo, kita lihat," kata Harry, dan seraya mengangkat jubah sampai ke atas
mata kaki, mereka menginjak genangan air menuju pintu yang bertulisan
Rusak, mengabaikannya seperti biasa, dan masuk.
Myrtle Merana sedang menangis, kalau ini mungkin, lebih keras dan lebih
seru daripada biasanya. Ke-lihatannya dia bersembunyi di dalam klosetnya yang
biasa. Toilet itu gelap, karena lilin-lilinnya padam ter-kena siraman air yang
telah membuat dinding dan lantai basah kuyup.
"Ada apa, Myrtle?" tanya Harry. "Siapa itu?" deguk Myrtle sedih. "Mau
melempar benda lain lagi padaku?" Harry berjalan melintasi air ke biliknya dan
berkata, "Kenapa aku mau melempar sesuatu padamu?"
"Jangan tanya aku," teriak Myrtle, muncul dengan luapan air yang tercurah
ke lantai yang sudah kuyup. "Aku di sini terus, tak pernah mengganggu orang
lain, dan ada orang yang menganggap lucu melempar-ku dengan buku..."
"Tapi kau kan tidak sakit kalau ada yang me-lemparmu dengan sesuatu," kata
Harry tenang. "Maksudku, benda itu akan langsung menembusmu, kan?"
Dia telah mengucapkan hal yang salah. Myrtle me-layang dan menjerit, "Biar
saja semua melempar buku kepada Myrtle, karena dia tidak bisa merasa!
Sepuluh angka kalau kau bisa melemparnya menembus perut-nya! Lima puluh
kalau bisa menembus kepalanya! Nah, ha ha ha! Permainan yang bagus sekali,
menurut-ku tidak!"
--------------------------------------- 132
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Siapa sih yang melemparnya kepadamu?" tanya Harry.
"Aku tak tahu... aku sedang duduk-duduk di leher angsa, memikirkan
kematian, dan buku itu jatuh begitu saja di atas kepalaku," kata Myrtle,
menatap mereka dengan marah. "Itu tuh bukunya, di sana, hanyut."
Harry dan Ron mencari di bawah wastafel, ke arah yang ditunjuk Myrtle.
Sebuah buku kecil dan tipis tergeletak. Sampulnya hitam kumal dan basah
kuyup seperti halnya segala sesuatu di dalam toilet itu. Harry maju untuk
memungutnya, tetapi Ron mendadak menjulurkan tangan mencegahnya.
"Apa?" kata Harry.
"Kau gila?" kata Ron. "Bisa berbahaya."
"Berbahaya?" kata Harry, tertawa. "Mana mungkin sih?".
"Kau akan heran," kata Ron, yang memandang buku itu dengan takut-takut.
"Beberapa buku yang disita KementerianDad cerita padakuada yang bisa
membuat matamu terbakar. Dan siapa saja yang mem-baca Soneta Penyihir,
seumur hidup akan bicara dengan gaya pantun jenaka. Dan ada penyihir tua
wanita di Bath yang punya buku yang tak bisa berhenti dibaca! Terpaksa kau
akan ke mana- mana dengan buku itu di bawah hidungmu, mencoba melakukan
segala hal dengan satu tangan. Dan..."
"Baiklah, aku paham," kata Harry. Buku kecil itu tergeletak di lantai, tak
jelas buku apa, dan basah kuyup.
"Yah, kita tidak akan tahu kalau kita tidak me-meriksanya," kata Harry,
sambil berlari mengitari Ron dan memungut buku itu.
Harry langsung melihat bahwa itu buku harian, dan tahun yang sudah
memudar di sampulnya mem-beritahunya bahwa usianya sudah lima puluh
tahun. Harry membukanya dengan bergairah. Di halaman pertama dia cuma
bisa membaca nama "T. M. Riddle" yang tintanya sudah luntur.
"Tunggu," kata Ron, yang sudah mendekat dengan hati- hati dan melihat
melewati bahu Harry "Aku tahu nama itu... T.M. Riddle mendapat penghargaan
untuk pengabdian istimewa kepada sekolah lima puluh tahun yang lalu."
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Harry keheranan.
"Karena Filch menyuruhku menggosok trofinya kira-kira lima puluh kali waktu
detensi itu," kata Ron sebal. "Trofi itu yang kena muntahan siputku. Kalau kau
menggosok lendir dari nama tertentu selama satu jam, kau akan mengingat
nama itu juga."
Harry hati-hati membuka halaman-halamannya yang basah. Semuanya
kosong. Tak ada bekas tulisan se-samar apa pun di halaman mana pun, bahkan
"ulang tahun Bibi Mabel" atau "dokter gigi, setengah empat", misalnya, juga
tidak.
"Dia tidak pernah menulis di sini," kata Harry kecewa.
"Kenapa ya ada orang yang ingin melenyapkannya dengan membuangnya ke
dalam toilet?" tanya Ron ingin tahu.
Harry membalik buku itu untuk memeriksa sampul belakangnya dan melihat
nama sebuah agen surat kabar di Vauxhall Road, London, tercetak di situ.
"Pastilah dia kelahiran-Muggle," kata Harry, berpikir-pikir,
"karena dia membeli buku harian di Vauxhall Road..."
--------------------------------------- 133
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Yah, tak banyak gunanya untukmu," kata Ron. Dia merendahkan suaranya,
"Lima puluh angka kalau kau bisa melemparkannya menembus hidung Myrtle."
Tetapi Harry mengantongi buku harian itu.
Hermione meninggalkan rumah sakit tanpa kumis, tanpa ekor, dan tanpa
bulu, pada awal bulan Februari. Pada malam pertamanya berada kembali di
Menara Gryffindor, Harry menunjukkan buku harian T.M. Riddle dan
menceritakan kepadanya bagaimana me-reka mendapatkannya.
"Oooh, siapa tahu buku ini punya kekuatan ter-sembunyi," kata Hermione
antusias, mengambil buku harian itu dan memeriksanya dengan teliti.
"Kalau memang punya, buku itu menyembunyi-kannya dengan sangat baik,"
kata Ron. "Mungkin bukunya malu. Aku tak tahu kenapa kau tidak mem-
buangnya saja, Harry."
"Aku ingin sekali tahu kenapa ada orang yang mau melenyapkannya," kata
Harry. "Aku juga tak keberatan mengetahui bagaimana Riddle mendapatkan
peng-hargaan untuk pengabdian istimewa kepada Hogwarts."
"Bisa karena apa saja," kata Ron. "Mungkin dia dapat tiga puluh OWL atau
menyelamatkan seorang guru dari cumi-cumi raksasa. Mungkin dia membunuh
Myrtle, itu akan menguntungkan banyak orang..."
Tetapi Harry bisa melihat dari ketertarikan di wajah Hermione, bahwa
Hermione memikirkan apa yang dia sendiri pikirkan.
"Apa?" tanya Ron, memandang mereka bergantian.
"Yah, Kamar Rahasia dibuka lima puluh tahun yang lalu, kan?" kata Harry.
"Begitu kata Malfoy." "Yeah...," kata Ron lambat-lambat. "Dan buku harian ini
usianya lima puluh tahun," kata Hermione, mengetuk-ngetuk buku itu dengan
bergairah.
"Jadi?"
"Oh, Ron, bangun dong," gertak Hermione. "Kita tahu orang yang membuka
Kamar Rahasia sebelum ini dikeluarkan lima puluh tahun lalu. Kita tahu T.M.
Riddle mendapatkan penghargaan untuk pengabdian istimewa kepada sekolah
lima puluh tahun lalu. Nah, bagaimana kalau Riddle mendapatkan penghargaan
istimewanya karena dia menangkap pewaris Slytherin? Buku hariannya mungkin
akan memberitahu kita segalanya: di mana Kamar Rahasia itu, dan bagaimana
membukanya dan makhluk macam apa yang tinggal di dalamnya. Orang yang
berada di belakang penyerangan- penyerangan kali ini tidak ingin bukunya
tergeletak di sembarang tempat, kan?"
"Teori yang hebat sekali, Hermione," kata Ron, "ha-nya saja ada satu kendala
kecil. Tidak ada tulisan apa pun di dalam buku harian itu."
Tetapi Hermione mengeluarkan tongkatnya dari da-lam tas.
"Mungkin tintanya tinta yang tidak kelihatan!" dia berbisik. Diketuknya buku
harian itu tiga kali, dan dia ber-kata,
"Aparecium!"
Tak ada yang terjadi. Tidak putus asa, Hermione menjejalkan kembali
tongkatnya ke dalam tasnya dan mengeluarkan sesuatu yang kelihatannya
seperti setip merah cerah.
"Ini Penampak, aku beli di Diagon Alley," katanya. Hermione menggosok
keras-keras pada halaman "satu Januari". Tak ada yang terjadi.
--------------------------------------- 134
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Sudah kubilang, tak ada yang bisa ditemukan di situ," kata Ron. "Riddle
mendapatkan buku harian itu sebagai hadiah Natal dan tak mau repot-repot
mengisi-nya."
Harry tak bisa menjelaskan, bahkan kepada dirinya sendiri, kenapa dia tidak
membuang saja buku harian Riddle. Nyatanya, meskipun dia tahu buku harian
itu kosong, berulang-ulang tanpa sadar dia mengambil dan membuka- bukanya,
seakan itu buku cerita yang ingin diselesaikannya. Dan meskipun Harry yakin
tidak pernah mendengar nama T.M. Riddle se-belumnya, nama itu rasanya
berarti sesuatu baginya, rasanya seakan Riddle adalah temannya waktu dia
masih kecil sekali, dan sudah setengah terlupakan. Tetapi ini aneh. Harry tak
pernah punya teman sebelum masuk Hogwarts. Dudley membuatnya tak punya
teman.
Meskipun demikian Harry bertekad untuk menge-tahui lebih banyak tentang
Riddle. Maka hari berikut-nya, pada jam istirahat, dia menuju ke ruang piala,
ditemani Hermione yang tertarik, dan Ron yang sama sekali tak yakin, yang
mengatakan kepada mereka dia sudah muak dengan ruang piala sehingga
seumur hidup tidak ke situ lagi pun tak apa- apa.
Trofi emas Riddle yang berkilat ada dalam lemari di sudut. Tidak ada data
rinci tentang kenapa trofi itu dihadiahkan kepadanya ("Bagus, kalau ada
datanya, trofinya pasti lebih besar dan aku masih menggosok-nya," kata Ron).
Meskipun demikian, mereka menemu-kan nama Riddle di Medali tua untuk
Penyihir Berjasa, dan di daftar Ketua Murid lama.
"Kedengarannya seperti Percy," kata Ron, me-ngernyitkan hidung dengan
jijik. "Prefek, Ketua Muridmungkin juara kelas setiap tahun."
"Kau mengatakannya seakan itu hal buruk," kata Hermione agak sakit hati.
Matahari sekarang mulai bersinar lemah menyinari Hogwarts lagi. Di dalam
kastil, suasana sudah lebih ceria. Tak ada lagi serangan sejak serangan terakhir
terhadap Justin dan Nick si Kepala-Nyaris-Putus. Madam Pomfrey dengan
gembira melaporkan bahwa Mandrake-mandrake sudah mulai murung dan serba
berahasia, yang berarti mereka sudah meninggalkan masa kanak-kanak.
"Begitu jerawat mereka menghilang, mereka akan siap untuk ganti pot lagi,"
Harry mendengarnya mem-beritahu Filch dengan lembut suatu sore. "Dan se-
sudah itu, tak lama lagi kita bisa memotong dan merebusnya. Kau akan segera
mendapatkan kembali Mrs Norris-mu.".
Mungkin si pewaris Slytherin sudah kehilangan nyali, pikir Harry. Pastilah
risiko membuka Kamar Rahasia semakin lama semakin besar, dengan seluruh
sekolah waspada dan curiga. Mungkin monsternya, entah apa bentuknya,
sekarang bahkan sudah siap-siap tidur lagi untuk lima puluh tahun
mendatang....
Ernie Macmillan dari Hufflepuff tidak berpandangan seceria itu. Dia masih
yakin bahwa Harry-lah yang bersalah, bahwa Harry telah "membocorkan rahasia
dirinya" di Klub Duel. Peeves tidak membantu: dia bolak-balik muncul di
koridor-
koridor sambil ber-nyanyi-nyanyi, "Oh, Harry, kau keji...,"
sekarang ma-lah sambil menari-nari.
--------------------------------------- 135
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Gilderoy Lockhart tampaknya berpikir dia seorang dirilah yang membuat
serangan-serangan itu berhenti. Harry mendengarnya memberitahu Profesor
McGonagall ketika anak- anak Gryffindor sedang ber-baris untuk mengikuti
pelajaran Transfigurasi.
"Kurasa tak akan ada kesulitan lagi, Minerva," kata-nya, mengetuk-ngetuk
hidungnya sok tahu dan mengedip. "Kurasa Kamar Rahasia sudah dikunci untuk
selamanya kali ini. Pelakunya pastilah tahu, tinggal soal waktu saja sebelum
aku menangkap mereka. Agak pintar juga berhenti sekarang, sebelum aku
menghajar mereka.
"Kau tahu, yang diperlukan sekolah sekarang adalah pengobar semangat.
Mengguyur kenangan buruk se-mester lalu! Aku tak akan ngomong banyak soal
itu sekarang, tapi kurasa aku tahu apa yang bisa membuat anak-anak lebih
bergairah...."
Dia mengetuk hidungnya lagi dan pergi.
Ide Lockhart tentang pengobar semangat menjadi jelas pada waktu sarapan
tanggal empat belas Februari. Harry hanya sempat tidur sebentar karena
malamnya dia latihan Quidditch sampai larut, dan dia bergegas turun ke Aula
Besar. la sudah agak terlambat. Sesaat dia mengira dirinya salah masuk.
Dinding-dinding dipenuhi bunga-bunga merah jambu besar norak. Yang lebih
parah lagi, konfeti berbentuk hati berjatuhan dari langit-langit biru pucat.
Harry berjalan ke meja Gryffindor. Ron tampak sebal, dan Hermione
kelihatannya agak geli.
"Ada apa ini?" Harry menanyai mereka, duduk, dan menyapu konfeti dari
daging asapnya.
Ron menunjuk ke meja guru, rupanya terlalu sebal untuk bicara. Lockhart
memakai jubah merah jambu norak sesuai warna dekorasi, melambaikan
tangan agar anak-anak diam. Wajah guru-guru di kiri-kanan-nya bagai dipahat
dari batu. Dari tempat duduknya Harry bisa melihat ada otot yang berkedut di
pipi Profesor McGonagall. Snape kelihatan seakan baru saja dipaksa meminum
semangkuk besar Skele-Gro.
"Selamat Hari Valentine!" Lockhart berteriak. "Dan izinkan aku mengucapkan
terima kasih pada empat puluh enam orang yang sejauh ini sudah mengirimiku
kartu! Ya, aku berinisiatif mengatur kejutan kecil ini untuk kalian semuadan
kejutan ini belum berakhir di sini!"
Lockhart menepukkan tangan dan dari pintu-pintu yang menghadap ke Aula
Depan masuklah selusin kurcaci bertampang masam. Bukan sembarang kurcaci,
tapi. Lockhart membuat mereka semua memakai sayap keemasan dan
membawa harpa.
"Cupid-cupid pengantar-kartuku yang ramah!" kata Lockhart berseri-seri.
"Mereka akan berkeliling sekolah hari ini, mengantar kartu Valentine kalian!
Dan ke-gembiraan tidak berakhir di sini! Aku yakin kolega-kolegaku juga ingin
bergabung dalam suasana penuh cinta ini! Kenapa tidak meminta Profesor
Snape untuk mengajar kalian membuat Ramuan Cinta! Dan, ngomong-ngomong
soal cinta, Profesor Flitwick tahu lebih banyak tentang Jimat Pemikat dari
penyihir mana pun yang pernah kutemui, si licik ini!"
--------------------------------------- 136
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Profesor Flitwick membenamkan wajah di dalam tangannya. Tampang Snape
seperti mau mengatakan orang pertama yang memintanya membuat Ramuan
Cinta akan dicekoki racun.
"Hermione, mudah-mudahan kau bukan salah satu dari yang empat puluh
enam itu," kata Ron, sementara mereka meninggalkan Aula Besar untuk
pelajaran pertama mereka.
Hermione mendadak menjadi sangat sibuk mencari-cari daftar pelajaran di
dalam tasnya dan tidak menjawab.
Sepanjang hari itu para kurcaci tak henti-hentinya bermunculan di kelas
untuk mengantar kartu Valentine, sampai guru-guru menjadi jengkel sekali,
dan sorenya, ketika anak-anak Gryffindor sedang naik untuk pelajaran Jimat
dan Guna-guna, salah satu kurcaci mengejar Harry.
"Oi, kau! 'Arry Potter!" seru kurcaci berwajah sangat murung, menyodok-
nyodok anak-anak untuk bisa mendekati Harry.
Dengan wajah terasa amat panas memikirkan dia akan diberi kartu Valentine
di depan serombongan anak kelas satu, termasuk Ginny Weasley, Harry ber-
usaha menghindar. Si kurcaci memotong jalannya, dengan cara menabrak-
nabrak tulang kering anak-anak, dan berhasil menghadangnya sebelum Harry
bisa maju dua langkah.
"Ada pesan musikal yang harus kusampaikan sendiri kepada 'Arry Potter,"
katanya, seraya memetik harpa-nya dengan gaya mengancam.
"Tidak di sini," desis Harry, berusaha kabur.
"Diam dulu!" gerutu si kurcaci, menyambar tas Harry dan menariknya.
"Lepaskan aku!" bentak Harry, balas menarik. Dengan bunyi cabikan keras,
tasnya robek jadi dua.
Buku-bukunya, tongkat, perkamen, dan pena bulu bertebaran di lantai dan
botol tintanya jatuh di atas-nya, tintanya muncrat ke mana-mana.
Harry berjongkok gelagapan, berusaha mengumpul-kan semuanya sebelum si
kurcaci mulai menyanyi, menyebabkan kemacetan di koridor.
"Ada apa di sini?" terdengar suara dingin Draco Malfoy. Harry cepat-cepat
menjejalkan semuanya ke dalam tasnya yang robek, ingin sekali menjauh se-
belum Malfoy bisa mendengar lagu Valentine-nya. "Ribut-ribut apa ini?" kata
suara lain yang tak asing, ketika Percy Weasley tiba.
Panik, Harry berusaha lari, tetapi si kurcaci menyam-bar lututnya,
membuatnya jatuh terjerembap ke lantai. "Baiklah," katanya sambil duduk di
atas pergelangan kaki Harry, "ini lagu Valentine-mu:
"Matanya sehijau acar kodok segar, Rambutnya sehitam papan tulis. Ingin
sekali aku memilikinya,
Dia sungguh luar biasa, Pahlawan yang mengalahkan Pangeran Kegelapan."
Harry bersedia memberikan seluruh emas di Gringotts jika dia bisa
menghilang di tempat saat itu juga. Memaksa diri ikut tertawa bersama yang
lain, Harry bangkit. Kakinya kebas sehabis diduduki kurcaci yang berat itu.
Sementara itu Percy berusaha sebisa mungkin membubarkan kerumunan anak-
anak, yang beberapa di antaranya tertawa sampai keluar air mata.
"Bubar, bubar, bel sudah bunyi lima menit yang lalu, ke kelas sekarang,"
katanya, menyuruh pergi anak-anak kelas satu. "Dan kau, Malfoy."
--------------------------------------- 137
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry, mengerling, melihat Malfoy membungkuk dan menyambar sesuatu.
Sambil menyeringai dia me-nunjukkannya kepada Crabbe dan Goyle, dan Harry
sadar dia mengambil buku harian Riddle.
"Kembalikan," kata Harry geram.
"Apa nih yang ditulis Potter di sini?" kata Malfoy, yang jelas tidak
memperhatikan tahun yang tertera pada sampulnya, dan mengira dia
mendapatkan buku harian Harry sendiri. Suasana menjadi hening, karena anak-
anak langsung diam. Ginny memandang Harry dan buku harian itu bergantian,
tampak ketakutan sekali.
"Kembalikan, Malfoy," kata Percy tegas.
"Kalau sudah kubaca," kata Malfoy, melambai-lambaikan buku harian itu di
depan Harry dengan mengejek.
Percy berkata, "Sebagai Prefek sekolah...," tetapi Harry sudah kehabisan
kesabaran. Dia menarik tongkatnya dan berteriak, "Expelliarmus!" dan sama
seperti Snape yang melucuti Lockhart, buku harian itu melesat dari tangan
Malfoy, terbang ke udara. Ron, nyengir lebar, menangkapnya.
"Harry!" seru Percy keras. "Dilarang menggunakan sihir di koridor! Aku harus
melaporkan ini, tahu!"
Tetapi Harry tidak peduli. Dia berhasil mengalahkan Malfoy, dan itu layak
dibayar dengan lima angka dari Gryffindor kapan saja. Malfoy marah sekali, dan
ketika Ginny melewatinya untuk masuk ke kelasnya, dia berteriak menghina
kepadanya,
"Menurutku Potter sama sekali tidak menyukai Valentine-mu!" Ginny
menutupi wajahnya dengan tangannya dan berlari ke kelas. Geram, Ron
mencabut tongkatnya juga, tetapi Harry menariknya menjauh. Ron tak perlu
menghabiskan jam pelajaran Jimat dan Guna-guna dengan bersendawa
memuntahkan siput.
Baru setelah mereka tiba di kelas Profesor Flitwick, Harry menyadari ada
yang aneh dengan buku harian Riddle. Semua bukunya yang lain basah
kecipratan tinta merah. Tetapi buku harian itu sama bersihnya seperti sebelum
botol tinta menjatuhinya. Dia mencoba memberitahukan ini kepada Ron, tetapi
Ron mendapat kesulitan lagi dengan tongkatnya. Gelembung-gelem-bung besar
ungu bermunculan dari ujungnya dan Ron tidak begitu tertarik pada hal lain.
Harry masuk kamar sebelum anak-anak lain malam ini. Sebagian karena dia
tak tahan mendengar Fred dan George sekali lagi menyanyikan, "Matanya
sehijau acar kodok segar," dan sebagian lagi karena dia ingin memeriksa buku
harian Riddle lagi, dan dia tahu menurut Ron dia cuma membuang- buang
waktu saja.
Harry duduk di tempat tidurnya dan membuka-buka halaman buku harian
yang kosong. Tak satu pun yang ada noda tintanya. Kemudian dia mengeluarkan
botol tinta baru dari lemari di sebelah tempat tidurnya, mencelupkan pena
bulunya ke dalamnya, dan menjatuhkan satu tetes ke halaman pertama buku
itu.
Tintanya berkilau terang di atas kertas selama sedetik dan kemudian, seakan
diisap ke dalam halaman itu, menghilang. Tegang, Harry mencelupkan pena
bulunya untuk kedua kalinya dan menulis, "Namaku Harry Potter."
--------------------------------------- 138
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Kata-kata itu berkilau sejenak di halaman itu, lalu menghilang tanpa bekas
juga. Kemudian, akhirnya, ada yang terjadi.
Muncul di halaman itu, dalam tintanya sendiri, rangkaian kata yang tak
pernah ditulis Harry.
"Halo, Harry Potter. Namaku Tom Riddle. Bagaimana kau bisa mendapatkan
buku harianku?"
Kata-kata itu juga mengabur dan hilang, tetapi Harry sudah sempat menulis
balik.
"Ada yang membuangnya di toilet."
Dia menunggu tanggapan Riddle dengan bergairah.
"Untung saja aku mencatat kenanganku dengan cara yang lebih bertahan
daripada tinta. Tapi dari dulu aku tahu, akan ada orang-orang yang tidak
menginginkan buku harian ini dibaca."
"Apa maksudmu?" Harry menulis, tintanya sampai menetes saking tegangnya
dia.
"Maksudku buku harian ini menyimpan kenangan akan peristiwa-peristiwa
mengerikan. Peristiwa-peristiwa yang di-sembunyikan. Peristiwa-peristiwa yang
terjadi di Sekolah Sihir Hogwarts ini."
"Di situlah aku sekarang," Harry cepat-cepat me-nulis. "Aku di Hogwarts, dan
akhir-akhir ini terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan. Apakah kau tahu se-
suatu tentang Kamar Rahasia?"
Jantung Harry berdegup kencang. Jawaban Riddle muncul, tulisannya makin
tidak rapi, seakan dia ter-buru-buru ingin menceritakan segala hal yang di-
ketahuinya.
"Tentu saja aku tahu tentang Kamar Rahasia. Pada zamanku bersekolah,
mereka mengatakan itu cuma legenda, bahwa kamar itu tidak ada, Tetapi itu
bohong. Dalam tahun kelimaku, kamar itu dibuka dan monsternya me-nyerang
beberapa murid, akhirnya malah membunuh satu di antaranya. Aku menangkap
orang yang membuka Kamar Rahasia itu dan dia dikeluarkan. Tetapi Kepala
Sekolah, Profesor Dippet, yang malu karena hal seperti itu terjadi di Hogwarts,
melarangku menceritakan yang sebenarnya. Cerita yang dikeluarkan adalah
anak perempuan itu meninggal dalam kecelakaan yang aneh. Mereka
memberiku trofi bagus, berkilau dan berukir, dan memperingatkan aku untuk
tutup mulut. Tetapi aku tahu peristiwa semacam itu bisa terjadi lagi. Monster
itu masih hidup dan orang yang punya kekuasaan untuk melepaskannya tidak
dipenjarakan.
Harry nyaris saja menyenggol botol tintanya dalam ketergesaannya untuk
menulis balik.
"Sekarang sedang terjadi lagi. Sudah tiga kali ada serangan dan tampaknya
tak seorang pun tahu siapa yang ada di belakangnya. Siapa dalang serangan-
serangan yang dulu?"
"Aku bisa menunjukkannya kepadamu," muncul ja-waban Riddle. "Kau tak
perlu sekadar mempercayai kata-kataku. Aku bisa membawamu ke dalam
kenanganku pada malam aku menangkapnya."
Harry ragu-ragu, pena bulunya terangkat di atas buku harian itu. Apa maksud
Riddle? Bagaimana dia bisa dibawa masuk ke dalam kenangan orang lain? Cemas
--------------------------------------- 139
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
dia mengerling ke pintu kamar, ke asrama yang sekarang sudah gelap. Ketika
dia kembali me-mandang buku harian, dilihatnya kata-kata baru se-dang
terbentuk.
"Ayo, kutunjukkan padamu."
Harry berpikir sebentar dan kemudian menulis tiga huruf.
"Oke."
Halaman-halaman buku harian itu mulai membuka cepat seakan tertiup
angin kencang, berhenti di tengah-tengah pada bulan Juni. Dengan mulut ter-
nganga Harry melihat kotak kecil untuk tanggal tiga belas Juni berubah menjadi
layar televisi mini. Dengan tangan sedikit gemetar, diangkatnya buku itu untuk
mendekatkan matanya ke layar kecil itu dan sebelum sadar apa yang terjadi,
dia terhuyung ke depan, layar itu membesar, dia merasakan tubuhnya
meninggalkan tempat tidur dan terperosok, kepala lebih dulu, lewat lubang di
halaman itu, ke dalam pusaran warna dan bayang-bayang.
Harry merasa kakinya menginjak lantai keras, dan dia berdiri, gemetar,
ketika sosok-sosok yang bagai bayang- bayang kabur di sekitarnya mendadak
menjadi jelas.
Dia langsung tahu berada di mana. Ruang bundar dengan lukisan-lukisan yang
sedang tidur ini adalah kantor Dumbledoretetapi bukan Dumbledore yang
duduk di belakang meja. Seorang penyihir tua yang tampak ringkih, berkepala
botak dengan hanya be-berapa helai rambut putih, sedang membaca surat
diterangi cahaya lilin. Harry belum pernah melihat pria ini.
"Maaf," katanya gemetar. "Saya tidak bermaksud mengganggu..." Tetapi si
penyihir tidak mendongak. Dia terus saja membaca, mengernyit sedikit. Harry
mendekat ke mejanya dan berkata gugup, "E. saya pergi saja, ya?"
