Recent Blog Post

Archive for August 2012



  • Spontaneous human combustion


    Spontaneous human combustion (SHC) adalah nama yang digunakan pada kasus-kasus terbakarnya tubuh manusia tanpa adanya pemicu api dari luar. Ilmuwan membantah SHC itu nyata, tapi tercatat 200 kasus SHC dalam 300 tahun terakhir.

    Korban SHC sering ditemukan dengan torso termakan habis api, tapi bagian bawah tubuh masih utuh.

      Beberapa mengatakan korban SHC terbakar karena puntung rokok yang tidak dimatikan, tapi hal ini sama sekali tidak mungkin. Untuk membakar habis tubuh manusia dibutuhkan temperatur diatas 1.000 derajat celcius.

      Tapi anehnya bila sebuah tubuh terlalap api sepanas +1.000 derajat celcius, kenapa perabotan-perabotan di sekitar korban SHC tidak pernah ikut terbakar?


       Berikut adalah sebagian kecil dari daftar fenomena SHC yang diketahui yang kebanyakan berlokasi di Barat karena dari sanalah mereka berasal :

    Tahun 1731

       Seorang wanita yg diketahui sebagai Countess Cornelia di Bandi dari Cesena, Italia, ditemukan meninggal karena terbakar di lantai kamar tidurnya. Hanya kakinya yang masih memakai stocking dan sebagian kepalanya yang tersisa.

      Kasus itu dianggap membingungkan karena normalnya, dalam kasus kebakaran rumah, anggota tubuh terbakar lebih dulu barulah batang tubuhnya ikut terkena api, namun dalam kasus ini justru tubuh korban hangus hingga menjadi abu namun kaki dan kepalanya masih tersisa.

    Tanggal 27 Agustus 1938

       Phyllis Newcombe dan pria tunangannya Madge Knight baru saja meninggalkan pesta dansa pada tengah malam di Chelmsford. Tiba-tiba gaun yg dipakai Phyllis - yang terbuat dari bahan crinoline - menyala hebat dan ia terpaksa diangkut ke rumah sakit setelah sempat berhasil menanggalkan gaunnya.
    Sayang, ia meninggal beberapa jam kemudian. Dugaan awal, peristiwa itu disebabkanoleh puntung rokok, namun nyatanya gaun dari bahan yg sama tidak terbakar sama sekali sekalipun disundut dengan puntung rokok yg menyala. Keanehan lainnya, api seharusnya tidak menyala sebesar itu kecuali ada bensin atau minyak yg disiramkan pada saat itu.

    Akhir tahun 1950-an di London

       Seorang wanita sedang berdansa dengan pasangannya di diskotik. Tiba-tiba tubuh wanita tersebut diselimuti api dan ia meninggal sebelum api berhasil dipadamkan. Penyebab terbakarnya wanita itu masih misteri karena berdasarkan penuturan para saksi, tidak ada yang merokok dalam diskotik pada waktu itu dan tidak ada benda-benda mengandung api semisal lilin di atas meja.

    Oktober 1963

    Olga Woth meninggal karena terbakar hidup-hidup di dalam mobil. Tidak ada bau benda mudah terbakar seperti minyak yang tercium dan mobilnya sendiri sama sekali tidak terbakar.

    Tanggal 19 November 1963 di Sussex

        Madge Knight meninggal akibat terbakar ketika sedang tidur sendirian di kamarnya. Hal yg membingungkan, tidak tercium bahan-bahan mudah terbakar di lokasi & alas ranjangnya sama sekali tidak terbakar.

    Bulan Desember 1966

        Dr. John Irving Bentley ditemukan terbakar di dalam kamar mandi. Hanya kakinya yang tersisa, sementara barang-barang di kamar mandinya banyak yang tidak tersentuh api. Ini adalah salah satu kasus SHC yang paling terkenal.

