• Posted by : damar 20 Dec 2013




    --------------------------------------- 1

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Buku 1
    Harry Potter And The Pilosopher
    Stone
    J.K. Rowling
    Harry Potter Dan Batu Bertuah
    untuk Jessica, yang menyukai cerita,
    untuk Anne, yang juga menyukainya,
    dan untuk Di, yang pertama mendengar cerita ini.
    1. Anak Laki Laki Yang Bertahan Hidup
    Mr dan Mrs Dursley yang tinggal di Privet Drive nomer empat bangga
    menyatakan diri mereka orang-orang yang normal, untunglah. Mereka tak bisa
    di harapkan terlibat dengan sesuatu yang ajaib atau misterius, karena mereka
    sama sekali tidak percaya omong kosong seperti itu.
    Mr Dursley adalah direktur Grunnings, perusahaan yang memproduksi bor. Dia
    laki-laki yang besar gemuk, nyaris tanpa leher, walaupun kumisnya besar
    sekali. Mrs Durslety berambut pirang, lehernya dua lili panjang leher biasa.
    Baginya ini menguntungkan, karena kegemarannya adalah menjulurkan leher di
    alas pagar-pagar, untuk mengintip para tetangga. Suami istri Dursley
    mempunyai seorang anak lelaki kecil bernama Dudley dan menurut pendapat
    mereka, didunia ini tidak ada anak lain sehebat Dudley.
    Keluarga Dursley memiliki segalanya yang mereka inginkan, tetapi mereka
    juga punya rahasia, dan ketakutan terbesar mereka adalah, kalau ada orang
    yang mengetahui rahasia ini.
    Mereka pikir mereka pasti lak tahan kalau sampai ada yang tahu tentang
    keluarga Potter. Mrs Potter adalah adik Mrs Dursley, tetapi sudah bertahun-
    tahun mereka tidak bertemu. Mrs Dursley malah berpura-pura tidak punya adik,
    karena adiknya dan suaminya yang tak berguna itu tak layak sama sekali
    menjadi kerabat keluarga Dursley. Mr dan Mrs DumJey bergidik memikirkan apa
    kata tetangga mereka jika keluarga Potter muncul di jalan mereka. Keluarga
    Dursley tahu bahwa keluarga Potter juga punya seorang anak laki-laki kecil,



    --------------------------------------- 2

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    tetapi mereka belum pernah melihatnya. Anak ini salah satu alasan bagus lain
    kenapa mereka tak mau dekat-dekat keluarga Potter. Mereka tak ingin Dudley
    bergaul dengan anak seperti itu. Ketika Mr dan Mrs Dursley bangun pada hari
    Selasa pagi yang mendung saat cerita kita ini mulai, tak ada tanda-tanda di
    langit berawan di luar bahwa akan terjadi hal-hal misterius dan aneh di seluruh
    negeri. Mr Dursley bersenandung ketika dia mengambil dasinya yang sangat
    membosankan untuk dipakainya bekerja, dan Mrs Dursley bergosip riang seraya
    berkutat dengan Dudley yang menjerit-jerit dan mendudukkan anak itu di
    kursinya yang tinggi.
    Tak seorang pun dari mereka melihat seekor burung hantu besar kuning
    kecokelatan terbang melintasi jendela.
    Pukul setengah sembilan Mr Dursley memungut tas kerjanya, mengecup pipi
    Mrs Dursley dan mencoba mengecup Dudley, tapi gagal, sebab sekarang Dudley
    ngadat dan melempar-lempar serealnya ke dinding. "Dasar anak-anak," senyum
    Mr Dursley sambil masuk ke mobilnya dan memundurkannya keluar dari garasi
    rumah nomor empat.
    Di sudut jalanlah pertama kalinya dia menyadari ada suatu yang aneh
    seekor kucing membaca peta. Sekejap Mr Dursley tidak menyadari apa yang
    telah dilihatnya kemudian dia menoleh untuk melihat sekali lagi. Ada kucing
    betina berdiri di ujung Jalan Privet Drive, tapi sama sekali tak kelihatan ada
    peta.
    Rupanya tadi cuma khayalannya. Pasti itu tipuan cahaya. Mr Dursley
    mengejapkan mata dan memandang ulang kucing itu.
    Si kucing balas memandangnya, Saat Mr Dursley berbelok di sudut dan
    meneruskan perjalanan, dia memandang kucing itu lewat kaca spionnya. Kucing
    itu sekarang sedang membaca papan jalan yang bertuliskan Privet Drive
    bukan, bukan membaca melainkan memandang papan jalan itu, kucing itu
    tidak bisa membaca peta atau papan jalan. Mr Dursley menggelengkan
    kepalanya dan mencoba melupakan kucing itu.
    Selama mengendarai mobilnya ke kota, yang dipikirkannya hanyalah
    pesanan bor dalam jumlah besar yang akan didapatnya hari itu.
    Tetapi menjelang masuk kota, bor tergusur keluar dari pikirannya oleh
    sesuatu yang lain. Sementara terjebak macet seperti biasanya, dia melihat
    banyak orang berpakaian aneh.
    Orang-orang yang memakai jubah. Mr Dursley tak tahan melihat orang yang
    berpakaian aneh-aneh dandanan anakanak muda jaman sekarang! Dia kira
    jubah bloon ini sedang mode. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi
    mobil dan matanya menatap serombongan orang aneh yang berdiri cukup
    dekat. Mereka sedang berbisik- bisik dengan tegang. Mr Dursley sebal sekali
    melihat bahwa dua di antara mereka sama sekali tidak muda lagi. Yang pakai
    jubah hijau zamrud itu bahkan lebih tua dari dia! Kelewatan benar! Tetapi
    kemudian terlintas di benaknya bahwa mereka mungkin sengaja berdandan
    seperti itu mereka pastilah sedang mengumpulkan dana entah untuk apa ya,
    pasti begitu. Kendaraan-kendaraan mulai bergerak, dan beberapa menit
    kemudian Mr Dursley tiba di tempat parkir Grunnings, pikirannya kembali
    dipenuhi bor.



    --------------------------------------- 3

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mr Dursley selalu duduk membelakangi jendela di kantornya di lantai
    sembilan. Jika tidak, mungkin sulit baginya untuk berkonsentrasi pada bor pagi
    itu. Dia tidak melihat burungburung hantu terbang berseliweran di siang hari,
    meskipun orang-orang lain di jalan melihatnya. Orang-orang itu melongo dan
    menunjuk-nunjuk ketika burung-burung hantu tak putus-putusnya beterbangan
    Sebagian besar dari mereka belum pernah melihat burung hantu, di malam hari
    sekalipun. Tetapi Mr Dursley melewatkan pagi yang normal, tanpa gangguan
    burung hantu. Dia berteriak pada lima orang yang berbeda. Dia melakukan
    beberapa pembicaraan telepon penting dan berteriak beberapa kali lagi.
    Hatinya sedang senang, sampai waktu makan siang, ketika dia memutuskan
    akan melemaskan kaki dan berjalan ke toko kue di seberang jalan.
    Dia sudah lupa sama sekali pada orang-orang berjubah, sampai dia melewati
    serombongan lagi di sebelah toko kue. Dia mendelik gusar kepada mereka. Dia
    tidak tahu kenapa, tetapi mereka membuatnya resah. Rombongan yang ini juga
    berbisik-bisik tegang dan dia sama sekali tidak melihat satu pun kotak
    pengumpul dana. Saat melewati mereka lagi dalam perjalanan kembali ke
    kantor, dia mendengar beberapa kata yang mereka ucapkan.
    "Keluarga Potter, betul, begitu yang kudengar..."
    "... ya, anak mereka, Harry..."
    Mr Dursley langsung berhenti. Ketakutan melandanya. Dia menoleh
    memandang mereka yang berbisik- bisik itu, seakan mau mengatakan sesuatu,
    tetapi tidak jadi.
    Dia cepat-cepat menyeberang jalan, bergegas naik ke kantornya, dengan
    galak menyuruh sekertarisnya agar tidak mengganggunya, menyambar
    teleponnya, dan sudah hampir selesai menghubungi nomor rumahnya ketika dia
    berubah pikiran. Dia meletakkan kembali gagang telepon dan mengelus-elus
    kumisnya sambil berpikir... tidak, dia bodoh. Potter bukan nama yang tidak
    umum. Dia yakin ada banyak orang bernama Potter yang mempunyai anak
    bernama Harry. Kalau dipikir-pikir lagi, dia malah tidak yakin keponakannya
    bernama Harry.
    Dia bahkan belum pernah melihat anak itu. Siapa tahu namanya Harvey.
    Atau Harold. Tak ada gunanya membuat cemas Mrs Dursley. Dia selalu jadi
    cemas kalau nama adiknya disebutsebut. Mr Dursley tidak menyalahkannya-
    kalau dia sendiri punya adik seperti itu... tapi, orang-orang yang memakai
    jubah itu...
    Sulit baginya untuk berkonsentrasi pada bor sore itu, dan ketika
    meninggalkan kantornya pada pukul lima sore, dia masih cemas sehingga
    menabrak orang di depan pintu.
    "Maaf," gumamnya, ketika laki-laki tua yang ditabraknya terhuyung nyaris
    jatuh. Sesaat kemudian baru Mr Dursley menyadari, laki-laki itu memakai jubah
    ungu. Dia kelihaiannya sama sekali tidak marah ditabrak sampai hampir jatuh.
    Sebaliknya, dia malah nyengir lebar dan berkata dengan suara melengking
    yang membuat orang-orang yang lewat menoleh, "Jangan minta maaf, Sir,
    karena tak ada yang bisa membuatku marah hari ini! Bergembiralah, karena
    Kau-Tahu-Siapa telah pergi akhirnya! Bahkan Muggle seperti Anda pun harus
    ikut merayakan hari yang amat sangat membahagiakan ini!"



    --------------------------------------- 4

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dan laki-laki tua itu memeluk pinggang Mr Dursley, lalu pergi.
    Mr Dursley berdiri terpaku di tempatnya. Dia baru saja dipeluk oleh orang
    yang sama sekali asing. Seingatnya dia juga disebut Muggle, entah apa artinya
    itu. Dia jadi bingung. Dia bergegas ke mobilnya dan pulang, berharap bahwa
    semua tadi hanya khayalannya. Ini sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya,
    karena dia orang yang tak suka berkhayal.
    Ketika mobilnya meluncur masuk ke pekarangan rumah nomor empat, yang
    pertama kali dilihatnya dan ini tidak membuatnya bertambah lega adalah
    kucing betina yang telah dilihatnya pagi tadi. Kucing itu sekarang duduk di atas
    tembok pekarangannya. Mr Dursley yakin itu kucing yang sama. Dia punya tanda
    yang sama di sekeliling kedua matanya.
    "Shuh!" Mr Dursley mengusirnya.
    Kucing itu tidak bergerak. Dia malah menatap galak Mr Dursley. Apa ini
    perilaku normal kucing? pikir Mr Dursley.
    Sambil berusaha menenangkan diri, dia masuk rumah. Dia masih bertekad
    tidak akan mencitakan apa-apa kepada istrinya.
    Mrs Dursley melewatkan hari yang normal dan menyenangkan. Saat makan
    malam dia bercerita kepada Mr Dursley tentang ibu tetangga yang punya
    masalah dengan anak perempuannya dan bahwa Dudley sudah bisa ngomong
    kalimat baru ("Tak mau!"). Mr Dursley berusaha bersikap biasa. Ketika Dudley
    sudah ditidurkan, Mr Dursley ke ruang keluarga untuk mendengarkan kabar
    terakhir dalam berita malam.
    Dan akhirnya, para pengamat burung dari segala tempat melaporkan bahwa
    burung hantu di seluruh negeri bersikap aneh sekali hari ini. Meskipun burung
    hantu normalnya berburu di malam hari dan jarang terlihat di siang hari,
    ratusan orang melihat burung-burung hantu beterbangan ke segala penjuru
    sejak matahari terbit. Para ahli tidak dapat menjelaskan kenapa para burung
    hantu mengubah pola tidur mereka." Pembawa berita tersenyum. "Sungguh
    aneh. Dan sekarang, kita bergabung dengan Jim McGuffin yang akan
    menyampaikan ramalan cuaca. Malam ini akan hujan burung hantu lagi, Jim?"
    Wah, Ted," kata si peramal cuaca, "aku tak tahu tentang itu, tetapi bukan
    cuma burung hantu yang bersikap aneh hari ini.
    Para pemirsa sampai sejauh Kent, Yorkshire, dan Dundee bergantian
    meneleponku untuk memberitahu bahwa alih-alih hujan seperti yang
    kuramalkan kemarin, yang mereka dapat adalah bintang-bintang jatuh!
    Mungkin orang-orang merayakan Bonfire Night lebih awal padahal pesta
    kembang api seharusnya baru minggu depan, para pemirsa! Tetapi malam ini
    bisa dipastikan hujan akan turun!"
    Mr Dursley terenyak di kursi-berlengannya. Bintang jatuh di seluruh Inggris?
    Burung-burung hantu beterbangan di siang hari? Orang-orang misterius
    berjubah di mana-mana? Dan bisik-bisik, bisik-bisik tentang keluarga Potter...
    Mrs Dursley masuk ruang keluarga membawa dua cangkir teh. Percuma. Dia
    harus mengatakan sesuatu kepada istrinya. Mr Dursley berdeham panik. "Ehm
    Petunia sayang belakangan ini ada kabar apa dari adikmu?"



    --------------------------------------- 5

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Seperti dugaannya, Mrs Dursley kelihatan kaget dan marah. Yah, biasanya
    kan mereka berpura-pura dia tidak punya adik. "Tidak ada," jawabnya ketus,
    "Memangnya kenapa?"
    "Ada berita aneh tadi," gumam Mr Dursley. "Burung hantu... bintang jatuh...
    dan ada banyak orang bertampang aneh di jalan hari ini."
    "Jadi?" tukas Mrs Dursley.
    "Yah, aku cuma berpikir... mungkin... ada kaitannya dengan... kau tahu,
    kan... kelompoknya." Mrs Dursley menyeruput tehnya dengan bibir cemberut.
    Mr Dursley mempertimbangkan, beranikah dia memberitahu istrinya bahwa dia
    telah mendengar nama Potter disebut-sebut.
    Dia memutuskan tidak berani saja. Sebagai gantinya dia berkata sebiasa
    mungkin, "Anak mereka seumuran Dudley, kan?"
    "Kayaknya sih," kata Mrs Dursley kaku.
    "Siapa ya, namanya? Howard, kan?"
    "Harry. Nama jelek dan kodian, menurutku."
    "Oh, ya?' kata Mr Dursley hatinya mencelos. "Ya, aku setuju."
    Dia tak lagi menyinggung-nyinggung masalah itu ketika mereka naik ke
    kamar tidur. Sementara Mrs Dursley di kamar mandi, Mr Dursley merayap ke
    jendela kamar dan mengintip ke halaman depan. Kucing itu masih ada. Dia
    sedang menatap ke jalanan, seakan menunggu sesuatu.
    Apakah ini hanya khayalannya? Mungkinkah semua ini ada hubungannya
    dengan keluarga Potter? Kalau belul begitu... kalau sampai bocor bahwa
    mereka masih kerabat pasangan... wah, dia tak akan tahan.
    Suami-istri Dursley naik ke tempat tidur. Mrs Dursley segera tertidur, tetapi
    Mr Dursley tidak. Dia memikirkan segala kemungkinan. Pikiran terakhir dan
    menenangkan sebelum dia tertidur adalah, seandainya pun keluarga Potter
    memang terlibat, tak ada alasan bagi mereka untuk datang ke tempat keluarga
    Dursley. Mereka tahu bagaimana pendapat dirinya dan Mrs Dursley mengenai
    mereka dan jenis mereka... Mr Durley tak melihat bagaimana dia dan Petunia
    bisa terlibat dengan entah apa yang sedang berlangsung ini. Dia menguap dan
    berbalik. Semua itu tak akan mempengaruhi mereka...
    Betapa kelirunya dia.
    Mr Dursley mungkin saja bisa tidur, walau tak nyenyak, tetapi kucing di atas
    tembok di luar sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Dia
    duduk diam bagai patung, matanya memandang tanpa kedip ke sudut Privet
    Drive di kejauhan. Ketika ada pintu mobil digabrukkan di jalan sebelah, dia
    tetap bergeming. Begitu juga ketika ada dua burung hantu melayang di
    atasnya. Kucing itu baru bergerak menjelang tengah malam.
    Seorang laki-laki muncul di sudut yang diawasi si kucing.
    Kemunculannya begitu mendadak dan tanpa suara, sehingga kau akan
    mengira dia muncul begitu saja dari dalam tanah. Ekor si kucing bergerak dan
    matanya menyipit.
    Belum pernah ada orang semacam ini di Privet Drive. Dia tinggi, kurus, dan
    sudah tua sekali, kalau dilihat dari rambut dan jenggot putihnya yang cukup
    panjang untuk diselipkan di ikat pinggangnya. Dia memakai jubah ungu panjang
    yang menyapu jalan dan sepatu bot bergesper dengan hak tinggi. Matanya biru



    --------------------------------------- 6

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    terang dan bercahaya di balik kacamatanya yang berbentuk bulan-separo dan
    hidungnya panjang serta bengkok, seakan sudah pernah patah paling tidak dua
    kali. Nama laki-laki ini Albus Dumbledore.
    Albus Dumbledore tampaknya tidak menyadari bahwa dia baru saja tiba di
    jalan tempat segala sesuatu dari namanya sampai sepatunya tidak diinginkan.
    Dia sibuk memeriksa jubahnya, mencari sesuatu. Tetapi tampaknya dia sadar
    dia diawasi, karena mendadak saja dia mendongak memandang si kucing, yang
    masih memandangnya dari ujung lain jalan. Entah karena apa, melihat kucing
    ini dia tampak geli.
    Dia berdecak dan bergumam, "Seharusnya aku tahu."
    Dia sudah menemukan apa yang dicarinya di kantong sebelah dalam.
    Ternyata korek api perak.
    Dibukanya, diangkatnya ke udara, lalu dinyalakannya.
    Lampu jalan terdekat padam dengan bunyi pop pelan.
    Dinyalakannya lagi, lampu berikutnya ikut padam. Dua belas kali ia
    menyalakan Pemadam-Lampu, sampai cahaya yang tinggal hanyalah dua sorot
    kecil mungil di kejauhan, yaitu mata si kucing yang meng-awasinya. Jika ada
    orang yang melongok keluar dari jendela sekarang, bahkan si mata-tajam Mrs
    Dursley Mungkin tidak akan melihat apa yang sedang terjadi di trotoar.
    Dumbledore menyelipkan Pemadam-Lampu ke dalam jubahnya lagi dan
    berjalan menuju rumah nomor empat. Setiba di sana dia duduk di sebelah si
    kucing. Dumbledore tidak memandangnya, tetapi setelah beberapa saat dia
    mengajaknya bicara.
    "Tak disangka kita bertemu di sini ya, Profesor McGonagall
    Dia menoleh untuk tersenyum pada si kucing betina, tetapi kucing itu sudah
    tak ada. Alih-alih kucing, dia tersenyum pada wanita bertampang agak galak
    yang memakai kacamata persegi, persis bentuk vang melingkari mata si kucing.
    Wanita itu juga memakai jubah, warnanya hijau zamrud. Rambut hitamnya
    digelung ketat. Dia kelihatan bingung.
    "Bagaimana kau bisa tahu kucing itu aku?" tanyanya.
    "Profesorku, belum pernah aku melihat kucing yang duduk begitu kaku."
    "Kau pun akan kaku kalau sudah duduk di tembok bata seharian," kata
    Profesor McGonagall.
    "Seharian? Padahal seharusnya kau bisa merayakan liari gembira ini? Aku
    melewati paling tidak selusin pesta dan perayaan dalam perjalanan kemari."
    Profesor McGonagall mendengus marah.
    "Oh ya, semua merayakan," katanya tak sabar. "Kaupikir mereka akan lebih
    hati-hati, tetapi tidak bahkan para Muggle pun merasa ada sesuatu yang
    sedang terjadi. Itu disiarkan di warta berita mereka." Dia mengedikkan
    kepalanya ke arah jendela ruang keluarga Dursley yang gelap.
    "Aku mendengarnya. Rombongan burung hantu... bintang jatuh...
    Nah, mereka kan tidak bego. Keanehan ini menarik perhatian mereka.
    Bintang jatuh di Kent aku berani bertaruh itu Dedalus Diggle. Dari dulu dia
    kurang perhitungan."
    "Kau tak bisa menyalahkan mereka," kata Dumbledore lembut. "Tak ada
    yang benar-benar bisa kita rayakan selama sebelas tahun ini."



    --------------------------------------- 7

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Aku tahu," kata Profesor McGonagall jengkel. "Tapi itu bukan alasan bagi
    kita untuk lupa diri. Orang- orang ceroboh sekali, berkeliaran di jalan di siang
    bolong, bahkan tidak memakai pakaian Muggle, bertukar gosip."
    Dia melirik tajam Dumbledore, seakan berharap Dumbledore akan
    memberitahunya sesuatu, tetapi ternyata tidak, maka dia meneruskan, "Bagus
    sekali jika pada hari Kau-Tahu-Siapa akhirnya menghilang, bangsa Muggle
    akhirnya juga tahu tentang kita. Kira-kira dia betul sudah pergi, Dumbledore?"
    "Kelihatannya begitu," kata Dumbledore. "Banyak yang harus kita syukuri.
    Kau mau permen jeruk?"
    "Apa?"
    "Permen jeruk. Permen Muggle yang kusukai."
    "Tidak, terima.. kata Profesor McGonagall dingin, seakan menurut dia ini
    bukan saatnya untuk makan permen jeruk.
    "Seperti kukatakan, bahkan jika Kau-Tahu-Siapa sudah pergi..."
    "Profesorku yang baik, tentunya orang bijaksana seperti kau bisa menyebut
    namanya? Segala omong-kosong 'Kau-Tahu-Siapa' selama sebelas tahun aku
    sudah berusaha membujuk orang-orang agar menyebutnya dengan namanya
    yang sebenarnya: Voldemort." Profesor McGonagall berjengit, tetapi
    Dumbledore, yang sedang membuka bungkus dua permen jeruk, kelihatannya
    tidak tahu. "Jadi sangat membingungkan jika kita selalu berkata 'Kau-Tahu-
    Siapa'. Aku tak melihat alasan kita harus takut menyebut nama Voldemort."
    "Aku tahu," kata Profesor McGonagall, kedengarannya setengah putus asa,
    setengah kagum. "Tetapi kau lain. Semua tahu kau satu-satunya yang ditakuti si
    Kau-Tahu oh, baiklah, Voldemort."
    Kau membuatku tersanjung," jawab Dumbledore tenang.
    "Voldemort memiliki kekuatan yang tak akan pernah kumiliki."
    "Hanya karena kau terlalu yah, mulia untuk menggunakannya."
    "Untung sekarang gelap. Belum pernah mukaku semerah ini sejak Madam
    Pomfrey mengatakan dia menyukai tutup telingaku yang baru."
    Profesor McGonagall memandang tajam Dumbledore dan berkata, "Burung-
    burung hantu itu bukan apa-apa dibanding dengan kabar burung yang tersebar.
    Kau tahu apa yang dikatakan semua orang? Tentang alasan kenapa dia
    menghilang?
    Tentang apa yang akhirnya menghentikannya?"
    Kelihatannya Profesor McGonagall telah mencapai pokok masalah yang ingin
    sekali didiskusikannya, alasan kenapa dia duduk menunggu di atas tembok
    keras dingin sepanjang hari, karena tidak sebagai kucing ataupun sebagai
    perempuan dia pernah memandang Dumbledore setajam sekarang. Jelas bahwa
    apa pun yang dikatakan "semua orang", tak akan dipercayainya sampai
    Dumbledore mengadakan kepadanya bahwa itu benar.
    Tapi Dumbledore malah memilih permen jeruk yang lain dan tidak
    menjawab.
    "Apa yang mereka katakan," dia meneruskan, "adalah bahwa tadi malam
    Voldemort muncul di Godric's Hollow. Dia datang mencari keluarga Potter.
    Menurut gosip, Lily dan James Potter sudah sudah mereka sudah meninggal."
    Dumbledore menundukkan kepalanya. Profesor McGonagall memekik kaget.



    --------------------------------------- 8

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Lily dan James... tak bisa kupercaya... aku tak mau percaya... Oh,
    Albus..."
    Dumbledore mengulurkan tangan dan membelai bahu Profesor McGonagall.
    "Aku tahu... aku tahu...," katanya sedih.
    Suara Profesor McGonagall bergetar ketika dia meneruskan,
    "Itu belum semua. Kata mereka dia mencoba membunuh anak keluarga
    Potter, Harry. Tetapi dia tidak bisa. Dia tidak berhasil membunuh anak kecil
    itu. Tak ada yang tahu kenapa atau bagaimana, tetapi mereka bilang, bahwa
    ketika dia gagal membunuh Harry Potter, kekuatan Voldemort punah dan
    itulah sebabnya dia menghilang."
    Dumbledore mengangguk tanpa bicara.
    "Jadi jadi betul?" Profesor McGonagall tergagap. "Setelah semua yang
    dilakukannya... semua orang yang telah  dibunuhnya... dia tak bisa membunuh
    anak yang boleh dikatakan masih bayi? Sungguh mengherankan...
    mengingat  segala upaya untuk menghentikan sepak terjangnya... tetapi
    bagaimana mungkin Harry bisa bertahan?
    "Kita cuma bisa menduga," kata Dumbledore. "Kita mungkin tak akan pernah
    tahu."
    Profesor McGonagall menarik sehelai saputangan sutra dan mengusap mata
    di balik kacamatanya. Dumbledore menyedot hidung keras sambil mengambil
    jam emas dari dalam sakunya dan memandangnya. Jam itu sudah sangat tua.
    Jarumnya ada dua belas, tetapi tidak ada angkanya. Sebagai gantinya, planet-
    planct kecil bergerak mengitari tepinya. Tapi Dumbledore pasti bisa
    mengartikannya, karena dia mengembalikan jam itu ke sakunya dan berkata,
    Hagrid terlambat. Kurasa dia yang memberitahumu bahwa aku akan ada di
    sini, kan?"
    "Ya," jawab Profesor McGonagall. "Dan kurasa kau lulak akan
    memberitahuku kenapa kau sampai berada disini"
    "Aku datang untuk mengantar Harry kepada bibi dan pamannya. Hanya
    merekalah keluarganya yang tinggal sekarang."
    "Kau tidak yang kaumaksudkan tak mungkin urang-orang yang tinggal di
    sini?" seru Profesor McGonagall seraya melompat berdiri dan menunjuk rumah
    nomor empat.
    "Dumbledore jangan.
    Aku sudah mengamati mereka sepanjang hari. Takkan bisa kautemukan dua
    orang yang sangat berbeda dari kita seperti mereka. Dan mereka punya anak
    kulihat anak ini menendang-nendang ibunya sepanjang jalan ini, menjerit-jerit
    minta permen. Harry Potter akan tinggal di sini?
    "Ini tempat paling baik untuknya," kata Dumbledore tegas.
    "Bibi dan pamannya akan bisa menjelaskan segalanya kepadanya kalau dia
    sudah lebih besar. Aku sudah menulis surat kepada mereka."
    "Surat?" Profesor McGonagall mengulangi dengan lesu, kembali duduk di atas
    tembok. "Astaga, Dumbledore, kaupikir kau bisa menjelaskan semua ini dalam
    surat? Orang-orang ini tak akan pernah memahami Harry! Dia akan jadi orang
    terkenal jadi legenda aku tak akan heran jika di masa depan nanti, hari ini



    --------------------------------------- 9

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    akan dijadikan Hari Harry Potter akan ada buku-buku tentang Harry yang
    ditulis semua anak di dunia kita akan mengenal namanya!"
    "Justru itu," kata Dumbledore, memandang dengan sangat serius di atas
    lensa kacamatanya yang berbentuk bulan-separo.
    "Semua itu bisa membuat sombong anak mana pun. Sudah terkenal sebelum
    dia bisa berjalan dan bicara! Terkenal gara-gara sesuatu yang ingat pun dia
    tidak! Tak bisakah kaulihat, akan jauh lebih baik baginya jika dia dibesarkan
    jauh dari semua itu, sampai dia sudah siap menerimanya."
    Profesor McGonagall membuka mulut, berubah pikiran, menelan ludah, dan
    kemudian berkata, "Ya ya, kau benar, tentu saja. Tetapi bagaimana anak itu
    bisa tiba di sini, Dumbledore?" Mendadak diamatinya jubah Dumbledore, seakan
    dia mengira Dumbledore mungkin saja menyembunyikan anak itu di balik
    jubahnya.
    Hagrid yang akan mengantarnya."
    Kau pikir bijaksana mempercayakan hal sepenting ini kepada Hagrid?"
    "Aku akan mempercayakan hidupku kepada Hagrid," kata Dumbledore.
    "Aku tidak bermaksud mengatakan hatinya tidak beradaa di tempatnya yang
    benar," kata Profesor McGonagall menggerundel, "tetapi kau tak bisa berpura-
    pura tak tahu dia ceroboh. Dia kan cenderung...apa itu?"
    Derum rendah memecah kesunyian di sekitar mereka. Derum itu makin lama
    makin keras sementara mereka memandang ke ujung jalan, mencari-cari lampu
    kendaraan. Bunyi itu membesar seperti raungan sementara mereka berdua
    mendongak ke langit dan sebuah motor luar biasa besar jatuh dari angkasa,
    mendarat di jalan di depan mereka.
    Sepeda motor besar itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan laki-
    laki yang duduk di atasnya, tingginya nyaris dua kali laki-laki dewasa dan lima
    kali lebih lebar.
    Besarnya sungguh kelewatan, dan diaa begitu liar rambut panjangnya yang
    hitam dan lebat kusut dan jenggotnya yang juga lebat menyem- bunyikan
    sebagian besar wajahnya.
    Tangannya sebesar tutup tempat sampah dan kakinya yang memakai sepatu
    bot kulit seperti lumba-lumba kecil. Lengannya yang besar dan berotot
    memeluk bungkusan selimut.
    "Hagrid," kata Dumbledore lega. "Akhirnya. Dan dari mana kaudapat sepeda
    motor itu?"
    "Pinjam, Profesor Dumbledore jawab si raksasa, sambil turun dengan hati-
    hati dari motor itu. "Sirius Black muda pinjamkan padaku. Aku dapat dia, Sir."
    "Tidak ada kesulitan, kan?"
    "Tidak, Sir rumah nyaris hancur, tapi aku berhasil ambil dia sebelum para
    Muggle berdatangan. Dia tertidur ketika kami terbang melewati Bristol."
    Dumbledore dan Profesor McGonagall membungkuk ke arah bungkusan
    selimut. Di dalamnya ada seorang bayi laki-laki, tertidur nyenyak. Di balik
    sejumput rambut hitam pekat di atas dahinya mereka bisa melihat luka
    berbentuk aneh," seperti sambaran kilat.
    "Itukah...?" bisik Profesor McGonagall.
    "Ya," kata Dumbledore. "Bekas lukanya tak akan hilang selamanya."



    --------------------------------------- 10

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tak bisakah kau melakukan sesuatu, Dumbledore?"
    "Kalaupun bisa, aku tak mau. Bekas luka kadang-kadang ada gunanya. Aku
    sendiri punya bekas luka di atas lutut kiri yang berupa peta jalur kereta api
    bawah tanah London. Nah, berikan anak itu, Hagrid. Lebih baik segera kita
    bereskan."
    Dumbledore menggendong Harry dan berbalik menuju rumah keluarga
    Dursley.
    "Bolehkah bolehkah aku ucapkan selamat tinggal padanya, Sir?" tanya
    Hagrid.
    Dia menundukkan kepalanya yang besar berambut lebat dan memberi si bayi
    kecupan yang pastilah membuat gatal gara-gara gesekan kumisnya. Kemudian
    mendadak Hagrid melolong seperti anjing yang terluka.
    "Shhh!" desah Profesor McGonagall. "Kau akan membangunkan para Muggle!"
    Maaf-maaf," isak Hagrid, seraya mengeluarkan saputangan besar berbintik-
    bintik dan membenamkan wajahnya di dalamnya. "Tapi aku t-t-tak tahan Lily
    dan James meninggal dan kasihan Harry harus tinggal dengan Muggle..."
    "Ya, ya, memang sangat menyedihkan, tetapi kendalikan dirimu, Hagrid.
    Kalau tidak, kita bisa ketahuan," bisik Profesor McGonagall sambil membelai-
    belai lengan Hagrid dengan amat hati-hati, sementara Dumbledore melangkahi
    tembok halaman yang rendah dan berjalan ke pintu depan. Dengan hati-hati di
    baringkannya Harry di depan pintu. Diambilnya sehelai surat dari dalam
    jubahnya dan diselipkannya di balik selimut Harry.
    Setelah itu dia kembali bergabung dengan dua orang lainnya.
    Selama semenit penuh ketiganya memandang bungkusan kecil itu. Bahu
    Hagrid berguncang, Profesor McGonagall berkali-kali mengejapkan matanya,
    dan kilat yang biasanya ada di mata Dumbledore seakan telah padam.
    "Nah," kata Dumbledore akhirnya, "begitulah. Tak ada gunanya lagi kita
    tinggal di sini. Lebih baik kita pergi dan ikut perayaan."
    "Yeah," kata Hagrid sengau. "Aku akan kembalikan motor Sirius. Malam,
    Profesor McGonagall... Profesor Dumbledore."
    Sambil menyeka air matanya yang mengucur terus dengan lengan jaketnya,
    Hagrid melompat ke atas motornya dan menstarternya. Diiringi deruman,
    motor itu terangkat ke angkasa dan meluncur dalam kegelapan malam.
    "Kita akan segera bertemu lagi, Profesor McGonagall," kata Dumbledore
    sambil mengangguk kepadanya. Sebagai jawaban, Profesor McGonagall
    membuang ingus.
    Dumbledore berbalik dan berjalan pergi. Di sudut dia berhenti dan
    mengeluarkan Pemadam-Lampu peraknya.
    Dijetreknya sekali, dan dua belas bola cahaya serentak meluncur menuju
    lampu-lampu jalanan, sehingga Privet Drive mendadak terang dan dia bisa
    melihat seekor kucing betina menyelinap ke sudut di ujung jalan lainnya. Dia
    juga masih bisa melihat bungkusan selimut di depan pintu rumah nomor empat.
    "Semoga semua baik, Harry," gumamnya. Dia memutar tumitnya dan dengan
    kebutan jubahnya, dia lenyap.
    Angin sepoi meniup pagar-pagar tanaman di Privet Drive yang rapi, yang
    berjajar diam dan teratur dibawah langit yang kelam. Di tempat setenang ini



    --------------------------------------- 11

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    tidak akan pernah kusangka akan terjadi hal -hal menakjubkan. Harry Potter
    berguling dalam selimutnya tanpa terbangun. Dengan salah satu tangan
    kecilnya memegang surat yang ada disampingnya, dia tidur terus. Tanpa
    menyadari kalau dia istimewa, tanpa menyadari kalau dia terkenal, tanpa
    menyadari bahwa beberapa jam lagi dia akan terbangun mendengar jeritan Mrs
    Dursley saat membuka pintu depan untuk menaruh botol-botol susu, atau dia
    akan melewatkan beberapa minggu mendatang didorong-dorong dan dicubiti
    sepupunya, Dudley.... Dia tak mungkin tahu bahwa di seluruh negeri, semua
    mengangkat gelas dan berkata dengan suara pelan, "Untuk Harry Potter anak
    laki-laki yang bertahan hidup!"
    2. Kaca Yang Lenyap
    Sudah Hampir sepuluh tahun berlalu sejak suami-istri Dursley terbangun dan
    menemukan keponakan mereka di depan pintu, tetapi Privet Drive hampir tak
    berubah. Matahari terbit menyinari halaman-halaman depan yang rapi dan
    membuat berkilau angka empat dari kuningan di pintu depan rumah keluarga
    Dursley. Sinar matahari merayap ke dalam ruang keluarga mereka, yang masih
    nyaris sama dengan pada malama Mr Dursley menonton berita penting tentang
    burung-burung hantu dahulu. Sepuluh tahun yang lalu, ada banyak foto anak
    yang tampak seperti bola pantai besar merah jambu memakai topi yang
    warnanya berbeda-beda. Tetapi sekarang Dudley Dursley sudah bukan bayi lagi,
    dan sekarang foto-foto itu menunjukkan anak gemuk berambut pirang menaiki
    sepeda roda tiga pertamanya, naik komidi putar, bermain komputer dengan
    ayahnya, dipeluk dan dicium ibunya. Dalam ruangan itu sama sekali tidak ada
    tanda-tanda bahwa ada anak lain yang tinggal dirumah itu.
    Padahal Harry Potter masih di situ, saat ini sedang tidur, tapi tak akan lama
    lagi. B ibinya, Petunia, sudah bangun, dan suara nyaringnyalah yang pertama
    memecah kesunyian pagi itu.
    "Bangun! Bangun! Cepat!"
    Harry terbangun dengan kaget. Bibinya menggedor pintu lagi.
    "Banguuun!" lengkingnya. Harry mendengarnya melangkah menuju dapur,
    lalu bunyi wajan yang dielakkan di atas kompor.
    Harry berguling telentang lagi dan berusaha mengingat-ingat mimpinya yang
    terputus tadi. Mimpinya menyenangkan. Ada motor terbang. Dia merasa dia
    pernah mimpi yang sama sebelumnya.
    Bibinya sudah kembali berada di depan pintu kamarnya.
    "Kau sudah bangun belum?" tuntutnya.
    "Hampir," jawab Harry.
    "Ayo, cepat. Aku mau kau yang menggoreng daging asap.
    Jangan sampai gosong. Aku ingin segalanya sempurna pada hari ulang tahun
    Dudley."
    Harry mengeluh.
    "Apa katamu?"



    --------------------------------------- 12

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tidak, tidak apa-apa..."
    Diulang tahun Dudley bagaimana mungkin dia bisa lupa?
    Dengan enggan Harry turun dari tempat tidur dan mencari-cari kaus kaki.
    Ditemukannya sepasang di bawah tempat tidur, dan setelah menarik labah-
    labah dari salah satu di antaranya, dipakainya kaus kaki itu. Harry sudah
    terbiasa dengan labah-labah, karena lemari di bawah tangga penuh labah-
    labah, dan di situlah dia tidur.
    Setelah berpakaian, dia pergi ke dapur. Meja dapur nyaris tersembunyi di
    bawah tumpukan hadiah untuk Dudley.
    Tampaknya Dudley mendapatkan komputer baru yang diinginkannya, belum
    lagi televisi baru, dan sepeda balap.
    Kenapa persisnya Dudley ingin scpeda balap, sungguh suatu misteri bagi
    Harry, karena Dudley gemuk dan benci olahraga
    kecuali, tentu saja, bentuk olahraganya adalah meninju orang lain.
    Kantong-tinju favorit Dudley adalah Harry, tetapi Dudley jarang berhasil
    mengenainya. Harry memang tidak kelihatan gesit, tetapi dia gesit sekali.
    Mungkin ada hubungannya dengan tinggal di dalam lemari yang gelap, tetapi
    Harry termasuk kecil dan kurus untuk umurnya. Dia bahkan kelihatan lebih kecil
    dan lebih kurus dari yang sesungguhnya karena semua pakaiannya lungsuran
    Dudley, dan Dudley empat kali lebih besar daripadanya. Harry berwajah kurus,
    lututnya menonjol, rambutnya hitam, dan matanya hijau cemerlang. Dia
    memakai kacamata bulat yang bingkainya dilekat dengan banyak selotip karena
    seringnya Dudley memukul hidungnya. Satu- satunya yang disukai Harry pada
    penampilannya adalah bekas luka tipis pada dahinya yang berbentuk sambaran
    kilat. Sejauh yang dia ingat, dari dulu bekas luka itu sudah ada dan pertanyaan
    pertama yang seingatnya dia tanyakan kepada Bibi Petunia adalah bagaimana
    dia mendapatkan bekas luka itu.
    "Dalam kecelakaan waktu orangtuamu meninggal," katanya.
    "Dan jangan tanya-tanya lagi."
    Jangan tanya-tanya itu peraturan pertama jika mau hidup tenang bersama
    keluarga Dursley.
    Paman Vernon masuk dapur ketika Harry sedang membalik daging.
    'Sisir rambutmu!" perintahnya, sebagai ucapan selamat paginya.
    Sekali seminggu, Paman Vernon memandang dari atas korannya dan
    berteriak bahwa Harry harus potong rambut.
    Harry pastilah sudah potong rambut lebih sering dibanding seluruh teman
    sekelasnya sekligus. Tetapi sama saja, rambutnya tetap saja tumbuh begitu
    berantakan.
    Harry sedang menggoreng telur ketika Dudley muncul di dapur dengan
    ibunya. Dudley mirip sekali dengan Paman Vernon. Wajahnya lebar dan merah
    jambu, lehernya pendek,
    matanya kecil, biru, berair. Rambutnya yang tebal pirang menempel rapi
    pada kepalanya yang gemuk. Bibi Petunia sering mengatakan bahwa Dudley
    kelihatan seperti bayi malaikat,
    'sedangkan Harry sering mengatakan Dudley seperti babi pakai wig.



    --------------------------------------- 13

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry menaruh piring berisi daging dan telur ke atas meja. Ini susah, karena
    nyaris tak ada tempat. Dudley, sementara itu, menghitung hadiahnya.
    Wajahnya langsung cemberut.
    "Tiga puluh enam," katanya sambil memandang ayah dan ibunya. "Kurang
    dua dibanding tahun lalu."
    'Sayang, kau belum menghitung hadiah Bibi Marge, lihat, ini dia di bawah
    hadiah dari Mummy dan Daddy."
    "Baik, tiga puluh tujuh, kalau begitu," kata Dudley, yang wajahnya sudah
    merah. Harry yang sudah bisa menduga kemarahan Dudley akan meledak,
    cepat-cepat mengunyah dagingnya. Siapa tahu Dudley akan menjungkirkan
    meja.
    Bibi Petunia rupanya menyadari datangnya bahaya juga, karena dia cepat-
    cepat berkata, "Dan kami akan membelikan untukmu dua hadiah lagi kalau kita
    jalan-jalan nanti.
    Bagaimana, Manis? Dua hadiah tambahan. Oke, kan?"
    Sejenak Dudley berpikir. Kelihatannya susah baginya.
    Akhirnya dia berkata pelan-pelan, "Jadi aku akan punya tiga puluh... tiga
    puluh..."
    "Tiga puluh sembilan, anak pintar," kata Bibi Petunia.
    "Oh." Dudley duduk dengan keras dan menjangkau bungkusan terdekat.
    "Baiklah."
    Paman Vernon tertawa.
    "Si kecil ini tak mau rugi, persis ayahnya. Pintar kau, Dudley!" Ia mengacak
    rambut Dudley.
    Saat itu telepon berdering dan Bibi Petunia menjawabnya sementara Harry
    dan Paman Vernon menonton Dudley membuka sepeda balap, kamera, pesawat
    terbang mainan yang dikendalikan remote control, enam belas permainan
    komputer, dan perekam video. Dia sedang merobek kertas pembungkus arloji
    emas ketika Bibi Petunia muncul kembali dengan wajah marah dan cemas.
    "Kabar buruk, Vernon," katanya. "Mrs Figg kakinya patah.
    Jadi tak bisa dititipi dia." Dia mengedikkan kepala ke arah Harry.
    Mulut Dudley melongo ngeri, tetapi Harry senang. Setiap tahun, pada hari
    ulang tahun Dudley, orangtuanya mengajak Dudley dan seorang temannya
    jalan-jalan, ke taman hiburan, kios hamburger, atau menonton bioskop. Harry
    ditinggal, dititipkan pada Mrs Figg, wanita tua aneh yang tinggal dua jalan dari
    Pivet Drive. Harry benci tinggal di sana. Seluruh rumahnya bau kol dan Mrs Figg
    memaksanya melihat foto-foto semua kucing yang pernah dimilikinya.
    "Jadi bagaimana?" kata Bibi Petunia, memandang Harry dengan berang,
    seakan Harry yang merencanakan sakitnya Mrs Figg. Harry tahu dia seharusnya
    kasihan Mrs Figg kakinya patah, tetapi dia mengingatkan dirinya bahwa baru
    setahun lagi dia harus melihat foto Tibbles, Snowy, Mr Paws, dan Tufty.
    "Kita bisa menelepon Marge," Paman Vernon menyarankan.
    "Jangan ngaco, Vernon, dia kan benci anak itu."
    Keluarga Dursley sering membicarakan Harry seperti inj seakan anak ini
    tidak ada, atau lebih tepat lagi, seakan dia sesuatu yang sangat menjijikkan,
    seperti bekicot.



    --------------------------------------- 14

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Bagaimana kalau siapa-namanya-tuh, temanmu Yvonne?"
    "Sedang, berlibur di Majorca," tukas Bibi Petunia.
    "Kalian bisa meninggalkan aku di sini," Harry mengusulkan penuh harap (dia
    akan bisa menonton acara yang disukainya di televisi dan mungkin bahkan
    mencoba komputer Dudley).
    Bibi Petunia kelihatan seperti tersedak telur.
    "Dan kalau kami pulang nanti rumah sudah han-cur?" geramnya.
    "Aku tak akan meledakkan rumah," kata Harry, tetapi mereka tidak
    memedulikannya.
    "Kurasa kita bisa membawanya ke kebun binatang," kata Bibi Petunia pelan,
    "... dan meninggalkannya di mobil..."
    "Mobil kita baru, dia tak boleh duduk sendirian..." Dudley mulai menangis
    rneraung-raung. Sebetulnya sih dia tidak betul-betul menangis. Sudah
    bertahun-tahun dia tidak menangis.
    Tetapi dia tahu bahwa kalau dia mengerutkan mukanya dan meraung,
    ibunya akan mengabulkan semua yang diinginkannya.
    "Dinky Duddydums, jangan menangis, Mummy tak akan membiarkannya
    merusak hari istimewamu!" Bibi Petunia berseru sambil memeluk Dudley.
    "Aku... tak... mau... dia... i-i-ikut!" Dudley menjerit di antara isak pura-
    puranya. "Dia se-selalu merusak acara!" Dia menyeringai jahat ke arah Harry
    dari celah lengan ibunya.
    Saat itu bel pintu berbunyi. "Ya ampun, mereka sudah datang!" kata Bibi
    Petunia panik dan sekejap kemudian sahabat Dudley, Piers Polkiss, masuk
    bersama ibunya. Piers anak kurus dengan wajah seperti tikus. Dia biasanya
    yang memegangi lengan anak-anak di belakang punggung, sementara Dudley
    memukuli mereka. Dudley langsung berhenti berpura-pura menangis.
    Setengah jam kemudian, Harry yang tak mempercayai keberuntungannya,
    duduk di jok belakang mobil bersama Piers dan Dudley, menuju ke kebun
    binatang untuk pertama kali dalam hidupnya. Paman dan bibinya tak tahu lagi
    apa yang harus dilakukan, tetapi sebelum mereka berangkat, Paman Vernon
    mengajaknya bicara.
    "Kuperingatkan kau," katanya, wajahnya yang lebar keunguan dekat sekali
    dengan wajah Harry. "Kuperingatkan kau sekarang kalau kau melakukan yang
    aneh-aneh sedikit saja
    kau akan dikurung di lemari itu sampai Natal."
    "Aku tidak akan melakukan apa-apa," kata Harry, sungguh..."
    Tetapi Paman Vernon tidak percaya. Yang lain pun tidak.
    Susahnya, hal-hal aneh sering terjadi di sekitar Harry dan tak ada gunanya
    memberitahu keluarga Dursley bahwa bukan dia yang menyebabkan hal-hal itu
    terjadi.
    Pernah Bibi Petunia yang sudah sebal melihat Harry pulang dari tukang
    cukur tetapi rambutnya kelihatan sama saja, mengambil gunting dapur dan
    memotong rambut Harry sampai pendek nyaris gundul, kecuali poninya yang
    sengaja tidak dipotongnya untuk "menyembunyikan bekas luka yang
    mengerikan". Dudley terbahak-bahak menertawakan Harry.



    --------------------------------------- 15

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Sedangkan Harry sendiri semalaman tak bisa tidur, membayangkan
    bagaimana di sekolah keesokan harinya. Dia sudah selalu ditertawakan gara-
    gara pakaian yang kebesaran dan kacamatanya yang dilekat dengan selotip.
    Tapi paginya, ternyata rambutnya sudah persis lagi dengan sebelum Bibi
    Petunia mencukurnya. Dia dikurung selama seminggu dalam lemarinya gara-
    gara ini, walaupun dia sudah mencoba menerangkan bahwa dia tidak bisa
    menjelaskan bagaimana rambutnya bisa tumbuh kembali secepat itu.
    Pada kesempatan lain, Bibi Petunia memaksanya memakai sweter tua
    Dudley yang menjijikkan (cokelat dengan bulatan-bulatan hitam). Semakin Bibi
    Petunia memaksa menariknya melewati kepala Harry, sweter itu semakin
    mengecil, sampai akhirnya cuma seukuran baju boneka tangan, dan jelas tak
    akan cukup dipakai Harry. Bibi Petunia memutuskan pastilah sweter itu
    mengerut ketika dicuci. Dan betapa leganya Harry,! dia tidak dihukum karena
    ini.
    Tetapi sebaliknya, dia mendapat kesulitan besar gara-gara ditemukan di
    atap dapur sekolah. Seperti biasa geng Dudley mengejar-ngejarnya, dan Harryl
    sama kagetnya dengan yang lain ketika tiba-tiba saja dia sudah duduk di atas
    cerobong asap.
    Mr dan Mrs Dursley menerima surat dari Ibu Kepala Sekolah yang sangat
    marah, karena Harry telah memanjat-manjat bangunan sekolah. Tetapi
    sebetulnya yang dilakukannya hanyalah (seperti diteriakkannya kepada Paman
    Vernon dari dalam lemarinya yang terkunci) melompati ke belakang tempat
    sampah besar di luar pintu dapur. Harry menduga pastilah saat melompat itu
    dia terbawa angin ke atas.
    Tetapi hari ini semua akan berjalan mulus. Bahkan duduk bersama Dudley
    dan Piers pun diterimanya, asal dia bisa melewatkan hari bukan di sekolah, di
    dalam lemarinya, atau di ruang tamu Mrs Figg yang bau kol.
    Sementara mengemudi, Paman Vernon mengeluh kepada Bibi Petunia.
    Hobinya memang mengeluh, orang-orang di kantornya, Harry, para wakil
    rakyat, Harry, bank, dan Harry hanya beberapa saja dari topik favoritnya. Hari
    ini sepeda motor.
    &.ngebut seperti orang gila, preman-preman kurang kerjaan,"
    komentarnya ketika ada motor yang menyalip mereka.
    Aku pernah mimpi tentang motor," kata Harry yang tibatiba ingat
    mimpinya. "Motornya terbang."
    Paman Vernon nyaris menabrak mobil di depannya. Dia berbalik di tempat
    duduknya dan berteriak kepada Harry, wajahnya seperti bit raksasa yang
    berkumis. "MOTOR TIDAK TERBANG!" Dudley dan Piers cekikikan.
    Aku tahu motor tidak terbang," kata Harry. "Itukan cuma mimpi."
    Tetapi Harry menyesal sudah ngomong. Kalau ada hal lain yang dibenci
    keluarga Dursley, itu adalah jika Harry menyebut-nyebut sesuatu yang tidak
    semestinya terjadi, tak peduli peristiwa itu cuma dalam mimpi atau bahkan
    film kartun.
    Rupanya mereka berpendapat ide-ide Harry berbahaya.
    Hari Sabtu itu cerah sekali dan kebun binatang penuh dikunjungi keluarga-
    keluarga. Mr dan Mrs Dursley membelikan Dudley dan Piers es krim cokelat



    --------------------------------------- 16

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    besar di pintu masuk, dan karena si gadis penuh senyum di mobil es krim itu
    sudah telanjur menanyai Harry dia ingin es krim apa sebelum mereka sempat
    mengajak Harry pergi, mereka membelikannya es loli lemon yang murah. Cukup
    enak juga, pikir Harry yang menjilati es lolinya sembari menonton gorila yang
    menggaruk-garuk kepalanya dan bertampang mirip Dudley, hanya saja
    rambutnya tidak pirang.
    Belum pernah Harry segembira ini. Dia berhati- hati, berjalan agak jauh dari
    keluarga Dursley, agar Dudley dan Piers, yang menjelang makan siang sudah
    mulai bosan dengan binatang-binatang, tidak kembali melakukan hobi favorit
    mereka, yaitu memukulinya. Mereka makan di restoran kebun binatang dan
    ketika Dudley marah-marah karena es krimnya kurang besar, Paman Vernon
    membelikannya porsi yang lebih besar dan Harry diizinkan menghabiskan
    pesanan pertamanya.
    Harry belakangan merasa, bahwa seharusnya dia tahu, hal menyenangkan
    seperti ini tak mungkin berlangsung terus.
    Setelah makan siang mereka mengunjungi rumah reptil. Di dalam rumah
    reptil sejuk dan gelap, dengan jendela-jendela berlampu di sepanjang
    dindingnya. Di balik kaca, berjenis-jenis kadal dan ular merayap dan melata di
    atas potongan-potongan kayu dan batu. Dudley dan Piers ingin melihat kobra
    besar beracun dan sanca raksasa yang bisa meremuk manusia. Dudley segera
    menemukan ular terbesar di tempat itu. Ular itu bisa membelitkan tubuhnya
    dua kali ke mobil Paman Vernon dan meremuknya seperti kaleng kerupuk
    tetapi saat ini kelihatannya dia sedang malas. Sebetulnya, dia malah sedang
    tidur nyenyak.
    Dudley berdiri dengan hidung menempel di kaca,
    memandang gulungan cokelat berkilat itu.
    "Suruh dia bergerak," rengeknya pada ayahnya. Paman Vernon mengetuk
    kaca, tetapi si ular diam saja.
    "Ketuk lagi," Dudley menyuruh. Paman Vernon mengetuk keras dengan buku-
    buku jarinya, tetapi si ular tetap saja tidur.
    "Sungguh membosankan," keluh Dudley. Dia pergi.
    Harry ganti bergerak ke dekat kaca dan memandang si ular lekat-lekat. Dia
    tak akan heran kalau si ular mati karena bosannya. Tak ada teman selain orang-
    orang bodoh yang mengetuk-ngetuk kaca, mencoba mengganggunya sepanjang
    hari. Ini lebih parah daripada menggunakan lemari sebagai kamar tidur, dengan
    satu-satunya pengunjung adalah Bibi Petunia yang menggedor-
    gedor pintu untuk membangunkannya paling tidak dia kan bisa ke bagian
    rumah yang lain.
    Ular itu tiba-tiba membuka matanya yang seperti manik-manik. Pelan,
    sangat pelan, ia mengangkat kepalanya sampai matanya sejajar dengan mata
    Harry.
    Mata itu mengedip.
    Harry terbelalak. Kemudian dia cepat-cepat memandang berkeliling untuk
    memastikan tak ada yang melihat. Ternyata memang tak ada. Dia kembali
    memandang si ular dan balas mengedip juga.



    --------------------------------------- 17

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Si ular mengedikkan kepala ke arah Paman Vernon dan Dudley, kemudian
    mendongak ke langit-langit. Pandangannya kepada Harry seakan jelas berkata,
    Sepanjang waktu memang seperti itu."
    "Aku tahu," gumam Harry lewat kaca, meskipun Dia tak
    yakin si ular bisa mendengarnya.
    "Pastilah ?..ingat menyebalkan."
    Si ular mengangguk-angguk bersemangat.
    "Kau berasal dari mana sih?" tanya Harry.
    Ular itu menggerakkan ekornya ke arah papan kecil di sebelah kaca. Harry
    membaca tulisannya.
    Boa Pembelit, Brasil.
    "Enakkah di sana?"
    Si boa pembelit menunjuk dengan ekornya ke papan lagi dan Harry
    meneruskan membaca: Ular yang ada di sini dikembangbiakkan di kebun
    binatang. "Oh, begitu jadi, kau belum pernah ke Brasil?"
    Saat si ular menggelengkan kepala teriakan memekakkan telinga di belakang
    Harry membuat mereka berdua terlonjak.
    "DUDLEY! MR DURSLEY! SINI LIHAT, ULARNYA MENGGELENG-GELENG! KALIAN
    TAK AKAN PERCAYA!
    Dudley datang tergopoh-gopoh.
    "Minggir kau,"katanya sambil meninju dada Harry. Karena tak menyangka
    akan diserang, Harry tejatuh di lantai beton. Apa yang terjadi berikutnya
    berlangsung begitu cepat sehingga tak ada yang melihat bagaimana terjadinya.
    Sesaat setelah Piers dan Dudley berdiri menempel di kaca, detik berikutnya
    mereka melompat mundur sambil memekik ngeri.
    Harry duduk terngaga: kaca bagian depan kandang si ular telah lenyap. Ular
    raksasa itu membuka gulungan tubuhnya dengan cepat, meluncur di lantai.
    Para pengunjung rumah reptil menjerit-jerit panik dan berlarian ke pintu
    keluar.
    Saat si ular meluncur cepat melewatinya, Harry bersedia bersumpah dia
    mendengar suara desis pelan berkata, "Brasil, aku datang segera... Trimsss,
    Amigo."
    Si penjaga rumah reptil shock dan bengong.
    "Tapi kacanya," katanya terus-menerus, "ke mana kacanya?"
    Direktur kebun binatang sendiri yang membuatkan secangkir teh kental
    manis untuk Bibi Petunia sambil tak henti-hentinya minta maaf. Piers dan
    Dudley cuma bisa merepet. Sejauh yang Harry lihat, ular itu tidak melakukan
    apa-apa, kecuali dengan main-main mengatup-ngatupkan mulutnya di dekat
    tumit Dudley dan Piers saat dia lewat. Tetapi ketika mereka sudah kembali ke
    mobil Paman Vernon, Dudley bercerita bagaimana si ular nyaris menggigit
    kakinya sampai putus, sementara Piers bersumpah si ular mencoba
    membelitnya sampai mati. Tetapi yang paling parah, paling tidak bagi Harry,
    adalah Piers sudah cukup tenang untuk berkata, "Harry tadi bicara dengan ular
    itu.
    Iya, kan, Harry?"



    --------------------------------------- 18

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Paman Vernon menunggu sampai Piers meninggalkan rumah mereka,
    sebelum dia mulai mencecar Harry. Paman Vernon marah sekali, sampai nyaris
    tak bisa bica ra. Dia hanya bisa bilang, "Pergi lemari tinggal sana tidak
    makan," sebelum dia terhenyak di kursi dan Bibi Petunia cepat-cepat lari
    mengambilkannya segelas besar brandy.
    ***
    Lama kemudian Harry masih berbaring di dalam lemarinya yang gelap, ingin
    sekali rasanya punya arloji. Dia sama sekali tak tahu jam berapa sekarang dan
    dia juga tidak yakin keluarga Dursley sudah tidur. Sebelum mereka tidur; riskan
    sekali jika dia keluar dan mengendap-endap ke dapur untuk mengambil
    makanan.
    Dia telah tinggal bersama keluarga Dursley selama sepuluh tahun, sepuluh
    tahun penuh penderitaan. Sejauh yang dia ingat, sejak dia masih bayi dan
    orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Kadang-kadang, jika dia
    mengingat-ingat dengan keras selama jam-jam panjang membosankan di dalam
    lemarinya, muncul dalam ingatannya pemandangan yang aneh: kilat cahaya
    hijau menyilaukan dan rasa sakit yang panas di dahinya. Dia menganggap ini
    pastilah saat tabrakan terjadi, walaupun dia tak bisa membayangkan dari mana
    cahaya hijau itu muncul. Dia sama sekali tidak bisa mengingat orangtuanya.
    Paman dan bibinya tidak pernah bicara tentang mereka, dan tentu saja dia
    dilarang mengajukan pertanyaan. Tak ada foto orangtuanya di rumah keluarga
    Dursley.
    Waktu dia masih lebih kecil, Harry sering mengkhayalkan ada keluarga tak
    dikenal yang datang untuk membawanya pergi, tetapi ini tak pernah terjadi.
    Keluarga Dursley adalah satusatunya keluarganya. Meskipun demikian kadang-
    kadang dia mengira (atau berharap) orang orang asing di jalan mengenalnya.
    Dan mereka juga orang-orang asing yang sangat aneh. Pernah seorang laki-
    laki kecil memakai topi ungu membungkuk kepadanya ketika dia sedang
    berbelanja dengan Bibi Petunia dan Dudley. Setelah dengan marah menanyai
    Harry apakah dia kenal orang itu, Bibi Petunia buru-buru menggiring mereka
    keluar dari toko itu tanpa membeli apa pun.
    Seorang wanita tua bertampang liar dan berdandan serba-hijau melambai
    dengan riang kepadanya dari bus. Seorang laki-laki botak memakai mantel
    panjang ungu bahkan menjabat tangannya di jalan kemarin dulu dan kemudian
    pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Yang paling aneh tentang orang-
    orang ini adalah, nampaknya mereka langsung lenyap begitu Harry ingin
    melihat lebih jelas.
    Di sekolah, Harry tak punya teman. Semua anak tahu bahwa geng Dudley
    membenci Harry Potter yang aneh dengan pakaian bekasnya yang kebesaran
    dan kacamatanya yang bingkainya patah, dan tak seorang pun berani
    menentang geng Dudley.
    ***



    --------------------------------------- 19

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    3. Surat Dari Entah Siapa
    KABURNYA ular boa pembelit membuat Harry menerima hukuman kurungan
    paling lama. Saat dia diizinkan keluar lemari lagi, liburan musim panas telah
    mulai dan kamera baru Dudley sudah rusak, pesawat terbang mainannya sudah
    menabrak sesuatu dan jatuh hancur, dan pertama kali menaiki sepeda
    balapnya, dia menabrak jatuh Mrs Figg yang sedang menyebrang jalan raya
    Privet Drive dengan tongkat ketiaknya.
    Harry senang sekolah libur, tetapi dia tak bisa menghidari geng Dudley yang
    setiap hari datang. Piers, Dennis, Malcolm, dan Gordon semuanya bertubuh
    besar dan bodoh, tetapi karena Dudley yang terbesar dan terbodoh, dia jadi
    pemimpin geng. Mereka semua senang ikut permainan yang disenangi Dudley :
    berburu-Harry.
    Inilah sebabnya Harry melewatkan waktu sebanyak mungkin di luar rumah,
    berjalan-jalan dan memikirkan akhir liburan, saat dia bisa melihat secercah
    kecil harapan. Dengan datangnya bulan September nanti dia akan masuk SMP
    dan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tidak akan bersekolah bersama
    Dudley. Dudley akan masuk sekolah paman Vernon dulu, Smeltings. Piers,
    Polkiss akan masuk kesana juga. Harry sebaliknya, akan bersekolah di Stonewall
    High, "SMP" lokal. Dudley menganggap itu sangat lucu.
    "hari pertama, mereka memasukkan kepala anak-anak baru ke toilet di
    Stonewall," katanya pada Harry. "Mau latihan dulu diatas?"
    Tidak, terima kasih," kata Harry. "Kasihan toilet, belum pernah kemasukan
    benda lain yang lebih mengerikan daripada kepalamu jangan-jangan toilet itu
    sekarang sedang mual."
    Kemudian Harry lari, sebelum Dudley bisa mencerna ucapannya tadi.
    Pada suatu hari di bulan Juli, Bibi Petunia membawa Harry ke London untuk
    membeli seragam Smeltings-nya. Harry dititipkan di rumah Mrs Figg. Mrs Figg
    tidak separah biasanya.
    Ternyata kakinya patah gara-gara dia tersandung salah satu kucingnya, jadi
    sekarang dia tak begitu suka kucing seperti sebelumnya. Dibiarkannya Harry
    menonton TV dan diberinya Harry sepotong kue cokelat yang rasanya sudah
    tengik.
    Malam itu Dudley berparade memakai seragam barunya di ruang keluarga.
    Murid-murid Smeltings memakai jas buntut merah tua, celana jingga selutut,
    dan topi jerami rata. Mereka juga membawa tongkat, yang digunakan untuk
    saling pukuli kalau guru mereka sedang tidak melihat. Ini diandaikan sebagai
    latihan bagus untuk masa depan mereka.
    Ketika memandang Dudley dalam seragam barunya, Paman Vernon berkata
    parau bahwa ini saat paling membanggakan dalam hidupnya. Bibi Petunia
    menangis dan berkata dia tak percaya pemuda gagah dan tampan ini si Ickle
    Dudleykins.
    Harry tak bisa bica ra. Dia pikir mungkin dua tulang iganya sudah retak gara-
    gara menahan tawa.
    Dapur berbau busuk ketika Harry esok paginya turun untuk sarapan. Bau itu
    datangnya dari ember metal besar di tempat cuci piring. Harry melongoknya.
    Ember itu penuh gombal kotor yang mengapung di air berwarna abu-abu.



    --------------------------------------- 20

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apa ini?" tanyanya kepada Bibi Petunia. Bibir Bibi Petunia langsung
    cemberut, seperti biasanya jika Harry berani mengajukan pertanyaan.
    "Seragam sekolahmu yang baru," jawabnya.
    Harry memandang ke dalam ember lagi.
    "Oh," komentarnya. "Tak kusangka harus basah begitu."
    "Jangan bego," tukas Bibi Petunia. "Aku sedang mencelup pakaian lama
    Dudley dengan wenter abu-abu untukmu. Kalau sudah selesai nanti, akan sama
    seperti punya yang lain."
    Harry jelas meragukan ini, tetapi dia pikir lebih baik tidak membantah. Dia
    duduk di depan meja makan dan mencoba tidak memikirkan bagaimana
    penampilannya pada hari pertamanya di Stonewall High nanti seperti memakai
    potongan-potongan kulit gajah tua,
    mungkin. Dudley dan Paman Vernon muncul, keduanya mengernyitkan hidung
    gara-gara bau seragam Harry yang baru. Paman Vernon seperti biasa membuka
    korannya dan Dudley memukul-mukulkan tongkat Smeltings-nya
    yang selalu dibawanya ke mana-mana di atas meja.
    Mereka mendengar bunyi klik kotak surat dan jatuhnya suratsurat di keset.
    "Ambil surat, Dudley," kata Paman Vernon dari blik korannya.
    "Suruh saja Harry."
    "Ambil surat, Harry."
    "Suruh saja Dudley."
    "Sodok dia dengan tongkat Smeltings-mu, Dudley."
    Harry menghindari sodokan tongkat Smeltings dan keuar untuk mengambil
    surat. Ada tiga benda tergeletak di keset: kartu pos dari adik perempuan
    Paman Vernon, Marge, yang sedang berlibur di Pulau Wight, sebuah amplop
    cokelat yang kelihatannya berisi rekening tagihan, dan surat untuk Harry.
    Harry mengambil dan menatapnya, jantungnya berdentang-dentang seperti
    elastik besar yang dikelintingkan Tak seorang pun sepanjang hidupnya, pernah
    menulis surat kepadanya. Siapa yang akan menyuratinya? Dia tak punya teman,
    tak punya keluarga lain-dia juga bukan anggota perputakaan manapun, jadi dia
    bahkan belum pernah dapat surat teguran kasar untuk segera mengembalikan
    buku yang dipinjamnya. Tetapi ternyata, ini ada surat yang jelas-jelas
    ditujukan kepadanya:
    Mr. H. Potter
    Lemari di Bawah Tangga
    Privet Drive no. 4
    Little Whinging Surrey
    Amplopnya tebal dan berat, terbuat dari perkamen kulit
    yang digunakan sebagai pengganti kertas.
    Warnanya kekuningan dan nama serta alamatnya ditulis dengan tinta hijau
    zamrud. Tak ada prangkonya.
    Membalik amplop itu dengan tangan gemetar, Harry melihat segel ungu
    bergambar lambang huruf "H" besar yang dikelilingi singa, elang, musang, dan
    ular.
    "Cepat sedikit, Harry!" teriak Paman Vernon dari dapur.



    --------------------------------------- 21

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Buat apa kau memeriksa kalau-kalau ada bom-surat?" Dia menertawakan
    leluconnya sendiri.
    Harry kembali ke dapur, masih menatap suratnya.
    Diserahkannya tagihan dan kartu pos pada Paman Vernon, lalu dia duduk
    dan pelan-pelan mulai membuka amplop kuningnya.
    Paman Vernon merobek surat tagihan, mendengus jijik, dan membalik kartu
    pos.
    "Marge sakit," dia memberitahu Bibi Petunia. "Makan kerang aneh..."
    "Dad!" mendadak Dudley berkata. "Dad, Harry dapat apa tuh!"
    Harry sedang akan membuka lipatan suratnya, yang ditulis di atas kertas
    perkamen tebal yang sama dengan amplopnya, ketika tiba-tiba surat itu
    disentakkan dari tangannya oleh Paman Vernon.
    "Itu suratku!" kata Harry, berusaha merebutnya kembali.
    "Siapa yang menulis padamu?" seringai Paman Vernon, sambil mengibaskan
    surat itu dengan satu tangan agar membuka. Dan melirik isinya. Wajahnya
    berubah warna dari merah ke hijau lebih cepat daripada lampu lalu lintas. Dan
    tidak berhenti di situ. Dalam sekejap saja wajahnya sudah putih abu-abu
    seperti bubur busuk.
    P-P-Petunia!" gagapnya.
    Dudley berusaha merebut surat itu untuk membacanya tetapi Paman Vernon
    mengangkatnya tinggi-tinggi sehingga jauh dari jangkauannya. Bibi Petunia
    mengambilnya dengan ingin tahu dan membaca kalimat pertamanya. Sesaat
    kelihatannya dia akan pingsan. Dia memegangi lehernya dan mengeluarkan
    suara seperti tercekik.
    "Vernon! Oh, astaga... Vernon!"
    Mereka berpandangan, tampaknya lupa bahwa Harry dan Dudley masih
    berada di ruangan yang sama. Dudley tidak biasa diabaikan. Diketuknya kepala
    ayahnya keras-keras dengan tongkat Smeltings-nya.
    Aku mau membaca surat itu," teriaknya.
    "Aku mau membacanya," kata Harry marah, "karena itu suratku."
    "Keluar, kalian berdua," kata Paman Vernon parau, seraya memasukkan
    kembali surat itu ke dalam amplopnya.
    Harry bergeming.
    AKU MAU SURATKU!" teriaknya.
    "Sini aku lihat!" Dudley memaksa.
    "KELUAR!" gerung Paman Vernon. Dicengkeramnya kerah baju Harry dan
    Dudley dan dicampakkannya mereka ke lorong, lalu dibantingnya pintu dapur
    menutup. Harry dan Dudley segera berkelahi seru, tanpa suara,
    memperebutkan siapa yang boleh mendengarkan lewat lubang kunci. Dudley
    menang, maka Harry, kacamatanya tergantung pada satu telinga, berbaring
    tengkurap untuk mendengarkan dari- celah antara pintu dan lantai.
    "Vernon," Bibi Petunia berkata dengan suara gemetar, "lihat alamatnya.
    Bagaimana mungkin mereka tahu di mana dia tidur?
    Apa menurutmu mereka mengawasi rumah kita?"
    "Mengawasi memata-matai mungkin juga mem buntuti kita," gumam
    Paman Vernon cemas.



    --------------------------------------- 22

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tapi apa yang harus kita lakukan, Vernon? Apakah sebaiknya kita balas?
    Kita katakan bahwa kita tak ingin..."
    Harry bisa melihat sepatu Paman Vernon yang hitam mengilap mondar-
    mandir di dapur.
    "Tidak," katanya akhirnya. "Tidak, kita abaikan saja Jika mereka tidak
    mendapat balasan... ya, itu yang paling baik... kita tak akan melakukan apa-
    apa..."
    "Tetapi..."
    "Aku tak mau dengar, Petunia! Bukankah kita sudah bersumpah waktu
    mengambilnya bahwa kita akan membasmi omong kosong yang berbahaya itu?"
    ***
    Sore itu sepulang kerja, Paman Vernon melakukan sesuatu yang belum
    pernah dilakukannya. Dia mengunjungi Harry di dalam lemarinya.
    "Mana suratku tanya Harry begitu Paman Vernon berhasil menjejalkan diri
    melewati pintu. "Siapa yang menulis padaku?"
    Tidak ada. Surat itu keliru dialamatkan padamu," kata Paman Vernon
    pendek. "Sudah kubakar."
    Tidak keliru" kata Harry berang. "Di alamatnya tertulis lemariku."
    DIAM!" raung Paman Vernon dan dua ekor labah-labah terjatuh dari langit-
    langit lemari. Dia menarik napas dalam beberapa kali dan kemudian
    memaksakan wajahnya tersenyum, kelihatannya memelas sekali.
    ' Er... ya, Harry... tentang lemari ini. Bibimu dan aku sudah berpikir-p
    ikir... kau sebetulnya sudah terlalu besar untuk tinggal di sini... kami rasa lebih
    baik jika kau pindah ke kamar Dudley yang satunya."
    Kenapa?" tanya Harry.
    Jangan tanya-tanya!" tukas pamannya. "Bawa barang-barangmu ke atas,
    sekarang."
    Rumah keluarga Dursley punya empat kamar: satu untuk Paman Vernon dan
    Bibi Petunia, satu untuk tamu (biasanya adik Paman Vernon, Marge), satu
    adalah kamar tidur Dudley, dan satunya lagi tempat Dudley menyimpan mainan
    dan barang-barangnya yang tidak muat ditaruh di kamar tidurnya.
    Harry hanya perlu sekali angkut untuk memindahkan barang-barangnya dari
    lemari ke kamar ini. D ia duduk di tempat tidur dan memandang berkeliling.
    Hampir semua barang di kamar ini rusak. Kamera yang baru sebulan tergeletak
    di atas tank kecil yang ketika dikendarai Dudley pernah melindas anjing
    tetangga.
    Di sudut ada televisi pertama Dudley, yang ditendangnya sampai bolong
    ketika acara favoritnya batal ditayangkan. Ada sangkar burung besar, dulunya
    sangkar seekor burung nuri yang kemudian ditukar Dudley di sekolah dengan
    senapan angin betulan. Senapan itu sekarang ada di rak, larasnya bengkok
    kedudukan Dudley. Rak-rak lain penuh buku. Hanya buku-buku itulah yang
    tampaknya tak pernah disentuh.
    Dari bawah terdengar Dudley berteriak-teriak kepada ibunya,
    "Aku tak mau dia di sana... aku butuh kamar itu... suruh dia keluar...."
    Harry menghela napas dan membaringkan diri di tempat tidur. Kemarin dia
    akan bersedia memberikan apa saja untuk bisa berada di kamar ini. Hari ini dia



    --------------------------------------- 23

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    lebih memilih berada kembali di lemarinya dengan surat itu daripada di sini
    tanpa surat.
    Paginya saat sarapan, semua agak diam. Dudley uring-uringan. Dia sudah
    menjerit-jerit, memukuli ayahnya dengan tongkat Smeltings-nya, pura-pura
    sakit, menendang ibunya, dan melempar kura-kuranya ke atap rumah kaca
    sampai atap itu berlubang, tapi tetap saja dia tidak memperoleh kembali
    kamarnya. Harry merenungkan saat jam begini kemarin dan menyesal sekali
    kenapa dia tidak membuka suratnya sewaktu masih di lorong. Paman Vernon
    dan Bibi! Petunia saling pandang dengan wajah keruh.
    Ketika tukang pos tiba, Paman Vernon, yang kelihatannya mencoba berbaik-
    baik kepada Harry, menyuruh Dudley mengambil surat. Mereka mendengar
    Dudley memukul-mukulkan tongkat Smeltings-nya sambil turun ke lorong.
    Kemudian dia berteriak, "Ada surat lagi! Mr H. Potter, Kamar Paling Kecil,
    Privet Drive nomor 4..."
    Dengan pekik tertahan Paman Vernon melompat dari kursinya dan berlari
    turun. Harry dibelakangnya.|
    Paman Vernon harus memiting Dudley ke lantai untuk merebut surat itu,
    dan itu makin sulit dilakukannya karena Harry mengalungkan tangan ke leher
    Paman Vernon dari belakang. Setelah semenit pergulatan kalang kabut, dan
    semuanya kena pukul tongkat Smeltings, Paman Vernon bangkit berdiri,
    tersengal-sengal, dengan surat Harry terpegang erat di tangan.
    Kembali ke lemarimu maksudku, kamarmu," katanya kepada Harry.
    "Dudley... pergi... pergi."
    Harry berjiran bolak-balik mengitari kamar barunya. Ada yang tahu dia
    sudah pindah dari lemarinya dan mereka rupanya tahu dia belum menerima
    surat pertamanya. Jelas itu berarti mereka akan mencoba lagi. Dan kali ini dia
    akan memastikan mereka tidak akan gagal. Dia punya rencana.
    ***
    Jam weker yang sudah dibetulkan berdering pukul enam keesokan paginya.
    Harry cepat-cepat mematikannya dan berganti pakaian tanpa menimbulkan
    suara. Jangan sampai keluarga Dursley terbangun. Diam-diam dia turun tanpa
    menyalakan lampu satupun.
    Dia akan menunggu tukang pos di sudut Privet Drive dan mengambil surat-
    surat untuk rumah nomor empat lebih dulu.
    Jantungnya berdegup kencang saat dia merayap di lorong gelap menuju
    pintu depan...
    "AAAAARRRGH!"
    Harry kaget dan terlonjak dia menginjak sesuatu yang besar dan empuk di
    keset sesuatu yang hidup. Lampu menyala di loteng dan betapa kagetnya
    Harry, benda empuk yang diinjaknya tadi ternyata wajah pamannya. Paman
    Vernon sengaja tidur di depan pintu dalam kantong tidur. Jelas dia bermaksud
    menghalangi Harry melakukan apa yang akan dilakukannya. Selama kira-kira
    setengah jam dia memarahi Harry, kemudian menyuruhnya membuat secangkir
    teh. Harry terseok sedih ke dapur, dan pada saat dia kembali, surat
    sudah datang, jatuh persis di pangkuan Paman Vernon. Harry bisa melihat tiga
    surat yang alamatnya ditulis dengan tinta hijau.