Masih saja si penyihir tidak mengacuhkannya. Ke-lihatannya malah dia tidak
mendengarnya. Mengira mungkin si penyihir tuli, Harry mengeraskan suaranya.
"Maaf mengganggu Anda, saya akan pergi seka-rang,"
katanya, setengah berteriak.
Si penyihir melipat surat itu seraya menghela napas, bangkit, berjalan
melewati Harry tanpa meliriknya, dan menarik terbuka gorden jendelanya.
Langit di luar merah-jingga. Rupanya matahari sedang terbenam. Si penyihir
berjalan kembali ke mejanya, duduk, dan memutar-mutar ibu jarinya, me-
mandang pintu.
Harry memandang berkeliling ruangan itu. Tak ada Fawkes si burung
phoenix, tak ada peralatan perak yang berputar. Ini Hogwarts pada zaman
Riddle, ber-arti penyihir tak dikenal itu adalah kepala sekolahnya, bukan
Dumbledore, dan dia, Harry, tak lebih dari bayangan, sama sekali tak kelihatan
bagi orang- orang dari lima puluh tahun lalu.
Terdengar ketukan di pintu kantor.
"Masuk," kata si penyihir tua dengan suara lemah.
Seorang anak laki-laki kira-kira berusia enam belas tahun masuk, mencopot
topi kerucutnya. Lencana Prefek perak berkilauan di dadanya. Dia jauh lebih
jangkung daripada Harry, tetapi dia juga berambut hitam legam.
"Ah, Riddle," kata si kepala sekolah. "Anda ingin menemui saya, Profesor
Dippet?" kata Riddle, kelihatan gugup.
--------------------------------------- 140
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Duduklah," kata Dippet. "Aku baru saja membaca surat yang kaukirim
kepadaku." "Oh," kata Riddle. Dia duduk, kedua tangannya saling
mencengkeram erat-erat.
"Nak," kata Dippet lembut, "aku tak mungkin meng-izinkanmu tinggal di
sekolah selama musim panas. Tentunya kau ingin pulang berlibur?"
"Tidak," kata Riddle segera. "Saya lebih suka tinggal di Hogwarts daripada
pulang keke..." "Kau tinggal di panti asuhan Muggle selama liburan, kan?" kata
Dippet ingin tahu.
"Ya, Sir," kata Riddle, wajahnya agak memerah.
"Kau kelahiran-Muggle?"
"Setengah-setengah, Sir," kata Riddle. "Ayah Muggle, ibu penyihir." "Dan
kedua orangtuamu...?" "Ibu saya meninggal setelah melahirkan saya, Sir.
Orang-orang di panti asuhan memberitahu saya, dia cuma hidup cukup lama
untuk memberi nama saya: Tom sesuai nama ayah saya, Marvolo sesuai nama
kakek saya."
Dippet mendecakkan lidah bersimpati.
"Masalahnya, Tom," dia menghela napas, "sebetulnya kami bisa mengatur
secara khusus untukmu, tetapi dalam situasi seperti sekarang ini..."
"Maksud Anda semua serangan itu, Sir?" kata Riddle, dan hati Harry
mencelos. Dia mendekat, takut ada yang ketinggalan tidak didengarnya.
"Persis," kata si kepala sekolah. "Nak, kau pasti sadar, betapa bodohnya aku
kalau mengizinkanmu tinggal di kastil setelah tahun ajaran berakhir. Terutama
kalau mengingat tragedi yang baru saja terjadi... ke-matian anak perempuan
yang malang itu... Kau akan jauh lebih aman di panti asuhanmu. Terus terang
saja, Kementerian Sihir sekarang bahkan sedang mem-bicarakan kemungkinan
menutup sekolah ini. Kita tak mendapat kemajuan menemukaneh sumber
se-mua ketidaknyamanan ini..."
Mata Riddle membesar.
"Sirkalau orang itu tertangkap... Kalau semua ini dihentikan..."
"Apa rnaksudmu?" kata Dippet, suaranya sedikit melengking. Dia duduk tegak
di kursinya. "Riddle, apakah rnaksudmu kau tahu sesuatu tentang serangan-
serangan ini?"
"Tidak, Sir," kata Riddle buru-buru. Tetapi Harry yakin itu model "tidak" yang
sama seperti yang dia sendiri katakan kepada Dumbledore. Dippet terenyak
kembali di kursinya, kelihatan agak kecewa.
"Kau boleh pergi, Tom..."
Riddle bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan. Harry mengikutinya.
Mereka menuruni tangga spiral, muncul di sebelah gargoyle di koridor gelap.
Riddle berhenti, begitu juga Harry, yang mengawasinya. Harry melihat bahwa
Riddle sedang berpikir serius. Dia menggigit-gigit bibir-nya, dahinya berkerut.
Kemudian, seakan mendadak telah mengambil ke-putusan, Riddle bergegas
pergi. Harry membuntuti-nya tanpa suara. Mereka tidak bertemu orang lain
sampai tiba di Aula Depan, ketika seorang penyihir pria jangkung berambut
pirang panjang dan ber-jenggot juga pirang panjang, memanggil Riddle dari
tangga pualam.
"Mau apa kau berkeliaran selarut ini, Tom?"
--------------------------------------- 141
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry ternganga memandang penyihir itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah
Dumbledore yang lima puluh tahun lebih muda.
"Saya baru dipanggil Kepala Sekolah, Sir," kata Riddle.
"Nah, segeralah kembali ke kamarmu," kata, Dumbledore, memandang
Riddle dengan tatapan tajam yang sangat dikenal Harry. "Sebaiknya jangan
berkeliaran di koridor hari-hari ini. Apalagi sejak..."
Dumbledore menarik napas berat, mengucapkan se-lamat tidur kepada
Riddle dan pergi. Riddle me-nunggunya lenyap dari pandangan, dan kemudian,
bergerak cepat, menuruni tangga batu menuju ke ruang bawah tanah. Harry
mengejarnya.
Tetapi betapa kecewanya Harry Riddle tidak mem-bawanya ke lorong
tersembunyi atau terowongan rahasia, melainkan ke ruang bawah tanah yang
di-gunakan Harry untuk pelajaran Ramuan dengan Snape. Obor-obor belum
dinyalakan, dan ketika Riddle menutup pintunya sampai hampir rapat, Harry
hanya bisa melihat Riddle, berdiri tegak di sisi pintu, me-mandang lorong di
luar.
Bagi Harry rasanya mereka berada di situ paling sedikit satu jam. Yang bisa
dilihatnya hanyalah sosok Riddle di pintu, memandang keluar lewat celah, me-
nunggu seperti patung. Dan ketika Harry sudah ber-henti berharap dan tegang,
dan mulai ingin kembali ke masa kini, dia mendengar sesuatu bergerak di luar.
Ada yang merayap sepanjang lorong. Dia men-dengar entah siapa orangnya
melewati ruang bawah tanah tempat dia dan Riddle bersembunyi. Riddle, diam
bagai bayangan, menyelinap keluar dari pintu dan membuntutinya. Harry
berjingkat di belakangnya, lupa bahwa dia tak bisa didengar. Selama kira-kira
lima menit mereka mengikuti lang-kah kaki itu, sampai Riddle mendadak
berhenti, kepalanya condong ke arah suara-suara baru. Harry mendengar bunyi
pintu berderit terbuka, dan kemu-dian ada yang berbisik serak.
"Ayo... harus bawa kau keluar dari sini... ayolah... masuk kotak ini..."
Harry rasanya kenal suara itu.
Riddle tiba-tiba melompat dari sudut tempatnya mengintai. Harry melangkah
di belakangnya. Dia bisa melihat siluet seorang anak laki-laki tinggi besar se-
dang berjongkok di depan pintu terbuka, sebuah kotak yang sangat besar di
sebelahnya.
"Malam, Rubeus," kata Riddle tajam.
Anak itu membanting pintu sampai tertutup dan bangkit.
"Ngapain kau di bawah sini, Tom?" Riddle mendekat. "Sudah selesai,"
katanya. "Aku akan melaporkanmu,
Rubeus. Mereka sudah membicarakan kemungkinan menutup Hogwarts jika
serangan-serangan tidak ber-henti."
"Apa maksud..."
"Kurasa kau tidak bermaksud membunuh siapa-siapa. Tapi monster bukanlah
binatang piaraan yang baik. Kurasa kau cuma mengeluarkannya supaya dia bisa
berjalan-jalan dan..."
"Dia tak pernah bunuh siapa-siapa!" kata anak ringgi besar itu, mundur
sampai ke pintu yang tertutup. Dari belakangnya, Harry bisa mendengar bunyi
ber-keresek dan klak-klik yang aneh.
--------------------------------------- 142
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Ayolah, Rubeus," kata Riddle, semakin mendekat.
"Orangtua anak perempuan yang meninggal itu akan ke sini besok. Paling
sedikit yang bisa dilakukan Hogwarts adalah memastikan monster yang mem-
bunuh anak mereka dibantai..."
"Bukan dia!" raung si anak, suaranya bergema di lorong yang gelap. "Dia tak
akan membunuh! Tak akan pernah!"
"Minggir," kata Riddle, seraya menarik keluar tongkatnya.
Mantranya menerangi lorong dengan sinar terang yang menyala. Pintu di
belakang anak tinggi besar itu berdebam terbuka, begitu kuat sampai si anak
terbang menabrak dinding di seberangnya. Dan dari dalamnya muncul sesuatu
yang membuat Harry me-ngeluarkan jeritan panjang yang kelihatannya tak ada
yang mendengarnya kecuali dia sendiri. Tampak sesosok besar, pendek, berbulu
dan kaki-kaki hitam yang ruwet, kilatan banyak mata dan sepasang capit
setajam silet. Riddle mengangkat tongkatnya lagi, tetapi terlambat. Makhluk
itu me-nabraknya sampai terjengkang ketika dia lari, menyu-suri lorong dan
menghilang dari pandangan. Riddle terhuyung bangun, mengejarnya. Dia
mengangkat tongkatnya, tetapi anak tinggi besar itu melompat menerjangnya,
merebut tongkatnya dan membanting-nya ke lantai, sambil berteriak,
"JANGAAAAAAAN!"
Pemandangan ini berputar, segalanya menjadi gelap pekat, Harry merasa
dirinya terjatuh dan dengan bunyi berdebum mendarat telentang di atas
tempat tidurnya di kamar asrama Gryffindor, buku harian Riddle tergeletak
terbuka di atas perutnya.
Sebelum dia sempat mengatur napasnya, pintu ka-mar terbuka dan Ron
masuk.
"Kau di sini rupanya," katanya.
Harry duduk. Dia berkeringat dan gemetar.
"Ada apa?" tanya Ron, memandangnya dengan cemas.
"Hagrid, Ron. Hagrid-lah yang membuka Kamar Rahasia lima puluh tahun
yang lalu."
14. Cornelius Fudge
Harry, Ron, dan Hermione sudah lama tahu bahwa Hagrid punya kegemaran
khusus akan makhluk-makhluk besar mengerikan. Pada tahun pertama mereka
di Hogwarts, Hagrid mencoba membesarkan naga di dalam pondok papannya
yang kecil, dan masih perlu waktu lama sebelum mereka bisa melupakan anjing
raksasa berkepala tiga yang dinamakannya "Fluffy"si bulu lembut. Dan kalau,
sebagai anak-anak, Hagrid mendengar ada monster disembunyikan di suatu
tempat di kastil, Harry yakin dia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa
melihat monster itu. Mungkin sekali dia bahkan kasihan pada si monster yang
--------------------------------------- 143
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
telah dikurung begitu lama, dan berpendapat si monster pantas mendapat
kesempatan untuk melemaskan kakinya yang banyak. Harry bisa
membayangkan Hagrid yang berusia tiga belas tahun mencoba memakaikan
kalung leher pada si monster.
Tetapi Harry sama yakinnya bahwa Hagrid tidak akan pernah berniat
membunuh siapa pun.
Harry setengah menyesal dia berhasil mengetahui bagaimana menggunakan
buku harian Riddle. Berulang-ulang Ron dan Hermione memintanya
menceritakan apa yang telah dilihatnya, sampai dia muak sekali bercerita
kepada mereka dan muak akan pembicaraan berputar-putar setelahnya.
"Riddle mungkin menangkap orang yang salah/' kata Hermione. "Mungkin
monster lain yang menyerang orang- orang..."
"Berapa monster sih yang bisa disembunyikan di tempat ini?" tanya Ron jemu.
"Kita sudah tahu bahwa Hagrid dikeluarkan," kata Harry sedih. "Dan
serangan-serangan itu pastilah berhenti setelah Hagrid dikeluarkan. Kalau
tidak, Riddle tak akan menerima penghargaannya."
Ron mencoba meninjaunya dari sudut lain.
"Riddle kedengarannya benar-benar mirip Percy siapa suruh dia menangkap
Hagrid?"
"Tapi monsternya sudah membunuh orang, Ron," kata Hermione.
"Dan Riddle terpaksa harus kembali ke panti asuhan Muggle kalau Hogwarts
ditutup," kata Harry. "Aku tidak menyalahkannya kalau dia ingin tinggal di
sini..."
Ron menggigit bibir, kemudian berkata hati-hati, "Kau bertemu Hagrid di
Knockturn Alley, kan, Harry?"
"Dia sedang membeli Pembasmi Siput Pemakan-Daging,"
kata Harry cepat-cepat.
Ketiganya diam. Setelah lama hening, Hermione mengutarakan pertanyaan
yang paling sulit dengan ragu-ragu,
"Apakah menurut kalian sebaiknya kita pergi menanyai Hagrid tentang semua
ini?"
"Akan jadi kunjungan yang menyenangkan," kata Ron.
"Halo, Hagrid, ceritakan kepada kami, apakah belakangan ini kau
melepaskan sesuatu yang gila dan berbulu di kastil?"
Pada akhirnya, mereka memutuskan tidak akan mengatakan apa-apa kepada
Hagrid, kecuali kalau ada serangan lain, dan sementara hari demi hari berlalu
tanpa bisikan dari suara tanpa tubuh, mereka punya harapan tak perlu bicara
dengan Hagrid tentang kenapa dia dikeluarkan. Sudah hampir empat bulan
sejak Justin dan Nick si Kepala- Nyaris-Putus dibuat Membatu, dan hampir
semua orang berpendapat bahwa si penyerang, siapa pun dia, telah menyingkir
untuk selamanya. Peeves akhirnya sudah bosan dengan lagu "Oh, Harry, kau
keji"-nya. Ernie Macmillan meminta Harry dengan cukup sopan untuk
mengulurkan seember jamur berlompatan dalam pelajaran Herbologi pada
suatu hari, dan pada bulan Maret beberapa Mandrake mengadakan pesta yang
keras dan bising di Rumah Kaca nomor tiga. Ini membuat Profesor Sprout sangat
gembira.
--------------------------------------- 144
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Begitu mereka mulai mencoba saling pindah ke dalam pot temannya, kita
tahu mereka sudah dewasa sepenuhnya," katanya kepada Harry. "Maka kita
akan bisa menyembuhkan anak-anak malang di rumah sakit itu."
Anak-anak kelas dua diberi sesuatu yang baru untuk dipikirkan selama
liburan Paskah mereka. Sudah tiba waktunya memilih mata pelajaran mereka
untuk kelas tiga. Persoalan yangsetidaknya bagi Hermione sangat serius.
"Bisa mempengaruhi seluruh masa depan kita/' katanya kepada Harry dan
Ron, sementara mereka mempelajari daftar mata pelajaran baru, menandainya
dengan tanda centang.
"Aku cuma ingin tak ikut lagi pelajaran Ramuan," kata Harry.
"Tidak bisa," kata Ron muram. "Semua mata pelajaran lama masih harus
diikuti, kalau tidak aku pasti sudah meninggalkan Pertahanan terhadap Ilmu
Hitam."
"Tapi itu kan penting sekali!" kata Hermione, kaget.
"Tidak, kalau Lockhart yang mengajar," kata Ron. "Aku tidak belajar apa-apa
dari dia kecuali jangan melepas pixie."
Neville Longbottom dikirimi surat oleh semua penyihir dalam keluarganya,
semua memberinya nasihat yang berbeda- beda tentang apa yang harus dipilih.
Cemas dan bingung, dia duduk membaca daftar mata pelajaran dengan lidah
terjulur, menanyai anak-anak apakah menurut mereka Arithmancy
kedengarannya lebih sulit daripada Rune Kuno. Rune adalah huruf-huruf alfabet
kuno yang digunakan di Eropa Utara sekitar abad ketiga sampai ketiga belas.
Selain alfabet, pelajaran Rune Kuno mencakup mantra-mantra kuno, juga puisi,
sajak, ataupun lagu-lagu kuno yang mistis dan sulit dipahami. Dean Thomas,
yang seperti Harry dibesarkan dalam keluarga Muggle, akhirnya memejamkan
mata dan menotol- notolkan tongkatnya pada daftar, kemudian memilih mata
pelajaran yang ditunjuk si tongkat. Hermione tidak mendengarkan nasihat siapa
pun, tetapi memilih semua mata pelajaran.
Harry tersenyum muram pada diri sendiri ketika memikirkan apa yang akan
dikatakan Paman Vernon dan Bibi Petunia jika dia mencoba mendiskusikan
kariernya di dunia sihir dengan mereka. Bukannya tak ada yang
membimbingnya. Percy Weasley dengan senang hati bersedia berbagi
pengalaman.
"Tergantung maumu ke mana, Harry," katanya. "Tak pernah terlalu awal
untuk memikirkan masa depan, jadi kusarankan Ramalan. Orang menganggap
Telaah tentang Muggle pilihan yang enteng, tapi aku pribadi berpendapat
penyihir harus punya pemahaman menyeluruh tentang komunitas non-sihir,
terutama jika merencanakan untuk bekerja bersama merekalihat saja ayahku,
sepanjang waktu dia harus menangani urusan Muggle. Abangku, Charlie, dari
dulu suka bekerja di luar ruangan, jadi dia memilih Pemeliharaan Satwa Gaib.
Pilih sesuai kekuatanmu, Harry"
Tapi satu-satunya yang menurut Harry benar-benar dilakukannya dengan baik
hanyalah Quidditch. Pada akhirnya, dia memilih pelajaran-pelajaran baru yang
sama dengan Ron, dengan perhitungan kalau dia tidak bisa mengikutinya, dia
punya teman yang baik untuk membantunya.
--------------------------------------- 145
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Pertandingan Quidditch berikutnya bagi Gryffindor adalah melawan
Hufflepuff. Wood memaksa timnya latihan setiap malam sehabis makan,
sehingga Harry nyaris tak punya waktu kecuali untuk Quidditch dan
mengerjakan PR. Meskipun demikian sesi latihan mulai membaik, atau paling
tidak bertambah kering, dan pada malam sebelum pertandingan hari Sabtu,
Harry naik ke kamarnya untuk mengembalikan sapunya, merasa kesempatan
Gryffindor untuk memenangkan Piala Quidditch tidak pernah sebaik ini.
Tetapi suasana hatinya yang gembira tidak berlangsung lama. Di puncak
tangga yang menuju ke kamar, dia bertemu Neville Longbottom, yang kelihatan
kalut.
"Harryaku tidak tahu siapa yang melakukannya. Aku baru saja
menemukan..."
Memandang Harry ketakutan, Neville mendorong pintu kamar sampai
terbuka.
Isi koper Harry dilemparkan ke mana-mana. Jubahnya tergeletak robek di
lantai. Seprai dan selimut dicopot dari tempat tidurnya dan laci lemari di
sebelah tempat tidurnya ditarik terbuka, isinya bertebaran di atas kasur.
Harry berjalan ke tempat tidurnya, melongo, menginjak beberapa halaman
Tamasya dengan Troll yang lepas.
Ketika dia dan Neville sedang menarik selimut kembali ke atas tempat
tidurnya, Ron, Dean, dan Seamus masuk. Dean mengumpat keras.
"Apa yang terjadi, Harry?"
"Entahlah," kata Harry. Tetapi Ron memeriksa jubah-jubah Harry. Semua
kantongnya menggantung keluar.
"Ada orang yang mencari-cari sesuatu," kata Ron. "Ada yang hilang?"
Harry mulai memunguti semua barangnya dan melemparkannya ke dalam
kopernya. Setelah melemparkan buku Lockhart yang terakhir, barulah dia sadar
apa yang tidak ada.
"Buku harian Riddle hilang," katanya pelan kepada Ron.
"Apa?"
Harry mengedikkan kepala ke arah pintu kamar dan Ron mengikutinya
keluar. Mereka bergegas kembali ke ruang rekreasi Gryffindor, yang sudah
setengah kosong, dan bergabung dengan Hermione, yang duduk sendirian,
membaca buku berjudul Mempelajari Rune Kuno dengan Mudah.
Hermione kaget sekali mendengar berita itu.
"Tapihanya anak Gryffindor yang bisa mencurinyatak ada anak lain yang
tahu kata kunci kita..."
"Justru itu," kata Harry.
Mereka terbangun keesokan harinya disambut sinar matahari yang cerah dan
angin sepoi menyegarkan.
"Kondisi sempurna untuk Quidditch!" kata Wood antusias di meja Gryffindor,
sambil mengisi piringpiring anggota timnya dengan telur aduk. "Harry, ayo, kau
perlu sarapan yang cukup."
Harry sejak tadi cuma memandang meja Gryffindor yang penuh, bertanya-
tanya dalam hati kalau-kalau pemilik baru buku harian Riddle ada di depan
matanya. Hermione sudah mendesaknya untuk melaporkan pencurian ini, tetapi
--------------------------------------- 146
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry tidak mau. Nanti dia terpaksa harus menceritakan kepada seorang guru
tentang buku harian ini, dan berapa orang yang tahu kenapa Hagrid dikeluarkan
lima puluh tahun lalu? Dia tak ingin menjadi orang yang mengungkit-ungkitnya.
Selagi dia meninggalkan Aula Besar bersama Ron dan Hermione untuk
mengambil peralatan Quidditch-nya, daftar kesulitan Harry yang sudah banyak
bertambah dengan kesulitan baru yang sangat serius. Harry baru saja
menginjakkan kaki di tangga pualam, ketika dia mendengar suara itu lagi,
"Bunuh kali ini... biar kurobek... kucabik..."
Harry berteriak keras, Ron dan Hermione sampai melompat kaget.
"Suara itu!" kata Harry, menoleh melewati bahunya. "Aku baru saja
mendengarnya lagikarian dengar?"
Ron menggeleng, terbelalak. Tetapi Hermione menempelkan tangan ke
dahinya.
"Harrykupikir aku baru saja mengerti! Aku harus ke perpustakaan!"
Dan dia berlari menaiki tangga.
"Apa yang dia mengerti?" tanya Harry bingung, masih memandang berkeliling,
mencoba menebak dari mana datangnya suara itu.
"Jauh lebih banyak daripada yang kupahami," kata Ron geleng-geleng kepala.
"Tetapi kenapa dia harus ke perpustakaan?"
"Karena itulah yang dilakukan Hermione," kata Ron, mengangkat bahu.
"Kalau ragu-ragu, pergi ke perpustakaan." Harry berdiri ragu-ragu, mencoba
mendengarkan suara itu lagi, tetapi anak-anak sekarang berduyun-duyun keluar
dari Aula Besar di belakangnya, bicara keras-keras, keluar lewat pintu depan
menuju ke lapangan Quidditch.
"Lebih baik kau cepat naik," kata Ron. "Sudah hampir pukul sebelas
pertandingan akan dimulai'
Harry berlari ke Menara Gryffindor, mengambil Nimbus Dua Ribu-nya dan
bergabung dengan kerumunan yang berduyun- duyun menyeberangi halaman,
tetapi pikirannya masih di kastil, bersama suara tanpa tubuh. Ketika dia
memakai jubah merahnya di dalam kamar ganti, satu-satunya yang
membuatnya terhibur hanyalah semua orang sekarang ada di luar untuk
menonton pertandingan.
Kedua tim berjalan memasuki lapangan di bawah tepukan riuh-rendah.
Oliver Wood melakukan pemanasan dengan terbang mengelilingi tiang-tiang
gol. Madam Hooch melepas bola-bolanya. Anak-anak Hufflepuff, yang bermain
dengan seragam kuning kenari, berdiri bergerombol, mengadakan diskusi
terakhir soal taktik.
Harry sedang menaiki sapunya ketika Profesor McGonagall setengah berlari
datang memasuki lapangan, membawa megafon ungu besar.
Hati Harry terasa seberat batu.
"Pertandingan hari ini dibatalkan," seru Profesor McGonagall lewat megafon,
berbicara kepada stadion yang penuh sesak. Terdengar gemuruh "buu-buu"
kecewa dan teriakan-teriakan. Oliver Wood, tampak terpukul, mendarat dan
berlari mendekati Profesor McGonagall tanpa turun dari sapunya.
"Tapi, Profesor!" teriaknya. "Kami harus main... piala... Gryffindor..."
--------------------------------------- 147
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Profesor McGonagall tidak mengacuhkannya dan melanjutkan berteriak lewat
megafonnya, "Semua anak diminta kembali ke ruang rekreasi asrama masing-
masing. Di sana Kepala Asrama akan memberi keterangan yang lebih jelas.
Secepat mungkin, ayo, ayo!"
Kemudian dia menurunkan megafon dan memberi isyarat kepada Harry agar
mendekat.
"Potter, kurasa lebih baik kau ikut aku...."
Harry yang bertanya-tanya dalam hati bagaimana Profesor McGonagall bisa
mencurigainya kali ini, melihat Ron meninggalkan rombongan anak-anak yang
mengeluh. Ron berlari mengejar mereka menuju kastil. Betapa herannya Harry,
Profesor McGonagall tidak keberatan.
"Ya, mungkin lebih baik kau juga ikut, Weasley."
Beberapa anak yang berjalan di sekitar mereka menggerutu karena
pertandingannya dibatalkan, yang lain kelihatan cemas. Harry dan Ron
mengikuti Profesor McGonagall kembali ke sekolah dan menaiki tangga pualam.
Tetapi mereka tidak dibawa ke kantor siapa-siapa kali ini.
"Ini akan sedikit mengagetkan," kata Profesor McGonagall dengan suara
lembut yang mengejutkan ketika mereka mendekati rumah sakit. "Baru saja
ada serangan lain... serangan ganda lain."
Organ-organ dalam tubuh Harry serasa berjumpalitan. Profesor McGonagall
membuka pintu, dan Harry dan Ron masuk.
Madam Pomfrey sedang membungkuk di atas anak kelas lima berambut ikal.
Harry mengenalinya sebagai anak Ravenclaw yang pernah mereka tanyai jalan
menuju ruang rekreasi Slytherin. Dan di tempat tidur di sebelahnya adalah...
"Hermione!" Ron mengerang.
Hermione terbaring diam, matanya terbuka, pandangannya kosong.
"Mereka ditemukan dekat perpustakaan," kata Profesor McGonagall. "Kurasa
kalian berdua tidak bisa menjelaskan ini? Ini ditemukan di lantai di sebelah
mereka..."
Profesor McGonagall memegang cermin bundar kecil.
Harry dan Ron menggelengkan kepala, keduanya menatap Hermione.
"Aku akan menemani kalian kembali ke Menara Gryffindor," kata Profesor
McGonagall berat. "Aku toh harus memberi penjelasan kepada anak-anak."
"Semua murid sudah harus kembali ke ruang rekreasi asrama mereka paling
lambat pukul enam sore. Tak seorang murid pun diizinkan meninggalkan asrama
setelah waktu itu. Kalian akan ditemani seorang guru ke semua kelas setiap
ganti pelajaran. Murid-murid dilarang ke kamar kecil tanpa ditemani guru.