    Tahun 1980 di Chesire, Inggris

        Susan Motteshead yang sedang memasak di dapur dan memakai piyama tahan api. Tiba-tiba muncul kobaran api beberapa detik dari punggungnya, namun tubuh dan rambutnya tidak terbakar sama sekali. Saat piyama yang dipakainya itu dicoba untuk dibakar oleh petugas pemadam kebakaran yang kemudian datang, piyama itu juga tidak bisa terbakar. Susan sendiri selamat dan tidak terluka sama sekali.

    (Kasus ini bukan soal SHC, namun masih berhubungan soal fenomena "api yg misterius') Dalam buku "Phenomena" yang ditulis Jonny Michell & Robert Rickard, diceritakan bahwa di akhir abad ke-19 ada seorang wanita bernama Jennie Morgan dari Missouri yang memiliki kemampuan khusus. Percikan bunga api muncul dari wanita itu ke barang-barang di sekitarnya. Ia juga diketahui bisa membuat orang lain pingsan ketika berjabat tangan dengannya.

        Ada beberapa hipotesis mengenai penyebab SHC. Salah satu hipotesis yang paling populer adalah yang dikenal sebagai "Efek Sumbu" (wick effect). Inti dari hipotesis itu adalah bahwa korban tiba-tiba tak sadarkan diri entah karena serangan jantung atau terlalu banyak minum alkohol.

      Sumber api di dekatnya, misalnya dari rokok, lalu mulai membakar tubuh korbannya dengan memakai lemak dan alkohol sebagai bahan bakarnya. Teori ini sendiri memiliki kelemahan seperti fakta bahwa banyak korban sedang melakukan aktivitas secara aktif saat SHC terjadi dan fakta bahwa sumber api kecil semisal rokok nyatanya sulit membakar tubuh manusia karena kalaupun kulit korbannya berhasil terbakar, sumber apinya sendiri sudah padam. Apalagi dengan teori ini, api akan menjalar pelan-pelan, sementara dalam kasus SHC api muncul secara mendadak dan seketika.

      Hipotesis lainnya adalah mengenai fenomena bahwa korban meninggal akibat adanya "penyimpangan" medan magentik bumi. Hipotesis itu menyatakan bahwa beberapa manusia memiliki kemampuan untuk "mengumpulkan" gelombang magnetik sehingga tubuhnya tiba-tiba terbakar ketika gelombang yang terkumpul cukup tinggi untuk membentuk api - yang juga merupakan salah satu bentuk gelombang.

       Ibaratnya kurang lebih seperti kaca pembesar yang mengumpulkan cahaya dan perlahan mulai membakar benda di titik fokusnya. Hal ini didukung oleh fakta bahwa terjadi kenaikan intensitas medan magnet pada beberapa fenomena SHC (lihat diagram). Namun, gagasan mengenai manusia yg bisa memfokuskan gelombang magnetis sendiri masih dipertanyakan.
      Masih ada hipotesis lain seperti mengaitkan fenomena SHC dengan kondisi kejiwaan seseorang. Dikatakan bahwa saat seseorang mengalami guncangan jiwa, oksigen dan hidrogen dalam tubuhnya akan mengalami reaksi berantai yang lebih lanjut menyebabkan ledakan dari dalam sel.

      Sebagian orang bahkan percaya bahwa SHC adalah fenomena supranatural yang berasal dari "sesuatu yang tidak terlihat dan tidak bisa dirasakan manusia".

      Satu hal yang pasti, sekalipun ada banyak hipotesis mengenai sebab fenomena SHC, belum ada penjelasan yang bisa menjelaskan fenomena SHC secara gamblang

     Kasus SHC yang paling terkenal adalah yang terjadi pada Mary Reeser.

