• Posted by : damar 17 Jan 2014

    Petualangan Sherlock Holmes

    LIMA BUTIR BIJI JERUK

    http://www.mastereon.com

    http://sherlockholmesindonesia.blogspot.com

    http://www.facebook.com/sherlock.holmes.indonesia

    - 2010 -



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    Lima Butir Biji jeruk

    Secara sekilas, kalau aku membaca kembali catatan-catatan mengenai kasus-kasus Holmes antara tahun 1882 sampai 1890, aku menemukan begitu banyak kisah yang menarik dan unik, sehingga tak mudah bagiku untuk menentukan mana yang harus kupilih. Beberapa di antaranya sempat dipublikasikan melalui koran, dan ada pula yang ternyata tak begitu menampakkan kemampuan khas

    temanku yang luar biasa itu, yang sering digembar-gemborkan oleh media cetak. Beberapa lainnya juga tak begitu menonjolkan kemampuan analitisnya, sehingga kalau dibukukan malah akan membingungkan para pembaca, karena ceritanya seolah-olah terputus begitu saja. Ada juga kasus yang cuma terselesaikan sebagian, dan penjelasan-penjelasannya didasarkan pada dugaan-dugaan belaka, dan bukannya pada bukti nyata yang sangat diagung-agungkan Holmes. Tetapi, ada satu kasus yang

    amat luar biasa rinciannya, dan penyelesaiannya amat mengagumkan. Itulah sebabnya aku jadi tergoda untuk menuliskan kisah itu, walaupun ada beberapa hal yang belum, bahkan mungkin tak akan pernah, terpecahkan secara tuntas.

    Tahun 1887, kami menangani banyak kasus. Ada yang menarik, dan ada yang biasa saja. Tetapi

    aku punya semua catatannya. Misalnya Petualangan di Kamar Paradol, Perkumpulan Pengemis Amatir

    (yang kalau menyelenggarakan pertemuan secara mewah mengambil tempat di kolong sebuah gudang

    mebel), Lenyapnya Kapal Inggris Sophy Anderson, Petualangan Unik Keluarga Grice Paterson di Pulau Ulfa, dan kasus Keracunan di Camberwell. Seingatku, dalam kasus yang disebut terakhir ini, Sherlock Holmes berhasil membuktikan—dengan cara memutarnya kembali—bahwa jam tangan yang dipakai

    oleh korban baru saja diputar dua jam sebelumnya, dan karena itu maka korban tentunya pergi tidur sekitar jam itu—kesimpulan yang sangat penting, yang akhirnya bisa memecahkan misteri kasus itu.

    Semuanya ini pasti kelak akan kubukukan, tapi semua kasus yang aku sebut di atas tak seunik yang akan kukisahkan berikut ini.

    Saat itu akhir September, dan badai musiman sedang mengamuk. Sepanjang hari angin bertiup

    dengan kencang, dan hujan turun dengan lebatnya sehingga suaranya yang menghantam jendela-jendela rumah terdengar memekakkan telinga. Kami yang tinggal tepat di tengah kota London pun,

    mau tak mau harus meninggalkan sejenak kegiatan sehari-hari kami dan mengakui kedahsyatan gejala alam yang sempat mengusik peradaban manusia, bagaikan binatang buas yang menggeram di balik

    http://www.mastereon.com

    2





    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    jeruji kandangnya ini. Ketika malam semakin larut, badai semakin mengganas dan bunyi deru angin bagaikan raungan anak kecil yang terdengar melalui cerobong asap. Sherlock Holmes duduk dengan

    murung di samping perapian sambil mencoret-coret catatan kriminalnya. Sedangkan aku duduk di

    depannya, asyik membaca cerita petualangan di laut, karangan Clark Russel. Suara badai yang mengamuk di luar sana lama-kelamaan menyatu dengan cerita yang sedang kubaca. Juga percikan air hujan yang kudengar, bagaikan berasal dari ombak lautan. Istriku sedang pergi mengunjungi bibinya selama beberapa hari, sehingga aku memutuskan untuk tinggal bersama Holmes di kamar sewaannya di Baker Street.

    "Eh, ada yang ngebel," kataku sambil memandang temanku. "Siapa kiranya ya, berkunjung malam-malam begini? Temanmukah?"

    "Aku hanya punya satu teman, yaitu kau," jawabnya. "Aku tak sedang menunggu tamu."

    "Kalau begitu, pasti klienmu!"

    "Kalau benar, pasti kasusnya serius. Karena kalau tidak,

    pasti



    dia



    takkan



    nekat



    bepergian

    dalam cuaca begini, dan selarut ini. Tapi menurutku, mungkin

    teman nyonya rumah."

    Dugaan Sherlock Holmes ternyata salah, karena kemudian

    terdengar langkah-langkah di lorong depan kamar kami yang

    diikuti dengan suara ketukan di pintu. Digesernya lampu yang tadi

    berada di dekatnya ke dekat kursi tamu. "Masuk!" katanya.

    Tamu yang masuk adalah seorang pemuda berusia sekitar

    dua puluh dua tahun, berpakaian lengkap dan rapi sekali, sikapnya

    halus dan sopan. Payung yang dipegangnya basah kuyup. Jas

    hujannya berkilauan. Semua ini menunjukkan bahwa cuaca di luar

    benar-benar buruk. Dalam cahaya lampu kami melihat dia

    memandang ke sekeliling ruangan kami dengan rasa ingin tahu,

    dan nampak olehku bahwa wajahnya pucat dan matanya berat,

    seperti orang yang sedang didera kecemasan yang amat sangat.

    http://www.mastereon.com

    3



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    "Saya minta maaf," katanya sambil mengenakan kacamatanya yang keemasan. "Semoga kehadiran saya yang basah kuyup ini tak mengganggu Anda."

    "Bawa kemari jas hujan dan payung Anda," kata Holmes. "Biar saya taruh di gantungan itu supaya cepat kering. Saya lihat Anda datang dari daerah barat daya."

    "Ya, dari Horsham."

    "Dapat saya simpulkan itu dari campuran lumpur dan kapur yang menempel di ujung sepatu

    Anda."

    "Saya datang untuk berkonsultasi."

    "Tak susah bagi saya."

    "Dan juga minta tolong."

    "Nah, yang ini tidak selalu mudah."

    "Saya mendengar tentang Anda, Mr. Holmes, dari Mayor Prendergast yang telah Anda selamatkan dalam kasus Skandal Perkumpula Tankerville."

    "Ah, ya. Waktu itu dia dituduh telah menipu dalam permainan kartu."

    "Dia berkata bahwa Anda bisa memecahkan segala macam masalah."

    "Dia terlalu membesar-besarkan."

