Posted by : damar
20 Dec 2013
--------------------------------------- 1
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Buku 1
Harry Potter And The Pilosopher
Stone
J.K. Rowling
Harry Potter Dan Batu Bertuah
untuk Jessica, yang menyukai cerita,
untuk Anne, yang juga menyukainya,
dan untuk Di, yang pertama mendengar cerita ini.
1. Anak Laki Laki Yang Bertahan Hidup
Mr dan Mrs Dursley yang tinggal di Privet Drive nomer empat bangga
menyatakan diri mereka orang-orang yang normal, untunglah. Mereka tak bisa
di harapkan terlibat dengan sesuatu yang ajaib atau misterius, karena mereka
sama sekali tidak percaya omong kosong seperti itu.
Mr Dursley adalah direktur Grunnings, perusahaan yang memproduksi bor. Dia
laki-laki yang besar gemuk, nyaris tanpa leher, walaupun kumisnya besar
sekali. Mrs Durslety berambut pirang, lehernya dua lili panjang leher biasa.
Baginya ini menguntungkan, karena kegemarannya adalah menjulurkan leher di
alas pagar-pagar, untuk mengintip para tetangga. Suami istri Dursley
mempunyai seorang anak lelaki kecil bernama Dudley dan menurut pendapat
mereka, didunia ini tidak ada anak lain sehebat Dudley.
Keluarga Dursley memiliki segalanya yang mereka inginkan, tetapi mereka
juga punya rahasia, dan ketakutan terbesar mereka adalah, kalau ada orang
yang mengetahui rahasia ini.
Mereka pikir mereka pasti lak tahan kalau sampai ada yang tahu tentang
keluarga Potter. Mrs Potter adalah adik Mrs Dursley, tetapi sudah bertahun-
tahun mereka tidak bertemu. Mrs Dursley malah berpura-pura tidak punya adik,
karena adiknya dan suaminya yang tak berguna itu tak layak sama sekali
menjadi kerabat keluarga Dursley. Mr dan Mrs DumJey bergidik memikirkan apa
kata tetangga mereka jika keluarga Potter muncul di jalan mereka. Keluarga
Dursley tahu bahwa keluarga Potter juga punya seorang anak laki-laki kecil,
--------------------------------------- 2
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
tetapi mereka belum pernah melihatnya. Anak ini salah satu alasan bagus lain
kenapa mereka tak mau dekat-dekat keluarga Potter. Mereka tak ingin Dudley
bergaul dengan anak seperti itu. Ketika Mr dan Mrs Dursley bangun pada hari
Selasa pagi yang mendung saat cerita kita ini mulai, tak ada tanda-tanda di
langit berawan di luar bahwa akan terjadi hal-hal misterius dan aneh di seluruh
negeri. Mr Dursley bersenandung ketika dia mengambil dasinya yang sangat
membosankan untuk dipakainya bekerja, dan Mrs Dursley bergosip riang seraya
berkutat dengan Dudley yang menjerit-jerit dan mendudukkan anak itu di
kursinya yang tinggi.
Tak seorang pun dari mereka melihat seekor burung hantu besar kuning
kecokelatan terbang melintasi jendela.
Pukul setengah sembilan Mr Dursley memungut tas kerjanya, mengecup pipi
Mrs Dursley dan mencoba mengecup Dudley, tapi gagal, sebab sekarang Dudley
ngadat dan melempar-lempar serealnya ke dinding. "Dasar anak-anak," senyum
Mr Dursley sambil masuk ke mobilnya dan memundurkannya keluar dari garasi
rumah nomor empat.
Di sudut jalanlah pertama kalinya dia menyadari ada suatu yang aneh
seekor kucing membaca peta. Sekejap Mr Dursley tidak menyadari apa yang
telah dilihatnya kemudian dia menoleh untuk melihat sekali lagi. Ada kucing
betina berdiri di ujung Jalan Privet Drive, tapi sama sekali tak kelihatan ada
peta.
Rupanya tadi cuma khayalannya. Pasti itu tipuan cahaya. Mr Dursley
mengejapkan mata dan memandang ulang kucing itu.
Si kucing balas memandangnya, Saat Mr Dursley berbelok di sudut dan
meneruskan perjalanan, dia memandang kucing itu lewat kaca spionnya. Kucing
itu sekarang sedang membaca papan jalan yang bertuliskan Privet Drive
bukan, bukan membaca melainkan memandang papan jalan itu, kucing itu
tidak bisa membaca peta atau papan jalan. Mr Dursley menggelengkan
kepalanya dan mencoba melupakan kucing itu.
Selama mengendarai mobilnya ke kota, yang dipikirkannya hanyalah
pesanan bor dalam jumlah besar yang akan didapatnya hari itu.
Tetapi menjelang masuk kota, bor tergusur keluar dari pikirannya oleh
sesuatu yang lain. Sementara terjebak macet seperti biasanya, dia melihat
banyak orang berpakaian aneh.
Orang-orang yang memakai jubah. Mr Dursley tak tahan melihat orang yang
berpakaian aneh-aneh dandanan anakanak muda jaman sekarang! Dia kira
jubah bloon ini sedang mode. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi
mobil dan matanya menatap serombongan orang aneh yang berdiri cukup
dekat. Mereka sedang berbisik- bisik dengan tegang. Mr Dursley sebal sekali
melihat bahwa dua di antara mereka sama sekali tidak muda lagi. Yang pakai
jubah hijau zamrud itu bahkan lebih tua dari dia! Kelewatan benar! Tetapi
kemudian terlintas di benaknya bahwa mereka mungkin sengaja berdandan
seperti itu mereka pastilah sedang mengumpulkan dana entah untuk apa ya,
pasti begitu. Kendaraan-kendaraan mulai bergerak, dan beberapa menit
kemudian Mr Dursley tiba di tempat parkir Grunnings, pikirannya kembali
dipenuhi bor.
--------------------------------------- 3
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mr Dursley selalu duduk membelakangi jendela di kantornya di lantai
sembilan. Jika tidak, mungkin sulit baginya untuk berkonsentrasi pada bor pagi
itu. Dia tidak melihat burungburung hantu terbang berseliweran di siang hari,
meskipun orang-orang lain di jalan melihatnya. Orang-orang itu melongo dan
menunjuk-nunjuk ketika burung-burung hantu tak putus-putusnya beterbangan
Sebagian besar dari mereka belum pernah melihat burung hantu, di malam hari
sekalipun. Tetapi Mr Dursley melewatkan pagi yang normal, tanpa gangguan
burung hantu. Dia berteriak pada lima orang yang berbeda. Dia melakukan
beberapa pembicaraan telepon penting dan berteriak beberapa kali lagi.
Hatinya sedang senang, sampai waktu makan siang, ketika dia memutuskan
akan melemaskan kaki dan berjalan ke toko kue di seberang jalan.
Dia sudah lupa sama sekali pada orang-orang berjubah, sampai dia melewati
serombongan lagi di sebelah toko kue. Dia mendelik gusar kepada mereka. Dia
tidak tahu kenapa, tetapi mereka membuatnya resah. Rombongan yang ini juga
berbisik-bisik tegang dan dia sama sekali tidak melihat satu pun kotak
pengumpul dana. Saat melewati mereka lagi dalam perjalanan kembali ke
kantor, dia mendengar beberapa kata yang mereka ucapkan.
"Keluarga Potter, betul, begitu yang kudengar..."
"... ya, anak mereka, Harry..."
Mr Dursley langsung berhenti. Ketakutan melandanya. Dia menoleh
memandang mereka yang berbisik- bisik itu, seakan mau mengatakan sesuatu,
tetapi tidak jadi.
Dia cepat-cepat menyeberang jalan, bergegas naik ke kantornya, dengan
galak menyuruh sekertarisnya agar tidak mengganggunya, menyambar
teleponnya, dan sudah hampir selesai menghubungi nomor rumahnya ketika dia
berubah pikiran. Dia meletakkan kembali gagang telepon dan mengelus-elus
kumisnya sambil berpikir... tidak, dia bodoh. Potter bukan nama yang tidak
umum. Dia yakin ada banyak orang bernama Potter yang mempunyai anak
bernama Harry. Kalau dipikir-pikir lagi, dia malah tidak yakin keponakannya
bernama Harry.
Dia bahkan belum pernah melihat anak itu. Siapa tahu namanya Harvey.
Atau Harold. Tak ada gunanya membuat cemas Mrs Dursley. Dia selalu jadi
cemas kalau nama adiknya disebutsebut. Mr Dursley tidak menyalahkannya-
kalau dia sendiri punya adik seperti itu... tapi, orang-orang yang memakai
jubah itu...
Sulit baginya untuk berkonsentrasi pada bor sore itu, dan ketika
meninggalkan kantornya pada pukul lima sore, dia masih cemas sehingga
menabrak orang di depan pintu.
"Maaf," gumamnya, ketika laki-laki tua yang ditabraknya terhuyung nyaris
jatuh. Sesaat kemudian baru Mr Dursley menyadari, laki-laki itu memakai jubah
ungu. Dia kelihaiannya sama sekali tidak marah ditabrak sampai hampir jatuh.
Sebaliknya, dia malah nyengir lebar dan berkata dengan suara melengking
yang membuat orang-orang yang lewat menoleh, "Jangan minta maaf, Sir,
karena tak ada yang bisa membuatku marah hari ini! Bergembiralah, karena
Kau-Tahu-Siapa telah pergi akhirnya! Bahkan Muggle seperti Anda pun harus
ikut merayakan hari yang amat sangat membahagiakan ini!"
--------------------------------------- 4
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dan laki-laki tua itu memeluk pinggang Mr Dursley, lalu pergi.
Mr Dursley berdiri terpaku di tempatnya. Dia baru saja dipeluk oleh orang
yang sama sekali asing. Seingatnya dia juga disebut Muggle, entah apa artinya
itu. Dia jadi bingung. Dia bergegas ke mobilnya dan pulang, berharap bahwa
semua tadi hanya khayalannya. Ini sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya,
karena dia orang yang tak suka berkhayal.
Ketika mobilnya meluncur masuk ke pekarangan rumah nomor empat, yang
pertama kali dilihatnya dan ini tidak membuatnya bertambah lega adalah
kucing betina yang telah dilihatnya pagi tadi. Kucing itu sekarang duduk di atas
tembok pekarangannya. Mr Dursley yakin itu kucing yang sama. Dia punya tanda
yang sama di sekeliling kedua matanya.
"Shuh!" Mr Dursley mengusirnya.
Kucing itu tidak bergerak. Dia malah menatap galak Mr Dursley. Apa ini
perilaku normal kucing? pikir Mr Dursley.
Sambil berusaha menenangkan diri, dia masuk rumah. Dia masih bertekad
tidak akan mencitakan apa-apa kepada istrinya.
Mrs Dursley melewatkan hari yang normal dan menyenangkan. Saat makan
malam dia bercerita kepada Mr Dursley tentang ibu tetangga yang punya
masalah dengan anak perempuannya dan bahwa Dudley sudah bisa ngomong
kalimat baru ("Tak mau!"). Mr Dursley berusaha bersikap biasa. Ketika Dudley
sudah ditidurkan, Mr Dursley ke ruang keluarga untuk mendengarkan kabar
terakhir dalam berita malam.
Dan akhirnya, para pengamat burung dari segala tempat melaporkan bahwa
burung hantu di seluruh negeri bersikap aneh sekali hari ini. Meskipun burung
hantu normalnya berburu di malam hari dan jarang terlihat di siang hari,
ratusan orang melihat burung-burung hantu beterbangan ke segala penjuru
sejak matahari terbit. Para ahli tidak dapat menjelaskan kenapa para burung
hantu mengubah pola tidur mereka." Pembawa berita tersenyum. "Sungguh
aneh. Dan sekarang, kita bergabung dengan Jim McGuffin yang akan
menyampaikan ramalan cuaca. Malam ini akan hujan burung hantu lagi, Jim?"
Wah, Ted," kata si peramal cuaca, "aku tak tahu tentang itu, tetapi bukan
cuma burung hantu yang bersikap aneh hari ini.
Para pemirsa sampai sejauh Kent, Yorkshire, dan Dundee bergantian
meneleponku untuk memberitahu bahwa alih-alih hujan seperti yang
kuramalkan kemarin, yang mereka dapat adalah bintang-bintang jatuh!
Mungkin orang-orang merayakan Bonfire Night lebih awal padahal pesta
kembang api seharusnya baru minggu depan, para pemirsa! Tetapi malam ini
bisa dipastikan hujan akan turun!"
Mr Dursley terenyak di kursi-berlengannya. Bintang jatuh di seluruh Inggris?
Burung-burung hantu beterbangan di siang hari? Orang-orang misterius
berjubah di mana-mana? Dan bisik-bisik, bisik-bisik tentang keluarga Potter...
Mrs Dursley masuk ruang keluarga membawa dua cangkir teh. Percuma. Dia
harus mengatakan sesuatu kepada istrinya. Mr Dursley berdeham panik. "Ehm
Petunia sayang belakangan ini ada kabar apa dari adikmu?"
--------------------------------------- 5
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Seperti dugaannya, Mrs Dursley kelihatan kaget dan marah. Yah, biasanya
kan mereka berpura-pura dia tidak punya adik. "Tidak ada," jawabnya ketus,
"Memangnya kenapa?"
"Ada berita aneh tadi," gumam Mr Dursley. "Burung hantu... bintang jatuh...
dan ada banyak orang bertampang aneh di jalan hari ini."
"Jadi?" tukas Mrs Dursley.
"Yah, aku cuma berpikir... mungkin... ada kaitannya dengan... kau tahu,
kan... kelompoknya." Mrs Dursley menyeruput tehnya dengan bibir cemberut.
Mr Dursley mempertimbangkan, beranikah dia memberitahu istrinya bahwa dia
telah mendengar nama Potter disebut-sebut.
Dia memutuskan tidak berani saja. Sebagai gantinya dia berkata sebiasa
mungkin, "Anak mereka seumuran Dudley, kan?"
"Kayaknya sih," kata Mrs Dursley kaku.
"Siapa ya, namanya? Howard, kan?"
"Harry. Nama jelek dan kodian, menurutku."
"Oh, ya?' kata Mr Dursley hatinya mencelos. "Ya, aku setuju."
Dia tak lagi menyinggung-nyinggung masalah itu ketika mereka naik ke
kamar tidur. Sementara Mrs Dursley di kamar mandi, Mr Dursley merayap ke
jendela kamar dan mengintip ke halaman depan. Kucing itu masih ada. Dia
sedang menatap ke jalanan, seakan menunggu sesuatu.
Apakah ini hanya khayalannya? Mungkinkah semua ini ada hubungannya
dengan keluarga Potter? Kalau belul begitu... kalau sampai bocor bahwa
mereka masih kerabat pasangan... wah, dia tak akan tahan.
Suami-istri Dursley naik ke tempat tidur. Mrs Dursley segera tertidur, tetapi
Mr Dursley tidak. Dia memikirkan segala kemungkinan. Pikiran terakhir dan
menenangkan sebelum dia tertidur adalah, seandainya pun keluarga Potter
memang terlibat, tak ada alasan bagi mereka untuk datang ke tempat keluarga
Dursley. Mereka tahu bagaimana pendapat dirinya dan Mrs Dursley mengenai
mereka dan jenis mereka... Mr Durley tak melihat bagaimana dia dan Petunia
bisa terlibat dengan entah apa yang sedang berlangsung ini. Dia menguap dan
berbalik. Semua itu tak akan mempengaruhi mereka...
Betapa kelirunya dia.
Mr Dursley mungkin saja bisa tidur, walau tak nyenyak, tetapi kucing di atas
tembok di luar sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Dia
duduk diam bagai patung, matanya memandang tanpa kedip ke sudut Privet
Drive di kejauhan. Ketika ada pintu mobil digabrukkan di jalan sebelah, dia
tetap bergeming. Begitu juga ketika ada dua burung hantu melayang di
atasnya. Kucing itu baru bergerak menjelang tengah malam.
Seorang laki-laki muncul di sudut yang diawasi si kucing.
Kemunculannya begitu mendadak dan tanpa suara, sehingga kau akan
mengira dia muncul begitu saja dari dalam tanah. Ekor si kucing bergerak dan
matanya menyipit.
Belum pernah ada orang semacam ini di Privet Drive. Dia tinggi, kurus, dan
sudah tua sekali, kalau dilihat dari rambut dan jenggot putihnya yang cukup
panjang untuk diselipkan di ikat pinggangnya. Dia memakai jubah ungu panjang
yang menyapu jalan dan sepatu bot bergesper dengan hak tinggi. Matanya biru
--------------------------------------- 6
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
terang dan bercahaya di balik kacamatanya yang berbentuk bulan-separo dan
hidungnya panjang serta bengkok, seakan sudah pernah patah paling tidak dua
kali. Nama laki-laki ini Albus Dumbledore.
Albus Dumbledore tampaknya tidak menyadari bahwa dia baru saja tiba di
jalan tempat segala sesuatu dari namanya sampai sepatunya tidak diinginkan.
Dia sibuk memeriksa jubahnya, mencari sesuatu. Tetapi tampaknya dia sadar
dia diawasi, karena mendadak saja dia mendongak memandang si kucing, yang
masih memandangnya dari ujung lain jalan. Entah karena apa, melihat kucing
ini dia tampak geli.
Dia berdecak dan bergumam, "Seharusnya aku tahu."
Dia sudah menemukan apa yang dicarinya di kantong sebelah dalam.
Ternyata korek api perak.
Dibukanya, diangkatnya ke udara, lalu dinyalakannya.
Lampu jalan terdekat padam dengan bunyi pop pelan.
Dinyalakannya lagi, lampu berikutnya ikut padam. Dua belas kali ia
menyalakan Pemadam-Lampu, sampai cahaya yang tinggal hanyalah dua sorot
kecil mungil di kejauhan, yaitu mata si kucing yang meng-awasinya. Jika ada
orang yang melongok keluar dari jendela sekarang, bahkan si mata-tajam Mrs
Dursley Mungkin tidak akan melihat apa yang sedang terjadi di trotoar.
Dumbledore menyelipkan Pemadam-Lampu ke dalam jubahnya lagi dan
berjalan menuju rumah nomor empat. Setiba di sana dia duduk di sebelah si
kucing. Dumbledore tidak memandangnya, tetapi setelah beberapa saat dia
mengajaknya bicara.
"Tak disangka kita bertemu di sini ya, Profesor McGonagall
Dia menoleh untuk tersenyum pada si kucing betina, tetapi kucing itu sudah
tak ada. Alih-alih kucing, dia tersenyum pada wanita bertampang agak galak
yang memakai kacamata persegi, persis bentuk vang melingkari mata si kucing.
Wanita itu juga memakai jubah, warnanya hijau zamrud. Rambut hitamnya
digelung ketat. Dia kelihatan bingung.
"Bagaimana kau bisa tahu kucing itu aku?" tanyanya.
"Profesorku, belum pernah aku melihat kucing yang duduk begitu kaku."
"Kau pun akan kaku kalau sudah duduk di tembok bata seharian," kata
Profesor McGonagall.
"Seharian? Padahal seharusnya kau bisa merayakan liari gembira ini? Aku
melewati paling tidak selusin pesta dan perayaan dalam perjalanan kemari."
Profesor McGonagall mendengus marah.
"Oh ya, semua merayakan," katanya tak sabar. "Kaupikir mereka akan lebih
hati-hati, tetapi tidak bahkan para Muggle pun merasa ada sesuatu yang
sedang terjadi. Itu disiarkan di warta berita mereka." Dia mengedikkan
kepalanya ke arah jendela ruang keluarga Dursley yang gelap.
"Aku mendengarnya. Rombongan burung hantu... bintang jatuh...
Nah, mereka kan tidak bego. Keanehan ini menarik perhatian mereka.
Bintang jatuh di Kent aku berani bertaruh itu Dedalus Diggle. Dari dulu dia
kurang perhitungan."
"Kau tak bisa menyalahkan mereka," kata Dumbledore lembut. "Tak ada
yang benar-benar bisa kita rayakan selama sebelas tahun ini."
--------------------------------------- 7
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Aku tahu," kata Profesor McGonagall jengkel. "Tapi itu bukan alasan bagi
kita untuk lupa diri. Orang- orang ceroboh sekali, berkeliaran di jalan di siang
bolong, bahkan tidak memakai pakaian Muggle, bertukar gosip."
Dia melirik tajam Dumbledore, seakan berharap Dumbledore akan
memberitahunya sesuatu, tetapi ternyata tidak, maka dia meneruskan, "Bagus
sekali jika pada hari Kau-Tahu-Siapa akhirnya menghilang, bangsa Muggle
akhirnya juga tahu tentang kita. Kira-kira dia betul sudah pergi, Dumbledore?"
"Kelihatannya begitu," kata Dumbledore. "Banyak yang harus kita syukuri.
Kau mau permen jeruk?"
"Apa?"
"Permen jeruk. Permen Muggle yang kusukai."
"Tidak, terima.. kata Profesor McGonagall dingin, seakan menurut dia ini
bukan saatnya untuk makan permen jeruk.
"Seperti kukatakan, bahkan jika Kau-Tahu-Siapa sudah pergi..."
"Profesorku yang baik, tentunya orang bijaksana seperti kau bisa menyebut
namanya? Segala omong-kosong 'Kau-Tahu-Siapa' selama sebelas tahun aku
sudah berusaha membujuk orang-orang agar menyebutnya dengan namanya
yang sebenarnya: Voldemort." Profesor McGonagall berjengit, tetapi
Dumbledore, yang sedang membuka bungkus dua permen jeruk, kelihatannya
tidak tahu. "Jadi sangat membingungkan jika kita selalu berkata 'Kau-Tahu-
Siapa'. Aku tak melihat alasan kita harus takut menyebut nama Voldemort."
"Aku tahu," kata Profesor McGonagall, kedengarannya setengah putus asa,
setengah kagum. "Tetapi kau lain. Semua tahu kau satu-satunya yang ditakuti si
Kau-Tahu oh, baiklah, Voldemort."
Kau membuatku tersanjung," jawab Dumbledore tenang.
"Voldemort memiliki kekuatan yang tak akan pernah kumiliki."
"Hanya karena kau terlalu yah, mulia untuk menggunakannya."
"Untung sekarang gelap. Belum pernah mukaku semerah ini sejak Madam
Pomfrey mengatakan dia menyukai tutup telingaku yang baru."
Profesor McGonagall memandang tajam Dumbledore dan berkata, "Burung-
burung hantu itu bukan apa-apa dibanding dengan kabar burung yang tersebar.
Kau tahu apa yang dikatakan semua orang? Tentang alasan kenapa dia
menghilang?
Tentang apa yang akhirnya menghentikannya?"
Kelihatannya Profesor McGonagall telah mencapai pokok masalah yang ingin
sekali didiskusikannya, alasan kenapa dia duduk menunggu di atas tembok
keras dingin sepanjang hari, karena tidak sebagai kucing ataupun sebagai
perempuan dia pernah memandang Dumbledore setajam sekarang. Jelas bahwa
apa pun yang dikatakan "semua orang", tak akan dipercayainya sampai
Dumbledore mengadakan kepadanya bahwa itu benar.
Tapi Dumbledore malah memilih permen jeruk yang lain dan tidak
menjawab.
"Apa yang mereka katakan," dia meneruskan, "adalah bahwa tadi malam
Voldemort muncul di Godric's Hollow. Dia datang mencari keluarga Potter.
Menurut gosip, Lily dan James Potter sudah sudah mereka sudah meninggal."
Dumbledore menundukkan kepalanya. Profesor McGonagall memekik kaget.
--------------------------------------- 8
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Lily dan James... tak bisa kupercaya... aku tak mau percaya... Oh,
Albus..."
Dumbledore mengulurkan tangan dan membelai bahu Profesor McGonagall.
"Aku tahu... aku tahu...," katanya sedih.
Suara Profesor McGonagall bergetar ketika dia meneruskan,
"Itu belum semua. Kata mereka dia mencoba membunuh anak keluarga
Potter, Harry. Tetapi dia tidak bisa. Dia tidak berhasil membunuh anak kecil
itu. Tak ada yang tahu kenapa atau bagaimana, tetapi mereka bilang, bahwa
ketika dia gagal membunuh Harry Potter, kekuatan Voldemort punah dan
itulah sebabnya dia menghilang."
Dumbledore mengangguk tanpa bicara.
"Jadi jadi betul?" Profesor McGonagall tergagap. "Setelah semua yang
dilakukannya... semua orang yang telah dibunuhnya... dia tak bisa membunuh
anak yang boleh dikatakan masih bayi? Sungguh mengherankan...
mengingat segala upaya untuk menghentikan sepak terjangnya... tetapi
bagaimana mungkin Harry bisa bertahan?
"Kita cuma bisa menduga," kata Dumbledore. "Kita mungkin tak akan pernah
tahu."
Profesor McGonagall menarik sehelai saputangan sutra dan mengusap mata
di balik kacamatanya. Dumbledore menyedot hidung keras sambil mengambil
jam emas dari dalam sakunya dan memandangnya. Jam itu sudah sangat tua.
Jarumnya ada dua belas, tetapi tidak ada angkanya. Sebagai gantinya, planet-
planct kecil bergerak mengitari tepinya. Tapi Dumbledore pasti bisa
mengartikannya, karena dia mengembalikan jam itu ke sakunya dan berkata,
Hagrid terlambat. Kurasa dia yang memberitahumu bahwa aku akan ada di
sini, kan?"
"Ya," jawab Profesor McGonagall. "Dan kurasa kau lulak akan
memberitahuku kenapa kau sampai berada disini"
"Aku datang untuk mengantar Harry kepada bibi dan pamannya. Hanya
merekalah keluarganya yang tinggal sekarang."
"Kau tidak yang kaumaksudkan tak mungkin urang-orang yang tinggal di
sini?" seru Profesor McGonagall seraya melompat berdiri dan menunjuk rumah
nomor empat.
"Dumbledore jangan.
Aku sudah mengamati mereka sepanjang hari. Takkan bisa kautemukan dua
orang yang sangat berbeda dari kita seperti mereka. Dan mereka punya anak
kulihat anak ini menendang-nendang ibunya sepanjang jalan ini, menjerit-jerit
minta permen. Harry Potter akan tinggal di sini?
"Ini tempat paling baik untuknya," kata Dumbledore tegas.
"Bibi dan pamannya akan bisa menjelaskan segalanya kepadanya kalau dia
sudah lebih besar. Aku sudah menulis surat kepada mereka."
"Surat?" Profesor McGonagall mengulangi dengan lesu, kembali duduk di atas
tembok. "Astaga, Dumbledore, kaupikir kau bisa menjelaskan semua ini dalam
surat? Orang-orang ini tak akan pernah memahami Harry! Dia akan jadi orang
terkenal jadi legenda aku tak akan heran jika di masa depan nanti, hari ini
--------------------------------------- 9
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
akan dijadikan Hari Harry Potter akan ada buku-buku tentang Harry yang
ditulis semua anak di dunia kita akan mengenal namanya!"
"Justru itu," kata Dumbledore, memandang dengan sangat serius di atas
lensa kacamatanya yang berbentuk bulan-separo.
"Semua itu bisa membuat sombong anak mana pun. Sudah terkenal sebelum
dia bisa berjalan dan bicara! Terkenal gara-gara sesuatu yang ingat pun dia
tidak! Tak bisakah kaulihat, akan jauh lebih baik baginya jika dia dibesarkan
jauh dari semua itu, sampai dia sudah siap menerimanya."
Profesor McGonagall membuka mulut, berubah pikiran, menelan ludah, dan
kemudian berkata, "Ya ya, kau benar, tentu saja. Tetapi bagaimana anak itu
bisa tiba di sini, Dumbledore?" Mendadak diamatinya jubah Dumbledore, seakan
dia mengira Dumbledore mungkin saja menyembunyikan anak itu di balik
jubahnya.
Hagrid yang akan mengantarnya."
Kau pikir bijaksana mempercayakan hal sepenting ini kepada Hagrid?"
"Aku akan mempercayakan hidupku kepada Hagrid," kata Dumbledore.
"Aku tidak bermaksud mengatakan hatinya tidak beradaa di tempatnya yang
benar," kata Profesor McGonagall menggerundel, "tetapi kau tak bisa berpura-
pura tak tahu dia ceroboh. Dia kan cenderung...apa itu?"
Derum rendah memecah kesunyian di sekitar mereka. Derum itu makin lama
makin keras sementara mereka memandang ke ujung jalan, mencari-cari lampu
kendaraan. Bunyi itu membesar seperti raungan sementara mereka berdua
mendongak ke langit dan sebuah motor luar biasa besar jatuh dari angkasa,
mendarat di jalan di depan mereka.
Sepeda motor besar itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan laki-
laki yang duduk di atasnya, tingginya nyaris dua kali laki-laki dewasa dan lima
kali lebih lebar.
Besarnya sungguh kelewatan, dan diaa begitu liar rambut panjangnya yang
hitam dan lebat kusut dan jenggotnya yang juga lebat menyem- bunyikan
sebagian besar wajahnya.
Tangannya sebesar tutup tempat sampah dan kakinya yang memakai sepatu
bot kulit seperti lumba-lumba kecil. Lengannya yang besar dan berotot
memeluk bungkusan selimut.
"Hagrid," kata Dumbledore lega. "Akhirnya. Dan dari mana kaudapat sepeda
motor itu?"
"Pinjam, Profesor Dumbledore jawab si raksasa, sambil turun dengan hati-
hati dari motor itu. "Sirius Black muda pinjamkan padaku. Aku dapat dia, Sir."
"Tidak ada kesulitan, kan?"
"Tidak, Sir rumah nyaris hancur, tapi aku berhasil ambil dia sebelum para
Muggle berdatangan. Dia tertidur ketika kami terbang melewati Bristol."
Dumbledore dan Profesor McGonagall membungkuk ke arah bungkusan
selimut. Di dalamnya ada seorang bayi laki-laki, tertidur nyenyak. Di balik
sejumput rambut hitam pekat di atas dahinya mereka bisa melihat luka
berbentuk aneh," seperti sambaran kilat.
"Itukah...?" bisik Profesor McGonagall.
"Ya," kata Dumbledore. "Bekas lukanya tak akan hilang selamanya."
--------------------------------------- 10
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tak bisakah kau melakukan sesuatu, Dumbledore?"
"Kalaupun bisa, aku tak mau. Bekas luka kadang-kadang ada gunanya. Aku
sendiri punya bekas luka di atas lutut kiri yang berupa peta jalur kereta api
bawah tanah London. Nah, berikan anak itu, Hagrid. Lebih baik segera kita
bereskan."
Dumbledore menggendong Harry dan berbalik menuju rumah keluarga
Dursley.
"Bolehkah bolehkah aku ucapkan selamat tinggal padanya, Sir?" tanya
Hagrid.
Dia menundukkan kepalanya yang besar berambut lebat dan memberi si bayi
kecupan yang pastilah membuat gatal gara-gara gesekan kumisnya. Kemudian
mendadak Hagrid melolong seperti anjing yang terluka.
"Shhh!" desah Profesor McGonagall. "Kau akan membangunkan para Muggle!"
Maaf-maaf," isak Hagrid, seraya mengeluarkan saputangan besar berbintik-
bintik dan membenamkan wajahnya di dalamnya. "Tapi aku t-t-tak tahan Lily
dan James meninggal dan kasihan Harry harus tinggal dengan Muggle..."
"Ya, ya, memang sangat menyedihkan, tetapi kendalikan dirimu, Hagrid.
Kalau tidak, kita bisa ketahuan," bisik Profesor McGonagall sambil membelai-
belai lengan Hagrid dengan amat hati-hati, sementara Dumbledore melangkahi
tembok halaman yang rendah dan berjalan ke pintu depan. Dengan hati-hati di
baringkannya Harry di depan pintu. Diambilnya sehelai surat dari dalam
jubahnya dan diselipkannya di balik selimut Harry.
Setelah itu dia kembali bergabung dengan dua orang lainnya.
Selama semenit penuh ketiganya memandang bungkusan kecil itu. Bahu
Hagrid berguncang, Profesor McGonagall berkali-kali mengejapkan matanya,
dan kilat yang biasanya ada di mata Dumbledore seakan telah padam.
"Nah," kata Dumbledore akhirnya, "begitulah. Tak ada gunanya lagi kita
tinggal di sini. Lebih baik kita pergi dan ikut perayaan."
"Yeah," kata Hagrid sengau. "Aku akan kembalikan motor Sirius. Malam,
Profesor McGonagall... Profesor Dumbledore."
Sambil menyeka air matanya yang mengucur terus dengan lengan jaketnya,
Hagrid melompat ke atas motornya dan menstarternya. Diiringi deruman,
motor itu terangkat ke angkasa dan meluncur dalam kegelapan malam.
"Kita akan segera bertemu lagi, Profesor McGonagall," kata Dumbledore
sambil mengangguk kepadanya. Sebagai jawaban, Profesor McGonagall
membuang ingus.
Dumbledore berbalik dan berjalan pergi. Di sudut dia berhenti dan
mengeluarkan Pemadam-Lampu peraknya.
Dijetreknya sekali, dan dua belas bola cahaya serentak meluncur menuju
lampu-lampu jalanan, sehingga Privet Drive mendadak terang dan dia bisa
melihat seekor kucing betina menyelinap ke sudut di ujung jalan lainnya. Dia
juga masih bisa melihat bungkusan selimut di depan pintu rumah nomor empat.
"Semoga semua baik, Harry," gumamnya. Dia memutar tumitnya dan dengan
kebutan jubahnya, dia lenyap.
Angin sepoi meniup pagar-pagar tanaman di Privet Drive yang rapi, yang
berjajar diam dan teratur dibawah langit yang kelam. Di tempat setenang ini
--------------------------------------- 11
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
tidak akan pernah kusangka akan terjadi hal -hal menakjubkan. Harry Potter
berguling dalam selimutnya tanpa terbangun. Dengan salah satu tangan
kecilnya memegang surat yang ada disampingnya, dia tidur terus. Tanpa
menyadari kalau dia istimewa, tanpa menyadari kalau dia terkenal, tanpa
menyadari bahwa beberapa jam lagi dia akan terbangun mendengar jeritan Mrs
Dursley saat membuka pintu depan untuk menaruh botol-botol susu, atau dia
akan melewatkan beberapa minggu mendatang didorong-dorong dan dicubiti
sepupunya, Dudley.... Dia tak mungkin tahu bahwa di seluruh negeri, semua
mengangkat gelas dan berkata dengan suara pelan, "Untuk Harry Potter anak
laki-laki yang bertahan hidup!"
2. Kaca Yang Lenyap
Sudah Hampir sepuluh tahun berlalu sejak suami-istri Dursley terbangun dan
menemukan keponakan mereka di depan pintu, tetapi Privet Drive hampir tak
berubah. Matahari terbit menyinari halaman-halaman depan yang rapi dan
membuat berkilau angka empat dari kuningan di pintu depan rumah keluarga
Dursley. Sinar matahari merayap ke dalam ruang keluarga mereka, yang masih
nyaris sama dengan pada malama Mr Dursley menonton berita penting tentang
burung-burung hantu dahulu. Sepuluh tahun yang lalu, ada banyak foto anak
yang tampak seperti bola pantai besar merah jambu memakai topi yang
warnanya berbeda-beda. Tetapi sekarang Dudley Dursley sudah bukan bayi lagi,
dan sekarang foto-foto itu menunjukkan anak gemuk berambut pirang menaiki
sepeda roda tiga pertamanya, naik komidi putar, bermain komputer dengan
ayahnya, dipeluk dan dicium ibunya. Dalam ruangan itu sama sekali tidak ada
tanda-tanda bahwa ada anak lain yang tinggal dirumah itu.
Padahal Harry Potter masih di situ, saat ini sedang tidur, tapi tak akan lama
lagi. B ibinya, Petunia, sudah bangun, dan suara nyaringnyalah yang pertama
memecah kesunyian pagi itu.
"Bangun! Bangun! Cepat!"
Harry terbangun dengan kaget. Bibinya menggedor pintu lagi.
"Banguuun!" lengkingnya. Harry mendengarnya melangkah menuju dapur,
lalu bunyi wajan yang dielakkan di atas kompor.
Harry berguling telentang lagi dan berusaha mengingat-ingat mimpinya yang
terputus tadi. Mimpinya menyenangkan. Ada motor terbang. Dia merasa dia
pernah mimpi yang sama sebelumnya.
Bibinya sudah kembali berada di depan pintu kamarnya.
"Kau sudah bangun belum?" tuntutnya.
"Hampir," jawab Harry.
"Ayo, cepat. Aku mau kau yang menggoreng daging asap.
Jangan sampai gosong. Aku ingin segalanya sempurna pada hari ulang tahun
Dudley."
Harry mengeluh.
"Apa katamu?"
--------------------------------------- 12
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tidak, tidak apa-apa..."
Diulang tahun Dudley bagaimana mungkin dia bisa lupa?
Dengan enggan Harry turun dari tempat tidur dan mencari-cari kaus kaki.
Ditemukannya sepasang di bawah tempat tidur, dan setelah menarik labah-
labah dari salah satu di antaranya, dipakainya kaus kaki itu. Harry sudah
terbiasa dengan labah-labah, karena lemari di bawah tangga penuh labah-
labah, dan di situlah dia tidur.
Setelah berpakaian, dia pergi ke dapur. Meja dapur nyaris tersembunyi di
bawah tumpukan hadiah untuk Dudley.
Tampaknya Dudley mendapatkan komputer baru yang diinginkannya, belum
lagi televisi baru, dan sepeda balap.
Kenapa persisnya Dudley ingin scpeda balap, sungguh suatu misteri bagi
Harry, karena Dudley gemuk dan benci olahraga
kecuali, tentu saja, bentuk olahraganya adalah meninju orang lain.
Kantong-tinju favorit Dudley adalah Harry, tetapi Dudley jarang berhasil
mengenainya. Harry memang tidak kelihatan gesit, tetapi dia gesit sekali.
Mungkin ada hubungannya dengan tinggal di dalam lemari yang gelap, tetapi
Harry termasuk kecil dan kurus untuk umurnya. Dia bahkan kelihatan lebih kecil
dan lebih kurus dari yang sesungguhnya karena semua pakaiannya lungsuran
Dudley, dan Dudley empat kali lebih besar daripadanya. Harry berwajah kurus,
lututnya menonjol, rambutnya hitam, dan matanya hijau cemerlang. Dia
memakai kacamata bulat yang bingkainya dilekat dengan banyak selotip karena
seringnya Dudley memukul hidungnya. Satu- satunya yang disukai Harry pada
penampilannya adalah bekas luka tipis pada dahinya yang berbentuk sambaran
kilat. Sejauh yang dia ingat, dari dulu bekas luka itu sudah ada dan pertanyaan
pertama yang seingatnya dia tanyakan kepada Bibi Petunia adalah bagaimana
dia mendapatkan bekas luka itu.
"Dalam kecelakaan waktu orangtuamu meninggal," katanya.
"Dan jangan tanya-tanya lagi."
Jangan tanya-tanya itu peraturan pertama jika mau hidup tenang bersama
keluarga Dursley.
Paman Vernon masuk dapur ketika Harry sedang membalik daging.
'Sisir rambutmu!" perintahnya, sebagai ucapan selamat paginya.
Sekali seminggu, Paman Vernon memandang dari atas korannya dan
berteriak bahwa Harry harus potong rambut.
Harry pastilah sudah potong rambut lebih sering dibanding seluruh teman
sekelasnya sekligus. Tetapi sama saja, rambutnya tetap saja tumbuh begitu
berantakan.
Harry sedang menggoreng telur ketika Dudley muncul di dapur dengan
ibunya. Dudley mirip sekali dengan Paman Vernon. Wajahnya lebar dan merah
jambu, lehernya pendek,
matanya kecil, biru, berair. Rambutnya yang tebal pirang menempel rapi
pada kepalanya yang gemuk. Bibi Petunia sering mengatakan bahwa Dudley
kelihatan seperti bayi malaikat,
'sedangkan Harry sering mengatakan Dudley seperti babi pakai wig.
--------------------------------------- 13
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry menaruh piring berisi daging dan telur ke atas meja. Ini susah, karena
nyaris tak ada tempat. Dudley, sementara itu, menghitung hadiahnya.
Wajahnya langsung cemberut.
"Tiga puluh enam," katanya sambil memandang ayah dan ibunya. "Kurang
dua dibanding tahun lalu."
'Sayang, kau belum menghitung hadiah Bibi Marge, lihat, ini dia di bawah
hadiah dari Mummy dan Daddy."
"Baik, tiga puluh tujuh, kalau begitu," kata Dudley, yang wajahnya sudah
merah. Harry yang sudah bisa menduga kemarahan Dudley akan meledak,
cepat-cepat mengunyah dagingnya. Siapa tahu Dudley akan menjungkirkan
meja.
Bibi Petunia rupanya menyadari datangnya bahaya juga, karena dia cepat-
cepat berkata, "Dan kami akan membelikan untukmu dua hadiah lagi kalau kita
jalan-jalan nanti.
Bagaimana, Manis? Dua hadiah tambahan. Oke, kan?"
Sejenak Dudley berpikir. Kelihatannya susah baginya.
Akhirnya dia berkata pelan-pelan, "Jadi aku akan punya tiga puluh... tiga
puluh..."
"Tiga puluh sembilan, anak pintar," kata Bibi Petunia.
"Oh." Dudley duduk dengan keras dan menjangkau bungkusan terdekat.
"Baiklah."
Paman Vernon tertawa.
"Si kecil ini tak mau rugi, persis ayahnya. Pintar kau, Dudley!" Ia mengacak
rambut Dudley.
Saat itu telepon berdering dan Bibi Petunia menjawabnya sementara Harry
dan Paman Vernon menonton Dudley membuka sepeda balap, kamera, pesawat
terbang mainan yang dikendalikan remote control, enam belas permainan
komputer, dan perekam video. Dia sedang merobek kertas pembungkus arloji
emas ketika Bibi Petunia muncul kembali dengan wajah marah dan cemas.
"Kabar buruk, Vernon," katanya. "Mrs Figg kakinya patah.
Jadi tak bisa dititipi dia." Dia mengedikkan kepala ke arah Harry.
Mulut Dudley melongo ngeri, tetapi Harry senang. Setiap tahun, pada hari
ulang tahun Dudley, orangtuanya mengajak Dudley dan seorang temannya
jalan-jalan, ke taman hiburan, kios hamburger, atau menonton bioskop. Harry
ditinggal, dititipkan pada Mrs Figg, wanita tua aneh yang tinggal dua jalan dari
Pivet Drive. Harry benci tinggal di sana. Seluruh rumahnya bau kol dan Mrs Figg
memaksanya melihat foto-foto semua kucing yang pernah dimilikinya.
"Jadi bagaimana?" kata Bibi Petunia, memandang Harry dengan berang,
seakan Harry yang merencanakan sakitnya Mrs Figg. Harry tahu dia seharusnya
kasihan Mrs Figg kakinya patah, tetapi dia mengingatkan dirinya bahwa baru
setahun lagi dia harus melihat foto Tibbles, Snowy, Mr Paws, dan Tufty.
"Kita bisa menelepon Marge," Paman Vernon menyarankan.
"Jangan ngaco, Vernon, dia kan benci anak itu."
Keluarga Dursley sering membicarakan Harry seperti inj seakan anak ini
tidak ada, atau lebih tepat lagi, seakan dia sesuatu yang sangat menjijikkan,
seperti bekicot.
--------------------------------------- 14
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Bagaimana kalau siapa-namanya-tuh, temanmu Yvonne?"
"Sedang, berlibur di Majorca," tukas Bibi Petunia.
"Kalian bisa meninggalkan aku di sini," Harry mengusulkan penuh harap (dia
akan bisa menonton acara yang disukainya di televisi dan mungkin bahkan
mencoba komputer Dudley).
Bibi Petunia kelihatan seperti tersedak telur.
"Dan kalau kami pulang nanti rumah sudah han-cur?" geramnya.
"Aku tak akan meledakkan rumah," kata Harry, tetapi mereka tidak
memedulikannya.
"Kurasa kita bisa membawanya ke kebun binatang," kata Bibi Petunia pelan,
"... dan meninggalkannya di mobil..."
"Mobil kita baru, dia tak boleh duduk sendirian..." Dudley mulai menangis
rneraung-raung. Sebetulnya sih dia tidak betul-betul menangis. Sudah
bertahun-tahun dia tidak menangis.
Tetapi dia tahu bahwa kalau dia mengerutkan mukanya dan meraung,
ibunya akan mengabulkan semua yang diinginkannya.
"Dinky Duddydums, jangan menangis, Mummy tak akan membiarkannya
merusak hari istimewamu!" Bibi Petunia berseru sambil memeluk Dudley.
"Aku... tak... mau... dia... i-i-ikut!" Dudley menjerit di antara isak pura-
puranya. "Dia se-selalu merusak acara!" Dia menyeringai jahat ke arah Harry
dari celah lengan ibunya.
Saat itu bel pintu berbunyi. "Ya ampun, mereka sudah datang!" kata Bibi
Petunia panik dan sekejap kemudian sahabat Dudley, Piers Polkiss, masuk
bersama ibunya. Piers anak kurus dengan wajah seperti tikus. Dia biasanya
yang memegangi lengan anak-anak di belakang punggung, sementara Dudley
memukuli mereka. Dudley langsung berhenti berpura-pura menangis.
Setengah jam kemudian, Harry yang tak mempercayai keberuntungannya,
duduk di jok belakang mobil bersama Piers dan Dudley, menuju ke kebun
binatang untuk pertama kali dalam hidupnya. Paman dan bibinya tak tahu lagi
apa yang harus dilakukan, tetapi sebelum mereka berangkat, Paman Vernon
mengajaknya bicara.
"Kuperingatkan kau," katanya, wajahnya yang lebar keunguan dekat sekali
dengan wajah Harry. "Kuperingatkan kau sekarang kalau kau melakukan yang
aneh-aneh sedikit saja
kau akan dikurung di lemari itu sampai Natal."
"Aku tidak akan melakukan apa-apa," kata Harry, sungguh..."
Tetapi Paman Vernon tidak percaya. Yang lain pun tidak.
Susahnya, hal-hal aneh sering terjadi di sekitar Harry dan tak ada gunanya
memberitahu keluarga Dursley bahwa bukan dia yang menyebabkan hal-hal itu
terjadi.
Pernah Bibi Petunia yang sudah sebal melihat Harry pulang dari tukang
cukur tetapi rambutnya kelihatan sama saja, mengambil gunting dapur dan
memotong rambut Harry sampai pendek nyaris gundul, kecuali poninya yang
sengaja tidak dipotongnya untuk "menyembunyikan bekas luka yang
mengerikan". Dudley terbahak-bahak menertawakan Harry.
--------------------------------------- 15
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Sedangkan Harry sendiri semalaman tak bisa tidur, membayangkan
bagaimana di sekolah keesokan harinya. Dia sudah selalu ditertawakan gara-
gara pakaian yang kebesaran dan kacamatanya yang dilekat dengan selotip.
Tapi paginya, ternyata rambutnya sudah persis lagi dengan sebelum Bibi
Petunia mencukurnya. Dia dikurung selama seminggu dalam lemarinya gara-
gara ini, walaupun dia sudah mencoba menerangkan bahwa dia tidak bisa
menjelaskan bagaimana rambutnya bisa tumbuh kembali secepat itu.
Pada kesempatan lain, Bibi Petunia memaksanya memakai sweter tua
Dudley yang menjijikkan (cokelat dengan bulatan-bulatan hitam). Semakin Bibi
Petunia memaksa menariknya melewati kepala Harry, sweter itu semakin
mengecil, sampai akhirnya cuma seukuran baju boneka tangan, dan jelas tak
akan cukup dipakai Harry. Bibi Petunia memutuskan pastilah sweter itu
mengerut ketika dicuci. Dan betapa leganya Harry,! dia tidak dihukum karena
ini.
Tetapi sebaliknya, dia mendapat kesulitan besar gara-gara ditemukan di
atap dapur sekolah. Seperti biasa geng Dudley mengejar-ngejarnya, dan Harryl
sama kagetnya dengan yang lain ketika tiba-tiba saja dia sudah duduk di atas
cerobong asap.
Mr dan Mrs Dursley menerima surat dari Ibu Kepala Sekolah yang sangat
marah, karena Harry telah memanjat-manjat bangunan sekolah. Tetapi
sebetulnya yang dilakukannya hanyalah (seperti diteriakkannya kepada Paman
Vernon dari dalam lemarinya yang terkunci) melompati ke belakang tempat
sampah besar di luar pintu dapur. Harry menduga pastilah saat melompat itu
dia terbawa angin ke atas.
Tetapi hari ini semua akan berjalan mulus. Bahkan duduk bersama Dudley
dan Piers pun diterimanya, asal dia bisa melewatkan hari bukan di sekolah, di
dalam lemarinya, atau di ruang tamu Mrs Figg yang bau kol.
Sementara mengemudi, Paman Vernon mengeluh kepada Bibi Petunia.
Hobinya memang mengeluh, orang-orang di kantornya, Harry, para wakil
rakyat, Harry, bank, dan Harry hanya beberapa saja dari topik favoritnya. Hari
ini sepeda motor.
&.ngebut seperti orang gila, preman-preman kurang kerjaan,"
komentarnya ketika ada motor yang menyalip mereka.
Aku pernah mimpi tentang motor," kata Harry yang tibatiba ingat
mimpinya. "Motornya terbang."
Paman Vernon nyaris menabrak mobil di depannya. Dia berbalik di tempat
duduknya dan berteriak kepada Harry, wajahnya seperti bit raksasa yang
berkumis. "MOTOR TIDAK TERBANG!" Dudley dan Piers cekikikan.
Aku tahu motor tidak terbang," kata Harry. "Itukan cuma mimpi."
Tetapi Harry menyesal sudah ngomong. Kalau ada hal lain yang dibenci
keluarga Dursley, itu adalah jika Harry menyebut-nyebut sesuatu yang tidak
semestinya terjadi, tak peduli peristiwa itu cuma dalam mimpi atau bahkan
film kartun.
Rupanya mereka berpendapat ide-ide Harry berbahaya.
Hari Sabtu itu cerah sekali dan kebun binatang penuh dikunjungi keluarga-
keluarga. Mr dan Mrs Dursley membelikan Dudley dan Piers es krim cokelat
--------------------------------------- 16
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
besar di pintu masuk, dan karena si gadis penuh senyum di mobil es krim itu
sudah telanjur menanyai Harry dia ingin es krim apa sebelum mereka sempat
mengajak Harry pergi, mereka membelikannya es loli lemon yang murah. Cukup
enak juga, pikir Harry yang menjilati es lolinya sembari menonton gorila yang
menggaruk-garuk kepalanya dan bertampang mirip Dudley, hanya saja
rambutnya tidak pirang.
Belum pernah Harry segembira ini. Dia berhati- hati, berjalan agak jauh dari
keluarga Dursley, agar Dudley dan Piers, yang menjelang makan siang sudah
mulai bosan dengan binatang-binatang, tidak kembali melakukan hobi favorit
mereka, yaitu memukulinya. Mereka makan di restoran kebun binatang dan
ketika Dudley marah-marah karena es krimnya kurang besar, Paman Vernon
membelikannya porsi yang lebih besar dan Harry diizinkan menghabiskan
pesanan pertamanya.
Harry belakangan merasa, bahwa seharusnya dia tahu, hal menyenangkan
seperti ini tak mungkin berlangsung terus.
Setelah makan siang mereka mengunjungi rumah reptil. Di dalam rumah
reptil sejuk dan gelap, dengan jendela-jendela berlampu di sepanjang
dindingnya. Di balik kaca, berjenis-jenis kadal dan ular merayap dan melata di
atas potongan-potongan kayu dan batu. Dudley dan Piers ingin melihat kobra
besar beracun dan sanca raksasa yang bisa meremuk manusia. Dudley segera
menemukan ular terbesar di tempat itu. Ular itu bisa membelitkan tubuhnya
dua kali ke mobil Paman Vernon dan meremuknya seperti kaleng kerupuk
tetapi saat ini kelihatannya dia sedang malas. Sebetulnya, dia malah sedang
tidur nyenyak.
Dudley berdiri dengan hidung menempel di kaca,
memandang gulungan cokelat berkilat itu.
"Suruh dia bergerak," rengeknya pada ayahnya. Paman Vernon mengetuk
kaca, tetapi si ular diam saja.
"Ketuk lagi," Dudley menyuruh. Paman Vernon mengetuk keras dengan buku-
buku jarinya, tetapi si ular tetap saja tidur.
"Sungguh membosankan," keluh Dudley. Dia pergi.
Harry ganti bergerak ke dekat kaca dan memandang si ular lekat-lekat. Dia
tak akan heran kalau si ular mati karena bosannya. Tak ada teman selain orang-
orang bodoh yang mengetuk-ngetuk kaca, mencoba mengganggunya sepanjang
hari. Ini lebih parah daripada menggunakan lemari sebagai kamar tidur, dengan
satu-satunya pengunjung adalah Bibi Petunia yang menggedor-
gedor pintu untuk membangunkannya paling tidak dia kan bisa ke bagian
rumah yang lain.
Ular itu tiba-tiba membuka matanya yang seperti manik-manik. Pelan,
sangat pelan, ia mengangkat kepalanya sampai matanya sejajar dengan mata
Harry.
Mata itu mengedip.
Harry terbelalak. Kemudian dia cepat-cepat memandang berkeliling untuk
memastikan tak ada yang melihat. Ternyata memang tak ada. Dia kembali
memandang si ular dan balas mengedip juga.
--------------------------------------- 17
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Si ular mengedikkan kepala ke arah Paman Vernon dan Dudley, kemudian
mendongak ke langit-langit. Pandangannya kepada Harry seakan jelas berkata,
Sepanjang waktu memang seperti itu."
"Aku tahu," gumam Harry lewat kaca, meskipun Dia tak
yakin si ular bisa mendengarnya.
"Pastilah ?..ingat menyebalkan."
Si ular mengangguk-angguk bersemangat.
"Kau berasal dari mana sih?" tanya Harry.
Ular itu menggerakkan ekornya ke arah papan kecil di sebelah kaca. Harry
membaca tulisannya.
Boa Pembelit, Brasil.
"Enakkah di sana?"
Si boa pembelit menunjuk dengan ekornya ke papan lagi dan Harry
meneruskan membaca: Ular yang ada di sini dikembangbiakkan di kebun
binatang. "Oh, begitu jadi, kau belum pernah ke Brasil?"
Saat si ular menggelengkan kepala teriakan memekakkan telinga di belakang
Harry membuat mereka berdua terlonjak.
"DUDLEY! MR DURSLEY! SINI LIHAT, ULARNYA MENGGELENG-GELENG! KALIAN
TAK AKAN PERCAYA!
Dudley datang tergopoh-gopoh.
"Minggir kau,"katanya sambil meninju dada Harry. Karena tak menyangka
akan diserang, Harry tejatuh di lantai beton. Apa yang terjadi berikutnya
berlangsung begitu cepat sehingga tak ada yang melihat bagaimana terjadinya.
Sesaat setelah Piers dan Dudley berdiri menempel di kaca, detik berikutnya
mereka melompat mundur sambil memekik ngeri.
Harry duduk terngaga: kaca bagian depan kandang si ular telah lenyap. Ular
raksasa itu membuka gulungan tubuhnya dengan cepat, meluncur di lantai.
Para pengunjung rumah reptil menjerit-jerit panik dan berlarian ke pintu
keluar.
Saat si ular meluncur cepat melewatinya, Harry bersedia bersumpah dia
mendengar suara desis pelan berkata, "Brasil, aku datang segera... Trimsss,
Amigo."
Si penjaga rumah reptil shock dan bengong.
"Tapi kacanya," katanya terus-menerus, "ke mana kacanya?"
Direktur kebun binatang sendiri yang membuatkan secangkir teh kental
manis untuk Bibi Petunia sambil tak henti-hentinya minta maaf. Piers dan
Dudley cuma bisa merepet. Sejauh yang Harry lihat, ular itu tidak melakukan
apa-apa, kecuali dengan main-main mengatup-ngatupkan mulutnya di dekat
tumit Dudley dan Piers saat dia lewat. Tetapi ketika mereka sudah kembali ke
mobil Paman Vernon, Dudley bercerita bagaimana si ular nyaris menggigit
kakinya sampai putus, sementara Piers bersumpah si ular mencoba
membelitnya sampai mati. Tetapi yang paling parah, paling tidak bagi Harry,
adalah Piers sudah cukup tenang untuk berkata, "Harry tadi bicara dengan ular
itu.
Iya, kan, Harry?"
--------------------------------------- 18
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Paman Vernon menunggu sampai Piers meninggalkan rumah mereka,
sebelum dia mulai mencecar Harry. Paman Vernon marah sekali, sampai nyaris
tak bisa bica ra. Dia hanya bisa bilang, "Pergi lemari tinggal sana tidak
makan," sebelum dia terhenyak di kursi dan Bibi Petunia cepat-cepat lari
mengambilkannya segelas besar brandy.
***
Lama kemudian Harry masih berbaring di dalam lemarinya yang gelap, ingin
sekali rasanya punya arloji. Dia sama sekali tak tahu jam berapa sekarang dan
dia juga tidak yakin keluarga Dursley sudah tidur. Sebelum mereka tidur; riskan
sekali jika dia keluar dan mengendap-endap ke dapur untuk mengambil
makanan.
Dia telah tinggal bersama keluarga Dursley selama sepuluh tahun, sepuluh
tahun penuh penderitaan. Sejauh yang dia ingat, sejak dia masih bayi dan
orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Kadang-kadang, jika dia
mengingat-ingat dengan keras selama jam-jam panjang membosankan di dalam
lemarinya, muncul dalam ingatannya pemandangan yang aneh: kilat cahaya
hijau menyilaukan dan rasa sakit yang panas di dahinya. Dia menganggap ini
pastilah saat tabrakan terjadi, walaupun dia tak bisa membayangkan dari mana
cahaya hijau itu muncul. Dia sama sekali tidak bisa mengingat orangtuanya.
Paman dan bibinya tidak pernah bicara tentang mereka, dan tentu saja dia
dilarang mengajukan pertanyaan. Tak ada foto orangtuanya di rumah keluarga
Dursley.
Waktu dia masih lebih kecil, Harry sering mengkhayalkan ada keluarga tak
dikenal yang datang untuk membawanya pergi, tetapi ini tak pernah terjadi.
Keluarga Dursley adalah satusatunya keluarganya. Meskipun demikian kadang-
kadang dia mengira (atau berharap) orang orang asing di jalan mengenalnya.
Dan mereka juga orang-orang asing yang sangat aneh. Pernah seorang laki-
laki kecil memakai topi ungu membungkuk kepadanya ketika dia sedang
berbelanja dengan Bibi Petunia dan Dudley. Setelah dengan marah menanyai
Harry apakah dia kenal orang itu, Bibi Petunia buru-buru menggiring mereka
keluar dari toko itu tanpa membeli apa pun.
Seorang wanita tua bertampang liar dan berdandan serba-hijau melambai
dengan riang kepadanya dari bus. Seorang laki-laki botak memakai mantel
panjang ungu bahkan menjabat tangannya di jalan kemarin dulu dan kemudian
pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Yang paling aneh tentang orang-
orang ini adalah, nampaknya mereka langsung lenyap begitu Harry ingin
melihat lebih jelas.
Di sekolah, Harry tak punya teman. Semua anak tahu bahwa geng Dudley
membenci Harry Potter yang aneh dengan pakaian bekasnya yang kebesaran
dan kacamatanya yang bingkainya patah, dan tak seorang pun berani
menentang geng Dudley.
***
--------------------------------------- 19
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
3. Surat Dari Entah Siapa
KABURNYA ular boa pembelit membuat Harry menerima hukuman kurungan
paling lama. Saat dia diizinkan keluar lemari lagi, liburan musim panas telah
mulai dan kamera baru Dudley sudah rusak, pesawat terbang mainannya sudah
menabrak sesuatu dan jatuh hancur, dan pertama kali menaiki sepeda
balapnya, dia menabrak jatuh Mrs Figg yang sedang menyebrang jalan raya
Privet Drive dengan tongkat ketiaknya.
Harry senang sekolah libur, tetapi dia tak bisa menghidari geng Dudley yang
setiap hari datang. Piers, Dennis, Malcolm, dan Gordon semuanya bertubuh
besar dan bodoh, tetapi karena Dudley yang terbesar dan terbodoh, dia jadi
pemimpin geng. Mereka semua senang ikut permainan yang disenangi Dudley :
berburu-Harry.
Inilah sebabnya Harry melewatkan waktu sebanyak mungkin di luar rumah,
berjalan-jalan dan memikirkan akhir liburan, saat dia bisa melihat secercah
kecil harapan. Dengan datangnya bulan September nanti dia akan masuk SMP
dan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tidak akan bersekolah bersama
Dudley. Dudley akan masuk sekolah paman Vernon dulu, Smeltings. Piers,
Polkiss akan masuk kesana juga. Harry sebaliknya, akan bersekolah di Stonewall
High, "SMP" lokal. Dudley menganggap itu sangat lucu.
"hari pertama, mereka memasukkan kepala anak-anak baru ke toilet di
Stonewall," katanya pada Harry. "Mau latihan dulu diatas?"
Tidak, terima kasih," kata Harry. "Kasihan toilet, belum pernah kemasukan
benda lain yang lebih mengerikan daripada kepalamu jangan-jangan toilet itu
sekarang sedang mual."
Kemudian Harry lari, sebelum Dudley bisa mencerna ucapannya tadi.
Pada suatu hari di bulan Juli, Bibi Petunia membawa Harry ke London untuk
membeli seragam Smeltings-nya. Harry dititipkan di rumah Mrs Figg. Mrs Figg
tidak separah biasanya.
Ternyata kakinya patah gara-gara dia tersandung salah satu kucingnya, jadi
sekarang dia tak begitu suka kucing seperti sebelumnya. Dibiarkannya Harry
menonton TV dan diberinya Harry sepotong kue cokelat yang rasanya sudah
tengik.
Malam itu Dudley berparade memakai seragam barunya di ruang keluarga.
Murid-murid Smeltings memakai jas buntut merah tua, celana jingga selutut,
dan topi jerami rata. Mereka juga membawa tongkat, yang digunakan untuk
saling pukuli kalau guru mereka sedang tidak melihat. Ini diandaikan sebagai
latihan bagus untuk masa depan mereka.
Ketika memandang Dudley dalam seragam barunya, Paman Vernon berkata
parau bahwa ini saat paling membanggakan dalam hidupnya. Bibi Petunia
menangis dan berkata dia tak percaya pemuda gagah dan tampan ini si Ickle
Dudleykins.
Harry tak bisa bica ra. Dia pikir mungkin dua tulang iganya sudah retak gara-
gara menahan tawa.
Dapur berbau busuk ketika Harry esok paginya turun untuk sarapan. Bau itu
datangnya dari ember metal besar di tempat cuci piring. Harry melongoknya.
Ember itu penuh gombal kotor yang mengapung di air berwarna abu-abu.
--------------------------------------- 20
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apa ini?" tanyanya kepada Bibi Petunia. Bibir Bibi Petunia langsung
cemberut, seperti biasanya jika Harry berani mengajukan pertanyaan.
"Seragam sekolahmu yang baru," jawabnya.
Harry memandang ke dalam ember lagi.
"Oh," komentarnya. "Tak kusangka harus basah begitu."
"Jangan bego," tukas Bibi Petunia. "Aku sedang mencelup pakaian lama
Dudley dengan wenter abu-abu untukmu. Kalau sudah selesai nanti, akan sama
seperti punya yang lain."
Harry jelas meragukan ini, tetapi dia pikir lebih baik tidak membantah. Dia
duduk di depan meja makan dan mencoba tidak memikirkan bagaimana
penampilannya pada hari pertamanya di Stonewall High nanti seperti memakai
potongan-potongan kulit gajah tua,
mungkin. Dudley dan Paman Vernon muncul, keduanya mengernyitkan hidung
gara-gara bau seragam Harry yang baru. Paman Vernon seperti biasa membuka
korannya dan Dudley memukul-mukulkan tongkat Smeltings-nya
yang selalu dibawanya ke mana-mana di atas meja.
Mereka mendengar bunyi klik kotak surat dan jatuhnya suratsurat di keset.
"Ambil surat, Dudley," kata Paman Vernon dari blik korannya.
"Suruh saja Harry."
"Ambil surat, Harry."
"Suruh saja Dudley."
"Sodok dia dengan tongkat Smeltings-mu, Dudley."
Harry menghindari sodokan tongkat Smeltings dan keuar untuk mengambil
surat. Ada tiga benda tergeletak di keset: kartu pos dari adik perempuan
Paman Vernon, Marge, yang sedang berlibur di Pulau Wight, sebuah amplop
cokelat yang kelihatannya berisi rekening tagihan, dan surat untuk Harry.
Harry mengambil dan menatapnya, jantungnya berdentang-dentang seperti
elastik besar yang dikelintingkan Tak seorang pun sepanjang hidupnya, pernah
menulis surat kepadanya. Siapa yang akan menyuratinya? Dia tak punya teman,
tak punya keluarga lain-dia juga bukan anggota perputakaan manapun, jadi dia
bahkan belum pernah dapat surat teguran kasar untuk segera mengembalikan
buku yang dipinjamnya. Tetapi ternyata, ini ada surat yang jelas-jelas
ditujukan kepadanya:
Mr. H. Potter
Lemari di Bawah Tangga
Privet Drive no. 4
Little Whinging Surrey
Amplopnya tebal dan berat, terbuat dari perkamen kulit
yang digunakan sebagai pengganti kertas.
Warnanya kekuningan dan nama serta alamatnya ditulis dengan tinta hijau
zamrud. Tak ada prangkonya.
Membalik amplop itu dengan tangan gemetar, Harry melihat segel ungu
bergambar lambang huruf "H" besar yang dikelilingi singa, elang, musang, dan
ular.
"Cepat sedikit, Harry!" teriak Paman Vernon dari dapur.
--------------------------------------- 21
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Buat apa kau memeriksa kalau-kalau ada bom-surat?" Dia menertawakan
leluconnya sendiri.
Harry kembali ke dapur, masih menatap suratnya.
Diserahkannya tagihan dan kartu pos pada Paman Vernon, lalu dia duduk
dan pelan-pelan mulai membuka amplop kuningnya.
Paman Vernon merobek surat tagihan, mendengus jijik, dan membalik kartu
pos.
"Marge sakit," dia memberitahu Bibi Petunia. "Makan kerang aneh..."
"Dad!" mendadak Dudley berkata. "Dad, Harry dapat apa tuh!"
Harry sedang akan membuka lipatan suratnya, yang ditulis di atas kertas
perkamen tebal yang sama dengan amplopnya, ketika tiba-tiba surat itu
disentakkan dari tangannya oleh Paman Vernon.
"Itu suratku!" kata Harry, berusaha merebutnya kembali.
"Siapa yang menulis padamu?" seringai Paman Vernon, sambil mengibaskan
surat itu dengan satu tangan agar membuka. Dan melirik isinya. Wajahnya
berubah warna dari merah ke hijau lebih cepat daripada lampu lalu lintas. Dan
tidak berhenti di situ. Dalam sekejap saja wajahnya sudah putih abu-abu
seperti bubur busuk.
P-P-Petunia!" gagapnya.
Dudley berusaha merebut surat itu untuk membacanya tetapi Paman Vernon
mengangkatnya tinggi-tinggi sehingga jauh dari jangkauannya. Bibi Petunia
mengambilnya dengan ingin tahu dan membaca kalimat pertamanya. Sesaat
kelihatannya dia akan pingsan. Dia memegangi lehernya dan mengeluarkan
suara seperti tercekik.
"Vernon! Oh, astaga... Vernon!"
Mereka berpandangan, tampaknya lupa bahwa Harry dan Dudley masih
berada di ruangan yang sama. Dudley tidak biasa diabaikan. Diketuknya kepala
ayahnya keras-keras dengan tongkat Smeltings-nya.
Aku mau membaca surat itu," teriaknya.
"Aku mau membacanya," kata Harry marah, "karena itu suratku."
"Keluar, kalian berdua," kata Paman Vernon parau, seraya memasukkan
kembali surat itu ke dalam amplopnya.
Harry bergeming.
AKU MAU SURATKU!" teriaknya.
"Sini aku lihat!" Dudley memaksa.
"KELUAR!" gerung Paman Vernon. Dicengkeramnya kerah baju Harry dan
Dudley dan dicampakkannya mereka ke lorong, lalu dibantingnya pintu dapur
menutup. Harry dan Dudley segera berkelahi seru, tanpa suara,
memperebutkan siapa yang boleh mendengarkan lewat lubang kunci. Dudley
menang, maka Harry, kacamatanya tergantung pada satu telinga, berbaring
tengkurap untuk mendengarkan dari- celah antara pintu dan lantai.
"Vernon," Bibi Petunia berkata dengan suara gemetar, "lihat alamatnya.
Bagaimana mungkin mereka tahu di mana dia tidur?
Apa menurutmu mereka mengawasi rumah kita?"
"Mengawasi memata-matai mungkin juga mem buntuti kita," gumam
Paman Vernon cemas.
--------------------------------------- 22
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tapi apa yang harus kita lakukan, Vernon? Apakah sebaiknya kita balas?
Kita katakan bahwa kita tak ingin..."
Harry bisa melihat sepatu Paman Vernon yang hitam mengilap mondar-
mandir di dapur.
"Tidak," katanya akhirnya. "Tidak, kita abaikan saja Jika mereka tidak
mendapat balasan... ya, itu yang paling baik... kita tak akan melakukan apa-
apa..."
"Tetapi..."
"Aku tak mau dengar, Petunia! Bukankah kita sudah bersumpah waktu
mengambilnya bahwa kita akan membasmi omong kosong yang berbahaya itu?"
***
Sore itu sepulang kerja, Paman Vernon melakukan sesuatu yang belum
pernah dilakukannya. Dia mengunjungi Harry di dalam lemarinya.
"Mana suratku tanya Harry begitu Paman Vernon berhasil menjejalkan diri
melewati pintu. "Siapa yang menulis padaku?"
Tidak ada. Surat itu keliru dialamatkan padamu," kata Paman Vernon
pendek. "Sudah kubakar."
Tidak keliru" kata Harry berang. "Di alamatnya tertulis lemariku."
DIAM!" raung Paman Vernon dan dua ekor labah-labah terjatuh dari langit-
langit lemari. Dia menarik napas dalam beberapa kali dan kemudian
memaksakan wajahnya tersenyum, kelihatannya memelas sekali.
' Er... ya, Harry... tentang lemari ini. Bibimu dan aku sudah berpikir-p
ikir... kau sebetulnya sudah terlalu besar untuk tinggal di sini... kami rasa lebih
baik jika kau pindah ke kamar Dudley yang satunya."
Kenapa?" tanya Harry.
Jangan tanya-tanya!" tukas pamannya. "Bawa barang-barangmu ke atas,
sekarang."
Rumah keluarga Dursley punya empat kamar: satu untuk Paman Vernon dan
Bibi Petunia, satu untuk tamu (biasanya adik Paman Vernon, Marge), satu
adalah kamar tidur Dudley, dan satunya lagi tempat Dudley menyimpan mainan
dan barang-barangnya yang tidak muat ditaruh di kamar tidurnya.
Harry hanya perlu sekali angkut untuk memindahkan barang-barangnya dari
lemari ke kamar ini. D ia duduk di tempat tidur dan memandang berkeliling.
Hampir semua barang di kamar ini rusak. Kamera yang baru sebulan tergeletak
di atas tank kecil yang ketika dikendarai Dudley pernah melindas anjing
tetangga.
Di sudut ada televisi pertama Dudley, yang ditendangnya sampai bolong
ketika acara favoritnya batal ditayangkan. Ada sangkar burung besar, dulunya
sangkar seekor burung nuri yang kemudian ditukar Dudley di sekolah dengan
senapan angin betulan. Senapan itu sekarang ada di rak, larasnya bengkok
kedudukan Dudley. Rak-rak lain penuh buku. Hanya buku-buku itulah yang
tampaknya tak pernah disentuh.
Dari bawah terdengar Dudley berteriak-teriak kepada ibunya,
"Aku tak mau dia di sana... aku butuh kamar itu... suruh dia keluar...."
Harry menghela napas dan membaringkan diri di tempat tidur. Kemarin dia
akan bersedia memberikan apa saja untuk bisa berada di kamar ini. Hari ini dia
--------------------------------------- 23
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
lebih memilih berada kembali di lemarinya dengan surat itu daripada di sini
tanpa surat.
Paginya saat sarapan, semua agak diam. Dudley uring-uringan. Dia sudah
menjerit-jerit, memukuli ayahnya dengan tongkat Smeltings-nya, pura-pura
sakit, menendang ibunya, dan melempar kura-kuranya ke atap rumah kaca
sampai atap itu berlubang, tapi tetap saja dia tidak memperoleh kembali
kamarnya. Harry merenungkan saat jam begini kemarin dan menyesal sekali
kenapa dia tidak membuka suratnya sewaktu masih di lorong. Paman Vernon
dan Bibi! Petunia saling pandang dengan wajah keruh.
Ketika tukang pos tiba, Paman Vernon, yang kelihatannya mencoba berbaik-
baik kepada Harry, menyuruh Dudley mengambil surat. Mereka mendengar
Dudley memukul-mukulkan tongkat Smeltings-nya sambil turun ke lorong.