Semua latihan Quidditch dan pertandingan ditunda. Tak akan ada lagi kegiatan
di malam hari/'
Anak-anak Gryffindor yang memenuhi ruang rekreasi mendengarkan Profesor
McGonagall dalam diam. Dia menggulung perkamen yang tadi dibacanya dan
berkata dengan suara agak tercekat, "Tak perlu kutambahkan bahwa belum
pernah aku sesedih ini. Mungkin sekolah akan ditutup jika pelaku di balik
serangan-serangan ini tidak berhasil ditangkap. Aku mengimbau siapa saja yang
merasa tahu sesuatu tentang serangan-serangan ini untuk melapor."
--------------------------------------- 148
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Profesor McGonagall memanjat keluar lubang lukisan dengan agak canggung,
dan anak-anak Gryffindor langsung ramai.
"Itu berarti dua anak Gryffindor jatuh, belum lagi satu hantu Gryffindor, satu
Ravenclaw, dan satu Hufflepuff," kata sahabat si kembar Weasley, Lee Jor-dan,
sambil menghitung dengan jari-jarinya. "Apakah tidak ada guru yang sadar
bahwa anak-anak Slytherin semua selamat? Bukankah sudah jelas sekali semua
malapetaka ini datangnya dari Slytherin? Pewaris Slytherin, monster Slytherin
kenapa mereka tidak mengeluarkan saja semua anak Slytherin?" teriaknya,
disambut anggukan dan tepukan di sana-sini.
Percy Weasley duduk di kursi di belakang Lee, tetapi sekali ini dia
tampaknya tak ingin mengemukakan pendapatnya. Dia tampak pucat dan
terpukul.
"Percy shock," George memberitahu Harry perlahan. "Anak Ravenclaw itu
Penelope Clearwaterdia Prefek. Kurasa Percy tidak menyangka si monster
akan berani menyerang Prefek/' Tetapi Harry hanya setengah mendengarkan.
Dia tak bisa melenyapkan bayangan Hermione yang terbaring di tempat tidur
rumah sakit, seakan terpahat dari batu. Dan jika pelakunya tidak segera
ditangkap, berarti seumur hidup dia akan tinggal lagi bersama keluarga
Dursley. Tom Riddle menyerahkan Hagrid, karena bila tidak dia harus tinggal di
panti asuhan Muggle kalau sekolah ditutup. Harry sekarang paham betul
bagaimana perasaan Riddle.
"Apa yang akan kita lakukan?" kata Ron pelan di telinga Harry. "Apakah
menurutmu mereka mencurigai Hagrid?"
"Kita harus bicara dengannya," kata Harry, mengambil keputusan. "Aku tak
percaya dia pelakunya kali ini, tetapi kalau dulu dia melepas monsternya, dia
akan tahu bagaimana caranya masuk ke Kamar Rahasia, dan itu sudah awal
yang bagus."
"Tetapi McGonagall bilang kita harus tinggal di menara kita kecuali untuk
mengikuti pelajaran..."
"Kurasa," kata Harry lebih pelan, "sudah waktunya mengeluarkan jubah tua
ayahku lagi."
Harry hanya mewarisi satu benda dari ayahnya: Jubah Gaib panjang
keperakan, yang bisa membuat pemakainya tidak kelihatan. Jubah itu satu-
satunya kesempatan bagi mereka agar bisa menyelinap keluar dari sekolah,
untuk mengunjungi Hagrid tanpa diketahui siapa pun. Mereka pergi tidur pada
jam yang biasa, menunggu sampai Neville, Dean, dan Seamus berhenti
mendiskusikan Kamar Rahasia dan akhirnya tertidur, kemudian mereka bangun,
berpakaian lagi, dan me-nyelubungkan jubah itu ke tubuh mereka.
Perjalanan melewati koridor-koridor kastil yang kosong sungguh tidak
nyaman. Harry, yang sudah beberapa kali berjalan-jalan di kastil pada malam
hari, belum pernah melihatnya begitu ramai setelah matahari terbenam. Para
guru, Prefek, dan hantu berpatroli di koridor berpasangan, memeriksa kalau-
kalau ada kegiatan yang tidak biasa. Jubah Gaib tidak membuat suara mereka
tak bisa didengar, dan mereka tegang sekali ketika ibu jari kaki Ron terantuk
sesuatu hanya beberapa meter dari tempat Snape berjaga. Untunglah Snape
bersin hampir pada saat bersamaan dengan Ron mengumpat. Maka betapa
--------------------------------------- 149
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
leganya mereka ketika tiba di pintu depan yang terbuat dari kayu ek dan
membukanya.
Malam itu cerah dan berbintang. Mereka bergegas menuju jendela-jendela
pondok Hagrid yang terang, dan baru melepas Jubah Gaib ketika sudah tiba di
depan pintu.
Beberapa saat setelah mereka mengetuk, Hagrid membuka pintunya. Mereka
ternyata berhadapan dengan Hagrid yang membidikkan panah ke arah mereka.
Fang, si anjing besar, menyalak keras di belakangnya.
"Oh," kata Hagrid, menurunkan senjatanya dan menatap mereka. "Ngapain
kalian berdua di sini?"
"Untuk apa itu?" tanya Harry, menunjuk busur sambil melangkah masuk.
"Tidak... tidak apa-apa," gumam Hagrid. "Aku kira... tidak penting...
Duduklah... aku buat teh..."
Kelihatannya Hagrid tak sadar apa yang dilakukannya. Dia nyaris membuat
apinya padam, menuangkan air dari ceret ke api, dan kemudian memukul jatuh
teko teh dengan gerakan gugup tangannya yang besar.
"Kau tidak apa-apa, Hagrid?" tanya Harry. "Apakah kau sudah dengar tentang
Hermione?"
"Oh, aku dengar," kata Hagrid, suaranya agak tercekat.
Dia berulang-ulang mengerling gugup ke jendela. Dia menuang air mendidih
ke dalam dua cangkir besar untuk mereka berdua (lupa mencelupkan kantong
tehnya) dan sedang menaruh sepotong kue buah di atas piring ketika terdengar
ketukan keras di pintu.
Hagrid menjatuhkan kue buahnya. Harry dan Ron bertukar pandang panik,
kemudian kembali menye-lubungkan Jubah Gaib ke tubuh mereka dan mundur
ke sudut. Hagrid memastikan mereka sudah tersembunyi, menyambar
busurnya, dan membuka pintu sekali lagi.
"Selamat malam, Hagrid."
Ternyata yang datang Dumbledore. Dia masuk, kelihatan serius sekali, diikuti
orang kedua yang bertampang sangat aneh.
Pria asing ini bertubuh pendek bulat dengan rambut abu- abu kusut dan
wajah cemas. Dia memakai pakaian campur aduk aneh: setelan bergaris-garis,
dasi merah tua, jubah hitam panjang, dan sepatu bot ungu berujung runcing.
Lengannya mengepit topi hijau-jeruk-limau.
"Itu bos Dad!" bisik Ron kaget. "Cornelius Fudge, Menteri Sihir!"
Harry menyikut keras Ron, menyuruhnya diam.
Hagrid sudah pucat dan berkeringat. Dia menge-nyakkan diri di salah satu
kursinya dan memandang Dumbledore dan Cornelius Fudge berganti-ganti.
"Kabar buruk, Hagrid," kata Fudge lugas. "Sangat buruk. Harus datang. Empat
serangan pada anak-anak kelahiran- Muggle. Sudah terlalu jauh. Ke-menterian
harus bertindak."
"Bukan saya," kata Hagrid dengan pandangan memohon kepada Dumbledore,
"Anda tahu saya tak pernah lakukan itu, Profesor Dumbledore, Sir..."
"Aku ingin mencamkan ini, Cornelius, bahwa Hagrid mendapatkan
kepercayaanku sepenuhnya," kata Dumbledore, mengernyit kepada Fudge.
--------------------------------------- 150
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Begini, Albus," kata Fudge, salah tingkah. "Riwayat masa lalu Hagrid
merugikannya. Kementerian harus melakukan sesuatudewan sekolah sudah
menghubungi kami."
^ Meskipun demikian, sekali lagi kukatakan, Cornelius, bahwa menyingkirkan
Hagrid tidak akan membantu sedikit pun," kata Dumbledore. Mata birunya
dipenuhi api yang belum pernah dilihat Harry.
"Cobalah melihatnya dari sudut pandangku," kata Fudge, meremas-remas
topinya. "Aku di bawah banyak tekanan. Harus dilihat melakukan sesuatu. Kalau
nanti ternyata bukan Hagrid, dia akan dikembalikan il»in tak akan disebut-
sebut lagi. Tapi aku harus membawanya sekarang. Harus. Tidak menjalankan
kewajibanku kalau..."
"Bawa saya?" kata Hagrid, gemetar. "Bawa saya ke mana?"
"Cuma untuk sementara waktu," kata Fudge, tanpa berani menatap Hagrid.
"Bukan hukuman, Hagrid, lebih untuk berjaga-jaga. Kalau nanti ada orang lain
yang ditangkap, kau akan dikeluarkan dengan permohonan maaf penuh..."
"Tidak ke Azkaban, kan?" seru Hagrid parau.
Sebelum Fudge bisa menjawab, terdengar ketukan keras lagi di pintu.
Dumbledore membukanya. Kali ini giliran Harry disikut rusuknya: dia
terpekik kaget.
Mr Lucius Malfoy melangkah masuk ke pondok Hagrid, berselubung jubah
perjalanan hitam panjang, senyumnya dingin dan puas. Fang mulai menggeram.
"Sudah di sini, Fudge," katanya senang. "Bagus, bagus..."
"Mau apa kau ke sini?" kata Hagrid berang. "Keluar dari rumahku!"
"Hagrid, percayalah, aku sama sekali tak senang berada dieh... kausebut
ini rumah?" kata Lucius Malfoy mencemooh sambil memandang berkeliling
pondok kecil itu. "Aku tadi mampir di sekolah dan diberitahu Kepala Sekolah
ada di sini."
"Dan apa persisnya yang kauinginkan dariku, Lucius?" kata Dumbledore. Dia
bicara dengan sopan, tetapi api masih menyala-nyala di mata birunya.
"Hal yang sangat tidak enak, Dumbledore," kata Mr Malfoy santai,
mengeluarkan gulungan panjang per-kamen, "tetapi dewan sekolah merasa
sudah waktunya kau menyingkir. Ini Perintah Penskorsankau akan menemukan
keseluruhan dua belas tanda tangan di sini. Kami merasa kau sudah kehilangan
sentuhanmu. Berapa serangan yang sudah terjadi? Dua lagi sore ini, kan?
Dengan kecepatan begini, tak akan ada anak kelahiran-Muggle yang tersisa di
Hogwarts, dan kita semua tahu itu akan jadi kehilangan besar bagi sekolah."
"Oh, Lucius," kata Fudge, kelihatan kaget. "Dumbledore diskors... jangan,
jangan... itu hal terakhir yang kita inginkan sekarang ini..."
"Pengangkatanatau penskorsankepala sekolah adalah urusan dewan
sekolah, Fudge," kata Mr Malfoy lancar. "Dan karena Dumbledore sudah gagal
menghentikan serangan- serangan ini..."
"Tapi, Lucius, kalau Dumbledore tidak bisa menghentikannya...," kata Fudge,
yang bagian atas bibirnya berbintik-bintik keringat sekarang, "aku mau
mengatakan, siapa yang bisa?"
"Kita lihat saja nanti," kata Mr Malfoy dengan senyum menyebalkan. "Tetapi
karena kami berdua belas sudah memutuskan..."
--------------------------------------- 151
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Hagrid melompat bangun, kepalanya yang berambut lebat awut-awutan
menyentuh langit-langit.
"Dan berapa yang sudah kauancam dan kauperas sebelum mereka setuju,
Malfoy, eh?" raung Hagrid.
"Wah, wah, kau tahu, sifatmu yang berangasan begitu akan menyulitkanrnu
hari-hari ini, Hagrid," kata Mr Malfoy.
"Kusarankan kau jangan berteriak begitu pada penjaga Azkaban. Mereka
sama sekali tak akan senang."
"Kau tak boleh ambil Dumbledore!" teriak Hagrid, membuat Fang meringkuk
dan merintih di keranjangnya. "Bawa dia pergi, dan anak-anak kelahiran-Muggle
tak punya harapan sama sekali! Berikutnya akan terjadi pembunuhan!"
"Tenangkan dirimu, Hagrid!" kata Dumbledore tajam. Dia menatap Lucius
Malfoy.
"Kalau dewan menginginkan aku diganti, Lucius, aku tentu saja akan
mundur."
"T-tapi...," gagap Fudge.
"Tidak!" geram Hagrid.
Dumbledore tidak mengalihkan matanya yang biru cemerlang dari mata
Lucius yang dingin abu-abu.
"Meskipun demikian," kata Dumbledore, berbicara sangat lambat dan jelas,
sehingga tak seorang pun dari mereka tidak menangkap semua ucapannya, "kau
akan tahu bahwa aku hanya akan benar-benar meninggalkan sekolah ini kalau
sudah tak ada lagi yang setia kepadaku di sini. Kau juga akan tahu bahwa
bantuan akan selalu diberikan di Hogwarts kepada siapa pun yang
memintanya."
Sejenak, Harry nyaris yakin mata Dumbledore terarah ke sudut tempat dia
dan Ron bersembunyi.
"Sikap sentimental yang layak dikagumi," kata Malfoy, membungkuk. "Kami
semua akan kehilanganehcaramu yang sangat individual dalam mengatur
segalanya, Albus, dan hanya berharap peng-gantimu akan bisa mencegahah
'pembunuhan'"
Malfoy melangkah ke pintu pondok, membukanya, dan membungkuk
mempersilakan Dumbledore keluar. Fudge, gelisah meremas-remas topinya,
menunggu Hagrid berjalan mendahuluinya. Tetapi Hagrid tetap di tempatnya,
menarik napas dalam-dalam, dan berkata hati-hati, "Kalau ada yang mau tahu
sesuatu, yang harus mereka lakukan hanya ikuti labah-labah. Labah-labah akan
bawa mereka ke yang benar! Cuma itu yang mau kukatakan/'
Fudge memandangnya keheranan.
"Baiklah, aku ikut," kata Hagrid, memakai mantel kulit tikus mondoknya.
Tetapi ketika dia sudah akan keluar dari pintu mengikuti Fudge, dia berhenti
lagi dan berkata keras-keras,
"Dan harus ada yang kasih makan Fang selama aku tak ada." Pintu berdebam
tertutup dan Ron menarik lepas Jubah Gaib.
"Kita dalam kesulitan sekarang," katanya serak. "Tak ada lagi Dumbledore.
Sama saja dengan mereka menutup sekolah malam ini. Akan terjadi serangan
tiap hari kalau Dumbledore tak ada."
--------------------------------------- 152
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Fang mulai melolong, menggaruk-garuk pintu yang tertutup.
15. Aragog
Musim panas merayapi halaman sekeliling kastil. Langit dan danau sama-
sama berubah biru cerah, dan bunga-bunga sebesar kol bermekaran di dalam
rumah-rumah kaca. Tetapi tanpa Hagrid yang bisa dilihat dari jendela kastil,
berjalan kian kemari di halaman diiringi Fang, Harry merasa ada yang tidak
benar dengan pemandangan di luar itu. Sama seperti di dalam kastil, suram
karena terjadinya peristiwa-peristiwa mengerikan.
Harry dan Ron sudah berusaha mengunjungi Hermione, tetapi sekarang
rumah sakit tidak menerima pengunjung.
"Kami tidak mau ambil risiko/' Madam Pomfrey memberitahu mereka lewat
celah di pintu. "Tidak, maaf, ada kemungkinan si penyerang muncul lagi untuk
menghabisi anak-anak yang malang ini...."
Dengan kepergian Dumbledore, ketakutan menyebar hal yang tak pernah
terjadi sebelumnya sehingga matahari yang menghangatkan tembok kastil - di
luar kelihatannya berhenti di jendela-jendela bersekat. Nyaris tak ada wajah di
sekolah yang tidak tampak cemas dan tegang, dan kalau ada tawa yang
terdengar di koridor, tawa itu terdengar nyaring dan tidak wajar, dan segera
dihentikan.
Harry tak henti-hentinya mengulangi kata-kata terakhir Dumbledore untuk
dirinya sendiri. "Aku hanya akan benar- benar meninggalkan sekolah ini kalau
sudah tak ada lagi yang setia kepadaku di sini... Bantuan akan selalu diberikan
di Hogwarts kepada siapa pun yang memintanya." Tetapi apa gunanya kata-kata
itu? Siapa persisnya yang harus mereka mintai bantuan, kalau semua orang
sama bingung dan takutnya seperti mereka?
Petunjuk Hagrid tentang labah-labah lebih mudah dimengertikesulitannya
adalah, kelihatannya di kastil tak tersisa lagi seekor labah-labah pun yang bisa
mereka ikuti. Harry mencari-cari ke mana pun dia pergi, dibantu (dengan agak
enggan) oleh Ron. Mereka dihambat, tentu saja, oleh kenyataan bahwa mereka
tidak diizinkan berjalan ke mana- mana sendiri, melainkan harus berombongan
dengan anak- anak Gryffindor lain. Sebagian besar teman mereka tampaknya
senang ditemani oleh para guru dari kelas ke kelas, tetapi bagi Harry ini sangat
menjengkelkan.
Meskipun demikian, ada satu anak yang kelihatannya sangat menikmati
suasana penuh teror dan kecurigaan. Draco Malfoy berjalan sok gagah
berkeliling sekolah seakan dia baru ditunjuk jadi Ketua Murid. Harry tidak
menyadari apa yang membuat Malfoy begitu senang, sampai pelajaran Ramuan,
kira-kira dua minggu sesudah Dumbledore dan Hagrid pergi. Waktu itu Harry,
--------------------------------------- 153
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
yang kebetulan duduk tepat di belakang Malfoy, mendengarnya
menyombongkan diri kepada Crabbe dan Goyle.
"Dari dulu aku sudah menduga, Ayah-lah yang akan berhasil menyingkirkan
Dumbledore," katanya, tanpa berusaha memelankan suaranya. "Aku kan sudah
bilang, Ayah menganggap Dumbledore kepala sekolah paling buruk yang pernah
dipunyai sekolah ini. Mungkin sekarang kita akan dapat kepala sekolah yang
layak. Orang yang tidak menginginkan Kamar Rahasia dikunci. McGonagall tidak
akan bertahan lama, dia cuma mengisi kekosongan..."
Snape melewati Harry, tidak berkomentar tentang tempat duduk dan kuali
Hermione yang kosong.
"Sir," kata Malfoy keras-keras. "Sir, kenapa Anda tidak melamar untuk
jabatan kepala sekolah?"
"Wah, wah, Malfoy," kata Snape, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan
senyum bibir-tipisnya. "Profesor Dumbledore hanya diskors oleh dewan sekolah.
Dia akan segera kembali bersama kita."
"Yeah, betul," kata Malfoy, mencibir. "Saya yakin Anda akan mendapat
dukungan Ayah, Sir, kalau Anda ingin mengisi jabatan ini. Saya akan bilang
pada Ayah, Anda guru paling hebat di sini, Sir..."
Snape menyeringai ketika dia berkeliling ruang bawah tanah. Untunglah dia
tidak melihat Seamus Finnigan, yang berpura-pura muntah ke dalam kualinya. !
"Aku heran para Darah-lumpur belum juga mengepak tas mereka/' Malfoy
meneruskan. "Berani taruhan lima Galleon, yang berikutnya pasti mati. Sayang
bukan si Granger..."
Untunglah saat itu bel berdering. Mendengar kata-kata terakhir Malfoy tadi,
Ron sudah melompat bangun dari tempat duduknya, dan dalam kesibukan anak-
anak membereskan tas dan buku-buku, tak ada yang memperhatikan dia
mencoba menyerang Malfoy.
"Biar kuberi pelajaran dia," geram Ron ketika Harry dan Dean memegangi
lengannya. "Aku tak peduli, aku tidak perlu tongkatku, akan kubunuh dia
dengan tangan kosong..."
"Ayo cepat, aku harus mengantar kalian semua ke Herbologi," bentak Snape
kepada anak-anak, dan mereka pun berangkatlah, beriringan, dengan Harry,
Ron, dan Dean paling belakang. Ron masih berusaha melepaskan diri. Baru
aman melepasnya ketika Snape sudah mengantar mereka sampai ke luar kastil,
dan mereka melewati petak-petak kebun sayur menuju ke rumah-rumah kaca.
Kelas Herbologi sangat muram. Kini sudah dua orang dari mereka tak ada,
Justin dan Hermione.
Profesor Sprout menyuruh mereka memangkasi dahan dan ranting-ranting
kering pohon ara Abyssinia. Harry sedang akan melempar sepelukan dahan
kering ke tumpukan kompos ketika ternyata dia berhadapan dengan Ernie
Macmillan. Ernie menarik napas dalam-dalam dan berkata, sangat resmi, "Aku
cuma ingin mengatakan, Harry, bahwa aku menyesal telah men-curigaimu. Aku
tahu kau tak akan pernah menyerang Hermione Granger, dan aku minta maaf
untuk semua yang pernah kukatakan. Kita berada di perahu yang sama
sekarang, dan, yah..."
Dia mengulurkan tangannya yang gemuk dan Harry menjabatnya.
--------------------------------------- 154
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ernie- dan temannya Hannah bergabung dengan Harry dan Ron,-memangkas
pohon ara yang sama.
"Si Draco Malfoy itu," kata Ernie, mematahkan ranting- ranting kering, "dia
kelihatannya senang sekali dengan semua kejadian ini, ya? Tahu tidak, kupikir
mungkin dialah si pewaris Slytherin."
"Pintar sekali kau," komentar Ron, yang kelihatannya tidak semudah Harry
memaafkan Ernie.
"Menurutmu Malfoy-kah orangnya, Harry?" tanya Ernie.
"Bukan," kata Harry tegas sekali sehingga Ernie dan Hannah keheranan
menatapnya.
Sesaat kemudian, Harry melihat sesuatu yang membuatnya memukul tangan
Ron dengan gunting tanamannya.
"Ouchl Apa sih mak..."
Harry menunjuk ke tanah kira-kira satu meter dari mereka. Beberapa labah-
labah besar bergegas di atas tanah.
"Oh, yeah," kata Ron, mencoba, dan gagal, untuk tampak senang. "Tapi kita
tidak bisa mengikuti mereka sekarang..."
Ernie dan Hannah mendengarkan dengan ingin tahu. Harry melihat para
labah-labah itu berlari menjauh.
"Kelihatannya mereka menuju Hutan Terlarang..."
Dan Ron kelihatan makin tidak senang mendengar ini.
Pada akhir pelajaran, Profesor Snape mengantar mereka ke kelas Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam. Harry dan Ron sengaja berjalan berlama-lama di
belakang yang lain agar bisa bicara tanpa didengar siapa pun.
"Kita harus memakai Jubah Gaib lagi," kata Harry kepada Ron. "Kita bisa
membawa Fang. Dia sudah terbiasa masuk ke hutan bersama Hagrid, mungkin
dia bisa membantu."
"Betul," kata Ron, yang gugup memelintir tongkatnya dengan jari-jarinya. "Eh
bukankahbukankah katanya ada manusia serigala di dalam Hutan Terlarang?"
dia menambahkan, ketika mereka duduk di tempat biasa, di tempat duduk
paling belakang di kelas Lockhart.
Harry yang lebih suka tidak menjawab pertanyaan itu, berkata, "Ada hal-hal
baik juga di sana. Centaurus-nya baik- baik. Juga unicorn-nya."
Ron belum pernah masuk Hutan Terlarang. Harry pernah ke sana sekali, dan
berharap tidak perlu masuk hutan itu lagi. Lockhart melompat masuk ke dalam
kelas dan anak-anak memandangnya keheranan. Semua guru yang lain lebih
muram dari biasanya, tetapi Lockhart kelihatan penuh semangat.
"Ayolah," serunya, tersenyum ke seluruh kelas, "kenapa semua murung
begini?"
Anak-anak bertukar pandang putus asa, tetapi tak seorang pun menjawab.
"Apakah kalian tidak menyadari/' kata Lockhart, bicara lambat-lambat,
seakan mereka semua agak bodoh, "bahaya telah lewat! Pelakunya sudah
dibawa pergi?"
"Siapa bilang?" kata Dean Thomas keras.
--------------------------------------- 155
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Anak muda, Menteri Sihir tidak akan menangkap Hagrid kalau dia tidak yakin
seratus persen bahwa Hagrid bersalah," kata Lockhart dengan nada seperti
menjelaskan bahwa satu ditambah satu sama dengan dua.
"Oh, bisa saja dia menangkap Hagrid, walaupun tidak yakin," kata Ron, lebih
keras daripada Dean.
"Aku bangga pada diriku sendiri karena aku tahu sedikit lebih banyak tentang
penangkapan Hagrid daripada kau, Mr Weasley," kata Lockhart dengan nada
puas diri.
Ron sudah akan membantah, tetapi kalimatnya berhenti di tengah ketika
Harry menendangnya keras-keras di bawah meja.
"Kita tidak berada di sana, ingat?" gumam Harry.
Tetapi keriangan Lockhart yang menjijikkan, komentar- komentarnya yang
menunjukkan bahwa dari dulu dia berpendapat Hagrid tak ada gunanya,
keyakinannya bahwa urusan penyerangan ini sekarang sudah beres,
menjengkelkan Harry begitu rupa sehingga ingin sekali rasanya dia
melemparkan buku Heboh dengan Hantu ke muka tolol Lockhart. Tetapi alih-
alih begitu, dia berusaha puas dengan menulis pesan kepada Ron: "Yuk kita
lakukan malam ini."
Ron membaca pesan itu, menelan ludah dengan susah, dan menoleh ke
sebelahnya, ke tempat kosong yang biasanya diduduki Hermione. Pemandangan
ini kelihatannya menguatkan tekadnya, dan dia mengangguk.
Ruang rekreasi Gryffindor selalu ramai hari-hari ini, karena setelah pukul
enam sore, anak-anak Gryffindor tak bisa pergi ke tempat lain. Mereka juga
punya banyak hal untuk dibicarakan, sehingga akibatnya ruang rekreasi sering
belum kosong sampai lewat tengah malam.
Harry mengambil Jubah Gaib dari dalam kopernya sehabis makan malam,
dan melewatkan malam itu duduk di atasnya, menunggu ruangan kosong. Fred
dan George menantang Harry dan Ron untuk bermain Jentikan Meletup dan
Ginny menonton mereka, sangat lesu, di kursi yang biasa diduduki Hermione.
Harry dan Ron berkali-kali kalah dengan sengaja, agar permainan cepat selesai.
Meskipun demikian, sudah lewat tengah malam ketika Fred, George, dan Ginny
akhirnya pergi tidur.
Harry dan Ron menunggu bunyi dua pintu kamar yang tertutup di kejauhan,
sebelum menyambar Jubah Gaib, menyelubungkannya ke tubuh mereka dan
melompati lubang lukisan.
Perjalanan di dalam kastil tak.kalah sulitnya, mereka harus menghindari
para guru. Akhirnya mereka tiba di Aula Depan, menggeser selot gerendel di
pintu depan, menyelinap keluar, berusaha tidak membual suara, dan
melangkah ke lapangan rumput yang ditimpa cahaya bulan.
"Tentu saja," kata Ron tiba-tiba, selagi mereka berjalan di atas rumput yang
gelap, "bisa saja kita sampai di hutan dan ternyata tidak ada yang bisa diikuti.
Para labah-labah itu siapa tahu tidak ke sana. Aku tahu kelihatannya mereka
bergerak ke arah sana, tapi..."
Suaranya mengabur penuh harap.
Mereka tiba di pondok Hagrid, tampak suram dan menyedihkan dengan
jendela-jendelanya yang gelap. Ketika Harry mendorong pintunya, Fang seperti
--------------------------------------- 156
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
gila saking girangnya melihat mereka. Cemas Fang bisa membangunkan semua
orang di kastil dengan gong-gongannya yang keras, mereka buru-buru
memberinya gulali dari dalam kaleng di atas perapian, yang membuat gigi-gigi
Fang saling menempel.
Harry meninggalkan Jubah Gaib di atas meja Hagrid. Mereka tidak
memerlukannya di dalam hutan yang gelap gulita.