    "Dan bahwa Anda tak pernah gagal."

    "Saya pernah gagal empat kali—tiga kali digagalkan oleh pria, dan satu kali oleh wanita."

    "Tapi kalau dibandingkan dengan banyaknya keberhasilan Anda, kegagalan itu tak seberapa,

    kan?"

    "Benar, biasanya saya berhasil."

    "Kalau begitu, Anda juga mungkin akan berhasil memecahkan masalah saya."

    "Silakan tarik kursi Anda mendekat ke perapian, dan kemudian ceritakan kasus Anda."

    "Kasus saya aneh sekali."

    http://www.mastereon.com

    4



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    "Selama ini saya memang menangani kasus-kasus yang aneh-aneh. Orang biasanya minta tolong kepada saya bila usaha lain telah gagal."

    "Toh, saya tetap menganggap bahwa apa yang terjadi pada keluarga saya ini pasti lebih misterius dan tak masuk akal dibandingkan semua kasus yang pernah Anda tangani."

    "Saya jadi tertarik," kata Holmes. "Silakan langsung bercerita, dan bila perlu, saya akan menanyakan beberapa rincian yang penting."

    Pemuda itu menarik kursinya ke depan, dan menyorongkan kakinya yang basah ke dekat perapian.

    "Nama saya," katanya, "John Openshaw, dan sejauh pengetahuan saya, kasus yang menyedihkan ini tak ada hubungannya dengan diri saya secara langsung. Kasus ini berhubungan dengan masalah warisan. Untuk lebih jelasnya, saya merasa perlu untuk mengulang sedikit bagaimana mulainya kasus ini.

    "Kakek saya mempunyai dua anak lelaki—Paman Elias dan ayah saya, Joseph. Ayah saya dulu

    memiliki pabrik kecil di Coventry, yang kemudian berkembang menjadi besar pada waktu sepeda mulai diproduksi. Dia memegang hak paten dari ban sepeda anti bocor merek Openshaw. Bisnisnya amat

    sukses sehingga menjelang pensiun, dia berhasil menjualnya dengan harga yang amat tinggi.

    "Paman Elias pindah ke Amerika sejak dia masih muda, dan memiliki usaha pertanian di Florida. Kabarnya, usahanya pun sukses. Waktu perang meletus, dia bergabung dengan dinas ketentaraan di bawah pimpinan Jackson, yang lalu digantikan oleh Hood. Waktu itu dia naik pangkat menjadi kolonel. Ketika Lee meletakkan senjata Paman kembali mengusahakan tanah pertaniannya

    selama tiga atau empat tahun. Sekitar tahun 1869 atau 1870, dia kembali ke Inggris, dan membeli sebidang tanah yang tak begitu luas di Sussex, dekat Horsham. Waktu di Amerika, dia menjadi kaya raya, dan dia terpaksa pindah karena tak begitu suka dengan orang-orang Negro dan pada kebijaksanaan Partai Republik yang memberikan hak suara semakin banyak kepada orang-orang Negro. Paman saya orangnya aneh, pemarah dan berlidah tajam, serta suka menyendiri. Selama bertahun-tahun hidup di Horsham, rasanya jarang sekali dia bepergian. Dia lebih suka menyendiri di kebun dan ladang-ladangnya, dan mondar-mandir di sekitar rumahnya saja. Begitulah kegiatannya sehari-hari. Bahkan dia sering pula mendekam di dalam kamarnya selama berminggu-minggu tanpa

    http://www.mastereon.com

    5



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    pernah keluar sejenak pun. Dia suka minum brendi, dan perokok berat. Dia tak pernah berkecimpung di masyarakat tak suka berteman, bahkan dengan saudara laki-lakinya sendiri sekalipun.

    "Anehnya, agaknya dia menyukai saya. Ketika pertama kali melihat saya, waktu itu saya masih berumur sekitar dua belas tahun. Itu terjadi pada tahun 1878 setelah dia menetap di Inggris selama delapan atau sembilan tahun. Dia menemui ayah saya dan memohon agar, saya diizinkan tinggal bersamanya. Sikapnya terhadap saya sangat baik. Kalau sedang tak minum-minum, dia sering mengajak saya bermain backgammon. Saya dipercaya untuk mewakilinya baik di hadapan para pelayan mau pun di hadapan para mitra usahanya, sehingga ketika saya berumur enam belas tahun, saya sudah menjadi bos di rumahnya. Saya yang memegang semua kunci rumahnya. Saya bebas pergi ke mana

    saja dan berbuat apa saja, asalkan tak mengganggunya kalau dia sedang menyendiri. Tapi, ada satu kekecualian. Ada satu kamar di loteng yang selalu dikuncinya, dan tak boleh dibuka oleh siapa pun, termasuk saya. Saya malah merasa penasaran, dan saya pernah mengintip dari lubang kunci ke dalam kamar itu. Yang terlihat oleh saya hanyalah koper-koper dan bungkusan-bungkusan tua sebagaimana biasanya disimpan di kamar seperti itu.

    "Suatu hari—pada bulan Maret 1883—paman saya menerima surat dari luar negeri. Tak biasanya dia menerima surat, karena semua tagihan selalu langsung dibayarnya secara tunai, dan rasanya dia tak punya teman seorang pun di luar negeri. Waktu itu kami sedang duduk di meja makan, dan surat itu tergeletak di depan piringnya. 'Dari India!' katanya sambil mengambil surat itu. 'Cap posnya dari Pondicherry! Apa gerangan isinya, ya?' Segera dibukanya surat itu, yang ternyata cuma berisi lima butir biji jeruk yang sudah kering, yang lalu dituangnya ke piring di depannya. Saya mulai tertawa, tapi tawa saya segera terhenti ketika saya menatap wajahnya. Bibir Paman terkatup rapat, matanya mendelik, wajahnya memucat, dan ditatapnya amplop surat yang masih berada di genggaman

    tangannya yang gemetaran. 'K.K.K.' katanya dengan tersendat, kemudian, 'Ya Tuhan, ya Tuhan. Aku harus menanggung akibat dosaku.'

    "'Ada apa, Paman?' tanya saya.

    "'Maut,' katanya sambil berdiri lalu menghilang ke kamarnya, meninggalkan saya sendirian

    dalam ketakutan yang mencekam. Saya ambil amplop itu, dan saya lihat tulisan tiga huruf K dalam tinta merah di bagian dalam amplop itu. Hanya itu, disertai kelima butir biji jeruk yang kering tadi. Apa gerangan yang telah begitu menimbulkan ketakutannya? Saya meninggalkan meja makan, dan ketika

    http://www.mastereon.com

    6



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    saya menaiki tangga, saya berpapasan dengan paman saya yang sedang menuruni tangga. Di salah satu tangannya tergenggam kunci yang sudah tua dan karatan. Pasti kunci kamar loteng itu. Di tangan

    sebelahnya, dia memegang kotak kecil dari kuningan yang nampaknya seperti peti uang.