Kemudian dia berteriak, "Ada surat lagi! Mr H. Potter, Kamar Paling Kecil,
Privet Drive nomor 4..."
Dengan pekik tertahan Paman Vernon melompat dari kursinya dan berlari
turun. Harry dibelakangnya.|
Paman Vernon harus memiting Dudley ke lantai untuk merebut surat itu,
dan itu makin sulit dilakukannya karena Harry mengalungkan tangan ke leher
Paman Vernon dari belakang. Setelah semenit pergulatan kalang kabut, dan
semuanya kena pukul tongkat Smeltings, Paman Vernon bangkit berdiri,
tersengal-sengal, dengan surat Harry terpegang erat di tangan.
Kembali ke lemarimu maksudku, kamarmu," katanya kepada Harry.
"Dudley... pergi... pergi."
Harry berjiran bolak-balik mengitari kamar barunya. Ada yang tahu dia
sudah pindah dari lemarinya dan mereka rupanya tahu dia belum menerima
surat pertamanya. Jelas itu berarti mereka akan mencoba lagi. Dan kali ini dia
akan memastikan mereka tidak akan gagal. Dia punya rencana.
***
Jam weker yang sudah dibetulkan berdering pukul enam keesokan paginya.
Harry cepat-cepat mematikannya dan berganti pakaian tanpa menimbulkan
suara. Jangan sampai keluarga Dursley terbangun. Diam-diam dia turun tanpa
menyalakan lampu satupun.
Dia akan menunggu tukang pos di sudut Privet Drive dan mengambil surat-
surat untuk rumah nomor empat lebih dulu.
Jantungnya berdegup kencang saat dia merayap di lorong gelap menuju
pintu depan...
"AAAAARRRGH!"
Harry kaget dan terlonjak dia menginjak sesuatu yang besar dan empuk di
keset sesuatu yang hidup. Lampu menyala di loteng dan betapa kagetnya
Harry, benda empuk yang diinjaknya tadi ternyata wajah pamannya. Paman
Vernon sengaja tidur di depan pintu dalam kantong tidur. Jelas dia bermaksud
menghalangi Harry melakukan apa yang akan dilakukannya. Selama kira-kira
setengah jam dia memarahi Harry, kemudian menyuruhnya membuat secangkir
teh. Harry terseok sedih ke dapur, dan pada saat dia kembali, surat
sudah datang, jatuh persis di pangkuan Paman Vernon. Harry bisa melihat tiga
surat yang alamatnya ditulis dengan tinta hijau.
--------------------------------------- 24
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Berikan...," dia baru mau bicara, Paman Vernon sudah merobek-robek
surat-surat itu di depan matanya. Paman Vemon tidak ke kantor hari itu. Dia
tinggal di rumah dan memaku kotak suratnya.
"Kalau mereka tidak bisa mengirim surat, mereka akan menyerah," dia
menjelaskan kepada Bibi Petunia dengan mulut penuh paku.
Aku tak yakin, Vernon."
"Oh, cara berpikir orang-orang ini aneh, Petunia! tidak seperti kita," kata
Paman Vernon sambil memukul paku dengan sepotong kue buah yang baru saja
dibawakan Bibi Petunia.
***
Hari Jumatnya, tak kurang dari dua belas surat untuk Harry datang. Karena
tak bisa di masukkan ke dalam kotak surat, surat-surat itu disorongkan di
bawah pintu disisipkan ke celah pintu, dan beberapa diantaranya bahkan
dijejalkan lewat jendela kecil toilet bawah.
Paman Vernon tinggal di rumah lagi. Setelah membakar semua surat itu, dia
mengeluarkan palu dan paku untuk menutup semua celah di pintu depan dan
belakang dengan papan, sehingga tak seorang pun bisa keluar. Dia
bersenandung berjingkat di antara tulip-tulip sambil bekerja, dan terlonjak jika
ada bunyi sekecil apapun.
***
Hari Sabtunya, yang terjadi sudah di luar kendali. Ada dua puluh empat
pucuk surat untuk Harry berhasil diselundupkan masuk rumah, digulung dan
disembunyikan dalam dua lusin telur yang dijulurkan tukang susu mereka yang
sangat kebingungan kepada Bibi Petunia lewat jendela ruang keluarga.
Sementara Paman Vernon marah-marah menelepon kantor pos dan perusahaan
susu mencari orang yang bisa disalahkan, Bibi Petunia menghancurkan surat-
surat itu dalam mixer makanannya.
"Siapa sih yang begitu ingin bicara denganmu?" Dudley bertanya kepada
Harry dengan keheranan.
***
Pada hari Minggu pagi, Paman Vernon duduk di meja untuk sarapan,
kelihatan lelah tetapi senang.
"Tukang pos tidak datang pada hari Minggu," dia mengingatkan mereka
dengan riang seraya mengoleskan selai pada korannya, "jadi tak ada surat
sialan hari ini..."
Ada yang berdesis meluncur turun dalam cerobong asap ketika Paman
Vernon bicara, dan mengemplang belakang kepalanya. Detik berikutnya tiga
puluh atau empat puluh surat meluncur-luncur dari perapian seperti peluru.
Keluarga Dursley menunduk menghindar, tetapi Harry melompat mencoba
menangkap satu di antaranya....
"Keluar! KELUAR!"
Paman Vernon menangkap pinggang Harry dan melemparkannya ke lorong di
luar. Setelah Bibi Petunia dan Dudley keluar dengan lengan menutupi muka,
Paman Vernon membanting pintu menutup. Mereka bisa mendengar surat-surat
masih mengalir ke dalam ruangan, melenting-lenting mengenai dinding dan
lantai.
--------------------------------------- 25
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Sudah kelewatan," kata Paman Vernon, berusaha berbicara dengan tenang,
tapi pada saat bersamaan mencabuti kumisnya dengan panik. "Aku mau kalian
semua kembali ke sini lima menit lagi, siap berangkat. Kita akan pergi. Bawa
saja pakaian secukupnya. Jangan membantah!"
Paman Vernon kelihatan berbahaya sekali dengar separo kumisnya lenyap,
sehingga tak seorang pun berani membantah.
Sepuluh menit kemudian mereka berhasil keluar dari pintu yang sudah
dipaku rapat dan berada dalam mobil, yang ngebut menuju jalan tol. Dudley
terisak-isak di jok belakang. Ayahnya tadi memukul kepalanya gara-gara
mereka harus menunggunya mencoba menjejalkan televisi, video, dan
komputernya ke dalam tas olahraganya.
Mobil terus meluncur. Terus meluncur. Bahkan Bibi Petunia pun tak berani
bertanya ke mana mereka pergi. Sekali-sekali Paman Vernon tiba-tiba
menikung tajam dan meluncurkan mobilnya ke arah berlawanan.
Sesatkan mereka... sesatkan mereka," gumam Paman Vernon setiap kali
dia melakukan ini.
Mereka bahkan tidak berhenti untuk makan sepanjang hari.
Saat malam tiba, Dudley sudah menangis meraung-raung.
Belum pernah dia mengalami hari seburuk ini. Dia lapar, dia tidak bisa
menonton lima acara televisi yang ingin ditontonnya, dan belum pernah dia
melewatkan waktu selama tanpa meledakkan Alien di layar komputernya.
Paman Vernon akhirnya berhenti di depan hotel suram di luar sebuah kota
besar. Dudley dan Harry berbagi kamar dengan dua tempat tidur dan seprai
lembap yang berbau lumut. Dudley mendengkur, tetapi Harry tak bisa tidur.
Dia duduk di ambang jendela, memandang lampu-lampu mobil yang lewat dan
bertanya-tanya dalam hati....
***
Mereka makan cornflake melempem dan tengik serta tomat kalengan di atas
roti panggang sebagai sarapan keesokan harinya. Baru saja mereka selesai,
pemilik hotel mendatangi mereka.
"Maaf, tetapi tapi apakah salah satu dari kalian Mr H Potter? Ada kira-kira
seratus surat begini di meja respsionis."
Wanita itu mengangkat surat itu sehingga mereka bisa membaca alamatnya
yang ditulis dengan tinta hijau :
Mr. H. Potter
Kamar 17
Hotel Railview
Cokeworth
Harry mau meraih surat itu, tetapi Paman Vernon menampar tangannya.
Wanita itu terbelalak.
"Akan saya ambil," kata Paman Vernon, cepat-cepat berdiri dan
mengikutinya meninggalkan ruang makan.
***
"Apakah tidak sebaiknya kita pulang saja, Sayang? Bibi Petunia menyarankan
dengan takut-takut beberapa jam
--------------------------------------- 26
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
kemudian, tetapi Paman Vernon kelihatannya tidak mendengarnya. Entah apa
yang dicarinya, tak seorang pun tahu.
Dia membawa mereka ke tengah hutan keluar dari mobilnya, memandang
berkeliling, menggelengkan kepala, masuk lagi ke dalam mobil dan mobil pun
meluncur lagi. Hal yang sama terjadi di tengah sawah yang sedang dibajak, di
tengah jembatan gantung, dan di atas tempat parkir mobil yang bertingkat.
"Daddy sudah gila, ya?" Dudley bertanya kepada Bibi Petunia sore itu. Paman
Vernon telah memarkir mobilnya di tepi pantai, mengunci mereka bertiga di
dalamnya, lalu menghilang.
Hujan mulai turun. Tetesnya yang besar-besar mengetuk-ngetuk atap mobil.
Dudley tersedu-sedu.
"Ini hari Senin," katanya kepada ibunya. "Ada acara si Hebat Humberto di
televisi malam ini. Aku mau nonton."
Senin. Harry jadi ingat sesuatu. Kalau hari ini Senin, dan Dudley bisa
diandalkan dalam hal ini, sehubungan dengan kegemarannya nonton televisi
maka besok, Selasa, adalah hari ulang tahun Harry yang kesebelas. Tentu saja
hari-hari ulang tahunnya yang telah lewat bukanlah hari yang menyenangkan.
Tahun lalu, misalnya, keluarga Dursley menghadiahinya satu gantungan mantel
dan sepasang kaus kaki bekas Paman Vernon. Tapi, kita kan tidak berumur
sebelas tiap hari.
Paman Vernon kembali sambil tersenyum. Dia juga membawa bungkusan
kecil panjang dan tidak menjawab ketika ditanya Bibi Petunia apa yang
dibawanya itu
"Sudah kutemukan tempat yang sempurna!" kata-nya. "Ayo, semua keluar!"
Di luar mobil udara dingin sekali. Paman Vernon menunjuk sesuatu yang
kelihatan seperti batu karang besar yang menjorok ke laut. Bertengger di atas
karang itu ada gubuk kecil yang sangat kumuh dan bobrok. Kelihatan
menyedihkan sekali. Satu hal sudah jelas, tak ada televisi di gubuk itu.
"Malam ini diramalkan akan ada badai!" kata Paman Vernon senang, sambil
menepukkan tangan. "Dan Bapak ini sudah berbaik hati mau meminjamkan
perahunya!"
Seorang laki-laki tua ompong berjalan santai mendekati mereka. Sambil
menyeringai agak jahat, dia menunjuk perahu dayung tua yang terapung-apung
di air abu-abu gelap di bawah mereka.
"Aku sudah beli bekal untuk kita," kata Paman Vernon, "jadi, semua naik!"
Dingin sekali di perahu, sampai mereka serasa membeku.
Cipratan air laut dan tetes hujan sedingin es merayap menuruni tengkuk dan
angin dingin menerpa wajah mereka. Setelah rasanya berjam-jam kemudian,
tibalah mereka di batu karang.
Paman Vernon, terpeleset-peleset, memimpin menuju kegubuk reyot itu.
Bagian dalam gubuk sungguh menjijikkan. Bau ganggang laut menyengat,
angin bersuit-suit menembus lewat celah-celah di dinding papan. Perapiannya
lembap dan kosong. Hanya ada satu kamar. Bekal Paman Vernon ternyata
sebungkus keripik dan empat pisang untuk setiap orang. Dia mencoba
menyalakan api, tetapi keempat bungkus keripik yang kini sudah kosong itu
cuma mengerut dan berasap.
--------------------------------------- 27
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Surat-surat itu sekarang bisa digunakan, eh?" katanya riang.
Paman Vernon sedang senang sekali. Jelas dia mengira tak akan ada orang
yang bisa mengejar mereka dalam badai untuk mengantar surat. Harry dalam
hati mengakui, dan ini membuatnya sedih. Ketika malam tiba, badai yang
dijanjikan menerjang di sekitar mereka. Cipratan air dari ombak-ombak yang
bergulung tinggi menyembur ke dinding pondok dan angin kencang
mengguncangkan jendela-jendela yang kotor. Bibi Petunia menemukan
beberapa selimut apak bulukan dari kamar dan menyiapkan tempat tidur untuk
Dudley di sofa yang sudah berlubang- lubang dimakan ngengat. Dia dan Paman
Vernon tidur di tempat tidur reyot di kamar dan Harry dibiarkan mencari
sendiri tempat yang paling empuk di lantai dan meringkuk di bawah selimut
paling tipis dan paling compang-camping.
Semakin malam badai mengamuk semakin hebat. Harry tak bisa tidur. Dia
gemetar kedinginan dan membalikkan tubuh, mencoba mencari posisi yang
lebih nyaman. Perutnya yang lapar berkeroncongan. Dengkur Dudley teredam
oleh gemuruh guruh yang mulai menggelegar menjelang tengah malam. Jarum
arloji Dudley yang menyala tangan gemuknya yang memakai arloji berjuntai ke
bawah sofa menunjukkan bahwa sepuluh menit lagi Harry akan berusia sebelas
tahun. Dia berbaring memandangi saat ulang tahunnya yang berdetik-detik
semakin dekat, bertanya-tanya apakah keluarga Dursley akan ingat soal ulang
tahunnya bertanya-tanya di manakah gerangan orang yang menulis surat
padanya sekarang.
Lima menit lagi. Harry mendengar sesuatu yang berkeriut di luar. Dia
berharap atap gubuk tidak akan runtuh, walaupun kalau iya, dia mungkin akan
lebih hangat. Empat menit lagi.
Mungkin rumah di Privet Drive akan penuh surat kalau mereka pulang nanti,
sehingga dia bisa mencuri satu.
Tiga menit lagi. Ombakkah itu, yang menghantam karang begitu keras? Dan
(dua menit lagi) bunyi derak aneh apa itu?
Apa karangnya remuk dan berjatuhan ke laut?
Semenit lagi dia akan berusia sebelas tahun. Tiga puluh detik... dua puluh...
sepuluh... sembilan, mungkin dia akan membangunkan Dudley, sekadar supaya
Dudley marah saja...
tiga... dua... satu...
BOOM!.
Seluruh gubuk bergetar dan Harry langsung duduk tegak, memandang pintu.
Ada orang di luar pintu menggedor-gedor mau masuk.
***
4. Si Pemegang Kunci
BOOM! Mereka menggedor lagi. Dudley terbangun dengan kaget.
"Dimana meriamnya?" tanyanya bodoh.
--------------------------------------- 28
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Terdengar gubrakan di belakang mereka dan Paman Vernon muncul
tergopoh-gopoh ke dalam ruangan. Tangannya memegang senapan, sekarang
mereka tahu apa yang ada dalam bungkusan kurus panjang yang tadi di
bawanya.
"Siapa itu?" teriaknya. "Kuperingatkan kau ... aku bersenjata!"
Sunyi sesaat. Kemudian ...
GUBRAAAK!
Pintu dihantam begitu keras sampai terlepas dari engselnya, dan dengan
bunyi memekakkan telinga pintu itu terempas ke lantai.
Sesosok raksasa berdiri di depan pintu. Wajahnya nyaris tersembunyi di
balik rambut panjangnya yang awut-awutan dan berewok liar yang berantakan.
Tetapi kau bisa melihat matanya, berkilauan bagai dua kumbang hitam di balik
rambut awut-awutan itu.
Si raksasa memaksakan diri masuk, menunduk sehingga kepalanya cuma
menyentuh langit-langit. Dia membungkuk, memungut pintu, dan dengan
mudah memasangnya kembali ke engselnya. Deru badai di luar teredam sedikit.
Dia menoleh memandang mereka semua.
"Bisa bikinkan teh, kan? Tidak gampang datang ke sini..."
Dia melangkah ke sofa. Dudley duduk membeku ketakutan.
"Minggir, karung besar," kata orang asing itu.
Dudley mencicit dan bersembunyi di belakang punggung ibunya. Bibi Petunia
sendiri berjongkok ketakutan di belakang Paman Vernon.
"Nah, ini dia Harry!" kata si raksasa.
Harry mendongak memandang wajah liar dan galak itu, dan melihat sudut
mata kumbangnya berkerut penuh senyum.
"Terakhir kali aku melihatmu, kau masih bayi," kata si raksasa. "Kau mirip
sekali ayahmu, tapi matamu mata ibumu."
Paman Vernon mengeluarkan suara serak yang aneh. "Saya meminta Anda
segera pergi, Sir!" katanya. "Anda menjebol pintu dan masuk tanpa izin."
"Ah, tutup mulut, Dursley, jangan sok," kata si raksasa.
Tangannya menjangkau ke belakang sofa, menjambret senapan dari tangan
Paman Vernon, membengkokkannya seakan senapan itu terbuat dari karet saja,
lalu melemparkannya ke sudut ruangan.
Paman Vernon mengeluarkan suara aneh lagi, seperti cicit tikus yang
terinjak.
"Yang jelas, Harry," kata si raksasa, berbalik membelakangi keluarga
Dursley, "selamat ulang tahun untukmu, selamat panjang umur. Bawa sesuatu
buatmu mungkin tadi kududuki, tapi rasanya pasti masih enak."
Dari saku dalam mantel hitamnya dia mengeluarkan kotak yang agak
penyok. Harry membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalam kotak itu ada kue cokelat besar dengan tulisan Selamat Ulang
Tahun, Harry dari gula hijau.
Harry menengadah menatap si raksasa. Dia bermaksud mengucapkan terima
kasih, tetapi kata-katanya menghilang dalam perjalanan ke mulutnya, dan yang
dikatakannya malah,
"Siapa kau?"
--------------------------------------- 29
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Si raksasa tertawa.
"Betul, aku belum perkenalkan diri. Rubeus Hagrid, pemegang kunci dan
pengawas binatang liar di Hogwarts."
Dia mengulurkan tangan yang besar sekali dan mengguncang seluruh lengan
Harry.
"Bagaimana tehnya tadi, eh?" katanya, seraya menggosok-gosokkan
tangannya. "Aku juga tidak tolak minuman yang lebih keras, kalau memang
ada."
Pandangannya tertuju ke perapian dengan bungkus keripik yang sudah
mengerut dan dia mendengus. Dia membungkuk ke perapian. Mereka tidak bisa
melihat apa yang dilakukannya, tetapi ketika dia tegak lagi sedetik kemudian,
api sudah menyala-nyala. Api itu memenuhi pondok yang lembap dengan
cahayanya yang bergerak-gerak dan Harry merasa kehangatan
menyelubunginya, seakan dia masuk ke dalam bak berisi air panas.
Si raksasa duduk kembali di sofa, yang langsung melesak keberatan dan
mulai mengeluarkan berbagai benda dari dalam sakunya: ceret tembaga, satu
pak sosis lezat, tusukan panjang, teko, beberapa cangkir yang sudah somplak,
dan sebotol cairan kuning-kecokelatan yang diteguknya dulu sebelum
dia menyiapkan makanan. Segera saja pondok dipenuhi bunyi dan bau sosis
panggang yang lezat. Tak seorang pun bicara ketika si raksasa bekerja, tetapi
ketika dia melepas enam sosis gemuk berminyak yang sedikit gosong dari
tusukannya, Dudley mulai gelisah. Paman Vernon berkata tajam, "Jangan
sentuh apa pun yang diberikannya padamu, Dudley."
Si raksasa tertawa seram. "Anakmu yang sudah sebulat bola tidak perlu
digemukkan lagi, Dursley, jangan khawatir."
Dia menyerahkan sosis-sosis itu kepada Harry. Harry, yang sudah lapar
sekali, belum pernah makan makanan selezat itu, tetapi dia tetap tak bisa
melepas pandangannya dari si raksasa.
Akhirnya, karena tak seorang pun kelihatannya akan menjelaskan, dia
berkata, "Maaf, tapi saya tetap belum tahu siapa Anda."
Si raksasa menghirup tehnya dalam tegukan besar, dan melap mulut dengan
punggung tangannya.
"Panggil aku Hagrid," katanya. "Semua panggil aku begitu.
Dan seperti sudah kubilang, aku pemegang kunci di Hogwarts
kau tentunya sudah tahu tentang Hogwarts."
"Eh... belum," kata Harry.
Hagrid kelihatannya terperangah.
"Maaf," kata Harry cepat-cepat.
"Maaf?" balas Hagrid, menoleh menatap keluarga Dursley yang mengerut
dalam bayangan kegelapan. "Merekalah yang harus minta maaf! Aku tahu
suratmu tidak kauterima, tapi tak pernah kuduga kau tidak tahu tentang
Hogwarts. Astaga! Tak pernahkah kau ingin tahu di mana orangtuamu belajar
semua itu?"
"Semua apa?" tanya Harry.
"SEMUA APA?" gelegar Hagrid. "Tunggu dulu!"
--------------------------------------- 30
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dia melompat berdiri. Dalam kemarahannya dia seolah memenuhi seluruh
pondok. Keluarga Dursley merapat ketakutan ke tembok.
"Apa ini berarti," dia menggeram kepada keluarga Dursley "bahwa anak ini...
anak ini!... tidak tahu tentang... tidak tahu APA-APA?"
Harry merasa ini sudah kelewatan. Dia kan sekolah, dan angka-angkanya
juga tidak buruk. "Aku tahu beberapa hal,"
katanya. "Aku bisa Matematika dan pelajaran-pelajaran lain."
Tetapi Hagrid hanya mengibaskan tangannya dan berkata,
"Tentang dunia kita, maksudku. Duniamu, Duniaku. Dunia orangtuamu."
"Dunia apa?"
Hagrid kelihatannya sudah siap meledak.
"DURSLEY!" teriakannya mengguntur.
Paman Vernon, yang sudah pucat pasi, menggumamkan sesuatu yang
kedengarannya seperti "Mimbel..wimbel!" Hagrid menatap liar pada Harry.
"Tapi kau pasti tahu tentang ayah dan ibumu," katanya. "Maksudku, mereka
terkenal. Kau terkenal."
"Apa? Ja-jadi, ayah dan ibuku terkenal?"
"Kau tak tahu... kau tak tahu..." Hagrid menyisir rambut dengan jari-
jarinya, memandang Harry keheranan.
"Kau tak tahu. kau ini apa?" katanya akhirnya.
Paman Vernon mendadak menemukan suaranya.
"Stop!" perintahnya. "Stop di sini, Sir. Saya larang Anda memberitahu anak
ini apa pun!"
Orang yang lebih berani dari Vernon Dursley pastilah sudah gemetar
menerima pandangan marah Hagrid. Ketika Hagrid bicara, setiap suku katanya
gemetar saking marahnya dia.
"Kau tak pernah bilang padanya? Tak pernah beritahu dia apa yang ada
dalam surat yang ditinggalkan Dumbledore untuknya? Aku ada di sana! Aku lihat
sendiri Dumbledore tinggalkan surat itu, Dursley! Dan kausembunyikan itu
darinya selama bertahun-tahun ini?"
"Menyembunyikan apa dariku?" tanya Harry tak sabar.
"STOP! KULARANG KAU!" teriak Paman Vernon panik.
Bibi Petunia tersedak kaget.
"Ah, peduli amat kalian berdua," kata Hagrid. "Harry kau penyihir." Sunyi
senyap di dalam pondok. Hanya debur ombak dan deru angin yang terdengar.
"Aku apa?" tanya Harry kaget.
"Penyihir, tentu saja," kata Hagrid yang kembali duduk di sofa, sehingga
sofanya berderit dan melesak lebih dalam lagi.
"Dan penyihir yang hebat, kalau dilatih sedikit. Dengan ayah dan ibu
sehebat itu, mana bisa lain lagi? Dan kurasa sudah waktunya kaubaca suratmu."
Harry mengulurkan tangan, akhirnya, untuk mengambil amplop kekuningan
dengan alamat ditulis dengan tinta hijau ditujukan kepada Mr H. Potter,
Lantai, Pondok-di-Atas-Karang, Laut. Harry menarik keluar suratnya dan
membacanya.
Kepala Sekolah : Albus Dumbledore
--------------------------------------- 31
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
(Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir,
Konfederasi Sihir Internasional)
Mr Potter yang baik,
Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk
Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan
yang dibutuhkan.
Tahun ajaran baru mulai 1 September. Kami menuggu burung hantu Anda
paling lambat 31 Juli.
Hormat saya,
Minerva McGonagall
Wakil Kepala Sekolah
Berbagai pertanyaan meledak-ledak dalam kepala Harry seperti kembang
api dan dia tidak dapat memutuskan mana yang akan di tanyakan terlebih
dahulu. Sesudah lewat beberapa menit, dia bertanya tergagap, "Apa maksudnya
mereka menunggu burung hantuku?"
"Gorgon bloon, aku jadi ingat," kata Hagrid sembari menepakkan tangan ke
dahinya dengan kekuatan yang cukup untuk membalikkan kereta kuda. Dan dari
dalam saku lain di balik mantelnya, dia menarik keluar burung hantu hidup,
yang bulunya agak berantakan, pena bulu panjang, dan gulungan kertas.
Dengan menggigit lidah dia menulisa pesan yang bisa di baca Harry dengan
terbalik.
Mr. Dumbledore yang terhormat,
Surat Untuk Harry sudah kusampaikan. Akan bawa dia beli perlengkapan
besok. Cuaca buruk sekali. Mudah-mudahan anda baik.
Hagrid
Hagrid menggulung pesannya, menyerahkannya kepada si burung hantu,
yang menggigitnya di paruhnya, lalu melangkah ke pintu dan melontarkan si
burung hantu ke dalam badai.
Kemudian dia kembali dan duduk lagi seakan tindakannya tadi sewajar
orang bicara di telepon.
Harry sadar mulutnya ternganga. Cepat-cepat dikatupkannya.
"Sampai mana aku tadi?" kata Hagrid. Tetapi saat itu Paman Vernon,
wajahnya masih pucat pasi tapi tampangnya sangat marah, maju ke depan
perapian.
"Dia tidak boleh pergi," katanya.
Hagrid
menggerutu. "Aku mau lihat Muggle hebat sepertimu halangi kepergiannya,"
katanya.
"Apa?" tanya Harry tertarik.
"Muggle," kata Hagrid. "Itu sebutan kami untuk manusia-manusia yang bukan
penyihir. Dan sungguh buruk nasibmu dibesarkan dalam keluarga Muggle paling
sok yang pernah kulihat."
"Waktu mengambilnya kami sudah bersumpah kami akan menghentikan
semua omong kosong ini," kata Paman Vernon.
"Bersumpah untuk membelanya! Penyihir? Mana ada!"
"Paman dan Bibi tahu?" tanya Harry. "Paman dan Bibi tahu aku pe-penyihir?"
--------------------------------------- 32
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tahu!" pekik Bibi Petunia tiba-tiba. "Tahu! Tentu saja kami tahu!
Bagaimana tidak, kalau adikku yang brengsek juga begitu?
Oh, dia juga menerima surat seperti itu dan menghilang ke... ke sekolah
itu... dan pulang setiap liburan dengan kantong penuh telur katak dan
mengubah cangkir menjadi tikus. Aku satusatunya yang tahu dia seperti apa
dia aneh! Tetapi ibu dan ayahku... uh, apa-apa Lily... Lily begini dan Lily
begitu. Mereka bangga punya anak penyihir!"
Dia berhenti untuk menarik napas dalam-dalam, dan kemudian merepet
lagi. Kelihatannya sudah bertahun-tahun dia ingin mengeluarkan semua ini.
"Kemudian dia bertemu si Potter itu di sekolah, lalu mereka menikah dan
punya anak kau, dan tentu saja aku tahu kau pasti sama anehnya, sama...
abnormalnya, dan kemudian si Lily itu kena ledakan dan terpaksa kami
kebebanan kau!"
Harry sudah menjadi pucat. Segera setelah dapat bicara dia berkata,
"Ledakan? Kalian bilang mereka meninggal dalam kecelakaan mobil!"
"KECELAKAAN MOBIL!" raung Hagrid, melompat bangun dengan amat marah
sehingga Mr dan Mrs Dursley cepat-cepat kembali ke sudut mereka. "Bagaimana
mungkin kecelakaan mobil bisa bunuh Lily dan James Potter? Sungguh
penghinaan besar. Skandal! Harry Potter tidak tahu kisah hidupnya sendiri,
sementara semua anak di dunia kami tahu namanya!"
"Tapi kenapa? Apa yang terjadi?" desak Harry. Kemarahan memudar dari
wajah Hagrid. Tiba-tiba dia kelihatan khawatir.
"Tak kusangka akan begini," katanya cemas dengan suara rendah. "Waktu
Dumbledore bilang mungkin akan ada kesulitan ambil kau, tak kukira kau
serbatidak-tahu begini. Ah, Harry, aku tak tahu apakah aku orang yang tepat
untuk beritahu kau tapi harus ada yang kasih tahu tak mungkin kau berangkat
ke Hogwarts tanpa tahu ini."
Hagrid memandang sebal pada keluarga Dursley.
"Yah, ada baiknya kau tahu sejauh yang bisa kuceritakan padamu aku tak
bisa ceritakan semuanya, soalnya sebagian di antaranya misteri besar...,"
Dia duduk, memandang api selama beberapa detik, kemudian berkata,
"Semua ini, menurutku, dimulai oleh orang yang bernama kelewatan sekali kau
tidak tahu namanya, semua orang di dunia kita tahu..."
"Siapa?"
"Yah aku tak mau sebut namanya, kalau bisa. Tak seorang pun berani sebut
namanya."
"Kenapa tidak?"
"Astaganaga, Harry, orang kan masih takut. Wah, susah jadinya. Begini, ada
penyihir yang... jadi jahat.
Jahat sekali. Bahkan lebih dari jahat. Jauh lebih jahat daripada sekadar
lebih jahat. Namanya..." Hagrid menelan ludah, tapi tak ada suara yang keluar.
"Bagaimana kalau ditulis saja?" Harry mengusulkan.
"Tidak aku tidak bisa eja. Baiklah Voldemort." Hagrid bergidik. "Jangan
suruh aku sebut sekali lagi. Pendeknya, penyihir ini kira-kira dua puluh tahun
yang lalu mulai cari pengikut. Dan dapat, lagi sebagian karena takut, sebagian
lagi karena inginkan cipratan kekuasaannya, karena dia memang punya
--------------------------------------- 33
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
kekuasaan. Sungguh hari-hari suram, Harry. Kita tak tahu siapa yang bisa
dipercaya, tak berani bersikap ramah pada penyihir asing.... Hal-hal
mengerikan terjadi. Dia mulai ambil alih kekuasaan. Tentu saja beberapa
berusaha lawan dia dan mereka dibunuh. Dengan sangat mengerikan. Salah
satu tempat yang masih aman adalah Hogwarts. Kurasa Dumbledore adalah
satu-satunya yang ditakuti Kau-Tahu-Siapa. Tidak berani ambil alih sekolah,
dulu paling tidak.
"Ibu dan ayahmu penyihir hebat. Dua-duanya Ketua Murid semasa mereka
sekolah! Kurasa misterinya adalah kenapa KauTahu-Siapa tidak coba tarik ibu
dan ayahmu ke pihaknya sebelumnya... mungkin dia tahu mereka terlalu dekat
dengan Dumbledore, sehingga pasti tidak tertarik pada Sihir Hitam.
"Mungkin dia kira bisa bujuk mereka... mungkin dia cuma ingin mereka
menyingkir. Yang orang tahu hanyalah, dia muncul di desa tempat kalian
tinggal di malam Hallowe'en sepuluh tahun lalu. Kau baru berumur satu tahun.
Dia datang ke rumahmu dan... dan..."
Hagrid tiba-tiba menarik keluar saputangan yang sarigat kotor dan
membuang ingus dengan bunyi seperti terompet.
"Maaf," katanya. "Tetapi aku sedih sekali aku kenal ibu dan ayahmu tak
ada orang lain sebaik mereka pendeknya...
"Kau-Tahu-Siapa bunuh mereka. Dan kemudian dan ini misteri yang
sesungguhnya dia mencoba bunuh kau juga. Mau habisi kalian sampai tuntas,
kurasa, atau mungkin dia memang senang membunuh. Tetapi dia tidak bisa
bunuh kau. Pernahkah kau bertanya-tanya bagaimana kaudapat bekas luka di
dahimu?
Itu bukan luka biasa. Itu yang kaudapat jika kekuatan sihir jahat sentuh kau
berhasil tewaskan ibu dan ayahmu, bahkan hancurkan rumahmu tetapi tidak
mempan untukmu. Itulah sebabnya kau terkenal, Harry. Tak seorang pun bisa
hidup setelah dia putuskan untuk membunuhnya. Tak seorang pun, kecuali kau,
dan dia telah berhasil bunuh penyihirpenyihir terbaik pada zaman ini keluarga
McKinnon, keluarga Bone, keluarga Prewett padahal kau masih bayi, dan kau
hidup."
Sesuatu yang menyakitkan berpusar dalam benak Harry.
Ketika cerita Hagrid hampir tamat, dia melihat kembali cahaya hijau
menyilaukan, lebih jelas daripada yang selama ini diingatnya. Dan dia juga
ingat sesuatu yang lain, untuk pertama kali dalam hidupnya tawa nyaring,
dingin, dan bengis.
Hagrid menatapnya dengan sedih.
"Aku sendiri yang ambil kau dari rumahmu yang hancur, atas perintah
Dumbledore. Kubawa kau ke keluarga ini..."
"Omong kosong besar," kata Paman Vernon. Harry melompat. Dia nyaris lupa
keluarga Dursley ada di situ. Paman
Vernon kelihatannya sudah mendapatkan kembali keberaniannya. Dia mendelik
kepada Hagrid dan tangannya terkepal.
"Dengarkan aku, Harry" geramnya. "Kuakui kau memang agak aneh, tapi
mungkin bisa dibereskan dengan dihajar.
--------------------------------------- 34
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Sedangkan tentang orangtuamu, mereka memang aneh, tak bisa dibantah,
dan menurutku dunia ini lebih baik tanpa mereka
yang terjadi itu salah mereka sendiri, bergaul dengan tukang-
tukang sihir. Mau apa lagi, sudah kuduga mereka akan berakhir begitu..."
Tetapi saat itu Hagrid melompat bangun dari sofa dan menarik payung butut
merah jambu dari dalam sakunya. Sambil mengacungkan payung itu ke arah
Paman Vernon seperti pedang, dia berkata,
"Kuperingatkan kau,
Dursley kuperingatkan kau satu kata lagi saja..."
Menghadapi bahaya ditombak dengan ujung payung, keberanian Paman
Vernon melempem lagi. Dia merapatkan diri ke dinding dan diam.
"Itu lebih baik," kata Hagrid, bernapas berat dan duduk lagi di sofa, yang
kali ini melesak sampai ke lantai.
Harry, sementara itu, masih penasaran, masih ingin mengajukan ratusan
pertanyaan.
"Tetapi apa yang terjadi pada Vol maaf maksudku, KauTahu-Siapa?"
"Pertanyaan bagus, Harry. Hilang. Lenyap. Malam yang sama dia coba bunuh
kau. Membuat kau tambah terkenal.
Itulah misteri yang paling besar. Soalnya... belakangan makin lama dia
makin kuat jadi kenapa dia harus pergi?
"Ada yang bilang dia mati. Omong kosong, menurutku. Tak tahu apakah
masih ada cukup manusia di tubuhnya untuk bisa mati. Yang lain lagi bilang dia
masih sembunyi, tunggu waktu yang tepat, tapi aku tidak percaya. Orang-orang
yang tadinya jadi pengikutnya telah kembali ke kami. Beberapa di antaranya
seperti kerasukan. Mana mungkin mereka balik ke kami kalau dia akan datang
lagi.
"Kebanyakan dari kami duga dia masih ada entah di mana, tapi sudah
kehilangan kekuatannya. Terlalu lemah untuk terus merajalela. Karena sesuatu
pada dirimu menghabisi dia, Harry.
Ada yang terjadi malam itu yang di luar perhitungannya aku tak tahu apa
itu, tak ada yang tahu tetapi sesuatu pada dirimu membuat dia takluk."
Hagrid memandang Harry dengan hangat dan rasa hormat.
Tetapi Harry, alih-alih merasa senang dan bangga, merasa yakin ada
kekeliruan besar. Penyihir? Dia? Bagaimana mungkin dia penyihir? Dia telah
melewatkan hidupnya dijadikan bulan-bulanan oleh Dudley dan ditindas oleh
Bibi Petunia dan Paman Vernon. Kalau memang dia penyihir, kenapa mereka
tidak berubah jadi kodok setiap kali mereka mencoba menguncinya di dalam
lemari? Jika dia pernah mengalahkan penyihir paling hebat di dunia, bagaimana
mungkin Dudley selalu bisa menendang-nendangnya ke sana kemari seperti
bola?
"Hagrid," katanya cemas. "Kurasa kau pasti keliru. Tidak mungkin aku ini
penyihir." Betapa herannya dia, Hagrid tertawa.
"Tidak mungkin penyihir, eh? Tidak pernahkah ada peristiwa-peristiwa yang
terjadi setiap kali kau takut atau marah?"
--------------------------------------- 35
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry memandang perapian. Kalau dipikir-pikir... semua kejadian aneh yang
membuat bibi dan pamannya marah kepadanya terjadi ketika dia, Harry,
sedang marah atau sedih.
Ketika dikejar-kejar oleh geng Dudley, entah bagaimana dia selalu bisa
meloloskan diri... waktu cemas karena harus ke sekolah dengan potongan
rambut yang konyol, rambutnya tibatiba tumbuh sendiri... dan ketika Dudley
terakhir kali memukulnya, bukankah dia telah berhasil membalasnya, tanpa
sadar? Bukankah dia yang melepas ular boa yang menakutkan Dudley?
Harry kembali memandang Hagrid, tersenyum, dan dilihatnya Hagrid nyengir
senang kepadanya.
"Lihat sendiri, kan?" kata Hagrid. "Harry Potter, tidak mungkin penyihir
tunggu saja, kau akan terkenal di Hogwarts."
Tetapi Paman Vernon tak akan mau menyerah tanpa perlawanan.
"Kan sudah kubilang dia tidak boleh pergi?" desisnya. "Dia akan ke Stonewall
High dan dia akan berterima kasih karenanya. Aku sudah membaca suratsurat
itu dan katanya dia memerlukan segala macam sampah buku mantra dan
tongkat dan..."
"Kalau dia mau pergi, Muggle hebat seperti kau tidak akan bisa larang dia,"
geram Hagrid. "Melarang anak Lily dan James Potter masuk Hogwarts! Kau gila.
Namanya sudah terdaftar di sana sejak dia dilahirkan. Dia akan masuk sekolah
sihir paling terkenal di dunia. Tujuh tahun di sana, dia tak akan kenal dirinya
lagi. Dia akan bergaul dengan anak-anak sejenisnya, kali ini, dan di bawah
bimbingan kepala sekolah paling hebat yang dimiliki Hogwarts, Albus
Dumbled..."
"AKU TIDAK MAU MEMBAYAR LAKI-LAKI TUA SINTING UNTUK MENGAJARINYA
TIPUAN SIHIR!" teriak Paman Vernon.
Tetapi dia sudah kelewatan. Hagrid menyambar payungnya dan memutar-
mutarnya di atas kepala, "JANGAN BERANI-BERANI...," gelegarnya, "...
HINA... ALBUS... DUMBLEDORE... DI... DEPANKU!"
Diayunkannya payungnya turun untuk menunjuk Dudley.
Ada kilatan cahaya ungu, bunyi seperti petasan, jeritan nyaring, dan detik
berikutnya Dudley menari-nari di tempat dengan tangan memegangi pantatnya
yang gemuk, menjerit-jerit kesakitan. Ketika dia berbalik membelakangi
mereka, Harry melihat ekor babi melingkar nongol dari lubang di celananya.
Paman Vernon menggerung. Seraya menarik Bibi Petunia dan Dudley ke
kamar satunya, dia melempar pandangan ketakutan untuk terakhir kali kepada
Hagrid, lalu membanting pintu menutup di belakang mereka.
Hagrid menunduk menatap payungnya dan membelai jenggotnya.
"Harusnya tak boleh marah," katanya menyesal, "tapi kan tidak berhasil.
Maksudku mau ubah dia jadi babi, tapi kurasa dia sudah mirip sekali babi, tak
banyak lagi yang bisa dilakukan."
Dia melirik Harry dari bawah alisnya yang lebat.
"Aku akan berterima kasih kalau kau tidak sebutsebut kejadian ini pada
siapa pun di Hogwarts," katanya. "Aku...
--------------------------------------- 36
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
ehm... sebetulnya tidak boleh menyihir. Hanya boleh sedikit saja untuk
ikuti kau dan antar surat-surat kepadamu dan belanja
salah satu alasan aku ingin sekali dapatkan tugas ini...."
"Kenapa kau tidak boleh menyihir?" tanya Harry.
"Oh, yah... aku dulunya sekolah di Hogwarts juga, tapi...
ehm... aku dikeluarkan, jujur saja. Waktu kelas tiga. Mereka patahkan
tongkatku jadi dua dan macammacam lagi. Tetapi Dumbledore izinkan aku
tinggal sebagai pengawas binatang liar.
Orang hebat, Dumbledore."
"Kenapa kau dikeluarkan?"
"Sudah malam dan banyak yang harus kita lakukan besok,"
kata Hagrid keras-keras "Harus ke kota, beli buku-buku dan peralatanmu."
Hagrid melepas mantel hitamnya yang tebal dan melemparkannya kepada
Harry.
"Bisa kaujadikan selimut," katanya. "Jangan pedulikan kalau sedikit
meronta-ronta. Kurasa masih ada sepasang tikus di salah satu sakunya."
***
5. Diagon Alley
KEESOKAN harinya, pagi-pagi Harry sudah terbangun. Meskipun dia tahu hari
sudah pagi, dipejamkannya matanya rapat-rapat.
"Aku mimpi," katanya kepada diri sendiri," Aku mimpi raksasa bernama
Hagrid datang memberitahuku bahwa aku akan masuk sekolah sihir. Kalau
kubuka mataku, aku akan berada di rumah dalam lemariku."
Tiba-tiba terdengar ketukan keras.
Nah, ini dia Bibi Petunia mengetuk pintu, pikir Harry dengan kecewa. Tetapi
dia tetap tidak membuka mata. Mimpinya indah sekali.
Tok. Tok. Tok.
"Ya," gumam Harry,"Aku bangun."
Dia duduk dan mantel berat Hagrid merosot dari tubuhnya.
Gubuk dipenuhi sinar matahari. Badai telah berlalu. Hagrid sendiri tertidur
di sofa yang melesak dan ada burung hantu mengetuk-ngetukkan cakarnya di
jendela, paruhnya menggigit koran.
Harry terhuyung berdiri. Dia senang sekali, seakan ada balon besar
melembung di dalam tubuhnya. Dia langsung ke jendela dan mengentaknya
hingga terbuka. Burung hantu itu meluncur masuk dan menjatuhkan koran ke
atas Hagrid, yang tidak terbangun. Si burung hantu kemudian terbang ke lantai
dan mulai menyerang mantel Hagrid.
"Jangan."
Harry berusaha menyingkirkan si burung hantu, tetapi burung itu
mengatupkan paruhnya dengan galak ke arahnya dan terus saja menyerang
mantel itu.
"Hagrid!" kata Harry keras-keras. "Ada burung hantu..."
"Bayar dia," Hagrid bergumam ke sofa.
--------------------------------------- 37
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apa?"
"Dia minta dibayar karena antar koran. Cari dalam saku."
Mantel Hagrid kelihatannya terbuat dari hanya saku-saku saja bergebung-
gebung kunci, pelurupeluru gotri, bergulung-gulung tali, permen,
kantongkantong teh... akhirnya Harry menarik keluar segenggam koin yang
tampaknya aneh.
"Beri dia lima Knut," kata Hagrid mengantuk.
"Knut?"
"Koin perunggu kecil."
Harry menghitung lima koin perunggu kecil dan si burung hantu
mengulurkan kakinya, supaya Harry bisa memasukkan uangnya ke dalam
kantong kulit kecil yang terikat di kaki itu.
Kemudian dia terbang keluar lewat jendela yang terbuka.
Hagrid menguap keras-keras, duduk, dan menggeliat.
"Lebih baik berangkat sekarang, Harry, kita harus ke London dan beli semua
keperluan sekolahmu."
Harry sedang membalik-balik koin penyihir dan memandangnya. Dia baru
saja teringat sesuatu yang membuat balon kebahagiaan di dalam tubuhnya
bocor.
"Um Hagrid?" "Mm?" kata Hagrid, yang sedang menarik bot raksasanya.
"Aku tak punya uang dan kau sudah mendengar apa kata Paman Vernon
semalam dia tak mau membayariku belajar sihir."
"Jangan khawatir soal itu," kata Hagrid, seraya berdiri dan menggaruk
kepalanya. "Apa kaupikir orangtuamu tidak tinggalkan sesuatu untukmu?"
"Tetapi kalau rumah mereka hancur..."
"Mereka tidak simpan uang mereka di rumah, Nak! Nah, pertama-tama kita
ke Gringotts. Bank penyihir. Makan sosis dulu. Dingin enak juga dan aku juga
tidak tolak sepotong kue ulang tahunmu."
"Penyihir punya bank?"
"Cuma satu. Gringotts. Yang menjalankan goblin, hantu kecil bertampang
seram." Sosis yang dipegang Harry sampai terjatuh.
"Goblin?" "Yeah jadi kau gila kalau coba merampoknya, ku beritahu kau.
Jangan main-main dengan goblin, Harry.
Gringotts tempat paling aman di dunia, kalau kau mau simpan sesuatu
bandingannya mungkin cuma Hogwarts.
Aku kebetulan harus ke Gringotts. Untuk Dumbledore. Urusan Hogwarts."
Hagrid menegapkan diri dengan bangga. "Dia biasa suruh aku lakukan hal-hal
penting untuknya. Jemput kau
ambil sesuatu dari Gringotts tahu dia, bisa percayai aku.
"Semua siap? Ayo kita berangkat."
Harry mengikuti Hagrid keluar, menuju karang. Langit cukup cerah sekarang
dan laut berkilau ditimpa cahaya matahari.
Perahu yang disewa Paman Vernon masih ada, dengan banyak air di
dasarnya.
"Bagaimana kau datang kemari?" Harry bertanya, mencari-cari perahu lain.
"Terbang," jawab Hagrid.
--------------------------------------- 38
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Terbang?"
"Yeah tapi kita harus kembali dengan ini. Tak boleh gunakan sihir setelah
aku bersamamu." Mereka duduk di perahu.
Harry masih memandang Hagrid, berusaha membayangkan dia terbang.
"Repot kalau harus mendayung," kata Hagrid, lagilagi melirik Harry. "Kalau
aku mau ehm percepat sedikit perjalanan kita, kau keberatan kalau kuminta
jangan bilang-bilang di Hogwarts?"
"Tentu saja tidak," kata Harry, yang ingin sekali melihat lebih banyak ilmu
sihir. Hagrid menarik keluar lagi payung merah jambunya, mengetukkannya dua
kali di sisi perahu, dan mereka meluncur menuju daratan.
"Kenapa kita gila kalau mau mencoba merampok Gringotts?"
tanya Harry.
"Mantra-mantra jampi-jampi," kata Hagrid, seraya membuka korannya.
"Katanya ruangan-ruangan besinya dijaga naga-naga. Lagi pula, kau akan susah
cari jalan keluar.
Gringotts letaknya beratus-ratus kilo di bawah London. Jauh di bawah
stasiun kereta bawah tanah. Sebelum bisa keluar, kau sudah keburu mati
kelaparan duluan, walaupun kau berhasil dapat sesuatu."
Harry duduk diam memikirkan ini, sementara Hagrid membaca korannya,
Daily Prophet Harian Peramal. Harry sudah tahu dari Paman Vernon bahwa
orang lebih suka tidak diganggu kalau sedang baca koran, tetapi susah sekali.
Seumur hidup belum pernah dia punya pertanyaan sebanyak ini.
"Kementerian Sihir bikin kacau-balau, seperti biasanya,"
gumam Hagrid sambil membalik halaman korannya.
"Ada Kementerian Sihir?" tanya Harry tanpa bisa menahan diri.
"Tentu saja," kata Hagrid. "Mereka inginkan Dumbledore menjadi Menteri,
tentu saja, tetapi dia tidak mau tinggalkan Hogwarts, jadi si Cornelius Fudge
yang dapat jabatan ini. Ceroboh dan bego. Dia kirim burung hantu ke
Dumbledore tiap hari, minta nasehat."
"Tapi apa yang dilakukan Kementerian Sihir?"
"Yah, tugas utamanya adalah menjaga jangan sampai Muggle tahu ada
banyak penyihir di negeri ini." "Kenapa?" "Kenapa?
Astaga, Harry, semua orang akan inginkan pemecahan masalah mereka
secara gaib. Nah, kan lebih baik kita tidak diganggu."
Saat itu perahu pelan membentur tembok pelabuhan. Hagrid melipat
korannya dan mereka berdua menaiki undakan batu menuju ke jalan.
Orang-orang yang berpapasan dengan mereka sepanjang jalan menuju
stasiun kota kecil itu memandang Hagrid dengan keheranan. Harry tidak
menyalahkan mereka. Hagrid bukan hanya dua kali lebih tinggi dari manusia
normal, dia juga terusmenerus menunjuk-nunjuk hal biasa seperti meteran di
tempat parkir dan berkata keras, "Lihat itu, Harry? Benda-benda yang dicari-
cari Muggle, eh?"
"Hagrid," kata Harry, agak terengah-engah karena beflari agar tidak
ketinggalan, "tadi kaubilang ada naga di Gringotts?"
"Katanya sih begitu," kata Hagrid. "Wah, aku ingin sekali punya naga."
"Kau ingin punya naga?"
--------------------------------------- 39
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Dari kecil sudah kepingin nah, kita sampai."
Mereka telah tiba di stasiun. Ada kereta ke London yang berangkat lima
menit lagi. Hagrid, yang tidak memahami "uang Muggle", menyerahkan uangnya
ke Harry supaya dia bisa membeli karcisnya.
Di atas kereta, orang-orang memandang dengan lebih heran lagi. Hagrid
duduk di dua kursi dan merajut sesuatu yang kelihatannya seperti tenda sirkus
warna kuning kenari.
"Suratmu masih ada, Harry?" tanyanya sambil terus merajut.
Harry mengeluarkan amplop perkamen dari dalam kantongnya.
"Bagus," kata Hagrid. "Di situ ada daftar semua keperluanmu."
Harry membuka lipatan kertas satu lagi yang semalam tidak diperhatikannya
dan membaca:
SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
Seragam
Siswa kelas satu memerlukan :
Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)
Satu topi kerucut (hitam) untuk di pakai setiap hari
Sepasan sarung tangan pelindung (dari kulit naga atau sejenisnya)
Empat mantel musim dingin (hitam, kancing perak) tolong diperhatikan
bahwa semua pakaian siswa harus ada label namanya.
Buku
Semua siswa harus memiliki buku-buku berikut :
Kitab mantra standar (Tingat 1) oleh Miranda
Goshawk Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot
Teori Gaib oleh Adalbert Wagging
Pengantar Transfigurasi bagi Pemula oleh Emeric
Switch
Seribu satu tanaman Obat dan Jamur gaib oleh Phyllida
Spore Cairan dan ramuan ajaib oleh Arsenius JIgger
Hewan hewan fantastis dan dimana mereka bisa ditemukan oleh Newt
Scamander
Kekuatan gelap : Penuntun perlindungan diri oleh Quentin Trimbel
Peralatan Lain
1 Tongkat sihir
1 Kuali (Bahan campuran timah putih-timah hitam ukuran standar)
1 Set tabung kaca atau kristal
1 Teleskop
1 Set timbangan kuningan
Siswa diizinkan membawa burung hantu ATAU kucing ATAU kodok
ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH MEMILIKI
SAPU SENDIRI!
"Apa semua ini bisa dibeli di London?" tanya Harry keheranan. "Kalau kau
tahu belinya di mana," jawab Hagrid.
***
Harry belum pernah ke London. Meskipun Hagrid tampaknya tahu ke mana
dia akan pergi, jelas bahwa dia tidak terbiasa menuju ke sana dengan cara
--------------------------------------- 40
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
biasa. Dia tersangkut pembatas tempat pembelian karcis kereta bawah tanah
dan mengeluh keras-keras bahwa tempat duduknya terlalu sempit dan
keretanya terlalu lambat.
"Aku tak mengerti bagaimana Muggle bisa bertahan tanpa kekuatan sihir,"
katanya, sementara mereka menuruni eskalator macet menuju jalan ramai
yang di kanan-kirinya dipenuhi deretan toko.
Hagrid besar sekali sehingga dengan mudah dia menyibakkan orang-orang
yang lewat. Harry tinggal berjalan merapat kepadanya saja. Mereka melewati
toko-toko buku dan toko-toko musik, restoran hamburger dan gedung bioskop,
tapi kelihatannya tak ada yang menjual tongkat ajaib. Ini cuma jalan biasa,
penuh orang-orang biasa pula. Mungkinkah benarbenar ada gundukan emas
penyihir terkubur berkilokilometer di bawah mereka? Betulkah ada toko yang
menjual, buku mantra dan sapu terbang? Janganjangan semua ini cuma lelucon
besar buatan keluarga Dursley. Kalau Harry tidak tahu bahwa keluarga Dursley
tak punya rasa humor, dia pasti sudah mengira begitu. Bagaimanapun juga,
kendati semua yang dikatakan Hagrid sejauh ini memang tidak masuk akal,
Harry toh mempercayainya.
"Ini dia," kata Hagrid berhenti, "Leaky Cauldron Kuali Bocor. Ini tempat
terkenal."
Tempat itu tempat minum kecil dan kotor. Jika Hagrid tidak menunjuknya,
Harry tidak akan melihatnya. Orang-orang yang melewatinya sama sekali tidak
meliriknya. Mata mereka bergulir dari toko buku besar di sisi yang satu ke toko
musik di sisi lainnya, seakan mereka sama sekali tidak bisa melihat Leaky
Cauldron. Sejujurnya, Harry punya perasaan aneh, hanya dia dan Hagrid yang
bisa melihatnya. Sebelum dia bisa mengutarakan ini, Hagrid sudah
mendorongnya masuk.
Untuk tempat terkenal, tempat ini sangat gelap dan kumuh.
Beberapa wanita tua duduk di sudut, minum sherry dalam gelas-gelas kecil.
Salah satu di antara mereka mengisap pipa panjang.
Seorang pria kecil memakai topi tinggi dari sutra hitam sedang bicara
dengan pelayan bar yang sudah tua dan botak, dan kepalanya kelihatan seperti
kenari dari permen karet. Dengung obrolan pelan berhenti ketika mereka
melangkah masuk. Semua orang kelihatannya kenal Hagrid. Mereka melambai
dan tersenyum kepadanya, dan pelayan bar meraih gelas, seraya berkata,
"Biasa, Hagrid?"
"Tidak bisa, Tom. Sedang ada urusan Hogwarts," kata Hagrid, sambil
menepukkan tangannya yang besar ke bahu Harry dan membuat lutut Harry
tertekuk.
"Astaga," celetuk pelayan bar, memandang Harry. "Apakah ini... mungkinkah
ini...?"
Leaky Cauldron mendadak sunyi senyap.
"Beruntungnya aku," bisik pak tua pelayan bar. "Harry Potter sungguh
kehormatan besar."
Dia bergegas keluar dari balik meja barnya, buruburu mendekati Harry dan
meraih tangannya, dengan air mata bercucuran.
"Selamat datang kembali, Mr Potter, selamat datang kembali."
--------------------------------------- 41
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry tidak tahu harus bilang apa. Semua orang memandangnya. Si wanita
tua yang mengisap pipa terus mengisapnya, tanpa menyadari apinya sudah
padam. Hagrid berseri-seri.
Kemudian terdengar derit-derit kursi yang digeser dan saat berikutnya Harry
sudah bersalaman dengan semua orang yang ada di Leaky Cauldron.
"Doris Crockford, Mr Potter. Saya tak percaya akhirnya bisa bertemu Anda."
"Sungguh bangga, Mr Potter, saya sungguh bangga."
"Dari dulu sudah ingin menjabat tangan Anda saya jadi salah tingkah."
"Senang sekali, Mr Potter, tak bisa terkatakan. Diggle nama saya. Dedalus
Diggle."
"Saya pernah melihat Anda sebelumnya," kata Harry bersamaan dengan
jatuhnya topi tinggi Dedalus Diggle saking bersemangatnya dia. "Anda pernah
membungkuk pada saya di toko."
"Dia ingat!" pekik Dedalus Diggle, seraya memandang berkeliling. "Kalian
dengar itu? Dia ingat aku!"
Harry berjabat tangan tak henti-hentinya Doris Crockford bolak-balik ingin
berjabat tangan dengannya lagi.
Seorang pemuda berwajah pucat maju, sangat tegang.
Sebelah matanya berkedut-kedut. "Profesor Quirrell!" sapa Hagrid. "Harry,
Profesor Quirrell akan jadi salah satu gurumu di Hogwarts."
"P-p-potter," Profesor Quirrell berkata gagap, seraya menjabat tangan
Harry, "t-t-tak b-b-bisa kukatakan b-b-betapa senangnya aku b-b-bertemu
denganmu."
"Ilmu gaib apa yang Anda ajarkan, Profesor Quirrell?"
"P-p-pertahanan t-t-terhadap Ilmu Hitam," gumam Profesor Quirrell, seakan
dia lebih suka tidak membicarakan itu. "K-kau sih sebetulnya t-t-tidak perlu,
eh, P-p-potter?" Dia tertawa gugup. "K-kau akan mem-membeli
perlengkapanmu, kan? Aku sendiri harus mem-membeli buku tentang vampir."
Dia kelihatannya ngeri sendiri.
Tetapi yang lain tidak membiarkan Harry dikuasai Profesor Quirrell sendiri.
Perlu hampir sepuluh menit untuk melepaskan diri dari mereka. Akhirnya
Hagrid berhasil membuat suaranya mengalahkan keributan mereka.
"Harus pergi banyak yang harus dibeli. Ayo, Harry."
Doris Crockford menjabat tangan Harry untuk terakhir kali, dan Hagrid
mengajaknya keluar melewati bar, menuju halaman kecil yang dikelilingi
tembok. Tak ada apa-apa di halaman itu kecuali sebuah tempat sampah dan
ilalang.
Hagrid menyeringai kepada Harry.
"Apa kataku! Aku sudah bilang, kan, kau ini terkenal.
Bahkan Profesor Quirrell pun gemetar ketemu kau tapi dia memang selalu
gemetar."
"Apa dia selalu gugup begitu?"
"Oh, yeah. Kasihan. Otaknya brilian. Dulunya sih baik-baik saja waktu masih
belajar dari buku, tapi kemudian dia cuti setahun mau alami sendiri... Orang
bilang dia ketemu vampir di Black Forest dan sempat ribut dengan nenek sihir
--------------------------------------- 42
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
jahat sejak itu dia berubah. Takut pada muridnya, takut pada mata pelajaran
yang diajarkannya eh, mana payungku?"
Vampir? Nenek sihir jahat? Kepala Harry serasa berputar.
Hagrid, sementara itu, menghitung batu bata pada tembok di atas tempat
sampah.
"Ke atas tiga... ke samping dua...," dia bergumam. "Ini dia.
Mundur, Harry." Dia mengetuk tembok tiga kali dengan ujung payungnya.
Batu bata yang disentuhnya bergetar meliuk ma-lah di tengahnya, muncul
lubang kecil makin lama makin besar sedetik kemudian mereka sudah
berhadapan dengan gerbang yang bahkan cukup besar untuk Hagrid. Gerbang
masuk ke jalan berbatu yang berkelok-kelok dan membelok lenyap dari
pandangan.
"Selamat datang," kata Hagrid, "di Diagon Alley."
Dia menyeringai melihat Harry terpana. Mereka melangkahi gerbang. Harry
cepat-cepat menoleh dan melihat gerbang terbuka itu langsung menyusut
kembali menjadi tembok padat.
Matahari bersinar cerah, sinarnya menimpa setumpuk kuali di depan toko
paling dekat. Kuali Segala Ukuran Tembaga, Kuningan, Timah putih-Timah
hitam, Perak Mengaduk-Sendiri Dapat Dilipat, begitu bunyi pa pan yang
tergantung di atasnya.
"Yeah, kau perlu satu," kata Hagrid, "tapi kita harus ambil uangmu dulu."
Harry berharap dia punya delapan mata tambahan.
Kepalanya menoleh ke segala jurusan ketika mereka menyusuri jalan itu,
mencoba melihat segalanya sekaligus: toko-toko, barang-barang yang terpajang
di depannya, orang-orang yang sedang berbelanja. Se-orang wanita gemuk di
depan toko obat sedang menggelengkan kepala ketika mereka lewat, sambil
berkata, "Hati naga, tujuh belas Sickle per ons, gila mereka...."
Dekut uhu-uhu pelan terdengar dari toko gelap dengan tulisan berbunyi
Toko Burung Hantu Serbaada Eeylops Kuning-kecokelatan, Pekikan-keras,
Burung Hantu Serak, Cokelat, dan Putih Bersih. Beberapa anak lakilaki seumur
Harry menempelkan hidung di kaca etalase toko sagu. "Lihat," Harry mendengar
salah satu dari mereka berkata, "Nimbus Dua Ribu yang baru yang paling
cepat...." Ada toko-toko yang menjual jubah, toko-toko yang menjual teleskop,
dan peralatan perak aneh-aneh yang tak pernah dilihat Harry sebelumnya,
etalase yang memajang tong-tong berisi limpa kelelawar dan mata belut,
tumpukan bukubuku mantra dan bergulung-gulung perkamen, botolbotol
ramuan, globe bulan....
"Gringotts," kata Hagrid.
Mereka telah tiba di depan bangunan putih-bersih yang menjulang di antara
toko-toko kecil yang lain. Di sebelah pintu perunggu mengilap berdiri tegak
makhluk berseragam merah dan emas.
"Yeah, itu goblin," kata Hagrid pelan sementara mereka mendaki undakan
batu putih menuju ke tempatnya. Si goblin kira-kira sekepala lebih rendah dari
Harry. Wajahnya yang hitarn tampak cerdas, dengan janggut runcing dan, Harry
memperhatikan, jari-jari tangan dan kaki yang panjang. Dia membungkuk
--------------------------------------- 43
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
ketika mereka masuk. Sekarang mereka menghadapi sepasang pintu kedua,
yang ini perak, dengan katakata berikut terpahat di atasnya:
Masuklah, orang asing, tetapi berhati-hatilah
Terhadap dosa yang di tanggung orang serakah,
Karena mereka yang mengambil apa saja yang bukan haknya,
Harus membayar semahal-mahalnya,
Jadi jika kau mencari di bawah lantai kami
Harta yang tak berhak kau miliki,
Pencuri, kau telah di peringatkan,
Bukan harta yang kau dapat, melainkan ganjaran.
"Seperti sudah kubilang, gila kau kalau berani merampok di sini," kata
Hagrid. Sepasang goblin membungkuk ketika mereka memasuki pintu perak,
dan mereka berada di aula pualam besar.
Kira-kira lebih dari seratus goblin duduk di atas bangku tinggi di belakang
meja panjang, sibuk menulis di buku kas besar, menimbang koin di timbangan
kuningan, memeriksa batu-batu mulia dengan kaca pembesar. Ada terlalu
banyak pintu keluar dari aula itu hingga tak bisa dihitung, tapi ada lebih banyak
lagi goblin yang mengantar orang-orang keluar masuk pintu-pintu ini. Hagrid
dan Harry menuju meja.
"Pagi," kata Hagrid kepada goblin yang sedang kosong.
"Kami datang untuk ambil uang dari lemari besi Mr Harry Potter."
"Punya kuncinya, Sir?"
"Ada," kata Hagrid dan dia mulai mengeluarkan isi saku-sakunya di atas
meja. Beberapa biskuit-anjing yang sudah bulukan tertebar di atas buku kas si
goblin, membuat si goblin mengernyitkan hidung. Harry melihat goblin di
sebelah kanannya sedang menimbang setumpuk batu mirah besar-besar,
sebesar batu bara yang menyala.
"Ini dia," kata Hagrid akhirnya, seraya mengacungkan kunci emas kecil
mungil.
Si goblin memeriksanya dengan teliti.
"Kelihatannya oke."
"Dan aku juga bawa surat dari Profesor Dumbledore," kata Hagrid sok
penting sambil membusungkan dada. "Ini tentang Kau-Tahu-Apa di ruangan
tujuh ratus tiga belas."
Si goblin membaca surat itu dengan cermat.
"Baiklah," katanya, mengembalikan surat itu kepada Hagrid.
"Akan kusuruh petugas mengantar Anda berdua ke kedua tempat simpanan
itu. Griphook!"
Griphook adalah nama goblin lain. Begitu Hagrid selesai menjejalkan
biskuit-anjingnya ke dalam sakunya kembali, dia dan Harry mengikuti Griphook
menuju salah satu pintu ke luar aula.
"Apa sih Kau-Tahu-Apa di ruang tujuh ratus tiga belas itu?"tanya Harry.
"Tak bisa kuberitahu," jawab Hagrid misterius. "Sangat rahasia. Urusan
Hogwarts. Dumbledore percayai aku. Bisa dikeluarkan dari pekerjaanku kalau
aku beritahu kau."
--------------------------------------- 44
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Griphook membukakan pintu untuk mereka. Harry yang mengharapkan
ruangan pualam lagi, tercengang. Mereka berada di lorong batu sempit yang
diterangi cahaya obor-obor. Lorong itu menurun curam dan ada bekas rel kecil
di lantainya.
Griphook bersiul, lalu muncul kereta kecil yang meluncur ke arah mereka.
Mereka naik Hagrid dengan susah payah dan kereta pun berangkat.
Awalnya mereka cuma berbelok-belok melewati lorong berbelit-belit. Harry
mencoba mengingat, kiri, kanan, kanan, kiri, garpu tengah, kanan, kiri, tapi
tak mungkin. Kereta yang berderak-derak itu kelihatannya tahu sendiri
jalannya, sebab Griphook tidak mengemudikannya.
Mata Harry pedas diterpa udara dingin, tetapi dia tetap membukanya lebar-
lebar. Sekali dia merasa melihat semburan api di ujung lorong dan membalik
untuk melihat apakah itu naga, tetapi terlambat mereka meluncur turun
semakin dalam, melewati danau bawah tanah dengan stalaktit dan stalagmit
besar-besar bermunculan dari atap dan dasarnya.
"Aku tak pernah tahu," Harry berteriak kepada Hagrid mengata'si bunyi
kereta, "apa sih bedanya stalagmit dan stalaktit?"
"Stalagmit pakai 'm'," kata Hagrid. "Dan jangan tanya-tanya aku dulu. Aku
pusing, mau muntah."
Wajahnya memang tampak sangat pucat, dan ketika kereta akhirnya
berhenti di sebelah pintu kecil di dinding lorong, Hagrid turun dan harus
bersandar di dinding, menunggu lututnya berhenti gemetar.
Griphook membuka kunci pintu. Asap tebal hijau mengepul keluar, dan
setelah asap menipis, Harry ternganga. Di dalam ruangan tampak
gundukangundukan uang emas. Tumpukan uang perak. Timbunan Knut
perunggu kecil-kecil.
"Semua milikmu," Hagrid tersenyum.
Semua milik Harry bukan main. Keluarga Dursley pastilah tak tahu tentang
ini, kalau tidak pasti sudah mereka rebut dalam sekejap. Betapa seringnya
mereka mengeluhkan besarnya biaya yang harus mereka keluarkan untuk
membesarkan Harry.
Padahal selama ini ada harta begitu banyak miliknya, terkubur dalamdalam
di bawah kota London.
Hagrid membantu Harry memasukkan uang ke dalam tas.
"Yang emas ini Galleon," dia menjelaskan. "Tujuh belas Sickle perak sama
dengan satu Galleon, dan dua puluh sembilan Knut sama dengan satu Sickle.
Gampang, kan. Sudah, ini sudah cukup untuk dua semester, sisanya biar aman
di sini." Dia menoleh pada Griphook. "Ruang tujuh ratus tiga belas sekarang,
dan bisa tidak keretanya lebih pelan sedikit?"
"Cuma satu kecepatan," kata Griphook.
Mereka masuk semakin dalam sekarang, dan semakin cepat.
Udara semakin lama semakin dingin ketika mereka membelok di tikungan-
tikungan tajam. Mereka melewati jurang bawah tanah dan Harry membungkuk
di tepi kereta untuk melihat apa yang ada di dasarnya yang gelap, tetapi Hagrid
menggeram dan menarik tengkuknya masuk kereta.
Ruang besi tujuh ratus tiga belas tidak ada lubang kuncinya.
--------------------------------------- 45
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Mundur," kata Griphook sok penting. Dia membelai lembut pintunya dengan
satu jarinya dan pintu itu meleleh begitu saja.
"Kalau orang lain bukan goblin Gringotts yang melakukan itu, mereka akan
tersedot lewat pintu dan terperangkap di dalam," kata Griphook.
"Berapa sering kau mengecek kalau-kalau ada orang terperangkap di dalam?"
tanya Harry. "Kira-kira sekali dalam sepuluh tahun," kata Griphook, dengan
seringai agak menyebalkan.
Sesuatu yang betul-betul luar biasa pastilah ada dalam ruang besi dengan
pengamanan istimewa ini. Harry yakin, maka dia melongok dengan penuh
semangat, berharap melihat permata-permata hebat, paling tidak. Tetapi
awalnya dia mengira ruangan itu kosong. Kemudian dilihatnya bungkusan kertas
cokelat kecil kumal tergeletak di lantai. Hagrid memungutnya dan
memasukkannya hati-hati ke dalam mantelnya. Harry ingin sekali tahu apa isi
bungkusan itu, tetapi dia tahu sebaiknya tidak bertanya.
"Ayo, naik kereta celaka ini lagi, dan jangan bicara padaku dalam
perjalanan pulang. Paling baik aku tutup mulut," kata Hagrid.
***
Setelah perjalanan naik kereta gila-gilaan, mereka berdiri kesilauan dalam
cahaya matahari di luar Gringotts. Harry tak tahu harus ke mana dulu sekarang
setelah dia punya satu tas penuh uang. Dia tak perlu tahu berapa Galleon
senilai dengan satu pound untuk mengetahui bahwa dia sedang memegang lebih
banyak uang daripada yang pernah dimilikinya se-lama hidupnya bahkan lebih
banyak daripada yang dimiliki Dudley.
"Lebih baik beli seragammu dulu," kata Hagrid, seraya mengangguk ke arah
Jubah untuk Segala Acara Kreasi Madam Malkin. "Eh, Harry, kau keberatan tidak
kalau aku pergi sebentar ke Leaky Cauldron untuk beli minuman? Aku benci
kereta Gringotts." Dia masih kelihatan sedikit pucat, maka Harry masuk ke toko
Madam Malkin sendirian, merasa gugup.
Madam Malkin adalah penyihir bertubuh pendek gemuk, penuh senyum,
berpakaian serba-lembayung muda.
"Hogwarts, Nak?" katanya, ketika Harry baru mau bicara.
"Banyak yang ke sini sekarang malah ada satu yang sedang ngepas."
Di bagian belakang toko, seorang anak laki-laki dengan wajah runcing pucat
berdiri di atas bangku pendek kecil, sementara ada penyihir kedua yang
melipat jubah hitam panjangnya dan menyematnya dengan jarum pentul.
Madam Malkin menyuruh Harry berdiri di atas bangku di sebelahnya,
memasukkan jubah panjang melewati kepalanya, dan mulai menyematnya
sampai panjangnya pas.
"Halo," sapa si anak laki-laki. "Hogwarts juga?"
"Ya," jawab Harry.
"Ayahku di sebelah, membelikan bukuku, dan ibuku di toko lain mencari
tongkat," kata anak itu. Suaranya membosankan dan seperti dipanjang-
panjangkan. "Sesudah itu nanti aku akan menarik mereka melihat sapu balap.
Aku tak mengerti kenapa anak-anak kelas satu tidak boleh punya sapu sendiri.
Kurasa aku akan memaksa Ayah supaya membelikan aku sapu dan akan
kuselundupkan."
--------------------------------------- 46
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry jadi langsung ingat Dudley.
"Apa kau sudah punya sapu?" si anak melanjutkan.
"Belum," jawab Harry.
"Main Quidditch?"
"Tidak," kata Harry lagi, sementara dalam hati bertanya-tanya sendiri, apa
gerangan Quidditch itu.
"Aku sih main Ayah bilang kelewatan kalau aku tidak terpilih dalam tim
asramaku, dan harus kukatakan, aku sepakat.
Sudah tahu kau akan di asrama mana?"
"Tidak," jawab Harry, yang makin lama merasa semakin bodoh. "Yah,
memang tak ada yang tahu sampai mereka tiba di sana, kan, tapi aku tahu aku
akan masuk ke Slytherin, semua keluarga kami di sana bayangkan kalau sampai
di Hufflepuff. Kurasa aku akan pindah, iya, kan?"