    --------------------------------------- 24

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Berikan...," dia baru mau bicara, Paman Vernon sudah merobek-robek
    surat-surat itu di depan matanya. Paman Vemon tidak ke kantor hari itu. Dia
    tinggal di rumah dan memaku kotak suratnya.
    "Kalau mereka tidak bisa mengirim surat, mereka akan menyerah," dia
    menjelaskan kepada Bibi Petunia dengan mulut penuh paku.
    Aku tak yakin, Vernon."
    "Oh, cara berpikir orang-orang ini aneh, Petunia! tidak seperti kita," kata
    Paman Vernon sambil memukul paku dengan sepotong kue buah yang baru saja
    dibawakan Bibi Petunia.
    ***
    Hari Jumatnya, tak kurang dari dua belas surat untuk Harry datang. Karena
    tak bisa di masukkan ke dalam kotak surat, surat-surat itu disorongkan di
    bawah pintu disisipkan ke celah pintu, dan beberapa diantaranya bahkan
    dijejalkan lewat jendela kecil toilet bawah.
    Paman Vernon tinggal di rumah lagi. Setelah membakar semua surat itu, dia
    mengeluarkan palu dan paku untuk menutup semua celah di pintu depan dan
    belakang dengan papan, sehingga tak seorang pun bisa keluar. Dia
    bersenandung berjingkat di antara tulip-tulip sambil bekerja, dan terlonjak jika
    ada bunyi sekecil apapun.
    ***
    Hari Sabtunya, yang terjadi sudah di luar kendali. Ada dua puluh empat
    pucuk surat untuk Harry berhasil diselundupkan masuk rumah, digulung dan
    disembunyikan dalam dua lusin telur yang dijulurkan tukang susu mereka yang
    sangat kebingungan kepada Bibi Petunia lewat jendela ruang keluarga.
    Sementara Paman Vernon marah-marah menelepon kantor pos dan perusahaan
    susu mencari orang yang bisa disalahkan, Bibi Petunia menghancurkan surat-
    surat itu dalam mixer makanannya.
    "Siapa sih yang begitu ingin bicara denganmu?" Dudley bertanya kepada
    Harry dengan keheranan.
    ***
    Pada hari Minggu pagi, Paman Vernon duduk di meja untuk sarapan,
    kelihatan lelah tetapi senang.
    "Tukang pos tidak datang pada hari Minggu," dia mengingatkan mereka
    dengan riang seraya mengoleskan selai pada korannya, "jadi tak ada surat
    sialan hari ini..."
    Ada yang berdesis meluncur turun dalam cerobong asap ketika Paman
    Vernon bicara, dan mengemplang belakang kepalanya. Detik berikutnya tiga
    puluh atau empat puluh surat meluncur-luncur dari perapian seperti peluru.
    Keluarga Dursley menunduk menghindar, tetapi Harry melompat mencoba
    menangkap satu di antaranya....
    "Keluar! KELUAR!"
    Paman Vernon menangkap pinggang Harry dan melemparkannya ke lorong di
    luar. Setelah Bibi Petunia dan Dudley keluar dengan lengan menutupi muka,
    Paman Vernon membanting pintu menutup. Mereka bisa mendengar surat-surat
    masih mengalir ke dalam ruangan, melenting-lenting mengenai dinding dan
    lantai.



    --------------------------------------- 25

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Sudah kelewatan," kata Paman Vernon, berusaha berbicara dengan tenang,
    tapi pada saat bersamaan mencabuti kumisnya dengan panik. "Aku mau kalian
    semua kembali ke sini lima menit lagi, siap berangkat. Kita akan pergi. Bawa
    saja pakaian secukupnya. Jangan membantah!"
    Paman Vernon kelihatan berbahaya sekali dengar separo kumisnya lenyap,
    sehingga tak seorang pun berani membantah.
    Sepuluh menit kemudian mereka berhasil keluar dari pintu yang sudah
    dipaku rapat dan berada dalam mobil, yang ngebut menuju jalan tol. Dudley
    terisak-isak di jok belakang. Ayahnya tadi memukul kepalanya gara-gara
    mereka harus menunggunya mencoba menjejalkan televisi, video, dan
    komputernya ke dalam tas olahraganya.
    Mobil terus meluncur. Terus meluncur. Bahkan Bibi Petunia pun tak berani
    bertanya ke mana mereka pergi. Sekali-sekali Paman Vernon tiba-tiba
    menikung tajam dan meluncurkan mobilnya ke arah berlawanan.
    Sesatkan mereka... sesatkan mereka," gumam Paman Vernon setiap kali
    dia melakukan ini.
    Mereka bahkan tidak berhenti untuk makan sepanjang hari.
    Saat malam tiba, Dudley sudah menangis meraung-raung.
    Belum pernah dia mengalami hari seburuk ini. Dia lapar, dia tidak bisa
    menonton lima acara televisi yang ingin ditontonnya, dan belum pernah dia
    melewatkan waktu selama tanpa meledakkan Alien di layar komputernya.
    Paman Vernon akhirnya berhenti di depan hotel suram di luar sebuah kota
    besar. Dudley dan Harry berbagi kamar dengan dua tempat tidur dan seprai
    lembap yang berbau lumut. Dudley mendengkur, tetapi Harry tak bisa tidur.
    Dia duduk di ambang jendela, memandang lampu-lampu mobil yang lewat dan
    bertanya-tanya dalam hati....
    ***
    Mereka makan cornflake melempem dan tengik serta tomat kalengan di atas
    roti panggang sebagai sarapan keesokan harinya. Baru saja mereka selesai,
    pemilik hotel mendatangi mereka.
    "Maaf, tetapi tapi apakah salah satu dari kalian Mr H Potter? Ada kira-kira
    seratus surat begini di meja respsionis."
    Wanita itu mengangkat surat itu sehingga mereka bisa membaca alamatnya
    yang ditulis dengan tinta hijau :
    Mr. H. Potter
    Kamar 17
    Hotel Railview
    Cokeworth
    Harry mau meraih surat itu, tetapi Paman Vernon menampar tangannya.
    Wanita itu terbelalak.
    "Akan saya ambil," kata Paman Vernon, cepat-cepat berdiri dan
    mengikutinya meninggalkan ruang makan.
    ***
    "Apakah tidak sebaiknya kita pulang saja, Sayang? Bibi Petunia menyarankan
    dengan takut-takut beberapa jam



    --------------------------------------- 26

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    kemudian, tetapi Paman Vernon kelihatannya tidak mendengarnya. Entah apa
    yang dicarinya, tak seorang pun tahu.
    Dia membawa mereka ke tengah hutan keluar dari mobilnya, memandang
    berkeliling, menggelengkan kepala, masuk lagi ke dalam mobil dan mobil pun
    meluncur lagi. Hal yang sama terjadi di tengah sawah yang sedang dibajak, di
    tengah jembatan gantung, dan di atas tempat parkir mobil yang bertingkat.
    "Daddy sudah gila, ya?" Dudley bertanya kepada Bibi Petunia sore itu. Paman
    Vernon telah memarkir mobilnya di tepi pantai, mengunci mereka bertiga di
    dalamnya, lalu menghilang.
    Hujan mulai turun. Tetesnya yang besar-besar mengetuk-ngetuk atap mobil.
    Dudley tersedu-sedu.
    "Ini hari Senin," katanya kepada ibunya. "Ada acara si Hebat Humberto di
    televisi malam ini. Aku mau nonton."
    Senin. Harry jadi ingat sesuatu. Kalau hari ini Senin, dan Dudley bisa
    diandalkan dalam hal ini, sehubungan dengan kegemarannya nonton televisi
    maka besok, Selasa, adalah hari ulang tahun Harry yang kesebelas. Tentu saja
    hari-hari ulang tahunnya yang telah lewat bukanlah hari yang menyenangkan.
    Tahun lalu, misalnya, keluarga Dursley menghadiahinya satu gantungan mantel
    dan sepasang kaus kaki bekas Paman Vernon. Tapi, kita kan tidak berumur
    sebelas tiap hari.
    Paman Vernon kembali sambil tersenyum. Dia juga membawa bungkusan
    kecil panjang dan tidak menjawab ketika ditanya Bibi Petunia apa yang
    dibawanya itu
    "Sudah kutemukan tempat yang sempurna!" kata-nya. "Ayo, semua keluar!"
    Di luar mobil udara dingin sekali. Paman Vernon menunjuk sesuatu yang
    kelihatan seperti batu karang besar yang menjorok ke laut. Bertengger di atas
    karang itu ada gubuk kecil yang sangat kumuh dan bobrok. Kelihatan
    menyedihkan sekali. Satu hal sudah jelas, tak ada televisi di gubuk itu.
    "Malam ini diramalkan akan ada badai!" kata Paman Vernon senang, sambil
    menepukkan tangan. "Dan Bapak ini sudah berbaik hati mau meminjamkan
    perahunya!"
    Seorang laki-laki tua ompong berjalan santai mendekati mereka. Sambil
    menyeringai agak jahat, dia menunjuk perahu dayung tua yang terapung-apung
    di air abu-abu gelap di bawah mereka.
    "Aku sudah beli bekal untuk kita," kata Paman Vernon, "jadi, semua naik!"
    Dingin sekali di perahu, sampai mereka serasa membeku.
    Cipratan air laut dan tetes hujan sedingin es merayap menuruni tengkuk dan
    angin dingin menerpa wajah mereka. Setelah rasanya berjam-jam kemudian,
    tibalah mereka di batu karang.
    Paman Vernon, terpeleset-peleset, memimpin menuju kegubuk reyot itu.
    Bagian dalam gubuk sungguh menjijikkan. Bau ganggang laut menyengat,
    angin bersuit-suit menembus lewat celah-celah di dinding papan. Perapiannya
    lembap dan kosong. Hanya ada satu kamar. Bekal Paman Vernon ternyata
    sebungkus keripik dan empat pisang untuk setiap orang. Dia mencoba
    menyalakan api, tetapi keempat bungkus keripik yang kini sudah kosong itu
    cuma mengerut dan berasap.



    --------------------------------------- 27

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Surat-surat itu sekarang bisa digunakan, eh?" katanya riang.
    Paman Vernon sedang senang sekali. Jelas dia mengira tak akan ada orang
    yang bisa mengejar mereka dalam badai untuk mengantar surat. Harry dalam
    hati mengakui, dan ini membuatnya sedih. Ketika malam tiba, badai yang
    dijanjikan menerjang di sekitar mereka. Cipratan air dari ombak-ombak yang
    bergulung tinggi menyembur ke dinding pondok dan angin kencang
    mengguncangkan jendela-jendela yang kotor. Bibi Petunia menemukan
    beberapa selimut apak bulukan dari kamar dan menyiapkan tempat tidur untuk
    Dudley di sofa yang sudah berlubang- lubang dimakan ngengat. Dia dan Paman
    Vernon tidur di tempat tidur reyot di kamar dan Harry dibiarkan mencari
    sendiri tempat yang paling empuk di lantai dan meringkuk di bawah selimut
    paling tipis dan paling compang-camping.
    Semakin malam badai mengamuk semakin hebat. Harry tak bisa tidur. Dia
    gemetar kedinginan dan membalikkan tubuh, mencoba mencari posisi yang
    lebih nyaman. Perutnya yang lapar berkeroncongan. Dengkur Dudley teredam
    oleh gemuruh guruh yang mulai menggelegar menjelang tengah malam. Jarum
    arloji Dudley yang menyala tangan gemuknya yang memakai arloji berjuntai ke
    bawah sofa menunjukkan bahwa sepuluh menit lagi Harry akan berusia sebelas
    tahun. Dia berbaring memandangi saat ulang tahunnya yang berdetik-detik
    semakin dekat, bertanya-tanya apakah keluarga Dursley akan ingat soal ulang
    tahunnya bertanya-tanya di manakah gerangan orang yang menulis surat
    padanya sekarang.
    Lima menit lagi. Harry mendengar sesuatu yang berkeriut di luar. Dia
    berharap atap gubuk tidak akan runtuh, walaupun kalau iya, dia mungkin akan
    lebih hangat. Empat menit lagi.
    Mungkin rumah di Privet Drive akan penuh surat kalau mereka pulang nanti,
    sehingga dia bisa mencuri satu.
    Tiga menit lagi. Ombakkah itu, yang menghantam karang begitu keras? Dan
    (dua menit lagi) bunyi derak aneh apa itu?
    Apa karangnya remuk dan berjatuhan ke laut?
    Semenit lagi dia akan berusia sebelas tahun. Tiga puluh detik... dua puluh...
    sepuluh... sembilan, mungkin dia akan membangunkan Dudley, sekadar supaya
    Dudley marah saja...
    tiga... dua... satu...
    BOOM!.
    Seluruh gubuk bergetar dan Harry langsung duduk tegak, memandang pintu.
    Ada orang di luar pintu menggedor-gedor mau masuk.
    ***
    4. Si Pemegang Kunci
    BOOM! Mereka menggedor lagi. Dudley terbangun dengan kaget.
    "Dimana meriamnya?" tanyanya bodoh.



    --------------------------------------- 28

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Terdengar gubrakan di belakang mereka dan Paman Vernon muncul
    tergopoh-gopoh ke dalam ruangan. Tangannya memegang senapan, sekarang
    mereka tahu apa yang ada dalam bungkusan kurus panjang yang tadi di
    bawanya.
    "Siapa itu?" teriaknya. "Kuperingatkan kau ... aku bersenjata!"
    Sunyi sesaat. Kemudian ...
    GUBRAAAK!
    Pintu dihantam begitu keras sampai terlepas dari engselnya, dan dengan
    bunyi memekakkan telinga pintu itu terempas ke lantai.
    Sesosok raksasa berdiri di depan pintu. Wajahnya nyaris tersembunyi di
    balik rambut panjangnya yang awut-awutan dan berewok liar yang berantakan.
    Tetapi kau bisa melihat matanya, berkilauan bagai dua kumbang hitam di balik
    rambut awut-awutan itu.
    Si raksasa memaksakan diri masuk, menunduk sehingga kepalanya cuma
    menyentuh langit-langit. Dia membungkuk, memungut pintu, dan dengan
    mudah memasangnya kembali ke engselnya. Deru badai di luar teredam sedikit.
    Dia menoleh memandang mereka semua.
    "Bisa bikinkan teh, kan? Tidak gampang datang ke sini..."
    Dia melangkah ke sofa. Dudley duduk membeku ketakutan.
    "Minggir, karung besar," kata orang asing itu.
    Dudley mencicit dan bersembunyi di belakang punggung ibunya. Bibi Petunia
    sendiri berjongkok ketakutan di belakang Paman Vernon.
    "Nah, ini dia Harry!" kata si raksasa.
    Harry mendongak memandang wajah liar dan galak itu, dan melihat sudut
    mata kumbangnya berkerut penuh senyum.
    "Terakhir kali aku melihatmu, kau masih bayi," kata si raksasa. "Kau mirip
    sekali ayahmu, tapi matamu mata ibumu."
    Paman Vernon mengeluarkan suara serak yang aneh. "Saya meminta Anda
    segera pergi, Sir!" katanya. "Anda menjebol pintu dan masuk tanpa izin."
    "Ah, tutup mulut, Dursley, jangan sok," kata si raksasa.
    Tangannya menjangkau ke belakang sofa, menjambret senapan dari tangan
    Paman Vernon, membengkokkannya seakan senapan itu terbuat dari karet saja,
    lalu melemparkannya ke sudut ruangan.
    Paman Vernon mengeluarkan suara aneh lagi, seperti cicit tikus yang
    terinjak.
    "Yang jelas, Harry," kata si raksasa, berbalik membelakangi keluarga
    Dursley, "selamat ulang tahun untukmu, selamat panjang umur. Bawa sesuatu
    buatmu mungkin tadi kududuki, tapi rasanya pasti masih enak."
    Dari saku dalam mantel hitamnya dia mengeluarkan kotak yang agak
    penyok. Harry membukanya dengan tangan gemetar.
    Di dalam kotak itu ada kue cokelat besar dengan tulisan Selamat Ulang
    Tahun, Harry dari gula hijau.
    Harry menengadah menatap si raksasa. Dia bermaksud mengucapkan terima
    kasih, tetapi kata-katanya menghilang dalam perjalanan ke mulutnya, dan yang
    dikatakannya malah,
    "Siapa kau?"



    --------------------------------------- 29

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Si raksasa tertawa.
    "Betul, aku belum perkenalkan diri. Rubeus Hagrid, pemegang kunci dan
    pengawas binatang liar di Hogwarts."
    Dia mengulurkan tangan yang besar sekali dan mengguncang seluruh lengan
    Harry.
    "Bagaimana tehnya tadi, eh?" katanya, seraya menggosok-gosokkan
    tangannya. "Aku juga tidak tolak minuman yang lebih keras, kalau memang
    ada."
    Pandangannya tertuju ke perapian dengan bungkus keripik yang sudah
    mengerut dan dia mendengus. Dia membungkuk ke perapian. Mereka tidak bisa
    melihat apa yang dilakukannya, tetapi ketika dia tegak lagi sedetik kemudian,
    api sudah menyala-nyala. Api itu memenuhi pondok yang lembap dengan
    cahayanya yang bergerak-gerak dan Harry merasa kehangatan
    menyelubunginya, seakan dia masuk ke dalam bak berisi air panas.
    Si raksasa duduk kembali di sofa, yang langsung melesak keberatan dan
    mulai mengeluarkan berbagai benda dari dalam sakunya: ceret tembaga, satu
    pak sosis lezat, tusukan panjang, teko, beberapa cangkir yang sudah somplak,
    dan sebotol cairan kuning-kecokelatan yang diteguknya dulu sebelum
    dia menyiapkan makanan. Segera saja pondok dipenuhi bunyi dan bau sosis
    panggang yang lezat. Tak seorang pun bicara ketika si raksasa bekerja, tetapi
    ketika dia melepas enam sosis gemuk berminyak yang sedikit gosong dari
    tusukannya, Dudley mulai gelisah. Paman Vernon berkata tajam, "Jangan
    sentuh apa pun yang diberikannya padamu, Dudley."
    Si raksasa tertawa seram. "Anakmu yang sudah sebulat bola tidak perlu
    digemukkan lagi, Dursley, jangan khawatir."
    Dia menyerahkan sosis-sosis itu kepada Harry. Harry, yang sudah lapar
    sekali, belum pernah makan makanan selezat itu, tetapi dia tetap tak bisa
    melepas pandangannya dari si raksasa.
    Akhirnya, karena tak seorang pun kelihatannya akan menjelaskan, dia
    berkata, "Maaf, tapi saya tetap belum tahu siapa Anda."
    Si raksasa menghirup tehnya dalam tegukan besar, dan melap mulut dengan
    punggung tangannya.
    "Panggil aku Hagrid," katanya. "Semua panggil aku begitu.
    Dan seperti sudah kubilang, aku pemegang kunci di Hogwarts
    kau tentunya sudah tahu tentang Hogwarts."
    "Eh... belum," kata Harry.
    Hagrid kelihatannya terperangah.
    "Maaf," kata Harry cepat-cepat.
    "Maaf?" balas Hagrid, menoleh menatap keluarga Dursley yang mengerut
    dalam bayangan kegelapan. "Merekalah yang harus minta maaf! Aku tahu
    suratmu tidak kauterima, tapi tak pernah kuduga kau tidak tahu tentang
    Hogwarts. Astaga! Tak pernahkah kau ingin tahu di mana orangtuamu belajar
    semua itu?"
    "Semua apa?" tanya Harry.
    "SEMUA APA?" gelegar Hagrid. "Tunggu dulu!"



    --------------------------------------- 30

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dia melompat berdiri. Dalam kemarahannya dia seolah memenuhi seluruh
    pondok. Keluarga Dursley merapat ketakutan ke tembok.
    "Apa ini berarti," dia menggeram kepada keluarga Dursley "bahwa anak ini...
    anak ini!... tidak tahu tentang... tidak tahu APA-APA?"
    Harry merasa ini sudah kelewatan. Dia kan sekolah, dan angka-angkanya
    juga tidak buruk. "Aku tahu beberapa hal,"
    katanya. "Aku bisa Matematika dan pelajaran-pelajaran lain."
    Tetapi Hagrid hanya mengibaskan tangannya dan berkata,
    "Tentang dunia kita, maksudku. Duniamu, Duniaku. Dunia orangtuamu."
    "Dunia apa?"
    Hagrid kelihatannya sudah siap meledak.
    "DURSLEY!" teriakannya mengguntur.
    Paman Vernon, yang sudah pucat pasi, menggumamkan sesuatu yang
    kedengarannya seperti "Mimbel..wimbel!" Hagrid menatap liar pada Harry.
    "Tapi kau pasti tahu tentang ayah dan ibumu," katanya. "Maksudku, mereka
    terkenal. Kau terkenal."
    "Apa? Ja-jadi, ayah dan ibuku terkenal?"
    "Kau tak tahu... kau tak tahu..." Hagrid menyisir rambut dengan jari-
    jarinya, memandang Harry keheranan.
    "Kau tak tahu. kau ini apa?" katanya akhirnya.
    Paman Vernon mendadak menemukan suaranya.
    "Stop!" perintahnya. "Stop di sini, Sir. Saya larang Anda memberitahu anak
    ini apa pun!"
    Orang yang lebih berani dari Vernon Dursley pastilah sudah gemetar
    menerima pandangan marah Hagrid. Ketika Hagrid bicara, setiap suku katanya
    gemetar saking marahnya dia.
    "Kau tak pernah bilang padanya? Tak pernah beritahu dia apa yang ada
    dalam surat yang ditinggalkan Dumbledore untuknya? Aku ada di sana! Aku lihat
    sendiri Dumbledore tinggalkan surat itu, Dursley! Dan kausembunyikan itu
    darinya selama bertahun-tahun ini?"
    "Menyembunyikan apa dariku?" tanya Harry tak sabar.
    "STOP! KULARANG KAU!" teriak Paman Vernon panik.
    Bibi Petunia tersedak kaget.
    "Ah, peduli amat kalian berdua," kata Hagrid. "Harry kau penyihir." Sunyi
    senyap di dalam pondok. Hanya debur ombak dan deru angin yang terdengar.
    "Aku apa?" tanya Harry kaget.
    "Penyihir, tentu saja," kata Hagrid yang kembali duduk di sofa, sehingga
    sofanya berderit dan melesak lebih dalam lagi.
    "Dan penyihir yang hebat, kalau dilatih sedikit. Dengan ayah dan ibu
    sehebat itu, mana bisa lain lagi? Dan kurasa sudah waktunya kaubaca suratmu."
    Harry mengulurkan tangan, akhirnya, untuk mengambil amplop kekuningan
    dengan alamat ditulis dengan tinta hijau ditujukan kepada Mr H. Potter,
    Lantai, Pondok-di-Atas-Karang, Laut. Harry menarik keluar suratnya dan
    membacanya.
    Kepala Sekolah : Albus Dumbledore



    --------------------------------------- 31

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    (Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir,
    Konfederasi Sihir Internasional)
    Mr Potter yang baik,
    Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk
    Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan
    yang dibutuhkan.
    Tahun ajaran baru mulai 1 September. Kami menuggu burung hantu Anda
    paling lambat 31 Juli.
    Hormat saya,
    Minerva McGonagall
    Wakil Kepala Sekolah
    Berbagai pertanyaan meledak-ledak dalam kepala Harry seperti kembang
    api dan dia tidak dapat memutuskan mana yang akan di tanyakan terlebih
    dahulu. Sesudah lewat beberapa menit, dia bertanya tergagap, "Apa maksudnya
    mereka menunggu burung hantuku?"
    "Gorgon bloon, aku jadi ingat," kata Hagrid sembari menepakkan tangan ke
    dahinya dengan kekuatan yang cukup untuk membalikkan kereta kuda. Dan dari
    dalam saku lain di balik mantelnya, dia menarik keluar burung hantu hidup,
    yang bulunya agak berantakan, pena bulu panjang, dan gulungan kertas.
    Dengan menggigit lidah dia menulisa pesan yang bisa di baca Harry dengan
    terbalik.
    Mr. Dumbledore yang terhormat,
    Surat Untuk Harry sudah kusampaikan. Akan bawa dia beli perlengkapan
    besok. Cuaca buruk sekali. Mudah-mudahan anda baik.
    Hagrid
    Hagrid menggulung pesannya, menyerahkannya kepada si burung hantu,
    yang menggigitnya di paruhnya, lalu melangkah ke pintu dan melontarkan si
    burung hantu ke dalam badai.
    Kemudian dia kembali dan duduk lagi seakan tindakannya tadi sewajar
    orang bicara di telepon.
    Harry sadar mulutnya ternganga. Cepat-cepat dikatupkannya.
    "Sampai mana aku tadi?" kata Hagrid. Tetapi saat itu Paman Vernon,
    wajahnya masih pucat pasi tapi tampangnya sangat marah, maju ke depan
    perapian.
    "Dia tidak boleh pergi," katanya.
    Hagrid
    menggerutu. "Aku mau lihat Muggle hebat sepertimu halangi kepergiannya,"
    katanya.
    "Apa?" tanya Harry tertarik.
    "Muggle," kata Hagrid. "Itu sebutan kami untuk manusia-manusia yang bukan
    penyihir. Dan sungguh buruk nasibmu dibesarkan dalam keluarga Muggle paling
    sok yang pernah kulihat."
    "Waktu mengambilnya kami sudah bersumpah kami akan menghentikan
    semua omong kosong ini," kata Paman Vernon.
    "Bersumpah untuk membelanya! Penyihir? Mana ada!"
    "Paman dan Bibi tahu?" tanya Harry. "Paman dan Bibi tahu aku pe-penyihir?"



    --------------------------------------- 32

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tahu!" pekik Bibi Petunia tiba-tiba. "Tahu! Tentu saja kami tahu!
    Bagaimana tidak, kalau adikku yang brengsek juga begitu?
    Oh, dia juga menerima surat seperti itu dan menghilang ke... ke sekolah
    itu... dan pulang setiap liburan dengan kantong penuh telur katak dan
    mengubah cangkir menjadi tikus. Aku satusatunya yang tahu dia seperti apa
    dia aneh! Tetapi ibu dan ayahku... uh, apa-apa Lily... Lily begini dan Lily
    begitu. Mereka bangga punya anak penyihir!"
    Dia berhenti untuk menarik napas dalam-dalam, dan kemudian merepet
    lagi. Kelihatannya sudah bertahun-tahun dia ingin mengeluarkan semua ini.
    "Kemudian dia bertemu si Potter itu di sekolah, lalu mereka menikah dan
    punya anak kau, dan tentu saja aku tahu kau pasti sama anehnya, sama...
    abnormalnya, dan kemudian si Lily itu kena ledakan dan terpaksa kami
    kebebanan kau!"
    Harry sudah menjadi pucat. Segera setelah dapat bicara dia berkata,
    "Ledakan? Kalian bilang mereka meninggal dalam kecelakaan mobil!"
    "KECELAKAAN MOBIL!" raung Hagrid, melompat bangun dengan amat marah
    sehingga Mr dan Mrs Dursley cepat-cepat kembali ke sudut mereka. "Bagaimana
    mungkin kecelakaan mobil bisa bunuh Lily dan James Potter? Sungguh
    penghinaan besar. Skandal! Harry Potter tidak tahu kisah hidupnya sendiri,
    sementara semua anak di dunia kami tahu namanya!"
    "Tapi kenapa? Apa yang terjadi?" desak Harry. Kemarahan memudar dari
    wajah Hagrid. Tiba-tiba dia kelihatan khawatir.
    "Tak kusangka akan begini," katanya cemas dengan suara rendah. "Waktu
    Dumbledore bilang mungkin akan ada kesulitan ambil kau, tak kukira kau
    serbatidak-tahu begini. Ah, Harry, aku tak tahu apakah aku orang yang tepat
    untuk beritahu kau tapi harus ada yang kasih tahu tak mungkin kau berangkat
    ke Hogwarts tanpa tahu ini."
    Hagrid memandang sebal pada keluarga Dursley.
    "Yah, ada baiknya kau tahu sejauh yang bisa kuceritakan padamu aku tak
    bisa ceritakan semuanya, soalnya sebagian di antaranya misteri besar...,"
    Dia duduk, memandang api selama beberapa detik, kemudian berkata,
    "Semua ini, menurutku, dimulai oleh orang yang bernama kelewatan sekali kau
    tidak tahu namanya, semua orang di dunia kita tahu..."
    "Siapa?"
    "Yah aku tak mau sebut namanya, kalau bisa. Tak seorang pun berani sebut
    namanya."
    "Kenapa tidak?"
    "Astaganaga, Harry, orang kan masih takut. Wah, susah jadinya. Begini, ada
    penyihir yang... jadi jahat.
    Jahat sekali. Bahkan lebih dari jahat. Jauh lebih jahat daripada sekadar
    lebih jahat. Namanya..." Hagrid menelan ludah, tapi tak ada suara yang keluar.
    "Bagaimana kalau ditulis saja?" Harry mengusulkan.
    "Tidak aku tidak bisa eja. Baiklah Voldemort." Hagrid bergidik. "Jangan
    suruh aku sebut sekali lagi. Pendeknya, penyihir ini kira-kira dua puluh tahun
    yang lalu mulai cari pengikut. Dan dapat, lagi sebagian karena takut, sebagian
    lagi karena inginkan cipratan kekuasaannya, karena dia memang punya



    --------------------------------------- 33

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    kekuasaan. Sungguh hari-hari suram, Harry. Kita tak tahu siapa yang bisa
    dipercaya, tak berani bersikap ramah pada penyihir asing.... Hal-hal
    mengerikan terjadi. Dia mulai ambil alih kekuasaan. Tentu saja beberapa
    berusaha lawan dia dan mereka dibunuh. Dengan sangat mengerikan. Salah
    satu tempat yang masih aman adalah Hogwarts. Kurasa Dumbledore adalah
    satu-satunya yang ditakuti Kau-Tahu-Siapa. Tidak berani ambil alih sekolah,
    dulu paling tidak.
    "Ibu dan ayahmu penyihir hebat. Dua-duanya Ketua Murid semasa mereka
    sekolah! Kurasa misterinya adalah kenapa KauTahu-Siapa tidak coba tarik ibu
    dan ayahmu ke pihaknya sebelumnya... mungkin dia tahu mereka terlalu dekat
    dengan Dumbledore, sehingga pasti tidak tertarik pada Sihir Hitam.
    "Mungkin dia kira bisa bujuk mereka... mungkin dia cuma ingin mereka
    menyingkir. Yang orang tahu hanyalah, dia muncul di desa tempat kalian
    tinggal di malam Hallowe'en sepuluh tahun lalu. Kau baru berumur satu tahun.
    Dia datang ke rumahmu dan... dan..."
    Hagrid tiba-tiba menarik keluar saputangan yang sarigat kotor dan
    membuang ingus dengan bunyi seperti terompet.
    "Maaf," katanya. "Tetapi aku sedih sekali aku kenal ibu dan ayahmu tak
    ada orang lain sebaik mereka pendeknya...
    "Kau-Tahu-Siapa bunuh mereka. Dan kemudian dan ini misteri yang
    sesungguhnya dia mencoba bunuh kau juga. Mau habisi kalian sampai tuntas,
    kurasa, atau mungkin dia memang senang membunuh. Tetapi dia tidak bisa
    bunuh kau. Pernahkah kau bertanya-tanya bagaimana kaudapat bekas luka di
    dahimu?
    Itu bukan luka biasa. Itu yang kaudapat jika kekuatan sihir jahat sentuh kau
    berhasil tewaskan ibu dan ayahmu, bahkan hancurkan rumahmu tetapi tidak
    mempan untukmu. Itulah sebabnya kau terkenal, Harry. Tak seorang pun bisa
    hidup setelah dia putuskan untuk membunuhnya. Tak seorang pun, kecuali kau,
    dan dia telah berhasil bunuh penyihirpenyihir terbaik pada zaman ini keluarga
    McKinnon, keluarga Bone, keluarga Prewett padahal kau masih bayi, dan kau
    hidup."
    Sesuatu yang menyakitkan berpusar dalam benak Harry.
    Ketika cerita Hagrid hampir tamat, dia melihat kembali cahaya hijau
    menyilaukan, lebih jelas daripada yang selama ini diingatnya. Dan dia juga
    ingat sesuatu yang lain, untuk pertama kali dalam hidupnya tawa nyaring,
    dingin, dan bengis.
    Hagrid menatapnya dengan sedih.
    "Aku sendiri yang ambil kau dari rumahmu yang hancur, atas perintah
    Dumbledore. Kubawa kau ke keluarga ini..."
    "Omong kosong besar," kata Paman Vernon. Harry melompat. Dia nyaris lupa
    keluarga Dursley ada di situ. Paman
    Vernon kelihatannya sudah mendapatkan kembali keberaniannya. Dia mendelik
    kepada Hagrid dan tangannya terkepal.
    "Dengarkan aku, Harry" geramnya. "Kuakui kau memang agak aneh, tapi
    mungkin bisa dibereskan dengan dihajar.



    --------------------------------------- 34

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Sedangkan tentang orangtuamu, mereka memang aneh, tak bisa dibantah,
    dan menurutku dunia ini lebih baik tanpa mereka
    yang terjadi itu salah mereka sendiri, bergaul dengan tukang-
    tukang sihir. Mau apa lagi, sudah kuduga mereka akan berakhir begitu..."
    Tetapi saat itu Hagrid melompat bangun dari sofa dan menarik payung butut
    merah jambu dari dalam sakunya. Sambil mengacungkan payung itu ke arah
    Paman Vernon seperti pedang, dia berkata,
    "Kuperingatkan kau,
    Dursley kuperingatkan kau satu kata lagi saja..."
    Menghadapi bahaya ditombak dengan ujung payung, keberanian Paman
    Vernon melempem lagi. Dia merapatkan diri ke dinding dan diam.
    "Itu lebih baik," kata Hagrid, bernapas berat dan duduk lagi di sofa, yang
    kali ini melesak sampai ke lantai.
    Harry, sementara itu, masih penasaran, masih ingin mengajukan ratusan
    pertanyaan.
    "Tetapi apa yang terjadi pada Vol maaf maksudku, KauTahu-Siapa?"
    "Pertanyaan bagus, Harry. Hilang. Lenyap. Malam yang sama dia coba bunuh
    kau. Membuat kau tambah terkenal.
    Itulah misteri yang paling besar. Soalnya... belakangan makin lama dia
    makin kuat jadi kenapa dia harus pergi?
    "Ada yang bilang dia mati. Omong kosong, menurutku. Tak tahu apakah
    masih ada cukup manusia di tubuhnya untuk bisa mati. Yang lain lagi bilang dia
    masih sembunyi, tunggu waktu yang tepat, tapi aku tidak percaya. Orang-orang
    yang tadinya jadi pengikutnya telah kembali ke kami. Beberapa di antaranya
    seperti kerasukan. Mana mungkin mereka balik ke kami kalau dia akan datang
    lagi.
    "Kebanyakan dari kami duga dia masih ada entah di mana, tapi sudah
    kehilangan kekuatannya. Terlalu lemah untuk terus merajalela. Karena sesuatu
    pada dirimu menghabisi dia, Harry.
    Ada yang terjadi malam itu yang di luar perhitungannya aku tak tahu apa
    itu, tak ada yang tahu tetapi sesuatu pada dirimu membuat dia takluk."
    Hagrid memandang Harry dengan hangat dan rasa hormat.
    Tetapi Harry, alih-alih merasa senang dan bangga, merasa yakin ada
    kekeliruan besar. Penyihir? Dia? Bagaimana mungkin dia penyihir? Dia telah
    melewatkan hidupnya dijadikan bulan-bulanan oleh Dudley dan ditindas oleh
    Bibi Petunia dan Paman Vernon. Kalau memang dia penyihir, kenapa mereka
    tidak berubah jadi kodok setiap kali mereka mencoba menguncinya di dalam
    lemari? Jika dia pernah mengalahkan penyihir paling hebat di dunia, bagaimana
    mungkin Dudley selalu bisa menendang-nendangnya ke sana kemari seperti
    bola?
    "Hagrid," katanya cemas. "Kurasa kau pasti keliru. Tidak mungkin aku ini
    penyihir." Betapa herannya dia, Hagrid tertawa.
    "Tidak mungkin penyihir, eh? Tidak pernahkah ada peristiwa-peristiwa yang
    terjadi setiap kali kau takut atau marah?"



    --------------------------------------- 35

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry memandang perapian. Kalau dipikir-pikir... semua kejadian aneh yang
    membuat bibi dan pamannya marah kepadanya terjadi ketika dia, Harry,
    sedang marah atau sedih.
    Ketika dikejar-kejar oleh geng Dudley, entah bagaimana dia selalu bisa
    meloloskan diri... waktu cemas karena harus ke sekolah dengan potongan
    rambut yang konyol, rambutnya tibatiba tumbuh sendiri... dan ketika Dudley
    terakhir kali memukulnya, bukankah dia telah berhasil membalasnya, tanpa
    sadar? Bukankah dia yang melepas ular boa yang menakutkan Dudley?
    Harry kembali memandang Hagrid, tersenyum, dan dilihatnya Hagrid nyengir
    senang kepadanya.
    "Lihat sendiri, kan?" kata Hagrid. "Harry Potter, tidak mungkin penyihir
    tunggu saja, kau akan terkenal di Hogwarts."
    Tetapi Paman Vernon tak akan mau menyerah tanpa perlawanan.
    "Kan sudah kubilang dia tidak boleh pergi?" desisnya. "Dia akan ke Stonewall
    High dan dia akan berterima kasih karenanya. Aku sudah membaca suratsurat
    itu dan katanya dia memerlukan segala macam sampah buku mantra dan
    tongkat dan..."
    "Kalau dia mau pergi, Muggle hebat seperti kau tidak akan bisa larang dia,"
    geram Hagrid. "Melarang anak Lily dan James Potter masuk Hogwarts! Kau gila.
    Namanya sudah terdaftar di sana sejak dia dilahirkan. Dia akan masuk sekolah
    sihir paling terkenal di dunia. Tujuh tahun di sana, dia tak akan kenal dirinya
    lagi. Dia akan bergaul dengan anak-anak sejenisnya, kali ini, dan di bawah
    bimbingan kepala sekolah paling hebat yang dimiliki Hogwarts, Albus
    Dumbled..."
    "AKU TIDAK MAU MEMBAYAR LAKI-LAKI TUA SINTING UNTUK MENGAJARINYA
    TIPUAN SIHIR!" teriak Paman Vernon.
    Tetapi dia sudah kelewatan. Hagrid menyambar payungnya dan memutar-
    mutarnya di atas kepala, "JANGAN BERANI-BERANI...," gelegarnya, "...
    HINA...   ALBUS... DUMBLEDORE... DI... DEPANKU!"
    Diayunkannya payungnya turun untuk menunjuk Dudley.
    Ada kilatan cahaya ungu, bunyi seperti petasan, jeritan nyaring, dan detik
    berikutnya Dudley menari-nari di tempat dengan tangan memegangi pantatnya
    yang gemuk, menjerit-jerit kesakitan. Ketika dia berbalik membelakangi
    mereka, Harry melihat ekor babi melingkar nongol dari lubang di celananya.
    Paman Vernon menggerung. Seraya menarik Bibi Petunia dan Dudley ke
    kamar satunya, dia melempar pandangan ketakutan untuk terakhir kali kepada
    Hagrid, lalu membanting pintu menutup di belakang mereka.
    Hagrid menunduk menatap payungnya dan membelai jenggotnya.
    "Harusnya tak boleh marah," katanya menyesal, "tapi kan tidak berhasil.
    Maksudku mau ubah dia jadi babi, tapi kurasa dia sudah mirip sekali babi, tak
    banyak lagi yang bisa dilakukan."
    Dia melirik Harry dari bawah alisnya yang lebat.
    "Aku akan berterima kasih kalau kau tidak sebutsebut kejadian ini pada
    siapa pun di Hogwarts," katanya. "Aku...



    --------------------------------------- 36

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    ehm... sebetulnya tidak boleh menyihir. Hanya boleh sedikit saja untuk
    ikuti kau dan antar surat-surat kepadamu dan belanja
    salah satu alasan aku ingin sekali dapatkan tugas ini...."
    "Kenapa kau tidak boleh menyihir?" tanya Harry.
    "Oh, yah... aku dulunya sekolah di Hogwarts juga, tapi...
    ehm... aku dikeluarkan, jujur saja. Waktu kelas tiga. Mereka patahkan
    tongkatku jadi dua dan macammacam lagi. Tetapi Dumbledore izinkan aku
    tinggal sebagai pengawas binatang liar.
    Orang hebat, Dumbledore."
    "Kenapa kau dikeluarkan?"
    "Sudah malam dan banyak yang harus kita lakukan besok,"
    kata Hagrid keras-keras "Harus ke kota, beli buku-buku dan peralatanmu."
    Hagrid melepas mantel hitamnya yang tebal dan melemparkannya kepada
    Harry.
    "Bisa kaujadikan selimut," katanya. "Jangan pedulikan kalau sedikit
    meronta-ronta. Kurasa masih ada sepasang tikus di salah satu sakunya."
    ***
    5. Diagon Alley
    KEESOKAN harinya, pagi-pagi Harry sudah terbangun. Meskipun dia tahu hari
    sudah pagi, dipejamkannya matanya rapat-rapat.
    "Aku mimpi," katanya kepada diri sendiri," Aku mimpi raksasa bernama
    Hagrid datang memberitahuku bahwa aku akan masuk sekolah sihir. Kalau
    kubuka mataku, aku akan berada di rumah dalam lemariku."
    Tiba-tiba terdengar ketukan keras.
    Nah, ini dia Bibi Petunia mengetuk pintu, pikir Harry dengan kecewa. Tetapi
    dia tetap tidak membuka mata. Mimpinya indah sekali.
    Tok. Tok. Tok.
    "Ya," gumam Harry,"Aku bangun."
    Dia duduk dan mantel berat Hagrid merosot dari tubuhnya.
    Gubuk dipenuhi sinar matahari. Badai telah berlalu. Hagrid sendiri tertidur
    di sofa yang melesak dan ada burung hantu mengetuk-ngetukkan cakarnya di
    jendela, paruhnya menggigit koran.
    Harry terhuyung berdiri. Dia senang sekali, seakan ada balon besar
    melembung di dalam tubuhnya. Dia langsung ke jendela dan mengentaknya
    hingga terbuka. Burung hantu itu meluncur masuk dan menjatuhkan koran ke
    atas Hagrid, yang tidak terbangun. Si burung hantu kemudian terbang ke lantai
    dan mulai menyerang mantel Hagrid.
    "Jangan."
    Harry berusaha menyingkirkan si burung hantu, tetapi burung itu
    mengatupkan paruhnya dengan galak ke arahnya dan terus saja menyerang
    mantel itu.
    "Hagrid!" kata Harry keras-keras. "Ada burung hantu..."
    "Bayar dia," Hagrid bergumam ke sofa.



    --------------------------------------- 37

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apa?"
    "Dia minta dibayar karena antar koran. Cari dalam saku."
    Mantel Hagrid kelihatannya terbuat dari hanya saku-saku saja bergebung-
    gebung kunci, pelurupeluru gotri, bergulung-gulung tali, permen,
    kantongkantong teh... akhirnya Harry menarik keluar segenggam koin yang
    tampaknya aneh.
    "Beri dia lima Knut," kata Hagrid mengantuk.
    "Knut?"
    "Koin perunggu kecil."
    Harry menghitung lima koin perunggu kecil dan si burung hantu
    mengulurkan kakinya, supaya Harry bisa memasukkan uangnya ke dalam
    kantong kulit kecil yang terikat di kaki itu.
    Kemudian dia terbang keluar lewat jendela yang terbuka.
    Hagrid menguap keras-keras, duduk, dan menggeliat.
    "Lebih baik berangkat sekarang, Harry, kita harus ke London dan beli semua
    keperluan sekolahmu."
    Harry sedang membalik-balik koin penyihir dan memandangnya. Dia baru
    saja teringat sesuatu yang membuat balon kebahagiaan di dalam tubuhnya
    bocor.
    "Um Hagrid?" "Mm?" kata Hagrid, yang sedang menarik bot raksasanya.
    "Aku tak punya uang dan kau sudah mendengar apa kata Paman Vernon
    semalam dia tak mau membayariku belajar sihir."
    "Jangan khawatir soal itu," kata Hagrid, seraya berdiri dan menggaruk
    kepalanya. "Apa kaupikir orangtuamu tidak tinggalkan sesuatu untukmu?"
    "Tetapi kalau rumah mereka hancur..."
    "Mereka tidak simpan uang mereka di rumah, Nak! Nah, pertama-tama kita
    ke Gringotts. Bank penyihir. Makan sosis dulu. Dingin enak juga dan aku juga
    tidak tolak sepotong kue ulang tahunmu."
    "Penyihir punya bank?"
    "Cuma satu. Gringotts. Yang menjalankan goblin, hantu kecil bertampang
    seram." Sosis yang dipegang Harry sampai terjatuh.
    "Goblin?" "Yeah jadi kau gila kalau coba merampoknya, ku beritahu kau.
    Jangan main-main dengan goblin, Harry.
    Gringotts tempat paling aman di dunia, kalau kau mau simpan sesuatu
    bandingannya mungkin cuma Hogwarts.
    Aku kebetulan harus ke Gringotts. Untuk Dumbledore. Urusan Hogwarts."
    Hagrid menegapkan diri dengan bangga. "Dia biasa suruh aku lakukan hal-hal
    penting untuknya. Jemput kau
    ambil sesuatu dari Gringotts tahu dia, bisa percayai aku.
    "Semua siap? Ayo kita berangkat."
    Harry mengikuti Hagrid keluar, menuju karang. Langit cukup cerah sekarang
    dan laut berkilau ditimpa cahaya matahari.
    Perahu yang disewa Paman Vernon masih ada, dengan banyak air di
    dasarnya.
    "Bagaimana kau datang kemari?" Harry bertanya, mencari-cari perahu lain.
    "Terbang," jawab Hagrid.



    --------------------------------------- 38

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Terbang?"
    "Yeah tapi kita harus kembali dengan ini. Tak boleh gunakan sihir setelah
    aku bersamamu." Mereka duduk di perahu.
    Harry masih memandang Hagrid, berusaha membayangkan dia terbang.
    "Repot kalau harus mendayung," kata Hagrid, lagilagi melirik Harry. "Kalau
    aku mau ehm percepat sedikit perjalanan kita, kau keberatan kalau kuminta
    jangan bilang-bilang di Hogwarts?"
    "Tentu saja tidak," kata Harry, yang ingin sekali melihat lebih banyak ilmu
    sihir. Hagrid menarik keluar lagi payung merah jambunya, mengetukkannya dua
    kali di sisi perahu, dan mereka meluncur menuju daratan.
    "Kenapa kita gila kalau mau mencoba merampok Gringotts?"
    tanya Harry.
    "Mantra-mantra jampi-jampi," kata Hagrid, seraya membuka korannya.
    "Katanya ruangan-ruangan besinya dijaga naga-naga. Lagi pula, kau akan susah
    cari jalan keluar.
    Gringotts letaknya beratus-ratus kilo di bawah London. Jauh di bawah
    stasiun kereta bawah tanah. Sebelum bisa keluar, kau sudah keburu mati
    kelaparan duluan, walaupun kau berhasil dapat sesuatu."
    Harry duduk diam memikirkan ini, sementara Hagrid membaca korannya,
    Daily Prophet Harian Peramal. Harry sudah tahu dari Paman Vernon bahwa
    orang lebih suka tidak diganggu kalau sedang baca koran, tetapi susah sekali.
    Seumur hidup belum pernah dia punya pertanyaan sebanyak ini.
    "Kementerian Sihir bikin kacau-balau, seperti biasanya,"
    gumam Hagrid sambil membalik halaman korannya.
    "Ada Kementerian Sihir?" tanya Harry tanpa bisa menahan diri.
    "Tentu saja," kata Hagrid. "Mereka inginkan Dumbledore menjadi Menteri,
    tentu saja, tetapi dia tidak mau tinggalkan Hogwarts, jadi si Cornelius Fudge
    yang dapat jabatan ini. Ceroboh dan bego. Dia kirim burung hantu ke
    Dumbledore tiap hari, minta nasehat."
    "Tapi apa yang dilakukan Kementerian Sihir?"
    "Yah, tugas utamanya adalah menjaga jangan sampai Muggle tahu ada
    banyak penyihir di negeri ini." "Kenapa?" "Kenapa?
    Astaga, Harry, semua orang akan inginkan pemecahan masalah mereka
    secara gaib. Nah, kan lebih baik kita tidak diganggu."
    Saat itu perahu pelan membentur tembok pelabuhan. Hagrid melipat
    korannya dan mereka berdua menaiki undakan batu menuju ke jalan.
    Orang-orang yang berpapasan dengan mereka sepanjang jalan menuju
    stasiun kota kecil itu memandang Hagrid dengan keheranan. Harry tidak
    menyalahkan mereka. Hagrid bukan hanya dua kali lebih tinggi dari manusia
    normal, dia juga terusmenerus menunjuk-nunjuk hal biasa seperti meteran di
    tempat parkir dan berkata keras, "Lihat itu, Harry? Benda-benda yang dicari-
    cari Muggle, eh?"
    "Hagrid," kata Harry, agak terengah-engah karena beflari agar tidak
    ketinggalan, "tadi kaubilang ada naga di Gringotts?"
    "Katanya sih begitu," kata Hagrid. "Wah, aku ingin sekali punya naga."
    "Kau ingin punya naga?"



    --------------------------------------- 39

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Dari kecil sudah kepingin nah, kita sampai."
    Mereka telah tiba di stasiun. Ada kereta ke London yang berangkat lima
    menit lagi. Hagrid, yang tidak memahami "uang Muggle", menyerahkan uangnya
    ke Harry supaya dia bisa membeli karcisnya.
    Di atas kereta, orang-orang memandang dengan lebih heran lagi. Hagrid
    duduk di dua kursi dan merajut sesuatu yang kelihatannya seperti tenda sirkus
    warna kuning kenari.
    "Suratmu masih ada, Harry?" tanyanya sambil terus merajut.
    Harry mengeluarkan amplop perkamen dari dalam kantongnya.
    "Bagus," kata Hagrid. "Di situ ada daftar semua keperluanmu."
    Harry membuka lipatan kertas satu lagi yang semalam tidak diperhatikannya
    dan membaca:
    SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
    Seragam
    Siswa kelas satu memerlukan :
    Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)
    Satu topi kerucut (hitam) untuk di pakai setiap hari
    Sepasan sarung tangan pelindung (dari kulit naga atau sejenisnya)
    Empat mantel musim dingin (hitam, kancing perak) tolong diperhatikan
    bahwa semua pakaian siswa harus ada label namanya.
    Buku
    Semua siswa harus memiliki buku-buku berikut :
    Kitab mantra standar (Tingat 1) oleh Miranda
    Goshawk Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot
    Teori Gaib oleh Adalbert Wagging
    Pengantar Transfigurasi bagi Pemula oleh Emeric
    Switch
    Seribu satu tanaman Obat dan Jamur gaib oleh Phyllida
    Spore Cairan dan ramuan ajaib oleh Arsenius JIgger
    Hewan hewan fantastis dan dimana mereka bisa ditemukan oleh Newt
    Scamander
    Kekuatan gelap : Penuntun perlindungan diri oleh Quentin Trimbel
    Peralatan Lain
    1 Tongkat sihir
    1 Kuali (Bahan campuran timah putih-timah hitam ukuran standar)
    1 Set tabung kaca atau kristal
    1 Teleskop
    1 Set timbangan kuningan
    Siswa diizinkan membawa burung hantu ATAU kucing ATAU kodok
    ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH MEMILIKI
    SAPU SENDIRI!
    "Apa semua ini bisa dibeli di London?" tanya Harry keheranan. "Kalau kau
    tahu belinya di mana," jawab Hagrid.
    ***
    Harry belum pernah ke London. Meskipun Hagrid tampaknya tahu ke mana
    dia akan pergi, jelas bahwa dia tidak terbiasa menuju ke sana dengan cara



    --------------------------------------- 40

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    biasa. Dia tersangkut pembatas tempat pembelian karcis kereta bawah tanah
    dan mengeluh keras-keras bahwa tempat duduknya terlalu sempit dan
    keretanya terlalu lambat.
    "Aku tak mengerti bagaimana Muggle bisa bertahan tanpa kekuatan sihir,"
    katanya, sementara mereka menuruni eskalator macet menuju jalan ramai
    yang di kanan-kirinya dipenuhi deretan toko.
    Hagrid besar sekali sehingga dengan mudah dia menyibakkan orang-orang
    yang lewat. Harry tinggal berjalan merapat kepadanya saja. Mereka melewati
    toko-toko buku dan toko-toko musik, restoran hamburger dan gedung bioskop,
    tapi kelihatannya tak ada yang menjual tongkat ajaib. Ini cuma jalan biasa,
    penuh orang-orang biasa pula. Mungkinkah benarbenar ada gundukan emas
    penyihir terkubur berkilokilometer di bawah mereka? Betulkah ada toko yang
    menjual, buku mantra dan sapu terbang? Janganjangan semua ini cuma lelucon
    besar buatan keluarga Dursley. Kalau Harry tidak tahu bahwa keluarga Dursley
    tak punya rasa humor, dia pasti sudah mengira begitu. Bagaimanapun juga,
    kendati semua yang dikatakan Hagrid sejauh ini memang tidak masuk akal,
    Harry toh mempercayainya.
    "Ini dia," kata Hagrid berhenti, "Leaky Cauldron Kuali Bocor. Ini tempat
    terkenal."
    Tempat itu tempat minum kecil dan kotor. Jika Hagrid tidak menunjuknya,
    Harry tidak akan melihatnya. Orang-orang yang melewatinya sama sekali tidak
    meliriknya. Mata mereka bergulir dari toko buku besar di sisi yang satu ke toko
    musik di sisi lainnya, seakan mereka sama sekali tidak bisa melihat Leaky
    Cauldron. Sejujurnya, Harry punya perasaan aneh, hanya dia dan Hagrid yang
    bisa melihatnya. Sebelum dia bisa mengutarakan ini, Hagrid sudah
    mendorongnya masuk.
    Untuk tempat terkenal, tempat ini sangat gelap dan kumuh.
    Beberapa wanita tua duduk di sudut, minum sherry dalam gelas-gelas kecil.
    Salah satu di antara mereka mengisap pipa panjang.
    Seorang pria kecil memakai topi tinggi dari sutra hitam sedang bicara
    dengan pelayan bar yang sudah tua dan botak, dan kepalanya kelihatan seperti
    kenari dari permen karet. Dengung obrolan pelan berhenti ketika mereka
    melangkah masuk. Semua orang kelihatannya kenal Hagrid. Mereka melambai
    dan tersenyum kepadanya, dan pelayan bar meraih gelas, seraya berkata,
    "Biasa, Hagrid?"
    "Tidak bisa, Tom. Sedang ada urusan Hogwarts," kata Hagrid, sambil
    menepukkan tangannya yang besar ke bahu Harry dan membuat lutut Harry
    tertekuk.
    "Astaga," celetuk pelayan bar, memandang Harry. "Apakah ini... mungkinkah
    ini...?"
    Leaky Cauldron mendadak sunyi senyap.
    "Beruntungnya aku," bisik pak tua pelayan bar. "Harry Potter sungguh
    kehormatan besar."
    Dia bergegas keluar dari balik meja barnya, buruburu mendekati Harry dan
    meraih tangannya, dengan air mata bercucuran.
    "Selamat datang kembali, Mr Potter, selamat datang kembali."



    --------------------------------------- 41

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry tidak tahu harus bilang apa. Semua orang memandangnya. Si wanita
    tua yang mengisap pipa terus mengisapnya, tanpa menyadari apinya sudah
    padam. Hagrid berseri-seri.
    Kemudian terdengar derit-derit kursi yang digeser dan saat berikutnya Harry
    sudah bersalaman dengan semua orang yang ada di Leaky Cauldron.
    "Doris Crockford, Mr Potter. Saya tak percaya akhirnya bisa bertemu Anda."
    "Sungguh bangga, Mr Potter, saya sungguh bangga."
    "Dari dulu sudah ingin menjabat tangan Anda saya jadi salah tingkah."
    "Senang sekali, Mr Potter, tak bisa terkatakan. Diggle nama saya. Dedalus
    Diggle."
    "Saya pernah melihat Anda sebelumnya," kata Harry bersamaan dengan
    jatuhnya topi tinggi Dedalus Diggle saking bersemangatnya dia. "Anda pernah
    membungkuk pada saya di toko."
    "Dia ingat!" pekik Dedalus Diggle, seraya memandang berkeliling. "Kalian
    dengar itu? Dia ingat aku!"
    Harry berjabat tangan tak henti-hentinya Doris Crockford bolak-balik ingin
    berjabat tangan dengannya lagi.
    Seorang pemuda berwajah pucat maju, sangat tegang.
    Sebelah matanya berkedut-kedut. "Profesor Quirrell!" sapa Hagrid. "Harry,
    Profesor Quirrell akan jadi salah satu gurumu di Hogwarts."
    "P-p-potter," Profesor Quirrell berkata gagap, seraya menjabat tangan
    Harry, "t-t-tak b-b-bisa kukatakan b-b-betapa senangnya aku b-b-bertemu
    denganmu."
    "Ilmu gaib apa yang Anda ajarkan, Profesor Quirrell?"
    "P-p-pertahanan t-t-terhadap Ilmu Hitam," gumam Profesor Quirrell, seakan
    dia lebih suka tidak membicarakan itu. "K-kau sih sebetulnya t-t-tidak perlu,
    eh, P-p-potter?" Dia tertawa gugup. "K-kau akan mem-membeli
    perlengkapanmu, kan? Aku sendiri harus mem-membeli buku tentang vampir."
    Dia kelihatannya ngeri sendiri.
    Tetapi yang lain tidak membiarkan Harry dikuasai Profesor Quirrell sendiri.
    Perlu hampir sepuluh menit untuk melepaskan diri dari mereka. Akhirnya
    Hagrid berhasil membuat suaranya mengalahkan keributan mereka.
    "Harus pergi banyak yang harus dibeli. Ayo, Harry."
    Doris Crockford menjabat tangan Harry untuk terakhir kali, dan Hagrid
    mengajaknya keluar melewati bar, menuju halaman kecil yang dikelilingi
    tembok. Tak ada apa-apa di halaman itu kecuali sebuah tempat sampah dan
    ilalang.
    Hagrid menyeringai kepada Harry.
    "Apa kataku! Aku sudah bilang, kan, kau ini terkenal.
    Bahkan Profesor Quirrell pun gemetar ketemu kau tapi dia memang selalu
    gemetar."
    "Apa dia selalu gugup begitu?"
    "Oh, yeah. Kasihan. Otaknya brilian. Dulunya sih baik-baik saja waktu masih
    belajar dari buku, tapi kemudian dia cuti setahun mau alami sendiri... Orang
    bilang dia ketemu vampir di Black Forest dan sempat ribut dengan nenek sihir



    --------------------------------------- 42

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    jahat sejak itu dia berubah. Takut pada muridnya, takut pada mata pelajaran
    yang diajarkannya eh, mana payungku?"
    Vampir? Nenek sihir jahat? Kepala Harry serasa berputar.
    Hagrid, sementara itu, menghitung batu bata pada tembok di atas tempat
    sampah.
    "Ke atas tiga... ke samping dua...," dia bergumam. "Ini dia.
    Mundur, Harry." Dia mengetuk tembok tiga kali dengan ujung payungnya.
    Batu bata yang disentuhnya bergetar meliuk ma-lah di tengahnya, muncul
    lubang kecil makin lama makin besar sedetik kemudian mereka sudah
    berhadapan dengan gerbang yang bahkan cukup besar untuk Hagrid. Gerbang
    masuk ke jalan berbatu yang berkelok-kelok dan membelok lenyap dari
    pandangan.
    "Selamat datang," kata Hagrid, "di Diagon Alley."
    Dia menyeringai melihat Harry terpana. Mereka melangkahi gerbang. Harry
    cepat-cepat menoleh dan melihat gerbang terbuka itu langsung menyusut
    kembali menjadi tembok padat.
    Matahari bersinar cerah, sinarnya menimpa setumpuk kuali di depan toko
    paling dekat. Kuali Segala Ukuran Tembaga, Kuningan, Timah putih-Timah
    hitam, Perak Mengaduk-Sendiri Dapat Dilipat, begitu bunyi pa pan yang
    tergantung di atasnya.
    "Yeah, kau perlu satu," kata Hagrid, "tapi kita harus ambil uangmu dulu."
    Harry berharap dia punya delapan mata tambahan.
    Kepalanya menoleh ke segala jurusan ketika mereka menyusuri jalan itu,
    mencoba melihat segalanya sekaligus: toko-toko, barang-barang yang terpajang
    di depannya, orang-orang yang sedang berbelanja. Se-orang wanita gemuk di
    depan toko obat sedang menggelengkan kepala ketika mereka lewat, sambil
    berkata, "Hati naga, tujuh belas Sickle per ons, gila mereka...."
    Dekut uhu-uhu pelan terdengar dari toko gelap dengan tulisan berbunyi
    Toko Burung Hantu Serbaada Eeylops Kuning-kecokelatan, Pekikan-keras,
    Burung Hantu Serak, Cokelat, dan Putih Bersih. Beberapa anak lakilaki seumur
    Harry menempelkan hidung di kaca etalase toko sagu. "Lihat," Harry mendengar
    salah satu dari mereka berkata, "Nimbus Dua Ribu yang baru yang paling
    cepat...." Ada toko-toko yang menjual jubah, toko-toko yang menjual teleskop,
    dan peralatan perak aneh-aneh yang tak pernah dilihat Harry sebelumnya,
    etalase yang memajang tong-tong berisi limpa kelelawar dan mata belut,
    tumpukan bukubuku mantra dan bergulung-gulung perkamen, botolbotol
    ramuan, globe bulan....
    "Gringotts," kata Hagrid.
    Mereka telah tiba di depan bangunan putih-bersih yang menjulang di antara
    toko-toko kecil yang lain. Di sebelah pintu perunggu mengilap berdiri tegak
    makhluk berseragam merah dan emas.
    "Yeah, itu goblin," kata Hagrid pelan sementara mereka mendaki undakan
    batu putih menuju ke tempatnya. Si goblin kira-kira sekepala lebih rendah dari
    Harry. Wajahnya yang hitarn tampak cerdas, dengan janggut runcing dan, Harry
    memperhatikan, jari-jari tangan dan kaki yang panjang. Dia membungkuk



    --------------------------------------- 43

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    ketika mereka masuk. Sekarang mereka menghadapi sepasang pintu kedua,
    yang ini perak, dengan katakata berikut terpahat di atasnya:
    Masuklah, orang asing, tetapi berhati-hatilah
    Terhadap dosa yang di tanggung orang serakah,
    Karena mereka yang mengambil apa saja yang bukan haknya,
    Harus membayar semahal-mahalnya,
    Jadi jika kau mencari di bawah lantai kami
    Harta yang tak berhak kau miliki,
    Pencuri, kau telah di peringatkan,
    Bukan harta yang kau dapat, melainkan ganjaran.
    "Seperti sudah kubilang, gila kau kalau berani merampok di sini," kata
    Hagrid. Sepasang goblin membungkuk ketika mereka memasuki pintu perak,
    dan mereka berada di aula pualam besar.
    Kira-kira lebih dari seratus goblin duduk di atas bangku tinggi di belakang
    meja panjang, sibuk menulis di buku kas besar, menimbang koin di timbangan
    kuningan, memeriksa batu-batu mulia dengan kaca pembesar. Ada terlalu
    banyak pintu keluar dari aula itu hingga tak bisa dihitung, tapi ada lebih banyak
    lagi goblin yang mengantar orang-orang keluar masuk pintu-pintu ini. Hagrid
    dan Harry menuju meja.
    "Pagi," kata Hagrid kepada goblin yang sedang kosong.
    "Kami datang untuk ambil uang dari lemari besi Mr Harry Potter."
    "Punya kuncinya, Sir?"
    "Ada," kata Hagrid dan dia mulai mengeluarkan isi saku-sakunya di atas
    meja. Beberapa biskuit-anjing yang sudah bulukan tertebar di atas buku kas si
    goblin, membuat si goblin mengernyitkan hidung. Harry melihat goblin di
    sebelah kanannya sedang menimbang setumpuk batu mirah besar-besar,
    sebesar batu bara yang menyala.
    "Ini dia," kata Hagrid akhirnya, seraya mengacungkan kunci emas kecil
    mungil.
    Si goblin memeriksanya dengan teliti.
    "Kelihatannya oke."
    "Dan aku juga bawa surat dari Profesor Dumbledore," kata Hagrid sok
    penting sambil membusungkan dada. "Ini tentang Kau-Tahu-Apa di ruangan
    tujuh ratus tiga belas."
    Si goblin membaca surat itu dengan cermat.
    "Baiklah," katanya, mengembalikan surat itu kepada Hagrid.
    "Akan kusuruh petugas mengantar Anda berdua ke kedua tempat simpanan
    itu. Griphook!"
    Griphook adalah nama goblin lain. Begitu Hagrid selesai menjejalkan
    biskuit-anjingnya ke dalam sakunya kembali, dia dan Harry mengikuti Griphook
    menuju salah satu pintu ke luar aula.
    "Apa sih Kau-Tahu-Apa di ruang tujuh ratus tiga belas itu?"tanya Harry.
    "Tak bisa kuberitahu," jawab Hagrid misterius. "Sangat rahasia. Urusan
    Hogwarts. Dumbledore percayai aku. Bisa dikeluarkan dari pekerjaanku kalau
    aku beritahu kau."



    --------------------------------------- 44

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Griphook membukakan pintu untuk mereka. Harry yang mengharapkan
    ruangan pualam lagi, tercengang. Mereka berada di lorong batu sempit yang
    diterangi cahaya obor-obor. Lorong itu menurun curam dan ada bekas rel kecil
    di lantainya.
    Griphook bersiul, lalu muncul kereta kecil yang meluncur ke arah mereka.
    Mereka naik Hagrid dengan susah payah dan kereta pun berangkat.
    Awalnya mereka cuma berbelok-belok melewati lorong berbelit-belit. Harry
    mencoba mengingat, kiri, kanan, kanan, kiri, garpu tengah, kanan, kiri, tapi
    tak mungkin. Kereta yang berderak-derak itu kelihatannya tahu sendiri
    jalannya, sebab Griphook tidak mengemudikannya.
    Mata Harry pedas diterpa udara dingin, tetapi dia tetap membukanya lebar-
    lebar. Sekali dia merasa melihat semburan api di ujung lorong dan membalik
    untuk melihat apakah itu naga, tetapi terlambat mereka meluncur turun
    semakin dalam, melewati danau bawah tanah dengan stalaktit dan stalagmit
    besar-besar bermunculan dari atap dan dasarnya.
    "Aku tak pernah tahu," Harry berteriak kepada Hagrid mengata'si bunyi
    kereta, "apa sih bedanya stalagmit dan stalaktit?"
    "Stalagmit pakai 'm'," kata Hagrid. "Dan jangan tanya-tanya aku dulu. Aku
    pusing, mau muntah."
    Wajahnya memang tampak sangat pucat, dan ketika kereta akhirnya
    berhenti di sebelah pintu kecil di dinding lorong, Hagrid turun dan harus
    bersandar di dinding, menunggu lututnya berhenti gemetar.
    Griphook membuka kunci pintu. Asap tebal hijau mengepul keluar, dan
    setelah asap menipis, Harry ternganga. Di dalam ruangan tampak
    gundukangundukan uang emas. Tumpukan uang perak. Timbunan Knut
    perunggu kecil-kecil.
    "Semua milikmu," Hagrid tersenyum.
    Semua milik Harry bukan main. Keluarga Dursley pastilah tak tahu tentang
    ini, kalau tidak pasti sudah mereka rebut dalam sekejap. Betapa seringnya
    mereka mengeluhkan besarnya biaya yang harus mereka keluarkan untuk
    membesarkan Harry.
    Padahal selama ini ada harta begitu banyak miliknya, terkubur dalamdalam
    di bawah kota London.
    Hagrid membantu Harry memasukkan uang ke dalam tas.
    "Yang emas ini Galleon," dia menjelaskan. "Tujuh belas Sickle perak sama
    dengan satu Galleon, dan dua puluh sembilan Knut sama dengan satu Sickle.
    Gampang, kan. Sudah, ini sudah cukup untuk dua semester, sisanya biar aman
    di sini." Dia menoleh pada Griphook. "Ruang tujuh ratus tiga belas sekarang,
    dan bisa tidak keretanya lebih pelan sedikit?"
    "Cuma satu kecepatan," kata Griphook.
    Mereka masuk semakin dalam sekarang, dan semakin cepat.
    Udara semakin lama semakin dingin ketika mereka membelok di tikungan-
    tikungan tajam. Mereka melewati jurang bawah tanah dan Harry membungkuk
    di tepi kereta untuk melihat apa yang ada di dasarnya yang gelap, tetapi Hagrid
    menggeram dan menarik tengkuknya masuk kereta.
    Ruang besi tujuh ratus tiga belas tidak ada lubang kuncinya.



    --------------------------------------- 45

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Mundur," kata Griphook sok penting. Dia membelai lembut pintunya dengan
    satu jarinya dan pintu itu meleleh begitu saja.
    "Kalau orang lain bukan goblin Gringotts yang melakukan itu, mereka akan
    tersedot lewat pintu dan terperangkap di dalam," kata Griphook.
    "Berapa sering kau mengecek kalau-kalau ada orang terperangkap di dalam?"
    tanya Harry. "Kira-kira sekali dalam sepuluh tahun," kata Griphook, dengan
    seringai agak menyebalkan.
    Sesuatu yang betul-betul luar biasa pastilah ada dalam ruang besi dengan
    pengamanan istimewa ini. Harry yakin, maka dia melongok dengan penuh
    semangat, berharap melihat permata-permata hebat, paling tidak. Tetapi
    awalnya dia mengira ruangan itu kosong. Kemudian dilihatnya bungkusan kertas
    cokelat kecil kumal tergeletak di lantai. Hagrid memungutnya dan
    memasukkannya hati-hati ke dalam mantelnya. Harry ingin sekali tahu apa isi
    bungkusan itu, tetapi dia tahu sebaiknya tidak bertanya.
    "Ayo, naik kereta celaka ini lagi, dan jangan bicara padaku dalam
    perjalanan pulang. Paling baik aku tutup mulut," kata Hagrid.
    ***
    Setelah perjalanan naik kereta gila-gilaan, mereka berdiri kesilauan dalam
    cahaya matahari di luar Gringotts. Harry tak tahu harus ke mana dulu sekarang
    setelah dia punya satu tas penuh uang. Dia tak perlu tahu berapa Galleon
    senilai dengan satu pound untuk mengetahui bahwa dia sedang memegang lebih
    banyak uang daripada yang pernah dimilikinya se-lama hidupnya bahkan lebih
    banyak daripada yang dimiliki Dudley.
    "Lebih baik beli seragammu dulu," kata Hagrid, seraya mengangguk ke arah
    Jubah untuk Segala Acara Kreasi Madam Malkin. "Eh, Harry, kau keberatan tidak
    kalau aku pergi sebentar ke Leaky Cauldron untuk beli minuman? Aku benci
    kereta Gringotts." Dia masih kelihatan sedikit pucat, maka Harry masuk ke toko
    Madam Malkin sendirian, merasa gugup.
    Madam Malkin adalah penyihir bertubuh pendek gemuk, penuh senyum,
    berpakaian serba-lembayung muda.
    "Hogwarts, Nak?" katanya, ketika Harry baru mau bicara.
    "Banyak yang ke sini sekarang malah ada satu yang sedang ngepas."
    Di bagian belakang toko, seorang anak laki-laki dengan wajah runcing pucat
    berdiri di atas bangku pendek kecil, sementara ada penyihir kedua yang
    melipat jubah hitam panjangnya dan menyematnya dengan jarum pentul.
    Madam Malkin menyuruh Harry berdiri di atas bangku di sebelahnya,
    memasukkan jubah panjang melewati kepalanya, dan mulai menyematnya
    sampai panjangnya pas.
    "Halo," sapa si anak laki-laki. "Hogwarts juga?"
    "Ya," jawab Harry.
    "Ayahku di sebelah, membelikan bukuku, dan ibuku di toko lain mencari
    tongkat," kata anak itu. Suaranya membosankan dan seperti dipanjang-
    panjangkan. "Sesudah itu nanti aku akan menarik mereka melihat sapu balap.
    Aku tak mengerti kenapa anak-anak kelas satu tidak boleh punya sapu sendiri.
    Kurasa aku akan memaksa Ayah supaya membelikan aku sapu dan akan
    kuselundupkan."