    1951, St. Petersburg, Florida. Tuan tanah dari ruang apartment Mary Reeser menemukan kenop pintu kamar Mary panas tidak alami. Ia memanggil polisi.
    Polisi menemukan sisa-sisa dari Mary Reeser, sebagian dari kaki kanan dan tulang punggungnya. Tengkoraknya ditemukan diantara abu tapi ukurannya sudah menyusut (sampai seukuran cangkir teh). Benda-benda plastik pada ruangan sudah meleleh dan kehilangan bentuk. Tembok ruangan menghitam tapi anehnya, tidak ada satupun furniture yang rusak.

    Polisi lokal dan FBI kebingungan menjelaskan hal ini. Tidak ada yang bisa menjelaskan api yang melahap Mary Reeser.


    http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ7kOk-zQ532W7IQeN9yh3EggZyxPeipqeadVO1lWtFc0foE7qY7Dr1TM Ju

    Sampai saat ini sudah banyak teori mengenai terjadinya SHC, tapi tidak ada yang dapat menerangkan fenomena SHC sepenuhnya dengan tepat.
    Beberapa teori yang cukup dikenal seperti:
    Wick effect (efek lilin, dimana tubuh manusia sebagai lilinnya dan pakaian sebagai sumbu), gas metana pada usus yang menumpuk dan terbakar oleh enzim, korban terbakar oleh listrik statis dalam jumlah besar, dll.
    emang sih d tubuh kita ad listrikny,. toh organ tubuh kita bekerja atas rangsangn (berupa listrik) dari otak, tapi masa iya bisa sampai membuat korsleting pada badan kita,.. kan gerakanya cepet jadi kemungkinan hilangnya juga cepet
    sebagai contohnya : ketika kita akan nengok,,,,,dan pada saat itu pula gerakan nengok itu otot leher nerima rangsangn (listrik) setelah rasa itu telah hilang..muncul lgi pda saat gerakan balik,.


    2. gas metana pada usus yang menumpuk dan terbakar oleh enzim, bner d spanjang saluran pencernaan (lambung, usus, sampe anus) ad gas2 yg ikut masuk pda saat kta makn, mnum, (trlebih lgi jka konsumsi makann ato mnuman trtntu) jg molekul gas halis pencernaan, salh stuny y metana it (yg bikin kent*t jdi bau),.. tpi jumlahny ap sebnyak it sampe2 bikin orang kbakar,.?? lgi pula sjauh ini blum d temuin tuh ENZIM yng bsa MEMANASKAN molekul tertentu d dalm tubuh,..


    3. Wick effect (efek lilin, dimana tubuh manusia sebagai lilinnya dan pakaian sebagai sumbu),
    untuk teory yg ini : "NO COMMENT aj wes,.." (kek artis ti tipi2)



    klo mnurut ak nih,.. fenomena ini hasil kerjaan 99% DNA manusia yg "tertidur",.. sma halny dgn Telekinesis dan kawan2ny it,..
    bsa d byangin klo smua orng (ato mungkn beberapa orng) mampu ngaktifin 10% dri DNA itu,..
    Hangus karena tertidur?????
           Dan sekarang, inilah teori yang paling sederhana. Menurut sebagian orang, penyebab terbakarnya tubuh korban dapat disimpulkan dari ciri-ciri korban . Para korban yang ditemukan umumnya sedang merokok atau mabuk dan sendirian. Korban juga pada umumnya berusia lanjut atau memiliki kendala pada tubuh seperti cacat.
          Jadi ketika mereka tertidur, rokok yang dipegang oleh mereka jatuh, membakar karpet dan akhirnya menjalar ke tubuhnya. Karena mereka memiliki kendala gerak pada tubuhnya, maka mereka tidak mampu menyelematkan diri hingga tewas di tempat. Sederhana sekali kan ?
    Tapi teori ini dianggap mengabaikan fakta bahwa di tempat penemuan mayat korban, benda-benda sekitar bahkan tempat tidur atau kursi tidak ditemukan hangus sama sekali. Ini menunjukkan bahwa sumber api sepertinya berasal dari dalam tubuh korban, bukan dari luar.