"Mmm," jawab Harry, yang berharap bisa mengatakan sesuatu yang lebih
menarik.
"Eh, lihat orang itu," kata anak itu tiba-tiba, mengangguk ke arah jendela
depan. Hagrid berdiri di sana, menyeringai kepada Harry dan menunjuk dua es
krim besar untuk memberitahukan itulah sebabnya dia tak bisa masuk.
"Itu Hagrid," kata Harry, senang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui
anak itu. "Dia bekerja di Hogwarts."
"Oh," kata anak itu. "Aku sudah dengar tentang dia. Dia semacam pelayan,
kan?" "Dia pengawas binatang liar," kata Harry. Makin lama dia semakin tidak
menyukai anak itu.
"Ya, itulah. Kudengar dia semacam orang liar tinggal di gubuk di halaman
sekolah dan dari waktu ke waktu dia mabuk, mencoba menyihir, tapi hasilnya
malah membakar tempat tidurnya sendiri."
"Menurut aku dia hebat," kata Harry dingin. "Begitu?" kata si anak sedikit
melecehkan. "Kenapa dia bersamamu? Di mana orangtuamu?" "Sudah
meninggal," kata Harry pendek. Dia tidak ingin membicarakan hal ini dengan
anak itu. "Oh, maaf," kata si anak, tapi kedengarannya tidak menyesal sama
sekali. "Tapi mereka bangsa kita, kan?" "Mereka penyihir, kalau itu maksudmu."
"Menurut aku sih bangsa lain sebaiknya jangan diizinkan bergabung. Iya,
kan? Mereka tidak sama, mereka tidak pernah dibesarkan dengan cara-cara
kita. Beberapa di antara mereka bahkan tidak pernah mendengar tentang
Hogwarts sampai menerima surat. Bayangkan. Menurut aku sih sebaiknya
mereka cuma menerima keluarga penyihir saja. Siapa sih nama keluargamu?"
Tetapi sebelum Harry sempat menjawab, Madam Malkin berkata, "Sudah
selesai, Nak," dan Harry, yang malah senang bisa menghindari si anak, lang-
sung meloncat turun dari bangku.
"Sampai ketemu di Hogwarts, ya," kata anak itu.
Harry agak diam ketika dia memakan es krim yang dibelikan Hagrid
untuknya (cokelat dan rasberi dengan cacahan kacang).
"Ada apa?" tanya Hagrid.
"Tidak ada apa-apa," Harry berbohong. Mereka berhenti untuk membeli
perkamen dan pena bulu. Harry agak gembira ketika dia menemukan sebotol
--------------------------------------- 47
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
tinta yang warnanya berubah ketika dipakai menulis. Ketika mereka telah
meninggalkan toko, dia nyeletuk, "Hagrid, Quidditch itu apa sih?"
"Astaga, Harry, aku lupa terus bahwa belum banyak yang kau tahu bahkan
Quidditch pun kau belum tahu!"
"Jangan membuatku merasa lebih parah," kata Harry. Dia memberitahu
Hagrid tentang anak pucat di toko Madam Malkin.
"... dan dia bilang orang-orang dari keluarga Muggle seharusnya tidak
diterima di..."
"Kau bukan dari keluarga Muggle. Kalau saja dia tahu siapa sebetulnya kau
sejak kecil pastilah dia sudah diberitahu namamu jika orangtuanya memang
penyihir kau sudah lihat sendiri di Leaky Cauldron. Lagi pula, dia tahu apa sih,
beberapa dari penyihir terbaik malah orang-orang yang memang diberi bakat
sihir tapi berasal dari keluarga Muggle lihat saja ibumu!
Lihat bagaimana kakaknya!"
"Jadi, Quidditch itu apa?"
"Itu olahraga kita. Olahraga penyihir. Semacam semacam sepak bola kalau
di dunia Muggle semua orang senang nonton Quidditch dimainkan di udara
dengan naik sapu terbang dan ada empat bola agak susah menjelaskan
aturannya."
"Dan apa itu Slytherin dan Hufflepuff?"
"Nama-nama rumah asrama di sekolah. Ada empat. Semua bilang Hufflepuff
isinya anak-anak yang canggung, tapi..."
"Kalau begitu pastilah aku masuk Hufflepuff," kata Harry muram.
"Lebih baik Hufflepuff daripada Slytherin," kata Hagrid keras. "Semua
penyihir yang jadi jahat dulunya tinggal di Slytherin. Kau-Tahu-Siapa salah
satunya."
"Vol maaf Kau-Tahu-Siapa dulunya di Hogwarts?"
"Bertahun-tahun yang lalu," kata Hagrid.
Mereka membeli buku-buku Harry di Flourish and Blotts. Di toko buku itu
rak-raknya penuh sampai ke langit-langit dengan berbagai buku, dari buku
setebal batu bata bersampul kulit sampai buku sebesar prangko dengan sampul
sutra; buku-buku dengan gambar aneh-aneh, dan beberapa buku yang sama
sekali kosong melompong. Bahkan Dudley yang sama sekali tak pernah
membaca apa-apa, akan senang memiliki beberapa buku yang ada di sini.
Hagrid nyaris sampai harus menyeret Harry dari buku Kutukan dan Kontra-
Kutukan (Pikat Kawan dan Kutuk Lawan dengan Pembalasan Dendam Mutakhir:
Rambut Rontok, Kaki Lemas, Lidah Beku, dan banyak macam lagi) oleh Profesor
Vindictus Viridian.
"Aku sedang mencoba mencari cara mengutuk Dudley."
"Aku tidak bilang itu bukan ide yang baik, tapi kau tak boleh gunakan sihir di
dunia Muggle, kecuali dalam keadaan sangat istimewa," kata Hagrid. "Lagi pula
kau belum bisa gunakan kutukan itu, kau masih perlu belajar banyak sebelum
mencapai tingkat itu."
Hagrid juga tidak mengizinkan Harry membeli kuali emas ("menurut
daftarmu harus timah campuran,") tetapi mereka mendapat satu set timbangan
bagus untuk menimbang bahan-
--------------------------------------- 48
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
bahan ramuan dan teleskop kuningan yang bisa dilipat.
Kemudian mereka ke toko bahan ramuan, yang untungnya cukup menarik,
soalnya baunya busuk bukan main, campuran antara telur busuk dan kol busuk.
Tong-tong berisi lendir berjajar di lantai, stoples-stoples berisi ramuan,
akarakar kering, dan bubuk berwarna cerah berderet di dinding, bergebung
bulubulu, untaian taring, dan cakar-cakar melengkung bergantungan dari
langitlangit. Sementara Hagrid minta si penjaga toko menyiapkan bahan-bahan
dasar ramuan untuk Harry, Harry sendiri sibuk mengamati tanduk perak unicorn
yang harganya dua puluh satu Galleon sebuah dan mata kumbang yang hitam
kecil-kecil dan berkilat (lima Knut sesendok).
Di luar toko, Hagrid memeriksa daftar Harry lagi.
"Tinggal kurang tongkatmu oh yeah, dan aku belum beli hadiah ulang tahun
buatmu." Harry merasa mukanya merah.
"Tak usah..." "Aku tahu. Begini saja, kuhadiahi kau binatang.
Bukan kodok, kodok sudah ketinggalan mode bertahun-tahun yang lalu. Kau
akan ditertawakan dan aku tak suka kucing, mereka membuatku bersin. Kau
akan kubelikan burung hantu.
Semua anak kepingin punya burung hantu, mereka berguna sekali,
mengantar suratmu dan macam-macam lagi."
Dua puluh menit kemudian mereka meninggalkan Toko Burung Hantu
Serbaada Eeylops, yang gelap dan penuh bunyi gesekan bulu dan mata berkilat
yang berkelap-kelip. Harry sekarang menenteng sangkar besar berisi burung
hantu seputih salju, yang tengah tidur nyenyak dengan kepala menyusup ke
balik sayap. Dia tak bisa berhenti menyampaikan ucapan terima kasihnya
dengan terbata-bata, seperti Profesor Quirrell.
"Ya, ya, kembali," kata Hagrid parau. "Kupikir kau tak banyak dapat hadiah
dari keluarga Dursley. Tinggal ke Ollivanders sekarang satu-satunya tempat
untuk beli tongkat.
Ollivanders, dan kau akan mendapatkan tongkat yang terbaik."
Tongkat sihir... ini sudah ditunggu-tunggu Harry.
Toko terakhir ini sempit dan kumuh. Huruf-huruf emas yang sudah
mengelupas di atas pintunya berbunyi, Ollivanders: Pembuat Tongkat Sihir
Bagus Sejak 382 SM. Sebatang tongkat tergeletak di atas bantal ungu kusam di
etalase berdebu.
Denting bel berbunyi di kedalaman toko ketika mereka melangkah masuk.
Tempat itu kecil sekali, kosong, hanya ada satu kursi tinggi kurus. Hagrid duduk
menunggu di kursi itu.
Harry merasa aneh, seakan dia memasuki perpustakaan yang peraturannya
sangat ketat. Dia menelan banyak pertanyaan baru yang bermunculan di
benaknya dan melihat-lihat saja ribuan kotak pipih yang bertumpuk rapi sampai
ke langit-langit. Entah kenapa, bulu tengkuknya berdiri. Debu dan kesunyian di
toko ini rasanya mengandung sihir rahasia.
"Selamat sore," terdengar suara lembut. Harry melonjak.
Hagrid pastilah melonjak juga, sebab terdengar bunyi derit keras dan dia
cepat-cepat bangkit dari kursi kurusnya.
--------------------------------------- 49
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Seorang laki-laki tua berdiri di hadapan mereka. Matanya yang lebar dan
pucat, bercahaya bagai bulan di dalam toko yang suram itu.
"Halo," kata Harry salah tingkah.
"Ah ya," kata laki-laki itu. "Ya, ya. Sudah kuduga aku akan segera bertemu
kau, Harry Potter," katanya yakin. "Matamu mirip mata ibumu. Rasanya baru
kemarin dia di sini, membeli tongkat pertamanya. Dua puluh lima setengah
senti, mendesir jika digerakkan, terbuat dari dahan dedalu. Tongkat bagus
untuk menyihir."
Mr Ollivander mendekati Harry. Harry berharap dia berkedip. Matanya yang
keperakan itu agak mengerikan.
"Ayahmu, sebaliknya, lebih suka tongkat mahogani. Dua puluh tujuh
setengah senti. Lentur. Sakti dan cocok sekali untuk transfigurasi. Yah, tadi
kubilang ayahmu lebih suka tongkat itu sebetulnya tongkatnyalah yang
memilih si penyihir tentu saja."
Mr Ollivander sudah dekat sekali, sehingga hidungnya dan hidung Harry
nyaris bersentuhan. Harry bisa melihat bayangan dirinya di dalam mata
berkabut itu.
"Dan ini rupanya..."
Mr Ollivander menyentuh belas luka berbentuk kilat menyambar di dahi
Harry dengan jarinya yang putih panjang.
"Aku minta maaf karena aku yang menjual tongkat yang menyebabkan luka
ini," katanya lembut. "Tiga puluh tiga setengah senti. Kayu cemara. Sakti,
sangat sakti dan jatuh ke tangan yang salah... Yah, kalau saja aku tahu apa
yang akan dilakukan tongkat itu di luar...."
Dia menggelengkan kepala dan kemudian, betapa leganya Harry, Mr
Ollivander melihat Hagrid.
"Rubeus! Rubeus Hagrid! Senang sekali bertemu kau lagi...
Ek, empat puluh senti, agak bengkok, kan?"
"Betul, Sir. Ya," kata Hagrid.
"Tongkat bagus. Tapi kuduga mereka mematahkannya jadi dua waktu kau
dikeluarkan?" kata Mr Ollivander, mendadak galak.
"Er, ya, betul," kata Hagrid, kakinya bergerak-gerak gelisah. "Tapi saya
masih simpan potongannya," dia menambahkan dengan riang. "Tapi kau tidak
memakainya?"
kata Mr Ollivander tajam.
"Oh, tidak, Sir," jawab Hagrid cepat-cepat. Harry melihat Hagrid
mencengkeram payung merah jambunya erat-erat ketika berbicara.
"Hmmm," kata Mr Ollivander, menatap tajam Hagrid. "Nah, Mr Potter. Coba
kita lihat." Dia menarik keluar meteran panjang dengan tanda-tanda perak dari
dalam kantongnya.
"Tangan mana tangan pemegang tongkatmu?"
"Er tangan kanan," kata Harry.
"Julurkan tanganmu. Bagus." Dia mengukur Harry dari bahu ke jari,
kemudian pergelangan tangan ke siku, bahu ke lantai, lulut ke ketiak, dan
sekeliling kepalanya. Sementara mengukur, dia berkata, "Semua tongkat
Ollivander punya intisari kegaiban, Mr Potter. Kami menggunakan rambut
--------------------------------------- 50
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
unicorn, bulu ekor burung phoenix, dan nadi jantung naga. Tak ada dua tongkat
Ollivander yang sama. Seperti halnya tak ada dua unicorn, naga atau phoenix
yang persis sama. Dan tentu saja kau tak akan mendapatkan hasil baik dengan
tongkat penyihir lain."
Harry mendadak menyadari bahwa meteran yang sedang mengukur jarak
antara kedua lubang hidungnya, mengukur sendiri. Mr Ollivander berkeliling di
depan rak-rak, menurunkan kotak-kotak.
"Sudah cukup," katanya, dan meteran itu langsung terpuruk menggunuk di
lantai. "Baik, Mr Potter, cobalah yang ini.
Beechwood dan nadi jantung naga. Dua puluh dua setengah senti.
Bagus dan fleksibel.
Ambil dan cobalah menggoyangkannya."
Harry meraih tongkat itu dan (merasa bego) menggoyangkannya sedikit,
tetapi Mr Ollivander langsung merebutnya."Mapel dan bulu phoenix. Tujuh
belas setengah senti.
Sabetannya oke. Cobalah..." Harry mencoba tapi baru saja dia
mengangkatnya, tongkat itu juga direbut balik oleh Mr Ollivander. "Tidak, tidak
ini, eboni dan rambut unicorn, dua puluh satu seperempat, elastis. Ayo, ayo,
coba yang ini."
Harry mencobanya. Dan mencoba yang lain. Dia sama sekali tak tahu apa
yang dinantikan Mr Ollivander. Tumpukan tongkat yang sudah dicoba
menggunung makin lama makin tinggi di atas kursi kurus, tetapi semakin
banyak tongkat yang diambilnya dari rak, semakin senang tampaknya Mr
Ollivander.
"Pembeli pemilih, eh? Jangan khawatir, kita akan menemukan tongkat yang
pas di sini bagaimana kalau ya, kenapa tidak kombinasi yang tidak biasa
holly dan bulu phoenix, dua puluh tujuh setengah senti, bagus dan lentur."
Harry mengambil tongkat itu. Mendadak jari-jarinya terasa hangat.
Diangkatnya tongkat ke atas kepala, diayunkannya ke bawah di udara berdebu,
dan semburat bunga api merah dan keemasan meluncur dari ujungnya seperti
kembang api, membuat bayangbayang yang menari-nari di dinding. Hagrid
berteriak dan bertepuk tangan, dan Mr Ollivander berseru, "Oh, bravo! Ya,
sungguh, bagus sekali. Wah, wah, wah, sungguh aneh... sungguh aneh sekali..."
Diletakkannya kembali tongkat Harry ke dalam kotaknya dan dibungkusnya
dengan kertas cokelat, sambil terus bergumam,
"Aneh... aneh..."
"Maaf," kata Harry, "tapi apa yang aneh?" Mr Ollivander menatap Harry
dengan matanya yang pucat.
"Aku ingat semua tongkat yang pernah kujual, Mr Potter.
Satu per satu. Kebetulan phoenix yang bulu ekornya ada di tongkatmu,
menghasilkan satu bulu lagi hanya satu. Sungguh aneh sekali kau ditakdirkan
menjadi pemilik tongkat ini, sementara saudaranya wah, saudaranyalah yang
memberimu bekas luka itu."
Harry menelan ludah.
--------------------------------------- 51
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Ya, tiga puluh tiga setengah senti. Yew. Sungguh aneh hal-hal semacam ini
terjadi. Tongkat yang memilih penyihir, ingat...
Kurasa kami harus mengharap kau melakukan hal-hal luar biasa, Mr Potter...
Lagi pula, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut melakukan hal-hal luar biasa
mengerikan, ya, tapi luar biasa."
Harry bergidik. Dia tak yakin apakah dia sangat menyukai Mr Ollivander. Dia
membayar tujuh Galleon emas untuk tongkatnya dan Mr Ollivander
membungkuk, mengantar mereka meninggalkan tokonya.
***
Matahari sore menggantung rendah di langit. Harry dan Hagrid kembali ke
Diagon Alley, kembali menembus tembok, kembali ke Leaky Cauldron, yang
sekarang kosong. Sepanjang jalan Harry tidak bicara sama sekali. Dia bahkan
tidak menyadari betapa orang-orang di kereta bawah tanah terheran-heran
melihat mereka, yang membawa begitu banyak belanjaan yang bentuk dan
bungkusnya aneh-aneh, dengan burung hantu seputih salju tertidur di pangkuan
Harry. Naik eskalator lagi, keluar ke stasiun Paddington. Harry baru menyadari
dimana mereka berada ketika Hagrid menjawil bahunya.
"Masih sempat makan sebentar sebelum keretamu berangkat," katanya.
Dia membeli hamburger dan mereka duduk di kursi plastik untuk
memakannya. Berkali-kali Harry memandang berkeliling.
Segala sesuatu terasa aneh.
"Kau tak apa-apa, Harry? Kau dari tadi diam saja," kata Hagrid.
Harry tak yakin dia bisa menjelaskan. Hari ini hari ulang tahun paling
menyenangkan dalam hidupnya tapi dia mengunyah hamburgernya, mencoba
menemukan kata-kata.
"Semua orang menganggapku istimewa," katanya akhirnya.
"Semua orang di Leaky Cauldron, Profesor Quirrell, Mr Ollivander... tetapi
aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang sihir. Bagaimana mereka mengharap
aku melakukan hal-hal luar biasa? Aku terkenal dan aku bahkan tak ingat aku
terkenal karena apa. Aku tak tahu apa yang terjadi ketika Vol maaf
maksudku, pada malam orangtuaku meninggal."
Hagrid mencondongkan tubuh di atas meja. Di balik jenggot liar dan alis
tebalnya, senyumnya ramah sekali.
"Jangan khawatir, Harry. Kau akan belajar dengan cepat.
Semua orang mulai dari awal di Hogwarts, kau tak akan dapat masalah.
Jadilah saja dirimu sendiri. Aku tahu ini berat. Kau telah dipilih, dan ini selalu
berat. Tetapi kau akan senang di Hogwarts dulu aku juga bahkan sampai
sekarang pun masih."
Hagrid membantu Harry naik ke kereta yang akan membawanya kembali ke
keluarga Dursley, kemudian menyerahkan amplop.
"Karcis keretamu ke Hogwarts," katanya. "Tanggal satu September King's
Cross semua tercantum di karcismu. Kalau ada masalah dengan keluarga
Dursley, kirimi aku surat lewat burung hantumu, dia akan tahu di mana
temukan aku... Sampai ketemu lagi, Harry."
Kereta bergerak meninggalkan stasiun. Harry ingin memandang Hagrid
sampai dia tak kelihatan lagi. Dia bangkit dari tempat duduknya dan
--------------------------------------- 52
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
menempelkan hidungnya di kaca jendela, tetapi begitu dia mengejapkan mata,
Hagrid sudah lenyap.
***
6. Perjalanan Dari Peron Sembilan Tiga Perempat
BULAN terakhir Harry bersama keluarga Dursley tidaklah menyenangkan,
Dudley sekarang begitu ketakutan pada Harry sehingga dia tidak mau berada di
ruangan yang sama dengannya, sementara bibi Petunia dan Paman Vernon tidak
mengurung Harry dalam lemarinya, tidak memaksannya melakukan sesuatu
atau pun membentaknya, bahkan, mereka sama sekali tidak bicara dengan
Harry. Setengah ketakutan, setengah marah, mereka bersikap seolah olah kursi
yang diduduki Harry itu kosong. Meskipun ini perbaikan dalam banyak hal,
setelah beberapa waktu keadaan begini membuat Harry agak tertekan juga.
Harry menghabiskan waktu di kamarnya, hanya ditemani burung hantunya.
Dia memutuskan menamai burung hantunya Hedwig, nama yang ditemukannya
dalam buku Sejarah Sihir.
Buku-buku sekolahnya sangat menarik. Dia berbaring di tempat tidurnya,
membaca sampai jauh malam, Hedwig terbang keluarmasuk jendela sesuka-
suka dia. Untunglah Bibi Petunia tidak lagi datang ke kamar Harry, karena
Hedwig tak henti-hentinya membawa bangkai tikus. Setiap malam sebelum
tidur, Harry menandai hari pada sepotong kertas yang ditempelnya di dinding,
sampai ke tanggal satu September.
Pada hari terakhir bulan Agustus, dia memutuskan lebih baik bicara dengan
paman dan bibinya soal dia harus pergi ke Stasiun King's Cross hari berikutnya.
Maka dia turun ke ruang keluarga, tempat mereka sedang menonton acara kuis
di televisi. Harry berdeham untuk memberitahu dia datang, dan Dudley
menjerit dan kabur dari ruangan itu.
"Er Paman Vernon?"
Paman Vernon menggumamkan gerutuan tak jelas untuk menunjukkan dia
mendengarkan.
"Er aku harus ke King's Cross besok untuk untuk ke Hogwarts."
Paman Vernon menggerutu lagi.
"Apakah aku boleh ikut mobil Paman?"
Gerutuan tak jelas. Harry menafsirkan itu berarti boleh.
"Terima kasih." Dia sudah akan kembali ke atas ketika Paman Vernon benar-
benar bicara. "Aneh juga, mau ke sekolah sihir kok naik kereta. Permadani
terbangnya berlubang semua, rupanya?" Harry diam saja. "Di mana sih sekolah
ini?"
"Aku tidak tahu," kata Harry, baru menyadarinya saat itu.
Dia menarik keluar tiket yang diberikan Hagrid dari dalam sakunya. "Aku
cuma diminta naik kereta dari peron sembilan tiga perempat pukul sebelas,"
dia membaca. Bibi dan pamannya melongo.
--------------------------------------- 53
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Peron berapa?"
"Sembilan tiga perempat."
"Jangan ngawur," kata Paman Vernon. "Tak ada peron sembilan tiga
perempat."
"Menurut tiketnya begitu."
"Omong kosong," kata Paman Vernon, "mereka semua sinting. Lihat saja
sendiri nanti. Tunggu saja. Baiklah, kami akan mengantarmu ke King's Cross.
Kami toh besok memang mau ke London, kalau tidak mana aku mau peduli."
"Kenapa kalian mau ke London?" tanya Harry, berusaha bersikap ramah.
"Membawa Dudley ke rumah sakit," geram Paman Vernon.
"Ekornya yang kemerahan harus dipotong sebelum dia berangkat ke
Smeltings."
***
Harry terbangun pukul lima esok paginya dan terlalu gembira sekaligus
tegang, sehingga tak bisa tidur lagi. Dia bangun dan memakai celana jins-nya
karena tak mau ke stasiun memakai jubah sihirnya dia akan berganti pakaian
di kereta saja. Sekali lagi diperiksanya daftar Hogwarts-nya kalau-kalau yang
diperlukannya masih ada yang ketinggalan, mengecek apakah Hedwig sudah
aman terkurung di dalam sangkarnya, dan kemudian berjalan mondar-mandir
dalam kamarnya, menunggu keluarga Dursley bangun. Dua jam kemudian,
koper besar Harry sudah dimasukkan ke dalam mobil keluarga Dursley. Bibi
Petunia sudah membujuk Dudley agar mau duduk di sebelah Harry dan mereka
pun berangkatlah.
Mereka tiba di King's Cross pukul setengah sebelas. Paman
Vernon menjatuhkan koper Harry di atas troli dan mendorongnya ke dalam
stasiun. Harry berpendapat Paman Vernon baik sekali, sampai Paman Vernon
mendadak berhenti di depan deretan peron dengan seringai menyebalkan di
wajahnya.
"Nah, ini dia, Nak. Peron sembilan peron sepuluh.
Peronmu seharusnya di antaranya, tetapi rupanya belum dibangun, ya?"
Paman Vernon benar, tentu saja. Ada angka sembilan plastik besar di atas
satu peron dan angka sepuluh plastik besar di peron berikutnya, dan di
antaranya sama sekali tak ada apa-apa.
"Semoga senang di sekolah," kata Paman Vernon dengan seringai yang lebih
menyebalkan. Dia pergi tanpa berkata apaapa lagi. Harry menoleh dan melihat
mobil keluarga Dursley meluncur meninggalkan stasiun. Mereka bertiga
tertawa-tawa.
Mulut Harry jadi agak kering. Apa yang akan dilakukannya?
Orang-orang mulai memandangnya dengan aneh, gara-gara Hedwig. Dia
harus bertanya pada seseorang.
Dia menghentikan petugas yang lewat, tetapi tak berani menyebut peron
sembilan tiga perempat. Si petugas belum pernah mendengar tentang Hogwarts
dan ketika Harry bahkan tak bisa mengatakan di bagian mana Inggris sekolah ini
berada, dia mulai jengkel, seakan Harry sengaja berlagak bloon.
Semakin putus asa, Harry menanyakan kereta yang akan berangkat pukul
sebelas, tetapi kata si petugas tak ada. Akhirnya si petugas pergi, mengomel
--------------------------------------- 54
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
soal orang yang suka buang-buang waktu. Harry berusaha keras agar tidak
panik. Menurut jam besar di atas papan kedatangan, dia hanya punya waktu
sepuluh menit lagi untuk naik kereta ke Hogwarts dan dia sama sekali tak tahu
harus bagaimana. Dia kebingungan di tengah stasiun dengan koper yang nyaris
tak bisa diangkatnya, kantong penuh uang sihir, dan burung hantu besar.
Hagrid pastilah lupa memberitahukan sesuatu yang harus dilakukannya,
seperti misalnya mengetuk batu bata ketiga di sebelah kiri untuk bisa masuk ke
Diagon Alley. Dia bertanya-tanya dalam hati apakah sebaiknya dia
mengeluarkan tongkatnya dan mengetuk boks penjualan tiket di antara peron
sembilan dan sepuluh.
Saat itu serombongan orang lewat di belakangnya dan tertangkap olehnya
beberapa kata yang diucapkan.
"... penuh Muggle, tentu saja..."
Harry langsung membalik. Yang bersuara seorang wanita gemuk, bicara
kepada empat anak laki-laki, semua dengan rambut merah manyala. Masing-
masing mendorong koper seperti milik Harry di depan mereka dan mereka
punya burung hantu.
Dengan jantung berdegup keras Harry mendorong trolinya mengikuti
mereka. Mereka berhenti, dia ikut berhenti, cukup dekat untuk mendengar apa
yang mereka katakan.
"Peron berapa?" tanya ibu anak-anak itu.
"Sembilan tiga perempat!" terdengar suara nyaring anak perempuan, juga
berambut merah, yang menggandeng tangannya. "Mum, apakah aku tidak
boleh..."
"Kau belum cukup umur, Ginny sekarang diam dulu.
Baiklah, Percy, kau duluan yang masuk."
Anak yang kelihatannya paling tua berjalan menuju peron sembilan dan
sepuluh. Harry mengawasi, bertahan tidak berkedip, takut kalau-kalau ada
sesuatu yang tidak dilihatnya
tetapi pas ketika anak itu tiba di pembatas antara peron, serombongan
besar turis lewat di depannya dan ketika ransel terakhir sudah menyingkir, si
anak sudah lenyap.
"Fred, kau berikutnya," si wanita gemuk berkata.
"Aku bukan Fred, aku George," kata si anak. "Astaga, Mum!
Katanya ibu kami, masa tidak bisa membedakan bahwa aku George?"
"Sori, George."
"Cuma bergurau, aku Fred," kata si anak, lalu langsung pergi.
Kembarannya berteriak agar dia bergegas, dan pastilah dia bergegas, karena
sedetik kemudian dia sudah lenyap tetapi bagaimana caranya?
Sekarang saudara ketiga berjalan cepat menuju ke palang rintangan tiket
dia nyaris sampai dan mendadak, dia lenyap.
Hilang begitu saja.
"Maaf," kata Harry kepada si wanita gemuk.
"Halo, Nak," katanya. "Baru pertama kali ke Hogwarts, ya?
--------------------------------------- 55
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ron juga baru." Dia menunjuk anak laki-lakinya yang terakhir dan termuda.
Dia kurus dan jangkung, dengan bintik-bintik di mukanya, kakitangan besar,
dan hidung panjang.
"Ya," kata Harry. "Masalahnya masalahnya, saya tidak tahu bagaimana..."
"Bagaimana ke peronnya?" tanyanya ramah, dan Harry mengangguk.
"Jangan khawatir," katanya. "Yang harus kaulakukan hanyalah berjalan saja,
menembus palang rintangan antara peron sembilan dan sepuluh. Jangan
berhenti dan jangan takut kau akan menabraknya, ini yang paling penting.
Paling baik melakukannya setengah berlari, kalau kau cemas. Ayo, masuklah
sekarang, sebelum Ron."
"Er oke," kata Harry. Harry memutar trolinya dan memandang palang
rintangan. Kelihatannya kuat sekali.
Dia mulai berjalan ke arah palang. Berkali-kali dia tersenggol orang-orang
yang berjalan ke peron sembilan dan sepuluh.
Harry berjalan semakin cepat. Sebentar lagi dia akan menabrak boks
penjualan tiket, lalu akan mendapat kesulitan Harry membungkuk di atas
trolinya, dia berlari palang semakin lama semakin dekat dia tak akan bisa
berhenti troli sudah di luar kendali tinggal tiga puluh senti lagi dia
memejamkan mata menunggu saat tabrakan...
Tetapi ternyata dia tidak menabrak apa-apa... dia masih terus berlari... dia
membuka matanya.
Kereta api berwarna merah menunggu di sebelah peron yang penuh orang.
Tulisan di atasnya berbunyi Hogwarts Express, pukul 11.00. Harry menoleh ke
belakang dan melihat gerbang melengkung di tempat yang tadinya tempat boks
tiket, dengan tulisan Peron Sembilan Tiga Perempat. Dia telah berhasil.
Asap lokomotif melayang di atas kepala orartgorang yang ramai mengobrol,
sementara kucing-kucing dalam berbagai warna menyusup-nyusup di antara
kaki mereka. Burung-burung hantu saling bersahutan, ditingkahi suara obrolan
dan derit koper-koper berat yang diseret.
Rangkaian beberapa gerbong yang di depan sudah penuh anak-anak.
Beberapa di antaranya menjulurkan tubuh ke luar jendela untuk mengobrol
dengan keluarga mereka, yang lain berebut tempat duduk. Harry mendorong
trolinya sepanjang peron, mencari tempat duduk yang masih kosong. Dia
melewati anak lakilaki berwajah bulat yang sedang berkata, "Nek, katakku
hilang lagi."
"Oh, Neville," didengarnya perempuan tua itu menghela napas. Seorang
anak laki-laki berambut keriting dikerumuni serombongan anak.
"Coba kami lihat, Lee, ayo dong."
Anak itu mengangkat tutup kotak yang dipeluknya dan anakanak yang
merubungnya langsung menjerit dan berteriak-teriak ketika ada kaki panjang
berbulu keluar dari kotak itu.
Harry melewati orang-orang yang berdesakan sampai dia tiba di gerbong
kosong hampir di ujung kereta. Mula-mula dinaikkannya Hedwig, kemudian dia
mulai mengangkat dan mendorong kopernya lewat pintu kereta.
--------------------------------------- 56
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dicobanya mengangkatnya melewati undakan, tetapi dia nyaris tak bisa
mengangkat salah satu ujungnya dan dua kali koper itu menjatuhi kakinya.
Sakit sekali.
"Perlu bantuan?" Ternyata salah satu dari si kembar berambut merah yang
tadi diikutinya menerobos boks tiket.
"Ya, tolong dong," jawab Harry terengah.
"Oi, Fred! Sini, bantu!"
Dengan bantuan si kembar, koper Harry akhirnya berhasil ditempatkan di
sudut gerbong. "Terima kasih," kata Harry seraya menyeka rambutnya yang
berkeringat dari matanya.
"Apa itu?" kata salah satu dari si kembar tiba-tiba sambil menunjuk ke bekas
luka Harry yang berbentuk kilat menyambar.
"Astaga," kata kembar satunya. "Apakah kau...?"
"Betul dia," kata kembar yang pertama. "Iya, kan?" tanyanya pada Harry.
"Apa?" tanya Harry.
"Harry Potter," si kembar menjawab bersamaan.
"Oh, dia," kata Harry. "Maksudku, ya, aku Harry Potter."
Kedua anak itu melongo memandangnya dan muka Harry menjadi merah.
Kemudian, betapa leganya dia, terdengar suara dari pintu kereta.
"Fred? George? Kalian di dalam?"
"Ya, Mum." Sambil melempar pandang ke arah Harry, si kembar melompat
turun dari kereta.
Harry duduk di dekat jendela. Dari situ, setengah tersembunyi, dia bisa
memandang keluarga berambut merah di peron dan mendengar apa yang
mereka ucapkan. Ibu mereka baru saja mengeluarkan saputangan.
"Ron, hidungmu ada kotorannya."
Anak laki-laki termuda mencoba menghindar, tetapi si ibu menjambretnya
dan mulai menggosok ujung hidungnya.
"Mum ta' usah." Dia menggeliat membebaskan diri.
"Ah, ada apa di ujung hidung si Ronnie?" kata salah satu dari si kembar.
"Diam kau," kata Ron.
"Di mana Percy?" tanya ibu mereka.
"Itu dia."
Anak laki-laki tertua muncul. Dia sudah berganti pakaian dengan jubah
hitam Hogwarts-nya yang melambai dan Harry melihat lencana perak berkilat
dengan huruf P tersemat di dadanya.
"Tidak bisa lama-lama, Mum," katanya. "Aku di depan, untuk para Prefek
disediakan dua gerbong khusus..." Prefek adalah beberapa murid senior yang
diberi tanggung jawab untuk mengatur ketertiban.
"Oh, jadi kau Prefek, Percy?" kata salah satu dari si kembar, seolah kaget
sekali. "Mestinya bilang-bilang dong. Kami tidak tahu sama sekali."
"Tunggu, kurasa aku ingat dia pernah bilang kok," kata kembar satunya.
"Sekali..."
"Atau dua kali..."
"Setiap menit..."
"Sepanjang musim panas..."
--------------------------------------- 57
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Oh, tutup mulut," kata Percy si Prefek.
"Bagaimana Percy bisa mendapat jubah baru sih?" tanya salah seorang dari si
kembar.
"Karena dia Prefek," jawab ibu mereka penuh kasih sayang.
"Baiklah, Sayang, semoga senang di sekolah kirim burung hantu kalau kau
sudah tiba, ya." Diciumnya pipi Percy dan Percy pergi lagi. Kemudian si ibu
menoleh kepada si kembar.
"Nah, kalian berdua tahun ini kalian jangan nakal. Kalau sekali lagi aku
menerima burung hantu yang memberitahu kalian telah telah meledakkan
toilet atau..."
"Meledakkan toilet? Kami belum pernah meledakkan toilet."
"Tapi ide bagus itu. Trims, Mum."
"Tidak lucu. Dan jaga Ron."
"Jangan khawatir, Ronnie kecil akan aman bersama kami."
"Diam," kata Ron lagi. Tingginya sudah hampir sama dengan si kembar dan
hidungnya masih merah di tempat yang tadi digosok ibunya.
"Hei, Mum, tahu tidak? Coba tebak siapa yang baru saja kami temui di
kereta?"
Harry cepat-cepat bersandar ke belakang agar mereka tidak bisa melihatnya
sedang mengawasi mereka.
"Mum tahu siapa anak laki-laki berambut hitam yang tadi ada di dekat kita
di stasiun? Tahu tidak siapa dia?"
"Siapa?"
"Harry Potter!"
Harry mendengar suara si anak perempuan kecil.
"Oh, Mum, bolehkah aku naik ke kereta dan melihatnya, Mum, oh, boleh,
ya...."
"Kau sudah melihatnya, Ginny dan anak malang itu bukan untuk dilihat-lihat
seperti penghuni kebun binatang. Benarkah dia Harry Potter, Fred? Bagaimana
kau bisa tahu?"
"Aku tanya dia. Melihat bekas lukanya. Benarbenar ada
seperti sambaran kilat."
"Kasihan pantas saja dia sendirian. Aku tadi bertanya-tanya dalam hati. Dia
sopan sekali ketika bertanya bagaimana bisa sampai ke peron."
"Itu sih tidak penting. Apakah menurut Mum dia masih ingat seperti apa
Kau-Tahu-Siapa?"
Ibu mereka mendadak menjadi sangat tegas.
"Kularang kau menanyainya, Fred. Jangan berani-berani bertanya padanya.
Kaupikir dia perlu diingatkan tentang musibah itu pada hari pertamanya
bersekolah?"
"Baiklah, tenang saja."
Terdengar bunyi peluit.
"Cepatlah!" kata ibu mereka, dan ketiga anak lakilaki itu naik ke kereta.
Mereka menjulurkan badan ke luar jendela agar bisa mendapat ciuman selamat
tinggal, dan adik perempuan mereka mulai menangis.
"Jangan nangis, Ginny, kami akan kirim banyak burung hantu."
--------------------------------------- 58
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kami akan mengirimimu seperangkat toilet Hogwarts."
"George!"
"Cuma bergurau, Mum."
Kereta mulai bergerak. Harry melihat ibu anakanak itu melambaikan tangan
dan adik mereka, setengah tertawa, setengah menangis, berlari mengejar
kereta sampai keretanya bergerak semakin cepat. Setelah itu barulah dia
berhenti dan melambai.
Harry melihat anak perempuan itu dan ibunya menghilang ketika kereta
berbelok. Rumah-rumah seperti berlari melintasi jendela. Harry merasa
bergairah sekali. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi pastilah lebih
baik daripada yang sedang ditinggalkannya.
Pintu kompartemennya bergeser membuka dan anak laki-laki berambut
merah yang termuda masuk.
"Ada yang duduk di sini?" tanyanya sambil menunjuk tempat duduk di depan
Harry.
"Tempat lain sudah penuh semua."
Harry menggeleng dan anak itu duduk. Dia melirik Harry, lalu cepat-cepat
memandang ke luar jendela, pura-pura tidak melihat Harry. Harry melihat di
ujung hidungnya masih ada noda hitam.
"Hei, Ron."
Si kembar sudah kembali.
"Dengar, kami akan ke tengah kereta Lee Jordan punya tarantula raksasa."
"Baiklah," gumam Ron. "Harry," kata kembar satunya, "kami belum
memperkenalkan diri, kan? Fred dan George Weasley.
Dan ini Ron, adik kami. Sampai nanti, ya."
"Daaah," kata Harry dan Ron.
Si kembar menutup kembali pintu di belakang mereka.
"Apakah kau benar-benar Harry Potter?" Ron menyeletuk.
Harry mengangguk.
"Oh yah, kukira tadi Fred dan George cuma bergurau," kata Ron. "Dan
apakah benar-benar ada kau tahu, kan..."
Dia menunjuk ke dahi Harry.
Harry menyibakkan poninya ke belakang untuk menunjukkan bekas luka
sambaran-kilatnya. Ron terbelalak.
"Jadi di situlah Kau-Tahu-Siapa...?"
"Ya," kata Harry "tapi aku sudah tak ingat lagi."
"Sama sekali tidak?" tanya Ron ingin tahu.
"Yah aku ingat banyak sinar hijau, tapi hanya itu saja."
"Wow," kata Ron. Selama beberapa waktu dia terbelalak memandang Harry
kemudian, seakan baru sadar apa yang dilakukannya, cepat-cepat dia
memandang ke luar jendela lagi.
"Apakah semua keluargamu penyihir?" tanya Harry yang menganggap Ron
sama menariknya, seperti Ron menganggap dirinya menarik.
"Er ya, kurasa begitu," kata Ron. "Kalau tak salah ada sepupu jauh Mum
yang akuntan, tapi kami tak pernah membicarakannya."
"Kalau begitu pastilah kau sudah banyak tahu tentang sihir."
--------------------------------------- 59
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Keluarga Weasley pastilah salah satu keluarga tua penyihir yang disebut-
sebut si anak laki-laki pucat di Diagon Alley.
"Kudengar kau tinggal dengan Muggle," kata Ron. "Seperti apa mereka?"
"Mengerikan yah, tidak semuanya sih. Tapi paman, bibi, dan sepupuku
mengerikan. Coba kalau aku punya tiga kakak laki-laki penyihir."
"Lima," kata Ron. Entah kenapa dia kelihatan mu-ram. "Aku anak keenam
dalam keluarga kami yang masuk Hogwarts. Bisa dikatakan banyak yang
diharapkan dariku. Bill dan Charlie sudah lulus dan meninggalkan Hogwarts Bill
dulu Ketua Murid dan Charlie kapten Quidditch. Sekarang Percy terpilih
menjadi Prefek. Fred dan George banyak main-main, tetapi nilai mereka bagus-
bagus dan semua orang menganggap mereka kocak. Semua orang
mengharapkan aku akan berprestasi sebaik mereka, tetapi kalaupun aku
berhasil, ini bukan hal istimewa, karena mereka sudah melakukannya lebih
dulu. Kau juga tak akan punya barang baru, kalau punya lima kakak. Jubah dan
pakaianku bekas Bill, tongkatku bekas Charlie, dan tikusku tikus tua yang dulu
milik Percy."
Ron merogoh ke dalam jaketnya dan mengeluarkan seekor tikus gemuk abu-
abu yang sedang tidur.
"Namanya Scabbers dan dia tidak berguna sama sekali.
Kerjanya tidur melulu. Percy mendapat burung hantu dari ayahku karena
terpilih sebagai Prefek, tetapi mereka tidak mam maksudku, aku jadi dapat
Scabbers."
Telinga Ron menjadi merah. Rupanya dia berpendapat dia telah bicara
terlalu banyak, karena dia kembali memandang ke luar jendela.
Bagi Harry tidak ada yang salah kalau tidak mampu membeli burung hantu.
Lagi pula dia sendiri tak pernah punya uang sepeser pun sampai sebulan yang
lalu. Maka dia menceritakan semuanya kepada Ron, tentang bagaimana dia
harus memakai pakaian bekas Dudley dan tak pernah mendapat hadiah ulang
tahun yang pantas. Ini kelihatannya membuat Ron senang.
"... dan sampai Hagrid memberitahuku, aku tak tahu apa-apa tentang diriku
yang penyihir ataupun tentang orangtuaku atau Voldemort..."
Ron terpekik kaget.
"Ada apa?" tanya Harry.
"Kau menyebutkan nama Kau-Tahu-Siapa!" kata Ron, kedengarannya shock
sekaligus kagum. "Kukira kau, lebih-lebih..."
"Aku tidak mencoba berani atau apa, dengan menyebut nama itu," kata
Harry. "Aku hanya tak pernah tahu nama itu pantang disebut. Tahu, kan,
maksudku? Masih banyak sekali yang harus kupelajari... pasti," dia
menambahkan, mengutarakan untuk pertama kalinya sesuatu yang belakangan
ini banyak membuatnya cemas. "Pasti aku paling bego di kelas."
"Tidak. Banyak orang yang berasal dari keluarga Muggle dan mereka belajar
dengan cukup cepat."
Sementara mereka mengobrol, kereta api telah membawa mereka
meninggalkan London. Sekarang mereka melewati sawah-sawah penuh sapi dan
biri-biri. Selama beberapa waktu mereka diam, memandang sawah-sawah dan
jalanan berkelebat cepat.
--------------------------------------- 60
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Sekitar pukul setengah satu siang, terdengar bunyi berkelontangan di
lorong, lalu seorang wanita berlesung pipi tersenyum membuka pintu mereka
dan berkata, "Mau beli sesuatu dari troli, anak-anak?"
Harry, yang belum sarapan, langsung melompat berdiri, tetapi telinga Ron
jadi merah lagi dan dia bergumam bahwa dia sudah membawa bekal sandwich.
Harry keluar ke lorong.
Harry tak pernah punya uang untuk membeli permen selama tinggal dengan
keluarga Dursley, dan sekarang ketika kantongnya penuh uang emas dan perak
dia siap membeli cokelat Mars Bars sebanyak yang kuat dibawanya tetapi
wanita itu tidak punya Mars Bars. Yang dijualnya adalah Kacang Segala-Rasa
Bertie Bott, Permen Karet Tiup Paling Hebat Drooble, Cokelat Kodok, Pastel
Labu, Bolu Kuali, Tongkat Likor, dan beberapa makanan aneh lagi yang belum
pernah dilihat Harry seumur hidupnya. Karena tak ingin ada yang ketinggalan,
Harry membeli semuanya dan membayar perempuan itu sebelas Sickle perak
dan tujuh Knut perunggu.
Ron terbelalak melihat Harry membawa semua belanjaannya ke dalam
kompartemen mereka dan menuangnya di atas tempat duduk kosong.
"Lapar rupanya?"
"Lapar berat," sahut Harry sambil menggigit sepotong besar pastel labu.
Ron sudah mengeluarkan bungkusan besar dan membukanya. Ada empat
sandwich di dalamnya. Ron membuka satu di antaranya dan berkata, "Mum
selalu lupa aku tidak suka kornet."
"Tukar saja dengan ini," kata Harry seraya mengulurkan pastel. "Ayo,
tukar..."
"Kau tak akan mau roti ini, sudah kering," kata Ron. "Mum tak punya banyak
waktu," dia menambahkan cepat-cepat,
"maklumlah, anaknya banyak."
"Ayo, pastel ini untukmu," kata Harry, yang belum pernah memiliki sesuatu
untuk dibagikan atau, malahan, orang lain yang bisa diajak berbagi. Senang
rasanya, duduk bersama Ron, makan pastel dan bolu sepanjang jalan
(sandwich-nya tergeletak terlupakan).
"Apa ini?" Harry bertanya kepada Ron sambil mengangkat satu pak Cokelat
Kodok. "Bukan kodok betulan, kan?" Dia mulai merasa tak ada lagi yang bisa
membuatnya terkejut.
"Bukan," kata Ron. "Tapi lihat apa kartunya. Aku kurang Agrippa ."
"Apa?"
"Oh, tentu saja, kau tidak tahu Cokelat Kodok ada kartunya di dalamnya,
untuk dikoleksi Para Penyihir Terkenal. Aku sudah punya kira-kira lima ratus,
dan aku belum punya Agrippa atau Ptolemy."
Harry membuka bungkus Cokelat Kodok-nya dan mengambil kartunya. Ada
foto wajah laki-laki. Dia memakai kacamata bulan-separo, hidungnya bengkok,
dan rambut, jenggot, serta kumisnya putih panjang keperakan. Di bawah foto
itu ada nama Albus Dumbledore.
"Jadi ini Dumbledore!" kata Harry.
"Jangan bilang kau belum pernah dengar tentang Dumbledore!" kata Ron.
"Boleh aku minta Kodok? Siapa tahu aku dapat Agrippa trims..."
--------------------------------------- 61
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry membalik kartunya dan membaca:
Albus Dumbledore saat ini menjabat Kepala Sekolah Hogwarts.
Banyak yang menganggapnya sebagai penyihir terbesar di zaman modern ini.
Profesor Dumbledore khususnya terkenal karena berhasil mengalahkan penyihir
aliran hitam Grindelwald pada tahun 1945, penemuannya untuk dua belas
kegunaan darah naga, dan karyanya di bidang alkimia yang dikerjakannya
bersama mitranya, Nicolas Flamel. Profesor Dumbledore menyukai musik kamar
dan boling.
Harry membalik kembali kartunya dan kaget sekali melihat wajah
Dumbledore sudah lenyap.
"Dia pergi!"
"Ya, kan dia tak bisa di sini seharian," kata Ron. "Dia akan muncul lagi.
Aduh, aku dapat Morgana lagi. Padahal aku sudah punya enam... kau mau? Kau
bisa mulai mengoleksi."
Mata Ron tertuju pada tumpukan Cokelat Kodok yang menunggu dibuka
bungkusnya.
"Ambil saja," kata Harry.
"Tapi di dunia Muggle, wajah orang tidak pergi dari foto."
"Begitu? Apa? Mereka tidak bergerak sama sekali?" Ron kedengarannya
heran. "Aneh!"
Harry terbelalak ketika Dumbledore muncul lagi di kartu yang dipegangnya
dan tersenyum kecil kepadanya. Ron lebih tertarik memakan cokelatnya
daripada melihat-lihat Para Penyihir Terkenal, tetapi Harry tak bisa
mengalihkan pandangannya dari kartu-kartu itu. Segera saja dia tak hanya
punya Dumbledore dan Morgana, tetapi juga Hengist of Woodcroft, Alberic
Grunnion, Circe, Paracelsus, dan Merlin.
Dia akhirnya mengalihkan pandang dari pendeta perempuan Cliodna,
yang sedang menggaruk-garuk hidung, untuk membuka kantong Kacang
Segala-Rasa Bertie Bott.
"Hati-hati lho," Ron memperingatkan Harry. "Segala-Rasa di situ benar-benar
segala rasa tahu kan, kau mendapat rasa-rasa biasa seperti cokelat, mint
segar, selai, tapi kau juga bisa mendapat rasa bayam, hati, dan babat. George
bahkan menduga dia pernah mendapat kacang rasa-setan." Ron mengambil
sebutir kacang hijau, mengamatinya dengan teliti, dan menggigit sedikit
ujungnya.
"Bleaaargh benar, kan? Taoge."
Mereka asyik sekali makan Kacang Segala-Rasa. Harry mendapat roti bakar,
kelapa, kacang panggang, stroberi, kari, rumput, kopi, sarden, dan bahkan
cukup berani menggerigiti ujung kacang abu-abu yang Ron bahkan tak berani
menyentuhnya, dan ternyata itu rasa merica.
Daerah pedesaan yang melayang melewati mereka semakin liar. Sawah-
sawah yang rapi sekarang sudah lenyap. Yang ada hutan, sungai berkelok-kelok,
dan bukit-bukit hijau gelap.
Terdengar ketukan di pintu kompartemen mereka dan anak laki-laki
berwajah bundar, yang tadi dilewati Harry di peron sembilan, tiga perempat,
masuk. Dia kelihatannya habis menangis.
--------------------------------------- 62
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Maaf," katanya, "tapi apakah kalian melihat katak?" Ketika mereka
menggelengkan kepala, anak itu meratap. "Hilang deh!
Dia kabur terus dariku!"
"Dia akan muncul," kata Harry.
"Ya," kata si anak sedih. "Yah, kalau kau melihatnya..."
Dia pergi.
"Aku tak tahu kenapa dia sesedih itu," kata Ron. "Kalau aku membawa
katak, aku akan kehilangan dia secepat mungkin.
Tahu tidak, aku membawa Scabbers, supaya aku tak bisa bicara."
Tikus itu masih tidur di pangkuan Ron.
"Dia bisa saja mati dan kau tak akan tahu perbedaannya,"
kata Ron sebal. "Aku mencoba mengubahnya jadi kuning kemarin, tapi
mantranya tidak manjur. Akan kutunjukkan padamu, lihat..."
Dia mengaduk-aduk kopernya dan menarik keluar tongkat yang sudah sangat
butut. Tongkat itu sudah tergores dan bocel di mana-mana dan ada benda putih
berkilau di ujungnya.
"Rambut unicorn-nya sudah hampir lepas. Yang jelas..."
Ron baru mengangkat tongkatnya ketika pintu kompartemen mereka
menggeser terbuka lagi. Anak yang kehilangan katak muncul lagi, tetapi kali ini
ditemani anak perempuan. Anak perempuan itu sudah memakai jubah
Hogwarts-nya.
"Ada yang lihat katak? Katak Neville hilang," katanya.
Suaranya berwibawa, rambutnya cokelat lebat dan gigi depannya agak
besar-besar.
"Kami sudah bilang padanya, tidak lihat," kata Ron, tetapi anak perempuan
itu tidak mendengarkan. Dia malah memandang tongkat di tangan Ron.
"Oh, kau sedang menyihir, ya? Coba lihat."
Anak perempuan itu duduk. Ron kelihatannya kaget.
"Er baiklah."
Ron berdeham.
"Cahaya mentari, mentega, kemuning, Ubahlah tikus gemuk bodoh ini jadi
kuning."
Ron mengayunkan tongkatnya, tetapi tak terjadi apa-apa.
Scabbers tetap abu-abu dan tetap tidur nyenyak.
"Kau yakin yang kauucapkan tadi mantra?" tanya si anak perempuan. "Tidak
begitu manjur, ya. Aku sendiri sudah mencoba beberapa mantra sederhana
untuk latihan dan semuanya manjur. Tak seorang pun dalam keluargaku
penyihir.
Sungguh kejutan besar waktu aku menerima suratku, tetapi aku senang
sekali, tentu saja, maksudku, ini kan sekolah sihir paling bagus, begitu yang
kudengar aku sudah hafal isi semua buku kita, tentu saja, aku cuma berharap
itu cukup oh ya, aku Hermione Granger, kalian siapa?"
Semua itu dikatakannya dengan sangat cepat.
Harry memandang Ron dan langsung lega. Melihat wajahnya yang
tercengang, berarti Ron juga belum menghafal semua isi buku-bukunya.
"Aku Ron Weasley," gumam Ron.
--------------------------------------- 63
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Harry Potter," kata Harry.
"Kau Harry Potter?" kata Hermione. "Aku tahu segalanya tentang kau, tentu
saja aku membeli beberapa buku lain untuk bacaan tambahan, dan kau ada di
buku Sejarah Sihir Modern dan Kejayaan dan Keruntuhan Sihir Hitam dan
Peristiwa-peristiwa Hebat di Dunia Sihir Abad Dua Puluh."
"Betulkah?" kata Harry, takjub.
"Astaga, tak tahukah kau? Seandainya jadi kau, aku pasti sudah menyelidiki
apa saja tentang diriku," kata Hermione.
"Apakah kalian tahu kalian akan masuk asrama mana? Aku sudah mencari
informasi dan aku berharap aku masuk Gryffindor. Kedengarannya itu yang
paling baik. Kudengar Dumbledore sendiri juga dulu di sana. Tetapi kurasa
Ravenclaw juga tidak terlalu buruk.... Tapi sebaiknya kami mencari katak
Neville lagi. Kalian berdua sebaiknya ganti pakaian, kurasa tak lama lagi kita
sampai."
Dan dia pergi, mengajak si anak yang kehilangan katak.
"Di rumah asrama mana pun aku nanti, kuharap tidak serumah dengan dia,"
kata Ron. Dilemparkannya kembali tongkatnya ke dalam kopernya. "Tongkat
bego dikasih George, pasti deh dia tahu tidak manjur."
"Di asrama mana kakak-kakakmu?" tanya Harry.
"Gryffindor," kata Ron. Kemuraman menyelimuti wajahnya lagi. "Mum dan
Dad juga di situ. Aku tak tahu apa yang akan dikatakan mereka kalau aku tidak
bisa masuk situ. Kurasa Ravenclaw tidak terlalu buruk, tetapi bayangkan kalau
mereka menempatkan aku di Slytherin."
"Vol-maksudku, Kau-Tahu-Siapa dulu di asrama itu?"
"Yeah," kata Ron. Dia terenyak kembali di tempat duduknya, kelihatan
tertekan.
"Eh, Ron, ujung kumis Scabbers warnanya lebih muda, ya,"
kata Harry berusaha mengalihkan pikiran Ron dari asrama-asrama. "Apa
yang dilakukan kedua kakakmu yang sudah meninggalkan Hogwarts?"
Harry bertanya-tanya dalam hati, apa yang dilakukan penyihir setelah
sekolahnya selesai.
"Charlie di Rumania mempelajari tentang naga dan Bill di Afrika melakukan
sesuatu untuk Gringotts," kata Ron. "Kau sudah dengar tentang Gringotts?
Beritanya ramai di Daily Prophet, tetapi kurasa Muggle tidak membaca koran
itu. Ada yang mencoba merampok ruangan besi yang pengamanannya sangat
ketat."
Harry terbelalak.
"Betul? Apa yang terjadi pada mereka?"
"Tidak ada, itulah sebabnya ini jadi berita besar. Mereka tidak tertangkap.
Ayahku bilang pastilah penyihir hitam yang hebat kalau bisa lolos dari
Gringotts, tetapi katanya mereka tidak mengambil apa-apa. Itu yang aneh.
Tentu saja semua orang jadi takut kalau hal semacam ini terjadi, siapa tahu
KauTahu-Siapa berada di belakangnya."
Harry mencerna berita ini dalam benaknya. Dia mulai dirasuki rasa takut
setiap kali Kau-Tahu-Siapa disebut-sebut.
--------------------------------------- 64
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dia menduga ini bagian dari memasuki dunia sihir, tetapi lebih nyaman bisa
mengucapkan "Voldemort" tanpa perlu cemas.
"Apa tim Quidditch favoritmu?" tanya Ron. "Er aku tak kenal tim Quidditch
mana pun," Harry mengaku.
"Apa!" Ron tercengang. "Oh, tunggu saja, ini permainan paling hebat
sedunia...." Langsung saja Ron nyerocos menjelaskan tentang empat bola dan
posisi tujuh pemainnya, menceritakan pertandinganpertandingan besar yang
pernah ditontonnya bersama kakak-kakaknya dan sapu terbang yang ingin
dibelinya jika dia punya cukup uang. Dia sedang menerangkan aturan-aturan
mainnya ketika pintu kompartemen mereka tergeser terbuka lagi. Tetapi kali
ini yang datang bukan Neville yang kehilangan katak ataupun Hermione
Granger.
Tiga anak laki-laki masuk dan Harry langsung mengenali yang di tengah. Si
anak laki-laki pucat yang ada di toko jubah Madam Malkin. Dia memandang
Harry dengan lebih berminat daripada waktu di Diagon Alley.
"Betulkah?" katanya. "Di seluruh gerbong anakanak mengatakan Harry Potter
ada di kompartemen ini. Jadi, rupanya kau, ya?"
"Ya," kata Harry. Dia memandang dua anak lainnya. Mereka besar dan
kelihatannya sadis sekali. Berdiri di kanan-kiri anak pucat itu, mereka kelihatan
seperti pengawal.
"Oh, ini Crabbe dan ini Goyle," kata si pucat sambil lalu, ketika melihat
siapa yang dipandang Harry. "Dan namaku Malfoy, Draco Malfoy."
Ron terbatuk, yang mungkin dilakukannya untuk menyamarkan kikikan.
Draco Malfoy memandangnya.
"Kaupikir namaku lucu, ya? Aku tak perlu tanya siapa kau.
Ayahku bilang semua Weasley berambut merah, punya bintikbintik di pipi,
dan punya lebih banyak anak daripada yang sanggup mereka tang-gung."
Dia kembali memandang Harry.
"Kau akan segera tahu beberapa keluarga penyihir jauh lebih baik daripada
yang lain, Potter. Jangan sampai berteman dengan orang yang salah. Aku bisa
membantumu dalam hal ini."
Dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Harry, tetapi Harry tidak
menyambutnya. "Kurasa aku bisa menentukan sendiri mana orang yang salah,
terima kasih," katanya dingin.
Wajah Draco Malfoy tidak berubah merah, tetapi rona merah jambu muncul
di pipinya yang pucat.
"Aku akan hati-hati kalau jadi kau, Potter," katanya perlahan.
"Kalau kau tidak lebih sopan sedikit, nasibmu akan sama dengan
orangtuamu. Mereka juga tak tahu apa yang baik untuk mereka. Kalau kau ke
sana kemari dengan orang-orang urakan seperti keluarga Weasley dan Hagrid,
kau pasti ketularan."
Baik Harry maupun Ron bangkit. Wajah Ron sudah semerah rambutnya.
"Coba bilang lagi," katanya.
"Oh, kalian mau berkelahi dengan kami, ya?" Malfoy menyeringai.
--------------------------------------- 65
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kalau kalian tidak keluar sekarang juga," kata Harry, lebih berani daripada
yang dirasakannya, karena Crabbe dan Goyle jauh lebih besar daripada dia
maupun Ron.
"Tapi kita tak mau pergi kan, teman-teman? Kami sudah menghabiskan
makanan kami, sedangkan kalian masih punya sisa."
Goyle mengulurkan tangan ke Cokelat Kodok di sebelah Ron. Ron melompat
ke depan, tetapi sebelum dia sempat menyentuh Goyle, Goyle sudah menjerit
menyeramkan.
Scabbers si tikus bergantung pada jarinya, gigi-gigi kecilnya yang tajam
terbenam dalam buku jari Goyle. Crabbe dan Malfoy mundur sementara Goyle
mengibas-ngibaskan Scabbers, seraya melolong-lolong. Dan ketika akhirnya
Scabbers terlepas dan menghantam jendela, mereka bertiga langsung kabur.
Mungkin mereka mengira masih banyak lagi tikus bersembunyi di antara
cokelat-cokelat, atau mungkin mereka mendengar langkah-langkah kaki,
karena sedetik kemudian, Hermione Granger masuk.
"Apa yang terjadi?" tanyanya, seraya memandang permen yang berserakan
di lantai dan Ron yang memungut Scabbers pada ekornya.
"Kurasa dia pingsan," kata Ron kepada Harry. Dia memeriksa Scabbers
dengan teliti. "Astaga aku tak percaya dia sudah tidur lagi."
Scabbers memang tidur.
"Kau sudah pernah ketemu Malfoy sebelumnya?"
Harry menjelaskan tentang pertemuan mereka di Diagon Alley.
"Aku sudah dengar tentang keluarganya," kata Ron muram.
"Mereka termasuk di antara rombongan pertama yang kembali memihak kita
setelah Kau-Tahu-Siapa menghilang. Katanya mereka disihir. Ayahku tidak
percaya. Dia bilang ayah Malfoy tidak perlu alasan untuk memihak Sihir Hitam."
Ron menoleh kepada Hermione. Ada yang bisa kami bantu?"
"Kalian sebaiknya bergegas dan memakai jubah kalian. Aku baru dari depan
untuk menanyai masinis dan dia bilang sebentar lagi kita sampai. Kalian tidak
habis berkelahi, kan? Kalian akan dapat kesulitan bahkan sebelum kita sampai!"
"Scabbers yang berkelahi, bukan kami," kata Ron sebal.
"Silakan menyingkir selama kami berganti pakaian."
"Baiklah aku datang ke sini cuma karena orang-orang di luar bertingkah
sangat kekanakan, berlarian sepanjang lorong,"
kata Hermione bernada merendahkan. "Dan hidungmu ada kotorannya,
tahukah kau?"
Ron mendelik ke punggung Hermione. Harry melihat ke luar jendela. Sudah
mulai gelap. Dia bisa melihat pegunungan dan hutan di bawah langit ungu tua.
Kereta api kelihatannya memang melambat.
Harry dan Ron melepas jaket dan memakai jubah panjang hitam mereka.
Jubah Ron agak kependekan. Celana training-nya kelihatan di bawah jubah itu.
Terdengar pengumuman yang dikumandangkan ke seluruh kereta. "Kita akan
tiba di Hogwarts lima menit lagi. Silakan meninggalkan barang-barang Anda di
kereta. Barang-barang tersebut akan dibawa ke sekolah secara terpisah."
--------------------------------------- 66
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Perut Harry terasa tegang dan dilihatnya wajah Ron pucat di bawah bintik-
bintiknya. Mereka menjejalkan sisa permen ke dalam kantong dan bergabung
dengan anak-anak yang sudah memenuhi lorong.
Kereta semakin melambat dan akhirnya berhenti. Anak-anak berdesakan ke
pintu dan keluaf ke peron kecil gelap. Harry bergidik dalam udara malam yang
dingin. Kemudian muncul lampu yang bergoyanggoyang di atas kepala anak-
anak dan Harry mendengar suara yang sudah dikenalnya, "Kelas satu!
Kelas satu di sini! Semua oke, Harry?"
Wajah Hagrid yang besar berewokan tersenyum di atas lautan kepala anak-
anak. "Ayo, ikuti aku masih ada lagi kelas satu? Hatihati melangkah. Kelas satu
ikut aku!" Terpeleset dan terhuyung, mereka mengikuti Hagrid menyusuri jalan
sempit curam. Di kanan-kiri mereka gelap sekali, sehingga Harry menduga
pepohonan di situ pastilah lebat. Tak ada yang banyak bicara. Neville, si anak
yang kehilangan katak, terisak satudua kali.
"Sedetik lagi kalian akan melihat Hogwarts untuk pertama kali," Hagrid
berseru seraya menoleh, "sesudah belokan ini."
Terdengar seruan "Oooooh!" keras.
Jalan sempit itu mendadak membuka ke tepi danau besar gelap. Di atas
gunung tinggi di seberang danau, jendela-jendelanya berkilau terang di bawah
langit penuh bintang, bertengger kastil besar dengan banyak menara besar dan
kecil.
"Satu perahu tak boleh lebih dari empat anak!" seru Hagrid, seraya
menunjuk armada perahu kecilkecil yang siap menunggu di dekat tepi danau.
Harry dan Ron menuju ke perahu mereka, diikuti oleh Neville dan Hermione.
"Semua sudah naik perahu?" teriak Hagrid, yang sendirian di atas satu
perahu. "Baik kalau begitu BERANGKAT!"
Dan armada perahu kecil-kecil serentak meluncur di atas permukaan danau,
yang selicin kaca. Semua diam, memandang kastil besar di atas. Kastil itu
menjulang tinggi di atas mereka sementara mereka semakin dekat ke bukit
karang tempatnya berdiri.
"Tundukkan kepala!" teriak Hagrid ketika deretan pertama perahu tiba di
bukit karang. Mereka semua menundukkan kepala dan perahu-perahu kecil itu
membawa mereka melewati tirai sulur yang menyembunyikan lubang menganga
di dinding bukit. Mereka dibawa melewati lorong gelap, yang rupanya berada
persis di bawah kastil, sampai mereka tiba di semacam pelabuhan bawah
tanah. Mereka naik ke daratan berbatu karang dan kerikil.
"Oi, kau! Apa ini katakmu?" kata Hagrid, yang memeriksa perahu-perahu
setelah anak-anak turun.
"Trevor!" pekik Neville gembira, seraya mengulurkan tangan.
Kemudian mereka mendaki jalanan di bukit karang, mengikuti cahaya lampu
Hagrid, sampai akhirnya tiba di hamparan rumput halus berembun tepat di
depan bayangan kastil.
Mereka mendaki undakan batu dan berkerumun di depan pintu depan besar
dari kayu ek.
"Semua sudah di sini? Kau, katakmu masih ada?"
Hagrid mengangkat kepalan raksasanya dan mengetuk pintu kastil tiga kali.
--------------------------------------- 67
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
***
7. Topi Seleksi
PINTU langsung membuka. Seorang penyihir wanita jangkung memakai
jubah hijau zamrud berdiri disana. Wajahnya sangat galak dan pikiran Harry
pertama adalah, jangan sampai membuat penyihir ini marah.
"Kelas satu, Profesor McGonagall," kata Hagrid.
"Terima Kasih, Hagrid. Biar aku ambil alih sekarang."
Dibukanya pintu lebar-lebar. Aula di belakang pintu luas sekali, seluruh
rumah keluarga Dursley bisa dipindahkan ke situ.
Dinding batunya diterangi oborobor menyala seperti di Gringotts. Langit-
langitnya tinggi sekali sehingga tak bisa dilihat, dan ada tangga pualam megah
di depan mereka, menuju ke lantai atas.
Anak-anak mengikuti Profesor McGonagall melintasi lantai batu kotak-kotak.
Harry bisa mendengar dengung ratusan suara dari pintu di sebelah kanan
murid-murid lainnya pastilah sudah di sana tetapi Profesor McGonagall
membawa muridmurid kelas satu ke kamar kecil kosong di luar aula. Mereka
bergerombol, berdiri lebih berdekatan daripada biasanya, memandang
berkeliling dengan cemas.
"Selamat datang di Hogwarts," kata Profesor McGonagall.
"Pesta awal tahun ajaran baru akan segera dimulai, tetapi sebelum kalian
mengambil tempat duduk di Aula Besar, kalian akan diseleksi masuk rumah
asrama mana. Seleksi ini upacara yang sangat penting karena, selama kalian
berada di sini, asrama kalian akan menjadi semacam keluarga bagi kalian di
Hogwarts.
Kalian akan belajar dalam satu kelas dengan teman-teman seasrama kalian,
tidur di asrama kalian, dan melewatkan waktu luang di ruang rekreasi asrama
kalian.
"Ada empat asrama di sini, Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan,
Slytherin. Masing-masing asrama punya sejarah luhur dan masing-masing telah
menghasilkan penyihir hebat. Selama kalian di Hogwarts, prestasi dan
kemenangan kalian akan menambah angka bagi asrama kalian, sementara
pelanggaran peraturan akan membuat angka asrama kalian dikurangi.
Pada akhir tahun, asrama yang berhasil mengumpulkan angka paling banyak
akan dianugerahi Piala Asrama, suatu kehormatan besar. Kuharap kalian semua
akan membawa kebanggaan bagi asrama mana pun yang akan kalian tempati.
"Upacara seleksi akan berlangsung beberapa menit lagi di hadapan seluruh
penghuni sekolah. Kusarankan kalian merapikan diri sebisa mungkin selama
menunggu."
Matanya sejenak menatap jubah Neville, yang dikancingkan di bawah
telinga kirinya, dan hidung Ron yang ada kotoran hitamnya.
Harry dengan gelisah mencoba meratakan rambutnya.
--------------------------------------- 68
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Aku akan kembali kalau kami sudah siap menerima kalian,"
kata Profesor McGonagall. "Tunggu di sini dan jangan ribut."
Dia meninggalkan ruangan. Harry menelan ludah.
"Bagaimana cara mereka menyeleksi kita masuk asrama?" tanyanya kepada
Ron.
"Dengan semacam tes, kurasa. Kata Fred prosesnya menyakitkan sekali,
tetapi kurasa dia cuma bergurau."
Hati Harry mencelos. Tes? Di depan seluruh sekolah? Tetapi dia sama sekali
tak tahu apa-apa tentang sihir apa yang harus dilakukannya? Dia tidak
menyangka akan ada tes begitu mereka sampai. Dia memandang berkeliling
dengan cemas dan melihat bahwa anak-anak lain juga sama takutnya. Tak ada
yang banyak bicara kecuali Hermione Granger, yang dalam bisikan
mengucapkan dengan cepat semua mantra yang telah dipelajarinya dan
bertanya-tanya sendiri mantra mana yang akan diperlukannya. Harry berusaha
keras untuk tidak mendengarkannya. Belum pernah dia secemas ini, belum
pernah. Bahkan ketika dia harus membawa laporan dari sekolah kepada
keluarga Dursley bahwa entah bagaimana dia telah mengubah wig gurunya
menjadi biru, dia tidak secemas ini.
Matanya diarahkannya ke pintu. Setiap saat Profesor McGonagall bisa
kembali dan membawanya menyongsong malapetaka.
Kemudian sesuatu terjadi yang membuatnya terlonjak sekitar tiga puluh
senti ke atas beberapa anak di belakangnya menjerit.
"Ada a...?"
Harry ternganga. Begitu juga anak-anak di sekitarnya. Kirakira dua puluh
hantu baru saja masuk menembus dinding belakang. Putih berkilau bagai
mutiara dan agak transparan, mereka melayang di ruangan, sibuk mengobrol
dan nyaris tidak memedulikan murid-murid kelas satu. Kelihatannya mereka
sedang bertengkar. Hantu yang kelihatan seperti rahib kecil-gemuk berkata,
"Maafkan dan lupakan. Menurutku kita harus memberinya kesempatan kedua..."
"Rahibku sayang, bukankah kita sudah memberi Peeves semua kesempatan
yang layak diterimanya? Dia membuat kita semua mendapat nama buruk dan
kau tahu, dia bahkan bukan hantu betulan eh, ngapain kalian semua di sini?"
Hantu yang memakai kerah rimpel dan celana ketat tiba-tiba menyadari ada
murid-murid kelas satu.
Tak ada yang menjawab.
"Murid-murid baru!" kata si rahib gemuk, memandang berkeliling sambil
tersenyum. "Akan segera diseleksi, kan?"
Beberapa anak mengangguk tanpa suara.
"Mudah-mudahan kita ketemu lagi di Hufflepuff!" kata si rahib.
"Asramaku dulu di situ."
"Minggir kalian," terdengar suara tegas. "Upacara seleksi akan segera
dimulai."
Profesor McGonagall telah kembali. Satu demi satu, hantu-hantu itu
melayang keluar menembus dinding yang berhadapan.
"Sekarang berbaris satu-satu," kata Profesor McGonagall kepada anak-anak
kelas satu, "dan ikuti aku."
--------------------------------------- 69
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Merasa berat seakan kakinya berubah jadi timah, Harry masuk barisan di
belakang anak berambut kecokelatan, dengan Ron di belakangnya. Mereka
berjalan meninggalkan ruangan itu, kembali ke aula depan dan masuk lewat
sepasang pintu ganda ke Aula Besar.
Harry tak pernah membayangkan ada tempat seaneh dan sehebat itu. Aula
ini diterangi ribuan lilin yang melayang-layang di udara di atas empat meja
panjang. Murid-murid kelas yang lebih tinggi duduk mengelilingi keempat meja
itu. Meja-meja ini dipenuhi piring dan piala keemasan berkilau. Di ujung Aula,
di tempat yang lebih tinggi, ada meja panjang lain, tempat para guru duduk.