    --------------------------------------- 46

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry jadi langsung ingat Dudley.
    "Apa kau sudah punya sapu?" si anak melanjutkan.
    "Belum," jawab Harry.
    "Main Quidditch?"
    "Tidak," kata Harry lagi, sementara dalam hati bertanya-tanya sendiri, apa
    gerangan Quidditch itu.
    "Aku sih main Ayah bilang kelewatan kalau aku tidak terpilih dalam tim
    asramaku, dan harus kukatakan, aku sepakat.
    Sudah tahu kau akan di asrama mana?"
    "Tidak," jawab Harry, yang makin lama merasa semakin bodoh. "Yah,
    memang tak ada yang tahu sampai mereka tiba di sana, kan, tapi aku tahu aku
    akan masuk ke Slytherin, semua keluarga kami di sana bayangkan kalau sampai
    di Hufflepuff. Kurasa aku akan pindah, iya, kan?"
    "Mmm," jawab Harry, yang berharap bisa mengatakan sesuatu yang lebih
    menarik.
    "Eh, lihat orang itu," kata anak itu tiba-tiba, mengangguk ke arah jendela
    depan. Hagrid berdiri di sana, menyeringai kepada Harry dan menunjuk dua es
    krim besar untuk memberitahukan itulah sebabnya dia tak bisa masuk.
    "Itu Hagrid," kata Harry, senang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui
    anak itu. "Dia bekerja di Hogwarts."
    "Oh," kata anak itu. "Aku sudah dengar tentang dia. Dia semacam pelayan,
    kan?" "Dia pengawas binatang liar," kata Harry. Makin lama dia semakin tidak
    menyukai anak itu.
    "Ya, itulah. Kudengar dia semacam orang liar tinggal di gubuk di halaman
    sekolah dan dari waktu ke waktu dia mabuk, mencoba menyihir, tapi hasilnya
    malah membakar tempat tidurnya sendiri."
    "Menurut aku dia hebat," kata Harry dingin. "Begitu?" kata si anak sedikit
    melecehkan. "Kenapa dia bersamamu? Di mana orangtuamu?" "Sudah
    meninggal," kata Harry pendek. Dia tidak ingin membicarakan hal ini dengan
    anak itu. "Oh, maaf," kata si anak, tapi kedengarannya tidak menyesal sama
    sekali. "Tapi mereka bangsa kita, kan?" "Mereka penyihir, kalau itu maksudmu."
    "Menurut aku sih bangsa lain sebaiknya jangan diizinkan bergabung. Iya,
    kan? Mereka tidak sama, mereka tidak pernah dibesarkan dengan cara-cara
    kita. Beberapa di antara mereka bahkan tidak pernah mendengar tentang
    Hogwarts sampai menerima surat. Bayangkan. Menurut aku sih sebaiknya
    mereka cuma menerima keluarga penyihir saja. Siapa sih nama keluargamu?"
    Tetapi sebelum Harry sempat menjawab, Madam Malkin berkata, "Sudah
    selesai, Nak," dan Harry, yang malah senang bisa menghindari si anak, lang-
    sung meloncat turun dari bangku.
    "Sampai ketemu di Hogwarts, ya," kata anak itu.
    Harry agak diam ketika dia memakan es krim yang dibelikan Hagrid
    untuknya (cokelat dan rasberi dengan cacahan kacang).
    "Ada apa?" tanya Hagrid.
    "Tidak ada apa-apa," Harry berbohong. Mereka berhenti untuk membeli
    perkamen dan pena bulu. Harry agak gembira ketika dia menemukan sebotol



    --------------------------------------- 47

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    tinta yang warnanya berubah ketika dipakai menulis. Ketika mereka telah
    meninggalkan toko, dia nyeletuk, "Hagrid, Quidditch itu apa sih?"
    "Astaga, Harry, aku lupa terus bahwa belum banyak yang kau tahu bahkan
    Quidditch pun kau belum tahu!"
    "Jangan membuatku merasa lebih parah," kata Harry. Dia memberitahu
    Hagrid tentang anak pucat di toko Madam Malkin.
    "... dan dia bilang orang-orang dari keluarga Muggle seharusnya tidak
    diterima di..."
    "Kau bukan dari keluarga Muggle. Kalau saja dia tahu siapa sebetulnya kau
    sejak kecil pastilah dia sudah diberitahu namamu jika orangtuanya memang
    penyihir kau sudah lihat sendiri di Leaky Cauldron. Lagi pula, dia tahu apa sih,
    beberapa dari penyihir terbaik malah orang-orang yang memang diberi bakat
    sihir tapi berasal dari keluarga Muggle lihat saja ibumu!
    Lihat bagaimana kakaknya!"
    "Jadi, Quidditch itu apa?"
    "Itu olahraga kita. Olahraga penyihir. Semacam semacam sepak bola kalau
    di dunia Muggle semua orang senang nonton Quidditch dimainkan di udara
    dengan naik sapu terbang dan ada empat bola agak susah menjelaskan
    aturannya."
    "Dan apa itu Slytherin dan Hufflepuff?"
    "Nama-nama rumah asrama di sekolah. Ada empat. Semua bilang Hufflepuff
    isinya anak-anak yang canggung, tapi..."
    "Kalau begitu pastilah aku masuk Hufflepuff," kata Harry muram.
    "Lebih baik Hufflepuff daripada Slytherin," kata Hagrid keras. "Semua
    penyihir yang jadi jahat dulunya tinggal di Slytherin. Kau-Tahu-Siapa salah
    satunya."
    "Vol maaf Kau-Tahu-Siapa dulunya di Hogwarts?"
    "Bertahun-tahun yang lalu," kata Hagrid.
    Mereka membeli buku-buku Harry di Flourish and Blotts. Di toko buku itu
    rak-raknya penuh sampai ke langit-langit dengan berbagai buku, dari buku
    setebal batu bata bersampul kulit sampai buku sebesar prangko dengan sampul
    sutra; buku-buku dengan gambar aneh-aneh, dan beberapa buku yang sama
    sekali kosong melompong. Bahkan Dudley yang sama sekali tak pernah
    membaca apa-apa, akan senang memiliki beberapa buku yang ada di sini.
    Hagrid nyaris sampai harus menyeret Harry dari buku Kutukan dan Kontra-
    Kutukan (Pikat Kawan dan Kutuk Lawan dengan Pembalasan Dendam Mutakhir:
    Rambut Rontok, Kaki Lemas, Lidah Beku, dan banyak macam lagi) oleh Profesor
    Vindictus Viridian.
    "Aku sedang mencoba mencari cara mengutuk Dudley."
    "Aku tidak bilang itu bukan ide yang baik, tapi kau tak boleh gunakan sihir di
    dunia Muggle, kecuali dalam keadaan sangat istimewa," kata Hagrid. "Lagi pula
    kau belum bisa gunakan kutukan itu, kau masih perlu belajar banyak sebelum
    mencapai tingkat itu."
    Hagrid juga tidak mengizinkan Harry membeli kuali emas ("menurut
    daftarmu harus timah campuran,") tetapi mereka mendapat satu set timbangan
    bagus untuk menimbang bahan-



    --------------------------------------- 48

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    bahan ramuan dan teleskop kuningan yang bisa dilipat.
    Kemudian mereka ke toko bahan ramuan, yang untungnya cukup menarik,
    soalnya baunya busuk bukan main, campuran antara telur busuk dan kol busuk.
    Tong-tong berisi lendir berjajar di lantai, stoples-stoples berisi ramuan,
    akarakar kering, dan bubuk berwarna cerah berderet di dinding, bergebung
    bulubulu, untaian taring, dan cakar-cakar melengkung bergantungan dari
    langitlangit. Sementara Hagrid minta si penjaga toko menyiapkan bahan-bahan
    dasar ramuan untuk Harry, Harry sendiri sibuk mengamati tanduk perak unicorn
    yang harganya dua puluh satu Galleon sebuah dan mata kumbang yang hitam
    kecil-kecil dan berkilat (lima Knut sesendok).
    Di luar toko, Hagrid memeriksa daftar Harry lagi.
    "Tinggal kurang tongkatmu oh yeah, dan aku belum beli hadiah ulang tahun
    buatmu." Harry merasa mukanya merah.
    "Tak usah..." "Aku tahu. Begini saja, kuhadiahi kau binatang.
    Bukan kodok, kodok sudah ketinggalan mode bertahun-tahun yang lalu. Kau
    akan ditertawakan dan aku tak suka kucing, mereka membuatku bersin. Kau
    akan kubelikan burung hantu.
    Semua anak kepingin punya burung hantu, mereka berguna sekali,
    mengantar suratmu dan macam-macam lagi."
    Dua puluh menit kemudian mereka meninggalkan Toko Burung Hantu
    Serbaada Eeylops, yang gelap dan penuh bunyi gesekan bulu dan mata berkilat
    yang berkelap-kelip. Harry sekarang menenteng sangkar besar berisi burung
    hantu seputih salju, yang tengah tidur nyenyak dengan kepala menyusup ke
    balik sayap. Dia tak bisa berhenti menyampaikan ucapan terima kasihnya
    dengan terbata-bata, seperti Profesor Quirrell.
    "Ya, ya, kembali," kata Hagrid parau. "Kupikir kau tak banyak dapat hadiah
    dari keluarga Dursley. Tinggal ke Ollivanders sekarang satu-satunya tempat
    untuk beli tongkat.
    Ollivanders, dan kau akan mendapatkan tongkat yang terbaik."
    Tongkat sihir... ini sudah ditunggu-tunggu Harry.
    Toko terakhir ini sempit dan kumuh. Huruf-huruf emas yang sudah
    mengelupas di atas pintunya berbunyi, Ollivanders: Pembuat Tongkat Sihir
    Bagus Sejak 382 SM. Sebatang tongkat tergeletak di atas bantal ungu kusam di
    etalase berdebu.
    Denting bel berbunyi di kedalaman toko ketika mereka melangkah masuk.
    Tempat itu kecil sekali, kosong, hanya ada satu kursi tinggi kurus. Hagrid duduk
    menunggu di kursi itu.
    Harry merasa aneh, seakan dia memasuki perpustakaan yang peraturannya
    sangat ketat. Dia menelan banyak pertanyaan baru yang bermunculan di
    benaknya dan melihat-lihat saja ribuan kotak pipih yang bertumpuk rapi sampai
    ke langit-langit. Entah kenapa, bulu tengkuknya berdiri. Debu dan kesunyian di
    toko ini rasanya mengandung sihir rahasia.
    "Selamat sore," terdengar suara lembut. Harry melonjak.
    Hagrid pastilah melonjak juga, sebab terdengar bunyi derit keras dan dia
    cepat-cepat bangkit dari kursi kurusnya.



    --------------------------------------- 49

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Seorang laki-laki tua berdiri di hadapan mereka. Matanya yang lebar dan
    pucat, bercahaya bagai bulan di dalam toko yang suram itu.
    "Halo," kata Harry salah tingkah.
    "Ah ya," kata laki-laki itu. "Ya, ya. Sudah kuduga aku akan segera bertemu
    kau, Harry Potter," katanya yakin. "Matamu mirip mata ibumu. Rasanya baru
    kemarin dia di sini, membeli tongkat pertamanya. Dua puluh lima setengah
    senti, mendesir jika digerakkan, terbuat dari dahan dedalu. Tongkat bagus
    untuk menyihir."
    Mr Ollivander mendekati Harry. Harry berharap dia berkedip. Matanya yang
    keperakan itu agak mengerikan.
    "Ayahmu, sebaliknya, lebih suka tongkat mahogani. Dua puluh tujuh
    setengah senti. Lentur. Sakti dan cocok sekali untuk transfigurasi. Yah, tadi
    kubilang ayahmu lebih suka tongkat itu sebetulnya tongkatnyalah yang
    memilih si penyihir tentu saja."
    Mr Ollivander sudah dekat sekali, sehingga hidungnya dan hidung Harry
    nyaris bersentuhan. Harry bisa melihat bayangan dirinya di dalam mata
    berkabut itu.
    "Dan ini rupanya..."
    Mr Ollivander menyentuh belas luka berbentuk kilat menyambar di dahi
    Harry dengan jarinya yang putih panjang.
    "Aku minta maaf karena aku yang menjual tongkat yang menyebabkan luka
    ini," katanya lembut. "Tiga puluh tiga setengah senti. Kayu cemara. Sakti,
    sangat sakti dan jatuh ke tangan yang salah... Yah, kalau saja aku tahu apa
    yang akan dilakukan tongkat itu di luar...."
    Dia menggelengkan kepala dan kemudian, betapa leganya Harry, Mr
    Ollivander melihat Hagrid.
    "Rubeus! Rubeus Hagrid! Senang sekali bertemu kau lagi...
    Ek, empat puluh senti, agak bengkok, kan?"
    "Betul, Sir. Ya," kata Hagrid.
    "Tongkat bagus. Tapi kuduga mereka mematahkannya jadi dua waktu kau
    dikeluarkan?" kata Mr Ollivander, mendadak galak.
    "Er, ya, betul," kata Hagrid, kakinya bergerak-gerak gelisah. "Tapi saya
    masih simpan potongannya," dia menambahkan dengan riang. "Tapi kau tidak
    memakainya?"
    kata Mr Ollivander tajam.
    "Oh, tidak, Sir," jawab Hagrid cepat-cepat. Harry melihat Hagrid
    mencengkeram payung merah jambunya erat-erat ketika berbicara.
    "Hmmm," kata Mr Ollivander, menatap tajam Hagrid. "Nah, Mr Potter. Coba
    kita lihat." Dia menarik keluar meteran panjang dengan tanda-tanda perak dari
    dalam kantongnya.
    "Tangan mana tangan pemegang tongkatmu?"
    "Er tangan kanan," kata Harry.
    "Julurkan tanganmu. Bagus." Dia mengukur Harry dari bahu ke jari,
    kemudian pergelangan tangan ke siku, bahu ke lantai, lulut ke ketiak, dan
    sekeliling kepalanya. Sementara mengukur, dia berkata, "Semua tongkat
    Ollivander punya intisari kegaiban, Mr Potter. Kami menggunakan rambut



    --------------------------------------- 50

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    unicorn, bulu ekor burung phoenix, dan nadi jantung naga. Tak ada dua tongkat
    Ollivander yang sama. Seperti halnya tak ada dua unicorn, naga atau phoenix
    yang persis sama. Dan tentu saja kau tak akan mendapatkan hasil baik dengan
    tongkat penyihir lain."
    Harry mendadak menyadari bahwa meteran yang sedang mengukur jarak
    antara kedua lubang hidungnya, mengukur sendiri. Mr Ollivander berkeliling di
    depan rak-rak, menurunkan kotak-kotak.
    "Sudah cukup," katanya, dan meteran itu langsung terpuruk menggunuk di
    lantai. "Baik, Mr Potter, cobalah yang ini.
    Beechwood dan nadi jantung naga. Dua puluh dua setengah senti.
    Bagus dan fleksibel.
    Ambil dan cobalah menggoyangkannya."
    Harry meraih tongkat itu dan (merasa bego) menggoyangkannya sedikit,
    tetapi Mr Ollivander langsung merebutnya."Mapel dan bulu phoenix. Tujuh
    belas setengah senti.
    Sabetannya oke. Cobalah..." Harry mencoba tapi baru saja dia
    mengangkatnya, tongkat itu juga direbut balik oleh Mr Ollivander. "Tidak, tidak
    ini, eboni dan rambut unicorn, dua puluh satu seperempat, elastis. Ayo, ayo,
    coba yang ini."
    Harry mencobanya. Dan mencoba yang lain. Dia sama sekali tak tahu apa
    yang dinantikan Mr Ollivander. Tumpukan tongkat yang sudah dicoba
    menggunung makin lama makin tinggi di atas kursi kurus, tetapi semakin
    banyak tongkat yang diambilnya dari rak, semakin senang tampaknya Mr
    Ollivander.
    "Pembeli pemilih, eh? Jangan khawatir, kita akan menemukan tongkat yang
    pas di sini bagaimana kalau ya, kenapa tidak kombinasi yang tidak biasa
    holly dan bulu phoenix, dua puluh tujuh setengah senti, bagus dan lentur."
    Harry mengambil tongkat itu. Mendadak jari-jarinya terasa hangat.
    Diangkatnya tongkat ke atas kepala, diayunkannya ke bawah di udara berdebu,
    dan semburat bunga api merah dan keemasan meluncur dari ujungnya seperti
    kembang api, membuat bayangbayang yang menari-nari di dinding. Hagrid
    berteriak dan bertepuk tangan, dan Mr Ollivander berseru, "Oh, bravo! Ya,
    sungguh, bagus sekali. Wah, wah, wah, sungguh aneh... sungguh aneh sekali..."
    Diletakkannya kembali tongkat Harry ke dalam kotaknya dan dibungkusnya
    dengan kertas cokelat, sambil terus bergumam,
    "Aneh... aneh..."
    "Maaf," kata Harry, "tapi apa yang aneh?" Mr Ollivander menatap Harry
    dengan matanya yang pucat.
    "Aku ingat semua tongkat yang pernah kujual, Mr Potter.
    Satu per satu. Kebetulan phoenix yang bulu ekornya ada di tongkatmu,
    menghasilkan satu bulu lagi hanya satu. Sungguh aneh sekali kau ditakdirkan
    menjadi pemilik tongkat ini, sementara saudaranya wah, saudaranyalah yang
    memberimu bekas luka itu."
    Harry menelan ludah.



    --------------------------------------- 51

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Ya, tiga puluh tiga setengah senti. Yew. Sungguh aneh hal-hal semacam ini
    terjadi. Tongkat yang memilih penyihir, ingat...
    Kurasa kami harus mengharap kau melakukan hal-hal luar biasa, Mr Potter...
    Lagi pula, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut melakukan hal-hal luar biasa
    mengerikan, ya, tapi luar biasa."
    Harry bergidik. Dia tak yakin apakah dia sangat menyukai Mr Ollivander. Dia
    membayar tujuh Galleon emas untuk tongkatnya dan Mr Ollivander
    membungkuk, mengantar mereka meninggalkan tokonya.
    ***
    Matahari sore menggantung rendah di langit. Harry dan Hagrid kembali ke
    Diagon Alley, kembali menembus tembok, kembali ke Leaky Cauldron, yang
    sekarang kosong. Sepanjang jalan Harry tidak bicara sama sekali. Dia bahkan
    tidak menyadari betapa orang-orang di kereta bawah tanah terheran-heran
    melihat mereka, yang membawa begitu banyak belanjaan yang bentuk dan
    bungkusnya aneh-aneh, dengan burung hantu seputih salju tertidur di pangkuan
    Harry. Naik eskalator lagi, keluar ke stasiun Paddington. Harry baru menyadari
    dimana mereka berada ketika Hagrid menjawil bahunya.
    "Masih sempat makan sebentar sebelum keretamu berangkat," katanya.
    Dia membeli hamburger dan mereka duduk di kursi plastik untuk
    memakannya. Berkali-kali Harry memandang berkeliling.
    Segala sesuatu terasa aneh.
    "Kau tak apa-apa, Harry? Kau dari tadi diam saja," kata Hagrid.
    Harry tak yakin dia bisa menjelaskan. Hari ini hari ulang tahun paling
    menyenangkan dalam hidupnya tapi dia mengunyah hamburgernya, mencoba
    menemukan kata-kata.
    "Semua orang menganggapku istimewa," katanya akhirnya.
    "Semua orang di Leaky Cauldron, Profesor Quirrell, Mr Ollivander... tetapi
    aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang sihir. Bagaimana mereka mengharap
    aku melakukan hal-hal luar biasa? Aku terkenal dan aku bahkan tak ingat aku
    terkenal karena apa. Aku tak tahu apa yang terjadi ketika Vol maaf
    maksudku, pada malam orangtuaku meninggal."
    Hagrid mencondongkan tubuh di atas meja. Di balik jenggot liar dan alis
    tebalnya, senyumnya ramah sekali.
    "Jangan khawatir, Harry. Kau akan belajar dengan cepat.
    Semua orang mulai dari awal di Hogwarts, kau tak akan dapat masalah.
    Jadilah saja dirimu sendiri. Aku tahu ini berat. Kau telah dipilih, dan ini selalu
    berat. Tetapi kau akan senang di Hogwarts dulu aku juga bahkan sampai
    sekarang pun masih."
    Hagrid membantu Harry naik ke kereta yang akan membawanya kembali ke
    keluarga Dursley, kemudian menyerahkan amplop.
    "Karcis keretamu ke Hogwarts," katanya. "Tanggal satu September King's
    Cross semua tercantum di karcismu. Kalau ada masalah dengan keluarga
    Dursley, kirimi aku surat lewat burung hantumu, dia akan tahu di mana
    temukan aku... Sampai ketemu lagi, Harry."
    Kereta bergerak meninggalkan stasiun. Harry ingin memandang Hagrid
    sampai dia tak kelihatan lagi. Dia bangkit dari tempat duduknya dan



    --------------------------------------- 52

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    menempelkan hidungnya di kaca jendela, tetapi begitu dia mengejapkan mata,
    Hagrid sudah lenyap.
    ***
    6. Perjalanan Dari Peron Sembilan Tiga Perempat
    BULAN terakhir Harry bersama keluarga Dursley tidaklah menyenangkan,
    Dudley sekarang begitu ketakutan pada Harry sehingga dia tidak mau berada di
    ruangan yang sama dengannya, sementara bibi Petunia dan Paman Vernon tidak
    mengurung Harry dalam lemarinya, tidak memaksannya melakukan sesuatu
    atau pun membentaknya, bahkan, mereka sama sekali tidak bicara dengan
    Harry. Setengah ketakutan, setengah marah, mereka bersikap seolah olah kursi
    yang diduduki Harry itu kosong. Meskipun ini perbaikan dalam banyak hal,
    setelah beberapa waktu keadaan begini membuat Harry agak tertekan juga.
    Harry menghabiskan waktu di kamarnya, hanya ditemani burung hantunya.
    Dia memutuskan menamai burung hantunya Hedwig, nama yang ditemukannya
    dalam buku Sejarah Sihir.
    Buku-buku sekolahnya sangat menarik. Dia berbaring di tempat tidurnya,
    membaca sampai jauh malam, Hedwig terbang keluarmasuk jendela sesuka-
    suka dia. Untunglah Bibi Petunia tidak lagi datang ke kamar Harry, karena
    Hedwig tak henti-hentinya membawa bangkai tikus. Setiap malam sebelum
    tidur, Harry menandai hari pada sepotong kertas yang ditempelnya di dinding,
    sampai ke tanggal satu September.
    Pada hari terakhir bulan Agustus, dia memutuskan lebih baik bicara dengan
    paman dan bibinya soal dia harus pergi ke Stasiun King's Cross hari berikutnya.
    Maka dia turun ke ruang keluarga, tempat mereka sedang menonton acara kuis
    di televisi. Harry berdeham untuk memberitahu dia datang, dan Dudley
    menjerit dan kabur dari ruangan itu.
    "Er Paman Vernon?"
    Paman Vernon menggumamkan gerutuan tak jelas untuk menunjukkan dia
    mendengarkan.
    "Er aku harus ke King's Cross besok untuk untuk ke Hogwarts."
    Paman Vernon menggerutu lagi.
    "Apakah aku boleh ikut mobil Paman?"
    Gerutuan tak jelas. Harry menafsirkan itu berarti boleh.
    "Terima kasih." Dia sudah akan kembali ke atas ketika Paman Vernon benar-
    benar bicara. "Aneh juga, mau ke sekolah sihir kok naik kereta. Permadani
    terbangnya berlubang semua, rupanya?" Harry diam saja. "Di mana sih sekolah
    ini?"
    "Aku tidak tahu," kata Harry, baru menyadarinya saat itu.
    Dia menarik keluar tiket yang diberikan Hagrid dari dalam sakunya. "Aku
    cuma diminta naik kereta dari peron sembilan tiga perempat pukul sebelas,"
    dia membaca. Bibi dan pamannya melongo.



    --------------------------------------- 53

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Peron berapa?"
    "Sembilan tiga perempat."
    "Jangan ngawur," kata Paman Vernon. "Tak ada peron sembilan tiga
    perempat."
    "Menurut tiketnya begitu."
    "Omong kosong," kata Paman Vernon, "mereka semua sinting. Lihat saja
    sendiri nanti. Tunggu saja. Baiklah, kami akan mengantarmu ke King's Cross.
    Kami toh besok memang mau ke London, kalau tidak mana aku mau peduli."
    "Kenapa kalian mau ke London?" tanya Harry, berusaha bersikap ramah.
    "Membawa Dudley ke rumah sakit," geram Paman Vernon.
    "Ekornya yang kemerahan harus dipotong sebelum dia berangkat ke
    Smeltings."
    ***
    Harry terbangun pukul lima esok paginya dan terlalu gembira sekaligus
    tegang, sehingga tak bisa tidur lagi. Dia bangun dan memakai celana jins-nya
    karena tak mau ke stasiun memakai jubah sihirnya dia akan berganti pakaian
    di kereta saja. Sekali lagi diperiksanya daftar Hogwarts-nya kalau-kalau yang
    diperlukannya masih ada yang ketinggalan, mengecek apakah Hedwig sudah
    aman terkurung di dalam sangkarnya, dan kemudian berjalan mondar-mandir
    dalam kamarnya, menunggu keluarga Dursley bangun. Dua jam kemudian,
    koper besar Harry sudah dimasukkan ke dalam mobil keluarga Dursley. Bibi
    Petunia sudah membujuk Dudley agar mau duduk di sebelah Harry dan mereka
    pun berangkatlah.
    Mereka tiba di King's Cross pukul setengah sebelas. Paman
    Vernon menjatuhkan koper Harry di atas troli dan mendorongnya ke dalam
    stasiun. Harry berpendapat Paman Vernon baik sekali, sampai Paman Vernon
    mendadak berhenti di depan deretan peron dengan seringai menyebalkan di
    wajahnya.
    "Nah, ini dia, Nak. Peron sembilan peron sepuluh.
    Peronmu seharusnya di antaranya, tetapi rupanya belum dibangun, ya?"
    Paman Vernon benar, tentu saja. Ada angka sembilan plastik besar di atas
    satu peron dan angka sepuluh plastik besar di peron berikutnya, dan di
    antaranya sama sekali tak ada apa-apa.
    "Semoga senang di sekolah," kata Paman Vernon dengan seringai yang lebih
    menyebalkan. Dia pergi tanpa berkata apaapa lagi. Harry menoleh dan melihat
    mobil keluarga Dursley meluncur meninggalkan stasiun. Mereka bertiga
    tertawa-tawa.
    Mulut Harry jadi agak kering. Apa yang akan dilakukannya?
    Orang-orang mulai memandangnya dengan aneh, gara-gara Hedwig. Dia
    harus bertanya pada seseorang.
    Dia menghentikan petugas yang lewat, tetapi tak berani menyebut peron
    sembilan tiga perempat. Si petugas belum pernah mendengar tentang Hogwarts
    dan ketika Harry bahkan tak bisa mengatakan di bagian mana Inggris sekolah ini
    berada, dia mulai jengkel, seakan Harry sengaja berlagak bloon.
    Semakin putus asa, Harry menanyakan kereta yang akan berangkat pukul
    sebelas, tetapi kata si petugas tak ada. Akhirnya si petugas pergi, mengomel



    --------------------------------------- 54

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    soal orang yang suka buang-buang waktu. Harry berusaha keras agar tidak
    panik. Menurut jam besar di atas papan kedatangan, dia hanya punya waktu
    sepuluh menit lagi untuk naik kereta ke Hogwarts dan dia sama sekali tak tahu
    harus bagaimana. Dia kebingungan di tengah stasiun dengan koper yang nyaris
    tak bisa diangkatnya, kantong penuh uang sihir, dan burung hantu besar.
    Hagrid pastilah lupa memberitahukan sesuatu yang harus dilakukannya,
    seperti misalnya mengetuk batu bata ketiga di sebelah kiri untuk bisa masuk ke
    Diagon Alley. Dia bertanya-tanya dalam hati apakah sebaiknya dia
    mengeluarkan tongkatnya dan mengetuk boks penjualan tiket di antara peron
    sembilan dan sepuluh.
    Saat itu serombongan orang lewat di belakangnya dan tertangkap olehnya
    beberapa kata yang diucapkan.
    "... penuh Muggle, tentu saja..."
    Harry langsung membalik. Yang bersuara seorang wanita gemuk, bicara
    kepada empat anak laki-laki, semua dengan rambut merah manyala. Masing-
    masing mendorong koper seperti milik Harry di depan mereka dan mereka
    punya burung hantu.
    Dengan jantung berdegup keras Harry mendorong trolinya mengikuti
    mereka. Mereka berhenti, dia ikut berhenti, cukup dekat untuk mendengar apa
    yang mereka katakan.
    "Peron berapa?" tanya ibu anak-anak itu.
    "Sembilan tiga perempat!" terdengar suara nyaring anak perempuan, juga
    berambut merah, yang menggandeng tangannya. "Mum, apakah aku tidak
    boleh..."
    "Kau belum cukup umur, Ginny sekarang diam dulu.
    Baiklah, Percy, kau duluan yang masuk."
    Anak yang kelihatannya paling tua berjalan menuju peron sembilan dan
    sepuluh. Harry mengawasi, bertahan tidak berkedip, takut kalau-kalau ada
    sesuatu yang tidak dilihatnya
    tetapi pas ketika anak itu tiba di pembatas antara peron, serombongan
    besar turis lewat di depannya dan ketika ransel terakhir sudah menyingkir, si
    anak sudah lenyap.
    "Fred, kau berikutnya," si wanita gemuk berkata.
    "Aku bukan Fred, aku George," kata si anak. "Astaga, Mum!
    Katanya ibu kami, masa tidak bisa membedakan bahwa aku George?"
    "Sori, George."
    "Cuma bergurau, aku Fred," kata si anak, lalu langsung pergi.
    Kembarannya berteriak agar dia bergegas, dan pastilah dia bergegas, karena
    sedetik kemudian dia sudah lenyap tetapi bagaimana caranya?
    Sekarang saudara ketiga berjalan cepat menuju ke palang rintangan tiket
    dia nyaris sampai dan mendadak, dia lenyap.
    Hilang begitu saja.
    "Maaf," kata Harry kepada si wanita gemuk.
    "Halo, Nak," katanya. "Baru pertama kali ke Hogwarts, ya?



    --------------------------------------- 55

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ron juga baru." Dia menunjuk anak laki-lakinya yang terakhir dan termuda.
    Dia kurus dan jangkung, dengan bintik-bintik di mukanya, kakitangan besar,
    dan hidung panjang.
    "Ya," kata Harry. "Masalahnya masalahnya, saya tidak tahu bagaimana..."
    "Bagaimana ke peronnya?" tanyanya ramah, dan Harry mengangguk.
    "Jangan khawatir," katanya. "Yang harus kaulakukan hanyalah berjalan saja,
    menembus palang rintangan antara peron sembilan dan sepuluh. Jangan
    berhenti dan jangan takut kau akan menabraknya, ini yang paling penting.
    Paling baik melakukannya setengah berlari, kalau kau cemas. Ayo, masuklah
    sekarang, sebelum Ron."
    "Er oke," kata Harry. Harry memutar trolinya dan memandang palang
    rintangan. Kelihatannya kuat sekali.
    Dia mulai berjalan ke arah palang. Berkali-kali dia tersenggol orang-orang
    yang berjalan ke peron sembilan dan sepuluh.
    Harry berjalan semakin cepat. Sebentar lagi dia akan menabrak boks
    penjualan tiket, lalu akan mendapat kesulitan Harry membungkuk di atas
    trolinya, dia berlari palang semakin lama semakin dekat dia tak akan bisa
    berhenti troli sudah di luar kendali tinggal tiga puluh senti lagi dia
    memejamkan mata menunggu saat tabrakan...
    Tetapi ternyata dia tidak menabrak apa-apa... dia masih terus berlari... dia
    membuka matanya.
    Kereta api berwarna merah menunggu di sebelah peron yang penuh orang.
    Tulisan di atasnya berbunyi Hogwarts Express, pukul 11.00. Harry menoleh ke
    belakang dan melihat gerbang melengkung di tempat yang tadinya tempat boks
    tiket, dengan tulisan Peron Sembilan Tiga Perempat. Dia telah berhasil.
    Asap lokomotif melayang di atas kepala orartgorang yang ramai mengobrol,
    sementara kucing-kucing dalam berbagai warna menyusup-nyusup di antara
    kaki mereka. Burung-burung hantu saling bersahutan, ditingkahi suara obrolan
    dan derit koper-koper berat yang diseret.
    Rangkaian beberapa gerbong yang di depan sudah penuh anak-anak.
    Beberapa di antaranya menjulurkan tubuh ke luar jendela untuk mengobrol
    dengan keluarga mereka, yang lain berebut tempat duduk. Harry mendorong
    trolinya sepanjang peron, mencari tempat duduk yang masih kosong. Dia
    melewati anak lakilaki berwajah bulat yang sedang berkata, "Nek, katakku
    hilang lagi."
    "Oh, Neville," didengarnya perempuan tua itu menghela napas. Seorang
    anak laki-laki berambut keriting dikerumuni serombongan anak.
    "Coba kami lihat, Lee, ayo dong."
    Anak itu mengangkat tutup kotak yang dipeluknya dan anakanak yang
    merubungnya langsung menjerit dan berteriak-teriak ketika ada kaki panjang
    berbulu keluar dari kotak itu.
    Harry melewati orang-orang yang berdesakan sampai dia tiba di gerbong
    kosong hampir di ujung kereta. Mula-mula dinaikkannya Hedwig, kemudian dia
    mulai mengangkat dan mendorong kopernya lewat pintu kereta.



    --------------------------------------- 56

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dicobanya mengangkatnya melewati undakan, tetapi dia nyaris tak bisa
    mengangkat salah satu ujungnya dan dua kali koper itu menjatuhi kakinya.
    Sakit sekali.
    "Perlu bantuan?" Ternyata salah satu dari si kembar berambut merah yang
    tadi diikutinya menerobos boks tiket.
    "Ya, tolong dong," jawab Harry terengah.
    "Oi, Fred! Sini, bantu!"
    Dengan bantuan si kembar, koper Harry akhirnya berhasil ditempatkan di
    sudut gerbong. "Terima kasih," kata Harry seraya menyeka rambutnya yang
    berkeringat dari matanya.
    "Apa itu?" kata salah satu dari si kembar tiba-tiba sambil menunjuk ke bekas
    luka Harry yang berbentuk kilat menyambar.
    "Astaga," kata kembar satunya. "Apakah kau...?"
    "Betul dia," kata kembar yang pertama. "Iya, kan?" tanyanya pada Harry.
    "Apa?" tanya Harry.
    "Harry Potter," si kembar menjawab bersamaan.
    "Oh, dia," kata Harry. "Maksudku, ya, aku Harry Potter."
    Kedua anak itu melongo memandangnya dan muka Harry menjadi merah.
    Kemudian, betapa leganya dia, terdengar suara dari pintu kereta.
    "Fred? George? Kalian di dalam?"
    "Ya, Mum." Sambil melempar pandang ke arah Harry, si kembar melompat
    turun dari kereta.
    Harry duduk di dekat jendela. Dari situ, setengah tersembunyi, dia bisa
    memandang keluarga berambut merah di peron dan mendengar apa yang
    mereka ucapkan. Ibu mereka baru saja mengeluarkan saputangan.
    "Ron, hidungmu ada kotorannya."
    Anak laki-laki termuda mencoba menghindar, tetapi si ibu menjambretnya
    dan mulai menggosok ujung hidungnya.
    "Mum ta' usah." Dia menggeliat membebaskan diri.
    "Ah, ada apa di ujung hidung si Ronnie?" kata salah satu dari si kembar.
    "Diam kau," kata Ron.
    "Di mana Percy?" tanya ibu mereka.
    "Itu dia."
    Anak laki-laki tertua muncul. Dia sudah berganti pakaian dengan jubah
    hitam Hogwarts-nya yang melambai dan Harry melihat lencana perak berkilat
    dengan huruf P tersemat di dadanya.
    "Tidak bisa lama-lama, Mum," katanya. "Aku di depan, untuk para Prefek
    disediakan dua gerbong khusus..." Prefek adalah beberapa murid senior yang
    diberi tanggung jawab untuk mengatur ketertiban.
    "Oh, jadi kau Prefek, Percy?" kata salah satu dari si kembar, seolah kaget
    sekali. "Mestinya bilang-bilang dong. Kami tidak tahu sama sekali."
    "Tunggu, kurasa aku ingat dia pernah bilang kok," kata kembar satunya.
    "Sekali..."
    "Atau dua kali..."
    "Setiap menit..."
    "Sepanjang musim panas..."



    --------------------------------------- 57

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Oh, tutup mulut," kata Percy si Prefek.
    "Bagaimana Percy bisa mendapat jubah baru sih?" tanya salah seorang dari si
    kembar.
    "Karena dia Prefek," jawab ibu mereka penuh kasih sayang.
    "Baiklah, Sayang, semoga senang di sekolah kirim burung hantu kalau kau
    sudah tiba, ya." Diciumnya pipi Percy dan Percy pergi lagi. Kemudian si ibu
    menoleh kepada si kembar.
    "Nah, kalian berdua tahun ini kalian jangan nakal. Kalau sekali lagi aku
    menerima burung hantu yang memberitahu kalian telah telah meledakkan
    toilet atau..."
    "Meledakkan toilet? Kami belum pernah meledakkan toilet."
    "Tapi ide bagus itu. Trims, Mum."
    "Tidak lucu. Dan jaga Ron."
    "Jangan khawatir, Ronnie kecil akan aman bersama kami."
    "Diam," kata Ron lagi. Tingginya sudah hampir sama dengan si kembar dan
    hidungnya masih merah di tempat yang tadi digosok ibunya.
    "Hei, Mum, tahu tidak? Coba tebak siapa yang baru saja kami temui di
    kereta?"
    Harry cepat-cepat bersandar ke belakang agar mereka tidak bisa melihatnya
    sedang mengawasi mereka.
    "Mum tahu siapa anak laki-laki berambut hitam yang tadi ada di dekat kita
    di stasiun? Tahu tidak siapa dia?"
    "Siapa?"
    "Harry Potter!"
    Harry mendengar suara si anak perempuan kecil.
    "Oh, Mum, bolehkah aku naik ke kereta dan melihatnya, Mum, oh, boleh,
    ya...."
    "Kau sudah melihatnya, Ginny dan anak malang itu bukan untuk dilihat-lihat
    seperti penghuni kebun binatang. Benarkah dia Harry Potter, Fred? Bagaimana
    kau bisa tahu?"
    "Aku tanya dia. Melihat bekas lukanya. Benarbenar ada
    seperti sambaran kilat."
    "Kasihan pantas saja dia sendirian. Aku tadi bertanya-tanya dalam hati. Dia
    sopan sekali ketika bertanya bagaimana bisa sampai ke peron."
    "Itu sih tidak penting. Apakah menurut Mum dia masih ingat seperti apa
    Kau-Tahu-Siapa?"
    Ibu mereka mendadak menjadi sangat tegas.
    "Kularang kau menanyainya, Fred. Jangan berani-berani bertanya padanya.
    Kaupikir dia perlu diingatkan tentang musibah itu pada hari pertamanya
    bersekolah?"
    "Baiklah, tenang saja."
    Terdengar bunyi peluit.
    "Cepatlah!" kata ibu mereka, dan ketiga anak lakilaki itu naik ke kereta.
    Mereka menjulurkan badan ke luar jendela agar bisa mendapat ciuman selamat
    tinggal, dan adik perempuan mereka mulai menangis.
    "Jangan nangis, Ginny, kami akan kirim banyak burung hantu."



    --------------------------------------- 58

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kami akan mengirimimu seperangkat toilet Hogwarts."
    "George!"
    "Cuma bergurau, Mum."
    Kereta mulai bergerak. Harry melihat ibu anakanak itu melambaikan tangan
    dan adik mereka, setengah tertawa, setengah menangis, berlari mengejar
    kereta sampai keretanya bergerak semakin cepat. Setelah itu barulah dia
    berhenti dan melambai.
    Harry melihat anak perempuan itu dan ibunya menghilang ketika kereta
    berbelok. Rumah-rumah seperti berlari melintasi jendela. Harry merasa
    bergairah sekali. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi pastilah lebih
    baik daripada yang sedang ditinggalkannya.
    Pintu kompartemennya bergeser membuka dan anak laki-laki berambut
    merah yang termuda masuk.
    "Ada yang duduk di sini?" tanyanya sambil menunjuk tempat duduk di depan
    Harry.
    "Tempat lain sudah penuh semua."
    Harry menggeleng dan anak itu duduk. Dia melirik Harry, lalu cepat-cepat
    memandang ke luar jendela, pura-pura tidak melihat Harry. Harry melihat di
    ujung hidungnya masih ada noda hitam.
    "Hei, Ron."
    Si kembar sudah kembali.
    "Dengar, kami akan ke tengah kereta Lee Jordan punya tarantula raksasa."
    "Baiklah," gumam Ron. "Harry," kata kembar satunya, "kami belum
    memperkenalkan diri, kan? Fred dan George Weasley.
    Dan ini Ron, adik kami. Sampai nanti, ya."
    "Daaah," kata Harry dan Ron.
    Si kembar menutup kembali pintu di belakang mereka.
    "Apakah kau benar-benar Harry Potter?" Ron menyeletuk.
    Harry mengangguk.
    "Oh yah, kukira tadi Fred dan George cuma bergurau," kata Ron. "Dan
    apakah benar-benar ada kau tahu, kan..."
    Dia menunjuk ke dahi Harry.
    Harry menyibakkan poninya ke belakang untuk menunjukkan bekas luka
    sambaran-kilatnya. Ron terbelalak.
    "Jadi di situlah Kau-Tahu-Siapa...?"
    "Ya," kata Harry "tapi aku sudah tak ingat lagi."
    "Sama sekali tidak?" tanya Ron ingin tahu.
    "Yah aku ingat banyak sinar hijau, tapi hanya itu saja."
    "Wow," kata Ron. Selama beberapa waktu dia terbelalak memandang Harry
    kemudian, seakan baru sadar apa yang dilakukannya, cepat-cepat dia
    memandang ke luar jendela lagi.
    "Apakah semua keluargamu penyihir?" tanya Harry yang menganggap Ron
    sama menariknya, seperti Ron menganggap dirinya menarik.
    "Er ya, kurasa begitu," kata Ron. "Kalau tak salah ada sepupu jauh Mum
    yang akuntan, tapi kami tak pernah membicarakannya."
    "Kalau begitu pastilah kau sudah banyak tahu tentang sihir."



    --------------------------------------- 59

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Keluarga Weasley pastilah salah satu keluarga tua penyihir yang disebut-
    sebut si anak laki-laki pucat di Diagon Alley.
    "Kudengar kau tinggal dengan Muggle," kata Ron. "Seperti apa mereka?"
    "Mengerikan yah, tidak semuanya sih. Tapi paman, bibi, dan sepupuku
    mengerikan. Coba kalau aku punya tiga kakak laki-laki penyihir."
    "Lima," kata Ron. Entah kenapa dia kelihatan mu-ram. "Aku anak keenam
    dalam keluarga kami yang masuk Hogwarts. Bisa dikatakan banyak yang
    diharapkan dariku. Bill dan Charlie sudah lulus dan meninggalkan Hogwarts Bill
    dulu Ketua Murid dan Charlie kapten Quidditch. Sekarang Percy terpilih
    menjadi Prefek. Fred dan George banyak main-main, tetapi nilai mereka bagus-
    bagus dan semua orang menganggap mereka kocak. Semua orang
    mengharapkan aku akan berprestasi sebaik mereka, tetapi kalaupun aku
    berhasil, ini bukan hal istimewa, karena mereka sudah melakukannya lebih
    dulu. Kau juga tak akan punya barang baru, kalau punya lima kakak. Jubah dan
    pakaianku bekas Bill, tongkatku bekas Charlie, dan tikusku tikus tua yang dulu
    milik Percy."
    Ron merogoh ke dalam jaketnya dan mengeluarkan seekor tikus gemuk abu-
    abu yang sedang tidur.
    "Namanya Scabbers dan dia tidak berguna sama sekali.
    Kerjanya tidur melulu. Percy mendapat burung hantu dari ayahku karena
    terpilih sebagai Prefek, tetapi mereka tidak mam maksudku, aku jadi dapat
    Scabbers."
    Telinga Ron menjadi merah. Rupanya dia berpendapat dia telah bicara
    terlalu banyak, karena dia kembali memandang ke luar jendela.
    Bagi Harry tidak ada yang salah kalau tidak mampu membeli burung hantu.
    Lagi pula dia sendiri tak pernah punya uang sepeser pun sampai sebulan yang
    lalu. Maka dia menceritakan semuanya kepada Ron, tentang bagaimana dia
    harus memakai pakaian bekas Dudley dan tak pernah mendapat hadiah ulang
    tahun yang pantas. Ini kelihatannya membuat Ron senang.
    "... dan sampai Hagrid memberitahuku, aku tak tahu apa-apa tentang diriku
    yang penyihir ataupun tentang orangtuaku atau Voldemort..."
    Ron terpekik kaget.
    "Ada apa?" tanya Harry.
    "Kau menyebutkan nama Kau-Tahu-Siapa!" kata Ron, kedengarannya shock
    sekaligus kagum. "Kukira kau, lebih-lebih..."
    "Aku tidak mencoba berani atau apa, dengan menyebut nama itu," kata
    Harry. "Aku hanya tak pernah tahu nama itu pantang disebut. Tahu, kan,
    maksudku? Masih banyak sekali yang harus kupelajari... pasti," dia
    menambahkan, mengutarakan untuk pertama kalinya sesuatu yang belakangan
    ini banyak membuatnya cemas. "Pasti aku paling bego di kelas."
    "Tidak. Banyak orang yang berasal dari keluarga Muggle dan mereka belajar
    dengan cukup cepat."
    Sementara mereka mengobrol, kereta api telah membawa mereka
    meninggalkan London. Sekarang mereka melewati sawah-sawah penuh sapi dan
    biri-biri. Selama beberapa waktu mereka diam, memandang sawah-sawah dan
    jalanan berkelebat cepat.



    --------------------------------------- 60

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Sekitar pukul setengah satu siang, terdengar bunyi berkelontangan di
    lorong, lalu seorang wanita berlesung pipi tersenyum membuka pintu mereka
    dan berkata, "Mau beli sesuatu dari troli, anak-anak?"
    Harry, yang belum sarapan, langsung melompat berdiri, tetapi telinga Ron
    jadi merah lagi dan dia bergumam bahwa dia sudah membawa bekal sandwich.
    Harry keluar ke lorong.
    Harry tak pernah punya uang untuk membeli permen selama tinggal dengan
    keluarga Dursley, dan sekarang ketika kantongnya penuh uang emas dan perak
    dia siap membeli cokelat Mars Bars sebanyak yang kuat dibawanya tetapi
    wanita itu tidak punya Mars Bars. Yang dijualnya adalah Kacang Segala-Rasa
    Bertie Bott, Permen Karet Tiup Paling Hebat Drooble, Cokelat Kodok, Pastel
    Labu, Bolu Kuali, Tongkat Likor, dan beberapa makanan aneh lagi yang belum
    pernah dilihat Harry seumur hidupnya. Karena tak ingin ada yang ketinggalan,
    Harry membeli semuanya dan membayar perempuan itu sebelas Sickle perak
    dan tujuh Knut perunggu.
    Ron terbelalak melihat Harry membawa semua belanjaannya ke dalam
    kompartemen mereka dan menuangnya di atas tempat duduk kosong.
    "Lapar rupanya?"
    "Lapar berat," sahut Harry sambil menggigit sepotong besar pastel labu.
    Ron sudah mengeluarkan bungkusan besar dan membukanya. Ada empat
    sandwich di dalamnya. Ron membuka satu di antaranya dan berkata, "Mum
    selalu lupa aku tidak suka kornet."
    "Tukar saja dengan ini," kata Harry seraya mengulurkan pastel. "Ayo,
    tukar..."
    "Kau tak akan mau roti ini, sudah kering," kata Ron. "Mum tak punya banyak
    waktu," dia menambahkan cepat-cepat,
    "maklumlah, anaknya banyak."
    "Ayo, pastel ini untukmu," kata Harry, yang belum pernah memiliki sesuatu
    untuk dibagikan atau, malahan, orang lain yang bisa diajak berbagi. Senang
    rasanya, duduk bersama Ron, makan pastel dan bolu sepanjang jalan
    (sandwich-nya tergeletak terlupakan).
    "Apa ini?" Harry bertanya kepada Ron sambil mengangkat satu pak Cokelat
    Kodok. "Bukan kodok betulan, kan?" Dia mulai merasa tak ada lagi yang bisa
    membuatnya terkejut.
    "Bukan," kata Ron. "Tapi lihat apa kartunya. Aku kurang Agrippa ."
    "Apa?"
    "Oh, tentu saja, kau tidak tahu Cokelat Kodok ada kartunya di dalamnya,
    untuk dikoleksi Para Penyihir Terkenal. Aku sudah punya kira-kira lima ratus,
    dan aku belum punya Agrippa atau Ptolemy."
    Harry membuka bungkus Cokelat Kodok-nya dan mengambil kartunya. Ada
    foto wajah laki-laki. Dia memakai kacamata bulan-separo, hidungnya bengkok,
    dan rambut, jenggot, serta kumisnya putih panjang keperakan. Di bawah foto
    itu ada nama Albus Dumbledore.
    "Jadi ini Dumbledore!" kata Harry.
    "Jangan bilang kau belum pernah dengar tentang Dumbledore!" kata Ron.
    "Boleh aku minta Kodok? Siapa tahu aku dapat Agrippa trims..."



    --------------------------------------- 61

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry membalik kartunya dan membaca:
    Albus Dumbledore saat ini menjabat Kepala Sekolah Hogwarts.
    Banyak yang menganggapnya sebagai penyihir terbesar di zaman modern ini.
    Profesor Dumbledore khususnya terkenal karena berhasil mengalahkan penyihir
    aliran hitam Grindelwald pada tahun 1945, penemuannya untuk dua belas
    kegunaan darah naga, dan karyanya di bidang alkimia yang dikerjakannya
    bersama mitranya, Nicolas Flamel. Profesor Dumbledore menyukai musik kamar
    dan boling.
    Harry membalik kembali kartunya dan kaget sekali melihat wajah
    Dumbledore sudah lenyap.
    "Dia pergi!"
    "Ya, kan dia tak bisa di sini seharian," kata Ron. "Dia akan muncul lagi.
    Aduh, aku dapat Morgana lagi. Padahal aku sudah punya enam... kau mau? Kau
    bisa mulai mengoleksi."
    Mata Ron tertuju pada tumpukan Cokelat Kodok yang menunggu dibuka
    bungkusnya.
    "Ambil saja," kata Harry.
    "Tapi di dunia Muggle, wajah orang tidak pergi dari foto."
    "Begitu? Apa? Mereka tidak bergerak sama sekali?" Ron kedengarannya
    heran. "Aneh!"
    Harry terbelalak ketika Dumbledore muncul lagi di kartu yang dipegangnya
    dan tersenyum kecil kepadanya. Ron lebih tertarik memakan cokelatnya
    daripada melihat-lihat Para Penyihir Terkenal, tetapi Harry tak bisa
    mengalihkan pandangannya dari kartu-kartu itu. Segera saja dia tak hanya
    punya Dumbledore dan Morgana, tetapi juga Hengist of Woodcroft, Alberic
    Grunnion, Circe, Paracelsus, dan Merlin.
    Dia akhirnya mengalihkan pandang dari pendeta perempuan Cliodna,
    yang sedang menggaruk-garuk hidung, untuk membuka kantong Kacang
    Segala-Rasa Bertie Bott.
    "Hati-hati lho," Ron memperingatkan Harry. "Segala-Rasa di situ benar-benar
    segala rasa tahu kan, kau mendapat rasa-rasa biasa seperti cokelat, mint
    segar, selai, tapi kau juga bisa mendapat rasa bayam, hati, dan babat. George
    bahkan menduga dia pernah mendapat kacang rasa-setan." Ron mengambil
    sebutir kacang hijau, mengamatinya dengan teliti, dan menggigit sedikit
    ujungnya.
    "Bleaaargh benar, kan? Taoge."
    Mereka asyik sekali makan Kacang Segala-Rasa. Harry mendapat roti bakar,
    kelapa, kacang panggang, stroberi, kari, rumput, kopi, sarden, dan bahkan
    cukup berani menggerigiti ujung kacang abu-abu yang Ron bahkan tak berani
    menyentuhnya, dan ternyata itu rasa merica.
    Daerah pedesaan yang melayang melewati mereka semakin liar. Sawah-
    sawah yang rapi sekarang sudah lenyap. Yang ada hutan, sungai berkelok-kelok,
    dan bukit-bukit hijau gelap.
    Terdengar ketukan di pintu kompartemen mereka dan anak laki-laki
    berwajah bundar, yang tadi dilewati Harry di peron sembilan, tiga perempat,
    masuk. Dia kelihatannya habis menangis.



    --------------------------------------- 62

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Maaf," katanya, "tapi apakah kalian melihat katak?" Ketika mereka
    menggelengkan kepala, anak itu meratap. "Hilang deh!
    Dia kabur terus dariku!"
    "Dia akan muncul," kata Harry.
    "Ya," kata si anak sedih. "Yah, kalau kau melihatnya..."
    Dia pergi.
    "Aku tak tahu kenapa dia sesedih itu," kata Ron. "Kalau aku membawa
    katak, aku akan kehilangan dia secepat mungkin.
    Tahu tidak, aku membawa Scabbers, supaya aku tak bisa bicara."
    Tikus itu masih tidur di pangkuan Ron.
    "Dia bisa saja mati dan kau tak akan tahu perbedaannya,"
    kata Ron sebal. "Aku mencoba mengubahnya jadi kuning kemarin, tapi
    mantranya tidak manjur. Akan kutunjukkan padamu, lihat..."
    Dia mengaduk-aduk kopernya dan menarik keluar tongkat yang sudah sangat
    butut. Tongkat itu sudah tergores dan bocel di mana-mana dan ada benda putih
    berkilau di ujungnya.
    "Rambut unicorn-nya sudah hampir lepas. Yang jelas..."
    Ron baru mengangkat tongkatnya ketika pintu kompartemen mereka
    menggeser terbuka lagi. Anak yang kehilangan katak muncul lagi, tetapi kali ini
    ditemani anak perempuan. Anak perempuan itu sudah memakai jubah
    Hogwarts-nya.
    "Ada yang lihat katak? Katak Neville hilang," katanya.
    Suaranya berwibawa, rambutnya cokelat lebat dan gigi depannya agak
    besar-besar.
    "Kami sudah bilang padanya, tidak lihat," kata Ron, tetapi anak perempuan
    itu tidak mendengarkan. Dia malah memandang tongkat di tangan Ron.
    "Oh, kau sedang menyihir, ya? Coba lihat."
    Anak perempuan itu duduk. Ron kelihatannya kaget.
    "Er baiklah."
    Ron berdeham.
    "Cahaya mentari, mentega, kemuning, Ubahlah tikus gemuk bodoh ini jadi
    kuning."
    Ron mengayunkan tongkatnya, tetapi tak terjadi apa-apa.
    Scabbers tetap abu-abu dan tetap tidur nyenyak.
    "Kau yakin yang kauucapkan tadi mantra?" tanya si anak perempuan. "Tidak
    begitu manjur, ya. Aku sendiri sudah mencoba beberapa mantra sederhana
    untuk latihan dan semuanya manjur. Tak seorang pun dalam keluargaku
    penyihir.
    Sungguh kejutan besar waktu aku menerima suratku, tetapi aku senang
    sekali, tentu saja, maksudku, ini kan sekolah sihir paling bagus, begitu yang
    kudengar aku sudah hafal isi semua buku kita, tentu saja, aku cuma berharap
    itu cukup oh ya, aku Hermione Granger, kalian siapa?"
    Semua itu dikatakannya dengan sangat cepat.
    Harry memandang Ron dan langsung lega. Melihat wajahnya yang
    tercengang, berarti Ron juga belum menghafal semua isi buku-bukunya.
    "Aku Ron Weasley," gumam Ron.



    --------------------------------------- 63

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Harry Potter," kata Harry.
    "Kau Harry Potter?" kata Hermione. "Aku tahu segalanya tentang kau, tentu
    saja aku membeli beberapa buku lain untuk bacaan tambahan, dan kau ada di
    buku Sejarah Sihir Modern dan Kejayaan dan Keruntuhan Sihir Hitam dan
    Peristiwa-peristiwa Hebat di Dunia Sihir Abad Dua Puluh."
    "Betulkah?" kata Harry, takjub.
    "Astaga, tak tahukah kau? Seandainya jadi kau, aku pasti sudah menyelidiki
    apa saja tentang diriku," kata Hermione.
    "Apakah kalian tahu kalian akan masuk asrama mana? Aku sudah mencari
    informasi dan aku berharap aku masuk Gryffindor. Kedengarannya itu yang
    paling baik. Kudengar Dumbledore sendiri juga dulu di sana. Tetapi kurasa
    Ravenclaw juga tidak terlalu buruk.... Tapi sebaiknya kami mencari katak
    Neville lagi. Kalian berdua sebaiknya ganti pakaian, kurasa tak lama lagi kita
    sampai."
    Dan dia pergi, mengajak si anak yang kehilangan katak.
    "Di rumah asrama mana pun aku nanti, kuharap tidak serumah dengan dia,"
    kata Ron. Dilemparkannya kembali tongkatnya ke dalam kopernya. "Tongkat
    bego dikasih George, pasti deh dia tahu tidak manjur."
    "Di asrama mana kakak-kakakmu?" tanya Harry.
    "Gryffindor," kata Ron. Kemuraman menyelimuti wajahnya lagi. "Mum dan
    Dad juga di situ. Aku tak tahu apa yang akan dikatakan mereka kalau aku tidak
    bisa masuk situ. Kurasa Ravenclaw tidak terlalu buruk, tetapi bayangkan kalau
    mereka menempatkan aku di Slytherin."
    "Vol-maksudku, Kau-Tahu-Siapa dulu di asrama itu?"
    "Yeah," kata Ron. Dia terenyak kembali di tempat duduknya, kelihatan
    tertekan.
    "Eh, Ron, ujung kumis Scabbers warnanya lebih muda, ya,"
    kata Harry berusaha mengalihkan pikiran Ron dari asrama-asrama. "Apa
    yang dilakukan kedua kakakmu yang sudah meninggalkan Hogwarts?"
    Harry bertanya-tanya dalam hati, apa yang dilakukan penyihir setelah
    sekolahnya selesai.
    "Charlie di Rumania mempelajari tentang naga dan Bill di Afrika melakukan
    sesuatu untuk Gringotts," kata Ron. "Kau sudah dengar tentang Gringotts?
    Beritanya ramai di Daily Prophet, tetapi kurasa Muggle tidak membaca koran
    itu. Ada yang mencoba merampok ruangan besi yang pengamanannya sangat
    ketat."
    Harry terbelalak.
    "Betul? Apa yang terjadi pada mereka?"
    "Tidak ada, itulah sebabnya ini jadi berita besar. Mereka tidak tertangkap.
    Ayahku bilang pastilah penyihir hitam yang hebat kalau bisa lolos dari
    Gringotts, tetapi katanya mereka tidak mengambil apa-apa. Itu yang aneh.
    Tentu saja semua orang jadi takut kalau hal semacam ini terjadi, siapa tahu
    KauTahu-Siapa berada di belakangnya."
    Harry mencerna berita ini dalam benaknya. Dia mulai dirasuki rasa takut
    setiap kali Kau-Tahu-Siapa disebut-sebut.



    --------------------------------------- 64

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dia menduga ini bagian dari memasuki dunia sihir, tetapi lebih nyaman bisa
    mengucapkan "Voldemort" tanpa perlu cemas.
    "Apa tim Quidditch favoritmu?" tanya Ron. "Er aku tak kenal tim Quidditch
    mana pun," Harry mengaku.
    "Apa!" Ron tercengang. "Oh, tunggu saja, ini permainan paling hebat
    sedunia...." Langsung saja Ron nyerocos menjelaskan tentang empat bola dan
    posisi tujuh pemainnya, menceritakan pertandinganpertandingan besar yang
    pernah ditontonnya bersama kakak-kakaknya dan sapu terbang yang ingin
    dibelinya jika dia punya cukup uang. Dia sedang menerangkan aturan-aturan
    mainnya ketika pintu kompartemen mereka tergeser terbuka lagi. Tetapi kali
    ini yang datang bukan Neville yang kehilangan katak ataupun Hermione
    Granger.
    Tiga anak laki-laki masuk dan Harry langsung mengenali yang di tengah. Si
    anak laki-laki pucat yang ada di toko jubah Madam Malkin. Dia memandang
    Harry dengan lebih berminat daripada waktu di Diagon Alley.
    "Betulkah?" katanya. "Di seluruh gerbong anakanak mengatakan Harry Potter
    ada di kompartemen ini. Jadi, rupanya kau, ya?"
    "Ya," kata Harry. Dia memandang dua anak lainnya. Mereka besar dan
    kelihatannya sadis sekali. Berdiri di kanan-kiri anak pucat itu, mereka kelihatan
    seperti pengawal.
    "Oh, ini Crabbe dan ini Goyle," kata si pucat sambil lalu, ketika melihat
    siapa yang dipandang Harry. "Dan namaku Malfoy, Draco Malfoy."
    Ron terbatuk, yang mungkin dilakukannya untuk menyamarkan kikikan.
    Draco Malfoy memandangnya.
    "Kaupikir namaku lucu, ya? Aku tak perlu tanya siapa kau.
    Ayahku bilang semua Weasley berambut merah, punya bintikbintik di pipi,
    dan punya lebih banyak anak daripada yang sanggup mereka tang-gung."
    Dia kembali memandang Harry.
    "Kau akan segera tahu beberapa keluarga penyihir jauh lebih baik daripada
    yang lain, Potter. Jangan sampai berteman dengan orang yang salah. Aku bisa
    membantumu dalam hal ini."
    Dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Harry, tetapi Harry tidak
    menyambutnya. "Kurasa aku bisa menentukan sendiri mana orang yang salah,
    terima kasih," katanya dingin.
    Wajah Draco Malfoy tidak berubah merah, tetapi rona merah jambu muncul
    di pipinya yang pucat.
    "Aku akan hati-hati kalau jadi kau, Potter," katanya perlahan.
    "Kalau kau tidak lebih sopan sedikit, nasibmu akan sama dengan
    orangtuamu. Mereka juga tak tahu apa yang baik untuk mereka. Kalau kau ke
    sana kemari dengan orang-orang urakan seperti keluarga Weasley dan Hagrid,
    kau pasti ketularan."
    Baik Harry maupun Ron bangkit. Wajah Ron sudah semerah rambutnya.
    "Coba bilang lagi," katanya.
    "Oh, kalian mau berkelahi dengan kami, ya?" Malfoy menyeringai.



    --------------------------------------- 65

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kalau kalian tidak keluar sekarang juga," kata Harry, lebih berani daripada
    yang dirasakannya, karena Crabbe dan Goyle jauh lebih besar daripada dia
    maupun Ron.
    "Tapi kita tak mau pergi kan, teman-teman? Kami sudah menghabiskan
    makanan kami, sedangkan kalian masih punya sisa."
    Goyle mengulurkan tangan ke Cokelat Kodok di sebelah Ron. Ron melompat
    ke depan, tetapi sebelum dia sempat menyentuh Goyle, Goyle sudah menjerit
    menyeramkan.
    Scabbers si tikus bergantung pada jarinya, gigi-gigi kecilnya yang tajam
    terbenam dalam buku jari Goyle. Crabbe dan Malfoy mundur sementara Goyle
    mengibas-ngibaskan Scabbers, seraya melolong-lolong. Dan ketika akhirnya
    Scabbers terlepas dan menghantam jendela, mereka bertiga langsung kabur.
    Mungkin mereka mengira masih banyak lagi tikus bersembunyi di antara
    cokelat-cokelat, atau mungkin mereka mendengar langkah-langkah kaki,
    karena sedetik kemudian, Hermione Granger masuk.
    "Apa yang terjadi?" tanyanya, seraya memandang permen yang berserakan
    di lantai dan Ron yang memungut Scabbers pada ekornya.
    "Kurasa dia pingsan," kata Ron kepada Harry. Dia memeriksa Scabbers
    dengan teliti. "Astaga aku tak percaya dia sudah tidur lagi."
    Scabbers memang tidur.
    "Kau sudah pernah ketemu Malfoy sebelumnya?"
    Harry menjelaskan tentang pertemuan mereka di Diagon Alley.
    "Aku sudah dengar tentang keluarganya," kata Ron muram.
    "Mereka termasuk di antara rombongan pertama yang kembali memihak kita
    setelah Kau-Tahu-Siapa menghilang. Katanya mereka disihir. Ayahku tidak
    percaya. Dia bilang ayah Malfoy tidak perlu alasan untuk memihak Sihir Hitam."
    Ron menoleh kepada Hermione. Ada yang bisa kami bantu?"
    "Kalian sebaiknya bergegas dan memakai jubah kalian. Aku baru dari depan
    untuk menanyai masinis dan dia bilang sebentar lagi kita sampai. Kalian tidak
    habis berkelahi, kan? Kalian akan dapat kesulitan bahkan sebelum kita sampai!"
    "Scabbers yang berkelahi, bukan kami," kata Ron sebal.
    "Silakan menyingkir selama kami berganti pakaian."
    "Baiklah aku datang ke sini cuma karena orang-orang di luar bertingkah
    sangat kekanakan, berlarian sepanjang lorong,"
    kata Hermione bernada merendahkan. "Dan hidungmu ada kotorannya,
    tahukah kau?"
    Ron mendelik ke punggung Hermione. Harry melihat ke luar jendela. Sudah
    mulai gelap. Dia bisa melihat pegunungan dan hutan di bawah langit ungu tua.
    Kereta api kelihatannya memang melambat.
    Harry dan Ron melepas jaket dan memakai jubah panjang hitam mereka.
    Jubah Ron agak kependekan. Celana training-nya kelihatan di bawah jubah itu.
    Terdengar pengumuman yang dikumandangkan ke seluruh kereta. "Kita akan
    tiba di Hogwarts lima menit lagi. Silakan meninggalkan barang-barang Anda di
    kereta. Barang-barang tersebut akan dibawa ke sekolah secara terpisah."



    --------------------------------------- 66

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Perut Harry terasa tegang dan dilihatnya wajah Ron pucat di bawah bintik-
    bintiknya. Mereka menjejalkan sisa permen ke dalam kantong dan bergabung
    dengan anak-anak yang sudah memenuhi lorong.
    Kereta semakin melambat dan akhirnya berhenti. Anak-anak berdesakan ke
    pintu dan keluaf ke peron kecil gelap. Harry bergidik dalam udara malam yang
    dingin. Kemudian muncul lampu yang bergoyanggoyang di atas kepala anak-
    anak dan Harry mendengar suara yang sudah dikenalnya, "Kelas satu!
    Kelas satu di sini! Semua oke, Harry?"
    Wajah Hagrid yang besar berewokan tersenyum di atas lautan kepala anak-
    anak. "Ayo, ikuti aku masih ada lagi kelas satu? Hatihati melangkah. Kelas satu
    ikut aku!" Terpeleset dan terhuyung, mereka mengikuti Hagrid menyusuri jalan
    sempit curam. Di kanan-kiri mereka gelap sekali, sehingga Harry menduga
    pepohonan di situ pastilah lebat. Tak ada yang banyak bicara. Neville, si anak
    yang kehilangan katak, terisak satudua kali.
    "Sedetik lagi kalian akan melihat Hogwarts untuk pertama kali," Hagrid
    berseru seraya menoleh, "sesudah belokan ini."
    Terdengar seruan "Oooooh!" keras.
    Jalan sempit itu mendadak membuka ke tepi danau besar gelap. Di atas
    gunung tinggi di seberang danau, jendela-jendelanya berkilau terang di bawah
    langit penuh bintang, bertengger kastil besar dengan banyak menara besar dan
    kecil.
    "Satu perahu tak boleh lebih dari empat anak!" seru Hagrid, seraya
    menunjuk armada perahu kecilkecil yang siap menunggu di dekat tepi danau.
    Harry dan Ron menuju ke perahu mereka, diikuti oleh Neville dan Hermione.
    "Semua sudah naik perahu?" teriak Hagrid, yang sendirian di atas satu
    perahu. "Baik kalau begitu BERANGKAT!"
    Dan armada perahu kecil-kecil serentak meluncur di atas permukaan danau,
    yang selicin kaca. Semua diam, memandang kastil besar di atas. Kastil itu
    menjulang tinggi di atas mereka sementara mereka semakin dekat ke bukit
    karang tempatnya berdiri.
    "Tundukkan kepala!" teriak Hagrid ketika deretan pertama perahu tiba di
    bukit karang. Mereka semua menundukkan kepala dan perahu-perahu kecil itu
    membawa mereka melewati tirai sulur yang menyembunyikan lubang menganga
    di dinding bukit. Mereka dibawa melewati lorong gelap, yang rupanya berada
    persis di bawah kastil, sampai mereka tiba di semacam pelabuhan bawah
    tanah. Mereka naik ke daratan berbatu karang dan kerikil.
    "Oi, kau! Apa ini katakmu?" kata Hagrid, yang memeriksa perahu-perahu
    setelah anak-anak turun.
    "Trevor!" pekik Neville gembira, seraya mengulurkan tangan.
    Kemudian mereka mendaki jalanan di bukit karang, mengikuti cahaya lampu
    Hagrid, sampai akhirnya tiba di hamparan rumput halus berembun tepat di
    depan bayangan kastil.
    Mereka mendaki undakan batu dan berkerumun di depan pintu depan besar
    dari kayu ek.
    "Semua sudah di sini? Kau, katakmu masih ada?"
    Hagrid mengangkat kepalan raksasanya dan mengetuk pintu kastil tiga kali.



    --------------------------------------- 67

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    ***
    7. Topi Seleksi
    PINTU langsung membuka. Seorang penyihir wanita jangkung memakai
    jubah hijau zamrud berdiri disana. Wajahnya sangat galak dan pikiran Harry
    pertama adalah, jangan sampai membuat penyihir ini marah.
    "Kelas satu, Profesor McGonagall," kata Hagrid.
    "Terima Kasih, Hagrid. Biar aku ambil alih sekarang."
    Dibukanya pintu lebar-lebar. Aula di belakang pintu luas sekali, seluruh
    rumah keluarga Dursley bisa dipindahkan ke situ.
    Dinding batunya diterangi oborobor menyala seperti di Gringotts. Langit-
    langitnya tinggi sekali sehingga tak bisa dilihat, dan ada tangga pualam megah
    di depan mereka, menuju ke lantai atas.
    Anak-anak mengikuti Profesor McGonagall melintasi lantai batu kotak-kotak.
    Harry bisa mendengar dengung ratusan suara dari pintu di sebelah kanan
    murid-murid lainnya pastilah sudah di sana tetapi Profesor McGonagall
    membawa muridmurid kelas satu ke kamar kecil kosong di luar aula. Mereka
    bergerombol, berdiri lebih berdekatan daripada biasanya, memandang
    berkeliling dengan cemas.
    "Selamat datang di Hogwarts," kata Profesor McGonagall.
    "Pesta awal tahun ajaran baru akan segera dimulai, tetapi sebelum kalian
    mengambil tempat duduk di Aula Besar, kalian akan diseleksi masuk rumah
    asrama mana. Seleksi ini upacara yang sangat penting karena, selama kalian
    berada di sini, asrama kalian akan menjadi semacam keluarga bagi kalian di
    Hogwarts.
    Kalian akan belajar dalam satu kelas dengan teman-teman seasrama kalian,
    tidur di asrama kalian, dan melewatkan waktu luang di ruang rekreasi asrama
    kalian.
    "Ada empat asrama di sini, Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan,
    Slytherin. Masing-masing asrama punya sejarah luhur dan masing-masing telah
    menghasilkan penyihir hebat. Selama kalian di Hogwarts, prestasi dan
    kemenangan kalian akan menambah angka bagi asrama kalian, sementara
    pelanggaran peraturan akan membuat angka asrama kalian dikurangi.
    Pada akhir tahun, asrama yang berhasil mengumpulkan angka paling banyak
    akan dianugerahi Piala Asrama, suatu kehormatan besar. Kuharap kalian semua
    akan membawa kebanggaan bagi asrama mana pun yang akan kalian tempati.
    "Upacara seleksi akan berlangsung beberapa menit lagi di hadapan seluruh
    penghuni sekolah. Kusarankan kalian merapikan diri sebisa mungkin selama
    menunggu."
    Matanya sejenak menatap jubah Neville, yang dikancingkan di bawah
    telinga kirinya, dan hidung Ron yang ada kotoran hitamnya.
    Harry dengan gelisah mencoba meratakan rambutnya.



    --------------------------------------- 68

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Aku akan kembali kalau kami sudah siap menerima kalian,"
    kata Profesor McGonagall. "Tunggu di sini dan jangan ribut."
    Dia meninggalkan ruangan. Harry menelan ludah.
    "Bagaimana cara mereka menyeleksi kita masuk asrama?" tanyanya kepada
    Ron.
    "Dengan semacam tes, kurasa. Kata Fred prosesnya menyakitkan sekali,
    tetapi kurasa dia cuma bergurau."
    Hati Harry mencelos. Tes? Di depan seluruh sekolah? Tetapi dia sama sekali
    tak tahu apa-apa tentang sihir apa yang harus dilakukannya? Dia tidak
    menyangka akan ada tes begitu mereka sampai. Dia memandang berkeliling
    dengan cemas dan melihat bahwa anak-anak lain juga sama takutnya. Tak ada
    yang banyak bicara kecuali Hermione Granger, yang dalam bisikan
    mengucapkan dengan cepat semua mantra yang telah dipelajarinya dan
    bertanya-tanya sendiri mantra mana yang akan diperlukannya. Harry berusaha
    keras untuk tidak mendengarkannya. Belum pernah dia secemas ini, belum
    pernah. Bahkan ketika dia harus membawa laporan dari sekolah kepada
    keluarga Dursley bahwa entah bagaimana dia telah mengubah wig gurunya
    menjadi biru, dia tidak secemas ini.
    Matanya diarahkannya ke pintu. Setiap saat Profesor McGonagall bisa
    kembali dan membawanya menyongsong malapetaka.
    Kemudian sesuatu terjadi yang membuatnya terlonjak sekitar tiga puluh
    senti ke atas beberapa anak di belakangnya menjerit.
    "Ada a...?"
    Harry ternganga. Begitu juga anak-anak di sekitarnya. Kirakira dua puluh
    hantu baru saja masuk menembus dinding belakang. Putih berkilau bagai
    mutiara dan agak transparan, mereka melayang di ruangan, sibuk mengobrol
    dan nyaris tidak memedulikan murid-murid kelas satu. Kelihatannya mereka
    sedang bertengkar. Hantu yang kelihatan seperti rahib kecil-gemuk berkata,
    "Maafkan dan lupakan. Menurutku kita harus memberinya kesempatan kedua..."
    "Rahibku sayang, bukankah kita sudah memberi Peeves semua kesempatan
    yang layak diterimanya? Dia membuat kita semua mendapat nama buruk dan
    kau tahu, dia bahkan bukan hantu betulan eh, ngapain kalian semua di sini?"
    Hantu yang memakai kerah rimpel dan celana ketat tiba-tiba menyadari ada
    murid-murid kelas satu.
    Tak ada yang menjawab.
    "Murid-murid baru!" kata si rahib gemuk, memandang berkeliling sambil
    tersenyum. "Akan segera diseleksi, kan?"
    Beberapa anak mengangguk tanpa suara.
    "Mudah-mudahan kita ketemu lagi di Hufflepuff!" kata si rahib.
    "Asramaku dulu di situ."
    "Minggir kalian," terdengar suara tegas. "Upacara seleksi akan segera
    dimulai."
    Profesor McGonagall telah kembali. Satu demi satu, hantu-hantu itu
    melayang keluar menembus dinding yang berhadapan.
    "Sekarang berbaris satu-satu," kata Profesor McGonagall kepada anak-anak
    kelas satu, "dan ikuti aku."