       semoga bisa bermanfaat
    follow my twitter:

    PENJELASAN MENGENAI SHC

  • Racun Para Teroris Masa Kini (Hidrogen Sianida)


             Makin maraknya dan bebasnya berbagai bahan beracun dan berbahaya dalam masyarakat membuat kehadiran bahan ini dapat di temukan secara mudah. Banyak sudah berbagai contoh bahan berbahaya bagi tubuh yang telah disalahgunakan oleh masyarakat, contohnya seperti pewarna tektil yang kebanyakan aplikasinya digunakan untuk makanan yaitu Rhodamin B(C28H31N2O3Cl) yang diketahui menyebabkan iritasi bila terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit. Alasan mudahnya yaitu ongkos dari pembelian bahan pewarna tersebut yang lebih murah dari pewarna makanan umumnya. Semua ini tak lepas dari peran masyarakat itu sendiri untuk menyadari betapa berbahayanya bahan kimia tersebut, sayangnya tuntutan hidup telah membuat sebagian masyarakat melakukan perbuatan dilarang ini.
    Belum lagi reda oleh kelakuan teroris yang terus meneror bangsa Indonesia, kali ini mereka kembali beraksi, tetapi bukan dengan BOM, melainkan bahan kimia yang sangat berbahaya. Hidrogen Sianida.
    Sianida merupakan senyawa kimia yang mengandung (C=N)
    dengan atom karbon terikat-tiga ke atom nitrogen. Kelompok CN dapat ditemukan dalam banyak senyawa. Beberapa adalah gas, dan lainnya adalah padat atau cair. Beberapa seperti-garam, beberapa kovalen, beberapa molekular, beberapa ionik, dan banyak juga polimerik. Senyawa yang dapat melepas ion sianida CN− sangat beracun. Sianida dapat terbentuk secara alami maupun dengan buatan manusia. Senyawa ini sangat beracun dan berbahaya, Contohnya adalah HCN (Hidrogen Sianida) dan KCN (Kalium Sianida).
    Hidrogen sianida merupakan gas yang tidak berbau, bau pahit seperti bau kacang almond. HCN juga disebut formanitrille, dalam bentuk cairan disebut asam prussit dan asam hidrosianik . Dalam bentuk cairan HCN tidak berwarna atau dapat berwarna biru pucat pada suhu kamar. HCN bersiafat flamable atau mudah terbakar serta dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan peledak, juga sangat mudah bercampur dengan air sehingga mudah digunakan.
    HCN terdapat dalam rokok, asap kendaraan bermotor dan produk sintetik. HCN diproduksi berton-ton oleh beberapa negara di dunia di bidang kimia untuk pembuatan plastik, penyaringan emas dan perak, metalurgi, anti jamur, dan racun tikus. Paparan HCN juga bisa terdapat dari asap rokok dan pembakaran produk sintesis yang berbahan plastik. HCN dapat menimbulkan iritasi mata dan kulit, dengan paparan waktu 30 sampai 30 menit. HCN sangat mudah masuk ke dalam sistem pencernaan dan sangat cepat berdifusi dengan jaringan ke dalam sistem pencernaan
    Singkong merupakan salah satu makanan pokok rakyat Indonesia, singkong dengan nama binomial Manihot esculenta dari kerajaan plantae. Merupakan tumbuhan tropik dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya biasa dimakan karena sumber karbohidrat begitupun daunnya yang dimanfaatkan sebagaisayuran. Singkong dibedakan menjadi 2 tipe yaitu tipe pahit dan manis. Tergantung dari jumlah racun glikosida yang dapat membentuk asam sianida. Tipe yang berasa pahit mengandung kadar racun yang tinggi dibanding yang berasa manis. Jika singkong mentah tidak dimasak sempurna maka akan terbentuk hidrogen sianida (HCN). Pada singkong mentah/pahit kadar hidrogen sianida lebih besar dari 50mg per kilogram sedangkan utnuk yang sudah matang/manis kadarnya lebih kecil dari 50mg per kilogram.
    HCN ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti penyempitan saluran napas, mual, muntah, sakit kepala, bahkan bisa menimbulkan kematian. Namun sejumlah kecil sianida masih dapat ditolerir tubuh yaitu 1mg per kilogram berat badan per hari. Untuk menghindari keracunan sianida ini maka singkong dicuci terlebih dahulu dari tanah yang menempel di bagian kulit luar singkong, kemudian dikupas, dipotong-potong, direndam dalam air hangat selama beberapa hari, dicuci, dan kemudian dimasak sempurna (dibakar atau direbus). Singkong tipe manis hanya memerlukan pengupasan dan pemasakan untuk mengurangi kadar sianida ke tingkat non toksik. Singkong yang umum dijual di pasaran adalah singkong tipe manis.
    Selain singkong buah cheri juga mengandung HCN. Apabila pip cheri ini terkunyah atau hancur secara tidak sengaja, ia akan mengeluarkan hidrogen sianida. Apel, Kacang almond, bayam, bambu, kacangpun mengandung sianida. Akan sangat berbahaya apabila dikonsumsi secara berlebih.
    SUMBER :
      