    '"Biarlah mereka berbuat semaunya, tapi aku akan mengalahkan mereka,' katanya sambil menyumpah-nyumpah. 'Suruh Mary menghidupkan perapian di kamarku, dan panggillah Pengacara

    Fordham. Segera.'

    "Saya lakukan perintahnya, dan ketika pengacara itu tiba, saya diminta untuk masuk ke kamar paman saya. Perapiannya menyala dengan terang, dan pada panggangannya terdapat abu halus berwarna hitam, sepertinya bekas kertas yang dibakar. Peti kuningan yang dibawanya tadi terbuka di samping perapian, dalam keadaan kosong. Ketika saya menoleh ke peti itu, saya terkejut, karena tutupnya bertuliskan huruf K tiga kali seperti yang tertulis di amplop yang diterima Paman tadi pagi.

    "'Kumohon, John,' kata paman saya, 'kau menjadi saksi atas surat wasiatku. Kutinggalkan semua kekayaanku, dengan segala hak dan tanggung jawabnya, kepada saudara laki-lakiku, yaitu ayahmu, yang pada waktunya kelak akan jadi milikmu juga. Kalau kau kelak bisa memanfaatkannya

    dengan aman, bagus! Kalau tidak, dengar pesanku, Nak, serahkan saja ke musuhmu yang paling kejam.

    Maaf, aku mewariskan sesuatu yang membingungkan seperti ini, karena aku tak tahu apa yang akan

    terjadi. Silakan tanda tangani surat ini, di tempat yang akan ditunjukkan oleh Mr. Fordham.'

    "Setelah saya membubuhkan tanda tangan, sang pengacara membawa pulang surat itu. Peristiwa yang unik ini sangat membekas di ingatan saya, dan saya sering kali merenungkannya. Saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, tetapi tak mampu menjelaskannya. Saya selalu dibayangi rasa ngeri, walaupun lama-kelamaan rasa ngeri itu makin berkurang, karena ternyata tak terjadi apa-apa dalam hidup kami selanjutnya. Paman saya juga gelisah seperti halnya diri saya. Dia mulai minum lebih banyak dari biasanya, dan menarik diri dari semua pergaulan dengan orang luar. Dia lebih sering mengunci diri di kamarnya. Kadang-kadang dia keluar dari kamarnya dalam keadaan mabuk berat, lalu berlari ke halaman dan mondar mandir di sana dengan pistol di tangannya sambil ber teriak-teriak bahwa dia tak takut kepada siapa pun, dan bahwa dia tak bisa dikurung, seperti domba di kandangnya, oleh siapa pun atau setan mana pun. Tapi, kalau dia sudah berhenti berteriak-teriak, dia akan bergegas masuk ke rumah, mengunci dan memasang palang pintu, bagaikan orang yang tak tahan lagi menghadapi teror yang sedang menghantuinya. Pada saat-saat seperti itulah, saya melihat wajahnya

    http://www.mastereon.com

    7





    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    bercucuran keringat, seperti baru saja dicelupkannya ke seember air.

    "Yah, akhir cerita, Mr. Holmes, supaya

    Anda tak habis kesabaran, suatu malam dia

    mabuk-mabukan lagi, dan tak pernah tersadar

    lagi setelah itu. Ketika kami mencarinya, kami

    menemukannya tertelungkup di kolam kecil di

    ujung taman. Tak ada tanda-tanda telah terjadi

    kekerasan, dan air kolam itu cuma enam puluh

    sentimeter dalamnya. Hakim yang tahu betapa

    eksentriknya paman saya ini, lalu memutuskan

    bahwa paman saya telah melakukan bunuh

    diri. Tapi saya, yang menyadari betapa dia

    sangat ketakutan menghadapi maut, tak bisa menerima keputusan itu begitu saja. Setelah itu, ayah saya mewarisi semua harta miliknya, termasuk simpanan uangnya di bank yang berjumlah sekitar 14.000

    pound."

    "Sebentar." Holmes memotong. "Kisah Anda ini betul-betul luar biasa. Kapan tepatnya paman Anda menerima surat aneh itu, dan juga kapan tepatnya dia melakukan apa yang diduga sebagai bunuh dirinya itu?"

    "Surat itu tiba pada tanggal 10 Maret 1883. Dia mati tujuh minggu kemudian, yaitu pada malam tanggal 2 Mei."

    "Terima kasih. Silakan dilanjutkan "

    "Ketika ayah saya pindah ke Horsham, atas permintaan saya dia mengamati kamar loteng yang

    dulu selalu terkunci itu, dengan saksama. Kami menemukan peti kuningan itu di sana, dalam keadaan kosong. Bagian dalam tutupnya berlabelkan kertas bertuliskan K.K.K. Di bawahnya tertulis 'Surat-surat, Catatan-catatan, Tanda Terima, dan Daftar'. Kami menduga barang-barang itulah yang telah dibakar oleh Kolonel Openshaw. Selain itu, tak ada yang penting di loteng itu, kecuali kertas-kertas yang berceceran dan buku-buku catatan yang dibawa Paman dari Amerika. Beberapa di antaranya

    berisi laporan tentang Perang Saudara yang menjelaskan bahwa dia telah melakukan tugasnya dengan

    http://www.mastereon.com

    8





    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    baik dan dikenal sebagai tentara yang berani. Lainnya lagi berisi laporan tentang rekonstruksi negara-negara bagian di Amerika Serikat bagian selatan. Pokoknya berhubungan dengan politik, karena dia dulu pernah menyalakan protesnya kepada politikus oportunis yang berasal dari utara.

    "Yah, pada awal tahun 1884, ayah saya pindah ke Horsham, dan kami baik baik saja di sana

    sampai bulan Januari 1885. Empat hari sesudah Tahun Baru, ayah saya berteriak dengan kaget ketika kami sedang duduk di meja makan untuk makan pagi. Dia baru saja membuka amplop surat, dan di

    dalamnya terdapat lima butir biji jeruk kering yang lalu dituangnya ke telapak tangan kirinya. Selama ini dia selalu menertawakan kisah Paman yang dianggapnya cuma isapan jempol belaka. Tapi kini,

    menerima kiriman yang sama, dia terheran-heran dan ketakutan juga.

    "'Apa gerangan maksudnya ini, John?' dia

    menggumam.

    "Jantung saya sendiri pun mulai berdegup

    dengan lebih kencang. 'K.K.K.,' kata saya.