"Ayo, Fang, kita jalan-jalan," kata Harry, membelai kakinya, dan Fang
melompat dengan riang gembira keluar rumah mengikuti mereka, berlari ke
tepi hutan dan mengangkat satu kakinya di pohon sycamore besar.
Harry mengeluarkan tongkatnya, menggumamkan,
"humosl" dan cahaya kecil muncul di ujung tongkatnya, sekadar cukup bagi
mereka untuk melihat jalan setapak mencari labah-labah.
"Ide bagus," kata Ron. "Aku mau juga menyalakan tongkatku, tapi kau tahu,
kanmalah akan meledak atau entah apa..."
Harry mengetuk bahu Ron, menunjuk ke rerumputan. Dua ekor labah-labah
berlari menjauh dari cahaya tongkat ke dalam kegelapan bayang-bayang
pepohonan.
"Oke/' Ron menghela napas, seakan menyerah pada nasib untuk menerima
yang paling buruk. "Aku siap. Ayo, kita berangkat."
Maka, dengan Fang berlarian di sekitar mereka, mengendus-endus akar
pohon dan dedaunan, mereka memasuki hutan. Diterangi cahaya dari tongkat
Harry, mereka mengikuti rombongan kecil labah-labah yang semakin
bertambah, bergerak sepanjang jalan setapak. Mereka berjalan selama kira-
kira dua puluh menit, tanpa bicara, memasang telinga tajam-tajam untuk
mendengar bunyi lain selain dahan patah atau gemeresik dedaunan. Kemudian,
ketika pepohonan sudah semakin rapat, sehingga bintang- bintang di langit tak
lagi kelihatan, dan tongkat Harry bersinar sendiri dalam lautan kegelapan,
mereka melihat labah-labah pemandu mereka meninggalkan jalan setapak.
Harry berhenti, mencoba melihat ke mana labah-labah itu pergi, tetapi
segala sesuatu di luar lingkaran cahaya kecilnya gelap gulita. Belum pernah dia
masuk ke hutan sampai sejauh ini. Dia masih ingat jelas, Hagrid melarangnya
meninggalkan jalan setapak ketika dia di sini beberapa waktu lalu. Tetapi
Hagrid entah berapa kilometer jauhnya dari sini sekarang, mungkin duduk
dalam sel di Azkaban, dan dia juga sudah berpesan untuk mengikuti labah-
labah.
Sesuatu yang basah menyentuh tangan Harry, dan dia melompat ke
belakang, menginjak kaki Ron, tapi ternyata cuma hidung Fang.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Harry kepada Ron, yang cuma kelihatan
matanya, yang memantulkan cahaya tongkatnya.
"Kita sudah sampai sejauh ini," kata Ron.
Maka mereka mengikuti kelebat bayang-bayang labah- labah menembus
pepohonan. Mereka tak bisa bergerak cepat sekarang, ada akar-akar pohon dan
tunggul menghalangi mereka, yang nyaris tak tampak dalam kegelapan. Harry
bisa merasakan napas panas Fang di tangannya. Lebih dari sekali, mereka harus
berhenti, supaya Harry bisa berjongkok dan menemukan labah-labah itu dengan
cahaya tongkatnya.
--------------------------------------- 157
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mereka berjalan selama paling tidak setengah jam, jubah mereka
tersangkut-sangkut pada dahan-dahan yang rendah dan semak berduri. Setelah
beberapa saat, mereka memperhatikan bahwa tanah kelihatannya melandai,
meskipun pepohonan masih serapat sebelumnya.
Kemudian mendadak Fang menggonggong keras, bergema, membuat Harry
dan Ron melompat kaget sekali.
"Apa?" kata Ron keras, memandang berkeliling dalam kegelapan yang pekat,
memegangi siku Harry kuat-kuat.
"Ada yang bergerak di sana," kata Harry tertahan.
"Dengar... Kedengarannya sesuatu yang besar."
Mereka mendengarkan. Agak jauh di sebelah kanan mereka, sesuatu yang
besar itu mematahkan dahan-dahan ketika dia mencari jalan menerobos
pepohonan.
"Oh tidak," kata Ron. "Oh tidak, oh tidak, oh..." "Diam,"
kata Harry cemas. "Dia akan mendengarmu."
"Mendengari?" kata Ron dengan suara tinggi melengking yang tidak wajar.
"Dia sudah dengar. Fang!"
Kegelapan serasa menekan bola mata mereka ketika mereka berdiri
ketakutan, menunggu. Terdengar gemuruh aneh, kemudian sunyi.
"Sedang apa dia?" tanya Harry.
"Mungkin bersiap-siap menyerang," kata Ron.
Mereka menunggu, gemetar, nyaris tak berani bergerak.
"Apa menurutmu dia sudah pergi?" bisik Harry "Entahlah..." Kemudian, di
sebelah kanan mereka, mendadak muncul sinar terang benderang, begitu
menyilaukan dalam gelap, sehingga mereka berdua mengangkat tangan untuk
menutupi mata. Fang mendengking dan berusaha lari, tetapi tersangkut belukar
berduri dan mendengking lebih keras lagi.
"Harry!" Ron berteriak, suaranya lega sekali. "Harry, mobil kita!"
"Apa?"
"Ayo!"
Harry gelagapan mengikuti Ron mendekati cahaya itu, terhuyung dan
terantuk, dan sebentar kemudian mereka telah tiba di lapangan terbuka.
Mobil Mr Weasley berdiri, kosong, di tengah lingkaran pepohonan yang rapat,
di bawah atap dahan-dahan yang lebat, lampu depannya menyala terang.
Ketika Ron dengan ternganga berjalan mendekatinya, mobil itu bergerak
perlahan menyongsongnya, persis seperti anjing besar hijau toska yang
menyambut tuannya.
"Rupanya selama ini ada di sini!" kata Ron senang, berjalan mengelilingi
mobil itu. "Lihat. Hutan telah membuatnya liar..." Kanan-kiri mobil itu tergores
dan berlumur lumpur. Rupanya dia berkeliling hutan sendiri. Fang sama sekali
tidak tertarik pada mobil itu. Dia berada dekat-dekat Harry, yang bisa
merasakan anjing itu gemetar. Setelah napasnya mulai teratur, Harry
memasukkan tongkatnya ke dalam jubahnya lagi.
"Dan kita mengira dia akan menyerang kita!" kata Ron, bersandar pada mobil
itu dan membelainya. "Selama ini aku bertanya-tanya sendiri ke mana perginya
dia!"
--------------------------------------- 158
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry menyipitkan mata, memandang berkeliling tanah yang terang untuk
mencari-cari labah-labah, tetapi mereka semua sudah menyingkir dari silaunya
cahaya lampu mobil.
"Kita kehilangan jejak," katanya. "Ayo, kita cari mereka." Ron tidak
menanggapi. Dia tidak bergerak. Matanya terpaku ke satu titik kira-kira tiga
meter dari tanah, tepat di belakang Harry. Wajahnya pucat pasi, ngeri.
Harry bahkan tak sempat menoleh. Terdengar bunyi klak- klik keras, dan
mendadak dia merasa sesuatu yang panjang dan berbulu mencengkeram
pinggangnya dan mengangkatnya dari tanah, terbalik, sehingga dia
menggantung dengan kepala di bawah. Memberontak, ketakutan, dia
mendengar bunyi klak-klik lagi dan melihat kaki Ron meninggalkan tanah juga,
mendengar Fang merintih dan melolongsaat berikutnya Harry sudah diayun ke
dalam pepohonan yang gelap.
Dengan kepala di bawah, Harry melihat bahwa makhluk yang memeganginya
berjalan dengan enam kaki yang sangat panjang dan berbulu. Dua kakinya yang
paling depan, yang letaknya di bawah sepasang penjepit hitam berkilat,
mencengkeramnya erat-erat. Di belakangnya, dia bisa mendengar satu lagi
makhluk yang sama, tak diragukan lagi membawa Ron. Mereka bergerak ke
jantung hutan. Harry bisa mendengar Fang berkutat melepaskan diri dari
monster ketiga, mendengking keras, tetapi Harry tak bisa menjerit, kalaupun
dia ingin. Rasanya dia sudah meninggalkan suaranya di mobil di lapangan
terbuka tadi.
Harry tak pernah tahu berapa lama dia berada dalam cengkeraman makhluk
itu. Dia cuma tahu kegelapan mendadak cukup pudar sehingga dia bisa melihat
tanah yang berselimut dedaunan sekarang dipenuhi labah-labah. Menoleh ke
samping, dia menyadari bahwa mereka telah tiba di tepi tanah kosong yang
membentuk semacam lubang besar. Tak ada pohon di situ, sehingga bintang-
bintang bersinar menerangi pemandangan paling mengerikan yang pernah
dilihatnya.
Labah-labah. Bukan labah-labah kecil-kecil seperti yang muncul ke atas daun
di tanah. Labah-labah sebesar kereta kuda, bermata delapan, berkaki delapan,
hitam, berbulu, bertubuh raksasa. Labah-labah besar yang membawa Harry
menuruni tanah yang melandai, menuju ke jaring berkabut berbentuk kubah
yang berada persis di tengah lubang, sementara kawan-kawannya berkerumun
mengelilinginya,
mengatup-ngatupkan capit mereka dengan bergairah melihat tangkapannya.
Harry jatuh ke tanah dalam posisi merangkak ketika si labah-labah
melepaskannya. Ron dan Fang jatuh berdebam di sebelahnya. Fang tak lagi
melolong, melainkan meringkuk diam di tempat. Ron kelihatan persis seperti
yang dirasakan Harry. Mulutnya terpentang lebar dalam jeritan tanpa suara dan
matanya terbeliak.
Harry tiba-tiba sadar bahwa labah-labah yang menjatuhkannya mengatakan
sesuatu. Susah ditangkap, karena dia mengatupkan capitnya bersamaan dengan
setiap kata yang diucapkannya.
"Aragog!" dia memanggil. "Aragog!"
--------------------------------------- 159
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dan dari tengah jaring kubah berkabut, seekor labah-labah seukuran gajah
kecil muncul, sangat perlahan. Ada warna biru di tengah hitamnya tubuh dan
kakinya, dan pada kepalanya yang jelek bercapit, semua matanya putih seperti
susu. Dia buta.
"Ada apa?" dia berkata, mengatup-ngatupkan capitnya dengan cepat.
"Manusia," jawab si labah-labah yang menangkap Harry.
"Hagrid-kah?" tanya Aragog, bergerak mendekat, kedelapan matanya yang
seputih susu bergerak-gerak ke segala arah,
"Orang asing," kata labah-labah yang membawa Ron.
"Bunuh mereka," perintah Aragog mengatupkan capit dengan jengkel. "Aku
sedang tidur..."
"Kami teman Hagrid," Harry berteriak. Jantungnya serasa meninggalkan
dadanya dan berdenyut di tenggorokannya.
Klik, klik, klik, bunyi capit para labah-labah di sekeliling lubang besar.
"Hagrid belum pernah mengirim orang ke lubang kami,"
katanya lambat-lambat.
"Hagrid dalam kesulitan," kata Harry, bernapas cepat sekali. "Itulah sebabnya
kami datang."
"Kesulitan?" tanya si labah-labah tua, dan Harry merasa mendengar nada
cemas dalam suaranya. "Tetapi kenapa dia mengirimmu?"
Harry berpikir akan berdiri, tetapi membatalkannya. Dia menduga kakinya
tak akan sanggup menopangnya. Jadi dia bicara dari tanah, setenang mungkin.
"Mereka mengira, di sekolah, bahwa Hagrid telah melepasse-sesuatuuntuk
menyerang anak-anak. Mereka membawanya ke Azkaban."
Aragog mengatup-ngatupkan capitnya dengan murka dan di sekeliling lubang,
bunyi itu dipantulkan oleh rombongan labah-labah yang ikut mengatupkan capit
mereka. Semacam tepuk tangan, hanya saja tepuk tangan biasanya tidak
membuat Harry ketakutan.
"Tetapi itu sudah lama sekali," kata Aragog marah.
"Bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat betul. Itulah sebabnya mereka
menyuruhnya meninggalkan sekolah. Mereka yakin akulah monster yang tinggal
di dalam apa yang mereka sebut Kamar Rahasia. Mereka mengira Hagrid telah
membuka kamar itu dan me lepasku."
"Dan kau... kau tidak berasal dari Kamar Rahasia?" tanya Harry, yang bisa
merasakan dahinya bersimbah keringat dingin.
"Aku!" kata Aragog, mengatupkan capitnya dengan gusar.
"Aku tidak dilahirkan di kastil. Aku berasal dari negeri yang jauh. Seorang
pengelana memberikan aku kepada Hagrid waktu aku masih berupa telur.
Hagrid masih anak-anak, tetapi dia merawatku, menyembunyikan aku dalam
lemari di kastil,
memberi makan aku sisa-sisa makanan dari meja. Hagrid teman baikku, dan
dia orang baik. Ketika aku ditemukan dan dituduh telah menyebabkan kematian
seorang anak perempuan, dia melindungiku. Aku hidup di hutan ini sejak saat
itu. Hagrid masih mengunjungiku. Dia bahkan mencarikan istri untukku, Mosag,
dan kalian lihat bagaimana keluarga kami telah berkembang, semua berkat
kebaikan Hagrid."
--------------------------------------- 160
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry mengeluarkan sisa keberaniannya.
"Jadi, kau tak pernahtak pernah menyerang siapa ...
"Tak pernah," kata si labah-labah tua serak. "Sebetulnya itu naluriku, tetapi
karena menghormati Hagrid, aku tak pernah melukai orang. Mayat anak
perempuan yang dibunuh itu ditemukan di dalam toilet. Aku tak pernah melihat
bagian lain kastil kecuali lemari tempat aku tumbuh. Bangsa kami menyukai
kegelapan dan keheningan..."
"Tetapi kalau begitu... Tahukah kau apa yang membunuh anak perempuan
itu?" tanya Harry. "Karena entah apa pun dia, dia sudah muncul kembali dan
menyerang orang-orang lagi..."
Kata-katanya ditenggelamkan oleh suara klak-klik yang keras sekali dan
keresekan banyak kaki panjang yang bergerak dengan marah. Sosok-sosok besar
hitam bergerak- gerak di sekelilingnya.
"Makhluk yang tinggal di kastil itu," kata Aragog, "adalah makhluk kuno yang
sangat ditakuti oleh kami, labah-labah, lebih daripada makhluk-makhluk lain.
Aku masih ingat betul, bagaimana aku memohon-mohon pada Hagrid untuk
melepaskan aku, ketika aku merasa binatang itu berkeliaran di sekolah."
"Binatang apa?" desak Harry.
Lebih banyak klak-klik keras, lebih banyak keresekan, para labah-labah
kelihatannya semakin mendekat, mengepung mereka.
"Kami tidak bicara tentang itu!" kata Aragog galak. "Kami tidak menyebut
namanya. Aku bahkan tidak memberitahu Hagrid nama makhluk mengerikan
itu, meskipun dia menanyakannya padaku, berulang kali."
Harry tidak ingin memaksakan soal itu, apalagi semua labah-labah menddkat
dari segala jurusan. Aragog kelihatannya sudah lelah bicara. Dia perlahan
berjalan mundur ke jaring kubahnya, tetapi teman-teman labah-labahnya terus
merayap mendekati Harry dan Ron.
"Kalau begitu kami pergi dulu," teriak Harry putus asa kepada Aragog,
mendengar daun-daun ber-gemeresik di belakangnya.
"Pergi?" kata Aragog lambat-lambat. "Kurasa tidak..."
"Tapitapi..."
"Anak-anakku tidak mencelakai Hagrid karena kularang. Tetapi aku tak bisa
menghilangkan kesempatan mereka untuk mendapatkan daging segar, ketika
daging itu datang sendiri dengan sukarela ke tengah-tengah kami. Selamat
tinggal, teman Hagrid."
Harry berbalik. Hanya satu meter lebih dari mereka, menjulang tinggi
dinding kokoh labah-labah. Mereka mengatup-ngatupkan capit, mata mereka
yang banyak berkilat-kilat di kepala hitam jelek mereka.
Bahkan saat mencabut tongkatnya, Harry sadar tongkat itu tak ada gunanya.
Ada terlalu banyak labah-labah. Tetapi ketika dia berusaha berdiri, siap mati
dalam pertempuran, terdengar bunyi keras. Kilatan cahaya terang benderang
menyinari lubang.
Mobil Mr Weasley menerjang turun, lampu depannya menyala terang,
klaksonnya menjerit-jerit, menabrak para labah-labah hingga menepi.
Beberapa labah-labah terlempar dan mendarat terbalik, kaki mereka yang
--------------------------------------- 161
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
banyak menendang- nendang ke udara. Mobil berdecit berhenti di depan Harry
dan Ron, dan pintu-pintunya berdebam terbuka.
"Ambil Fang!" jerit Harry, meluncur ke tempat duduk depan. Ron menyambar
pinggang Fang, dan melemparnya. Fang mendengking, terlempar ke tempat
duduk belakang. Pintu-pintu menutup keras. Ron tidak menyentuh gas, tetapi
mobil itu tidak memerlukannya. Mesinnya menderu dan mereka melesat,
menabrak lebih banyak lagi labah-labah. Mereka meluncur mendaki lereng,
keluar dari lubang, dan segera saja menerobos hutan, dahan-dahan pepohonan
melecut jendela-jendelanya ketika mobil itu dengan cerdik berzig-zag
melewati celah-celah yang cukup lebar, mengikuti jalan setapak yang rupanya
sudah dikenalnya.
Harry mengerling Ron. Mulutnya masih terbuka dalam jerit tanpa suara,
tetapi matanya tak lagi terbeliak. ,
"Kau tak apa-apa?"
Ron memandang lurus ke depan, tak bisa bicara.
Mereka menerobos belukar, Fang melolong keras di tempat duduk belakang,
dan Harry melihat kaca spion melipat menutup ketika mereka melewati pohon
ek besar. Setelah sepuluh menit perjalanan yang bising dan penuh guncangan,
pohon-pohon mulai jarang, dan Harry bisa melihat petak-petak langit lagi.
Mobil berhenti begitu mendadak, sehingga mereka nyaris terlempar ke kaca
depan. Mereka sudah tiba di tepi hutan. Fang melemparkan diri ke jendela
saking cemasnya ingin segera keluar, dan ketika Harry membuka pintu dia
melesat melewati pepohonan, kembali ke pondok Hagrid, ekornya di antara
dua kaki belakangnya. Harry juga keluar dan setelah kira-kira satu menit, Ron
kelihatannya sudah bisa merasakan kaki-_ nya, dan dia ikut keluar. Leher Ron
masih kaku, dan dia masih terus memandang ke depan. Harry mengelus mobil
dengan penuh terima kasih ketika mobil itu berbalik ke dalam hutan dan
menghilang dari pandangan.
Harry kembali ke pondok Hagrid untuk mengambil Jubah Gaib-nya. Fang
gemetar di bawah selimut di dalam keranjangnya. Ketika Harry keluar lagi, Ron
sedang muntah- muntah di kebun labu.
"Ikuti labah-labah/' kata Ron lemas, menyeka mulutnya dengan lengan
jubahnya. "Aku tak akan pernah memaafkan Hagrid. Kita beruntung masih
hidup."
"Pasti dia mengira Aragog tidak akan melukai teman- temannya," kata Harry.
"Itulah masalah Hagrid!" kata Ron, memukul-mukul dinding pondok. "Dia
selalu beranggapan monster tidak seburuk penampilannya, dan lihat saja
akibatnya, sekarang dia di mana! Di sel di Azkaban!" Ron gemetar tak
terkendali sekarang. "Apa gunanya mengirim kita ke hutan? Apa yang kita
temukan, aku mau tahu?" *
"Bahwa Hagrid tidak pernah membuka Kamar Rahasia," kata Harry,
menyelubungkan Jubah Gaib ke tubuh Ron dan memapahnya agar dia bisa
jalan. "Dia tak bersalah."
Ron mendengus keras. Jelas, menurut pendapatnya, menetaskan Aragog di
dalam lemari tidak termasuk kategori tak bersalah.
--------------------------------------- 162
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ketika kastil sudah semakin dekat, Harry menarik jubahnya untuk
memastikan kaki mereka tersembunyi, kemudian mendorong pintu depan yang
berderit. Hati-hati mereka menyeberangi Aula Depan, menaiki tangga pualam,
menahan napas ketika melewati koridor-koridor yang dipatroli penjaga-
penjaga yang waspada. Akhirnya mereka tiba di ruang rekreasi Gryffindor yang
aman. Api di perapian telah berubah menjadi abu berpendar. Mereka melepas
jubah dan menaiki tangga melingkar menuju ke kamar.
Ron menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa bersusah- susah berganti
pakaian. Tetapi Harry tidak begitu mengantuk. Dia duduk di pinggir tempat
tidurnya, berpikir keras tentang semua yang dikatakan Aragog.
Makhluk yang bersembunyi di suatu tempat di kastil, pikirnya,
kedengarannya sejenis monster Voldemortbahkan monster-monster lain tidak
mau menyebut namanya. Tetapi dia dan Ron tidak lebih tahu makhluk apa itu,
atau bagaimana dia membuat korban-korbannya Membatu. Bahkan Hagrid pun
tidak tahu apa yang ada di dalam Kamar Rahasia.
Harry melempar kakinya ke atas tempat tidur dan bersandar ke bantalnya,
menatap bulan yang mengintipnya lewat jendela menara.
Dia tak tahu apa lagi yang bisa mereka lakukan. Mereka telah terbentur jalan
buntu di mana-mana. Riddle telah menangkap orang yang salah, pewaris
Slytherin berhasil lolos, dan tak seorang pun tahu apakah orang yang sama,
atau orang lain, yang telah membuka Kamar Rahasia kali ini. Tak ada lagi orang
lain yang bisa ditanyai. Harry berbaring, masih memikirkan apa yang dikatakan
Aragog.
Dia sudah mulai mengantuk, ketika apa yang tampaknya merupakan harapan
terakhir mereka terlintas di benaknya dan dia mendadak duduk tegak.
"Ron," desisnya dalam gelap. "Ron!"
Ron terbangun sambil mendengking seperti Fang, memandang liar ke
sekelilingnya, dan menatap Harry.
"Ronanak perempuan yang mati itu. Aragog bilang dia ditemukan di toilet,"
kata Harry, mengabaikan dengkur Neville dari sudut. "Bagaimana kalau dia
tidak pernah meninggalkan toilet? Bagaimana kalau dia masih di sana?"
Ron menggosok matanya, mengernyit dalam cahaya bulan. Dan kemudian dia
paham.
"Maksudmu kan bukanoh, Myrtle Merana?"
16. Kamar Rahasia
SUDAH puluhan kali kita berada di dalam toilet itu, dan jaraknya cuma tiga
bilik dari kita," kata Ron getir waktu sarapan keesokan harinya, "dan kita
mestinya bisa menanyainya, dan sekarang..."
--------------------------------------- 163
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mencari labah-labah sudah susah. Menghilang cukup lama dari pengawasan
guru supaya bisa masuk ke toilet anak perempuan, toilet anak perempuan yang
letaknya persis di sebelah tempat serangan pertama terjadi, akan nyaris tak
mungkin.
Tetapi sesuatu terjadi dalam jam pelajaran pertama mereka, Transfigurasi,
yang membuat Kamar Rahasia terlupakan untuk pertama kalinya dalam
beberapa minggu terakhir ini. Sepuluh menit setelah pelajaran dimulai,
Profesor McGonagall memberitahu mereka ujian akan dimulai pada tanggal satu
Juni, seminggu lagi.
"Ujian?" lolong Seamus Finnigan. "Kami masih akan ujian?" Terdengar ledakan
keras di belakang Harry ketika tongkat Neville Longbottom tergelincir,
melenyapkan salah satu kaki mejanya. Profesor McGonagall mengembalikan
keadaan meja itu dengan lambaian tongkatnya sendiri, lalu berpaling,
mengernyit, kepada Seamus.
"Tujuan utama sekolah ini tetap dibuka pada saat seperti ini adalah agar
kalian bisa menerima pendidikan," katanya tegas. "Ujian, karena itu, akan
berlangsung seperti biasa, dan aku percaya kalian semua sudah belajar dengan
tekun."
Belajar dengan tekun! Tak pernah terpikir oleh Harry akan ada ujian pada
saat suasana kastil seperti ini. Terdengar banyak gumam memberontak di
seluruh ruangan, yang membuat Profesor McGonagall mengernyit semakin
galak.
"Instruksi Profesor Dumbledore adalah menjaga agar sekolah berlangsung
senormal mungkin," katanya. "Dan itu, tak perlu kutunjukkan, berarti mencari
tahu berapa banyak yang sudah kalian pelajari tahun ini."
Harry menunduk memandang sepasang kelinci putih yang seharusnya diubah
menjadi sandal. Apa yang sudah dipelajarinya tahun ini? Rasanya dia tak bisa
memikirkan sesuatu yang bisa berguna dalam ujian.
Tampang Ron seolah dia baru saja diberitahu dirinya harus tinggal seumur
hidup di Hutan Terlarang. "Bisakah kaubayangkan aku ujian dengan ini?" dia
bertanya kepada Harry, mengangkat tongkatnya, yang baru saja mulai bersuit
keras.
Tiga hari sebelum ujian hari pertama, Profesor McGonagall menyampaikan
pengumuman lain sewaktu sarapan.
"Ada berita baik," katanya, dan Aula Besar, alih-alih menjadi sunyi, malah
meledak ribut sekali.
"Dumbledore akan kembali!" beberapa anak berteriak senang.
"Pewaris Slytherin sudah berhasil ditangkap!" pekik seorang anak perempuan
di meja Ravenclaw.
"Pertandingan Quidditch akan diadakan lagi!" teriak Wood penuh semangat.
Ketika hiruk-pikuk sudah reda, Profesor McGonagall berkata, "Profesor
Sprout telah memberitahuku bahwa Mandrake-mandrake sudah siap dipotong,
akhirnya. Malam ini, kita akan bisa menghidupkan kembali anak-anak yang
sudah dibuat Membatu. Tak perlu kuingatkan kepada kalian bahwa salah satu
dari mereka mungkin bisa memberitahu kita siapa, atau apa, yang menyerang
--------------------------------------- 164
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
mereka. Aku berharap tahun mengerikan ini akan berakhir dengan kita
menangkap si pelaku."
Anak-anak bersorak riuh-rendah. Harry memandang ke meja Slytherin dan
sama sekali tidak heran melihat Draco Malfoy tidak ikut bersorak. Tetapi Ron
kelihatan lebih riang daripada beberapa hari belakangan ini.
"Kalau begitu, kita tak perlu lagi meria nyai MyrlM" katanya kepada Harry.
"Hermione mungkin punya semua jawabannya kalau mereka
membangunkannya! Hati-hati saja, dia akan sewot sekali kalau tahu tiga hari
lagi kita ujian. Dia belum belajar. Mungkin baginya lebih baik jika dia dibiarkan
Membatu sampai ujian selesai."
Saat itu Ginny Weasley datang dan duduk di sebelah Ron. Dia kelihatan
tegang dan gugup, dan Harry memperhatikan tangannya saling remas di atas
pangkuannya.
"Ada apa?" tanya Ron, mengambil bubur lagi.
Ginny tidak mengatakan apa-apa, tetapi memandang ke sekeliling meja
Gryffindor. Wajahnya menampakkan ketakutan yang mengingatkan Harry akan
seseorang, meskipun dia tak bisa ingat siapa.
"Bilang saja," kata Ron, memandang adiknya.
Harry mendadak sadar Ginny seperti siapa. Dia mengayun- ayun ke depan
dan ke belakang sedikit di kursinya, persis seperti Dobby ketika akan
menyampaikan informasi terlarang.
"Aku harus memberitahu kalian sesuatu," Ginny komat- kamit, berhati-hati
agar tidak memandang Harry.
"Apa itu?" tanya Harry.