Profesor McGonagall membawa murid-murid kelas satu ke sana, sehingga
mereka berhenti dalam satu barisan panjang, menghadap murid-murid yang
lain, dengan para guru di belakang mereka. Ratusan wajah yang memandang
mereka kelihatan seperti lentera pucat di bawah kelap-kelip cahaya lilin.
Bertebaran di sana-sini di antara para murid, hantu-hantu berkilau bagai
kabut keperakan. Untuk menghindari begitu banyak mata yang menatapnya,
Harry memandang ke atas dan melihat langit-langit hitam bagai beludru dengan
bintangbintang bertebaran. Didengarnya Hermione berbisik, "Disihir supaya
tampak seperti langit di luar. Aku baca dalam buku Sejarah Hogwarts."
Sulit membayangkan bahwa di atas situ ada langitlangit, dan bahwa Aula
Besar itu tidak langsung membuka ke langit.
Harry cepat-cepat memandang ke bawah lagi ketika Profesor McGonagall
meletakkan bangku berkaki empat di depan muridmurid kelas satu. Di atas
bangku itu diletakkannya topi sihir berujung runcing. Topi itu sudah bertambal,
berjumbai, dan kotor sekali. Bibi Petunia tak akan mengizinkan topi itu dibawa
masuk rumah.
Mungkin mereka harus mencoba menyihir dan mengeluarkan kelinci dari topi
itu, pikir Harry panik. Kelihatannya begitu, karena semua orang di Aula
sekarang mengarahkan pandangan ke topi itu. Harry juga memandangnya.
Selama beberapa detik, hanya ada kesunyian total. Kemudian topi itu meliuk.
Robekan di dekat tepinya membuka lebar seperti mulut dan topi itu mulai
menyanyi:
"Oh, mungkin menurutmu aku jelek, Tapi jangan menilaiku dari
penampilanku, Berani taruhan takkan bisa kautemukan Topi yang lebih pandai
dariku. Jubahmu boleh hitam kelam, Topimu licin dan tinggi, Aku mengungguli
semua itu Karena di Hogwarts ini aku Topi Seleksi. Tak ada apa pun dalam
pikiranmu Yang bisa kau sembunyikan dariku, Jadi pakailah aku dan kau akan
kuberitahu Asrama mana yang cocok untukmu.
Mungkin kau sesuai untuk Gryffindor, Tempat berkumpul mereka yang
berhati berani dan jujur, Keberanian, keuletan, dan kepahlawanan mereka
Membuat nama Gryffindor masyhur;
Mungkin juga Hufflepuff-lah tempatmu, Bersama mereka yang adil dan
setia, Penghuni Hufflepuff sabar dan loyal Kerja keras bukan beban bagi
mereka;
Atau siapa tahu di Ravenclaw, Kalau kau cerdas dan mau belajar, Ini
tempat para bijak dan cendekia,Ajang berkumpul mereka yang pintar;
--------------------------------------- 70
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Atau bisa juga di SlytherinKau menemukan teman sehati, Orang-orang licik
ini menggunakan segala cara Untuk mendapatkan kepuasan pribadi.
Jadi, segeralah pakai aku!
Janganlah takut dan jangan ragu!
Dijamin kau akan aman
Karena aku Topi Seleksi-mu!"
Seluruh Aula meledak dalam tepuk tangan riuhrendah ketika topi itu
mengakhiri nyanyiannya. Topi itu membungkuk ke arah empat meja dan
kemudian diam lagi.
"Jadi kita harus memakai topi itu!" Ron berbisik kepada Harry. "Kubunuh
Fred. Dia bilang kita harus berkelahi dengan troll."
Harry tersenyum lemah. Ya, memakai topi memang jauh lebih baik daripada
menyihir, tetapi sebetulnya dia lebih suka kalau bisa melakukannya tanpa
ditonton semua orang. Topi itu rasanya menuntut terlalu banyak. Harry tidak
merasa berani ataupun cerdas atau apa pun juga pada saat ini. Kalau saja topi
itu menyebutkan asrama bagi mereka yang merasa gelisah dan mau muntah,
asrama itulah yang paling cocok untuknya.
Profesor McGonagall maju memegangi gulungan perkamen panjang.
"Yang disebut namanya harap maju dan memakai topi, lalu duduk di atas
bangku untuk diseleksi," katanya. "Abbot, Hannah!"
Seorang anak perempuan berwajah merah dengan rambut pirang dibuntut
kuda keluar dari barisan, memakai topi, yang langsung melorot menutupi
matanya, dan duduk.
Sejenak kemudian...
"HUFFLEPUFF!" teriak si topi.
Meja di sebelah kanan bersorak dan bertepuk tangan ketika Hannah
mendekat dan duduk di meja Hufflepuff. Harry melihat hantu Rahib Gemuk
melambai-lambaikan tangan dengan gembira ke arah Hannah.
"Bones, Susan!"
"HUFFLEPUFF!" teriak si topi lagi, dan Susan berlari untuk duduk di sebelah
Hannah. "Boot, Terry!" "RAVENCLAW!"
Meja kedua dari kiri ganti bertepuk kali ini, beberapa anak Ravenclaw
berdiri untuk berjabat tangan dengan Terry ketika dia telah bergabung dengan
mereka.
"Brocklehurst, Mandy" juga ke Ravenclaw, tetapi "Brown, Lavender" menjadi
anggota baru Gryffindor yang pertama dan meja di ujung kiri meledak
bersorak-sorai. Harry melihat kedua kakak kembar Ron berteriak-teriak.
Yang berikutnya, "Bulstrode, Millicent", untuk Slytherin.
Mungkin hanya sekadar bayangan Harry setelah segala sesuatu yang
didengarnya tentang Slytherin, tetapi baginya anak-anak Slytherin kelihatannya
tidak menyenangkan.
Harry benar-benar mau muntah sekarang. Dia ingat acara pemilihan regu
olahraga di sekolahnya yang dulu. Dia selalu dipilih paling belakangan, bukan
karena dia tak bisa berolahraga, tetapi karena tak seorang pun mau Dudley
mengira mereka menyukai Harry.
"Finch-Fletchley Justin!"
--------------------------------------- 71
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"HUFFLEPUFF!"
Kadang-kadang, Harry memperhatikan, si topi lang-sung meneriakkan nama
asrama, tetapi bisa juga lama baru memutuskan. "Finnigan, Seamus", anak laki-
laki berambut cokelat di depan Harry duduk di bangku hampir semenit penuh
sebelum si topi memutuskan Gryffindor untuknya.
"Granger, Hermione!"
Hermione nyaris lari ke bangku dan dengan bersemangat memasang topi di
kepalanya. "GRYFFINDOR!" teriak si topi.
Ron mengeluh. Pikiran mengerikan melintas di benak Harry.
Seperti biasa pikiran mengerikan selalu muncul bila kau sedang sangat
cemas. Bagaimana jika dia tidak dipilih? Bagaimana kalau dia duduk terus di
atas bangku dengan topi menutupi kepalanya, sampai Profesor McGonagall
mencopotnya dari kepalanya dan menyatakan bahwa jelas ada kekeliruan, lalu
menyuruhnya kembali ke kereta?
Ketika Neville Longbottom, anak yang selalu kehilangan kataknya, dipanggil
namanya, dia terjatuh waktu berjalan ke bangku. Si topi perlu waktu lama
untuk mengambil keputusan bagi Neville.
Ketika akhirnya topi itu meneriakkan "GRYFFINDOR", Neville berlari masih
memakai topi itu, dan terpaksa kembali di tengah riuhnya tawa untuk
memberikannya kepada "MacDougal, Morag".
Malfoy berjalan dengan sok ketika namanya dipanggil dan keinginannya
langsung terkabul. Begitu menyentuh kepalanya, si topi langsung berteriak,
"SLYTHERIN!"
Malfoy bergabung dengan teman-temannya Crabbe dan Goyle, wajahnya
kelihatan puas.
Tidak banyak lagi yang tinggal sekarang.
"Moon"... "Nott"... "Parkinson"... kemudian sepasang gadis kembar, "Patil"
dan "Patil"... kemudian "Perks, Sally-Anne"...
dan kemudian, akhirnya... "Potter, Harry!" Saat Harry melangkah ke depan,
bisik-bisik tiba-tiba menjalar seperti api yang mendesis di seluruh aula.
"Potter, dia menyebut begitu?"
"Si Harry Potter yang itu?"
Hal terakhir yang dilihat Harry sebelum topi menutupi matanya adalah
anak-anak seaula menjulurkan leher agar bisa melihatnya lebih jelas. Detik
berikutnya yang kelihatan adalah bagian dalam topi yang hitam. Dia menunggu.
"Hmmm," terdengar suara kecil di telinganya. "Sulit. Sangat sulit.
Keberanian besar, rupanya. Otak juga encer. Ada bakat, oh, astaga, ya dan
kehausan untuk membuktikan diri, ah, itu menarik... Jadi, sebaiknya di mana
kau kutempatkan?" Harry mencengkeram tepi bangku dan membatin, Jangan
Slytherin, jangan Slytherin.
"Jangan Slytherin, eh?" kata suara kecil itu. "Kau yakin? Kau bisa jadi
penyihir hebat lho, semuanya ada di kepalamu, dan Slytherin bisa
membantumu mencapai kemasyhuran, tak diragukan lagi tidak? Yah, kalau kau
yakin lebih baik GRYFFINDOR!"
Harry mendengar si topi meneriakkan kata terakhir itu ke aula. Dia
mencopot topinya dan berjalan dengan gemetar menuju meja Gryffindor. Dia
--------------------------------------- 72
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
lega sekali sudah dipilih dan tidak ditempatkan
di Slytherin, sehingga dia nyaris tidak memperhatikan bahwa dia mendapat
sambutan yang paling meriah. Percy si Prefek bangkit dan menjabat tangannya
dengan penuh semangat, sementara si kembar Weasley memekik,
"Kami dapat Potter! Kami dapat Potter!" Harry duduk berhadapan dengan
hantu berkerah rimpel yang sebelumnya sudah dilihatnya. Si hantu mengelus
lengannya, membuat Harry merasa dia mendadak dicemplungkan ke dalam
seember air es.
Harry bisa melihat Meja Tinggi dengan jelas sekarang. Di ujung yang paling
dekat duduk Hagrid, yang bertatap mata dengannya dan mengacungkan kedua
ibu jarinya. Harry balas tersenyum. Dan di tengah Meja Tinggi itu, dalam kursi
besar emas, duduklah Albus Dumbledore, Harry langsung mengenalinya dari
kartu yang didapatnya dari Cokelat Kodok di kereta api tadi. Rambut keperakan
Dumbledore adalah satusatunya di dalam Aula yang berkilau sama terangnya
dengan para hantu. Harry melihat Profesor Quirrell juga, si laki-laki muda
gugup yang ditemuinya di Leaky Cauldron. Profesor Quirrell kelihatan aneh
sekali dengan memakai turban besar ungu.
Sekarang tinggal tiga anak lagi untuk diseleksi. "Thomas, Dean" seorang anak
laki-laki berkulit hitam dan lebih tinggi dari Ron, bergabung dengan Harry di
meja Gryffindor. "Turpin, Lisa" menjadi anggota Ravenclaw, dan kemudian
tibalah giliran Ron. Ron sudah pucat pasi sekarang. Harry menyilangkan jari di
bawah meja, mengharap keberuntungan dan sedetik kemudian si topi
berteriak, "GRYFFINDOR!"
Harry bertepuk keras bersama yang lain sementara Ron terenyak duduk di
kursi di sebelahnya.
"Bagus sekali, Ron, hebat," kata Percy Weasley bangga, sementara "Zabini,
Blaise" dinyatakan masuk Slytherin.
Profesor McGonagall menggulung perkamennya dan mengambil kembali si
Topi Seleksi.
Harry menatap piring emasnya yang kosong. Dia baru sadar betapa laparnya
dia. Pastel labu tadi serasa sudah seabad lamanya.
Albus Dumbledore sudah berdiri. Dia tersenyum kepada anak-anak,
lengannya terbuka lebar-lebar, seakan tak ada yang lebih membuatnya senang
daripada melihat mereka semua ada di sana.
"Selamat datang!" katanya. "Selamat datang untuk mengikuti tahun ajaran
baru di Hogwarts. Sebelum kita mulai acara makan kita, aku ingin
menyampaikan beberapa patah kata. Inilah dia: Dungu! Gendut! Aneh! Jewer!
"Terima kasih!"
Dia duduk kembali. Semua anak bertepuk tangan dan bersorak. Harry tak
tahu apakah dia harus tertawa atau tidak.
"Apa dia agak sinting?" tanyanya ragu-ragu kepada Percy.
"Sinting?" kata Percy dibuat-buat. "Dia jenius! Penyihir paling hebat di
dunia! Tapi dia memang agak sinting, ya.
Kentang, Harry?"
--------------------------------------- 73
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mulut Harry ternganga. Piring-piring di depannya sekarang penuh berisi
makanan. Belum pernah dia melihat begitu banyak makanan yang ingin
dimakannya terhidang di satu meja.
Daging sapi panggang, ayam, babi, kambing, sosis, daging asap, steak,
kentang goreng, kentang rebus, puding, kacang, wortel, kaldu, saus tomat,
bahkan permen pedas.
Keluarga Dursley memang tidak membuat Harry kelaparan, tetapi dia tidak
pernah diizinkan makan sebanyak yang dia inginkan. Dudley selalu mengambil
apa saja yang diinginkan Harry, meskipun itu membuatnya sakit perut
kekenyangan.
Harry mengisi piringnya dengan semua makanan sedikit-sedikit, kecuali
permen pedas, lalu mulai makan. Semuanya enak
"Kelihatannya enak," kata hantu berkerah rimpel dengan sedih, memandang
Harry mengiris steak-nya.
"Tak bisakah kau...?"
"Aku sudah tidak makan selama hampir empat ratus tahun,"
kata si hantu. "Tidak perlu sih, memang, tapi kadang-kadang kepingin juga.
Kurasa aku belum
"Aku tahu siapa kau!" kata Ron tiba-tiba. "Kakak-kakakku sudah bercerita
tentang kau kau Nick si Kepala-Nyaris-Putus!"
"Aku lebih suka kalian memanggilku Sir Nicholas de Mimsy...," kata si hantu
kaku, tetapi Seamus Finnigan si rambut cokelat menyela.
"Kepala-Nyaris-Putus? Bagaimana kau bisa disebut KepalaNyaris-Putus?"
Sir Nicholas tampak jengkel sekali, seakan obrolan kecil mereka tidak
berlangsung seperti yang diharapkannya.
"Begini," katanya sebal. Dia memegang telinga kirinya, lalu menariknya.
Seluruh kepalanya terlepas dari lehernya dan jatuh ke bahunya, seakan
tergantung pada engsel. Jelas ada orang
yang mencoba memenggal kepalanya, tetapi tidak melakukannya dengan
sempurna. Puas melihat kekagetan mereka, Nick si Kepala-Nyaris-Putus
mengembalikan kepala ke lehernya, berdeham, dan berkata, "Jadi anggota
baru Gryffindor!
Kuharap kalian akan membantu kami memenangkan Kejuaraan Antar-
Asrama tahun ini. Belum pernah Gryffindor tidak menang sampai selama ini.
Slytherin mendapatkan piala selama enam tahun berturut-turut! Si Baron
Berdarah itu sudah jadi sok dan menyebalkan sekali dia hantu Slytherin."
Harry memandang ke meja Slytherin dan melihat hantu mengerikan duduk
di sana, dengan mata menatap kosong, wajah pucat, dan jubah penuh bercak
darah keperakan. Dia duduk di sebelah Malfoy dan Harry girang melihat Malfoy
kelihatannya tidak senang dengan pengaturan tempat duduk ini.
"Bagaimana dia bisa berlumuran darah begitu?" tanya Seamus penuh ingin
tahu. "Aku tak pernah tanya," jawab Nick si KepalaNyaris-Putus.
Ketika semua sudah makan sekenyang mungkin, sisa makanan lenyap begitu
saja dari piring-piring, dan piring-piring langsung bersih berkilauan seperti
semula. Sesaat kemudian makanan penutup bermunculan. Aneka puding, es
--------------------------------------- 74
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
krim segala rasa, pai apel, kue tar karamel, sus cokelat, donat cokelat, selai,
kacang, madu, jeli....
Ketika Harry mengambil tar karamel, pembicaraan beralih ke keluarga.
"Aku setengah-setengah," kata Seamus. "Ayahku Muggle.
Ibuku baru memberitahu dia sesudah menikah. Bayangkan, betapa kagetnya
Ayah."
Mereka semua tertawa.
"Kalau kau bagaimana, Neville?"
"Aku dibesarkan Nenek dan dia penyihir," kata Neville.
"Tetapi selama bertahun-tahun seluruh keluarga mengira aku Muggle. Adik
nenekku, Kakek Algie, berkali-kali menjebakku untuk memancing keluarnya
sihir dariku bahkan dia pernah mendorongku sampai jatuh dari dermaga, aku
nyaris tenggelam tapi tak ada yang terjadi sampai aku berumur delapan
tahun. Kakek Algie datang untuk minum teh bersama kami dan dia
memegangiku terbalik pada pergelangan kakiku dari jendela loteng, ketika
adiknya, Nenek Enid, menawarinya kue manis, dan tak sengaja dia melepas
pegangannya. Tetapi aku selamat melambung begitu saja di kebun lalu ke
jalan.
Mereka senang sekali. Nenek sampai menangis saking senangnya. Dan kalian
seharusnya melihat wajah mereka waktu aku masuk soalnya mereka tidak
mengira aku punya kekuatan sihir untuk bisa masuk lagi. Kakek Algie puas
sekali, sehingga dia membelikan aku katakku itu."
Di sisi lain Harry, Percy Weasley dan Hermione membicarakan pelajaran
("Kuharap mereka langsung memulai pelajaran, banyak sekali yang harus
dipelajari. Aku terutama tertarik pada Transfigurasi, tahu kan, mengubah
sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Tentu saja ini sulit sekali...",
"Mulainya kecil-kecil dulu, korek api jadi jarum dan semacamnya...").
Harry, yang mulai merasa hangat dan mengantuk, menatap Meja Tinggi lagi.
Hagrid sedang asyik minum dari pialanya.
Profesor McGonagall sedang bicara dengan Profesor Dumbledore. Profesor
Quirrell, dengan turbannya yang ajaib, sedang bicara pada guru berambut
hitam berminyak, dengan hidung bengkok dan kulit pucat.
Kejadiannya tiba-tiba sekali. Si guru berhidung bengkok memandang
melewati turban Quirrell langsung ke mata Harry dan rasa sakit yang perih
dan panas menerpa bekas luka di dahi Harry.
"Ouch!" Harry menempelkan tangan di dahinya.
"Ada apa?" tanya Percy.
"Ti-tidak ada apa-apa."
Rasa sakit itu lenyap sama cepatnya dengan datangnya. Yang lebih sulit
dihilangkan adalah perasaan yang didapat Harry dari pandangan guru tadi
perasaan bahwa dia sama sekali tidak menyukai Harry.
"Siapakah guru yang sedang bicara dengan Profesor Quirrell?" Harry bertanya
kepada Percy.
"Oh, kau sudah kenal Quirrell, ya? Tidak heran dia kelihatan begitu gelisah,
itu Profesor Snape. Dia mengajar Ramuan, tetapi sebetulnya tidak mau semua
--------------------------------------- 75
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
orang tahu dia menginginkan jabatan Quirrell. Si Snape itu tahu banyak tentang
Sihir Hitam."
Selama beberapa waktu Harry mengawasi Snape, tetapi Snape tidak
memandangnya lagi. Akhirnya makanan penutup juga lenyap dan Profesor
Dumbledore berdiri lagi. Aula langsung senyap.
"Ehem cuma beberapa patah kata lagi setelah kita kenyang makan dan
minum. Ada beberapa pengumuman awal tahun ajaran yang akan
kusampaikan.
"Murid-murid kelas satu harus tahu bahwa hutan di sekeliling halaman itu
terlarang untuk dimasuki bagi siapa saja. Dan beberapa murid kelas lebih tinggi
sebaiknya juga ingat ini."
Mata Dumbledore yang bersinar terarah kepada si kembar Weasley.
"Aku juga diminta oleh Mr Filch, penjaga sekolah, untuk mengingatkan
kalian semua, bahwa sihir tak boleh digunakan pada saat pergantian kelas di
koridor-koridor.
"Pemilihan pemain Quidditch akan diadakan pada minggu kedua semester
ini. Siapa saja yang berminat bermain untuk tim asramanya, silakan
menghubungi Madam Hooch.
"Dan yang terakhir, aku harus menyampaikan kepada kalian bahwa tahun
ini, koridor lantai tiga sebelah kanan sebaiknya dihindari oleh mereka yang tak
ingin mati penuh penderitaan."
Harry tertawa, tetapi dia hanya salah satu dari sedikit yang tertawa. "Dia
tidak serius, kan?" dia bergumam kepada Percy.
"Serius," kata Percy, seraya mengerutkan kening memandang Dumbledore.
"Aneh, karena biasanya dia memberi kita alasan kenapa kita tidak boleh masuk
ke tempat tertentu hutan itu penuh binatang berbahaya, semua tahu itu.
Menurut aku paling tidak seharusnya dia memberi tahu para Prefek."
"Dan sekarang, sebelum kita tidur, marilah menyanyikan lagu sekolah kita!"
seru Dumbledore. Harry memperhatikan bahwa guru-guru lainnya semua
tersenyum.
Dumbledore menjentik tongkatnya, seakan berusaha mengusir lalat dari
ujungnya, dan sehelai pita emas panjang melayang keluar dari tongkat itu,
terbang tinggi di atas meja-meja, lalu meliuk-liuk membentuk kata-kata.
"Masing-masing pilih nada favoritnya," kata Dumbledore,
"dan kita mulai!"
Dan nyanyian pun membahana:
"Hogwarts, Hogwarts, Hoggy Warty Howgwarts,
Ajarilah kami sesuatu,
Biar kami tua dan botak
Atau muda dan masih lugu,
Kepala kami kosong melompong
Masih perlu banyak diisi,
Dengan Hal-hal menarik dan berguna,
Agar kami jadi orang yang berarti,
Ingatkanlah kembali hal-hal yang telah kami lupakan,
Dan ajarilah kami segala yang perlu kami ketahui,
--------------------------------------- 76
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Bimbinglah kami sebaik-baiknya,
Kami akan belajar sepenuh hati."
Masih-masing mengakhiri lagu ini pada saat yang berlainan. Akhirnya hanya
tinggal si kembar Weasly yang menyanyikannya dengan gaya mars pemakaman
yang amat lambat. Dumbledore bertindak sebagai dirigen, memimpin baris-
baris terakhir nyanyian mereka dengan tongkatnya, dan ketika mereka selesai
bernyanyi, Dumbledore adalah salah satu dari mereka yang bertepuk tangan
paling keras.
"Ah, musik," katanya seraya menyeka matanya. "Lebih magis dari segala
yang kita pelajari di sini! Dan sekarang, waktunya tidur! Berangkat!"
Murid-murid kelas satu Gryffindor mengikuti Percy menembus kerumunan
yang ramai mengobrol, meninggalkan Aula Besar dan menaiki tangga pualam.
Kaki Harry terasa berat seperti timah lagi, tapi kali ini karena dia lelah sekali
dan kekenyangan. Dia sudah sangat mengantuk sehingga tidak memperhatikan
orang-orang dalam lukisan yang tergantung di sepanjang koridor berbisik-bisik
dan menunjuk-nunjuk saat mereka lewat, atau bahwa Percy membawa mereka
melewati pintu yang tersembunyi di balik panel sorong dan permadani hiasan
dinding. Mereka menaiki lebih banyak tangga lagi, menguap dan menyeret kaki-
kaki mereka, dan Harry baru bertanya-tanya dalam hati berapa jauh lagi yang
harus mereka tempuh, ketika mendadak mereka berhenti.
Seikat tongkat melayang-layang di depan mereka dan ketika Percy
melangkah maju, tongkat-tongkat itu melayang membenturnya.
"Peeves," Percy berbisik kepada anak-anak kelas satu. "Hantu jail." Dia
mengeraskan suaranya, "Peeves perlihatkan dirimu."
Terdengar bunyi keras tidak sopan, seperti udara yang dikeluarkan dari
balon.
"Kau ingin kupanggilkan Baron Berdarah?"
Terdengar bunyi pop dan sesosok laki-laki kecil, dengan mata nakal
berwarna kelam dan mulut lebar, muncul, melayang bersila di udara,
memegangi tongkat-tongkat tadi.
"Oooooooh!" katanya sambil tertawa nakal. "Kelas satu!
Asyik!" Mendadak dia menyambar ke arah mereka. Anak-anak menunduk.
"Enyah kau, Peeves. Kalau tidak si Baron akan dengar tentang semua ini. Betul!"
bentak Percy.
Peeves menjulurkan lidah dan menghilang, menjatuhkan tongkat-tongkat itu
ke kepala Neville. Mereka mendengarnya meluncur pergi, menyenggol baju-
baju zirah sampai berkelontangan.
"Kalian harus berhati-hati terhadap Peeves," kata Percy, ketika mereka
melanjutkan perjalanan lagi. "Si Baron Berdarah-lah satu-satunya yang bisa
mengontrolnya. Dia bahkan tak mau mendengarkan kami, para Prefek. Nah,
kita sampai."
Di ujung koridor tergantung lukisan wanita amat gemuk memakai gaun
merah jambu.
"Kata kunci?" katanya.
--------------------------------------- 77
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Caput Draconis," jawab Percy dan lukisan itu mengayun ke depan. Ternyata
di dinding di belakangnya ada lubang. Mereka semua masuk melewati lubang
itu Neville perlu didorong
dan tiba-tiba sudah berada di ruang rekreasi Gryffindor, ruangan bundar
nyaman penuh sofa empuk.
Percy menyuruh anak-anak perempuan melewati satu pintu menuju ke
kamar tidur mereka, dan anak laki-laki lewat pintu yang lain. Di puncak tangga
melingkar jelas mereka berada di salah satu menara akhirnya mereka
menemukan tempat tidur mereka: lima tempat tidur besar dengan kelambu
beludru merah tua. Koper-koper mereka sudah dibawa naik. Sudah terlalu lelah
untuk mengobrol mereka memakai piama dan langsung rebah di tempat tidur.
"Makanannya enak sekali, ya?" gumam Ron kepada Harry dari balik kelambu.
"Minggir, Scabbers. Dia menggerigiti sepraiku."
Harry mau bertanya kepada Ron kalau-kalau dia tadi makan kue tar
karamel, tetapi keburu tertidur.
Mungkin Harry makan agak terlalu banyak, karena dia bermimpi aneh sekali.
Dia memakai turban Profesor Quirrell, yang terus berbicara kepadanya,
menyuruhnya segera pindah ke Slytherin, karena sudah takdirnya begitu. Harry
berkata kepada si turban dia tidak mau pindah ke Slytherin. Turban itu makin
lama menjadi makin berat. Dicobanya menariknya, tetapi si turban melilitnya
semakin ketat sampai kepalanya sakit dan ada Malfoy, menertawakannya
sementara dia berkutat dengan si turban kemudian Malfoy berubah menjadi si
guru berhidung bengkok, Snape, yang tawanya melengking dan dingin ada
buncahan cahaya hijau dan Harry terbangun, berkeringat dan gemetar.
Dia membalikkan tubuh dan langsung tertidur lagi, dan ketika terbangun
keesokan paginya, dia sama sekali tak ingat lagi mimpinya.
***
8. Ahli Ramuan
"LIHAT, itu dia!"
"Mana?"
"Disebelah anak jangkung berambut merah."
"Yang pakai kacamata?"
"Kau lihat wajahnya?"
"Kau lihat bekas lukanya?"
Bisik-bisik terus mengikuti Harry begitu dia meninggalkan asramanya esok
harinya. Anak-anak yang sedang antre di depan ruang-ruang kelas berjingkat
untuk bisa melihatnya, atau berjalan balik di koridor agar bisa berpapasan lagi
dengannya, lalu menatapnya. Harry ingin sekali mereka tidak begitu, karena
dia harus berkonsentrasi untuk menemukan kelasnya.
Ada seratus empat puluh dua tangga di Hogwarts: ada yang lebar, landai,
sempit, berkeriat-keriut, tangga yang menuju tempat berbeda setiap hari
Jumat, beberapa lagi dengan satu anak tangga yang hilang di tengahnya,
sehingga kau harus ingat untuk melompat. Kemudian ada lagi pintu-pintu yang
tidak mau membuka kalau kau tidak memintanya dengan sopan, atau
menggelitiknya pada tempat yang benar, dan pintu-pintu yang sebenarnya
--------------------------------------- 78
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
bukan pintu, melainkan dinding tebal yang cuma pura-pura jadi pintu. Juga
sangat sulit untuk mengingat benda apa ada di mana, karena segalanya
tampaknya pindah-pindah terus. Orang-orang dalam lukisan tak hentinya saling
mengunjungi dan Harry yakin baju-baju zirah itu bisa berjalan.
Para hantu juga tidak membantu. Sungguh mengagetkan jika salah satu dari
mereka mendadak melayang menembus pintu yang belum berhasil kaubuka.
Nick si Kepala-Nyaris-Putus selalu dengan senang hati menunjukkan arah yang
benar kepada murid-murid baru Gryffindor, tetapi Peeves si hantu jail akan
menyesatkanmu ke dua pintu terkunci dan tangga tipuan saat kau sudah
terlambat untuk pelajaran berikutnya. Dia akan menjatuhkan keranjang-
keranjang sampah ke atas kepalamu, menarik karpet dari bawah kakimu,
melemparimu dengan potonganpotongan kapur atau diam-diam tanpa
menampakkan diri menyelinap di belakangmu, memencet hidungmu, dan
menjerit, "KETANGKAP KAU!"
Yang lebih gawat lagi dari Peeves, kalau itu mung-kin, adalah si penjaga
sekolah, Argus Filch. Harry dan Ron tanpa sengaja membuatnya marah pada
pagi pertama mereka. Filch memergoki mereka sedang memaksa memasuki
pintu yang sialnya ternyata menuju ke koridor terlarang di lantai tiga. Filch
tidak percaya mereka tersesat. Dia yakin mereka mencoba mendobrak pintu itu
dengan sengaja dan sedang mengancam akan mengurung mereka di bawah
tanah, ketika kebetulan Profesor Quirrell lewat dan menyelamatkan mereka.
Filch mempunyai kucing bernama Mrs Norris, kucing kurus berbulu abu-abu
kecokelatan, dengan mata menonjol bersorot tajam seperti lampu, persis
seperti mata Filch sendiri. Mrs Norris berpatroli di koridor-koridor sendirian.
Cobalah langgar satu peraturan saja di depannya, kalau salah satu jari kakimu
saja melanggar garis batas, dia akan langsung memanggil Filch, yang akan
muncul dua detik kemudian dengan mendesah-desah.
Filch tahu lorong-lorong rahasia di sekolah lebih daripada siapa pun (kecuali
mungkin si kembar Weasley) dan bisa muncul sama mendadaknya dengan hantu
mana pun. Semua anak membencinya dan diam-diam banyak sekali yang
berambisi menendang Mrs Norris.
Dan, kalau kelasmu sudah ketemu, kau masih harus menghadapi berbagai
mata pelajaran sihir. Ternyata sihir jauh lebih rumit, seperti yang kemudian
Harry ketahui, daripada sekadar melambaikan tongkat sihirmu dan
mengucapkan katakata aneh.
Mereka harus mempelajari langit malam lewat teleskop mereka pada tengah
malam dan mempelajari nama berbagai bintang dan pergerakan planet-planet.
Tiga kali dalam seminggu mereka mengunjungi rumah-rumah kaca di belakang
kastil untuk mempelajari Herbologi ilmu tanaman obat di bawah asuhan
wanita penyihir gemuk-pendek bernama Profesor Sprout. Di tempat itu mereka
belajar bagaimana merawat semua tanaman dan jamur-jamur aneh dan apa
kegunaannya.
Jelas yang paling membosankan adalah Sejarah Sihir, satusatunya pelajaran
yang pengajarnya adalah hantu. Profesor Binns memang sudah tua sekali ketika
dia tertidur di depan perapian di ruang guru dan bangun keesokan paginya
untuk mengajar, dengan meninggalkan tubuhnya. Binns mengoceh terus dengan
--------------------------------------- 79
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
amat membosankan sementara mereka mencatat nama dan tanggal-tanggal dan
bingung sendiri sehingga tertukartukar antara Emeric si Jahat dan Uric si Aneh.
Profesor Flitwick, guru Jimat dan Guna-guna adalah penyihir kecil mungil
yang harus berdiri di atas setumpuk buku agar bisa menatap melewati mejanya.
Pada awal pelajaran pertama mereka, Profesor Flitwick mengambil daftar
absen, dan ketika sampai ke nama Harry dia memekik penuh semangat dan
terjungkal lenyap dari pandangan.
Profesor McGonagall lain lagi. Harry betul berpendapat jangan sampai
membuatnya marah. Disiplin dan pandai, dia langsung memperingatkan
muridmuridnya begitu mereka duduk untuk mengikuti pelajarannya yang
pertama.
"Transfigurasi adalah salah satu ilmu sihir yang paling rumit dan paling
berbahaya yang akan kalian pelajari di Hogwarts,"
katanya. "Siapa pun yang mengacau di kelas akan dikeluarkan dan tidak
boleh ikut lagi. Kalian sudah diperingatkan."
Kemudian dia mengubah mejanya menjadi babi dan menjadi meja lagi.
Anak-anak semua sangat kagum dan tak sabar ingin memulai, tetapi segera
menyadari bahwa masih lama lagi sebelum mereka bisa mengubah perabot
menjadi binatang.
Sesudah membuat banyak catatan yang rumit, masing-masing diberi
sebatang korek api dan mulai mencoba mengubahnya menjadi jarum. Pada
akhir pelajaran, hanya Hermione Granger yang berhasil membuat perubahan
pada korek apinya. Profesor McGonagall menunjukkan pada seluruh kelas
bagaimana korek api Hermione menjadi keperakan dan tajam dan melayangkan
senyum langkanya kepada Hermione.
Pelajaran yang ditunggu-tunggu semua anak adalah Pertahanan terhadap
Ilmu Hitam, tetapi pelajaran Quirrell ternyata kesannya main-main. Ruang
kelasnya sangat berbau bawang putih, yang kata semua orang untuk mengusir
vampir yang pernah ditemuinya di Rumania dan Quirrell takut si vampir akan
datang untuk menyerangnya setiap saat.
Turbannya, dia memberitahu anak-anak, dihadiahkan kepadanya oleh se-
orang pangeran Afrika, sebagai ucapan terima kasih atas jasanya mengusir
zombie yang merepotkan, tetapi anak-anak tidak begitu mempercayai cerita
ini. Soalnya, ketika Seamus Finnigan dengan bersemangat bertanya bagaimana
Quirrell melawan zombie itu, wajah Quirrell langsung merah dan dia mulai
bicara tentang cuaca. Lagi pula, anak-anak mencium bau aneh di sekitar turban
itu dan si kembar Weasley ngotot turban itu penuh bawang putih juga, sehingga
Quirrell terlindungi ke mana pun dia pergi.
Harry lega sekali ketika ternyata dia tidak ketinggalan pelajaran dari
teman-temannya. Banyak anak lain yang juga berasal dari keluarga Muggle dan,
seperti dia, sebelumnya tidak tahu sama sekali bahwa mereka sebetulnya
penyihir. Banyak sekali yang harus dipelajari sehingga bahkan anak-anak
seperti Ron pun tidak jauh lebih maju daripada yang lain.
Hari Jumat adalah hari penting untuk Harry dan Ron.
Mereka akhirnya berhasil menemukan jalan ke Aula Besar untuk sarapan
tanpa tersesat.
--------------------------------------- 80
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apa pelajaran kita hari ini?" Harry bertanya kepada Ron sementara dia
menuangkan gula ke buburnya.
"Ramuan, dua jam pelajaran, bersama anak-anak Slytherin,"
kata Ron. "Snape kepala Asrama Slytherin. Orang-orang bilang dia pilih kasih
dan anak-anak Slytherin selalu jadi anak emasnya kita lihat saja nanti, apakah
betul begitu."
"Mudah-mudahan saja kita jadi anak emas McGonagall,"
kata Harry. Profesor McGonagall adalah kepala Asrama Gryffindor, tetapi
dia tetap saja memberi mereka banyak sekali PR hari sebelumnya.
Saat itu pos tiba. Sekarang Harry sudah terbiasa dengan itu, tetapi pada
pagi pertama menyaksikan pos datang, Harry sedikit shock juga, karena kira-
kira seratus burung hantu tiba-tiba saja meluncur masuk ke dalam Aula Besar
ketika mereka sedang sarapan, mengitari meja-meja sampai mereka melihat
pemilik mereka dan menjatuhkan surat atau paket ke pangkuan mereka.
Sejauh ini Hedwig belum pernah membawakan apa-apa untuk Harry. Burung
hantu betina itu kadangkadang terbang masuk untuk mematuk-matuk telinga
Harry dan makan sedikit roti panggang sebelum pergi tidur di kandang burung
hantu bersama burungburung hantu sekolah lainnya. Tetapi pagi ini, dia
melayang turun di antara selai dan mangkuk gula dan menjatuhkan surat ke
atas piring Harry. Harry segera merobek amplopnya.
Harry meminjam pena bulu milik Ron, menulis "Ya, dengan senang hati,
sampai ketemu" di belakang surat itu dan melepas Hedwig lagi.
Untunglah Harry akan minum teh dengan Hagrid, sehingga ada sesuatu yang
bisa dinantinya dengan senang, sebab pelajaran Ramuan ternyata menjadi hal
paling buruk yang sejauh ini terjadi.
Dalam acara pesta awal semester, Harry merasa Profesor Snape tidak
menyukainya. Pada akhir pelajaran pertama Ramuan, Harry tahu dia keliru,
Profesor Snape bukan tidak menyukainya dia membencinya.
Pelajaran Ramuan berlangsung di salah satu ruang bawah tanah. Di sini
hawanya lebih dingin daripada di kastil di atas dan ruang itu sendiri sudah
cukup menyeramkan tanpa binatang-binatang diawetkan yang mengapung di
dalam tabung-tabung gelas yang berjajar di sepanjang dinding.
Snape, seperti Flitwick, memulai pelajaran dengan mengambil daftar absen,
dan seperti Flitwick juga, dia terhenti ketika tiba pada nama Harry.
"Ah, ya," katanya pelan. "Harry Potter. Selebriti baru kita."
Draco Malfoy dan kamerad-kameradnya, Crabbe dan Goyle, menjengek di
balik tangan mereka. Snape selesai mengabsen dan memandang murid-
muridnya. Matanya hitam seperti mata Hagrid, tetapi tidak memiliki
--------------------------------------- 81
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
kehangatan seperti Hagrid. Mata itu dingin dan kosong, dan membuatmu
teringat akan lorong gelap.
"Kalian berada di sini untuk mempelajari ilmu rumit dan seni membuat
ramuan," katanya memulai. Suaranya tak lebih daripada bisikan, tetapi anak-
anak menangkap semua kata yang diucapkannya seperti Profesor McGonagall,
Snape punya kelebihan bisa tanpa susah payah membuat seluruh murid di
kelasnya menyimak. "Karena tak banyak kibasan tongkat yang konyol di sini,
banyak di antara kalian akan susah percaya ini sihir. Aku tidak berharap kalian
benar-benar bisa menghayati keindahan isi kuali yang menggelegak lembut
dengan asapnya yang menguar, kekuatan halus cairan-cairan yang merayap
merasuki nadi manusia, menyihir pikiran, menjerat akal sehat...
Aku bisa mengajar kalian bagaimana membotolkan kepopuleran, merebus
kejayaan, menyumbat kematian kalau kalian bukan kepala-kepala kosong
seperti anak-anak lain yang biasa kuajar."
Kesunyian menyusul pidato pendek ini. Harry dan Ron bertukar pandang
dengan alis terangkat. Hermione Granger sudah duduk di tepi tempat duduknya
dan kelihatan ingin sekali membuktikan bahwa dia bukan kepala kosong.
"Potter!" kata Snape tiba-tiba. "Apa yang kudapat jika aku menambahkan
bubuk akar asphodel ke cairan wormwood?"
Bubuk apa ke cairan apa? Harry melirik Ron, yang tampak sama begonya
seperti dia. Tangan Hermione sudah teracung ke atas.
"Saya tidak tahu, Sir," kata Harry.
Bibir Snape meliuk menjadi cibiran.
"Wah, wah terkenal jelas bukan segalanya."
Snape mengabaikan tangan Hermione.
"Kita coba lagi, Potter. Di mana kau akan mencari jika kusuruh kau
mengambilkan bezoar untukku?"
Hermione menjulurkan tangannya setinggi mungkin tanpa dia berdiri dari
tempat duduknya, tetapi Harry sama sekali tidak tahu apa itu bezoar.
Dicobanya tidak memandang Malfoy, Crabbe, dan Goyle, yang tertawa
terbahak-bahak.
"Saya tidak tahu, Sir." "Rupanya kau tidak berminat membuka-buka bukumu
sebelum datang ke sini, eh, Potter?"
Harry berusaha tetap menatap mata dingin itu. Dia sudah membaca-baca
bukunya sewaktu masih tinggal bersama keluarga Dursley, tetapi apakah Snape
mengharapnya mengingat segalanya dalam buku Seribu Satu Tanaman dan
Jamur Gaib?
Snape masih tetap mengabaikan tangan Hermione yang bergetar.
"Apa bedanya, Potter, monkshood dan wolfsbane?"
Mendengar ini Hermione berdiri, tangannya mengacung ke langit-langit
kelas bawah tanah.
"Saya tidak tahu," jawab Harry pelan. "Tapi saya rasa Hermione tahu,
kenapa Anda tidak menanyainya saja?"
Beberapa anak tertawa. Harry bertatapan dengan Seamus.
Seamus mengedipkan mata. Tetapi Snape tidak senang.
--------------------------------------- 82
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Duduk," dia membentak Hermione. "Agar kau tahu, Potter, campuran
asphodel dan wormwood menghasilkan obat tidur yang kuat sekali sehingga
disebut Tegukan Hidup Bagai Mati.
Bezoar adalah batu yang diambil dari perut kambing dan bisa
menyelamatkanmu dari hampir semua racun. Sedangkan monkshood dan
wolfsbane sebetulnya tanaman yang sama,
yang juga disebut aconite. Nah? Kenapa kalian tidak ada yang mencatat?"
Mendadak semua buru-buru mengeluarkan pena bulu dan perkamen.
Mengatasi bunyi itu, Snape berkata, "Satu angka akan dikurangi dari Gryffindor,
karena ketidakmampuanmu, Potter."
Keadaan tidak bertambah baik untuk Gryffindor ketika pelajaran Ramuan
dilanjutkan. Snape membagi mereka berpasangan dan menyuruh mereka
mencampur ramuan sederhana untuk mengobati bisul. Dia berkeliling kelas,
jubah hitamnya melambai, mengawasi mereka menimbang jelatang kering dan
bubuk taring ular, mengkritik nyaris semua anak, kecuali Malfoy yang
kelihatannya disukainya. Dia sedang menyuruh semua anak melihat cara
sempurna Malfoy merebus siput bertanduknya, ketika asap hijau berbau asam
dan suara desis keras memenuhi kelas bawah tanah itu. Entah bagaimana
Neville membuat kuali Seamus leleh menjadi gumpalan peyat-peyot dan
ramuan mereka tumpah merembes di lantai batu, membuat sol-sol sepatu
berlubang. Dalam beberapa detik saja, semua anak sudah berdiri di atas kursi
mereka, sementara Neville, yang tersiram ramuan ketika kuali Seamus
meleleh, mengerang kesakitan bersamaan dengan bermunculannya bisul-bisul
kemerahan di seluruh lengan dan kakinya.
"Anak idiot!" sembur Snape seraya membersihkan ramuan yang tumpah
dengan sekali lambaian tongkatnya. "Pasti kautambahkan duri-duri landak
sebelum kualinya diangkat dari atas api, kan?"
Neville merintih sementara bisul mulai bermunculan di hidungnya.
"Bawa ke rumah sakit," Snape membentak Seamus.
Kemudian dia berbalik menghadapi Harry dan Ron, yang tadi bekerja di
sebelah Neville.
"Kau Potter kenapa kau tidak melarang dia menambahkan duri-duri landak
itu? Kaupikir kau akan kelihatan pintar kalau dia salah, begitu, ya? Kau
mengurangi nilai Gryffindor satu lagi."
Ini sungguh tidak adil, Harry sudah membuka mulut untuk membantah,
tetapi Ron menendangnya di balik kuali mereka.
"Jangan memaksa," gumamnya. "Aku sudah dengar Snape bisa menjadi
sangat jahat."
Ketika mereka menaiki tangga meninggalkan ruang bawah tanah satu jam
kemudian, pikiran Harry kacau dan semangatnya merosot. Dia telah membuat
Gryffindor kehilangan dua angka dalam minggu pertamanya saja kenapa Snape
begitu membencinya?
"Jangan sedih begitu," kata Ron. "Snape selalu mengurangi angka dari Fred
dan George. Boleh aku ikut menemui Hagrid?"
--------------------------------------- 83
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Pukul tiga kurang lima menit mereka meninggalkan kastil dan menyeberang
halaman. Hagrid tinggal di dalam rumah papan kecil di tepi Hutan Terlarang.
Sebuah busur model kuno dan sepasang sepatu-luar karet ada di depan pintu.
Ketika Harry mengetuk, mereka mendengar garukan kaki dan gonggongan
keras. Kemudian suara Hagrid membahana,
"Mundur, Fang mundur."
Wajah Hagrid yang besar berbulu muncul di celah selagi dia membuka pintu.
"Tunggu," katanya. "Mundur, Fang."
Hagrid menyuruh mereka masuk, seraya memegangi tengkuk anjing hitam
raksasa.
Hanya ada satu ruangan di dalam. Daging-daging panggang bergantungan
dari langit-langit, ada ceret tembaga dengan air mendidih di atas perapian
terbuka, dan di sudut ada tempat tidur besar dengan quilt kain perca
terhampar di atasnya,
"Anggap saja rumah sendiri," kata Hagrid, sambil melepas Fang yang
langsung melompat mendekati Ron dan menjilati telinganya. Seperti Hagrid,
Fang rupanya tidak segarang penampilannya.
"Ini Ron," Harry memberitahu Hagrid yang sedang menuang air mendidih ke
dalam teko teh besar dan menaruh kue bolu keras di atas piring.
"Weasley lagi, eh?" kata Hagrid, melirik bintikbintik di wajah Ron.
"Kuhabiskan separo hidupku mengejar kakak kembarmu agar jauh-jauh dari
Hutan."
Bolu keras itu nyaris mematahkan gigi mereka, tetapi Harry dan Ron
berpura-pura menikmatinya sementara mereka menceritakan kepada Hagrid
tentang pelajaran-pelajaran pertama mereka. Fang meletakkan kepala di atas
lutut Harry dan liurnya berleleran di jubah Harry.
Harry dan Ron senang mendengar Hagrid menyebut Filch "si bandot tua".
"Sedangkan si kucing, Mrs Norris, ingin sekali aku mempertemukannya
dengan Fang. Tahukah kalian, setiap kali aku ke sekolah, dia selalu mengikutiku
ke mana-mana? Aku tak bisa mengusirnya. Pasti disuruh Filch."
Harry menceritakan kepada Hagrid pelajaran Snape. Hagrid, seperti Ron,
menasihati Harry agar tidak mencemaskan hal itu.
Snape memang tak menyukai hampir semua murid.
"Tetapi dia kelihatannya benar-benar membenciku."
"Omong kosong!" kata Hagrid. "Kenapa dia harus benci padamu?"
Meskipun demikian, Harry tak bisa membuang pikiran bahwa rasanya Hagrid
tidak menatap matanya ketika mengatakan itu.
"Bagaimana kakakmu Charlie?" Hagrid bertanya kepada Ron, "Aku suka sekali
padanya hebat cara dia menangani binatang."
Harry bertanya-tanya dalam hati apakah Hagrid sengaja membelokkan
pembicaraan. Sementara Ron bercerita kepada Hagrid tentang pekerjaan
Charlie menangani naga, Harry memungut secarik kertas yang tergeletak di
atas meja di bawah tatakan teh. Rupanya itu potongan artikel dari Daily
Prophet.
--------------------------------------- 84
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry ingat Ron memberitahunya di kereta api bahwa ada orang yang
mencoba merampok Gringotts, tetapi Ron tidak menyebutkan tanggalnya.
"Hagrid!" kata Harry. "Pembobolan Gringotts terjadi pada hari ulang
tahunku! Jangan-jangan terjadi waktu kita ada di sana!"
Tak ada keraguan lagi, Hagrid jelas-jelas tak berani menatap Harry kali ini.
Dia cuma menggumam tak jelas dan menawari Harry bolu keras lagi. Harry
membaca berita itu lagi. Ruangan besi yang dibongkar itu telah dikosongkan
sebelumnya, pada hari itu juga.
Hagrid telah mengosongkan ruangan besi nomor tujuh ratus tiga belas, kalau
mengeluarkan bungkusan kumal itu bisa disebut mengosongkan. Apakah
bungkusan itu yang dicari para pencuri?
Selagi Harry dan Ron berjalan kembali ke kastil untuk makan malam,
dengan kantong berat berisi bolu keras yang demi kesopanan tak bisa mereka
tolak, Harry berpikir bahwa sejauh ini tak satu pun pelajaran yang sudah
diterimanya membuatnya begini banyak berpikir seperti acara minum teh
bersama Hagrid.
Apakah kebetulan Hagrid mengeluarkan bungkusan itu tepat pada waktunya?
Di manakah bungkusan itu sekarang? Dan apakah Hagrid tahu sesuatu tentang
Snape yang tak ingin disampaikannya kepada Harry?
***
9. Duel Tengah Malam
HARRY tak pernah menduga akan bertemu anak lain yang lebih dibencinya
daripada Dudley, tetapi itu sebelum dia bertemu Draco Malfoy. Untunglah anak
kelas satu Gryffindor hanya bersama anak-anak Slytherin pada pelajaran
Ramuan saja, maka mereka tak perlu sering-sering bertemu Malfoy. Atau paling
tidak, begitulah adanya sampai mereka melihat pengumuman yang di
tempatkan di ruang rekreasi Gryffindor yang membuat mereka semua
--------------------------------------- 85
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
mengeluh. Pelajaran terbang akan di mulai pada hari kamis, dan Gryffindor
serta Slytherin akan belajar bersama-sama.
"Gawat deh," kata Harry muram. "Inilah yang sangat kuinginkan. Kelihatan
konyol di atas sapu di depan Malfoy."
Harry sebetulnya sudah tak sabar menunggununggu pelajaran terbang.
"Belum tentu kau kelihatan konyol," kata Ron masuk akal.
"Lagi pula, aku tahu Malfoy selalu menyombong betapa jagonya dia main
Quidditch, tapi berani taruhan, pasti itu cuma bualan saja."
Malfoy memang bicara banyak tentang terbang.
Dia mengeluh keras-keras tentang anak-anak kelas satu yang tidak diizinkan
masuk tim Quidditch dan menceritakan kisah-kisah panjang penuh
kesombongan yang semuanya berakhir dengan dirinya nyaris bertabrakan
dengan helikopter. Tapi Malfoy bukan satusatunya yang bercerita tentang
terbang. Kalau mendengar cerita Seamus Finnigan, kita membayangkan dia
telah melewatkan masa kanak-kanaknya dengan meluncur berkeliling daerah
pedesaan di atas sapu terbangnya. Bahkan Ron akan memberitahu semua orang
yang mau mendengarkan, kisah waktu dia nyaris menabrak hang-glider dengan
sapu tua Charlie. Semua anak yang berasal dari keluarga penyihir tak henti-
hentinya bicara tentang Quidditch. Ron malah sudah bertengkar hebat dengan
Dean Thomas, yang tinggal seasrama dengan mereka, tentang sepak bola. Ron
sama sekali tidak bisa memahami apa serunya permainan dengan hanya satu
bola sementara pemainnya tak diizinkan terbang. Harry pernah memergoki Ron
menyodok-nyodok poster tim sepak bola West Ham milik Dean dengan jarinya,
mencoba membuat pemainnya bergerak.
Neville belum pernah naik sapu, karena neneknya tidak mengizinkannya
berada dekat-dekat sapu. Dalam hati Harry berpendapat pantaslah nenek
Neville memutuskan begitu, karena berada di darat dengan dua kaki pun
Neville bisa mengalami berbagai kecelakaan aneh.
Hermione Granger sama cemasnya dengan Neville dalam hal terbang. Ini
pelajaran yang tak bisa dihafalkan ataupun dipelajari dari buku tapi bukan
berarti dia tak pernah mencobanya. Saat sarapan pada hari Kamis pagi, dia
membuat mereka semua bosan sekali dengan tips-tips terbang yang didapatnya
dari buku perpustakaan berjudul Quidditch dari Masa ke Masa. Neville
mendengarkan dengan tekun, dia ingin sekali memperoleh apa pun yang bisa
membantunya bertahan di sapunya nanti, tetapi anak-anak lain sangat senang
ketika kuliah Hermione terputus oleh datangnya pos.
Harry belum pernah mendapatkan surat lain setelah surat pendek Hagrid. Ini
langsung menarik perhatian Malfoy tentu saja. Burung hantu elang Malfoy selalu
membawakan bungkusan permen dari rumah untuknya, yang dibukanya dengan
penuh gaya di meja Slytherin.
Seekor burung hantu serak membawakan bungkusan kecil untuk Neville dari
neneknya. Neville membukanya dengan bersemangat dan menunjukkan bola
kaca sebesar kelereng besar, yang kelihatannya penuh asap putih.
"Ini Remembrall bola ingat-semua!" dia menjelaskan.
"Nenek tahu aku sering lupa bola ini memberitahu kita kalau ada sesuatu
yang kita lupa melakukannya. Lihat, pegang eraterat seperti ini dan kalau dia
--------------------------------------- 86
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
berubah merah oh...." Wajah Neville panik karena Remembrall itu mendadak
saja menyala merah, "... berarti kau melupakan sesuatu...."
Neville sedang berusaha mengingat apa yang dia lupakan ketika Draco
Malfoy yang sedang melewati meja Gryffindor, menyambar bola itu dari
tangannya.
Harry dan Ron langsung melompat bangun. Mereka setengah berharap bisa
berkelahi dengan Malfoy, tetapi Profesor McGonagall, yang bisa melihat
keributan yang akan terjadi lebih cepat dari guru mana pun di seluruh sekolah,
dalam sekejap saja sudah berada di sana.
"Ada apa?"
"Malfoy mengambil Remembrall saya, Profesor."
Sambil merengut Malfoy cepat-cepat meletakkan kembali Remembrall di
atas meja. "Cuma lihat saja kok," katanya, lalu ngeloyor pergi, diikuti Crabbe
dan Goyle.
***
Pukul setengah empat sore itu, Harry Ron, dan anakanak Gryffindor lainnya
bergegas menuruni undakan depan menuju halaman untuk ikut pelajaran
terbang pertama mereka. Hari itu cerah, dengan angin sepoisepoi dan
rerumputan bergoyang di kaki mereka sementara mereka berjalan melintasi
halaman landai menuju lapangan yang berhadapan dengan Hutan Terlarang,
yang pohon-pohonnya melambai menyeramkan di kejauhan.
Anak-anak Slytherin sudah di sana, begitu juga dua puluh sapu berderet rapi
di tanah. Harry sudah pernah mendengar Fred dan George Weasley
mengeluhkan sapu-sapu sekolah.
Kata mereka beberapa sapu mulai bergetar jika kau terbang terlalu tinggi,
atau ada juga sapu yang selalu agak mengarah ke kiri.
Guru mereka, Madam Hooch, datang. Rambutnya pendek kelabu, dengan
mata kuning seperti mata elang.
"Nah, apa lagi yang kalian tunggu?" gertaknya. "Semua berdiri di sebelah
sapu. Ayo, cepat."
Harry melirik sapunya. Sapunya sudah tua dan beberapa helai tali pengikat
rantingnya mencuat ke arah yang aneh.
"Julurkan tangan kananmu di atas sapu," seru Madam Hooch di depan, "dan
katakan, 'Naik!'"
"NAIK!" semua berteriak.
Sapu Harry langsung melompat ke tangannya, tapi sapu itu cuma salah satu
dari sedikit yang begitu. Sapu Hermione cuma berguling di tanah, dan sapu
Neville malah tidak bergerak sama sekali. Mungkin sapu, seperti halnya kuda,
bisa tahu kalau kau takut, pikir Harry. Ada getar di suara Neville yang jelasjelas
menunjukkan dia ingin mempertahankan kakinya di tanah.
Madam Hooch kemudian menunjukkan kepada mereka bagaimana menaiki
sapu tanpa melorot dari ujungnya, dan dia berjalan mondar-mandir
membetulkan pegangan mereka. Harry dan Ron senang ketika Madam Hooch
berkata kepada Malfoy bahwa selama bertahun-tahun dia salah memegang
sapunya.
--------------------------------------- 87
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kalau aku meniup peluitku, kalian menjejak ke tanah, keraskeras," kata
Madam Hooch. "Pegang eraterat sapu kalian, naik kira-kira semeter, kemudian
langsung turun lagi dengan cara agak membungkuk ke depan. Perhatikan peluit
tiga dua..."
Tetapi Neville yang gugup dan cemas, dan takut ketinggalan, menjejak
keras-keras sebelum peluit menyentuh bibir Madam Hooch.
"Kembali!" teriak Madam Hooch, tetapi Neville meluncur ke atas seperti
gabus yang terlempar dari botol... tiga meter... enam meter. Harry melihat
wajah Neville yang pucat ketakutan memandang ke tanah yang semakin
menjauh, melihatnya terperangah kaget, tergelincir dari sapunya dan...
BLUG... Krak... Neville jatuh tengkurap di atas rerumputan.
Sapunya masih terus naik makin lama makin tinggi dan mulai melayang
menuju Hutan Terlarang, sampai akhirnya lenyap dari pandangan.
Madam Hooch membungkuk di atas Neville, wajahnya sama pucatnya
dengan wajah Neville.
"Pergelangan tangannya patah," Harry mendengar Madam Hooch bergumam.
"Ayo, Nak tidak apaapa, bangunlah."
Dia berbalik menghadap murid-murid lainnya.
"Tak seorang pun dari kalian boleh bergerak sementara aku membawa anak
ini ke rumah sakit. Biarkan sapu-sapu itu di tanah, kalau tidak, kalian akan
dikeluarkan dari Hogwarts sebelum kalian sempat mengucapkan 'Quidditch'.
Ayo, Nak."
Neville, wajahnya dibanjiri air mata, memegangi pergelangan tangannya,
berjalan terpincang-pincang dalam pelukan Madam Hooch.
Begitu mereka mulai menjauh, Malfoy terbahak.
"Kalian lihat wajahnya yang bloon?"
Anak-anak Slytherin lainnya ikut tertawa.
"Diam kau, Malfoy," tukas Parvati Patil.
"Ooh, membela Longbottom?" komentar Pansy Parkinson, anak perempuan
bertampang galak dari Slytherin. "Tak kusangka ternyata kau suka model gemuk
cengeng macam begitu, Parvati."
"Lihat!" kata Malfoy. la melompat ke depan dan menyambar sesuatu dari
rerumputan. "Bola jelek kiriman nenek si Longbottom."
Remembrall di tangan Malfoy berkilau ditimpa cahaya matahari. "Bawa ke
sini, Malfoy," kata Harry tenang. Semua berhenti bicara untuk menonton.
Malfoy menyeringai menyebalkan.
"Bawa ke sini!" Harry berteriak, tetapi Malfoy sudah melompat ke atas
sapunya dan meluncur naik. Dia tidak bohong, dia bisa terbang dengan baik
sambil melayang setinggi dahan-dahan paling atas pohon ek, dia berseru,
"Ambil sendiri nih, Potter!"
Harry menjambret sapunya.
"Jangan!" jerit Hermione Granger. "Madam Hooch melarang kita bergerak
kalian akan menyulitkan kita semua."
Harry mengabaikannya. Telinganya berdengung. Dia menaiki sapunya dan
menjejak tanah keras-keras, dan dia meluncur naik. Angin menerpa rambutnya
dan jubahnya melambai di belakangnya dan Harry bukan main girangnya
--------------------------------------- 88
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
ketika menyadari dia menemukan sesuatu yang bisa dilakukannya tanpa perlu
diajari ini mudah, ini luar biasa
menyenangkan. Diangkatnya sedikit sapunya untuk membuatnya naik lebih
tinggi dan didengarnya pekik kaget anak-anak perempuan di bawah dan teriak
kekaguman Ron.
Dibelokkannya sapunya dengan tajam untuk menghadapi Malfoy di angkasa.
Malfoy kelihatan kaget. "Berikan padaku bolanya," kata Harry, "kalau tidak,
kudorong jatuh kau dari sapumu!"
"Oh, yeah?" kata Malfoy, berusaha menyeringai, tetapi wajahnya tampak
cemas.
Harry tahu apa yang harus dilakukannya. Dia membungkuk sedikit dan
memegang erat-erat sapunya dengan kedua tangannya dan sapu itu melesat
menuju Malfoy. Nyaris saja Malfoy tertabrak, tetapi dia berhasil menghindar
pada saat terakhir. Harry membelok tajam dan memegangi sapunya supaya
lebih mantap.
"Di sini tak ada Crabbe dan Goyle yang bisa menyelamatkan lehermu,
Malfoy," kata Harry. Pikiran yang sama rupanya terlintas di benak Malfoy.
"Tangkap saja sendiri kalau bisa!" teriaknya, dan dilemparkannya bola kaca
itu tinggi-tinggi ke angkasa, lalu Malfoy meluncur turun.
Harry melihat, seakan dalam gerakan lambat, bola itu terlontar ke atas, lalu
mulai turun. Dia membungkuk dan mengarahkan gagang sapunya ke bawah.
Detik berikutnya dia meluncur turun cepat sekali, angin menderu di telinganya,
bercampur dengan jeritan dan teriakan anak-anak yang menonton. Harry
menjulurkan tangan, kira-kira tiga puluh senti dari tanah dia berhasil
menyambar bola itu, tepat pada waktunya untuk meluruskan sapunya dan jatuh
pelan di rerumputan dengan Remembrall selamat dalam genggamannya.
"HARRY POTTER!"
Jantung Harry mencelos, melorot lebih cepat dari gerak menukiknya tadi.
Profesor McGonagall berlarilari ke arah mereka. Harry berdiri, gemetar.
"Belum pernah selama aku di Hogwarts..."
Profesor McGonagall nyaris tak bisa bicara saking shock-nya, kacamatanya
berkilat-kilat. "Berani-beraninya kau bisa patah lehermu..."
"Bukan dia yang salah, Profesor..."
"Diam, Miss Patil..."
"Tapi Malfoy..."
"Cukup, Mr Weasley. Potter, ikut aku sekarang."
Harry sempat melihat wajah Malfoy, Crabbe, dan Goyle yang penuh
kemenangan saat dia berjalan dengan perasaan beku, mengikuti Profesor
McGonagall menuju ke kastil. Dia ingin mengatakan sesuatu untuk membela
diri, tetapi ada yang tidak beres dengan suaranya. Profesor McGonagall
berjalan cepat, bahkan tanpa memandangnya. Harry harus berlari-lari kecil
agar tidak ketinggalan. Tamatlah riwayatnya sekarang. Padahal belum dua
minggu dia di sini. Sepuluh menit lagi dia akan mengepak barang-barangnya.
Apa kata keluarga Dursley jika dia nanti muncul di depan pintu rumah mereka?
Menaiki undakan depan, menaiki tangga pualam di dalam, dan masih saja
Profesor McGonagall belum berkata apa-apa kepadanya. Dia membuka pintu-
--------------------------------------- 89
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
pintu dan berjalan menyusuri koridor-
koridor, sementara Harry mengikutinya dengan perasaan merana.
Mungkin Profesor McGonagall membawanya ke Dumbledore. Harry teringat
Hagrid, yang sudah dikeluarkan tetapi masih diizinkan tinggal sebagai pengawas
binatang liar. Mungkin dia bisa jadi asisten Hagrid.
Perutnya melilit ketika dia membayangkan mengawasi Ron dan teman-
temannya yang lain menjadi penyihir, sementara dia sendiri cuma berkeliling
halaman kastil, membawakan tas Hagrid.
Profesor McGonagall berhenti di depan sebuah kelas. Dia membuka pintu
dan menjulurkan kepalanya ke dalam.
"Maaf, Profesor Flitwick, boleh aku pinjam Wood sebentar?"
Wood kayu? pikir Harry bingung. Apakah Wood nama tongkat yang akan
digunakan untuk menghajarnya?
Tetapi ternyata Wood adalah anak kelas lima yang besar dan tegap. Dia
keluar dari kelas dengan kebingungan.
"Ikut aku, kalian berdua," kata Profesor McGonagall, dan mereka berjalan
menyusuri koridor, Wood memandang Harry dengan ingin tahu.
"Masuk sini."
Profesor McGonagall menunjuk ke dalam kelas yang kosong, di dalamnya
hanya ada Peeves yang sedang sibuk menulis katakata tidak sopan di papan
tulis.
"Keluar, Peeves!" bentak Profesor McGonagall. Peeves melemparkan
kapurnya ke dalam kaleng, yang berkelontangan keras, dan dia melesat keluar
sambil menyumpah-nyumpah.
Profesor McGonagall membanting pintu menutup dan berbalik menghadapi
kedua anak itu.
"Potter, ini Ol iver Wood. Wood aku sudah mendapatkan Seeker untukmu."
Seeker berarti pencari.
Ekspresi Wood berubah dari kebingungan menjadi kegirangan.
"Anda serius, Profesor?"
"Seratus persen," kata Profesor McGonagall tegas. "Anak ini berbakat alam.
Belum pernah aku melihat yang seperti ini.
Apakah tadi itu untuk pertama kalinya kau naik sapu, Potter?"
Harry mengangguk dalam diam. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang
sedang terjadi, tetapi kelihatannya dia tidak dikeluarkan, dan sedikit demi
sedikit perasaan kembali menghangati kakinya.
"Dia menangkap benda di tangannya itu setelah menukik lima belas meter,"
Profesor McGonagall memberitahu Wood.
"Sama sekali tidak luka, tergores pun tidak. Charlie Weasley saja tak akan
bisa melakukannya."
Wajah Wood berubah, seperti orang yang dalam sekejap mendapatkan
semua impiannya telah menjadi kenyataan.
"Pernah menonton Quidditch, Potter?" Wood bertanya penuh semangat.
"Wood adalah kapten tim Gryffindor," Profesor McGonagall menjelaskan.
"Potongan tubuhnya juga cocok untuk Seeker," kata Wood, yang sekarang
berjalan mengelilingi Harry dan memandanginya.
--------------------------------------- 90
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Ringan cepat kita harus memberinya sapu yang pantas, Profesor Nimbus
Dua Ribu atau Sapu-bersih Tujuh, saya rasa."
"Aku akan bicara dengan Dumbledore, siapa tahu kita bisa melunakkan
aturan tentang anak kelas satu itu. Kita perlu sekali tim yang lebih bagus
daripada tahun lalu. Kalah total dari Slytherin dalam pertandingan terakhir,
aku tak berani memandang Severus Snape selama berminggu-minggu...."
Profesor McGonagall memandang tajam Harry dari atas kacamatanya.
"Aku ingin dengar kau berlatih keras, Potter, kalau tidak, mungkin aku akan
berubah pikiran. Mungkin kau harus dihukum."
Mendadak dia tersenyum. "Ayahmu akan bangga sekali,"
katanya. "Dia sendiri pemain Quidditch yang hebat."
***
"Kau bergurau."
Saat itu mereka sedang makan malam. Harry baru saja selesai bercerita
pada Ron apa yang terjadi waktu dia meninggalkan lapangan bersama Profesor
McGonagall. Ron sudah hendak menyuap pai daging, sudah setengah jalan, tapi
pai itu terlupakan begitu saja.
"Seeker?" katanya. "Tetapi anak kelas satu tidak pernah kau pastilah
pemain termuda selama..."
"... seabad ini," kata Harry lalu menyuapkan pai ke dalam mulutnya. Dia
merasa lapar sekali setelah kejadian seru sore ini.
"Wood bilang padaku."
Ron begitu terpana, dia hanya ternganga menatap Harry.
"Aku mulai latihan minggu depan," kata Harry.
"Tapi jangan bilang siapa-siapa.
Wood ingin merahasiakannya." Fred dan George Weasley muncul di aula.
Mereka melihat Harry dan bergegas mendekat.
"Bagus," kata George dengan. suara pelan. "Wood bercerita kepada kami.
Kami anggota tim juga Beater." Rupanya mereka berdua pemukul bola.
"Kuberitahu kau, kita pasti akan memenangkan Piala Quidditch tahun ini,"
kata Fred. "Kami belum pernah menang sejak Charlie pergi, tetapi tim tahun ini
akan brilian. Kau pastilah hebat, Harry, Wood nyaris melonjak-lonjak ketika dia
memberitahu kami."
"Tapi kami harus pergi. Lee Jordan mengira dia telah menemukan lorong
rahasia menuju ke luar sekolah."
"Taruhan pasti yang ditemukannya lorong di belakang patung Gregory si
Penjilat, yang telah kami temukan pada minggu pertama kami di sini. Sampai
ketemu."
Baru saja Fred dan George menghilang, muncullah anak lain yang sangat
tidak diinginkan. Malfoy, diapit oleh Crabbe dan Goyle.
"Makan malam terakhir nih, Potter? Kapan kau naik kereta kembali ke dunia
Muggle?"
"Kau jauh lebih berani sekarang setelah kembali ke tanah dan berada
bersama teman-teman kecilmu," kata Harry tenang.
--------------------------------------- 91
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tentu saja Crabbe dan Goyle sama sekali tidak kecil, tetapi karena Meja
Tinggi penuh para guru, tak seorang pun dari mereka berdua bisa berbuat lain
kecuali mengertakkan bukubuku jari mereka dan merengut.
"Aku siap menghadapimu sendirian kapan saja," kata Malfoy. "Bahkan malam
ini juga, kalau kau mau. Duel penyihir.
Hanya tongkat tanpa kontak. Kenapa? Belum pernah dengar tentang duel
penyihir, rupanya?"
"Tentu saja sudah," kata Ron, berpaling menghadap mereka.
"Aku orang keduanya. Siapa orang keduamu?"
Malfoy memandang Crabbe dan Goyle, menilai mereka.
"Crabbe," katanya. "Tengah malam nanti, oke? Kita bertemu di ruang piala,
ruang itu tak pernah dikunci."
Setelah Malfoy pergi, Ron dan Harry berpandangan.
"Apa sih duel penyihir itu?" tanya Harry. "Dan apa maksudmu kau menjadi
orang keduaku?"
"Yah, orang kedua adalah orang yang akan mengambil alih kalau kau mati,"
kata Ron sambil lalu, seraya menyuap painya yang sudah dingin. Melihat
ekspresi wajah Harry, dia cepat-cepat menambahkan, "Tapi orang hanya mati
dalam duel yang sesungguhnya, antara dua penyihir betulan. Paling maksimal
yang bisa dilakukan kau dan Malfoy hanyalah saling kirim percikan bunga api.
Kalian berdua belum menguasai cukup sihir untuk membuat bencana besar.
Lagi pula, berani taruhan, sebetulnya dia mengharap kau menolak."
"Lalu bagaimana kalau aku melambaikan tongkatku dan tak ada yang
terjadi?"
"Lempar saja tongkatmu dan pukul hidungnya," saran Ron.
"Maaf."
Mereka berdua mendongak. Rupanya Hermione Granger.
"Apa kita tidak bisa makan dengan tenang di sini?" komentar Ron. Hermione
tidak mengacuhkannya dan berbicara kepada Harry "Aku tak sengaja
mendengar pembicaraanmu dengan Malfoy..."
"Tidak heran," gumam Ron.
"... dan kau tidak boleh berkeliaran di sekolah pada malam hari. Pikirkan
angka yang akan dikurangi dari Gryffindor kalau kau sampai tertangkap, dan
kau pasti tertangkap. Kau benarbenar egois."
"Dan itu bukan urusanmu," kata Harry.
"Selamat tinggal," kata Ron.
***
Ini tak bisa disebut akhir hari yang sempurna, pikir Harry sementara dia
berbaring, lama kemudian, menunggu Dean dan Seamus tertidur. (Neville
belum kembali dari rumah sakit.) Ron telah melewatkan sepanjang malam itu
untuk memberinya nasihat, seperti, "Jika dia mencoba mengutukmu, sebaiknya
kau menghindar saja, karena aku tak ingat bagaimana cara menangkal
kutukan." Kemungkinan besar mereka akan tertangkap oleh Filch atau Mrs
Norris, dan Harry merasa dia mengharap keberuntungan yang berlebihan
dengan melanggar peraturan sekolah lainnya hari ini.
--------------------------------------- 92
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tetapi di lain pihak, wajah Malfoy yang penuh ejekan terusmenerus muncul
dari kegelapan ini kesempatan besar baginya unruk berhadapan langsung
dengan Malfoy. Mana mungkin dilewatkan.