    "Ayah melihat ke bagian dalam amplop. 'Ya,

    benar,' teriaknya. 'Nih, tulisannya. Tapi, coba

    lihat, ada catatan di atasnya.'

    "'Taruhlah dokumen itu di atas jam

    matahari,' begitu bunyi pesan itu.

    "'Dokumen apa? Jam matahari apa?'

    tanyanya.

    '"Pasti jam matahari di taman kata saya, 'tapi yang dimaksud dengan dokumen, pastilah yang dulu telah dibakar oleh Paman.'

    '"Macam-macam saja!' katanya sambil berusaha mengusir ketakutannya. 'Kita tinggal di negara beradab, dan tindakan gila-gilaan semacam ini tak perlu ditanggapi. Dari mana surat ini dikirim?'

    "'Dari Dundee,' jawab saya sambil melirik ke cap posnya.

    "'Cuma lelucon yang tak masuk akal,' katanya. 'Apa urusanku dengan jam matahari dan dokumen itu? Sebaiknya tak usah kuladeni saja.'

    http://www.mastereon.com

    9



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    "'Bagaimana kalau Ayah lapor polisi?' usul saya.

    "'Dan membiarkan diriku jadi bahan tertawaan mereka? Aku tak sudi.'

    "'Kalau begitu, biar aku saja yang lapor.'

    "'Jangan. Buat apa ribut-ribut soal sepele begini?'

    "Percuma saja berdebat dengannya, karena dia sangat keras kepala. Saya menyerah pada keinginannya, tapi dalam hati saya selalu merasa waswas.

    "Tiga hari kemudian, Ayah pergi mengunjungi seorang teman lamanya, Mayor Freebody, yang

    bertugas di benteng pertahanan di Portsdown Hill. Saya pikir, memang lebih baik dia tak di rumah, supaya terhindar dari bahaya yang mungkin sedang mengintainya Tapi pemikiran saya itu ternyata

    salah. Pada hari kedua setelah dia meninggalkan rumah, saya menerima telegram dari mayor temannya itu. Saya dimintanya agar segera menuju ke rumahnya, karena Ayah telah mengalami kecelakaan. Ayah terjatuh ke jurang batu kapur curam yang memang banyak terdapat di sekitar daerah yang dikunjunginya itu. Dia kini terbaring koma, kepalanya pecah. Saya bergegas berangkat menyusulnya, tapi sebelum saya tiba di sana, dia sudah meninggal tanpa pernah pulih kesadarannya. Nampaknya, waktu itu dia dalam perjalanan pulang dari Fareham pada senja hari, dan karena desa itu tak begitu dikenalnya, dan jurang-jurang sepanjang jalan itu tak berpagar, maka hakim telah memutuskan tanpa ragu-ragu bahwa Ayah meninggal karena kecelakaan. Ketika saya mencoba menelusuri setiap rincian fakta tentang kematiannya, memang tak saya temukan sedikit celah pun yang bisa membuat saya

    mencurigai terjadinya pembunuhan. Tak ada tanda tanda kekerasan, tak ada jejak kaki, bukan perampokan, dan tak ada orang yang terlihat sepanjang jalan itu ketika musibah terjadi. Tapi, terus terang, pikiran saya menjadi tak tenang, dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa ada orang yang telah merencanakan musibah ini dengan sangat rapi.

    "Akibat musibah itu, saya jadi pewaris bekas kekayaan Paman. Mungkin Anda bertanya, kenapa bekas rumah dan tanah Paman itu tak dijual saja? Jawaban saya ialah karena saya merasa yakin bahwa semua musibah yang menimpa keluarga kami ini pasti ada hubungannya dengan masa lalu Paman, dan

    bahwa bahaya yang mengancam kami akan tetap mengejar kami di mana pun kami tinggal.

    "Jadi, ayah saya yang malang meninggal pada bulan Januari 1885, dan itu berarti dua tahun

    delapan bulan yang lalu. Selama ini, saya tetap tinggal di Horsham dengan tenang. Saya pikir kutukan

    http://www.mastereon.com

    10





    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    yang pernah mcnimpa keluarga kami tentunya sudah berlalu. Tapi ternyata tidak demikian halnya.

    Kemarin pagi, ancaman yang sama terulang lagi."

    Pemuda itu mengeluarkan sebuah amplop kumal

    dari jaketnya. Dia mendekat ke meja, dan dari dalam

    amplop itu dikeluarkannya lima butir biji jeruk kering.

    "Ini amplopnya," lanjutnya. "Cap posnya dari

    London sebelah timur. Di dalamnya ada pesan seperti

    yang dulu diterima ayah saya. 'K.K.K.', lalu 'Taruh

    dokumen itu di atas jam matahari'."

    "Apa yang telah Anda lakukan?" tanya Holmes.

    "Saya belum melakukan apa-apa."

    "Belum melakukan apa-apa?"

    "Sebenarnya," ditelungkupkannya wajahnya

    pada tangannya yang pucat dan kurus, "saya sudah

    putus asa. Rasanya saya bagaikan seekor kelinci malang yang tak berdaya apa-apa, pada hal hendak dicaplok oleh seekor ular. Saya merasa berada dalam cengkeraman iblis yang tak mungkin saya hindari, tanpa ada kekuatan yang mampu melindungi saya."

    "Wah! Wah!" teriak Sherlock Holmes. "Anda harus bertindak anak muda, atau Anda akan kalah begitu saja. Hanya kekuatan yang bisa menyelamatkan Anda. Dan kini bukan waktunya untuk berputus asa."

    "Saya sudah melapor ke polisi."

    "Oh?"

    "Tapi mereka menertawakan saya. Saya yakin, inspektur polisi menganggap surat itu cuma

    lelucon belaka, dan kematian paman dan ayah saya benar-benar diyakininya sebagai kecelakaan, seperti yang dikatakan oleh hakim. Dia merasa kematian mereka tak perlu dihubung-hubungkan dengan surat itu."

    Holmes mengacung-acungkan kepalan tangannya ke udara. "Bodoh sekali!" teriaknya.

    http://www.mastereon.com

    11



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    "Tapi mereka mengirim seorang polisi untuk menemani saya."

    "Apakah dia ikut kemari bersama Anda?"

    "Tidak. Dia hanya diperintahkan untuk menemani saya di rumah."

    Holmes meninju-ninju udara lagi. "Lalu untuk apa Anda datang kemari?" tanyanya. "Dan mengapa Anda tidak langsung kemari setelah menerima surat itu?"

    "Saya tak tahu tentang Anda. Saya baru tahu tadi pagi ketika saya menceritakan masalah saya kepada Mayor Prendergast, yang lalu menyarankan saya agar menemui Anda."