Ginny kelihatan seakan tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. "Apa?"-
tanya Ron.
Ginny membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar. Harry
mencondongkan tubuh ke depan dan berkata pelan, sehingga hanya Ginny dan
Ron yang bisa mendengarnya.
"Apakah sesuatu tentang Kamar Rahasia? Apakah kau melihat sesuatu? Orang
yang bersikap aneh?"
Ginny menarik napas dalam-dalam dan tepat saat itu, Percy Weasley
muncul, kelihatan lelah dan pucat.
"Kalau kau sudah selesai sarapan, aku akan duduk di situ, Ginny. Aku lapar
sekali. Aku baru saja bebas tugas patroli."
Ginny melompat seakan kursinya disetrum listrik, sekilas melempar pandang
ketakutan kepada Percy, lalu lari pergi. Percy duduk dan menyambar cangkir
dari tengah meja.
"Percy!" tegur Ron marah. "Dia baru saja mau memberitahu kami sesuatu
yang penting!"
Baru setengah jalan meneguk tehnya, Percy tersedak.
"Soal apa?" tanyanya, batuk-batuk.
"Aku bertanya kalau-kalau dia melihat sesuatu yang aneh, dan dia baru akan
berkata..."
"Ohituitu tak ada hubungannya dengan Kamar Rahasia," kata Percy
segera.
--------------------------------------- 165
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Bagaimana kau tahu?" tanya Ron, alisnya terangkat.
"Yah, eh, kalau kau mau tahu, Ginny, eh, berpapasan denganku kemarin dulu
waktu akuyah, tak usah kukatakan deh. Yang jelas, dia melihatku melakukan
sesuatu dan aku, um, aku memintanya agar tidak menceritakannya kepada
orang lain. Kukira dia akan menepati janjinya. Bukan apa-apa sebetulnya,
hanya saja aku lebih suka..."
Belum pernah Harry melihat Percy salah tingkah seperti itu.
"Apa yang kaulakukan, Percy?" tanya Ron, nyengir. "Ayo, beritahu kami, kami
tidak akan tertawa."
Percy tidak ikut tersenyum.
"Tolong ambilkan roti kadet, Harry. Aku lapar sekali."
Harry tahu seluruh misteri mungkin bisa dipecahkan besok tanpa bantuan
mereka, tetapi dia tak akan melewatkan kesempatan berbicara dengan Myrtle
dan betapa senangnya dia ketika ternyata kesempatan itu datang, menjelang
tengah hari, ketika mereka sedang diantar ke kelas Sejarah Sihir oleh Gilderoy
Lockhart.
Lockhart yang sudah sering meyakinkan mereka bahwa semua bahaya telah
lewat, tapi ternyata dia keliru, sekarang yakin sepenuhnya bahwa tak ada
gunanya mengantar mereka melewati koridor-koridor. Rambutnya tidak selicin
biasanya. Rupanya dia berjaga hampir semalaman, berpatroli di lantai empat.
"Catat kata-kataku," katanya, mengantar mereka membelok di sudut, "kata-
kata pertama yang akan keluar dari mulut anak-anak yang Membatu itu
pastilah, 'Hagrid-lah pelakunya.' Terus terang saja, aku heran Profesor
McGonagall menganggap semua tindakan pengamanan ini perlu."
"Saya setuju, Sir," kata Harry, membuat Ron menjatuhkan buku-bukunya
saking kagetnya.
"Terima kasih, Harry," kata Lockhart anggun, sementara mereka menunggu
deretan panjang anak-anak Hufflepuff lewat. "Maksudku, kami para guru sudah
punya cukup banyak tugas. Dan sekarang kami masih harus mengantar murid-
murid dari kelas ke kelas, dan berjaga sepanjang malam..."
"Betul," kata Ron, yang sudah paham. "Kenapa Anda tidak meninggalkan kami
di sini saja, Sir, kan cuma tinggal lewat satu koridor lagi."
"Kau tahu, Weasley, kurasa sebaiknya begitu," kata Lockhart. "Aku benar-
benar harus pergi dan menyiapkan pelajaran untuk kelasku yang berikut."
Dan Lockhart bergegas pergi.
"Menyiapkan pelajaran," Ron mencemooh di belakangnya.
"Paling-paling pergi untuk menggulung rambutnya."
Mereka membiarkan anak-anak Gryffindor lain ber-jalan mendahului mereka,
lalu menyelinap ke lorong samping dan bergegas ke toilet Myrtle Merana.
Tetapi ketika mereka sedang saling memberi selamat untuk rencana brilian
mereka...
"Potter! Weasley! Sedang apa kalian?"
Profesor McGonagall-lah yang menegur mereka, dan bibirnya membentuk
garis yang supertipis.
"Kami maukami mau...," Ron tergagap, "kami mau pergi melihat..."
--------------------------------------- 166
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Hermione," sambung Harry. Baik Ron maupun Profesor McGonagall
menatapnya.
"Kami sudah lama tidak melihatnya, Profesor," Harry melanjutkan buru-buru,
menginjak kaki Ron, "dan kami pikir kami akan menyelinap ke rumah sakit, dan
memberitahu dia Mandrake-nya sudah hampir siap dan, eh, supaya dia tak usah
cemas."
Profesor McGonagall masih menatapnya, dan sejenak Harry mengira dia akan
meledak marah, tetapi ketika dia berbicara, suaranya parau aneh.
"Tentu saja," katanya, dan Harry, terheran-heran, melihat air mata
berkilauan menggenangi matanya yang menyerupai manik-manik. "Tentu saja,
aku sadar semua ini paling berat untuk teman-teman mereka yang sudah... aku
mengerti. Ya, Potter, tentu saja kalian boleh menengok Miss Granger. Aku akan
memberi tahu Profesor Binns ke mana kalian pergi. Katakan kepada Madam
Pomfrey aku sudah memberikan izinku."
Harry dan Ron pergi, nyaris tak mempercayai bahwa mereka lolos dari
detensi. Ketika berbelok di sudut, sayup- sayup mereka mendengar Profesor
McGonagall membuang ingus.
"Itu," kata Ron sungguh-sungguh, "adalah cerita paling bagus yang pernah
kaubuat."
Mereka tak punya pilihan sekarang selain pergi ke rumah sakit, dan
memberitahu Madam Pomfrey bahwa mereka sudah mendapat izin Profesor
McGonagall untuk menengok Hermione.
Madam Pomfrey mengizinkan mereka masuk, tetapi dengan enggan.
"Tak ada gunanya bicara dengan orang yang Membatu," katanya, dan mereka
harus mengakui dia benar, ketika mereka sudah duduk di sebelah tempat tidur
Hermione. Jelas Hermione sama sekali tidak sadar dia kedatangan tamu, dan
memberitahunya agar jangan cemas sama saja dengan bicara pada lemari di
sebelah tempat tidurnya.
"Kira-kira dia melihat penyerangnya tidak, ya?" kata Ron, memandang sedih
wajah Hermione yang kaku. "Karena kalau dia mengendap-endap dari belakang
mereka, tak seorang pun akan tahu..."
Tetapi Harry tidak memandang wajah Hermione. Dia lebih tertarik pada
tangannya. Tangan itu terkepal, tergeletak di atas selimutnya, dan ketika
membungkuk mendekat, Harry melihat secarik kertas teremas dalam
genggamannya.
Setelah yakin Madam Pomfrey tak ada di dekat-dekat situ, dia menunjukkan
kertas itu kepada Ron.
"Coba keluarkan," bisik Ron, menggeser kursinya supaya Harry terhalang dari
pandangan Madam Pomfrey.
Bukan pekerjaan gampang. Tangan Hermione mencengkeram kertas itu erat
sekali, sehingga Harry yakin kertas itu akan robek. Sementara Ron berjaga, dia
menarik dan memilin, dan akhirnya, setelah sepuluh menit yang tegang,
kertasnya lepas.
Ternyata itu halaman yang dirobek dari buku perpustakaan yang sudah
sangat tua. Harry meratakannya dengan bergairah dan Ron membungkuk lebih
dekat untuk ikut membacanya.
--------------------------------------- 167
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dari banyak binatang dan monster menyeramkan yang menjelajahi negeri
kita, tak ada yang lebih menakjubkan ataupun lebih mematikan daripada
Basilisk, yang juga dikenal sebagai Raja Ular. Ular ini, yang bisa mencapai
ukuran raksasa, dan hidup sampai ratusan tahun, ditetaskan dari telur ayam,
yang dierami oleh katak. Cara Basilisk membunuh sangat luar biasa, karena
selam taringnya yang mematikan dan berbisa, Basilisk mempunyai pandangan
maut, dan semua yang terkena sorot matanya akan langsung mati. Labah-labah
melarikan diri dari Basilisk, karena Basilisk adalah musuhnya yang paling ganas,
dan Basilisk sendiri hanya menghindari kokok ayam jantan, yang bisa berakibat
fatal untuknya.
Dan di bawahnya tertulis satu kata, dalam tulisan tangan yang dikenali Harry
sebagai tulisan Hermione. Pipa.
Harry merasa seakan ada orang yang menyalakan lampu dalam otaknya.
"Ron," katanya menahan napas, "ini dia. Ini jawabannya. Monster di dalam
Kamar Rahasia itu Basiliskular raksasa! Itulah sebabnya aku selama ini
mendengar suara itu di mana- mana sementara tak ada satu orang lain pun
yang mendengarnya. Itu karena aku mengerti Parseltongue..."
Harry memandang tempat-tempat tidur di sekitarnya.
"Basilisk membunuh orang dengan cara memandangnya. Tetapi tak seorang
pun meninggalkarena tak seorang pun langsung menatap matanya. Colin
melihatnya lewat kameranya. Si Basilisk membakar seluruh filmnya, tetapi
Colin hanya Membatu. Justin... Justin pastilah melihat Basilisk itu menembus
Nick si Kepala-Nyaris-Putus! Nick yang menerima sorot matanya sepenuhnya,
tetapi dia tidak bisa mati lagi... dan Hermione dan Prefek Ravenclaw itu
ditemukan dengan sebuah cermin di sebelah mereka. Hermione baru saja
menyadari monsternya adalah Basilisk. Aku berani taruhan apa saja, dia
memperingatkan orang pertama yang dijumpainya agar melihat-lihat semua
sudut dengan cermin dulu! Dan gadis itu mengeluarkan cerminnyadan..."
Mulut Ron ternganga.
"Dan Mrs Norris?" tanyanya tak sabar.
Harry berpikir keras, membayangkan pemandangan pada malam Hallowe'en.
"Air...," katanya lambat-lambat, "air yang meluap dari toilet Myrtle Merana.
Mrs Norris pastilah cuma melihat - bayangannya..."
Harry membaca lagi kertas di tangannya dengan bersemangat. Semakin
dibaca, tulisan itu semakin masuk akal.
"Kokok ayam jantan bisa berakibat fatal untuknya!" dia membaca keras-
keras. "Ayam-ayam jantan Hagrid dibunuhi! Si pewaris Slytherin tidak
menginginkan ada ayam jantan di sekitar kastil begitu Kamar Rahasia sudah
dibuka! Labah-labah melarikan diri darinya! Semuanya cocok!"
"Tetapi bagaimana caranya si Basilisk berkeliaran di kastil?" tanya Ron. "Ular
besar menakutkan... Pasti ada yang melihat..."
Harry menunjuk kata yang telah ditulis Hermione di bagian bawah halaman
itu.
"Pipa," katanya. "Pipa... Ron, ular itu menggunakan pipa air. Aku selama ini
mendengar suara-suara itu di dalam dinding..."
Ron mendadak mencengkeram lengan Harry.
--------------------------------------- 168
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Jalan masuk ke Kamar Rahasia!" katanya serak.
"Bagaimana kalau jalan masuknya toilet? Bagaimana kalau jalan masuknya
dalam..."
"...toilet Myrtle Merana," kata Harry.
Mereka dipenuhi ketegangan, nyaris tak percaya.
"Ini berarti," kata Harry, "aku bukan satu-satunya Parselmouth di sekolah.
Pewaris Slytherin juga. Begitulah cara mereka mengontrol si Basilisk."
"Apa yang akan kita lakukan?" kata Ron, yang matanya berkilat-kilat. "Kita
langsung ke McGonagall?"
"Kita ke ruang guru saja," kata Harry, melompat bangun.
"Dia akan ke sana sepuluh menit lagi, sudah hampir istirahat." Mereka berlari
turun. Tak ingin ditemukan berlama-lama di koridor yang lain, mereka langsung
ke ruang guru yang kosong. Ruang itu besar, berdinding papan, penuh dengan
kursi-kursi kayu gelap. Harry dan Ron berjalan mondar- mandir, terlalu tegang
untuk duduk.
Tetapi bel istirahat tak pernah berdering.
Sebagai gantinya, menggema di seluruh koridor, terdengar suara McGonagall,
dikeraskan secara sihir.
"Semua murid diminta kembali ke asrama masing-masing. Semua guru
diminta kembali ke ruang guru. Segera."
Harry berpaling, memandang Ron. "Bukan karena ada serangan lagi, kan?
Tidak seka-rang?
"Apa yang akan kita lakukan?" kata Ron, ketakutan. Kembali ke asrama?"
"Tidak," kata Harry, memandang berkeliling. Ada lemari pakaian jelek di
sebelah kirinya, penuh berisi mantel-mantel para guru. "Di dalam sini. Kita
dengar ada apa. Kemudian kita bisa memberitahu mereka apa yang telah kita
ketahui."
Mereka bersembunyi di dalam lemari, mendengar gemuruh ratusan orang
bergerak di lantai atas, dan pintu ruang guru berdebam terbuka. Dari antara
lipatan-lipatan mantel yang berbau lembap, mereka melihat guru-guru
memasuki ruangan. Beberapa di antara mereka tampak bingung, yang lain
sangat ketakutan. Kemudian Profesor McGonagall tiba.
"Sudah terjadi," katanya kepada ruang guru yang sunyi.
"Ada anak yang dibawa oleh si monster. Ke dalam Kamar Rahasia."
Profesor Flitwick memekik. Profesor Sprout menekap mulutnya. Snape
mencengkeram punggung kursi erat-erat, dan bertanya, "Bagaimana kau bisa
yakin?"
"Pewaris Slytherin," kata Profesor McGonagall, yang pucat pasi,
"meninggalkan pesan lain. Tepat di bawah pesan pertama. Kerangkanya akan
tergeletak di Kamar Rahasia selamanya."
Air mata Profesor Flitwick bercucuran.
"Siapa?" tanya Madam Hooch, yang karena lututnya lemas, sudah terenyak ke
kursi. "Murid yang mana?"
"Ginny Weasley," kata Profesor McGonagall.
Harry merasakan Ron merosot tanpa suara ke dasar lemari.
--------------------------------------- 169
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kita terpaksa harus memulangkan semua murid besok pagi," kata Profesor
McGonagall.. "Habislah riwayat Hogwarts. Dumbledore selalu berkata..."
Pintu ruang guru terbuka lagi. Sesaat, Harry yakin Dumbledore yang datang.
Tetapi ternyata Lockhart, dan wajahnya berseri-seri.
"Maaf, maafketiduranaku sudah ketinggalan apa nih?" Tampaknya dia
tidak menyadari bahwa guru-guru yang lain memandangnya dengan tatapan
yang mirip sekali kebencian.
Snape melangkah maju.
"Orang yang tepat," katanya. "Orang yang sangat tepat. Ada anak perempuan
yang baru saja ditangkap monster, Lockhart. Dibawa ke Kamar Rahasia, lagi.
Saatmu telah tiba akhirnya."
Lockhart memucat.
"Betul, Gilderoy," Profesor Sprout ikut bicara. "Bukankah kau baru bilang
semalam bahwa kau sudah lama tahu di mana jalan masuk ke Kamar Rahasia?"
"Akuyah, aku..., " ujar Lockhart gelagapan.
"Ya, bukankah kau bilang padaku kau yakin kau tahu apa yang ada dalam
kamar itu?" ujar Profesor Flitwick.
"M-masa? Aku tidak ingat..."
"Aku jelas ingat betul kau bilang kau menyesal tidak menangani si monster
sebelum Hagrid ditangkap," kata Snape. "Bukankah kau bilang semua kejadian
ini ditangani dengan ceroboh dan bahwa kau seharusnya diberi kebebasan
penuh dari awal?"
Lockhart memandang bergantian kolega-koleganya yang berwajah membatu.
"Aku... aku benar-benar belum pernah... Kalian mungkin salah paham..."
"Kami menyerahkannya kepadamu, kalau begitu, Gilderoy," kata Profesor
McGonagall. "Malam ini waktu yang ideal sekali untuk bertindak. Kami akan
memastikan semua orang tidak mengganggumu. Kau akan bisa menangani si
monster sendirian. Kebebasan penuh akhirnya kaudapatkan."
Lockhart memandang putus asa ke sekeliling ruangan, tetapi tak seorang pun
menolongnya. Dia sama sekali tak kelihatan tampan lagi. Bibirnya gemetar, dan
dengan absennya senyum pamer-giginya yang biasa, dagunya kelihatan lemah
dan ditumbuhi jenggot serabutan.
"B-baiklah," katanya. "A-akuaku akan ke kantorku, b- bersiap-siap."
Dan dia meninggalkan ruangan.
"Baik," kata Profesor McGonagall, yang lubang hidungnya mekar, "kita bebas
dari gangguannya. Kepala-kepala asrama harus memberitahu murid-murid
mereka apa yang telah terjadi. Sampaikan kepada mereka Hogwarts Express
akan membawa mereka pulang besok pagi-pagi. Guru-guru yang lain, tolong cek
dan pastikan tak ada anak yang masih tertinggal di luar asrama mereka."
Para guru bangkit, dan keluar satu demi satu.
Hari itu mungkin hari terburuk dalam kehidupan Harry. Dia, Ron, Fred, dan
George duduk bersama di sudut di ruang rekreasi Gryffindor, tak sanggup
berkata apa-apa. Percy tidak ada di sana. Dia pergi mengirim burung hantu
kepada Mr dan Mrs Weasley, kemudian mengurung diri di kamarnya.
--------------------------------------- 170
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Belum pernah sore hari berjalan selambat itu, juga belum pernah Menara
Gryffindor sepenuh itu, tetapi begitu sunyi. Menjelang terbenamnya matahari,
Fred dan George pergi tidur, tak sanggup lagi terus duduk di sana.
"Ginny tahu sesuatu, Harry," kata Ron, bicara untuk pertama kalinya sejak
mereka memasuki lemari pakaian di ruang guru. "Itulah sebabnya dia
ditangkap. Sama sekali bukan soal sepele tentang Percy. Dia tahu sesuatu
tentang Kamar Rahasia. Itulah sebabnya dia di...," Ron mengusap matanya
dengan kalut. "Maksudku, dia berdarah-murni. Tak mungkin ada alasan lain." ,
Harry bisa melihat matahari yang sedang terbenam, merah darah, di bawah
batas cakrawala. Belum pernah dia merasa sesedih dan seputus asa ini. Kalau
saja ada sesuatu* yang bisa dilakukannya. Apa saja.
"Harry," kata Ron, "menurutmu apakah ada sedikit saja kemungkinan dia
belumkau tahu..."
Harry tak tahu harus mengatakan apa. Dia tak bisa membayangkan
kemungkinan Ginny masih hidup.
"Tahu tidak?" kata Ron. "Kurasa kita harus menemui Lockhart. Beritahu dia
apa yang kita ketahui. Dia akan mencoba memasuki Kamar Rahasia. Kita bisa
memberitahu dia di mana kamar itu menurut dugaan kita, dan memberitahu
dia Basilisk-lah yang ada di dalamnya."
Karena Harry tak bisa memikirkan hal lain yang bisa dilakukan, dan karena
dia ingin melakukan sesuatu, dia setuju.
Anak-anak Gryffindor di sekeliling mereka begitu sedih dan kasihan kepada
Weasley bersaudara, sehingga tak seorang pun dari mereka berusaha mencegah
ketika mereka bangkit, menyeberangi ruangan, dan keluar lewat lubang
lukisan.
Kegelapan sedang turun ketika mereka berjalan menuju kantor Lockhart.
Kedengarannya sedang banyak kesibukan berlangsung di dalam. Mereka bisa
mendengar bunyi bergeser, gedebak-gedebuk, dan langkah-langkah kaki
bergegas.
Harry mengetuk pintu dan mendadak di dalam sunyi. Kemudian pintu terkuak
sedikit sekali dan mereka melihat sebelah mata Lockhart mengintip.
"Oh... Mr Potter... Mr Weasley... katanya, menguak pintu sedikit lebih
lebar. "Aku sedang agak sibuk, kalau kalian bisa cepat..."
"Profesor, kami punya informasi untuk Anda," kata Harry.
"Kami rasa ini akan membantu Anda."
"Ehyahini tidak terlalu...," Sisi wajah Lockhart yang tampak oleh mereka
kelihatan sangat salah tingkah.
"Maksudkuyahbaiklah."
Dia membuka pintu dan mereka masuk.
Kantornya sudah hampir kosong. Dua koper besar terbuka di lantai. Jubah-
jubahhijau-kumala, ungu, biru tuadilipat buru-buru dan ditumpuk dalam
salah satu koper. Buku-buku campur aduk berantakan di koper satunya. Foto-
foto yang sebelumnya memenuhi dinding kini dijejalkan dalam kardus di atas
meja. "Anda mau pergi?" tanya Harry.
--------------------------------------- 171
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Eh, yah, ya," kata Lockhart sambil menarik lepas poster dirinya yang sebesar
badannya dari balik pintu, dan mulai menggulungnya. "Panggilan penting... tak
bisa dihindari... harus pergi..."
"Bagaimana dengan adik saya?" tanya Ron tegun.
"Yah, soal itusayang sekali," kata Lockhart, menghindari tatapan mereka
ketika dia menarik laci dan mulai memindahkan isinya ke dalam tas. "Tak ada
yang lebih menyesal dariku..."
"Anda guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam!" kata Harry.
"Anda tak bisa pergi sekarang! Tidak sementara Ilmu Hitam sedang
berlangsung seru di sini!"
"Yah, aku harus bilang... waktu aku menerima pekerjaan ini...," Lockhart
bergumam, sekarang menumpuk kaus kaki di atas jubah-jubahnya, "tak disebut-
sebut di rincian tugasku... tak kukira..."
"Maksud Anda, Anda melarikan diril" tanya Harry tak percaya. "Setelah semua
yang Anda tulis dalam buku Anda?"
"Buku bisa menyesatkan!" kata Lockhart mengelak.
"Anda yang menulis semua buku itu!" teriak Harry.
"Nak," kata Lockhart, menegakkan diri dan mengernyit kepada Harry.
"Gunakan akal sehatmu. Buku-bukuku tidak akan selaris itu kalau orang tidak
beranggapan aku telah mengalami peristiwa-peristiwa itu. Tak ada yang mau
membaca tentang penyihir pria buruk dan tua dari Armenia, meskipun dia
memang menyelamatkan sebuah desa dari ancaman manusia serigala. Tampang
jeleknya tidak akan menarik dipajang di sampul depan. Cara berpakaiannya
sama sekali tak berselera. Dan penyihir wanita yang mengusir Banshee Bandon
berbibir sumbing. Maksudku, mana menarik sih..."
"Jadi Anda yang menerima pujian untuk begitu banyak hal yang dilakukan
orang-orang lain?" kata Harry tak percaya.
"Harry, Harry," kata Lockhart, menggelengkan kepala tak sabar, "tidak
sesederhana itu. Perlu kerja keras. Aku harus melacak orang-orang ini.
Menanyai mereka, bagaimana tepatnya mereka berhasil melakukan apa yang
mereka lakukan. Kemudian aku harus memantrai mereka dengan Jampi
Memori, supaya mereka tak ingat lagi pernah melakukan itu. Kalau ada satu hal
yang kubanggakan, Jampi Memori-ku itulah. Tidak gampang, Harry, perlu
banyak kerja keras. Tidak sekadar menandatangani buku dan ber-foto untuk
publisitas, tahu. Kalau ingin terkenal, kau harus siap kerja keras lama."
Dia menutup keras kedua kopernya dan menguncinya.
"Coba kulihat," katanya. "Kurasa sudah semuanya. Ya. Hanya tinggal satu
hal."
Dia menarik keluar tongkatnya dan berbalik menghadapi mereka.
"Maaf sekali, anak-anak, tetapi aku harus memantrai kalian dengan Jampi
Memori sekarang. Tak bisa kubiarkan kalian menyebarkan rahasiaku ke mana-
mana. Nanti aku tak bisa jual buku lagi..."
Harry mencabut tongkatnya tepat waktu. Lockhart baru mengangkat
tongkatnya, ketika Harry berseru, "Expelliarmusl" Lockhart terpental ke
belakang, jatuh di atas kopernya. Tongkatnya terbang tinggi ke udara. Ron
menangkapnya dan melemparnya ke luar jendela.
--------------------------------------- 172
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Mestinya Profesor Snape jangan diizinkan mengajari kami mantra itu/7 kata
Harry berang, menendang koper Lockhart ke pinggir. Lockhart memandangnya,
sekali lagi lemas. Harry masih mengacungkan tongkatnya kepadanya.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Lockhart lemah. "Aku tak tahu di mana
Kamar Rahasia itu. Tak ada yang bisa kulakukan."
"Anda beruntung," kata Harry, memaksa Lockhart berdiri dengan todongan
tongkat. "Kami rasa kami tahu di mana kamar itu. Dan apa yang ada di
dalamnya. Ayo berangkat."
Mereka menggiring Lockhart keluar dari kantornya dan turun melewati
tangga terdekat, menyusuri koridor gelap yang di dindingnya terpampang
pesan-pesan berkilat, menuju pintu toilet Myrtle Merana.
Mereka menyuruh Lockhart masuk lebih dulu. Harry senang melihatnya
gemetar.
Myrtle Merana sedang duduk di tangki air di bilik paling ujung.
"Oh, kau," katanya ketika melihat Harry. "Kau mau apa kali ini?"
"Mau tanya padamu bagaimana kau meninggal," kata Harry.
Seluruh penampilan Myrtle langsung berubah. Seakan dia amat tersanjung
ditanyai seperti itu.
"Ooooh> sungguh mengerikan," katanya senang.
"Terjadinya di sini ini. Aku meninggal dalam bilik ini. Aku masih ingat benar.
Aku sedang bersembunyi karena Olive Hornby mengolok-olok kacamataku.
Pintunya terkunci dan aku sedang menangis. Dan kemudian kudengar ada yang
masuk. Dia mengatakan sesuatu yang aneh. Bahasa lain, kupikir begitu. Tetapi
yang membuatku kaget, yang bicara anak laki- laki. Jadi kubuka pintu, untuk
menyuruhnya pergi dan menggunakan toiletnya sendiri, dan kemudian...'7
Myrtle seakan menggelembung penting, wajahnya bercahaya, "aku mati."
"Bagaimana?" tanya Harry.
"Entahlah," kata Myrtle dengan suara rendah. "Aku cuma ingat melihat
sepasang mata kuning besar. Seluruh tubuhku mendadak macet dan tiba-tiba
saja aku sudah melayang- layang..." Dia memandang Harry dengan pandangan
menerawang. "Dan kemudian aku kembali ke sini. Soalnya aku bertekad akan
menghantui Olive Hornby. Oh, dia menyesal sekali menertawakan kacamataku."
"Di mana tepatnya kau melihat mata itu?" tanya Harry.
"Di sekitar situ," kata Myrtle, menunjuk ke arah wastafel di depan biliknya.
Harry dan Ron bergegas ke wastafel itu. Lockhart berdiri jauh-jauh dari
mereka, wajahnya diliputi kengerian.
Kelihatannya seperti wastafel biasa. Mereka memeriksanya senti demi senti,
luar-dalam, termasuk pipa di bawahnya. Dan kemudian Harry melihatnya: ada
gambar ular kecil mungil digoreskan pada sisi salah satu keran tembaga.
"Keran itu tak pernah bisa dipakai," kata Myrtle ceria/
ketika Harry berusaha memutarnya.