    --------------------------------------- 69

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Merasa berat seakan kakinya berubah jadi timah, Harry masuk barisan di
    belakang anak berambut kecokelatan, dengan Ron di belakangnya. Mereka
    berjalan meninggalkan ruangan itu, kembali ke aula depan dan masuk lewat
    sepasang pintu ganda ke Aula Besar.
    Harry tak pernah membayangkan ada tempat seaneh dan sehebat itu. Aula
    ini diterangi ribuan lilin yang melayang-layang di udara di atas empat meja
    panjang. Murid-murid kelas yang lebih tinggi duduk mengelilingi keempat meja
    itu. Meja-meja ini dipenuhi piring dan piala keemasan berkilau. Di ujung Aula,
    di tempat yang lebih tinggi, ada meja panjang lain, tempat para guru duduk.
    Profesor McGonagall membawa murid-murid kelas satu ke sana, sehingga
    mereka berhenti dalam satu barisan panjang, menghadap murid-murid yang
    lain, dengan para guru di belakang mereka. Ratusan wajah yang memandang
    mereka kelihatan seperti lentera pucat di bawah kelap-kelip cahaya lilin.
    Bertebaran di sana-sini di antara para murid, hantu-hantu berkilau bagai
    kabut keperakan. Untuk menghindari begitu banyak mata yang menatapnya,
    Harry memandang ke atas dan melihat langit-langit hitam bagai beludru dengan
    bintangbintang bertebaran. Didengarnya Hermione berbisik, "Disihir supaya
    tampak seperti langit di luar. Aku baca dalam buku Sejarah Hogwarts."
    Sulit membayangkan bahwa di atas situ ada langitlangit, dan bahwa Aula
    Besar itu tidak langsung membuka ke langit.
    Harry cepat-cepat memandang ke bawah lagi ketika Profesor McGonagall
    meletakkan bangku berkaki empat di depan muridmurid kelas satu. Di atas
    bangku itu diletakkannya topi sihir berujung runcing. Topi itu sudah bertambal,
    berjumbai, dan kotor sekali. Bibi Petunia tak akan mengizinkan topi itu dibawa
    masuk rumah.
    Mungkin mereka harus mencoba menyihir dan mengeluarkan kelinci dari topi
    itu, pikir Harry panik. Kelihatannya begitu, karena semua orang di Aula
    sekarang mengarahkan pandangan ke topi itu. Harry juga memandangnya.
    Selama beberapa detik, hanya ada kesunyian total. Kemudian topi itu meliuk.
    Robekan di dekat tepinya membuka lebar seperti mulut dan topi itu mulai
    menyanyi:
    "Oh, mungkin menurutmu aku jelek, Tapi jangan menilaiku dari
    penampilanku, Berani taruhan takkan bisa kautemukan Topi yang lebih pandai
    dariku. Jubahmu boleh hitam kelam, Topimu licin dan tinggi, Aku mengungguli
    semua itu Karena di Hogwarts ini aku Topi Seleksi. Tak ada apa pun dalam
    pikiranmu Yang bisa kau sembunyikan dariku, Jadi pakailah aku dan kau akan
    kuberitahu Asrama mana yang cocok untukmu.
    Mungkin kau sesuai untuk Gryffindor, Tempat berkumpul mereka yang
    berhati berani dan jujur, Keberanian, keuletan, dan kepahlawanan mereka
    Membuat nama Gryffindor masyhur;
    Mungkin juga Hufflepuff-lah tempatmu, Bersama mereka yang adil dan
    setia, Penghuni Hufflepuff sabar dan loyal Kerja keras bukan beban bagi
    mereka;
    Atau siapa tahu di Ravenclaw, Kalau kau cerdas dan mau belajar, Ini
    tempat para bijak dan cendekia,Ajang berkumpul mereka yang pintar;



    --------------------------------------- 70

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Atau bisa juga di SlytherinKau menemukan teman sehati, Orang-orang licik
    ini menggunakan segala cara Untuk mendapatkan kepuasan pribadi.
    Jadi, segeralah pakai aku!
    Janganlah takut dan jangan ragu!
    Dijamin kau akan aman
    Karena aku Topi Seleksi-mu!"
    Seluruh Aula meledak dalam tepuk tangan riuhrendah ketika topi itu
    mengakhiri nyanyiannya. Topi itu membungkuk ke arah empat meja dan
    kemudian diam lagi.
    "Jadi kita harus memakai topi itu!" Ron berbisik kepada Harry. "Kubunuh
    Fred. Dia bilang kita harus berkelahi dengan troll."
    Harry tersenyum lemah. Ya, memakai topi memang jauh lebih baik daripada
    menyihir, tetapi sebetulnya dia lebih suka kalau bisa melakukannya tanpa
    ditonton semua orang. Topi itu rasanya menuntut terlalu banyak. Harry tidak
    merasa berani ataupun cerdas atau apa pun juga pada saat ini. Kalau saja topi
    itu menyebutkan asrama bagi mereka yang merasa gelisah dan mau muntah,
    asrama itulah yang paling cocok untuknya.
    Profesor McGonagall maju memegangi gulungan perkamen panjang.
    "Yang disebut namanya harap maju dan memakai topi, lalu duduk di atas
    bangku untuk diseleksi," katanya. "Abbot, Hannah!"
    Seorang anak perempuan berwajah merah dengan rambut pirang dibuntut
    kuda keluar dari barisan, memakai topi, yang langsung melorot menutupi
    matanya, dan duduk.
    Sejenak kemudian...
    "HUFFLEPUFF!" teriak si topi.
    Meja di sebelah kanan bersorak dan bertepuk tangan ketika Hannah
    mendekat dan duduk di meja Hufflepuff. Harry melihat hantu Rahib Gemuk
    melambai-lambaikan tangan dengan gembira ke arah Hannah.
    "Bones, Susan!"
    "HUFFLEPUFF!" teriak si topi lagi, dan Susan berlari untuk duduk di sebelah
    Hannah. "Boot, Terry!" "RAVENCLAW!"
    Meja kedua dari kiri ganti bertepuk kali ini, beberapa anak Ravenclaw
    berdiri untuk berjabat tangan dengan Terry ketika dia telah bergabung dengan
    mereka.
    "Brocklehurst, Mandy" juga ke Ravenclaw, tetapi "Brown, Lavender" menjadi
    anggota baru Gryffindor yang pertama dan meja di ujung kiri meledak
    bersorak-sorai. Harry melihat kedua kakak kembar Ron berteriak-teriak.
    Yang berikutnya, "Bulstrode, Millicent", untuk Slytherin.
    Mungkin hanya sekadar bayangan Harry setelah segala sesuatu yang
    didengarnya tentang Slytherin, tetapi baginya anak-anak Slytherin kelihatannya
    tidak menyenangkan.
    Harry benar-benar mau muntah sekarang. Dia ingat acara pemilihan regu
    olahraga di sekolahnya yang dulu. Dia selalu dipilih paling belakangan, bukan
    karena dia tak bisa berolahraga, tetapi karena tak seorang pun mau Dudley
    mengira mereka menyukai Harry.
    "Finch-Fletchley Justin!"



    --------------------------------------- 71

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "HUFFLEPUFF!"
    Kadang-kadang, Harry memperhatikan, si topi lang-sung meneriakkan nama
    asrama, tetapi bisa juga lama baru memutuskan. "Finnigan, Seamus", anak laki-
    laki berambut cokelat di depan Harry duduk di bangku hampir semenit penuh
    sebelum si topi memutuskan Gryffindor untuknya.
    "Granger, Hermione!"
    Hermione nyaris lari ke bangku dan dengan bersemangat memasang topi di
    kepalanya. "GRYFFINDOR!" teriak si topi.
    Ron mengeluh. Pikiran mengerikan melintas di benak Harry.
    Seperti biasa pikiran mengerikan selalu muncul bila kau sedang sangat
    cemas. Bagaimana jika dia tidak dipilih? Bagaimana kalau dia duduk terus di
    atas bangku dengan topi menutupi kepalanya, sampai Profesor McGonagall
    mencopotnya dari kepalanya dan menyatakan bahwa jelas ada kekeliruan, lalu
    menyuruhnya kembali ke kereta?
    Ketika Neville Longbottom, anak yang selalu kehilangan kataknya, dipanggil
    namanya, dia terjatuh waktu berjalan ke bangku. Si topi perlu waktu lama
    untuk mengambil keputusan bagi Neville.
    Ketika akhirnya topi itu meneriakkan "GRYFFINDOR", Neville berlari masih
    memakai topi itu, dan terpaksa kembali di tengah riuhnya tawa untuk
    memberikannya kepada "MacDougal, Morag".
    Malfoy berjalan dengan sok ketika namanya dipanggil dan keinginannya
    langsung terkabul. Begitu menyentuh kepalanya, si topi langsung berteriak,
    "SLYTHERIN!"
    Malfoy bergabung dengan teman-temannya Crabbe dan Goyle, wajahnya
    kelihatan puas.
    Tidak banyak lagi yang tinggal sekarang.
    "Moon"... "Nott"... "Parkinson"... kemudian sepasang gadis kembar, "Patil"
    dan "Patil"... kemudian "Perks, Sally-Anne"...
    dan kemudian, akhirnya... "Potter, Harry!" Saat Harry melangkah ke depan,
    bisik-bisik tiba-tiba menjalar seperti api yang mendesis di seluruh aula.
    "Potter, dia menyebut begitu?"
    "Si Harry Potter yang itu?"
    Hal terakhir yang dilihat Harry sebelum topi menutupi matanya adalah
    anak-anak seaula menjulurkan leher agar bisa melihatnya lebih jelas. Detik
    berikutnya yang kelihatan adalah bagian dalam topi yang hitam. Dia menunggu.
    "Hmmm," terdengar suara kecil di telinganya. "Sulit. Sangat sulit.
    Keberanian besar, rupanya. Otak juga encer. Ada bakat, oh, astaga, ya dan
    kehausan untuk membuktikan diri, ah, itu menarik... Jadi, sebaiknya di mana
    kau kutempatkan?" Harry mencengkeram tepi bangku dan membatin, Jangan
    Slytherin, jangan Slytherin.
    "Jangan Slytherin, eh?" kata suara kecil itu. "Kau yakin? Kau bisa jadi
    penyihir hebat lho, semuanya ada di kepalamu, dan Slytherin bisa
    membantumu mencapai kemasyhuran, tak diragukan lagi tidak? Yah, kalau kau
    yakin lebih baik GRYFFINDOR!"
    Harry mendengar si topi meneriakkan kata terakhir itu ke aula. Dia
    mencopot topinya dan berjalan dengan gemetar menuju meja Gryffindor. Dia



    --------------------------------------- 72

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    lega sekali sudah dipilih dan tidak ditempatkan
    di Slytherin, sehingga dia nyaris tidak memperhatikan bahwa dia mendapat
    sambutan yang paling meriah. Percy si Prefek bangkit dan menjabat tangannya
    dengan penuh semangat, sementara si kembar Weasley memekik,
    "Kami dapat Potter! Kami dapat Potter!" Harry duduk berhadapan dengan
    hantu berkerah rimpel yang sebelumnya sudah dilihatnya. Si hantu mengelus
    lengannya, membuat Harry merasa dia mendadak dicemplungkan ke dalam
    seember air es.
    Harry bisa melihat Meja Tinggi dengan jelas sekarang. Di ujung yang paling
    dekat duduk Hagrid, yang bertatap mata dengannya dan mengacungkan kedua
    ibu jarinya. Harry balas tersenyum. Dan di tengah Meja Tinggi itu, dalam kursi
    besar emas, duduklah Albus Dumbledore, Harry langsung mengenalinya dari
    kartu yang didapatnya dari Cokelat Kodok di kereta api tadi. Rambut keperakan
    Dumbledore adalah satusatunya di dalam Aula yang berkilau sama terangnya
    dengan para hantu. Harry melihat Profesor Quirrell juga, si laki-laki muda
    gugup yang ditemuinya di Leaky Cauldron. Profesor Quirrell kelihatan aneh
    sekali dengan memakai turban besar ungu.
    Sekarang tinggal tiga anak lagi untuk diseleksi. "Thomas, Dean" seorang anak
    laki-laki berkulit hitam dan lebih tinggi dari Ron, bergabung dengan Harry di
    meja Gryffindor. "Turpin, Lisa" menjadi anggota Ravenclaw, dan kemudian
    tibalah giliran Ron. Ron sudah pucat pasi sekarang. Harry menyilangkan jari di
    bawah meja, mengharap keberuntungan dan sedetik kemudian si topi
    berteriak, "GRYFFINDOR!"
    Harry bertepuk keras bersama yang lain sementara Ron terenyak duduk di
    kursi di sebelahnya.
    "Bagus sekali, Ron, hebat," kata Percy Weasley bangga, sementara "Zabini,
    Blaise" dinyatakan masuk Slytherin.
    Profesor McGonagall menggulung perkamennya dan mengambil kembali si
    Topi Seleksi.
    Harry menatap piring emasnya yang kosong. Dia baru sadar betapa laparnya
    dia. Pastel labu tadi serasa sudah seabad lamanya.
    Albus Dumbledore sudah berdiri. Dia tersenyum kepada anak-anak,
    lengannya terbuka lebar-lebar, seakan tak ada yang lebih membuatnya senang
    daripada melihat mereka semua ada di sana.
    "Selamat datang!" katanya. "Selamat datang untuk mengikuti tahun ajaran
    baru di Hogwarts. Sebelum kita mulai acara makan kita, aku ingin
    menyampaikan beberapa patah kata. Inilah dia: Dungu! Gendut! Aneh! Jewer!
    "Terima kasih!"
    Dia duduk kembali. Semua anak bertepuk tangan dan bersorak. Harry tak
    tahu apakah dia harus tertawa atau tidak.
    "Apa dia agak sinting?" tanyanya ragu-ragu kepada Percy.
    "Sinting?" kata Percy dibuat-buat. "Dia jenius! Penyihir paling hebat di
    dunia! Tapi dia memang agak sinting, ya.
    Kentang, Harry?"



    --------------------------------------- 73

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mulut Harry ternganga. Piring-piring di depannya sekarang penuh berisi
    makanan. Belum pernah dia melihat begitu banyak makanan yang ingin
    dimakannya terhidang di satu meja.
    Daging sapi panggang, ayam, babi, kambing, sosis, daging asap, steak,
    kentang goreng, kentang rebus, puding, kacang, wortel, kaldu, saus tomat,
    bahkan permen pedas.
    Keluarga Dursley memang tidak membuat Harry kelaparan, tetapi dia tidak
    pernah diizinkan makan sebanyak yang dia inginkan. Dudley selalu mengambil
    apa saja yang diinginkan Harry, meskipun itu membuatnya sakit perut
    kekenyangan.
    Harry mengisi piringnya dengan semua makanan sedikit-sedikit, kecuali
    permen pedas, lalu mulai makan. Semuanya enak
    "Kelihatannya enak," kata hantu berkerah rimpel dengan sedih, memandang
    Harry mengiris steak-nya.
    "Tak bisakah kau...?"
    "Aku sudah tidak makan selama hampir empat ratus tahun,"
    kata si hantu. "Tidak perlu sih, memang, tapi kadang-kadang kepingin juga.
    Kurasa aku belum
    "Aku tahu siapa kau!" kata Ron tiba-tiba. "Kakak-kakakku sudah bercerita
    tentang kau kau Nick si Kepala-Nyaris-Putus!"
    "Aku lebih suka kalian memanggilku Sir Nicholas de Mimsy...," kata si hantu
    kaku, tetapi Seamus Finnigan si rambut cokelat menyela.
    "Kepala-Nyaris-Putus? Bagaimana kau bisa disebut KepalaNyaris-Putus?"
    Sir Nicholas tampak jengkel sekali, seakan obrolan kecil mereka tidak
    berlangsung seperti yang diharapkannya.
    "Begini," katanya sebal. Dia memegang telinga kirinya, lalu menariknya.
    Seluruh kepalanya terlepas dari lehernya dan jatuh ke bahunya, seakan
    tergantung pada engsel. Jelas ada orang
    yang mencoba memenggal kepalanya, tetapi tidak melakukannya dengan
    sempurna. Puas melihat kekagetan mereka, Nick si Kepala-Nyaris-Putus
    mengembalikan kepala ke lehernya, berdeham, dan berkata, "Jadi anggota
    baru Gryffindor!
    Kuharap kalian akan membantu kami memenangkan Kejuaraan Antar-
    Asrama tahun ini. Belum pernah Gryffindor tidak menang sampai selama ini.
    Slytherin mendapatkan piala selama enam tahun berturut-turut! Si Baron
    Berdarah itu sudah jadi sok dan menyebalkan sekali dia hantu Slytherin."
    Harry memandang ke meja Slytherin dan melihat hantu mengerikan duduk
    di sana, dengan mata menatap kosong, wajah pucat, dan jubah penuh bercak
    darah keperakan. Dia duduk di sebelah Malfoy dan Harry girang melihat Malfoy
    kelihatannya tidak senang dengan pengaturan tempat duduk ini.
    "Bagaimana dia bisa berlumuran darah begitu?" tanya Seamus penuh ingin
    tahu. "Aku tak pernah tanya," jawab Nick si KepalaNyaris-Putus.
    Ketika semua sudah makan sekenyang mungkin, sisa makanan lenyap begitu
    saja dari piring-piring, dan piring-piring langsung bersih berkilauan seperti
    semula. Sesaat kemudian makanan penutup bermunculan. Aneka puding, es



    --------------------------------------- 74

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    krim segala rasa, pai apel, kue tar karamel, sus cokelat, donat cokelat, selai,
    kacang, madu, jeli....
    Ketika Harry mengambil tar karamel, pembicaraan beralih ke keluarga.
    "Aku setengah-setengah," kata Seamus. "Ayahku Muggle.
    Ibuku baru memberitahu dia sesudah menikah. Bayangkan, betapa kagetnya
    Ayah."
    Mereka semua tertawa.
    "Kalau kau bagaimana, Neville?"
    "Aku dibesarkan Nenek dan dia penyihir," kata Neville.
    "Tetapi selama bertahun-tahun seluruh keluarga mengira aku Muggle. Adik
    nenekku, Kakek Algie, berkali-kali menjebakku untuk memancing keluarnya
    sihir dariku bahkan dia pernah mendorongku sampai jatuh dari dermaga, aku
    nyaris tenggelam tapi tak ada yang terjadi sampai aku berumur delapan
    tahun. Kakek Algie datang untuk minum teh bersama kami dan dia
    memegangiku terbalik pada pergelangan kakiku dari jendela loteng, ketika
    adiknya, Nenek Enid, menawarinya kue manis, dan tak sengaja dia melepas
    pegangannya. Tetapi aku selamat melambung begitu saja di kebun lalu ke
    jalan.
    Mereka senang sekali. Nenek sampai menangis saking senangnya. Dan kalian
    seharusnya melihat wajah mereka waktu aku masuk soalnya mereka tidak
    mengira aku punya kekuatan sihir untuk bisa masuk lagi. Kakek Algie puas
    sekali, sehingga dia membelikan aku katakku itu."
    Di sisi lain Harry, Percy Weasley dan Hermione membicarakan pelajaran
    ("Kuharap mereka langsung memulai pelajaran, banyak sekali yang harus
    dipelajari. Aku terutama tertarik pada Transfigurasi, tahu kan, mengubah
    sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Tentu saja ini sulit sekali...",
    "Mulainya kecil-kecil dulu, korek api jadi jarum dan semacamnya...").
    Harry, yang mulai merasa hangat dan mengantuk, menatap Meja Tinggi lagi.
    Hagrid sedang asyik minum dari pialanya.
    Profesor McGonagall sedang bicara dengan Profesor Dumbledore. Profesor
    Quirrell, dengan turbannya yang ajaib, sedang bicara pada guru berambut
    hitam berminyak, dengan hidung bengkok dan kulit pucat.
    Kejadiannya tiba-tiba sekali. Si guru berhidung bengkok memandang
    melewati turban Quirrell langsung ke mata Harry dan rasa sakit yang perih
    dan panas menerpa bekas luka di dahi Harry.
    "Ouch!" Harry menempelkan tangan di dahinya.
    "Ada apa?" tanya Percy.
    "Ti-tidak ada apa-apa."
    Rasa sakit itu lenyap sama cepatnya dengan datangnya. Yang lebih sulit
    dihilangkan adalah perasaan yang didapat Harry dari pandangan guru tadi
    perasaan bahwa dia sama sekali tidak menyukai Harry.
    "Siapakah guru yang sedang bicara dengan Profesor Quirrell?" Harry bertanya
    kepada Percy.
    "Oh, kau sudah kenal Quirrell, ya? Tidak heran dia kelihatan begitu gelisah,
    itu Profesor Snape. Dia mengajar Ramuan, tetapi sebetulnya tidak mau semua



    --------------------------------------- 75

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    orang tahu dia menginginkan jabatan Quirrell. Si Snape itu tahu banyak tentang
    Sihir Hitam."
    Selama beberapa waktu Harry mengawasi Snape, tetapi Snape tidak
    memandangnya lagi. Akhirnya makanan penutup juga lenyap dan Profesor
    Dumbledore berdiri lagi. Aula langsung senyap.
    "Ehem cuma beberapa patah kata lagi setelah kita kenyang makan dan
    minum. Ada beberapa pengumuman awal tahun ajaran yang akan
    kusampaikan.
    "Murid-murid kelas satu harus tahu bahwa hutan di sekeliling halaman itu
    terlarang untuk dimasuki bagi siapa saja. Dan beberapa murid kelas lebih tinggi
    sebaiknya juga ingat ini."
    Mata Dumbledore yang bersinar terarah kepada si kembar Weasley.
    "Aku juga diminta oleh Mr Filch, penjaga sekolah, untuk mengingatkan
    kalian semua, bahwa sihir tak boleh digunakan pada saat pergantian kelas di
    koridor-koridor.
    "Pemilihan pemain Quidditch akan diadakan pada minggu kedua semester
    ini. Siapa saja yang berminat bermain untuk tim asramanya, silakan
    menghubungi Madam Hooch.
    "Dan yang terakhir, aku harus menyampaikan kepada kalian bahwa tahun
    ini, koridor lantai tiga sebelah kanan sebaiknya dihindari oleh mereka yang tak
    ingin mati penuh penderitaan."
    Harry tertawa, tetapi dia hanya salah satu dari sedikit yang tertawa. "Dia
    tidak serius, kan?" dia bergumam kepada Percy.
    "Serius," kata Percy, seraya mengerutkan kening memandang Dumbledore.
    "Aneh, karena biasanya dia memberi kita alasan kenapa kita tidak boleh masuk
    ke tempat tertentu hutan itu penuh binatang berbahaya, semua tahu itu.
    Menurut aku paling tidak seharusnya dia memberi tahu para Prefek."
    "Dan sekarang, sebelum kita tidur, marilah menyanyikan lagu sekolah kita!"
    seru Dumbledore. Harry memperhatikan bahwa guru-guru lainnya semua
    tersenyum.
    Dumbledore menjentik tongkatnya, seakan berusaha mengusir lalat dari
    ujungnya, dan sehelai pita emas panjang melayang keluar dari tongkat itu,
    terbang tinggi di atas meja-meja, lalu meliuk-liuk membentuk kata-kata.
    "Masing-masing pilih nada favoritnya," kata Dumbledore,
    "dan kita mulai!"
    Dan nyanyian pun membahana:
    "Hogwarts, Hogwarts, Hoggy Warty Howgwarts,
    Ajarilah kami sesuatu,
    Biar kami tua dan botak
    Atau muda dan masih lugu,
    Kepala kami kosong melompong
    Masih perlu banyak diisi,
    Dengan Hal-hal menarik dan berguna,
    Agar kami jadi orang yang berarti,
    Ingatkanlah kembali hal-hal yang telah kami lupakan,
    Dan ajarilah kami segala yang perlu kami ketahui,



    --------------------------------------- 76

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Bimbinglah kami sebaik-baiknya,
    Kami akan belajar sepenuh hati."
    Masih-masing mengakhiri lagu ini pada saat yang berlainan. Akhirnya hanya
    tinggal si kembar Weasly yang menyanyikannya dengan gaya mars pemakaman
    yang amat lambat. Dumbledore bertindak sebagai dirigen, memimpin baris-
    baris terakhir nyanyian mereka dengan tongkatnya, dan ketika mereka selesai
    bernyanyi, Dumbledore adalah salah satu dari mereka yang bertepuk tangan
    paling keras.
    "Ah, musik," katanya seraya menyeka matanya. "Lebih magis dari segala
    yang kita pelajari di sini! Dan sekarang, waktunya tidur! Berangkat!"
    Murid-murid kelas satu Gryffindor mengikuti Percy menembus kerumunan
    yang ramai mengobrol, meninggalkan Aula Besar dan menaiki tangga pualam.
    Kaki Harry terasa berat seperti timah lagi, tapi kali ini karena dia lelah sekali
    dan kekenyangan. Dia sudah sangat mengantuk sehingga tidak memperhatikan
    orang-orang dalam lukisan yang tergantung di sepanjang koridor berbisik-bisik
    dan menunjuk-nunjuk saat mereka lewat, atau bahwa Percy membawa mereka
    melewati pintu yang tersembunyi di balik panel sorong dan permadani hiasan
    dinding. Mereka menaiki lebih banyak tangga lagi, menguap dan menyeret kaki-
    kaki mereka, dan Harry baru bertanya-tanya dalam hati berapa jauh lagi yang
    harus mereka tempuh, ketika mendadak mereka berhenti.
    Seikat tongkat melayang-layang di depan mereka dan ketika Percy
    melangkah maju, tongkat-tongkat itu melayang membenturnya.
    "Peeves," Percy berbisik kepada anak-anak kelas satu. "Hantu jail." Dia
    mengeraskan suaranya, "Peeves perlihatkan dirimu."
    Terdengar bunyi keras tidak sopan, seperti udara yang dikeluarkan dari
    balon.
    "Kau ingin kupanggilkan Baron Berdarah?"
    Terdengar bunyi pop dan sesosok laki-laki kecil, dengan mata nakal
    berwarna kelam dan mulut lebar, muncul, melayang bersila di udara,
    memegangi tongkat-tongkat tadi.
    "Oooooooh!" katanya sambil tertawa nakal. "Kelas satu!
    Asyik!" Mendadak dia menyambar ke arah mereka. Anak-anak menunduk.
    "Enyah kau, Peeves. Kalau tidak si Baron akan dengar tentang semua ini. Betul!"
    bentak Percy.
    Peeves menjulurkan lidah dan menghilang, menjatuhkan tongkat-tongkat itu
    ke kepala Neville. Mereka mendengarnya meluncur pergi, menyenggol baju-
    baju zirah sampai berkelontangan.
    "Kalian harus berhati-hati terhadap Peeves," kata Percy, ketika mereka
    melanjutkan perjalanan lagi. "Si Baron Berdarah-lah satu-satunya yang bisa
    mengontrolnya. Dia bahkan tak mau mendengarkan kami, para Prefek. Nah,
    kita sampai."
    Di ujung koridor tergantung lukisan wanita amat gemuk memakai gaun
    merah jambu.
    "Kata kunci?" katanya.



    --------------------------------------- 77

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Caput Draconis," jawab Percy dan lukisan itu mengayun ke depan. Ternyata
    di dinding di belakangnya ada lubang. Mereka semua masuk melewati lubang
    itu Neville perlu didorong
    dan tiba-tiba sudah berada di ruang rekreasi Gryffindor, ruangan bundar
    nyaman penuh sofa empuk.
    Percy menyuruh anak-anak perempuan melewati satu pintu menuju ke
    kamar tidur mereka, dan anak laki-laki lewat pintu yang lain. Di puncak tangga
    melingkar jelas mereka berada di salah satu menara akhirnya mereka
    menemukan tempat tidur mereka: lima tempat tidur besar dengan kelambu
    beludru merah tua. Koper-koper mereka sudah dibawa naik. Sudah terlalu lelah
    untuk mengobrol mereka memakai piama dan langsung rebah di tempat tidur.
    "Makanannya enak sekali, ya?" gumam Ron kepada Harry dari balik kelambu.
    "Minggir, Scabbers. Dia menggerigiti sepraiku."
    Harry mau bertanya kepada Ron kalau-kalau dia tadi makan kue tar
    karamel, tetapi keburu tertidur.
    Mungkin Harry makan agak terlalu banyak, karena dia bermimpi aneh sekali.
    Dia memakai turban Profesor Quirrell, yang terus berbicara kepadanya,
    menyuruhnya segera pindah ke Slytherin, karena sudah takdirnya begitu. Harry
    berkata kepada si turban dia tidak mau pindah ke Slytherin. Turban itu makin
    lama menjadi makin berat. Dicobanya menariknya, tetapi si turban melilitnya
    semakin ketat sampai kepalanya sakit dan ada Malfoy, menertawakannya
    sementara dia berkutat dengan si turban kemudian Malfoy berubah menjadi si
    guru berhidung bengkok, Snape, yang tawanya melengking dan dingin ada
    buncahan cahaya hijau dan Harry terbangun, berkeringat dan gemetar.
    Dia membalikkan tubuh dan langsung tertidur lagi, dan ketika terbangun
    keesokan paginya, dia sama sekali tak ingat lagi mimpinya.
    ***
    8. Ahli Ramuan
    "LIHAT, itu dia!"
    "Mana?"
    "Disebelah anak jangkung berambut merah."
    "Yang pakai kacamata?"
    "Kau lihat wajahnya?"
    "Kau lihat bekas lukanya?"
    Bisik-bisik terus mengikuti Harry begitu dia meninggalkan asramanya esok
    harinya. Anak-anak yang sedang antre di depan ruang-ruang kelas berjingkat
    untuk bisa melihatnya, atau berjalan balik di koridor agar bisa berpapasan lagi
    dengannya, lalu menatapnya. Harry ingin sekali mereka tidak begitu, karena
    dia harus berkonsentrasi untuk menemukan kelasnya.
    Ada seratus empat puluh dua tangga di Hogwarts: ada yang lebar, landai,
    sempit, berkeriat-keriut, tangga yang menuju tempat berbeda setiap hari
    Jumat, beberapa lagi dengan satu anak tangga yang hilang di tengahnya,
    sehingga kau harus ingat untuk melompat. Kemudian ada lagi pintu-pintu yang
    tidak mau membuka kalau kau tidak memintanya dengan sopan, atau
    menggelitiknya pada tempat yang benar, dan pintu-pintu yang sebenarnya



    --------------------------------------- 78

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    bukan pintu, melainkan dinding tebal yang cuma pura-pura jadi pintu. Juga
    sangat sulit untuk mengingat benda apa ada di mana, karena segalanya
    tampaknya pindah-pindah terus. Orang-orang dalam lukisan tak hentinya saling
    mengunjungi dan Harry yakin baju-baju zirah itu bisa berjalan.
    Para hantu juga tidak membantu. Sungguh mengagetkan jika salah satu dari
    mereka mendadak melayang menembus pintu yang belum berhasil kaubuka.
    Nick si Kepala-Nyaris-Putus selalu dengan senang hati menunjukkan arah yang
    benar kepada murid-murid baru Gryffindor, tetapi Peeves si hantu jail akan
    menyesatkanmu ke dua pintu terkunci dan tangga tipuan saat kau sudah
    terlambat untuk pelajaran berikutnya. Dia akan menjatuhkan keranjang-
    keranjang sampah ke atas kepalamu, menarik karpet dari bawah kakimu,
    melemparimu dengan potonganpotongan kapur atau diam-diam tanpa
    menampakkan diri menyelinap di belakangmu, memencet hidungmu, dan
    menjerit, "KETANGKAP KAU!"
    Yang lebih gawat lagi dari Peeves, kalau itu mung-kin, adalah si penjaga
    sekolah, Argus Filch. Harry dan Ron tanpa sengaja membuatnya marah pada
    pagi pertama mereka. Filch memergoki mereka sedang memaksa memasuki
    pintu yang sialnya ternyata menuju ke koridor terlarang di lantai tiga. Filch
    tidak percaya mereka tersesat. Dia yakin mereka mencoba mendobrak pintu itu
    dengan sengaja dan sedang mengancam akan mengurung mereka di bawah
    tanah, ketika kebetulan Profesor Quirrell lewat dan menyelamatkan mereka.
    Filch mempunyai kucing bernama Mrs Norris, kucing kurus berbulu abu-abu
    kecokelatan, dengan mata menonjol bersorot tajam seperti lampu, persis
    seperti mata Filch sendiri. Mrs Norris berpatroli di koridor-koridor sendirian.
    Cobalah langgar satu peraturan saja di depannya, kalau salah satu jari kakimu
    saja melanggar garis batas, dia akan langsung memanggil Filch, yang akan
    muncul dua detik kemudian dengan mendesah-desah.
    Filch tahu lorong-lorong rahasia di sekolah lebih daripada siapa pun (kecuali
    mungkin si kembar Weasley) dan bisa muncul sama mendadaknya dengan hantu
    mana pun. Semua anak membencinya dan diam-diam banyak sekali yang
    berambisi menendang Mrs Norris.
    Dan, kalau kelasmu sudah ketemu, kau masih harus menghadapi berbagai
    mata pelajaran sihir. Ternyata sihir jauh lebih rumit, seperti yang kemudian
    Harry ketahui, daripada sekadar melambaikan tongkat sihirmu dan
    mengucapkan katakata aneh.
    Mereka harus mempelajari langit malam lewat teleskop mereka pada tengah
    malam dan mempelajari nama berbagai bintang dan pergerakan planet-planet.
    Tiga kali dalam seminggu mereka mengunjungi rumah-rumah kaca di belakang
    kastil untuk mempelajari Herbologi ilmu tanaman obat di bawah asuhan
    wanita penyihir gemuk-pendek bernama Profesor Sprout. Di tempat itu mereka
    belajar bagaimana merawat semua tanaman dan jamur-jamur aneh dan apa
    kegunaannya.
    Jelas yang paling membosankan adalah Sejarah Sihir, satusatunya pelajaran
    yang pengajarnya adalah hantu. Profesor Binns memang sudah tua sekali ketika
    dia tertidur di depan perapian di ruang guru dan bangun keesokan paginya
    untuk mengajar, dengan meninggalkan tubuhnya. Binns mengoceh terus dengan



    --------------------------------------- 79

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    amat membosankan sementara mereka mencatat nama dan tanggal-tanggal dan
    bingung sendiri sehingga tertukartukar antara Emeric si Jahat dan Uric si Aneh.
    Profesor Flitwick, guru Jimat dan Guna-guna adalah penyihir kecil mungil
    yang harus berdiri di atas setumpuk buku agar bisa menatap melewati mejanya.
    Pada awal pelajaran pertama mereka, Profesor Flitwick mengambil daftar
    absen, dan ketika sampai ke nama Harry dia memekik penuh semangat dan
    terjungkal lenyap dari pandangan.
    Profesor McGonagall lain lagi. Harry betul berpendapat jangan sampai
    membuatnya marah. Disiplin dan pandai, dia langsung memperingatkan
    muridmuridnya begitu mereka duduk untuk mengikuti pelajarannya yang
    pertama.
    "Transfigurasi adalah salah satu ilmu sihir yang paling rumit dan paling
    berbahaya yang akan kalian pelajari di Hogwarts,"
    katanya. "Siapa pun yang mengacau di kelas akan dikeluarkan dan tidak
    boleh ikut lagi. Kalian sudah diperingatkan."
    Kemudian dia mengubah mejanya menjadi babi dan menjadi meja lagi.
    Anak-anak semua sangat kagum dan tak sabar ingin memulai, tetapi segera
    menyadari bahwa masih lama lagi sebelum mereka bisa mengubah perabot
    menjadi binatang.
    Sesudah membuat banyak catatan yang rumit, masing-masing diberi
    sebatang korek api dan mulai mencoba mengubahnya menjadi jarum. Pada
    akhir pelajaran, hanya Hermione Granger yang berhasil membuat perubahan
    pada korek apinya. Profesor McGonagall menunjukkan pada seluruh kelas
    bagaimana korek api Hermione menjadi keperakan dan tajam dan melayangkan
    senyum langkanya kepada Hermione.
    Pelajaran yang ditunggu-tunggu semua anak adalah Pertahanan terhadap
    Ilmu Hitam, tetapi pelajaran Quirrell ternyata kesannya main-main. Ruang
    kelasnya sangat berbau bawang putih, yang kata semua orang untuk mengusir
    vampir yang pernah ditemuinya di Rumania dan Quirrell takut si vampir akan
    datang untuk menyerangnya setiap saat.
    Turbannya, dia memberitahu anak-anak, dihadiahkan kepadanya oleh se-
    orang pangeran Afrika, sebagai ucapan terima kasih atas jasanya mengusir
    zombie yang merepotkan, tetapi anak-anak tidak begitu mempercayai cerita
    ini. Soalnya, ketika Seamus Finnigan dengan bersemangat bertanya bagaimana
    Quirrell melawan zombie itu, wajah Quirrell langsung merah dan dia mulai
    bicara tentang cuaca. Lagi pula, anak-anak mencium bau aneh di sekitar turban
    itu dan si kembar Weasley ngotot turban itu penuh bawang putih juga, sehingga
    Quirrell terlindungi ke mana pun dia pergi.
    Harry lega sekali ketika ternyata dia tidak ketinggalan pelajaran dari
    teman-temannya. Banyak anak lain yang juga berasal dari keluarga Muggle dan,
    seperti dia, sebelumnya tidak tahu sama sekali bahwa mereka sebetulnya
    penyihir. Banyak sekali yang harus dipelajari sehingga bahkan anak-anak
    seperti Ron pun tidak jauh lebih maju daripada yang lain.
    Hari Jumat adalah hari penting untuk Harry dan Ron.
    Mereka akhirnya berhasil menemukan jalan ke Aula Besar untuk sarapan
    tanpa tersesat.



    --------------------------------------- 80

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apa pelajaran kita hari ini?" Harry bertanya kepada Ron sementara dia
    menuangkan gula ke buburnya.
    "Ramuan, dua jam pelajaran, bersama anak-anak Slytherin,"
    kata Ron. "Snape kepala Asrama Slytherin. Orang-orang bilang dia pilih kasih
    dan anak-anak Slytherin selalu jadi anak emasnya kita lihat saja nanti, apakah
    betul begitu."
    "Mudah-mudahan saja kita jadi anak emas McGonagall,"
    kata Harry. Profesor McGonagall adalah kepala Asrama Gryffindor, tetapi
    dia tetap saja memberi mereka banyak sekali PR hari sebelumnya.
    Saat itu pos tiba. Sekarang Harry sudah terbiasa dengan itu, tetapi pada
    pagi pertama menyaksikan pos datang, Harry sedikit shock juga, karena kira-
    kira seratus burung hantu tiba-tiba saja meluncur masuk ke dalam Aula Besar
    ketika mereka sedang sarapan, mengitari meja-meja sampai mereka melihat
    pemilik mereka dan menjatuhkan surat atau paket ke pangkuan mereka.
    Sejauh ini Hedwig belum pernah membawakan apa-apa untuk Harry. Burung
    hantu betina itu kadangkadang terbang masuk untuk mematuk-matuk telinga
    Harry dan makan sedikit roti panggang sebelum pergi tidur di kandang burung
    hantu bersama burungburung hantu sekolah lainnya. Tetapi pagi ini, dia
    melayang turun di antara selai dan mangkuk gula dan menjatuhkan surat ke
    atas piring Harry. Harry segera merobek amplopnya.

    Harry meminjam pena bulu milik Ron, menulis "Ya, dengan senang hati,
    sampai ketemu" di belakang surat itu dan melepas Hedwig lagi.
    Untunglah Harry akan minum teh dengan Hagrid, sehingga ada sesuatu yang
    bisa dinantinya dengan senang, sebab pelajaran Ramuan ternyata menjadi hal
    paling buruk yang sejauh ini terjadi.
    Dalam acara pesta awal semester, Harry merasa Profesor Snape tidak
    menyukainya. Pada akhir pelajaran pertama Ramuan, Harry tahu dia keliru,
    Profesor Snape bukan tidak menyukainya dia membencinya.
    Pelajaran Ramuan berlangsung di salah satu ruang bawah tanah. Di sini
    hawanya lebih dingin daripada di kastil di atas dan ruang itu sendiri sudah
    cukup menyeramkan tanpa binatang-binatang diawetkan yang mengapung di
    dalam tabung-tabung gelas yang berjajar di sepanjang dinding.
    Snape, seperti Flitwick, memulai pelajaran dengan mengambil daftar absen,
    dan seperti Flitwick juga, dia terhenti ketika tiba pada nama Harry.
    "Ah, ya," katanya pelan. "Harry Potter. Selebriti baru kita."
    Draco Malfoy dan kamerad-kameradnya, Crabbe dan Goyle, menjengek di
    balik tangan mereka. Snape selesai mengabsen dan memandang murid-
    muridnya. Matanya hitam seperti mata Hagrid, tetapi tidak memiliki



    --------------------------------------- 81

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    kehangatan seperti Hagrid. Mata itu dingin dan kosong, dan membuatmu
    teringat akan lorong gelap.
    "Kalian berada di sini untuk mempelajari ilmu rumit dan seni membuat
    ramuan," katanya memulai. Suaranya tak lebih daripada bisikan, tetapi anak-
    anak menangkap semua kata yang diucapkannya seperti Profesor McGonagall,
    Snape punya kelebihan bisa tanpa susah payah membuat seluruh murid di
    kelasnya menyimak. "Karena tak banyak kibasan tongkat yang konyol di sini,
    banyak di antara kalian akan susah percaya ini sihir. Aku tidak berharap kalian
    benar-benar bisa menghayati keindahan isi kuali yang menggelegak lembut
    dengan asapnya yang menguar, kekuatan halus cairan-cairan yang merayap
    merasuki nadi manusia, menyihir pikiran, menjerat akal sehat...
    Aku bisa mengajar kalian bagaimana membotolkan kepopuleran, merebus
    kejayaan, menyumbat kematian kalau kalian bukan kepala-kepala kosong
    seperti anak-anak lain yang biasa kuajar."
    Kesunyian menyusul pidato pendek ini. Harry dan Ron bertukar pandang
    dengan alis terangkat. Hermione Granger sudah duduk di tepi tempat duduknya
    dan kelihatan ingin sekali membuktikan bahwa dia bukan kepala kosong.
    "Potter!" kata Snape tiba-tiba. "Apa yang kudapat jika aku menambahkan
    bubuk akar asphodel ke cairan wormwood?"
    Bubuk apa ke cairan apa? Harry melirik Ron, yang tampak sama begonya
    seperti dia. Tangan Hermione sudah teracung ke atas.
    "Saya tidak tahu, Sir," kata Harry.
    Bibir Snape meliuk menjadi cibiran.
    "Wah, wah terkenal jelas bukan segalanya."
    Snape mengabaikan tangan Hermione.
    "Kita coba lagi, Potter. Di mana kau akan mencari jika kusuruh kau
    mengambilkan bezoar untukku?"
    Hermione menjulurkan tangannya setinggi mungkin tanpa dia berdiri dari
    tempat duduknya, tetapi Harry sama sekali tidak tahu apa itu bezoar.
    Dicobanya tidak memandang Malfoy, Crabbe, dan Goyle, yang tertawa
    terbahak-bahak.
    "Saya tidak tahu, Sir." "Rupanya kau tidak berminat membuka-buka bukumu
    sebelum datang ke sini, eh, Potter?"
    Harry berusaha tetap menatap mata dingin itu. Dia sudah membaca-baca
    bukunya sewaktu masih tinggal bersama keluarga Dursley, tetapi apakah Snape
    mengharapnya mengingat segalanya dalam buku Seribu Satu Tanaman dan
    Jamur Gaib?
    Snape masih tetap mengabaikan tangan Hermione yang bergetar.
    "Apa bedanya, Potter, monkshood dan wolfsbane?"
    Mendengar ini Hermione berdiri, tangannya mengacung ke langit-langit
    kelas bawah tanah.
    "Saya tidak tahu," jawab Harry pelan. "Tapi saya rasa Hermione tahu,
    kenapa Anda tidak menanyainya saja?"
    Beberapa anak tertawa. Harry bertatapan dengan Seamus.
    Seamus mengedipkan mata. Tetapi Snape tidak senang.



    --------------------------------------- 82

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Duduk," dia membentak Hermione. "Agar kau tahu, Potter, campuran
    asphodel dan wormwood menghasilkan obat tidur yang kuat sekali sehingga
    disebut Tegukan Hidup Bagai Mati.
    Bezoar adalah batu yang diambil dari perut kambing dan bisa
    menyelamatkanmu dari hampir semua racun. Sedangkan monkshood dan
    wolfsbane sebetulnya tanaman yang sama,
    yang juga disebut aconite. Nah? Kenapa kalian tidak ada yang mencatat?"
    Mendadak semua buru-buru mengeluarkan pena bulu dan perkamen.
    Mengatasi bunyi itu, Snape berkata, "Satu angka akan dikurangi dari Gryffindor,
    karena ketidakmampuanmu, Potter."
    Keadaan tidak bertambah baik untuk Gryffindor ketika pelajaran Ramuan
    dilanjutkan. Snape membagi mereka berpasangan dan menyuruh mereka
    mencampur ramuan sederhana untuk mengobati bisul. Dia berkeliling kelas,
    jubah hitamnya melambai, mengawasi mereka menimbang jelatang kering dan
    bubuk taring ular, mengkritik nyaris semua anak, kecuali Malfoy yang
    kelihatannya disukainya. Dia sedang menyuruh semua anak melihat cara
    sempurna Malfoy merebus siput bertanduknya, ketika asap hijau berbau asam
    dan suara desis keras memenuhi kelas bawah tanah itu. Entah bagaimana
    Neville membuat kuali Seamus leleh menjadi gumpalan peyat-peyot dan
    ramuan mereka tumpah merembes di lantai batu, membuat sol-sol sepatu
    berlubang. Dalam beberapa detik saja, semua anak sudah berdiri di atas kursi
    mereka, sementara Neville, yang tersiram ramuan ketika kuali Seamus
    meleleh, mengerang kesakitan bersamaan dengan bermunculannya bisul-bisul
    kemerahan di seluruh lengan dan kakinya.
    "Anak idiot!" sembur Snape seraya membersihkan ramuan yang tumpah
    dengan sekali lambaian tongkatnya. "Pasti kautambahkan duri-duri landak
    sebelum kualinya diangkat dari atas api, kan?"
    Neville merintih sementara bisul mulai bermunculan di hidungnya.
    "Bawa ke rumah sakit," Snape membentak Seamus.
    Kemudian dia berbalik menghadapi Harry dan Ron, yang tadi bekerja di
    sebelah Neville.
    "Kau Potter kenapa kau tidak melarang dia menambahkan duri-duri landak
    itu? Kaupikir kau akan kelihatan pintar kalau dia salah, begitu, ya? Kau
    mengurangi nilai Gryffindor satu lagi."
    Ini sungguh tidak adil, Harry sudah membuka mulut untuk membantah,
    tetapi Ron menendangnya di balik kuali mereka.
    "Jangan memaksa," gumamnya. "Aku sudah dengar Snape bisa menjadi
    sangat jahat."
    Ketika mereka menaiki tangga meninggalkan ruang bawah tanah satu jam
    kemudian, pikiran Harry kacau dan semangatnya merosot. Dia telah membuat
    Gryffindor kehilangan dua angka dalam minggu pertamanya saja kenapa Snape
    begitu membencinya?
    "Jangan sedih begitu," kata Ron. "Snape selalu mengurangi angka dari Fred
    dan George. Boleh aku ikut menemui Hagrid?"



    --------------------------------------- 83

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Pukul tiga kurang lima menit mereka meninggalkan kastil dan menyeberang
    halaman. Hagrid tinggal di dalam rumah papan kecil di tepi Hutan Terlarang.
    Sebuah busur model kuno dan sepasang sepatu-luar karet ada di depan pintu.
    Ketika Harry mengetuk, mereka mendengar garukan kaki dan gonggongan
    keras. Kemudian suara Hagrid membahana,
    "Mundur, Fang mundur."
    Wajah Hagrid yang besar berbulu muncul di celah selagi dia membuka pintu.
    "Tunggu," katanya. "Mundur, Fang."
    Hagrid menyuruh mereka masuk, seraya memegangi tengkuk anjing hitam
    raksasa.
    Hanya ada satu ruangan di dalam. Daging-daging panggang bergantungan
    dari langit-langit, ada ceret tembaga dengan air mendidih di atas perapian
    terbuka, dan di sudut ada tempat tidur besar dengan quilt kain perca
    terhampar di atasnya,
    "Anggap saja rumah sendiri," kata Hagrid, sambil melepas Fang yang
    langsung melompat mendekati Ron dan menjilati telinganya. Seperti Hagrid,
    Fang rupanya tidak segarang penampilannya.
    "Ini Ron," Harry memberitahu Hagrid yang sedang menuang air mendidih ke
    dalam teko teh besar dan menaruh kue bolu keras di atas piring.
    "Weasley lagi, eh?" kata Hagrid, melirik bintikbintik di wajah Ron.
    "Kuhabiskan separo hidupku mengejar kakak kembarmu agar jauh-jauh dari
    Hutan."
    Bolu keras itu nyaris mematahkan gigi mereka, tetapi Harry dan Ron
    berpura-pura menikmatinya sementara mereka menceritakan kepada Hagrid
    tentang pelajaran-pelajaran pertama mereka. Fang meletakkan kepala di atas
    lutut Harry dan liurnya berleleran di jubah Harry.
    Harry dan Ron senang mendengar Hagrid menyebut Filch "si bandot tua".
    "Sedangkan si kucing, Mrs Norris, ingin sekali aku mempertemukannya
    dengan Fang. Tahukah kalian, setiap kali aku ke sekolah, dia selalu mengikutiku
    ke mana-mana? Aku tak bisa mengusirnya. Pasti disuruh Filch."
    Harry menceritakan kepada Hagrid pelajaran Snape. Hagrid, seperti Ron,
    menasihati Harry agar tidak mencemaskan hal itu.
    Snape memang tak menyukai hampir semua murid.
    "Tetapi dia kelihatannya benar-benar membenciku."
    "Omong kosong!" kata Hagrid. "Kenapa dia harus benci padamu?"
    Meskipun demikian, Harry tak bisa membuang pikiran bahwa rasanya Hagrid
    tidak menatap matanya ketika mengatakan itu.
    "Bagaimana kakakmu Charlie?" Hagrid bertanya kepada Ron, "Aku suka sekali
    padanya hebat cara dia menangani binatang."
    Harry bertanya-tanya dalam hati apakah Hagrid sengaja membelokkan
    pembicaraan. Sementara Ron bercerita kepada Hagrid tentang pekerjaan
    Charlie menangani naga, Harry memungut secarik kertas yang tergeletak di
    atas meja di bawah tatakan teh. Rupanya itu potongan artikel dari Daily
    Prophet.



    --------------------------------------- 84

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
     
    Harry ingat Ron memberitahunya di kereta api bahwa ada orang yang
    mencoba merampok Gringotts, tetapi Ron tidak menyebutkan tanggalnya.
    "Hagrid!" kata Harry. "Pembobolan Gringotts terjadi pada hari ulang
    tahunku! Jangan-jangan terjadi waktu kita ada di sana!"
    Tak ada keraguan lagi, Hagrid jelas-jelas tak berani menatap Harry kali ini.
    Dia cuma menggumam tak jelas dan menawari Harry bolu keras lagi. Harry
    membaca berita itu lagi. Ruangan besi yang dibongkar itu telah dikosongkan
    sebelumnya, pada hari itu juga.
    Hagrid telah mengosongkan ruangan besi nomor tujuh ratus tiga belas, kalau
    mengeluarkan bungkusan kumal itu bisa disebut mengosongkan. Apakah
    bungkusan itu yang dicari para pencuri?
    Selagi Harry dan Ron berjalan kembali ke kastil untuk makan malam,
    dengan kantong berat berisi bolu keras yang demi kesopanan tak bisa mereka
    tolak, Harry berpikir bahwa sejauh ini tak satu pun pelajaran yang sudah
    diterimanya membuatnya begini banyak berpikir seperti acara minum teh
    bersama Hagrid.
    Apakah kebetulan Hagrid mengeluarkan bungkusan itu tepat pada waktunya?
    Di manakah bungkusan itu sekarang? Dan apakah Hagrid tahu sesuatu tentang
    Snape yang tak ingin disampaikannya kepada Harry?
    ***
    9. Duel Tengah Malam
    HARRY tak pernah menduga akan bertemu anak lain yang lebih dibencinya
    daripada Dudley, tetapi itu sebelum dia bertemu Draco Malfoy. Untunglah anak
    kelas satu Gryffindor hanya bersama anak-anak Slytherin pada pelajaran
    Ramuan saja, maka mereka tak perlu sering-sering bertemu Malfoy. Atau paling
    tidak, begitulah adanya sampai mereka melihat pengumuman yang di
    tempatkan di ruang rekreasi Gryffindor yang membuat mereka semua



    --------------------------------------- 85

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    mengeluh. Pelajaran terbang akan di mulai pada hari kamis, dan Gryffindor
    serta Slytherin akan belajar bersama-sama.
    "Gawat deh," kata Harry muram. "Inilah yang sangat kuinginkan. Kelihatan
    konyol di atas sapu di depan Malfoy."
    Harry sebetulnya sudah tak sabar menunggununggu pelajaran terbang.
    "Belum tentu kau kelihatan konyol," kata Ron masuk akal.
    "Lagi pula, aku tahu Malfoy selalu menyombong betapa jagonya dia main
    Quidditch, tapi berani taruhan, pasti itu cuma bualan saja."
    Malfoy memang bicara banyak tentang terbang.
    Dia mengeluh keras-keras tentang anak-anak kelas satu yang tidak diizinkan
    masuk tim Quidditch dan menceritakan kisah-kisah panjang penuh
    kesombongan yang semuanya berakhir dengan dirinya nyaris bertabrakan
    dengan helikopter. Tapi Malfoy bukan satusatunya yang bercerita tentang
    terbang. Kalau mendengar cerita Seamus Finnigan, kita membayangkan dia
    telah melewatkan masa kanak-kanaknya dengan meluncur berkeliling daerah
    pedesaan di atas sapu terbangnya. Bahkan Ron akan memberitahu semua orang
    yang mau mendengarkan, kisah waktu dia nyaris menabrak hang-glider dengan
    sapu tua Charlie. Semua anak yang berasal dari keluarga penyihir tak henti-
    hentinya bicara tentang Quidditch. Ron malah sudah bertengkar hebat dengan
    Dean Thomas, yang tinggal seasrama dengan mereka, tentang sepak bola. Ron
    sama sekali tidak bisa memahami apa serunya permainan dengan hanya satu
    bola sementara pemainnya tak diizinkan terbang. Harry pernah memergoki Ron
    menyodok-nyodok poster tim sepak bola West Ham milik Dean dengan jarinya,
    mencoba membuat pemainnya bergerak.
    Neville belum pernah naik sapu, karena neneknya tidak mengizinkannya
    berada dekat-dekat sapu. Dalam hati Harry berpendapat pantaslah nenek
    Neville memutuskan begitu, karena berada di darat dengan dua kaki pun
    Neville bisa mengalami berbagai kecelakaan aneh.
    Hermione Granger sama cemasnya dengan Neville dalam hal terbang. Ini
    pelajaran yang tak bisa dihafalkan ataupun dipelajari dari buku tapi bukan
    berarti dia tak pernah mencobanya. Saat sarapan pada hari Kamis pagi, dia
    membuat mereka semua bosan sekali dengan tips-tips terbang yang didapatnya
    dari buku perpustakaan berjudul Quidditch dari Masa ke Masa. Neville
    mendengarkan dengan tekun, dia ingin sekali memperoleh apa pun yang bisa
    membantunya bertahan di sapunya nanti, tetapi anak-anak lain sangat senang
    ketika kuliah Hermione terputus oleh datangnya pos.
    Harry belum pernah mendapatkan surat lain setelah surat pendek Hagrid. Ini
    langsung menarik perhatian Malfoy tentu saja. Burung hantu elang Malfoy selalu
    membawakan bungkusan permen dari rumah untuknya, yang dibukanya dengan
    penuh gaya di meja Slytherin.
    Seekor burung hantu serak membawakan bungkusan kecil untuk Neville dari
    neneknya. Neville membukanya dengan bersemangat dan menunjukkan bola
    kaca sebesar kelereng besar, yang kelihatannya penuh asap putih.
    "Ini Remembrall bola ingat-semua!" dia menjelaskan.
    "Nenek tahu aku sering lupa bola ini memberitahu kita kalau ada sesuatu
    yang kita lupa melakukannya. Lihat, pegang eraterat seperti ini dan kalau dia



    --------------------------------------- 86

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    berubah merah oh...." Wajah Neville panik karena Remembrall itu mendadak
    saja menyala merah, "... berarti kau melupakan sesuatu...."
    Neville sedang berusaha mengingat apa yang dia lupakan ketika Draco
    Malfoy yang sedang melewati meja Gryffindor, menyambar bola itu dari
    tangannya.
    Harry dan Ron langsung melompat bangun. Mereka setengah berharap bisa
    berkelahi dengan Malfoy, tetapi Profesor McGonagall, yang bisa melihat
    keributan yang akan terjadi lebih cepat dari guru mana pun di seluruh sekolah,
    dalam sekejap saja sudah berada di sana.
    "Ada apa?"
    "Malfoy mengambil Remembrall saya, Profesor."
    Sambil merengut Malfoy cepat-cepat meletakkan kembali Remembrall di
    atas meja. "Cuma lihat saja kok," katanya, lalu ngeloyor pergi, diikuti Crabbe
    dan Goyle.
    ***
    Pukul setengah empat sore itu, Harry Ron, dan anakanak Gryffindor lainnya
    bergegas menuruni undakan depan menuju halaman untuk ikut pelajaran
    terbang pertama mereka. Hari itu cerah, dengan angin sepoisepoi dan
    rerumputan bergoyang di kaki mereka sementara mereka berjalan melintasi
    halaman landai menuju lapangan yang berhadapan dengan Hutan Terlarang,
    yang pohon-pohonnya melambai menyeramkan di kejauhan.
    Anak-anak Slytherin sudah di sana, begitu juga dua puluh sapu berderet rapi
    di tanah. Harry sudah pernah mendengar Fred dan George Weasley
    mengeluhkan sapu-sapu sekolah.
    Kata mereka beberapa sapu mulai bergetar jika kau terbang terlalu tinggi,
    atau ada juga sapu yang selalu agak mengarah ke kiri.
    Guru mereka, Madam Hooch, datang. Rambutnya pendek kelabu, dengan
    mata kuning seperti mata elang.
    "Nah, apa lagi yang kalian tunggu?" gertaknya. "Semua berdiri di sebelah
    sapu. Ayo, cepat."
    Harry melirik sapunya. Sapunya sudah tua dan beberapa helai tali pengikat
    rantingnya mencuat ke arah yang aneh.
    "Julurkan tangan kananmu di atas sapu," seru Madam Hooch di depan, "dan
    katakan, 'Naik!'"
    "NAIK!" semua berteriak.
    Sapu Harry langsung melompat ke tangannya, tapi sapu itu cuma salah satu
    dari sedikit yang begitu. Sapu Hermione cuma berguling di tanah, dan sapu
    Neville malah tidak bergerak sama sekali. Mungkin sapu, seperti halnya kuda,
    bisa tahu kalau kau takut, pikir Harry. Ada getar di suara Neville yang jelasjelas
    menunjukkan dia ingin mempertahankan kakinya di tanah.
    Madam Hooch kemudian menunjukkan kepada mereka bagaimana menaiki
    sapu tanpa melorot dari ujungnya, dan dia berjalan mondar-mandir
    membetulkan pegangan mereka. Harry dan Ron senang ketika Madam Hooch
    berkata kepada Malfoy bahwa selama bertahun-tahun dia salah memegang
    sapunya.



    --------------------------------------- 87

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kalau aku meniup peluitku, kalian menjejak ke tanah, keraskeras," kata
    Madam Hooch. "Pegang eraterat sapu kalian, naik kira-kira semeter, kemudian
    langsung turun lagi dengan cara agak membungkuk ke depan. Perhatikan peluit
    tiga dua..."
    Tetapi Neville yang gugup dan cemas, dan takut ketinggalan, menjejak
    keras-keras sebelum peluit menyentuh bibir Madam Hooch.
    "Kembali!" teriak Madam Hooch, tetapi Neville meluncur ke atas seperti
    gabus yang terlempar dari botol... tiga meter... enam meter. Harry melihat
    wajah Neville yang pucat ketakutan memandang ke tanah yang semakin
    menjauh, melihatnya terperangah kaget, tergelincir dari sapunya dan...
    BLUG... Krak... Neville jatuh tengkurap di atas rerumputan.
    Sapunya masih terus naik makin lama makin tinggi dan mulai melayang
    menuju Hutan Terlarang, sampai akhirnya lenyap dari pandangan.
    Madam Hooch membungkuk di atas Neville, wajahnya sama pucatnya
    dengan wajah Neville.
    "Pergelangan tangannya patah," Harry mendengar Madam Hooch bergumam.
    "Ayo, Nak tidak apaapa, bangunlah."
    Dia berbalik menghadap murid-murid lainnya.
    "Tak seorang pun dari kalian boleh bergerak sementara aku membawa anak
    ini ke rumah sakit. Biarkan sapu-sapu itu di tanah, kalau tidak, kalian akan
    dikeluarkan dari Hogwarts sebelum kalian sempat mengucapkan 'Quidditch'.
    Ayo, Nak."
    Neville, wajahnya dibanjiri air mata, memegangi pergelangan tangannya,
    berjalan terpincang-pincang dalam pelukan Madam Hooch.
    Begitu mereka mulai menjauh, Malfoy terbahak.
    "Kalian lihat wajahnya yang bloon?"
    Anak-anak Slytherin lainnya ikut tertawa.
    "Diam kau, Malfoy," tukas Parvati Patil.
    "Ooh, membela Longbottom?" komentar Pansy Parkinson, anak perempuan
    bertampang galak dari Slytherin. "Tak kusangka ternyata kau suka model gemuk
    cengeng macam begitu, Parvati."
    "Lihat!" kata Malfoy. la melompat ke depan dan menyambar sesuatu dari
    rerumputan. "Bola jelek kiriman nenek si Longbottom."
    Remembrall di tangan Malfoy berkilau ditimpa cahaya matahari. "Bawa ke
    sini, Malfoy," kata Harry tenang. Semua berhenti bicara untuk menonton.
    Malfoy menyeringai menyebalkan.
    "Bawa ke sini!" Harry berteriak, tetapi Malfoy sudah melompat ke atas
    sapunya dan meluncur naik. Dia tidak bohong, dia bisa terbang dengan baik
    sambil melayang setinggi dahan-dahan paling atas pohon ek, dia berseru,
    "Ambil sendiri nih, Potter!"
    Harry menjambret sapunya.
    "Jangan!" jerit Hermione Granger. "Madam Hooch melarang kita bergerak
    kalian akan menyulitkan kita semua."
    Harry mengabaikannya. Telinganya berdengung. Dia menaiki sapunya dan
    menjejak tanah keras-keras, dan dia meluncur naik. Angin menerpa rambutnya
    dan jubahnya melambai di belakangnya dan Harry bukan main girangnya



    --------------------------------------- 88

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    ketika menyadari dia menemukan sesuatu yang bisa dilakukannya tanpa perlu
    diajari ini mudah, ini luar biasa
    menyenangkan. Diangkatnya sedikit sapunya untuk membuatnya naik lebih
    tinggi dan didengarnya pekik kaget anak-anak perempuan di bawah dan teriak
    kekaguman Ron.
    Dibelokkannya sapunya dengan tajam untuk menghadapi Malfoy di angkasa.
    Malfoy kelihatan kaget. "Berikan padaku bolanya," kata Harry, "kalau tidak,
    kudorong jatuh kau dari sapumu!"
    "Oh, yeah?" kata Malfoy, berusaha menyeringai, tetapi wajahnya tampak
    cemas.
    Harry tahu apa yang harus dilakukannya. Dia membungkuk sedikit dan
    memegang erat-erat sapunya dengan kedua tangannya dan sapu itu melesat
    menuju Malfoy. Nyaris saja Malfoy tertabrak, tetapi dia berhasil menghindar
    pada saat terakhir. Harry membelok tajam dan memegangi sapunya supaya
    lebih mantap.
    "Di sini tak ada Crabbe dan Goyle yang bisa menyelamatkan lehermu,
    Malfoy," kata Harry. Pikiran yang sama rupanya terlintas di benak Malfoy.
    "Tangkap saja sendiri kalau bisa!" teriaknya, dan dilemparkannya bola kaca
    itu tinggi-tinggi ke angkasa, lalu Malfoy meluncur turun.
    Harry melihat, seakan dalam gerakan lambat, bola itu terlontar ke atas, lalu
    mulai turun. Dia membungkuk dan mengarahkan gagang sapunya ke bawah.
    Detik berikutnya dia meluncur turun cepat sekali, angin menderu di telinganya,
    bercampur dengan jeritan dan teriakan anak-anak yang menonton. Harry
    menjulurkan tangan, kira-kira tiga puluh senti dari tanah dia berhasil
    menyambar bola itu, tepat pada waktunya untuk meluruskan sapunya dan jatuh
    pelan di rerumputan dengan Remembrall selamat dalam genggamannya.
    "HARRY POTTER!"
    Jantung Harry mencelos, melorot lebih cepat dari gerak menukiknya tadi.
    Profesor McGonagall berlarilari ke arah mereka. Harry berdiri, gemetar.
    "Belum pernah selama aku di Hogwarts..."
    Profesor McGonagall nyaris tak bisa bicara saking shock-nya, kacamatanya
    berkilat-kilat. "Berani-beraninya kau bisa patah lehermu..."
    "Bukan dia yang salah, Profesor..."
    "Diam, Miss Patil..."
    "Tapi Malfoy..."
    "Cukup, Mr Weasley. Potter, ikut aku sekarang."
    Harry sempat melihat wajah Malfoy, Crabbe, dan Goyle yang penuh
    kemenangan saat dia berjalan dengan perasaan beku, mengikuti Profesor
    McGonagall menuju ke kastil. Dia ingin mengatakan sesuatu untuk membela
    diri, tetapi ada yang tidak beres dengan suaranya. Profesor McGonagall
    berjalan cepat, bahkan tanpa memandangnya. Harry harus berlari-lari kecil
    agar tidak ketinggalan. Tamatlah riwayatnya sekarang. Padahal belum dua
    minggu dia di sini. Sepuluh menit lagi dia akan mengepak barang-barangnya.
    Apa kata keluarga Dursley jika dia nanti muncul di depan pintu rumah mereka?
    Menaiki undakan depan, menaiki tangga pualam di dalam, dan masih saja
    Profesor McGonagall belum berkata apa-apa kepadanya. Dia membuka pintu-



    --------------------------------------- 89

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    pintu dan berjalan menyusuri koridor-
    koridor, sementara Harry mengikutinya dengan perasaan merana.
    Mungkin Profesor McGonagall membawanya ke Dumbledore. Harry teringat
    Hagrid, yang sudah dikeluarkan tetapi masih diizinkan tinggal sebagai pengawas
    binatang liar. Mungkin dia bisa jadi asisten Hagrid.
    Perutnya melilit ketika dia membayangkan mengawasi Ron dan teman-
    temannya yang lain menjadi penyihir, sementara dia sendiri cuma berkeliling
    halaman kastil, membawakan tas Hagrid.
    Profesor McGonagall berhenti di depan sebuah kelas. Dia membuka pintu
    dan menjulurkan kepalanya ke dalam.
    "Maaf, Profesor Flitwick, boleh aku pinjam Wood sebentar?"
    Wood kayu? pikir Harry bingung. Apakah Wood nama tongkat yang akan
    digunakan untuk menghajarnya?
    Tetapi ternyata Wood adalah anak kelas lima yang besar dan tegap. Dia
    keluar dari kelas dengan kebingungan.
    "Ikut aku, kalian berdua," kata Profesor McGonagall, dan mereka berjalan
    menyusuri koridor, Wood memandang Harry dengan ingin tahu.
    "Masuk sini."
    Profesor McGonagall menunjuk ke dalam kelas yang kosong, di dalamnya
    hanya ada Peeves yang sedang sibuk menulis katakata tidak sopan di papan
    tulis.
    "Keluar, Peeves!" bentak Profesor McGonagall. Peeves melemparkan
    kapurnya ke dalam kaleng, yang berkelontangan keras, dan dia melesat keluar
    sambil menyumpah-nyumpah.
    Profesor McGonagall membanting pintu menutup dan berbalik menghadapi
    kedua anak itu.
    "Potter, ini Ol iver Wood. Wood aku sudah mendapatkan Seeker untukmu."
    Seeker berarti pencari.
    Ekspresi Wood berubah dari kebingungan menjadi kegirangan.
    "Anda serius, Profesor?"
    "Seratus persen," kata Profesor McGonagall tegas. "Anak ini berbakat alam.
    Belum pernah aku melihat yang seperti ini.
    Apakah tadi itu untuk pertama kalinya kau naik sapu, Potter?"
    Harry mengangguk dalam diam. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang
    sedang terjadi, tetapi kelihatannya dia tidak dikeluarkan, dan sedikit demi
    sedikit perasaan kembali menghangati kakinya.
    "Dia menangkap benda di tangannya itu setelah menukik lima belas meter,"
    Profesor McGonagall memberitahu Wood.
    "Sama sekali tidak luka, tergores pun tidak. Charlie Weasley saja tak akan
    bisa melakukannya."
    Wajah Wood berubah, seperti orang yang dalam sekejap mendapatkan
    semua impiannya telah menjadi kenyataan.
    "Pernah menonton Quidditch, Potter?" Wood bertanya penuh semangat.
    "Wood adalah kapten tim Gryffindor," Profesor McGonagall menjelaskan.
    "Potongan tubuhnya juga cocok untuk Seeker," kata Wood, yang sekarang
    berjalan mengelilingi Harry dan memandanginya.



    --------------------------------------- 90

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Ringan cepat kita harus memberinya sapu yang pantas, Profesor Nimbus
    Dua Ribu atau Sapu-bersih Tujuh, saya rasa."
    "Aku akan bicara dengan Dumbledore, siapa tahu kita bisa melunakkan
    aturan tentang anak kelas satu itu. Kita perlu sekali tim yang lebih bagus
    daripada tahun lalu. Kalah total dari Slytherin dalam pertandingan terakhir,
    aku tak berani memandang Severus Snape selama berminggu-minggu...."
    Profesor McGonagall memandang tajam Harry dari atas kacamatanya.
    "Aku ingin dengar kau berlatih keras, Potter, kalau tidak, mungkin aku akan
    berubah pikiran. Mungkin kau harus dihukum."
    Mendadak dia tersenyum. "Ayahmu akan bangga sekali,"
    katanya. "Dia sendiri pemain Quidditch yang hebat."
    ***
    "Kau bergurau."
    Saat itu mereka sedang makan malam. Harry baru saja selesai bercerita
    pada Ron apa yang terjadi waktu dia meninggalkan lapangan bersama Profesor
    McGonagall. Ron sudah hendak menyuap pai daging, sudah setengah jalan, tapi
    pai itu terlupakan begitu saja.
    "Seeker?" katanya. "Tetapi anak kelas satu tidak pernah kau pastilah
    pemain termuda selama..."
    "... seabad ini," kata Harry lalu menyuapkan pai ke dalam mulutnya. Dia
    merasa lapar sekali setelah kejadian seru sore ini.
    "Wood bilang padaku."
    Ron begitu terpana, dia hanya ternganga menatap Harry.
    "Aku mulai latihan minggu depan," kata Harry.
    "Tapi jangan bilang siapa-siapa.
    Wood ingin merahasiakannya." Fred dan George Weasley muncul di aula.
    Mereka melihat Harry dan bergegas mendekat.
    "Bagus," kata George dengan. suara pelan. "Wood bercerita kepada kami.
    Kami anggota tim juga Beater." Rupanya mereka berdua pemukul bola.
    "Kuberitahu kau, kita pasti akan memenangkan Piala Quidditch tahun ini,"
    kata Fred. "Kami belum pernah menang sejak Charlie pergi, tetapi tim tahun ini
    akan brilian. Kau pastilah hebat, Harry, Wood nyaris melonjak-lonjak ketika dia
    memberitahu kami."
    "Tapi kami harus pergi. Lee Jordan mengira dia telah menemukan lorong
    rahasia menuju ke luar sekolah."
    "Taruhan pasti yang ditemukannya lorong di belakang patung Gregory si
    Penjilat, yang telah kami temukan pada minggu pertama kami di sini. Sampai
    ketemu."
    Baru saja Fred dan George menghilang, muncullah anak lain yang sangat
    tidak diinginkan. Malfoy, diapit oleh Crabbe dan Goyle.
    "Makan malam terakhir nih, Potter? Kapan kau naik kereta kembali ke dunia
    Muggle?"
    "Kau jauh lebih berani sekarang setelah kembali ke tanah dan berada
    bersama teman-teman kecilmu," kata Harry tenang.



    --------------------------------------- 91

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tentu saja Crabbe dan Goyle sama sekali tidak kecil, tetapi karena Meja
    Tinggi penuh para guru, tak seorang pun dari mereka berdua bisa berbuat lain
    kecuali mengertakkan bukubuku jari mereka dan merengut.
    "Aku siap menghadapimu sendirian kapan saja," kata Malfoy. "Bahkan malam
    ini juga, kalau kau mau. Duel penyihir.
    Hanya tongkat tanpa kontak. Kenapa? Belum pernah dengar tentang duel
    penyihir, rupanya?"
    "Tentu saja sudah," kata Ron, berpaling menghadap mereka.
    "Aku orang keduanya. Siapa orang keduamu?"
    Malfoy memandang Crabbe dan Goyle, menilai mereka.
    "Crabbe," katanya. "Tengah malam nanti, oke? Kita bertemu di ruang piala,
    ruang itu tak pernah dikunci."
    Setelah Malfoy pergi, Ron dan Harry berpandangan.
    "Apa sih duel penyihir itu?" tanya Harry. "Dan apa maksudmu kau menjadi
    orang keduaku?"
    "Yah, orang kedua adalah orang yang akan mengambil alih kalau kau mati,"
    kata Ron sambil lalu, seraya menyuap painya yang sudah dingin. Melihat
    ekspresi wajah Harry, dia cepat-cepat menambahkan, "Tapi orang hanya mati
    dalam duel yang sesungguhnya, antara dua penyihir betulan. Paling maksimal
    yang bisa dilakukan kau dan Malfoy hanyalah saling kirim percikan bunga api.
    Kalian berdua belum menguasai cukup sihir untuk membuat bencana besar.
    Lagi pula, berani taruhan, sebetulnya dia mengharap kau menolak."
    "Lalu bagaimana kalau aku melambaikan tongkatku dan tak ada yang
    terjadi?"
    "Lempar saja tongkatmu dan pukul hidungnya," saran Ron.
    "Maaf."
    Mereka berdua mendongak. Rupanya Hermione Granger.
    "Apa kita tidak bisa makan dengan tenang di sini?" komentar Ron. Hermione
    tidak mengacuhkannya dan berbicara kepada Harry "Aku tak sengaja
    mendengar pembicaraanmu dengan Malfoy..."
    "Tidak heran," gumam Ron.
    "... dan kau tidak boleh berkeliaran di sekolah pada malam hari. Pikirkan
    angka yang akan dikurangi dari Gryffindor kalau kau sampai tertangkap, dan
    kau pasti tertangkap. Kau benarbenar egois."
    "Dan itu bukan urusanmu," kata Harry.
    "Selamat tinggal," kata Ron.
    ***
    Ini tak bisa disebut akhir hari yang sempurna, pikir Harry sementara dia
    berbaring, lama kemudian, menunggu Dean dan Seamus tertidur. (Neville
    belum kembali dari rumah sakit.) Ron telah melewatkan sepanjang malam itu
    untuk memberinya nasihat, seperti, "Jika dia mencoba mengutukmu, sebaiknya
    kau menghindar saja, karena aku tak ingat bagaimana cara menangkal
    kutukan." Kemungkinan besar mereka akan tertangkap oleh Filch atau Mrs
    Norris, dan Harry merasa dia mengharap keberuntungan yang berlebihan
    dengan melanggar peraturan sekolah lainnya hari ini.