"Setengah dua belas," akhirnya Ron bergumam. "Lebih baik kita berangkat
sekarang."
Mereka memakai baju luar, mengambil tongkat, dan mengendap-endap
menyeberangi ruang menara, menuruni tangga spiral, menuju ke ruang rekreasi
Gryffindor. Masih ada berkas-berkas bara di perapian, membuat semua kursi
berlengan tampak seperti bayangan bungkuk hitam. Mereka sudah hampir
mencapai lubang lukisan ketika terdengar suara dari kursi yang berada paling
dekat, "Aku tak percaya kau akan berbuat begitu, Harry."
Sebuah lampu menyala. Rupanya Hermione Granger, memakai gaun tidur
merah jambu, dengan kening berkerut.
"Kau!" kata Ron gusar. "Tidur lagi sana!"
"Hampir saja kuberitahu kakakmu," Hermione balas membentak. "Percy dia
Prefek, dia akan menghentikan ini."
Harry heran sekali ada orang yang begitu mau, ikut campur urusan orang
lain. "Ayo," ajaknya kepada Ron. Dia mendorong lukisan Nyonya Gemuk dan
turun melalui lubang.
Hermione tak mau menyerah begitu mudah. Dia mengikuti Ron melewati
lubang lukisan, mendesis kepada mereka seperti angsa marah.
"Tidakkah kalian peduli pada Gryffindor? Apakah kalian cuma peduli pada
diri sendiri? Aku tak ingin Slytherin memenangkan Piala Asrama dan kalian akan
membuat semua angka yang kudapat dari Profesor McGonagall karena tahu
tentang Mantra Pertukaran hilang percuma."
"Pergi."
"Baiklah, tetapi sudah kuperingatkan kalian, ingat saja apa yang kukatakan
kalau kalian ada di kereta api yang akan membawa kalian pulang besok, kalian
ini sungguh..."
Tetapi mereka tak sempat tahu apa yang akan dikeluhkan Hermione.
Hermione sudah berbalik menghadap ke lukisan Nyonya Gemuk untuk kembali
ke dalam, tetapi ternyata dia menghadapi kanvas kosong. Si Nyonya Gemuk
sedang mengadakan kunjungan tengah malam dan Hermione terkunci, tak bisa
masuk Menara Gryffindor.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanyanya nyaring.
"Itu urusanmu," kata Ron. "Kami harus pergi, kami sudah hampir terlambat."
Mereka belum mencapai ujung koridor ketika Hermione mengejar mereka.
"Aku ikut kalian," katanya.
"Tidak boleh."
"Kaupikir aku akan berdiri di sini dan menunggu Filch menangkapku? Jika dia
menemukan kita bertiga, akan kukatakan hal yang sebenarnya kepadanya,
bahwa aku sedang berusaha mencegah kalian, dan kalian bisa mendukungku."
"Nekat amat...," kata Ron keras. "Tutup mulut, kalian berdua!" kata Harry
tegas. "Aku mendengar sesuatu."
Semacam isakan. "Mrs Noris?" bisik Ron, menyipitkan mata menembus
kegelapan.
--------------------------------------- 93
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ternyata bukan Mrs Noris, melainkan Neville. Dia melingkar di lantai,
tertidur nyenyak, tetapi langsung terbangun kaget ketika mereka mendekat.
"Untung kalian menemukan aku! Sudah berjamjam aku di luar sini. Aku tak
ingat kata kunci baru untuk masuk kamar."
"Pelan-pelan ngomongnya, Neville. Kata kuncinya 'moncong babi', tapi itu
tak bisa membantumu sekarang, si Nyonya Gemuk entah sedang ke mana."
"Bagaimana tanganmu?" tanya Harry.
"Sudah sembuh,"
kata Neville, menunjukkan kedua tangannya. "Madam Pomfrey
membetulkannya dalam waktu semenit."
"Bagus nah, begini, Neville, kami harus pergi, sampai ketemu nanti..."
"Jangan tinggalkan aku!" kata Neville, buru-buru berdiri.
"Aku tak mau di sini sendirian, si Baron Berdarah sudah lewat dua kali."
Ron melihat arlojinya dan memandang marah pada Hermione dan Neville.
"Kalau salah satu dari kami tertangkap, aku akan kerja keras untuk
menguasai Kutukan Bogies yang diceritakan Quirrell kepada kita dan
menggunakannya kepada kalian."
Hermione membuka mulutnya, mungkin untuk memberitahu Ron bagaimana
persisnya menggunakan Kutukan Bogies, tetapi Harry mendesis, menyuruhnya
diam dan memberi isyarat agar mereka semua maju mengikutinya.
Mereka menyelinap sepanjang koridor-koridor yang disinari leret-leret sinar
bulan yang masuk lewat jendela-jendela tinggi.
Di setiap belokan, Harry mengira akan bertemu Filch atau Mrs Norris, tetapi
mereka beruntung. Mereka bergegas menaiki tangga ke lantai tiga dan
berjingkat-jingkat ke ruang piala.
Malfoy dan Crabbe belum ada di sana. Kotakkotak trofi dari kristal berkilau
terkena cahaya bulan. Piala, tameng, plakat, dan patung-patung emas dan
perak mengilap dalam kegelapan.
Mereka berjingkat sepanjang dinding, mata mereka menatap pintu di kedua
ujung ruangan. Harry mengeluarkan tongkatnya, siapa tahu Malfoy melompat
masuk dan langsung menyerang.
Menit demi menit berlalu.
"Dia terlambat, mungkin tidak berani datang," bisik Ron.
Kemudian bunyi di ruang sebelah membuat mereka terlonjak.
Harry baru mengangkat tongkatnya ketika mereka mendengar ada orang
bicara dan orang itu bukan Malfoy.
"Enduslah, kucing manis, mereka mungkin sembunyi di sudut."
Itu suara Filch yang bicara kepada Mrs Norris. Ketakutan, Harry melambai-
lambai panik kepada tiga temannya untuk mengikutinya secepat mungkin.
Mereka mengendap-endap menuju pintu, menjauh dari suara Filch. Jubah
Neville baru saja lenyap, begitu ia membelok di sudut, ketika mereka
mendengar Filch masuk ke ruang piala.
"Mereka ada di dalam sini," anak-anak mendengar Filch bergumam,
"mungkin sembunyi."
"Ke sini!" Harry berseru tanpa suara, dan dengan ketakutan, mereka
merayap menyusuri galeri penuh baju zirah. Mereka bisa mendengar Filch
--------------------------------------- 94
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
semakin dekat. Mendadak Neville memekik ketakutan dan berlari dia
tersandung, memeluk pinggang Ron dan keduanya menjatuhi seperangkat baju
zirah.
Bunyi gedubrakan dan kelontangan cukup untuk membangunkan seluruh
sekolah.
"LARI!" Harry berteriak dan keempatnya melesat ke ujung galeri, tanpa
menoleh ke belakang untuk melihat apakah Filch mengikuti mereka. Mereka
keluar dari pintu dan lari berbelok melewati koridor yang satu dan kemudian
koridor lain, Harry di depan tanpa tahu di mana mereka berada atau ke mana
mereka pergi. Mereka menerobos permadani gantung dan tiba di lorong
tersembunyi, berlari sepanjang lorong dan keluar lagi dekat ruang kelas Jimat
dan Guna-guna, yang mereka tahu terletak jauh sekali dari ruang piala.
"Kurasa kita sudah bebas dari dia," ujar Harry tersengal, bersandar pada
tembok yang dingin dan menyeka dahinya.
Neville membungkuk sampai terlipat dua, mendesah-desah dan merepet
gugup.
"Sudah... kubilang... kan," Hermione terengah, memegangi baju di depan
dadanya. "Sudah... kubilang... kan."
"Kita harus kembali ke Menara Gryffindor," kata Ron,
"secepat mungkin."
"Malfoy menjebakmu," Hermione berkata kepada Harry.
"Kau sadar sekarang, kan? Dia memang tidak berencana menemuimu Filch
tahu ada anak yang akan berada di ruang piala. Pasti Malfoy yang
mengisikinya."
Harry berpikir Hermione mungkin benar, tetapi ia tak akan mengatakannya.
"Ayo, pergi."
Tidak akan semudah itu. Mereka belum berjalan lebih dari dua belas
langkah ketika ada pegangan pintu yang berkeretak dan sesuatu meluncur
keluar dari ruang kelas di depan mereka.
Ternyata Peeves. Dia melihat mereka dan menjerit kesenangan. "Diam,
Peeves tolong, diam kau akan membuat kami dikeluarkan."
Peeves terbahak.
"Jalan-jalan tengah malam nih, anak-anak kelas satu? Tsk, tsk, tsk. Badung,
badung, badung, kalian akan ditelikung."
"Tidak, kalau kau tidak mengadukan kami, Peeves. Jangan dong, Peeves."
"Harus bilang Filch, harus," kata Peeves dengan suara saleh, tetapi matanya
berkilat nakal. "Demi kebaikan kalian sendiri kok."
"Minggir kau," tukas Ron seraya melayangkan pukulan ke arah Peeves. Itu
sungguh kesalahan besar.
"MURID KELUAR KAMAR!" Peeves berteriak, "MURID KELUAR KAMAR ADA DI
KORIDOR JIMAT!"
Membungkuk melewati Peeves, mereka berlari sampai ke ujung koridor, di
situ mereka terbentur pintu, dan pintu itu terkunci.
"Celaka!" Ron mengeluh, sementara mereka mendorong pintu tanpa hasil.
"Habis deh kita!" Mereka bisa mendengar langkah-langkah kaki, Filch berlari
--------------------------------------- 95
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
secepat mungkin ke arah teriakan Peeves. "Oh, minggir," gertak Hermione. Dia
merebut tongkat Harry, mengetuk kuncinya dan berbisik, "Alohomoral"
Kunci menceklik dan pintu menjeblak terbuka berdesakan mereka masuk,
cepat-cepat menutupnya kembali, lalu menempelkan telinga ke pintu,
mendengarkan.
"Ke mana mereka pergi, Peeves?" tanya Filch. "Cepat, beritahu aku."
"Bilang dulu, 'tolong'."
"Jangan main-main, Peeves, ke mana mereka pergi?"
"Aku tak akan bilang apa-apa kalau kau tidak bilang tolong,"
kata Peeves dengan suara datar menjengkelkan.
"Baiklah tolong."
"APA-APA! Ha ha ha! Kan sudah kubilang aku tak akan bilang apa-apa kalau
kau tidak bilang tolong! Ha ha haaaaaa!"
Dan mereka mendengar desau Peeves yang terbang pergi dan Filch yang
mencaci-maki be-rang.
"Dia mengira pintu ini terkunci," bisik Harry. "Kurasa kita selamat ada apa
sih, Neville!" Karena Neville selama semenit belakangan ini terus menarik-narik
baju Harry. "Apa?"
Harry berbalik dan melihat dengan jelas. Sesaat dia mengira dirinya sedang
bermimpi buruk ini sudah keterlaluan, mengingat semua yang sudah terjadi.
Mereka tidak berada dalam suatu ruangan, seperti yang dikiranya. Mereka
ada di koridor. Koridor terlarang di lantai tiga. Dan sekarang mereka tahu
kenapa koridor itu terlarang.
Mereka memandang tepat ke mata anjing raksasa, anjing yang memenuhi
seluruh ruang antara langitlangit dan lantai.
Kepalanya tiga, dengan tiga pasang mata galak yang berputarputar, tiga
hidung yang bergerak mengendus-endus ke arah mereka, tiga moncong dengan
liur menetes menggantung seperti tali licin dari taring kekuningan.
Anjing itu berdiri diam, sementara keenam matanya memandang mereka,
dan Harry tahu satu-satunya alasan kenapa mereka belum mati adalah karena
kemunculan mereka yang begitu mendadak telah mengejutkan si anjing. Tetapi
dengan cepat si anjing mengatasi keterkejutannya, itu sudah jelas dari
geraman-geramannya yang mengerikan itu.
Harry meraih pegangan pintu. Antara Filch dan maut, dia lebih memilih
Filch.
Mereka ambruk ke belakang Harry membanting pintu menutup, dan mereka
berlari, hampir terbang malah, kembali menyusuri koridor ke arah berlawanan.
Filch pasti sudah buruburu pergi mencari mereka ke tempat lain, karena
mereka tidak melihatnya di mana-mana. Tetapi mereka tak peduli yang
mereka inginkan hanyalah membuat jarak sebesar mungkin antara mereka dan
monster itu. Mereka tidak berhenti berlari sampai tiba di depan lukisan Nyonya
Gemuk di lantai tujuh.
"Dari mana saja kalian ini?" tanya si nyonya, memandang baju tidur mereka
yang merosot ke bahu dan wajah mereka yang merah berkeringat.
--------------------------------------- 96
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kau tak perlu tahu moncong babi, moncong babi," kata Harry tersengal,
dan lukisan itu mengayun ke depan. Mereka berebut masuk ke ruang rekreasi
dan ambruk di kursi berlengan.
Perlu beberapa saat sebelum mereka bisa berkata sesuatu.
Neville bahkan kelihatannya tidak akan bicara lagi selamanya.
"Apa maksud mereka mengunci binatang semacam itu di dalam sekolah?"
kata Ron akhirnya. "Kalau ada anjing yang perlu diajak jalan-jalan, nah, anjing
yang tadi itu."
Hermione sudah mendapatkan kembali napas dan kegalakannya.
"Kalian ini tidak ada yang memakai mata kalian, ya?"
bentaknya. "Apa kalian tidak melihat dia berdiri di mana?"
"Lantai?" Harry menebak. "Aku tidak melihat kakinya, aku terlalu sibuk
dengan kepalanya." "Bukan, bukan lantai. Anjing tadi berdiri di atas pintu
jebakan. Jelas dia menjaga sesuatu."
Hermione berdiri, membelalak kepada mereka.
"Kuharap kalian sekarang puas. Kita semua bisa mati atau lebih parah lagi,
dikeluarkan. Nah, sekarang kalau tidak keberatan, aku akan tidur."
Ron melongo memandangnya.
"Tidak, kami tidak keberatan," katanya. "Kau pikir kami memaksa kau ikut?"
Tetapi Hermione telah memberi Harry sesuatu yang lain untuk dipikirkan
ketika dia naik kembali ke tempat tidurnya.
Anjing itu menjaga sesuatu... Apa yang dikatakan Hagrid?
Gringotts adalah tempat paling aman di dunia kalau kau mau
menyembunyikan sesuatu kecuali mungkin Hogwarts.
Kelihatannya Harry sudah menemukan di mana bungkusan kecil kumal dari
ruangan besi tujuh ratus tiga belas itu berada.
***
Halloween
MALFOY tidak bisa mempercayai matanya ketika dia melihat Harry dan Ron
masih di Hogwarts keesokan harinya. Mereka tampak lelah tapi riang gembira.
Memang paginya Harry dan Ron berpendapat pertemuan dengan anjing
berkepala tiga itu petualangan yang luar biasa dan mereka bahkan berharap
mendapatkan pengalaman serupa lagi. Sementara itu Harry memberitahu Ron
tentang bungkusan yang tampaknya telah di pindahkan dari Gringotts ke
Hogwarts, dan mereka melewatkan banyak waktu untuk mereka-reka apa
kiranya yang memerlukan penjagaan begitu ketat.
"Kalau tidak benar-benar berharga, tentu benarbenar berbahaya," kata Ron.
"Atau dua-duanya," kata Harry.
Tetapi karena yang mereka tahu tentang benda misterius itu hanyalah
bahwa panjangnya sekitar lima senti, tanpa petunjuk tambahan, mereka tak
bisa menebak benda apa itu.
--------------------------------------- 97
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Baik Neville maupun Hermione tak menunjukkan minat sedikit pun untuk
mengetahui apa yang ada di bawah anjing dan pintu jebakan itu. Yang paling
penting bagi Neville, jangan sampai dia dekat-dekat anjing itu lagi.
Hermione sekarang menolak bicara dengan Harry dan Ron, tetapi Harry dan
Ron malah senang, sebab Hermione anaknya ngebos dan sangat sok tahu. Yang
benar-benar mereka inginkan sekarang hanyalah membalas Malfoy, dan betapa
girangnya mereka ketika kesempatan itu tiba bersama datangnya pos seminggu
kemudian.
Ketika burung-burung hantu membanjir ke dalam Aula Besar seperti
biasanya, perhatian semua orang langsung tertuju pada bungkusan kurus
panjang yang dibawa oleh enam burung hantu besar yang bising. Harry sama
tertariknya seperti yang lain untuk mengetahui apa isi bungkusan besar ini dan
dia tercengang ketika burung-burung hantu itu melayang turun dan
menjatuhkan bungkusan yang mereka bawa tepat di depannya, menyenggol
daging asapnya sampai jatuh ke lantai. Baru saja keenam burung hantu ini
menyingkir, datang burung hantu lain yang menjatuhkan surat ke atas
bungkusan tadi.
Harry merobek suratnya dulu. Untunglah, sebab surat itu begini bunyinya:
JANGAN MEMBUKA BUNGKUSAN DI MEJA
Isinya Nimbus Dua Ribu-mu yang baru,
tetapi aku tak ingin semua anak tahu kau mendapat sapu,
sebab nanti mereka semua juga minta.
Oliver Wood akan menemuimu malam ini di lapangan Quidditch, pukul
tujuh untuk latihan pertama.
Harry berusaha menyembunyikan kegembiraannya ketika dia memberikan
surat itu kepada Ron. "Nimbus Dua Ribu!" gumam Ron iri. "Menyentuhnya pun
aku bahkan belum pernah."
Mereka buru-buru meninggalkan Aula, karena ingin membuka bungkusan
sapu tanpa dilihat yang lain sebelum pelajaran pertama, tetapi baru setengah
menyeberangi Aula Depan, mereka melihat jalan ke atas dihalangi Crabbe dan
Goyle. Malfoy merebut bungkusan itu dari Harry dan merabanya.
"Ini sapu," katanya seraya melemparkannya kembali kepada Harry dengan
wajah antara iri dan menghina. "Habis kau kali ini, Potter. Anak-anak kelas satu
tidak boleh punya sapu."
Ron tak tahan lagi.
"Ini bukan sapu biasa," katanya. "Ini Nimbus Dua Ribu.
Kaubilang sapumu di rumah apa, Malfoy? Komet Dua Enam Puluh?" Ron
nyengir ke arah Harry. "Komet memang kelihatannya mentereng, tetapi tidak
sekelas dengan Nimbus."
"Kau tahu apa, Weasley! Beli separo tangkainya saja kau takkan sanggup,"
balas Malfoy. "Kurasa kau dan kakak-kakakmu harus menabung ranting demi
ranting."
Sebelum Ron sempat menjawab, Profesor Flitwick muncul di belakang
Malfoy.
"Tidak bertengkar kuharap, anak-anak?" katanya.
"Potter dikirimi sapu, Profesor," Malfoy buru-buru mengadu.
--------------------------------------- 98
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Ya, ya, betul," kata Profesor Flitwick, tersenyum lebar pada Harry.
"Profesor McGonagall bercerita kepadaku tentang kasus istimewa ini, Potter.
Dan apa modelnya?"
"Nimbus Dua Ribu, Sir," kata Harry, berusaha tidak tertawa melihat
kengerian di wajah Malfoy. "Dan untuk itu saya betul-betul harus berterima
kasih kepada Malfoy," dia menambahkan.
Harry dan Ron naik, menahan tawa melihat kegusaran dan kebingungan
Malfoy yang tampak jelas.
"Memang benar kok," celetuk Harry ketika mereka tiba di puncak tangga
pualam. "Kalau dia tidak mengambil Remembrall Neville, aku tak akan terpilih
jadi anggota tim..."
"Jadi kauanggap itu imbalan untuk pelanggaran peraturan?"
terdengar suara marah di belakang mereka. Hermione sedang menaiki
tangga, memandang bungkusan di tangan Harry dengan tatapan mencela.
"Bukannya kau sedang tidak bicara dengan kami?" kata Harry.
"Ya, jangan dihentikan," kata Ron. "Kami senang kok."
Hermione pergi dengan hidung terangkat ke atas.
Harry sulit memusatkan perhatian pada pelajaran-pelajarannya hari itu.
Pikirannya melayang terus ke kamarnya, ke tempat sapu barunya tergeletak di
bawah tempat tidurnya, atau melayang ke lapangan Quidditch, tempat dia
akan mulai berlatih malam nanti. Dia buru-buru menyantap makan malamnya,
tanpa memperhatikan apa yang dimakannya, dan kemudian buru-buru ke atas
dengan Ron untuk, akhirnya, membuka bungkusan Nimbus Dua Ribu-nya.
"Wow," Ron menghela napas ketika sapu itu bergulir di tempat tidur Harry.
Bahkan Harry yang sama sekali tak tahu tentang perbedaan macam-macam
sapu, berpendapat sapunya kelihatan hebat.
Langsing berkilat, dengan gagang dari mahogani, anyaman ranting di
ujungnya lurus dan rapi, dengan tulisan emas Nimbus Dua Ribu di dekat
puncaknya.
Menjelang pukul tujuh, Harry meninggalkan kastil dan berangkat menuju
lapangan Quidditch dalam keremangan senja.
Dia belum pernah berada dalam stadion itu sebelumnya.
Beratus-ratus tempat duduk diatur mengelilingi lapangan pada tribun tinggi,
supaya para penonton cukup tinggi untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.
Di kedua ujung lapangan berdiri tiang keemasan dengan tiga lingkaran pada
ujungnya.
Tiang-tiang ini mengingatkan Harry pada batang plastik kecilkecil yang biasa
ditiup-tiup anakanak Muggle untuk membuat gelembung sabun. Hanya saja
tiang-tiang ini tingginya lima belas meter.
Harry yang sudah ingin sekali terbang lagi, tak sabar menunggu Wood. Dia
menaiki sapunya dan menjejak tanah.
Bukan main dia melayang mengitari tiang-tiang gol dan kemudian meluncur
naik-turun di atas lapangan. Nimbus Dua Ribu berbelok ke arah mana pun yang
dimauinya hanya dengan sentuhan kecil darinya.
"Hei, Potter, turun!"
Oliver Wood sudah datang. Dia mengepit kotak kayu besar.
--------------------------------------- 99
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry mendarat di sebelahnya.
"Bagus sekali," kata Wood, matanya bercahaya. "Aku paham sekarang apa
yang dimaksud McGonagall... kau benar-benar pemain alam. Aku hanya akan
mengajarkan peraturannya kepadamu malam ini, kemudian kau akan bergabung
berlatih dengan tim tiga kali seminggu."
Wood membuka kotaknya. Di dalamnya ada empat bola yang berbeda
ukuran.
"Baik," kata Wood. "Quidditch cukup mudah dimengerti, walaupun tak
semudah itu dimainkan. Ada tujuh pemain pada masing-masing regu. Tiga di
antaranya disebut Chaser atau pengejar."
"Tiga Chaser," Harry mengulang, ketika Wood mengeluarkan bola merah
manyala sebesar bola sepak.
"Bola ini namanya Quaffle," kata Wood. "Chaser melempar Quaffle kepada
sesama Chaser dan berusaha memasukkannya ke salah satu lingkaran untuk
mendapatkan angka. Sepuluh setiap kali bola berhasil dimasukkan ke lingkaran.
Mengerti?"
"Para Chaser melempar Quaffle dan memasukkannya ke dalam lingkaran
untuk mendapatkan angka," kata Harry.
"Jadi semacam basket yang dimainkan naik sapu terbang dengan enam
keranjang, iya, kan?"
"Apa itu basket?" tanya Wood ingin tahu.
"Ah, sudahlah," kata Harry cepat-cepat.
"Nah, ada lagi pemain dalam masing-masing regu yang disebut Keeper aku
Keeper Gryffindor. Aku harus beterbangan sekeliling lingkaran dan mencegah
tim musuh mencetak gol."
Rupanya Keeper tugasnya sama dengan kiper atau penjaga gawang dalam
permainan sepak bola.
"Tiga Chaser, satu Keeper," kata Harry yang bertekad mengingat semuanya.
"Dan mereka bermain dengan Quaffle.
Oke, mengerti. Jadi, untuk apa yang itu?" Dia menunjuk tiga bola lain yang
masih ada di dalam. kotak.
"Akan kutunjukkan sekarang," kata Wood. "Ambil ini." Dia menyerahkan
kepada Harry pemukul kecil yang mirip pemukul kasti.
"Akan kutunjukkan apa yang dilakukan Bludger," kata Wood. "Dua bola ini
namanya Bludger."
Dia menunjukkan kepada Harry dua bola kembar, hitam legam dan sedikit
lebih kecil daripada Quaffle merah. Harry melihat bahwa kedua bola itu
kelihatannya berusaha keras melepaskan diri dari ikatan yang menahannya di
dalam kotak.
"Mundur," Wood memperingatkan Harry. Dia membungkuk dan melepas
salah satu Bludger.
Langsung saja bola hitam itu meluncur tinggi ke angkasa dan kemudian
melesat turun menuju wajah Harry. Harry
memukulnya dengan pemukul untuk mencegahnya mematahkan hidungnya,
membuatnya zig-zag di udara bola itu mendesing mengitari kepala mereka,
--------------------------------------- 100
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
kemudian melesat ke arah Wood, yang melompat menyambarnya dan berhasil
memitingnya di tanah.
"Lihat, kan?" Wood tersengal, memasukkan kembali dengan paksa Bludger
yang memberontak itu ke dalam kotak dan mengikatnya kembali supaya aman.
"Bludger ini meluncur ke mana-mana, berusaha menjatuhkan pemain dari sapu
mereka.
Itulah sebabnya masing-masing tim punya dua Beater Pemukul. Si kembar
Weasley adalah Beater kita. Tugas merekalah untuk melindungi tim kita dari
serangan Bludger dan berusaha memukul Bludger itu ke arah tim lawan. Jadi
bisa dimengerti?"
"Tiga Chaser mencoba mencetak gol dengan Quaffle, si Keeper menjaga
gawang, dua Beater menjauhkan Bludger dari tim mereka," Harry menjelaskan.
"Bagus sekali," kata Wood.
"Er apakah Bludger pernah sampai membunuh pemain?"
Harry bertanya, berharap suaranya kedengaran biasa.
"Di Hogwarts belum pernah. Pernah dua kali ada rahang patah, tapi tak ada
yang lebih parah dari itu. Nah, anggota tim terakhir adalah Seeker Pencari. Ini
kau. Dan kau tidak perlu mencemaskan Quaffle ataupun Bludger..."
"...kecuali kalau Bludger itu membuat kepalaku pecah."
"Jangan khawatir, si kembar Weasley bukan musuh enteng bagi si Bludger
maksudku, mereka berdua seperti sepasang Bludger manusia."
Wood menjangkau ke dalam kotak dan mengeluarkan bola keempat, bola
terakhir. Dibandingkan dengan Quaffle dan Bludger, bola ini kecil sekali, cuma
sebesar buah kenari besar.
Warnanya keemasan dan punya sayap perak yang bergetar.
"Ini," kata Wood, "adalah Golden Snitch Tangkapan Emas, dan ini bola yang
paling penting dari semuanya. Bola ini sangat susah ditangkap karena geraknya
cepat sekali dan susah dilihat.
Tugas Seekerlah untuk menangkapnya. Kau harus meliuk-liuk di antara
Chaser, Beater, Bludger, dan Quaffle untuk menangkapnya sebelum keduluan
Seeker tim lawan. Seeker -yang berhasil menangkap Snitch, menambah angka
seratus lima puluh untuk timnya, maka mereka hampir selalu menang. Itulah
sebabnya Seeker banyak dikerjai. Pertandingan Quidditch hanya berakhir
kalau Snitch sudah berhasil ditangkap. Jadi pertandingan ini bisa berlangsung
lama sekali kalau tak salah rekor paling lama adalah tiga bulan, mereka harus
bolak-balik mengajukan pemain cadangan, supaya para pemain bisa tidur.
"Yah, begitulah ada pertanyaan?"
Harry menggeleng.
Dia mengerti apa yang harus dilakukannya. Melaksanakannya-lah yang akan
jadi masalah.
"Kita belum akan berlatih dengan Snitch," kata Wood, dengan hati-hati
mengembalikan bola itu ke dalam kotak.
"Terlalu gelap, bisa hilang nanti. Ayo, kita coba kau dengan beberapa bola
ini saja."
Wood mengeluarkan beberapa bola golf biasa dari dalam kantongnya, dan
beberapa menit kemudian, dia dan Harry sudah melayang-layang di udara.
--------------------------------------- 101
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Wood melempar bola-bola golf itu sekuat-kuatnya ke segala arah untuk
ditangkap Harry.
Harry berhasil menangkap semuanya, dan Wood senang sekali. Setelah
setengah jam, malam benarbenar telah tiba dan mereka tidak bisa
melanjutkan.
"Nama kita akan terukir di Piala Quidditch tahun ini," kata Wood riang selagi
mereka berjalan kembali ke kastil. "Aku tak akan heran kalau kau ternyata
lebih hebat dari Charlie Weasley, dan dia sebetulnya bisa main untuk tim
nasional Inggris kalau dia tidak memilih mengejar naga."
***
Mungkin karena sekarang sangat sibuk, apalagi dengan latihan Quidditch
tiga malam dalam seminggu, ditambah PR-PR-nya, Harry heran sendiri ketika
menyadari dia sudah berada di Hogwarts selama dua bulan. Kastil itu lebih
terasa rumah daripada rumah di Privet Drive. Pelajaran-pelajarannya juga
semakin menarik, setelah mereka menguasai dasar-dasarnya.
Pada pagi Hallowe'en mereka terbangun oleh bau lezat labu panggang yang
menguar di koridor-koridor. Lebih asyik lagi, Profesor Flitwick mengumumkan
di pelajaran Jimat dan Guna-guna bahwa menurut pendapatnya mereka sudah
siap untuk mulai membuat benda-benda melayang, sesuatu yang sudah ingin
sekali mereka coba sejak mereka melihat Profesor Flitwick membuat kodok
Neville terbang berputarputar di dalam kelas.
Profesor Flitwick membagi mereka berpasang-pasangan untuk berlatih.
Partner Harry adalah Seamus Finnigan (dia lega, karena Neville dari tadi sudah
berusaha memberi kode dengan matanya). Tetapi Ron harus bekerja sama
dengan Hermione Granger. Sulit dikatakan apakah Ron atau Hermione yang
lebih marah karena ini. Hermione sudah tidak bicara dengan mereka sejak sapu
Harry tiba.
"Nah, jangan lupa gerakan manis pergelangan "tangan yang sudah kita latih!"
seru Profesor Flitwick, yang seperti biasa bertengger di atas tumpukan
bukunya. "Ayun dan sentak, ingat, ayun dan sentak. Dan mengucapkan mantra
dengan benar juga sangat penting jangan lupa pada Penyihir Baruffio, yang
menyebut 's' alih-alih 'f', dengan akibat dia mendadak tergeletak di lantai
dengan kerbau di atas dadanya."
Sulit sekali. Harry dan Seamus mengayun dan menyentak, tetapi bulu yang
seharusnya mereka buat melayang ke udara tetap saja tergeletak di atas meja.
Seamus akhirnya habis sabar sehingga dia menyodok bulu itu dengan
tongkatnya, dan membuat bulu itu terbakar Harry terpaksa memadamkannya
dengan topinya.
Ron, di meja sebelah, nasibnya tidak lebih baik.
"Wingardium Leviosa!" seru Ron, melambaikan tangannya seperti kincir.
"Cara ngomongmu salah," Harry mendengar Hermione menukas. "Mestinya
Wing-gar-dium Levio-sa, 'gar'-nya yang enak dan panjang."
"Lakukan saja sendiri, kalau kau begitu pintar," kata Ron geram.
Hermione menggulung lengan jubahnya, menjentikkan tongkatnya dan
berkata, "Wingardium Leviosa!"
--------------------------------------- 102
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Bulu mereka terangkat dari atas meja dan melayanglayang kira-kira satu
seperempat meter di atas kepala mereka.
"Oh, bagus sekali!" seru Profesor Flitwick seraya bertepuk tangan. "Semua
lihat ke sini, Miss Granger sudah berhasil!"
Saat pelajaran usai, Ron sudah marah sekali.
"Pantas saja tak ada anak yang tahan berteman dengannya,"
katanya kepada Harry sementara mereka berdesakan di koridor.
"Dia mengerikan sekali. Sungguh!"
Ada yang menabrak Harry ketika anak-anak bergegas melewatinya. Ternyata
Hermione. Sekilas Harry melihat wajahnya dan tercengang melihat air
matanya bercucuran.
"Kurasa dia mendengarmu." "Jadi?" kata Ron, tapi dia kelihatan tidak enak.
"Dia pasti sudah menyadari dia tak punya teman."
Hermione tidak muncul pada pelajaran berikutnya dan tidak kelihatan
sepanjang sore itu. Ketika turun menuju Aula Besar untuk pesta Hallowe'en,
Harry dan Ron mendengar Parvati Patil memberitahu temannya, Lavender,
bahwa Hermione sedang menangis di toilet untuk anak perempuan dan minta
ditinggalkan sendirian. Ron menjadi tambah tidak enak, tetapi sesaat kemudian
mereka sudah memasuki Aula Besar. Dekorasi Hallowe'en di aula itu membuat
mereka melupakan Hermione.
Seribu kelelawar hidup beterbangan di dinding dan langitlangit, sementara
seribu lainnya melayang di atas meja membentuk awan-awan hitam gelap,
membuat lilin-lilin di dalam labu bergoyang. Makananmakanan tiba-tiba muncul
di piring emas, seperti waktu pesta awal tahun ajaran baru.
Harry sedang mengambil kentang ketika Profesor Quirrell terburu-buru
masuk Aula, turbannya miring, wajahnya diliputi kengerian. Semua anak
mengawasinya ketika dia tiba di kursi Profesor Dumbledore, bersandar lemas ke
meja, dan berkata dengan tersengal-sengal, "Troll di ruang bawah tanah saya
pikir Anda harus tahu."
Kemudian dia merosot ke lantai, pingsan.
Aula geger. Perlu beberapa ledakan mercon ungu dari ujung tongkat
Profesor Dumbledore untuk membuat ruangan tenang kembali.
"Prefek," gelegar Profesor Dumbledore, "bawa kembali anak buah kalian ke
asrama masing-masing, segera!"
Percy senang sekali.
"Ikut aku! Berkumpul, kelas satu! Tak perlu takut troll kalau kalian
mengikuti perintahku! Berada dekatdekat di belakangku.
Beri jalan, kelas satu duluan! Maaf, aku Prefek!"
"Bagaimana troll bisa masuk?" Harry bertanya ketika mereka menaiki tangga.
"Mana aku tahu, mereka kan makhluk-makhluk konyol,"
jawab Ron. "Mungkin Peeves yang memasukkannya sebagai lelucon
Hallowe'en."
Mereka berpapasan dengan rombongan berbedabeda, dengan jurusan
berlainan pula. Ketika mereka menyelip-nyelip di antara rombongan Hufflepuff
yang kebingungan, mendadak Harry mencengkeram lengan Ron.
"Aku baru ingat Hermione."
--------------------------------------- 103
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kenapa dia?"
"Dia tidak tahu tentang troll ini."
Ron menggigit bibir. "Oh, baiklah," tukasnya. "Tapi lebih baik Percy jangan
sampai melihat kita."
Sambil menunduk, mereka bergabung dengan anakanak Hufflepuff menuju
arah yang berlawanan, menyelinap ke koridor samping yang sepi dan bergegas
ke toilet anak perempuan. Baru saja membelok di sudut, mereka mendengar
langkah-langkah cepat di belakang mereka.
"Percy!" desis Ron, menarik Harry ke belakang patung baru besar makhluk
berkepala dan bersayap elang, tapi bertubuh singa.
Mengintip dari balik patung itu, yang mereka lihat bukan Percy, melainkan
Snape. Dia menyeberang koridor dan menghilang dari pandangan.
"Apa yang dilakukannya?" bisik Harry. "Kenapa dia tidak di ruang bawah
tanah bersama guru-guru yang lain?"
"Mana kutahu."
Sepelan mungkin, tanpa bersuara, mereka merayapi koridor berikutnya,
mengikuti langkah-langkah Snape yang menjauh.
"Dia menuju lantai tiga," kata Harry, tetapi Ron mengangkat tangannya.
"Apakah kau membaui sesuatu?"
Harry mengendus dan bau busuk menusuk hidungnya, campuran antara kaus
kaki bau dan toilet umum yang tak pernah dibersihkan.
Dan kemudian mereka mendengarnya geram rendah dan entakan kaki
raksasa. Ron menunjuk ke ujung koridor di sebelah kiri, sesuatu yang besar
sekali sedang bergerak ke arah mereka.
Mereka surut ke dalam bayang-bayang dan mengawasi makhluk itu
melangkah dalam sorotan cahaya bulan.
Sungguh pemandangan yang mengerikan. Tiga setengah meter tingginya,
kulitnya abu-abu kusam, tubuhnya mirip gumpalan batu besar, dengan
kepalanya yang kecil bertengger di atasnya seperti sebutir kelapa. Kakinya
pendek dan gemuk, sebesar batang pohon, dengan telapak kaki rata dan
bertanduk.
Baunya bukan main busuknya. Dia memegang pentung besar yang terseret di
lantai karena lengannya panjang sekali.
Troll itu berhenti di depan pintu dan melongok ke dalamnya.
Dia menggoyangkan telinganya yang panjang, mencoba berpikir dengan
otaknya yang kecil, kemudian berjalan masuk lambat-lambat.
"Kuncinya ada di situ," Harry bergumam. "Kita bisa menguncinya di dalam."
"Ide bagus," kata Ron gugup.
Mereka berjingkat menuju pintu yang terbuka, mulut mereka kering, seraya
berdoa agar si troll tidak keluar dari pintu itu.
Dengan satu lompatan panjang, Harry berhasil meraih kunci,
menggabrukkan pintu, dan menguncinya.
"Yes!"
Dengan wajah kemerahan berkat keberhasilan mereka, mereka berlari ke
arah berlawanan. Tetapi saat tiba di sudut, mereka mendengar sesuatu yang
--------------------------------------- 104
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
membuat jantung mereka berhenti berdetak jeritan ngeri melengking dan
datangnya dari ruang yang baru saja mereka kunci.
"Oh, tidak," kata Ron yang jadi sepucat Baron Berdarah.
"Toilet anak perempuan!" Harry terperanjat.
"Hermione!" mereka berseru bersama.
Mereka sama sekali tak ingin melakukannya, tetapi tak punya pilihan lain.
Mereka berputar dan berlari kembali ke pintu dan memutar kuncinya, agak
susah karena keduanya panik dan gemetar Harry menarik pintu hingga terbuka
dan mereka berlari ke dalam.
Hermione Granger merapat ke dinding di seberang mereka, kelihatannya
nyaris pingsan. Si troll bergerak ke arahnya, wastafel-wastafel yang
ditabraknya rontok ke lantai.
"Buat dia bingung!" kata Harry putus asa kepada Ron, seraya menyambar
keran yang lalu dilemparkannya sekuat tenaga ke dinding.
Si troll berhenti kira-kira satu meter dari Hermione. Dia berbalik lamban,
mengejap dengan bodoh, untuk melihat apa yang membuat suara tadi. Mata
kecilnya yang kejam menatap Harry. Dia ragu-ragu, kemudian berbalik menuju
Harry, mengangkat pentungnya sambil berjalan.
"Oi, otak kacang polong!" teriak Ron dari sisi lain ruangan.
Ron melemparnya dengan pipa logam. Si troll seolah tidak merasakan apa
pun ketika pipa itu menghantam bahunya, tetapi dia mendengar teriakan Ron
dan berhenti lagi, menolehkan moncongnya yang jelek ke arah Ron, memberi
Harry kesempatan untuk menghindar.
"Ayo, lari, lari!" Harry berteriak kepada Hermione, berusaha menariknya ke
arah pintu, tetapi Hermione tidak bisa bergerak.
Dia masih menempel rapat ke dinding, mulutnya ternganga saking takutnya.
Teriakan-teriakan dan gaungnya agaknya membuat si troll berang sekali. Dia
menggerung lagi dan bergerak ke arah Ron,
yang berada paling dekat dengannya dan tak punya kemungkinan untuk
kabur.
Harry kemudian melakukan sesuatu yang sangat berani dan sekaligus sangat
bodoh: dia berlari dan melompat, dan berhasil mengalungkan lengannya di
sekeliling leher si troll. Troll itu tidak sadar Harry bergantung di lehernya,
tetapi bahkan troll sekalipun akan tahu kalau kau menyogok hidungnya dengan
potongan kayu panjang, dan tongkat Harry masih di tangannya waktu dia
melompat tongkat itu tepat masuk ke salah satu lubang hidung si troll.
Menggerung kesakitan, si troll meliuk dan menyabet-nyabetkan pentungnya,
dengan Harry masih bergantung ketakutan di lehernya. Setiap detik si troll bisa
menjambretnya sampai lepas atau memukulnya keras-keras dengan
pentungnya.
Hermione sudah merosot ke lantai saking takutnya. Ron menarik keluar
tongkatnya sendiri tanpa tahu apa yang akan dilakukannya, tahu-
tahu didengarnya dirinya sendiri menyebutkan mantra pertama yang muncul
dalam benaknya,
"Wingardium Leviosa!"
--------------------------------------- 105
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Pentung itu mendadak terbang dari tangan si troll, melesat tinggi, makin
tinggi ke atas, pelan-pelan berbelok dan jatuh, dengan bunyi derak yang
mengerikan, di atas kepala pemiliknya. Si troll terhuyung dan kemudian jatuh
terjerembap, dengan bunyi gedebuk yang membuat seluruh ruangan bergetar.
Harry berdiri. Dia gemetar dan terengah. Ron masih berdiri dengan tongkat
terangkat, memandang hasil kerjanya.
Hermione-lah yang lebih dulu bicara.
"Apa dia mati?"
"Kurasa tidak," kata Harry "Kurasa dia cuma pingsan."
Dia menunduk dan mencabut tongkatnya dari hi-dung si troll. Tongkat itu
berlumur lendir yang mirip lem abu-abu.
"Iiih ingus troll."
Harry melap tongkatnya ke celana si troll.
Bunyi pintu menjeblak dan langkah-langkah keras membuat ketiganya
mendongak. Mereka tidak menyadari keributan yang mereka akibatkan, tetapi
tentu saja, ada orang di bawah yang mendengar bunyi gedebak-gedebuk dan
gerungan si troll.
Beberapa saat kemudian Profesor McGonagall berlarian ke dalam ruangan,
diikuti oleh Snape, dengan Quirrell datang paling belakang. Begitu melihat si
troll, Quirrell merintih pelan, lalu cepat-cepat duduk di toilet, mencengkeram
dada di bagian jantungnya.
Snape membungkuk di atas si troll. Profesor McGonagall memandang Ron
dan Harry. Harry belum pernah melihatnya begitu marah. Bibirnya sampai
putih. Harapan memenangkan lima puluh angka untuk Gryffindor langsung
lenyap dari pikiran Harry.
"Apa sebenarnya maksud kalian?" tanya Profesor McGonagall, dengan nada
dingin penuh kemarahan. Harry memandang Ron, yang masih berdiri dengan
tongkat mengacung ke atas. "Kalian beruntung tidak terbunuh. Kenapa kalian
tidak berada di asrama?"
Snape melempar pandangan tajam ke arah Harry. Harry menatap lantai.
Dalam hati dia berharap Ron menurunkan tongkatnya.
Mendadak terdengar suara lemah dari dalam bayang-bayang.
"Maaf, Profesor McGonagall... mereka mencari saya."
"Miss Granger!"
Hermione akhirnya berhasil berdiri.
"Saya mencari troll karena saya... saya pikir saya bisa menanganinya sendiri
karena saya sudah membaca banyak tentang mereka." Tongkat Ron sampai
terjatuh. Hermione Granger, berbohong pada guru?
"Jika mereka tidak menemukan saya, saya pasti sudah mati sekarang. Harry
menyodokkan tongkatnya ke dalam lubang hidung si troll dan Ron membuatnya
pingsan dengan pukulan pentungnya sendiri. Troll itu sudah siap menghabisi
saya ketika mereka tiba."
Harry dan Ron memasang tampang seakan cerita ini bukan cerita baru bagi
mereka.
--------------------------------------- 106
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Wah kalau begitu...," kata Profesor McGonagall sambil menatap mereka
bertiga. "Miss Granger, bodoh benar kau, bagaimana mungkin kau mengira bisa
menangani troll gunung sendirian?"
Hermione menunduk. Harry tak bisa bicara. Hermione, orang yang paling
anti melanggar peraturan, sekarang berbohong untuk menyelamatkan mereka.
Ibaratnya Snape membagi-bagikan permen.
"Miss Granger, lima angka dikurangi dari Gryffindor. Aku kecewa sekali
padamu. Kalau kau tidak terluka sama sekali, sebaiknya kau kembali ke Menara
Gryffindor. Anak-anak sedang menyelesaikan pesta mereka di asrama masing-
masing."
Hermione pergi. Profesor McGonagall berbalik menghadapi Harry dan Ron.
"Aku masih tetap bilang kalian beruntung, tetapi tak banyak anak kelas satu
yang bisa menghadapi troll gunung dewasa.
Kalian masing-masing mendapat lima angka untuk Gryffindor.
Profesor Dumbledore akan diberitahu soal ini. Kalian boleh pergi."
Mereka bergegas meninggalkan tempat itu dan sama sekali tidak bicara
sampai mereka sudah naik dua tingkat lebih tinggi.
Sungguh lega bisa menjauh dari bau si troll, di samping berhasil lolos dari
bahaya yang lain.
"Seharusnya kita dapat lebih dari sepuluh angka," gerutu Ron.
"Lima, maksudmu, setelah dipotong lima dari Hermione."
"Baik juga dia, mau menyelamatkan kita seperti itu," Ron mengakui. "Tapi
kita memang menyelamatkannya."
"Dia mungkin tidak perlu diselamatkan, kalau kita tidak mengurung troll itu
bersamanya," Harry mengingatkan.
Mereka sudah tiba di depan lukisan Nyonya Gemuk.
"Moncong babi," kata mereka, lalu masuk.
Ruang rekreasi penuh dan bising. Semua sibuk makan makanan yang dikirim
ke atas. Meskipun demikian, Hermione berdiri sendiri di dekat pintu, menunggu
mereka. Sesaat tak ada yang bilang apa-apa, sama-sama malu. Kemudian,
tanpa saling pandang, serentak mereka bilang, "Trims," lalu bergegas
mengambil piring.
Tetapi sejak saat itu, Hermione Granger menjadi teman mereka. Ada hal-
hal tertentu yang tak bisa dialami bersama tanpa kalian jadi saling menyukai,
dan membuat pingsan troll gunung setinggi lebih dari tiga setengah meter
adalah salah satunya.
***
11. Quidditch
MEMASUKI bulan November, hawa menjadi sangat dingin. Pegunungan yang
mengelilingi sekolah berubah menjadi abu-abu bersaput es dan danau seolah
menjadi baja beku. Setiap pagi tanah berselimut salju. Hagrid terlihat dari
jendela atas tengah melumerkan salju pada sapu-sapu untuk pertandingan
--------------------------------------- 107
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Quidditch, ia memakai jubah panjang dari kulit tikus mondok, sarung tangan
dari bulu kelinci dan sepatu bot besar dari kulit berang-berang.
Masa pertandingan Quidditch telah mulai. Pada hari Sabtu, Harry akan
bermain dalam pertandingan pertamanya setelah berminggu-minggu berlatih.
Gryffindor versus Slytherin. Jika Gryffindor menang, peringkat mereka akan
naik ke tempat kedua dalam Kejuaraan Antar-Asrama.
Nyaris tak ada yang pernah melihat Harry bermain, karena Wood telah
memutuskan bahwa, sebagai senjata rahasia mereka, Harry harus, yah, harus
dirahasiakan. Tetapi berita bahwa dia akan bermain sebagai Seeker, entah
bagaimana telah bocor dan Harry tak tahu mana yang lebih buruk anak-anak
berkata kepadanya bahwa dia akan bermain dengan brilian, atau mereka
berkata akan berlari-lari di bawahnya memegangi kasur.
Sungguh beruntung bahwa sekarang Harry berteman dengan Hermione. Dia
tak tahu bagaimana bisa menyelesaikan semua PR-nya tanpa Hermione, apalagi
dengan latihan menit-terakhir Quidditch yang diwajibkan Wood. Hermione juga
telah meminjaminya buku Quidditch dari Masa ke Masa, yang ternyata menarik
sekali.
Harry jadi tahu ada tujuh ratus cara melakukan tindakan bodoh dalam
Quidditch dan kesemuanya terjadi di pertandingan Piala Dunia pada tahun
1473; bahwa Seeker biasanya pemain yang paling kecil dan paling gesit, dan
bahwa kecelakaan-kecelakaan paling berat Quidditch tampaknya diderita
mereka; bahwa walaupun orang jarang sekali mati karena bermain Quidditch,
bisa terjadi wasit-wasit menghilang begitu saja dan baru ditemukan berbulan-
bulan kemudian di Gurun Sahara.
Hermione sudah tidak terlalu ketat lagi dalam hal melanggar peraturan
sejak Harry dan Ron menyelamatkannya dari troll gunung, dan sikapnya juga
jadi jauh lebih menyenangkan.
Sehari sebelum pertandingan Quidditch pertama Harry mereka bertiga
berada di halaman yang superdingin selama jam istirahat dan Hermione
menyihir api biru terang yang bisa dibawa-bawa dalam botol selai. Mereka
sedang berdiri memunggungi api itu, menghangatkan diri, ketika Snape
menyeberangi halaman.
Harry, Ron, dan Hermione merapat untuk menghalangi api dari pandangan.
Mereka yakin menyihir api tak diizinkan.
Celakanya, wajah mereka yang menyiratkan perasaan bersalah tertangkap
mata Snape. Dia mendekat dengan terpincang-pincang. Dia tidak melihat api
itu, tetapi kelihatannya dia mencari-cari alasan untuk bisa mengadukan
mereka.
"Apa itu yang kaupegang, Potter?" Buku Quidditch dari Masa ke Masa. Harry
menunjukkannya.
"Buku perpustakaan tidak boleh dibawa keluar sekolah," kata Snape.
"Berikan padaku. Lima angka dipotong dari Gryffindor."
"Peraturan itu diada-adakan," gumam Harry gusar ketika Snape terpincang-
pincang menjauh. "Kenapa ya, kakinya?"
"Entahlah, tapi kuharap sakit sekali," kata Ron sengit.
***
--------------------------------------- 108
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ruang rekreasi Gryffindor bising sekali malam itu. Harry Ron, dan Hermione
duduk bersama di dekat jendela. Hermione sedang memeriksa PR Jimat dan
Guna-guna milik Harry dan Ron. Dia tidak mengizinkan mereka menyalin PR-nya
("Bagaimana kalian belajar kalau cuma menyalin?"), tetapi dengan meminta
Hermione memeriksa PR mereka, mereka toh mendapatkan jawaban yang
benar juga.
Harry merasa resah. Dia menginginkan kembali buku Quidditch dari Masa ke
Masa untuk mengalihkan pikirannya dari pertandingan besok. Kenapa dia harus
takut kepada Snape?
Seraya bangkit, dia memberitahu Ron dan Hermione dia akan bertanya
kepada Snape kalau-kalau dia boleh meminta kembali buku itu.
"Kau sendiri saja deh," kata mereka serempak, tetapi Harry menduga Snape
tak akan menolak jika ada guru-guru lain mendengarkan.
Dia menuju ke ruang guru dan mengetuk. Tak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi. Tetap tak ada jawaban.
Mungkin Snape meninggalkan buku itu di dalam? Layak diselidiki. Harry
mendorong pintu hingga terbuka dan mengintip ke dalam pemandangan yang
tampak olehnya sungguh mengerikan.
Snape dan Filch ada di dalam cuma berdua. Snape mengangkat jubahnya
sampai ke atas lutut. Salah satu kakinya luka berdarah-darah. Filch sedang
membebatnya.
"Makhluk sialan," Snape memaki. "Bagaimana mungkin kita mengawasi tiga
kepala sekaligus?"
Harry berusaha menutup pintu diam-diam, tetapi...
"POTTER!"
Wajah Snape berkeriut saking marahnya ketika dia menjatuhkan jubahnya
untuk menyembunyikan kakinya. Harry menelan ludah. "Saya hanya ingin tahu
apakah saya boleh mengambil buku saya."
"KELUAR! KELUAR!"
Harry pergi, sebelum Snape sempat mengurangi angka Gryffindor. Dia
berlari balik ke atas. "Berhasil?" tanya Ron ketika Harry bergabung kembali
bersama mereka. "Ada apa?"
Dalam bisikan pelan, Harry memberitahu mereka apa yang telah dilihatnya.
"Kalian tahu apa artinya ini?" dia mengakhiri ceritanya dengan menahan
napas. "Dia mencoba melewati anjing kepala tiga itu pada malam Hallowe'en!
Ke situlah dia waktu kita melihatnya dia ingin mengambil entah-apa yang
dijaga si anjing! Dan aku berani mempertaruhkan sapuku, dialah yang
memasukkan troll itu, untuk mengalihkan perhatian!"
Mata Hermione terbelalak.
"Tidak dia tak akan begitu," kata Hermione. "Aku tahu dia tidak begitu
menyenangkan, tetapi dia tidak akan mencoba mencuri sesuatu yang disimpan
Dumbledore."
"Astaga, Hermione, kaupikir semua guru itu orang suci atau apa," tukas Ron.
"Aku setuju dengan Harry. Aku tidak percaya pada Snape. Tetapi apa yang
dikejarnya? Apa yang dijaga anjing itu?"
--------------------------------------- 109
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry pergi tidur dengan kepala penuh pertanyaan yang sama. Neville
mendengkur keras, tetapi Harry tidak bisa tidur.
Dia mencoba mengosongkan pikiran dia perlu tidur, dia harus tidur,
beberapa jam lagi dia akan bermain dalam pertandingan Quidditch-nya yang
pertama tetapi ekspresi wajah Snape ketika Harry melihat kakinya tidak
mudah dilupakan.
***
Paginya udara sangat cerah dan dingin. Aula Besar dipenuhi aroma lezat
sosis goreng dan obrolan riang anak-anak yang sudah menanti-nanti saat
menonton pertandingan Quidditch yang seru.
"Kau harus sarapan."
"Aku tak ingin makan."
"Sepotong roti saja," Hermione membujuk.
Harry gelisah. Sejam lagi dia akan berjalan ke lapangan.
"Harry kau butuh tenagamu," kata Seamus Finnigan. "Seeker selalu jadi
sasaran serangan tim lawan."
"Terima kasih, Seamus," kata Harry seraya mengawasi Seamus yang memberi
saus tomat banyakbanyak ke sosisnya.
Pada pukul sebelas, seluruh sekolah tampaknya sudah memenuhi tempat
duduk tinggi di sekeliling lapangan Quidditch. Banyak anak yang membawa
teropong. Tempat duduknya memang sudah tinggi sekali, tapi kadang-kadang
masih tetap sulit melihat apa yang sedang terjadi.
Ron dan Hermione bergabung dengan Neville, Seamus, dan Dean si
penggemar West Ham di deret paling atas. Sebagai kejutan untuk Harry,
mereka telah membuat spanduk besar dari seprai yang telah dicabikcabik
Scabbers. Tulisannya Potter for President dan Dean, yang pandai menggambar,
telah melukis singa besar Gryffindor di bawahnya. Kemudian Hermione
menyihirnya sedikit, sehingga catnya berpendar warnawarni.
Sementara itu, di kamar ganti, Harry dan para anggota tim lainnya sedang
memakai jubah Quidditch mereka yang berwarna merah (Slytherin akan
bermain dengan seragam hijau).
Wood berdeham, meminta anggota-anggotanya diam.
"Oke, men," katanya.
"Dan women," kata Angelina Johnson si Chaser.
"Dan women," Wood setuju. "Ini saatnya."
"Saat penting," kata Fred Weasley.
"Yang sudah lama kita semua nantikan," kata George.
"Kami sudah hafal pidato Oliver," Fred memberitahu Harry.
"Kami sudah masuk tim tahun lalu."
"Tutup mulut, kalian berdua," kata Wood. "Ini tim terbaik yang pernah
dimiliki Gryffindor selama beberapa tahun terakhir ini. Kita akan menang. Aku
ya-kin."
Dia membelalak kepada mereka semua, seakan ingin mengatakan, "Kalau
tidak, awas!"
"Betul. Sudah waktunya. Semoga sukses."
--------------------------------------- 110
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry mengikuti Fred dan George meninggalkan kamar ganti dan, berharap
lututnya tidak goyah, memasuki lapangan di bawah gemuruh sorakan.
Madam Hooch menjadi wasit. Dia berdiri di tengah lapangan, menunggu
kedua tim, dengan sapu di tangannya.
"Aku menginginkan permainan yang jujur, anakanak,"
katanya, setelah mereka semua Berkumpul mengelilinginya.
Harry memperhatikan bahwa Madam Hooch tampaknya bicara khusus
kepada kapten Slytherin, Marcus Flint, anak kelas lima.
Bagi Harry tampaknya Flint punya keturunan darah troll. Dari sudut matanya
Harry melihat spanduk yang berkibar di atas para penonton, bertulisan Potter
for President. Jantungnya berdegup. Dia merasa lebih berani.
"Silakan naik ke sapu kalian."
Harry naik ke atas Nimbus Dua Ribu-nya.
Madam Hooch meniup peluit peraknya keras-keras.
Lima belas sapu meluncur ke atas, makin lama makin tinggi.
Pertandingan dimulai.
"Dan Quaffle langsung berhasil ditangkap oleh Angelina Johnson dari
Gryffindor sungguh Chaser luar biasa cewek satu ini, lumayan menarik, lagi..."
"JORDAN!"
"Maaf, Profesor."
Sahabat si kembar Weasley Lee Jordan, adalah komentator pertandingan
ini. la diawasi ketat oleh Profesor McGonagall.
"Dan Angelina benar-benar gesit di atas, lontaran tepat kepada Alicia
Spinnet, penemuan baru yang bagus si Oliver Wood, tahun lalu cuma cadangan
kembali ke Angelina dan
tidak, Slytherin berhasil merebut Quaffle, kapten Slytherin, Marcus Flint,
berhasil merebut Quaffle dan meluncur menjauh Flint terbang bagai elang di
atas sana dia akan mencetak go tidak, dihentikan oleh gerak hebat Keeper
Gryffindor, Wood, dan Gryffindor kembali memegang Quaffle itu Chaser Katie
Bell dari Gryffindor, menukik manis mengitari Flint, naik lagi dan OUCH pasti
sakit sekali, belakang kepalanya dihantam Bludger Quaffle berhasil direbut
Slytherin Adrian Pucey melesat menuju gawang, tetapi dia diblok oleh Bludger
kedua yang dilemparkan ke arahnya oleh Fred atau George Weasley, tak bisa
membedakan yang mana yang jelas gerakan bagus dari Beater Gryffindor, dan
Angelina kembali memegang bola, tak ada halangan di
depannya dan dia meluncur benar-benar terbang menghindari Bludger yang
melaju cepat ke arahnya gol di depannya ayo, ayo, Angelina Keeper
Bletchley menukik lolos GOL UNTUK GRYFFINDOR!"
Sorakan anak-anak Gryffindor membahana menembus udara dingin,
ditingkah jerit sesal dan ratapan anak-anak Slytherin.
"Geser sedikit."
"Hagrid!"
Ron dan Hermione merapat untuk memberi cukup tempat bagi Hagrid untuk
bergabung bersama mereka.
--------------------------------------- 111
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Dari tadi nonton dari pondokku," kata Hagrid sambil membelai teropong
besar yang tergantung di lehernya. "Tapi tidak seseru kalau ada di sini.
Snitchnya belum kelihatan?"
"Belum," kata Ron. "Harry belum banyak kerjaan."
"Cuma menghindari serangan, tapi kan susah juga," kata Hagrid,
mengangkat teropongnya dan memandang ke langit, ke arah titik yang tak lain
tak bukan adalah Harry.
Jauh di atas mereka, Harry melayang di atas para pemain lainnya,
menajamkan mata mencari-cari Snitch. Ini bagian dari rencana permainannya
bersama Wood.
"Menyingkirlah jauh-jauh sebelum kau melihat Snitch," kata Wood. "Kita tak
ingin kau diserang sebelum waktunya."
Ketika Angelina mencetak gol, Harry dua kali melakukan terbang jungkir-
balik untuk melepas perasaannya. Sekarang dia sudah mencari-cari Snitch lagi.
Sekali dia melihat kilatan emas, tetapi ternyata pantulan arloji salah satu dari
si kembar Weasley.
Sekali ada Bludger yang meluncur ke arahnya, tetapi Harry berhasil
mengelak dan Fred kemudian mengejar bola itu.
"Baik-baik saja di atas, Harry?" Fred masih sempat berteriak ketika dia
memukul Bludger keras-keras ke arah Marcus Flint.
"Slytherin memegang bola," kata Lee Jordan. "Chaser Pucey menunduk
menghindari dua Bludger, dua Weasley dan Chaser Bell, dan meluncur ke arah
tunggu apakah itu Snitch?"
Gumaman merambat di antara para penonton ketika Adrian Pucey
menjatuhkan Quaffle, gara-gara terlalu sibuk menoleh memandang kilatan
emas yang baru saja melewati telinga kirinya.
Harry melihatnya. Dengan penuh semangat dia menukik menuju kilatan
emas itu. Seeker Slytherin, Terence Higgs, juga telah melihatnya. Bersamaan
mereka meluncur menuju Snitch
semua Chaser tampaknya sudah melupakan tugas mereka saat mereka
melayang di udara untuk menonton.
Harry lebih cepat daripada Higgs dia bisa melihat bola kecil bulat itu,
dengan sayap berkepak, meluncur ke atas. Harry menambah kecepatan.
BRAK! Gerung marah terdengar dari anak-anak Gryffindor di bawah. Marcus
Flint sengaja menabrak Harry dan sapu Harry melenceng keluar jalur, Harry
sendiri berpegang erat-erat agar tidak jatuh.
"Curang!" jerit anak-anak Gryffindor.
Madam Hooch memarahi Flint dan memberikan lemparan penalti pada
Gryffindor. Tetapi dalam hirukpikuk itu tentu saja Snitch sudah menghilang
lagi.
Di tempat duduknya, Dean Thomas berteriak, "Keluarkan dia. Wasit! Kartu
merah!"
"Ini bukan sepak bola, Dean," Ron mengingatkan. "Kau tak bisa
mengeluarkan pemain dalam Quidditch dan apa itu kartu merah?"
Tetapi Hagrid membela Dean.
--------------------------------------- 112
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Mereka harusnya ubah aturannya. Flint bisa bikin Harry jatuh dari atas."
Sulit bagi Lee Jordan untuk tidak memihak.
"Jadi setelah kelicikan yang menyebalkan dan tampak jelas tadi..."
"Jordan!" tegur Profesor McGonagall.
"Maksudku, setelah kecurangan yang terang-terangan dan menjijikkan..."
"Jordan, kuperingatkan kau..."
"Baiklah, baiklah. Flint nyaris membunuh Seeker Gryffindor, ini bisa terjadi
pada siapa saja, saya yakin, maka penalti untuk Gryffindor, yang dilakukan oleh
Spinnet, dan langsung dilemparkan kembali, tak ada masalah, pertandingan
masih berlangsung, Gryffindor masih memegang bola."
Ketika Harry menghindari Bludger lain yang meluncur ke arahnya dengan
membahay'akan, sapunya mendadak menukik mengerikan. Sedetik
Harry mengira dia akan jatuh.
Dipegangnya erat-erat sapunya dengan kedua tangannya, juga dijepitnya
dengan lututnya. Belum pernah dia mengalami yang seperti ini.
Terjadi lagi. Seakan sapu itu ingin melontarkannya. Tetapi Nimbus Dua Ribu
tidak tiba-tiba saja ingin menjatuhkan penumpangnya. Harry berusaha menuju
ke tiang gawang Gryffindor lagi, terpikir olehnya untuk mengusulkan pada
Wood agar minta waktu istkahat sebentar dan tiba-tiba disadarinya bahwa dia
kehilangan kendali atas sapunya. Dia tidak bisa membelokkannya.
Dia bahkan tidak bisa mengontrolnya sama sekali. Sapu itu terbang zig-zag
di udara dan berulang-ulang membuat gerakan mengibas yang nyaris membuat
Harry jatuh.
Lee masih mengomentari.
"Bola di tangan Slytherin Flint memegang Quaffle melewati Spinnet
melewati Bell muka Flint terhantam Bludger, mudah-mudahan hidungnya
patah cuma bergurau, Profesor Slytherin mencetak gol oh, tidaaak...." .
Anak-anak Slytherin bersorak. Tampaknya tak se-orang pun melihat bahwa
sapu Harry bertingkah aneh. Sapu itu pelan-pelan membawa Harry makin
tinggi, menjauh dari permainan, seraya menyentak dan memelintir.
"Ngapain si Harry," gumam Hagrid. Dia memandang lewat teropongnya.
"Kalau tak kenal dia, aku akan bilang dia kehilangan kendali atas sapunya...
tapi mana mungkin...."
Mendadak anak-anak di seluruh tribun menunjuknunjuk ke arah Harry.
Sapunya berguling-guling, Harry hanya bisa berpegangan agar tidak jatuh.
Kemudian semua penonton menahan napas. Sapu Harry menyentak liar dan
Harry terlontar dari atasnya. Sekarang dia hanya bergantungan dengan satu
tangan saja.
"Apa sesuatu terjadi ketika Flint memblokirnya?" Seamus berbisik.
"Mana mungkin," kata Hagrid, suaranya bergetar. "Tak ada yang bisa
pengaruhi sapu itu kecuali Sihir Hitam yang kuat tak ada anak yang bisa
melakukannya kepada Nimbus Dua Ribu."
Mendengar ini Hermione merebut teropong Hagrid, tetapi alih-alih
meneropong Harry, dengan panik dia mengarahkannya kepada para penonton.
"Apa yang kaulakukan?" rintih Ron, wajahnya pucat,
"Sudah kuduga," Hermione kaget menahan napas.
--------------------------------------- 113
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Snape lihat."
Ron merebut teropong itu. Snape ada di tengah, di deretan tempat duduk
yang berhadapan dengan mereka. Matanya tertuju ke arah Harry dan mulutnya
komat-kamit tak hentinya.
"Dia sedang berbuat sesuatu memantrai sapu Harry," kata Hermione.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Serahkan saja padaku."
Sebelum Ron sempat mengucapkan sepatah kata, Hermione sudah lenyap.
Ron kembali mengarahkan teropong kepada Harry. Sapunya bergetar begitu
hebat, sehingga nyaris tak mungkin baginya untuk bergantung lebih lama lagi.
Semua penonton berdiri, mengawasi dengan cemas ketika si kembar Weasley
terbang ke atas, mencoba menyelamatkan Harry dengan menariknya ke atas
salah satu sapu mereka, tetapi percuma setiap kali mereka berhasil mendekat,
sapu Harry akan melompat makin tinggi lagi. Mereka menukik turun dan
memutar di bawahnya, rupanya berharap menangkap Harry jika dia jatuh.
Marcus Flint menyambar Quaffle dan mencetak gol lima kali tanpa ada yang
memperhatikan.
"Ayo, Hermione," Ron bergumam putus asa.
Hermione dengan susah payah berusaha menuju deretan tempat duduk
tempat Snape berdiri dan sekarang berlarian di deretan di belakangnya. Dia
bahkan tidak berhenti untuk meminta maaf ketika menabrak Profesor Quirrell
sampai jatuh terjerembap ke deretan di depannya. Setibanya di tempat Snape,
Hermione berjongkok, mencabut tongkatnya, dan membisikkan beberapa kata
pilihan. Nyala a pi biru meluncur dari ujung tongkatnya, menyambar ujung
jubah Snape.
Perlu kira-kira tiga puluh detik bagi Snape untuk menyadari bahwa jubahnya
terbakar. Jeritan mendadaknya cukup membuat Hermione tahu dia telah
melaksanakan tugasnya.
Diraupnya api itu dari jubah Snape dan dimasukkannya ke dalam botol kecil
di sakunya, lalu dia berjalan kembali sepanjang deretan tempat duduk yang
dilewatinya tadi Snape tak akan tahu apa yang telah terjadi.
Tetapi itu cukup. Di angkasa, Harry mendadak saja bisa naik kembali ke atas
sapunya.
"Neville, kau boleh lihat sekarang!" kata Ron. Se-lama lima menit terakhir
ini Neville terisak-isak menyembunyikan wajah di jaket Hagrid.
Harry sedang meluncur ke bawah ketika penonton melihatnya mengatupkan
tangan ke mulutnya, seakan dia mau muntah dia mendarat di lapangan dengan
tangan dan kakinya terbatuk dan sesuatu yang keemasan jatuh ke tangannya.
"Aku berhasil mendapatkan Snitch!" teriaknya seraya melambaikan Snitch itu
di atas kepalanya, dan permainan pun berakhir dengan hiruk-pikuk penuh
kebingungan.
"Dia tidak menangkapnya, dia nyaris menelannya," Flint masih uring-uringan
dua puluh menit kemudian, tetapi tak ada gunanya Harry tidak melanggar
peraturan, dan Lee Jordan
dengan suka cita masih terus mengumandangkan komentarnya Gryffindor
menang dengan skor seratus tujuh puluh lawan enam puluh. Meskipun
--------------------------------------- 114
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
demikian, Harry sama sekali tidak mendengar semua ini. Dia sedang
menghadapi secangkir teh pekat di pondok Hagrid, ditemani Ron dan Hermione.
"Snape pelakunya," Ron menjelaskan. "Hermione dan aku melihatnya. Dia
komat-kamit mengutuk sapumu, sama sekali tak melepas pandangannya
darimu."
"Omong kosong," kata Hagrid, yang sama sekali tak tahu apa yang terjadi di
sebelahnya di arena tadi. "Untuk apa Snape lakukan hal macam itu?"
Harry Ron, dan Hermione saling pandang, bingung bagaimana
menjelaskannya. Harry memutuskan untuk berterus terang.
"Aku tak sengaja tahu sesuatu tentang dia," katanya kepada Hagrid. "Dia
mencoba melewati anjing kepala tiga itu pada malam Hallowe'en. Anjing itu
menggigitnya. Kami menduga dia ingin mencuri entah-apa yang dijaga anjing
itu."
Teko teh yang dipegang Hagrid sampai terjatuh. "Bagaimana kalian sampai
bisa tahu tentang Fluffy?" katanya.
"Fluffy?"
"Yeah dia anjingku kubeli dari orang Yunani yang ketemu aku di rumah
minum tahun lalu kupinjamkan dia ke Dumbledore untuk jaga..."
"Ya?" pancing Harry penuh semangat.
"Jangan tanya-tanya lagi," tukas Hagrid keras. "Itu rahasia besar."
"Tapi Snape mau mencurinya."
"Omong kosong," kata Hagrid lagi. "Snape guru Hogwarts, dia tidak akan
berbuat begitu."
"Kalau begitu, kenapa dia mau membunuh Harry?" seru Hermione. Kejadian
sore itu rupanya telah mengubah penilaian Hermione tentang Snape.
"Aku bisa mengenali orang yang mau berbuat buruk, Hagrid, aku sudah
membaca banyak tentang itu. Kita harus mempertahankan kontak mata, dan
Snape sama sekali tidak berkedip. Aku melihatnya!"
"Kuberitahu kalian, kalian keliru!" kat Hagrid panas. "Aku tak tahu kenapa
sapu Harry bertingkah seperti itu, tapi Snape tidak akan coba bunuh murid!
Sekarang, dengarkan aku, kalian bertiga, kalian campuri hal-hal yang bukan
urusan kalian. Itu berbahaya. Lupakan saja anjing itu dan lupakan apa yang di
jaganya, itu urusan Profesor Dumbledore dan Nicolas Flamer..."
"Aha!" ceplos Harry. "Jadi ada orang bernama Nicolas Flamel yang terlibat,
kan?"
Hagrid kelihatan marah sekali pada dirinya sendiri.
***
12. Cermin Tarzah
NATAL hampir tiba. Suatu pagi di pertengahan Desember, Hogwarts
terbangun dalam keadaan sudah berselimut salju setebal kira-kira satu meter.
Danau sudah keras membeku dan si kembar Weasley di hukum karena menyihir
beberapa bola salju untuk mengikuti Quirrell, dan memantul-mantul dari
bagian belakang turbannya. Sedikit burung hantu yang berhasil menembus
--------------------------------------- 115
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
langit berbadai salju untuk mengantar surat, harus dirawat Hagrid sampai sehat
betul sebelum mereka bisa terbang lagi.
Semua sudah tak sabar menunggu datangnya liburan.
Walaupun ruang rekreasi Gryffindor dan Aula Besar punya perapian yang
menyala-nyala, koridorkoridor yang biasa berangin telah menjadi sedingin es
dan angin dingin kencang menerpa jendela-jendela kelas sampai bergetar. Yang
paling parah kelas Profesor Snape di ruang bawah tanah. Di dalam ruang itu
napas mereka langsung berubah jadi kabut di depan mata dan mereka berusaha
berada sedekat mungkin dengan kuali-kuali panas mereka.
"Aku sungguh kasihan," kata Draco Malfoy dalam salah satu pelajaran
Ramuan," pada semua anak yang terpaksa tinggal di Hogwarts selama liburan
Natal karena mereka tidak diinginkan di rumahnya."