    "Anda menerima surat itu dua hari yang lalu. Sebenarnya, kita sudah bisa bertindak kemarin-kemarin. Hanya itu yang Anda tahu? Tak adakah rincian lain yang bisa menolong kami untuk menyimpulkan sesuatu?"

    "Ada satu hal," kata John Openshaw. Dia merogoh saku jaketnya, dan mengambil secarik kertas berwarna biru yang sudah hampir hilang warnanya. Ditaruhnya kertas itu di meja. "Seingat saya, dokumen-dokumen yang dibakar Paman warnanya seperti ini. Dapat saya lihat itu dari sisa pembakaran. Nah, kertas ini saya temukan di lantai kamarnya, dan bisa saja merupakan sebagian dokumen yang tercecer di lantai, sehingga terlewatkan dibakar. Saya tak tahu apakah kertas ini bisa banyak membantu kita. Saya sendiri cenderung menganggapnya sobekan dari buku harian pribadi.

    Tulisannya jelas tulisan Paman."

    Holmes mendekatkan lampu meja, dan kami berdua membungkuk untuk memperhatikan kertas

    itu, yang ternyata memang disobek dari sebuah buku. Waktu yang tertera menunjukkan Maret 1869,

    dan di bagian bawahnya ada pesan pesan rahasia sebagai berikut:

    Tanggal 4

    : Hudson datang. Peron tua itu masih tetap saja demikian.

    Tanggal 7

    : Mengirim biji ke McCauley, Paramore, dan John Swaine di St. Augustine.

    Tanggal 9

    : McCauley beres.

    Tanggal 10

    : John Swaine beres.

    Tanggal 12

    : Mengunjungi Paramore. Semua beres.

    "Terima kasih!" kata Holmes sambil melipat kertas itu dan mengembalikannya ke tamu kami.

    http://www.mastereon.com

    12



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    "Dan sekarang, Anda harus segera melakukan sesuatu. Kita bahkan tak punya waktu untuk membicarakan kasus Anda. Anda harus segera pulang ke rumah, dan langsung bertindak."

    "Apa yang harus saya lakukan?"

    "Hanya satu hal, dan harus segera. Masukkan kertas yang Anda tunjukkan tadi ke dalam peti

    kuningan milik paman Anda yang pernah Anda lihat. Lalu tambahkan pesan bahwa semua dokumen

    yang lain sudah dibakar oleh paman Anda, dan hanya selembar itu yang tersisa. Anda harus menegaskan sedemikian rupa sehingga mereka benar-benar merasa yakin. Setelah itu, taruhlah peti itu di atas jam matahari di halaman, sebagaimana diminta oleh mereka. Mengerti?"

    "Ya."

    "Jangan dulu memikirkan balas dendam dan semacamnya, biarlah hukum yang nanti akan bicara. Kita baru mulai memasang jerat, sedangkan jerat mereka sudah ditebarkan. Yang penting kita singkirkan dulu bahaya yang mengancam Anda. Setelah itu baru kita bongkar misteri ini, dan kita usahakan agar yang bersalah menda pat hukuman yang setimpal."

    "Terima kasih banyak," kata pemuda itu sambil berdiri dan mengenakan jaketnya. "Anda telah memberikan harapan baru bagi hidup saya. Saya akan lakukan apa yang Anda sarankan tadi."

    "Bergegaslah. Dan sementara itu, jaga diri Anda baik-baik, karena saya yakin bahaya yang

    nyata sedang mengintai Anda. Anda pulang naik apa?"

    "Naik kereta api dari Waterloo."

    "Sekarang belum jam sembilan. Jalan-jalan pasti ramai. Maka Anda tak perlu kuatir. Pokoknya, hati-hati saja."

    "Saya bawa senjata."

    "Baik. Besok saya akan mulai menangani kasus Anda."

    "Jadi Anda akan berkunjung ke Horsham?"

    "Tidak. Rahasia kasus Anda ini ada di London. Di sinilah saya akan melacaknya."

    "Kalau begitu, saya akan datang kemari lagi dalam satu atau dua hari dengan membawa kabar

    tentang peti dan kertas itu. Saran Anda akan saya turuti sampai sekecil-kecilnya."

    http://www.mastereon.com

    13





    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    Dia menjabat tangan kami, lalu pergi.

    Di luar, angin tetap berembus dengan ganasnya, dan hujan turun dengan derasnya sehingga

    suaranya terdengar memekakkan telinga. Kisah yang aneh dan mengerikan yang baru saja kami dengar ini seolah-olah muncul begitu saja dari gejala alam yang ganas di luar sana—bagaikan selembar ganggang laut yang dilemparkan ke arah kami oleh angin badai itu—yang lalu dengan seketika pula ditariknya kembali.

    Sherlock Holmes duduk terdiam selama

    beberapa saat dengan kepala tunduk. Matanya nyalang

    menatap cahaya merah yang berkilauan dari perapian.

    Lalu dia menyulut pipa. Sambil duduk menyandar ke

    kursinya, dia menatap lingkaran-lingkaran asap pipanya

    yang berwarna kebiru-biruan yang saling susul-

    menyusul naik ke atas.

    "Kurasa, Watson," komentarnya pada akhirnya,

    "dari semua kasus kita, inilah yang paling fantastis."

    "Kecuali, mungkin, kasus Sign of Four."

    "Betul juga. Mungkin kecuali yang satu itu.

    Namun si John Openshaw ini nampaknya akan

    menghadapi bahaya yang lebih hebat, dibanding

    keluarga Sholto."

    "Tapi apakah kau," tanyaku, "sudah tahu kira-kira bahaya macam apakah itu?"

    "Jelas sekali," jawabnya.

    "Kalau begitu, apa? Siapakah K.K.K. itu, dan mengapa mereka meneror keluarga yang malang ini?"

    Sherlock Holmes memejamkan matanya, dan menaruh kedua sikunya di lengan kursinya. Jari-

    jari kedua tangannya dikatupkannya.

    "Kalau sudah mendapat fakta," komentarnya, "seseorang yang penuh pertimbangan akan

    http://www.mastereon.com

    14





    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    mampu menarik kesimpulan dari fakta itu. Bukan hanya memahami rangkaian kejadiannya, tapi juga

    bisa tahu apa yang akan terjadi setelah peristiwa. itu. Kalau Cuvier bisa mengenali seekor binatang hanya dari bentuk sepotong tulangnya, demikian juga seorang pengamat akan mampu menduga seluruh rangkaian suatu peristiwa, baik motivasi maupun akibatnya, kalau dia sudah tahu satu mata rantainya.

    Bagaimana hasilnya, itu tergantung dari alasannya. Suatu masalah perlu dipelajari dengan saksama.