    --------------------------------------- 92

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tetapi di lain pihak, wajah Malfoy yang penuh ejekan terusmenerus muncul
    dari kegelapan ini kesempatan besar baginya unruk berhadapan langsung
    dengan Malfoy. Mana mungkin dilewatkan.
    "Setengah dua belas," akhirnya Ron bergumam. "Lebih baik kita berangkat
    sekarang."
    Mereka memakai baju luar, mengambil tongkat, dan mengendap-endap
    menyeberangi ruang menara, menuruni tangga spiral, menuju ke ruang rekreasi
    Gryffindor. Masih ada berkas-berkas bara di perapian, membuat semua kursi
    berlengan tampak seperti bayangan bungkuk hitam. Mereka sudah hampir
    mencapai lubang lukisan ketika terdengar suara dari kursi yang berada paling
    dekat, "Aku tak percaya kau akan berbuat begitu, Harry."
    Sebuah lampu menyala. Rupanya Hermione Granger, memakai gaun tidur
    merah jambu, dengan kening berkerut.
    "Kau!" kata Ron gusar. "Tidur lagi sana!"
    "Hampir saja kuberitahu kakakmu," Hermione balas membentak. "Percy dia
    Prefek, dia akan menghentikan ini."
    Harry heran sekali ada orang yang begitu mau, ikut campur urusan orang
    lain. "Ayo," ajaknya kepada Ron. Dia mendorong lukisan Nyonya Gemuk dan
    turun melalui lubang.
    Hermione tak mau menyerah begitu mudah. Dia mengikuti Ron melewati
    lubang lukisan, mendesis kepada mereka seperti angsa marah.
    "Tidakkah kalian peduli pada Gryffindor? Apakah kalian cuma peduli pada
    diri sendiri? Aku tak ingin Slytherin memenangkan Piala Asrama dan kalian akan
    membuat semua angka yang kudapat dari Profesor McGonagall karena tahu
    tentang Mantra Pertukaran hilang percuma."
    "Pergi."
    "Baiklah, tetapi sudah kuperingatkan kalian, ingat saja apa yang kukatakan
    kalau kalian ada di kereta api yang akan membawa kalian pulang besok, kalian
    ini sungguh..."
    Tetapi mereka tak sempat tahu apa yang akan dikeluhkan Hermione.
    Hermione sudah berbalik menghadap ke lukisan Nyonya Gemuk untuk kembali
    ke dalam, tetapi ternyata dia menghadapi kanvas kosong. Si Nyonya Gemuk
    sedang mengadakan kunjungan tengah malam dan Hermione terkunci, tak bisa
    masuk Menara Gryffindor.
    "Jadi aku harus bagaimana?" tanyanya nyaring.
    "Itu urusanmu," kata Ron. "Kami harus pergi, kami sudah hampir terlambat."
    Mereka belum mencapai ujung koridor ketika Hermione mengejar mereka.
    "Aku ikut kalian," katanya.
    "Tidak boleh."
    "Kaupikir aku akan berdiri di sini dan menunggu Filch menangkapku? Jika dia
    menemukan kita bertiga, akan kukatakan hal yang sebenarnya kepadanya,
    bahwa aku sedang berusaha mencegah kalian, dan kalian bisa mendukungku."
    "Nekat amat...," kata Ron keras. "Tutup mulut, kalian berdua!" kata Harry
    tegas. "Aku mendengar sesuatu."
    Semacam isakan. "Mrs Noris?" bisik Ron, menyipitkan mata menembus
    kegelapan.



    --------------------------------------- 93

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ternyata bukan Mrs Noris, melainkan Neville. Dia melingkar di lantai,
    tertidur nyenyak, tetapi langsung terbangun kaget ketika mereka mendekat.
    "Untung kalian menemukan aku! Sudah berjamjam aku di luar sini. Aku tak
    ingat kata kunci baru untuk masuk kamar."
    "Pelan-pelan ngomongnya, Neville. Kata kuncinya 'moncong babi', tapi itu
    tak bisa membantumu sekarang, si Nyonya Gemuk entah sedang ke mana."
    "Bagaimana tanganmu?" tanya Harry.
    "Sudah sembuh,"
    kata Neville, menunjukkan kedua tangannya. "Madam Pomfrey
    membetulkannya dalam waktu semenit."
    "Bagus nah, begini, Neville, kami harus pergi, sampai ketemu nanti..."
    "Jangan tinggalkan aku!" kata Neville, buru-buru berdiri.
    "Aku tak mau di sini sendirian, si Baron Berdarah sudah lewat dua kali."
    Ron melihat arlojinya dan memandang marah pada Hermione dan Neville.
    "Kalau salah satu dari kami tertangkap, aku akan kerja keras untuk
    menguasai Kutukan Bogies yang diceritakan Quirrell kepada kita dan
    menggunakannya kepada kalian."
    Hermione membuka mulutnya, mungkin untuk memberitahu Ron bagaimana
    persisnya menggunakan Kutukan Bogies, tetapi Harry mendesis, menyuruhnya
    diam dan memberi isyarat agar mereka semua maju mengikutinya.
    Mereka menyelinap sepanjang koridor-koridor yang disinari leret-leret sinar
    bulan yang masuk lewat jendela-jendela tinggi.
    Di setiap belokan, Harry mengira akan bertemu Filch atau Mrs Norris, tetapi
    mereka beruntung. Mereka bergegas menaiki tangga ke lantai tiga dan
    berjingkat-jingkat ke ruang piala.
    Malfoy dan Crabbe belum ada di sana. Kotakkotak trofi dari kristal berkilau
    terkena cahaya bulan. Piala, tameng, plakat, dan patung-patung emas dan
    perak mengilap dalam kegelapan.
    Mereka berjingkat sepanjang dinding, mata mereka menatap pintu di kedua
    ujung ruangan. Harry mengeluarkan tongkatnya, siapa tahu Malfoy melompat
    masuk dan langsung menyerang.
    Menit demi menit berlalu.
    "Dia terlambat, mungkin tidak berani datang," bisik Ron.
    Kemudian bunyi di ruang sebelah membuat mereka terlonjak.
    Harry baru mengangkat tongkatnya ketika mereka mendengar ada orang
    bicara dan orang itu bukan Malfoy.
    "Enduslah, kucing manis, mereka mungkin sembunyi di sudut."
    Itu suara Filch yang bicara kepada Mrs Norris. Ketakutan, Harry melambai-
    lambai panik kepada tiga temannya untuk mengikutinya secepat mungkin.
    Mereka mengendap-endap menuju pintu, menjauh dari suara Filch. Jubah
    Neville baru saja lenyap, begitu ia membelok di sudut, ketika mereka
    mendengar Filch masuk ke ruang piala.
    "Mereka ada di dalam sini," anak-anak mendengar Filch bergumam,
    "mungkin sembunyi."
    "Ke sini!" Harry berseru tanpa suara, dan dengan ketakutan, mereka
    merayap menyusuri galeri penuh baju zirah. Mereka bisa mendengar Filch



    --------------------------------------- 94

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    semakin dekat. Mendadak Neville memekik ketakutan dan berlari dia
    tersandung, memeluk pinggang Ron dan keduanya menjatuhi seperangkat baju
    zirah.
    Bunyi gedubrakan dan kelontangan cukup untuk membangunkan seluruh
    sekolah.
    "LARI!" Harry berteriak dan keempatnya melesat ke ujung galeri, tanpa
    menoleh ke belakang untuk melihat apakah Filch mengikuti mereka. Mereka
    keluar dari pintu dan lari berbelok melewati koridor yang satu dan kemudian
    koridor lain, Harry di depan tanpa tahu di mana mereka berada atau ke mana
    mereka pergi. Mereka menerobos permadani gantung dan tiba di lorong
    tersembunyi, berlari sepanjang lorong dan keluar lagi dekat ruang kelas Jimat
    dan Guna-guna, yang mereka tahu terletak jauh sekali dari ruang piala.
    "Kurasa kita sudah bebas dari dia," ujar Harry tersengal, bersandar pada
    tembok yang dingin dan menyeka dahinya.
    Neville membungkuk sampai terlipat dua, mendesah-desah dan merepet
    gugup.
    "Sudah... kubilang... kan," Hermione terengah, memegangi baju di depan
    dadanya. "Sudah... kubilang... kan."
    "Kita harus kembali ke Menara Gryffindor," kata Ron,
    "secepat mungkin."
    "Malfoy menjebakmu," Hermione berkata kepada Harry.
    "Kau sadar sekarang, kan? Dia memang tidak berencana menemuimu Filch
    tahu ada anak yang akan berada di ruang piala. Pasti Malfoy yang
    mengisikinya."
    Harry berpikir Hermione mungkin benar, tetapi ia tak akan mengatakannya.
    "Ayo, pergi."
    Tidak akan semudah itu. Mereka belum berjalan lebih dari dua belas
    langkah ketika ada pegangan pintu yang berkeretak dan sesuatu meluncur
    keluar dari ruang kelas di depan mereka.
    Ternyata Peeves. Dia melihat mereka dan menjerit kesenangan. "Diam,
    Peeves tolong, diam kau akan membuat kami dikeluarkan."
    Peeves terbahak.
    "Jalan-jalan tengah malam nih, anak-anak kelas satu? Tsk, tsk, tsk. Badung,
    badung, badung, kalian akan ditelikung."
    "Tidak, kalau kau tidak mengadukan kami, Peeves. Jangan dong, Peeves."
    "Harus bilang Filch, harus," kata Peeves dengan suara saleh, tetapi matanya
    berkilat nakal. "Demi kebaikan kalian sendiri kok."
    "Minggir kau," tukas Ron seraya melayangkan pukulan ke arah Peeves. Itu
    sungguh kesalahan besar.
    "MURID KELUAR KAMAR!" Peeves berteriak, "MURID KELUAR KAMAR ADA DI
    KORIDOR JIMAT!"
    Membungkuk melewati Peeves, mereka berlari sampai ke ujung koridor, di
    situ mereka terbentur pintu, dan pintu itu terkunci.
    "Celaka!" Ron mengeluh, sementara mereka mendorong pintu tanpa hasil.
    "Habis deh kita!" Mereka bisa mendengar langkah-langkah kaki, Filch berlari



    --------------------------------------- 95

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    secepat mungkin ke arah teriakan Peeves. "Oh, minggir," gertak Hermione. Dia
    merebut tongkat Harry, mengetuk kuncinya dan berbisik, "Alohomoral"
    Kunci menceklik dan pintu menjeblak terbuka berdesakan mereka masuk,
    cepat-cepat menutupnya kembali, lalu menempelkan telinga ke pintu,
    mendengarkan.
    "Ke mana mereka pergi, Peeves?" tanya Filch. "Cepat, beritahu aku."
    "Bilang dulu, 'tolong'."
    "Jangan main-main, Peeves, ke mana mereka pergi?"
    "Aku tak akan bilang apa-apa kalau kau tidak bilang tolong,"
    kata Peeves dengan suara datar menjengkelkan.
    "Baiklah tolong."
    "APA-APA! Ha ha ha! Kan sudah kubilang aku tak akan bilang apa-apa kalau
    kau tidak bilang tolong! Ha ha haaaaaa!"
    Dan mereka mendengar desau Peeves yang terbang pergi dan Filch yang
    mencaci-maki be-rang.
    "Dia mengira pintu ini terkunci," bisik Harry. "Kurasa kita selamat ada apa
    sih, Neville!" Karena Neville selama semenit belakangan ini terus menarik-narik
    baju Harry. "Apa?"
    Harry berbalik dan melihat dengan jelas. Sesaat dia mengira dirinya sedang
    bermimpi buruk ini sudah keterlaluan, mengingat semua yang sudah terjadi.
    Mereka tidak berada dalam suatu ruangan, seperti yang dikiranya. Mereka
    ada di koridor. Koridor terlarang di lantai tiga. Dan sekarang mereka tahu
    kenapa koridor itu terlarang.
    Mereka memandang tepat ke mata anjing raksasa, anjing yang memenuhi
    seluruh ruang antara langitlangit dan lantai.
    Kepalanya tiga, dengan tiga pasang mata galak yang berputarputar, tiga
    hidung yang bergerak mengendus-endus ke arah mereka, tiga moncong dengan
    liur menetes menggantung seperti tali licin dari taring kekuningan.
    Anjing itu berdiri diam, sementara keenam matanya memandang mereka,
    dan Harry tahu satu-satunya alasan kenapa mereka belum mati adalah karena
    kemunculan mereka yang begitu mendadak telah mengejutkan si anjing. Tetapi
    dengan cepat si anjing mengatasi keterkejutannya, itu sudah jelas dari
    geraman-geramannya yang mengerikan itu.
    Harry meraih pegangan pintu. Antara Filch dan maut, dia lebih memilih
    Filch.
    Mereka ambruk ke belakang Harry membanting pintu menutup, dan mereka
    berlari, hampir terbang malah, kembali menyusuri koridor ke arah berlawanan.
    Filch pasti sudah buruburu pergi mencari mereka ke tempat lain, karena
    mereka tidak melihatnya di mana-mana. Tetapi mereka tak peduli yang
    mereka inginkan hanyalah membuat jarak sebesar mungkin antara mereka dan
    monster itu. Mereka tidak berhenti berlari sampai tiba di depan lukisan Nyonya
    Gemuk di lantai tujuh.
    "Dari mana saja kalian ini?" tanya si nyonya, memandang baju tidur mereka
    yang merosot ke bahu dan wajah mereka yang merah berkeringat.



    --------------------------------------- 96

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kau tak perlu tahu moncong babi, moncong babi," kata Harry tersengal,
    dan lukisan itu mengayun ke depan. Mereka berebut masuk ke ruang rekreasi
    dan ambruk di kursi berlengan.
    Perlu beberapa saat sebelum mereka bisa berkata sesuatu.
    Neville bahkan kelihatannya tidak akan bicara lagi selamanya.
    "Apa maksud mereka mengunci binatang semacam itu di dalam sekolah?"
    kata Ron akhirnya. "Kalau ada anjing yang perlu diajak jalan-jalan, nah, anjing
    yang tadi itu."
    Hermione sudah mendapatkan kembali napas dan kegalakannya.
    "Kalian ini tidak ada yang memakai mata kalian, ya?"
    bentaknya. "Apa kalian tidak melihat dia berdiri di mana?"
    "Lantai?" Harry menebak. "Aku tidak melihat kakinya, aku terlalu sibuk
    dengan kepalanya." "Bukan, bukan lantai. Anjing tadi berdiri di atas pintu
    jebakan. Jelas dia menjaga sesuatu."
    Hermione berdiri, membelalak kepada mereka.
    "Kuharap kalian sekarang puas. Kita semua bisa mati atau lebih parah lagi,
    dikeluarkan. Nah, sekarang kalau tidak keberatan, aku akan tidur."
    Ron melongo memandangnya.
    "Tidak, kami tidak keberatan," katanya. "Kau pikir kami memaksa kau ikut?"
    Tetapi Hermione telah memberi Harry sesuatu yang lain untuk dipikirkan
    ketika dia naik kembali ke tempat tidurnya.
    Anjing itu menjaga sesuatu... Apa yang dikatakan Hagrid?
    Gringotts adalah tempat paling aman di dunia kalau kau mau
    menyembunyikan sesuatu kecuali mungkin Hogwarts.
    Kelihatannya Harry sudah menemukan di mana bungkusan kecil kumal dari
    ruangan besi tujuh ratus tiga belas itu berada.
    ***
     Halloween
    MALFOY tidak bisa mempercayai matanya ketika dia melihat Harry dan Ron
    masih di Hogwarts keesokan harinya. Mereka tampak lelah tapi riang gembira.
    Memang paginya Harry dan Ron berpendapat pertemuan dengan anjing
    berkepala tiga itu petualangan yang luar biasa dan mereka bahkan berharap
    mendapatkan pengalaman serupa lagi. Sementara itu Harry memberitahu Ron
    tentang bungkusan yang tampaknya telah di pindahkan dari Gringotts ke
    Hogwarts, dan mereka melewatkan banyak waktu untuk mereka-reka apa
    kiranya yang memerlukan penjagaan begitu ketat.
    "Kalau tidak benar-benar berharga, tentu benarbenar berbahaya," kata Ron.
    "Atau dua-duanya," kata Harry.
    Tetapi karena yang mereka tahu tentang benda misterius itu hanyalah
    bahwa panjangnya sekitar lima senti, tanpa petunjuk tambahan, mereka tak
    bisa menebak benda apa itu.



    --------------------------------------- 97

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Baik Neville maupun Hermione tak menunjukkan minat sedikit pun untuk
    mengetahui apa yang ada di bawah anjing dan pintu jebakan itu. Yang paling
    penting bagi Neville, jangan sampai dia dekat-dekat anjing itu lagi.
    Hermione sekarang menolak bicara dengan Harry dan Ron, tetapi Harry dan
    Ron malah senang, sebab Hermione anaknya ngebos dan sangat sok tahu. Yang
    benar-benar mereka inginkan sekarang hanyalah membalas Malfoy, dan betapa
    girangnya mereka ketika kesempatan itu tiba bersama datangnya pos seminggu
    kemudian.
    Ketika burung-burung hantu membanjir ke dalam Aula Besar seperti
    biasanya, perhatian semua orang langsung tertuju pada bungkusan kurus
    panjang yang dibawa oleh enam burung hantu besar yang bising. Harry sama
    tertariknya seperti yang lain untuk mengetahui apa isi bungkusan besar ini dan
    dia tercengang ketika burung-burung hantu itu melayang turun dan
    menjatuhkan bungkusan yang mereka bawa tepat di depannya, menyenggol
    daging asapnya sampai jatuh ke lantai. Baru saja keenam burung hantu ini
    menyingkir, datang burung hantu lain yang menjatuhkan surat ke atas
    bungkusan tadi.
    Harry merobek suratnya dulu. Untunglah, sebab surat itu begini bunyinya:
    JANGAN MEMBUKA BUNGKUSAN DI MEJA
    Isinya Nimbus Dua Ribu-mu yang baru,
    tetapi aku tak ingin semua anak tahu kau mendapat sapu,
    sebab nanti mereka semua juga minta.
    Oliver Wood akan menemuimu malam ini di lapangan Quidditch, pukul
    tujuh untuk latihan pertama.
    Harry berusaha menyembunyikan kegembiraannya ketika dia memberikan
    surat itu kepada Ron. "Nimbus Dua Ribu!" gumam Ron iri. "Menyentuhnya pun
    aku bahkan belum pernah."
    Mereka buru-buru meninggalkan Aula, karena ingin membuka bungkusan
    sapu tanpa dilihat yang lain sebelum pelajaran pertama, tetapi baru setengah
    menyeberangi Aula Depan, mereka melihat jalan ke atas dihalangi Crabbe dan
    Goyle. Malfoy merebut bungkusan itu dari Harry dan merabanya.
    "Ini sapu," katanya seraya melemparkannya kembali kepada Harry dengan
    wajah antara iri dan menghina. "Habis kau kali ini, Potter. Anak-anak kelas satu
    tidak boleh punya sapu."
    Ron tak tahan lagi.
    "Ini bukan sapu biasa," katanya. "Ini Nimbus Dua Ribu.
    Kaubilang sapumu di rumah apa, Malfoy? Komet Dua Enam Puluh?" Ron
    nyengir ke arah Harry. "Komet memang kelihatannya mentereng, tetapi tidak
    sekelas dengan Nimbus."
    "Kau tahu apa, Weasley! Beli separo tangkainya saja kau takkan sanggup,"
    balas Malfoy. "Kurasa kau dan kakak-kakakmu harus menabung ranting demi
    ranting."
    Sebelum Ron sempat menjawab, Profesor Flitwick muncul di belakang
    Malfoy.
    "Tidak bertengkar kuharap, anak-anak?" katanya.
    "Potter dikirimi sapu, Profesor," Malfoy buru-buru mengadu.



    --------------------------------------- 98

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Ya, ya, betul," kata Profesor Flitwick, tersenyum lebar pada Harry.
    "Profesor McGonagall bercerita kepadaku tentang kasus istimewa ini, Potter.
    Dan apa modelnya?"
    "Nimbus Dua Ribu, Sir," kata Harry, berusaha tidak tertawa melihat
    kengerian di wajah Malfoy. "Dan untuk itu saya betul-betul harus berterima
    kasih kepada Malfoy," dia menambahkan.
    Harry dan Ron naik, menahan tawa melihat kegusaran dan kebingungan
    Malfoy yang tampak jelas.
    "Memang benar kok," celetuk Harry ketika mereka tiba di puncak tangga
    pualam. "Kalau dia tidak mengambil Remembrall Neville, aku tak akan terpilih
    jadi anggota tim..."
    "Jadi kauanggap itu imbalan untuk pelanggaran peraturan?"
    terdengar suara marah di belakang mereka. Hermione sedang menaiki
    tangga, memandang bungkusan di tangan Harry dengan tatapan mencela.
    "Bukannya kau sedang tidak bicara dengan kami?" kata Harry.
    "Ya, jangan dihentikan," kata Ron. "Kami senang kok."
    Hermione pergi dengan hidung terangkat ke atas.
    Harry sulit memusatkan perhatian pada pelajaran-pelajarannya hari itu.
    Pikirannya melayang terus ke kamarnya, ke tempat sapu barunya tergeletak di
    bawah tempat tidurnya, atau melayang ke lapangan Quidditch, tempat dia
    akan mulai berlatih malam nanti. Dia buru-buru menyantap makan malamnya,
    tanpa memperhatikan apa yang dimakannya, dan kemudian buru-buru ke atas
    dengan Ron untuk, akhirnya, membuka bungkusan Nimbus Dua Ribu-nya.
    "Wow," Ron menghela napas ketika sapu itu bergulir di tempat tidur Harry.
    Bahkan Harry yang sama sekali tak tahu tentang perbedaan macam-macam
    sapu, berpendapat sapunya kelihatan hebat.
    Langsing berkilat, dengan gagang dari mahogani, anyaman ranting di
    ujungnya lurus dan rapi, dengan tulisan emas Nimbus Dua Ribu di dekat
    puncaknya.
    Menjelang pukul tujuh, Harry meninggalkan kastil dan berangkat menuju
    lapangan Quidditch dalam keremangan senja.
    Dia belum pernah berada dalam stadion itu sebelumnya.
    Beratus-ratus tempat duduk diatur mengelilingi lapangan pada tribun tinggi,
    supaya para penonton cukup tinggi untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.
    Di kedua ujung lapangan berdiri tiang keemasan dengan tiga lingkaran pada
    ujungnya.
    Tiang-tiang ini mengingatkan Harry pada batang plastik kecilkecil yang biasa
    ditiup-tiup anakanak Muggle untuk membuat gelembung sabun. Hanya saja
    tiang-tiang ini tingginya lima belas meter.
    Harry yang sudah ingin sekali terbang lagi, tak sabar menunggu Wood. Dia
    menaiki sapunya dan menjejak tanah.
    Bukan main dia melayang mengitari tiang-tiang gol dan kemudian meluncur
    naik-turun di atas lapangan. Nimbus Dua Ribu berbelok ke arah mana pun yang
    dimauinya hanya dengan sentuhan kecil darinya.
    "Hei, Potter, turun!"
    Oliver Wood sudah datang. Dia mengepit kotak kayu besar.



    --------------------------------------- 99

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry mendarat di sebelahnya.
    "Bagus sekali," kata Wood, matanya bercahaya. "Aku paham sekarang apa
    yang dimaksud McGonagall... kau benar-benar pemain alam. Aku hanya akan
    mengajarkan peraturannya kepadamu malam ini, kemudian kau akan bergabung
    berlatih dengan tim tiga kali seminggu."
    Wood membuka kotaknya. Di dalamnya ada empat bola yang berbeda
    ukuran.
    "Baik," kata Wood. "Quidditch cukup mudah dimengerti, walaupun tak
    semudah itu dimainkan. Ada tujuh pemain pada masing-masing regu. Tiga di
    antaranya disebut Chaser atau pengejar."
    "Tiga Chaser," Harry mengulang, ketika Wood mengeluarkan bola merah
    manyala sebesar bola sepak.
    "Bola ini namanya Quaffle," kata Wood. "Chaser melempar Quaffle kepada
    sesama Chaser dan berusaha memasukkannya ke salah satu lingkaran untuk
    mendapatkan angka. Sepuluh setiap kali bola berhasil dimasukkan ke lingkaran.
    Mengerti?"
    "Para Chaser melempar Quaffle dan memasukkannya ke dalam lingkaran
    untuk mendapatkan angka," kata Harry.
    "Jadi semacam basket yang dimainkan naik sapu terbang dengan enam
    keranjang, iya, kan?"
    "Apa itu basket?" tanya Wood ingin tahu.
    "Ah, sudahlah," kata Harry cepat-cepat.
    "Nah, ada lagi pemain dalam masing-masing regu yang disebut Keeper aku
    Keeper Gryffindor. Aku harus beterbangan sekeliling lingkaran dan mencegah
    tim musuh mencetak gol."
    Rupanya Keeper tugasnya sama dengan kiper atau penjaga gawang dalam
    permainan sepak bola.
    "Tiga Chaser, satu Keeper," kata Harry yang bertekad mengingat semuanya.
    "Dan mereka bermain dengan Quaffle.
    Oke, mengerti. Jadi, untuk apa yang itu?" Dia menunjuk tiga bola lain yang
    masih ada di dalam. kotak.
    "Akan kutunjukkan sekarang," kata Wood. "Ambil ini." Dia menyerahkan
    kepada Harry pemukul kecil yang mirip pemukul kasti.
    "Akan kutunjukkan apa yang dilakukan Bludger," kata Wood. "Dua bola ini
    namanya Bludger."
    Dia menunjukkan kepada Harry dua bola kembar, hitam legam dan sedikit
    lebih kecil daripada Quaffle merah. Harry melihat bahwa kedua bola itu
    kelihatannya berusaha keras melepaskan diri dari ikatan yang menahannya di
    dalam kotak.
    "Mundur," Wood memperingatkan Harry. Dia membungkuk dan melepas
    salah satu Bludger.
    Langsung saja bola hitam itu meluncur tinggi ke angkasa dan kemudian
    melesat turun menuju wajah Harry. Harry
    memukulnya dengan pemukul untuk mencegahnya mematahkan hidungnya,
    membuatnya zig-zag di udara bola itu mendesing mengitari kepala mereka,



    --------------------------------------- 100

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    kemudian melesat ke arah Wood, yang melompat menyambarnya dan berhasil
    memitingnya di tanah.
    "Lihat, kan?" Wood tersengal, memasukkan kembali dengan paksa Bludger
    yang memberontak itu ke dalam kotak dan mengikatnya kembali supaya aman.
    "Bludger ini meluncur ke mana-mana, berusaha menjatuhkan pemain dari sapu
    mereka.
    Itulah sebabnya masing-masing tim punya dua Beater Pemukul. Si kembar
    Weasley adalah Beater kita. Tugas merekalah untuk melindungi tim kita dari
    serangan Bludger dan berusaha memukul Bludger itu ke arah tim lawan. Jadi
    bisa dimengerti?"
    "Tiga Chaser mencoba mencetak gol dengan Quaffle, si Keeper menjaga
    gawang, dua Beater menjauhkan Bludger dari tim mereka," Harry menjelaskan.
    "Bagus sekali," kata Wood.
    "Er apakah Bludger pernah sampai membunuh pemain?"
    Harry bertanya, berharap suaranya kedengaran biasa.
    "Di Hogwarts belum pernah. Pernah dua kali ada rahang patah, tapi tak ada
    yang lebih parah dari itu. Nah, anggota tim terakhir adalah Seeker Pencari. Ini
    kau. Dan kau tidak perlu mencemaskan Quaffle ataupun Bludger..."
    "...kecuali kalau Bludger itu membuat kepalaku pecah."
    "Jangan khawatir, si kembar Weasley bukan musuh enteng bagi si Bludger
    maksudku, mereka berdua seperti sepasang Bludger manusia."
    Wood menjangkau ke dalam kotak dan mengeluarkan bola keempat, bola
    terakhir. Dibandingkan dengan Quaffle dan Bludger, bola ini kecil sekali, cuma
    sebesar buah kenari besar.
    Warnanya keemasan dan punya sayap perak yang bergetar.
    "Ini," kata Wood, "adalah Golden Snitch Tangkapan Emas, dan ini bola yang
    paling penting dari semuanya. Bola ini sangat susah ditangkap karena geraknya
    cepat sekali dan susah dilihat.
    Tugas Seekerlah untuk menangkapnya. Kau harus meliuk-liuk di antara
    Chaser, Beater, Bludger, dan Quaffle untuk menangkapnya sebelum keduluan
    Seeker tim lawan. Seeker -yang berhasil menangkap Snitch, menambah angka
    seratus lima puluh untuk timnya, maka mereka hampir selalu menang. Itulah
    sebabnya Seeker banyak dikerjai. Pertandingan Quidditch hanya berakhir
    kalau Snitch sudah berhasil ditangkap. Jadi pertandingan ini bisa berlangsung
    lama sekali kalau tak salah rekor paling lama adalah tiga bulan, mereka harus
    bolak-balik mengajukan pemain cadangan, supaya para pemain bisa tidur.
    "Yah, begitulah ada pertanyaan?"
    Harry menggeleng.
    Dia mengerti apa yang harus dilakukannya. Melaksanakannya-lah yang akan
    jadi masalah.
    "Kita belum akan berlatih dengan Snitch," kata Wood, dengan hati-hati
    mengembalikan bola itu ke dalam kotak.
    "Terlalu gelap, bisa hilang nanti. Ayo, kita coba kau dengan beberapa bola
    ini saja."
    Wood mengeluarkan beberapa bola golf biasa dari dalam kantongnya, dan
    beberapa menit kemudian, dia dan Harry sudah melayang-layang di udara.



    --------------------------------------- 101

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Wood melempar bola-bola golf itu sekuat-kuatnya ke segala arah untuk
    ditangkap Harry.
    Harry berhasil menangkap semuanya, dan Wood senang sekali. Setelah
    setengah jam, malam benarbenar telah tiba dan mereka tidak bisa
    melanjutkan.
    "Nama kita akan terukir di Piala Quidditch tahun ini," kata Wood riang selagi
    mereka berjalan kembali ke kastil. "Aku tak akan heran kalau kau ternyata
    lebih hebat dari Charlie Weasley, dan dia sebetulnya bisa main untuk tim
    nasional Inggris kalau dia tidak memilih mengejar naga."
    ***
    Mungkin karena sekarang sangat sibuk, apalagi dengan latihan Quidditch
    tiga malam dalam seminggu, ditambah PR-PR-nya, Harry heran sendiri ketika
    menyadari dia sudah berada di Hogwarts selama dua bulan. Kastil itu lebih
    terasa rumah daripada rumah di Privet Drive. Pelajaran-pelajarannya juga
    semakin menarik, setelah mereka menguasai dasar-dasarnya.
    Pada pagi Hallowe'en mereka terbangun oleh bau lezat labu panggang yang
    menguar di koridor-koridor. Lebih asyik lagi, Profesor Flitwick mengumumkan
    di pelajaran Jimat dan Guna-guna bahwa menurut pendapatnya mereka sudah
    siap untuk mulai membuat benda-benda melayang, sesuatu yang sudah ingin
    sekali mereka coba sejak mereka melihat Profesor Flitwick membuat kodok
    Neville terbang berputarputar di dalam kelas.
    Profesor Flitwick membagi mereka berpasang-pasangan untuk berlatih.
    Partner Harry adalah Seamus Finnigan (dia lega, karena Neville dari tadi sudah
    berusaha memberi kode dengan matanya). Tetapi Ron harus bekerja sama
    dengan Hermione Granger. Sulit dikatakan apakah Ron atau Hermione yang
    lebih marah karena ini. Hermione sudah tidak bicara dengan mereka sejak sapu
    Harry tiba.
    "Nah, jangan lupa gerakan manis pergelangan "tangan yang sudah kita latih!"
    seru Profesor Flitwick, yang seperti biasa bertengger di atas tumpukan
    bukunya. "Ayun dan sentak, ingat, ayun dan sentak. Dan mengucapkan mantra
    dengan benar juga sangat penting jangan lupa pada Penyihir Baruffio, yang
    menyebut 's' alih-alih 'f', dengan akibat dia mendadak tergeletak di lantai
    dengan kerbau di atas dadanya."
    Sulit sekali. Harry dan Seamus mengayun dan menyentak, tetapi bulu yang
    seharusnya mereka buat melayang ke udara tetap saja tergeletak di atas meja.
    Seamus akhirnya habis sabar sehingga dia menyodok bulu itu dengan
    tongkatnya, dan membuat bulu itu terbakar Harry terpaksa memadamkannya
    dengan topinya.
    Ron, di meja sebelah, nasibnya tidak lebih baik.
    "Wingardium Leviosa!" seru Ron, melambaikan tangannya seperti kincir.
    "Cara ngomongmu salah," Harry mendengar Hermione menukas. "Mestinya
    Wing-gar-dium Levio-sa, 'gar'-nya yang enak dan panjang."
    "Lakukan saja sendiri, kalau kau begitu pintar," kata Ron geram.
    Hermione menggulung lengan jubahnya, menjentikkan tongkatnya dan
    berkata, "Wingardium Leviosa!"



    --------------------------------------- 102

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Bulu mereka terangkat dari atas meja dan melayanglayang kira-kira satu
    seperempat meter di atas kepala mereka.
    "Oh, bagus sekali!" seru Profesor Flitwick seraya bertepuk tangan. "Semua
    lihat ke sini, Miss Granger sudah berhasil!"
    Saat pelajaran usai, Ron sudah marah sekali.
    "Pantas saja tak ada anak yang tahan berteman dengannya,"
    katanya kepada Harry sementara mereka berdesakan di koridor.
    "Dia mengerikan sekali. Sungguh!"
    Ada yang menabrak Harry ketika anak-anak bergegas melewatinya. Ternyata
    Hermione. Sekilas Harry melihat wajahnya dan tercengang melihat air
    matanya bercucuran.
    "Kurasa dia mendengarmu." "Jadi?" kata Ron, tapi dia kelihatan tidak enak.
    "Dia pasti sudah menyadari dia tak punya teman."
    Hermione tidak muncul pada pelajaran berikutnya dan tidak kelihatan
    sepanjang sore itu. Ketika turun menuju Aula Besar untuk pesta Hallowe'en,
    Harry dan Ron mendengar Parvati Patil memberitahu temannya, Lavender,
    bahwa Hermione sedang menangis di toilet untuk anak perempuan dan minta
    ditinggalkan sendirian. Ron menjadi tambah tidak enak, tetapi sesaat kemudian
    mereka sudah memasuki Aula Besar. Dekorasi Hallowe'en di aula itu membuat
    mereka melupakan Hermione.
    Seribu kelelawar hidup beterbangan di dinding dan langitlangit, sementara
    seribu lainnya melayang di atas meja membentuk awan-awan hitam gelap,
    membuat lilin-lilin di dalam labu bergoyang. Makananmakanan tiba-tiba muncul
    di piring emas, seperti waktu pesta awal tahun ajaran baru.
    Harry sedang mengambil kentang ketika Profesor Quirrell terburu-buru
    masuk Aula, turbannya miring, wajahnya diliputi kengerian. Semua anak
    mengawasinya ketika dia tiba di kursi Profesor Dumbledore, bersandar lemas ke
    meja, dan berkata dengan tersengal-sengal, "Troll di ruang bawah tanah saya
    pikir Anda harus tahu."
    Kemudian dia merosot ke lantai, pingsan.
    Aula geger. Perlu beberapa ledakan mercon ungu dari ujung tongkat
    Profesor Dumbledore untuk membuat ruangan tenang kembali.
    "Prefek," gelegar Profesor Dumbledore, "bawa kembali anak buah kalian ke
    asrama masing-masing, segera!"
    Percy senang sekali.
    "Ikut aku! Berkumpul, kelas satu! Tak perlu takut troll kalau kalian
    mengikuti perintahku! Berada dekatdekat di belakangku.
    Beri jalan, kelas satu duluan! Maaf, aku Prefek!"
    "Bagaimana troll bisa masuk?" Harry bertanya ketika mereka menaiki tangga.
    "Mana aku tahu, mereka kan makhluk-makhluk konyol,"
    jawab Ron. "Mungkin Peeves yang memasukkannya sebagai lelucon
    Hallowe'en."
    Mereka berpapasan dengan rombongan berbedabeda, dengan jurusan
    berlainan pula. Ketika mereka menyelip-nyelip di antara rombongan Hufflepuff
    yang kebingungan, mendadak Harry mencengkeram lengan Ron.
    "Aku baru ingat Hermione."



    --------------------------------------- 103

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kenapa dia?"
    "Dia tidak tahu tentang troll ini."
    Ron menggigit bibir. "Oh, baiklah," tukasnya. "Tapi lebih baik Percy jangan
    sampai melihat kita."
    Sambil menunduk, mereka bergabung dengan anakanak Hufflepuff menuju
    arah yang berlawanan, menyelinap ke koridor samping yang sepi dan bergegas
    ke toilet anak perempuan. Baru saja membelok di sudut, mereka mendengar
    langkah-langkah cepat di belakang mereka.
    "Percy!" desis Ron, menarik Harry ke belakang patung baru besar makhluk
    berkepala dan bersayap elang, tapi bertubuh singa.
    Mengintip dari balik patung itu, yang mereka lihat bukan Percy, melainkan
    Snape. Dia menyeberang koridor dan menghilang dari pandangan.
    "Apa yang dilakukannya?" bisik Harry. "Kenapa dia tidak di ruang bawah
    tanah bersama guru-guru yang lain?"
    "Mana kutahu."
    Sepelan mungkin, tanpa bersuara, mereka merayapi koridor berikutnya,
    mengikuti langkah-langkah Snape yang menjauh.
    "Dia menuju lantai tiga," kata Harry, tetapi Ron mengangkat tangannya.
    "Apakah kau membaui sesuatu?"
    Harry mengendus dan bau busuk menusuk hidungnya, campuran antara kaus
    kaki bau dan toilet umum yang tak pernah dibersihkan.
    Dan kemudian mereka mendengarnya geram rendah dan entakan kaki
    raksasa. Ron menunjuk ke ujung koridor di sebelah kiri, sesuatu yang besar
    sekali sedang bergerak ke arah mereka.
    Mereka surut ke dalam bayang-bayang dan mengawasi makhluk itu
    melangkah dalam sorotan cahaya bulan.
    Sungguh pemandangan yang mengerikan. Tiga setengah meter tingginya,
    kulitnya abu-abu kusam, tubuhnya mirip gumpalan batu besar, dengan
    kepalanya yang kecil bertengger di atasnya seperti sebutir kelapa. Kakinya
    pendek dan gemuk, sebesar batang pohon, dengan telapak kaki rata dan
    bertanduk.
    Baunya bukan main busuknya. Dia memegang pentung besar yang terseret di
    lantai karena lengannya panjang sekali.
    Troll itu berhenti di depan pintu dan melongok ke dalamnya.
    Dia menggoyangkan telinganya yang panjang, mencoba berpikir dengan
    otaknya yang kecil, kemudian berjalan masuk lambat-lambat.
    "Kuncinya ada di situ," Harry bergumam. "Kita bisa menguncinya di dalam."
    "Ide bagus," kata Ron gugup.
    Mereka berjingkat menuju pintu yang terbuka, mulut mereka kering, seraya
    berdoa agar si troll tidak keluar dari pintu itu.
    Dengan satu lompatan panjang, Harry berhasil meraih kunci,
    menggabrukkan pintu, dan menguncinya.
    "Yes!"
    Dengan wajah kemerahan berkat keberhasilan mereka, mereka berlari ke
    arah berlawanan. Tetapi saat tiba di sudut, mereka mendengar sesuatu yang



    --------------------------------------- 104

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    membuat jantung mereka berhenti berdetak jeritan ngeri melengking dan
    datangnya dari ruang yang baru saja mereka kunci.
    "Oh, tidak," kata Ron yang jadi sepucat Baron Berdarah.
    "Toilet anak perempuan!" Harry terperanjat.
    "Hermione!" mereka berseru bersama.
    Mereka sama sekali tak ingin melakukannya, tetapi tak punya pilihan lain.
    Mereka berputar dan berlari kembali ke pintu dan memutar kuncinya, agak
    susah karena keduanya panik dan gemetar Harry menarik pintu hingga terbuka
    dan mereka berlari ke dalam.
    Hermione Granger merapat ke dinding di seberang mereka, kelihatannya
    nyaris pingsan. Si troll bergerak ke arahnya, wastafel-wastafel yang
    ditabraknya rontok ke lantai.
    "Buat dia bingung!" kata Harry putus asa kepada Ron, seraya menyambar
    keran yang lalu dilemparkannya sekuat tenaga ke dinding.
    Si troll berhenti kira-kira satu meter dari Hermione. Dia berbalik lamban,
    mengejap dengan bodoh, untuk melihat apa yang membuat suara tadi. Mata
    kecilnya yang kejam menatap Harry. Dia ragu-ragu, kemudian berbalik menuju
    Harry, mengangkat pentungnya sambil berjalan.
    "Oi, otak kacang polong!" teriak Ron dari sisi lain ruangan.
    Ron melemparnya dengan pipa logam. Si troll seolah tidak merasakan apa
    pun ketika pipa itu menghantam bahunya, tetapi dia mendengar teriakan Ron
    dan berhenti lagi, menolehkan moncongnya yang jelek ke arah Ron, memberi
    Harry kesempatan untuk menghindar.
    "Ayo, lari, lari!" Harry berteriak kepada Hermione, berusaha menariknya ke
    arah pintu, tetapi Hermione tidak bisa bergerak.
    Dia masih menempel rapat ke dinding, mulutnya ternganga saking takutnya.
    Teriakan-teriakan dan gaungnya agaknya membuat si troll berang sekali. Dia
    menggerung lagi dan bergerak ke arah Ron,
    yang berada paling dekat dengannya dan tak punya kemungkinan untuk
    kabur.
    Harry kemudian melakukan sesuatu yang sangat berani dan sekaligus sangat
    bodoh: dia berlari dan melompat, dan berhasil mengalungkan lengannya di
    sekeliling leher si troll. Troll itu tidak sadar Harry bergantung di lehernya,
    tetapi bahkan troll sekalipun akan tahu kalau kau menyogok hidungnya dengan
    potongan kayu panjang, dan tongkat Harry masih di tangannya waktu dia
    melompat tongkat itu tepat masuk ke salah satu lubang hidung si troll.
    Menggerung kesakitan, si troll meliuk dan menyabet-nyabetkan pentungnya,
    dengan Harry masih bergantung ketakutan di lehernya. Setiap detik si troll bisa
    menjambretnya sampai lepas atau memukulnya keras-keras dengan
    pentungnya.
    Hermione sudah merosot ke lantai saking takutnya. Ron menarik keluar
    tongkatnya sendiri tanpa tahu apa yang akan dilakukannya, tahu-
    tahu didengarnya dirinya sendiri menyebutkan mantra pertama yang muncul
    dalam benaknya,
    "Wingardium Leviosa!"



    --------------------------------------- 105

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Pentung itu mendadak terbang dari tangan si troll, melesat tinggi, makin
    tinggi ke atas, pelan-pelan berbelok dan jatuh, dengan bunyi derak yang
    mengerikan, di atas kepala pemiliknya. Si troll terhuyung dan kemudian jatuh
    terjerembap, dengan bunyi gedebuk yang membuat seluruh ruangan bergetar.
    Harry berdiri. Dia gemetar dan terengah. Ron masih berdiri dengan tongkat
    terangkat, memandang hasil kerjanya.
    Hermione-lah yang lebih dulu bicara.
    "Apa dia mati?"
    "Kurasa tidak," kata Harry "Kurasa dia cuma pingsan."
    Dia menunduk dan mencabut tongkatnya dari hi-dung si troll. Tongkat itu
    berlumur lendir yang mirip lem abu-abu.
    "Iiih ingus troll."
    Harry melap tongkatnya ke celana si troll.
    Bunyi pintu menjeblak dan langkah-langkah keras membuat ketiganya
    mendongak. Mereka tidak menyadari keributan yang mereka akibatkan, tetapi
    tentu saja, ada orang di bawah yang mendengar bunyi gedebak-gedebuk dan
    gerungan si troll.
    Beberapa saat kemudian Profesor McGonagall berlarian ke dalam ruangan,
    diikuti oleh Snape, dengan Quirrell datang paling belakang. Begitu melihat si
    troll, Quirrell merintih pelan, lalu cepat-cepat duduk di toilet, mencengkeram
    dada di bagian jantungnya.
    Snape membungkuk di atas si troll. Profesor McGonagall memandang Ron
    dan Harry. Harry belum pernah melihatnya begitu marah. Bibirnya sampai
    putih. Harapan memenangkan lima puluh angka untuk Gryffindor langsung
    lenyap dari pikiran Harry.
    "Apa sebenarnya maksud kalian?" tanya Profesor McGonagall, dengan nada
    dingin penuh kemarahan. Harry memandang Ron, yang masih berdiri dengan
    tongkat mengacung ke atas. "Kalian beruntung tidak terbunuh. Kenapa kalian
    tidak berada di asrama?"
    Snape melempar pandangan tajam ke arah Harry. Harry menatap lantai.
    Dalam hati dia berharap Ron menurunkan tongkatnya.
    Mendadak terdengar suara lemah dari dalam bayang-bayang.
    "Maaf, Profesor McGonagall... mereka mencari saya."
    "Miss Granger!"
    Hermione akhirnya berhasil berdiri.
    "Saya mencari troll karena saya... saya pikir saya bisa menanganinya sendiri
    karena saya sudah membaca banyak tentang mereka." Tongkat Ron sampai
    terjatuh. Hermione Granger, berbohong pada guru?
    "Jika mereka tidak menemukan saya, saya pasti sudah mati sekarang. Harry
    menyodokkan tongkatnya ke dalam lubang hidung si troll dan Ron membuatnya
    pingsan dengan pukulan pentungnya sendiri. Troll itu sudah siap menghabisi
    saya ketika mereka tiba."
    Harry dan Ron memasang tampang seakan cerita ini bukan cerita baru bagi
    mereka.



    --------------------------------------- 106

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Wah kalau begitu...," kata Profesor McGonagall sambil menatap mereka
    bertiga. "Miss Granger, bodoh benar kau, bagaimana mungkin kau mengira bisa
    menangani troll gunung sendirian?"
    Hermione menunduk. Harry tak bisa bicara. Hermione, orang yang paling
    anti melanggar peraturan, sekarang berbohong untuk menyelamatkan mereka.
    Ibaratnya Snape membagi-bagikan permen.
    "Miss Granger, lima angka dikurangi dari Gryffindor. Aku kecewa sekali
    padamu. Kalau kau tidak terluka sama sekali, sebaiknya kau kembali ke Menara
    Gryffindor. Anak-anak sedang menyelesaikan pesta mereka di asrama masing-
    masing."
    Hermione pergi. Profesor McGonagall berbalik menghadapi Harry dan Ron.
    "Aku masih tetap bilang kalian beruntung, tetapi tak banyak anak kelas satu
    yang bisa menghadapi troll gunung dewasa.
    Kalian masing-masing mendapat lima angka untuk Gryffindor.
    Profesor Dumbledore akan diberitahu soal ini. Kalian boleh pergi."
    Mereka bergegas meninggalkan tempat itu dan sama sekali tidak bicara
    sampai mereka sudah naik dua tingkat lebih tinggi.
    Sungguh lega bisa menjauh dari bau si troll, di samping berhasil lolos dari
    bahaya yang lain.
    "Seharusnya kita dapat lebih dari sepuluh angka," gerutu Ron.
    "Lima, maksudmu, setelah dipotong lima dari Hermione."
    "Baik juga dia, mau menyelamatkan kita seperti itu," Ron mengakui. "Tapi
    kita memang menyelamatkannya."
    "Dia mungkin tidak perlu diselamatkan, kalau kita tidak mengurung troll itu
    bersamanya," Harry mengingatkan.
    Mereka sudah tiba di depan lukisan Nyonya Gemuk.
    "Moncong babi," kata mereka, lalu masuk.
    Ruang rekreasi penuh dan bising. Semua sibuk makan makanan yang dikirim
    ke atas. Meskipun demikian, Hermione berdiri sendiri di dekat pintu, menunggu
    mereka. Sesaat tak ada yang bilang apa-apa, sama-sama malu. Kemudian,
    tanpa saling pandang, serentak mereka bilang, "Trims," lalu bergegas
    mengambil piring.
    Tetapi sejak saat itu, Hermione Granger menjadi teman mereka. Ada hal-
    hal tertentu yang tak bisa dialami bersama tanpa kalian jadi saling menyukai,
    dan membuat pingsan troll gunung setinggi lebih dari tiga setengah meter
    adalah salah satunya.
    ***
    11. Quidditch
    MEMASUKI bulan November, hawa menjadi sangat dingin. Pegunungan yang
    mengelilingi sekolah berubah menjadi abu-abu bersaput es dan danau seolah
    menjadi baja beku. Setiap pagi tanah berselimut salju. Hagrid terlihat dari
    jendela atas tengah melumerkan salju pada sapu-sapu untuk pertandingan



    --------------------------------------- 107

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Quidditch, ia memakai jubah panjang dari kulit tikus mondok, sarung tangan
    dari bulu kelinci dan sepatu bot besar dari kulit berang-berang.
    Masa pertandingan Quidditch telah mulai. Pada hari Sabtu, Harry akan
    bermain dalam pertandingan pertamanya setelah berminggu-minggu berlatih.
    Gryffindor versus Slytherin. Jika Gryffindor menang, peringkat mereka akan
    naik ke tempat kedua dalam Kejuaraan Antar-Asrama.
    Nyaris tak ada yang pernah melihat Harry bermain, karena Wood telah
    memutuskan bahwa, sebagai senjata rahasia mereka, Harry harus, yah, harus
    dirahasiakan. Tetapi berita bahwa dia akan bermain sebagai Seeker, entah
    bagaimana telah bocor dan Harry tak tahu mana yang lebih buruk anak-anak
    berkata kepadanya bahwa dia akan bermain dengan brilian, atau mereka
    berkata akan berlari-lari di bawahnya memegangi kasur.
    Sungguh beruntung bahwa sekarang Harry berteman dengan Hermione. Dia
    tak tahu bagaimana bisa menyelesaikan semua PR-nya tanpa Hermione, apalagi
    dengan latihan menit-terakhir Quidditch yang diwajibkan Wood. Hermione juga
    telah meminjaminya buku Quidditch dari Masa ke Masa, yang ternyata menarik
    sekali.
    Harry jadi tahu ada tujuh ratus cara melakukan tindakan bodoh dalam
    Quidditch dan kesemuanya terjadi di pertandingan Piala Dunia pada tahun
    1473; bahwa Seeker biasanya pemain yang paling kecil dan paling gesit, dan
    bahwa kecelakaan-kecelakaan paling berat Quidditch tampaknya diderita
    mereka; bahwa walaupun orang jarang sekali mati karena bermain Quidditch,
    bisa terjadi wasit-wasit menghilang begitu saja dan baru ditemukan berbulan-
    bulan kemudian di Gurun Sahara.
    Hermione sudah tidak terlalu ketat lagi dalam hal melanggar peraturan
    sejak Harry dan Ron menyelamatkannya dari troll gunung, dan sikapnya juga
    jadi jauh lebih menyenangkan.
    Sehari sebelum pertandingan Quidditch pertama Harry mereka bertiga
    berada di halaman yang superdingin selama jam istirahat dan Hermione
    menyihir api biru terang yang bisa dibawa-bawa dalam botol selai. Mereka
    sedang berdiri memunggungi api itu, menghangatkan diri, ketika Snape
    menyeberangi halaman.
    Harry, Ron, dan Hermione merapat untuk menghalangi api dari pandangan.
    Mereka yakin menyihir api tak diizinkan.
    Celakanya, wajah mereka yang menyiratkan perasaan bersalah tertangkap
    mata Snape. Dia mendekat dengan terpincang-pincang. Dia tidak melihat api
    itu, tetapi kelihatannya dia mencari-cari alasan untuk bisa mengadukan
    mereka.
    "Apa itu yang kaupegang, Potter?" Buku Quidditch dari Masa ke Masa. Harry
    menunjukkannya.
    "Buku perpustakaan tidak boleh dibawa keluar sekolah," kata Snape.
    "Berikan padaku. Lima angka dipotong dari Gryffindor."
    "Peraturan itu diada-adakan," gumam Harry gusar ketika Snape terpincang-
    pincang menjauh. "Kenapa ya, kakinya?"
    "Entahlah, tapi kuharap sakit sekali," kata Ron sengit.
    ***



    --------------------------------------- 108

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ruang rekreasi Gryffindor bising sekali malam itu. Harry Ron, dan Hermione
    duduk bersama di dekat jendela. Hermione sedang memeriksa PR Jimat dan
    Guna-guna milik Harry dan Ron. Dia tidak mengizinkan mereka menyalin PR-nya
    ("Bagaimana kalian belajar kalau cuma menyalin?"), tetapi dengan meminta
    Hermione memeriksa PR mereka, mereka toh mendapatkan jawaban yang
    benar juga.
    Harry merasa resah. Dia menginginkan kembali buku Quidditch dari Masa ke
    Masa untuk mengalihkan pikirannya dari pertandingan besok. Kenapa dia harus
    takut kepada Snape?
    Seraya bangkit, dia memberitahu Ron dan Hermione dia akan bertanya
    kepada Snape kalau-kalau dia boleh meminta kembali buku itu.
    "Kau sendiri saja deh," kata mereka serempak, tetapi Harry menduga Snape
    tak akan menolak jika ada guru-guru lain mendengarkan.
    Dia menuju ke ruang guru dan mengetuk. Tak ada jawaban.
    Dia mengetuk lagi. Tetap tak ada jawaban.
    Mungkin Snape meninggalkan buku itu di dalam? Layak diselidiki. Harry
    mendorong pintu hingga terbuka dan mengintip ke dalam pemandangan yang
    tampak olehnya sungguh mengerikan.
    Snape dan Filch ada di dalam cuma berdua. Snape mengangkat jubahnya
    sampai ke atas lutut. Salah satu kakinya luka berdarah-darah. Filch sedang
    membebatnya.
    "Makhluk sialan," Snape memaki. "Bagaimana mungkin kita mengawasi tiga
    kepala sekaligus?"
    Harry berusaha menutup pintu diam-diam, tetapi...
    "POTTER!"
    Wajah Snape berkeriut saking marahnya ketika dia menjatuhkan jubahnya
    untuk menyembunyikan kakinya. Harry menelan ludah. "Saya hanya ingin tahu
    apakah saya boleh mengambil buku saya."
    "KELUAR! KELUAR!"
    Harry pergi, sebelum Snape sempat mengurangi angka Gryffindor. Dia
    berlari balik ke atas. "Berhasil?" tanya Ron ketika Harry bergabung kembali
    bersama mereka. "Ada apa?"
    Dalam bisikan pelan, Harry memberitahu mereka apa yang telah dilihatnya.
    "Kalian tahu apa artinya ini?" dia mengakhiri ceritanya dengan menahan
    napas. "Dia mencoba melewati anjing kepala tiga itu pada malam Hallowe'en!
    Ke situlah dia waktu kita melihatnya dia ingin mengambil entah-apa yang
    dijaga si anjing! Dan aku berani mempertaruhkan sapuku, dialah yang
    memasukkan troll itu, untuk mengalihkan perhatian!"
    Mata Hermione terbelalak.
    "Tidak dia tak akan begitu," kata Hermione. "Aku tahu dia tidak begitu
    menyenangkan, tetapi dia tidak akan mencoba mencuri sesuatu yang disimpan
    Dumbledore."
    "Astaga, Hermione, kaupikir semua guru itu orang suci atau apa," tukas Ron.
    "Aku setuju dengan Harry. Aku tidak percaya pada Snape. Tetapi apa yang
    dikejarnya? Apa yang dijaga anjing itu?"



    --------------------------------------- 109

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry pergi tidur dengan kepala penuh pertanyaan yang sama. Neville
    mendengkur keras, tetapi Harry tidak bisa tidur.
    Dia mencoba mengosongkan pikiran dia perlu tidur, dia harus tidur,
    beberapa jam lagi dia akan bermain dalam pertandingan Quidditch-nya yang
    pertama tetapi ekspresi wajah Snape ketika Harry melihat kakinya tidak
    mudah dilupakan.
    ***
    Paginya udara sangat cerah dan dingin. Aula Besar dipenuhi aroma lezat
    sosis goreng dan obrolan riang anak-anak yang sudah menanti-nanti saat
    menonton pertandingan Quidditch yang seru.
    "Kau harus sarapan."
    "Aku tak ingin makan."
    "Sepotong roti saja," Hermione membujuk.
    Harry gelisah. Sejam lagi dia akan berjalan ke lapangan.
    "Harry kau butuh tenagamu," kata Seamus Finnigan. "Seeker selalu jadi
    sasaran serangan tim lawan."
    "Terima kasih, Seamus," kata Harry seraya mengawasi Seamus yang memberi
    saus tomat banyakbanyak ke sosisnya.
    Pada pukul sebelas, seluruh sekolah tampaknya sudah memenuhi tempat
    duduk tinggi di sekeliling lapangan Quidditch. Banyak anak yang membawa
    teropong. Tempat duduknya memang sudah tinggi sekali, tapi kadang-kadang
    masih tetap sulit melihat apa yang sedang terjadi.
    Ron dan Hermione bergabung dengan Neville, Seamus, dan Dean si
    penggemar West Ham di deret paling atas. Sebagai kejutan untuk Harry,
    mereka telah membuat spanduk besar dari seprai yang telah dicabikcabik
    Scabbers. Tulisannya Potter for President dan Dean, yang pandai menggambar,
    telah melukis singa besar Gryffindor di bawahnya. Kemudian Hermione
    menyihirnya sedikit, sehingga catnya berpendar warnawarni.
    Sementara itu, di kamar ganti, Harry dan para anggota tim lainnya sedang
    memakai jubah Quidditch mereka yang berwarna merah (Slytherin akan
    bermain dengan seragam hijau).
    Wood berdeham, meminta anggota-anggotanya diam.
    "Oke, men," katanya.
    "Dan women," kata Angelina Johnson si Chaser.
    "Dan women," Wood setuju. "Ini saatnya."
    "Saat penting," kata Fred Weasley.
    "Yang sudah lama kita semua nantikan," kata George.
    "Kami sudah hafal pidato Oliver," Fred memberitahu Harry.
    "Kami sudah masuk tim tahun lalu."
    "Tutup mulut, kalian berdua," kata Wood. "Ini tim terbaik yang pernah
    dimiliki Gryffindor selama beberapa tahun terakhir ini. Kita akan menang. Aku
    ya-kin."
    Dia membelalak kepada mereka semua, seakan ingin mengatakan, "Kalau
    tidak, awas!"
    "Betul. Sudah waktunya. Semoga sukses."



    --------------------------------------- 110

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry mengikuti Fred dan George meninggalkan kamar ganti dan, berharap
    lututnya tidak goyah, memasuki lapangan di bawah gemuruh sorakan.
    Madam Hooch menjadi wasit. Dia berdiri di tengah lapangan, menunggu
    kedua tim, dengan sapu di tangannya.
    "Aku menginginkan permainan yang jujur, anakanak,"
    katanya, setelah mereka semua Berkumpul mengelilinginya.
    Harry memperhatikan bahwa Madam Hooch tampaknya bicara khusus
    kepada kapten Slytherin, Marcus Flint, anak kelas lima.
    Bagi Harry tampaknya Flint punya keturunan darah troll. Dari sudut matanya
    Harry melihat spanduk yang berkibar di atas para penonton, bertulisan Potter
    for President. Jantungnya berdegup. Dia merasa lebih berani.
    "Silakan naik ke sapu kalian."
    Harry naik ke atas Nimbus Dua Ribu-nya.
    Madam Hooch meniup peluit peraknya keras-keras.
    Lima belas sapu meluncur ke atas, makin lama makin tinggi.
    Pertandingan dimulai.
    "Dan Quaffle langsung berhasil ditangkap oleh Angelina Johnson dari
    Gryffindor sungguh Chaser luar biasa cewek satu ini, lumayan menarik, lagi..."
    "JORDAN!"
    "Maaf, Profesor."
    Sahabat si kembar Weasley Lee Jordan, adalah komentator pertandingan
    ini. la diawasi ketat oleh Profesor McGonagall.
    "Dan Angelina benar-benar gesit di atas, lontaran tepat kepada Alicia
    Spinnet, penemuan baru yang bagus si Oliver Wood, tahun lalu cuma cadangan
    kembali ke Angelina dan
    tidak, Slytherin berhasil merebut Quaffle, kapten Slytherin, Marcus Flint,
    berhasil merebut Quaffle dan meluncur menjauh Flint terbang bagai elang di
    atas sana dia akan mencetak go tidak, dihentikan oleh gerak hebat Keeper
    Gryffindor, Wood, dan Gryffindor kembali memegang Quaffle itu Chaser Katie
    Bell dari Gryffindor, menukik manis mengitari Flint, naik lagi dan OUCH pasti
    sakit sekali, belakang kepalanya dihantam Bludger Quaffle berhasil direbut
    Slytherin Adrian Pucey melesat menuju gawang, tetapi dia diblok oleh Bludger
    kedua yang dilemparkan ke arahnya oleh Fred atau George Weasley, tak bisa
    membedakan yang mana yang jelas gerakan bagus dari Beater Gryffindor, dan
    Angelina kembali memegang bola, tak ada halangan di
    depannya dan dia meluncur benar-benar terbang menghindari Bludger yang
    melaju cepat ke arahnya gol di depannya ayo, ayo, Angelina Keeper
    Bletchley menukik lolos GOL UNTUK GRYFFINDOR!"
    Sorakan anak-anak Gryffindor membahana menembus udara dingin,
    ditingkah jerit sesal dan ratapan anak-anak Slytherin.
    "Geser sedikit."
    "Hagrid!"
    Ron dan Hermione merapat untuk memberi cukup tempat bagi Hagrid untuk
    bergabung bersama mereka.



    --------------------------------------- 111

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Dari tadi nonton dari pondokku," kata Hagrid sambil membelai teropong
    besar yang tergantung di lehernya. "Tapi tidak seseru kalau ada di sini.
    Snitchnya belum kelihatan?"
    "Belum," kata Ron. "Harry belum banyak kerjaan."
    "Cuma menghindari serangan, tapi kan susah juga," kata Hagrid,
    mengangkat teropongnya dan memandang ke langit, ke arah titik yang tak lain
    tak bukan adalah Harry.
    Jauh di atas mereka, Harry melayang di atas para pemain lainnya,
    menajamkan mata mencari-cari Snitch. Ini bagian dari rencana permainannya
    bersama Wood.
    "Menyingkirlah jauh-jauh sebelum kau melihat Snitch," kata Wood. "Kita tak
    ingin kau diserang sebelum waktunya."
    Ketika Angelina mencetak gol, Harry dua kali melakukan terbang jungkir-
    balik untuk melepas perasaannya. Sekarang dia sudah mencari-cari Snitch lagi.
    Sekali dia melihat kilatan emas, tetapi ternyata pantulan arloji salah satu dari
    si kembar Weasley.
    Sekali ada Bludger yang meluncur ke arahnya, tetapi Harry berhasil
    mengelak dan Fred kemudian mengejar bola itu.
    "Baik-baik saja di atas, Harry?" Fred masih sempat berteriak ketika dia
    memukul Bludger keras-keras ke arah Marcus Flint.
    "Slytherin memegang bola," kata Lee Jordan. "Chaser Pucey menunduk
    menghindari dua Bludger, dua Weasley dan Chaser Bell, dan meluncur ke arah
    tunggu apakah itu Snitch?"
    Gumaman merambat di antara para penonton ketika Adrian Pucey
    menjatuhkan Quaffle, gara-gara terlalu sibuk menoleh memandang kilatan
    emas yang baru saja melewati telinga kirinya.
    Harry melihatnya. Dengan penuh semangat dia menukik menuju kilatan
    emas itu. Seeker Slytherin, Terence Higgs, juga telah melihatnya. Bersamaan
    mereka meluncur menuju Snitch
    semua Chaser tampaknya sudah melupakan tugas mereka saat mereka
    melayang di udara untuk menonton.
    Harry lebih cepat daripada Higgs dia bisa melihat bola kecil bulat itu,
    dengan sayap berkepak, meluncur ke atas. Harry menambah kecepatan.
    BRAK! Gerung marah terdengar dari anak-anak Gryffindor di bawah. Marcus
    Flint sengaja menabrak Harry dan sapu Harry melenceng keluar jalur, Harry
    sendiri berpegang erat-erat agar tidak jatuh.
    "Curang!" jerit anak-anak Gryffindor.
    Madam Hooch memarahi Flint dan memberikan lemparan penalti pada
    Gryffindor. Tetapi dalam hirukpikuk itu tentu saja Snitch sudah menghilang
    lagi.
    Di tempat duduknya, Dean Thomas berteriak, "Keluarkan dia. Wasit! Kartu
    merah!"
    "Ini bukan sepak bola, Dean," Ron mengingatkan. "Kau tak bisa
    mengeluarkan pemain dalam Quidditch dan apa itu kartu merah?"
    Tetapi Hagrid membela Dean.



    --------------------------------------- 112

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Mereka harusnya ubah aturannya. Flint bisa bikin Harry jatuh dari atas."
    Sulit bagi Lee Jordan untuk tidak memihak.
    "Jadi setelah kelicikan yang menyebalkan dan tampak jelas tadi..."
    "Jordan!" tegur Profesor McGonagall.
    "Maksudku, setelah kecurangan yang terang-terangan dan menjijikkan..."
    "Jordan, kuperingatkan kau..."
    "Baiklah, baiklah. Flint nyaris membunuh Seeker Gryffindor, ini bisa terjadi
    pada siapa saja, saya yakin, maka penalti untuk Gryffindor, yang dilakukan oleh
    Spinnet, dan langsung dilemparkan kembali, tak ada masalah, pertandingan
    masih berlangsung, Gryffindor masih memegang bola."
    Ketika Harry menghindari Bludger lain yang meluncur ke arahnya dengan
    membahay'akan, sapunya mendadak menukik mengerikan. Sedetik
    Harry mengira dia akan jatuh.
    Dipegangnya erat-erat sapunya dengan kedua tangannya, juga dijepitnya
    dengan lututnya. Belum pernah dia mengalami yang seperti ini.
    Terjadi lagi. Seakan sapu itu ingin melontarkannya. Tetapi Nimbus Dua Ribu
    tidak tiba-tiba saja ingin menjatuhkan penumpangnya. Harry berusaha menuju
    ke tiang gawang Gryffindor lagi, terpikir olehnya untuk mengusulkan pada
    Wood agar minta waktu istkahat sebentar dan tiba-tiba disadarinya bahwa dia
    kehilangan kendali atas sapunya. Dia tidak bisa membelokkannya.
    Dia bahkan tidak bisa mengontrolnya sama sekali. Sapu itu terbang zig-zag
    di udara dan berulang-ulang membuat gerakan mengibas yang nyaris membuat
    Harry jatuh.
    Lee masih mengomentari.
    "Bola di tangan Slytherin Flint memegang Quaffle melewati Spinnet
    melewati Bell muka Flint terhantam Bludger, mudah-mudahan hidungnya
    patah cuma bergurau, Profesor Slytherin mencetak gol oh, tidaaak...." .
    Anak-anak Slytherin bersorak. Tampaknya tak se-orang pun melihat bahwa
    sapu Harry bertingkah aneh. Sapu itu pelan-pelan membawa Harry makin
    tinggi, menjauh dari permainan, seraya menyentak dan memelintir.
    "Ngapain si Harry," gumam Hagrid. Dia memandang lewat teropongnya.
    "Kalau tak kenal dia, aku akan bilang dia kehilangan kendali atas sapunya...
    tapi mana mungkin...."
    Mendadak anak-anak di seluruh tribun menunjuknunjuk ke arah Harry.
    Sapunya berguling-guling, Harry hanya bisa berpegangan agar tidak jatuh.
    Kemudian semua penonton menahan napas. Sapu Harry menyentak liar dan
    Harry terlontar dari atasnya. Sekarang dia hanya bergantungan dengan satu
    tangan saja.
    "Apa sesuatu terjadi ketika Flint memblokirnya?" Seamus berbisik.
    "Mana mungkin," kata Hagrid, suaranya bergetar. "Tak ada yang bisa
    pengaruhi sapu itu kecuali Sihir Hitam yang kuat tak ada anak yang bisa
    melakukannya kepada Nimbus Dua Ribu."
    Mendengar ini Hermione merebut teropong Hagrid, tetapi alih-alih
    meneropong Harry, dengan panik dia mengarahkannya kepada para penonton.
    "Apa yang kaulakukan?" rintih Ron, wajahnya pucat,
    "Sudah kuduga," Hermione kaget menahan napas.



    --------------------------------------- 113

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Snape lihat."
    Ron merebut teropong itu. Snape ada di tengah, di deretan tempat duduk
    yang berhadapan dengan mereka. Matanya tertuju ke arah Harry dan mulutnya
    komat-kamit tak hentinya.
    "Dia sedang berbuat sesuatu memantrai sapu Harry," kata Hermione.
    "Apa yang harus kita lakukan?"
    "Serahkan saja padaku."
    Sebelum Ron sempat mengucapkan sepatah kata, Hermione sudah lenyap.
    Ron kembali mengarahkan teropong kepada Harry. Sapunya bergetar begitu
    hebat, sehingga nyaris tak mungkin baginya untuk bergantung lebih lama lagi.
    Semua penonton berdiri, mengawasi dengan cemas ketika si kembar Weasley
    terbang ke atas, mencoba menyelamatkan Harry dengan menariknya ke atas
    salah satu sapu mereka, tetapi percuma setiap kali mereka berhasil mendekat,
    sapu Harry akan melompat makin tinggi lagi. Mereka menukik turun dan
    memutar di bawahnya, rupanya berharap menangkap Harry jika dia jatuh.
    Marcus Flint menyambar Quaffle dan mencetak gol lima kali tanpa ada yang
    memperhatikan.
    "Ayo, Hermione," Ron bergumam putus asa.
    Hermione dengan susah payah berusaha menuju deretan tempat duduk
    tempat Snape berdiri dan sekarang berlarian di deretan di belakangnya. Dia
    bahkan tidak berhenti untuk meminta maaf ketika menabrak Profesor Quirrell
    sampai jatuh terjerembap ke deretan di depannya. Setibanya di tempat Snape,
    Hermione berjongkok, mencabut tongkatnya, dan membisikkan beberapa kata
    pilihan. Nyala a pi biru meluncur dari ujung tongkatnya, menyambar ujung
    jubah Snape.
    Perlu kira-kira tiga puluh detik bagi Snape untuk menyadari bahwa jubahnya
    terbakar. Jeritan mendadaknya cukup membuat Hermione tahu dia telah
    melaksanakan tugasnya.
    Diraupnya api itu dari jubah Snape dan dimasukkannya ke dalam botol kecil
    di sakunya, lalu dia berjalan kembali sepanjang deretan tempat duduk yang
    dilewatinya tadi Snape tak akan tahu apa yang telah terjadi.
    Tetapi itu cukup. Di angkasa, Harry mendadak saja bisa naik kembali ke atas
    sapunya.
    "Neville, kau boleh lihat sekarang!" kata Ron. Se-lama lima menit terakhir
    ini Neville terisak-isak menyembunyikan wajah di jaket Hagrid.
    Harry sedang meluncur ke bawah ketika penonton melihatnya mengatupkan
    tangan ke mulutnya, seakan dia mau muntah dia mendarat di lapangan dengan
    tangan dan kakinya terbatuk dan sesuatu yang keemasan jatuh ke tangannya.
    "Aku berhasil mendapatkan Snitch!" teriaknya seraya melambaikan Snitch itu
    di atas kepalanya, dan permainan pun berakhir dengan hiruk-pikuk penuh
    kebingungan.
    "Dia tidak menangkapnya, dia nyaris menelannya," Flint masih uring-uringan
    dua puluh menit kemudian, tetapi tak ada gunanya Harry tidak melanggar
    peraturan, dan Lee Jordan
    dengan suka cita masih terus mengumandangkan komentarnya Gryffindor
    menang dengan skor seratus tujuh puluh lawan enam puluh. Meskipun



    --------------------------------------- 114

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    demikian, Harry sama sekali tidak mendengar semua ini. Dia sedang
    menghadapi secangkir teh pekat di pondok Hagrid, ditemani Ron dan Hermione.
    "Snape pelakunya," Ron menjelaskan. "Hermione dan aku melihatnya. Dia
    komat-kamit mengutuk sapumu, sama sekali tak melepas pandangannya
    darimu."
    "Omong kosong," kata Hagrid, yang sama sekali tak tahu apa yang terjadi di
    sebelahnya di arena tadi. "Untuk apa Snape lakukan hal macam itu?"
    Harry Ron, dan Hermione saling pandang, bingung bagaimana
    menjelaskannya. Harry memutuskan untuk berterus terang.
    "Aku tak sengaja tahu sesuatu tentang dia," katanya kepada Hagrid. "Dia
    mencoba melewati anjing kepala tiga itu pada malam Hallowe'en. Anjing itu
    menggigitnya. Kami menduga dia ingin mencuri entah-apa yang dijaga anjing
    itu."
    Teko teh yang dipegang Hagrid sampai terjatuh. "Bagaimana kalian sampai
    bisa tahu tentang Fluffy?" katanya.
    "Fluffy?"
    "Yeah dia anjingku kubeli dari orang Yunani yang ketemu aku di rumah
    minum tahun lalu kupinjamkan dia ke Dumbledore untuk jaga..."
    "Ya?" pancing Harry penuh semangat.
    "Jangan tanya-tanya lagi," tukas Hagrid keras. "Itu rahasia besar."
    "Tapi Snape mau mencurinya."
    "Omong kosong," kata Hagrid lagi. "Snape guru Hogwarts, dia tidak akan
    berbuat begitu."
    "Kalau begitu, kenapa dia mau membunuh Harry?" seru Hermione. Kejadian
    sore itu rupanya telah mengubah penilaian Hermione tentang Snape.
    "Aku bisa mengenali orang yang mau berbuat buruk, Hagrid, aku sudah
    membaca banyak tentang itu. Kita harus mempertahankan kontak mata, dan
    Snape sama sekali tidak berkedip. Aku melihatnya!"
    "Kuberitahu kalian, kalian keliru!" kat Hagrid panas. "Aku tak tahu kenapa
    sapu Harry bertingkah seperti itu, tapi Snape tidak akan coba bunuh murid!
    Sekarang, dengarkan aku, kalian bertiga, kalian campuri hal-hal yang bukan
    urusan kalian. Itu berbahaya. Lupakan saja anjing itu dan lupakan apa yang di
    jaganya, itu urusan Profesor Dumbledore dan Nicolas Flamer..."
    "Aha!" ceplos Harry. "Jadi ada orang bernama Nicolas Flamel yang terlibat,
    kan?"
    Hagrid kelihatan marah sekali pada dirinya sendiri.
    ***
    12. Cermin Tarzah
    NATAL hampir tiba. Suatu pagi di pertengahan Desember, Hogwarts
    terbangun dalam keadaan sudah berselimut salju setebal kira-kira satu meter.
    Danau sudah keras membeku dan si kembar Weasley di hukum karena menyihir
    beberapa bola salju untuk mengikuti Quirrell, dan memantul-mantul dari
    bagian belakang turbannya. Sedikit burung hantu yang berhasil menembus



    --------------------------------------- 115

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    langit berbadai salju untuk mengantar surat, harus dirawat Hagrid sampai sehat
    betul sebelum mereka bisa terbang lagi.
    Semua sudah tak sabar menunggu datangnya liburan.
    Walaupun ruang rekreasi Gryffindor dan Aula Besar punya perapian yang
    menyala-nyala, koridorkoridor yang biasa berangin telah menjadi sedingin es
    dan angin dingin kencang menerpa jendela-jendela kelas sampai bergetar. Yang
    paling parah kelas Profesor Snape di ruang bawah tanah. Di dalam ruang itu
    napas mereka langsung berubah jadi kabut di depan mata dan mereka berusaha
    berada sedekat mungkin dengan kuali-kuali panas mereka.
    "Aku sungguh kasihan," kata Draco Malfoy dalam salah satu pelajaran
    Ramuan," pada semua anak yang terpaksa tinggal di Hogwarts selama liburan
    Natal karena mereka tidak diinginkan di rumahnya."
    Dia bicara begitu sambil menoleh memandang Harry. Crabbe dan Goyle
    tertawa-tawa kecil. Harry yang sedang menakar bubuk tulang punggung ikan
    lepu, tidak memedulikan mereka.
    Malfoy menjadi semakin menyebalkan sejak pertandingan Quidditch yang
    lalu. Kesal karena Slytherin kalah, dia mencoba membuat lelucon dengan
    mengatakan kodok bermulut besar akan menggantikan Harry sebagai Seeker
    dalam pertandingan berikutnya. Kemudian disadarinya bahwa tak seorang pun
    menganggap ini lucu, karena anakanak amat terkesan dengan bagaimana Harry
    bisa bertahan di atas sapunya yang menggila.
    Maka Malfoy yang iri dan marah, kembali mengejek Harry dengan
    mengungkit-ungkit bahwa Harry tak punya keluarga.
    Memang betul Harry tidak akan pulang ke Privet Drive Natal ini. Profesor
    McGonagall telah berkeliling minggu sebelumnya, mencatat nama anak-anak
    yang akan tinggal di Hogwarts selama liburan, dan Harry langsung mendaftar.
    Dia sendiri sama sekali tidak berkecil hati, mungkin ini bahkan akan jadi Natal
    paling menyenangkan baginya. Ron dan kakak-kakaknya juga akan tinggal,
    karena Mr dan Mrs Weasley akan ke Rumania untuk menengok Charlie.
    Ketika meninggalkan ruang bawah tanah pada akhir pelajaran Ramuan,
    mereka melihat pohon cemara besar memblokir koridor di depan. Dua kaki
    raksasa yang muncul di bagian bawahnya dan napas keras tersengal-sengal
    memberitahu mereka Hagrid ada di belakang pohon itu.
    "Hai, Hagrid, perlu bantuan?" Ron bertanya, seraya menjulurkan kepalanya
    di antara dahan-dahan.
    "Tidak, aku tak apa-apa. Terima kasih, Ron."
    "Minggir," terdengar geram dingin Malfoy dari belakang mereka. "Apa kau
    mencoba cari uang tambahan, Weasley?
    Kepingin jadi pengawas binatang liar juga setelah meninggalkan Hogwarts,
    rupanya gubuk Hagrid pastilah seperti istana dibanding rumah keluargamu."
    Ron menerjang Malfoy tepat ketika Snape menaiki tangga.
    "WEASLEY!"
    Ron melepas bagian depan jubah Malfoy.
    "Dia diprovokasi, Profesor Snape," kata Hagrid, seraya melongokkan
    wajahnya yang besar berbulu dari balik pohon.
    "Malfoy menghina keluarganya."