"Harry," kata Ron, "katakan sesuatu. Dalam Parseltongue."
"Tapi...' Harry berpikir keras. Dia baru dua kali bicara Parseltongue, dan saat
itu dia berhadapan dengan ular yang sebenarnya. Dia berkonsentrasi menatap
ukiran kecil mungil itu, berusaha membayangkan itu ular yang sebenarnya.
"Buka," katanya.
--------------------------------------- 173
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dia memandang Ron, yang menggeleng.
"Bukan Parseltongue," katanya.
Dia kembali menatap ular itu, memaksa dirinya mempercayai ular itu hidup.
Jika Harry menggerakkan kepalanya, cahaya lilin membuat ular itu seakan
bergerak.
"Buka," katanya.
Hanya saja bukan kata itu yang didengarnya. Desis aneh meluncur dari
mulutnya dan segera saja keran itu berkilau- kilau mengeluarkan cahaya putih
menyilaukan dan mulai berputar. Detik berikutnya, wastafelnya mulai
bergerak. Malah wastafel itu menghilang, meninggalkan pipa besar yang
menganga terbuka, cukup besar bagi orang dewasa untuk meluncur ke
dalamnya.
Harry mendengar Ron terpekik tertahan dan dia mendongak lagi. Harry sudah
membulatkan tekad.
"Aku akan turun ke sana," katanya.
Dia tak bisa tidak pergi, tidak sekarang setelah mereka menemukan jalan
masuk ke Kamar Rahasia. Tidak ketika ada kemungkinan, bahkan yang paling
kecil, paling samar, paling liar sekalipun, bahwa Ginny masih hidup.
"Aku juga," kata Ron. Hening sejenak.
"Yah, kelihatannya kalian tidak memerlukan aku' kata Lockhart, senyumnya
yang biasa membayang. "Aku akan..." Tangannya menjangkau pegangan pintu,
tetapi baik Ron maupun Harry mengacungkan tongkat mereka ke arahnya.
"Anda boleh masuk duluan," gertak Ron.
Dengan wajah pucat dan tanpa tongkat, Lockhart mendekati lubang.
"Anak-anak," katanya, suaranya lemah, "anak-anak, apa gunanya?"
Harry menyodok punggung Lockhart dengan tongkatnya. Lockhart
memasukkan kaki ke dalam lubang.
"Kurasa tidak...," dia baru mau berkata, tetapi Ron mendorongnya, dan dia
meluncur lenyap dari pandangan. Harry segera mengikuti. Dia turun ke dalam
pipa, kemudian melepas pegangannya.
Rasanya seperti meluncur di luncuran gelap, licin, tak berujung. Dia bisa
melihat pipa-pipa yang bercabang ke segala arah, tetapi tak satu pun yang
sebesar pipa yang diluncurinya. Pipa itu berbelit dan berbelok, melandai curam
ke bawah, dan Harry tahu dia sedang terjatuh ke bawah sekolah jauh lebih
dalam dari ruang bawah tanah. Di belakangnya, dia bisa mendengar Ron,
berdebum pelan di belokan-belokan.
Dan kemudian, tepat ketika Harry mulai mencemaskan apa yang akan terjadi
kalau dia menghantam tanah, pipanya menjadi datar dan dia meluncur dari
ujungnya. Dengan bunyi gedebuk basah ia mendarat di lantai lembap
terowongan batu gelap. Terowongan itu cukup besar untuk berdiri di dalamnya.
Lockhart berdiri agak jauh di depannya, berlumur lendir dan sepucat hantu.
Harry minggir ketika Ron berdesing turun dari dalam pipa itu.
"Pasti kita berkilo-kilo meter di bawah sekolah," kata Harry, suaranya
bergaung di terowongan gelap itu.
"Di bawah danau, mungkin," kata Ron, menyipitkan mata, memandang ke
dinding gelap berlendir.
--------------------------------------- 174
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ketiganya berbalik untuk memandang kegelapan di depan mereka.
"Lumos!" gumam Harry kepada tongkatnya, dan tongkat itu menyala lagi.
"Ayo," dia mengajak Ron dan Lockhart, dan mereka pun berangkat, langkah-
langkah mereka berkecipak keras di lantai yang basah.
Terowongan itu amat gelap, sehingga mereka hanya bisa melihat jarak
sangat pendek di depan mereka. Bayang-bayang mereka di tembok yang basah
tampak mengerikan dalam cahaya tongkat.
"Ingat," Harry berkata pelan, ketika mereka berjalan maju hati-hati, "begitu
ada gerakan, langsung tutup mata rapat- rapat...."
Tetapi lorong itu sesunyi kuburan, dan bunyi mengejutkan yang pertama kali
mereka dengar adalah derak keras ketika Ron menginjak sesuatu yang ternyata
tengkorak tikus. Harry merendahkan tongkatnya untuk memeriksa lantai dan
melihat lantai itu dipenuhi tulang binatang-binatang kecil. Berusaha keras tidak
membayangkan bagaimana keadaan Ginny jika mereka menemukannya, Harry
memimpin, menikung di belokan gelap di terowongan itu.
"Harry, ada sesuatu di depan sana... kata Ron serak, mencengkeram bahu
Harry.
Mereka terpaku, memandang. Harry cuma bisa melihat garis sesuatu yang
sangat besar dan melengkung, tergeletak tepat di depan terowongan. Benda itu
tidak bergerak.
"Mungkin dia tidur," Harry mendesah, menoleh kepada dua rekannya. Tangan
Lockhart menutupi matanya rapat-rapat. Harry berpaling kembali untuk
memandang benda itu, jantungnya berdegup begitu kencang sampai sakit
rasanya.
Sangat perlahan, matanya menyipit serapat mungkin asal masih bisa melihat,
Harry mengendap-endap maju, tongkatnya terangkat tinggi.
Cahaya tongkat menimpa kulit ular raksasa, hijau terang, beracun,
tergeletak melingkar dalam keadaan kosong di lantai di depan terowongan.
Makhluk yang melepas kulit itu paling sedikit panjangnya enam meter.
"Astaga!" kata Ron lemas.
Mendadak ada gerakan di belakang mereka. Lutut Gilderoy Lockhart tak kuat
lagi menyangganya.
"Bangun," kata Ron tajam, mengacungkan tongkatnya ke arah Lockhart.
Lockhart bangkitkemudian dia menerjang Ron, membuatnya jatuh
terjengkang.
Harry melompat maju, tetapi terlambat. Lockhart sudah menegakkan diri,
tongkat Ron di tangannya dan senyum gigi- berkilau kembali terpampang di
wajahnya.
"Petualangan berakhir di sini, anak-anak!" katanya.
"Aku akan membawa sepotong kulit ini ke sekolah, memberitahu mereka aku
sudah tertambal menye tamatkan anak perempuan itu, dan kalian berdua
secara tragis menjadi gila melihat tubuh anak perempuan yang tercabik-cabik
itu. Ucapkan selamat tinggal pada ingatan kalian."
Dia mengangkat tongkat Ron yang ber-Spellotape tinggi di atas kepalanya
dan berteriak, "Obliviatel"
--------------------------------------- 175
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tongkat meledak dengan kekuatan bom kecil. Harry melindungi kepala
dengan kedua lengannya dan berlari, tergelincir gulungan kulit ular,
menghindar dari potongan- potongan besar langit-langit terowongan yang
bergemuruh runtuh. Saat berikutnya, dia berdiri sendirian, menatap dinding
kokoh karang yang rusak.
"Ron!" dia berteriak. "Kau tak apa-apa? Ron!"
"Aku di sini!" terdengar suara samar Ron dari balik dinding runtuhan karang.
"Aku baik-baik saja. Tapi si sinting ini tidak dia kena ledakan tongkat."
Terdengar bunyi "duk" dan jeritan keras "ow!" Kedengarannya Ron baru saja
menendang tulang kering Lockhart.
"Bagaimana sekarang?" suara Ron terdengar putus asa.
"Kita tidak bisa menembusnya. Perlu waktu lama sekali..." Harry mendongak
memandang langit-langit terowongan.
Retakan-retakan besar telah bermunculan. Dia belum pernah mencoba
memecahkan sesuatu sebesar karang-karang ini dengan sihir, dan sekarang
tampaknya bukan saat yang baik untuk mencobanya bagaimana kalau seluruh
terowongan malah runtuh?
Terdengar lagi bunyi "duk" dan "ow!" dari balik dinding karang. Mereka
membuang-buang waktu. Ginny sudah berjam-jam berada di Kamar Rahasia.
Harry tahu hanya ada satu hal yang bisa dilakukan.
"Tunggu di situ' teriaknya kepada Ron. "Jaga Lockhart. Aku akan jalan terus.
Kalau aku tidak kembali dalam waktu satu jam..."
Kesunyian yang menyusul begitu sarat arti.
"Akan kucoba menggeser beberapa karang ini/' kata Ron, yang
kedengarannya berusaha memantapkan suaranya.
"Supaya kau bisabisa lewat nanti. Dan, Harry..."
"Sampai nanti," kata Harry, berusaha menyuntikkan rasa percaya diri ke
dalam suaranya yang bergetar.
Dan dia berjalan maju sendirian, melewati kulit ular raksasa.
Segera saja bunyi samar-samar Ron yang berusaha keras menggeser karang
tak kedengaran lagi. Terowongan itu berbelok dan menikung berkali-kali.
Seluruh saraf di tubuh Harry menggelenyar tak nyaman. Dia ingin terowongan
berakhir, tetapi takut apa yang akan ditemukannya. Dan kemudian, akhirnya,
ketika dia merayap membelok di tikungan berikutnya, dia melihat dinding
kokoh di depannya. Di dinding itu terpahat dua ekor ular yang saling berbelit,
mata mereka dari zamrud besar berkilau.
Harry mendekat, kerongkongannya terasa sangat kering. Tak perlu
membayangkan ular batu ini hidup, karena mata mereka, aneh sekali, sudah
tampak hidup.
Harry bisa menebak apa yang harus dilakukannya. Dia berdeham, dan mata
zamrud itu kelihatannya berkedip.
"Buka," kata Harry, dalam desisan rendah.
Kedua ular itu memisahkan diri. Ketika dinding membelah terbuka, masing-
masing bagian menggeser licin lalu lenyap, dan Harry, gemetar dari kepala
sampai ke kaki, berjalan masuk.
--------------------------------------- 176
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
17. Pewaris Slytherin
HARRY berdiri di ujung kamar sangat panjang berpenerangan remang-
remang. Pilar-pilar batu berbelit dengan lebih banyak ular pahatan menjulang
tinggi, menyangga langit-langit yang lenyap dalam kegelapan, memantulkan
bayang-bayang gelap panjang menembus cahaya suram kehijauan yang
memenuhi tempat itu.
Dengan jantung berdegup sangat keras, Harry berdiri mendengarkan
keheningan yang menusuk. Mungkinkah si Basilisk bersembunyi di sudut
remang-remang, di balik pilar? Dan di manakah Ginny?
Dia mengeluarkan tongkatnya dan bergerak maju di antara pilar-pilar ular.
Setiap langkah hati-hatinya dipantulkan menjadi gema keras oleh dinding-
dinding yang suram. Matanya dijaganya agar tetap menyipit, siap dipejamkan
kalau ada gerakan sekecil apa pun. Lubang-lubang mata ular batu yang kosong
rasanya mengikutinya. Lebih dari sekali, dengan hati mencelos, Harry mengira
salah satu di antaranya bergerak.
Kemudian, ketika dia berhadapan dengan pasangan pilar terakhir, tampak
patung setinggi kamar itu menjulang, tegak berlatarkan dinding belakang.
Harry harus menjulurkan leher untuk mendongak ke wajah raksasa di atas.
Kesannya antik dan seperti monyet, dengan jenggot panjang tipis yang terjulur
hampir sampai ke ujung jubah batunya. Di bawah jubah itu dua kaki abu-abu
yang luar biasa besar berdiri kokoh di lantai kamar yang licin. Dan di antara dua
kaki itu, terbaring menelungkup sosok kecil berjubah hitam dengan rambut
merah manyala.
"Ginny!" Harry bergumam, melompat mendekatinya dan berlutut. "Ginny!
Jangan mati! Jangan mati dong!" Dilemparnya tongkatnya ke pinggir, diraihnya
bahu Ginny dan dibaliknya tubuhnya. Wajahnya seputih pualam, dan sama
dinginnya. Tetapi matanya terpejam, jadi dia tidak Membatu. Tetapi, kalau
begitu, tentunya dia...
"Ginny, bangunlah," Harry bergumam putus asa, mengguncang-guncangnya.
Kepala Ginny terkulai lunglai dari kanan ke kiri.
"Dia tak akan bangun," terdengar suara pelan. Harry terlonjak kaget dan
berputar pada lututnya.
Seorang anak laki-laki jangkung berambut hitam sedang bersandar ke pilar
yang paling dekat, mengawasi. Tepi-tepi tubuhnya mengabur aneh, seakan
Harry memandangnya lewat jendela berkabut. Namun jelas sekali siapa dia.
"TomTom Riddle?"
Riddle mengangguk, tanpa melepas pandangannya dari wajah Harry.
"Apa maksudmu, dia tak akan bangun?" kata Harry putus asa. "Dia tidakdia
tidak.,.?"
--------------------------------------- 177
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Dia masih hidup," kata Riddle. "Tapi hanya sekadarnya."
Harry terpaku memandang anak laki-laki itu. Tom Riddle bersekolah di
Hogwarts lima puluh tahun lalu, tetapi sekarang dia berdiri di situ, cahaya
berkabut bersinar di sekelilingnya, tak sehari pun lebih tua dari usianya waktu
itu, yakni enam belas tahun.
"Apakah kau hantu?" tanya Harry ragu-ragu.
"Memori," kata Riddle pelan. "Diawetkan dalam buku harian selama lima
puluh tahun."
Riddle menunjuk ke lantai dekat jari-jari kaki raksasa si patung. Di situ
menggeletak terbuka buku harian kecil hitam yang ditemukan Harry di toilet
Myrtle Merana. Sejenak dia heran, bagaimana buku itu bisa sampai di situ
tetapi ada hal- hal lebih mendesak yang harus ditangani.
"Kau harus membantuku, Tom," kata Harry, mengangkat kepala Ginny lagi.
"Kita harus keluar dari sini. Ada Basilisk... aku tak tahu dia ada di mana, tetapi
dia bisa datang setiap saat. Tolonglah aku..."
Riddle tidak bergerak. Harry, bersimbah keringat, berhasil setengah
mengangkat Ginny dari lantai, dan membungkuk untuk memungut tongkatnya
lagi.
Tetapi tongkatnya sudah tak ada.
"Apakah kau melihat...?"
Dia menengadah. Riddle masih mengawasinya memilin tongkat Harry
dengan jari-jarinya.
"Terima kasih/7 kata Harry, mengulurkan tangan meminta tongkatnya.
Senyum merekah di sudut-sudut bibir Riddle. Dia terus menatap Harry
dengan santai memilin-milin tongkatnya.
''Dengar/' kata Harry mendesak, lututnya merosot terbebani berat Ginny,
"kita harus pergi! Kalau Basilisk datang..."
"Dia tidak akan datang kalau tidak dipanggil," kata Riddle tenang.
Harry menurunkan kembali Ginny ke lantai, tak kuat lagi menggendongnya.
"Apa maksudmu?" katanya. "Sini, kembalikan tongkatku, siapa tahu aku nanti
memerlukannya."
Senyum Riddle melebar.
"Kau tidak akan memerlukannya," katanya. Harry memandangnya heran.
"Apa maksudmu, aku tidak akan...?"
"Aku sudah lama sekali menunggu kesempatan ini, Harry Potter," kata
Riddle. "Menunggu kesempatan melihatmu. Bicara denganmu."
"Dengar," kata Harry, kehabisan kesabaran, "kurasa kau tidak paham. Kita
berada di Kamar Rahasia. Kita bisa bicara nanti."
"Kita akan bicara sekarang," kata Riddle, masih tersenyum lebar, dan
mengantongi tongkat Harry.
Harry terbelalak menatapnya. Ada hal sangat ganjil terjadi di sini.
"Bagaimana Ginny bisa jadi seperti ini?" tanyanya lambat- lambat.
"Nah, itu baru pertanyaan menarik," kata Riddle ramah.
"Dan ceritanya panjang. Kurasa alasan sebenarnya Ginny Weasley seperti ini
adalah karena dia membuka hatinya dan menumpahkan semua rahasianya
kepada orang asing yang tidak kelihatan."
--------------------------------------- 178
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apa yang kaubicarakan?" tanya Harry.
"Buku harian," kata Riddle. "Buku harian/cw. Si kecil Ginny sudah berbulan-
bulan menulis dalam buku itu, mencurahkan kepadaku segala kecemasan dan
ketakutannya: bagaimana kakak-kakaknya menggodanya, bagaimana dia masuk
ke sekolah ini dengan jubah dan buku bekas. Dan betapa...," mata Riddle
berkilat-kilat, "...menurut perasaannya si Harry Potter yang terkenal, hebat,
dan baik hati itu tidak akan pernah menyukainya..."
Selama berbicara, mata Riddle tidak pernah meninggalkan wajah Harry. Di
dalam matanya tampak rasa lapar.
'"Membosankan sekali harus mendengarkan masalah- masalah konyol anak
perempuan sebelas tahun," dia meneruskan. "Tetapi aku sabar. Aku membalas
tulisannya. Aku penuh simpati, aku baik hati. Ginny jadi sangat menyayangiku.
Tak seorang pun pernah mengerti aku seperti kau, Tom... Aku senang sekali
mendapat buku harian ini untuk curhat... Rasanya seperti punya teman yang
bisa kubawa- bawa di sakuku..."
Riddle tertawa, melengking, dingin, tawa yang tidak cocok untuknya.
Tawanya membuat bulu kuduk Harry berdiri.
"Walaupun aku sendiri yang bilang, Harry, aku selalu bisa memikat orang-
orang yang kuperlukan.
Jadi Ginny mencurahkan jiwanya kepadaku, dan kebetulan memang
jiwanyalah yang kuinginkan. Aku semakin lama menjadi semakin kuat dengan
melahap ketakutannya yang paling dalam, rahasianya yang paling gelap. Aku
menjadi berkuasa, jauh lebih berkuasa daripada Miss Weasley kecil. Cukup
berkuasa untuk mulai «memberi makan Miss Weasley dengan beberapa rahasiai,
mulai menuangkan sedikit jiwaku ke dalam dirinya..."
"Apa maksudmu?" kata Harry, yang mulutnya sudah menjadi amat kering.
"Apakah kau belum menebaknya, Harry Potter?" kata Riddle pelan. "Ginny
Weasley membuka Kamar Rahasia. Dia mencekik ayam-ayam jantan sekolah
dan menulis pesan- pesan ancaman di dinding. Dia melepas Ular Slytherin
kepada empat anak Darah-lumpur, dan kucing si Squib."
"Tidak," bisik Harry.
"Ya," kata Riddle kalem. "Tentu saja, awalnya dia tidak tahu apa yang
dilakukannya. Menggelikan sekali. Sayang kau tidak bisa melihat tulisan-tulisan
baru di buku hariannya... Jauh lebih menarik daripada sebelumnya... Dear
Tom" dia menirukan, mengawasi wajah Harry yang ngeri, "kurasa aku
kehilangan ingatanku. Ada bulu-bulu ayam jantan menempel di jubah-jubahku
dan aku tak tahu bagaimana bulu-bulu itu bisa ada di situ. Dear Tom, aku tak
bisa ingat apa yang kulakukan pada malam Hallowe'en, tetapi ada kucing yang
diserang, dan bagian depan jubahku kena cipratan cat. Dear Tom, Percy
berkali-kali berkata aku pucat dan tidak seperti biasanya. Kurasa dia
mencurigaiku... Hari ini ada serangan lagi dan aku tidak tahu di mana aku saat
itu. Tom, apa yang harus kulakukan? Kurasa aku akan jadi gila... Kurasa akulah
yang menyerang orang-orang itu, Tom!"
Tangan Harry mengepal, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak
tangannya. -
--------------------------------------- 179
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Butuh waktu lama sekali bagi si kecil Ginny yang bodoh untuk berhenti
mempercayai buku hariannya/' kata Riddle.
"Tetapi akhirnya dia menjadi curiga dan mencoba membuangnya. Dan saat
itulah kau masuk, Harry. Kau menemukan buku harian itu, dan aku tak bisa
lebih senang lagi. Dari begitu banyak orang yang bisa memungut buku harian
itu, kaulah orangnya, orang yang paling ingin kutemui..."
"Dan kenapa kau ingin menemuiku?" kata Harry. Kemarahan menjalari
seluruh tubuhnya dan perlu usaha keras untuk membuat suaranya mantap.
"Yah, begini, Ginny menceritakan padaku segalanya tentangmu, Harry," kata
Riddle. "Seluruh sejarahmu yang menakjubkan." Matanya menatap bekas luka di
dahi Harry, dan ekspresinya menjadi semakin lapar. "Aku sadar aku harus tahu
lebih banyak tentangmu, bertemu kau kalau bisa. Maka aku memutuskan untuk
menunjukkan padamu prestasiku yang terkenal, penangkapan Hagrid si tolol
berbadan besar, untuk mendapatkan kepercayaanmu."
"Hagrid temanku," kata Harry, suaranya sekarang bergetar.
"Dan kau menjebaknya, kan? Kukira kau membuat kekeliruan, tetapi..."
Riddle memperdengarkan lagi tawanya yang melengking.
"Persoalannya adalah memilih mempercayai katakataku atau kata-kata
Hagrid, Harry. Nah, bisa kaubayangkan, bagaimana tampaknya kejadian itu
bagi si tua Armando Dippet. Di satu pihak, Tom Riddle, anak miskin tetapi
cemerlang, yatim-piatu tetapi begitu pemberani, Prefek sekolah, pelajar
teladan; di pihak lain Hagrid yang canggung bertubuh besar, setiap dua minggu
sekali bikin onar, mencoba membesarkan anak serigala di bawah tempat
tidurnya, menyelinap ke dalam Hutan Terlarang untuk bergulat dengan troll.
Tetapi kuakui, bahkan aku sendiri heran betapa mulusnya rencanaku berjalan.
Kukira pasti ada orang yang menyadari bahwa Hagrid tak mungkin pewaris
Slytherin. Aku perlu waktu lima tahun penuh untuk mengetahui segala sesuatu
tentang Kamar Rahasia dan menemukan jalan masuknya... mana mungkin
Hagrid punya otak untuk itu, atau untuk kekuasaan!
"Hanya guru Transfigurasi, Dumbledore", yang tampaknya beranggapan
Hagrid tidak bersalah. Dia membujuk Dippet untuk mempertahankan Hagrid
dan melatihnya menjadi pengawas binatang liar. Ya, kurasa Dumbledore
mungkin sudah menebak. Dumbledore tak pernah menyukaiku, tidak seperti
guru-guru lainnya..."
"Pasti Dumbledore tahu betul orang seperti apa kau," kata Harry, giginya
mengertak.
"Yah, dia memang mengawasiku dengan ketat sekali setelah Hagrid
dikeluarkan, sungguh menjengkelkan," kata Riddle seenaknya. "Aku tahu tak
akan aman membuka Kamar Rahasia lagi selama aku masih di sekolah. Tetapi
aku tak mau menyia-nyiakan tahuntahun panjang yang telah kuhabiskan untuk
mencari keterangan tentangnya. Kuputuskan untuk meninggalkan buku harian,
mengawetkan diriku yang berusia enam belas tahun di dalam halaman-
halamannya, sehingga pada suatu hari nanti, kalau mujur, aku akan bisa
membimbing orang lain mengikuti langkahku dan menyelesaikan pekerjaan
mulia Slytherin."
--------------------------------------- 180
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kau belum menyelesaikannya," kata Harry penuh kemenangan. "Tak ada
yang meninggal kali ini, bahkan si kucing pun tidak. Beberapa jam lagi Cairan
Mandrake akan siap dan semua yang Membatu akan sembuh lagi."
"Bukankah sudah kukatakan kepadamu," kata Riddle tenang, "bahwa
membunuh Darah-lumpur tak berarti lagi bagiku? Sudah beberapa bulan ini,
target baruku adalah kau."
Harry terbeliak menatapnya.
"Bayangkan betapa jengkelnya aku ketika kali berikutnya buku harianku
dibuka, Ginny-lah yang menulis kepadaku, bukan kau. Rupanya dia melihatmu
membawa buku harian itu, dan dia panik. Bagaimana kalau kau sampai tahu
cara kerjanya, dan aku membocorkan semua rahasianya kepadamu? Bagaimana
kalau, lebih buruk lagi, kuberitahu kau siapa yang mencekiki ayam-ayam jantan
itu? Jadi, anak bodoh itu menunggu sampai kamarmu kosong dan mencurinya.
Tetapi aku tahu apa yang harus kulakukan. Jelas bagiku kau sedang mengikuti
jejak pewaris Slytherin. Dari semua yang telah diceritakan Ginny kepadaku, aku
tahu kau bersedia melakukan apa saja untuk memecahkan misteri iniapalagi
kalau salah sal u korbannya adalah sahabatmu. Dan Ginny memberitahuku
bahwa seluruh sekolah geger karena kau bisa bicara Parseltongue...
"Jadi kusuruh Ginny menulis pesan terakhirnya di dinding dan kubawa ke
bawah sini untuk menunggu. Dia memberontak dan menangis dan menjadi
sangat membosankan. Tetapi tak banyak lagi kehidupan di dalam dirinya. Dia
sudah menuangkan terlalu banyak ke dalam buku harian, ke dalam diriku.
Cukup untuk membuatku meninggalkan halaman-halaman buku harian itu
akhirnya. Aku sudah menunggu kemunculanmu sejak kami tiba di sini. Aku tahu
kau akan datang. Aku punya banyak pertanyaan untukmu, Harry Potter."
"Apa misalnya?" sembur Harry, tangannya tetap terkepal.
"Yah," kata Riddle, tersenyum menyenangkan, "bagaimana bayi tanpa bakat
sihir istimewa bisa berhasil mengalahkan penyihir terhebat sepanjang zaman?
Bagaimana kau bisa selamat hanya dengan bekas luka, sementara kekuatan
Lord Voldemort hancur?"
Ada kilat merah aneh di mata Riddle yang kelaparan.
"Apa pedulimu bagaimana aku bisa selamat?" kata Harry lambat-lambat.
"Voldemort muncul sesudah zamanmu."
"Voldemort," kata Riddle pelan, "adalah masa lalu, masa kini, dan masa
depanku, Harry Potter..."
Dia menarik keluar tongkat Harry dari dalam sakunya dan mulai
mencoretkannya di udara, menulis tiga kata yang berpendar-pendar:
TOM MARVOLLO RIDDLE Kemudian dilambaikannya tongkat itu sekali, dan
huruf- huruf namanya berubah susunan:
I AM LORD VOLDEMORT Aku Lord Voldemort "Kaulihat?" bisik Riddle. "Itu
nama yang sudah kupakai waktu aku di Hogwarts, yang hanya kuberitahukan
kepada teman-temanku yang paling akrab, tentu. Kaupikir aku akan
menggunakan nama Muggle ayahku yang kotor selamanya? Di dalam tubuhku
mengalir darah Salazar Slytherin sendiri, dari pihak ibuku. Kaupikir aku mau
mempertahankan nama Muggle biasa yang jahat, yang meninggalkanku bahkan
sebelum aku lahir hanya karena dia tahu istrinya penyihir? Tidak, Harry,
--------------------------------------- 181
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
kuciptakan nama baru untukku, nama yang aku tahu semua penyihir di mana
pun suatu hari nanti tak akan berani menyebutnya, kalau aku sudah menjadi
penyihir paling hebat di dunia!"
Otak Harry kelihatannya macet. Dia menatap tercengang pada Riddle, si
anak yatim-piatu yang setelah dewasa membunuh orangtua Harry, dan begitu
banyak orang lain... Akhirnya dia memaksa diri bicara.
"Kau bukan," katanya, suaranya yang tenang penuh kebencian.