    Kalau cuma mengandalkan panca indera, pasti tak akan menemukan jalan keluar. Tapi, supaya tak

    hilang seninya, maka sang pengamat perlu memanfaatkan semua fakta yang diketahuinya, dan ini

    berarti, sebagaimana kau mungkin sudah tahu, dia harus mencari tahu semua yang perlu diketahuinya.

    Dan inilah yang tak banyak dilakukan orang pada umumnya. Padahal pendidikan dan ensiklopedi ada tersedia dengan bebas. Dan menambah pengetahuan yang bisa bermanfaat bagi pekerjaan seseorang itu tak sulit, kok. Aku selalu berusaha demikian. Kalau aku tak salah mengingat, pada awal persahabatan kita dulu, kau pernah menggambarkan keterbatasanku secara tepat sekali."

    "Ya," jawabku sambil tertawa. "Dokumen aneh. Filsafat, astronomi, dan politik kuberi angka nol. Botani—lumayan, geologi—cukup mendalam, dapat membedakan jenis-jenis tanah dalam radius

    delapan puluh kilometer dari London. Kimia—mendalam, anatomi—kurang sistematis, pengetahuan

    akan bacaan-bacaan sensasional dan kasus kasus

    kriminal—luar biasa. Kau juga kuanggap mahir

    bermain biola, bertinju, dan bermain anggar. Kau

    paham betul soal hukum Inggris, tapi sayang suka

    meracuni diri dengan tembakau dan kokain. Kurasa,

    begitulah garis besar analisisku."

    Holmes menyeringai ketika mendengar bagian yang

    terakhir. "Yah," katanya, "aku kan pernah bilang,

    bahwa seseorang harus mempunyai persediaan

    perlengkapan-perlengkapan yang sekali waktu kelak

    gampang dikeluarkan kalau diperlukan. Nah, untuk

    kasus yang kita terima malam ini, kita harus

    manfaatkan segenap sumber yang bisa kita dapatkan.

    Tolong ambilkan ensiklopedi Amerika seri K di rak

    http://www.mastereon.com

    15



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    sebelahmu itu. Terima kasih. Sekarang, mari kita pertimbangkan situasinya, dan coba mengambil kesimpulan. Pertama, kita bisa mulai dengan dugaan awal bahwa Kolonel Openshaw pasti punya alasan kuat untuk meninggalkan Amerika. Orang seusianya biasanya tak suka mengubah kebiasaan-kebiasaannya, apalagi harus meninggalkan Florida yang hangat cuacanya itu untuk pindah dan hidup sendirian di sebuah kota kecil di Inggris. Kesukaannya untuk hidup menyendiri menunjukkan bahwa ada seseorang atau sesuatu yang ditakutinya. Maka untuk sementara, kita bisa membuat hipotesis bahwa ketakutannya akan seseorang atau sesuatu inilah yang menyebabkannya meninggalkan Amerika.

    Sedang mengenai apa atau siapa yang ditakutinya itu, hanya dapat kita duga dari surat-surat aneh yang dikirim kepadanya dan kepada para ahli warisnya. Apakah kauperhatikan cap pos surat-surat itu?"

    "Surat pertama dikirim dari Pondicherry, yang kedua dari Dundee, dan yang ketiga dari London."

    "Dari London Timur. Apa artinya semua ini?"

    "Ketiga tempat itu semuanya kota pelabuhan. Jadi, surat-surat itu dikirim dari kapal."

    "Hebat. Kita sudah mendapat sebuah petunjuk. Tak diragukan lagi bahwa penulisnya ada di

    kapal ketika menulis surat-surat itu. Mari kita lanjutkan pengamatan kita. Waktu surat itu dikirim dari Pondicherry, tenggang waktu antara ancaman dan eksekusinya adalah tiga minggu. Waktu dikirim dari Dundee, tenggang waktunya hanya tiga atau empat hari. Apa artinya ini?"

    "Pondicherry kan lebih jauh dari London."

    "Tapi surat dari Pondicherry sampainya juga memakan waktu lebih lama."

    "Wah, entahlah."

    "Aku hanya bisa menduga bahwa kapal yang ditumpangi oleh pengirim surat itu adalah kapal

    layar. Nampaknya, dia—atau mereka—selalu mengirim peringatan yang aneh itu sebelum menjalankan

    tugasnya. Coba perhatikan. Surat ancaman yang dikirim dari Dundee, tak lama kemudian disusul dengan eksekusinya. Seandainya mereka berangkat dari Pondicherry naik kapal uap, mereka pasti akan sampai di London, hampir bersamaan dengan surat yang dikirimnya. Nyatanya, mereka baru bertindak tujuh minggu sesudah surat tersebut diterima. Kurasa tenggang waktu yang cukup lama itu disebabkan karena mereka naik kapal layar, sedangkan suratnya dibawa dengan kapal uap."

    http://www.mastereon.com

    16



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    "Mungkin saja."

    "Bukan cuma mungkin, tapi hampir dapat dipastikan. Nah, sekarang kita tahu betapa mendesaknya kasus yang sedang kita tangani ini. Itulah sebabnya mengapa aku mengingatkan agar

    pemuda Openshaw tadi berhati hati. Musibah itu selalu terjadi pada saat mereka tiba di London dari pelayaran mereka. Tapi kali ini surat ancaman itu dikirim dari London, maka kita harus segera bertindak."

    "Ya, Tuhan!" teriakku. "Mengapa mereka terus memburu tanpa ampun begitu?"

    "Dokumen yang berada di tangan sang paman pasti sangat penting bagi mereka; Aku yakin

    mereka pasti lebih dari satu orang. Kalau cuma seorang, tak mungkin dia sanggup melakukan dua kali pembunuhan tanpa menimbulkan kecurigaan hakim penyidik sedikit pun. Pasti ada beberapa orang

    yang terlibat dan mereka semuanya orang-orang yang nekat dan ahli dalam hal bunuh-membunuh.

    Mereka harus mendapatkan dokumen itu dari pihak yang memegangnya. Begitulah, K.K.K. itu bukan

    kependekan nama orang, tapi simbol sebuah perkumpulan."

    "Perkumpulan apa?"

    "Pernah dengar—" tanya Holmes sambil membungkuk ke depan sehingga suaranya terdengar

    lirih—"pernah dengar tentang Ku Klux Klan?"

    "Belum."