    --------------------------------------- 116

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kalaupun betul begitu, berkelahi dilarang di Hogwarts, Hagrid," tukas
    Snape. "Lima angka dipotong dari Gryffindor, Weasley, dan berterima kasihlah
    tidak lebih dari itu. Ayo, semua jalan terus."
    Malfoy, Crabbe, dan Goyle menerobos kasar melewati pohon sambil
    menyeringai, membuat daundaun cemara rontok berhamburan.
    "Akan kuberi dia pelajaran," kata Ron sambil mengertak gigi di balik
    punggung Malfoy. "Suatu hari nanti kuberi dia pelajaran..."
    "Aku benci mereka berdua," kata Harry. "Malfoy dan Snape."
    "Ayo, bergembiralah, sudah hampir Natal," kata Hagrid.
    "Begini saja, ikut aku dan lihat Aula Besar, bagus sekali."
    Maka Harry, Ron, dan Hermione mengikuti Hagrid dan pohon cemaranya ke
    Aula Besar. Profesor McGonagall dan Profesor Flitwick sedang sibuk menangani
    dekorasi Natal.
    "Ah, Hagrid, pohon terakhir... taruh saja di sudut paling jauh."
    Aula itu tampak spektakuler. Rangkaian holly dan mistletoe bergantungan di
    sepanjang dinding dan tak kurang dari dua belas pohon Natal menjulang tinggi
    di sekeliling ruangan, beberapa berkilau dengan untaian air yang membeku,
    yang lain berkelap-kelip dengan ratusan lilin.
    "Berapa hari lagi sebelum kalian libur?" tanya Hagrid.
    "Tinggal sehari," kata Hermione. "Dan aku jadi ingat
    Harry, Ron, kita punya waktu setengah jam sebelum makan siang, kita
    seharusnya ada di perpustakaan."
    "Oh, yeah, kau benar," kata Ron, dengan susah payah mengalihkan
    pandangannya dari Profesor Flitwick yang membuat gelembung-gelembung
    emas bermunculan dari ujung tongkatnya dan menggantungkannya di dahan-
    dahan pohon baru tadi.
    "Perpustakaan?" kata Hagrid, mengikuti mereka meninggalkan Aula. "Sehari
    sebelum liburan? Rajin amat."
    "Oh, kami tidak belajar," kata Harry riang. "Sejak kau menyebut Nicolas
    Flamel, kami berusaha mencari tahu siapa dia."
    "Apa?" Hagrid tampak kaget. "Dengar... sudah kubilang...
    lupakan. Tidak ada hubungannya dengan yang dijaga anjing itu."
    "Kami ingin tahu siapa Nicolas Flamel, cuma itu," kata Hermione.
    "Kecuali kau mau memberitahu kami, jadi kami tak perlu repot-repot?"
    Harry menambahkan. "Kami sudah membuka-buka lebih dari seratus buku dan
    kami tidak bisa menemukannya di mana-mana... coba beri kami petunjuk
    rasanya aku sudah pernah membaca nama itu entah di mana."
    "Aku tak mau bilang apa-apa," kata Hagrid datar.
    "Kalau begitu, ya kami cari sendiri," kata Ron. Mereka lalu meninggalkan
    Hagrid yang tidak puas dan bergegas menuju perpustakaan.
    Mereka memang sudah mencari-cari nama Flamel di buku sejak Hagrid
    keceplosan sebab, kalau tidak, bagaimana mereka bisa tahu apa yang ingin
    dicuri Snape? Sulitnya, susah sekali mengetahui dari mana mereka harus mulai,
    karena tak tahu apa yang pernah dilakukan Flamel yang membuat namanya
    layak disebut di buku. Dia tidak ada dalam buku Penyihir Besar Abad Dua Puluh
    atau Nama-nama Terkenal di Dunia Sihir Masa Kini; namanya juga tak disebut



    --------------------------------------- 117

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    dalam Penemuan-penemuan Penting Sihir Modern dan Perkembangan Terakhir
    dalam Dunia Sihir. Dan tentu saja, harus diingat, betapa besarnya perpustakaan
    itu: berpuluh-puluh ribu buku, beribu-ribu rak, beratusratus deret sempit.
    Hermione mengeluarkan sederet topik dan judul yang telah diputuskannya
    akan ia cari, sementara Ron berjalan menyusuri deretan buku dan mulai
    menarik beberapa di antaranya secara acak. Harry berjalan ke Seksi Terlarang.
    Selama beberapa waktu dia telah berpikir, jangan-jangan nama Flamel ada di
    sana.
    Sayangnya, kau perlu surat keterangan yang ditandatangani salah satu guru
    untuk bisa meminjam salah satu buku terlarang itu, dan Harry tahu dia tak
    akan memperoleh surat semacam itu.
    Yang ada di bagian ini adalah buku-buku berisi Sihir Hitam manjur yang tak
    pernah diajarkan di Hogwarts dan hanya dibaca oleh murid-murid kelas lebih
    tinggi yang pelajarannya tentang Pertahanan terhadap Ilmu Hitam sudah jauh
    lebih maju.
    "Kau cari apa, Nak?"
    "Tidak cari apa-apa," jawab Harry.
    Madam Pince, petugas perpustakaan,
    Mengacungkan pembersih yang terbuat dari bulu ayam pada Harry. "Kalau
    begitu, lebih baik kau keluar. Ayo... keluar!"
    Harry menyesal tidak sedikit lebih cepat memikirkan alasan.
    Harry meninggalkan perpustakaan.
    Bersama Ron dan Hermione, ketiganya sudah sepakat tidak akan bertanya
    kepada Madam Pince di mana mereka bisa menemukan Flamel.
    Mereka yakin Madam Pince akan bisa memberitahu mereka, tetapi mereka
    tak mau mengambil risiko Snape mendengar apa yang mereka lakukan.
    Harry menunggu di koridor, kalau-kalau kedua temannya menemukan
    sesuatu, tetapi dia tak terlalu berharap. Mereka memang sudah mencari selama
    dua minggu, tetapi karena hanya mencari pada waktuwaktu di antara
    pelajaran, tidaklah mengherankan mereka belum menemukan apa-apa. Yang
    mereka butuhkan adalah pencarian panjang tanpa Madam Pince mencurigai
    mereka.
    Lima menit kemudian, Ron dan Hermione bergabung dengannya,
    menggelengkan kepala. Mereka pergi makan siang.
    "Kalian akan mencari terus selama aku tak ada, kan?" kata Hermione. "Dan
    kirim burung hantu padaku kalau kalian menemukan sesuatu."
    "Dan kau bisa bertanya kepada orangtuamu kalaukalau mereka tahu siapa
    Flamel," kata Ron. "Aman bertanya kepada mereka."
    "Sangat aman, karena mereka berdua dokter gigi," kata Hermione.
    ***
    Begitu liburan mulai, Ron dan Harry kelewat senang sehingga tak sempat
    memikirkan Flamel. Kamar mereka hanya berisi mereka berdua dan ruang
    rekreasi jauh lebih kosong daripada biasanya, jadi mereka bisa duduk di kursi
    berlengan nyaman dekat perapian. Mereka duduk lama sekali sambil makan
    segala ma-cam yang bisa mereka tusuk dengari garpu panggang roti, kue,



    --------------------------------------- 118

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    manisan dan merencanakan caracara membuat Malfoy dikeluarkan. Asyik
    sekali membicarakan itu, walaupun jelas tidak akan terjadi.
    Ron juga mengajar Harry main catur sihir. Sebetulnya persis seperti catur
    Muggle, hanya saja bidakbidaknya hidup, sehingga memainkannya serasa
    memimpin pasukan tentara dalam pertempuran. Set permainan catur Ron
    sudah tua dan bocel-bocel. Seperti semua benda lain yang dimilikinya, papan
    catur itu dulunya milik orang lain dalam keluarganya dalam hal ini kakeknya.
    Meskipun demikian, bidak catur tua sama sekali bukan hambatan. Ron sudah
    kenal baik semuanya, sehingga dia tak pernah punya kesulitan menyuruh
    mereka melakukan apa yang diinginkannya.
    Harry bermain dengan buah-buah catur yang dipinjamkan Seamus Finnigan
    dan mereka sama sekali tidak mau menurut kepadanya. Dia belum pandai
    bermain dan bidak-bidak itu terus-menerus meneriakkan saran-
    saran kepadanya,
    membuatnya bingung. "Jangan suruh aku ke sana, apa kau tidak melihat
    perwira itu? Kirim dia saja, kalau kehilangan dia sih tidak apa-apa."
    Pada Malam Natal, Harry pergi tidur dengan gembira, menantikan hari
    berikutnya, mengharapkan makanan dan kegembiraan, tetapi sama sekali tidak
    mengharapkan hadiah.
    Meskipun demikian, ketika pagi-pagi sekali dia bangun, yang pertama kali
    dilihatnya adalah tumpukan kecil bungkusan di kaki tempat tidurnya.
    "Selamat Natal," kata Ron masih mengantuk ketika Harry turun dari tempat
    tidur dan memakai jas kamarnya.
    "Selamat Natal juga," kata Harry. "Coba lihat ini. Aku dapat hadiah!"
    "Tentu saja. Memangnya kau mengharap dapat apa? Lobak?"
    kata Ron, menoleh memandang tumpukan hadiahnya, yang jauh lebih
    banyak daripada hadiah Harry.
    Harry mengambil bungkusan paling atas. Hadiah ini terbungkus kertas
    cokelat tebal dan di atasnya ada tulisan Untuk Harry, dari Hagrid. Di dalamnya
    ada seruling kayu yang buatannya kasar. Jelas Hagrid membuatnya sendiri.
    Harry meniupnya kedengarannya agak mirip bunyi burung hantu.
    Yang kedua, amplop kecil berisi surat pendek.
    Kami menerima pesanmu dan terlampir hadiah Natal-mu. Dari Paman
    Vernon dan Bibi Petunia. Tertempel di surat itu dengan selotip adalah
    sekeping uang logam lima puluh pence.
    "Wah, mereka baik," kata Harry.
    Ron terpesona melihat keping lima puluh pence itu.
    "Aneh," katanya. "Bentuknya ajaib. Ini uang?"
    "Boleh buatmu," kata Harry Dia tertawa melihat betapa gembiranya Ron.
    "Hagrid dan bibi dan pamanku jadi siapa yang mengirim ini?"
    "Kurasa aku tahu yang itu dari siapa," kata Ron, wajahnya agak memerah,
    seraya menunjuk bungkusan yang bentuknya tak beraturan. "Ibuku. Aku bilang
    padanya kau tidak berharap mendapat hadiah dan oh, tidak," dia mengeluh,
    "dia membuatkanmu rompi Weasley."



    --------------------------------------- 119

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry sudah merobek bungkusan itu dan menemukan sweter rajutan tanpa
    lengan berwarna hijau zamrud dan satu kotak besar bonbon lunak buatan
    sendiri.
    "Setiap tahun dia membuatkan kami rompi," kata Ron, seraya membuka
    bungkusannya sendiri, "dan rompiku selalu merah tua."
    "Ibumu baik sekali," kata Harry. Dia mencoba bonbonnya, yang ternyata
    enak sekali.
    Hadiahnya berikutnya juga berisi makanan kecil sekotak besar Cokelat
    Kodok dari Hermione.
    Tinggal satu hadiah lagi. Harry mengambilnya dan menimangnya. Ringan
    sekali. Dibukanya bungkus hadiah itu.
    Sesuatu yang licin berwarna abu-abu keperakan meluncur ke lantai,
    teronggok berkilauan. Ron kaget sekali.
    "Aku sudah mendengar tentang itu," katanya terpesona, kotak Kacang
    Segala-Rasa yang didapatnya dari Hermione sampai terjatuh. "Kalau itu betul
    seperti dugaanku itu sangat langka dan sangat berharga."
    "Apa ini?"
    Harry memungut kain berkilau keperakan itu dari lantai.
    Rasanya aneh, seperti air yang ditenun menjadi kain.
    "Ini Jubah Gaib," kata Ron, wajahnya tampak kagum. "Aku yakin ini Jubah
    Gaib coba paka i." Harry menyampirkan jubah itu di sekeliling bahunya dan
    Ron langsung memekik.
    "Betul! Lihat ke bawah!"
    Harry memandang ke bawah, ke kakinya, tapi ternyata tak ada. Dia berlari
    ke depan cermin. Memang bayangannya memandang kepadanya, tapi hanya
    kepalanya yang melayang di udara, seluruh tubuhnya sama sekali lenyap.
    Ditariknya jubah itu menutupi kepalanya, dan bayangannya lenyap seluruhnya.
    "Ada suratnya!" kata Ron tiba-tiba. "Ada surat yang jatuh dari jubah itu!"
    Harry melepas jubahnya dan menyambar suratnya.
    Tertulis dalam huruf-huruf ramping berliuk yang belum pernah dilihatnya,
    kata-kata berikut ini:
    Ayahmu menitipkannya kepadaku sebelum dia meninggal.
    Sudah waktunya ini di kembalikan kepadamu, Gunakan baik-baik.
    Selamat Hari Natal yang menyenangkan untukmu.
    Tak ada tanda tangan. Harry bengong memandang surat itu.
    Ron sibuk mengagumi jubah itu. "Aku rela memberikan apa saja untuk
    mendapatkan ini," katanya. "Apa saja. Ada apa?"
    "Tidak apa-apa," kata Harry. Dia merasa sangat aneh. Siapa yang mengirim
    jubah ini? Betulkah ini dulu milik ayahnya?
    Sebelum dia bisa berkata atau berpikir apa-apa lagi, pintu kamar menjeblak
    terbuka dan Fred dan George Weasley melompat masuk. Harry cepat-cepat
    menyingkirkan jubah itu.
    Dia belum rela membaginya dengan orang lain.
    "Selamat Natal!"
    "Hei, lihat Harry dapat rompi Weasley juga!"



    --------------------------------------- 120

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Fred dan George memakai rompi biru, yang satu dengan huruf F besar
    kuning, satunya lagi dengan huruf G besar kuning.
    "Tapi rompi Harry lebih bagus daripada punya kita," kata Fred seraya
    mengangkat rompi Harry. "Jelas Mum berusaha lebih keras kalau membuatkan
    sesuatu bukan untuk keluarga."
    "Kenapa milikmu tidak kaupakai, Ron?"
    George mempertanyakan. "Ayo pakai, rompinya kan bagus dan hangat." "Aku
    benci merah," Ron mengeluh setengah hati sambil menarik rompinya melewati
    kepalanya.
    "Punyamu tidak ada hurufnya," George baru sadar.
    "Rupanya Mum mengira kau tidak akan melupakan namamu.
    Tetapi kami tidak bodoh kami tahu nama kami Gred dan Forge."
    "Ada apa sih, ribut amat?"
    Percy Weasley menjulurkan kepalanya ke dalam kamar, kelihatan tidak
    senang. Rupanya dia juga baru membuka hadiahnya, karena dia juga membawa
    rompi yang tersampir di tangannya. Fred segera menyambar rompi itu.
    "P untuk Prefek! Pakailah, Percy ayo, kami semua memakai rompi kami,
    bahkan Harry juga."
    "Aku... tak... mau...," kata Percy sementara si kembar memaksakan rompi
    itu melewati kepalanya, membuat kacamatanya miring.
    "Dan hari ini kau kan tidak bersama para Prefek lainnya,"
    kata George. "Natal kan waktu untuk keluarga."
    Mereka menggiring Percy keluar ruangan, rompinya menjepit lengannya.
    ***
    Seumur hidup belum pernah Harry mengalami jamuan Natal seperti itu.
    Seratus kalkun panggang gemuk, segunung kentang panggang dan rebus,
    berpiring-piring chipolata berminyak, bermangkuk-mangkuk kacang polong
    bermentega, bermacam-macam saus lezat dan bertumpuk-tumpuk petasan
    sihir di setiap jarak satu meter di sepanjang meja. Petasan luar biasa ini sama
    sekali lain daripada petasan Muggle yang sering dibeli keluarga Dursley di
    dalamnya ada hadiah mainan plastik kecilkecil dan topi kertas tipis. Bersama
    Fred, Harry menarik sebuah petasan sihir, dan petasan itu tidak cuma meletus,
    melainkan menggelegar seperti bunyi meriam dan menyelubungi mereka semua
    dengan asap biru, sementara dari dalamnya meletup topi laksamana berwarna
    merah bersama beberapa ekor tikus putih hidup. Di Meja Tinggi, Dumbledore
    telah menukar topi runcingnya dengan topi berbunga-bunga dan sedang
    tertawa-tawa mendengar lelucon yang dibacakan Profesor Flitwick.
    Puding Natal menyala dihidangkan setelah kalkun. Gigi Percy nyaris patah
    ketika dia menggigit Sickle perak yang terselip di potongan pudingnya. Harry
    memandang Hagrid yang wajahnya makin lama makin merah sementara dia
    terusmenerus minta tambah anggur, dan akhirnya mencium pipi Profesor
    McGonagall. Betapa tercengangnya Harry melihat Profesor McGonagall terkikik
    dan mukanya memerah, topinya miring.
    Ketika Harry akhirnya meninggalkan meja perjamuan, dia membawa banyak
    hadiah dari petasan, termasuk satu pak balon menyala anti pecah, seperangkat
    alat untuk menumbuhkan tahi lalatmu sendiri, dan set permainan catur sihir



    --------------------------------------- 121

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    barunya. Tikus-tikus putihnya telah menghilang dan Harry punya perasaan tak
    enak mereka akan berakhir sebagai santapan Natal Mrs Norris.
    Harry dan Weasley bersaudara melewatkan sore menyenangkan dengan
    perang bola salju seru di halaman.
    Setelah itu, kedinginan, basah kuyup, dan terengah kehabisan napas,
    mereka kembali ke depan perapian di ruang rekreasi Gryffindor. Di tempat itu
    Harry pertama kali memainkan set catur barunya dengan hasil kalah telak dari
    Ron. Dia merasa tidak akan kalah separah itu jika Percy tidak mencoba
    membantunya terus-menerus.
    Setelah acara minum teh sore dengan sajian sandwich kalkun, kue-kue
    manis, dan kue tar Natal, semua merasa terlalu kenyang dan mengantuk untuk
    melakukan sesuatu sebelum tidur. Jadi mereka duduk saja, menonton Percy
    mengejar Fred dan George mengitari Menara Gryffindor karena mereka telah
    mencuri lencana Prefeknya.
    Hari itu merupakan Natal paling indah bagi Harry. Meskipun demikian, ada
    yang mengganggu pikirannya sepanjang hari.
    Sebelum dia naik ke tempat tidurnya, dia tak bebas memikirkannya: Jubah
    Gaib dan pengirimnya yang entah siapa.
    Ron, kekenyangan kalkun dan kue tar dan tanpa ada hal misterius yang
    mengganggunya, langsung tertidur begitu dia menarik kelambu tempat
    tidurnya. Harry membungkuk ke sisi tempat tidurnya dan menarik keluar Jubah
    Gaib dari bawahnya.
    Milik ayahnya... ini dulu milik ayahnya. Dibiarkannya kain itu meluncur di
    tangannya, lebih halus dari sutra, seringan udara. Gunakan baik-baik, begitu
    kata suratnya.
    Dia haras mencoba jubah ini sekarang. Dia turun dari tempat tidurnya
    dan menyampirkan jubah itu ke tubuhnya.
    Memandang ke bawah ke kakinya, dia hanya melihat cahaya bulan dan
    bayang-bayang.
    Gunakan baik-baik.
    Mendadak, kantuk Harry lenyap. Seluruh Hogwarts terbuka untuknya
    kalau dia memakai jubah ini. Ketegangan menyenangkan mengaliri tubuhnya
    saat dia berdiri dalam kegelapan dan kesunyian. Dia bisa pergi ke mana pun
    dengan jubah ini, ke mana pun, dan Filch tidak akan tahu.
    Ron mengigau dalam tidurnya.
    Haruskah Harry membangunkannya? Ada yang menahannya jubah ayahnya
    dia merasa bahwa kali ini... untuk pertama kalinya... dia ingin
    menggunakannya sendiri.
    Dia berjingkat meninggalkan kamarnya, menuruni tangga, menyeberangi
    ruang rekreasi, dan memanjat keluar dari lubang lukisan.
    "Siapa itu?" lengking si Nyonya Gemuk. Harry tidak menjawab. Dia berjalan
    cepat-cepat sepanjang koridor.
    Ke mana sebaiknya? Harry berhenti, jantungnya berdegup kencang, dan dia
    berpikir. Dan dia mendapat ide. Seksi Terlarang di perpustakaan. Dia akan bisa
    membaca selama dia mau, selama yang dibutuhkan untuk menemukan siapa
    Flamel.



    --------------------------------------- 122

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dia ke perpustakaan, menarik Jubah Gaibnya semakin rapat sementara ia
    melangkah.
    Perpustakaan gelap gulita dan suasananya mengerikan. Harry menyalakan
    lampu agar bisa berjalan sepanjang deretan rak-rak buku. Lampunya seperti
    melayang di udara, dan meskipun Harry bisa merasakan tangannya memegangi
    lampu itu, pemandangan aneh ini membuatnya ngeri.
    Seksi Terlarang terletak di bagian paling belakang.
    Melangkah hati-hati melewati tali yang memisahkan buku-buku ini dari
    buku-buku lainnya di perpustakaan, Harry mengangkat lampunya agar bisa
    membaca judul-judulnya.
    Judul-judul itu tidak banyak membantunya. Huruf-huruf emasnya yang
    sudah mengelupas membentuk kata-kata dalam bahasa yang tidak bisa
    dipahami Harry. Beberapa buku bahkan tidak ada judulnya sama sekali. Satu
    buku bernoda gelap yang kelihatan mirip sekali darah. Bulu kuduk Harry
    berdiri. Mungkin itu cuma perasaannya, mungkin juga tidak, tetapi Harry
    merasa bisikan samar terdengar dari buku-buku itu, seakan mereka tahu ada
    orang yang seharusnya tidak berada di situ.
    Dia toh harus mulai. Setelah meletakkan lampunya dengan hati-hati di
    lantai, dia mencari buku yang tampilannya menarik di rak paling bawah.
    Sebuah buku besar hitam-perak menarik perhatiannya. Ditariknya keluar
    dengan susah payah, karena buku itu sangat berat. Harry meletakkannya di
    atas lututnya dan membukanya.
    Jeritan melengking membekukan darah memecah kesunyian buku itu
    menjerit! Harry cepat-cepat menutupnya kembali, tetapi jeritan itu terus
    terdengar, jerit melengking panjang yang memekakkan telinga.
    Harry terhuyung ke belakang dan menabrak lampunya, yang langsung
    padam. Panik mendengar langkahlangkah kaki mendekat di koridor di luar
    dijejalkannya kembali buku menjerit itu ke raknya, lalu dia lari. Dia
    berpapasan dengan Filch di dekat pintu. Mata Filch yang pucat dan lebar
    memandang menembusnya dan Harry menyelusup di bawah lengan Filch yang
    terentang dan berlari sepanjang koridor, jeritan si buku masih melengking di
    telinganya.
    Dia berhenti mendadak di depan seperangkat baju zirah tinggi. Dia terlalu
    sibuk kabur dari perpustakaan, sampai tidak memperhatikan arah larinya.
    Mungkin karena gelap, dia sama sekali tidak mengenali keadaan sekelilingnya.
    Ada baju zirah di dekat dapur, dia tahu, tetapi dia pasti berada lima lantai di
    atas dapur.
    "Kau memintaku untuk langsung menemuimu, Profesor, jika ada yang
    berkeliaran di malam hari, dan baru saja ada orang di perpustakaan Seksi
    Terlarang."
    Harry merasa wajahnya memucat. Di mana pun dia saat itu, Filch pastilah
    tahu jalan pintas, karena suaranya yang lembut dan lancar terdengar dekat,
    dan betapa kagetnya Harry, karena ternyata Snapelah yang menjawab.
    "Seksi Terlarang? Yah, mereka pasti belum jauh, kita akan menangkap
    mereka."



    --------------------------------------- 123

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry terpaku di tempatnya ketika Filch dan Snape muncul di sudut di
    depan. Mereka tak bisa melihatnya, tentu, tetapi koridor itu sempit dan jika
    mereka lebih mendekat lagi mereka akan menabraknya jubah itu tidak
    membuatnya menjadi tidak padat.
    Dia mundur sepelan mungkin. Ada pintu terbuka sedikit di sebelah kiri. Itu
    satu-satunya harapan. Dia menyelinap masuk, menahan napas, berusaha tidak
    menyenggol pintu, dan betapa leganya ketika dia berhasil masuk tanpa Snape
    dan Filch menyadarinya. Mereka berjalan terus dan Harry bersandar ke din-
    ding, menarik napas dalam-dalam, mendengarkan langkahlangkah mereka yang
    semakin jauh. Nyaris saja, sangat nyaris.
    Baru beberapa detik kemudian dia memperhatikan ruang tempatnya
    bersembunyi.
    Kelihatannya itu ruang kelas yang sudah tidak terpakai. Meja dan kursi
    bertumpuk di salah satu din-ding, juga tempat sampah terbuka, tetapi...
    bersandar pada dinding, menghadap ke arahnya, ada sesuatu yang tampaknya
    tidak layak berada di situ, sesuatu yang kelihatannya sengaja disembunyikan di
    situ.
    Benda itu cermin luar biasa, setinggi langit-langit, dengan bingkai emas
    terukir, berdiri di atas dua cakar. Ada tulisan terukir di bagian atasnya: Erised
    stra ehru oyt ube cafru oyt on wohsi.
    Kepanikannya mulai luntur setelah tak terdengar lagi suara Filch dan Snape.
    Harry bergerak mendekati cermin itu, ingin memandang dirinya, tetapi tak
    melihat bayangan apa pun. Dia melangkah sampai ke depan cermin.
    Dia harus menutup mulutnya dengan tangan untuk mencegahnya menjerit.
    Buru-buru dia membalik. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada
    ketika buku tadi menjerit karena dia tak hanya melihat dirinya di cermin...
    serombongan orang lain berdiri di belakangnya.
    Tetapi ruangan itu kosong. Dengan napas memburu, perlahan dia menoleh
    kembali ke cermin.
    Itu dia, terpantul di cermin, pucat dan ketakutan, dan di sana, di
    belakangnya, ada paling sedikit sepuluh orang lain. Harry menoleh lewat
    bahunya tetap saja tak ada orang. Apakah mereka semua juga tidak tampak?
    Apakah sebetulnya dia berada di ruangan penuh dengan orang-orang yang tidak
    tampak, dan keajaiban cermin itu justru memperlihatkan semua orang itu,
    yang tampak maupun yang tidak?
    Kembali Harry memandang cermin. Seorang wanita yang berdiri tepat di
    belakang bayangannya tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan. Harry
    mengulurkan tangan dan merasakan udara kosong di belakangnya. Jika wanita
    itu benarbenar ada di sana, dia akan bisa menyentuhnya, bayangan mereka
    sangat berdekatan, tetapi dia hanya merasakan udara wanita itu dan yang
    lain hanya ada di dalam cermin.
    Wanita itu sangat cantik. Rambutnya merah gelap dan matanya matanya
    persis mataku, pikir Harry, ber ingsut mendekat ke cermin. Hijau terang
    bentuknya persis sama, tetapi kemudian Harry melihat wanita itu menangis;
    tersenyum tetapi pada saat bersamaan, menangis. Laki-laki jangkung kurus



    --------------------------------------- 124

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    berambut hitam di sebelahnya, memeluknya. Laki-laki itu memakai kacamata,
    dan rambutnya berantakan sekali.
    Rambutnya mencuat di bagian belakang, persis seperti rambut Harry.
    Harry berada dekat sekali dengan cermin sekarang sehingga hidungnya
    nyaris menyentuh hidung bayangannya.
    "Mum?" bisiknya. "Dad?"
    Mereka hanya memandangnya, tersenyum. Dan perlahan-lahan Harry
    memandang wajah orang-orang lain di dalam cermin, dan melihat mata-mata
    hijau lain seperti matanya, hidung lain seperti hidungnya, bahkan seorang laki-
    laki tua kecil yang lututnya menonjol seperti Harry Harry sedang memandang
    keluarganya, untuk pertama kali dalam hidupnya.
    Keluarga Potter tersenyum dan melambai dan Harry balik menatap mereka
    dengan tak puas-puasnya, kedua tangannya menekan kaca, seakan dia berharap
    terjatuh ke dalamnya dan bergabung dengan mereka. Hatinya terasa sakit,
    setengah bahagia, setengah berduka.
    Berapa lama dia berdiri di sana, dia tidak tahu. Bayangan orang-orang itu
    tidak menghilang dan Harry memandang terus sampai suara di kejauhan
    membuatnya tersadar. Dia tak bisa terus berada di sini, dia harus kembali ke
    asramanya. Dengan amat enggan dia berpaling dari wajah ibunya, berbisik,
    "Aku akan kembali," dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
    ***
    "Kau seharusnya membangunkan aku," kata Ron marah.
    "Kau boleh ikut malam ini, aku akan ke sana lagi, aku ingin menunjukkan
    cermin itu kepadamu."
    "Aku ingin lihat ibu dan ayahmu," kata Ron bersemangat.
    "Dan aku ingin melihat semua keluargamu, kau akan bisa menunjukkan dua
    kakakmu yang paling besar dan keluargamu yang lain."
    "Kau bisa melihat mereka kapan saja," kata Ron. "Ikutlah ke rumahku musim
    panas ini. Lagi pula, mungkin cermin itu cuma menunjukkan orang-orang yang
    sudah meninggal. Sayang sekali kau tidak menemukan Flamel. Makan daging
    asap ini, atau apalah Kenapa kau tidak makan apa-apa?"
    Harry tak bisa makan. Dia sudah melihat orangtuanya dan akan melihat
    mereka lagi malam ini. Dia sudah hampir melupakan Flamel. Flamel
    kelihatannya tak begitu penting lagi, Siapa yang peduli apa yang dijaga anjing
    berkepala tiga itu?
    Sebetulnya, peduli apa kalau Snape mencurinya?
    "Kau tak apa-apa?" tanya Ron. "Kau tampak aneh."
    ***
    Yang paling ditakuti Harry adalah dia tak bisa lagi menemukan ruang cermin
    itu. Berselubung jubah, bersama Ron, mereka harus berjalan jauh lebih pelan
    pada malam berikutnya.
    Mereka mencoba napak tilas rute Harry dari perpustakaan, berputar-putar
    di lorong-lorong gelap selama hampir satu jam.
    "Aku kedinginan," kata Ron. "Ayo, kita lupakan saja dan balik ke kamar."
    "Tidak!" desis Harry. "Aku tahu ruang itu ada di sekitar sini."



    --------------------------------------- 125

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Mereka berpapasan dengan hantu penyihir jangkung yang melayang ke arah
    berlawanan, tetapi tidak bertemu siapa-siapa lagi. Tepat ketika Ron mulai
    mengeluh kakinya beku kedinginan, Harry melihat baju zirah itu.
    "Itu ruangannya di sini ya!" Mereka mendorong pintunya.
    Harry menjatuhkan jubah dari bahunya dan berlari ke cermin.
    Itu dia mereka. Ayah dan ibunya tersenyum melihatnya.
    "Lihat?" Harry berbisik.
    "Aku tidak melihat apa-apa."
    "Lihat! Lihat mereka semua... kan banyak itu...."
    "Aku cuma bisa melihatmu."
    "Lihat baik-baik, sini, berdiri di tempatku." Harry minggir, tetapi dengan
    Ron di depan cermin, dia tak bisa lagi melihat keluarganya, hanya melihat Ron
    yang memakai piama. Ron, sebaliknya, terpaku menatap bayangannya. "Lihat
    aku!"
    katanya. "Apakah kau bisa melihat semua keluargamu mengelilingimu?"
    "Tidak... aku sendirian... tetapi aku berbeda... aku kelihatan lebih tua...
    dan aku Ketua Murid!"
    "Apa?"
    "Aku... aku memakai lencana seperti yang dulu dipakai Bill...
    dan aku memegang Piala Asrama dan. Piala Quidditch... aku juga kapten
    Quidditch!" Ron memalingkan wajah dari pemandangan luar biasa ini untuk
    menatap Harry dengan bergairah.
    "Apakah menurutmu cermin ini memperlihatkan masa depan?"
    "Mana bisa? Semua keluargaku sudah meninggal coba aku lihat lagi...."
    "Kau kan sudah puas melihat semalam, beri aku kesempatan sedikit lagi."
    "Kau cuma memegang Piala Quidditch, apa menariknya?
    Aku ingin melihat orangtuaku."
    "Jangan mendorongku..." Mendadak terdengar suara di koridor, mengakhiri
    perdebatan mereka. Mereka tidak sadar telah bicara keras-keras.
    "Cepat!" Ron menyampirkan jubah ke tubuh mereka ketika mata berkilau
    Mrs Norris muncul dari balik pintu. Ran dan Harry berdiri diam-diam, keduanya
    memikirkan hal yang sama apakah jubah ini berlaku untuk kucing juga? Setelah
    rasanya lama sekali, kucing iru berbalik dan pergi.
    "Sudah tidak aman siapa tahu dia menemui Filch. Pasti tadi dia mendengar
    kita. Ayo." Dan Ron menarik Harry meninggalkan ruangan itu.
    ***
    Salju masih belum mencair keesokan harinya. "Mau main catur, Harry?"
    tanya Ron.
    "Tidak."
    "Bagaimana kalau kita mengunjungi Hagrid?"
    "Tidak... kau saja...."
    "Aku tahu apa yang kaupikirkan, Harry cermin itu. Jangan kembali ke sana
    malam ini."
    "Kenapa tidak?"
    "Aku tak tahu, cuma perasaanku tidak enak lagi pula, kau sudah nyaris
    ketahuan beberapa kali. Filch, Snape, dan Mrs Norris berkeliaran. Memang



    --------------------------------------- 126

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    mereka tidak bisa melihatmu. Tapi bagaimana kalau mereka menabrakmu?
    Bagaimana kalau kau menabrak sesuatu?"
    "Kau jadi seperti Hermione."
    "Aku serius, Harry, jangan pergi."
    Tapi Harry cuma memikirkan satu hal saja, yaitu kembali ke depan cermin,
    dan Ron tak bisa menghalanginya.
    ***
    Malam ketiga dia menemukan kamar itu lebih cepat daripada sebelumnya.
    Dia berjalan sangat cepat, dia tahu itu tidak bijaksana, sebab dia membuat
    suara, tetapi dia tidak bertemu siapa-siapa.
    Dan ayah dan ibunya tersenyum lagi kepadanya, dan salah satu kakeknya
    mengangguk-angguk senang. Harry merosot duduk di depan cermin. Tak ada
    yang bisa mencegahnya tinggal di sini semalam suntuk bersama keluarganya.
    Tak ada.
    Kecuali...
    "Wah... kembali lagi, Harry?"
    Harry merasa seakan organ-organ tubuhnya telah berubah jadi es. Dia
    menoleh ke belakang. Duduk di salah satu meja dekat dinding, tak lain dan tak
    bukan adalah Albus Dumbledore.
    Harry pastilah tadi melewatinya, begitu bersemangat ingin segera ke cermin
    sampai dia tidak melihatnya.
    "Saya... saya tidak melihat Anda, Sir."
    "Aneh, bagaimana 'tidak kelihatan' membuatmu rabun," kata Dumbledore,
    dan Harry lega melihatnya tersenyum.
    "Jadi," kata Dumbledore, turun dari meja untuk duduk di lantai bersama
    Harry, "kau, seperti beratusratus orang lainnya sebelum kau, telah menemukan
    kesenangan yang bisa didapat dari Cermin Tarsah."
    "Saya tak tahu namanya begitu, Sir."
    "Tapi kurasa sekarang kau sudah menyadari apa yang dilakukan cermin itu?"
    "Cermin itu... cermin itu memperlihatkan keluarga saya..."
    "Dan memperlihatkan kepada Ron dirinya sebagai Ketua Murid."
    "Bagaimana Anda tahu...?"
    "Aku tak memerlukan jubah agar bisa tidak kelihatan," kata Dumbledore
    lembut. "Nah, sekarang, bisakah kaupikirkan apa yang ditunjukkan Cermin
    Tarsah kepada kita semua?"
    Harry menggeleng.
    "Biar kujelaskan. Orang yang paling bahagia di dunia bisa menggunakan
    Cermin Tarsah seperti cermin biasa, yaitu, kalau dia memandang cermin itu dia
    hanya melihat dirinya seperti apa adanya. Apakah ini membantu?"
    Harry berpikir. Kemudian dia berkata perlahan, "Cermin itu memperlihatkan
    kepada kita apa yang kita inginkan... apa saja yang kita inginkan..."
    "Ya dan tidak," kata Dumbledore pelan. "Cermin itu hanya menunjukkan
    hasrat hati kita yang paling mendalam. Kau, yang tidak pernah kenal
    keluargamu, melihat mereka berdiri mengelilingimu. Ronald Weasley yang
    selalu merasa minder dengan kesuksesan kakakkakaknya, melihat dirinya
    berdiri sendiri, menjadi yang terbaik di antara mereka. Bagaimanapun juga,



    --------------------------------------- 127

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    cermin ini tidak memberi kita baik pengetahuan maupun kebenaran. Banyak
    orang sudah tersia-sia di depan cermin ini, terpesona oleh apa yang mereka
    lihat, atau jadi gila karenanya, karena tak tahu apakah yang diperlihatkan
    cermin itu riil atau bahkan mungkin.
    "Besok cermin ini akan dipindahkan ke tempat baru, Harry dan aku
    memintamu agar tidak mencarinya lagi. Jika suatu kali nanti kau kebetulan
    melihatnya lagi, kau sudah siap. Tak ada gunanya memikirkan impian berlama-
    lama sampai lupa hidup,
    ingat itu. Nah, sekarang bagaimana kalau kaupakai lagi jubah istimewa itu
    dan pergi tidur?"
    Harry bangkit. "Sir Profesor Dumbledore? Boleh saya bertanya sesuatu?"
    "Jelas, kau baru saja bertanya," Dumbledore tersenyum.
    "Tapi kau boleh tanya satu hal lagi."
    "Apa yang Anda lihat kalau Anda memandang cermin itu?"
    "Aku? Aku melihat diriku memegang sepasang kaus kaki wol tebal."
    Harry melongo.
    "Semua orang selalu membutuhkan kaus kaki baru," kata Dumbledore. "Natal
    sudah berlalu lagi dan aku tak dapat kaus kaki sepasang pun. Orang-orang
    bersikeras memberiku buku."
    Baru ketika dia sudah kembali di tempat tidurnya, terlintas di benak Harry
    bahwa Dumbledore mungkin tidak sepenuhnya jujur. Tetapi, pikir Harry seraya
    mendorong Scabbers dari bantalnya, pertanyaannya tadi cukup pribadi.
    ***
    13. Nicolas Flamel
    DUMBLEDORE telah meyakinkan Harry agar tidak mencari-cari Cermin
    Tarsah lagi dan selama sisa liburan Natal, Jubah gaib tetap terlipat di dasar
    koper Harry. Harry ingin sekali segera melupakan apa yang pernah di lihatnya
    di cermin. tetapi tidak bisa. Dia mulai mendapat mimpi buruk. Berkali-kali dia
    bermimpi tentang orang tuanya yang menghilang dalam kilatan cahaya hijau
    sementara terdengar tawa tinggi melengking.
    "Lihat, kan, Dumbledore benar. Cermin itu bisa membuatmu gila," kata Ron,
    ketika Harry bercerita tentang mimpi buruknya.
    Hermione, yang kembali sehari sebelum semester baru dimulai, punya
    pandangan lain tentang kejadian itu. Dia setengahnya merasa ngeri
    membayangkan Harry meninggalkan kamar, berkeliaran di sekolah selama tiga
    malam berturut-turut ("Bagaimana kalau Filch menangkapmu!") dan
    setengahnya merasa kecewa karena dia tidak berhasil menemukan siapa Nicolas
    Flamel.
    Mereka sudah nyaris kehilangan harapan menemukan Flamel dalam buku
    perpustakaan, meskipun Harry masih yakin dia pernah membaca nama itu
    entah di mana. Begitu semester baru mulai, mereka kembali membuka-buka
    buku selama sepuluh menit dalam waktu istirahat mereka. Waktu Harry bahkan



    --------------------------------------- 128

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    lebih sedikit dari kedua temannya, karena masa latihan Quidditch sudah mulai
    lagi.
    Wood melatih timnya lebih keras dari sebelumnya. Bahkan hujan yang turun
    terus menggantikan salju tidak mematahkan semangatnya. Si kembar Weasley
    mengeluh Wood telah menjadi fanatik, tetapi Harry memihak Wood. Jika
    mereka memenangkan pertandingan berikutnya, melawan Hufflepuff, mereka
    akan menyusul Slytherin dalam Kejuaraan Antar-Asrama untuk pertama kalinya
    dalam tujuh tahun. Lepas dari keinginan untuk menang, Harry menyadari
    bahwa mimpi buruknya berkurang jika dia kelelahan sehabis berlatih.
    Kemudian, dalam satu sesi latihan di bawah hujan deras dan berlumpur,
    Wood menyampaikan kabar buruk kepada timnya.
    Dia baru saja marah besar kepada si kembar Weasley yang tak henti-
    hentinya saling serang dan berpura-pura terpeleset dari sapu mereka.
    "Kalian bisa tidak sih berhenti main-main!" teriaknya.
    "Tindakan seperti itulah yang akan membuat kita kalah dalam pertandingan!
    Snape akan jadi wasit kali ini dan dia akan mencari-cari segala alasan untuk
    mengurangi angka Gryffindor!"
    George Weasley benar-benar jatuh dari sapunya mendengar ini.
    "Snape jadi wasit?" katanya dengan mulut penuh lumpur.
    "Kapan dia pernah jadi wasit pertandingan Quidditch? Dia pasti tidak akan
    bersikap adil jika ada kemungkinan kita menyusul Slytherin." Anggota tim lain
    mendarat di sisi George untuk ikut mengeluh.
    "Bukan salahku," kata Wood. "Yang jelas kita harus menjamin bahwa kita
    bermain bersih, sehingga Snape tak akan punya alasan untuk menyalahkan
    kita."
    Boleh saja begitu, pikir Harry, tetapi dia punya alasan lain tidak
    menginginkan Snape berada di dekatnya selagi dia bermain Quidditch....
    Anggota tim yang lain masih tinggal mengobrol seperti biasanya seusai
    latihan, tetapi Harry langsung kembali ke ruang rekreasi Gryffindor. Ron dan
    Hermione sedang bermain catur di situ. Catur adalah satu-satunya kegiatan
    yang Hermione bisa kalah, sesuatu yang menurut Harry dan Ron sangat baik
    untuknya.
    "Jangan dulu bicara padaku," kata Ron ketika Harry duduk di sebelahnya.
    "Aku perlu konsen..." Terlihat olehnya wajah Harry. "Kenapa kau? Kau kelihatan
    sakit."
    Bicara pelan-pelan supaya tak ada yang mendengar, Harry memberitahu
    kedua temannya tentang keinginan mendadak Snape untuk menjadi wasit
    Quidditch.
    "Jangan main," kata Hermione segera.
    "Bilang saja kau sakit," kata Ron.
    "Pura-pura kakimu patah," Hermione mengusulkan.
    "Patahkan benar-benar saja," kata Ron.
    "Tidak bisa," kata Harry. "Tak ada Seeker cadangan. Kalau aku mundur,
    Gryffindor sama sekali tak bisa main."
    Saat itu Neville terguling masuk ke ruang rekreasi.



    --------------------------------------- 129

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Bagaimana dia bisa memanjat lubang lukisan tak bisa ditebak, karena
    kakinya saling menempel. Penyebabnya langsung mereka kenali, Kutukan Kaki
    Terkunci. Dia pastilah harus melompat-lompat naik ke Menara Gryffindor.
    Semua tertawa, kecuali Hermione. Dia langsung melompat bangun dan
    mengucapkan mantra kontrakutukan. Kaki Neville terpisah dan dia berdiri,
    gemetar.
    "Apa yang terjadi?" Hermione bertanya kepadanya, mengajaknya duduk di
    dekat Harry dan Ron.
    "Malfoy," kata Neville gemetar. "Aku bertemu dia di depan perpustakaan.
    Dia bilang dia sedang mencari-cari anak yang bisa dipakainya melatih kutukan
    itu."
    "Temui Profesor McGonagall!" Hermione mendorong Neville. "Laporkan dia!"
    Neville menggeleng.
    "Aku tak mau menambah keruwetan," gumamnya.
    "Kau harus berani menghadapinya, Neville!" kata Ron. "Dia terbiasa berbuat
    semena-mena. terhadap orang lain, tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk
    menyerah dan tidak menyulitkannya."
    "Tak perlu memberitahu kalau aku tidak cukup berani untuk menjadi
    anggota Gryffindor. Malfoy Sudah melakukannya,"kata Neville tersendat.
    Harry merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan Cokelat Kodok, cokelat
    terakhir dari kotak hadiah Natal Hermione.
    Diberikannya kepada Neville, yang kelihatannya mau menangis.
    "Kau berharga dua belas kali lipat Malfoy," kata Harry. "Topi Seleksi
    memilihmu untuk Gryffindor, kan? Dan di mana Malfoy? Di Slytherin yang bau."
    Bibir Neville bergetar membentuk senyum lemah ketika dia membuka
    bungkus Cokelat Kodok. "Terima kasih, Harry...
    kurasa aku akan tidur... Kau mau kartunya? Kau koleksi, kan?"
    Setelah Neville pergi, Harry memandang kartu Penyihir Terkenalnya.
    "Dumbledore lagi," katanya. "Dia yang pertama..."
    Harry tercekat kaget. Terbelalak memandang bagian belakang kartunya.
    Kemudian dia mendongak, memandang Ron dan Hermione.
    "Sudah kutemukan dia!" bisiknya. "Aku sudah menemukan Flamel! Sudah
    kukatakan aku pernah membaca namanya entah di mana sebelumnya. Rupanya
    aku membacanya di kereta api yang membawaku ke sini dengar ini, 'Profesor
    Dumbledore khususnya terkenal karena berhasil mengalahkan penyihir aliran
    hitam Grindelwald pada tahun 1945, penemuannya untuk dua belas kegunaan
    darah naga, dan karyanya di bidang alkimia yang dikerjakannya bersama
    mitranya, Nicolas Flamel!"
    Hermione langsung melompat berdiri. Belum pernah dia kelihatan
    segembira ini sejak mereka mendapat nilai untuk PR pertama mereka dulu.
    "Tunggu di sini!" katanya, dan dia berlari menaiki tangga ke kamar anak-
    anak perempuan. Harry dan Ron baru sempat bertukar pandang heran ketika
    dia sudah kembali sambil memeluk buku yang sangat besar.
    "Tak pernah terpikir olehku untuk mencari di sini!" bisiknya tegang. "Aku
    pinjam ini dari perpustakaan beberapa minggu lalu untuk bacaan ringan."



    --------------------------------------- 130

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Ringan?" kata Ron, tetapi Hermione menyuruhnya diam sampai dia
    menemukan sesuatu, lalu dia mulai membuka-buka buku itu dengan cepat,
    seraya bergumam sendiri.
    Akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya.
    "Sudah kuduga! Sudah kuduga!"
    "Apa kami sudah boleh ngomong sekarang?" gerutu Ron.
    Hermione tidak mengacuhkannya. "Nicolas Flamel," bisiknya dramatis,
    "adalah satusatunya yang dikenal sebagai pembuat Batu Bertuah!" Ucapannya
    ini tidak menghasilkan efek yang di harapkan Hermione.
    "Batu apa?" tanya Harry dan Ron. "Oh, astaga, apa kalian berdua tidak
    membaca? Lihat... baca ini." Didorongnya buku itu ke arah mereka, dan Harry
    dan Ron membaca: Ilmu kuno alkimia berkenaan dengan pembuatan Batu
    Bertuah, benda legendaris dengan kekuatan gaib luar biasa. Batu ini akan
    mengubah logam apa saja menjadi emas murni. Batu ini juga menghasilkan
    Cairan Kehidupan, yang akan membuat peminumnya hidup selamanya.
    Selama berabad-abad ini banyak laporan tentang Batu Bertuah, tetapi satu-
    satunya batu yang saat ini ada adalah milik Mr Nicolas Flamel, ahli alkimia
    terkenal dan pecinta opera.
    Mr Flamel, yang tahun lalu merayakan ulang tahunnya yang keenam ratus
    enam puluh lima tahun, menikmati hidup tenang di Devon bersama istrinya,
    Perenelle (enam ratus lima puluh delapan tahun).
    "Tahu, kan, sekarang?" kata Hermione, ketika Harry dan Ron selesai
    membaca. "Anjing itu pastilah menjaga Batu Bertuah milik Flamel! Aku berani
    taruhan dia pasti menitipkannya kepada Dumbledore karena mereka
    bersahabat, dan dia tahu ada orang yang menginginkan batu itu. Itulah
    sebabnya dia ingin batu itu dipindahkan dari Gringotts!"
    "Batu yang membuat emas dan membuatmu tak bisa mati!"
    kata Harry "Pantas saja Snape menginginkannya! Semua orang pasti
    menginginkannya."
    "Dan pantas saja kita tidak bisa menemukan Flamel dalam buku
    Perkembangan Terakhir dalam Dunia Sihir," kata Ron.
    "Dia belum masuk kategori itu jika umurnya baru enam ratus enam puluh
    lima, kan?"
    Esok paginya, dalam pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, sementara
    mencatat berbagai cara merawat gigitan manusia serigala, Harry dan Ron masih
    mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan dengan Batu Bertuah jika mereka
    memilikinya. Ketika Ron mengatakan bahwa dia akan membeli tim Quidditch
    sendiri, barulah Harry teringat akan Snape dan pertandingan Quidditch-nya
    yang akan datang.
    "Aku akan main," katanya kepada Ron dan Hermione.
    "Kalau tidak, semua anak Slytherin akan mengira aku takut menghadapi
    Snape. Akan ku tunjukkan kepada mereka...
    senyum akan tersingkir dari wajah mereka kalau kita menang."
    "Asal bukan malah kau sendiri yang tersingkir dari lapangan," kata
    Hermione.
    ***



    --------------------------------------- 131

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Semakin dekat hari pertandingan, Harry semakin cemas, walaupun dia tidak
    mengatakan begitu kepada Ron dan Hermione. Para anggota tim lainnya juga
    tidak begitu tenang.
    Ide menyusul Slytherin dalam Kejuaraan Antar-Asrama sungguh
    menyenangkan, belum pernah ada yang berhasil selama tujuh tahun ini, tetapi
    bisakah mereka melakukannya dengan wasit yang begitu memihak?
    Harry tak tahu apakah ini hanya sekadar khayalannya saja atau bukan,
    tetapi rasanya dia selalu bertemu Snape, ke mana pun dia pergi. Kadang-
    kadang dia jadi bertanya-tanya sendiri, apakah Snape membuntutinya,
    mencari-cari kesempatan untuk bisa menangkapnya kalau sedang sendirian.
    Pelajaran Ramuan sudah berubah menjadi siksaan mingguan, karena Snape
    bersikap sangat menyebalkan terhadap Harry. Mungkinkah Snape tahu bahwa
    Harry dan kedua sahabatnya tahu tentang Batu Bertuah? Rasanya tidak mungkin
    tetapi kadang-kadang Harry merasa bahwa Snape bisa membaca pikiran
    orang.
    ***
    Harry tahu, ketika mengucapkan selamat bertanding di luar kamar ganti,
    Ron dan Hermione dalam hati bertanya-tanya apakah mereka masih akan
    melihatnya dalam keadaan hidup.
    Ini tak bisa dibilang menyenangkan. Harry nyaris tidak mendengar nasihat
    Wood ketika dia memakai jubah Quidditch dan mengambil Nimbus Dua Ribu-
    nya.
    Ron dan Hermione, sementara itu, telah mendapatkan tempat duduk di
    tribun dekat Neville yang tidak bisa mengerti mengapa mereka berdua
    kelihatan begitu muram dan cemas, ataupun kenapa mereka berdua membawa
    tongkat ke pertandingan. Harry sama sekali tak tahu bahwa Ron dan Hermione
    diamdiam telah berlatih Kutukan Kaki Terkunci.
    Mereka mendapat ide ini dari Malfoy yang menggunakannya pada Neville,
    dan mereka siap menggunakannya pada Snape jika dia menunjukkan tanda-
    tanda ingin mencelakakan Harry.
    "Jangan lupa, mantranya Locomotor Mortis," Hermione bergumam ketika
    Ron menyelipkan tongkatnya ke dalam lengan jubahnya.
    "Sudah tahu," tukas Ron. "Jangan cerewet." Di dalam kamar ganti, Wood
    mengajak Harry bicara berdua.
    "Bukannya aku mau menekanmu, Potter, tetapi kalau sampai ada kebutuhan
    untuk menangkap Snitch seawal mungkin, sekaranglah saatnya. Selesaikan
    pertandingan sebelum Snape bisa terlalu banyak memihak Hufflepuff."
    "Seluruh sekolah ada di luar sana!" kata Fred Weasley, mengintip dari pintu.
    "Bahkan... astaga... Dumbledore juga nonton!"
    Jantung Harry jumpalitan.
    "Dumbledore?" katanya seraya berlari ke pintu untuk melihat sendiri. Fred
    benar. Jenggot perak itu tak mungkin keliru.
    Ingin rasanya Harry tertawa keras-keras saking leganya. Dia aman. Jelas
    Snape tak akan berani mencoba mencelakainya jika ada Dumbledore.
    Mungkin itulah sebabnya Snape kelihatan marah sekali ketika kedua tim
    berjalan memasuki lapangan. Ron juga melihatnya.



    --------------------------------------- 132

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Belum pernah kulihat Snape segalak ini," katanya kepada Hermione.
    "Lihat... mereka mulai. Ouch!"
    Ada yang menyodok belakang kepala Ron. Malfoy.
    "Oh, sori, Weasley aku tidak lihat kau di situ."
    Malfoy nyengir lebar kepada Crabbe dan Goyle.
    "Berapa lama Potter bisa bertahan di atas sapunya kali ini, ya? Ada yang
    mau bertaruh? Bagaimana kalau kau, Weasley?"
    Ron tidak menjawab. Snape baru saja memberikan penalti kepada
    Hufflepuff karena George Weasley telah melempar Bludger kepadanya.
    Hermione yang menyilangkan semua jarinya di atas pangkuan untuk
    mendapatkan keberuntungan
    memandang lekat-lekat pada Harry yang berputar-putar mengitari tim yang
    bertanding, mencari-cari Snitch.
    "Kalian tahu bagaimana menurutku cara mereka memilih anggota tim
    Gryffindor?" kata Malfoy keraskeras beberapa menit kemudian, ketika Snape
    kembali menghadiahkan lemparan penalti kepada Hufflepuff tanpa alasan apa
    pun.
    "Yang dipilih orang-orang yang memang patut dikasihani. Lihat saja ada si
    Potter, yang tidak punya orangtua, lalu si kembar Weasley, yang tidak punya
    uang. Kau mestinya masuk tim, Longbottom. Kau kan tidak punya otak."
    Wajah Neville merah padam, tetapi dia berbalik di tempat duduknya untuk
    menghadapi Malfoy. "Aku berharga dua belas kali lipat dirimu, Malfoy" katanya
    tergagap.
    Malfoy Crabbe, dan Goyle tertawa terbahak-bahak, tetapi Ron yang masih
    tidak berani mengalihkan pandangannya dari pertandingan berkata, "Kau benar,
    Neville."
    "Longbottom, kalau otak terbuat dari emas, kau lebih miskin daripada si
    Weasley. Uh, parah banget deh."
    Saraf Ron sudah tegang sekali saking cemasnya ia pada Harry.
    "Kuperingatkan kau, Malfoy satu kata lagi..."
    "Ron!" seru Hermione tiba-tiba. "Harry...!"
    "Apa? Di mana?"
    Harry mendadak melakukan tukikan luar biasa, membuat para penonton
    terpekik kagum dan bersorak riuh. Hermione berdiri, jarinya tersilang di depan
    mulutnya ketika Harry melesat ke bawah seperti luncuran peluru.
    "Kau beruntung, Weasley. Potter rupanya melihat kepingan uang di tanah!"
    kata Malfoy.
    Kesabaran Ron habis sudah. Sebelum Malfoy sadar apa yang terjadi, Ron
    sudah berada di atas tubuhnya, memitingnya ke tanah. Neville ragu-ragu,
    kemudian memanjat punggung bangkunya untuk membantu.
    "Ayo, Harry!" jerit Hermione, melompat naik ke atas bangkunya agar bisa
    melihat lebih jelas ketika Harry meluncur tepat ke arah Snape. Hermione
    bahkan tidak menyadari Malfoy dan Ron yang bergulingan di bawah tempat
    duduknya, ataupun baku hantam dan pekikan-pekikan yang bermunculan dari
    tengah hujan pukulan yang berasal dari Neville, Crabbe, dan Goyle.



    --------------------------------------- 133

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Tinggi di angkasa, Snape berputar di atas sapunya, tepat ketika kelebatan
    warna merah meluncur melewatinya, hanya beberapa senti darinya detik
    berikutnya, Harry sudah menghentikan tukikannya, kedua lengannya terangkat
    penuh kemenangan, Snitch tergenggam di tangannya.
    Penonton meledak riuh-rendah. Sungguh ini rekor, tak seorang pun ingat
    Snitch pernah berhasil ditangkap secepat ini.
    "Ron! Ron! Di mana kau? Pertandingan sudah selesai! Harry menang!
    Kita menang!
    Gryffindor memimpin!" teriak Hermione, melonjak-lonjak kegirangan di
    tempat duduknya dan memeluk Parvati Patil yang duduk di depannya.
    Harry melompat turun dari sapunya, tiga puluh senti dari tanah. Dia tak
    mempercayainya. Dia telah berhasil permainan telah usai, padahal baru
    berlangsung tak lebih dari lima menit.
    Ketika anak-anak Gryffindor membanjir masuk lapangan, Harry melihat
    Snape mendarat di dekatnya, wajahnya pucat, bibirnya tegang. Kemudian
    Harry merasakan sentuhan tangan di bahunya, ia mendongak dan memandang
    wajah Dumbledore yang tersenyum.
    "Bagus sekali," kata Dumbledore pelan, sehingga hanya Harry yang bisa
    mendengarnya. "Senang melihatmu tidak terus memikirkan cermin itu... kau
    menyibukkan diri... luar biasa...."
    Snape meludah dengan getir ke tanah.
    ***
    Harry meninggalkan kamar ganti sendirian beberapa waktu kemudian, untuk
    mengembalikan Nimbus Dua Ribu-nya ke dalam ruang penyimpanan sapu.
    Belum pernah dia merasa seriang ini. Dia benar-benar telah melakukan sesuatu
    yang bisa dibanggakan sekarang tak seorang pun bisa mengatakan lagi dia
    cuma sekadar nama terkenal. Udara malam belum pernah seharum ini. Dia
    melangkah di atas rumput lembap, mengenang kembali kejadian satu jam
    terakhir ini. Kilasan yang membahagiakan: anak-anak Gryffindor berlarian
    mendekat untuk mengangkatnya ke atas bahu mereka; Ron dan Hermione di
    kejauhan, melonjak-lonjak kegirangan. Ron bersorak walaupun hidungnya
    berdarah.
    Harry telah tiba di kamar sapu. Dia bersandar di pintu kayu dan mendongak
    menatap Hogwarts, dengan jendela-jendelanya yang berkilau merah tertimpa
    cahaya matahari terbenam.
    Gryffindor memimpin.
    Dia telah berhasil, dia telah membuktikan kepada Snape...
    Dan ngomong-ngomong tentang Snape...
    Sesosok tubuh berkerudung menuruni undakan depan kastil dengan cepat.
    Jelas tak ingin dilihat orang, dia berjalan secepat mungkin menuju ke Hutan
    Terlarang. Kemenangan memudar dari benak Harry saat dia mengawasi sosok
    itu. Dia mengenali gaya jalannya. Snape, sembunyi-sembunyi ke dalam Hutan
    ketika yang lain sedang makan malam apa yang sedang terjadi sebetulnya?
    Harry kembali melompat ke atas Nimbus Dua Ribu dan terbang. Melayang
    diam-diam di atas kastil, dia melihat Snape berlari memasuki Hutan. Dia
    membuntuti.



    --------------------------------------- 134

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Pepohonan begitu lebat sehingga dia tidak bisa melihat ke mana Snape.
    Harry terbang berputar-putar, makin lama makin rendah, menyentuh ranting-
    ranting atas pepohonan, sampai dia mendengar suara-suara. Dia meluncur ke
    arah suara-suara itu dan mendarat tanpa bunyi di pohon beech besar di
    dekatnya.
    Hati-hati dia merambat di salah satu dahan, memegang sapunya erat-erat,
    mencoba mengintip melalui celah-celah dedaunan.
    Di bawah, di tempat terbuka yang teduh, Snape berdiri, tetapi dia tidak
    sendirian. Quirrell juga ada di sana. Harry tidak bisa melihat ekspresi wajahnya
    dengan jelas, tetapi dia tergagap lebih parah daripada biasanya. Harry
    berusaha keras menangkap apa yang mereka bicarakan.
    "... tid-tidak tahu kenapa kau m-m-mau b-bertemu di sini, Severus..."
    "Oh, kupikir kita harus merahasiakan ini," kata Snape, suaranya dingin.
    "Murid-murid kan tidak boleh tahu tentang Batu Bertuah." Harry membungkuk
    ke depan.
    Quirrell menggumamkan sesuatu. Snape menyelanya. "Apa kau sudah
    menemukan cara bagaimana bisa melewati binatang piaraan Hagrid itu?"
    "T-t-tapi, Severus, aku..."
    "Kau tak ingin aku jadi musuhmu, kan, Quirrell," kata Snape, maju ke depan
    satu langkah.
    "A-aku t-tak tahu apa..."
    "Kau tahu persis apa maksudku." Seekor burung hantu menjerit keras dan
    Harry nyaris terjatuh dari pohon. Dia berhasil menenangkan diri dan sempat
    mendengar Snape berkata, "... hokuspokus kecilmu, aku menunggu."
    "T-tapi aku t-t-tidak..."
    "Baiklah," Snape menukas. "Kita akan mengobrol lagi lain waktu, kalau kau
    sudah sempat memikirkan hal ini dan memutuskan mau setia kepada siapa."
    Snape menyampirkan jubahnya ke atas kepalanya dan melangkah
    meninggalkan tempat terbuka itu. Hari sudah hampir gelap sekarang, tetapi
    Harry bisa melihat Quirrell, berdiri diam, seakan membatu.
    ***
    "Harry, dari mana saja kau?" seru Hermione nyaring. "Kita menang! Kau
    menang!" teriak Ron, seraya menepuk punggung Harry. "Dan kupukul mata
    Malfoy sampai biru dan Neville mencoba menghadapi Crabbe dan Goyle
    sendirian! Dia masih pingsan, tetapi Madam Pomfrey bilang dia akan sembuh
    tahu rasa Slytherin! Semua menunggumu di ruang rekreasi, kita akan pesta.
    Fred dan George mencuri kue dan makanan lain dari dapur."
    "Itu nanti saja," kata Harry tersengal. "Ayo, kita cari ruang kosong, tunggu
    sampai kalian mendengar ini...."
    Harry memastikan Peeves tidak ada di dalam sebelum menutup pintu di
    belakang mereka, baru dia menceritakan kepada kedua temannya apa yang
    telah dilihat dan didengarnya.
    "Jadi kita benar, rupanya itu Batu Bertuah, dan Snape berusaha memaksa
    Quirrell membantunya mencurinya. Dia bertanya kalau-kalau Quirrell tahu cara
    melewati Fluffy dan dia juga bilang soal 'hokuspokus' Quirrell kurasa ada yang
    lain yang melindungi batu, selain Fluffy. Mungkin berbagai jimat dan jampi-



    --------------------------------------- 135

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    jampi, dan Quirrell pastilah telah memberikan mantra-mantra Anti-Sihir Hitam
    yang harus ditembus Snape..."
    "Jadi, maksudmu batu itu aman hanya jika Quirrell masih bertahan
    menentang Snape?" tanya Hermione cemas.
    "Tidak sampai Selasa juga sudah hilang, kalau begitu," kata Ron.
    ***
    14. Nobert Si Naga Punggung Bersirip Norwegia
    QUIRRELL, ternyata, lebih berani daripada dugaan mereka. Dalam minggu-
    minggu berikutnya memang dia tampak lebih pucat dan kurus , tetapi
    kelihatannya dia belum menyerah.
    Setiap kali melewati koridor lantai tiga, Harry, Ron, dan Hermione
    menempelkan telinga mereka ke pintu untuk mengecek apakah Fluffy masih
    menggeram di dalam. Snape berkeliaran ke sana kemari, marahmarah seperti
    biasa, yang berarti Batu Bertuah itu masih aman. Setiap kali berpapasan
    dengan Quirrell, Harry tersenyum untuk menyemangatinya, dan Ron mulai
    menegur anak-anak yang menertawakan Quirrell yang gagap.
    Tetapi Hermione banyak memikirkan hal lain selain Batu Bertuah. Dia telah
    mulai merevisi jadwal belajarnya dan memberi kode-kode warna pada
    catatancatatannya. Harry dan Ron sebenarnya tidak keberatan, tetapi
    Hermione tak henti-hentinya mendesak mereka untuk melakukan hal yang
    sama.
    "Hermione, ujiannya masih lama sekali." "Dua setengah bulan lagi," tukas
    Hermione. "Itu tidak lama, buat Nicolas Flamel itu cuma sekejap."
    "Tapi kita kan belum enam ratus tahun," Ron mengingatkan.
    "Lagi pula, untuk apa kau belajar lagi, kau kan sudah hafal semuanya."
    "Untuk apa aku belajar lagi? Kalian gila? Kalian sadar kan kita harus lulus
    supaya bisa naik ke kelas dua? Belajar penting sekali, aku seharusnya sudah
    mulai sebulan yang lalu. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku...."
    Celakanya, para guru berpikiran sama dengan Hermione.
    Mereka membebani anak-anak dengan begitu banyak PR, sehingga liburan
    Paskah tidak seasyik liburan Natal. Sulit bersantai bila Hermione ada di sebelah
    mereka, sibuk mengulang-ulang dua belas kegunaan darah naga atau berlatih
    gerakan-gerakan tongkat sihir. Mengeluh dan menguap, Harry dan Ron
    melewatkan sebagian besar waktu luang mereka di perpustakaan bersama
    Hermione, berusaha menyelesaikan tugas-tugas tambahan mereka.
    "Aku tak akan pernah ingat ini," celetuk Ron suatu sore, seraya melempar
    pena bulunya dan memandang keluar penuh kerinduan lewat jendela
    perpustakaan. Hari itu hari pertama yang benar-benar cerah setelah berbulan-
    bulan diliputi salju.
    Langit biru terang, dan suasana menyiratkan musim panas akan segera
    datang.



    --------------------------------------- 136

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry, yang sedang membaca "Dittany" di buku Seribu Satu Tanaman dan
    Jamur Gaib, tidak mendongak sampai Ron berseru, "Hagrid, ngapain kau di
    sini?"
    Hagrid muncul, menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya. Dia
    kelihatan janggal berada di perpustakaan memakai jubah kulit tikus
    mondoknya.
    "Cuma cari sesuatu," katanya dengan suara mencurigakan sehingga mereka
    langsung tertarik. "Dan kalian sendiri sedang ngapain?" Mendadak dia kelihatan
    curiga. "Kalian tidak sedang cari Nicolas Flamel, kan?"
    "Oh, kami sudah lama tahu siapa dia," kata Ron mengesankan. "Dan kami
    tahu apa yang dijaga anjing itu, Batu Ber..."
    "Sshhh!" Hagrid cepat-cepat memandang berkeliling, untuk melihat apakah
    ada yang mendengar. "Jangan teriak-teriak soal itu. Kau ini kenapa sih?"
    "Ada yang ingin kami tanyakan kepadamu sebetulnya," kata Harry. "Yaitu,
    apa saja yang menjaga batu itu selain Fluffy..."
    "SSHHH!" kata Hagrid lagi. "Dengar datang temui aku nanti, aku tidak janji
    mau kasih tahu apa-apa, tapi jangan buka rahasia di sini. Murid tidak boleh
    tahu. Mereka akan kira aku beritahu kalian."
    "Sampai ketemu nanti, kalau begitu," kata Harry.
    Hagrid keluar perpustakaan.
    "Apa yang disembunyikannya di belakang punggung?" tanya Hermione
    berpikir-pikir.
    "Apa mungkin ada hubungannya dengan batu itu?"
    "Aku mau tahu dia tadi ada di seksi buku apa," kata Ron, yang sudah bosan
    belajar. Semenit kemudian dia muncul lagi membawa setumpuk buku yang
    diempaskannya ke atas meja.
    "Naga!" bisiknya, "Hagrid mencari informasi ten-tang naga!
    Lihat ini: Spesies Naga di Britania Raya dan Irlandia; Dari Telur ke Neraka,
    Penuntun Pemelihara Naga."
    "Sudah lama Hagrid kepingin punya naga. Dia bilang begitu kepadaku waktu
    pertama kali aku bertemu dia," kata Harry.
    "Tapi itu melanggar undang-undang," kata Ron.
    "Penangkaran naga sudah dilarang oleh Konvensi Sihir tahun 1709, semua
    orang tahu itu. Susah menjaga agar Muggle tidak mengetahui keberadaan kita
    jika kita memelihara naga di halaman belakang lagi pula, kau tidak bisa
    menjinakkan naga,
    bahaya. Coba kalau kalian bisa melihat luka bakar Charlie gara-gara naga
    liar di Rumania."
    "Jadi, tidak ada naga liar di Britania?" tanya Harry.
    "Tentu saja ada," kata Ron. "Naga Hijau Welsh yang biasa dan naga Hitam
    Hebridean. Kementerian Sihir cukup repot menyembunyikan mereka. Orang-
    orang kita harus terusmenerus menyihir Muggle yang pernah melihatnya, untuk
    membuat mereka melupakannya."
    "Kalau begitu, apa yang sedang dilakukan Hagrid?"
    ***



    --------------------------------------- 137

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ketika mereka mengetuk pintu pondok si pengawas binatang liar satu jam
    kemudian, mereka heran melihat semua gorden tertutup. Hagrid berseru,
    "Siapa itu?" sebelum mempersilakan mereka masuk dan cepat-cepat menutup
    pintu kembali.
    Di dalam panas sekali. Meskipun udara hangat, di perapian api menyala-
    nyala. Hagrid membuatkan teh dan menawari mereka sandwich musang, yang
    mereka tolak.
    "Nah... kalian mau tanya sesuatu?"
    "Ya," jawab Harry. Tak ada gunanya berbelit-belit. "Kami ingin tahu apakah
    kau bisa memberitahu kami apa saja yang menjaga Batu Bertuah selain Fluffy."
    Hagrid mengerutkan kening ke arah Harry.
    "Tentu saja tidak bisa," katanya. "Pertama, aku sendiri tidak tahu. Kedua,
    kalian sudah tahu terlalu banyak, jadi aku tak akan beritahu kalian kalaupun
    aku bisa. Batu itu di sini untuk alasan baik. Batu itu nyaris dicuri dari Gringotts
    kurasa kalian sudah simpulkan ini? Aku tak mengerti bagaimana kalian bisa
    tahu tentang Fluffy."
    "Oh, ayolah, Hagrid, kau mungkin tak ingin memberitahu kami, tetapi kau
    sebetulnya tahu segalanya yang terjadi di sini,"
    kata Hermione dengan suara hangat memuji. Jenggot Hagrid bergerak-gerak
    dan mereka bisa menebak dia sedang tersenyum.
    "Kami cuma ingin tahu siapa yang menjaga, itu saja." Hermione
    melanjutkan, "Kami penasaran siapa yang cukup dipercaya Dumbledore untuk
    membantunya, selain kau."
    Dada Hagrid membusung mendengar kalimat terakhir Hermione. Harry dan
    Ron tersenyum kepada Hermione.
    "Yah, kurasa tidak ada bahayanya kuberitahu kalian bahwa...
    begini... dia pinjam Fluffy dariku... kemudian beberapa guru lakukan
    penyihiran... Profesor Sprout Profesor Flitwick
    Profesor McGonagall...," ditekuknya jarinya satu demi satu,
    "Profesor Quirrell dan Dumbledore sendiri lakukan sesuatu, tentu saja.
    Sebentar, aku lupa satu orang. Oh yeah, Profesor Snape."
    "Snape?"
    "Yeah kalian sudah tidak curigai dia lagi, kan? Snape bantu jaga, dia tidak
    akan curi batu itu."
    Harry tahu Ron dan Hermione berpikiran sama seperti dia.
    Jika Snape termasuk yang menjaga batu, pastilah mudah baginya untuk
    mencari tahu bagaimana guru-guru yang lain menjaganya. Dia mungkin tahu
    segalanya kecuali, tampaknya, mantra Quirrell dan bagaimana caranya
    melewati Fluffy.
    "Kau satu-satunya yang tahu bagaimana caranya melewati Fluffy, kan,
    Hagrid?" tanya Harry cemas. "Dan kau tidak akan bilang siapa-siapa, kan?
    Bahkan kepada salah satu guru pun?"
    "Tak ada yang tahu kecuali aku dan Dumbledore," kata Hagrid bangga.
    "Untunglah," gumam Harry kepada yang lain. "Hagrid, boleh tidak
    jendelanya dibuka satu? Aku kepanasan."
    "Tidak bisa, Harry, sori," kata Hagrid.