Dia bicara begitu sambil menoleh memandang Harry. Crabbe dan Goyle
tertawa-tawa kecil. Harry yang sedang menakar bubuk tulang punggung ikan
lepu, tidak memedulikan mereka.
Malfoy menjadi semakin menyebalkan sejak pertandingan Quidditch yang
lalu. Kesal karena Slytherin kalah, dia mencoba membuat lelucon dengan
mengatakan kodok bermulut besar akan menggantikan Harry sebagai Seeker
dalam pertandingan berikutnya. Kemudian disadarinya bahwa tak seorang pun
menganggap ini lucu, karena anakanak amat terkesan dengan bagaimana Harry
bisa bertahan di atas sapunya yang menggila.
Maka Malfoy yang iri dan marah, kembali mengejek Harry dengan
mengungkit-ungkit bahwa Harry tak punya keluarga.
Memang betul Harry tidak akan pulang ke Privet Drive Natal ini. Profesor
McGonagall telah berkeliling minggu sebelumnya, mencatat nama anak-anak
yang akan tinggal di Hogwarts selama liburan, dan Harry langsung mendaftar.
Dia sendiri sama sekali tidak berkecil hati, mungkin ini bahkan akan jadi Natal
paling menyenangkan baginya. Ron dan kakak-kakaknya juga akan tinggal,
karena Mr dan Mrs Weasley akan ke Rumania untuk menengok Charlie.
Ketika meninggalkan ruang bawah tanah pada akhir pelajaran Ramuan,
mereka melihat pohon cemara besar memblokir koridor di depan. Dua kaki
raksasa yang muncul di bagian bawahnya dan napas keras tersengal-sengal
memberitahu mereka Hagrid ada di belakang pohon itu.
"Hai, Hagrid, perlu bantuan?" Ron bertanya, seraya menjulurkan kepalanya
di antara dahan-dahan.
"Tidak, aku tak apa-apa. Terima kasih, Ron."
"Minggir," terdengar geram dingin Malfoy dari belakang mereka. "Apa kau
mencoba cari uang tambahan, Weasley?
Kepingin jadi pengawas binatang liar juga setelah meninggalkan Hogwarts,
rupanya gubuk Hagrid pastilah seperti istana dibanding rumah keluargamu."
Ron menerjang Malfoy tepat ketika Snape menaiki tangga.
"WEASLEY!"
Ron melepas bagian depan jubah Malfoy.
"Dia diprovokasi, Profesor Snape," kata Hagrid, seraya melongokkan
wajahnya yang besar berbulu dari balik pohon.
"Malfoy menghina keluarganya."
--------------------------------------- 116
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kalaupun betul begitu, berkelahi dilarang di Hogwarts, Hagrid," tukas
Snape. "Lima angka dipotong dari Gryffindor, Weasley, dan berterima kasihlah
tidak lebih dari itu. Ayo, semua jalan terus."
Malfoy, Crabbe, dan Goyle menerobos kasar melewati pohon sambil
menyeringai, membuat daundaun cemara rontok berhamburan.
"Akan kuberi dia pelajaran," kata Ron sambil mengertak gigi di balik
punggung Malfoy. "Suatu hari nanti kuberi dia pelajaran..."
"Aku benci mereka berdua," kata Harry. "Malfoy dan Snape."
"Ayo, bergembiralah, sudah hampir Natal," kata Hagrid.
"Begini saja, ikut aku dan lihat Aula Besar, bagus sekali."
Maka Harry, Ron, dan Hermione mengikuti Hagrid dan pohon cemaranya ke
Aula Besar. Profesor McGonagall dan Profesor Flitwick sedang sibuk menangani
dekorasi Natal.
"Ah, Hagrid, pohon terakhir... taruh saja di sudut paling jauh."
Aula itu tampak spektakuler. Rangkaian holly dan mistletoe bergantungan di
sepanjang dinding dan tak kurang dari dua belas pohon Natal menjulang tinggi
di sekeliling ruangan, beberapa berkilau dengan untaian air yang membeku,
yang lain berkelap-kelip dengan ratusan lilin.
"Berapa hari lagi sebelum kalian libur?" tanya Hagrid.
"Tinggal sehari," kata Hermione. "Dan aku jadi ingat
Harry, Ron, kita punya waktu setengah jam sebelum makan siang, kita
seharusnya ada di perpustakaan."
"Oh, yeah, kau benar," kata Ron, dengan susah payah mengalihkan
pandangannya dari Profesor Flitwick yang membuat gelembung-gelembung
emas bermunculan dari ujung tongkatnya dan menggantungkannya di dahan-
dahan pohon baru tadi.
"Perpustakaan?" kata Hagrid, mengikuti mereka meninggalkan Aula. "Sehari
sebelum liburan? Rajin amat."
"Oh, kami tidak belajar," kata Harry riang. "Sejak kau menyebut Nicolas
Flamel, kami berusaha mencari tahu siapa dia."
"Apa?" Hagrid tampak kaget. "Dengar... sudah kubilang...
lupakan. Tidak ada hubungannya dengan yang dijaga anjing itu."
"Kami ingin tahu siapa Nicolas Flamel, cuma itu," kata Hermione.
"Kecuali kau mau memberitahu kami, jadi kami tak perlu repot-repot?"
Harry menambahkan. "Kami sudah membuka-buka lebih dari seratus buku dan
kami tidak bisa menemukannya di mana-mana... coba beri kami petunjuk
rasanya aku sudah pernah membaca nama itu entah di mana."
"Aku tak mau bilang apa-apa," kata Hagrid datar.
"Kalau begitu, ya kami cari sendiri," kata Ron. Mereka lalu meninggalkan
Hagrid yang tidak puas dan bergegas menuju perpustakaan.
Mereka memang sudah mencari-cari nama Flamel di buku sejak Hagrid
keceplosan sebab, kalau tidak, bagaimana mereka bisa tahu apa yang ingin
dicuri Snape? Sulitnya, susah sekali mengetahui dari mana mereka harus mulai,
karena tak tahu apa yang pernah dilakukan Flamel yang membuat namanya
layak disebut di buku. Dia tidak ada dalam buku Penyihir Besar Abad Dua Puluh
atau Nama-nama Terkenal di Dunia Sihir Masa Kini; namanya juga tak disebut
--------------------------------------- 117
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
dalam Penemuan-penemuan Penting Sihir Modern dan Perkembangan Terakhir
dalam Dunia Sihir. Dan tentu saja, harus diingat, betapa besarnya perpustakaan
itu: berpuluh-puluh ribu buku, beribu-ribu rak, beratusratus deret sempit.
Hermione mengeluarkan sederet topik dan judul yang telah diputuskannya
akan ia cari, sementara Ron berjalan menyusuri deretan buku dan mulai
menarik beberapa di antaranya secara acak. Harry berjalan ke Seksi Terlarang.
Selama beberapa waktu dia telah berpikir, jangan-jangan nama Flamel ada di
sana.
Sayangnya, kau perlu surat keterangan yang ditandatangani salah satu guru
untuk bisa meminjam salah satu buku terlarang itu, dan Harry tahu dia tak
akan memperoleh surat semacam itu.
Yang ada di bagian ini adalah buku-buku berisi Sihir Hitam manjur yang tak
pernah diajarkan di Hogwarts dan hanya dibaca oleh murid-murid kelas lebih
tinggi yang pelajarannya tentang Pertahanan terhadap Ilmu Hitam sudah jauh
lebih maju.
"Kau cari apa, Nak?"
"Tidak cari apa-apa," jawab Harry.
Madam Pince, petugas perpustakaan,
Mengacungkan pembersih yang terbuat dari bulu ayam pada Harry. "Kalau
begitu, lebih baik kau keluar. Ayo... keluar!"
Harry menyesal tidak sedikit lebih cepat memikirkan alasan.
Harry meninggalkan perpustakaan.
Bersama Ron dan Hermione, ketiganya sudah sepakat tidak akan bertanya
kepada Madam Pince di mana mereka bisa menemukan Flamel.
Mereka yakin Madam Pince akan bisa memberitahu mereka, tetapi mereka
tak mau mengambil risiko Snape mendengar apa yang mereka lakukan.
Harry menunggu di koridor, kalau-kalau kedua temannya menemukan
sesuatu, tetapi dia tak terlalu berharap. Mereka memang sudah mencari selama
dua minggu, tetapi karena hanya mencari pada waktuwaktu di antara
pelajaran, tidaklah mengherankan mereka belum menemukan apa-apa. Yang
mereka butuhkan adalah pencarian panjang tanpa Madam Pince mencurigai
mereka.
Lima menit kemudian, Ron dan Hermione bergabung dengannya,
menggelengkan kepala. Mereka pergi makan siang.
"Kalian akan mencari terus selama aku tak ada, kan?" kata Hermione. "Dan
kirim burung hantu padaku kalau kalian menemukan sesuatu."
"Dan kau bisa bertanya kepada orangtuamu kalaukalau mereka tahu siapa
Flamel," kata Ron. "Aman bertanya kepada mereka."
"Sangat aman, karena mereka berdua dokter gigi," kata Hermione.
***
Begitu liburan mulai, Ron dan Harry kelewat senang sehingga tak sempat
memikirkan Flamel. Kamar mereka hanya berisi mereka berdua dan ruang
rekreasi jauh lebih kosong daripada biasanya, jadi mereka bisa duduk di kursi
berlengan nyaman dekat perapian. Mereka duduk lama sekali sambil makan
segala ma-cam yang bisa mereka tusuk dengari garpu panggang roti, kue,
--------------------------------------- 118
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
manisan dan merencanakan caracara membuat Malfoy dikeluarkan. Asyik
sekali membicarakan itu, walaupun jelas tidak akan terjadi.
Ron juga mengajar Harry main catur sihir. Sebetulnya persis seperti catur
Muggle, hanya saja bidakbidaknya hidup, sehingga memainkannya serasa
memimpin pasukan tentara dalam pertempuran. Set permainan catur Ron
sudah tua dan bocel-bocel. Seperti semua benda lain yang dimilikinya, papan
catur itu dulunya milik orang lain dalam keluarganya dalam hal ini kakeknya.
Meskipun demikian, bidak catur tua sama sekali bukan hambatan. Ron sudah
kenal baik semuanya, sehingga dia tak pernah punya kesulitan menyuruh
mereka melakukan apa yang diinginkannya.
Harry bermain dengan buah-buah catur yang dipinjamkan Seamus Finnigan
dan mereka sama sekali tidak mau menurut kepadanya. Dia belum pandai
bermain dan bidak-bidak itu terus-menerus meneriakkan saran-
saran kepadanya,
membuatnya bingung. "Jangan suruh aku ke sana, apa kau tidak melihat
perwira itu? Kirim dia saja, kalau kehilangan dia sih tidak apa-apa."
Pada Malam Natal, Harry pergi tidur dengan gembira, menantikan hari
berikutnya, mengharapkan makanan dan kegembiraan, tetapi sama sekali tidak
mengharapkan hadiah.
Meskipun demikian, ketika pagi-pagi sekali dia bangun, yang pertama kali
dilihatnya adalah tumpukan kecil bungkusan di kaki tempat tidurnya.
"Selamat Natal," kata Ron masih mengantuk ketika Harry turun dari tempat
tidur dan memakai jas kamarnya.
"Selamat Natal juga," kata Harry. "Coba lihat ini. Aku dapat hadiah!"
"Tentu saja. Memangnya kau mengharap dapat apa? Lobak?"
kata Ron, menoleh memandang tumpukan hadiahnya, yang jauh lebih
banyak daripada hadiah Harry.
Harry mengambil bungkusan paling atas. Hadiah ini terbungkus kertas
cokelat tebal dan di atasnya ada tulisan Untuk Harry, dari Hagrid. Di dalamnya
ada seruling kayu yang buatannya kasar. Jelas Hagrid membuatnya sendiri.
Harry meniupnya kedengarannya agak mirip bunyi burung hantu.
Yang kedua, amplop kecil berisi surat pendek.
Kami menerima pesanmu dan terlampir hadiah Natal-mu. Dari Paman
Vernon dan Bibi Petunia. Tertempel di surat itu dengan selotip adalah
sekeping uang logam lima puluh pence.
"Wah, mereka baik," kata Harry.
Ron terpesona melihat keping lima puluh pence itu.
"Aneh," katanya. "Bentuknya ajaib. Ini uang?"
"Boleh buatmu," kata Harry Dia tertawa melihat betapa gembiranya Ron.
"Hagrid dan bibi dan pamanku jadi siapa yang mengirim ini?"
"Kurasa aku tahu yang itu dari siapa," kata Ron, wajahnya agak memerah,
seraya menunjuk bungkusan yang bentuknya tak beraturan. "Ibuku. Aku bilang
padanya kau tidak berharap mendapat hadiah dan oh, tidak," dia mengeluh,
"dia membuatkanmu rompi Weasley."
--------------------------------------- 119
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry sudah merobek bungkusan itu dan menemukan sweter rajutan tanpa
lengan berwarna hijau zamrud dan satu kotak besar bonbon lunak buatan
sendiri.
"Setiap tahun dia membuatkan kami rompi," kata Ron, seraya membuka
bungkusannya sendiri, "dan rompiku selalu merah tua."
"Ibumu baik sekali," kata Harry. Dia mencoba bonbonnya, yang ternyata
enak sekali.
Hadiahnya berikutnya juga berisi makanan kecil sekotak besar Cokelat
Kodok dari Hermione.
Tinggal satu hadiah lagi. Harry mengambilnya dan menimangnya. Ringan
sekali. Dibukanya bungkus hadiah itu.
Sesuatu yang licin berwarna abu-abu keperakan meluncur ke lantai,
teronggok berkilauan. Ron kaget sekali.
"Aku sudah mendengar tentang itu," katanya terpesona, kotak Kacang
Segala-Rasa yang didapatnya dari Hermione sampai terjatuh. "Kalau itu betul
seperti dugaanku itu sangat langka dan sangat berharga."
"Apa ini?"
Harry memungut kain berkilau keperakan itu dari lantai.
Rasanya aneh, seperti air yang ditenun menjadi kain.
"Ini Jubah Gaib," kata Ron, wajahnya tampak kagum. "Aku yakin ini Jubah
Gaib coba paka i." Harry menyampirkan jubah itu di sekeliling bahunya dan
Ron langsung memekik.
"Betul! Lihat ke bawah!"
Harry memandang ke bawah, ke kakinya, tapi ternyata tak ada. Dia berlari
ke depan cermin. Memang bayangannya memandang kepadanya, tapi hanya
kepalanya yang melayang di udara, seluruh tubuhnya sama sekali lenyap.
Ditariknya jubah itu menutupi kepalanya, dan bayangannya lenyap seluruhnya.
"Ada suratnya!" kata Ron tiba-tiba. "Ada surat yang jatuh dari jubah itu!"
Harry melepas jubahnya dan menyambar suratnya.
Tertulis dalam huruf-huruf ramping berliuk yang belum pernah dilihatnya,
kata-kata berikut ini:
Ayahmu menitipkannya kepadaku sebelum dia meninggal.
Sudah waktunya ini di kembalikan kepadamu, Gunakan baik-baik.
Selamat Hari Natal yang menyenangkan untukmu.
Tak ada tanda tangan. Harry bengong memandang surat itu.
Ron sibuk mengagumi jubah itu. "Aku rela memberikan apa saja untuk
mendapatkan ini," katanya. "Apa saja. Ada apa?"
"Tidak apa-apa," kata Harry. Dia merasa sangat aneh. Siapa yang mengirim
jubah ini? Betulkah ini dulu milik ayahnya?
Sebelum dia bisa berkata atau berpikir apa-apa lagi, pintu kamar menjeblak
terbuka dan Fred dan George Weasley melompat masuk. Harry cepat-cepat
menyingkirkan jubah itu.
Dia belum rela membaginya dengan orang lain.
"Selamat Natal!"
"Hei, lihat Harry dapat rompi Weasley juga!"
--------------------------------------- 120
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Fred dan George memakai rompi biru, yang satu dengan huruf F besar
kuning, satunya lagi dengan huruf G besar kuning.
"Tapi rompi Harry lebih bagus daripada punya kita," kata Fred seraya
mengangkat rompi Harry. "Jelas Mum berusaha lebih keras kalau membuatkan
sesuatu bukan untuk keluarga."
"Kenapa milikmu tidak kaupakai, Ron?"
George mempertanyakan. "Ayo pakai, rompinya kan bagus dan hangat." "Aku
benci merah," Ron mengeluh setengah hati sambil menarik rompinya melewati
kepalanya.
"Punyamu tidak ada hurufnya," George baru sadar.
"Rupanya Mum mengira kau tidak akan melupakan namamu.
Tetapi kami tidak bodoh kami tahu nama kami Gred dan Forge."
"Ada apa sih, ribut amat?"
Percy Weasley menjulurkan kepalanya ke dalam kamar, kelihatan tidak
senang. Rupanya dia juga baru membuka hadiahnya, karena dia juga membawa
rompi yang tersampir di tangannya. Fred segera menyambar rompi itu.
"P untuk Prefek! Pakailah, Percy ayo, kami semua memakai rompi kami,
bahkan Harry juga."
"Aku... tak... mau...," kata Percy sementara si kembar memaksakan rompi
itu melewati kepalanya, membuat kacamatanya miring.
"Dan hari ini kau kan tidak bersama para Prefek lainnya,"
kata George. "Natal kan waktu untuk keluarga."
Mereka menggiring Percy keluar ruangan, rompinya menjepit lengannya.
***
Seumur hidup belum pernah Harry mengalami jamuan Natal seperti itu.
Seratus kalkun panggang gemuk, segunung kentang panggang dan rebus,
berpiring-piring chipolata berminyak, bermangkuk-mangkuk kacang polong
bermentega, bermacam-macam saus lezat dan bertumpuk-tumpuk petasan
sihir di setiap jarak satu meter di sepanjang meja. Petasan luar biasa ini sama
sekali lain daripada petasan Muggle yang sering dibeli keluarga Dursley di
dalamnya ada hadiah mainan plastik kecilkecil dan topi kertas tipis. Bersama
Fred, Harry menarik sebuah petasan sihir, dan petasan itu tidak cuma meletus,
melainkan menggelegar seperti bunyi meriam dan menyelubungi mereka semua
dengan asap biru, sementara dari dalamnya meletup topi laksamana berwarna
merah bersama beberapa ekor tikus putih hidup. Di Meja Tinggi, Dumbledore
telah menukar topi runcingnya dengan topi berbunga-bunga dan sedang
tertawa-tawa mendengar lelucon yang dibacakan Profesor Flitwick.
Puding Natal menyala dihidangkan setelah kalkun. Gigi Percy nyaris patah
ketika dia menggigit Sickle perak yang terselip di potongan pudingnya. Harry
memandang Hagrid yang wajahnya makin lama makin merah sementara dia
terusmenerus minta tambah anggur, dan akhirnya mencium pipi Profesor
McGonagall. Betapa tercengangnya Harry melihat Profesor McGonagall terkikik
dan mukanya memerah, topinya miring.
Ketika Harry akhirnya meninggalkan meja perjamuan, dia membawa banyak
hadiah dari petasan, termasuk satu pak balon menyala anti pecah, seperangkat
alat untuk menumbuhkan tahi lalatmu sendiri, dan set permainan catur sihir
--------------------------------------- 121
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
barunya. Tikus-tikus putihnya telah menghilang dan Harry punya perasaan tak
enak mereka akan berakhir sebagai santapan Natal Mrs Norris.
Harry dan Weasley bersaudara melewatkan sore menyenangkan dengan
perang bola salju seru di halaman.
Setelah itu, kedinginan, basah kuyup, dan terengah kehabisan napas,
mereka kembali ke depan perapian di ruang rekreasi Gryffindor. Di tempat itu
Harry pertama kali memainkan set catur barunya dengan hasil kalah telak dari
Ron. Dia merasa tidak akan kalah separah itu jika Percy tidak mencoba
membantunya terus-menerus.
Setelah acara minum teh sore dengan sajian sandwich kalkun, kue-kue
manis, dan kue tar Natal, semua merasa terlalu kenyang dan mengantuk untuk
melakukan sesuatu sebelum tidur. Jadi mereka duduk saja, menonton Percy
mengejar Fred dan George mengitari Menara Gryffindor karena mereka telah
mencuri lencana Prefeknya.
Hari itu merupakan Natal paling indah bagi Harry. Meskipun demikian, ada
yang mengganggu pikirannya sepanjang hari.
Sebelum dia naik ke tempat tidurnya, dia tak bebas memikirkannya: Jubah
Gaib dan pengirimnya yang entah siapa.
Ron, kekenyangan kalkun dan kue tar dan tanpa ada hal misterius yang
mengganggunya, langsung tertidur begitu dia menarik kelambu tempat
tidurnya. Harry membungkuk ke sisi tempat tidurnya dan menarik keluar Jubah
Gaib dari bawahnya.
Milik ayahnya... ini dulu milik ayahnya. Dibiarkannya kain itu meluncur di
tangannya, lebih halus dari sutra, seringan udara. Gunakan baik-baik, begitu
kata suratnya.
Dia haras mencoba jubah ini sekarang. Dia turun dari tempat tidurnya
dan menyampirkan jubah itu ke tubuhnya.
Memandang ke bawah ke kakinya, dia hanya melihat cahaya bulan dan
bayang-bayang.
Gunakan baik-baik.
Mendadak, kantuk Harry lenyap. Seluruh Hogwarts terbuka untuknya
kalau dia memakai jubah ini. Ketegangan menyenangkan mengaliri tubuhnya
saat dia berdiri dalam kegelapan dan kesunyian. Dia bisa pergi ke mana pun
dengan jubah ini, ke mana pun, dan Filch tidak akan tahu.
Ron mengigau dalam tidurnya.
Haruskah Harry membangunkannya? Ada yang menahannya jubah ayahnya
dia merasa bahwa kali ini... untuk pertama kalinya... dia ingin
menggunakannya sendiri.
Dia berjingkat meninggalkan kamarnya, menuruni tangga, menyeberangi
ruang rekreasi, dan memanjat keluar dari lubang lukisan.
"Siapa itu?" lengking si Nyonya Gemuk. Harry tidak menjawab. Dia berjalan
cepat-cepat sepanjang koridor.
Ke mana sebaiknya? Harry berhenti, jantungnya berdegup kencang, dan dia
berpikir. Dan dia mendapat ide. Seksi Terlarang di perpustakaan. Dia akan bisa
membaca selama dia mau, selama yang dibutuhkan untuk menemukan siapa
Flamel.
--------------------------------------- 122
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dia ke perpustakaan, menarik Jubah Gaibnya semakin rapat sementara ia
melangkah.
Perpustakaan gelap gulita dan suasananya mengerikan. Harry menyalakan
lampu agar bisa berjalan sepanjang deretan rak-rak buku. Lampunya seperti
melayang di udara, dan meskipun Harry bisa merasakan tangannya memegangi
lampu itu, pemandangan aneh ini membuatnya ngeri.
Seksi Terlarang terletak di bagian paling belakang.
Melangkah hati-hati melewati tali yang memisahkan buku-buku ini dari
buku-buku lainnya di perpustakaan, Harry mengangkat lampunya agar bisa
membaca judul-judulnya.
Judul-judul itu tidak banyak membantunya. Huruf-huruf emasnya yang
sudah mengelupas membentuk kata-kata dalam bahasa yang tidak bisa
dipahami Harry. Beberapa buku bahkan tidak ada judulnya sama sekali. Satu
buku bernoda gelap yang kelihatan mirip sekali darah. Bulu kuduk Harry
berdiri. Mungkin itu cuma perasaannya, mungkin juga tidak, tetapi Harry
merasa bisikan samar terdengar dari buku-buku itu, seakan mereka tahu ada
orang yang seharusnya tidak berada di situ.
Dia toh harus mulai. Setelah meletakkan lampunya dengan hati-hati di
lantai, dia mencari buku yang tampilannya menarik di rak paling bawah.
Sebuah buku besar hitam-perak menarik perhatiannya. Ditariknya keluar
dengan susah payah, karena buku itu sangat berat. Harry meletakkannya di
atas lututnya dan membukanya.
Jeritan melengking membekukan darah memecah kesunyian buku itu
menjerit! Harry cepat-cepat menutupnya kembali, tetapi jeritan itu terus
terdengar, jerit melengking panjang yang memekakkan telinga.
Harry terhuyung ke belakang dan menabrak lampunya, yang langsung
padam. Panik mendengar langkahlangkah kaki mendekat di koridor di luar
dijejalkannya kembali buku menjerit itu ke raknya, lalu dia lari. Dia
berpapasan dengan Filch di dekat pintu. Mata Filch yang pucat dan lebar
memandang menembusnya dan Harry menyelusup di bawah lengan Filch yang
terentang dan berlari sepanjang koridor, jeritan si buku masih melengking di
telinganya.
Dia berhenti mendadak di depan seperangkat baju zirah tinggi. Dia terlalu
sibuk kabur dari perpustakaan, sampai tidak memperhatikan arah larinya.
Mungkin karena gelap, dia sama sekali tidak mengenali keadaan sekelilingnya.
Ada baju zirah di dekat dapur, dia tahu, tetapi dia pasti berada lima lantai di
atas dapur.
"Kau memintaku untuk langsung menemuimu, Profesor, jika ada yang
berkeliaran di malam hari, dan baru saja ada orang di perpustakaan Seksi
Terlarang."
Harry merasa wajahnya memucat. Di mana pun dia saat itu, Filch pastilah
tahu jalan pintas, karena suaranya yang lembut dan lancar terdengar dekat,
dan betapa kagetnya Harry, karena ternyata Snapelah yang menjawab.
"Seksi Terlarang? Yah, mereka pasti belum jauh, kita akan menangkap
mereka."
--------------------------------------- 123
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry terpaku di tempatnya ketika Filch dan Snape muncul di sudut di
depan. Mereka tak bisa melihatnya, tentu, tetapi koridor itu sempit dan jika
mereka lebih mendekat lagi mereka akan menabraknya jubah itu tidak
membuatnya menjadi tidak padat.
Dia mundur sepelan mungkin. Ada pintu terbuka sedikit di sebelah kiri. Itu
satu-satunya harapan. Dia menyelinap masuk, menahan napas, berusaha tidak
menyenggol pintu, dan betapa leganya ketika dia berhasil masuk tanpa Snape
dan Filch menyadarinya. Mereka berjalan terus dan Harry bersandar ke din-
ding, menarik napas dalam-dalam, mendengarkan langkahlangkah mereka yang
semakin jauh. Nyaris saja, sangat nyaris.
Baru beberapa detik kemudian dia memperhatikan ruang tempatnya
bersembunyi.
Kelihatannya itu ruang kelas yang sudah tidak terpakai. Meja dan kursi
bertumpuk di salah satu din-ding, juga tempat sampah terbuka, tetapi...
bersandar pada dinding, menghadap ke arahnya, ada sesuatu yang tampaknya
tidak layak berada di situ, sesuatu yang kelihatannya sengaja disembunyikan di
situ.
Benda itu cermin luar biasa, setinggi langit-langit, dengan bingkai emas
terukir, berdiri di atas dua cakar. Ada tulisan terukir di bagian atasnya: Erised
stra ehru oyt ube cafru oyt on wohsi.
Kepanikannya mulai luntur setelah tak terdengar lagi suara Filch dan Snape.
Harry bergerak mendekati cermin itu, ingin memandang dirinya, tetapi tak
melihat bayangan apa pun. Dia melangkah sampai ke depan cermin.
Dia harus menutup mulutnya dengan tangan untuk mencegahnya menjerit.
Buru-buru dia membalik. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada
ketika buku tadi menjerit karena dia tak hanya melihat dirinya di cermin...
serombongan orang lain berdiri di belakangnya.
Tetapi ruangan itu kosong. Dengan napas memburu, perlahan dia menoleh
kembali ke cermin.
Itu dia, terpantul di cermin, pucat dan ketakutan, dan di sana, di
belakangnya, ada paling sedikit sepuluh orang lain. Harry menoleh lewat
bahunya tetap saja tak ada orang. Apakah mereka semua juga tidak tampak?
Apakah sebetulnya dia berada di ruangan penuh dengan orang-orang yang tidak
tampak, dan keajaiban cermin itu justru memperlihatkan semua orang itu,
yang tampak maupun yang tidak?
Kembali Harry memandang cermin. Seorang wanita yang berdiri tepat di
belakang bayangannya tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan. Harry
mengulurkan tangan dan merasakan udara kosong di belakangnya. Jika wanita
itu benarbenar ada di sana, dia akan bisa menyentuhnya, bayangan mereka
sangat berdekatan, tetapi dia hanya merasakan udara wanita itu dan yang
lain hanya ada di dalam cermin.
Wanita itu sangat cantik. Rambutnya merah gelap dan matanya matanya
persis mataku, pikir Harry, ber ingsut mendekat ke cermin. Hijau terang
bentuknya persis sama, tetapi kemudian Harry melihat wanita itu menangis;
tersenyum tetapi pada saat bersamaan, menangis. Laki-laki jangkung kurus
--------------------------------------- 124
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
berambut hitam di sebelahnya, memeluknya. Laki-laki itu memakai kacamata,
dan rambutnya berantakan sekali.
Rambutnya mencuat di bagian belakang, persis seperti rambut Harry.
Harry berada dekat sekali dengan cermin sekarang sehingga hidungnya
nyaris menyentuh hidung bayangannya.
"Mum?" bisiknya. "Dad?"
Mereka hanya memandangnya, tersenyum. Dan perlahan-lahan Harry
memandang wajah orang-orang lain di dalam cermin, dan melihat mata-mata
hijau lain seperti matanya, hidung lain seperti hidungnya, bahkan seorang laki-
laki tua kecil yang lututnya menonjol seperti Harry Harry sedang memandang
keluarganya, untuk pertama kali dalam hidupnya.
Keluarga Potter tersenyum dan melambai dan Harry balik menatap mereka
dengan tak puas-puasnya, kedua tangannya menekan kaca, seakan dia berharap
terjatuh ke dalamnya dan bergabung dengan mereka. Hatinya terasa sakit,
setengah bahagia, setengah berduka.
Berapa lama dia berdiri di sana, dia tidak tahu. Bayangan orang-orang itu
tidak menghilang dan Harry memandang terus sampai suara di kejauhan
membuatnya tersadar. Dia tak bisa terus berada di sini, dia harus kembali ke
asramanya. Dengan amat enggan dia berpaling dari wajah ibunya, berbisik,
"Aku akan kembali," dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
***
"Kau seharusnya membangunkan aku," kata Ron marah.
"Kau boleh ikut malam ini, aku akan ke sana lagi, aku ingin menunjukkan
cermin itu kepadamu."
"Aku ingin lihat ibu dan ayahmu," kata Ron bersemangat.
"Dan aku ingin melihat semua keluargamu, kau akan bisa menunjukkan dua
kakakmu yang paling besar dan keluargamu yang lain."
"Kau bisa melihat mereka kapan saja," kata Ron. "Ikutlah ke rumahku musim
panas ini. Lagi pula, mungkin cermin itu cuma menunjukkan orang-orang yang
sudah meninggal. Sayang sekali kau tidak menemukan Flamel. Makan daging
asap ini, atau apalah Kenapa kau tidak makan apa-apa?"
Harry tak bisa makan. Dia sudah melihat orangtuanya dan akan melihat
mereka lagi malam ini. Dia sudah hampir melupakan Flamel. Flamel
kelihatannya tak begitu penting lagi, Siapa yang peduli apa yang dijaga anjing
berkepala tiga itu?
Sebetulnya, peduli apa kalau Snape mencurinya?
"Kau tak apa-apa?" tanya Ron. "Kau tampak aneh."
***
Yang paling ditakuti Harry adalah dia tak bisa lagi menemukan ruang cermin
itu. Berselubung jubah, bersama Ron, mereka harus berjalan jauh lebih pelan
pada malam berikutnya.
Mereka mencoba napak tilas rute Harry dari perpustakaan, berputar-putar
di lorong-lorong gelap selama hampir satu jam.
"Aku kedinginan," kata Ron. "Ayo, kita lupakan saja dan balik ke kamar."
"Tidak!" desis Harry. "Aku tahu ruang itu ada di sekitar sini."
--------------------------------------- 125
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Mereka berpapasan dengan hantu penyihir jangkung yang melayang ke arah
berlawanan, tetapi tidak bertemu siapa-siapa lagi. Tepat ketika Ron mulai
mengeluh kakinya beku kedinginan, Harry melihat baju zirah itu.
"Itu ruangannya di sini ya!" Mereka mendorong pintunya.
Harry menjatuhkan jubah dari bahunya dan berlari ke cermin.
Itu dia mereka. Ayah dan ibunya tersenyum melihatnya.
"Lihat?" Harry berbisik.
"Aku tidak melihat apa-apa."
"Lihat! Lihat mereka semua... kan banyak itu...."
"Aku cuma bisa melihatmu."
"Lihat baik-baik, sini, berdiri di tempatku." Harry minggir, tetapi dengan
Ron di depan cermin, dia tak bisa lagi melihat keluarganya, hanya melihat Ron
yang memakai piama. Ron, sebaliknya, terpaku menatap bayangannya. "Lihat
aku!"
katanya. "Apakah kau bisa melihat semua keluargamu mengelilingimu?"
"Tidak... aku sendirian... tetapi aku berbeda... aku kelihatan lebih tua...
dan aku Ketua Murid!"
"Apa?"
"Aku... aku memakai lencana seperti yang dulu dipakai Bill...
dan aku memegang Piala Asrama dan. Piala Quidditch... aku juga kapten
Quidditch!" Ron memalingkan wajah dari pemandangan luar biasa ini untuk
menatap Harry dengan bergairah.
"Apakah menurutmu cermin ini memperlihatkan masa depan?"
"Mana bisa? Semua keluargaku sudah meninggal coba aku lihat lagi...."
"Kau kan sudah puas melihat semalam, beri aku kesempatan sedikit lagi."
"Kau cuma memegang Piala Quidditch, apa menariknya?
Aku ingin melihat orangtuaku."
"Jangan mendorongku..." Mendadak terdengar suara di koridor, mengakhiri
perdebatan mereka. Mereka tidak sadar telah bicara keras-keras.
"Cepat!" Ron menyampirkan jubah ke tubuh mereka ketika mata berkilau
Mrs Norris muncul dari balik pintu. Ran dan Harry berdiri diam-diam, keduanya
memikirkan hal yang sama apakah jubah ini berlaku untuk kucing juga? Setelah
rasanya lama sekali, kucing iru berbalik dan pergi.
"Sudah tidak aman siapa tahu dia menemui Filch. Pasti tadi dia mendengar
kita. Ayo." Dan Ron menarik Harry meninggalkan ruangan itu.
***
Salju masih belum mencair keesokan harinya. "Mau main catur, Harry?"
tanya Ron.
"Tidak."
"Bagaimana kalau kita mengunjungi Hagrid?"
"Tidak... kau saja...."
"Aku tahu apa yang kaupikirkan, Harry cermin itu. Jangan kembali ke sana
malam ini."
"Kenapa tidak?"
"Aku tak tahu, cuma perasaanku tidak enak lagi pula, kau sudah nyaris
ketahuan beberapa kali. Filch, Snape, dan Mrs Norris berkeliaran. Memang
--------------------------------------- 126
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
mereka tidak bisa melihatmu. Tapi bagaimana kalau mereka menabrakmu?
Bagaimana kalau kau menabrak sesuatu?"
"Kau jadi seperti Hermione."
"Aku serius, Harry, jangan pergi."
Tapi Harry cuma memikirkan satu hal saja, yaitu kembali ke depan cermin,
dan Ron tak bisa menghalanginya.
***
Malam ketiga dia menemukan kamar itu lebih cepat daripada sebelumnya.
Dia berjalan sangat cepat, dia tahu itu tidak bijaksana, sebab dia membuat
suara, tetapi dia tidak bertemu siapa-siapa.
Dan ayah dan ibunya tersenyum lagi kepadanya, dan salah satu kakeknya
mengangguk-angguk senang. Harry merosot duduk di depan cermin. Tak ada
yang bisa mencegahnya tinggal di sini semalam suntuk bersama keluarganya.
Tak ada.
Kecuali...
"Wah... kembali lagi, Harry?"
Harry merasa seakan organ-organ tubuhnya telah berubah jadi es. Dia
menoleh ke belakang. Duduk di salah satu meja dekat dinding, tak lain dan tak
bukan adalah Albus Dumbledore.
Harry pastilah tadi melewatinya, begitu bersemangat ingin segera ke cermin
sampai dia tidak melihatnya.
"Saya... saya tidak melihat Anda, Sir."
"Aneh, bagaimana 'tidak kelihatan' membuatmu rabun," kata Dumbledore,
dan Harry lega melihatnya tersenyum.
"Jadi," kata Dumbledore, turun dari meja untuk duduk di lantai bersama
Harry, "kau, seperti beratusratus orang lainnya sebelum kau, telah menemukan
kesenangan yang bisa didapat dari Cermin Tarsah."
"Saya tak tahu namanya begitu, Sir."
"Tapi kurasa sekarang kau sudah menyadari apa yang dilakukan cermin itu?"
"Cermin itu... cermin itu memperlihatkan keluarga saya..."
"Dan memperlihatkan kepada Ron dirinya sebagai Ketua Murid."
"Bagaimana Anda tahu...?"
"Aku tak memerlukan jubah agar bisa tidak kelihatan," kata Dumbledore
lembut. "Nah, sekarang, bisakah kaupikirkan apa yang ditunjukkan Cermin
Tarsah kepada kita semua?"
Harry menggeleng.
"Biar kujelaskan. Orang yang paling bahagia di dunia bisa menggunakan
Cermin Tarsah seperti cermin biasa, yaitu, kalau dia memandang cermin itu dia
hanya melihat dirinya seperti apa adanya. Apakah ini membantu?"
Harry berpikir. Kemudian dia berkata perlahan, "Cermin itu memperlihatkan
kepada kita apa yang kita inginkan... apa saja yang kita inginkan..."
"Ya dan tidak," kata Dumbledore pelan. "Cermin itu hanya menunjukkan
hasrat hati kita yang paling mendalam. Kau, yang tidak pernah kenal
keluargamu, melihat mereka berdiri mengelilingimu. Ronald Weasley yang
selalu merasa minder dengan kesuksesan kakakkakaknya, melihat dirinya
berdiri sendiri, menjadi yang terbaik di antara mereka. Bagaimanapun juga,
--------------------------------------- 127
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
cermin ini tidak memberi kita baik pengetahuan maupun kebenaran. Banyak
orang sudah tersia-sia di depan cermin ini, terpesona oleh apa yang mereka
lihat, atau jadi gila karenanya, karena tak tahu apakah yang diperlihatkan
cermin itu riil atau bahkan mungkin.
"Besok cermin ini akan dipindahkan ke tempat baru, Harry dan aku
memintamu agar tidak mencarinya lagi. Jika suatu kali nanti kau kebetulan
melihatnya lagi, kau sudah siap. Tak ada gunanya memikirkan impian berlama-
lama sampai lupa hidup,
ingat itu. Nah, sekarang bagaimana kalau kaupakai lagi jubah istimewa itu
dan pergi tidur?"
Harry bangkit. "Sir Profesor Dumbledore? Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Jelas, kau baru saja bertanya," Dumbledore tersenyum.
"Tapi kau boleh tanya satu hal lagi."
"Apa yang Anda lihat kalau Anda memandang cermin itu?"
"Aku? Aku melihat diriku memegang sepasang kaus kaki wol tebal."
Harry melongo.
"Semua orang selalu membutuhkan kaus kaki baru," kata Dumbledore. "Natal
sudah berlalu lagi dan aku tak dapat kaus kaki sepasang pun. Orang-orang
bersikeras memberiku buku."
Baru ketika dia sudah kembali di tempat tidurnya, terlintas di benak Harry
bahwa Dumbledore mungkin tidak sepenuhnya jujur. Tetapi, pikir Harry seraya
mendorong Scabbers dari bantalnya, pertanyaannya tadi cukup pribadi.
***
13. Nicolas Flamel
DUMBLEDORE telah meyakinkan Harry agar tidak mencari-cari Cermin
Tarsah lagi dan selama sisa liburan Natal, Jubah gaib tetap terlipat di dasar
koper Harry. Harry ingin sekali segera melupakan apa yang pernah di lihatnya
di cermin. tetapi tidak bisa. Dia mulai mendapat mimpi buruk. Berkali-kali dia
bermimpi tentang orang tuanya yang menghilang dalam kilatan cahaya hijau
sementara terdengar tawa tinggi melengking.
"Lihat, kan, Dumbledore benar. Cermin itu bisa membuatmu gila," kata Ron,
ketika Harry bercerita tentang mimpi buruknya.
Hermione, yang kembali sehari sebelum semester baru dimulai, punya
pandangan lain tentang kejadian itu. Dia setengahnya merasa ngeri
membayangkan Harry meninggalkan kamar, berkeliaran di sekolah selama tiga
malam berturut-turut ("Bagaimana kalau Filch menangkapmu!") dan
setengahnya merasa kecewa karena dia tidak berhasil menemukan siapa Nicolas
Flamel.
Mereka sudah nyaris kehilangan harapan menemukan Flamel dalam buku
perpustakaan, meskipun Harry masih yakin dia pernah membaca nama itu
entah di mana. Begitu semester baru mulai, mereka kembali membuka-buka
buku selama sepuluh menit dalam waktu istirahat mereka. Waktu Harry bahkan
--------------------------------------- 128
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
lebih sedikit dari kedua temannya, karena masa latihan Quidditch sudah mulai
lagi.
Wood melatih timnya lebih keras dari sebelumnya. Bahkan hujan yang turun
terus menggantikan salju tidak mematahkan semangatnya. Si kembar Weasley
mengeluh Wood telah menjadi fanatik, tetapi Harry memihak Wood. Jika
mereka memenangkan pertandingan berikutnya, melawan Hufflepuff, mereka
akan menyusul Slytherin dalam Kejuaraan Antar-Asrama untuk pertama kalinya
dalam tujuh tahun. Lepas dari keinginan untuk menang, Harry menyadari
bahwa mimpi buruknya berkurang jika dia kelelahan sehabis berlatih.
Kemudian, dalam satu sesi latihan di bawah hujan deras dan berlumpur,
Wood menyampaikan kabar buruk kepada timnya.
Dia baru saja marah besar kepada si kembar Weasley yang tak henti-
hentinya saling serang dan berpura-pura terpeleset dari sapu mereka.
"Kalian bisa tidak sih berhenti main-main!" teriaknya.
"Tindakan seperti itulah yang akan membuat kita kalah dalam pertandingan!
Snape akan jadi wasit kali ini dan dia akan mencari-cari segala alasan untuk
mengurangi angka Gryffindor!"
George Weasley benar-benar jatuh dari sapunya mendengar ini.
"Snape jadi wasit?" katanya dengan mulut penuh lumpur.
"Kapan dia pernah jadi wasit pertandingan Quidditch? Dia pasti tidak akan
bersikap adil jika ada kemungkinan kita menyusul Slytherin." Anggota tim lain
mendarat di sisi George untuk ikut mengeluh.
"Bukan salahku," kata Wood. "Yang jelas kita harus menjamin bahwa kita
bermain bersih, sehingga Snape tak akan punya alasan untuk menyalahkan
kita."
Boleh saja begitu, pikir Harry, tetapi dia punya alasan lain tidak
menginginkan Snape berada di dekatnya selagi dia bermain Quidditch....
Anggota tim yang lain masih tinggal mengobrol seperti biasanya seusai
latihan, tetapi Harry langsung kembali ke ruang rekreasi Gryffindor. Ron dan
Hermione sedang bermain catur di situ. Catur adalah satu-satunya kegiatan
yang Hermione bisa kalah, sesuatu yang menurut Harry dan Ron sangat baik
untuknya.
"Jangan dulu bicara padaku," kata Ron ketika Harry duduk di sebelahnya.
"Aku perlu konsen..." Terlihat olehnya wajah Harry. "Kenapa kau? Kau kelihatan
sakit."
Bicara pelan-pelan supaya tak ada yang mendengar, Harry memberitahu
kedua temannya tentang keinginan mendadak Snape untuk menjadi wasit
Quidditch.
"Jangan main," kata Hermione segera.
"Bilang saja kau sakit," kata Ron.
"Pura-pura kakimu patah," Hermione mengusulkan.
"Patahkan benar-benar saja," kata Ron.
"Tidak bisa," kata Harry. "Tak ada Seeker cadangan. Kalau aku mundur,
Gryffindor sama sekali tak bisa main."
Saat itu Neville terguling masuk ke ruang rekreasi.
--------------------------------------- 129
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Bagaimana dia bisa memanjat lubang lukisan tak bisa ditebak, karena
kakinya saling menempel. Penyebabnya langsung mereka kenali, Kutukan Kaki
Terkunci. Dia pastilah harus melompat-lompat naik ke Menara Gryffindor.
Semua tertawa, kecuali Hermione. Dia langsung melompat bangun dan
mengucapkan mantra kontrakutukan. Kaki Neville terpisah dan dia berdiri,
gemetar.
"Apa yang terjadi?" Hermione bertanya kepadanya, mengajaknya duduk di
dekat Harry dan Ron.
"Malfoy," kata Neville gemetar. "Aku bertemu dia di depan perpustakaan.
Dia bilang dia sedang mencari-cari anak yang bisa dipakainya melatih kutukan
itu."
"Temui Profesor McGonagall!" Hermione mendorong Neville. "Laporkan dia!"
Neville menggeleng.
"Aku tak mau menambah keruwetan," gumamnya.
"Kau harus berani menghadapinya, Neville!" kata Ron. "Dia terbiasa berbuat
semena-mena. terhadap orang lain, tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk
menyerah dan tidak menyulitkannya."
"Tak perlu memberitahu kalau aku tidak cukup berani untuk menjadi
anggota Gryffindor. Malfoy Sudah melakukannya,"kata Neville tersendat.
Harry merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan Cokelat Kodok, cokelat
terakhir dari kotak hadiah Natal Hermione.
Diberikannya kepada Neville, yang kelihatannya mau menangis.
"Kau berharga dua belas kali lipat Malfoy," kata Harry. "Topi Seleksi
memilihmu untuk Gryffindor, kan? Dan di mana Malfoy? Di Slytherin yang bau."
Bibir Neville bergetar membentuk senyum lemah ketika dia membuka
bungkus Cokelat Kodok. "Terima kasih, Harry...
kurasa aku akan tidur... Kau mau kartunya? Kau koleksi, kan?"
Setelah Neville pergi, Harry memandang kartu Penyihir Terkenalnya.
"Dumbledore lagi," katanya. "Dia yang pertama..."
Harry tercekat kaget. Terbelalak memandang bagian belakang kartunya.
Kemudian dia mendongak, memandang Ron dan Hermione.
"Sudah kutemukan dia!" bisiknya. "Aku sudah menemukan Flamel! Sudah
kukatakan aku pernah membaca namanya entah di mana sebelumnya. Rupanya
aku membacanya di kereta api yang membawaku ke sini dengar ini, 'Profesor
Dumbledore khususnya terkenal karena berhasil mengalahkan penyihir aliran
hitam Grindelwald pada tahun 1945, penemuannya untuk dua belas kegunaan
darah naga, dan karyanya di bidang alkimia yang dikerjakannya bersama
mitranya, Nicolas Flamel!"
Hermione langsung melompat berdiri. Belum pernah dia kelihatan
segembira ini sejak mereka mendapat nilai untuk PR pertama mereka dulu.
"Tunggu di sini!" katanya, dan dia berlari menaiki tangga ke kamar anak-
anak perempuan. Harry dan Ron baru sempat bertukar pandang heran ketika
dia sudah kembali sambil memeluk buku yang sangat besar.
"Tak pernah terpikir olehku untuk mencari di sini!" bisiknya tegang. "Aku
pinjam ini dari perpustakaan beberapa minggu lalu untuk bacaan ringan."
--------------------------------------- 130
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Ringan?" kata Ron, tetapi Hermione menyuruhnya diam sampai dia
menemukan sesuatu, lalu dia mulai membuka-buka buku itu dengan cepat,
seraya bergumam sendiri.
Akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya.
"Sudah kuduga! Sudah kuduga!"
"Apa kami sudah boleh ngomong sekarang?" gerutu Ron.
Hermione tidak mengacuhkannya. "Nicolas Flamel," bisiknya dramatis,
"adalah satusatunya yang dikenal sebagai pembuat Batu Bertuah!" Ucapannya
ini tidak menghasilkan efek yang di harapkan Hermione.
"Batu apa?" tanya Harry dan Ron. "Oh, astaga, apa kalian berdua tidak
membaca? Lihat... baca ini." Didorongnya buku itu ke arah mereka, dan Harry
dan Ron membaca: Ilmu kuno alkimia berkenaan dengan pembuatan Batu
Bertuah, benda legendaris dengan kekuatan gaib luar biasa. Batu ini akan
mengubah logam apa saja menjadi emas murni. Batu ini juga menghasilkan
Cairan Kehidupan, yang akan membuat peminumnya hidup selamanya.
Selama berabad-abad ini banyak laporan tentang Batu Bertuah, tetapi satu-
satunya batu yang saat ini ada adalah milik Mr Nicolas Flamel, ahli alkimia
terkenal dan pecinta opera.
Mr Flamel, yang tahun lalu merayakan ulang tahunnya yang keenam ratus
enam puluh lima tahun, menikmati hidup tenang di Devon bersama istrinya,
Perenelle (enam ratus lima puluh delapan tahun).
"Tahu, kan, sekarang?" kata Hermione, ketika Harry dan Ron selesai
membaca. "Anjing itu pastilah menjaga Batu Bertuah milik Flamel! Aku berani
taruhan dia pasti menitipkannya kepada Dumbledore karena mereka
bersahabat, dan dia tahu ada orang yang menginginkan batu itu. Itulah
sebabnya dia ingin batu itu dipindahkan dari Gringotts!"
"Batu yang membuat emas dan membuatmu tak bisa mati!"
kata Harry "Pantas saja Snape menginginkannya! Semua orang pasti
menginginkannya."
"Dan pantas saja kita tidak bisa menemukan Flamel dalam buku
Perkembangan Terakhir dalam Dunia Sihir," kata Ron.
"Dia belum masuk kategori itu jika umurnya baru enam ratus enam puluh
lima, kan?"
Esok paginya, dalam pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, sementara
mencatat berbagai cara merawat gigitan manusia serigala, Harry dan Ron masih
mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan dengan Batu Bertuah jika mereka
memilikinya. Ketika Ron mengatakan bahwa dia akan membeli tim Quidditch
sendiri, barulah Harry teringat akan Snape dan pertandingan Quidditch-nya
yang akan datang.
"Aku akan main," katanya kepada Ron dan Hermione.
"Kalau tidak, semua anak Slytherin akan mengira aku takut menghadapi
Snape. Akan ku tunjukkan kepada mereka...
senyum akan tersingkir dari wajah mereka kalau kita menang."
"Asal bukan malah kau sendiri yang tersingkir dari lapangan," kata
Hermione.
***
--------------------------------------- 131
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Semakin dekat hari pertandingan, Harry semakin cemas, walaupun dia tidak
mengatakan begitu kepada Ron dan Hermione. Para anggota tim lainnya juga
tidak begitu tenang.
Ide menyusul Slytherin dalam Kejuaraan Antar-Asrama sungguh
menyenangkan, belum pernah ada yang berhasil selama tujuh tahun ini, tetapi
bisakah mereka melakukannya dengan wasit yang begitu memihak?
Harry tak tahu apakah ini hanya sekadar khayalannya saja atau bukan,
tetapi rasanya dia selalu bertemu Snape, ke mana pun dia pergi. Kadang-
kadang dia jadi bertanya-tanya sendiri, apakah Snape membuntutinya,
mencari-cari kesempatan untuk bisa menangkapnya kalau sedang sendirian.
Pelajaran Ramuan sudah berubah menjadi siksaan mingguan, karena Snape
bersikap sangat menyebalkan terhadap Harry. Mungkinkah Snape tahu bahwa
Harry dan kedua sahabatnya tahu tentang Batu Bertuah? Rasanya tidak mungkin
tetapi kadang-kadang Harry merasa bahwa Snape bisa membaca pikiran
orang.
***
Harry tahu, ketika mengucapkan selamat bertanding di luar kamar ganti,
Ron dan Hermione dalam hati bertanya-tanya apakah mereka masih akan
melihatnya dalam keadaan hidup.
Ini tak bisa dibilang menyenangkan. Harry nyaris tidak mendengar nasihat
Wood ketika dia memakai jubah Quidditch dan mengambil Nimbus Dua Ribu-
nya.
Ron dan Hermione, sementara itu, telah mendapatkan tempat duduk di
tribun dekat Neville yang tidak bisa mengerti mengapa mereka berdua
kelihatan begitu muram dan cemas, ataupun kenapa mereka berdua membawa
tongkat ke pertandingan. Harry sama sekali tak tahu bahwa Ron dan Hermione
diamdiam telah berlatih Kutukan Kaki Terkunci.
Mereka mendapat ide ini dari Malfoy yang menggunakannya pada Neville,
dan mereka siap menggunakannya pada Snape jika dia menunjukkan tanda-
tanda ingin mencelakakan Harry.
"Jangan lupa, mantranya Locomotor Mortis," Hermione bergumam ketika
Ron menyelipkan tongkatnya ke dalam lengan jubahnya.
"Sudah tahu," tukas Ron. "Jangan cerewet." Di dalam kamar ganti, Wood
mengajak Harry bicara berdua.
"Bukannya aku mau menekanmu, Potter, tetapi kalau sampai ada kebutuhan
untuk menangkap Snitch seawal mungkin, sekaranglah saatnya. Selesaikan
pertandingan sebelum Snape bisa terlalu banyak memihak Hufflepuff."
"Seluruh sekolah ada di luar sana!" kata Fred Weasley, mengintip dari pintu.
"Bahkan... astaga... Dumbledore juga nonton!"
Jantung Harry jumpalitan.
"Dumbledore?" katanya seraya berlari ke pintu untuk melihat sendiri. Fred
benar. Jenggot perak itu tak mungkin keliru.
Ingin rasanya Harry tertawa keras-keras saking leganya. Dia aman. Jelas
Snape tak akan berani mencoba mencelakainya jika ada Dumbledore.
Mungkin itulah sebabnya Snape kelihatan marah sekali ketika kedua tim
berjalan memasuki lapangan. Ron juga melihatnya.
--------------------------------------- 132
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Belum pernah kulihat Snape segalak ini," katanya kepada Hermione.
"Lihat... mereka mulai. Ouch!"
Ada yang menyodok belakang kepala Ron. Malfoy.
"Oh, sori, Weasley aku tidak lihat kau di situ."
Malfoy nyengir lebar kepada Crabbe dan Goyle.
"Berapa lama Potter bisa bertahan di atas sapunya kali ini, ya? Ada yang
mau bertaruh? Bagaimana kalau kau, Weasley?"
Ron tidak menjawab. Snape baru saja memberikan penalti kepada
Hufflepuff karena George Weasley telah melempar Bludger kepadanya.
Hermione yang menyilangkan semua jarinya di atas pangkuan untuk
mendapatkan keberuntungan
memandang lekat-lekat pada Harry yang berputar-putar mengitari tim yang
bertanding, mencari-cari Snitch.
"Kalian tahu bagaimana menurutku cara mereka memilih anggota tim
Gryffindor?" kata Malfoy keraskeras beberapa menit kemudian, ketika Snape
kembali menghadiahkan lemparan penalti kepada Hufflepuff tanpa alasan apa
pun.
"Yang dipilih orang-orang yang memang patut dikasihani. Lihat saja ada si
Potter, yang tidak punya orangtua, lalu si kembar Weasley, yang tidak punya
uang. Kau mestinya masuk tim, Longbottom. Kau kan tidak punya otak."
Wajah Neville merah padam, tetapi dia berbalik di tempat duduknya untuk
menghadapi Malfoy. "Aku berharga dua belas kali lipat dirimu, Malfoy" katanya
tergagap.
Malfoy Crabbe, dan Goyle tertawa terbahak-bahak, tetapi Ron yang masih
tidak berani mengalihkan pandangannya dari pertandingan berkata, "Kau benar,
Neville."
"Longbottom, kalau otak terbuat dari emas, kau lebih miskin daripada si
Weasley. Uh, parah banget deh."
Saraf Ron sudah tegang sekali saking cemasnya ia pada Harry.
"Kuperingatkan kau, Malfoy satu kata lagi..."
"Ron!" seru Hermione tiba-tiba. "Harry...!"
"Apa? Di mana?"
Harry mendadak melakukan tukikan luar biasa, membuat para penonton
terpekik kagum dan bersorak riuh. Hermione berdiri, jarinya tersilang di depan
mulutnya ketika Harry melesat ke bawah seperti luncuran peluru.
"Kau beruntung, Weasley. Potter rupanya melihat kepingan uang di tanah!"
kata Malfoy.
Kesabaran Ron habis sudah. Sebelum Malfoy sadar apa yang terjadi, Ron
sudah berada di atas tubuhnya, memitingnya ke tanah. Neville ragu-ragu,
kemudian memanjat punggung bangkunya untuk membantu.
"Ayo, Harry!" jerit Hermione, melompat naik ke atas bangkunya agar bisa
melihat lebih jelas ketika Harry meluncur tepat ke arah Snape. Hermione
bahkan tidak menyadari Malfoy dan Ron yang bergulingan di bawah tempat
duduknya, ataupun baku hantam dan pekikan-pekikan yang bermunculan dari
tengah hujan pukulan yang berasal dari Neville, Crabbe, dan Goyle.
--------------------------------------- 133
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Tinggi di angkasa, Snape berputar di atas sapunya, tepat ketika kelebatan
warna merah meluncur melewatinya, hanya beberapa senti darinya detik
berikutnya, Harry sudah menghentikan tukikannya, kedua lengannya terangkat
penuh kemenangan, Snitch tergenggam di tangannya.
Penonton meledak riuh-rendah. Sungguh ini rekor, tak seorang pun ingat
Snitch pernah berhasil ditangkap secepat ini.
"Ron! Ron! Di mana kau? Pertandingan sudah selesai! Harry menang!
Kita menang!
Gryffindor memimpin!" teriak Hermione, melonjak-lonjak kegirangan di
tempat duduknya dan memeluk Parvati Patil yang duduk di depannya.
Harry melompat turun dari sapunya, tiga puluh senti dari tanah. Dia tak
mempercayainya. Dia telah berhasil permainan telah usai, padahal baru
berlangsung tak lebih dari lima menit.
Ketika anak-anak Gryffindor membanjir masuk lapangan, Harry melihat
Snape mendarat di dekatnya, wajahnya pucat, bibirnya tegang. Kemudian
Harry merasakan sentuhan tangan di bahunya, ia mendongak dan memandang
wajah Dumbledore yang tersenyum.
"Bagus sekali," kata Dumbledore pelan, sehingga hanya Harry yang bisa
mendengarnya. "Senang melihatmu tidak terus memikirkan cermin itu... kau
menyibukkan diri... luar biasa...."
Snape meludah dengan getir ke tanah.
***
Harry meninggalkan kamar ganti sendirian beberapa waktu kemudian, untuk
mengembalikan Nimbus Dua Ribu-nya ke dalam ruang penyimpanan sapu.
Belum pernah dia merasa seriang ini. Dia benar-benar telah melakukan sesuatu
yang bisa dibanggakan sekarang tak seorang pun bisa mengatakan lagi dia
cuma sekadar nama terkenal. Udara malam belum pernah seharum ini. Dia
melangkah di atas rumput lembap, mengenang kembali kejadian satu jam
terakhir ini. Kilasan yang membahagiakan: anak-anak Gryffindor berlarian
mendekat untuk mengangkatnya ke atas bahu mereka; Ron dan Hermione di
kejauhan, melonjak-lonjak kegirangan. Ron bersorak walaupun hidungnya
berdarah.
Harry telah tiba di kamar sapu. Dia bersandar di pintu kayu dan mendongak
menatap Hogwarts, dengan jendela-jendelanya yang berkilau merah tertimpa
cahaya matahari terbenam.
Gryffindor memimpin.
Dia telah berhasil, dia telah membuktikan kepada Snape...
Dan ngomong-ngomong tentang Snape...
Sesosok tubuh berkerudung menuruni undakan depan kastil dengan cepat.
Jelas tak ingin dilihat orang, dia berjalan secepat mungkin menuju ke Hutan
Terlarang. Kemenangan memudar dari benak Harry saat dia mengawasi sosok
itu. Dia mengenali gaya jalannya. Snape, sembunyi-sembunyi ke dalam Hutan
ketika yang lain sedang makan malam apa yang sedang terjadi sebetulnya?
Harry kembali melompat ke atas Nimbus Dua Ribu dan terbang. Melayang
diam-diam di atas kastil, dia melihat Snape berlari memasuki Hutan. Dia
membuntuti.
--------------------------------------- 134
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Pepohonan begitu lebat sehingga dia tidak bisa melihat ke mana Snape.
Harry terbang berputar-putar, makin lama makin rendah, menyentuh ranting-
ranting atas pepohonan, sampai dia mendengar suara-suara. Dia meluncur ke
arah suara-suara itu dan mendarat tanpa bunyi di pohon beech besar di
dekatnya.
Hati-hati dia merambat di salah satu dahan, memegang sapunya erat-erat,
mencoba mengintip melalui celah-celah dedaunan.
Di bawah, di tempat terbuka yang teduh, Snape berdiri, tetapi dia tidak
sendirian. Quirrell juga ada di sana. Harry tidak bisa melihat ekspresi wajahnya
dengan jelas, tetapi dia tergagap lebih parah daripada biasanya. Harry
berusaha keras menangkap apa yang mereka bicarakan.
"... tid-tidak tahu kenapa kau m-m-mau b-bertemu di sini, Severus..."
"Oh, kupikir kita harus merahasiakan ini," kata Snape, suaranya dingin.
"Murid-murid kan tidak boleh tahu tentang Batu Bertuah." Harry membungkuk
ke depan.
Quirrell menggumamkan sesuatu. Snape menyelanya. "Apa kau sudah
menemukan cara bagaimana bisa melewati binatang piaraan Hagrid itu?"
"T-t-tapi, Severus, aku..."
"Kau tak ingin aku jadi musuhmu, kan, Quirrell," kata Snape, maju ke depan
satu langkah.
"A-aku t-tak tahu apa..."
"Kau tahu persis apa maksudku." Seekor burung hantu menjerit keras dan
Harry nyaris terjatuh dari pohon. Dia berhasil menenangkan diri dan sempat
mendengar Snape berkata, "... hokuspokus kecilmu, aku menunggu."
"T-tapi aku t-t-tidak..."
"Baiklah," Snape menukas. "Kita akan mengobrol lagi lain waktu, kalau kau
sudah sempat memikirkan hal ini dan memutuskan mau setia kepada siapa."
Snape menyampirkan jubahnya ke atas kepalanya dan melangkah
meninggalkan tempat terbuka itu. Hari sudah hampir gelap sekarang, tetapi
Harry bisa melihat Quirrell, berdiri diam, seakan membatu.
***
"Harry, dari mana saja kau?" seru Hermione nyaring. "Kita menang! Kau
menang!" teriak Ron, seraya menepuk punggung Harry. "Dan kupukul mata
Malfoy sampai biru dan Neville mencoba menghadapi Crabbe dan Goyle
sendirian! Dia masih pingsan, tetapi Madam Pomfrey bilang dia akan sembuh
tahu rasa Slytherin! Semua menunggumu di ruang rekreasi, kita akan pesta.
Fred dan George mencuri kue dan makanan lain dari dapur."
"Itu nanti saja," kata Harry tersengal. "Ayo, kita cari ruang kosong, tunggu
sampai kalian mendengar ini...."
Harry memastikan Peeves tidak ada di dalam sebelum menutup pintu di
belakang mereka, baru dia menceritakan kepada kedua temannya apa yang
telah dilihat dan didengarnya.
"Jadi kita benar, rupanya itu Batu Bertuah, dan Snape berusaha memaksa
Quirrell membantunya mencurinya. Dia bertanya kalau-kalau Quirrell tahu cara
melewati Fluffy dan dia juga bilang soal 'hokuspokus' Quirrell kurasa ada yang
lain yang melindungi batu, selain Fluffy. Mungkin berbagai jimat dan jampi-
--------------------------------------- 135
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
jampi, dan Quirrell pastilah telah memberikan mantra-mantra Anti-Sihir Hitam
yang harus ditembus Snape..."
"Jadi, maksudmu batu itu aman hanya jika Quirrell masih bertahan
menentang Snape?" tanya Hermione cemas.
"Tidak sampai Selasa juga sudah hilang, kalau begitu," kata Ron.
***
14. Nobert Si Naga Punggung Bersirip Norwegia
QUIRRELL, ternyata, lebih berani daripada dugaan mereka. Dalam minggu-
minggu berikutnya memang dia tampak lebih pucat dan kurus , tetapi
kelihatannya dia belum menyerah.
Setiap kali melewati koridor lantai tiga, Harry, Ron, dan Hermione
menempelkan telinga mereka ke pintu untuk mengecek apakah Fluffy masih
menggeram di dalam. Snape berkeliaran ke sana kemari, marahmarah seperti
biasa, yang berarti Batu Bertuah itu masih aman. Setiap kali berpapasan
dengan Quirrell, Harry tersenyum untuk menyemangatinya, dan Ron mulai
menegur anak-anak yang menertawakan Quirrell yang gagap.
Tetapi Hermione banyak memikirkan hal lain selain Batu Bertuah. Dia telah
mulai merevisi jadwal belajarnya dan memberi kode-kode warna pada
catatancatatannya. Harry dan Ron sebenarnya tidak keberatan, tetapi
Hermione tak henti-hentinya mendesak mereka untuk melakukan hal yang
sama.
"Hermione, ujiannya masih lama sekali." "Dua setengah bulan lagi," tukas
Hermione. "Itu tidak lama, buat Nicolas Flamel itu cuma sekejap."
"Tapi kita kan belum enam ratus tahun," Ron mengingatkan.
"Lagi pula, untuk apa kau belajar lagi, kau kan sudah hafal semuanya."
"Untuk apa aku belajar lagi? Kalian gila? Kalian sadar kan kita harus lulus
supaya bisa naik ke kelas dua? Belajar penting sekali, aku seharusnya sudah
mulai sebulan yang lalu. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku...."
Celakanya, para guru berpikiran sama dengan Hermione.
Mereka membebani anak-anak dengan begitu banyak PR, sehingga liburan
Paskah tidak seasyik liburan Natal. Sulit bersantai bila Hermione ada di sebelah
mereka, sibuk mengulang-ulang dua belas kegunaan darah naga atau berlatih
gerakan-gerakan tongkat sihir. Mengeluh dan menguap, Harry dan Ron
melewatkan sebagian besar waktu luang mereka di perpustakaan bersama
Hermione, berusaha menyelesaikan tugas-tugas tambahan mereka.
"Aku tak akan pernah ingat ini," celetuk Ron suatu sore, seraya melempar
pena bulunya dan memandang keluar penuh kerinduan lewat jendela
perpustakaan. Hari itu hari pertama yang benar-benar cerah setelah berbulan-
bulan diliputi salju.
Langit biru terang, dan suasana menyiratkan musim panas akan segera
datang.
--------------------------------------- 136
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry, yang sedang membaca "Dittany" di buku Seribu Satu Tanaman dan
Jamur Gaib, tidak mendongak sampai Ron berseru, "Hagrid, ngapain kau di
sini?"
Hagrid muncul, menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya. Dia
kelihatan janggal berada di perpustakaan memakai jubah kulit tikus
mondoknya.
"Cuma cari sesuatu," katanya dengan suara mencurigakan sehingga mereka
langsung tertarik. "Dan kalian sendiri sedang ngapain?" Mendadak dia kelihatan
curiga. "Kalian tidak sedang cari Nicolas Flamel, kan?"
"Oh, kami sudah lama tahu siapa dia," kata Ron mengesankan. "Dan kami
tahu apa yang dijaga anjing itu, Batu Ber..."
"Sshhh!" Hagrid cepat-cepat memandang berkeliling, untuk melihat apakah
ada yang mendengar. "Jangan teriak-teriak soal itu. Kau ini kenapa sih?"
"Ada yang ingin kami tanyakan kepadamu sebetulnya," kata Harry. "Yaitu,
apa saja yang menjaga batu itu selain Fluffy..."
"SSHHH!" kata Hagrid lagi. "Dengar datang temui aku nanti, aku tidak janji
mau kasih tahu apa-apa, tapi jangan buka rahasia di sini. Murid tidak boleh
tahu. Mereka akan kira aku beritahu kalian."
"Sampai ketemu nanti, kalau begitu," kata Harry.
Hagrid keluar perpustakaan.
"Apa yang disembunyikannya di belakang punggung?" tanya Hermione
berpikir-pikir.
"Apa mungkin ada hubungannya dengan batu itu?"
"Aku mau tahu dia tadi ada di seksi buku apa," kata Ron, yang sudah bosan
belajar. Semenit kemudian dia muncul lagi membawa setumpuk buku yang
diempaskannya ke atas meja.
"Naga!" bisiknya, "Hagrid mencari informasi ten-tang naga!
Lihat ini: Spesies Naga di Britania Raya dan Irlandia; Dari Telur ke Neraka,
Penuntun Pemelihara Naga."
"Sudah lama Hagrid kepingin punya naga. Dia bilang begitu kepadaku waktu
pertama kali aku bertemu dia," kata Harry.
"Tapi itu melanggar undang-undang," kata Ron.
"Penangkaran naga sudah dilarang oleh Konvensi Sihir tahun 1709, semua
orang tahu itu. Susah menjaga agar Muggle tidak mengetahui keberadaan kita
jika kita memelihara naga di halaman belakang lagi pula, kau tidak bisa
menjinakkan naga,
bahaya. Coba kalau kalian bisa melihat luka bakar Charlie gara-gara naga
liar di Rumania."
"Jadi, tidak ada naga liar di Britania?" tanya Harry.
"Tentu saja ada," kata Ron. "Naga Hijau Welsh yang biasa dan naga Hitam
Hebridean. Kementerian Sihir cukup repot menyembunyikan mereka. Orang-
orang kita harus terusmenerus menyihir Muggle yang pernah melihatnya, untuk
membuat mereka melupakannya."
"Kalau begitu, apa yang sedang dilakukan Hagrid?"
***
--------------------------------------- 137
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ketika mereka mengetuk pintu pondok si pengawas binatang liar satu jam
kemudian, mereka heran melihat semua gorden tertutup. Hagrid berseru,
"Siapa itu?" sebelum mempersilakan mereka masuk dan cepat-cepat menutup
pintu kembali.
Di dalam panas sekali. Meskipun udara hangat, di perapian api menyala-
nyala. Hagrid membuatkan teh dan menawari mereka sandwich musang, yang
mereka tolak.
"Nah... kalian mau tanya sesuatu?"
"Ya," jawab Harry. Tak ada gunanya berbelit-belit. "Kami ingin tahu apakah
kau bisa memberitahu kami apa saja yang menjaga Batu Bertuah selain Fluffy."
Hagrid mengerutkan kening ke arah Harry.
"Tentu saja tidak bisa," katanya. "Pertama, aku sendiri tidak tahu. Kedua,
kalian sudah tahu terlalu banyak, jadi aku tak akan beritahu kalian kalaupun
aku bisa. Batu itu di sini untuk alasan baik. Batu itu nyaris dicuri dari Gringotts
kurasa kalian sudah simpulkan ini? Aku tak mengerti bagaimana kalian bisa
tahu tentang Fluffy."
"Oh, ayolah, Hagrid, kau mungkin tak ingin memberitahu kami, tetapi kau
sebetulnya tahu segalanya yang terjadi di sini,"
kata Hermione dengan suara hangat memuji. Jenggot Hagrid bergerak-gerak
dan mereka bisa menebak dia sedang tersenyum.
"Kami cuma ingin tahu siapa yang menjaga, itu saja." Hermione
melanjutkan, "Kami penasaran siapa yang cukup dipercaya Dumbledore untuk
membantunya, selain kau."
Dada Hagrid membusung mendengar kalimat terakhir Hermione. Harry dan
Ron tersenyum kepada Hermione.
"Yah, kurasa tidak ada bahayanya kuberitahu kalian bahwa...
begini... dia pinjam Fluffy dariku... kemudian beberapa guru lakukan
penyihiran... Profesor Sprout Profesor Flitwick
Profesor McGonagall...," ditekuknya jarinya satu demi satu,
"Profesor Quirrell dan Dumbledore sendiri lakukan sesuatu, tentu saja.
Sebentar, aku lupa satu orang. Oh yeah, Profesor Snape."
"Snape?"
"Yeah kalian sudah tidak curigai dia lagi, kan? Snape bantu jaga, dia tidak
akan curi batu itu."
Harry tahu Ron dan Hermione berpikiran sama seperti dia.
Jika Snape termasuk yang menjaga batu, pastilah mudah baginya untuk
mencari tahu bagaimana guru-guru yang lain menjaganya. Dia mungkin tahu
segalanya kecuali, tampaknya, mantra Quirrell dan bagaimana caranya
melewati Fluffy.
"Kau satu-satunya yang tahu bagaimana caranya melewati Fluffy, kan,
Hagrid?" tanya Harry cemas. "Dan kau tidak akan bilang siapa-siapa, kan?
Bahkan kepada salah satu guru pun?"
"Tak ada yang tahu kecuali aku dan Dumbledore," kata Hagrid bangga.