    Holmes membuka-buka halaman ensiklopedi yang berada di atas lututnya. "Nah, ini dia,"

    katanya kemudian:

    'Ku Klux Klan. Nama yang diambil dari suara pistol yang dikokang. Perkumpulan rahasia yang

    mengerikan ini didirikan oleh beberapa bekas tentara dari negara bagian sebelah selatan setelah Perang Saudara di Amerika, dan dengan cepat menyebar ke mana-mana, sampai Tennessee,

    Louisiana, Carolina, Georgia, dan Florida. Mereka mempunyai tujuan-tujuan politis, terutama

    dengan meneror orang-orang Negro pada saat pemilihan umum. Siapa pun yang terlihat oleh

    mereka menentang pandangan-pandangan mereka pasti akan dibunuh atau terpaksa melarikan

    diri dari negeri itu. Sebelum melampiaskan kebrutalan mereka, biasanya mereka mengirim peringatan dengan cara yang khas—dengan menyertakan ranting daun ek, biji buah melon, atau

    biji buah jeruk. Korban yang menerima peringatan ini biasanya akan menyatakan kepatuhan

    http://www.mastereon.com

    17



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    secara terbuka kepada perkumpulan itu, atau lari ke luar negeri. Kalau dia nekat menghadapi

    ancaman itu, dia pasti akan dibunuh dengan cara yang unik dan tak bisa dilacak. Perkumpulan

    ini diorganisir dengan amat rapi dan sistematis, sehingga kalau ada yang bermaksud menentang

    mereka, hampir tak ada yang berhasil lolos dari kebrutalan mereka. Bahkan jejak pelaku kejahatan itu pun tak pemah terlacak. Organisasi ini berkembang selama beberapa tahun, walaupun pemerintah dan masyarakat kelas tinggi di selatan berusaha meredam mereka.

    Akhirnya, pada tahun 1869, gerakan ini sekonyong-konyong mereda, tapi masih muncul beberapa kali secara sporadis setelah itu.'

    "Coba perhatikan," kata Holmes sambil meletakkan buku tebal itu, "runtuhnya perkumpulan tersebut secara mendadak bersamaan waktunya dengan larinya Openshaw dari Amerika dengan membawa dokumen itu. Mungkin kedua hal itu saling berhubungan. Itulah sebabnya mereka nekat

    begitu. Mungkin dokumen itu berisi daftar nama dan kegiatan mereka sejak awal, sehingga mereka

    pasti merasa resah selama dokumen itu belum ditemukan."

    "Lalu salah satu halaman dokumen yang sempat tertinggal itu..."

    "Itulah satu satunya yang bisa kita harapkan. Kalau tak salah, halaman itu berisi pesan-pesan seperti 'Kirim biji ke A, B, dan C—yang berarti bahwa mereka telah mengirim peringatan-peringatan kepada nama-nama itu. Lalu dilanjutkan dengan laporan bahwa A dan B sudah dibereskan, atau lari ke luar negeri, dan ada juga laporan yang menyatakan bahwa C telah dikunjungi, yang pasti akan berakibat fatal bagi C. Yah, kurasa, Dokter, kita sudah mendapatkan secercah titik terang di kegelapan.

    Pemuda Openshaw ini cuma bisa selamat kalau dia melakukan saran saranku tadi. Tak ada yang perlu dibicarakan atau dikerjakan lagi malam ini, jadi tolong ambilkan biolaku, dan mari kita lupakan sejenak cuaca yang buruk di luar sana dan juga musibah-musibah yang terjadi di sekeliling kita."

    Keesokan paginya cuaca cerah, dan matahari bersinar tipis bagaikan cadar samar-samar yang

    tergantung melingkupi seluruh kota London. Sherlock Holmes sedang makan pagi ketika aku turun ke lantai bawah.

    "Maaf, aku tak menunggumu," katanya. "Kurasa hari ini aku akan sibuk sekali menangani kasus pemuda Openshaw."

    "Apa yang akan kaulakukan?" tanyaku.

    http://www.mastereon.com

    18





    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    "Tergantung dari hasil penyelidikanku pagi ini. Nampaknya, aku perlu pergi ke Horsham setelah itu."

    "Bukannya pergi ke sana lebih dulu?"

    "Tidak, aku mau melacak ke City dulu. Silakan membunyikan bel, supaya pelayan menyiapkan

    kopimu."

    Sambil menunggu, aku mengambil

    koran yang masih belum dibuka dari meja, dan

    melihat-lihat isi beritanya. Mataku segera

    tertuju pada sebuah judul yang membuat

    jantungku berdegup dengan sangat kencang.

    "Holmes!" teriakku. "Kau sudah

    terlambat."

    "Ah!" katanya sambil menaruh

    cangkirnya.

    "Itulah yang kukuatirkan.

    Bagaimana mereka melakukannya?" tanyanya

    dengan tenang, tapi aku bisa merasakan bahwa

    dia sangat terpukul.

    "Kulihat nama Openshaw, dan judulnya adalah 'Tragedi di Dekat Jembatan Waterloo'. Begini

    beritanya:

    'Antara jam sembilan dan jam sepuluh tadi malam, Polisi Jaga Cook dari Divisi H yang sedang

    bertugas tak jauh dari Jembatan Waterloo, mendengar teriakan seseorang meminta tolong, lalu

    diikuti suara sesuatu yang mencebur ke air. Berhubung malam itu gelap dan angin bertiup

    dengan kencang, bantuan hanya bisa didapatkan dari beberapa orang yang sedang lewat.

    Walaupun akhirnya tanda bahaya berhasil dibunyikan, dan polisi laut segera bertindak, korban

    ditemukan sudah menjadi mayat. Dari amplop yang ditemukan di sakunya, korban diketahui

    bernama John Openshaw dan tinggal dekat Horsham. Diduga, korban sedang terburu-buru dalam kegelapan untuk mengejar kereta terakhir dari Stasiun Waterloo, sehingga dia tersesat

    sampai ke ujung dermaga kapal di dekat sungai. Tak ada tanda-tanda kekerasan, dan tak

    http://www.mastereon.com

    19





    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    diragukan lagi bahwa dia telah mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Kejadian ini

    diharapkan akan mendapat perhatian pihak penguasa agar memperhatikan keadaan tanggul dermaga itu demi mencegah terulangnya peristiwa seperti itu.'"

    Kami terdiam selama beberapa saat. Holmes sangat tertekan dan terpukul. Belum pernah dia

    terguncang separah itu sebelum ini.

    "Kejadian ini sangat memukul harga diriku, Watson," katanya. "Memang tak baik berperasaan begitu, tapi sungguh, harga diriku terpukul. Kini masalahnya menjadi masalah pribadiku, dan kalau Tuhan berkenan aku akan membuat perhitungan dengan komplotan ini. Sakit hatiku memikirkan Openshaw yang datang meminta tolong padaku dan kemudian kusuruh pergi menyongsong kematiannya...!"