    --------------------------------------- 138

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry memperhatikan Hagrid mengerling ke perapian. Harry juga
    memandang ke sana.
    "Hagrid apa itu?" Tetapi dia sudah tahu apa itu. Persis di tengah api, di
    bawah ketel, ada telur hitam besar sekali.
    "Ah," kata Hagrid, dengan gelisah memilin-milin jenggotnya.
    "Itu... er..."
    "Dari mana kau dapat itu, Hagrid?" kata Ron, berjongkok di depan perapian
    untuk melihat telur itu dari dekat. "Pasti mahal sekali harganya."
    "Menang main," kata Hagrid. "Semalam. Aku ke desa minum, lalu main kartu
    dengan orang asing. Kurasa dia senang bisa lepas dari telur itu, benar lho."
    "Tapi apa yang akan kaulakukan kalau telurnya menetas?"
    tanya Hermione.
    "Yah, aku sudah baca-baca," kata Hagrid, seraya menarik buku panjang dari
    bawah bantalnya. "Pinjam ini dari perpustakaan Pemeliharaan dan
    Pengembangbiakan Naga untuk Kesenangan dan Keuntungan memang sudah
    sedikit ketinggalan zaman, tapi semuanya ada di situ. Taruh telurnya di api,
    karena induk mereka semburkan api ke telur-telurnya, lihat, dan kalau sudah
    menetas, beri makan seember brandy dicampur darah ayam setengah jam
    sekali. Dan lihat ini bagaimana mengenali jenis telur-telur telur milikku ini
    jenis Punggung Bersirip Norwegia. Jenis yang langka."
    Hagrid kelihatan puas sekali, tetapi Hermione tidak.
    "Hagrid, kau tinggal di pondok papan," katanya.
    Tetapi Hagrid tidak mendengarkan. Dia bersenandung riang ketika
    mengaduk perapiannya agar menyala lebih besar.
    ***
    Maka sekarang ada hal lain yang perlu mereka cemaskan: apa
    yang akan terjadi pada Hagrid jika ketahuan dia menyembunyikan naga ilegal di
    dalam pondoknya.
    "Bagaimana ya rasanya menjalani hidup yang tenang," keluh Ron, ketika
    malam demi malam mereka berjuang mengerjakan PR-PR ekstra yang
    dibebankan kepada mereka. Hermione sekarang sudah mulai mengatur ulang
    jadwal belajar Harry dan Ron. Membuat mereka berdua jengkel.
    Kemudian, suatu pagi saat sarapan, Hedwig membawa surat lagi untuk Harry
    dari Hagrid. Hagrid hanya menulis dua kata: Sedang menetas.
    Ron ingin membolos dari kelas Herbologi dan lang-sung ke pondok.
    Hermione menentang habis-habisan. "Hermione, berapa kali dalam hidup kita,
    kita b isa melihat naga yang sedang menetas?"
    "Ada pelajaran. Nanti kita kena marah, dan itu belum apaapa dibanding
    dengan apa yang akan terjadi pada Hagrid kalau ada orang yang tahu apa yang
    sedang dilakukannya..."
    "Diam!" desis Harry.
    Malfoy hanya satu meter dari mereka dan dia langsung berhenti untuk
    mendengarkan. Seberapa banyak yang berhasil didengarnya? Harry sama sekali
    tidak menyukai ekspresi wajah Malfoy.



    --------------------------------------- 139

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Ron dan Hermione bertengkar sepanjang perjalanan ke kelas Herbologi, dan
    pada akhirnya, Hermione setuju kabur ke pondok Hagrid dengan kedua
    temannya pada saat istirahat pagi.
    Ketika bel di kastil berbunyi pada akhir pelajaran mereka,
    ketiganya langsung menjatuhkan sekop dan bergegas menyeberangi lapangan
    menuju ke tepi Hutan. Hagrid menyalami mereka, wajahnya riang kemerahan.
    "Sudah hampir keluar." Diajaknya mereka masuk.
    Telur itu tergeletak di atas meja. Ada retakan-retakan dalam pada kulitnya.
    Sesuatu bergerak-gerak di dalamnya, menimbulkan bunyi klak-klik yang
    aneh terdengar.
    Mereka semua menarik kursi ke dekat meja dan mengawasi dengan napas
    tertahan.
    Mendadak terdengar bunyi gesekan dan telur itu terbelah.
    Bayi naga tergeletak di meja. Bayi itu tidak indah. Menurut Harry malah
    kelihatan seperti payung hitam yang kusut.
    Sayapnya tampak sangat besar dibanding tubuhnya yang masih kurus, dan
    moncongnya panjang, dengan dua lubang hidung besar, dua tanduk kecil, dan
    mata jingga yang menonjol.
    Dia bersin. Beberapa bunga api muncrat dari moncongnya.
    "Cantik, ya?" Hagrid bergumam. Dia menjulurkan tangannya untuk membelai
    kepala si naga. Naga itu mencaplok jari-jari Hagrid, taringnya yang tajam
    kelihatan.
    "Bukan main, dia tahu yang mana induknya!" kata Hagrid.
    "Hagrid," kata Hermione, "seberapa cepat persisnya naga Punggung Bersirip
    Norwegia tumbuh besar?"
    Hagrid sudah mau menjawab ketika wajahnya tibatiba memucat dia
    melompat berdiri dan berlari ke jendela.
    "Ada apa?" "Ada yang ngintip lewat celah gorden anak lakilaki dia lari balik
    ke sekolah." Harry melesat ke pintu dan memandang ke luar. Bahkan dari
    kejauhan ia tak mungkin keliru. Malfoy telah melihat naga itu.
    ***
    Senyum yang tersungging di bibir Malfoy selama seminggu berikutnya
    membuat Harry, Ron, dan Hermione sangat cemas.
    Mereka melewatkan sebagian besar waktu luang mereka di pondok Hagrid
    yang digelapkan, mencoba membujuknya.
    "Lepaskan saja dia," desak Harry. "Biar dia hidup di alam bebas."
    "Tidak bisa," kata Hagrid. "Dia masih terlalu kecil. Dia akan mati."
    Mereka memandang si naga. Bayi itu sudah tiga kali lipat lebih panjang,
    dalam waktu seminggu. Asap tak henti-hentinya berembus melingkar dari
    lubang hidungnya. Hagrid belakangan ini sudah tidak melakukan tugas-tugasnya
    sebagai pengawas binatang liar di sekolah karena si naga kecil membuatnya
    sangat sibuk. Botol-botol brandy kosong dan bulubulu ayam bertebaran di
    lantai.
    "Aku sudah memutuskan untuk menamainya Norbert," kata Hagrid, seraya
    menatap si naga dengan mata basah. "Dia sudah kenal aku sekarang. Lihat.
    Norbert! Norbert! Mana Mama?"



    --------------------------------------- 140

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Dia sinting," Ron bergumam di telinga Harry.
    "Hagrid," kata Harry keras-keras, "dua minggu lagi Norbert sudah akan
    sepanjang rumahmu. Malfoy bisa melapor kepada Dumbledore kapan saja."
    Hagrid menggigit bibir.
    "Aku aku tahu. Aku tak bisa memeliharanya selamanya, tetapi aku tak bisa
    menyuruhnya pergi begitu saja. Aku tak bisa."
    Mendadak Harry menoleh kepada Ron.
    "Charlie," kata Harry.
    "Kau juga ikutan sinting," kata Ron. "Namaku Ron. Ingat?"
    "Bukan Charlie kakakmu Charlie. Di Rumania. Sedang belajar tentang
    naga. Kita bisa mengirim Norbert kepadanya.
    Charlie bisa memeliharanya dan kemudian melepasnya ke alam bebas!"
    "Brilian!" kata Ron. "Bagaimana, Hagrid?" Pada akhirnya Hagrid setuju
    mereka mengirim burung hantu kepada Charlie untuk menanyainya.
    ***
    Minggu berikutnya berlalu lambat. Rabu malam Hermione dan Harry masih
    duduk berdua di ruang rekreasi, lama sesudah yang lain pergi tidur. Jam di
    dinding baru saja berdentang menandakan tengah malam ketika lubang lukisan
    tiba-tiba membuka. Ron mendadak muncul ketika dia melepas Jubah Gaib
    Harry. Dia baru kembali dari pondok Hagrid, membantunya memberi makan
    Norbert, yang sekarang sudah makan berkrat-krat bangkai tikus.
    "Dia menggigitku!" katanya, menunjukkan tangannya yang dibalut
    saputangan berdarah. "Aku tak akan bisa memegang pena selama seminggu ini.
    Percaya deh, naga itu binatang paling mengerikan yang pernah kutemui, tetapi
    kalau melihat cara Hagrid memujanya, kau akan mengira dia anak kelinci
    berbulu lembut yang lucu. Ketika dia menggigitku, Hagrid malah menyuruhku
    menyingkir karena membuat Norbert takut. Dan waktu aku pergi tadi, Hagrid
    sedang meninabobokannya."
    Ada ketukan di jendela gelap.
    "Itu Hedwig!" kata Harry, bergegas membuka jendela agar Hedwig bisa
    masuk. "Dia membawa surat balasan Charlie!"
    Ketiganya merapatkan kepala untuk membaca surat Charlie.
    Hai, Ron,
    Apa kabar? Terima kasih suratnnya. Aku senang-senang saja menerima
    punggung Bersirip Norwegia itu, tetapi tidak mudah membawanya ke sini.
    Kurasa yang paling baik adalah menitipkannya kepada teman-temankuyang
    akan mengunjungiku minggu depan. Masalahnya adalah mereka tak boleh
    ketahuan membawa naga ilegal.
    Bisakah kau membawa si Punggung Bersirip ke menara paling tinggi tengah
    malam hari Sabtu? Mereka bisa menemuimu di sana dan membawa si naga
    selagi hari masih gelap.
    Kirimi aku jawaban secepat mungkin.
    Salam Hangat,
    Charlie
    Mereka saling pandang.



    --------------------------------------- 141

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kita punya Jubah Gaib," kata Harry. "Mestinya tidak terlalu sulit kurasa
    jubah itu cukup besar untuk menutupi dua di antara kita dan Norbert."
    Bahwa kedua temannya langsung sepakat, menunjukkan bahwa seminggu
    terakhir ini keadaan sudah parah sekali.
    Mereka bersedia melakukan apa saja untuk menyingkirkan Norbert dan
    Malfoy.
    ***
    Ada rintangan. Esok paginya tangan Ron yang digigit Norbert sudah
    membengkak dua kali ukuran normalnya. Dia tak tahu aman atau tidak pergi
    ke Madam Pomfrey apakah dia akan mengenali gigitan naga? Meskipun
    demikian, sorenya, Ron sudah tak punya pilihan lain. Lukanya sudah berwarna
    hijau mengerikan. Rupanya taring Norbert beracun.
    Harry dan Hermione bergegas ke rumah sakit pada akhir hari itu dan
    menemukan Ron terbaring parah di tempat tidur.
    "Bukan cuma tanganku," bisik Ron, "meskipun rasanya tanganku hampir
    copot. Malfoy bilang pada Madam Pomfrey dia mau pinjam salah satu bukuku
    sehingga dia bisa datang dan menertawakanku. Dia terus-menerus
    mengancamku akan
    memberitahu Madam Pomfrey apa sebetulnya yang menggigitku aku bilang
    pada Madam Pomfrey aku digigit anjing tapi kurasa dia tidak percaya aku
    seharusnya tidak memukul Malfoy waktu pertandingan Quidditch itu, sekarang
    dia mau membalasku."
    Harry dan Hermione berusaha menenangkan Ron. Tapi sebaliknya, Ron
    malah langsung terlonjak duduk dan berkeringat.
    "Sabtu tengah malam!" katanya dengan suara serak. "Oh tidak oh tidak
    aku baru ingat surat Charlie ada dalam buku yang diambil Malfoy. Dia akan
    tahu kapan kita menyingkirkan Norbert."
    Harry dan Hermione tak punya kesempatan untuk menjawab. Madam
    Pomfrey muncul saat itu dan menyuruh mereka pergi, karena Ron butuh tidur,
    katanya.
    ***
    "Sudah terlambat untuk mengubah rencana sekarang," Harry berkata
    kepada Hermione. "Kita tak punya waktu lagi untuk mengirim burung hantu
    kepada Charlie, dan mungkin ini satusatunya kesempatan kita untuk
    menyingkirkan Norbert. Kita harus ambil risiko. Dan kita kan punya Jubah
    Gaib. Malfoy tidak tahu ini."
    Mereka menemukan Fang, anjing Hagrid, duduk di depan pondok dengan
    ekor terbalut ketika mereka datang untuk memberitahu Hagrid, yang
    membuka jendela untuk bicara kepada mereka.
    "Kalian tak boleh masuk," katanya tersengal. "Norbert sedang rewel bisa
    kutangani."
    Ketika mereka memberitahunya tentang surat Charlie, mata Hagrid
    langsung berkaca-kaca. Entah karena ia sedih, atau karena Norbert baru saja
    menggigit kakinya.
    "Aargh! Tidak apa-apa, dia cuma menggigit botku cuma main-main masih
    bayi sih."



    --------------------------------------- 142

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Si bayi menyabetkan ekornya ke dinding, membuat semua jendela pondok
    bergetar. Harry dan Hermione kembali ke kastil, berharap Sabtu segera
    datang.
    ***
    Mereka pasti merasa kasihan pada Hagrid ketika tiba saatnya bagi si
    pengawas binatang liar itu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada
    Norbert, kalau saja mereka tidak terlalu mencemaskan apa yang harus mereka
    lakukan. Malam itu sangat gelap dan berawan, dan mereka agak terlambat
    tiba di pondok Hagrid karena harus menunggu Peeves menyingkir dulu dari
    Aula Depan. Peeves sedang main tenis di situ, melawan tembok.
    Hagrid sudah menyiapkan Norbert dalam kotak besar.
    "Sudah kusiapkan banyak tikus dan brandy untuk makan di jalan," kata
    Hagrid dengan suara tersendat. "Dan boneka beruangnya juga sudah
    kumasukkan, siapa tahu dia kesepian."
    Dari dalam kotak terdengar robekan yang bagi Harry kedengarannya si
    boneka beruang sedang dicabut kepalanya.
    "Da-dah, Norbert!" Hagrid terisak, ketika Harry dan Hermione
    menyelubungi kotak itu dengan Jubah Gaib lalu mereka sendiri melangkah ke
    baliknya. "Mama tidak akan melupakanmu!"
    Bagaimana mereka berhasil membawa kotak itu ke kastil, mereka tak
    pernah tahu. Sudah menjelang tengah malam ketika mereka bersusah payah
    membawa kotak Norbert menaiki tangga pualam di Aula Depan dan melewati
    koridor-koridor gelap. Naik tangga lain lagi, kemudian tangga lain, bahkan
    lewat salah satu jalan pintas yang diketahui Harry pun, tidak membuat tugas
    mereka bertambah ringan.
    "Hampir sampai!" seru Harry terengah ketika mereka tiba di koridor di
    bawah menara tertinggi.
    Gerakan mendadak di depan mereka nyaris membuat mereka menjatuhkan
    kotak. Lupa bahwa mereka sebetulnya tidak kelihatan, mereka merapat ke
    tempat yang terlindung bayangbayang, memandang dua sosok gelap yang
    sedang bergulat sekitar tiga meter dari tempat mereka. Mendadak lampu
    menyala.
    Profesor McGonagall, memakai baju tidur kotakkotak dan harnet,
    menjewer telinga Malfoy.
    "Detensi!" teriak Profesor McGonagall, "dan potong dua puluh angka dari
    Slytherin! Berkeliaran di tengah malam, beraninya kau..."
    "Anda tidak mengerti, Profesor, Harry Potter akan datang dia membawa
    naga!"
    "Sungguh omong kosong! Berani-beraninya kau bohong besar begitu! Ayo
    aku akan bicara pada Profesor Snape tentang kau, Malfoy!"
    Setelah kejadian itu, tangga spiral curam ke atas menara serasa jadi
    mudah didaki. Baru setelah melangkah ke udara malam yang dingin, mereka
    berani melepas jubah, lega bisa bernapas bebas lagi. Hermione menari-nari.
    "Malfoy dihukum kurung! Mau nyanyi aku rasanya!"
    "Jangan," Harry menasihatinya.



    --------------------------------------- 143

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Sambil menertawakan Malfoy, mereka menunggu. Norbert mengibas-ngibas
    di dalam kotaknya. Kira-kira sepuluh menit kemudian, empat sapu meluncur
    turun dari kegelapan.
    Teman-teman Charlie anak-anak periang.
    Mereka menunjukkan kepada Harry dan Hermione jaring yang telah mereka
    buat, supaya mereka bisa bekerja sama mengangkat Norbert. Mereka semua
    membantu menaikkan Norbert ke atas jaring. Kemudian Harry dan Hermione
    berjabat tangan dengan keempatnya dan mengucapkan banyak terima kasih
    kepada mereka.
    Akhirnya. Norbert berangkat... pergi... lenyap.
    Mereka menyelinap menuruni tangga spiral, hati mereka seringan tangan
    mereka, setelah Norbert tak lagi membebani.
    Tak ada naga lagi Malfoy kena detensi apa yang bisa merusak
    kegembiraan mereka?
    Jawabannya telah menunggu di kaki tangga. Ketika mereka melangkah ke
    koridor, mendadak wajah Filch muncul dari kegelapan.
    "Wah, wah, wah," bisiknya, "kita dalam kesulitan."
    Jubah Gaib ketinggalan di atas menara.
    ***
    15. Hutan Terlarang
    KEADAAN tak bisa lebih buruk dari ini.
    Filch membawa mereka ke ruang Profesor McGonagall di lantai pertama. Di
    situ mereka duduk dan menunggu tanpa saling bicara. Hermione gemetar.
    Alasan, alibi, dan cerita bohong berkejaran di benak Harry, masing-masing
    lebih lemah dari yang sebelumnya. Dia tak tahu bagaimana mereka bisa
    menghindari hukuman kali ini. Mereka sudah tersudut.
    Bagaimana mungkin mereka bisa begitu bodoh meninggalkan Jubah Gaib?
    Tak ada alasan di dunia ini yang bisa membuat Profesor McGonagall menerima
    kenapa mereka tidak tidur dan malah berkeliaran di sekolah pada tengah
    malam, apalagi berada di menara Astronomi yang paling tinggi, yang dilarang
    didatangi kecuali untuk pelajaran. Tambahkan kisah tentang Norbert dan Jubah
    Gaib, maka mereka sama saja dengan sudah mengepak koper, siap cabut dari
    asrama.
    Apakah Harry berpikir bahwa keadaan tak bisa lebih buruk dari ini? Dia
    keliru. Ketika Profesor McGonagall muncul, dia membawa Neville.
    "Harry!" Neville memekik begitu melihat Harry dan Hermione. "Aku tadi
    mencari-carimu untuk memperingatkan.
    Kudengar Malfoy akan menangkap basah kau, dia bilang kau punya nag..."
    Harry menggelengkan kepala kuat-kuat menyuruh Neville diam, tetapi
    Profesor McGonagall sudah melihat. la kelihatan lebih siap menyemburkan
    napas api daripada Norbert ketika dia berdiri menjulang di depan mereka
    bertiga.



    --------------------------------------- 144

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Aku tadinya tak percaya kalian berbuat begini. Mr Filch mengatakan kalian
    berada di menara Astronomi. Ini pukul satu pagi. Jelaskan!"
    Ini pertama kalinya Hermione tidak bisa menjawab pertanyaan guru. Dia
    menunduk menatap sandalnya, diam bagai patung.
    "Kurasa aku bisa menduga yang terjadi," kata Profesor McGonagall. "Tidak
    perlu seorang jenius untuk memecahkan ini. Kalian membualkan cerita bohong
    tentang naga kepada Draco Malfoy supaya dia meninggalkan tempat tidur dan
    dihukum.
    Aku sudah menangkapnya.
    Kurasa kalian menganggap lucu bahwa Longbottom telah mendengar cerita
    itu dan mempercayainya?"
    Harry memberi isyarat kepada Neville dengan matanya, mencoba
    memberitahunya tanpa kata bahwa ini tidak benar, karena Neville kelihatan
    kaget dan tersinggung. Kasihan Neville Harry tahu betul betapa beratnya bagi
    Neville mencari-carinya dalam gelap untuk memperingatkannya.
    "Aku marah sekali," kata Profesor McGonagall. "Empat anak meninggalkan
    tempat tidur dalam satu malam! Belum pernah ada kejadian semacam ini! Kau,
    Miss Granger, kukira kau lebih cerdik. Sedangkan kau, Mr Potter, kukira
    Gryffindor jauh lebih berarti bagimu daripada semua ini. Kalian bertiga akan
    menerima detensi ya, kau juga, Mr Longbottom, tak ada yang membuatmu
    punya hak berkeliaran di sekolah di malam hari, terutama hari-hari ini,
    berbahaya sekali. Lima puluh angka akan dipotong dari Gryffindor."
    "Lima puluh?" Harry kaget mereka tak lagi akan memimpin sia-
    sialah hasil kemenangannya dalam pertandingan Quidditch yang terakhir.
    "Masing-masing lima puluh," kata Profesor McGonagall, bernapas berat lewat
    hidungnya yang panjang runcing.
    " Profesor tolong..."
    "Anda tak bisa..."
    "Jangan mengajari aku apa yang aku bisa atau tak bisa lakukan, Potter.
    Sekarang semua kembali ke tem-pat tidur.
    Belum pernah aku dipermalukan seperti ini oleh anak-anak Gryffindor."
    Seratus lima puluh angka hilang begitu saja. Membuat Gryffindor berada di
    posisi paling bawah. Dalam semalam mereka telah menghancurkan semua
    kesempatan yang dimiliki Gryffindor untuk memenangkan Piala Asrama. Harry
    merasa terpukul sekali. Bagaimana mereka bisa menebus semua ini?
    Sepanjang malam Harry tidak tidur. Selama berjamjam dia bisa mendengar
    Neville yang terisak-isak di bantalnya. Harry tak bisa memikirkan sesuatu untuk
    menghiburnya. Dia tahu Neville, seperti halnya dirinya, takut akan datangnya
    pagi. Apa yang akan terjadi kalau anak-anak Gryffindor lainnya tahu apa yang
    telah mereka lakukan?
    Mulanya anak-anak Gryffindor, yang melewati jam kaca raksasa yang
    menampilkan angka masing-masing asrama keesokan harinya, mengira ada
    kekeliruan. Bagaimana mungkin angka mereka mendadak susut seratus lima
    puluh dari hari sebelumnya? Kemudian cerita mulai menyebar: Harry Potter,
    Harry Potter yang terkenal, pahlawan Quidditch mereka, dialah yang membuat



    --------------------------------------- 145

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    mereka kehilangan seratus lima puluh angka, Harry Potter dan dua anak bego
    kelas satu lainnya.
    Dari anak yang paling populer dan paling dikagumi di sekolah, Harry
    mendadak menjadi anak yang paling dibenci.
    Bahkan anak-anak Ravenclaw dan Hufflepuff ikut-ikutan menyerangnya,
    karena semua anak telah menunggu-nunggu Slytherin kehilangan Piala Asrama.
    Ke mana pun Harry pergi, anak-anak menunjuk-nunjuk dan tidak bersusah-
    susah memelankan suara kalau memakinya. Anak-anak Slytherin, sebaliknya,
    menyorakinya kalau Harry melewati mereka, bersuit-suit dan berteriak-teriak,
    "Terima kasih, Potter. Kami utang budi!"
    Hanya Ron yang menghiburnya.
    "Mereka akan melupakan semua ini beberapa minggu lagi.
    Fred dan George telah kehilangan banyak angka selama mereka di sini, dan
    anak-anak masih menyukai mereka."
    "Tapi mereka belum pernah kehilangan seratus lima puluh angka sekaligus,
    kan?" kata Harry merana.
    "Yah belum," Ron mengakui.
    Sudah agak terlambat untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi,
    tetapi Harry berjanji kepada dirinya sendiri mulai sekarang tidak akan lagi
    mencampuri hal-hal yang bukan urusannya. Dia sudah muak dengan
    mengendap-endap dan memata-matai. Dia merasa malu sekali dengan dirinya
    sendiri sehingga dia menemui Wood dan minta mengundurkan diri dari tim
    Quidditch.
    "Mengundurkan diri?" gelegar Wood. "Apa faedahnya?
    Bagaimana kita akan merebut kembali angka-angka itu kalau kita tidak
    memenangkan pertandingan Quidditch?"
    Bahkan Quidditch sudah tak lagi menyenangkan. Anggota tim lainnya tak
    mau bicara dengan Harry selama latihan, dan kalau mereka harus bicara
    tentang Harry, mereka menyebutnya si "Seeker".
    Hermione dan Neville juga menderita. Yang mereka alami tidak seburuk
    Harry karena mereka tidak sepopuler dia, tetapi tak seorang pun mau bicara
    dengan mereka juga. Hermione sudah berhenti menonjolkan dirinya di kelas,
    dia terus menundukkan kepala dan bekerja dalam diam.
    Harry nyaris senang ujian tak lama lagi. Kesibukan belajar membuatnya
    sejenak melupakan kesedihannya. Dia, Ron, dan Hermione belajar terpisah dari
    temanteman lainnya, belajar sampai larut malam, mencoba mengingat-ingat
    bahan-bahan untuk ramuan yang rumit, menghafalkan mantra-mantra,
    menghafal tanggal-tanggal penemuan sihir dan pemberontakan goblin....
    Kemudian, kira-kira seminggu sebelum ujian dimulai, keputusan baru Harry
    untuk tidak mencampuri hal-hal yang bukan urusannya, di luar dugaan
    mendapat ujian. Ketika pulang dari perpustakaan sendirian pada suatu sore,
    dia mendengar ada yang merintih di ruang kelas di atasnya. Ketika mendekat,
    Harry mendengar suara Quirrell.
    "Jangan jangan tolong jangan lagi..." Kedengarannya ada yang sedang
    mengancamnya. Harry bergerak semakin dekat.
    "Baiklah baiklah...," didengarnya Quirrell mengisak.



    --------------------------------------- 146

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Detik berikutnya, Quirrell bergegas meninggalkan kelas seraya meluruskan
    turbannya. Wajahnya pucat dan tampaknya dia hampir menangis. Quirrell
    bahkan tidak melihat Harry.
    Harry menunggu sampai bunyi langkah-langkah Quirrell menghilang,
    kemudian mengintip ke dalam kelas. Kosong, tapi ada pintu yang terbuka
    sedikit di ujung satunya. Harry sudah separo jalan menuju pintu itu ketika dia
    ingat janjinya kepada diri sendiri untuk tidak ikut campur urusan orang lain.
    Meskipun demikian, dia bersedia mempertaruhkan dua belas Batu Bertuah
    bahwa Snape baru saja meninggalkan ruangan, dan dari apa yang baru
    didengarnya, Snape pastilah berjalan dengan langkah ringan agaknya Quirrell
    akhirnya menyerah.
    Harry kembali ke perpustakaan. Hermione sedang membantu
    Ron belajar Astronomi dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Harry
    memberitahu mereka apa yang baru saja didengarnya.
    "Snape berhasil, kalau begitu!" kata Ron. "Kalau Quirrell sudah memberitahu
    bagaimana memunahkan Mantra Anti-Sihir Hitamnya..."
    "Tapi masih ada Fluffy," kata Hermione.
    "Mungkin Snape sudah tahu bagaimana cara melewati Fluffy tanpa bertanya
    pada Hagrid," kata Ron, memandang ribuan buku yang mengelilingi mereka.
    "Berani taruhan, di salah satu buku di sini pasti tertulis bagaimana cara
    melewati anjing berkepala tiga. Jadi, apa yang kita lakukan, Harry?"
    Kilat petualangan bersinar lagi di mata Ron. Tetapi Hermione menjawab
    sebelum Harry sempat buka mulut.
    "Pergi ke Dumbledore. Itu seharusnya sudah kita lakukan sejak dulu. Kalau
    kita mencoba bertindak sendiri, jelas kita akan dikeluarkan."
    "Tapi kita tak punya bukti!" kata Harry. "Quirrell terlalu takut untuk
    mendukung kita. Snape tinggal bilang dia tak tahu bagaimana troll bisa masuk
    pada malam Hallowe'en dan bahwa dia tak berada dekatdekat lantai tiga.
    Menurut kalian, siapa yang akan dipercaya, dia atau kita? Kan bukan rahasia
    kita membencinya. Dumbledore akan mengira kita mengarang-ngarang supaya
    Snape dipecat. Filch jelas tidak akan mau membantu kita. Dia sahabat dekat
    Snape, dan menurut pendapatnya semakin banyak murid yang dikeluarkan,
    semakin baik. Dan jangan lupa, kita sebetulnya tidak boleh tahu tentang batu
    itu ataupun Fluffy. Itu bakal perlu penjelasan panjang."
    Hermione kelihatannya bisa diyakinkan, tetapi Ron tidak.
    "Kalau kita menyelidiki sedikit..."
    "Tidak," kata Harry datar, "kita sudah terlalu banyak menyelidiki dan ikut
    campur."
    Harry menarik peta Jupiter ke arahnya dan mulai menghafal nama bulan-
    bulannya.
    ***
    Keesokan paginya, sepucuk surat dijatuhkan di meja sarapan untuk Harry,
    Hermione, dan Neville. Isinya semua sama: Detensimu akan berlangsung pukul
    sebelas malam ini. Temui Mr Filch di Aula Depan.
    Prof. M. McGonagall



    --------------------------------------- 147

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dalam kehebohan gara-gara begitu banyak angka yang dipotong dari
    Gryffindor, Harry sudah lupa mereka masih harus menjalani detensi. Dia
    mengira Hermione akan mengeluh karena mereka akan kehilangan waktu
    belajar semalam, tetapi Hermione diam saja. Seperti Harry dia merasa mereka
    pantas mendapat hukuman itu.
    Pukul sebelas malam itu mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Ron
    di ruang rekreasi dan pergi ke Aula Depan bersama Neville. Filch sudah ada
    begitu pula Malfoy. Harry juga sudah lupa bahwa Malfoy pun mendapat detensi.
    "Ikut aku," kata Filch seraya menyalakan lampu dan mengajak mereka
    keluar. "Taruhan, setelah ini kalian pasti berpikir dua kali dulu sebelum
    melanggar peraturan sekolah, eh?" Dia menyeringai kepada mereka. "Oh ya...
    kerja keras dan penderitaan adalah guru yang paling baik, kalau kalian tanya
    padaku... sayangnya mereka tidak memakai lagi cara hukuman yang dulu...
    menggantung kalian pada pergelangan tangan dari atap selama beberapa hari,
    rantainya masih ada di kamarku, kuminyaki terus, siapa tahu suatu kali
    diperlukan lagi... Baik, ayo kita berangkat, dan jangan coba-coba kabur, makin
    parah lagi nanti bagi kalian."
    Mereka menyeberangi lapangan gelap. Neville terus terisak.
    Harry bertanya-tanya hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada mereka.
    Pasti sesuatu yang mengerikan, kalau tidak Filch tidak akan sesenang ini.
    Bulan bersinar terang, tetapi awan-awan yang melintasinya berkali-kali
    membuat mereka berjalan dalam kegelapan. Di depan, Harry bisa melihat
    jendelajendela pondok Hagrid yang menyala. Kemudian dari kejauhan mereka
    mendengar suara.
    "Kaukah itu, Filch? Cepat, aku mau mulai."
    Semangat Harry bangkit. Jika ada Hagrid, keadaan tidak terlalu buruk.
    Kelegaannya pastilah tampak di wajahnya, karena Filch berkata, "Rupanya kau
    mengira kau akan bersenang-senang bersama orang kasar itu, ya? Pikir lagi, Nak
    kalian akan dibawa ke Hutan dan aku keliru sekali kalau mengira kalian semua
    berhasil keluar utuh nanti."
    Mendengar ini, Neville merintih dan Malfoy berhenti berjalan.
    "Hutan?" dia mengulang, dan suaranya tidak sesombong biasanya. "Kita tidak
    boleh ke sana di malam hari ada macammacam di sana manusia serigala,
    kudengar." Neville mencengkeram lengan jubah Harry dan mengeluarkan suara
    tersedak.
    "Salah kalian sendiri, kan?" kata Filch, suaranya serak saking senangnya.
    "Mestinya ingat soal manusia serigala itu sebelum melanggar peraturan, ya,
    kan?"
    Hagrid berjalan ke arah mereka dari kegelapan, Fang membuntutinya. Dia
    membawa busur besarnya, dan sekantong anak panah tergantung di bahunya.
    "Sudah waktunya," katanya. "Aku sudah tunggu setengah jam. Baik-baik
    saja, Harry, Hermione?"
    "Jangan terlalu ramah pada mereka, Hagrid," kata Filch dingin, "mereka kan
    akan dihukum."



    --------------------------------------- 148

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Itu sebabnya kau telat, kan?" kata Hagrid kepada Filch, dahinya berkerut.
    "Tadi kaumarahi mereka, ya? Bukan kewajibanmu. Tugasmu sudah selesai. Biar
    kuambil alih sekarang."
    "Aku akan kembali besok pagi," kata Filch, "untuk mengambil entah apa
    yang tersisa dari mereka," dia menambahkan dengan menyebalkan, sebelum
    akhirnya berbalik dan berjalan kembali ke kastil, lampunya terayun-ayun dalam
    gelap.
    Malfoy sekarang menoleh kepada Hagrid. "Aku tak mau masuk Hutan itu,"
    katanya, dan Harry senang mendengar nada panik dalam suaranya.
    "Harus, kalau kau mau tetap di Hogwarts," kata Hagrid galak. "Kau sudah
    lakukan kesalahan dan sekarang harus bayar."
    "Tapi ini untuk kelas pelayan, bukan untuk pelajar. Kukira kami akan
    disuruh menulis atau yang semacamnya. Kalau ayahku tahu aku dihukum
    begini, dia akan..."
    "... bilang padamu memang begitulah di Hogwarts," geram Hagrid. "Menulis!
    Apa gunanya? Kau akan lakukan sesuatu yang berguna, kalau tidak mau, keluar
    saja. Kalau kaupikir ayahmu lebih suka kau dikeluarkan, ya balik saja ke kastil
    dan pak kopermu. Ayo!"
    Malfoy tidak bergerak. Dia memandang Hagrid dengan marah, tetapi
    kemudian menunduk.
    "Baiklah," kata Hagrid. "Sekarang dengar baik-baik, karena apa yang akan
    kita lakukan malam ini berbahaya dan aku tak mau ada yang ambil risiko. Ikut
    aku ke sini dulu."
    Dia membawa mereka sampai ke tepi Hutan. Seraya mengangkat lampunya
    tinggi-tinggi, dia menunjuk jalan tanah setapak yang sempit dan berkelok-kelok
    yang menghilang di antara pepohonan besar-besar dan gelap. Angin sepoi
    menerbangkan rambut mereka ketika mereka memandang ke dalam Hutan.
    "Lihat di sana," kata Hagrid, "lihat yang berkilau di tanah itu?
    Yang keperakan? Itu darah unicorn. Di dalam ada unicorn yang luka parah
    digigit entah apa. Ini kedua kalinya dalam seminggu.
    Aku temukan satu unicorn mati Rabu lalu. Kita akan cari makhluk malang
    itu. Mungkin kita harus bebaskan dia dari penderitaannya."
    "Dan bagaimana kalau entah apa yang menggigit unicorn itu lebih dulu
    menemukan kita?" kata Malfoy, tak sanggup menyembunyikan ketakutan dari
    suaranya.
    "Tak ada satu pun di Hutan yang akan melukaimu kalau kau bersamaku atau
    Fang," kata Hagrid. ''Dan ikuti jalan ini. Baik, sekarang kita bagi menjadi dua
    rombongan dan kita ikuti jejak ke dua arah yang berlainan. Ada bercak darah di
    mana-mana, paling tidak si unicorn sudah berkeliaran kesakitan sejak
    semalam."
    "Aku mau bersama Fang," kata Malfoy cepat-cepat, seraya memandang gigi
    Fang yang panjang-panjang.
    "Baiklah, tapi kuingatkan kau, dia pengecut," kata Hagrid.
    "Jadi aku, Harry dan Hermione akan ke satu arah, sedangkan Draco, Neville,
    dan Fang ke arah lain. Nah, kalau salah satu dari kita temukan unicorn itu, kita
    kirim bunga api hijau, oke?



    --------------------------------------- 149

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Keluarkan tongkat kalian dan berlatihlah sekarang bagus dan kalau ada
    yang dapat kesulitan, kirim bunga api merah, dan kami semua akan datang cari
    kalian jadi, hatihatilah ayo berangkat."
    Hutan gelap dan sunyi. Tak lama kemudian jalan tanah itu bercabang.
    Harry, Hermione, dan Hagrid menuju ke kiri, sedang Malfoy, Neville, dan Fang
    ke kanan.
    Mereka berjalan dalam diam, mengarahkan pandangan ke tanah. Sekali-
    sekali seberkas sinar bulan menembus dahan-dahan pepohonan di atas,
    menyinari bercak darah biru keperakan di atas dedaunan yang rontok.
    Harry melihat Hagrid tampak sangat cemas. "Mungkinkah manusia serigala
    membunuh unicorn-unicorn ini?" tanya Harry.
    "Tidak cukup cepat," kata Hagrid. "Tak mudah tangkap unicorn, mereka
    makhluk magis yang kekuatannya luar biasa.
    Tak pernah kulihat ada unicorn luka sebelumnya."
    Mereka melewati tunggul pohon berlumut. Harry bisa mendengar aliran air.
    Pasti di dekat-dekat situ ada sungai.
    Masih tampak bercak-bercak darah unicorn di sana-sini di sepanjang jalan
    berkelok itu.
    "Kau tak apa-apa, Hermione?" Hagrid berbisik. "Jangan khawatir, dia tak bisa
    pergi jauh-jauh kalau lukanya separah ini dan nanti kita bisa me KE BALIK
    POHON ITU!"
    Hagrid menyambar Harry dan Hermione dan menarik mereka ke belakang
    pohon ek besar. Ditariknya sebatang anak panah dan dipasangnya pada
    busurnya, siap diluncurkan.
    Ketiganya mendengarkan. Sesuatu menggeleser di atas daundaun yang gugur
    di dekat situ. Kedengarannya seperti jubah yang terseret di tanah. Hagrid
    menyipitkan mata memandang jalan gelap itu, tetapi setelah beberapa detik,
    bunyi itu semakin menjauh.
    "Aku tahu," Hagrid bergumam. "Ada sesuatu di sini yang seharusnya tidak
    ada."
    "Manusia serigala?" Harry mengusulkan.
    "Itu bukan manusia serigala dan bukan unicorn juga," kata Hagrid muram.
    "Baik, ikuti aku, tapi hati-hati sekarang."
    Mereka berjalan lebih lambat, memasang telinga untuk menangkap bunyi
    paling pelan sekalipun. Mendadak, di lapangan terbuka di depan mereka,
    jelasjelas sesuatu bergerak.
    "Siapa itu?" teriak Hagrid. "Perlihatkan dirimu. Aku bersenjata!"
    Dan ke tempat terbuka itu muncullah apakah itu manusia atau kuda?
    Sampai pinggang dia manusia, dengan rambut dan jenggot merah, tetapi di
    bawah itu tubuh kuda cokelat berkilau, dengan ekor panjang kemerahan. Harry
    dan Hermione ternganga.
    "Oh, kau rupanya, Ronan," kata Hagrid lega. "Apa kabar?"
    Hagrid maju dan menjabat tangan centaurus itu.
    "Selamat malam, Hagrid," kata Ronan. Suaranya dalam dan sedih. "Apa kau
    tadi mau memanahku?"



    --------------------------------------- 150

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tak ada salahnya hati-hati, Ronan," kata Hagrid, membelai busurnya. "Ada
    sesuatu yang jahat keliaran di Hutan ini. Ini Harry Potter dan Hermione
    Granger. Murid Hogwarts. Dan ini Ronan, anak-anak. Dia centaurus."
    "Kami sudah melihat," kata Hermione lemah.
    "Selamat malam," kata Ronan. "Kalian pelajar, ya? Banyak yang kalian
    pelajari di sekolah?"
    "Erm..."
    "Sedikit," kata Hermione malu-malu.
    "Sedikit. Yah, lumayan," Ronan menghela napas.
    Dia menengadah, memandang langit. "Mars terang malam ini."
    "Yeah," kata Hagrid, ikut memandang ke atas. "Dengar, aku senang kami
    bertemu kau, Ronan, karena ada unicorn yang luka kau lihat sesuatu?"
    Ronan tidak langsung menjawab. Dia menatap ke atas tanpa berkedip,
    kemudian menghela napas lagi.
    "Selalu saja yang tak bersalah jadi korban lebih dulu,"
    katanya. "Begitulah sejak berabad-abad lalu, begitulah juga sekarang."
    "Yeah," kata Hagrid, "tapi apa kau lihat sesuatu, Ronan?
    Sesuatu yang luar biasa?"
    "Mars terang malam ini," Ronan mengulangi sementara Hagrid
    memandangnya dengan tak sabar. "Luar biasa terang."
    "Yeah, tapi yang kumaksud sesuatu yang lebih dekat ke tanah," kata Hagrid.
    "Jadi kau tidak lihat sesuatu yang luar biasa?"
    Sekali lagi, perlu beberapa saat bagi Ronan untuk menjawab.
    Akhirnya dia berkata, "Hutan ini menyembunyikan banyak rahasia."
    Gerakan di pepohonan di belakang Ronan membuat Hagrid mengangkat
    busurnya lagi, tetapi ternyata hanya centaurus kedua, bertubuh dan berambut
    hitam, dan kelihatan lebih liar daripada Ronan.
    "Halo, Bane," kata Hagrid. "Kau tak apa-apa?"
    "Selamat malam, Hagrid. Kuharap kau baik-baik saja."
    "Cukup baik. Begini, aku baru saja menanyai Ronan, kau lihat sesuatu yang
    aneh di sini belakangan ini?" Bane maju berdiri di sebelah Ronan. Dia menatap
    ke langit.
    "Mars terang malam ini," cuma itu katanya.
    "Kami sudah dengar," kata Hagrid sebal. "Kalau kalian lihat sesuatu,
    beritahu aku, ya? Kami akan jalan lagi sekarang."
    Harry dan Hermione mengikuti Hagrid meninggalkan tempat terbuka itu,
    berkali-kali menoleh memandang Ronan dan Bane, sampai pohon-pohon
    menutup pandangan mereka.
    "Jangan pernah," kata Hagrid jengkel, "coba mendapat jawaban langsung
    dari centaurus. Pengamat bintang yang fanatik. Tak tertarik pada apa pun yang
    lebih dekat daripada bulan."
    "Apa ada banyak centaurus di sini?" tanya Hermione.
    "Oh, cukup banyak... Berkelompok dengan kaumnya sendiri, kebanyakan,
    tetapi mereka bersedia muncul kalau aku perlu bicara. Mereka pemikir,
    centaurus itu... mereka banyak tahu...
    cuma tidak banyak bicara."



    --------------------------------------- 151

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apakah menurutmu yang kita dengar tadi, sebelum ketemu Ronan, adalah
    centaurus?" tanya Harry.
    "Apa kedengarannya seperti langkah kaki kuda bagimu?
    Bukan, menurutku, tadi itu yang bunuh unicorn belum pernah dengar yang
    seperti itu."
    Mereka berjalan terus menembus pepohonan yang rapat dan gelap. Harry
    berkali-kali menoleh ke belakang dengan cemas.
    Dia punya perasaan tak enak bahwa mereka sedang diawasi.
    Dia senang Hagrid dan busurnya bersama mereka. Mereka baru saja
    membelok ketika Hermione mencengkeram lengan Hagrid.
    "Hagrid! Lihat! Bunga api merah, yang lain dalam bahaya!"
    "Kalian berdua tunggu sini!" teriak Hagrid. "Tetap di jalan ini, nanti aku
    kembali!"
    Mereka mendengar bunyi berkeresak ketika Hagrid menerobos belukar.
    Keduanya saling pandang, sangat ketakutan, sampai mereka tak bisa
    mendengar apa-apa lagi kecuali gesekan daun-daun di sekitar mereka.
    "Menurutmu apakah mereka terluka?" bisik Hermione.
    "Aku tak peduli kalau Malfoy luka, tetapi kalau terjadi sesuatu pada
    Neville... salah kitalah dia ada di sini."
    Menit demi menit berlalu lambat. Telinga mereka rasanya lebih tajam
    daripada biasanya. Harry merasa bisa mendengar setiap desah angin, setiap
    derik ranting. Apa yang terjadi? Di mana yang lain?
    Akhirnya, bunyi berkeresak keras menandakan kembalinya Hagrid. Malfoy,
    Neville, dan Fang bersamanya. Hagrid berang sekali. Malfoy rupanya diam-diam
    menyergap Neville dari belakang, maksudnya hanya untuk bergurau. Neville
    panik dan mengirim bunga api.
    "Kita beruntung kalau masih bisa tangkap sesuatu sekarang, setelah suara-
    suara yang kalian buat. Baik, kita ganti rombongan Neville, kau bersamaku dan
    Hermione. Harry, kau pergi bersama Fang dan idiot ini. Sori," Hagrid
    menambahkan dengan berbisik kepada Harry, "tapi dia akan lebih sulit
    menakut-nakutimu, dan kita harus selesaikan ini."
    Maka Harry menuju ke tengah Hutan bersama Malfoy dan Fang. Mereka
    berjalan selama hampir setengah jam, makin jauh masuk ke Hutan, sampai
    jalan tanah itu nyaris tak bisa diikuti lagi karena pepohonan begitu rapat.
    Menurut Harry darahnya kelihatan semakin pekat. Ada cipratan di akar
    sebatang pohon, seakan makhluk malang itu berputar-putar kesakitan di dekat
    situ. Lewat celah di antara cabang-cabang pohon ek tua, Harry bisa melihat
    tanah terbuka di depan mereka.
    "Lihat...," gumamnya, merentangkan tangan untuk menghentikan Malfoy.
    Sesuatu yang putih terang berkilauan di tanah. Mereka beringsut mendekat.
    Ternyata memang unicorn, dan dia sudah mati. Belum pernah Harry melihat
    sesuatu seindah dan sesedih itu. Kakinya yang ramping panjang mencuat
    janggal di tempat dia terjatuh dan surainya yang putih berkilau menjurai bagai
    mutiara di atas daundaun yang gelap.
    Harry sudah maju selangkah mendekatinya ketika bunyi menggeleser
    membuatnya terpaku di tempat. Semak di tepi tempat terbuka itu bergetar...



    --------------------------------------- 152

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Kemudian, dari bayang kegelapan, muncul sosok berkerudung, merangkak di
    tanah seperti binatang yang sedang mendekati mangsanya. Harry, Malfoy dan
    Fang berdiri terpaku. Sosok berkerudung itu sudah tiba di samping unicorn,
    menundukkan kepalanya ke arah luka di sisi tubuh unicorn, dan mulai
    menyeruput darahnya.
    "AAAAAAAAAARGH!"
    Malfoy menjerit ngeri dan melesat kabur begitu juga Fang.
    Sosok berkerudung itu mengangkat kepalanya dan memandang lurus pada
    Harry darah unicorn menetes-netes ke bagian depan tubuhnya. Dia berdiri dan
    berjalan cepat mendekati Harry Harry sendiri tak bisa bergerak saking
    takutnya.
    Kemudian rasa sakit menusuk kepalanya. Belum pernah Harry merasakan
    sakit sepedih ini, seakan bekas lukanya terbakar
    setengah buta, dia terhuyung ke belakang.
    Didengarnya bunyi tapak kuda di belakangnya, lari berderap, dan sesuatu
    melompatinya, menerjang sosok itu.
    Sakit di kepala Harry tak tertahankan lagi, dia jatuh berlutut.
    Satu-dua menit kemudian barulah rasa sakit itu lenyap. Ketika Harry
    mendongak, sosok itu telah lenyap. Centaurus berdiri di depannya. Bukan
    Ronan ataupun Bane. Yang ini kelihatan lebih muda, rambutnya pirang dan
    tubuh kudanya berbulu putih.
    "Kau tak apa-apa?" tanya si centaurus seraya membantu Harry berdiri.
    "Ya terima kasih tadi itu apa?"
    Si centaurus tidak menjawab. Mata birunya luar biasa, seperti batu safir
    pucat. Dia memandang Harry dengan teliti, matanya lama terpancang pada
    bekas luka hitam-kelabu yang tampak nyata di dahi Harry.
    "Kau Harry Potter," katanya. "Sebaiknya kau kembali pada Hagrid. Hutan
    tidak aman pada saat ini terutama untukmu.
    Kau bisa naik kuda? Supaya lebih cepat.
    "Namaku Firenze," katanya menambahkan seraya menekuk kaki depannya,
    berlutut, agar Harry bisa naik ke punggungnya.
    Mendadak terdengar lebih banyak derap kaki kuda dari sisi lain tanah
    terbuka. Ronan dan Bane muncul dari balik pepohonan, terengah-engah dan
    berkeringat.
    "Firenze!" gelegar Bane. "Apa yang kaulakukan? Ada manusia di
    punggungmu! Sungguh kau tak tahu malu.
    Memangnya kau bagal angkut biasa?"
    "Sadarkah kalian siapa ini?" kata Firenze. "Ini Harry Potter.
    Lebih cepat dia meninggalkan hutan ini lebih baik."
    "Kau cerita apa saja kepadanya?" Bane menggeram. "Ingat, Firenze, kita
    sudah disumpah untuk tidak mencampuri urusan langit. Bukankah kita sudah
    membaca apa yang akan terjadi di pergerakan planet-planet?"
    Ronan mengais-ngais tanah dengan gelisah. "Aku yakin Firenze melakukan
    yang menurutnya terbaik," kata Ronan dengan suaranya yang sedih. Bane
    menyentakkan kaki belakangnya dengan berang.



    --------------------------------------- 153

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Terbaik! Apa kaitannya dengan kita? Centaurus berurusan dengan apa yang
    telah diramalkan! Bukan tugas kita untuk berkeliaran seperti keledai,
    menyelamatkan manusia yang tersesat di Hutan kita!"
    Firenze mendadak berdiri di atas kaki belakangnya dengan gusar, sehingga
    Harry harus berpegangan pada bahunya supaya tidak jatuh.
    "Apa kau tidak melihat unicorn itu?" Firenze berteriak kepada Bane. "Apa
    kau tidak mengerti kenapa dia dibunuh?
    Atau apakah planet-planet tidak memberitahukan rahasia itu kepadamu?
    Aku akan melawan apa yang bersembunyi di hutan ini, Bane, ya, bersama
    manusia kalau perlu."
    Dan Firenze berputar; dengan Harry mencengkeram bahunya sebisa
    mungkin, mereka masuk ke antara pepohonan, meninggalkan Ronan dan Bane
    di belakang mereka.
    Harry sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. "Kenapa Bane begitu
    marah?" dia bertanya. "Kau menyelamatkanku dari makhluk apa?"
    Firenze melambatkan larinya hingga akhirnya dia berjalan, memperingatkan
    Harry agar menunduk supaya tidak menabrak dahan-dahan rendah, tetapi tidak
    menjawab pertanyaannya.
    Mereka menembus pepohonan dalam diam selama begitu lama sampai Harry
    mengira Firenze tidak mau lagi bicara padanya.
    Mereka sedang melewati pepohonan yang sangat rapat, ketika Firenze tiba-
    tiba berhenti.
    "Harry Potter, tahukah kau darah unicorn digunakan untuk apa?"
    "Tidak," jawab Harry, kaget mendengar pertanyaan aneh itu.
    "Kami cuma memakai tanduk dan rambut ekornya dalam pelajaran Ramuan."
    "Itu karena membunuh unicorn adalah perbuatan yang amat keji," kata
    Firenze. "Hanya orang yang tak akan rugi, malah sangat diuntungkan, yang mau
    melakukan kejahatan semacam itu. Darah unicorn akan membuatmu tetap
    hidup, bahkan kalau kau sudah tinggal sejengkal dari kematian, tetapi harga
    yang harus dibayar mengerikan sekali. Kau telah membunuh sesuatu yang murni
    dan tak berdaya untuk menyelamatkan dirimu dan kau hanya akan setengah
    hidup, hidup yang terkutuk, begitu darah unicorn menyentuh bibirmu."
    Harry menatap bagian belakang kepala Firenze, yang berkilau keperakan
    tertimpa cahaya bulan.
    "Tetapi siapa yang begitu putus asa?" tanyanya. "Kalau kau akan dikutuk
    selamanya, lebih baik mati, kan?"
    "Memang," kata Firenze, "kecuali yang kauperlukan hanyalah bertahan hidup
    cukup lama untuk meminum sesuatu yang lain sesuatu yang bisa
    mengembalikan kekuatan dan kekuasaanmu sepenuhnya sesuatu yang berarti
    kau tak akan bisa mati. Mr Potter, tahukah kau apa yang disembunyikan di
    sekolah saat ini?"
    "Batu Bertuah! Tentu saja Cairan Kehidupan! Tapi aku tak mengerti
    siapa..."
    "Tak terpikirkah olehmu seseorang yang telah menunggu bertahun-tahun
    untuk kembali berkuasa, yang bertahan hidup, menunggu datangnya
    kesempatan?"



    --------------------------------------- 154

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Seakan ada tangan besi yang mendadak mencengkeram jantung Harry. Di
    antara bunyi keresak dedaunan, seakan dia mendengar lagi apa yang dikatakan
    Hagrid pada malam mereka bertemu untuk pertama kalinya: "Ada yang bilang
    dia mati.
    Omong kosong, menurutku. Tak tahu apakah masih ada cukup manusia di
    tubuhnya untuk bisa mati."
    "Maksudmu," kata Harry serak, "tadi itu Vol..."
    "Harry! Harry, kau tak apa-apa?"
    Hermione berlari ke arah mereka, Hagrid terengahengah di belakangnya.
    "Aku baik-baik saja," kata Harry, hampir tak memahami apa yang
    diucapkannya. "Unicorn-nya mati, Hagrid, di tanah kosong di belakang sana."
    "Sekaranglah saatnya aku meninggalkanmu,"
    Firenze bergumam sementara Hagrid bergegas memeriksa unicorn. "Kau
    sudah aman sekarang."
    Harry meluncur turun dari punggungnya.
    "Semoga selamat, Harry Potter," kata Firenze. "Planet-planet pernah
    ditafsirkan secara keliru sebelum ini, bahkan oleh centaurus. Kuharap ini salah
    satu di antara kekeliruan itu."
    Firenze berbalik dan melangkah kembali ke dalam Hutan, meninggalkan
    Harry gemetar di belakangnya.
    ***
    Ron tertidur di ruang rekreasi yang gelap, menunggu mereka pulang.
    Dia mengigau, meneriakkan sesuatu tentang pelanggaran dalam
    pertandingan Quidditch ketika Harry mengguncangnya keras-keras,
    membangunkannya. Dalam beberapa detik saja matanya sudah terbuka lebar
    ketika Harry mulai bercerita kepadanya dan Hermione, tentang apa yang
    terjadi di Hutan.
    Harry tak bisa duduk. Dia mondar-mandir di depan perapian.
    Dia masih gemetar.
    "Snape menginginkan Batu Bertuah itu untuk Voldemort...
    dan Voldemort menunggu di Hutan... dan selama ini kita mengira Snape
    hanya sekadar ingin kaya..."
    "Jangan ucapkan lagi nama itu!" bisik Ron ketakutan, seakan dia mengira
    Voldemort bisa mendengar mereka.
    Harry tidak mendengarkan.
    "Firenze menyelamatkan aku, tetapi seharusnya tidak boleh...
    Bane marah sekali... katanya mereka tidak boleh ikut campur dengan apa
    yang telah diramalkan planet-planet... Planet-planet itu pastilah menunjukkan
    bahwa Voldemort akan kembali...
    Bane berpendapat Firenze seharusnya membiarkan Voldemort
    membunuhku... Kurasa itu juga sudah tertulis pada bintangbintang."
    "Jangan sebut-sebut lagi nama itu!" desis Ron. "Jadi sekarang aku tinggal
    menunggu Snape mencuri batu itu," kata Harry tegang. "Setelah itu Voldemort
    bisa datang dan menghabisiku...
    Yah, kurasa Bane akan senang. Hermione kelihatan sangat ketakutan,
    tetapi dia menghibur Harry.



    --------------------------------------- 155

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry, semua orang bilang Dumbledore-lah satu-satunya orang yang
    ditakuti Kau-Tahu-Siapa. Kalau ada Dumbledore, Kau-Tahu-Siapa tidak akan
    menyentuhmu. Lagi pula, siapa bilang centaurus benar? Bagiku kedengarannya
    seperti ramalan, dan Profesor McGonagall bilang itu cabang ilmu gaib yang
    paling tidak tepat.
    Langit sudah berubah terang sebelum mereka berhenti bicara.
    Mereka berangkat tidur dalam kelelahan, kerongkongan mereka sakit.
    Tetapi kejutan-kejutan malam itu belum berakhir.
    Ketika Harry menarik penutup tempat tidurnya, dia menemukan Jubah
    Gaib-nya di bawahnya. Ada kertas yang disematkan pada jubah itu, dengan
    pesan berikut: Siapa tahu perlu.
    ***
    16. Menembus Pintu Jebakan
    DI TAHUN-TAHUN mendatang, Harry tidak bisa ingat bagaimana persisnya
    dia bisa mengerjakan soal-soal ujiannnya ketika dia setengah percaya
    Voldemort bisa menerobos masuk setiap saat. Tetapi hari-hari berlalu dan tak
    ada keraguan Fluffy masih hidup dan sehat di balik pintu tertutup.
    Udara panas sekali, terutama di ruang kelas besar tempat mereka
    mengerjakan ujian tertulis. Kepada mereka dibagikan pena bulu baru khusus
    untuk ujian, pena yang telah disihir dengan mantra anti menyontek.
    Mereka juga ujian praktek. Profesor Flitwick memanggil mereka satu per
    satu ke dalam kelas untuk menguji apakah mereka bisa membuat nenas menari
    di atas meja. Profesor McGonagall mengawasi mereka mengubah tikus menjadi
    kotak tembakau angka diberikan sesuai dengan seberapa indahnya kotak
    tembakau itu, tetapi dikurangi jika kotak itu punya kumis.
    Snape membuat mereka gugup, terus menempel sementara mereka
    mencoba mengingat bagaimana membuat Ramuan Lupa.
    Harry mengerjakan tugas-tugasnya sebaik mungkin, berusaha mengabaikan
    rasa sakit yang menusuk-nusuk dahinya, yang terus mengganggunya sejak
    perjalanannya ke Hutan. Neville mengira Harry senewen berat gara-gara ujian
    karena Harry tak bisa tidur, tetapi kenyataannya adalah Harry berkali-kali
    terbangun gara-gara mimpi buruknya yang dulu, hanya saja sekarang mimpi itu
    lebih mengerikan, karena ada sosok berkerudung dengan darah menetes-netes
    di dalam mimpinya.
    Mungkin karena mereka tidak melihat apa yang dilihat Harry di dalam
    Hutan, atau karena mereka tidak memiliki bekas luka yang terasa panas
    membara di dahi mereka, tetapi Ron dan Hermione tidak secemas Harry
    memikirkan batu itu. Voldemort tentu saja membuat mereka takut, tetapi dia
    tidak mendatangi mereka berkali-kali dalam mimpi, dan mereka terlalu sibuk
    belajar sehingga tak puny a banyak waktu untuk mencemaskan apa yang akan
    dilakukan Snape atau penyihir jahat lainnya.
    Ujian terakhir mereka adalah Sejarah Sihir. Setelah satu jam menjawab
    berbagai pertanyaan tentang penyihir nyentrik yang menemukan kuali yang bisa



    --------------------------------------- 156

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    mengaduk sendiri, mereka akan bebas bebas selama seminggu penuh yang
    menyenangkan sampai hasil ujian mereka diumumkan. Ketika hantu Profesor
    Binns menyuruh mereka meletakkan pena bulu dan menggulung perkamen
    mereka, Harry ikut bersorak bersama yang lain.
    "Ujiannya lebih mudah daripada dugaanku," kata Hermione, ketika mereka
    bergabung dengan gerombolan anak-anak keluar ke lapangan yang disinari
    matahari. "Aku tak perlu menghafalkan Kitab Peri Laku Manusia Serigala Tahun
    1637
    atau pemberontakan Elfric si Penuh Semangat."
    Hermione senang mendiskusikan soal-soal ujiannya, tetapi Ron mengatakan
    ini membuatnya pusing, maka mereka pergi ke danau dan duduk di bawah
    pohon. Si kembar Weasley dan Lee Jordan sedang menggelitik sungut cumi-
    cumi raksasa yang sedang menghangatkan diri di air yang dangkal.
    "Tak perlu lagi belajar," Ron menghela napas dengan senang, berbaring di
    atas rumput. "Ceria sedikit dong, Harry, kita punya waktu seminggu sebelum
    kita tahu ujian kita jeblok. Sekarang tak perlu cemas."
    Harry menggosok-gosok dahinya.
    "Aku ingin tahu apa artinya ini!" celetuknya jengkel. "Bekas lukaku sakit
    terus sebelumnya memang pernah sakit, tapi tidak sesering ini."
    "Pergilah ke Madam Pomfrey," Hermione mengusulkan.
    "Aku tidak sakit," kata Harry. "Kurasa ini peringatan...
    artinya akan ada bahaya..."
    Ron tak bisa diajak kompromi, hawa terlalu panas.
    "Harry, santai saja. Hermione benar. Batu itu aman selama Dumbledore
    ada. Lagi pula, kita tak pernah punya bukti Snape sudah menemukan cara
    melewati Fluffy. Kakinya pernah nyaris copot satu kali, dia tidak akan buru-
    buru mencoba lagi. Dan Neville akan main Quidditch untuk tim Inggris sebelum
    Hagrid mengecewakan Dumbledore."
    Harry mengangguk, tetapi dia tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa
    ada sesuatu yang lupa dia lakukan, sesuatu yang penting. Ketika dia mencoba
    menjelaskan soal ini, Hermione berkata, "Itu cuma dampak ujian. Semalam aku
    terbangun dan sudah membaca setengah buku catatan Transfigurasi-ku sebelum
    aku ingat ujian itu sudah selesai."
    Meskipun demikian, Harry yakin perasaannya yang galau tidak ada
    hubungannya dengan ujian. Dia memandang seekor burung hantu terbang
    menuju sekolah melintasi langit biru cerah, paruhnya menggigit surat. Hagrid-
    lah satu-satunya orang yang pernah mengiriminya surat. Hagrid tak akan pernah
    mengkhianati Dumbledore.
    Hagrid tak akan pernah memberitahu siapa pun bagaimana caranya
    melewati Fluffy... tak pernah... tetapi...
    Mendadak Harry melompat bangun.
    "Mau ke mana kau?" tanya Ron mengantuk.
    "Baru saja terpikir olehku," kata Harry Wajahnya sudah menjadi pucat. "Kita
    harus menemui Hagrid sekarang."
    "Kenapa?" Hermione tersengal, berusaha mengejar Harry.



    --------------------------------------- 157

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tidakkah menurut kalian agak aneh," kata Harry sambil mendaki lereng
    berumput, "bahwa Hagrid sangat ingin memiliki naga, dan tiba-tiba saja muncul
    orang asing yang kebetulan punya telur naga dalam kantongnya? Berapa orang
    sih yang bepergian membawa telur naga, padahal sebetulnya itu dilarang oleh
    undang-undang penyihir? Untung mereka menemukan Hagrid, iya, kan? Kenapa
    aku tidak menyadari hal ini sebelumnya?"
    "Apa sih maksudmu?" tanya Ron. Tetapi Harry yang berlari menyeberangi
    lapangan menuju. tepi Hutan, tidak menjawab.
    Hagrid sedang duduk di kursi berlengan di luar rumahnya.
    Celana panjang dan lengan kemejanya digulung dan dia sedang mengupas
    kacang polong yang kemudian dimasukkannya ke dalam mangkuk besar.
    "Halo," sapanya, tersenyum. "Selesai ujian? Ada waktu untuk minum?"
    "Ada," kata Ron, tetapi Harry menyelanya.
    "Tidak, kami sedang buru-buru. Hagrid, aku harus tanya sesuatu padamu.
    Kau ingat malam kau memenangkan Norbert?
    Seperti apa orang asing yang main kartu denganmu itu?"
    "Tak tahu," kata Hagrid santai, "dia tak mau lepas kerudungnya." Hagrid
    melihat mereka bertiga kaget dan dia mengangkat alisnya.
    "Tidak begitu luar biasa, ada banyak orang aneh di Hog's Head itu nama
    tempat minum di desa itu. Mungkin saja dia pedagang naga, kan? Aku tak
    pernah lihat mukanya, kerudungnya dipakai terus."
    Harry terenyak duduk di sebelah mangkuk kacang polong.
    "Apa yang kauobrolkan dengannya? Apa kau menyebut-nyebut Hogwarts?"
    "Mungkin saja," kata Hagrid mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat.
    "Yeah... dia tanya aku kerja apa, dan kukatakan aku pengawas binatang liar di
    sini... Dia tanya-tanya sedikit tentang makhluk-makhluk apa yang kupelihara...
    jadi kuceritakan... dan. kubilang yang sebetulnya kuinginkan adalah naga...
    dan kemudian... aku tak ingat persis, karena dia terus-terusan belikan aku
    minum... Coba kuingat... yeah, kemudian dia bilang dia punya telur naga dan
    kami bisa main kartu dengan telur itu sebagai taruhannya kalau aku mau... tapi
    dia harus yakin aku bisa rawat naganya, dia tak mau telur naganya jatuh ke
    rumah sembarangan. Jadi kubilang, setelah Fluffy, naga sih barang mudah..."
    "Dan apakah dia apakah dia kelihatannya tertarik pada Fluffy?" Harry
    bertanya, berusaha agar suaranya tetap tenang.
    "Nah yeah ada berapa anjing kepala tiga yang kautemui, bahkan di
    Hogwarts sekalipun? Jadi kuceritakan, Fluffy barang mudah kalau kau tahu cara
    menenangkan dia. Mainkan saja musik, maka dia akan langsung tertidur..."
    Mendadak Hagrid tampak ketakutan.
    "Seharusnya tak kuceritakan pada kalian!" sergah Hagrid.
    "Lupakan saja apa yang barusan aku bilang! Hei mau ke mana kalian?"
    Harry, Ron, dan Hermione sama sekali tidak saling bicara sampai mereka
    berhenti di Aula Depan, yang terasa sangat dingin dan suram dibanding
    lapangan di luar.
    "Kita harus menemui Dumbledore," kata Harry. "Hagrid memberitahu orang
    asing itu cara melewati Fluffy, dan entah Snape atau Voldemort di bawah
    kerudung itu pasti soal gampang, begitu dia berhasil membuat Hagrid mabuk.



    --------------------------------------- 158

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Kuharap saja Dumbledore mempercayai kita. Firenze mungkin mau mendukung
    kita kalau Bane tidak melarangnya. Di mana kantor Dumbledore?"
    Mereka memandang berkeliling, seakan berharap melihat papan yang bisa
    menunjukkan arah yang benar. Mereka tak pernah diberitahu di mana
    Dumbledore tinggal, dan mereka pun belum pernah bertemu seseorang yang
    pernah pergi ke kediaman Dumbledore.
    "Kita harus...," Harry baru mulai berkata ketika mendadak terdengar suara
    dari seberang aula.
    "Apa yang kalian lakukan di sini?"
    Profesor McGonagall, membawa setumpuk buku.
    "Kami ingin menemui Profesor Dumbledore," kata Hermione, agak nekat,
    pikir Harry dan Ron.
    "Menemui Profesor Dumbledore?" Profesor McGonagall mengulang, seakan
    itu hal yang sangat aneh. "Kenapa?"
    Harry menelan ludah sekarang bagaimana?
    "Ini semacam rahasia," katanya, lalu langsung menyesal, karena lubang
    hidung Profesor McGonagall melebar.
    "Profesor Dumbledore berangkat sepuluh menit yang lalu,"
    katanya dingin. "Dia menerima panggilan penting dari Kementerian Sihir dan
    langsung terbang ke London."
    "Dia pergi?" kata Harry panik. "Sekarang?"
    "Profesor Dumbledore penyihir hebat, Potter, urusannya banyak..."
    "Tapi ini penting."
    "Sesuatu yang ingin kausampaikan lebih penting daripada Kementerian Sihir,
    Potter?"
    "Soalnya," kata Harry yang sudah tidak menutup-nutupi lagi,
    "Profesor ini tentang Batu Bertuah..."
    Entah apa yang diharapkan Profesor McGonagall, pasti bukan itu. Buku-buku
    yang dibawanya berjatuhan dari tangannya, tetapi dia tidak memungutnya.
    "Bagaimana kau tahu...?" tanyanya gugup.
    "Profesor, saya rasa saya tahu bahwa Sn ada orang yang akan mencoba
    mencuri batu itu. Saya harus bicara dengan Profesor Dumbledore."
    Profesor McGonagall menatapnya dengan kaget bercampur curiga.
    "Profesor Dumbledore akan kembali besok," katanya akhirnya. "Aku tak tahu
    bagaimana kalian sampai bisa tahu tentang batu itu, tetapi tenanglah, tak se-
    orang pun bisa mencurinya, perlindungannya sangat ketat."
    "Tapi, Profesor..."
    "Potter, aku tahu apa yang kubicarakan," katanya pendek.
    Dia membungkuk dan mengumpulkan buku-bukunya yang jatuh. "Kusarankan
    kalian semua kembali keluar dan menikmati sinar matahari."
    Tetapi mereka tidak melakukan itu.
    "Pasti malam ini," kata Harry, begitu dia yakin Profesor McGonagall tak bisa
    mendengarnya. "Snape akan masuk lewat pintu jebakan malam ini. Dia sudah
    berhasil mengetahui semua
    yang diperlukannya dan dia berhasil menyingkirkan Dumbledore.



    --------------------------------------- 159

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Dialah yang mengirim surat itu. Pasti Kementerian Sihir akan kaget begitu
    Dumbledore muncul."
    "Tapi apa yang bisa kita..."
    Hermione terperangah. Harry dan Ron berbalik.
    Ada Snape.
    "Selamat sore," katanya lancar.
    Mereka terbelalak memandangnya.
    "Kalian seharusnya tidak berada di dalam pada hari seindah ini," katanya
    dengan senyum aneh.
    "Kami baru...," kata Harry tanpa tahu apa yang akan dikatakannya.
    "Kalian seharusnya lebih hati-hati," kata Snape. "Kasak-kusuk begini, orang-
    orang akan mengira kalian hendak berbuat sesuatu. Dan riskan sekali bagi
    Gryffindor kalau kehilangan angka lebih banyak lagi, kan?"
    Wajah Harry memerah. Mereka berbalik hendak keluar, tetapi Snape
    memanggil mereka kembali.
    "Ingat, Potter sekali lagi berkeliaran di malam hari, aku sendiri yang akan
    memastikan kau dikeluarkan. Selamat sore."
    Dia berjalan menuju ruang guru. Menuruni undakan batu di luar, Harry
    menoleh kepada kedua temannya.
    "Baik, ini yang akan kita lakukan," bisiknya tegang. "Salah satu dari kita
    harus memata-matai Snape tunggu di luar ruang guru dan ikuti dia kalau dia
    keluar. Hermione, sebaiknya kau saja."
    "Kenapa aku?"
    "Jelas kenapa," kata Ron. "Kau bisa berpura-pura sedang menunggu Profesor
    Flitwick, kan." Ron meninggikan suaranya.
    "Oh, Profesor Flitwick, saya cemas sekali, saya rasa jawaban saya untuk soal
    empat belas b salah..."
    "Oh, diam kau," kata Hermione, tetapi dia setuju memata-matai Snape.
    "Dan kami lebih baik berjaga di luar koridor lantai tiga," kata Harry kepada
    Ron. "Ayo."
    Tetapi bagian rencana yang ini tidak bisa dilaksanakan. Baru saja mereka
    tiba di pintu yang memisahkan Fluffy dari bagian lain sekolah, Profesor
    McGonagall muncul lagi, dan kali ini dia marah sekali.
    "Rupanya kalian pikir kalian lebih susah ditembus daripada satu set mantra
    sihir!" semburnya. "Cukup omong kosong ini!
    Kalau kudengar kalian berada dekat-dekat sini lagi, aku akan mengurangi
    lima puluh angka lagi dari Gryffindor! Ya, Weasley, dari asramaku sendiri!"
    Harry dan Ron kembali ke ruang rekreasi. Harry baru saja berkata, "Paling
    tidak Hermione mengawasi Snape," ketika lukisan Nyonya Gemuk berayun
    terbuka dan Hermione masuk.
    "Sori, Harry!" ratapnya. "Snape keluar dan bertanya aku sedang apa, jadi
    kukatakan aku menunggu Flitwick, dan Snape masuk memanggilkan dia.
    Terpaksa aku buru-buru menyingkir.
    Aku tak tahu Snape ke mana."



    --------------------------------------- 160

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apa boleh buat kalau begitu, kan?" kata Harry. Kedua temannya
    menatapnya. Wajah Harry pucat dan matanya berkilauan. "Aku akan ke sana
    malam ini dan aku akan berusaha mendapatkan batu itu lebih dulu."
    "Kau gila!" kata Ron.
    "Jangan!" cegah Hermione. "Setelah McGonagall dan Snape mengancammu
    seperti itu? Kau akan dikeluarkan!"
    "JADI KENAPA?" teriak Harry. "Tidak mengertikah kalian?
    Jika Snape berhasil mendapatkan batu itu, Voldemort akan kembali! Tidak
    pernahkah kalian dengar bagaimana keadaannya ketika dia mencoba
    mengambil alih kekuasaan? Tak ada lagi Hogwarts, jadi kita tak bisa
    dikeluarkan! Dia akan merobohkannya, atau mengubahnya menjadi sekolah
    untuk Sihir Hitam! Kehilangan angka tidak berarti lagi, tidakkah kalian paham?
    Apakah kalian pikir dia akan membiarkan kalian dan keluarga kalian hidup
    tenang jika Gryffindor memenangkan Piala Asrama? Kalau aku tertangkap
    sebelum mencapai tempat batu itu disimpan, yah, aku harus kembali ke
    keluarga Dursley dan menunggu Voldemort menemukanku di sana. Itu cuma
    berarti aku menunda kematian sebentar, karena aku tak mau menyeberang ke
    Sihir Hitam! Aku akan menembus pintu jebakan malam ini dan apa pun yang
    kalian katakan, takkan bisa mencegahku! Voldemort membunuh orangtuaku,
    ingat?"
    Dia mendelik menatap mereka.
    "Kau betul, Harry," kata Hermione pelan.
    "Aku akan memakai Jubah Gaib," kata Harry. "Untunglah jubah itu
    dikembalikan kepadaku."
    "Tapi apa jubah itu bisa menyelubungi kita bertiga?" tanya Ron.
    "Ki-kita bertiga?"
    "Oh, tentu, mana mungkin kami membiarkanmu pergi sendiri?"
    "Tentu saja tidak," kata Hermione tegas. "Kaupikir bagaimana kau bisa
    mencapai tempat batu tanpa kami? Lebih baik aku mencari di buku-bukuku,
    siapa tahu ada yang berguna..."
    "Tetapi kalau kita tertangkap, kalian berdua akan dikeluarkan juga."
    "Tidak, kalau bisa kucegah," kata Hermione muram.
    "Flitwick memberitahuku rahasia, bahwa aku mendapat seratus dua belas
    persen dalam pelajarannya. Mereka tidak akan mengeluarkanku dengan nilai
    setinggi itu."
    ***
    Sesudah makan malam mereka bertiga duduk gelisah, memisahkan diri di
    ruang rekreasi. Tak ada yang mengganggu mereka; toh tak seorang anak
    Gryffindor pun mau bicara lagi dengan Harry. Malam ini pertama kalinya Harry
    tidak merasa sedih karenanya. Hermione membaca sekilas semua catatannya,
    berharap menemukan salah satu sihir yang akan mereka coba punahkan. Harry
    dan Ron tidak banyak bicara. Keduanya memikirkan apa yang sebentar lagi
    akan mereka lakukan.
    Perlahan ruangan menjadi kosong ketika anak-anak satu demi satu pergi
    tidur.