"Untunglah," gumam Harry kepada yang lain. "Hagrid, boleh tidak
jendelanya dibuka satu? Aku kepanasan."
"Tidak bisa, Harry, sori," kata Hagrid.
--------------------------------------- 138
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry memperhatikan Hagrid mengerling ke perapian. Harry juga
memandang ke sana.
"Hagrid apa itu?" Tetapi dia sudah tahu apa itu. Persis di tengah api, di
bawah ketel, ada telur hitam besar sekali.
"Ah," kata Hagrid, dengan gelisah memilin-milin jenggotnya.
"Itu... er..."
"Dari mana kau dapat itu, Hagrid?" kata Ron, berjongkok di depan perapian
untuk melihat telur itu dari dekat. "Pasti mahal sekali harganya."
"Menang main," kata Hagrid. "Semalam. Aku ke desa minum, lalu main kartu
dengan orang asing. Kurasa dia senang bisa lepas dari telur itu, benar lho."
"Tapi apa yang akan kaulakukan kalau telurnya menetas?"
tanya Hermione.
"Yah, aku sudah baca-baca," kata Hagrid, seraya menarik buku panjang dari
bawah bantalnya. "Pinjam ini dari perpustakaan Pemeliharaan dan
Pengembangbiakan Naga untuk Kesenangan dan Keuntungan memang sudah
sedikit ketinggalan zaman, tapi semuanya ada di situ. Taruh telurnya di api,
karena induk mereka semburkan api ke telur-telurnya, lihat, dan kalau sudah
menetas, beri makan seember brandy dicampur darah ayam setengah jam
sekali. Dan lihat ini bagaimana mengenali jenis telur-telur telur milikku ini
jenis Punggung Bersirip Norwegia. Jenis yang langka."
Hagrid kelihatan puas sekali, tetapi Hermione tidak.
"Hagrid, kau tinggal di pondok papan," katanya.
Tetapi Hagrid tidak mendengarkan. Dia bersenandung riang ketika
mengaduk perapiannya agar menyala lebih besar.
***
Maka sekarang ada hal lain yang perlu mereka cemaskan: apa
yang akan terjadi pada Hagrid jika ketahuan dia menyembunyikan naga ilegal di
dalam pondoknya.
"Bagaimana ya rasanya menjalani hidup yang tenang," keluh Ron, ketika
malam demi malam mereka berjuang mengerjakan PR-PR ekstra yang
dibebankan kepada mereka. Hermione sekarang sudah mulai mengatur ulang
jadwal belajar Harry dan Ron. Membuat mereka berdua jengkel.
Kemudian, suatu pagi saat sarapan, Hedwig membawa surat lagi untuk Harry
dari Hagrid. Hagrid hanya menulis dua kata: Sedang menetas.
Ron ingin membolos dari kelas Herbologi dan lang-sung ke pondok.
Hermione menentang habis-habisan. "Hermione, berapa kali dalam hidup kita,
kita b isa melihat naga yang sedang menetas?"
"Ada pelajaran. Nanti kita kena marah, dan itu belum apaapa dibanding
dengan apa yang akan terjadi pada Hagrid kalau ada orang yang tahu apa yang
sedang dilakukannya..."
"Diam!" desis Harry.
Malfoy hanya satu meter dari mereka dan dia langsung berhenti untuk
mendengarkan. Seberapa banyak yang berhasil didengarnya? Harry sama sekali
tidak menyukai ekspresi wajah Malfoy.
--------------------------------------- 139
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Ron dan Hermione bertengkar sepanjang perjalanan ke kelas Herbologi, dan
pada akhirnya, Hermione setuju kabur ke pondok Hagrid dengan kedua
temannya pada saat istirahat pagi.
Ketika bel di kastil berbunyi pada akhir pelajaran mereka,
ketiganya langsung menjatuhkan sekop dan bergegas menyeberangi lapangan
menuju ke tepi Hutan. Hagrid menyalami mereka, wajahnya riang kemerahan.
"Sudah hampir keluar." Diajaknya mereka masuk.
Telur itu tergeletak di atas meja. Ada retakan-retakan dalam pada kulitnya.
Sesuatu bergerak-gerak di dalamnya, menimbulkan bunyi klak-klik yang
aneh terdengar.
Mereka semua menarik kursi ke dekat meja dan mengawasi dengan napas
tertahan.
Mendadak terdengar bunyi gesekan dan telur itu terbelah.
Bayi naga tergeletak di meja. Bayi itu tidak indah. Menurut Harry malah
kelihatan seperti payung hitam yang kusut.
Sayapnya tampak sangat besar dibanding tubuhnya yang masih kurus, dan
moncongnya panjang, dengan dua lubang hidung besar, dua tanduk kecil, dan
mata jingga yang menonjol.
Dia bersin. Beberapa bunga api muncrat dari moncongnya.
"Cantik, ya?" Hagrid bergumam. Dia menjulurkan tangannya untuk membelai
kepala si naga. Naga itu mencaplok jari-jari Hagrid, taringnya yang tajam
kelihatan.
"Bukan main, dia tahu yang mana induknya!" kata Hagrid.
"Hagrid," kata Hermione, "seberapa cepat persisnya naga Punggung Bersirip
Norwegia tumbuh besar?"
Hagrid sudah mau menjawab ketika wajahnya tibatiba memucat dia
melompat berdiri dan berlari ke jendela.
"Ada apa?" "Ada yang ngintip lewat celah gorden anak lakilaki dia lari balik
ke sekolah." Harry melesat ke pintu dan memandang ke luar. Bahkan dari
kejauhan ia tak mungkin keliru. Malfoy telah melihat naga itu.
***
Senyum yang tersungging di bibir Malfoy selama seminggu berikutnya
membuat Harry, Ron, dan Hermione sangat cemas.
Mereka melewatkan sebagian besar waktu luang mereka di pondok Hagrid
yang digelapkan, mencoba membujuknya.
"Lepaskan saja dia," desak Harry. "Biar dia hidup di alam bebas."
"Tidak bisa," kata Hagrid. "Dia masih terlalu kecil. Dia akan mati."
Mereka memandang si naga. Bayi itu sudah tiga kali lipat lebih panjang,
dalam waktu seminggu. Asap tak henti-hentinya berembus melingkar dari
lubang hidungnya. Hagrid belakangan ini sudah tidak melakukan tugas-tugasnya
sebagai pengawas binatang liar di sekolah karena si naga kecil membuatnya
sangat sibuk. Botol-botol brandy kosong dan bulubulu ayam bertebaran di
lantai.
"Aku sudah memutuskan untuk menamainya Norbert," kata Hagrid, seraya
menatap si naga dengan mata basah. "Dia sudah kenal aku sekarang. Lihat.
Norbert! Norbert! Mana Mama?"
--------------------------------------- 140
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Dia sinting," Ron bergumam di telinga Harry.
"Hagrid," kata Harry keras-keras, "dua minggu lagi Norbert sudah akan
sepanjang rumahmu. Malfoy bisa melapor kepada Dumbledore kapan saja."
Hagrid menggigit bibir.
"Aku aku tahu. Aku tak bisa memeliharanya selamanya, tetapi aku tak bisa
menyuruhnya pergi begitu saja. Aku tak bisa."
Mendadak Harry menoleh kepada Ron.
"Charlie," kata Harry.
"Kau juga ikutan sinting," kata Ron. "Namaku Ron. Ingat?"
"Bukan Charlie kakakmu Charlie. Di Rumania. Sedang belajar tentang
naga. Kita bisa mengirim Norbert kepadanya.
Charlie bisa memeliharanya dan kemudian melepasnya ke alam bebas!"
"Brilian!" kata Ron. "Bagaimana, Hagrid?" Pada akhirnya Hagrid setuju
mereka mengirim burung hantu kepada Charlie untuk menanyainya.
***
Minggu berikutnya berlalu lambat. Rabu malam Hermione dan Harry masih
duduk berdua di ruang rekreasi, lama sesudah yang lain pergi tidur. Jam di
dinding baru saja berdentang menandakan tengah malam ketika lubang lukisan
tiba-tiba membuka. Ron mendadak muncul ketika dia melepas Jubah Gaib
Harry. Dia baru kembali dari pondok Hagrid, membantunya memberi makan
Norbert, yang sekarang sudah makan berkrat-krat bangkai tikus.
"Dia menggigitku!" katanya, menunjukkan tangannya yang dibalut
saputangan berdarah. "Aku tak akan bisa memegang pena selama seminggu ini.
Percaya deh, naga itu binatang paling mengerikan yang pernah kutemui, tetapi
kalau melihat cara Hagrid memujanya, kau akan mengira dia anak kelinci
berbulu lembut yang lucu. Ketika dia menggigitku, Hagrid malah menyuruhku
menyingkir karena membuat Norbert takut. Dan waktu aku pergi tadi, Hagrid
sedang meninabobokannya."
Ada ketukan di jendela gelap.
"Itu Hedwig!" kata Harry, bergegas membuka jendela agar Hedwig bisa
masuk. "Dia membawa surat balasan Charlie!"
Ketiganya merapatkan kepala untuk membaca surat Charlie.
Hai, Ron,
Apa kabar? Terima kasih suratnnya. Aku senang-senang saja menerima
punggung Bersirip Norwegia itu, tetapi tidak mudah membawanya ke sini.
Kurasa yang paling baik adalah menitipkannya kepada teman-temankuyang
akan mengunjungiku minggu depan. Masalahnya adalah mereka tak boleh
ketahuan membawa naga ilegal.
Bisakah kau membawa si Punggung Bersirip ke menara paling tinggi tengah
malam hari Sabtu? Mereka bisa menemuimu di sana dan membawa si naga
selagi hari masih gelap.
Kirimi aku jawaban secepat mungkin.
Salam Hangat,
Charlie
Mereka saling pandang.
--------------------------------------- 141
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kita punya Jubah Gaib," kata Harry. "Mestinya tidak terlalu sulit kurasa
jubah itu cukup besar untuk menutupi dua di antara kita dan Norbert."
Bahwa kedua temannya langsung sepakat, menunjukkan bahwa seminggu
terakhir ini keadaan sudah parah sekali.
Mereka bersedia melakukan apa saja untuk menyingkirkan Norbert dan
Malfoy.
***
Ada rintangan. Esok paginya tangan Ron yang digigit Norbert sudah
membengkak dua kali ukuran normalnya. Dia tak tahu aman atau tidak pergi
ke Madam Pomfrey apakah dia akan mengenali gigitan naga? Meskipun
demikian, sorenya, Ron sudah tak punya pilihan lain. Lukanya sudah berwarna
hijau mengerikan. Rupanya taring Norbert beracun.
Harry dan Hermione bergegas ke rumah sakit pada akhir hari itu dan
menemukan Ron terbaring parah di tempat tidur.
"Bukan cuma tanganku," bisik Ron, "meskipun rasanya tanganku hampir
copot. Malfoy bilang pada Madam Pomfrey dia mau pinjam salah satu bukuku
sehingga dia bisa datang dan menertawakanku. Dia terus-menerus
mengancamku akan
memberitahu Madam Pomfrey apa sebetulnya yang menggigitku aku bilang
pada Madam Pomfrey aku digigit anjing tapi kurasa dia tidak percaya aku
seharusnya tidak memukul Malfoy waktu pertandingan Quidditch itu, sekarang
dia mau membalasku."
Harry dan Hermione berusaha menenangkan Ron. Tapi sebaliknya, Ron
malah langsung terlonjak duduk dan berkeringat.
"Sabtu tengah malam!" katanya dengan suara serak. "Oh tidak oh tidak
aku baru ingat surat Charlie ada dalam buku yang diambil Malfoy. Dia akan
tahu kapan kita menyingkirkan Norbert."
Harry dan Hermione tak punya kesempatan untuk menjawab. Madam
Pomfrey muncul saat itu dan menyuruh mereka pergi, karena Ron butuh tidur,
katanya.
***
"Sudah terlambat untuk mengubah rencana sekarang," Harry berkata
kepada Hermione. "Kita tak punya waktu lagi untuk mengirim burung hantu
kepada Charlie, dan mungkin ini satusatunya kesempatan kita untuk
menyingkirkan Norbert. Kita harus ambil risiko. Dan kita kan punya Jubah
Gaib. Malfoy tidak tahu ini."
Mereka menemukan Fang, anjing Hagrid, duduk di depan pondok dengan
ekor terbalut ketika mereka datang untuk memberitahu Hagrid, yang
membuka jendela untuk bicara kepada mereka.
"Kalian tak boleh masuk," katanya tersengal. "Norbert sedang rewel bisa
kutangani."
Ketika mereka memberitahunya tentang surat Charlie, mata Hagrid
langsung berkaca-kaca. Entah karena ia sedih, atau karena Norbert baru saja
menggigit kakinya.
"Aargh! Tidak apa-apa, dia cuma menggigit botku cuma main-main masih
bayi sih."
--------------------------------------- 142
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Si bayi menyabetkan ekornya ke dinding, membuat semua jendela pondok
bergetar. Harry dan Hermione kembali ke kastil, berharap Sabtu segera
datang.
***
Mereka pasti merasa kasihan pada Hagrid ketika tiba saatnya bagi si
pengawas binatang liar itu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada
Norbert, kalau saja mereka tidak terlalu mencemaskan apa yang harus mereka
lakukan. Malam itu sangat gelap dan berawan, dan mereka agak terlambat
tiba di pondok Hagrid karena harus menunggu Peeves menyingkir dulu dari
Aula Depan. Peeves sedang main tenis di situ, melawan tembok.
Hagrid sudah menyiapkan Norbert dalam kotak besar.
"Sudah kusiapkan banyak tikus dan brandy untuk makan di jalan," kata
Hagrid dengan suara tersendat. "Dan boneka beruangnya juga sudah
kumasukkan, siapa tahu dia kesepian."
Dari dalam kotak terdengar robekan yang bagi Harry kedengarannya si
boneka beruang sedang dicabut kepalanya.
"Da-dah, Norbert!" Hagrid terisak, ketika Harry dan Hermione
menyelubungi kotak itu dengan Jubah Gaib lalu mereka sendiri melangkah ke
baliknya. "Mama tidak akan melupakanmu!"
Bagaimana mereka berhasil membawa kotak itu ke kastil, mereka tak
pernah tahu. Sudah menjelang tengah malam ketika mereka bersusah payah
membawa kotak Norbert menaiki tangga pualam di Aula Depan dan melewati
koridor-koridor gelap. Naik tangga lain lagi, kemudian tangga lain, bahkan
lewat salah satu jalan pintas yang diketahui Harry pun, tidak membuat tugas
mereka bertambah ringan.
"Hampir sampai!" seru Harry terengah ketika mereka tiba di koridor di
bawah menara tertinggi.
Gerakan mendadak di depan mereka nyaris membuat mereka menjatuhkan
kotak. Lupa bahwa mereka sebetulnya tidak kelihatan, mereka merapat ke
tempat yang terlindung bayangbayang, memandang dua sosok gelap yang
sedang bergulat sekitar tiga meter dari tempat mereka. Mendadak lampu
menyala.
Profesor McGonagall, memakai baju tidur kotakkotak dan harnet,
menjewer telinga Malfoy.
"Detensi!" teriak Profesor McGonagall, "dan potong dua puluh angka dari
Slytherin! Berkeliaran di tengah malam, beraninya kau..."
"Anda tidak mengerti, Profesor, Harry Potter akan datang dia membawa
naga!"
"Sungguh omong kosong! Berani-beraninya kau bohong besar begitu! Ayo
aku akan bicara pada Profesor Snape tentang kau, Malfoy!"
Setelah kejadian itu, tangga spiral curam ke atas menara serasa jadi
mudah didaki. Baru setelah melangkah ke udara malam yang dingin, mereka
berani melepas jubah, lega bisa bernapas bebas lagi. Hermione menari-nari.
"Malfoy dihukum kurung! Mau nyanyi aku rasanya!"
"Jangan," Harry menasihatinya.
--------------------------------------- 143
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Sambil menertawakan Malfoy, mereka menunggu. Norbert mengibas-ngibas
di dalam kotaknya. Kira-kira sepuluh menit kemudian, empat sapu meluncur
turun dari kegelapan.
Teman-teman Charlie anak-anak periang.
Mereka menunjukkan kepada Harry dan Hermione jaring yang telah mereka
buat, supaya mereka bisa bekerja sama mengangkat Norbert. Mereka semua
membantu menaikkan Norbert ke atas jaring. Kemudian Harry dan Hermione
berjabat tangan dengan keempatnya dan mengucapkan banyak terima kasih
kepada mereka.
Akhirnya. Norbert berangkat... pergi... lenyap.
Mereka menyelinap menuruni tangga spiral, hati mereka seringan tangan
mereka, setelah Norbert tak lagi membebani.
Tak ada naga lagi Malfoy kena detensi apa yang bisa merusak
kegembiraan mereka?
Jawabannya telah menunggu di kaki tangga. Ketika mereka melangkah ke
koridor, mendadak wajah Filch muncul dari kegelapan.
"Wah, wah, wah," bisiknya, "kita dalam kesulitan."
Jubah Gaib ketinggalan di atas menara.
***
15. Hutan Terlarang
KEADAAN tak bisa lebih buruk dari ini.
Filch membawa mereka ke ruang Profesor McGonagall di lantai pertama. Di
situ mereka duduk dan menunggu tanpa saling bicara. Hermione gemetar.
Alasan, alibi, dan cerita bohong berkejaran di benak Harry, masing-masing
lebih lemah dari yang sebelumnya. Dia tak tahu bagaimana mereka bisa
menghindari hukuman kali ini. Mereka sudah tersudut.
Bagaimana mungkin mereka bisa begitu bodoh meninggalkan Jubah Gaib?
Tak ada alasan di dunia ini yang bisa membuat Profesor McGonagall menerima
kenapa mereka tidak tidur dan malah berkeliaran di sekolah pada tengah
malam, apalagi berada di menara Astronomi yang paling tinggi, yang dilarang
didatangi kecuali untuk pelajaran. Tambahkan kisah tentang Norbert dan Jubah
Gaib, maka mereka sama saja dengan sudah mengepak koper, siap cabut dari
asrama.
Apakah Harry berpikir bahwa keadaan tak bisa lebih buruk dari ini? Dia
keliru. Ketika Profesor McGonagall muncul, dia membawa Neville.
"Harry!" Neville memekik begitu melihat Harry dan Hermione. "Aku tadi
mencari-carimu untuk memperingatkan.
Kudengar Malfoy akan menangkap basah kau, dia bilang kau punya nag..."
Harry menggelengkan kepala kuat-kuat menyuruh Neville diam, tetapi
Profesor McGonagall sudah melihat. la kelihatan lebih siap menyemburkan
napas api daripada Norbert ketika dia berdiri menjulang di depan mereka
bertiga.
--------------------------------------- 144
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Aku tadinya tak percaya kalian berbuat begini. Mr Filch mengatakan kalian
berada di menara Astronomi. Ini pukul satu pagi. Jelaskan!"
Ini pertama kalinya Hermione tidak bisa menjawab pertanyaan guru. Dia
menunduk menatap sandalnya, diam bagai patung.
"Kurasa aku bisa menduga yang terjadi," kata Profesor McGonagall. "Tidak
perlu seorang jenius untuk memecahkan ini. Kalian membualkan cerita bohong
tentang naga kepada Draco Malfoy supaya dia meninggalkan tempat tidur dan
dihukum.
Aku sudah menangkapnya.
Kurasa kalian menganggap lucu bahwa Longbottom telah mendengar cerita
itu dan mempercayainya?"
Harry memberi isyarat kepada Neville dengan matanya, mencoba
memberitahunya tanpa kata bahwa ini tidak benar, karena Neville kelihatan
kaget dan tersinggung. Kasihan Neville Harry tahu betul betapa beratnya bagi
Neville mencari-carinya dalam gelap untuk memperingatkannya.
"Aku marah sekali," kata Profesor McGonagall. "Empat anak meninggalkan
tempat tidur dalam satu malam! Belum pernah ada kejadian semacam ini! Kau,
Miss Granger, kukira kau lebih cerdik. Sedangkan kau, Mr Potter, kukira
Gryffindor jauh lebih berarti bagimu daripada semua ini. Kalian bertiga akan
menerima detensi ya, kau juga, Mr Longbottom, tak ada yang membuatmu
punya hak berkeliaran di sekolah di malam hari, terutama hari-hari ini,
berbahaya sekali. Lima puluh angka akan dipotong dari Gryffindor."
"Lima puluh?" Harry kaget mereka tak lagi akan memimpin sia-
sialah hasil kemenangannya dalam pertandingan Quidditch yang terakhir.
"Masing-masing lima puluh," kata Profesor McGonagall, bernapas berat lewat
hidungnya yang panjang runcing.
" Profesor tolong..."
"Anda tak bisa..."
"Jangan mengajari aku apa yang aku bisa atau tak bisa lakukan, Potter.
Sekarang semua kembali ke tem-pat tidur.
Belum pernah aku dipermalukan seperti ini oleh anak-anak Gryffindor."
Seratus lima puluh angka hilang begitu saja. Membuat Gryffindor berada di
posisi paling bawah. Dalam semalam mereka telah menghancurkan semua
kesempatan yang dimiliki Gryffindor untuk memenangkan Piala Asrama. Harry
merasa terpukul sekali. Bagaimana mereka bisa menebus semua ini?
Sepanjang malam Harry tidak tidur. Selama berjamjam dia bisa mendengar
Neville yang terisak-isak di bantalnya. Harry tak bisa memikirkan sesuatu untuk
menghiburnya. Dia tahu Neville, seperti halnya dirinya, takut akan datangnya
pagi. Apa yang akan terjadi kalau anak-anak Gryffindor lainnya tahu apa yang
telah mereka lakukan?
Mulanya anak-anak Gryffindor, yang melewati jam kaca raksasa yang
menampilkan angka masing-masing asrama keesokan harinya, mengira ada
kekeliruan. Bagaimana mungkin angka mereka mendadak susut seratus lima
puluh dari hari sebelumnya? Kemudian cerita mulai menyebar: Harry Potter,
Harry Potter yang terkenal, pahlawan Quidditch mereka, dialah yang membuat
--------------------------------------- 145
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
mereka kehilangan seratus lima puluh angka, Harry Potter dan dua anak bego
kelas satu lainnya.
Dari anak yang paling populer dan paling dikagumi di sekolah, Harry
mendadak menjadi anak yang paling dibenci.
Bahkan anak-anak Ravenclaw dan Hufflepuff ikut-ikutan menyerangnya,
karena semua anak telah menunggu-nunggu Slytherin kehilangan Piala Asrama.
Ke mana pun Harry pergi, anak-anak menunjuk-nunjuk dan tidak bersusah-
susah memelankan suara kalau memakinya. Anak-anak Slytherin, sebaliknya,
menyorakinya kalau Harry melewati mereka, bersuit-suit dan berteriak-teriak,
"Terima kasih, Potter. Kami utang budi!"
Hanya Ron yang menghiburnya.
"Mereka akan melupakan semua ini beberapa minggu lagi.
Fred dan George telah kehilangan banyak angka selama mereka di sini, dan
anak-anak masih menyukai mereka."
"Tapi mereka belum pernah kehilangan seratus lima puluh angka sekaligus,
kan?" kata Harry merana.
"Yah belum," Ron mengakui.
Sudah agak terlambat untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi,
tetapi Harry berjanji kepada dirinya sendiri mulai sekarang tidak akan lagi
mencampuri hal-hal yang bukan urusannya. Dia sudah muak dengan
mengendap-endap dan memata-matai. Dia merasa malu sekali dengan dirinya
sendiri sehingga dia menemui Wood dan minta mengundurkan diri dari tim
Quidditch.
"Mengundurkan diri?" gelegar Wood. "Apa faedahnya?
Bagaimana kita akan merebut kembali angka-angka itu kalau kita tidak
memenangkan pertandingan Quidditch?"
Bahkan Quidditch sudah tak lagi menyenangkan. Anggota tim lainnya tak
mau bicara dengan Harry selama latihan, dan kalau mereka harus bicara
tentang Harry, mereka menyebutnya si "Seeker".
Hermione dan Neville juga menderita. Yang mereka alami tidak seburuk
Harry karena mereka tidak sepopuler dia, tetapi tak seorang pun mau bicara
dengan mereka juga. Hermione sudah berhenti menonjolkan dirinya di kelas,
dia terus menundukkan kepala dan bekerja dalam diam.
Harry nyaris senang ujian tak lama lagi. Kesibukan belajar membuatnya
sejenak melupakan kesedihannya. Dia, Ron, dan Hermione belajar terpisah dari
temanteman lainnya, belajar sampai larut malam, mencoba mengingat-ingat
bahan-bahan untuk ramuan yang rumit, menghafalkan mantra-mantra,
menghafal tanggal-tanggal penemuan sihir dan pemberontakan goblin....
Kemudian, kira-kira seminggu sebelum ujian dimulai, keputusan baru Harry
untuk tidak mencampuri hal-hal yang bukan urusannya, di luar dugaan
mendapat ujian. Ketika pulang dari perpustakaan sendirian pada suatu sore,
dia mendengar ada yang merintih di ruang kelas di atasnya. Ketika mendekat,
Harry mendengar suara Quirrell.
"Jangan jangan tolong jangan lagi..." Kedengarannya ada yang sedang
mengancamnya. Harry bergerak semakin dekat.
"Baiklah baiklah...," didengarnya Quirrell mengisak.
--------------------------------------- 146
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Detik berikutnya, Quirrell bergegas meninggalkan kelas seraya meluruskan
turbannya. Wajahnya pucat dan tampaknya dia hampir menangis. Quirrell
bahkan tidak melihat Harry.
Harry menunggu sampai bunyi langkah-langkah Quirrell menghilang,
kemudian mengintip ke dalam kelas. Kosong, tapi ada pintu yang terbuka
sedikit di ujung satunya. Harry sudah separo jalan menuju pintu itu ketika dia
ingat janjinya kepada diri sendiri untuk tidak ikut campur urusan orang lain.
Meskipun demikian, dia bersedia mempertaruhkan dua belas Batu Bertuah
bahwa Snape baru saja meninggalkan ruangan, dan dari apa yang baru
didengarnya, Snape pastilah berjalan dengan langkah ringan agaknya Quirrell
akhirnya menyerah.
Harry kembali ke perpustakaan. Hermione sedang membantu
Ron belajar Astronomi dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Harry
memberitahu mereka apa yang baru saja didengarnya.
"Snape berhasil, kalau begitu!" kata Ron. "Kalau Quirrell sudah memberitahu
bagaimana memunahkan Mantra Anti-Sihir Hitamnya..."
"Tapi masih ada Fluffy," kata Hermione.
"Mungkin Snape sudah tahu bagaimana cara melewati Fluffy tanpa bertanya
pada Hagrid," kata Ron, memandang ribuan buku yang mengelilingi mereka.
"Berani taruhan, di salah satu buku di sini pasti tertulis bagaimana cara
melewati anjing berkepala tiga. Jadi, apa yang kita lakukan, Harry?"
Kilat petualangan bersinar lagi di mata Ron. Tetapi Hermione menjawab
sebelum Harry sempat buka mulut.
"Pergi ke Dumbledore. Itu seharusnya sudah kita lakukan sejak dulu. Kalau
kita mencoba bertindak sendiri, jelas kita akan dikeluarkan."
"Tapi kita tak punya bukti!" kata Harry. "Quirrell terlalu takut untuk
mendukung kita. Snape tinggal bilang dia tak tahu bagaimana troll bisa masuk
pada malam Hallowe'en dan bahwa dia tak berada dekatdekat lantai tiga.
Menurut kalian, siapa yang akan dipercaya, dia atau kita? Kan bukan rahasia
kita membencinya. Dumbledore akan mengira kita mengarang-ngarang supaya
Snape dipecat. Filch jelas tidak akan mau membantu kita. Dia sahabat dekat
Snape, dan menurut pendapatnya semakin banyak murid yang dikeluarkan,
semakin baik. Dan jangan lupa, kita sebetulnya tidak boleh tahu tentang batu
itu ataupun Fluffy. Itu bakal perlu penjelasan panjang."
Hermione kelihatannya bisa diyakinkan, tetapi Ron tidak.
"Kalau kita menyelidiki sedikit..."
"Tidak," kata Harry datar, "kita sudah terlalu banyak menyelidiki dan ikut
campur."
Harry menarik peta Jupiter ke arahnya dan mulai menghafal nama bulan-
bulannya.
***
Keesokan paginya, sepucuk surat dijatuhkan di meja sarapan untuk Harry,
Hermione, dan Neville. Isinya semua sama: Detensimu akan berlangsung pukul
sebelas malam ini. Temui Mr Filch di Aula Depan.
Prof. M. McGonagall
--------------------------------------- 147
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dalam kehebohan gara-gara begitu banyak angka yang dipotong dari
Gryffindor, Harry sudah lupa mereka masih harus menjalani detensi. Dia
mengira Hermione akan mengeluh karena mereka akan kehilangan waktu
belajar semalam, tetapi Hermione diam saja. Seperti Harry dia merasa mereka
pantas mendapat hukuman itu.
Pukul sebelas malam itu mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Ron
di ruang rekreasi dan pergi ke Aula Depan bersama Neville. Filch sudah ada
begitu pula Malfoy. Harry juga sudah lupa bahwa Malfoy pun mendapat detensi.
"Ikut aku," kata Filch seraya menyalakan lampu dan mengajak mereka
keluar. "Taruhan, setelah ini kalian pasti berpikir dua kali dulu sebelum
melanggar peraturan sekolah, eh?" Dia menyeringai kepada mereka. "Oh ya...
kerja keras dan penderitaan adalah guru yang paling baik, kalau kalian tanya
padaku... sayangnya mereka tidak memakai lagi cara hukuman yang dulu...
menggantung kalian pada pergelangan tangan dari atap selama beberapa hari,
rantainya masih ada di kamarku, kuminyaki terus, siapa tahu suatu kali
diperlukan lagi... Baik, ayo kita berangkat, dan jangan coba-coba kabur, makin
parah lagi nanti bagi kalian."
Mereka menyeberangi lapangan gelap. Neville terus terisak.
Harry bertanya-tanya hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada mereka.
Pasti sesuatu yang mengerikan, kalau tidak Filch tidak akan sesenang ini.
Bulan bersinar terang, tetapi awan-awan yang melintasinya berkali-kali
membuat mereka berjalan dalam kegelapan. Di depan, Harry bisa melihat
jendelajendela pondok Hagrid yang menyala. Kemudian dari kejauhan mereka
mendengar suara.
"Kaukah itu, Filch? Cepat, aku mau mulai."
Semangat Harry bangkit. Jika ada Hagrid, keadaan tidak terlalu buruk.
Kelegaannya pastilah tampak di wajahnya, karena Filch berkata, "Rupanya kau
mengira kau akan bersenang-senang bersama orang kasar itu, ya? Pikir lagi, Nak
kalian akan dibawa ke Hutan dan aku keliru sekali kalau mengira kalian semua
berhasil keluar utuh nanti."
Mendengar ini, Neville merintih dan Malfoy berhenti berjalan.
"Hutan?" dia mengulang, dan suaranya tidak sesombong biasanya. "Kita tidak
boleh ke sana di malam hari ada macammacam di sana manusia serigala,
kudengar." Neville mencengkeram lengan jubah Harry dan mengeluarkan suara
tersedak.
"Salah kalian sendiri, kan?" kata Filch, suaranya serak saking senangnya.
"Mestinya ingat soal manusia serigala itu sebelum melanggar peraturan, ya,
kan?"
Hagrid berjalan ke arah mereka dari kegelapan, Fang membuntutinya. Dia
membawa busur besarnya, dan sekantong anak panah tergantung di bahunya.
"Sudah waktunya," katanya. "Aku sudah tunggu setengah jam. Baik-baik
saja, Harry, Hermione?"
"Jangan terlalu ramah pada mereka, Hagrid," kata Filch dingin, "mereka kan
akan dihukum."
--------------------------------------- 148
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Itu sebabnya kau telat, kan?" kata Hagrid kepada Filch, dahinya berkerut.
"Tadi kaumarahi mereka, ya? Bukan kewajibanmu. Tugasmu sudah selesai. Biar
kuambil alih sekarang."
"Aku akan kembali besok pagi," kata Filch, "untuk mengambil entah apa
yang tersisa dari mereka," dia menambahkan dengan menyebalkan, sebelum
akhirnya berbalik dan berjalan kembali ke kastil, lampunya terayun-ayun dalam
gelap.
Malfoy sekarang menoleh kepada Hagrid. "Aku tak mau masuk Hutan itu,"
katanya, dan Harry senang mendengar nada panik dalam suaranya.
"Harus, kalau kau mau tetap di Hogwarts," kata Hagrid galak. "Kau sudah
lakukan kesalahan dan sekarang harus bayar."
"Tapi ini untuk kelas pelayan, bukan untuk pelajar. Kukira kami akan
disuruh menulis atau yang semacamnya. Kalau ayahku tahu aku dihukum
begini, dia akan..."
"... bilang padamu memang begitulah di Hogwarts," geram Hagrid. "Menulis!
Apa gunanya? Kau akan lakukan sesuatu yang berguna, kalau tidak mau, keluar
saja. Kalau kaupikir ayahmu lebih suka kau dikeluarkan, ya balik saja ke kastil
dan pak kopermu. Ayo!"
Malfoy tidak bergerak. Dia memandang Hagrid dengan marah, tetapi
kemudian menunduk.
"Baiklah," kata Hagrid. "Sekarang dengar baik-baik, karena apa yang akan
kita lakukan malam ini berbahaya dan aku tak mau ada yang ambil risiko. Ikut
aku ke sini dulu."
Dia membawa mereka sampai ke tepi Hutan. Seraya mengangkat lampunya
tinggi-tinggi, dia menunjuk jalan tanah setapak yang sempit dan berkelok-kelok
yang menghilang di antara pepohonan besar-besar dan gelap. Angin sepoi
menerbangkan rambut mereka ketika mereka memandang ke dalam Hutan.
"Lihat di sana," kata Hagrid, "lihat yang berkilau di tanah itu?
Yang keperakan? Itu darah unicorn. Di dalam ada unicorn yang luka parah
digigit entah apa. Ini kedua kalinya dalam seminggu.
Aku temukan satu unicorn mati Rabu lalu. Kita akan cari makhluk malang
itu. Mungkin kita harus bebaskan dia dari penderitaannya."
"Dan bagaimana kalau entah apa yang menggigit unicorn itu lebih dulu
menemukan kita?" kata Malfoy, tak sanggup menyembunyikan ketakutan dari
suaranya.
"Tak ada satu pun di Hutan yang akan melukaimu kalau kau bersamaku atau
Fang," kata Hagrid. ''Dan ikuti jalan ini. Baik, sekarang kita bagi menjadi dua
rombongan dan kita ikuti jejak ke dua arah yang berlainan. Ada bercak darah di
mana-mana, paling tidak si unicorn sudah berkeliaran kesakitan sejak
semalam."
"Aku mau bersama Fang," kata Malfoy cepat-cepat, seraya memandang gigi
Fang yang panjang-panjang.
"Baiklah, tapi kuingatkan kau, dia pengecut," kata Hagrid.
"Jadi aku, Harry dan Hermione akan ke satu arah, sedangkan Draco, Neville,
dan Fang ke arah lain. Nah, kalau salah satu dari kita temukan unicorn itu, kita
kirim bunga api hijau, oke?
--------------------------------------- 149
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Keluarkan tongkat kalian dan berlatihlah sekarang bagus dan kalau ada
yang dapat kesulitan, kirim bunga api merah, dan kami semua akan datang cari
kalian jadi, hatihatilah ayo berangkat."
Hutan gelap dan sunyi. Tak lama kemudian jalan tanah itu bercabang.
Harry, Hermione, dan Hagrid menuju ke kiri, sedang Malfoy, Neville, dan Fang
ke kanan.
Mereka berjalan dalam diam, mengarahkan pandangan ke tanah. Sekali-
sekali seberkas sinar bulan menembus dahan-dahan pepohonan di atas,
menyinari bercak darah biru keperakan di atas dedaunan yang rontok.
Harry melihat Hagrid tampak sangat cemas. "Mungkinkah manusia serigala
membunuh unicorn-unicorn ini?" tanya Harry.
"Tidak cukup cepat," kata Hagrid. "Tak mudah tangkap unicorn, mereka
makhluk magis yang kekuatannya luar biasa.
Tak pernah kulihat ada unicorn luka sebelumnya."
Mereka melewati tunggul pohon berlumut. Harry bisa mendengar aliran air.
Pasti di dekat-dekat situ ada sungai.
Masih tampak bercak-bercak darah unicorn di sana-sini di sepanjang jalan
berkelok itu.
"Kau tak apa-apa, Hermione?" Hagrid berbisik. "Jangan khawatir, dia tak bisa
pergi jauh-jauh kalau lukanya separah ini dan nanti kita bisa me KE BALIK
POHON ITU!"
Hagrid menyambar Harry dan Hermione dan menarik mereka ke belakang
pohon ek besar. Ditariknya sebatang anak panah dan dipasangnya pada
busurnya, siap diluncurkan.
Ketiganya mendengarkan. Sesuatu menggeleser di atas daundaun yang gugur
di dekat situ. Kedengarannya seperti jubah yang terseret di tanah. Hagrid
menyipitkan mata memandang jalan gelap itu, tetapi setelah beberapa detik,
bunyi itu semakin menjauh.
"Aku tahu," Hagrid bergumam. "Ada sesuatu di sini yang seharusnya tidak
ada."
"Manusia serigala?" Harry mengusulkan.
"Itu bukan manusia serigala dan bukan unicorn juga," kata Hagrid muram.
"Baik, ikuti aku, tapi hati-hati sekarang."
Mereka berjalan lebih lambat, memasang telinga untuk menangkap bunyi
paling pelan sekalipun. Mendadak, di lapangan terbuka di depan mereka,
jelasjelas sesuatu bergerak.
"Siapa itu?" teriak Hagrid. "Perlihatkan dirimu. Aku bersenjata!"
Dan ke tempat terbuka itu muncullah apakah itu manusia atau kuda?
Sampai pinggang dia manusia, dengan rambut dan jenggot merah, tetapi di
bawah itu tubuh kuda cokelat berkilau, dengan ekor panjang kemerahan. Harry
dan Hermione ternganga.
"Oh, kau rupanya, Ronan," kata Hagrid lega. "Apa kabar?"
Hagrid maju dan menjabat tangan centaurus itu.
"Selamat malam, Hagrid," kata Ronan. Suaranya dalam dan sedih. "Apa kau
tadi mau memanahku?"
--------------------------------------- 150
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tak ada salahnya hati-hati, Ronan," kata Hagrid, membelai busurnya. "Ada
sesuatu yang jahat keliaran di Hutan ini. Ini Harry Potter dan Hermione
Granger. Murid Hogwarts. Dan ini Ronan, anak-anak. Dia centaurus."
"Kami sudah melihat," kata Hermione lemah.
"Selamat malam," kata Ronan. "Kalian pelajar, ya? Banyak yang kalian
pelajari di sekolah?"
"Erm..."
"Sedikit," kata Hermione malu-malu.
"Sedikit. Yah, lumayan," Ronan menghela napas.
Dia menengadah, memandang langit. "Mars terang malam ini."
"Yeah," kata Hagrid, ikut memandang ke atas. "Dengar, aku senang kami
bertemu kau, Ronan, karena ada unicorn yang luka kau lihat sesuatu?"
Ronan tidak langsung menjawab. Dia menatap ke atas tanpa berkedip,
kemudian menghela napas lagi.
"Selalu saja yang tak bersalah jadi korban lebih dulu,"
katanya. "Begitulah sejak berabad-abad lalu, begitulah juga sekarang."
"Yeah," kata Hagrid, "tapi apa kau lihat sesuatu, Ronan?
Sesuatu yang luar biasa?"
"Mars terang malam ini," Ronan mengulangi sementara Hagrid
memandangnya dengan tak sabar. "Luar biasa terang."
"Yeah, tapi yang kumaksud sesuatu yang lebih dekat ke tanah," kata Hagrid.
"Jadi kau tidak lihat sesuatu yang luar biasa?"
Sekali lagi, perlu beberapa saat bagi Ronan untuk menjawab.
Akhirnya dia berkata, "Hutan ini menyembunyikan banyak rahasia."
Gerakan di pepohonan di belakang Ronan membuat Hagrid mengangkat
busurnya lagi, tetapi ternyata hanya centaurus kedua, bertubuh dan berambut
hitam, dan kelihatan lebih liar daripada Ronan.
"Halo, Bane," kata Hagrid. "Kau tak apa-apa?"
"Selamat malam, Hagrid. Kuharap kau baik-baik saja."
"Cukup baik. Begini, aku baru saja menanyai Ronan, kau lihat sesuatu yang
aneh di sini belakangan ini?" Bane maju berdiri di sebelah Ronan. Dia menatap
ke langit.
"Mars terang malam ini," cuma itu katanya.
"Kami sudah dengar," kata Hagrid sebal. "Kalau kalian lihat sesuatu,
beritahu aku, ya? Kami akan jalan lagi sekarang."
Harry dan Hermione mengikuti Hagrid meninggalkan tempat terbuka itu,
berkali-kali menoleh memandang Ronan dan Bane, sampai pohon-pohon
menutup pandangan mereka.
"Jangan pernah," kata Hagrid jengkel, "coba mendapat jawaban langsung
dari centaurus. Pengamat bintang yang fanatik. Tak tertarik pada apa pun yang
lebih dekat daripada bulan."
"Apa ada banyak centaurus di sini?" tanya Hermione.
"Oh, cukup banyak... Berkelompok dengan kaumnya sendiri, kebanyakan,
tetapi mereka bersedia muncul kalau aku perlu bicara. Mereka pemikir,
centaurus itu... mereka banyak tahu...
cuma tidak banyak bicara."
--------------------------------------- 151
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apakah menurutmu yang kita dengar tadi, sebelum ketemu Ronan, adalah
centaurus?" tanya Harry.
"Apa kedengarannya seperti langkah kaki kuda bagimu?
Bukan, menurutku, tadi itu yang bunuh unicorn belum pernah dengar yang
seperti itu."
Mereka berjalan terus menembus pepohonan yang rapat dan gelap. Harry
berkali-kali menoleh ke belakang dengan cemas.
Dia punya perasaan tak enak bahwa mereka sedang diawasi.
Dia senang Hagrid dan busurnya bersama mereka. Mereka baru saja
membelok ketika Hermione mencengkeram lengan Hagrid.
"Hagrid! Lihat! Bunga api merah, yang lain dalam bahaya!"
"Kalian berdua tunggu sini!" teriak Hagrid. "Tetap di jalan ini, nanti aku
kembali!"
Mereka mendengar bunyi berkeresak ketika Hagrid menerobos belukar.
Keduanya saling pandang, sangat ketakutan, sampai mereka tak bisa
mendengar apa-apa lagi kecuali gesekan daun-daun di sekitar mereka.
"Menurutmu apakah mereka terluka?" bisik Hermione.
"Aku tak peduli kalau Malfoy luka, tetapi kalau terjadi sesuatu pada
Neville... salah kitalah dia ada di sini."
Menit demi menit berlalu lambat. Telinga mereka rasanya lebih tajam
daripada biasanya. Harry merasa bisa mendengar setiap desah angin, setiap
derik ranting. Apa yang terjadi? Di mana yang lain?
Akhirnya, bunyi berkeresak keras menandakan kembalinya Hagrid. Malfoy,
Neville, dan Fang bersamanya. Hagrid berang sekali. Malfoy rupanya diam-diam
menyergap Neville dari belakang, maksudnya hanya untuk bergurau. Neville
panik dan mengirim bunga api.
"Kita beruntung kalau masih bisa tangkap sesuatu sekarang, setelah suara-
suara yang kalian buat. Baik, kita ganti rombongan Neville, kau bersamaku dan
Hermione. Harry, kau pergi bersama Fang dan idiot ini. Sori," Hagrid
menambahkan dengan berbisik kepada Harry, "tapi dia akan lebih sulit
menakut-nakutimu, dan kita harus selesaikan ini."
Maka Harry menuju ke tengah Hutan bersama Malfoy dan Fang. Mereka
berjalan selama hampir setengah jam, makin jauh masuk ke Hutan, sampai
jalan tanah itu nyaris tak bisa diikuti lagi karena pepohonan begitu rapat.
Menurut Harry darahnya kelihatan semakin pekat. Ada cipratan di akar
sebatang pohon, seakan makhluk malang itu berputar-putar kesakitan di dekat
situ. Lewat celah di antara cabang-cabang pohon ek tua, Harry bisa melihat
tanah terbuka di depan mereka.
"Lihat...," gumamnya, merentangkan tangan untuk menghentikan Malfoy.
Sesuatu yang putih terang berkilauan di tanah. Mereka beringsut mendekat.
Ternyata memang unicorn, dan dia sudah mati. Belum pernah Harry melihat
sesuatu seindah dan sesedih itu. Kakinya yang ramping panjang mencuat
janggal di tempat dia terjatuh dan surainya yang putih berkilau menjurai bagai
mutiara di atas daundaun yang gelap.
Harry sudah maju selangkah mendekatinya ketika bunyi menggeleser
membuatnya terpaku di tempat. Semak di tepi tempat terbuka itu bergetar...
--------------------------------------- 152
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Kemudian, dari bayang kegelapan, muncul sosok berkerudung, merangkak di
tanah seperti binatang yang sedang mendekati mangsanya. Harry, Malfoy dan
Fang berdiri terpaku. Sosok berkerudung itu sudah tiba di samping unicorn,
menundukkan kepalanya ke arah luka di sisi tubuh unicorn, dan mulai
menyeruput darahnya.
"AAAAAAAAAARGH!"
Malfoy menjerit ngeri dan melesat kabur begitu juga Fang.
Sosok berkerudung itu mengangkat kepalanya dan memandang lurus pada
Harry darah unicorn menetes-netes ke bagian depan tubuhnya. Dia berdiri dan
berjalan cepat mendekati Harry Harry sendiri tak bisa bergerak saking
takutnya.
Kemudian rasa sakit menusuk kepalanya. Belum pernah Harry merasakan
sakit sepedih ini, seakan bekas lukanya terbakar
setengah buta, dia terhuyung ke belakang.
Didengarnya bunyi tapak kuda di belakangnya, lari berderap, dan sesuatu
melompatinya, menerjang sosok itu.
Sakit di kepala Harry tak tertahankan lagi, dia jatuh berlutut.
Satu-dua menit kemudian barulah rasa sakit itu lenyap. Ketika Harry
mendongak, sosok itu telah lenyap. Centaurus berdiri di depannya. Bukan
Ronan ataupun Bane. Yang ini kelihatan lebih muda, rambutnya pirang dan
tubuh kudanya berbulu putih.
"Kau tak apa-apa?" tanya si centaurus seraya membantu Harry berdiri.
"Ya terima kasih tadi itu apa?"
Si centaurus tidak menjawab. Mata birunya luar biasa, seperti batu safir
pucat. Dia memandang Harry dengan teliti, matanya lama terpancang pada
bekas luka hitam-kelabu yang tampak nyata di dahi Harry.
"Kau Harry Potter," katanya. "Sebaiknya kau kembali pada Hagrid. Hutan
tidak aman pada saat ini terutama untukmu.
Kau bisa naik kuda? Supaya lebih cepat.
"Namaku Firenze," katanya menambahkan seraya menekuk kaki depannya,
berlutut, agar Harry bisa naik ke punggungnya.
Mendadak terdengar lebih banyak derap kaki kuda dari sisi lain tanah
terbuka. Ronan dan Bane muncul dari balik pepohonan, terengah-engah dan
berkeringat.
"Firenze!" gelegar Bane. "Apa yang kaulakukan? Ada manusia di
punggungmu! Sungguh kau tak tahu malu.
Memangnya kau bagal angkut biasa?"
"Sadarkah kalian siapa ini?" kata Firenze. "Ini Harry Potter.
Lebih cepat dia meninggalkan hutan ini lebih baik."
"Kau cerita apa saja kepadanya?" Bane menggeram. "Ingat, Firenze, kita
sudah disumpah untuk tidak mencampuri urusan langit. Bukankah kita sudah
membaca apa yang akan terjadi di pergerakan planet-planet?"
Ronan mengais-ngais tanah dengan gelisah. "Aku yakin Firenze melakukan
yang menurutnya terbaik," kata Ronan dengan suaranya yang sedih. Bane
menyentakkan kaki belakangnya dengan berang.
--------------------------------------- 153
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Terbaik! Apa kaitannya dengan kita? Centaurus berurusan dengan apa yang
telah diramalkan! Bukan tugas kita untuk berkeliaran seperti keledai,
menyelamatkan manusia yang tersesat di Hutan kita!"
Firenze mendadak berdiri di atas kaki belakangnya dengan gusar, sehingga
Harry harus berpegangan pada bahunya supaya tidak jatuh.
"Apa kau tidak melihat unicorn itu?" Firenze berteriak kepada Bane. "Apa
kau tidak mengerti kenapa dia dibunuh?
Atau apakah planet-planet tidak memberitahukan rahasia itu kepadamu?
Aku akan melawan apa yang bersembunyi di hutan ini, Bane, ya, bersama
manusia kalau perlu."
Dan Firenze berputar; dengan Harry mencengkeram bahunya sebisa
mungkin, mereka masuk ke antara pepohonan, meninggalkan Ronan dan Bane
di belakang mereka.
Harry sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. "Kenapa Bane begitu
marah?" dia bertanya. "Kau menyelamatkanku dari makhluk apa?"
Firenze melambatkan larinya hingga akhirnya dia berjalan, memperingatkan
Harry agar menunduk supaya tidak menabrak dahan-dahan rendah, tetapi tidak
menjawab pertanyaannya.
Mereka menembus pepohonan dalam diam selama begitu lama sampai Harry
mengira Firenze tidak mau lagi bicara padanya.
Mereka sedang melewati pepohonan yang sangat rapat, ketika Firenze tiba-
tiba berhenti.
"Harry Potter, tahukah kau darah unicorn digunakan untuk apa?"
"Tidak," jawab Harry, kaget mendengar pertanyaan aneh itu.
"Kami cuma memakai tanduk dan rambut ekornya dalam pelajaran Ramuan."
"Itu karena membunuh unicorn adalah perbuatan yang amat keji," kata
Firenze. "Hanya orang yang tak akan rugi, malah sangat diuntungkan, yang mau
melakukan kejahatan semacam itu. Darah unicorn akan membuatmu tetap
hidup, bahkan kalau kau sudah tinggal sejengkal dari kematian, tetapi harga
yang harus dibayar mengerikan sekali. Kau telah membunuh sesuatu yang murni
dan tak berdaya untuk menyelamatkan dirimu dan kau hanya akan setengah
hidup, hidup yang terkutuk, begitu darah unicorn menyentuh bibirmu."
Harry menatap bagian belakang kepala Firenze, yang berkilau keperakan
tertimpa cahaya bulan.
"Tetapi siapa yang begitu putus asa?" tanyanya. "Kalau kau akan dikutuk
selamanya, lebih baik mati, kan?"
"Memang," kata Firenze, "kecuali yang kauperlukan hanyalah bertahan hidup
cukup lama untuk meminum sesuatu yang lain sesuatu yang bisa
mengembalikan kekuatan dan kekuasaanmu sepenuhnya sesuatu yang berarti
kau tak akan bisa mati. Mr Potter, tahukah kau apa yang disembunyikan di
sekolah saat ini?"
"Batu Bertuah! Tentu saja Cairan Kehidupan! Tapi aku tak mengerti
siapa..."
"Tak terpikirkah olehmu seseorang yang telah menunggu bertahun-tahun
untuk kembali berkuasa, yang bertahan hidup, menunggu datangnya
kesempatan?"
--------------------------------------- 154
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Seakan ada tangan besi yang mendadak mencengkeram jantung Harry. Di
antara bunyi keresak dedaunan, seakan dia mendengar lagi apa yang dikatakan
Hagrid pada malam mereka bertemu untuk pertama kalinya: "Ada yang bilang
dia mati.
Omong kosong, menurutku. Tak tahu apakah masih ada cukup manusia di
tubuhnya untuk bisa mati."
"Maksudmu," kata Harry serak, "tadi itu Vol..."
"Harry! Harry, kau tak apa-apa?"
Hermione berlari ke arah mereka, Hagrid terengahengah di belakangnya.
"Aku baik-baik saja," kata Harry, hampir tak memahami apa yang
diucapkannya. "Unicorn-nya mati, Hagrid, di tanah kosong di belakang sana."
"Sekaranglah saatnya aku meninggalkanmu,"
Firenze bergumam sementara Hagrid bergegas memeriksa unicorn. "Kau
sudah aman sekarang."
Harry meluncur turun dari punggungnya.
"Semoga selamat, Harry Potter," kata Firenze. "Planet-planet pernah
ditafsirkan secara keliru sebelum ini, bahkan oleh centaurus. Kuharap ini salah
satu di antara kekeliruan itu."
Firenze berbalik dan melangkah kembali ke dalam Hutan, meninggalkan
Harry gemetar di belakangnya.
***
Ron tertidur di ruang rekreasi yang gelap, menunggu mereka pulang.
Dia mengigau, meneriakkan sesuatu tentang pelanggaran dalam
pertandingan Quidditch ketika Harry mengguncangnya keras-keras,
membangunkannya. Dalam beberapa detik saja matanya sudah terbuka lebar
ketika Harry mulai bercerita kepadanya dan Hermione, tentang apa yang
terjadi di Hutan.
Harry tak bisa duduk. Dia mondar-mandir di depan perapian.
Dia masih gemetar.
"Snape menginginkan Batu Bertuah itu untuk Voldemort...
dan Voldemort menunggu di Hutan... dan selama ini kita mengira Snape
hanya sekadar ingin kaya..."
"Jangan ucapkan lagi nama itu!" bisik Ron ketakutan, seakan dia mengira
Voldemort bisa mendengar mereka.
Harry tidak mendengarkan.
"Firenze menyelamatkan aku, tetapi seharusnya tidak boleh...
Bane marah sekali... katanya mereka tidak boleh ikut campur dengan apa
yang telah diramalkan planet-planet... Planet-planet itu pastilah menunjukkan
bahwa Voldemort akan kembali...
Bane berpendapat Firenze seharusnya membiarkan Voldemort
membunuhku... Kurasa itu juga sudah tertulis pada bintangbintang."
"Jangan sebut-sebut lagi nama itu!" desis Ron. "Jadi sekarang aku tinggal
menunggu Snape mencuri batu itu," kata Harry tegang. "Setelah itu Voldemort
bisa datang dan menghabisiku...
Yah, kurasa Bane akan senang. Hermione kelihatan sangat ketakutan,
tetapi dia menghibur Harry.
--------------------------------------- 155
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry, semua orang bilang Dumbledore-lah satu-satunya orang yang
ditakuti Kau-Tahu-Siapa. Kalau ada Dumbledore, Kau-Tahu-Siapa tidak akan
menyentuhmu. Lagi pula, siapa bilang centaurus benar? Bagiku kedengarannya
seperti ramalan, dan Profesor McGonagall bilang itu cabang ilmu gaib yang
paling tidak tepat.
Langit sudah berubah terang sebelum mereka berhenti bicara.
Mereka berangkat tidur dalam kelelahan, kerongkongan mereka sakit.
Tetapi kejutan-kejutan malam itu belum berakhir.
Ketika Harry menarik penutup tempat tidurnya, dia menemukan Jubah
Gaib-nya di bawahnya. Ada kertas yang disematkan pada jubah itu, dengan
pesan berikut: Siapa tahu perlu.
***
16. Menembus Pintu Jebakan
DI TAHUN-TAHUN mendatang, Harry tidak bisa ingat bagaimana persisnya
dia bisa mengerjakan soal-soal ujiannnya ketika dia setengah percaya
Voldemort bisa menerobos masuk setiap saat. Tetapi hari-hari berlalu dan tak
ada keraguan Fluffy masih hidup dan sehat di balik pintu tertutup.
Udara panas sekali, terutama di ruang kelas besar tempat mereka
mengerjakan ujian tertulis. Kepada mereka dibagikan pena bulu baru khusus
untuk ujian, pena yang telah disihir dengan mantra anti menyontek.
Mereka juga ujian praktek. Profesor Flitwick memanggil mereka satu per
satu ke dalam kelas untuk menguji apakah mereka bisa membuat nenas menari
di atas meja. Profesor McGonagall mengawasi mereka mengubah tikus menjadi
kotak tembakau angka diberikan sesuai dengan seberapa indahnya kotak
tembakau itu, tetapi dikurangi jika kotak itu punya kumis.
Snape membuat mereka gugup, terus menempel sementara mereka
mencoba mengingat bagaimana membuat Ramuan Lupa.
Harry mengerjakan tugas-tugasnya sebaik mungkin, berusaha mengabaikan
rasa sakit yang menusuk-nusuk dahinya, yang terus mengganggunya sejak
perjalanannya ke Hutan. Neville mengira Harry senewen berat gara-gara ujian
karena Harry tak bisa tidur, tetapi kenyataannya adalah Harry berkali-kali
terbangun gara-gara mimpi buruknya yang dulu, hanya saja sekarang mimpi itu
lebih mengerikan, karena ada sosok berkerudung dengan darah menetes-netes
di dalam mimpinya.
Mungkin karena mereka tidak melihat apa yang dilihat Harry di dalam
Hutan, atau karena mereka tidak memiliki bekas luka yang terasa panas
membara di dahi mereka, tetapi Ron dan Hermione tidak secemas Harry
memikirkan batu itu. Voldemort tentu saja membuat mereka takut, tetapi dia
tidak mendatangi mereka berkali-kali dalam mimpi, dan mereka terlalu sibuk
belajar sehingga tak puny a banyak waktu untuk mencemaskan apa yang akan
dilakukan Snape atau penyihir jahat lainnya.
Ujian terakhir mereka adalah Sejarah Sihir. Setelah satu jam menjawab
berbagai pertanyaan tentang penyihir nyentrik yang menemukan kuali yang bisa
--------------------------------------- 156
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
mengaduk sendiri, mereka akan bebas bebas selama seminggu penuh yang
menyenangkan sampai hasil ujian mereka diumumkan. Ketika hantu Profesor
Binns menyuruh mereka meletakkan pena bulu dan menggulung perkamen
mereka, Harry ikut bersorak bersama yang lain.
"Ujiannya lebih mudah daripada dugaanku," kata Hermione, ketika mereka
bergabung dengan gerombolan anak-anak keluar ke lapangan yang disinari
matahari. "Aku tak perlu menghafalkan Kitab Peri Laku Manusia Serigala Tahun
1637
atau pemberontakan Elfric si Penuh Semangat."
Hermione senang mendiskusikan soal-soal ujiannya, tetapi Ron mengatakan
ini membuatnya pusing, maka mereka pergi ke danau dan duduk di bawah
pohon. Si kembar Weasley dan Lee Jordan sedang menggelitik sungut cumi-
cumi raksasa yang sedang menghangatkan diri di air yang dangkal.
"Tak perlu lagi belajar," Ron menghela napas dengan senang, berbaring di
atas rumput. "Ceria sedikit dong, Harry, kita punya waktu seminggu sebelum
kita tahu ujian kita jeblok. Sekarang tak perlu cemas."
Harry menggosok-gosok dahinya.
"Aku ingin tahu apa artinya ini!" celetuknya jengkel. "Bekas lukaku sakit
terus sebelumnya memang pernah sakit, tapi tidak sesering ini."
"Pergilah ke Madam Pomfrey," Hermione mengusulkan.
"Aku tidak sakit," kata Harry. "Kurasa ini peringatan...
artinya akan ada bahaya..."
Ron tak bisa diajak kompromi, hawa terlalu panas.
"Harry, santai saja. Hermione benar. Batu itu aman selama Dumbledore
ada. Lagi pula, kita tak pernah punya bukti Snape sudah menemukan cara
melewati Fluffy. Kakinya pernah nyaris copot satu kali, dia tidak akan buru-
buru mencoba lagi. Dan Neville akan main Quidditch untuk tim Inggris sebelum
Hagrid mengecewakan Dumbledore."
Harry mengangguk, tetapi dia tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa
ada sesuatu yang lupa dia lakukan, sesuatu yang penting. Ketika dia mencoba
menjelaskan soal ini, Hermione berkata, "Itu cuma dampak ujian. Semalam aku
terbangun dan sudah membaca setengah buku catatan Transfigurasi-ku sebelum
aku ingat ujian itu sudah selesai."
Meskipun demikian, Harry yakin perasaannya yang galau tidak ada
hubungannya dengan ujian. Dia memandang seekor burung hantu terbang
menuju sekolah melintasi langit biru cerah, paruhnya menggigit surat. Hagrid-
lah satu-satunya orang yang pernah mengiriminya surat. Hagrid tak akan pernah
mengkhianati Dumbledore.
Hagrid tak akan pernah memberitahu siapa pun bagaimana caranya
melewati Fluffy... tak pernah... tetapi...
Mendadak Harry melompat bangun.
"Mau ke mana kau?" tanya Ron mengantuk.
"Baru saja terpikir olehku," kata Harry Wajahnya sudah menjadi pucat. "Kita
harus menemui Hagrid sekarang."
"Kenapa?" Hermione tersengal, berusaha mengejar Harry.
--------------------------------------- 157
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tidakkah menurut kalian agak aneh," kata Harry sambil mendaki lereng
berumput, "bahwa Hagrid sangat ingin memiliki naga, dan tiba-tiba saja muncul
orang asing yang kebetulan punya telur naga dalam kantongnya? Berapa orang
sih yang bepergian membawa telur naga, padahal sebetulnya itu dilarang oleh
undang-undang penyihir? Untung mereka menemukan Hagrid, iya, kan? Kenapa
aku tidak menyadari hal ini sebelumnya?"
"Apa sih maksudmu?" tanya Ron. Tetapi Harry yang berlari menyeberangi
lapangan menuju. tepi Hutan, tidak menjawab.
Hagrid sedang duduk di kursi berlengan di luar rumahnya.
Celana panjang dan lengan kemejanya digulung dan dia sedang mengupas
kacang polong yang kemudian dimasukkannya ke dalam mangkuk besar.
"Halo," sapanya, tersenyum. "Selesai ujian? Ada waktu untuk minum?"
"Ada," kata Ron, tetapi Harry menyelanya.
"Tidak, kami sedang buru-buru. Hagrid, aku harus tanya sesuatu padamu.
Kau ingat malam kau memenangkan Norbert?
Seperti apa orang asing yang main kartu denganmu itu?"
"Tak tahu," kata Hagrid santai, "dia tak mau lepas kerudungnya." Hagrid
melihat mereka bertiga kaget dan dia mengangkat alisnya.
"Tidak begitu luar biasa, ada banyak orang aneh di Hog's Head itu nama
tempat minum di desa itu. Mungkin saja dia pedagang naga, kan? Aku tak
pernah lihat mukanya, kerudungnya dipakai terus."
Harry terenyak duduk di sebelah mangkuk kacang polong.
"Apa yang kauobrolkan dengannya? Apa kau menyebut-nyebut Hogwarts?"
"Mungkin saja," kata Hagrid mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat.
"Yeah... dia tanya aku kerja apa, dan kukatakan aku pengawas binatang liar di
sini... Dia tanya-tanya sedikit tentang makhluk-makhluk apa yang kupelihara...
jadi kuceritakan... dan. kubilang yang sebetulnya kuinginkan adalah naga...
dan kemudian... aku tak ingat persis, karena dia terus-terusan belikan aku
minum... Coba kuingat... yeah, kemudian dia bilang dia punya telur naga dan
kami bisa main kartu dengan telur itu sebagai taruhannya kalau aku mau... tapi
dia harus yakin aku bisa rawat naganya, dia tak mau telur naganya jatuh ke
rumah sembarangan. Jadi kubilang, setelah Fluffy, naga sih barang mudah..."
"Dan apakah dia apakah dia kelihatannya tertarik pada Fluffy?" Harry
bertanya, berusaha agar suaranya tetap tenang.
"Nah yeah ada berapa anjing kepala tiga yang kautemui, bahkan di
Hogwarts sekalipun? Jadi kuceritakan, Fluffy barang mudah kalau kau tahu cara
menenangkan dia. Mainkan saja musik, maka dia akan langsung tertidur..."
Mendadak Hagrid tampak ketakutan.
"Seharusnya tak kuceritakan pada kalian!" sergah Hagrid.
"Lupakan saja apa yang barusan aku bilang! Hei mau ke mana kalian?"
Harry, Ron, dan Hermione sama sekali tidak saling bicara sampai mereka
berhenti di Aula Depan, yang terasa sangat dingin dan suram dibanding
lapangan di luar.
"Kita harus menemui Dumbledore," kata Harry. "Hagrid memberitahu orang
asing itu cara melewati Fluffy, dan entah Snape atau Voldemort di bawah
kerudung itu pasti soal gampang, begitu dia berhasil membuat Hagrid mabuk.
--------------------------------------- 158
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Kuharap saja Dumbledore mempercayai kita. Firenze mungkin mau mendukung
kita kalau Bane tidak melarangnya. Di mana kantor Dumbledore?"
Mereka memandang berkeliling, seakan berharap melihat papan yang bisa
menunjukkan arah yang benar. Mereka tak pernah diberitahu di mana
Dumbledore tinggal, dan mereka pun belum pernah bertemu seseorang yang
pernah pergi ke kediaman Dumbledore.
"Kita harus...," Harry baru mulai berkata ketika mendadak terdengar suara
dari seberang aula.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Profesor McGonagall, membawa setumpuk buku.
"Kami ingin menemui Profesor Dumbledore," kata Hermione, agak nekat,
pikir Harry dan Ron.
"Menemui Profesor Dumbledore?" Profesor McGonagall mengulang, seakan
itu hal yang sangat aneh. "Kenapa?"
Harry menelan ludah sekarang bagaimana?
"Ini semacam rahasia," katanya, lalu langsung menyesal, karena lubang
hidung Profesor McGonagall melebar.
"Profesor Dumbledore berangkat sepuluh menit yang lalu,"
katanya dingin. "Dia menerima panggilan penting dari Kementerian Sihir dan
langsung terbang ke London."
"Dia pergi?" kata Harry panik. "Sekarang?"
"Profesor Dumbledore penyihir hebat, Potter, urusannya banyak..."
"Tapi ini penting."
"Sesuatu yang ingin kausampaikan lebih penting daripada Kementerian Sihir,
Potter?"
"Soalnya," kata Harry yang sudah tidak menutup-nutupi lagi,
"Profesor ini tentang Batu Bertuah..."
Entah apa yang diharapkan Profesor McGonagall, pasti bukan itu. Buku-buku
yang dibawanya berjatuhan dari tangannya, tetapi dia tidak memungutnya.
"Bagaimana kau tahu...?" tanyanya gugup.
"Profesor, saya rasa saya tahu bahwa Sn ada orang yang akan mencoba
mencuri batu itu. Saya harus bicara dengan Profesor Dumbledore."
Profesor McGonagall menatapnya dengan kaget bercampur curiga.
"Profesor Dumbledore akan kembali besok," katanya akhirnya. "Aku tak tahu
bagaimana kalian sampai bisa tahu tentang batu itu, tetapi tenanglah, tak se-
orang pun bisa mencurinya, perlindungannya sangat ketat."
"Tapi, Profesor..."
"Potter, aku tahu apa yang kubicarakan," katanya pendek.
Dia membungkuk dan mengumpulkan buku-bukunya yang jatuh. "Kusarankan
kalian semua kembali keluar dan menikmati sinar matahari."
Tetapi mereka tidak melakukan itu.
"Pasti malam ini," kata Harry, begitu dia yakin Profesor McGonagall tak bisa
mendengarnya. "Snape akan masuk lewat pintu jebakan malam ini. Dia sudah
berhasil mengetahui semua
yang diperlukannya dan dia berhasil menyingkirkan Dumbledore.
--------------------------------------- 159
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Dialah yang mengirim surat itu. Pasti Kementerian Sihir akan kaget begitu
Dumbledore muncul."
"Tapi apa yang bisa kita..."
Hermione terperangah. Harry dan Ron berbalik.
Ada Snape.
"Selamat sore," katanya lancar.
Mereka terbelalak memandangnya.
"Kalian seharusnya tidak berada di dalam pada hari seindah ini," katanya
dengan senyum aneh.
"Kami baru...," kata Harry tanpa tahu apa yang akan dikatakannya.
"Kalian seharusnya lebih hati-hati," kata Snape. "Kasak-kusuk begini, orang-
orang akan mengira kalian hendak berbuat sesuatu. Dan riskan sekali bagi
Gryffindor kalau kehilangan angka lebih banyak lagi, kan?"
Wajah Harry memerah. Mereka berbalik hendak keluar, tetapi Snape
memanggil mereka kembali.
"Ingat, Potter sekali lagi berkeliaran di malam hari, aku sendiri yang akan
memastikan kau dikeluarkan. Selamat sore."
Dia berjalan menuju ruang guru. Menuruni undakan batu di luar, Harry
menoleh kepada kedua temannya.
"Baik, ini yang akan kita lakukan," bisiknya tegang. "Salah satu dari kita
harus memata-matai Snape tunggu di luar ruang guru dan ikuti dia kalau dia
keluar. Hermione, sebaiknya kau saja."
"Kenapa aku?"
"Jelas kenapa," kata Ron. "Kau bisa berpura-pura sedang menunggu Profesor
Flitwick, kan." Ron meninggikan suaranya.
"Oh, Profesor Flitwick, saya cemas sekali, saya rasa jawaban saya untuk soal
empat belas b salah..."
"Oh, diam kau," kata Hermione, tetapi dia setuju memata-matai Snape.
"Dan kami lebih baik berjaga di luar koridor lantai tiga," kata Harry kepada
Ron. "Ayo."
Tetapi bagian rencana yang ini tidak bisa dilaksanakan. Baru saja mereka
tiba di pintu yang memisahkan Fluffy dari bagian lain sekolah, Profesor
McGonagall muncul lagi, dan kali ini dia marah sekali.
"Rupanya kalian pikir kalian lebih susah ditembus daripada satu set mantra
sihir!" semburnya. "Cukup omong kosong ini!
Kalau kudengar kalian berada dekat-dekat sini lagi, aku akan mengurangi
lima puluh angka lagi dari Gryffindor! Ya, Weasley, dari asramaku sendiri!"
Harry dan Ron kembali ke ruang rekreasi. Harry baru saja berkata, "Paling
tidak Hermione mengawasi Snape," ketika lukisan Nyonya Gemuk berayun
terbuka dan Hermione masuk.
"Sori, Harry!" ratapnya. "Snape keluar dan bertanya aku sedang apa, jadi
kukatakan aku menunggu Flitwick, dan Snape masuk memanggilkan dia.
Terpaksa aku buru-buru menyingkir.
Aku tak tahu Snape ke mana."
--------------------------------------- 160
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apa boleh buat kalau begitu, kan?" kata Harry. Kedua temannya
menatapnya. Wajah Harry pucat dan matanya berkilauan. "Aku akan ke sana
malam ini dan aku akan berusaha mendapatkan batu itu lebih dulu."
"Kau gila!" kata Ron.
"Jangan!" cegah Hermione. "Setelah McGonagall dan Snape mengancammu
seperti itu? Kau akan dikeluarkan!"
"JADI KENAPA?" teriak Harry. "Tidak mengertikah kalian?
Jika Snape berhasil mendapatkan batu itu, Voldemort akan kembali! Tidak
pernahkah kalian dengar bagaimana keadaannya ketika dia mencoba
mengambil alih kekuasaan? Tak ada lagi Hogwarts, jadi kita tak bisa
dikeluarkan! Dia akan merobohkannya, atau mengubahnya menjadi sekolah
untuk Sihir Hitam! Kehilangan angka tidak berarti lagi, tidakkah kalian paham?
Apakah kalian pikir dia akan membiarkan kalian dan keluarga kalian hidup
tenang jika Gryffindor memenangkan Piala Asrama? Kalau aku tertangkap
sebelum mencapai tempat batu itu disimpan, yah, aku harus kembali ke
keluarga Dursley dan menunggu Voldemort menemukanku di sana. Itu cuma
berarti aku menunda kematian sebentar, karena aku tak mau menyeberang ke
Sihir Hitam! Aku akan menembus pintu jebakan malam ini dan apa pun yang
kalian katakan, takkan bisa mencegahku! Voldemort membunuh orangtuaku,
ingat?"
Dia mendelik menatap mereka.
"Kau betul, Harry," kata Hermione pelan.
"Aku akan memakai Jubah Gaib," kata Harry. "Untunglah jubah itu
dikembalikan kepadaku."
"Tapi apa jubah itu bisa menyelubungi kita bertiga?" tanya Ron.
"Ki-kita bertiga?"
"Oh, tentu, mana mungkin kami membiarkanmu pergi sendiri?"
"Tentu saja tidak," kata Hermione tegas. "Kaupikir bagaimana kau bisa
mencapai tempat batu tanpa kami? Lebih baik aku mencari di buku-bukuku,
siapa tahu ada yang berguna..."
"Tetapi kalau kita tertangkap, kalian berdua akan dikeluarkan juga."
"Tidak, kalau bisa kucegah," kata Hermione muram.
"Flitwick memberitahuku rahasia, bahwa aku mendapat seratus dua belas
persen dalam pelajarannya. Mereka tidak akan mengeluarkanku dengan nilai
setinggi itu."