    follow my twitter:@damarcix


    Asam sianida menjadi racun teroris masa kini


  • Rabu, 13 Juni 2012

    Apa Itu Bintang?


    Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata).

    Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah:
    "Semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir."

    Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang neutron yang sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya.

    SEJARAH PENGAMATAN

    Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang digunakan dalam praktik-praktik keagamaan, dalam navigasi, dan bercocok tanam. Kalender Gregorian, yang digunakan hampir di semua bagian dunia, adalah kalender matahari, mendasarkan diri pada posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, Matahari.

    Astronom-astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali ‘bintang-bintang baru’ di langit (kemudian dinamakan novae) menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal. Pada 1584 Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah matahari-matahari lain, dan mungkin saja memiliki planet-planet seperti Bumi di dalam orbitnya, ide yang telah diusulkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Democritus dan Epicurus. Pada abad berikutnya, ide bahwa bintang adalah matahari yang jauh mencapai konsensus di antara para astronom. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi pada tata surya, Isaac Newton mengusulkan bahwa bintang-bintang terdistribusi secara merata di seluruh langit, sebuah ide yang berasal dari teolog Richard Bentley.

    Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan luminositas pada bintang Algol pada 1667. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama gerak diri dari sepasang bintang “tetap” dekat, memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sejak pengukuran yang dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Pengukuran langsung jarak bintang 61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks.

    William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba menentukan distribusi bintang di langit. Selama 1780an ia melakukan pencacahan di sekitar 600 daerah langit berbeda. Ia kemudian menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu arah langit, yakni pusat galaksi Bima Sakti. Putranya John Herschel mengulangi pekerjaan yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan hasil yang sama. Selain itu William Herschel juga menemukan bahwa beberapa pasangan bintang bukanlah bintang-bintang yang secara kebetulan berada dalam satu arah garis pandang, melainkan mereka memang secara fisik berpasangan membentuk sistem bintang ganda.

    KLASIFIKASI

    Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi-kimianya. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard. Untuk mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine Girl Kiss Me". Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Jadi, bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.


    Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelas-kelas berikut :

    Ø      0       Maha maha raksasa
    Ø      I        Maharaksasa
    Ø      II      Raksasa-raksasa terang
    Ø      III     Raksasa
    Ø      IV     Sub-raksasa
    Ø      V      deret utama (katai)
    Ø      VI     sub-katai
    Ø      VII   katai putih

    Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua sistem pengklasifikasian di atas. Matahari kita misalnya, adalah sebuah bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu dan berukuran sedang.
    Diagram Hertzsprung-Russell adalah diagram hubungan antara luminositas dan kelas spektrum (suhu permukaan) bintang. Diagram ini adalah diagram paling penting bagi para astronom dalam usaha mempelajari evolusi bintang.