"Bukan apa?" bentak Riddle.
"Bukan penyihir paling hebat di dunia," kata Harry, bernapas cepat. "Maaf
mengecewakanmu, tetapi penyihir paling hebat di dunia adalah Albus
Dumbledore. Semua bilang begitu. Bahkan ketika kau masih kuat, kau tidak
berani mencoba mengambil alih Hogwarts. Dumbledore tahu betul orang
seperti apa kau sewaktu kau masih di sekolah, dan dia masih membuatmu takut
sekarang, di mana pun kau bersembunyi hari-hari ini."
Senyum telah lenyap dari wajah Riddle, digantikan oleh tampang yang
sangat jelek.
"Dumbledore telah terusir dari kastil ini hanya karena kenangan akan diriku!"
dia mendesis.
"Dia tidak sepenuhnya pergi seperti yang kaukira!" balas Harry. Dia ngomong
asal saja, ingin menakut-nakuti Riddle.
Dia sendiri berharap apa yang dikatakannya benar-benar terjadi.
Riddle membuka mulut, tetapi lalu terpaku.
Terdengar suara musik entah dari mana. Riddle berpaling untuk memandang
kamar yang kosong. Musik terdengar semakin keras, menimbulkan perasaan
ngeri, seram, tak wajar. Musik itu membuat rambut di kepala Harry berdiri dan
menyebabkan hatinya membengkak dua kali lipat besarnya. Kemudian, ketika
musik itu mencapai ketinggian tertentu sehingga Harry bisa merasakannya
bergetar di dalam tulang- tulang rusuknya, tiba-tiba berkobar nyala api di
puncak salah satu pilar.
Seekor burung merah sebesar angsa muncul, menyerukan musiknya yang
aneh ke langit-langit yang berbentuk kubah. Burung itu memiliki ekor keemasan
bercahaya di ekornya yang sepanjang ekor burung merak. Dan cakarnya yang
keemasan berkilat-kilat, mencengkeram gumpalan kain kumal.
Sedetik kemudian, burung itu terbang lurus ke arah Harry. Dia menjatuhkan
kain kumal dalam cengkeramannya ke kaki Harry, kemudian mendarat di
bahunya. Ketika dia melipat sayapnya yang besar, Harry mendongak dan
melihat paruhnya yang panjang, tajam keemasan, dan matanya yang seperti
manik-manik.
Burung itu berhenti bernyanyi. Dia berdiri diam dan hangat di sisi pipi Harry,
menatap tajam Riddle.
"Itu phoenix..." kata Riddle, balas memandangnya dengan galak.
"Fawkes?" desah Harry, dan dia merasa cakar keemasan si burung meremas
bahunya dengan lembut.
"Dan itu...," kata Riddle, sekarang mengawasi kain kumal yang dijatuhkan
Fawkes, "itu Topi Seleksi tua milik sekolah."
--------------------------------------- 182
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Memang betul. Bertambal, berjumbai, dan kotor, topi itu tergeletak tak
bergerak di kaki Harry.
Riddle mulai tertawa lagi. Dia terbahak-bahak begitu keras sehingga seluruh
kamar dipenuhi suara tawanya, seakan sepuluh Riddle terbahak bersamaan.
"Inilah yang dikirimkan Dumbledore kepada pembelanya! Burung penyanyi
dan topi tua! Kau merasa berani, Harry Potter? Kau merasa aman sekarang?"
Harry tidak menjawab. Dia mungkin tidak tahu apa gunanya Fawkes ataupun
si Topi Seleksi, tetapi dia tak lagi sendirian, dan dia menunggu Riddle berhenti
tertawa dengan keberanian yang semakin meningkat.
"Kembali ke persoalan kita, Harry," kata Riddle, masih tersenyum lebar. "Dua
kalidi masa lalumu, di masa depankukita sudah bertemu. Dan dua kali aku
gagal membunuhmu. Bagaimana kau bisa selamat? Ceritakan padaku semuanya.
Makin lama kau bicara," dia menambahkan pelan, "makin lama kau hidup."
Harry berpikir cepat, menimbang-nimbang kemungkinannya. Riddle memiliki
tongkatnya. Dia, Harry, memiliki Fawkes dan si Topi Seleksi. Tak satu pun dari
keduanya bisa banyak membantu dalam duel. Kelihatannya memang buruk.
Tetapi semakin lama Riddle berdiri di sana, semakin berkurang kehidupan di
dalam tubuh Ginny... dan sementara itu, Harry tiba-tiba menyadari, garis
bentuk Riddle menjadi semakin nyata, semakin tegas. Kalau memang dia dan
Riddle harus berduel, lebih cepat lebih baik.
"Tak ada yang tahu kenapa kau kehilangan kekuatanmu ketika kau
menyerangku," Harry berkata mendadak. "Aku sendiri juga tak tahu. Tetapi aku
tahu kenapa kau tak bisa membunuhku. Karena ibuku meninggal demi
menyelamatkanku. Ibuku yang kelahiran-Muggle biasa," dia menambahkan,
gemetar menahan marah. "Dia mencegahmu membunuhku. Dan aku sudah
melihat dirimu yang sebenarnya. Aku melihatmu tahun lalu. Kau hancur-
hancuran. Kau nyaris tidak hidup. Itulah hasilnya semua kekuasaanmu. Kau
menyembunyikan diri. Kau jelek, kau busuk!"
Wajah Riddle berkeriut. Kemudian dia memaksakan senyum mengerikan.
"Jadi, ibumu meninggal karena menyelamatkanmu. Ya, itu mantra-penangkal
yang manjur. Aku bisa melihatnya sekarangtak ada yang istimewa pada
dirimu, ternyata. Selama ini aku bertanya-tanya sendiri. Karena ada kemiripan-
kemiripan aneh di antara kita berdua, Harry Potter. Bahkan kau sendiri pun
tentunya telah menyadarinya. Kita berdua berdarah-campuran, yatim-piatu,
dibesarkan oleh Muggle. Mungkin hanya kita berdualah Parselmouth yang
pernah bersekolah di Hogwarts sejak Slytherin yang Agung sendiri. Bahkan
tampang kita berdua pun mirip... Tetapi, ternyata, cuma keberuntungan
sajalah yang menyelamatkanmu dariku. Cuma itu saja yang ingin kuketahui."
Harry berdiri tegang, menunggu Riddle mengangkat tongkatnya. Tetapi
senyum seram Riddle mengembang lagi.
"Nah, Harry, aku akan memberi sedikit pelajaran bagimu. Ayo, kita adu
kekuatan. Lord Voldemort, pewaris Salazar Slytherin, dengan Harry Potter yang
terkenal ditambah senjata-senjata terbaik yang diberikan Dumbledore
kepadanya."
Riddle melempar pandang geli ke arah Fawkes dan Topi Seleksi, kemudian
berjalan menjauh. Harry, ketakutan merayapi kakinya yang kebas, melihat
--------------------------------------- 183
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Riddle berhenti di antara pilar-pilar tinggi dan mendongak menatap wajah batu
Slytherin, jauh tinggi di atasnya dalam keremangan. Riddle membuka mulutnya
lebar-lebar dan mendesistetapi Harry mengerti apa yang dikatakannya.m
"Bicaralah padaku, Slytherin, yang terhebat dari Empat Sekawan Hogwarts."
Harry berpaling^ untuk memandang patung itu. Fawkes berayun di bahunya.
Wajah batu raksasa Slytherin bergerak. Lumpuh ketakutan, Harry melihat
mulutnya membuka, makin lama makin lebar, membentuk lubang hitam yang
besar sekali.
Dan ada sesuatu yang bergerak di dalam mulut patung itu. Sesuatu sedang
merayap naik dari dalam tubuhnya.
Harry mundur sampai membentur dinding kamar yang dingin, dan ketika
memejamkan mata rapat-rapat, dia merasakan sayap Fawkes menyapu pipinya
waktu burung itu melesat kabur. Harry ingin berteriak, "Jangan tinggalkan aku!"
Tapi kesempatan apa yang dimiliki phoenix jika berhadapan dengan raja ular?
Sesuatu yang luar biasa besar jatuh menimpa lantai batu kamar. Harry
merasakan lantai bergetar. Dia tahu apa yang sedang terjadi, dia bisa
merasakannya, nyaris bisa melihat si ular raksasa melepas gulungannya dari
mulut Slytherin. Kemudian dia mendengar suara desis Riddle, "Bunuh dia."
Si Basilisk bergerak ke arah Harry, dia bisa mendengar tubuhnya yang berat
menggeleser berat dan lambat di lantai berdebu. Dengan mata masih terpejam
rapat-rapat, Harry mulai berlari menyamping, tangannya terulur, mencari
jalan. Riddle tertawa....
Harry terantuk sesuatu. Dia jatuh keras menimpa lantai batu dan mulutnya
berdarah. Si ular paling-paling tinggal satu meter darinya, dia bisa
mendengarnya datang.
Terdengar bunyi ledakan keras^ persis di atasnya dan kemudian sesuatu yang
berat menghantam Harry keras sekali sampai dia terempas menabrak dinding.
Menunggu taring-
taring menghunjam tubuhnya, dia mendengar desisan menggila, dan ada
yang membabi-buta memukul-mukul pilar. Harry tak tahan lagi. Dia membuka
matanya sedikit,
sekadar cukup untuk mengintip apa yang sedang terjadi.
Si ular raksasa, berwarna hijau terang, berbisa, sebesar batang pohon ek,
telah mengangkat tubuhnya tinggi ke atas dan kepalanya yang tumpul meliak-
liuk bagai orang mabuk di antara pilar-pilar. Ketika Harry gemetar, siap
memejamkan mata kalau kepala itu menoleh, dia melihat apa yang telah
mengalihkan perhatian si ular.
Fawkes beterbangan mengelilingi kepala si ular, dan si Basilisk mengatup-
ngatupkan moncongnya yang bertaring panjang dan pipih seperti pedang, mau
melahapnya.
Fawkes menukik. Paruhnya yang panjang keemasan tenggelam menghilang
dari pandangan dan mendadak semburan darah hitam mengguyur lantai. Ekor si
ular membanting-banting, nyaris mengenai Harry, dan sebelum Harry sempat
memejamkan mata, dia menoleh. Harry memandang tepat ke wajahnya dan
melihat bahwa matanya, kedua matanya yang besar, kuning, bulat menonjol,
--------------------------------------- 184
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
telah dilubangi si phoenix. Darah membanjir ke lantai, dan si ular menyembur-
nyembur kesakitan.
"Jangan!" Harry mendengar Riddle menjerit. "Tinggalkan burung itu!
Tinggalkan burung itu! Anak itu di belakangmu! Kau masih bisa membaurnya!
Bunuh dia!"
Si ular yang sudah buta berayun, bingung, tapi masih membawa maut.
Fawkes mengitari kepalanya, menyerukan lagunya yang menyeramkan,
mematuk-matuk hidung si Basilisk yang bersisik, sementara darah mengucur
terus dari matanya yang hancur.
"Tolong aku, tolong aku," Harry bergumam panik, "siapa saja, entah siapa!"
Ekor si ular melecut lantai lagi. Harry menghindar. Sesuatu yang lunak
mengenai wajahnya.
Si Basilisk telah menyapu Topi Seleksi ke tangan Harry. Harry
menyambarnya. Tinggal itu yang dia punya, satu- satunya kesempatannya.
Dipakainya topi itu di kepalanya dan dilemparnya tubuhnya tiarap ke lantai
ketika ekor si Basilisk mengayun di atasnya lagi.
Tolong aku... tolong aku... Harry membatin, matanya terpejam rapat di
bawah topinya. Tolonglah aku!
Tak ada suara yang menjawab. Alih-alih menjawab si topi mengerut, seakan
ada tangan tak kelihatan yang meremasnya kuat-kuat.
Sesuatu yang sangat keras dan berat jatuh berdebum di atas kepala Harry,
nyaris membuatnya pingsan. Bintang- bintang berkelap-kelip di depan matanya.
Harry mencengkeram ujung topi untuk menariknya lepas dan merasa ada
sesuatu yang panjang dan keras di bawahnya. Sebatang pedang perak berkilat
telah muncul di dalam topi, pegangannya bertabur batu-batu mirah berkilauan
sebesar telur.
"Bunuh anak itu. Jangan pedulikan burung itu! Anak itu di belakangmu! Kau
bisa membaui dia!"
Harry sudah berdiri, siap. Kepala si Basilisk mulai merendah, tubuhnya
bergulung, menghantam pilar-pilar ketika dia berputar untuk menghadapinya.
Harry bisa melihat rongga matanya yang besar berdarah, melihat mulutnya
yang menganga lebar, cukup lebar untuk menelannya sekali lahap, dikitari
taring sepanjang pedangnya, pipih, berkilat-kilat, beracun....
Si ular menerjang membabi-buta. Harry menghindar dan menabrak dinding
kamar. Ular itu menerjang lagi, dan lidahnya yang bercabang mengibas
mengenai sisi tubuh Harry. Harry mengangkat pedang dengan kedua tangannya.
Si Basilisk menerjang lagi, dan kali ini sasarannya tepat. Harry melempar
seluruh berat tubuhnya ke pedangnya dan menghunjamkannya ke langit-langit
mulut si ular sampai ke pangkalnya.
Tetapi ketika darah mengguyur lengan Harry, dia merasakan kesakitan luar
biasa di atas sikunya. Sebuah taring panjang beracun terbenam makin lama
makin dalam di lengannya dan patah ketika si Basilisk terjungkal menyamping,
lalu jatuh menggeliat-geliat ke lantai.
Harry menggelosor jatuh dari dinding. Dia mencengkeram taring yang
menyebarkan racun ke seluruh tubuhnya dan merenggutnya lepas dari
lengannya. Tetapi dia tahu sudah terlambat. Rasa sakit yang luar biasa
--------------------------------------- 185
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
menyebar luas, pelan dan pasti, dari lukanya. Bahkan ketika dia menjatuhkan
taring itu dan menatap darahnya sendiri yang membasahi jubahnya,
pandangannya menjadi berkabut. Kamar itu mengabur dalam pusaran warna
samar.
Sekelebat warna merah melayang melewatinya dan Harry mendengar bunyi
cakar yang mendarat pelan di sebelahnya.
"Fawkes kata Harry susah payah. "Kau luar biasa, Fawkes..." Dia merasa si
burung meletakkan kepalanya yang indah tepat di tempat taring si ular
menusuknya.
Dia bisa mendengar langkah-langkah kaki yang bergaung mendekat, dan
kemudian bayang-bayang gelap bergerak di depannya.
"Mati kau, Harry Potter," terdengar suara Riddle di atasnya.
"Mati. Bahkan burung Dumbledore pun tahu. Kaulihat apa yang dilakukannya,
Potter? Dia menangis."
Harry mengejapkan mata. Kepala Fawkes hilang-timbul. Air mata besar-
besar bagai mutiara bergulir di bulunya yang berkilauan.
"Aku akan duduk di sini dan menontonmu mati, Harry Potter. Tenang-tenang
saja, aku tidak buru-buru kok."
Harry merasa mengantuk. Segala sesuatu di sekitarnya rasanya berpusing.
"Jadi beginilah akhir si Harry Potter yang terkenal," terdengar suara Riddle
yang rasanya dari kejauhan. "Sendirian di dalam Kamar Rahasia, ditinggalkan
oleh teman-temannya, dikalahkan akhirnya oleh Pangeran Kegelapan yang
dengan bodoh ditantangnya. Kau akan segera berkumpul dengan ibu Darah-
lumpurmu tersayang, Harry... Dia memberimu dua belas tahun pinjaman...
tetapi Lord Voldemort berhasil mengalah-kanmu akhirnya, seperti yang
kauketahui pasti akan terjadi'
Kalau ini kematian, pikir Harry, tidak terlalu buruk. Bahkan rasa sakitnya
pun meninggalkannya....
Tetapi apakah ini kematian? Alih-alih semuanya menjadi gelap, Kamar
Rahasia rasanya kembali jelas. Harry menggeleng pelan dan dilihatnya Fawkes,
masih membaringkan kepalanya di lengan Harry. Genangan air mata berkilau
bagai mutiara mengelilingi lukanya hanya saja tak ada luka.
"Pergi, burung," kata Riddle tiba-tiba. "Jauh-jauh dari anak itu. Pergi,
kataku!"
Harry mengangkat kepalanya. Riddle mengacungkan tongkat Harry kepada
Fawkes. Terdengar letusan seperti senapan dan Fawkes melesat terbang lagi
dalam pusaran emas dan merah tua.
"Air mata phoenix..." kata Riddle perlahan, memandang lengan Harry. "Tentu
saja... berkhasiat menyembuhkan... aku lupa...."
Dia memandang wajah Harry. "Tetapi tak ada bedanya. Malah, aku lebih suka
begini. Hanya kau dan aku, Harry Potter... kau dan aku...."
Dia mengangkat tongkatnya.
Kemudian, dengan kepak keras sayapnya, Fawkes kembali melayang di atas
dan ada yang terjatuh ke pangkuan Harry buku harian.
Sesaat, baik Harry maupun Riddle, dengan tongkat masih terangkat,
memandang buku harian itu. Kemudian, tanpa berpikir, tanpa pertimbangan,
--------------------------------------- 186
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
seakan sudah sejak semula dia berniat melakukannya, Harry menyambar taring
Basilisk dari lantai di sebelahnya dan menghunjamkannya tepat ke jantung
buku.
Terdengar jeritan panjang, mengerikan, tajam menusuk. Tinta menyembur
dari buku harian itu, deras sekali, mengguyur tangan Harry, membanjiri lantai.
Riddle menggeliat dan meliuk, menjerit dan menggapai-gapai, dan kemudian...
Dia telah pergi. Tongkat Harry terjatuh berdentang ke lantai dan kemudian
sunyi. Sunyi kecuali bunyi tes, tes, tes tinta yang masih terus mengalir dari
buku harian. Racun si Basilisk telah membakar dan meninggalkan lubang
berdesis di tengahnya.
Gemetar sekujur tubuhnya, Harry bangkit dengan limbung. Kepalanya serasa
berputar, seakan dia baru saja bepergian berkilo-kilometer dengan bubuk Floo.
Perlahan, dipungutnya tongkat dan Topi Seleksi dan, dengan sentakan keras,
dicabutnya pedang yang berkilat-kilat dari langit-langit mulut si Basilisk.
Kemudian terdengar rintihan pelan dari ujung kamar. Ginny bergerak.
Sementara Harry bergegas mendekatinya, Ginny duduk. Matanya yang
tercengang bergerak dari sosok raksasa Basilisk yang telah mati, ke arah Harry
dengan jubahnya yang basah kuyup oleh darah, dan kemudian ke buku harian di
tangannya. Ginny bergidik, menghela napas dalam-dalam, dan air mata mulai
membanjiri wajahnya.
"Harryoh, Harryaku berusaha memberitahumu waktu s- sarapan, tapi aku
t-tak bisa mengatakannya di depan Percy. Akulah pelakunya, Harrytetapi aku
aku b-bersumpah itu b- bukan maukuR-Riddle memaksaku, dia m-
membawaku ke sinidanbagaimana kau membunuh makhluk i-itu? D-di mana
Riddle? Yang terakhir kuingat adalah dia keluar dari dalam buku hariannya..."
"Tak apa-apa," kata Harry, mengangkat buku harian itu, dan menunjukkan
lubang taring kepada Ginny. "Riddle sudah tamat riwayatnya. Lihat! Dia dan si
Basilisk. Ayo, Ginny, kita keluar dari sini..."
"Aku akan dikeluarkan!" Ginny tersedu, ketika Harry membantunya berdiri
dengan kikuk. "Aku sudah menunggu- nunggu kesempatan masuk Hogwarts
sejak B-Bill datang dan s-sekarang aku harus pergi dana-apa yang akan
dikatakan Mum dan Dad?"
Fawkes menunggu mereka, melayang-layang di pintu masuk kamar. Harry
mendorong Ginny maju, mereka melangkahi gulungan bangkai Basilisk yang tak
bergerak, menembus keremangan, dan kembali ke terowongan. Harry
mendengar pintu-pintu batu menutup di belakang mereka dengan bunyi desis
pelan.
Setelah beberapa menit menelusuri terowongan gelap, telinga Harry
menangkap bunyi karang digeser pelan di kejauhan.
"Ron!" teriak Harry, mempercepat langkahnya. "Ginny selamat! Dia
bersamaku!"
Didengarnya Ron bersorak tersekat. Mereka menikung di belokan berikutnya
dan melihat wajah Ron yang bersemangat melongok dari lubang cukup besar
yang telah berhasil dibuatnya di reruntuhan karang.
"Ginny!" Ron menjulurkan tangan ke dalam lubang untuk menarik Ginny lebih
dulu. "Kau masih hidup! Aku tak percaya! Apa yang terjadi?"
--------------------------------------- 187
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dia berusaha memeluk Ginny, tetapi Ginny mendorongnya, terisak-isak.
'Tetapi kau tak apa-apa, Ginny," kata Ron, tersenyum kepadanya. "Semuanya
sudah berakhir, sudahdari mana datangnya burung itu?"
Fawkes sudah menukik turun dan melewati lubang.
"Dia milik Dumbledore," kata Harry, menjejalkan diri untuk melewati lubang
sempit itu.
"Dan bagaimana kau bisa punya pedang?" tanya Ron, tercengang melihat
senjata berkilat-kilat di tangan Harry.
"Akan kujelaskan kalau kita sudah keluar dari sini," kata Harry, mengerling
pada Ginny. "Tapi..."
"Nanti saja," Harry berkata buru-buru. Menurutnya bukan ide bagus
memberitahu Ron sekarang siapa yang membuka Kamar Rahasia. Tidak di depan
Ginny, paling tidak. "Di mana Lockhart?"
"Di belakang situ," kata Ron, nyengir dan mengedik-kan kepala ke ujung
lorong, ke arah pipa air. "Dia parah banget. Ayo, kita lihat."
Dipimpin Fawkes, yang sayap merah lebarnya mengeluarkan cahaya lembut
keemasan di dalam kegelapan,
mereka berjalan kembali ke mulut pipa. Gilderoy Lockhart sedang duduk di
sana, bersenandung tenang sendiri.
"Ingatannya hilang," kata Ron. "Jampi Memori-nya berbalik menyerangnya
sendiri, dan bukan menyerang kita. Sama sekali tak ingat siapa dirinya, atau di
mana dia, atau siapa kita. Kusuruh dia ke sini dan menunggu di sini. Dia
berbahaya bagi dirinya sendiri."
Lockhart menatap mereka semua dengan ramah.
"Halo' katanya. "Tempat yang aneh, ya? Kalian tinggal di sini?"
"Tidak," kata Ron, mengangkat alis ke arah Harry.
Harry membungkuk lalu menengadah, memandang pipa panjang gelap itu.
"Sudahkah kaupikirkan bagaimana kita bisa kembali ke atas lewat pipa ini?"
tanyanya kepada Ron.
Ron menggelengkan kepala, tetapi Fawkes si phoenix telah menukik turun
dan sekarang melayang-layang di depan Harry, mata manik-maniknya
cemerlang di dalam kegelapan. Dia menggoyang-goyangkan bulu-bulu ekornya
yang panjang keemasan. Harry menatapnya ragu-ragu.
"Kelihatannya dia ingin kau memegang...," kata Ron, kelihatan bingung.
"Tetapi kau terlalu berat bagi seekor burung untuk ditarik ke atas."
"Fawkes," ujar Harry, "bukan burung biasa." Dia cepat- cepat berbalik,
menghadapi teman-temannya. "Kita harus saling berpegangan. Ginny, pegang
tangan Ron. Profesor Lockhart..."
"Maksudnya Anda," kata Ron tajam kepada Lockhart.
"Anda memegang tangan Ginny yang satunya."
Harry menyelipkan pedang dan Topi Seleksi ke ikat pinggangnya, Ron
memegang bagian belakang jubahnya, dan Harry mengulurkan tangan
memegang bulu ekor Fawkes yang anehnya terasa panas.
Rasa ringan luar biasa terasa mengaliri sekujur tubuhnya dan saat
berikutnya, dengan bunyi berdesing, mereka terbang ke atas menembus pipa.
Harry bisa mendengar Lockhart yang bergantung di bawahnya berkata, "Luar
--------------------------------------- 188
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
biasa! Luar biasa! Ini seperti sihir!" Udara dingin menerpa wajah dan rambut
Harry, dan belum puas dia menikmatinya, perjalanan itu sudah berakhir
mereka berempat mendarat di lantai basah toilet Myrtle Merana. Dan saat
Lockhart meluruskan topinya, wastafel yang menyembunyikan pipa air itu
terpasang kembali ke tempatnya semula.
Myrtle terbelalak menatap mereka.
"Kau masih hidup," katanya bingung kepada Harry.
"Janganlah sebegitu kecewa," kata Harry suram sambil melap bercak darah
dan lendir dari kacamatanya.
"Oh, bukan begitu... aku sudah berpikir, kalau kau mati, dengan senang hati
kupersilakan kalau mau berbagi toilet denganku," kata Myrtle, wajahnya
merona perak.
"Urgh!" kata Ron, ketika mereka meninggalkan toilet menuju koridor gelap
dan kosong di depannya. "Harry! Kurasa Myrtle naksir kau! Kau punya saingan,
Ginny!"
Tetapi air mata tetap bercucuran tanpa suara membanjiri wajah Ginny.
"Ke mana sekarang?" tanya Ron, cemas memandang Ginny. Harry menunjuk.
Fawkes memimpin di depan, menebarkan cahaya keemasan di sepanjang
koridor. Mereka berjalan mengikutinya, dan beberapa saat kemudian, ternyata
mereka tiba di depan kantor Profesor McGonagall.
Harry mengetuk dan mendorong pintunya terbuka.
18. Pahala Untuk Dobby
SEJENAK hening ketika Harry, Ron, Ginny, dan Lockhart berdiri di depan
pintu, berlumur kotoran dan lendir, dan (khusus Harry) darah. Kemudian
terdengar jeritan.
"Ginny!"
Jeritan Mrs Weasley, yang semula duduk menangis di depan perapian. Dia
melompat bangun, diikuti oleh Mr Weasley, dan keduanya berlari memeluk
anak perempuan mereka.
Tetapi Harry memandang melampaui mereka. Profesor Dumbledore berdiri di
sebelah perapian, wajahnya berseri-seri. Di sebelahnya, Profesor McGonagall
menghela napas dalam- dalam untuk menenangkan diri, tangannya
mencengkeram dadanya. Fawkes menderu melewati telinga Harry dan
mendarat di bahu Dumbledore, tepat ketika Harry dan Ron ditarik ke dalam
pelukan erat Mrs Weasley.
"Kau menyelamatkannya! Kau menyelamatkannya! Bagaimana caranya?"
"Kurasa kita semua ingin tahu," kata Profesor McGonagall lemas.
--------------------------------------- 189
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mrs Weasley melepaskan Harry. Harry ragu-ragu sejenak, kemudian dia
berjalan ke meja dan meletakkan Topi Seleksi, pedang bertatahkan batu mirah,
dan apa yang tersisa dari buku harian Riddle di atasnya.
Kemudian dia mulai menceritakan segalanya kepada mereka. Selama hampir
seperempat jam dia bicara kepada pendengar yang hening, asyik menyimak.
Harry bercerita bahwa dia mendengar suara tanpa tubuh; bagaimana Hermione
akhirnya menyadari bahwa suara Basilisk di dalam pipalah yang didengar Harry;
bagaimana dia dan Ron mengikuti labah-labah ke dalam hutan, bahwa Aragog
memberitahu mereka di mana korban terakhir Basilisk meninggal; bagaimana
dia menerka bahwa Myrtle Merana-lah korbannya, dan bahwa jalan masuk ke
Kamar Rahasia mungkin berada di toiletnya....
"Bagus sekali," Profesor McGonagall mendorongnya untuk melanjutkan,
ketika Harry berhenti, "jadi, kau menemukan di mana jalan masuknya
melanggar seratus peraturan sekolah untuk sampai ke situ, kalau boleh
kutambahkantetapi bagaimana caranya kau bisa keluar dari sana hidup-hidup,
Potter?"