***
Sesudah makan malam mereka bertiga duduk gelisah, memisahkan diri di
ruang rekreasi. Tak ada yang mengganggu mereka; toh tak seorang anak
Gryffindor pun mau bicara lagi dengan Harry. Malam ini pertama kalinya Harry
tidak merasa sedih karenanya. Hermione membaca sekilas semua catatannya,
berharap menemukan salah satu sihir yang akan mereka coba punahkan. Harry
dan Ron tidak banyak bicara. Keduanya memikirkan apa yang sebentar lagi
akan mereka lakukan.
Perlahan ruangan menjadi kosong ketika anak-anak satu demi satu pergi
tidur.
--------------------------------------- 161
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Lebih baik ambil jubahnya sekarang," gumam Ron, ketika akhirnya Lee
Jordan pergi sambil menggeliat dan menguap.
Harry berlari ke atas, ke kamar mereka yang gelap. Ditariknya jubahnya dan
kemudian terlihat olehnya sending hadiah Natal dari Hagrid. Dikantonginya
seruling itu untuk digunakan pada Fluffy dia sedang tak ingin menyanyi.
Harry berlari kembali ke ruang rekreasi.
"Lebih baik kita pakai jubahnya di sini, dan kita pastikan jubah ini
menyelubungi kita bertiga kalau Filch melihat sepotong kaki kita berjalan
sendiri..."
"Apa yang kalian lakukan?" terdengar suara dari sudut ruangan. Neville
muncul dari balik kursi, memegangi Trevor si katak, yang kelihatannya bam
saja mencoba kabur.
"Tidak apa-apa, Neville," kata Harry cepat-cepat, menyembunyikan jubah di
belakang punggungnya. Neville menatap wajah mereka yang bersalah.
"Kalian akan keluar lagi," komentarnya.
"Tidak, tidak, tidak," kata Hermione. "Kami tidak akan keluar. Kenapa kau
tidak tidur saja, Neville?"
Harry memandang jam besar yang berdiri dekat pintu.
Mereka tak bisa lagi membuang-buang waktu. Mungkin sekarang Snape
sedang main musik untuk menidurkan Fluffy.
"Kalian tak boleh keluar," kata Neville, "kalian akan tertangkap lagi.
Gryffindor akan lebih parah."
"Kau tidak mengerti," kata Harry. "Ini penting." Tetapi Neville jelas
menguatkan diri untuk bertindak nekat.
"Tak akan kubiarkan kalian keluar," katanya sambil bergegas berdiri di
depan lubang lukisan. "Aku aku akan melawan kalian!"
"Neville," Ron meledak, "minggir dari lubang itu dan jangan bego..."
"Jangan menyebutku bego!" kata Neville. "Menurutku kalian tak boleh lagi
melanggar peraturan! Dan kalianlah yang menasihatiku agar berani melawan
yang tidak benar!"
"Ya, tapi bukan terhadap kami," kata Ron putus asa.
"Neville, kau tak tahu apa yang kaulakukan."
Ron maju selangkah dan Neville menjatuhkan Trevor si katak yang langsung
melompat lenyap dari pandangan.
"Ayo, kalau begitu, coba pukul aku!" kata Neville, mengangkat tinjunya.
"Aku siap!"
Harry menoleh kepada Hermione.
"Lakukan sesuatu," katanya putus asa.
Hermione maju.
"Neville," katanya, "aku minta maaf, aku terpaksa berbuat begini."
Diangkatnya tongkatnya. "Petrificus Totalus!" serunya, seraya menunjuk
Neville. Lengan Neville mengatup ke sisi tubuhnya. Kedua kakinya saling
menempel. Seluruh tubuhnya menjadi kaku, dia terhuyung di tempatnya berdiri
dan kemudian jatuh terjerembap, kaku seperti papan.
--------------------------------------- 162
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Hermione berlari untuk menelentangkannya. Rahang Neville terkunci
sehingga dia tidak bisa bicara. Hanya matanya yang bergerak-gerak,
memandang mereka dengan ngeri.
"Apa yang kaulakukan kepadanya?" bisik Harry.
"Kutukan Ikat Tubuh Sempurna," kata Hermione merana.
"Oh, Neville, sori-sori-sori."
"Kami terpaksa, Neville, tak ada waktu untuk menjelaskan,"kata Harry.
"Kau akan mengerti nanti, Neville," kata Ron, ketika mereka melangkahinya
dan memakai Jubah Gaib.
Tetapi meninggalkan Neville yang tak bisa bergerak terbaring di lantai,
rasanya bukan pertanda yang baik. Dalam keadaan cemas, bagi mereka
bayangan patung kelihatan seperti Filch, semua desau angin di kejauhan
terdengar seperti Peeves yang meluncur turun ke arah mereka.
Di kaki tangga pertama mereka melihat Mrs Norris mengendap-endap di
dekat puncak tangga.
"Oh, ayo kita tendang dia, kali ini saja," bisik Ron ke telinga Harry, tetapi
Harry menggeleng. Ketika mereka hati-hati naik melewatinya, Mrs Norris
mengarahkan matanya yang seperti senter kepada mereka, tetapi tidak berbuat
apa-apa.
Mereka tidak bertemu siapa-siapa lagi sampai tiba di tangga menuju ke
lantai tiga. Peeves sedang berada di tengah tangga, melepas karpetnya supaya
orang yang lewat tersandung.
"Siapa itu?" katanya tiba-tiba ketika mereka naik ke arahnya.
Dia menyipitkan mata hitamnya yang kejam. "Aku tahu kau di situ,
meskipun aku tak bisa melihatmu. Apakah kau hantu atau murid bandel?"
Peeves melayang ke atas dan memandang mereka.
"Harus panggil Filch, harus, kalau ada makhluk tidak tampak berkeliaran."
Mendadak Harry mendapat ide.
"Peeves," katanya, berbisik serak, "Baron Berdarah punya alasan sendiri
untuk tidak menampakkan diri."
Peeves nyaris jatuh dari udara saking kagetnya.
Tapi dia berhasil menguasai diri dan melayang kirakira tiga puluh senti dari
tangga.
"Maaf sekali, Yang Berdarah, Mr Baron, Sir," katanya menjilat. "Salahku,
salahku aku tidak melihatmu tentu saja tidak, kau tidak kelihatan maafkan
gurauan kecil Peevsie, Sir."
"Aku ada urusan di sini, Peeves," kata Harry serak. "Pergilah jauh-jauh dari
tempat ini malam ini."
"Baik, Sir, aku akan pergi," kata Peeves, melayang naik lagi.
"Mudah-mudahan urusanmu berjalan lancar, Baron. Aku tidak akan
mengganggumu."
Dan dia pun melayang pergi.
"Brilian, Harry!" bisik Ron.
Beberapa detik kemudian, mereka sudah berada di luar koridor lantai tiga
dan pintunya sudah menganga sedikit.
"Wah," kata Harry muram. "Rupanya Snape sudah berhasil melewati Fluffy."
--------------------------------------- 163
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Melihat pintu yang terbuka itu, ketiganya menyadari apa yang akan mereka
hadapi. Di bawah selubung jubah, Harry menoleh kepada kedua temannya.
"Jika kalian ingin kembali, aku tidak akan menyalahkan kalian," katanya.
"Kalian boleh memakai jubah ini, aku sudah tidak memerlukannya lagi
sekarang."
"Jangan bodoh," kata Ron.
"Kami ikut," kata Hermione.
Harry mendorong pintu hingga terbuka.
Ketika pintu itu berderit, telinga mereka menangkap bunyi geraman rendah.
Ketiga pasang cuping hidung anjing itu mengendus-endus liar ke arah mereka,
meskipun tidak bisa melihat mereka.
"Apa itu di kakinya?" bisik Hermione.
"Kelihatannya harpa," jawab Ron. "Tentu Snape yang meninggalkannya di
situ."
"Anjing itu pastilah langsung terbangun begitu Snape berhenti bermain,"
kata Harry "Nah, sekarang giliran kita...."
Harry meletakkan seruling Hagrid ke bibirnya dan meniupnya. Tak bisa
disebut lagu, tetapi begitu mendengar nada pertama, mata binatang itu mulai
meredup. Harry nyaris tak berani menarik napas. Perlahan-lahan, geraman
anjing itu mereda dia terhuyung dan mendekam pada lututnya, lalu ambruk ke
lantai, tertidur nyenyak.
"Mainkan terus," Ron memperingatkan Harry ketika mereka keluar dari
bawah jubah dan berjingkat menuju ke pintu jebakan. Mereka bisa merasakan
napas si anjing yang panas dan berbau ketika mereka mendekati kepala-kepala
raksasa itu.
"Kurasa kita akan bisa membuka pintunya," kata Ron, melongok melewati
punggung si anjing. "Mau masuk duluan, Hermione?"
"Tidak."
"Baiklah." Ron mengertakkan gigi dan hati-hati melangkahi kaki si anjing.
Dia membungkuk dan menarik gelang-gelang pada pintu jebakan, yang langsung
menjeblak ke atas dan membuka.
"Apa yang bisa kaulihat?" tanya Hermione cemas.
"Tidak ada cuma gelap tak ada tangga turun, kita harus lompat."
Harry yang masih meniup seruling, melambai kepada Ron dan menunjuk-
nunjuk dirinya.
"Kau mau turun duluan? Yakin?" tanya Ron.
"Aku tak tahu seberapa dalamnya. Berikan serulingnya kepada Hermione
supaya dia bisa membuat anjing itu terus tidur."
Harry menyerahkan serulingnya. Dalam beberapa detik tanpa tiupan
seruling, anjing itu menggeram dan bergerak, tetapi begitu Hermione mulai
meniupnya, dia kembali tidur nyenyak.
Harry melompati si anjing dan memandang ke bawah lewat lubang pintu
jebakan. Dasarnya sama sekali tak kelihatan.
Dia turun ke dalam lubang sampai cuma bergantung pada ujung jari-jarinya.
Kemudian dia mendongak kepada Ron dan berkata, "Kalau terjadi sesuatu
padaku, jangan susul aku.
--------------------------------------- 164
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Langsung pergi ke kandang burung hantu dan kirim Hedwig ke Dumbledore.
Oke?"
"Oke," kata Ron.
"Sampai ketemu sebentar lagi, mudah-mudahan...."
Dan Harry melepas pegangannya. Udara dingin dan lembap menerpanya
sementara dia terjatuh, makin lama makin dalam dan...
BLUK. Dengan bunyi gedebuk yang seakan teredam, dia mendarat pada
sesuatu yang lunak. Harry duduk dan meraba-raba, matanya belum terbiasa
pada keremangan di situ. Dia serasa duduk di atas sejenis tanaman.
"Aman!" teriaknya ke arah cahaya sebesar prangko yang merupakan pintu
jebakan. "Tempat mendaratnya lunak, kau bisa lompat!"
Ron langsung menyusul. Dia mendarat telentang di sebelah Harry.
"Apa ini?" adalah kata-katanya yang pertama. "Entahlah, semacam tanaman.
Kurasa ada di sini untuk menahan pendaratan. Ayo, Hermione!"
Suara musik di kejauhan berhenti. Terdengar gong-gong keras anjing, tetapi
Hermione sudah melompat. Dia mendarat di sisi lain Harry.
"Pastilah kita beribu-ribu meter di bawah sekolah," katanya.
"Untung ada tanaman ini di sini," kata Ron.
"Untung?!" jerit Hermione. "Lihat kalian berdua!"
Hermione melompat dan berusaha menuju dinding yang lembap. Dia harus
berkutat karena begitu dia mendarat, tanaman itu langsung melilitkan sulur-
sulur seperti ular di sekeliling pergelangan kakinya. Sedangkan Harry dan Ron,
tanpa mereka sadari, kaki mereka sudah dililit kencang oleh sulur-sulur panjang
tanaman merambat itu.
Hermione berhasil membebaskan diri sebelum tanaman itu membelitnya
dengan ketat. Sekarang dia memandang ngeri pada kedua temannya yang
berkutat melepaskan tanaman itu dari tubuh mereka, tetapi semakin mereka
berusaha, semakin kuat tanaman itu membelit.
"Berhenti bergerak!" perintah Hermione. "Aku tahu apa ini ini Jerat Setan!"
"Oh, aku senang sekali kita tahu nama tanaman ini, sungguh sangat
membantu," cemooh Ron sambil memiringkan tubuhnya ke belakang, berusaha
mencegah tanaman itu membelit lehernya.
"Diam, aku sedang berusaha mengingat bagaimana membunuhnya!" kata
Hermione.
"Cepat kalau begitu, aku tak bisa bernapas!" kata Harry tersengal, berkutat
dengan sulur yang membelit dadanya.
"Jerat Setan, Jerat Setan... Apa yang dikatakan Profesor Sprout? Tanaman
ini suka kegelapan dan kelembapan..."
"Kalau begitu nyalakan api!" Harry tersedak.
"Ya tentu saja tapi tak ada kayu!" seru Hermione, meremas-remas
tangannya.
"KAU INI GILA?" Ron menggeram. "KAU PENYIHIR APA BUKAN?"
"Oh, betul!" kata Hermione, dan dia mencabut tongkatnya.
Menggoyangnya, menggumamkan sesuatu dan berhasil memancarkan api
biru sama seperti yang digunakannya pada Snape di stadion ke arah tanaman
itu. Dalam beberapa detik saja, kedua anak laki-laki itu merasa belitan sulur-
--------------------------------------- 165
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
sulur itu mengendur ketika tanaman itu menjauh ketakutan dari nyala terang
dan kehangatan. Menggeliat-geliut dan melambai-lambai, tanaman itu
melepaskan belitannya dan mereka berhasil membebaskan diri.
"Untung kau menyimak pelajaran Herbologi, Hermione,"
kata Harry ketika dia bergabung dengannya di dekat dinding seraya
menyeka keringat dari wajahnya.
"Yeah," kata Ron, "dan untung Harry tidak jadi panik dalam krisis 'tak ada
kayu', astaga."
"Jalan sini," kata Harry, menunjuk ke lorong berlantai batu yang merupakan
satu-satunya jalan di situ.
Satu-satunya bunyi yang bisa mereka dengar, selain langkahlangkah mereka
sendiri, adalah tetes-tetes air lembut yang jatuh dari dinding. Lorong itu
menurun, mengingatkan Harry pada Gringotts. Hatinya tersentak ketika dia
teringat naga-naga yang kabarnya menjaga ruangan-ruangan besi di bank para
penyihir itu. Bagaimana seandainya mereka bertemu naga, naga yang benar-
benar sudah dewasa Norbert saja sudah sangat merepotkan....
"Kau dengar sesuatu?" Ron berbisik.
Harry mendengarkan. Bunyi berkeresak dan denting lembut terdengar dari
arah depan. "Menurutmu itu hantu?"
"Entahlah... kedengarannya seperti sayap bagiku."
"Di depan terang bisa kulihat ada yang bergerak." Mereka mencapai ujung
lorong dan melihat didepan mereka kamar yang terang benderang, langit-
langitnya melengkung tinggi di atas mereka. Kamar itu penuh burung-burung
kecil yang berkilauan bagai permata, beterbangan mengitari ruangan. Di sisi
lain kamar itu terdapat pintu kayu berat.
"Apa mereka akan menyerang bila kita menyeberangi kamar ini?" kata Ron.
"Mungkin," kata Harry. "Kayaknya sih mereka tidak galak, tapi kalau
menyerang bersamaan... yah, tak ada jalan lain... aku mau lari."
Harry menarik napas dalam-dalam, menutupi wajah dengan lengannya dan
berlari menyeberangi ruangan. Dia mengira paruh dan cakar tajam akan
merobekrobeknya setiap saat, tetapi ternyata tidak. Dia tiba di pintu dengan
selamat. Ditariknya pegangan pintu. Pintu itu terkunci.
Kedua temannya mengikutinya. Mereka menarik dan mendorong pintu itu,
tetapi pintunya tak bergerak, bahkan tidak juga ketika Hermione mencoba
Mantra Alohomora-nya.
"Sekarang bagaimana?" kata Ron. "Burung-burung ini...
mereka tak mungkin ada di sini hanya untuk dekorasi saja," kata Hermione.
Mereka mengawasi burung-burung yang beterbangan di atas, berkilauan
berkilauan?
"Mereka bukan burung!" celetuk Harry tiba-tiba. "Itu kunci!
Kunci bersayap lihat yang teliti. Itu berarti..." Harry melihat berkeliling
ruangan sementara kedua temannya menyipitkan mata, memandang kawanan
kunci itu. "Ya lihat! Sapu! Kita harus menangkap kunci pintu itu!"
"Tapi ada ratusan kunci!"
Ron mengamati lubang kunci di pintu.
--------------------------------------- 166
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Yang kita cari kunci kuno besar mungkin perak, seperti pegangan
pintunya."
Mereka masing-masing menyambar sapu dan menyentak ke atas, melayang
ke tengah gerombolan kunci itu. Mereka menyambar dan menjambret, namun
kunci-kunci yang telah disihir itu meluncur dan menukik begitu cepat, sampai
nyaris tak mungkin ditangkap.
Tapi tak percuma Harry menjadi Seeker paling muda abad ini. Dia punya
bakat melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain.
Setelah beberapa menit menyelip-nyelip di antara pusaran bulubulu pelangi
itu, dia melihat kunci perak besar yang sayapnya bengkok, seakan kunci itu
sudah pernah ditangkap dan dijejalkan dengan kasar ke dalam lubang kunci.
"Yang itu!" teriaknya. "Yang besar itu di sana bukan, itu yang sayapnya
biru terang bulu-bulunya kusut di satu sisinya."
Ron meluncur ke arah yang ditunjuk Harry, menabrak langitlangit dan nyaris
terjatuh dari sapunya.
"Kita harus mengepungnya!" teriak Harry, tanpa melepas pandangannya dari
kunci dengan sayap rusak itu. "Ron, kau mendatanginya dari atas Hermione,
tetap di bawah dan cegah kunci itu turun dan aku akan mencoba
menangkapnya. Baik.
SEKARANG!"
Ron menukik, Hermione melintas, kunci itu berhasil menghindari mereka
berdua dan Harry meluncur mengejarnya.
Kunci itu terbang menuju dinding, Harry mencondongkan tubuh ke depan
dan diiringi bunyi derak yang menyakitkan telinga, memepetnya ke din-ding
dengan satu tangan. Sorak Ron dan Hermione bergaung di kamar berlangit-
langit tinggi itu.
Mereka cepat-cepat mendarat dan Harry berlari ke pintu, kunci di
tangannya menggelepar berusaha melepaskan diri.
Harry memasukkannya ke lubang dan memutarnya berhasil.
Begitu terdengar bunyi klik membuka, kuncinya langsung melesat terbang
lagi, bentuknya makin berantakan sekarang, setelah ditangkap dua kali.
"Siap?" Harry menanyai kedua temannya, tangannya mencekal pegangan
pintu. Mereka mengangguk. Dibukanya pintu.
Kamar berikutnya begitu gelap sehingga mereka sama sekali tak bisa
melihat apa-apa. Tetapi begitu mereka melangkah masuk, mendadak cahaya
memenuhi ruangan, menunjukkan pemandangan yang mencengangkan.
Mereka berdiri di tepi papan catur raksasa, di belakang bidakbidak hitam,
yang semuanya lebih tinggi dari mereka dan dipahat dari tampaknya batu
hitam. Berhadapan dengan mereka, jauh di seberang ruangan, adalah bidak-
bidak putih.
Harry, Ron, dan Hermione sedikit gemetar bidak-bidak catur putih itu tak
berwajah.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" bisik Harry.
"Jelas, kan?" timpal Ron. "Kita harus bermain untuk bisa sampai ke seberang
ruangan." Di belakang bidak-bidak putih itu mereka melihat pintu lain.
"Bagaimana?" tanya Hermione cemas.
--------------------------------------- 167
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kurasa," kata Ron, "kita harus menjadi bidak catur."
Ron berjalan ke arah perwira hitam dan menjulurkan tangan untuk
menyentuh kudanya. Langsung saja batu itu hidup.
Kudanya mengais-ngais tanah dan si perwira menolehkan kepalanya yang
memakai helm untuk menunduk, memandang Ron.
"Apa kami er harus bergabung dengan kalian untuk bisa menyeberang?"
Perwira hitam itu mengangguk. Ron menoleh kepada kedua temannya. "Ini
perlu pemikiran...," katanya.
"Kurasa kita harus mengambil tempat tiga bidak hitam..."
Harry dan Hermione tetap diam, mengawasi Ron berpikir.
Akhirnya Ron berkata, "Jangan tersinggung, ya, tapi kalian berdua tak
begitu ahli main catur..."
"Kami tidak tersinggung," kata Harry cepat-cepat. "Katakan saja apa yang
harus kami lakukan."
"Nah, Harry kau mengambil tempat menteri itu, dan Hermione, kau di
sebelahnya, di tempat benteng itu."
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku akan jadi perwira," kata Ron.
Bidak-bidak catur itu rupanya mendengarkan, karena begitu Ron berkata
demikian, perwira, menteri, dan benteng berbalik memunggungi bidak-bidak
putih dan berjalan turun dari papan catur, meninggalkan tiga petak kosong
yang segera ditempati Ron, Harry, dan Hermione.
"Putih selalu melangkah duluan dalam permainan catur,"
kata Ron, menyipitkan mata memandang ke seberang. "Ya...lihat..."
Satu pion putih melangkah maju dua petak. Ron mulai mengarahkan bidak-
bidak hitam. Mereka bergerak diam mengikuti perintahnya. Lutut Harry
gemetar. Bagaimana kalau mereka kalah?
"Harry, bergerak diagonal empat petak ke kanan."
Pukulan pertama mereka terjadi ketika perwira hitam satunya ditawan. Si
ratu putih membantingnya ke lantai dan menyeretnya ke luar papan. Si perwira
menggeletak tak bergerak, tengkurap.
"Apa boleh buat," kata Ron, yang tampak terguncang. "Kau jadi bebas
menawan si menteri itu, Hermione, ayo."
Setiap kali salah satu anggota mereka kalah, bidak-bidak putih itu tak
menunjukkan belas kasihan. Segera saja sekumpulan bidak hitam lemas
terpuruk di sepanjang dinding.
Dua kali, Ron menyadari tepat waktu bahwa Harry dan Hermione dalam
bahaya. Dia sendiri melesat ke sana kemari di papan, menawan bidak putih
hampir sebanyak bidak hitam yang kalah.
"Kita hampir sampai," mendadak Ron bergumam. "Biar aku berpikir biar aku
berpikir..." Si ratu putih menolehkan wajahnya yang kosong ke arahnya. "Ya...,"
kata Ron pelan, "ini satu-satunya cara... aku harus ditawan."
"TIDAK!" Harry dan Hermione memekik.
"Begitulah catur!" tukas Ron. "Harus ada yang dikorbankan!
Aku akan melangkah maju satu petak dan ratu putih akan menawanku jadi
kau bebas menskak rajanya, Harry!"
--------------------------------------- 168
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Tapi..."
"Kau mau menghalangi Snape atau tidak?"
"Ron..."
"Kalau kau tidak buru-buru, Snape sudah akan berhasil mendapatkan batu
itu!"
Tak ada pilihan lain. "Siap?" seru Ron, wajahnya pucat, tetapi mantap. "Aku
menyerahkan diri jangan berlama-lama begitu kalian sudah menang."
Ron melangkah maju dan ratu putih langsung menerkam.
Dipukulnya keras-keras kepala Ron dengan tangan batunya dan Ron langsung
ambruk ke lantai Hermione menjerit tetapi tetap bertahan di petaknya si
ratu putih menyeret Ron ke tepi.
Kelihatannya dia pingsan.
Gemetaran, Harry bergerak tiga petak ke kiri.
Si raja putih melepas mahkotanya dan melemparnya ke kaki Harry. Mereka
sudah menang. Bidak-bidak catur menepi dan membungkuk, jalan menuju pintu
kini tanpa hambatan. Dengan pandangan putus asa terakhir ke arah Ron, Harry
dan Hermione berlari melewati pintu dan tiba di lorong berikutnya.
"Bagaimana kalau dia...?"
"Dia akan baik-baik saja," kata Harry berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Menurutmu, apa berikutnya?"
"Kita sudah melewati kreasi Sprout Jerat Setan tadi, Flitwick pastilah yang
menyihir kunci-kunci, McGonagall mentransfigurasi bidak-bidak catur
membuatnya hidup, tinggal mantra Quirrell, dan Snape...."
Mereka sudah tiba di pintu berikutnya.
"Buka sekarang?" Harry berbisik.
"Buka saja."
Harry mendorongnya terbuka.
Bau menjijikkan menusuk hidung, membuat keduanya menarik jubah untuk
menutupi hidung. Dengan mata berair mereka melihat, tergeletak di lantai di
depan mereka, troll yang bahkan lebih besar daripada troll gunung yang sudah
mereka kalahkan, pingsan dengan benjolan berdarah pada kepalanya.
"Aku lega kita tidak perlu berkelahi dengan dia," bisik Harry, ketika mereka
dengan hati-hati melangkahi salah satu kakinya yang amat besar. "Ayo cepat,
aku tak bisa bernapas."
Harry membuka pintu ke ruang berikutnya, keduanya nyaris tak berani
melihat apa yang menantikan mereka tetapi tak ada sesuatu yang mengerikan
di sini, hanya meja dengan tujuh botol berbeda bentuk berdiri berderet.
"Hasil karya Snape," kata Harry "Apa yang harus kita lakukan?"
Mereka melangkahi ambang pintu dan mendadak api berkobar di belakang
mereka. Bukan api biasa, karena warnanya ungu. Pada saat bersamaan, lidah
api hitam menyala di pintu menuju ruang berikutnya. Mereka terperangkap.
"Lihat!" Hermione menyambar segulung kertas yang tergeletak di sebelah
botol-botol. Harry melongok dari balik bahu Hermione unruk ikut membacanya:
Bahaya ada di depanmu, sementara rasa aman ada di belakang, Kami
berdua akan membantumu, entah mana yang akan kautemukan, Satu di antara
--------------------------------------- 169
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
kami bertujuh akan membawamu maju ke kamar berikutnya, Satu lagi
membuat peminumnya kembali ke tempat semula, Dua di antara kami hanyalah
berisi anggur lezat, Tiga di antara kami pembunuh, sembunyi menunggu saat
yang tepat. Pilihlah, kalau tak mau berada di sini selamanya merajuk, Untuk
membantu menentukan pilihanmu, kami berikan empat petunjuk:
Pertama, betapapun liciknya racun berusaha bersembunyi,
Kau akan selalu menemukannya di sebelah anggur di sisi kiri; Kedua, yang
berdiri di masing-masing ujung isinya lain, Tetapi kalau kau mau ke depan,
dua-duanya pantang untuk main-main; Ketiga, seperti kaulihat jelas, semua
botol berbeda ukurannya, Baik yang cebol maupun yang raksasa berisi maut di
dalamnya; Keempat, yang kedua dari kiri dan dari kanan, Sama saja isinya,
meskipun awalnya tampak berlainan.
Hermione mengembuskan napas lega, dan Harry heran sekali melihatnya
tersenyum, soalnya dia sendiri sama sekali tak ingin tersenyum.
"Brilian," puji Hermione. "Ini bukan sihir ini logika teka-teki. Banyak
penyihir besar yang tak punya logika sama sekali, akan terkurung di sini
selamanya."
"Kita juga begitu, kan?"
"Tentu saja tidak," kata Hermione. "Semua yang kita butuhkan ada di atas
kertas ini. Tujuh botol: tiga di antaranya racun; dua anggur, satu akan
membawa kita dengan selamat melewati api hitam itu, dan satu lagi akan
membawa kita kembali melewati api ungu."
"Tapi, bagaimana kita tahu mana yang harus di minum?"
"Beri aku waktu sebentar." Hermione membaca kertas itu beberapa kali.
Kemudian dia berjalan mondar-mandir di depan deretan botol, bergumam
sendiri dan menunjuk-nunjuk botolbotol itu. Akhirnya dia bertepuk tangan.
"Aku tahu," katanya. "Botol paling kecil akan membawa kita melewati api
hitam menuju ke Batu Bertuah."
Harry memandang botol kecil mungil itu.
"Isinya hanya cukup untuk satu orang," katanya. "Satu teguk saja pun tak
ada." Mereka saling pandang. "Mana yang bisa membawamu melewati api ungu?"
Hermione menunjuk botol bulat di ujung deretan. "Kau minum yang itu," kata
Harry.
"Tidak, dengar kembalilah dan ajak Ron ambil sapu dari kamar kunci
terbang, sapu itu bisa membawa kalian keluar dari pintu jebakan dan juga
melewati Fluffy langsung pergi ke kandang burung hantu dan kirim Hedwig ke
Dumbledore, kita memerlukan dia. Aku mungkin sanggup menahan Snape untuk
sementara waktu, tetapi aku sama sekali bukan tandingannya."
"Tapi, Harry bagaimana kalau Kau-Tahu-Siapa ada bersamanya?"
"Yah aku pernah beruntung sekali, kan?" kata Harry, menunjuk bekas
lukanya. "Siapa tahu aku beruntung lagi."
Bibir Hermione bergetar dan mendadak dia berlari mendekati Harry dan
memeluknya.
"Hermione!"
"Harry kau penyihir hebat."
--------------------------------------- 170
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Aku tidak sepandai kau," kata Harry, malu sekali, ketika Hermione
melepasnya.
"Aku!" kata Hermione. "Buku-buku! Dan kepintaran! Ada banyak hal penting
lainnya persahabatan dan keberanian dan oh, Harry hati-hati, ya!"
"Kau minum dulu," kata Harry. "Kau yak in mana botol yang benar, kan?"
"Pasti," kata Hermione. Diminumnya isi botol bulat itu, dan dia bergidik.
"Bukan racun?" tanya Harry cemas.
"Bukan tapi seperti es."
"Cepat, sebelum khasiatnya luntur."
"Semoga berhasil jaga dirimu..."
"PERGILAH!"
Hermione berbalik dan melangkahi api ungu.
Harry menarik napas dalam-dalam dan mengambil botol terkecil. Dia
berbalik menghadapi api hitam. "Aku datang,"
katanya dan dihabiskannya isi botol kecil itu dalam sekali teguk.
Memang seolah es mengaliri tubuhnya. Ditaruhnya kembali botol itu dan dia
melangkah maju. Diberanikannya dirinya.
Dilihatnya lidah api hitam menjilatjilat tubuhnya, tetapi tak ada yang
dirasakannya. Untuk sesaat dia tak bisa melihat apa pun kecuali api hitam
tahu-tahu dia sudah berada di sisi lain, di kamar terakhir.
Sudah ada orang lain di situ tetapi bukan Snape. Bahkan bukan pula
Voldemort.
***
17. Laki Laki Dengan Dua Wajah
MELAINKAN Quirrell.
"Anda!" Harry kaget. Quirrell tersenyum. Wajahnya sama sekali tidak
berkedut.
"Ya, aku," katanya tenang. "Aku sudah bertanya-tanya apakah aku akan
bertemu kau disini, Potter."
"Tetapi saya kira Snape..."
"Severus?" Quirrell tertawa dan tawanya bukan tawa gemetar seperti
biasanya, tetapi dingin dan melengking. "Ya, Severus memang kelihatannya tipe
yang cocok, ya? Dirinya sangat berguna, menyambar nyambar seperti kelelawar
liar. Dibanding dia, siapa yang akan mencurigai P-profesor Q-Quirrell y-yang g-
gagap dan m-menimbulkan b-belas kasihan?"
Harry tidak mengerti. Ini tak mungkin benar, tak mungkin.
"Tetapi Snape mencoba membunuh saya."
"Bukan, bukan, bukan. Aku yang mencoba membunuhmu.
Temanmu, Miss Granger, tanpa sengaja menabrakku sampai jatuh ketika dia
buru-buru mau membakar jubah Snape dalam pertandingan Quidditch itu. Dia
memutuskan kontak mataku denganmu. Beberapa detik saja lagi aku pasti
--------------------------------------- 171
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
sudah berhasil menjatuhkanmu dari sapu. Aku pastilah sudah
berhasil sebelumnya, seandainya Snape tidak menggumamkan mantra
penangkal, berusaha menyelamatkanmu."
"Snape berusaha menyelamatkan saya?"
"Tentu saja," kata Quirrell dingin. "Menurutmu kenapa dia ingin menjadi
wasit dalam pertandinganmu berikutnya? Dia berusaha memastikan aku tidak
melakukannya lagi. Lucu juga...
dia tak perlu khawatir. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena Dumbledore
nonton. Semua guru lain mengira Snape berusaha menghalangi Gryffindor
menang, dia memang membuat dirinya tidak disukai... dan benar-benar
membuang waktu sia-sia, toh setelah semua usaha itu, aku akan membunuhmu
malam ini."
Quirrell menjentikkan jari-jarinya. Tiba-tiba seutas tali membelit Harry
erat-erat.
"Kau terlalu ingin tahu dan terlalu suka ikut campur kalau dibiarkan hidup,
Potter. Berkeliaran di malam Hallowe'en seperti itu, tahu-tahu kau sudah
melihatku datang untuk melihat apa yang menjaga batu itu."
"Anda yang memasukkan troll itu?"
"Tentu. Aku punya bakat khusus menangani troll kau pasti sudah melihat
apa yang kulakukan terhadap troll di kamar depan itu? Sayangnya, sementara
orang-orang lain berlarian mencari troll, Snape, yang sudah mencurigaiku,
langsung naik ke lantai tiga untuk menghadangku dan bukan saja troll-ku gagal
memukuli kalian sampai mati, si anjing kepala tiga bahkan tidak berhasil
menggigit kaki Snape sampai putus.
"Sekarang, tunggu dengan tenang, Potter. Aku perlu memeriksa cermin
menarik ini." Baru saat itulah Harry menyadari apa yang berdiri di belakang
Quirrell. Cermin Tarsah.
"Cermin inilah kunci untuk menemukan Batu Bertuah,"
Quirrell bergumam, seraya mengelilingi bingkainya.
"Dumbledore memang cerdik memakai cermin ini.. tapi dia di London... aku
sudah jauh dari sini saat dia pulang nanti...."
Yang bisa dipikirkan Harry hanyalah bagaimana membuat Quirrell terus
bicara dan mencegahnya berkonsentrasi pada cermin.
"Saya melihat Anda dan Snape di Hutan...," celetuknya.
"Ya," kata Quirrell sambil lalu, berjalan ke balik cermin untuk memeriksa
bagian belakangnya. "Dia sudah tahu niatku saat itu, mencoba mengorek sejauh
mana pengetahuanku. Dia sudah lama mencurigaiku. Mencoba menakut-
nakutiku mana bisa, kan Lord Voldemort mendampingiku...."
Quirrell muncul dari balik cermin dan menatapnya dengan bergairah. "Aku
melihat batunya... kupersembahkan kepada tuanku... tetapi di mana letak
batu itu?"
Harry berkutat melepaskan diri dari tali yang mengikatnya, tetapi percuma.
Dia harus mencegah Quirrell mencurahkan seluruh perhatiannya kepada
cermin.
"Tetapi Snape kelihatannya sangat membenci saya."
"Oh, memang dia membencimu," kata Quirrell sambil lalu.
--------------------------------------- 172
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Sangat membencimu. Dia sekolah di Hogwarts bersama ayahmu, kau tidak
tahu? Mereka saling membenci. Tetapi dia tidak pernah menginginkan ayahmu
mati."
"Tetapi saya mendengar Anda beberapa hari yang lalu, terisak-isak saya
kira Snape sedang mengancam Anda..."
Untuk pertama kalinya ketakutan melintas di wajah Quirrell.
"Kadang-kadang," katanya, "sulit sekali bagiku untuk menjalankan perintah
tuanku dia penyihir hebat dan aku lemah..."
"Maksud Anda dia ada dalam kelas itu bersama Anda?"
Harry terperanjat.
"Dia bersamaku ke mana pun aku pergi," kata Quirrell pelan.
"Aku bertemu dengannya ketika berkelana keliling dunia.
Waktu itu aku cuma pemuda yang masih bodoh, masih idealis tentang hal
baik dan buruk. Lord Voldemort menunjukkan kepadaku betapa kelirunya aku.
Tak ada baik dan buruk, yang ada hanya kekuasaan, dan mereka yang terlalu
lemah untuk mencarinya... Sejak saat itu, aku melayaninya dengan setia,
meskipun aku sering kali mengecewakannya. Dia harus keras terhadapku."
Quirrell mendadak bergidik. "Dia tidak mudah melupakan kesalahan. Ketika aku
gagal mencuri Batu Bertuah dari Gringotts, dia sangat marah. Dia
menghukumku...
memutuskan dia harus mengawasiku lebih ketat lagi...."
Suara Quirrell semakin pelan. Harry teringat perjalanannya ke Diagon Alley
bagaimana dia bisa sebodoh itu? Dia bertemu Quirrell hari itu, berjabat
tangan dengannya di Leaky Cauldron.
Quirrell mengutuk pelan.
"Aku tak mengerti... apakah batu itu ada di dalam cermin?
Haruskah aku memecahkannya?" Pikiran Harry berlomba. Yang sangat
kuinginkan lebih dari apa pun didunia saat ini, pikirnya, adalah menemukan
Batu Bertuah itu sebelum Quirrell. Maka jika aku menatap ke dalam cermin,
aku akan melihat diriku menemukannya yang berarti aku bisa melihat di mana
batu itu disembunyikan! Tetapi bagaimana aku bisa menatap ke dalam cermin
tanpa Quirrell menyadari tujuanku?
Dia mencoba beringsut ke kiri, berusaha ke depan cermin, tetapi tali yang
membelit pergelangan kakinya terlalu ketat, dia tersandung dan jatuh. Quirrell
mengabaikannya. Dia masih bicara sendiri.
"Apa kegunaan cermin ini? Bagaimana cara kerjanya?
Tolonglah aku, Tuan!"
Dan betapa ngerinya Harry ketika terdengar suara menjawab, dan suara itu
kedengarannya datang dari Quirrell sendiri.
"Gunakan anak itu... Gunakan anak itu...."
Quirrell menoleh kepada Harry.
"Ya Potter sini."
Dia menepukkan tangannya sekali dan tali yang mengikat Harry lepas
sendiri. Pelan-pelan Harry bang-kit.
"Sini," Quirrell mengulang. "Lihat ke dalam cermin dan beritahu aku apa
yang kaulihat."
--------------------------------------- 173
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Harry berjalan ke arahnya.
"Aku harus berbohong," pikirnya putus asa. "Aku harus melihat dan
berbohong tentang apa yang kulihat, begitu saja."
Quirrell bergerak ke belakangnya. Harry mencium bau aneh yang agaknya
berasal dari turban Quirrell. Dia memejamkan mata, melangkah ke depan
cermin dan membuka matanya lagi.
Harry melihat bayangannya, mulanya pucat dan ketakutan.
Tetapi sesaat kemudian, bayangan itu tersenyum kepadanya.
Dia memasukkan tangan ke dalam sakunya dan mengeluarkan batu merah
darah. Dia mengedipkan mata dan mengembalikan batu itu ke dalam sakunya
dan pada saat dia melakukannya, Harry merasa sesuatu yang berat masuk ke
dalam sakunya yang sebenarnya. Dengan cara yang sangat ajaib, dia
mendapatkan batu itu.
"Nah?" kata Quirrell tak sabar. "Apa yang kaulihat?"
Harry mengumpulkan keberaniannya.
"Saya melihat saya berjabat tangan dengan Dumbledore," dia mengarang.
"Saya saya.memenangkan Piala Asrama untuk Gryffindor."
Quirrell mengutuk lagi.
"Minggir," katanya. Ketika bergerak, Harry merasakan Batu Bertuah itu
menggesek kakinya. Beranikah dia melarikan diri?
Tapi belum lagi dia berjalan lima langkah, terdengar suara melengking
berkata, meskipun Quirrell tidak menggerakkan bibirnya.
"Dia bohong... Dia bohong...."
"Potter, kembali ke sini!" teriak Quirrell. "Katakan yang sebenarnya! Apa
yang tadi kaulihat?"
Suara melengking itu bicara lagi.
"Biarkan aku bicara dengannya... berhadapan...."
"Tuan, Anda belum cukup kuat!"
"Aku cukup punya kekuatan... untuk ini...."
Harry merasa seakan Jerat Setan memancangnya di tempat.
Dia tak dapat menggerakkan satu otot pun. Ketakutan, dilihatnya Quirrell
mengangkat tangan dan mulai mengurai turbannya. Apa yang terjadi? Turban
jatuh. Kepala Quirrell tampak aneh dan kecil tanpa turban. Kemudian pelan-
pelan dia berbalik.
Harry ingin menjerit, tetapi suaranya tidak keluar. Yang seharusnya bagian
belakang kepala Quirrell, ternyata sepotong wajah, wajah paling mengerikan
yang pernah dilihat Harry.
Wajah itu sepucat tembok dengan mata merah mendelik, dan lubang hidung
yang hanya berupa celah, seperti ular.
"Harry Potter...," bisik wajah itu. Harry mencoba mundur selangkah, tetapi
kakinya tak mau bergerak.
"Kau lihat, aku jadi apa?" kata wajah itu. "Cuma bayangan dan asap... aku
punya bentuk hanya kalau aku bisa berbagi dengan tubuh orang lain... tetapi
selalu ada yang mengizinkan aku memasuki hati dan pikiran mereka... Darah
unicorn telah membuatku semakin kuat, beberapa minggu terakhir ini... kau
melihat Quirrell yang setia meminumnya untukku di Hutan...
--------------------------------------- 174
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
dan begitu aku minum Cairan Kehidupan, aku akan bisa menciptakan
tubuhku sendiri.... Nah, sekarang... berikan batu di sakumu itu!"
Jadi, dia tahu. Tiba-tiba kaki Harry tidak lagi mati rasa. Dia terhuyung ke
belakang.
"Jangan bodoh," gertak si wajah. "Lebih baik selamatkan nyawamu dan
bergabung denganku... kalau tidak kau akan berakhir sama dengan
orangtuamu... Mereka memohon-mohon belas kasihan dariku sebelum
meninggal..."
"BOHONG!" mendadak Harry berteriak.
Quirrell berjalan mundur ke arahnya, sehingga Voldemort masih bisa
menatapnya. Wajah mengerikan itu kini tersenyum.
"Sungguh mengharukan...," desisnya.
"Aku selalu menghargai keberanian... Ya, Nak, orangtuamu pemberani...
Aku membunuh ayahmu lebih. dulu dan dia melawan dengan gagah berani...
tetapi ibumu sebetulnya tak perlu mati... dia berusaha melindungimu...
Sekarang berikan batu itu kepadaku, kalau tidak kau akan mati sia-sia."
"TIDAK!"
Harry melompat ke arah pintu nyala api, tetapi Voldemort menjerit,
"TANGKAP DIA!" dan detik berikutnya Harry
merasakan tangan Quirrell mencengkeram pergelangan tangannya. Langsung
saja rasa sakit yang tajam menyengat bekas luka Harry kepalanya serasa
hendak terbelah dua. Harry menjerit, meronta-ronta sekuat tenaga, dan kaget
sendiri ketika Quirrell membebaskannya. Rasa sakit di dahinya berkurang dia
memandang berkeliling, mencari Quirrell, dan melihatnya tengah meringkuk
kesakitan, memandang jari-jarinya jari-jari itu melepuh.
"Tangkap dia! TANGKAP DIA!" teriak Voldemort lagi dan Quirrell menerjang
Harry sampai jatuh dan mendarat di atas tubuhnya, kedua tangannya
melingkari leher Harry bekas luka Harry sakit luar biasa, sampai dia merasa
nyaris buta, tetapi dia masih bisa melihat Quirrell melolong kesakitan.
"Tuan, aku tak bisa memegangnya tanganku tanganku!"
Dan Quirrell, meski masih memiting Harry ke tanah dengan lututnya,
melepas cekikannya dan terbelalak menatap telapak tangannya sendiri Harry
bisa melihatnya, tangan itu terbakar, kelihatan merah dan berkilat.
"Kalau begitu bunuh dia, goblok. Bereskan saja anak itu!"
lengking Voldemort.
Quirrell mengangkat tangan untuk melakukan kutukan yang mematikan
tetapi, tanpa pikir panjang, Harry mencengkeram wajah Quirrell....
"AAAARGH!"
Quirrell berguling dari atas tubuh Harry, wajahnya juga melepuh, dan Harry
pun tahu: Quirrell tak tahan menyentuh kulitnya. Jika tersentuh, dia menderita
kesakitan yang amat sangat. Satu-satunya kesempatan Harry adalah memegangi
Quirrell, membuatnya cukup kesakitan sehingga tak bisa melakukan kutukan.
Harry melompat bangun, menangkap lengan Quirrell dan mencengkeramnya
sekuat mungkin. Quirrell menjerit dan mencoba mengibaskan Harry rasa sakit
di kepala Harry semakin hebat dia tak bisa melihat dia cuma mendengar jerit
mengerikan Quirrell dan teriakan-teriakan Voldemort,
--------------------------------------- 175
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"BUNUH DIA! BUNUH DIA!" dan suara-suara lain, mungkin di dalam kepalanya
sendiri, berseru-seru, "Harry! Harry!"
Dirasakannya lengan Quirrell ditarik lepas dari cengkeramannya, dia tahu
dirinya telah kalah, dan jatuh dalam kegelapan, jatuh... makin lama makin
dalam....
***
Sesuatu yang keemasan berkilau di atasnya. Snitch! Harry berusaha
menangkapnya, tetapi lengannya terlalu berat.
Dia mengejap. Bukan Snitch. Ternyata kacamata. Aneh sekali. Dia mengejap
lagi. Wajah Albus Dumbledore yang tersenyum melayang masuk ke dalam
pandangannya.
"Selamat sore, Harry," kata Dumbledore.
Harry bingung menatapnya. Kemudian dia ingat. "Sir!
Batunya! Quirrell! Dia mengambil batunya! Sir, cepat..."
"Tenangkan dirimu, Nak, kau sedikit ketinggalan," kata Dumbledore.
"Quirrell tidak memiliki batu itu."
"Kalau begitu, siapa? Sir, saya..."
"Harry, rileks. Kalau tidak, Madam Pomfrey akan mengusirku keluar."
Harry menelan ludah dan memandang berkeliling. Dia sadar dirinya berada
di rumah sakit. Dia berbaring di tempat tidur berseprai linen putih, di meja
sebelahnya terdapat tumpukan tinggi yang tampaknya seperti setengah isi toko
permen.
"Kiriman teman-teman dan pengagummu," kata Dumbledore berseri-seri.
"Apa yang terjadi di ruang bawah tanah, antara dirimu dengan Profesor Quirrell
adalah rahasia besar, maka tentu saja seluruh sekolah tahu. Kurasa temanmu,
Mr Fred dan George Weasley bertanggung jawab atas usaha mengirimimu tutup
kloset. Pasti mereka mengira kau akan geli dan senang menerimanya. Tetapi
Madam Pomfrey merasa hadiah itu tidak begitu higienis, dan menyitanya."
"Sudah berapa lama saya di sini?"
"Tiga hari. Mr Ronald Weasley dan Miss Granger akan lega sekali mengetahui
kau sudah sadar, mereka sangat cemas."
"Tetapi, Sir, batunya..."
"Rupanya kau tak bisa dialihkan. Baiklah, kalau begitu.
Profesor Quirrell tidak berhasil mengambil batu itu darimu. Aku tiba tepat
pada waktunya untuk mencegahnya walaupun, harus kuakui, kau sendiri telah
bertahan dengan sangat baik."
"Anda datang? Anda menerima burung hantu Hermione?"
"Pastilah kami berpapasan di udara. Begitu tiba di London, jelas bagiku
bahwa aku harus berada di tempat yang baru saja kutinggalkan. Aku tiba tepat
pada waktunya untuk menarik Quirrell darimu..."
"Jadi itu... Anda."
"Aku sudah takut aku terlambat."
"Hampir, saya nyaris tak bisa mempertahankan batu itu lebih lama lagi..."
"Bukan batunya, tetapi kau, Nak usaha untuk mempertahankan Batu
Bertuah itu nyaris membunuhmu. Sesaat aku ngeri sekali, mengira kau sudah
tiada. Sedangkan batunya, sudah dimusnahkan."
--------------------------------------- 176
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Dimusnahkan?" tanya Harry tak mengerti. "Tetapi teman Anda Nicolas
Flamel..."
"Oh, kau tahu tentang Nicolas?" kata Dumbledore, kedengarannya senang.
"Kau telah menyelidiki semuanya, ya?
Nah, Nicolas dan aku sudah berunding dan kami setuju itu yang paling baik."
"Tetapi itu berarti dia dan istrinya akan meninggal, kan?"
"Mereka punya cukup banyak simpanan Cairan Kehidupan untuk
membereskan urusan mereka, dan kemudian ya, mereka akan mati."
Dumbledore tersenyum melihat keheranan di wajah Harry.
"Bagi orang semuda kau, pastilah kedengarannya aneh, tetapi bagi Nicolas
dan Perenelle, mati sebetulnya hanyalah seperti pergi tidur setelah hari yang
amat sangat panjang. Lagi pula, bagi pikiran yang terorganisir dengan baik,
kematian hanyalah petualangan besar berikutnya. Kau tahu, batu itu
sebetulnya bukan benda yang amat luar biasa, meski bisa memberikan uang dan
kehidupan sebanyak yang kauinginkan. Itu dua hal yang akan dipilih kebanyakan
orang, melebihi segalanya sulitnya, orang biasanya justru memilih hal-hal yang
paling buruk untuk mereka."
Harry terbaring diam, kehabisan kata-kata. Dumbledore bersenandung kecil
dan tersenyum ke arah langit-langit.
"Sir?" kata Harry. "Saya sudah berpikir... Sir bahkan sekalipun batu itu
sudah tak ada, Vol... maksud saya, Anda-Tahu-Siapa..."
"Panggil dia Voldemort, Harry. Selalu gunakan nama yang benar untuk apa
saja. Ketakutan akan nama memperbesar ketakutan akan benda itu sendiri."
"Baik, Sir. Bukankah Voldemort akan mencoba caracara lain untuk kembali?
Maksud saya, dia tidak pergi untuk selamanya, kan?"
"Tidak, Harry dia belum lenyap. Dia masih ada di suatu tempat, mungkin
mencari tubuh lain yang bisa ditumpangi.
Karena tidak sepenuhnya hidup, dia tak bisa dibunuh. Dia meninggalkan
Quirrell mati begitu saja, dia tak punya belas kasihan, baik kepada pengikut
maupun musuh-musuhnya.
Harry saat ini kau memang belum berhasil memenangkan pertarungan, kau
cuma menunda kembalinya Voldemort pada kekuasaan. Dalam pertarungan
berikutnya, yang tampaknya akan lebih sulit dimenangkan, dibutuhkan
seseorang yang telah siap. Dan jika Voldemort tertahan lagi, dan lagi, siapa
tahu dia tak akan pernah kembali berkuasa."
Harry mengangguk, tetapi segera berhenti, karena membuat kepalanya
sakit. Kemudian dia berkata, "Sir, ada beberapa hal lain yang ingin saya
ketahui, jika Anda bisa memberitahu saya...
hal-hal yang ingin saya ketahui kebenarannya..."
"Kebenaran," Dumbledore menghela napas. "Kebenaran itu indah dan
mengerikan, dan karenanya harus diperlakukan dengan amat hati-hati.
Meskipun demikian, aku akan menjawab
pertanyaanmu, kecuali ada alasan kuat untuk tidak menjawabnya. Kalau itu
sampai terjadi, kumohon kau memaafkan aku. Aku tidak akan berbohong, tentu
saja."
--------------------------------------- 177
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Kata Voldemort, dia terpaksa membunuh ibu saya karena Ibu mencoba
mencegahnya membunuh saya. Tetapi kenapa dia ingin membunuh saya?"
Dumbledore menghela napas dalam-dalam.
"Sayang sekali, hal pertama yang kautanyakan, tak bisa kujawab. Tidak hari
ini. Tidak sekarang. Kau akan tahu, suatu hari nanti... singkirkan dari pikiranmu
untuk sementara, Harry.
Kalau kau sudah lebih besar... aku tahu kau tidak senang mendengarnya...
kalau kau sudah siap, kau akan tahu."
Dan Harry tahu tak ada gunanya membantah.
"Tetapi kenapa Quirrell tidak bisa menyentuh saya?"
"Ibumu meninggal karena berusaha menyelamatkanmu.
Kalau ada satu hal yang tak bisa dimengerti Voldemort, itu adalah cinta. Dia
tidak menyadari bahwa cinta sekuat cinta ibumu kepadamu, meninggalkan
bekas. Bukan seperti bekas luka, bukan tanda yang kelihatan... dicintai begitu
dalam, meskipun orang yang mencintai kita sudah tiada, akan memberi kita
perlindungan untuk selamanya. Perlindungan itu ada di kulitmu. Quirrell, yang
penuh kebencian, keserakahan, ambisi, dan membagi jiwanya dengan
Voldemort, tidak bisa menyentuhmu karena alasan ini. Sungguh suatu
penderitaan menyenruh orang yang dilindungi oleh sesuatu yang sangat baik."
Kini Dumbledore menjadi sangat tertarik pada seekor burung yang hinggap
di ambang jendela. Ini memberi Harry kesempatan untuk mengeringkan
matanya dengan seprai. Ketika sudah bisa bicara lagi, Harry berkata, "Dan
Jubah Gaib tahukah Anda siapa yang mengirimnya kepada saya?"
"Ah, ayahmu menitipkannya kepadaku dan kupikir kau akan menyukainya."
Mata Dumbledore bersinar-sinar. "Sangat
berguna... ayahmu terutama menggunakannya untuk menyelinap ke dapur
untuk mencuri makanan waktu dia di sini dulu."
"Dan ada satu hal lagi..."
"Katakan."
"Quirrell berkata, Snape..."
"Profesor Snape, Harry."
"Ya, dia Quirrell bilang Profesor Snape membenci saya karena dia
membenci ayah saya. Betulkah itu?"
"Yah, mereka memang saling benci. Tidak berbeda dengan kau sendiri dan
Mr Malfoy. Lalu ayahmu melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan Snape."
"Apa?"
"Ayahmu menyelamatkan hidupnya."
"Apa?"
"Ya...," kata Dumbledore melamun. "Aneh, kan, cara kerja pikiran orang?
Profesor Snape tidak tahan berutang budi pada ayahmu... aku yakin dia
berusaha keras melindungimu sebagai balas budi pada ayahmu. Dengan begitu,
skor mereka jadi seri.
Lalu dia bisa kembali membenci almarhum ayahmu dengan tenang."
Harry berusaha memahami, tetapi kepalanya jadi berdenyut-denyut, maka
dia berhenti.
"Dan, Sir, ada satu hal lagi..."
--------------------------------------- 178
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Apa itu?"
"Bagaimana saya mendapatkan batu itu dari dalam cermin?"
"Ah, aku senang kau menanyakannya. Itu salah satu ide brilianku, dan
antara kita berdua saja, ide itu hebat sekali. Aku membuatnya sedemikian
sehingga hanya orang yang ingin menemukan batu itu
menemukan tetapi tidak menggunakannya yang bisa mendapatkannya.
Bukan mereka yang ingin melihat diri mereka memiliki emas atau minum Cairan
Kehidupan. Otakku kadang-kadang mengejutkan diriku sendiri...
Nah, sudah cukup pertanyaan-pertanyaanmu.
Kusarankan kau mulai makan permenmu. Ah! Kacang Segala-Rasa Bertie
Bott! Aku cukup beruntung waktu masih muda dapat yang rasa muntah, dan
sejak saat itu aku jadi kehilangan selera tapi kurasa aman kalau aku ambil
rasa karamel, ya?"
Dumbledore tersenyum dan memasukkan kacang berwarna cokelat
keemasan itu ke mulutnya. Kemudian dia tersedak dan berkata, "Ya ampun!
Rasa kotoran telinga!"
***
Madam Pomfrey matron rumah sakit, wanita yang menyenangkan, tetapi
sangat keras.
"Lima menit saja," Harry memohon.
"Jelas tidak boleh."
"Anda mengizinkan Profesor Dumbledore masuk..."
"Ya, tentu saja, dia kan kepala sekolah, lain dong. Kau butuh istirahat."
"Saya istirahat, lihat, saya berbaring terus. Oh, ayolah, Madam Pomfrey..."
"Oh, baiklah," katanya. "Tapi hanya lima menit."
Dan Madam Pomfrey mengizinkan Ron dan Hermione masuk.
"Harry!"
Hermione tampaknya siap memeluknya lagi, tetapi Harry senang Hermione
menahan diri, karena kepalanya masih sakit sekali. "Oh, Harry, kami sudah
yakin kau akan... Dumbledore sangat cemas..."
"Seluruh sekolah membicarakannya," kata Ron. "Apa sebetulnya yang
terjadi?"
Sungguh salah satu kejadian langka ketika kenyataan yang sebenarnya justru
lebih aneh dan mencekam dibandingkan desas-desus liar. Harry menceritakan
semuanya kepada mereka: tentang Quirrell, Cermin Tarsah, Batu Bertuah, dan
Voldemort.
Ron dan Hermione pendengar yang sangat baik; mereka kaget pada saat-
saat yang tepat dan ketika Harry memberitahu mereka apa yang ada di balik
turban Quirrell, Hermione menjerit keras.
"Jadi batu itu sudah tak ada?" kata Ron akhirnya. "Flamel akan mati?"
"Itulah yang kukatakan, tetapi menurut Dumbledore apa, ya? bagi pikiran
yang terorganisir dengan baik, kematian hanyalah petualangan besar
berikutnya."
"Dari dulu kubilang Dumbledore itu sinting," kata Ron, kelihatannya terkesan
sekali pada betapa gilanya orang yang dikaguminya itu.
"Jadi, apa yang terjadi pada kalian berdua?" tanya Harry.
--------------------------------------- 179
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Yah, aku kembali dengan selamat," kata Hermione.
"Kusadarkan Ron perlu sedikit waktu dan kami sedang berlari ke kandang
burung hantu untuk mengontak Dumbledore, ketika kami bertemu dengannya di
Aula Depan. Dia sudah tahu dia cuma berkata, 'Harry mengejarnya, kan?' lalu
bergegas ke lantai tiga."
"Apakah menurutmu Dumbledore sengaja mengaturnya agar kau bertindak
begitu?" kata Ron. "Mengirim jubah ayahmu dan yang lainnya itu?"
"Wah," Hermione meledak, "kalau memang begitu maksudku sungguh
mengerikan kau bisa saja terbunuh."
"Tidak, tidak," kata Harry berpikir-pikir. "Dumbledore orangnya lucu.
Menurutku, dia tampaknya ingin memberiku kesempatan. Kurasa dia tahu
sedikit-banyak tentang segala sesuatu yang terjadi di sini. Rupanya dia sudah
menduga kita akan mencoba, dan alih-alih mencegah, dia mengajari kita
secukupnya untuk membantu. Kurasa bukan kebetulan dia membiarkan aku
mengetahui cara kerja Cermin Tarsah. Seakan menurutnya aku punya hak untuk
menghadapi Voldemort, kalau aku bisa..."
"Yeah, Dumbledore memang menyebarluaskan hal itu," kata Ron bangga.
"Dengar, kau sudah harus sembuh untuk ikut pesta akhir tahun ajaran besok.
Jumlah semua angka sudah masuk dan Slytherin menang, tentu saja. Kau tak
bisa ikut pertandingan Quidditch terakhir dan tanpa dirimu, kita digilas habis
oleh Ravenclaw. Tapi makanannya besok enak-enak."
Saat itu Madam Pomfrey masuk. "Kalian sudah ngobrol hampir lima belas
menit, sekarang KELUAR," katanya tegas.
***
Setelah tidur nyenyak semalaman, Harry merasa sudah hampir sehat
kembali.
"Saya ingin ikut pesta," dia memberitahu Madam Pomfrey ketika matron itu
merapikan kotak-kotak permennya yang banyak itu. "Boleh, kan?"
"Profesor Dumbledore bilang supaya kau diizinkan pergi,"
katanya tak senang, seakan menurut pendapatnya Profesor Dumbledore
tidak menyadari berapa berbahayanya pesta. "Dan kau punya tamu lagi."
"Oh, bagus," kata Harry. "Siapa?"
Hagrid menyelinap masuk ketika Harry bertanya. Seperti biasa, kalau dia
berada dalam rumah, Hagrid tampak terlalu besar. Dia duduk di sebelah Harry
memandangnya, lalu langsung menangis.
"Ini semua salahku!" isaknya, dengan wajah tertelungkup di tangannya.
"Aku beritahu orang jahat itu "bagaimana cara lewati Fluffy! Aku yang beritahu
dia! Padahal itu satu-satunya yang tak dia ketahui, tapi aku memberitahunya!
Kau bisa mati!
Hanya karena sebutir telur naga! Aku takkan minum lagi! Aku seharusnya
dibuang dan disuruh hidup sebagai Muggle!"
"Hagrid!" kata Harry, kaget melihat Hagrid gemetar karena begitu sedih dan
menyesal, air mata besarbesar bergulir sampai ke jenggotnya. "Hagrid, dia toh
pasti akan tahu juga. Yang kita bicarakan adalah Voldemort, dia akan tahu
meskipun kau tidak memberitahunya."
"Kau bisa mati!" isak Hagrid. "Dan jangan sebut nama itu!"
--------------------------------------- 180
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"VOLDEMORT!" Harry berteriak, dan Hagrid begitu kagetnya sampai berhenti
menangis.
"Aku sudah bertemu dengannya dan aku akan menyebut namanya.
Bergembiralah, Hagrid, kita telah menyelamatkan batunya. Batu itu sudah tak
ada, dia tak bisa menggunakannya.
Ayo, makan Cokelat Kodok. Aku punya banyak...."
Hagrid mengusap hidung dengan punggung tangannya dan berkata, "Aku jadi
ingat. Aku bawa hadiah buatmu."
"Bukan sandwich musang, kan?" kata Harry cemas, dan akhirnya Hagrid
tersenyum lemah.
"Bukan. Dumbledore liburkan aku kemarin untuk susun ini. Tentu saja dia
seharusnya pecat aku, tapi pendeknya, ini untukmu."
Tampaknya seperti buku yang indah dengan sampul kulit. Harry
membukanya dengan penasaran. Buku itu penuh dengan foto sihir. Ayah dan
ibunya tersenyum dan melambai padanya dari semua halaman.
"Kirim burung hantu ke semua teman sekolah orangtuamu, minta foto... aku
tahu kau tak punya foto... Kau suka?"
Harry tak bisa berkata-kata, tetapi Hagrid mengerti.
***
Harry berangkat ke pesta akhir tahun ajaran sendirian malam itu. Dia agak
terlambat karena Madam Pomfrey sibuk mengkhawatirkannya berkeras untuk
memeriksanya terakhir kali sehingga ketika ia tiba, Aula Besar sudah penuh.
Aula didekorasi dengan warna Slytherin, hijau dan perak, untuk merayakan
keberhasilan Slytherin memenangkan Piala Asrama untuk ketujuh kalinya
selama tujuh tahun berturut-turut.
Spanduk raksasa bergambar ular, lambang Slytherin, membentang menutupi
dinding di belakang Meja Tinggi.
Ketika Harry melangkah masuk, mendadak ruangan menjadi sunyi dan
kemudian semua anak mulai bicara berbarengan.
Harry duduk di kursi, di antara Ron dan Hermione di meja Gryffindor, dan
berusaha tidak mengacuhkan kenyataan bahwa anak-anak berdiri untuk
melihatnya.
Untunglah Dumbledore tiba tak lama kemudian. Celoteh anak-anak langsung
reda.
"Satu tahun lagi telah berlalu!" kata Dumbledore riang. "Dan aku harus
menggerecoki kalian dengan ocehan orang tua sebelum kita mulai menyerbu
makanan enak-enak ini. Tahun ini sungguh luar biasa! Mudah-mudahan kepala
kalian sedikit lebih penuh daripada setahun yang lalu... kalian masih punya
sepanjang musim panas untuk mengosongkan kepala sebelum tahun ajaran baru
mulai....
"Nah, seperti yang kupahami, Piala Asrama perlu dianugerahkan dan skornya
sebagai berikut: di tempat keempat Gryffindor, dengan tiga ratus dua belas
angka; tempat ketiga Hufflepuff, dengan tiga ratus lima puluh dua; Ravenclaw
mengumpulkan empat ratus dua puluh enam, dan Slytherin empat ratus tujuh
puluh dua."
--------------------------------------- 181
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Gemuruh sorak dan entakan kaki terdengar dari meja Slytherin. Harry bisa
melihat Draco Malfoy mengetuk-ngetukkan piala minumnya di atas meja.
Pemandangan yang memuakkan.
"Ya, ya, bagus sekali, Slytherin," puji Dumbledore.
"Meskipun demikian, kejadian belakangan ini harus ikut diperhitungkan."
Ruangan langsung sunyi senyap. Senyum anak-anak Slytherin sedikit
memudar.
"Ehem," kata Dumbledore. "Ada angka-angka terakhir yang harus kubagikan.
Coba kulihat. Ya... "Yang pertama kepada Mr Ronald Weasley..." Wajah Ron
menjadi keunguan; dia tampak seperti lobak yang terbakar sinar matahari. "...
untuk permainan catur paling indah yang pernah dilihat Hogwarts selama
bertahun-tahun ini. Kuhadiahkan kepada Gryffindor lima puluh angka."
Sorak Gryffindor nyaris mengangkat atap sihir Aula; bintangbintang di atas
sampai bergetar. Percy terdengar memberitahu Prefek-prefek lainnya, "Kalian
tahu, dia adikku! Adik laki-lakiku yang paling kecil! Berhasil memecahkan set
catur raksasa McGonnagall."
Akhirnya sunyi lagi. "Kedua kepada Miss Hermione Granger... untuk
penggunaan logika dingin dalam menghadapi api. Kuhadiahkan kepada
Gryffindor lima puluh angka."
Hermione membenamkan wajah ke lengannya. Harry sangat curiga dia
menangis. Anak-anak Gryffindor di sekeliling meja bukan main senangnya.
Angka mereka naik seratus poin.
"Ketiga kepada Mr Harry Potter...," kata Dumbledore.
Ruangan betul-betul sunyi senyap. "... untuk ketabahan dan keberanian
yang luar biasa. Kuhadiahkan kepada Gryffindor enam puluh angka."
Teriakan dan hiruk-pikuk yang terdengar sungguh memekakkan telinga.
Mereka yang bisa menghitung, sambil berteriak-teriak sampai serak, tahu
bahwa angka Gryffindor sekarang menjadi empat ratus tujuh puluh dua, persis
sama dengan Slytherin. Skor mereka seri untuk Piala Asrama... seandainya saja
Dumbledore memberi Harry satu angka lebih banyak.
Dumbledore mengangkat tangannya.
Ruangan berangsur-angsur kembali sunyi.
"Ada berrnacam-macam keberanian," kata Dumbledore tersenyum. "Perlu
banyak keberanian untuk menghadapi lawan, tetapi diperlukan keberanian yang
sama banyaknya untuk menghadapi kawan-kawan kita. Karena itu aku
menghadiahkan sepuluh angka kepada Mr Neville Longbottom."
Orang yang berdiri di luar Aula Besar mungkin akan mengira terjadi
semacam ledakan di dalam, karena begitu kerasnya bunyi yang meledak di
meja Gryffindor. Harry, Ron, dan Hermione berdiri untuk berteriak sementara
Neville, pucat saking terguncangnya, menghilang di bawah tumpukan anak-anak
yang rnemeluknya. Dia tak pernah memenangkan bahkan satu angka pun untuk
Gryffindor sebelum ini. Harry, masih bersorak-sorak, menyodok rusuk Ron dan
menunjuk ke arah Malfoy, yang seandainya mendapat Kutukan Ikat Tubuh
Sempurna pun tak mungkin kelihatan lebih kaget dan ngeri daripada sekarang.
--------------------------------------- 182
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
"Itu berarti," seru Dumbledore mengatasi gemuruh sorakan, karena baik
Ravenclaw maupun Hufflepuff ikut merayakan kejatuhan Slytherin, "kita perlu
sedikit perubahan dekorasi."
Dumbledore menepukkan tangannya. Dalam sekejap hiasan-hiasan gantung
hijau berubah menjadi merah dan peraknya menjadi emas. Ular raksasa
Slytherin lenyap, digantikan singa Gryffindor yang gagah. Snape menjabat
tangan Profesor McGonagall dengan senyum pahit yang dipaksakan. Matanya
bertatapan dengan mata Harry, dan Harry langsung tahu bahwa perasaan Snape
kepadanya tidak berubah sedikit pun. Ini tidak membuat Harry cemas.
Tampaknya, hidup baginya akan kembali normal di tahun ajaran mendatang,
atau senormal yang mungkm terjadi di Hogwarts.
Malam itu malam paling indah dalam hidup Harry, lebih
menyenangkan daripada memenangkan Quidditch atau merayakan Natal atau
memukul pingsan troll gunung... dia tak akan pernah melupakan malam ini.
***
Harry nyaris lupa bahwa hasil ujian belum diumumkan, tetapi akhirnya hasil
itu keluar juga. Betapa herannya dia dan Ron, karena mereka berdua lulus
dengan nilai-nilai bagus.
Hermione, tentu saja, menjadi juara sekolah untuk kelas satu.
Bahkan Neville lulus juga, nilai Herbologi-nya yang tinggi mengimbangi nilai
Ramuan-nya yang jeblok. Mereka berharap bahwa Goyle, yang kebodohannya
nyaris sama besar dengan kekejamannya, akan dikeluarkan, tetapi Goyle lulus
juga.
Sayang, tetapi seperti kata Ron, dalam hidup ini kita tidak bisa
mendapatkan segalanya.
Dan mendadak saja lemari pakaian mereka kosong, koper-koper mereka
sudah dikemas, katak Neville ditemukan bersembunyi di sudut toilet. Pesan
dibagikan kepada semua murid, memperingatkan mereka agar tidak
menggunakan sihir selama liburan ("Aku selalu berharap mereka lupa
memberikan peringatan ini kepada kita," kata Fred Weasley sedih.). Hagrid siap
membawa mereka turun ke armada perahu yang akan berlayar menyeberangi
danau. Mereka naik ke Hogwarts Express, mengobrol dan tertawa-tawa
sementara daerah pedesaan yang mereka lalui menjadi kian hijau dan rapi;
makan Kacang Segala-Rasa Bertie Bott selagi kereta meluncur melewati kota-
kota Muggle; melepas jubah penyihir mereka dan ganti memakai jaket biasa;
sampai akhirnya kereta berhenti di peron sembilan tiga perempat di Stasiun
King's Cross.
Perlu beberapa waktu bagi mereka semua untuk turun di peron. Seorang
penjaga tua yang sudah keriput, berjaga di palang rintangan boks penjualan
tiket, mengatur mereka keluar berdua dan bertiga, agar tidak menarik
perhatian. Sebab kalau mereka semua serentak bermunculan dari tembok
kokoh, tentu para Muggle akan kaget dan ketakutan.
"Kalian harus datang menginap musim panas ini," kata Ron,
"kalian berdua akan kukirim burung hantu."
"Terima kasih," kata Harry. "Aku perlu sesuatu yang menyenangkan untuk
kunanti-nantikan kedatangannya."
--------------------------------------- 183
Ebook By: http://ac-zzz.blogspot.com/
Orang-orang menyenggol mereka ketika mereka bergerak maju, menuju
gerbang yang membawa mereka kembali ke dunia Muggle. Beberapa di
antaranya berseru,
"Dah, Harry!"
"Sampai ketemu, Potter!"
"Tetap populer, ya," kata Ron tersenyum.
"Tidak kalau di tempat yang kutuju. Percaya deh," kata Harry. Harry, Ron,
dan Hermione melewati gerbang bersama-sama.
"Itu dia, Mum, itu dia, lihat!"
Yang berteriak Ginny Weasley, adik perempuan Ron, tetapi dia tidak
menunjuk Ron. "Harry Potter!" lengkingnya. "Lihat, Mum, aku bisa melihat..."
"Diamlah, Ginny, dan tidak sopan menunjuk-nunjuk."
Mrs Weasley tersenyum kepada mereka.
"Tahun yang sibuk?" sapanya.
"Sangat," kata Harry. "Terima kasih untuk bonbon dan rompinya, Mrs
Weasley."
"Oh, sama-sama, Nak."
"Sudah siap?"
Itu Paman Vernon, wajahnya masih ungu, masih berkumis, masih kelihatan
marah pada Harry yang nekat menenteng burung hantu dalam sangkar di
stasiun yang penuh orang biasa.
Di belakangnya berdiri Bibi Petunia dan Dudley yang kelihatan ngeri melihat
Harry.
"Kalian pastilah keluarga Harry!" sapa Mrs Weasley.
"Boleh dikatakan begitu," kata Paman Vernon. "Ayo cepat, kita tak bisa
seharian di sini." Paman Vernon langsung ngeloyor pergi. Harry masih tinggal
untuk mengucapkan salam perpisahan pada Ron dan Hermione.
"Sampai ketemu setelah musim panas, ya."
"Mudah-mudahan liburanmu er menyenangkan," kata Hermione, menoleh,
memandang Paman Vernon dengan bimbang. Dia heran sekali ada orang yang
begitu tidak menyenangkan.
"Oh, pasti menyenangkan," kata Harry, dan mereka heran melihat senyum
yang merekah lebar di wajahnya. "Mereka. tak tahu kita dilarang menggunakan
sihir di rumah. Aku akan banyak bersenang-senang dengan Dudley musim panas
ini...."
TAMAT