    TERBENTUKNYA BINTANG

    Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuah vacuum chamber yang ada di Bumi). Awan ini kebanyakan terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–28% helium dan beberapa persen elemen berat. Komposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada saat awal alam semesta.

    Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali matahari. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Sekali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.

    Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang.

    Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini dapat memiliki massa hingga 50 kali Matahari. Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meningkat. Ketika awan protobintang ini mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti 'terbakar' menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama.


    Menjelang kematiannya, sebuah bintang bisa meledak. Ledakan bintang ini disebut nova. Istilah ini berarti “baru” karena seolah-olah telah lahir sebuah bintang baru. Kalau bintang yang meledak berukuran besar, maka ledakannya juga sangat besar, sampai-sampai menghancurkan bintang-bintang lain. Ledakan bintang besar ini disebut sebagai supernova.

    Setelah meledak, materi bintang yang tersisa akan mengerut dan memadat dengan kepadatan yang luar biasa dan gravitasinya begitu kuat sampai-sampai cahaya pun tak bisa lepas. Materi bekas bintang inilah yang disebut black hole (lubang hitam).


    Sumber : http://arulastro.blogspot.com/2012/06/apa-itu-bintang.html#ixzz23s2wfBTz

    bintang


  • >Obat-obatan Tak Berfungsi Maksimal di Luar Angkasa

    >
    Obat-obatan tidak bekerja semestinya saat digunakan di lingkungan luar angkasa. Radiasi menjadi salah satu bagian masalah tersebut.
    Beberapa kondisi di luar angkasa yang tidak didapati di bumi menjadi faktor penyebab. “Radiasi, getaran, gravitasi yang kecil, lingkungan kaya karbon dioksida, plus variasi kelembapan dan temperatur adalah masalah potensial,” demikian dijelaskan oleh peneliti.
    Untuk mengetahui efek hal-hal tersebut kepada obat-obatan, peneliti menempatkan empat kotak obat-obatan yang terdiri dari 35 macam obat ke luar angkasa, tepatnya ke International Space Station. Pada saat bersamaan, mereka menyimpan obat dengan kondisi ideal di Johnson Space Center.
    Obat-obatan yang disimpan di luar angkasa dikembalikan dalam waktu yang berbeda-beda–ada yang kembali setelah dua minggu, ada yang kembali dua tahun kemudian. Hasilnya, tak peduli durasi obat-obatan tersebut di luar angkasa, pengurangan efektivitas obat turun drastis dibandingkan disimpan dalam kondisi ideal.
    Dengan temuan ini, peneliti mengambil kesimpulan kalau obat-obatan yang dibuat di bumi tidak dapat digunakan dalam misi luar angkasa jangka panjang, misalnya misi manusia pertama ke Mars. Obat harus dimodifikasi lebih dulu agar dapat bertahan dengan kondisi di luar angkasa.
    Meskipun demikian, Dr Cable, penasehat informasi dari Royal Pharmaceutical Society, mengatakan bahwa obat-obatan di luar angkasa tetap memperoleh keuntungan.
    “Salah satu keuntungan potensial adalah menyimpan obat-obatan yang rentan terhadap oksidasi. Karena kondisi International Space Station yang kaya karbon dioksida, perusakan obat-obatan rentan oksidasi, seperti adrenalin, vitamin C, dan vitamin A bisa dicegah,” kata Cable. (tribunnews.com)

    luar angkasa kita

  • Kesehatan Mental



    Hai semua nama gue Damar(retno wibowo)gua ngutip dari suatu artikel karya edwing telah kuliah di fakultas psikolog beliau menjelaskan:


    Definisi

    Sehat menurut WHO (dalam Beidel, Bulik, dan Stanley, 2010) adalah keadaan status sehat utuh secara fisik, mental dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan bebas penyakit, cacat dan kelemahan.