    --------------------------------------- 161

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Lebih baik ambil jubahnya sekarang," gumam Ron, ketika akhirnya Lee
    Jordan pergi sambil menggeliat dan menguap.
    Harry berlari ke atas, ke kamar mereka yang gelap. Ditariknya jubahnya dan
    kemudian terlihat olehnya sending hadiah Natal dari Hagrid. Dikantonginya
    seruling itu untuk digunakan pada Fluffy dia sedang tak ingin menyanyi.
    Harry berlari kembali ke ruang rekreasi.
    "Lebih baik kita pakai jubahnya di sini, dan kita pastikan jubah ini
    menyelubungi kita bertiga kalau Filch melihat sepotong kaki kita berjalan
    sendiri..."
    "Apa yang kalian lakukan?" terdengar suara dari sudut ruangan. Neville
    muncul dari balik kursi, memegangi Trevor si katak, yang kelihatannya bam
    saja mencoba kabur.
    "Tidak apa-apa, Neville," kata Harry cepat-cepat, menyembunyikan jubah di
    belakang punggungnya. Neville menatap wajah mereka yang bersalah.
    "Kalian akan keluar lagi," komentarnya.
    "Tidak, tidak, tidak," kata Hermione. "Kami tidak akan keluar. Kenapa kau
    tidak tidur saja, Neville?"
    Harry memandang jam besar yang berdiri dekat pintu.
    Mereka tak bisa lagi membuang-buang waktu. Mungkin sekarang Snape
    sedang main musik untuk menidurkan Fluffy.
    "Kalian tak boleh keluar," kata Neville, "kalian akan tertangkap lagi.
    Gryffindor akan lebih parah."
    "Kau tidak mengerti," kata Harry. "Ini penting." Tetapi Neville jelas
    menguatkan diri untuk bertindak nekat.
    "Tak akan kubiarkan kalian keluar," katanya sambil bergegas berdiri di
    depan lubang lukisan. "Aku aku akan melawan kalian!"
    "Neville," Ron meledak, "minggir dari lubang itu dan jangan bego..."
    "Jangan menyebutku bego!" kata Neville. "Menurutku kalian tak boleh lagi
    melanggar peraturan! Dan kalianlah yang menasihatiku agar berani melawan
    yang tidak benar!"
    "Ya, tapi bukan terhadap kami," kata Ron putus asa.
    "Neville, kau tak tahu apa yang kaulakukan."
    Ron maju selangkah dan Neville menjatuhkan Trevor si katak yang langsung
    melompat lenyap dari pandangan.
    "Ayo, kalau begitu, coba pukul aku!" kata Neville, mengangkat tinjunya.
    "Aku siap!"
    Harry menoleh kepada Hermione.
    "Lakukan sesuatu," katanya putus asa.
    Hermione maju.
    "Neville," katanya, "aku minta maaf, aku terpaksa berbuat begini."
    Diangkatnya tongkatnya. "Petrificus Totalus!" serunya, seraya menunjuk
    Neville. Lengan Neville mengatup ke sisi tubuhnya. Kedua kakinya saling
    menempel. Seluruh tubuhnya menjadi kaku, dia terhuyung di tempatnya berdiri
    dan kemudian jatuh terjerembap, kaku seperti papan.



    --------------------------------------- 162

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Hermione berlari untuk menelentangkannya. Rahang Neville terkunci
    sehingga dia tidak bisa bicara. Hanya matanya yang bergerak-gerak,
    memandang mereka dengan ngeri.
    "Apa yang kaulakukan kepadanya?" bisik Harry.
    "Kutukan Ikat Tubuh Sempurna," kata Hermione merana.
    "Oh, Neville, sori-sori-sori."
    "Kami terpaksa, Neville, tak ada waktu untuk menjelaskan,"kata Harry.
    "Kau akan mengerti nanti, Neville," kata Ron, ketika mereka melangkahinya
    dan memakai Jubah Gaib.
    Tetapi meninggalkan Neville yang tak bisa bergerak terbaring di lantai,
    rasanya bukan pertanda yang baik. Dalam keadaan cemas, bagi mereka
    bayangan patung kelihatan seperti Filch, semua desau angin di kejauhan
    terdengar seperti Peeves yang meluncur turun ke arah mereka.
    Di kaki tangga pertama mereka melihat Mrs Norris mengendap-endap di
    dekat puncak tangga.
    "Oh, ayo kita tendang dia, kali ini saja," bisik Ron ke telinga Harry, tetapi
    Harry menggeleng. Ketika mereka hati-hati naik melewatinya, Mrs Norris
    mengarahkan matanya yang seperti senter kepada mereka, tetapi tidak berbuat
    apa-apa.
    Mereka tidak bertemu siapa-siapa lagi sampai tiba di tangga menuju ke
    lantai tiga. Peeves sedang berada di tengah tangga, melepas karpetnya supaya
    orang yang lewat tersandung.
    "Siapa itu?" katanya tiba-tiba ketika mereka naik ke arahnya.
    Dia menyipitkan mata hitamnya yang kejam. "Aku tahu kau di situ,
    meskipun aku tak bisa melihatmu. Apakah kau hantu atau murid bandel?"
    Peeves melayang ke atas dan memandang mereka.
    "Harus panggil Filch, harus, kalau ada makhluk tidak tampak berkeliaran."
    Mendadak Harry mendapat ide.
    "Peeves," katanya, berbisik serak, "Baron Berdarah punya alasan sendiri
    untuk tidak menampakkan diri."
    Peeves nyaris jatuh dari udara saking kagetnya.
    Tapi dia berhasil menguasai diri dan melayang kirakira tiga puluh senti dari
    tangga.
    "Maaf sekali, Yang Berdarah, Mr Baron, Sir," katanya menjilat. "Salahku,
    salahku aku tidak melihatmu tentu saja tidak, kau tidak kelihatan maafkan
    gurauan kecil Peevsie, Sir."
    "Aku ada urusan di sini, Peeves," kata Harry serak. "Pergilah jauh-jauh dari
    tempat ini malam ini."
    "Baik, Sir, aku akan pergi," kata Peeves, melayang naik lagi.
    "Mudah-mudahan urusanmu berjalan lancar, Baron. Aku tidak akan
    mengganggumu."
    Dan dia pun melayang pergi.
    "Brilian, Harry!" bisik Ron.
    Beberapa detik kemudian, mereka sudah berada di luar koridor lantai tiga
    dan pintunya sudah menganga sedikit.
    "Wah," kata Harry muram. "Rupanya Snape sudah berhasil melewati Fluffy."



    --------------------------------------- 163

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Melihat pintu yang terbuka itu, ketiganya menyadari apa yang akan mereka
    hadapi. Di bawah selubung jubah, Harry menoleh kepada kedua temannya.
    "Jika kalian ingin kembali, aku tidak akan menyalahkan kalian," katanya.
    "Kalian boleh memakai jubah ini, aku sudah tidak memerlukannya lagi
    sekarang."
    "Jangan bodoh," kata Ron.
    "Kami ikut," kata Hermione.
    Harry mendorong pintu hingga terbuka.
    Ketika pintu itu berderit, telinga mereka menangkap bunyi geraman rendah.
    Ketiga pasang cuping hidung anjing itu mengendus-endus liar ke arah mereka,
    meskipun tidak bisa melihat mereka.
    "Apa itu di kakinya?" bisik Hermione.
    "Kelihatannya harpa," jawab Ron. "Tentu Snape yang meninggalkannya di
    situ."
    "Anjing itu pastilah langsung terbangun begitu Snape berhenti bermain,"
    kata Harry "Nah, sekarang giliran kita...."
    Harry meletakkan seruling Hagrid ke bibirnya dan meniupnya. Tak bisa
    disebut lagu, tetapi begitu mendengar nada pertama, mata binatang itu mulai
    meredup. Harry nyaris tak berani menarik napas. Perlahan-lahan, geraman
    anjing itu mereda dia terhuyung dan mendekam pada lututnya, lalu ambruk ke
    lantai, tertidur nyenyak.
    "Mainkan terus," Ron memperingatkan Harry ketika mereka keluar dari
    bawah jubah dan berjingkat menuju ke pintu jebakan. Mereka bisa merasakan
    napas si anjing yang panas dan berbau ketika mereka mendekati kepala-kepala
    raksasa itu.
    "Kurasa kita akan bisa membuka pintunya," kata Ron, melongok melewati
    punggung si anjing. "Mau masuk duluan, Hermione?"
    "Tidak."
    "Baiklah." Ron mengertakkan gigi dan hati-hati melangkahi kaki si anjing.
    Dia membungkuk dan menarik gelang-gelang pada pintu jebakan, yang langsung
    menjeblak ke atas dan membuka.
    "Apa yang bisa kaulihat?" tanya Hermione cemas.
    "Tidak ada cuma gelap tak ada tangga turun, kita harus lompat."
    Harry yang masih meniup seruling, melambai kepada Ron dan menunjuk-
    nunjuk dirinya.
    "Kau mau turun duluan? Yakin?" tanya Ron.
    "Aku tak tahu seberapa dalamnya. Berikan serulingnya kepada Hermione
    supaya dia bisa membuat anjing itu terus tidur."
    Harry menyerahkan serulingnya. Dalam beberapa detik tanpa tiupan
    seruling, anjing itu menggeram dan bergerak, tetapi begitu Hermione mulai
    meniupnya, dia kembali tidur nyenyak.
    Harry melompati si anjing dan memandang ke bawah lewat lubang pintu
    jebakan. Dasarnya sama sekali tak kelihatan.
    Dia turun ke dalam lubang sampai cuma bergantung pada ujung jari-jarinya.
    Kemudian dia mendongak kepada Ron dan berkata, "Kalau terjadi sesuatu
    padaku, jangan susul aku.



    --------------------------------------- 164

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Langsung pergi ke kandang burung hantu dan kirim Hedwig ke Dumbledore.
    Oke?"
    "Oke," kata Ron.
    "Sampai ketemu sebentar lagi, mudah-mudahan...."
    Dan Harry melepas pegangannya. Udara dingin dan lembap menerpanya
    sementara dia terjatuh, makin lama makin dalam dan...
    BLUK. Dengan bunyi gedebuk yang seakan teredam, dia mendarat pada
    sesuatu yang lunak. Harry duduk dan meraba-raba, matanya belum terbiasa
    pada keremangan di situ. Dia serasa duduk di atas sejenis tanaman.
    "Aman!" teriaknya ke arah cahaya sebesar prangko yang merupakan pintu
    jebakan. "Tempat mendaratnya lunak, kau bisa lompat!"
    Ron langsung menyusul. Dia mendarat telentang di sebelah Harry.
    "Apa ini?" adalah kata-katanya yang pertama. "Entahlah, semacam tanaman.
    Kurasa ada di sini untuk menahan pendaratan. Ayo, Hermione!"
    Suara musik di kejauhan berhenti. Terdengar gong-gong keras anjing, tetapi
    Hermione sudah melompat. Dia mendarat di sisi lain Harry.
    "Pastilah kita beribu-ribu meter di bawah sekolah," katanya.
    "Untung ada tanaman ini di sini," kata Ron.
    "Untung?!" jerit Hermione. "Lihat kalian berdua!"
    Hermione melompat dan berusaha menuju dinding yang lembap. Dia harus
    berkutat karena begitu dia mendarat, tanaman itu langsung melilitkan sulur-
    sulur seperti ular di sekeliling pergelangan kakinya. Sedangkan Harry dan Ron,
    tanpa mereka sadari, kaki mereka sudah dililit kencang oleh sulur-sulur panjang
    tanaman merambat itu.
    Hermione berhasil membebaskan diri sebelum tanaman itu membelitnya
    dengan ketat. Sekarang dia memandang ngeri pada kedua temannya yang
    berkutat melepaskan tanaman itu dari tubuh mereka, tetapi semakin mereka
    berusaha, semakin kuat tanaman itu membelit.
    "Berhenti bergerak!" perintah Hermione. "Aku tahu apa ini ini Jerat Setan!"
    "Oh, aku senang sekali kita tahu nama tanaman ini, sungguh sangat
    membantu," cemooh Ron sambil memiringkan tubuhnya ke belakang, berusaha
    mencegah tanaman itu membelit lehernya.
    "Diam, aku sedang berusaha mengingat bagaimana membunuhnya!" kata
    Hermione.
    "Cepat kalau begitu, aku tak bisa bernapas!" kata Harry tersengal, berkutat
    dengan sulur yang membelit dadanya.
    "Jerat Setan, Jerat Setan... Apa yang dikatakan Profesor Sprout? Tanaman
    ini suka kegelapan dan kelembapan..."
    "Kalau begitu nyalakan api!" Harry tersedak.
    "Ya tentu saja tapi tak ada kayu!" seru Hermione, meremas-remas
    tangannya.
    "KAU INI GILA?" Ron menggeram. "KAU PENYIHIR APA BUKAN?"
    "Oh, betul!" kata Hermione, dan dia mencabut tongkatnya.
    Menggoyangnya, menggumamkan sesuatu dan berhasil memancarkan api
    biru sama seperti yang digunakannya pada Snape di stadion ke arah tanaman
    itu. Dalam beberapa detik saja, kedua anak laki-laki itu merasa belitan sulur-



    --------------------------------------- 165

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    sulur itu mengendur ketika tanaman itu menjauh ketakutan dari nyala terang
    dan kehangatan. Menggeliat-geliut dan melambai-lambai, tanaman itu
    melepaskan belitannya dan mereka berhasil membebaskan diri.
    "Untung kau menyimak pelajaran Herbologi, Hermione,"
    kata Harry ketika dia bergabung dengannya di dekat dinding seraya
    menyeka keringat dari wajahnya.
    "Yeah," kata Ron, "dan untung Harry tidak jadi panik dalam krisis 'tak ada
    kayu', astaga."
    "Jalan sini," kata Harry, menunjuk ke lorong berlantai batu yang merupakan
    satu-satunya jalan di situ.
    Satu-satunya bunyi yang bisa mereka dengar, selain langkahlangkah mereka
    sendiri, adalah tetes-tetes air lembut yang jatuh dari dinding. Lorong itu
    menurun, mengingatkan Harry pada Gringotts. Hatinya tersentak ketika dia
    teringat naga-naga yang kabarnya menjaga ruangan-ruangan besi di bank para
    penyihir itu. Bagaimana seandainya mereka bertemu naga, naga yang benar-
    benar sudah dewasa Norbert saja sudah sangat merepotkan....
    "Kau dengar sesuatu?" Ron berbisik.
    Harry mendengarkan. Bunyi berkeresak dan denting lembut terdengar dari
    arah depan. "Menurutmu itu hantu?"
    "Entahlah... kedengarannya seperti sayap bagiku."
    "Di depan terang bisa kulihat ada yang bergerak." Mereka mencapai ujung
    lorong dan melihat didepan mereka kamar yang terang benderang, langit-
    langitnya melengkung tinggi di atas mereka. Kamar itu penuh burung-burung
    kecil yang berkilauan bagai permata, beterbangan mengitari ruangan. Di sisi
    lain kamar itu terdapat pintu kayu berat.
    "Apa mereka akan menyerang bila kita menyeberangi kamar ini?" kata Ron.
    "Mungkin," kata Harry. "Kayaknya sih mereka tidak galak, tapi kalau
    menyerang bersamaan... yah, tak ada jalan lain... aku mau lari."
    Harry menarik napas dalam-dalam, menutupi wajah dengan lengannya dan
    berlari menyeberangi ruangan. Dia mengira paruh dan cakar tajam akan
    merobekrobeknya setiap saat, tetapi ternyata tidak. Dia tiba di pintu dengan
    selamat. Ditariknya pegangan pintu. Pintu itu terkunci.
    Kedua temannya mengikutinya. Mereka menarik dan mendorong pintu itu,
    tetapi pintunya tak bergerak, bahkan tidak juga ketika Hermione mencoba
    Mantra Alohomora-nya.
    "Sekarang bagaimana?" kata Ron. "Burung-burung ini...
    mereka tak mungkin ada di sini hanya untuk dekorasi saja," kata Hermione.
    Mereka mengawasi burung-burung yang beterbangan di atas, berkilauan
    berkilauan?
    "Mereka bukan burung!" celetuk Harry tiba-tiba. "Itu kunci!
    Kunci bersayap lihat yang teliti. Itu berarti..." Harry melihat berkeliling
    ruangan sementara kedua temannya menyipitkan mata, memandang kawanan
    kunci itu. "Ya lihat! Sapu! Kita harus menangkap kunci pintu itu!"
    "Tapi ada ratusan kunci!"
    Ron mengamati lubang kunci di pintu.



    --------------------------------------- 166

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Yang kita cari kunci kuno besar mungkin perak, seperti pegangan
    pintunya."
    Mereka masing-masing menyambar sapu dan menyentak ke atas, melayang
    ke tengah gerombolan kunci itu. Mereka menyambar dan menjambret, namun
    kunci-kunci yang telah disihir itu meluncur dan menukik begitu cepat, sampai
    nyaris tak mungkin ditangkap.
    Tapi tak percuma Harry menjadi Seeker paling muda abad ini. Dia punya
    bakat melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain.
    Setelah beberapa menit menyelip-nyelip di antara pusaran bulubulu pelangi
    itu, dia melihat kunci perak besar yang sayapnya bengkok, seakan kunci itu
    sudah pernah ditangkap dan dijejalkan dengan kasar ke dalam lubang kunci.
    "Yang itu!" teriaknya. "Yang besar itu di sana bukan, itu yang sayapnya
    biru terang bulu-bulunya kusut di satu sisinya."
    Ron meluncur ke arah yang ditunjuk Harry, menabrak langitlangit dan nyaris
    terjatuh dari sapunya.
    "Kita harus mengepungnya!" teriak Harry, tanpa melepas pandangannya dari
    kunci dengan sayap rusak itu. "Ron, kau mendatanginya dari atas Hermione,
    tetap di bawah dan cegah kunci itu turun dan aku akan mencoba
    menangkapnya. Baik.
    SEKARANG!"
    Ron menukik, Hermione melintas, kunci itu berhasil menghindari mereka
    berdua dan Harry meluncur mengejarnya.
    Kunci itu terbang menuju dinding, Harry mencondongkan tubuh ke depan
    dan diiringi bunyi derak yang menyakitkan telinga, memepetnya ke din-ding
    dengan satu tangan. Sorak Ron dan Hermione bergaung di kamar berlangit-
    langit tinggi itu.
    Mereka cepat-cepat mendarat dan Harry berlari ke pintu, kunci di
    tangannya menggelepar berusaha melepaskan diri.
    Harry memasukkannya ke lubang dan memutarnya berhasil.
    Begitu terdengar bunyi klik membuka, kuncinya langsung melesat terbang
    lagi, bentuknya makin berantakan sekarang, setelah ditangkap dua kali.
    "Siap?" Harry menanyai kedua temannya, tangannya mencekal pegangan
    pintu. Mereka mengangguk. Dibukanya pintu.
    Kamar berikutnya begitu gelap sehingga mereka sama sekali tak bisa
    melihat apa-apa. Tetapi begitu mereka melangkah masuk, mendadak cahaya
    memenuhi ruangan, menunjukkan pemandangan yang mencengangkan.
    Mereka berdiri di tepi papan catur raksasa, di belakang bidakbidak hitam,
    yang semuanya lebih tinggi dari mereka dan dipahat dari tampaknya batu
    hitam. Berhadapan dengan mereka, jauh di seberang ruangan, adalah bidak-
    bidak putih.
    Harry, Ron, dan Hermione sedikit gemetar bidak-bidak catur putih itu tak
    berwajah.
    "Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" bisik Harry.
    "Jelas, kan?" timpal Ron. "Kita harus bermain untuk bisa sampai ke seberang
    ruangan." Di belakang bidak-bidak putih itu mereka melihat pintu lain.
    "Bagaimana?" tanya Hermione cemas.



    --------------------------------------- 167

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kurasa," kata Ron, "kita harus menjadi bidak catur."
    Ron berjalan ke arah perwira hitam dan menjulurkan tangan untuk
    menyentuh kudanya. Langsung saja batu itu hidup.
    Kudanya mengais-ngais tanah dan si perwira menolehkan kepalanya yang
    memakai helm untuk menunduk, memandang Ron.
    "Apa kami er harus bergabung dengan kalian untuk bisa menyeberang?"
    Perwira hitam itu mengangguk. Ron menoleh kepada kedua temannya. "Ini
    perlu pemikiran...," katanya.
    "Kurasa kita harus mengambil tempat tiga bidak hitam..."
    Harry dan Hermione tetap diam, mengawasi Ron berpikir.
    Akhirnya Ron berkata, "Jangan tersinggung, ya, tapi kalian berdua tak
    begitu ahli main catur..."
    "Kami tidak tersinggung," kata Harry cepat-cepat. "Katakan saja apa yang
    harus kami lakukan."
    "Nah, Harry kau mengambil tempat menteri itu, dan Hermione, kau di
    sebelahnya, di tempat benteng itu."
    "Kau sendiri bagaimana?"
    "Aku akan jadi perwira," kata Ron.
    Bidak-bidak catur itu rupanya mendengarkan, karena begitu Ron berkata
    demikian, perwira, menteri, dan benteng berbalik memunggungi bidak-bidak
    putih dan berjalan turun dari papan catur, meninggalkan tiga petak kosong
    yang segera ditempati Ron, Harry, dan Hermione.
    "Putih selalu melangkah duluan dalam permainan catur,"
    kata Ron, menyipitkan mata memandang ke seberang. "Ya...lihat..."
    Satu pion putih melangkah maju dua petak. Ron mulai mengarahkan bidak-
    bidak hitam. Mereka bergerak diam mengikuti perintahnya. Lutut Harry
    gemetar. Bagaimana kalau mereka kalah?
    "Harry, bergerak diagonal empat petak ke kanan."
    Pukulan pertama mereka terjadi ketika perwira hitam satunya ditawan. Si
    ratu putih membantingnya ke lantai dan menyeretnya ke luar papan. Si perwira
    menggeletak tak bergerak, tengkurap.
    "Apa boleh buat," kata Ron, yang tampak terguncang. "Kau jadi bebas
    menawan si menteri itu, Hermione, ayo."
    Setiap kali salah satu anggota mereka kalah, bidak-bidak putih itu tak
    menunjukkan belas kasihan. Segera saja sekumpulan bidak hitam lemas
    terpuruk di sepanjang dinding.
    Dua kali, Ron menyadari tepat waktu bahwa Harry dan Hermione dalam
    bahaya. Dia sendiri melesat ke sana kemari di papan, menawan bidak putih
    hampir sebanyak bidak hitam yang kalah.
    "Kita hampir sampai," mendadak Ron bergumam. "Biar aku berpikir biar aku
    berpikir..." Si ratu putih menolehkan wajahnya yang kosong ke arahnya. "Ya...,"
    kata Ron pelan, "ini satu-satunya cara... aku harus ditawan."
    "TIDAK!" Harry dan Hermione memekik.
    "Begitulah catur!" tukas Ron. "Harus ada yang dikorbankan!
    Aku akan melangkah maju satu petak dan ratu putih akan menawanku jadi
    kau bebas menskak rajanya, Harry!"



    --------------------------------------- 168

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Tapi..."
    "Kau mau menghalangi Snape atau tidak?"
    "Ron..."
    "Kalau kau tidak buru-buru, Snape sudah akan berhasil mendapatkan batu
    itu!"
    Tak ada pilihan lain. "Siap?" seru Ron, wajahnya pucat, tetapi mantap. "Aku
    menyerahkan diri jangan berlama-lama begitu kalian sudah menang."
    Ron melangkah maju dan ratu putih langsung menerkam.
    Dipukulnya keras-keras kepala Ron dengan tangan batunya dan Ron langsung
    ambruk ke lantai Hermione menjerit tetapi tetap bertahan di petaknya si
    ratu putih menyeret Ron ke tepi.
    Kelihatannya dia pingsan.
    Gemetaran, Harry bergerak tiga petak ke kiri.
    Si raja putih melepas mahkotanya dan melemparnya ke kaki Harry. Mereka
    sudah menang. Bidak-bidak catur menepi dan membungkuk, jalan menuju pintu
    kini tanpa hambatan. Dengan pandangan putus asa terakhir ke arah Ron, Harry
    dan Hermione berlari melewati pintu dan tiba di lorong berikutnya.
    "Bagaimana kalau dia...?"
    "Dia akan baik-baik saja," kata Harry berusaha meyakinkan diri sendiri.
    "Menurutmu, apa berikutnya?"
    "Kita sudah melewati kreasi Sprout Jerat Setan tadi, Flitwick pastilah yang
    menyihir kunci-kunci, McGonagall mentransfigurasi bidak-bidak catur
    membuatnya hidup, tinggal mantra Quirrell, dan Snape...."
    Mereka sudah tiba di pintu berikutnya.
    "Buka sekarang?" Harry berbisik.
    "Buka saja."
    Harry mendorongnya terbuka.
    Bau menjijikkan menusuk hidung, membuat keduanya menarik jubah untuk
    menutupi hidung. Dengan mata berair mereka melihat, tergeletak di lantai di
    depan mereka, troll yang bahkan lebih besar daripada troll gunung yang sudah
    mereka kalahkan, pingsan dengan benjolan berdarah pada kepalanya.
    "Aku lega kita tidak perlu berkelahi dengan dia," bisik Harry, ketika mereka
    dengan hati-hati melangkahi salah satu kakinya yang amat besar. "Ayo cepat,
    aku tak bisa bernapas."
    Harry membuka pintu ke ruang berikutnya, keduanya nyaris tak berani
    melihat apa yang menantikan mereka tetapi tak ada sesuatu yang mengerikan
    di sini, hanya meja dengan tujuh botol berbeda bentuk berdiri berderet.
    "Hasil karya Snape," kata Harry "Apa yang harus kita lakukan?"
    Mereka melangkahi ambang pintu dan mendadak api berkobar di belakang
    mereka. Bukan api biasa, karena warnanya ungu. Pada saat bersamaan, lidah
    api hitam menyala di pintu menuju ruang berikutnya. Mereka terperangkap.
    "Lihat!" Hermione menyambar segulung kertas yang tergeletak di sebelah
    botol-botol. Harry melongok dari balik bahu Hermione unruk ikut membacanya:
    Bahaya ada di depanmu, sementara rasa aman ada di belakang, Kami
    berdua akan membantumu, entah mana yang akan kautemukan, Satu di antara



    --------------------------------------- 169

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    kami bertujuh akan membawamu maju ke kamar berikutnya, Satu lagi
    membuat peminumnya kembali ke tempat semula, Dua di antara kami hanyalah
    berisi anggur lezat, Tiga di antara kami pembunuh, sembunyi menunggu saat
    yang tepat. Pilihlah, kalau tak mau berada di sini selamanya merajuk, Untuk
    membantu menentukan pilihanmu, kami berikan empat petunjuk:
    Pertama, betapapun liciknya racun berusaha bersembunyi,
    Kau akan selalu menemukannya di sebelah anggur di sisi kiri; Kedua, yang
    berdiri di masing-masing ujung isinya lain, Tetapi kalau kau mau ke depan,
    dua-duanya pantang untuk main-main; Ketiga, seperti kaulihat jelas, semua
    botol berbeda ukurannya, Baik yang cebol maupun yang raksasa berisi maut di
    dalamnya; Keempat, yang kedua dari kiri dan dari kanan, Sama saja isinya,
    meskipun awalnya tampak berlainan.
    Hermione mengembuskan napas lega, dan Harry heran sekali melihatnya
    tersenyum, soalnya dia sendiri sama sekali tak ingin tersenyum.
    "Brilian," puji Hermione. "Ini bukan sihir ini logika teka-teki. Banyak
    penyihir besar yang tak punya logika sama sekali, akan terkurung di sini
    selamanya."
    "Kita juga begitu, kan?"
    "Tentu saja tidak," kata Hermione. "Semua yang kita butuhkan ada di atas
    kertas ini. Tujuh botol: tiga di antaranya racun; dua anggur, satu akan
    membawa kita dengan selamat melewati api hitam itu, dan satu lagi akan
    membawa kita kembali melewati api ungu."
    "Tapi, bagaimana kita tahu mana yang harus di minum?"
    "Beri aku waktu sebentar." Hermione membaca kertas itu beberapa kali.
    Kemudian dia berjalan mondar-mandir di depan deretan botol, bergumam
    sendiri dan menunjuk-nunjuk botolbotol itu. Akhirnya dia bertepuk tangan.
    "Aku tahu," katanya. "Botol paling kecil akan membawa kita melewati api
    hitam menuju ke Batu Bertuah."
    Harry memandang botol kecil mungil itu.
    "Isinya hanya cukup untuk satu orang," katanya. "Satu teguk saja pun tak
    ada." Mereka saling pandang. "Mana yang bisa membawamu melewati api ungu?"
    Hermione menunjuk botol bulat di ujung deretan. "Kau minum yang itu," kata
    Harry.
    "Tidak, dengar kembalilah dan ajak Ron ambil sapu dari kamar kunci
    terbang, sapu itu bisa membawa kalian keluar dari pintu jebakan dan juga
    melewati Fluffy langsung pergi ke kandang burung hantu dan kirim Hedwig ke
    Dumbledore, kita memerlukan dia. Aku mungkin sanggup menahan Snape untuk
    sementara waktu, tetapi aku sama sekali bukan tandingannya."
    "Tapi, Harry bagaimana kalau Kau-Tahu-Siapa ada bersamanya?"
    "Yah aku pernah beruntung sekali, kan?" kata Harry, menunjuk bekas
    lukanya. "Siapa tahu aku beruntung lagi."
    Bibir Hermione bergetar dan mendadak dia berlari mendekati Harry dan
    memeluknya.
    "Hermione!"
    "Harry kau penyihir hebat."



    --------------------------------------- 170

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Aku tidak sepandai kau," kata Harry, malu sekali, ketika Hermione
    melepasnya.
    "Aku!" kata Hermione. "Buku-buku! Dan kepintaran! Ada banyak hal penting
    lainnya persahabatan dan keberanian dan oh, Harry hati-hati, ya!"
    "Kau minum dulu," kata Harry. "Kau yak in mana botol yang benar, kan?"
    "Pasti," kata Hermione. Diminumnya isi botol bulat itu, dan dia bergidik.
    "Bukan racun?" tanya Harry cemas.
    "Bukan tapi seperti es."
    "Cepat, sebelum khasiatnya luntur."
    "Semoga berhasil jaga dirimu..."
    "PERGILAH!"
    Hermione berbalik dan melangkahi api ungu.
    Harry menarik napas dalam-dalam dan mengambil botol terkecil. Dia
    berbalik menghadapi api hitam. "Aku datang,"
    katanya dan dihabiskannya isi botol kecil itu dalam sekali teguk.
    Memang seolah es mengaliri tubuhnya. Ditaruhnya kembali botol itu dan dia
    melangkah maju. Diberanikannya dirinya.
    Dilihatnya lidah api hitam menjilatjilat tubuhnya, tetapi tak ada yang
    dirasakannya. Untuk sesaat dia tak bisa melihat apa pun kecuali api hitam
    tahu-tahu dia sudah berada di sisi lain, di kamar terakhir.
    Sudah ada orang lain di situ tetapi bukan Snape. Bahkan bukan pula
    Voldemort.
    ***
    17. Laki Laki Dengan Dua Wajah
    MELAINKAN Quirrell.
    "Anda!" Harry kaget. Quirrell tersenyum. Wajahnya sama sekali tidak
    berkedut.
    "Ya, aku," katanya tenang. "Aku sudah bertanya-tanya apakah aku akan
    bertemu kau disini, Potter."
    "Tetapi saya kira Snape..."
    "Severus?" Quirrell tertawa dan tawanya bukan tawa gemetar seperti
    biasanya, tetapi dingin dan melengking. "Ya, Severus memang kelihatannya tipe
    yang cocok, ya? Dirinya sangat berguna, menyambar nyambar seperti kelelawar
    liar. Dibanding dia, siapa yang akan mencurigai P-profesor Q-Quirrell y-yang g-
    gagap dan m-menimbulkan b-belas kasihan?"
    Harry tidak mengerti. Ini tak mungkin benar, tak mungkin.
    "Tetapi Snape mencoba membunuh saya."
    "Bukan, bukan, bukan. Aku yang mencoba membunuhmu.
    Temanmu, Miss Granger, tanpa sengaja menabrakku sampai jatuh ketika dia
    buru-buru mau membakar jubah Snape dalam pertandingan Quidditch itu. Dia
    memutuskan kontak mataku denganmu. Beberapa detik saja lagi aku pasti



    --------------------------------------- 171

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    sudah berhasil menjatuhkanmu dari sapu. Aku pastilah sudah
    berhasil sebelumnya, seandainya Snape tidak menggumamkan mantra
    penangkal, berusaha menyelamatkanmu."
    "Snape berusaha menyelamatkan saya?"
    "Tentu saja," kata Quirrell dingin. "Menurutmu kenapa dia ingin menjadi
    wasit dalam pertandinganmu berikutnya? Dia berusaha memastikan aku tidak
    melakukannya lagi. Lucu juga...
    dia tak perlu khawatir. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena Dumbledore
    nonton. Semua guru lain mengira Snape berusaha menghalangi Gryffindor
    menang, dia memang membuat dirinya tidak disukai... dan benar-benar
    membuang waktu sia-sia, toh setelah semua usaha itu, aku akan membunuhmu
    malam ini."
    Quirrell menjentikkan jari-jarinya. Tiba-tiba seutas tali membelit Harry
    erat-erat.
    "Kau terlalu ingin tahu dan terlalu suka ikut campur kalau dibiarkan hidup,
    Potter. Berkeliaran di malam Hallowe'en seperti itu, tahu-tahu kau sudah
    melihatku datang untuk melihat apa yang menjaga batu itu."
    "Anda yang memasukkan troll itu?"
    "Tentu. Aku punya bakat khusus menangani troll kau pasti sudah melihat
    apa yang kulakukan terhadap troll di kamar depan itu? Sayangnya, sementara
    orang-orang lain berlarian mencari troll, Snape, yang sudah mencurigaiku,
    langsung naik ke lantai tiga untuk menghadangku dan bukan saja troll-ku gagal
    memukuli kalian sampai mati, si anjing kepala tiga bahkan tidak berhasil
    menggigit kaki Snape sampai putus.
    "Sekarang, tunggu dengan tenang, Potter. Aku perlu memeriksa cermin
    menarik ini." Baru saat itulah Harry menyadari apa yang berdiri di belakang
    Quirrell. Cermin Tarsah.
    "Cermin inilah kunci untuk menemukan Batu Bertuah,"
    Quirrell bergumam, seraya mengelilingi bingkainya.
    "Dumbledore memang cerdik memakai cermin ini.. tapi dia di London... aku
    sudah jauh dari sini saat dia pulang nanti...."
    Yang bisa dipikirkan Harry hanyalah bagaimana membuat Quirrell terus
    bicara dan mencegahnya berkonsentrasi pada cermin.
    "Saya melihat Anda dan Snape di Hutan...," celetuknya.
    "Ya," kata Quirrell sambil lalu, berjalan ke balik cermin untuk memeriksa
    bagian belakangnya. "Dia sudah tahu niatku saat itu, mencoba mengorek sejauh
    mana pengetahuanku. Dia sudah lama mencurigaiku. Mencoba menakut-
    nakutiku mana bisa, kan Lord Voldemort mendampingiku...."
    Quirrell muncul dari balik cermin dan menatapnya dengan bergairah. "Aku
    melihat batunya... kupersembahkan kepada tuanku... tetapi di mana letak
    batu itu?"
    Harry berkutat melepaskan diri dari tali yang mengikatnya, tetapi percuma.
    Dia harus mencegah Quirrell mencurahkan seluruh perhatiannya kepada
    cermin.
    "Tetapi Snape kelihatannya sangat membenci saya."
    "Oh, memang dia membencimu," kata Quirrell sambil lalu.



    --------------------------------------- 172

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Sangat membencimu. Dia sekolah di Hogwarts bersama ayahmu, kau tidak
    tahu? Mereka saling membenci. Tetapi dia tidak pernah menginginkan ayahmu
    mati."
    "Tetapi saya mendengar Anda beberapa hari yang lalu, terisak-isak saya
    kira Snape sedang mengancam Anda..."
    Untuk pertama kalinya ketakutan melintas di wajah Quirrell.
    "Kadang-kadang," katanya, "sulit sekali bagiku untuk menjalankan perintah
    tuanku dia penyihir hebat dan aku lemah..."
    "Maksud Anda dia ada dalam kelas itu bersama Anda?"
    Harry terperanjat.
    "Dia bersamaku ke mana pun aku pergi," kata Quirrell pelan.
    "Aku bertemu dengannya ketika berkelana keliling dunia.
    Waktu itu aku cuma pemuda yang masih bodoh, masih idealis tentang hal
    baik dan buruk. Lord Voldemort menunjukkan kepadaku betapa kelirunya aku.
    Tak ada baik dan buruk, yang ada hanya kekuasaan, dan mereka yang terlalu
    lemah untuk mencarinya... Sejak saat itu, aku melayaninya dengan setia,
    meskipun aku sering kali mengecewakannya. Dia harus keras terhadapku."
    Quirrell mendadak bergidik. "Dia tidak mudah melupakan kesalahan. Ketika aku
    gagal mencuri Batu Bertuah dari Gringotts, dia sangat marah. Dia
    menghukumku...
    memutuskan dia harus mengawasiku lebih ketat lagi...."
    Suara Quirrell semakin pelan. Harry teringat perjalanannya ke Diagon Alley
    bagaimana dia bisa sebodoh itu? Dia bertemu Quirrell hari itu, berjabat
    tangan dengannya di Leaky Cauldron.
    Quirrell mengutuk pelan.
    "Aku tak mengerti... apakah batu itu ada di dalam cermin?
    Haruskah aku memecahkannya?" Pikiran Harry berlomba. Yang sangat
    kuinginkan lebih dari apa pun didunia saat ini, pikirnya, adalah menemukan
    Batu Bertuah itu sebelum Quirrell. Maka jika aku menatap ke dalam cermin,
    aku akan melihat diriku menemukannya yang berarti aku bisa melihat di mana
    batu itu disembunyikan! Tetapi bagaimana aku bisa menatap ke dalam cermin
    tanpa Quirrell menyadari tujuanku?
    Dia mencoba beringsut ke kiri, berusaha ke depan cermin, tetapi tali yang
    membelit pergelangan kakinya terlalu ketat, dia tersandung dan jatuh. Quirrell
    mengabaikannya. Dia masih bicara sendiri.
    "Apa kegunaan cermin ini? Bagaimana cara kerjanya?
    Tolonglah aku, Tuan!"
    Dan betapa ngerinya Harry ketika terdengar suara menjawab, dan suara itu
    kedengarannya datang dari Quirrell sendiri.
    "Gunakan anak itu... Gunakan anak itu...."
    Quirrell menoleh kepada Harry.
    "Ya Potter sini."
    Dia menepukkan tangannya sekali dan tali yang mengikat Harry lepas
    sendiri. Pelan-pelan Harry bang-kit.
    "Sini," Quirrell mengulang. "Lihat ke dalam cermin dan beritahu aku apa
    yang kaulihat."



    --------------------------------------- 173

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Harry berjalan ke arahnya.
    "Aku harus berbohong," pikirnya putus asa. "Aku harus melihat dan
    berbohong tentang apa yang kulihat, begitu saja."
    Quirrell bergerak ke belakangnya. Harry mencium bau aneh yang agaknya
    berasal dari turban Quirrell. Dia memejamkan mata, melangkah ke depan
    cermin dan membuka matanya lagi.
    Harry melihat bayangannya, mulanya pucat dan ketakutan.
    Tetapi sesaat kemudian, bayangan itu tersenyum kepadanya.
    Dia memasukkan tangan ke dalam sakunya dan mengeluarkan batu merah
    darah. Dia mengedipkan mata dan mengembalikan batu itu ke dalam sakunya
    dan pada saat dia melakukannya, Harry merasa sesuatu yang berat masuk ke
    dalam sakunya yang sebenarnya. Dengan cara yang sangat ajaib, dia
    mendapatkan batu itu.
    "Nah?" kata Quirrell tak sabar. "Apa yang kaulihat?"
    Harry mengumpulkan keberaniannya.
    "Saya melihat saya berjabat tangan dengan Dumbledore," dia mengarang.
    "Saya saya.memenangkan Piala Asrama untuk Gryffindor."
    Quirrell mengutuk lagi.
    "Minggir," katanya. Ketika bergerak, Harry merasakan Batu Bertuah itu
    menggesek kakinya. Beranikah dia melarikan diri?
    Tapi belum lagi dia berjalan lima langkah, terdengar suara melengking
    berkata, meskipun Quirrell tidak menggerakkan bibirnya.
    "Dia bohong... Dia bohong...."
    "Potter, kembali ke sini!" teriak Quirrell. "Katakan yang sebenarnya! Apa
    yang tadi kaulihat?"
    Suara melengking itu bicara lagi.
    "Biarkan aku bicara dengannya... berhadapan...."
    "Tuan, Anda belum cukup kuat!"
    "Aku cukup punya kekuatan... untuk ini...."
    Harry merasa seakan Jerat Setan memancangnya di tempat.
    Dia tak dapat menggerakkan satu otot pun. Ketakutan, dilihatnya Quirrell
    mengangkat tangan dan mulai mengurai turbannya. Apa yang terjadi? Turban
    jatuh. Kepala Quirrell tampak aneh dan kecil tanpa turban. Kemudian pelan-
    pelan dia berbalik.
    Harry ingin menjerit, tetapi suaranya tidak keluar. Yang seharusnya bagian
    belakang kepala Quirrell, ternyata sepotong wajah, wajah paling mengerikan
    yang pernah dilihat Harry.
    Wajah itu sepucat tembok dengan mata merah mendelik, dan lubang hidung
    yang hanya berupa celah, seperti ular.
    "Harry Potter...," bisik wajah itu. Harry mencoba mundur selangkah, tetapi
    kakinya tak mau bergerak.
    "Kau lihat, aku jadi apa?" kata wajah itu. "Cuma bayangan dan asap... aku
    punya bentuk hanya kalau aku bisa berbagi dengan tubuh orang lain... tetapi
    selalu ada yang mengizinkan aku memasuki hati dan pikiran mereka... Darah
    unicorn telah membuatku semakin kuat, beberapa minggu terakhir ini... kau
    melihat Quirrell yang setia meminumnya untukku di Hutan...



    --------------------------------------- 174

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    dan begitu aku minum Cairan Kehidupan, aku akan bisa menciptakan
    tubuhku sendiri.... Nah, sekarang... berikan batu di sakumu itu!"
    Jadi, dia tahu. Tiba-tiba kaki Harry tidak lagi mati rasa. Dia terhuyung ke
    belakang.
    "Jangan bodoh," gertak si wajah. "Lebih baik selamatkan nyawamu dan
    bergabung denganku... kalau tidak kau akan berakhir sama dengan
    orangtuamu... Mereka memohon-mohon belas kasihan dariku sebelum
    meninggal..."
    "BOHONG!" mendadak Harry berteriak.
    Quirrell berjalan mundur ke arahnya, sehingga Voldemort masih bisa
    menatapnya. Wajah mengerikan itu kini tersenyum.
    "Sungguh mengharukan...," desisnya.
    "Aku selalu menghargai keberanian... Ya, Nak, orangtuamu pemberani...
    Aku membunuh ayahmu lebih. dulu dan dia melawan dengan gagah berani...
    tetapi ibumu sebetulnya tak perlu mati... dia berusaha melindungimu...
    Sekarang berikan batu itu kepadaku, kalau tidak kau akan mati sia-sia."
    "TIDAK!"
    Harry melompat ke arah pintu nyala api, tetapi Voldemort menjerit,
    "TANGKAP DIA!" dan detik berikutnya Harry
    merasakan tangan Quirrell mencengkeram pergelangan tangannya. Langsung
    saja rasa sakit yang tajam menyengat bekas luka Harry kepalanya serasa
    hendak terbelah dua. Harry menjerit, meronta-ronta sekuat tenaga, dan kaget
    sendiri ketika Quirrell membebaskannya. Rasa sakit di dahinya berkurang dia
    memandang berkeliling, mencari Quirrell, dan melihatnya tengah meringkuk
    kesakitan, memandang jari-jarinya jari-jari itu melepuh.
    "Tangkap dia! TANGKAP DIA!" teriak Voldemort lagi dan Quirrell menerjang
    Harry sampai jatuh dan mendarat di atas tubuhnya, kedua tangannya
    melingkari leher Harry bekas luka Harry sakit luar biasa, sampai dia merasa
    nyaris buta, tetapi dia masih bisa melihat Quirrell melolong kesakitan.
    "Tuan, aku tak bisa memegangnya tanganku tanganku!"
    Dan Quirrell, meski masih memiting Harry ke tanah dengan lututnya,
    melepas cekikannya dan terbelalak menatap telapak tangannya sendiri Harry
    bisa melihatnya, tangan itu terbakar, kelihatan merah dan berkilat.
    "Kalau begitu bunuh dia, goblok. Bereskan saja anak itu!"
    lengking Voldemort.
    Quirrell mengangkat tangan untuk melakukan kutukan yang mematikan
    tetapi, tanpa pikir panjang, Harry mencengkeram wajah Quirrell....
    "AAAARGH!"
    Quirrell berguling dari atas tubuh Harry, wajahnya juga melepuh, dan Harry
    pun tahu: Quirrell tak tahan menyentuh kulitnya. Jika tersentuh, dia menderita
    kesakitan yang amat sangat. Satu-satunya kesempatan Harry adalah memegangi
    Quirrell, membuatnya cukup kesakitan sehingga tak bisa melakukan kutukan.
    Harry melompat bangun, menangkap lengan Quirrell dan mencengkeramnya
    sekuat mungkin. Quirrell menjerit dan mencoba mengibaskan Harry rasa sakit
    di kepala Harry semakin hebat dia tak bisa melihat dia cuma mendengar jerit
    mengerikan Quirrell dan teriakan-teriakan Voldemort,



    --------------------------------------- 175

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "BUNUH DIA! BUNUH DIA!" dan suara-suara lain, mungkin di dalam kepalanya
    sendiri, berseru-seru, "Harry! Harry!"
    Dirasakannya lengan Quirrell ditarik lepas dari cengkeramannya, dia tahu
    dirinya telah kalah, dan jatuh dalam kegelapan, jatuh... makin lama makin
    dalam....
    ***
    Sesuatu yang keemasan berkilau di atasnya. Snitch! Harry berusaha
    menangkapnya, tetapi lengannya terlalu berat.
    Dia mengejap. Bukan Snitch. Ternyata kacamata. Aneh sekali. Dia mengejap
    lagi. Wajah Albus Dumbledore yang tersenyum melayang masuk ke dalam
    pandangannya.
    "Selamat sore, Harry," kata Dumbledore.
    Harry bingung menatapnya. Kemudian dia ingat. "Sir!
    Batunya! Quirrell! Dia mengambil batunya! Sir, cepat..."
    "Tenangkan dirimu, Nak, kau sedikit ketinggalan," kata Dumbledore.
    "Quirrell tidak memiliki batu itu."
    "Kalau begitu, siapa? Sir, saya..."
    "Harry, rileks. Kalau tidak, Madam Pomfrey akan mengusirku keluar."
    Harry menelan ludah dan memandang berkeliling. Dia sadar dirinya berada
    di rumah sakit. Dia berbaring di tempat tidur berseprai linen putih, di meja
    sebelahnya terdapat tumpukan tinggi yang tampaknya seperti setengah isi toko
    permen.
    "Kiriman teman-teman dan pengagummu," kata Dumbledore berseri-seri.
    "Apa yang terjadi di ruang bawah tanah, antara dirimu dengan Profesor Quirrell
    adalah rahasia besar, maka tentu saja seluruh sekolah tahu. Kurasa temanmu,
    Mr Fred dan George Weasley bertanggung jawab atas usaha mengirimimu tutup
    kloset. Pasti mereka mengira kau akan geli dan senang menerimanya. Tetapi
    Madam Pomfrey merasa hadiah itu tidak begitu higienis, dan menyitanya."
    "Sudah berapa lama saya di sini?"
    "Tiga hari. Mr Ronald Weasley dan Miss Granger akan lega sekali mengetahui
    kau sudah sadar, mereka sangat cemas."
    "Tetapi, Sir, batunya..."
    "Rupanya kau tak bisa dialihkan. Baiklah, kalau begitu.
    Profesor Quirrell tidak berhasil mengambil batu itu darimu. Aku tiba tepat
    pada waktunya untuk mencegahnya walaupun, harus kuakui, kau sendiri telah
    bertahan dengan sangat baik."
    "Anda datang? Anda menerima burung hantu Hermione?"
    "Pastilah kami berpapasan di udara. Begitu tiba di London, jelas bagiku
    bahwa aku harus berada di tempat yang baru saja kutinggalkan. Aku tiba tepat
    pada waktunya untuk menarik Quirrell darimu..."
    "Jadi itu... Anda."
    "Aku sudah takut aku terlambat."
    "Hampir, saya nyaris tak bisa mempertahankan batu itu lebih lama lagi..."
    "Bukan batunya, tetapi kau, Nak usaha untuk mempertahankan Batu
    Bertuah itu nyaris membunuhmu. Sesaat aku ngeri sekali, mengira kau sudah
    tiada. Sedangkan batunya, sudah dimusnahkan."



    --------------------------------------- 176

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Dimusnahkan?" tanya Harry tak mengerti. "Tetapi teman Anda Nicolas
    Flamel..."
    "Oh, kau tahu tentang Nicolas?" kata Dumbledore, kedengarannya senang.
    "Kau telah menyelidiki semuanya, ya?
    Nah, Nicolas dan aku sudah berunding dan kami setuju itu yang paling baik."
    "Tetapi itu berarti dia dan istrinya akan meninggal, kan?"
    "Mereka punya cukup banyak simpanan Cairan Kehidupan untuk
    membereskan urusan mereka, dan kemudian ya, mereka akan mati."
    Dumbledore tersenyum melihat keheranan di wajah Harry.
    "Bagi orang semuda kau, pastilah kedengarannya aneh, tetapi bagi Nicolas
    dan Perenelle, mati sebetulnya hanyalah seperti pergi tidur setelah hari yang
    amat sangat panjang. Lagi pula, bagi pikiran yang terorganisir dengan baik,
    kematian hanyalah petualangan besar berikutnya. Kau tahu, batu itu
    sebetulnya bukan benda yang amat luar biasa, meski bisa memberikan uang dan
    kehidupan sebanyak yang kauinginkan. Itu dua hal yang akan dipilih kebanyakan
    orang, melebihi segalanya sulitnya, orang biasanya justru memilih hal-hal yang
    paling buruk untuk mereka."
    Harry terbaring diam, kehabisan kata-kata. Dumbledore bersenandung kecil
    dan tersenyum ke arah langit-langit.
    "Sir?" kata Harry. "Saya sudah berpikir... Sir bahkan sekalipun batu itu
    sudah tak ada, Vol... maksud saya, Anda-Tahu-Siapa..."
    "Panggil dia Voldemort, Harry. Selalu gunakan nama yang benar untuk apa
    saja. Ketakutan akan nama memperbesar ketakutan akan benda itu sendiri."
    "Baik, Sir. Bukankah Voldemort akan mencoba caracara lain untuk kembali?
    Maksud saya, dia tidak pergi untuk selamanya, kan?"
    "Tidak, Harry dia belum lenyap. Dia masih ada di suatu tempat, mungkin
    mencari tubuh lain yang bisa ditumpangi.
    Karena tidak sepenuhnya hidup, dia tak bisa dibunuh. Dia meninggalkan
    Quirrell mati begitu saja, dia tak punya belas kasihan, baik kepada pengikut
    maupun musuh-musuhnya.
    Harry saat ini kau memang belum berhasil memenangkan pertarungan, kau
    cuma menunda kembalinya Voldemort pada kekuasaan. Dalam pertarungan
    berikutnya, yang tampaknya akan lebih sulit dimenangkan, dibutuhkan
    seseorang yang telah siap. Dan jika Voldemort tertahan lagi, dan lagi, siapa
    tahu dia tak akan pernah kembali berkuasa."
    Harry mengangguk, tetapi segera berhenti, karena membuat kepalanya
    sakit. Kemudian dia berkata, "Sir, ada beberapa hal lain yang ingin saya
    ketahui, jika Anda bisa memberitahu saya...
    hal-hal yang ingin saya ketahui kebenarannya..."
    "Kebenaran," Dumbledore menghela napas. "Kebenaran itu indah dan
    mengerikan, dan karenanya harus diperlakukan dengan amat hati-hati.
    Meskipun demikian, aku akan menjawab
    pertanyaanmu, kecuali ada alasan kuat untuk tidak menjawabnya. Kalau itu
    sampai terjadi, kumohon kau memaafkan aku. Aku tidak akan berbohong, tentu
    saja."



    --------------------------------------- 177

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Kata Voldemort, dia terpaksa membunuh ibu saya karena Ibu mencoba
    mencegahnya membunuh saya. Tetapi kenapa dia ingin membunuh saya?"
    Dumbledore menghela napas dalam-dalam.
    "Sayang sekali, hal pertama yang kautanyakan, tak bisa kujawab. Tidak hari
    ini. Tidak sekarang. Kau akan tahu, suatu hari nanti... singkirkan dari pikiranmu
    untuk sementara, Harry.
    Kalau kau sudah lebih besar... aku tahu kau tidak senang mendengarnya...
    kalau kau sudah siap, kau akan tahu."
    Dan Harry tahu tak ada gunanya membantah.
    "Tetapi kenapa Quirrell tidak bisa menyentuh saya?"
    "Ibumu meninggal karena berusaha menyelamatkanmu.
    Kalau ada satu hal yang tak bisa dimengerti Voldemort, itu adalah cinta. Dia
    tidak menyadari bahwa cinta sekuat cinta ibumu kepadamu, meninggalkan
    bekas. Bukan seperti bekas luka, bukan tanda yang kelihatan... dicintai begitu
    dalam, meskipun orang yang mencintai kita sudah tiada, akan memberi kita
    perlindungan untuk selamanya. Perlindungan itu ada di kulitmu. Quirrell, yang
    penuh kebencian, keserakahan, ambisi, dan membagi jiwanya dengan
    Voldemort, tidak bisa menyentuhmu karena alasan ini. Sungguh suatu
    penderitaan menyenruh orang yang dilindungi oleh sesuatu yang sangat baik."
    Kini Dumbledore menjadi sangat tertarik pada seekor burung yang hinggap
    di ambang jendela. Ini memberi Harry kesempatan untuk mengeringkan
    matanya dengan seprai. Ketika sudah bisa bicara lagi, Harry berkata, "Dan
    Jubah Gaib tahukah Anda siapa yang mengirimnya kepada saya?"
    "Ah, ayahmu menitipkannya kepadaku dan kupikir kau akan menyukainya."
    Mata Dumbledore bersinar-sinar. "Sangat
    berguna... ayahmu terutama menggunakannya untuk menyelinap ke dapur
    untuk mencuri makanan waktu dia di sini dulu."
    "Dan ada satu hal lagi..."
    "Katakan."
    "Quirrell berkata, Snape..."
    "Profesor Snape, Harry."
    "Ya, dia Quirrell bilang Profesor Snape membenci saya karena dia
    membenci ayah saya. Betulkah itu?"
    "Yah, mereka memang saling benci. Tidak berbeda dengan kau sendiri dan
    Mr Malfoy. Lalu ayahmu melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan Snape."
    "Apa?"
    "Ayahmu menyelamatkan hidupnya."
    "Apa?"
    "Ya...," kata Dumbledore melamun. "Aneh, kan, cara kerja pikiran orang?
    Profesor Snape tidak tahan berutang budi pada ayahmu... aku yakin dia
    berusaha keras melindungimu sebagai balas budi pada ayahmu. Dengan begitu,
    skor mereka jadi seri.
    Lalu dia bisa kembali membenci almarhum ayahmu dengan tenang."
    Harry berusaha memahami, tetapi kepalanya jadi berdenyut-denyut, maka
    dia berhenti.
    "Dan, Sir, ada satu hal lagi..."



    --------------------------------------- 178

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Apa itu?"
    "Bagaimana saya mendapatkan batu itu dari dalam cermin?"
    "Ah, aku senang kau menanyakannya. Itu salah satu ide brilianku, dan
    antara kita berdua saja, ide itu hebat sekali. Aku membuatnya sedemikian
    sehingga hanya orang yang ingin menemukan batu itu
    menemukan tetapi tidak menggunakannya yang bisa mendapatkannya.
    Bukan mereka yang ingin melihat diri mereka memiliki emas atau minum Cairan
    Kehidupan. Otakku kadang-kadang mengejutkan diriku sendiri...
    Nah, sudah cukup pertanyaan-pertanyaanmu.
    Kusarankan kau mulai makan permenmu. Ah! Kacang Segala-Rasa Bertie
    Bott! Aku cukup beruntung waktu masih muda dapat yang rasa muntah, dan
    sejak saat itu aku jadi kehilangan selera tapi kurasa aman kalau aku ambil
    rasa karamel, ya?"
    Dumbledore tersenyum dan memasukkan kacang berwarna cokelat
    keemasan itu ke mulutnya. Kemudian dia tersedak dan berkata, "Ya ampun!
    Rasa kotoran telinga!"
    ***
    Madam Pomfrey matron rumah sakit, wanita yang menyenangkan, tetapi
    sangat keras.
    "Lima menit saja," Harry memohon.
    "Jelas tidak boleh."
    "Anda mengizinkan Profesor Dumbledore masuk..."
    "Ya, tentu saja, dia kan kepala sekolah, lain dong. Kau butuh istirahat."
    "Saya istirahat, lihat, saya berbaring terus. Oh, ayolah, Madam Pomfrey..."
    "Oh, baiklah," katanya. "Tapi hanya lima menit."
    Dan Madam Pomfrey mengizinkan Ron dan Hermione masuk.
    "Harry!"
    Hermione tampaknya siap memeluknya lagi, tetapi Harry senang Hermione
    menahan diri, karena kepalanya masih sakit sekali. "Oh, Harry, kami sudah
    yakin kau akan... Dumbledore sangat cemas..."
    "Seluruh sekolah membicarakannya," kata Ron. "Apa sebetulnya yang
    terjadi?"
    Sungguh salah satu kejadian langka ketika kenyataan yang sebenarnya justru
    lebih aneh dan mencekam dibandingkan desas-desus liar. Harry menceritakan
    semuanya kepada mereka: tentang Quirrell, Cermin Tarsah, Batu Bertuah, dan
    Voldemort.
    Ron dan Hermione pendengar yang sangat baik; mereka kaget pada saat-
    saat yang tepat dan ketika Harry memberitahu mereka apa yang ada di balik
    turban Quirrell, Hermione menjerit keras.
    "Jadi batu itu sudah tak ada?" kata Ron akhirnya. "Flamel akan mati?"
    "Itulah yang kukatakan, tetapi menurut Dumbledore apa, ya? bagi pikiran
    yang terorganisir dengan baik, kematian hanyalah petualangan besar
    berikutnya."
    "Dari dulu kubilang Dumbledore itu sinting," kata Ron, kelihatannya terkesan
    sekali pada betapa gilanya orang yang dikaguminya itu.
    "Jadi, apa yang terjadi pada kalian berdua?" tanya Harry.



    --------------------------------------- 179

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Yah, aku kembali dengan selamat," kata Hermione.
    "Kusadarkan Ron perlu sedikit waktu dan kami sedang berlari ke kandang
    burung hantu untuk mengontak Dumbledore, ketika kami bertemu dengannya di
    Aula Depan. Dia sudah tahu dia cuma berkata, 'Harry mengejarnya, kan?' lalu
    bergegas ke lantai tiga."
    "Apakah menurutmu Dumbledore sengaja mengaturnya agar kau bertindak
    begitu?" kata Ron. "Mengirim jubah ayahmu dan yang lainnya itu?"
    "Wah," Hermione meledak, "kalau memang begitu maksudku sungguh
    mengerikan kau bisa saja terbunuh."
    "Tidak, tidak," kata Harry berpikir-pikir. "Dumbledore orangnya lucu.
    Menurutku, dia tampaknya ingin memberiku kesempatan. Kurasa dia tahu
    sedikit-banyak tentang segala sesuatu yang terjadi di sini. Rupanya dia sudah
    menduga kita akan mencoba, dan alih-alih mencegah, dia mengajari kita
    secukupnya untuk membantu. Kurasa bukan kebetulan dia membiarkan aku
    mengetahui cara kerja Cermin Tarsah. Seakan menurutnya aku punya hak untuk
    menghadapi Voldemort, kalau aku bisa..."
    "Yeah, Dumbledore memang menyebarluaskan hal itu," kata Ron bangga.
    "Dengar, kau sudah harus sembuh untuk ikut pesta akhir tahun ajaran besok.
    Jumlah semua angka sudah masuk dan Slytherin menang, tentu saja. Kau tak
    bisa ikut pertandingan Quidditch terakhir dan tanpa dirimu, kita digilas habis
    oleh Ravenclaw. Tapi makanannya besok enak-enak."
    Saat itu Madam Pomfrey masuk. "Kalian sudah ngobrol hampir lima belas
    menit, sekarang KELUAR," katanya tegas.
    ***
    Setelah tidur nyenyak semalaman, Harry merasa sudah hampir sehat
    kembali.
    "Saya ingin ikut pesta," dia memberitahu Madam Pomfrey ketika matron itu
    merapikan kotak-kotak permennya yang banyak itu. "Boleh, kan?"
    "Profesor Dumbledore bilang supaya kau diizinkan pergi,"
    katanya tak senang, seakan menurut pendapatnya Profesor Dumbledore
    tidak menyadari berapa berbahayanya pesta. "Dan kau punya tamu lagi."
    "Oh, bagus," kata Harry. "Siapa?"
    Hagrid menyelinap masuk ketika Harry bertanya. Seperti biasa, kalau dia
    berada dalam rumah, Hagrid tampak terlalu besar. Dia duduk di sebelah Harry
    memandangnya, lalu langsung menangis.
    "Ini semua salahku!" isaknya, dengan wajah tertelungkup di tangannya.
    "Aku beritahu orang jahat itu "bagaimana cara lewati Fluffy! Aku yang beritahu
    dia! Padahal itu satu-satunya yang tak dia ketahui, tapi aku memberitahunya!
    Kau bisa mati!
    Hanya karena sebutir telur naga! Aku takkan minum lagi! Aku seharusnya
    dibuang dan disuruh hidup sebagai Muggle!"
    "Hagrid!" kata Harry, kaget melihat Hagrid gemetar karena begitu sedih dan
    menyesal, air mata besarbesar bergulir sampai ke jenggotnya. "Hagrid, dia toh
    pasti akan tahu juga. Yang kita bicarakan adalah Voldemort, dia akan tahu
    meskipun kau tidak memberitahunya."
    "Kau bisa mati!" isak Hagrid. "Dan jangan sebut nama itu!"



    --------------------------------------- 180

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "VOLDEMORT!" Harry berteriak, dan Hagrid begitu kagetnya sampai berhenti
    menangis.
    "Aku sudah bertemu dengannya dan aku akan menyebut namanya.
    Bergembiralah, Hagrid, kita telah menyelamatkan batunya. Batu itu sudah tak
    ada, dia tak bisa menggunakannya.
    Ayo, makan Cokelat Kodok. Aku punya banyak...."
    Hagrid mengusap hidung dengan punggung tangannya dan berkata, "Aku jadi
    ingat. Aku bawa hadiah buatmu."
    "Bukan sandwich musang, kan?" kata Harry cemas, dan akhirnya Hagrid
    tersenyum lemah.
    "Bukan. Dumbledore liburkan aku kemarin untuk susun ini. Tentu saja dia
    seharusnya pecat aku, tapi pendeknya, ini untukmu."
    Tampaknya seperti buku yang indah dengan sampul kulit. Harry
    membukanya dengan penasaran. Buku itu penuh dengan foto sihir. Ayah dan
    ibunya tersenyum dan melambai padanya dari semua halaman.
    "Kirim burung hantu ke semua teman sekolah orangtuamu, minta foto... aku
    tahu kau tak punya foto... Kau suka?"
    Harry tak bisa berkata-kata, tetapi Hagrid mengerti.
    ***
    Harry berangkat ke pesta akhir tahun ajaran sendirian malam itu. Dia agak
    terlambat karena Madam Pomfrey sibuk mengkhawatirkannya berkeras untuk
    memeriksanya terakhir kali sehingga ketika ia tiba, Aula Besar sudah penuh.
    Aula didekorasi dengan warna Slytherin, hijau dan perak, untuk merayakan
    keberhasilan Slytherin memenangkan Piala Asrama untuk ketujuh kalinya
    selama tujuh tahun berturut-turut.
    Spanduk raksasa bergambar ular, lambang Slytherin, membentang menutupi
    dinding di belakang Meja Tinggi.
    Ketika Harry melangkah masuk, mendadak ruangan menjadi sunyi dan
    kemudian semua anak mulai bicara berbarengan.
    Harry duduk di kursi, di antara Ron dan Hermione di meja Gryffindor, dan
    berusaha tidak mengacuhkan kenyataan bahwa anak-anak berdiri untuk
    melihatnya.
    Untunglah Dumbledore tiba tak lama kemudian. Celoteh anak-anak langsung
    reda.
    "Satu tahun lagi telah berlalu!" kata Dumbledore riang. "Dan aku harus
    menggerecoki kalian dengan ocehan orang tua sebelum kita mulai menyerbu
    makanan enak-enak ini. Tahun ini sungguh luar biasa! Mudah-mudahan kepala
    kalian sedikit lebih penuh daripada setahun yang lalu... kalian masih punya
    sepanjang musim panas untuk mengosongkan kepala sebelum tahun ajaran baru
    mulai....
    "Nah, seperti yang kupahami, Piala Asrama perlu dianugerahkan dan skornya
    sebagai berikut: di tempat keempat Gryffindor, dengan tiga ratus dua belas
    angka; tempat ketiga Hufflepuff, dengan tiga ratus lima puluh dua; Ravenclaw
    mengumpulkan empat ratus dua puluh enam, dan Slytherin empat ratus tujuh
    puluh dua."



    --------------------------------------- 181

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Gemuruh sorak dan entakan kaki terdengar dari meja Slytherin. Harry bisa
    melihat Draco Malfoy mengetuk-ngetukkan piala minumnya di atas meja.
    Pemandangan yang memuakkan.
    "Ya, ya, bagus sekali, Slytherin," puji Dumbledore.
    "Meskipun demikian, kejadian belakangan ini harus ikut diperhitungkan."
    Ruangan langsung sunyi senyap. Senyum anak-anak Slytherin sedikit
    memudar.
    "Ehem," kata Dumbledore. "Ada angka-angka terakhir yang harus kubagikan.
    Coba kulihat. Ya... "Yang pertama kepada Mr Ronald Weasley..." Wajah Ron
    menjadi keunguan; dia tampak seperti lobak yang terbakar sinar matahari. "...
    untuk permainan catur paling indah yang pernah dilihat Hogwarts selama
    bertahun-tahun ini. Kuhadiahkan kepada Gryffindor lima puluh angka."
    Sorak Gryffindor nyaris mengangkat atap sihir Aula; bintangbintang di atas
    sampai bergetar. Percy terdengar memberitahu Prefek-prefek lainnya, "Kalian
    tahu, dia adikku! Adik laki-lakiku yang paling kecil! Berhasil memecahkan set
    catur raksasa McGonnagall."
    Akhirnya sunyi lagi. "Kedua kepada Miss Hermione Granger... untuk
    penggunaan logika dingin dalam menghadapi api. Kuhadiahkan kepada
    Gryffindor lima puluh angka."
    Hermione membenamkan wajah ke lengannya. Harry sangat curiga dia
    menangis. Anak-anak Gryffindor di sekeliling meja bukan main senangnya.
    Angka mereka naik seratus poin.
    "Ketiga kepada Mr Harry Potter...," kata Dumbledore.
    Ruangan betul-betul sunyi senyap. "... untuk ketabahan dan keberanian
    yang luar biasa. Kuhadiahkan kepada Gryffindor enam puluh angka."
    Teriakan dan hiruk-pikuk yang terdengar sungguh memekakkan telinga.
    Mereka yang bisa menghitung, sambil berteriak-teriak sampai serak, tahu
    bahwa angka Gryffindor sekarang menjadi empat ratus tujuh puluh dua, persis
    sama dengan Slytherin. Skor mereka seri untuk Piala Asrama... seandainya saja
    Dumbledore memberi Harry satu angka lebih banyak.
    Dumbledore mengangkat tangannya.
    Ruangan berangsur-angsur kembali sunyi.
    "Ada berrnacam-macam keberanian," kata Dumbledore tersenyum. "Perlu
    banyak keberanian untuk menghadapi lawan, tetapi diperlukan keberanian yang
    sama banyaknya untuk menghadapi kawan-kawan kita. Karena itu aku
    menghadiahkan sepuluh angka kepada Mr Neville Longbottom."
    Orang yang berdiri di luar Aula Besar mungkin akan mengira terjadi
    semacam ledakan di dalam, karena begitu kerasnya bunyi yang meledak di
    meja Gryffindor. Harry, Ron, dan Hermione berdiri untuk berteriak sementara
    Neville, pucat saking terguncangnya, menghilang di bawah tumpukan anak-anak
    yang rnemeluknya. Dia tak pernah memenangkan bahkan satu angka pun untuk
    Gryffindor sebelum ini. Harry, masih bersorak-sorak, menyodok rusuk Ron dan
    menunjuk ke arah Malfoy, yang seandainya mendapat Kutukan Ikat Tubuh
    Sempurna pun tak mungkin kelihatan lebih kaget dan ngeri daripada sekarang.



    --------------------------------------- 182

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    "Itu berarti," seru Dumbledore mengatasi gemuruh sorakan, karena baik
    Ravenclaw maupun Hufflepuff ikut merayakan kejatuhan Slytherin, "kita perlu
    sedikit perubahan dekorasi."
    Dumbledore menepukkan tangannya. Dalam sekejap hiasan-hiasan gantung
    hijau berubah menjadi merah dan peraknya menjadi emas. Ular raksasa
    Slytherin lenyap, digantikan singa Gryffindor yang gagah. Snape menjabat
    tangan Profesor McGonagall dengan senyum pahit yang dipaksakan. Matanya
    bertatapan dengan mata Harry, dan Harry langsung tahu bahwa perasaan Snape
    kepadanya tidak berubah sedikit pun. Ini tidak membuat Harry cemas.
    Tampaknya, hidup baginya akan kembali normal di tahun ajaran mendatang,
    atau senormal yang mungkm terjadi di Hogwarts.
    Malam itu malam paling indah dalam hidup Harry, lebih
    menyenangkan daripada memenangkan Quidditch atau merayakan Natal atau
    memukul pingsan troll gunung... dia tak akan pernah melupakan malam ini.
    ***
    Harry nyaris lupa bahwa hasil ujian belum diumumkan, tetapi akhirnya hasil
    itu keluar juga. Betapa herannya dia dan Ron, karena mereka berdua lulus
    dengan nilai-nilai bagus.
    Hermione, tentu saja, menjadi juara sekolah untuk kelas satu.
    Bahkan Neville lulus juga, nilai Herbologi-nya yang tinggi mengimbangi nilai
    Ramuan-nya yang jeblok. Mereka berharap bahwa Goyle, yang kebodohannya
    nyaris sama besar dengan kekejamannya, akan dikeluarkan, tetapi Goyle lulus
    juga.
    Sayang, tetapi seperti kata Ron, dalam hidup ini kita tidak bisa
    mendapatkan segalanya.
    Dan mendadak saja lemari pakaian mereka kosong, koper-koper mereka
    sudah dikemas, katak Neville ditemukan bersembunyi di sudut toilet. Pesan
    dibagikan kepada semua murid, memperingatkan mereka agar tidak
    menggunakan sihir selama liburan ("Aku selalu berharap mereka lupa
    memberikan peringatan ini kepada kita," kata Fred Weasley sedih.). Hagrid siap
    membawa mereka turun ke armada perahu yang akan berlayar menyeberangi
    danau. Mereka naik ke Hogwarts Express, mengobrol dan tertawa-tawa
    sementara daerah pedesaan yang mereka lalui menjadi kian hijau dan rapi;
    makan Kacang Segala-Rasa Bertie Bott selagi kereta meluncur melewati kota-
    kota Muggle; melepas jubah penyihir mereka dan ganti memakai jaket biasa;
    sampai akhirnya kereta berhenti di peron sembilan tiga perempat di Stasiun
    King's Cross.
    Perlu beberapa waktu bagi mereka semua untuk turun di peron. Seorang
    penjaga tua yang sudah keriput, berjaga di palang rintangan boks penjualan
    tiket, mengatur mereka keluar berdua dan bertiga, agar tidak menarik
    perhatian. Sebab kalau mereka semua serentak bermunculan dari tembok
    kokoh, tentu para Muggle akan kaget dan ketakutan.
    "Kalian harus datang menginap musim panas ini," kata Ron,
    "kalian berdua akan kukirim burung hantu."
    "Terima kasih," kata Harry. "Aku perlu sesuatu yang menyenangkan untuk
    kunanti-nantikan kedatangannya."



    --------------------------------------- 183

    Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
    Orang-orang menyenggol mereka ketika mereka bergerak maju, menuju
    gerbang yang membawa mereka kembali ke dunia Muggle. Beberapa di
    antaranya berseru,
    "Dah, Harry!"
    "Sampai ketemu, Potter!"
    "Tetap populer, ya," kata Ron tersenyum.
    "Tidak kalau di tempat yang kutuju. Percaya deh," kata Harry. Harry, Ron,
    dan Hermione melewati gerbang bersama-sama.
    "Itu dia, Mum, itu dia, lihat!"
    Yang berteriak Ginny Weasley, adik perempuan Ron, tetapi dia tidak
    menunjuk Ron. "Harry Potter!" lengkingnya. "Lihat, Mum, aku bisa melihat..."
    "Diamlah, Ginny, dan tidak sopan menunjuk-nunjuk."
    Mrs Weasley tersenyum kepada mereka.
    "Tahun yang sibuk?" sapanya.
    "Sangat," kata Harry. "Terima kasih untuk bonbon dan rompinya, Mrs
    Weasley."
    "Oh, sama-sama, Nak."
    "Sudah siap?"
    Itu Paman Vernon, wajahnya masih ungu, masih berkumis, masih kelihatan
    marah pada Harry yang nekat menenteng burung hantu dalam sangkar di
    stasiun yang penuh orang biasa.
    Di belakangnya berdiri Bibi Petunia dan Dudley yang kelihatan ngeri melihat
    Harry.
    "Kalian pastilah keluarga Harry!" sapa Mrs Weasley.
    "Boleh dikatakan begitu," kata Paman Vernon. "Ayo cepat, kita tak bisa
    seharian di sini." Paman Vernon langsung ngeloyor pergi. Harry masih tinggal
    untuk mengucapkan salam perpisahan pada Ron dan Hermione.
    "Sampai ketemu setelah musim panas, ya."
    "Mudah-mudahan liburanmu er menyenangkan," kata Hermione, menoleh,
    memandang Paman Vernon dengan bimbang. Dia heran sekali ada orang yang
    begitu tidak menyenangkan.
    "Oh, pasti menyenangkan," kata Harry, dan mereka heran melihat senyum
    yang merekah lebar di wajahnya. "Mereka. tak tahu kita dilarang menggunakan
    sihir di rumah. Aku akan banyak bersenang-senang dengan Dudley musim panas
    ini...."
    TAMAT

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © 2013 RETNO_WIBOWO - To Aru Kagaku no Railgun - Powered by Blogger - Designed by retno wibowo -