Maka Harry, suaranya sekarang sudah serak karena kebanyakan bicara,
menceritakan tentang kedatangan Fawkes yang tepat waktu dan tentang Topi
Seleksi yang memberinya pedang. Tetapi kemudian dia bimbang dan berhenti.
Sejauh ini dia berhasil menghindar menyebutkan buku harian Riddle ataupun
Ginny. Ginny berdiri dengan kepala tersandar di bahu Mrs Weasley, dan air
mata masih terus bergulir tanpa suara di pipinya. Bagaimana kalau dia
dikeluarkan? pikir Harry panik. Buku harian Riddle sudah tidak berfungsi...
Bagaimana mereka bisa membuktikan Riddle-lah yang memaksa Ginny
melakukan semua itu?
Mengikuti nalurinya, Harry memandang Dumbledore, yang tersenyum samar,
nyala api memantul dari kacamata bulan- separonya.
"Yang paling menarik bagiku' kata Dumbledore lembut,
"adalah bagaimana Lord Voldemort berhasil memikat Ginny, sementara
sumber-sumberku mengatakan dia sedang bersembunyi di hutan-hutan
Albania."
Legakelegaan yang hangat, menyenangkanmenjalari sekujur tubuh Harry.
"A-apa tadi?" kata Mr Weasley kaget. "Kau-Tahu-Siapa? Me-memikat Ginny?
Tapi Ginny tidak... Ginny belum... kan?"
"Gara-gara buku harian ini," kata Harry buru-buru, mengangkatnya dan
menunjukkannya kepada Dumbledore.
"Riddle menulis di dalamnya waktu berusia enam belas tahun."
Dumbledore mengambil buku harian dari tangan Harry dan memandang ingin
tahu melewati hidungnya yang panjang bengkok ke halaman-halamannya yang
terbakar dan basah.
"Brilian," katanya lirih. "Tentu saja, dia mungkin murid paling brilian yang
pernah dipunyai Hogwarts."
Dia berpaling, menghadapi suami-istri Weasley, yang tampak amat bingung.
"Cuma sedikit sekali yang tahu bahwa Lord Voldemort dulu bernama Tom
Riddle. Aku sendiri mengajarnya, lima puluh tahun yang lalu, di Hogwarts. Dia
menghilang setelah meninggalkan sekolah... berkelana ke tempat-tempat
--------------------------------------- 190
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
jauh... terbenam begitu dalam di dunia Sihir Hitam, bergaul dengan yang
terburuk dari bangsa kita, .menjalani berbagai transformasi sihir yang
membahayakan, sehingga ketika dia muncul kembali sebagai Lord Voldemort,
dia nyaris tak dikenali lagi. Hampir tak ada yang menghubungkan Lord
Voldemort dengan anak pandai dan tampan yang dulu pernah menjadi Ketua
Murid di sini."
"Tetapi Ginny," kata Mrs Weasley, "apa hubungan Ginny kami dengandengan
dia?"
"B-buku hariannya!" Ginny tersedu. "A-aku menulis di dalamnya dan dia
membalas sepanjang tahun..."
"Ginny!" kata Mr Weasley kaget. "Apa tak ada yang kaupelajari dariku? Apa
yang selalu kukatakan kepadamu? Jangan pernah mempercayai apa saja yang
bisa berpikir sendiri kalau kau tidak bisa melihat di mana otaknya disimpan.
Kenapa buku harian itu tidak kautunjukkan kepadaku atau ibumu? Barang
mencurigakan seperti itu, kan sudah jelas penuh sihir hitam!"
"A-aku tidak tahu," isak Ginny. "Aku menemukannya di dalam salah satu buku
yang dibelikan Mum. K-kupikir ada orang yang meninggalkannya di situ dan
kemudian lupa..."
"Miss Weasley harus segera dibawa ke rumah sakit," Dumbledore menyela
dengan tegas. "Peristiwa ini merupakan cobaan berat baginya. Tak akan ada
hukuman. Penyihir-penyihir yang lebih tua dan bijaksana darinya telah
diperdayakan oleh Lord Voldemort." Dia melangkah ke pintu dan membukanya.
"Istirahat di tempat tidur dan mungkin minum secangkir besar cokelat panas
mengepul. Cokelat selalu membuatku gembira," dia menambahkan, mengedip
ramah kepada Ginny. "Temui Madam Pomfrey. Dia belum tidur. Dia baru saja
membagikan jus Mandrakekukira korban-korban Basilisk bisa segera bangun
kapan saja."
"Jadi Hermione sembuh!" kata Ron senang.
"Tak ada kerusakan yang permanen," kata Dumbledore.
Mrs Weasley membawa Ginny keluar, dan Mr Weasley mengikuti, masih
tampak sangat terguncang.
"Kau tahu, Minerva," kata Profesor Dumbledore sambil berpikir-pikir kepada
Profesor McGonagall, "kurasa semua ini layak dirayakan dengan pesta meriah.
Boleh aku minta tolong kau untuk memberitahu dapur?"
"Baiklah," kata Profesor McGonagall singkat, ikut bergerak ke pintu.
"Kupasrahkan penanganan Potter dan Weasley kepadamu, ya?"
"Tentu," kata Dumbledore.
Profesor McGonagall pergi, dan Harry dan Ron menatap Dumbledore dengan
bimbang. Apa persisnya maksud Profesor McGonagall, penanganan mereka?
Tentunyatentunya mereka tidak akan dihukum, kan?
"Aku masih ingat telah memberitahu kalian berdua bahwa aku terpaksa akan
mengeluarkan kalian kalau kalian melanggar peraturan sekolah lagi," kata
Dumbledore.
Ron membuka mulut, ngeri.
"Itu menunjukkan bahwa yang terbaik dari kita pun kadang-kadang harus
menarik kembali kata-katanya," Dumbledore meneruskan, tersenyum. "Kalian
--------------------------------------- 191
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
berdua akan menerima Penghargaan Istimewa untuk Pengabdian kepada
Sekolah dancoba kupikirya, kurasa masing-masing dua ratus angka untuk
Gryffindor."
Ron menjadi merah jambu secemerlang bunga-bunga Valentine Lockhart dan
menutup mulutnya lagi.
"Tetapi salah satu dari kita rupanya menyembunyikan perannya dalam
petualangan berbahaya ini," Dumbledore menambahkan. "Kenapa begitu rendah
hati, Gilderoy?"
Harry tersentak kaget. Dia sama sekali lupa tentang Lockhart. Dia menoleh
dan melihat Lockhart berdiri di sudut ruangan, masih tersenyum tak jelas
Ketika Dumbledore menyapanya, Lockhart menoleh ke belakang untuk melihat
siapa yang diajak bicara Dumbledore.
"Profesor Dumbledore," kata Ron buru-buru, "terjadi kecelakaan di Kamar
Rahasia. Profesor Lockhart "Aku profesor?" tanya Lockhart tercengang Ya
ampun, aku pelupa benar, ya?"
"Dia mau menyihir kami dengan Jampi Memori, tetapi tongkatnya malah
berbalik menyerang dia sendiri," Ron menjelaskan kepada Dumbledore,
"Astaga," kata Dumbledore, geleng-geleng, jenggot peraknya yang panjang
bergetar. "Tertebas pedang sendiri, Gilderoy!"
"Pedang?" kata Lockhart tolol.
"Tak punya pedang. Anak itu yang punya." Dia menunjuk Harry. "Kau bisa
pinjam dia."
"Maukah kau membawa Profesor Lockhart ke rumah sakit juga?" Dumbledore
berkata kepada Ron. "Aku masih akan bicara beberapa patah kata dengan
Harry...."
Lockhart berjalan santai keluar. Ron melempar pandang ingin tahu ke arah
Dumbledore dan Harry sebelum dia menutup pintu.
Dumbledore menuju salah satu kursi di dekat perapian.
"Duduklah, Harry," katanya, dan Harry duduk, merasa gugup sekali.
"Pertama-tama, Harry, aku ingin berterima kasih kepadamu," kata
Dumbledore, matanya berbinar-binar lagi.
"Kau pastilah menunjukkan kesetiaan yang sungguh-sungguh kepadaku di
dalam Kamar Rahasia. Tak ada hal lain kecuali itu yang bisa memanggil Fawkes
kepadamu."
Dia membelai si phoenix, yang sudah terbang turun dan hinggap di lututnya.
Harry nyengir salah tingkah ketika Dumbledore menatapnya.
"Jadi, kau bertemu Tom Riddle," kata Dumbledore merenung. "Kubayangkan
dia pasti sangat tertarik padamu..." Mendadak sesuatu yang selama ini
mengganggu pikiran Harry tercetus dari mulutnya.
"Profesor Dumbledore... Riddle mengatakan saya mirip dia. Kemiripan yang
aneh, katanya..."
"Ah, begitu, ya?" kata Dumbledore, memandang tajam Harry dari bawah
alisnya yang tebal. "Don bagaimana menurutmu, Harry?"
"Saya rasa saya tidak mirip dia!" kata Harry, lebih keras daripada yang
dimaksudkannya. "Maksud saya, sayasaya di Gryffindor, saya..."
--------------------------------------- 192
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tetapi dia terdiam, keraguan yang selama ini menghantuinya, kini muncul
kembali di benaknya.
"Profesor," katanya lagi setelah diam beberapa saat, "Topi Seleksi
memberitahu saya bahwabahwa saya akan berhasil dengan gemilang di
Slytherin. Selama beberapa waktu semua orang mengira saya pewaris
Slytherin... karena saya bisa bicara Parseltongue..."
"Kau bisa bicara Parseltongue, Harry," kata Dumbledore tenang, "karena Lord
Voldemortyang adalah keturunan terakhir Salazar Slytherin yang tersisabisa
bicara Parseltongue. Kecuali aku keliru, dia mentransfer sebagian
kekuasaannya kepadamu pada malam dia memberimu bekas luka itu. Bukan
sesuatu yang sebetulnya ingin dilakukannya, aku yakin..."
"Voldemort memasukkan sedikit dirinya ke dalam diri saya?" tanya Harry,
tercengang. "Kelihatannya begitu."
"Jadi, saya seharusnya di Slytherin," kata Harry, memandang Dumbledore
dengan tatapan putus asa. "Topi Seleksi bisa melihat kekuatan Slytherin di
dalam diri saya, dan dia..."
"Memasukkanmu ke Gryffindor' kata Mimbledore tenang.
"Dengarkan aku, Harry. Kau kebetulan punya banyak kemampuan yang
sang.il dihargai Slytherin dalam murid-murid yang dipilihnya sendiri.
Kemampuannya sendiri yang sangat langka, Parseltongue... panjang akal...
ketetapan hati... kecenderungan mengabaikan peraturan," dia menambahkan,
kumisnya bergetar lagi. "Tetapi Topi Seleksi toh menempatkanmu di Gryffindor.
Kau tahu kenapa. Coba pikir."
"Topi itu menempatkan saya di Gryffindor," kata Harry pasrah, "hanya karena
saya tak mau ditempatkan di Slytherin...."
"Tepat," kata Dumbledore, wajahnya berseri-seri lagi. "Itu yang membuatmu
sangat berbeda dengan Tom Riddle. Pilihan kitalah, Harry, yang menunjukkan
orang seperti apa sebenarnya kita, lebih dari kemampuan kita." Harry duduk
terpaku di kursinya, terpesona. "Kalau kau ingin bukti, Harry, bahwa kau cocok
untuk Gryffindor, kusarankan kau memeriksa ini dengan teliti."
Dumbledore menjangkau pedang perak berlumur darah di atas meja Profesor
McGonagall dan menyerahkannya kepada Harry. Dengan bingung Harry
membaliknya, batu-batu mirahnya menyala tertimpa cahaya api. Dan kemudian
dia melihat nama yang terukir tepat di bawah pangkalnya.
Godric Gryffindor.
"Hanya Gryffindor sejati yang bisa menarik keluar pedang itu dari dalam
topi, Harry," kata Dumbledore sungguh- sungguh.
Selama beberapa saat tak ada yang bicara. Kemudian Dumbledore menarik
salah satu laci meja Profesor McGonagall, dan mengeluarkan pena bulu dan
sebotol tinta.
"Yang kauperlukan, Harry, adalah makanan dan tidur. Kusarankan kau turun
dan ikut pesta, sementara aku menulis ke Azkabankita memerlukan pengawas
binatang liar kita kembali ke sini. Dan aku harus menulis iklan untuk Daily
Prophet juga," dia menambahkan seraya berpikir-pikir. "Kita memerlukan guru
baru untuk Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, Astaga, kelihatannya kita
menghabiskan para guru itu, ya?"
--------------------------------------- 193
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry bangkit dan menyeberangi ruangan menuju pintu. Baru saja dia mau
meraih pegangannya, pintu terbuka keras sekali, sehingga memantul balik dari
dinding.
Lucius Malfoy berdiri di depan pintu, wajahnya murka. Gemetar ketakutan di
bawah lengannya, tampak Dobby yang terbungkus perban tebal.
"Selamat malam, Lucius," kata Dumbledore ramah.
Mr Malfoy nyaris menabrak jatuh Harry ketika dia menerobos masuk. Dobby
bergegas menyusulnya. Dia mendekam di tepi jubah Mr Malfoy wajahnya
ketakutan dan terhina.
"Jadi!" kata Lucius Malfoy, mata dinginnya terpancang pada Dumbledore "Kau
kembali Dewan sekolah menskorsmu, tetapi kau masih merasa pantas kembali
ke Hogwarts."
"Ah, begini, Lucius," kala Durnbledore tersenyum tulus,
"kesebelas anggota dewan yang lain mengontak ku hari ini. Rasanya seperti
terperangkap dalam hujan salju burung hantu, jujur saja mereka mendengar
bahwa putri Arthur Weasley telah terbunuh dan menginginkan aku segera
kembali kesini mereka kelihatannya berpendapat aku orang yang paling baik
untuk posisi ini, ternyata. Mereka juga menyampaikan cerita-cerita aneh
kepadaku. Beberapa di antara mereka kelihatannya mengira kau telah
mengancam akan mengutuk keluarga mereka jika mereka tidak setuju
menskorsku."
Mr Malfoy menjadi lebih pucat dari biasanya, tetapi matanya masih tetap
berupa goresan kemarahan.
"Jadiapakah kau sudah berhasil menghentikan serangan- serangan itu?"
cemoohnya. "Sudahkah kau tangkap pelakunya?"
"Sudah," kata Dumbledore, tersenyum.
"Nah?" kata Mr Malfoy tajam. "Siapa?"
"Orang yang sama seperti sebelumnya, Lucius," kata Dumbledore. "Tetapi
kali ini Lord Voldemort bertindak lewat orang lain. Dengan perantaraan buku
harian ini."
Dumbledore mengangkat buku hitam kecil dengan lubang besar di
tengahnya, mengawasi Mr Malfoy dengan tajam. Tetapi Harry mengawasi
Dobby.
Peri-rumah itu bersikap sangat aneh. Matanya yang besar menatap Harry
penuh arti, tak henti-hentinya dia menunjuk- nunjuk buku harian, kemudian Mr
Malfoy, dan kemudian memukul kepalanya keras-keras dengan tinjunya sendiri.
"Begitu...," kata Mr Malfoy lambat-lambat kepada Dumbledore.
"Rencana yang hebat," kata Dumbledore dengan suara datar, masih menatap
lurus-lurus mata Mr Malfoy. "Karena jika Harry ini...," Mr Malfoy sekilas
melempar pandang tajam ke arah Harry, "dan temannya, Ron, tidak
menemukan buku ini, wah... Ginny Weasley mungkin saja yang harus
menanggung semua kesalahannya. Tak seorang pun akan bisa membuktikan dia
tidak bertindak atas kemauannya sendiri..."
Mr Malfoy tidak berkata apa-apa. Wajahnya mendadak kaku seperti topeng.
"Dan bayangkan," Dumbledore melanjutkan, "apa yang akan terjadi
kemudian... Keluarga Weasley adalah salah satu dari keluarga berdarah-murni
--------------------------------------- 194
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
yang paling terkemuka. Bayangkan dampaknya pada Arthur Weasley dan
Undang- Undang Perlindungan Muggle-nya, jika anak perempuannya sendiri
ditemukan menyerang dan membunuhi anak-anak kelahiran-Muggle. Untung
sekali buku harian ini ditemukan, dan kenangan Riddle dihapus darinya. Siapa
yang tahu apa konsekuensinya kalau tidak..." Mr Malfoy memaksa diri bicara.
"Untung sekali," katanya kaku Dan masih saja, di belakang punggung Mr
Malfoy, Dobby menunjuk-nunjuk, mula-mula ke buku Harian kemudian ke
Lucius Malfoy, dan setelah itu meninju kepalanya sendiri.
Dan Harry mendadak paham. Dia mengangguk kepada Dobby, dan Dobby
mundur ke sudut, sekarang memelintir telinganya sebagai hukuman.
"Tidakkah Anda ingin tahu bagaimana Ginny memperoleh buku harian itu, Mr
Malfoy?" kata Harry.
Lucius Malfoy berpaling menghadapinya.
"Bagaimana aku bisa tahu bagaimana anak bodoh itu memperolehnya?"
timpalnya.
"Karena Anda yang memberikannya kepadanya," kata Harry. "Di Flourish and
Blotts. Anda mengambil buku Transfigurasi-nya yang sudah bekas-pakai, dan
menyelipkan buku harian itu ke dalamnya, kan?"
Harry melihat tangan putih Mr Malfoy mengepal dan membuka.
"Buktikan," dia mendesis.
"Oh, tak ada yang bisa membuktikannya," kata Dumbledore, tersenyum
kepada Harry. "Tidak sekarang, setelah Riddle lenyap dari buku itu. Sebaliknya,
kusarankan kepadamu, Lucius, jangan lagi membagi-bagikan barang- barang
sekolah tua milik Voldemort. Kalau ada lagi barangnya yang jatuh ke tangan tak
bersalah, kurasa Arthur Weasley, salah satunya, akan memastikan barang-
barang itu dilacak sampai kepadamu...."
Sesaat Lucius Malfoy berdiri diam, dan Harry dengan jelas melihat tangan
kanannya berkedut, seakan dia ingin sekali meraih tongkatnya. Tetapi akhirnya
dia menoleh kepada peri- rumahnya.
"Kita pulang, Dobby!"
Dia membuka pintu dengan kasar dan si peri bergegas mendekatinya. Mr
Malfoy menendangnya keluar pintu. Mereka bisa mendengar Dobby menjerit-
jerit kesakitan sepanjang koridor. Sejenak Harry berdiri, berpikir keras.
Kemudian dia mendapat ide.
"Profesor Dumbledore," katanya buru-buru, "bolehkah saya mengembalikan
buku harian itu kepada Mr Malfoy?"
"Tentu, Harry," kata Dumbledore tenang. "Tetapi bergegaslah. Pesta, ingat."
Harry menyambar buku harian itu dan berlari meninggalkan kantor. Dia bisa
mendengar jerit kesakitan Dobby yang samar- samar ketika berbelok di sudut
Cepat-cepat, seraya dalam hati bertanya-tanya apakah rencananya bisa
berhasil, Harry melepas salah satu sepatunya, menarik kaus kakinya yang kotor,
berlendir, dan menjejalkan buku harian itu ke dalamnya. Kemudian dia berlari
sepanjang koridor yang gelap.
Dia berhasil mengejar mereka di puncak tangga.
"Mr Malfoy," katanya terengah, mengerem larinya dan berhenti di depan
mereka, "saya membawa sesuatu untuk Anda."
--------------------------------------- 195
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dan dijejalkannya kaus kaki bau itu ke tangan Lucius Malfoy.
"Apa ...?"
Mr Malfoy menarik lepas kaus kaki itu dari buku hariannya, melemparnya,
memandang marah buku rusak itu sebelum menatap Harry.
"Kau akan berakhir tragis seperti orangtuamu suatu hari nanti, Harry Potter,"
katanya pelan Mereka juga orang yang suka ikut campur'
Dia berbalik mau pergi.
"Ayo, Dobby. Ayo!"
Tetapi Dobby tak bergerak dia memegangi kaus kaki Harry yang berlendir
menjijikkan dan memandangnya seakan kaus kaki harta tak ternilai.
"Tuan telah memberi Dobby kaus kaki kata si peri takjub.
"Tuan memberikannya kepada Dobby?
"Apa?" gertak Mr Malfoy Apa katamu?
"Dobby mendapat kaus kaki," kata Dobby tak percaya.
"Tuan melemparnya dan Dobby menangkapnya, dan Dobby Dobby bebas."
Lucius Malfoy berdiri terpaku, terbelalak menatap si peri. Kemudian dia
menerjang Harry.
"Kau membuatku kehilangan pelayan, Nak!"
Tetapi Dobby berteriak, "Kau tak boleh melukai Harry Potter!"
Terdengar letusan keras, dan Mr Malfoy terlempar ke belakang. Dia
berguling-guling, dan jatuh terpuruk di dasar tangga. Dia bangkit, wajahnya
penuh kemurkaan. Dia menarik keluar tongkatnya, tetapi Dobby mengangkat
jari panjangnya, mengancam.
"Kau harus pergi sekarang," katanya galak, menunjuk ke bawah ke arah Mr
Malfoy. "Kau tak boleh menyentuh Harry Potter. Kau harus pergi sekarang."
Lucius Malfoy tak punya pilihan lain. Dengan pandangan membara ke arah
mereka berdua, dia menyampirkan mantelnya ke tubuhnya dan bergegas lenyap
dari pandangan.
"Harry Potter membebaskan Dobby!" kata si peri nyaring, menatap Harry.
Bulan yang bersinar dan tampak dari jendela terdekat, terpantul dari matanya
yang menonjol. "Harry Potter membebaskan Dobby!"
"Cuma itulah yang bisa kulakukan, Dobby," kata Harry, nyengir. "Berjanjilah,
jangan mencoba menyelamatkan hidupku lagi."
Wajah buruk si peri mendadak dihiasi senyum lebar yang memamerkan gigi-
giginya.
"Aku cuma mau tanya satu hal, Dobby," kata Harry, ketika Dobby memakai
kaus kaki Harry dengan tangan gemetar.
"Kau memberitahuku bahwa semua ini tak ada hubungannya dengan Dia yang
Namanya Tak Boleh Disebut, ingat? Nah..."
"Itu petunjuk, Sir," kata Dobby, matanya melebar seakan ini sudah jelas.
"Dobby memberi Harry Potter petunjuk. Pangeran Kegelapan, sebelum dia
mengubah namanya, namanya boleh disebut dengan bebas, kan?"
"Betul," kata Harry lemas. "Yah, aku lebih baik pergi sekarang. Ada pesta,
dan sahabatku, Hermione, mestinya sudah bangun sekarang..."
--------------------------------------- 196
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dobby melingkarkan lengannya ke sekeliling pinggang Harry dan
memeluknya.
"Harry Potter jauh lebih hebat daripada yang Dobby tahu!"
dia terisak. "Selamat tinggal, Harry Potter!"
Dan dengan bunyi lecutan keras, Dobby menghilang.
Harry sudah beberapa kali ikut pesta di Hogwarts, tetapi belum pernah ada
yang seperti ini. Semua orang memakai piama dan perayaan berlangsung
semalam suntuk. Harry tak tahu apakah bagian paling menyenangkan adalah
ketika Hermione berlari ke arahnya, berteriak-teriak, "Kau memecahkannya!
Kau memecahkannya!" atau Justin bergegas datang dari meja Hufflepuff untuk
menjabat tangannya dan tak henti-hentinya meminta maaf karena telah
mencurigainya. Atau ketika Hagrid muncul pada pukul setengah empat pagi,
meremas bahu Harry dan Ron begitu keras sehingga mereka terjungkal ke piring
kue mereka, atau empat ratus angka yang diperolehnya bersama Ron untuk
Gryffindor yang menjamin Piala Asrama tetap menjadi milik mereka selama dua
tahun berturut-turut. Atau saat Profesor McGonagall berdiri untuk
menyampaikan kepada mereka bahwa semua ujian dibatalkan sebagai hadiah
dari sekolah ("Oh, tidak!" jerit Hermione), atau Dumbledore yang
mengumumkan bahwa, sayang sekali, Profesor Lockhart tak akan bisa kembali
pada tahun ajaran berikutnya, karena dia perlu pergi untuk memperoleh
kembali ingatannya. Cukup banyak guru yang ikut bersorak bersama anak-anak
menyambut pengumuman ini.
"Sayang," kata Ron sambil mengambil donat selai. "Aku mulai suka padanya."
Sisa semester musim panas itu berlalu dalam kekaburan teriknya cahaya
matahari. Hogwarts sudah kembali normal, dengan hanya sedikit perbedaan.
Semua pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam dibatalkan ("tapi kita kan
sudah banyak latihan," kata Ron kepada Hermione yang menggerutu) dan Lucius
Malfoy dipecat dari dewan sekolah. Draco tak lagi gagah-gagahan berkeliaran
ke sana kemari di sekolah seakan dia pemilik tempat itu. Dia sekarang malah
kelihatan marah dan mendongkol. Sebaliknya, Ginny Weasley sudah gembira
lagi.
Terlalu cepat, tiba saatnya untuk pulang naik Hogwarts Express. Harry, Ron,
Hermione, Fred, George, dan Ginny mendapat satu kompartemen untuk
mereka. Mereka memanfaatkan betul jam-jam terakhir ketika mereka masih
diizinkan melakukan sihir sebelum liburan. Mereka bermain Jentikan Meletup,
menghabiskan sisa kembang api Filibuster milik Fred dan George, dan berlatih
melucuti senjata masing- masing dengan sihir. Harry sudah mahir sekali
melakukan trik ini.
Mereka sudah hampir tiba di King7s Cross ketika Harry ingat sesuatu.
"Ginnyapa yang kaulihat dilakukan Percy, dan Percy melarangmu bilang
pada siapa-siapa?"
"Oh, itu," kata Ginny terkikik geli. "Percy punya pacar."
Fred menjatuhkan setumpuk buku ke kepala George.
"Apa?"
"Anak Ravenclaw yang Prefek itu, Penelope Clearwater," kata Ginny. "Kepada
dialah Percy menulis sepanjang musim panas yang lalu. Dia kencan dengan anak
--------------------------------------- 197
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
itu sembunyi- sembunyi di berbagai tempat di sekolah. Aku tak sengaja masuk
ke kelas tempat mereka sedang berciuman suatu hari. Percy cemas sekali
waktu Penelopekalian tahudiserang. Kalian tidak akan meledeknya, kan?"
Ginny menambahkan dengan cemas.
"Mimpi pun tidak," kata Fred, yang tampak gembira sekali, seakan ulang
tahunnya dimajukan.
"Jelas tidak," kata George, terkekeh-kekeh.
Hogwarts Express memperlambat kecepatan dan. akhirnya berhenti.
Harry mengeluarkan pena bulu dan secarik per-kamen dan menoleh kepada
Ron dan Hermione.
"Ini namanya nomor telepon," dia memberitahu Ron, menuliskan nomor dua
kali, merobek perkamen-nya menjadi dua, dan memberikannya kepada mereka.
"Aku memberitahu ayahmu bagaimana caranya menggunakan telepon musim
panas yang lalu, dia akan tahu. Teleponlah aku di rumah keluarga Dursley, oke?
Aku tak akan tahan melewatkan dua bulan hanya bicara dengan Dudley..."
"Tapi bibi dan pamanmu akan bangga, kan?" kata Hermione, sementara
mereka turun dari kereta api dan bergabung dengan kerumunan yang
berdesakan menuju palang rintangan yang tersihir. "Kalau mereka mendengar
apa yang kaulakukan tahun ini?"
"Bangga?" kata Harry. "Kau gila? Dalam semua petualangan itu aku bisa mati,
tapi aku tidak mati juga? Mereka akan marah besar...."
Dan bersama-sama mereka melewati gerbang menuju ke dunia Muggle.
Tamat