    Dia mendadak bangun dari duduknya lalu mondar-mandir dengan kegelisahan yang tak terkendali. Pipinya yang pucat menjadi merah, dan sebentar-sebentar dia mengatupkan dan membuka kedua tangannya secara bergantian.

    "Mereka ini benar-benar setan biadab," teriaknya

    pada akhirnya. "Mereka pasti telah memasang

    perangkap, karena tanggul tempat kejadian itu

    bukan jalan yang menuju ke stasiun. Jembatan

    Waterloo pasti ramai sekali walaupun cuaca malam

    itu buruk, sehingga mereka tak bisa melancarkan

    aksinya dengan leluasa di situ. Yah, Watson, kita

    akan lihat nanti, siapa yang akan memenangkan

    pertandingan yang berat ini. Aku mau berangkat

    sekarang."

    "Ke kantor polisi?"

    "Tidak, aku mau jadi polisi sendiri. Kalau aku

    sudah berhasil memasang jerat, biar mereka yang

    menangkap mangsanya. Tapi sebelum itu, aku tak

    memerlukan mereka."

    http://www.mastereon.com

    20



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    Sepanjang hari aku sibuk praktek dan baru kembali ke Baker Street setelah larut malam. Tapi

    Sherlock Holmes belum juga tiba. Waktu menunjukkan hampir jam sepuluh ketika dia mtincul dalam

    keadaan pucat dan lesu. Dia langsung menuju ke rak di samping ruangan, menyambar sepotong roti

    dan menyantapnya dengan rakus, lalu direguknya air banyak-banyak.

    "Kau lapar, ya?" sapaku.

    "Kelaparan. Aku lupa makan sejak pagi."

    "Tak makan sama sekali?"

    "Ya. Aku tak punya waktu untuk memikirkan soal makan."

    "Sukses?"

    "Yah!"

    "Dapat petunjuk?"

    "Sudah berada di genggaman tanganku. Tak lama lagi pemuda Openshaw akan terbalas dendamnya. Begini, Watson, senjata mereka akan makan tuannya sendiri. Sudah kupikirkan dengan

    masak, begitulah jadinya nanti."

    "Apa maksudmu?"

    Dia mengambil sebutir jeruk dari lemari, dipotong-potongnya, dan diremasnya sehingga bijinya

    bertebarari di meja. Diambilnya lima butir, dan dimasukkannya ke dalam sebuah amplop. Di bagian dalam penutupnya ditulisnya, "S.H. untuk J.O." Direkatnya amplop itu dan dibubuhkannya alamat

    "Kepada Kapten James Calhoun, kapal Lone Star, Savannah, Georgia."

    "Surat ini akan diterimanya waktu dia memasuki pelabuhan," kata Holmes sambil tertawa kecil.

    "Pasti tak bisa tidur dia. Sama halnya dengan Openshaw, biji-biji jeruk tadi merupakan pertanda kematiannya."

    "Siapa Kapten Calhoun itu?"

    "Pemimpin komplotan. Yang lainnya pun akan kutangkap, tapi dia lebih dulu."

    "Bagaimana kau bisa melacaknya?"

    Dikeluarkannya secarik kertas besar yang penuh dengan coretan tanggal dan nama dari sakunya.

    http://www.mastereon.com

    21



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    "Sepanjang hari tadi," sahutnya, "aku memeriksa daftar pelayaran dan berkas-berkas tua, termasuk semua kapal yang pernah berlabuh di Pondicherry pada bulan Januari dan Februari 1883. Ada tiga puluh enam kapal yang tercatat selama dua bulan itu, termasuk Lone Star yang langsung menarik perhatianku, karena walaupun kapal itu bertolak dari London, namanya itu kan juga nama salah satu negara bagian di Amerika."

    "Texas, kan?"

    "Entahlah, tapi aku tahu bahwa kapal itu asalnya dari Amerika sana."

    "Lalu?"

    "Aku meneliti catatan catatan di pelabuhan Dundee, dan aku menemukan bahwa kapal Lone Star juga berlabuh di sana pada bulan Januari 1885. Jadi, kecurigaanku benar adanya. Aku lalu mencari informasi tentang kapal-kapal yang sekarang sedang berlabuh di pelabuhan London."

    "Ya?"

    " Lone Star tiba di sini minggu lalu. Aku lalu pergi ke dermaga Albert, dan ternyata kapal itu telah berangkat tadi pagi, pulang ke Savannah. Aku menelepon ke pelabuhan Gravesend, dan mendapat berita bahwa Lone Star sudah lewat beberapa waktu yang lalu, dan karena angin sedang berembus dari timur, aku yakin kapal itu kini sudah melewati Goodwins, dan sedang berada tak jauh dari Pulau

    Wight."

    "Lalu, apa yang akan kaulakukan?"

    "Oh, aku sudah mendapatkan jejaknya. Hanya dia dan dua temannya yang ternyata orang Amerika asli di kapal itu. Lainnya orang Finlandia dan Jerman. Aku juga tahu bahwa ketiga orang itu tadi malam meninggalkan kapal. Aku dapat informasi ini dari seorang buruh angkut di kapal itu. Begitu kapal mereka tiba di Savannah nanti, suratku juga pasti sudah menunggu di sana, dan telegramku pun pasti telah diterima oleh kepolisian Savannah. Aku mengabarkan bahwa ketiga orang itu sedang diburu oleh polisi Inggris atas tuduhan pembunuhan."

    Betapa sempurnanya pun rencana manusia, pasti ada kekurangannya. Para pembunuh John Openshaw ternyata tak pernah menerima surat Holmes yang berisi lima butir biji jeruk yang dimaksudkan untuk memperingatkan mereka bahwa ada pihak lain yang juga secerdik dan sehebat

    http://www.mastereon.com

    22



    Sir Arthur Conan Doyle – Lima Butir Biji Jeruk

    mereka, dan yang kini sedang mengejar mereka. Begitu dahsyatnya badai musiman tahun itu. Kami

    menunggu-nunggu berita tentang kapal Lone Star dari Savannah, tapi tak pernah muncul di koran.

    Akhirnya kami mendapat kabar bahwa jauh di Samudra Atlantik ditemukan bangkai tiang buritan dari sebuah kapal yang telah hancur, dan terombang-ambing oleh gelombang ombak. Ada ukiran singkatan

    "L.S." di tiang itu. Hanya itulah yang kami ketahui tentang nasib Lone Star.

    Download ebook Sherlock Holmes selengkapnya gratis di:

    http://www.mastereon.com

    http://sherlockholmesindonesia.blogspot.com

    http://www.facebook.com/sherlock.holmes.indonesia

    http://www.mastereon.com

    23





    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © 2013 RETNO_WIBOWO - To Aru Kagaku no Railgun - Powered by Blogger - Designed by retno wibowo -