    Sehat menurut Freund (dalam Siswanto, 2007) adalah suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya, yang dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit.

    Sehat menurut gue pribadi itu simple. Sehat adalah cerminan dari suatu keadaan seseorang yang berada dalam keadaan baik, secara jiwa dan raga.


    Sejarah

    Gangguan mental tidak dianggap sebagai sakit. Pada tahun 1600an, gangguan sehat itu dianggap sesuatu yang horror. Mereka menganggap orang yang mengalami gangguan mental adalah orang yang sedang kerasukan setan. Itu mungkin disebabkan karena orang yang kerasukan itu melakukan kesalahan terhadap roh roh, entah itu pipis sembarangan, main main dikuburan, dan berbagai macam. makadari itu, pada jaman dulu, orang yang mengalami sakit mental kerap di exorcist atau dibiarkan begitu saja. ada juga yang menganggap bahwa orang yang kesehatan mentalnya tidak baik dianggap sebagai penyihir. tau sendirikan apa yang terjadi kepada penyihir di zaman dulu. yup, mereka dibantai. dibelahan dunia lain, orang yang mengalami sakit mental dianggap sebagai kriminal. otomatis, penjara penuh!

    Gangguan Mental Dianggap Sakit. Pada saat ini, sekitar tahun 1700an, benih benih pendekatan secara medis mulai diperkenalkan, yaitu dengan memberikan penjelasan masalah kejiwaan. enggak banyak yang bisa gue kasih tau disini karena emang baru sedikit sekali teori teori tentang kejiwaan, apalagi tentang bagaimana mengatasi permasalahan mental. tapi, disini sudah mulai terjadi perubahan. para pasien penyakit mental tidak lagi dikira sebagai penyihir, kriminal, atau kesurupan. pada masa ini para pasien dimasukan ke dalam rumah sakit jiwa. mereka mendapat penanganan walau pun masih banyak kegagalan. lalu pada tahun 1900 mulai muncul ilmuwan ilmuwan yang mempelajari tentang kejiwaan seperti Sigmund Freud, Emil Kraepelin, dsb. otomatis, berbagai macam macam eksperimen dilakukan untuk perkembangan ilmu kejiwaan.

    Gangguan Mental Dianggap Sebagai Bukan Sakit. Pada tahun 1960, Thomas Szasz membut tulisan tentang teori yang mengemukakan bahwa sakit mental sebenarnya tidaklah betul betul sakit. hmmm... mungkin maksudnya begini kali yah, orang yang mengalami sakit mental tidak sakit seperti orang yang mengalami pusing. orang pusing kan terjadi karena sakit kepala dan rasanya itu 'nyut-nyutan' kalau bahasa Jawa. nah, kalau orang yang mengalami sakit mental tidaklah merasakan sakit. bahkan dia mungkin menganggap bahwa dia normal dan juga unik. tapi, para doktor dan ahli lainnya mengatakan bahwa ada yang 'sakit' dengan dirinya. 

    Melawan Diskriminasi Terhadap Gangguan Mental. Tahun 1990, penanganan terhadap kesehatan mental sudah banyak, tapi namanya juga termasuk baru muncul, beberapa orang masih kurang peduli dengan kesehatan mental. entah itu dicuekin, dikucilkan, atau bahkan dicaci maki. apalagi kalau masalah pekerjaan. biasanya orang yang mengalami kesehatan mentalnya kurang baik lebih susah untuk mendapatkan pekerjaan.

    nah, berikut tadi adalah sejarahnya. kesehatan mental itu pernah dianggap sebagai hal yang mistis, kriminal, sampai akhirnya ke penjelasan yang lebih ilmiah.

    psikolog

  • - Copyright © 2013 RETNO_WIBOWO - To Aru Kagaku no Railgun - Powered by Blogger - Designed by retno wibowo -